Anda di halaman 1dari 17

TUGAS UJIAN AKHIR PRAKTIKUM KIMIA ANORGANIK DASAR

Makalah Ini Disusun Untuk Memenuhi Tugas Ujian Akhir Praktikum Kimia Anorganik Dasar

Sintesis Tawas
Disusun oleh : Zuhriyatus Sholihah 09630057

LABORATORIUM KIMIA DASAR JURUSAN KIMIA FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN) MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG 2011

B BI PE L

1.1.1

latar B lakang Kebanyakan senyawa-senyawa anorganik merupakan senyawa hasil sintesis

yang berasal dari golongan logam. Tawas merupakan senyawa anorganik yang dihasilkan dri proses sintesis-sintesis tawas yang mana melibatkan unsur-unsur logam. Seperti halnya tawas, kelompok garam rangkap, berhidrat berupa padatan kristal dengan rumus umum L2So4 L12(SO4)3 . 24H2O dimana L= logam monovalen dan L1= logam trivalen contohnya tawas kalium, tawas ammonium, tawas krom dan tawas ferry ammonium. Tawas mempunyai banyak manfaat diantaranya untuk penjernihan air, penyamak kulit, baking powder dan alat pemadam api. Aluminium merupakan logam yang sering kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari seperti halnya pada kaleng minuman ringan, kaleng susu, peralatan masak, kabel-kabel listrik dan lain-lain. Banyaknya kaleng-kaleng bekas minuman ringan yang penimbunan sampah terbuang menimbulkan masalah bagi lingkungan. Karena akan menyebabkan penimbunan sampah, sementara kaleng-kaleng tersebut dapat dimanfaatkan dengan mendaur ulang menjadi tawas. Pada percobaan kali ini, praktikan diharapkan mampu memanfaatkan kaleng -kaleng bekas minuman ringan dan mendaur ulang menjadi tawas, sehingga tidak menyebabkan pencemaran lingkungan.

1.1.2 Tujuan Pecobaan  Untuk membuat tawas dan logam aluminium dan garamnya  Untuk menguji kemurnian dari tawas dengan mengukur titik lelehnya

B B II DASAR TE RI

2.1

Tinjauan Pu taka Pada dasarnya sintesis tawas menggunakan prinsip kristalisasi. Dimana langkah

pertama adalah melarutkan padatan larutan, kemudian larutan dipanaskan sampai mendidih kemudian larutan disaring dengan penyaring, penyaring buchner dalam keadaan panas, kemudian filtrat didinginkan sampai terbentuk endapan, endapan disaring dengan kertas saring, selanjutnya endapan dikeringkan dengan asam.1 Senyawa tawas seperti KAl (SO4)2.12H2 O dapat dengan mudah dijumpai dipasaran, bermanfaat pada proses penjernihan air dan industri pencelupan atau warna. Alumunium sulfat juga dapat dipakai sebagai bahan pemadam kebakaran tipe basa bersama soda NaHCO3.2 Logam Alumunium Berwarna putih, mengkilat mempunyai titik leleh lebih tinggi yaitu 660C, titik didih 2647 C. Nama alumunium diturunkan dari kata alum yang merujuk pada senyawa garam rangkap (KAl) (SO4)2.12H2O. kata ini berasal dari bahasa latin yang artinya garam pasif. Logam alumunium tahan terhadap korosi udara, karena reaksi antara logam aluminium dengan oksigen udara menghasilkan oksidanya Al2 O3.3 Logam kalium merupakan kelompok logam alkali dengan nomor atom 19, logam berwarna kepekatan, lunak, paling reaktif, dan paling elektropositif. Cepat bereaksi dengan udara, bereaksi hebat dengan air disertai dengan pelepasan H2 dengan warna nyala biru, logam ini mempunyai titik leleh 64C dan titik didih 766C serta merupakan logam yang ringan setelah litium dengan berat molekul 0,87 gr/cm3.4 Kalium merupakan logam putih perak yang lunak. Logam ini melebur pada 63,5C. Ia tetap tidak berubah dalamn udara kering tetapi dengan cepat beroksidasi dalam udara lembab, menjadi tertutup dengan suatu lapisan biru, logam ini menguraikan air dengan dahsyat sambil melepas hidrogen dan terbakar dengan nyala lembayung.5 2K+ + 2H2 O 2K+ + 2 -OH + H2

. Khamidinal, 2009 :137 . Sugiyanto, 2003: 125 3 . Ibid 4 .Keenan, 1980 : 152 5 . Vogel, 1985 : 308
2

Kelas terpenting dari logam aluminium merupakan contoh struktur dan memberikan namanya pada sejumlah besar garam adalognya yang terbentuk dengan unsur lain. Mereka mempunyai rumus umum M Al (SO4)2.12H2 O, dimana M adalah kation monoatom univalen kecuali Li+ yang terlalu kecil untuk ditampung tanpa penghilangan strukturnya.6 Dalam proses penjernihan air, biasanya tawas dicampur dengan air kapur Ca (OH)2, persamaan reaksi yang terjadi.7 Al 3+ (aq) + SO42- (aq) + Ca2+(aq) 3(- OH) Al(OH)3 + CaSO4(s) Endapan hasil tersebut berupa gelatin yang mampu menyerap kotoran dan juga 2 arah bakteri untuk dibawa mengendap kedasar tempat air sehingga diperoleh air yang jernih.8 Ukuran kristal yang terbentuk selama pengendapan tergantung 2 faktor penting, yaitu laju pembentukan inti (nukleasi) dan laju pertumbuhan kristal. Jika laju pembentukan tinggi, banyak kristal yang terbentuk dan terbentuk endapan-endapan yang terdiri dari partikel-partikel kecil. Laju pembentukan ini tergantung pada derajat lewat jenuh, makin besar untuk kemungkinan untuk membentuk inti jadi makin besarlah laju pembentukan ini tergantung pada derajat lewat jenuh, makin besar kemungkinan untuk membentuk inti jadi makin besarlah laju pembentukan inti.9 Kalium aluminium sulfat dedokahidrat KAl (SO4)2.12H2O dapat dibuat dari logam aluminium dan kalium hidroksida. Logam aluminium bereaksi secara cepat dengan KOH panas menghasilkan garam kalium aluminat.10 2Al(s) + 2K+(aq) + 2-OH(aq)+6H2 O(l) 2K+(aq)+2Al(OH)4-(aq) + 3H2(g) Ion aluminium Al(OH4 )- bersifat amfoter jika direaksikan dengan asam sulfat, diendapkan sebagai aluminium hidroksida, tetapi larut pada pemanasan.11 2K+(aq) + 2Al(OH4 )-(aq) + 2H+(aq) + SO42-(aq) 2Al(OH)3(s) + 6H+(aq)+3SO42-(aq) 2Al(OH)3(s) + 2K+(aq) + SO42-(aq) + 2H2 O(l) 2Al3+(aq) + 3SO42-(aq) + 6H2 O(l)

Jika larutan kalium aluminat sulfat dodekahidrat yang hampir jenuh didinginkan maka akan terbentuk kristal-kristal yang terbentuk oktahedron.12

. Cotton, 2007 : 292 . Sugiyarto, 2003 : 125 8 . Ibid 9 . Vogel, 1985 : 209 10 . Tim Penyusun, 2010 : 11 11 . Ibid 12 . Ibid
7

Larutan garam aluminium sulfat bersifat asam artinya hidrolisisgaram ini menghasilkan endapan Al(OH)3 dan ion H3o+ yang membawa sifat asam, ion ini selanjutnya diikat oleh HCO3- hingga terjadi dekomposisi yang menghasilkan gas CO2. Campuran CO2(g) Al(OH)3(s) ini dihasilkan sebagai basa yang distabilkan oleh pengemulsi hingga dapat disemprotkan pada api, sehingga api menjadi diselimuti oleh busa yang mencegah kontak dengan oksigen diudara dan akibatnya api menjadi padam. Persamaan reaksi.13 Al3+(aq) + 3HCO3-(aq) Al(OH)3(l)+ 3CO2

2.2

Tinjauan Bahan A. Kalium Hidroksida (KOH) Basa kuat dengan rumus kimia KOH, berupa zat padat berwarna putih, bersifat

higroskopis, menyerap gas CO2 dengan memebentuk K2CO3, mudah larut dalam air. Digunakan untuk pereaksi kimia dan sebagai bahan untuk membentuk sabun lunak (sabun mandi), senyawa ini memiliki titik leleh 760C, densitas 2,0.14

B. Aluminium (Kertas Aluminium Foil) Aluminium adlah unsur kimia dalam jadwal berkala yang mempunyai simbol Al dan nomor atom 13. Konfogurasi elektron [Ne] 3s2, 3p1 bilangan elektron per petala 2, 8, 3 sifat fisika keadaaan abu-abu mengkilat lempeng dan kurang kuat tapi ringan, terdapat dialam pada kerak bumi, terutama sebagi bauksit.15

C. Asam Sulfat (H2SO4) Asam anorganik dengan rumus molekul H2SO4, zat cair kental menyerupai minyak, takberwarna, higroskopis, dalam pelarutnya (air) bersifat asam kuat, dalam keadaan pekat bersifat oksidator dan bersifat dapat mengikat air (sebagai zat penghidrasi). Pengaliran gas SO3 ke dalam H2SO4 pekat menghasilkan H2SO4 berasap dengan rumus kimia H2S2O7 (disebut dengan asam pirosulfat atau dikenal dengan nama oleum), senyawa ini memiliki titik leleh 10C, titik didih 338C, densitas 1,816

D. Aquades (sebagai pencuci/pembilas alat)

13

14

. Sugiyarto, 2003:126 . Mulyono,2008:208 15 . Mulyono,2008:14 16 . Mulyono,2008:45

Merupakan air suling yang diperoleh dari pengembunan uap air akibat penguapan atau pendidihan air, senyawa ini memiliki titik didih 100C, titik leleh 0C dan densitas 117

2.3

Tinjauan Alat a. Corong Buchner Corong Bchner adalah sebuah peralatan laboratorium yang digunakan dalam penyaringan vakum. Ia biasanya terbuat dari porselen, namun kadangkala ada juga yang terbuat dari kaca dan plastik. Di bagian atasnya terdapat sebuah silinder dengan dasar yang berpori-pori. Corong Hirsch juga memiliki struktur dan kegunaan yang sama, namun ia lebih kecil dan biasanya terbuat dari kaca. Bahan penyaring (biasanya kertas saring) diletakkan di atas corong tersebut dan dibasahi dengan pelarut untuk mencegah kebocoran

pada awal penyaringan. Cairan yang akan disaring ditumpahkan ke dalam corong dan dihisap ke dalam labu dari dasar corong yang berpori dengan pompa vakum. 18

b. Melting point Apparatus SMP II Dengan fitur keamanan baru dan kemudahan operasi, Melting Point Apparatus SMP11 sangat ideal untuk digunakan dalam

pendidikan. Disertakan dengan termometer, aman bebas merkuri roh-terisi, semangat biru tidak akan menimbulkan bahaya kesehatan dalam sebuah kerusakan. Mudah untuk

mengikuti instruksi yang dicetak langsung ke aparat dan tersedia dalam bahasa-bahasa Eropa yang paling mudah(disertakan dengan masing-masing instrumen). Dengan

tingkat pemanasan disesuaikan secara manual, maka akan cepat panas Melting Point appartus SMP11 sampel sampai 20C per menit dengan suhu dan mencair sampai suhu maksimum 250C. Pembacaan yang akurat untuk dalam 1C suhu lelehan dapat dicapai
17 18

. Mulyono,2008:24 . William,2006:83

dengan menggunakan tingkat pemanasan lebih lambat antara 1 dan 10C per menit. Sampai tiga sampel dapat dilihat dan diuji pada satu waktu. Sampel yang diterangi oleh LED putih cerah dan dilihat melalui lensa pembesar. Lensa pembesar bisa dipisahkan untuk membersihkan menggunakan mengikuti petunjuk sederhana untuk dicetak pada instrumen tersebut.19

BAB III METODOLOGI

3.1

Alat Alat-alat yang digunakan dalam percobaan sintesis tawas yaitu beaker glass

250 ml 1 buah, kertas saring 4 buah, pipet ukur 25ml 1 buah, bola hisap 1 buah, erlenmeyer 250 ml 1 buah, melting point apparatus SMP 11 1buah, pipa kapiler 1 buah, neraca analitik 1 buah, kawat kasa 1 buah, kaki tiga 1 buah, termometer 150C 1 buah, botol aquades 1 buah, penangas es 1 buah, spiritus 1 buah, corong buchner 1 buah, pengaduk 1 buah, tissu secukupnya.

3.2

Bahan Bahan yang digunakan dalam percobaan sintesis tawas yaitu kertas aluminium

foil, KOH 4M, H2SO4 6M, es batu, aquades.

3.3

Cara Kerja

3.3.1 Pembuatan tawas kalium Ditimbang kurang lebih 1 gram ( 0,01 gram) potongan-potongan kecil logam aluminium lalu diletakkan dalam gelas kimia 150 ml. Ditambahkan 25ml larutan KOH 4M ke dalamnya. Dipanaskan larutan dalam gelas kimia secara pelan-pelan dengan api kecil agar aluminium bereaksi dengan KOH 4M. Jika reaksi sudah berhenti, disaring larutan yang masih panas untuk menghilangkan kotoran yang ada. Dibiarkan larutan yang jernih (filtrat) dingin, sambil diaduk, ditambahkan secara pelan-pelan larutan H2SO4 6M sampai terbentuk endapan Al(OH)3. Peanambahan larutan H2SO4 6M tidak boleh lebih dari 30ml dan jangan sampai (Al(OH)3 ) larut kembali karena kelebihan H2SO4 6M.

19

.Khamidinal, 2009:46

Dipanaskan pelan-pelan campuran reaksi disertai dengan pengadukan sampai semua Al(OH)3 larut. Dihentikan pemanasan dan disaring jika ada padatan yang tidak larut. Didinginkan larutan dalam penangas es. Kristal tawas akan terbentuk dalam waktu sekitar 20 mennit. Jika kristal tidak terbentuk, dipanaskan pelan-pelan hingga volume larutan tinggal separuhnya untuk memperoleh kristal yang besar dan hasil yang lebih banyak, dibiarkan proses kristalisasi ini semalam. Diuji kemurnian tawas yang diperoleh dengan cara mengukur titik lelehnya. Pengukuran titik leleh tawas dengan memanaskan kristal tawas yang dimasukkan kedalam pipa kapiler dalam penangas air Ditimbang berat tawas yang diperoleh dari percobaan diatas. Dihitung berat tawas teoritik yang diperoleh dari percobaan diatas. Dihitung presentase hasil percobaan.

BAB IV HASIL dan PEMBAHASAN 4.1 No 1 2 3 Data Pengamatan Perlakuan Ditimbang aluminium foil 1gram Ditambah KOH 4M 25ml Dipanaskan dengan api kecil Hasil Pengamatan - Didapat 0,01 gram - Bening - Timbul gelembung dan berwarna keruh berasap - Larutan menjadi hitam 4 Disaring dalam keadaan panas dengan corong buchner 5 6 7 8 Residu (pengotor) serbuk hitam Filtrat (mengandung kalium) Filtrat didinginkan Ditambah H2SO4 sampai terbentuk endapan - Dibuang - Jernih - Filtrat dingin - - 400 tetes/ 30ml - Terdapat residu dan filtrat

- Ada endapan warna putih (Al(OH)3) terjadi reaksi eksoterm (panas) 9 Dipanaskan pelan-pelan dan diaduk - Untuk melarutkan endapan dan mereaksikan (Al(OH)3 ) dan K pada KOH dengan H2SO4 10 11 12 13 14 Disaring dengan corong buchner Residu (dibuang) Filtrat (diambil) Filtrat diletakkan dibeaker glass Diletakkan filtrat dipenangas es sampai terbentuk kristal tawas - Terdapat residu dan filtrat - Kristal dan berwarna putih - Larutan berwarna jernih - Filtrat dibeaker glass - Terbentuk endapan putih - Berat kertas saring kosong 0,2513 gr

15 16 17 18 19 20

Disaring dengan corong buchner Residu (kristal tawas) Filtrat (dibuang) Residu di oven Ditimbang sampel kering Dimelting point apparatus

- Terdapat residu dan endapan - Diambil - Dibuang - Residu kering - 11,5789 gr 0,2513 gr = 11,3267 gr - 78 85C

4.2

Pembahasan

Pada praktikum kali ini yaitu tentang pembuatan tawas kalium, yang mana dalam hal pembuatan tawas kalium ini memerlukan alat dan bahan. Adapun alat yang digunankan diantaranya yaitu neraca analitik digunakan untuk menimbang aluminum agar memperoleh berat yang sudah ditentukan (1 gram), beaker glass sebagai w adah reaksi suatu larutan, kasa dan kaki tiga sebagai pemanas larutan dan korek api, pengaduk gelas sebagai pengaduk larutan, corong buchner dan kertas saring untuk penyaring larutan yang mana dapat menghasilkan residu dan filtrat, erlenmeyer sebagai wadah suatu larutan, pipet tetes berfungsi untuk mengambil suatu larutan, pipa kapiler yaitu wadah untuk sampel yang hendak di uji fisika, pipet ukur untuk mengambil larutan, melting point apparatus SMP II berfungsi untuk mengukur titik lebur dari tawas kalium, thermoscientific (oven) berfungsi untuk mengeringkan tawas pada suhu 60C, termometer berfungsi untuk mengamati suatu peleburan sampel saat uji fisika, penangas es berfungsi untuk wadah sampel agar mengkristal. Adapun bahan yang digunakan pada uji coaba kali ini yaitu aluminium foil, kalium hidroksida untuk pebuatan tawas, aquades, asam sulfat Tawas adalah garam sulfat rangkap terdapat dengan formula M+ M3+ (SO4)2.12H2O. dalam percobaan ini dilakukan sintesis tawas KAl(SO4)2. 12H2 O. Adapun langkah-langkah sintesis tawas ini yaitu pertama ditimbang kertas aluminium foil kurang lebih 1 gram dan didapatkan hasil penimbangan 1,0021 gram. Aluminium (Al3+) inilah nantinya yang akan membentuk tawas setelah melalui proses reaksi membentuk kompleks, digunakan aluminium foil karena terkandung Al. Setelah itu ditambahkan KOH 4M sebanyak 25 ml ke dalam aluminium foil yang diletakkan dalam beaker glass. Aluminium yang digunakan sebelumnya dipotong kecil-kecil untuk mempermudah melarutkan aluminium foil dengan KOH. Setelah ditambah KOH 25 ml ke dalam aluminium foil, fungsi KOH untuk mengahsilkan garam kalium aluminat, lalu

dipanaskan dengan bunsen (api kecil) untuk memepercepat reaksi antar kertas aluminum foil dan KOH karena jika apinya besar takutnya larutan akan menguap sehingga tidak ada reaksi senyawa tersebut (KOH) dan K+ akan menguap juga, pemanasan ini bertujuan untuk mempercepat reaksi karena logam aluminium bereaksi secara cepat dengan KOH panas. Selama pemanasan, timbul gelembung, asap dan warna cairan berubah dari keruh menjadi larutan warna hitam dan endapannya, endapan ini dimungkinkan berasal dari basa lain selain aluminium pada aluminium foil. Setelah kertas aluminium foil larut sempurna dalam KOH 4M, pemanasan dihentikan. Ketika kertas aluminium foil direaksikan dengan KOH panas, aluminium bereaksi cepat dengan KOH panas menghasilkan garam aluminat sesuai reaksi: 2Al(s) + 2K+(aq) + 2-OH(aq) + 6H2 O(l) 2K+(aq) + 2Al(OH)4-(aq) + 3H2(g)

Pada saat pemanasan terjadi endapan aluminium hidroksida (Al(OH)4 ), endapan hitam yang merupakan pengotor-pengotor dari aluminium, dan berasap yang kemungkinan merupakan gas H2. Ion aluminium Al(OH4)- bersifat amfoter jika direaksikan dengan asam sulfat, diendapkan sebagai aluminium hidroksida, tetapi larut pada pemanasan. Larutan panas selanjutnya langsung disaring dengan corong buchner yang bertujuan untuk menyaring pengotor dalam larutan, apabila menyaring dalam keadaan dingin maka larutan akan mengendap dan hasil penyaringan tidak akan makimal. Alat corong buchner merupakan alat penyaring dengan menggunakan pump vacum, sehingga bisa menyerang dengan baik dan efisien. Adapun cara menggunakan corong buchner yaitu: 1. Pasang selang penghubung vacum pump dengan erlenmeyer vacum 2. Pasang corong buchner pada mulut erlenmeyer vacum 3. Pasang kertas saring yang telah digunting agar sesuai dengan mulut dasar corong buchner (langkah 2 dan 3 bisa langsung dilakukan sebelum dipasang pada pompa vacum) 4. Nyalakan pompa vacum 5. Tuangkan sampel pada corong buchner hingga cairan tidak menetes lagi 6. Matikan pompa vacum kemudian lepaskan kabel yang terhubung dengan arus listrik 7. Dihasilkan endapan pada kertas saring dan filtrat dalam erlenmeyer corong buchner

Setelah dilakukan penyaringan dengan corong buchner, diperoleh filtrat bening (jernih) yang merupakan Al(OH)4- dan residu berupa serbuk hitam (pengotor dan aluminium foil) yang tertinggal dikertas saring. Selanjutnya, filtrat didinginkan dalam suhu kamar hingga dingin. Setelah dingin ditambahkan dengan H2SO4 6M sebanyak 400 tetes 30 ml, penambahan ini dilakukan dengan cara penetesan perlahan -lahan.

Hal ini utntuk membentuk endapan tawas yang lebih optimum, penambahan H2SO4 tidak boleh lebih dari 30 ml, karena akan menjadikan larutan lewat asam. Pada saat penetesan, tiap tetesan yang diteteskan ke larutan menghasilkan endapan berwarna putih dan reaksinya berlangsung secara eksotermis dengan ditandai panasnya beaker glass pada Al(OH)3, hal ini terjadi karena suhu beaker glass yang ditempati larutan menjadi panas. Hal ini terjadi karena mengeluarkan energi yang besar untuk berikatan dengan larutan(Al(OH) dan 2K+), dimana ion aluminium pada Al(OH)4 jika direaksikan dengan asam sulfat bersifat amfoter artinya bahwa larutan bisa bersifat asam atau basa. Aluminium papbila bereaksi dengan asam kuat membebaskan gas hidrogen, reaksi yang terjadi: 2Al + 6H3 O+ 2Al3+ +6H2 O + 3H2 2Al(OH)4- +3H2

Aluminum bereaksi dengan basa kuat membentuk aluminat: Al + 2-OH + 6H2 O Basa Pada saat dilakukan pemanasan hidrat akan menguap ke udara, dan membutuhkan hidrat yang diambil dari H2SO4 sehingga terjadi endapan Al(OH)3 . adapun larutan tepat jenuh yang diharapakan, dilakukan dengan penambahan H2SO4 6M hingga terbentuk endapan pada larutan, adapun reaksi yang terjadi yaitu: 2K+(aq)+2Al(OH)4-(aq)+2H+(aq)+SO42-(aq) 2Al(OH)3(s)+2K+(aq)+SO42-(aq)+2H2 O(aq)

Setelah itu, dipanaskan kembali dengan api yang tidak terlalu besar sambil diaduk. Hal ini bertujuan untuk melarutkan kembali endapan yang terbentuk sehingga Al(OH)3 bereaksi dengan K+ dari KOH setelah larut, dilakukan penyaringan dalam keadaan panas dengan menggunkan corong buchmer. Dihasilkan residu dan filtrat. Residu berupa endapan putih diatas kertas saring dan filtrat berupa larutan berwarna jernih. Filtrat diambil dan diletakkan dibeaker glass. Pada saat pemanasan maka akan terjadi reaksi antara K+ dengan aluminium dan sulfat dari H2SO4. Reaksinya yaitu : K+(aq) + Al3+(aq) + 2SO42-(aq) + 12H2 O(l) KAl(SO4 )2.12H2 O(s)

KAl(SO4)2.12H2 O(s) inilah yang merupakan senyawa kalium aluminium sulfat dodekahidrat yang nantinya mengendap berupa endapan putih. Filtrat hasil penyaringan dengan corong buchner kemudian didinginkan dalam penangas es, yaitu dengan meletakkan beaker glass yang berisi filtrat kedalam butiran es batu. Butiran-butiran es batu ini berfungsi untuk mempercepat proses pengendapan atau terbentuknya kristal. Butiran es batu yang digunakan sebagai penangas sebelumnya diberi garam(NaCl) untuk memperlambat proses pelelehan es dan untuk menurunkan titik leleh dari es batu itu sendiri sehingga suhunya bisa lebih dingin dan menghambat peleburan es. Sebenarnya, proses pendinginan dengan menggunkan es menghasilkan kristal yang kurang bagus karena tawas yang dihasilkan memiliki struktur kristal yang memiliki banyak lobang atau cacat. Namun, karena laju pembentukan kristal tawas ini sangat lambat, maka digunakan es sebagai pendingin. Kristal yang dihasilkan dari proses pendinginan dengan menggunkan es, terjadi penurunan suhu yang sangat drastis dan secara tiba-tiba sehingga kristal cepat terbentuk. Namun, karena cepatnya laju pembentukan kristal, ukuran kristal menjadi kecil dan tidak teratur. Sedangkan jika pada proses pendinginan menggunkan air biasa atau suhu kamar, maka laju pembentuka kristal sangat lambat dan akan lama terbentuk kristal. Namun, jika menggunakan pendinginan pada suhu kamar, karena proses pembentukan kristal lambat, maka ukuran kristal akan menjadi lebih besar dan bentuk lebih bagus dibandingkan proses pendinginan dengan menggunakan es. Setelah ditunggu beberapa menit, terbentuk endapan berwarna putih didasar beaker glass dan semakin lama semakin banyak, setelah itu endapan disaring dengan corong buchner yang sebelumnya telah diletakkan kertas saring kosong ditimbang terlebih dahulu, yaitu:0,2513 gram. Setelah disaring didapatkan residu dan filtrat. Filtrat dibuang ditempat limbah dan residu berupa kristal, lalu di keringkan dalam oven tujuan pengeringan ini untuk mengeringkan dan mempermudah dalam mengukur titik lelehnya, ditimbang kristal tawas bersama kertas saring dengan menggunakan neraca analitik dan dihasilkan berat sebesar 11,3267 gram. Setelah itu diukur titik leleh tawas dengan alat melting point apparatus SMP II, dengan memasukkan pipa kapiler yang telah diisi kristal tawas kedalam alat melting point. Suhu diamati yang terpasang ditermometer yang terpasang dialat melting point apparatus SMP II. Titik leleh hasil melting point appratus SMP II yaitu 78-85C (mulai meleleh pada suhu 78C dan meleleh sempurna pada suhu 85C) Titik leleh teoritis . tawas yaitu 92,5C untuk KAl (SO4)2.12H2O berdasarkan hali ini, jika dibandingkan dengan titik leleh teoritis dari hasil percobaan, maka perbedaannya sangat jauh berbeda.

Hal ini bisa dikarenakan adanya pengotor dalam kristal yang dihasilkan dari percobaan akibat kesalahan dari praktikan. Tawas kalium (kalium aluminium sulfat dodekahidrat) dengan formula KAl (SO4)2.12H2O ini digunakan dalam pemurnian air, pengolahan limbah, dan bahan pemadam api. Kristal ini berbentuk oktahedran. Secara teoritis praktikan dapat menghitung, berat teoritis yang dihasilkan yaitu dengan mengetahui mol aluminium yang direaksikan yaitu 0,037 mol dan mol KOH 4M adalah 0,1 mol sehingga jika dituliskan pada persamaan reaksi yaitu:

2Al(s) + 2K+(aq) + 2-OH(aq) + 6H2 O(l) Mula2: 0,037 mol Reaksi: S : 0,1mol 0,037mol 0,063mol

2K+(aq) + 2Al(OH)4-(aq) + 3H2(g) 0,037 mol 0,037 mol -

Dari reaksi tersebut diperoleh 2Al(OH)4- =0,04 mol 2K+(aq)+2Al(OH)4-(aq)+2H+(aq)+SO42-(aq) 0,063 0,037 2Al(OH)3(s)+2K+(aq)+SO42-(aq)+2H2 O(aq) 0,037

Reaksi tersebut didapat dari penambahan H2SO4, sehingga diperoleh endapan Al(OH)3 sebanyak 0,037 mol. K+(aq) + Al3+(aq) + 2SO42-(aq) + 12H2 O(l) Mol Al
3+

KAl(SO4 )2.12H2 O(s)

= . 2Al

3+

= . 0,037 mol = 0,0185 mol Dari reaksi diatas bila dilihat bahwa mol Al3+ ~ dengam mol KAl (SO4 )2.12H2 O yaitu 0,0185 mol,sehingga berat teoritis dari mol KAl (SO4)2.12H2 O dikalikan dengan Mrnya diperoleh 8,76 gram. Sedangkan berat tawas yang dihasilkan dalam percobaan ini yaitu 11,3267 gram, sehingga diperoleh besar presentase dari tawas kalium yaitu: Berat tawas hasil sintesis X 100% = 11,3267 X 100%= 129% Berat tawas teoritis 8,76

Hasil presentase / rendemen dari percobaan ini melebihi 100% yaitu 129%. Berarti kristal yang dihasilkan tidak murni kristal tawas, bisa jadi adalah pengotor-

pengotor atau kurangnya proses pengeringan didalam oven. Hal ini juga bisa dikarenakan faktor kurangnya ketelitian praktikan dalam proses sintesis .

BAB V PENUTUP 5. 1 Kesimpulan Tawas adalah garam nitrat rangkap terhidrat dengan formula M+ M3+ (SO4)2.12H2 O.dalam percobaan ini dibuat tawas KAl (SO4)2.12H2O dari KOH dan logam aluminium serta H2SO4. Logam aluminium bereaksi secara cepat dengan KOH panas menghasilkan garam kalium aluminat. 2K+(aq)+2Al(OH)4-(aq)+2H+(aq)+SO42-(aq) 2Al(OH)3(s) + 6H+(aq)+3SO42-(aq) 2Al(OH)3(s)+2K+(aq)+SO42-(aq)+2H2 O(aq) 2Al3+(aq) + 3SO42-(aq) + 6H2 O(l) KAl(SO4 )2.12H2 O(s)

K+(aq) + Al3+(aq) + 2SO42-(aq) + 12H2 O(l)

Berdasarkan percobaan dihasilkan rendemen sebesar 129% dan pada saat diukur titik lelehnya menggunakan melting point appratus SMP II, titik lelehnya diketahui pada rentang 78-85C,dan pada teori 92,5C. Ketidaksesuaian hasil percobaan dengan teori bisa dikarenakn kurangnya ketelitian praktikan saat percobaan berlangsung.

5. 2

Saran Sebaiknya alat-alat dalam praktikum agar di perbanyak lagi agar bisa

mengefisienkan waktu saat praktikum berlangsung.

DAFTAR PUSTAKA

Anonymous. Jensen, William B. 2006. The Origins of the Hirsch and Bchner Vacum Filtration Funnels.http://jchemed.chem.wisc.edu. diakses 02 mei 2011 Cotton. 2007. Kimia Anorganik Dasar. Jakarta : Ui Khamidinal. 2009. Teknik Laboratorium Kimia. Yogyakarta : Pustaka Pelajar Keenan. 1984. Kimia Untuk Universitas. Jakarta : Erlangga Mulyono. 2008. Kamus Kimia. Jakarta : Bumi Aksara Sugiyarto, Kristian. 2003. Kimia Anorganik II. Yogyakarta : UNY Tim Penyusun Kimia. 2010. Kimia Anorganik II. Malang : UIN Press Vogel. 1985. Analisis Kuantitatif Anorganik Kualitatif Makro dan semimikro. Jakarta : PT. Kalman Media Pustaka