Anda di halaman 1dari 4

Aset Intangible dan Hak Intelektual

Monday, 05 May 2008 15:57 Share Model Penilaian Aset Intangible dan Hak Intelektual Oleh : Joko Sutrisno, S.Si., M.Pd. Artikel ini secara umum mereview kelebihan dan kekurangan beberapa model ekonomi yang umumnya dipakai untuk memperkirakan nilai aset intangible. Salah satu kelemahan yang dimiliki oleh hampir semua model yang disoroti adalah tidak diikutsertakannya aspek hak cipta dan kekayaan intelektual dalam model-model tersebut. Tidak dimasukkannya aspek hak cipta dan kekayaan intelektual tersebut akan mengurangi keakuratan perhitungan nilai aset intangible secara keseluruhan. Menurut Sveiby, ada tiga jenis asset intangible, yaitu employee competence, internal structure, dan external structure. Yang termasuk dalam jenis internal structure antara lain adalah paten, konsep, model, dan sistem komputer dan sistem administrasi. Dengan demikian, hak cipta dan kekayaan intelektual yang sedang dibahas dalam artikel ini juga merupakan asset intangible, lebih rinci lagi termasuk internal structure sebuah perusahaan. Yang dimaksud kekayaan intelektual dalam artikel ini meliputi segala macam hal seperti paten, copyright, dan merek. Secara umum sudah diketahui bahwa program komputer dan lagu-lagu merupakan kekayaan intelektual, dan secara hukum telah dilindungi kepemilikannya. Tetapi perlu dipahami bahwa suatu database atau kompilasi fakta-fakta sebenarnya juga merupakan aset intangible, yang secara umum belum terlindungi kepemilikannya oleh undang-undang. Jadi, kekayaan intelektual yang dimaksudkan dalam artikel ini mencakup pengertian yang lebih luas dari pandangan umumnya. Model penilaian aset intangible yang biasa dipilih untuk digunakan biasanya bervariasi, tergantung pada tujuan dan penitikberatan penilaian aset tersebut. Beberapa model yang biasa digunakan antara lain: cost-based model, market-based model, income-based model, dan option model. Penjelasan dari masing-masing model dapat dirangkum sebagai berikut. Model Cost-Based Model cost-based pada prinsipnya menghitung nilai aset intangible dan intellectual property berdasarkan seberapa besar biaya yang telah dikeluarkan untuk mengembangkan atau menciptakan aset tersebut. Model ini tidak memperhitungkan nilai yang bisa diperoleh dari aset tersebut di masa mendatang. Jadi, mirip dengan aset tangible lainnya, aset intangible dalam model ini dianggap memiliki nilai awal, misalnya mobil adalah nilai belinya, dan akan memiliki perhitungan nilai di tahun-tahun berikutnya dengan asumsi yang sama dengan aset-aset lainnya, yaitu adanya nilai penyusutan. Biasanya model ini digunakan untuk keperluan perhitungan pajak. Model cost-based belum melibatkan aspek hukum seperti hak cipta dan hak kekayaan intelektual.

Meskipun secara nyata telah memperhitungkan aspek biaya dalam penciptaan dan perawatan aset tersebut, yaitu untuk pendaftaran hak cipta dan perlindungan hukumnya, namun belum mencerminkan perhitungan dampak dari aktivitas hukum terhadap nilai aset tersebut di masa mendatang. Model Market-Based Model market-based ini pada dasarnya mencoba menghitung nilai aset intangible berdasarkan nilai pasar yang akan diperoleh dari aset tersebut. Hal ini biasanya dilakukan melalui pembandingan dengan aset intangible lain yang telah ada sebelumnya dan telah diketahui nilai pasarnya. Masalah signifikan dalam penerapan model ini adalah pemilihan perbandingan aset yang dapat dibandingkan secara akurat. Sering kali sulit untuk mengidentifikasi aset pembanding yang benar-benar dapat dibandingkan. Model market-based hanya akan bekerja dengan baik apabila ada nilai pasar yang sudah ditetapkan untuk aset pembanding yang setara dengan aset intangible tersebut. Apabila tidak ada nilai pasar yang jelas untuk aset pembandingnya, model ini tidak akan efektif digunakan. Model market based ini gagal untuk mengidentifikasi aspek hukum dari penilaian aset intangible secara menyeluruh. Hal ini disebabkan tidak adanya aset pembanding yang dapat digunakan secara akurat oleh perusahaan-perusahaan yang memiliki aset tersebut. Sebagai contoh, hak paten yang dimiliki oleh perusahaan besar akan memiliki nilai aset yang lebih besar dibandingkan dengan paten yang sama yang dimiliki oleh perusahaan kecil. Hal ini karena perusahaan besar memiliki sumber daya yang lebih besar untuk dapat mengembangkan dan memaksimalkan hak paten tersebut dibandingkan dengan perusahaan kecil yang memiliki sumber daya yang terbatas. Model Income-Based Penilaian berdasarakan model income-based menggunakan perkiraan penghasilan yang akan diterima di masa yang akan datang untuk memperkirakan nilai dari aset tersebut. Dalam model ini, nilai dari aset intangible ditentukan berdasarkan proyeksi pendapatan royalty yang akan dihasilkan di masa yang akan datang dalam sebuah struktur lisensi. Perusahaan-perusahaan menggunakan perhitungan proyeksi yang berbeda-beda dalam menghitung perkiraan penghasilan yang akan diterima di masa yang akan datang. Hal ini akan membawa konsekuensi terjadinya penilaian yang berbeda-beda antara satu perusahaan dengan perusahaan lainnya. Model income-based akan bekerja dengan efektif jika terdapat informasi yang akurat untuk mendukung penghitungan pendapatan dan arus kas di masa yang akan datang. Informasi pendukung ini biasanya tersedia apabila aset intangible tersebut mempunyai aset pembanding yang sejenis atau aset tersebut memiliki nilai yang jelas dan tetap. Salah satu masalah dalam penerapan model ini adalah penentuan discount rate yang digunakan. Penentuan discount rate harus mempertimbangkan baik time value of money maupun resiko atas perkiraan penghasilan di masa yang akan datang. Model income-based kurang bisa memperhitungkan aspek hukum atas penilain aset intangible. Model ini secara efektif dapat mengidentifikasi biaya-biaya perolehan dan perawatan atas aset intangible tersebut, tetapi tidak dapat mengidentifikasi biaya-biaya yang berkaitan dengan pengembangan hak legal atas kepemilikan aset intangible tersebut. Model Option Option adalah sebuah pilihan yang dapat digunakan pada suatu waktu tertentu, akan tetapi seseorang juga dapat memilih untuk tidak menggunakan pilihan tersebut. Pemilik dari hak kekayaan intelektual

tersebut mempunyai berbagai macam pilihan tentang pengembangan dan komersialisasi atas aset yang dimilikinya. Pilihan-pilihan tersebut antara lain adalah dalam bentuk apa kekayaan intelektual tersebut; apakah akan menggunakan lisensi untuk kekayaan intelektual yang dimiliki; bagaimana cara menilai jumlah kekayaan intelektual tersebut; dan kapan akan mendaftarkan kekayaan intelektual yang dimiliki agar dapat dikembangkan lebih lanjut. Model ini akan efektif untuk digunakan apabila berbagai macam pilihan yang ada dapat segera diidentifikasi dan dihitung. Model option ini akan lebih efektif apabila nilai dari pilihan-pilihan yang ada stabil dan apabila pilihan-pilihan tersebut memiliki beberapa kriteria tertentu dan tidak dapat dilaksanakan sebelum waktunya. Sayangnya, dalam kenyataannya hal tersebut sangat sulit untuk direalisasikan. Terdapat beberapa masalah dalam penerapan model option ini. Sebagai contoh, resiko yang berkaitan dengan berbagai macam pilihan atas komersialisasi dari aset intangible tersebut berubahubah seiring dengan waktu. Model ini juga sulit untuk melakukan penilaian pilihan-pilihan sedemikian rupa sehingga dapat secara efektif menghitung besarnya arus kas di masa yang akan datang yang berkaitan dengan komersialisai aset intangible secara aktual. Penggunaan model option yang rumit dapat memperhitungkan banyak biaya yang berkaitan denagn aspek hukum dari aset intangible tersebut. Akan tetapi akan sangat sulit untuk mengintegrasikan aspek-aspek hukum tersebut dalam sebuah perhitungan yang kompleks dalam model option. Model ini sudah dikenal sebagai model yang paling rumit dalam sistem penilaian aset. Dampak Aspek Hukum dalam Penilaian Aset Nilai dari kekayaan intelektual biasanya dipengaruhi oleh beberapa pertimbangan hukum yang berbeda-beda. Dalam prakteknya, dampak pertimbangan hukum atas penilaian kekayaan intelektual dan aset intangible kurang begitu diperhatikan. Beberapa pengamat menyadari bahwa aspek hukum atas kekayaan intelektual dan aset intangible dapat memberikan dampak yang signifikan atas penilaian aset tersebut, sehingga kekuatan dari hak legal, kepemilikan, dan kontrol atas aset intangible seharusnya diperhitungkan dalam model penghitungan aset. Beberapa elemen dari hak paten seharusnya dimasukkan dalam proses penilaian aset. Elemen-elemen hak paten yang diidentifikasikan memberikan pengaruh yang signifikan atas nilai suatu aset adalah ruang lingkup atas hak paten tersebut, hubungan antara temuan yang dipatenkan dengan temuan sebelumnya, dan inovasi atas temuan yang dipatenkan tersebut. Semakin besar ruang lingkup dan semakin maju temuan tersebut dibandingkan temuan sebelumnya, maka semakin besar nilai ekonomis atas kekayaan intelektual yang dipatenkan tersebut. Hal lain yang patut diperhatikan dalam menilai nilai ekonomis atas aset intangible adalah kemampuan pemilik atas kekayaan intelektual tersebut untuk mengembangkan dan mengeksploitasi hak tersebut dibandingkan dengan pihak lain. Pengembangan optimal atas suatu hak legal tidak selalu dapat dilaksanakan karena keterbatasan sumber daya dari pemilik hak legal tersebut. Terdapat paling tidak dua komponen atas penilaian hak legal yang efektif untuk aset intangible. Yang pertama adalah ruang lingkup hak legal yang berkaitan dengan aset intangible tersebut. Secara umum, semakin besar ruang lingkupnya, maka semakin besar nilai hak kepemilikan atas aset intangible. Komponen yang kedua adalah kemampuan untuk mengoptimalkan hak legal tersebut. Jika pemilik hak legal tersebut memiliki sumber daya untuk memelihara, memonitor, dan

mengeksploitasi hak tersebut, semakin besar nilai aset intangible tersebut. Bahkan apabila pemilik aset intangible memiliki sumber daya yang dibutuhkan, tidak ada jaminan bahwa hak paten tersebut dapat dikembangkan secara maksimal. Sebagai contoh adalah hak paten atas software komputer, yang sekalipun dilindungi oleh paten tetapi karena kecepatan perkembangan teknologi dalam software komputer, hak paten tersebut tidak dapat dikembangkan secara optimal. Menurut Sveiby, untuk mengukur internal structure, terdapat tiga indikator yang perlu diperhatikan, yaitu growth/renewal, efficiency, dan stability. Dalam keempat model penilaian yang telah dibahas dalam artikel ini, ketiga indikator tersebut telah dimasukkan dalam perhitungan, sehingga untuk memasukkan aspek hak cipta dan kekayaan intelektual ke dalam keempat model tersebut, kita bisa menganalisnya melalui ketiga indikator tersebut. Indikator growth/renewal bisa dengan mudah dilihat berdasarkan pertumbuhan jumlah hak cipta dan kekayaan intelektual yang dimiliki oleh perusahaan, atau berdasarkan nilai tambah yang diperoleh dari hak cipta dan kekayaan intelektual tersebut. Indikator efficiency bisa dilihat dari proporsi antara jumlah hak cipta dan kekayaan intelektual dengan besar pasar yang dihasilkan, atau dengan penjualan yang berhasil dilakukan oleh perusahaan. Yang sedikit agak rumit barangkali adalah melihat indikator stability. Untuk beberapa macam hak cipta dan kekayaan intelektual, nilainya bisa bertahan cukup lama, misalnya paten untuk obat-obatan, sehingga nilainya bisa dikatakan lebih stabil. Namun untuk beberapa hak cipta dan kekayaan intelektual seperti program komputer dan buku, biasanya memiliki nilai yang tidak bertahan lama, karena bisa dengan cepat diikuti oleh para pesaing. Kesimpulan - Terdapat berbagai macam model untuk penilaian atas kekayaan intelektual dan aset intangible. Penilaian atas aset intangible yang bermacam-macam ini akan memberikan hasil yang berbeda-beda. Semua model memiliki masing-masing kelebihan dan kelemahannya sendiri-sendiri. Kelemahan yang dimiliki oleh semua model penilaian adalah kegagalan untuk menghitung secara akurat aspek hukum atas pengembangan, perlindungan, dan transfer aset intangible. - Model penilaian yang ada sekarang ini dapat segera dimodifikasi untuk memasukkan biaya pembuatan dan perawatan atas aset intangible. Biaya pengembangan lebih sulit untuk diintegrasikan ke dalam model, dan nilai aspek hukum adalah yang paling sulit untuk diintegrasikan. - Beberapa pengamat menyarankan bahwa nilai aspek hukum dari suatu aspek intangible dapat diestimasi - paling tidak sebagian - untuk evaluasi inovasi dari aset intangible. - Kepemilikan hak atas suatu aset intangible akan lebih besar nilainya apabila dimiliki oleh pihakpihak yang memiliki sumber daya yang diperlukan untuk mengoptimalkan hak legal tersebut.