Anda di halaman 1dari 20

TAUHID DAN SAINS

(Agama dan Ilmu pengetahuan dalam Perspektif Islam)

Makalah Didiskusikan Pada Mata Kuliah Tauhid Amali Terbatas Kelas A Program Studi Aqidah Akhlak Program Pasca Sarjana IAIN Walisongo Semarang Dosen Pengampu : Dr. H Yusuf Suyono, M.Ag Disusun Oleh : AINI MAHMUDAH ( NIM 095112008)

PROGRAM PASCA SARJANA IAIN WALISONGO

SEMARANG 2010 TAUHID DAN SAINS (Agama dan Ilmu pengetahuan dalam Perspektif Islam) Oleh: Aini Mahmudah A. PENDAHULUAN Perkembangan ilmu pengetahuan dan tehnologi saat ini sedemikian pesat dan amat mengagumkan, sehingga orang yang tidak memiliki keimanan ada yang memprediksikan bahwa pada saatnya nanti manusia sama sekali tidak memerlukan agama, tak ada lagi tanggungjawab yang muncul sebagai konsekuensi dari keimanan. Apalagi di zaman modern ini dimana dengan pengetahuannya manusia mampu menundukkan alam dan mengambil keuntungan yang sebanyak-banyaknya dari alam tersebut. Bahkan ada yang mengatakan pada saatnya nanti manusia mampu membuat dirinya sendiri. Banyak alasan yang mereka kemukakan untuk meyakinkan bahwa sesungguhnya manusia cukup hidup dengan ilmu pengetahuan. Dengan ilmu pengetahuan mereka beranggapan bahwa manusia akan sanggup mengatur sendiri kehidupannya dan menata urusannya, tanpa intervensi iman dan risalah Tuhan. Persepsi semacam ini sempat berpengaruh luas di dunia Barat, bahkan sempat pula sampai kepada kita sebagai umat islam yang beriman. Secara logika, sesungguhnya anggapan-anggapan semacam ini tidak memiliki landasan yang kuat, dan meleset dari kenyataan yang ada dan sangat bertentangan dengan keyakinan umat Islam yang beranggapan bahwa ada keterkaitan yang erat antara iman dan ilmu pengetahuan. Menurut Islam, inti agama adalah penerimaan doktrin dan pengamalan nyata tauhid dalam semua domain kehidupan dan pemikiran manusia. Ini berarti bahwa penciptaan sains oleh seorang Muslim mestilah berkaitan secara signifikan dengan doktrin tauhid.

Dalam

mempraktekkan

dan

mengamalkannya,

kaum

Muslim

menghubungkan sains dengan tauhid dengan cara memberikan ekspresi atau ungkapan bermakna dalam teori maupun praktek kepada dua konsekuensi paling fundamental dari tauhid, yakni prinsip kesatuan kosmis, khususnya kesatuan dunia alam dan prinsip kesatuan pengetahuan dan sains. Para saintis-filosof muslim menjadikan dua konsekuensi tersebut sebagai fondasi maupun tujuan sains. Ketika mereka berhasil membuka cakrawala sains dengan menciptakan pengetahuan baru, mereka semakin bertambah yakin kepada kebenaran tujuan sains tersebut. Melalui pembuktian adanya kesaling-berkaitan seluruh bagian dari alam semesta yang diketahui, merekapun semakin yakin bahwa kesatuan kosmis membuktikan dengan jelas keesaan Allah (Bakar, 2008: 30). B. PEMBAHASAN 1. Ilmu pengetahuan sebagai fenomena kemanusiaan Ilmu pengetahuan merupakan ciri yang membedakan antara manusia dengan makhluk Allah yang lain. Penciptaan manusia yang berilmu pengetahuan telah menimbulkan keguncangan dalam alam kosmik malaikat (QS.al-Baqarah 3034). Adam sebagai simbolisasi manusia memiliki kelebihan dibanding makhluk yang lain yaitu berilmu, sehingga semuanya tunduk kecuali Iblis. Iblis tidak mau tunduk kepada adam karena ia berasal dari api yang dinamis sementara Adam berasal dari tanah yang pasif. Iblis telah lupa bahwa kepasifan Adam berbeda dengan kemampuan lahiriyahnya dengan adanya ilmu yang terintegrasi pada dirinya. Tugas manusia adalah menundukkan dan mengendalikan Iblis. Keberadaan Iblis sebagai pelaku kejahatan dan musuh manusia hendaknya tidak hanya sekedar dipahami sebagai sesuatu yang harus diwaspadai, dijauhi dan dimusuhi saja. Akan tetapi keberadaan iblis juga dipahami sebagai sebuah potensi, dan tugas manusia adalah mengelola potensi tersebut. Sebagaimana sifat api, kalau dibiarkan liar dia akan merusak dan menghancurkan. Sedangkan jika dikelola dan

dikendalikan dengan baik ia akan berguna dan bermanfaat. Api bisa bermakna batiniah yaitu hawa nafsu dalam jiwa manusia atau api dalam arti lahiriah, sebab tidak ada teknologi tanpa melibatkan potensi api.(Zubair, 2002:2) Ilmu selain menjadi pertanda kehadiran manusia juga menjadi keharusan bagi manusia dalam mengarungi kehidupannya. Supaya martabatnya sebagai makhluk yang mulia tetap terjaga dan dapat menjalankan perannya sebagai khalifah Allah di bumi secara optimal ada tiga alasan mengapa manusia harus berilmu yaitu: Pertama, manusia tidak siap hidup di alam pertama yang berarti alam asli yakni alam yang belum terolah dan belum tersentuh teknologi. Kedua, manusia merupakan makhluk yang tidak pernah merasa puas dengan apa yang telah dilakukan dan dicapainya. Ketiga, manusia merupakan makhluk yang memiliki kebutuhan akan jawaban atas pertanyaaan tentang makna sebagai sesuatu yang bersifat immateri dan batiniah. Pertanyaan-pertanyaan tentang makna hidup, tujuan hidup, dan kehidupan sesudah mati merupakan contoh bahwa manusia butuh jawaban yang tepat agar hidupnya tidak kehilangan orientasi (Zubair, 2002:2). Ilmu pengetahuan merupakan upaya manusia yang tersruktur dan tersistematis yang menggunakan seluruh potensi kemanusiaan dengan metode tertentu dan obyek tertentu, untuk menyingkapkan tabir yang menutup realitas. Ilmu yang pada mulanya timbul dari usaha manusia dalam kebudayaannya untuk memahami alam yang kemudian diterapkan untuk memenuhi keingintahuan manusia. Perkembangan ilmu merupakan salah satu ciri akal manusia dalam kebudayaannya. Hasrat untuk mencari mata rantai serta benang merah kesatuan dalam keaneka ragaman fakta, data dan gejala merupakan sumber yang menghasilkan ilmu pengetahuan. Menurut Said Hawwa (2005:78) Ilmu pengetahuan yang dimiliki manusia merupakan fenomena yang paling menakjubkan diantara fenomena-fenomena yang ada. Manusia merupakan satu-satunya makhluk yang memiliki

kecenderungan terhadap pengetahuan dengan tabiatnya yang selalu haus mencari tahu segala sesuatu. Ia menganalisis, menyusun, membandingkan, menafsirkan, menerima atau menolak dan berimajinasi. Manusia mampu berpikir sekalipun sesuatu yang tadinya belum diketahuinya. Bahkan dengan ilmunya ia dapat menggambarkan sebuah jalan bagi kehidupan, membangun peradaban atau menghancurkannya. 2. Ilmu Pengetahuan dalam Perspektif Islam Sebelum membahas ilmu pengetahuan dalam perspektif Islam ada baiknya penulis membahas mengenai definisi ilmu (science) dan pengetahuan (knowledge). Dalam kamus Besar Bahasa Indonesia ilmu berarti pengetahuan tentang suatu bidang tertentu yang disusun secara sistematis dan menurut metode tertentu yang dapat digunakan untuk menerangkan gejala tertentu di bidang pengetahuan itu (Kamus Besar Bahasa Indonesia, 2005: 423). Adapun pengetahuan (knowledge) adalah Bagi seorang muslim, pengetahuan bukanlah tindakan ataupun pemikiran yang abstrak tapi merupakan bagian yang mendasari kemajuan dan pandangan hidupnya. Oleh sebab itu ilmu memiliki arti yang penting bagi seorang muslim. Sejak dulu banyak pemikir Muslim berusaha mengungkapkan konsep ilmu. Dan usaha yang paling nyata tampak dalam upaya mereka mendefinikan ilmu yang tiada habisnya-habisnya dengan kepercayaan bahwa ilmu merupakan perwujudan dalam memahami tanda-tanda kekuasaan Tuhan. Ilmu dalam prespektif Islam berdasarkan intelek (hati nurani/akal subyektif) yang mengarahkan rasio (akal obyektif) kepada pembentukan ilmu yang berdasarkan pada kesadaran dan keimanan kepada Allah, karena kebenaran Allah adalah muthlak. Kebenaran ilmu-ilmu sosial adalah relatif, karena pada diri manusia berlaku sunnatullah yang sering dilanggar oleh manusia itu sendiri. Oleh sebab itu kebenarannyapun harus diuji terus-menerus. Sementara ilmu kealaman

sepenuhnya mematuhi sunnatullah tersebut, oleh karena itu ilmu-ilmu alam mengalami kemajuan lebih pesat daripada ilmu sosial (Saefuddin, 1991: 36). Jika dalam Islam ilmu selalu terkait erat dengan ajaran agama, dalam konsep Barat ilmu berdiri sendiri terpisah dari seni dan agama. Karena ilmu, seni dan agama adalah bagian dari pengetahuan (ilmu dibedakan dari pengetahuan). Menurut mereka, sains dan berbagai cabangnya harus bersifat sekuler, duniawi dan tidak bersifat keagamaan. Konsep ini terkait erat dengan latar belakang sejarah keilmuan di Barat yang diawali dengan adanya pengadilan inquisi yang dilakukan oleh gereja tehadap para ilmuwan yang pendapatnya bertentangan dengan gereja. Untuk melawan gereja para ilmuwan kemudian berjuang menegakkan ilmu yang berdasarkan penafsiran alam sebagaimana adanya (das sein). Perjuangan tersebut akhirnya berhasil yang ditandai dengan bangkitnya dunia keilmuan di Barat yang dikenal dengan renaissace (abad 15) dan aufklarung (abad 18). Sejak saat itulah menurut penulis para ilmuwan Barat tidak lagi percaya kepada agama yang dianggap membelenggu berpikir ilmiah. Dalam konsep Islam ilmu disamping memiliki paradigma deduktif induktif juga mengakui paradigma transedental, yaitu pengakuan adanya kebenaran dari Tuhan. Pengakuan adanya hal-hal yang metafisik (adanya Allah, Malaikat, kiamat, akhirat surga dan neraka) merupakan kebenaran agama yang tidak perlu bukti secara empiris, tetapi persoalan-persoalan metafisik tersebut benar adanya (realistis). Di sinilah bedanya konsep epistimologi barat yang antroposentris sekuler dengan konsep Islam yang teosentris (Zainuddin, 2006: 76). Dengan demikian Islam tidak hanya berkubang pada rasionalisme dan empirisme saja tetapi juga mengakui intuisi dan wahyu. Oleh karena itu ilmu dalam perspektif Islam tidak hanya berseumber dari pengetahuan inderawi saja tapi juga pengetahuan naluri, pengetahuan rasio, pengetahuan intuitif/imajinatif dan pengetahuan wahyu (Zainuddin, 2006: 61). kemajuan ilmu pengetahuan karena dianggap tidak mendukung pertumbuhan ilmu dan cara

Konsep ilmu dalam perspektif Islam memang berbeda dengan pemahaman Barat. Pengertian ilmu dalam Islam lebih luas cakupannya yaitu semua ilmu yang berguna baik pengetahuan empiris maupun non empiris, wujud material maupun wujud spiritual (ruhani). Menurut zaitun sebagaimana dikutip oleh Zainuddin (2006: 90). Ilmu dalam prespektif Islam memiliki empat karakteristik yaitu: 1. Obyektif, artinya ilmu tidak diarahkan kepada kemauan hawa nafsu, subyektifitas, fanatisme dan seterusnya. Dalam hal ini al-Quran banyak menyebut peran hawa nafsu dalam menyesatkan manusia. Diantaranya QS. Al-Kahfi 68


Dan

bagaimana kamu dapat sabar atas sesuatu, yang kamu Kerendahan hati, yaitu menjauhkan diri dari

belum mempunyai pengetahuan yang cukup tentang hal itu?" 2. sikap arogansi intelektual, karena bagaimanapun kemampuan intelektual manusia terbatas. Sebagaiman firman Allah QS. Yusuf 76 dan QS. Al-Isra 85

Dan di atas tiap-tiap orang yang berpengetahuan itu ada lagi yang Maha Mengetahui


Dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit" 3. Kemanfaatan, yaitu ilmu yang berguna baik dari aspek empiris maupun non empiris dalam aspek aqidah dan akhlak. Islam menekankan adanya ilmu yang bermanfaat baik bagi indifidu maupun bagi masyarakat umum. Sebagaimana sabda Nabi saw. Perumpamaan ilmu yang tidak bermanfaat adalah ibarat harta yang tidak diinfakkan untuk kepentingan di jalan Allah (H.R. Ahmad dan Darimi)

4. ende d activity)

Keajekan, artinya ilmu itu harus dicari secara

terus menerus, dimana saja dan kapan saja tanpa mengenal batas waktu (open Senada dengan apa yang dituturkan oleh Zaitun. Al-Qardhawy yang juga dikutip oleh Zainuddin (2006: 53) menyatakan bahwa ilmu dalam Islam sangat luas cakupannya dan tidak terbatas pada ilmu menurut pandangan barat modern yang eksperimental saja tetapi ia meliputi: Pertama, aspek metafisika yang dibawa oleh wahyu yang mengungkapkan apa yang disebut realitas agung (haqaiq al-kubra) yang menjawab pertanyaan abadi: dari mana, kemana dan bagaimana. Dengan menjawab pertanyaan tersebut manusia tahu landasan berpijaknya dan mengerti akan Tuhannya. Kedua, aspek humaniora dan studi-studi yang berkaitan dengannya yang meliputi pembahasan mengenai manusia dan hubungannya dengan dimensi ruang dan waktu, psikologi, sosiologi, politik, ekonomi dan sebagainya. Ketiga, aspek material yang bertebaran di jagat raya, atau ilmu yang dibangun berdasarkan observasi dan eksperimen, yaitu dengan uji coba laboratorium. Dan ilmu inilah yang berkembang di Barat. Di dalam konsep Islam manusia dituntut untuk mencari ilmu yang bermanfaat. Ukuran kemanfaatannya terletak pada sejauhmana ilmu tersebut dapat mendekatkan dirinya kepada kebenaran Allah dan tidak merusak kehidupan manusia itu sendiri. Kebenaran ilmu pengetahuan menurut Islam adalah sebanding dengan kemanfaatannya. Secara terperinci ilmu pengetahuan yang bermanfaat adalah apabila: 1) mendekatkan kepada kebenaran Allah, 2) dapat membantu manusia merealisasikan tujuan-tujuannya, 3) dapat memberikan pedoman bagi sesama, 4) dapat menyelesaikan persoalan ummat. Berkaitan dengan kedudukan dan fungsi ilmu, Asghar Ali (1993: 35) menjelaskan bahwa ilmu dan hikmah sebagai kata kunci yang disebut dalam alQuran. Oleh sebab itu menurutnya, ilmu dan hikmah tersebut harus dipahami secara tepat untuk menjembatani Islam dengan dunia modern dengan menekankan

kepada penelitian untuk pengembangan ilmu pengetahuan sebagai jalan menuju kemajuan. Menurut Asghar hasil penyerapan indera diproses oleh akal, kemudian ditata melalui fikir dan dari keduanya melahirkan ilmu. Dan ilmu lewat penghayatan yang mendalam dan konsepsi intuitif melahirkan hikmah. Dengan demikian lantas muncul hubungan yang linier yaitu: aql-fikr-ilm-hikmah. Dalam hierarki pengetahuan ini, aql menempati tingkat yang paling rendah sedangkan hikmah menempati peringkat yang paling tinggi. Alasannya jelas: aql hanya merupakan instrumen untuk memperoleh pengetahuan, bukan tujuan akhir yang diinginkan. Ilmu dalam terminologi al-Quran berarti pengetahuan agama, pengetahuan ilmiah dan pengetahuan yang lainnya, sementara hikmah mengacu pada penerapan ilmu pengetahuan demi kebaikan manusia bukan demi kemandegan, kemunduran apalagi kerusakan. Hikmah menuntut agar tehnologi nuklir digunakan untuk kemajuan umat manusia bukan untuk merusak. Ilmu dan hikmah harus bersama-sama mewujudkan tujuan rububiyah (Ali, 1993: 42). Dalam sistem Islam, iman sangat essensial, karena ilmu tanpa iman bukan saja tidak produktif tetapi juga dapat menghancurkan dan membahayakan. Terkait dengan pengembangan ilmu pengetahuan yang berdasarkan kepada iman. Konsep al-Quran mengenai iman bil ghayb adalah sangat mengagumkan, asal ia dipahami dengan tepat. Ghayb menurut Asghar, menyatakan potensi-potensi dari kemungkinan-kemungkinan untuk perbaikan manusia yang tersembunyi dari pandangan manusia, dan hanya Allah yang mencipta kemungkinan-kemungkinan tersebut yang Alim al Ghayb (maha mengetahui segala yang ghaib). Jadi, iman pada kemungkinan-kemungkinan perbaikan adalah iman terhadap masa depan yang menjadi inspirasi umat manusia. Iman bil Ghayb merupakan iman terhadap kemungkinan-kemungkinan masa depan yang tidak terkira banyaknya. Iman bahwa Allah melalui wakil-Nya (manusia khalifah fi al-ardh) merupakan pencipta kemungkinan-kemungkinan tersebut (Asghar, 1993: 37)

Hubungan ilmu dan agama adalah hubungan simbiotik, karena agama menyeru kepada pencarian ilmu dan memberikan posisi mulia bagi para ilmuwan (QS. Al-Mujadalah 11). Agama menjadi pembimbing dan pengendali ilmu agar terarah sedangkan ilmu menjadi salah satu jalan menuju keimanan. Dengan aktifitas berfikir yang menghasilkan pengetahuan yang dipadu dengan dzikir yaitu mengingat kemahakuasaan Allah atas penciptaan alam semesta maka akan dapat memperkokoh keyakinan atas ketauhidan dan kemahakuasaan Allah (QS. Ali Imron 191) Islam menghendaki akidah yang dilandasi ilmu pengetahuan yang benar bukan atas dasar taqlid dan perkiraan. Akidah Islam tidak takut ilmu itu akan mendatangkan hasil yang bertentangan dengan fakta dan dasar-dasar agama yang baku karena kebenaran tidak akan bertentangan dengan kebenaran yang lain. Jika terjadi kontradiksi secara lahir antara kebenaran ilmu dan kebenaran agama, biasanya disebabkan apa yang sebenarnya bukan ilmu dianggap sebagai ilmu dan apa yang bukan agama dianggap sebagai agama (Pasya, 2004: 6). Akidah tauhid dalam ajaran Islam menjamin kemanusiaan manusia dan melepaskan belenggu pada daya kreasi dan pemahamannya agar manusia layak memikul amanat sebagai khalifah Allah di muka bumi, mampu menangkap kemahakuasaan Allah melalui penelitian ilmiah dan perenungan akan fenomenafenomena alam yang dilihat dan didengarnya. Dengan demikian keyakinannya akan semakin kuat dan keimanannya makin bertambah sampai pada batas ketika akal dan jiwanya merasakan ketenangan dan kebahagiaan di dunia dan akhirat. 3. Spiritual Al-Quran merupakan sumber intelektualitas dan spiritualitas Islam. Ia merupakan basis bukan hanya bagi agama dan pengetahuan spiritual tetapi bagi semua jenis pengetahuan. Ia merupakan sumber utama inspirasi pandangan Muslim tentang keterpaduan sains dan pengetahuan spiritual. Gagasan Al-Quran sebagai Sumber Sains dan Pengetahuan

10

keterpaduan ini merupakan konsekuensi dari gagasan keterpaduan semua jenis pengetahuan. Yang belakangan ini pada gilirannya diturunkan dari prinsip keesaan Tuhan yang diterapkan pada wilayah pengetahuan manusia (Bakar, 2008: 149) Manusia memperoleh pengetahuan dari berbagai sumber dan melalui berbagai cara dan jalan. Tetapi semua pengetahuan pada akhirnya berasal dari Tuhan yang Maha Mengetahui. Menurut pandangan al-Quran pengetahuan manusia tentang benda-benda maupun hal-hal ruhaniah menjadi mungkin karena Allah memberinya kemampuan yang dibutuhkan untuk mengetahui. Banyak filosof dan ilmuwan yang meyakini bahwa dalam berfikir dan mengetahui akal manusia mendapat pencerahan dari akal ilahi. Al-Quran bukanlah kitab sains. Tetapi ia memberikan pengetahuan tentang prinsip-prinsip sains, yang selalu dikaitkan dengan pengetahuan metafisik dan spiritual. Panggilan al-Quran untuk membaca dengan nama Tuhanmu telah ditaati secara setia oleh setiap generasi Muslim. Perintah itu telah dipahami dengan pengertian bahwa pencarian pengetahuan ilmiah harus didasarkan pada pondasi pengetahuan tentang realitas Tuhan.(Syihab, : 64) Dr Mahdi Ghulsyani yang dinukil oleh Zubair (2002: 120-123) membagi ayat-ayat dalam al-Quran yang berisi agar manusia dengan pengetahuannya memikirkan alam semesta sebagai jalan untuk mengenal Allah menjadi 8 bagian yaitu: 1. Ayat-ayat yang menggambarkan elemen-elemen pokok obyek atau menyuruh manusia untuk menyingkapkannya. Misalnya: QS. At-Thariq 5 dan QS. Al-Insan 2.

Maka hendaklah manusia memperhatikan dari apakah dia diciptakan?

11

2.

Ayat-ayat

yang

mencakup

masalah

cara

penciptaan obyek-obyek material dan menyuruh manusia menyingkap asalusulnya. Misalnya: QS. Huud 7,QS. Al-Muminuun 12-14, QS. Al-Anbiya 30, QS. Lukman 10, dan QS. Al-Ghasyiyah 17-20 3. Baqarah 164. 4. 76. dan QS. Ath-Thariq 1-3. 5. Ayat-ayat yang dengan merujuk beberapa gejala alam menjelaskan kemungkinan terjadinya hari kebangkitan. Misalnya: QS. Al-Hajj 5. QS. Yaasin 81 dan QS. Ar-Rum 19.Misalnya QS. An-Naml 88, 6. Ayat-ayat yang menekankan kelangsungan dan keteraturan penciptaan Allah Al-Mulk 3-4, QS. Al-Hijr 19, QS. Al-Furqan 2, QS. Az_zumar 5 dan QS. Al-Anbiya 16. 7. 8. Ayat-ayat yang menyuruh manusia menyingkap Ayat-ayat yang menjelaskan keharmonisan bagaimana alam semesta ini berwujud. Misalnya: QS. Al-Ankabut 20 keberadaan manusia dengan alam semesta. Misalnya: QS.al-Baqarah 29, QS. An-Nahl 5 dan QS. Al-Hadid 25. Ayat-ayat diatas semuanya menggambarkan bahwa segala sesuatu yang ada di alam raya ini telah dimudahkan untuk dimanfaatkan manusia. Dan manusia diperintah untuk memikirkannya dengan tujuan melalui tafakkur manusia dapat menghasilkan sains dan tehnologi yang berguna dan bermanfaat bagi manusia. Dengan demikian tanpa ragu dapat dikatakan bahwa al-quran membenarkan bahkan mewajibkan usaha-usaha pengembangan ilmu pengetahuan dan tehnologi selama ia membawa manfaat bagi manusia. Ayat-ayat yang menunjukkkan bahwa Allah bersumpah atas berbagai obyek alam. QS. As-Syams 1-6. QS. Al-Waqiah 75Ayat-ayat yang menyuruh manusia mempelajari gejala-gejala alam. Misalnya QS. Az-Zumar 21, QS. Ar-Rum 48 dan QS. Al-

12

4.

Tauhid sebagai Sumber dan Semangat Ilmiah Dalam pengertiannya yang sederhana, tauhid berarti keesaan Tuhan.

Tauhid merupakan formulasi kepercayaan atau keyakinan tentang Tuhan yang tunggal pada berbagai aspek dan dimensinya. Tauhid memiliki kesamaan makna dengan monoteisme (Rahman, 1999: 83). Maka, sesuatu yang benar-benar doktrinal dalam ajaran Islam ialah Tuhan dalam kategori oneness, uniqueness dan transcendence. Dengan demikian, Tuhan merupakan eksistensi yang berbeda dengan segala bentuk eksistensi yang dapat dikenal atau dapat diimajinasikan manusia. Allah Maha Besar (Allahu Akbar), misalnya, merupakan konsepsi tentang Tuhan yang indefinite atau yang tak terbatas kebesarannya serta tak dapat ditandingi oleh kedahsyatan benda, materi atau wujud apa pun dalam realitas hidup manusia. Dengan tauhid, timbul pengakuan bahwa Allah Maha Pencipta segalanya (Anwari, 2009) Osman Bakar (2008: 68) menyatakan bahwa kesadaran beragama orang Islam pada dasarnya adalah kesadaran akan keesaan Tuhan. Semangat ilmiah tidak bertentangan dengan kesadaran religius, karena ia merupakan bagian yang terpadu dengan keesaan Tuhan itu. Memiliki kesadaran akan keesaan Tuhan berarti meneguhkan kebenaran bahwa Tuhan adalah satu dalam Esensi-Nya, Nama-Nya, sifat-Nya dan perbuatan-Nya. Konsekuensi penting dari pengukuhan kebenaran sentral ini adalah harus menerima realitas obyektif kesatuan alam semesta. Al-Quran dengan tegas menyatakan bahwa kesatuan kosmis merupakan bukti yang jelas akan keesaan Tuhan. Hal fundamental yang kemudian menarik ditelaah sebagai konsekuensi logis dari ajaran tauhid ialah perkembangan sains, sebagaimana pernah terjadi dalam sejarah Islam selama kurun waktu abad ke-7 hingga abad ke-13. Dengan berpijak pada perspektif tauhid, dinamika perkembangan Islam selama kurun waktu tersebut benar-benar diwarnai oleh besarnya perhatian terhadap sains. Bagaimana ajaran tauhid memiliki hubungan yang erat dengan perkembangan dan kemajuan sains, semuanya kembali pada hakikat tauhid itu sendiri. Bahwa dengan

13

tauhid,

terbentuk

pandangan

dunia

(Weltanschauung)

manusia

yang

menempatkan segenap hal ihwal di luar Tuhan Yang Maha Esa sebagai sesuatu yang serba nisbi dan tak abadi. Kalimah La ilaha illa Allah (tiada Tuhan selain Allah) memang merupakan pernyataan tauhid yang singkat, namun maknanya mendalam dan memiliki dampak sosial-politik yang sangat dinamis dan progresif (Siroj, 2006: 59). Melalui kalimah tauhid ini, semua bentuk dan jenis kekuasaan apa pun di muka bumi haruslah dinegasikan. Hanya Allah, Tuhan yang memiliki kekuasaan mutlak; selain-Nya bersifat nisbi (Siroj, 2006: 59-60). Tauhid sebagai landasan pijak pengembangan sains dapat dilacak geneologinya pada terbentuknya konsepsi tentang Tuhan dalam pengertian yang spesifik. Bahwa Tuhan adalah pengetahuan tentang alam semesta sebagai salah satu efek tindak kreatif Ilahi (Bakar, 1991: 74). Pengetahuan tentang hubungan antara Tuhan dan dunia, antara Pencipta dan ciptaan, atau antara prinsip Ilahi dengan manifestasi kosmik, merupakan basis paling fundamental dari kesatuan antara sains dan pengetahuan spiritual (Bakar, 1991: 74). Berilmu pengetahuan menurut Islam sama maknanya dengan: (1) Menyatakan ketertundukan pada tauhid, dan (2) elaborasi pemahaman secara saintifik terhadap dimensi-dimensi kosmik alam semesta. Itulah mengapa, Al Quran kemudian berperan sebagai sumber intelektualitas dan spiritualitas Islam (Baiquni, 1995: 9-62). Al Quran berfungsi sebagai basis bukan hanya bagi agama dan pengetahuan spiritual, tetapi bagi semua jenis pengetahuan. Al Quran sebagai kalam Allah merupakan sumber utama inspirasi pandangan Muslim tentang keterpaduan sains dan pengetahuan spiritual (Purwanto, 2008: 188-194). Gagasan keterpaduan ini bahkan merupakan konsekuensi dari gagasan keterpaduan semua jenis pengetahuan (Bakar,1991:74). Sains dalam formulasi tauhid, termaktub ke dalam narasi kalimat sebagai berikut: Manusia memperoleh pengetahuan dari berbagai sumber dan melalui berbagai cara dan jalan. Tetapi semua pengetahuan pada akhirnya berasal dari Tuhan yang Maha mengetahui. Menurut pandangan Al Quran, pengetahuan manusia tentang benda-benda maupun hal-hal ruhaniah menjadi mungkin karena

14

Tuhan telah memberinya fakultas-fakultas yang dibutuhkan untuk mengetahui. Banyak filosof dan ilmuwan Muslim berkeyakinan bahwa dalam tindakan berpikir dan mengetahui, akal manusia mendapatkan pencerahan dari akal Ilahi (Bakar, 1991:74) Sains dalam formulasi tauhid yang sedemikian rupa itu menegaskan satu hal, bahwa ilmu pengetahuan, filsafat dan berbagai hal yang terkait dengan semua itu sesunguhnya berada di wilayah Ketuhanan. Manusia takkan mampu menguasai semua itu jika dan bilamana tak ada kehendak untuk masuk ke dalam wilayah Ketuhanan. Dan hanya dengan tauhid manusia mampu menyentuh, mengetuk serta masuk ke dalam wilayah Ketuhanan yang di dalamnya terdapat khazanah keilmuan yang tiada batas. Berkenaan dengan ilmu pengetahuan yang berada di wilayah Ketuhanan, Nasr (1997) menggunakan istilah yang tepat: scientia sacra. Istilah ini digunakan untuk mengingatkan bahaya desakralisasi yang sedemikian jauh menghantam dan memporak-porandakan ilmu pengetahuan. Desakralisasi dapat disimak ke dalam perkembangan mutakhir ilmu pengetahuan, yaitu sejak sekitar permulaan abad ke-17. Padahal, sampai kapanpun, sains tetap bersemayam di dalam wilayah Ketuhanan. Persis sebagaimana termaktub dalam ajaran tauhid, hanya Tuhan yang merupakan sumber lahirnya ilmu pengetahuan. Siapa pun manusia, memang memiliki kebebasan untuk mempelajari disiplin ilmu pengetahuan apa pun serta mengembangkan sains apa pun. Tetapi manakala tidak mendapatkan restu dari Tuhan, maka upaya memahami ilmu pengetahuan dan sains bakal melalui jalan berliku yang rumit. Upaya seksama memelihara tauhid, dengan sendirinya merupakan kehendak untuk menjaga agar manusia terus-menerus berilmu pengetahuan. Desakralisasi ilmu pengetahuan merupakan gejala ketika sains ditahbiskan tidak lagi berasal dari Tuhan. Sains lalu dimengerti sebagai hasil dari setiap upaya manusia yang tak ada hubungannya dengan Tuhan. Maka, hanyalah persoalan waktu jika kemudian sains berubah fungsi untuk sekadar menjadi

15

instrumen perluasan antropologisme manusia. Ketika dengan ilmu pengetahuan manusia kehilangan dimensi Ketuhanan, maka dengan sendirinya sangatlah mudah bagi manusia untuk menjadikan sains sebagai alat pemukul demi mengalahkan orang lain dalam pergumulan memperebutkan materi dan kekuasaan politik. Sains lalu menjadi bagian tak terpisahkan dari teknikalitas manusia untuk menipu manusia lain. Tentang hal tersebut Nasr menulis: Kini manusia modern telah kehilangan sense of wonder, yang mengingatkan lenyapnya pengertian tentang kesucian pada suatu tingkat di mana manusia mendasarkan eksistensinya pada ilmu pengetahuan (Nasr,1997:2). Tauhid sebagai sumber kelahiran sains lalu memiliki makna yang dalam untuk menyelamatkan manusia dari kehancuran akibat kemajuan sains itu sendiri. Jalan manusia untuk menggapai ilmu pengetahuan dimulai dari adanya pengakuan adanya yang absolut (Nasr, 1997: 3). Scientia sacra membawa manusia pada kebebasan dari semua kunkungan (Nasr, 1997: 357). Sebab, Yang Suci itu tidak lain adalah Tak Terbatas dan Abadi. Sementara, semua kungkungan dihasilkan dari kelalaian yang mewarnai realitas akhir dan tak dapat direduksi menjadi keadaan kosong sama sekali dari kebenaran (Nasr,1997:357). Sebagai penutup dalam pembahasan ini, Osman Bakar (2008: 68) menyatakan bahwa kesadaran beragama orang Islam pada dasarnya adalah kesadaran akan keesaan Tuhan. Semangat ilmiah tidak bertentangan dengan kesadaran religius, karena ia merupakan bagian yang terpadu dengan keesaan Tuhan itu. Memiliki kesadaran akan keesaan Tuhan berarti meneguhkan kebenaran bahwa Tuhan adalah satu dalam Esensi-Nya, Nama-Nya, sifat-Nya dan perbuatan-Nya. Konsekuensi penting dari pengukuhan kebenaran sentral ini adalah harus menerima realitas obyektif kesatuan alam semesta. Al-Quran dengan tegas menyatakan bahwa kesatuan kosmis merupakan bukti yang jelas akan keesaan Tuhan. C. KESIMPULAN

16

1.

Ilmu Pengetahuan merupakan fenomena kemanusiaan

sebagai anugerah Allah yang melekat pada dirinya semenjak dia diciptakan. Berkat ilmunya manusia menduduki derajat yang lebih tinggi dibanding makhluk lainnya dan dengan ilmunya pula manusia dapat menjalankan perannya sebagai khalifah Allah di Bumi. 2. Dalam perspektif Islam ilmu memiliki kedudukan sebagai bagian dari agama dan berfungsi sebagai petunjuk kepada kebenaran, pembebas dari kebodohan dan untuk memperoleh kemuliaan di sisi Allah dan kesejahteraan hidup di dunia dan akhirat. 3. Dalam konsep Islam ilmu menjadi jalan menuju keimanan. Ilmu yang membuahkan keimanan selanjutnya melahirkan sifat khusyu dan tawadhu kepada Allah. Oleh sebab itu ilmu, iman dan amal harus dilaksanakan secara simultan dan menjadi kepribadian Muslim. 4. Al-Quran merupakan sumber intelektualitas dan spiritualitas Islam. Ia merupakan basis bukan hanya bagi agama dan pengetahuan spiritual tetapi bagi semua jenis pengetahuan. Ia merupakan sumber utama inspirasi pandangan Muslim tentang keterpaduan sains dan pengetahuan spiritual 5. Kesadaran religius terhadap tauhid merupakan sumber dari semangat ilmiah dalam seluruh wilayah pengetahuan. D. PENUTUP Dengan berbagai paparan diatas jelaslah bagi kita bahwa tugas intelektual kita semua adalah mengembangkan ilmu pengetahuan yang dapat mengantarkan manusia kepada pemahaman bahwa ilmu pengetahuan hanyalah salah satu upaya manusia menemukan kebenaran hakiki dan mendekatkan diri kepada Allah. Dan berlandaskan pada keyakinan yang kuat akan ketauhidan Allah menjadi pemacu semangat untuk mengembangkan dan mengamalkan ilmu. Agar

17

kita semua menjadi hamba Allah yang mengabdi kepadanya dengan beramal ilmiyah dan berilmu amaliyah. Demikianlah uraian penulis mengenai Tauhid dan Sains. Dengan penuh kerendahan hati sebagai akibat dari keterbatasan pengetahuan dan pengalaman, penulis yakin bahwa makalah ini masih penuh dengan kekurangan. Oleh karena itu, saran dan kritik yang membangun sangat penulis harapkan. Dan semoga karya kecil ini dapat bermanfaat. Amiin.

Umi Rohil Jepara, 18 Mei 2010

18

DAFTAR PUSTAKA Ali, Ashghar Engineering, 1993, Islam dan Pembebasan, terjemahan, Yokyakarta: LKIS Anwari, 2009, Tauhid dan Kemajuan Sains, http://warungpojokfilsafat.blogspot.com Bakar, Osman, 1991, Tauhid dan Sains: Esensi-esensi tentang Sejarah dan Filsafat Sains Islam, Jakarta: Pustaka Hidayah. Terjamahan Yuliani Liputo dari judul asli Tawhid and Science: Essays on the History and Philosophy of Islamiv Science ----------------, 2008, Tauhid dan Sains: Perspektif Islam tentang agama dan Sains, Bandung: Pustaka Hidayah. Hawwa, Said, 2005, Allah Subhanahu wa Taala, terj. Abdul Hayyi al-Kattani, Jakarta: Gema Insani Pers Madjid, Nurcholish, 1995, Islam, Doktrin dan Peradaban: Sebuah Telaah Kritis tentang Masalah Keimanan, Kemanusiaan, dan Kemodernan. Jakarta: Yayasan Wakaf Paramadina. Cetakan ke-3. Majid, Abdul dkk, 1997, Mukjizat Al-Quran dan As-Sunnah tentang IPTEK, Jakarta: Gema Insani Press Nasr, Seyyed Hossein. (1997). Pengetahuan dan Kesucian. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Terjamahan Suharsono et.al. dari judul asli Knowledge and the Cecred. Pasya, Dr Ahmad Fuad, 2004, Dimensi Sains Al-Quran Menggali Ilmu Pengetahuan dari Al-Quran, Solo: Tiga Serangkai. Purwanto, Agus, 2008, Ayat-ayat Semesta: Sisi-sisi Al Quran yang Terlupakan. Bandung: Mizan

19

Rahman, Fazlur. (1999). Major Themes of the Quran. Kuala Lumpur: Islamic Book Trust. Siroj, Said Aqil. (2006). Tasawuf sebagai Kritik Sosial: Mengedepankan Islam sebagai Inspirasi, Bukan Aspirasi. Bandung: Mizan. Syariati, Ali. (1992). Humanisme: Antara Islam dan Mahzab Barat. Jakarta: Pustaka Hidayah. Terjamahan Afif Muhammad dari judul asli Al-Insan, Al-Islam wa Madaris Al-Gharb Syihab, Quraish, 1992 , Membumikan Alquran, Bandung: Mizan Zainuddin, 2006, Filsafat Ilmu Perspektif Pemikiran Islam, Jakarta: Lintas Pustaka Zubair, Ahmad Charris, 2002, Dimensi Etik dan Asketik Ilmu Pengetahuan Manusia, Yokyakarta: LESFI (Lembaga Studi Filsafat Islam)

20