Anda di halaman 1dari 5

PENGARUH PEMBERIAN TABLET CURCUMA TERHADAP FARMAKOKINETIKA RIFAMPISIN PADA TIKUS EFFECT OF THE CURCUMA TABLET ON THE PHARMACOKINETICS

OF RIFAMPICIN IN RATS
Djoko Wahyono, Arief Rahman Hakim, dan Purwantiningsih Bagian Farmakologi & Farmasi Klinik Fak. Farmasi UGM Yogyakarta

ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian tablet Curcuma terhadap farmakokinetika rifampisin pada tikus. Penelitian mengikuti rancangan acak lengkap pola searah menggunakan tikus putih jantan galur Sprague Dawley yang dibagi menjadi 3 kelompok masing-masing terdiri dari 5 ekor tikus. Kelompok I (kontrol) diberi rifampisin secara oral dosis 50 mg/kg BB, kelompok II diberi tablet Curcuma secara oral dosis tunggal 108 mg/kg BB 1 jam sebelum rifampisin, dan kelompok III diberi tablet Curcuma secara oral dosis ganda 108 mg/kg BB sekali sehari selama 7 hari, kemudian diberikan rifampisin. Dosis rifampisin untuk kelompok II dan III sama seperti kelompok I. Setelah seluruh hewan mendapatkan perlakuan, pada jam-jam ke- 0,25; 0,5; 1; 1,5; 2; 3; 4; 6; 8; 10; 12, dan 24 diambil cuplikan darah (0,2 ml) dari vena lateralis ekor, guna penetapan kadar rifampisin utuh secara HPLC. Kadar rifampisin utuh dalam darah dihitung berdasarkan kurva baku. Harga-harga parameter farmakokinetika rifampisin ( Cmaks, tmaks, AUC0-inf, Vd/F, t1/2, ClT dan K) dihitung berdasarkan data kadar rifampisin utuh dalam darah lawan waktu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian tablet Curcuma dosis tunggal satu jam sebelum pemberian rifampisin dan pemberian dosis ganda sekali sehari selama 7 hari tidak mempengaruhi farmakokinetika rifampisin (P>0,05). Kata kunci: farmakokinetika, tablet Curcuma, rifampisin, tikus

ABSTRACT The research was aimed to evaluate the influence of Curcuma tablet to rifampicin pharmacokinetic parameters in rats. The study was conducted employing a completely randomaized design using male Sprague Dawley rats which were divided into 3 groups (5 rats for each group). The groups were given a single oral rifampicin 50 mg/kg BW as a control group and were confered single oral Curcuma 108 mg/kg BW one hour before rifampicin and daily dose for 7 days, then given rifampicin. Serial blood samples (0,2 ml) were withdrawn at various interval via the vein for HPLC analysis of unchanged rifampicin in blood. The concentration of rifampicin was determined based on a standard curve and from the concentration to time data was determined rifampicin pharmacokinetics (Cmaks, tmaks, AUC0-, Vd/F, t1/2, ClT dan K). The results indicated that Curcuma single dose one hour before rifampicin and daily dose for 7 days did not change pharmacokinetics rifampicin (P>0,05). Key words : pharmacokinetics, Curcuma tablet, rifampicin, rats

PENDAHULUAN Rifampisin merupakan suatu turunan sintetik dari antibiotik natural rifamisin B yang diproduksi oleh Streptomyces mediterranei, dan termasuk dalam klas rifamisin naftalenat. Rifampisin adalah bakterisidal spektrum luas terhadap organisme termasuk Mycobacteria tuberculosis yang digunakan untuk pengobatan tuberkulosa dan kusta. Rifampisin diabsorpsi secara baik dari saluran pencernaan meskipun beberapa makanan dapat menghambat absorpsinya. Harga waktu paro eliminasinya pada manusia berkisar 1-6 jam (rata-rata 3,4 jam). Jalur metabolisme rifampisin adalah deasetilasi menjadi 3-formilrifampisin dan hidrolisis menjadi 25-O-desasetilrifampisin. Senyawa inhibitor atau induktor enzim pemetabolisme obat dilaporkan dapat mempengaruhi metabolisme rifampisin (Dollery, 2006; Petri, 2006). Tablet Curcuma adalah salah satu produk industri nasional, mengandung serbuk dari rhizoma curcuma, yang zat aktifnya adalah kurkumin dan minyak atsiri. Tablet Curcuma diindikasikan untuk penambah nafsu makan, perut kembung, sukar buang air besar/kecil, amenore, ikterus karena obstruksi. Bentuk sediaannya adalah tablet 200 mg. Beberapa penelitian terdahulu menunjukkan bahwa kurkumin dapat berinteraksi dengan teofilin (Donatus,1996; Hakim, 1998) dan parasetamol (Donatus,1994). Kurkumin juga telah diketahui mampu menghambat aktivitas sitokrom P-450 1A1/1A2 dan 3A4 (Donatus,1994; Oetari,1998). Wahyono dkk. (2007) melaporkan bahwa praperlakuan sirup Curcuma plus mempengaruhi farmakokinetika distribusi dan eliminasi rifampisin Berdasarkan hal-hal yang dikemukakan diatas, kemungkinan terjadinya interaksi antara rifampisin dan tablet Curcuma perlu dikaji, karena pemakaian bersama kedua obat tersebut mungkin saja terjadi. Seperti diketahui bahwa tablet Curcuma dipasarkan secara bebas untuk penambah nafsu makan, dan kemungkinan penderita TB (tuberkulosis) paru disamping diterapi dengan rifampisin, juga sebagai self

medication menggunakan penambah nafsu makan tablet Curcuma tersebut secara bersamaan. Penelitian ini bertujuan untuk melihat pengaruh tablet Curcuma terhadap farmakokinetika rifampisin pada tikus. METODOLOGI Bahan: subyek uji tikus putih jantan galur Sprague Dawley (SD) bobot 180-200 g (Laboratorium Farmakologi dan Toksikologi, Bagian Farmakologi & Farmasi Klinik Fak. Farmasi UGM). Bahan uji utama meliputi tablet Curcuma, yang mengandung serbuk rhizoma Curcuma 200 mg (produk pabrik PT. SOHO Industri Pharmasi), rifampisin serbuk mutu farmasetis (PT Indofarma, Jakarta), dan CMC-Na mutu farmasetis (Brataco) yang digunakan untuk membuat suspensi serbuk rifampisin dan tablet Curcuma. Alat: alat utama seperangkat HPLC dengan double pump LC-6A, system controller SCL6A, detektor UV pada 342 nm SPD-6AV dan integrator C-R3A (Shimadzu), kolom Cartridge LiChroCART 125-4 RP-18 (Merck) guna penetapan kadar rifampisin utuh dalam darah. Jalannya penelitian Penelitian menggunakan rancangan uji acak lengkap pola searah (One Way Randomized Completely Design) dimana sebanyak 15 ekor tikus jantan galur SD dibagi menjadi 3 kelompok. Kelompok I diberi rifampisin dosis 50 mg/kgBB secara oral. Kelompok II diberi tablet Curcuma dosis tunggal 108 mg/kgBB secara oral 1 jam sebelum pemberian rifampisin. Kelompok III diberi Curcuma dosis ganda 108 mg/kgBB secara oral satu kali sehari selama 7 hari sebelum pemberian rifampisin. Pengambilan cuplikan darah sebanyak 0,2 ml dilakukan lewat vena ekor pada waktu-waktu 0,25; 1; 1,5; 2; 2,5; 3; 4; 6; 8; 10; 12 dan 24 jam setelah pemberian rifampisin. Analisis rifampisin dalam darah dilakukan secara HPLC dengan menggunakan kurva baku mengikuti metode terdahulu yang telah tervalidasi (Ratti dan Parenti, 1981; Lab. Farmakologi & Toksikologi Fak. Farmasi UGM, 2003). Harga-harga parameter

farmakokinetika rifampisin yang ditetapkan adalah : Waktu mencapai kadar puncak di dalam darah (tmaks), kadar puncak di dalam darah (Cmaks), volume distribus (Vd/F), luas daerah dibawah kurva kadar rifampisin dalam darah lawan waktu dari waktu 0 sampai tak terhingga (AUC0-inf), tetapan kecepatan eliminasi (K), waktu paro eliminasi (t1/2) dan klirens total (ClT) dihitung menggunakan perangkat lunak Stripe (Johnston dan Woollard, 1983) yang dimodifikasi oleh Jung (1984). Harga parameter farmakokinetika antar perlakuan dibandingkan secara statistika menggunakan metoda ANAVA satu jalan dengan taraf kepercayaan 95%, dan jika ada perbedaan yang signifikan dilanjutkan dengan uji Tukey HSD untuk pair test. Analisis statistika dilakukan menggunakan perangkat lunak SPSS versi 13.0. HASIL DAN PEMBAHASAN Tabel I dan Gambar 1 memuat data perubahan purata kadar rifampisin dan profil

kurva kadar rifampisin terhadap waktu setelah pemberian rifampisin oral dosis tunggal 50 mg/kg BB (Kelompok I) dan adanya pemberian tablet Curcuma dosis 108 mg/kg BB 1 jam sebelum pemberian rifampisin (Kelompok II) dan sekali sehari selama 7 hari (Kelompok III). Untuk melihat lebih lanjut seberapa besar pengaruh pemberian Curcuma maka pada tabel II diberikan hasil perhitungan harga-harga parameter farmakokinetika rifampisin setelah pemberian rifampisin oral dosis tunggal 50 mg/kg BB dan dengan adanya pemberian tablet Curcuma secara oral dosis tunggal 108 mg/kg BB 1 jam dan sekali sehari selama 7 hari sebelum pemberian rifampisin. Pada tabel II dapat dilihat bahwa tablet Curcuma dosis 108 mg/kg BB satu jam dan sekali sehari selama 7 hari sebelum rifampisin tidak mampu memberikan perubahan hargaharga parameter farmakokinetika rifampisin secara bermakna (P>0,05).

Tabel 1. Kadar rifampisin dalam darah (Mean SE) terhadap waktu setelah pemberian rifampisin oral 50 mg/kgBB (Kelompok I). Kelompok II adanya praperlakuan tablet Curcuma 108 mg/kgBB 1 jam sebelum rifampisin. Kelompok III adanya praperlakuan tablet Curcuma 108 mg/kgBB 1x sehari selama 7 hari berturut-turut pada tikus (N=5) Kadar rifampisin dalam darah (Mean SE) (g/ml) Waktu (Jam) Kelompok-I Kelompok-II Kelompok-III 0,25 3,04 3,24 5,64 4,38 7,97 3,85 1 5,85 4,43 8,58 4,72 16,26 8,71 1,5 10,59 6,88 11,81 4,81 24,27 13,97 2 12,52 8,46 13,62 5,73 23,13 11,00 2,5 13,33 9,27 14,66 5,62 20,52 9,64 3 16,98 10,47 17,69 7,17 27,37 12,78 4 18,48 9,69 18,36 6,19 34,13 12,64 6 20,84 9,77 17,24 5,83 29,27 13,96 8 16,22 5,80 19,42 7,69 31,45 12,06 10 16,72 7,58 16,69 5,17 29,33 11,68 12 13,52 5,10 10,88 4,96 24,27 10,49 24 6,49 3,05 0,57 1,64 9,1 4,21

Telah diketahui aktivitas kurkumin sangat banyak yaitu sebagai antiinflamasi, antioksidan, antitumor, anticarcinogenik, antikoagulan, antiviral, antibakteri, hipolipemik, dan hipoglikemik (Chattopadhyay dkk, 2004), selain itu juga kurkumin telah diketahui mampu menghambat aktivitas sitokrom P-450 1A1/1A2 dan 3A4 (Donatus,1994; Oetari,1998). Penelitian lain menyebutkan bahwa kurkumin dapat menghambat absorpsi teofilin (Ching dkk., 2001). Pada penelitian ini terlihat bahwa kurkumin yang terkandung dalam tablet
log kadar rifampisin dalam darah 100

Curcuma tidak mempengaruhi disposisi rifampisin. Wahyono dkk. (2007), melaporkan bahwa sirup Curcuma plus berpengaruh terhadap farmakokinetika distribusi dan eliminasi rifampisin. Perbedaan ini bisa terjadi karena perbedaan bentuk produk sehingga kemungkinan kandungan kurkumin dari tablet Curcuma yang terabsorpsi lebih sedikit dibanding sirup Curcuma plus. Akibatnya kadar kurkumin dalam darah setelah pemberian tablet Curcuma tidak mampu mempengaruhi farmakokinetika rifampisin.

10

K-I K-II K-III

0,1 0 4 8 12 16 20 24 Waktu (jam)

Gambar 1. Kadar rifampisin dalam darah (Mean SE) terhadap waktu setelah pemberian rifampisin oral 50 mg/kgBB (Kelompok I, K-I). Adanya praperlakuan tablet Curcuma 108 mg/kgBB 1 jam sebelum rifampisin (Kelompok II, K-II). Adanya praperlakuan tablet Curcuma 108 mg/kgBB 1x sehari selama 7 hari berturut-turut sebelum rifampisin (Kelompok III, K-III) pada tikus (N=5).

Tabel 2. Nilai parameter farmakokinetika rifampisin setelah pemberian rifampisin oral (50 mg/kgBB.) (Kelompok I), dan adanya pemberian oral Curcuma 1 jam sebelumnya (108 mg/kgBB) (Kelompok-II) dan pemberian 1x sehari selama 7 hari sebelumnya (Kelompok-III) pada tikus (N=5) Parameter Farmakokinetika tmaks (jam) Cmaks (g/ml) AUC0-inf Vd/F (ml/kg) K (jam-1) t1/2 eliminasi (jam) ClT (ml/jam.kg) Perlakuan Kelompok-II 4,66 0,44 20,72 6,23 342,98 96,16 1457,36 433,30 0,134 0,036 6,51 1,72 183,09 44,43

Kelompok- I 6,01 1,35 23,13 9,54 475,27 195,62 2490,80 829,21 0,115 0,043 10,03 4,07 307,18 207,05

Kelompok-III 4,97 0,84 35,53 14,42 729,98 311,77 1514,81 653,61 0,139 0,036 6,11 1,42 191,51 113,05

KESIMPULAN

Pemberian tablet Curcuma dosis 108 mg/kg BB dosis tunggal satu jam sebelum

rifampisin dan dosis ganda sekali sehari selama 7 hari sebelum rifampisin tidak memberikan perubahan farmakokinetika rifampisin (P>0,05).
DAFTAR PUSTAKA Chattopadhyay I., Biswas K., Bandyopadhyay U., dan Banerjee R.K., 2004, Turmeric and curcumin, biological actions and medicinal application, Current Science 87 (1) : 44-53. Ching H., Tsai S.Y., Hsiu S.L., Wu P.P., dan Chao P.D.L., 2001, Effect of curcumin on theophylline pharmacokinetics in rabbits, J. Chin. Med. 12(1) : 51-59. Dollery, S.C., 2006, Therapeutic drugs, vol. 4, T32-T40, Churchill Livingstone, Edinburg. Donatus, I.A., 1994, Antaraksi kurkumin dan parasetamol : kajian terhadap aspek farmakologi dan toksikologi biotransformasi parasetamol, Disertasi, Program Pascasarjana UGM, Yogyakarta. Donatus, I.A., 1996, Antaraksi kurkuminoidteofilin : I. hubungan peringkat dosis kurkuminoid dengan toksisitas akut dan kinerja toksikokinetika teofilin pada tikus, Laporan Penelitian Mandiri, Lembaga Penelitian UGM, Yogyakarta. Hakim, A.R., 1998, Hubungan kekerapan dan lama masa praperlakuan kurkuminoid dengan toksisitas akut dan kinerja toksikokinetika teofilin pada tikus, Laporan Penelitian DPP/SPP Fak. Farmasi UGM, Yogyakarta. Johnston, A. and Woollard, R.C., 1983, STRIPE: A computer program for pharmacokinetics, J. of Pharmacol.Methods, 9: 193-199. Jung, D.T., 1984, Stripe, College of Pharmacy University of Illinois, Chicago. Laboratorium Farmakologi & Toksikologi Fakultas Farmasi UGM, 2003, Uji bioekivalensi tablet FDC RHE (150/75/275) (PT Indofarma tbk) terhadap tablet Rimactane 450 mg (PT Novartis Biochemie) pada sukarelawan sehat, Laporan Penelitian, Fakultas Farmasi Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Petri Jr, W.A., 2006, Chemotherapy of tuberculosis, mycobacterium avium complex disease and leprosy, in Brunton L.L. (Ed.), Goodman & Gilmans the pharmacological basic of therapeutics, 11th Ed. (electronic edition), McGrawHill, New York.

Oetari, R.A., 1998, The interactions between curcumin and curcumin analogues and cytochrome P450, molecular and structure-activity relationships studies, Dissertation, GMU, Yogyakarta. Ratti, B., dan Parenti, R., 1981, Quantitative assay of rifampicin and its main metabolite 25desacetyl rifampicin in human plasma, Journal of Chromatography, 225: 526531. Wahyono D., Hakim A.R., dan Purwantiningsih, 2007, Pengaruh Pemberian Sirup Curcuma Plus terhadap Farmakokinetika Rifampisin pada Tikus, Majalah Farmasi Indonesia, (Accepted, in Press)