Anda di halaman 1dari 17

SISTEM HUKUM INDONESIA KEJAHATAN PIDANA

Makalah ini dibuat untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah sistem hukum indonesia.

Disusun Oleh: Firmansyah (2402710061) Nenih Nursela (2402710075) Hamzah Nurohim (2402710063) Asep Nurdin Klara Rantina (2402710069)

Kelas B

FAKULTAS ILMU KOMUNIKASI UNIVERSITAS GARUT

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT, karena berkat perkenannya kami dapat menyelesaikan makalah ini dengan baik. Tidak sedikit hambatan dan rintangan yang kami temui dalam penyusunan makalah ini. Namun berkat bantuan dan dukungan berbagai pihak, baik yang bersifat langsung maupun tidak langsung alhamdulillah kami dapat menyelesaikannya. Kami sadar jikalau tugas ini masih jauh dari sempurna, oleh karna itu kritik ataupun saran yang membangun sangat kami harapkan demi kemajuan kami dimasa mendatang. Mohon maaf apabila terdapat kekurangan dan kesalahan dalam penulisan makalah ini, harap memakluminya karena kami masih dalam proses pembelajaran.

Garut, 13 April 2011

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR...i DAFTAR ISIii BAB I 1.1 1.2 BAB II 2.1 PENDAHULUAN Latar Belakang...1 Maksud Dan Tujuan...1 PEMBAHASAN Konflik Dalam Hubungan Antarpribadi.2

2.1.1 Konflik Dan Nilai Positifnya..2 2.1.2 Strategi Dalam Mengatasi Konflik.4 2.1.3 Faktor Konflik....6 BAB III 3.1 3.2 PENUTUP Kesimpulan.7 Saran...8 Penyebab

DAFTAR PUSTAKA....................................................................................................... ........9

ii

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Istilah Hukum Pidana menurut Prof. Satochid mengandung beberapa arti atau dapat dipandang dari beberapa sudut, antara lain bahwa Hukum Pidana, disebut juga Ius Poenale yaitu sejumlah peraturan yang mengandung larangan-larangan atau keharusan-keharusan dimana terhadap pelanggarnya diancam dengan hukuman Kami mengangkat kasus ini karena adanya tindak pidana yang terjadi di Bojong Jatisari tentang penipuan jenis kelamin, penipuan surat nikah, juga pembohongan publik dimedia jejaring sosial facebook. Kaitannya dengan hukum pidana ini akan melahirkan efek jera yang tidak bisa diterobos oleh apapun. Adapun yang menjadi Asas-Asas Berlakunya KUHP

1.Asas teritorialatau Wilayah. Undang-undang Hukum Pidana berlaku didasarkan pada tempat atau teritoir dimana perbuatan 2. Asas Nasionalitas Aktif atau dilakukan Personalitas.

Berlakunya KUHP didasarkan pada kewarganegaraan atau nasionalitas seseorang yang melakukan suatu perbuatan. Undang-undang Hukum Pidana hanya berlaku pada warga negara, tempat dimana perbuatan dilakukan tidak menjadimasalah 3. Asas Nasionalitas Pasif atau AsasPerlindungan.

Didasarkan kepada kepentingan hukum negara yang dilanggar. Bila kepentingan hukum negara -dilanggaroleh warga negara atau bukan, baik di dalam ataupun di luar negara yang menganut asas tersebut, makaundang-undang hukum pidana dapat diberlakukan terhadap si pelanggar. Dasar hukumnya adalah bahwa tiap negara yang berdaulat pada umumnya berhak melindungi kepentingan hukum negaranya 4. Asas Universalitas.

Undang-undang hukum pidana dapat diberlakukan terhadap siapapun yang melanggar

kepentingan hukum dari seluruh dunia. Dasar hukumnya hdala kepentingan hukum seluruh dunia.

1.2 Maksud dan Tujuan Maksud dan tujuan yang akan dicapai dari penyusunan ini adalah sebagai berikut: a. Untuk mengetahui asas-asas dan segala sesuatu mengenai tindak pidana b. Untuk mengetahui contoh kasus yang ada kaitannya dengan hukum pidana yang terjadi di Indonesia c. Untuk menganalisis lebih jauh tentang kasus penipuan jenis kelamin dan hukuman pidana yang akan diterimanya d. Untuk memenuhi salah satu syarat dalam mengikuti ujian tengah semester

BAB II TEORI

2.1 Penjelasan Hukum Pida a adalah keseluruhan dari peraturan-peraturan yang menentukan perbuatan apa yang dilarang dan termasuk kedalam tindak pidana, serta menentukan hukuman apa yang dapat dijatuhkan terhadap yang melakukannya. Menurut Prof. Moeljatno, S.H Hukum Pidana adalah bagian daripada keseluruhan hukum yang berlaku di suatu negara, yang mengadakan dasar-dasar dan aturan-aturan untuk: 1. Menentukan perbuatan-perbuatan mana yang tidak boleh dilakukan dan yang dilarang, dengan disertai ancaman atau sanksi yang berupa pidana tertentu bagi barang siapa yang melanggar larangan tersebut. 2. Menentukan kapan dan dalam hal-hal apa kepada mereka yang telah melanggar larangan-larangan itu dapat dikenakan atau dijatuhi pidana sebagaimana yang telah diancamkan. 3. Menentukan dengan cara bagaimana pengenaan pidana itu dapat dilaksanakan apabila ada orang yang disangka telah melanggar larangan tersebut. 4. Indonesia adalah negara yang menganut sistem hukum campuran dengan sistem hukum utama yaitu sistem hukum Eropa Kontinental. Selain sistem hukum Eropa Kontinental, di Indonesia juga berlaku sistem hukum adat dan sistem hukum agama, khususnya hukum (syariah) Islam.

Hukum di Indonesia merupakan campuran dari sistem hukum hukum Eropa, hukum Agama dan hukum Adat. Sebagian besar sistem yang dianut, baik perdata maupun pidana, berbasis pada hukum Eropa kontinental, khususnya dari Belanda karena aspek sejarah masa lalu Indonesia yang merupakan wilayah jajahan dengan sebutan Hindia Belanda (Nederlandsch-Indie). Hukum Agama, karena sebagian besar masyarakat

Indonesia menganut Islam, maka dominasi hukum atau Syari'at Islam lebih banyak terutama di bidang perkawinan, kekeluargaan dan warisan. Selain itu, di Indonesia juga berlaku sistem hukum Adat yang diserap dalam perundang-undangan atau yurisprudensi, yang merupakan penerusan dari aturan-aturan setempat dari masyarakat dan budayabudaya yang ada di wilayah Nusantara. Hukum Pidana Indonesia Berdasarkan isinya, hukum dapat dibagi menjadi 2, yaitu hukum privat dan hukum publik (C.S.T Kansil).Hukum privat adalah hukum yg mengatur hubungan orang perorang, sedangkan hukum publik adalah hukum yg mengatur hubungan antara negara dengan warga negaranya. Hukum pidana merupakan bagian dari hukum publik. Hukum pidana terbagi menjadi dua bagian, yaitu hukum pidana materiil dan hukum pidana formil. Hukum pidana materiil mengatur tentang penentuan tindak pidana, pelaku tindak pidana, dan pidana (sanksi). Di Indonesia, pengaturan hukum pidana materiil diatur dalam kitab undang-undang hukum pidana (KUHP). Hukum pidana formil mengatur tentang pelaksanaan hukum pidana materiil. Di Indonesia, pengaturan hukum pidana formil telah disahkan dengan UU nomor 8 tahun 1981 tentang hukum acara pidana (KUHAP).

2.2 Tentang Perundang-undangan UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1 TAHUN 1974 TENTANG PERKAWINAN Dalam makalah ini, saya sampaikan informasi dasar lainnya mengenai hal-hal yang terkait dengan perkawinan, berdasarkan UU yang berlaku saat ini ( UU No. 1 Tahun 1974tentangPerkawinan).

BABIDASARPERKAWINAN

Pasal 1

Perkawinan ialah ikatan lahir bathin antara seorang pria dengan seorang wanita sebagai suami isteri dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Mahaesa. Pasal 2 (1). Perkawinan adalah sah, apabila dilakukan menurut hukum masing-masing agamanya dan kepercayaannya itu. (2) Tiap-tiap perkawinan dicatat menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku. Pasal 3 (1) Pada azasnya dalam suatu perkawinan seorang pria hanya boleh mempunyai seorang isteri. Seorang wanita hanya boleh mempunyai seorang suami. (2) Pengadilan, dapat memberi izin kepada seorang suami untuk beristeri lebih dari seorang apabila dikehendaki oleh fihak-fihak yang bersangkutan.

Pasal 4 (1) Dalam hal seorang suami akan beristeri lebih dari seorang, sebagaimana tersebut dalam Pasal 3 ayat (2) Undang-undang ini, maka ia wajib mengajukan permohonan kepada Pengadilan di daerah tempat tinggalnya. (3) Pengadilan dimaksud data ayat (1) pasal ini hanya memberikan izin kepada seorang suami yang akan beristeri lebih dari seorang apabila: a. Isteri tidak dapat menjalankan kewajibannya sebagai isteri; b. Isteri mendapat cacat badan atau penyakit yang tidak dapat disembuhkan; c. Isteri tidak dapat melahirkan keturunan.

Pasal 5 (1) Untuk dapat mengajukan permohonan kepada Pengadilan, sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (1) Undang-undang ini, harus dipenuhi syarat-syarat sebagai berikut: a. Adanya persetujuan dari isteri/isteri-isteri; b. Adanya kepastian bahwa suami mampu menjamin keperluan-keperluan hidup isteriisteri dan anak-anak mereka; c. Adanya jaminan bahwa suami akan berlaku adil terhadap isteri isteri dan anak-anak mereka. (2) Persetujuan yang dimaksud pada ayat (1) huruf a pasal ini tidak diperlukan bagi seorang suami apabila isteri/isteri-isterinya tidak mungkin dimintai persetujuannya dan tidak dapat menjadi pihak dalam perjanjian, atau apabila tidak ad kabar dari isterinya a selama sekurang-kurangnya 2 (dua) tahun, atau karena sebab-sebab lainnya yang perlu mendapat penilaian dari Hakim Pengadilan.

BAB III MASALAH

3.1 Pernikahan Sesama Jenis pada 2010 silam di Kampung Bojong Jatisari Polisi juga masih mendalami kasus ini, termasuk kemungkinan tindak kekerasan selama Umar dan Icha hidup serumah.

Pernikahan Umar dan Rahmat terjadi pada Agustus 2010 silam. Selang enam bulan berlalu, kedok sang pengantin perempuan tersibak. Icha yang mengaku Anastasya Oktaviany adalah pria bernama Rahmat.

Aparat Polsek Jatiasih telah meminta keterangan beberapa orang saksi dan menetapkan Rahmat sebagai tersangka. Rahmat terancam hukuman maksimal tujuh tahun penjara dalam pasal pemalsuan identitas. Menurut hukum Islam, pernikahan Umar dan Fransiska Anastasya Octaviany alias Icha fasid atau rusak. Karena itu, KUA Jatiasih tempat keduanya tercatat sebagai suami istri harus mencabut buku nikah keduanya.

"Kalau secara hukum Islam itu kan sudah fasid, jadi pernikahan itu sudah rusak, harus dipisahkan. Surat-suratnya harus dicabut," kata pengurus Majelis Ulama Indonesia (MUI) Ali Mustafa saat berbincang dengan detikcom, Sabtu (2/4/2011).

Ali mengatakan, setelah surat nikah dicabut, keduanya akan berstatus sebagai si gle. n "Bukan duda dan bukan janda. Statusnya belum pernah menikah," katanya. Sebelumnya Ali mengatakan, hukum pernikahan Umar dan Icha adalah fasid yang artinya rusak. Ali yang juga merupakan Imam Besar Masjid Istiqlal itu mengatakan, fasid sebenarnya mirip dengan batal. Namun hukum fasid itu untuk suatu hal yang sebelum peristiwa itu terjadi, si pelaku tidak mengetahuinya.

Ali mengatakan, pernikahan Icha dan Umar juga diwarnai pelanggaran lainnya. Pelanggaran itu yakni tidak adanya wali.

Umar dan Icha menikah sepekan sesudah Lebaran tahun 2010 lalu. Keduanya hidup serumah dengan orang tua Umar di Jatiasih, Bekasi. Setelah enam bulan berlalu baru ketahuan Icha ternyata seorang laki-laki yang bernama asli Rahmat Sulityo.

Karena merasa tertipu, Umar akhirnya melaporkan istrinya itu ke Polsek Jatiasih. Sang istri yang dikenalnya melalui jejaring sosial Facebook itu kini ditahan dengan ancaman tujuh tahun penjara.

3.2 Pernikahan Umar dan Icha Ilegal Kantor Urusan Agama (KUA) Jatiasih, Bekasi, menyatakan pernikahan Muhammad Umar dengan Fransisca Anastasya alias Rahmat Sulistyo ilegal. Sebab, surat nikah Umar dan Icha --sapaan Fransisca Anastasya-palsu.

"Kami sudah memeriksa foto kopi buku nikahnya ternyata palsu," kata Kepala KUA Jatiasih, Sumroni, saat berbincang dengan VIVAnews.com, Senin malam, 4 April 2011. Menurut Sumroni, setelah dicocokkan dengan nomor register buku nikah, nomor yang tertera dalam buku nikah Umar dan Icha telah dipakai orang lain. "Kami melihat, tanggal pernikahannya pada 19 September 2010. Setelah dicocokkan, ternyata yang terdaftar atas nama Didin Syamsudin dan Muthaharah," kata dia.

Dia menambahkan, KUA Jatiasih telah melakukan pemeriksaan terhadap kemungkinan adanya oknum pegawai KUA yang membuat buku nikah palsu tersebut. Hasilnya, tidak ada yang mengeluarkan buku tersebut. "Jadi, ya benar-benar palsu," katanya. "Kami telah mengecek dengan jumlah buku nikah yang terdaftar, berapa yang terpakai dan berapa yang belum terpakai. Hasilnya masih cocok, tak ada yang keluar secara ilegal," tutur Sumroni.

Sumroni menambahkan, pernikahan Umar dan Icha dilakukan tanpa sepengetahuan petugas KUA Jatiasih. KUA, kata dia, juga tidak pernah memerintahkan penghulu untuk menikahkan mereka berdua. "Saya sebagai ketua KUA tidak pernah memerintahkan penghulu untuk menikahkan mereka berdua," kata dia.

Lantas, bagaimana dengan status pernikahan Umar dan Icha? "Ya tidak sah. Ilegal," kata dia. Menurut Sumroni, KUA Jatiasih tidak akan melakukan pembatalan pernikahan mereka berdua. karena, pernikahan Umar dan Icha memang tidak sah menurut hukum di Indonesia. "Kami tidak perlu melakukan proses perceraian keduanya, karena memang tidak sah pernikahan itu," kata dia.

Umar dan Icha telah menjalani pernikahan selama enam bulan. Belakangan, Icha yang

menjadi

istri

Umar

diketahui

berjenis

kelamin

laki-laki.

3.3 Fransisca Anastasya alias Icha alias Rahmat Sulistyo dijerat pasal pemalsuan identitas. Kepolisian Sektor Jati Asih, Bekasi, masih mendalami kasus Fransisca Anastasya (19) alias Icha. Orang ini sejatinya seorang pria bernama asli Rahmat Sulistyo yang mengakuaku sebagai perempuan dan sempat dinikah i Muhammad Umar.

Saat dimintai keterangan, Kapolsek Jati Asih Ajun Komisaris Pol. Darmawan menjelaskan, penyidik menjerat Icha dengan Pasal 266 KUHP tentang pemalsuan identitas dengan ancaman kurungan lima tahun penjara. "Proses masih terus berjalan," ujar Darmawan, Senin, 4 April 2011.

Kejadian ini terbongkar setelah warga Jatiasih menggerebek rumah Icha di Kampung Bojong RT 01/RW 02, Kelurahan Jatisari, Kecamatan Jati Asih. Icha pun ditelanjangi. Ternyata, dia memang laki-laki. Icha diduga menipu Umar untuk memuaskan nafsu birahinya karena dia adalah penyuka sesama jenis.

"Icha masih mendekam di tahanan Polsek Jati Asih guna pemeriksaan lebih lanjut. Orangtuanya juga sudah datang untuk menjenguk," kata Darmawan lagi. Umar memang memiliki cacat pada satu indera penglihatannya. Kekurangan inilah yang dimanfaatkan Icha. Hubungan kedua lelaki itu bermula di Facebook pada Agustus 2010. Sebulan kemudian, mereka lalu menikah. Untuk menyamarkan kelaminnya, Icha selalu mengenakan jilbab dan pakaian tertutup. Tiap kali berhubungan badan, Icha juga meminta dua syarat: harus dalam keadaan gelap gulita dan dengan cara, maaf, dari arah belakang.

BAB IV PEMBAHASAN MASALAH

4.1 Icha Bayar Rp 200 Ribu Dua Teman untuk Ngaku Jadi Orang Tuanya Saat menikah dengan Umar, Fransiska Anastasya Octaviany alias Icha membawa dua orang yang diakui sebagai kedua orang tuanya. Namun belakangan diketahui, keduanya hanya orang suruhan Icha yang dibayar Rp 200 ribu.

"Jadi dua orang yang diakui sebagai orang tua itu hanya temannya yang dimintai tolong dan dibayar Rp 200 ribu," kata Kapolsek Jatiasih AKP Darmawan Karosekali saat berbincang dengan detikcom, Sabtu (2/4/2011).

Darmawan mengatakan, kedua teman sebenarnya juga korban Icha. Selama ini, keduanya juga mengenal Icha sebagai seorang perempuan. "Mereka juga kenalnya dia itu perempuan, jadi nggak tahu kalau dia itu ternyata laki-laki," katanya.

Menurut Darmawan, kedua orang tua palsu Icha tersebut akan dimintai keterangan sebagai saksi. "Nanti kita akan periksa mereka sebagai saksi juga," kata Darmawan.

Dua orang tua palsu Icha itu turut hadir saat Icha menikah dengan Umar setelah Lebaran tahun 2010 lalu. Kini, Icha telah meringkuk ditahanan setelah ketahuan mengaku menjadi perempuan dengan ancaman tujuh tahun penjara.

Icha telah memalsukan KTP dan Kartu Keluarga untuk menikah dengan Umar, seorang pekerja pabrik yang tinggal di Jatiasih, Bekasi. Umar dan 'Icha' Rahmat menikah resmi di KUA. Umar baru menyadari istrinya ternyata laki-laki setelah pernikahan keduanya berjalan enam bulan. Umar yang merasa tertipu lalu melaporkan istrinya ke Polsek Jatiasih.

4.2 KUA Jatiasih Pastikan Buku Nikah Icha & Umar Palsu Kantor Urusan Agama (KUA) Jatiasih memastikan buku pernikahan milik Fransiska Anastasya Octaviany alias Icha alias Rahmat Sulistyo dengan Umar palsu. Diketahui nomor register pernikahan mereka tidak terdaftar.

"Setelah kami cek pernikahan bulan September tidak ada pernikahan merek di nomor a register kami," kata Kepala KUA Jatiasih, Ahmas Sumroni saat dihubungi detikcom, Senin (4/4).

Ahmad menduga kedua pasangan tersebut menggunakan buku pernikahan palsu. Selain dari daftar pernikahan, nomor register buku pernikahan juga diduga dipalsukan.

"Misalnya di nomor register kami menggunakan angka register 30 tapi di no register buku pernikahan Umar dan Icha pakai angka 90, diduga dipalsukan," jelas Ahmad.

Umar menampik jika disebut ada pihaknya yang sengaja melakukan pemalsuan buku pernikahan pasangan tersebut.

"Setelah kami cek petugas kami tidak ada yang terlibat. Mungkin itu memang buku pernikahan yang banyak beredar di masyarakat," sanggah Ahmad.

Ahmad menambahkan, dirinya siap membantu polisi dalam pengungkapan kasus yang kini menimpa Icha alias Tyo. Hingga saat ini pihaknya masih menunggu surat pemanggilan resmi dari kepolisian.

Umar dan Icha menikah sepekan sesudah Lebaran tahun 2010 lalu. Keduanya hidup serumah dengan orang tua Umar di Jatiasih, Bekasi. Setelah enam bulan berlal baru u ketahuan Icha ternyata seorang laki-laki yang bernama asli Rahmat Sulityo.

Karena dianggap menipu, Warga akhirnya melaporkan istri Umar ke Polsek Jatiasih. Sang istri yang dikenalnya melalui jejaring sosial Facebook itu kini ditahan dengan ancaman tujuh tahun penjara.

4.3 MENURUT TEORI DAN UNDANG-UNDANG Pernika an Sesama Jenis pada 2010 silam di Kampung Bojong Jatisari 1. Melanggar undang-undang no 1 tahun 1974 tentang perkawinan 2. Pasal 266 KUHP tentang pemalsuan identitas dengan ancaman 5 tahun penjara 3. Karena dianggap menipu warga yang dikenalnya melalui jejaring sosial facebook kini ditahan dengan ancaman 7 tahun penjara.

BAB V PENUTUP

5.1 KESIMPILAN

Hukum pidana atau hukum publik adalah hukum yang mengatur perbuatan-perbuatan yang dilarang oleh undang-undang dan berakibat diterapkannya hukuman berupa pidana bagi barang siapa yang melakukannya dan memenuhi unsur-unsur perbuatan yang disebutkan dalam undang-undang pidana. Dalam hukum pidana dikenal, 2 jenis perbuatan yaitu kejahatan dan pelanggaran, kejahatan ialah perbuatan yang tidak hanya bertentangan dengan undang-undang tetapi juga bertentangan dengan nilai moral, nilai agama dan rasa keadilan masyarakat, contohnya mencuri, membunuh, berzina, memperkosa dan sebagainya. sedangkan pelanggaran ialah perbuatan yang hanya dilarang oleh undang-undang, seperti tidak menggunakan helm, tidak menggunakan sabuk pengaman dalam berkendaraan, dan sebagainya. Di Indonesia, hukum pidana diatur secara umum dalam Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP), yang merupakan peninggalan dari zaman penjajahan Belanda, sebelumnya bernama Wetboek van Straafheid (WvS). KUHP merupakan lex generalis bagi pengaturan hukum pidana di Indonesia dimana asas-asas umum termuat dan menjadi dasar bagi semua ketentuan pidana yang diatur di luar KUHP (lex specialis).

5.2 SARAN

Dari hasil tugas makalah yang kami buat kami merasa banyak kekurangan, oleh karena itu kami sangat mengharapkan berbagai masukan yang akan membangun untuk memperbaiki tugas kami kedepan. Adapun saran dari kami terhadap kasus tersebut diatas bahwa sebagai warga negara indonesia harus berhati-hati terhadap segala bentuk penipuan baik melalui media massa ataupun media internet. Kita juga harus waspada terhadap lingkungan disekitar kita, jangan sampai kita tertiipu oleh sebuah kejahatan.