Anda di halaman 1dari 20

PENDAHULUAN

Leukorrhea (fluor albus/vaginal discharge/duh tubuh vagina) atau yang lebih dikenal dengan keputihan merupakan keluhan yang sering menjadi alasan seorang wanita untuk berobat ke dokter. Leukorrhea bukan penyakit melainkan suatu gejala dan merupakan gejala yang sering dijumpai dalam ginekologi. Leukorrhea dapat menyerang wanita mulai dari anak-anak sampai wanita dewasa atau menopause. Leukorrhea menyebabkan seorang wanita acapkali mengganti pakaian dalamnya atau menggunkan pembalut, biasanya disertai dengan keluhan lain seperti perasaan gatal, rasa panas pada alat kelamin maupun nyeri sewaktu bersenggama. Keluhan dapat bervariasi dari ringan hingga berat, namun banyak penderita yang tidak menghiraukannya. Padahal leukorrhea bisa merupakan bagian dari perjalanan suatu penyakit yang apabila tidak segera ditangani secara dini dengan baik akan dapat menyebabkan hal yang serius seperti menyebabkan kehamilan ektopik, peritonitis, kanker rahim, kematian, ketidaksuburan, keguguran, kematian janin, prematuritas, lahir dengan berat badan bayi rendah, infeksi kongenital, sehingga dapat menyebabkan kematian di awal kehidupannya. Tujuan utama klinikus adalah membedakan leukorrhea fisiologis atau patologis, dengan kriteria klinik, laboratorium dan mikrobiologi. keberhasilan pengelolaan leukorrhea. DEFINISI Leukorrhea (fluor albus, vaginal discharge, duh tubuh vagina) atau keputihan adalah cairan bukan darah yang keluar berlebihan dari vagina. Beberapa literatur memberikan batasan, yang dimaksud dengan leukorrhea adalah keluarnya cairan berlebihan dari liang senggama (vagina), yang disertai oleh perasaan gatal, nyeri, rasa terbakar di bibir kemaluan atau kerap juga disertai bau busuk dan rasa nyeri sewaktu berkemih atau senggama. Ketepatan dalam mendiagnosis penyebab leukorrhea merupakan kunci utama dalam

Lekorrhea dibagi menjadi dua, yaitu : I. Leukorrhea Fisiologis Yaitu sekret dari vagina normal yang berwarna jernih atau putih, menjadi kekuningan bila kontak dengan udara yang disebabkan oleh proses oksidasi. Secara mikroskopik terdiri dari sel-sel epitel vagina yang terdeskuamasi, cairan transudasi dari dinding vagina, sekresi dari endoserviks berupa mukus, sekresi dari saluran yang lebih atas dalam jumlah bervariasi serta mengandung berbagai mikroorganisme terutama Lactobacillus doderlein. Memiliki pH < 4,5 yang terjadi karena produksi asam laktat oleh Lactobacillus dari metabolisme glikogen pada sel epitel vagina. Leukorrhea fisiologis terdapat pada keadaan sebagai berikut : 1. Bayi baru lahir sampai dengan usia 10 hari, hal ini disebabkan pengaruh estrogen di plasenta terhadap uterus dan vagina bayi. 2. Premenarche, mulai timbul pengaruh estrogen 3. Saat sebelum dan sesudah haid 4. Saat atau sekitar ovulasi, keadaan sekret dari kelenjar pada serviks uteri menjadi lebih encer 5. Adanya rangsangan seksual pada wanita dewasa karena pengeluaran transudasi dinding vagina 6. Pada kehamilan, karena pengaruh peningkatan vaskularisasi dan bendungan di vagina dan di daerah pelvis 7. Stress emosional 8. Penyakit kronis, penyakit saraf, karena pengeluaran sekret dari kelenjar serviks uteri juga bertambah 9. Pakaian (celana dalam ketat, pemakaian celana yang jarang ganti, pembalut) 10. Leukorrhea yang disebabkan oleh gangguan kondisi tubuh, seperti keadaan anemia, kekurangan gizi, kelelahan, kegemukan, dan usia tua > 45 tahun

II.

Leukorrhea Patologis Leukorrhea dikatakan tidak normal jika terjadi peningkatan volume

(khususnya membasahi pakaian), bau yang khas dan perubahan konsistensi atau warna. Penyebab terjadinya leukorrhea patologis bermacam-macam, dapat disebabkan oleh adanya infeksi (oleh bakteri, jamur, protozoa, virus) adanya benda asing dalam vagina, gangguan hormonal akibat menopause dan adanya kanker atau keganasan dari alat kelamin, terutama pada serviks. Penyebab leukorrhea patologis : a. Infeksi Penyebab leukorrhea terbanyak adalah infeksi pada vagina (vaginitis) dan seviks (servisitis). Ada atau tidaknya bau, gatal dan warna dapat membantu menemukan etiologinya. Sekret yang disebabkan oeh infeksi biasanya mukopurulen, warnanya bervariasi dari putih kekuningan hingga berwarna kehijauan. Vaginitis paling sering disebabkan oleh Candida spp., Trichomonas vaginalis, Vaginalis bakterialis. Sedangkan servisitis paling sering disebabkan oleh Chlamidia trachomatis dan Neisseria gonorrhoeae. Selain itu penyebab infeksi yang lain adalah infeksi sekunder pada luka, abrasi (termasuk yang disebabkan oleh benda asing), ataupun terbakar. b. Non infeksi Dapat disebabkan oleh : Kelainan alat kelamin didapat atau bawaan

Kadang-kadang pada wanita ditemukan cairan dari vagina yang tercampur dengan urine atau feses. Hal ini dapat terjadi akibat adanya fistel uterovagina, fistel rektovagina yang disebabkan kelainan kongenital, cedera persalinan, radiasi pada kanker alat kandungan atau akibat kanker itu sendiri.

Benda asing

Adanya benda asing seperti kotoran tanah atau biji-bijian pada anak-anak ataupun tertinggalnya tampon maupun kondom pada wanita dewasa, adanya cincin pesariumpada wanita yang menderita prolaps uteri serta pemakaian alat kontrasepsi seperti IUD dapat merangsang pengeluaran sekret secara berlebihan. Hormonal

Perubahan hormonal estrogen dan progesteron yang terjadi dapat dikarenakan adanya perubahan konstitusi dalam tubuh wanitu itu sendiri atau karena pengaruh dari luar misalnya karena obat/cara kontrasepsi, dapat juga karena penderita sedang dalam pengobatan hormonal. Kanker

Pada kanker terdapat gangguan dari pertumbuhan sel normal yang berlebihan sehingga mengakibatkan sel bertumbuh sangat cepat secara abnormal dan mudah rusak, akibatnya terjadi pembusukan dan perdarahan akibat pecahnya pembuluh darah yang bertambah untuk memberikan makanan dan oksigen pada sel kanker tersebut. Pada Ca cerviks terjadi pengeluaran cairan yang banyak disertai bau busuk akibat terjadinya proses pembusukan tadi, dan acapkali disertai adanya darah yang tidak segar. Vaginitis atrofi

Usia pra pubertas, masa laktasi, pasca menopause dan beberapa keadan yang menyebabkan kurangnya estrogen, akan menyebabkan meningkatnya pH vagina. Naiknya pH akan menyebabkan pertumbuhan bakteri normal dalam vagina menjadi berkurang, tetapi sebaliknya pH yang meningkat akan memicu pertumbuhan bakteri patogen di vagina. Kurangnya estrogen akan menyebabkan penipisan mukosa vagina sehingga mudah terluka dan terinfeksi

DIAGNOSIS Ketepatan dalam mendiagnosis penyebab leukorrhea merupakan kunci utama dalam keberhasilan pengobatan, sehingga sangat perlu mengidentifikasi kuman penyebabnya secara pasti. i. Anamnesis Dalam anamnesis harus terungkap apakah lekore ini fisiolgis atau patologis. Selain disebabkan karena infeksi harus difikirkan juga kemungkinan ada benda asing atau neoplasma ii. Pemeriksaan klinis Pada pemeriksaan spekulum harus diperhatikan sifat cairannya seperti kekentalan, warn, bau serta kemungkinan adanya benda asing, ulkus dan neoplasma (kelompok khusus). Pemeriksaan dalam dilakukan setelah pengambilan sediaan untuk pemeriksaan laboratorium iii. Laboratorium Dibuat sediaan basah NaCl 0,9% fisiologis untuk trikomoniasis, KOH 10% untuk kandidias, pengecatan gram untuk bakteri penyebab gonore. Pemeriksaan tambahan dilakukan bila ada kecurigaan keganasan. Kultur dilakukan pada keadaan klinis ke arah gonore tetapi hasil pemeriksaan gram negatif. Pemeriksaan serologis dilakukan bila kecurigaan ke arah klamidia. iv. Pengobatan Pengobatan terapi jangan semata-mata bertumpu pada hasil-hasil pemeriksaan laboratorium. Pada pengalaman klinik, ternyata kebanyakan lekore disebabkan oleh infeksi campuran sehingga harus diberikan terapi kombinasi. Selain terapi untuk pasien dan pasangannya pada waktu bersamaan harus juga diberikan penyuluhan/ konseling bahwa obat harus

dimakan sesuai anjuran dan tidak melakukan hubungan selama pengobatan dan harus melalukan pemeriksaan ulang sesuai anjuran v. Pengawasan Pada kunjungan ulang dilakukan pemeriksaan klinis dan laboratorium untuk menilai keberhasilan terapi dan menentukan langkah selanjutnya. Bila lekore masih ada, sedangkan tanda klinis sudah hilang, perlu dipikirkan sebab lain misalnya hormon. Bila keadaan memburuk dan timbul reinfeksi harus dicari penyebabnya, bila perlu dilakukan pemeriksaan kultur dan resistensi serta diulangi sesuai protokol. INFEKSI PADA VAGINA Pada pemeriksaan sekret vagina pada pasien normal, dapat ditemukan batang gram positif, yaitu Lactobacillus acidophillus. Bakteri ini dapat mempertahankan ekosistem vagina dengan 3 cara: a. Memproduksi asam laktat yang mempertahankan pH vagina normal, yaitu 4 (rata-rata 3,8-4,2) , sehingga dapat menghambat patogen b. Memproduksi Hidrogen Peroksida yang toksis terhadap mikroflora anaerob c. Memiliki mikrovili yang menempel pada reseptor di sel-sel epitel vagina, sehingga menghalangi penempelan patogen.

Pewarnaan gram pada sekret vagina normal

I.

Infeksi Jamur Kandidiosis vulvovaginal merupakan infeksi vagina yang disebabkan oleh

Kandidiosis vulvovaginal (KV) Candida spp terutama Candida albicans. Diperkirakan sekitar 50% wanita pernah mengalami kandidiosis vulvovaginitis paling sedikit dua kali dalam hidupnya. Jamur ini hidup dalam suasana asam yang mengandung glikogen. Keadaankeadaan yang mendukung timbulnya infeksi adalah kehamilan, pemakaian pil kontrasepsi, pemakaian kortikosteroid dan pada penderita Diabetes Melitus.

Gambaran Mikroskopis Candida albicans Gejala klinis Kandidiosis Vulvovaginal (KV) Duh tubuh vagina disertai gatal pada vula Disuria eksternal dan dipareunia superfisial Pada pemeriksaan tampak vulva eritem, edem dan lecet

Vagina dengan Fluor albus

Pada pemeriksaan spekulum tampak duh tubuh vagina dengan jumlah yang bervariasi, konsistensi dapat cair atau seperti susu pecah

Pemeriksaan vagina dengan spekulum Pada kasus yang lebih berat pemeriksaan inspekulo menimbulkan rasa nyeri pada penderita. Mukosa vagina dan ektoserviks tampak eritem, serta pada dinding vagina tampak gumpalan putih seperti keju. Pemeriksaan pH vagina berkisar 4-4,5

Diagnosis Leukorrhea yang bervariasi mulai dari cair sampai kental dan sangat gatal (pruritus vulva) Dapat ditemukan rasa nyeri pada vagina, dispareunia, rasa terbakar pada vulva dan iritasi vulva Tanda inflamasi : dapat ditemukan eritem (+), edem (+) pada vulva dan labia, lesi diskret pustulopapular (+), dermatitis vulva Laboratorium : pH vagina < 4,5, Whiff test (-). Pada sediaan gram : bentuk ragi (+) dan pseudohifa (+) Mikroskopik : leukosit, sel epitel, 80% pasien dengan gejala terlihat : ragi (yeast) mycelia atau pseudomycelia Saran: kultur jamur untuk menegakkan diagnosis. (kultur merupakan jenis pemeriksaan yang paling sensitif untuk mendeteksi adanya candida)

Pengobatan Klotrimazol 500 mg intravagina dosis tunggal atau Klotrimazol 200 mg intravagina selama 3 hari atau Nistatin 100.000 unit intravagina selama 14 hari atau Fluconazole 150 mg peroral dosis tunggal atau Itraconazole 200 mg 2 x 1 tablet selama 1 hari atau Imidazole vagina krem, 1 tablet setiap hari selama3-7 hari Wanita hamil sebaiknya hanya menggunakan penggunaan topikal dengan tablet vagina II. Infeksi Protozoa Trichomoniasis adalah infeksi traktus urogenitalis yang disebabkan oleh protozoa yaitu T. vaginalis. Masa inkubasi berkisar antara 5-28 hari. Pada wanita T. vaginalis paling sering menyebabkan infeksi pada epitel vagina, selain pada uretra, serviks, kelenjar Bartholini dan kelenjar skene.

Trichomoniasis

Gambaran mikroskopis Trichomoniasis Trichomoniasis biasanya ditularkan melalui hubungan seksual tanpa menggunakan pelindung (kondom) dengan seseorang yang mengidap trichomoniasis atau dapat juga ditularkan melalui perlengkapan mandi (handuk).

Gejala klinis Asimtomatis pada sebagian wanita penderita trichomoniasis Bila ada keluhan, biasanya berupa cairan vagina yang banyak, sekitar 50% penderita mengeluh bau yang tidak enak disertai gatal pada vulva dan dispareunia. Pada pemeriksaan, sekitar 75% penderita dapat ditemukan kelainan pada vulva dan vagina. Vulva tampak eritem, lecet dan sembab. Pada pemasangan spekulum terasa nyeri, dan dinding vagina tampak eritem Sekitar 2-5% serviks penderita tampak gambaran khas untuk trichomoniasis, yaitu berwarna kuning, bergelumbung, biasanya banyak dan berbau tidak enak Pemeriksaan pH vagina >4,5

Gambaran fluor albus pada Trichomonas vaginalis Diagnosis Jumlah leukorrhea banyak, sering disertai bau yang tidak enak, pruritus vulva, external dysuria dan iritasi genital sering ada Warna sekret : putih, kuning atau purulen Konsistensi : homogen, basah, sering frothy atau berbusa (foamy) Tanda-tanda inflamasi: eritem pada mukosa vagina dan itrocoitus vagina, kadang-kadang petechie pad serviks, dermatitis vulva Sekitar 2-5% serviks penderita tampak strawberry serviks Laboratorium : pH vagina 5,0, whiff test biasanya (+) Mikroskopik : dengan pembesaran 400 kali dapat terlihat pergerakan trichomonas. Bentuknya ovoid, ukuran lebih besar dari sel PMN dan

10

mempunyai flagel. Pada 80-90% penderita symtomatic leucocyte (+), clue cell dapat (+) Pengobatan Metronidazole 2 gram peroral dosis tunggal atau Metronidazole 2x500 mg peroral selama 7 hari Pada wanita hamil trimester pertama dapat diberikan pengobatan topikal klotrimazol 100 mg intravagina selama 6 hari Metronidazole tidak boleh diberikan pada kehamilan trimester pertama namun dapat diberikan pada trimester kedua dan ketiga Penanganan pada partner Seksual Partner tetap atau sumber kontak : pemeriksaan rutin traktus genitourinarius, pengobatan dengan tablet metronidazole 2 gram peroral dosis tunggal III. Infeksi Bakteri Vaginosis bakterial merupakan sindroma atau kumpulan gejala klinis akibat pergeseran lactobacilli yang merupakan flora normal vagina yang dominan oleh bakteri lain, seperti Gardnerella vaginalis, Prevotella spp, Mobilancus spp, Mycoplasma spp dan Bacteroides spp. Vaginosis bakterial merupakan penyebab vaginitis yang sering ditemukan terutama pada wanita yang masih aktif secara seksual, namun demikian Vaginosis bakterial tidak ditularkan melalui hubungan seksual. Gejala klinis Asimtomatik pada sebagian penderita vaginosis bakterialis Bila ada keluhan umumnya berupa cariran yang berbau amis seperti ikan terutama setelah melakukan hubungan seksual

Vaginosis Bakterial (VB)

11

Pada pemeriksaan didapatkan jumlah duh tubuh vagina tidak banyak, berwarna putih, keabu-abuan, homogen, cair, dan biasanya melekat pada dinding vagina

Gambaran Fluor albus akibat Vaginosis bakterial Pada vulva atau vagina jarang atau tidak ditemukan inflamasi Pemeriksaan pH vagina >4,5 , penambahan KOH 10% pada duh tubuh vagina tercium bau amis (whiff test) Pada sediaan apus vagina yang diwarnai dengan pewarnaan gram ditemkan sel epitel vagina yang ditutupi bakteri batang sehingga batas sel menjadi kabur (clue cells) Diagnosis vaginosis bakterial dapat ditegakkan bila ditemukan tiga dari empat gejala berikut (Kriteria Amsell) : 1. Cairan vagina homogen, putih keabu-abuan, melekat pada dinding vagina 2. pH vagina > 4,5 3. Whiff test (+) 4. Ditemukan clue cell pada pemeriksaan mikroskopik Diagnosis Keputihan yang berbau tidak enak/bau seperti ikan, terutama setelah berhubungan seksual

12

Sekret berlebihan, banyaknya sedang sampai banyak, warna sekret : putih atau abu-abu dan melekat pada dinding vagina terutama forniks posterior Tanda-tanda inflamasi tidak ada Laboraorium : whiff test (+), pH 4,5 (biasanya 4,7-5,7) Mikroskopik : clue cell (+), jarang lekukosit, banyaknya lactobacilli berlebihan karena bercampur dengan flora, meliputi coccus gram (+) dan coccobacilli

Pengobatan Metronidazole 2 gram, peroral dosis tunggal atau Metronidazole 500 mg peroral, 2x1 hari selama 7 hari atau Ampisilin 500 mg peroral 4x1 hari selama 7 hari

Pengobatan lain dapat diberikan Krim klindamisin vagina 2% intravagina selama 7 hari atau Gel metronidazole 0,75% intravagina sehari 2 kali selama 5 hari Metronidazole tidak boleh diberikan pada kehamilan trimester pertama

Penanganan pada partner seksual Partner tetap atau sumber kontak : pemeriksaan rutin penyakit menular seksual (sexual transmitted disease) Biasanya tidak diindikasikan untuk pengobatan

13

Tabel : Penyebab, Gejala Klinis, Diagnosis Infeksi Vagina


Kandidosis Vulvovaginalis C.albicans Trichomoniasis T.vaginalis Vaginosis Bakterial G.vaginalis Bakteri anaerob Mycoplasma Bau amis Jarang Jarang Jarang Jarang Sedang Putih Keabuan Encer/berbusa. Homogen, tipis, melekat pada dinding vagina > 4,5 (+)

PENYEBAB

KELUHAN - bau duh tubuh vagina - lecet pada vulva - iritasi pada vulva - dispareunia GEJALA - Vulvitis/vaginitis - Duh tubuh vagina Jumlah Warna konsistens i

Bau asam + + + + Sedikit-sedang Putih Encer/menggumpal/cheesy plaques

Bau + + + + Banyak Kuning Encer/berbusa purulen

DIAGNOSIS - pH vagina - Whiff test - Mikroskopis KOH 10% Gram

4,5 (-) Bentuk ragi/sel tunas Pseudohifa bentuk ragi (+)

> 4,5 seringkali (+)

NaCl

Gerakan Trichomonas (+) Banyak sel PMN

Clue cells, PMN sedikit, lactobacilli sedikit (-)

14

Tabel : Terapi Infeksi Vagina


Kandidosis Vulvovaginalis Klotrimazol 500 mg intravagina, dosis tunggal atau Klotrimazol 200 mg / intravagina selama 3 hari atau Nistatin 100.000 unit / intravagina selama 14 hari atau Flukonazole 150 mg / peroral dosis tunggal atau Ketokonazole 200 mg 2x1 tablet selama 5 hari atau Itrakonazole 200 mg 2x1 tablet selama 1 hari Trichomoniasis - Metronidazole 2 gr peroral, dosis tunggal atau - Metronidazole 2x500 mg peroral, selama 7 hari Vaginosis Bakterial Metronidazole 2 gr peroral, dosis tunggal atau Metronidazole 2x500 mg peroral, 2 kali selama 2 hari atau Ampisilin 500 mg peroral 4xsehari selama 7 hari Krim klindamisin vagina 2%, intravagina selama 7 hari atau Gel metronidazole 0,75% intravagina 2xsehari selama 5 hari

TERAPI

Infeksi pada Serviks Servisitis Gonore Gonore merupakan suatu infeksi yang disebabkan oleh N. gonnorrheae pada traktus genitalis dan organ tubuh lainnya seperti konjungtiva, faring, rektum, kulit, persendian, serta organ dalam. Ditularkan melalui hubungan seksual. Pada wanita, N. gonnorrhoeae pertama kali mengenai kanalis servikalis. Selain itu dapat mengenai uretra, kelenjar skene, dan kelenjar bartholini. Masa inkubasi bervariasi, umumnya 10 hari.

15

Gejala klinis : Asimtomatik pada lebih dari sebagian penderita gonore Bila ada keluhan umunya cairan vagina jumlahnya meningkat, menoragi atau perdarahan intermenstrual Pada penderita yang menunjukan gejala biasanya ditemukan duh tubuh serviks yang mukopurulen. Serviks tampak eritem, edem, ektopi dan mudah berdarah saat pengambilan bahan pemeriksaan Diagnosis: Ditegakkan berdasarkan pemeriksaan laboratorium yaitu pemeriksaan langsung sediaan apus endoserviks dengan pengecatan gram akan ditemukan diplokokus gram negatif yang tampak di dalam sel PMN dan di luar sel PMN Pengobatan: Siprofloksasin 500 mg peroral, dosis tunggal atau Ofloksasin 400 mg peroral, dosis tunggal atau Tiamfenikol 3,5 gr peroral, dosis tunggal atau Seftriakson 250 mg, intramuskuler, dosis tunggal atau Spektinomisin 2 gr, intra muskuler, dosis tunggal Siprofloksasin, Ofloksasin dan Tiamfenikol tidak boleh diberikan pada wanita hamil atau sedang menyusui dan anak-anak. II. Servisitis yang disebabkan Chlamidia trachomatis Penyakit yang disebabkan oleh Chlamidia trachomatis sebagian besar serupa dengan gonore. Pada wanita, traktus genitalis yang paling sering terinfeksi oleh C. trachomatis adalah endoserviks. Pada 60 % penderita biasanya asimtomatik (silent sexually transmitted disease).

16

Gambaran Mikroskopis Chlamidia trachomatis Gejala klinis Bila penderita yang mempunyai keluhan, biasanya tidak khas dan serupa dengan keluhan servisitis gonore, yaitu adanya duh tubuh vagina Pada pemeriksaan inspekulo sekitar 1/3 penderita dijumpai duh tubuh servks yang mukopurulen, serviks tampak eritem, ektopi dan mudah berdarah pada saat pengambilan bahan pemeriksaan dari mukosa endoserviks

Gambaran pemeriksaan spekulum pada infeksi Chlamidia trachomatis Diagnosis Diagnosis ditegakkan berdasarkan pemeriksaan laboratorium, yaitu pemeriksaan sitologi, identifikasi antigen C.trachomatis, PCR dan isolasi C.trachomatis pada biakan sel Pengobatan Doksisiklin 2x200 mg peroral, selama 7 hai atau Azitromisisn 1 gr peroral, dosis tunggal atau Eritromisin 4x500 mg peroral, selama 7 hari atau

17

Tetrasiklin 4x500 mg peroral, selama 7 hari Doksisiklin, Tetrasiklin dan Azitromisin tidak boleh diberikan pada wanita hamil atau sedang menyusui dan anak-anak.

Protokol Penanganan Leukorrhea di Bagian Obgyn RSHS/FKUP

LEKORE ANAMNESIS PEMERIKSAAN SPEKULUM DAN PEMERIKSAAN DALAM

ENCER, BERBUSA, BERBAU, KUNING KEHIJAUAN SUSPEK: TRIKOMONIAS IS VAGINOSIS BAKTERI

PUTIH KENTAL, SUSU BASI, YOGHURT

BERNANAH, SERVIKS PURULENT SUSPEK: GONORE KLAMIDIA SIS

KELOMPOK KHUSUS PUTIH-ABU

SUSPEK: KANDIDIASI S

LABORATORIUM: MIKROSKOPIK PREPARAT BASAH NaCl 0,9%-----KOH-----PENGECATAN GRAM PEMERIKSAAN TAMBAHAN: TES PAP, BIAKAN, SEROLOGIS PENGOBATAN: -PASIEN DAN PASANGANNYA -PENYULUHAN DAN KONSELING KUNJUNGAN ULANG 7-14 HARI KEMUDIAN

LEKORE ADA Pikirkan: pengobatan sebab lain

MASIH cara reinfeksi, LEKORE TIDAK ADA

18

KESIMPULAN
Leukorrhea atau keputihan merupakan cairan bukan darah yang keluar berlebihan dari vagina. Leukorrhea merupakan suatu gejala yang timbul. Leukorrhea harus dibedakan antara yang fisiologis atau patologis. Leukorrhea patologis paling banyak disebabkan oleh infeksi, selain itu juga dapat disebabkan oleh kelainan kongenital, benda asing, menopause, kanker, penyakit diabetes melitus, kehamilan dan penggunaan obat-obatan (antibiotik, kortikosteroid, Penegakkan diagnosis harus melalui beberapa tahap. Dalam anamnesis harus terungkap apakah leukorrhea ini patologis atau fisiologis. Dalam pemeriksaan fisik harus dapat diketehui sifat cairan, kemungkinan benda asing, ulkus dan neoplasma. Pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan adalah pemeriksaan dengan mikroskop, pH, Pap Smear, kultur dan tes resistensi. Pengelolaan leukorrhea harus tuntas, selain terapi pada penderita pasangan seksual juga harus diperiksa karena penyebab terbesar infeksi adalah karena hubungan seksual.

19

DAFTAR PUSTAKA
1. De Charney. Alan H, M.D. 2003. Current Obstetric and Gynaecology Diagnosis and Treatment. New York : McGraw Hill. 2. Daili, Sjaiful Fahmi, Wresti Indriatmi B. 2003. Penyakit Menular Seksual. Jakarta: Balai Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. 3. Hidayat Wijayanegara, Achmad Suardi, Wiryawan Permadi, Tina Dewi Judistiani. 1997. Pedoman Diagnosis dan Terapi Obstetri dan Ginekologi RSUP Dr.Hasan Sadikin Edisi kedua. Bandung: Bagian/SMF Obstetri dan Ginekologi FKUP/RSUP Dr.Hasan Sadikin. 4. Medscape General Medicine,1999 in Normal Vaginal Ecosystem Physiology. www.medscape.com, 5. Medscape General Medicine, 1999 in Practice Guide to Diagnosing and Treating Vaginitis. www.medscape.com, 6. Natakusumah, Rustama. 1992. Penatalaksanaan Umum Keputihan. Dalam Kumpulan Makalah Simposium Pengelolaan Keputihan dan Masalah yang terkait.

20