Anda di halaman 1dari 10

ULASAN MENGENAI PEMBELAHAN SEL

RUJUKAN DARI JURNAL TELAAH BEBERAPA FUNGSI TITIK-UJI SIKLUS PEMBELAHAN SEL FASE G1 DAN S DARI INHIBITOR KINASE-BERGANTUNG-SIKLIN SIC1

Sel mengalami proses pembelahan, hal ini lebih dikenal dengan siklus sel. Siklus sel adalah proses duplikasi secara akurat untuk menghasilkan jumlah DNA kromosom yang cukup banyak dan mendukung segregasi untuk menghasilkan dua sel anakan yang identik secara genetik. Proses ini berlangsung terus-menerus dan berulang (siklik). Pertumbuhan dan perkembangan sel tidak lepas dari siklus kehidupan yang dialami sel untuk tetap bertahan hidup. Siklus ini mengatur pertumbuhan sel dengan meregulasi waktu pembelahan dan mengatur perkembangan sel dengan mengatur jumlah ekspresi atau translasi gen pada masing-masing sel yang menentukan diferensiasinya. Dalam uniseluler spesies, seperti bakteri dan ragi, setiap sel menghasilkan organisme tambahan. Dalam spesies multisel banyak putaran pembelahan sel yang diperlukan untuk membentuk individu baru. Pemahaman kita tentang siklus sel telah mengalami sebuah revolusi dalam beberapa tahun terakhir. Di masa lalu siklus sel dipantau dengan mengamati peristiwa segregasi kromosom dengan mikroskop cahaya dan replikasi DNA dengan mengukur prekursor radioaktif penggabungan menjadi DNA. Percobaan baru-baru ini telah memberikan perspektif baru dan sederhana, memperlihatkan sistem kontrol siklus yang koordinat siklusnya secara keseluruhan. Protein pada sistem kontrol ini pertama kali muncul lebih dari satu miliar tahun yang lalu dan telah begitu kekalnya dalam evolusi, bahwa banyak dari mereka berfungsi sempurna saat dipindahkan dari sel manusia ke sel ragi.
ABDURRAAFI MD - ULASAN JURNAL TENTANG PEMBELAHAN SEL | 1

Oleh karena itu, kita dapat mempelajari sistem kontrol dalam berbagai sel eukariotik dan menggunakan temuan-temuan mereka pada penyusunan suatu gambaran terpadu tentang bagaimana sel-sel tumbuh dan membelah. Pemahaman akan pengaturan siklus pembelahan sel memiliki implikasi penting bagi bidang kedokteran maupun pertanian, dan dapat membuka jalan untuk penemuan cara-cara baru menginduksi pembelahan sel, yang dalam bidang kedokteran dibutuhkan untuk mere-konstruksi atau merehabilitasi jaringan yang rusak, terutama jaringan yang setelah dewasa tidak tumbuh lagi, misalnya jaringan syaraf. Dalam bidang kedokteran, pengetahuan tentang pengaturan siklus sel juga sangat penting untuk dapat menghentikan pembelahan sel yang tak terkontrol, seperti yang dijumpai pada reproduksi dari sel kanker. Pengetahuan untuk menginduksi pembelahan sel juga berguna dalam bidang pertanian, misalnya untuk mempercepat pertumbuhan suatu kultur jaringan tanaman. Berbagai komponen yang berperan dalam siklus sel sangat terkonservasi mulai dari sel ragi hingga sel manusia. Sebagai contoh, protein kinase yang memegang peranan sangat penting untuk pengaturan pembelahan sel terkonservasi mulai sel ragi hingga sel manusia. Protein kinase ini yang dikenal dengan nama Kinase (CyclinDependent-Kinase = CDK), di dalam sel ragi dikenal sebagai Cdc28, dan di sel manusia dikenal sebagai CDK1 (yang disebut juga Cdc2) hingga CDK7. Ternyata CDK1 (Cdc2) sel manusia bukan saja homolog struktural dari Cdc28 sel ragi, tetapi juga homolog fungsio-nal, artinya fungsi Cdc28 dapat digantikan CDK1, dan sebaliknya. Dengan demikian mempelajari siklus sel dengan menggunakan sel ragi akan mem-beri banyak jawaban mengenai pengaturan siklus pembelahan berbagai sel eukariot, termasuk sel manusia. Sel diproduksi dengan penggandaan organel-organel di dalamnya kemudian melakukan pembelahan. Pada hewan atau tumbuhan tingkat tinggi, pembelahan sel dibutuhkan untuk menggantikan sel-sel yang telah usang (rusak). Pada seorang manusia dewasa diproduksi berjuta-juta sel tiap detiknya agar kondisinya tetap normal, dan jika semua pembelahan sel tertahan (misalnya oleh radiasi ion yang tinggi), dia akan mati hanya dalam beberapa hari saja. Penggandaan pada sebagian besar unsur pokok dalam sel tidak membutuhkan untuk dikontrol secara tepat. Jika terdapat banyak tiruan dari

ABDURRAAFI MD - ULASAN JURNAL TENTANG PEMBELAHAN SEL | 2

molekul atau organel, jumlahnya dapat diperkirakan, yaitu dua kali jumlah semula, dalam satu siklus pembelahan, induk sel memberikan kurang-lebih separuh bagian untuk setiap anak sel. Tapi paling tidak ada satu pengecualian yang jelas, yaitu: DNA pasti selalu digandakan secara tepat kemudian dibagi secara tepat pula diantara kedua anak sel yang dihasilkan dari prose pembelahan dan hal itu membutuhkan mekanisme khusus. Dalam pendiskusian siklus sel, terkadang terdapat kesulitan untuk membedakan antara siklus kromosom dan siklus paralel sitoplasma. Di dalam siklus kromosom, sintesis DNA, yang mana DNA inti digandakan, dilanjutkan oleh mitosis, dimana tiruan dari penggandaan genom dipisahkan. Dalam siklus sitoplasmik, sel berkembang, dimana banyak komponen sel jumlahnya digandakan, dilanjutkan dengan sitokinesis, dimana seluruh sel dibagi menjadi dua. Kita memulai bagian ini dengan mendiskusikan koordinasi dan kontrol dari siklus yang saling bergantung. Kita meneliti mekanisme-mekanisme yang memastikan bahwa seluruh DNA inti melakukan replikasi sebanyak satu kali dan hanya satu kali dalam proses pembelahan sel. Dan kita menganggap bagaimana kejadian dari siklus kromosom dihubungkan dengan siklus sitoplasmik. Kita kemudian mengeksplor regulasi dari pembagian sel dalam hewan multi selular dengan menggunakan faktor-faktor yang ada di dalam ligkungan sel-sebuah topik yang telah menjelaskan secara gamblang bagi penelitian kanker tingkat lanjut. Akhirnya kita mendiskusikan tanggapan mekanisme molekul dalam mitosis dan sitokinesis. Pada dua proses tersebut menunjukkan bahwa sentrosom benar-benar dapat diwariskan dan digandakan secara tepat untuk membentuk dua kutub dalam kumparan mitosis. Siklus sentrosom dapat dianggap sebagai komponen ketiga di dalam siklus sel. Pada organisme eukariotik yang berkembang biak secara seksual tergantung dari reproduksi sel. Hal ini karena zigot yang terbentuk berasal dari sel telur yang dibuahi oleh sel sperma. Zigot yang bersel tunggal harus mengalami pembelahan atau reproduksi untuk mencapai ukuran tertentu. Pada dasarnya, pembelahan sel dibedakan menjadi 2 macam, yaitu pembelahan sel secara langsung dan secara tak langsung. Pembelahan sel secara langsung jika proses

ABDURRAAFI MD - ULASAN JURNAL TENTANG PEMBELAHAN SEL | 3

pembelahan tidak didahului dengan pembentukan gelondong pembelahan dan penampakan kromosom. Adapun pembelahan sel secara tak langsung jika proses pembelahan didahului dengan pembentukan gelondong pembelahan dan penampakan kromosom. Pembelahan sel secara langsung disebut amitosis, sedangkan pembelahan secara tidak langsung meliputi pembelahan mitosis dan pembelahan meiosis. Pembelahan amitosis terjadi pada bakteri, Protozoa, dan ganggang bersel satu. Proses pembelahan ini tidak melalui tahapan-tahapan pembelahan. Satu sel induk akan membelah secara langsung menjadi dua, dua menjadi empat, empat menjadi delapan, dan seterusnya hingga sel tersebut bertambah banyak. Proses pembelahan langsung didahului oleh pembelahan inti menjadi dua, diikuti oleh pembelahan sitoplasma dan akhirnya sel terbagi menjadi dua sel anak. Keuntungan mempelajari siklus sel eukariot atau sel manusia

menggunakan model sel ragi, bukan saja disebabkan terkonservasinya siklus sel mulai dari sel ragi hingga sel manusia, tetapi juga karena sel ragi lebih mudah dipropagasi dari sel manusia, karena memiliki waktu belah yang hanya 90 menit (sel manusia 24 jam), mudah diamati secara visual di bawah mikroskop, dan memerlukan bahan media yang relatif lebih murah dibandingkan media untuk kultur sel manusia. Hingga kini, berdasarkan temuan yang diperoleh dari mempelajari siklus sel ragi, diperoleh analogi dan diklon gen-gen homolognya pada sel manusia. Sebelum pembelahan, sel harus memastikan telah menyelesaikan proses replikasi DNA, proses reparasi DNA, proses pertumbuhan sel hingga suatu ukuran tertentu dan proses penghimpunan gelendong sel (cell spindle assembly). Hal ini dilakukan dengan kontrol balikan (feedback) yang dapat mendeteksi kegagalan penyelesaian proses-proses tersebut, ataupun proses lainnya yang semestinya diselesaikan pada fase tertentu siklus sel. Sistem kontrol balikan ini dapat menghentikan siklus sel pada titik-titik tertentu yang disebut titik-uji (checkpoints) siklus sel bila menemukan proses yang dipantaunya tidak tuntas atau mengalami hambatan/kerusakan . Diteruskannya siklus sel secara prematur sebelum penyelesaian tahaptahap tertentu siklus sel dapat menyebabkan ketidakstabilan genetik dan

ABDURRAAFI MD - ULASAN JURNAL TENTANG PEMBELAHAN SEL | 4

kerusakan pada kromosom. Inhibitor kinase bergantung-siklin (Cyclin dependent kinase inhibitor = CKI), Sic1, dapat menghambat kerja sel ragi dan pelesapan gen SIC1 yang menghasilkan protein Sic1 menyebabkan sel-sel dengan kerusakan kromosom meningkat. Sifat-sifat Sic1 yang demikian, menunjukkan kemungkinan peranan Sic1 sebagai suatu protein titik-uji yang memonitor penyelesaian suatu proses dalam siklus sel dan menghentikan siklus sel bila proses yang dipantau tersebut belum tuntas atau mengalami hambatan, yakni dengan menghambat kerja CDK yang berperanan dalam menggerakkan siklus sel.

Proses yang dimonitor oleh suatu protein titik-uji dapat diidentifikasi dari peningkatan kematian sel bila sel-sel yang telah kehilangan protein titik-uji tersebut dikenakan perlakuan yang merusak atau menginhibisi proses yang dimonitor termaksud. Sebagai contoh adalah Rad9, yakni protein yang memonitor kerusakan DNA dan menghentikan siklus sel pada fase G2 akibat penyinaran gamma. Ter-nyata kematian sel-sel yang telah kehilangan protein titik-uji Rad9, akan meningkat 1000 kali pada pe-nyinaran gamma dibandingkan sel yang protein Rad9nya masih berfungsi dengan baik. Peningkatan kematian sel yang telah kehilangan protein titik-uji tersebut disebabkan gagalnya protein titik-uji menghen-tikan siklus sel sebelum peristiwa yang dimonitor dituntaskan atau diperbaiki, dengan akibat sel bunuh diri dengan terlalu dini memasuki fase siklus sel berikutnya. Fase siklus sel (G1, S, G2 dan M) dimana : 1. Fasa S (sintesis): Tahap terjadinya replikasi DNA 2. Fasa M (mitosis): Tahap terjadinya pembelahan sel (baik pembelahan biner atau pembentukan tunas) 3. Fasa G (gap): Tahap pertumbuhan bagi sel. 1. Fasa G0, sel yang baru saja mengalami pembelahan berada dalam keadaan diam atau sel tidak melakukan pertumbuhan maupun perkembangan. Kondisi ini sangat bergantung pada sinyal atau rangsangan baik dari luar atau dalam sel. Umum terjadi dan beberapa tidak melanjutkan pertumbuhan (dorman) dan mati. 2. Fasa G1, sel eukariot mendapatkan sinyal untuk tumbuh, antara sitokinesis dan sintesis. 3. Fasa G2, pertumbuhan sel eukariot antara sintesis dan mitosis.

ABDURRAAFI MD - ULASAN JURNAL TENTANG PEMBELAHAN SEL | 5

Fasa tersebut berlangsung dengan urutan S > G2 > M > G0 > G1 > kembali ke S. Dalam konteks Mitosis, fase G dan S disebut sebagai Interfase. yang biasa dihentikan oleh protein titik-uji bila peristiwa yang dimonitor mendapat kendala, dapat juga diketahui de-ngan penurunan kematian sel bila fase termaksud diperlambat secara buatan dari luar sel, sehingga mencegah sel yang telah kehilangan protein titik uji terlalu dini melan-jutkan siklus sel ke fase berikutnya. Sebagai contoh, alel negatif Rad9 dapat diselamatkan dari kematian pada penyinaran gamma. Dalam junal tersebut telah ditelaah beberapa fungsi titik-uji yang mungkin dimiliki oleh Sic1 dengan mengamati respon sel yang telah kehilangan fungsi Sic1 (sel Dsic1) terhadap: 1. kerusakan DNA akibat penyinaran UV atau gamma, 2. penghambatan sintesis DNA oleh hidroksiurea, 3. penambahan fero-mon perjodohan (mating pheromones) pada media, dan 4. kekurangan nitrogen Di samping itu, ditelaah pula kemampuan perlambatan fase G1-awal dan S untuk dapat menyelamatkan sel-sel Dsic1 dari kematian dan kerusakan kromosom. Proses Siklus Sel Secara Umum Pada peristiwa mitosis kromosom di dalam nukleus mengalami kondensasi sehingga kromosom tersebut dapat diamati, kemudian kromosom tersebut mengganda menjadi dua set kromosom yang sama. Kemudian, terjadi peristiwa sitokinesis, yaitu sel itu sendiri membelah menjadi dua sel anak, yang masingmasing memiliki satu set kromosom. Karena mitosis dan sitokinesis begitu mudah untuk diamati, sehingga mitosis dan sitokinesis menjadi fokus awal ketertarikan bagi seorang peneliti. Dua hal ini, bagaimanapun juga,saling mengisi hanya dalam waktu yang singkat, yang dikenal sebagai fase M (mitosis) dalam siklus perkembangbiakan selama waktu yang melewati antara satu fase M and fase berikutnya disebut sebagai interfase. Interfase terlihat ketika diamati

menggunakan mikroskop, pada fase ini seolah-olah tak banyak terjadi aktivitas di dalam sel, padahal secara pelan-pelan sel tumbuh mengem bangkan ukuran. Sebagian besar teknik yang lain menyatakan bahwa interfase merupakan masa persiapan sel menuju pembelahan, pada masa ini disiapkan tahapan-tahapan

ABDURRAAFI MD - ULASAN JURNAL TENTANG PEMBELAHAN SEL | 6

menuju pembel

n sel tersebut Pada bagian ini kita akan membahas bagaimana

tahapan-tahapan padainterfase dapat diketahui dan bagaimana langkah -langkah pada siklus sel saling terhubung.

Penggandaan DNA Inti Terjadi pada Sebagian Waktu Interfase Pada sebagian besar sel DNA inti mengganda pada suatu bagian yang terbatas dari interfase; peri de pembentukan DNA ini dinamakan Fase S dari siklus sel. Antara berakhirnya fase M dengan dimulainya sintesis DNA memiliki interval atau jeda yang dinamakan fase G1 (Gap/jarak), sedangkan interval kedua dinamakan fase G2 yaitu jeda antara berakhirnya proses sintesis DNA dengan dengan dimulainya fase M. Interfase terdiri atas fase G , S dan G2, dan secara 1, umum fase ini terjadi sebanyak 90% atau lebih dari total waktu siklus sel. Gambar 1. Empat urut-

urutan fase yang terjadi pada siklus sel eukariyot. Setelah fase M yang terdiri dari fase mitosis dan

sitokinesis sel anak akan memulai interfase pada siklus sel yang

barikutnya. Waktu dari sintesis DNA pada siklus sel pertama kali ditubjukkan pada awal 1950an teknik dengan

menggunakan

autoradigrafi

untuk menandai sel tertentu yang sedang mensintesis DNA. Metode standar yang digunakan adalah menggunakan 3H-timidin, yaitu procusor radioaktif yang digunakan setiap sel dalam sintesis DNA. 3H-timidin ini dapat diinjeksikan kedalam sel hewan untuk mempelajari proses pembelahan sel di dalam jaringan atau menambahnya ke dalam medium kultur sel. Untuk masalah yang tadi, jaringan dilepas dari hewannya pada beberapa saat setelah penyuntikan 3HAB AAF - ULASAN URNAL TENTAN PEMBELAHAN SEL| 7

timidin, kemudian dilakukan autoradiografi. Sel yang sedang melakukan sintesis DNA yang ditandai dengan adanya labeling period (sedang berada di dalam fase S) diketahui dengan adanya bintik-bintik perak yang terdapat disekitar inti sel. Dari bagian sel yang tertandai, adalah hal ini periode setelah pembukaan sel hewan oleh 3 H-timidin, dan dengan penghitungan sel tersebut berada dalam fase M, hal ini memungkinkan untuk mengetahui bahwa sel memiliki 4 fase berbeda yang memiliki durasi yang berbeda pula. Lamanya siklus sel sangat bervariasi dari satu jenis sel yang lain. Fly embrio memiliki siklus terpendek dengan waktu hanya 8 menit, sementara siklus sel mamalia sel hati dapat bertahan lebih lama dari setahun. Namun, dengan contoh yang lebih khas dan menggambarkan urutan peristiwa dalam pemisah yang cukup cepat sel mamalia, dengan siklus waktu sekitar 24 jam. Siklus sel dibagi menjadi beberapa tahap yang berbeda, dimana mitosis, proses nuklir divisi, menjelang saat pembelahan sel itu sendiri, dalam mitosis amplop nuklir rusak, isi nukleus terlihat menjadi kromosom, dan sel mikrotubulus mengatur ulang untuk

membentuk gelendong mitosis yang pada akhirnya akan memisahkan kromosom. Sebagai mitosis berlangsung, tampaknya sel berhenti sebentar dalam keadaan yang disebut dengan metafase, di mana kromosom, sudah digandakan, diselaraskan pada gelendong mitosis, siap untuk pemisahan. Pemisahan kromosom digandakan menandai awal anafase, di mana kromosom bergerak ke kutub dari gelendong, di mana mereka decondense dan membentuk kembali utuh inti. Sel ini kemudian terletak dalam dua keadaan oleh sebuah proses yang disebut sitokinesis, yang dipandang sebagai akhir fase mitosis, atau M fase, dari siklus sel. Pada sebagian besar sel seluruh fase M hanya membutuhkan waktu sekitar satu jam, yang hanya sebagian kecil dari keseluruhan siklus waktu. Jauh dari periode yang lama berlalu antara satu M fase dan berikutnya dikenal sebagai interfase. Namun teknik lain mengungkapkan bahwa interfase adalah sebenarnya memerlukan waktu yang lama bagi sel berkembang biak, di mana persiapan yang rumit pembelahan sel yang terjadi di dekat urutan proses tersebut. Secara khusus, selama interfase bahwa DNA dalam inti direplikasi. Replikasi DNA Nuklir Terjadi Selama bagian dari Interfase S Fase 1 Replikasi DNA nuklir yang hanya

ABDURRAAFI MD - ULASAN JURNAL TENTANG PEMBELAHAN SEL | 8

menempati sebagian dari interfase, yang disebut fase S dari siklus sel (S = sintesis). Interval antara penyelesaian mitosis dan awal sintesis DNA disebut fase G1 (G = gap), dan interval antara akhir sintesis DNA dan aw mitosis yang al disebut fase G2, G1 dan G2 memberikan waktu tambahan untuk pertumbuhan: jika interfase hanya berlangsung cukup lama untuk replikasi DNA, sel tidak akan punya waktu untuk menggandakan massa sebelum dibagi. Selama sel G1 lingkungannya dan ukuran sendiri dan ketika waktunya sudah tiba, membutuhkan waktu untuk menentukan replikasi DNA dan penyelesaian siklus divisi. Pada fase G2, sel dapat memastikan bahwa replikasi DNA telah selesai sebelum masuk pada proses mitosis G1, S, G2, dan M dimana merupakan subdivisi dari siklus sel standar. Kita akan melihat bahwa sebagian besar, tapi tidak semua, siklus sel sesuai dengan skema standar ini. Karena sel memerlukan waktu untuk tumbuh sebelum mereka membagi, siklus sel standar biasanya cukup panjang yaitu 12 jam atau lebih untuk cepat tumbuhnya jaringan dalam mamalia. Dalam sebagian besar biasanya dipelajari jenis sel, terjadi pada durasi G1. Sel-sel di G1, saat sebelum replikasi DNA, dapat menghentikan sebentar dalam proses di seluruh siklus dan masuk ke fase istirahat, sering disebut G0 (G nol), di mana mereka dapat tetap selama berhari-hari, berminggu-minggu, atau bahkan bertahun-tahun sebelum melanjutkan proliferasi. Eucaryotic mengalami fase terpendek dari semua siklus divisi bahkan lebih pendek daripada banyak bakteri, dimana awal siklus sel embrionik yang terjadi pada hewan tertentu embrio segera setelah pembuahan, yang berfungsi untuk membagi sebuah sel telur raksasa ke dalam banyak sel yang lebih kecil secepat mungkin. Dalam siklus ini tidak ada pertumbuhan yang terjadi, G1 dan fase G2 dikurangi, dan waktu dari satu divisi berikutnya adalah antara 8 dan 60 menit, menghabiskan setengah waktu dalam fase S, setengah dalam M. Sel pada fase S dapat dikenali dengan dengan molekul berlabel timidin, sebuah senyawa yang digunakan sel khusus untuk sintesis DNA. Label dapat radioaktif, biasanya dalam bentuk 3H-timidin, atau kimia, biasanya dalam bentuk bromo-deoxyuridine (BrdU), timidin buatan analog. Inti sel yang telah

memasukkan senyawa berlabel diakui oleh autoradiografi (Figure17-5) atau dengan pewarnaan dengan anti-BrdU antibodi, masing-masing. Biasanya, dalam

ABDURRAAFI MD - ULASAN JURNAL TENTANG PEMBELAHAN SEL | 9

pertumbuhan populasi sel yang berkembang biak dengan cepat tetapi semua asynchronously, tentang 30% akan berada di fase S pada setiap saat dan akan menjadi diberi label oleh denyut singkat dari prekursor DNA. Dari fraksi sel yang diberi label (pelabelan indeks), seseorang dapat memperkirakan durasi fase S sebagai bagian dari seluruh siklus. Demikian pula, dari fraksi terlihat pada mitosis sel (indeks mitosis), seseorang dapat memperkirakan durasi M fase sebagai sebagian kecil dari seluruh siklus. Selain itu, dengan memberikan sebuah pulsa 3H-timidin atau BrdU dan membiarkan sel untuk melanjutkan di sekitar siklus untuk diukur panjang waktu, seseorang dapat mencari tahu berapa l ma waktu a yang dibutuhkan fase S-sel untuk kemajuan melalui G2 into M fase, melalui M fase ke G1, dan akhirnya melalui G1 kembali ke fase S. Atau, orang dapat menilai di mana sel dalam siklus dengan mengukur konten DNA, yang dua kali lipat selama fase S. Ini Pendekatan ini sangat difasilitasi oleh penggunaan fluoresensi-sel diaktifkan penyortir, yang memungkinkan sejumlah besar sel yang akan dianalisis secara otomatis. Satu bisa melanjutkan untuk menemukan panjang dari G1, S, dan G2 + M fase dengan mengikuti populasi sel yang dipilih untuk menjadi semua di dalam satu fase tertentu dan menggunakan DNA pengukuran untuk memantau selanjutnya perkembangan sel-sel ini melalui siklus.

ABDURRAAFI MD - ULASAN JURNAL TENTANG PEMBELAHAN SEL | 10