Anda di halaman 1dari 31

SUSPENSI Adalah sediaan cair yang mengandung partikel tidak larut dalam bentuk halus yang terdispersi ke dalam

fase cair.

Suspensi oral Suspensi topikal Suspensi tetes telinga Suspensi oftalmik Suspensi untuk injeksi Suspensi untuk injeksi ter konstitusi

STABILITAS SUSPENSI

Ukuran Partikel Kekentalan (Viskositas) Jumlah Partikel (Konsentrasi) Sifat atau muatan partikel

UKURAN PARTIKEL

Ukuran Partikel erat sekali hubungannya dengan luas penampang partikel tersebut serta daya tekan ke atas dari cairan suspensi itu. Hubungan antara ukuran partikel dengan luas penampang merupakan hubungan berbanding terbalik. Artinya semakin kecil ukuran partikel semakin besar luas penampangnya (dalam volume yang sama) Sedangkan antara luas penampang dengan daya tekan ke atas terdapat hubungan linier. Artinya Semakin besat luas penampang partikel, daya tekan ke atas cairan akan semakin besar, akibatnya memperlambat gerakan partikel untuk mengendap.

KEKENTALAN/VISKOSITAS

Kekentalan akan mempengaruhi kecepatan aliran cairan tersebut, semakin kental suatu larutan maka kecepatan alirannya akan semakin kecil atau turun. Dalam sediaan suspensi kekentalan akan mempengaruhi gerakan turun partikel yang ada di dalam suspensi. Dengan demikian dengan menambah viskositas cairan, maka gerakan turun partikel yang dikandungnya akan diperlambat.

JUMLAH PARTIKEL/KOSENTRASI

Semakin besar konsentrasi partikel, makin besar kemungkinannya terjadi endapan partikel dalam waktu singkat. Karena semakin banyak partikel maka partikel akan sulit melakukan gerakan bebas karena sering terjadi benturan antara partikel.

SIFAT ATAU MUATAN PARTIKEL

Suatu suspensi kemungkinan terdiri dari beberapa bahan yang sifatnya tidak selalu sama. Dengan demikian kemungkinan ada terjadi interaksi antara bahan yang menghasilkan bahan yang sukar larut dalam cairan tersebut.

STABILITAS SUSPENSI

Faktor konsentrasi dan sifat partikel merupakan faktor yang tidak dapat diubah. Faktor ukuran partikel dan viskositas dapat diubah. Ukuran partikel dapat diperkecil dengan menggunakan mixer, homogenizer, colloid mill dan mortir. Viskositas dapat dinaikkan dengan menambah zat pengental yang dapat larut dalam cairan tersebut (suspending agent).

SUSPENDING AGENT

SA DARI ALAM SA SINTETIS

SA dari alam : gom atau hidrokoloid, bentonit, hectorite, veegum. SA Sintetik : derivat selulose, golongan organik polimer. GOM/HIDROKOLOID

Akasia (Pulvis Gummi Arabicum) Bahan ini diperoleh dari eksudat tanaman Akasia sp., dapat larut dalama air, tidak larut dalam alkohol dan bersifat asam. Viskositas optimum mucilagonya antara pH 5-9. Gom mudah rusak oleh bakteri sehingga perlu ditambahkan bahan pengawet. Chondrus Diperoleh dari tanaman Chondrus crispus atau Gigartina mamilosa, dapat laru dalam air, tidak larut dalam alkohol, dan bersifat basa. Ekstrak dari Chondrus disebut Karagen, merupakan derivat dari sakarida sehingga mudah dirusak oleh bakteri, perlu ditambah pengawet. Tragakan Merupakan eksudat dari tanaman Astragalus gummifera. Tragakan sangat lambat mengalami hidrasi sehingga untuk mempercepat hidrasi perlu dilakukan pemanasan. Mucilago tragakan lebih kental dari mucilago gom arab. Algin Diperoleh dari beberapa spesies ganggang laut. Yang dipakai dalam bentuk garamnya yaitu Na alginat. Mudah mengalami fermentasi bakteri sehingga perlu ditambah bahan pengawet. Kadar yang dipakai sebagai bahan pensuspensi 1-2%.

SA ALAM BKN GOM

Tanah Liat (bentonit, hectorite, dan veegum). Jika dimasukan air akan mengembang dan mudah bergerak jika dilakukan pengocokkan (tiksotrofi). Tahan terhadap suhu panas dan fermentasi bakteri, karena bukan gol karbohidarat.

SA SINTETIS

Derivat Selulose. Termasuk dalam gol ini adalah metil selulose (methosol, lylose), karboksimetilselulose (CMC), hidroksimetil selulose. Gol organik polimer. Yang paling dikenal adalah Carbophol 934. Organik polimer berupa serbuk putih, bereaksi asam, sedikit larut dalam air, tidak beracun dan tidak mengiritasi kulit. Untuk memperoleh viskositas yang baik perlu kadar 1%.

METODE PEMBUATAN SUSPENSI

Metode Dispersi. Metode ini dilakukan dengan menambahkan serbuk bahan obat ke dalam mucilago yang telah terbentuk, kemudian baru diencerkan. Kesulitan dalam pendispersian karena adanya udara, lemak atau kontaminan dlm serbuk. Metode Presipitasi. Zat yang hendak didispersikan dilarutkan dulu ke dalam pelarut organik yang akan dicampur dengan air.Setelah larut larutan zat ini kemudian diencerkan dengan pensuspensi dalam airsehingga akan terjadi endapan halus tersuspensi dengan bahan pensuspensi. Pelarut organik yang bisa digunakan etanol, PEG, polietilenglikol.

SISTEM PEMBENTUKAN SUSPENSI

Sistem Flokulasi. Dlm sistem flokulasi partikel flokulasi terikat lemah, cepat mengendap dan pada penyimpanan tidak terjadi cake dan mudah tersuspensi kembali. Sistem Deflokulasi. Partikel deflokulasi mengendap perlahan dan akhirnya terbentuk sedimen, akan terjdi agregasi, dan akhirnya terbentuk cake yang keras dan sukar tersuspensi kembali.

FORMULA SUSPENSI

Penggunaan structured vehicle untuk menjaga partikel deflokulasi dalam suspensi. Structured vehicle contohnya : tilose, gom, bentonit. Penggunaan prinsip-prinsip flokulasi untuk membtk flok, meski cepat terjadi pengendapan tetapi dengan pengocokan ringan mudah disuspensikan kembali.

Pembuatan Suspensi sistem Flokulasi


Partikel diberi zat pembasah dan dispersi medium. Ditambah zat pemflokulasi biasanya larutan elektrolit, surfaktan atau polimer. Diperoleh suspensi flokulasi sebagai produk akhir.

Jika dikehendaki agar flok tdk cepat mengendap maka di tambah structured vehicle.

Emulsi adalah sediaan yang mengandung bahan obat cair atau cairan obat terdispersi dalam cairan pembawa distabilkan dengan zat pengemulsi atau surfaktan yang cocok. Emulsi adalah suatu sistem heterogen yang tidak stabil secara termodinamika, yang terdiri dari paling sedikit dua fase cairan yang tidak bercampur, dimana salah satunya terdispersi dalam cairan lainnya dalam bentuk tetesantetesan kecil yang berukuran 0,1100 mm, yang distabilkan dengan emulgator/surfaktan yang cocok. Emulsi berasal dari kata emulgeo yang ertinya menyerupai milk, warna emulsi adalah putih. Pada abad XVII hanya dikenal emulsi dari biji-bijian yang mengandung lemak, protein dan air. Emulsi semacam ini disebut emulsi vera atau emulsi alam, sebagai emulgator dipakai protein yang terdapat dalam bij tersebut. Pada pertengahan abad XVIII, ahli farmasi Perancis memperkenalkan pembuatan emulsi dari oleum olivarum, oleum anisi dan eugenol oil dengan menggunakan penambahan gom arab, tragakan dan kuning telur. Emulsi yang terbentuk karena penambahan emulgator dari luar disebut emulsi spuria atau emulsi buatan. Emulsi dibuat untuk diperoleh suatu preparat yang stabil dan rata dari campuran dua cairan yang saling tidak bisa bercampur. Adapun tujuan pemakaian emulsi adalah dipergunakan sebagai obat dalam atau per oal. Umumnya emulsi tipe O/W serta dipergunakan sebagai obat luar. Bisa tipe O/W maupun W/O tergantung banyak faktor misalnya sifat zat atau jenis efek terapi yang dikendaki. Komponen dari emulsi dapat digolngkan menjadi dua bagian, yaitu komponen dasar dan tambahan. Komponen dasar yang biasanya digunkan dalam membentuk emulsi, antara lain : a. Fase dispers / fase internal / fase diskontinyu, yaitu zat cair yang terbagi-bagi menjadi butiran kecil kedalam zat cair lain. b. Fase kontinyu / fase eksternal / fase luar, yaitu zat cair dalam emulsi berfungsi sebagai pendukung dalam formulasi. c. Emulgator, bagian dari emulsi yang bertugas untuk menstabilkan sediaan. Komponen tambahan adalah bahan tambahan yang sering ditambahkan pada emulsi untuk memperoleh hasil yang lebih baik, misalnya corrigen saporis, odoris, colouris, preservatif (pengawet), antoksidan. Preservatif yang digunakan antara lain metil dan propil paraben, asam benzoat, asam sorbat, fenol, kresol, dan klorbutanol, benzalkonium klorida, fenil merkuri asetat, dan lain-lain. Antioksidan yang digunakan antara lain asam askorbat, asam sitrat, asam galat, tokoferol, dan propil galat. Emulgator Emulgator berdasarkan asalnya dibedakan atas emulgator alam dan buatan.

Emulgator alam, didapatkan dari alam tanpa proses yang rumit. Dibagi atas tiga golongan : 1. Emulgator alam dari tumbuh-tumbuhan, bahan-bahan karbohidrat, bahan-bahan alami seperti akasia (gom), tragakan, agar, kondrus dan pectin. Bahan-bahan ini membentuk koloid hidrofilik bila ditambahkan kedalam air dan umumnya menghasilkan emulsi O/W. Misalnya : gom arab, sangat baik untuk emulgator tipe O/W dan untuk obat minum, tragakan, agar-agar, chondrus, emulgator lain seperti pectin, metal selulosa dan CMC 12%. 2. Emulgator alam dari hewan, zat-zat protein seperti : gelatin, kuning telur, kasein, dan adeps lanae. Bahan-bahan ini menghasilkan emulsi tipe O/W. Kerugian gelatin sebagai suatu zat pengemulsi adalah sediaan menjadi lebih cair pada pendiaman. 3. Emulgator alam dari tanah mineral, zat padat yang terbagi halus, seperti : tanah liat koloid termasuk bentonit, magnesium hidroksida dan aluminium hidroksida. Umumnya membentuk emulsi tipe W/O bila bahan padat ditambahkan ke fase air jika jumlah volume air lebih besar dari minyak. Jika serbuk bahan padat ditambahkan dalam minyak dan volume fase minyak lebih banyak dari air, suatu zat seperti bentonit sanggup membentuk suatu emulsi O/W. Selain itu juga terdapat veegum (magnesium aluminium silikat). Emulgator buatan yaitu emulgator yang dibuat dengan cara sintetik ataupun semi sintetik. Misalnya tween dan span. Untuk mengetahui proses terbentuknya emulsi dikenal 4 macam teori, yang melihat proses terjadinya emulsi dari sudut pandang yang berbeda-beda. Teoi tersebut ialah : 1. Teori Tegangan Permukaan (Surface Tension), molekul memiliki daya tarik menarik antara molekul yang sejenis yang disebut dengan daya kohesi. Selain itu molekul juga memiliki daya tarik menarik antara molekul yang tidak sejenis yang disebut dengan daya adhesi. Daya kohesi suatu zat selalu sama, sehingga pada permukaan suatu zat cair akan terjadi perbedaan tegangan karena tidak adanya keseimbangan daya kohesi. Tegangan yang terjadi pada permukaan tersebut dinamakan tegangan permukaan. Dengan cara yang sama dapat dijelaskan terjadinya perbedaan tegangan bidang batas dua cairan yang tidak dapat bercampur. Tegangan yang terjadi antara dua cairan tersebut dinamakan tegangan bidang batas. Semakin tinggi perbedaan tegangan yang terjadi pada bidang mengakibatkan antara kedua zat cair itu semakin susah untuk bercampur. Tegangan yang terjadi pada air akan bertambah dengan penambahan garam-garam anorganik atau senyawa-senyawa elektrolit, tetapi akan berkurang dengan penambahan senyawa organik tetentu antara lain sabun. Didalam teori ini dikatakan bahwa penambahan emulgator akan menurunkan dan menghilangkan tegangan permukaan yang terjadi pada bidang batas sehingga antara kedua zat cair tersebut akan mudah bercampur. 2. Teori Orientasi Bentuk Baji (Oriented Wedge), setiap molekul emulgator dibagi menjadi dua kelompok yakni kelompok hidrofilik (bagian dari emulgator yang suka pada air dan lipofilik (bagian yang suka pada minyak). 3. Teori Interparsial Film, teori ini mengatakan bahwa emulgator akan diserap pada batas antara air dan minyak, sehingga terbentuk lapisan film yang akan membungkus partikel fase dispers. Dengan terbungkusnya partikel tersebut maka usaha antara partikel yang sejenis untuk bergabung menjadi terhalang. Dengan kata lain fase dispers menjadi stabil. Untuk memberikan stabilitas maksimum pada emulsi, syarat emulgator yang dipakai

adalah dapat membentuk lapisan film yang kuat tapi lunak, jumlahnya cukup untuk menutup semua permukaan partikel fase dispers, dan dapat membentuk lapisan film dengan cepat dan dapat menutup semua permukaan partikel dengan segera. 4. Teori Electric Double Layer (lapisan listrik ganda), jika minyak terdispersi ke dalam air, satu lapis air yang langsung berhubungan dengan permukaan minyak akan bermuatan sejenis, sedangkan lapisan berikutnya akan bermuatan yang berlawanan dengan lapisan didepannya. Dengan demikian seolah-olah tiap partikel minyak dilindungi oleh dua benteng lapisan listrik yang saling berlawanan. Benteng tersebut akan menolak setiap usaha dari partikel minyak yang akan menggandakan penggabungan menjadi satu molekul besar. Karena susunan listrik yang menyelubungisesama partikel akan tolak menolak dan stabilitas emulsi akan bertambah. Terjadinya muatan listrik disebabkan oleh salah satu dari cara berikut yaitu terjadinya ionisasi dari molekul pada permukaan partikel, terjadinya absorpsi ion oleh partikel dari cairan disekitarnya atau terjadinya gesekan partikel dengan cairan disekitarnya. Pengaruh alat terhadap stabilitas emulsi, berdasarkan teorinya dari ketiga alat yang digunakan bahwa blender merupakan alat yang menciptakan kestabilan emulsi yang paling baik, dan diurutan kedua yaitu homogenizer dan yang menciptakan stabilitas yang paling buruk adalah mixer. Pencampuran adalah reorientasi relatif dari suatu bagian ke bagian lain secara random sehingga diperoleh campuran yang homogen. Dalam proses ini terjadi pembasaha partikel oleh fase cair, disperse partikel secara individual atau terjadi deaglomerasi ke dalam fase kontinyu/medium. Pemanasan dan pendinginan secara tidak langsung dapat digunakan untuk membantu proses pencampuran dan untuk stabilisasi. Blender

Gambar 1. Blender Blender dilengkapi dengan pengadukan pisau, melalui pengadukan dengan kecepatan tinggi akan memberikan energi kinetik yang dapat menggerakkan cairan dalam wadah sehingga dapat mendispersikan fase dispersi ke dalam medium dispersinya. Selain itu blender juga dapat menghomogenkan campuran dan memperkecil ukuran partikel. Dengan adanya pengadukan mengakibatkan terjadinya tumbukan antar partikel dispers. Bila tumbukan terjadi terus-menerus maka terjadi transfer massa sehingga ukuran partikel menjadi semakin kecil. Ukuran partikel yang kecil biasanya sukar homogen karena gaya kohesivitasnya tinggi sehingga cendrung memisah. Namun kelemahan alat ini adalah muah terbentuk buih/ busa yang dapat menggangu pengamatan selanjutnya. Penggunaan

emulgator hidrokarbon akan membuat makromolekul dari hidrokarbon terpotong-potong sehingga dapat mempengaruhi kestabilan emulsi yang terbentuk. Homogenizer

Gambar 2. Homogenizer Paling efektif dalam memperkecil ukuran fase dispers kemudian meningkatkan luas permukaan fase minyak dan akhirnya meningkatkan viskositas emulsi sehingga mengurangi kemungkinan terjadinya creaming. Homogenizer bekerja dengan cara menekan cairan dimana cairan tersebut dipaksa melalui suatu celah yang sangat sempit lalu dibenturkan ke suatu dinding atau ditumbuhkan pada peniti-peniti metal yang ada di dalam celah tersebut. Homogenizer umunya terdiri dari pompa yang menaikkan tekanan dispersi pada kisaran 500 sampai 5000 psi, dan suatu lubang yang dilalui cairan dan mengenai katup penghomogenan yang terdapat pada tempat katup dengan suatu spiral yang kuat. Ketika tekanan meningkat, spiral ditekan dan sebagian dispersi tersebut bebas di antara katup dan tempat ( dudukan ) katup. Pada titik ini, energi yang tersimpan dalam cairan sebagian tekanan dilepaskan secara spontan sehingga produk menghasilkan turbulensi yang kuat dan shear hidroulik.Cara kerja homogenizer ini cukup efektif sehingga bisa didapatkan diameter partikel rata-rata kurang dari 1 mikron tetapi homogenizer dapat menaikkan temperatur emulsi sehingga dibutuhkan pendinginan. Mixer

Gambar 3. Mixer Memiliki sifat menghomogenkan sekaligus memperkecil ukuran partikel tapi efek menghomogenkan lebih dominan. Mixer biasanya digunakan untuk membuat emulsi tipe batch. Terdapat berbagai macam mikser yang dapat digunakan dalam pembuatan sediaan semi padat. Dalam hal ini sangat penting untuk merancang dan memilih mikser sesuai dengan jenis produk yang diproduksi atau sedang dicampur. Sebagai contoh : salah satu aspek desain mikser yang penting adalah seberapa baik/tahan dinding internal dari mikser. Hal ini karena terdapat beberapa permasalahan dengan baja tahan karat dari mikser sebab mata pisau pengikis harus fleksibel cukup untuk memindahkan/mengaduk

bagian dalam dinding mikser. Atau dengan kata lain, mata pisau atau pengaduk harus mampu mengaduk atau memindahkan bahan yang melekat pada dinding mikser tanpa merusak dinding mikser. Jika proses pengadukan tidak berjalan dengan baik (masih banyak bahan yang menempel/tersisa pada dinding mikser), maka hasil pencampurannya tidak akan homogeny.Oleh karena mixer mempunyai aksi planetary mixing maka kemampuannya untuk mencampur fase air, fase minyak dan emulgator sangat tergantung pada macam pengaduk yang digunakan. Selain spesifikasi untuk tiap alatnya, harus diperhatikan pula agar tidak terlalu banyak udara yang ikut terdispersi ke dalam cairan karena akan membentuk buih atau bisa yang menggangu saat melakukan pembacaan volume sedimentasi. Pada kasus lain, mikser memiliki zona mati (dead spots) sehingga proses pencampuran tidak baik, akibatnya campuran tidak homogeny. Dalam hal ini, perlu upaya untuk menghilangkan zona mati misal dengan desain ulang terhadap pengaduk. Idealnya, semua permasalahan yang mungkin terjadi dalam pencampuran telah diantisipasi serta kondisi dan system operasinya telah divalidasi. Peralatan yang dibutuhkan untuk pembuatan sediaan semi padat untuk skala kecil (laboratorium) maupun untuk skala besar (industri) pada prinsipnya sama. Perbedaannya hanya pada kapasitas alatnya, pada skala laboratorium kapasitas peralatannya lebih kecil. Dalam praktek yang lebih sederhana, pembuatan sediaan semipadat dapat dilakukan dengan menggunakan alat-alat yang umum terdapat di laboratorium seperti beaker glass, mortir, steamper, spatula, sumber panas, penangas air, cawan porselin, dan hand homogenizers. Dalam skala yang lebih besar, dapat menggunakan stirrers, agitators, heating kettles, homogenizers, electric mortar and pestle dan colloid mills. Secara umum, peralatan yang umumnya dibutuhkan dalam produksi sediaan semipadat dapat dibagi menjad 3 macam : 1. Peralatan untuk memperkecil ukuran partikel 2. Peralatan untuk pencampuran 3. Peralatan untuk pengemasan Peralatan untuk memperkecil ukuran partikel Pengecilan ukuran partikel dibutuhkan untuk meningkatkan kelarutan, meningkatkan homogenitas dan memudahkan dalam pencampuran serta kenyamanan dalam penggunaan. Mekanisme pengecilan ukuran partikel dapat dilakukan dengan cara : 1. Impact : pengecilan ukuran partikel akibat tenaga tumbukan yang tiba-tiba yang tegak lurus pada permukaan partikel/aglomerat 2. Attrition : pengecilan ukuran partikel dengan mengaplikasikan tenaga parallel pada permukaa partikel. 3. Compression : pengecilan ukuran partikel dengan mengaplikasikan tenaga secara perlahan (lebih kecil dibandingkan impact) pada permukaan partikel (pada bagian pusat dari partikel) 4. Cutting: pengecilan ukuran partikel dengan mengaplikasikan pembagian/sharing partikel (memotong partikel)

Penggunaan peralatan dalam pencampuran emulsi akan memberikan pengaruh terhadap stabilitasnya. Metode pembuatan emulsi Dikenal 3 metode dalam pembuatan emulsi yaitu : 1. Metode gom kering, disebut pula metode continental dan metode 4;2;1. Emulsi dibuat dengan jumlah komposisi minyak dengan jumlah volume air dan jumlah emulgator. Sehingga diperoleh perbandingan 4 bagian minyak, 2 bagian air dan 1 bagian emulgator. Pertama-tama gom didispersikan kedalam minyak, lalu ditambahkan air sekaligus dan diaduk /digerus dengan cepat dan searah hingga terbentuk korpus emulsi. Setelah terbentuk korpus emulsi kemudian sisa air ditambahkan sedikit demi sedikit hingga habis sambil diaduk. Cara pencampuran emulgator yang berbeda nantinya dapat memberikan hasil emulsi yang berlainan. Contohnya emulsi yang dibuat dengan menggunakan emulgator surfaktan, bila surfaktan yang digunakan dilarutakn terlebih dahulu dengan menggunakan air, amka nantinya akan trbentuk mantel air disekitar misel yang terjadi yang dapat mempersulit pemasukan fase minyak ke dalam miselnya. 2. Metode gom basah, disebut pula sebagai metode Inggris, cocok untuk penyiapan emulsi dengan musilago atau melarutkan gum sebagai emulgator, dan menggunakan perbandingan 4;2;1 sama seperti metode gom kering. Metode ini dipilih jika emulgator yang digunakan harus dilarutkan/didispersikan terlebuh dahulu kedalam air misalnya metilselulosa. 1 bagian gom ditambahkan 2 bagian air lalu diaduk, dan minyak ditambahkan sedikit demi sedikit sambil terus diaduk dengan cepat. 3.Metode botol, disebut pula metode Forbes. Metode ini digunakan untuk emulsi dari bahan-bahan menguap dan minyak-minyak dengan kekentalan yang rendah. Metode ini merrupakan variasi dari metode gom kering atau metode gom basah. Emulsi terutama dibuat dengan pengocokan kuat dan kemudian diencerkan dengan fase luar. Dalam botol kering, emulgator yang digunakan dari jumlah minyak. Ditambahkan dua bagian air lalu dikocok kuat-kuat, suatu volume air yang sama banyak dengan minyak ditambahkan sedikit demi sedikit sambil terus dikocok, setelah emulsi utama terbentuk, dapat diencerkan dengan air sampai volume yang tepat. Beberapa alat yang biasa digunakan dalam pembuatan emulsi, antara lain: 1. Mortir dan stamper 2. Botol 3. Mixer, blender 4. Homogenizer 5. Colloid mill Emulsi dikatakan tidak stabil bila mengalami hal-hal seperti dibawah ini : 1. Creaming yaitu terpisahnya emulsi menjadi dua lapisan, dimana yang satu mengandung fase dispers lebih banyak daripada lapisan yang lain. Creaming bersifat reversibel artinya bila dikocok perlahan-lahan akan terdispersi kembali. 2. Koalesen dan cracking (breaking) yaitu pecahnya emulsi karena film yang meliputi

partikel rusak dan butir minyak akan koalesen (menyatu). Sifatnya irreversibel (tidak bisa diperbaiki). Hal ini dapat terjadi karena peristiwa kimia, seperti penambahan alkohol, perubahan pH, penambahan CaO / CaCl2; peristiwa fisika, seperti pemanasan, penyaringan, pendinginan dan pengadukan; inversi yaitu peristiwa berubahnya sekonyong-konyong tipe emulsi w/o menjadi o/w atau sebaliknya dan sifatnya irreversible. Viskositas emulsi dipengaruhi oleh perubahan komposisi adanya hubungan linear antara viskositas emulsi dan viskositas fase kontinyu; makin besar volume fase dalam, makin besar pula viskositas nyatanya. Untuk mengatur viskositas emulsi, tiga faktor interaksi yang harus dipertimbangkan oleh pembuat formula, yaitu : 1. Viskositas emulsi o/w dan w/o dapat ditingkatkan dengan mengurangi ukuran partikel fase terdispersi , 2. Kestabilan emulsi ditingkatkan denganpengurangan ukuran partikel, dan 3. Flokulasi atau penggumpalan, yang cenderung membentuk fase dalam yang dapat meningkatkan efek penstabil, walaupun ia meningkatkan viskositas. Biasanya viskositas emulsi meningkat dengan meningkatnya umur sediaan tersebut. Referensi Anief, M., 2000, Farmasetika, Gajah Mada University Press, Yogyakarta. Ansel, HC., 1989, Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi, Ed 4, UI Press, Jakarta. Cooper dan Gunn, 1975, Disperting for Pharmaceutical Student.12th Ed.Pitman Medical, Great Britcin. Lahman. L, dkk, 1994, Teori dan Praktek Farmasi Industri. Edisi III, UI Press, Jakarta. Lieberman,H.A, dan Lachmann, L. 1994. Teori dan Praktek Farmasi Industri. Ed. UI Press: Jakarta. Soetopo, S., dkk. 2001, Teori Ilmu Resep, Jakarta. Voight, R., 1995, Buku Pelajaran Teknologi Farmasi. Ed 5, GMU Press, Yogyakarta.

SISTEM DISPERSI
Sistem dispersi adalah sistem dimana suatu zat tersebar merata (fase terdispersi) di dalam zat lain (fase pendispersi atau medium). Fase terdispersi bersifat diskontinu (terputuputus) sedangkan medium disperse bersifat kontinu. 3 jenis sistem disperse yaitu ; 1. Larutan Larutan adalah keadaan dimana zat terlarut (molekul, atom, ion) terdispersi secara homogen dalam zat pelarut. Larutan bersifat stabil dan tak dapat disaring. Diameter partikel zat terlarut lebih kecil dari 10-7 cm. Contoh : larutan gula, larutan garam 2. Suspensi

Suspensi adalah keadaan dimana zat terlarut terdipersi secara heterogendalam zat pelarut, sehingga partikel-partikel zat terlarut cenderung mengendap dan dapat dibedakan dari zat pelarutnya.. Suspensi bersifat diskontinu, dapat disaring dan merupakan sistem 2 fase. Diameter partikel zat terlarut lebih besar dari 10-5 cm. Contoh: air kopi, air kapur 3. Koloid Koloid adalah suatu campuran yang keadaannya berada diantara larutan dan suspensi/larutan kasar. Koloid terlihat sebagai campuran homogen, namun digolongkan sebagai campuran heterogen secara mikrokopis. Koloid umumnya bersifat tidak stabil dan tidak dapat disaring. Diameter zat terlarut antar 10-7-10-5 cm. Perbandingan Sifat Larutan, Koloid dan Suspensi. Larutan (Dispersi Molekuler) Contoh : larutan gula 1. Homogen, tak dapat dibedakan walaupun menggunakan mikroskop ultra 2. Diameter partikel lebih kecil dari 10-7 cm. 3. Satu fase 4. Stabil 5. Tak dapat disaring dan tak memisah ketika didiamkan 6. Jernih 7. Bersifat transparan dan meneruskan cahaya Koloid (Dispersi Koloid) Contoh : susu 1. Secara makroskopis bersifat homogen tetapi heterogen jika diamati dengan mikroskop ultra (campuran antara homogen dan heterogen) 2. Diameter partikel antara 10-7 sampai 10-5 cm. 3. Dua fase 4. pada umumnya stabil 5. tidak dapat disaring kecuali dengan penyaring ultra dan tak memisah ketika didiamkan 6. Tidak jernih Suspensi (Dispersi Kasar) Contoh : air kopi 1. Heterogen (Campuran) 2. Diameter partikel lebih besar dari 10-5 cm 3. Dua fase 4. Tidak stabil 5. Dapat disaring dan memisah ketika didiamkan 6. Tidak jernih 7. Dapat menghamburkan cahaya

PENTINGNYA KIMIA KOLOID


Pada umumnya zat yang ditemukan pada kehidupan sehari-hari nerada dalam keadaan koloid sehingga semua cabang ilmu kimia sangat berkepentingan dengan kimia koloid, diantaranya sebagai berikut :

Semua jaringan bersifat koloidal

Tanah terdiri dari bagian-bagian yang bersifat koloid sehingga ilmu tanah, pertanian dan sebagainya harus mencakup penerapan kimia koloid pada tanah Pengetahuan tentang koloid sangat diperlukan dalam industri cat, keramik,plastik, tekstil, kertas, lem, tinta, semen, karet, kulit, penyedap, mentega, keju, susu dan makanan lain, pelumas, sabun, obat semprot pertanian dan insektisida, gel, selai dan lain-lain.

JENIS-JENIS KOLOID
Penggolongan sistem koloid didasarkan pada jenis fase pendispersi dan fase terdispersi. 1. Aerosol Sistem koloid dari partikel padat atau cair yang terdispersi dalam gas disebut aerosol. Jika zat yang terdispersi berupa zat padat disebut aerosol padat. Contoh aerosol padat : debu buangan knalpot. Sedangkan zat yang terdispersi berupa zat cair disebut aerosol cair. Contoh aerosol cair : hairspray dan obat semprot. Untuk menghasilkan aerosol diperlukan suatu bahan pendorong (propelan aerosol). Contoh propelan aerosol yang banyak digunakan yaitu CFC dan CO2. 2. Sol Sistem koloid dari partikel padat yang terdispersi dalam zat cair disebut sol. Contoh sol : putih telur, air lumpur, tinta, cat dan lain-lain. Sistem koloid dari partikel padat yang terdispersi dalam zat padat disebut sol padat. Contoh sol padat : perunggu, kuningan, permata (gem). 3. Emulsi Sistem koloid dari zat cair yang terdispersi dalam zat cair lain disebut emulsi. Sedangkan sistem koloid dari zat cair yang terdispersi dalam zat padat disebut emulsi padat dan sistem koloid dari zat cair yang terdispersi dalam gas disebut emulsi gas. Syarat terjadinya emulsi yaitu kedua zat cair tidak saling melarutkan. Emulsi digolongkan ke dalam 2 bagian yaitu emulsi minyak dalam air dan emulsi air dalam minyak.. Contoh emulsi minyak dalam air : santan, susu, lateks. Contoh emulsi air dalam minyak : mayonnaise, minyak ikan, minyak bumi. Contoh emulsi padat : jelly, mutiara, opal. Emulsi terbentuk karena pengaruh suatu pengemulsi (emulgator). Misalnya sabun dicampurkan kedalam campuran minyak dan air, maka akan diproleh campuran stabil yang disebut emulsi. 4. Buih Sistem koloid dari gas yang terdispersi dalam zat cair disebut buih, sedangkan sistem koloid dari gas yang terdispersi dalam zat padat disebut buih padat.Buih digunakan dalam

proses pengolahan biji logam dan alat pemadam kebakarn. Contoh buih cair : krim kocok (whipped cream), busa sabun. Contoh buih padat : lava, biskuit. Buih dapat dibuat dengan mengalirkan suatu gas ke dalam zat yang mengandung pembuih dan distabilkan oleh pembuih seperti sabun dan protein. Ketika buih tidak dikehendaki, maka buih dapat dipecah oleh zat-zat seperti eter, isoamil dan alkohol. 5. Gel Sistem koloid dari zat cair yang terdispersi dalam zat padat dan bersifat setengah kaku disebut gel. Gel dapat terbentuk dari suatu sol yang zat terdispersinya mengadsropsi medium dispersinya sehingga terjadi koloid yang agak padat. Contoh gel : agar-agar, semir sepatu, mutiara, mentega. Campuran gas dengan gas tidak membentuk sistem koloid tetapi suatu larutan sebab semua gas bercampur baik secara homogen dalam segala perbandingan.

SIFAT-SIFAT KOLOID
1. EFEK TYNDALL Salah satu mengenali koloid yaitu menjatuhkan seberkas cahaya kepada obyek. Larutan bersifat meneruskan cahaya sedangkan koloid bersifat menghamburkan cahaya. Berkas cahaya yang melalui koloid dapat diamati dari arah samping walaupun partikel koloidnya tidak tampak. Jika partikel terdispersinya kelihatan maka sistem disebut suspensi. Maka, egek Tyndall adalah peristiwa penghamburan cahaya oleh partikel-partikel koloid. Contoh peristiwa efek Tyndall : sorot lampu pada malam yang berkabut, sorot lampu proyektor di ruangan yang berasap dan berkas sinar matahari melalui celah daun pohon pada pagi yang berkabut. 2. GERAK BROWN Gerak zig-zag partikel koloid secara terus-menerus disebut Gerak Brown. Gerak Brown menunjukkan kebenaran teori kinteik molekul yang menyatakan bahwa molekul-molekul dalam zat cair selalu bergerak cepat. Gerak Brown terjadi akibat tumbukan yang tidak seimbang dari molekul-molekul medium terhadap partikel koloid. Semakin tinggi suhu, semakin cepat Gerak Brown berlangsung karenan energi kinetik molekul medium meningkat sehingga menghasilkan tumbukan yang lebih kuat.Gerak inilah yang menyebabkan atikel-partikel koloid tidak mengendap karena dapat mengatasi gaya gravitasi. 3. ADSORPSI Partikel koloid dapat bergerak dalam medan listrik dan mempunyai muatan. Pergerakan partikel koloid dalam medan listrik disebut elektroforesis.Bila partikel koloid menyerap ion pada permukaannya, maka partikel koloid akan bermuatan listrik.

Partikel koloid bermuatan positif bila mengadsorpsi kation, misalnya Al(OH)3, Fe(OH)3, protein dalam asam dan lain-lain. Senaliknya partikel koloid akan bermuatan negatif bila mengadsorpsi anion, misalnya As2S3, belerang, sol logam, kanji dan lain-lain. Jika sepasang elektrode yang dialiri arus listrik dicelupkan ke dalam dispersi koloid, maka partikel koloid bermuatan positif akan bergerak menuju katode dan partikel kolid bermuatan negatif akan bergerak menuju anode. Kegunaan Elektroforesis :

Untuk menentukan muatan suatu partikel koloid Untuk mengurangi zat-zat pencemar udara yang dikeluarkan dari cerobong asap pabrik.

4. ADSORPSI Partikel koloid mempunyai kemampuan untuk menyerap molekul atau ion pada permukaannya sehingga memiliki muatan listrik disebut adsorpsi. Sol Fe(OH)3 dalam air mengadsorpsi ion positif hingga bermuatan positif, sedangakn sol As2S3 dalam air mengadsorpsi ion negatif sehingga bermuatan negatif. Sifat adsorpsi dari koloid digunakan dalam berbagai proses, di antaranya :

Penyembuhan sakit perut oleh serbuk karbon (norit), didalam usus membentuk sistem koloid yang dapat menadsorpsi gas atau zat racun. Proses pewarnaan kain Pemutihan gula tebu. Gula yang masih berwarna dilarutkan dalam air kemudian dialirkan melalui tanah diatomae dan arang tulang sehingga zat warna dalam gula akan diadsorpsi dan gula menjadi putih bersih. Proses penjernihan air. Air ditambahkan alumunium sulfat sehingga terhidrolisis membentuk Al(OH)3 yang berupa koloid yang dapat mengadsorpsi zat warna dan pencemar dalam air.

5. KOAGULASI Koagulasi adalah peristiwa penggumpalan partikel-partikel koloid karena adanya suatu elektrolit dengan muatan yang berlawanan. Apabila muatan koloid dilucuti maka kestabilan akan berkurang dan menyebabkan penggumpalan/koagulasi. Peulucutan muatan koloid terjadi pada sel elektroforesis atau jika elektrolit ditambahkan ke dalam sistem koloid. Apabila arus listrik dialirkan cukup lkama ke dalam sel elektroforesis maka partikel akan digumpalkan ketika mencapai elektrode. Maskin besar muatan ion makin kuat daya tarik menariknya denga partikel kolod sehingga makin cepat terjadinya koagulasi. Beberapa contoh koagulasi adalah sebagai berikut :

1. Pada pengolahan karet, partikel-partikel karet dalam lateks digumpalkan dengan penambahan asam asetat atau asam format sehingga karet dapat dipisahkan dari lateksnya. 2. Partikel tanah liat yang dikandung air sungai akan mengendap tatkala berjumpa dengan air laut yang mengandung banyak elektrolit sehingga terjadilah delta di muara sungai. 3. Jika bagian tubuh mengalami luka maka ion Al3+ atau Fe3+ segera menetralkan partikel albuminoid yang dikandung darah sehingga terjadi penggumpalan darah yang menutupi luka. 4. Lumpur koloidal dalam air sungai dapat digumpalkan dengan menambahkan tawas. Sol tanah liat dalam air biasanya bermuatan negatif sehingga akan digumpalkan oleh ion Al3+ dari tawas (aluminium sulfat) 5. Asap atau debu dari pabrik/industri dapat digumpalkan dengan alat koagulasi listrik dari Cottrel. 6. KOLOID PELINDUNG Pada beberapa proses suatu koloid harus digumpalkan, di lain pihak ada koloid yang perlu dijaga agar tidak menggumpal. Sistem koloid dapat distabilkan dengan penambahan suatu koloid lain yang disebut koloid pelindung (koloid protektif), Koloid pelindung ini akan membungkus partikel terdispersi sehingga tidak dapat lagi berkelompok dan menggumpalkan. Contoh :

Pada pembuatan es krim digunakan gelatin untuk mencegah pembentukan kristal besar es atau gula Cat dan tinta dapat bertahan lama karena menggunakan suatu koloid pelindung Zat-zat pengemulsi seperti sabun dan detergen, juga tergolong koloid pelindung

7. DIALISIS Pada permukaan suatu koloid, seringkali terdapat ion-ion yang dapat mengganggu kestabilan koloid tersebut. Ion-ion pengganggu ini dihilangkan dengan suatu proses yang disebut dialisis. Dalam proses ini, sistem koloid dimasukkan ke dalam suatu kantung koloid, lalu kantung koloid itu dimasukkan ke dalam bejana berisi air mengalir. Kantong koloid terbuat dari selaput semipermeable, yang dapat melewatkan pertikel-partikel kecil, seperti ion-ion atau molekul sederhana, tetapi menahan partikel besar seperti koloid. Dengan demikian, ion-ion keluar dari kantong dan hanyut bersama air. Contoh : proses cuci darah. 8. KOLOID LIOFOB DAN KOLOID LIOFIL Koloid yang memiliki medium dispersi cair dibedakan atas koloid liofil dan koloid liofob. Suatu koloid disebut koloid liofil jika terdapat gaya tarik-menarik yang cukup

besar anatar zat terdispersi dengan mediumnya. Partikel-partikel koloid dapat mengadsorpsi cairan sehingga terbentuk selubung cairan disekeliling partikel koloid. Jika cairannya berupa air maka istilahnya adalah hidrofil. Koloid hidrofil mempunyai gugu ionik atau gugus polar di permukaannya sehingga mempunyai interaksi yang baik dengan air. Butir-butir koloid liofil/hidrofil dapat mengadsorpsi molekul mediumnya sehingga membentuk suatu selubung. Hal tersebut disebut solvatasi/hidratasi sehingga kolid terhindar dari agregasi (pegelompokkan). Sol hidrofil tidak akan menggumpal pada penambahan sedikit elektrolit. Zat padat yang dipisahkan dari sol hidrofil dicampurkan kembali dengan air maka dapat membentuk kembali sol hidrofil, atau dengan kata lain bersifat reversible. Contoh sol hidrofil : kanji, protein dan agar-agar. Koloid hidrofob adalah sistem koloid yang gaya tarik-menarik antar zat terdispersi dengan mediumnya sangat lemah atau tidak ada. Partikel-partikel koloid tidak mengadsropsi caoran. Jikan cairannya berupa air maka disebut hidrofob. Koloid hidrofob tidak akan stabil dalam medium polar seperti air tanpa kehadiran zat pengemulsi atau koloid pelindung. Zat pengemulsi membungkus partikel koloid sehingga tidak terjadi koagulasi. Sol hidrofob dapat mengalami koagulasi pada penambahan sedikit elektrolit. Sekali zat terdispersi dipisahkan, tidak akan membentuk sol kembali dengan air. Contoh sol hidrofob : sol sulfida dan sol-sol logam. Perbedaan sol hidrofil dan sol hidrofob Sol Hidrofil 1. Mengadsorpsi mediumnya 2. Dapat dibuat dengan konsentrasi yang relatif besar 3. Tidak mudah digumpalkan dengan penambahan elektrolit 4. Viskositas lebih besar daripada mediumnya 5. Bersifat reversibel 6. Efek Tyndall lemah Sol hidrofob 1. Tidak mengadsorpsi mediumnya 2. hanya stabil pada konsntrasi kecil 3. mudah menggumpal dengan penambahan elektrolit 4. Viskositas hampir sama dengan mediumnya 5. tidak reversible 6. Efek Tyndall lebih jelas

PEMBUATAN KOLOID
Oleh karena ukuran partikel koloid terletak antara partikel suspensi dan partikel larutan, maka terdapat 2 cara pembuatan sistem koloid. 1. Cara Dispersi Pada dasarnya, diperoleh partikel koloid dengan menghaluskan partikel-partikel kasar. Cara mekanik Penggerusan.penggilingan untuk zat padat

Pengadukan/pengocokan untuk zat cair Cara kimia (peptisasi) Cara peptisasi adalah pembuatan koloid dari butir-butir kasar atau dari suatu endapan dengan bantuan suatu zat pememptisasi (pemecah). Zat pememptisasi memecahkan butirbutir kasar menjadi butir-butir koloid atau dengan penambahan elektrolit yang mengandung ion sejenis. Elektrodispersi(metode busur Bredig) Cara busur bredig digunakan untuk membuat sol-sol logam. 2 kawat logam yang berfungsi sebagai elektrode dicelupkan ke dalam air, kemudian di antara kedua kawat diberi loncatan listrik. Sebagian logam akan mendebu ke dalam air dan terbentuklah sistem koloid.. Contoh : pembuatan sol Au. Ag, Pt dan Cu. 2. Cara Kondensasi Partikel-partikel halus (ion, atom atau molkeul) digumpalkan menjadi partikel berukuran koloid. Cara fisika Pendinginan Penggantian pelarut Pengembunan Cara kimia Reaksi pengendapan Metode ini umumnya digunakan untuk membuat sol-sol logam yang kelarutannya rendah. Contoh : AgNO3 + NaCl AgCl + NaNO3 Dekomposisi rangkap Contoh : Sol As2S3 dapat dibuat dari reaksi antara latutan H2AsO3 dengan larutan H2S. 2H3AsO3(aq) + 3H2S(aq) As2S3(koloid) + 6H2O(l) Reaksi Redoks

Sol logam seperti emas dalam air dapat diperoleh dengan mereduksi larutan garamnya, menggunakan reduktor non-elektrolit seperti formaldehida, glukosa dan lain-lain. 2AuCl3 + 3HCHO + 3H2O 2Au + 6HCl + 3HCOOH Reaksi Hidrolisis Sol-sol hidroksida logam seperti Fe(OH)3,All(OH)3 dan Sn(OH)2 diperoleh dengan menambahkan garam kloridanya ke dalam air mendidih dan garam itu mengalami hidrolisis menjadi hidroksida yang berukuran koloid. FeCl3 + 3H2O Fe(OH)3 + 3HCl Penggantian pelarut 3. Koloid Asosiasi Koloid asosiasi adalah sistem koloid yang terbentuk ketika partikel atau molekul terdispersi mengadakan asosiasi dengan medium pendispersinya. 4. Koloid dan Polusi Kabut merupakan dispersi partikel air dalam udara. Kabut terjadi jika udara panas yang mengandung uap air tiba-tiba mengalami pendinginan sehingga sebagian uap air mengalami kondensasi. Jika asap bergabung dengan kabut maka terbentuklah asbut (asap kabut/smog). Asbut berbagai jenis gas yang terbentuk dari serentetan reaksi fotokimia, diantaranya ozon, aldehida dan peroksiasetil nitrat (PAN=CH3-COOONO2)

Praktikum
Diposkan oleh X3-PRIMA on 22.9.09 PRAKTIKUM SISTEM DISPERSI (SUSPENSI dan EMULSI) A. Tujuan Pada praktikum Farmasi Fisika kali ini diharapkan mampu membuat sediaan suspensi dan emulsi yang baik dan dapat menetapkan parameter evaluasinya. B. Prinsip Percobaan Berdasarkan kepada besar partikel C. Teori System dispersi adalah suatu system yang salah satu zatnya (fase terdispersi, fase dalam) tersebar (terdispersi) dalam zat (fase) lainnya (medium dispersi, fase kontinu, fase luar). Berdasarkan ukuran partikelnya, system dispersi dapat diklasifikasikan sebagai berikut :

a. Dispersi molekuler (< 1,0 nm) c/ larutan, elixir b. Dispersi koloid (0,5 m-1,0 nm) c/ Aerosol c. Dispersi kasar (> 0,5 m) c/ Suspensi, emulsi Dispersi kasar terbagi ke dalam 3 kelompok a) Mixtura untuk pemakaian oral b) Lotio untuk pemakaian luar c) Sediaan Injeksi Suatu suspensi dalam bidang farmasi adalah suatu dispersi kasar dimana partikel zat padat yang tidak larut terdispersi dalam suatu medium cair. (martin, 1993 : 1124) Menurut FI ed III, suspensi adalah sediaan yang mengandung bahan obat padat dalam bentuk halus dan tidak larut, terdispersi dalam cairan pembawanya. Suatu suspensi yang dapat diterima mempunyai kualitas tertentu yang diinginkan : 1. Zat yang tersuspensi (disuspensikan) tidak boleh cepat mengendap. 2. Partikel-partikel tersebut walaupun mengendap pada dasar wadah tidak boleh membentuk suatu gumpalan padat tapi harus dengan cepat terdispersi kembali menjadi suatu campuran homogen bila wadahnya dikocok. 3. Suspensi tersebut tidak boleh terlalu kental untuk dituang dengan mudah dari botolnya. (Martin, 1993 : 1125). Factor-faktor yang mempengaruhi stabilitas suspensi ialah a. Ukuran partikel Hubungan antara ukuran partikel berbanding terbalik dengan luas penampangnya. Semakin besar ukuran partikel semakin kecil luas penampangnya, sedangkan semakin besar luas penampang partikel daya tekan ke atas cairan akan semakin memperlambat gerakan partikel untuk mengendap, sehingga untuk memperlambat gerakan tersebut dapat dilakukan dengan memperkecil ukuran partikel. b. Kekentalan (Viscositas) Kekentalan suatu cairan mempengaruhi pula kecepatan aliran dari cairan tersebut, makin kental suatu cairan kecepatan alirannya makin turun (kecil). Tapi perlu diingat bahwa kekentalan suspensi tidak boleh terlalu tinggi agar mudah dikocok dan dituang. c. Jenis dan jumlah zat pensuspensi d. Sifat/muatan partikel Persyaratan zat pensuspensi antara lain : 1. Pada konsentrasi yang digunakan tidak memberikan efek terapi 2. Secara kimia relative inert pada jarak pH yang luas. 3. Memberikan dispersi yang kental pada konsentrasi rendah 4. Viskositas tidak berubah selama waktu penyimpanan 5. Harus mempunyai afinitas terhadap medium dispersi. Dua parameter yang berguna yang bisa diturunkan dari penyelidikan sedimentasi adalah volume sedimentasi dan derajat flokulasi. Volume sedimentasi (F) didefinisikan sebagai perbandingan dari volume akhir dari endapan (Vu) terhadap volume awal dari suspensi (Vo) sebelum mengendap. Derajat Flokulasi adalah rasio volume awal akhir sediaan suspensi flokulasi dengan volume akhir sediaan suspensi deflokulasi.

D. Bahan dan Alat Bahan-bahan yang digunakan : 1. ZnO 2. Bentonit 3. Air Alat-alat yang digunakan : 1. Mortir dan stamper 2. Gelas ukur 100 ml 3. Batang pengaduk 4. Corong 5. Botol E. Prosedur percobaan 1. Zat aktif disuspensikan dengan zat pensuspensi yang ditentukan asisten dengan variasi konsentrasi tertentu. Dibuat pula blanko suspensi tanpa zat pensuspensi 2. Pengamatan Sedimentasi Amati dan catat volume sedimentasi yang terjadi dalam interval waktu : 0, 15, 30, 45, 60 menit, dan 24 jam. 3. Tentukan redispersibilitas suspensi setelah 24 jam. F. Data Pengamatan Pembuatan Sediaan Sediaan I : Pembuatan blanko yaitu zat aktif (ZnO) ditambah air Sediaan II : Zat aktif (ZnO) + bentonit 1% +air (7x bentonit), aduk tambahkan air sampai 100 ml. Sediaan III : Zat aktif (ZnO) + Bentonit 1,5% +air (7x bentonit), aduk tambahkan air sampai 100 ml. Sediaan IV : Zat aktif (ZnO) + Bentonit 2% +air (7x bentonit), aduk tambahkan air sampai 100 ml. Sediaan V : zat aktif (ZnO) + Bentonit 2,5% +air (7x bentonit), aduk tambahkan air sampai 100 ml. Catat volume sedimentasi pada tiap waktu pengamatan : Waktu Sediaan I II III IV V 0----15 Menit 1 cm 1,2 cm 2,8 cm 2,2 cm 1,5 cm 30 Menit 1 cm 1 cm 2,6 cm 2 cm 1,3 cm 45 Menit 1 cm 1 cm 2,5 cm 1,9 cm 1,2 cm 60 Menit 0,9 cm 0,9 cm 2,2 cm 1,8 cm 1,1 cm 24 Jam Redispersibilitas Parameter evaluasi Sediaan I

a. Volume sedimentasi (F) = Vu Vo = 0,7 6,5 = 0,1077 b. Derajat Flokulasi () = Vu Vo = 0,7 = 3,5 0,2 Sediaan II a. Volume Sedimentasi (F) = Vu Vo = 0,8 6,5 = 0,1231 b. Derajat Flokulasi () = Vu Vo = 0,8 = 2 0,4 Sediaan III a. F = Vu Vo =1,8 = 0,276 6,5 b. () = Vu Vo =1,8 = 2 09 Sediaan IV a. F = Vu Vo =1,4 = 0, 2154 6,5 b. () = Vu Vo =1,4 = 2 0,9

Sediaan V a. F = Vu Vo = 1 . = 0,158 6,5

b. () = Vu Vo = 1 = 2,5 0,4 G. Pembahasan Pada percobaan kali ini, pembuatan suspensi sudah mengalami kesalahan, dimana bentonit digerus bersamaan dengan zat aktifnya (ZnO) kemudian ditambahkan air sebanyak 7 kali jumlah bentonitnya, digerus kembali baru ditambahkan air lagi sedikit demi sedikit ad 100 ml. sedangkan seharusnya Bentonit dikembangkan terlebih dahulu dalam air es atau air dingin tidak boleh kurang dari 24 ml atau 20 bagian yang sama dengan jumlah bentonit. Setelah , menjadi massa yang homogen lalu ditambahkan zat aktif yang telah disetarakan ukuran partikelnya lalu diencerkan kembali oleh sisa airnya. Suspensi dengan pensuspensi bentonoit ini akan tampak/terdapat 2 fasa yaitu fasa air dan fasa suspensi. Akan tetapi bila terdapat kesalahan suspensi akan terdapat 3 fasa yaitu fasa air, kembangan bentonit, dan zat aktif + bentonitnya. Pada hasil percobaan ini terlihat bahwa pada umumnya suspensi yang dihasilkan terdapat caking, tapi pada proses itu tampak jelas bahwa terlihat sebuah factor galat dimana bentonit yang terlihat membuat lapisan baru terutama pada sampel bentonit yang dengan kadar 1,5%. Hal tersebut terjadi akibat bentonit yang tidak mengembang sempurna pada saat pembuatan. Seperti yang sudah dijelaskan di awal bahwa seharusnya bentonit dikembangkan dahulu dengan air es karena hal ini berbeda dengan pembuatan CMC atau yang telah digerus halus dicampurkan dengan bentonit tadi dan digerus kembali. Penggerusan kembali ini dilakukan agar zat aktif (ZnO) dapat terhomogenkan. Suspensi dengan pensuspensi bentonit lebih cepat mengen dap itu disebabkan karena berat jenis dari bentonit lebih besar dibandingkan dengan yang lain. Selain itu, mungkin dapat juga disebabkan karena gaya tarik-menarik antar partikel lebih besar daripada gaya tolak antara partikel-partikelnya. Menurut FI ed III dijelaskan bahwa bentonit praktis tidak larut dalam air tetapi mengembang menjadi masa homogen serta praktis tidak larut dalam pelarut organic. Selain itu dalam FI ed IV dikatakan bahwa bentonit bersifat higroskopis dan dapat terhidrasi dan juga pasti mengembang sampai hampir 12x volume jika ditambahkan air. Pada percobaan ini suspensi yang urutannya lebih cepat mengendap adalah Blanko, Suspensi dengan bentonit 1%, suspensi dengan bentonit 2,5%, suspensi dengan bentonit 2%, suspensi dengan bentonit 1,5%. Blanko lebih cepat mengendap karena hanya berisi

zat aktif (ZnO) dan air saja, sedangkan ZnO praktis tidak larut dalam air dan dalam etanol 95% tetapi larut dalam asam mineral encer dan dalam larutan alkali hidroksida. Urutan yang lebih cepat mengendap tidak sistematis itu mungkin bisa disebabkan karena kesalahan pada saat pembuatannya yaitu saat penggerusannya sehingga terdapat perbedaan ukuran partikel yang terbentuk. H. Kesimpulan Bahwa suatu suspensi yang baik dimana zat yang terdispersinya harus halus dan tidak boleh lebih cepat mengendap. Jika terjadi endapan, endapan tersebut harus dapat didispersikan kembali dengan cepat. Suspensi dengan pensuspensi bentonit lebih cepat mengendap bila dibandingkan dengan pensuspensi lain. Bentonit praktis tidak larut dalam air dan dalam pelarut organic. Bentonit juga bersifat higroskopis dan dapat terhidrasi dan pasti mengembang sampai kira-kira 12x volume jika ditambahkan air. Pada pembuatannya bentonit harus dikembangkan dahulu dalam air es/air dingin tidak boleh kurang dari 24 ml atau 20 bagian yang sama dengan jumlah bentonit. I. Saran Pada pembuatan harus sesuai dengan prosedur dan ketentuannya agar dihasilkan suspensi yang baik.

PRAKTIKUM II

KELARUTAN ZAT A. Tujuan Pada praktikum Farmasi Fisika ini kita diharapkan mampu menentukan kelarutan zat dalam berbagai media (pelarut). B. Prinsip Percobaan Berdasarkan Titrasi Asam-Basa C. Teori Menurut Deswati (2006:22), larutan didefinisikan sebagai campuran dua bahan atau lebih dimana terbentuk suatu dispersi dimana salah satu komponennya akan terdispersi pada komponen lain. Suatu larutan yang hanya tediri dari : Pelarut (solven) dan zat terlarut (solute) biasanya jumlah solven lebih besar daripada solut. Larutan adalah campuran dua atau lebih komponen yang membentuk fasa tunggal homogen dalam skala molekuler, (Deswati, 2007: 2). Kelarutan suatu senyawa bergantung pada sifat fisika dan kimia zat terlarut dan pelarut, juga bergantung pada factor temperatur, tekanan, pH larutan dan untuk jumlah yang lebih kecil, bergantung pada hal terbaginya zat terlarut. Kelarutan didefinisikan dalam besaran kuantitatif sebagai konsentrasi zat terlarut dalam larutan jenuh pada temperatur tertentu, dan secara kualitatif didefinisikan sebagai interaksi spontan dari dua atau lebih zat untuk membentuk dispersi molekuler homogeny. (Martin, dkk, 1990 : 558). Menurut Deswati (2006: 22), kelarutan jenuh adalah larutan yang didalamnya terdapat kesetimbangan antara zat terlarut (solute) dengan fasa padat. Kelarutan dalam pengertian kuantitatif adalah konsenterasi solute dalam larutan jenuh pada suhu tertentu, sedangkan dalam pengertian kualitatif, kelarutan dapat dinyatakan sebagai interaksi spontan dari dua zat atau lebih untuk membentuk satu dispersi molekuler yang homogen. Kelarutan obat dapat dinyatakan dalam beberapa cara. Menurut U.S. Pharima copied dan National Formulary, definisi kelarutan obat adalah jumlah ml pelarut dimana akan larut 1 gram zat terlarut. Dalam menentukan kelarutan perlu diperhatikan factor-faktor sebagai berikut : 1. Pelarut harus murni 2. Larutan jenuh telah tercapai 3. Metode pemisahan larutan jenuh harus berhasil dengan sempurna 4. Metode analisis harus tepat 5. Suhu harus termonitor Melarut tidaknya suatu zat dalam system tertentu dan besarnya kelarutan sebagian besar tergantung pada sifat serta intensitas kekuatan yang ada pada zat terlarut, pelarut, dan resultan interaksi zat terlarut-pelarut.(Lachman, dkk, 1994 : 943). Ada beberapa factor yang berpengaruh pada kelarutan, antara lain : - pH - Kosolvensi - Konstanta Dielektrikum - Kompleksasi - Hidrotrofi - Modifikasi Kimia Obat Kelarutan zat padat dalam cairan. Larutan ideal

Kelarutan zat padat dalam larutan ideal bergantung pada temperatur, titik leleh zat padat panas peleburan molar Hf, yaitu panas yang diabsorbsi apabila zat padat meleleh. Dalam larutan ideal, panas pelarutan sama dengan panas peleburan yang, dianggap konstan tidak bergantung pada temperatur. Kelarutan ideal tidak dipengaruhi oleh sifat pelarut. Larutan Non Ideal Keaktifan zat terlarut dalam larutan dinyatakan sebagai konsentrasi dikalikan dengan koefisien keaktifan. D. Bahan dan Alat Bahan-bahan yang digunakan : 1. Asam Benzoat 2. Asam Oksalat 3. NaOH 4. Etanol 90% 5. Propilenglikol (PEG) 6. Fenolftalein 7. Air Alat-alat yang digunakan : 1. Erlenmeyer 2. Becker glass 3. Buret 4. Gelas ukur 5. Labu ukur 6. Batang Pengaduk 7. Kertas saring 8. Corong E. Prosedur Percobaan 1. Pembakuan larutan NaOH Buat larutan NaOH 0,1 N, dibekukan dengan larutan asam oksalat 0,1 N, indicator fenolftalein. 2. Pembuatan Larutan Sampel Buat sederet pelarut campur yang terdiri dari etanol, air dan propilengkol (PEG) dengan perbandingan : No. Etanol Air PEG 1. 0 97 3 2. 15 80 5 3. 25 68 7 4. 35 56 9 5. 45 44 11 Masing-masing pelarut volumenya 20 mL. Larutkan sampel sedikit demi sedikit sampai diperoleh larutan jenuh. 3. Penentuan Kelarutan Pipet 10 mL larutan sampel tetapkan kadarnya secara titrasi asam basa.

4. Buatlah grafik hubungan (pilot) konsentrasi dengan persentase campuran pelarut. F. Data Pengamatan Pembuatan Larutan Baku Asam Oksalat = 0,63 gram, dilarutkan dalam 100 mL air. N asam oksalat = g r x 1000 BE mL larutan = 0,63 gr x 1000 126/2 100 ml = 6,3 63 = 0,1 N NaoH = 1 gram, dilarutkan dalam 250 ml air

Volume asam oksalat Volume NaoH 10 ml 10 ml VH2C2O4 . NH2C2O4 = V NaoH . N NaoH 10 ml . 0,1 N = 10 ml . N NaOH N NaOH = 10 ml. 0,1 N 10 ml N NaOH = 0,1 N N NaOH = Valensi x M M NaOH = N NaOH Valensi = 0,1 N 1 = 0,1 M Pembuatan Pelarut Campur No. Etanol Air PEG 1. 0 97 x 20 ml = 19,4 ml 100 3 x 20 ml = 0,6ml 100 2. 15 x 20 ml = 3 ml 100 80 x 20 ml = 16 ml 100 5 x 20 ml = 1 ml 100 3. 25 x 20 ml = 5 ml 100 68 x 20 ml =13,6ml 100 7 x 20 ml = 1,4ml

100 4. 35 x 20 ml = 7 ml 100 56 x 20 ml = 11,2 ml 100 9 x 20 ml = 1,8 ml 100 5. 45 x 20 ml = 9 ml 100 44 x 20 ml = 8,8 ml 100 11 x 20 ml = 2,2ml 100 No. Pelarut Campur Volume Larutan Sampel (asam Benzoat) Volume NaoH 1. 19,4 ml air + 0,6 ml PEG 8,1 ml 2,5 l 2. 3 ml Etanol + 16 ml air + 1 ml PEG 10 ml 4,5 ml 3. 5 ml Etanol + 13,6 air + 1,4 ml PEG 10 ml 9,3 ml 4. 7 ml Etanol + 11,2 iar + 1,8 ml PEG 10 ml 12,2 ml 5. 9 ml Etanol + 8,8 air + 2,2 ml PEG 10 ml 4 ml

Penentuan Kelarutan Kelarutan (g/ml) 1. VNaoH . MNaoH = Vas. Benzoat . Mas benzoat 2,5 ml . 0,1 = 8,1 ml . M as benzoat Mas benzoat = 2,5 ml . 0,1 M 8,1 ml = 0,0309 M M = gr x 1000 Mr ml 0,0309 = gr x 1000 122 8,1 ml gr = 0,03090 1,0119 = 0,0305 gr 2. VNaoH . MNaoH = Vas. Benzoat . Mas benzoat 4,5 ml . 0,1 = 10 ml . M as benzoat Mas benzoat = 4,5 ml . 0,1 M 10 ml = 0,045 M M = gr x 1000 Mr ml 0,045 = gr x 1000 122 10 ml

gr = 0,045 0,8197 = 0,0549 gr 3. VNaoH . MNaoH = Vas. Benzoat . Mas benzoat 9,3 ml . 0,1 = 10 ml . M as benzoat Mas benzoat = 9,3 ml . 0,1 M 10 ml = 0,093 M M = gr x 1000 Mr ml 0,093 = gr x 1000 122 10 ml gr = 0,093 0,8197 = 0,1134 gr 4. VNaoH . MNaoH = Vas. Benzoat . Mas benzoat 12,2 ml . 0,1 = 10 ml . M as benzoat Mas benzoat = 12,2 ml . 0,1 M 10 ml = 0,122 M M = gr x 1000 Mr ml 0,122 = gr x 1000 122 10 ml gr = 0,122 0,8197 = 0,1488 gr

5. VNaoH . MNaoH = Vas. Benzoat . Mas benzoat 4 ml . 0,1 = 10 ml . M as benzoat Mas benzoat = 4 ml . 0,1 M 10 ml = 0,04 M M = gr x 1000 Mr ml 0,04 = gr x 1000 122 10 ml gr = 0,04

0,8197 = 0,0488 gr Grafik Grafik hubungan konsentrasi dengan Persentase Campuran Pelarut

G. Pembahasan Melarut tidaknya suatu zat dalam system tertentu dan besarnya kelarutan sebagian besar tergantung pada sifat serta intensitas kekuatan yang ada pada zat terlarut, pelarut dan resultan interaksi zat terlarut berbeda-beda pada setiap pelarutnya. Pada percobaan kali ini kami menggunakan zat terlarutnya adalah asam benzoat, dimana menurut FI ed III bahwa asam benzoat itu larut dalam kurang lebih 350 bagian air, 3 bagian etanol, 8 bagian kloroform dan 3 bagian eter. Pernyataan tersebut juga diperkuat dalam FI ed IV bahwa asam benzoat itu sukar larut dalam air dan mudah larut dalam etanol., kloroform dan eter. Untuk itu pada percobaan ini, asam benzoat dilarutkan dalam pelarut campuran dengan berbagai macam perbandingan, setelah diperoleh supernatannya saja. Penyaringan tersebut pun dilakukan mungkin dengan maksud agar bila ada zat pengkotor yang dapat menyebabkan galat tidak ikut terbawa, sebab zat pengkotor itu sendiri dapat mempengaruhi analisis kualitatif maupun kualitatif. Disini jumlah alcohol (etanol dan PEG) berbanding lurus dengan jumlah asam benzoatnya, maksudnya semakin banyak jumlah alcohol (etanol dan PEG) yang digunakan maka semakin banyak pula asam benzoat yang dapat larut dalam pelarut campurannya. Akan tetapi pada percobaan yang kami lakukan terdapat keganjalan yaitu pada pelarut campuran No.5. setelah dititrasi jumlah NaOH yang terpakai hanya sedikit dan berlawanan dengan yang seharusnya. Begitupun saat kami mencoba menghitung berat asam benzoate yang terlarut dalam pelarutnya ternyata dalam perhitungannya lebih sedikit beratnya dibandingkan dengan kenyataan saat kami melarutkan asam benzoat ke dalam pelarut No. 5 ini. Kegangal ini dapat terjadi karena beberapa factor yaitu mungkin karena keteledoran kami saat melakukan percobaan tersebut, mungkin karena adanya zat pengkotor/zat lain yang ikut terbawa saat penyaringan atau bisa juga karena sudah banyak alcohol yang menguap ke udara pada saat kami melarutkan asam benzoatnya.

H. Kesimpulan Bahwa asam benzoat sukar larut dalam air tetapi mudah larut dalam etanol, kloroform dan eter. Semakin banyak pelarut yang bersifat alcohol (etanol dan PEG) semakin banyak pula asam benzoat yang akan terlarut dalam pelarutnya karena seperti yang telah dijelaskan bahwa asam benzoat larut dalam etanol. I. Saran Saat melakukan percobaan diharapkan kita harus teliti, tidak perlu tergesa-gesa agar kita mampu melaksanakan perobaan dengan baik dan benar yang sesuai dengan ketentuan agar tujuan percobaannya dapat menuju pada sasaran.

DAFTAR PUSTAKA Farmakope Indonesia edisi III. Departemen Kesehatan Republik Indonesia Farmakppe Indonesia edisi IV. Departemen KesehatanRepublik Indonesia Deswati, Dytha Andri. 2006. Panduan Kuliah Farmasi Fisika. Bandung : Universitas AlGhifari Lachman, leon , dkk. 1994. Teori & Praktek Farmasi Industri. Jakarta : Universitas Indonesia.

Martin, Alfied, dkk. 1990. Farmasi Fisika : Dasar-dasar Kimia Fisik dalam ilmu Farmasetik. Jakarta : Universitas Indonesia