Anda di halaman 1dari 3

Amazing Ujung Genteng Berawal dari planning yang asal2an akhirnya gw bersama dua temen gw (fahri dan dino)

sukses juga backpackeran ke ujung genteng. This story from ujung genteng, AMAZING UJUNG GENTENG ini sebenarnya udah kelewat lama tapi baru sekarang bisa menuangkan di blog. Ok langsung aja deh ke TKP! Kami berangkat tanggal 22 april, pagi buta sehabis sholat shubuh saya dan fahri (saat itu fahri menginap dikosan gw) segera berbenah berangkat ke ujung genteng. Dino, temen gw satunya dia berangkat dari kosannya dan qt janjian ketemu di pertigaan jalan antara kosan gw dengan kosan dino. Setelah personil lengkap, backpacker siap tancap gas. Eits tunggu dulu mumpung ada simbok penjual nasi uduk yang gak jauh dari tempat qt ketemuan ada baiknya perut diisi dulu. Backpacker dimulai dari halte busway plumplang pertamina (paling dekat dengan kosan). Untuk naik busway ini kita dikenakan biaya 2rb perorang (busway dibawah pukul 7 pagi harga tiket 2rb) so keluar 6rb dari dompet fahri. Prinsip keuangan kami adalah three in one, maksudnya qt nyetor uang untuk dijadikan satu. Kebetulan yang dipercaya sebagai pemegang keuangan adalah si fahri dan uang terkumpul berjumlah 600rb. Dari halte busway plumplang kami menuju stasiun kota, kami harus transit dulu di halte cempaka mas dan harmoni supaya bisa sampai ke tempat tujuan (koridor 10 koridor 2 koridor 1). Setelah sampai kota, kita langsung menuju ke bogor dengan naik krl jur kota bogor. Sampai di bogor pukul 10 pagi, rencana mau naik krl ke arah sukabumi tapi ternyata berangkatnya sore jadi kami harus menuju terminal bogor untuk naik angkutan umum menuju sukabumi. Dari terminal bogor kami cari angkutan jur sukabumi, dengan bertanya2 pada orang akhirnya kami memutuskan naik angkutan semodel mikrolet menuju sukabumi (maaf udah gak inget kode mikroletnya apa) masing2 kena 10rb. Dari petunjuk peta yang kami bawa, kita seharusnya turun di terminal cibadak tapi karena human error (gara2 fahri nih) kami turun disaat dan ditempat yang seharusnya kami belum turun. Akhirnya kami berjalan tanpa arah yang jelas sambil tanya2 info sama warga sekitar. Jawaban yang kami dapat sangat memilukan, masih sangat jauh sekali mas, dan disini gak ada angkutan kesana ada cumin jarang banget dan lamaaaaaaaaaaaaaaaa banget. Mendengar kalimat itu, kamipun langsung lemas. Eh di depan ada masakan padang tuh, isi perut dulu yuk!, karena perut lapar akhirnya kami makan dulu. Nasi lauk ayam bakar s udah habis saatnya memenuhi kewjiban yaitu membayar, pas gw bayar gw skalian nanya info eh (Alhamdulillah) ada bapak2 nawarin tumpangan, mau ke surade ya? Ikut kami aja kebetulan arahnya sama tapi tunggu kita selesai makan. Akhirnya perjalananpun kami lanjutkan. Busyet jalannya serem banget, kiri kanan jurang sedangkan jalurnya jalur offroad.. Haduh! Bismillah ajah. Bapak yang baik tersebut hanya bisa memberikan tumpangan ke jampangkulon karena tujuan bapak tsb ya itu jampang kulon dan kami berpisah di

alun-alun jampang kulon. Untuk ke surade kami harus naik bus dengan biaya 2rb perorang. Akhirnya kami sampai juga di surade. Dari surade jam menunjukkan pukul 5 sore, kamipun harus secepatnya menuju ujung genteng karena angkutan menuju ujung genteng beroperasi tidak melebihi pukul 5 sore. Setelah wira wiri Tanya sana sini akhirnya ada angkutan juga, akhirnya kami terangkut menuju ujung genteng dengan biaya perorang 10rb. Jlan menuju ujung genteng gak jauh beda dari jalan2 sebelumnya. Seperti didalam diskotik kepala pusing kepontangpanting kiri kanan tapi seru juga. Dan akhirnya yang ditunggu-tunggupun sudah di depan mata. Pantai ujung genteng, wow lumayan ramai juga. Ujung Genteng merupakan daerah pesisir pantai selatan Jawa Barat yang terletak di Kecamatan Ciracap, Kabupaten Sukabumi dengan jarak tempuh sekitar 220 kilometer dari Ibu Kota Jakarta yang memakan waktu 12 jam (patokan kami angkutan umum lho)

DAY 1 Hari pertama alias hari dimana kami baru saja sampai di pantai ujung genteng, kami menghabiskan waktu dengan jeprat jepret kamera hp sambil menunggu sunset. Setelah momen keindahan sunset terlewatkan, kami bergegas menuju pantai pangumbahan tepatnya di penagkaran penyu hijau. Jarak dari pantai ujung genteng menuju pantai pangumbahan adalah 5 KM, lumayan capek karena kami menempuhnya dengan berjalan kaki menyusuri pantai dan jalan sempit yang sepi dan gelap sekali. Akhirnya sampai juga di penangkaran penyu, kamipun harus menunggu lama bersama wisatawan lain untuk bisa menyaksikan induk penyu yang akan melahirkan. Setelah puas melihat aksi induk penyu bertelur, tepat pukul 00.30 WIB kita meuju mushola di kawasan penangkaran penyu tersebut untuk beristirahat malam (budget tipis gak cukup buat bayar penginapan).

DAY 2 Rencana mau lihat sunrise eh malah kelewat begitu saja karena gak ada yang bangun pagi (kesiangan bro). Ya udahlah mo gimana lagi masa matahari disuruh ngulang sunrisenya (emang lo siapa). Sehabis mandi di wc umum kami bertiga bergegas menuju pantai pangumbahan. Wow keren banget pantainya beda jauh dengan pantai ujung genteng ombaknya juga cukup besar. Kamipun menghabiskan waktu di pantai pangumbahan tersebut.

Setelah puas berenang di pantai pangumbahan, kami langsung menuju pantai ujung genteng untuk kembali menuju Jakarta. Rencana pengen ke curug cikaso batal karena waktu yang mengharuskan kami segera balik ke Jakarta. Akhirnya kamipun kembali ke Jakarta dan kembali beraktivitas seperti biasanya.