Anda di halaman 1dari 5

LANDASAN TEORI

Gugus funsional sebagai ciri utama suatu senyawa organik yang pada dasarnya dapat diketahui secara jelas dengan mengelompokkan molekul-molekul tersebut saling berkaitan sehingga sulit untuk membahas suatu gugus fungsional tanpa menyinggung gugus fungsional yang lainnya. Tetapi secara sederhana dapat dikatakan bahwa gugus fungsional adalah suatu atom-atom, gugus atom dalam suatu senyawa organik yang boleh dikatakan paling menentukan sifat zat tersebut (Arsyad, 2001:126).

Meskipun ikatan karbon-karbon dan ikatan karbon-hidrogen adalah umum untuk semua senyawa organik, namun yang mengherankan adalah bahwa ikatan-ikatan ini besarnya tidak memegang peranan yang penting dalam senyawa organik, untuk sebagian besar adalah adanya ikatan atom lain dalam suatu struktur organik yang menimbulkan kereaktifan. Kedudukan kereaktifan kimia dalam molekul disebut gugus fungsi. Senyawa dengan gugus fungsi yang sama cenderung mengalami suatu reaksi kimia yang sama. Karena kesamaan dalam kereaktifan diantara senyawa dengan gugus fungsi yang sama maka lebih mudah untuk menggunakan rumus umum untuk deret senyawa ini. Biasanya suatu gugus yang hanya mengandung atom C ditambah atom H, dapat digunakan untuk menyatakan gugus lainnya. Dengan tehnik inilah suatu alkohol dapat dinyatakan sebagai R-OH (Fessenden, 1982:83).

F. PEMBAHASAN Gugus fungsi adalah kelompok gugus khusus pada atom dalam molekul, yang berperan dalam memberi karakteristik reaksi kimia pada molekul tersebut. Senyawa yang bergugus fungsional sama memiliki reaksi kimia yang sama atau mirip. Gugus tersebut saling berkaitan sehingga sulit untuk membahas suatu gugus fungsional tanpa menyinggung gugus fungsional yang lainnya. Tetapi secara sederhana dapat dikatakan bahwa gugus fungsional adalah gugus suatu atom-atom dalam suatu senyawa organik yang dapat dikatakan paling menentukan sifat zat tersebut atau gugus fungsi adalah sekelompok atom yang menyebabkan perilaku kimia molekul induk. Molekul berbeda yang mengandung gugus (atau gugus-gugus) fungsi yang sama mengalami reaksi yang serupa.

Jadi, dengan mempelajari sifat-sifat-sifat khas beberapa gugus fungsi, kita dapat belajar dan memahami sifat-sifat dari banyak senyawa organik.Semua senyawa organik merupakan turunan dari golongan senyawa yang dikenal sebagai hidrokarbon sebab senyawa tersebut terbuat hanya dari hidrogen dan karbon. Berdasarkan strukturnya, hidrokarbon dibagi menjadi dua golongan utama, yaitu alifatik dan aromatik. Hidrokarbon alifatik tidak mengandung gugus benzena atau cincin benzena, sedangkan hidrokarbon aromatik mengandung satu atau lebih cincin benzena. Dalam percobaan ini, kita menggunakan berbagai senyawa untuk menguji keberadaan suatu gugus dalam senyawa organik tertentu. Uji-uji yang diberikan yaitu reaksi terhadap gugus hidroksil, reaksi terhadap gugus karbonil pada keton dan Aldehid dan Reaksi pada gugus amina dan amida. Reaksi terhadap gugus hiroksil dilakukan dengan tiga cara yaitu : Reaksi lucas, reaksi warna dan reaksi warna lain untuk mengetahui kecepatan reaksi yang terjadi diantara ketiga alcohol tersebut. Alkohol adalah devirat hidrokarbon yang molekulnya mengandung satu gugus hidroksil (-OH) atau lebih sebagai ganti atom hydrogen. Alkohol, selain methanol, dapat dikelompokkan sebagai primer, sekunder dan tersier, bergantung pada banyaknya atom karbon yang terikat pada atom karbon yang mempunyai gugus OH. Jika satu karbon yang terikat pada atom karbon ini, maka alcohol itu adalah primer (n-butanol); jika dua karbon, alkohol sekunder (sec-butanol) dan jika terikat tiga karbon, alkohol itu tersier (tert-butanol). Dalam reaksi lucas pada pencampuran n-butanol dihasilkan gelembung gas dengan jumlah yang sedikit dan menghasilkan asap, tetapi warna tetap bening dari hasil ini dapat kita ketahui bahwa nbutanol bereaksi lambat, dan pencampuran dengan sec-butanol hasil warnanya tetap bening dan muncul banyak gelembung serta berasap, ini berarti sec-butanol dengan adanya pereaksi lucas bereaksi lebih cepat dari pada n-butanol, sedangkan tert-butanol terdapat banyak sekali gelembung, muncul endapan kapur serta berasap, yang berarti bereaksi lebih cepat dari n-butanol dan sec-butanol dan dari hasil reaksi-reaksi yang dihasilkan pereaksi lucas + n-butanol menghasilkan ikatan rantai panjang dimana ZnO4 sebagai katalisnya.begitu pula dengan reaksi Sec-butanol menghasilkan ikatan Cl Dengan katalis yang sama yaitu ZnCl2 begitu pula dengan reaksi tert-butanol

CH3 CH3 Dalam, reaksi warna didapatkan pula rantai panjang dimana KOH berlaku sebagai katalisnya. Dan dari hasil reaksi dari tes lucas dan reaksi warna, dapat kita ketahui bahwa reaksi ini merupakan hidrokarbon alifatik karena tidak mengandung cincin benzena. Dalam reaksi warna lain didapatkan cincin benzena yang berarti reaksi-reaksi ini merupakan hidrokarbon aromatik. Sifat kimia benzena yang paling luar biasa adalah sifatnya yang relatif inert. Walaupun mempunyai rumus empiris yang sama seperti asetilena (CH) mempunyai derajat kejenuhan yang tinggi, benzena jauh kurang reaktif dibandingkan etilena dan asetilena. Kestabilan benzena merupakan akibat delokalikasi elektron. Pada kondisi oksidasi yang lemah, alcohol mungkin diubah menjadi aldehida dan keton:

Formaldehida H3C H3C Asetaldehida H H3C H aseton Gugus fungsi dalam senyawa ini adalah gugus karbonil, C=O. Pada aldehida sedikitnya satu atom hidrogen terikat pada karbon dalam gugus karbonil. Pada keton, atom karbon pada gugus karbonil terikat pada dua gugus hidrokarbon. Perbedaan antara aldehid dan keton adalah keberadaan sebuah atom hidrogen yang terikat pada ikatan rangkap C=O dalam aldehid, sedangkan pada keton tidak ditemukan hidrogen seperti ini. Keberadaan atom hidrogen tersebut menjadikan aldehid sangat mudah teroksidasi. Atau dengan kata lain, aldehid adalah agen pereduksi yang kuat. Karena keton tidak memiliki atom hidrogen

OH

istimewa ini, maka keton sangat sulit dioksidasi. Aldehid dapat dioksidasi dengan mudah menggunakan semua jenis agen pengoksidasi; sedangkan keton tidak. Untuk pengujian dengan pereaksi Fehling, menggunakan larutan fehling A yang merupakan hasil pelarutan 34,84 g kristal Cu(II) sulfat dalam air yang mengandung beberapa asam sulfat encer. Larutan Fehling mengandung ion tembaga (II) yang dikompleks dengan ion tartrat dalam larutan natrium hidroksida. Pengompleksan ion tembaga(II) dengan ion tartrat dapat mencegah terjadinya endapan tembaga(II) hidroksida. Dari hasil pengamatan ini di dapatkan antara pencampuran fehling + formalin menghasilkan warna merah bata, hal ini menyatakan bahwa didalam pencampuran pereaksi fehling + formalin terdapat aldehid. Hal ini disebabkan karena Aldehid mampu mereduksi ion tembaga(II) menjadi tembaga(I) oksida. Karena larutan bersifat basa, maka aldehid dengan sendirinya teroksidasi menjadi sebuah garam dari asam karboksilat yang sesuai. Dan pencampuran dengan glukosa menghasilkan biru yang sangat muda, sedangkan pencampuran dengan aseton terdapat dua lapisan yaitu keruh (atas) dan biru (bawah), dari pengamatan glukosa dan aseton dapat kita ketahui bahwa keduanya merupakan gugus keton. Dalam percobaan reaksi adisi pada pereaksi Schiff untuk memenentukan adanya gugus aldehid. Aldehid akan menghasilkan warna ungu bila direaksikan dengannya, sedangkan gugus keton menunjukkan negative atau berwarna lembayung. Perlu diperhatikan bahwa alkali bebas atau garam alkali dari asam akan menunjukkan warna ungu jika bereaksi dengan pereaksi Schiff. Dari hasil pengamatan di dapatkan, pada pereaksi Schiff yang ditambahkan formalin menghasilkan warna ungu tua, yang berarti di dalam formalin terdapat gugus aldehid, pada pencampuran pereaksi Schiff dan glukosa menghasilkan warna ungu muda, berarti di dalam glukosa juga terdapat gugus aldehid. Sedangkan pada pencampuran pereaksi Schiff dan aseton menghasilkan warna merah keunguan atau lembanyung, hal ini berarti di dalam aseton tidak terdapat gugus aldehid tetapi keton. Pereaksi Schiff ini merupakan hasil pelarutan 2 g natrium meta-bisulfat, 2 mL HCl pekat, dan 0,2 g p-rosanilin hidroklorida dalam 200 mL air.

G. KESIMPULAN Dari hasil percobaan dapat disimpulkan bahwa :

1. Untuk mengetahui reaksi-reaksi yang terjadi pada gugus hidroksil dilakukan dengan 3 cara yaitu : tes lucas, reaksi warna, dan reaksi warna lain. Dimana tes lucas dan reaksi warna merupakan golongan hidroksil alifatik dan reaksi warna lain merupakan golongan hidroksil aromatik. 2. Untuk mengindentifikasi gugus karbonil dalam keton dan aldehid dapat dilakukan uji pereaksi fehling dan pereaksi Schiff 3. Untuk mengindentifikasi adanya gugus amina, dapat dilakukan dengan dilakukan dengan mencium bau senyawa yang mengandung senyawa amina, yang mengeluarkan bau yang khas, contohnya casein berbau khas (anyir), dan dengan pemanasan urea yang diberikan kertas lakmus merah berubah menjadi biru, yang menghasilkan basa. Dimana basa merupakan salah satu dari sifat amina. Serta dengan pencampuran urea, H2O, KOH dan CuSO4 (reaksi biuret).

DAFTAR PUSTAKA

Arsyad, 2001. Kamus Kimia. Gramedi Pustaka. Jakarta.. Fessenden Ralp,J., dan Joan, S.,Fessenden, 1982. Kimia Organik Edisi Ketiga Jilid I. Erlangga. Jakarta.