Anda di halaman 1dari 8

PEMBANGUNAN EKONOMI DAERAH DARI SEKTOR PARIWISATA DI BANDAR LAMPUNG

Oleh: Abdul Syani

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK PROGRAM PASCASARJANA UNIVERSITAS LAMPUNG BANDAR LAMPUNG 2008
Abdul Syani: 1

1. PENDAHULUAN Pemerintah daerah dalam mempertahankan keberlanjutan pembangunan ekonomi daerahnya agar membawa dampak yang menguntungkan bagi penduduk daerah perlu memahami bahwa manajemen pembangunan daerah dapat memberikan pengaruh yang baik guna mencapai tujuan pembangunan ekonomi yang diharapkan. Bila kebijakan manajemen pembangunan tidak tepat sasaran maka akan mengakibatkan perlambatan laju pertumbuhan ekonomi. Maka manajemen pembangunan daerah mempunyai potensi untuk meningkatkan pembangunan ekonomi serta menciptakan peluang bisnis yang menguntungkan dalam mempercepat laju pertumbuhan ekonomi daerah. Menurut Herry Darwanto dalam makalahnya yang berjudul Prinsip Dasar Pembangunan Ekonomi Daerah, bahwa setiap daerah mempunyai corak pertumbuhan ekonomi yang berbeda dengan daerah lain. Oleh sebab itu perencanaan pembangunan ekonomi suatu daerah pertama-tama perlu mengenali karakter ekonomi, sosial dan fisik daerah itu sendiri, termasuk interaksinya dengan daerah lain. Dengan demikian tidak ada strategi pembangunan ekonomi daerah yang dapat berlaku untuk semua daerah. Namun di pihak lain, dalam menyusun strategi pembangunan ekonomi daerah, baik jangka pendek maupun jangka panjang, pemahaman mengenai teori pertumbuhan ekonomi wilayah, yang dirangkum dari kajian terhadap pola-pola pertumbuhan ekonomi dari berbagai wilayah, merupakan satu faktor yang cukup menentukan kualitas rencana pembangunan ekonomi daerah. Keinginan kuat dari pemerintah daerah untuk membuat strategi pengembangan ekonomi daerah dapat membuat masyarakat ikut serta membentuk bangun ekonomi daerah yang dicita-citakan. Dengan pembangunan ekonomi daerah yang terencana, pembayar pajak dan penanam modal juga dapat tergerak untuk mengupayakan peningkatan ekonomi. Kebijakan pembangunan di sektor pariwisata misalnya, dapat memberi peluang bagi investor untuk menanamkan modalnya dalam rangka perluasan dan meningkatkan mutu pelayanan dibidang kepariwisataan daerah. Oleh karena itu perlu peningkatan efisiensi pola kerja pemerintahan perencanaan pembangunan agar pengusaha dapat mengantisipasi kenaikan pajak dan retribusi, sehingga tersedia lebih banyak modal bagi pembangunan ekonomi daerah. Pembangunan ekonomi daerah perlu memberikan solusi jangka pendek dan jangka panjang terhadap isu-isu ekonomi daerah yang dihadapi, dan perlu mengkoreksi kebijakan yang keliru. Pembangunan ekonomi daerah merupakan bagian dari pembangunan daerah secara menyeluruh. Persepsi atas suatu wilayah, apakah memiliki kualitas hidup yang baik, merupakan hal penting bagi dunia usaha untuk melakukan investasi. Investasi pemerintah daerah yang meningkatkan kualitas hidup masyarakat sangat penting untuk mempertahankan daya saing. Jika masyarakat ingin menarik modal dan investasi, maka haruslah siap untuk memberi perhatian terhadap: keanekaragaman, identitas dan sikap bersahabat. Pengenalan terhadap fasilitas untuk mendorong kualitas hidup yang dapat dinikmati oleh penduduk suatu wilayah dan dapat menarik bagi investor luar perlu dilakukan. Pemerintah daerah dan pengusaha adalah dua kelompok yang paling berpengaruh dalam menentukan corak pertumbuhan ekonomi daerah. Pemerintah daerah, mempunyai kelebihan dalam satu hal, dan tentu saja keterbatasan dalam hal lain, demikian juga pengusaha. Sinergi antara keduanya untuk merencanakan bagaimana ekonomi daerah akan diarahkan perlu menjadi pemahaman bersama. Pemerintah daerah mempunyai kesempatan membuat berbagai peraturan, menyediakan berbagai sarana dan peluang, serta membentuk wawasan orang banyak. Tetapi pemerintah daerah tidak mengetahui banyak bagaimana proses kegiatan ekonomi sebenarnya berlangsung. Pengusaha mempunyai kemampuan mengenali kebutuhan orang banyak dan dengan berbagai insiatifnya, memenuhi kebutuhan Abdul Syani: 2

itu. Aktivitas memenuhi kebutuhan itu membuat roda perekonomian berputar, menghasilkan gaji dan upah bagi pekerja dan pajak bagi pemerintah. Dengan pajak, pemerintah daerah berkesempatan membentuk kondisi agar perekonomian daerah berkembang lebih lanjut. 2. STRATEGI PEMBANGUNAN DAERAH Strategi pembangun daerah adalah kebijakan dalam mengimplementasikan program kepala daerah, sebagai payung pada perumusan program dan kegiatan pembangunan di dalam mewujdkan visi dan misi Kota Bandar Lampung. Disamping itu, strategi pembangunan juga diperlukan agar setiap program dan kegiatan dapat dilaksanakan secara efektif dan efisien. Proses penentuan strategi pembangunan dilakukan dengan menganalisis isu-isu yang berkembang secara sistematis, dengan jalan melakukan identifikasi berbagai faktor-faktor dalam lingkungan internal dan eksternal. Dalam penentuan strategi pembangunan Kota Bandar Lampung bersifat rasional dan obyektif dengan mempertimbangkan keadaan masa lalu dan saat ini, kepentingan kebijakan dan persepsi yang diharapkan oleh pihak pemangku kepentingan pembangunan. Strategi pembangunan yang akan digunakan mengatasi permasalahan pembangunan Kota Bandar Lampung selama tahun 2005-2010. Untuk ini perlu strategi penguatan dan pemberdayaan SDM, yaitu untuk menciptakan pemerataan kualitas manusia, serta memberi ruang yang cukup bagi tumbuhnya partisipasi masyarakat pada berbagai bidang pembangunan, yang bertujuan mewujudkan pemberdayaan SDM sesuai peran dan fungsinya dalam kelompok masyarakat dan lembaga pemerintah. Strategi pembangunan ini merupakan upaya penciptaan situasi dan kondisi agar masyarakat berperan aktif dalam berbagai kegiatan pembangunan. Strategi itu juga untuk mendorong masyarakat yang kurang beruntung agar dapat meningkatkan kemampuan dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Dalam realisasinya diharapkan pemerintah dapat menciptakan pertumbuhan ekonomi secara luas. Strategi ini adalah untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui perwujudan perekonomian daerah kuat dan berkeadilan, menciptakan lapangan kerja dan kesempatan berusaha. Sehingga pada akhirnya berimplikasi pada pertumbuhan pendapatan perkapita penduduk dan peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD). Strategi pembangunan ini mencakup upaya pendayagunaan berbagai potensi sumber-sumber pendapatan daerah dengan tidak memberatkan masyarakat dan pihak lain disertai optimalisasi alokasi pembiayaan pembangunan berdasarkan skala prioritas kebutuhan. Strategi penting lainnya dalam rangka pembangunan ekonomi daerah adalah efisiensi penganggaran. Hal ini dapat dilakukan terhadap program-program pembangunan yang dirasa kurang efektif dan efisien, dengan harapan program-program pembangunan akan lebih berdayaguna dan berhasilguna. Dayaguna dan hasilguna dapat diukur dari proses yang lebih cepat, tepat, mudah dan murah, serta hasil dan manfaatnya lebih luas dengan resiko seminimal mungkin. 3. PEMBANGUNAN EKONOMI DAERAH DARI SEKTOR PARIWISATA Dalam pasal 1 Undang-Undang No. 9 tahun 1990 tentang kepariwisataan, dijelaskan bahwa yang dimaksud dengan pariwisata adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan wisata termasuk pengusahaan objek dan daya tarik wisata serta usaha-usaha yang terkait di bidang tersebut. Sedangkan pariwisata budaya adalah satu jenis kepariwisataan yang dikembangkan berdasarkan pada tingginya nilai-nilai budaya suatu daerah yang diharapkan Abdul Syani: 3

dapat menarik banyak wisatawan. Dengan demikian maka segala aspek yang terkait dengan kepariwisataan seperti promosi, atraksi, arsitektur, etika, pola manajemen, perkembangan pariwisata yang pesat diharapkan dapat memberikan dampak ganda terhadap kegiatan-kegiatan di sektor lainnya. Sektor pariwisata merupakan kegiatan yang terdiri dari berbagai sektor kegiatan. Kegiatan pariwisata dapat mencakup semua kegiatan ekonomi terutama sektor hotel, restoran, sektor jasa, maupun sektor industri. Sehingga peranan pariwisata dalam perekonomian dapat tercakup di semua kegiatan ekonomi. Peranan pariwisata dalam berekonomian Bandar Lampung dan sekitarnya, perlu diposisikan untuk melihat bagaimana pariwisata memberikan kontribusi dalam perekonomian dan dampak pengembagan pariwisata terhadap sektor ekonomi, baik secara Langsung maupun tidak langsung merupakan komoditi yang diperlukan dalam kegiatan pariwisata. Menurut Armida S. Alisjahbana (dalam makalahnya Pengembangan Pariwisata Daerah Memasuki Era Otonomi Daerah dan Desentralisasi, bahwa pariwisata merupakan sektor yang penting dalam perekonomian sebagai sumber ekonomi negara dan masyarakat, pengembangan sosial budaya dan mempromosikan citra bangsa di luar negeri. Sektor pariwisata meliputi beberapa bidang usaha seperti: hotel dan restauran, biro perjalanan wisata, kawasan wisata. Pariwisata merupakan sektor yang melibatkan sektor-sektor lain, sehingga koordinasi sangat penting. Prinsip Pengembangan Sektor Pariwisata adalah mempertimbangkan kepekaan budaya dan lingkungan dan tidak semata-mata berdasarkan pertimbangan untuk memperoleh devisa. Sedangkan kebijakan Pemerintah Daerah Bagi Pengembangan Pariwisata adalah menganalisis potensi pariwisata daerah, serta mengkaji faktor-faktor eksternal dan internal yang mempengaruhi pengembangan pariwisata daerah. Daerah harus dapat mengidentifikasi kombinasi atraksi budaya yang menjadi kekuatan daerah dan yang akan dijadikan prioritas pengembangan pariwisata daerah. Kebijakan pengembangan kombinasi atraksi budaya daerah diselaraskan dengan pembangunan regional secara keseluruhan serta perencanaan tata ruang daerah, baik kabupaten/kota maupun propinsi. Pengembangan insfrastruktur daerah yang menunjang pengembangan sektor pariwisata bekerjasama dengan pihak swasta. Infrastruktur daerah: fasilitas perhubungan (termasuk stasiun kereta api, bandara), sarana pendidikan bagi tenaga kerja industri pariwisata, infrastruktur dasar bagi pengembangan atraksi wisata potensial yang berlokasi di daerah terpencil. Promosi budaya dan wisata (yang menjadi tanggung jawab pemerintah propinsi) bekerjasama dengan pihak swasta dan asosiasi-asosiasi pariwisata. Jika daerah mengalami keterbatasan dana, kegiatan promosi budaya dan wisata dapat memanfaatkan promosi melalui pasar wisata. Pariwisata memberikan dukungan ekonomi yang kuat terhadap suatu wilayah. Industri ini dapat menghasilkan pendapatan besar bagi ekonomi lokal. Kawasan sepanjang pantai yang bersih dapat menjadi daya tarik wilayah, dan kemudian berlanjut dengan menarik turis dan penduduk ke wilayah pariwisata. Sebagai salah satu lokasi rekreasi, kawasan pantai dapat merupakan tempat yang lebih komersial dibandingkan kawasan lain, tergantung karakteristiknya. Sebagai sumber alam yang terbatas, hal penting yang harus diperhatikan adalah wilayah pantai haruslah menjadi aset ekonomi untuk suatu wilayah, khususnya wilayah pantai di sekitar Bandar Lampung, seperti Pantai Sebalang, Selaki, Pasir Putih, Pulau Pasir, Mutun, Duta, dan lain-lain. Wisata ekologi memfokuskan pada pemanfaatan lingkungan. Kawasan wisata ekologi merupakan wilayah luas dengan habitat yang masih asli yang dapat memberikan landasan bagi terbentuknya wisata ekologi. Hal ini merupakan peluang unik untuk menarik pasar wisata ekologi, misalnya Bumi Kedaton, Lembah hijau, Tabek, dan lain-lain. Membangun tempat ini dengan berbagai aktivitas seperti berkuda, surfing, berkemah, memancing dll. akan dapat membantu perluasan pariwisata serta mengurangi kesenjangan Abdul Syani: 4

akibat pengganguran. Wisata budaya merupakan segmen yang berkembang cepat dari industri pariwisata. Karakter dan pesona dari desa/kota wisata adalah faktor utama dalam menarik turis. Sektor pariwisata pun diharapkan dapat menggerakan ekonomi rakyat, karena dianggap sektor yang paling siap dari segi fasilitas, sarana dan prasarana dibandingkan dengan sektor usaha lainnya. Harapan ini dikembangkan dalam suatu strategi pemberdayaan masyarakat melalui pengembangan pariwisata yang berbasis kerakyatan atau community-based tourism development. Perubahan pola wisata ini perlu segera disikapi dengan berbagai strategi pengembangan produk pariwisata maupun promosi baik disisi pemerintah maupun swasta. Dari sisi pemerintahan perlu dilakukan perubahan skala prioritas kebijakan sehingga peran sebagai fasilitator dapat dioptimalkan untuk mengantisipasi hal ini. Disisi lain ada porsi kegiatan yang harus disiapkan dan dilaksanakan oleh swasta yang lebih mempunyai sense of business karena memang sifat kegiatannya berorientasi bisnis. Dengan diberlakukannya Undang-undang No. 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah, maka perlu pula porsi kegiatan untuk pemerintah daerah yang akibat adanya otonomi daerah lebih memiliki wewenang untuk mengembangkan pariwisata daerah. Menurut James Hellyward (dalam dokumen RIPPDA Sumbar di Padang), bahwa ada beberapa strategi dalam pembangunan sektor pariwisata, yaitu antara lain: 1. Melakukan desentralisasi kewenangan pengelolaan kepariwisataan kepada setiap kabupaten dan kota. Strategi ini sesuai dengan UU No.32/2004 dan No.25/1999 di mana paradigma pembangunan telah berubah dari sistim sentralisasi ke desentralisasi. Oleh karenanya dinas pariwisata dapat bertindak sebagai pembuat kebijakan, pengawasan dan pengendalian, sedangkan penyelenggaraannya menjadi urusan lintas kabupaten kota. Demikian pula kegiatan promosi dan pemasaran wisata, urusan museum, aset peninggalan bersejarah dan budaya serta memfasilitasi program pengembangan pembangunan pariwisata juga didesentralisasikan kepada kabupaten dan kota. 2. Melakukan perencanaan berdasarkan kewilayahan dan keterpaduan yang mengutamakan prinsip hubungan bersifat komplementer, saling mengunjungi dan mendukung serta ada unsur pengikat antarwilayah. 3. Pengembangan atraksi wisata alam seperti rekreasi, ekowisata, tantangan/minat khusus, bahari, gunung, budaya, pendidikan dan kesehatan. 4. Mengembangkan kepariwisataan yang bersih dan bebas maksiat (prostitusi, narkoba dan minuman keras. 5. Profesionalisme dalam pengembangan dan pengelolaan produk, atraksi dan objek wisata. 6. Mengembangkan pariwisata berbasis masyarakat dan berbudaya lingkungan, tambahnya. 7. Pemulihan citra dan perluasan pasar wisata dalam dan luar negeri. 8. Peningkatan partisipasi dan dukungan semua pihak dalam pengembangan pembangunan pariwisata, seni dan budaya. 9. Mendorong investasi masuk bidang pariwisata dan pemberdayaan usaha kecil menengah yang mendukung kegiatan wisata, seni dan budaya. Selain dari sektor pariwisata, ketersediaan sarana umum merupakan penarik kegiatan bisnis yang penting, seperti jalan, pelabuhan, pembangkit listrik, sistim pengairan, sarana air bersih, penampungan dan pengolahan sampah dan limbah, sarana pendidikan seperti sekolah, taman bermain, ruang terbuka hijau, sarana ibadah, dan masih banyak fasilitas lainnya yang berhubungan dengan kegiatan sehari-hari masyarakat. Sarana umum yang Abdul Syani: 5

perlu dibangun sejalan dengan pertambahan jumlah penduduk. Idealnya fasilitas sarana umum yang ada harus dapat menampung sesuai dengan kapasitas maksimalnya, sehingga dapat memberikan waktu untuk dapat membangun sarana umum yang baru. Penggunaan lahan dan sarana umum haruslah saling berkaitan satu sama lainnya. Perencana pembangunan seharusnya dapat memprediksikan arah pembangunan yang akan berlangsung sehingga dapat dibuat sarana umum yang baru untuk menunjang kegiatan masyarakat pada wilayah tersebut. Paradigma baru pembangunan kepariwisataan dapat dipersepsikan sebagai mesin ekonomi penghasil devisa bagi pembangunan ekonomi di suatu negara tidak terkecuali di Indonesia. Namun demikian pada prinsipnya pariwisata memiliki spektrum fundamental pembangunan yang lebih luas bagi suatu negara. Ada beberapa manfaat utama dari pembangunan kepariwisataan, yaitu: 1. Persatuan dan Kesatuan Bangsa Pariwisata mampu memberikan perasaaan bangga dan cinta terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia melalui kegiatan perjalanan wisata yang dilakukan oleh penduduknya ke seluruh penjuru negeri. Dengan banyaknya warganegara yang melakukan kunjungan wisata di wilayah-wilayah, selain tempat tinggalnya akan timbul rasa persaudaraan dan pengertian terhadap sistem dan filosofi kehidupan masyarakat yang dikunjungi sehingga akan meningkatkan rasa persatuan dan kesatuan nasional. 2. Penghapusan Kemiskinan (Poverty Alleviation) Pembangunan pariwisata seharusnya mampu memberikan kesempatan bagi seluruh rakyat Indonesia untuk berusaha dan bekerja. Kunjungan wisatawan ke suatu daerah seharusnya memberikan manfaat yang sebesarbesarnya bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat. Dengan demikian pariwisata akan mampu memberi andil besar dalam penghapusan kemiskinan di berbagai daerah yang miskin potensi ekonomi lain selain potensi alam dan budaya bagi kepentingan pariwisata. 3. Pembangunan Berkesinambungan (Sustainable Development) Dengan sifat kegiatan pariwisata yang menawarkan keindahan alam, kekayaan budaya dan keramahtamahan pelayanan, sedikit sekali sumberdaya yang habis digunakan untuk menyokong kegiatan ini. Bahkan berdasarkan berbagai contoh pengelolaan kepariwisataan yang baik, kondisi lingkungan alam dan masyarakat di suatu destinasi wisata mengalami peningkatan yang berarti sebagai akibat dari pengembangan keparwiwisataan di daerahnya. 4. Pelestarian Budaya (Culture Preservation) Pembangunan kepariwisataan seharusnya mampu kontribusi nyata dalam upaya-upaya pelestarian budaya suatu negara atau daerah yang meliputi perlindungan, pengembangan dan pemanfaatan budaya negara atau daerah. UNESCO dan UN-WTO dalam resolusi bersama mereka di tahun 2002 telah menyatakan bahwa kegiatan pariwisata merupakan alat utama pelestarian kebudayaan. Dalam konteks tersebut, sudah selayaknya bagi Indonesia untuk menjadikan pembangunan kepariwisataan sebagai pendorong pelestarian kebudayaan di berbagai daerah. 5. Pemenuhan Kebutuhan Hidup dan Hak Azasi Manusia Pariwisata pada masa kini telah menjadi kebutuhan dasar kehidupan masyarakat modern. Pada beberapa kelompok masyarakat tertentu memiliki kegiatan melakukan perjalanan wisata, bahkan telah dikaitkan dengan hak azasi manusia khususnya melalui pemberian waktu libur yang lebih panjang. 6. Peningkatan Ekonomi dan Industri Pengelolaan kepariwisataan yang baik dan berkelanjutan diharapkan mampu memberikan kesempatan bagi tumbuhnya ekonomi di disektor pariwisata. Penggunaan bahan dan produk lokal dalam proses pelayanan di bidang pariwisata dapat Abdul Syani: 6

memberikan kesempatan kepada industri lokal untuk berperan dalam penyediaan barang dan jasa. Syarat utamanya adalah kemampuan usaha pariwisata setempat dalam memberikan pelayanan lebih luas dengan menggunakan bahan dan produk lokal yang berkualitas. 7. Pengembangan Teknologi Dengan semakin kompleks dan tingginya tingkat persaingan dalam mendatangkan wisatawan ke suatu destinasi, kebutuhan akan teknologi tinggi khususnya teknologi industri akan mendorong destinasi pariwisata mengembangkan kemampuan penerapan teknologi terkini. Pada daerah-daerah tersebut akan terjadi pengembangan teknologi maju dan tepat guna yang diharapkan dapat memberikan dukungan bagi kegiatan ekonomi lainnya. Dengan demikian pembangunan kepariwisataan akan memberikan manfaat bagi masyarakat dan pemerintahan di berbagai daerah yang lebih luas dan bersifat fundamental. Kepariwisataan akan menjadi bagian tidak terpisahkan dari pembangunan suatu daerah dan terintegrasi dalam kerangka peningkatan kesejahteraan masyarakat setempat. 4. KESIMPULAN Dengan adanya beberapa manfaat pembangunan Sektor Pariwisata tersebut diharapkan pada gilirannya dapat mendongkrak peningkatan perekonomian daerah. Dari sektor ini dapat dimanfaatkan untuk menampung tenaga kerja sekaligus membuka lapangan kerja. Lebih dari itu, dapat juga mendatangkan devisa yang mendukung pencapaian Pendapatan Asli Daerah (PAD). Potensi sektor pariwisata yang dimiliki Kotamadya Bandar Lampung dan sekitarnya dapat dikategorikan cukup besar karena dukungan letak geografis di jalur emas pariwisata antara Pulau Jawa dan Sumatera. Potensi sektor pariwisata yang dimiliki Kota Bandar Lampung diantaranya adalah wisata alam, wisata pantai, wisata budaya, museum dan kuliner. Permasalahan utama yang dihadapi antara lain adalah belum tumbuhnya kesadaran masyarakat pariwisata, dan kurang memadainya sarana dan prasarana pendukung, di samping pengelolaan usaha wisata yang belum dilaksanakan secara maksimal. Oleh karena itu pemerintah daerah diharapkan dapat memberikan perhatian lebih besar untuk meningkatkan dan memperluas sektor pariwisata, membangun sarana prasarana, sekaligus dapat bekerjasama dengan masyarakat untuk menjaga kebersihan dan keindahan obyek-obyek pariwisata yang ada. Bagi Kota Bandar Lampung, sektor pariwisata diyakini merupakan sektor andalan untuk memulihkan kondisi perekonomian dan mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Hal ini berarti paradigma pariwisata di Bandar Lampung telah bergeser dari sifat massal menjadi suatu minat alternatif yang lebih condong menuju isu pembangunan sosioekonomi masyarakat. Dalam pandangan ekonomi mikro maupun makro, pariwisata tidak akan lepas dari sektor perekonomian. Konsep mikronya, pariwisata menyentuh unit-unit spesifik ekonomi, seperti hotel, restoran, transportasi, agen perjalanan, perusahaan suvenir dan handycraft, serta business unit yang lain. Sementara itu, dalam ekonomi makro, pariwisata akan mempelajari gejala perekonomian dalam skala lebih besar, seperti agregat wisatawan, spending power, lama tinggal, dan efeknya terhadap sektor ekonomi yang lain. Kegiatan pariwisata secara potensial dapat menimbulkan efek ke depan maupun ke belakang. Setidaknya ada tiga keuntungan yang dapat diperoleh dengan semakin berkembangnya kepariwisataan suatu daerah, yaitu: 1. akan memberikan sumbangan yang cukup berarti bagi pendapatan masyarakat. Abdul Syani: 7

2. mampu mengurangi jumlah penganggur karena daya serap tenaga kerjanya yang cukup besar dan merata. 3. mendorong timbulnya wirausahawan yang bergerak di industri pariwisata, baik langsung maupun tidak. Tujuan akhir pembangunan di sektor kepariwisataan adalah untuk memperbesar output atau nilai tambah. Program dukungan sektor pariwisata untuk meningkatkan perekonomian daerah diharapkan dapat diimplementasikan dengan benar. Program ini diharapkan akan dapat mengangkat sel-sel ekonomi masyarakat mulai yang paling dasar, yaitu perekonomian keluarga. Konsep ini mengangkat keterlibatan masyarakat yang lebih banyak untuk mendukung kegiatan pariwisata di daerah melalui sentra-sentra turisme yang berbasis kegiatan sehari-hari masyarakat di area tersebut. Pariwisata berlandaskan kerakyatan ini tidak memerlukan keterlibatan investor/ kongklomerasi besar, karena justru akan mengkomersialkannya menjadi sekedar atraksi, bukan lagi kegiatan sehari-hari. Misalnya, dengan mendirikan sebuah sentra pariwisata di desa tertentu dengan main activity berarti mengajak wisatawan untuk terlibat langsung kegiatan membajak sawah, membuat tembikar, bermain gundu, menyiangi sawah, berenang di sungai atau bahkan beternak sapi. Sejalan dengan semakin banyaknya wisatawan yang datang, akan muncul pondok-pondok kerajinan suvenir, penginapan, dan warung-warung makan yang kesemuanya dikelola oleh masyarakat. DAFTAR PUSTAKA Armida S. Alisjahbana, makalah: Pengembangan Pariwisata Daerah Memasuki Era Otonomi Daerah dan Desentralisasi. (http://www.geocities.com/arief_anshory/phri.PDF.) Herry Darwanto, Dr., Ir., M.Sc. (Direktur Pengembangan Kawasan Khusus dan Tertinggal, Kantor Meneg PPN/Bappenas-red). Makalah: Prinsip Dasar Pembangunan Ekonomi Daerah.
(http://www.bappenas.go.id/Heri%20Darwanto.doc.)

Setyanto P. Santosa, 2002. Pengembangan Pariwisata Indonesia. http://kolom.pacific.net.id/ ind/setyanto_p.santosa/pengembangan pariwisata.html. James Hellyward, Padang, (ANTARA), Strategi pembangunan sektor pariwisata jangka panjang. Dokumen Rencana Induk Pengembangan Pariwisata Daerah (RIPPDA), Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Sumatera Barat.
Undang-Undang No. 9 tahun 1990 tentang kepariwisataan.

Undang-undang No. 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah. Undang-undang No.32/2004 tentang Pemerintahan Daerah.

Abdul Syani: 8