Anda di halaman 1dari 7

Fotogrametri atau aerial surveying adalah teknik pemetaan melalui foto udara.

Hasil pemetaan secara fotogrametrik berupa peta foto dan tidak dapat langsung dijadikan dasar atau lampiran penerbitan peta. Pemetaan secara fotogrametrik tidak dapat lepas dari referensi pengukuran secara terestris, mulai dari penetapan ground controls (titik dasar kontrol) hingga kepada pengukuran batas tanah. Batas-batas tanah yang diidentifikasi pada peta foto harus diukur di lapangan.
http://id.wikipedia.org/wiki/Fotogrametri

Definisi Fotogrametri Fotogrametri merupakan seni, ilmu, dan teknologi perolehan informasi tentang obyek fisik dan lingkungan melalui proses perekaman, pengukuran, dan penafsiran foto udara (Thomson dan Gruner, 1980). Istilah Fotogrametri berasal dari kata photos (=sinar), gramma (=sesuatu yang tergambar) dan metron (=mengukur). Secara sederhana maka fotogrametri dapat diartikan sebagai "pengukuran secara grafis dengan menggunakan sinar". Dari definisi tersebut dapat dimengerti bahwa fotogrametri meliputi (Wolf, 1983) : -Perekaman obyek (pemotretan) -Pengukuran gambar obyek pada foto udara -Pemotretan hasil ukuran untuk dijadikan bentuk yang bermanfaat (Peta). Garis besar Proses Fotogrametri

...Diagram...

a. Persiapan Secara teknis dalam kegiatan persiapan di lakukan " - Perencanaan pemotretan - Perencanaan Pengukuran dan Penandaan titik kontrol tanah (premarking) b. Premarking/Penandaan titik kontrol tanah Sebelum dilakukan pemotretan pada setiap titik kontrol tanah yang ada harus diberi tanda (premark). Hal ini dimaksudkan supaya pada foto udara hasil pemotretan nantinya akan dapat ditemukan titik-titik kontrol tanah tersebut. Hal ini sangat penting artinya dalam pekerjaan triangulasi udara. c. Pengukuran titik kontrol tanah Titik kontrol tanah yang telah ditandai kemudian diukur untuk mengetahui koordinatnya, baik koordinat planimetri (X,Y) maupun tinggi (Z). Biasanya untuk daerah datar cukup diukur koordinat planimetrinya, sedangkan untuk daerah bergunung selain koordinat planimetri juga harus diukur tingginya. Koordinat

titik kontrol tanah ini diperlukan untuk proses triangulasi udara. d. Pemotretan Pemotretan dilakukan sesuai dengan perencanaan pemotretan. Dari hasil pemotretan diperoleh foto udara dari daerah yang akan dipetakan. Foto udara yang dihasilkan dapat dapat diketahui baik tidaknya dari kualitas ketajaman dan kesempurnaan overlap dan sidelapnya. Biasanya foto udara mempunyai overlap 60% dan sidelap 30%, dan untuk keperluan tertentu bisa dibuat dengan overlap 80% dan sidelap 60% e. Triangulasi Udara Untuk keperluan proses penyeragaman skala pada setiap foto udara harus terdapat sejumlah titik kontrol tanah. Mengingat pekerjaan fotogrametri meliputi daerah yang luas dan meliputi jumlah foto yang sangat banyak, maka pengadaan titik kontrol tanahnya dilakukan dengan cara triangulasi udara. Secara sederhana triangulasi udara merupakan proses transformasi dari koordinat yang diukur di foto ke koordinat tanah dengan bantuan titik kontrol tanah dengan bantuan titik kontrol tanah hasil (c). f. Proses restitusi Proses ini secara sederhana dapat dikatakan sebagai proses penyeragaman skala, dari foto udara yang tidak seragam skalanya menjadi peta/foto yang seragam skalanya. Untuk daerah datar biasa dilakukan dengan cara restitusi foto tunggal, dan disebut sebagai proses rektifikasi, hasilnya berupa foto terrektifikasi. Untuk daerah bergunung dilakukan dengan cara restitusi foto stereo, yang meliputi pekerjaan orientasi model dan dilanjutkan dengan proses plotting atau orthophoto, hasilnya bisa berupa manuskrip peta garis atau porthophoto. g. Mosaik Secara sederhana dapat dikatakan sebagai proses penyambungan foto, sehingga diperoleh format ukuran yang lebih luas. Dalam rangkaian pekerjaan pemetaan fotogrametri, yang dibuat mosik adalah foto terrektifikasi atau orthophoto, dan dikontrol dengan adanya titik ikat. Istilah yang lebih tepat sering disebut mosaik terkontrol. h. Interpretasi foto Informasi tekstual (tutupan lahan) dari daerah yang dipotret, yang akan disajikan sebagai keterangan pada petatidak mungkin untuk didata langsung dilapangan, melainkan diperoleh dengan cara diinterpretasikan melalui foto udara. Keyakinan hasil interpretasi biasanya cukup berdasarkan kunci-kunci interpretasi, akan tetapi kadang-kadang harus diuji kebenarannya dengan melakukan identifikasi lapangan. i. Kartografi Untuk menyajikan peta, baik peta garis maupun peta foto dalam bentuk yang baku lengkap dengan informasi peta yang diperlukan, maka harus melalui

tahapan pekerjaan kartografi. j. Peta garis dan Peta Foto Peta garis dan peta foto merupakan produk akhir dari pemetaan fotogrametri. Pada peta garis detil-detil di lapangan digambarkan dalam bentuk simbol-simbol, sedangkan pada peta foto terekam sebagai citra foto. http://geomaticsandsurveying.blogspot.com/2010/02/fotogrametri.html

Mengenal GLOBAL POSITIONING SYSTEM (GPS)

Banyak hal yang dibahas dalam bidang kehutanan terkhusus untuk hal geodesi dan kartografi. sebelumnya saya juga sudah membuat rangkuman tentang "penyajian peta". Global positioning system (GPS) adalah sistem satelit dan penentuan posisi yang dimiliki dan dikelola oleh Amerika Serikat. Sistem ini di desain untuk memberikan posisi dan kecepatan tiga dimensi serta informasi mengenai waktu, secara kontinu di seluruh dunia tanpa bergantung pada waktu dan cuaca. Ada beberapa hal yang membuat GPS menarik untuk digunakan dalam penentuan posisi, seperti yang akan dijelaskan sebagai berikut. 1. GPS dapat digunakan setiap saat tanpa bergantung waktu dan cuaca. GPS dapat digunakan baik pada siang maupun malam hari, kondisi cuaca yang buruk sekalipun seperti hujan atau kabut. 2. Satelit GPS memiliki keorbitan yang cukup tinggi, yaitu sekitar 20.000km diatas permukaan bumi, dan jumlahnya relative banyak, yaitu 24 satelit. Sehingga GPS mencakup wilayah yang cukup luas, sehingga dapat digunakan orang banyak dalam waktu yang bersamaan. 3. Penggunaan GPS dalam penentuan posisi tidak terlalu terpengaruh dengan kondisi topografis daerah survey dibandingkan dengan metode terestris seperti pengukuran polygon. Penentuan posisi dengan posisi GPS tidak memerlukan adanya saling keterlihatan antara satu titik dengan titik lainnya seperti pada umumnya yang dituntut oleh metode-metode pengukuran terestris. 4. Posisi yang ditentukan GPS akan mengacu pada suatu datum global yang dinamakan WGS 1984, atau dengan kata lain posisi yang diberikan oleh GPS mengacu pada datum yang sama. 5. GPS dapat memberikan ketelitian posisi yang spektrumnya cukup luas. Dari yang sangat teliti (orde millimeter) sampai yang biasa saja. Disamping itu, dibandingkan dengan metode penentuan posisi genetik lainnya, GPS juga mempunyai kinerja yang cukup baik penentuan posisi. 6. Pemakaian sistem GPS tidak dikenakan biaya, setidaknya sampai saat ini. Selama pengguna memiliki alat penerima (receiver) sinyal GPS maka yang bersangkutan bisa menggunakan GPS untuk berbagai aplikasi. 7. Alat penerima sinyal (receiver) GPS cenderung menjadi lebih kecil ukurannya, lebih murah harganya, lebih baik kualitas data yang diberikan dan lebih tinggi keandalannya.

8. Pengoperasian GPS untuk penentuan posisi suatu titik relative mudah dan tidak mengeluarkan banyak tenaga. Dibandingkan dengan pengukuran terestris seperti pada metode polygon. 9. Pengumpul data (surveyor) GPS tidak dapat memanipulasi data pengamatan seperti halnya yang dapat dilakukan pada metode pengumpulan data terestris. 10. Makin banyak instansi di Indonesia yang menggunakan GPS juga makin banyak bidang aplikasi yang potensial di Indonesia yang dapat ditangani dengan menggunakan GPS. Hal dan keterbatasan yang harus diperhatikan dalam menggunakan GPS, yaitu: 1. Agar alat penerima sinyal GPS dapat menerima sinyal GPS maka tidak boleh ada penghalang antara alat penerima tersebut dengan satelit yang bersangkutan. Ini harus diperhatikan terutama daerah perkotaan yang dipenuhi dengan gedung-gedung tinggi. 2. Datum penentuan posisi yang digunakan oleh GPS adalah WGS 1984. Seandainya posisi harus dipresentasikan dalam datum lainnya, maka diperlukan proses transformasi koordinat dari datum WGS 1984 ke datum yang bersangkutan. 3. Komponen tinggi dari koordinat tiga dimensi yang diberikan oleh GPS adalah tinggi yang mengacu ke permukaan ellipsoid, yaitu ellipsoid GRS (geodetic reference system) 1980. 4. Pada surfei penentuan penentuan posisi dengan GPS, pemoresesan data GPS dan penganalisaan hasilnya bukanlah suatu hal yang mudah. Meskipun proses pegnumpulan data dengan GPS relative mudah, pemoresesan data yang diperoleh serta penganalisaan parameter-parameter yang didapat bukanlah suatu pekerjaan yang mudah terutama jika kita menginginkan keakuratan yang tinggi. 5. Karena GPS merupakan teknologi yang relative baru, maka sumberdaya manusia yang menguasai masalah teknologi ini di Indonesia relative sedikit.
http://dony.blog.uns.ac.id/2010/05/26/fotogrametri/

Garis Kontur
Garis Kontur Garis kontur adalah garis yang menghubungkan titik-titik yang mempunyai ketinggian yang sama terhadap suatu bidang referensi, digambarkan di peta Tinggi garis kontur ditentukan terhadap muka air laut rata-rata (MSL) Penggambaran garis kontur di peta untuk menunjukkan (relief) permukaan bumi Garis kontur tidak pernah berpotongan Sifat-sifat Kontur 1. Merupakan garis yang kontinyu (SMOOTH), bukan DISKRET 2. Tidak berpotongan 3. Tidak bercabang 4. Tidak bersilangan 5. Jarak antara garis kontur semakin jarang/lebar, Topografi semakin datar 6. Jarak antara garis kontur semakin rapat, Topografi semakin uram/terjal 7. Untuk lembah dan punggung bukit ,bentuk kontur cenderung berbentuk huruf V

http://geomaticsandsurveying.blogspot.com/2009/12/garis-kontur.html

KARTOGRAFI
Kartografi adalah ilmu dan teknik pembuatan peta (Prihandito, 1989). Dalam kaitannya dengan survei arkeologi, pembahasan mengenai kartografi pada bab ini tidak langsung dikaitkan dengan ilmu dan teknik pembuatan peta, tetapi lebih berkaitan dengan pemanfaatan peta yang sudah dipublikasikan untuk kepentingan survei. Ulasan tentang teknik pemetaan secara garis besar sudah dibahas dalam Bab II. Mengingat peta termasuk sebagai perlengkapan utama dalam kegiatan survei arkeologis, maka bab ini selain membahas pemanfaatan peta untuk survei arkeologis, juga akan membahas tentang jenis-jenis peta dan teknik pembacaan peta. Pemanfaatan peta yang dikemukakan dalam bab ini dapat melengkapi Pengumpulan Informasi untuk Interpretasi yang dijelaskan di Bab IV dan survei situs arkeologis yang dijelaskan di Bab VII, VIII, dan IX. Tujuan Instruksional Khusus Setelah mengikuti kuliah ini (akhir pertemuan VIII) mahasiswa akan dapat menggunakan peta yang sudah diterbitkan untuk keperluan survei arkeologis.

PENYAJIAN 1. Pengenalan Jenis-jenis Peta Peta dapat diklasifikasikan menurut jenis, skala, fungsi, dan macam persoalan (maksud dan tujuan). Ditinjau dari jenisnya peta dapat dibedakan menjadi dua, yaitu peta foto dan peta garis. Peta foto adalah peta yang dihasilkan dari mosaik foto udara / ortofoto yang dilengkapi garis kontur, nama, dan legenda (Prihandito 1989: 3). Peta ini meliputi peta foto yang sudah direktifikasi dan peta ortofoto. Adapun peta garis adalah peta yang menyajikan detil alam dan buatan manusia dalam bentuk titik, garis, dan luasan (Prihandito 1989: 3). Peta ini terdiri atas peta topografi dan peta tematik. Ditinjau dari skalanya, peta dapat dibedakan menjadi peta skala besar (1:50.000 atau lebih kecil, misalnya 1:25.000) dan peta skala kecil (1:500.000 atau lebih besar). Adapun menurut klasifikasi berdasarkan fungsi, terdapat tiga macam peta, yaitu: Peta umum, yang antara lain memuat jalan, bangunan, batas wilayah, garis pantai, dan elevasi. Peta umum skala besar dikenal sebagai peta topografi, sedangkan yang berskala kecil berupa atlas; Peta tematik, yang menunjukkan hubungan ruang dalam bentuk atribut tunggal atau hubungan atribut; dan

Kart, yang didesain untuk keperluan navigasi, nautical dan aeronautical (Prihandito 1989: 3-4).

Adapun peta yang dapat diklasifikasikan menurut macam persoalan (maksud dan tujuan), antara lain meliputi: peta kadaster, peta geologi, peta tanah, peta ekonomi, peta kependudukan, peta iklim, dan peta tata guna tanah (Prihandito 1989: 4). Di antara macam-macam peta peta tersebut, yang sering digunakan dalam survei arkeologi adalah peta topografi. Peta topografi adalah peta yang menampilkan, semua unsur yang berada di atas permukaan bumi, baik unsur alam maupun buatan manusia, sehingga disebut juga peta umum. Unsur alam antara lain meliputi: relief muka bumi, unsur hidrografi (sungai, danau, bentuk garis pantai), tanaman, permukaan es, salju, dan pasir (Prihandito 1989: 23; Hascaryo dan Sonjaya 2000: 10). Adapun unsur buatan manusia di antaranya adalah: sarana perhubungan (jalan, rel kereta api, jembatan, terowongan, kanal), konstruksi (gedung, bendungan, jalur pipa, jaringan listrik), daerah khusus (daerah yang ditanami tumbuhan, taman, makam, permukiman, lapangan olah raga), dan batas administratif (Prihandito 1989: 22; Hascaryo dan Sonjaya 2000: 10). Tinggalan-tinggalan arkeologis atau bersejarah seperti bangunan megalitik, candi, gereja, dan reruntuhan bangunan kuna, seringkali juga ditampilkan dalam peta topografi (lihat McIntosh, 1986: 44). Selain menyajikan data keruangan, peta topografi juga memuat data nonkeruangan, antara lain grid, graticul (garis lintang dan bujur), arah utara, skala, dan legenda (keterangan mengenai simbol-simbol yang digunakan pada peta) (Prihandito 1989: 117-120; Hascaryo dan Sonjaya 2000: 10; lihat gambar V.1). 2. Pemanfaatan Peta Peta topografi dapat digunakan untuk berbagai macam tujuan, serta dapat digunakan sebagai peta dasar (base map) dalam pembuatan peta tematik, seperti peta arkeologi dan peta turis (lihat Prihandito 1989: 17). Dalam survei arkeologi, peta topografi berguna untuk memperoleh gambaran umum tentang wilayah yang diteliti. Dalam kondisi tertentu, misalnya medan survei yang terlalu berat, peta yang sudah ada dapat dipakai untuk memplotkan temuan arkeologis. Pemetaan tersebut, meskipun hanya bersifat sementara, sangat efektif untuk menyimpan dan menyelamatkan data arkeologis (Hascaryo dan Sonjaya 2000: 1).

Data dari peta topografi yang diambil untuk membuat peta arkeologi hanya satu atau dua unsur saja, tergantung dari skala dan tujuan pembuatan peta arkeologi itu. Data tersebut digunakan sebagai latar belakang penempatan dan orientasi secara

geografis. Selain peta topografi, yang dapat digunakan sebagai peta dasar antara lain adalah foto udara, peta geologi, dan peta administratif (Hascaryo dan Sonjaya 2000: 10). Besar skala peta dasar yang dibutuhkan untuk membuat peta arkeologi tergantung pada luas wilayah yang akan dipetakan, yaitu: wilayah seluas provinsi memerlukan peta dasar berskala 1:100.000 sampai dengan 1:250.000; wilayah seluas kabupaten memerlukan peta dasar berskala 1:50.000 sampai dengan 1:100.000; wilayah setingkat kecamatan, desa, atau situs memerlukan peta dasar berskala 1:10.000 sampai dengan 1:25.000 (Wasisto 1998, dikutip dalam Hascaryo dan Sonjaya 2000: 10). Latihan Berdasarkan peta topografi yang tersedia, berikan penjelasan tentang: nomor grid peta besar skala data arkeologis yang dimuat dalam peta nama tempat (toponim) yang menurut anda berkaitan dengan sejarah, peristiwa, kegiatan, atau status sosial tertentu. Rangkuman Pengertian kartografi secara luas adalah ilmu dan teknik pembuatan peta. Peta topografi adalah peta yang menampilkan semua unsur yang berada di atas permukaan bumi, baik unsur alam maupun buatan manusia. Peta topografi disebut juga peta umum atau peta dasar, dan dari peta ini dapat diciptakan peta tematik, seperti peta arkeologi.

http://geomaticsandsurveying.blogspot.com/2009/11/kartografi.html