Anda di halaman 1dari 28

Home TSPP

Noken (Editorial) Laporan Utama Laporan Khusus Rubrikasi Program Produk Arsip

Hubungi Kami

Pengunjung

Hari ini Kemarin Minggu ini Minggu lalu Bulan ini Bulan lalu Total Visitors Counter

34 39 171 178 294 394 2007

Cycloops , Sabuk Pengaman Jayapura


Top of Form

User Rating: Kurang


Bottom of Form

/0 Bagus

Rubrikasi - Laporan Utama Oleh Rima Making Minggu, 01 Mei 2011 06:05 Kawasan ini benar-benar menjadi sabuk pengaman bagi masyarakat yang hidup di dua wilayah pemerintahan Kota Jayapura dan Kabupaten Jayapura. menjadi suplayer air bersih Seiring dengan pemanasan bumi yang semakin meningkat, maka kepedulian akan pelestarian hutan dan kawasan menjadi bagian terpenting yang harus mendapat perhatian agar terjadi keseimbangan alam. Sering kali terjadi bencana alam karena terputusnya mata rantai kehidupan yang dapat saja diakibatkan oleh pemanasan global (global warming). Untuk itu, langkah terbaik menjaga suhu bumi adalah dengan memberikan perhatian dan perlindungan yang sepatutnya terhadap daerah yang memiliki kawasan hutan terluas di dunia. Katakanlah untuk Papua, sesungguhnya ada sejumlah daerah yang telah ditetapkan pemerintah menjadi kawasan konservasi, dengan pertimbangan bahwa wilayah tersebut menjadi sabuk pengaman dan sumber air bersih bagi warga disekitarnya. Salah satunya adalah Kawasan Cagar Alam Pegunungan Cyclop yang berperan sebagai penyedia air bersih di seantero Jayapura. Kepala Badan Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan Hidup (BPSALH) Provinsi Papua Ir. Noak Kapisa,M.Sc, mengatakan Cagar Alam Pegunungan Cyclop merupakan lingkungan hidup yang dimiliki masyarakat di Jayapura sebagai warisan yang sangat mahal harganya. Apalagi dalam kaitannya dengan kultur masyarakat di wilayah tersebut sebelumnya wilayah ini menjadi sumber penghidupan dimana sebagai tempat untuk mencari demi kelangsungan hidup mereka. Namun dalam perkembangannya kawasan ini mengalami degradasi yang cukup signifikan, bahkan menuju dalam tahap memprihatinkan. Tentu saja, kata dia, disebabkan penebangan dan pambakaran di sekitar kawasan Cagar Alam Pegunungan Cyclop serta perluasan tempat untuk pemukiman pendudukan dan pembukaan lahan perkebunan rakyat serta pengerukan bahan material golongan C. Akibat dari proses tersebut maka terjadi degradasi lingkungan yang luar biasa yang berakibat pada terjadinya banjir bandang yang menghantam sebagian wilayah Kota Sentani di Kabupaten Jayapura pada 2005 lalu yang mengakibatkan terputusnya dua jembatan utama yang menghubungkan kota Sentani dan Abepura. Akibat lain yang ditimbulkan adalah menurunnya debet air yang membuat suplai air dari PDAM Kabupaten Jayapura menurun drastis. Misalnya dari total 1300 liter/detik menjadi 380 liter /detik. Dengan adanya penurunan debit air bersih seperti ini, tentu saja memberi dampak lain terhadap meningkatnya pemanfaatan air tanah. Dikatakan Kapisa bahwa untuk mengatasi ancaman kerusakan Cagar Alam Pegunungan Cyclop yang lebih serius maka Pemerintah Provinsi Papua telah berupaya melakukan terobosan dengan melakukan penyelamatan kawasan tersebut dengan pemberian tanda batas kawasan (tapal batas) pelestarian yang tidak boleh dimanfaatkan warga. Pemberian tanda itu dilakukan dengan program penanaman bambu kuning sebagai Police Line sepanjang 16 km yang diawali dari pasir II di wilayah Kota Jayapura sampai kampung Dosay di wilayah Kabupaten Jayapura. Tanaman bambu ini selanjutnya menjadi batas kawasan yang tidak

boleh ada aktifitas manusia, baik berkebun, membangun rumah, serta kawasan bisnis. Untuk itu perlu adanya sosialisasi yang intens dengan memanfaatkan media massa serta dialogdialog yang melibatkan semua komponen masyarakat termasuk melibatkan para ondoafi maupun odofolo dalam upaya pelesterian sehingga tercipta kesadaran bersama dalam kaitannya melestarikan kawasan Cyclop. Perlu membangun jaringan agar memudahkan koordinasi dan komunikasi untuk menjaga kelestarian Cagar Alam Pegunugan Cyclop, urainya. Semua pihak menyadari bahwa masalah lingkungan hidup adalah masalah yang kompleks, dan melibatkan banyak pihak dan banyak kepentingan di dalamnya. Namun diatas semua itu, Bencana Banjir Bandang di Wasior, Papua Barat dan tragedi amuknya Cyclop tahun 2005 menjadi pelajaran penting untuk membangun kesadaran bersama tentang pentingnya menyelamatkan Cagar Alam Pegunungan Cyclop sebagai sabuk pengaman Kota dan Kabupaten Jayapura. Sementara itu Ketua Club Pencinta Alam (CPA) Hirosi, Marcel Suebu dalam sebuah kesempatan mengatakan kalau sampai saat ini tapal batas di cagar alam Pegunungan Cyclop belum jelas. Masih belum jelas batas mana yang boleh dimanfaatkan dan batas mana yang memang sama sekali tidak boleh dijamah. Memang harus ada aturan yang disertai dengan sanksi yang jelas dan tegas yang harus diterbitkan oleh provinsi, kabupaten Jayapura dan Kota Jayapura agar tidak terjadi tumpang tindih pelaksanaan aturan di lapangan. Disamping melibatkan unsur adat dan agama. Bagi Marcel Suebu pengamanan yang baik terhadap Cyclop akan menjadikan wilayah ini menjadi kawasan yang menarik untuk wisata, hutan lindung dan juga sebagai hutan cadangan. Namun dalam kehidupan setiap hari kawasan ini hanya berfungsi sebagai sabuk pengaman yang difungsikan sekadar menjaga ketaraturan air dalam tana dan menjaga tanah agar tidak mudah erosi serta pengatur iklim dari pencemaran udara seperti karbon dioksida dan karbon monoksida. Menurut pria yang pernah mendapat anugerah kalpataru itu bahwa ancaman serius terhadap kerusakan Cagar Alam Pegunungan Cyclop setiap hari terus saja terjadi sementara pengawasannya sangat lemah. ini membuktikan bahwa kawasan Cyclop masih menjadi sumber kehidupan masyarakat, ujarnya Dikatakan Marcel Suebu bahwa eksploitasi besar-besaran terhadap wilayah ini lebih disebabkan oleh dua faktor yaitu Faktor Ekonomi dan lemahnya system pengawasan. Tuntutan ekonomi membuat warga harus berupaya mengolah apa yang ada di sekitar wilayah ini untuk dijadikan uang sehingga dapat dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka sedangkan lemahnya siste pengawasan karena tidak ada koordinasi dan komunikasi yang jelas dan tegas terhadap penerapan aturan-aturan untuk tidak mengeskploitasi hak ulayat atau tanah-tanah adat dengan segala konsekuensinya. Sementara itu, Direktur WWF Region Papua, Benja Mambay kepada TSPP mengungkapkan, sesuai tugas pokok dan fungsinya maka WWF bekerja untuk mendukung upaya pelestarian dan pembangunan berkelanjutan dengan empat strategi antara lain conservation management, Sustaianable Land Use, Sector Reform , dan Sustainable Financing. Untuk conservation management berkaitan dengan upaya bersama untuk meningkatkan efektifitas pengelolaan kawasan konservasi. Di Papua ada beberapa kawasan konservasi di Papua yang dikelola oleh WWF bersama UPT Departemen Kehutanan, masyarakat dan Pemerintah daerah yakni Taman Nasional Wasur di Merauke, TN Lorentz, TN Teluk Cenderwasih dan KKLD Abun. Sedang Sustaianable Land Use, WWF bekerja sama dengan para mitra mempromosikan perencanaan pembangunan yang berkelanjutan dengan menjadikan kearifan masyarakat setempat sebagai input dasar dalam perencanaan pemanfaatan ruang.

Dalam melaksanakan ini alat yang digunakan adalah pemetaan tempat-tempat penting untuk mendapatkan input sosial-budaya dan pemanfaatan secara tradisional dari aspek keanerakagaman hayati dan keterwakilan ekosistem. alat yang disebut High Conservation Velue Forest atau Hutan bernilai konservasi tinggi ini telah digunakan di Kabupaten Merauke, Mappi dan Asmat ungkap Benja Mambay . Selain itu Benja Mambay mengungkapkan Sector Reform adalah strategi yang digunakan untuk memberikan input terhadap perusahaan yang berinvestasi di bidang SDA agar praktek investasinya dapat menjamin kelestarian ekologi dan memberikan manfaat yang adil kepada pemilik SDA. Sustainable Financing berupaya mengembangkan skema sistem pendanaan berkelanjutan untuk menjamin upaya pelestarian, pengembangan kapasitas sumber daya manusia dan mendukung peningkatan kesejahteraan masyarakat melalui kegiatan pengembangan alternatif ekonomi yang dapat menjamin keberlangsung sumber daya alam, urai Benja Mambay. Untuk kawasan Cagar Alam Pegunungan Cyclop itu sendiri WWF turut serta berperan dalam penanggulangan kawasan hutan di gunung cyclop, dimana sejak Tahun 1995 WWF tidak lagi bekerja di Cycloop. Tetapi WWF tetap memiliki komitmen agar memberikan dukungan kepada mitra lokal seperti kelompok masyarakat, pemerintah maupun lembaga independen dalam upaya pelestarian CA CYLOOPS. Beberapa waktu lalu WWF melakukan penelitian mengenai dampak kerusakan DAS SentaniTami akibat kegiatan pembangunan dan saat ini ada rencana bekerjasama dengan Forum DAS Sentani Tami untuk mendorong dilakukannya pengelolaan DAS Sentani-Tami secara terpadu, ungkap Benja Mambay.Lebih lanjut di ungkapkan yakni UU Nomor 5 tahun 1990. Melihat Kondisi Cycloop yang saat ini berada dalam bahaya, indikatornya, pada saat musim kemarau debit air berkurang dengan drastis dan pada saat musim hujan di sejumlah tempat yang berbatasan langsung dengan Cagar Alam Cyclop banjir. Ini mengindikasikan bahwa secara perlahan tetapi pasti hutan di Cyclops terus dirambah. Menurut Benja Mambay masyarakat tidak dapat disalahkan begitu saja, perlu ada kerjasama dari semua pihak untuk menjawab persoalan dasar mereka sehingga tidak terus merambah hutan. Namun pemerintah harus memberikan pemahaman yang baik kepada masyakarakat untuk memahami akan pentingnya keberadaan kawasan Cagar Alam. Untuk itu langkah kongkrit yang harus di ambil adalah kemitraan para pihak perlu dibangkitkan untuk mendukung upaya pelestarian Cycloop yakni kegiatan kongkrit dengan adanya kerjasama dari semua pihak untuk menjawab persoalan dasar mereka sehingga tidak terus merambah hutan. Pemerintah juga harus menjadi contoh dan konsisten dengan undangan-undangan yang diberlakukan. Secara persuasif hukum harus ditegakan untuk menyelematkan Cyclop.***(Yakobus Wally). BOX CYCLOP YANG MEMPRIHATINKAN Cyclop saat ini masih menjadi satu-satunya penghasil sumber air bersih yang diharapkan bagi kelangsungan hidup masyarakat di wilayah Kabupaten dan Kota Jayapura. Sayangnya, harapan itu semakin menjadi beban berat. Cyclop tetap menjadi andalan untuk menopang berbagai keperluan hidup warga yang berdiam di sekitarnya. Secara ekonomi masyarakat di sepanjang wilayah ini masih menggantungkan hidupnya pada Cyclop. Sebut saja, mulai dari air, pasir, batu, kayu, bahkan lahan untuk dijadikan kebun, pemukiman, kantor, toko, sekolah, tempat ibadah dan macam-macam kebutuhan lainnya.

Meskipun telah banyak kesepakatan dibangun, komitment dibuat bahkan mungkin saja aturanaturan termasuk aturan adat telah dibuat namun masih saja terjadi pelanggaran-pelanggaran yang cukup signifikan terhadap keberadaan Cyclop. Kalau di era tahun 1970-an orang masih membanggakan keindahan kali kemiri dengan airnya yang jernih, hutannya yang menghijau dan merdunya kicauan burung-burung yang bernyanyi di sana. Namun hal semua yang terkisahkan indah dalam syair-syair indah kelompok musik legendaris asal Tanah Papua, Black Brothers itu kini tinggal kenangan. Sebab keindahan itu telah musnah oleh perubahan. Daerah sepanjang kaki gunung Cyclop termasuk kemiri kini telah berubah sebagai dampak negatif dari adanya pembangunan. Pembangunan tidak hanya memiliki dampak positif tapi juga memiliki dampak negatif seperti yang terjadi saat ini bahwa rusaknya kawasan Cyclop karena pembangunan. Meskipun demikian tidak bisa menyalahkan sepenuhnya pembangunan karena apapun alasannya pembangunan fisik sebuah kabupaten dimana saja termasuk kabupaten Jayapura selalu membutuhkan lahan. Walaupun pembebasan lahan telah dilakukan untuk berbagai kebutuhan tadi namun selayaknya dipikirkan tanggung jawab lain untuk menyelamatkan Cyclop dengan menanam kembali areal Cyclop sebagai pengembangan jalur hijau dengan harapan wilayah yang dihijaukan ini menjadi deposit masa depan yang membantu menyiapkan kawasan ini daerah tangkapan air atau resapan air, sehingga di suatu waktu dapat menjadi sumber mata air.*** Tambah komentar
Top of Form

Nama (required)

Refresh

Kirim
Bottom of Form

JComments
Top of Form

search...
Bottom of Form

Polling
Top of Form

Siapa Gubernur Papua mendatang? Alex Hesegem Bas Suebu Habel Suwae Lukas Enembe Klemen Tinal Michael Manufandu lainnya Hasil polling
Bottom of Form

3 users online

Komentar

Hidupi Sembilan Anak dengan Berjualan Kerang Cerita yg menye... oleh hen

Nonton AFC di Thailand Menarik! dengan... oleh hen Nonton AFC di Thailand Cerita yg tdk p... oleh Aretha Paay

Bupati Boven Digoel Terpilih Dilantik berita berita n... oleh peacelove

Menuju Ormu rumah rumah din... oleh deepslowly

Terbaru

06 June 2011 06:44 Papua Berbanding PNG 06 June 2011 06:37 Melayani karena Hati Nurani

06 June 2011 06:33 Perjuangan Hak Hidup dan Anti Diskriminasi

06 June 2011 03:49 Berebut Ketua Umum PSSI

06 June 2011 03:45 Sanksi PSSI Ditunda

Laporan Utama

Berebut Ketua Umum PSSI Sanksi PSSI Ditunda Papua Dukung Siapa? Sanksi yang Pernah Dijatuhkan Anggota Asal Kelompok 78 Pengawasan Rutin, Kesadaran Belum Ada Sirkumsisi Bukan Jaminan Cegah HIV ODHA di Pegunungan Tengah Meningkat Perempuan adalah Penyaksi Kebangkitan Yesus Tuhan Yesus Tak Menyepelekan Perempuan Pelatihan Pendamping Lanjut Usia Peran Ganda Perempuan dalam Kehidupan Saya Punya Komitmen Memajukan Perempuan Papua Berbanding PNG Melayani karena Hati Nurani Perjuangan Hak Hidup dan Anti Diskriminasi Membangun Nabire dalam Kemajemukan Setahun Kerja Bupati Nabire Perempuan dan Anak Masih jadi Korban Kekerasan Tak ada Penyelesaian, SORAKPAM Unjuk Rasa Carut Marut Sengketa Tanah Adat Laki-laki jadi Pelaku Kekerasan terhadap Perempuan Kekerasan Terhadap Jurnalis Terjadi Lagi Peresmian Kantor Dewan Adat Yally Hubla Selatan Mencari Silsilah Keluarga Lewat Pesta Ulat Sagu Hasil Pilkada Kota Belum Aman

Kesehatan

Aneka

Laporan Khusus

Hukum

Seni Budaya

Politik

Suasana Pilkada di Muara Tami Mano Alam Dipastikan Pimpin Kota Jayapura Sikap Mendagri yang Kontroversi Gubernur Tolak Surat Mendagri Terumbu Karang di Papua Memprihatinkan Peta Kerusakan Terumbu Karang Bergeser Pembela Hutan Papua George Soros Kunjungi Papua Nonton AFC di Thailand Delapan Besar Jalan Menuju ISL PMC Papua Menuju Profesional Sejarah Terukir di Mandala MENJAWAB DENGAN HASIL SEMPURNA Air Isi Ulang, Peluang Usaha Prospektif Kreasi Bengkel Anak Papua Egha Salon Spesialis Menganyam Rambut Menata Alam dalam Ruangan Sampari Berkibar di Paniai Sebuah Catatan untuk Hana Hikoyabi Hana Hikoyabi dan Kepercayaan Kepada Orang Papua Sejarah Papua Perlu Dikenal Menggandakan Wajah Yesus Melayu Papua dan Injil di Tanah Papua Guru SD di Dogiayai Mogok SMK Negeri I Oksibil Siswa-Siswi Sekolah Papua Harapan Dapat Beasiswa Mahasiswa Asal Kabupaten Merauke Kesulitan Biaya Studi Mengawetkan Pengetahuan Leluhur mengenai Tanaman

Lingkungan

Olahraga

Eksbis

Opini

Pendidikan

Buku

Sosok

Cornelis J. J de Rooij, MSC Hidupi Sembilan Anak dengan Berjualan Kerang Daniel Simunapendi Meilani Pasifika Kirihio

2011 SUARA PEREMPUAN PAPUA Jl. Bosnik - Puskopad Tanah Hitam Abepura - Jayapura - Papua | Telp/Fax. (0967) 584154

pura Terima Kartu Anggota Written by Cr-36/Papua Pos Tuesday, 06 May 2008 23:18
Jayapura Pedangang Kaki Lima (PKL) Abepura Selasa (6/5), menerima kartu anggota PKL dan surat rekomendasi dari Distrik Abepura sehubungan dengan pencanangan pembersihan dan penertiban, di kantor Distrik Abepura. Jayapura Pedangang Kaki Lima (PKL) Abepura Selasa (6/5), menerima kartu anggota PKL dan surat rekomendasi dari Distrik Abepura sehubungan dengan pencanangan pembersihan dan penertiban, di kantor Distrik Abepura. Kepala distrik Abepura Max. M. Olua S.Sos mengatakan, tujuan penyerahan kartu dan rekomendasi ini yakni untuk membimbing dan mengorganisir supaya tidak masuk kategori PKL liar. Menurutnya mereka (sekitar 232 PKL red) punya hati nurani dan kesadaran untuk itu kami membuat persepsi yang sama dalam membangun Abepura kedepan karena bisa menjadi transformasi program Abepura, sementara kartu yang belaku setahun ini merupakan kontrol dan mereka merupakan pengantar ke yang lain. Jadi bukan secara brutal, untuk langsung menertibkan (Bongkar red) tapi ada ketentuan bersama yang telah dibicarakan sebelumnya yakni sesuai isi surat rekomendasi dan kalau sampai ada yang melanggar jangan salahkan siapa-siapa karena ada warning untuk itu ungkapnya kepada wartawan di kantor distrik Abepura Selasa (6/5). Ia menambahkan isi rekomendasi tersebut yakni para PKL tidak diperkenankan berjualan di atas trotoar, para PKL yang berjualan hanya mendapat izin dari pukul 17:00 dan setelah selesai berjualan harus memperhatikan kebersihan. Selain itu pengadaan tempat sampah yang merupakan sumbangan sukarela dimana pembiayaannya sesuai kesepakatan PKL sebagai bentuk partisipasi mereka dalam mewujudkan pembangunan Abepura ungkapnya.**

< Prev

Next >

Berita Terbaru contoh budaya lokal di papua


1 KEBUDAYAAN DAN PEMBANGUNAN DALAM KERANGKA OTONOMI KHUSUS 1 oleh J. R. Mansoben 1. Pengantar. Topik percakapan kita seperti yang termuat dalam judul makalah di atas ...aid 590-7 (10/88) 1. david ray 2. 3. agency for international development ppc/cdie/di report processing form enter information only if not included on cover or title ...Potensi Tumbuhan dan Hewan Lokal untuk Rehabilitasi Areal Bekas Tebangan KOPERMAS dan Peningkatan Kesejahteraan Masyarakat Adat Potensi tumbuhan dan hewan lokal untuk ...SUKSES PENGEMBANGAN HAM BAGI MASYARAKAT LOKAL: PERSPEKTIF ANTROPOLOGI EKONOMI DAN BISNIS*) OLEH: RETNO ANDRIATI**) Pengembangan Hak Azasi Manusia pada masyarakat adat ...Gereja-gereja di Papua: menjadi nabi di Tanah sendiri? Makalah seminar pada kuliah perpisahan Dr. At. Ipenburg STT I.S. Kijne, Abepura, 30 Maret 2002 Oleh J. Budi ...111 MENGGALI KEARIFAN LOKAL NUSANTARA SEBUAH KAJIAN FILSAFATI Sartini Abstract: Local genius is local ideas that is characterized such as: wise, full of wisdom, good ...

... "kearifan lokal". Dan menggali potensi manusia Papua dengan konsep " ... adalah salah satu nilai budaya yang berlaku di hampir tiap suku di Papua. Orang Paniai sejak dulu tidak ...Pembangunan Nasional (BAPPENAS) dan mitra lokal di Papua yaitu Badan Perencana ... Sebagai contoh, jumlah penduduk rata-rata satu kabupaten di Papua pada tahun 2003 hanya ...masalah kritis di Papua seperti yang dipandang oleh para pihak (stakeholder) lokal. ... Sebagai contoh di Kabupaten Keerom sebagai wilayah pemerintahan baru hingga ...di Dinas Kesehatan sehingga dalam perencanaan anggaran di tingkat di ... Tabel 2. Makalah berdasar budaya masyarakat lokal. Contoh kasus pelanggaran HAM pada suku ...antropologi secara umum, serta kondisi sosial budaya masyarakat Papua secara ... baik di lingkungan Universitas Cenderawasih maupun di kalangan yang lebih luas. ...Karakter kemiskinan di Papua bersumber dari cultural atau Budaya. Di Papua nilai sosial ... Di daerah perkotaan Papua, ada orang kaya, ada orang

menengah, ada ...Laporan Penelitian Bisnis Militer di Boven Digoel Papua ... Salah satu contoh saat di Getentiri akan dibangun lapangan terbang, ada beberapa suku ...The Papua Leading News Portal! ... Ini termasuk dukungan pengetahuan adat, nilai-nilai lokal dan ekspresi budaya yang beragam, untuk pembangunan berkelanjutan di Papua. ...food-gathering, dianggapnya contoh yang paling sesuai karena mereka harus ... produktifitas transmigran lokal di beberapa tempat di Papua (Sorong, ...(2) Belajar Merebut Kekuasaan - Belajar Merebut Kekuasaan Di Tingkat Lokal ... Kekuasaan di Tingkat Lokal inilah contoh timpangnya kepemilikan lahan di Sulawesi Tengah. ...JAKARTA - Guna melestarikan budaya Indonesia, pemerintah diharapkan dapat memasukkan mata pelajaran budaya unggulan sebagai muatan lokal. Cara ini dianggap efektif ...Budaya Perdamaian dan Rekonsiliasi, menangani Konflik di Papua" ... sejumlah pedagang lokal berjualan di lantai atau tanah sedangkan yang lain mendapat meja ...TIGA FENOMENA UTAMA POLITIK OTONOMISASI NKRI DI PAPUA BARAT ... BUDAYA PAPUA TERCABIK-CABIK DAN HANCUR-HANCURAN 136. 5.3 FENOMENA IDENTIFIKASI LOKAL DALAM OTSUS DI ASIA ...WISATA ALAM DI RIMBA PAPUA BARAT: Lestari Hutan dengan Ekowisata ... lingkungan, kepedulian terhadap budaya lokal dan pemanfaatan potensi alam ...Di samping masyarakat tani Papua juga mempunyai berbagai teknologi ... pangan lokal desa, melakukan budaya sagu di daerah yang penduduknya menunjukkan ... Baca Selengkanya disini: lokal-di-papua-rendah/ http://tabloidjubi.wordpress.com/2008/04/28/konsumsi-pangan-

Hasil PDF Situs:


Kata kunci contoh budaya lokal di papua yang anda input belum lengkap. Silakan ganti kata kunci contoh budaya lokal di papua dengan kata kunci yang lebih tepat pada kotak pencarian dibawah. Terima kasih
Top of Form

powered by
Bottom of Form

Immunk result We b (8) Contoh Pelaksanaan Demokrasi Di Masyarakat - ImmunkNews

Thank you ^_^. NKRI MANIPULASI SEJARAH PAPUA DI DUNIA.jpg ... Berikan 4 contoh budaya politik partisipan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara ! ... contoh ... Sebagai contoh kegiatan pelaksanaan awal. tingkat lokal dari Rencana . ... www.immunknews.com clipped from Google - 6/2011 Jurnal Tentang Pengantar Budaya Pertanian Indonesia - ImmunkNews Antropologi Papua Volume 1. No. 3 Agustus 2003 KATA PENGANTAR Salah satu tujuan ... Tentang komputer contoh hukum pendidikan filsafat indonesia manajemen . ... seni visual dan budaya visual di Indonesia / Online journal about public ... 0 Papalele; Budaya Ekonomi Lokal Pembicara: Simon Pieter Soegijono, SE, M.Si. ... www.immunknews.com clipped from Google - 6/2011 Jurnal Tentang Politik Lokal - ImmunkNews Antropologi Papua Volume 1. No. 3 Agustus 2003 KATA PENGANTAR Salah satu tujuan dari Jurnal ... Seminar Internasional Tahunan tentang Dinamika Politik Lokal di Indonesia. ... Jurnal Antropologi Sosial Budaya Vol 01 No 2 Oktober ... contoh karangan bagaimanakah institusi pentadbiran dapat memperkukuh integrasi ... www.immunknews.com clipped from Google - 6/2011 Kebudayaan Dan Kesehatan - ImmunkNews kebudayaan dan masyarakat Papua. Di samping itu, ilmu antropologi sebagai salah ... Antropologi kesehatan adalah studi tentang pengaruh unsur-unsur budaya . ... Namun sejarah dan kebudayaan lokal Aceh ini akan musnah perlahan . .... contoh kerja kursus sejarah 2011 institusi pentadbiran tempatan ... www.immunknews.com clipped from Google - 6/2011 Makalah Tentang Hubungan Islam Dengan Sosial Politik - ImmunkNews TUGAS PRESENTASI OTONOMI KHUSUS PAPUA Disusun untuk melengkapi Tugas Hukum Pemerintah Daerah ... tauhid. ... judul seminar makalah saya di Fakultas Administrasi dan Sosial Politik . ... Seks Bebas Dalam Cermin Budaya Jawa

Pandangan Kearifan Lokal ... contoh desain web untuk sistem informasi rumah sakit berbasis web ... www.immunknews.com clipped from Google - 6/2011 Pengembangan Karyawan Dalam Ms Word - ImmunkNews FUNGSI MAJELIS EKONOMIMUHAMMADIYAH DALAM PEMBERDAYAAN EKONOMI UMAT DI KOTA METRO ... located in papua Indonesia, tambang tembaga grasberg merupakan salah satu ... untuk masyarakat lokal dan ... bulan, di mana dalam kurun waktu tersebut baik ... i pengaruh gaya kepemimpinan dan budaya organisasi terhadap kinerja ... www.immunknews.com clipped from Google - 6/2011 Lingkungan Dan Sistem Pendidikan - ImmunkNews Pendidikan Dasar dan Menengah Secara umum sistem pendidikan di Perancis telah ... Berbasis Komputer terhadap Kinerja Karyawan Pemerintah Kabupaten Sorong, Papua . ... lingkungan hidup berbasis lokal dalam mata pelajaran ilmu pengetahuan sosial 1 ... sistem pendidikan nasional dan peran budaya dalam pembangunan ... www.immunknews.com clipped from Google - 6/2011 Pengertian Pengangkatan Anak Dalam Hukum Adat - ImmunkNews KEDUDUKAN ANAK ANGKAT DALAM HUKUM WARIS ADAT DI KECAMATAN TEGAL BARAT . ... Optimization (SEO),download software gratis,kumpulan contoh makalah,berita politik terkini, . ... ORGANISASI PRIBUMI PAPUA BARAT OPPB WEST PAPUA NEW GUINEA ... nama lain dbkl bahasa sastra Budaya Lokal Dalam Pembelajaran Bahasa Jawa ... www.immunknews.com clipped from Google - 6/2011 1 2 3

4 5 6 7 8 powered by Custom Search

Hasil PDF Bing:


Powered by

Berita Terbaru KEBUDAYAAN DAN PEMBANGUNAN DALAM KERANGKA OTONOMI KHUSUS1


1 KEBUDAYAAN DAN PEMBANGUNAN DALAM KERANGKA OTONOMI KHUSUS 1 oleh J. R. Mansoben 1. Pengantar. Topik percakapan kita seperti yang termuat dalam judul makalah di atas ...

Baca dan Download PDF Disini:

Dapatkan $100/minggu dengan mencari referal bersama kami


Sumber: http://www.fisip.ui.ac.id/papua/images/oziodownload/mansoben.pdf

Berita Terbaru AGENCY FOR INTERNATIONAL DEVELOPMENT PPC CDIE DI REPORT PROCESSING
aid 590-7 (10/88) 1. david ray 2. 3. agency for international development ppc/cdie/di report processing form enter information only if not included on cover or title ...

Baca dan Download PDF Disini:

Dapatkan $100/minggu dengan mencari referal bersama kami


Sumber: http://pdf.usaid.gov/pdf_docs/PNACT809.pdf

Berita Terbaru Potensi Tumbuhan Dan Hewan Lokal Untuk Rehabilitasi Areal Bekas
Potensi Tumbuhan dan Hewan Lokal untuk Rehabilitasi Areal Bekas Tebangan KOPERMAS dan Peningkatan Kesejahteraan Masyarakat Adat Potensi tumbuhan dan hewan lokal untuk ... Baca dan Download P

" />

rikar08's blog
mencari dan memberi yang terbaik Home

Akademik Prestasi Organisasi About

Penjual Jajanan Keliling IPB TEORI DAN MODEL PEMBANGUNAN PERTANIAN

KEARIFAN LOKAL TERHADAP PEMELIHARAAN LINGKUNGAN HIDUP Kampung Cimanggu, Desa Gunung Malang, Kecamatan Tenjolaya, Kabupaten Bogor
June 19, 2010 - 3:58 am No Comments

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Hubungan masyarakat asli atau lokal yang dekat dengan lingkungan sumber daya alam membuat mereka memiliki pemahaman tersendiri terhadap sistem ekologi dimana mereka tinggal. Lingkungan sendiri seharusnya dipersepsikan bukan hanya sekedar sebagai objek yang harus digunakan untuk memenuhi kebutuhan manusia (human centris), melainkan juga harus dipelihara dan ditata demi kelestarian lingkungan itu sendiri (eco sentris). Oleh karena itu, adanya ikatan antara manusia dengan alam akan melahirkan pengetahuan dan pikiran bagaimana mereka memperlakukan alam lingkungannya. Mereka menyadari betul akan segala perubahan dalam lingkungan sekitarnya dan mampu mengatasinya demi kepentingannya. Salah satu cara ialah dengan mengembangkan sikap kelakuan, gaya hidup, dan tradisi-tradisi yang mempunyai implikasi positif terhadap pemeliharaan dan pelestarian lingkungan hidup (Salim, 1979). Tradisitradisi inilah yang disebut sebagai salah satu aplikasi sebuah kearifan lokal. Kearifan lokal atau kearifan tradisional sendiri merupakan pengetahuan yang secara turun temurun dimiliki oleh masyarakat desa dalam mengolah lingkungan hidupnya, yaitu pengetahuan yang melahirkan perilaku sebagai hasil dari adaptasi mereka terhadap lingkungannya, yang mempunyai implikasi positif terhadap kelestarian lingkungannya (Lamech AP. et al, 1996). Berbagai macam tabu/pantangan adat, upacara-upacara tradisional, sloka-sloka, dan berbagai tradisi lainnya yang dimiliki oleh banyak suku bangsa di Indonesia, apabila dikaji dapat mengungkapkan pesan-pesan budaya yang besar manfaatnya bagi upaya pelestarian lingkungan hidup (Sanusi, 1993). Jika dibanding penggunaan teknologi modern yang seringkali berdampak negatif bagi kelestarian lingkungan hidup, misalnya penggunaan pupuk kimia atau pestisida bagi lahan pertanian dapat menyebabkan degradasi lingkungan seperti polusi tanah dan polusi air kearifan lokal merupakan salah satu alternatif pemeliharaan lingkungan hidup. Dampak penggunaan teknologi modern dalam waktu dekat memang dapat meningkatkan produktivitas pertanian, namun tidak dalam jangka waktu yang lama, penggunaan teknologi ini akan menyebabkan kerusakan lingkungan. Kearifan lokal yang dapat digali dan dikaji dari sebuah masyarakat dapat menjadi sebuah solusi bagi pemeliharaan kelestarian lingkungan hidup. 1.2 Rumusan Masalah

1. Kearifan lokal apa yang ada pada masyarakat Desa Gunung Malang khususnya kampung Cimanggu? 2. Bagaimana peran kearifan lokal dalam menjaga lingkungan hidup pada masyarakat Desa Gunung Malang khususnya kampung Cimanggu? 3. Bagaimana cara melestarikan kearifan lokal pada masyarakat Desa Gunung Malang khususnya kampung Cimanggu?

1.3. Tujuan
1. Mengetahui kearifan lokal yang ada pada masyarakat Desa Gunung Malang khususnya kampung Cimanggu. 2. Mengetahui peran kearifan lokal pada lingkungan sekitar Desa Gunung Malang khususnya kampung Cimanggu. 3. Mengetahui cara melestarikan kearifan lokal di Desa Gunung Malang khususnya kampung Cimanggu.

1.4

Manfaat penelitian
1. Dari segi akademis, selain untuk melengkapi tugas akhir mata kuliah Sosiologi Pedesaan, hasil penelitian ini juga diharapkan dapat menjadi salah satu sumber informasi dan bahan acuan untuk melakukan penelitianpenelitian terkait yang akan dilaksanakan. 2. Dari segi sosial, dapat memperoleh penjelasan mengenai lingkungan masyarakat setempat dan seberapa jauh kelestarian sumber daya alam dipengaruhi oleh kearifan lokal. 3. Dari segi praktis, hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan untuk menentukan suatu kebijakan yang tepat bagi masyarakat pedesaan.

BAB II KERANGKA TEORITIS 2.1 Tinjauan Pustaka Kearifan Lokal atau dapat juga disebut kearifan tradisional merupakan pengetahuan yang secara turun temurun dimiliki olah para petani dalam mengolah lingkungan hidupnya, yaitu pengetahuan yang melahirkan perilaku sebagai hasil dari adaptasi mereka terhadap lingkungannya yang mempunyai implikasi positif terhadap kelestrian lingkungan hidup (Lamech AP. et. al, 1996). Sedangkan Lingkungan itu sendiri dalam UU Republik Indonesia Nomor 23 tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup pada pasal 1, menjelaskan bahwa lingkungan adalah kesatuan ruang dengan semua benda, daya, keadaan, dan makhluk hidup termasuk manusia dan perilakunya yang mempengaruhi kelangsungan perikehidupan dan kesejahteraan manusia serta makhluk hidup lainnya. Kearifan Lokal sangat erat hubungannya dengan kelestarian lingkungan. Hal ini dikarenakan pentingnya memelihara lingkungan hidup bukanlah suatu hal yang baru bagi masyarakat Indonesia. Sebelum UU tersebut diterbitkan, nenek moyang kita telah memiliki kearifan lokal dalam pemeliharaan lingkungan hidup. Pemeliharaan lingkungan tersebut dilakukan dengan cara berpikir dan tradisi yang berlangsung pada zamannya, sehingga mampu menciptakan cara-cara dan media untuk melestarikan keseimbangan lingkungan (Lamech AP. et. al, 1996).

Pengetahuan yang diturunkan oleh nenek moyang kita ini, sesungguhnya terbukti menguntungkan. Terlihat dari kelestarian lingkungan hidup dengan pemeliharaan tradisional, sehingga dalam penggunaan sumber daya lingkungan tanpa menyebabkan kerusakan yang berarti dalam jangka waktu yang lama. Namun dengan meningkatnya penduduk dan banyaknya teknologi yang masuk, menyebabkan kerusakan terhadap lingkungan dan ketidakseimbangan lingkungan akibat dari penggunaan teknologi yang kurang memperthitungkan aspek ramah lingkung. Kearifan lokal memilki cara-cara yang baik untuk menjaga kelesatrian lingkungan hidup, diantaranya dalam pengolahan lingkungan tidak menggunakan pertanian konvensional yang cenderung merusak lingkungan seperti penggunaan pestisida, pupuk anorganik, dll. Kearifan lokal yang ada di suatu masyarakat pasti bermanfaat bagi mereka, sebab kearifan lokal yang dibuat oleh suatu masyarakat bermanfaat bagi mereka sendiri dalam pengelolaan lahan pertanian ataupun sebagai alat kontrol sosial tertentu. Kearifan lokal di suatu masyarakat biasanya dijaga oleh seorang tetua adat atau tokoh masyarakat. Cara menjaga kearifan lokal itu sendiri bisa dengan diajarkan kepada generasi muda yang ada. Cara mengajarkannya bisa secara terprogram atau tertulis dan juga kegiatan insidental dalam suatu masyarakat. Dengan cara menjaga dan meregenerasikan kearifan lokal yang ada di masyarakat setempat diharapkan kearifan ini tidak akan pudar atau hilang, tetapi terus hidup di tengah masyarakat dan terus digunakan untuk sebuah lingkungan hidup yang seimbang . 2.2 Kerangka Pemikiran Kearifan lokal yang dimiliki oleh suatu daerah, tampaknya harus dipertahankan terhadap pemeliharaan lingkungan hidup. Dengan kearifan lokal yang dimiliki diharapkan dapat menjaga pemeliharaan lingkungan hidup dari teknologi modern yang merusak lingkungan. Bagan di bawah ini menggambarkan kerangka pemikiran penelitian ini.

Fokus pengamatan yang dilakukan adalah mengenai kearifan lokal yang ada pada masyarakat di desa Gunung Malang, Kecamatan Tenjolaya. Kearifan lokal tersebut memiliki hubungan yang erat dengan lingkungan hidup warga sekitar, dan memiliki dampak terhadap lingkungan, yakni dampak positif yang berpengaruh pada kelestarian alam, serta dampak negatif yang berpengaruh pada kerusakan lingkungan hidup. BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Waktu Dan Lokasi Observasi Observasi dilakukan di Desa Gunung Malang, Kecamatan Tenjolaya. Waktu observasi lapangan ini dilaksanakan pada tanggal 18-20 Desember 2009.

3.2 Strategi Observasi Adapun teknik yang digunakan dalam pengumpulan data adalah:
1. Pengamatan langsung 2. Wawancara responden dan informan.

Kami mengumpulkan data primer dan data sekunder. Data primer didapatkan melalui pengamatan langsung dan wawacara mendalam dengan para informan dan responden. Responden tersebut terdiri atas warga desa penelitian dan tokoh masyarakat serta pejabat pemerintahan sebagai informan. Sementara itu, untuk data sekunder diperoleh melalui berbagai literatur serta catatan-catatan instansi terkait dan pihak-pihak lainnya yang dapat mendukung kelengkapan informasi yang dibutuhkan. 3.3 Metode Pengolahan dan Analisis Data Data diperoleh melalui pengamatan secara langsung, dan hasil wawancara pada responden (petani Desa Gunung Malang) yang mengetahui seluk-beluk kearifan lokal di masyarakat Desa Gunung Malang. Informasi tambahan untuk melengkapi penelitian diperoleh melalui wawancara kepada informan yang dalam hal ini adalah Kepala Desa Gunung Malang. Setelah itu data yang diperoleh akan kami analisis menggunakan metode pengolahan kualitatif. BAB IV GAMBARAN KAMPUNG CIMANGGU, DESA GUNUNG MALANG, KECAMATAN TENJOLAYA 4.1 Letak Geografis Desa gunung malang terletak di kaki gunung Salak, kecamatan Tenjolaya, Bogor. Desa ini dapat di tempuh lebih kurang 45 menit dari IPB dengan menggunakan kendaraan umum. Karena letaknya yang dekat dengan kaki gunung, membuat desa ini memiliki hawa yang sejuk dan airnya masih jernih serta memiliki tanah yang subur. Desa Gunung Malang memiliki tiga rukun warga (RW) yang didalamnya terdiri dari beberapa kampung, salah satunya adalah kampung Cimanggu. Sebelah utara, kampung Cimanggu berbatasan dengan Kampung Pasir Ipis, sebelah Selatan berbatasan dengan kampung Bumi Asih. Walaupun terletak di daerah yang bebukit, namun memiliki akses yang mudah untuk menjual hasil-hasil pertanian karena jalannya sudah beraspal. 4.2 Gambaran Penduduk Kecamatan Tenjolaya memiliki penduduk dengan jumlah 50.674 dengan jumlah kepala keluarga 13.023 dengan jumlah laki-laki sebanyak 26.397 sedangkan jumlah perempuan sebanyak 24.277 jiwa (BPS Kabupaten Bogor, 2008). Penduduk Kampung Cimanggu berjumlah 1.342 jiwa terdiri dari 354 Kepala Keluarga. Kampung Cimanggu terletak di RW 2 dan memiliki 3 RT. Penduduk Cimanggu umumnya hanya mengenyam pendidikan hingga SD atau SMP. Faktor kurangnya sarana pendidikan yang memadai juga menyebabkan hal ini. Sekolah Dasar terdekat terletak di kampung Cikareo, aksesnya kurang karena jalanannya yang berbatu dan menanjak serta tidak ada kendaraan umum yang melewati sekolah ini, sedangkan Sekolah Dasar dan Sekolah Menengah Pertama yang terletak di Kampung Puswa cukup jauh untuk dijangkau dari Kampung Cimanggu, walaupun ada angkutan umum yang melewati Sekolah ini, tentunya akan menambah beban ongkos bagi penduduk. Bukan hanya itu, tidak ada SMA yang dapat dijangkau dengan mudah dari kampung ini. SMA terdekat terletak di Kecamatan Ciampea.

Selain karena faktor pendidikan penduduk yang rendah, faktor lingkungan alamnya yang subur dan cocok untuk pertanian juga menjadi penyebab penduduk Cimanggu sebagian besar bermata pencaharian sebagai petani, baik yang memiliki lahan sendiri maupun yang sebagai buruh tani. Mata pencaharian lain yang digeluti penduduk adalah guru, peternak, pedagang, tengkulak, pegawai pemerintah, pengrajin bambu, dan pembajak sawah. Namun, banyak juga penduduk yang mencari pekerjaan ke kota yang menjadi buruh bangunan. Kondisi perumahan penduduk kampung Cimanggu sudah relatif baik, karena sebagian besar rumah penduduk sudah permanen dengan menggunakan bata, atapnya pada umumnya sudah menggunakan genteng, masing-masing rumah memiliki halaman rumah, sehingga dapat ditanami tanaman sayur-sayuran dan buah untuk dikonsumsi sendiri. Sarana kesehatan belum terlalu memadai, hanya terdapat bidan desa yaitu Bidan Suraeti. Sedangkan Dinas Kesehatan dan Puskemas pembantu terdapat di kampung Bumi Asih. 4.3 Gambaran Sumber Daya Alam Desa Gunung Malang terletak di kaki Gunung Salak dengan suhu udara yang relatif sejuk, kontur berlereng, dan tanah yang subur. Hal ini menyebabkan tumbuhnya berbagai spesies tanaman, dan sumber daya alam yang melimpah. Potensi sumber daya alam Desa Gunung Malang terdiri dari lahan persawahan, perkebunan buah-buahan, umbi-umbian, dan perkebunan sayuran. Komoditi buah-buahan di desa ini antara lain jambu, rambutan, pisang, dan sirsak. Komoditi umbi-umbian terdiri dari singkong, talas, dan ubi, sedangkan komoditi sayuran terdiri dari komoditi buncis, jagung, kangkung, kacang panjang, dan cincau hitam. Oleh karena itu, mata pencaharian masyarakat Desa Gunung Malang sangat bergantung pada sumber daya alam tersebut, yaitu sebagai petani. Sumber daya alam yang ada umumnya sudah dikelola oleh masyarakat sekitar dan dipasarkan untuk memenuhi pasar di Kabupaten dan Kota Bogor, bahkan komoditi cincau sudah menembus pasar ekspor (Taiwan). Selain itu terdapat budidaya ikan mujaer dalam kolam-kolam yang di sebut balong, peternakan kelinci yang dipasarkan di Kota Bogor, peternakan cacing Jerman yang digunakan sebagai pakan ikan, dan peternakan kambing yang kotorannya dapat dimanfaatkan sebagi pupuk kandang bagi pertanian. Sumber daya alam ini umumnya hanya dikelola sebagai pekerjaan sampingan untuk menambah penghasilan rumah tangga. Potensi tumbuhsn bambu yang terdapat di desa ini dimanfaatkan menjadi berbagai kerajinan yang bernilai jual, seperti keranjang bambu yang telah menembus pasar ekspor (Taiwan); perkakas rumah tangga seperti boboko, tudung saji, tampah, dan kipas sate (hihid); dan anyaman bilik yang digunakan sebagai dinding rumah. Sumber daya alam di desa ini menjadi tulang punggung bagi keberlangsungan kehidupan masyarakatnya. Oleh karena itu sumber daya yang ada tetap berusaha mereka jaga agar tetap terjaga kelestariannya. BAB V PEMBAHASAN 5.1 Kearifan Lokal Desa Gunung Malang Khususnya Kampung Cimanggu Cimanggu merupakan salah satu kampung yang terdapat di Desa Gunung Malang. Kampung tersebut memiliki kearifan lokal yang digunakan untuk memelihara lingkungan hidup dan peningkatan produksi hasil pertanian. Kearifan lokal atau dapat juga disebut kearifan tradisional merupakan pengetahuan yang secara turun temurun dimiliki olah para petani dalam mengolah lingkungan hidupnya, yaitu pengetahuan yang melahirkan perilaku sebagai hasil dari adaptasi

mereka terhadap lingkungannya yang mempunyai implikasi positif terhadap kelestrian lingkungan hidup (Lamech, et al, 1996). Kearifan lokal yang ada di Desa Cimanggu berupa sistem penanggalan dalam pertanian, misalnya penanggalan musim tanam. Sistem penanggalan ini adalah sistem penanggalan sunda yang dalam penentuannya dilihat dari perkiraan posisi bulan. Misalnya masa tanam dilakukan pada saat sebelum bulan ramadhan dan dihitung dari satu muharam. Dahulu sekitar tahun 60-an, Penduduk Desa Gunung Malang memegang sebuah budaya tersendiri dalam mengolah lahan pertanian mereka. Mereka tidak mengenal perhitungan bulan konvensional , tetapi hanya mengenal perhitungan bulan-bulan Islam, dan menyakini bahwa hanya terdapat 30 hari dalam satu bulan. Dalam menentukan penanggalan waktu tanam umumnya petani menggunakan bulan sebagai petunjuk, ketika bulan terlihat terang berarti menunjukkan tanggal muda (1-10), tanggal satu ditetapkan ketika bulan tepat di atas kepala dan ketika bulan gelap berarti menunjukkan bulan tua (17-30). Petani di Desa Gunung Malang memiliki semacam ilmu batin yang bisa menunjukkan kapan seharusnya menanam, dan kapan seharusnya tidak menanam. Ketika pada waktunya tidak boleh menanam, berarti seluruh petani harus serentak tidak boleh menanam, jika ada yang menanam umumnya terjadi malapetaka tertentu seperti lahan pertaniannya terkena hama, atau tidak tumbuh dengan subur. Selain itu pada saat panen, para petani biasanya membuat acara rujakan dan juga beberapa makanan tambahan seperti ayam dan telur. Ritual ini biasanya dilakukan di pusat air yang sudah dibubuhi dengan doa-doa dengan tujuan mendapat berkah dari Sang Khaliq. Namun kebiasaan ini telah pudar, hanya orang-orang tertentu yang melaksanakan yaitu orang-orang tua. Bahkan ritual ini menimbulkan pro dan kontra karena sistem tersebut tidak dapat diterima secara logis oleh masyarakat angkatan muda. Tradisi yang juga biasa dilaksanakan oleh masyarakat Cimanggu adalah ketika maulid nabi, dedaunan diikatkan ke pohon. Tradisi ini dipercaya dapat menjaga pohon dari serangan hama dan pohon cepat berbuah. Selain contoh kearifan lokal yang ada diatas, di Desa Gunung Malang juga terdapat kearifan lokal dalam pemeliharaan lingkungan hidup. Lingkungan hidup itu sendiri adalah apa saja yang mempunyai kaitan dengan kehidupan pada umumnya dan kehidupan manusia (Sastrosupeno, 1984). Salah satu contoh pemeliharaan lingkungan hidup yang ada di Desa Cimanggu adalah gotong royong. Misalnya pada saat hari-hari besar seperti pada perayaan 17 Agustus masyarakat Cimanggu melakukan gotong royong. Namun sekarang gotong royong tersebut sudah tidak lagi dilaksanakan, karena tidak lagi diagendakan oleh kepala desa setempat. Sehingga sekarang pemeliharaan lingkungan hidup dengan gotong royong tidak lagi dilaksanakan. Akibat dari pemeliharaan lingkungan hidup yang tidak lagi dilaksanakan, keadaan kampung tersebut kurang terurus kebersihannya. Meskipun begitu, masyarakat kampung tersebut membuat inisiatif sendiri dengan membuat lubang di pekarangan rumah sebagai tempat pembuangan sampah, kemudian di bakar. 5.2 Peranan Kearifan Lokal terhadap pemeliharaan Sumber Daya Alam di Desa Gunung Malang Khususnya Kampung Cimanggu Petani pada tahun 60-an selalu menggunakan ilmu batin ini dalam menentukan waktu tanam, pengistirahatan tanaman, dan panen. Sehingga panen selalu memberikan hasil yang baik dan lahan pertanian mereka tidak pernah terserang hama yang serius. Kearifan lokal ini sesungguhnya berperan penting terhadap sistem pertanian berkelanjutan, melalui penghitungan menggunakan ilmu batin tersebut, petani tidak pernah menggunakan pestisida untuk memberantas hama, dan tidak menggunakan pupuk-pupuk kimia yang berdampak buruk bagi

kesuburan tanah kedepan, karena mereka sudah dapat memprediksinya. Sehingga hasil panen yang mereka hasilkan tidak mengandung residu kimia yang berbahaya bagi kesehatan konsumen, dan tidak digunakannya pestisida, herbisida, maupun pupuk kimia berdampak langsung terhadap terjaganya unsur-unsur hara tanah, sehingga tanah tetap subur dan produktif. Para petani padi pada saat itu umumnya hanya panen dua kali dalam setahun, mereka tidak terusmenerus menggarap lahan pertanian mereka. Ada saat-saat ketika ilmu batin itu melarang untuk menanam selama beberapa bulan. Sehingga lahan pun dapat beristirahat untuk mengembalikan kesuburannya. Padi yang ditanam masyarakat adalah padi Kewang atau Sri Kuning. Sebelum masa orde baru dan sebelum adanya program revolusi hijau padi jenis ini merupaka padi andalan masyarakat dengan rasanya yang lebih enak. Jenis bibit ini selalu diwariskan ke keturunan berikutnya. Tetapi, setelah pelaksanaan revolusi hijau kini jenis padi ini telah hilang dari masyarakat Cimanggu karena dari segi hasil jenis padi yang ditawarkan pemerintah melalui revolusi hijau lebih melimpah hasilnya dengan perbandingan hasil panen 1 banding 3 dan panen dapat mencapai tiga kali setahun. Keterjagaan tanah, tanaman, dan ekosistemnya menunjukkan bahwa kearifan lokal tersebut berpihak pada pemeliharaan kelangsungan sumber daya alam, dimana tanah tidak terus tereksploitasi untuk berproduksi menggunakan perangsang pertanian yang tidak bersahabat dengan alam, ekosistem didalamnya tidak terganggu kehidupannya, begitu juga dengan manusia yang bisa mengonsumsi pangan hasil panen dengan aman. Kearifan lokal ini sesungguhnya dapat menjadi cerminan pemeliharaan sumber daya alam kedepan, dalam bentuk pembangunan yang berkelanjutan. Pembangunan yang menghasilkan, namun tetap arif terhadap alam. Kearifan lokal lainnya yang berdampak terhadap pemeliharaan sumber daya alam adalah tradisi gotong royong untuk membersihkan kampung, dimana masyarakat sama-sama bahu membahu mebersihkan lingkungan mereka sehingga tercipta lingkungan yang bersih dan kondusif bagi kesehatan warga. Selain itu terdapat kearifan lokal seperti ritual-ritual seperti ngabakakak hayam, atau rurujakan sebelum menanam, dan ketika panen. Hal ini memang tidak berdampak langsung terhadap pemeliharaan sumber daya alam, namun kearifan lokal ini menimbulkan solidaritas antar warga Desa Gunung Malang yang semakin kuat. Kearifan lokal yang ada di Desa Gunung Malang khususnya Kampung Cimanggu dalam penerapannya tidak menunjukkan dampak negatif secara langsung bagi pelestarian lingkungan hidup khususnya lahan pertanian. 5.3 Pelestarian Kearifan Lokal Pada Masyarakat Desa Gunung Malang Khususnya Kampung Cimanggu Dalam eksistensinya, kearifan lokal sangat bermanfaat terutama dalam proses pengidentifikasian suatu daerah yang menunjukkan kekhasan daerah tersebut yang membedakannya dengan daerah lain. Pelestarian kearifan lokal sangat penting karena dapat dijadikan sebagai filter (penyaring) bagi kebijakan-kebijakan yang masuk ke daerah tersebut sebagai akibat dari adanya otonomi daerah. Pelestarian kearifan lokal dapat dilakukan oleh komunitas tersebut ataupun dengan bantuan dari pemerintah. Kearifan lokal yang ada di kampung Cimanggu berupa gotong royong dapat dilestarikan dengan senantiasa menumbuhkan kesadaran masyarakat bahwa kebersihan lingkungan adalah penting bagi kesehatan warga, apalagi mengingat dengan kebiasaan warga yang membuang sampah diselokan. Menurut penuturan RW setempat, setiap bulan ada program membersikan selokan secara gotong royong. Sedangkan, sistem kearifan lokal yang berupa sistem penanggalan pertanian sudah mulai ditinggalkan, terlihat dari semakin sedikitnya masyarakat yang menggunakan sistem ini, hanya orang-orang tertentu saja yang menggunakan (kini tinggal satu

orang warga yang masih sangat kental pengetahuannya tentang kearifan lokal ini, sehingga menjadi tokoh masyarakat yang akan selalu dimintai pendapatnya ketika ada orang yang akan melaksanakan sistem ini), karena generasi muda menilai sistem ini masuk akal dan bertentangan dengan nilai-nilai agama, sehingga generasi muda sebagai penerus kearifan lokal tersebut relatif sedikit. Dengan semakin banyaknya ilmu-ilmu baru tentang pertanian serta kemajuan teknologi menyebabkan semakin memudarnya kearifan lokal di kampung Cimanggu. BAB VI KESIMPULAN DAN REKOMENDASI 6.1 Kesimpulan Desa Gunung Malang Kampung Cimanggu memiliki kearifan lokal untuk peningkatan hasil pertanian dan pemeliharaan lingkungan hidup. Kearifan lokal tersebut meliputi sistem penggalan yang juga disebut sistem penanggalan Sunda digunakan untuk menentukan musim tanam sehingga dapat meningkatkan hasil pertanian dan juga menghindari hama. Kearifan lokal lainnya adalah pengikatan daun ke pohon untuk menjaga pohon dari serangan hama dan agar pohon cepat berbuah. Kearifan local lainnya yang berdampak terhadap pemeliharaan sumber daya alam adalah tradisi gotong royong untuk membersihkan kampung. Kearifan local tersebut di atas dapat menjadi cerminan pemeliharaan sumber daya alam kedepan, dalam bentuk pembangunan yang berkelanjutan. Pembangunan yang menghasilkan, namun tetap arif terhadap alam. Pengurangan penggunaan pupuk kimia dan pestisida berbahaya dan menggantinya dengan pupuk alami dan pestisida nabati merupakan salah satu solusi yang bisa dilakukan pekerja-pekerja pertanian saat ini. Kearifan lokal yang ada di kampung Cimanggu berupa gotong royong dapat dilestarikan dengan senantiasa menumbuhkan kesadaran masyarakat bahwa kebersihan lingkungan adalah penting bagi kesehatan warga, apalagi mengingat dengan kebiasaan warga yang membuang sampah diselokan. Sistem kearifan lokal yang berupa sistem penanggalan pertanian sudah mulai ditinggalkan, terlihat dari semakin sedikitnya masyarakat yang menggunakan sistem ini, hanya orang-orang tertentu saja yang menggunakan. 6.2 Rekomendasi Desa Gunung Malang khususnya Kampung Cimanggu adalah desa yang memiliki kearifan lokal. Kearifan lokal ini kini hampir hilang dari masyarakat. Padahal, kearifan lokal ini telah berkontribusi dalam memelihara lingkungan hidup dan telah meningkatakan hasli pertanian. Sistem pengetahuan modern adalah salah satu penyebab tidak eksisnya sistem ini. Ada baiknya kalau sistem ini dipelihara dalam bentuk catatan atau dokumen ilmu pengetahuan tradisional Indonesia agar sistem ini selalu diingat menjadi sumber pengetahuan dari masa yang lampau. Meskipun sistem pengetahuan ini tidak digunakan atau bertentangan sistem nilai masyarakat sekarang tetapi budaya indonesia harus tetap dilestarikan sebagai bentuk arsip tradisional desadesa Indonesia. DAFTAR PUSTAKA Lamech dan Prioyulianto Hutama. 1995. Kearifan Tradisional Masyarakat Pedesaan Daerah Irian Jaya Di Kabupaten Jayapura dan Biak Numfor Dalam Pemeliharaan Lingkungan Hidup. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Jendral Kebudayaan, Bagian Proyek Inventarisasi dan Pembinaan Nilai-nilai Budaya Irian Jaya. Mitchell Bruce. 2007. Pengelolaan Sumberdaya dan Lingkungan .Penerjemah: Setiawan B, Dwita Hadi Rami. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Mulyanto HR. 2007. Ilmu Lingkungan. Yogyakarta: Graha Ilmu. Sastrosupeno, M.Supriyadi. 1984. Manusia, Alam dan Lingkungan. Jakarta: DEPDIKBUD. Susilo Rachmad K. Dwi. 2008. Sosiologi Lingkungan. Jakarta: PT. Rajagrafindo Persada. Zuraida Tanjung, dkk. 1992. Kearifan Tradisional Masyarakat Pedesaan Dalam Pemeliharaan Lingkungan Hidup Daerah Sumatera Utara. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Jendral Kebudayaan, Bagian Proyek Inventarisasi dan Pembinaan Nilai-nilai Budaya Sumatera Utara. Posted Academic |

Leave a Reply
Top of Form

Name (required) Mail (will not be published) (required) Website

Powered by WP Hashcash

Type the two words:

Bottom of Form

Archives
March 2011 February 2011 January 2011 June 2010

Kalender
June 2010 S M TWT F S Jan 1 2 3 4 5 6 7 8 9 1 1 1 0 1 2

1 1 1 1 1 1 1 3 4 5 6 7 8 9 2 2 2 2 2 2 2 0 1 2 3 4 5 6 2 2 2 3 7 8 9 0

Links
Agripedia IPB Blog Mahasiswa IPB Blog Staff IPB

Bogor Agricultural University Career Development and Alumni Affairs Cheap Books IIRC Kemahasiswaan IPB Noida New Delhi Perpustakaan IPB Webmail Mahasiswa IPB TUGAS SOSUM PRAKTIKUM ke-7 Tugas Pertama Sosum A21 Perbedaan antara Pendapatan dan Penerimaan Download Software Free Full Version Cara Memproteksi Dokumen dengan Password TEORI DAN MODEL PEMBANGUNAN PERTANIAN KEARIFAN LOKAL TERHADAP PEMELIHARAAN LINGKUNGAN HIDUP Kampung Cimanggu, Desa Gunung Malang, Kecamatan Tenjolaya, Kabupaten Bogor Penjual Jajanan Keliling IPB Contoh Feature Agung Sudomo on Download Software Free Full Version Log in Entries RSS Comments RSS WordPress.org TEORI DAN MODEL PEMBANGUNAN PERTANIAN (33) Download Software Free Full Version (23) Contoh Feature (20)

Recent Posts

Recent Comments Meta

StatPress TopPosts

KEARIFAN LOKAL TERHADAP PEMELIHARAAN LINGKUNGAN HIDUP Kampung Cimanggu, Desa Gunung Malang, Kecamatan Tenjolaya, Kabupaten Bogor (14) Perbedaan antara Pendapatan dan Penerimaan (11)

StatPress
Visits today: 9

Meta
RSS Comments RSS vps hosting K2 Wordpress Theme

Noida Residential Plots | Buy Property | Greater Noida Expressway