Anda di halaman 1dari 10

Problem-based Learning

Laporan Tugas Mandiri

Nama No. Pokok Kelompok Tutor

: : : :

Aqilah binti Isa (085883211414) 2007-10-271 C-3 Dr. Hartanto

Blok 28
Occupational Medicine

Telah diperiksa dan dipersetujui oleh: Pada tutorial 2


Tgl. 5 November 2010

( Dr. Hartanto) Tutor

Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana 2010

Daftar Isi
BAB 1: 1.1 Pendahuluan 1.2 Masalah 1.3 Tujuan .. BAB 2: 2.1 Data Kecelakaan dan kematian akibat kerja 2.2 Anamnesis terkait PAK .. 2.3 Pemeriksaan terkait PAK (Intoksikasi solvent) 2.4 Diagnosis Kerja : PAK akibat intoksikasi solvent 2.5 Diagnosis Banding : 2.6 Penatalaksanaan PAK akibat intoksikasi solvent 2.7 Pencegahan dan Komplikasi PAK akibat intoksikasi solvent 2.8 Prognosis PAK akibat intoksikasi solvent BAB 3 : 3.1 Kesimpulan . 3.2 Lampiran . Daftar Pustaka ..

BAB 1 1.1 Pendahuluan Penyakit akibat kerja (PAK) ialah penyakit yang disebabkan oleh pekerjaan, alat kerja, bahan, proses maupun lingkungan kerja. Menurut WHO penyakit akibat kerja dibagikan kepada empat golongan yaitu:
1. Penyakit yang hanya disebabkan oleh pekerjaan. 2. Penyakit yang salah satu penyebabnya adalah pekerjaan. 3. Penyakit di mana pekerjaan merupakan salah satu penyebab di antara faktor-

faktor penyebab lain. 4. Penyakit di mana pekerjaan memperberat suatu kondisi yang telah ada sebelumnya. Terdapat lima faktor penyebab PAK, antaranya fisik (bising, radiasi, suhu, tekanan yang sangat tinggi), kimiawi (debu, uap, asap, gas, larutan, awan, kabut), biologis (bakteria, virus, jamur), fisiologis (penataan dan cara kerja) dan psikososial (lingkungan kerja yang bisa menimbulkan stress. 1.2 Masalah Seorang laki-laki berumur 30 tahun datang ke poliklinik dengan keluhan sejak 1 bulan terakhir mengeluh sering pusing, tidak konsentrasi saat bekerja dan sulit untuk tidur. Riwayat pekerjaan: bekerja di pabrik sepatu dan ditempatkan dibagian produksi, bertugas merekatkan bagian bawah sepatu dengan lem yang sudah disediakan dengan waktu kerja selama 8 jam/hari. Lama bekerja selama 10 tahun. Selama bekerja tidak menggunakan alat pelindung diri (APD) yang sudah disediakan. 1.3 Tujuan
1. Mengenalpasti penyakit yang dideritai laki tersebut berdasarkan masalah yang

diberikan. 2. Mempelajari bahan kimia yang berperan dalam menimbulkan penyakit. 3. Mempelajari cara penanggulangan serta pencegahan dalam mengurangkan insidens penyakit akibat kerja.

BAB 2 2.1 Data Kecelakaan dan Kematian Akibat Kerja Berdasarkan International Labour Organisation (ILO), didapatkan 1,1 juta kematian diakibatkan oleh pekerjaan atau kecelakaan akibat hubungan kerja. Serta didapatkan 300,000 kematian adalah akibat daripada 250 juta daripada kecelakaan yang terjadi.

Gambar 1: Penyebab Kematian yang Berhubungan dengan Pekerjaan. Di Amerika Sarekat, terdapat 390,000 kasus terbaru yang diakibatkan oleh PAK dan kebanyakan darinya disebabkan oleh solvent. 95% kasus yang berhubungan dengan solvent tidak pernah dilaporkan. 2.2 Anamnesis Terkait PAK Antara soal yang bisa dikemukakan untuk skrining pada penderita : 1. Apakah jenis pekerjaan yang dilakukan?
2. Apakah merasakan sakit yang dideritai punya kaitan dengan pekerjaan yang

dilakukan? 3. Apakah gejala di rumah dan di tempat kerja berbeda? 4. Apakah terpajan terhadap bahan kimia, debu, logam, radiasi, bunyi bising atau pekerjaan yang berulang-ulang? (pada riwayat sekarang dan juga riwayat terdahulu) 5. Apakah ada karyawan lain mempunyai gejala yang sama? Jika jawaban menunjukkan bahwa adanya hubungan antara pekerjaan dengan penyakit yang dideritai, riwayat pekerjaan yang komprehensif haruslah didapatkan.

Self-Administered Riwayat Pekerjaan Merupakan formulir yang diisi oleh pasien sebelum dirawat oleh dokter.

Patient name/number: ________________________________ Occupational history: List the jobs you've had since you first started working. Include the years worked at each job. Also include any military service. Use the next page if additional space is needed. Job title and specific duties Major exposures (such as dusts, chemicals, noise, repetitive motion, stress) Shoe polish, solvents, trichloroethylene Protective equipment (such as respirator, earplugs, gloves) Respirator, earplugs

Date Example:

Employer name: product or service provided

Acme Industries: shoe polish 19871989 manufacturer

Inspector

Gambar 2: Sampel formulir yang diisi oleh pasien. Riwayat Pekerjaan yang Komprehensif Tabel 1: Elemen Riwayat Pekerjaan. Senarai Pekerjaan: Riwayat seumur hidup, dilengkapi dengan tanggal mulai bekerja serta tugasan pekerjaan Riwayat militer Pajanan : Tipe Kimiawi (cth. formaldehid, solvent organic, pestisida) Metal (cth. timbal, arsenik, kadmium) Debu (cth. asbestos, silika, batu bara) Biologik (cth. HIV, hepatitis B, tuberkulosis) Fisik (cth. Bising, pergerakan yang berulang, radiasi) Psikologik (cth. stress) Penilaian dosis Durasi paparan Konsentrasi Paparan Route of exposure Adanya serta efikasi dalam mengontrol paparan Data kuantitatif paparan daripa inspeksi dan monitoring Onset munculnya gejala yang berhubungan dengan pekerjaan Gejala muncul atau terjadi ekserbasi di tempat kerja dan membaik apabila pulang Gejala terjadi apabila adanya paparan baru di tempat pekerjaan atau disebabkan perubahan lingkungan kerja

Adanya gejala yang sama pada karyawan lain yang mempunyai tipe kerja yang sama serta pajanan yang serupa Evaluasi terhadap pajanan di tempat lain Lingkungan rumah (cth. Air, udara, kontaminasi tanah) Kegemaran pada masa lapang atau aktivitas rekreasi HIV=human immunodeficiency virus. Pajanan- pajanan yang mengenai karyawan mengikut tugasan pekerjaan harus direkod. Pajanan termasuklah metal, bahan kimia, debu, atau faktor fisika, mikroorganisma dan stress. Pajanan yang direk serta indirek harus direkod karena bisa berpengaruh pada kesehatan. Dosis pajanan haruslah dinilai. Walaupun karyawan terpajan dengan pelbagai jenis bahan kimia di lingkungan pekerjaan, tetapi terdapat bahan yang tidak digunakan selalu atau dosisnya kecil, ada yang digunakan selalu serta dengan dosis yang banyak. Kadar pajanan bisa dikontrol dengan adanya ventilasi yang baik. Karyawan harus ditanyakan tentang ventilasi umum yaitu pintu dan tingkap yang beroperasi, lokasilokasi dinding, pemisah(partitions) yang bisa berpengaruh pada aliran udara, dan konfigurasi sistem mekanik ventilasi. Biasanya karyawan mengetahui adanya local exhaust ventilation system yaitu, apparatus vakum yang bersambungan dengan mesi atau eksos tangki. Harus ditanyakan sama ada ia berfungsi atau tidak.and the configuration of the mechanical ventilation system. Alat pelindung diri seperti sarung tangan, masker, earplugs adalah perkaran yang sering dititik berat dalam mengontrol kadar pajanan. Ditanyakan apakah karyawan menggunakan alat pelindung diri yang disediakan secara konsisten, apakah alat pelindung diri sesuai dengan tubuhnya(terutama respirator), apakah alat bersesuaian dengan jenis pajanan dan apakah alat itu disimpan dan dijaga dengan baik. Temporal Relationship of Symptoms to Work. Dalam menilai sama ada sesuatu penyakit diakibatkan oleh pekerjaan ataupun tidak, harus dilihat kapan gejala sakitnya itu muncul. Gejala yang muncul bisa diakibatkan pajanan terhadap suatu bahan kimia, disebabkan oleh proses produksi atau kondisi lain. Hubungan ini dapat dilihat dengan jelas apabila karyawan tidak di tempat kerja, apakah gejalanya masih ada atau tidak. Symptoms Among Co-workers. Jika karyawan lain turut mengalami gejala yang sama, probabilitas PAK adalah tinggi. Nonoccupational Exposures. Pajanan yang tidak berhubungan dengan pekerjaan harus juga ditanyakan. Hal ini karena aktivitas ini juga bis aberpengaruh pada kesehatan. Contohnya seperti merokok dan konsumsi alcohol yang berlebihan bisa meningkatkan risiko untuk sakit. Selain itu, aktivitas rekreasi, hobi dan obat yang sedang digunakan juga harus diketahui. 2.3 Pemeriksaan terkait PAK (Intoksikasi Solvent) Terdapat tujuh langkah dalam menegakkan diagnosis penyakit akibat kerja yaitu:

1. Diagnosis klinis ditentukan. 2. Pajanan yang dialami tenaga kerja selama ini ditentukan. 3. Ditentukan apakah pajanan tersebut memang dapat menyebabkan penyakit tersebut. 4. Ditentukan apakah jumlah pajanan cukup besar untuk mengakibatkan penyakit tersebut. 5. Dikenalpasti apakah ada faktor lain yang dapat berpengaruh. 6. Dicari apakah adanya kemungkinan lain yang dapat merupakan penyebab penyakit. 7. Keputusan dibuat sama ada penyakit tersebut berhubungan dengan pekerjaan. PAK yang disebabkan oleh solvent bisa menimbulkan kelainan kulit, gangguan sistem saraf pusat, sistem saraf perifer, sistem respiratori, kelainan jantung, hepar, darah, ginjal, sistem reproduksi dan potensi kanker. Komposisi bahan kimia yang biasanya terdapat dalam lem ialah hexane, methyl ethyl ketone dan toluene. Jika terhidu dalam jangka waktu yang lama bisa mengganggu sistem saraf pusat dan perifer. Selain itu, tindakan monitoring biologis juga harus dilakukan pada tenaga kerja bagi memastikan pekerjaan tidak menjejaskan kesehatan mereka. Gangguan sistem saraf pusat kronik Gejala klinis yang didapatkan ialah sakit kepala, gangguan emosi (depresi, anxietas), fatigue, hilang ingatan (short-term memory loss), dan sukar untuk konsentrasi. Pemeriksaan fisik bisa menemukan berkurangnya daya ingatan, tempoh bisa konsentrasi dan fungsi motor atau sensori. Terdapat Swedish Q 16 yang amat berguna untuk mengevaluasi tenaga kerja yang terpajan dengan solvent dalam tempoh yang panjang. (lampiran 1) Pemeriksaan yang bisa digunakan untuk menunjang diagnosis ialah neurobehavioral test, elektroensefalografi, pneumoensefalografi, CT Scan, MRI, PET Scan dan cerebral blood flow untuk melihat adanya kortikol atrofi dan abnormalitas ensefalografik. 1. Neurobehavioral test Merupakan metode non-invasif dalam menilai sistem saraf pusat. Dalam menilai intoksikasi terhadap bahan kimia digunakan Neurobehavioral Evaluation System (NES). Pelbagai jenis tes dilakukan antaranya dari aspek kelajuan psikomotor dan kontrol, perpetual speed, pembelajaran dan perhatian. Sebelum tes dilakukan terdapat beberapa soal yang dibentuk untuk dijawab oleh orang yang ingin diuji. (lampiran 2) Gangguan sistem saraf perifer

Gejala tipikal pada solvent-induced neuropathy adalah kesemutan perlahan secara ascendens, paresthesia dan kelemahan. Bisa juga disertai nyeri dan kram otot. Pada penemuan gejala klinis ditemukan berkurangnya sensasi dan kekuatan secara simetris. Pemeriksaan yang bisa digunakan untuk menilai ialah tes neurofisiologik, electromyography, sural nerve biopsy dan odor threshold testing dan tes untuk menilai saraf olfaktorius. 1. Tes neurofisiologik Tes ini sangat berguna untuk skrining tenaga kerja dalam jumlah yang banyak. Antara tes yang sensitif dalam menilai neurotoksisitas ialah keseimbangan, masa untuk bereaksi terhadap pilihan dan warna. Untuk tes keseimbangan digunakan untuk menilai saraf perifer motorik dan sensorik serta system vestibuler, visual dan pusat integratif di otak. Ketidakseimbangan biasanya terjadi diakibatkan oleh paparan kronik daripada bahan kimia toluene, benzene, ethylene bromide dan banyak lagi. Tes masa untuk bereaksi terhadap pilihan berperan dalam menilai jalur dari mata ke otak dan dari otak ke tangan. Tes ini menggunakan computer-generated visual stimulus Dengan menggunakan huruf A dan S, huruf tersebut akan terapapar di skrin computer dan orang yang diuji harus bereaksi sesuai dengan huruf yang dipaparkan. Masa direkod oleh computer mulai dari huruf tersebut dipaparkan di layar. Tes warna digunakan untuk menilai kerusakan mana akibat bahan toksik yang bisa merusak lensa, saraf optik di mata atau saraf optik di jalurnya dalam otak. 2. Pemeriksaan Electromyography Electromyography adalah tes yang digunakan untuk menilai derajat kesehatan otot dan velositas konduksi daripada saraf. Merupakan neurofisikal tes ntuk menilai fungsi otot dan saraf. Kelainan menunjukkan terjadinya denervasi.

Gambar 2: Electromyography test.

3. Sural nerve biopsy

Gambar 3: Sural Nerve yang digunakan untuk dibiopsi. Bisa digunakan sural nerve atau saraf radialis yang superfisial untuk biopsi. Anestesi local digunakan untuk operasi ini. Insisi kecil dibuat dan sebagian saraf diangkat. Sampel diperiksa menggunakan mikroskop cahaya atau mikroskop electron. Fiber saraf juga bisa dinilai. Hasil digunakan untuk menilai sama ada terdapat degenerasi axon, rusaknya saraf-saraf kecil, demielinisasi atau kondisi inflamasi pada saraf. Pada keadaan normal, tiadanya pertumbuhan abnormal dan inklusi. Monitoring Biologis Monitoring adalah aktivitas sistemik yg berulang dan berkesinambungan ditujukan untuk koreksi. Merupakan istilah yang digunakan untuk kegiatan pengukuran paparan bahan kimia dalam tubuh pekerja. Monitoring biologis adalah pemeriksaan dan analisis bahan kimia atau metabolitnya dalam materi biologis yng didapat dari individu terpajan. Monitoring biologis terdiri dari; 1. Pemeriksaan : Pengukuran pada jaringan, sekreta, ekskreta, udara ekspirasi, atau kombinasi. 2.Analisis: Dibandingkan dengan nilai referensi. Hasil monitoring ini dapat untuk menilai penyalahgunan obat dan surveilens kesehatan. Hasil dari Biological Monitoring (BM) dibandingkan dengan Biological Exposure Index (BEI). Sebaiknya dibandingkan juga dengan Nilai Ambang Batas (NAB). Jika nilainya lebih kecil dari NAB berarti keadaanya baik. Jika nilainya besar dari NAB dicurigai apakah benar hanya ditempat kerja saja terpapar bahan kimia. Klasifikasi monitoring biologis:

1. Monitoring pajanan (exposure monitoring) a. Arti sempit b. Pengukuran bahan kimia atau derivatnya : Misalnya kadar Pb dalam darah. c. Pengukuran respon biologis : Misalnya sitogenetik atau perubahan fisiologis reversible. 2. Monitoring efek (effect monitoring) a. Sering tidak spesifik
b. Biomarker hematologis: FEP atau ALA di urin.

c. Biomarker hepatotoksik: 2 mikroglobulin. d. Biomarker hepatotoksik : SGOT, SGPT. e. Biomarker reproduktif : GnRH, FSH, LH, Prolaktin, HCG urin, f. Biomarker lain: Neurotoksisitas, karsinogenisitas. 3. Monitoring kerentanan (susceptibility monitoring) a. Menggambarkan faktor yang meningkatkan atau menurunkan risiko toksisitas. b. CYP 450 isoenzim, GSH transferase.