Smong : Konsep Kearifan Lokal Pulau Simeulue untuk Tsunami Early Warning System

May 15th, 2010 |
Pendahuluan Indonesia merupakan negara yang sarat akan potensi bencana yang disebabkan oleh pergerakan lempeng tektonik. Ini merupakan dampak dari wilayah Indonesia yang terletak di pertemuan dua jalur pegunungan aktif terpanjang di dunia (Wardhana, 1998). Bagian Indonesia barat dilalui oleh mediteran ring of fire-sirkum pegunungan mediterania, yang memanjang dari laut mediteran diropa. Sedangkan di bagian timur merupakan ujung dari pacific ring of fire-sirkum api pasifik, yang berasal dari pegunungan Rocky di benua Amerika (Nungrat, 2001). Kedua sirkum ini mengakibatkan munculnya sederet pegunungan di pesisir oantai dan laut yang sampai saat ini masih berstatus aktif. Tercatat di Indonesia terdapat sekitar 13 % gunung api aktif dari total gunung aktif di dunia. Jumlah ini lebih banyak di banding gunung api di Amerika, Jepang, Perancis, Italia dan negara lain. Saat ini terdapat 500 gunung api di Indonesia. Sebanyak 129 diantaranya dikategorikan sebagai gunung api aktif yang tersebar di Sumatera, Jawa, Bali, NTT, Kepulauan Banda, Halmahera hingga Sulawesi. (Museum Gunung Api Batur, 2009). Tercatat di Indonesia terdapat sekitar 13% gunung api aktif dari total gunung aktif di dunia. Jumlah ini lebih banyak dibanding gunung api di Amerika Serikat, Jepang, Perancis, dan Italia. Saat ini terdapat 500 gunung api di Indonesia (Garline, 2000). Sebanyak 129 diantaranya dikategorikan sebagai gunung api aktif yang tersebar di Sumatera, Jawa, Bali, NTT, Kepulauan Banda, Halmahera hingga Sulawesi (Museum Gunung Api Batur, 2009). Selain kedua sirkum tersebut di Indonesia juga terdapat tiga lempeng tektonik yang saling menyusun lempeng bumi Indonesia. Indonesia disusun oleh Lempengurasia, Lempeng Indo-Australia dan Lempeng Pasifik (Cahyadi, 1976). Di samping itu Indonesia memiliki garis pantai yang panjangnya mencapai 81.000 km. Garis pantai Indonesia merupakan garis pantai terpanjang kedua di dunia setelah Kanada (Anantasena, 2007). Keberadaan letak Indonesia yang seperti ini ditambah dengan panjangnya garis pantai memberikan potensi besar bagi Indonesia untuk ditimpa bencana alam khususnya Tsunami. Tsunami dapat didefiniskan sebagai gelombang laut dengan periode besar yang ditimbulkan oleh gangguan impulsif yang terjadi dalam medium laut (Arthana, 2007). Adapun gangguan Impulsif tersebut dapat diakibatkan oleh gunung laut meletus (erupsi vulkanik), gempa bumi tektonik maupun longsoran (Idris, 2005). Belajar dari kejadian-kejadian yang lalu di Indonesia maka tsunami yang terjadi adalah akibat dari gempa tektonik dari bawah laut. Dalam hal ini potensi Indonesia cukup besar untuk mengalaminya. Potensi tsunami Indonesia dapat digambarkan sebagai berikut.

Author: septians09

pantai selatan Pulau Jawa. Di dataran rendah Meulaboh air merangsek jauh kedaratan. Besarnya angka jumlah korban meninggal dunia tersebut turut dipengaruhi oleh perilaku masyarakat setempat.000 orang meninggal dunia. 2005). 2000). ketika air laut surut secara mendadak dan ikan-ikan menggelepar di dasar laut yang mengering banyak warga di pesisir Aceh tidak menjauh dari pantai namun memunguti ikan-ikan yang menggelepar tersebut. pantai Barat Papua.7 Skala Ricther merupakan gempa dangkal berjarak 30 km dari dasar laut (Budiman. Namun. 2005) yang menyebabkan sekitar 1000 orang menjadi korban meninggal dunia dan lebih dari 3000 orang kehilangan tempat tinggal (Pusat Data dan Analisa Tempo. Selama kurun waktu tahun 1600 sampai dengan 1999 telah terjadi 105 tempat kejadian tsunami yang mana 90% diantaranya disebabkan gempa tektonik. Kelalaian semacam ini terlihat di peristiwa tsunami Aceh-Sumatera Utara pada 2004. Daerah Potensi Tsunami Indonesia Sumber : Business Continuity and Disaster Recovery (2008) Dari gambar di atas hampir semua pantai di wilayah pantai barat Pulau Sumatera. 2005) yang telah menghasilkan tsunami dan korban yang dahsyat. Setelah gempa Aceh. Sementara itu. Sebanyak 400.0 Skala Ricther (Budiman. Tsunami terjadi beberapa menit setelah gempa. 9% oleh gunung meletus dan 1% oleh longsoran (landslide) di dasar laut (Latiel. et. Data lain menunjukkan bahwa dari tahun 1600 sampai 2005 telah terjadi 107 kejadian tsunami. pantai Kepulauan Nusa Tenggara. 9 kali tsunami disebabkan oleh letusan gunung berapi dan 1 kali oleh longsoran di dasar laut (Diposaptono. 2010). Lebih dari 150. Menyimak kejadian tsunami Aceh dan Sumatera Utara pada 26 Desember 2004.. 2006). masyarakat yang berada jauh dari pantai pesisir Aceh tidak mendapatkan informasi mengenai bakal terjadi tsunami. Pada kejadian tsunami aceh ketinggian ombak tsunami (run-up) mencapai 34 meter (Siswo. Kedahsyatan yang demikian inilah yang mengakibatkan tsunami banyak menimbulkan korban jiwa khususnya mereka yang tidak jauh dari pantai dan lalai menyelamatkan diri.000 orang kehilangan tempat tinggal dan tinggal di barak pengungsian (Pusat Data dan Analisa Tempo. ditengah-tengah kejadian tersebut gelombang tsunami datang dan menimbulkan banyak korban jiwa. tsunami merupakan jenis bencana alam yang jarang terjadi namun sekali terjadi akan menimbulkan kerugian harta dan nyawa yang cukup banyak. pantai Pulau Sulawesi dan Kepulaun Maluku merupakan daerah yang rawan terhadap tsunami. Hal ini terbukti dengan banyaknya gempa dan tsunami yang telah terjadi di Indonesia. pada 2005 giliran Pulau Nias dengan magnitude 8. al. 2006). . yang mana gempa terjadi di Samudra Indonesia pada kedalaman 4 km dari dasar laut dan berkekuatan 9.Gambar 1. Berdasarkan data tersebut. 98 kali tsunami disebabkan oleh gempa bumi. akibatnya masyarakat panik ketika bencana tsunami terjadi.

perlu diterapkan sebuah solusi untuk menghadapi bencana tsunami yang efektif sehingga jumlah korban meninggal dunia dapat ditekan. 1976) selain memberikan sumberdaya kebumian (geo-resources) yang kaya. Sulawesi dan Maluku. Selain itu berdasarkan pengalaman di Jepang masih terdapat kelemahan dalam hal penyampaian berita sampai di daerah-daerah masih membutuhkan waktu yang cukup lama (Ahmad. Smong lebih murah dan efisien ketimbang membangun teknologi canggih peringatan dini tsunami. lingkungan bumi (geo-environment) yang beraneka ragam. 2005). Potensi Bencana Tsunami dan Kondisi Geologi Indonesia Indonesia merupakan negara yang rawan terhadap tsunami. terdapat sebuah bentuk kearifan lokal pada masyarakat Pulau Simeulue Provinsi NAD yang disebut Smong merupakan sebuah solusi dalam menghadapi bencana tsunami dan menekan jumlah korban meninggal dunia.5 Milyar untuk alat pendeteksi tsunami (Dewan Kelautan dan Perikanan. Tatanan geologi Indonesia yang terletak di atas tiga lempeng tektonik yakni Lempengurasia. antara lain Barat Sumatera. 2006). pemerintah menerapkan Tsunami Early Warning System (TEWS) sebagai deteksi dini dalam menghadapi tsunami. Sebenarnya. Pemerintah telah menganggarkan Rp15. Lempeng Indo-Australia dan Lempeng Pasifik (Cahyadi. baik persebarannya maupun kualitasnya. serta Timur Kalimantan (Badan Meteorologi dan Geofisika. Selatan Jawa. Memang. terutama kepulauan yang berhadapan langsung dengan pertemuan lempeng. Smong merupakan sebuah tradisi turun temurun yang terbukti efektif dalam menekan korban meninggal dalam bencana tsunami. Utara Papua. Secara garis besar smong smong dapat diibaratkan sebagai early warning people system (peringatan dini oleh manusia) terhadap akan datangnya bahaya bencana tsunami sehingga masyarakat dapat menyelamatkan diri ke tempat yang aman. Selain itu alat-alat TEWS yang kurang diperhatikan potensial terkena bahaya pencurian. Namun TEWS sendiri merupakan teknologi tingkat tinggi yang mahal. Oleh karena itu diperlukan kajian lebih lanjut mengenai bentuk kearifan lokal smong sekaligus sosialisai kepada masyarakat untuk menekan korban meninggal akibat bencana tsunami. Gambar 2.Belajar dari kejadian tersebut. Suyanto (2005) mengatakan potensi kerusakan TEWS cukup tinggi karena ditempatkan pada kondisi lingkunganlektrolit dan kemungkinan untuk rusak oleh kapal nelayan. 2009). Nusa Tenggara. Potensi Gempa Bumi di Indonesia . juga menimbulkan ancaman bahaya kebumian (geo-hazards) yang sangat tinggi.

(2004) . 1992) dan sebagian kecil tipe normal (Sumba. Bali.5-4. Gambar 3. Tsunami Tsunami adalah gelombang laut yang disebabkan oleh gempa bumi. setelah gempa besar 15 Juni 1896. 2005). yang terbanyak adalah tipe thrust (Flores. Berdasarkan peta pada gambar 2 lebih terdapat 25 daerah rawan gempa dan tsunami di Indonesia. al. 2000). yakni 1 kali akibat longsoran (landslide). 2009). Daerah rawan gempa dan tsunami ini tersebar di seluruh Indonesia. Gelombang tsunami bergerak dengan kecepatan ratusan kilometer per jam di lautan dalam dan dapat melanda daratan dengan ketinggian gelombang mencapai 30 m atau lebih. Sebanyak 129 diantaranya dikategorikan sebagai gunung api aktif yang tersebar di Sumatera. tanah longsor atau letusan gunung berapi yang terjadi di laut. dengan tinggi gelombang Tsunami maksimum yang mencapai pantai berkisar antara 4 – 24 meter dan jangkauan gelombang ke daratan berkisar antara 50 sampai 200 meter dari garis pantai (Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika. Gempa dengan mekanisme fokus strike slip kecil sekali kemungkinan untuk menimbulkan tsunami. NTT.Sumber : Direktorat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (2008) Potensi Tsunami pada gambar 2 didukung oleh kepemilikan Indonesia terhadap gunung berapi yang masih aktif. Jawa.5 skala Imamura. Halmahera hingga Sulawesi (Museum Gunung Api Batur. 1977). Magnitudo Tsunami yang terjadi di Indonesia berkisar antara 1.000 km yang merupakan garis pantai terpanjang kedua di dunia. Tsunami berasal dari bahasa Jepang yakni kata Tsu = Pelabuhan dan Nami = Gelombang. 9 kali akibat gunung berapi dan 98 kali akibat gempabumi tektonik.. 2009). Saat ini terdapat 500 gunung api di Indonesia (Garline. Proses Terjadinya Tsunami Sumber : Skinnert. Gempa yang menimbulkan tsunami sebagian besar berupa gempa yang mempunyai mekanisme fokus dengan komponen dip-slip.000 orang serta merusak pantai timur Honshu sepanjang 280 km (Sugimori. Berdasarkan Katalog Gempa (1629-2002) di Indonesia pernah terjadi Tsunami sebanyak 109 kali. Tsunami menjadi bagian bahasa dunia. yang menimbulkan tsunami besar melanda kota pelabuhan Sanriku Jepang dan menewaskan 22. Ditambah lagi dengan kepemilikan garis pantai Indonesia sepanjang 81. Tsunami di Indonesia pada umumnya adalah tsunami lokal. dimana waktu antara terjadinya gempabumi dan datangnya gelombang tsunami antara 20 sampai dengan 30 menit. Kepulauan Banda.

(2) Lokasi pusat gempa. Hanya saja.28 km/detik di laut lepas. Sistem peringatan dini regional hanya mencakup kawasan sebuah negara yang terdekat dengan titik pusat fakotr penyebab tsunami terjadi. Termasuk sistem biologis yang dimiliki oleh makhluk hidup maupun sistem hasil buatan manusia. . Pemahaman ini menumbuhkan sebuah kearifan lokal asli Pulau Simelue yang disebut smong. Dengan dasar tersebut Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (2005) melansir bahwa tanda-tanda akan datangnya tsunami di daerah pinggir pantai adalah : 1. 2005). Akibatnya terjadi turbulensi gelombang laut yang menyebabkan tsunami. setelah gempa besar-lebih dari 6.Latiel (2005) tsunami terjadi jika (1) Gempa besar dengan kekuatan gempa lebih besar dari 6. karena belum ada model yang jelas yang dapat menghubungkan gempa bumi dan tsunami. Sementara yang termasuk sistem buatan adalah sistem yang dirancang manusia untuk mengumpulkan data-data terkait dan mengolahnya menjadi parameter kemungkinan terjadinya bahaya.14-0. 5. Termasuk sistem biologis adalah rasa sakit dan rasa takut yang umumnya menjadi bagian dari insting yang dimiliki makhluk hidup secara alamiah. peringatan oleh gelombang seismik menjadi kurang dapat diandalkan. Menurut gambar 3. 4. Sedangkan sistem peringatan dini internasional mencakup berbagai negara di luar negara terdekat yang potensial untuk terkena dampak bahaya tsunami. Dengan memperhatikan gelombang seismik yang muncul. dimungkinkan adanya tenggang waktu untuk prakiraan tsunami sekaligus penyampaian peringatan ke daerah yang terancam tsunami.3 Skala Ricther. Keduanya bergantung pada kenyataan bahwa tsunami bergerak dengan laju 500 – 1000 km/jam atau 0. 2. Kondisi Kekinian dan Kelemahan Konsep Sistem Peringatan Dini Tsunami Sistem peringatan dini adalah sistem yang menginformasikan kemungkinan terjadinya bahaya sebelum bahaya tersebut terjadi (Ahmad. 3. akan terjadi penyurutan permukaan bawah laut karena ada massa air laut akan masuk kecelah patahan tersebut.400 km/jam atau 4 km/detik (Sugimori.pisentrum atau hiposentrum di laut. Dengan jabaran di atas dapat di simpulkan bahwa sistem peringatan dini tsunami adalah sebuah sistem yang digunakan untuk memberitahukan keadaan bahaya akan datangnya bancana tsunami dalam waktu dekat. 2005). sementara gempa bumi dapat terdeteksi dengan cepat melalui gelombang seismik yang bergerak dengan laju rata-rata 14. Air laut yang surut secara tiba-tiba Bau asin dari arah alut yang sangat menyengat Berhembus angin dingin dari arah laut Banyak ikan menggelepar di pantai Dari kejauhan tampak gelombang putih dan suara gemuruh yang sangat keras Dasar inilah yang dijadikan patokan oleh masyarakat di Pulau Simeulue sejak beratus-ratus tahun yang lalu untuk mendeteksi akan terjadi Tsunami di wilayah mereka. (3) Kedalaman dangkal : kurang dari 40 km dan (4) Terjadi deformasi vertikal dasar laut.3 Skala Ricther terjadi karena patahan di bawah laut. Terdapat dua jenis peringatan dini tsunami yakni peringatan dini internasional dan peringatan dini regional.

2005). TEWS sendiri masih memiliki kelemahan dalam hal waktu dari pengantaran sinyal dari TEWS menuju ke pos dan sampai di daerah-daerah masih membutuhkan waktu yang cukup lama (Ahmad. Menurut Dewan Kelautan dan Perikanan (2005) pembangunan TEWS dalam satu lokal memakan biaya hingga Rp15. TEWS merupakan sebuah alat pendeteksi tsunami berteknologi tinggi dan relatif rumit. Oleh karena itu. Sistem ini terbagi menjadi dua komponen penting. di saat terjadi gempa dan perubahan ketinggain air di laut yang kemudian menciptakan sebuah gelombang kecil dengan kecepatan yang sangat tinggi. Cara kerjanya yaitu. yaitu jaringan sensor-sensor pendeteksi tsunami dan infrastruktur komunikasi yang berguna untuk menyampaikan peringatan dini (Ahmad. alat itu bernama TEWS (Tsunami Early Warning System). penerapan TEWS akan banyak memakan sumber daya modal dan manusia. Alat ini dapat bekerja dengan prinsip perputaran informasi antara TEWS-LAPAN dan Kominfo. Menurut Suyanto (2005) potensi kerusakan TEWS cukup tinggi karena ditempatkan pada kondisi lingkunganlektrolit. Peringatan dini tsunami menghendaki kewaspadaan danvakuasi sebelum tsunami datang. 2005) Saat ini pemerintah juga telah menerapkan system peringatan dini untuk membantu memperingatkan penduduk akan bahaya awal terjadinya tsunami. Selain itu. tsunami terjadi terlebih dahulu sebelum peringatan akan datangnya tsunami tiba. warga dapat segera menyelamatkan diri. 2005). Harga tersebut belum termasuk membayar biaya pembebasan pemakaian terkait hak paten TEWS yang dimiliki Jepang. Prinsip ini dibutuhkan untuk mengalirkan informasi akan datangnya tsunami ke masyarakat. . Laju informasi peringatan dini sangatlah penting mengingat selang waktu antara gempa bumi sampai tsunami mencapai daratan cukup singkat. Selain itu alat-alat TEWS yang kurang diperhatikan potensial terkena bahaya pencurian.Gambar 4. Sistem Tsunami Early Warning System Sumber : Tsunami Early Warning System (Suyanto. Sinyal itu lalu diteruskan ke pos-pos di daerah-daerah yang memiliki kemungkinan terkena tsunami. TEWS tidak menutup kemungkinan untuk di rusak oleh nelayan. akibatnya banyak korban tercipta dari bencana tersebut. Hal ini semakin menambah baiay penerapan TEWS di Indonesia. Kebanyakan dari pengalaman yang terjadi di Jepang. Namun walaupun berteknologi tinggi dan mahal. Sehingga saat sirine tanda bahaya berbunyi.5 Miliyar. TEWS akan menanggapinya dan mengirimkan sinyal menuju ke pusat pengendalian di daratan.

Bagian itu akan menjadi fokus kita di masa yang akan datang. . sungai. Setiap kelompok masyarakat memiliki cara yang khas dalam mengungkapkan kandungan kearifan lokalnya. Menurut Diposaptono (2009) smong tercipta karena secara geografis Pulau Simeulue memang kawasan yang sering terkena gempa dan tsunami. Tercatat. Atau semboyan marsiadap ari (saling membantu dalam melakukan suatu pekerjaan) dalam budaya Batak. Pergerakan lempeng yang saling bertabrakan inilah yang berpotensi menimbulkan gempa dan tsunami. Kearifan lokal dapat didefinisikan sebagai kebijaksanaan atau nilai-nilai luhur yang terkandung dalam kekayaan-kekayaan budaya lokal berupa tradisi. Ini dihasilkan dari sebuah proses sosialisasi yang menjunjung asas kekerabatan di Pulau Simeulue. petatah-petitih dan semboyan hidup . yang mencerminkan cara pandangnya tentang dunia. Contoh : Menjalin hubungan serasi dengan alam yang didasari kepercayaan. Oleh karena itu. Publikasi ini menekankan bahwa prinsip-prinsip kearifan lokal dapat diterapkan di tempat-tempat lain. Penerapan kearifan lokal merupakan sebuah proses dan membutuhkan keterlibatan para pemangku kepentingan yang lebih luas serta dukungan kebijakan. Masyarakat Pulau Simeulue telah menjadikan Pulau Semeulue dengan keadaan tersebut sebagai laboratorium alam. ` Konsep Kearifan Lokal Smong : Sitem Peringatan Dini Tsunami Berbasis Kearifan Lokal Kearifan lokal adalah nilai yang dianggap baik dan benar sehingga dapat bertahan dalam waktu yang lama dan bahkan melembaga. Misalnya ungkapan alon-alon waton kelakon (biar lambat asal tujuan tercapai) dalam budaya Jawa. Warga yang bermukim di Pulau Simeulue sangat paham dengan istilah smong walaupun jarak antar desa berjauhan. 2009). dan pohon bukanlah ‘benda mati’ sehingga manusia wajib menjaga kelestariannya. Kondisi geologi pulau tersebut memang berada di pertemuan tiga lempeng yakniurasia. Pulau Siemulue sejak 1900-2005 telah terjadi 137 gempa dan 14 diantaranya menjadi tsunami (Badan Meteorologi Geofisika dan Klimatologi. dan mencerminkan cara hidup suatu masyarakat tertentu. Masyarakat Pulau Simeulue menarik kesimpulan mengenai ciri-ciri akan terjadinya tsunami melalui pengalamanpengalaman mereka dalam menghadapi gempa. Konsep kearifan lokal smong masyarakat Pulau Simeulue berasal dari pengamatan mereka terhadap gejala yang terjadi di alam. Maka terbentuk sebuah kearifan lokal untuk mencegah meninggalnya korban dalam bencana tsunami. Pengalaman terhadap gempa yang terjadi di alam Pulau Simeulue telah menjadikan alam mereka sebagai laboratorium alam yang sangat akurat. dan Samudra Pasifik. penyebarluasan praktik-praktik kearifan lokal tertentu seringkali menjadi sebuah tantangan. Masyarakat Yogyakarta meyakini gunung. Smong dalam bahasa lokal Pulau Simeulue berarti himbauan agar segera lari kearah bukit setelah gempa karena sebentar lagi air laut naik atau pasang. Australia. tentu saja dengan penyesuaian dengan budaya lokal setempat. Dari gempa yang terjadi berkali-kali masyarakat berhasil menarik kesimpulan ciri-ciri tsunami. Intensitas gempa seperti ini manjadikan masyarakat Pulau Simeulue akrab terhadap ciri-ciri alam saat akan terjadi tsunami.Kearifan Lokal Kearifan lokal merupakan sesuatu yang berkaitan secara spesifik dengan budaya tertentu. Kearifan lokal merupakan salah satu wujud nyata slogan “kembali ke alam” (back to nature) yang sering kita dengar.

Ini dikarenakan kondisi lempeng tektonik Indonesia yang selalu bergerak diantara 3 lempeng tektonik besar dunia. Sedangkan sistem peringatan dini melalui teknologi TEWS terkadang tidak berfungsi dengan baik menjadikan sebuah kecemasan di pihak masyarakat. tidak membutuhkan alat dan teknologi tinggi serta efektif dari sisi akseptibilitas dan biaya. jumlah korban masyarakat yang meninggal di Pulau Simeulue hanya mencapai 6 orang dengan perbandingan Pulau Simeulue merupakan pulau yang jumlah penduduknya 70. Efektifitas Smong Pulau Simeulue merupakan sebuah pulau kecil yang terletak di selatan Pulau Sumatera. bau asin dari arah laut yang sangat menyengat. jaraknya hanya 60 km. Sebuah tempat pembenihan ikan dan udang. Teriakan warga akan membentuk sebuah pesan berantai kepada warga-warga lain sehingga sempat untuk menyelamatkan diri. Dari jumlah tersebut sebanyak 33. Dengan sosialisasi yang mumpuni kearifan lokal smong merupakan sebuah teknik menghadapi tsunami yang simpel. Setelah gempa berlangsung dan terdapat ciri-ciri akan terjadi tsunami yakni. Selain itu.Smong merupakan sebuah konsep kearifan lokal sederhana yang berfungsi sebagai alat sosialisasi bahwa akan terjadi tsunami.66 % tinggal dipesisir pantai Pulau Simeulue. dari kejauhan tampak gelombang putih dan suara gemuruh yang sangat keras. Prospek Pengembangan Smong Kondisi geologi di Indonesia berpotensi untuk terjadi terus tsunami. Pulau Simeulue berjarak paling dekat dengan pusat gempa saat terjadi tsunami Aceh-Sumatra Utara 2004 yakni di posisi 3. Jawa. berhembus angin dingin dari arah laut. air laut yang surut secara tiba-tiba. Belum lagi ancaman letusan gunung api yang berada di sepanjang pantai Pulau Sumatera. Secara otomatis warga lain akan mengerti akan terjadi tsunami.000 orang yang tersebar di 153 desa. implementasi smong dalam kehidupan masyarakat pesisir tidak membutuhkan alat khusus dan teknologi tinggi sehingga dari segi pembiayaan akan efisien. Implementasi smong yang merupakan sebuah konsep sederhanan akan menguntungkan dari segi kemudahan akseptibilitas masyarakat dibanding menggunakan teknologi TEWS yang masyarakat belum begitu akrab. Akseptibilitas . Jarak pusat gempa dengan Banda Aceh misalnya 250 km.298o Lintang Utara dan 95. Secara administratif Pulau Simeulue berada di Kabupaten Simeulue Provinsi Nangroe Aceh Darussalam. maka warga akan berlari menjauhi pantai sambil berteriak smong… smong… memberitahukan kepada warga lainnya. dan ribuan rumah penduduk hancur.779o. Hal tersebut terjadi karena masyarakat Pulau Simeulue menerapkan kearifan lokal smong saat menghadapi bencana tsunami. Secara geografi dari gambar 4 Pulau Simeulue merupakan sebuah pulau kecil yang di Samudra Hindia. Metode ini tidak membutuhkan teknologi khusus yang rumit seperti halnya alat deteksi tsunami TEWS yang dibangun pemerintah. Dilihat berdasarkan jaraknya dari pusat gempa Pulau Simeulue merupakan paling rawan dibanding dengan daratan di pesisir NAD maupun pulau-pulau lainnya. banyak ikan menggelepar di pantai. Sebuah solusi sederhana yakni implementasi kearifan lokal smong dapat menjadi alternatif yang efektif dalam menghadapi tsunami.368 atau 47. Pelabuhan Perikanan Indonesia yang ada di Pulau Simeulue rusak berat akibat terkena bencana tsunami. dua buah pabrik. Tsunami juga menghanyutkan 465 kapal nelayan yang sedang ditambatkan terlempar 300 meter darim pantai tempat ia ditambatkan. Nusa Tenggara dan Sulawesi yang juga berpotensi untuk menimbulkan tsunami. Namun.

Kementrian Komunikasi dan Informasi bekerja sama dengan Direktorat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi merupakan sebuah komponen penting dalam pihak implementasi gagasan untuk sosialisasi baik dari media cetak maupunlektronik. masyarakat umum. dan lembaga swadaya masyarakat yang peduli untuk penganan bahaya tsunami. Nusa Tenggara dan Pantai di seluruh Sulawesi. maupun pelajar. Daftar Pustaka Agus. Jawa Tengah Program Studi Ilmu Dan Teknologi Kelautan Fakultas Perikanan Dan Ilmu Kelautan \Institut Pertanian Bogor. Implementasi Smong Tradisi lokal smong terbukti efektif dalam menghadapi tsunami dengan konsep yang sederhana. sehingga masyarakat benarbenar paham mengenai konsep smong ini. Kajian Daerah Rawan Bencana Tsunami Berdasarkan Citra Satelit Alos di Cilacap. Maka. Kajian Prospekajian Prospek Perikanan Tangkapperikanan Tangkap Pasca Tsunami Di Ppi Pangandaran. Departemen Pemanfaatan Sumberdayadepartemen Pemanfaatan Sumberdayadepartemen Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan Fakultas Perikanan Dan Ilmu Kelautanfakultas . Bahkan sejak SD hendaknya anak-anak sudah dikenalkan dengan konsep smong dengan ciri-cirinya begitu pula dengan masyarakat. D. Supiyan.dan efektifitas biaya implementasi yang merupakan kelebihan akan menjadikan smong sebagai sarana efektif untuk menghadapi tsunami Pihak Implementasi Gagasan Implementasi smong untuk tentunya memerlukan kerja sama banyak pihak yang terkait dengan gagasan ini. Konsep ini harus disosialisasikan secara merata ke seluruh Indonesia bukan hanya ke daerah-daerah yang rawan terhadap bencana tsunami seperti pantai barat Sumatera. rentan rusak dan belum efisien dalam penyampaian informasi kepada masyarakat.H. Sebab. Sosialisasi smong perlu diberikan kepada perangkat desa. Implementasi smong lebih e efisien dibanding membangun sistem peringatan dini TEWS yang memerlukan banyak biaya. Jawa Barat. 2008. teknologi tinggi. pantai selatan Jawa. menurut Diposaptono (2005) sampai saat ini masih banyak masyarakat yang belum paham mengenai bagaimana ciri-ciri pada alam sekitar saat akan terjadi bencana tsunami. Azam. wilayah Indonesia termasuk wilayah yang cukup rawan untuk tertimpa bencana tsunami. Dengan kemudahan implementasi maka derajat akseptibilitas masyarakat cukup tinggi maka konsep smong diharapkan smong dapat secara cepat dipahami oleh masyarakat. Jawa Barat. diperlukan solusi untuk menekan angka korban meninggal apabila terjadi tsunami. media cetak maupunlektronik masyarakat umum. 2009. Ini dikarenakan kondisi geologis bumi Indonesia selalu dinamis dan bergerak setiap harinya. Penutup Dari segi geologi. Selain itu dperlukan pula dukungan dari seluruh perangkat pemerintahan kota maupun desa. Sosialisasi merupakan aspek pokok pertama dalam implementasi smong sebagai menghadapi bahaya tsunami. Smong merupakan sebuah bentuk kearifan lokal Pulau Simeulue yang efektif untuk menghadapi bahaya tsunami dan menenekan korban jiwa meninggal akibat tsunami. untuk sosialisasi konsep smong dalam menghadapi bahaya tsunami. Tsunami berpotensi besar menimbulkan kerusakan bangunan fisik dan korban meninggal.

Kanisius : Yogyakarta.budpar. Peran Modal Sosial Dalam Percepatan Pembangunan Desa Pasca Tsunami. Laporan Kejadian Tsunami Dekade Terakhir. 2006. Sekolah Pascasarjana.K. Ilman. 2009. Bogor : Penerbit Buku Ilmiah Populer.balipos. 2005. Anantasena.Perikanan Dan Ilmu Kelautanfakultas Perikanan Dan Ilmu Kelautan Institut Pertanian Bogorinstitut Pertanian Bogor. 2007. Analisis Teoritis Gempa Bumi Belajar Dari Bencana Aceh. Diposaptono. Bernard.id. Pokok-pokok Bahasan Mengenai Budaya Nusantara Indonesia. Pustaka Jaya : Jakarta. Herien Et Al. Institut Pertanian Bogor. Suyanto.go. 1976.co. Berikutnya… http://www. 2007. . Mathana. 1986. Ilmu Keluarga dan Konsumen. 2006. Ayatrohaedi. I. Budiman. Adeney. 2006. Diposaptono. Cahyadi. Fuad. Garuda. Revitalisasi Kader Kesehatan/ Posyandu Pada Pasca Bencana Tsunami Dalam Kerangka Penanganan Indeks Pembangunan Manusia (Revitalization Of Health Cadres/Posyandu On Post Tsunami Disaster In Dealing With Human Development Index). Pustaka Jaya : Jakarta. Fakultas Ekologi Manusia IPB. Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian Bogor Yusnidar. Ketahanan Pangan Dan Gizi Bagi Keluarga Korban Gempa Dan Tsunami Di Kabupaten Pidie. 2005.lipi. Gerakan Lempeng Dasar Laut. 2007. Pontianak Post. Rakhman. Idris.go. akses 17/9/03. 2005. Dewan Kelautan dan Perikanan.htm. Lempeng Tektonik Indonesia. Fadli. dalam http:kongres. Ikawati. Materi Kesiapsiagaan dan Tanggap Darurat Bencana Tsunami di Wilayah Pesisir. Studi Kondisi Vegetasi Dan Kondisi Fisik Kawasan Pesisir Serta Upaya Konservasi di Nanggroe Aceh Darussalam Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian Bogor Puspitawati. Hajianto. Tsunami. Hassan. 1995. Arthana. Pengelolaan Pesisir Terpadu dalam Rangka Mitigasi Bencana Tsunami. 2007.id. Materi Kesiapsiagaan dan Tanggap Darurat Bencana Tsunami di Wilayah Pesisir. Jurnal Dikti.id/news/article/Pokok_pokok_bahasan. 2005. Jakarta : Dewan Kelautan dan Perikanan. Lempeng Indonesia. Berpijak pada Kearifan Lokal. Suyanto. Setelah Pangandaran. Teknologi Mitigasi Tsunami. Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika : Jakarta. Muhammad. Yuni. dalam http://www. Bogor : Penerbit Buku Ilmiah Populer. 9 Januari. Tsunami Early Warning System. 2005. Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika. 24 Juli. Iryanto. Etika Sosial Lintas Budaya. 2007. Gobyah. Keefektivan Komunikasi Masyarakat Aceh di Bogor Mengenai Pengelolaan Dampak Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian Bogor Suryawan. akses 7/15/04. Kepribadian Budaya Bangsa. Feri.

Strategi Kebudayaan Suatu Pendekatan Filosofis. 23 Maret 2001. http://io. 22. akses 7/21/04. Pribadi dan Masyarakat Indonesia. Departemen Geofisika dan Meteorologi.htm. 1999. Jitu Hadapi Tsunami. Penerbit Jakarta: Djambatan. F. http://www. Perilaku Aneh Binatang Tanda Awal Bencana Tsunami. Jakarta : Pusat Data dan Analisa Tempo. N. Suyanto. AP. Kondisi Geologi Indonesia. Strategi Pembangunan Indonesia. Vol. Local Wisdom. Vol. Menggali Kearifan Lokal. 2009.T. Ketut. dalam http://www. Makara. Natural Disaster Science. alih bahasa: Alimandan. Poespowardojo. 2005. Laporan Tahunan Museum Gunung Api Batur. Kebudayaan Mentalitas dan Pembangunan. Tsunami. Soesastro. Yan. TEWS. Imamura. . W.chiangmai. Indonesia Abad XI di Tengah Kepungan Perubahan Global. 1993. Jakarta : Sinar Harapan. http://io. 14 April 2010. Niels. Soerjanto. Hendra. Denpasar : UNUD. 1993. Jeremy.ppi-jepang. Localizing Cultures. th/abstract1999/cgs/abstract/cgs990029. Batur Jawa Timur. 1990. Nariman. 16 Agustus. CReSOS. Japan Hokkaido.org/globaliz/cultural/2004/0013jeremyseabrook. Koenjaraningrat. akses 7/19/04. Moertopo. Laporan Tahunan. Skinner.3/XVII/Maret.1978.3/XVII/Maret.. Jukraphun. Tsunami Catalog and Zoning in Indonesia. 2000. Pusat Data dan Analisa Tempo. Vol. 2005. Bogor : Institut Pertanian Bogor Press. Jakarta : Rineka Cipta. dalam http://globalpolicy. Lauer. 2005.beritaiptek.org . Ali. Tsunami. dalam http://www. http://io.ac. Tsunami Wave. Suntoyo. Museum Gunung Api Batur. RH. 2005. Sugimori. Sudarmono. Jakarta. Kearifan Lokal Smong. igc. 2001.org. Wiratha. 2005.3/XVII/Maret. Sistem Informasi Peringatan Bahaya Tsunami di Jepang. co. Gempa dan Tsunami di Indonesia. Vol. Tsunami dan Penghijauan Kawasan Pantai Rawan Tsunami.org . Kompas. Mulder. Dahlan.com . Gramedia. Sugimori. Hadi.ppi-jepang. Nungrat. Bandung: Ganesha Press Pianpanussak. JacobOetama. Puspito. Vol.t.id. 2/Maret 2005. Jakarta : Gramedia Pustaka Utama. Jakarta : Harian Kompas. 2000. Manusia dan Kebudayaan di Indonesia. 2006. Karakteristiknya dan Pencegahannya. 2005.balipos. Jakarta : CSIS. Koran Jakarta. al. Hokkaido University.Iun. 2005. Present Understanding of Aceh Tsunami : Aplicarion of Data From Field to Sattelite Observation and Simlation. Siswo. Perspektif tentang Perubahan Sosial. Sutowijoyo. 2006. Koentjaraningrat. Latiel.ppi-jepang. Kompas. 18 Juni. 1985. Seabrook.

Makara Sains. Kanisius. April 1998. et al. 1976.Van Peursen. Jakarta : PT Gramedia Majalah. Gempa Jogja. Strategi Kebudayaan. 2006. Wardhana. Yogyakarta. Vol 23. A. Indonesia & Dunia. Yoga. . Winardi. Geologi Indonesia.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful