Anda di halaman 1dari 2

Hukum adat adalah sistem hukum yang dikenal dalam lingkungan kehidupan sosial di Indonesia dan negara-negara Asia

lainnya seperti Jepang, India, dan Tiongkok. Sumbernya adalah peraturan-peraturan hukum tidak tertulis yang tumbuh dan berkembang dan dipertahankan dengan kesadaran hukum masyarakatnya. Karena peraturan-peraturan ini tidak tertulis dan tumbuh kembang, maka hukum adat memiliki kemampuan menyesuaikan diri dan elastis. A. Zaman Hindu Agama Hindu hanya mempunyai pengaruh di pulau Jawa, Sumatera dan Bali, sedangkan di daerah lain mendapat pengaruh dari zaman Malaio polynesia , yaitu : Suatu zaman dimana nenek moyang kita masih memegang adat istiadat asli yang dipengaruhi oleh alam yang serba kesaktian. Pada zaman Hindu tumbuh beberapa kerajaan yang dipengaruhi oleh hukum agama Hindu serta hukum agama Budha yang dibawa oleh para pedagang (khususnya dari Cina). Kerajaan-kerajaan tersebut Yang diatur Konsep-Konsep Hukum -3 Dengan demikian maka jelaslah, al-Qur''''an memperkenalkan satu konsepsi hukum yang bersifat integral. Di dalamnya terpadu antara sunnatullah Dengan sunnah Rasulullah, sebagaimana terpadunya antara aqidah/keimanan dan moral/ahklak, dengan hukum dalam rumusan yang diajarkan al-Qur''''an. Dengan sifatnya yang demikian itu, maka hukum dari ajaran al-Qur''''an itu mempunyai kekuatan sendiri yang tidak sepenuhnya tergantung pada adanya suatu kekuasaan sebagai kekuatan pemaksa dari luar hukum itu. Ide hukum yang diajarkan al-Qur''''an berkembang terus dari kurun ke kurun, melalui jalur ilmu. Seandainya hukum yang diajarkan al-Qur''''an itu tergantung pada suatu kekuasaan, maka sudah lama jenis hukum ini terkubur dalam perut sejarah atau sekurangkurangnya menjadi barang pajangan di lemari-lemari museum.Di lain pihak, perkembangan ilmu pengetahuan yang sangat pesat, yang terjadi di negara-negara maju dapat pula mencari pandangan yang negatif terhadap Islam dan al-Qur''''an, yang sangat mendominasi bangsa-bangsa Barat. Salah satu gejala dari perkembangan tersebut adalah minat para ilmuwan Barat untuk mempelajari Islam/Qur''''an, sebagai ilmu. Dalam rangka itu para ahli hukum dari mereka, dari kongres ke kongres mulai terbuka pandangan terhadap Islam, yang tidak lain wujud nyatanya dan terinci adalah fiqh (hukum Islam) itu sendiri.Sebagai contoh dapat kita lihat dari hasil Kongres Ahli-ahli Hukum Internasional yang berlangsung di London (2-7 Juli 1951) yang antara lain menetapkan, pokok-pokok hukum (undangundang) yang terdapat dalam agama Islam merupakan undang-undang yang bernilai tinggi dan sulit dibantah kebenarannya. Disamping itu, adanya berbagai madrasah dan madzhab di dalamnya menunjukkan, perundang-undangan Islam kaya dengan berbagai teori hukum dan teknik hukum yang indah, sehingga perundang-undangan ini dapat memenuhi kebutuhan hidup modern. <23> Dalam rangka pembangunan hukum di negara kita Republik Indonesia, pembangunan dan pembinaan hukum nasional diarahkan kepada pembaharuan hukum yang sesuai dengan kesadaran hukum yang berkembang dalam masyarakat. Tetapi bagaimana pun juga, perkembangan segi fiqhnya yang merumuskan hukum sosial kemasyarakatan itu, sangat berjasa dalam menumbuhkan kesadaran hukum dan sikap normatif dalam kehidupan umat Islam. Selain itu, wawasan hukum yang diperkenalkan alQur''''an, penerapannya ternyata juga kurang terpadu antara hukum-hukumnya yang menyangkut segi sosial kemasyarakatan, dengan hukum-hukumnya yang menyangkut sunnatullah yang berupa hukum alam dan hukum sejarah. Dua hal yang disinggung terakhir ini, yakni keseimbangan dan keterpaduan dalam hal pemahaman, pelaksanaan dan pengembangan wawasan hukum yang diperkenalkan al-

Qur''''an itu merupakan tantangan bagi para ulama dan para cendekiawan Muslim.Number of posts:

3811 Reputation: 12 Registration date: 17.07.08 Masalah perceraian bagi masyarakat Bali yang sebagian besar beragama Hindu itu perlu diatur secara jelas dalam hukum adat setempat, sehingga tidak menimbulkan persoalan yang pelik di kemudian hari. "Hal itu berbeda dengan perkawinan yang telah diatur secara baik," kata Bendesa Agung Majelis Utama Desa Pekraman (MUDP) Provinsi Bali, Jro Mangku Suwena, di Denpasar, Senin. Oleh sebab itu perceraian bagi pasangan suami istri secara adat di Bali kini menjadi salah satu perhatian para peserta Pasamuan Agung III Majelis Utama Desa Pekraman. Suwena mengakui, masalah perceraian belakangan ini dipandang sangat penting untuk segera dicarikan formula hukum adat guna dijadikan pedoman dalam menyelesaikan perceraian secara adat di Pulau Dewata. Hal itu perlu mendapat perhatian secara sungguh-sungguh, mengingat angka perceraian di Bali menunjukkan adanya peningkatan. Jro Mangku Suwena menambahkan, desa Pekraman (desa adat) yang berada pada garis depan dalam mengawal hukum adat harus mengantisipasi dinamika dan perubahan yang terjadi. "Selama ini kita hanya mengenal untuk perkawinan adat memang sudah jelas diatur sesuai UU Perkawainan maupun acuan yang dipakai sesuai aturan adat yang mengikat warga adat," imbuh Jro Mangku Suwena. Biasanya warga adat di desa tersebut banyak yang mengetahui perkawinan adat, demikian juga keberadaaan pasangan yang menikah. Hanya saja, setelah kehidupan perkawinan suatu pasangan berakhir, banyak warga adat yang tidak mengetahui jika mereka telah berpisah yang tidak lagi terikat perkawinan. "Kalau proses perceraian umumnya lewat Pengadilan, namun bagaimana dengan perceraian mereka yang melakukan perkawinan secara adat Bali," tanya Suwena Namun umumnya yang terjadi, mereka secara tiba-tiba sudah bercerai yang tidak diketahui warga adat sehingga hal seperti itu perlu dipikirka bersama bagaimana membuat aturan adat yang tidak hanya mengatur masalah perkawinan namun juga perceraian. Pihaknya mengharapkan ada kesatuan tafsir hukum adat dan adat termasuk bagaimana sistem perceraian secara adat agar diatur secara jelas sebagaimana halnya perkawinan secara adat, ujar Jro Mangku Suwena

Beri Nilai