P. 1
Lampiran Draft Laporan Akhir

Lampiran Draft Laporan Akhir

|Views: 7,531|Likes:
Dipublikasikan oleh Tiyo Prihantiyono

More info:

Published by: Tiyo Prihantiyono on Jun 28, 2011
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/07/2014

pdf

text

original

LAMPIRAN LAPORAN AKHIR

Penilaian Status Norma, Standar, Prosedur, dan Kriteria untuk Pelayanan Pemerintah Daerah

2011
Submitted by Center for Economic and Public Policy Study – Universitas Gadjah Mada (CEPPS-UGM) for Decentralization Support Facility (DSF) and the Ministry of Home Affairs (MOHA)

1

LAMPIRAN 1 ANALISIS SOTK KEMENTERIAN DAN LEMBAGA PEMERINTAH

2

A. KEMENTERIAN PENDIDIKAN REPUBLIK INDONESIA 1. Deskripsi Berdasarkan Undang-Undang Dasar 1945 pasal 31 yang menekankan bahwa tiap warganegara berhak mendapatkan pengajaran. Untuk itu, Pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pengajaran nasional yang diatur dengan undang-undang. Sehubungan dengan tuntutan konstitusi dimaksud, Pemerintah berketetapan untuk membentuk lembaga yang bertanggung jawab pada usaha pencerdasan kehidupan bangsa. Sesuai dengan Peraturan Pemerintah 38 tahun 2007, urusan Pemerintahan Bidang Pendidikan di selenggarakan oleh Kementerian Pendidikan Republik Indonesia. Bidang Urusan Pendidikan terdiri dari sub bidang pendidikan, yaitu sub bidang kebijakan, sub bidang Pembiayaan, sub bidang kurikukum, sub bidang sarana dan prasarana, sub bidang pendidik dan tenaga kependidikan, dan sub bidang pengendalian mutu pendidikan. 1.a. Visi “Terselenggaranya Layanan Prima Pendidikan Nasional untuk Membentuk InsanIndonesia Cerdas Komprehensif.” 1.b. Misi a. Ketersediaan meningkatkan ketersediaan layanan pendidikan. Sebagai upaya menyediakan saranaprasarana dan infra struktur satuan pendidikan (sekolah) dan penunjang lainnya. b. Keterjangkauan Memperluas keterjangkauan layanan pendidikan. Mengupayakan kebutuhan biaya pendidikan yang terjangkau oleh masyarakat. c. Kualitas Meningkatkan kualitas/mutu dan relevansi layanan pendidikan. Sebagai upaya mencapai kualitas pendidikan yang berstandar nasional dalam rangka meningkatkan mutu dan daya saing bangsa. d. Kesetaraan Mewujudkan kesetaraan dalam memperoleh layanan pendidikan. Tanpa membedakan layanan pendidikan antarwilayah, suku, agama, status sosial, negeri dan swasta, serta gender. e. Kepastian Jaminan Menjamin kepastian memperoleh layanan pendidikan. Adanya jaminan bagi lulusan sekolah untuk melanjutkan ke jenjang pendidikan selanjutnya atau mendapatkan lapangan kerja sesuai kompetensi.

2. Struktur, Organisasi, dan Tata Kerja Dalam UU No. 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 50 disebutkan bahwa pengelolaan sistem pendidikan nasional merupakan tanggung jawab Menteri. Hal ini lebih spesifik lagi dengan dibentuknya Kementerian Pendidikan Republik Indonesia berdasarkan Perpres No. 24 Tahun 2010. Kementerian Pendidikan Republik Indonesia merupakan kementerian yang bertanggungjawab atas penyelenggaraan urusan di bidang pendidikan dalam pemerintahan berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 24 tahun 2010 Pasal 433. Dalam Peraturan Presiden Nomor 24 tahun 2010 telah dijelaskan tentang tugas, fungsi dan organisasi dari Kementerian Pendidikan Republik Indonesia dalam pasal 433-454.
3

2.a. Tugas Kementerian Pendidikan Nasional mempunyai tugas menyelenggarakan urusan di bidang pendidikan nasional dalam pemerintahan untuk membantu Presiden dalam menyelenggarakan pemerintahan negara. 2.b. Fungsi Dalam Pasal 434 dijelaskan bahwa Kementerian Pendidikan Nasional menyelenggarakan fungsi: a. perumusan, penetapan, dan pelaksanaan kebijakan di bidang pendidikan nasional; b. pengelolaan barang milik/kekayaan negara yang menjadi tanggung jawab Kementerian Pendidikan Nasional; c. pengawasan atas pelaksanaan tugas di lingkungan Kementerian Pendidikan Nasional; d. pelaksanaan bimbingan teknis dan supervisi atas pelaksanaan urusan Kementerian Pendidikan Nasional di daerah; dan e. pelaksanaan kegiatan teknis yang berskala nasional. 2.c. Susunan organisasi Kementerian Pendidikan Nasional Berdasarkan Perpres Nomor 67 Tahun 2010 Pasal 436 yang mengatur susunan organisasi eselon I Kementerian Pendidikan Nasional terdiri atas: • Wakil Menteri Pendidikan Nasional; • Sekretariat Jenderal; • Dirjen Pendidikan Anak Usia Dini, Nonformal, dan Informal; • Dirjen Pendidikan Dasar; • Dirjen Pendidikan Menengah; • Dirjen Pendidikan Tinggi; • Inspektorat Jendral; • Badan Penelitian dan Pengembangan; • Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa; • Badan Pengembangan Sumber Daya Pendidikan dan Penjaminan Mutu Pendidikan; • Staf Ahli Bidang Hukum; • Staf Ahli Bidang Sosial dan Ekonomi Pendidikan; • Staf Ahli Bidang Kerja Sama Internasional; • Staf Ahli Bidang Organisasi dan Manajemen; dan • Staf Ahli Bidang Budaya dan Psikologi Pendidikan. Alamat Kantor: Jl. Jend. Sudirman Pintu 1, Senayan Jakarta 10002 Telepon: 021-5731618 Fax: 021-5736870 situs resmi: http://www.kemdiknas.go.id/ B. KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBIK INDONESIA 1. Deskripsi Kementerian Kesehatan adalah kementerian dalam Pemerintah Indonesia yang membidangi urusan kesehatan. Menurut Peraturan Pemerintah Nomor 38 tahun 2007, Pembagian urusan pemenrintahan bidang kesehatan terdiri dari tiga sub bidang kesehatan
4

yaitu upaya kesehatan, pembiayaan kesehatan, sumber daya manusia kesehatan, obat dan perbekalan kesehatan. Dari sub bidang tersebut, terdiri pula sebelas sub-sub bidang urusan kesehatan yaitu pencegahan dan pemberantasan penyakit, Lingkungan sehat, perbaikan gizi masyarakat, pelayanan kesehatan perorangan dan masyarakat, pembinaan kesehatan masyarakat, peningkatan jumlah, mutu, dan penyebaran tenaga kesehatan, Ketersediaan, pemerataan, mutu obat, dan keterjangkauan harga obat serta perbekalan kesehatan, Penelitian dan pengembangan kesehatan, Kerjasama luar negeri, Peningkatan pengawasan dan akuntabilitas, dan Pengembangan Sistem Informasi kesehatan. 1.a. Visi “Masyarakat Sehat Yang Mandiri dan Berkeadilan .” 1.b. Misi a. Meningkatkan derajat kesehatan masyarakat, melalui pemberdayaan masyarakat, termasuk swasta dan masyarakat madani; b. Melindungi kesehatan masyarakat dengan menjamin tersedianya upaya kesehatan yang paripurna, merata bermutu dan berkeadilan; c. Menjamin ketersediaan dan pemerataan sumber daya kesehatan; d. Menciptakan tata kelola kepemerintahan yang baik. 1.c. Strategi a. Meningkatkan pemberdayaan masyarakat, swasta dan masyarakat madani dalam pembangunan kesehatan melaluikerja sama nasional dan global; b. Meningkatkan pelayanan kesehatan yang merata, terjangkau, bermutu dan berkeadilan, serta berbasis bukti; dengan pengutamaan pada upaya promotif dan preventif; c. Meningkatkan pembiayaan pembangunan kesehatan, terutama untuk mewujudkan jaminan sosial kesehatan nasional; d. Meningkatkan pengembangan dan pendayagunaan SDM kesehatan yang merata dan bermutu; e. Meningkatkan ketersediaan, pemerataan, dan keterjangkauan obat dan alat kesehatan serta menjamin keamanan, khasiat, kemanfaatan, dan mutu sediaan farmasi, alat kesehatan, dan makanan; f. Meningkatkan manajemen kesehatan yang akuntabel, transparan berdayaguna dan berhasilguna untuk memantapkan desentralisasi kesehatan yang bertanggungjawab. 2. Struktur, Organisasi, dan Tata Kerja Tugas, fungsi, dan kewenangan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia secara umum diatur dalam Perpres Nomor 24 Tahun 2010. Berikut adalah tugas, fungsi, dan kewenangan Kementerian Kesehatan:

2.a. Tugas dan Fungsi Berdasarkan Perpres Nomor 24 Tahun 2010, Kementerian Kesehatan RI mempunyai tugas membantu Presiden dalam penyelenggarakan sebagian urusan pemerintahan di bidang kesehatan. 2.b. Fungsi Dalam melaksanakan tugas seperti yang tertera dalam Perpres Nomor 24 Tahun 2010, Kementerian Kesehatan RI menyelenggarakan fungsi :
5

a. b. c. d. e.

Perumusan kebijakan nasional, kebijakan pelaksanaan dan kebijakan teknis di bidang kesehatan; Pelaksanaan urusan pemerintahan sesuai dengan bidang tugasnya; Pengelolaan barang milik/kekayaan negara yang menjadi tanggung jawabnya; Pengawasan atas pelaksanaan tugasnya. Penyampaian laporan hasil evaluasi, saran dan pertimbangan di bidang tugas dan fungsinya kepada Presiden.

2.c. Kewenangan Dalam menyelenggarakan fungsi seperti yang telah disebutkan di atas, Kementerian Kesehatan RI mempunyai kewenangan: a. Penetapan kebijakan nasional di bidang kesehatan untuk mendukung pembangunan secara makro; b. Penetapan pedoman untuk menetukan standar pelayanan minimal yang wajib dilaksanakan oleh kabupaten/Kota di bidang Kesehatan; c. Penyusunan rencana nasional secara makro di bidang kesehatan; d. Penetapan persyaratan akreditasi lembaga pendidikan dan sertifikasi tenaga profesional/ahli serta persyaratan jabatan di bidang kesehatan; e. Pembinaan dan pengawasan atas penyelenggaraan otonomi daerah yang meliputi pemberian pedoman, bimbingan, pelatihan, arahan dan supervisi di bidang kesehatan; f. Pengaturan penerapan perjanjian atau persetujuan internasional yang disahkan atas nama Negara di bidang kesehatan; g. Penetapan standar pemberian izin oleh daerah di bidang kesehatan; h. Penanggulangan wabah dan bencana yang berskala nasional di bidang kesehatan; i. Penetapan kebijakan sistem informasi nasional di bidang kesehatan; j. Penetapan persyaratan kualifikasi usaha jasa di bidang kesehatan; k. Penyelesaian perselisihan antar Provinsi di bidang kesehatan; l. Penetapan kebijakan pengendalian angka kelahiran dan penurunan angka kematian ibu, bayi, dan anak; m. Penetapan kebijakan sistem jaminan pemeliharaan kesehatan masyarakat; n. Penetapan pedoman standar pendidikan dan pendayagunaan tenaga kesehatan; o. Penetapan pedoman pembiayaan pelayanan kesehatan; p. Penetapan pedoman penapisan, pengembangan dan penerapan teknologi kesehatan dan standar etika penelitian kesehatan; q. Penetapan standar nilai gizi dan pedoman sertifikasi teknologi kesehatan dan gizi; r. Penetapan standar akreditasi sarana dan prasarana kesehatan; s. Surveilans epidemiologi serta pengaturan pemberantasan dan penenggulangan wabah, penyakit menular dan kejadian luar biasa; t. Penyediaan obat esensial tertentu dan obat untuk pelayanan kesehatan dasar sangat essential (buffer stock nasional); u. Kewenangan lain sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku yaitu : • penempatan dan pemindahan tenaga kesehatan tertentu; • pemberian izin dan pembinaan produksi dan distribusi alat kesehatan.

6

2.d. Struktur Organisasi

Gambar L.1a Struktur Organisasi Kementerian Kesehatan Republik Indonesia
Sumber: Situs Kementerian Kesehatan RI

Alamat Kantor: Jl H.R.Rasuna Said Blok X.5 Kav. 4-9 Jakarta Pusat Situs resmi:http://www.depkes.go.id/

C. KEMENTERIAN PEKERJAAN UMUM REPUBLIK INDONESIA 1. Deskripsi Istilah Pekerjaan Umum adalah terjemahan dari istilah bahasa Belanda Openbare Werken yang pada zaman Hindia Belanda disebut Waterstaat swerken. Di lingkungan Pusat Pemerintahan dibina oleh Dep.Van Verkeer & Waterstaat (Dep.V&W), yang sebelumnya terdiri dari 2 Dept.Van Guovernements Bedri jven dan Dept.Van Burgewrlijke Openbare Werken. Dep. V dan W dikepalai oleh seorang Direktur, yang membawahi beberapa Afdelingen dan Diensten sesuai dengan tugas/wewenang kementerian ini. Kementerian Pekerjaan Umum membawahi urusan pemerintahan bidang pekerjaan umum dan bidang penataan ruang. Meskipin, urusan bidang pemerintahan bidang penataan ruang diselenggarakan oleh Badan Koordinasi Penataan Ruang Nasional, namun pelaksanaan urusan pemerintahan bidang penataan ruang berada pada direktorat jenderal penataan ruang, yang berada di bawah kementerian Pekerjaan Umum. 1.a. Visi “Ketersediaan Pekerjaan Umum dan Pemukiman Prasarana yang Andal untuk Mendukung Bangsa Indonesia Sejahtera 2025.”

7

1.b. Misi a. Menyadari penataan ruang sebagai mitra referensi spasial dari pembangunan nasional dan regional dan integrasi infrastruktur pekerjaan konstruksi umum dan penataan ruang permukiman berbasis dalam rangka pembangunan berkelanjutan; b. Menyelenggarakan pengelolaan sumber daya air secara efektif dan untuk meningkatkan fungsi keberlanjutan kebelanjutan optiml dan pemanfaatan sumber daya air dan mengurangi resiko rusak air; c. Aksesibilaitas Meningkatkan dan mobilitas di wilayah ini untuk mendukung pertumbuhan ekonomi dan meningkatkan kesejahteraan sosial dengan menyediakan jaringan jalan yang handal, terpadu dan berkelanjutan; d. Meningkatkan kualitas lingkungan perumahan layak huni dan produktif melalui pembinan dan memfasilitasi pengembangan infrastruktur UAG permukiman terpadu, dapat diandalkan dan berkelanjutan; e. Melakukan industri konstruksi yang kompetitif dengan memastikan integrasi manajemen sektor konstruksi, proses konstruksi yang baik dan membuat pelaku sektor konstruksi untuk tumbuh dan berkembang; f. Melakukan penelitian dan pengembangan serta penerapn: ilmu pengetahuan dan teknologi, norma, standar, pedoman, manual dan / atau kriteria untuk mendukung infrastruktur pekerjaan umum dan permukiman; g. Melaksanakan dukungan manajemen fungsional dan sumber daya akuntabel dan kompeten, terintegrasi dan inovatif dengan menerapkan prinsip-prinsip Prinsip-prinsip good governance; h. Minimalkan penipuan dan praktek korupsi di lingkungan Departemen Pekerjaan Umum untuk meningkatkan kualitas pemeriksaan dan pengawasan profesional.

2.

Struktur, Organisasai, dan Tata Kerja Kedudukan, tugas dan gungsi Kementerian Pekerjaan Umum disebutkan dalam Peraturan Presiden Nomor 24 tahun 2010 tentang Kedudukan, Tugas, dan Fungsi Kementerian Negara serta Susunan Organisasi, Tugas, dan Fungsi Eselon I Kementerian Negara. Pada bagian keempatbelas, Pasal 390-392 disebutkan mengenai kedudukan, tugas, dan fungsi Kementerian Pekerjaan Umum. Pasal 391menyebutkan bahwa: a. Kementerian Pekerjaan Umum berada di bawah dan bertanggungjawab kepada Presiden b. Kementerian Pekerjaan Umum dipimpin oleh Menteri Pekerjaan Umum. 2.a. Tugas Sesuai dengan Undang-undang Nomor 39 Tahun 2008 tentang Kementerian Negara dan Peraturan Presiden Nomor 47 tahun 2009 tentang Pembentukan dan Organisasi Kementerian Negara, Departemen Pekerjaan Umum mempunyai tugas: Menyelenggarakan Urusan Pemerintahan khusus untuk membantu Presiden dalam menyelenggarakan pemerintahan negara.

2.b. Fungsi Formulasi, penentuan dan pelaksanaan kebijakan di bidang mereka. Properti manajemen / properti tanggung jawab negara. Pengawasan pelaksanaan tugas di bidang mereka. Pelaksanaan bimbingan teknis dan pengawasan atas pelaksanaan urusan kementerian di daerah tersebut. e. Pelaksanaan kegiatan teknis pada skala nasional.
a. b. c. d.

8

2.c. Struktur Organisasi

Gambar L.1b Struktur Oganisasi Kementerian Pekerjaan Umum Republik Indonesia
Sumber: Situs Resmi Kementerian PU RI

Alamat Kantor: Jl. Pattimura No.20, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan 12110, Telepon: 021-7392262 Situs resmi http://www.pu.go.id D. KEMENTERIAN PERUMAHAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA 1. Deskripsi Sebagaimana diamanatkan dalam Undang Undang Dasar (UUD) 1945 dan pasal 28 H Amandemen UUD 1945, bahwa rumah adalah salah satu hak dasar rakyat dan oleh karena itu setiap warga negara berhak untuk bertempat tinggal dan mendapat lingkungan hidup yang
9

baik dan sehat. Selain itu, rumah juga merupakan kebutuhan dasar manusia dalam meningkatkan harkat, martabat, mutu kehidupan dan penghidupan, serta sebagai pencerminan diri pribadi dalam upaya peningkatan tarat hidup, serta pembentukan watak, karakter dan kepribadian bangsa. Oleh karena itu, pembangunan perumahan dan permukiman harus didukung oleh suatu kebijakan, strategi dan program yang komprehensif dan terpadu sehingga selain mampu memenuhi hak dasar rakyat juga akan menghasilkan suatu lingkungan perumahan dan permukiman yang sehat, serasi, harmonis, aman dan nyaman. Kementerian Perumahan Rakyat membidangi urusan perumahan, sebgaimana dalam Peraturan Pemerintah nomor 38 tahun 2007. Bidang urusan perumahan, terdiri dari tujuh sub-bidang urusan perumahan, dan setiap sub bidang memiliki sub-sub bidang urusan perumahan. 1.a. Visi “Setiap keluarga di Indonesia Live / Hidup dalam Rumah itu dihuni.” 1.b. Misi a. Meningkatkan iklim yang kondusif dan mengkoordinasikan pelaksanaan kebijakan pengembangan perumahan dan permukiman; b. Meningkatkan ketersediaan rumah layak huni dan terjangkau dalam lingkungan yang sehat dan menyimpan serta didukung oleh infrastruktur yang memadai, fasilitas dan utilitas; c. Mengembangkan sistem perumahan pembayaran dalam jangka panjang yang efisien, akuntabel dan berkelanjutan; d. Meningkatkan pemanfaatan sumber daya perumahan dan permukiman secara optimal; e. Peningkatan peran pemerintah daerah dan pemangku kepentingan lain yang peduli dalam pembangunan perumahan dan settement. 2. Struktur, Organisasi, dan Tata Kerja Dalam Perpres Nomor 24 Tahun 2010, disebutkan bahwa kedudukan Kementerian Perumahan Rakyat adalah: a. Kementerian Perumahan Rakyat berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Presiden; b. Kementerian Perumahan Rakyat dipimpin oleh Menteri Negara Perumahan Rakyat. 2.a. Tugas Pada pasal 673 Perpres Nomor 24 Tahun 2010, disebutkan bahwa tugas kementerian perumahan rakyat adalah menyelenggarakan urusan di bidang perumahan rakyat dalam pemerintahan untuk membantu Presiden dalam menyelenggarakan pemerintahan negara. 2.b. Fungsi Sementara itu, dalam menjalankan tugasnya, Kementerian Perumahan Rakyat menyelenggarakan fungsi sebagai berikut: a. Perumusan dan penetapan kebijakan di bidang perumahan rakyat; b. Koordinasi dan sinkronisasi pelaksanaan kebijakan di bidang perumahan rakyat; c. Pengelolaan barang milik/kekayaan negara yang menjadi tanggung jawab Kementerian Perumahan Rakyat; d. Pengawasan atas pelaksanaan tugas di lingkungan Kementerian Perumahan Rakyat; dan e. Penyelenggaraan fungsi operasionalisasi kebijakan penyediaan rumah dan pengembangan lingkungan perumahan sebagai bagian dari permukiman termasuk
10

penyediaan rumah susun dan penyediaan prasarana dan sarana lingkungannya sesuai dengan undang-undang di bidang perumahan dan permukiman, dan rumah susun. 2.c. Struktur Organisasi

Gambar L.1c Struktur Organisasi Kementerian Perumahan Rakyat Republik Indonesia
Sumber: situs resmi Kementerian Perumahan Rakyat RI

Alamat Kantor: Jl. Raden Patah I No 1-Lantai 2, Wing 4, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan , Phone. / Fax: 021-7397727 / 77 Situs resmi http://www.kemenpera.go.id/ E. BADAN KOORDINASI PENATAAN RUANG NASIONAL 1. Deskripsi Badan ini merupakan badan yang terdiri dari gabungan beberapa lembaga negara kementerian dan lembaga negara non-kementerian yang dipimpin oleh Menteri Negara Koordinator Bidang Perekonomian Indonesia. Namun untuk kelancafran tugas dalam bidang teknis penytelenggarangan penataan ruang, dibentuk tim pelaksana yang diketuai oleh
11

MenteriPekerjaan Umum. Dalam melaksanakan tugasnya, BKPRN dapat melibatkan Menteri, Kepala Lembaga Pemerintah Non Departemen, Kepala Daerah, Pimpinan Lembaga dan/atau pihak lain terkait yang dipandang perlu. 1.a. Visi Berdasarkan PP Nomor 26 Tahun 2008, visi Badan Koordinasi Penataan Ruang Nasional adalah sebagai berikut: “Mewujudkan ruang yang meliputi ruang darat, ruang laut, dan ruang udara termasuk ruang di dalam bumi sebagai satu kesatuan wilayah, tempat manusia dan makhluk lain hidup, melakukan kegiatan, dan memelihara kelangsungan hidupnya.” 1.b. Misi Seperti yang tercantum dalam PP Nomor 26 Tahun 2008, dalam melaksanakan visinya, Badan Koordinasi Penataan Ruang Nasional mempunyai tujuan sebagai berikut: a. Ruang wilayah nasional yang aman, nyaman, produktif, da berkelanjutan; b. Keharmonisan antara lingkungan alam dan lingkungan buatan; c. Keterpaduan perencanaan tata ruang wilayah nasional, provinsi, dan kabupaten/kota; d. Keterpaduan pemanfaatan ruang darat, ruang laut, dan ruang udara, termasuk ruang di dalam bumi dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia; e. Keterpaduan pengendalian pemanfaatan ruang wilayah nasional, provinsi, dan kabupaten/kota dalam rangka perlindungan fungsi ruang dan pencegahan dampak negative terhadap lingkungan akibat pemanfaatan ruang; f. Pemanfaatan sumber daya alam secara berkelanjutan bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat; g. Keseimbangan dan keserasian perkembangan antar-wilayah; h. Keseimbangan dan keserasian kegiatan antar-sektor; dan i. Pertahanan dan keamanan negara yang dinamis serta integrasi nasional. 2. Struktur, Organisasi, dan Tata Kerja 2.a. Tugas Badan Koordinasi Penataan Ruang Nasional bertugas sebagai badan yang melaksanakan penataan ruang secara nasional. Tugas-tugas antara lain sebagai berikut : a. Penyiapan kebijakan penataan ruang nasional. b. Pelaksanaan Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional secara terpadu sebagai dasar bagi kebijakan pengembangan tata ruang wilayah nasional dan kawasan yang dijabarkan dalam program pembangunan sektor dan program pembangunan di daerah. c. Penanganan dan penyelesaian masalah yang timbul dalam penyelenggaraan penataan ruang, baik di tingkat nasional maupun daerah, dan memberikan pengarahan serta saran pemecahannya. d. Penyusunan peraturan perundang-undangan di bidang penataan ruang, termasuk standar, prosedur, dan criteria. e. Pemaduserasian berbagai peraturan perundang-undangan yang terkait dengan penyelenggaraan penataan ruang. f. Pemaduserasian penatagunaan tanah dan penatagunaan sumber daya alam lainnya dengan Rencana Tata Ruang. g. Pemantauan pelaksanaan Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional dan pemanfaatkan hasil pemantauan tersebut untuk penyempurnaan Rencana Tata Ruang. h. Penyelenggaraan, pembinaan, dan penentuan prioritas pelaksanaan penataan ruang kawasan-kawasan strategis nasional dalam rangka pengembangan wilayah. i. Pelaksanaan penataan ruang wilayah nasional dan kawasan strategis nasional.
12

j. k. l. m.

Pemfasilitasan kerja sama penataan ruang antarprovinsi. Kerja sama penataan ruang antarnegara. Penyebarluasan informasi bidang penataan ruang dan yang terkait Sinkronisasi Rencana Umum dan Rencana Rinci Tata Ruang Daerah dengan peraturan perundang-undangan, termasuk dengan Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional dan rencana rincinya, dan n. Upaya peningkatan kapasitas kelembagaan Pemerintah dan Pemerintah Daerah dalam penyelenggaraan penataan ruang.

2.b. Struktur Organisasi Tata Kerja Badan Koordiansi Penataan Ruang Nasional dalam bidang teknis penyelenggaraan diketuai oleh Menteri Pekerjaan Umum. Susunan Organisasi Badan Koordinasi Penataan Ruang Nasional adalah : Ketua : Menteri Koordinator Bidang Perekonomian; Wakil Ketua I : Menteri Pekerjaan Umum; Wakil Ketua II : Menteri Dalam Negeri; Sekretaris : Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional; Anggota : a. Menteri Pertahanan; b. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral; c. Menteri Perindustrian; d. Menteri Pertanian; e. Menteri Kehutanan; f. Menteri Perhubungan; g. Menteri Kelautan dan Perikanan; h. Menteri Negara Lingkungan Hidup; i. Kepala Badan Pertanahan Nasional; j. Wakil Sekretaris Kabinet. Kontak Resmi: Situs resmi http://www.bkprn.org/

F. BADAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL 1. Deskripsi Tugas Pokok dan Fungsi Bappenas diuraikan sesuai dengan Keputusan Presiden Nomor 4 dan Nomor 5 Tahun 2002 tentang Organisasi dan tata kerja Kantor Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional/ Badan Perencanaan Pembangunan Nasional, tugas pokok dan fungsi tersebut tercermin dalam struktur organisasi, proses pelaksanaan perencanaan pembangunan nasional, serta komposisi sumber daya manusia dan latar belakang pendidikannya. Dalam melaksanakan tugasnya, Kepala Bappenas dibantu oleh Sekretariat Utama, Staf Ahli dan Inspektorat Utama, serta 7 deputi yang masing-masing membidangi bidang-bidang tertentu. 2. Struktur Organisasi Tugas Kerja Sesuai dengan Peraturan Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional Nomor 01 Tahun 2005 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Negara Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perncanaan Pembangunan Nasional, bahwa kedudukan Kementerian Negara Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan
13

Nasional adalah unsur pelaksana pemerintah yang berada di bawah dan bertanggungjawab pada Presiden, Kementerian Negara Perencanaan Pembanguna Nasional /Badan Perencanaan Pembangunan Nasional dipimpin oleh seorang Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional yang sekaligus menjabat sebagai Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional. 2.a. Tugas Dalam Bab I pasal 2 Permen Perencanaan Pembangunan Nasional Nomor 01 Tahun 2005, Kementerian Negara Perenacanaan Pembangunan Nasional bertugas membantu Presiden dalam meremuskan kebijakan dan kooordinasi di bidang perencanaan pembangunan. Sementara secara umum tugas Kemeneterian Negara Perencanaan Pembangunan Nasional disebutkan dalam Pasal 5, yaitu: a. Memimpin Kementerian Negara Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan yang berlaku b. Menyiapkan kebijakan nasional dan kebijakan umum sesuai dengan tugas Kementerian Negara Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional yang menjadi tanggung jawabnya. c. Menetapkan kebijakan teknis pelaksanaan tugas Badan Perencanaan Pembangunan Nasional yang menjadi tanggungjawabnya. d. Membina dan melaksanakan kerja sama dengan instansi dan organisasi lain. 2.b. Fungsi Sebagaimana pada pasal 3 peraturan yang disebutkan sebelumnya, Kementerian Negara Perencanaan Pembangunan Nasional menyelenggarakan fungsi: a. Penyusunan rencana pembangunan jangka panjang nasional (RPJP Nasional) b. Penjabaran Visi, Misi, dan Program Kerja Presiden ke dalam rencana pembangunan jangka menengah nasional (RPJM Nasional) c. Penyusunan rencana kerja pemerintah (RKP) d. Pengkoordinasian dan perumusan kebijakan pemerintah di bidang perencanaan pembangunan nasional. e. Pengkajian kebijakan pemerintah di bidang perencenaan pembangunan nasional f. Pemantauan, evaluasi, dan analisis bidang perencanaan pembangunan nasional g. Mendukung penyusunan Rencana Anggaran Pendapatan dan Belanja Nasional (RAPBN) h. Koordinasi, fasilitasi, dan pelaksanaan pencarian sumber-sumber pembiayaan dalam dan luar negeri, serta pengalokasian dana untuk pembangunan bersama-sama instansi terkait i. Koordinasi kegiatan fungsional dalam pelaksanaan tugas Kementerian Negara Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional j. Fasilitasi dan pembinaan terhadap kegiatan instansi pemerintah di bidang perencanaan pembangunan nasional. k. Penyampaian laporan hasil evaluasi, saran, dan pertimbangan di bidang tugasnya dan fungsinya kepada Presiden.

14

2.c. Struktur Organisasi

Gambar L.1d Struktur Organisasi Badan Perencanaan Pembangunan Nasional Alamat Kantor Jl.Taman Suropati No.2, Jakarta 10310, Telp.021-3905650 Situs resmi http://www.bappenas.go.id/

G. KEMENTERIAN PERHUBUNGAN REPUBLIK INDONESIA 1. Deskripsi Dalam Peraturan Pemerintah Nomor 38 tahun 2007 urusan pemerintahan bidang perhubungan diselenggarakan oleh Kementerian Perhubungan. Urusan pemerintahan bidang perhubungan terdiri dari empat macam sub bidang perhubungan, yaitu, sub bidang perhubungan darat, perkeretaapian, perhubungan laut, dan perhubungan udara. Dari setiap sub bidang itu terdiri dari beberpa sub-sub bidang mengenai urusan bidang perhubungan di setiap bidangnya. 1.a. Visi “Terwujudnya penyelenggaraan pelayanan perhubungan yang handal, berdaya saing dan memberikan nilai tambah.” 1.b. Misi a. Mempertahankan tingkat jasa pelayanan sarana dan prasarana perhubungan; b. Melaksanakan konsolidasi melalui restrukturisasi dan reformasi di bidang sarana dan prasarana perhubungan;
15

c. Meningkatkan aksesibilitas masyarakat terhadap pelayanan jasa perhubungan; d. Meningkatkan kualitas pelayanan jasa perhubungan yang handal dan memberikan nilai tambah 2. Struktur organisasi Kementrian Perhubungan Sesuai dengan Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 60 tahun 2010 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Perhubungan. Dalam Bab I disebutkan mengenai Kedudukan, Tugas dan Fungsi Kementerian Perhubungan. Pada pasal 1 kedudukan Kementerian perhubungan adalah: a. Kementerian Perhubungan berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Presiden; b. Kementerian Perhubungan dipimpin oleh Menteri Perhubungan. 2.a. Tugas Sementara tugas Kementerian perhubungan sebagaimana pada Pasal 2 Peraturan Menteri No 60 tahun 2010 Kementerian Perhubungan mempunyai tugas menyelenggarakan urusan di bidang perhubungan dalam pemerintahan untuk membantu Presiden dalam menyelenggarakan pemerintahan Negara. 2.b. Fungsi Dalam melaksanakan tugasnya, sebagaimana pada pasal 3, Kementerian Perhubungan menyelenggarakan fungsi sebagai berikut: a. Perumusan, penetapan, dan pelaksanaan kebijakan di bidang perhubungan b. Pengelolaan barang milik / kekayaan negara yang menjadi tanggung jawab Kementerian Perhubungan c. Pengawasan atas pelaksanaan tugas di lingkungan Kementerian Perhubungan d. Pelaksanaan bimbingan teknik dan supervisi atas pelaksanaan urusan Kementerian Perhubungan di daerah e. Pelaksanaan kegiatan teknis di bidang perhubungan. 2.c. Struktur Organisasi

Gambar L.1e Struktur Organisasi Kementerian Perhubungan
Sumber: Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 60 tahun 2010

16

Alamat Kantor: Jl. Medan Merdeka Barat No.8, Jakarta Pusat, 10110 Telp. (021) 3811308, 3505006 Situs resmi kementerian perhubungan http://www.dephub.go.id/.

H. KEMENTERIAN NEGARA LINGKUNGAN HIDUP REPUBLIK DI INDONESIA 1. Deskripsi UU No. 4 Tahun 1982 antara lain menggariskan bahwa manusia dan perilakunya merupakan komponen lingkungan hidup. Karena itu, perlu adanya perpaduan antara aspek kependudukan ke dalam pengelolaan lingkungan hidup. Untuk itu, berdasarkan Keppres No. 25 Tahun 1983 tentang Kedudukan, Tugas Pokok, Fungsi dan Tata Kerja Menteri Negara Kependudukan dan Lingkungan Hidup, dibentuklah Kantor Menteri Negara Kependudukan dan Lingkungan Hidup (Men-KLH) dengan menterinya adalah Prof. Dr. Emil Salim. Masalah kependudukan dan lingkungan hidup cenderung menjadi makin luas dan kompleks sejalan dengan makin pesatnya laju kegiatan pembangunan dan meningkatnya kesejahteraan masyarakat. Karena itu dipandang perlu membentuk lembaga kementerian yang khusus bertugas menangani dan mengkoordinir pengelolaan lingkungan hidup di Indonesia. 1.a. Visi "Realisasi Kementerian Lingkungan Hidup yang handal dan proaktif, serta memainkan peran dalam pelaksanaan pembangunan berkelanjutan, dengan penekanan pada ekonomi hijau." 1.b. Misi a. Menghidupkan kebijakan pengelolaan sumber daya alam dan lingkungan terpadu, untuk mendukung tercapainya pembangunan berkelanjutan, dengan penekanan pada ekonomi hijau; b. Melakukan koordinasi dan kemitraan dalam proses rantai nilai pembangunan untuk mewujudkan integrasi, sinkronisasi antara ekonomi dan ekologi dalam pembangunan berkelanjutan; c. Mewujudkan pencegahan kerusakan dan pengendalian pencemaran sumber daya alam dan lingkungan dalam rangka melestarikan fungsi lingkungan hidup; d. Melaksanakan pemerintahan yang baik dan untuk mengembangkan kapasitas kelembagaan dalam pengelolaan sumber daya alam dan lingkungan secara terpadu.

2. Struktur Organisasi Tata Kerja Organisasi dan tata kerja Kementerian Lingkungan Hidup diatur dalam Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 1 Tahun 2005. Pada Bab I peraturan menteri tersebut menyatakan kedudukan, tugas dan fungsi Kementerian Lingkungan Hidup. Kedudukan Kementerian Negara Lingkungan Hidup pada Pasal 1 Bab I menyatakan bahwa Menteri Negara Lingkukngan Hidup adalah unsur pembantu presiden yang berada di bawah dan bertanggungjawab kepada Presiden. 2.a. Tugas Dalam Pasal 2 Permen Lingkungan Hidu Nomor 1 Tahun 2005, tugas Menteri Negara Lingkungan Hidup adalah membantu Presiden dalam merumuskan kebijakan dan koordinasi di bidang lingkungan hidup dan pengendalian dampak lingkungan.
17

2.b. Fungsi Pasal 3 peraturan yang sama, bahwa dalam rangka menyelenggarakan tugasnya, Menteri Negara Lingkungan Hidup menyelenggarakan fungsi sebagai berikut: a. Perumusan kebijakan nasional di bidang pengelolaan lingkungan hidup dan pengendalian dampak lingkungan; b. Pengkoordinasian pelaksanaan kebijakan di bidang pengelolaan lingkungan hidup dan pengendalian dampak lingkungan; c. Pengelolaan barang milik/kekayaan Negara yang menjadi tanggungjawabnya; d. Pengawasan atas pelaksanaan tugasnya; e. Penyampaian laporan hasil evaluasi, saran dan pertimbangan bidang tugas dan fungsinya kepada Presiden. 2.c. Struktur Organisasi

Gambar L.1f Struktur Organisasi Kementerian Lingkungan Hidup Republik Indonesia
Sumber: Situs Resmi Kementrian Lingkungan Hidup Republik Indonesia

Alamat Kantor: Jl. DI Panjaitan Kav. 24, Jakarta Timur 13410 Phone : 021-8517184, Fax : 021-8517184. Situs resmi http://www.menlh.go.id/. I. BADAN PERTANAHAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA 1. Deskripsi Badan Pertanahan Nasional (BPN) adalah Lembaga Pemerintah Non Departemen yang berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Presiden dan dipimpin oleh Kepala. (Sesuai dengan Perpres No. 10 Tahun 2006).
18

1.a. Visi “Menjadi lembaga yang mampu mewujudkan tanah dan pertanahan untuk sebesarbesar kemakmuran rakyat, serta keadilan dan keberlanjutan sistem kemasyarakatan, kebangsaan dan kenegaraan Republik Indonesia.” 1.b. Misi Mengembangkan dan menyelenggarakan politik dan kebijakan pertanahan untuk: a. Peningkatan kesejahteraan rakyat, penciptaan sumber-sumber baru kemakmuran rakyat, pengurangan kemiskinan dan kesenjangan pendapatan, serta pemantapan ketahanan pangan; b. peningkatan tatanan kehidupan bersama yang lebih berkeadilan dan bermartabat dalam kaitannya dengan penguasaan, pemilikan, penggunaan dan pemanfaatan tanah (P4T); c. Perwujudan tatanan kehidupan bersama yang harmonis dengan mengatasi berbagai sengketa, konflik dan perkara pertanahan di seluruh tanah air dan penataan perangkat hukum dan sistem pengelolaan pertanahan sehingga tidak melahirkan sengketa, konflik dan perkara di kemudian hari; d. Keberlanjutan sistem kemasyarakatan, kebangsaan dan kenegaraan Indonesia dengan memberikan akses seluas-luasnya pada generasi yang akan datang terhadap tanah sebagai sumber kesejahteraan masyarakat; e. Menguatkan lembaga pertanahan sesuai dengan jiwa, semangat, prinsip dan aturan yang tertuang dalam UUPA dan aspirasi rakyat secara luas. 2. Struktur Organisasi Tata Kerja Dalam Peraturan Presiden No. 10 Tahun 2006 Pasal 1 Tentang Badan Pertanahan Nasional disebutkan bahwa Badan Pertanahan Nasional adalah Lembaga Pemerintah Non Departemen yang berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Presiden dan dipimpin oleh Kepala. 2.a. Tugas Tugas Badan Pertanahan Nasional seperti yang disebutkan pada Pasal 2, disebutkan bahwa melaksanakan tugas pemerintahan di bidang pertanahan secara nasional, regional, dan sektoral. 2.b. Fungsi Pada Pasal 3 disebutkan bahwa dalam melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud Pasal 2, Badan Pertanahan Nasional menyelenggarakan fungsi: a. perumusan kebijakan nasional di bidang pertanahan; b. perumusan kebijakan teknis di bidang pertanahan; c. koordinasi kebijakan, perencanaan dan program di bidang pertanahan; d. pembinaan dan pelayanan administrasi umum di bidang pertanahan; e. penyelenggaraan dan pelaksanaan survei, pengukuran dan pemetaan di bidang pertanahan; f. pelaksanaan pendaftaran tanah dalam rangka menjamin kepastian hukum; g. pengaturan dan penetapan hak-hak atas tanah; g. pelaksanaan penatagunaan tanah, reformasi agraria dan penataan wilayah-wilayah khusus; h. penyiapan administrasi atas tanah yang dikuasai dan/atau milik negara/daerah bekerjasama dengan Departemen Keuangan;
19

i. pengawasan dan pengendalian penguasaan pemilikan tanah; j. kerjasama dengan lembaga-lembaga lain; k. penyelenggaraan dan pelaksanaan kebijakan, perencanaan dan program di bidang pertanahan; l. pemberdayaan masyarakat di bidang pertanahan; m. pengkajian dan penanganan masalah, sengketa, perkara dan konflik di bidang pertanahan; n. pengkajian dan pengembangan hukum pertanahan; o. penelitian dan pengembangan di bidang pertanahan; p. pendidikan, latihan dan pengembangan sumber daya manusia di bidang pertanahan; q. pengelolaan data dan informasi di bidang pertanahan; r. pembinaan fungsional lembaga-lembaga yang berkaitan dengan bidang pertanahan; s. pembatalan dan penghentian hubungan hukum antara orang, dan/atau badan hukum dengan tanah sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku; t. fungsi lain di bidang pertanahan sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku. 2.c. Struktur Organisasi

Gambar L.1g Struktur Organisasi Badan Pertanahan Nasional Republik Indonesia
Sumber: Badan Pertanahan Nasional Republik Indonesia

Alamat Kantor: Jl. Sisingamangaraja No. 2, Keb. Baru, Jakarta Pusat Telepon: 021- 393 939 Situs resmi: http://www.bpn.go.id J. KEMENTERIAN PEMBERDAYAAN PEREMPUAN DAN PERLINDUNGAN ANAK REPUBLIK INDONESIA 1. Deskripsi Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Presiden. Kementerian ini dipimpin oleh Menteri Negara
20

Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak. Sesuai dengan Perpres No. 24 Tahun 2010 pasal 594, Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak mempunyai tugas menyelenggarakan urusan di bidang pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak dalam pemerintahan untuk membantu Presiden dalam menyelenggarakan pemerintahan negara. Dalam melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 595, Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak memiliki fungsi: a. Perumusan dan penetapan kebijakan di bidang pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak; b. Koordinasi dan sinkronisasi pelaksanaan kebijakan di bidang pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak; c. Pengelolaan barang milik/kekayaan negara yang menjadi tanggung jawab Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak; dan d. Pengawasan atas pelaksanaan tugas di lingkungan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak. Kementerian ini memiliki lima bidang yang menjadi tanggung jawab untuk dijalankan yaitu: Pengarusutamaan Gender (PUG); Kualitas Hidup dan Perlindungan Perempuan; Perlindungan Anak; Pemberdayaan Lembaga Masyarakat dan Dunia Usaha; serta Data dan Informasi Gender dan Anak. 1.a. Visi “Terwujudnya kesetaraan gender dan perlindungan anak.” 1.b. Misi “Mendorong terwujudkan kebijakan yang responsif gender dan peduli anak untuk peningkatan kualitas hidup dan perlindungan perempuan, serta pemenuhan hak tumbuh kembang dan perlindungan anak dari tindak kekerasan.” 1.c. Tujuan a. Mendorong dan memfasilitasi perumusan dan pelaksanaan kebijakan yang responsif gender dan peduli anak di seluruh bidang pembangunan prioritas; b. Mendorong dan memfasilitasi pemenuhan hak-hak perempuan dan anak atas perlindungan dari tindak kekerasan; c. Meningkatkan kapasitas kelembagaan dan jejaring serta peran serta masyarakat dalam mendukung pencapaian kesetaraan gender, pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak; dan d. Mewujudkan manajemen yang akuntabel dan terintegrasi. 1.d. Sasaran Strategis Sasaran strategis Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Anak tahun a. Perumusan kebijakan dan pedoman bagi penerapan pengarusutamaan gender dan anak (PUG & A) oleh Kementerian Negara dan Lembaga Pemerintah Non departemen lainnya (khususnya di bidang sosial, politik, hukum; perekonomian; dan pemenuhan hak anak). b. Perumusan kebijakan dan pedoman bagi penerapan pengarusutamaan gender dan anak (PUG & A) oleh Pemerintah Daerah, khususnya di bidang sosial, politik, hukum; perekonomian; dan pemenuhan hak anak. c. Perumusan kebijakan perlindungan perempuan dan anak. 2. Struktur, Organisasi, dan Tata Kerja Berdasarkan Perpres Nomor 24 Tahun 2010 Pasal 594, Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak berada di bawah dan bertanggung jawab kepada presiden.

21

Dalam melaksanakan tugas dan fungsinya, Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak dipimpin oleh seorang menteri. 2.a. Tugas Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak mempunyai tugas menyelenggarakan urusan di bidang pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak dalam pemerintahan untuk membantu Presiden dalam menyelenggarakan pemerintahan negara. 2.b. Fungsi Dalam melaksanakan tugas seperti yang telah diatur di atas, Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak mempunyai fungsi sebagai berikut: a. Perumusan dan penetapan kebijakan di bidang pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak; b. Koordinasi dan sinkronisasi pelaksanaan kebijakan di bidang pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak; c. Pengelolaan barang milik/kekayaan negara yangmenjadi tanggung jawab Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan anak; d. Pengawasan atas pelaksanaan tugas di lingkungan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak. 2.c. Struktur Organisasi

Sumber: Situs Resmi Kementerian PP dan PA Republik Indonesia

Gambar L.1h Struktur Organisasi Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak 3. Alamat Kementrian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia
22

Jl. Merdeka Barat 15, Jakarta 10110 Telepon: 021-3805563, Fax (021) 3805562, 3805559 http://www.menegpp.go.id K. BADAN KOORDINASI KELUARGA BERENCANA NASIONAL 1. Deskripsi Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) ini bergerak dibidang Bidang Koordinasi Kesehatan, Kependudukan, dan Keluarga Berencana mempunyai tugas menyiapkan sinkronisasi dan koordinasi perencanaan, penyusunan, dan pelaksanaan kebijakan di bidang kesehatan, kependudukan, dan keluarga berencana. Badan ini berkoordinasi dengan Kementerian Koordinasi Kesejahteraan Rakyat sesuai dengan Perpres Nomor 24 Tahun 2010 Pasal 52-55. 1.a. Visi “Penduduk tumbuh seimbang tahun 2015.” 1.b. Misi Dalam menjalankan misi yang dibawanya, BKKBN memiliki misi sebagai berikut: “Mewujudkan pembangunan berwawasan kependudukan dan mewujudkan keluarga kecil bahagia sejahtera.” 2. Struktur, Organisasi, dan Tata Kerja Berdasarkan Perpres Nomor 24 Tahun 2010, BKKBN berkedudukan di bawah dan bertanggung jawab kepada Kementerian Kesejahteraan Rakyat. 2.a. Tugas Dalam Pasal 54 Perpres Nomor 24 Tahun 2010 dijabarkan bahwa BKKBN mempunyai tugas menyiapkan sinkronisasi dan koordinasi perencanaan, penyusunan, dan pelaksanaan kebijakan di bidang kesehatan, kependudukan, dan keluarga berencana. 2.b. Fungsi Dalam pasal 56 Perpres Nomor 24 Tahun 2010, BKKBN memiliki fungsi untuk menjalankan tugasnya sebagai berikut : a. Sinkronisasi perencanaan, penyusunan, dan pelaksanaan kebijakan di bidang kesehatan, kependudukan, dan keluarga berencana; b. Penyiapan koordinasi perencanaan, penyusunan, dan pelaksanaan kebijakan di bidang kesehatan, kependudukan, dan keluarga berencana; c. Pemantauan, analisis, evaluasi, dan pelaporan tentang masalah atau kegiatan di bidang kesehatan, kependudukan, dan keluarga berencana; dan d. Pelaksanaan tugas lain yang diberikan oleh Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat.

23

2.c. Struktur Organisasi

Sumber: Situs resmi Badan Koordinasi Keluarga Berencana

Gambar L.1i Struktur Organisasi Badan Koordinasi Keluarga Berencana Alamat Kantor: Jalan Permata No.1, Halim Perdanakusuma, Jakarta 13650 Telepon 021-8009021 – 8009061 Website: www.bkkbn.go.id

L. KEMENTERIAN SOSIAL REPUBLIK INDONESIA 1. Deskripsi Kementerian Sosialmerupaka kementerian dalam Pemerintahan Indonesia yangmembidangi masalah sosial. Dahulu, kementerian ini bernama Departemen Sosial, dan sejak tahun 2008 berganti menjadi Kementerian Sosial berdasarkan UU Nomor 39 Tahun 2008 dan diatur lebih lanjut dalam Perpres Nomor 47 Tahun 2009. 1.a. Visi “Kesejahteraan Sosial Oleh Dan Untuk Semua.” Visi ini mengandung makna bahwa pembangunan kesejahteraan sosial merupakan upaya dan gerakan nasional untuk mewujudkan kesejahteraan sosial oleh perorangan, keluarga, kelompok masyarakat, organisasi dan dunia usaha bagi seluruh rakyat Indonesia. 1.b. Misi a. Meningkatkan harkat dan martabat serta kualitas hidup manusia. b. Mengembangkan prakarsa dan peran aktif masyarakat dalam pembangunan kesejahteraan sosial sebagai investasi modal sosial.
24

Mencegah dan mengendalikan serta mengatasi permasalahan sosial, dampak yang tidak diharapkan dari proses industrialisasi, krisis sosial ekonomi, globalisasi dan arus informasi. d. Mengembangkan sistem informasi sosial dan perlindungan sosial. e. Memperkuat ketahanan sosial melalui upaya memperkecil kesenjangan sosial dengan memberikan perhatian kepada warga masyarakat rentan dan tidak beruntung serta pembinaan semangat kesetiakawanan sosial dan kemitraan.
c.

2. Struktur, Organisasi, dan Tata Kerja Berdasarkan Perpres Nomor 47 Tahun 2009, Kementerian Sosial berkedudukan dan bertanggung jawab langsung kepada presiden. Secara umum, Kementerian Sosial membantu tugas presiden seperti yang diamanatkan dalam UUD 1945. 2.a. Tugas Dalam Perpres Nomor 24 Tahun 2010 pasal 456, dijelaskan bahwa Kementerian Sosial mempunyai tugas menyelenggarakan urusan di bidang sosial dalam pemerintahan untuk membantu Presiden dalam menyelenggarakan pemerintahan negara. 2.b. Fungsi Dalam melaksanakan tugas sebagaimana yang dijelaskan di atas, Kementerian Sosial menyelenggarakan fungsi: a. Perumusan, penetapan, dan pelaksanaan kebijakan di bidang sosial; b. Pengelolaan barang milik/kekayaan negara yang menjadi tanggung jawab Kementerian Sosial; c. Pengawasan atas pelaksanaan tugas di lingkungan Kementerian Sosial; d. Pelaksanaan bimbingan teknis dan supervisi atas pelaksanaan urusan Kementerian Sosial di daerah; dan e. Pelaksanaan kegiatan teknis yang berskala nasional. 2.c. Struktur Organisasi

Sumber: Situs Resmi Depsos RI

Gambar L.1j Struktur Organisasi Kementerian Sosial Republik Indonesia
25

Alamat Kantor: Kementrian Sosial Republik Indonesia, Jl. Salemba Raya No. 28, Jakarta 10430 Telepon: 021-3103591, Fax: 021-3103783 www.depsos.go.id/

M. KEMENTERIAN TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI 1. Deskripsi Dalam periode Orde Baru (masa transisi 1966-1969), Kementerian Perburuhan berubah nama menjadi Departemen Tenaga Kerja (Depnaker) berdasarkan Keputusan tersebut jabatan Pembantu Menteri dilingkungan Depnaker dihapuskan dan sebagai penggantinya dibentuk satu jabatan Sekretaris Jenderal. Masa transisi berakhir tahun 1969 yang ditandai dengan dimulainya tahap pembangunan Repelita I, serta merupakan awal pelaksanaan Pembangunan Jangka Panjang Tahap I (PJPT I). Pada pembentukan Kabinet Pembangunan II, Depnaker diperluas menjadi Departemen Tenaga Kerja, Transmigrasi dan Koperasi, sehingga ruang lingkup tugas dan fungsinya tidak hanya mencakup permasalahan ketenagakerjaan tetapi juga mencakup permasalahan ketransmigrasian dan pengkoperasian. Susunan organisasi dan tata kerja Departemen Tenaga Kerja Transmigrasi dan Koperasi diatur melalui Kepmen Nakertranskop Nomor KEP. 1000/Men/1975 yang mengacu kepada KEPPRES Nomor 44 Tahun 1974. Pada masa reformasi Departemen Tenaga Kerja dan Departemen Transmigrasi kemudian bergabung kembali pada tanggal 22 Februari 2001. Usaha penataan organisasi Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi terus dilakukan dengan mengacu kepada Keputusan Presiden RI Nomor 47 Tahun 2002 tentang Kedudukan, Tugas, Fungsi Kewenangan, Susunan Organisasi dan Tata Kerja. 1.a. Visi “Terwujudnya Tenaga Kerja dan Masyarakat Transmigrasi yang Produktif, Kompetitif, dan Sejahtera.” 1.b. Misi a. Perluasan kesempatan kerja dan peningkatan pelayanan penempatan tenaga kerja serta penguatan informasi pasar kerja dan bursa kerja; b. Peningkatan kompetensi ketrampilan dan produktivitas tenaga kerja dan masyarakat transmigrasi; c. Peningkatan pembinaan hubungan industrial serta perlindungan sosial tenaga kerja dan masyarakat transmigrasi; d. Peningkatan pengawasan ketenagakerjaan; e. Percepatan dan pemerataan pembangunan wilayah; dan f. Penerapan organisasi yang efisien, tatalaksana yang efektif dan terpadu dengan prinsip kepemerintahan yang baik (good govermance), yang didukung oleh penelitian, pengembangan dan pengelolaan informasi yang efektif. 2. Struktur, Organisasi, dan Tata Kerja Berdasarkan Permen Nakertrans Nomor PER. 12/MEN/VII/2010, Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi berada di bawah dan bertanggung jawab kepada presiden. Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrais dipimpin oleh seorang menteri.

26

2.a. Tugas Dalam Peraturan Presiden Nomor 24 Tahun 2010 dan Permen Nakertrans Nomor PER. 12/MEN/VII/2010, tugas Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi adalah menyelenggarakan urusan di bidang ketenagakerjaan dan ketransmigrasian dalam pemerintahan untuk membantu presiden dalam menyelenggarakan pemerintahan negara. 2.b. Fungsi Dalam melaksanakan tugasnya sebagaimana yang disebutkan di atas, Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi memiliki fungsi sebagai berikut : a. Perumusan, penetapan, dan pelaksanaan kebijakan di bidang ketenagakerjaan dan ketransmigrasian; b. Pengelolaan barang milik/kekayaan negara yang menjadi tanggung jawab Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi; c. Pengawasan atas pelaksanaan tugas di lingkungan Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi; d. Pelaksanaan bimbingan teknis dan supervisi atas pelaksanaan urusan Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi di daerah; dan pelaksanaan kegiatan teknis yang berskala nasional.

27

2.c. Struktur Organisasi
Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Staf Ahli Menteri

Sekretaris Jenderal

Inspektorat Jenderal

Badan Penelitian Pengembangan dan Informasi

Direktorat Jenderal Pembinaan Pelatihan dan Produktivitas

Direktorat Jenderal Pembinaan Penempatan Tenaga Kerja

Direktorat Jenderal Pembinaan Hubungan Internasional dan Jaminan Sosial Ketenagakerjaan

Direktorat Jenderal Pembinaan Pembangunan Kawasan Transmigrasi

Direktorat Jenderal Pembinaan Pengawasan Tenaga Kerja

Direktorat Jenderal Pembinaan Pengembangan Masyarkat dan Kawasan Transmigrasi

Gambar L.1k Struktur Organisasi Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi
Sumber: Situs resmi Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi

Alamat Kantor: Jl. Jendral Gatot Subroto Kav 51, Jakarta 12950 Telepon 021-5229285, Fax 021-7974488 E-mail redaksi_balitfo@nakertrans.go.id Situs www.depnakertrans.go.id

N. KEMENTERIAN KOPERASI DAN USAHA KECIL DAN MENENGAH
1.

Deskripsi Ide-ide perkoperasian diperkenalkan pertama kali oleh Patih di Purwokerto, Jawa Tengah, R. Aria Wiraatmadja yang pada tahun 1896 mendirikan sebuah Bank untuk Pegawai Negeri. Cita-cita semangat tersebut selanjutnya diteruskan oleh De Wolffvan Westerrode. Pada tahun 1908, Budi Utomo yang didirikan oleh Dr. Sutomo memberikan peranan bagi gerakan koperasi untuk memperbaiki kehidupan rakyat. Pada tahun 1915 dibuat peraturan Verordening op de Cooperatieve Vereeniging, dan pada tahun 1927 Regeling Inlandschhe
28

Cooperatieve. Pada tahun 1927 dibentuk Serikat Dagang Islam, yang bertujuan untuk memperjuangkan kedudukan ekonomi pengusah-pengusaha pribumi. Kemudian pada tahun 1929, berdiri Partai Nasional Indonesia yang memperjuangkan penyebarluasan semangat koperasi. Hingga saat ini kepedulian pemerintah terhadap keberadaan koperasi nampak jelas dengan membentuk lembaga yang secara khusus menangani pembinaan dan pengembangan koperasi. 1.a. Wewenang : a. menetapkan kebijakan di bidang KUKM untuk mendukung pembangunan secara makro. b. menetapkan pedoman untuk menentukan standar pelayanan minimum yang wajib dilaksanakan oleh Kabupaten/Kota di bidang KUKM. c. menyusun rencana nasional secara makro di bidang KUKM. d. membina dan mengawasi penyelenggaraan otonomi daerah yang meliputi pemberian pedoman, pelatihan, arahan dan supervisi di bidang KUKM. e. mengatur penerapan perjanjian atau persetujuan internasional yang disahkan atas nama negara di bidang KUKM. f. menerapkan standar pemberian izin oleh daerah di bidang KUKM. g. menerapkan kebijakan sistem informasi nasional di bidang KUKM. h. menerapkan persyaratan kualifikasi usaha jasa di bidang KUKM. i. menerapkan pedoman akuntasi koperasi dan pengusaha kecil menengah. j. menetapkan pedoman tata cara penyertaan modal pada koperasi. k. memberikan dukungan dan kemudahan dalam pengembangan sistem distribusi bagi KUKM. l. memberikan dukungan dan kemudahan dalam kerjasama antar KUKM serta kerjasama dengan badan lainnya.
2.

Struktur Organisasi Mengacu pada Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 9 tahun 2005 Pasal 94 bahwa kedudukan Kementerian Koperasi dan UKM adalah unsur pelaksana pemerintah dengan tugas membantu Presiden untuk mengkoordinasikan perumusan kebijakan dan koordinasi pelaksanaan kebijakan pemberdayaan Koperasi dan UMKM di Indonesia. 2.a. Tugas Tugas Kementerian Koperasi dan UKM seperti yang tertera pada Pasal 95 adalah merumuskan kebijakan dan mengkoordinasikan perencanaan, pelaksanaan, pemantauan serta pengendalian pemberdayaan koperasi dan UMKM di Indonesia. 2.b. Fungsi Dalam melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 94, Kementerian Negara Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah menyelenggarakan fungsi : a. perumusan kebijakan nasional di bidang koperasi dan usaha kecil dan menengah; b. koordinasi pelaksanaan kebijakan di bidang koperasi dan usaha kecil dan menengah; c. pengelolaan barang milik/kekayaan negara yang menjadi tanggung jawabnya; d. pengawasan atas pelaksanaan tugasnya; e. penyampaian laporan hasil evaluasi, saran, dan pertimbangan di bidang tugas dan fungsinya kepada Presiden.

29

2.c. Struktur Organisasi

Gambar L.1l Struktur Organisasi Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah
Sumber: Situs Resmi Kementerian Koperasi RI

Alamat Kantor: Jl. H.R. Rasuna Said Kav. 3-4, Kuningan, Jakarta 12940 Email: sekmen@depkop.go.id Telpon 021-520 4366 – 72. Alamat situs http://www.depkop.go.id/ O. BADAN KOORDINASI PENANAMAN MODAL 1. Deskripsi BKPM adalah Badan Koordinasi Penanaman Modal Republik Indonesia yang memberikan pelayanan publik antara lain seperti diatur dalam Keppres Nomor 29 Tahun 2004 adalah melayani permohonan penanaman modal yang didirikan dalam rangka penanaman modal dalam negeri (PMDN) dan penanaman modal asing (PMA). Sebagai penghubung utama antara dunia usaha dan pemerintah, BKPM diberi mandat untuk mendorong investasi langsung, baik dari dalam negeri maupun luar negeri, melalui penciptaan iklim investasi yang kondusif. Landasan hukum BKPM adalah Keppres Nomor 28 Tahun 2004, Keppres Nomor 113 Tahun 1998, Keppres Nomor 120 Tahun 1999, dan Perpres Nomor 90 Tahun 2007.

30

1.a. Arah Strategi

Gambar L.1m Arah Strategi BKPM 2. Struktur, Organisasi, dan Tata Kerja Tugas dan fungsi BKPM diatur dalam Perpres Nomor 90 Tahun 2007 yang bertujuan meningkatkan efektivitas dan efisiensi pelaksanaan tugas Badan Koordinasi Penanaman Modal untuk menciptakan iklim investasi yang kondusif perlu dilakukan reorganisasi dan revitalisasi organisasi BKPM. 2.a. Tugas BKPM mempunyai tugas melaksanakan koordinasi kebijakan dan pelayanan di bidang penanaman modal berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan. 2.b. Fungsi a. Pengkajian dan pengusulan perencanaan penanaman modal nasional; b. Koordinasi pelaksanaan kebijakan nasional di bidang penanaman modal; c. Pengkajian dan pengusulan kebijakan pelayanan penanaman modal; d. Penetapan norma, standar, dan prosedur pelaksanaan kegiatan dan pelayanan penanaman modal; e. Pengembangan peluang dan potensi penanaman modal di daerah dengan memberdayakan badan usaha; f. Pembuatan peta penanaman modal di Indonesia; g. Koordinasi pelaksanaan promosi serta kerjasama penanaman modal; h. Pengembangan sektor usaha penanaman modal melalui pembinaan penanaman modal, antara lain meningkatkan kemitraan, meningkatkan daya saing, menciptakan

31

i.

j. k. l. m.

n.

persaingan usaha yang sehat, dan menyebarkan informasi yang seluas-luasnya dalam lingkup penyelenggaraan penanaman modal; Pembinaan pelaksanaan penanaman modal, dan pemberian bantuan penyelesaian berbagai hambatan dan konsultasi permasalahan yang dihadapi penanam modal dalam menjalankan kegiatan penanaman modal; Koordinasi dan pelaksanaan pelayanan terpadu satu pintu; Koordinasi penanam modal dalam negeri yang menjalankan kegiatan penanaman modalnya di luar wilayah Indonesia; Pemberian pelayanan perizinan dan fasilitas penanaman modal; Pembinaan dan pelayanan administrasi umum di bidang perencanaan umum, ketatausahaan, organisasi dan tatalaksana, kepegawaian, pendidikan dan pelatihan, keuangan, hukum, kearsipan, pengolahan data dan informasi, perlengkapan dan rumah tangga; dan Pelaksanaan fungsi lain di bidang penanaman modal sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

32

2.c. Struktur Organisasi

Sumber: Situs resmi Badan Koordinasi Pasar Modal

Gambar L.1n Struktur Organisasi BKPM

33

Alamat Kantor: Jl. Gatot Subroto No.44, Jakarta 12190 Telp 021-5252008 -5250023 Web Site: www.bkpm.go.id E-mail: info@bkpm.go.id

P. KEMENTERIAN KEBUDAYAAN DAN PARIWISATA 1. Deskripsi Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata (Kemenbudpar) merupakan kementerian dalam pemerintahan yang membidangi urusan kebudayaan dan pariwisata di Indonesia. Sebelumnya Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata bernama Departemen Kebudayaan (Depbudpar) yang dirubah berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 47 Tahun dan Peraturan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Nomor PM. 17/HK. 001/MKP-2005. 1.a. Visi Visi Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata seperti yang tercantum dalam Rencana Strategis Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata 2010-2014 adalah sebagai berikut: “Terwujudnya Bangsa Indonesia yang mampu memperkuat jati diri dan karakter bangsa serta meningkatnya kesejahteraan masyarakat.” 1.b. Misi Misi Kementerian Kebuayaan dan Pariwisata untuk mencapai visi yang telah dicanangkan dalam Rencana Strategis Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata adalah sebagai berikut: a. Melestarikan nilai, keragaman, dan kebudayaan negaradalam rangka memperkuat jati diri bangsa; b. Mengembangkan industri pariwisata berdaya saing, destinasi yang berkelanjutan, dan menerapkan pemasaran yang bertanggung jawab (responsible marketing); c. Mengembangkan sumber daya kebudayaan dan pariwisata; d. Menciptakan tata pemerintahan yang responsif, transparan, dan akuntabel. 2. Struktur, Organisasi, dan Tata Kerja Kedudukan, tugas, fungsi, dan kewenangan Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata diatur dalam Peraturan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Nomor: PM. 17/HK.001/MKP2005. Dalam kedudukannya, Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata merupakan unsur pelaksana pemerintah, dipimpin oleh Menteri yang berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Presiden. 2.a. Tugas Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata mempunyai tugas membantu Presiden dalam menyelenggarakan sebagian urusan pemerintahan di bidang kebudayaan dan kepariwisataan. 2.b. Fungsi Dalam melaksanakan tugas seperti yang tercantum dalam Peraturan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Nomor: PM. 17/HK.001/MKP-2005, Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata memiliki fungsi sebagai berikut:

a. Perumusan kebijakan nasional kebijakan pelaksanaan dan kebijakan teknis di bidang kebudayaan dan pariwisata; b. Pelaksanaan urusan pemerintah sesuai dengan bidang tugasnya; c. Pengelolaan barang milik/kekayaan negara yang menjadi tanggung jawabnya d. Pengawasan atas pelaksanaan tugasnya e. Penyampaian laporan hasil evaluasi, saran, dan pertimbangan di bidang tugas dan fungsinya kepada Presiden. 2.c. Struktur Organisasi

Sumber: Situs resmi Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata

Gambar L.1o Struktur Organisasi Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata Alamat Kantor: Jl. Medan Merdeka Barat 17, Jakarta 10110, Phone : (021) 384-9142, 345-6705 Fax : (021) 387-7600, 384-8245 Q. KEMENTERIAN PEMUDA DAN OLAHRAGA REPUBLIK INDONESIA 1. Deskripsi Kementerian Pemuda Dan Olah Raga adalah kementerian dalam Pemerintah Indonesia yang membidangi urusan pemuda dan olahraga. Bidang urusan pemuda dan olahraga, dalam Peraturan Pemerintah Nomor 38 tahun 2007 terdiri dari dua sub bidang yaitu kepemudaan dan olahraga. Dari sub bidang tersebut, terdiri dari delapan sub-sub bidang urusan pemuda dan olahraga, yaitu Kebijakan di bidang kepemudaan, Pelaksanaan, Koordinasi, Pembinaan dan pengawasan, Kebijakan di bidang kepemudaan, Pelaksanaan, Koordinasi, Pembinaan dan pengawasan. 1.a Visi “Terwujudnya kualitas sumber daya pemuda dan olahraga dalam upaya meningkatkan manusia Indonesia yang memiliki wawasan kebangsaan, kepemimpinan yang berakhlak
35

mulia, mandiri, sehat, cerdas, terampil, berprestasi dan berdaya saing yang dilandasi iman dan taqwa.” 1.b. Misi a. Meningkatkan kualitas kepemudaan secara sistematik dan menyatu dalam sistem pembangunan nasional dalam rangka menciptakan kader pemimpin bangsa yang beriman dan bertaqwa, mandiri, unggul, peka terhadap aspirasi rakyat, dan berjiwa kewirausahaan; b. Meningkatkan potensi ekonomi pemuda melalui pemanfaatan sumber daya alam dengan sinergitas antar lembaga/departemen; c. Menata sistem pembinaan dan pembangunan olahraga nasional yang menjamin kesinambungan interkoneksitas antar lembaga-lembaga terkait di atas landasan pembinaan yang kuat, sehingga dapat dioptimalkan kemaslahatan bagi individu dan masyarakat, balk mencakup aspek fisik, intelektual, sosial emosional dan moral, disamping pencapaian tujuan yang bersifat ekonomis. 2. Struktur, Organisasi, dan Tata Kerja Berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 24 tahun 2010 tentang Kedudukan, Tugas, dan Fungsi Kementerian Negara serta Susunan Organisasi, Tugas, dan Fungsi Eselon I Kementerian Negara bagian kesepuluh Pasal 687, disebutkan mengenai kedudukan, tugas dan fungsi Kementerian Pemuda dan Olahraga. Kedudukan Kementerian Pemuda dan olahraga berada di bawah dan bertanggungjawab kepada Presiden serta Kementerian Pemuda dan Olahraga dipimpin oleh Menteri Negara Pemuda dan Olahraga. 2.a. Tugas Pasal 688 peraturan yang sama menyebutkan bahwa Kementerian Pemuda dan Olahraga mempunyai tugas menyelenggarakan urusan di bidang pemuda dan olahraga dalam pemerintahan untuk membantu Presiden dalam menyelenggarakan pemerintahan Negara. 2.b. Fungsi Sedangkan dalam melaksanakan tugasnya, Kementerian Pemuda dan Olahraga menyelenggarakan fungsi: a. Perumusan dan penetapan kebijakan di bidang pemuda dan olahraga; b. Koordinasi dan sinkronisasi pelaksanaan kebijakan di bidang pemuda dan olahraga; c. Pengelolaan barang milik/kekayaan Negara yang menjadi tanggungjawab Kementerian Pemuda dan Olahraga; d. Pengawasan atas pelaksanaan tugas di lingkungan Kementerian Pemuda dan Olahraga; e. Penyelenggaraan fungsi operasionalisasi kebijakan pembinaan dan pengembangan kepemudaan dan keolahragaan sesuai dengan undang-undang di bidang kepemudaan dan keolahragaan. Alamat Kantor: Jalan MI Ridwan Rais No.5, Jakarta Pusat Telp. (021) 3857363, 3841961-2 Alamat situs http://www.kemenpora.go.id/.
36

R. KEMENTERIAN PEMBANGUNAN DESA TERTINGAL 1. Deskripsi Menurut Perturan Pemerintah Nomor 38 tahun 2007, urusan bidang pemberdayaan masayarakat dan desa diselenggarakan oleh Kementerian Pembangunan Desa Tertinggal. Urusan bidang pemberdayaan masyarakat dan desa terdir dari lima sub bidang, yaitu, Pemerintah Desa dan Kelurahan, Penguatan Kelembagaan dan Pengembangan Partisipasi Masyarakat, Pemberdayaan Adat dan Pengembangan Kehidupan Sosial Budaya Masyarakat, Pemberdayaan Usaha Ekonomi Masyarakat, dan Pemberdayaan Masyarakat dalam Pengelolaan Sumber Daya Alam dan Teknologi Tepat Guna. Dan setia sub bidang terdiri dari beberapa sub-sub bidang urusan pemberdayaan masyarakat dan desa. 1.a. Visi “Terwujudnya daerah tertinggal sebagai daerah yang maju dan setaraf dengan daerah lain di Indonesia.” 1.b. Misi a. Mengembangkan perekonomian local melalui pemanfaatan sumber daya local ( sumber daya manusia, dan kelembagaan) melalui partisipasi semua pemangku kepentingan (stakeholders) yang ada; b. Memberdayakan masyarakat melalui peningkatan akses masyarakat terhadap pelayanan pendidikan dan kesehatan, penciptaan lapangan kerja, peningkatan akses modal usaha, teknologi, pasar, informasi; c. Meningkatkan kapasitas kelembagaan pemerintah daerah dan masyarakat; d. Memutuska keterisolasian daerah tertinggal melalui peningkatan sarana dan prasarana komunikasi dan transportasi sehingga memiliki keterkaitan dengan daerah lainnya; e. Mengembangkan daerah perbatasan sebagai beranda Negara kesatuan RI melalui pengembangan pusat pertumbuhan ekonomi berbasis sumber daya alam dan pengembangan sector-sektor unggulan; f. Mempercepat rehabilitas dan pemulihan daerah-daerah pasca bencana alam adan pasca konflik serta mitigasi bencana. 2. Struktur, Organisasi, dan Tata Kerja 2.a. Tujuan Pembangunan daerah tertinggal bertujukan untuk memberdayakan masyarakat yang terbelakang agar terpenuhi hak dasarnya sehinga dapat menjalankan aktifitasnya untuk berperan aktif dalam pembangunan yang setara dengan masyarakat Indonesia lainnya. 2.b. Sasaran Berdasarkan tahapan pembangunan, maka sasaran pembangunan daerah tertinggal terbagi dalam sasaran jangka menengah (2009) dan sasaran jangka panjang (2024).

37

2.c. Struktur Organisasi

Gambar L.1p Struktur Organisasi Kementerian Pembangunan Desa Tertinggal
Sumber: situs resmi Kementerian PDT RI

Alamat Kantor: Jl. Abdul Muiz No.7, Jakarta Pusat Telp.021 3441295 Situs resmi http://www.kemenegpdt.go.id/. S. BADAN PUSAT STATISTIK 1. Deskripsi Sebelumnya, BPS merupakan kepanjangan dari Biro Pusat Statistik yang dibentuk berdasarkan UU Nomor 6 Tahun 1960 dan UU Nomor 7 Tahun 1960. Pada tahun 1997, nama Biro Pusat Statistik dirubah menjadi Badan Pusat Statistik berdasarkan UU Nomor 16 Tahun 1997. Penyelenggaraan statistik berdasarkan undang-undang yang baru tersebut dibagi menjadi tiga, yaitu 1) Statistik dasar; 2) Statistik Sektoral; dan 3) Statistik Khusus. 1.a. Visi “Pelopor data statistik terpercaya untuk semua.” 1.b. Misi a. Memperkuat landasan konstitusional dan operasional lembaga statistik untuk penyelenggaraan statistik yang efektif dan efisien.

38

b. Menciptakan insan statistik yang kompeten dan profesional, didukung pemanfaatan teknologi informasi mutakhir untuk kemajuan perstatistikan Indonesia. c. Meningkatkan penerapan standar klasifikasi, konsep dan definisi, pengukuran, dan kode etik statistik yang bersifat universal dalam setiap penyelenggaraan statistik. d. Meningkatkan kualitas pelayanan informasi statistik bagi semua pihak. e. Meningkatkan koordinasi, integrasi, dan sinkronisasi kegiatan statistik yang diselenggarakan pemerintah dan swasta, dalam kerangka Sistem Statistik Nasional (SSN) yang efektif dan efisien. 2. Struktur, Organisasi, dan Tata Kerja Tugas, fungsi dan kewenangan BPS telah ditetapkan dalam Keputusan Presiden RI (Keppres) Nomor 103 Tahun 2001. Namun berdasarkan UU Nomor 16 Tahun 1997, peran dari BPS adalah sebagai berikut: a. Menyediakan kebutuhan data bagi pemerintah dan masyarakat. Data ini didapatkan dari sensus atau survey yang dilakukan sendiri dan juga dari departemen atau lembaga pemerintahan lainnya sebagai data sekunder; b. Membantu kegiatan statistik di departemen, lembaga pemerintah atau institusi lainnya, dalam membangun sistem perstatistikan nasional; c. Mengembangkan dan mempromosikan standar teknik dan metodologi statistik, dan menyediakan pelayanan pada bidang pendidikan dan pelatihan statistik; d. Membangun kerjasama dengan institusi internasional dan negara lain untuk kepentingan perkembangan statistik Indonesia. 2.a. Tugas Melaksanakan tugas pemerintahan di bidang kegiatan statistik sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. 2.b. Fungsi a. Pengkajian dan penyusunan kebijakan nasional di bidang kegiatan statistik; b. Penyelenggaraan statistik dasar; c. Koordinasi kegiatan fungsional dalam pelaksanaan tugas BPS; d. Fasilitasi pembinaan terhadap kegiatan instansi pemerintah di bidang kegiatan statistik; dan e. Penyelenggaraan pembinaan dan pelayanan administrasi umum di bidang perencanaan umum, ketatausahaan, organisasi dan tatalaksana, kepegawaian, keuangan, kearsipan, hukum, persandian, perlengkapan dan rumah tangga. 2.c. Kewenangan a. Penyusunan rencana nasional secara makro di bidangnya; b. Perumusan kebijakan di bidangnya untuk mendukung pembangunan secara makro; c. Penetapan sistem informasi di bidangnya; d. Penetapan dan penyelenggaraan statistik nasional; e. Kewenangan lain sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku, yaitu: • perumusan dan pelaksanaan kebijakan tertentu di bidang kegiatan statistik; • penyusun pedoman penyelenggaraan survei statistik sektoral.

39

2.d. Struktur Organisasi

Sumber: Situs resmi Badan Pusat Statistik

Gambar L.1.q Struktur Organisasi Badan Pusat Statistik Alamat Kantor: Jalan Dr. Sutomo No.6-8, Jakarta 10710 Telp 021-3810291-3842508 -3841195 Fax 021-3519744 Web site: www.bps.go.id T. ARSIP NASIONAL REPUBLIK INDONESIA (ANRI) 1. Deskripsi Arsip merupakan memori kolektif bangsa, karena melalui arsip dapat tergambar perjalanan sejarah bangsa dari masa ke masa. Memori kolektif tersebut adalah juga identitas dan harkat sebuah bangsa. Kesadaran akademis yang dilandasi oleh beban moral untuk menyelamatkan arsip sebagai bukti pertanggung-jawaban nasional sekaligus sebagai warisan budaya bangsa, dapat menghindari hilangnya informasi sejarah perjalanan sebuah bangsa serta harkatsebagai bangsa yang berbudaya. Sadar akan hal tersebut, Pemerintah melalui Undang-undang Nomor 7 tahun 1971 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Kearsipan membentuk Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI) sebagai inti organisasi Lembaga Kearsipan Nasional yang mempunyai tanggung jawab terwujudnya Tujuan Kearsipan Nasional,yakni menjamin keselamatan bahan pertanggungjawaban nasional tentang perencanaan, pelaksanaan dan penyelenggaraan
40

kehidupan kebangsaan serta untuk menyediakan bahan pertanggungjawaban tersebut bagi kegiatan Pemerintah. 1.a. Visi “Arsip sebagai simpul pemersatu bangsa.” 1.b. Misi a. Memberdayakan arsip sebagai tulang punggung manajemen pemerintahan dan pembangunan; b. Memberdayakan arsip sebagai bukti akuntabilitas kinerja aparatur; c. Memberdayakan arsip sebagai bukti akuntabilitas kinerja aparatur; d. Memberdayakan arsip sebagai alat bukti sah di pengadilan; e. Melestarikan arsip sebagai memori kolektif dan jati diri bangsa serta bahan bukti pertanggungjawaban nasional; f. Menyediakan arsip dan memberikan akses kepada publik untuk kepentingan pemerintahan dan kemasyarakatan demi kemaslahatan bangsa.

2. Standar, Organisasi, dan Tata Kerja Berdasarkan Perka ANRI Nomor 03 Tahun 2006, Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI) adalah lembaga non-departemen yang dipimpin seorang kepala dan berkedudukan serta bertangung jawab kepada presiden. 2.a. Tugas Berdasarkan Peraturan Perka ANRI Nomor 03 Tahun 2006 dalam pasal 2 maka tugas dari ANRI adalah melaksanakan tugas pemerintahan di bidang kearsipan sesuai dengan ketentuan dan peraturan perundang-undangan yang berlaku. 2.b. Fungsi Pasal 3 Perka ANRI Nomor 03 Tahun 2006 maka fungsi dari ANRI dalam menjalankan tugasnya adalah sebagai berikut : a. Pengkajian dan penyusunan kebijakan nasional di bidang kearsipan; b. Koordinasi kegiatan fungsional dalam pelaksanaan tugas lembaga; c. Fasilitasi dan pembinaan terhadap kegiatan instansi pemerintah di bidang kearsipan; d. Penyelenggaraan pembinaan dan pelayanan administrasi umum di bidang perencanaan umum, ketatausahaan, organisasi dan tata laksana, kepegawaian, keuangan, kearsipan, hukum, persandian, perlengkapan, dan rumah tangga. 2.c. Kewenangan Dalam menyelenggarakan fungsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3, ANRI mempunyai kewenangan : a. Penyusunan rencana nasional secara makro di kearsipan; b. Penetapan dan penyelenggaraan kearsipan nasional untuk mendukung pembangunan secara makro; c. Penetapan sistem informasi di bidang kearsipan; d. Kewenangan lain yang melekat dan telah dilaksanakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku yaitu: § Perumusandan pelaksanaan kebijakan tertentu di bidang kearsipan; § Penyelamatan dan pelestarian arsip serta pemanfaatan naskah sumber arsip.

41

2.d. Struktur Organisasi

Sumber: Situs resmi Arsip Nasional Republik Indonesia

Gambar L.1r Struktur Organisasi Arsip Nasional Republik Indonesia Alamat Kantor Jl. Ampera Raya No. 7, Jakarta 12560 Telp. 62 21 7805851 Faks. 62 21 7810280-7805812 E-mail: info@anri.go.id Situs: www.anri.go.id U. PERPUSTAKAAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA 1. Deskripsi Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas) atau Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (PNRI) adalah Perpustakaan Nasional yang berada di Jakarta, Indonesia. Perpustakaan ini memiliki tugas menyimpan data-data dan informasi negara. Perpusnas juga merupakan salah satu Lembaga Pemerintah Non Departemen (LPND) yang berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Presiden. Sejarah Perpusnas bermula dengan didirikannya Bataviaasch Genootschap pada 24 April 1778. Lembaga ini adalah pelopor Perpusnas dan baru dibubarkan pada tahun 1950. Awalnya, Perpustakaan Nasional RI merupakan salah satu perwujudan dari penerapan dan pengembangan sistem nasional perpustakaan, secara menyeluruh dan terpadu, sejak dicanangkan pendiriannya tanggal 17 Mei 1980 oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Daoed Joesoef. Ketika itu kedudukannya masih berada dalam lingkungan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan setingkat eselon II di bawah Direktorat Jenderal Kebudayaan, dan badan ini merupakan hasil integrasi dari empat perpustakaan besar di Jakarta. 1.a. Visi ”Terdepan dalam informasi pustaka, menuju Indonesia gemar membaca.”
42

1.b. Misi A. Mengembangkan koleksi perpustakaan di seluruh Indonesia; B. Mengembangkan layanan informasi perpustakaan berbasis teknologi informasi dan komunikasi (TIK); dan C. Mengembangkan infrastruktur melalui penyediaan sarana dan prasarana serta kompetensi SDM. 1.c. Kedudukan a. Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, (yang selanjutnya dalam SK Kaperpusnas No.03/2001 disingkat PERPUSNAS) adalah Lembaga Pemerintah Non Departemen; b. PERPUSNAS berada di bawah dan bertanggungjawab kepada Presiden yang dalam pelaksanaan tugas operasionalnya dikoordinasikan oleh Menteri Pendidikan Nasional; c. PERPUSNAS mempunyai tugas melaksanakan tugas pemerintahan dibidang perpustakaan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. 2. Struktur, Oganisasi, dan Tata Kerja 2.a. Tugas Sesuai dengan Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 103 Tahun 2001 pasal 13 PERPUSNAS mempunyai tugas melaksanakan tugas pemerintahan di bidang perpustakaan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. 2.b. Fungsi Sesuai dengan Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 103 Tahun 2001 pasal 14 dalam melaksanakan tugas, PERPUSNAS menyelenggarakan fungsi: a. Mengkaji dan menyusun kebijakan nasional dibidang perpustakaan; b. Mengkoordinasikan kegiatan fungsional dalam pelaksanaan tugas PERPUSNAS; c. Melancarkan dan membina terhadap kegiatan instansi Pemerintah dibidang perpustakaan; d. Menyelenggarakan pembinaan dan pelayanan administrasi umum dibidang perencanaan umum, ketatausahaan, organisasi dan tata laksana, kepegawaian, keuangan, kearsipan, persandian, perlengkapan dan rumah tangga. 2.c. Wewenang Dalam pasal 15 Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 103 Tahun 2001 PERPUSNAS memiliki wewenang sebagai berikut : a. Dalam menyelenggarakan fungsinya PERPUSNAS mempunyai kewenangan : b. menyusun rencana nasional secara makro, dibidang perpustakaan; c. Merumuskan kebijakan dibidang perpustakaan untuk mendukung pembangunan secara makro; d. Menetapkan sistem informasi dibidang perpustakaan; Kewenangan lain yang melekat dan telah dilaksanakan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku yaitu: 1) merumuskan dan pelaksanaan kebijakan tertentu dibidang perpustakaan; 2) merumuskan dan pelaksanaan kebijakan pelestarian pustaka budaya bangsa dalam mewujudkan koleksi deposit nasional dan pemanfaatannya.

43

2.d. Struktur Organisasi

Sumber: Situs resmi Perpustakaan Nasional RI

Gambar L.1s Struktur Organisasi Perpustakaan Nasional RI Alamat Kantor Jl. Salemba Raya 28A Jakarta Pusat Telp. 021-3922669,3922749,3922855,3923116 (operator) Faks. 021-3103554 Web-site: www.pnri.go.id V. KEMENTERIAN KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA 1. Deskripsi Pada masa Orde Baru, Kementerian Komunikasi dan Informatika bernama Departemen Penerangan. Setelah era reformasi berjalan, Departemen Penerangan dihapuskan dan pada tahun 2001 dibentuk kembali dengan nama Kementerian Negara Komunikasi dan Informasi. Pada tahun 2005, Kementerian Negara Komunikasi dan Informasi diubah namanya menjadi Departemen Komunikasi dan Informatika. Berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 47 Tahun 2009 berubah nama lagi menjadi Kementerian Komunikasi dan Informatika. 1.a. Visi “Terwujudnya masyarakat informasi yang sejahtera melalui penyelenggaraan komunikasi dan informatika yang efektif dan efisien dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia.” 1.b. Misi a. Meningkatkan kapasitas layanan informasi dan potensi pemberdayaan masyarakat dalam rangka mewujudkan informasi masyarakat beradab; b. Meningkatkan jangkauan infrastruktur pos, komunikasi dan informatika untuk
44

c. d. e. f. g. h.
i.

j.

memperluas akses masyarakat terhadap informasi dalam rangka mengurangi kesenjangan informasi; Mendorong peningkatan aplikasi layanan publik dan industri aplikasi telematika dalam rangka meningkatkan nilai tambah layanan dan industri aplikasi; Mengembangkan standardisasi dan sertifikasi dalam rangka menciptakan iklim usaha yang konstruktif dan kondusif di bidang industri komunikasi dan informatika; Meningkatkan kerjasama dan kemitraan serta pemberdayaan lembaga komunikasi dan informatika pemerintah dan masyarakat; Mendorong peranan media massa dalam rangka meningkatkan informasi yang beretika dan bertanggung jawab, dan memberikan nilai tambah bangsa-bangunan; Meningkatkan kualitas penelitian dan pengembangan dalam rangka menciptakan kemandirian dan daya saing bidang komunikasi dan informatika; Meningkatkan kapasitas Sumber Daya Manusia (SDM) bidang komunikasi dan informatika dalam rangka meningkatkan literasi dan profesionalisme; Peningkatan partisipasi aktif Indonesia dalam berbagai fora internasional di bidang komunikasi dan informatika dalam rangka meningkatkan citra positif bangsa dan negara; Meningkatkan kualitas pengawasan terhadap pelaksanaan tata kelola yang baik (good governance).

2.

Struktur, Organisasi, dan Tata Kerja Berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 24 Tahun 2010, Kementerian Komunikasi dan Informatika berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Presiden yang dipimpin oleh Menteri Komunikasi dan Informatika. 2.a. Tugas Kementerian Komunikasi dan Informatika mempunyai tugas menyelenggarakan urusan di bidang komunikasi dan informatika dalam pemerintahan untuk membantu Presiden dalam menyelenggarakan pemerintahan negara. 2.b. Fungsi Dalam melaksanakan tugas, Kementerian Komunikasi dan Informatika Sesuai dengan Perpres No. 24 Tahun 2010 Pasal 517, menyelenggarakan fungsi dibidang Komunikasi dan Informasi: a. perumusan, penetapan, dan pelaksanaan kebijakan di bidang komunikasi dan informatika; b. pengelolaan barang milik/kekayaan negara yang menjadi tanggung jawab Kementerian Komunikasi dan Informatika; c. pengawasan atas pelaksanaan tugas di lingkungan Kementerian Komunikasi dan Informatika; d. pelaksanaan bimbingan teknis dan supervisi atas pelaksanaan urusan Kementerian Komunikasi dan Informatika di daerah; dan e. pelaksanaan kegiatan teknis yang berskala nasional.

45

2.c. Struktur Organisasi

Sumber: Situs Resmi Menkominfo RI

Gambar L.1t Struktur Organisasi Kementerian Komunikasi dan Informatika Alamat Kantor: Jl. Medan Merdeka Barat No. 9,Jakarta Pusat 10110,Indonesia Fax.(021) 3865154 Telp.(021) 3841972 Web site: ww.depkominfo.go.id W. KEMENTERIAN PERTANIAN REPUBLIK INDONESIA 1. Deskripsi Pada Peraturan Pemerintah Nomor 38 tahun 2007, terdapat pembagian urusan bidang pertanian dan ketahanan pangan. Bidang ini terdiri dari lima sub bidang, yaitu, Tanaman pangan dan holtikultura, perkebunan, Peternakan dan Kesehatan hewan, Ketahanan Pangan, dan Penunjang. Dari sub bidang tersebut, masih dibagi lagi sub-sub bidang urusan pertanian dan ketahanan pangan. Sesuai dengan Peraturan Menteri nomor 299 tahun 2005, bahwa tugas Kementerian Pertanian adalah membantu Presiden dalam menyelenggarakan urusan bidang pertanian. Oleh karena itu penyelenggaraan urusan bidang pertanian dan ketahanan pangan menjadi tanggungjawab kementerian pertanian. 1.a. Visi “Kuat realisasi sektor pertanian untuk ketahanan pangan yang aman, meningkatkan nilai-tambah, dan daya saing produk pertanian dan peningkatan kesejahteraan petani.” 1.b. Misi a. Mewujudkan birokrasi pertanian yang profesional dengan integritas moral yang tinggi. b. Mendorong pembangunan pertanian menuju pertanian tangguh, berkelanjutan dan berwawasan lingkungan

46

c. Mencapai ketahanan pangan melalui peningkatan produksi komoditas pertanian dan diversifikasi konsumsi pangan d. Mendorong peningkatan kontribusi sektor pertanian terhadap perekonomian nasional, melalui peningkatan ekspor PDB, penciptaan lapangan kerja, pengurangan kemiskinan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat. e. Memfasilitasi bisnis melalui pengembangan teknologi, pembangunan infrastruktur, prasarana, pembiayaan, akses pasar dan kebijakan pendukung f. Memperjuangkan kepentingan dan perlindungan terhadap petani dan pertanian Indonesia dalam sistem perdagangan internasional. 2. Struktur, Organisasi, dan Tata Kerja Sesuai dengan Peraturan Menteri Pertanian Nomor 299 tahun 2005 tentang Organisasi dan Tata Kerja Departemen Pertanian. Dalam Bab I pada pasal 1, 2, dan 3 peraturan tersebut dijelaskan mengenai Kedudukan, Tugas dan Fungsi Departemen Pertanian. Kedudukan Departemen Pertanian pada pasal 1 peraturan tersebut menyatakan bahwa Departemen Pertanian merupakan unsur pelaksana Pemerintah, dipimpin oleh Menteri yang berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Presiden. 2.a. Tugas Sementara pada pasal 2 disebutkan bahwa Departemen Pertanian mempunyai tugas membantu Presiden dalam menyelenggarakan urusan bidang pemerintahan bidang pertanian. Secara umum, tugas Kementerian Pertanian adalah sebagai berikut: a. Untuk mendorong kegiatan pertanian di wilayah desa yang bisa memacu kegiatan ekonomi, menciptakan lapangan kerja, dan meningkatkan kesejahteraan sosial. Untuk mendorong industri hulu, industri hilir, dan mendukung industri dalam rangka meningkatkan daya saing dan memberikan nilai tambah pada produk pertanian b. Memanfaatkan sumber daya pertanian melalui teknologi yang tepat, sehingga seluruh sumber daya pertanian bisa dipertahankan dan ditingkatkan. c. Mengembangkan institusi pertanian yang kokoh dan mandiri. d. Meningkatkan kontribusi sektor pertanian dalam bentuk keuntungan dari perdagangan internasional. 2.b. Fungsi Dalam melaksanakan tugasnya, Departemen Pertanian menyelenggarakan fungsi, yaitu: a. Perumusan kebijakan nasional, kebijakan pelaksanaan, dan kebijakan teknis di bidang pertanian; b. Pelaksanaan urusan pemerintahan di bidang pertanian; c. Pengelolaan barang milik/kekayaan Negara yang menjadi tanggungjawab Departemen Pertanian; d. Pengawasan atas pelaksanaan tugas Departemen Pertanian; e. Penyampaian laporan evaluasi, saran, dan pertimbangan di bidang tugas dan fungsi Departemen Pertanian kepada Presiden.

47

2.c. Struktur Organisasi

Gambar L.1u Struktur Organisasi Kementerian PErtanian Republik Indonesia
Sumber: Situs Resmi Kementerian Pertanian RI

Alamat Kantor: Jl. Harsono RM. No. 3, Ragunan-Jakarta 12550 Telp. 7822803 Situs resmi http://www.deptan.go.id X. KEMENTERIAN KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA 1. Deskripsi Departemen Kehutanan menyelenggarakan pengurusan hutan untuk memperoleh manfaat optimal dan berkelanjutan untuk manfaat maksimal dan kemakmuran rakyat adalah sama dan berkelanjutan.Prioritas pencapaian target jangka menengah dari visi Departemen Kehutanan (2005-2009) sebagai berikut: a. Pemberantasan perdagangan kayu illegal logging dan ilegal; b. Penerapan prinsip pengelolaan hutan lestari, antara lain, dengan minimal satu Manajemen (1) Unit Hutan di setiap provinsi; c. Pengembangan kawasan hutan perkebunan 5 juta hektar dan rehabilitasi kawasan hutan 5 juta ha; d. Pembentukan 20 unit Taman Nasional mandiri; e. Peningkatan pendapatan masyarakat di dalam dan sekitar hutan sebesar 30%; f. Peresmian kawasan hutan minimal 30% dari luas hutan yang ada. 1.a. Visi
48

“Realisasi Pelaksanaan Kehutanan untuk Menjamin Kelestarian Hutan dan Rakyat Meningkatkan Kesejahteraan.” 1.b. Misi Berdasarkan UU No. 41, 1999 tentang Kehutanan dan UU. 5 / 1990 tentang Sumber Daya Alam dan Ekosistemnya dan Dewan Perwakilan Rakyat menyetujui periode 2004-2009 1 Desember 2004 misi Departemen Kehutanan dalam pembangunan kehutanan ditetapkan sebagai berikut: a. Memastikan keberadaan kawasan hutan adalah cukup dan proporsional distribusi; b. Mengoptimalkan berbagai fungsi hutan dan ekosistem perairan yang meliputi fungsi konservasi, perlindungan dan produksi kayu, non kayu dan jasa lingkungan untuk mencapai manfaat lingkungan keseimbangan sosial, budaya dan ekonomi dan berkelanjutan; c. Meningkatkan daya dukung Daerah Aliran Sungai (DAS); Mendorong partisipasi masyarakat; d. Menjamin distribusi manfaat yang adil dan berkelanjutan; e. Memperkuat koordinasi antara pemerintah pusat dan daerah. 2. Struktur, Organisasi, dan Tata Kerja Undang-undang Nomor 5 Tahun 1967, mengamanatkan bahwa pengurusan hutan pada dasarnya untuk mendapatkan manfaat dari hutan sebagai besar sebagai serbaguna dan berkelanjutan, baik secara langsung maupun tidak langsung, bagi kemakmuran masyarakat. Hutan administrasi dilakukan melalui berbagai bentuk kegiatan, yang meliputi: a. Pemolaan pengaturan dan penataan kawasan hutan; b. Setting dan organisasi eksploitasi hutan; c. Menyesuaikan untuk perlindungan proses ekologi yang mendukung sistem.kehidupan dukungan dan rehabilitasi hutan, tanah dan air; d. Mengatur bagi upaya pelaksanaan dan pemeliharaan pelestarian sumber daya alam dan lingkungan; e. Pelaksanaan konseling dan pendidikan di bidang kehutanan. 2.a. Struktur Organisasi
a. b. c. d. e. f. g. h. i. j. k. l. m. n. o. p.

Menteri Kehutanan Staf Ahli Menteri Bidang Revitalisasi Industri Kehutanan Staf Ahli Menteri Bidang Ekonomi dan Perdagangan Internasional Staf Ahli Menteri Bidang Lingkungan dan Perubahan Iklim Staf Ahli Menteri Bidang Hubungan Antar Lembaga Staf Ahli Menteri Bidang Keamanan Hutan Staf Khusus Bidang Sosial Staf Khusus Bidang Pengamanan Staf Khusus Bidang Perencanaan Revitalisasi Kehutanan Inspektorat Jenderal Sekretariat Jenderal Ditjen Planologi Kehutanan Ditjen Bina Usaha Kehutanan Ditjen Bina Pengelolaan DAS dan Perhutanan Sosial Direktorat Jenderal PHKA Balitbang Kehutanan

49

Alamat Kantor: Gedung Manggala Wanabakti Blok I Lt. 3, Jalan Gatot Subroto-Senayan, Jakarta-Indonesia – 10270 Phone : +62-21-5704501-04; +62-21-573019 Situs resmi http://www.dephut.go.id/. Y. KEMENTERIAN ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL 1. Deskripsi Pada awalnya, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral bergabung dalam Kementerian Perindustrian. Pada tahun 1961, pemerintah membentuk Biro Minyak dan Gas Bumi yang berada dibawah Departemen Perindustrian Dasar dan Pertambangan. Selama masa pemerintahan orde baru, Biro Minyak dan Gas Bumi beberapa kali berubah nama dan akhirnya pada masa reformasi menjadi Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral. Berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 47 Tahun 2009 tentang Pembentukan dan Organisasi Kementerian Negara, Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral diubah menjadi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral. 1.a. Visi Terwujudnya ketahanan dan kemandirian energi serta peningkatan nilai tambah energi dan mineral yang berwawasan lingkungan untuk memberikan manfaat yang sebesar-besarnya bagi kemakmuran rakyat. 1.b. Misi a. Meningkatkan keamanan pasokan energi dan mineral dalam negeri; b. Meningkatkan aksesibilitas masyarakat terhadap energi, mineral dan informasi geologi. c. Mendorong keekonomian harga energi dan mineral dengan mempertimbangkan kemampuan ekonomi masyarakat; d. Mendorong peningkatan kemampuan dalam negeri dalam pengelolaan energi, mineral dan kegeologian; e. Meningkatkan nilai tambah energi dan mineral; f. Meningkatkan pembinaan, pengelolaan dan pengendalian kegiatan usaha energi dan mineral secara berdaya guna, berhasil guna, berdaya saing, berkelanjutan dan berwawasan lingkungan; g. Meningkatkan kemampuan kelibangan dan kediklatan ESDM; h. Meningkatkan kualitas SDM dan ESDM; i. Melaksanakan good governance. 2. Struktur, Organisasi, dan Tata Kerja Tugas dan fungsi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral diatur dalam Peraturan Presiden Nomor 24 Tahun 2010 tentang Kedudukan, Tugas, dan Fungsi Kementerian Negara Serta Susunan Organisasi, Tugas, dan Fungsi Eselon I Kementerian Negara. 2.a. Tugas Tugas Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral seperti yang tercantum dalam Peraturan Presiden Nomor 24 Tahun 2010 tentang Kedudukan, Tugas, dan Fungsi Kementerian Negara Serta Susunan Organisasi, Tugas, dan Fungsi Eselon I Kementerian Negara Pasal 34 adalah menyelenggarakan urusan di bidang energi dan sumber daya mineral
50

dalam pemerintahan untuk membantu Presiden dalam menyelenggarakan pemerintahan negara. 2.b. Fungsi Dalam melaksanakan tugas seperti yang tercantum di atas, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral mempunyai fungsi sebagai berikut: a. Perumusan, penetapan, dan pelaksanaan kebijakan di bidang energi dan sumber daya mineral; b. Pengelolaan barang milik/kekayaan negara yang menjadi tanggung jawab Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral; c. Pengawasan atas pelaksanaan tugas di lingkungan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral; d. Pelaksanaan bimbingan teknis dan supervisi atas pelaksanaan urusan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral di daerah; dan e. Pelaksanaan kegiatan teknis yang berskala nasional. 2.c. Struktur Organisasi

Sumber: Situs resmi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral

Gambar L.1v Struktur Organisasi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral Alamat Kantor: Jl. Medan Merdeka Selatan No.18, DKI Jakarta, 10110, Indonesia E-Mail: pusdatin@esdm.go.id Telepon: +62 (021) 3519881
51

Fax: +62 (021) 3519881 Website: http://www.esdm.go.id

Z. KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA 1. Deskripsi Kementerian Kelautan dan Perikanan mulai terbentuk pada tahun 1999 setelah orde baru dengan nama Departemen Eksplorasi Laut (DEL) berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 355/M Tahun 1999. Selanjutnya DEL berubah nama menjadi Departemen Eksplorasi Laut dan Perikanan (DELP) berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 147 Tahun 1999. Perkembangan berikutnya nomenkelatur DELP diubah menjadi Departemen Kelautan dan Perikanan (DKP) sesuai Keputusan Presiden Nomor 165 Tahun 2000 dan kemudian berubah menjadi Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) sesuai dengan Peraturan Presiden Nomor 47 Tahun 2009. 1.a. Visi “Indonesia sebagai produsen terbesar produk kelautan dan perikanan pada tahun 2015.” 1.b. Misi “Meningkatkan kelautan dan perikanan kesejahteraan masyarakat.” 1.c. Tujuan a. Memperkuat Kelembagaan dan SDM secara Terintegrasi; b. Mengelola Sumber Daya Kelautan dan Perikanan secara Berkelanjutan; c. Meningkatkan Produktivitas dan Daya Saing Berbasis Pengetahuan; d. Memperluas Akses Pasar Domestik dan Internasional. 2. Struktur, Organisasi, dan Tata Kerja Tugas dan fungsi KKP diatur dalam Peraturan Presiden Nomor 47 Tahun 2009. KKP secara langsung berada di bawah dan bertanggung jawab terhadap presiden. 2.a. Tugas Menyelenggarakan urusan tertentu dalam pemerintahan untuk membantu presiden dalam menyelenggarakan pemerintahan negara. 2.b. Fungsi a. Perumusan, penetapan, dan pelaksanaan kebijakan di bidang kelauan dan perikanan. b. Pengelolaan barang milik/kekayaan negara yang menjadi tanggung jawab KKP. c. Pengawasan atas pelaksanaan tugas di bidang kelautan dan perikanan. d. Pelaksanaan kegiatan teknis dari pusat sampai daerah.

52

2.c. Struktur Organisasi

Sumber: Situs resmi Kementerian Kelautan dan Pariwisata

Gambar L.1w Struktur Organisasi Kementerian Kelautan dan Perikanan Alamat Kantor: Jl. Medan Merdeka Timur No. 16, Jakarta Pusat 10110, DKI Jakarta, Indonesia Fax.(021) 3500042 Telp.(021) 3500041, Telp.(021) 3519070 Web site: http://www.dkp.go.id AA. KEMENTERIAN PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA 1. Deskripsi Pada Perturan Pemerintah Nomor 38 tahun 2007, terdapat pembagian urusan bidang perdagangan. Bidang ini terdiri dari enam sub bidang, yaitu, Perdagangan Dalam Negeri, Metrologi Legal, Perdagangan Luar Negeri, Kerjasama Perdagangan Internasional, Pengembangan Ekspor Nasional, dan Perdagangan Berjangka Komoditi, Alternatif Pembiayaan Sistem Resi Gudang, Pasar Lelang. Dari sub bidang tersebut, masih dibagi lagi sub-sub bidang perdagangan. Sesuai dengan Peraturan Presiden Nomor 24 tahun 2010, bahwa tugas Kementerian Perdagangan adalah menyelenggarkan urusan di bidang perdagangan dalam pemerintahan untuk membantu Presiden. Oleh karena itu penyelenggaraan urusan bidang perdagangan menjadi tanggungjawab kementerian perdagangan. 1.a. Visi “Perdagangan Sebagai Sektor Penggerak Pertumbuhan dan Daya Saing Ekonomi serta Pencipta Kemakmuran Rakyat Yang Berkeadilan.” 1.b. Misi a. Meningkatkan kinerja ekspor nonmigas secara berkualitas; b. Menguatkan pasar dalam negeri;
53

c. Menjaga ketersediaan bahan pokok dan penguatan jaringan distribusi nasional. 1.c. Tujuan a. Peningkatan akses pasar ekspor dan fasilitasi perdagangan luar negeri untuk mengurangi ketergantungan pasar tujuan ekspor ke negara-negara tertentu dan meningkatkan kelancaran arus barang ekspor dan impor; b. Perbaikan iklim usaha perdagangan luar negeri yang berorientasi pada pelayanan publik yang optimal; c. Peningkatan daya saing ekspor melalui peningkatan kualitas produk ekspor dan peningkatan citra produk ekspor Indonesia di pasar global; d. Peningkatan peran dan kemampuan diplomasi perdagangan internasional untuk memperjuangkan kepentingan nasional Indonesia dalam forum mult ilateral, regional, bilateral yang penuh tantangan dan kompleksitas; e. Perbaikan iklim usaha perdagangan dalam negeri dengan melakukan reformasi birokrasi dan harmonisasi kebij akan perdagangan dalam negeri di pusat dan di daerah; f. Peningkatan kinerja sektor perdagangan dan ekonomi kreatif melalui fasilitasi promosi dan penciptaan kebij akan perdagangan yang sesuai; g. Peningkatan perlindungan konsumen dan pengamanan pasar dalam negeri sehingga masyarakat terhindar dari produk-produk yang menyebabkan kerugian, membahayaka kesehatan, keamanan dan keselamatan konsumen serta produsen dalam negeri terhindar dari praktek perdagangan tidak sehat; h. Stabilisasi dan penurunan disparitas harga bahan pokok di Indonesia, sehingga daya beli masyarakat terhadap bahan pokok dapat terjaga; i. Penciptaan jaringan distribusi yang efisien melalui penciptaan sarana dan kebijakan distribusi serta layanan logistik yang mendukung dan sinergis. 2. Struktur, Organisasi, dan Tata Kerja Organisasi dan tata kerja Kementerian Perdagangan Republik Indonesia diatur dalam Peraturan Presiden Nomor 24 tahun 2010 tentang Kedudukan, Tugas, dan Fungsi Kementerian Negara serta Susunan Organisasi, Tugas, dan Fungsi Eselon I Kementerian Negara pasal 245-247. Dalam pasal 245, disebutkan kedudukan Kementerian Perindustrian bahwa: a. Kementerian Perdagangan berada di bawah dan bertanggungjawab kepada Presiden; b. Kementerian Perdagangan dipimpin oleh Menteri Perdagangan. 2.a. Tugas Pada pasal 246, Kementerian perdagangan bertugas menyelenggarkan urusan di bidang perdagangan dalam pemerintahan untuk membantu Presiden dalam menyelenggarakan pemerintahan Negara. 2.b. Fungsi Sedangakan untuk menjalankan fungsinya, Kementerian perdagangan menyelenggarakan fungsi: a. Perumusan, pentapan, dan pelaksanaan kebijakan di bidang perdagangan; b. Pengelolaan barang milik/kekayaan Negara yang menjadi tanggungjawab Kementerian Perdagangan; c. Pengawasan atas pelaksanaan tugas di lingkungan Kementerian Perdagangan; d. Pelaksanaan bimbingan teknis dan supervise atas pelaksanaan urusan teknis dan supervisi atas urusan Kementerian Perdagangan di daerah;
54

e. Pelaksanaan kegiatan teknis yang berskala internasional. 2.c. Struktur Organisasi
Ministry of Trade

Staff Vice Ministry of Trade

Inspectorate

Secretariat

General Direktorat Foreign of Trade

General Direktorat Domestic of Trade

General Direktorat Standardization and consumer pretection

Direktorat International Trade Cooperation

Direktorat Development of National Export

Regulatory Board Futures Trade Commodity

Agency Assesment and Development of Trade Policy

Gambar L.1x Struktur Organisasi Kementerian Perdagangan Republik Indonesia
Sumber: Situs Resmi Kementerian Perdagangan RI

Alamat Kantor: Jl. M. I. Ridwan Rais No. 5, Jakarta Pusat 10110. Situs resmi http://www.depdag.go.id/. AB. KEMENTERIAN PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA 1. Deskripsi Pada Perturan Pemerintah Nomor 38 tahun 2007, terdapat pembagian urusan bidang perindustrian. Bidang ini terdiri dari tujuh belas sub bidang, yaitu, Perizinan, Usaha Industri, Fasilitas Usaha Industri, Perlindungan Usaha Industri, Perencanaan dan Program, Pemasaran, Teknologi, Standardisasi, Sumber Daya Manusia (SDM), Permiodalan, Lingkungan Hidup, Kerjasama Industri, Kelembagaan, Informasi Industri, Pengawasan Industri, Monitoring Evaluasi dan Pelaporan.. Dari sub bidang tersebut, masih dibagi lagi sub-sub bidang urusan pertanian dan ketahanan pangan. Sesuai dengan Peraturan Presiden Nomor 24 Tahun 2010, bahwa tugas Kementerian Perindustrian adalah menyelenggarakan urusan di bidang perindustrian dalam pemerintahan untuk membantu Presiden. Oleh karena itu penyelenggaraan urusan bidang perindustrian menjadi tanggungjawab kementerian perindustrian. 1.a. Visi dan Misi Kementrian Perindustrian
55

• •

Membawa Indonesia pada Tahun 2025 untuk menjadi negara industri tangguh dunia; Membangun industri manufaktur untuk menjadi tulang punggung perekonomian.

2. Struktur, Organisasi, dan Tata Kerja Berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 24 tahun 2010 tentang Kedudukan, Tugas, dan Fungsi Kementerian Negara serta Susunan Organisasi, Tugas, dan Fungsi Eselon I Kementerian Negara, pada bagian ketujuh Pasal 221-223 disebutkan mengenai Kedudukan, Tugas dan Fungsi Kementerian Perindustrian. Secara khusus, organaisasi dan tata kerja Kementerian Perindustrian diatur dalam Peraturan Menteri Perindustrian Nomor 1 tahun 2005 tentang organisasi dan tata kerja. Menurut Pepres Nomor 24 tahun 2010 Pasal 221 kedudukan Kementerian Perindustrian adalah: a. Kementerian Perindustrian berada di bawah dan bertanggungjawab kepada Presiden; b. Kementerian Perindustrian dipimpin oleh Menteri Perindustrian. 2.a. Tugas Pada pasal 222, pertaruran yang sama, disebutkan tugas dari kementerian Perindustrian yaitu menyelenggarakan urusan di bidang perindustrian dalam pemerintahan untuk membantu Presiden dalam menyelenggarakan pemerintahan negara. 2.b. Fungsi Sedangkan untuk melaksanakan tugasnya, Kementerian perindustrian menyelenggarakan fungsi sebgaimana pada pasal 223, yaitu: a. Perumusan, penetapan, dan pelaksanaan kebijakan di bidang perindustrian; b. Pengelolaan barang milik/kekayaan Negara yang menjadi tanggungjawab Kementerian Perindustrian; c. Pengawasan atas pelaksanaan tugas di lingkungan Kementerian Perindustrian; d. Pelaksana bimbingan teknis dan supervise atas pelaksanaan urusan Kementerian Perindustrian di daerah; dan e. Pelaksana kegiatan teknis yang berskala nasional.

56

2.c. Struktur Organisasi

Gambar L.1y Struktur Organisasi Kementerian Perindustrian Republik Indonesia
Sumber: Situs Resmi Kementerian Perindustrian RI

Alamat Kantor: Jalan Gatot Subroto Kav. 52-53, Jakarta 12950 Tel (021)5252194, 5271380, 5271387-88, Fax (021)5261086 Situs resmi http://www.kemenperin.go.id/.

57

LAMPIRAN 2 KEPMEN DAN PERMEN SELURUH BIDANG

58

Tabel 6.2. Pembagian Urusan Pemerintahan Bidang Pendidikan
NO KEPMEN 1 KEPMENDIKNAS RI NO: 057/O/2007 TENTANG PENETAPAN PERGURUAN TINGGIPENYELENGGARA SERTIFIKASI BAGI GURU DALAM JABATAN KEMENTRIAN PENDIDIKAN NASIONAL PERMEN PERMENDIKNAS RI NO: 1 TAHUN 2010 TENTANG PERUBAHAN PENGGUNAAN NAMA DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL MENJADI KEMENTERIAN PENDIDIKAN NASIONAL

2

KEPMENDIKNAS RI NO: 045/U/2002 TENTANG KURIKULUM INTI PENDIDIKAN TINGGI

PERMENDIKNAS RI NO: TAHUN 2010 TENTANG RENCANA STRATEGIS KEMENTERIAN PENDIDIKAN NASIONAL TAHUN 2010-2014

3

KEPMENDIKNAS RI NO: 004/U/2002 TENTANG AKREDITASI PROGRAM STUDI PADA PERGURUAN TINGGI

PERMENDIKNAS RI NO: 3 TAHUN 2010 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL NOMOR 84 TAHUN 2009 TENTANG PERUBAHAN PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL NOMOR 75 TAHUN 2009 TENTANG UJIAN NASIONAL SEKOLAH MENENGAH PERTAMA/MADRASAH TSANAWIYAH (SMP/MTS), SEKOLAH MENENGAH PERTAMA LUAR BIASA (SMPLB), SEKOLAH MENENGAH ATAS/MADRASAH ALIYAH (SMA/MA), SEKOLAH MENENGAH ATAS LUAR BIASA (SMALB), DAN SEKOLAH MENENGAH KEJURUAN (SMK) TAHUN PELAJARAN 2009/2010

4

KEPMENDIKNAS RI NO: 184/U/2001 TENTANG PEDOMAN PENGAWASAN-PENGENDALIAN DAN PEMBINAAN PROGRAM DIPLOMA, SARJANA DAN PASCASARJANA DL PERGURUAN TINGGI KEPMENDIKNAS RI NO: 178/U/2001 TENTANG GELAR DAN LULUSAN PERGURUAN TINGGI

PERMENDIKNAS RI NO: 4 TAHUN 2010 TENTANG UJIAN SEKOLAH/MADRASAH TAHUN PELAJARAN 2009/2010

5

PERMENDIKNAS RI NO: 5 TAHUN 2010 TENTANG PETUNJUK TEKNIS PENGGUNAAN DANA ALOKASI KHUSUS (DAK) BIDANG PENDIDIKAN TAHUN ANGGARAN 2010

59

6

KEPMENDIKNAS RI NO: 107/U/2001 TENTANG PENYELENGGARAAN PROGRAM PENDIDIKAN TINGGI JARAK JAUH

PERMENDIKNAS RI NO: 7 TAHUN 2010 TENTANG PEMENUHAN KEBUTUHAN, PENINGKATAN PROFESIONALISME, DAN PENINGKATAN KESEJAHTERAAN GURU, KEPALA SEKOLAH/MADRASAH, DAN PENGAWAS DI KAWASAN PERBATASAN DAN PULAU KECIL TERLUAR

7

PERMENDIKNAS RI NO: 8 TAHUN 2010 TENTANG PEMBERIAN IZIN USAHA DI BIDANG PENDIDIKAN NONFORMAL DAN JASA PENUNJANG PENDIDIKAN DALAM RANGKA PELAKSANAAN PELAYANAN TERPADU SATU PINTU DI BIDANG PENANAMAN MODAL

8

PERMENDIKNAS RI NO: 9 TAHUN 2010 TENTANG PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI GURU BAGI GURU DALAM JABATAN PERMENDIKNAS RI NO: 10 TAHUN 2010 TENTANG PERUBAHAN KEDUA ATAS KEPUTUSAN MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN NOMOR 276/O/1999 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA UNIVERSITAS NEGERI PADANG

9

10

PERMENDIKNAS RI NO: 11 TAHUN 2010 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA UNIVERSITAS CENDERAWASIH PERMENDIKNAS RI NO: 16 TAHUN 2010 TENTANG STATUTA UNIVERSITAS TADULAKO PERMENDIKNAS RI NO: 17 TAHUN 2010 TENTANG PENCEGAHAN DAN PENANGGULANGAN PLAGIAT DI PERGURUAN TINGGI PERMENDIKNAS RI NO: 18 TAHUN 2010 TENTANG PETUNJUK TEKNIS PENGGUNAAN DANA ALOKASI KHUSUS (DAK) BIDANG PENDIDIKAN TAHUN ANGGARAN 2010 UNTUK SD/SDLB

11

12

13

15

PERMENDIKNAS RI NO: 19 TAHUN 2010 TENTANG PETUNJUK TEKNIS PENGGUNAAN DANA ALOKASI KHUSUS (DAK) BIDANG PENDIDIKAN TAHUN ANGGARAN 2010 UNTUK SEKOLAH MENENGAH PERTAMA (SMP)

17

PERMENDIKNAS RI NO:0 TAHUN 2010 TENTANG NORMA, STANDAR, PROSEDUR, DAN KRITERIA DI BIDANG PENDIDIKAN

60

19

PERMENDIKNAS RI NO: 1 TAHUN 2009 TENTANG STAF AHLI MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL

20

PERMENDIKNAS RI NO: TAHUN 2009 TENTANG STATUTA UNIVERSITAS NUSA CENDANA

22

PERMENDIKNAS RI NO: 4 TAHUN 2009 TENTANG STANDAR PELAYANAN MINIMUM PADA UNIVERSITAS NEGERI GORONTALO

23

PERMENDIKNAS RI NO: 5 TAHUN 2009 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL NOMOR 20 TAHUN 2006 TENTANG RINCIAN TUGAS UNIT KERJA DI LINGKUNGAN INSPEKTORAT JENDERAL DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL

24

PERMENDIKNAS RI NO: 6 TAHUN 2009 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA LEMBAGA PENGEMBANGAN DAN PEMBERDAYAAN KEPALA SEKOLAH PERMENDIKNAS RI NO: 7 TAHUN 2009 TENTANG PEMBERIAN BANTUAN KEPADA LEMBAGA PENDIDIKAN NONFORMAL DAN INFORMAL PERMENDIKNAS RI NO: 8 TAHUN 2009 TENTANG PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI GURU PRA JABATAN

25

26

27

PERMENDIKNAS RI NO: 9 TAHUN 2009 TENTANG PENETAPAN BUKU TEKS PELAJARAN YANG MEMENUHI SYARAT KELAYAKAN UNTUK DIGUNAKAN DALAM PROSES PEMBELAJARAN

28

PERMENDIKNAS RI NO: 10 TAHUN 2009 TENTANG SERTIFIKASI BAGI GURU DALAM JABATAN

61

29

PERMENDIKNAS RI NO: 11 TAHUN 2009 TENTANG KRITERIA DAN PERANGKAT AKREDITASI SEKOLAH DASAR/MADRASAH IBTIDAIYAH (SD/MI)

30

PERMENDIKNAS RI NO: 12 TAHUN 2009 TENTANG KRITERIA DAN PERANGKAT AKREDITASI SEKOLAH MENENGAH PERTAMA/MADRASAH TSANAWIYAH (SMP/MTS)

31

PERMENDIKNAS RI NO: 13 TAHUN 2009 TENTANG KRITERIA DAN PERANGKAT AKREDITASI SEKOLAH MENENGAH KEJURUAN/MADRASAH ALIYAH KEJURUAN (SMK/MAK)

32

PERMENDIKNAS RI NO: 14 TAHUN 2009 TENTANG STANDAR PELAYANAN MINIMUM PADA UNIVERSITAS BENGKULU

33

PERMENDIKNAS RI NO: 15 TAHUN 2009 TENTANG UJIAN SEKOLAH/MADRASAH TAHUN PELAJARAN 2008/2009 PERMENDIKNAS RI NO: 16 TAHUN 2009 TENTANG SATUAN PENGAWASAN INTERN DI LINGKUNGAN DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL

34

35

PERMENDIKNAS RI NO: 17 TAHUN 2009 TENTANG STANDAR PELAYANAN MINIMUM PADA UNIVERSITAS SRIWIJAYA PERMENDIKNAS RI NO: 18 TAHUN 2009 TENTANG PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN OLEH LEMBAGA PENDIDIKAN ASING DL INDONESIA

36

37

PERMENDIKNAS RI NO: 19 TAHUN 2009 TENTANG PENYALURAN TUNJANGAN KEHORMATAN PROFESOR

62

38

PERMENDIKNAS RI NO:0 TAHUN 2009 TENTANG BEASISWA UNGGULAN PERMENDIKNAS RI NO:1 TAHUN 2009 TENTANG UJIAN NASIONAL UNTUK PROGRAM PAKET A, PROGRAM PAKET B, DAN PROGRAM PAKET C TAHUN 2009

39

40

PERMENDIKNAS RI NO:3 TAHUN 2009 TENTANG STANDAR PELAYANAN MINIMUM PADA UNIVERSITAS ANDALAS

41

PERMENDIKNAS RI NO:4 TAHUN 2009 TENTANG STANDAR PELAYANAN MINIMUM PADA UNIVERSITAS NEGERI JAKARTA

42

PERMENDIKNAS RI NO:5 TAHUN 2009 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN PERMENDIKNAS RI NO:6 TAHUN 2009 TENTANG PENILAIAN IJAZAH LULUSAN PERGURUAN TINGGI LUAR NEGERI

43

44

PERMENDIKNAS RI NO:7 TAHUN 2009 TENTANG STANDAR PELAYANAN MINIMUM PADA UNIVERSITAS HALUOLEO PERMENDIKNAS RI NO:8 TAHUN 2009 TENTANG STANDAR KOMPETENSI KEJURUAN SEKOLAH MENENGAH KEJURUAN (SMK)/MADRASAH ALIYAH KEJURUAN (MAK) PERMENDIKNAS RI NO: 30 TAHUN 2009 TENTANG PENYELENGGARAAN PROGRAM STUDI DI LUAR DOMISILI PERGURUAN TINGGI

45

46

63

47

PERMENDIKNAS RI NO: 31 TAHUN 2009 TENTANG PEMBERIAN KUASA KEPADA DIREKTUR JENDERAL PENINGKATAN MUTU PENDIDIK DAN TENAGA KEPENDIDIKAN UNTUK MENANDATANGANI KEPUTUSAN PEMBERIAN TUNJANGAN PROFESI GURU, TUNJANGAN KHUSUS BAGI GURU YANG BERTUGAS DI DAERAH KHUSUS, BANTUAN KESEJAHTERAAN GURU DI DAERAH TERTINGGAL, DAN SUBSIDI TUNJANGAN FUNGSIONAL BAGI GURU NON PEGAWAI NEGERI SIPIL

48

PERMENDIKNAS RI NO: 32 TAHUN 2009 TENTANGMEKANISME PENDIRIAN BADAN HUKUM PENDIDIKAN, PERUBAHAN BADAN HUKUM MILIK NEGARA ATAU PERGURUAN TINGGI, DAN PENGAKUAN PENYELENGGARA PENDIDIKAN TINGGI SEBAGAI BADAN HUKUM PENDIDIKAN

49

PERMENDIKNAS RI NO: 33 TAHUN 2009 TENTANG PEDOMAN PENGANGKATAN DEWAN PENGAWAS PADA PERGURUAN TINGGI NEGERI DI LINGKUNGAN DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL YANG MENERAPKAN PENGELOLAAN KEUANGAN BADAN LAYANAN UMUM

50

PERMENDIKNAS RI NO: 34 TAHUN 2009 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA SEKOLAH TINGGI INTELIJEN NEGARA PERMENDIKNAS RI NO: 35 TAHUN 2009 TENTANG STATUTA INSTITUT SENI INDONESIA SURAKARTA

51

52

PERMENDIKNAS RI NO: 36 TAHUN 2009 TENTANG PROGRAM PAKET C KEJURUAN

53

PERMENDIKNAS RI NO: 37 TAHUN 2009 TENTANG TINDAK LANJUT HASIL PEMERIKSAAN DI LINGKUNGAN DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL

64

54

PERMENDIKNAS RI NO: 38 TAHUN 2009 TENTANG STANDAR PELAYANAN MINIMUM PADA UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN PERMENDIKNAS RI NO: 39 TAHUN 2009 TENTANG PEMENUHAN BEBAN KERJA GURU DAN PENGAWAS SATUAN PENDIDIKAN

55

56

PERMENDIKNAS RI NO: 40 TAHUN 2009 TENTANG STANDAR PENGUJI PADA KURSUS DAN PELATIHAN

57

PERMENDIKNAS RI NO: 41 TAHUN 2009 TENTANG STANDAR PEMBIMBING PADA KURSUS DAN PELATIHAN

58

PERMENDIKNAS RI NO: 42 TAHUN 2009 TENTANG STANDAR PENGELOLA KURSUS

59

PERMENDIKNAS RI NO: 43 TAHUN 2009 TENTANG STANDAR TENAGA ADMINISTRASI PENDIDIKAN PADA PROGRAM PAKET A, PAKET B, DAN PAKET C

60

PERMENDIKNAS RI NO: 44 TAHUN 2009 TENTANG STANDAR PENGELOLA PENDIDIKAN PADA PROGRAM PAKET A, PAKET B, DAN PAKET C

61

PERMENDIKNAS RI NO: 45 TAHUN 2009 TENTANG STANDAR TEKNISI SUMBER BELAJAR PADA KURSUS DAN PELATIHAN

65

62

PERMENDIKNAS RI NO: 46 TAHUN 2009 TENTANG PEDOMAN UMUM EJAAN BAHASA INDONESIA YANG DISEMPURNAKAN

63

PERMENDIKNAS RI NO: 47 TAHUN 2009 TENTANG SERTIFIKASI PENDIDIK UNTUK DOSEN

64

PERMENDIKNAS RI NO: 48 TAHUN 2009 TENTANG PEDOMAN PEMBERIAN TUGAS BELAJAR BAGI PEGAWAI NEGERI SIPIL DI LINGKUNGAN DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL

65

PERMENDIKNAS RI NO: 50 TAHUN 2009 TENTANG PENETAPAN BUKU TEKS PELAJARAN YANG MEMENUHI SYARAT KELAYAKAN UNTUK DIGUNAKAN DALAM PROSES PEMBELAJARAN

66

PERMENDIKNAS RI NO: 51 TAHUN 2009 TENTANG STANDAR PELAYANAN MINIMUM PADA UNIVERSITAS RIAU PERMENDIKNAS RI NO: 52 TAHUN 2009 TENTANG KRITERIA DAN PERANGKAT AKREDITASI TAMAN KANAK-KANAK/RAUDHATUL ATHFAL (TK/RA)

67

68

PERMENDIKNAS RI NO: 53 TAHUN 2009 TENTANG KRITERIA DAN PERANGKAT AKREDITASI TAMAN KANAK-KANAK LUAR BIASA

69

PERMENDIKNAS RI NO: 54 TAHUN 2009 TENTANG KRITERIA DAN PERANGKAT AKREDITASI SEKOLAH DASAR LUAR BIASA

66

70

PERMENDIKNAS RI NO: 55 TAHUN 2009 TENTANG KRITERIA DAN PERANGKAT AKREDITASI SEKOLAH MENENGAH PERTAMA LUAR BIASA

71

PERMENDIKNAS RI NO: 56 TAHUN 2009 TENTANG KRITERIA DAN PERANGKAT AKREDITASI SEKOLAH MENENGAH ATAS LUAR BIASA

72

PERMENDIKNAS RI NO: 57 TAHUN 2009 TENTANG PEMBERIAN BANTUAN PENGEMBANGAN SEKOLAH SEHAT

73

PERMENDIKNAS RI NO: 58 TAHUN 2009 TENTANG STANDAR PENDIDIKAN ANAK USIA DINI

74

PERMENDIKNAS RI NO: 59 TAHUN 2009 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG

75

PERMENDIKNAS RI NO: 60 TAHUN 2009 TENTANG STATUTA SEKOLAH TINGGI INTELIJEN NEGARA

76

PERMENDIKNAS RI NO: 61 TAHUN 2009 TENTANG PEMBERIAN KUASA DAN DELEGASI WEWENANG PELAKSANAAN KEGIATAN ADMINISTRASI KEPEGAWAIAN KEPADA PEJABAT TERTENTU DI LINGKUNGAN DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL

77

PERMENDIKNAS RI NO: 63 TAHUN 2009 TENTANG SISTEM PENJAMINAN MUTU PENDIDIKAN

78

PERMENDIKNAS RI NO: 65 TAHUN 2009 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA UNIVERSITAS DIPONEGORO

67

79

PERMENDIKNAS RI NO: 66 TAHUN 2009 TENTANG PEMBERIAN IZIN PENDIDIK DAN TENAGA KEPENDIDIKAN ASING PADA SATUAN PENDIDIKAN FORMAL DAN NONFORMAL DI INDONESIA

80

PERMENDIKNAS RI NO: 67 TAHUN 2009 TENTANG AKREDITASI BERKALA ILMIAH

81

PERMENDIKNAS RI NO: 68 TAHUN 2009 TENTANG PEDOMAN AKREDITASI BERKALA ILMIAH

82

PERMENDIKNAS RI NO: 69 TAHUN 2009 TENTANG STANDAR BIAYA OPERASI NONPERSONALIA TAHUN 2009 UNTUK SEKOLAH DASAR/MADRASAH IBTIDAIYAH (SD/MI), SEKOLAH MENENGAH PERTAMA/MADRASAH TSANAWIYAH (SMP/MTS), SEKOLAH MENENGAH ATAS/MADRASAH ALIYAH (SMA/MA), SEKOLAH MENENGAH KEJURUAN (SMK), SEKOLAH DASAR LUAR BIASA (SDLB), SEKOLAH MENENGAH PERTAMA LUAR BIASA (SMPLB), DAN SEKOLAH MENENGAH ATAS LUAR BIASA (SMALB)

83

PERMENDIKNAS RI NO: 70 TAHUN 2009 TENTANG PENDIDIKAN INKLUSIF BAGI PESERTA DIDIK YANG MEMILIKI KELAINAN DAN MEMILIKI POTENSI KECERDASAN DAN/ATAU BAKAT ISTIMEWA

84

PERMENDIKNAS RI NO: 71 TAHUN 2009 TENTANG MEKANISME PENDIRIAN BADAN HUKUM PENDIDIKAN YANG MENYELENGGARAKAN PENDIDIKAN DASAR DAN/ATAU MENENGAH DAN PENGAKUAN PENYELENGGARA PENDIDIKAN DASAR DAN/ATAU MENENGAH SEBAGAI BADAN HUKUM PENDIDIKAN

68

85

PERMENDIKNAS RI NO: 72 TAHUN 2009 TENTANG PELIMPAHAN SEBAGIAN URUSAN PEMERINTAHAN BIDANG PENDIDIKAN KEPADA GUBERNUR DALAM PENYELENGGARAAN DEKONSENTRASI TAHUN ANGGARAN 2010

86

PERMENDIKNAS RI NO: 73 TAHUN 2009 TENTANG PERANGKAT AKREDITASI PROGRAM STUDI SARJANA (S1) PERMENDIKNAS RI NO: 74 TAHUN 2009 TENTANG UJIAN AKHIR SEKOLAH BERSTANDAR NASIONAL (UASBN) SEKOLAH DASAR/MADRASAH IBTIDAIYAH/ SEKOLAH DASAR LUAR BIASA (SD/MI/SDLB) TAHUN PELAJARAN 2009/2010

87

88

PERMENDIKNAS RI NO: 75 TAHUN 2009 TENTANG UJIAN NASIONAL SEKOLAH MENENGAH PERTAMA/MADRASAH TSANAWIYAH (SMP/MTS), SEKOLAH MENENGAH PERTAMA LUAR BIASA (SMPLB), SEKOLAH MENENGAH ATAS/MADRASAH ALIYAH (SMA/MA), SEKOLAH MENENGAH ATAS LUAR BIASA (SMALB), DAN SEKOLAH MENENGAH KEJURUAN (SMK) TAHUN PELAJARAN 2009/2010

89

PERMENDIKNAS RI NO: 76 TAHUN 2009 TENTANG UJIAN NASIONAL PROGRAM PAKET C KEJURUAN TAHUN 2009 PERMENDIKNAS RI NO: 77 TAHUN 2009 TENTANG UJIAN NASIONAL PROGRAM PAKET A, PROGRAM PAKET B, PROGRAM PAKET C, DAN PROGRAM PAKET C KEJURUAN TAHUN 2010

90

91

PERMENDIKNAS RI NO: 78 TAHUN 2009 TENTANG PENYELENGGARAAN SEKOLAH BERTARAF INTERNASIONAL PADA JENJANG PENDIDIKAN DASAR DAN MENENGAH

69

92

PERMENDIKNAS RI NO: 84 TAHUN 2009 TENTANG PERUBAHAN PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL NOMOR 75 TAHUN 2009 TENTANG UJIAN NASIONAL SEKOLAH MENENGAH PERTAMA/MADRASAH TSANAWIYAH (SMP/MTS), SEKOLAH MENENGAH PERTAMA LUAR BIASA (SMPLB), SEKOLAH MENENGAH ATAS/MADRASAH ALIYAH (SMA/MA), SEKOLAH MENENGAH ATAS LUAR BIASA (SMALB), DAN SEKOLAH MENENGAH KEJURUAN (SMK) TAHUN PELAJARAN 2009/2010

93

PERMENDIKNAS RI NO: 81 TAHUN 2009 TENTANG KOORDINASI DAN PENGENDALIAN PROGRAM DI LINGKUNGAN DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL TAHUN ANGGARAN 2010

94

PERMENDIKNAS RI NO: 1 TAHUN 2008 TENTANG STANDAR PROSES PENDIDIKAN KHUSUS TUNANETRA, TUNARUNGU, TUNAGRAHITA, TUNADAKSA, DAN TUNALARAS PERMENDIKNAS RI NO: TAHUN 2008 TENTANGBUKU

95

96

PERMENDIKNAS RI NO: 3 TAHUN 2008 TENTANG STANDAR PROSES PENDIDIKAN KESETARAAN PROGRAM PAKET A, PROGRAM PAKET B, DAN PROGRAM PAKET C PERMENDIKNAS RI NO: 4 TAHUN 2008 TENTANG KALENDER PERHELATAN PENDIDIKAN NASIONAL TAHUN 2008 PERMENDIKNAS RI NO: 6 TAHUN 2006 TENTANG PEMBERIAN KUASA KEPADA PEJABAT TERTENTU UNTUK MENANDATANGANI PENETAPAN HASIL SELEKSI CALON PESERTA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEPEMIMPINAN DI LINGKUNGAN DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL

97

98

99

PERMENDIKNAS RI NO: 7 TAHUN 2008 TENTANG STATUTA POLITEKNIK NEGERI SEMARANG

100

PERMENDIKNAS RI NO: 8 TAHUN 2008 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA PUSAT PENGEMBANGAN PENDIDIKAN NONFORMAL DAN INFORMAL

70

101

PERMENDIKNAS RI NO: 9 TAHUN 2008 TENTANG PERPANJANGAN BATAS USIA PENSIUN PEGAWAI NEGERI SIPIL YANG MENDUDUKI JABATAN GURU BESAR/PROFESOR DAN PENGANGKATAN GURU BESAR/PROFESOR EMERITUS

102

PERMENDIKNAS RI NO: 13 TAHUN 2008 TENTANG HARGA ECERAN TERTINGGI BUKU TEKS PELAJARAN YANG HAK CIPTANYA DIBELI OLEH DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL

103

PERMENDIKNAS RI NO: 14 TAHUN 2008 TENTANG INDIKATOR KINERJA KUNCI DI LINGKUNGAN DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL

104

PERMENDIKNAS RI NO: 15 TAHUN 2008 TENTANG UJIAN NASIONAL PENDIDIKAN KESETARAAN TAHUN 2008

105

PERMENDIKNAS RI NO: 16 TAHUN 2008 TENTANG SISTEM AKUNTANSI DAN PELAPORAN KEUANGAN DI LINGKUNGAN DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL

106

PERMENDIKNAS RI NO: 18 TAHUN 2008 TENTANG PENYALURAN TUNJANGAN PROFESI DOSEN

107

PERMENDIKNAS RI NO:20 TAHUN 2008 TENTANG PENETAPAN INPASSING PANGKAT DOSEN BUKAN PEGAWAI NEGERI SIPIL YANG TELAH MENDUDUKI JABATAN AKADEMIK PADA PERGURUAN TINGGI YANG DISELENGGARAKAN OLEH MASYARAKAT DENGAN PANGKAT PEGAWAI NEGERI SIPIL

71

108

PERMENDIKNAS RI NO:1 TAHUN 2008 TENTANG RINCIAN TUGAS UNIT KERJA DI LINGKUNGAN DIREKTORAT JENDERAL PENINGKATAN MUTU PENDIDIK DAN TENAGA KEPENDIDIKAN

109

PERMENDIKNAS RI NO:2 TAHUN 2008 TENTANG RINCIAN TUGAS UNIT KERJA DI LINGKUNGAN SEKRETARIAT JENDERAL

110

PERMENDIKNAS RI NO:4 TAHUN 2008 TENTANG STANDAR TENAGA ADMINISTRASI SEKOLAH/MADRASAH

111

PERMENDIKNAS RI NO:5 TAHUN 2008 TENTANG STANDAR TENAGA PERPUSTAKAAN SEKOLAH/MADRASAH

112

PERMENDIKNAS RI NO:6 TAHUN 2008 TENTANG STANDAR TENAGA LABORATORIUM SEKOLAH/MADRASAH PERMENDIKNAS RI NO:7 TAHUN 2008 TENTANG STANDAR KUALIFIKASI AKADEMIK DAN KOMPETENSI KONSELOR PERMENDIKNAS RI NO: 6 TAHUN 2007 TENTANG PERUBAHAN PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL NOMOR 24 TAHUN 2006 TENTANG PELAKSANAAN PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL NOMOR 22 TAHUN 2006 TENTANG STANDAR ISI UNTUK SATUAN PENDIDIKAN DASAR DAN MENENGAH DAN PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL NOMOR 23 TAHUN 2006 TENTANG STANDAR KOMPETENSI LULUSAN UNTUK SATUAN PENDIDIKAN DASAR DAN MENENGAH

113

114

72

115

PERMENDIKNAS RI NO: 7 TAHUN 2007 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA LEMBAGA PENJAMINAN MUTU PENDIDIKAN

116

PERMENDIKNAS RI NO: 8 TAHUN 2007 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA PUSAT PENGEMBANGAN DAN PEMBERDAYAAN PENDIDIK DAN TENAGA KEPENDIDIKAN

117

PERMENDIKNAS RI NO: 9 TAHUN 2007 TENTANG PROSEDUR PENYIAPAN BAHAN RAPAT ATAU LAPORAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL KEPADA PRESIDEN, WAKIL PRESIDEN, DEWAN PERWAKILAN RAKYAT, DEWAN PERWAKILAN DAERAH, DAN/ATAU MENTERI KOORDINATOR

118

PERMENDIKNAS RI NO: 10 TAHUN 2007 TENTANG STATUTA UNIVERSITAS SULTAN AGENG TIRTAYASA

119

PERMENDIKNAS RI NO: 11 TAHUN2007 TENTANG PENGGUNAAN DAN PENGELOLAAN GEDUNG DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL YANG BERLOKASI DI KOMPLEKS JALAN JENDERAL SUDIRMAN SENAYAN JAKARTA, JALAN R.S FATMAWATI CIPETE JAKARTA, JALAN GUNUNG SAHARI JAKARTA, GUDANG CIKETING BEKASI, DAN WISMA ARGA MULYA CISARUA BOGOR

120

PERMENDIKNAS RI NO: 12 TAHUN 2007 TENTANG STANDAR PENGAWAS SEKOLAH/MADRASAH

73

121

PERMENDIKNAS RI NO: 13 TAHUN 2007 TENTANG STANDAR KEPALA SEKOLAH/MADRASAH

122

PERMENDIKNAS RI NO: 14 TAHUN 2007 TENTANG STANDAR ISI UNTUK PROGRAM PAKET A, PROGRAM PAKET B, DAN PROGRAM PAKET C

123

PERMENDIKNAS RI NO: 15 TAHUN 2007 TENTANG SISTEM PERENCANAAN TAHUNAN DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL

124

PERMENDIKNAS RI NO: 16 TAHUN 2007 TENTANG STANDAR KUALIFIKASI AKADEMIK DAN KOMPETENSI GURU PERMENDIKNAS RI NO: 19 TAHUN 2007 TENTANG STANDAR PENGELOLAAN PENDIDIKAN OLEH SATUAN PENDIDIKAN DASAR DAN MENENGAH

125

126

PERMENDIKNAS RI NO:0 TAHUN 2007 TENTANG STANDAR PENILAIAN PENDIDIKAN PERMENDIKNAS RI NO:3 TAHUN 2007 TENTANG STATUTA UNIVERSITAS TERBUKA

127

128

PERMENDIKNAS RI NO:4 TAHUN 2007 TENTANG STANDAR SARANA DAN PRASARANA UNTUK SEKOLAH DASAR/MADRASAH IBTIDAIYAH (SD/MI), SEKOLAH MENENGAH PERTAMA/MADRASAH TSANAWIYAH (SMP/MTS), DAN SEKOLAH MENENGAH ATAS/MADRASAH ALIYAH (SMA/MA)

74

129

PERMENDIKNAS RI NO:5 TAHUN 2007 TENTANG PERSYARATAN DAN PROSEDUR BAGI WARGA NEGARA ASING UNTUK MENJADI MAHASISWA PADA PERGURUAN TINGGI DI INDONESIA

130

PERMENDIKNAS RI NO:6 TAHUN 2007 TENTANG KERJASAMA PERGURUAN TINGGI DI INDONESIA DENGAN PERGURUAN TINGGI ATAU LEMBAGA LAIN DL LUAR NEGERI

131

PERMENDIKNAS RI NO:8 TAHUN 2007 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA BALAI PENGEMBANGAN PENDIDIKAN NONFORMAL DAN INFORMAL

132

PERMENDIKNAS RI NO:9 TAHUN 2007 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA UNIVERSITAS PENDIDIKAN GANESHA

133

PERMENDIKNAS RI NO: 30 TAHUN 2007 TENTANG PENGELOLAAN REKENING DI LINGKUNGAN DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL

134

PERMENDIKNAS RI NO: 1 TAHUN 2006 TENTANG PEMBERIAN KEWENANGAN KEPADA EMPAT PERGURUAN TINGGI BADAN HUKUM MILIK NEGARA UNTUK MEMBUKA DAN MENUTUP PROGRAM STUDI PADA PERGURUAN TINGGI YANG BERSANGKUTAN

135

PERMENDIKNAS RI NO:2 TAHUN 2006 TENTANG BADAN PERTIMBANGAN JABATAN DAN KEPANGKATAN DI LINGKUNGAN DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL PERMENDIKNAS RI NO: 3 TAHUN 2006 TENTANG STATUTA POLITEKNIK NEGERI BANDUNG

136

137

PERMENDIKNAS RI NO: 4 TAHUN 2006 TENTANG PEMBENTUKAN GERAI INFORMASI DAN MEDIA DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL

75

138

PERMENDIKNAS RI NO: 6 TAHUN 2006 TENTANG PEMBERIAN KUASA KEPADA PEJABAT TERTENTU UNTUK MENANDATANGANI PENETAPAN HASILSELEKSI CALON PESERTA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEPEMIMPINAN DL LINGKUNGAN DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL

139

PERMENDIKNAS RI NO: 7 TAHUN 2006 TENTANG HONORARIUM GURU BANTU PERMENDIKNAS RI NO: 8 TAHUN 2006 TENTANG STATUTA INSTITUT SENI INDONESIA DENPASAR

140

141

PERMENDIKNAS RI NO: 9 TAHUN 2006 TENTANG PEDOMAN PENATAAN PEGAWAI NEGERI SIPIL DI LINGKUNGAN UNIT UTAMA DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL PERMENDIKNAS RI NO: 11 TAHUN 2006 TENTANG STATUTA UNIVERSITAS TRUNOJOYO PERMENDIKNAS RI NO: 12 TAHUN 2006 TENTANG PERUBAHAN ATAS KEPUTUSAN MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN NOMOR 274/O/1999 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA

142

143

144

PERMENDIKNAS RI NO: 13 TAHUN 2006 TENTANG JADWAL RETENSI ARSIP SUBSTANTIF DAN FASILITATIF DI LINGKUNGAN DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL

145

PERMENDIKNAS RI NO: 14 TAHUN 2006 TENTANG LAPORAN AKUNTABILITAS KINERJA PERMENDIKNAS RI NO: 16 TAHUN 2006 TENTANG PENDIRIAN FAKULTAS SAINS DAN TEKNIK PADA UNIVERSITAS NUSA CENDANA PERMENDIKNAS RI NO: 17 TAHUN 2006 TENTANG PEMBERIAN DELEGASI WEWENANG KEPADA PEJABAT TERTENTU UNTUK MENETAPKAN PENYESUAIAN GAJI POKOK PEGAWAI NEGERI SIPIL DI LINGKUNGAN DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL

146

147

76

148

PERMENDIKNAS RI NO: 19 TAHUN 2006 TENTANG PEMBERIAN TUNJANGAN DARMASISWA KEPADA MAHASISWA ASING YANG BELAJAR DL INDONESIA

149

PERMENDIKNAS RI NO:20 TAHUN 2006 TENTANG RINCIAN TUGAS UNIT KERJA DL LINGKUNGAN INSPEKTORAT JENDERAL

150

PERMENDIKNAS RI NO:1 TAHUN 2006 TENTANG RINCIAN TUGAS UNIT KERJA DL LINGKUNGAN DIREKTORAT JENDERAL PENDIDIKAN TINGGI

151

PERMENDIKNAS RI NO:2 TAHUN 2006 TENTANG STANDAR ISI UNTUK SATUAN PENDIDIKAN DASAR DAN MENENGAH

152

PERMENDIKNAS RI NO:5 TAHUN 2006 TENTANG RINCIAN TUGAS UNIT KERJA DL LINGKUNGAN DIREKTORAT JENDERAL MANAJEMEN PENDIDIKAN DASAR DAN MENENGAH PERMENDIKNAS RI NO:6 TAHUN 2006 TENTANG JADWAL RETENSI ARSIP SUBSTANTIF DAN FASILITATIF DI LINGKUNGAN PERGURUAN TINGGI NEGERI DAN KOORDINASI PERGURUAN TINGGI SWASTA PERMENDIKNAS RI NO:7 TAHUN 2006 TENTANG RINCIAN TUGAS UNIT KERJA DI LINGKUNGAN PUSAT-PUSAT

153

154

77

155

PERMENDIKNAS RI NO: 30 TAHUN 2006 TENTANG STATUTA POLITEKNIK PERTANIAN NEGERI PANGKAJENE DAN KEPULAUAN

156

PERMENDIKNAS RI NO: 32 TAHUN 2006 TENTANG PERUBAHAN KEPUTUSAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL NOMOR 042/U/2000 TENTANG PERSYARATAN DAN TATA CARA PENETAPAN PERGURUAN TINGGI NEGERI SEBAGAI BADAN HUKUM

157

PERMENDIKNAS RI NO: 35 TAHUN 2006 TENTANG PEDOMAN PELAKSANAAN GERAKAN NASIONAL PERCEPATAN PENUNTASAN WAJIB BELAJAR PENDIDIKAN DASAR SEMBILAN TAHUN DAN PEMBERANTASAN BUTA AKSARA

158

PERMENDIKNAS RI NO: 37 TAHUN 2006 TENTANG TATA KEARSIPAN DI LINGKUNGAN DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL PERMENDIKNAS RI NO: 41 TAHUN 2006 TENTANG PEMBERIAN KUASA KEPADA PEJABAT TERTENTU DI LINGKUNGAN DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL UNTUK MENANDATANGANI SURAT PERINTAH MELAKUKAN PEMERIKSAAN TERHADAP PEGAWAI NEGERI SIPIL YANG DISANGKA MELAKUKAN PELANGGARAN DISIPLIN

159

160

PERMENDIKNAS RI NO: 42 TAHUN 2006 TENTANG TATA PERSURATAN DI LINGKUNGAN DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL

161

PERMENDIKNAS RI NO: 44 TAHUN 2006 TENTANG BANTUAN UNTUK LEMBAGA PENDIDIKAN YANG DISELENGGARAKAN OLEH MASYARAKAT DAN LEMBAGA KEMASYARAKATAN

78

162

PERMENDIKNAS RI NO: 2 TAHUN 2005 SUBSIDI SILANG BIAYA OPERASI PERGURUAN TINGGI

163

PERMENDIKNAS RI NO: 16 TAHUN 2005 TENTANG STATUTA UNIVERSITAS AIRLANGGA

164

PERMENDIKNAS RI NO: 17 TAHUN 2005 TENTANG MARS SEKOLAH MENENGAH PERTAMA TERBUKA

165

PERMENDIKNAS RI NO: 18 TAHUN 2005 TENTANG PENETAPAN ANGKA KREDIT JABATAN FUNGSIONAL GURU

166

PERMENDIKNAS RI NO: 19 TAHUN 2005 TENTANG PENETAPAN ANGKA KREDIT JABATAN FUNGSIONAL PENGAWAS SEKOLAH

167

PERMENDIKNAS RI NO:8 TAHUN 2005 TENTANG BADAN AKREDITASI NASIONAL PERGURUAN TINGGI

168

PERMENDIKNAS RI NO: 31 TAHUN 2005 TENTANG PEMBINAAN UNIT PELAKSANA TEKNIS PUSAT PENATARAN DAN PENGEMBANGAN GURU, LEMBAGA PENJAMIN MUTU PENDIDIKAN, DAN BALAI PENGEMBANGAN PENDIDIKAN LUAR SEKOLAH DAN PEMUDA

Tabel 6.3. Pembagian Urusan Pemerintahan Bidang Kesehatan
79

NO 1.

KEMENTRIAN KESEHATAN KEPMEN HK.03.01/MENKES/146/I/2010 KEPUTUSAN MENTERI KESEHATAN TENTANG HARGA OBAT GENERIK PERMEN PERMENKES NO. 492 IV 2010 PERMENKES NO. 492 IV 2010 TENTANG KUALITAS AIR MINUM

2.

HK.02.02/MENKES/068/I/2010 KEWAJIBAN MENGGUNAKAN OBAT GENERIK DI FASILITAS PELAYANAN PEMERINTAH HK.03.01/MENKES/159/I/2010 PEDOMAN PEMBINAAN DAN PENGAWASAN PENGGUNAAN OBAT GENERIK DI FASILITAS PELAYANAN KESEHATAN PEMERINTAH NO. 494/MENKES/SK/IV/2010 SK MENKES 494 TAHUN 2010 TENTANG PETUNJUK TEKNIS BANTUAN OPERASIONAL KESEHATAN 2010

PBM MENTERI DALAM NEGERI DAN MENKES NO. 162 PERATURAN BERSAMA MENTERI MENTERI DALAM NEGERI DAN MENKES NO. 162 TENTANG PELAPORAN KEMATIAN DAN PENYEBAB KEMATIAN PMK NO. 03 TH 2010 PERATURAN MENTERI KESEHATAN NO. 03 TAHUN 2010 TENTANG SAINTIFIKASI JAMU DALAM PENELITIAN BERBASIS

3.

4.

PMK NO. 317 PERATURAN MENTERI KESEHATAN NO. 317 TENTANG PENDAYAGUNAAN TENAGA KESEHATAN WARGA NEGARA ASING DI INDONESIA

5.

551/MENKES/SK/V/2010 PENERIMA DANA BANTUAN OPERASIONAL KESEHATAN (BOK) DI PUSKESMAS DAN JARINGANNYA UNTUK TIAP KABUPATEN/KOTA TAHUN ANGGARAN 2010 LAMPIRAN 551/MENKES/SK/V/2010 LAMPIRAN PENERIMA DANA BANTUAN OPERASIONAL KESEHATAN DI PUSKESMAS DAN JARINGANNYA UNTUK TIAP KABUPATEN/KOTA UJICOBA TAHUN ANGGARAN 2010 SK/MENKES/SK/XI/2009 PETUNJUK TEKNIS PENGGUNAAN DANA ALOKASI KHUSUS (DAK) BIDANG KESEHATAN TAHUN ANGGARAN 2010 1061/MENKES/SK/XI/2008 PENETAPAN RUMAH SAKIT RUJUKAN HAJI

PMK NO. HK.02.02-068 PERATURAN MENTERI KESEHATAN NO. HK.02.02-068 TENTANG KEWAJIBAN MENGGUNAKAN OBAT GENERIK DI FASILITAS PELAYANAN KESEHATAN PEMERINTAH PMK NO. HK.02.02-148 PERATURAN MENTERI KESEHATAN NO. HK.02.02-148 TENTANG IZIN DAN PENYELENGGARAAN PRAKTIK PERAWAT

6.

7.

PMK NO. HK.02.02-149 PERATURAN MENTERI KESEHATAN NO. HK.02.02-149 TENTANG IZIN DAN PENYELENGGARAAN PRAKTIK BIDAN

8.

9.

1022/MENKES/SK/XI/2008 PEDOMAN PENGENDALIAN PENYAKIT PARU OBSTRUKTIF KRONIK

PERMENKES 659 TAHUN 2009 PERATURAN MENTERI KESEHATAN NOMOR 659/MENKES/PER/VIII/2009 TENTANG RUMAH SAKIT INDONESIA KELAS DUNIA PMK NO. 1248 PERATURAN MENTERI KESEHATAN NO. 1248 TENTANG PENYELENGGARAAN PELAYANAN SIKLOTRON DI RUMAH SAKIT

10. 852/MENKES/SK/IX/2008 STRATEGI NASIONAL SANITASI TOTAL BERBASIS MASYARAKAT

PMK NO. 307 PERATURAN MENTERI KESEHATAN NO. 307 TENTANG PROGRAM BANTUAN SOSIAL DALAM RANGKA PENINGKATAN DERAJAT KESEHATAN MASYARAKAT

80

11. 1014/MENKES/SK/XI/2008 STANDAR PELAYANAN RADIO DIAGNOSTIK DI SARANA PELAYANAN KESEHATAN

PMK NO. 833 PERATURAN MENTERI KESEHATAN NO. 833 TENTANG PENYELENGGARAAN PELAYANAN SEL PUNCA

12. KBM MENKES DAN KEPALA BATAN NASIONAL NO. 171 KEPUTUSAN BERSAMA MENTERI, MENKES DAN KEPALA BADAN TENAGA NUKLIR NASIONAL NO. 171 TENTANG PEMANFAATAN TENAGA NUKLIR

PMK NO. 971 PERATURAN MENTERI KESEHATAN NO. 971 TENTANG STANDAR KOMPETENSI PEJABAT STRUKTURAL KESEHATAN

13. KESEPAKATAN KERJA SAMA ANTARA MENKES RI DENGAN KEPALA STAFF TNI AD NO. 590 KESEPAKATAN KERJA SAMA ANTARA MENKES RI DENGAN KEPALA STAFF TNI AD NO. 590 TENTANG KERJA SAMA BIDANG 14. KMK NO. 1014 KEPUTUSAN MENTERI KESEHATAN NO. 1014 TENTANG STANDAR PELAYANAN RADIOLOGI DIAGNOSTIK DI SARANA PELAYANAN KESEHATAN

1010/MENKES/PER/XI/2008 REGISTRASI OBAT

780/MENKES/PER/VIII/2008 PENYELENGGARAAN PELAYANAN RADIOLOGI

15. KMK NO. 1022 KEPUTUSAN MENTERI KESEHATAN NO. 1022 TENTANG PEDOMAN PENGENDALIAN PENYAKIT PARU OBSTRUKTIF KRONIK

PMK NO. 1010 PERATURAN MENTERI KESEHATAN NO. 1010 TENTANG REGISTRASI OBAT

16. KMK NO. 1023 KEPUTUSAN MENTERI KESEHATAN NO. 1023 TENTANG PEDOMAN PENGENDALIAN PENYAKIT ASMA

PMK NO. 1120 PERATURAN MENTERI KESEHATAN NO. 1120 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN MENTERI KESEHATAN NO. 1010-MENKES-PER-XI-2008 TENTANG REGISTRASI OBAT

17. KMK NO. 1061 KEPUTUSAN MENTERI KESEHATAN NO. 1061 TENTANG PENETAPAN RUMAH SAKIT RUJUKAN HAJI

PMK NO. 290 PERATURAN MENTERI KESEHATAN NO. 290 TENTANG PERSETUJUAN TINDAKAN KEDOKTERAN

18. KMK NO. 1062 KEPUTUSAN MENTERI KEUANGAN NO. 1062 TENTANG PENGHARGAAN BAGI KABUPATEN-KOTA DI LUAR PULAU JAWA YANG TELAH MENJADI DESA-KELUR

PMK NO. 496 PERATURAN MENTERI KESEHATAN NO. 496 TENTANG TATA CARA PENGUSULAN CALON ANGGOTA KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA

19. KMK NO. 1158 KEPUTUSAN MENTERI KESEHATAN NO. 1158 TENTANG STANDAR PEMERIKSAAN KESEHATAN TKI

PMK NO. 541 PERATURAN MENTERI KESEHATAN NO. 541 TENTANG PROGRAM TUGAS BELAJAR SDM KESEHATAN DEPKES RI

81

20. KMK NO. 120 KEPUTUSAN MENTERI KESEHATAN NO. 120 TENTANG STANDAR PELAYANAN MEDIK HIPERBARIK

512/MENKES/PER/IV/2007 LAMPIRAN

21. KMK NO. 121 KEPUTUSAN MENTERI KESEHATAN NO. 121 TENTANG STANDAR PELAYANAN MEDIK HERBAL

512/MENKES/PER/IV/2007 IZIN PRAKTIK DAN PELAKSANAAN PRAKTIK KEDOKTERAN

22. KMK NO. 129 KEPUTUSAN MENTERI KEUANGAN NO. 129 STANDAR PELAYANAN MINIMAL RUMAH SAKIT

284/MENKES/PER/III/2007 APOTEK RAKYAT

23. KMK NO. 267 KEPUTUSAN MENTERI KESEHATAN NO. 267 TENTANG PEDOMAN TEKNIS PENGORGANISASIAN DINAS KESEHATAN DAERAH

548/MENKES/PER/V/2007 REGISTRASI DAN IZIN PRAKTIK OKUPASI TERAPIS

24. KMK NO. 274 KEPUTUSAN MENTERI KESEHATAN NO. 274 TENTANG PEDOMAN REKRUTMEN TENAGA PELAKSANA VERIFIKASI DALAM PELAKSANAAN PROGRAM JAMKESMAS

PMK NO. 1109 PERATURAN MENTERI KESEHATAN NO. 1109 TENTANG PENYELENGGARAAN PENGOBATAN KOMPLEMENTER-ALTERNATIF

25. KMK NO. 298 KEPUTUSAN MENTERI KESEHATAN NO. 298 TENTANG PEDOMAN AKREDITASI LABORATORIUM KESEHATAN

PMK_NO._1295 PERATURAN MENTERI KESEHATAN NO. 1295 TENTANG PERUBAHAN PERTAMA ATAS PERMENKES NO. 1575 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA DEPKES

26. KMK NO. 299 KEPUTSAN MENTERI KESEHATAN NO. 299 TENTANG PENUNJUKAN WAKIL INDONESIA UNTUK EXECUTIVE COMMITTEE

PMK NO. 284 PERATURAN MENTERI KESEHATAN NO. 284 TENTANG APOTEK RAKYAT

27. KMK NO. 302 KEPUTUSAN MENTERI KESEHATAN NO. 302 TENTANG HARGA OBAT GENERIK

PMK_NO._512 PERATURAN MENTERI KESEHATAN NO. 512 TENTANG IZIN PRAKTIK DAN PELAKSANAAN PRAKTIK KEDOKTERAN

28. KMK NO. 350 KEPUTUSAN MENTERI KESEHATAN NO. 350 PENETAPAN RUMAH SAKIT PENGAMPU DAN SATELIT PROGRAM TERAPI RUMATAN METADON

82

29. KMK NO. 039 KEPUTUSAN MENTERI KESEHATAN NO. 039 TENTANG PEDOMAN PENYELENGGARAAN KEDOKTERAN GIGI KELUARGA

30. KMK NO. 042 KEPUTUSAN MENTERI KESEHATAN NO. 042 TENTANG PEDOMAN PENYELENGGARAAN SISTEM KEWASPADAAN DINI(SKD) DAN PENANGGULANGAN KLB MALARIA

31. KMK NO. 043 KEPUTUSAN MENTERI KESEHATAN NO. 043 TENTANG PEDOMAN PELATIHAN MALARIA

32. KMK NO. 044 KEPUTUSAN MENTERI KESEHATAN NO. 044 TENTANG PEDOMAN PENGOBATAN MALARIA

33. KMK NO. 1017 KEPUTUSAN MENTERI KESEHATAN NO. 1017 TENTANG PENUNJUKAN SARANA PELAYANAN KESEHATAN SEBAGAI TEMPAT PENGUJIAN

34. KMK NO. 1033 KEPUTUSAN MENTERI KESEHATAN NO. 1033 TENTANG PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PINJAMAN DAN ATAU HIBAH LUAR NEGERI BIDANG KESEHATAN

35. KMK NO. 1045 KEPUTUSAN MENTERI KESEHATAN NO. 1045 TENTANG PENETAPAN WILAYAH PENGESAHAN PEMBERIAN INTERNATIONAL CERTIFICATE OF VACCINATION

36. KMK NO. 1105 KEPUTUSAN MENTERI KESEHATAN NO. 1105 TENTANG PEDOMAN PENANGANAN MEDIS KORBAN MASSAL AKIBAT BENCANA KIMIA

37. KMK NO. 1161 KEPUTUSAN MENTERI KESEHATAN NO. 1161 TENTANG PENETAPAN RUMAH SAKIT BERDASARKAN INDONESIA DIAGNOSTIC RELATED GROUP (INA-DRG)

83

38. KMK NO. 1165 KEPUTUSAN MENTERI KESEHATAN NO. 1165 TENTANG POLA TARIF RUMAH SAKIT BADAN LAYANAN UMUM

39. KMK NO. 1224 KEPUTUSAN MENTERI KESEHATAN NO. 1224 TENTANG PEDOMAN KLASIFIKASI DAN KODIFIKASI JENIS PEMERIKSAAN, SPESIMEN, METODE PEMERIKSA

40. KMK NO. 1225 KEPUTUSAN MENTERI KESEHATAN NO. 1225 TENTANG PEDOMAN SISFO LABORATORIUM KESEHATAN (SILK)

41. KMK NO. 145 KEPUTUSAN MENTERI KESEHATAN NO. 145 TENTANG PEDOMAN PENANGGULANGAN BENCANA BIDANG KESEHATAN

42. KMK NO. 221 KEPUTUSAN MENTERI KESEHATAN NO. 221 TENTANG PENYELENGGARA RISET PEMBINAAN ILMU PENGETAHUAN DAN TEKNOLOGI KEDOKTERAN (RISBIN I

43. KMK NO. 275 KEPUTUSAN MENTERI KESEHATAN NO. 275 TENTANG PEDOMAN SURVEILANS MALARIA

44. KMK NO. 342 KEPUTUSAN MENTERI KESEHATAN NO. 342 TENTANG PEJABAT YANG BERWENANG MEMBERIKAN INFORMASI KEPADA PERS DAN ATAU MASYARAKAT

45. KMK NO. 369 KEPUTUSAN MENTERI KESEHATAN NO. 369 TENTANG STANDAR PROFESI BIDAN

46. KMK NO. 370 KEPUTUSAN MENTERI KESEHATAN NO. 370 TENTANG STANDAR PROFESI AHLI TEKNOLOGI LABORATORIUM KESEHATAN

84

47. KMK NO. 371 KEPUTUSAN MENTERI KEUANGAN NO. 371 TENTANG STANDAR PROFESI TEKNISI ELEKTROMEDIS

48. KMK NO. 372 KEPUTUSAN MENTERI KEUANGAN NO. 372 TENTANG STANDAR PROFESI TEKNISI GIGI

49. KMK NO. 373 KEPUTUSAN MENTERI KEUANGAN NO. 373 TENTANG STANDAR PROFESI SANITARIAN

50. KMK NO. 374 KEPUTUSAN MENTERI KESEHATAN NO. 374 TENTANG STANDAR PROFESI GIZI

51. KMK NO. 376 KEPUTUSAN MENTERI KESEHATAN NO. 376 TENTANG STANDAR PROFESI FISIOTERAPI

52. KMK NO. 377 KEPUTUSAN MENTERI KESEHATAN NO. 377 TENTANG STANDAR PROFESI PEREKAM MEDIS DAN INFORMASI KESEHATAN

53. KMK NO. 378 KEPUTUSAN MENTERI KESEHATAN NO. 378 TENTANG STANDAR PROFESI PERAWAT GIGI

54. KMK NO. 423 KEPUTUSAN MENTERI KESEHATAN NO. 423 TENTANG KEBIJAKAN PENINGKATAN KUALITAS DAN AKSES PELAYANAN DARAH

55. KMK NO. 424 KEPUTUSAN MENTERI KESEHATAN NO. 424 TENTANG PEDOMAN UPAYA KESEHATAN PELABUHAN DALAM RANGKA KARANTINA KESEHATAN

85

56. KMK NO. 425 KEPUTUSAN MENTERI KESEHATAN NO. 425 TENTANG PEDOMAN PENYELENGGARAAN KARANTINA KESEHATAN DI KANTOR KESEHATAN PELABUHAN

57. KMK NO. 431 KEPUTUSAN MENTERI KESEHATAN NO. 431 TENTANG PENGENDALIAN RESIKO KESEHATAN LINGKUNGAN DI PELABUHAN-BANDARAPOS LINTAS BATAS

58. KMK NO. 432 KEPUTUSAN MENTERI KESEHATAN NO. 432 TENTANG PEDOMAN MANAJEMEN KESEHATAN DAN KESELAMATAN KERJA (K3) DI RUMAH SAKIT

59. KMK NO. 474 KEPUTUSAN MENTERI KESEHATAN NO. 474 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERMENKES NO. 518 TAHUN 2009 TENTANG TARIF PELAYANAN KESEHATAN ASKES DI B

60. KMK NO. 483 KEPUTUSAN MENTERI KESEHATAN NO. 483 TENTANG PEDOMAN SURVEILANS ACUTE FLACCID PARALYSIS (AFP)

61. KMK NO. 562 KEPUTUSAN MENTERI KESEHATAN NO. 562 TENTANG KOMISI NASIONAL ETIK PENELITIAN KESEHATAN

62. KMK NO. 563 KEPUTUSAN MENTERI KESEHATAN NO. 563 TENTANG KEANGGOTAAN KOMISI NASIONAL ETIK PENELITIAN KESEHATAN MASA BAKTI 20072011

63. KMK NO. 585 KEPUTUSAN MENTERI KESEHATAN NO. 585 TENTANG PEDOMAN PELAKSANAAN PROMOSI KESEHATAN DI PUSKESMAS

64. KMK NO. 671 KEPUTUSAN MENTERI KESEHATAN NO. 671 TENTANG PEDOMAN PENYELENGGARAAN KEGIATAN PROGRAM UPAYA KESEHATAN PERORANGAN

86

65. KMK NO. 893 KEPUTUSAN MENTERI KESEHATAN NO. 893 TENTANG PEDOMAN PENANGGULANGAN KEJADIAN IKUTAN PASCA PENGOBATAN FILARIASIS

66. 844/MENKES/SK/X/2006 LAMPIRAN LAMPIRAN KEPMENKES NOMOR 844/2006

67. 844/MENKES/SK/X/2006 PENETAPAN STANDAR KODE DATA BIDANG KESEHATAN

68. 563/MENKES/SK/IV/2003 PELAYANAN TERPADU KORBAN KEKERASAN TERHADAP PEREMPUAN DAN ANAK

69. 003A/MENKES/SK/I/2003 UNIT DESENTRALISASI

70. 1098/MENKES/SK/VII/2003 PERSYARATAN HYGIENE SANITASI RUMAH MAKAN DAN RESTORAN

71. 1277/MENKES/SK/VIII/2003 AKUPUNKTUR

TENAGA

72. 1452/MENKES/SK/X/2003 FORTIFIKASI TEPUNG TERIGU

73. 171/MENKES/SK/I/2003 TAHUBJA PENYUSUNAN DAN PELAKSANAAN ANGGARAN

87

74. 194/MENKES/SK/II/2003 RSU DAN RSUD KOTA SEMARANG

75. 195/MENKES/SK/II/2003 RSU BANJAR

76. 560/MENKES/SK/IV/2003 POLA TARIF PERJAN RS

77. 640/MENKES/SK/V/2003 TEKNISI KARDIOVASKULER

78. 715/MENKES/SK/V/2003 PERSYARATAN HYGIENE SANITASI JASABOGA

79. 725/MENKES/SK/V/2003 PEDOMAN PENYELENGGARAAN PELATIHAN DI BIDANG KESEHATAN

80. 962/MENKES/SK/VII/2003 FORTIFIKASI TEPUNG TERIGU

81. 912/MENKES/SK/VI/2003 SEVERE ACUTE RESPIRATORY SYNDROME (SARS)

82. 1457/MENKES/SK/X/2003 SPM BIDANG KESEHATAN DI KABUPATEN/ KOTA

88

83. 999A/MENKES/SKB/VIII/2002 TARIP DAN TATALAKSANA YANKES DI PUSKESMAS DAN RS

84. 1215/MENKES/SK/XI/2001 PEDOMAN KESEHATAN MATRA

85. 1216/MENKES/SK/XI/2001 PEDOMAN PEMBERANTASAN PENYAKIT DIARE

86. 1357/MENKES/SK/XII/2001 STANDAR MINIMAL PENANGGULANGAN MASALAH KESEHATAN AKIBAT BENCANA DAN PENGUNGSI

Tabel 6.4. Pembagian Urusan Pemerintahan Bidang Pekerjaan Umum
KEMENTERIAN PEKERJAAN UMUM NO 1. KEPMEN KEPUTUSAN MENTERI PEKERJAAN UMUM NOMOR :274/KPTS/M/2007 TENT ANG : PENETAPAN PAKET PENGADAAN BARANG/JASA SECARA ELEKTRONIK (E-PROCUREMENT) TAHUN 2007 DI LLNGKUNGAN DEPARTEMEN PEKERJAAN UMUM KEPUTUSAN MENTERI PEKERJAAN UMUM SELAKU KETUA HARIAN TIM KOORDINASI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR NOMOR : 432 /KPTS/M/2007 PEMBENTUKAN TIM PEMILIHAN CALON ANGGOTA DEWAN SUMBER DAYA AIR NASIONAL DARI UNSUR NON PEMERINTAH KEPUTUSAN MENTERI PEKERJAAN UMUM SELAKU KETUA HARIAN TIM KOORDINASI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR NOMOR : 432 /KPTS/M/2007 PEMBENTUKAN TIM PEMILIHAN CALON ANGGOTA DEWAN SUMBER DAYA AIR NASIONAL DARI UNSUR NON PEMERINTAH PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM NOMOR : 30/PRT/M/2006 TENTANG PEDOMAN TEKNIS FASILITAS DAN AKSESIBILITAS PADA BANGUNAN GEDUNG DAN LINGKUNGAN PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM PERMEN PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM NOMOR : 30/PRT/M/2006 TENTANG PEDOMAN TEKNIS FASILITAS DAN AKSESIBILITAS PADA BANGUNAN GEDUNG DAN LINGKUNGAN

2.

PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM NOMOR: 51/PRT/2005 TENTANG RENCANA STRATEGIS DEPARTEMEN PEKERJAAN UMUM TAHUN 2005-2009

3.

PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM NOMOR : 39/PRT/1989 TENTANG PEMBAGIAN WILAYAH SUNGAI

4.

PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM NOMOR : 207/PRT/M/2005 TENTANG PEDOMAN PENGADAAN JASA KONSTRUKSI PEMERINTAH SECARA ELEKTRONIK MENTERI PEKERJAAN UMUM

5.

PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM NO. 45

89

6.

7.

8.

NOMOR: 18/PRT/M/2007 TENTANG PENYELENGGARAAN PENGEMBANGAN SISTEM PENYEDIAAN AIR MINUM KEPUTUSAN MENTERI PEKERJAAN UMUM NO. 98 TAHUN 1993 TENTANG : ORGANISASI KEAMANAN BENDUNGAN PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM NOMOR: 295/PRT/M/2005 TENTANG BADAN PENGATUR JALAN TOL PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM NOMOR : 15/PRT/M/2009 TENTANG PEDOMAN PENYUSUNAN RENCANA TATA RUANG WILAYAH PROVINSI

TAHUN 1990 TENTANG : PENGENDALIAN MUTU AIR PADA SUMBER SUMBER AIR

PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM NOMOR: 18/PRT/M/2007 TENTANG PENYELENGGARAAN PENGEMBANGAN SISTEM PENYEDIAAN AIR MINUM PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM NOMOR : 04/PRT/M/2009 TENTANG SISTEM MANAJEMEN MUTU (SMM) DEPARTEMEN PEKERJAAN UMUM PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM NO. 43/PRT/M/2007 TENTANG STANDAR DAN PEDOMAN PENGADAAN JASA KONSTRUKSI MERUPAKAN PERUBAHAN DARI KEPUTUSAN MENTERI PERMUKIMAN DAN PRASARANA WILAYAH NO. 257/KPTS/M/2004 TENTANG STANDAR DAN PEDOMAN PENGADAAN JASA KONSTRUKSI. PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM NOMOR : 11 /PRT/M/2009 TENTANG PEDOMAN PERSETUJUAN SUBSTANSI DALAM PENETAPAN RANCANGAN PERATURAN DAERAH TENTANG RENCANA TATA RUANG WILAYAH PROVINSI DAN RENCANA TATA RUANG WILAYAH KABUPATEN/KOTA, BESERTA RENCANA RINCINYA

9.

PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM NOMOR : 32 / PRT / M / 2007 TENTANG PEDOMAN OPERASI DAN PEMELIHARAAN JARINGAN IRIGASI

10.

11.

12.

13.

14.

15.

16.

17.

18.

KEPUTUSAN MENTERI PEKERJAAN UMUM NOMOR : 441/KPTS/1998 TENTANG PERSYARATAN TEKNIS BANGUNAN GEDUNG KEPUTUSAN MENTERI PEKERJAAN UMUM NOMOR: 369/KPTS/M/2009 TENTANG: PENETAPAN MENTOR PEMBINAAN DAN PENGEMBANGAN CALON PEGAWAI NEGERI SIPIL DAN PEGAWAI BARU DEPARTEMEN PEKERJAAN UMUM PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM NOMOR : 39/PRT/1989 TENTANG PEMBAGIAN WILAYAH SUNGAI PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM NOMOR: 20/PRT/M/2006 TENTANG KEBIJAKAN DAN STRATEGI NASIONAL PENGEMBANGAN SISTEM PENYEDIAAN AIR MINUM (KSNP-SPAM) PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM NOMOR: 294/PRT/M/2005 TENTANG BADAN PENDUKUNG PENGEMBANGAN SISTEM PENYEDIAAN AIR MINUM PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM NOMOR : 02/PRT/M/2007 T E N T A N G PETUNJUK TEKNIS PEMELIHARAAN JALAN TOL DAN JALAN PENGHUBUNG PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM NO. 39 TAHUN 1989 TENTANG PEMBAGIAN WILAYAH SUNGAI PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM NO. 64 TAHUN 1993 TENTANG : REKLAMASI RAWA PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM

PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM NOMOR : 03/PRT/M/2008 TENTANG PEDOMAN PELAKSANAAN KEGIATAN PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM NOMOR: 45/PRT/M/2007 TENTANG PEDOMAN TEKNIS PEMBANGUNAN BANGUNAN GEDUNG NEGARA

90

19.

20.

21.

NOMOR : 45/PRT/1990 T E N T A N G PENGENDALIAN MUTU AIR PADA SUMBER-SUMBER AIR PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM NO. 63 TAHUN 1993 TENTANG : GARIS SEMPADAN SUNGAI, DAERAH MANFAAT SUNGAI, DAERAH PENGUASAAN SUNGAI DAN BEKAS SUNGAI PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM NOMOR: 45/PRT/M/2007 TENTANG PEDOMAN TEKNIS PEMBANGUNAN BANGUNAN GEDUNG NEGARA PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM NOMOR: 63/PRT/1993 TENTANG GARIS SEMPADAN DAN SUNGAI, DAERAH MANFAAT SUNGAI, DAERAH PENGUASAAN SUNGAI DAN BEKAS SUNGAI PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM NO. 45 TAHUN 1990 TENTANG : PENGENDALIAN MUTU AIR PADA SUMBER SUMBER AIR KEPUTUSAN MENTERI PEKERJAAN UMUM, REPUBLIK INDONESIA NOMOR 468/KPTS/1998 TANGGAL 1 DESEMBER 1998 TENTANG PERSYARATAN TEKNIS AKSESIBILITAS PADA BANGUNAN UMUM DAN LINGKUNGAN

22.

23.

24.

MENTERI PEKERJAAN UMUM REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM NOMOR : 50/PRT/1991 TENTANG PERIZINAN PERWAKILAN PERUSAHAAN JASA KONSTRUKSI ASING KEPUTUSAN MENTERI PEKERJAAN UMUM NOMOR: 184/KPTS/1990 TENTANG PENGESAHAN 18 STANDAR KONSEP SNI BIDANG PEKERJAAN UMUM PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM NOMOR: 51/PRT/2005 TENTANG RENCANA STRATEGIS DEPARTEMEN PEKERJAAN UMUM TAHUN 2005-2009

25.

26.

27.

PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM NOMOR: 078/PRT/2005 TENTANG LEGER JALAN

28.

PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM NOMOR: 003/PRT/M/2008 TENTANG PEDOMAN PELAKSANAAN KEGIATAN DEPARTEMEN PU YANG MERUPAKAN KEWENANGAN PEMERINTAH DAN DILAKSANAKAN MELALUI DEKOSENTRASI DAN TUGAS PEMBANTUAN.

91

29.

PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM NOMOR: 002/PRT/M/2008 TENTANG PEDOMAN PELAKSANAAN KEGIATAN DEPARTEMEN PU YANG MERUPAKAN KEWENANGAN PEMERINTAH DAN DILAKSANAKAN SENDIRI.

30.

PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM NOMOR: 004/PRT/M/2006 TENTANG KODE ETIK AUDITOR INSPEKTORAT JENDERAL DEPARTEMEN PEKERJAAN UMUM

31.

PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM NOMOR: 604/PRT/M/2005 TENTANG PEDOMAN PELAKSANAAN PEMERIKSAAN PADA PEMILIHAN PENYEDIA JASA PENGADAAN BARANG/JASA PEMERINTAH DI LINGKUNGAN DEPARTEMEN PEKERJAAN UMUM

32.

PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM NOMOR: 606/PRT/M/2005 TENTANG PENCABUTAN ATAS KEPUTUSAN MENTERI PEKERJAAN UMUM NOMOR 183/KPTS/1987 TENTANG JENIS, MATERI MUATAN, DAN WEWENANG PENETAPAN PRODUK HUKUM DEPARTEMEN PEKERJAAN UMUM

33.

PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM NOMOR: 603/PRT/M/2005 TENTANG PEDOMAN UMUM SISTEM PENGENDALIAN MANAJEMEN PENYELENGGARAAN PEMBANGUNAN PRASARANA DAN SARANA BIDANG PEKERJAAN UMUM

34.

PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM NOMOR: 207/PRT/M/2005 TENTANG PEDOMAN PENGADAAN JASA KONSTRUKSI PEMERINTAH SECARA ELEKTRONIK.

35.

PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM NOMOR: 600/PRT/M/2005 TENTANG PEDOMAN BANTUAN HUKUM DI LINGKUNGAN DEPARTEMEN PEKERJAAN UMUM

36.

PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM NOMOR: 323/PRT/M/2005 TENTANG TATA CARA PENANGANAN MASUKAN DARI MASYARAKAT DI LINGKUNGAN DEPARTEMEN PEKERJAAN UMUM.

37.

PERMEN PU NOMOR 323/PRT/M/2005 PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM TENTANG TATA CARA PENANGANAN MASUKAN DARI MASYARAKAT DI

92

38.

39.

40.

41.

42.

43.

44.

45.

46.

47.

LINGKUNGAN DEPARTEMEN PEKERJAAN UMUM KEPMEN PU NOMOR 518/KPTS/M/2005 KEPUTUSAN MENTERI PEKERJAAN UMUM TENTANG PENERIMAAN PENGHARGAAN PEKERJAAN UMUM TAHUN 2005 KEPMEN PU NOMOR 607/KPTS/M/2005 KEPUTUSAN MENTERI PEKERJAAN UMUM TENTANG PETUNJUK TEKNIS PEMANFAATAN DANA ALOKASI KHUSUS BIDANG INFRASTRUKTUR TAHUN 2006 KEPMEN KIMPRASWIL NOMOR 20/KPTS/M/2004 KEPUTUSAN MENTERI PEMUKIMAN DAN PRASARANA WILAYAH TENTANG PERUBAHAN KEPUTUSAN MENTERI PERMUKIMAN DAN PRASARANA WILAYAH NO.: 24/KPTS/M/2003 TENTANG PENGADAAN PERUMAHAN DAN PERMUKIMAN DENGAN DUKUNGAN FASILITAS SUBSIDI PERUMAHAN KEPMEN PU NOMOR 21/KPTS/M/2004 KEPUTUSAN MENTERI PEKERJAAN UMUM TENTANG SATUAN TUGAS PENANGGULANGAN BENCANA GEMPA BUMI DAN TSUNAMI DI PROVINSI NANGGROE ACEH DARUSSALAM DAN SUMATERA UTARA BIDANG PEKERJAAN UMUM KEPMEN KIMPRASWIL NOMOR 192/KPTS/M/2004 KEPUTUSAN MENTERI PEMUKIMAN DAN PRASARANA WILAYAH TENTANG PENETAPAN PAKET-PAKET PELAKSANAAN PENGADAAN BARANG/JASA SECARA SEMI E-PROCUREMENT DI LINGKUNGAN DEPARTEMEN PERMUKIMAN DAN PRASARANA WILAYAH KEPMEN KIMPRASWIL NOMOR 225 /KPTS/M/2004 KEPUTUSAN MENTERI PEMUKIMAN DAN PRASARANA WILAYAH TENTANG TATA CARA PENANGANAN MASUKAN DARI MASYARAKAT DI LINGKUNGAN DEPARTEMEN PERMUKIMAN DAN PRASARANA WILAYAH KEPMEN KIMPRASWIL NOMOR 257/KPTS/M/2004 KEPUTUSAN MENTERI PEMUKIMAN DAN PRASARANA WILAYAH TENTANG STANDAR DAN PEDOMAN PENGADAAN JASA KONSTRUKSI KEPMEN KIMPRASWIL NOMOR 362/KPTS/M KEPUTUSAN MENTERI PEMUKIMAN DAN PRASARANA WILAYAH TENTANG SISTEM MANAJEMEN MUTU KONSTRUKSI DEPARTEMEN PERMUKIMAN DAN PRASARANA WILAYAH KEPMEN KIMPRASWIL NOMOR 384/KPTS/M/2004 KEPUTUSAN MENTERI PEMUKIMAN DAN PRASARANA WILAYAH TENTANG PEDOMAN TEKNIS KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA PADA TEMPAT KEGIATAN KONSTRUKSI BENDUNGAN KEPUTUSAN MENTERI PEKERJAAN UMUM NO.60/KPTS/1982 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA KANTOR WILAYAH DEPARTEMEN PEKERJAAN UMUM DI PROVINSI KEPUTUSAN MENTERI PEKERJAAN UMUM

48.

93

NO.17/KPTS/1983 TENTANG HUBUNGAN ANTARA KAKANWIL DENGAN PEMIMPIN PROYEK 49. KEPUTUSAN MENTERI PEKERJAAN UMUM NO.99/KPTS/1984 TENTANG PEDOMAN PEMBENTUKAN ORGANISASI PROYEK DI LINGKUNGAN DEPARTEMEN PEKERJAAN UMUM

50.

KEPUTUSAN MENTERI PEKERJAAN UMUM NO. 458 TAHUN 1986 TENTANG : KETENTUAN PENGAMANAN SUNGAI DALAM HUBUNGAN DENGAN PENAMBANGAN BAHAN GALIAN GOLONGAN C

51.

KEPUTUSAN MENTERI PEKERJAAN UMUM NO. 98 TAHUN 1993 TENTANG : ORGANISASI KEAMANAN BENDUNGAN

52.

KEPUTUSAN MENTERI PEKERJAAN UMUM NOMOR : 441/KPTS/1998 TENTANG PERSYARATAN TEKNIS BANGUNAN GEDUNG KEPUTUSAN MENTERI PEKERJAAN UMUM NOMOR: 518/KPTS/M/2005 TENTANG PENERIMAAN PENGHARGAAN PEKERJAAN UMUM TAHUN 2005 KEPUTUSAN MENTERI PEKERJAAN UMUM SELAKU KETUA HARIAN TIM KOORDINASI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR NOMOR : 432 /KPTS/M/2007

53.

54.

55.

PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM NOMOR : 43/PRT/M/2007 TENTANG STANDAR DAN PEDOMAN PENGADAAN JASA KONSTRUKSI PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM NOMOR : 09/PRT/M/2008 TENTANG PEDOMAN SISTEM MANAJEMEN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA (K3) KONSTRUKSI BIDANG PEKERJAAN UMUM PERATURAN BERSAMA MENTERI DALAM NEGERI, MENTERI PEKERJAAN UMUM, MENTERI KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA DAN KEPALA BADAN KOORDINASI PENANAMAN MODAL

56.

57.

KEPUTUSAN MENTERI PEKERJAAN UMUM NOMOR : 401/KPTS/1996 TENTANG TATA CARA DAN PERSYARATAN IZIN PENGGUNAAN AIR DAN ATAU SSUMBER AIR UNTUK USAHA PERTAMBANGAN UMUM

Tabel 6.5. Pembagian Urusan Pemerintahan Bidang Perumahan
94

KEMENTERIAN PERUMAHAN RAKYAT NO KEPMEN 1. KEPMEN NO 19 TAHUN 2008 TENTANG PEMBENTUKAN KELOMPOK KERJA PERCEPATAN PEMBANGUNAN RUMAH SUSUN DI KAWASAN PERKOTAANLAMPIRAN KEPMEN NO 20 TAHUN 2008 TENTANG PEMBENTUKAN SEKRETARIAT TIM KOORDINASI PERCEPATAN PEMBANGUNAN RUMAH SUSUN DI KAWASAN PERKOTAAN KEPMEN NO 17 TAHUN 2010 PEMBENTUKAN TIM LPSE KEMENPERA PERMEN PERMENPERA NOMOR: 03/PERMEN/M/2007 TENTANG PENGADAAN PERUMAHAN DAN PERMUKIMAN DENGAN DUKUNGAN FASILITAS SUBSIDI PERUMAHAN MELALUI KPR BERSUBSIDI PERMENPERA NOMOR: 04/PERMEN/M/2007 TENTANG PENGADAAN PERUMAHAN DAN PERMUKIMAN DENGAN DUKUNGAN FASILITAS SUBSIDI PERUMAHAN MELALUI KPR SYARIAH BERSUBSIDI PERMENPERA NOMOR: 05/PERMEN/M/2007 TENTANG PENGADAAN PERUMAHAN DAN PERMUKIMAN DENGAN DUKUNGAN FASILITAS SUBSIDI PERUMAHAN MELALUI KPR KPRS MIKRO BERSUBSIDI PERMENPERA NOMOR: 06/PERMEN/M/2007 TENTANG PENGADAAN PERUMAHAN DAN PERMUKIMAN DENGAN DUKUNGAN FASILITAS SUBSIDI PERUMAHAN MELALUI KPR KPRS MIKRO SYARIAH BERSUBSIDI PERMENPERA NOMOR: 07/PERMEN/M/2007 TENTANG PENGADAAN PERUMAHAN DAN PERMUKIMAN DENGAN DUKUNGAN FASILITAS SUBSIDI PERUMAHAN MELALUI KPR SARUSUN BERSUBSIDI PERMENPERA NOMOR: 10/PERMEN/M/2007 TENTANG PEDOMAN BANTUAN STIMULAN PRASARANA, SARANA DAN UTILITAS UMUM (PSU) PERUMAHAN DAN PERMUKIMAN PERMENPERA NOMOR: 14/PERMEN/M/2007 TENTANG PENGELOLAAN RUMAH SUSUN SEDERHANA SEWA

2.

3.

4.

KEPMEN NO 6 TAHUN 1994 TENTANG PEDOMAN UMUM PEMBANGUNAN PERUMAHAN BERTUMPU PADA KELOMPOK

5.

KEPMEN NO 9 TAHUN 1995 PEDOMAN PENGIKATAN JUAL BELI RUMAH

6.

KEPMEN PERKIM NO.09/KTPS/M/IX/1999 TENTANG PEDOMAN PENYUSUNAN RP4D

7.

8.

9.

10.

KEPMEN KIMPRASWIL NO 403 TAHUN 2002 TENTANG PEDOMAN TEKNIS PEMBANGUNAN RUMAH SEDERHANA SEHAT (RS SEHAT) KEPMEN KIMPRASWIL NO 20 TAHUN 2004 TENTANG PERUBAHAN KEPMEN KIMPRASWIL NO 24 TAHUN 2003 TENTANG PENGADAAN PERUMAHAN DAN PERMUKIMAN DENGAN DUKUNGAN FASILITAS SUBSIDI PERUMAHAN KEPMEN NO 55 TAHUN 2006 TENTANG PENETAPAN SUKU BUNGA PINJAMAN LUNAK BENCANA ALAM PEMBANGUNANPERBAIKAN RUMAH BAPERTARUM-PNS KEPMEN NO 67 TAHUN 2006 TENTANG PERUBAHAN ATAS KEPMEN NO 64 TAHUN 2006 TENTANG PENETAPAN LEMBAGA KEUANGAN MIKRO (LKM)/LEMBAGA KEUANGAN NON BANK (LKNB) KABUPATEN/KOTA SEBAGAI PENERIMA DAN PENYALUR PEMBERIAN STIMULAN UNTUK PERUMAHAN SWADAYA BAGI MASYARAKAT BERPENGHASILAN RENDAH (MBR) TAHUN ANGGARAN 2006

PERMENPERA NOMOR: 15/PERMEN/M/2007 TENTANG TATA LAKSANA PEMBENTUKAN PERHIMPUNAN PENGHUNI RUMAH SUSUN SEDERHANA MILIK

PERMENPERA NOMOR: 18/PERMEN/M/2007 TENTANG PETUNJUK PELAKSANAAN PERHITUNGAN TARIF SEWA RUMAH SUSUN SEDERHANA YANG DIBIAYAI APBN DAN APBD PERMENPERA NOMOR: 01/PERMEN/M/2008 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA KEMENTERIAN NEGARA PERUMAHAN RAKYAT

11.

12.

PERMENPERA NOMOR: 02/PERMEN/M/ TAHUN 2008 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN MENTERI NEGARA PERUMAHAN RAKYAT NOMOR 1PERMENM2008 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA KEMENTERIAN NEGARA PERUMAHAN RAKYAT. PERMENPERA NOMOR: 05/PERMEN/M/2008 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERMENPERA NOMOR 05PERMENM2007 TENTANG PENGADAAN PERUMAHAN DAN PERMUKIMAN DENGAN

95

13.

14.

15.

16.

17.

18.

19.

20.

21.

22.

23.

24.

25.

26.

27.

DUKUNGAN FASILITAS SUBSIDI PERUMAHAN MELALUI KPRS/KPRS SYARIAH BERSUBSIDI PERMENPERA NOMOR: 06/PERMEN/M/2008 PERUBAHAN ATAS PERMENPERA NOMOR 06PERMENM2007 TENTANG PENGADAAN PERUMAHAN DAN PERMUKIMAN DENGAN DUKUNGAN FASILITAS SUBSIDI PERUMAHAN MELALUI KPRS/KPRS MIKRO SYARIAH BERSUBSIDI PERMENPERA NOMOR: 07/PERMEN/M/2008 PERUBAHAN ATAS PERMENPERA NOMOR 03PERMENM2007 TENTANG PENGADAAN PERUMAHAN DAN PERMUKIMAN DENGAN DUKUNGAN FASILITAS SUBSIDI PERUMAHAN MELALUI KPR BERSUBSIDI PERMENPERA NOMOR: 08/PERMEN/M/2008 PERUBAHAN ATAS PERMENPERA NOMOR 04PERMENM2008 TENTANG PENGADAAN PERUMAHAN DAN PERMUKIMAN DENGAN DUKUNGAN FASILITAS SUBSIDI PERUMAHAN MELALUI KPR SYARIAH BERSUBSIDI PERMENPERA NOMOR: 09/PERMEN/M/2008 PEDOMAN BANTUAN PEMBANGUNAN RUMAH SUSUN SEDERHANA SEWA PADA LEMBAGA PENDIDIKAN TINGGI DAN LEMBAGA PENDIDIKAN BERASRAMA PERMENPERA NOMOR: 12/PERMEN/M/2008 TENTANG PEDOMAN KESERASIAN KAWASAN PERUMAHAN DAN PERMUKIMAN PERMENPERA NOMOR: 12/PERMEN/M/2008 PENGADAAN PERUMAHAN DAN PERMUKIMAN DENGAN DUKUNGAN FASILITAS SUBSIDI PERUMAHAN MELALUI KPR SARUSUNA SYARIAH BERSUBSIDI PERMENPERA NOMOR: 13/PERMEN/M/2008 PERUBAHAN ATAS PERMENPERA NOMOR 07PERMENM2008 TENTANG PENGADAAN PERUMAHAN DAN PERMUKIMAN DENGAN DUKUNGAN FASILITAS SUBSIDI PERUMAHAN MELALUI KPR SARUSUN BERSUBSIDI PERMENPERA NOMOR: 15/PERMEN/M/2008 PERUBAHAN KEDUA ATAS PERMENPERA NOMOR 07/PERMEN/M/2008 TENTANG PENGADAAN PERUMAHAN DAN PERMUKIMAN DENGAN DUKUNGAN FASILITAS SUBSIDI PERUMAHAN MELALUI KPR SARUSUN BERSUBSIDI PERMENPERA NOMOR: 16/PERMEN/M/2008 STANDAR DAN PROSEDUR PELAKSANAAN SUBSIDI PERUMAHAN MELALUI KPR SARUSUNA BERSUBSIDI PERMENPERA NOMOR: 17/PERMEN/M/2008 STANDAR DAN PROSEDUR PELAKSANAAN SUBSIDI PERUMAHAN MELALUI KPR SARUSUNA SYARIAH BERSUBSIDI PERMENPERA NOMOR: 19/PERMEN/M/2008 TATA CARA PELAKSANAAN SUBSIDI PERUMAHAN MELALUI KPR SYARIAH BERSUBSIDI PERMENPERA NOMOR: 20/PERMEN/M/2008 TATA CARA PELAKSANAAN SUBSIDI PERUMAHAN MELALUI KPRS/KPRS MIKRO BERSUBSIDI PERMENPERA NOMOR: 21/PERMEN/M/2008 TATA CARA PELAKSANAAN SUBSIDI PERUMAHAN MELALUI KPRS/KPRS MIKRO SYARIAH BERSUBSIDI PERMENPERA NOMOR: 22/PERMEN/M/2008 TENTANG STANDAR PELAYANAN MINIMAL BIDANG PERUMAHAN RAKYAT DAERAH PROVINSI DAN DAERAH KABUPATEN/KOTA PERMENPERA NOMOR: 01/PERMEN/M/2008 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA KEMENTERIAN

96

28.

29.

30.

31. 32.

33.

34.

35.

36.

37.

38. 39. 40. 41.

NEGARA PERUMAHAN RAKYAT PERMENPERA NOMOR: 01/PERMEN/M/2009 TETANG ACUAN PENYELENGGARAAN PENINGKATAN KUALITAS PERUMAHAN PERMENPERA NOMOR: 02/PERMEN/M/2009 TATA CARA PELAKSANAAN BANTUAN STIMULAN PSU UMUM PERUMAHAN DAN PERMUKIMAN LAMPIRAN PERMENPERA NOMOR: 03/PERMEN/M/2009 TENTANG PEMBERHENTIAN LAYANAN BANTUAN KEPADA GOL IVA DAN IVB SERTA PEMBERHENTIAN PEMBERIAN JASA TABUNGAN PERUMAHAN PNS PERMENPERA NOMOR: 05/PERMEN/M/2009 TENTANG PEDOMAN PELAKSANAAN PNPM MANDIRI PERKIM PERMENPERA NOMOR: 06/PERMEN/M/2009 TENTANG TENTANG PENDELEGASIAN WEWENANG PEMBERIAN IZIN USAHA DI BIDANG PERUMAHAN DALAM RANGKA PELAKSANAAN PELAYANAN TERPADU SATU PINTU DI BIDANG PENANAMAN MODAL KEPADA KEPALA BKPM PERMENPERA NOMOR: 01/PERMEN/M/2010 TENTANG PENGELOLAAN PENGADUAN MASYARAKAT DI BIDANG PERUMAHAN DAN PERMUKIMAN PERMENPERA NOMOR: 02/PERMEN/M/2010 TENTANG RENCANA STRATEGIS KEMENTERIAN PERUMAHAN RAKYAT TAHUN 2010-2014 -LAMPIRAN PERMENPERA NOMOR: 03/PERMEN/M/2010 TENTANG PELIMPAHAN SEBAGIAN URUSAN KEMENTERIAN PERUMAHAN RAKYAT TAHUN 2010 MELALUI DEKONSENTRASI - LAMPIRAN PERMENPERA NOMOR: 04/PERMEN/M/2010 TENTANG PEDOMAN PELAKSANAAN DEKONSENTRASI LINGKUP KEMENTERIAN PERUMAHAN RAKYAT TAHUN 2010 - LAMPIRAN PERMENPERA NOMOR: 05/PERMEN/M/2010 TENTANG PELAKSANAAN PENGADAAN BARANG-JASA SECARA ELEKTRONIK (E-PROCUREMENT) DI LINGKUNGAN KEMENTERIAN PERUMAHAN RAKYAT PERMENPERA NOMOR: 06/PERMEN/M/2010 TENTANG POLA KLASIFIKASI ARSIP KEMENPERA PERMENPERA NOMOR: 07/PERMEN/M/2010 TENTANG TATA NASKAH DINAS KEMENPERA PERMENPERA NOMOR: 08/PERMEN/M/2010 TENTANG TATA KEARSIPAN KEMENPERA PERMENPERA NOMOR: 01/PERMEN/M/2005 TENTANG PENGADAAN PERUMAHAN DAN PERMUKIMAN DENGAN DUKUNGAN FASILITAS SUBSIDI PERUMAHAN MELALUI KPR/KPRS BERSUBSIDI PERMENPERA NOMOR: 04/PERMEN/M/2005 TENTANG PENGADAAN PERUMAHAN DAN PERMUKIMAN DENGAN DUKUNGAN FASILITAS SUBSIDI PERUMAHAN MELALUI KPR/KPRS SYARIAH BERSUBSIDI PERMENPERA NOMOR: 05/PERMEN/M/2005 TENTANG PENGADAAN PERUMAHAN DAN PERMUKIMAN DENGAN DUKUNGAN FASILITAS SUBSIDI PERUMAHAN MELALUI KPR/KPRS BERSUBSIDI (PENGGANTI PERMENPERA NOMOR: 01/PERMEN/M/2005) PERMENPERA NOMOR: 01/PERMEN/M/2006 TENTANG PENGADAAN PERUMAHAN DAN PERMUKIMAN DENGAN DUKUNGAN FASILITAS SUBSIDI PERUMAHAN MELALUI KPR/KPRS SYARIAH BERSUBSIDI

42.

43.

44.

97

45.

PERMENPERA NOMOR: 02/PERMEN/M/2006 TENTANG PEMBERIAN PINJAMAN PEMBIAYAAN UANG MUKA KREDIT PEMILIKAN RUMAH (KPR) BAGI PEGAWAI NEGERI SIPIL PERMENPERA NOMOR: 03/PERMEN/M/2006 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN MENTERI NEGARA PERUMAHAN RAKYAT NOMOR 02/PERMEN/M/2005 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA KEMENPERA PERMENPERA NOMOR:04/PERMEN/M/2006 TENTANG RENCANA STRATEGIS KEMENTERIAN NEGARA PERUMAHAN RAKYAT TAHUN 2005–TAHUN 2009 PERMENPERA NOMOR: 05/PERMEN/M/2006 TENTANG DUKUNGAN ASURANSI KPR/KPRS UNTUK PEMBANGUNAN RUMAH SEDERHANA SEHAT PERMENPERA NOMOR: 06/PERMEN/M/2006 TENTANG PEMBANGUNAN PERBAIKAN PERUMAHAN SWADAYA MELALUI KREDIT PEMBIAYAAN MIKRO DENGAN DUKUNGAN FASILITAS SUBSIDI PERUMAHAN PERMENPERA NOMOR: 07/PERMEN/M/2006 TENTANG DUKUNGAN PENJAMINAN KREDIT PEMBIAYAAN UNTUK PEMBANGUNAN PERBAIKAN PERUMAHAN SWADAYA MELALUI KREDIT PEMBIAYAAN MIKRO PERMENPERA NOMOR: 08/PERMEN/M/2006 TENTANG PEDOMAN PELAKSANAAN PEMBERIAN STIMULAN UNTUK PERUMAHAN SWADAYA BAGI MASYRAKAT BERPENGHASILAN RENDAH MELALUI LEMBAGA KEUANGAN MIKRO LEMBAGA KEUANGAN NON BANK PERMENPERA NOMOR: 10/PERMEN/M/2006 TENTANG PETUNJUK PELAKSANAAN VERIFIKASI PERTANGGUNG JAWABAN ANGGARAN DI LINGKUNGAN KEMENTERIAN NEGARA PERUMAHAN RAKYAT PERMENPERA NOMOR:12/PERMEN/M/2006 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERMENPERA NOMOR 05PERMENM2005 TENTANG PENGADAAN PERUMAHAN DAN PERMUKIMAN DENGAN DUKUNGAN FASILITAS SUBSIDI PERUMAHAN MELALUI KPR/KPRS BERSUBSIDI PERMENPERA NOMOR: 13/PERMEN/M/2006 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA SEKRETARIAT TETAP BADAN PERTIMBANGAN TABUNGAN PERUMAHAN PEGAWAI NEGERI SIPIL PERMENPERA NOMOR: 14/PERMEN/M/ 2006 TENTANG PENYELENGGARAAN PERUMAHAN KAWASAN KHUSUS PERMENPERA NOMOR: 15/PERMEN/M/2006 TENTANG PETUNJUK PELAKSANAAN PENYELENGGARAAN PENGEMBANGAN KAWASAN NELAYAN PERMENPERA NOMOR: 16/PERMEN/M/2006 TENTANG PETUNJUK PELAKSANAAN PENYELENGGARAAN PENGEMBANGAN PERUMAHAN KAWASAN INDUSTRI PERMENPERA NOMOR: 17/PERMEN/M/2006 TENTANG PETUNJUK PELAKSANAAN PENYELENGGARAAN PENGEMBANGAN PERUMAHAN KAWASAN PERBATASAN PERMENPERA NOMOR: 19/PERMEN/M/2006 TENTANG PETUNJUK PELAKSANAAN TATACARA PEMUNGUTAN DAN PELAPORAN PAJAK-PAJAK DALAM PELAKSANAAN APBN DI LINGKUNGAN KEMENTERIAN NEGARA PERUMAHAN RAKYAT

46.

47.

48.

49.

50.

51.

52.

53.

54.

55.

56.

57.

58.

59.

98

60.

61.

62.

63.

64.

65.

66.

67.

68.

69.

70.

PERMENPERA NOMOR: 20/PERMEN/M/2006 TENTANG PETUNJUK PELAKSANAAN PENYELESAIAN KERUGIAN NEGARA DI LINGKUNGAN KEMENTERIAN NEGARA PERUMAHAN RAKYAT PERMENPERA NOMOR: 21/PERMEN/M/2006 TENTANG PETUNJUK PELAKSANAAN PEMERIKSAAN KAS TERHADAP BENDAHARA PENGELUARAN OLEH KEPALA SATUAN KERJA ATASAN LANGSUNG BENDAHARA PENGELUARAN DI LINGKUNGAN KEMENPERA PERMENPERA NOMOR: 22/PERMEN/M/2006 TENTANG PERUBAHAN KEDUA ATAS PERMENPERA NOMOR 05PERMENM 2005 TENTANG PENGADAAN PERUMAHAN DAN PERMUKIMAN DENGAN DUKUNGAN FASILITAS SUBSIDI PERUMAHAN MELALUI KPR/KPRS BERSUBSIDI PERMENPERA NOMOR: 24/PERMEN/M/2006 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERMENPERA NOMOR 01PERMENM2006 TENTANG PENGADAAN PERUMAHAN DAN PERMUKIMAN DENGAN DUKUNGAN FASILITAS SUBSIDI PERUMAHAN MELALUI KPR/KPRS SYARIAH BERSUBSIDI PERMENPERA NOMOR: 25/PERMEN/M/2006 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN MENTERI NEGARA PERUMAHAN RAKYAT NOMOR 05PERMENM2006 TENTANG DUKUNGAN ASURANSI KPR/KPRS UNTUK PEMBANGUNAN RUMAH SEDERHANA SEHAT PERMENPERA NOMOR: 26/PERMEN/M/2006 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERMENPERA NOMOR 07/PERMEN/M/2006 TENTANG DUKUNGAN PENJAMINAN KREDIT PEMBIAYAAN UNTUK PEMBANGUNAN PERBAIKAN PERUMAHAN SWADAYA PERMENPERA NOMOR: 31/PERMEN/M/2006 TENTANG PETUNJUK PELAKSANAAN KAWASAN SIAP BANGUN DAN LINGKUNGAN SIAP BANGUN YANG BERDIRI SENDIRI PERMENPERA NOMOR: 32/PERMEN/M/2006 TENTANG PETUNJUK TEKNIS KAWASAN SIAP BANGUN DAN LINGKUNGAN SIAP BANGUN YANG BERDIRI SENDIRI PERMENPERA NOMOR: 33/PERMEN/M/2006 TENTANG PEDOMAN TATA CARA PENUNJUKAN BADAN PENGELOLA KAWASAN SIAP BANGUN DAN PENYELENGGARA LINGKUNGAN SIAP BANGUN YANG BERDIRI SENDIRI PERMENPERA NOMOR: 34/PERMEN/M/2006 TENTANG PEDOMAN UMUM PENYELENGGARAAN KETERPADUAN PRASARANA, SARANA DAN UTILITAS (PSU) KAWASAN PERUMAHAN PERMENPERA NOMOR: 05/PERMEN/M/2006 TENTANG DUKUNGAN ASURANSI KPR/KPRS UNTUK PEMBANGUNAN RUMAH SEDERHANA SEHAT

Tabel 6.6. Pembagian Urusan Pemerintahan Bidang Penataan Ruang
BADAN KOORDINASI PENATAAN RUANG NASIONAL NO KEPMEN 1. KEPUTUSAN MENTERI KIMPRASWIL NO. 327/KPTS/M TAHUN 2002 TENTANG PENETAPAN 6 (ENAM) PEDOMAN BIDANG PERMEN

99

PENATAAN RUANG 2. PERATURAN MENTERI KEHUTANAN NO.50 TAHUN 2009 TENTANG PENEGASAN STATUS DAN FUNGSI KAWASAN HUTAN PERATURAN MENTERI KEHUTANAN NO.28 TAHUN 2009 TENTANG TATA CARA PELAKSANAAN KONSULTASI DALAM RANGKA PEMBERIAN PERSETUJUAN SUBSTANSI KEHUTANAN ATAS RANCANGAN PERATURAN DAERAH TENTANG RENCANA TATA RUANG DAERAH PERATURAN MENTERI PU NO. 05/PRT/M TAHUN 2008 TENTANG PEDOMAN PENYEDIAAN DAN PEMANFAATAN RUANG TERBUKA HIJAU DI KAWASAN PERKOTAAN PERATURAN MENTERI DALAM NEGERI NO. 28 TAHUN 2008 TENTANG TATA CARA EVALUASI RANCANGAN PERATURAN DAERAH TENTANG RENCANA TATA RUANG DAERAH PERATURAN MENTERI PU NO. 21/PRT/M TAHUN 2007 TENTANG PEDOMAN PENATAAN RUANG KAWASAN RAWAN LETUSAN GUNUNG BERAPI DAN KAWASAN RAWAN GEMPA BUMI PERATURAN MENTERI PU NO. 22/PRT/M TAHUN 2007 TENTANG PEDOMAN PENATAAN RUANG KAWASAN RAWAN BENCANA LONGSOR PERATURAN MENTERI PU NO. 40/PRT/M TAHUN 2007 TENTANG PEDOMAN PERENCANAAN TATA RUANG KAWASAN REKLAMASI PANTAI PERATURAN MENTERI PU NO. 41/PRT/M TAHUN 2007 TENTANG PEDOMAN KRITERIA TEKNIS KAWASAN BUDIDAYA PERATURAN MENTERI PU NO. 49/PRT TAHUN 1990 TENTANG TATA CARA DAN PERSYARATAN IJIN PENGGUNAAN AIR DAN ATAU SUMBER AIR PERATURAN MENTERI PU NO. 48/PRT TAHUN 1990 TENTANG PENGELOLAAN ATAS AIR DAN ATAU SUMBER AIR PADA WILAYAH SUNGAI PERATURAN MENTERI PU NO. 45/PRT TAHUN 1990 TENTANG PENGENDALIAN MUTU AIR PADA SUMBER-SUMBER AIR PERATURAN MENTERI PU NO. 39/PRT TAHUN 1989 TENTANG PEMBAGIAN WILAYAH SUNGAI

3.

4.

5.

6.

7.

8.

9.

10.

11.

12.

13.

Tabel 6.7. Pembagian Urusan Pemerintahan Bidang Perencanaan Pembangunan
NO BAPPENAS KEPMEN PERMEN

100

1.

KEPUTUSAN MEN.PPN/KEPALA BAPPENAS NO. KEP 257/M.PPN/06/2006 TENTANG PEMBENTUKAN TIM KOORDINASI PENILAIAN KEBUTUHAN DAN PENYUSUNAN RENCANA AKSI REHABILITASI DAN REKONSTRUKSI WILAYAH PASCA BENCANA GEMPA

PERATURAN MENTERI NEGARA PERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL/ KEPALA BADAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL NOMOR 005/M.PPN/10/2007: TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA KEMENTERIAN NEGARA PERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL/BADAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL

2.

KEPUTUSAN KEPALA BADAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL NOMOR:. 009/KA/ 01/2001 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA BADAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL

PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR 53/PMK.010/2006 TENTANG TATA CARA PEMBERIAN PINJAMAN DAERAH DARI PEMERINTAH YANG DANANYA BERSUMBER DARI PINJAMAN LUAR NEGERI

3.

4.

KEPUTUSAN MENTERI NEGARA PERNCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL/KEPALA BADAN PERNCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL NOMOR: 257/.M.PPN/06/2006: TENTANG PEMBENTUKAN TIM KOORDINASI PENILAIAN KEBUTUHAN PEMULIHAN DAN PENYUSUNAN RENCANA AKSI REHABILITASI DAN REKONSTRUKSI PASCA BENCANA GEMPA BUMI DI PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA DAN JAWA TENGAH PERATURAN MENTERI NEGARA PERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL/ KEPALA BADAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL NOMOR PER:01/M.PPN/09/2005 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA KEMENTERIAN NEGARA PERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL/ BADAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL

PERARTURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR 52/PMK.010./2006 TENTANG TATA CARA HIBAH KEPADA DAERAH

PERATURAN MENTERI NEGARA PERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL/ KEPALA BADAPERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL NOMOR PER: 01/M.PPN/09/2005: TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA KEMENTERIAN NEGARA PERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL/ BADAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL

5.

KEPUTUSAN MENTERI NEGARA PENDAYAGUNAAN APARATUR NEGARA NOMOR : 6/KEP/M.PAN/3/2001 TENTANG JABATAN FUNGSIONAL PERENCANA DAN ANGKA KREDITNYA

PERATURAN MENTERI NEGARA PERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL/KEPALA BADAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL NOMOR: PER. 005/M.PPN/06/2006: TENTANG TATA CARA PERENCANAAN DAN PENGAJUAN USULAN SERTA PENILAIAN KEGIATAN YANG DIBIAYAI DARI PINJAMAN DAN/ATAU HIBAH LUAR NEGERI

6.

7.

KEPUTUSAN MENTERI NEGARA PERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL/KETUA BADAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN LAMPIRAN 1 (SATU) NASIONAL NOMOR : KEP.122/KET/7/1994: TENTANG PEDOMAN PENILAIAN USULAN TEKNIS DAN USULAN BIAYA KEPUTUSAN MENTERI NEGARA PERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL/KETUA BADAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL NOMOR : KEP.122/KET/7/1994 TENTANG PEDOMAN PEMBOBOTAN USULAN TEKNIS DAN USULAN BIAYA

101

Tabel 4.8. Pembagian Urusan Pemerintahan Bidang Perhubungan
NO 1. KEMENTRIAN PERHUBUNGAN KEPMEN KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 37 TAHUN 2008: TENTANG PEMBENTUKAN TIM KONSERVASI ENERGI KANTOR PUSAT DEPARTEMEN PERHUBUNGAN PERMEN PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 50 TAHUN 2010: TENTANG OPERASI PENYELENGGARAAN ANGKUTAN LEBARAN TERPADU TAHUN 2010 (1431 H)

2.

KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 5 TAHUN 2008: TENTANG PEMBANGUNAN BANDAR UDARA BARU MEDAN PROVINSI SUMATERA UTARA KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 1 TAHUN 2000: TENTANG PENETAPAN KELAS JALAN DI PULAU SUMATERA KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 64 TAHUN 2007: TENTANG PENETAPAN LOKASI PENYEBERANGAN MARISA DI DESA BUMBULAN, KECAMATAN PAGUAT, KABUPATEN POHUWATO, PROVINSI GORONTALO KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 87 TAHUN 2004: TENTANG PERENCANAAN, PEMBANGUNAN, PENGADAAN, PENGOPERASIAN, PEMELIHARAAN DAN PENGHAPUSAN PERLINTASAN SEBIDANG ANTARA JALUR KERETA API DENGAN JALAN KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 89 TAHUN 2004: TENTANG PENETAPAN PERUBAHAN NAMA BANDAR UDARA PENGGUNG DI KOTA CIREBON PROVINSI JAWA BARAT KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 88 TAHUN 2004: TENTANG PENETAPAN NAMA BANDAR UDARA DI NAGARI KETAPING, KABUPATEN PADANG PARIAMAN, PROVINSI SUMATRA BARAT KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 85 TAHUN 2004: TENTANG TARIF BATAS ATAS DAN BATAS BAWAH ANGKUTAN PENUMPANG ANTAR KOTA ANTAR PROVINSI KELAS EKONOMI DI JALAN DENGAN MOBIL BUS UMUM KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 82 TAHUN 2004: TENTANG PROSEDUR PENGADAAN PESAWAT TERBANG DAN HELIKOPTER KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 74 TAHUN 2004: TENTANG RENCANA INDUK PELABUHAN TELUK BAYUR

PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 44 TAHUN 2010: TENTANG STANDAR SPESIFIKASI TEKNIS PERALATAN KHUSUS

3.

PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 43 TAHUN 2010: TENTANG STANDAR SPESIFIKASI TEKNIS GERBONG PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 42 TAHUN 2010: TENTANG STANDAR SPESIFIKASI TEKNIS KERETA DENGAN PENGGERAK SENDIRI

4.

5.

PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 41 TAHUN 2010: TENTANG STANDAR SPESIFIKASI TEKNIS KERETA YANG DITARIK LOKOMOTIF

6.

PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 40 TAHUN 2010: TENTANG STANDAR SPESIFIKASI TEKNIS LOKOMOTIF

7.

PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 38 TAHUN 2010: TENTANG PEDOMAN PENETAPAN TARIF ANGKUTAN ORANG DENGAN KERETA API PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 37 TAHUN 2010: TENTANG PETUNJUK PELAKSANAAN JABATAN FUNGSIONAL PRANATA KOMPUTER DI LINGKUNGAN KEMENTERIAN PERHUBUNGAN

8.

9.

PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 36 TAHUN 2010: TENTANG PETUNJUK PELAKSANAAN JABATAN FUNGSIONAL STATISI DI LINGKUNGAN KEMENTERIAN PERHUBUNGAN PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 34 TAHUN 2010: TENTANG PERUBAHAN KEDUA ATAS PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 18 TAHUN 2007 TENTANG TARIF ANGKUTAN UDARA PERINTIS PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM

10.

11.

KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR

102

KM 73 TAHUN 2004: TENTANG PENYELENGGARAAN ANGKUTAN SUNGAI DAN DANAU

33 TAHUN 2010: TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 2 TAHUN 2009 TENTANG TARIF ANGKUTAN PENYEBERANGAN LINTAS ANTAR PROVINSI PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 32 TAHUN 2010: TENTANG PEDOMAN REFORMASI BIROKRASI DI LINGKUNGAN KEMENTERIAN PERHUBUNGAN

12.

13.

KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 71 TAHUN 2004: TENTANG PENYEMPURNAAN LAMPIRAN KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 64 TAHUN 1989 TENTANG PENETAPAN LINTAS PENYEBERANGAN SEBAGAIMANA TELAH DIUBAH TERAKHIR KE 14 DENGAN KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 16 TAHUN 2003 KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 70 TAHUN 2004: TENTANG PEDOMAN PAKAIAN DINAS OPERASIONAL PEGAWAI NEGERI SIPIL PADA UNIT PELAKSANA TEKNIS DIREKTORAT JENDERAL PERHUBUNGAN LAUT

PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 31 TAHUN 2010: TENTANG KEPUTUSAN BERSAMA ANTARA KEMENTERIAN PERHUBUNGAN RI DENGAN PEMERINTAH PROVINSI PAPUA BARAT TENTANG PENGEMBANGAN PENINGKATAN PRASARANA BANDAR UDARA DI WILAYAH PAPUA BARAT PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 30 TAHUN 2010: TENTANG PERUBAHAN KEDUA ATAS KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 42 TAHUN 2001 TENTANG SPESIFIKASI PENERBANG DAN INSTRUKTUR PENERBANG PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 29 TAHUN 2010: TENTANG PENYELENGGARAAN KEWAJIBAN PELAYANAN PUBLIK ANGKUTAN ORANG DENGAN KERETA API KELAS EKONOMI PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 28 TAHUN 2010: TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA POLITEKNIK ILMU PELAYARAN PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 27 TAHUN 2010: TENTANG STANDAR PELAYANAN MINIMAL PADA SEKOLAH TINGGI PENERBANGAN INDONESIA CURUG PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 26 TAHUN 2010: TENTANG MEKANISME FORMULASI PERHITUNGAN DAN PENETAPAN TARIF BATAS ATAS PENUMPANG PELAYANAN KELAS EKONOMI ANGKUTAN UDARA NIAGA BERJADWAL DALAM NEGERI PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 25 TAHUN 2010: TENTANG KESEPAKATAN BERSAMA ANTARA KEMENTERIAN PERHUBUNGAN DENGAN PROGRAM MAGISTER AKUNTANSI UNIVERSITAS TRISAKTI TENTANG PENGEMBANGAN SUMBER DAYA MANUSIA DAN MANAJEMEN DI BIDANG AKUNTANSI PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 24 TAHUN 2010: TENTANG KESEPAKATAN BERSAMA ANTARA KEMENTERIAN PERHUBUNGAN DENGAN SEKOLAH TINGGI MANAJEMEN TRANSPORTASI (STMT) TRISAKTI TENTANG PENYELENGGARAAN PROGRAM MANAJEMEN TRANSPORTASI PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 23 TAHUN 2010: TENTANG PENATAUSAHAAN DAN PENGELOLAAN RUMAH NEGARA DI LINGKUNGAN

14.

KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 66 TAHUN 2004: TENTANG BATAS-BATAS DAERAH LINGKUNGAN KERJA DAN DAERAH LINGKUNGAN KEPENTINGAN PELABUHAN PENYEBERANGAN BAKAUHENI KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 65 TAHUN 2004: TENTANG PENETAPAN LOKASI BANDAR UDARA NOTOHADI NEGORO DI DESA WIROWONGSO-KABUPATEN JEMBER PROVINSI JAWA TIMUR KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 64 TAHUN 2004: TENTANG PELAYANAN ANGKUTAN UDARA KE / DARI LUAR NEGERI BANDAR UDARA AHMAD YANI – SEMARANG KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 62 TAHUN 2004: TENTANG PENETAPAN KOTA BATAM PROVINSI RIAU KEPULAUAN SEBAGAI KOTA PERCONTOHAN DI BIDANG TRANSPORTASI PERKOTAAN KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 61 TAHUN 2004: TENTANG PENETAPAN LOKASI BANDAR UDARA DI KABUPATEN ACEH SINGKIL PROVINSI NANGGROE ACEH DARUSSALAM

15.

16.

17.

18.

19.

KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 58 TAHUN 2004: TENTANG KAWASAN KESELAMATAN OPERASI PENERBANGAN DI SEKITAR BANDAR UDARA SUPADIO – PONTIANAK

20.

KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 57 TAHUN 2004: TENTANG KAWASAN KESELAMATAN OPERASI PENERBANGAN DI SEKITAR BANDAR UDARA SORONG DARATAN – SORONG

21.

KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 54 TAHUN 2004: TENTANG PROGRAM NASIONAL PENGAMANAN PENERBANGAN

103

KEMENTERIAN PERHUBUNGAN 22. KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 53 TAHUN 2004: TENTANG PENDELEGASIAN WEWENANG PENGANGKATAN, PEMBEBASAN SEMENTARA, PENGANGKATAN KEMBALI, DAN PEMBERHENTIAN DARI DALAM JABATAN FUNGSIONAL DI LINGKUNGAN DEPARTEMEN PERHUBUNGAN KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 46 TAHUN 2004: TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA SEKRETARIAT KOMITE NASIONAL KESELAMATAN TRANSPORTASI KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 45 TAHUN 2004: TENTANG PELAKSANAAN TINDAK LANJUT LAPORAN HASIL PENGAWASAN DI LINGKUNGAN DEPARTEMEN PERHUBUNGAN KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 43 TAHUN 2004: TENTANG PENCABUTAN KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 2 TAHUN 2003 TENTANG PENANGGUHAN BERLAKUNYA KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 92 TAHUN 2002 TENTANG TARIF ANGKUTAN PENUMPANG KERETA API KELAS EKONOMI KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 42 TAHUN 2004: TENTANG PENYEMPURNAAN KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 24 TAHUN 2001 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA DEPARTEMEN PERHUBUNGAN PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 22 TAHUN 2010: TENTANG PENGANGKUTAN BARANG/MUATAN ANTAR PELABUHAN LAUT DI DALAM NEGERI

23.

PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 21 TAHUN 2010: TENTANG STATUTA SEKOLAH TINGGI TRANSPORTASI DARAT PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 20 TAHUN 2010: TENTANG

24.

25.

PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 19 TAHUN 2010: TENTANG PERATURAN KESELAMATAN PENERBANGAN SIPIL BAGIAN 05 (CIVIL AVIATION SAFETY REGULATION PART 05) TENTANG SATUAN PENGUKURAN (UNIT OF MEASUREMENTS)

26.

PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 18 TAHUN 2010: TENTANG PERUBAHAN KEDUA ATAS KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM. 41 TAHUN 2001 TENTANG PERATURAN KESELAMATAN PENERBANGAN SIPIL BAGIAN 91 (CIVIL AVIATION SAFETY REGULATIONS PART 91) TENTANG PERATURAN UMUM PENGOPERASIAN PESAWAT UDARA (GENERAL OPERATING AND FLIGHT) PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 16 TAHUN 2010: TENTANG PERATURAN KESELAMATAN PENERBANGAN SIPIL (PKPS) BAGIAN 63 (CIVIL AVLATION SAFETY REGULATLONS (CASR) PART 63) TENTANG PERSYARATAN PERSONEL PESAWAT UDARA SELAIN PENERBANG DAN PERSONEL PENUNJANG OPERASI PESAWAT UDARA

27.

28.

KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 41 TAHUN 2004: TENTANG PENCABUTAN KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 72 TAHUN 2002 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA AKADEMI METEOROLOGI DAN GEOFISIKA DAN KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 80 TAHUN 2002 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA BALAI METEOROLOGI DAN GEOFISIKA, KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 40 TAHUN 2004: TENTANG ORGANISASI PERUSAHAAN PERAWATAN PESAWAT UDARA KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 39 TAHUN 2004: TENTANG MEKANISME PENETAPAN TARIF DAN FORMULASI PERHITUNGAN TARIF PELAYANAN JASA KEPELABUHAN PADA PELABUHAN YANG DISELENGGARAKAN OLEH BADAN USAHA PELABUHAN KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 38 TAHUN 2004: TENTANG IDENTIFIKASI DAN TANDA PENDAFTARAN PESAWAT UDARA KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 37 TAHUN 2004: TENTANG PENDAFTARAN PESAWAT UDARA

PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 15 TAHUN 2010: TENTANG CETAK BIRU TRANSPORTASI ANTARMODA / MULTIMODA PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 12 TAHUN 2010: TENTANG PENYELENGGARAAN KEWAJIBAN PELAYANAN UMUM BIDANG ANGKUTAN LAUT UNTUK PENUMPANG KELAS EKONOMI TAHUN ANGGARAN 2010

29.

30.

PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 11 TAHUN 2010: TENTANG TATANAN KEBANDARUDARAAN NASIONAL PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 10 TAHUN 2010: TENTANG RENCANA INDUK BANDAR UDARA SULTAN MAHMUD BADARUDDIN II PALEMBANG, PROVINSI SUMATERA SELATAN

31.

104

32.

33.

34.

KESEPAKATAN BERSAMA ANTARA DEPARTEMEN PERHUBUNGAN DAN UNIVERSITAS SUMATRA UTARA NOMOR KM 36 TAHUN 2004: TENTANG PENGEMBANGAN SUMBER DAYA MANUSIA, TEHNOLOGI DAN MANAJEMEN DI BIDANG TRANSPORTASI, POS DAN TELEKOMUNIKASI KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 20 TAHUN 2004: TENTANG PENETAPAN KELAS JALAN DI PROVINSI BALI, NUSA TENGGARA BARAT, NUSA TENGGARA TIMUR, MALUKU, MALUKU UTARA DAN PAPUA KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 19 TAHUN 2004: TENTANG PENETAPAN LOKASI BANDAR UDARA DI PULAU BAWEANKABUPATEN GRESIK, PROVINSI JAWA TIMUR KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 17 TAHUN 2004: TENTANG PERUBAHAN KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 62 TAHUN 2002 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA KANTOR ADMINISTRATOR PELABUHAN KESEPAKATAN BERSAMA ANTARA DEPARTEMEN PERHUBUNGAN DAN PEMERINTAH PROVINSI DAERAH KHUSUS IBUKOTA JAKARTA, NOMOR KM 14 TAHUN 2004: TENTANG PERENCANAAN, PEMBANGUNAN, PENGEMBANGAN, PENDANAAN DAN PENGOPERASIAN ANGKUTAN UMUM MASSAL/MASS RAPID TRANSIT DI PROVINSI DKI JAKARTA DENGAN PRIORITAS KORIDOR LEBAK BULUSFATMAWATI-BLOK M-MONAS – KOTA KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 13 TAHUN 2004: TENTANG PELAKSANAAN KEWAJIBAN PELAYANAN UMUM BIDANG ANGKUTAN PENUMPANG KELAS EKONOMI ANGKUTAN LAUT DALAM NEGERI TAHUN ANGGARAN 2004 KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 11 TAHUN 2004: TENTANG TARIF ANGKUTAN PENUMPANG KERETA API KELAS EKONOMI SIDOARJO – SURABAYAKOTA KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 10 TAHUN 2004: TENTANG PENETAPAN LOKASI BANDAR UDARA SINAK BARU DI KABUPATEN PUNCAK JAYA-PROVINSI PAPUA KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 8 TAHUN 2004: TENTANG TATA CARA TETAP PELAKSANAAN (TTP) PENYIAPAN BAHAN PIMPINAN DEPARTEMEN PERHUBUNGAN DALAM HUBUNGAN ANTAR LEMBAGA PEMERINTAH DAN LEMBAGA NEGARA LAINNYA KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 7 TAHUN 2004: TENTANG PERUBAHAN ATAS KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 57 TAHUN 2002 TENTANG PAKAIAN DINAS HARIAN PEGAWAI NEGERI SIPIL BIDANG ADMINISTRATIF DI LINGKUNGAN DEPARTEMEN PERHUBUNGAN KEPUTUSAN MENTERI PERHBUNGAN NOMOR

PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 9 TAHUN 2010: TENTANG PROGRAM KEAMANAN PENERBANGAN NASIONAL

PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 8 TAHUN 2010: TENTANG PROGRAM KESELAMATAN PENERBANGAN NASIONAL

PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 6 TAHUN 2010: TENTANG CETAK BIRU PENGEMBANGAN TRANSPORTASI PENYEBERANGAN TAHUN 2010-2030 PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 5 TAHUN 2010: TENTANG PEDOMAN PEMBERIAN PENGHARGAAN WAHANA TATA NUGRAHA

35.

36.

PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 3 TAHUN 2010: TENTANG PENETAPAN STANDAR PELAYANAN MINIMAL PADA BALAI PENDIDIKAN DAN PELATIHAN TRANSPORTASI DARAT TEGAL

37.

PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 2 TAHUN 2010: TENTANG PERUBAHAN ATAS KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 17 TAHUN 2000 TENTANG PEDOMAN PENANGANAN BAHAN/BARANG BERBAHAYA DALAM KEGIATAN PELAYARAN 01 INDONESIA PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 1 TAHUN 2010: TENTANG TATA CARA PENERBITAN SURAT PERSETUJUAN BERLAYAR (PORT CLEARANCE) PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 84 TAHUN 2009: TENTANG TATA CARA PEMBERIAN BANTUAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN SERTA BEASISWA DI BIDANG TRANSPORTASI PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 82 TAHUN 2009: TENTANG PEMBENTUKAN UNIT LAYANAN PENGADAAN (ULP/PROCUREMENT UNIT) DI LINGKUNGAN KEMENTERIAN PERHUBUNGAN

38.

39.

40.

41.

PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 80 TAHUN 2009: TENTANG PROSEDUR PELAKSANAAN PENGADAAN BARANG/JASA YANG SEBAGIAN ATAU SELURUHNYA DIBIAYAI DARI PINJAMAN/HIBAH LUAR NEGERI (PHLN) DI LINGKUNGAN DEPARTEMEN PERHUBUNGAN PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM

42.

105

KM 9 TAHUN 2004: TENTANG PENGUJIAN TIPE KENDARAN BERMOTOR

83 TAHUN 2009: TENTANG PENDELEGASIAN WEWENANG PEMBERIAN IZIN USAHA DI BIDANG TRANSPORTASI DALAM RANGKA PELAKSANAAN PELAYANAN TERPADU SATU PINTU DI BIDANG PENANAMAN MODAL KEPADA KEPALA BADAN KOORDINASI PENANAMAN MODAL PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 78 TAHUN 2009: TENTANG SISTEM AKUNTANSI SEKOLAH TINGGI ILMU PELAYARAN

43.

44.

45.

46.

47.

KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 6 TAHUN 2004: TENTANG PEDOMAN PAKAIAN SERAGAM PEGAWAI NEGERI SIPIL UNTUK PETUGAS OPERASIONAL DI BIDANG PERHUBUNGAN DARAT KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 5 TAHUN 2004: TENTANG KAWASAN KESELAMATAN OPERASI PENERBANGAN DI SEKITAR BANDAR UDARA JUANDA – SURABAYA KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 4 TAHUN 2004: TENTANG BATAS-BATAS KAWASAN KEBISINGAN DI SEKITAR BANDAR UDARA JUANDA SURABAYA KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 3 TAHUN 2004: TENTANG PENUNJUKAN DIREKTUR JENDERAL PERHUBUNGAN LAUT SEBAGAI DESIGNATED AUTHORITY PELAKSANAAN PENGAMANAN KAPAL DAN FASILITAS PELABUHAN (INTERNATIONAL SHIPS AND PORT FACILITY SECURITY / ISPS CODE) KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 2 TAHUN 2004: TENTANG RENCANA INDUK PELABUHAN MAKASSAR

PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 77 TAHUN 2009: TENTANG RENCANA INDUK PELABUHAN BATAM

PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 75 TAHUN 2009: TENTANG RENCANA INDUK PELABUHAN LOK TUAN PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 74 TAHUN 2009: TENTANG TATA CARA PEMBERIAN BANTUAN HUKUM DI LINGKUNGAN DEPARTEMEN PERHUBUNGAN

PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 72 TAHUN 2009: TENTANG RENCANA INDUK BANDAR UDARA INTERNASIONAL SULTAN HASANUDDIN MAKASSAR PROVINSI SULAWESI SELATAN

48.

49.

KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 1 TAHUN 2004: TENTANG PEMBERITAHUAN DAN PELAPORAN KECELAKAAN, KEJADIAN ATAU KETERLAMBATAN KEDATANGAN PESAWAT UDARA DAN PROSEDUR PENYELIDIKAN KECELAKAAN / KEJADIAN PADA PESAWAT UDARA KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 63 TAHUN 2003: TENTANG PELAYANAN ANGKUTAN UDARA KE/DARI LUAR NEGERI BANDAR UDARA ADI SUCIP TO – YOGYAKARTA

PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 71 TAHUN 2009: TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 6 TAHUN 2009 TENTANG TATA CARA TETAP ADMINISTRASI PELAKSANAAN ANGGARAN DI LINGKUNGAN DEPARTEMEN PERHUBUNGAN PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 73 TAHUN 2009 TENTANG KESEPAKATAN BERSAMA ANTARA DEPARTEMEN PERHUBUNGAN DAN UNIVERSITAS DIPONEGORO TENTANG PENGEMBANGAN SUMBER DAYA MANUSIA, TEKNOLOGI DAN MANAJEMEN DI BIDANG TRANSPORTASI PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 69 TAHUN 2009: TENTANG KESEPAKATAN BERSAMA ANTARA MENTERI PERHUBUNGAN DAN MENTRI PENDIDIKAN NASIONAL TENTANG PENYELENGGARAAN DAN PEMBINAAN PENDIDIKAN MENENGAH KEJURUAN PADA SEKOLAH MENENGAH KEJURUAN PELAYARAN DAN SEKOLAH MENENGAH KEJURUAN PENERBANGAN PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 68 TAHUN 2009: TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA SEKOLAH TINGGI ILMU PELAYARAN

50.

KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 58 TAHUN 2003: TENTANG MEKANISME PENETAPAN DAN FORMULASI PERHITUNGAN TARIF ANGKUTAN PENYEBERANGAN

51.

52.

KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 53 TAHUN 2003: TENTANG BATAS-BATAS DAERAH LINGKUNGAN KERJA DAN DAERAH LINGKUNGAN KEPENTINGAN PELABUHAN PENYEBERANGAN KETAPANG KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR

PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM

106

53.

54.

KM 52 TAHUN 2003: TENTANG TATA CARA TETAP PELAKSANAAN HUBUNGAN MASYARAKAT DI LINGKUNGAN DEPARTEMEN PERHUBUNGAN KEPUTUSAN BERSAMA MENTERI LUAR NEGERI, MENTERI KEHAKIMAN DAN HAK ASASI MANUSIA, MENTERI PERHUBUNGAN, MENTERI TENEGA KERJA DAN TRANSMIGRASI, MENTERI AGAMA DAN MENTERI NEGARA PEMBERDAYAAN PEREMPUAN: TENTANG TIM ADVOKASI, PEMBELAAN DAN PERLINDUNGAN TENAGA KERJA INDONESIA DI LUAR NEGERI KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 50 TAHUN 2003: TENTANG JENIS, STRUKTUR DAN GOLONGAN TARIF PELAYANAN JASA KEPELABUHAN UNTUK PELABUHAN LAUT

65 TAHUN 2009: TENTANG STANDAR KAPAL NON KONVENSI (NON CONVENTION VESSEL STANDARD) BERBENDERA INDONESIA PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 64 TAHUN 2009: TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 52 TAHUN 2007 TENTANG PENDIDIKAN DAN PELATIHAN TRANSPORTASI

PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 61 TAHUN 2009: TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 60 TAHUN 2008 TENTANG PERATURAN KESELAMATAN PENERBANGAN SIPIL BAGIAN 45 (CIVIL AVIATION SAFETY REGULATIONS PART 45) TENTANG IDENTIFIKASI DAN TANDA PENDAFTARAN PESAWAT UDARA (IDENTIFICATION AND REGISTRA PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 58 TAHUN 2009: TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA BALAI BESAR PENDIDIKAN PENYEGARAN DAN PENINGKATAN ILMU PELAYARAN PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 59 TAHUN 2009: TENTANG RENCANA OPERASI PENYELENGGARAAN ANGKUTAN LEBARAN TERPADU TAHUN 2009 (1439 H) PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 57 TAHUN 2009: TENTANG RENCANA KERJA DEPARTEMEN PERHUBUNGAN TAHUN 2010

55.

KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 49 TAHUN 2003: TENTANG PENETAPAN LOKASI BANDAR UDARA DI KABUPATEN BANYUWANGI PROVINSI JAWA TIMUR KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 48 TAHUN 2003: TENTANG PENETAPAN LOKASI BANDAR UDARA SAUMLAKI BARU DI KABUPATEN MALUKU TENGGARA BARAT KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 47 TAHUN 2003: TENTANG PELAKSANAAN KEWAJIBAN PELAYANAN UMUM BIDANG ANGKUTAN PENUMPANG KELAS EKONOMI ANGKUTAN LAUT DALAM NEGERI TAHUN ANGGARAN 2003 KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 45 TAHUN 2003: TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA BALAI PENDIDIKAN DAN PELATIHAN ILMU PELAYARAN KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 38 TAHUN 2003: TENTANG PERUBAHAN ATAS KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 4 TAHUN 2003 TENTANG TATA HUBUNGAN KERJA ANTARA DEPARTEMEN PERHUBUNGAN DENGAN PEMERINTAH PROVINSI CQ. DINAS PERHUBUNGAN PROVINSI KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 37 TAHUN 2003: TENTANG RAPAT KERJA DEPARTEMEN PERHUBUNGAN TAHUN 2003

56.

57.

58.

PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 56 TAHUN 2009: TENTANG URAIAN KEGIATAN ORGANISASI DI LINGKUNGAN DIREKTORAT JENDERAL PERHUBUNGAN DARAT PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 55 TAHUN 2009: TENTANG RENCANA INDUK TERMINAL KHUSUS PERTAMBANGAN BATU BARA PT.ARUTMIN INDONESIA DI TANJUNG PEMANCINGAN KABUPATEN KOTA BARU PROVINSI KALIMANTAN SELATAN

59.

60.

PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 54 TAHUN 2009: TENTANG PENYELENGGARAAN KEWAJIBAN PELAYANAN UMUM BIDANG ANGKUTAN LAUT UNTUK PENUMPANG KELAS EKONOMI TAHUN ANGGARAN 2009 PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 53 TAHUN 2009: TENTANG PERUBAHAN ATAS KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 57 TAHUN 2002 TENTANG PAKAIAN DINAS HARIAN PEGAWAI NEGERI SIPIL BIDANG ADMINISTRATIF DI LINGKUNGAN DEPARTEMEN PERHUBUNGAN PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 52 TAHUN 2009: TENTANG ORGANISASI DAN TATA

61.

KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 35 TAHUN 2003: TENTANG PENYELENGGARAAN ANGKUTAN ORANG DI JALAN DENGAN KENDARAAN UMUM

62.

KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 34 TAHUN 2003: TENTANG PENETAPAN

107

63.

64.

65.

SEMENTARA BANDAR UDARA KHUSUS SET SELARI PAKNING MILIK PERTAMINA UP-II SET PAKNING SEBAGAI BANDAR UDARA KHUSUS YANG DAPAT MELAYANI PENERBANGAN UNTUK KEPENTINGAN UMUM KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 33 TAHUN 2003: TENTANG PEMBERLAKUAN AMANDEMEN SOLAS 1974 TENTANG PENGAMANAN KAPAL DAN FASILITAS PELABUHAN (INTERNATIONAL SHIPS AND PORT FACILITY SECURITY / ISPS CODE) DI WILAYAH INDONESIA KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 32 TAHUN 2003: TENTANG PENGOPERASIAN BANDAR UDARA SUKARNO HATTA DARI BANDAR UDARA HALIM PEDANAKUSUMA KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM. 26 TAHUN 2003: TENTANG PENYEMPURNAAN KEPMENHUB NOMOR KM 38 TAHUN 2001 TENTANG STANDAR KELAIKAN UDARA UNTUK PESAWAT UDARA KATEGORI TRANSPORTASI KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM. 23 TAHUN 2003: TENTANG PENYEMPURNAAN KEPMENHUB NOMOR KM 33 TAHUN 2000 TENTANG PETUNJUK PELAKSANAAN TARIF JASA PELABUHAN PENYEBERANGAN SUNGAI DAN DANAU YANG DISELENGGARAKAN OLEH UNIT PEMERINTAH KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM. 19 TAHUN 2003: TENTANG PERUBAHAN KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM. 11 TAHUN 2002 TENTANG PELAKSANAAN KEGIATAN PEMERINTAHAN DI PELABUHAN PENYEBERANGAN YANG DIUSAHAKAN KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM. 17 TAHUN 2003: TENTANG PENYEMPURNAAN LAMPIRAN KEPMENHUB NOMOR KM 18 TAHUN 2002 TENTANG PERSYARATAN-PERSYARATAN SERTIFIKASI DAN OPERASI BAGI PERUSAHAAN ANGKUTAN UDARA NIAGA BERJADWAL DAN ANGKUTAN UDARA NIAGA TIDAK BERJADWAL KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM. 16 TAHUN 2003: TENTANG PENYEMPURNAAN LAMPIRAN KEPMENHUB NOMOR KM 64 TAHUN 1989 TENTANG PENETAPAN LINTAS PENYEBERANGAN SEBAGAIMANA TELAH DIUBAH TERAKHIR KE13 DENGAN KEPMENHUB NOMOR KM 58 TAHUN 2002

KERJA SEKRETARIAT PENGURUS UNIT NASIONAL KORPS PEGAWAI REPUBLIK INDONESIA DEPARTEMEN PERHUBUNGAN

PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 46 TAHUN 2009: TENTANG PENETAPAN STANDAR PELAYANAN MINIMAL PADA POLITEKNIK ILMU PELAYARAN MAKASSAR

PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 51 TAHUN 2009: TENTANG RENCANA INDUK PELABUHAN KUALA ENOK

PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 49 TAHUN 2009: TENTANG PERATURAN KESELAMATAN PENERBANGAN SIPIL BAGIAN 47 (CIVIL AVIATION SAFETY REGYLATION PART 47) TENTANG PENDAFTARAN PESAWAT UDARA (AIRCRAFT REGISTRATION) PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 48 TAHUN 2009: TENTANG UJIAN PENYESUAIAN IJAZAH PEGAWAI NEGERI SIPIL DI LINGKUNGAN DEPARTEMEN PERHUBUNGAN

66.

67.

PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 47 TAHUN 2009: TENTANG PENETAPAN STANDAR PELAYANAN MINIMAL PADA POLITEKNIK ILMU PELAYARAN SEMARANG

68.

PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 45 TAHUN 2009: TENTANG PETUNJUK PELAKSANAAN JENIS DAN TARIF ATAS JENIS PENERIMAAN NEGARA BUKAN PAJAK YANG BERLAKU PADA DIREKTORAT JENDERAL PERHUBUNGAN LAUT

69.

PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 43 TAHUN 2009: TENTANG PERUBAHAN KEEMPAT ATAS KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 22 TAHUN 2002 TENTANG PERSYARATANPERSYARATAN SERTIFIKASI DAN OPERASI BAGI PERUSAHAAN ANGKUTAN UDARA YANG MELAKUKAN PENERBANGAN DALAM NEGERI, INTERNASIONAL DAN ANGKUTAN UDARA NIAGA TIDAK BERJAD PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 42 TAHUN 2009: TENTANG PERUBAHAN KELIMA ATAS KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 18 TAHUN 2002 TENTANG PERSYARATANPERSYARATAN SERTIFIKASI DAN OPERASI BAGI PERUSAHAAN ANGKUTAN UDARA NIAGA UNTUK PENERBANGAN KOMUTER DAN CHARTER PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 41 TAHUN 2009: TENTANG PENYELENGGARAAN KEWAJIBAN PELAYANAN PUBLIK ANGKUTAN

70.

KESEPAKATAN BERSAMA DEPARTEMEN PERHUBUNGAN DAN PEMERINTAH PROVINSI SE-SUMATERA NOMOR KM. 13 TAHUN 2003 DAN NOMOR 188/645/III/BAPPEDA TAHUN 2003: TENTANG RENCANA PEMBANGUNAN DAN PENGEMBANGAN JARINGAN JALAN KERETA API SUMATERA KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM. 4 TAHUN 2003: TENTANG TATA HUBUNGAN KERJA ANTARA DEPARTEMEN

71.

108

PERHUBUNGAN DENGAN PEMERINTAH PROVINSI CQ.DINAS PERHUBUNGAN PROVINSI 72. KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM. 2 TAHUN 2003: TENTANG PENANGGUHAN BERLAKUNYA KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 92 TAHUN 2002 TENTANG TARIF ANGKUTAN PENUMPANG KERETA API KELAS EKONOMI KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 68 TAHUN 2002: TENTANG TARIF PENUMPANG DAN UANG TAMBANG BARANG ANGKUTAN LAUT PERINTIS KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 57 TAHUN 2002: TENTANG PAKAIAN DINAS HARIAN PEGAWAI NEGERI SIPIL BIDANG ADMINISTRATIF DI LINGKUNGAN DEPARTEMEN PERHUBUNGAN KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 55 TAHUN 2002: TENTANG PENGELOLAAN PELABUHAN KHUSUS

ORANG DENGAN KERETA API KELAS EKONOMI TAHUN ANGGARAN 2009 PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 40 TAHUN 2009: TENTANG PETUNJUK PELAKSANAAN TARIF JASA PENGUJIAN TIPE, DAN PENGUJIAN SAMPLING KENDARAAN BERMOTOR

73.

PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 38 TAHUN 2009: TENTANG PETUNJUK PELAKSANAAN TARIF JASA PELABUHAN PADA PELABUHAN PENYEBERANGAN LINTAS DALAM NEGERI PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 37 TAHUN 2009: TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA BALAI PENDIDIKAN DAN PELATIHAN ILMU PELAYARAN DI SORONG PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 36 TAHUN 2009: TENTANG URAIAN KEGIATAN ORGANISASI DI LINGKUNGAN SEKRETARIAT JENDERAL PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 33 TAHUN 2009: TENTANG PEMBERIAN TUNJANGAN KEHORMATAN DAN HONORARIUM TERKAIT OUTPUT KEGIATAN KOMITE NASIONAL KESELAMATAN TRANSPORTASI PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 32 TAHUN 2009: TENTANG NAMA-NAMA JABATAN UMUM DAN PETA JABATAN DI LINGKUNGAN SEKRETARIAT JENDERAL DEPARTEMEN PERHUBUNGAN PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 31 TAHUN 2009: TENTANG PETUNJUK PELAKSANAAN JENIS DAN TARIF ATAS JENIS PENERIMAAN NEGARA BUKAN PAJAK (PNBP) YANG BERLAKU PADA BAGIAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PERHUBUNGAN PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 30 TAHUN 2009: TENTANG HONORARIUM BAGI INSPEKTUR DAN TEKNISI PENERBANGAN PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 29 TAHUN 2009: TENTANG PERATURAN KESELAMATAN PENERBANGAN SIPIL BAGIAN 36 AMANDEMEN 1 (CIVIL AVIATION SAFETY REGULATIONS PART 36 AMANDEMENT 1) TENTANG SERTIFIKASI STANDAR KEBISINGAN JENIS PESAWAT TERBANG DAN KELAIKAN UDARA PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 28 TAHUN 2009: TENTANG PERATURAN KESELAMATAN PENERBANGAN SIPIL BAGIAN 34 AMANDEMEN 1 (CIVIL AVIATION SAFETY REGULATIONS PART 34 AMANDEMENT 1) TENTANG PERSYARATAN BAHAN BAKAR TERBUANG DAN EMISI GAS BUANG UNTUK PESAWAT UDARA YANG DIGERAKKAN DENGAN MESIN TURBIN PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 27 TAHUN 2009: TENTANG PERATURAN KESELAMATAN PENERBANGAN SIPIL BAGIAN 33

74.

75.

76.

KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 38 TAHUN 2002: TENTANG RENCANA INDUK BANDAR UDARA SUPADIO – PONTIANAK

77.

KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 37 TAHUN 2002: TENTANG PERSYARATAN TEKNIS SABUK KESELAMATAN

78.

KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 36 TAHUN 2002: TENTANG TARIF ANGKUTAN PENUMPANG KELAS EKONOMI ANGKUTAN LAUT DALAM NEGERI

79.

80.

KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 35 TAHUN 2002: TENTANG TARIF ANGKUTAN PENUMPANG KERETA API KELAS EKONOMI KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 34 TAHUN 2002: TENTANG TARIF DASAR ANGKUTAN PENUMPANG ANTAR KOTA KELAS EKONOMI DI JALAN DENGAN MOBIL BUS UMUM

81.

KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 33 TAHUN 2002: TENTANG TARIF ANGKUTAN PENYEBERANGAN LINTAS ANTAR PROVINSI UNTUK PENUMPANG KELAS EKONOMI, KENDARAAN, ALAT-ALAT BERAT/BESAR DAN BARANG/HEWAN

82.

KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 31 TAHUN 2002: TENTANG PERUBAHAN KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR

109

KM 84 TAHUN 1999 TENTANG PENYELENGARAAN ANGKUTAN ORANG DI JALAN DENGAN KENDARAAN UMUM

AMANDEMEN 1 (CIVIL AVIATION SAFETY REGULATIONS PART 33 AMANDEMENT 1) TENTANG STANDAR KELAIKANUDARAAN UNTUK MESIN PESAWAT TERBANG (AIRWORTHINESS STANDARDS : AIRCRAFT ENGINES) PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 26 TAHUN 2009: TENTANG SANKSI ADMINISTRATIF TERHADAP PELANGGARAN PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN DI BIDANG KESELAMATAN PENERBANGAN PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 25 TAHUN 2009: TENTANG PENDELEGASIAN KEWENANGAN MENTERI PERHUBUNGAN KEPADA DIREKTUR JENDERAL PERHUBUNGAN UDARA DI BIDANG PENERBANGAN PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 24 TAHUN 2009: TENTANG PERATURAN KESELAMATAN PENERBANGAN SIPIL BAGIAN 139 (CIVIL AVIATION SAFETY REGULATIONS PART 139) TENTANG BANDAR UDARA (AERODROME) PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 23 TAHUN 2009: TENTANG KARTU TANDA PENGENAL PENYIDIK PEGAWAI NEGERI SIPIL (PPNS) PENERBANGAN SIPIL PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 22 TAHUN 2009 TENTANG: PERATURAN KESELAMATAN PENERBANGAN SIPIL BAGIAN 175 (CIVIL AVIATION SAFETY REGULATIONS PART 175) TENTANG PELAYANAN INFORMASI AERONAUTIKA (AERONAUTICAL INFORMATION SERVICE) PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 21 TAHUN 2009: TENTANG PERATURAN KESELAMATAN PENERBANGAN SIPIL BAGIAN 173 (CIVIL AVIATION SAFETY REGULATIONS PART 173) TENTANG PERANCANGAN PROSEDUR PENERBANGAN INSTRUMENT (INSTRUMENT FLIGHT PROCEDURE DESIGN) PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 20 TAHUN 2009: TENTANG SISTEM MANAJEMEN KESELAMATAN (SAFETY MANAGEMENT SYSTEM)

83.

84.

KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 30 TAHUN 2002: TENTANG PERUBAHAN KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 69 TAHUN 1993 TENTANG PENYELENGARAAN ANGKUTAN BARANG DI JALAN KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 29 TAHUN 2002 RENCANA STRATEGIS DEPARTEMEN PERHUBUNGAN TAHUN 20002004

85.

KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 28 TAHUN 2002: TENTANG RENCANA INDUK BANDAR UDARA SAMARINDA BARUSAMARINDA

86.

87.

KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 27 TAHUN 2002: TENTANG PERUBAHAN NAMA BANDAR UDARA TEMBAGAPURA TIMIKA MENJADI BANDAR UDARA MOSES KILANGAN-TIMIKA KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 26 TAHUN 2002: TENTANG RENCANA INDUK BANDAR UDARA SULTAN SYARIF KASIM II PEKANBARU

88.

KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 24 TAHUN 2002: TENTANG PENYELENGGARAAN PEMANDUAN

89.

90.

KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 25 TAHUN 2002: TENTANG PEDOMAN DASAR PERHITUNGAN TARIF PELAYANAN JASA BONGKAR MUAT BARANG DARI DAN KE KAPAL DI PELABUHAN KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 21 TAHUN 2002: TENTANG TARIF ANGKUTAN UDARA PERINTIS

PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 19 TAHUN 2009: TENTANG PERUBAHAN KETIGA ATAS PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 22 TAHUN 2002 TENTANG PERSYARATANPERSYARATAN SERTIFIKASI BAGI PERUSAHAAN ANGKUTAN UDARA YANG MELAKUKAN PENERBANGAN DALAM NEGERI, INTERNASIONAL DAN ANGKUTAN UDARA NIAGA TIDAK BERJADWAL PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 18 TAHUN 2009: TENTANG PERUBAHAN KEEMPAT ATAS KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 18 TAHUN 2002 TENTANG PERSYARATANPERSYARATAN SERTIFIKASI DAN OPERASI BAGI PERUSAHAAN ANGKUTAN UDARA NIAGA UNTUK PENERBANGAN KOMUTER DAN CHARTER

91.

KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 20 TAHUN 2002: TENTANG RENCANA INDUK BANDAR UDARA JUANDA SURABAYA

110

92.

KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 19 TAHUN 2002: TENTANG RENCANA INDUK BANDAR UDARA SORONG DARATAN SORONG

PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 17 TAHUN 2009: TENTANG PERATURAN KESELAMATAN PENERBANGAN SIPIL BAGIAN 145 AMANDEMEN 3 (CIVIL AVIATION SAFETY REGULATIONS PART 145 AMANDEMENT 3) TENTANG ORGANISASI PERUSAHAAN PERAWATAN PESAWAT UDARA (APPROVED MAINTENANCE ORGANIZATIONS) PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 16 TAHUN 2009: TENTANG PERATURAN KESELAMATAN PENERBANGAN SIPIL BAGIAN 92 (CIVIL AVIATION SAFETY REGULATION PART 92) TENTANG PENGANGKUTAN BAHAN DAN/ATAU BARANG BERBAHAYA DENGAN PESAWAT UDARA (SAFE TRANSPORT OF DANGEROUS GOODS BY AIR)

93.

94.

KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 16 TAHUN 2002: TENTANG PERUBAHAN KEDUA KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 34 TAHUN 2001 TENTANG PENYEMPURNAAN KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 50 TAHUN 1999 TENTANG TATA CARA TETAP PELAKSANAAN KEGIATAN PENGELOLAAN DANA PENGEMBANGAN KEAHLIAN DAN KETERAMPILAN TENAGA KERJA KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 15 TAHUN 2002: TENTANG PENYELENGGARAAN DAN PENGUSAHAAN TALLY DI PELABUHAN

PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 15 TAHUN 2009: TENTANG PERATURAN KESELAMATAN PENERBANGAN SIPIL BAGIAN II (CIVIL AVIATION SAFETY REGULATIONS PART II)TENG PERSYARATAN TATA CARA UNTUK MENGAMANDEMEN DAN MEMBATALKAN SERTA MENGABULKAN ATAU MENOLAK PERMOHONAN PENGECUALIAN DAN KONDISI KHUSUS DARI PERATURAN-PERATURAN PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 14 TAHUN 2009: TENTANG PERATURAN KESELAMATAN PENERBANGAN SIPIL BAGIAN 170 (CIVIL AVIATION SAFETY REGULATION PART 170) TENTANG PERATURAN LALU LINTAS UDARA (AIR TRAFFIC RULES) PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 13 TAHUN 2009: TENTANG PERATURAN KESELAMATAN PENERBANGAN SIPIL BAGIAN 143 (CIVIL AVIATION SAFETY REGULATION PART 143) TENTANG SERTIFIKASI DAN PERSYARATAN PENGOPERASIAN BAGI PENYELENGGARA PELATIHAN PELAYANAN LALU LINTAS PENERBANGAN (CERTIFICATION AND OPERATING REQUIREMENTS FOR A PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 12 TAHUN 2009: TENTANG PERATURAN KESELAMATAN PENERBANGAN SIPIL BAGIAN 69 (CIVIL AVIATION SAFETY REGULATIONS PART 69) TENTANG PERSYARATAN LICENCE, RATING, PELATIHAN DAN KECAKAPAN BAGI PERSONEL PEMANDU LALU LINTAS UDARA PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 9 TAHUN 2009: TENTANG PERATURAN KESELAMATAN PENERBANGAN SIPIL BAGIAN 101 (CIVIL AVIATION SAFETY REGULATIONS PART 101)TENTANG BALON UDARA YANG DITAMBATKAN, LAYANG-LAYANG, ROKET TANPA AWAK DAN BALON UDARA BEBAS TANPA AWAK PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 11 TAHUN 2009: TENTANG PERATURAN KESELAMATAN PENERBANGAN SIPIL BAGIAN 172 (CIVIL AVIATION SAFETY REGULATIONS PART

95.

KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 14 TAHUN 2002: TENTANG PENYELENGGARAAN DAN PENGUSAHAAN BONGKAR MUAT BARANG DARI DAN KE KAPAL

96.

KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 13 TAHUN 2002: TENTANG KESEPAKATAN BERSAMA ANTARA DEPARTEMEN PERHUBUNGAN DAN KEMENTERIAN RISET DAN TEKNOLOGI DAN BADAN PENGKAJIAN DAN PENERAPAN TEKNOLOGI TENTANG PENGEMBANGAN KERETA REL LISTRIK INDONESIA

97.

KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 9 TAHUN 2002: TENTANG TARIF PENUMPANG ANGKUTAN UDARA NIAGA BERJADWAL DALAM NEGERI KELAS EKONOMI

98.

KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 11 TAHUN 2002: TENTANG PELAKSANAAN KEGIATAN PEMERINTAH DI PELABUHAN PENYEBERANGAN YANG DIUSAHAKAN

99.

KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 5 TAHUN 2002: TENTANG BATAS-BATAS DAERAH LINGKUNGAN KERJA DAN LINGKUNGAN KEPENTINGAN PELABUHAN

111

TENAU KUPANG

172)TENTANG PENYELENGGARA PELAYANAN LALU LINTAS PENERBANGAN (AIR TRAFFIC SERVICE PROVIDERS) PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 10 TAHUN 2009: TENTANG PERATURAN KESELAMATAN PENERBANGAN SIPIL BAGIAN 171 (CIVIL AVIATION SAFETY REGULATIONS PART 171) TENTANG PENYELENGGARA PELAYANAN TELEKOMUNIKASI DAN RADIO NAVIGASI PENERBANGAN (AERONAUTICAL TELECOMUNICATION SERVICE AND RADIO NAVIGATION SERVICE PROVIDERS) PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 8 TAHUN 2009: TENTANG TARIF BATAS ATAS ANGKUTAN PENUMPANG LAUT DALAM NEGERI KELAS EKONOMI PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 7 TAHUN 2009: TENTANG TARIF ANGKUTAN ORANG DENGAN KERETA API KELAS EKONOMI

100. KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 7 TAHUN 2002: TENTANG BATAS-BATAS DAERAH LINGKUNGAN KERJA DAN LINGKUNGAN KEPENTINGAN PELABUHAN ENDE DAN IPI

101. KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 6 TAHUN 2002: TENTANG BATAS-BATAS DAERAH LINGKUNGAN KERJA DAN LINGKUNGAN KEPENTINGAN PELABUHAN WAINGAPU 102. KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 4 TAHUN 2002: TENTANG BATAS-BATAS DAERAH LINGKUNGAN KERJA DAN DAERAH LINGKUNGAN KEPENTINGAN PELABUHAN MAUMERE 103. KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 3 TAHUN 2002: TENTANG BATAS-BATAS DAERAH LINGKUNGAN KERJA DAN DAERAH LINGKUNGAN KEPENTINGAN PELABUHAN KALABAHI 104. KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM. 2 TAHUN 2002: TENTANG PENCABUTAN KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM. 20 TAHUN 1999 TENTANG HARGA SATUAN PEKERJAAN PENGERUKAN ALUR PELAYARAN DAN KOLAM PELABUHAN UNTUK PEKERJAAN PERAWATAN YANG DIBIAYAI DARI ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA NEGARA 105. KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM. 1 TAHUN 2002: TENTANG PENYEMPURNAAN KEPUTUSAN KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM. 14 TAHUN 1996 TENTANG PENYEDERHANAAN TATA CARA PENGADAAN DAN PENDAFTARAN KAPAL 106. KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 45 TAHUN 2001: TENTANG PERUBAHAN ATAS KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 24 TAHUN 2001 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA DEPARTEMEN PERHUBUNGAN 107. KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 43 TAHUN 2001: TENTANG PERSYARATAN SERTIFIKASI DAN OPERASI UNTUK SEKOLAH PENERBANG

PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 6 TAHUN 2009: TENTANG TATA CARA TETAP ADMINISTRASI PELAKSANAAN ANGGARAN DI LINGKUNGAN DEPARTEMEN PERHUBUNGAN PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 5 TAHUN 2009: TENTANG KEGIATAN AKUNTANSI DI LINGKUNGAN DEPARTEMEN PERHUBUNGAN

PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 4 TAHUN 2009: TENTANG SISTEM DAN PROSEDUR AKUNTANSI SERTA PELAPORAN KEUANGAN DI LINGKUNGAN DEPARTEMEN PERHUBUNGAN

PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 2 TAHUN 2009: TENTANG TARIF ANGKUTAN PENYEBERANGAN LINTAS ANTAR PROVINSI

PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 1 TAHUN 2009: TENTANG TARIF DASAR BATAS ATAS DAN BATAS BAWAH ANGKUTAN PENUMPANG ANTAR KOTA ANTAR PROVINSI KELAS EKONOMI DI JALAN DENGAN MOBIL BUS UMUM PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 64 TAHUN 2008: TENTANG TARIF DASAR BATAS ATAS DAN BATAS BAWAH ANGKUTAN PENUMPANG ANTAR KOTA ANTAR PROVINSI KELAS EKONOMI DI JALAN DENGAN MOBIL BUS UMUM PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 62 TAHUN 2008: TENTANG PELIMPAHAN SEBAGIAN WEWENANG MENTERI PERHUBUNGAN DALAM

108. KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 44 TAHUN 2001: TENTANG PERSYARATAN SERTIFIKASI DAN OPERASI UNTUK SEKOLAH PENERBANGAN

109. KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 42 TAHUN 2001: TENTANG SERTIFIKASI PENERBANG DAN INSTRUKTUR TERBANG

112

RANGKA PENGGUNAAN BARANG MILIK NEGARA DI LINGKUNGAN DEPARTEMEN PERHUBUNGAN 110. KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 41 TAHUN 2001: TENTANG PERATURAN UMUM TENTANG PENGOPERASIAN PESAWAT UDARA PERPANJANGAN KESEPAKATAN BERSAMA ANTARA DEPARTEMEN PERHUBUNGAN DENGAN UNIVERSITAS INDONESIA, NOMOR KM 52 TAHUN 2008: TENTANG PENGEMBANGAN SUMBER DAYA MANUSIA, TEKNOLOGI DAN MANAJEMEN DI BIDANG TRANSPORTASI PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 50 TAHUN 2008: TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA BALAI PENDIDIKAN DAN PELATIHAN TRANSPORTASI DARAT

111. KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 40 TAHUN 2001: TENTANG PEMBENTUKAN TIM PENYELESAIAN RANCANGAN KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN SEBAGAI TINDAK LANJUT PERATURAN PEMERINTAH NOMOR 69 TAHUN 2001 TENTANG KEPELABUHAN DAN PERATURAN PEMERINTAH NOMOR 70 TAHUN 2001 TENTANG KEBANDARUDARAAN 112. KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 39 TAHUN 2001: TENTANG PENERIMA PENDELEGASIAN WEWENANG DIREKTUR JENDERAL

PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 46 TAHUN 2008: TENTANG PERUBAHAN KEDUA ATAS KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 22 TAHUN 2002 TENTANG PERSYARATANPERSYARATAN SERTIFIKASI DAN OPERASI BAGI PERUSAHAAN ANGKUTAN UDARA YANG MELAKUKAN PENERBANGAN DALAM NEGERI, INTERNASIONAL DAN ANGKUTAN UDARA NIAGA TIDAK BERJADWA PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 45 TAHUN 2008: TENTANG PERUBAHAN KETIGA ATAS KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 18 TAHUN 2002 TENTANG PERSYARATANPERSYARATAN SERTIFIKASI DAN OPERASI BAGI PERUSAHAAN ANGKUTAN UDARA NIAGA UNTUK PENERBANGAN KOMUTER DAN CARTER PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 44 TAHUN 2008: TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 5 TAHUN 2006 TENTANG PEREMAJAAN PESAWAT UDARA KATEGORI TRANSPORT UNTUK ANGKUTAN UDARA PENUMPANG PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 35 TAHUN 2008: TENTANG KAWASAN KESELAMATAN OPERASI PENERBANGAN DI SEKITAR BANDAR UDARA AHMAD YANI DI KOTA SEMARANG PROVINSI JAWA TENGAH PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 30 TAHUN 2008: TENTANG DOKUMEN IDENTITAS PELAUT

113. KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 38 TAHUN 2001: TENTANG STANDAR KELAIKAN UDARA UNTUK PESAWAT UDARA KATEGORI TRANSPORT

114. KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 37 TAHUN 2001: TENTANG RENCANA INDUK BANDAR UDARA SEPINGGANBALIKPAPAN

115. KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 36 TAHUN 2001: TENTANG PENDELEGASIAN WEWENANG DAN PEMBERIAN KUASA BIDANG KEPEGAWAIAN BAGI PEGAWAI NEGERI SIPIL DI LINGKUNGAN DEPARTEMEN PERHUBUNGAN 116. KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 35 TAHUN 2001: TENTANG PENYEMPURNAAN KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 16 TAHUN 2001 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA PERUSAHAAN UMUM (PERUM) PENGANGKUTAN PENUMPANG DJAKARTA 117. KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 34 TAHUN 2001: TENTANG PENYEMPURNAAN KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 50 TAHUN 1999 TENTANG TATA CARA TETAP PELAKSANAAN KEGIATAN PENGELOLAAN DANA PENGEMBANGAN KEAHLIAN TENAGA KERJA DI SEKTOR PERHUBUNGAN 118. KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 33 TAHUN 2001: TENTANG

PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 29 TAHUN 2008: TENTANG PEMBERIAN HONORARIUM BAGI KETUA DAN WAKIL KETUA KOMITE NASIONAL KESELAMATAN TRANSPORTASI, SERTA KETUA SUB DAN KETUA SUB-SUB KOMITE PENELITIAN KECELAKAAN TRANSPORTASI

PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 28 TAHUN 2008: TENTANG TARIF ANGKUTAN

113

PENYELENGGARAAN DAN PENGUSAHAAN ANGKUTAN LAUT 119. KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 32 TAHUN 2001: TENTANG PENYELENGGARAAN ANGKUTAN PENYEBERANGAN 120. KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 31 TAHUN 2001: TENTANG TATA CARA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN SEARCH AND RESCUE (SAR) 121. KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 30 TAHUN 2001: TENTANG CARA TETAP PELAKSANAAN SIAGA SEARCH AND RESCUE (SAR) DAN PENGGANTIAN BIAYA OPERASI SEARCH AND RESCUE (SAR) 122. KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 29 TAHUN 2001: TENTANG PEMBAGIAN WILAYAH TANGGUNG JAWAB KANTOR SEARCH AND RESCUE (SAR) 123. KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 27 TAHUN 2001: TENTANG BIAYA PEMBUATAN SURAT IZIN MENGEMUDI INTERNASIONAL 124. KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 28 TAHUN 2001: TENTANG PENDELEGASIAN WEWENANG PENETAPAN ANGKA KREDIT, PENGANGKATAN, PEMBEBASAN SEMENTARA, PENGANGKATAN KEMBALI DAN PEMBERHENTIAN DARI DAN DALAM JABATAN FUNGSIONAL WIDYAISWARA DI LINGKUNGAN DEPARTEMEN PERHUBUNGAN 125. KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 26 TAHUN 2001: TENTANG PENDELEGASIAN WEWENANG PENYESUAIAN GAJI POKOK PEGAWAI NEGERI SIPIL DI LINGKUNGAN DEPARTEMEN PERHUBUNGAN 126. KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 25 TAHUN 2001: TENTANG RANCANG BANGUN STANDAR KELAIKAN UDARA UNTUK PESAWAT UDARA KATEGORI NORMAL, UTILITI, AKROBATIK DAN KOMUTER

PENYEBERANGAN LINTAS ANTAR PROVINSI PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 25 TAHUN 2008: TENTANG PENYELENGGARAAN ANGKUTAN UDARA PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 27 TAHUN 2008: TENTANG TARIF ANGKUTAN PENUMPANG KERETA API KELAS EKONOMI PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 26 TAHUN 2008: TENTANG PENYELENGGARAAN KEWAJIBAN PELAYANAN PUBLIK ANGKUTAN KERETA API PELAYANAN KELAS EKONOMI TAHUN ANGGARAN 2008 PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 24 TAHUN 2008: TENTANG PENETAPAN LOKASI BANDAR UDARA DI KABUPATEN HALMAHERA TENGAH PROVINSI MALUKU UTARA PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 23 TAHUN 2008: TENTANG PENETAPAN LOKASI BANDAR UDARA BARU DI MOA LAKOR KABUPATEN MALUKU TENGGARA BARAT PROVINSI MALUKU PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 22 TAHUN 2008: TENTANG UNIT KLIRING DATA DAN INFORMASI BIDANG TRANSPORTASI

PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 21 TAHUN 2008: TENTANG RENCANA INDUK PELABUHAN KHUSUS MINYAK DAN GAS BUMI PT.PERTAMINA (PERSERO) BALONGAN PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 20 TAHUN 2008: TENTANG PERUBAHAN KELIMA ATAS PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 43 TAHUN 2005 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA DEPARTEMEN PERHUBUNGAN SEBAGAIMANA TELAH DIUBAH TERAKHIR DENGAN PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM.1 TAHUN 2008 PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 19 TAHUN 2008: TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 18 TAHUN 2007 TENTANG TARIF ANGKUTAN UDARA PERINTIS KESEPAKATAN BERSAMA ANTARA DEPARTEMEN PERHUBUNGAN DENGAN SOLIDARITAS ISTRI KABINET INDONESIA BERSATU NOMOR KM 18 TAHUN 2008, NOMOR 164/05/SIKIB/2008: TENTANG PROGRAM PENINGKATAN KESELAMATAN TRANSPORTASI PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 17 TAHUN 2008: TENTANG PENETAPAN LOKASI BANDAR UDARA DI SUNGAI TEBELIAN KABUPATEN SINTANG PROVINSI KALIMANTAN BARAT

127. KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 24 TAHUN 2001: TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA DEPARTEMEN PERHUBUNGAN

128. KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 21 TAHUN 2001: TENTANG PENYELENGGARAAN JASA TELEKOMUNIKASI

129. KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 20 TAHUN 2001: TENTANG PENYELENGARAAN JARINGAN TELEKOMUNIKASI

114

130. KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 19 TAHUN 2001: TENTANG TARIF JASA TELEPON TETAP DALAM NEGERI DAN BIROFAX DALAM NEGERI 131. KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 18 TAHUN 2001: TENTANG PERUBAHAN KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 77 TAHUN 2000 TENTANG PERSYARATANPERSYARATAN SERTIFIKASI DAN OPERASI BAGI PERUSAHAAN ANGKUTAN UDARA YANG MELAKUKAN PENERBANGAN DALAM NEGERI, INTERNATIONAL DAN CHARTER ATAU CARGO 132. KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 16 TAHUN 2001: TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA PERUSAHAAN UMUM (PERUM) PENGANGKUTAN PENUMPANG DJAKARTA 133. KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 17 TAHUN 2001: TENTANG PEMBENTUKAN KANTOR ADMINISTRATOR PELABUHAN SUNGAI PAKNING, SEI KOLAK KIJANG DAN RENGAT

PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 16 TAHUN 2008: TENTANG RENCANA INDUK BANDAR UDARA BUDIARTO CURUG DI KABUPATEN TANGERANG PROVINSI BANTEN PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 15 TAHUN 2008: TENTANG PENETAPAN LOKASI BANDAR UDARA TANGGETADA DI KABUPATEN KOLAKA PROVINSI SULAWESI TENGGARA

PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 14 TAHUN 2008: TENTANG RENCANA INDUK PELABUHAN BENGKULU

PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 13 TAHUN 2008: TENTANG PERATURAN KESELAMATAN PENERBANGAN SIPIL (CIVIL AVIATION SAFETY REGULATION) PART 21 TENTANG PROSEDUR SERTIFIKASI UNTUK PRODUK DAN BAGIAN-BAGIANNYA (CERTIFICATION PROCEDURES FOR PRODUCT AND PART) PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 12 TAHUN 2008: TENTANG PERUBAHAN ATAS KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 18 TAHUN 2002 TENTANG PERSYARATANPERSYARATAN SERTIFIKASI DAN OPERASI BAGI PERUSAHAAN ANGKUTAN UDARA NIAGA UNTUK PENERBANGAN KOMUTER DAN CHARTER PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 11 TAHUN 2008: TENTANG PERUBAHAN ATAS KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 22 TAHUN 2002 TENTANG PERSYARATANPERSYARATAN SERTIFIKASI DAN OPERASI BAGI PERUSAHAAN ANGKUTAN UDARA YANG MELAKUKAN PENERBANGAN DALAM NEGERI, INTERNASIONAL DAN ANGKUTAN UDARA NIAGA TIDAK BERJADWAL PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 10 TAHUN 2008: TENTANG PENETAPAN LOKASI BANDAR UDARA DI KABUPATEN MOROWALI PROVINSI SULAWESI TENGAH PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 9 TAHUN 2008: TENTANG PERUBAHAN KEDUA ATAS KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 62 TAHUN 2002 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA ADMINISTRATOR PELABUHAN PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 8 TAHUN 2008: TENTANG PELAKSANAAN KEWAJIBAN PELAYANAN UMUM BIDANG ANGKUTAN LAUT PENUMPANG KELAS EKONOMI TAHUN ANGGARAN 2008 PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 7 TAHUN 2008: TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA UNIT PELAKSANA TEKNIS BANDAR UDARA

134. KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 15 TAHUN 2001: TENTANG TATA KERJA TIM PENILAI DAN TATA CARA PENILAIAN ANGKA KREDIT BAGI JABATAN STATISTISI DI LINGKUNGAN DEPARTEMEN PERHUBUNGAN

135. KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 14 TAHUN 2001: TENTANG TATA CARA TETAP PELAKSANAAN JABATAN FUNGSIONAL WIDYAISWARA DI LINGKUNGAN DEPARTEMEN PERHUBUNGAN

136. KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 13 TAHUN 2001: TENTANG PENETAPAN KELAS JALAN DI PULAU SULAWESI

137. KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 12 TAHUN 2001: TENTANG TATA CARA TETAP PELAKSANAAN PENYUSUNAN PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN DI LINGKUNGAN DEPARTEMEN PERHUBUNGAN 138. KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 11 TAHUN 2001: TENTANG PENYELENGGARAAN ANGKUTAN UDARA

139. KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 10 TAHUN 2001: TENTANG PENGESAHAN RENCANA KERJA DAN ANGGARAN PERUSAHAAN UMUM (PERUM) PENGANGKUTAN PENUMPANG DJAKARTA

115

(PPD) TAHUN 2001 140. KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 8 TAHUN 2001: TENTANG ANGKUTAN KERETA API

PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 6 TAHUN 2008: TENTANG KRITERIA KLASIFIKASI ORGANISASI UNIT PELAKSANA TEKNIS BANDAR UDARA PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 4 TAHUN 2008: TENTANG TATA KERJA TIM PENILAI DAN TATA CARA PENILAIAN ANGKA KREDIT BAGI JABATAN FUNGSIONAL PENGUJI KENDARAAN BERMOTOR PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 3 TAHUN 2008: TENTANG RENCANA INDUK BANDAR UDARA SULTAN SYARIF KASIM II PEKANBARU PROVINSI RIAU

141. KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 7 TAHUN 2001: TENTANG PENETAPAN KOTA PENERIMA PIALA WAHANA TATA NUGRAHA DAN KOTA PENERIMA PLAKAT TERTIB LALU-LINTAS DAN ANGKUTAN KOTA TAHUN 2000 142. KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 6 TAHUN 2001: TENTANG PERUSAHAAN ANGKUTAN UDARA ASING YANG MENGOPERASIKAN PESAWAT UDARA REGISTRASI ASING DARI DAN KE INDONESIA DAN PESAWAT UDARA REGISTRASI INDONESIA DI LUAR NEGERI 143. KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 5 TAHUN 2001: TENTANG TABEL ALOKASI SPEKTRUM FREKUENSI RADIO INDUSTRI

PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 2 TAHUN 2008: TENTANG RENCANA INDUK BANDAR UDARA H.AS.HANANDJOEDDIN-TANJUNG PANDAN DI KABUPATEN BELITUNG PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 1 TAHUN 2008: TENTANG PERUBAHAN KEEMPAT ATAS PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM.43 TAHUN 2005 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA DEPARTEMEN PERHUBUNGAN PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 63 TAHUN 2007: TENTANG TATA CARA TETAP PELAKSANAAN KOMUNIKASI PUBLIK (KEHUMASAN) DI LINGKUNGAN DEPARTEMEN PERHUBUNGAN PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 62 TAHUN 2007: TENTANG TARIF ANGKUTAN PENYEBERANGAN LINTAS ANTAR PROVINSI

144. KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 3 TAHUN 2001: TENTANG PERSYARATAN TEKNIS ALAT DAN PERANGKAT TELEKOMUNIKASI

145. KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 2 TAHUN 2001: TENTANG TATA CARA PENERBITAN SERTIFIKAT TIPE ALAT DAN PERANGKAT TELEKOMUNIKASI 146. KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 1 TAHUN 2001: TENTANG PENYEMPURNAAN LAMPIRAN KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 64 TAHUN 1989 TENTANG PENETAPAN LINTAS PENYEBERANGAN SEBAGAIMANA TELAH DIUBAH TERAKHIR KE XI DENGAN KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 66 TAHUN 2000 147. KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 69 TAHUN 2000: TENTANG PENYEMPURNAAN KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 77 TAHUN 1993 TENTANG KODE WILAYAH PENDAFTARAN TANDA NOMOR KENDARAAN BERMOTOR 148. KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 65 TAHUN 2000: TENTANG PROSEDUR PENGADAAN PESAWAT TERBANG DAN HELIKOPTER

PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 61 TAHUN 2007: TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 30 TAHUN 2007 TENTANG RENCANA INDUK BANDAR UDARA MEDAN PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 58 TAHUN 2007: TENTANG PERUBAHAN ATAS KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 73 TAHUN 2004 TENTANG PENYELENGGARAAN ANGKUTAN SUNGAI DAN DANAU PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 55 TAHUN 2007: TENTANG PERUBAHAN ATAS KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 55 TAHUN 2002 TENTANG PENGELOLAAN PELABUHAN KHUSUS PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 52 TAHUN 2007: TENTANG PENDIDIKAN DAN

149. KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 53 TAHUN 2000: TENTANG PERPOTONGAN DAN / ATAU PERSINGGUNGAN ANTARA JALUR KERETA API DENGAN BANGUNAN LAIN

150. KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 51 TAHUN 2000: TENTANG PERWAKILAN DAN AGEN PENJUALAN UMUM (GENERAL

116

SALES AGENT / GSA) PERUSAHAAN ANGKUTAN UDARA ASING 151. KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 38 TAHUN 2000: TENTANG PETUNJUK PELAKSANAAN TARIF ATAS JENIS PENERIMAAN NEGARA BUKAN PAJAK JASA KENAVIGASIAN 152. KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 17 TAHUN 2000: TENTANG PEDOMAN PENANGANAN BAHAN / BARANG BERBAHAYA DALAM KEGIATAN PELAYARAN DI INDONESIA

PELATIHAN TRANSPORTASI PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 51 TAHUN 2007: TENTANG PEDOMAN PENYELENGGARAAN PERCONTOHAN TRANSPORTASI DARAT KESEPAKATAN BERSAMA ANTARA DEPARTEMEN PERHUBUNGAN DENGAN INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG, NOMOR KM:49 TAHUN 2007, NOMOR:041/K01/DN/2007: TENTANG PENGEMBANGAN SUMBER DAYA MANUSIA, TEKNOLOGI DAN MANAJEMEN DI BIDANG TRANSPORTASI PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 48 TAHUN 2007: TENTANG PEDOMAN PAKAIAN SERAGAM PEGAWAI NEGERI SIPIL UNTUK PETUGAS OPERASIONAL DI LINGKUNGAN BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PERHUBUNGAN PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 46 TAHUN 2007: TENTANG PENETAPAN LOKASI BANDAR UDARA DI PULAU ENGGANO KABUPATEN BENGKULU UTARA, PROVINSI BENGKULU KESEPAKATAN BERSAMA ANTARA DEPARTEMEN PERHUBUNGAN, PEMERINTAH PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA DAN UNIVERSITAS GAJAH MADA, NOMOR KM 47 TAHUN 2007, NOMOR 16/KES.BER/GUB/2007, NOMOR: 4987/P/SET.R/2007: TENTANG PENGEMBANGAN TRANSPORTASI PERKOTAAN DI PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 45 TAHUN 2007: TENTANG PENETAPAN LOKASI BANDAR UDARA NABIRE BARU DI KABUPATEN NABIRE PROVINSI PAPUA PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 44 TAHUN 2007: TENTANG PENETAPAN LOKASI BANDAR UDARA DI KABUPATEN SERAM BAGIAN TIMUR PROVINSI MALUKU PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 43 TAHUN 2007: TENTANG RENCANA OPERASI PENYELENGGARAAN ANGKUTAN LEBARAN TERPADU TAHUN 2007 (1428 H) PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 41 TAHUN 2007: TENTANG IKATAN DINAS BAGI TARUNA / TARUNI PADA LEMBAGA PENDIDIKAN DI LINGKUNGAN DEPARTEMEN PERHUBUNGAN PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 40 TAHUN 2007: TENTANG TATA CARA PENETAPAN HASIL PRAKUALIFIKASI, HASIL PEMILIHAN PENYEDIA BARANG/JASA YANG BERNILAI DI ATAS 50 MILYAR RUPIAH TERMASUK PPN 10% DAN SANGGAHAN BANDING HASIL PELELANGAN PENGADAAN BARANG/JASA PEMERINTAH PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 38 TAHUN 2007: TENTANG PEMBERIAN HONORARIUM BAGI KETUA DAN WAKIL KETUA KOMITE NASIONAL KESELAMATAN TRANSPORTASI SERTA KETUA SUB

153. KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 16 TAHUN 2000: TENTANG KARTU TANDA PENGENAL KOMITE NASIONAL KESELAMATAN TRANSPORTASI

154. KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 15 TAHUN 2000: TENTANG PENGHAPUSAN UNIT-UNIT KERJA DI LINGKUNGAN DEPARTEMEN PERHUBUNGAN YANG BERADA DI TIMOR TIMUR 155. KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 14 TAHUN 2000: TENTANG KODE KLASIFIKASI ARSIP

156. KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 13 TAHUN 2000: TENTANG PROSES SERTIFIKASI DAN PENGOPERASIAN PESAWAT TERBANG KATEGORI KOMUTER DAN OPERATOR PENERBANGAN CHARTER 157. KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 9 TAHUN 2000: TENTANG BATAS-BATAS DAERAH LINGKUNGAN KERJA DAN DAERAH LINGKUNGAN KEPENTINGAN PELABUHAN NAMLEA 158. KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 8 TAHUN 2000: TENTANG BATAS-BATAS DAERAH LINGKUNGAN KERJA DAN DAERAH LINGKUNGAN KEPENTINGAN PELABUHAN SINGKIL 159. KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 7 TAHUN 2000: TENTANG BATAS-BATAS DAERAH LINGKUNGAN KERJA DAN DAERAH LINGKUNGAN KEPENTINGAN PELABUHAN TOBELO 160. KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 6 TAHUN 2000: TENTANG BATAS-BATAS DAERAH KEPENTINGAN KERJA DAN DAERAH LINGKUNGAN KEPENTINGAN PELABUHAN SUNGAI GUNTUNG

161. KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 12 TAHUN 2000: TENTANG BATAS-BATAS DAERAH LINGKUNGAN KERJA DAN DAERAH LINGKUNGAN KEPENTINGAN PELABUHAN

117

MANADO

DAN KETUA SUB-SUB KOMITE KECELAKAAN TRANSPORTASI

PENELITIAN

162. KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 10 TAHUN 2000: TENTANG BATAS-BATAS DAERAH LINGKUNGAN KERJA DAN DAERAH LINGKUNGAN KEPENTINGAN PELABUHAN LABUHA

PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 37 TAHUN 2007: TENTANG TATA CARA PENUGASAN PEGAWAI NEGERI SIPIL DEPARTEMEN PERHUBUNGAN SEBAGAI ATASE PERHUBUNGAN, STAF TEKNIS PERHUBUNGAN DAN TENAGA STAF PADA PERWAKILAN REPUBLIK INDONESIA DI LUAR NEGERI PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 36 TAHUN 2007: TENTANG PENETAPAN LOKASI BANDAR UDARA DI KECAMATAN BLANG KEJEREN KABUPATEN GAYO LUES PROVINSI NANGGROE ACEH DARUSSALAM PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 34 TAHUN 2007:TENTANG PENETAPAN LOKASI BANDAR UDARA DI KAMPUNG ABOYAGA KABUPATEN NABIRE PROVINSI PAPUA PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 33 TAHUN 2007: TENTANG RENCANA INDUK BANDAR UDARA LOMBOK BARU DI KABUPATEN LOMBOK TENGAH PROVINSI NUSA TENGGARA BARAT PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 32 TAHUN 2007: TENTANG KAWASAN KESELAMATAN OPERASI PENERBANGAN DI SEKITAR BANDAR UDARA PONDOK CABE TANGERANG PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 31 TAHUN 2007: TENTANG TARIF ANGKUTAN PENUMPANG KERETA API KELAS EKONOMI PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 30 TAHUN 2007: TENTANG RENCANA INDUK BANDAR UDARA BARU MEDAN PROVINSI SUMATERA UTARA

163. KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 4 TAHUN 2000: TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA DIREKTORAT JENDERAL PENYIARAN DEPARTEMEN PERHUBUNGAN

164. KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 3 TAHUN 2000: TENTANG JARINGAN DOKUMENTASI DAN INFORMASI HUKUM DI LINGKUNGAN DEPARTEMEN PERHUBUNGAN 165. KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 2 TAHUN 2000: TENTANG PETUNJUK TEKNIS PELAKSANAAN AKUISISI NASIONAL ARSIP ORDE BARU DI LINGKUNGAN DEPARTEMEN PERHUBUNGAN 166. KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 71 TAHUN 1999: TENTANG AKSESIBILITAS BAGI PENYANDANG CACAT DAN ORANG SAKIT PADA SARANA DAN PRASARANA PERHUBUNGAN 167. KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 32 TAHUN 1999: TENTANG PENYELENGGARAAN PELABUHAN PENYEBERANGAN 168. KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 31 TAHUN 1999: TENTANG PENYEMPURNAAN KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 22 TAHUN 1990 TENTANG PENETAPAN KELAS PERAIRAN WAJIB PANDU SEBAGAIMANA TELAH DIUBAH TERAKHIR DENGAN KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 3 TAHUN 1999 169. KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 30 TAHUN 1999: TENTANG MEKANISME PENETAPAN TARIF DAN FORMULASI PERHITUNGAN TARIF PELAYANAN JASA KEPELABUHAN PADA PELABUHAN YANG DISELENGGARAKAN OLEH BADAN USAHA PELABUHAN 170. KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 29 TAHUN 1999: TENTANG KESELAMATAN KAPAL KECEPATAN TINGGI

PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 29 TAHUN 2007: TENTANG TARIF ANGKUTAN PENUMPANG KERETA API KELAS EKONOMI DENGAN FASILITAS AIR CONDITIONER (AC)

PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 27 TAHUN 2007: TENTANG PENETAPAN LOKASI BANDAR UDARA DI KABUPATEN BONE PROVINSI SULAWESI SELATAN PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 26 TAHUN 2007: TENTANG PENETAPAN LOKASI BANDAR UDARA DI KABUPATEN BARITO UTARA PROVINSI KALIMANTAN TENGAH

171. KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 28 TAHUN 1999: TENTANG MEKANISME PENETAPAN TARIF DAN FORMULASI PERHITUNGAN TARIF PELAYANAN JASA KEBANDARUDARAAN PADA BANDAR UDARA YANG DISELENGGARAKAN OLEH BADAN USAHA KEBANDARUDARAAN 172. KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 25 TAHUN 1999: TENTANG PROSES PENETAPAN PEMENANG

PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 25 TAHUN 2007: TENTANG BADGE KOMITE NASIONAL

118

173.

174.

175.

176.

PELELANGAN/PEMILIHAN LANGSUNG PENGADAAN BARANG DAN JASA YANG BERNILAI DIATAS 50 (LIMA PULUH) MILYARD RUPIAH DI LINGKUNGAN DEPARTEMEN PERHUBUNGAN KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 22 TAHUN 1999: TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA KANTOR ADMINISTRATOR TERMINAL PETI KEMAS DI JEBRESSURAKARTA DAN RAMBIPUJI-JEMBER KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 21 TAHUN 1999: TENTANG PENYEMPURNAAN KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 38 TAHUN 1995 TENTANG TATA CARA PELAKSANAAN PENETAPAN ANGKA KREDIT BAGI JABATAN PRANATA KOMPUTER DI LINGKUNGAN DEPARTEMEN PERHUBUNGAN KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 20 TAHUN 1999: TENTANG HARGA SATUAN PEKERJAAN PENGERUKAN ALUR PELAYARAN DAN KOLAM PELABUHAN UNTUK PEKERJAAN PERAWATAN YANG DIBIAYAI DARI ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA NEGARA KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 17 TAHUN 1999: TENTANG PEMBINAAN PEGAWAI NEGERI SIPIL DI LINGKUNGAN DEPARTEMEN PERHUBUNGAN YANG MENDUDUKI JABATAN PIMPINAN PADA BUMN SEKTOR PERHUBUNGAN

KESELAMATAN TRANSPORTASI

PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 24 TAHUN 2007: TENTANG RENCANA INDUK PELABUHAN KHUSUS PT. PERTAMINA (PERSERO) UP.III PLAJU PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 23 TAHUN 2007: TENTANG RENCANA INDUK PELABUHAN BATULICIN

PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 22 TAHUN 2007: TENTANG TARIF BATAS ATAS ANGKUTAN PENUMPANG LAUT DALAM NEGERI KELAS EKONOMI

PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 21 TAHUN 2007: TENTANG SISTEM DAN PROSEDUR PELAYANAN KAPAL, BARANG DAN PENUMPANG PADA PELABUHAN LAUT YANG DISELENGGARAKAN OLEH UNIT PELAKSANA TEKNIS (UPT) KANTOR PELABUHAN PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 20 TAHUN 2007: TENTANG PENETAPAN LOKASI BANDAR UDARA DI KABUPATEN NIAS SELATAN PROVINSI SUMATERA UTARA

177. KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 16 TAHUN 1999: TENTANG PENYEMPURNAAN KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 12 TAHUN 1997 TENTANG KENAIKAN PANGKAT SEBAGAI PENYESUAIAN IJAZAH BAGI PEGAWAI NEGERI SIPIL DI LINGKUNGAN DEPARTEMEN PERHUBUNGAN 178. KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 15 TAHUN 1999: TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA MAHKAMAH PELAYARAN

PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 19 TAHUN 2007: TENTANG PENETAPAN LOKASI BANDAR UDARA DI KOTA PAGAR ALAM PROVINSI SUMATERA SELATAN PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 18 TAHUN 2007: TENTANG TARIF ANGKUTAN UDARA PERINTIS

179. KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 14 TAHUN 1999: TENTANG BATAS-BATAS DAERAH LINGKUNGAN KERJA DAN DAERAH LINGKUNGAN KEPENTINGAN PELABUHAN PARE-PARE 180. KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 8 TAHUN 1999: TENTANG PENYEMPURNAAN KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 34 TAHUN 1996 TENTANG PENETAPAN STANDAR NASIONAL INDONESIA DI BIDANG TRANSPORTASI LAUT 181. KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 4 TAHUN 1999: TENTANG BATAS-BATAS DAERAH LINGKUNGAN KERJA DAN DAERAH LINGKUNGAN KEPENTINGAN PELABUHAN TERNATE

PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 17 TAHUN 2007: TENTANG PEDOMAN PENGADAAN CALON PEGAWAI NEGERI SIPIL (CPNS) DI LINGKUNGAN DEPARTEMEN PERHUBUNGAN

PERATURAN BERSAMA MENTERI PERHUBUNGAN REPUBLIK INDONESIA DAN MENTERI PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : KM 16 TAHUN 2007, NOMOR : 21/M-DAG/PER/5/2007: TENTANG PEMBENTUKAN FORUM INFORMASI MUATAN DAN RUANG KAPAL PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 15 TAHUN 2007: TENTANG PENYELENGGARAAN DAN

182. KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 3 TAHUN 1999: TENTANG PENYEMPURNAAN LAMPIRAN KEPUTUSAN

119

MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 22 TAHUN 1990 TENTANG PENETAPAN KELAS PERAIRAN WAJIB PANDU SEBAGAIMANA TELAH DIUBAH TERAKHIR DENGAN KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 31 TAHUN 1997 183. KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 2 TAHUN 1999: TENTANG KARTU TANDA PENGENAL PENYIDIK PEGAWAI NEGERI SIPIL DIREKTORAT JENDERAL PERHUBUNGAN LAUT 184. KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM. 34 TAHUN 1998: TENTANG TARIF ANGKUTAN PENUMNPANG KELAS EKONOMI ANGKUTAN LAUT NUSANTARA DENGAN KAPAL PENUMPANG 185. KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM. 33 TAHUN 1998: TENTANG TARIF ANGKUTAN PENUMPANG ANTAR KOTA KELAS EKONOMI DI JALAN DENGAN MOBIL BUS UMUM 186. KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM. 32 TAHUN 1998: TENTANG TARIF ANGKUTAN PENUMPANG KERETA API KELAS EKONOMI

PENGUSAHAAN TALLY DI PELABUHAN

PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 14 TAHUN 2007: TENTANG KENDARAAN PENGANGKUT PETI KEMAS DI JALAN PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 13 TAHUN 2007: TENTANG PENETAPAN LOKASI BANDAR UDARA DI KECAMATAN WANGI-WANGI KABUPATEN WAKATOBI PROVINSI SULAWESI TENGGARA PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 12 TAHUN 2007: TENTANG PENYELENGGARAAN KEWAJIBAN PELAYANAN UMUM BIDANG ANGKUTAN KERETA API PENUMPANG KELAS EKONOMI TAHUN ANGGARAN 2007 PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 11 TAHUN 2007: TENTANG PEDOMAN PENETAPAN TARIF PELAYANAN JASA BONGKAR MUAT PETI KEMAS (CONTAINER)DI DERMAGA KONVENSIONAL DI PELABUHAN YANG DISELENGGARAKAN OLEH BADAN USAHA PELABUHAN PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 9 TAHUN 2007: TENTANG KAWASAN KESELAMATAN OPERASI PENERBANGAN DI SEKITAR BANDAR UDARA WOLTER MONGONSIDI KENDARI

187. KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM. 31 TAHUN 1998: TENTANG TARIF ANGKUTAN PENYEBERANGAN UNTUK PENUMPANG KELAS EKONOMI, KENDARAAN, ALAT-ALAT BERAT/BESAR DAN BARANG/HEWAN 188. KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM. 30 TAHUN 1998: TENTANG PENYEMPURNAAN LAMPIRAN KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM> 64 TAHUN 1998 TENTANG PENETAPAN LINTAS PENYEBERANGAN, SEBAGAIMANA TELAH DIUBAH TERKAHIR KE-VII (TUJUH) DENGAN KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM. 13 TAHUN 1997 189. KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM. 29 TAHUN 1998: TENTANG PENCABUTAN KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM.221/OT.001/PHB-83 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA BIRO TATA USAHA BADAN USAHA MILIK NEGARA 190. KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM. 28 TAHUN 1998: TENTANG IKATAN DINAS BAGI 90 (SEMBUILAN PULUH) ORANG MAHASISWA BARU BALAI PENDIDIKAN DAN PELATIHAN METEOROLOGI DAN GEOFISIKA TAHUN ANGGARAN 1997/1998 191. KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM. 27 TAHUN 1998: TENTANG PENGELOLAAN PELABUHAN KHUSUS

PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 8 TAHUN 2007: TENTANG KAWASAN KESELAMATAN OPERASI PENERBANGAN DI SEKITAR BANDAR UDARA FATMAWATI SOEKARNO BENGKULU

PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 7 TAHUN 2007: TENTANG RENCANA INDUK PELABUHAN SEKUPANG

PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 6 TAHUN 2007: TENTANG RENCANA INDUK BANDAR UDARA RENDANI DI KABUPATEN MANOKWARI PROVINSI IRIAN JAYA BARAT

PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 5 TAHUN 2007: TENTANG RENCANA INDUK BANDAR UDARA DI KABUPATEN MAJALENGKA PROVINSI JAWA BARAT KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 4 TAHUN 2007: TENTANG PENETAPAN KOORDINATOR PENGELOLA LAPORAN HARTA KEKAYAAN PENYELENGGARA NEGARA, DAN ADMINISTRATOR APLIKASI LAPORAN HARTA KEKAYAAN

192. KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM. 26 TAHUN 1998: TENTANG PENYELENGGARAAN PELABUHAN LAUT

120

PENYELENGGARA NEGARA DEPARTEMEN PERHUBUNGAN 193. KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM. 25 TAHUN 1998: TENTANG PENYEMPURNAAN KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN UDARA NOMOR T.11/2/4-U TENTANG PERATURAN KESELAMATAN PENERBANGAN SIPIL (CIVIL AVIATION SAFETY REGULATION) SEBAGAIMANA TELAH DIUBAH TERKAHIR DENGAN KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM. 24 TAHUN 1997 194. KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM. 24 TAHUN 1998: TENTANG PETUNJUK PELAKSANAAN PENATA USAHAAN BARANG INVENTARIS KEKAYAAN MILIK NEGARA DI LINGKUNGAN DEPARTEMEN PERHUBUNGAN 195. KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM. 23 TAHUN 1998: TENTANG PENETAPAN SEMENTARA BANDAR UDARA KHUSUS MATAK DI TAREMPA-RIAU MILIK PERTAMINA / PT.CONOCO INC, SEBAGAI BANDAR UDARA KHUSUS YANG DAPAT MELAYANI PENERBANGAN UNTUK KEPENTINGAN UMUM 196. KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM. 22 TAHUN 1998: TENTANG BATAS-BATAS DAERAH LINGKUNGAN KERJA DAN DAERAH LINGKUNGAN KEPENTINGAN PELABUHAN BALIKPAPAN 197. KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM. 21 TAHUN 1998: TENTANG BATAS-BATAS DAERAH LINGKUNGAN KERJA DAN DAERAH LINGKUNGAN KEPENTINGAN PELABUHAN KUALA KAPUAS 198. KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM. 20 TAHUN 1998: TENTANG BATAS-BATAS DAERAH LINGKUNGAN KERJA DAN DAERAH LINGKUNGAN KEPENTINGAN PELABUHAN PANGKALAN BUN 199. KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM. 19 TAHUN 1998: TENTANG BATAS-BATAS DAERAH LINGKUNGAN KERJA DAN DAERAH LINGKUNGAN KEPENTINGAN PELABUHAN KUMAI 200. KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM. 18 TAHUN 1998: TENTANG BATAS-BATAS DAERAH LINGKUNGAN KERJA DAN DAERAH LINGKUNGAN KEPENTINGAN PELABUHAN SUKAMARA 201. KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM. 17 TAHUN 1998: TENTANG BATAS-BATAS DAERAH LINGKUNGAN KERJA DAN DAERAH LINGKUNGAN KEPENTINGAN PELABUHAN KUALA LANGSA

DI

LINGKUNGAN

KESEPAKATAN BERSAMA ANTARA DEPARTEMEN PERHUBUNGAN DAN OTORITA PENGEMBANGAN DAERAH INDUSTRI PULAU BATAM, NOMOR KM 3 TAHUN 2007: TENTANG KESEPAKATAN BERSAMA ANTARA DEPARTEMEN PERHUBUNGAN DAN OTORITA PENGEMBANGAN DAERAH INDUSTRI PULAU BATAM

PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 2 TAHUN 2007: TENTANG USUNAN KEANGGOTAAN, TATA KERJA TIM PENILAI DAN TATA CARA PENILAIAN ANGKA KREDIT BAGI JABATAN FUNGSIONAL TEKNISI PENERBANGAN PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 1 TAHUN 2007: TENTANG PELAKSANAAN KEWAJIBAN PELAYANAN UMUM BIDANG ANGKUTAN LAUT PENUMPANG KELAS EKONOMI TAHUN ANGGARAN 2007

PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 66 TAHUN 2006: TENTANG JADWAL RETENSI ARSIP DEPARTEMEN PERHUBUNGAN

PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 65 TAHUN 2006: TENTANG KODE KLASIFIKASI ARSIP DEPARTEMEN PERHUBUNGAN

PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 64 TAHUN 2006: TENTANG SISTEM ADMINISTRASI PERKANTORAN DEPARTEMEN PERHUBUNGAN

PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 67 TAHUN 2006: TENTANG PENETAPAN LOKASI BANDAR UDARA DI DESA IMBODU KECAMATAN RANDANGAN KABUPATEN POHUWATO PROVINSI GORONTALO PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 67 TAHUN 2006: TENTANG PENETAPAN LOKASI BANDAR UDARA DI DESA IMBODU KECAMATAN RANDANGAN KABUPATEN POHUWATO PROVINSI GORONTALO PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 66A TAHUN 2006: TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 24 TAHUN 2006 TENTANG PENYELENGGARAAN KEWAJIBAN PELAYANAN UMUM BIDANG ANGKUTAN KERETA API KELAS EKONOMI TAHUN ANGGARAN 2006 PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 63 TAHUN 2006: TENTANG RENCANA INDUK PELABUHAN KHUSUS PT. PUPUK KALIMANTAN TIMUR, TBK

202. KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM. 16 TAHUN 1998: TENTANG BATAS-BATAS DAERAH LINGKUNGAN KERJA DAN DAERAH LINGKUNGAN KEPENTINGAN PELABUHAN PULANG PISAU DAN PELABUHAN BAHAUR

121

203. KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM. 14 TAHUN 1998: TENTANG PENGGUNAAN SEMENTARA BANDAR UDARA KHUSUS TIMIKA UNTUK PELAYANAN UMUM 204. KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM. 12 TAHUN 1998: TENTANG FEDERASI PILOT INDONESIA

PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 62 TAHUN 2006: TENTANG RENCANA INDUK PELABUHAN KABIL DI BATAM PROVINSI KEPULAUAN RIAU PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 61 TAHUN 2006: TENTANG RENCANA INDUK PELABUHAN PT. LAMONGAN INTEGRATED SHOREBASE PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 60 TAHUN 2006: TENTANG PERUBAHAN ATAS KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 61 TAHUN 1993TENTANG RAMBU-RAMBU LALU LINTAS DI JALAN SEBAGAIMANA TELAH DIUBAH DENGAN KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 63 TAHUN 2004 PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 59 TAHUN 2006: TENTANG PENETAPA LOKASI BANDAR UDARA KHUSUS KM 56 PT. RIAU ANDALAN PULP AND PAPER DI KABUPATEN PELALAWAN, PROVINSI RIAU PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM.58 TAHUN 2006: TENTANG PENETAPAN LOKASI BANDAR UDARA KHUSUS KM 81 PT. RIAU ANDALAN PULP AND PAPER DI KABUPATEN SIAK, PROVINSI RIAU

205. KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM. 11 TAHUN 1998: TENTANG PENYEMPURNAAN KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR SK.2/AU.407/PHB-97 TENTANG PROSES SERTIFIKASI, PENGOPERASIAN DAN PERAWATAN PESAWAT UDARA, SERTA PERINTAH KELAIKAN UDARA 206. KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM. 10 TAHUN 1998: TENTANG BATAS-BATAS DAERAH LINGKUNGAN KERJA DAN DAERAH LINGKUNGAN KEPENTINGAN PELABUHAN FAK-FAK 207. KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM. 9 TAHUN 1998: TENTANG PERSETUJUAN PENGELOLAAN DERMAGA UNTUK KEPENTINGAN SENDIRI DI DAERAH LINGKUNGAN KERJA PELABUHAN TELUK BAYUR, GUNA MENUNJANG INDUSTRI SEMEN PT. SEMEN PADANG (PERSERO). 208. KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM. 8 TAHUN 1998: TENTANG BATAS-BATAS DAERAH LINGKUNGAN KERJA DAN DAERAH LINGKUNGAN KEPENTINGAN PELABUHAN MERAUKE 209. KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM. 7 TAHUN 1998: TENTANG BATAS-BATAS DAERAH LINGKUNGAN KERJA DAN DAERAH LINGKUNGAN KEPENTINGAN PELABUHAN MANOKWARI 210. KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM. 6 TAHUN 1998: TENTANG TARIF ANGKUTAN UDARA PERINTIS

PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 55 TAHUN 2006: TENTANG TATA CARA PEMERIKSAAN KECELAKAAN KAPAL

PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 54 TAHUN 2006: TENTANG RENCANA INDUK PELABUHAN TANJUNG PERAK

PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 53 TAHUN 2006: TENTANG TARIF DASAR BATAS ATAS BATAS BAWAH ANGKUTAN PENUMPANG ANTAR KOTA ANTAR PROVINSI KELAS EKONOMI DI JALAN DENGAN MOBIL BIS UMUM PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 51 TAHUN 2006: TENTANG RENCANA INDUK PELABUHAN PALOPO

211. KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM.5 TAHUN 1998: TENTANG PENYEMPURNAAN KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM. 46 TAHUN 1997 TENTANG PEDOMAN PELAKSANAAN PENYELENGGARAAN ANGKUTAN LEBARAN TERPADU TAHUN 1998 212. KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM. 4 TAHUN 1998: TENTANG PETUNJUK PELAKSANAAN PERMINTAAN DAN PEMBERIAN DAN PENGHENTIAN TUNJANGAN JABATAN TEKHNISI PENELITIAN DAN PEREKAYASAAN DI LINGKUNGAN DEPARTEMEN PERHUBUNGAN 213. KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM.3 TAHUN 1998: TENTANG TARIF PELAYANAN JASA PENUMPANG PESAWAT UDARA (PJP2U)UNTUK ANGKUTAN UDARA DALAM NEGERI PADA BANDAR UDARA YANG

PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 50 TAHUN 2006: TENTANG RENCANA INDUK PELABUHAN BITUNG

PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 52 TAHUN 2006: TENTANG PERUBAHAN ATAS KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 89 TAHUN 2002 TENTANG MEKANISME PENETAPAN TARIF DAN FORMULA PERHITUNGAN BIAYA POKOK

122

DISELENGGARAKAN OLEH PEMERINTAH

ANGKUTAN PENUMPANG DENGAN MOBIL BIS UMUM ANTAR KOTA KELAS EKONOMI PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 49 TAHUN 2006: TENTANG PENETAPAN HASIL KEGIATAN PENILAIAN UNIT PELAYANAN PUBLIK DI LINGKUNGAN DEPARTEMEN PERHUBUNGAN TAHUN 2006 PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM. 48 TAHUN 2006: TENTANG RENCANA OPERASI PENYELENGGARAAN ANGKUTAN LEBARAN TERPADU TAHUN ANGGARAN 2006 (1427 H)

214. KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 2 TAHUN 1998: TENTANG BATAS-BATAS DAERAH LINGKUNGAN KERJA DAN DAERAH LINGKUNGAN KEPENTINGAN PELABUHAN LHOKSEMAWE I DAN PELABUHAN LHOKSEMAWE II 215. KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 1 TAHUN 1998: TENTANG PENDELEGASIAN WEWENANG UNTUK MENANDATANGANI KEPUTUSAN PENGANGKATAN, PEMBEBASAN SEMENTARA, PEMBERHENTIAN DARI DAN DALAM JABATAN TEKNIS PENELITIAN DAN PEREKAYASAAN 216. KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 30 TAHUN 1997: TENTANG PEDOMAN PELAKSANAAN PENYULUHAN HUKUM DI LINGKUNGAN DEPARTEMEN PERHUBUNGAN 217. KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 29 TAHUN 1997: TENTANG STRUKTUR DAN GOLONGAN TARIF PELAYANAN JASA KEBANDARUDARAAN PADA BANDAR UDARA

PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM. 46 TAHUN 2006: TENTANG TARIF ANGKUTAN PENYEBERANGAN LINTAS ANTAR PROVINSI PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM.58 TAHUN 2006: TENTANG PENETAPAN LOKASI BANDAR UDARA KHUSUS KM 81 PT. RIAU ANDALAN PULP AND PAPER DI KABUPATEN SIAK, PROVINSI RIAU PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 55 TAHUN 2006: TENTANG TATA CARA PEMERIKSAAN KECELAKAAN KAPAL

218. KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 4 TAHUN 1997: TENTANG PEMBERIAN IZIN KEPADA PT (PERSERO) PELABUHAN INDONESIA III UNTUK PENGURUGAN (REKLAMASI) PERAIRAN PANTAI DI DAERAH LINGKUNGAN KERJA PERAIRAN PELABUHAN TANJUNG PERAK DAN PELABUHAN GRESIK 219. KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 3 TAHUN 1997: TENTANG PETUNJUK PELAKSANAAN PERMINTAAN, PEMBERIAN DAN PENGHENTIAN TUNJANGAN JABATAN ARSIPARIS DI LINGKUNGAN DEPARTEMEN PERHUBUNGAN 220. KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 2 TAHUN 1997: TENTANG HARGA SATUAN PEKERJAAN PENGERUKAN ALUR PELAYARAN DAN KOLAM PELABUHAN UNTUK PEKERJAAN PERAWATAN YANG DIBIAYAI DARI ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA NEGARA 221. KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 1 TAHUN 1997: TENTANG PENYEMPURNAAN LAMPIRAN KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 64 TAHUN 1989 TENTANG PENETAPAN LINTAS PENYEBERANGAN SEBAGAIMANA TELAH DIUBAH TERAKHIR DENGAN KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 33 TAHUN 1995 222. KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM. 10 TAHUN 1996: TENTANG PENGAHPUSAN BEBERAPA PUNGUTAN/TARIF DALAM KEGIATAN PENGUJIAN TYPE KENDARAAN BERMOTOR, KEPELABUHANAN, SERTIFIKASI PERSONIL DAN PESAWAT UDARA SERTA PERIZINAN KEGIATAN ANGKUTAN SUNGAI, DANAU DAN PENYEBERANGAN 223. KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM. 8 TAHUN 1996: TENTANG PELAKSANAAN PELAYANAN PEMANDUAN KAPAL PADA

PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 54 TAHUN 2006: TENTANG RENCANA INDUK PELABUHAN TANJUNG PERAK

PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 53 TAHUN 2006: TENTANG TARIF DASAR BATAS ATAS BATAS BAWAH ANGKUTAN PENUMPANG ANTAR KOTA ANTAR PROVINSI KELAS EKONOMI DI JALAN DENGAN MOBIL BIS UMUM

PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 51 TAHUN 2006: TENTANG RENCANA INDUK PELABUHAN PALOPO

PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 50 TAHUN 2006: TENTANG RENCANA INDUK PELABUHAN BITUNG

PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 52 TAHUN 2006: TENTANG PERUBAHAN ATAS KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 89

123

PERAIRAN WAJIB PANDU DAN PERAIRAN PANDU LUAR BIASA

TAHUN 2002 TENTANG MEKANISME PENETAPAN TARIF DAN FORMULA PERHITUNGAN BIAYA POKOK ANGKUTAN PENUMPANG DENGAN MOBIL BIS UMUM ANTAR KOTA KELAS EKONOMI PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 49 TAHUN 2006: TENTANG PENETAPAN HASIL KEGIATAN PENILAIAN UNIT PELAYANAN PUBLIK DI LINGKUNGAN DEPARTEMEN PERHUBUNGAN TAHUN 2006 PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM. 48 TAHUN 2006: TENTANG RENCANA OPERASI PENYELENGGARAAN ANGKUTAN LEBARAN TERPADU TAHUN ANGGARAN 2006 (1427 H)

224. KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM. 9 TAHUN 1996: TENTANG PENGALIHAN STATUS PEGAWAI NEGERI SIPIL PANDU MENJADI PEGAWAI PT (PERSERO) PELABUHAN INDONESIA I, II, III, DAN IV 225. KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM. 7 TAHUN 1996: TENTANG PENYEMPURNAAN KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM. 90 TAHUN 1993 TENTANG PROSEDUR STANDARD KELAIKAN UDARA, BAHAN BAKAR TERBUANG, GAS BUANG, KEBISINGAN DAN MARKA PESAWAT UDARA 226. KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM. 6 TAHUN 1996: TENTANG KETENTUAN KHUSUS TARIF JASA PENUMPUKAN KOMODITI BAHAN PANGAN IMPORT MILIK BULOK PADA PELABUHAN TANJUNG PRIOK, TANJUNG EMAS DAN TANJUNG PERAK 227. KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM. 5 TAHUN 1996: TENTANG PEDOMAN TEKHNIS PENYUSUNAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN (UKL) DAN UPAYA PEMANTAUAN LINGKUNGAN (UPL) PADA SUB SEKTOR PERHUBUNGAN LAUT 228. KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM. 4 TAHUN 1996: TENTANG RENCANA USAHA ATAU KEGIATAN PADA SUB SEKTOR PERHUBUNGAN LAUT YANG WAJIB DILENGKAPI UPAYA PENGELOLAAN LINGKUNGAN (UKL) DAN UPAYA PEMANTAUAN LINGKUNGAN (UPL) 229. KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM. 3 TAHUN 1996: TENTANG PEDOMAN TEKHNIS PENYUSUNAN UPAYA PENGELOLAAN LINGKUNGAN (UKL) DAN UPAYA PEMANTAUAN LINGKUNGAN (UPL) PADA SUB SEKTOR PERHUBUNGAN DARAT 230. KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM. 2 TAHUN 1996: TENTANG RENCANA USAHA DAN KEGIATAN PAD SUB SEKTOR PERHUBUNGAN DARAT YANG YANG WAJIB DILENGKAPI UPAYA PENGELOLAAN LINGKUNGAN (UKL) DAN UPAYA PEMNATAUAN LINGKUNGAN (UPL) 231. KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM. 1 TAHUN 1996: TENTANG BATAS-BATAS KESELAMATAN OPERASI PENERBANGAN DI SEKITAR BANDAR UDARA SYAMSUDIN NOORBANJARMASIN 232. KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 7 TAHUN 1995: TENTANG PENYEMPURNAAN KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN UDARA NO.T.II/2/4-U TENTANG PERATURAN-PERATURAN KESELAMATAN PENERBANGAN SIPIL 233. KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 5 TAHUN 1995: TENTANG PENYELENGGARAAN PENIMBANGAN KENDARAAN BERMOTOR DI JALAN

PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM. 46 TAHUN 2006: TENTANG TARIF ANGKUTAN PENYEBERANGAN LINTAS ANTAR PROVINSI

PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM.45 TAHUN 2006: TENTANG RENCANA INDUK BANDAR UDARA MUTIARA DI KOTA PALU PROVINSI SULAWESI TENGAH

PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 44 TAHUN 2006: TENTANG RENCANA INDUK PELABUHAN ANGGREK

PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM.43 TAHUN 2006: TENTANG PENETAPAN LOKASI BANDAR UDARA DI NAMLEA KABUPATEN BURU PROVINSI MALUKU

PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 42 TAHUN 2006: TENTANG TATA CARA TETAP PELAKSANAAN KEPROTOKOLAN DI LINGKUNGAN DEPARTEMEN PERHUBUNGAN

PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM.40 TAHUN 2006: TENTANG POS SEARCH AND RESCUE (POS SAR)

PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 39 TAHUN 2006: TENTANG RENCANA INDUK PELABUHAN DUMAI

KESEPAKATAN BERSAMA ANTARA DEPARTEMEN PERHUBUNGAN DAN UNIVERSITAS NEGERI JAKARTA NOMOR KM 56 TAHUN 2006: TENTANG PENGEMBANGAN SUMBER DAYA MANUSIA DAN

124

MANAJEMEN DI BIDANG TRANSPORTASI 234. KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 4 TAHUN 1995: TENATANG PENYEMPURNAAN DAN PENATAAN KELAS BANDAR UDARA 235. KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 3 TAHUN 1995: TENTANG TARIF JASA PENUMPUKAN BARANG DALAM GUDANG LINI I BANDAR UDARA PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM.38 TAHUN 2006: TENTANG PENETAPAN LOKASI BANDAR UDARA DI KABUPATEN TEJO UNA-UNA PROVINSI SULAWESI TENGAH PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 37 TAHUN 2006: TENTANG PERUBAHAN PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 43 TAHUN 2005 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA DEPARTEMEN PERHUBUNGAN SEBAGAIMANA TELAH DIUBAH TERAKHIR DENGAN PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM.36 TAHUN 2006 PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 36 TAHUN 2006: TENTANG PERUBAHAN PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM.43 TAHUN 2005 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA DEPARTEMEN PERHUBUNGAN, SEBAGAIMANA TELAH DIUBAH DENGAN PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM.62 TAHUN 2005 PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 35 TAHUN 2006: TENTANG TARIF ANGKUTAN PENUMPANG KERETA API KELAS EKONOMI PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 34 TAHUN 2006: TENTANG PENETAPAN LOKASI BANDAR UDARA DI TEMPULING KABUPATEN INDRAGIRI HILIR PROVINSI RIAU PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 33 TAHUN 2006: TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA KANTOR ADMINISTRATOR TERMINAL PETI KEMAS PADA STASIUN KERETA API GEDEBAGEBANDUNG, PADA STASIUN KERETA API JEBRESSURAKARTA, DAN PADA STASIUN KERETA API RAMBIPUJI-JEMBER PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 32 TAHUN 2006: TENTANG RENCANA INDUK PELABUHAN PANJANG PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 31 TAHUN 2006: TENTANG PEDOMAN PROSES PERENCANAAN DI LINGKUNGAN DEPARTEMEN PERHUBUNGAN PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM.30 TAHUN 2006: TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA DISTRIK NAVIGASI

236. KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM. 4 TAHUN 1994: TENTANG TATA CARA PARKIR KENDARAAN BERMOTOR DI JALAN

237. KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM. 3 TAHUN 1994: TENTANG ALAT PENGENDALI DAN PENGAMAN PEMAKAI JALAN 238. KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM. 2 TAHUN 1994: TENTANG PENDIDIKAN DAN PELATIHAN MANAJERIAL BADAN USAHA MILIK NEGARA DI LINGKUNGAN DEPARTEMEN PERHUBUNGAN 239. KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM. 1 TAHUN 1994: TENTANG KEBIJAKSANAAN PENGANGKUTAN 9 (SEMBILAN) BAHAN POKOK DAN BARANG STRATEGIS DENGAN MENGGUNAKAN MOBIL BARANG

240. KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 5 TAHUN 1993: TENTANG TARIF PENUMPANG ANGKUTAN LAUT NUSANTARA DENGAN MENGGUNAKAN KAPAL BARANG 241. KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 4 TAHUN 1993: TENTANG TARIF PENUMPANG KELAS EKONOMI ANGKUTAN LAUT NUSANTARA DENGAN KAPAL KHUSUS PENUMPANG 242. KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 2 TAHUN 1993: TENTANG TARIF ANGKUTAN PENUMPANG ANTAR KOTA KELAS EKONOMI DI JALAN RAYA DENGAN MOBIL BUS UMUM 243. KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 3 TAHUN 1993: TENTANG TARIF ANGKUTAN PENUMPANG KERETA API KELAS EKONOMI 244. KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 7 TAHUN 1993: TENTANG TARIF ANGKUTAN PENUMPANG PENYEBERANGAN KELAS EKONOMI, KENDARAAN DAN BARANG/HEWAN PADA LINTAS PENYEBERANGAN MEULABOH (ACEH BARAT)SINABANG (P. SIMELUE) DI PROVINSI DAERAH ISTIMEWA ACEH

PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM.29 TAHUN 2006: TENTANG KRITERIA KLASIFIKASI UNIT PELAKSANA TEKNIS DISTRIK NAVIGASI PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 28 TAHUN 2006: TENTANG RENCANA INDUK PELABUHAN SAMARINDA

125

245. KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 6 TAHUN 1993: TENTANG TARIF ANGKUTAN PENUMPANG UDARA BERJADWAL DALAM NEGERI KELAS EKONOMI

PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 27 TAHUN 2006: TENTANG TATA CARA TETAP PENYUSUNAN, PELAKSANAAN DAN PELAPORAN RENCANA AKSI NASIONAL PEMBERANTASAN KORUPSI (RAN-PK) DI LINGKUNGAN DEPARTEMEN PERHUBUNGAN PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM.26 TAHUN 2006: TENTANG PENYEDERHANAAN SISTEM DAN PROSEDUR PENGADAAN KAPAL DAN PENGGUNAAN/PENGGANTIAN BENDERA KAPAL PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM.24 TAHUN 2006: TENTANG PENYELENGGARAAN KEWAJIBAN PELAYANAN UMUM BIDANG ANGKUTAN KERETA API KELAS EKONOMI TAHUN ANGGARAN 2006 PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM.23 TAHUN 2006: TENTANG TATA CARA TETAP PENYAMPAIAN LAPORAN HARTA KEKAYAAN PENYELENGGARA NEGARA DI LINGKUNGAN DEPARTEMEN PERHUBUNGAN PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM.22 TAHUN 2006: TENTANG RENCANA INDUK PELABUHAN KHUSUS LIQUID NATURAL GAS (LNG) TANGGUH

246. KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 9 TAHUN 1992: TENTANG BATAS-BATAS DAERAH LINGKUNGAN KERJA PELABUHAN TARAKAN 247. KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 10 TAHUN 1992: TENTANG BATAS-BATAS DAERAH LINGKUNGAN KERJA DAN DAERAH LINGKUNGAN KEPENTINGAN PELABUHAN SAMARINDA 248. KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 8 TAHUN 1992: TENTANG TATA CARA TETAP PELAKSANAAN MUTASI JABATAN DAN WILAYAH KERJA DI LINGKUNGAN DEPARTEMEN PERHUBUNGAN 249. KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 7 TAHUN 1992: TENTANG PETUNJUK PELAKSANAAN PENGALIHAN STATUS KEPEGAWAIAN DARI PEGAWAI NEGERI SIPIL PADA PERUSAHAAN JAWATAN KERETA API MENJADI PEGAWAI PERUSAHAAN UMUM KERETA API 250. KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 6 TAHUN 1992: TENTANG PENYELENGGARAAN RAPAT KERJA STANDARDISASI PERHUBUNGAN 251. KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 5 TAHUN 1992: TENTANG PENUNJUKKAN PEJABAT-PEJABAT YANG MENADATANGANI "SURAT PERNYATAAN MENDUDUKI JABATAN" DAN "SURAT PERNYATAAN MENJALANKAN TUGAS JABATAN STRUKTURAL" DI LINGKUNGAN DEPARTEMEN PERHUBUNGAN 252. KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 4 TAHUN 1992: TENTANG KRITERIA KLASIFIKASI BANDAR UDARA

PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM.20 TAHUN 2006: TENTANG KEWAJIBAN BAGI KAPAL BERBENDERA INDONESIA UNTUK MASUK KLAS PADA BIRO KLASIFIKASI INDONESIA PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM. 21 TAHUN 2006: TENTANG RENCANA INDUK PELABUHAN PALEMBANG

PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM.19 TAHUN 2006: TENTANG PENGANGKUTAN BARANG/MUATAN IMPORT MILIK PEMERINTAH OLEH PERUSAHAAN ANGKUTAN LAUT NASIONAL PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM.18 TAHUN 2006: TENTANG PELAKSANAAN KEWAJIBAN PELAYANAN UMUM BIDANG ANGKUTAN PENUMPANG KELAS EKONOMI ANGKUTAN LAUT DALAM NEGERI TAHUN ANGGARAN 2006 KESEPAKATAN BERSAMA MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM.17 TAHUN 2006: TENTANG PEMBANGUNAN INFRASTRUKTUR TRANSPORTASI DI DAERAH TERTINGGAL

253. KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 3 TAHUN 1992: TENTANG PENYEMPURNAAN KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM.30 TAHUN 1991 TENTANG TARIF PENUMPANG KELAS EKONOMI ANGKUTAN LAUT NUSANTARA DENGAN KAPAL KHUSUS PENUMPANG 254. KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 1 TAHUN 1992: TENTANG RENCANA PEMBANGUNAN DAN KEGIATAN OPERASIONAL DI BIDANG PERHUBUNGAN YANG WAJIB DI LENGKAPI ANALISIS MENGENAI DAMPAK LINGKUNGAN 255. KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM. 10 TAHUN 1991: TENTANG BATAS-BATAS KESELAMATAN OPERASI PENERBANGAN DI SEKITAR BANDAR UDARA SULTAN MACHMUD BADARUDDIN II – PALEMBANG

PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM.16 TAHUN 2006: TENTANG TARIF ANGKUTAN UDARA PERINTIS

126

256. KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM. 9 TAHUN 1991: TENTANG PEMBERIAN TUNJANGAN PEMANDUAN UNTUK KEGIATAN PEMANDUAN KAPAL

PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM.15 TAHUN 2006: TENTANG PENGALIHAN TUGAS, FUNGSI DAN WEWENANG YANG BERKAITAN DENGAN PERKERETAAPIAN DARI DIREKTUR JENDERAL PERHUBUNGAN DARAT KEPADA DIREKTUR JENDERAL PERKERETAAPIAN KEPUTUSAN BERSAMA MENTERI PERHUBUNGAN, MENTERI KEHUTANAN, MENTERI PERINDUSTRIAN DAN MENTERI PERDAGANGAN NOMOR: KM.12 TAHUN 2006, NOMOR SKB.53/MENHUT-II/2006, NOMOR: 61/M-IND/KEP/3/2006, NOMOR: 02/MDAG/KEP/1/2006: TENTANG PERUBAHAN KEPUTUSAN BERSAMA MENTERI PERHUBUNGAN, MENTERI KEHUTANAN DAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN NOMOR KM.3 TAHUN 2003, NOMOR : 22/KPTS-II/2003, NOMOR : 33/MPP/KEP/1/2003 TENTANG PENGAWASAN PENGANGKUTAN KAYU MELALUI PELABUHAN PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM.14 TAHUN 2006: TENTANG MANAJEMEN DAN REKAYASA LALU LINTAS DI JALAN PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM.13 TAHUN 2006: TENTANG PEDOMAN PELAKSANAAN LOMBA TERTIB LALU LINTAS DAN ANGKUTAN KOTA

257. KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM. 8 TAHUN 1991: TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA PERUSAHAAN UMUM (PERUM) KERETA API

258. KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM. 7 TAHUN 1991: TENTANG PENDIDIKAN DAN PELATIHAN, UJIAN NEGARA, DAN PERIJAZAHAN KEPELAUTAN 259. KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM. 6 TAHUN 1991: TENTANG PENYEMPURNAAN KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM. 116 TAHUN 1990 TENTANG PENAMBAHAN LAMPIRAN KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM. 46 TAHUN 1990 TENTANG TARIF PENUMPANG KELAS EKONOMI ANGKUTAN LAUT NUSANTARA DENGAN KAPAL KHUSUS PENUMPANG 260. KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM. 5 TAHUN 1991: TENTANG TARIF JASA PELABUHAN PENYEBERANGAN PADA PELABUHAN PENYEBERANGAN PADANG BAI DAN LEMBAR 261. KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM. 4 TAHUN 1991: TENTANG PENYEMPURNAAN DAN PERPANJANGAN JANGKA WAKTU TUGAS PANITIA YANG DITETAPKAN BERDASARKAN KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM. 41/HK. 601/PHB-89 TANGGAL 6 SEPTEMBER 1989 JO KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KP. 7/HK.601/PHB-90 TANGGAL 2 PEBRUARI 1990 262. KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM. 3 TAHUN 1996: TENTANG PENGHAPUSAN BARANG-BARANG INVENTARIS MILIK PERUSAHAAN JAWATAN KERETA API DI WILAYAH USAHA PERUSAHAAN JAWATAN KERETA API SUMATERA SELATAN 263. KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM. 2 TAHUN 1991: TENTANG PENGESAHAN RENCANA KERJA DAN ANGGARAN PERUSAHAAN UMUM (PERUM) PELABUHAN INDONESIA I TAHUN 1991 264. KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM. 1 TAHUN 1991: TENTANG PENGESAHAN RENCANA KERJA DAN ANGGARAN PERUSAHAAN UMUM (PERUM) ANGKASA PURA II TAHUN 1991

PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM.10 TAHUN 2006: TENTANG PENETAPAN LOKASI BANDAR UDARA DI KABUPATEN LOMBOK TENGAH, PROVINSI NUSA TENGGARA TENGGARA BARAT PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 11 TAHUN 2006: TENTANG TARIF REFERENSI UNTUK PENUMPANG ANGKUTAN UDARA NIAGA BERJADWAL DALAM NEGERI KELAS EKONOMI

PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM.9 TAHUN 2006: TENTANG PENETAPAN LOKASI BANDAR UDARA WAGHETE DI KABUPATEN PANIAI-PROVINSI PAPUA

PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM.8 TAHUN 2006: TENTANG RENCANA INDUK BANDARA KHUSUS DAN LANDASAN KHUSUS HELIKOPTER DI AREA LNG TANGGUH DI KABUPATEN TELUK BINTUNI, PROVINSI IRIAN JAYA BARAT PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM.5 TAHUN 2006: TENTANG PEREMAJAAN ARMADA PESAWAT UDARA KATEGORI TRANSPORT UNTUK ANGKUTAN UDARA PENUMPANG

127

265. KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 9 TAHUN 1990: TENTANG PENGESAHAN RENCANA KERJA DAN ANGGARAN PERUSAHAAN UMUM (PERUM) ANGKASA PURA I TAHUN 1990

PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM. 4 TAHUN 2006: TENTANG PERATURAN KESELAMATAN PENERBANGAN SIPIL(CIVIL AVIATION SAFETY REGULATION) PART.31 STANDARD KELAIKAN UDARA UNTUK BALON BERPENUMPANG(AIRWORTHINESS STANDARD:MANNED FREE BALLOONS) PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM. 3 TAHUN 2006: TENTANG PETUNJUK PELAKSANAAN PENGHAPUSAN, PEMANFAATAN, TUKAR MENUKAR BARANG MILIK NEGARA, DAN TATA-CARA PENGALIHAN STATUS RUMAH NEGARA GOLONGAN II MENJADI RUMAH NEGARA GOLONGAN III DI LINGKUNGAN DEPARTEMEN PERHUBUNGAN PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM. 72 TAHUN 2005: TENTANG PERUBAHAN ATAS KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM.50 TAHUN 2003 TENTANG JENIS, STRUKTUR DAN GOLONGAN TARIF PELAYANAN JASA KEPELABUHAN UNTUK PELABUHAN LAUT PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM. 71 TAHUN 2005: TENTANG PENGANGKUTAN BARANG/MUATAN ANTAR PELABUHAN LAUT DI DALAM NEGERI PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM. 69 TAHUN 2005: TENTANG PENENTAPAN GARONGKONG DI SULAWESI SELATAN-BATULICIN DI KALIMANTAN SELATAN SEBAGAI LINTAS PENYEBERANGAN PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM. 68 TAHUN 2005: TENTANG TATA CARA PELAKSANAAN PENGADAAN BARANG/JASA YANG SEBAGIAN ATAU SELURUHNYA DIBIAYAI DARI PINJAMAN LUAR NEGERI DI LINGKUNGAN DEPARTEMEN PERHUBUNGAN PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM. 66 TAHUN 2005: TENTANG KETENTUAN PENGOPERASIAN KAPAL TANGKI MINYAK LAMBUNG TUNGGAL (SINGLE HULL)

266. KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 8 TAHUN 1990: TENTANG PENGESAHAN RENCANA KERJA DAN ANGGARAN PERUSAHAAN UMUM (PERUM) PELABUHAN IV TAHUN 1990

267. KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 7 TAHUN 1990: TENTANG PENGESAHAN RENCANA KERJA DAN ANGGARAN PERUSAHAAN UMUM (PERUM) PELABUHAN III TAHUN 1990

268. KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 6 TAHUN 1990: TENTANG PENGESAHAN RENCANA KERJA DAN ANGGARAN PERUSAHAAN UMUM (PERUM) PELABUHAN I TAHUN 1990 269. KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 11 TAHUN 1990: TENTANG PENGESAHAN RENCANA KERJA DAN ANGGARAN PERUSAHAAN UMUM ANGKUTAN SUNGAI, DANAU DAN PENYEBERANGAN (PERUM ASDP) TAHUN 1990 270. KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 10 TAHUN 1990: TENTANG PENGESAHAN RENCANA KERJA DAN ANGGARAN PERUSAHAAN UMUM (PERUM) ANGKASA PURA II TAHUN 1990

271. KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 5 TAHUN 1990: TENTANG PENGESAHAN RENCANA KERJA DAN ANGGARAN PERUSAHAAN UMUM PENGANGKUTAN PENUMPANG DJAKARTA (PERUM PPD) TAHUN 1990 272. KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 3 TAHUN 1990: TENTANG PENETAPAN KELAS ANGKUTAN KERETA API DAN PELIMPAHAN SEBAGIAN WEWENANG PENETAPAN TARIFNYA KEPADA KEPALA PERUSAHAAN JAWATAN KERETA API 273. KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 2 TAHUN 1990: TENTANG TAKSI BANDAR UDARA INTERNASIONAL JAKARTA SUKARNOHATTA

PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 67 TAHUN 2005: TENTANG RENCANA INDUK PELABUHAN BOJONEGORO

PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM. 65 TAHUN 2005: TENTANG PETUNJUK TEKNIS PENDATAAN, PENYELAMATAN DAN PELESTARIAN DOKUMEN/ARSIP NEGARA PERIODE KABINET GOTONG ROYONG DAN KABINET PERSATUAN NASIONAL DI LINGKUNGAN DEPARTEMEN PERHUBUNGAN PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM. 64 TAHUN 2005: TENTANG PETUNJUK TEKNIS PERLINDUNGAN, PENGAMANAN DAN PENYELAMATAN DOKUMEN/ARSIP VITAL NEGARA TERHADAP MUSIBAH/BENCANA DI LINGKUNGAN

274. KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 1 TAHUN 1990: TENTANG PENYELENGGARAAN PELAYARAN RAKYAT DALAM BENTUK KOPERASI

128

DEPARTEMEN PERHUBUNGAN 275. KESEPAKATAN BERSAMA ANTARA DEPERTEMEN PERHUBUNGAN DAN LEMBAGA ADMINISTRASI NEGARA NOMOR KM. 63 TAHUN 2005: TENTANG PENGEMBANGAN SISTEM ADMINISTRASI, MANAJEMEN DAN SUMBER DAYA MANUSIA DI BIDANG TRANSPORTASI PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM. 62 TAHUN 2005: TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM.43 TAHUN 2005 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA DEPARTEMEN PERHUBUNGAN PERATURAN BERSAMA MENTERI PERHUBUNGAN DAN KEPALA BADAN KEPEGAWAIAN NEGARA NOMOR KM. 61 TAHUN 2005: TENTANG PETUNJUK PELAKSANAAN JABATAN FUNGSIONAL PENGAWASAN KESELAMATAN PELAYARAN DAN ANGKA KREDITNYA PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM. 60 TAHUN 2005: TENTANG TARIF ANGKUTAN PENYEBERANGAN LINTAS ANTAR PROVINSI UNTUK PENUMPANG KELAS EKONOMI, KENDARAAN DAN ALAT-ALAT BERAT/BESAR PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM. 59 TAHUN 2005: TENTANG TARIF DASAR BATAS ATAS DAN BATAS BAWAH ANGKUTAN PENUMPANG ANTAR KOTA ANTAR PROVINSI KELAS EKONOMI DI JALAN DENGAN MOBIL BUS UMUM PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM. 58 TAHUN 2005: TENTANG RENCANA OPERASI PENYELENGGARAAN ANGKUTAN LEBARAN TERPADU TAHUN 2005 (1426) PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 56 TAHUN 2005: TENTANG PERUBAHAN NAMA BANDAR UDARA SULTAN MAHMUD BADARUDDIN II PALEMBANG DI PROVINSI SUMATERA SELATAN PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 55 TAHUN 2005: TENTANG PENETAPAN LOKASI BANDAR UDARA PENGGANTI BANDAR UDARA DUMATUBUN-LANGGUR DI KABUPATEN MALUKU TENGGARA PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM.54 TAHUN 2005: TENTANG PERUBAHAN KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM.77 TAHUN 1993 TENTANG KODE WILAYAH PENDAFTARAN TANDA NOMOR KENDARAAN BERMOTOR PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 53 TAHUN 2005: TENTANG PENETAPAN LOKASI BANDAR UDARA DI KABUPATEN BUNGO PROVINSI JAMBI PIAGAM KESEPAKATAN BERSAMA ANTARA DEPARTEMEN PERHUBUNGAN REPUBLIK INDONESIA DENGAN TENTARA NASIONAL INDONESIA ANGKATAN LAUT NOMOR KM. 52 TAHUN 2005:

276.

277.

278.

279.

280.

281.

282.

283.

284.

285.

129

TENTANG PENINGKATAN PENEGAKKAN HUKUM LAUT 286.

PENGAMANAN

DAN

PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM. 51 TAHUN 2005: TENTANG TARIF BATAS ATAS DAN BAWAH ANGKUTAN PENUMPANG ANTAR KOTA ANTAR PROVINSI KELAS EKONOMI DI JALAN DENGAN MOBIL BUS UMUM PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM. 48 TAHUN 2005L: TENTANG PERUBAHAN KE-17 LAMPIRAN KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM.64 TAHUN 1989 TENTANG PENEMPATAN LINTAS PENYEBERANGAN SEBAGAIMANA TELAH DIUBAH TERAKHIR DENGAN PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM.38 TAHUN 2005 PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM. 47 TAHUN 2005: TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA BALAI BESAR PENDIDIKAN PENYEGARAN DAN PENINGKATAN ILMU PELAYARAN PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM. 45 TAHUN 2005: TENTANG PERUBAHAN PERTAMA PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM.1 TAHUN 2005 TENTANG TARIF ANGKUTAN PENYEBERANGAN LINTAS ANTAR PROVINSI UNTUK PENUMPANG KELAS EKONOMI, KENDARAAN DAN ALAT-ALAT BERAT/BESAR PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 43 TAHUN 2005: TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA DEPARTEMEN PERHUBUNGAN PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 44 TAHUN 2005: TENTANG PEMBERLAKUAN STANDAR NASIONAL INDONESIA (SNI) 03-7112-2005 MENGENAI KAWASAN KESELAMATAN OPERASI PENERBANGAN SEBAGAI STANDAR WAJIB PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 42 TAHUN 2005: TENTANG RENCANA INDUK BANDAR UDARA JUWATA-TARAKAN PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 39 TAHUN 2005: TENTANG RENCANA INDUK BANDAR UDARA BUBUNG-LUWUK KABUPATEN BANGGAI PROVINSI SULAWESI TENGAH PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 40 TAHUN 2005: TENTANG PENGOPERASIAN BANDAR UDARA INTERNASIONAL MINANGKABAU DI PADANG PROVINSI SUMATERA BARAT PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM.38 TAHUN 2005: TENTANG PERUBAHAN KE-16 LAMPIRAN KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM.64 TAHUN 1989 TENTANG PENETAPAN LINTAS PENYEBERANGAN SEBAGAIMANA TELAH DIRUBAH TERAKHIR DENGAN KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM.76 TAHUN 2004 PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 37 TAHUN 2005: TENTANG PENUNJUKAN/PENUGASAN KEPADA PEJABAT/PEGAWAI DI LINGKUNGAN DEPARTEMEN PERHUBUNGAN UNTUK

287.

288.

289.

290.

291.

292.

293.

294.

295.

296.

130

MELAKSANAKAN PENERBANGAN KALIBRASI PADA BEBERAPA BANDAR UDARA DI WILAYAH REPUBLIK INDONESIA 297. PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 36 TAHUN 2005: TENTANG TARIF REFERENSI UNTUK PENUMPANG ANGKUTAN UDARA NIAGA BERJADWAL DALAM NEGERI KELAS EKONOMI PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 35 TAHUN 2005: TENTANG PENGOPERASIAN PESAWAT UDARA KATEGORI TRANSPORT BERMESIN JET UNTUK ANGKUTAN UDARA PENUMPANG PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 34 TAHUN 2005: TENTANG PENEMPATAN LOKASI BANDAR UDARA DI KECAMATAN KERTAJATI KABUPATEN MAJALENGKA, PROVINSI JAWA BARAT PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 33 TAHUN 2005: TENTANG PERUBAHAN ATAS KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM.21 TAHUN 2002 TENTANG TARIF ANGKUTAN UDARA PERINTIS PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 32 TAHUN 2005: TENTANG PEMBERLAKUAN STANDAR NASIONAL INDONESIA (SNI) 03-7040-2004 MENGENAI KRITERIA PENEMPATAN PEMANCAR SINYAL KESEGALA ARAH BERFREKUENSI AMAT TINGGI (VHF OMNIDIRECTIONAL RANGEOVER) SEBAGAI STANDAR WAJIB PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 31 TAHUN 2005: TENTANG PEMBERLAKUAN STANDAR NASIONAL INDONESIA (SNI) 03-7049-2004 MENGENAI PERANCANGAN FASILITAS BAGI PENGGUNA KHUSUS DI BANDAR UDARA SEBAGAI STANDAR WAJIB PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 30 TAHUN 2005: TENTANG PEMBERLAKUAN STANDAR NASIONAL INDONESIA (SNI) 03-7048-2004 MENGENAI KRITERIA PENEMPATAN FASILITAS KOMUNIKASI DARAT-UDARA BERFREKUENSI AMAT TINGGI (VHF AIR GROUND/VHF-A/G) SEBAGAI STANDAR WAJI PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 29 TAHUN 2005: TENTANG PEMBERLAKUAN STANDAR NASIONAL INDONESIA (SNI) 03-7047-2004 MENGENAI TERMINAL KARGO BANDAR UDARA SEBAGAI STANDAR WAJIB PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 28 TAHUN 2005: TENTANG PEMBERLAKUAN STANDAR NASIONAL INDONESIA (SNI) 03-7041-2004 MENGENAI KRITERIA PENEMPATAN RAMBU UDARA TAK TERARAH (NON DIRECTIONAL BEACON/NDB) SEBAGAI STANDAR WAJIB PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 27 TAHUN 2005: TENTANG PEMBERLAKUAN STANDAR NASIONAL INDONESIA (SNI) 03-7097-2005 MENGENAI PERALATAN KOMUNIKASI DARAT UDATA BERFREKUENSI AMAT TINGGI (VHF-AIR

298.

299.

300.

301.

302.

303.

304.

305.

306.

131

GROUND) DI BANDAR UDARA SEBAGAI STANDAR WAJIB 307. PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 26 TAHUN 2005: TENTANG PEMBERLAKUAN STANDAR NASIONAL INDONESIA (SNI) 03-7050-2004 MENGENAI KRITERIA PENEMPATAN DISTANCE MEASURING EQUIPMENT (DME)SEBAGAI STANDAR WAJIB PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 25 TAHUN 2005: TENTANG PEMBERLAKUAN STANDAR NASIONAL INDONESIA (SNI) 03-7066-2005 MENGENAI PEMERIKSAAN PENUMPANG DAN BARANG YANG DIANGKUT PESAWAT UDARA DI BANDAR UDARA SEBAGAI STANDAR WAJIB PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 22 TAHUN 2005: TENTANG PEMBERLAKUAN STANDAR NASIONAL INDONESIA (SNI) 03-7094-2005 MENGENAI RAMBU-RAMBU DI TERMINAL BANDAR UDARA SEBAGAI STANDAR WAJIB PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 20 TAHUN 2005: TENTANG PEMBERLAKUAN STANDAR NASIONAL INDONESIA (SNI) 03-7046-2004 MENGENAI TERMINAL PENUMPANG BANDAR UDARA SEBAGAI STANDAR WAJIB PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 24 TAHUN 2005: TENTANG PEMBERLAKUAN STANDAR NASIONAL INDONESIA (SNI) 03-7067-2005 MENGENAI TEKNIS FASILITAS PERTOLONGAN KECELAKAAN PENERBANGAN DAN PEMADAM KEBAKARAN (PKP-PK) DI BANDAR UDARA SEBAGAI STANDAR WAJIB PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 23 TAHUN 2005: TENTANG PEMBERLAKUKAN STANDAR NASIONAL INDONESIA (SNI) 03-7051-2004 MENGENAI PEMBERIAN TANDA DAN PEMASANGAN LAMPU HALANGAN (OBSTACLE LIGHTS)DI SEKITAR BANDAR UDARA SEBAGAI STANDAR WAJIB PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 21 TAHUN 2005: TENTANG PEMBERLAKUAN STANDAR NASIONAL INDONESIA (SNI) 03-7095-2005 MENGENAI MARKA DAN RAMBU PADA DAERAH PERGERAKAN PESAWAT UDARA DI BANDAR UDARA SEBAGAI STANDAR WAJIB PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM.19 TAHUN 2005: TENTANG MEKANISME PEMBERIAN REKOMENDASI UNTUK MENDAPATKAN FASILITAS PEMBEBASAN DAN/ATAU KERINGANAN BEA MASUK ATAS IMPOR BEBERAPA JENIS SUKU CADANG, CHASSIS ENGINE BUS UNTUK ANGKUTAN UMUM, COMPLETELY KNOCK DOWN (CKD) UNTUK ANGKUTAN KOMERSIAL DAN BUS DALAM BENTUK C PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM.16 TAHUN 2005: TENTANG BATAS-BATAS KAWASAN KEBISINGAN DI SEKITAR BANDAR UDARA SUPADIO-PONTIANAK PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR

308.

309.

310.

311.

312.

313.

314.

315.

316.

132

KM.15 TAHUN 2005: TENTANG BATAS-BATAS KAWASAN KEBISINGAN DI SEKITAR BANDAR UDARA SORONG DARATAN – SORONG 317. PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM.14 TAHUN 2005: TENTANG BATAS-BATAS KAWASAN KEBISINGAN DISEKITAR BANDAR UDARA SULTAN MAHMUD BADARUDDIN II PALEMBANG PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM.17 TAHUN 2005: TENTANG BATAS-BATAS KAWASAN KEBISINGAN DI SEKITAR BANDAR UDARA SULTAN SYARIF KASIM II – PEKANBARU PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM.13 TAHUN 2005: TENTANG BATAS-BATAS KAWASAN KEBISINGAN DI SEKITAR BANDAR UDARA SAMARINDA BARU-SAMARINDA PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM.11 TAHUN 2005: TENTANG PELAKSANAAN KEWAJIBAN PELAYANAN UMUM BIDANG ANGKUTAN PENUMPANG KELAS EKONOMI ANGKUTAN LAUT DALAM NEGERI TAHUN ANGGARAN 2005 PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM.10 TAHUN 2005: TENTANG SERTIFIKASI ALAT DAN PERANGKAT TELEKOMUNIKASI PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM.9 TAHUN 2005: TENTANG PENDIDIKAN DAN PELATIHAN, UJIAN SERTA SERTIFIKASI PELAUT KAPAL PENANGKAP IKAN PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM.6 TAHUN 2005: TENTANG PENGUKURAN KAPAL PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM. 5 TAHUN 2005: TENTANG PENYELENGGARAAN JASA TITIPAN PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM. 3 TAHUN 2005: TENTANG LAMBUNG TIMBUL KAPAL PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM.7 TAHUN 2005: TENTANG SARANA BANTU NAVIGASI PELAYARAN PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM.8 TAHUN 2005: TENTANG TELEKOMUNIKASI PELAYARAN PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM. 4 TAHUN 2005: TENTANG PENCEGAHAN PENCEMARAN DARI KAPAL PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM.2 TAHUN 2006: TENTANG PERATURAN KESELAMATAN PENERBANGAN SIPIL (CIVIL AVIATION SAFETY REGULATIONS) PART.39 REVISION 1 PERINTAH KELAIKAN UDARA (AIRWORTHINESS DIRECTIVE) PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM.1 TAHUN 2005: TENTANG TARIF ANGKUTAN PENYEBERANGAN LINTAS ANTAR PROVINSI UNTUK

318.

319.

320.

321.

322.

323.

324.

325.

326.

327.

328.

329.

330.

133

PENUMPANG KELAS EKONOMI, KENDARAAN DAN ALAT-ALAT BERAT/BESAR

134

Tabel 6.9. Pembagian Urusan Pemerintahan Bidang Lingkungan Hidup
NO KEMENTERIAN NEGARA LINGKUNGAN HIDUP KEPMEN PERMEN KEPUTUSAN BERSAMA MENLH DENGAN MENDIKNAS NOMOR 04/MENLH/02/2010 DAN NOMOR 01/II/SKB/2010 TENTANG KELOMPOK KERJA PENDIDIKAN LINGKUNGAN HIDUP KEPUTUSAN BERSAMA MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP DAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL NO 04/MENLH/02/2010 NO 01/II/SKB/2010 TENTANG KELOMPOK KERJA PENDIDIKAN LINGKUNGAN HIDUP KEPUTUSAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP NOMOR 295 TAHUN 2007 TENTANG TIM KERJA DAN TIM AHLI PEMBAHASAN RANCANGAN UNDANG-UNDANG TENTANG PENGELOLAAN SAMPAH DI DPR KEPUTUSAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP NOMOR 294 TAHUN 2007 TENTANG TIM KOORDINASI PEMBAHASAN RANCANGAN UNDANG-UNDANG TENTANG PENGELOLAAN SAMPAH DI DPR KEPUTUSAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP NOMOR 212 TAHUN 2007 TENTANG PANITIA TEKNIS DAN SUB PANITIA TEKNIS PERUMUSAN STANDAR NASIONAL INDONESIA BIDANG KUALITAS DAN MANAJEMEN LINGKUNGAN KEPUTUSAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP NOMOR 600 TAHUN 2006 TENTANG TIM PENGKAJIAN DAN EVALUASI PERAN PEMERINTAH PADA PT. PRASADHA PAMUNAH LIMBAH INDUSTRI (PPLI) KEPUTUSAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP NOMOR 408 TAHUN 2006 TENTANG DEWAN PERTIMBANGAN PENILAIAN PROGRAM MENUJU INDONESIA HIJAU KEPUTUSAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP NOMOR 407 TAHUN 2006 KEPUTUSAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP NOMOR 407 TAHUN 2006 TENTANG TIM PENGARAH PROGRAM MENUJU INDONESIA HIJAU KEPUTUSAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP NOMOR 406 TAHUN 2006 KEPUTUSAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN NOMOR 406 TAHUN 2006 TENTANG KOMISI PENGARAH MASIONAL DAN TEKNIS PELAKSANAAN KONVENSI WINA TENTANG PERLINDUNGAN LAPISAN OZON 10 KEPUTUSAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP NOMOR 283 TAHUN 2006 TENTANG PANITIAN TEKNIS PERUMUSAN STANDAR KOMPETENSI PERSONIL DAN LEMBAGA JASA LINGKUNGAN KEPUTUSAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN NO. 45 TAHUN 2005 TENTANG PEDOMAN PENYUSUNAN LAPORAN RENCANA PENGELOLAAN HIDUP (RKL), DAN RENCANA PEMANTAU LINGKUNGAN KEPUTUSAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP NOMOR 254 TAHUN 2004 KEPUTUSAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP NOMOR 252 TAHUN 2004 PROGRAM PERATURAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP NOMOR : 16 TAHUN 2010 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP PERATURAN MENTERL NEGARA. LINGKUNGAN HIDUP NOMOR 14 TAHUN 2010 TENTANG DOKUMEN LINGKUNGAN HIDUP BAGL USAHA DAN/ATAU KEGIATAN YANG TELAH MEMILIKI IZIN PERATURAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP NOMOR 15 TAHUN 2010 TENTANG PERSYARATAN DAN TATA CARA LISENSI KOMISI PENILAI ANALISIS MENGENAI DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP PERATURAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP NOMOR 02 TAHUN 2010 TENTANG PENGGUNAAN SISTEM ELEKTRONIK REGISTRASI BAHAN BERBAHAYA DAN BERACUN DALAM KERANGKA INDONESIA NATIONAL SINGLE WINDOW DI KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP PERATURAN MENTERI LINGKUNGAN HIDUP NOMOR 37 TAHUN 2009 PERATURAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP NOMOR 37 TAHUN 2009 TENTANG PETUNJUK TEKNIS PEMANFAATAN DANA ALOKASI KHUSUS BIDANG LINGKUNGAN HIDUP TAHUN 2010 PERATURAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP NOMOR 05 TAHUN 2009 TENTANG PENGELOLAAN LIMBAH DI PELABUHAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP, NOMOR 01/A/PL/VI/2007/01 TENTANG CONTOH DOKUMEN LELANG UNTUK JASA KONTRUKSI

1.

2.

3.

4.

5.

6.

7.

8.

NOMOR 09/A/KP/XII/2006/01 TENTANG PANDUAN UMUM TATA CARA HUBUNGAN DAN KERJASAMA LUAR NEGERI OLEH PEMERINTAH DAERAH

9.

PERATURAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP NOMOR 05 TAHUN 2006 TENTANG AMBANG BATAS EMISI GAS BUANG KENDARAAN BERMOTOR LAMA KEMENTERIAN

10.

PERATURAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP NOMOR : 14 TAHUN 2006 TENTANG PEDOMAN PELAKSANAAN PROGRAM ADIPURA MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP

11.

12. 13.

135

14.

15.

16.

17.

18.

19.

20.

21.

22.

23.

24.

25.

26.

27.

PENILAIAN PERINGKAT HASIL UJI TIPE EMISI GAS BUANG KENDARAAN BERMOTOR TIPE BARU KEPUTUSAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP NOMOR 201 TAHUN 2004 TENTANG KRITERIA BAKU DAN PEDOMAN PENENTUAN KERUSAKAN MANGROVE KEPUTUSAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP NOMOR 202 TAHUN 2004 TENTANG BAKU MUTU AIR LIMBAH BAGI USAHA DAN ATAU KEGIATAN PERTAMBANGAN BIJIH EMAS DAN ATAU TEMBAGA KEPUTUSAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP NOMOR 200 TAHUN 2004 TENTANG KRITERIA BAKU KERUSAKAN DAN PEDOMAN PENENTUAN STATUS PADANG LAMUN KEPUTUSAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP NOMOR 197 TAHUN 2004 TENTANG STANDAR PELAYANAN MINIMAL BIDANG LINGKUNGAN HIDUP DI DAERAH KABUPATEN DAN DAERAH KOTA KEPUTUSAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP NOMOR 179 TAHUN 2004 TENTANG RALAT ATAS KEPUTUSAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP NOMOR 51 TAHUN 2004 TENTANG BAKU MUTU AIR LAUT KEPUTUSAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP NOMOR 178 TAHUN 2004 TENTANG KURIKULUM PENYUSUNAN, PENILAIAN DAN PEDOMAN SERTA KRITERIA PENYELENGGARAAN PELATIHAN ANALISIS MENGENAI DAMPAK LINGKUNGAN KEPUTUSAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP NOMOR 175 TAHUN 2004 TENTANG KURIKULUM PENYUSUNAN, PENILAIAN DAN PEDOMAN SERTA KRITERIA PENYELENGGARAAN PELATIHAN ANALISIS MENGENAI DAMPAK LINGKUNGAN KEPUTUSAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP NOMOR 133 TAHUN 2004 TENTANG BAKU MUTU EMISI BAGI KEGIATAN INDUSTRI PUPUK KEPUTUSAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP NOMOR 148 TAHUN 2004 TENTANG PEDOMAN PEMBENTUKAN KELEMBAGAAN LINGKUNGAN HIDUP DAERAH KEPUTUSAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP NOMOR 122 TAHUN 2004 TENTANG PERUBAHAN ATAS KEPUTUSAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP NOMOR: KEP51/MENLH/10/1995 TENTANG BAKU MUTU LIMBAH CAIR BAGI KEGIATAN INDUSTRI KEPUTUSAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP NOMOR 95 TAHUN 2004 TENTANG KLASIFIKASI PENDIDIKAN DAN PELATIHAN LINGKUNGAN HIDUP KEPUTUSAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP NOMOR 75 TAHUN 2004 TENTANG ORGANISASI DAN TATA LAKSANA PUSAT PRODUKSI BERSIH NASIONAL KEPUTUSAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP NOMOR 51 TAHUN 2004 TENTANG BAKU MUTU AIR LAUT KEPUTUSAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP NOMOR 49 TAHUN 2004 TENTANG PENDELEGASIAN KEWENANGAN UNTUK MENANDATANGANI SURAT KEPUTUSAN KERANGKA ACUAN ANALISIS DAMPAK

136

28.

29.

30.

31.

32.

33.

34.

35.

36.

37.

38.

39.

40.

41.

LINGKUNGAN HIDUP (KA-ANDAL) KEPUTUSAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP NOMOR 19 TAHUN 2004 TENTANG PEDOMAN PENGELOLAAN PENGADUAN KASUS PENCEMARAN DAN ATAU PERUSAKAN LINGKUNGAN HIDUP KEPUTUSAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP NOMOR 58 TAHUN 2003 TENTANG PENERIMA PENGHARGAAN KALPATARU TAHUN 2003 KEPUTUSAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP NOMOR 28 TAHUN 2003 TENTANG PEDOMAN TEKNIS PENGKAJIAN PEMANFAATAN AIR LIMBAH DARI INDUSTRI MINYAK SAWIT PADA TANAH DI PERKEBUNAN KELAPA SAWIT PADA TANAH DI PERKEBUNANA KELAPA SAWIT KEPUTUSAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP NOMOR 29 TAHUN 2003 TENTANG PEDOMAN SYARAT DAN TATA CARA PERIJINAN PEMANFAATAN AIR LIMBAH INDUSTRI MINYAK SAWIT PADA TANAH DI PERKEBUNANA KELAPA SAWIT KEPUTUSAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP NO. 77 TAHUN 2003 TENTANG PEMBENTUKAN LEMBAGA PENYEDIA JASA PELAYANAN PENYELESAIAN SENGKETA LINGKUNGAN HIDUP DI LUAR PENGADILAN (LPJP2SLH) PADA KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP KEPUTUSAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP NO. 78 TAHUN 2003 TENTANG TATA CARA PENGELOLAAN PERMOHONAN PENYELESAIAN SENGKETA LINGKUNGAN HIDUP DI LUAR PENGADILAN PADA KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP KEPUTUSAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP NOMOR 115 TAHUN 2003 TENTANG PEDOMAN PENENTUAN STATUS MUTU AIR KEPUTUSAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP NOMOR 113 TAHUN 2003 TENTANG BAKU MUTU AIR LIMBAH BAGI USAHA DAN ATAU KEGIATAN PERTAMBANGAN BATU BARA KEPUTUSAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP NOMOR 110 TAHUN 2003 TENTANG PEDOMAN PENETAPAN DAYA TAMPUNG BEBAN PENCEMARAN AIR PADA SUMBER AIR KEPUTUSAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP NOMOR 111 TAHUN 2003 TENTANG PEDOMAN MENGENAI SYARAT DAN TATA CARA PERIZINAN SERTA PEDOMAN KAJIAN PEMBUANGAN AIR LIMBAH KE AIR ATAU SUMBER AIR KEPUTUSAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP NOMOR 112 TAHUN 2003 TENTANG BAKU MUTU AIR LIMBAH DOMESTIK KEPUTUSAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP NOMOR 122 TAHUN 2003 KEPUTUSAN MENLH YANG MENGATUR PENETAPAN STAF KHUSUS KEPUTUSAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP NOMOR 127 TAHUN 2003 TENTANG PEMBENTUKAN TIM KOORDINASI KEBIJAKAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP KEPUTUSAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP NOMOR 137 TAHUN 2003 TENTANG PERUBAHAN RENCANA PENGELOLAAN

137

42.

43.

44.

45.

46.

47.

48.

49.

50.

51.

52.

53.

LINGKUNGAN HIDUP (RKL) DAN RENCANA PEMANTAUAN LINGKUNGAN HIDUP (RPL) ATAS PERUBAHAN KEGIATAN PROYEK KONSERVASI DAN PENGEMBANGAN SEGARA ANAKAN OLEH PROYEK KEPUTUSAN MENTERI LINGKUNGAN HIDUP NOMOR 142 TAHUN 2003 TTG PERUBAHAN ATAS KEPUTUSAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP NOMOR 111 TAHUN 2003 TENTANG PEDOMAN MENGENAI SYARAT & TATA CARA PERIZINAN SERTA PEDOMAN KAJIAN PEMBUANGAN AIR LIMBAH KE AIR ATAU SUNGAI KEPUTUSAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP NOMOR: 141 TAHUN 2003 AMBANG BATAS EMISI GAS BUANG KENDARAAN BERMOTOR TIPE BARU DAN KENDARAAN BERMOTOR YANG SEDANG DIPRODUKSI (CURRENT PRODUCTION) KEPUTUSAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP NOMOR 61 TAHUN 2003 TENTANG PETUNJUK TEKNIS PELAKSANAAN PENYESUAIAN (INPASSING)KE DALAM ABATAN DAN ANGKA KREDIT PENGENDALI DAMPAK LINGKUNGAN KEPUTUSAN MENTERI LINGKUNGAN HIDUP NOMOR. 128 TAHUN 2003 TATACARA DAN PERSYARATAN TEKNIS PENGOLAHAN LIMBAH MINYAK BUMI DAN TANAH TERKONTAMINASI OLEH MINYAK BUMISECARA BIOLOGIS KEPUTUSAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP NOMOR 129 TAHUN 2003 BAKU MUTU EMISI USAHA DAN ATAU KEGIATAN MINYAK DAN GAS BUMI KEPUTUSAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP NOMOR 86 TAHUN 2002 TENTANG PEDOMAN PELAKSANAAN UPAYA PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP DAN UPAYA PEMANTAUAN LINGKUNGAN HIDUP KEPUTUSAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP NOMOR 86 TAHUN 2002 TENTANG PEDOMAN PELAKSANAAN UPAYA PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP DAN UPAYA PEMANTAUAN LINGKUNGAN HIDUP KEPUTUSAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP NOMOR 86 TAHUN 2002 TENTANG PEDOMAN PELAKSANAAN UPAYA PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP DAN UPAYA PEMANTAUAN LINGKUNGAN HIDUP KEPUTUSAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP NOMOR 07 TAHUN 2001 TENTANG PEJABAT PENGAWASAN LINGKUNGAN HIDUP DAN PEJABAT PENGAWASAN LINGKUNGAN HIDUP DAERAH KEPUTUSAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP NOMOR 30 TAHUN 2001 TENTANG PEDOMAN PELAKSANAAN AUDIT LINGKUNGAN HIDUP YANG DIWAJIBKAN KEPUTUSAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP NOMOR 9 TAHUN 2001 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA STAF MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP KEPUTUSAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP NOMOR 17 TAHUN 2001 ATENTANG JENIS RENCANA USAHA DAN/ATAU KEGIATAN YANG WAJIB DILENGKAPI DENGAN ANALISIS MENGENAI DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP

138

54.

55.

56.

57.

58.

59.

60.

61.

62.

63.

64.

65.

66.

67.

68.

69.

KEPUTUSAN MENTERI LINGKUNGAN HIDUP NOMOR 04 TAHUN 2001 TENTANG KRITERIA BAKU KERUSAKAN TERUMBU KARANG KEPUTUSAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP NOMOR 1 TAHUN 2000 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA STAF MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP KEPUTUSAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP NOMOR 3 TAHUN 2000 TENTANG JENIS USAHA DAN/ATAU KEGIATAN YANG WAJIB DILENGKAPI DENGAN ANALISIS MENGENAI DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP KEPUTUSAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP NOMOR 4 TAHUN 2000 TENTANG PANDUAN PENYUSUNAN AMDAL KEGIATAN PEMBANGUNAN PERMUKIMAN TERPADU KEPUTUSAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP NOMOR 5 TAHUN 2000 TENTANG PANDUAN PENYUSUNAN AMDAL KEGIATAN PEMBANGUNAN DI DAERAH LAHAN BASAH KEPUTUSAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP NOMOR 40 TAHUN 2000 TENTANG PEDOMAN TATA KERJA KOMISI PENILAI ANALISIS MENGENAI DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP KEPUTUSAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP NOMOR 41 TAHUN 2000 TENTANG PEDOMAN PEMBENTUKAN KOMISI PENILAI ANALISIS MENGENAI DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP KABUPATEN/KOTA KEPUTUSAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP NOMOR 42 TAHUN 2000 TENTANG SUSUNAN KEANGGOTAAN KOMISI PENILAI DAN TIM TEKNIS ANALISIS MENGENAI DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP PUSAT KEPUTUSAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP NOMOR 42 TAHUN 2000 TENTANG SUSUNAN KEANGGOTAAN KOMISI PENILAI DAN TIM TEKNIS ANALISIS MENGENAI DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP PUSAT KEPUTUSAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP NOMOR 30 TAHUN 1999 TENTANG PANDUAN PENYUSUNAN DOKUMEN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP KEPUTUSAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP NOMOR 3 TAHUN 1998 TENTANG BAKU MUTU LIMBAH CAIR BAGI KAWASAN INDUSTRI KEPUTUSAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP NOMOR 16 TAHUN 1995 TENTANG DEWAN PERTIMBANGAN PEMBERIAN PENGHARGAAN KALPATARU MASA BAKTI 1995-1998 KEPUTUSAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP NOMOR 9 TAHUN 1997 TENTANG PERUBAHAN KEPUTUSAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP NOMOR 42 TAHUN 1996 TENTANG BAKU MUTU LIMBAH CAIR BAGI KEGIATAN MINYAK DAN GAS SERTA PANAS BUMI KEPUTUSAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP NOMOR 45 TAHUN 1997 TENTANG INDEKS STANDAR PENCEMAR UDARA KEPUTUSAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP NO. 49 TAHUN 1996 TENTANG BAKU MUTU TINGKAT GETARAN KEPUTUSAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP NOMOR 15 TAHUN 1996 TENTANG

139

70.

71.

72.

73.

74.

75.

76.

77.

78.

79.

80.

81.

82.

83.

84.

85.

86.

PROGRAM LANGIT BIRU KEPUTUSAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP NOMOR 16 TAHUN 1996 TENTANG PENETAPAN PRIORITAS PROVINSI DAERAH TINGKAT I PROGRAM LANGIT BIRU KEPUTUSAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP NOMOR 39 TAHUN 1996 TENTANG JENIS USAHA ATAU KEGIATAN YANG WAJIB DILENGKAPI DENGAN ANALISIS MENGENAI DAMPAK LINGKUNGAN KEPUTUSAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP NOMOR 42 TAHUN 1996 TENTANG BAKU MUTU LIMBAH CAIR BAGI KEGIATAN MINYAK DAN GAS SERTA PANAS BUMI KEPUTUSAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP NOMOR 43 TAHUN 1996 TENTANG KRITERIA KERUSAKAN LINGKUNGAN BAGI USAHA ATAU KEGIATAN PENAMBANGAN BAHAN GALIAN GOLONGAN C JENIS LEPAS DI DATARAN KEPUTUSAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP NOMOR 45 TAHUN 1996 TENTANG PROGRAM PANTAI LESTARI KEPUTUSAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP NOMOR 46 TAHUN 1996 TENTANG PEMBENTUKAN TIM PENGARAH DAN TIM TEKNIS PROGRAM PANTAI LESTARI KEPUTUSAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP NOMOR 47 TAHUN 1996 TENTANG PENETAPAN PRIORITAS PROVINSI DAERAH TINGKAT I PROGRAM PANTAI LESTARI KEPUTUSAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP NOMOR 48 TAHUN 1996 TENTANG BAKU TINGKAT KEBISINGAN KEPUTUSAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP NOMOR 50 TAHUN 1996 TENTANG BAKU TINGKAT KEBAUAN KEPUTUSAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP NOMOR 13 TAHUN 1995 TENTANG BAKU MUTU EMISI SUMBER TIDAK BERGERAK KEPUTUSAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP NOMOR 42 TAHUN 1994 TENTANG PEDOMAN UMUM PELAKSANAAN AUDIT LINGKUNGAN KEPUTUSAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP NOMOR 15 TAHUN 1994 TENTANG PEMBENTUKAN KOMISI AMDAL TERPADU KEPUTUSAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP NOMOR 14 TAHUN 1994 TENTANG PEDOMAN UMUM PENYUSUNAN ANALISIS DAMPAK LINGKUNGAN KEPUTUSAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP NOMOR 13 TAHUN 1994 TENTANG PEDOMAN SUSUNAN KEANGOTAAN DAN TATA KERJA KOMISI AMDAL KEPUTUSAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP NOMOR 12 TAHUN 1994 TENTANG PEDOMAN UMUM UPAYA PENGELOLAAN LINGKUNGAN (UKL) DAN UPAYA PEMANTAUAN LINGKUNGAN (UPL) KEPUTUSAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP NOMOR 35 TAHUN 1993 TENTANG AMBANG BATAS EMISI GAS BUANG KENDARAAN BERMOTOR KEPUTUSAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP NOMOR 15 TAHUN 1995 TENTANG PEMBERIAN PENGHARGAAN KALPATARU

140

87.

KEPUTUSAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP NOMOR 24 TAHUN 1995 TENTANG PERUBAHAN ATAS KEPUTUSAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP NO. 16 TAHUN 1995 TENTANG: DEWAN PERTIMBANGAN PEMBERIAN PENGHARGAAN KALPATARU MASA BAKTI 19951998 88. KEPUTUSAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP NOMOR 35 TAHUN 1995 TENTANG PROGRAM KALI BERSIH 89. KEPUTUSAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP NO. 37 TAHUN 1995 TENTANG PEDOMAN PELAKSANAAN KEBERSIHAN KOTA DAN PEMBERIAN PENGHARGAAN ADIPURA 90. KEPUTUSAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP NOMOR 52 TAHUN 1995 TENTANG BAKU MUTU LIMBAH CAIR BAGI KEGIATAN HOTEL 91. KEPUTUSAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP NOMOR 54 TAHUN 1995 TENTANG PEMBENTUKAN KOMISI ANALISIS MENGENAI DAMPAK LINGKUNGAN TERPADU MULTISEKTOR DAN REGIONAL 92. KEPUTUSAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP NOMOR 55 TAHUN 1995 TENTANG ANALISIS MENGENAI DAMPAK LINGKUNGAN REGIONAL 93. KEPUTUSAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP NOMOR 57 TAHUN 1995 TENTANG ANALISIS MENGENAI DAMPAK LINGKUNGAN 94. KEPUTUSAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP NOMOR 58 TAHUN 1995 TENTANG BAKU MUTU LIMBAH CAIR BAGI KEGIATAN RUMAH SAKIT 95. KEPUTUSAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP NOMOR 35-A TAHUN 1995 TENTANG PROGRAM PENILAIAN KINERJA PERUSAHAAN / KEGIATAN USAHA DALAM PENGENDALIAN PENCEMARAN DALAM LINGKUP KEGIATAN PROKASIH (PROPER PROKASIH) 96. KEPUTUSAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP NOMOR SK. 12/A/OT/IX/2004/01 TENTANG PELEBURAN GOLONGAN PEJABAT ADMINISTRASI KE DALAM GOLONGAN PEJABAT DIPLOMATIK KONSULER 97. KEPUTUSAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP NOMOR SK.09/A/OT/VIII/2004/01 PENGISIAN JABATAN DI PERWAKILAN REPUBLIK INDONESIA TERTENTU DI LUAR NEGERI MELALUI SELEKSI TERBUKA (OPEN BIDDING) 98. KEPUTUSAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP NO. 45 TAHUN 1997 TENTANG : INDEKS STANDAR PENCEMAR UDARA 99. KEPUTUSAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP NOMOR 112 TAHUN 2003 TENTANG BAKU MUTU AIR LIMBAH DOMESTIK MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP, 100. KEPUTUSAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP NOMOR : 28 TAHUN 2003 TANGGAL : 25 MARET 2003 PEDOMAN TEKNIS PENGKAJIAN PEMANFAATAN AIR LIMBAH INDUSTRI MINYAK SAWIT PADA TANAH DI PERKEBUNAN KELAPA SAWIT 101. KEPUTUSAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP NO. 57 TAHUN 1995 TENTANG : ANALISIS MENGENAI DAMPAK

141

LINGKUNGAN USAHA ATAU KEGIATAN TERPADU/MULTISEKTOR

142

Tabel 6.10.. Pembagian Urusan Pemerintahan Bidang Pertanahan
BADAN PERTANAHAN NASIONAL NO KEPUTUSAN KEPALA 1. NOMOR 01-VII-2007 TAHUN PEMBENTUKAN KELOMPOK PEMBARUAN AGRARIA NASIONAL 2007 KERJA PERATURAN KEPALA NOMOR 1 TAHUN 2007 TATA CARA PENYAMPAIAN LAPORAN HARTA KEKAYAAN PENYELENGGARA NEGARA DILINGKUNGAN BADAN PERTANAHAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 2 TAHUN 2007 PENYELENGGARAAN HUBUNGAN DAN KERJASAMA LUAR NEGERI DI LINGKUNGAN BADAN PERTANAHAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 3 TAHUN 2007 KETENTUAN PELAKSANAAN PERPRES NO.36/2005 TENTANG PENGADAAN TANAH BAGI PELAKSANAAN PEMBANGUNAN UNTUK KEPENTINGAN UMUM SEBAGAIMANA TELAH DIUBAH DENGAN PERPRES NO.65/2006 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERPRES NO.36/2005 NOMOR 4TAHUN 2007 STRUKTUR ORGANISASI BADAN PENGELOLAAN DAN PEMBIAYAAN REFORMA AGRARIA NASIONAL NOMOR 5 TAHUN 2007 STRUKTUR ORGANISASI BADAN PENGELOLAAN DAN PEMBIAYAAN REFORMA AGRARIA REGIONAL, CABANG DAN RANTING

2.

NOMOR 1 TAHUN 2007 PENUNJUKAN DAN PENGANGKATAN ANGGOTA SENAT SEKOLAH TINGGI PERTANAHAN NASIONAL

3. NOMOR 1 TAHUN 2007 DEWAN PENYANTUN SEKOLAH TINGGI PERTANAHAN NASIONAL (STPN)

4.

NOMOR 34TAHUN 2007 PETUNJUK TEKNIS PENANGANAN DAN PENYELESAIAN MASALAH PERTANAHAN NOMOR 158 TAHUN 2008 PENUNJUKAN STAF PELAKSANA KEGIATAN PENGELOLA DOKUMENTASI SJDI HUKUM DAFTAR ISIAN PELAKSANAAN ANGGARAN BADAN PERTANAHAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA TAHUN ANGGARAN 2008 KEPALA BADAN PERTANAHAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA, NOMOR 2 TAHUN 2008 PENGANGKATAN DALAM JABATAN FUNGSIONAL DOSEN SEKOLAH TINGGI PERTANAHAN NASIONAL NOMOR 59 TAHUN 2008 LAMBANG BADAN PERTANAHAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 76 TAHUN 2008 PAKAIAN DINAS PEGAWAI NEGERI SIPIL DI LINGKUNGAN BADAN PERTANAHAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 12 TAHUN 1992 SUSUNAN DAN TUGAS PANITIA PEMERIKSAAN TANAH

5.

6.

NOMOR 6 TAHUN 2007 STANDAR PELAYANAN MINIMAL BAGI BADAN PENGELOLAAN DAN PEMBIAYAAN REFORMA AGRARIA NASIONAL NOMOR 7 TAHUN 2007 PANITIA PEMERIKSAAN TANAH

7.

8.

NOMOR 70 TAHUN 2007 PEMBENTUKAN KANTOR PERTANAHAN KABUPATEN ACEH JAYA DI PROVINSI NANGGROE ACEH DARUSSALAM NOMOR 78TAHUN 2007 PEMBENTUKAN KANTOR PERTANAHAN KABUPATEN BANGKA TENGAH DI PROVINSI BANGKA BELITUNG NOMOR 8 TAHUN 2007 ORGANISASI DAN TATA KERJA PUSAT PENGELOLAAN REFORMA AGRARIA NASIONAL NOMOR 1 TAHUN 2008 PEMBENTUKKAN PERWAKILAN KANTOR PERTANAHAN KOTA SURABAYA PROVINSI JAWA TIMUR NOMOR 12 TAHUN 2008 PERUBAHAN PERATURAN KEPALA BADAN PERTANAHAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 3 TAHUN 2008 TENTANG PETUNJUK TEKNIS PROGRAM PEMBERDAYAAN USAHA MIKRO DAN KECIL MELALUI KEGIATAN SERTIPIKASI HAK ATAS TANAH UNTUK PENINGKATAN AKSES PERMODALAN

9.

10. NOMOR 15 TAHUN 1992 LAGU MARS DAN HYMNE BADAN PERTANAHAN NASIONAL 11. NOMOR 4 TAHUN 1992 PENYESUAIAN HARGA GANTI RUGI TANAH KELEBIHAN MAKSIMUM DAN ABSENTEE/GUNTAI 12. NOMOR 8 TAHUN 1992 PENYEDIAAN DAN PEMBERIAN HAK GUNA BANGUNAN INDUK PARSIAL ATAS TANAH UNTUK KEPERLUAN PERUSAHAAN KAWASAN INDUSTRI, DAN PEMECAHANNYA UNTUK PERUSAHAAN INDUSTRI

143

13. NOMOR 10 TAHUN 1993 TATA CARA PENGGANTIAN SERTIPIKAT HAK ATAS TANAH

NOMOR 3 TAHUN 2008 PETUNJUK TEKNIS PROGRAM PEMBERDAYAAN USAHA MIKRO DAN KECIL MELALUI KEGIATAN SERTIPIKASI HAK ATAS TANAH UNTUK PENINGKATAN AKSES PERMODALAN NOMOR 4 TAHUN 2008 URAIAN TUGAS SUBBAGIAN, SEKSI DAN SUBBIDANG DILINGKUNGAN BADAN PERTANAHAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA

14. NOMOR 13 TAHUN 2000 PELAKSANAAN PENDAFTARAN TANAH SECARA SISTEMATIK PADA DAERAH UJI COBA DI WILAYAH KERJA KANTOR PERTANAHAN KABUPATEN MALANG DAN KANTOR PERTANAHAN KOTAMADYA TANGERANG 15. NOMOR 24 TAHUN 2002 KETENTUAN PELAKSANAAN PERATURAN PEMERINTAH NOMOR 36 TAHUN 1998 TENTANG PENERTIBAN DAN PENDAYAGUNAAN TANAH TERLANTAR 16. NOMOR 25 TAHUN 2002 PEDOMAN PELAKSANAAN PERMOHONAN PENEGASAN TANAH NEGARA MENJADI OBYEK PENGATURAN PENGUASAAN TANAH/LANDREFORM 17. NOMOR 1 TAHUN 2003 TARIF ATAS JENIS PENERIMAAN NEGARA BUKAN PAJAK YANG BERLAKU PADA BADAN PERTANAHAN NASIONAL 18. NOMOR 2 TAHUN 2003 NORMA DAN STANDAR MEKANISME KETATALAKSANAAN KEWENANGAN PEMERINTAH DI BIDANG PERTANAHAN YANG DILAKSANAKAN OLEH PEMERINTAH KABUPATEN/KOTA 19. NOMOR 1 TAHUN 2006 PEMBERIAN PENGHARGAAN BERUPA SERTIPIKAT/PIAGAM DAN PLAKAT KEPADA GUBERNUR, BUPATI DAN ATAU WALIKOTA 20. NOMOR 14 TAHUN 2006 PEMBENTUKAN KANTOR WILAYAH BADAN PERTANAHAN NASIONAL PROVINSI KEPULAUAN RIAU

NOMOR 5 TAHUN 2008 URAIAN TUGAS SUBBAGIAN DAN SEKSI PADA KANTOR WILAYAH BADAN PERTANAHAN NASIONAL DAN URAIAN TUGAS URUSAN DAN SUBSEKSI PADA KANTOR PERTANAHAN

NOMOR 6 TAHUN 2008 PENYEDERHANAAN DAN PERCEPATAN STANDAR PROSEDUR OPERASI PENGATURAN DAN PELAYANAN PERTANAHAN UNTUK JENIS PELAYANAN PERTANAHAN TERTENTU

NOMOR 1 TAHUN 2009 PEMBENTUKAN PERWAKILAN KANTOR PERTANAHAN KABUPATEN KONAWE UTARA PROVINSI SULAWESI TENGGARA NOMOR 18 TAHUN 2009LARASITA BADAN PERTANAHAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA

NOMOR 2 TAHUN 2009 PEMBENTUKAN PERWAKILAN KANTOR PERTANAHAN KABUPATEN BUTON UTARA PROVINSI SULAWESI TENGGARA NOMOR 23 TAHUN 2009PERUBAHAN ATAS PERATURAN KEPALA BADAN PERTANAHAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1 TAHUN 2006 TENTANG KETENTUAN PELAKSANAAN PERATURAN PEMERINTAH NOMOR 37 TAHUN 1998 TENTANG PERATURAN JABATAN PEJABAT PEMBUAT AKTA TANAH NOMOR 3 TAHUN 2009 PEMBENTUKAN PERWAKILAN KANTOR PERTANAHAN KABUPATEN SUMBA TENGAH PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR NOMOR 4 TAHUN 2009 PEMBENTUKAN PERWAKILAN KANTOR PERTANAHAN KABUPATEN SUMBA BARAT DAYA PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR NOMOR 5 TAHUN 2009 PEMBENTUKAN PERWAKILAN KANTOR PERTANAHAN KABUPATEN NAGEKEO PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR NOMOR 6 TAHUN 2009 PEMBENTUKAN PERWAKILAN KANTOR PERTANAHAN KABUPATEN BENGKULU TENGAH PROVINSI BENGKULU NOMOR 7 TAHUN 2009 PEMBENTUKAN PERWAKILAN KANTOR PERTANAHAN KABUPATEN KEPULAUAN

21. NOMOR 15 TAHUN 2006 PEMBENTUKAN KANTOR PERTANAHAN KABUPATEN MELAWI DI PROVINSI KALIMANTAN BARAT 22. NOMOR 16 TAHUN 2006 PEMBENTUKAN KANTOR PERTANAHAN KABUPATEN SEKADAU DI PROVINSI KALIMANTAN BARAT 23. NOMOR 17 TAHUN 2006 PEMBENTUKAN KANTOR PERTANAHAN KABUPATEN KEPAHIANG DI PROVINSI BENGKULU 24. NOMOR 18 TAHUN 2006 PEMBENTUKAN KANTOR PERTANAHAN KABUPATEN BOMBANA DI PROVINSI SULAWESI TENGGARA 25. NOMOR 19 TAHUN 2006 PEMBENTUKAN KANTOR PERTANAHAN KABUPATEN SAMOSIR

144

DI PROVINSI SUMATERA UTARA 26. NOMOR 2 TAHUN 2006 PENDELEGASIAN WEWENANG PENYESUAIAN GAJI POKOK PEGAWAI NEGERI SIPIL 27. NOMOR 21 TAHUN 2006 PEMBENTUKAN KANTOR PERTANAHAN KABUPATEN NAGAN RAYA DI PROVINSI NANGGROE ACEH DARUSSALAM 28. NOMOR 20 TAHUN 2006 PEMBENTUKAN KANTOR PERTANAHAN KABUPATEN SELUMA DI PROVINSI BENGKULU 29. NOMOR 3 TAHUN 2006 PEMBERIAN PENGHARGAAN BHUMI BHAKTI ADHIGUNA KEPADA PARA GUBERNUR, BUPATI DAN ATAU WALIKOTA 30. NOMOR 4 TAHUN 2006 PENETAPAN FORMASI PEJABAT PEMBUAT AKTA TANAH 31.

ANAMBAS PROVINSI KEPULAUAN RIAU NOMOR 9 TAHUN 2009 PEMBENTUKAN PERWAKILAN KANTOR PERTANAHAN KOTA SURABAYA DI PROVINSI JAWA TIMUR NOMOR 1 TAHUN 2010 STANDAR PELAYANAN DAN PENGATURAN PERTANAHAN

NOMOR 2 TAHUN 2010 PENANGANAN PENGADUAN MASYARAKAT

NOMOR 3 TAHUN 2010 LOKET PELAYANAN PERTANAHAN

NOMOR 4 TAHUN 2010 TATA CARA PENERTIBAN TANAH TERLANTAR NOMOR 6 TAHUN 2010 PENANGANAN BENCANA DAN PENGEMBALIAN HAK-HAK MASYARAKAT ATAS ASET TANAH DI WILAYAH BENCANA NOMOR 1 TAHUN 1992 TENTANG TATA CARA PEMUNGUTAN UANG PEMASUKAN TANAH-TANAH OBYEK LANDREFORM NOMOR 1 TAHUN 2006 TENTANG KETENTUAN PELAKSANAAN PERATURAN PEMERINTAH NOMOR 37 TAHUN 1998 TENTANG PERATURAN JABATAN PEJABAT PEMBUAT AKTA TANAH BADAN PERTANAHAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA 2006 NOMOR 2 TAHUN 2006 POLA KARIER PEGAWAI NEGERI SIPIL DI LINGKUNGAN BADAN PERTANAHAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 3 TAHUN 2006 ORGANISASI DAN TATA KERJA BADAN PERTANAHAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 4 TAHUN 2006 ORGANISASI DAN TATA KERJA KANTOR WILAYAH BADAN PERTANAHAN NASIONAL DAN KANTOR PERTANAHAN NOMOR 5 TAHUN 2006 STAF KHUSUS MEKANISME DAN TATA KERJA

32.

33.

34.

35.

36.

37.

Tabel 6.11. Pembagian Urusan Pemerintahan Bidang Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak
NO KEMENTRIAN PEMBERDAYAAN PEREMPUAN DAN PERLINDINGAN ANAK KEPMEN 1 KEPMANPPPA NO. 03 TAHUN 2001 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA STAF MENTERI NEGARA PEMBERDAYAAN PEREMPUAN PERMEN PERMENPPPA RINOMOR 4 TAHUN 2008 TENTANG PEDOMAN PELAKSANAAN PEMBERDAYAAN LEMBAGA MASYARAKAT DI BIDANG PEMBERDAYAAN PEREMPUAN DAN PERLINDUNGAN ANAK

145

2 3

PERMENPPPA RI NOMOR 3 TAHUN 2008 TENTANG PEDOMAN PELAKSANAAN PERLINDUNGAN ANAK PERMENPPPA RI NOMOR 2 TAHUN 2008 TENTANG PEDOMAN PELAKSANAAN PERLINDUNGAN PEREMPUAN PERMENPPPA RI NOMOR 1 TAHUN 2008 TENTANG PEDOMAN PELAKSANAAN PENINGKATAN KUALITAS HIDUP PEREMPUAN PERMENPPPA RI NO. 06 TAHUN 2009 TENTANG PENYELENGGARAAN DATA GENDER DAN ANAK

4

5

Tabel 6.12. Pembagian Urusan Pemerintahan Bidang Sosial
NO KEPMEN 1 KEPMEN RI NO.56B 2010 TENTANG PENYELENGGARAAN KESEJAHTERAAN SOSIAL DI 50 KABUPATEN DAERAH TERTINGGAL KEPMEN RI NO.15A 2010 TAHUN 2010 TETANG PANDUAN UMUM PROGRAM KESEJAHTERAAN SOSIAL ANAK KEPMEN RI NO. 30 2010 TENTANG UNIT KERJA PERCEPATAN DAN PENGENDALIAN PROGRAM KEMENTERIAN SOSIAL (UKP3KS) TAHUN 2010 KEPMEN RI NO.10 2005 TENTANG PENETAPAN PANITIA PEMBINA ILMIAH DEPARTEMEN SOSIAL REPUBLIK INDONESIA KEPMEN RI NO.01 2004 TENTANG PEMBENTUKAN PANITIA PEMBINA ILMIAH PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN SOSIAL KEPMEN RI NO.01 2004 TENTANG LOGO FORUM KOMUNIKASI TAMAN PENITIPAN ANAK DAN KELOMPOK BERMAIN KEMENTRIAN SOSIAL PERMEN PERMENSOS RI.NO.37 TAHUN 2010 TENTANG TIM PIPA TENTANG TIM PERTIMBANGAN PERIZINAN PENGANGKATAN ANAK PUSAT PERMENSOS NO. 12 2009 TENTANG PETUJUK PENGGUNAAN LAMBANG/LOGO DEPSOS RI

2

3

PERMENSOS RI NO. 110 TAHUN 2009 TENTANG PERSYARATAN PENGANGKATAN ANAK

4

PERMENSOS RI NO. 111 2009 TENTANG INDIKATOR KINERJA PEMBANGUNAN KESEJAHTERAAN SOSIAL

5

PERMENSOS RI NO. 129 2008 TENTANG STANDARD PELAYANAN MINIMAL (SPM) BIDANG SOSIAL DAERAH PROVINSI DAN DAERAH KABUPATEN/KOTA

6

Tabel 6.13. Pembagian Urusan Pemerintahan Bidang Ketenagakerjaan dan Ketransmigrasian
KEMENTRIAN TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI NO 1. KEPMEN KEPUTUSAN BERSAMA MENAG, MENAKERTRANS, DAN MENPAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 1 TAHUN 2009 NOMOR : SKB/13/M.PAN/8/2009 NOMOR : KEP.227/MEN/VIII/2009 TENTANG HARI-HARI LIBUR NASIONAL DAN CUTI BERSAMA TAHUN 2009 PERMEN PERMENAKERTRANS NOMOR PER.14/MEN/X/2010 TENTANG PELAKSANAAN PENEMPATAN DAN PERLINDUNGAN TENAGA KERJA INDONESIA DI LUAR NEGERI

146

2.

KEPMENAKERTRANS NOMOR KEP.157/MEN/V/2009 TENTANG PENUNJUKAN PEJABAT PENERBIT IZIN PENEMPATAN TENAGA KERJA INDONESIA DI LUAR NEGERI UNTUK KEPENTINGAN PERUSAHAAN SENDIRI

PERATURAN BERSAMA MENAKERTRANS NOMOR : PER.13/MEN/IX/2010 TENTANG PENCABUTAN PERATURAN BERSAMA MENAKERTRANS NOMOR PER.13/MEN/VII/2008 TENTANG PENGOPTIMALAN BEBAN LISTRIK MELALUI PENGALIHAN WAKTU KERJA PADA SEKTOR INDUSTRI DI JAWA-BALI

3.

KEPMENAKERTRANS NOMOR KEP.156/MEN/V/2009 TENTANG PENUNJUKAN PEJABAT PENERBIT SURAT IZIN PENGERAHAN KEPMENAKERTRANS : KEP.355/MEN/X/2009 : TENTANG TATA KERJA LEMBAGA KERJASAMA (LKS) TRIPARTIT NASIONAL

PERMENAKERTRANS NOMOR PER. 12/MEN/VIII/2010 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA KEMENTERIAN TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI

4.

PERMENAKERTRANS NOMOR PER.11/MEN/VII/2010 TENTANG WAKTU KERJA DAN ISTIRAHAT DI SEKTOR PERIKANAN PADA DAERAH OPERASI TERTENTU

5.

KEPMENAKERTRANS. NO. KEP. 113/MEN/IV/2009 : TENTANG PEMBENTUKAN TIM TEKNIS PENGELOLAAN DAN PENGEMBANGAN SISTEM KOMPUTERISASI TENAGA KERJA DI LUAR NEGERI TA. 2009 KEPMENNAKERTRANS NO. KEP.268/MEN/XII/2008 TENTANG PETUNJUK PELAKSANAAN BULAN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA NASIONAL TAHUN 2009 KEPMENAKERTRANS NO. KEP.250/MEN/XII/2008 TENTANG KLASIFIKASI DAN KARAKTERISTIK DATA DARI JENIS INFORMASI KETENAGAKERJAAN KEPMENAKERTRANS NO. KEP227/MEN/XI/2008. TENTANG PENGANGKATAN DOKTER PENASEHAT.

PERMENAKERTRANS NOMOR PER.10/MEN/VII/2010 TENTANG E-GOVERNMENT DI KEMENTERIAN TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI

6.

PERMENAKERTRANS NOMOR PER.09/MEN/VII/2010 TENTANG OPERATOR DAN PETUGAS PESAWAT ANGKAT DAN ANGKUT

7.

PERMENAKERTRANS NOMOR PER.08/MEN/VII/2010 TENTANG ALAT PELINDUNG DIRI

8.

PERMENAKERTRANS NOMOR PER.07/MEN/V/2010 TENTANG ASURANSI TENAGA KERJA INDONESIA

9.

KEPMENAKERTRANS NO. KEP. 201/MEN/IX/2008. TENTANG PENUNJUKAN PEJABAT PENERBITAN PERSETUJUAN PENEMPATAN TENAGA KERJA INDONESIA DI LUAR NEGERI UNTUK KEPENTINGAN PERUSAHAAN SENDIRI. KEPMENAKERTRANS NO. KEP.200/MEN/IX/2008 : TENTANG PENUNJUKAN PEJABAT PENERBIT SURAT IZI PENGERAHAN.

PERMENAKERTRANS NOMOR : PER.05/MEN/III/2010 TENTANG BANTUAN KEUANGAN BAGI TENAGA KERJA PESERTA PROGRAM JAMINAN SOSIAL TENAGA KERJA YANG MENGALAMI PEMUTUSAN HUBUNGAN KERJA

10.

PERMENAKERTRANS : NOMOR PER. 03 /MEN/I/2010 : TENTANG RENCANA STRATEGIS KEMENTERIAN TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI TAHUN 20102014

147

11.

KEPUTUSAN BERSAMA NO : 01 TAHUN 2008 NO: KEP.24/MEN/II/2008. NO : SKB/01/M.PAN/2/2008

PERMENAKERTRANS NOMOR PER.02/MEN/I/2010 TENTANG TATA CARA PEMBERHENTIAN DAN PENGGANTIAN ANTAR WAKTU KEANGGOTAAN LEMBAGA KERJA SAMA (LKS) TRIPARTIT NASIONAL

12.

KEPMENAKERTRANS NO. KEP.258/MEN/VI/2007 BIAYA PENEMPATAN DAN PERLINDUNGAN TENAGA KERJA INDONESIA NEGARA TUJUAN REPUBLIK KOREA

PERMENAKERTRANS NOMOR PER.25/MEN/IX/2009 TENTANG TINGKAT PERKEMBANGAN PERMUKIMAN TRANSMIGRASI DAN KESEJAHTERAAN TRANSMIGRAN

13.

KEPBERSAMA. NO.55 TAHUN 2007, KEPMEN. NO.222/MEN/V//2007, SKB. NO.03/M.PAN/5/2007 : TENTANG HARI-HARI LIBUR NASIONAL DAN CUTI BERSAMA TAHUN 2008

PERMENAKERTRANS NOMOR PER.23/MEN/IX/2009 TENTANG PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KERJA BAGI CALON TENAGA KERJA INDONESIA DI LUAR NEGERI

14.

KEPMENAKERTRANS NO.KEP.258/MEN/VI/2007 : TENTANG BIAYA PENEMPATAN DAN PERLINDUNGAN CALON TENAGA KERJA INDONESIA NEGARA TUJUAN REPUBLIK KOREA.

PERMENAKERTRANS NOMOR PER.22/MEN/IX/2009 TENTANG PENYELENGGARAAN PEMAGANGAN DI DALAM NEGERI

15.

KEPMENAKERTRANS NO. KEP.110/MEN/II/2007 : TENTANG PEMBENTUKAN KELOMPOK KERJA (POKJA) PEMBANGUNAN DAN PENGEMBANGAN KOTA TERPADU MANDIRI.

PERMENAKERTRANS NOMOR PER.21/MEN/IX/2009 TENTANG PEDOMAN PELAYANAN PRODUKTIVITAS

16.

KEPMENAKERTRANS NO. KEP.14/MEN/I/2005. : TENTANG TIM PENCEGAHAN PEMBERANGKATAN TKI NON PROSEDURAL DAN PELAYANAN DAN PELAYANAN PEMULANGAN TKI

PERMENAKERTRANS NOMOR PER.19/MEN/IX/2009 TENTANG PEMBANGUNAN DAN PENGEMBANGAN SISTEM INFORMASI KETENAGAKERJAAN

17.

KEPMENAKERTRANS NO. KEP.11/MEN/I/2005. : TENTANG PEMBENTUKAN DAN SUSUNAN KEANGGOTAAN LEMBAGA AKREDITAS LEMBAGA PELATIHAN KERJA

PERMENAKERTRANS NOMOR PER.18/MEN/VIII/2009 TENTANG BENTUK, PERSYARATAN, DAN TATA CARA MEMPEROLEH KARTU TENAGA KERJA LUAR NEGERI

18.

KEPUTUSAN BERSAMA NO : 407 TAHUN 2005, NO: KEP.185/MEN/VII/2005, NO : SKB/02/M.PAN/7/2005. : TENTANG HARI-HARI LIBUR NASIONAL DAN CUTI BERSAMA TAHUN 2006

PERMENAKERTRANS NOMOR PER.17/MEN/VIII/2009 TENTANG PENYELENGGARAAN PEMBEKALAN AKHIR PEMBERANGKATAN TENAGA KERJA INDONESIA KE LUAR NEGERI

148

19.

KEPMENAKERTRANS NO. KEP.14/MEN/I/2005. : TENTANG TIM PENCEGAHAN PEMBERANGKATAN TKI NON PROSEDURAL DAN PELAYANAN PEMULANGAN TKI

PERMENAKERTRANS NOMOR PER.16/MEN/VIII/2009 TENTANG TATA CARA PENERBITAN SURAT IZIN PENGERAHAN CALON TENAGA KERJA INDONESIA KE LUAR NEGERI BAGI PELAKSANA PENEMPATAN TENAGA KERJA INDONESIA SWASTA

20.

KEPMENAKERTRANS NO. KEP.11/MEN/I/2005. : TENTANG PEMBENTUKAN DAN PENETAPAN SUSUNAN KEANGGOTAAN LEMBAGA AKREDITAS LEMBAGA PELATIHAN KERJA

PERMENAKERTRANS NOMOR PER.15/MEN/VIII/2009 TENTANG PENCABUTAN PERMENAKERTRANS NOMOR PER.22/MEN/XII/2008 TENTANG PELAKSANAAN PENEMPATAN DAN PERLINDUNGAN TENAGA KERJA INDONESIA DI LUAR NEGERI

21.

KEPMENAKERTRANS NO. KEP.102/MEN/VI/2004 : TENTANG WAKTU KERJA LEMBUR DAN UPAH KERJA LEMBUR

PEMENAKERTRANS NOMOR PER.12/MEN/VI/2009 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERMENAKERTRANS NOMOR PER. 03/MEN/III/2008 TENTANG PERAN SERTA BADAN USAHA DALAM PELAKSANAAN TRANSMIGRASI

22.

KEPMENAKERTRANS NO. KEP. 101/MEN/VI/2004 : TENTANG TATA CARA PERIJINAN PERUSAHAAN PENYEDIA JASA PEKERJA / BURUH.

PEMENAKERTRANS NOMOR PER.11/MEN/V/2009 TENTANG TATA CARA PEMANTAUAN DAN EVALUASI PENGELOLAAN DATA DAN INFORMASI KETENAGAKERJAAN

23.

KEPMENAKERTRANS NO. KEP.100/MEN/2004 : TENTANG KETENTUAN PELAKSANAAN PERJANJIAN KERJA WAKTU TERTENTU.

PERMENAKERTRANS NOMOR PER.10/MEN/V/2009 TENTANG TATA CARA PEMBERIAN, PERPANJANGAN DAN PENCABUTAN SURAT IZIN PELAKSANA PENEMPATAN TENAGA KERJA INDONESIA

24.

KEPMENAKERTRANS NO. KEP. 51/MEN/2004 : TENTANG ISTIRAHAT PANJANG PADA PERUSAHAAN TERTENTU.

PEMENAKERTRANS NOMOR PER.09/MEN/V/2009 TENTANG TATA CARA PEMBENTUKAN KANTOR CABANG PELAKSANA PENEMPATAN TENAGA KERJA INDONESIA SWASTA

25.

KEPMENAKERTRANS NOMOR : KEP.49/MEN/2004 TENTANG KETENTUAN STRUKTUR DAN SKALA UPAH

PERMENAKERTRANS NOMOR PER.07/MEN/III/2009 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERMENAKERTRANS NOMOR PER. 26/MEN/XII/2008 TENTANG PEDOMAN PENGELOLAAN KEUANGAN NEGARA BIDANG KETENAGAKERJAAN DAN KETRANSMIGRASIAN

26.

KEPMENAKERTRANS NO. KEP.48/MEN/2004 : TENTANG TATA CARA PEMBUATAN DAN PENGESAHAN PERATURAN PERUSAHAAN SERTA PEMBUATAN DAN PENDAFTARAN PERJANJIAN KERJA BERSAMA

PERMENAKERTRANS NOMOR PER.06/MEN/III/2009 TENTANG PERUBAHAN PERMENAKERTRANS NOMOR 12/MEN/VI/2007 TENTANG PETUNJUK TEKNIS PENDAFTARAN KEPESERTAAN, PEMBAYARAN IURAN, PEMBAYARAN SANTUNAN, DAN PELAYANAN JAMINAN SOSIAL TENAGA KERJA

149

27.

KEP.KA BSN NO. 28/KEP/BSN/XI/2004 : TENTANG PENETAPAN 10 (SEPULUH) STANDAR NASIONAL INDONESIA.

PERMENAKERTRANS NOMOR PER. 05/MEN/II/2009 TENTANG PELAKSANAAN PENYIAPAN CALON TKI UNTUK BEKERJA DI LUAR NEGERI

28.

KEPMENAKERTRANS NO.KEP.49/MEN/2004 : TENTANG KETENTUAN STRUKTUR DAN SKALA UPAH.

PERMENAKERTRANS NOMOR PER. 04/MEN/II/2009 TENTANG PENCABUTAN KEPMENAKER NOMOR KEP27/MEN/2000 TENTANG PROGRAM SANTUNAN PEKERJA PERUSAHAAN JASA PENUNJANG PERTAMBANGAN MINYAK DAN GAS BUMI

29.

KEPMENAKERTRANS NO.KEP.67/MEN/2004 : TENTANG PELAKSANAAN PROGRAM JAMINAN SOSIAL TENAGA KERJA BAGI TENAGA KERA ASING

PERMENAKERTRANS NOMOR PER. 03/MEN/II/2009 TENTANG PEDOMAN PENYAJIAN INFORMASI KETENAGAKERJAAN

30.

KEPMENAKERTRANS NO.KEP.68/MEN/2004 : TENTANG PENCEGAHAN DAN PENANGGULANGAN HIV/AIDS DI TEMPAT KERJA.

PERMENAKERTRANS NOMOR PER. 02/MEN/II/2009 TENTANG PENCABUTAN KEPMENAKER DAN BEBERAPA KEPMENAKERTRANS MENGENAI AKREDITASI, SERTIFIKASI, PEDOMAN KONVENSI, DAN KERANGKA KUALIFIKASI NASIONAL INDONESIA

31.

KEPMENAKERTRANS NO.KEP.69/MEN/2004 : TENTANG PERUBAHAN LAMPIRAN KEPUTUSAN MENAKERTRANS RI TENTANG TATA CARA PENETAPAN STANDAR KOMPETENSI KERJA NASIONAL

PERMENAKERTRANS NOMOR PER. 01/MEN/I/2009 TENTANG PEDOMAN PENGGUNAAN METODA STATISTIKA KETENAGAKERJAAN

32.

KEPMENAKERTRANS NO.KEP.80/MEN/V/2004 : TENTANG PENEMPATAN TKI DALAM KENDALI ALOKASI KE SINGAPURA.

PERMENAKERTRANS NO.PER.08/MEN/IV/2009 TENTANG PEDOMAN PENGELOLAAN DATA DAN INFORMASI KETRANSMIGRASIAN

33.

KEPMENAKERTRANS NO.KEP.92/MEN/VI/2004 : TENTANG PENGANGKATAN DAN PEMBERHENTIAN MEDIATOR SERTA TATA KERJA MEDIASI.

PERMENNAKERTRANS NO. PER.03/MEN/II/2009. : TENTANG PEDOMAN PENYAJIAN INFORMASI KETENAGAKERJAAN.

34.

KEPMENAKERTRANS NO.KEP.96A/MEN/VI/2004 : TENTANG PEDOMAN PENYIAPAN DAN AKREDITASI LEMBAGA SERTIFIKASI PROFESI

PERMENAKERTRANS : N0.PER-28/MEN/XII/2008 TENTANG PERUBAHAN KEDUA ATAS PERMENAKERTRANS NOMOR. PER.05/MEN/IV/2007. TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA DEPARTEMEN TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI.

150

35.

KEPMENAKERTRANS NO.KEP.115/MEN/VII/2004 : TENTANG PERLINDUNGAN BAGI ANAK YANG MELAKUKAN PEKERJAAN UNTUK MENGEMBANGKAN BAKAT DAN MINAT

PERMENAKERTRANS NO.PER-28/MEN/XII/2008 TENTANG PERUBAHAN KEDUA ATAS PERMENAKERTRANS NOMOR. PER-05/MEN/IV/2007. TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA DEPNAKERTRANS.

36.

KEPMENAKERTRANS NO.KEP.135/MEN/VIII/2004 AKREDITASI LEMBAGA PROFESI PARIWISATA

:

TENTANG SERTIFIKASI

PERMENNAKERTRANS. NO. PER.15/MEN/VIII/2008 : TENTANG PERTOLONGAN PERTAMA PADA KECELAKAAN DI TEMPAT KERJA.

37.

KEPMENAKERTRANS NO. KEP.186/MEN/IX/2004 : TENTANG PEDOMAN PENGELOLAAN DATA DAN INFORMASI KETRANSMIGRASIAN

PERMENAKERTRANS NOMOR PER.24/MEN/XII/2008 TENTANG METODE PERHITUNGAN PERSEDIAAN DAN KEBUTUHAN TENAGA KERJA

38.

KEPMENAKERTRANS NO. KEP.187/MEN/IX/2004 : TENTANG IURAN ANGGOTA SERIKAT PEKERJA / SERIKAT BURUH

PERMENAKERTRANS NOMOR PER.32/MEN/XII/2008 TENTANG TATA CARA PEMBENTUKAN DAN SUSUNAN KEANGGOTAAN LEMBAGA KERJA SAMA BIPARTIT

39.

KEPMENAKERTRANS NO.KEP.220/MEN/X/2004 : TENTANG SYARATSYARAT PENYERAHAN SEBAGIAN PELAKSANAAN PEKERJAAN KEPADA PERUSAHAAN LAIN.

PERMENAKERTRANS NOMOR PER.31/MEN/XII/2008 TENTANG PEDOMAN PENYELESAIAN PERSELISIHAN HUBUNGAN INDUSTRIAL MELALUI PERUNDINGAN BIPARTIT

40.

KEPMENAKERTRANS NO. KEP.261/MEN/XI/2004 : TENTANG PERUSAHAAN YANG WAJIB MELAKSANAKAN PELATIHAN KERJA.

PERMENAKERTRANS NOMOR PER.25/MEN/XII/2008 TENTANG PEDOMAN DIAGNOSIS DAN PENILAIAN CACAT KARENA KECELAKAAN DAN PENYAKIT AKIBAT KERJA

41.

KEPMENAKERTRANS NO.KEP.282/MEN/XII/2004 : TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA SEKRETARIAT BADAN NASIONAL SERTIFIKASI PROFESI

PERMENAKERTRANS NOMOR. PER.18/MEN/XI/2008. TENTANG PENYELENGGARA AUDIT SISTEM MANAJEMEN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA.

42.

KEPMENAKERTRANS NO. KEP. 255/MEN/2003 : TENTANG TATA CARA PEMBENTUKAN DAN SUSUNAN KEANGGOTAAN LEMBAGA KERJASAMA BIPARTIT.

PERMENAKERTRANS NOMOR. PER.17/MEN/XI/2008. TENTANG PENGANGKATAN, PEMBERHENTIAN, DAN TATA CARA KERJA DOKTER PENASEHAT.

151

43.

KEPMENAKERTRANS NO.KEP.235/MEN/2003 : TENTANG JENIS-JENIS PEKERJAAN YANG MEMBAHAYAKAN KESEHATAN, KESELAMATAN ATAU MORAL ANAK.

PERMENAKERTRANS NOMOR : PER. 04/MEN/III/2008 : PERAN SERTA MASYARAKAT DALAM PELAKSANAAN TRANSMIGRASI.

44.

KEPMENAKERTRANS NO. KEP. 234/MEN/2003 : TENTANG WAKTU KERJA DAN ISTIRAHAT PADA SEKTOR USAHA ENERGI DAN SUMBER DAYA MENERAL PADA DAERAH TERTENTU.

PERMENAKERTRANS NO. PER.14/MEN/VIII/2008 : TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN MENAKERTRANS N0. PER.05/MEN/IV/2007. TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA DEPNAKERTRANS.

45.

KEPMENAKERTRANS NO.KEP.233/MEN/2003 : TENTANG JENIS DAN SIFAT PEKERJAAN YANG DIJALANKAN SECARA TERUS MENERUS.

PERMENAKERTRANS NOMOR. PER.09/MEN/V/2008 : TENTANG PELAKSANAAN TRANSMIGRASI SWAKARSA MANDIRI.

46.

KEPMENAKERTRANS NO.KEP.232/MEN/2003 : TENTANG AKIBAT HUKUM MOGOK KERJA YANG TIDAK SAH.

PERATURAN MENTERI NO. PER/03/MEN/III/2008 : TENTANG PERAN SERTA BADAN USAHA DALAM PELAKSANAAN TRANSMIGRASI.

47.

KEPMENAKERTRANS NO. KEP.231/MEN/2003 : TENTANG TATA CARA PENANGGUHAN PELAKSANAAN UPAH MINIMUM.

PERMENAKERTRANS NOMOR.PER.08/MEN/V/2008 TATA CARA PERIZINAN DAN PENYELENGGARAAN PEMAGANGAN DI LUAR NEGERI

48.

KEPMENAKERTRANS NO. KEP.230/MEN/2003 : TENTANG GOLONGAN DAN JABATAN TERTENTU YANG DAPAT DIPUNGUT BIAYA PENEMPATAN TENAGA KERJA.

PERATURAN MENTERI NO.07 TAHUN 2008 TENTANG PENEMPATAN TENAGA KERJA

49.

KEPMENAKERTRANS NO. KEP.227/MEN/2003 : TENTANG TATA CARA PENETAPAN STANDAR KOMPETENSI KERJA NASIONAL INDONESIA.

PERATURAN MENTERI NOMOR. PER.02/MEN/III/2008 : TENTANG TATA CARA PENGGUNAAN TENAGA KERJA ASING

50.

KEPMENAKERTRANS NO.KEP.225/MEN/2003 : TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA LEMBAGA AKREDITASI LEMBAGA PELATIHAN KERJA

PERMENAKERTRANS NOMOR. TATA CARA PEMBENTUKAN PELAKSANA PENEMPATAN INDONESIA SWASTA

PER.37/MEN/XII/2006 KANTOR CABANG TENAGA KERJA

152

51.

KEPMENAKERTRANS NO.KEP.224/MEN/2003 : TENTANG KEWAJIBAN PENGUSAHA YANG MEMPEKERJAKAN PEKERJA/BURUH PEREMPUAN ANTARA PUKUL 23.00 S/D 07.00

PERATURAN BERSAMA MENTERI NO. PER.23/MEN/XI/2007 : TENTANG PELEPASAN KAWASAN HUTAN DALAM RANGKA PENYELENGGARAAN TRANSMIGRASI.

52.

KEPMENAKERTRANS NO. KEP.223/MEN/2003 : TENTANG JABATAN DI LEMBAGA PENDIDIKAN YANG DIKECUALIKAN DARI KEWAJIBAN MEMBAYAR KOMPENSASI.

PERMENAKERTRANS NOMOR. PER.22/MEN/X/2007 : TENTANG PEMBENTUKAN UNIT PERMUKIMAN TRANSMIGRASI.

53.

KEPMENAKERTRANS NO. KEP.182/MEN/2003 : TENTANG TATA CARA PENYUSUNAN RENCANA PROGRAM DAN ANGGARAN PEMBANGUNAN TAHUNAN BIDANG KETRANSMIGRASIAN.

PERMENAKERTRANS NOMOR. PER. 20/MEN/X/2007. : TENTANG ASURANSI TENAGA KERJA INDONESIA.

54.

KEPMENAKERTRANS NO. KEP.219/MEN/2003 : TENTANG AKREDITASI LEMBAGA SERTIFIKASI PROFESI TEKNISI OTOMOTIF INDONESIA.

PERATURAN MENTERI NO. PER.18/MEN/IX/2007. : TENTANG PELAKSANAAN PENEMPATAN DAN PERLINDUNGAN TKI DI LUAR NEGERI.

55.

KEPMENAKERTRANS NO. KEP.220/MEN/2003 : TENTANG AKREDITASI LEMBAGA SERTIFIKASI PROFESI LOGAM DAN MESIN INDONESIA.

PERATURAN MENTERI NO. PER.17/MEN/VI/2007. : TENTANG TATA CARA PERIZINAN DAN PENDAFTARAN LEMBAGA PELATIHAN KERJA.

56.

KEPMENAKERTRANS NO.KEP.221/MEN/2003 : TENTANG AKREDITASI LEMBAGA SERTIFIKASI PROFESI PERSEMENAN INDONESIA.

PERATURAN MENTERI NO. PER.15/MEN/VI/2007 : TENTANG PENYIAPAN PERMUKIMAN TRANSMIGRASI

57.

KEPMEN NAKERTRANS NO. KEP. 174/MEN/2002 : TENTANG PEMBERLAKUAN STANDAR NASIONAL INDONESIA (SNI) NO. SNI-04-0225-2000 MENGENAI PERSYARATAN UMUM INSTALASI LISTRIK 2000 (PUIL 2000) DI TEMPAT KERJA KEPMEN NAKERTRANS NO. 109/MEN/2002 : TENTANG PENANGGULANGAN KEMISKINAN. KEP. TIM

PERATURAN MENTERI NO. PER.12/MEN/VI/2007 : TENTANG PETUNJUK TEKNIS PENDAFTARAN KEPESERTAAN PEMBAYARAN IURAN, PEMBAYARAN SANTUNAN DAN PELAYANAN JAMSOSTEK.

58.

PERMENAKERTRANS NOMOR. PER.33A/MEN/XII/2006 TENTANG SISTEM PELAPORAN BIDANG KETENAGAKERJAAN DAN KETRANSMIGRASIAN

153

59.

KEPMEN NAKERTRANS NO. KEP. 23/KEP/2002 : TENTANG POKOK-POKOK PENGAWASAN DI BIDANG KETENAGAKERJAAN DAN KETRANSMIGRASIAN.

PERATURAN MENTERI NO. PER. 38/MEN/XII/2006. : TENTANG TATA CARA PEMBERIAN, PERPANJANGAN DAN PENCABUTAN IZIN PELAKSANAAN PENEMPATAN TKI.

60.

KEPMENAKERTRANS NO. KEP. 17/MEN/2002 : TENTANG PEDOMAN SISTEM PELAPORAN BIDANG KETENAGAKERJAAN DAN KETRANSMIGRASIAN.

PERATURAN MENTERI NO. PER. 37/MEN/XII/2006. : TENTANG TATA CARA PEMBENTUKAN KANTOR CABANG PELAKSANAAN PENEMPATAN TENGA KERJA INDONESIA SWASTA.

61.

KEPMENAKERTRANS NO. KEP. 201/MEN/2001 : TENTANG KETERWAKILAN DALAM KELEMBAGAAN HUBUNGAN INDUSTRIAL.

PERATURAN MENTERI NO. PER. 21/MEN/X/2005. : TENTANG PENYELENGGARAAN PROGRAM PEMAGANGAN.

62.

KEPMENAKERTRANS NO. KEP. 148/MEN/2001 : TENTANG PENGGUNAAN DAN PENGEMBANGAN KEAHLIAN DAN KETRAMPILAN TKI.

PERATURAN MENTERI NO. PER.17/MEN/VIII/2005. : TENTANG KOMPONEN DAN PELAKSANAAN TAHAPAN PENCAPAIAN KEBUTUHAN HIDUP LAYAK.

63.

KEPMENAKERTRANS NO. 16/MEN/2001 : TENTANG CARA PENCATATAN SERIKAT PEKERJA / SERIKAT BURUH.

PERATURAN MENTERI NO. PER. 15/MEN/VII/2005. TENTANG WAKTU KERJA DAN ISTIRAHAT PADA SEKTOR USAHA PERTAMBANGAN UMUM PADA DAERAH OPERASI TERTENTU.

64.

KEPMENDAGRI NO. KEP. 05/MENDAGRI/2001 : TENTANG PENANGGULANGAN PEKERJA ANAK.

PERMENNAKER NO.PER.01/MEN/II/1998 : TENTANG PENYELENGGARAAN PEMELIHARAAN KESEHATAN BAGI TENAGA KERJA DENGAN MANFAAT LEBIH BAIK DARI PAKET JAMINAN PEMELIHARAAN DASAR JAMSOSTEK.

65.

KEPMEN TENAGA KERJA NO. KEP. 173/MEN/2000 : TENTANG JANGKA WAKTU IJIN MEMPEKERJAKAN TKW NEGARA ASING PENDATANG.

PERMENAKER NOMOR :PER-04/MEN/1994 TENTANG TUNJANGAN HARI RAYA KEAGAMAAN

66.

KEPMEN TENAGA KERJA NO. KEP. 172/MEN/2000 : TENTANG PENUNJUKAN PEJABAT PEMBERI IJIN MEMPEKERJAKAN TKW NEGARA ASING PENDATANG PEKERJAAN YANG BERSIFAT SEMENTARA ATAU MENDESAK

154

67.

68.

69.

70.

KEPMEN TENAGA KERJA NO. KEP.170/MEN/2000 : TENTANG PENCABUTAN KEPUTUSAN MENTERI TENAGA KERJA NO. KEP.204A/MEN/1991 TENTANG PELIMPAHAN WEWENANG PEMBERIAN IJIN KERJA TENAGA KERJA WARGA NEGARA ASING PENDATANG DAN PENYIMPANGAN WAKTU KERJA BAGI TENAGA KERJA YANG BEKERJA DI KAWASAN BERIKAT YANG DIKELOLA OLEH PT. (PERSERO) KAWASAN BERIKAT NUSANTARA (PT. KBN) DAN PT. (PERSERO) PENGELOLA KAWASAN BERIKAT INDONESIA ( PT. K B I ) KEPMEN TENAGA KERJA NO. KEP. 167/MEN/2000 : TENTANG PENCABUTAN KEPUTUSAN MENTERI TENAGA KERJA NO. KEP. 208/MEN/1992 TENTANG PROSEDUR PEMBERIAN IJIN MEMPEKERJAKAN TKW NEGARA ASING PENDATANG DAN ELIMPAHAN WEWENANG KEPADA KEPALA KANTOR WILAYAH DEPARTEMEN TENAGA KERJA, KEPALA KANTOR WILAYAH DEPPARPOSTEL, DIREKSI PT. (PERSERO) KAWASAN BERIKAT NUSANTARA, DIREKSI PT. (PERSERO) PENGELOLA KAWASAN BERIKAT INDONESIA DAN KETUA BADAN KOORDINASI PENANAMAN MODAL DAERAH KEPMEN TENAGA KERJA NO. KEP.168/MEN/2000 : TENTANG PENCABUTAN KEPUTUSAN MENTERI TENAGA KERJA NO. KEP.1897/MEN/1987 TENTANG PELIMPAHAN WEWENANG PEMBERIAN IJIN PENGGUNAAN LIFT, IJIN PENGGUNAAN BOILER, DAN IJIN KERJA MALAM, KELEBIHAN JAM KERJA DAN WAKTU LIBUR SERTA IJIN PENGGUNAAN TENAGA KERJA WARGA NEGARA ASING DALAM BIDANG PARIWISATA KHUSUS UNTUK HOTEL, WISATA BAHARI DAN OBJEK WISATA KEPADA MENTERI PARIWISATA, POS DAN TELEKOMUNIKASI. KEPMEN TRANSMIGRASI DAN PPH NO. KEP. 06/MEN/1999 : TENTANG TINGKAT PERKEMBANGAN PERMUKIMAN TRANSMIGRASI DAN KESEJAHTERAAN.

71.

KEPMEN TENAGA KERJA RI NO. KEP. 205/MEN/1999 : TENTANG PELATIHAN KERJA DAN PENEMPATAN TENAGA KERJA PENYANDANG CACAT.

72.

KEPMEN TRANSMIGRASI DAN PPH NO. KEP. 96/MEN/1998 : TENTANG PENGEMBANGAN PERMUKIMAN TRANSMIGRASI POLA PERIKANAN.

155

73.

KEPMEN TENAGA KERJA NO. KEP.15A/MEN/1994 : TENTANG PETUNJUK PENYELESAIAN PERSELISIHAN HUBUNGAN INDUSTRIAL & PEMUTUSAN HUBUNGAN KERJA DI TINGKAT PERUSAHAAN DAN PEMERANTARAAN KEPMEN TRANSMIGRASI NO. KEP.27/MEN/1987 : TENTANG TATA CARA PENGADAAN PEKERJAAN PENYIAPAN PERMUKIMAN UNTUK PROYEK PIR.

74.

Tabel 6.14. Pembagian Urusan Pemerintahan Bidang Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah
NO
1 KEMENTERIAN NEGARA KOPERASI DAN USAHA KECIL DAN MENENGAH KEPMEN PERMEN KEPUTUSAN MENTERI NEGARA KOPERASI DAN UKM, NOMOR: 29/KEP/M.KUKM/III/2007, TANGGAL 16 MARET 2007, TENTANG PENGANGKATAN KETUA DAN ANGGOTA DEWAN PENGAWAS PADA LEMBAGA PENGELOLA DANA BERGULIR KOPERASI DAN USAHA MIKRO, KECIL DAN MENENGAH. KEPUTUSAN MENTERI NEGARA KOPERASI DAN UKM, NOMOR: 21/KEP/M.KUKM/VII/2008, TENTANG PENDELEGASIAN KEWENANGAN PENGELOLAAN DANA BERGULIR KOPERASI DAN USAHA MIKRO, KECIL DAN MENENGAH. KEPUTUSAN MENTERI NEGARA KOPERASI DAN UKM, NOMOR: 178/KEP/M.KUKM/XII/2006, TANGGAL 29 DESEMBER 2006, TENTANG PENGANGKATAN DIREKSI PADA LEMBAGA PENGELOLA DANA BERGULIR KOPERASI DAN USAHA MIKRO, KECIL DAN MENENGAH. KEPUTUSAN MENTERI KOPERASI DAN PEMBINAAN PENGUSAHA KECILREPUBLIK INDONESIA NOMOR: 361/KEP/M/II/1998 TENTANG PEDOMAN PELAKSANAAN PENGGABUNGAN DAN PELEBURAN KOPERASI PERATURAN MENTERI NEGARA KOPERASI DAN USAHA KECIL DAN MENENGAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 06/PER/M.KUKMI/I/2007 TENTANG PETUNJUK TEKNIS PROGRAM PEMBIAYAAN PRODUKTIF KOPERASI DAN USAHA MIKRO (P3KUM) POLA SYARIAH PERATURAN DEPUTI MENTERI NEGARA KOPERASI DAN USAHA KECIL DAN MENENGAH BIDANG PENGEMBANGAN DAN RESTRUKTURISASI USAHA NOMOR: 01/PER/DEP.6/VI/2010 TENTANG PEDOMAN TEKNIS PROGRAM BANTUAN PENGEMBANGAN KOPERASI DI BIDANG RESTRUKTURISASI USAHA PERATURAN MENTERI NEGARA KOPERASI DAN USAHA KECIL DAN MENENGAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 35.3/PER/M.KUKM/X/2007 TENTANG PEDOMAN PENILAIAN KESEHATAN KOPERASI JASA KEUANGAN SYARIAH DAN UNIT JASA KEUANGAN SYARIAH KOPERASI PERATURAN MENTERI NEGARA KOPERASI, DAN USAHA KECIL DAN MENENGAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 19/PER/M.KUKM/XI/2008 TENTANG PEDOMAN PELAKSANAAN KEGIATAN USAHA SIMPAN PINJAM OLEH KOPERASI

2

3

4

5

KEPUTUSAN MENTERI NEGARA KOPERASI DAN UKM, NOMOR: 29/KEP/M.KUKM/III/2007, TANGGAL 16 MARET 2007, TENTANG PENGANGKATAN KETUA DAN ANGGOTA DEWAN PENGAWAS PADA LEMBAGA PENGELOLA DANA BERGULIR KOPERASI DAN USAHA MIKRO, KECIL DAN MENENGAH.

PERATURAN MENTERI NEGARA KOPERASI DAN USAHA KECIL DAN MENENGAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 03/PER/M.KUKM/VI/2010 TENTANG PEDOMAN PROGRAM BANTUAN PENGEMBANGAN KOPERASI MENTERI NEGARA KOPERASI DAN USAHA KECIL DAN MENENGAH REPUBLIK INDONESIA

156

6

KEPUTUSAN MENTERI NEGARA KOPERASI DAN UKM, NOMOR: 21/KEP/M.KUKM/VII/2008, TENTANG PENDELEGASIAN KEWENANGAN PENGELOLAAN DANA BERGULIR KOPERASI DAN USAHA MIKRO, KECIL DAN MENENGAH. KEPUTUSAN DEPUTI MENTERI KOPERASI DAN USAHA KECIL DAN MENENGAH BIDANG PENGEMBANGAN SUMBER DAYA MANUSIA NOMOR : 04 /KEP/DEP.5/IV/2010 TENTANG KETENTUAN TEKNIS PELAKSANAAN PROGRAM PENGEMBANGAN TEMPAT PRAKTEK KETERAMPILAN USAHA PADA LEMBAGA PENDIDIKAN PERDESAAN DEPUTI MENTERI KOPERASI DAN USAHA KECIL DAN MENENGAH

7

PERATURAN MENTERI NEGARA KOPERASI DAN USAHA KECIL DAN MENENGAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 21/PER/M.KUKM/XI/2008 TENTANG PEDOMAN PENGAWASAN KOPERASI SIMPAN PINJAM DAN UNIT SIMPAN PINJAM KOPERASI MENTERI NEGARA KOPERASI DAN USAHA KECIL DAN MENENGAH REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI NEGARA KOPERASI DAN USAHA KECIL DAN MENENGAH REPUBLIK INDONESIA Nomor : 19/Per/M.KUKM/III/2007 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN MENTERI NEGARA KOPERASI DAN USAHA KECIL DAN MENENGAH Nomor : 18/Per/M.KUMK/VII/2006 TENTANG PEDOMAN TEKNIS BANTUAN PERKUATAN DALAM BIDANG PRODUKSI KEPADA KOPERASI

8

KEPUTUSAN MENTERI NEGARA KOPERASI DAN UKM, NOMOR: 34/KEP/M.KUKM/VI/2004, TANGGAL 10 JUNI 2004, TENTANG TIM PENYUSUNAN KEPUTUSAN BERSAMA MENTERI KEUANGAN DAN MENTERI NEGARA KOPERASI DAN UKM TENTANG PENGATURAN PENGELOLAAN DANA BERGULIR PEMBERDAYAAN KOPERASI DAN USAHA MIKRO DAN KECIL. KEPUTUSAN MENTERI NEGARA KOPERASI DAN UKM, NOMOR: 119.1/KEP/M.KUKM/X/2004, TANGGAL 1 OKTOBER 2004, TENTANG PEMBENTUKAN LAYANAN DANA BERGULIR.

PERATURAN MENTERI NEGARA KOPERASI DAN USAHA KECIL DAN MENENGAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 39/PER/M.KUKM/XII/2007 TENTANG PEDOMAN PENGAWASAN KOPERASI JASA KEUANGAN SYARIAH DAN UNIT JASA KEUANGAN SYARIAH KOPERASI

9

PERATURAN MENTERI NEGARA KOPERASI DAN USAHA KECILN DAN MENENGAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 35.3/PER/M.KUKM/X/2007 TENTANG PEDOMAN PENILAIAN KESEHATAN KOPERASI JASA KEUANGAN SYARIAH DAN UNIT JASA KEUANGAN SYARIAH KOPERASI

10

KEPUTUSAN MENTERI NEGARA KOPERASI DAN UKM, NOMOR: 70/KEP/M.KUKM/VIII/2005, TANGGAL 2 AGUSTUS 2005, TENTANG PEMBENTUKAN TIM PERSIAPAN BADAN LAYANAN UMUM (BLU) DANA BERGULIR.

PERATURAN MENTERI NEGARA KOPERASI DAN USAHA KECIL DAN MENENGAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 14/Per/M.KUKM/XII/2009 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN MENTERI NEGARA KOPERASI DAN USAHA KECIL DAN MENENGAH NOMOR 20/Per/M.KUKM/XI/2008 TENTANG PEDOMAN PENILAIAN KESEHATAN KOPERASI SIMPAN PINJAM DAN UNIT SIMPAN PINJAM KOPERASI PERATURAN MENTERI NEGARA KOPERASI DAN USAHA KECIL DAN MENENGAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 06/per/M.KUKMI/I/2007 TENTANG PETUNJUK TEKNIS PROGRAM PEMBIAYAAN PRODUKTIF KOPERASI DAN USAHA MIKRO (P3KUM) POLA SYARIAH

11

KEPUTUSAN MENTERI NEGARA KOPERASI DAN UKM, NOMOR: 109.1/KEP/M.KUKM/VIII/2006, TANGGAL 23 AGUSTUS 2006, TENTANG PENGANGKATAN DIREKTUR UTAMA LEMBAGA PENGELOLA DANA BERGULIR KOPERASI DAN USAHA MIKRO, KECIL DAN MENENGAH.

157

12

KEPUTUSAN MENTERI NEGARA KOPERASI DAN UKM, NOMOR: 178/KEP/M.KUKM/XII/2006, TANGGAL 29 DESEMBER 2006, TENTANG PENGANGKATAN DIREKSI PADA LEMBAGA PENGELOLA DANA BERGULIR KOPERASI DAN USAHA MIKRO, KECIL DAN MENENGAH.

PERATURAN MENTERI NEGARA KOPERASI DAN USAHA KECIL DAN MENENGAH REPUBLIK INDONESIA Nomor : 25/Per/M.KUKM/V/2007 TENTANG PETUNJUK TEKNIS PROGRAM PERKUATAN PERMODALAN BAGI KOPERASI FUNGSIONAL

13

KEPUTUSAN MENTERI NEGARA URUSAN KOPERASI DAN USAHA KECIL DAN MENENGAH NOMOR : 20/KEP/MENEG/XI/2000 TENTANG PEDOMAN PENETAPAN STANDAR PELAYANAN MINIMAL BIDANG KOPERASI DAN USAHA KECIL DAN MENENGAH YANG WAJIB DILAKUKAN KABUPATEN/KOTA

PERATURAN MENTERI NEGARA KOPERASI DAN USAHA KECIL DAN MENENGAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 08/Per/M.KUKM/II/2007 TENTANG PETUNJUK TEKNIS PROGRAM PEMBIAYAAN PRODUKTIF KOPERASI DAN USAHA MIKRO (P3KUM) POLA KONVENSIONAL

14

KEPUTUSAN MENTERI NEGARA KOPERASI DAN USAHA KECIL DAN MENENGAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 104.1/Kep/M.KUKM/X/2002 TENTANG PETUNJUK PELAKSANAAN PEMBENTUKAN,PENGESAHAN AKTA PENDIRIAN DAN PERUBAHAN ANGGARAN DASAR KOPERASI

PERATURAN MENTERI NEGARA KOPERASI DAN USAHA KECIL DAN MENENGAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 30/Per/M.KUKM/VIII/2007 TENTANG PETUNJUK TEKNIS PERKUATAN PERMODALAN KOPERASI, USAHA KECIL DAN MENENGAH, DAN LEMBAGA KEUANGANNYA DENGAN PENYEDIAAN MODAL AWAL DAN PADANAN MELALUI LEMBAGA MODAL VENTURA

15

KEPUTUSAN MENTERI NEGARA URUSAN KOPERASI DAN USAHA KECIL DAN MENENGAH NOMOR : 20/KEP/MENEG/XI/2000 TENTANG

16

PEDOMAN PENETAPAN STANDAR PELAYANAN MINIMAL BIDANG KOPERASI DAN USAHA KECIL DAN MENENGAH YANG WAJIB DILAKUKAN KABUPATEN/KOTA

17

18

KEPMEN KOPERASI DAN UKM NOMOR 20/KEP/MENEG/XI/2000 KEPUTUSAN MENTERI KOPERASI DAN UKM TENTANG PEDOMAN PENETAPAN STANDAR PELAYANAN MINIMAL BIDANG KOPERASI DAN USAHA KECIL DAN MENENGAH YANG WAJIB DILAKUKAN KABUPATEN/KOTA KEPUTUSAN MENTERI NEGARA KOPERASI DAN UKM, NOMOR: 34/KEP/M.KUKM/VI/2004, TANGGAL 10 JUNI 2004, TENTANG TIM PENYUSUNAN KEPUTUSAN BERSAMA MENTERI KEUANGAN DAN MENTERI NEGARA KOPERASI DAN UKM TENTANG PENGATURAN PENGELOLAAN DANA BERGULIR PEMBERDAYAAN KOPERASI DAN USAHA MIKRO DAN KECIL.

PERATURAN MENTERI NEGARA KOPERASI DAN UKM, NOMOR: 19.2/PER/M.KUKM/VIII/2006, TANGGAL 15 AGUSTUS 2006, TENTANG PERUBAHAN ATAS KEPUTUSAN MENTERI NEGARA KOPERASI DAN UKM NOMOR: 70/KEP/MENEG/XII/2001, TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA KANTOR MENTERI NEGARA KOPERASI DAN UKM REPUBLIK INDONESIA. PERATURAN MENTERI NEGARA KOPERASI DAN UKM, NOMOR: 19.4/PER/M.KUKM/VIII/2006, TANGGAL 18 AGUSTUS 2006, TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA LEMBAGA PENGELOLA DANA BERGULIR KOPERASI DAN USAHA MIKRO, KECIL DAN MENENGAH. PERATURAN MENTERI NEGARA KOPERASI DAN UKM, NOMOR: 21/PER/M.KUKM/IX/2006, TANGGAL 29 SEPTEMBER 2006, TENTANG STANDAR PELAYANAN MINIMUM BAGI LEMBAGA PENGELOLA DANA BERGULIR KOPERASI DAN USAHA MIKRO, KECIL DAN MENENGAH. PERATURAN MENTERI NEGARA KOPERASI DAN USAHA KECIL DAN MENENGAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 19/Per/M.KUKM/VIII/2006 TENTANG PEDOMAN TEKNIS PERKUATAN PERMODALAN KOPERASI DAN USAHA KECIL DAN MENENGAH DI KAWASAN INDUSTRI MENTERI NEGARA KOPERASI DAN USAHA KECIL DAN MENENGAH REPUBLIK INDONESIA

158

19

KEPUTUSAN MENTERI NEGARA KOPERASI DAN UKM, NOMOR: 119.1/KEP/M.KUKM/X/2004, TANGGAL 1 OKTOBER 2004, TENTANG PEMBENTUKAN LAYANAN DANA BERGULIR.

PERATURAN MENTERI NEGARA KOPERASI DAN USAHA KECIL DAN MENENGAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 01/Per/M.KUKM/I/2006 TENTANG PETUNJUK PELAKSANAAN PEMBENTUKAN,PENGESAHAN AKTA PENDIRIAN DAN PERUBAHAN ANGGARAN DASAR KOPERASI

20

KEPUTUSAN MENTERI NEGARA KOPERASI DAN UKM, NOMOR: 70/KEP/M.KUKM/VIII/2005, TANGGAL 2 AGUSTUS 2005, TENTANG PEMBENTUKAN TIM PERSIAPAN BADAN LAYANAN UMUM (BLU) DANA BERGULIR.

PERATURAN MENTERI NEGARA KOPERASI DAN USAHA KECIL DAN MENENGAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 19/Per/M.KUKM/VIII/2006 TENTANG PEDOMAN TEKNIS PERKUATAN PERMODALAN KOPERASI DAN USAHA KECIL DAN MENENGAH DI KAWASAN INDUSTRI

21

KEPUTUSAN MENTERI NEGARA KOPERASI DAN UKM, NOMOR: 109.1/KEP/M.KUKM/VIII/2006, TANGGAL 23 AGUSTUS 2006, TENTANG PENGANGKATAN DIREKTUR UTAMA LEMBAGA PENGELOLA DANA BERGULIR KOPERASI DAN USAHA MIKRO, KECIL DAN MENENGAH.

PERATURAN MENTERI NEGARA KOPERASI DAN USAHA KECIL DAN MENENGAH REPUBLIK INDONESIA Nomor : 13 /Per/M.KUKM/VII/2006 TENTANG PEDOMAN TEKNIS PROGRAM SEKURITISASI ASET KOPERASI DAN USAHA KECIL DAN MENENGAH (KUKM)

22

PERATURAN MENTERI NEGARA KOPERASI DAN USAHA KECIL DAN MENENGAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 03/PER/M.KUKM/VI/2010 TENTANG PEDOMAN PROGRAM BANTUAN PENGEMBANGAN KOPERASI MENTERI NEGARA KOPERASI DAN USAHA KECIL DAN MENENGAH

23

PERATURAN MENTERI NEGARA KOPERASI DAN USAHA KECIL DAN MENENGAH NOMOR : 22/PER/M.KUKM/IV/2007 TENTANG PEDOMAN PEMERINGKATAN KOPERASI

24

PERATURAN MENTERI NEGARA KOPERASI DAN USAHA KECIL DAN MENENGAH REPUBLIK INDONESIA Nomor : 03/PER/M.KUKM/VI/2010 TENTANG PEDOMAN PROGRAM BANTUAN PENGEMBANGAN KOPERASI PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR: 07/PMK.02/2006, TANGGAL 16 FEBUARI 2006, TENTANG PERSYARATAN ADMINISTRATIF DALAM RANGKA PENGUSULAN DAN PENETAPAN SATUAN KERJA INSTANSI PEMERINTAH UNTUK MENERAPKAN POLA PENGELOLAAN KEUANGAN BADAN LAYANAN UMUM.

25

159

26

PERATURAN MENTERI NEGARA KOPERASI DAN UKM, NOMOR: 19.2/PER/M.KUKM/VIII/2006, TANGGAL 15 AGUSTUS 2006, TENTANG PERUBAHAN ATAS KEPUTUSAN MENTERI NEGARA KOPERASI DAN UKM NOMOR: 70/KEP/MENEG/XII/2001, TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA KANTOR MENTERI NEGARA KOPERASI DAN UKM REPUBLIK INDONESIA.

27

PERATURAN MENTERI NEGARA KOPERASI DAN UKM, NOMOR: 19.4/PER/M.KUKM/VIII/2006, TANGGAL 18 AGUSTUS 2006, TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA LEMBAGA PENGELOLA DANA BERGULIR KOPERASI DAN USAHA MIKRO, KECIL DAN MENENGAH.

28

PERATURAN MENTERI NEGARA KOPERASI DAN UKM, NOMOR: 21/PER/M.KUKM/IX/2006, TANGGAL 29 SEPTEMBER 2006, TENTANG STANDAR PELAYANAN MINIMUM BAGI LEMBAGA PENGELOLA DANA BERGULIR KOPERASI DAN USAHA MIKRO, KECIL DAN MENENGAH.

Tabel 6.15. Pembagian Urusan Pemerintahan Bidang Penanaman Modal
BADAN KOORDINASI PENANAMAN MODAL REPUBLIK INDONESIA No. 1 KEPKA KEPUTUSAN MENTERI NEGARA KOPERASI DAN UKM, NOMOR: 29/KEP/M.KUKM/III/2007, TANGGAL 16 MARET 2007, TENTANG PENGANGKATAN KETUA DAN ANGGOTA DEWAN PENGAWAS PADA LEMBAGA PENGELOLA DANA BERGULIR KOPERASI DAN USAHA MIKRO, KECIL DAN MENENGAH. KEPUTUSAN MENTERI NEGARA KOPERASI DAN UKM, NOMOR: 21/KEP/M.KUKM/VII/2008, TENTANG PENDELEGASIAN KEWENANGAN PENGELOLAAN DANA BERGULIR KOPERASI DAN USAHA MIKRO, KECIL DAN MENENGAH. KEPUTUSAN MENTERI NEGARA KOPERASI DAN UKM, NOMOR: 178/KEP/M.KUKM/XII/2006, TANGGAL 29 DESEMBER 2006, TENTANG PENGANGKATAN DIREKSI PADA LEMBAGA PENGELOLA DANA BERGULIR KOPERASI DAN USAHA MIKRO, KECIL DAN MENENGAH. KEPUTUSAN MENTERI KOPERASI DAN PEMBINAAN PENGUSAHA KECILREPUBLIK INDONESIA NOMOR: 361/KEP/M/II/1998 TENTANG PEDOMAN PELAKSANAAN PENGGABUNGAN DAN PELEBURAN KOPERASI PERKA PERATURAN MENTERI NEGARA KOPERASI DAN USAHA KECIL DAN MENENGAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 06/PER/M.KUKMI/I/2007 TENTANG PETUNJUK TEKNIS PROGRAM PEMBIAYAAN PRODUKTIF KOPERASI DAN USAHA MIKRO (P3KUM) POLA SYARIAH PERATURAN DEPUTI MENTERI NEGARA KOPERASI DAN USAHA KECIL DAN MENENGAH BIDANG PENGEMBANGAN DAN RESTRUKTURISASI USAHA NOMOR: 01/PER/DEP.6/VI/2010 TENTANG PEDOMAN TEKNIS PROGRAM BANTUAN PENGEMBANGAN KOPERASI DI BIDANG RESTRUKTURISASI USAHA PERATURAN MENTERI NEGARA KOPERASI DAN USAHA KECIL DAN MENENGAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 35.3/PER/M.KUKM/X/2007 TENTANG PEDOMAN PENILAIAN KESEHATAN KOPERASI JASA KEUANGAN SYARIAH DAN UNIT JASA KEUANGAN SYARIAH KOPERASI PERATURAN MENTERI NEGARA KOPERASI, DAN USAHA KECIL DAN MENENGAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 19/PER/M.KUKM/XI/2008 TENTANG PEDOMAN PELAKSANAAN KEGIATAN USAHA SIMPAN PINJAM OLEH KOPERASI

2

3

4

160

5

KEPUTUSAN MENTERI NEGARA KOPERASI DAN UKM, NOMOR: 29/KEP/M.KUKM/III/2007, TANGGAL 16 MARET 2007, TENTANG PENGANGKATAN KETUA DAN ANGGOTA DEWAN PENGAWAS PADA LEMBAGA PENGELOLA DANA BERGULIR KOPERASI DAN USAHA MIKRO, KECIL DAN MENENGAH. KEPUTUSAN MENTERI NEGARA KOPERASI DAN UKM, NOMOR: 21/KEP/M.KUKM/VII/2008, TENTANG PENDELEGASIAN KEWENANGAN PENGELOLAAN DANA BERGULIR KOPERASI DAN USAHA MIKRO, KECIL DAN MENENGAH. KEPUTUSAN DEPUTI MENTERI KOPERASI DAN USAHA KECIL DAN MENENGAH BIDANG PENGEMBANGAN SUMBER DAYA MANUSIA NOMOR : 04 /KEP/DEP.5/IV/2010 TENTANG KETENTUAN TEKNIS PELAKSANAAN PROGRAM PENGEMBANGAN TEMPAT PRAKTEK KETERAMPILAN USAHA PADA LEMBAGA PENDIDIKAN PERDESAAN DEPUTI MENTERI KOPERASI DAN USAHA KECIL DAN MENENGAH

PERATURAN MENTERI NEGARA KOPERASI DAN USAHA KECIL DAN MENENGAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 03/PER/M.KUKM/VI/2010 TENTANG PEDOMAN PROGRAM BANTUAN PENGEMBANGAN KOPERASI MENTERI NEGARA KOPERASI DAN USAHA KECIL DAN MENENGAH REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI NEGARA KOPERASI DAN USAHA KECIL DAN MENENGAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 21/PER/M.KUKM/XI/2008 TENTANG PEDOMAN PENGAWASAN KOPERASI SIMPAN PINJAM DAN UNIT SIMPAN PINJAM KOPERASI MENTERI NEGARA KOPERASI DAN USAHA KECIL DAN MENENGAH REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI NEGARA KOPERASI DAN USAHA KECIL DAN MENENGAH REPUBLIK INDONESIA Nomor : 19/Per/M.KUKM/III/2007 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN MENTERI NEGARA KOPERASI DAN USAHA KECIL DAN MENENGAH Nomor : 18/Per/M.KUMK/VII/2006 TENTANG PEDOMAN TEKNIS BANTUAN PERKUATAN DALAM BIDANG PRODUKSI KEPADA KOPERASI

6

7

8

KEPUTUSAN MENTERI NEGARA KOPERASI DAN UKM, NOMOR: 34/KEP/M.KUKM/VI/2004, TANGGAL 10 JUNI 2004, TENTANG TIM PENYUSUNAN KEPUTUSAN BERSAMA MENTERI KEUANGAN DAN MENTERI NEGARA KOPERASI DAN UKM TENTANG PENGATURAN PENGELOLAAN DANA BERGULIR PEMBERDAYAAN KOPERASI DAN USAHA MIKRO DAN KECIL. KEPUTUSAN MENTERI NEGARA KOPERASI DAN UKM, NOMOR: 119.1/KEP/M.KUKM/X/2004, TANGGAL 1 OKTOBER 2004, TENTANG PEMBENTUKAN LAYANAN DANA BERGULIR.

PERATURAN MENTERI NEGARA KOPERASI DAN USAHA KECIL DAN MENENGAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 39/PER/M.KUKM/XII/2007 TENTANG PEDOMAN PENGAWASAN KOPERASI JASA KEUANGAN SYARIAH DAN UNIT JASA KEUANGAN SYARIAH KOPERASI

9

PERATURAN MENTERI NEGARA KOPERASI DAN USAHA KECILN DAN MENENGAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 35.3/PER/M.KUKM/X/2007 TENTANG PEDOMAN PENILAIAN KESEHATAN KOPERASI JASA KEUANGAN SYARIAH DAN UNIT JASA KEUANGAN SYARIAH KOPERASI

10

KEPUTUSAN MENTERI NEGARA KOPERASI DAN UKM, NOMOR: 70/KEP/M.KUKM/VIII/2005, TANGGAL 2 AGUSTUS 2005, TENTANG PEMBENTUKAN TIM PERSIAPAN BADAN LAYANAN UMUM (BLU) DANA BERGULIR.

PERATURAN MENTERI NEGARA KOPERASI DAN USAHA KECIL DAN MENENGAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 14/Per/M.KUKM/XII/2009 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN MENTERI NEGARA KOPERASI DAN USAHA KECIL DAN MENENGAH NOMOR 20/Per/M.KUKM/XI/2008 TENTANG PEDOMAN PENILAIAN KESEHATAN KOPERASI SIMPAN PINJAM DAN UNIT SIMPAN PINJAM KOPERASI PERATURAN MENTERI NEGARA KOPERASI DAN USAHA KECIL DAN MENENGAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 06/per/M.KUKMI/I/2007 TENTANG PETUNJUK TEKNIS PROGRAM PEMBIAYAAN PRODUKTIF KOPERASI DAN USAHA MIKRO (P3KUM) POLA SYARIAH

11

KEPUTUSAN MENTERI NEGARA KOPERASI DAN UKM, NOMOR: 109.1/KEP/M.KUKM/VIII/2006, TANGGAL 23 AGUSTUS 2006, TENTANG PENGANGKATAN DIREKTUR UTAMA LEMBAGA PENGELOLA DANA BERGULIR KOPERASI DAN USAHA MIKRO, KECIL DAN MENENGAH.

161

12

KEPUTUSAN MENTERI NEGARA KOPERASI DAN UKM, NOMOR: 178/KEP/M.KUKM/XII/2006, TANGGAL 29 DESEMBER 2006, TENTANG PENGANGKATAN DIREKSI PADA LEMBAGA PENGELOLA DANA BERGULIR KOPERASI DAN USAHA MIKRO, KECIL DAN MENENGAH.

PERATURAN MENTERI NEGARA KOPERASI DAN USAHA KECIL DAN MENENGAH REPUBLIK INDONESIA Nomor : 25/Per/M.KUKM/V/2007 TENTANG PETUNJUK TEKNIS PROGRAM PERKUATAN PERMODALAN BAGI KOPERASI FUNGSIONAL

13

KEPUTUSAN MENTERI NEGARA URUSAN KOPERASI DAN USAHA KECIL DAN MENENGAH NOMOR : 20/KEP/MENEG/XI/2000 TENTANG PEDOMAN PENETAPAN STANDAR PELAYANAN MINIMAL BIDANG KOPERASI DAN USAHA KECIL DAN MENENGAH YANG WAJIB DILAKUKAN KABUPATEN/KOTA

PERATURAN MENTERI NEGARA KOPERASI DAN USAHA KECIL DAN MENENGAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 08/Per/M.KUKM/II/2007 TENTANG PETUNJUK TEKNIS PROGRAM PEMBIAYAAN PRODUKTIF KOPERASI DAN USAHA MIKRO (P3KUM) POLA KONVENSIONAL

14

15

KEPUTUSAN MENTERI NEGARA KOPERASI DAN USAHA KECIL DAN MENENGAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 104.1/Kep/M.KUKM/X/2002 TENTANG PETUNJUK PELAKSANAAN PEMBENTUKAN,PENGESAHAN AKTA PENDIRIAN DAN PERUBAHAN ANGGARAN DASAR KOPERASI KEPUTUSAN MENTERI NEGARA URUSAN KOPERASI DAN USAHA KECIL DAN MENENGAH NOMOR : 20/KEP/MENEG/XI/2000 TENTANG

16

PEDOMAN PENETAPAN STANDAR PELAYANAN MINIMAL BIDANG KOPERASI DAN USAHA KECIL DAN MENENGAH YANG WAJIB DILAKUKAN KABUPATEN/KOTA

17

18

KEPMEN KOPERASI DAN UKM NOMOR 20/KEP/MENEG/XI/2000 KEPUTUSAN MENTERI KOPERASI DAN UKM TENTANG PEDOMAN PENETAPAN STANDAR PELAYANAN MINIMAL BIDANG KOPERASI DAN USAHA KECIL DAN MENENGAH YANG WAJIB DILAKUKAN KABUPATEN/KOTA KEPUTUSAN MENTERI NEGARA KOPERASI DAN UKM, NOMOR: 34/KEP/M.KUKM/VI/2004, TANGGAL 10 JUNI 2004, TENTANG TIM PENYUSUNAN KEPUTUSAN BERSAMA MENTERI KEUANGAN DAN MENTERI NEGARA KOPERASI DAN UKM TENTANG PENGATURAN PENGELOLAAN DANA BERGULIR PEMBERDAYAAN KOPERASI DAN USAHA MIKRO DAN KECIL.

PERATURAN MENTERI NEGARA KOPERASI DAN USAHA KECIL DAN MENENGAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 30/Per/M.KUKM/VIII/2007 TENTANG PETUNJUK TEKNIS PERKUATAN PERMODALAN KOPERASI, USAHA KECIL DAN MENENGAH, DAN LEMBAGA KEUANGANNYA DENGAN PENYEDIAAN MODAL AWAL DAN PADANAN MELALUI LEMBAGA MODAL VENTURA PERATURAN MENTERI NEGARA KOPERASI DAN UKM, NOMOR: 19.2/PER/M.KUKM/VIII/2006, TANGGAL 15 AGUSTUS 2006, TENTANG PERUBAHAN ATAS KEPUTUSAN MENTERI NEGARA KOPERASI DAN UKM NOMOR: 70/KEP/MENEG/XII/2001, TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA KANTOR MENTERI NEGARA KOPERASI DAN UKM REPUBLIK INDONESIA. PERATURAN MENTERI NEGARA KOPERASI DAN UKM, NOMOR: 19.4/PER/M.KUKM/VIII/2006, TANGGAL 18 AGUSTUS 2006, TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA LEMBAGA PENGELOLA DANA BERGULIR KOPERASI DAN USAHA MIKRO, KECIL DAN MENENGAH. PERATURAN MENTERI NEGARA KOPERASI DAN UKM, NOMOR: 21/PER/M.KUKM/IX/2006, TANGGAL 29 SEPTEMBER 2006, TENTANG STANDAR PELAYANAN MINIMUM BAGI LEMBAGA PENGELOLA DANA BERGULIR KOPERASI DAN USAHA MIKRO, KECIL DAN MENENGAH. PERATURAN MENTERI NEGARA KOPERASI DAN USAHA KECIL DAN MENENGAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 19/Per/M.KUKM/VIII/2006 TENTANG PEDOMAN TEKNIS PERKUATAN PERMODALAN KOPERASI DAN USAHA KECIL DAN MENENGAH DI KAWASAN INDUSTRI MENTERI NEGARA KOPERASI DAN USAHA KECIL DAN MENENGAH REPUBLIK INDONESIA

162

19

KEPUTUSAN MENTERI NEGARA KOPERASI DAN UKM, NOMOR: 119.1/KEP/M.KUKM/X/2004, TANGGAL 1 OKTOBER 2004, TENTANG PEMBENTUKAN LAYANAN DANA BERGULIR.

PERATURAN MENTERI NEGARA KOPERASI DAN USAHA KECIL DAN MENENGAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 01/Per/M.KUKM/I/2006 TENTANG PETUNJUK PELAKSANAAN PEMBENTUKAN,PENGESAHAN AKTA PENDIRIAN DAN PERUBAHAN ANGGARAN DASAR KOPERASI

20

KEPUTUSAN MENTERI NEGARA KOPERASI DAN UKM, NOMOR: 70/KEP/M.KUKM/VIII/2005, TANGGAL 2 AGUSTUS 2005, TENTANG PEMBENTUKAN TIM PERSIAPAN BADAN LAYANAN UMUM (BLU) DANA BERGULIR.

PERATURAN MENTERI NEGARA KOPERASI DAN USAHA KECIL DAN MENENGAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 19/Per/M.KUKM/VIII/2006 TENTANG PEDOMAN TEKNIS PERKUATAN PERMODALAN KOPERASI DAN USAHA KECIL DAN MENENGAH DI KAWASAN INDUSTRI

21

KEPUTUSAN MENTERI NEGARA KOPERASI DAN UKM, NOMOR: 109.1/KEP/M.KUKM/VIII/2006, TANGGAL 23 AGUSTUS 2006, TENTANG PENGANGKATAN DIREKTUR UTAMA LEMBAGA PENGELOLA DANA BERGULIR KOPERASI DAN USAHA MIKRO, KECIL DAN MENENGAH.

PERATURAN MENTERI NEGARA KOPERASI DAN USAHA KECIL DAN MENENGAH REPUBLIK INDONESIA Nomor : 13 /Per/M.KUKM/VII/2006 TENTANG PEDOMAN TEKNIS PROGRAM SEKURITISASI ASET KOPERASI DAN USAHA KECIL DAN MENENGAH (KUKM)

22

PERATURAN MENTERI NEGARA KOPERASI DAN USAHA KECIL DAN MENENGAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 03/PER/M.KUKM/VI/2010 TENTANG PEDOMAN PROGRAM BANTUAN PENGEMBANGAN KOPERASI MENTERI NEGARA KOPERASI DAN USAHA KECIL DAN MENENGAH

23

PERATURAN MENTERI NEGARA KOPERASI DAN USAHA KECIL DAN MENENGAH NOMOR : 22/PER/M.KUKM/IV/2007 TENTANG PEDOMAN PEMERINGKATAN KOPERASI

24

PERATURAN MENTERI NEGARA KOPERASI DAN USAHA KECIL DAN MENENGAH REPUBLIK INDONESIA Nomor : 03/PER/M.KUKM/VI/2010 TENTANG PEDOMAN PROGRAM BANTUAN PENGEMBANGAN KOPERASI PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR: 07/PMK.02/2006, TANGGAL 16 FEBUARI 2006, TENTANG PERSYARATAN ADMINISTRATIF DALAM RANGKA PENGUSULAN DAN PENETAPAN SATUAN KERJA INSTANSI PEMERINTAH UNTUK MENERAPKAN POLA PENGELOLAAN KEUANGAN BADAN LAYANAN UMUM.

25

163

26

PERATURAN MENTERI NEGARA KOPERASI DAN UKM, NOMOR: 19.2/PER/M.KUKM/VIII/2006, TANGGAL 15 AGUSTUS 2006, TENTANG PERUBAHAN ATAS KEPUTUSAN MENTERI NEGARA KOPERASI DAN UKM NOMOR: 70/KEP/MENEG/XII/2001, TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA KANTOR MENTERI NEGARA KOPERASI DAN UKM REPUBLIK INDONESIA.

27

PERATURAN MENTERI NEGARA KOPERASI DAN UKM, NOMOR: 19.4/PER/M.KUKM/VIII/2006, TANGGAL 18 AGUSTUS 2006, TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA LEMBAGA PENGELOLA DANA BERGULIR KOPERASI DAN USAHA MIKRO, KECIL DAN MENENGAH.

28

PERATURAN MENTERI NEGARA KOPERASI DAN UKM, NOMOR: 21/PER/M.KUKM/IX/2006, TANGGAL 29 SEPTEMBER 2006, TENTANG STANDAR PELAYANAN MINIMUM BAGI LEMBAGA PENGELOLA DANA BERGULIR KOPERASI DAN USAHA MIKRO, KECIL DAN MENENGAH.

Tabel 4.16. Pembagian Urusan Pemerintahan Bidang Kebudayaan dan Pariwisata
KEMENTERIAN BUDAYA DAN PARIWISATA NO 1. KEPMEN NOMOR KM.62/UM.201/MKP/2009 TENTANG PENETAPAN PERIODESASI WAKTU KUNJUNGAN TAMU PADA HOTEL ENHAII SEKOLAH TINGGI PARIWISATA BANDUNG DAN LANGON RESORT & SPA SEKOLAH TINGGI PARIWISATA BALI PERMEN NOMOR PM.13/PW.007/MKP/2010 TENTANG PENETAPAN RUMAH SAKIT BAKTI TIMAH PANGKAL PINANG, WISMA TIMAH I, MUSEUM TIMAH, RUMAH RESIDEN, MENARA AIR MINUM, TAMAN SARI (WILHELMINA PARK), GEREJA KATHEDRAL SANTO YOSEPH, EKS KANTOR PUSAT PN. TIMAH, WISMA RANGGAM, PESANGGRAHAN MENUMBING, KLENTENG KONG FUK NIO, RUMAH MAYOR CHINA, DAN MASJID JAMI YANG BERLOKASI DI WILAYAH PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG SEBAGAI BENDA CAGAR BUDAYA, SITUS ATAU KAWASAN CAGAR BUDAYA YANG DILINDUNGI UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 5 TAHUN 1992 TENTANG BENDA CAGAR BUDAYA

2.

NOMOR KM.61/DL.208/MKP/2009 TENTANG PENETAPAN KRITERIA PEMBERIAN BEASISWA BAGI MAHASISWA PADA SEKOLAH TINGGI PARIWISATA (STP) BANDUNG

NOMOR PM.12/PW.007/MKP/2010 TENTANG PENETAPAN BENTENG BARNEVELD YANG BERLOKASI DI WILAYAH PROVINSI MALUKU UTARA SEBAGAI BENDA CAGAR BUDAYA, SITUS ATAU KAWASAN CAGAR BUDAYA YANG DILINDUNGI UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 5 TAHUN 1992 TENTANG BENDA CAGAR BUDAYA

164

3.

NOMOR KM.32/OT.001/MKP/2009 TENTANG PEMBENTUKAN KELOMPOK KERJA FESTIVAL FILM INDONESIA

NOMOR PM.11/PW.007/MKP/2010 TENTANG PENETAPAN BENTENG NIEUW ZEELANDIA/BENTENG HARUKU, BENTENG HOORN/PELAUW, BENTENG KAPAHAHA, BENTENG HAARLEM/VAN DER CAPELLEN YANG BERLOKASI DI WILAYAH PROVINSI MALUKU SEBAGAI BENDA CAGAR BUDAYA, SITUS ATAU KAWASAN CAGAR BUDAYA YANG DILINDUNGI UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 5 TAHUN 1992 TENTANG BENDA CAGAR BUDAYA NOMOR PM.10/PW.007/MKP/2010 TENTANG PENETAPAN MAKAM NANI WARTANOBE, MAKAM RAJA BLONGKOD, KANTOR PT. PELNI, DAN KANTOR POS KOTA GORONTALO YANG BERLOKASI DI WILAYAH PROVINSI GORONTALO SEBAGAI BENDA CAGAR BUDAYA, SITUS ATAU KAWASAN CAGAR BUDAYA YANG DILINDUNGI UNDANGUNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 5 TAHUN 1992 TENTANG BENDA CAGAR BUDAYA. NOMOR PM.09/PW.007/MKP/2010 TENTANG PENETAPAN KOMPLEKS KETE KESSU, LONDA, KUBURAN BATU DAN RUMAH ADAT LEMO, RANTE KARASSIK, TONGKONAN BUNTU PUNE, PEKUBURAN PALATOKKE, RANTE BUNTU MENGKEPE, RANTE ALLA PARINDING, BORI PARINDING, KOMPLEKS PERKAMPUNGAN TUA PALLAWA, RANTE PALLAWA, PEKUBURAN BATU LOKOMATA, PEMAKAMAN RAJA-RAJA SANGGALA, DAN TAMPANG ALLO YANG BERLOKASI DI WILAYAH PROVINSI SULAWESI SELATAN SEBAGAI BENDA CAGAR BUDAYA, SITUS ATAU KAWASAN CAGAR BUDAYA YANG DILINDUNGI UNDANGUNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 5 TAHUN 1992 TENTANG BENDA CAGAR BUDAYA

4.

NOMOR KM.33/KP/107/MKP/2008 TENTANG PEMBERIAN PENGHARGAAN KEPADA PELESTARI DAN JURU PELIHARA BENDA CAGAR BUDAYA

5.

NOMOR SK.51/PW.007/MKP/2008 TENTANG PENETAPAN BENDA BERHARGA ASAL MUATAN KAPAL YANG TENGGELAM DI PERAIRAN PULAU BUAYA KEPULAUAN RIAU, KARANG HELUPUTAN KEPULAUAN RIAU, LAUT JAWA UTARA CIREBON DAN TELUK SUMPAT KEPULAUAN RIAU SEBAGAI MILIK NEGARA

6.

NOMOR KM.62/PW.204/MKP/2004 TENTANG PROSEDUR PEMBUATAN OLEH PIHAK ASING DI INDONESIA

FILM

NOMOR PM.08/PW.007/MKP/2010 TENTANG PENETAPAN SITUS DAN BANGUNAN RUMAH/MARKAS GERILYA ANGKATAN PERANG REPUBLIK INDONESIA (APRI) PANGLIMA BESAR JENDERAL SOEDIRMAN DI KABUPATEN PACITAN, PROVINSI JAWA TIMUR SEBAGAI BENDA CAGAR BUDAYA, SITUS ATAU KAWASAN CAGAR BUDAYA YANG DILINDUNGI UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 5 TAHUN 1992 TENTANG BENDA CAGAR BUDAYA

165

7.

NOMOR KM.51/OT/MKP/2004 TENTANG PEDOMAN MASJID BAITUL ALA LIL MUJAHIDIN YANG BERLOKASI DI WILAYAH PIDIE, PROVINSI NANGGROE ACEH DARUSSALAM, OBSERVATORIUM BOSSCHA YANG BERLOKASI DI WILAYAH BANDUNG, PROVINSI JAWA BARAT DAN GEREJA PROTESTAN KOTA KUPANG YANG BERLOKASI DI WILAYAH KUPANG, PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR SEBAGAI BENDA CAGAR BUDAYA, SITUS ATAU KAWASAN CAGAR BUDAYA YANG DILINDUNGI UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 5 TAHUN 1992

NOMOR PM.07/PW.007/MKP/2010 TENTANG PENETAPAN GEDUNG BANK BNI 46, GEDUNG SMP NEGERI 6, GEDUNG KANTOR POS BESAR, KELENTENG PONCOWINATAN (KRANGGAN), GEDUNG BANK INDONESIA, GEREJA SANTO ANTONIUS, GEDUNG SMU NEGERI 3, KOMPLEKS GEDUNG KEPATIHAN, GEDUNG MUSEUM SASMITALOKA, GEDUNG SMP NEGERI I, GEDUNG RUMAH SAKIT PANTI RAPIH, GEDUNG KONI, KRATON YOGYAKARTA, PURO PAKUALAMAN, NDALEM TEJOKUSUMAN, DAN GEDUNG KANTOR DINAS PARIWISATA SENI DAN BUDAYA KOTA YOGYAKARTA YANG BERLOKASI DI WILAYAH PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA SEBAGAI BENDA CAGAR BUDAYA, SITUS ATAU KAWASAN CAGAR BUDAYA YANG DILINDUNGI UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 5 TAHUN 1992 TENTANG BENDA CAGAR BUDAYA NOMOR PM.06/PW.007/MKP/2010 TENTANG PENETAPAN PURI AGUNG YANG BERLOKASI DI WILAYAH PROVINSI BALI SEBAGAI BENDA CAGAR BUDAYA, SITUS ATAU KAWASAN CAGAR BUDAYA YANG DILINDUNGI UNDANGUNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 5 TAHUN 1992 TENTANG BENDA CAGAR BUDAYA

8.

NOMOR KM.27.A/UM.001/MKP/04 TENTANG BADAN PEKERJA KEBUDAYAAN

KONGRES

166

9.

NOMOR KM.14/PW.007/MKP/2004 TENTANG PENETAPAN MAKAM RAJA HAMIDAH ENGKU PUTERI, MAKAM RAJA JAFAR DAN RAJA ALI, GEDUNG/ISTANA ENGKU BILIK, MAKAM RAJA HAJI FISABILILLAH, PERIGI PUTERI, BENTENG BUKIT KURSI, MASJID SULTAN LINGGA, MAKAM SULTAN MAHMUDSYAH III, MAKAM BUKIT CENGKEH, DAN MAKAM MERAH YANG BERLOKASI DI WILAYAH PROVINSI RIAU SEBAGAI BENDA CAGAR BUDAYA, SITUS, ATAU KAWASAN YANG DILINDUNGI UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 5 TAHUN 1992

NOMOR PM.05/PW.007/MKP/2010 TENTANG PENETAPAN GEDUNG SEKOLAH RAJO (SMU2), GEDUNG KANDEPDIKBUD, KOMPLEKS KANTOR POLRES AGAM, KOMPLEKS KANTOR KODIM AGAM, TUGU MANGGOPOH, GEGUNG SMP 1, GEREJA KATHOLIK, RUMAH BEKAS KEPALA STASIUN KERETA API, GEREJA PROTESTAN, VILA OEPANG-OEPANG, HOTEL CENTRUM (POS DAN GIRO), ISTANA BUNG HATTA, JAM GADANG, RUMAH KELAHIRAN BUNG HATTA, WISMA ANGGREK, VILLA MERDEKA, MAKAM TUANKU SYECHK CEROBONG ASAP NO.101 B, RUMAH GADANG ENGKU PALO (SUKU TANJUNG), RUMAH TINGGAL DI JALAN DR. A.RIVAI NO.38, PASAR LORONG SAUDAGAR, LEMBAGA PERMASYARAKATAN BUKIT TINGGI, MESJID RAYA RAO-RAO, MESJID SAADAH, KOMPLEKS MAKAM TUAN TITAH, MEDAN BAPANEH SITANGKAI, KUBUR NINIK JANGGUT HITAM, RUMAH ADAT TIANG PANJANG, MEDAN BAPANEH GUNUNG, KOMPLEK MAKAM MAKHUDUM SUMANIK, BATU BATIKAM, PRASASTI RAMBATAN, MEGALIT SIMAWANG, PRASASTI KUBURAJO, MESJID RAYA LIMA KAUM, MEDAN BAPANEH KOTO BARANJAK, BENTENG VAN DER CAPELLEN, PRASASTI SARUASO II, USTANO RAJO ALAM GUDANG PAGARUYUNG, KOMPLEKS PRASASTI ADITYAWARMAN, PRASASTI PONGGONGAN, MAKAM RAJO IBADAT, MAKAM INDOMO SARUASO, PRASASTI SARUASO I, USTANO SARUASO, MEGALIT TALAGO GUNUNG, USTANO RAJO ADAT BUO, GEDUNG CONTROLLER BUO, BALAIRUNG SARI TABEK, MAKAM PANJANG TANTEJO GARHANO, PRASASTI PRIANGAN, SURAU LUBUK BAUK, KOMPLEK MAKAM TUANKU PAMANSIANGAN, DAN MAKAM HAJI MISKIN YANG BERLOKASI DI WILAYAH PROVINSI SUMATERA BARAT SEBAGAI BENDA CAGAR BUDAYA, SITUS ATAU KAWASAN CAGAR BUDAYA YANG DILINDUNGI UNDANGUNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 5 TAHUN 1992 TENTANG BENDA CAGAR BUDAYA NOMOR PM.03/PW.007/MKP/2010 TENTANG PENETAPAN PASAR JOHAR, KAWASAN LAWEYAN, CANDI ASU, CANDI LUMBUNG, CANDI PENDEM, KERATON KASUNANAN, KOMPLEKS MESJID CIPTOMULYO, UMBUL PAGGING, KOMPLEKS PETIRTAAN CABEAN KUNTI, DAN SITUS MENGGUNG YANG BERLOKASI DI WILAYAH PROVINSI JAWA TENGAH SEBAGAI BENDA CAGAR BUDAYA, SITUS ATAU KAWASAN CAGAR BUDAYA YANG DILINDUNGI UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 5 TAHUN 1992 TENTANG BENDA CAGAR BUDAYA

10.

NOMOR KM.13/PW.007/MKP/2004 TENTANG PENETAPAN ISTANA SIAK, BALAI KERAPATAN TINGGI, MAKAM SULTAN KASIM II, MASJID RAYA SYAHABUDDIN, KOMPLEKS MAKAM KOTO TINGGI, MAKAM SULTAN ABDUL JALIL RAHMADSYAH, TANGSI BELANDA, GEDUNG CONTROLLEUR, BANGUNAN LANDRAAD, MASJID JAMI AIR TIRIS, RUMAH ADAT BENDANG KENAGARIAN 50 KOTO, MASJID RAYA PEKANBARU YANG BERLOKASI DI WILAYAH PROVINSI RIAU SEBAGAI BENDA CAGAR BUDAYA, SITUS, ATAU KAWASAN YANG DILINDUNGI UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 5 TAHUN 1992

167

11.

NOMOR KM.12/PW.007/MKP/2004 TENTANG PENETAPAN SITUS TAMAN PURBAKALA PUGUNGRAHARJO, SITUS MEGALITIK KEBON TEBU/BATU BERAK, SITUS MEGALITIK BATU JAGUR, SITUS MEGALITIK BATU BEDIL, SITUS PRASASTI BATU BEDIL, SITUS MEGALITIK BATU GAJAH, DAN SITUS PRASASTIPALAS PASEMAH YANG BERALOKASI DI WILAYAH PROVINSI LAMPUNG SEBAGAI BENDA CAGAR BUDAYA, SITUS, ATAU KAWASAN YANG DILINDUNGI UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 5 TAHUN 1992

NOMOR PM.02/PW.007/MKP/2010 TENTANG PENETAPAN BATU GOONG CITAMAN, SITUS PATAPAN, GEDUNG BPKD (BADAN PENGELOLA KEUANGAN DAERAH) KAB. SERANG, GEDUNG JUANG 45, PULAU SANGHYANG, STASIUN KERETA API SERANG, PENDOPO KABUPATEN PANDEGLANG, MENARA AIR, MESJID CARINGIN, RUMAH BENJOL, KANTOR YAYASAN MAULANA HASANUDDIN CILEGON, GEDUNG BALAI BUDAYA PANDEGLANG, GEDUNG DPRD KABUPATEN LEBAK, MASJID DAARUL FALAH CIKONENG, BEKAS RUMAH MULTATULI (E.DEUWES DEKKER) YANG BELOKASI DI WILAYAH PROVINSI BANTEN SEBAGAI BENDA CAGAR BUDAYA, SITUS ATAU KAWASAN CAGAR BUDAYA YANG DILINDUNGI UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 5 TAHUN 1992 TENTANG BENDA CAGAR BUDAYA NOMOR PM.01/PW.007/MKP/2010 TENTANG PENETAPAN ISTANA MAIMUN, MESJID AZIZI, RUMAH DINAS WALIKOTA MEDAN, RUMAH TJONG AFIE, STASIUN KERETA API BINJAI, KOMPLEKS MAKAM KESULTANAN LANGKAT, GEDUNG KERAPATAN SULTAN LANGKAT/MUSEUM DAERAH KABUPATEN LANGKAT, GEDUNG PUSAT AVROS/BKS, DAN MASJID RAYA AL MA'SHUN YANG BERLOKASI DI WILAYAH PROVINSI SUMATERA UTARA SEBAGAI BENDA CAGAR BUDAYA, SITUS ATAU KAWASAN CAGAR BUDAYA YANG DILINDUNGI UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA

12.

NOMOR KM.11/PW.007/MKP/2004 TENTANG PENETAPAN MASJID AGUNG PONDOK TINGGI, MASJID KUNO TANJUNG PAUH ILIR, MASJID KRAMAT KOTOTUO (PULAU TENGAH), MASJID KUNO LEMPUR MUDIK, MASJID KUNO LEMPUR TENGAH, RUMAH TRADISIONAL RANTAU PANJANG, SITUS BATU PRASASTI KARANGBERAHI, KLENTENG TUO HOK TEK, SITUS CANDI TELUK I DAN CANDI TELUK II YANG BERLOKASI DI WILAYAH PROVINSI JAMBI SEBAGAI BENDA CAGAR BUDAYA, SITUS, ATAU KAWASAN YANG DILINDUNGI UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 5 TAHUN 1992

13.

NOMOR KM.10/PW.007/MKP/2004 TENTANG PENETAPAN BENTENG MARLBOROUGH, BANGUNAN THOMAS PARK, TUGU HELMINGTON, BUNKER JEPANG, RUMAH BEKAS KEDIAMAN BUNG KARNO, MASJID JAMIK BENGKULU, MAKAM SENTOT ALIBASYAH YANG BERLOKASI DI WILAYAH PROVINSI BENGKULU SEBAGAI BENDA CAGAR BUDAYA, SITUS, ATAU KAWASAN YANG DILINDUNGI UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 5 TAHUN 1992

NOMOR 5 TAHUN 1992 TENTANG BENDA CAGAR BUDAYA .

14.

NOMOR KM.09/PW.007/MKP/2004 TENTANG PENETAPAN KOMPLEKS MAKAM SABOKINGKING, KOMPLEKS MAKAM KESULTANAN PALEMBANG, KOMPLEKS MAKAM GEDEING SURO, KOMPLEKS PERCANDIAN BUMI AYU, MESJID AGUNG PALEMBANG, SITUS MEGALITIK TINGGIHARI, SITUS BELUMAI, SITUS TEGURWANGI DAN BENTENG KUTA BESAK YANG BELOKASI DI WILAYAH PROVINSI SUMATERA SELATAN SEBAGAI BENDA CAGAR BUDAYA, SITUS, ATAU KAWASAN YANG DILINDUNGI UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 5 TAHUN 1992

NOMOR PM.59/HK.501/MKP/2009
TENTANG PENDELEGASIAN WEWENANG PEMBERIAN IZIN USAHA DI BIDANG KEBUDAYAAN DAN PARIWISATA DALAM RANGKA PENANAMAN MODAL KEPADA KEPALA BADAN KOORDINASI MODAL

168

15.

NOMOR KM.08/PW.007/MKP/2004 TENTANG PENETAPAN SITUS PRASASTI BATUTULIS DAN SITUS PURWAKALIH YANG BERLOKASI DI WILAYAH BOGOR, PROVINSI JAWA BARAT SEBAGAI BENDA CAGAR BUDAYA, SITUS, ATAU KAWASAN YANG DILINDUNGI UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 5 TAHUN 1992

NOMOR PM.49/UM.001/MKP/2009 TENTANG PEDOMAN PELESTARIAN BENDA CAGAR BUDAYA DAN SITUS

16.

NOMOR KM.12/PW007/MKP/03 TENTANG PENETAPAN KERATON BOROKO, ISTANA MANGANITU, BENTENG AMURANG, GEREJA TUA GMIM, DAN MASJID AR-RAHMAN BULILA YANG BERLOKASI DI WILAYAH PROVINSI SULAWESI UTARA SEBAGAI BENDA CAGAR BUDAYA DAN/ATAU SITUS YANG DILINDUNGI UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 5 TAHUN 1992

NOMOR PM.48/UM.001/MKP/2009 TENTANG PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN PENINGGALAN BAWAH AIR

17.

NOMOR KM.13/KP.105/2002 TENTANG PEMBERIAN SENI NOMOR KM.3/HK.001/MKP.02 TENTANG PENGGOLONGAN KELAS HOTEL NOMOR KEP-012/MKP/IV/2001 TENTANG PEDOMAN UMUM USAHA PARIWISATA

NOMOR PM.47/UM.001/MKP/2009 TENTANG PEDOMAN PEMETAAN SEJARAH NOMOR PM.46/UM.001/MKP/2009 TENTANG PEDOMAN PENULISAN SEJARAH LOKAL NOMOR PM.45/UM.001/MKP/2009 TENTANG PEDOMAN PERMUSEUMAN

18.

19.

PERIZINAN

20.

NOMOR SK.01/HK.501/DPT.IV/KKP/2004 TENTANG PENETAPAN BIRO PERJALANAN WISATA PENYELENGGARAAN KUNJUNGAN WISATAWAN RRC KE INDONESIA NOMOR KM.03/OT.001/MKP/04 TENTANG KELOMPOK KERJA PELAKSANAAN KEGIATAN PENGEMBANGAN PULAU-PULAU KECIL UNTUK PARIWISATA NOMOR KM.19/KP.107/MKP/04 TENTANG PEMBERIAN PENGHARGAAN DI LINGKUNGAN KEMENTERIAN KEBUDAYAAN DAN PARIWISATA NOMOR 27/PW.202/MK.04 13-4-2004 TENTANG PEDOMAN PENYELENGGARAAN PROMOSI KEBUDAYAAN DAN PARIWISATA DI LINGKUNGAN KEMENTERIAN KEBUDAYAAN DAN PARIWISATA

NOMOR PM.33/UM.001/MKP/2009 TENTANG PENETAPAN DESTINASI PARIWISATA UNGGULAN NOMOR PM.19/UM.101/MKP/2009 TENTANG PENGAMANAN OBJEK VITAL NASIONAL DI BIDANG KEBUDAYAAN DAN PARIWISATA

21
22

NOMOR PM.18/UM.001/MKP/2009 TENTANG PEDOMAN PENGGUNAAN JASA DAN PRODUK USAHA MIKRO KECIL MENENGAH DALAM KEGIATAN PERTEMUAN, PERJALANAN INSENTIF, KONFERENSI DAN PAMERAN NOMOR PM.11/PW.204/MKP/2009 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN MENTERI KEBUDAYAAN DAN PARIWISATA NOMOR PM.55/PW.204/MKP/2008 TENTANG PEMANFAATAN JASA TEKNIK FILM DALAM NEGERI DALAM KEGIATAN PEMBUATAN DAN PENGGANDAAN FILM NASIONAL SERTA PENGGANDAAN FILM IMPOR NOMOR PM.34/HM.001/MKP/2008 TENTANG PENGAMANAN OBJEK VITAL NASIONAL DI BIDANG KEBUDAYAAN DAN PARIWISATA

23

24

NOMOR KM.37/OT.001/MKP/04 TENTANG PEMBENTUKAN KELOMPOK KERJA PENYUSUNAN R. PERUBAHAN UU NO. 9 TAHUN 1990 TENTANG KEPARIWISATAAN

169

25

NOMOR KM.58/KP.107/MKP/2004 TENTANG PEMBERIAN PENGHARGAAN INOVASI KEPARIWISATAAN INDONESIA KEPADA INDIVIDU ATAU KELOMPOK, ORGANISASI, MAUPUN BADAN USAHA DI BIDANG PARIWISATA NOMOR KM.609/OT.001/MKP/04 TENTANG SUSUNAN ORGANISASI PANITIA TETAP "INDONESIAN PERFORMING ARTS MART"

NOMOR PM.04/UM.001/MKP/2008 TENTANG SADAR WISATA

26

NOMOR PM.01/HK.001/MKP/2008 TENTANG PENYESUAIAN NOMENKLATUR KEPUTUSAN MENTERI PENERANGAN NOMOR 217/KEP/MENPEN/1994 TENTANG TATA KERJA BADAN PERTIMBANGAN PERFILMAN NASIONAL NOMOR PM.47/HK.001/MKP/2008 TENTANG INDIKATOR KINERJA UTAMA DEPARTEMEN KEBUDAYAAN DAN PARIWISATA NOMOR PM.37/UM.001/MKP/2007 TENTANG KRITERIA DAN PENETAPAN DESTINASI PARIWISATA UNGGULAN NOMOR PM.13/PW.007/MKP/2005 TENTANG PENETAPAN GEDUNG, GEREJA, RUMAH KEDIAMAN, MUSEUM, RUMAH SAKIT, LAPANGAN DAN MONUMEN, MASJID, MAKAM, MENARA SYAHBANDAR, DAN STASIUN KERETA API YANG BERLOKASI DI WILAYAH PROVINSI DAERAH KHUSUS IBUKOTA JAKARTA SEBAGAI BENDA CAGAR BUDAYA, SITUS STAU KAWASAN CAGAR BUDAYA YANG DILINDUNGI UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 5 TAHUN 1992 NOMOR PM.12/PW.007/MKP/2005 TENTANG PENETAPAN BANGUNAN GEREJA JEMAAT IMMANUEL KEDIRI YANG BERLOKASI DI WILAYAH KEDIRI, PROVINSI JAWA TIMUR SEBAGAI BENDA CAGAR BUDAYA, SITUS ATAU KAWASAN CAGAR BUDAYA YANG DILINDUNGI UNDANGUNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 5 TAHUN 1992

27

NOMOR KM.62/PW.205/MKP/04 TENTANG PROSEDUR PEMBUATAN OLEH PIHAK ASING DI INDONESIA

FILM

28

NOMOR KM.64/HK.201/MKP/04 20-10-2004 TENTANG PEDOMAN PENGEMBANGAN PARIWISATA DAERAH NOMOR KM.66/HK.501/MKP/04 TENTANG PEDOMAN UMUM USAHA JASA IMPRESARIAT

29

30

NOMOR SK.265/OT.001/SESMEN/KP/2004 TENTANG PEMBENTUKAN PANITIA FESTIVAL NASIONAL SENI PERTUNJUKAN TAHUN 2004 DI BANDA ACEH

170

Tabel 6.17. Pembagian Urusan Pemerintahan Bidang Kepemudaan dan Olah raga
KEMENTERIAN PEMUDA DAN OLAHRAGA NO KEPMEN 1 PERMEN NOMOR 0275 TAHUN 2010 TENTANG PERSYARATAN DAN MEKANISME PENGANGKATAN OLAHRAGAWAN DAN PELATIH OLAHRAGA BERPRESTASI MENJADI CALON PEGAWAI NEGERI SIPIL NOMOR 0016 TAHUN 2010 TENTANG LOGO KEMENTRIAN PEMUDA DAN OLAHRAGA REPUBLIK INDONESIA NOMOR : PER. 0033/MENPORA/II/2008 TENTANG PETUNJUK TEKNIS TATA NASKAH DINAS KEMENTRIAN NEGARA PEMUDA DAN OLAHRAGA

2

3

Tabel 6.18. Pembagian Urusan Pemerintahan Bidang Pemberdayaan Masyarakat dan Desa
KEMENTERIAN PEMBANGUNAN AERAH TERTINGGAL NO KEPMEN 1 NOMOR 001/KEP/M-PDT/I/2005 TENTANG STRATEGI NASIONAL PEMBANGUNAN DAERAH TERTINGGAL PERMEN NOMOR 040/PER/M-PDT/II/2007 TENTANG PEDOMAN UMUM DAN PENETAPAN ALOKASI DANA STIMULAN PENYUSUNAN STRATEGI DAERAH PERCEPATAN PEMBANGUNAN DAERAH TERTINGGAL DAN PENYUSUNAN RENCANA AKSI DAERAH PERCEPATAN PEMBANGUNAN DAERAH TERTINGGAL PROVINSI DAN KABUPATEN TERTINGGAL NOMOR 004/PER-M/PDT/III/2005 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA KEMENTERIAN NEGARA PEMBANGUNAN DAERAH TERTINGGAL 3 NOMOR 09/PER-M/PDT/VII/2006 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA KEMENTERIAN NEGARA PEMBANGUNAN DAERAH TERTINGGAL

2

Tabel 6.19 Pembagian Urusan Pemerintahan Bidang Statistik
NO KEPMEN BADAN PUSAT STATISTIKA PERMEN

171

1

NOMOR: KEP. 41 TAHUN 2000 TENTANG PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN PULAUPULAU KECIL YANG BERKELANJUTAN DAN BERBASIS MASYARAKAT NOMOR: KEP. 01/MEN/2002 TENTANG SISTEM MANAJEMEN MUTU TERPADU HASIL PERIKANAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN NOMOR: KEP. 02/MEN/2002 TENTANG PEDOMAN PELAKSANAAN PENGAWASAN PENANGKAPAN IKAN NOMOR: KEP. 03/MEN/2002 TENTANG LOG BOOK PENANGKAPAN DAN PENGANGKUTAN IKAN NOMOR: KEP. 04/MEN/2002 TENTANG PAKAIAN SERAGAM KERJA, TANDA PENGENAL, DAN ATRIBUT BAGI PENGAWAS PERIKANAN

NOMOR: PER. 03/MEN/2005 TENTANG TINDAKAN KARANTINA IKAN OLEH PIHAK KETIGA

2

NOMOR: PER. 07/MEN/2005 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA DEPARTEMEN KELAUTAN DAN PERIKANAN NOMOR: PER. 06/MEN/2005 TENTANG PENGGANTIAN BENTUK DAN FORMAT PERIZINAN USAHA PENANGKAPAN IKAN NOMOR: PER. 13/MEN/2005 TENTANG FORUM KOORDINASI PENANGANAN TINDAK PIDANA DI BIDANG PERIKANAN NOMOR: PER. 15/MEN/2005 TENTANG PENANGKAPAN IKAN DAN/ATAU PEMBUDIDAYAAN IKAN DI WILAYAH PENGELOLAAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA YANG BUKAN UNTUK TUJUAN KOMERSIAL

3

4

5

6

NOMOR: KEP. 06/MEN/2002 TENTANG PERSYARATAN DAN TATA CARA PEMERIKSAAN MUTU HASIL PERIKANAN YANG MASUK KE WILAYAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR: KEP. 08/MEN/2002 TENTANG PEMBANGUNAN DAN PENGEMBANGAN SISTEM INFORMASI MANAJEMEN DEPARTEMEN KELAUTAN DAN PERIKANAN NOMOR: KEP. 09/MEN/2002 TENTANG INTENSIFIKASI PEMBUDIDAYA IKAN

NOMOR: PER. 02/MEN/2006 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA PELABUHAN PERIKANAN

7

NOMOR: PER. 10/MEN/2006 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA BALAI BUDIDAYA LAUT

8

NOMOR: PER. 13/MEN/2006 TENTANG PERUBAHAN PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN NOMOR PER. 07/MEN/2005 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA DEPARTEMEN KELAUTAN DAN PERIKANAN NOMOR: PER. 16/MEN/2006 TENTANG PELABUHAN PERIKANAN

9

NOMOR: KEP. 10/MEN/2002 TENTANG PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PENGELOLAAN PESISIR TERPADU NOMOR: KEP. 12/MEN/2002 TENTANG PENDAFTARAN ULANG PERIZINAN USAHA PENANGKAPAN IKAN TAHAP KEDUA NOMOR: KEP. 13/MEN/2002 TENTANG IZIN BELAJAR ATAS BIAYA SENDIRI BAGI PEGAWAI NEGERI SIPIL DI LINGKUNGAN DEPARTEMEN KELAUTAN DAN PERIKANAN NOMOR: KEP. 15/MEN/2002 TENTANG VARIETAS UDANG ROSTRIS SEBAGAI VARIETAS UNGGUL

10

NOMOR: PER. 17/MEN/2006 TENTANG USAHA PERIKANAN TANGKAP

11

NOMOR: PER. 18/MEN/2006 TENTANG SKALA USAHA PENGOLAHAN HASIL PERIKANAN

12

NOMOR: PER. 21/MEN/2006 TENTANG TINDAKAN KARANTINA IKAN DALAM HAL TRANSIT

172

13

NOMOR: KEP. 17/MEN/2002 TENTANG PENYELENGGARAAN RAPAT KOORDINASI NASIONAL DAN RAPAT KERJA TEKNIS DEPARTEMEN KELAUTAN DAN PERIKANAN TAHUN 2002

NOMOR: PER. 01/MEN/2007 TENTANG PENGENDALIAN SISTEM JAMINAN MUTU DAN KEAMANAN HASIL PERIKANAN

14

NOMOR: KEP. 18/MEN/2002 TENTANG RENCANA STRATEGIS PEMBANGUNAN KELAUTAN DAN PERIKANAN TAHUN 20012004 NOMOR: KEP. 21/MEN/2002 TENTANG PEDOMAN PENYELENGGARAN PENDIDIKAN SEKOLAH USAHA PERIKANAN MENENGAH NOMOR: KEP. 22/MEN/2002 TENTANG PENYUSUNAN RENCANA DAN PROGRAM PEMBANGUNAN DI LINGKUNGAN DEPARTEMEN KELAUTAN DAN PERIKANAN NOMOR: KEP. 23/MEN/2002 TENTANG PEDOMAN MONITORING, EVALUASI, PENGENDALIAN DAN PELAPORAN PROGRAM/PROYEK PEMBANGUNAN DI LINGKUNGAN DEPARTEMEN KELAUTAN DAN PERIKANAN

NOMOR: PER. 02/MEN/2007 TENTANG MONITORING RESIDU OBAT, BAHAN KIMIA, BAHAN BIOLOGI, DAN KONTAMINAN PADA PEMBUDIDAYAAN IKAN NOMOR: PER. 03/MEN/2007 TENTANG SURAT LAIK OPERASI KAPAL PERIKANAN

15

16

NOMOR: PER. 04/MEN/2007 TENTANG PELAPORAN HARTA KEKAYAAN PENYELENGGARA NEGARA DI LINGKUNGAN DEPARTEMEN KELAUTAN DAN PERIKANAN NOMOR: PER. 06/MEN/2007 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA PELABUHAN PERIKANAN

17

18

NOMOR: KEP. 24/MEN/2002 TENTANG TATA CARA DAN TEKNIK PENYUSUNAN PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN DI LINGKUNGAN DEPARTEMEN KELAUTAN DAN PERIKANAN

NOMOR: PER. 07/MEN/2007 TENTANG PERUBAHAN KEDUA ATAS PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN NOMOR: PER. 07/MEN/2005 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA DEPARTEMEN KELAUTAN DAN PERIKANAN

19

NOMOR: KEP. 26/MEN/2002 TENTANG PENYEDIAAN, PEREDARAN, PENGGUNAAN, DAN PENGAWASAN OBAT IKAN

NOMOR: PER. 08/MEN/2007 TENTANG PERUBAHAN KETIGA PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN NOMOR: 07/MEN/2005 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA DEPARTEMEN KELAUTAN DAN PERIKANAN

20

NOMOR: KEP. 27/MEN/2002 TENTANG PEMBENTUKAN KOMISI OBAT IKAN

NOMOR: PER. 09/MEN/2007 TENTANG KETENTUAN PEMASUKAN MEDIA PEMBAWA BERUPA IKAN HIDUP SEBAGAI BARANG BAWAAN KE DALAM WILAYAH NEGARA REPUBLIK INDONESIA

21

NOMOR: KEP. 28/MEN/2002 TENTANG LARANGAN PEMASUKAN DAN PENGELUARAN SERTA PENETAPAN PULAU JAWA SEBAGAI DAERAH WABAH HAMA DAN PENYAKIT VIRUS PADA IKAN MAS DAN KOI

NOMOR: PER. 10/MEN/2007 TENTANG PEMBERIAN UANG INSENTIF KEPADA APARAT PENEGAK HUKUM DAN PIHAKPIHAK YANG BERJASA DALAM PENYELESAIAN TINDAK PIDANA PERIKANAN

173

22

NOMOR: KEP. 29/MEN/2002 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA UNIT PELAKSANA TEKNIS KARANTINA IKAN NOMOR: KEP. 30/MEN/2002 TENTANG PEDOMAN UMUM KERJA SAMA LUAR NEGERI DI LINGKUNGAN DEPARTEMEN KELAUTAN DAN PERIKANAN NOMOR: KEP. 32/MEN/2002 TENTANG NASKAH DINAS DI LINGKUNGAN DEPARTEMEN KELAUTAN DAN PERIKANAN NOMOR: KEP. 33/MEN/2002 TENTANG ZONASI WILAYAH PESISIR DAN LAUT UNTUK KEGIATAN PENGUSAHAAN PASIR LAUT NOMOR: KEP. 34/MEN/2002 TENTANG PEDOMAN UMUM PENATAAN RUANG PESISIR DAN PULAU-PULAU KECIL

NOMOR: PER. 11/MEN/2007 TENTANG PENGADAAN DAN PENYALURAN BENIH IKAN YANG DIBERIKAN BANTUAN SELISIH HARGA NOMOR: PER. 12/MEN/2007 TENTANG PERIZINAN USAHA PEMBUDIDAYAAN IKAN

23

24

NOMOR: PER. 13/MEN/2007 TENTANG SISTEM PEMANTAUAN HAMA DAN PENYAKIT IKAN KARANTINA NOMOR: PER. 15/MEN/2007 TENTANG PERSYARATAN DAN TATA CARA PENERBITAN IZIN USAHA OBAT IKAN NOMOR: PER. 16/MEN/2007 TENTANG PELAKSANAAN PERJALANAN DINAS JABATAN DALAM NEGERI BAGI PEJABAT NEGARA, PEGAWAI NEGERI, DAN PEGAWAI TIDAK TETAP DI LINGKUNGAN DEPARTEMEN KELAUTAN DAN PERIKANAN

25

26

27

NOMOR: KEP. 36/MEN/2002 TENTANG PERUBAHAN SEBUTAN MENTERI PERTANIAN DAN MENTERI EKSPLORASI LAUT DAN PERIKANAN MENJADI MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN DAN SEBUTAN DEPARTEMEN PERTANIAN DAN DEPARTEMEN EKSPLORASI LAUT DAN PERIKANAN MENJADI DEPARTEMEN KELAUTAN DAN PERIKANAN PADA PERATURAN PERUNANG-UNDANGAN BIDANG PERIKANAN YANG DITETAPKAN OLEH MENTERI PERTANIAN DAN MENTERI EKSPLORASI LAUT DAN PERIKANAN

NOMOR: PER. 17/MEN/2007 TENTANG PENCABUTAN PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN NOMOR: PER. 11/MEN/2007 TENTANG PENGADAAN DAN PENYALURAN BENIH IKAN YANG DIBERIKAN BANTUAN SELISIH HARGA

28

NOMOR: KEP. 38/MEN/2002 TENTANG PEMBENTUKAN TIM PENGHIBAHAN KAPAL PERIKANAN KEPADA NELAYAN

NOMOR: PER. 18/MEN/2007 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA BALAI PENGELOLAAN SUMBER DAYA PESISIR DAN LAUT NOMOR: PER. 19/MEN/2007 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA BALAI KAWASAN KONSERVASI PERAIRAN NASIONAL

29

NOMOR: KEP. 40/MEN/2002 TENTANG PENETAPAN PULAU JAWA DAN PULAU BALI SEBAGAI DAERAH TERJANGKIT PENYAKIT KOI DAN HERVES VIRUS PADA IKAN MAS DAN KOI

174

30

NOMOR: KEP. 41/MEN/2002 TENTANG PENYELENGGARAAN LOMBA KELOMPOK PEMBUDIDAYA IKAN DAN NELAYAN, KINERJA PENGKALAN PENDARATAN IKAN/PELABUHAN PERIKANAN, BALAI BENIH IKAN SENTRAL/BALAI BENIH UDANG, DAN PEREKAYASA PADA UPT. LINGKUP DEPARTEMEN KELAUTAN DAN PERIKANAN

NOMOR: PER. 20/MEN/2007 TENTANG TINDAKAN KARANTINA UNTUK PEMASUKAN MEDIA PEMBAWA HAMA DAN PENYAKIT IKAN KARANTINA DARI LUAR NEGERI DAN DARI SUATU AREA KE AREA LAIN DI DALAM WILAYAH NEGARA REPUBLIK INDONESIA

31

NOMOR: KEP. 43/MEN/2002 TENTANG PERUBAHAN KEPUTUSAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN NOMOR: 06/MEN/2002 TENTANG PERSYARATAN DAN TATA CARA PEMERIKSAAN MUTU HASIL PERIKANAN YANG MASUK KE WILAYAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR: KEP. 44/MEN/2002 TENTANG PEDOMAN UMUM PENYELENGGARAAN PENYULUHAN PERIKANAN

NOMOR: PER. 02/MEN/2008 PEDOMAN PELAKSANAAN KREDIT KETAHANAN PANGAN DI BIDANG KELAUTAN DAN PERIKANAN

32

NOMOR: PER. 03/MEN/2008 TENTANG PENGANGKATAN, PEMINDAHAN, DAN PEMBERHENTIAN PIMPINAN DAN PENDIDIK PADA LEMBAGA PENDIDIKAN DI LINGKUNGAN DEPARTEMEN KELAUTAN DAN PERIKANAN NOMOR: PER. 05/MEN/2008 TENTANG USAHA PERIKANAN TANGKAP

33

NOMOR: KEP. 45/MEN/2002 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA PELAUHAN PERIKANAN NUSANTARA TUAL NOMOR: KEP. 46/MEN/2002 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA PELABUHAN PERIKANAN PANTAI

34

NOMOR: PER. 06/MEN/2008 TENTANG PENGGUNAAN ALAT PENANGKAPAN IKAN PUKAT HELA DI PERAIRAN KALIMANTAN TIMUR BAGIAN UTARA NOMOR: PER. 07/MEN/2008 TENTANG BANTAN SOSIAL PEMBERDAYAAN MASYARAKAT PESISIR DAN PEMBUDIDAYA IKAN NOMOR: PER. 08/MEN/2008 TENTANG PENGGUNAAN ALAT PENANGKAPAN IKAN JARING INSANG (GILL NET) DI ZONA EKONOMI EKSKLUSIF INDONESIA NOMOR: PER. 09/MEN/2008 TENTANG PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN DI LINGKUNGAN DEPARTEMEN KELAUTAN DAN PERIKANAN NOMOR: PER. 10/MEN/2008 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN NOMOR: PER. 04/MEN/2007 TENTANG PELAPORAN HARTA KEKAYAAN PENYELENGGARA NEGARA DI LINGKUNGAN DEPARTEMEN KELAUTAN PERIKANAN

35

NOMOR: KEP. 47/MEN/2002 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA LOKA BUDIDAYA LAUT NOMOR: KEP. 48/MEN/2002 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA LOKA BUDIDAYA AIR TAWAR

36

37

NOMOR: KEP. 49/MEN/2002 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA LOKA BUDIDAYA AIR PAYAU

38

NOMOR: KEP. 50/MEN/2002 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA BALAI RISET PERIKANAN LAUT

175

39

NOMOR: KEP. 51/MEN/2002 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA BUDIDAYA AIR PAYAU NOMOR: KEP. 52/MEN/2002 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA BALAI RISET PERIKANAN BUDIDAYA AIR TAWAR NOMOR: KEP. 53/MEN/2002 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA BALAI RISET PERIKANAN PERAIRAN UMUM NOMOR: KEP. 54/MEN/2002 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA AKADEMI PERIKANAN BITUNG

NOMOR: PER. 12/MEN/2008 TENTANG BANTUAN LANGSUNG MASYARAKAT BIDANG KELAUTAN DAN PERIKANAN NOMOR: PER. 16/MEN/2008 TENTANG PERENCAAN PENGELOLAAN WILAYAH PESISIR DAN PULAU-PULAU KECIL NOMOR: PER. 17/MEN/2008 TENTANG KAWASAN KONSERVASI DI WILAYAH PESISIR DAN PULAU-PULAU KECIL NOMOR: PER. 18/MEN/2008 TENTANG AKREDITASI TERHADAP PROGRAM PENGELOLAAN WILAYAH PESISIR DAN PULAU-PULAU KECIL NOMOR: PER. 19/MEN/2008 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN NOMOR PER. 06/MEN/2007 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA PELABUHAN PERIKANAN

40

41

42

43

NOMOR: KEP. 55/MEN/2002 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA AKADEMI PERIKANAN SIDOARJO

44

NOMOR: KEP. 56/MEN/2002 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA AKADEMI PERIKANAN SORONG NOMOR: KEP. 57/MEN/2002 TENTANG PENETAPAN PEMENANG LOMBA BIDANG PERIKANAN BUDIDAYA DAN TANGKAP TINGKAT NASIONAL TAHUN 2002 NOMOR: KEP. 69/MEN/2002 TENTANG PEDOMAN PENILAIAN DAN PEMBERIAN PENGHARGAAN ADI BHAKTI MINA BAHARI BAGI UNIT KERJA PELAYANAN YANG BERPRESTASI DI BIDANG KELAUTAN DAN PERIKANAN NOMOR: KEP. 18/MEN/2003 TENTANG TINDAKAN KARANTINA UNTUK PEMASUKAN MEDIA PEMBAWA HAMA DAN PENYAKIT IKAN KARANTINA DARI LUAR NEGERI DAN DARI SUATU AREA KE AREA LAIN DI DALAM WILAYAH NEGARA REPUBLIK INDONESIA

NOMOR: PER. 02/MEN/2009 TENTANG TATA CARA PENETAPAN KAWASAN KONSERVASI PERAIRAN NOMOR: PER. 10/MEN/2009 TENTANG PELAKSANAAN PERJALANAN DINAS KE LUAR NEGERI DI LINGKUNGAN DEPARTEMEN KELAUTAN DAN PERIKANAN NOMOR: PER. 14/MEN/2009 TENTANG MITRA BAHARI

45

46

47

NOMOR: PER. 18/MEN/2009 TENTANG LARANGAN PENGELUARAN BENIH SIDAT (ANGUILLA SPP) DARI WILAYAH NEGARA REPUBLIK INDONESIA KE LUAR WILAYAH NEGARA REPUBLIK INDONESIA

48

NOMOR: KEP. 39/MEN/2003 TENTANG PAKAIAN SERAGAM KERJA PEGAWAI DI LINGKUNGAN DEPARTEMEN KELAUTAN DAN PERIKANAN NOMOR: KEP. 42/MEN/2003 TENTANG PERSYARATAN PEMASUKAN MEDIA PEMBAWA BERUPA IKAN HIDUP

NOMOR: PER. 22/MEN/2009 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA LOKA RISET KERENTANAN PESISIR DAN LAUT

49

NOMOR: PER. 27/MEN/2009 TENTANG PENDAFTARAN DAN PENDANAAN KAPAL PERIKANAN

176

50

NOMOR: KEP. 33/MEN/2004 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA BALAI UJI STANDAR KARANTINA IKAN NOMOR: KEP. 10/MEN/2004 TENTANG PELABUHAN PERIKANAN

NOMOR: PER. 28/MEN/2009 TENTANG SERTIFIKASI HASIL TANGKAPAN IKAN

51

NOMOR: PER. 29/MEN/2009 TENTANG PETUNJUK TEKNIS PENGGUNAAN DANA ALOKASI KHUSUS BIDANG KELAUTAN DAN PERIKANAN TAHUN 2010 NOMOR: PER. 03/MEN/2010 TENTANG TATA CARA PENETAPAN STATUS PERLINDUNGAN JENIS IKAN

52

NOMOR: KEP. 14/MEN/2004 TENTANG PEDOMAN PENYUSUNAN PERJANJIAN DI LINGKUNGAN DEPARTEMEN KELAUTAN DAN PERIKANAN NOMOR: KEP. 18/MEN/2004 TENTANG PEDOMAN UMUM PELAKSANAAN PROGRAM PEMBERDAYAAN EKONOMI MASYARAKAT PESISIR NOMOR: KEP. 25/MEN/2004 TENTANG PEDOMAN PENGAWASAN FUNGSIONAL LINGKUP DEPARTEMEN KELAUTAN DAN PERIKANAN NOMOR: KEP. 32/MEN/2004 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA UNIT PELAKSANA TEKNIS KARANTINA IKAN NOMOR: KEP. 38/MEN/2004 TENTANG PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN TERUMBU KARANG NOMOR: KEP. 55/MEN/2004 TENTANG PENETAPAN WILAYAH SUMATERA SEBAGAI KAWASAN KARANTINA TERHADAP IKAN MAS DAN KOI NOMOR: KEP. 56/MEN/2004 TENTANG PEDOMAN STANDAR PENGHITUNGAN BEBAN KERJA UNIT ORGANISASI DI LINGKUNGAN DEPARTEMEN KELAUTAN DAN PERIKANAN NOMOR: KEP. 15/MEN/2006 TENTANG PEDOMAN UMUM IDENTIFIKASI DATA TATA RUANG LAUT, PESISIR, DAN PULAU-PULAU KECIL NOMOR: KEP. 16/MEN/2006 TENTANG PENETAPAN TEMPAT-TEMPAT PEMASUKAN DAN PENGELUARAN MEDIA PEMBAWA HAMA DAN PENYAKIT IKAN KARANTINA NOMOR: KEP. 17/MEN/2006 TENTANG JENISJENIS HAMA DAN PENYAKIT IKAN KARANTINA, GOLONGAN, MEDIA PEMBAWA, DAN SEBARANNYA NOMOR: KEP. 19/MEN/2006 TENTANG PENGANGKATAN SYAHBANDAR DI PELABUHAN PERIKANAN NOMOR: KEP. 02/MEN/2007 TENTANG CARA BUDIDAYA IKAN YANG BAIK

53

NOMOR: PER. 12/MEN/2010 TENTANG MINAPOLITAN

54

55

56

57

58

59

60

61

62

63

177

64

NOMOR: KEP. 05/MEN/2007 TENTANG PENCABUTAN KEPUTUSAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR: KEP. 40/MEN/2002 TENTANG PENETAPAN PULAU JAWA DAN PULAU BALI SEBAGAI DAERAH TERJANGKIT PENYAKIT KOI HERVES VIRUS PADA IKAN MAS DAN KOI NOMOR: KEP. 06/MEN/2007 TENTANG PENCABUTAN KEPUTUSAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN NOMOR KEP. 55/MEN/2004 TENTANG PENETAPAN WILAYAH SUMATERA SEBAGAI KAWASAN KARANTINA TERHADAP IKAN MAS DAN KOI

65

66

NOMOR: KEP. 11/MEN/2007 TENTANG UNIT AKUNTANSI DEPARTEMEN KELAUTAN DAN PERIKANAN NOMOR: KEP. 12/MEN/2007 TENTANG UNIT AKUNTANSI PEMBANTU PENGGUNA TINGKAT ESELON I DI LINGKUNGAN DEPARTEMEN KELAUTAN DAN PERIKANAN NOMOR: KEP. 21/MEN/2007 TENTANG PERUBAHAN KEPUTUSAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN NOMOR: KEP. 17/MEN/2001 TENTANG PENETAPAN LAMBANG DEPARTEMEN KELAUTAN DAN PERIKANAN NOMOR: KEP. 31/MEN/2007 TENTANG PERUBAHAN KEPUTUSAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN NOMOR: KEP. 39/MEN/2003 TENTANG PAKAIAN SERAGAM KERJA PEGAWAI DI LINGKUNGAN DEPARTEMEN KELAUTAN DAN PERIKANAN NOMOR: KEP. 32/MEN/2007 TENTANG PAKAIAN SERAGAM KERJA DAN ATRIBUT BAGI APARATUR DI PELABUHAN PERIKANAN NOMOR: KEP. 33/MEN/2007 TENTANG PENETAPAN JENIS-JENIS PENYAKIT IKAN YANG BERPOTENSI MENJADI WABAH PENYAKIT IKAN NOMOR: KEP. 03/MEN/2008 TENTANG PENUGASAN PENASEHAT MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN TAHUN 2008 NOMOR: KEP. 63/MEN/2008 TENTANG KOMISI TUNA INDONESIA NOMOR: KEP. 76/MEN/2008 TENTANG PELAKSANAAN SISTEM ELEKTRONIK DALAM KERANGKA INDONESIA NATIONAL SINGLE WINDOW DI LINGKUNGAN DEPARTEMEN KELAUTAN DAN PERIKANAN NOMOR: KEP. 11/MEN/2009 TENTANG WILAYAH KERJA DAN WILAYAH PENGOPERASIAN PELABUHAN PERIKANAN NUSANTARA BRONDONG

67

68

69

70

71

72

73 74

75

178

76

NOMOR: KEP. 25/MEN/2009 TENTANG PEDOMAN PELAKSANAAN PROGRAM NASIONAL PEMBERDAYAAN MASYRAKAT MANDIRI KELAUTAN DAN PERIKANAN NOMOR: KEP. 36/MEN/SJ/2009 TENTANG PEDOMAN TEKNIS PROGRAM NASIONAL PEMBERDAYAAN MANDIRI KELAUTAN DAN PERIKANAN NOMOR: KEP. 59/MEN/SJ/2009 TENTANG PERUBAHAN ATAS KEPUTUSAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN NOMOR KEP. 36/MEN/SJ/2009 TENTANG PEDOMAN TEKNIS PROGRAM NASIONAL PEMBERDAYAAN MANDIRI KELAUTAN DAN PERIKANAN NOMOR: KEP. 61/MEN/2009 TENTANG PEMBERLAKUAN WAJIB STANDAR NASIONAL INDONESIA BIDANG KELAUAN DAN PERIKANAN NOMOR: KEP. 63/MEN/2009 TENTANG PENETAPAN KAWASAN KONSERVASI PERAIRAN NASIONAL KEPULAUAN ARU BAGIAN TENGGARA DAN LAUT DI SEKITARNYA DI PROVINSI MALUKU NOMOR: KEP. 65/MEN/2009 TENTANG PENETAPAN KAWASAN KONSERVASI PERAIRAN NASIONAL KEPULAUAN WAIGEO SEBELAH BARAT DAN LAUT DI SEKITARNYA DI PROVINSI PAPUA BARAT NOMOR: KEP. 67/MEN/2009 TENTANG PENETAPAN KAWASAN KONSERVASI PERAIRAN NASIONAL PULAU GILI AYER, GILI MENO, DAN GILI TRAWANGAN DI PROVINSI NUSA TENGGARA BARAT NOMOR: KEP. 69/MEN/2009 TENTANG PENETAPAN KAWASAN KONSERVASI PERAIRAN NASIONAL LAUT BANDA DI PROVINSI MALUKU NOMOR: KEP. 70/MEN/2009 TENTANG PENETAPAN KAWASAN KONSERVASI PERAIRAN NASIONAL PULAU PIEH DAN LAUT DI SEKITARNYA DI PROVINSI SUMATERA BARAT NOMOR: KEP. 71/MEN/2009 TENTANG PERUBAHAN KETIGA ATAS KEPUTUSAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN NOMOR KEP. 39/MEN/2003 TENTANG PAKAIAN SERAGAM KERJA PEGAWAI DI LINGKUNGAN DEPARTEMEN KELAUTAN DAN PERIKANAN NOMOR: KEP. 77/MEN/2009 TENTANG PELEPASAN VARIETAS IKAN NILA BEST SEBAGAI GALUR UNGGUL INDUK IKAN NILA NOMOR: KEP. 79/MEN/2009 TENTANG PELEPASAN VARIETAS IKAN NILA LARASATI SEBAGAI BENIH BERMUTU

77

78

79

80

81

82

83

84

85

86

87

179

88

NOMOR: KEP. 03/MEN/2010 TENTANG PENETAPAN JENIS-JENIS HAMA DAN PENYAKIT IKAN KARANTINA, GOLONGAN, MEDIA PEMBAWA, DAN SEBARANNYA NOMOR: KEP. 11/MEN/2010 TENTANG SISTEM PEMBERKASAN KEARSIPAN DI LINGKUNGAN KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN NOMOR: KEP. 15/MEN/2010 TENTANG PENGGUNAAN NOMENKLATUR KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN NOMOR: KEP. 24/MEN/2010 TENTANG PROGRAM LEGISLASI KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN TAHUN 2010 NOMOR: KEP. 32/MEN/2010 TENTANG PENETAPAN KAWASAN MINAPOLITAN NOMOR: KEP. 39/MEN/2010 TENTANG PEDOMAN PELAKSANAAN PROGRAM NASIONAL PEMBERDAYAAN MASYARAKAT MANDIRI KELAUTAN DAN PERIKANAN TAHUN 2010 NOMOR: KEP. 152/MEN/VIII/2010 TENTANG PENETAPAN RANCANGAN STANDAR KOMPETENSI KERJA NASIONAL INDONESIA SEKTOR KELAUTAN DAN PERIKANAN BIDANG PENYULUHAN PERIKANAN MENJADI STANDAR KOMPETENSI KERJA NASIONAL INDONESIA

89

90

91

92

93

94

Tabel 6.20. Pembagian Urusan Pemerintahan Bidang Kearsipan
NO ARSIP NASIONAL REPUBLIK INDONESIA KEPUTUSAN KEPALA 1 KEPKA NOMOR 01 TAHUN 2005 TENTANG POKOK-POKOK KEBIJAKAN DAN STRATEGI PEMBANGUNAN BIDANG KEARSIPAN KEPKA NOMOR : KEP. 01. B TAHUN 2004 TENTANG PROGRAM LEGISLASI ARSIP NASIONAL REPUBLIK INDONESIA KEPKA NOMOR KEP. 03 TAHUN 2003 TENTANG PENYEMPURNAAN ORGANISASI DAN TATA KERJA ANRI KEPKA NOMOR 01.A TAHUN 2003 TENTANG JADWAL RETENSI ARSIP KEUANGAN KEPKA NOMOR : OT.02/71.A/2003 TENTANG PROGRAM KERJA TAHUNAN ANRI TAHUN 2003 KEPKA NOMOR 7 TAHUN 2002 TENTANG PEDOMAN PENYUSUNAN LAKIP ANRI PERATURAN KEPALA PERKA NOMOR 01 TAHUN 2008 TENTANG PETUNJUK PELAKSANAAN PENGELOLAAN ABPN PADA ANRI

2

PERKA NOMOR PL.06/140D/2008 TENTANG PENETAPAN STATUS RUMAH NEGARA GOLONGAN I DI LINGKUNGAN ANRI PERKA NOMOR 04 TAHUN 2008 TENTANG PAKAIAN DINAS HARIAN DI LINGKUNGAN ANRI

3

4

PERKA NOMOR 03A TAHUN 2008 TENTANG PETUNJUK PELAKSANAAN PENILAIAN LOMBA KARYA TULIS KEARSIPAN PERKA NOMOR 03 TAHUN 2008 TENTANG STANDAR BIAYA KHUSUS KEGIATAN JASA KEARSIPAN

5

6

PERKA NOMOR 01 TAHUN 2008 TENTANG PETUNJUK PELAKSANAAN PENGELOLAAN ABPN PADA ANRI

180

7

KEPKA NOMOR: 06 TAHUN 2002 TENTANG PETUNJUK PENYESUAIAN JABATAN BERDASARKAN KEPUTUSAN MENTERI PAN KEPKA NOMOR : 07 TAHUN 2001 TENTANG PEDOMAN PENILAIAN ARSIP

PERKA NOMOR 02 TAHUN 2007 TENTANG PENILAIAN LOMBA KARYA TULIS KEARSIPAN

8

PERKA NOMOR 03 TAHUN 2007 TENTANG PETUNJUK PELAKSANAAN PEMBUATAN ANALISIS JABATAN DI LINGKUNGAN ANRI PERKA NOMOR : 05 TAHUN 2005 TENTANG PERUBAHAN ATAS KEPKA ANRI NOMOR: KEP. 03 TAHUN 2003 TTG ORGANISASI

9

KEPKA NOMOR 4 TAHUN 2001 TENTANG PEDOMAN PENYUSUNAN DAN PENYAMPAIAN LAPORAN DI LINGKUNGAN ANRI KEPKA NOMOR 03 TAHUN 2001 TENTANG KEDUDUKAN, TUGAS, FUNGSI, KEWENANGAN, ORGANISASI DAN TATA KERJA

10

PERKA NOMOR 08 TAHUN 2005 TENTANG PEDOMAN PENDATAAN, PENATAAN & PENYIMPANAN DOKUMEN/ARSIP PEMIL

11

KEPKA NOMOR 12 TAHUN 2000 TENTANG STANDAR PENYIMPANAN FISIK ARSIP

PERKA NOMOR 06 TAHUN 2005 TENTANG PEDOMAN PERLINDUNGAN,PENGAMANAN & PENYELAMATAN DOKUMEN/ARSIP VITAL PERKA NOMOR : 07 TAHUN 2005 TENTANG PEDOMAN PENDATAAN, PENYELAMATAN DAN PELESTARIAN DOKUMEN/ARSIP PERKA NOMOR 03 TAHUN 2006 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA ARSIP NASIONAL REPUBLIK INDONESIA

12

KEPKA NOMOR 09 TAHUN 2000 TENTANG PEDOMAN PENYUSUTAN ARSIP

13

KEPKA NOMOR 10 TAHUN 2000 TENTANG STANDAR FOLDER DAN GUIDE ARSIP

14

KEPKA NOMOR 9 TAHUN 2000 TENTANG PEDOMAN PENYUSUTAN ARSIP PADA LEMBAGA NEGARA DAN BADAN PEMERINTAH

15

KEPKA NOMOR 11 TAHUN 2000 TENTANG STANDAR BOKS ARSIP KEPKA NOMOR 4 TAHUN 2000 TENTANG PEDOMAN PENGGUNAAN KERTAS UNTUK ARSIP BERNILAIGUNA TINGGI KEPKA NOMOR 1 TAHUN 1999 TENTANG PEDOMAN PELAKSANAAN AKUISISI NASIONAL ARSIP ORDE BARU KEPKA NOMOR : 01/36/1999 TENTANG PEDOMAN TATA NASKAH DINAS ARSIP NASIONAL REPUBLIK INDONESIA KEPKA NOMOR 2 TAHUN 1992 TENTANG PROSEDUR DAN PETUNJUK PELAKSANAAN PEMBINAAN BAGI JABATAN ARSIPARIS

16

17

18

19

Tabel 6.21. Pembagian Urusan Pemerintahan Bidang Perpustakaan

181

NO KEPUTUSAN KEPALA

PERPUSTAKAAN NASIONAL PERATURAN KEPALA

1.

KEPUTUSAN KEPALA PERPUSTAKAAN NASIONAL RI NOMOR 20 TAHUN 2005: TENTANG KATA UTAMA DAN EJAAN UNTUK TAJUK NAMA PENGARANG INDONESIA KEPUTUSAN KEPALA PERPUSNAS RI NOMOR 04 TAHUN 2005 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA PERPUSTAKAAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA KEPUTUSAN KEPALA PERPUSTAKAAN NASIONAL RI NOMOR 7 TAHUN 2005 TENTANG PEMBENTUKAN TIM PELESTARIAN KOLEKSI VARIA KEPUTUSAN KEPALA PERPUSTAKAAN NASIONAL RI NOMOR 23 TAHUN 2004 TENTANG PENETAPAN PEMENANG LOMBA BACA PIDATO BUNG KARNO BAGI SISWA SMA DAN SEDERAJAT TINGKAT NASIONAL TAHUN 2004

2.

3.

4.

Tabel 6.22. Pembagian Urusan Pemerintahan Bidang Komunikasi dan Informatika
NO KEMENTRIAN KOMUNIKASI DAN INFORMASI KEPMEN 1 KEPMENINFO NO. 127 TAHUN 2010 TENTANG PEMBENTUKAN PANITIA PENYELENGGARA PERINGATAN HARI KEBANGKITAN NASIONAL TAHUN 2010 DI LINGKUNGAN KEMENTERIAN KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA KEPMENINFO NO. 117 TAHUN 2010 TENTANG ORGANISASI PENGELOLA INFORMASI DAN DOKUMENTASI KEMENTERIAN KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA KEPMENINFO NO. 437 TAHUN 2009 TENTANG PERUBAHAN KEDUA ATAS KEPMENINFO NO. : 145/KEP/M.KOMINFO/04/2007 TENTANG PENETAPAN WILAYAH PELAYANAN UNIVERSAL TELEKOMUNIKASI PERMEN PERMENKOMINFO NO: 08 TAHUN 2010 TENTANG PEDOMAN PENGEMBANGAN DAN PEMBERDAYAAN LEMBAGA KOMUNIKASI SOSIAL

2

PERMENKOMINFO NO: 07 TAHUN 2010 TENTANG PEDOMAN PENGEMBANGAN KEMITRAAN MEDIA

3

PERMENKOMINFO NO: 03 TAHUN 2010 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERMENKOMINFO NO: : 32/PER/M.KOMINFO/10/2008 TENTANG KEWAJIBAN PELAYANAN UNIVERSAL TELEKOMUNIKASI

4

KEPMENINFO NO. 363 TAHUN 2009 TENTANG PERUBAHAN KEDUA ATAS KEPMENINFO NO. : 181/KEP/M.KOMINFO/12/2006 TENTANG PENGALOKASIAN KANAL PADA PITA FREKUENSI RADIO 800 MHZ UNTUK PENYELENGGGARAAN JARINGAN TETAP LOKAL TANPA KABEL DENGAN MOBILITAS TERBATAS DAN PENYELENGGARAAN JARINGAN BERGERAK SELULER KEPMENINFO NO. 139 TAHUN 2009 TENTANG PEMBENTUKAN PANITIA PENYELENGGARA PERINGATAN HARI KEBANGKITAN NASIONAL TAHUN 2009 DI LINGKUNGAN DEPARTEMEN KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA

PERMENKOMINFO NO: 01 TAHUN 2010 TENTANG PENYELENGGARAAN JARINGAN TELEKOMUNIKASI

5

PERMENKOMINFO NO: 51 TAHUN 2009 TENTANG PERSYARATAN TEKNIS PERANGKAT PENYIARAN

182

6

KEPMENINFO NO. 114 TAHUN 2009 TENTANG PERUBAHAN ATAS KEPMENINFO NO. 04/KEP/M.KOMINFO/01/2009 TENTANG PELUANG USAHA PENYELENGGARA JARINGAN TETAP LOKAL BERBASIS PACKET SWITCHED YANG MENGGUNAKAN PITA FREKUENSI RADIO 2,3 GHZ UNTUK KEPERLUAN LAYANAN PITA LEBAR NIRKABEL (WIRELESS BROADBAND).

PERMENKOMINFO NO: 50 TAHUN 2009 TENTANG PENDELEGASIAN KEWENANGAN PEMBERIAN IZIN USAHA DI BIDANG KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA DALAM RANGKA PELAKSANAAN PELAYANAN TERPADU SATU PINTU (PTSP) DI BIDANG PENANAMAN MODAL KEPADA KEPALA BADAN KOORDINASI PENANAMAN MODAL

7

KEPMENINFO NO. 106A TAHUN 2009 TENTANG PELUANG USAHA PENYELENGGARAAN JARINGAN TETAP LOKAL DAN JARINGAN TETAP SAMBUNGAN LANGSUNG JARAK JAUH KEPMENINFO NO. 05 TAHUN 2009 TENTANG PENETAPAN BLOK PITA FREKUENSI RADIO DAN ZONA LAYANAN PITA LEBAR NIRKABEL (WIRELESS BROADBAND) PADA PITA FREKUENSI RADIO 3.3 GHZ UNTUK PENGGUNA PITA FREKUENSI RADIO EKSISTING UNTUK KEPERLUAN LAYANAN PITA LEBAR NIRKABEL (WIRELESS BROADBAND) KEPMENINFO NO. 04 TAHUN 2009 TENTANG PELUANG USAHA PENYELENGGARAAN JARINGAN TETAP LOKAL BERBASIS PACKET SWITCHED YANG MENGGUNAKAN PITA FREKUENSI RADIO 2.3 GHZ UNTUK KEPERLUAN LAYANAN PITA LEBAR NIRKABEL(WIRELESS BROADBAND) KEPMENINFO NO. 252A TAHUN 2008 TENTANG PERUBAHAN KELIMA ATAS KEPMENINFO NO. : 76/KEP/M. KOMINFO/3/2007 TENTANG PELUANG USAHA PENYELENGGARAAN JARINGAN TETAP LOKAL, JARINGAN TETAP SAMBUNGAN LANGSUNG JARAK JAUH, JARINGAN TETAP SAMBUNGAN INTERNASIONAL DAN JARINGAN TETAP TERTUTUP BERBASIS KABEL

PERMENKOMINFO NO: 49 TAHUN 2009 TENTANG RENCANA DASAR TEKNIK PENYIARAN

8

PERMENKOMINFO NO: 48 TAHUN 2009 TENTANG PENYEDIAAN JASA AKSES INTERNET WILAYAH PELAYANAN UNIVERSAL TELEKOMUNIKASI INTERNET KECAMATAN

9

PERMENKOMINFO NO: 45 TAHUN 2009 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERMENKOMINFO NO:: 35/PER/M .KOMINFO/11/2006 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA BALAI TELEKOMUNIKASI DAN INFORMATIKA PERDESAAN

10

PERMENKOMINFO NO: 44 TAHUN 2009 TENTANG PELAKSANAAN SISTEM ELEKTRONIK DALAM KERANGKA INDONESIA NATIONAL SINGLE WINDOW DI LINGKUNGAN DEPARTEMEN KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA

11

KEPMENINFO NO. 169 TAHUN 2008 TENTANG PERUBAHAN KEEMPAT ATAS KEPMENINFO NO. : 76/KEP/M. KOMINFO/3/2007 TENTANG PELUANG USAHA PENYELENGGARAAN JARINGAN TETAP LOKAL, JARINGAN TETAP SAMBUNGAN LANGSUNG JARAK JAUH, JARINGAN TETAP SAMBUNGAN INTERNASIONAL DAN JARINGAN TETAP TERTUTUP BERBASIS KABEL

PERMENKOMINFO NO: 43 TAHUN 2009 TENTANG PENYELENGGARAAN PENYIARAN MELALUI SISTEM STASIUN JARINGAN OLEH LEMBAGA PENYIARAN SWASTA JASA PENYIARAN TELEVISI

12

KEPMENINFO NO. 78 TAHUN 2008 TENTANG IZIN PRINSIP PENYELENGGARAAN JARINGAN TETAP TERTUTUP PT. SUNVONE COMMUNICATION NETWORK. KEPMENINFO NO. 75 TAHUN 2008 TENTANG IZIN PENYELENGGARAAN JARINGAN BERGERAK TERESTRIAL RADIO TRUNKING PT. CAKRA ULTRA PRATAMA

PERMENKOMINFO NO: 42 TAHUN 2009 TENTANG TATA CARA MEMPEROLEH IZIN BAGI LEMBAGA PENYIARAN ASING YANG MELAKUKAN KEGIATAN PELIPUTAN DI INDONESIA PERMENKOMINFO NO: 41 TAHUN 2009 TENTANG TATA CARA PENILAIAN PENCAPAIAN TINGKAT KOMPONEN DALAM NEGERI PADA PENYELENGGARAAN TELEKOMUNIKASI

13

183

14

KEPMENINFO NO. 68 TAHUN 2008 TENTANG IZIN PRINSIP PENYELENGGARAAN JARINGAN TETAP TERTUTUP PT. NUSANTARA SARANA TELEKOMUNIKASI KEPMENINFO NO. 65 TAHUN 2008 TENTANG PEMBENTUKAN PANITIA PENYELENGGARA PERINGATAN 100 TAHUN HARI KEBANGKITAN NASIONAL TAHUN 2008 DI LINGKUNGAN DEPARTEMEN KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA KEPMENINFO NO. 56 TAHUN 2008 TENTANG IZIN PRINSIP PENYELENGGARAAN JARINGAN TETAP TERTUTUP PT. GLOBAL TELECOM UTAMA

15

PERMENKOMINFO NO: 40 TAHUN 2009 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERMENKOMINFO NO: : 29/PER/M. KOMINFO/07/2009 TENTANG TABEL ALOKASI SPEKTRUM FREKUENSI RADIO INDONESIA PERMENKOMINFO NO: 39 TAHUN 2009 TENTANG KERANGKA DASAR PENYELENGGARAAN PENYIARAN TELEVISI DIGITAL TERESTRIAL PENERIMAAN TETAP TIDAK BERBAYAR (FREE TO AIR) PERMENKOMINFO NO: 35 TAHUN 2009 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERMENKOMINFO NO: : 09/PER/M.KOMINFO/01/2009 TENTANG PENETAPAN PITA FREKUENSI RADIO UNTUK KEPERLUAN LAYANAN PITA LEBAR NIRKABEL (WIRELESS BROADBAND) PADA PITA FREKUENSI RADIO 3,3 GHZ DAN MIGRASI PENGGUNA RADIO EKSISTING UNTUK KEPERLUAN LAYANAN PITA LEBAR NIRKABEL ((WIRELESS BROADBAND) DARI PITA FREKUENSI RADIO 3,4-3,6 GHZ KE PITA FREKUENSI RADIO 3,3 GHZ PERMENKOMINFO NO: 34 TAHUN 2009 TENTANG PENYELENGGARAAN KOMUNIKASI RADIO ANTAR PENDUDUK

16

17

KEPMENINFO NO. 31 TAHUN 2008 TENTANG IZIN PRINSIP PENYELENGGARAAN JARINGAN TETAP TERTUTUP PT. BALI INFOCOM

18

KEPMENINFO NO. 10 TAHUN 2008 TENTANG PENETAPAN BANK INDONESIA RATE UNTUK PERHITUNGAN BIAYA HAK PENGGUNAAN PITA SPEKTRUM FREKUENSI RADIO 2,1 GHZ UNTUK PENYELENGGARAAN JARINGAN BERGERAK SELULER TAHUN 2008

PERMENKOMINFO NO: 33 TAHUN 2009 TENTANG PENYELENGGARAAN AMATIR RADIO

19

KEPMENINFO NO. 03 TAHUN 2008 TENTANG PELUANG USAHA PENYELENGGARAAN JARINGAN TETAP LOKAL, JARINGAN TETAP SAMBUNGAN LANGSUNG JARAK JAUH, JARINGAN TETAP SAMBUNGAN INTERNASIONAL DAN JARINGAN TETAP TERTUTUP BERBASIS KABEL KEPMENINFO NO. 418 TAHUN 2007 TENTANG PERUBAHAN ATAS LAMPIRAN KEPMENINFO NO. 45/KEP/M.KOMINFO/04/2007 TENTANG PENETAPAN WILAYAH PELAYANAN UNIVERSAL TELEKOMUNIKASI

PERMENKOMINFO NO: 31 TAHUN 2009 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERMENKOMINFO NO: : 36/PER/M. KOMINFO/10/2008 TENTANG PENETAPAN BADAN REGULASI TELEKOMUNIKASI INDONESIA

20

PERMENKOMINFO NO: 30 TAHUN 2009 TENTANG PENYELENGGARAAN LAYANAN TELEVISI PROTOKOL INTERNET (INTERNET PROTOCOL TELEVISION/IPTV) DI INDONESIA

21

KEPMENINFO NO. 318 TAHUN 2007 TENTANG IZIN PRINSIP PENYELENGGARAAN JARINGAN TETAP TERTUTUP PT. NAP INFO LINTAS NUSA

PERMENKOMINFO NO: 29 TAHUN 2009 TENTANG TABEL ALOKASI SPEKTRUM FREKUENSI RADIO INDONESIA

184

22

KEPMENINFO NO. 316 TAHUN 2007 TENTANG IZIN PENYELENGGARAAN JARINGAN TETAP TERTUTUP PT. SUPRA PRIMATAMA NUSANTARA

23

KEPMENINFO NO. 314 TAHUN 2007 TENTANG PEMBENTUKAN TASK FORCE PENYEMPURNAAN KEBIJAKAN PENGEMBANGAN E-GOVERNMENT NASIONAL KEPMENINFO NO. 304 TAHUN 2007 TENTANG PERUBAHAN ATAS KEPMENINFO NO. 77/KEP/M.KOMINFO/3/2007 TENTANG TIM SELEKSI DALAM RANGKA SELEKSI PENYELENGGARAAN JARINGAN TETAP SAMBUNGAN INTERNASIONAL KEPMENINFO NO. 298 TAHUN 2007 TENTANG IZIN PRINSIP PENYELENGGARAAN JARINGAN TETAP LOKAL TANPA KABEL DENGAN MOBILITAS TERBATAS PT. BAKRIE TELECOM TBK KEPMENINFO NO. 293 TAHUN 2007 TENTANG IZIN PRINSIP PENYELENGGARAAN JARINGAN BERGERAK SELULER PT. MOBILE-8 TELECOM TBK. KEPMENINFO NO. 292 TAHUN 2007 TENTANG IZIN PRINSIP PENYELENGGARAAN JARINGAN TETAP LOKAL TANPA KABEL DENGAN MOBILITAS TERBATAS PT. MOBILE-8 TELECOM TBK.

24

25

PERMENKOMINFO NO: 27 TAHUN 2009 TENTANG PENETAPAN PITA FREKUENSI RADIO UNTUK KEPERLUAN LAYANAN PITA LEBAR NIRKABEL (WIRELESS BROADBAND) PADA PITA FREKUENSI RADIO 5,8 GHZ PERMENKOMINFO NO: 26 TAHUN 2009 TENTANG PENETAPAN PITA FREKUENSI RADIO UNTUK KEPERLUAN LAYANAN PITA LEBAR NIRKABEL (WIRELESS BROADBAND) PADA PITA FREKUENSI RADIO 2 GHZ PERMENKOMINFO NO: 25 TAHUN 2009 TENTANG PERUBAHAN KEDUA ATAS PERMENKOMINFO NO: : 19/PER/M.KOMINFO/10/2005 TENTANG PETUNJUK PELAKSANAAN TARIF ATAS PENERIMAAN NEGARA BUKAN PAJAK DARI BIAYA HAK PENGGUNAAN SPEKTRUM FREKUENSI RADIO PERMENKOMINFO NO: 24 TAHUN 2009 TENTANG PETUNJUK PELAKSANAAN PENERIMAAN NEGARA BUKAN PAJAK YANG BERASAL DARI PENYELENGGARAAN PENYIARAN PERMENKOMINFO NO: 23 TAHUN 2009 TENTANG PEDOMAN PELAKSANAAN URUSAN PEMERINTAH SUB BIDANG POS DAN TELEKOMUNIKASI PERMENKOMINFO NO: 22 TAHUN 2009 TENTANG DOKUMEN SELEKSI PENYELENGGARAAN JARINGAN TETAP LOKAL BERBASIS PACKET SWITCHED YANG MENGGUNAKAN PITA FREKUENSI RADIO 2,3 GHZ UNTUK KEPERLUAN LAYANAN PITA LEBAR NIRKABEL (WIRELESS BROADBAND) PERMENKOMINFO NO: 21 TAHUN 2009 TENTANG STANDAR PENYIARAN DIGITAL UNTUK PENYIARAN RADIO PADA PITA VERY HIGH FREQUENCY (VHF) DI INDONESIA PERMENKOMINFO NO: 20 TAHUN 2009 TENTANG KEBIJAKAN TEKNIS PELAKSANAAN PEMBINAAN JABATAN FUNGSIONAL PRANATA HUMAS

26

27

28

KEPMENINFO NO. 169 TAHUN 2007 TENTANG IZIN PRINSIP PENYELENGGARAAN JARINGAN BERGERAK TERESTRIAL RADIO TRUNKING PT. DAKSINA ARGA PERKASA KEPMENINFO NO. 168 TAHUN 2007 TENTANG IZIN PRINSIP PENYELENGGARAAN JARINGAN TETAP LOKAL TANPA KABEL DENGAN MOBILITAS TERBATAS PT. KOMUNIKASI SELULAR INDONESIA KEPMENINFO NO. 167 TAHUN 2007 TENTANG IZIN PRINSIP PENYELENGGARAAN JARINGAN TETAP LOKAL TANPA KABEL DENGAN MOBILITAS TERBATAS PT. METRO SELULAR NUSANTARA KEPMENINFO NO. 166 TAHUN 2007 TENTANG IZIN PRINSIP PENYELENGGARAAN JARINGAN TETAP LOKAL TANPA KABEL DENGAN MOBILITAS TERBATAS PT. TELEKOMINDO SELULAR RAYA KEPMENINFO NO. 165 TAHUN 2007 TENTANG PERUBAHAN ATAS KEPUTUSAN MENTERI KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA TENTANG IZIN PENYELENGGARAAN JARINGAN BERGERAK SELULER PT. KOMUNIKASI SELULAR INDONESIA KEPMENINFO NO. 164 TAHUN 2007 TENTANG PERUBAHAN ATAS KEPUTUSAN MENTERI KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA TENTANG IZIN PENYELENGGARAAN JARINGAN BERGERAK SELULER PT. METRO SELULAR NUSANTARA

29

30

PERMENKOMINFO NO: 19 TAHUN 2009 TENTANG PEDOMAN PEMBANGUNAN DAN PENGGUNAAN BERSAMA MENARA TELEKOMUNIKASI PERMENKOMINFO NO: 18 TAHUN 2009 TENTANG TATA CARA DAN PROSES PERIZINAN PENYELENGGARAAN PENYIARAN OLEH PEMERINTAHAN DAERAH PROVINSI DAN PEMERINTAHAN DAERAH KABUPATEN/KOTA PERMENKOMINFO NO: 17 TAHUN 2009 TENTANG DISEMINASI INFORMASI NASIONAL OLEH PEMERINTAH, PEMERINTAH DAERAH PROVINSI DAN PEMERINTAH DAERAH KABUPATEN/KOTA PERMENKOMINFO NO: 16 TAHUN 2009 TENTANG KRITERIA KLASIFIKASI UNIT PELAKSANA TEKNIS DI BIDANG MONITOR SPEKTRUM FREKUENSI RADIO

31

32

33

185

34

KEPMENINFO NO. 163 TAHUN 2007 TENTANG PERUBAHAN ATAS KEPUTUSAN MENTERI KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA TENTANG IZIN PENYELENGGARAAN JARINGAN BERGERAK SELULER PT. TELEKOMINDO SELULAR RAYA KEPMENINFO NO. 162 TAHUN 2007 TENTANG PERUBAHAN ATAS KEPMENINFO NO. : 181/KEP/M.KOMINFO/12/2006 TENTANG PENGALOKASIAN KANAL PADA PITA FREKUENSI RADIO 800 MHZ UNTUK PENYELENGGARAAN JARINGAN TETAP LOKAL TANPA KABEL DENGAN MOBILITAS TERBATAS DAN PENYELENGGARAAN JARINGAN BERGERAK SELULER KEPMENINFO NO. 153 TAHUN 2007 TENTANG IZIN PRINSIP PENYELENGGARAAN JARINGAN TETAP LOKAL TANPA KABEL DENGAN MOBILITAS TERBATAS PT. TELEKOMINDO SELULAR RAYA

PERMENKOMINFO NO: 15 TAHUN 2009 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA UNIT PELAKSANA TEKNIS MONITOR SPEKTRUM FREKUENSI RADIO

35

PERMENKOMINFO NO: 14 TAHUN 2009 TENTANG KLIRING TRAFIK TELEKOMUNIKASI

36

PERMENKOMINFO NO: 12 TAHUN 2009 TENTANG PERUBAHAN ATAS KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR : KM.76 TAHUN 2003 TENTANG RENCANA INDUK ( MASTER PLAN) FREKUENSI RADIO PENYELENGGARAAN TELEKOMUNIKASI KHUSUS UNTUK KEPERLUAN TELEVISI SIARAN ANALOG PADA PITA ULTRA HIGH FREQUENCY (UHF)

37

KEPMENINFO NO. 152 TAHUN 2007 TENTANG IZIN PENYELENGGARAAN JARINGAN BERGERAK SELULER PT. KOMUNIKASI SELULAR INDONESIA

PERMENKOMINFO NO: 11 TAHUN 2009 TENTANG KAMPANYE PEMILIHAN UMUM MELALUI JASA TELEKOMUNIKASI

38

KEPMENINFO NO. 151 TAHUN 2007 TENTANG IZIN PENYELENGGARAAN JARINGAN BERGERAK SELULER PT. METRO SELULAR NUSANTARA

PERMENKOMINFO NO: 09 TAHUN 2009 TENTANG PENETAPAN PITA FREKUENSI RADIO UNTUK KEPERLUAN LAYANAN PITA LEBAR NIRKABEL (WIRELESS BROADBAND) PADA PITA FREKUENSI RADIO 3.3 GHZ DAN MIGRASI PENGGUNA FREKUENSI RADIO EKSISTING UNTUK KEPERLUAN LAYANAN PITA LEBAR NIRKABEL (WIRELESS BROADBAND) DARI PITA FREKUENSI RADIO 3.4-3.6 GHZ KE PITA FREKUENSI RADIO 3.3 GHZ PERMENKOMINFO NO: 08 TAHUN 2009 TENTANG PENETAPAN PITA FREKUENSI RADIO UNTUK KEPERLUAN LAYANAN PITA LEBAR NIRKABEL (WIRELESS BROADBAND) PADA PITA FREKUENSI RADIO 2.3 GHZ PERMENKOMINFO NO: 07 TAHUN 2009 TENTANG PENATAAN PITA FREKUENSI RADIO UNTUK KEPERLUAN LAYANAN PITA LEBAR NIRKABEL (WIRELESS BROADBAND) PERMENKOMINFO NO: 03 TAHUN 2009 TENTANG KLASIFIKASI ARSIP DEPARTEMEN KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA PERMENKOMINFO NO: 02 TAHUN 2009 TENTANG TATA KEARSIPAN DINAMIS DEPARTEMEN KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA

39

KEPMENINFO NO. 150 TAHUN 2007 TENTANG IZIN PENYELENGGARAAN JARINGAN BERGERAK SELULER PT. TELEKOMINDO SELULAR RAYA

40

KEPMENINFO NO. 147 TAHUN 2007 TENTANG IZIN PENYELENGGARAAN JARINGAN BERGERAK SELULER PT. INDOPRIMA MIKROSELINDO KEPMENINFO NO. 144 TAHUN 2007 TENTANG PENETAPAN LOGO DEPARTEMEN KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA KEPMENINFO NO. 76 TAHUN 2007 TENTANG PELUANG USAHA PENYELENGGARAAN JARINGAN TETAP LOKAL, JARINGAN TETAP SAMBUNGAN LANGSUNG JARAK JAUH, JARINGAN TETAP SAMBUNGAN INTERNASIONAL DAN JARINGAN TETAP TERTUTUP BERBASIS KABEL KEPMENINFO NO. 62 TAHUN 2007 TENTANG PERUBAHAN ATAS KEPMENINFO NO.: 161/KEP/M.KOMINFO/11/2006 TENTANG IZIN PENYELENGGARAAN JARINGAN BERGERAK SELULER PT. NATRINDO TELEPON SELULER

41

42

43

PERMENKOMINFO NO: 01 TAHUN 2009 TENTANG PENYELENGGARAAN JASA PESAN PREMIUM DAN PENGIRIMAN JASA PESAN SINGKAT (SHORT MESSAGING SERVICE/SMS) KE BANYAK TUJUAN (BROADCAST)

186

44

KEPMENINFO NO. 60 TAHUN 2007 TENTANG IZIN PRINSIP PENYELENGGARAAN JARINGAN TETAP TERTUTUP PT. INDOINTERNET

PERMENKOMINFO NO: 39 TAHUN 2008 TENTANG DAERAH EKONOMI MAJU DAN DAERAH EKONOMI KURANG MAJU DALAM PENYELENGGARAAN PENYIARAN PERMENKOMINFO NO: 38 TAHUN 2008 TENTANG RENCANA KEGIATAN STRATEGIS DEPARTEMEN KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA TAHUN 2009 SEBAGAI PENYEMPURANAAN RENCANA STRATEGIS DEPARTEMEN KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA TAHUN 2004-2009 PERMENKOMINFO NO: 37 TAHUN 2008 TENTANG DOKUMEN SELEKSI PENYELENGGARAAN JARINGAN TETAP SAMBUNGAN JARAK JAUH

45

46

KEPMENINFO NO. 58 TAHUN 2007 TENTANG PENETAPAN BANK INDONESIA RATE UNTUK PERHITUNGAN BIAYA HAK PENGGUNAAN PITA SPEKTRUM FREKUENSI RADIO 2,1 GHZ UNTUK PENYELENGGARAAN JARINGAN BERGERAK SELULER TAHUN 2007 KEPMENINFO NO. 51 TAHUN 2007 TENTANG IZIN PRINSIP PENYELENGGARAAN JARINGAN TETAP TERTUTUP PT. TELEMEDIA NUSANTARA

47

KEPMENINFO NO. 48C TAHUN 2007 TENTANG IZIN PENYELENGGARAAN PENYIARAN LEMBAGA PENYIARAN SWASTA JASA PENYIARAN RADIO PT. RADIO BOGOR SWARATAMA KEPMENINFO NO. 48B TAHUN 2007 TENTANG IZIN PENYELENGGARAAN PENYIARAN LEMBAGA PENYIARAN SWASTA JASA PENYIARAN RADIO PT. RADIO TIARA RASEPRADANA KEPMENINFO NO. 48 TAHUN 2007 TENTANG IZIN PENYELENGGARAAN PENYIARAN LEMBAGA PENYIARAN SWASTA JASA PENYIARAN RADIO PT. RADIO QUANTUM GEMA PERSADA KEPMENINFO NO. 47B TAHUN 2007 TENTANG IZIN PENYELENGGARAAN PENYIARAN LEMBAGA PENYIARAN SWASTA JASA PENYIARAN RADIO PT. RADIO PUTRANAS MULIA RAHAYU

PERMENKOMINFO NO: 36 TAHUN 2008 TENTANG PENETAPAN BADAN REGULASI TELEKOMUNIKASI INDONESIA

48

PERMENKOMINFO NO: 35 TAHUN 2008 TENTANG PERPANJANGAN BATAS USIA PENSIUN PEJABAT STRUKTURAL ESELON II DI LINGKUNGAN DEPARTEMEN KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA PERMENKOMINFO NO: 34 TAHUN 2008 TENTANG TATA CARA PENILAIAN DALAM EVALUASI PADA SELEKSI DOKUMEN PERMOHONAN UJI COBA LAPANGAN PENYELENGGARAAN SIARAN TELEVISI DIGITAL PERMENKOMINFO NO: 33 TAHUN 2008 TENTANG PERUBAHAN KEDUA ATAS KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR : KM. 31 TAHUN 2003 TENTANG PENETAPAN BADAN REGULASI TELEKOMUNIKASI INDONESIA

49

50

51

KEPMENINFO NO. 47A TAHUN 2007 TENTANG IZIN PENYELENGGARAAN PENYIARAN LEMBAGA PENYIARAN SWASTA JASA PENYIARAN RADIO PT. RADIO TRISARA KENCHANA KEPMENINFO NO. 47 TAHUN 2007 TENTANG IZIN PENYELENGGARAAN PENYIARAN LEMBAGA PENYIARAN SWASTA JASA PENYIARAN RADIO PT. RADIO SUARA ADYASAMUDRA KEPMENINFO NO. 46B TAHUN 2007 TENTANG IZIN PENYELENGGARAAN PENYIARAN LEMBAGA PENYIARAN SWASTA JASA PENYIARAN RADIO PT. RADIO MEGAJAYA GEMPITA KEPMENINFO NO. 46A TAHUN 2007 TENTANG IZIN PENYELENGGARAAN PENYIARAN LEMBAGA PENYIARAN SWASTA JASA PENYIARAN RADIO PT. RADIO SWARA SUMBING WIJAYA KUSUMA PERMENKOMINFO NO: 31 TAHUN 2008 TENTANG PENYELENGGARAAN JASA TELEKOMUNIKASI

52

53

PERMENKOMINFO NO: 30 TAHUN 2008 TENTANG PENYELENGGARAAN JARINGAN TELEKOMUNIKASI

54

PERMENKOMINFO NO: 29 TAHUN 2008 TENTANG SERTIFIKASI ALAT DAN PERANGKAT TELEKOMUNIKASI

187

55

KEPMENINFO NO. 46 TAHUN 2007 TENTANG IZIN PENYELENGGARAAN PENYIARAN LEMBAGA PENYIARAN SWASTA JASA PENYIARAN RADIO PT. RADIO GENERASI MUDA KEPMENINFO NO. 45A TAHUN 2007 TENTANG IZIN PENYELENGGARAAN PENYIARAN LEMBAGA PENYIARAN SWASTA JASA PENYIARAN RADIO PT. RADIO MANDALIKA JEPARA

PERMENKOMINFO NO: 28 TAHUN 2008 TENTANG TATA CARA DAN PERSYARATAN PERIZINAN PENYELENGGARAAN PENYIARAN

56

PERMENKOMINFO NO: 27 TAHUN 2008 TENTANG UJI COBA LAPANGAN PENYELENGGARAAN SIARAN TELEVISI DIGITAL

57

KEPMENINFO NO. 45 TAHUN 2007 TENTANG IZIN PENYELENGGARAAN PENYIARAN LEMBAGA PENYIARAN SWASTA JASA PENYIARAN RADIO PT. RADIO UTAMANDA SUARAKOTA

PERMENKOMINFO NO: 26 TAHUN 2008 TENTANG TATA KERJA DAN TATA CARA PENILAIAN ANGKA KREDIT JABATAN FUNGSIONAL PENGENDALI FREKUENSI RADIO

58

KEPMENINFO NO. 44 TAHUN 2007 TENTANG IZIN PENYELENGGARAAN PENYIARAN LEMBAGA PENYIARAN SWASTA JASA PENYIARAN RADIO PT. RADIO NADA KENCANA AGUNG

59

KEPMENINFO NO. 43 TAHUN 2007 TENTANG IZIN PENYELENGGARAAN PENYIARAN LEMBAGA PENYIARAN SWASTA JASA PENYIARAN RADIO PT. RADIO MADINATUSSALAM BANDUNG

PERMENKOMINFO NO: 26B TAHUN 2008 TENTANG PETUNJUK TEKNIS PENGANGKATAN, KENAIKAN JABATAN/PANGKAT, PEMBEBASAN SEMENTARA, PENGANGKATAN KEMBALI DAN PEMBERHENTIAN DALAM DAN DARI JABATAN FUNGSIONAL PENGENDALI FREKUENSI RADIO PERMENKOMINFO NO: 26A TAHUN 2008 TENTANG PEDOMAN PENYUSUNAN FORMASI JABATAN FUNGSIONAL PENGENDALI FREKUENSI RADIO

60

KEPMENINFO NO. 42A TAHUN 2007 TENTANG IZIN PENYELENGGARAAN PENYIARAN LEMBAGA PENYIARAN SWASTA JASA PENYIARAN RADIO PT. RADIO CAKRAWALA LINTAS ATLAS

PERMENKOMINFO NO: 26 TAHUN 2008 TENTANG PETUNJUK PELAKSANAAN TARIF ATAS PENERIMAAN NEGARA BUKAN PAJAK DARI KONTRIBUSI KEWAJIBAN PELAYANAN UNIVERSAL TELEKOMUNIKASI/ UNIVERSAL SERVICE OBLIGATION PERMENKOMINFO NO: 25 TAHUN 2008 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA DEPARTEMEN KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA

61

KEPMENINFO NO. 42 TAHUN 2007 TENTANG IZIN PENYELENGGARAAN PENYIARAN LEMBAGA PENYIARAN SWASTA JASA PENYIARAN RADIO PT. RADIO PURNA YUDHA

62

KEPMENINFO NO. 41A TAHUN 2007 TENTANG IZIN PENYELENGGARAAN PENYIARAN LEMBAGA PENYIARAN SWASTA JASA PENYIARAN RADIO PT. RADIO GEMA MAHASISWA UNSUD PURWOKERTO KEPMENINFO NO. 41 TAHUN 2007 TENTANG IZIN PENYELENGGARAAN PENYIARAN LEMBAGA PENYIARAN SWASTA JASA PENYIARAN RADIO PT. RADIO SWARA RAMA SUTRA

PERMENKOMINFO NO: 23 TAHUN 2008 TENTANG PENGADAAN BARANG / JASA PEMERINTAH SECARA ELEKTRONIK DENGAN SISTEM EPENGADAAN PEMERINTAH DI LINGKUNGAN DEPARTEMEN KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA PERMENKOMINFO NO: 22 TAHUN 2008 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA UNIT PELAKSANA TEKNIS BIDANG PENGKAJIAN DAN PENGEMBANGAN KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA

63

188

64

KEPMENINFO NO. 40A TAHUN 2007 TENTANG IZIN PENYELENGGARAAN PENYIARAN LEMBAGA PENYIARAN SWASTA JASA PENYIARAN RADIO PT. RADIO SWARA ALAS ROBAN KEPMENINFO NO. 40 TAHUN 2007 TENTANG IZIN PENYELENGGARAAN PENYIARAN LEMBAGA PENYIARAN SWASTA JASA PENYIARAN RADIO PT. RADIO MARTHA DARIA

PERMENKOMINFO NO: 20 TAHUN 2008 TENTANG PEDOMAN PENGGUNAAN SUMBER DAYA DALAM NEGERI UNTUK PRODUKSI FILM IKLAN YANG DISIARKAN DAN DIPERTUNJUKAN DI INDONESIA PERMENKOMINFO NO: 18 TAHUN 2008 TENTANG PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN DASAR JABATAN FUNGSIONAL PRANATA HUMAS

65

66

KEPMENINFO NO. 39A TAHUN 2007 TENTANG IZIN PENYELENGGARAAN PENYIARAN LEMBAGA PENYIARAN SWASTA JASA PENYIARAN RADIO PT. RADIO SUARA AL-MABRUR BERSINAR KEPMENINFO NO. 39 TAHUN 2007 TENTANG IZIN PENYELENGGARAAN PENYIARAN LEMBAGA PENYIARAN SWASTA JASA PENYIARAN RADIO PT. RADIO GESWARA PAMANUKAN KEPMENINFO NO. 38A TAHUN 2007 ENTANG IZIN PENYELENGGARAAN PENYIARAN LEMBAGA PENYIARAN SWASTA JASA PENYIARAN RADIO PT. RADIO SEMBILAN KALI SEMBILAN KEPMENINFO NO. 38 TAHUN 2007 TENTANG IZIN PENYELENGGARAAN PENYIARAN LEMBAGA PENYIARAN SWASTA JASA PENYIARAN RADIO PT. RADIO ELMITRA SUKABUMI

PERMENKOMINFO NO: 15 TAHUN 2008 TENTANG TATA CARA PENETAPAN TARIF JASA TELEPONI DASAR YANG DISALURKAN MELALUI JARINGAN TETAP PERMENKOMINFO NO: 14 TAHUN 2008 TENTANG STANDAR KUALITAS PELAYANAN JASA TELEPONI DASAR PADA JARINGAN TETAP SAMBUNGAN INTERNASIONAL PERMENKOMINFO NO: 13 TAHUN 2008 TENTANG STANDAR KUALITAS PELAYANAN JASA TELEPONI DASAR PADA JARINGAN TETAP MOBILITAS TERBATAS PERMENKOMINFO NO: 12 TAHUN 2008 TENTANG STANDAR KUALITAS PELAYANAN JASA TELEPONI DASAR PADA JARINGAN BERGERAK SELULAR

67

68

69

70

KEPMENINFO NO. 37A TAHUN 2007 TENTANG IZIN PENYELENGGARAAN PENYIARAN LEMBAGA PENYIARAN SWASTA JASA PENYIARAN RADIO PT. RADIO RORO DJONGGRANG KEPMENINFO NO. 37 TAHUN 2007 TENTANG IZIN PENYELENGGARAAN PENYIARAN LEMBAGA PENYIARAN SWASTA JASA PENYIARAN RADIO PT. RADIO SUARA ELOK LESTARI ABADI KEPMENINFO NO. 36A TAHUN 2007 TENTANG IZIN PENYELENGGARAAN PENYIARAN LEMBAGA PENYIARAN SWASTA JASA PENYIARAN RADIO PT. RADIO SUARA SEMARANG ATLAS ANGKASA JAYA KEPMENINFO NO. 36 TAHUN 2007 TENTANG IZIN PENYELENGGARAAN PENYIARAN LEMBAGA PENYIARAN SWASTA JASA PENYIARAN RADIO PT. RADIO SWARA HISTORI GITA JAYA

PERMENKOMINFO NO: 11 TAHUN 2008 TENTANG STANDAR KUALITAS PELAYANAN JASA TELEPONI DASAR PADA JARINGAN TETAP LOKAL

71

PERMENKOMINFO NO: 10 TAHUN 2008 TENTANG STANDAR KUALITAS PELAYANAN JASA TELEFONI DASAR PADA JARINGAN TETAP SAMBUNGAN LANGSUNG JARAK JAUH PERMENKOMINFO NO: 09 TAHUN 2008 TENTANG TATA CARA PENETAPAN TARIF JASA TELEKOMUNIKASI YANG DISALURKAN MELALUI JARINGAN BERGERAK SELULAR PERMENKOMINFO NO: 07 TAHUN 2008 TENTANG PERUBAHAN KEDUA ATAS KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 21 TAHUN 2001 TENTANG PENYELENGGARAAN JASA TELEKOMUNIKASI

72

73

189

74

KEPMENINFO NO. 35A TAHUN 2007 TENTANG IZIN PENYELENGGARAAN PENYIARAN LEMBAGA PENYIARAN SWASTA JASA PENYIARAN RADIO PT. RADIO BAHUREKSA SUARA PEKALONGAN KEPMENINFO NO. 35 TAHUN 2007 TENTANG IZIN PENYELENGGARAAN PENYIARAN LEMBAGA PENYIARAN SWASTA JASA PENYIARAN RADIO PT. RADIO GEMA WARGA KARYA SATNAWA KEPMENINFO NO. 34A TAHUN 2007 TENTANG IZIN PENYELENGGARAAN PENYIARAN LEMBAGA PENYIARAN SWASTA JASA PENYIARAN RADIO PT. RADIO HAR BOS PATI

PERMENKOMINFO NO: 06 TAHUN 2008 TENTANG PERUBAHAN KETIGA ATAS KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM.20 TAHUN 2001 TENTANG PENYELENGGARAAN JARINGAN TELEKOMUNIKASI PERMENKOMINFO NO: 05 TAHUN 2008 TENTANG TATA KERJA DAN TATA CARA PENILAIAN ANGKA KREDIT JABATAN FUNGSIONAL PRANATA HUMAS

75

76

77

KEPMENINFO NO. 34 TAHUN 2007 TENTANG IZIN PENYELENGGARAAN PENYIARAN LEMBAGA PENYIARAN SWASTA JASA PENYIARAN RADIO PT. RADIO SWARA PITALOKA

PERMENKOMINFO NO: 04 TAHUN 2008 TENTANG PETUNJUK TEKNIS PENGANGKATAN, KENAIKAN JABATAN/PANGKAT, PEMBEBASAN SEMENTARA, PENGANGKATAN KEMBALI DAN PEMBERHENTIAN DALAM DAN DARI JABATAN FUNGSIONAL PRANATA HUMAS PERMENKOMINFO NO: 3A TAHUN 2008 TENTANG PERUBAHAN KELIMA ATAS KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM-4 TAHUN 2001 TENTANG PENETAPAN RENCANA DASAR TEKNIS NASIONAL 2000 (FUNDAMENTAL TECHNICAL PLAN NATIONAL 2000) PEMBANGUNAN TELEKOMUNIKASI NASIONAL

78

KEPMENINFO NO. 33A TAHUN 2007 TENTANG IZIN PENYELENGGARAAN PENYIARAN LEMBAGA PENYIARAN SWASTA JASA PENYIARAN RADIO PT. IKHLASUL AMAL

PERMENKOMINFO NO: 03 TAHUN 2008 TENTANG PEDOMAN PENYUSUNAN FORMASI JABATAN FUNGSIONAL PRANATA HUMAS

79

KEPMENINFO NO. 33 TAHUN 2007 TENTANG IZIN PENYELENGGARAAN PENYIARAN LEMBAGA PENYIARAN SWASTA JASA PENYIARAN RADIO PT. RADIO SWARA CAKRAWALA SANGKURIANG

80

KEPMENINFO NO. 32A TAHUN 2007 TENTANG IZIN PENYELENGGARAAN PENYIARAN LEMBAGA PENYIARAN SWASTA JASA PENYIARAN RADIO PT. RADIO SWARA CITRA SUHADA JAYA KEPMENINFO NO. 32 TAHUN 2007 TENTANG IZIN PENYELENGGARAAN PENYIARAN LEMBAGA PENYIARAN SWASTA JASA PENYIARAN RADIO PT. RADIO ILNAFIR KARANGLAYUNG CITRA BUDAYA SUARA

PERMENKOMINFO NO: 01 TAHUN 2008 TENTANG PEREKAMAN INFORMASI UNTUK KEPENTINGAN PERTAHANAN DAN KEAMANAN NEGARA

81

PERMENKOMINFO NO: 44 TAHUN 2007 TENTANG PERUBAHAN PERMENKOMINFO NO: : 25/PER/M.KOMINFO/5/2007 TENTANG PENGGUNAAN SUMBER DAYA DALAM NEGERI UNTUK PRODUK IKLAN YANG DISIARKAN MELALUI LEMBAGA PENYIARAN

190

82

KEPMENINFO NO. 30 TAHUN 2007 TENTANG IZIN PENYELENGGARAAN PENYIARAN LEMBAGA PENYIARAN SWASTA JASA PENYIARAN RADIO PT. RADIO MUTIARA GEGANA

PERMENKOMINFO NO: 43 TAHUN 2007 TENTANG PERUBAHAN KEEMPAT ATAS KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR : KM.4 TAHUN 2001 TENTANG PENETAPAN RENCANA DASAR TEKNIS NASIONAL 2000 (FUNDAMENTAL TECHNICAL PLAN NATIONAL 2000) PEMBANGUNAN TELEKOMUNIKASI NASIONAL PERMENKOMINFO NO: 41 TAHUN 2007 PANDUAN UMUM TATA KELOLA TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI NASIONAL

83

KEPMENINFO NO. 29A TAHUN 2007 TENTANG IZIN PENYELENGGARAAN PENYIARAN LEMBAGA PENYIARAN SWASTA JASA PENYIARAN RADIO PT. RADIO SWARA IRAMA KUSUMA SENA

84

KEPMENINFO NO. 29 TAHUN 2007 TENTANG IZIN PENYELENGGARAAN PENYIARAN LEMBAGA PENYIARAN SWASTA JASA PENYIARAN RADIO PT. RADIO UTA SARI KEPMENINFO NO. 28A TAHUN 2007 TENTANG IZIN PENYELENGGARAAN PENYIARAN LEMBAGA PENYIARAN SWASTA JASA PENYIARAN RADIO PT. RADIO CEMPAKA ANGKASA KEPMENINFO NO. 28 TAHUN 2007 TENTANG IZIN PENYELENGGARAAN PENYIARAN LEMBAGA PENYIARAN SWASTA JASA PENYIARAN RADIO PT. RADIO BIDURI EKA SWARATAMA KEPMENINFO NO. 27 TAHUN 2007 TENTANG IZIN PENYELENGGARAAN PENYIARAN LEMBAGA PENYIARAN SWASTA JASA PENYIARAN RADIO PT. RADIO MANGGALA GEMINI BANDUNG KEPMENINFO NO. 27A TAHUN 2007 TENTANG IZIN PENYELENGGARAAN PENYIARAN LEMBAGA PENYIARAN SWASTA JASA PENYIARAN RADIO PT. RADIO PANCABAYU MADUGONDO KEPMENINFO NO. 26A TAHUN 2007 TENTANG IZIN PENYELENGGARAAN PENYIARAN LEMBAGA PENYIARAN SWASTA JASA PENYIARAN RADIO PT. RADIO CITRA ANGKASA ICHSANIYAH KEPMENINFO NO. 26 TAHUN 2007 TENTANG IZIN PENYELENGGARAAN PENYIARAN LEMBAGA PENYIARAN SWASTA JASA PENYIARAN RADIO PT. RADIO SWARA INDAH SUKABUMI KEPMENINFO NO. 25A TAHUN 2007 TENTANG IZIN PENYELENGGARAAN PENYIARAN LEMBAGA PENYIARAN SWASTA JASA PENYIARAN RADIO PT. RADIO RONA PUSPITA

PERMENKOMINFO NO: 40 TAHUN 2007 TENTANG KRITERIA KLASIFIKASI UNIT PELAKSANA TEKNIS DI BIDANG MONITOR SPEKTRUM FREKUENSI RADIO DAN ORBIT SATELIT PERMENKOMINFO NO: 38 TAHUN 2007 PERUBAHAN ATAS PERMENKOMINFO NO: 11/PER/M.KOMLNFO/04/2007 TENTANG PENYEDIAAN KEWAJIBAN PELAYANAN UNIVERSAL TELEKOMUNIKASI PERMENKOMINFO NO: 32 TAHUN 2007 PENYESUAIAN PENERAPAN SISTEM STASIUN JARINGAN LEMBAGA PENYIARAN JASA PENYIARAN TELEVISI. PERMENKOMINFO NO: 29 TAHUN 2007 PERUBAHAN ATAS PERMENKOMINFO NO: : 27/P/M.KOMINFO/6/2007 TENTANG DOKUMEN SELEKSI PENYELENGGARA JARINGAN TETAP SAMBUNGAN INTERNASIONAL PERMENKOMINFO NO: 27 TAHUN 2007 TENTANG DOKUMEN SELEKSI PENYELENGGARAAN JARINGAN TETAP SAMBUNGAN INTERNASIONAL

85

86

87

88

89

PERMENKOMINFO NO: 26 TAHUN 2007 TENTANG PENGAMANAN PEMANFAATAN JARINGAN TELEKOMUNIKASI BERBASIS PROTOKOL INTERNET PERMENKOMINFO NO: 25 TAHUN 2007 TENTANG PENGGUNAAN SUMBER DAYA DALAM NEGERI UNTUK PRODUK IKLAN YANG DISIARKAN MELALUI LEMBAGA PENYIARAN PERMENKOMINFO NO: 22 TAHUN 2007 PERUBAHAN KEDUA ATAS PERMENKOMINFO NO: : 08/P/M.KOMINFO/3/2007 TENTANG TATA CARA PERIZINAN DAN PENYELENGGARAAN PENYIARAN LEMBAGA PENYIARAN SWASTA

90

91

191

92

KEPMENINFO NO. 25 TAHUN 2007 TENTANG IZIN PENYELENGGARAAN PENYIARAN LEMBAGA PENYIARAN SWASTA JASA PENYIARAN RADIO PT. RADIO DAHLIA FLORA KEPMENINFO NO. 24A TAHUN 2007 TENTANG IZIN PENYELENGGARAAN PENYIARAN LEMBAGA PENYIARAN SWASTA JASA PENYIARAN RADIO PT. RADIO DUTASUARA GARUDA SAKTI KEPMENINFO NO. 24 TAHUN 2007 TENTANG IZIN PENYELENGGARAAN PENYIARAN LEMBAGA PENYIARAN SWASTA JASA PENYIARAN RADIO PT. RADIO ANTARES KEPMENINFO NO. 23 TAHUN 2007 TENTANG IZIN PENYELENGGARAAN PENYIARAN LEMBAGA PENYIARAN SWASTA JASA PENYIARAN RADIO PT. RADIO GARUDA TUNGGAL ANGKASA

PERMENKOMINFO NO: 21 TAHUN 2007 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA MONUMEN PERS NASIONAL

93

PERMENKOMINFO NO: 20 TAHUN 2007 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA BALAI BESAR PENGUJIAN PERANGKAT TELEKOMUNIKASI

94

PERMENKOMINFO NO: 19 TAHUN 2007 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA MUSEUM PENERANGAN

95

PERMENKOMINFO NO: 18 TAHUN 2007 PERUBAHAN ATAS KEPUTUSAN MENTERI KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA NOMOR 86/KEP/M.KOMINFO/10/2005 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA UNIT PELAKSANA TEKNIS MONITOR SPEKTRUM FREKUENSI RADIO DAN ORBIT SATELIT. PERMENKOMINFO NO: 17 TAHUN 2007 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA PENDIDIKAN DAN LATIHAN AHLI MULTI MEDIA DI YOGYAKARTA

96

KEPMENINFO NO. 22A TAHUN 2007 TENTANG IZIN PENYELENGGARAAN PENYIARAN LEMBAGA PENYIARAN SWASTA JASA PENYIARAN RADIO PT. RADIO REMBANG BANGKIT KEPMENINFO NO. 22 TAHUN 2007 TENTANG IZIN PENYELENGGARAAN PENYIARAN LEMBAGA PENYIARAN SWASTA JASA PENYIARAN RADIO PT. RADIO ARDAN SWARATAMA KEPMENINFO NO. 21A TAHUN 2007 TENTANG IZIN PENYELENGGARAAN PENYIARAN LEMBAGA PENYIARAN SWASTA JASA PENYIARAN RADIO PT. RADIO SWARA CARAKA RIA KEPMENINFO NO. 20A TAHUN 2007 TENTANG IZIN PENYELENGGARAAN PENYIARAN LEMBAGA PENYIARAN SWASTA JASA PENYIARAN RADIO PT. RADIO SWARA DELANGGU BERSINAR KEPMENINFO NO. 21 TAHUN 2007 TENTANG IZIN PENYELENGGARAAN PENYIARAN LEMBAGA PENYIARAN SWASTA JASA PENYIARAN RADIO PT. RADIO GEMA SWARA PAMIJAHAN KEPMENINFO NO. 20 TAHUN 2007 TENTANG IZIN PENYELENGGARAAN PENYIARAN LEMBAGA PENYIARAN SWASTA JASA PENYIARAN RADIO PT. RADIO SWARA PAKUSARAKAN PRATITA

97

PERMENKOMINFO NO: 15 TAHUN 2007 PERUBAHAN ATAS PERMENKOMINFO NO: : 08/P/M.KOMINFO/3/2007 TENTANG TATA CARA PERIZINAN DAN PENYELENGGARAAN PENYIARAN LEMBAGA PENYIARAN SWASTA PERMENKOMINFO NO: 14 TAHUN 2007 TENTANG TATA CARA DAN KRITERIA SELEKSI PENGGUNA SPEKTRUM FREKUENSI RADIO UNTUK PENYELENGGARAAN PENYIARAN PERMENKOMINFO NO: 11 TAHUN 2007 TENTANG PENYEDIAAN KEWAJIBAN PELAYANAN UNIVERSAL TELEKOMUNIKASI

98

99

100

PERATURAN BERSAMA MENTERI KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA NOMOR 10 TAHUN 2007 TENTANG PENGGUNAAN FITUR BERBAYAR JASA TELEKOMUNIKASI PERATURAN MENTERI KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA DAN KEPALA BADAN KEPEGAWAIAN NEGARA NOMOR 09 TAHUN 2007 TENTANG PETUNJUK PELAKSANAAN JABATAN FUNGSIONAL PENGENDALI FREKUENSI RADIO DAN ANGKA KREDITNYA PERMENKOMINFO NO: 08 TAHUN 2007 TENTANG TATA CARA PERIZINAN DAN PENYELENGGARAAN PENYIARAN LEMBAGA PENYIARAN SWASTA

101

102

KEPMENINFO NO. 18A TAHUN 2007 TENTANG IZIN PENYELENGGARAAN PENYIARAN LEMBAGA PENYIARAN SWASTA JASA PENYIARAN RADIO PT. RADIO CIKA MANCA

192

103

KEPMENINFO NO. 18 TAHUN 2007 TENTANG IZIN PENYELENGGARAAN PENYIARAN LEMBAGA PENYIARAN SWASTA JASA PENYIARAN RADIO PT. RADIO SWADAYA CEMPAKA 23 KEPMENINFO NO. 17A TAHUN 2007 TENTANG IZIN PENYELENGGARAAN PENYIARAN LEMBAGA PENYIARAN SWASTA JASA PENYIARAN RADIO PT. RADIO SUARA GAJAHMADA PALAPA ANGKASA JAYA KEPMENINFO NO. 16C TAHUN 2007 TENTANG IZIN PENYELENGGARAAN PENYIARAN LEMBAGA PENYIARAN SWASTA JASA PENYIARAN RADIO PT. RADIO BUNDER CENTRAL AUDIO KEPMENINFO NO. 16B TAHUN 2007 TENTANG IZIN PENYELENGGARAAN PENYIARAN LEMBAGA PENYIARAN SWASTA JASA PENYIARAN RADIO PT. RADIO AGNIA MEGATAMA

PERMENKOMINFO NO: 07 TAHUN 2007 TENTANG STANDAR PENYIARAN DIGITAL TERESTRLAL UNTUK TELEVISI TIDAK BERGERAK DL INDONESIA. PERMENKOMINFO NO: 05 TAHUN 2007 TENTANG PETUNJUK PELAKSANAAN TARIF ATAS JENIS PENERIMAAN NEGARA BUKAN PAJAK DARI KONTRIBUSI KEWAJIBAN PELAYANAN UNIVERSAL TELEKOMUNIKASI / UNIVERSAL SERVICE OBLIGATION PERMENKOMINFO NO: 03 TAHUN 2007 TENTANG SEWA JARINGAN

104

105

106

107

108

KEPMENINFO NO. 16A TAHUN 2007 TENTANG IZIN PENYELENGGARAAN PENYIARAN LEMBAGA PENYIARAN SWASTA JASA PENYIARAN RADIO KEPADA PT. RADIO SWARA PANDAWA LIMA SHAKTI KEPMENINFO NO. 16 TAHUN 2007 TENTANG IZIN PENYELENGGARAAN PENYIARAN LEMBAGA PENYIARAN SWASTA JASA PENYIARAN RADIO KEPADA PT. RADIO REKA KHARISMA SWARA KEPMENINFO NO. 15A TAHUN 2007 TENTANG IZIN PENYELENGGARAAN PENYIARAN LEMBAGA PENYIARAN SWASTA JASA PENYIARAN RADIO KEPADA PT. RADIO MENARA BUANA SWARAINDAH KEPMENINFO NO. 15 TAHUN 2007 TENTANG IZIN PENYELENGGARAAN PENYIARAN LEMBAGA PENYIARAN SWASTA JASA PENYIARAN RADIO KEPADA PT. RADIO SUARA GALUNGGUNG GIRI SAKTI KEPMENINFO NO. 13A TAHUN 2007 TENTANG IZIN PENYELENGGARAAN PENYIARAN LEMBAGA PENYAIARAN SWASTA JASA PENYIARAN RADIO PT. RADIO RASIKA DANANDA UTAMA KEPMENINFO NO. 187 TAHUN 2006: TENTANG TIM PENASEHAT DEWAN TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI NASIONAL KEPMENINFO NO. 186 TAHUN 2006: TENTANG SEKRETARIAT DEWAN TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI NASIONAL KEPMENINFO NO. 170 TAHUN 2006: TENTANG IZIN PRINSIP PENYELENGGARAAN JARINGAN TETAP PT. TRANSNETWORK COMMUNICATION ASIA KEPMENINFO NO. 169 TAHUN 2006: TENTANG IZIN PRINSIP PENYELENGGARAAN JARINGAN TETAP TERTUTUP PT. MORA TELEMATIKA INDONESIA

109

PERMENKOMINFO NO: 42 TAHUN 2006 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERMENKOMINFO NO: : 01/PER/M.KOMINFO/1/2006 TENTANG PENATAAN PITA FREKUENSI RADIO 2,1 GHZ UNTUK PENYELENGGARAAN JARINGAN BERGERAK SELULER IMT-2000 PERMENKOMINFO NO: 40 TAHUN 2006 TENTANG PERUBAHAN KEDUA ATAS KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR : KM.20 TAHUN 2001 TENTANG PENYELENGGARAAN JARINGAN TELEKOMUNIKASI PERMENKOMINFO NO: 37 TAHUN 2006 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERMENKOMINFO NO:: 13/P/M.KOMINFO/8/2005 TENTANG PENYELENGGARAAN TELEKOMUNIKASI MENGGUNAKAN SATELIT PERMENKOMINFO NO: 35 TAHUN 2006 TENTANG ORGANISASI TATA KERJA BALAI TELEKOMUNIKASI DAN INFORMATIKA PERDESAAN PERMENKOMINFO NO: 34 TAHUN 2006 TENTANG STANDAR PELAYANAN MINIMAL BALAI SATUAN KERJA SEMENTARA TELEKOMUNIKASI DAN INFORMATIKA PEDESAAN PERMENKOMINFO NO: 32 TAHUN 2006 TENTANG PEMBENTUKAN ORGANISASI DAN TATA KERJA SATUAN KERJA SEMENTARA TELEKOMUNIKASI DAN INFORMATIKA PEDESAAN PERMENKOMINFO NO: 30 TAHUN 2006 TENTANG BADAN PENGAWAS CERTIFICATION AUTHORITY PERMENKOMINFO NO: 29 TAHUN 2006 TENTANG PEDOMAN PENYELENGGARAAN CERTIFICATION AUTHORITY (CA) DI INDONESIA PERMENKOMINFO NO: 28 TAHUN 2006 TENTANG PENGGUNAAN NAMA DOMAIN GO.ID UNTUK SITUS WEB RESMI PEMERINTAHAN PUSAT DAN DAERAH PERMENKOMINFO NO: 27 TAHUN 2006 TENTANG PENGAMANAN PEMANFAATAN JARINGAN TELEKOMUNIKASI BERBASIS PROTOKOL INTERNET

110

111

112

113

114

115

193

116

KEPMENINFO NO. 168 TAHUN 2006: TENTANG IZIN PENYELENGGARAAN TETAP TERTUTUP PT. ARTHA MAS CIPTA

117

KEPMENINFO NO. 167 TAHUN 2006 TENTANG IZIN PRINSIP MENYELENGGARAKAN JARINGAN TETAP TERTUTUP PT. MOBILKOM TELEKOMINDO KEPMENINFO NO. 166 TAHUN 2006 TENTANG TIM AHLI INDONESIA SECURITY INCIDENT RESPONSES TEAM ON INTERNET INFRASTRUCTURE (ID-SIRTII) KEPMENINFO NO. 154 TAHUN 2006 TENTANG IZIN PENYELENGGARAAN PENYIARAN LEMBAGA PENYIARAN SWASTA JASA PENYIARAN TELEVISI PT. CIPTA TPI

PERMENKOMINFO NO: 26 TAHUN 2006 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERMENKOMINFO NO:: 19/PER.KOMINF0/10/2005 TENTANG PETUNJUK PELAKSANAAN TARIF ATAS PENERIMAAN NEGARA BUKAN PAJAK DARI BIAYA HAK BANGUNAN SPEKTRUM FREKUENSI RADIO PERMENKOMINFO NO: 24 TAHUN 2006 TENTANG FORMAT PENYEUAIAN IZIN PENYELENGGARAAN SWASTA DAN LEMBAGA PENYIARAN BERLANGGANAN PERMENKOMINFO NO: 20 TAHUN 2006 TENTANG PERINGATAN DINI TSUNAMI ATAU BENCANA LAINNYA MELALUI LEMBAGA PENYIARAN DI SELURUH INDONESIA PERMENKOMINFO NO: 17 TAHUN 2006 TENTANG TATA CARA PENYESUAIAN IZIN PENYELENGARAN PENYIARAN BAGI LEMBAGA PENYIARAN SWASTA YANG TELAH MEMILIKI IZIN STASIUN RADIO DARI DIREKTORAT JENDERAL POST DAN TELEKOMUNIKASI DAN/ATAU IZIN SIARAN NASIONAL UNTUK TELEVISI DARI DEPARTEMEN PENERANGAN DAN BAGI LEMBAGA PENYIARAN BERLANGGANAN YANG TELAH MEMILIKI IZIN PENYELENGGARAAN JASA TELEVISI BERBAYAR DARI DIREKTORAT JENDERAL POS DAN TELEKOMUNIKASI DAN/ATAU IZIN PENYELENGARAAN SIARAN TELEVISI BERLANGGANAN DARI DEPARTEMEN PENERANGAN PERMENKOMINFO NO: 12 TAHUN 2006 TENTANG TATA CARA PENETAPAN TARIF PERUBAHAN JASA TELEPONI DASAR JARINGAN BERGERAK SELULAR

118

119

120

121

122

KEPMENINFO NO. 99 TAHUN 2006 TENTANG PEMBENTUKAN PANITIA PERSIAPAN INDONESIA INFRASTRUCTURE CONFERENCE AND EXHIBITION 2006 DEPARTEMEN KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA KEPMENINFO NO. 68 TAHUN 2006 TENTANG IZIN PENYELENGGARAAN JARINGAN TETAP TERTUTUP PT. MULTI TRANS DATA KEPMENINFO NO. 67 TAHUN 2006 TENTANG IZIN PRINSIP PENYELENGGARAAN JARINGAN TETAP TERTUTUP PT. MULTIMEDIA NUSANTARA KEPMENINFO NO. 63 TAHUN 2006 TENTANG TIM EVALUASI DAN PENYEMPURNAAN PERATURAN PEMERINTAH DI BIDANG PENYIARAN

PERMENKOMINFO NO: 11 TAHUN 2006 TENTANG TEKNIS PENYADAPAN TERHADAP INFORMASI PERMENKOMINFO NO: 09 TAHUN 2006 TENTANG TATA CARA PENETAPAN TARIF AWAL DAN TARIF PERUBAHAN JASA TELEPONI DASAR MELALUI JARINGAN TETAP PERMENKOMINFO NO: 08 TAHUN 2006 TENTANG INTERKONEKSI

123

124

125

KEPMENINFO NO. 28 TAHUN 2006 TENTANG BESARAN TARIF IZIN PENGGUNAAN PITA SPEKTRUM FREKUENSI RADIO PADA PITA FREKUENSI RADIO 2,1 GHZ UNTUK JARINGAN BERGERAK SELULER KEPMENINFO NO. 23 TAHUN 2006 TENTANG PERUBAHAN KEDUA TIM PENYUSUNAN RANCANGAN PERATURAN PEMERINTAH TENTANG TARIF ATAS JENIS PENERIMAAN NEGARA BUKAN PAJAK DI BIDANG PENYIARAN YANG BERLAKU PADA DEPARTEMEN KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA

PERMENKOMINFO NO: 07 TAHUN 2006 TENTANG KETENTUAN PENGGUNAAN PITA FREKUENSI RADIO 1,2 GHZ UNTUK PENYELENGGARAAN JARINGAN BERGERAK SELULER PERMENKOMINFO NO: 05 TAHUN 2006 TENTANG PENYELENGGARAAN WARUNG TELEKOMUNIKASI

194

126

KEPMENINFO NO. 14 TAHUN 2006 TENTANG PENCABUTAN KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR: SK.102/HK.601/PHB-98 TENTANG SUSUNAN KOMINTE KERJA SAMA OPERASI (KSO) SEBAGAIMANA TELAH DI UBAH TERAKHIR DENGAN KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR: KP.381 TAHUN 2000

PERMENKOMINFO NO: 04 TAHUN 2006 TENTANG TATA CARA LELANG PITA SPEKTRUM FREKUENSI RADIO 2,1 GHZ UNTUK PENYELENGGARAAN JARINGAN BERGERAK SELULER IMT IMT-2000

127

KEPMENINFO NO. 13 TAHUN 2006 TENTANG HARGA DASAR (RESERVE PRICE) PITA SPEKTRUM FREKUENSI RADIO 2,1 GHZ KEPMENINFO NO. 08 TAHUN 2006 TENTANG PEMBENTUKAN KOMITE NASIONAL INDONESIA UNTUK INFORMATION FOR ALL PROGRAMME (IFAP)-UNESCO KEPMENINFO NO. 01 TAHUN 2006 TENTANG PENETAPAN ANGGOTA KOMITE REGULASI TELEKOMUNIKASI (KRT) PADA BADAN REGULASI TELEKOMUNIKASI INDONESIA (BRTI)

PERMENKOMINFO NO: 02 TAHUN 2006 TENTANG SELEKSI PENYELENGGARAAN JARINGAN BERGERAK SELULER IMT-2000 PADA PITA FREKUENSI RADIO 2,1 GHZ PERMENKOMINFO NO: 01 TAHUN 2006 TENTANG PENATAAN PITA FREKUENSI RADIO 2,1 GHZ UNTUK PENYELENGGARAAN JARINGAN BERGERAK SELULER IMT-2000 PERMENKOMINFO NO: 27 TAHUN 2005 TENTANG RENCANA STRATEGIS DEPARTEMEN KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA TAHUN 2004-2009 PERMENKOMINFO NO: 25 TAHUN 2005 TENTANG PERUBAHAN PERTAMA ATAS KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR: KM.31 TAHUN 2003 TENTANG PENETAPAN BADAN REGULASI TELEKOMUNIKASI INDONESIA PERMENKOMINFO NO: 24 TAHUN 2005 TENTANG PENGGUNAAN FITUR BERBAYAR JASA TELEKOMUNIKASI PERMENKOMINFO NO: 23 TAHUN 2005 TENTANG REGRISTRASI TERHADAP PELANGGAN JASA TELEKOMUNIKASI PERMENKOMINFO NO: 22 TAHUN 2005 TENTANG PETUNJUK PELAKSANAAN TARIF ATAS PENERIMAAN NEGARA BUKAN PAJAK DARI PUNGUTAN BIAYA HAK PENYELENGGARAAN TELEKOMUNIKASI PERMENKOMINFO NO: 21 TAHUN 2005 TENTANG PETUNJUK PELAKSANAAN TARIF ATAS PENERIMAAN NEGARA BUKAN PAJAK DARI BIAYA SERTIFIKASI DAN PERMOHONAN PENGUJIAN ALAT/PERANGKAT TELEKOMUNIKASI PERMENKOMINFO NO: 20 TAHUN 2005 TENTANG PETUNJUK PELAKSANAAN TARIF ATAS PENERIMAAN NEGARA BUKAN PAJAK DARI BIAYA IZIN PENYELENGGARAAN JASA TITIPAN PERMENKOMINFO NO: 19 TAHUN 2005 TENTANG PETUNJUK PELAKSANAAN TARIF ATAS PENERIMAAN NEGARA BUKAN PAJAK DARI BIAYA PENGGUNAAN SPEKTRUM FREKUENSI RADIO PERMENKOMINFO NO: 18 TAHUN 2005 TENTANG PENYELENGGARAAN TELEKOMUNIKASI KHUSUS UNTUK KEPERLUAN INSTANSI PEMERINTAH DAN BERBADAN HUKUM PERMENKOMINFO NO: 17 TAHUN 2005 TENTANG TATA CARA PERIZINAN DAN KETENTUAN OPERASIONAL PENGGUNAAN SPEKTRUM FREKUENSI RADIO

128

129

130

131

132

133

134

135

136

137

138

195

139

PERMENKOMINFO NO: 16 TAHUN 2005 TENTANG PENYEDIAAN SARANA TRANSMISI TELEKOMUNIKASI INTERNASIONAL MELALUI SISTEM KOMUNIKASI KABEL LAUT PERMENKOMINFO NO: 15 TAHUN 2005 TENTANG PETUNJUK PELAKSANAAN TARIF ATAS PENERIMAAN NEGARA BUKAN PAJAK DARI KONTRIBUSI KEWAJIBAN PELAYANAN UNIVERSAL TELEKOMUNIKASI/UNIVERSAL SERVICE OBLIGATION PERMENKOMINFO NO: 13 TAHUN 2005 TENTANG PENYELENGGARAAN TELEKOMUNIKASI YANG MENGGUNAKAN SATELIT PERMENKOMINFO NO: 07 TAHUN 2005 TENTANG PERUBAHAN ATAS KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR: KM.23 TAHUN 2003 TENTANG PENYELENGGARAAN JASA INTERNET TELEPONI UNTUK KEPERLUAN PUBLIK PERMENKOMINFO NO: 04 TAHUN 2005 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA SEKRETARIAT DEWAN PERS

140

141

142

143

196

Tabel 6.23. Pembagian Urusan Pemerintahan Bidang Pertanian dan Ketahanan Pangan
KEMENTERIAN PERTANIAN KEPMEN PERMEN NOMOR 01-VII-2007 TAHUN 2007 NOMOR 1 TAHUN 2007 TATA CARA PEMBENTUKAN KELOMPOK KERJA PENYAMPAIAN LAPORAN HARTA PEMBARUAN AGRARIA NASIONAL KEKAYAAN PENYELENGGARA NEGARA DILINGKUNGAN BADAN PERTANAHAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1 TAHUN 2007 PENUNJUKAN DAN NOMOR 2 TAHUN 2007 PENYELENGGARAAN PENGANGKATAN ANGGOTA SENAT HUBUNGAN DAN KERJASAMA LUAR NEGERI SEKOLAH TINGGI PERTANAHAN DI LINGKUNGAN BADAN PERTANAHAN NASIONAL NASIONAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1 TAHUN 2007 DEWAN NOMOR 3 TAHUN 2007 KETENTUAN PENYANTUN SEKOLAH TINGGI PELAKSANAAN PERPRES NO.36/2005 PERTANAHAN NASIONAL (STPN) TENTANG PENGADAAN TANAH BAGI PELAKSANAAN PEMBANGUNAN UNTUK KEPENTINGAN UMUM SEBAGAIMANA TELAH DIUBAH DENGAN PERPRES NO.65/2006 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERPRES NO.36/2005 NOMOR 34TAHUN 2007 PETUNJUK TEKNIS NOMOR 4TAHUN 2007 STRUKTUR PENANGANAN DAN PENYELESAIAN ORGANISASI BADAN PENGELOLAAN DAN MASALAH PERTANAHAN PEMBIAYAAN REFORMA AGRARIA NASIONAL NOMOR 158 TAHUN 2008 PENUNJUKAN NOMOR 5 TAHUN 2007 STRUKTUR STAF PELAKSANA KEGIATAN PENGELOLA ORGANISASI BADAN PENGELOLAAN DAN DOKUMENTASI SJDI HUKUM DAFTAR PEMBIAYAAN REFORMA AGRARIA ISIAN PELAKSANAAN ANGGARAN BADAN REGIONAL, CABANG DAN RANTING PERTANAHAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA TAHUN ANGGARAN 2008 KEPALA BADAN PERTANAHAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA, NOMOR 2 TAHUN 2008 PENGANGKATAN NOMOR 6 TAHUN 2007 STANDAR DALAM JABATAN FUNGSIONAL DOSEN PELAYANAN MINIMAL BAGI BADAN SEKOLAH TINGGI PERTANAHAN PENGELOLAAN DAN PEMBIAYAAN REFORMA NASIONAL AGRARIA NASIONAL NOMOR 59 TAHUN 2008 LAMBANG BADAN NOMOR 7 TAHUN 2007 PANITIA PERTANAHAN NASIONAL REPUBLIK PEMERIKSAAN TANAH INDONESIA NOMOR 76 TAHUN 2008 PAKAIAN DINAS NOMOR 70 TAHUN 2007 PEMBENTUKAN PEGAWAI NEGERI SIPIL DI LINGKUNGAN KANTOR PERTANAHAN KABUPATEN ACEH BADAN PERTANAHAN NASIONAL JAYA DI PROVINSI NANGGROE ACEH REPUBLIK INDONESIA DARUSSALAM NOMOR 78TAHUN 2007 PEMBENTUKAN KANTOR PERTANAHAN KABUPATEN BANGKA TENGAH DI PROVINSI BANGKA BELITUNG NOMOR 8 TAHUN 2007 ORGANISASI DAN TATA KERJA PUSAT PENGELOLAAN REFORMA AGRARIA NASIONAL NOMOR 1 TAHUN 2008 PEMBENTUKKAN PERWAKILAN KANTOR PERTANAHAN KOTA SURABAYA PROVINSI JAWA TIMUR NOMOR 12 TAHUN 2008 PERUBAHAN PERATURAN KEPALA BADAN PERTANAHAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 3 TAHUN 2008 TENTANG PETUNJUK TEKNIS PROGRAM PEMBERDAYAAN USAHA MIKRO DAN KECIL MELALUI KEGIATAN SERTIPIKASI HAK ATAS TANAH UNTUK PENINGKATAN AKSES PERMODALAN NOMOR 3 TAHUN 2008 PETUNJUK TEKNIS PROGRAM PEMBERDAYAAN USAHA MIKRO

NO. 1.

2.

3.

4.

5.

6.

7.

8.

9.

10.

11.

12.

13.

197

14.

15.

16.

17.

18.

19.

20.

21.

22.

23.

24.

25.

26.

27.

28. 29.

DAN KECIL MELALUI KEGIATAN SERTIPIKASI HAK ATAS TANAH UNTUK PENINGKATAN AKSES PERMODALAN NOMOR 4 TAHUN 2008 URAIAN TUGAS SUBBAGIAN, SEKSI DAN SUBBIDANG DILINGKUNGAN BADAN PERTANAHAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 5 TAHUN 2008 URAIAN TUGAS SUBBAGIAN DAN SEKSI PADA KANTOR WILAYAH BADAN PERTANAHAN NASIONAL DAN URAIAN TUGAS URUSAN DAN SUBSEKSI PADA KANTOR PERTANAHAN NOMOR 6 TAHUN 2008 PENYEDERHANAAN DAN PERCEPATAN STANDAR PROSEDUR OPERASI PENGATURAN DAN PELAYANAN PERTANAHAN UNTUK JENIS PELAYANAN PERTANAHAN TERTENTU NOMOR 1 TAHUN 2009 PEMBENTUKAN PERWAKILAN KANTOR PERTANAHAN KABUPATEN KONAWE UTARA PROVINSI SULAWESI TENGGARA NOMOR 18 TAHUN 2009LARASITA BADAN PERTANAHAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 2 TAHUN 2009 PEMBENTUKAN PERWAKILAN KANTOR PERTANAHAN KABUPATEN BUTON UTARA PROVINSI SULAWESI TENGGARA NOMOR 23 TAHUN 2009PERUBAHAN ATAS PERATURAN KEPALA BADAN PERTANAHAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1 TAHUN 2006 TENTANG KETENTUAN PELAKSANAAN PERATURAN PEMERINTAH NOMOR 37 TAHUN 1998 TENTANG PERATURAN JABATAN PEJABAT PEMBUAT AKTA TANAH NOMOR 3 TAHUN 2009 PEMBENTUKAN PERWAKILAN KANTOR PERTANAHAN KABUPATEN SUMBA TENGAH PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR NOMOR 4 TAHUN 2009 PEMBENTUKAN PERWAKILAN KANTOR PERTANAHAN KABUPATEN SUMBA BARAT DAYA PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR NOMOR 5 TAHUN 2009 PEMBENTUKAN PERWAKILAN KANTOR PERTANAHAN KABUPATEN NAGEKEO PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR NOMOR 6 TAHUN 2009 PEMBENTUKAN PERWAKILAN KANTOR PERTANAHAN KABUPATEN BENGKULU TENGAH PROVINSI BENGKULU NOMOR 7 TAHUN 2009 PEMBENTUKAN PERWAKILAN KANTOR PERTANAHAN KABUPATEN KEPULAUAN ANAMBAS PROVINSI KEPULAUAN RIAU NOMOR 9 TAHUN 2009 PEMBENTUKAN PERWAKILAN KANTOR PERTANAHAN KOTA SURABAYA DI PROVINSI JAWA TIMUR NOMOR 1 TAHUN 2010 STANDAR PELAYANAN DAN PENGATURAN PERTANAHAN NOMOR 2 TAHUN 2010 PENANGANAN PENGADUAN MASYARAKAT NOMOR 3 TAHUN 2010 LOKET PELAYANAN PERTANAHAN

198

30. 31.

NOMOR 4 TAHUN 2010 TATA PENERTIBAN TANAH TERLANTAR

CARA

32.

NOMOR 12 TAHUN 1992 SUSUNAN DAN TUGAS PANITIA PEMERIKSAAN TANAH NOMOR 15 TAHUN 1992 LAGU MARS DAN HYMNE BADAN PERTANAHAN NASIONAL

33.

34.

NOMOR 4 TAHUN 1992 PENYESUAIAN HARGA GANTI RUGI TANAH KELEBIHAN MAKSIMUM DAN ABSENTEE/GUNTAI NOMOR 8 TAHUN 1992 PENYEDIAAN DAN PEMBERIAN HAK GUNA BANGUNAN INDUK PARSIAL ATAS TANAH UNTUK KEPERLUAN PERUSAHAAN KAWASAN INDUSTRI, DAN PEMECAHANNYA UNTUK PERUSAHAAN INDUSTRI NOMOR 10 TAHUN 1993 TATA CARA PENGGANTIAN SERTIPIKAT HAK ATAS TANAH NOMOR 13 TAHUN 2000 PELAKSANAAN PENDAFTARAN TANAH SECARA SISTEMATIK PADA DAERAH UJI COBA DI WILAYAH KERJA KANTOR PERTANAHAN KABUPATEN MALANG DAN KANTOR PERTANAHAN KOTAMADYA TANGERANG NOMOR 24 TAHUN 2002 KETENTUAN PELAKSANAAN PERATURAN PEMERINTAH NOMOR 36 TAHUN 1998 TENTANG PENERTIBAN DAN PENDAYAGUNAAN TANAH TERLANTAR NOMOR 25 TAHUN 2002 PEDOMAN PELAKSANAAN PERMOHONAN PENEGASAN TANAH NEGARA MENJADI OBYEK PENGATURAN PENGUASAAN TANAH/LANDREFORM NOMOR 1 TAHUN 2003 TARIF ATAS JENIS PENERIMAAN NEGARA BUKAN PAJAK YANG BERLAKU PADA BADAN PERTANAHAN NASIONAL NOMOR 2 TAHUN 2003 NORMA DAN STANDAR MEKANISME KETATALAKSANAAN KEWENANGAN PEMERINTAH DI BIDANG PERTANAHAN YANG DILAKSANAKAN OLEH PEMERINTAH KABUPATEN/KOTA NOMOR 1 TAHUN 2006 PEMBERIAN PENGHARGAAN BERUPA SERTIPIKAT/PIAGAM DAN PLAKAT KEPADA GUBERNUR, BUPATI DAN ATAU WALIKOTA NOMOR 14 TAHUN 2006 PEMBENTUKAN KANTOR WILAYAH BADAN PERTANAHAN NASIONAL PROVINSI KEPULAUAN RIAU

35.

NOMOR 6 TAHUN 2010 PENANGANAN BENCANA DAN PENGEMBALIAN HAK-HAK MASYARAKAT ATAS ASET TANAH DI WILAYAH BENCANA NOMOR 1 TAHUN 1992 TENTANG TATA CARA PEMUNGUTAN UANG PEMASUKAN TANAHTANAH OBYEK LANDREFORM NOMOR 1 TAHUN 2006 TENTANG KETENTUAN PELAKSANAAN PERATURAN PEMERINTAH NOMOR 37 TAHUN 1998 TENTANG PERATURAN JABATAN PEJABAT PEMBUAT AKTA TANAH BADAN PERTANAHAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA 2006 NOMOR 2 TAHUN 2006 POLA KARIER PEGAWAI NEGERI SIPIL DI LINGKUNGAN BADAN PERTANAHAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 3 TAHUN 2006 ORGANISASI DAN TATA KERJA BADAN PERTANAHAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA

36.

37.

NOMOR 4 TAHUN 2006 ORGANISASI DAN TATA KERJA KANTOR WILAYAH BADAN PERTANAHAN NASIONAL DAN KANTOR PERTANAHAN NOMOR 5 TAHUN 2006 MEKANISME DAN TATA KERJA STAF KHUSUS

38.

39.

40.

41.

42.

43.

199

44.

45.

46.

NOMOR 15 TAHUN 2006 PEMBENTUKAN KANTOR PERTANAHAN KABUPATEN MELAWI DI PROVINSI KALIMANTAN BARAT NOMOR 16 TAHUN 2006 PEMBENTUKAN KANTOR PERTANAHAN KABUPATEN SEKADAU DI PROVINSI KALIMANTAN BARAT NOMOR 17 TAHUN 2006 PEMBENTUKAN KANTOR PERTANAHAN KABUPATEN KEPAHIANG DI PROVINSI BENGKULU NOMOR 18 TAHUN 2006 PEMBENTUKAN KANTOR PERTANAHAN KABUPATEN BOMBANA DI PROVINSI SULAWESI TENGGARA NOMOR 19 TAHUN 2006 PEMBENTUKAN KANTOR PERTANAHAN KABUPATEN SAMOSIR DI PROVINSI SUMATERA UTARA NOMOR 2 TAHUN 2006 PENDELEGASIAN WEWENANG PENYESUAIAN GAJI POKOK PEGAWAI NEGERI SIPIL NOMOR 21 TAHUN 2006 PEMBENTUKAN KANTOR PERTANAHAN KABUPATEN NAGAN RAYA DI PROVINSI NANGGROE ACEH DARUSSALAM NOMOR 20 TAHUN 2006 PEMBENTUKAN KANTOR PERTANAHAN KABUPATEN SELUMA DI PROVINSI BENGKULU NOMOR 3 TAHUN 2006 PEMBERIAN PENGHARGAAN BHUMI BHAKTI ADHIGUNA KEPADA PARA GUBERNUR, BUPATI DAN ATAU WALIKOTA NOMOR 4 TAHUN 2006 PENETAPAN FORMASI PEJABAT PEMBUAT AKTA TANAH

47.

48.

49.

50.

51.

52.

53.

200

Tabel 6.24. Pembagian Urusan Pemerintahan Bidang Kehutanan;
NO. 1. KEMENTERIAN KEHUTANAN KEPMEN PERMEN PERATURAN MENTERI KEHUTANAN REPUBLIK KEPUTUSAN MENTERI KEHUTANAN INDONESIA NOMOR: P. 34/MENHUT-II/2010 NOMOR : SK. 48/MENHUT-II/2004TENTANG TENTANG TATA CARA PERUBAHAN FUNGSI PERUBAHAN KEPUTUSAN MENTERI KAWASAN HUTAN KEHUTANAN NOMOR 70/KPTS-II/2001 TENTANG PENETAPAN KAWASAN HUTAN, PERUBAHAN STATUS DAN FUNGSI KAWASAN HUTAN PERATURAN MENTERI KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR: P 36/MENHUT-II/2009 TENTANG TATA CARA PERIJINAN USAHA PEMANFAATAN PENYERAPAN DAN/ATAU PENYIMPANAN KARBON PADA HUTAN PRODUKSI DAN HUTAN LINDUNG KEPUTUSAN MENTERI KEHUTANAN NOMOR:223/KPTS-IV/1997 TENTANG:PENGESAHAN RENCANA KARYA PENGUSAHAAN HUTAN YANG MELIPUTI SELURUH JANGKA WAKTU PENGUSAHAAN HUTAN (SEMENTARA) ATAS NAMA PT. PANCA USAHA PALOPO PLYWOOD PROVINSI DATI II SULAWESI SELATAN KEPMENHUT NO. 70 TAHUN 2001 TENTANG PENETAPAN KAWASAN HUTAN PERUBAHAN STATUS DAN FUNGSI KAWASAN

2.

3.

PERATURAN MENTERI KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : P.11/MENHUT-II/2010 TENTANG PERUBAHAN KETIGA ATAS PERATURAN MENTERI KEHUTANAN NOMOR P.49/MENHUT-II/2007 TENTANG PELIMPAHAN SEBAGIAN KEWENANGAN MENTERI KEHUTANAN SEBAGAI PENGGUNA ANGGARAN/BARANG DI PROVINSI KEPADA KEPALA UNIT PELAKSANA TEKNIS YANG DITUNJUK SELAKU KOORDINATOR PERATURAN MENTERI KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : P.5/MENHUT-II/2010 TENTANG STANDAR PERALATAN POLISI KEHUTANAN

4.

KEPUTUSAN MENTERI KEHUTANAN NOMOR : 21/KPTS-II/2001 TENTANG KRITERIA DAN STANDAR IJIN USAHA PEMANFAATAN HASIL HUTAN KAYU HUTAN TANAMAN PADA HUTAN PRODUKSI KEPUTUSAN MENTERI KEHUTANAN NOMOR : 32/KPTS-II/2001 TENTANG KRITERIA DAN STANDAR PENGUKUHAN KAWASAN HUTAN KEPUTUSAN MENTERI KEHUTANAN DAN PERKEBUNAN NO. 146 TAHUN 1999 TENTANG : PEDOMAN REKLAMASI BEKAS TAMBANG DALAM KAWASAN HUTAN

5.

6.

PERATURAN MENTERI KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : P.9/MENHUT-II/2010 TENTANG IZIN PEMBUATAN DAN PENGGUNAAN KORIDOR PERATURAN MENTERI KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : P. 15/MENHUT-II/2010 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN MENTERI KEHUTANAN NOMOR P.13/MENHUTII/2009 TENTANG HTUAN TANAMAN HASIL REHABILITASI PERATURAN MENTERI KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : P. 50/MENHUT-II/2009 TENTANG PENEGASAN STATUS DAN FUNGSI KAWASAN HUTAN

7.

KEPUTUSAN MENTERI KEHUTANAN DAN PERKEBUNAN NO. 479/KPTS-II/1994 TENTANG : LEMBAGA KONSERVASI TUMBUHAN DAN SATWA LIAR

8.

PERATURAN MENTERI KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : P.4/MENHUT-II/2010 TENTANG PENGURUSAN BARANG BUKTI TINDAK PIDANA KEHUTANAN

KEPUTUSAN MENTERI KEHUTANAN NOMOR : SK.474/MENHUT-VII/2004 TENTANG RENCANA KERJA KEMENTERIAN NEGARA/LEMBAGA (RENJA-KL) DEPARTEMEN KEHUTANAN TAHUN 2005

201

9.

PERATURAN MENTERI KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR: P. 25/MENHUT-II/2009 TENTANG PEDOMAN UMUM PENILAIAN LOMBA PENGHIJAUAN DAN KONSERVASI ALAM (PKA)

KEPMENHUT NOMOR 344/KPTS-II/1995 KEPUTUSAN MENTERI KEHUTANAN TENTANG PERPANJANGAN HAK PENGUSAHAAN HUTAN PT. WIRA LANAO LTD YANG DIBERIKAN BERDASARKAN KEPUTUSAN MENTERI PERTANIAN NOMOR. 428/KPTS/UM/8/1970 TANGGAL 28 AGUSTUS 1970

10.

PERMENHUT NO. TENTANG PEDOMAN NASIONAL

P.56/MENHUT-II/2006 ZONASI TAMAN

11.

PERATURAN MENTERI KEHUTANAN NOMOR : P. /MENHUT-II/2008 TENTANG PEMBANGUNAN MODEL DESA KONSERVASI (MDK) DALAM RANGKA PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DI SEKITAR HUTAN KONSERVASI P.46/MENHUT-II/2010 TENTANG: PERUBAHAN ATAS PERATURAN MENTERI KEHUTANAN NOMOR: P.24/MENHUT-II/2010 TENTANG PEDOMAN PENYELENGGARAAN KEBUN BIBIT RAKYAT. PERMENHUT NO. P.55/MENHUT-II/2006 TENTANG PUHH YANG BERASAL DARI HUTAN NEGARA

KEPUTUSAN MENTERI KEHUTANAN TENTANG PERUBAHAN KEPUTUSAN MENTERI PERTANIAN NOMOR 528/KPTS/UM/7/1980 TANGGAL 26 JUNI 1980 TENTANG PEMBERIAN HAK PENGUSAHAAN HUTAN KEPADA PT. HENRISON IRIAN KEPMENHUT NOMOR 252/KPTS-II/1990 KEPUTUSAN MENTERI KEHUTANAN TENTANG PEMBERIAN HAK PENGUSAHAAN HUTAN KEPADA PT. WANA RIMBA KENCANA

12.

13.

KEPMENHUT NOMOR 744/KPTS-II/1990 PEMBERIAN HAK PENGUSAHAAN HUTAN KEPADA PT. WAPOGA MUTIARA TIMBER KEPUTUSAN MENTERI KEHUTANAN TENTANG PERUBAHAN SURAT KEPUTUSAN MENTERI PERTANIAN NO. 242/KPTS/UM/4/1979 TENTANG PEMBERIAN HAK PENGUSAHAAN HUTAN KEPADA PT. SATYA VOLUNTER RAYA SEPANJANG MENYANGKUT PENGGABUNGAN HPH DENGAN PT. ERNA DJULIAWATI DAN SERTA PENYESUAIAN BENTUK BARU SURAT KEPUTUSAN MENTERI KEHUTANAN KEPMENHUT NOMOR SK.125 /KPTS-IV/86 KEPUTUSAN MENTERI KEHUTANAN TENTANG PEMBERIAN HAK PENGUSAHAAN HUTAN KEPADA PT. SARI BUMI KUSUMA

14.

PERATURAN MENTERI KEHUTANAN NOMOR : P.33/MENHUT-II/2007 TENTANG PERUBAHAN KEDUA ATAS PERATURAN MENTERI KEHUTANAN NOMOR P.51/MENHUTII/2006 TENTANG PENGGUNAAN SURAT KETERANGAN ASAL USUL (SKAU) UNTUK PENGANGKUTAN HASIL HUTAN KAYU YANG BERASAL DARI HUTAN HAK PERMENHUT NO.76/2006 KARIER PNS DEPHUT TENTANG POLA

15.

16.

PERATURAN MENTERI KEHUTANAN NOMOR : P.3/MENHUT-II/2008 TENTANG DELINIASU IZIN USAHA PEMANFAATAN HASIL HUTAN KAYU PADA HUTAN TANAMAN INDUSTRI DALAM HUTAN TANAMAN PERATURAN MENTERI KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : P.22/MENHUT-II/2009

17.

KEPUTUSAN MENTERI KEHUTANAN NOMOR:733/KPTS-II/1997 TENTANG:PEMBERIAN HAK PENGUSAHAAN HUTAN TANAMAN INDUSTRI ATAS AREAL HUTAN SELUAS ± 9.300 (SEMBILA RIBU TIGA RATUS) HEKTAR DI PROVINSI DAERAH TINGKAT I RIAU KEPADA PT. EKAWANA LESTARIDHARMA KEPUTUSAN MENTERI KEHUTANAN NOMOR:614/KPTS-II/1997 TENTANG:PERUBAHAN PASAL 8 DAN PASAL 18 KEPUTUSAN MENTERI KEHUTAAN NOMOR 55/KPTS-II/1994 TENTANG PEDOMAN PINJAM PAKAI KAWASAN HUTAN KEPUTUSAN MENTERI KEHUTANAN NOMOR:542/KPTS-II/1997 TENTANG:PEMBERIAN HAK PENGUSAHAAN HUTAN TANAMAN INDUSTRI POLA TRANSMIGRASI ATAS AREAL HUTAN SELUAS ± 12.000 (DUA BELAS RIBU) HEKTAR DI

202

PROVINSI DAERAH TINGKAT I RIAU KEPADA PT. RIAU ABADI LESTARI TENTANG PERUBAHAN PERATURAN MENTERI KEHUTANAN NOMOR P. 31/MENHUT-II/2005 TENTANG PELEPASAN KAWASAN HUTAN DALAM RANGKA PENGEMBANGAN USAHA BUDIDAYA PERKEBUNAN PERATURAN MENTERI KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR: P.44/MENHUT-II/2010, TENTANG PEDOMAN TATA NASKAH DINAS KEMENTERIAN KEHUTANAN

18.

19.

20.

PERATURAN MENTERI KEHUTANAN NOMOR: P.05/MENHUT-II/2006 TENTANG PEDOMAN VERIFIKASI IZIN USAHA PEMANFAATAN HASIL HUTAN KAYU PADA HUTAN ALAM (IUPHHK-HA) DAN ATAU PADA HUTAN TANAMAN (IUPHHK-HTI) YANG DITERBITKAN OLEH GUBERNUR ATAU BUPATI/ WALIKOTA PERATURAN MENTERI KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR: P.42/MENHUT-II/2010, TENTANG SISTEM PERENCANAAN KEHUTANAN

KEPUTUSAN MENTERI KEHUTANAN NOMOR:444/KPTS-II/1997 TENTANG:PEMBERIAN HAK PENGUSAHAAN HUTAN TANAMAN INDUSTRI POLA TRANSMIGRASI ATAS AREAL HUTAN SELUAS ± 21.870 (DUA PULUH SATU RIBU DELAPAN RATUS TUJUH PULUH) HEKTAR DI PROVINSI DAERAH TINGKAT I RIAU KEPADA PT. NUSA WANA RAYA KEPUTUSAN MENTERI KEHUTANAN NOMOR:435/KPTS-II/1997 TENTANG:SISTEM SILVIKULTUR DALAM PENGELOLAAN HUTAN TANAMAN INDUSTRI

21.

22.

PERATURAN MENTERI KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : P.41/MENHUT-II/2010 TENTANG PEDOMAN PENYUSUNAN PROGRAMA PENYULUHAN KEHUTANAN PERATURAN MENTERI KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : P.40/MENHUT-II/2010 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA KEMENTERIAN KEHUTANAN

KEPUTUSAN MENTERI KEHUTANAN NOMOR:348/KPTS-II/1997 TENTANG:PERUBAHAN KEPUTUSAN MENTERI KEHUTANAN NO. 446/KPTS-II/1996 TENTANG TATA CARA PERMOHONAN, PEMBERIAN DAN PENCABUTAN IZIN PENGUSAHAAN PARIWISATA ALAM KEPUTUSAN MENTERI KEHUTANAN NOMOR:335/KPTS-II/1997 TENTANG: RENCANA KARYA PENGUSAHAAN HUTAN TANAMAN INDUSTRI (RKPHTI) KEPUTUSAN MENTERI KEHUTANAN NOMOR:326/KPTS-II/1997 TENTANG:KEWAJIBAN PEMEGANG IJIN PEMANFAATAN KAYU (IPK) MENYEDIAKAN DAN MENJUAL SEBAGIAN HASIL PRODUKSINYA UNTUK KEPERLUAN MASYARAKAT

23.

24.

25.

26.

PERATURAN MENTERI KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR: P.39/MENHUT-II/2010 TENTANG POLA UMUM, KRITERIA, DAN STANDAR REHABILITASI DAN REKLAMASI HUTAN PERATURAN MENTERI KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR: P.38/MENHUT-V/2010 TENTANG TATA CARA PENYUSUNAN RENCANA TAHUNAN REHABILITASI HUTAN DAN LAHAN PERATURAN MENTERI KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR: P.37/MENHUT-V/2010 TENTANG TATA CARA PENYUSUNAN RENCANA PENGELOLAAN REHABILITASI HUTAN DAN LAHAN PERATURAN MENTERI KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR: P.36/MENHUT-II/2010, TENTANG TIM TERPADU DALAM RANGKA PENELITIAN PERUBAHAN PERUNTUKAN DAN FUNGSI KAWASAN HUTAN

203

27.

28.

29.

30.

31.

32.

33.

34.

35.

36.

37.

38.

PERATURAN MENTERI KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR: P.35/MENHUT-II/2010 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN MENTERI KEHUTANAN NOMOR P.32/MENHUTII/2009 TENTANG TATA CARA PENYUSUNAN RENCANA TEKNIK REHABILITASI HUTAN DAN LAHAN DAERAH ALIRAN SUNGAI (RTKRHLDAS PERATURAN MENTERI KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR: P.34/MENHUT-II/2010, TENTANG TATA CARA PERUBAHAN FUNGSI KAWASAN HUTAN PERATURAN MENTERI KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR: P.33/MENHUT-II/2010 TENTANG TATA CARA PELEPASAN KAWASAN HUTAN PRODUKSI YANG DAPAT DIKONVERSI PERATURAN MENTERI KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR: P.32/MENHUT-II/2010 TENTANG TUKAR MENUKAR KAWASAN HUTAN PERATURAN MENTERI KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR: P.31/MENHUT-II/2010 TENTANG STANDAR BIAYA PENILAIAN KINERJA PENGELOLAAN HUTAN PRODUKSI LESTARI (PHPL) DAN VERIFIKASI LEGALITAS KAYU ATAS PEMEGANG IZIN PERATURAN MENTERI KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR: P.30/MENHUT-II/2010 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN MENTERI KEHUTANAN NOMOR P.9/MENHUTII/2010 TENTANG IZIN PEMBUATAN DAN PENGGUNAAN KORIDOR PERATURAN MENTERI KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR: P.29/MENHUT-II/2010 TENTANG RENCANA KERJA USAHA PEMANFAATAN HASIL HUTAN BUKAN KAYU DALAM HUTAN TANAMAN INDUSTRI SAGU PERATURAN MENTERI KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR: P.28/MENHUT-II/2010 TENTANG PENGAWASAN PEREDARAN BENIH TANAMAN HUTAN PERATURAN MENTERI KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR: P.27/MENHUTII/2010, TENTANG PEDOMAN TEKNIS PENYELENGGARAAN SISTEM PENGENDALIAN INTERN PEMERINTAH LINGKUP KEMENTERIAN KEHUTANAN PERATURAN MENTERI KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR: P.26/MENHUT-II/2010, TENTANG PERUBAHAN TERHADAP PERATURAN MENTERI KEHUTANAN NOMOR P.70/MENHUT-II/2008 TENTANG PEDOMAN TEKNIS REHABILITASI HUTAN DAN LAHAN PERATURAN MENTERI KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR: P.25/MENHUT-II/2010, 3 JUNI 2010 TENTANG PEDOMAN PENYELENGGARAAN REHABILITASI HUTAN DAN LAHAN TAHUN 2010 PERATURAN MENTERI KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR: P.24/MENHUT-II/2010, TENTANG PEDOMAN PENYELENGGARAAN KEBUN BIBIT RAKYAT

204

39.

40.

41.

42.

43.

44.

45.

46.

47.

48.

49.

50.

PERATURAN MENTERI KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR: P.23/MENHUT-II/2010, TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN MENTERI KEHUTANAN NOMOR P.14/MENHUTV/2008 TENTANG PEDOMAN TEKNIS PELAKSANAAN REHABILITASI HUTAN DAN LAHAN DANA BAGI HASIL SUMBER DAYA ALAM KEHUTANAN DANA REBOISASI PERATURAN MENTERI KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR: P.22/MENHUT-II/2010 TENTANG PEDOMAN AUDIT KINERJA LINGKUP KEMENTERIAN KEHUTANAN PERATURAN MENTERI KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR: P.21/MENHUT-II/2010, TENTANG PANDUAN PENANAMAN SATU MILYAR POHON PERATURAN MENTERI KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : P.20/MENHUT-II/2010 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN MENTERI KEHUTANAN NOMOR P.58/MENHUTII/2008 TENTANG KOMPETENSI DAN SERTIFIKASI TENAGA TEKNIS PENGELOLAAN HUTAN PRODUKSI LESTARI PERATURAN MENTERI KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR: P.19/MENHUTII/2010,TENTANG PENGGOLONGAN DAN TATA CARA PENETAPAN JUMLAH SATWA BURU PERATURAN MENTERI KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR: P.18/MENHUT-II/2010, TENTANG SURAT IZIN BERBURU DAN TATA CARA PERMOHONAN IZIN BERBURU PERATURAN MENTERI KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR: P.17/MENHUT-II/2010, TENTANG PERMOHONAN, PEMBERIAN, DAN PENCABUTAN IZIN PENGUSAHAAN TAMAN BURU PERATURAN MENTERI KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR: P.16/MENHUT-II/2010, 6 APRIL 2010 TENTANG PEDOMAN UMUM PENILAIAN LOMBA PENGHIJAUAN DAN KONSERVASI ALAM WANA LESTARI PERATURAN MENTERI KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR: P.15/MENHUT-II/2010, 1 APRIL 2010 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN MENTERI KEHUTANAN NOMOR P.13/MENHUT-II/2009 TENTANG HUTAN TANAMAN HASIL REHABILITASI PERATURAN MENTERI KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR: P.14/MENHUT-II/2010, TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN MENTERI KEHUTANAN NOMOR P.49/MENHUTII/2008 TENTANG HUTAN DESA PERATURAN MENTERI KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR: P.13/MENHUT-II/2010, TENTANG PERUBAHAN KEDUA ATAS PERATURAN MENTERI KEHUTANAN NOMOR: P.37/MENHUT-II/2007 TENTANG HUTAN KEMASYARAKATAN PERATURAN MENTERI KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR: P.12/MENHUTII/2010,TENTANG TATA CARA PENGENAAN, PENAGIHAN, DAN PEMBAYARAN IURAN IZIN USAHA PEMANFAATAN HUTAN PADA HUTAN PRODUKSI

205

51.

52.

53.

54.

55.

56.

57.

58.

59.

60.

61.

PERATURAN MENTERI KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR: P.11/MENHUT-II/2010 TENTANG PERUBAHAN KETIGA ATAS PERATURAN MENTERI KEHUTANAN NOMOR P.49/MENHUT-II/2007 TENTANG PELIMPAHAN SEBAGIAN KEWENANGAN MENTERI KEHUTANAN SEBAGAI PENGGUNA ANGGARAN/BARANG DI PROVINSI KEPADA KEPALA UNIT PELAKSANA TEKNIS YANG DITUNJUK SELAKU KOORDINATOR PERATURAN MENTERI KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR: P.10/MENHUT-II/2010, TENTANG MEKANISME DAN TATA CARA AUDIT KAWASAN HUTAN PERATURAN MENTERI KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR: P.9/MENHUT-II/2010, TENTANG IZIN PEMBUATAN DAN PENGGUNAAN KORIDOR PERATURAN MENTERI KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR: P.8/MENHUTII/2010, TENTANG RENCANA STRATEGIS (RENSTRA) KEMENTERIAN KEHUTANAN TAHUN 2010-2014 PERATURAN MENTERI KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR: P.7/MENHUT-II/2010, TENTANG PELIMPAHAN SEBAGIAN URUSAN PEMERINTAHAN (DEKONSENTRASI) BIDANG KEHUTANAN TAHUN 2010 KEPADA 33 GUBERNUR PEMERINTAH PROVINSI SELAKU WAKIL PEMERINTAH PERATURAN MENTERI KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR: P.6/MENHUT-II/2010, TENTANG NORMA, STANDAR, PROSEDUR DAN KRITERIA PENGELOLAAN HUTAN PADA KESATUAN PENGELOLAAN HUTAN LINDUNG (KPHL) DAN KESATUAN PENGELOLAAN HUTAN PRODUKSI (KPHP) PERATURAN MENTERI KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR: P.5/MENHUTII/2010, TENTANG STANDAR PERALATAN POLISI KEHUTANAN PERATURAN MENTERI KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR: P.4/MENHUTII/2010TENTANG PENGURUSAN BARANG BUKTI TINDAK PIDANA KEHUTANAN PERATURAN MENTERI KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR: P.03/MENHUTII/2010,TENTANG PETUNJUK TEKNIS PENGGUNAAN DANA ALOKASI KHUSUS BIDANG KEHUTANAN TAHUN ANGGARAN 2010 PERATURAN MENTERI KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR: P.02/MENHUTII/2010 TENTANG SISTEM INFORMASI KEHUTANAN PERATURAN MENTERI KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR: P.01/MENHUTII/2010,TENTANG PENDELEGASIAN WEWENANG PEMBERIAN IZIN USAHA DI BIDANG KEHUTANAN DALAM RANGKA PELAKSANAAN PELAYANAN TERPADU SATU PINTU DI BIDANG PENANAMAN MODAL KEPADA KEPALA BADAN KOORDINASI PENANAMAN MODAL

206

Tabel 6.25. Pembagian Urusan Pemerintahan Bidang Energi Dan Sumber Daya Mineral
NO PERMEN 1. PERATURAN MENTERI ESDM NO.15 TAHUN 2010 TENTANG DAFTAR PROYEK-PROYEK PERCEPATAN PEMBANGUNAN PEMBANGKIT TENAGA LISTRIK YANG MENGGUNAKAN ENERGI BARU TERBARUKKAN, BATUBARA DAN GAS SERTA TRANSMISI TERKAIT KEMENTRIAN ESDM KEPMEN KEP-26 /M.EKON/03/2007 TENTANG TIM EKSTERNAL PEMANTAU PELAKSANAAN KEBIJAKAN PERCEPATAN PENGEMBANGAN SEKTOR RIIL DAN PEMBERDAYAAN USAHA MIKRO KECIL DAN MENENGAH

2.

PERATURAN TAHUN 2010

MENTERI

ESDM

NO.14

KEP-25 /M.EKON/06/2007

207

TENTANG PENETAPAN PEMBERLAKUAN STANDAR KOMPETENSI MANAJER BIDANG BANGUNAN GEDUNG SUB BIDANG PENGELOLAAN

TENTANG TIM PEMANTAU KEBIJAKAN PERCEPATAN PENGEMBANGAN SEKTOR RIIL DAN PEMBERDAYAAN USAHA MIKRO KECIL DAN MENENGAH

3.

PERATURAN MENTERI ESDM NO.13 TAHUN 2010 TENTANG PENETAPAN PEMBERLAKUAN STANDAR KOMPETENSI MANAJER ENERGI BIDANG INDUSTRI

KEP-11 /M.EKON/03/2007 TENTANG TIM KOORDINASI PROGRAM AKSI PENYEDIAAN DAN PEMANFAATAN ENERGI ALTERNATIF

4.

PERATURAN TAHUN 2010

MENTERI

ESDM

NO.12

KEP-03 /M.EKON/01/2008

208

TENTANG PENETAPAN PEMBERLAKUAN STANDAR KOMPETENSI ASESOR KETENAGALISTRIKAN BIDANG PEMBANGKIT TENAGA LISTRIK SUB BIDANG OPERASI DAN SUB BIDANG PEMELIHARAAN

TENTANG TIM EKSTERNAL PEMANTAU PELAKSANAAN KEBIJAKAN PERCEPATAN PENGEMBANGAN SEKTOR RIIL DAN PEMBERDAYAAN USAHA MIKRO KECIL DAN MENENGAH

5.

PERATURAN MENTERI ESDM NO.11 TAHUN 2010 TENTANG PENETAPAN PEMBERLAKUAN STANDAR KOMPETENSI ASESOR KETENAGALISTRIKAN BIDANG INDUSTRI PERALATAN TENAGA LISTRIK SUB BIDANG PERANCANGAN, SUB BIDANG MANUFAKTUR, SUB BIDANG PERAWATAN DAN PERBAIKAN MESIN PRODUKSI, DAN SUB BIDANG PENGENDALIAN DAN JAMINAN MUTU

KEPUTUSAN MENTERI ESDM NO.2360 K/30/MEM/2010 PENETAPAN KEBUTUHAN DAN PERSENTASE MINIMAL PENJUALAN BATUBARA UNTUK KEPENTINGAN NASIONAL DALAM NEGERI TAHUN 2011

209

6.

PERATURAN MENTERI ESDM NO.10 TAHUN 2010 TENTANG PENETAPAN PEMBERLAKUAN STANDAR KOMPETENSI ASESOR KETENAGALISTRIKAN BIDANG INDUSTRI PEMANFAAT TENAGA LISTRIK SUB BIDANG PERANCANGAN, SUB BIDANG PRODUKSI, SUB BIDANG KEPASTIAN DAN KENDALI MUTU.DAN SUB BIDANG PERAWATAN, PERBAIKAN DAN PEMASANGAN

KEPUTUSAN MENTERI ESDM NO.2359 K/12/MEM/2010 TENTANG HARGA LIQUEFIED PETROLEUM GAS TABUNG 3 KILOGRAM TAHUN ANGGARAN 2010

7.

PERATURAN MENTERI ESDM NO.09 TAHUN 2010 TENTANG PENETAPAN PEMBERLAKUAN STANDAR KOMPETENSI TENAGA TEKNIK KETENAGALISTRIKAN BIDANG PEMBANGKITAN ENERGI BARU TERBARUKAN SUB BIDANG KONSTRUKSI, SUB BIDAANG OPERASI, SUB BIDANG PEMELIHARAAN DAN SUB BIDANG INSPEKSI

KEPUTUSAN MENTERI ESDM NO.2026 K/20/MEM/2010 TENTANG PENGESAHAN RENCANA USAHA PENYEDIAAN TENAGA LISTRIK PT PLN (PERSERO) TAHUN 2010-2019

8.

PERATURAN TAHUN 2010

MENTERI

ESDM

NO.08

KEPUTUSAN K/30/MEM/2010

MENTERI

ESDM

NO.1604

210

TENTANG PENETAPAN PEMBERLAKUAN STANDAR KOMPETENSI TENAGA TEKNIK KETENAGALISTRIKAN BIDANG INSTALASI PEMANFAATAN TENAGA LISTRIK SUB BIDANG PERANCANGAN, SUB BIDANG KONSTRUKSI, SUB BIDAANG OPERASI, SUB BIDANG PEMELIHARAAN DAN SUB BIDANG INSPEKSI

TENTANG PENETAPAN KEBUTUHAN DAN PROSENTASE MINIMAL PENJUALAN BATUBARA UNTUK KEPENTINGAN DALAM NEGERI TAHUN 2010

9.

PERATURAN MENTERI ESDM NO.07 TAHUN 2010 TENTANG TARIF TENAGA LISTRIK YANG DISDIAKAN OLEH PERUSAHAAN PERSEROAN (PERSERO) PT PERUSAHAAN LISTRIK NEGARA

KEPUTUSAN MENTERI ESDM NO.1557 K/30/MEM/2010 TENTANG PENETAPAN WILAYAH KERJA PERTAMBANGAN PANAS BUMI DI DAERAH BATURADEN, KABUPATEN BANYMAS, KABUPATEN TEGAL, KABUPATRN BREBES, KABUPATEN PURBALINGGA DAN KABUPATEN PEMALANG

10.

PERATURAN MENTERI ESDM NO.06 TAHUN 2010 TENTANG PEDOMAN KEBIJAKAN PENINGKATAN PRODUKSI MINYAK DAN GAS BUMI

KEPUTUSAN MENTERI ESDM NO.1556 K/30/MEM/2010 TENTANG PENETAPAN WILAYAH KERJA PERTAMBANGAN PANAS BUMI DI DAERAH GUCI, KABUPATEN TEGAL, KAABUPATEN BREBED DAN KABUPATEN PEMALANG, PROVINSI JAWA TENGAH

211

11.

PERATURAN MENTERI ESDM NO.05 TAHUN 2010 TENTANG PENDELEGASIAN WEWENANG PEMBERIAN IZIN USAHA DI BIDANG ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL DALAM RANGKA PELAKSANAAN PELAYANAN TERPADU SATU PINTU DI BIDANG PENANAMAN MODAL KEPADA KEPALA BADAN KOORDINASI PENANAMAN MODAL

KEPUTUSAN MENTERI ESDM NO.0225 K/11/MEM/2010 TENTANG RENCANA INDUK JARINGAN TRANSMISI DAN DISTRIBUSI GAS BUMI NASIONAL TAHUN 2010-2025

12.

PERATURAN TAHUN 2010

MENTERI

ESDM

NO.03

KEPUTUSAN K/12/MEM/2010

MENTERI

ESDM

NO.0219

212

TENTANG ALOKASI PEMANFAATAN GAS BUMI UNTUK PEMENUHAN KEBUTUHAN DALAM NEGERI

TENTANG HARGA INDEKS PASAR BAHAN BAKAR MINYAK DAN HARGA INDEKS PASAR BAHAN BAKAR NABATI (BIOFUEL) YANG DICAMPURKAN KEDALAM JENIS BAHAN BAKAR MINYAK TERTENTU

13.

PERATURAN MENTERI ESDM NO.02 TAHUN 2010 TENTANG DAFTAR PROYEK-PROYEK PERCEPATAN PEMBANGUAN PEMBANGKIT TENAGA LISTRIK YANG MENGGUNAKAN ENERGI BARU TERBARUKAN, BATUBARA, DAN GAS SERTA TRANSMISI TERKAIT

KEPUTUSAN MENTERI ESDM NO.0155 K/30/MEM/2010 TENTANG PENETAPAN WILAYAH KERJA PERTAMBANGAN PANAS BUMI DI DAERAH RANTAU DADAP, KABUPATEN MUARA ENIM, KABUPATEN LAHAT DAN KOTA PAGAR ALAM PROVINSI SUMATERA SELATAN

14.

PERATURAN TAHUN 2010

MENTERI

ESDM

NO.01

EPUTUSAN MENTERI K/30/MEM/2010

ESDM

NO.2360

213

TENTANG PEDOMAN PENGAWASAN DILINGKUNGAN KEMENTERIAN ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL

TENTANG PENETAPAN KEBUTUHAN DAN PERSENTASE MINIMAL PENJUALAN BATUBARA UNTUK KEPENTINGAN DALAM NEGERI TAHUN 2011

15.

PERATURAN MENTERI ESDM NO.04 TAHUN 2010 TENTANG RENCANA STRATEGIS KEMENTERIAN ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL TAHUN 2010-2014

KEPUTUSAN MENTERI ESDM NO.330 K/30/DJB/2009 TENTANG PERPANJANGAN II TAHAP KEGIATAN EKSPLORASI WILAYAH KONTRAK KARYA PT. CITRA PALU MINERALS

16.

PERATURAN MENTERI ESDM NO.5 TAHUN 2009 TENTANG PEDOMAN HARGA PEMBELIAN TENAGA LISTRIK OLEH PT PLN (PERSERO) DARI KOPERASI ATAU BADAN USAHA LAIN

KEPUTUSAN MENTERI ESDM NO.2768 K/12/MEM/2009 TENTANG PERUBAHAN KEDUA KEPUTUSAN MENTERI ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL NOMOR 1680 K/MEM/2009 TENTANG HARGA PATOKAN LIQUEFIED PETROLEUM GAS TABUNG 3 KILOGRAM TAHUN ANGGARAN 2009

214

17.

PERATURAN MENTERI ESDM NO.34 TAHUN 2009 TENTANG PENGUTAMAAN PEMASOK KEBUTUHAN MINERAL DAN BATUBARA UNTUK KEPENTINGAN UMUM

KEPUTUSAN MENTERI ESDM NO.2712 K/12/MEM/2009 TENTANG HARGA INDEKS PASAR BAHAN BAKAR MINYAK DAN HARGA INDEKS PASAR BAHAN BAKAR NABATI (BIOFUEL) TAHUN 2009

18.

PERATURAN MENTERI ESDM NO.33 TAHUN 2009 TENTANG PELIMPAHAN SEBAGIAN URUSAN PEMERINTAHAN DIBIDANG ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL KEPADA GUBERNUR SEBAGAI WAKIL PEMERINTAH DALAM RANGKA PENYELENGGARAAN DEKONSENTRASI TAHUN ANGGARAN 2010

KEPUTUSAN MENTERI ESDM NO.2711 K/12/MEM/2009 TENTANG PERUBAHAN KETIGA ATAS KEPUTUSAN MENTERI ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL NOMOR 1246 K/12/MEM/2009 TENTANG HARGA PATOKAN JENIS BAHAN BAKAR TERTENTU TAHUN ANGGARAN 2009

215

19.

PERATURAN MENTERI ESDM NO.32 TAHUN 2009 TENTANG HARGA PATOKAN PEMBELIAN TENAGA LISTRIK OLEH PT PLN (PERSERO) DARI PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA PANAS BUMI

KEPUTUSAN MENTERI ESDM NO.2471 K/12/MEM/2009 TENTANG PERUBAHAN KEDUA ATAS KEPUTUSAN MENTERI ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL NOMOR 1246 K/12/MEM/2009 TENTANG HARGA PATOKAN JENIS BAHAN BAKAR TERTENTU TAHUN ANGGARAN 2009

20.

PERATURAN MENTERI ESDM NO.31 TAHUN 2009 TENTANG PEMBELIAN TENAGA LISTRIK OLEH PT PLN (PERSERO) DARI PEMBANGKIT LISTRIK YANG MENGGUNAKAN ENERGI BARU TERBARUKAN SKALA KECIL DAN MENENGAH ATAU KELEBIHAN TENAGA LISTRIK

KEPUTUSAN MENTERI ESDM NO.23 K/10/MEM/2009 TENTANG IZIN PENGANGKUTAN GAS BUMI MELALUI PIPA KEPADA PT PERTAMINA GAS (PERTAGAS)

21.

PERATURAN TAHUN 2009

MENTERI

ESDM

NO.30

KEPUTUSAN K/30/MEM/2009

MENTERI

ESDM

NO.211

216

TENTANG PENETAPAN DAN PEMBERLAKUAN STANDAR KOMPETENSI TENAGA TEKNIK KELISTRIKAN BIDANG PEMBANGKITAN TENAGA LISTRIK SUB BAGIAN PERANCANGAN, SUB BAGIAN PERENCANAAN, SUB BAGIAN KONSTRUKSI DAN SUB BAGIAN INSPEKSI. LAMPIRAN PERMEN ESDM NO. 30 TAHUN 2009

TENTANG PENETAPAN WILAYAH KERJA PERTAMBANGAN PANAS BUMI DI DAERAH GUNUNG RAJABASA, KABUPATEN LAMPUNG SELATAN, PROVINSI LAMPUNG

22.

PERATURAN MENTERI ESDM NO.29 TAHUN 2009 TENTANG TATA CARA PENAWARAN PENGOPERASIAN JARINGAN DISTRIBUSI GAS BUMI UNTUK RUMAH TANGGA YANG DIBANGUN OLEH PEMERINTAH

KEPUTUSAN MENTERI ESDM NO.2010 TAHUN 2009 TENTANG PENETAPAN WILAYAH PENUGASAN SURVEI PENDAHULUAN PANAS BUMI

23.

PERATURAN MENTERI ESDM NO.28 TAHUN 2009 TENTANG PENYELENGGARAAN USAHA JASA PERTAMBANGAN MINERAL DAN BATUBARA

KEPUTUSAN MENTERI ESDM NO.19 K/10/MEM/2009 TENTANG PERUBAHAN ATAS KEPUTUSAN MENTERI ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL NOMOR 1565 K/10/MEM/2008 TENTANG IZIN USAHA PENGANGKUTAN MINYAK BUMI DAN GAS BUMI KEPADA PT PERTAMINA (PERSERO

24.

PERATURAN TAHUN 2009

MENTERI

ESDM

NO.27

KEPUTUSAN K/30/MEM/2009

MENTERI

ESDM

NO.1844

217

TENTANG PEDOMAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN TERSTRUKTUR

TENTANG PENETAPAN DAERAH PENGHASIL DAN DASAR PENGHITUNGAN BAGIAN DAERAH PENGHASIL PERTAMBANGAN PANAS BUMI TAHUN 2006 SAMPAI DENGAN TAHUN 2009

25.

PERATURAN MENTERI ESDM NO.26 TAHUN 2009 TENTANG PENDISTRIBUSIAN LIQUEFIED PETROLEUM GAS

KEPUTUSAN MENTERI ESDM NO.1680 K/12/MEM/2009 TENTANG HARGA PATOKAN LIQUEFIED PETROLEUM GAS TABUNG 3 KILOGRAM TAHUN ANGGARAN 2009

26.

PERATURAN MENTERI ESDM NO.25 TAHUN 2009 TENTANG PENETAPAN DAN PEMBERLAKUAN STANDAR KURIKULUM PENDIDIKAN DAN PELATIHAN TEKNIS BIDANG KETENAGALISTRIKAN DAN ENERGI BARU TERBARUKAN

KEPUTUSAN MENTERI ESDM NO.1246 K/12/MEM/2009 TENTANG HARGA PATOKAN JENIS BAHAN BAKAR MINYAK TERTENTU TAHUN ANGGARAN 2009

27.

PERATURAN MENTERI ESDM NO.24 TAHUN 2009 TENTANG PENETAPAN DAN PEMBERLAKUAN STANDAR KURIKULUM PENDIDIKAN DAN PELATIHAN TEKNIS BIDANG GEOLOGI

KEPUTUSAN MENTERI ESDM NO.1203 K/10/MEM/2009 TENTANG PELIMPAHAN WEWENANG MENTERI ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL DI BIDANG MINYAK DAN GAS BUMI KEPADA DIREKTUR JENDERAL MINYAK DAN GAS BUMI

28.

PERATURAN MENTERI ESDM NO.23 TAHUN 2009 TENTANG PENETAPAN DAN PEMBERLAKUAN STANDAR KURIKULUM PENDIDIKAN DAN PELATIHAN TEKNIS BIDANG MINERAL DAN BATUBARA

KEPUTUSAN K/10/MEM/2009

MENTERI

ESDM

NO.1110

TENTANG IZIN USAHA PENGANGKUTAN GAS BUMI MELALUI PIPA KEPADA PT PERUSAHAAN GAS NEGARA (PERSERO) TBK

218

29.

PERATURAN MENTERI ESDM NO.22 TAHUN 2009 TENTANG PENNETAPAN DAN PEMBERLAKUAN STANDAR KURIKULUM PENDIDIKAN DAN PELATIHAN INSPEKTUR MINYAK DAN GAS BUMI

KEPUTUSAN MENTERI ESDM NO.1086 K/30/MEM/2009 TENTANG PENETAPAN WILAYAH KERJA PERTAMBANGAN PANAS BUMI DI DAERAH LIKI PINANGAWAN MUARALABOH, KABUPATEN SOLOK SELATAN, PROVINSI SUMATERA BARAT

30.

PERATURAN MENTERI ESDM NO.21 TAHUN 2009 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA SEKRETARIAT PENGURUS UNIT NASIONAL DAN SEKRETARIAT SUB UNIT NASIONAL KORPS PEGAWAI REPUBLIK INDONESIA DEPARTEMEN ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL

KEPUTUSAN MENTERI ESDM NO.0026 K/30/MEM/2009 TENTANG PENETAPAN WILAYAH KERJA PERTAMBANGAN PANAS BUMI DI DAERAH KALDERA DANAU BANTEN, KABUPATEN SERANG DAN KABUPATEN PANDEGLANG, PROVINSI BANTEN

31.

PERATURAN MENTERI ESDM NO.20 TAHUN 2009 TENTANG SUSUNAN DAN TATA KERJA KELOMPOK KERJA

KEPUTUSAN MENTERI ESDM NO.0025 K/30/MEM/2009 TENTANG PENETAPAN WILAYAH KERJA PERTAMBANGAN PANAS BUMI DI DAERAH SUWAWA, KABUPATEN BONE BOLANGO DAN KOTA GORONTALO, PROVINSI GORONTALO

32.

PERATURAN MENTERI ESDM NO.19 TAHUN 2009 TENTANG KEGIATAN USAHA GAS BUMI MELALUI PIPA

KEPUTUSAN MENTERI ESDM NO.2478 K/12/MEM/2009 TENTANG PENETAPAN WILAYAH KERJA PERTAMBANGAN PANAS BUMI DI DAERAH SUOH-SEKINCAU, KABUPATEN LAMPUNG BARAT, PROVINSI LAMPUNG

219

33.

PERATURAN MENTERI ESDM NO.18 TAHUN 2009 TENTANG TATA CARA PERUBAHAN PENANAMAN MODAL DALAM RANGKA PELAKSANAAN KONTRAK KARYA DAN PERJANJIAN KARYA PENGUSAHAAN PERTAMBANGAN BATUBARA

KEPUTUSAN MENTERI ESDM NO.0911 K/30/MEM/2009 TENTANG PERUBAHAN KEPUTUSAN MENTERI ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL NOMOR 2761 K/13/MEM/2008 TENTANG PENETAPAN WILAYAH KERJA MINYAK DAN GAS BUMI, BENTUK KONTRAK KERJASAMA DAN KETENTUAN POKOK KONTRAK KERJASAMA (TERM AND CONDITION) SERTA MEKANISME PENAWARAN WILAYAH KERJA DALAM PENAWARAN WILAYAH KERJA MINYAK DAN GAS BUMI PERIODE II TAHUN 2008

34.

PERATURAN MENTERI ESDM NO.17 TAHUN 2009 TENTANG PEMBERLAKUAN STANDAR NASIONAL INDONESIA MENGENAI LUMINER SEBAGAI STANDAR WAJIB

NOMOR-331-12 /20/600.3/2007 TENTANG PERPANJANGAN IUKU SEMENTARA PT GENERAL ENERGY BALI

35.

PERATURAN MENTERI ESDM NO.16 TAHUN 2009 TENTANG PEMBERLAKUAN STANDAR NASIONAL INDONESIA MENGENAI PEMUTUS SIRKIT ARUS SISA TANPA PROTEKSI ARUS LEBIH TERPADU UNTUK PEMAKAIAN RUMAH TANGGA DAN SEJENISNYA (RCCB) SEBAGAI STANDAR WAJIB

NOMOR-311-12 /20/600.3/2007 TENTANG IUKU SEMENTARA ELECTRIC POWER

PT

CIREBON

220

36.

PERATURAN MENTERI ESDM NO.15 TAHUN 2009 TENTANG PEMBERLAKUAN STANDAR NASIONAL INDONESIA MENGENAI PERLENGKAPAN KENDALI LAMPU SEBAGAI STANDAR WAJIB

NOMOR-163-12 /20/600.3/2007 TENTANG IUKU SEMENTARA PT MEGA POWER MANDIRI

37.

PERATURAN MENTERI ESDM NO.14 TAHUN 2009 TENTANG TUGAS DAN FUNGSI SEKRETARIAT JENDERAL DEWAN ENERGI NASIONAL

KEPUTUSAN MENTERI ESDM NO.2966 K/30/MEM/2008 TENTANG PENETAPAN WILAYAH KERJA PERTAMBANGAN PANAS BUMI DI DAERAH ATADEI, KABUPATEN LEMBATA, PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR

38.

PERATURAN MENTERI ESDM NO.13 TAHUN 2009 TENTANG PEDOMAN PENYUSUNAN RANCANGAN PENETAPAN CEKUNGAN AIR TANAH

KEPUTUSAN MENTERI ESDM NO.2965 K/30/MEM/2008 TENTANG PENETAPAN WILAYAH KERJA PERTAMBANGAN PANAS BUMI DI DAERAH SONGA WAYAU, KABUPATEN HALMAHERA SELATAN, PROVINSI MALUKU UTARA

39.

PERATURAN TAHUN 2009

MENTERI

ESDM

NO.12

KEPUTUSAN K/30/MEM/2008

MENTERI

ESDM

NO.2964

TENTANG PENETAPAN INDIKATOR KINERJA UTAMA DILINGKUNGAN DEPARTEMEN ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL

TENTANG PENETAPAN WILAYAH KERJA PERTAMBANGAN PANAS BUMI DI DAERAH MARANA, KABUPATEN DONGGALA, PROVINSI SULAWESI TENGAH

40.

PERATURAN MENTERI ESDM NO.11 TAHUN 2009 TENTANG PEDOMAN PENYELENGGARAAN KEGIATAN USAHA PANAS BUMI

KEPUTUSAN MENTERI ESDM NO.2963 K/30/MEM/2008 TENTANG PENETAPAN WILAYAH KERJA PERTAMBANGAN PANAS BUMI DI DAERAH SORIK MARAPI-ROBURAN-SAMPURAGAKABUPATEN MANDAILING NATAL, PROVINSI SUMATERA UTARA

221

41.

PERATURAN MENTERI ESDM NO.10 TAHUN 2009 TENTANG JADWAL RETENSI ARSIP SUBSTANTIF PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN DEPARTEMEN ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL

KEPUTUSAN MENTERI ESDM NO.2962 K/30/MEM/2008 TENTANG PENETAPAN WILAYAH KERJA PERTAMBANGAN PANAS BUMI DI DAERAH BUKIT KILI, KABUPATEN SOLOK DAN KOTA SOLOK, PROVINSI SUMATERA BARAT

42.

PERATURAN MENTERI ESDM NO.09 TAHUN 2009 TENTANG PEDOMAN PELAKSANAAN IZIN BELAJAR, UJIAN KENAIKAN PANGKAT PENYESUAIAN IJAZAH DAN PENCANTUMAN GELAR BAGI PEGAWAI NEGERI SIPIL DILINGKUNGAN DEPARTEMEN ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL

KEPUTUSAN MENTERI ESDM NO.2961 K/30/MEM/2008 TENTANG PENETAPAN WILAYAH KERJA PERTAMBANGAN PANAS BUMI DI DAERAH SIPOHOLON RIA-RIA KABUPATEN TAPANULI UTARA, PROVINSI SUMATERA UTARA

43.

PERATURAN TAHUN 2009

MENTERI

ESDM

NO.08

KEPUTUSAN K/21/MEM/2008

MENTERI

ESDM

NO.2780

TENTANG PENETAPAN DAN PEMBERLAKUAN STANDAR LATIH KOMPETENSI TENAGA TEKNIK KETENAGALISTRIKAN BIDANG INDUSTRI PERALATAN TENAGA LISTRIK SUB BIDANG PERANCANGAN, SUB BIDANG MANUFAKTUR, DAN SUB BIDANG PENGENDALIAN DAN JAMINAN MUTU

TENTANG PENGESAHAN RENCANA USAHA PENYEDIAAN TENAGA LISTRIK PT PLN (PERSERO) TAHUN 2009 S.D 2018

222

44.

PERATURAN MENTERI ESDM NO.07 TAHUN 2009 TENTANG PENETAPAN DAN PEMBERLAKUAN STANDAR LATIH KOMPETENSI TENAGA TEKNIK KETENAGALISTRIKAN BIDANG INDUSTRI PEMANFAAT TENAGA LISTRIK SUB BIDANG PERANCANGAN, SUB BIDANG PRODUKSI, SUB BIDANG KEPASTIAN DAN KENDALI MUTU, DAN SUB BIDANG PERAWATAN, PERBAIKAN DAN PEMASANGAN

KEPUTUSAN MENTERI ESDM NO.2761 K/13/MEM/2008 TENTANG PENETAPAN WILAYAH KERJA MINYAK DAN GAS BUMI BENTUK KONTRAK KERJASAMA DAN KETENTUAN POKOK KONTRAK KERJASAMA (TERM AND CONDITION) SERTA MEKANISME PENAWARAN WILAYAH KERJA DALAM PENAWARAN WILAYAH KERJA MINYAK DAN GAS BUMI PERIODE II TAHUN 2008

45.

PERATURAN MENTERI ESDM NO.06 TAHUN 2009 TENTANG PENETAPAN DAN PEMBERLAKUAN STANDAR LATIH KOMPETENSI TENAGA TEKNIK KETENAGALISTRIKAN BIDANG JASA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN TENAGA LISTRIK

KEPUTUSAN MENTERI ESDM NO.2682 K/21/MEM/2008 TENTANG RENCANA UMUM KELISTRIKAN NASIONAL

46.

PERATURAN TAHUN 2009

MENTERI

ESDM

NO.04

KEPUTUSAN K/10/MEM/2008

MENTERI

ESDM

NO.2659

TENTANG ATURAN DISTRIBUSI TENAGA LISTRIK

TENTANG PELIMPAHAN WEWENANG MENTERI ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL KEPADA DIREKTUR JENDERAL MINYAK DAN GAS BUMI UNTUK PEMBERIAN IZIN SURVEI UMUM

47.

PERATURAN MENTERI ESDM NO.03 TAHUN 2009 TENTANG JADWAL RETENSI ARSIP KEPEGAWAIAN DI LINGKUNGAN DEPARTEMEN ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL

KEPUTUSAN MENTERI ESDM NO.2498 K/84/MEM/2008 TENTANG PENETAPAN DAERAH PENGHASIL DAN DASAR PENGHITUNGAN BAGIAN DAERAH PENGHASIL PERTAMBANGAN UMUM, MINYAK BUMI DAN GAS BUMI UNTUK TAHUN 2009

48.

PERATURAN MENTERI ESDM NO.02 TAHUN 2009 TENTANG PEDOMAN PENUGASAN SURVEI PENDAHULUAN PANAS BUMI

KEPUTUSAN MENTERI ESDM NO.2473 K/30/MEM/2008 TENTANG PENETAPAN WILAYAH KERJA PERTAMBANGAN PANAS BUMI DI DAERAH HU'U DAHA, KABUPATEN DOMPU, PROVINSI NUSA TENGGARA BARAT

223

49.

PERATURAN TAHUN 2009

MENTERI

ESDM

NO.01

KEPUTUSAN K/30/MEM/2008

MENTERI

ESDM

NO.2472

TENTANG HARGA JUAL ECERAN BAHAN BAKAR MINYAK JENIS MINYAK TANAH (KEROSENE), BENSIN PREMIUM DAN MINYAK SOLAR (GAS OIL) UNTUK KEPERLUAN RUMAH TANGGA, USAHA KECIL, USAHA PERIKANAN, TRANSPORTASI, DAN PELAYANAN UMUM

TENTANG PENETAPAN WILAYAH KERJA PERTAMBANGAN PANAS BUMI DI BLAWANIJEN, KABUPATEN BONDOWOSO, KABUPATEN BANYUWANGI DAN KABUPATEN SITUBONDO, PROVINSI JAWA TIMUR

50.

LAMPIRAN PERMEN ESDM NO. 30 TAHUN 2009

KEPUTUSAN MENTERI ESDM NO.2471 K/30/MEM/2008 TENTANG PENETAPAN WILAYAH KERJA PERTAMBANGAN PANAS BUMI DI DAERAH GUNUNG TALANG, KABUPATEN SOLOK, PROVINSI SUMATERA BARAT

51.

PERATURAN MENTERI ESDM NO.42 TAHUN 2008 TENTANG PELIMPAHAN SEBAGIAN URUSAN DEPARTEMEN ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL KEPADA GUBERNUR SEBAGAI WAKIL PEMERINTAH DALAM RANGKA PENYELENGGARAAN DEKONSENTRASI TAHUN ANGGARAN 2009

KEPUTUSAN MENTERI ESDM NO.2470 K/73/MEM/2008 TENTANG GUGUS TUGAS PENGEHEMATAN ENERGI DAN AIR DEPARTEMEN ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL

224

52.

PERATURAN MENTERI ESDM NO.41 TAHUN 2008 TENTANG HARGA JUAL ECERAN BAHAN BAKAR MINYAK JENIS MINYAK TANAH (KEROSENE), BENSIN PREMIUM, DAN MINYAK SOLAR (GAS OIL) UNTUK KEPERLUAN RUMAH TANGGA, USAHA KECIL, USAHA PERIKANAN, TRANSPORTASI DAN PELAYANAN UMUM

KEPUTUSAN MENTERI ESDM NO.2288 K/07/MEM/2008 TENTANG PERUBAHAN ATAS KEPUTUSAN MENTERI ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL NOMOR 1762 K/07/MEM/2007 TENTANG PENGAMANAN OBYEK VITAL NASIONAL 01 SEKTOR ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL

53.

PERATURAN MENTERI ESDM NO.39 TAHUN 2008 TENTANG PEMBERLAKUAN STANDAR KOMPETENSI KERJA NASIONAL INDONESIA BIDANG PERENCANAAN TAMBANG TERBUKA SUB BIDANG PERENCANAAN TAMBANG TERBUKA JANGKA PANJANG SECARA WAJIB

KEPUTUSAN MENTERI ESDM NO.1840 K/13/MEM/2008 TENTANG PENETAPAN WILAYAH KERJA MINYAK DAN GAS BUMI, BENTUK KONTRAK KERJA SAMA DAN KETENTUAN POKOK KERJA SAMA (TERMS AND CONDITIONS) SERTA MEKANISME PENAWARAN WILAYAH KERJA PADA PENAWARAN WILAYAH KERJA MINYAK DAN GAS BUMI PERIODE I TAHUN 2008

54.

PERATURAN TAHUN 2008

MENTERI

ESDM

NO.38

KEPUTUSAN K/13/MEM/2008

MENTERI

ESDM

NO.1834

225

TENTANG HARGA JUAL ECERAN BAHAN BAKAR MINYAK JENIS MINYAK TANAH (KEROSENE), BENSIN PREMIUM, DAN MINYAK SOLAR (GAS OIL) UNTUK KEPERLUAN RUMAH TANGGA, USAHA KECIL, USAHA PERIKANAN, TRANSPORTASI, DAN PELAYANAN UMUM

PENETAPAN WILAYAH KERJA GAS METANA BATUBARA, BENTUK KONTRAK KERJA SAMA DAN KETENTUAN POKOK KERJA SAMA (TERMS AND CONDITIONS) SERTA MEKANISME PENAWARAN WILAYAH KERJA GAS METANA BATUBARA BLOK "GMB INDRAGIRI HULU" DAN BLOK "GMB BENTIAN BESAR"

55.

PERATURAN MENTERI ESDM NO.37 TAHUN 2008 TENTANG ATURAN JARINGAN SISTEM TENAGA LISTRIK SUMATERA

KEPUTUSAN MENTERI ESDM NO.1788 K/70/MEM/2008 TENTANG PELIMPAHAN SEBAGIAN WEWENANG MENTERI ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL KEPADA DIREKTUR JENDERAL MINYAK DAN GAS BUMI PADA PENYEDIAAN DAN PENDISTRIBUSIAN LPG TABUNG 3 KG

56.

PERATURAN MENTERI ESDM NO.36 TAHUN 2008 TENTANG PENGUSAHAAN GAS METANA BATUBARA

KEPUTUSAN MENTERI ESDM NO.1764 K/12/MEM/2008 TENTANG HARGA PATOKAN JENIS BAHAN BAKAR MINYAK TERTENTU TAHUN ANGGARAN 2008

57.

PERATURAN MENTERI ESDM NO.35 TAHUN 2008 TENTANG TATA CARA PENETAPAN DAN PENAWARAN WILAYAH KERJA MINYAK DAN GAS BUMI

KEPUTUSAN MENTERI ESDM NO.1737 K/13/MEM/2008 TENTANG PENETAPAN BADAN USAHA ATAU BENTUK USAHA TETAP UNTUK MENGUSAHAKAN GAS METANA BATUBARA DI WILIYAH KERJA GAS METANA BATUBARA BLOK "GMB SEKAYU"

58.

PERATURAN TAHUN 2008

MENTERI

ESDM

NO.33

KEPUTUSAN K/13/MEM/2008

MENTERI

ESDM

NO.1736

TENTANG HARGA JUAL TENAGA LISTRIK YANG DISEDIAKAN OLEH PT PELAYANAN LISTRIK NASIONAL BATAM

TENTANG PENETAPAN WILAYAH KERJA GAS METANA BATUBARA, BENTUK KONTRAK KERJASAMA DAN KETENTUAN POKOK KERJASAMA (TERM AND CONDITION) SERTA MEKANISME PENWARAN WILAYAH KERJA GAS METANA BATUBARA DALAM PENAWARAN WILAYAH KERJA BLOK "GMB SEKAYU" TAHUN 2008

226

59.

PERATURAN MENTERI ESDM NO.32 TAHUN 2008 TENTANG PENYEDIAAN, PEMANFAATAN DAN TATA NIAGA BAHAN BAKAR NABATI (BIOFUEL) SEBAGAI BAHAN BAKAR LAIN

KEPUTUSAN MENTERI ESDM NO.1661 K/12/MEM/2008 TENTANG HARGA PATOKAN LIQUEFIED PETROLEUM GAS TABUNG 3 KILOGRAM TAHUN ANGARAN 2008

60.

PERATURAN MENTERI ESDM NO.31 TAHUN 2008 TENTANG PENETAPAN DAN PEMBERLAKUAN STANDAR KOMPETENSI ASESOR KETENAGALISTRIKAN BIDANG INSTALASI PEMANFAATAN TENAGA LISTRIK SUB BIDANG OPERASI, SUB BIDANG PEMELIHARAAN DAN SUB BIDANG INSPEKSI

KEPUTUSAN MENTERI ESDM NO.1568 K/10/MEM/2008 IZIN USAHA NIAGA MINYAK BUMI DAN GAS BUMI KEPADA PT PERTAMINA (PERSERO)

61.

PERATURAN TAHUN 2008

MENTERI

ESDM

NO.30

KEPUTUSAN K/10/MEM/2008

MENTERI

ESDM

NO.1567

TENTANG PENETAPAN DAN PEMBERLAKUAN STANDAR KOMPETENSI ASESOR KETENAGALISTRIKAN BIDANG DISTRIBUSI TENAGA LISTRIK SUB BIDANG PERENCANAAN, SUB BIDANG KONSTRUKSI DAN SUB BIDANG INSPEKSI

IZIN USAHA PENYIMPANAN MINYAK BUMI DAN GAS BUMI KEPADA PT PERTAMINA (PERSERO)

227

62.

PERATURAN MENTERI ESDM NO.28 TAHUN 2008 TENTANG HARGA JUAL ECERAN LPG TABUNG 3 KILOGRAM UNTUK KEPERLUAN RUMAH TANGGA DAN USAHA MIKRO

KEPUTUSAN MENTERI ESDM NO.1566 K/10/MEM/2008 TENTANG IZIN USAHA PENGOLAHAN MINYAK BUMI DAN GAS BUMI KEPADA PT PERTAMINA (PERSERO)

63.

PERATURAN MENTERI ESDM NO.27 TAHUN 2008 TENTANG KEGIATAN USAHA PENUNJANG MINYAK DAN GAS BUMI

KEPUTUSAN MENTERI ESDM NO.1565 K/10/MEM/2008 TENTANG IZIN USAHA PENGANGKUTAN MINYAK BUMI DAN GAS BUMI KEPADA PT PERTAMINA (PERSERO)

64.

PERATURAN MENTERI ESDM NO.26 TAHUN 2008 TENTANG PEDOMAN PENETAPAN DAERAH USAHA BAGI USAHA PENYEDIAAN TENAGA LISTRIK UNTUK KEPENTINGAN UMUM

KEPUTUSAN MENTERI ESDM NO.081 K/73/MEM/2008 PENGANGKATAN PENGELOLA ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA NEGARA DEPARTEMEN ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL TAHUN ANGGARAN 2008 DI LINGKUNGAN BADAN PENGATUR HILIR MINYAK DAN GAS BUMI

65.

PERATURAN TAHUN 2008

MENTERI

ESDM

NO.25

KEPUTUSAN K/73/MEM/2008

MENTERI

ESDM

NO.069

TENTANG TATA CARA PENETAPAN KEBIJAKAN PEMBATASAN PRODUKSI PERTAMBANGAN MINERAL NASIONAL

PENGGANTIAN PEJABAT KUASA PENGGUNA ANGGARAN BARANG (KPAKPB) PADA UNIT SATUAN KERJA DINAS PERTAMBANGAN DAN ENERGI PROVINSI JAWA BARAT TAHUN ANGGARAN 2008

228

66.

PERATURAN MENTERI ESDM NO.22 TAHUN 2008 TENTANG JENIS-JENIS BIAYA KEGIATAN USAHA HULU MINYAK DAN GAS BUMI YANG TIDAK DAPAT DIKEMBALIKAN KEPADA KONTRAKTOR KONTRAK KERJASAMA

KEPUTUSAN MENTERI ESDM NO.068 K/73/MEM/2008 PENGANGKATAN PENGELOLA ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA NEGARA DEPARTEMEN ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL TAHUN ANGGARAN 2008 DI LINGKUNGAN DINAS YANG MEMBIDANGI ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL PADA PROVINSI DKI JAKARTA, KALIMANTAN BARAT, DAN PROVINSI PAPUA

67.

PERATURAN MENTERI ESDM NO.20 TAHUN 2008 TENTANG PEMBERLAKUAN STANDAR KOMPETENSI KERJA NASIONAL INDONESIA DI BIDANG KEGIATAN USAHA MINYAK DAN GAS BUMI

KEPUTUSAN MENTERI ESDM NO.067 K/73/MEM/2008 PENGANGKATAN PENGELOLA ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA NEGARA DEPARTEMEN ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL TAHUN ANGGARAN 2008 DILINGKUNGAN DINAS YANG MEMBIDANGI ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL PADA PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA, PROVINSI KEPULAUAN RIAU, PROVINSI JAMBI, DAN PROVINSI KALIMANTAN SELATAN

68.

PERATURAN TAHUN 2008

MENTERI

ESDM

NO.17

KEPUTUSAN K/73/MEM/2008

MENTERI

ESDM

NO.0158

TENTANG PANITIA DAN TATA CARA PENYARINGAN CALON ANGGOTA DEWAN ENERGI NASIONAL DARI PEMANGKU KEPENTINGAN

PENGANGKATAN PENGELOLA ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA NEGARA DEPARTEMEN ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL TAHUN ANGGARAN 2008 DI LINGKUNGAN DLNAS YANG MEMBIDANGLI ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL PADA PROVINSI RIAU

229

69.

PERATURAN MENTERI ESDM NO.16 TAHUN 2008 TENTANG HARGA JUAL ECERAN BAHAN BAKAR MINYAK JENIS MINYAK TANAH (KEROSENEN), BENSIN PREMIUM DAN MINYAK SOLAR (GAS OIL) UNTUK KEPERLUAN RUMAH TANGGA, USAHA KECIL, USAHA PERIKANAN, TRANSPORTASI DAN PELAYANAN UMUM

KEPUTUSAN MENTERI ESDM NO.0157 K/73/MEM/2008 TIM KAJIAN PENERAPAN SISTEM "HEDGING" DALAM PENJUALAN MINYAK INDONESIA

70.

PERATURAN TAHUN 2008

MENTERI

ESDM

NO.15

KEPUTUSAN K/30/MEM/2008

MENTERI

ESDM

NO.0131

TENTANG PEMBERLAKUAN STANDAR NASIONAL INDONESIA MENGENAI SISTEM TRANSPORTASI CAIRAN UNTUK HIDROKARBON DAN STANDAR NASIONAL INDONESIA MENGENAI SISTEM PERPIPAAN TRASNMISI DAN DISTRIBUSI GAS SEBAGAI STANDAR WAJIB

PENUGASAN SURVEI PENDAHULUAN PANAS BUMI KEPADA PT SUPREME ENERGY DI DAERAH KALIANDA, KABUPATEN LAMPUNG SELATAN, PROVINSI LAMPUNG

71.

PERATURAN MENTERI ESDM NO.11 TAHUN 2008 TENTANG TATA CARA PENETAPAN WILAYAH KERJA PERTAMBANGAN PANAS BUMI

KEPUTUSAN MENTERI ESDM NO.0130 K/30/MEM/2008 PENUGASAN SURVEI PENDAHULUAN PANAS BUMI KEPADA PT SUPREME ENERGY DI DAERAH PEMATANG BELIRANG, KABUPATEN LAMPUNG SELATAN, PROVINSI LAMPUNG

72.

PERATURAN TAHUN 2008

MENTERI

ESDM

NO.10

KEPUTUSAN K/30/MEM/2008

MENTERI

ESDM

NO.0129

230

PENYELENGGARAAN SISTEM PENDISTRIBUSIAN TERTUTUP BAHAN BAKAR MINYAK TERTENTU JENIS MINYAK TANAH UNTUK KEPERLUAN RUMAH TANGGA DAN USAHA KECIL

PENUGASAN SURVEI PENDAHULUAN PANAS BUMI KEPADA PT TRINERGY DI DAERAH BATURADEN, KABUPATEN BREBES, PROVINSI JAWA TENGAH

73.

PERATURAN MENTERI ESDM NO.09 TAHUN 2008 PENETAPAN DAN PEMBERLAKUAN STANDAR KOMPETENSI ASESOR BIDANG PEMBANGKITAN TENAGA LISTRIK SUB BIDANG PERENCANAAN, SUB BIDANG KONSTRUKSI DAN SUB BIDANG INSPEKSI

KEPUTUSAN MENTERI ESDM NO.0128 K/30/MEM/2008 PENUGASAN SURVEI PENDAHULUAN PANAS BUMI KEPADA PT SUPREME ENERGY DI DAERAH MUARA LABOH, KABUPATEN SOLOK SELATAN, PROVINSI SUMATERA BARAT

74.

PERATURAN TAHUN 2008

MENTERI

ESDM

NO.08

KEPUTUSAN K/30/MEM/2008

MENTERI

ESDM

NO.0127

PENETAPAN DAN PEMBERLAKUAN STANDAR KOMPETENSI ASESOR BIDANG DISTRIBUSI TENAGA LISTRIK SUB BIDANG OPERASI DAN SUB BIDANG PEMELIHARAAN

PENUGASAN SURVEI PENDAHULUAN PANAS BUMI KEPADA PT SPRING ENERGY SENTOSA DI DAERAH GUCI, KABUPATEN TEGAL, PROVINSI JAWA TENGAH

231

75.

PERATURAN MENTERI ESDM NO.07 TAHUN 2008 PENETAPAN DAN PEMBERLAKUAN STANDAR KOMPETENSI TENAGA TEKNIK KETENAGALISTRIKAN BIDANG TRANSMISI TENAGA LISTRIK SUB BIDANG OPERASI, SUB BIDANG PEMELIHARAAN SUB BIDANG KONSTRUKSI DAN SUB BIDANG INSPEKSI

KEPUTUSAN MENTERI ESDM NO.3175 K/10/ MEM/2007 TENTANG PENUGASAN PT.PERTAMINA (PERSERO) DAN PENETAPAN DAERAH TERTENTU DALAM PENYEDIAAN DAN PENDISTRIBUSIAN LIQUEFIED PETROLEUM GAS TABUNG 3 KILOGRAM TAHUN 2007

76.

PERATURAN TAHUN 2008

MENTERI

ESDM

NO.06

KEPUTUSAN MENTERI ESDM NO. 3174 K/12/ MEM/2007 TENTANG HARGA PATOKAN DAN HARGA JUAL ECERAN LIQUEFIED PETROLEUM GAS TABUNG 3 KILOGRAM TAHUN ANGGARAN 2007

TENTANG PENETAPAN DAN PEMBERLAKUAN STANDAR KOMPETENSI TENAGA TEKNIK KETENAGALISTRIKAN BIDANG PEMBANGKITAN TENAGA LISTRIK SUB BIDANG OPERASI DAN SUB BIDANG PEMELIHARAAN

232

77.

PERATURAN MENTERI ESDM NO.05 TAHUN 2008 PENETAPAN DAN PEMBERLAKUAN STANDAR LATIH KOMPETENSI TENAGA TEKNIK KETENAGALISTRIKAN BIDANG PEMBANGKITAN ENERGI BARU DAN TERBARUKAN PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA MIKRO HIDRO (PLTMH), PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA BIOMASSA (PLTBM), PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA BAYU (PLTB), DAN PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA SURYA (PLTS)

KEPUTUSAN MENTERI ESDM NO. 1937 K/30/ MEM/2007 TENTANG PENETAPAN WILAYAH KERJA PERTAMBANGAN PANAS BUMI DI DAERAH CISOLOK CISUKARAME KABUPATEN SUKABUMI PROVINSI JAWA BARAT

78.

PERATURAN TAHUN 2008

MENTERI

ESDM

NO.04

KEPUTUSAN MENTERI ESDM NO. 1869 K/10/ MEM/2007 TENTANG PELAKSANAAN KEGIATAN BISNIS LIQUEFIED NATURAL GAS (LNG) ARUN DAN LIQUIFIED NATURAL GAS (LNG) BADAK

TENTANG PENETAPAN DAN PEMBERLAKUAN STANDAR LATIH KOMPETENSI TENAGA TEKNIK KETENAGALISTRIKAN BIDANG INSTALASI PEMANFAATAN TENAGA LISTRIK

233

79.

PERATURAN MENTERI ESDM NO.03 TAHUN 2008 TENTANG PEDOMAN DAN TATA CARA PENGEMBALIAN BAGIAN WILAYAH KERJA YANG TIDAK DIMANFAATKAN OLEH KONTRAKTOR KONTRAK KERJASAMA DALAM RANGKA PENINGKATAN PRODUKSI MIGAS

KEPUTUSAN MENTERI ESDM NO. 1790 K/33/ MEM/2007 TENTANG PENETAPAN WILAYAH KERJA PERTAMBANGAN PANAS BUMI DI DAERAH GUNUNG TAMPOMAS, KABUPATEN SUMEDANG DAN KABUPATEN SUBANG, PROVINSI JAWA BARAT

80.

PERATURAN TAHUN 2008

MENTERI

ESDM

NO.02

KEPUTUSAN MENTERI ESDM NO. 1789 K/33/ MEM/2007 TENTANG PENETAPAN WILAYAH KERJA PERTAMBANGAN PANAS BUMI DI DAERAH GUNUNG UNGARAN, KABUPATEN SEMARANG DAN KABUPATEN KENDAL, PROVINSI JAWA TENGAH

TENTANG PELAKSANAAN KEWAJIBAN PEMENUHAN KEBUTUHAN MINYAK DAN GAS BUMI DALAM NEGERI OLEH KONTRAKTOR KONTRAK KERJASAMA

81.

PERATURAN MENTERI ESDM NO.01 TAHUN 2008 TENTANG PEDOMAN PENGUSAHAAN PERTAMBANGAN MINYAK DAN BUMI PADA SUMUR TUA

KEPUTUSAN MENTERI ESDM NO. 1788 K/33/ MEM/2007 TENTANG PENETAPAN WILAYAH KERJA PERTAMBANGAN PANAS BUMI DI DAERAH TELAGA NGEBEL, KABUPATEN PONOROGO DAN KABUPATEN MADIUN, PROVINSI JAWA TIMUR

234

82.

PERATURAN BERSAMA MENPERIN, MENTERI ESDM, MENAKERTRANS, MENDAGRI DAN MENEG BUMN TENTANG PENGOPTIMALAN BEBAN LISTRIK MELALUI PENGALIHAN WAKTU KERJA PADA SEKTOR INDUSTRI DI JAWA-BALI

KEPUTUSAN MENTERI ESDM NO. 1787 K/33/ MEM/2007 TENTANG PENETAPAN WILAYAH KERJA PERTAMBANGAN PANAS BUMI DI DAERAH JAILOLO, KABUPATEN HALMAHERA BARAT, PROVINSI MALUKU UTARA

83.

KEPUTUSAN MENTERI ESDM NO.2682 K/21/MEM/2008 TENTANG RENCANA UMUM KELISTRIKAN NASIONAL

KEPUTUSAN MENTERI ESDM NO. 1786 K/33/ MEM/2007 TENTANG PENETAPAN WILAYAH KERJA PERTAMBANGAN PANAS BUMI DI DAERAH SEULAWAH AGAM, KABUPATEN ACEH BESAR, PROVINSI NANGGROE ACEH DARUSSALAM

84.

PERATURAN TAHUN 2008

MENTERI

ESDM

NO.19

KEPUTUSAN MENTERI ESDM NO. 1762 K/07/ MEM/2007 TENTANG PENGAMANAN OBYEK VITAL NASIONAL DI SEKTOR ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL

TENTANG PEDOMAN TATACARA PERLINDUNGAN KONSUMEN KEGIATAN USAHA HILIR MINYAK DAN GAS BUMI

85.

PERATURAN MENTERI ESDM NO.18 TAHUN 2008 TENTANG REKLAMASI DAN PENUTUPAN TAMBANG

KEPUTUSAN MENTERI ESDM NO. 1720 K/12/ MEM/2007 TENTANG HARGA PATOKAN JENIS BAHAN BAKAR MINYAK TERTENTU TAHUN ANGGARAN 2007

235

86.

PERATURAN MENTERI ESDM NO.13 TAHUN 2008 TENTANG PERUBAHAN ATAS KEPUTUSAN MENTERI ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL NOMOR 1273 K/30/MEM/2002 TENTANG KOMISI AKREDITASI KOMPETENSI KETENAGALISTRIKAN

KEPUTUSAN MENTERI ESDM NO. 0740 K/13 MEM/2007 TENTANG PENETAPAN PEMENANG LELANG WILAYAH KERJA MINYAK DAN GAS BUMI TAHUN 2006

87.

PERATURAN TAHUN 2008

MENTERI

ESDM

NO.12

KEPUTUSAN MENTERI ESDM NO. 2821 K/80/ MEM/2007 TENTANG PENETAPAN DAERAH PENGHASIL DAN DASAR PENGHITUNGAN BAGIAN DAERAH PENGHASIL PERTAMBANGAN UMUM, MINYAK BUMI DAN GAS BUMI. TAHUN 2008

TENTANG PERUBAHAN HARI DAN JAM KERJA PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN MINYAK DAN GAS BUMI (PUSDIKLAT MIGAS) DAN PERGURUAN TINGGI KEDINASAN (PTK) AKAMIGAS, BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL (BADIKLAT ESDM), DEPARTEMEN ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL

88.

PERATURAN MENTERI ESDM NO.29 TAHUN 2008 TENTANG PENETAPAN DAN PEMBERLAKUAN STANDAR KOMPETENSI ASESOR KETENAGALISTRIKAN BIDANG TRANSMISI TENAGA LISTRIK, SUB BIDANG OPERASI DAN SUB BIDANG PEMELIHARAAN

KEPUTUSAN MENTERI ESDM NO.2817 K/40/MEM/2006 TENTANG PENETAPAN KAWASAN CAGAR ALAM GEOLOGI KARANGSAMBUNG

236

89.

KEPUTUSAN MENTERI ESDM K/31/MEM/2006 TENTANG RENCANA KETENAGALISTRIKAN NASIONAL

NO.2270 UMUM

90.

PERATURAN MENTERI ESDM NO.21 TAHUN 2007 TENTANG PENYELENGGARAAN PENYEDIAAN DAN PENDISTRIBUSIAN LIQUEFIED PETROLEUM GAS TABUNG 3 KILOGRAM

KEPUTUSAN MENTERI ESDM NO. 2876 K/23 MEM/2006 TENTANG PENETAPAN PEMENANG PENAWARAN LANGSUNG WILAYAH KERJA MINYAK DAN GAS BUMI TAHUN 2006

91.

PERATURAN TAHUN 2007 PEDOMAN BELAJAR

MENTERI

ESDM

NO.20 TUGAS

KEPUTUSAN MENTERI K/22/MEM/2006 TENTANG BAKAR

ESDM

NO.

2875

PELAKSANAAN

HARGA PATOKAN JENIS BAHAN

92.

PERATURAN MENTERI ESDM NO.19 TAHUN 2007 TENTANG PEDOMAN PENGELOLAAN ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA NEGARA DI LINGKUNGAN DEPARTEMEN ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL

KEPUTUSAN MENTERI ESDM NO. 2808 K/20/MEM/2006 TENTANG STANDAR DAN MUTU (SPESIFIKASI) PELUMAS YANG DIPASARKAN DI DALAM NEGERI

93.

PERATURAN MENTERI ESDM NO.18 TAHUN 2007 PELAYANAN JASA BIDANG PENDIDIKAN DAN PELATIHAN DI LINGKUNGAN BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN ENERGI DAN SUMBER DAYA ALAM

KEPUTUSAN MENTERI ESDM NO. 2602 K/23/MEM/2006 TENTANG PENETAPAN WILAYAH KERJA MINYAK GAS BUMI, BENTUK KONTRAK KERJA SAMA DAN KETENTUAN POKOK KERJA SAMA (TERM AND CONDITION) SERTA MEKANISME PENAWARAN WILAYAH KERJA MINYAK DAN GAS BUMI PUTARAN I TAHUN 2006

94.

PERATURAN MENTERI ESDM NO.17 TAHUN 2007 TENTANG PETA JABATAN DAN URAIAN JABATAN FUNGSIONAL UMUM DI LINGKUNGAN DEPARTEMEN ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL

KEPUTUSAN MENTERI ESDM NO. 2308 K/22/MEM/2006 TENTANG HARGA PATOKAN JENIS BAHAN BAKAR MINYAK TERTENTU TAHUN ANGGARAN 2006

237

95.

PERATURAN TAHUN 2007

MENTERI

ESDM

NO.15

KEPUTUSAN MENTERI K/73/MEM/2006

ESDM

NO.

0048

TENTANG PERUBAHAN ATAS KEPUTUSAN MENTERI ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL NOMOR 2052 K/40/MEM/2001 TENTANG STANDARISASI KOMPENTENSI TENAGA TEKNIK KETENAGALISTRIKAN

TENTANG PENANGGUNG JAWAB PENANGANAN KEGIATAN REHABILITASI PEMBANGUNAN NANGGROE ACEH DARUSALAM (NAD), PENANGANAN SOSIALISASI HARGA BAHAN BAKAR MINYAK (BBM) DAN LISTRIK, PENANGANAN PERCEPATAN KEGIATAN ENERGI ALTERNATIF, PENANGANAN MASALAH YANG BERKAITAN DENGAN KEMARITIMAN DAN PENANGGUNG JAWAB PELAKSANAAN PUBLIC RELATION DISEKTOR ESDM

96.

PERATURAN MENTERI ESDM NO.14 TAHUN 2007 PEDOMAN SISTEM INFORMASI KEPEGAWAIAN DEPARTEMEN ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL

KEPUTUSAN MENTERI ESDM NO.2094.K/80/MEM/2005 TENTANG PENETAPAN DAERAH PENGHASIL DAN DASAR PERHITUNGAN BAGIAN DAERAH PENGHASIL MINYAK BUMI DAN GAS SERTA PERTAMBANGAN UMUM UNTUK TAHUN 2006

97.

PERATURAN MENTERI ESDM NO.12 TAHUN 2007 TENTANG PEMBERLAKUAN STANDAR NASIONAL INDONESIA 04-3892.1-2006 MENGENAI MENGENAI TUSUK-KONTAK DAN KOTAK-KOTAK UNTUK KEPERLUAN RUMAH TANGGA DAN SEJENISNYA-BAGIAN 1 : PERSYARATAN UMUM, SEBAGAI STANDAR WAJIB

KEPUTUSAN MENTERI ESDM NO.2059 K/31/MEM/2005 TENTANG PENGESAHAN RENCANA USAHA PENYEDIAAN TENAGA LISTRIK PT PLN (PERSERO) TAHUN 2006-2015

98.

PERATURAN TAHUN 2007

MENTERI

ESDM

NO.11

KEPUTUSAN K/20/MEM/2005

MENTERI

ESDM

NO.2048

238

TENTANG PEMBERLAKUAN STANDAR NASIONAL INDONESIA 04-6292.2-2006 MENGENAI PIRANTI LISTRIK RUMAH TANGGA DAN SEJENISNYAKESELAMATAN-BAGIAN 2-80 : PERSYARATAN KHUSUS KIPAS ANGIN SEBAGAI STANDAR WAJIB

TENTANG WILAYAH USAHA NIAGA BAHAN BAKAR MINYAK TERTENTU

JENIS

99.

PERATURAN MENTERI ESDM NO.10 TAHUN 2007 TENTANG PEMBERLAKUAN STANDAR NASIONAL INDONESIA 04-6203.1-2006 MENGENAI SAKLAR UNTUK INSTALASI LISTRIK TETAP RUMAH TANGGA DAN SEJENISNYA BAGIAN 1 : SEABAGAI STANDAR WAJIB

TENTANG PENUGASAN PT PERTAMINA (PERSERO) DALAM PENYEDIAAN DAN PENDISTRIBUSIAN JENIS BAHAN BAKAR MINYAK TERTENTU DI SELURUH WILAYAH INDONESIA

100.

PERATURAN TAHUN 2007

MENTERI

ESDM

NO.09

KEPUTUSAN K/40/MEM/2005

MENTERI

ESDM

NO.1924

TENTANG PEMBERLAKUAN STANDAR NASIONAL INDONESIA 04-06507-1-2002 DAN STANDAR NASIONAL INDONESIA 04-06507-1-2002/AMD1-2006 MENGENAI MENGENAI PEMUTUS SIRKIT UNTUK PROTEKSI ARUS LEBIH PADA INSTALASI RUMAH TANGGA DAN SEJENISNYABAGIAN-1 : PEMUTUS SIRKIT UNTUK OPERASI ARUS BOLAK-BALIK, SEBAGAI STANDAR WAJIB

TENTANG PENGAKHIRAN PERJANJIAN KERJASAMA PENGUSAHAAN PERTAMBANGAN BATUBARA ANTARA PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA DAN PT NUSAMINERA UTAMA DI DAERAH KABUPATEN KUTAI KARTANEGARA DAN KOTA SAMARINDA, PROVINSI KALIMANTAN TIMUR

239

101.

PERATURAN MENTERI ESDM NO.07 TAHUN 2007 HARGA JUAL GAS BUMI MELALUI PIPA UNTUK KONSUMEN SELAIN RUMAH TANGGA DAN PELANGGAN KECIL PT PERUSAHAAN GAS NEGARA (PERSERO) TBK

KEPUTUSAN MENTERI ESDM NO.1397.K/20/MEM/2005 TENTANG PEDOMAN POLA TETAP PENGEMBANGAN INDUSTRI MINYAK DAN GAS NASIONAL 2005-2020

102.

PERATURAN MENTERI ESDM NO.06 TAHUN 2007 PEDOMAN TEKNIS PENERAPAN KOMPETENSI PROFESI BIDANG PERTAMBANGAN MINERAL DAN BATUBARA

KEPUTUSAN MENTERI ESDM NO.1395 K/30/MEM/2005 TENTANG PENETAPAN DAN PEMBERLAKUAN STANDAR LATIH KOMPTENSI TENAGA TEKNIK KETENAGALISTRIKAN BIDANG INSTALASI PEMANFAATAN TENAGA LISTRIK

103.

PERATURAN MENTERI ESDM NO.05 TAHUN 2007 PEDOMAN PENUGASAN SURVEI PENDAHULUAN PANAS BUMI

KEPUTUSAN MENTERI ESDM NO.1393K/30/MEM/2005 TENTANG PENETAPAN DAN PEMBERLAKUAN STANDAR LATIH KOMPETENSI TENAGA TEKNIK KETENAGALISTRIKAN BIDANG TRANSMISI TENAGA LISTRIK

104.

PERATURAN TAHUN 2007

MENTERI

ESDM

NO.04

KEPUTUSAN K/81/MEM/2005

MENTERI

ESDM

NO.1352

PERUBAHAAN ATAS PERATURAN MENTERI ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL NOMOR 01 TAHUN 2006 TENTANG PROSEDUR PEMBELIAN TENAGA LISTRIK DAN ATAU SEWA MENYEWA JARINGAN DALAM USAHA PENYEDIAAN TENAGA LISTRIK UNTUK KEPENTINGAN UMUM

TENTANG PERUBAHAN KEPUTUSAN MENTERI ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL NOMOR 1135 K/81/MEM/2005 TENTANG PENETAPAN DAERAH PENGHASIL DAN DASAR PENGHITUNGAN BAGIAN DAERAH PENGHASIL MINYAK BUMI DAN GAS BUMI SERTA PERTAMBANGAN UMUM UNTUK TAHUN 2005

105.

PERATURAN MENTERI ESDM NO.03 TAHUN 2007 TENTANG ATURAN JARINGAN SISTEM TENAGA LISTRIK JAWA-MADURA-BALI

KEPUTUSAN MENTERI ESDM NO.1321.K/20/MEM/2005 TENTANG RENCANA INDUK JARINGAN TRANSMISI DAN DISTRIBUSI GAS BUMI NASIONAL

240

106.

PERATURAN MENTERI ESDM NO.02 TAHUN 2007 TENTANG PENETAPAN DAN PEMBERLAKUAN STANDAR LATIH KOMPETENSI TENAGA TEKNIK KETENAGALISTRIKAN BIDANG PEMBANGKIT TENAGA LISTRIK SUB BIDANG PEMELIHARAAN DAN SUB BIDANG INSPEKSI

KEPUTUSAN MENTERI ESDM K/31/MEM/2005 TENTANG RENCANA KETENAGALISTRIKAN NASIONAL

NO.1213 UMUM

107.

PERATURAN TAHUN 2007

MENTERI

ESDM

NO.01

KEPUTUSAN K/20/MEM/2005

MENTERI

ESDM

NO.1208

TENTANG PENETAPAN DAN PEMBERLAKUAN STANDAR LATIH KOMPETENSI TENAGA TEKNIK KETENAGALISTRIKAN BIDANG TRANSMISI TENAGA LISTRIK SUB BIDANG PERENCANAAN, SUB BIDANG KONSTRUKSI, SUB BIDANG OPERASI, SUB BIDANG PEMELIHARAAN, DAN SUB BIDANG INSPEKSI

TENTANG RENCANA JARINGAN TRANSMISI DAN DISTRIBUSI GAS BUMI NASIONAL

241

108.

PERATURAN MENTERI ESDM NO.08 TAHUN 2007 TENTANG PEMBERLAKUAN STANDAR NASIONAL INDONESIA 04-02252000/AMD1-2006 MENGENAI AMANDEMEN 1 PERSYARATAN UMUM INSTALASI LISTRIK 2000 (PUIL 2000, SEBAGAI STANDAR WAJIB

KEPUTUSAN MENTERI ESDM NO.1135 K/81/MEM/2005 TENTANG PENETAPAN DAERAH PENGHASIL DAN DASAR PENGHITUNGAN BAGIAN DAERAH PENGHASIL MINYAK BUMI DAN GAS BUMI SERTA PERTAMBANGAN UMUM UNTUK TAHUN 200

109.

PERATURAN TAHUN 2006

MENTERI

ESDM

NO.052

KEPUTUSAN K/30/MEM/2005

MENTERI

ESDM

NO.1109

TENTANG TATA PERSURATAN DINAS DAN KEARSIPAN DEPARTEMEN ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL

TENTANG PENETAPAN KOMITE NASIONAL KESELAMATAN UNTUK INSTALASI LISTRIK (KONSUIL) SEBAGAI LEMBAGA PEMERIKSA INSTALASI PEMANFAATAN TENAGA LISTRIK KONSUMEN TEGANGAN RENDAH

110.

PERATURAN MENTERI ESDM NO. 206-12 TAHUN 2006 TENTANG PENETAPAN KONDISI KRISIS PENYEDIAAN TENAGA LISTRIKENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL

KEPUTUSAN MENTERI ESDM NO.1614 TAHUN 2004 TENTANG PEDOMAN PEMROSESAN PERMOHONAN KONTRAK KARYA DAN PERJANJIAN KARYA PENGUSAHAAN PERTAMBANGAN BATUBARA DALAM RANGKA PENANAMAN MODAL ASING

242

111.

PERATURAN MENTERI ESDM NO. 053 TAHUN 2006 TENTANG WAJIB DAFTAR PELUMAS YANG DIPASARKAN DI DALAM NEGERI

KEPUTUSAN MENTERI ESDM NO.1610 K/02/MEM/ 2004 TENTANG PENGAMANAN OBYEK VITAL NASIONAL DI SEKTOR ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL

112.

PERATURAN MENTERI ESDM NO. 48212/40/600.2/2006 TENTANG PENETAPAN KONDISI KRISIS PENYEDIAAN TENAGA LISTRIK

KEPUTUSAN MENTERI ESDM NO.1522 K/80/MEM/ 2004 TENTANG PERUBAHAN KEPUTUSAN MENTERI ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL NOMOR 356 K/80/MEM/2004 TENTANG PENETAPAN DAERAH PENGHASIL DAN DASAR PENGHITUNGAN BAGIAN DAERAH PENGHASIL MINYAK BUMI DAN GAS BUMI SERTA PERTAMBANGAN UMUM UNTUK TAHUN 2004

113.

PERATURAN MENTERI ESDM NO. 051 TAHUN 2006 TENTANG PERSYARATAN DAN PEDOMAN IZIN USAHA NIAGA BAHAN BAKAR NABATI (BIOFUEL) SEBAGAI BAHAN BAKAR LAIN

KEPUTUSAN MENTERI ESDM NO.1480 TAHUN 2004 TENTANG TATA CARA PENETAPAN DAN PENAWARAN WILAYAH KERJA MINYAK DAB GAS BUMI

114.

PERATURAN MENTERI ESDM NO. 048 TAHUN 2006 TENTANG PEMANFAATAN JARINGAN TENAGA LISTRIK UNTUK KEPENTINGAN TELEKOMUNIKASI MULTIMEDIA DAN INFORMATIKA

KEPUTUSAN MENTERI ESDM NO.1185 TAHUN 2004 TENTANG PELAYANAN JASA BIDANG PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL

243

115.

PERATURAN MENTERI ESDM NO. 047 TAHUN 2006 TENTANG PEDOMAN PEMBUATAN DAN PEMANFAATAN BRIKET BATUBARA DAN BAHAN BAKAR PADAT BERBASIS BATUBARA

KEPUTUSAN MENTERI ESDM NO.1150 K/30/MEM/ 2004 TENTANG ATURAN JARINGAN TENAGA LISTRIK JAWA-MADURA-BALI

116.

PERATURAN MENTERI ESDM NO. 045 TAHUN 2006 TENTANG PENGELOLAAN LUMPUR BOR, LIMBAH LUMPUR DAN SERBUK BOR PADA KEGIATAN PENGEBORAN MINYAK DAN GAS BUMI

KEPUTUSAN MENTERI ESDM NO.1149 K/34/MEM/ 2004 TENTANG PELAYANAN JASA BIDANG PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERA

117.

PERATURAN MENTERI ESDM NO. 035 TAHUN 2006 TENTANG PENETAPAN DAN PEMBERLAKUAN STANDAR LATIH KOMPETENSI TENAGA TEKNIK KETENAGALISTRIKAN BIDANG PEMBANGKITAN TENAGA LISTRIK SUB BIDANG PERENCANAAN DAN SUB BIDANG KONSTRUKSI

KEPUTUSAN MENTERI ESDM NO.1128 K/40/MEM/ 2004 TENTANG KEBIJAKAN BATUBARA NASIONAL

244

118.

PERATURAN MENTERI ESDM NO. 034 TAHUN 2006 TENTANG PENETAPAN DAN PEMBERLAKUAN STANDAR LATIH TENAGA TEKNIK KETENAGALISTRIKAN BIDANG DISTRIBUSI TENAGA LISTRIK SUB BIDANG PERENCANAAN, SUB BIDANG OPERASI, SUB BIDANGPEMELIHARAAN INSPEKSI

KEPUTUSAN MENTERI ESDM NO.1110 K/40/MEM/ 2004 TENTANG KEBIJAKAN BATUBARA NASIONAL

119.

PERATURAN MENTERI ESDM NO. 031 TAHUN 2006 TENTANG PENETAPAN DAN PEMBERLAKUAN STANDAR KOMPETENSI TENAGA TEKNIK KETENAGALISTRIKAN BIDANG JASA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN TENAGA LISTRIK SUB BIDANG INSTRUKTUR OPERASI PEMBANGKIT DAN SUB BIDANG INSTRUKTUR PEMELIHARAAN PEMBANGKIT

KEPUTUSAN MENTERI ESDM NO.1059 K/70/MEM/ 2004 TENTANG STANDAR LATIH PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PENGANGKATAN PERTAMA BAGI PEGAWAI NEGERI SIPIL YANG AKAN MENDUDUKI JABATAN FUNGSIONAL INSPEKTUR KETENAGALISTRIKAN JENJANG PERTAMA

245

120.

PERATURAN MENTERI ESDM NO. 030 TAHUN 2006 TENTANG PENETAPAN DAN PEMBERLAKUAN STANDAR KOMPETENSI TENAGA TEKNIK KETENAGALISTRIKAN BIDANG PEMBANGKITAN ENERGI BARU DAN TERBARUKAN, PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA MIKRO HIDRO (PLTMH), PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA BIOMASSA (PLTBM), PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA BAYU (PLTB) DAN PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA SURYA (PLTS)

KEPUTUSAN MENTERI ESDM NO.0980 K/40/MEM/ 2004 TENTANG PELIMPAHAN WEWENANG MENTERI ENERGI KEPADA DIREKTUR JENDERAL GEOLOGI DAN SUMBER DAYA MINERAL UNTUK PEMBINAAN DAN PENGAWASAN TERHADAP PELAKSANAAN KONTRAK KERJASAMA PENGUSAHAAN SUMBER DAYA PANAS BUMI YANG ADA SEBELUM BERLAKUNYA UNDANGUNDANG NOMOR 27 TAHUN 2003

121.

PERATURAN MENTERI ESDM NO. 029 TAHUN 2006 TENTANG PENERAPAN DAN PEMBERLAKUAN STANDAR KOMPETENSI TENAGA TEKNIK KETENAGALISTRIKAN BIDANG INSTALASI PEMANFAATAN TENAGA LISTRIK SUB BIDANG PERANCANGAN, SUB BIDANG KONSTRUKSI, SUB BIDANG OPERASI, SUB BIDANG PEMELIHARAAN, SUB BIDANG INSPEKSI

KEPUTUSAN MENTERI ESDM NO.0966 K/40/MEM/ 2004 TENTANG PENGAKHIRAN PERJANJIAN KARYA PENGUSAHAAN PERTAMBANGAN BATUBARA ANTARA PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA DENGAN PT GENERAL SAKTI KREASINDO DI DAERAH KABUPATEN MUSI BANYUASIN, PROVINSI SUMATERA SELATAN

122.

PERATURAN MENTERI ESDM NO. 028 TAHUN 2006 TENTANG PEDOMAN DAN TATA CARA PELAKSANAAN SURVEI UMUM DALAM KEGIATAN USAHA HULU MINYAK DAN GAS BUMI

KEPUTUSAN MENTERI ESDM NO.0954 K/30/MEM/ 2004 TENTANG RENCANA UMUM KETENAGALISTRIKAN

123.

PERATURAN MENTERI ESDM NO. 027 TAHUN 2006 ENTANG PENGELOLAAN DAN PEMANFAATAN DATA YANG DIPEROLEH DARI SURVEI UMUM, EKSPLORASI DAN EKSPLOITASI MINYAK DAN GAS BUMI

KEPUTUSAN MENTERI ESDM NO.0075 K/30/MEM/ 2004 TENTANG PENETAPAN DAN PEMBERLAKUAN STANDAR LATIH KOMPETENSI TENAGA TEKNIK KETENAGALISTRIKAN BIDANG DISTRIBUSI TENAGA LISTRIK SUB BIDANG OPERASI DAN PEMELIHARAAN, SUB BIDANG PERENCANAAN DAN KONSTRUKSI SERTA SUB BIDANG INSPEKSI

246

124.

PERATURAN MENTERI ESDM NO. 026 TAHUN 2006 TENTANG PENYEDIAAN BAHAN BAKAR MINYAK DALAM RANGKA PEMBERDAYAAN INDUSTRI PELAYARAN NASIONAL

KEPUTUSAN MENTERI ESDM NO.006 K/40.00/MEM/2004 TENTANG PERMULAAN TAHAP KEGIATAN STUDI KELAYAKAN PADA BLOK SIMPANG PASIR WILAYAH PERJANJIAN KARYA PENGUSAHAAN PERTAMBANGAN BATUBARA PT INSANI BARAPERKASA

125.

PERATURAN MENTERI ESDM NO. 02 TAHUN 2006 TENTANG PENGUSAHAAN PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA ENERGI TERBARUKAN SKALA MENENGAH

KEPUTUSAN K/40/MEM/2004

MENTERI

ESDM

NO.0057

TENTANG PERUBAHAN KEPUTUSAN MENTERI PERTAMBANGAN DAN ENERGI NOMOR 680.K/29/M.PE/1997 TENTANG PELAKSANAAN KEPUTUSAN PRESIDEN NOMOR 75 TAHUN 1996 TENTANG KETENTUAN POKOK PERJANJIAN KARYA PENGUSAHAAN PERTAMBANGAN BATUBARA

126.

PERATURAN MENTERI ESDM NO. 01 TAHUN 2006 TENTANG PEMBELIAN TENAGA LISTRIK DAN / ATAU SEWA MENYEWA JARINGAN DALAM USAHA PENYEDIAAN TENAGA LISTRIK UNTUK KEPENTINGAN UMUM

KEPUTUSAN MENTERI ESDM NO.005 K/40.00/MEM/2004 TENTANG PERMULAAN TAHAP KEGIATAN PRODUKSI PADA SEBAGIAN WILAYAH PERJANJIAN KERJASAMA PENGUSAHAAN PERTAMBANGAN BATUBARA PT KARTIKA SELABUMI MINING

247

127.

PERATURAN MENTERI ESDM NO. 046 TAHUN 2006 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN MENTERI ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL NO. 0045 TAHUN 2005 TENTANG INSTALASI KETENAGALISTRIKAN

KEPUTUSAN MENTERI ESDM NO.003 K/40.00/MEM/2004 TENTANG PERPANJANGAN II TAHAP KEGIATAN EKSPLORASI PERJANJIAN KARYA PENGUSAHAAN PERTAMBANGAN BATUBARA PT ASMIN BARA JAAN

128.

PERATURAN MENTERI ESDM NO. 037 TAHUN 2006 TENTANG TATA CARA PENGAJUAN RENCANA IMPOR DAN PENYELESAIAN BARANG YANG DIPERGUNAKAN UNTUK OPERASI KEGIATAN USAHA HULU MINYAK DAN GAS BUMI

KEPUTUSAN MENTERI ESDM NO.0002 TAHUN 2004 TENTANG KEBIJAKAN PENGEMBANGAN ENERGI TERBARUKAN DAN KONSERVASI ENERGI (PENGEMBANGAN ENERGI HIJAU)

248

129.

PERATURAN MENTAMBEN NO: 06P/0746/MPE/1991 TENTANG PEMERIKSAAN KESELAMATAN KERJA ATAS INSTALASI, PERALATAN DAN TEKNIK YANG DIPERGUNAKAN DALAM PERTAMBANGAN MINYAK DAN GAS BUMI DAN PENGUSAHAAN SUMBERDAYA PANASBUMI

KEPUTUSAN MENTERI ESDM NO.05 K/30/MEM/2003 TENTANG PEMBERLAKUAN SNI 04-1922-2002 MENGENAI FREKUENSI STANDAR KHUSUS UNTUK FREKUENSI SISTEM ARUS BOLAK-BALIK PHASA TUNGGAL DAN PHASA TIGA 50 HZ SEBAGAI STANDAR WAJIB

130.

PERATURAN MENTAMBEN NO: 02/P/M/PERTAMB/1975 TENTANG KESELAMATAN KERJA PADA PIPA PENYALUR SERTA FASILITASKELENGKAPAN UNTUK PENGANGKUTAN MINYAK DAN GAS BUMI DILUAR WILAYAH KUASA PERTAMBANGAN MINYAK DAN GAS BUMI

KEPMEN NO. 901 K/30/MEM/2003 TENTANG PEMBERLAKUAN STANDAR NASIONAL INDONESIA 04-6292.2.80-2003 MENGENAI PERANTI LISTRIK UNTUK RUMAH TANGGA DAN SEJENISNYA, KESELAMATAN, BAGIAN 2-80 MENGENAI PERSYARATAN KHUSUS UNTUK KIPAS ANGIN SEBAGAI STANDAR WAJIB

131.

KEPMEN NO. 865 K/30/MEM/2003 TENTANG PEDOMAN PENYUSUNAN RENCANA UMUM KETENAGALISTRIKAN

249

132.

KEPMEN NO. 815 K/30/MEM/2003 TENTANG PEMANFAATAN JARINGAN TENAGA LISRIK UNTUK KEPENTINGAN TELEKOMUNIKASI, MULTIMEDIA, DAN INFORMATIKA

133.

KEPMEN NO. 813 K/30/MEM/2003 TENTANG PEDOMAN DAN POLA TETAP PENGEMBANGAN INDUSTRI KETENAGALISTRIKAN NASIONAL 2003-2020

134.

KEPMEN NO. 812 K/81/MEM/2003 TENTANG PELIMPAHAN WEWENANG MENTERI ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL KEPADA DIREKTUR JENDERAL GEOLOGI DAN SUMBER DAYA MINERAL UNTUK PEMROSESAN DAN PELAKSANAAN KP, KK DAN PKP2B

135.

KEPMEN NO. 716 K/40/MEM/2003 TENTANG BATAS HORISONTAL CEKUNGAN AIR BAWAH TANAH DI PULAU JAWA DAN PULAU MADURA

136.

KEPMEN NO. 55 K/30/MEM/2003 TENTANG JARINGAN TRANSMISI NASIONAL

137.

KEPMEN NO. 517 K/81/MEM/2003 TENTANG PENETAPAN DAERAH PENGHASIL DAN DASAR PENGHITUNGAN BAGIAN DAERAH PENGHASIL MINYAK BUMI DAN GAS BUMI SERTA PERTAMBANGAN UMUM UNTUK TAHUN 2003

250

138.

KEPMEN NO. 437 K/30/MEM/2003 TENTANG PERUBAHAN PERATURAN MENTERI PERTAMBANGAN DAN ENERGI NOMOR 01.P/40/MPE/1990 TENTANG INSTALASI KETENAGALISTRIKAN

139.

KEPMEN NO. 31 K/20/MEM/2003 SKB ANTARA MESDM DAN MENTERI KEUANGAN TENTANG PEDOMAN PENETAPAN HARGA JUAL ECERAN BBM DALAM NEGERI OLEH PERTAMINA

140.

EPMEN NO. 246 K/30/MEM/2003 TENTANG PEMBERLAKUAN STANDAR NASIONAL INDONESIA 04-6507.1-2002 MENGENAI PEMUTUSAN SIRKIT UNTUK PROTEKSI ARUS LEBIH PADA INSTALASI RUMAH TANGGA DAN SEJENISNYA, BAGIAN 1 MENGENAI PEMUTUS SIRKIT UNTUK OPERASI ARUS BOLAK-BALIK SEBAGAI STANDAR WAJIB

141.

KEPMEN NO. 207 K/30/MEM/2003 TENTANG PEMBERLAKUAN STANDAR NASIONAL INDONESIA 19-6659-2002 MENGENAI TANDA KESELAMATAN PEMANFAATAN LISTRIK SEBAGAI STANDAR WAJIB

142.

KEPMEN NO. 1616 K/36/MEM/2003 TENTANG KETENTUAN PELAKSANAAN HARGA JUAL TENAGA LISTRIK TAHUN 2004 YANG DISEDIAKAN OLEH PERUSAHAAN PERSEROAN (PERSERO) PT PERUSAHAAN LISTRIK NEGARA

143.

KEPMEN NO. 1603 K/40/MEM/2003 TENTANG PEDOMAN PENCADANGAN WILAYAH PERTAMBANGAN

251

144.

KEPMEN NO. 1601 K/29/MEM/2003 TENTANG PENGELOLAAN GRAHA WIDYA PATRA TAMAN MINI INDONESIA INDAH

145.

KEPMEN NO. 1313 K/30/MEM/2003 TENTANG PENETAPAN DAN PEMBERLAKUAN STANDAR KOMPETENSI TENAGA TEKNIK KETENAGALISTRIKAN BIDANG INSTALASI PEMANFAATAN TENAGA LISTRIK SUB BIDANG PERENCANAAN, SUB BIDANG KONSTRUKSI, SUB BIDANG INSPEKSI, SUB BIDANG OPERASI DAN SUB BIDANG PEMELIHARAAN

146.

KEPMEN NO. 111 K/70/MEM/2003 TENTANG PEMBERLAKUAN STANDAR NASIONAL INDONESIA KOMPETISI KERJA TENAGA TEKNIK KHUSUS MINYAK DAN GAS BUMI SEBAGAI STANDAR WAJIB DI BIDANG KEGIATAN USAHA MINYAK DAN GAS BUMI

147.

KEPMEN NO. 1095 K/30/MEM/2003 TENTANG PENETAPAN DAN PEMBERLAKUAN STANDAR LATIH KOMPETENSI TENAGA TEKNIK KETENAGALISTRIKAN

148.

KEPMEN NO. 1094 K/30/MEM/2003 TENTANG STANDAR LATIH KOMPETENSI TENAGA TEKNIK KETENAGALISTRIKAN

149.

KEPMEN NO. 1088 K/20/MEM/2003 TENTANG PEDOMAN PELAKSANAAN PEMBINAAN, PENGAWASAN PENGATURAN DAN PENGENDALIAN KEGIATAN USAHA HULU MINYAK DAN GAS BUMI DAN KEGIATAN USAHA HILIR MINYAK DAN GAS BUMI

252

150.

KEPMEN NO. 1086 K/40/MEM/2003 TENTANG STANDAR KOMPETENSI TENAGA TEKNIK KHUSUS BIDANG GEOLOGI DAN PERTAMBANGAN

151.

KEPMEN NO. 1018 K/40/MEM/2003 TENTANG PENETAPAN DAN PEMBERLAKUAN STANDAR KOMPETENSI TENAGA TEKNIK KETENAGALISTRIKAN BIDANG TRANSMISI TENAGA LISTRIK SUB BIDANG PERENCANAAN, SUB BIDANG KONSTRUKSI, SUB BIDANG INSPEKSI, SUB BIDANG OPERASI DAN SUB BIDANG PEMELIHARAAN

152.

KEPMEN NO. 05 K/30/MEM/2003 TENTANG PEMBERLAKUAN STANDAR NASIONAL INDONESIA0-4-1922-2002 MENGENAI FREKUENSI STANDAR KHUSUS UNTUK FREKUENSI SISTEM ARUS BOLAK-BALIK FASE TUNGGAL DAN FASE TIGA 50 HERTS SEBAGAI STANDAR WAJIB

153.

KEPUTUSAN MENTERI ESDM NO.55 K/30/MEM/2003 TENTANG JARINGAN TRANSMISI NASIONAL (JTN) KEPUTUSAN MENTERI ESDM NO.1751 K/30/MEM/2002 TENTANG PEMBERLAKUAN SNI 04-6203.1-2001 MENGENAI SAKLAR UNTUK INSTALASI TETAP RUMAH TANGGA DAN SEJENISNYA – BAGIAN 1 : MENGENAI PERSYARATAN UMUM SEBAGAI STANDAR WAJIB

154.

253

155.

KEPUTUSAN MENTERI ESDM NO.1750 K/30/MEM/2002 TENTANG PEMBERLAKUAN SNI 04-6292.1-2001 MENGENAI KESELAMATAN PEMANFAAT LISTRIK UNTUK KEPERLUAN RUMAH TANGGA DAN SEJENISNYA – BAGIAN 1 : MENGENAI PERSYARATAN UMUM SEBAGAI STANDAR WAJIB

156.

KEPUTUSAN MENTERI ESDM K/34MEM/2002 TENTANG PELAKSANAAN KETENAGALISTRIKAN

NO.

1752

INSPEKSI

157.

KEPUTUSAN MENTERI ESDM NO. 1741 K/30/MEM/2002 TENTANG PEMBERLAKUAN SNI 04-3892.1-2001 MENGENAI TUSUK KONTAK DAN KOTAK KONTAK UNTUK KEPERLUAN RUMAH TANGGA DAN SEJENISNYA-BAGIAN 1 : MENGENAI PERSYARATAN UMUM SEBAGAI STANDAR WAJIB

158.

KEPUTUSAN MENTERI ESDM NO. 1187 K/30/MEM/2002 TENTANG PENETAPAN DAN PEMBERLAKUAN STANDAR KOMPETENSI TENAGA KETENAGALISTRIKAN BIDANG DISTRIBUSI TENAGA LISTRIK SUB BIDANG OPERASI DAN SUB BIDANG PEMELIHARAAN

159.

KEPUTUSAN MENTERI ESDM NO. 1122 K/30/MEM/2002 TENTANG PEDOMAN PENGUSAHAAN PEMBANGKIT TENAGA LISTRIK SKALA KECIL TERSEBAR

160.

KEPUTUSAN MENTERI ESDM NO.2052 TAHUN 2001 TENTANG STANDARISASI KOMPENTENSI TENAGA TEKNIK KETENAGALISTRIKAN

161.

KEPMEN NO. 2052 K/40/MEM/2001 TENTANG STANDARISASI KOMPETENSI TENAGA TEKNIS KETENAGALISTRIKAN

254

162.

KEPUTUSAN MENTERI ESDM NO. 2046 K/30/MEM/2001 TENTANG PEMBERLAKUAN SNI BIDANG REKAYASA ELEKTRONIKA SNI-040225-2000 MENGENAI PERSYARATAN UMUM INSTALASI LISTRIK 2000 (PUIL 2000) SEBAGAI STANDAR WAJIB

163.

KEPUTUSAN MENTERI ESDM NO. 027.K/30/M.PE/1998 TENTANG PEDOMAN PELAKSANAAN PEMBANGUNAN DAN PENGUSAHAAN KILANG MINYAK DAN GAS BUMI OLEH BADAN USAHA SWASTA

164.

KEPUTUSAN MENTAMBEN NO: 19 K/34/M.PE/1998 TENTANG WAJIB DAFTAR PELUMAS YANG BEREDAR DI DALAM NEGERI

165.

KEPUTUSAN MENTAMBEN NO: 1784 K/34/M.PE/1999 TENTANG WAJIB DAFTAR PELUMAS YANG BEREDAR DI DALAM NEGERI

166.

KEPUTUSAN MENTERI ESDM NO.1455 K/40/MEM/2000 TENTANG PEDOMAN TEKNIS PENYELENGGARAAN TUGAS PEMERINTAHAN DI BIDANG USAHA PENYEDIAAN TENAGA LISTRIK UNTUK KEPENTINGAN SENDIRI, USAHA PENYEDIAAN TENAGA LISTRIK UNTUK KEPENTINGAN UMUM DAN USAHA PENUNJANG TENAGA LISTRIK

167.

KEPUTUSAN MENTERI ESDM NO.1454 K/30/MEM/2000 TENTANG PEDOMAN TEKNIS PENYELENGGARAAN TUGAS PEMERINTAHAN DI BIDANG MINYAK DAN GAS BUMI

168.

KEPUTUSAN MENTERI ESDM NO.1453 K/29/MEM/2000 TENTANG PEDOMAN TEKNIS PENYELENGGARAAN TUGAS PEMERINTAHAN DI BIDANG PERTAMBANGAN UMUM

255

169.

KEPUTUSAN MENTERI ESDM NO.1452 K/10/MEM/2000 TENTANG PEDOMAN TEKNIS PENYELENGGARAAN TUGAS PEMERINTAHAN DI BIDANG INVENTARISASI SUMBER DAYA MINERAL DAN ENERGI, PENYUSUNAN PETA GEOLOGI, DAN PEMETAAN ZONA KERENTANAN GERAKAN TANAH

170.

KEPUTUSAN MENTERI ESDM NO.1451 K/10/MEM/2000 TENTANG PEDOMAN TEKNIS PENYELENGGARAAN TUGAS PEMERINTAHAN DI BIDANG PENGELOLAAN AIR BAWAH TANAH

171.

KEPUTUSAN MENTAMBEN NO: 135.K/201/M.PE/1996 TENTANG PEMBUKTIAN KESANGGUPAN DAN KEMAMPUAN PEMOHON KUASA PERTAMBANGAN, KONTRAK KARYA, DAN KONTRAK KARYA BATUBARA

172.

KEPUTUSAN MENTAMBEN NO: 134.K/201/M/PE/1996 PENGGUNAAN PETA, PENJELASAN BATAS DAN LUAS WILAYAH KUASA PERTAMBANGAN,KONTRAK KARYA, DAN KONTRAK KARYA BATUBARA DI BIDANG PERTAMBANGAN UMUM

173.

KEPUTUSAN MENTAMBEN NO 300K/38/MPE/1997 TENTANG KESELAMATAN KERJA PENYALUR MINYAK DAN GAS BUMI

: PIPA

174.

KEPUTUSAN MENTAMBEN NO : 2599.K/40/M.PE/1997 TENTANG USAHA PENUNJANG TENAGA LISTRIK BIDANG KONSULTASI, BIDANG PEMBANGUNA DAN PEMASANGAN, DAN BIDANG PEMELIHARAAN PERALATAN KETENAGALISTRIKKAN.

256

175.

KEPUTUSAN MENTAMBEN NO: 1211.K/008/M.PE/1995 TENTANG PENCEGAHAN DAN PENAGGULANGAN PERUSAKAN DAN PENCEMARAN LINGKUNGAN PADA KEGIATAN PERTAMBANGAN UMUM

176.

KEPUTUSAN MENTAMBEN 2200.K/20/M.PE/1994 TENTANG PENGUSAHAAN PENGEMBANGAN BRIKET BATUBARA

NO: DAN

177.

KEPUTUSAN MENTAMBEN NO: 104.K/844/M.PE/1994 TENTANG PERUBAHAN LAMPIRAN 1 KEPUTUSAN MENTERI PERTAMBANGAN DAN ENERGI NOMOR 1166.K/844/M.PE/1992 TENTANG PENETAPAN TARIF IURAN EKSPLORASI ATAU EKSPLOITASI

178.

KEPUTUSAN MENTAMBEN NO: 103. K/008/M.PE/1994 PENGAWASAN ATAS PELAKSANAAN RENCANA PENGELOLAAN LINGKUNGAN DAN RENCANA PEMANTAUAN LINGKUNGAN DALAM BIDANG PERTAMBANGAN DAN ENERGI

179.

KEPUTUSAN MENTAMBEN NO: 1166.K/844/M.PE/1992 PENETAPAN TARIF IURAN EKSPLORASI ATAU IURAN EKSPLOITASI UNTUK USAHA PERTAMBANGAN UMUM

180.

EPUTUSAN MENTAMBEN NO: 1165.K/844/M.PE/1992 PENETAPAN TARIF IURAN TETAP UNTUK USAHA PERTAMBANGAN UMUM DALAM RANGKA KUASA PERTAMBANGAN MENTERI PERTAMBANGAN DAN ENERGI

Tabel 6.26. Pembagian Urusan Pemerintahan Bidang kelautan dan Perikanan
NO KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN KEPMEN PERMEN

257

1

2

3

NOMOR: KEP. 41 TAHUN 2000 TENTANG PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN PULAUPULAU KECIL YANG BERKELANJUTAN DAN BERBASIS MASYARAKAT NOMOR: KEP. 01/MEN/2002 TENTANG SISTEM MANAJEMEN MUTU TERPADU HASIL PERIKANAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN NOMOR: KEP. 02/MEN/2002 TENTANG PEDOMAN PELAKSANAAN PENGAWASAN PENANGKAPAN IKAN NOMOR: KEP. 03/MEN/2002 TENTANG LOG BOOK PENANGKAPAN DAN PENGANGKUTAN IKAN NOMOR: KEP. 04/MEN/2002 TENTANG PAKAIAN SERAGAM KERJA, TANDA PENGENAL, DAN ATRIBUT BAGI PENGAWAS PERIKANAN

NOMOR: PER. 03/MEN/2005 TENTANG TINDAKAN KARANTINA IKAN OLEH PIHAK KETIGA NOMOR: PER. 07/MEN/2005 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA DEPARTEMEN KELAUTAN DAN PERIKANAN NOMOR: PER. 06/MEN/2005 TENTANG PENGGANTIAN BENTUK DAN FORMAT PERIZINAN USAHA PENANGKAPAN IKAN NOMOR: PER. 13/MEN/2005 TENTANG FORUM KOORDINASI PENANGANAN TINDAK PIDANA DI BIDANG PERIKANAN NOMOR: PER. 15/MEN/2005 TENTANG PENANGKAPAN IKAN DAN/ATAU PEMBUDIDAYAAN IKAN DI WILAYAH PENGELOLAAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA YANG BUKAN UNTUK TUJUAN KOMERSIAL NOMOR: PER. 02/MEN/2006 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA PELABUHAN PERIKANAN

4

5

6

7

8

NOMOR: KEP. 06/MEN/2002 TENTANG PERSYARATAN DAN TATA CARA PEMERIKSAAN MUTU HASIL PERIKANAN YANG MASUK KE WILAYAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR: KEP. 08/MEN/2002 TENTANG PEMBANGUNAN DAN PENGEMBANGAN SISTEM INFORMASI MANAJEMEN DEPARTEMEN KELAUTAN DAN PERIKANAN NOMOR: KEP. 09/MEN/2002 TENTANG INTENSIFIKASI PEMBUDIDAYA IKAN

NOMOR: PER. 10/MEN/2006 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA BALAI BUDIDAYA LAUT NOMOR: PER. 13/MEN/2006 TENTANG PERUBAHAN PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN NOMOR PER. 07/MEN/2005 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA DEPARTEMEN KELAUTAN DAN PERIKANAN NOMOR: PER. 16/MEN/2006 TENTANG PELABUHAN PERIKANAN NOMOR: PER. 17/MEN/2006 TENTANG USAHA PERIKANAN TANGKAP NOMOR: PER. 18/MEN/2006 TENTANG SKALA USAHA PENGOLAHAN HASIL PERIKANAN

9

10

NOMOR: KEP. 10/MEN/2002 TENTANG PEDOMAN UMUM PERENCANAAN PENGELOLAAN PESISIR TERPADU NOMOR: KEP. 12/MEN/2002 TENTANG PENDAFTARAN ULANG PERIZINAN USAHA PENANGKAPAN IKAN TAHAP KEDUA NOMOR: KEP. 13/MEN/2002 TENTANG IZIN BELAJAR ATAS BIAYA SENDIRI BAGI PEGAWAI NEGERI SIPIL DI LINGKUNGAN DEPARTEMEN KELAUTAN DAN PERIKANAN NOMOR: KEP. 15/MEN/2002 TENTANG VARIETAS UDANG ROSTRIS SEBAGAI VARIETAS UNGGUL NOMOR: KEP. 17/MEN/2002 TENTANG PENYELENGGARAAN RAPAT KOORDINASI NASIONAL DAN RAPAT KERJA TEKNIS DEPARTEMEN KELAUTAN DAN PERIKANAN TAHUN 2002 NOMOR: KEP. 18/MEN/2002 TENTANG RENCANA STRATEGIS PEMBANGUNAN KELAUTAN DAN PERIKANAN TAHUN 20012004 NOMOR: KEP. 21/MEN/2002 TENTANG PEDOMAN PENYELENGGARAN PENDIDIKAN SEKOLAH USAHA PERIKANAN MENENGAH NOMOR: KEP. 22/MEN/2002 TENTANG PENYUSUNAN RENCANA DAN PROGRAM PEMBANGUNAN DI LINGKUNGAN DEPARTEMEN KELAUTAN DAN PERIKANAN

11

12

13

NOMOR: PER. 21/MEN/2006 TENTANG TINDAKAN KARANTINA IKAN DALAM HAL TRANSIT NOMOR: PER. 01/MEN/2007 TENTANG PENGENDALIAN SISTEM JAMINAN MUTU DAN KEAMANAN HASIL PERIKANAN

14

15

NOMOR: PER. 02/MEN/2007 TENTANG MONITORING RESIDU OBAT, BAHAN KIMIA, BAHAN BIOLOGI, DAN KONTAMINAN PADA PEMBUDIDAYAAN IKAN NOMOR: PER. 03/MEN/2007 TENTANG SURAT LAIK OPERASI KAPAL PERIKANAN NOMOR: PER. 04/MEN/2007 TENTANG PELAPORAN HARTA KEKAYAAN PENYELENGGARA NEGARA DI LINGKUNGAN DEPARTEMEN KELAUTAN

16

258

DAN PERIKANAN

17

18

NOMOR: KEP. 23/MEN/2002 TENTANG PEDOMAN MONITORING, EVALUASI, PENGENDALIAN DAN PELAPORAN PROGRAM/PROYEK PEMBANGUNAN DI LINGKUNGAN DEPARTEMEN KELAUTAN DAN PERIKANAN NOMOR: KEP. 24/MEN/2002 TENTANG TATA CARA DAN TEKNIK PENYUSUNAN PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN DI LINGKUNGAN DEPARTEMEN KELAUTAN DAN PERIKANAN NOMOR: KEP. 26/MEN/2002 TENTANG PENYEDIAAN, PEREDARAN, PENGGUNAAN, DAN PENGAWASAN OBAT IKAN

NOMOR: PER. 06/MEN/2007 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA PELABUHAN PERIKANAN

19

20

NOMOR: KEP. 27/MEN/2002 TENTANG PEMBENTUKAN KOMISI OBAT IKAN

21

NOMOR: KEP. 28/MEN/2002 TENTANG LARANGAN PEMASUKAN DAN PENGELUARAN SERTA PENETAPAN PULAU JAWA SEBAGAI DAERAH WABAH HAMA DAN PENYAKIT VIRUS PADA IKAN MAS DAN KOI NOMOR: KEP. 29/MEN/2002 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA UNIT PELAKSANA TEKNIS KARANTINA IKAN NOMOR: KEP. 30/MEN/2002 TENTANG PEDOMAN UMUM KERJA SAMA LUAR NEGERI DI LINGKUNGAN DEPARTEMEN KELAUTAN DAN PERIKANAN NOMOR: KEP. 32/MEN/2002 TENTANG NASKAH DINAS DI LINGKUNGAN DEPARTEMEN KELAUTAN DAN PERIKANAN NOMOR: KEP. 33/MEN/2002 TENTANG ZONASI WILAYAH PESISIR DAN LAUT UNTUK KEGIATAN PENGUSAHAAN PASIR LAUT NOMOR: KEP. 34/MEN/2002 TENTANG PEDOMAN UMUM PENATAAN RUANG PESISIR DAN PULAU-PULAU KECIL

22

23

NOMOR: PER. 07/MEN/2007 TENTANG PERUBAHAN KEDUA ATAS PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN NOMOR: PER. 07/MEN/2005 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA DEPARTEMEN KELAUTAN DAN PERIKANAN NOMOR: PER. 08/MEN/2007 TENTANG PERUBAHAN KETIGA PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN NOMOR: 07/MEN/2005 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA DEPARTEMEN KELAUTAN DAN PERIKANAN NOMOR: PER. 09/MEN/2007 TENTANG KETENTUAN PEMASUKAN MEDIA PEMBAWA BERUPA IKAN HIDUP SEBAGAI BARANG BAWAAN KE DALAM WILAYAH NEGARA REPUBLIK INDONESIA NOMOR: PER. 10/MEN/2007 TENTANG PEMBERIAN UANG INSENTIF KEPADA APARAT PENEGAK HUKUM DAN PIHAKPIHAK YANG BERJASA DALAM PENYELESAIAN TINDAK PIDANA PERIKANAN NOMOR: PER. 11/MEN/2007 TENTANG PENGADAAN DAN PENYALURAN BENIH IKAN YANG DIBERIKAN BANTUAN SELISIH HARGA NOMOR: PER. 12/MEN/2007 TENTANG PERIZINAN USAHA PEMBUDIDAYAAN IKAN

24

25

NOMOR: PER. 13/MEN/2007 TENTANG SISTEM PEMANTAUAN HAMA DAN PENYAKIT IKAN KARANTINA NOMOR: PER. 15/MEN/2007 TENTANG PERSYARATAN DAN TATA CARA PENERBITAN IZIN USAHA OBAT IKAN NOMOR: PER. 16/MEN/2007 TENTANG PELAKSANAAN PERJALANAN DINAS JABATAN DALAM NEGERI BAGI PEJABAT NEGARA, PEGAWAI NEGERI, DAN PEGAWAI TIDAK TETAP DI LINGKUNGAN DEPARTEMEN KELAUTAN DAN PERIKANAN NOMOR: PER. 17/MEN/2007 TENTANG PENCABUTAN PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN NOMOR: PER. 11/MEN/2007 TENTANG PENGADAAN DAN PENYALURAN BENIH IKAN YANG DIBERIKAN BANTUAN SELISIH HARGA

26

27

NOMOR: KEP. 36/MEN/2002 TENTANG PERUBAHAN SEBUTAN MENTERI PERTANIAN DAN MENTERI EKSPLORASI LAUT DAN PERIKANAN MENJADI MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN DAN SEBUTAN DEPARTEMEN PERTANIAN DAN DEPARTEMEN EKSPLORASI LAUT DAN PERIKANAN MENJADI DEPARTEMEN KELAUTAN DAN PERIKANAN PADA PERATURAN PERUNANG-UNDANGAN BIDANG PERIKANAN YANG DITETAPKAN OLEH MENTERI PERTANIAN DAN MENTERI EKSPLORASI LAUT DAN PERIKANAN

259

28

NOMOR: KEP. 38/MEN/2002 TENTANG PEMBENTUKAN TIM PENGHIBAHAN KAPAL PERIKANAN KEPADA NELAYAN NOMOR: KEP. 40/MEN/2002 TENTANG PENETAPAN PULAU JAWA DAN PULAU BALI SEBAGAI DAERAH TERJANGKIT PENYAKIT KOI DAN HERVES VIRUS PADA IKAN MAS DAN KOI NOMOR: KEP. 41/MEN/2002 TENTANG PENYELENGGARAAN LOMBA KELOMPOK PEMBUDIDAYA IKAN DAN NELAYAN, KINERJA PENGKALAN PENDARATAN IKAN/PELABUHAN PERIKANAN, BALAI BENIH IKAN SENTRAL/BALAI BENIH UDANG, DAN PEREKAYASA PADA UPT. LINGKUP DEPARTEMEN KELAUTAN DAN PERIKANAN NOMOR: KEP. 43/MEN/2002 TENTANG PERUBAHAN KEPUTUSAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN NOMOR: 06/MEN/2002 TENTANG PERSYARATAN DAN TATA CARA PEMERIKSAAN MUTU HASIL PERIKANAN YANG MASUK KE WILAYAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR: KEP. 44/MEN/2002 TENTANG PEDOMAN UMUM PENYELENGGARAAN PENYULUHAN PERIKANAN

29

NOMOR: PER. 18/MEN/2007 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA BALAI PENGELOLAAN SUMBER DAYA PESISIR DAN LAUT NOMOR: PER. 19/MEN/2007 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA BALAI KAWASAN KONSERVASI PERAIRAN NASIONAL NOMOR: PER. 20/MEN/2007 TENTANG TINDAKAN KARANTINA UNTUK PEMASUKAN MEDIA PEMBAWA HAMA DAN PENYAKIT IKAN KARANTINA DARI LUAR NEGERI DAN DARI SUATU AREA KE AREA LAIN DI DALAM WILAYAH NEGARA REPUBLIK INDONESIA NOMOR: PER. 02/MEN/2008 PEDOMAN PELAKSANAAN KREDIT KETAHANAN PANGAN DI BIDANG KELAUTAN DAN PERIKANAN

30

31

32

33

34

NOMOR: KEP. 45/MEN/2002 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA PELAUHAN PERIKANAN NUSANTARA TUAL NOMOR: KEP. 46/MEN/2002 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA PELABUHAN PERIKANAN PANTAI NOMOR: KEP. 47/MEN/2002 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA LOKA BUDIDAYA LAUT NOMOR: KEP. 48/MEN/2002 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA LOKA BUDIDAYA AIR TAWAR NOMOR: KEP. 49/MEN/2002 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA LOKA BUDIDAYA AIR PAYAU NOMOR: KEP. 50/MEN/2002 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA BALAI RISET PERIKANAN LAUT

NOMOR: PER. 03/MEN/2008 TENTANG PENGANGKATAN, PEMINDAHAN, DAN PEMBERHENTIAN PIMPINAN DAN PENDIDIK PADA LEMBAGA PENDIDIKAN DI LINGKUNGAN DEPARTEMEN KELAUTAN DAN PERIKANAN NOMOR: PER. 05/MEN/2008 TENTANG USAHA PERIKANAN TANGKAP NOMOR: PER. 06/MEN/2008 TENTANG PENGGUNAAN ALAT PENANGKAPAN IKAN PUKAT HELA DI PERAIRAN KALIMANTAN TIMUR BAGIAN UTARA NOMOR: PER. 07/MEN/2008 TENTANG BANTAN SOSIAL PEMBERDAYAAN MASYARAKAT PESISIR DAN PEMBUDIDAYA IKAN NOMOR: PER. 08/MEN/2008 TENTANG PENGGUNAAN ALAT PENANGKAPAN IKAN JARING INSANG (GILL NET) DI ZONA EKONOMI EKSKLUSIF INDONESIA NOMOR: PER. 09/MEN/2008 TENTANG PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN DI LINGKUNGAN DEPARTEMEN KELAUTAN DAN PERIKANAN NOMOR: PER. 10/MEN/2008 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN NOMOR: PER. 04/MEN/2007 TENTANG PELAPORAN HARTA KEKAYAAN PENYELENGGARA NEGARA DI LINGKUNGAN DEPARTEMEN KELAUTAN PERIKANAN NOMOR: PER. 12/MEN/2008 TENTANG BANTUAN LANGSUNG MASYARAKAT BIDANG KELAUTAN DAN PERIKANAN NOMOR: PER. 16/MEN/2008 TENTANG PERENCAAN PENGELOLAAN WILAYAH PESISIR DAN PULAU-PULAU KECIL NOMOR: PER. 17/MEN/2008 TENTANG KAWASAN KONSERVASI DI WILAYAH PESISIR DAN PULAU-PULAU KECIL

35

36

37

38

39

NOMOR: KEP. 51/MEN/2002 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA BUDIDAYA AIR PAYAU NOMOR: KEP. 52/MEN/2002 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA BALAI RISET PERIKANAN BUDIDAYA AIR TAWAR NOMOR: KEP. 53/MEN/2002 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA BALAI RISET PERIKANAN PERAIRAN UMUM

40

41

260

42

NOMOR: KEP. 54/MEN/2002 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA AKADEMI PERIKANAN BITUNG NOMOR: KEP. 55/MEN/2002 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA AKADEMI PERIKANAN SIDOARJO

43

44

45

46

47

48

49

50

51

NOMOR: KEP. 56/MEN/2002 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA AKADEMI PERIKANAN SORONG NOMOR: KEP. 57/MEN/2002 TENTANG PENETAPAN PEMENANG LOMBA BIDANG PERIKANAN BUDIDAYA DAN TANGKAP TINGKAT NASIONAL TAHUN 2002 NOMOR: KEP. 69/MEN/2002 TENTANG PEDOMAN PENILAIAN DAN PEMBERIAN PENGHARGAAN ADI BHAKTI MINA BAHARI BAGI UNIT KERJA PELAYANAN YANG BERPRESTASI DI BIDANG KELAUTAN DAN PERIKANAN NOMOR: KEP. 18/MEN/2003 TENTANG TINDAKAN KARANTINA UNTUK PEMASUKAN MEDIA PEMBAWA HAMA DAN PENYAKIT IKAN KARANTINA DARI LUAR NEGERI DAN DARI SUATU AREA KE AREA LAIN DI DALAM WILAYAH NEGARA REPUBLIK INDONESIA NOMOR: KEP. 39/MEN/2003 TENTANG PAKAIAN SERAGAM KERJA PEGAWAI DI LINGKUNGAN DEPARTEMEN KELAUTAN DAN PERIKANAN NOMOR: KEP. 42/MEN/2003 TENTANG PERSYARATAN PEMASUKAN MEDIA PEMBAWA BERUPA IKAN HIDUP NOMOR: KEP. 33/MEN/2004 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA BALAI UJI STANDAR KARANTINA IKAN NOMOR: KEP. 10/MEN/2004 TENTANG PELABUHAN PERIKANAN

NOMOR: PER. 18/MEN/2008 TENTANG AKREDITASI TERHADAP PROGRAM PENGELOLAAN WILAYAH PESISIR DAN PULAU-PULAU KECIL NOMOR: PER. 19/MEN/2008 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN NOMOR PER. 06/MEN/2007 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA PELABUHAN PERIKANAN NOMOR: PER. 02/MEN/2009 TENTANG TATA CARA PENETAPAN KAWASAN KONSERVASI PERAIRAN NOMOR: PER. 10/MEN/2009 TENTANG PELAKSANAAN PERJALANAN DINAS KE LUAR NEGERI DI LINGKUNGAN DEPARTEMEN KELAUTAN DAN PERIKANAN NOMOR: PER. 14/MEN/2009 TENTANG MITRA BAHARI

NOMOR: PER. 18/MEN/2009 TENTANG LARANGAN PENGELUARAN BENIH SIDAT (ANGUILLA SPP) DARI WILAYAH NEGARA REPUBLIK INDONESIA KE LUAR WILAYAH NEGARA REPUBLIK INDONESIA NOMOR: PER. 22/MEN/2009 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA LOKA RISET KERENTANAN PESISIR DAN LAUT NOMOR: PER. 27/MEN/2009 TENTANG PENDAFTARAN DAN PENDANAAN KAPAL PERIKANAN NOMOR: PER. 28/MEN/2009 TENTANG SERTIFIKASI HASIL TANGKAPAN IKAN NOMOR: PER. 29/MEN/2009 TENTANG PETUNJUK TEKNIS PENGGUNAAN DANA ALOKASI KHUSUS BIDANG KELAUTAN DAN PERIKANAN TAHUN 2010 NOMOR: PER. 03/MEN/2010 TENTANG TATA CARA PENETAPAN STATUS PERLINDUNGAN JENIS IKAN NOMOR: PER. MINAPOLITAN 12/MEN/2010 TENTANG

52

53

54

55

56

57

NOMOR: KEP. 14/MEN/2004 TENTANG PEDOMAN PENYUSUNAN PERJANJIAN DI LINGKUNGAN DEPARTEMEN KELAUTAN DAN PERIKANAN NOMOR: KEP. 18/MEN/2004 TENTANG PEDOMAN UMUM PELAKSANAAN PROGRAM PEMBERDAYAAN EKONOMI MASYARAKAT PESISIR NOMOR: KEP. 25/MEN/2004 TENTANG PEDOMAN PENGAWASAN FUNGSIONAL LINGKUP DEPARTEMEN KELAUTAN DAN PERIKANAN NOMOR: KEP. 32/MEN/2004 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA UNIT PELAKSANA TEKNIS KARANTINA IKAN NOMOR: KEP. 38/MEN/2004 TENTANG PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN TERUMBU KARANG NOMOR: KEP. 55/MEN/2004 TENTANG PENETAPAN WILAYAH SUMATERA SEBAGAI KAWASAN KARANTINA TERHADAP IKAN MAS DAN KOI

261

58

59

60

61

62

63 64

NOMOR: KEP. 56/MEN/2004 TENTANG PEDOMAN STANDAR PENGHITUNGAN BEBAN KERJA UNIT ORGANISASI DI LINGKUNGAN DEPARTEMEN KELAUTAN DAN PERIKANAN NOMOR: KEP. 15/MEN/2006 TENTANG PEDOMAN UMUM IDENTIFIKASI DATA TATA RUANG LAUT, PESISIR, DAN PULAU-PULAU KECIL NOMOR: KEP. 16/MEN/2006 TENTANG PENETAPAN TEMPAT-TEMPAT PEMASUKAN DAN PENGELUARAN MEDIA PEMBAWA HAMA DAN PENYAKIT IKAN KARANTINA NOMOR: KEP. 17/MEN/2006 TENTANG JENISJENIS HAMA DAN PENYAKIT IKAN KARANTINA, GOLONGAN, MEDIA PEMBAWA, DAN SEBARANNYA NOMOR: KEP. 19/MEN/2006 TENTANG PENGANGKATAN SYAHBANDAR DI PELABUHAN PERIKANAN NOMOR: KEP. 02/MEN/2007 TENTANG CARA BUDIDAYA IKAN YANG BAIK NOMOR: KEP. 05/MEN/2007 TENTANG PENCABUTAN KEPUTUSAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR: KEP. 40/MEN/2002 TENTANG PENETAPAN PULAU JAWA DAN PULAU BALI SEBAGAI DAERAH TERJANGKIT PENYAKIT KOI HERVES VIRUS PADA IKAN MAS DAN KOI NOMOR: KEP. 06/MEN/2007 TENTANG PENCABUTAN KEPUTUSAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN NOMOR KEP. 55/MEN/2004 TENTANG PENETAPAN WILAYAH SUMATERA SEBAGAI KAWASAN KARANTINA TERHADAP IKAN MAS DAN KOI

65

66

67

68

69

70

NOMOR: KEP. 11/MEN/2007 TENTANG UNIT AKUNTANSI DEPARTEMEN KELAUTAN DAN PERIKANAN NOMOR: KEP. 12/MEN/2007 TENTANG UNIT AKUNTANSI PEMBANTU PENGGUNA TINGKAT ESELON I DI LINGKUNGAN DEPARTEMEN KELAUTAN DAN PERIKANAN NOMOR: KEP. 21/MEN/2007 TENTANG PERUBAHAN KEPUTUSAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN NOMOR: KEP. 17/MEN/2001 TENTANG PENETAPAN LAMBANG DEPARTEMEN KELAUTAN DAN PERIKANAN NOMOR: KEP. 31/MEN/2007 TENTANG PERUBAHAN KEPUTUSAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN NOMOR: KEP. 39/MEN/2003 TENTANG PAKAIAN SERAGAM KERJA PEGAWAI DI LINGKUNGAN DEPARTEMEN KELAUTAN DAN PERIKANAN NOMOR: KEP. 32/MEN/2007 TENTANG PAKAIAN SERAGAM KERJA DAN ATRIBUT BAGI APARATUR DI PELABUHAN PERIKANAN NOMOR: KEP. 33/MEN/2007 TENTANG PENETAPAN JENIS-JENIS PENYAKIT IKAN YANG BERPOTENSI MENJADI WABAH PENYAKIT IKAN

71

262

72

NOMOR: KEP. 03/MEN/2008 TENTANG PENUGASAN PENASEHAT MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN TAHUN 2008 NOMOR: KEP. 63/MEN/2008 TENTANG KOMISI TUNA INDONESIA NOMOR: KEP. 76/MEN/2008 TENTANG PELAKSANAAN SISTEM ELEKTRONIK DALAM KERANGKA INDONESIA NATIONAL SINGLE WINDOW DI LINGKUNGAN DEPARTEMEN KELAUTAN DAN PERIKANAN NOMOR: KEP. 11/MEN/2009 TENTANG WILAYAH KERJA DAN WILAYAH PENGOPERASIAN PELABUHAN PERIKANAN NUSANTARA BRONDONG NOMOR: KEP. 25/MEN/2009 TENTANG PEDOMAN PELAKSANAAN PROGRAM NASIONAL PEMBERDAYAAN MASYRAKAT MANDIRI KELAUTAN DAN PERIKANAN NOMOR: KEP. 36/MEN/SJ/2009 TENTANG PEDOMAN TEKNIS PROGRAM NASIONAL PEMBERDAYAAN MANDIRI KELAUTAN DAN PERIKANAN NOMOR: KEP. 59/MEN/SJ/2009 TENTANG PERUBAHAN ATAS KEPUTUSAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN NOMOR KEP. 36/MEN/SJ/2009 TENTANG PEDOMAN TEKNIS PROGRAM NASIONAL PEMBERDAYAAN MANDIRI KELAUTAN DAN PERIKANAN NOMOR: KEP. 61/MEN/2009 TENTANG PEMBERLAKUAN WAJIB STANDAR NASIONAL INDONESIA BIDANG KELAUAN DAN PERIKANAN NOMOR: KEP. 63/MEN/2009 TENTANG PENETAPAN KAWASAN KONSERVASI PERAIRAN NASIONAL KEPULAUAN ARU BAGIAN TENGGARA DAN LAUT DI SEKITARNYA DI PROVINSI MALUKU NOMOR: KEP. 65/MEN/2009 TENTANG PENETAPAN KAWASAN KONSERVASI PERAIRAN NASIONAL KEPULAUAN WAIGEO SEBELAH BARAT DAN LAUT DI SEKITARNYA DI PROVINSI PAPUA BARAT NOMOR: KEP. 67/MEN/2009 TENTANG PENETAPAN KAWASAN KONSERVASI PERAIRAN NASIONAL PULAU GILI AYER, GILI MENO, DAN GILI TRAWANGAN DI PROVINSI NUSA TENGGARA BARAT NOMOR: KEP. 69/MEN/2009 TENTANG PENETAPAN KAWASAN KONSERVASI PERAIRAN NASIONAL LAUT BANDA DI PROVINSI MALUKU NOMOR: KEP. 70/MEN/2009 TENTANG PENETAPAN KAWASAN KONSERVASI PERAIRAN NASIONAL PULAU PIEH DAN LAUT DI SEKITARNYA DI PROVINSI SUMATERA BARAT NOMOR: KEP. 71/MEN/2009 TENTANG PERUBAHAN KETIGA ATAS KEPUTUSAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN NOMOR KEP. 39/MEN/2003 TENTANG PAKAIAN SERAGAM KERJA PEGAWAI DI LINGKUNGAN DEPARTEMEN KELAUTAN DAN PERIKANAN

73 74

75

76

77

78

79

80

81

82

83

84

85

263

86

NOMOR: KEP. 77/MEN/2009 TENTANG PELEPASAN VARIETAS IKAN NILA BEST SEBAGAI GALUR UNGGUL INDUK IKAN NILA NOMOR: KEP. 79/MEN/2009 TENTANG PELEPASAN VARIETAS IKAN NILA LARASATI SEBAGAI BENIH BERMUTU NOMOR: KEP. 03/MEN/2010 TENTANG PENETAPAN JENIS-JENIS HAMA DAN PENYAKIT IKAN KARANTINA, GOLONGAN, MEDIA PEMBAWA, DAN SEBARANNYA NOMOR: KEP. 11/MEN/2010 TENTANG SISTEM PEMBERKASAN KEARSIPAN DI LINGKUNGAN KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN NOMOR: KEP. 15/MEN/2010 TENTANG PENGGUNAAN NOMENKLATUR KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN NOMOR: KEP. 24/MEN/2010 TENTANG PROGRAM LEGISLASI KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN TAHUN 2010 NOMOR: KEP. 32/MEN/2010 TENTANG PENETAPAN KAWASAN MINAPOLITAN NOMOR: KEP. 39/MEN/2010 TENTANG PEDOMAN PELAKSANAAN PROGRAM NASIONAL PEMBERDAYAAN MASYARAKAT MANDIRI KELAUTAN DAN PERIKANAN TAHUN 2010 NOMOR: KEP. 152/MEN/VIII/2010 TENTANG PENETAPAN RANCANGAN STANDAR KOMPETENSI KERJA NASIONAL INDONESIA SEKTOR KELAUTAN DAN PERIKANAN BIDANG PENYULUHAN PERIKANAN MENJADI STANDAR KOMPETENSI KERJA NASIONAL INDONESIA

87

88

89

90

91

92 93

94

Tabel 6.27. Pembagian Urusan Pemerintahan Bidang Perdagangan
NO. 1 KEPMEN & PERMEN KEMENTERIAN PERDAGANGAN KEPMEN KEPUTUSAN MENTERI KOORDINATOR BIDANG PEREKONOMIAN SELAKU KETUA HARIAN TIM NASIONAL PENINGKATAN EKSPOR DAN PENINGKATAN INVESTASI NOMOR : KEP08/M.EKON/03/2009 TENTANG LOGO DAN KOORDINASI PELAKSANAAN KEGIATAN AKU CINTA INDONESIA KEPUTUSAN MENTERI PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 405/MDAG/KEP/7/2008 TENTANG PENETAPAN BADAN REVITALISASI INDUSTRI KEHUTANAN (BRIK)SEBAGAI PELAKSANA ENDORSEMENT KEPUTUSAN MENTERI PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 384/MDAG/KEP/6/2008 TENTANG PENETAPAN SURVEYOR SEBAGAI PELAKSANA VERIFIKASI ATAU PENELUSURAN TEKNIS TERHADAP EKSPOR PRODUK PERTAMBANGAN TERTENTU PERMEN PERATURAN MENTERI PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR: 36/MDAG/PER/9/2010 TENTANG PENETAPAN HARGA PATOKAN EKSPOR ATAS BARANG EKSPOR YANG DIKENAKAN BEA KELUAR

2

PERATURAN MENTERI PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 34/MDAG/PER/8/2010 TENTANG PENETAPAN HARGA PATOKAN EKSPOR ATAS BARANG EKSPOR YANG DIKENAKAN BEA KELUAR PERATURAN MENTERI PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 29/MDAG/PER/7/2010 TENTANG PENETAPAN HARGA PATOKAN EKSPOR ATAS BARANG EKSPOR YANG DIKENAKAN BEA KELUAR

3

264

4

KEPUTUSAN MENTERI PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 336/MDAG/KEP/4/2008 TENTANG PENETAPAN SURVEYOR SEBAGAI PELAKSANA VERIFIKASI ATAU PENELUSURAN TEKNIS IMPOR DAN EKSPOR BERAS.

5

KEPUTUSAN MENTERI PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 101.2/MDAG/KEP/4/2007 TENTANG PELIMPAHAN WEWENANG PENETAPAN PRODUK INDUSTRI KEHUTANAN YANG DIKECUALIKAN DARI KETENTUAN KRITERIA TEKNIS

PERATURAN BERSAMA MENTERI PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA DAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 26/MDAG/PER/6/2010 NOMOR : PB.01/MEN/2010 TENTANG LARANGAN SEMENTARA IMPOR UDANG SPESIES TERTENTU KE WILAYAH REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR: 27/MDAG/PER/6/2010 TANGGAL 24 JUNI 2010 TENTANG PENCABUTAN PERATURAN MENTERI PERDAGANGAN NOMOR 10/MDAG/PER/3/2009 TENTANG EKSPOR BARANG YANG WAJIB MENGGUNAKAN LETTER OF CREDIT SEBAGAIMANA TELAH DIUBAH TERAKHIR DENGAN PERATURAN MENTERI PERDAGANGAN NOMOR 57/M-DAG/PER/10/2009 PERATURAN MENTERI PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 21/MDAG/PER/5/2010 TENTANG PENETAPAN HARGA PATOKAN EKSPOR ATAS BARANG EKSPOR YANG DIKENAKAN BEA KELUAR

6

KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN, NOMOR: 608/MPP/KEP/10/1999 TANGGAL 14 OKTOBER 1999 TENTANG PETUNJUK PENGGUNAAN (MANUAL) DAN KARTU JAMINAN/GARANSI DALAM BAHASA INDONESIA BAGI PRODUK ELEKTRONIKA KEPUTUSAN PRESIDEN, NOMOR: 12 TAHUN 1999 TANGGAL 27 JANUARI 1999 TENTANG KOMODITI YANG DAPAT DIJADIKAN SUBYEK KONTRAK BERJANGKA

7

8

LAMPIRAN I, KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN, NOMOR: 29/MPP/KEP/I/1999 TANGGAL 21 JANURI TENTANG KETENTUAN EKSPOR KOPI

9

LAMPIRAN II, KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN, NOMOR: 29/MPP/KEP/I/1999 TENTANG KETENTUAN EKSPOR KOPI LAMPIRAN III, KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN, NOMOR: 29/MPP/KEP/I/1999 TENTANG KETENTUAN EKSPOR KOPI KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN, NOMOR: 230/MPP/KEP/6/1999 TANGGAL 4 JUNI 1999 TENTANG PENCABUTAN KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN NO. 505/MPP/KEP/10/1998 TENTANG PERDAGANGAN DAN DISTRIBUSI MINYAK GORENG DAN GULA PASIR

PERATURAN MENTERI PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 23/MDAG/PER/5/2010 TENTANG PERUBAHAN KEDUA ATAS PERATURAN MENTERI PERDAGANGAN NOMOR 56/M-DAG/PER/12/2008 TENTANG KETENTUAN IMPOR PRODUK TERTENTU PERATURAN MENTERI PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 22/MDAG/PER/5/2010 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN MENTERI PERDAGANGAN NOMOR 62/M-DAG/PER/12/2009 TENTANG KEWAJIBAN PENCANTUMAN LABEL PADA BARANG PERATURAN MENTERI PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 20/MDAG/PER/5/2010 TENTANG PENETAPAN HARGA PATOKAN PETANI (HPP) GULA KRISTAL PUTIH (PLANTATION WHITE SUGAR) PERATURAN MENTERI PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 19/MDAG/PER/4/2010 TENTANG PENETAPAN HARGA PATOKAN EKSPOR ATAS BARANG EKSPOR YANG DIKENAKAN BEA KELUAR PERATURAN MENTERI PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 03/MDAG/PER/1/2010 TENTANG RENCANA STRATEGIS KEMENTERIAN PERDAGANGAN TAHUN 2010 – 2014

10

11

265

12

KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN, NOMOR: 589/MPP/KEP/10/1999 TANGGAL 13 OKTOBER 1999 TENTANG PENETAPAN JENIS-JENIS INDUSTRI DALAM PEMBINAAN MASING-MASING DIREKTORAT JENDERAL DAN KEWENANGAN PEMBERIAN IZIN BIDANG INDUSTRI DAN PERDAGANGAN KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN NO. 274/MPP/KEP/6/1999 TANGGAL 21 JUNI 1999 TENTANG LARANGAN DAN PENGAWASAN IMPOR, DISTRIBUSI DAN PRODUKSI BARANG YANG TERCEMAR DIOXIN KEPUTUSAN MENTERI NEGARA INVESTASI/KEPALA BADAN KOORDINASI PENANAMAN MODAL/BKPM NOMOR 38/SK/1999 TENTANG PEDOMAN DAN TATA CARA PERMOHONAN PENANAMAN MODAL YANG DIDIRIKAN DALAM RANGKA PENANAMAN MODAL DALAM NEGERI DAN PENANAMAN MODAL ASING KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN NOMOR : 726/MPP/KEP/12/1999 TENTANG PENETAPAN BESARNYA HARGA PATOKAN UNTUK PERHITUNGAN PROVISI SUMBER DAYA HUTAN (PSDH) KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN NOMOR : 717/MPP/KEP/12/1999 TANGGAL 28 DESEMBER 1999 TENTANG PENCABUTAN TATA NIAGA IMPOR GULA DAN BERAS

PERUBAHAN ATAS PERATURAN MENTERI PERDAGANGAN NOMOR 45/M-DAG/PER/9/2009 TENTANG ANGKA PENGENAL IMPORTIR (API)

13

14

PERATURAN MENTERI PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 11/MDAG/PER/3/2010 TENTANG KETENTUAN IMPOR MESIN, PERALATAN MESIN, BAHAN BAKU, CAKRAM OPTIK KOSONG, DAN CAKRAM OPTIK ISI PERATURAN MENTERI PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 15/MDAG/PER/3/2010 TANGGAL 25 MARET 2010 TENTANG PENETAPAN HARGA PATOKAN EKSPOR ATAS BARANG EKSPOR YANG DIKENAKAN BEA KELUAR

15

PERATURAN MENTERI PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 15/MDAG/PER/3/2010 TENTANG PENETAPAN HARGA PATOKAN EKSPOR ATAS BARANG EKSPOR YANG DIKENAKAN BEA KELUAR PERATURAN MENTERI PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 13/MDAG/PER/3/2010 TENTANG PENGANGKATAN DAN PEMBERHENTIAN ANGGOTA BADAN PENYELESAIAN SENGKETA KONSUMEN DAN SEKRETARIAT BADAN PENYELESAIAN SENGKETA KONSUMEN PERATURAN MENTERI PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 12/MDAG/PER/3/2010 TENTANG PENETAPAN HARGA PATOKAN IKAN UNTUK PERHITUNGAN PUNGUTAN HASIL PERIKANAN

16

17

KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN NO. 231/MPP/KEP/6/1999 TANGGAL 3 JUNI 1999 TENTANG PENCABUTAN KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN NO. 108/KEP/I/1984 TENTANG PENUNJUKAN PT. BERDIKARI SEBAGAI DISTRIBUTOT TUNGGAL ALUMINIUM INGOT PRODUKSI PT. INALUM KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN NO. 327/MPP/KEP/7/1999 TANGGAL 21 JUNI 1999 TENTANG PERUBAHAN KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN NO. 12/MPP/KEP/I/1998 TENTANG PENYELENGGARAAN WAJIB DAFTAR PERUSAHAAN KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN, NOMOR 587/MPP/KEP/10/1999 TANGGAL 13 OKTOBER 1999 TENTANG PEMBENTUKAN KANTOR PENDAFTARAN PERUSAHAAN (KPP)

18

PERATURAN MENTERI PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 08/MDAG/PER/3/2010 TENTANG ALAT-ALAT UKUR, TAKAR, TIMBANG, DAN PERLENGKAPANNYA (UTTP) YANG WAJIB DITERA DAN DITERA ULANG

19

PERATURAN BERSAMA MENTERI DALAM NEGERI, MENTERI HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA, MENTERI PERDAGANGAN, MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI DAN KEPALA BADAN KOORDINASI PENANAMAN MODAL NOMOR: 01 /PDN/SE/01/2010 TENTANG PERCEPATAN PENERBITAN SURAT IZIN USAHA PERDAGANGAN (SIUP) DAN TANDA DAFTAR PERUSAHAAN (TDP)

266

20

KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN, NOMOR: 591/MPP/KEP/10/1999 TANGGAL 13 OKTOBER 1999 TENTANG KETENTUAN TATA CARA PEMBERIAN SURAT IZIN USAHA PERDAGANGAN (SIUP) KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN NO. 384/MPP/KEP/8/1999 TANGGAL 18 AGUSTUS 1999 TENTANG PERUBAHAN KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN NO. 108/MPP/KEP/1996 TENTANG STANDARDISASI, SERTIFIKASI, AKREDITASI DAN PENGAWASAN MUTU PRODUK DI LINGKUNGAN DEPARTEMEN PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN NO: 288/MPP/KEP/6/1999 TANGGAL 23 JUNI 1999 TENTANG PEMBENTUKAN TIM PENINGKATAN PENGGUNAAN PRODUKSI DALAM NEGERI KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN, NOMOR 556/MPP/KEP/10/1999 TANGGAL 6 OKTOBER 1999 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA BAPPEBTI

21

PERATURAN MENTERI PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 06/MDAG/PER/2/2010 TANGGAL 22 FEBRUARI 2010 TENTANG PENETAPAN HARGA PATOKAN EKSPOR ATAS BARANG EKSPOR YANG DIKENAKAN BEA KELUAR PERATURAN MENTERI PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 05/MDAG/PER/2/2010 TENTANG PENCABUTAN PERATURAN MENTERI PERDAGANGAN NOMOR 16/M-DAG/PER/5/2009 TENTANG LARANGAN SEMENTARA IMPOR HEWAN BABI DAN PRODUK TURUNANNYA

22

PERATURAN MENTERI PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR: 04/MDAG/PER/1/2010 TENTANG PETUNJUK TEKNIS PENGGUNAAN DANA ALOKASI KHUSUS (DAK) BIDANG PERDAGANGAN TAHUN 2010 PERATURAN MENTERI PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 02/MDAG/PER/1/2010 TANGGAL 26 JANUARI 2010 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN MENTERI PERDAGANGAN NOMOR 23/MDAG/PER/6/2009 TENTANG KETENTUAN IMPOR TEKSTIL DAN PRODUK TEKSTIL PERATURAN MENTERI PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 01/MDAG/PER/1/2010 TANGGAL 21 JANUARI 2010 TENTANG PENETAPAN HARGA PATOKAN EKSPOR ATAS BARANG EKSPOR YANG DIKENAKAN BEA KELUAR PERATURAN BERSAMA MENTERI DALAM NEGERI, MENTERI HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA, MENTERI PERDAGANGAN, MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI DAN KEPALA BADAN KOORDINASI PENANAMAN MODAL TENTANG PERCEPATAN PELAYANAN PERIZINAN DAN NON PERIZINAN UNTUK MEMULAI USAHA PERATURAN MENTERI PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 66/MDAG/PER/12/2009 TENTANG PELAKSANAAN SKEMA SUBSIDI RESI GUDANG

23

24

KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN, NOMOR 559/MPP/KEP/10/1999 TANGGAL 6 OKTOBER 1999 TENTANG KRITERIA PENGUSAHA KECIL DAN KOPERASI UNTUK MEMPEROLEH KUOTA PERTUMBUHAN TAHUN 2000 KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN, NOMOR 580/MPP/KEP/10/1999 TANGGAL 13 OKTOBER 1999 TENTANG PENGAWASAN IMPOR BARANG YANG TERCEMAR DIOXIN

25

26

KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN NO: 321/MPP/KEP/7/1999 TANGGAL 13 JULI 1999 TENTANG PENETAPAN BESARNYA HARGA PATOKAN UNTUK PERHITUNGAN PROVISI SUMBER DAYA HUTAN (PSDH) KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN NO: 251/MPP/KEP/6/1999 TANGGAL 11 JUNI 1999 TENTANG PERUBAHAN KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN NO: 61/MPP/KEP/2/1998 TENTANG PENYELENGGARAAN KEMETROLOGIAN

27

PERATURAN MENTERI PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 63/MDAG/PER/12/2009 TENTANG KETENTUAN IMPOR BARANG MODAL BUKAN BARU

267

28

29

KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN RI NOMOR 588/MPP//KEP/10/1999 TANGGAL 14 OKTOBER 1999 TENTANG PENETAPAN TATA KERJA TIM NASIONAL DAN PEMBENTUKAN KELOMPOK PERUNDING UNTUK PERUNDINGAN PERDAGANGAN MULTILATERAL DALAM KERANGKA WTO KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN NO: 250/MPP/KEP/6/1999 TANGGAL 11 JUNI 1999 TENTANG TANDA TERA TAHUN 2000

PERATURAN MENTERI PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 62/MDAG/PER/12/2009 TENTANG KEWAJIBAN PENCANTUMAN LABEL PADA BARANG

PERATURAN BERSAMA MENTERI PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA DAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR: 64/MDAG/PER/12/2009 DAN NOMOR: PB.03/MEN/2009 TANGGAL 23 DESEMBER 2009 TENTANG LARANGAN SEMENTARA IMPOR UDANG SPESIES TERTENTU KE WILAYAH REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 61/MDAG/PER/12/2009 TANGGAL 21 DESEMBER 2009 TENTANG PENETAPAN HARGA PATOKAN EKSPOR ATAS BARANG EKSPOR YANG DIKENAKAN BEA KELUAR

30

KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN NO: 202/MPP/KEP/5/1999 TANGGAL 26 MEI 1999 TENTANG KETENTUAN DAN TATACARA PERMOHONAN FASILITAS DALAM RANGKA PELAKSANAAN PERJANJIAN "BASIC AGREEMENT ON THE ASEAN INDUSTRIAL COOPERATION" KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN NO: 26/MPP/KEP/1/1999 TANGGAL 14 JANUARI 1999 TENTANG PENDISTRIBUSIAN PUPUK UNTUK PETANI TANAMAN PANGAN DI DAERAH YANG SULIT DIJANGKAU KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN NO: 06/MPP/KEP/1/1999 TANGGAL 6 JANUARI 1999 TENTANG PENETAPAN BESARNYA HARGA PATOKAN UNTUK PERHITUNGAN PROVISI SUMBER DAYA HUTAN (PSDH) KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN NO: 405/MPP/KEP/9/1999 TANGGAL 2 SEPTEMBER 1999 TENTANG PENYEMPURNAAN KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN NO: 439/MPP/KEP/9/1998 LAMPIRAN KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN, NOMOR: 146/MPP/KEP/4/1999 TANGGAL 22 APRIL TENTANG PERUBAHAN LAMPIRAN KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN NOMOR 558/MPP/KEP/12/1998 TENTANG KETENTUAN UMUM DI BIDANG EKSPOR KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN, NOMOR: 551/MPP/KEP/10/1999 TANGGAL 5 OKTOBER 1999 TENTANG BENGKEL UMUM KENDARAAN BERMOTOR

31

PERATURAN MENTERI PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 58/MDAG/PER/11/2009 TENTANG PENETAPAN HARGA PATOKAN EKSPOR ATAS BARANG EKSPOR YANG DIKENAKAN BEA KELUAR PERATURAN MENTERI PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR: 57/MDAG/PER/10/2009 TENTANG PERUBAHAN KEDUA ATAS PERATURAN MENTERI PERDAGANGAN NOMOR 10/M-DAG/PER/3/2009 TENTANG EKSPOR BARANG YANG WAJIB MENGGUNAKAN LETTER OF CREDIT PERATURAN MENTERI PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 54/MDAG/PER/10/2009 TENTANG KETENTUAN UMUM DI BIDANG IMPOR

32

33

34

PERATURAN MENTERI PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 56/MDAG/PER/10/2009 TENTANG PENETAPAN HARGA PATOKAN EKSPOR ATAS BARANG EKSPOR YANG DIKENAKAN BEA KELUAR

35

PERATURAN MENTERI PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR: 55/MDAG/PER/10/2009 TENTANG PENDELEGASIAN WEWENANG PENERBITAN SURAT IZIN USAHA PENJUALAN LANGSUNG KEPADA KEPALA BADAN KOORDINASI PENANAMAN MODAL DALAM RANGKA PELAKSANAAN PELAYANAN TERPADU SATU PINTU DI BIDANG PENANAMAN MODAL

268

36

KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN NOMOR 427/MPP/KEP/10/2000 TANGGAL 10 OKTOBER 2000 TENTANG KOMITE ANTI DUMPING INDONESIA

PERATURAN MENTERI PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 47/MDAG/PER/9/2009 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN MENTERI PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 32/MDAG/PER/8/2008 TENTANG PENYELENGGARAAN KEGIATAN USAHA PERDAGANGAN DENGAN SISTEM PENJUALAN LANGSUNG PERATURAN MENTERI PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 46/MDAG/PER/9/2009 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN MENTERI PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 36/MDAG/PER/9/2007 TENTANG PENERBITAN SURAT IZIN USAHA PERDAGANGAN PERATURAN MENTERI PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 44/MDAG/PER/9/2009 TENTANG PENGADAAN, DISTRIBUSI DAN PENGAWASAN BAHAN BERBAHAYA

37

38

KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN NOMOR 428/MPP/KEP/10/2000 TANGGAL 10 OKTOBER 2000 TENTANG PENUNJUKAN DAN PENGANGKATAN ANGGOTA PENUNJUKAN DAN PENGANGKATAN ANGGOTA KOMITE ANTI DUMPING INDONESIA KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 253/MPP/KEP/7/2000 TANGGAL TENTANG PERUBAHAN KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN NOMOR 550/MPP/KEP/10/1999 TENTANG ANGKA PENGENAL IMPORTIR (API) KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 254/MPP/KEP/7/2000 TENTANG TATA NIAGA IMPOR DAN PEREDARAN BAHAN BERBAHAYA TERTENTU KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 233/MPP/KEP/6/2000 TENTANG PERUBAHAN LAMPIRAN ATAS KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN NOMOR 589/MPP/KEP/10/1999 TENTANG PENETAPAN JENIS-JENIS INDUSTRI DALAM PEMBINAAN MASING-MASING DIREKTORAT JENDERAL DAN KEWENANGAN PEMBERIAN IZIN BIDANG INDUSTRI DAN PERDAGANGAN DI LIN LAMPIRAN KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 234/MPP/KEP/6/20 TENTANG PENYELENGGARAAN PENDAFTARAN LAPORAN KEUANGAN TAHUNAN PERUSAHAAN KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN NO: 268/MPP/KEP/7/2000 TANGGAL 11 JULI 2000 TENTANG PENETAPAN BESARNYA HARGA PATOKAN UNTUK PERHITUNGAN PROVISI SUMBER DAYA HUTAN (PSDH)

39

40

PERATURAN MENTERI PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 43/MDAG/PER/9/2009 TENTANG PENGADAAN, PENGEDARAN, PENJUALAN, PENGAWASAN, DAN PENGENDALIAN MINUMAN BERALKOHOL PERATURAN MENTERI PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 52/MDAG/PER/10/2009 TENTANG TANDA TERA TAHUN 2010

41

42

PERATURAN MENTERI PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 51/MDAG/PER/10/2009 TENTANG PENILAIAN TERHADAP UNIT PELAKSANA TEKNIS DAN UNIT PELAKSANA TEKNIS DAERAH METROLOGI LEGAL PERATURAN MENTERI PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 50/MDAG/PER/10/2009 TENTANG UNIT KERJA DAN UNIT PELAKSANA TEKNIS METROLOGI LEGAL

269

43

KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN NO: 50/MPP/KEP/2/2000 TANGGAL 25 FEBRUARI 2000 TENTANG PERUBAHAN KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN NOMOR 230/MPP/KEP/7/1997 TENTANG BARANG YANG DIATUR TATA NIAGA IMPORNYA SEBAGAIMANA TELAH DIUBAH BEBERAPA KALI TERAKHIR DENGAN KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN NOMOR: 290/MPP/KP/6/1999 KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN RI NO. 472/MPP/KEP/II/2000 TGL. 16 NOVEMBER 2000 TENTANG KRITERIA PENGUSAHA KECIL DAN KOPERASI UNTUK MEMPEROLEH KUOTA PERTUMBUHAN TAHUN 2001 KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN NO: 184/MPP/KEP/5/2000 TANGGAL 29 MEI 2000 TENTANG PERUBAHAN KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN NOMOR 42/MPP/KEP/2/1997 TENTANG KRITERIA DAN PENETAPAN PERUSAHAAN EKSPORTIR TERTENTU (PET) KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN NO: 180/MPP/KEP/5/2000 TANGGAL 25 MEI 2000 TENTANG TANDA TERA TAHUN 2001 KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN NO: 192/MPP/KEP/6/2000 TANGGAL 2 JUNI 2000 TENTANG PERUBAHAN KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN NOMOR 230/MPP/KEP/7/1997 TENTANG BARANG YANG DIATUR TATA NIAGA IMPORNYA SEBAGAIMANA TELAH DIUBAH BEBERAPA KALI TERAKHIR DEGAN KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN NOMOR 50/MPP/KEP/2/2000 KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 174/MPP/KEP/5/2000 TENTANG PERUBAHAN KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN NOMOR 67/MPP/KEP/3/2000 TENTANG KETENTUAN KUOTA EKSPOR TEKSTIL DAN PRODUK TEKSTIL KEPUTUSAN MENTERI KEUANGAN RI NO. 100/KMK.05/2000 TANGGAL 31 MARET 2000 TENTANG KERINGANAN BEA MASUK ATAS IMPOR BARANG DAN BAHAN UNTUK PEMBUATAN KOMPONEN, PERALATAN DAN KAROSERI KENDARAAN BERMOTOR KHUSUS KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN NO: 7/MPP/KEP/1/2000 TANGGAL 11 JANUARI 2000 TENTANG TATA CARA PENDAFTARAN PETUNJUK PENGGUNAAN (MANUAL) DAN KARTU JAMINAN/GARANSI DALAM BAHASA INDONESIA BAGI PRODUK ELEKTRONIKA

PERATURAN MENTERI PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 45/MDAG/PER/9/2009 TENTANG ANGKA PENGENAL IMPORTIR (API)

44

PERATURAN MENTERI PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 53/MDAG/PER/10/2009 TENTANG PENGAWASAN MUTU BAHAN OLAH KOMODITI EKSPOR STANDARD INDONESIAN RUBBER YANG DIPERDAGANGKAN PERATURAN MENTERI PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 42/MDAG/PER/9/2009 TENTANG KETENTUAN EKSPOR DAN IMPOR MINYAK DAN GAS BUMI

45

46

PERATURAN MENTERI PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR: 41/MDAG/PER/9/2009 TENTANG KETENTUAN EKSPOR KOPI PERATURAN MENTERI PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 40/MDAG/PER/9/2009 TENTANG VERIFIKASI ATAU PENELUSURAN TEKNIS IMPOR KACA LEMBARAN

47

48

PERATURAN MENTERI PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 49/MDAG/PER/9/2009 TENTANG PENETAPAN HARGA PATOKAN EKSPOR ATAS BARANG EKSPOR YANG DIKENAKAN BEA KELUAR

49

INSTRUKSI PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 6 TAHUN 2009 TANGGAL 05 AGUSTUS 2009 TENTANG PENGEMBANGAN EKONOMI KREATIF

50

PERATURAN MENTERI PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 39/MDAG/PER/9/2009 TANGGAL 02 SEPTEMBER 2009 TENTANG KETENTUAN IMPOR LIMBAH NON BAHAN BERBAHAYA DAN BERACUN (NON B3)

270

51

KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN NOMOR : 49/MPP/KEP/2/2000 TANGGAL 25 FEBRUARI 2000 TENTANG PERSYARATAN IMPOR KENDARAAN BERMOTOR DALAM KEADAAN UTUH (CBU) DALAM KEADAAN UTUH (CBU) LAMPIRAN KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 254/MPP/KEP/7/20 TENTANG TATA NIAGA IMPOR DAN PEREDARAN BAHAN BERBAHAYA TERTENTU KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 234/MPP/KEP/6/2000 TENTANG PENYELENGGARAAN PENDAFTARAN LAPORAN KEUANGAN TAHUNAN PERUSAHAAN

PERUBAHAN ATAS PERATURAN MENTERI PERDAGANGAN NOMOR 10/M-DAG/PER/3/2009 TANGGAL 31 AGUSTUS 2009 TENTANG EKSPOR BARANG YANG WAJIB MENGGUNAKAN LETTER OF CREDIT

52

PERATURAN MENTERI PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 37/MDAG/PER/8/2009 TENTANG PENETAPAN HARGA PATOKAN EKSPOR ATAS BARANG EKSPOR YANG DIKENAKAN BEA KELUAR PERATURAN MENTERI PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 28/MDAG/PER/6/2009 TENTANG KETENTUAN PELAYANAN PERIJINAN EKSPOR DAN IMPOR DENGAN SISTEM ELEKTRONIK MELALUI INATRADE DALAM KERANGKA INDONESIA NATIONAL SINGLE WINDOW PERATURAN MENTERI PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 35/MDAG/PER/8/2009 TENTANG PERUBAHAN KEDUA ATAS PERATURAN MENTERI PERDAGANGAN NOMOR 12/M-DAG/PER/4/2008 TENTANG KETENTUAN IMPOR DAN EKSPOR BERAS PERATURAN MENTERI PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 36/MDAG/PER/8/2009 TENTANG KETENTUAN EKSPOR ROTAN

53

54

KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR: 158/MPP/KEP/5/2000 TENTANG PEMBENTUKAN TIM PEMERIKSA PETUNJUK PENGGUNAAN (MANUAL) DAN KARTU JAMINAN/GARANSI DALAM BAHASA INDONESIA BAGI PRODUK ELEKTRONIKA KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN, NO. 26/MPP/KEP/II/2000 TANGGAL 1 FEBRUARI 2000 TENTANG PENCABUTAN KEPUTUSAN MENTERI PERDAGANGAN NOMOR:102/SK/VIII/1967 TENTANG KETENTUAN PELAKSANAAN KEBIJAKSANAAN DALAM BIDANG EKSPOR DAN PEMASARAN BARANG-BARANG/HASILHASIL BUMI INDONESIA LAMPIRAN KEPUTUSAN MENTERI KEUANGAN RI NO. 97/KMK.05/2000 TANGGAL 31 MARET 2000 TENTANG KERINGANAN BEA MASUK ATAS IMPOR BAHAN BAKU UNTUK PEMBUATAN KOMPONEN KENDARAAN BERMOTOR

55

56

PERATURAN MENTERI PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 33/MDAG/PER/7/2009 TENTANG PERUBAHAN KEEMPAT ATAS PERATURAN MENTERI PERDAGANGAN NOMOR 12/M-DAG/PER/6/2005 TENTANG KETENTUAN EKSPOR ROTAN PERATURAN MENTERI PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 32/MDAG/PER/7/2009 TENTANG PENETAPAN HARGA PATOKAN EKSPOR ATAS BARANG EKSPOR YANG DIKENAKAN BEA KELUAR PERATURAN MENTERI PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 31/MDAG/PER/7/2009 TANGGAL 17 JULI 2009 TENTANG TARIF PENERBITAN SURAT KETERANGAN ASAL (CERTIFICATE OF ORIGIN) UNTUK BARANG EKSPOR INDONESIA

57

KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN, NOMOR 129/MPP/KEP/4/2000 TANGGAL 24 APRIL 2000 TENTANG IMPOR MESIN, PERALATAN MESIN DAN BARANG MODAL DALAM KEADAAN BUKAN BARU PENJELASAN KEPUTUSAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 18 TAHUN 2000 TENTANG PEDOMAN PELAKSANAAN PENGADAAN BARANG/JASA INSTANSI PEMERINTAH

58

271

59

KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN NO: 278/MPP/KEP/7/2000 TANGGAL 17 JULI 2000 TENTANG IMPOR MESIN, PERALATAN MESIN DAN BARANG MODAL BUKAN BARU

60

KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN NO: 67/MPP/KEP/3/2000 TANGGAL 15 MARET 2000 TENTANG KETENTUAN KUOTA EKSPOR TEKSTIL DAN PRODUK TEKSTIL

61

KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN NO: 73/MPP/KEP/3/2000 TANGGAL 15 MARET 2000 TENTANG KETENTUAN KEGIATAN USAHA PENJUALAN BERJENJANG KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 302/MPP/KEP/10/2001 TENTANG PENDAFTARAN LEMBAGA PERLINDUNGAN KONSUMEN SWADAYA MASYARAKAT

62

63

KEPUTUSAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 122 TAHUN 2001 TANGGAL 30 NOPEMBER 2001 TENTANG TIM KEBIJAKAN PRIVATISASI BADAN USAHA MILIK NEGARA KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 337/MPP/KEP/11/2001 TENTANG PENERAPAN SECARA WAJIB SNI LAMPU SWA BALLAST UNTUK PELAYANAN PENCAHAYAAN UMUMPERSYARATAN KESELAMATAN (SNI 04-65042001 DAN REVISINYA)

64

PERATURAN MENTERI PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 29/MDAG/PER/6/2009 TANGGAL 30 JUNI 2009 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN MENTERI PERDAGANGAN NOMOR 05/MDAG/PER/4/2005 TENTANG KETENTUAN IMPOR MESIN, PERALATAN MESIN, BAHAN BAKU DAN CAKRAM OPTIK PERATURAN BERSAMA MENTERI PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA DAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR: 27/MDAG/PER/6/2009 DAN NOMOR: PB.02/MEN/2009 TANGGAL 24 JUNI 2009 TENTANG LARANGAN SEMENTARA IMPOR UDANG SPESIES TERTENTU KE WILAYAH REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 25/MDAG/PER/6/2009 TANGGAL 23 JUNI 2009 TENTANG PENETAPAN HARGA PATOKAN EKSPOR ATAS BARANG EKSPOR YANG DIKENAKAN BEA KELUAR PERATURAN MENTERI PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR:26/MDAG/PER/6/2009 TANGGAL 23 JUNI 2009 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN MENTERI PERDAGANGAN NOMOR 58/MDAG/PER/12/2008 TENTANG KETENTUAN IMPOR LIMBAH NON BAHAN BERBAHAYA DAN BERACUN (NON B3) PERATURAN MENTERI PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 23/MDAG/PER/6/2009 TANGGAL 19 JUNI 2009 TENTANG KETENTUAN IMPOR TEKSTIL DAN PRODUK TEKSTIL PERATURAN DIREKTUR JENDERAL PERDAGANGAN LUAR NEGERI NOMOR : 04/DAGLU/PER/6/2009 TANGGAL 1 JUNI 2009 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN DIREKTUR JENDERAL PERDAGANGAN LUAR NEGERI NOMOR 03/DAGLU/PER/4/2009 TENTANG PETUNJUK PELAKSANAAN PERATURAN MENTERI PERDAGANGAN NOMOR 13/M-DAG/PER/3/2009 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN MENTERI PERDAGANGAN NOMOR 12/M-DAG/PER/4/2008 TENTANG KETENTUAN IMPOR DAN EKSPOR BERAS PERATURAN MENTERI PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 21/MDAG/PER/6/2009 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN MENTERI PERDAGANGAN NOMOR 08/M-DAG/PER/2/2009 TENTANG KETENTUAN IMPOR BESI ATAU BAJA

65

KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 323/MPP/KEP/11/2001 TENTANG PERUBAHAN ATAS KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN NOMOR 153/MPP/KEP/5/2001 TENTANG PENERAPAN SECARA WAJIB SNI TEPUNG TERIGU SEBAGAI BAHAN MAKANAN (SNI .01-3751-2000/REV.1995 DAN REVISINYA)

272

66

KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN R.I NOMOR 294/MPP/KEP/10/2001 TENTANG PENCABUTAN KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN NOMOR 146/MPP/KEP/4/1999 DAN PENETAPAN BARANG YANG DIATUR, DIAWASI DAN DILARANG EKSPORNYA KEPUTUSAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 150/KMK.01/2001 TANGGAL 29 MARET 2001 TENTANG PENETAPAN TARIF BEA MASUK ATAS IMPOR BARANG DALAM RANGKA SKEMA COMMON EFFECTIVE PREFERENTIAL TARIFF (CEPT) UNTUK PERIODE 1 JANUARI 2001 SAMPAI DENGAN 31 DESEMBER 2003 KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN RI NOMOR : 293/MPP/KEP/2001 TANGGAL 8 OKTOBER 2001 TENTANG PENCABUTAN KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN NOMOR 463/MPP/KEP/10/1998 TENTANG KETENTUAN EKSPOR KAYU BULAT KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN RI NOMOR 300/MPP/KEP/10/2001 TANGGAL 24 OKTOBER 2000 TENTANG PEMBENTUKAN TIM PEMANTAU HARGA DAN ANTISIPASI PENGADAAN DAN PENDISTRIBUSIAN BARANG KEBUTUHAN POKOK MENGHADAPI HARI RAYA KEAGAMAAN NASIONAL TAHUN 2001/2002 KEPUTUSANMENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 310/MPP/KEP/10/2001 TENTANG TIM VERIFIKASI MANAJEMEN KUOTA TEKSTIL DAN PRODUK TEKSTIL (TPT) TAHUN KUOTA 2001

PERATURAN MENTERI PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 20/MDAG/PER/5/2009 TENTANG KETENTUAN DAN TATA CARA PENGAWASAN BARANG DAN/ATAU JASA

67

PERATURAN MENTERI PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 19/MDAG/PER/5/2009 TENTANG PENDAFTARAN PETUNJUK PENGGUNAAN (MANUAL) DAN KARTU JAMINAN/GARANSI PURNA JUAL DALAM BAHASA INDONESIA BAGI PRODUK TELEMATIKA DAN ELEKTRONIKA PERATURAN MENTERI PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 17/MDAG/PER/5/2009 TENTANG TATA CARA PENETAPAN HARGA PATOKAN EKSPOR ATAS BARANG EKSPOR YANG DIKENAKAN BEA KELUAR

68

69

PERATURAN MENTERI PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 18/MDAG/PER/5/2009 TENTANG PENETAPAN HARGA PATOKAN EKSPOR ATAS BARANG EKSPOR YANG DIKENAKAN BEA KELUAR

70

PERATURAN DIREKTUR JENDERAL PERDAGANGAN LUAR NEGERI NOMOR : 03/DAGLU/PER/4/2009 TENTANG PETUNJUK PELAKSANAAN PERATURAN MENTERI PERDAGANGAN NOMOR 13/M-DAG/PER/3/2009 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN MENTERI PERDAGANGAN NOMOR 12/MDAG/PER/4/2008 TENTANG KETENTUAN IMPOR DAN EKSPOR BERAS DIREKTUR JENDERAL PERDAGANGAN LUAR NEGERI, PERATURAN MENTERI PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 16/MDAG/PER/5/2009 TENTANG LARANGAN SEMENTARA IMPOR HEWAN BABI DAN PRODUK TURUNANNYA PERATURAN MENTERI PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 15/MDAG/PER/4/2009 TENTANG PENETAPAN HARGA PATOKAN EKSPOR (HPE) ATAS BARANG EKSPOR TERTENTU

71

72

KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 311/MPP/KEP/10/2001 TENTANG KETENTUAN KUOTA EKSPOR TEKSTIL DAN PRODUK TEKSTIL KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN NOMOR : 217.A./MPP/KEP/7/2001 TANGGAL 9 JULI 2001 TENTANG KETENTUAN DAN TATA TARA PEROLEHAN FASILITAS PENGECUALIAN DARI KEWAJIBAN PEMBAYARAN PAJAK PENGHASILAN BAGI ANGGOTA MISI DAGANG ATAU PAMERINTAH YANG MEWAKILI PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA KE LUAR NEGERI

273

73

KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 289/MPP/KEP/10/2001 TENTANG KETENTUAN STANDAR PEMBERIAN SURAT IZIN USAHA PERDAGANGAN (SIUP)

PERATURAN MENTERI PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 13/MDAG/PER/3/2009 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN MENTERI PERDAGANGAN NOMOR 12/M-DAG/PER/4/2008 TENTANG KETENTUAN IMPOR DAN EKSPOR BERAS PERATURAN MENTERI PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 12/MDAG/PER/3/2009 TANGGAL 27 MARET 2009 TENTANG PELIMPAHAN KEWENANGAN PENERBITAN PERIZINAN DI BIDANG PERDAGANGAN LUAR NEGERI KEPADA BADAN PENGUSAHAAN KAWASAN PERDAGANGAN BEBAS DAN PELABUHAN BEBAS BATAM, BADAN PENGUSAHAAN KAWASAN PERDAGANGAN BEBAS DAN PELABUHAN BEBAS BINTAN, DAN BADAN PENGUSAHAAN KAWASAN PERDAGANGAN BEBAS DAN PELABUHAN BEBAS KARIMUN PERATURAN MENTERI PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 11/MDAG/PER/3/2009 TANGGAL 25 MARET 2009 TENTANG PENETAPAN HARGA PATOKAN EKSPOR (HPE) ATAS BARANG EKSPOR TERTENTU PERATURAN MENTERI PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR: 10/MDAG/PER/3/2009 TANGGAL 05 MARET 2009 TENTANG EKSPOR BARANG YANG WAJIB MENGGUNAKAN LETTER OF CREDIT PERATURAN MENTERI PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 09/MDAG/PER/2/2009 TANGGAL 24 FEBRUARI 2009 TENTANG PENETAPAN HARGA PATOKAN EKSPOR (HPE) ATAS BARANG EKSPOR TERTENTU

74

KEPUTUSAN DIREKTUR JENDERAL BEA CUKAI NOMOR: KEP-57/BC/2001 TANGGAL 31 AGUSTUS 2001 TENTANG TATA CARA PEMBERIAN PEMBEBASAN CUKAI ETIL ALKOHOL

75

KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN R.I. NOMOR PENUNJUKAN LEMBAGA UJI PUBLIK KENDARAAN BERMOTOR RODA EMPAT DAN RODA DUA222A/MPP/KEP/7/2001 TANGGAL 13 JULI 2001 TENTANG SURAT DIRJEN PERDAGANGAN LUAR NEGERI NO. 264/DJPLN/IX/2001 TANGGAL 12 SEPTEMBER 2001 TENTANG HPE KELAPA SAWIT, MINYAK KELAPA SAWIT, DAN PRODUK TURUNANNYA MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 263/MPP/KEP/8/2001 TENTANG PERUBAHAN LAMPIRAN KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN NOMOR 78/MPP/KEP/3/2001 TENTANG PEDOMAN STANDAR PELAYANAN MINIMAL (PSPM) BIDANG PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN NOMOR : 213/MPP/KEP/7/2001 TENTANG PENETAPAN HARGA PATOKAN IKAN UNTUK PERHITUNGAN PUNGUTAN HASIL PERIKANAN KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN NOMOR 160/DJPLN/VI/2001 TANGGAL 22JUNI 2001 TENTANG PENETAPAN HARGA BARANG-BARANG EKSPOR (HARGA FOB) BERLAKU DARI TANGGAL 1 JULI S/D 30 SEPTEMBER 2001 KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN R.I. NOMOR : 216/MPP/KEP/7/2001 TENTANG PERUBAHAN KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN NOMOR 261/MPP/KEP/9/1996 TENTANG TATA CARA DAN PERSYARATAN PERMOHONAN PENYELIDIKAN ATAS BARANG DUMPING DAN ATAU BARANG MENGANDUNG SUBSIDI

76

77

78

PERATURAN MENTERI PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 08/MDAG/PER/2/2009 TENTANG KETENTUAN IMPOR BESI ATAU BAJA PERATURAN MENTERI PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 06/MDAG/PER/1/2009 TANGGAL 27 JANUARI 2009 TENTANG PENETAPAN HARGA PATOKAN EKSPOR (HPE) ATAS BARANG EKSPOR TERTENTU PERATURAN MENTERI PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 01/MDAG/PER/1/2009 TANGGAL 5 JANUARI 2009 TENTANG EKSPOR BARANG YANG WAJIB MENGGUNAKAN LETTER OF CREDIT

79

80

274

81

KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN R.I. NOMOR : 214/MPP/KEP/7/2001 TENTANG UJI PUBLIK KENDARAAN BERMOTOR RODA EMPAT DAN RODA DUA

PERATURAN MENTERI PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 60/MDAG/PER/12/2008 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN MENTERI PERDAGANGAN NOMOR 56/M-DAG/PER/12/2008 TENTANG KETENTUAN IMPOR PRODUK TERTENTU PERATURAN MENTERI PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 58/MDAG/PER/12/2008 TANGGAL 24 DESEMBER 208 TENTANG KETENTUAN IMPOR LIMBAH NON BAHAN BERBAHAYA DAN BERACUN (NON B3)

82

KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN RI NOMOR 51/MPP/KEP/2/2001 TANGGAL 14 FEBRUARI 2001 TENTANG PENETAPAN EKSPORTIR TERDAFTAR TEKSTIL DAN PRODUK TEKSTIL PENGUSAHA KECIL DAN KOPERASI (ETTPT-PKK) UNTUK MEMPEROLEH KUOTA PERTUMBUHAN (KPT) TEKSTIL DAN PRODUK TEKSTIL TAHUN KUOTA 2001 KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 191/MPP/KEP/6/2001 TENTANG PERUBAHAN ATAS KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN NOMOR 551/MPP/KEP/10/1999 TENTANG BENGKEL UMUM KENDARAAN BERMOTOR KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGANREPUBLIK INDONESIA NOMOR : 199/MPP/KEP/6/2001 TENTANG PERSETUJUAN PENYELENGGARAAN PAMERAN DAGANG, KONVENSI DAN ATAU SEMINAR DAGANG

83

PERATURAN MENTERI PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 57/MDAG/PER/12/2008 TANGGAL 24 DESEMBER 2008 TENTANG KETENTUAN IMPOR BARANG MODAL BUKAN BARU

84

85

KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 197/MPP/KEP/6/2001 TENTANG LEMBAGA SURVEYOR BENGKEL UMUM KENDARAAN BERMOTOR KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA 195/MPP/KEP/6/2001 TENTANG TANDA TERA TAHUN 2002

PERATURAN BERSAMA MENTERI PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA DAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR: 54/MDAG/PER/12/2008 NOMOR: PB.02/MEN/2008 TANGGAL 24 DESEMBER 2008 TENTANG LARANGAN SEMENTARA IMPOR UDANG SPESIES TERTENTU KE WILAYAH REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 56/MDAG/PER/12/2008 TANGGAL 24 DESEMBER 2008 TENTANG KETENTUAN IMPOR PRODUK TERTENTU PERATURAN MENTERI PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 55/MDAG/PER/12/2008 TANGGAL 24 DESEMBER 2008 TENTANG PENETAPAN HARGA PATOKAN EKSPOR (HPE) ATAS BARANG EKSPOR TERTENTU PERATURAN MENTERI PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 53/MDAG/PER/12/2008 TANGGAL 12 DESEMBER 2008 TENTANG PEDOMAN PENATAAN DAN PEMBINAAN PASAR TRADISIONAL, PUSAT PERBELANJAAN DAN TOKO MODERN PERATURAN MENTERI PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 52/MDAG/PER/12/2008 TANGGAL 12 DESEMBER 2008 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN MENTERI PERDAGANGAN NOMOR 44/MDAG/PER/10/2008 TENTANG KETENTUAN IMPOR PRODUK TERTENTU

86

87

KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 172/MPP/KEP/5/2001 TENTANG IMPOR MESIN DAN PERALATAN MESIN BUKAN BARU

88

KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 153/MPP/KEP/5/2001 TENTANG PENERAPAN SECARA WAJIB SNI TEPUNG TERIGU SEBAGAI BAHAN MAKANAN (SNI 01.3751-2000/REV.1995 DAN REVISINYA

275

89

KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 80/MPP/KEP/3/2001 TENTANG PENGHAPUSAN BARANG MILIK/KEKAYAAN NEGARA DI LINGKUNGAN DEPARTEMEN PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN DENGAN TINDAK LANJUT DIALIHKAN KEPADA PEMERINTAH DAERAH LAMPIRAN KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 78/MPP/KEP/3/2000 TENTANG PEDOMAN STANDAR PELAYANAN MINIMAL (PSPM) BIDANG PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 78/MPP/KEP/3/2001 TENTANG PEDOMAN STANDAR PELAYANAN MINIMAL (PSPM) BIDANG PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN NOMOR 01/MPP/KEP/1/2001 TANGGAL 4 JANUARI 2001 TENTANG PENCABUTAN KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN NOMOR580/KEP/10/1999 TENTANG PENGAWASAN IMPOR BARANG YANG TERCEMAR DIOXIN KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN NOMOR 02/MPP/KEP/1/2001 TANGGAL 4 JANUARI 2001 TENTANG KETENTUAN KUOTA EKSPOR TEKSTIL DAN PRODUK TEKSTIL KEPUTUSAN MENTERI AGAMA REPUBLIK INDONESIA NOMOR 519 TAHUN 2001 TANGGAL 30 NOPEMBER 2001 TENTANG LEMBAGA PELAKSANA PEMERIKSAAN PANGAN HALAL

PERATURAN MENTERI PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 49/MDAG/PER/11/2008 TANGGAL 28/11/2008 TENTANG PENETAPAN HARGA PATOKAN EKSPOR (HPE) ATAS BARANG EKSPOR TERTENTU

90

PERATURAN MENTERI PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 41/MDAG/PER/10/2008 TENTANG KETENTUAN IMPOR LIMBAH NON BAHAN BERBAHAYA DAN BERACUN (NON B3)

91

PERATURAN MENTERI PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 44/MDAG/PER/10/2008 TANGGAL 31 OKTOBER 2008 TENTANG KETENTUAN IMPOR PRODUK TERTENTU PERATURAN MENTERI PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 40/MDAG/PER/10/2008 TANGGAL 30/10/2008 TENTANG PENETAPAN HARGA PATOKAN EKSPOR (HPE) ATAS BARANG EKSPOR TERTENTU

92

93

94

95

96

MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN NOMOR : 204/MPP/KEP/6/2001 TANGGAL 25 JUNI 2001 TENTANG PENETAPAN BESARNYA HARGA PATOKAN UNTUK PERHITUNGAN PROVISI SUMBER DAYA HUTAN (PSDH) KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 372/MPP/KEP/12/2001 TENTANG KETENTUAN PEMBERIAN IZIN USAHA INDUSTRI PABRIKASI PELUMAS DAN PENGOLAHAN PELUMAS BEKAS KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 365/MPP/KEP/12/2001 TENTANG PENETAPAN HARGA PATOKAN IKAN UNTUK PERHITUNGAN PUNGUTAN HASIL PERIKANAN

PERATURAN MENTERI PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 38/MDAG/PER/10/2008 TANGGAL 22/10/2008 TENTANG PENETAPAN HARGA PATOKAN EKSPOR (HPE) ATAS BARANG EKSPOR TERTENTU PERATURAN MENTERI PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 37/MDAG/PER/9/2008 TENTANG SURAT KETERANGAN ASAL (CERTIFICATE OF ORIGIN) TERHADAP BARANG IMPOR YANG DIKENAKAN TINDAKAN PENGAMANAN (SAFEGUARDS) PERATURAN MENTERI PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 36/MDAG/PER/9/2008 TENTANG PENETAPAN HARGA PATOKAN EKSPOR (HPE) ATAS BARANG EKSPOR TERTENTU PERATURAN MENTERI PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 33/MDAG/PER/8/2008 TANGGAL 21 AGUSTUS 2008 TENTANG PERUSAHAAN PERANTARA PERDAGANGAN PROPERTI PERATURAN MENTERI PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 32/MDAG/PER/8/2008 TANGGAL 21 AGUSTUS 2008 TENTANG PENYELENGGARAAN KEGIATAN USAHA PERDAGANGAN DENGAN SISTEM PENJUALAN LANGSUNG

97

276

98

KEPUTUSAN MENTERI PERINUSTRIAN DAN PERDAGANGAN NOMOR : 62/DJPL/III/2001 TANGGAL 29 MARET 2001 TENTANG PENETAPAN HARGA PATOKAN BARANGBARANG EKSPOR (HARGA FOB) BERLAKU DARI TANGGAL 1 APRIL S/D 30 JUNI 2001 KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 17/MPP/KEP/1/2001 TENTANG PEMBENTUKAN KOMITE SUPERVISI/SUPERVISORY COMMITTEE (SC) DAN KOMITE TEKNIS/TECHNICAL COMMITTEE (TC) PROGRAM PELATIHAN DAN BANTUAN TEKNIS UNTUK PEMANFAATAN DANA TEKNOLOGI INFORMASI (TATP) BANTUAN PINJAMAN BANK DUNIA SURAT EDARAN DIRJEN BEA DAN CUKAI NOMOR SE-07/BC/2001 TENTANG PETUNJUK PENGAWASAN IMPORTASI BERAS, GULA, DAN TEPUNG TERIGU

PERATURAN MENTERI PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 31/MDAG/PER/8/2008 TANGGAL 21 AGUSTUS 2008 TENTANG PENYELENGGARAAN WARALABA

99

PERATURAN MENTERI PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 34/MDAG/PER/8/2008 TENTANG PENETAPAN HARGA PATOKAN EKSPOR (HPE) ATAS BARANG EKSPOR TERTENTU

100

PERATURAN MENTERI PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 28/MDAG/PER/7/2008 TENTANG PERUBAHAN KETIGA ATAS PERATURAN MENTERI PERDAGANGAN NOMOR : 12/M-DAG/PER/6/2005 TENTANG KETENTUAN EKSPOR ROTAN PERATURAN MENTERI PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 26/MDAG/PER/7/2008 TENTANG PENETAPAN HARGA PATOKAN EKSPOR (HPE) ATAS BARANG EKSPOR TERTENTU PERATURAN MENTERI PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 25/MDAG/PER/7/2008 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN MENTERI PERDAGANGAN NOMOR : 10/M-DAG/PER/6/2005 TENTANG KETENTUAN EKSPOR DAN IMPOR INTAN KASAR PERATURAN MENTERI PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 24/MDAG/PER/6/2008 TENTANG KETENTUAN EKSPOR PISANG DAN NANAS KE JEPANG DALAM RANGKA IJ-EPA (INDONESIA JAPANECONOMIC PARTNERSHIP AGREEMENT) PERATURAN DIREKTUR JENDERAL PERDAGANGAN LUAR NEGERI NOMOR : 05/DAGLU/PER/6/2008 TENTANG PENGALOKASIAN KUOTA EKSPOR PISANG DAN NANAS KE JEPANG DALAM RANGKA IJEPA (INDONESIA JAPAN-ECONOMIC PARTNERSHIP AGREEMENT)

101

102

SURAT EDARAN DIRJEN BEA DAN CUKAI NOMOR SE-06/BC/2001 TENTANG PETUNJUK PENIMBUNAN BERAS, GULA, DAN TEPUNG TERIGU IMPOR DI TEMPAT LAIN SELAIN TEMPAT PENIMBUNAN SEMENTARA (GUDANG MILIK IMPORTIR) KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 93/MPP/KEP/3/2001 TENTANG PENGADAAN DAN PENYALURAN PUPUK UREA UNTUK SEKTOR PERTANIAN

103

MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN NOMOR : 57/MPP/KEP/2/2001 TENTANG PENETAPAN BESARNYA HARGA PATOKAN UNTUK PERHITUNGAN PROVISI SUMBER DAYA HUTAN (PSDH)

104

KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 62/MPP/KEP/02/2001 TENTANG PERUBAHAN LAMPIRAN I KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN NOMOR 230/MPP/KEP/7/1997 TENTANG BARANG YANG DIATUR TATA NIAGA IMPORNYA SEBAGAIMANA TELAH BEBERAPA KALI DIUBAH TERAKHIR DENGAN KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN NOMOR 192/MPP/KEP/6/2000

277

105

KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN NOMOR : 118/MPP/KEP/2/2003 TENTANG PERUBAHAN ATAS LAMPIRAN KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN NOMOR 558/MPP/KEP/12/1998 TENTANG KETENTUAN UMUM DIBIDANG EKSPOR SEBAGAIMANA TELAH DIUBAH BEBERAPA KALI TERAKHIR DENGAN KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN NOMOR 31/MPP/KEP/1/2003 KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 829/MPP/KEP/12/2002 TENTANG PEMBERIAN TANDA PENGHARGAAN PRIMANIYARTA KEPADA EKSPORTIR YANG BERPRESTASI SELAMA PERIODE 1997 SAMPAI DENGAN 2001 KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 802/MPP/KEP/12/2002 TENTANG PUSAT PENYELESAIAN MASALAH USAHA (BUSINESS SOLUTION CENTER) LAMPIRAN KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN RI NOMOR : 818/MPP/KEP/12/2002 TENTANG LEMBAGA SERTIFIKASI PRODUK YANG DITUNJUK DALAM RANGKA PEMBERLAKUAN DAN PENGAWASAN SNI WAJIB KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 818/MPP/KEP/12/2002 TENTANG PENUNJUKAN LEMBAGA SERTIFIKASI PRODUK, LABORATORIUM PENGUJI DAN LEMBAGA INSPEKSI DALAM RANGKA PEMBERLAKUAN DAN PENGAWASAN SNI WAJIB KEPUTUSAN BERSAMA MENTERI KEUANGAN DAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA TENTANG TERTIB ADMINISTRASI IMPORTIR KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN RI NOMOR 807/MPP/KEP/12/2002 TENTANG PENCABUTAN KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN NOMOR 791/MPP/KEP/11/2002 DAN PEMBENTUKAN TIM PENGKAJIAN KELAYAKAN PENGUSAHA KECIL DAN KOPERASI UNTUK MEMPEROLEH KUOTA PERTUMBUHAN TEKSTIL DAN PRODUK TEKSTIL TAHUN KUOTA 2003 KEPUTUSAN BERSAMA MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN DAN MENTERI KEHUTANAN TENTANG PEMBENTUKAN BADAN REVITALISASI INDUSTRI KEHUTANAN

PERATURAN BERSAMA MENTERI PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA DAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 23/MDAG/PER/6/2008 & NOMOR : PB.01/MEN/2008 TENTANG LARANGAN SEMENTARA IMPOR UDANG SPESIES TERTENTU KE WILAYAH REPUBLIK INDONESIA

106

PERATURAN MENTERI PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 22/MDAG/PER/6/2008 TENTANG PENETAPAN HARGA PATOKAN EKSPOR (HPE) ATAS BARANG EKSPOR TERTENTU

107

PERATURAN MENTERI PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 20/MDAG/PER/5/2008 TENTANG KETENTUAN EKSPOR PRODUK INDUSTRI KEHUTANAN PERATURAN MENTERI PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 19/MDAG/PER/5/2008 TENTANG PERUBAHAN KELIMA ATAS KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN NOMOR 527/MPP/KEP/9/2004 TENTANG KETENTUAN IMPOR GULA PERATURAN MENTERI PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 18/MDAG/PER/5/2008 TENTANG PENETAPAN HARGA PATOKAN EKSPOR (HPE) ATAS BARANG EKSPOR TERTENTU

108

109

110

111

PERATURAN MENTERI PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR :15/MDAG/PER/5/2008 TANGGAL 5 MEI 2008 TENTANG KETENTUAN IMPOR TEKSTIL DAN PRODUK TEKSTIL PERATURAN MENTERI PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 14/MDAG/PER/5/2008 TANGGAL 5 MEI 2008 TENTANG VERIFIKASI ATAU PENELUSURAN TEKNIS TERHADAP EKSPOR PRODUK PERTAMBANGAN TERTENTU

112

278

113

KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 789/MPP/KEP/12/2002 TENTANG PERUBAHAN KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN NOMOR 111/MPP/KEP/1/1998 TENTANG PERUBAHAN KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN NOMOR 230/MPP/KEP/7/1997 TENTANG BARANG YANG DIATUR TATA NIAGA IMPORNYA KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 790/MPP/KEP/12/2002 TENTANG PERUBAHAN KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN NOMOR 110/MPP/KEP/1/1998 TENTANG LARANGAN MEMPRODUKSI DAN MEMPERDAGANGKAN BAHAN PERUSAK LAPISAN OZON SERTA MEMPRODUKSI DAN MEMPERDAGANGKAN BARANG BARU YANG MENGGUNAKAN BAHAN PERUSAK LAPISAN OZON KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 753/MPP/KEP/11/2002 TENTANG STANDARDISASI DAN PENGAWASAN STANDAR NASIONAL INDONESIA KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 751/MPP/KEP/11/2002 TENTANG KETENTUAN IMPOR BESI ATAU BAJA CANAI LANTAIAN KEPUTUSAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 432/KMK.01/2002 TANGGAL 21 OKTOBER 2002 TENTANG PENETAPAN TARIP BEA MASUK ATAS IMPOR PRODUK-PRODUK BAJA TERTENTU INSTRUKSI PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 5 TAHUN 2002 TANGGAL 22 OKTOBER 2002 TENTANG KOORDINASI INTELIJEN OLEH BADAN INTELIJEN NEGARA

PERATURAN MENTERI PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 13/MDAG/PER/4/2008 TENTANG PENETAPAN HARGA PATOKAN EKSPOR (HPE) ATAS BARANG EKSPOR TERTENTU

114

PERATURAN MENTERI PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 11/MDAG/PER/4/2008 TENTANG VERIFIKASI PENGANGKUTAN ANTAR PULAU KOMODITAS KELAPA SAWIT DAN PRODUK TURUNANNYA

115

PERATURAN MENTERI PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 12/MDAG/PER/4/2008 TENTANG KETENTUAN IMPOR DAN EKSPOR BERAS PERATURAN MENTERI PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 10/MDAG/PER/4/2008 TENTANG KETENTUAN KARET ALAM SPESIFIKASI TEKNIS INDONESIA (SIR) YANG DIPERDAGANGKAN KE LUAR NEGERI PERATURAN MENTERI PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 09/MDAG/PER/3/2008 TENTANG PENETAPAN HARGA PATOKAN EKSPOR (HPE) ATAS BARANG EKSPOR TERTENTU PERATURAN MENTERI PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 07/MDAG/PER/3/2008 TANGGAL 10 MARET 2008 TENTANG PERUBAHAN ATAS KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN NOMOR 141/MPP/KEP/3/2002 TENTANG NOMOR PENGENAL IMPORTIR KHUSUS (NPIK) PERATURAN MENTERI PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 05/MDAG/PER/2/2008 TANGGAL 25 PEBRUARI 2008, TENTANG PENETAPAN HARGA PATOKAN EKSPOR (HPE) ATAS BARANG EKSPOR TERTENTU PERATURAN MENTERI PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 03/MDAG/PER/2/2008 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN MENTERI PERDAGANGAN NOMOR 02/M-DAG/PER/1/2008 TENTANG PENETAPAN HARGA PATOKAN EKSPOR (HPE) ATAS BARANG EKSPOR TERTENTU

116

117

118

119

KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 732/MPP/KEP/10/2002 TENTANG TATA NIAGA IMPOR TEKSTIL

120

KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 731/MPP/KEP/10/2002 TENTANG PENGELOLAAN KEMETROLOGIAN DAN PENGELOLAAN LABORATORIUM KEMETROLOGIAN

279

121

KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN NOMOR : 643/MPP/KEP/9/2002 TENTANG TATA NIAGA IMPOR GULA

122

KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN NOMOR : 635/MPP/KEP/9/2002 TENTANG PENUNJUKAN BALAI/LEMBAGA UJI SEBAGAI LABORATORIUM PENGUJI PUPUK KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN NOMOR 646/MPP/KEP/9/2002 TENTANG PEMBENTUKAN TIM PEMANTAUAN HARGA DAN ANTISIPASI PENGADAAN DAN PENDISTRIBUSIAN BARANG KEBUTUHAN POKOK MENGHADAPI HARI RAYA KEAGAMAAN NASIONAL TAHUN 2002/2003

PERATURAN MENTERI PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 02/MDAG/PER/1/2008 TENTANG PENETAPAN HARGA PATOKAN EKSPOR (HPE) ATAS BARANG EKSPOR TERTENTU PERATURAN MENTERI PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 51/MDAG/PER/12/2007 TENTANG KETENTUAN IMPOR METIL BROMIDA UNTUK KEPERLUAN KARANTINA DAN PRA PENGAPALAN PERATURAN BERSAMA MENTERI PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA DAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 50/MDAG/PER/12/2007 DAN NOMOR : PB.02/MEN/2007 TENTANG PERPANJANGAN MASA BERLAKU LARANGAN SEMENTARA IMPOR UDANG SPESIES TERTENTU KE WILAYAH REPUBLIK INDONESIA SEBAGAIMANA DITETAPKAN DALAM PERATURAN BERSAMA MENTERI PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA DAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 27/MDAG/PER/6/2007 DAN NOMOR : PB.01/MEN/2007 PERATURAN MENTERI PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 49/MDAG/PER/12/2007007 TENTANG KETENTUAN IMPOR BARANG MODAL BUKAN BARU PERATURAN MENTERI PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 48/MDAG/PER/12/2007 TANGGAL 19 DESEMBER 2007 TENTANG : PENETAPAN HARGA PATOKAN EKSPOR (HPE) ATAS BARANG EKSPOR TERTENTU PERATURAN MENTERI PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 46/MDAG/PER/11/2007 TANGGAL 26 NOPEMBER 2007 TENTANG PENETAPAN HARGA PATOKAN EKSPOR (HPE) ATAS BARANG EKSPOR TERTENTU PERUBAHAN ATAS PERATURAN MENTERI PERDAGANGAN NOMOR : 20/M-DAG/PER/9/2005 TENTANG KETENTUAN IMPOR GARAM

123

124

KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN NOMOR 641/MPP/KEP/9/2002 TENTANG PENETAPAN BESARNYA HARGA PATOKAN ESKPOR (HPE) PASIR LAUT KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN NOMOR : 642/MPP/KEP/9/2002 TENTANG PERUBAHAN LAMPIRAN I KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN NOMOR 230/MPP/KEP/7/1997 TENTANG BARANG YANG DIATUR TATA NIAGA IMPORNYA KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN NOMOR : 640/MPP/KEP/9/2002 TENTANG TIM PENGENDALI VOLUME EKSPOR PASIR LAUT

125

126

127

KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 605/MPP/KEP/8/2002 TENTANG PENGANGKATAN ANGGOTA BADAN PENYELESAIAN SENGKETA KONSUMEN PADA PEMERINTAH KOTA MAKASSAR, KOTA PALEMBANG, KOTA SURABAYA KOTA BANDUNG, KOTA SEMARANG, KOTA YOGYAKARTA DAN KOTA MEDAN KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 606/MPP/KEP/9/2002 TENTANG PEMBENTUKAN KELOMPOK KERJA (WORKING GROUP) INDONESIA – AFRIKA BAGIAN SELATAN KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 634/MPP/KEP/9/2002 TENTANG KETENTUAN DAN TATA CARA PENGAWASAN BARANG DAN ATAU JASA YANG BEREDAR DI PASAR

128

129

PERATURAN MENTERI PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 45/MDAG/PER/10/2007 TANGGAL 25 OKTOBER 2007 TENTANG PENETAPAN HARGA PATOKAN EKSPOR (HPE) ATAS BARANG EKSPOR TERTENTU PERATURAN MENTERI PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 43/MDAG/PER/10/2007 TENTANG PENERBITAN SURAT KETERANGAN ASAL (CERTIFICATE OF ORIGIN) UNTUK BARANG EKSPOR INDONESIA

280

130

KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 594/MPP/KEP/VIII/2002 TENTANG KETENTUAN PERIZINAN USAHA JASA PENILAIAN KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN RI NOMOR 480/MPP/KEP/6/2002 TANGGAL 13 JUNI 2002 TENTANG PERUBAHAN ATAS KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN NOMOR 302/MPP/KEP/10/2001 TENTANG PENDAFTARAN LEMBAGA PERLINDUNGAN KONSUMEN SWADAYA MASYARAKAT KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NO. 456/MPP/KEP/6/2002 TENTANG TATA NIAGA IMPOR GULA KASAR (RAW SUGAR) KEPUTUSAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 45/KMK.01/2002 TANGGAL 14 FEBRUARI 2002 TENTANG TATALAKSANA KEPABEANAN TERHADAP BARANG IMPOR DARI NORTHERN TERRITORY AUSTRALIA KE DAERAH PEBEAN INDONESIA SELAIN PULAU JAWA DAN SUMATERA KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN RI NOMOR : 426/MPP/KEP/5/2002 TGL. 20 MEI 2002 TENTANG PEDOMAN ADMINISTRASI UMUM KEPUTUSAN PRESIDEN EPUBLIK INDONESIA NOMOR 33 TAHUN 2002 TANGGAL 23 MEI 2002 TENTANG PENGENDALIAN DAN PENGAWASAN PENGUSAHAAN PASIR LAUT KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN NOMOR : 443/MPP/KEP/5/2002 TANGGAL 24 MEI 2002 TENTANG PERUBAHAN ATAS LAMPIRAN KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN NOMOR 558/MPP/KEP/12/1998 TENTANG KETENTUAN UMUM DIBIDANG EKSPOR SEBAGAIMANA TELAH DIUBAH BEBERAPA KALI TERAKHIR DENGAN KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN NOMOR 57/MPP/KEP/1/2002 KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 442/MPP/KEP/5/2002 TENTANG PERUBAHAN ATAS KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN NOMOR 337/MPP/KEP/11/2001 TENTANG PENERAPAN SECARA WAJIB SNI LAMPU SWA BALLAST UNTUK PELAYANAN PENCAHAYAAN UMUMPERSYARATAN KESELAMATAN (SNI 04-65042001 DAN REVISINYA)

PERATURAN MENTERI PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 36/MDAG/PER/9/2007 TENTANG PENERBITAN SURAT IZIN USAHA PERDAGANGAN PERATURAN MENTERI PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 37/MDAG/PER/9/2007 TENTANG PENYELENGGARAAN PENDAFTARAN PERUSAHAAN

131

132

133

PERATURAN MENTERI PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 39/MDAG/PER/9/2007 TENTANG PENETAPAN HARGA PATOKAN EKSPOR (HPE)ATAS BARANG EKSPOR TERTENTU PERATURAN MENTERI PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 35/MDAG/PER/8/2007 TENTANG PENETAPAN HARGA PATOKAN EKSPOR (HPE) ATAS BARANG EKSPOR TERTENTU

134

135

PERATURAN MENTERI PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 32/MDAG/PER/8/2007 TENTANG PENETAPAN HARGA PATOKAN EKSPOR (HPE) ATAS BARANG EKSPOR TERTENTU PERATURAN MENTERI PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 31/MDAG/PER/7/2007 TENTANG ANGKA PENGENAL IMPORTIR (API) PERATURAN MENTERI PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 28/MDAG/PER/7/2007, TENTANG PENETAPAN HARGA PATOKAN EKSPOR (HPE) ATAS BARANG EKSPOR TERTENTU

136

137

PERATURAN MENTERI PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 29/MDAG/PER/7/2007 TENTANG PERUBAHAN ATAS LAMPIRAN PERATURAN MENTERI PERDAGANGAN NOMOR 12/M-DAG/PER/6/2005 TENTANG KETENTUAN EKSPOR ROTAN

281

138

KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN NOMOR : 441/MPP/KEP/5/2002 TANGGAL 23 MEI 2002 TENTANG KETENTUAN EKSPOR PASIR LAUT

139

KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 304/MPP/KEP/4/2002 TENTANG PENETAPAN HARGA PATOKAN IKAN UNTUK PERHITUNGAN PUNGUTAN HASIL PERIKANAN

140

KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 418/MPP/KEP/4/2002 TENTANG PEMBENTUKAN TIM PENYELEKSI CALON ANGGOTA BADAN PERLINDUNGAN KONSUMEN KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 419/MPP/KEP/4/2002 TENTANG PEMBENTUKAN TIM PENYELEKSI PENETAPAN ANGGOTA BADAN PENYELESAIAN SENGKETA

PERATURAN BERSAMA MENTERI PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA DAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 27/MDAG/6/2007 DAN NOMOR : PB.01/MEN/2007 TENTANG LARANGAN SEMENTARA IMPOR UDANG SPESIES TERTENTU KE WILAYAH REPUBLIK INDONESIA PERATURAN BERSAMA MENTERI PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA DAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 27/MDAG/PER/6/2007 DAN NOMOR : PB.01/MEN/2007, TANGGAL 29 JUNI 2007 TENTANG LARANGAN SEMENTARA IMPOR UDANG SPESIES TERTENTU KE WILAYAH REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 04/MDAG/PER/1/2007 TENTANG PENGGUNAAN NAMA DOMAIN GO.ID UNTUK SITUS WEB RESMI PEMERINTAH PUSAT DAN DAERAH "PERATURAN MENTERI PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 03/MDAG/PER/2/2006, TENTANG "PENGADAAN DAN PENYALURAN PUPUK BERSUBSIDIUNTUK SEKTOR PERTANIAN" PERATURAN MENTERI PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR :10/MDAG/PER/3/2006 TENTANG KETENTUAN DAN TATA CARA PENERBITAN SURAT IZIN USAHA PERWAKILAN PERUSAHAAN PERDAGANGAN ASING PERATURAN MENTERI PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 09/MDAG/PER/3/2006 TENTANG "KETENTUAN DAN TATA CARA PENERBITAN SURAT IZIN USAHA PERDAGANGAN" PERATURAN MENTERI PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 11/MDAG/PER/3/2006 TENTANG KETENTUAN DAN TATA CARA PENERBITAN SURAT TANDA PENDAFTARAN AGEN ATAU DISTRIBUTOR BARANG DAN/ATAU JASA PERATURAN MENTERI PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 12/MDAG/PER/3/2006 TENTANG KETENTUAN DAN TATA CARA PENERBITAN SURAT TANDA PENDAFTARAN USAHA WARALABA PERATURAN MENTERI PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 13/MDAG/PER/3/2006 TENTANG KETENTUAN DAN TATA CARA PENERBITAN SURAT IZIN USAHA PENJUALAN LANGSUNG

141

142

Error! Hyperlink reference not valid.

143

KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 304/MPP/KEP/4/2001 TENTANG PENETAPAN HARGA PATOKAN IKAN UNTUK PERHITUNGAN PUNGUTAN HASIL PERIKANAN SURAT DIRJEND PERDAGANGAN LUAR NEGERI NOMOR 124/DJPLN/IV/2002 TANGGAL 11 APRIL 2002 TENTANG HPE KELAPA SAWIT, MINYAK KELAPA SAWIT, DAN PRODUK TURUNANNYA

144

145

KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR : KM.23 TAHUN 2002 TANGGAL 26 MARET 2002 TENTANG PENYELENGGARAAN JASA INTERNET TELEPONI UNTUK KEPERLUAN PUBLIK KEPUTUSAN BERSAMA MENTERI ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL NOMOR 145A K/05/MEM/2002 DAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN TENTANG FORUM KOMUNIKASI PENGGUNAAN PRODUK DALAM NEGERI DI SEKTOR ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 141/MPP/KEP/3/2002 TENTANG NOMOR PENGENAL IMPORTIR KHUSUS (NPIK)

146

147

PERATURAN MENTERI PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 14/MDAG/PER/3/2006 TENTANG KETENTUAN DAN TATA CARA PENERBITAN SURAT IZIN USAHA

282

JASA SURVEY

148

KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 121/MPP/KEP/2/2002 TENTANG KETENTUAN PENYAMPAIAN LAPORAN KEUANGAN TAHUNAN PERUSAHAAN KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 111/MPP/KEP/2/2002 TENTANG SURAT KETERANGAN ASAL ("CERTIFICATE OF ORIGIN") BARANG EKSPOR INDONESIA MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA KEPUTUSAN BERSAMA MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN NO. 89/MPP/KEP/2/2002 TENTANG PENGHENTIAN SEMENTARA EKSPOR PASIR LAUT KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN RI NOMOR 24/MPP/KEP/1/2002 TANGGAL 15 JANUARI 2002 TENTANG PEMBEBASAN DAN PENGANGKATAN KETUA MERANGKAP ANGGOTA KOMITE ANTI DUMPING INDONESIA (KADI) KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN NOMOR : 59/MPP/KEP/I/2002 TENTANG PENUNJUKAN BALAI/LEMBAGA UJI SEBAGAI LABORATORIUM PENGUJI TEPUNG TERIGU KEPUTUSAN MENTERI PERUNDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN RI NOMOR 546/MPP/KEP/7/2002 TANGGAL 24 JULI 2002 TENTANG PEMBENTUKAN TIM BEA MASUK ANTI DUMPING TERHADAP IMPOR TEPUNG TERIGU KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN NOMOR : 575/MPP/KEP/VIII/2002 TGL 6 AGUSTUS 2002 TENTANG PERUBAHAN ATAS LAMPIRAN KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN NOMOR 558/MPP/KEP/12/1998 TENTANG KETENTUAN UMUM DIBIDANG EKSPOR SEBAGAIMANA TELAH DIUBAH BEBERAPA KALI TERAKHIR DENGAN KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN NOMOR 443/MPP/KEP/5/2002 KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 560/MPP/KEP/7/2002 TENTANG TANDA TERA TAHUN 2003 KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 564/MPP/KEP/7/2002 TENTANG PENUNJUKAN BALAI/LEMBAGA UJI SEBAGAI LABORATORIUM PENGUJI LAMPU SWA BALLAST UNTUK PELAYANAN PENCAHAYAAN UMUM

149

PERATURAN MENTERI PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 15/MDAG/PER/3/2006 TENTANG PENGAWASAN DAN PENGENDALIAN IMPOR, PENGEDARAN DAN PENJUALAN, DAN PERIZINAN MINUMAN BERALKOHOL PERATURAN MENTERI PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 16/MDAG/PER/3/2006 TENTANG PENATAAN DAN PEMBINAAN PERGUDANGAN

150

151

152

153

154

155

156

283

157

KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN NOMOR : 510/MPP/KEP/6/2002 TENTANG PENETAPAN HARGA PATOKAN UNTUK PERHITUNGAN PROVISI SUMBER DAYA HUTAN (PSDH) KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN RI NOMOR 527/MPP/KEP/7/2002 TANGGAL 5 JULI 2002 TENTANG TATA KERJA TIM NASIONAL WTO DAN PEMBENTUKAN KELOMPOK PERUNDING UNTUK PERUNDINGAN PERDAGANGAN MULTILATERAL DALAM KERANGKA WTO KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 547/MPP/KEP/7/2002 TENTANG PEDOMAN PENDAFTARAN PETUNJUK PENGGUNAAN (MANUAL) DAN KARTU JAMINAN/GARANSI DALAM BAHASA INDONESIA BAGI PRODUK TEKNOLOGI INFORMASI DAN ELEKTRONIKA KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 547/MPP/KEP/7/2002 TENTANG PENETAPAN HARGA PATOKAN IKAN UNTUK PERHITUNGAN PUNGUTAN HASIL PERIKANAN KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 480/MPP/KEP/7/2003 TENTANG PENUNJUKAN SURVEYOR SEBAGAI PELAKSANA VERIFIKASI ATAU PENELUSURAN TEKNIS IMPOR BUS KOTA DAN PERKOTAAN DALAM KEADAAN BUKAN BARU KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR: 418/MPP/KEP/6/2003 TENTANG KETENTUAN IMPOR NITRO CELLULOSE (NC) KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN RI NOMOR 417/MPP/KEP/6/2003 TANGGAL 17 JUNI 2003 TENTANG PERUBAHAN KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN NOMOR 230/MPP/KEP/7/1997 TENTANG BARANG YANG DIATUR TATA NIAGA IMPORNYA KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN NOMOR : 444/MPP/KEP/6/2003 TENTANG PENETAPAN HARGA PATOKAN UNTUK PERHITUNGAN PROVISI SUMBER DAYA HUTAN (PSDH) KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 458/MPP/KEP/7/2003 TENTANG KETENTUAN DAN TATA CARA IMPOR BUS KOTA DAN PERKOTAAN DALAM KEADAAN BUKAN BARU

158

159

160

161

162

163

164

165

284

166

KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN RI NOMOR 415/MPP/KEP/6/2003, TANGGAL 17 JUNI 2003 TENTANG PEMBERIAN KUASA PERMINTAAN PENGENAAN SANKSI ADMINISTRASI ANGKA PENGENAL IMPORTIR (API) KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN RI NOMOR 414/MPP/KEP/6/2003, TANGGAL 17 JUNI 2003 TENTANG PEMBERI KUASA UNTUK PENERBITAN PERSETUJUAN IMPOR BARANG TANPA API KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 389/MPP/KEP/5/2003 TENTANG PERUBAHAN ATAS KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN NOMOR : 276/MPP/KEP/4/2003 TENTANG VERIFIKASI ATAU PENELUSURAN TEKNIS IMPOR TEKSTIL DAN PRODUK TEKSTIL (TPT) KEPUTUSAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 232/KMK.04/2003 TANGGAL 29 MEI 2003 TENTANG PENETAPAN TARIF BEA MASUK ATAS IMPOR BARANG DALAM RANGKA ASEAN INTEGRATION SYSTEM OF REFERENCES (AISP) UNTUK NEGARA-NEGARA ANGGOTA BARU ASEAN (MYANMAR, VIETNAM, CAMBODIA) KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 306/MPP/KEP/4/2003 TENTANG PERUBAHAN ATAS KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN NOMOR 70/MPP/KEP/2/2003 TENTANG PENGADAAN DAN PENYALURAN PUPUK BERSUBSIDI UNTUK SEKTOR PERTANIAN KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN NOMOR 117/MPP/KEP/2/2003 TENTANG PENGHENTIAN SEMENTARA EKSPOR PASIR LAUT KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 115/MPP/KEP/2/2003 TENTANG PERUBAHAN KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NO. 52/MPP/KEP/I/2003 TENTANG PANITIA PENYELENGGARA PAMERAN PRODUKSI INDONESIA 2003 KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 84/MPP/KEP/2/2003 TENTANG KOMITE PENGAMANAN PERDAGANGAN INDONESIA KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 85/MPP/KEP/2/2003 TENTANG TATA CARA DAN PERYSARATAN PERMOHONAN PENYELIDIKAN ATAS PENGAMANAN INDUSTRI DALAM NEGERI DARI AKIBAT LONJAKAN IMPOR

167

168

169

170

171

172

173

174

285

175

KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR: 68/MPP/KEP/2/2003 TENTANG PERDAGANGAN KAYU ANTAR PULAU KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR: 70/MPP/KEP/2/2003 TENTANG PENGADAAN DAN PENYALURAN PUPUK BERSUBSIDI UNTUK SEKTOR PERTANIAN KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 52/MPP/KEP/1/2003 TENTANG PANITIA PENYELENGGARA PAMERAN PRODUKSI INDONESIA 2002 LAMPIRAN KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 40/MPP/ TENTANG ANGKA PENGENAL IMPORTIR (API) KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 40/MPP/KEP/1/2003 TENTANG ANGKA PENGENAL IMPORTIR (API) KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 32/MPP/KEP/1/2003 TENTANG KETENTUAN EKSPOR PRODUK INDUSTRI KEHUTANAN KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN NOMOR : 31/MPP/KEP/1/2003 22 JANUARI 2003 TENTANG PERUBAHAN ATAS LAMPIRAN KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN NOMOR 558/MPP/KEP/12/1998 TENTANG KETENTUAN UMUM DIBIDANG KSPOR SEBAGAIMANA TELAH DIUBAH BEBERAPA KALI TERAKHIR DENGAN KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN NOMOR 575/MPP/KEP/8/2002 KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN NOMOR : 3/MPP/KEP/1/2003 TENTANG PERUBAHAN LAMPIRAN KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN NOMOR 802/MPP/KEP/12/2002 TENTANG PUSAT PENYELESAIAN MASALAH USAHA (BUSINESS SOLUTION CENTER) KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN NOMOR: 519/MPP/KEP/8/2003 TENTANG PERUBAHAN ATAS LAMPIRAN KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN NOMOR 558/MPP/KEP/12/1998 TENT ANG KETENTUAN UMUM DI BIDANG EKSPOR SEBAGAIMANA TELAH DIUBAH BEBERAPA KALI TERAKHIR DENGAN KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN NOMOR 118/MPP/KEP/2/2003

176

177

178

179

180

181

182

183

286

184

KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 411MPP/KEP/6/2003 TENTANG PERUBAHAN ATAS KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN NOMOR 756/MPP/KEP/11/2002 TENTANG IMPOR MESIN DAN PERALATAN MESIN BUKAN BARU KEPUTUSAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 381/KMK.01/2003 TANGGAL 3 SEPTEMBER 2003 TENTANG PEMBERIAN PEMBEBASAN BEA MASUK ATAS IMPOR BAHAN BAKU/KOMPONEN UNTUK PEMBUATAN PERALATAN DAN JARINGAN TELEKOMUNIKASI OLEH INDUSTRI MANUFAKTUR TELEKOMUNIKASI KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR: 529/MPP/KEP/9/2003 TENTANG PEMBENTUKAN TIM PEMANTAUAN HARGA DAN ANTISIPASI PENGADAAN BARANG DALAM MENGHADAPI HARI RAYA KEAGAMAAN NASIONAL TAHUN 2003/2004 KEPUTUSAN MENTERI NEGARA BADAN USAHA MILIK NEGARA NOMOR KEP-236/BMU/2003 TANGGAL 17 JUNI 2003 TENTANG PROGRAM KEMITRAAN BADAN USAHA MILIK NEGARA DENGAN USAHA KECIL DAN PROGRAM BINA LINGKUNGAN KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR: 518/MPP/KEP/8/2003 TENTANG PENJABARAN TUGAS DAN FUNGSI PUSAT PROMOSI PERDAGANGAN INDONESIA DI LUAR NEGERI KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR: 517/MPP/KEP/8/2003 TENTANG TUGAS DAN FUNGSI ATASE/KEPALA BIDANG PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN DI LUAR NEGERI KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR: 522/MPP/KEP/8/2003 TENTANG T ANDA TERA TAHUN 2004 KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN RI NOMOR 662.1/MPP/KEP/10/2003 TENTANG TIM FREE TRADE ARRANGEMENT (FTA) KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN REPUBLIK NDONESIA NOMOR : 276/MPP/KEP/4/2003 TENTANG KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN REPUBLIK NDONESIA NOMOR : 276/MPP/KEP/4/2003 TGL 9 APRIL 2003 TENTANG VARIFIKASI ATAU PENELUSURAN TEKNIS IMPOR TEKSTIL DAN PRODUK TEKSTIL (TPT)

185

186

187

188

189

190

191

192

287

193

KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN NOMOR 645.1/MPP/KEP/10/2003 TENTANG TIM INTEGRASI EKONOMI ASEAN KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 756/MPP/KEP/12/2003 TENTANG IMPOR BARANG MODAL BUKAN BARU KEPUTUSAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 584/KMK.04/2003 TENTANG PEMASUKAN BARANG-BARANG DARI LUAR DAERAH PABEAN KE KAWASAN BERIKAT (BONDED ZONE) DAERAH INDUSTRI PULAU BATAM KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 757/MPP/KEP/12/2003 TENTANG LARANGAN SEMENTARA IMPOR HEWAN RUMINANSIA DAN PRODUK TURUNANNYA YANG BERASAL DARI AMERIKA SERIKAT LAMPIRAN KEPUTUSAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 545/KMK.01/2003 TGL. 18 DESEMBER 2003 TENTANG PENETAPAN SISTEM KLASIFIKASI BARANG IMPOR KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NO. 520/MPP/KEP/8/2003 TENTANG LARANGAN IMPOR LIMBAH BAHAN BERBAHAYA DAN BERACUN (B3) KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 479/MPP/KEP/7/2003 TENTANG PENUNJUKAN SURVEYOR SEBAGAI PELAKSANA VERIFIKASI ATAU PENELUSURAN TEKNIS IMPOR NITRO CELLULOSE (NC) KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIANOMOR : 478/MPP/KEP/7/2003 TENTANG PERUBAHAN ATAS KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN NOMOR 230/MPP/KEP/7/1997 TENTANG BARANG YANG DIATUR TATA NIAGA IMPORNYA SEBAGAIMANA TELAH BEBERAPA KALI DIUBAH TERAKHIR DENGAN KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN NOMOR 789/MPP/KEP/12/2002 DAN KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN NOMOR 254/MPP/KEP/7/2000 TENTANG TATA NIAGA IMPOR DAN PEREDARAN BAHAN BERBAHAYA TERTENTU KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 710/MPP/KEP/12/2003 TENTANG PERUBAHAN ATAS KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN NOMOR 458/MPP/KEP/7/2003 TENTANG KETENTUAN DAN TATA CARA IMPOR BUS KOTA DAN PERKOTAAN DALAM KEADAAN BUKAN BARU

194

195

196

197

198

199

200

201

288

202

KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 711/MPP/KEP/12/2003 TENTANG KETENTUAN IMPOR BESI ATAU BAJA CANAI LANTAIAN DAN PRODUK BAJA KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 705/MPP/KEP/11/2003 TENTANG PERSYARATAN TEKNIS INDUSTRI AIR MINUM DALAM KEMASAN DAN PERDAGANGANNYA KEPUTUSAN DIREKTUR JENDERAL INDUSTRI LOGAM MESIN ELEKTRONIKA DAN ANEKA NOMOR : 024/SK/ILMEA/XI/2003 TENTANG KETENTUAN INDUSTRI PERAKITAN DAN TINGKAT KETERURAIAN KENDARAAN BERMOTOR DAN KOMPONEN UNTUK TUJUAN PERAKITAN KEPUTUSAN DIREKTUR JENDERAL BEA DAN CUKAI NOMOR KEP-151/BC/2003, TANGGAL 28 JULI 2003 TENTANG PETUNJUK PELAKSANA KEPABEANAN DI BIDANG EKSPOR KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR: 647/MPP/KEP/10/2003 TENTANG KETENTUAN EKSPOR PRODUK INDUSTRI KEHUTANAN KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN RI NOMOR 644/MPP/KEP/10/2003 TANGGAL 10 OKTOBER 2003 TENTANG PENUNJUKAN SURVEYOR SEBAGAI PELAKSANA VERIFIKASI ATAU PENELUSURAN TEKNIS IMPOR MESIN DAN PERALATAN MESIN DALAM KEADAAN BUKAN BARU KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN R.I. NOMOR 662/MPP/KEP/10/2003, TANGGAL 23 OKTOBER TENTANG PERUBAHAN ATAS KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN NOMOR 418/MPP/KEP/6/2003 TENTANG KETENTUAN IMPOR NITRO CELLULOSE (NC) KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 545/MPP/KEP/9/2003 TENTANG PERUBAHAN ATAS KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN NOMOR 135/MPP/KEP/3/2003 TENTANG PENETAPAN ALOKASI KUOTA EKSPOR TEKSTIL DAN PRODUK TEKSTIL (TPT) UNTUK DAERAH PROVINSI NANGROE ACEH DARUSSALAM (NAD) KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 135/MPP/KEP/3/2003 TENTANG PENETAPAN ALOKASI KUOTA EKSPOR TEKSTIL DAN PRODUK TEKSTIL (TPT) UNTUK DAERAH PROVINSI NANGROE ACEH DARUSSALAM (NAD)

203

204

205

206

207

208

209

210

289

211

KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN REPUBLIK INDONSIA NOMOR: 594/MPP/KEP/9/2004 TENTANG PENUNJUKAN SURVEYOR SEBAGAI PELAKSANA VERIFIKASI ATAU PENELUSURAN TEKNIS IMPOR GULA KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 527/MPP/KEP/9/2004 TENTANG KETENTUAN IMPOR GULA KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 597/MPP/KEP/9/2004 TENTANG PEDOMAN BIAYA ADMINISTRASI WAJIB DAFTAR PERUSAHAAN DAN INFORMASI TANDA DAFTAR PERUSAHAAN KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR: 595/MPP/KEP/9/2004 TENTANG PEMBERLAKUAN STANDAR NASIONAL INDONESIA ( S N I ) BAN SECARA WAJIB KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 476/MPP/KEP/8/2004 TENTANG PENETAPAN HARGA PATOKAN TUMBUHAN ALAM DAN SATWA LIAR YANG TIDAK DILINDUNGI UNDANG-UNDANG KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN RI NOMOR 492/MPP/KEP/8/2004 TENTANG PENUNJUKAN SURVEYOR SEBAGAI PELAKSANA SURVEY ATAS IMPOR BARANG MODAL BUKAN BARU KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN RI NOMOR 491/MPP/KEP/8/2004 TENTANG PERUBAHAN ATAS KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN NOMOR 480/MPP/KEP/7 2003 TENTANG PENUNJUKAN SURVEYOR SEBAGAI PELAKSANA VERIFIKASI ATAU PENELUSURAN TEKNIS IMPOR BUS KOTA DAN PERKOTAAN DALAM KEADAAN BUKAN BARU KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NO : 466/MPP/KEP/8/2004 TENTANG PERUBAHAN ATAS KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN NOMOR 757/MPP/KEP/12/2003 TENTANG LARANGAN SEMENTARA IMPOR HEWAN RUMINANSIA DAN PRODUK TURUNANNYA YANG BERASAL DARI AMERIKA SERIKAT KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 456/MPP/KEP/7/2004 TENTANG PENUNJUKAN SURVEYOR SEBAGAI PELAKSANA VERIFIKASI ATAU PENELUSURAN TEKNIS IMPOR GARAM

212

213

214

215

216

217

218

219

290

220

KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 455/MPP/KEP/7/2004 TENTANG PENGECUALIAN ATAS KETENTUAN IMPOR GARAM UNTUK INDUSTRI DAN PEMBERIAN KUASA PENERBITAN PERSETUJUAN IMPOR GARAM KEPUTUSAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 48 TAHUN 2004 TENTANG PENGESAHAN FRAMEWORK AGREEMENT ON COMPREHENSIVE ECONOMIC CO-OPERATION BETWEEN THE ASSOCIATION OF SOUTH EAST ASIAN NATIONS AND THE PEOPLE'S REPUBLIC OF CHINA (PERSETUJUAN KERANGKA KERJA MENGENAI KERJASAMA EKONOMI MENYELURUH ANTARA NEGARA-NEGARA ANGGOTA ASOSIASI BANGSA-BANGSA ASIA TENGGARA DAN REPUBLIK RAKYAT CHINA) KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN RI NOMOR 376/MPP/KEP/6/2004 TANGGAL 7 JUNI 2004 TENTANG PERUBAHAN KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN NOMOR 360/MPP/KEP/5/2004 TENTANG KETENTUAN IMPOR GARAM KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN RI NOMOR 372/MPP/KEP/6/2004 TANGGAL 7 JUNI 2004 TENTANG PEMBENTUKAN TIM MONITORING PENGADAAN, PENDISTRIBUSIAN DAN PERKEMBANGAN HARGA BERAS, GULA PASIR, MINYAK GORENG, MINYAK TANAH DAN PUPUK KEPUTUSAN BERSAMA MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN DAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NO TENTANG PELIMPAHAN TUGAS DAN WEWENANG MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN MENGENAI PEMBINAAN DAN PENGAWASAN USAHA JASA PENILAI KEPADA MENTERI KEUANGAN KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 422/MPP/KEP/6/2004 TENTANG MASA PANEN RAYA GARAM RAKYAT TAHUN 2004 KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 420/MPP/KEP/6/2004 TENTANG PERUBAHAN KEDUA ATAS KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN NOMOR 458/MPP/KEP/7/2003 TENTANG KETENTUAN DAN TATA CARA IMPOR BUS KOTA DAN PERKOTAAN DALAM KEADAAN BUKAN BARU KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 359/MPP/KEP/5/2004 TENTANG KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN R.I. NOMOR : 360/MPP/KEP/5/2004 TENTANG KETENTUAN IMPOR GARAM

221

222

223

224

225

226

227

228

291

229

KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR:357/MPP/KEP/5/2004 TENTANG PERUBAHAN ATAS KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN NOMOR 9/MPP/KEP/1/2004 TENTANG KETENTUAN IMPOR BERAS KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN R.I. NOMOR: 356/MPP/KEP/5/2004 TENTANG PERUBAHAN KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN R.I NOMOR 70/MPP/KEP/2/2003 TENTANG PENGADAAN DAN PENY ALURAN PUPUK BERSUBSIDI UNTUK SEKTOR PERTANIAN SEBAGAIMANA TELAH DIUBAH DENGAN KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN R.I NOMOR 306/MPP/KEP/4/2003 KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR: 355/MPP/KEP/5/2004 TENTANG PENGATURAN EKSPOR ROTAN KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 335/MPP/KEP/752004 TENTANG TENTANG TANDA TERA TAHUN 2005 KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR: 334/MPP/KEP/5/2004 TENTANG TENTANG PERUBAHAN ATAS KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN NOMOR 61/MPP/KEP/2/2004 TENTANG PERDAGANGAN GULA ANTAR PULAU KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 292/MPP/KEP/4/2004 TENTANG PENETAPAN HARGA PATOKAN IKAN UNTUK PERHITUNGAN PUNGUTAN HASIL PERIKANAN KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN RI NO. 37/MPP/KEP/1/2004 TANGGALL 29 JANUARI 2004 TENTANG PEMBENTUKAN TIM PEMANTAUAN PERSEDIAAN DAN HARGA BERAS DALAM NEGERI KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR: 62/MPP/KEP/2/2004 TENTANG PEDOMAN CARA UJI KANDUNGAN KADAR NIKOTIN DAN TAR ROKOK KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR: 67/MPP/KEP/2/2004 TENTANG PENUNJUKAN SURVEYOR SEBAGAI PELAKSANA VERIFIKASI ATAU PENELUSURAN TEKNIS IMPOR BERAS, BERAS BERKULIT COCOK UNTUK DISEMAI (BENIH), BERAS KET AN (PULUT), TEPUNG BERAS DAN TEPUNG LAINNYA

230

231

232

233

234

235

236

237

292

238

KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR: 61/MPP/KEP/2/2004 TENTANG PERDAGANGAN GULA ANTAR PULAU KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 60/MPP/KEP/2/2004 TENTANG PENCABUTAN KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN NOMOR 711/MPP/KEP/12/2003 TENTANG KETENTUAN IMPOR BESI ATAU BAJA CANAI LANTAIAN DAN PRODUK BAJA KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 9/MPP/KEP/1/2004 TENTANG KETENTUAN IMPOR BERAS KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR: 650/MPP/KEP/10/2004 TENTANG KETENTUAN PENYELENGGARAAN PASAR LELANG DENGAN PENYERAHAN KEMUDIAN (FORWARD) KOMODITI AGRO KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 651/MPP /KEP/L0/2004 TENTANG PERSYARATAN TEKNIS DEPOT AIR MINUM DAN PERDAGANGANNYA KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 648/MPP/KEP/L0/2004 TENTANG PELAPORAN DAN PENGAWASAN PERUSAHAAN INDUSTRI CAKRAM OPTIK (OPTICAL DISC) KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR: 647/MPP/KEP/10/2004 TENTANG KETENTUAN IMPOR PREKURSOR KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 645/MPP/KEP/10/2004 TENTANG KETENTUAN IMPOR MESIN, PERALATAN MESIN, BAHAN BAKU, DAN CAKRAM OPTIK KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN NOMOR: 385/MPP/KEP/6/2004 TENTANG PERUBAHAN ATAS LAMPIRAN KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN NOMOR 558/MPP/KEP/12/1998 TENTANG KETENTUAN UMUM DIBIDANG EKSPOR SEBAGAIMANA TELAH DIUBAH BEBERAPA KALI TERAKHIR DANGAN KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN NOMOR 519/MPP/KEP/8/2003

239

240

241

242

243

244

245

246

293

247

KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 610/MPP/KEP/1O/2004. TENTANG PERUBAHAN ATAS KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN NOMOR 756/MPP/KEP/12/2003 TENTANG IMPOR BARANG MODAL BUKAN BARU KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR: 596/MPP/KEP/9/2004 TENTANG STANDAR PENYELENGGARAAN WAJIB DAFTAR PERUSAHAAN KEPUTUSAN BERSAMA MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN DAN MENTERI KEHUTANAN NOMOR : 495.1/MPP/ TENTANG PERUBAHAN KEPUTUSAN BERSAMA MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN NOMOR 803/MPP/KEP/12/2002 DAN MENTERI KEHUTANAN NOMOR 10267/KPTS-II/2002 TENTANG PEMBENTUKAN BADAN REVITALISASI INDUSTRI KEHUTANAN KEPUTUSAN BERSAMA MENTERI KEHUTANAN RI. DAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN RI. TENTANG LARANGAN EKSPOR BANTALAN REL KERETA API DARI KAYU DAN KAYU GERGAJIAN KEPUTUSAN MENTERI PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR: 04/M/KEP/2004 KETENTUAN EKSPOR TEKSTIL DAN PRODUK TEKSTIL (TPT) KEPUTUSAN BERSAMA MENTERI PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA DAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK IDNDONESIA TENTANG LARANGAN IMPOR UDANG KE WILAYAH REPUBLIK INDONESIA KEPUTUSAN MENTERI PERDAGANGAN RI NOMOR 02/M/KEP/XII/2004 TENTANG PERUBAHAN ATAS KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN NOMOR 527/MPP/KEP/9/2004 TENTANG KETENTUAN IMPOR GULA NOTA KESEPAKATAN PERTUKARAN DOKUMEN/DATA SECARA ELEKTRONIK ANTARA DEPARTEMEN PERDAGANGAN, DEPARTEMEN TENTANG NOTA KESEPAKATAN PERTUKARAN DOKUMEN/DATA SECARA ELEKTRONIK ANTARA DEPARTEMEN PERDAGANGAN, DEPARTEMEN KEUANGAN DAN DEPARTEMEN PERINDUSTRIAN PERATURAN BERSAMA MENTERI PERDAGANGAN DAN MENTERI KEUANGAN DAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK NDON TENTANG PEMBENTUKAN TIM PERTUKARAN DOKUMEN/DATA SECARA ELEKTRONIK

248

249

250

251

252

253

254

255

294

256

PERATURAN BERSAMA MENTERI PERINDUSTRIAN DAN MENTERI PERDAGANGAN REPUBLIK NDONESIA NOMOR : 02/M-I TENTANG PERUBAHAN ATAS KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN NOMOR: 595/MPP/KEP/9/2004 TENTANG PEMBERLAKUAN STANDAR NASIONAL INDONESIA (SNI) BAN SECARA WAJIB PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 22 TAHUN 2005 TENTANG HARGA JUAL ECERAN BAHAN BAKAR MINYAK DALAM NEGERI KEPUTUSAN MENTERI PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 02/M/KEP/1/2005 TANGGAL 4 JANUARI 2005 TENTANG PENUNJUKAN SURVEYOR SEBAGAI PELAKSANA SURVEY ATAS IMPOR BARANG MODAL BUKAN BARU UNTUK DAERAHDAERAH YANG TERKENA BENCANA ALAM DI PROVINSI NANGGROE ACEH DARUSSALAM, SUMATERA UTARA, PAPUA DAN NUSA TENGGARA TIMUR KEPUTUSAN BERSAMA MENTERI PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA DAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA TENTANG IMPOR BARANG MODAL BUKAN BARU UNTUK DAERAH-DAERAH YANG TERKENA BENCANA ALAM DI PROVINSI NANGGROE ACEH DARUSSALAM, SUMATERA UTARA, PAPUA DAN NUSA TENGGARA TIMUR

257

258

259

295

Tabel 6.28. Pembagian Urusan Pemerintahan Bidang Perindustrian
NO 1. KEMENTERIAN PERINDUSTRIAN KEPMEN PERMEN KEPUTUSAN BERSAMA MENTERI PERDAGANGAN PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA DAN MENTERI NOMOR 01/M-IND/PER/1/2010 TANGGAL 4 PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR JANUARI 2010 TENTANG PENUNJUKAN 01/M/KEP/1/2005 DAN NOMOR 01/M/KEP/1/2005 LEMBAGA PENILAIAN KESESUAIAN DALAM TANGGAL 3 JANUARI 2005 TENTANG IMPOR RANGKA PEMBERLAKUAN DAN PENGAWASAN BARANG MODAL BUKAN BARU UNTUK DAERAH- STANDAR NASIONAL INDONESIA (SNI) AIR DAERAH YANG TERKENA BENCANA ALAM DI MINUM DALAM KEMASAN (AMDK) SECARA PROVINSI NANGGROE ACEH DARUSSALAM, WAJIB SUMATERA UTARA, PAPUA DAN NUSA TENGGARA TIMUR KEPUTUSAN MENTERI PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 02/M/KEP/1/2005 TANGGAL 4 JANUARI 2005 TENTANG PENUNJUKAN SURVEYOR SEBAGAI PELAKSANA SURVEY ATAS IMPOR BARANG MODAL BUKAN BARU UNTUK DAERAHDAERAH YANG TERKENA BENCANA ALAM DI PROVINSI NANGGROE ACEH DARUSSALAM, SUMATERA UTARA, PAPUA DAN NUSA TENGGARA TIMUR KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 406/MPP/KEP/6/2004 TANGGAL 12 JULI 2005 TENTANG PERUBAHAN ATAS KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN NOMOR 230/MPP/KEP/7/1997 TENTANG BARANG YANG DIATUR TATA NIAGA IMPORNYA SEBAGAIMANA TELAH BEBERAPA KALI DIUBAH TERAKHIR DENGAN KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN NOMOR 478/MPP/KEP KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 9/MPP/KEP/1/2004 TANGGAL 10 JANUARI 2004 TENTANG KETENTUAN IMPOR BERAS PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 09/M IND/PER/1/2010 TANGGAL 26 JANUARI 2010 TENTANG KETENTUAN DAN TATA CARA PENERBITAN PERTIMBANGAN TEKNIS/REKOMENDASI ATAS IMPOR BARANG MODAL BUKAN BARU BAGI PERUSAHAAN REKONDISI DAN PERUSAHAAN RREMANUFAKTURING PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 11/MIND/PER/1/2009 TANGGAL 29 JANUARI 2010 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN NOMOR 116/MIND/PER/10/2009 TENTANG PETA PADUAN (ROAD MAP) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI GULA

2.

3.

4.

PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 12/MIND/PER/1/2010 TANGGAL 29 JANUARI 2010 TENTANG TIM PELAKSANA RENCANA AKSI REVITALISASI GULA MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 13/M-IND/PER/I/2010 TANGGAL 29 JANUARI 2010 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN NOMOR 111/M-IND/PER/10/2009 TENTANG PETA PANDUAN (ROAD MAP) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI HILIR KELAPA SAWIT PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 14/MIND/PER/I/2010 TANGGAL 29 JANUARI 2010 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN NOMOR 105/MIND/PER/10/2009 TENTANG PETA PANDUAN (ROAD MAP) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PETROKIMIA PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15/MIND/PER/I/2010 TANGGAL 29 JANUARI 2010 TENTANG TIM PELAKSANA RENCANA AKSI KLASTER INDUSTRI PETROKIMIA DAN TIM

5.

KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN RI NOMOR 37/MPP/KEP/1/2004 TANGGAL 29 JANUARI 2004 TENTANG PEMBENTUKAN TIM PEMANTAUAN PERSEDIAAN DAN HARGA BERAS DALAM NEGERI

6.

KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 60/MPP/KEP/2/2004 TANGGAL 17 FEBRUARI 2004 TENTANG PENCABUTAN KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN NOMOR 711/MPP/KEP/12/2003 TENTANG KETENTUAN IMPOR BESI ATAU BAJA CANAI LANTAIAN DAN PRODUK BAJA KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 62/MPP/KEP/2/2004 TANGGAL 17 FEBRUARI 2004 TENTANG PEDOMAN CARA UJI KANDUNGAN

7.

296

KADAR NIKOTIN DAN TAR ROKOK

PELAKSANA RENCANA INDUSTRI KELAPA SAWIT

AKSI

KLASTER

8.

KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 334/MPP/KEP/5/2004 TANGGAL 11 MEI 2004 TENTANG PERUBAHAN ATAS KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN NOMOR 61/MPP/KEP/2/2004 TENTANG PERDAGANGAN GULA ANTAR PULAU

PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 19/MIND/PER/2/2010 TANGGAL 4 FEBRUARI 2010 TENTANG DAFTAR MESIN, BARANG, DAN BAHAN PRODUKSI DALAM NEGERI UNTUK PEMBANGUNAN ATAU PENGEMBANGAN INDUSTRI DALAM RANGKA PENANAMAN MODAL PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 20/MIND/PER/2/2010 TANGGAL 4 FEBRUARI 2010 TENTANG PERUBAHAN KETIGA ATAS PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN NO.90/M-IND/PER/11/2008 TENTANG PROGRAM RESTRUKTURISASI MESIN/PERALATAN INDUSTRI ALAS KAKI PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 18/MIND/PER/2/2010 TANGGAL 4 FEBRUARI 2010 TENTANG PELIMPAHAN KEWENANGAN PEMBERIAN PERTIMBANGAN TEKNIS/REKOMENDASI BIDANG PERINDUSTRIAN KEPADA BADAN PENGUSAHAAN KAWASAN PERDAGANGAN BEBAS DAN PELABUHAN BEBAS BATAM, BINTAN DAN KARIMUN PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17/MIND/PER/2/2010 TANGGAL 4 FEBRUARI 2010 TENTANG TIM TEKNIS PENYIAPAN PERUNDINGAN PENYERAHAN PROYEK SAHAN

9.

KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 335/MPP/KEP/752004 TANGGAL 11 MEI 2004 TENTANG TANDA TERA TAHUN 2005

10.

KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 355/MPP/KEP/5/2004 TANGGAL 27 MEI 2004 TENTANG PENGATURAN EKSPOR ROTAN

11.

KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 357/MPP/KEP/5/2004 TANGGAL 27 MEI 2004 TENTANG PERUBAHAN ATAS KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN NOMOR 9/MPP/KEP/1/2004 TENTANG KETENTUAN IMPOR BERAS KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN R.I. NOMOR 356/MPP/KEP/5/2004 TANGGAL 27 MEI 2004 TENTANG PERUBAHAN KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN R.I NOMOR 70/MPP/KEP/2/2003 TENTANG PENGADAAN DAN PENY ALURAN PUPUK BERSUBSIDI UNTUK SEKTOR PERTANIAN SEBAGAIMANA TELAH DIUBAH DENGAN KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN R.I NOMOR 306/MPP/KEP/4/2003

12.

PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 16/MIND/PER/2/2010 TANGGAL 1 FEBRUARI 2010 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN NOMOR 147/MIND/PER/10/2009 TENTANG PENDELEGASIAN KEWENANGAN PEMBERIAN IZIN USAHA INDUSTRI, IZIN PERLUASAN, IZIN USAHA KAWASAN INDUSTRI, DAN IZIN PERLUASAN KAWASAN INDUSTRI DALAM RANGKA PELAYANAN TERPADU SATU PINTU (PTSP) KEPADA KEPALA BADAN KOORDINASI PENANAMAN MODA PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 24/MIND/PER/2/2010 TANGGAL 12 FEBRUARI 2010 TENTANG PENCANTUMAN LOGO TARA PANGAN DAN KODE DAUR ULANG PADA KEMASAN PANGAN DARI PLASTIK PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 27/MIND/PER/2/2010 TANGGAL 22 FEBRUARI 2010 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN NOMOR 95/MIND/PER/11/2008 TENTANG PENUNJUKAN

13.

KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 359/MPP/KEP/5/2004 TANGGAL 28 MEI 2004 TENTANG PENUNJUKAN SURVEYOR SEBAGAI PELAKSANA VERIFIKASI ATAU PENELUSURAN TEKNIS EKSPOR ROTAN KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN R.I. NOMOR 360/MPP/KEP/5/2004 TANGGAL 31 MEI 2004 TENTANG KETENTUAN IMPOR GARAM

14.

297

LEMBAGA PENILAIAN KESESUAIAN DALAM RANGKA PENERAPAN/ PEMBERLAKUAN DAN PENGAWASAN STANDAR NASIONAL INDONESIA (SNI) GULA KRISTAL RAFINASI (SNI 01-3140.2-2006) SECARA WAJIB 15. KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN RI NOMOR 372/MPP/KEP/6/2004 TANGGAL 7 JUNI 2004 TENTANG PEMBENTUKAN TIM MONITORING PENGADAAN, PENDISTRIBUSIAN DAN PERKEMBANGAN HARGA BERAS, GULA PASIR, MINYAK GORENG, MINYAK TANAH DAN PUPUK PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 27/MIND/PER/2/2010 TANGGAL 22 FEBRUARI 2010 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN NOMOR 95/MIND/PER/11/2008 TENTANG PENUNJUKAN LEMBAGA PENILAIAN KESESUAIAN DALAM RANGKA PENERAPAN/ PEMBERLAKUAN DAN PENGAWASAN STANDAR NASIONAL INDONESIA (SNI) GULA KRISTAL RAFINASI (SNI 01-3140.2-2006) SECARA WAJIB PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 26/MIND/PER/2/2010 TANGGAL 18 MARET 2010 TENTANG PEMBERIAN BANTUAN PERALATAN MESIN DAN ATAU MESIN

16.

KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN RI NOMOR 376/MPP/KEP/6/2004 TANGGAL 7 JUNI 2004 TENTANG PERUBAHAN KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN NOMOR 360/MPP/KEP/5/2004 TENTANG KETENTUAN IMPOR GARAM KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN NOMOR 385/MPP/KEP/6/2004 TANGGAL 11 JUNI 2004 TENTANG PERUBAHAN ATAS LAMPIRAN KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN NOMOR 558/MPP/KEP/12/1998 TENTANG KETENTUAN UMUM DIBIDANG EKSPOR SEBAGAIMANA TELAH DIUBAH BEBERAPA KALI TERAKHIR DANGAN KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN NOMOR 519/MPP/KEP/8/2003 KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 422/MPP/KEP/6/2004 TANGGAL 30 JUNI 2004 TENTANG MASA PANEN RAYA GARAM RAKYAT TAHUN 2004

17.

PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 31/MIND/PER/3/2010 TANGGAL 8 MARET 2010 TENTANG KETENTUAN DAN TATA CARA PELAKSANAAN PENGAWASAN INTERNAL KEMENTERIAN PERINDUSTRIAN

18.

PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 30/MIND/PER/3/2010 TANGGAL 5 MARET 2010 TENTANG PERUBAHAN KEDUA ATAS PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN NOMOR 15/M-IND/PER/3/2008 TENTANG PROGRAM RESTRUKTURISASI MESIN/PERALATAN INDUSTREI TEKSTIL DAN PRODUK TEKSTIL PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 35/MIND/PER/3/2010 TANGGAL 12 MARET 2010 TENTANG PEDOMAN TEKNIS KAWASAN INDUSTRI

19.

KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 420/MPP/KEP/6/2004 TANGGAL 30 JUNI 2004 TENTANG PERUBAHAN KEDUA ATAS KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN NOMOR 458/MPP/KEP/7/2003 TENTANG KETENTUAN DAN TATA CARA IMPOR BUS KOTA DAN PERKOTAAN DALAM KEADAAN BUKAN BARU KEPUTUSAN BERSAMA MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN DAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 423/MPP/KEP/7/2004 DAN NOMOR 327/KMK.06/2004 TANGGAL 1 JULI 2004 TENTANG PELIMPAHAN TUGAS DAN WEWENANG MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN MENGENAI PEMBINAAN DAN PENGAWASAN USAHA JASA PENILAI KEPADA MENTERI KEUANGAN KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN

20.

PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 37/MIND/PER/3/2010 TANGGAL 6 APRIL 2010 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN NOMOR 19/MIND/PER/2/2009 TENTANG PEMBERLAKUAN STANDAR NASIONAL INDONESIA (SNI) PUPUK SECARA WAJIB

21.

PERATURAN

MENTERI

PERINDUSTRIAN

298

PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 436/MPP/KEP/7/2004 TANGGAL 9 JULI 2004 TENTANG PENETAPAN HARGA PATOKAN UNTUK PERHITUNGAN PROVISI SUMBER DAYA HUTAN (PSDH) KAYU DAN ROTAN

REPUBLIK INDONESIA NOMOR 44/MIND/PER/4/2010 TANGGAL 6 APRIL 2010 TENTANG PERUBAHAN KEDUA ATAS PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN NOMOR 91/M-IND/PER/11/2008 TENTANG PROGRAM RESTRUKTURISASI MESIN/PERALATAN PABRIK GULA PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 49/MIND/PER/4/2010 NOMOR 49/M-IND/PER/4/2010 TANGGAL 15 APRIL 2010 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN NOMOR 169/M-IND/PER/12/2009 TENTANG PETUNJUK TEKNIS PENATAUSAHAAN DAN PENYUSUNAN LAPORAN PERTANGGUNGJAWABAN BENDAHARA DI LINGKUNGAN KEMENTERIAN PERINDUSTRIAN PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN NOMOR 55/M-IND/PER/4/2010 TANGGAL 25 APRIL 2010 TENTANG KETENTUAN DAN TATA CARA PENERBITAN REKOMENDASI/PERTIMBANGAN TEKNIS ATAS IMPOR BARANG MODAL BUKAN BARU BAGI PERUSAHAAN PEMAKAI LANGSUNG PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 60/MIND/PER/6/2010 TANGGAL 1 JUNI 2010 TENTANG PERUBAHAN KEDUA ATAS PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN NOMOR 45/MIND/PER/5/2009 TENTANG PEMBERLAKUAN STANDAR NASIONAL INDONESIA (SNI) KAKAO BUBUK SECARA WAJIB

22.

KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 455/MPP/KEP/7/2004 TANGGAL 26 JULI 2004 TENTANG PENGECUALIAN ATAS KETENTUAN IMPOR GARAM UNTUK INDUSTRI DAN PEMBERIAN KUASA PENERBITAN PERSETUJUAN IMPOR GARAM

23.

KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 456/MPP/KEP/7/2004 TANGGAL 27 JULI 2004 TENTANG PENUNJUKAN SURVEYOR SEBAGAI PELAKSANA VERIFIKASI ATAU PENELUSURAN TEKNIS IMPOR GARAM

24.

KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 466/MPP/KEP/8/2004 TANGGAL 6 AGUSTUS 2004 TENTANG PERUBAHAN ATAS KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN NOMOR 757/MPP/KEP/12/2003 TENTANG LARANGAN SEMENTARA IMPOR HEWAN RUMINANSIA DAN PRODUK TURUNANNYA YANG BERASAL DARI AMERIKA SERIKAT KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 476/MPP/KEP/8/2004 TANGGAL 18 AGUSTUS 2004 TENTANG PENETAPAN HARGA PATOKAN TUMBUHAN ALAM DAN SATWA LIAR YANG TIDAK DILINDUNGI UNDANG-UNDANG

25.

PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 69/MIND/PER/7/2010 TANGGAL 6 JULI 2010 TENTANG HARGA RESMI SELANG KARET DAN REGULATOR TEKANAN RENDAH TABUNG BAJA LIQUIFIED PETROLEUM GAS (LPG) 3 KG UNTUK WILAYAH JAWA DAN BALI PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 72/MIND/PER/7/2010 TANGGAL 13 JULI 2010 TENTANG PEMBERLAKUAN STANDAR NASIONAL INDONESIA KOREK API GAS SECARA WAJIB PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 75/MIND/PER/7/2010 TANGGAL 19 JULI 2010 TENTANG PEDOMAN TATA CARA PRODUKSI PANGAN OLAHAN YANG BAIK (GOOD MANUFACTURING PRATICES)

26.

KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN RI NOMOR 492/MPP/KEP/8/2004 TANGGAL 31 AGUSTUS 2004 TENTANG PENUNJUKAN SURVEYOR SEBAGAI PELAKSANA SURVEY ATAS IMPOR BARANG MODAL BUKAN BARU KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN RI NOMOR 491/MPP/KEP/8/2004 TANGGAL 31 AGUSTUS 2004 TENTANG PERUBAHAN ATAS KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN NOMOR 480/MPP/KEP/7 2003 TENTANG PENUNJUKAN SURVEYOR SEBAGAI PELAKSANA VERIFIKASI ATAU PENELUSURAN TEKNIS IMPOR BUS KOTA DAN PERKOTAAN DALAM KEADAAN BUKAN BARU KEPUTUSAN BERSAMA MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN DAN MENTERI KEHUTANAN NOMOR 495.1/MPP/KEP/9/2004 DAN NOMOR

27.

28.

PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN NOMOR 81/M-IND/PER/7/2010 TANGGAL 27 JULI 2010 TENTANG PEMBERLAKUAN STANDAR

299

SK.335.1/MENHIT-I/2004 TANGGAL 3 SEPTEMBER 2004 TENTANG PERUBAHAN KEPUTUSAN BERSAMA MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN NOMOR 803/MPP/KEP/12/2002 DAN MENTERI KEHUTANAN NOMOR 10267/KPTS-II/2002 TENTANG PEMBENTUKAN BADAN REVITALISASI INDUSTRI KEHUTANAN 29. KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 527/MPP/KEP/9/2004 TANGGAL 17 SEPTEMBER 2004 TENTANG KETENTUAN IMPOR GULA

NASIONAL INDONESIA PLASTIK-TANGKI AIR SILINDER VERTIKAL-POLIETILENA (PE) SECARA WAJIB

PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN NOMOR 84/M-IND/PER/8/2010 TANGGAL 3 AGUSTUS 2010 TENTANG PEMBERLAKUAN STANDAR NASIONAL INDONESIA TERHADAP 3 (TIGA) PRODUK INDUSTRI ELEKTRONIKA SECARA WAJIB PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 4/MIND/PER/1/2010 TANGGAL 11 JANUARI 2010 TENTANG PEMBERLAKUAN STANDAR NASIONAL INDONESIA KACA LEMBARAN SECARA WAJIB PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 90/MIND/PER/8/2010 TANGGAL 25 AGUSTUS 2010 TENTANG PEMBERLAKUAN STANDAR NASIONAL INDONESIA BAJA LEMBARAN DAN GULUNGAN CANAI DINGIN (B.J.D) SECARA WAJIB PERATURAN BERSAMA MENTERI PERINDUSTRIAN MENTERI ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL, MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI, MENTERI DALAM NEGERI DAN MENTERI NEGARA BADAN USAHA MILIK NEGARA NOMOR 102/M-IND/PER/9/2010, 16 TAHUN 2010, PER.13/MEN/IX/2010,PER04/MBU/2010 TANGGAL 17 SEPTEMBER 2010 TENTANG PENCABUTAN PERATURAN BERSAMA MENTERI PERINDUSTRIAN, MENTERI ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL, MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI, MENTERI DALAM NEGERI DAN MENTERI NEGARA BADAN USAHA MILIK NEGARA, NOMOR 47/M-IND/PER/7/2008, NOMOR 23TAHUN 2008, NOMOR PER.13/MEN/VII/2008, NOMOR 35 TAHUN 2008, NOMOR PER-03?MBU/08 TENTANG PENGOPTIMALAN BEBAN LISTRIK MELALUI PENGALIHAN WAKTU KERJA PADA SEKTOR INDUSTRI DI JAWA-BALI PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 59/MIND/PER/5/2010 TANGGAL 24 MEI 2010 TENTANG INDUSTRI KENDARAAN BERMOTOR

30.

KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 597/MPP/KEP/9/2004 TANGGAL 23 SEPTEMBER 2004 TENTANG PEDOMAN BIAYA ADMINISTRASI WAJIB DAFTAR PERUSAHAAN DAN INFORMASI TANDA DAFTAR PERUSAHAAN KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 596/MPP/KEP/9/2004 TANGGAL 23 SEPTEMBER 2004 TENTANG STANDAR PENYELENGGARAAN WAJIB DAFTAR PERUSAHAAN

31.

32.

KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN REPUBLIK INDONSIA NOMOR 594/MPP/KEP/9/2004 TANGGAL 23 SEPTEMBER 2004 TENTANG PENUNJUKAN SURVEYOR SEBAGAI PELAKSANA VERIFIKASI ATAU PENELUSURAN TEKNIS IMPOR GULA

33.

KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 595/MPP/KEP/9/2004 TANGGAL 23 SEPTEMBER 2004 TENTANG PEMBERLAKUAN STANDAR NASIONAL INDONESIA ( S N I ) BAN SECARA WAJIB KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 610/MPP/KEP/1O/2004. TANGGAL 4 OKTOBER 2004 TENTANG PERUBAHAN ATAS KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN NOMOR 756/MPP/KEP/12/2003 TENTANG IMPOR BARANG MODAL BUKAN BARU KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR

34.

PERATURAN MENTERI NOMOR 18/MIND/PER/2/2009 TANGGAL 16 FEBRUARI 2009 TENTANG KETENTUAN TATA CARA PENERBITAN REKOMENDASI ATAS IMPOR BARANG MODAL BUKAN BARU

35.

PERATURAN MENTERI NOMOR 19/MIND/PER/2/2009 TANGGAL 16 FEBRUARI 2009

300

651/MPP /KEP/L0/2004 TANGGAL 18 OKTOBER 2004 TENTANG PERSYARATAN TEKNIS DEPOT AIR MINUM DAN PERDAGANGANNYA 36. KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 648/MPP/KEP/L0/2004 TANGGAL 18 OKTOBER 2004 TENTANG PELAPORAN DAN PENGAWASAN PERUSAHAAN INDUSTRI CAKRAM OPTIK (OPTICAL DISC)

TENTANG PEMBERLAKUAN STANDAR NASIONAL INDONESIA (SNI) PUPUK SECARA WAJIB PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN NOMOR 30/M-IND/PER/3/2009 TANGGAL 12 MARET 2009 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN NOMOR 90/M-IND/PER/11/2008 TENTANG PROGRAM RESTRUKTURISASI MESIN/PERALATAN INDUSTRI ALAS KAKI PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 31/MIND/PER/3/2009 TANGGAL 16 MARET 2009 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN NOMOR 91/MIND/PER/11/2008 TENTANG PROGRAM RESTRUKTURISASI MESIN/PERALATAN PABRIK GULA PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN NOMOR 32/M-IND/PER/3/2008 TANGGAL 16 MARET 2009 TENTANG PENUNJUKKAN LEMBAGA PENILAIAN KESESUAIAN DALAM RANGKA PENERAPAN/PEMBERLAKUAN DAN PENGAWASAN STANDAR NASIONAL INDONESIA (SNI) BAJA LEMBARAN, PELAT DAN GULUNGAN CANAI PANAS (BJ.P) SECARA WAJIB PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN NOMOR 33/M-IND/PER/3/2008 TANGGAL 16 MARET 2009 TENTANG PENUNJUKAN LEMBAGA PENILAIAN KESESUAIAN DALAM RANGKA PENERAPAN/PEMBERLAKUAN DAN PENGAWASAN STANDAR NASIONAL INDONESIA (SNI) BAJA LEMBARAN DAN GULUNGAN LAPIS PADUAN ALUMUNIUM-SENG (BJ-LAS) SECARA WAJIB PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN NOMOR 36/M-IND/PER/3/2009 TANGGAL 27 MARET 2009 TENTANG PEMBERLAKUAN STANDAR NASIONAL INDONESIA (SNI) BATERAI PRIMER SECARA WAJIB

37.

KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 647/MPP/KEP/10/2004 TANGGAL 18 OKTOBER 2004 TENTANG KETENTUAN IMPOR PREKURSOR

38.

KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 645/MPP/KEP/10/2004 TANGGAL 18 OKTOBER 2004 TENTANG KETENTUAN IMPOR MESIN, PERALATAN MESIN, BAHAN BAKU, DAN CAKRAM OPTIK

39.

KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 650/MPP/KEP/10/2004 TANGGAL 18 OKTOBER 2004 TENTANG KETENTUAN PENYELENGGARAAN PASAR LELANG DENGAN PENYERAHAN KEMUDIAN (FORWARD) KOMODITI AGRO

40.

KEPUTUSAN MENTERI PERDAGANGAN RI NOMOR 02/M/KEP/XII/2004 TANGGAL 7 DESEMBER 2004 TENTANG PERUBAHAN ATAS KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN NOMOR 527/MPP/KEP/9/2004 TENTANG KETENTUAN IMPOR GULA KEPUTUSAN MENTERI PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 04/M/KEP/2004 TANGGAL 23 DESEMBER 2004 TENTANG KETENTUAN EKSPOR TEKSTIL DAN PRODUK TEKSTIL (TPT)

41.

PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN NOMOR 37/M-IND/PER/3/2009 TANGGAL 27 MARET 2009 TENTANG PEMBERLAKUAN STANDAR NASIONAL INDONESIA (SNI) SEPATU PENGAMAN SECARA WAJIB PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN NOMOR 38/M-IND/PER/3/2009 TANGGAL 27 MARET 2009 TENTANG PEMBERLAKUAN ATAS PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN NOMOR 01/M-IND/PER/1/2009 TENTANG PEMBERLAKUAN STANDAR NASIONAL INDONESIA (SNI) BAJA LEMBARAN, PELAT DAN GULUNGAN CANAI PANAS (BJ.P) SECARA WAJIB PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN NOMOR 39/M-IND/PER/3/2009 TANGGAL 27 MARET 2009 TENTANG PERUBAHAN ATAS

42.

KEPUTUSAN BERSAMA MENTERI PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA DAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 05/M/KEP/XII/2004 DAN NOMOR SKB.53/MEN/2004 TANGGAL 28 DESEMBER 2004 TENTANG LARANGAN IMPOR UDANG KE WILAYAH REPUBLIK INDONESIA

43.

KEPUTUSAN BERSAMA MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN DAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 423/MPP/KEP/7/2004

301

TANGGAL 1 JULI 2004 TENTANG PELIMPAHAN TUGAS DAN WEWENANG MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN MENGENAI PEMBINAAN DAN PENGAWASAN USAHA JASA PENILAI KEPADA MENTERI KEUANGAN

PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN NO.02/M-IND/PER/1/2009 TENTANG PEMBERLAKUAN STANDAR NASIONAL INDONESIA (SNI) BAJA LEMBARAN DAN GULUNGAN LAPIS PADUAN ALUMUNIUM-SENG (BJ.L AS) SECARA WAJIB PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN NOMOR 46/M-IND/PER/5/2009 TANGGAL 5 MEI 2009 TENTANG PEMANFAATAN SISTEM ELEKTRONIK DALAM KERANGKA EGOVERNMENT DI LINGKUNGAN DEPARTEMEN PERINDUSTRIAN PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN NOMOR 01/M-IND/PER/1/2009 TANGGAL 7 JANUARI 2009 TENTANG PEMBERLAKUAN STANDAR NASIONAL INDONESIA (SNI) BAJA LEMBARAN, PELAT DAN GULUNGAN CANAI PANAS (BJ.P) SECARA WAJIB

44.

KEPUTUSAN MENTERI PERTANIAN NOMOR 03/KPTS/KB.410/1/2003 TANGGAL 5 JANUARI 2003 TENTANG PENERAPAN SECARA WAJIB SNI GULA KRISTAL MENTAH (SNI 01-3140.1-2001)

45.

KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN NOMOR 3/MPP/KEP/1/2003 TANGGAL 7 JANUARI 2003 TENTANG PERUBAHAN LAMPIRAN KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN NOMOR 802/MPP/KEP/12/2002 TENTANG PUSAT PENYELESAIAN MASALAH USAHA (BUSINESS SOLUTION CENTER) KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 32/MPP/KEP/1/2003 TANGGAL 22 JANUARI 2003 TENTANG KETENTUAN EKSPOR PRODUK INDUSTRI KEHUTANAN

46.

PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN NOMOR 02/M-IND/PER/1/2009 TANGGAL 6 JANUARI 2009 TENTANG PEMBERLAKUAN STANDAR NASIONAL INDONESIA (SNI) BAJA LEMBARAN DAN GULUNGAN LAPIS PADUAN ALUMUNIUM-SENG (BJ.LAS) SECARA WAJIB PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN NOMOR 45/M-IND/PER/5/2009 TANGGAL 4 MEI 2009 TENTANG PEMBERLAKUAN STANDAR NASIONAL INDONESIA (SNI) KAKAO BUBUK SECARA WAJIB

47.

KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN NOMOR 31/MPP/KEP/1/2003 TANGGAL 22 JANUARI 2003 TENTANG PERUBAHAN ATAS LAMPIRAN KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN NOMOR 558/MPP/KEP/12/1998 TENTANG KETENTUAN UMUM DIBIDANG KSPOR SEBAGAIMANA TELAH DIUBAH BEBERAPA KALI TERAKHIR DENGAN KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN NOMOR 575/MPP/KEP/8/2002 LAMPIRAN KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 40/MPP/KEP/1/2003 TANGGAL 27 JANUARI 2003 TENTANG ANGKA PENGENAL IMPORTIR (API)

48.

PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN NOMOR 50/M-IND/PER/5/2009 TANGGAL 12 MEI 2009 TENTANG PEMBENTUKAN KELOMPOK KERJA DAN SEKRETARIAT PADA TIM NASIONAL PENINGKATAN PENGGUNAAN PRODUK DALAM NEGERI DALAM PENGADAAN BARANG/JASA PEMERINTAH PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN NOMOR 49/M-IND/PER/5/2009 TANGGAL 12 MEI 2009 TENTANG PEDOMAN PENGGUNAAN PRODUK DALAM NEGERI DALAM PENGADAAN BARANG/JASA PEMERINTAH KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 238/MIND/KEP/5/2009 TANGGAL 22 MEI 2009 TENTANG TIM PEMBENTUKAN UNIT LAYANAN PENGADAAN (ULP) BARANG DAN JASA DI LINGKUNGAN DEPARTEMEN PERINDUSTRIAN PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN NOMOR 56/M-IND/PER/5/2009 TANGGAL 28 MEI 2009 TENTANG PEMBERLAKUAN SPESIFIKASI TEKNIS SECARA WAJIB TERHADAP KOMPOR

49.

KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 40/MPP/KEP/1/2003 TANGGAL 27 JANUARI 2003 TENTANG ANGKA PENGENAL IMPORTIR (API)

50.

KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 52/MPP/KEP/1/2003 TANGGAL 29 JANUARI 2003 TENTANG PANITIA PENYELENGGARA PAMERAN PRODUKSI INDONESIA 2003

51.

KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 68/MPP/KEP/2/2003 TANGGAL 11 FEBRUARI 2003

302

TENTANG PERDAGANGAN KAYU ANTAR PULAU 52. KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 70/MPP/KEP/2/2003 TANGGAL 11 FEBRUARI 2003 TENTANG PENGADAAN DAN PENYALURAN PUPUK BERSUBSIDI UNTUK SEKTOR PERTANIAN

GAS SATU TUNGKU UNTUK USAHA MIKRO PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN NOMOR 59/M-IND/PER/6/2009 TANGGAL 11 JUNI 2009 TENTANG PENUNJUKAN LEMBAGA KESESUAIAN DALAM RANGKA PENERAPAN/PEMBERLAKUAN DAN PENGAWASAN STANDAR NASIONAL INDONESIA (SNI) PUPUK SECARA WAJIB PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN NOMOR 60/M-IND/PER/6/2009 TANGGAL 11 JUNI 2009 TENTANG PENUNJUKAN LEMBAGA PENILAIAN KESESUAIAN DALAM RANGKA PENERAPAN/PEMBERLAKUAN DAN PENGAWASAN SPESIFIKASI TEKNIS SECARA WAJIB TERHADAP KOMPOR GAS SATU TUNGKU UNTUK USAHA MIKRO PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN NOMOR 60/M-IND/PER/6/2009 TANGGAL 16 JUNI 2009 TENTANG HARGA RESMI TABUNG BAJA LPG 3 (TIGA) KG BESERTA ASESORISNYA DAN KOMPOR GAS SATU TUNGKU UNTUK USAHA MIKRO DALAM RANGKA PROGRAM KONVERSI MINYAK TANAH KE LPG PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN NOMOR 55/M-IND/PER/5/2009 TANGGAL 27 MEI 2009 TENTANG PEMBERLAKUAN STANDAR NASIONAL INDONESIA PRODUK MELAMINPERLENGKAPAN MAKAN DAN MINUM SECARA WAJIB

53.

KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 85/MPP/KEP/2/2003 TANGGAL 17 FEBRUARI 2003 TENTANG TATA CARA DAN PERYSARATAN PERMOHONAN PENYELIDIKAN ATAS PENGAMANAN INDUSTRI DALAM NEGERI DARI AKIBAT LONJAKAN IMPOR

54.

KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 84/MPP/KEP/2/2003 TANGGAL 17 FEBRUARI 2003 TENTANG KOMITE PENGAMANAN PERDAGANGAN INDONESIA

55.

KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 115/MPP/KEP/2/2003 TANGGAL 27 FEBRUARI 2003 TENTANG PERUBAHAN KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NO. 52/MPP/KEP/I/2003 TENTANG PANITIA PENYELENGGARA PAMERAN PRODUKSI INDONESIA 2003 KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 117/MPP/KEP/2/2003 TANGGAL 28 FEBRUARI 2003 TENTANG PENGHENTIAN SEMENTARA EKSPOR PASIR LAUT

56.

PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN NOMOR 66/M-IND/PER/6/2009 TANGGAL 29 JUNI 2009 TENTANG PENUNJUKKAN LEMBAGA PENILAIAN KESESUAIAN DALAM RANGKA PENERAPAN/PEMBERLAKUAN DAN PENGAWASAN STANDAR NASIONAL INDONESIA PRODUK MELAMINPERLENGKAPAN MAKAN DAN MINUM SECARA WAJIB PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN NOMOR 69/M-IND/PER/7/2009 TANGGAL 3 JULI 2009 TENTANG PEMBERLAKUAN STANDAR NASIONAL INDONESIA (SNI) AIR MINUM DALAM KEMASAN (AMDK) SECARA WAJIB

57.

KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN REPUBLIK NDONESIA NOMOR 276/MPP/KEP/4/2003 TANGGAL 9 APRIL 2003 TENTANG KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN REPUBLIK NDONESIA NOMOR : 276/MPP/KEP/4/2003 TGL 9 APRIL 2003 TENTANG VARIFIKASI ATAU PENELUSURAN TEKNIS IMPOR TEKSTIL DAN PRODUK TEKSTIL (TPT) KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 306/MPP/KEP/4/2003 TANGGAL 17 APRIL 2003 TENTANG PERUBAHAN ATAS KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN NOMOR 70/MPP/KEP/2/2003 TENTANG PENGADAAN DAN PENYALURAN PUPUK BERSUBSIDI UNTUK SEKTOR PERTANIAN KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR

58.

PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN NOMOR 71/M-IND/PER/7/2009 TANGGAL 6 JULI 2009 TENTANG JENIS INDUSTRI YANG MENGOLAH DAN MENGHASILKAN BAHAN BERACUN DAN BERBAHAYA (B3) DAN JENIS INDUSTRI TEKNOLOGI TINGGI YANG STRATEGIS

59.

PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN NOMOR 72/M-IND/PER/7/2009 TANGGAL 6 JULI

303

389/MPP/KEP/5/2003 TANGGAL 29 MEI 2003 TENTANG PERUBAHAN ATAS KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN NOMOR : 276/MPP/KEP/4/2003 TENTANG VERIFIKASI ATAU PENELUSURAN TEKNIS IMPOR TEKSTIL DAN PRODUK TEKSTIL (TPT) 60. KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 418/MPP/KEP/6/2003 TANGGAL 17 JUNI 2003 TENTANG KETENTUAN IMPOR NITRO CELLULOSE (NC) KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN RI NOMOR 414/MPP/KEP/6/2003 TANGGAL 17 JUNI 2003 TENTANG PEMBERI KUASA UNTUK PENERBITAN PERSETUJUAN IMPOR BARANG TANPA API

2009 TENTANG PELIMPAHAN KEWENANGAN URUSAN PEMERINTAHAN BIDANG PERINDUSTRIAN KEPADA BADAN PENGUSAHAAN KAWASAN PERDAGANGAN BEBAS DAN PELABUHAN BEBAS BATAM, BINTAN DAN KARIMUN PERATURAN MENTERI PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 39/MDAG/PER/9/2009 TANGGAL 2 SEPTEMBER 2009 TENTANG KETENTUAN IMPOR LIMBAH NON BAHAN BERBAHAYA DAN BERACUN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONSIA NOMOR 78/M-IND/PER/8/2009 TANGGAL 5 AGUSTUS 2009 TENTANG PERUBAHAN KEDUA ATAS PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN NO 90/MIND/PER/11/2008 TENTANG RESTRUKTURISASI MESIN/PERALATAN INDUSTRI ALAS KAKI PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 86/MIND/PER/9/2009 TANGGAL 24 SEPTEMBER 2009 TENTANG STANDAR NASIONAL INDONESIA BIDANG INDUSTRI

61.

62.

KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN RI NOMOR 417/MPP/KEP/6/2003 TANGGAL 17 JUNI 2003 TENTANG PERUBAHAN KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN NOMOR 230/MPP/KEP/7/1997 TENTANG BARANG YANG DIATUR TATA NIAGA IMPORNYA KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN NOMOR 444/MPP/KEP/6/2003 TANGGAL 30 JUNI 2003 TENTANG PENETAPAN HARGA PATOKAN UNTUK PERHITUNGAN PROVISI SUMBER DAYA HUTAN (PSDH) KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 458/MPP/KEP/7/2003 TANGGAL 8 JULI 2003 TENTANG KETENTUAN DAN TATA CARA IMPOR BUS KOTA DAN PERKOTAAN DALAM KEADAAN BUKAN BARU

63.

PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 87/MIND/PER/9/2009 TANGGAL 24 SEPTEMBER 2009 TENTANG SISTEM HARMONISASI GLOBAL KLASIFIKASI DAN LABEL PADA BAHAN KIMIA PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN NOMOR 95/M-IND/PER/10/2009 TANGGAL 5 OKTOBER 2009 TENTANG PENUNJUKAN LEMBAGA PENILAIAN KESESUAIAN DALAM RANGKA PEMBERLAKUAN DAN PENGAWASAN STANDAR NASIONAL INDONESIA (SNI) BATERAI SECARA WAJIB PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 100/MIND/PER/10/2009 TANGGAL 8 OKTOBER 2009 TENTANG PENCABUTAN PEMBERLAKUAN STANDAR INDUSTRI INDONESIA (SII) DAN STANDAR NASIONAL INDONESIA (SNI) SECARA WAJIB PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 101/MIND/PER/10/2009 TANGGAL 9 OKTOBER 2009 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN NO 36/MIND/PER/3/2009 TENTANG PEMBERLAKUAN STANDAR NASIONAL INDONESIA (SNI) BATERAI PRIMER SECARA WAJIB

64.

65.

KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 479/MPP/KEP/7/2003 TANGGAL 21 JULI 2003 TENTANG PENUNJUKAN SURVEYOR SEBAGAI PELAKSANA VERIFIKASI ATAU PENELUSURAN TEKNIS IMPOR NITRO CELLULOSE (NC)

66.

KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 478/MPP/KEP/7/2003 TANGGAL 21 JULI 2003 TENTANG PERUBAHAN ATAS KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN NOMOR 230/MPP/KEP/7/1997 TENTANG BARANG YANG DIATUR TATA NIAGA IMPORNYA SEBAGAIMANA TELAH BEBERAPA KALI DIUBAH TERAKHIR DENGAN KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN NOMOR 789/MPP/KEP/12/2002 DAN KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN NOMOR 254/MPP/KEP/7/2000 TENTANG TATA NIAGA IMPOR DAN PEREDARAN BAHAN BERBAHAYA TERTENTU KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN

67.

PERATURAN

MENTERI

PERINDUSTRIAN

304

PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 480/MPP/KEP/7/2003 TANGGAL 23 JULI 2003 TENTANG PENUNJUKAN SURVEYOR SEBAGAI PELAKSANA VERIFIKASI ATAU PENELUSURAN TEKNIS IMPOR BUS KOTA DAN PERKOTAAN DALAM KEADAAN BUKAN BARU

REPUBLIK INDONESIA NOMOR 102/MIND/10/2009 TANGGAL 13 OKTOBER 2009 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN NO. 49/MIND/PER/5/2009 TENTANG PEDOMAN PENGGUNAAN PRODUK DALAM NEGERI DALAM PENNGADAAN BARANG/JASA PEMERINTAH PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 141/MIND/PER/10/2009 TANGGAL 19 OKTOBER 2009 TENTANG PROGRAM RESTRUKTURISASI MESIN/PERALATAN IKM TEKSTIL DAN PRODUK TEKSTIL SERTA KULIT DAN PRODUK KULIT PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 143/MIND/PER/10/2009 TANGGAL 19 OKTOBER 2009 TENTANG PENUNJUKAN LEMBAGA PENILAIAN KESESUAIAN DALAM RANGKA PENERAPAN/PEMBERLAKUAN DAN PENGAWASAN STANDAR NASIONAL INDONESIA (SNI) KAKAO BUBUK SECARA WAJIB PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 147/MIND/PER/10/2009 TANGGAL 19 OKTOBER 2009 TENTANG PENDELEGASIAN KEWENANGAN PEMBERIAN IZIN USAHA INDUSTRI, IZIN PERLUASAN, IZIN USAHA KAWASAN INDUSTRI, DAN IZIN PERLUASAN KAWASAN INDUSTRI DALAM RANGKA PELAYANAN TERPADU SATU PINTU (PTSP) KEPALA BADAN KOORDINASI PENANAMAN MODAL PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 157/MIND/PER/11/2009 TANGGAL 3 NOPEMBER 2009 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN NO 45/MIND/PER/5/2009 TENTANG PEMBERLAKUAN STANDAR NASIONAL INDONESIA (SNI) KAKAO BUBUK SECARA WAJIB

68.

KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 517/MPP/KEP/8/2003 TANGGAL 28 AGUSTUS 2003 TENTANG TUGAS DAN FUNGSI ATASE/KEPALA BIDANG PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN DI LUAR NEGERI KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 518/MPP/KEP/8/2003 TANGGAL 28 AGUSTUS 2003 TENTANG PENJABARAN TUGAS DAN FUNGSI PUSAT PROMOSI PERDAGANGAN INDONESIA DI LUAR NEGERI

69.

70.

KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 520/MPP/KEP/8/2003 TANGGAL 28 AGUSTUS 2003 TENTANG LARANGAN IMPOR LIMBAH BAHAN BERBAHAYA DAN BERACUN (B3)

71.

KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN NOMOR 519/MPP/KEP/8/2003 TANGGAL 28 AGUSTUS 2003 TENTANG PERUBAHAN ATAS LAMPIRAN KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN NOMOR 558/MPP/KEP/12/1998 TENT ANG KETENTUAN UMUM DI BIDANG EKSPOR SEBAGAIMANA TELAH DIUBAH BEBERAPA KALI TERAKHIR DENGAN KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN NOMOR 118/MPP/KEP/2/2003 KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 522/MPP/KEP/8/2003 TANGGAL 29 AGUSTUS 2003 TENTANG TANDA TERA TAHUN 2004

72.

PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 160/MIND/PER/11/2009 TANGGAL 20 NOPEMBER 2009 TENTANG PENUNJUKAN LANGSUNG LEMBAGA PENILAIAN KESESUAIAN DALAM RANGKA PEMBERLAKUAN DAN PENGAWASAN STANDAR NASIONAL INDONESIA (SNI) SEPATU PENGAMAN SECARA WAJIB PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 164/MIND/PER/12/2009 TANGGAL 8 DESEMBER 2009 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN NOMOR 37/MIND/PER/3/2009 TENTANG PEMBERLAKUAN STANDAR NASIONAL INDONESIA(SNI) SEPATU PENGAMAN SECARA WAJIB

73.

KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 529/MPP/KEP/9/2003 TANGGAL 8 SEPTEMBER 2003 TENTANG PEMBENTUKAN TIM PEMANTAUAN HARGA DAN ANTISIPASI PENGADAAN BARANG DALAM MENGHADAPI HARI RAYA KEAGAMAAN NASIONAL TAHUN 2003/2004

305

74.

KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 545/MPP/KEP/9/2003 TANGGAL 23 SEPTEMBER 2003 TENTANG PERUBAHAN ATAS KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN NOMOR 135/MPP/KEP/3/2003 TENTANG PENETAPAN ALOKASI KUOTA EKSPOR TEKSTIL DAN PRODUK TEKSTIL (TPT) UNTUK DAERAH PROVINSI NANGROE ACEH DARUSSALAM (NAD) KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN RI NOMOR 644/MPP/KEP/10/2003 TANGGAL 10 OKTOBER 2003 TENTANG PENUNJUKAN SURVEYOR SEBAGAI PELAKSANA VERIFIKASI ATAU PENELUSURAN TEKNIS IMPOR MESIN DAN PERALATAN MESIN DALAM KEADAAN BUKAN BARU KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN NOMOR 645.1/MPP/KEP/10/2003 TANGGAL 13 OKTOBER 2003 TENTANG TIM INTEGRASI EKONOMI ASEAN

MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 875/M-IND/12/2009 TANGGAL 31 DESEMBER 2009 TENTANG RENCANA AKSI PENINGKATAN INTEGRITAS PELAYANAN PUBLIK KEMENTERIAN PERINDUSTRIAN

75.

PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN NOMOR 127/M-IND/PER/10/2009 TANGGAL 14 OKTOBER 2009 TENTANG PETA PANDUAN (ROAD MAP) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI ELEKTRONIKA

76.

PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN NOMOR 128/M-IND/PER/10/2009 TANGGAL 14 OKTOBER 2009 TENTANG PETA PANDUAN (ROAD MAP) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI TELEKOMUNIKAS PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN NOMOR 129/M-IND/PER/10/2009 TANGGAL 14 OKTOBER 2009 TENTANG PETA PANDUAN (ROAD MAP) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI KOMPUTER DAN PERALATANYA

77.

KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 646/MPP/KEP/10/2003 TANGGAL 15 OKTOBER 2003 TENTANG PERUBAHAN KEDUA ATAS KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN NOMOR 276/MPP/KEP/4/2003 TENTANG VERIFIKASI ATAU PENELUSURAN TEKNIS IMPOR DAN PRODUK TEKSTIL (TPT) SEBAGAIMANA TELAH DIUBAH DENGAN KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN NOMOR 389/MPP/KEP/5/2003 KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 647/MPP/KEP/10/2003 TANGGAL 16 OKTOBER 2003 TENTANG KETENTUAN EKSPOR PRODUK INDUSTRI KEHUTANAN

78.

PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN NOMOR 130/M-IND/PER/10/2009 TANGGAL 14 OKTOBER 2009 TENTANG PETA PANDUAN (ROAD MAP) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PERANGKAT LUNAK DAN KONTEN MULTIMEDIA PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN NOMOR 131/M-IND/PER/10/2009 TANGGAL 14 OKTOBER 2009 TENTANG PETA PANDUAN (ROAD MAP) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI FASHION

79.

KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN R.I. NOMOR 662/MPP/KEP/10/2003 TANGGAL 23 OKTOBER 2003 TENTANG PERUBAHAN ATAS KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN NOMOR 418/MPP/KEP/6/2003 TENTANG KETENTUAN IMPOR NITRO CELLULOSE (NC) KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN RI NOMOR 662.1/MPP/KEP/10/2003 TANGGAL 23 OKTOBER 2003 TENTANG TIM FREE TRADE ARRANGEMENT (FTA)

80.

PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN NOMOR 132/M-IND/PER/10/2009 TANGGAL 14 OKTOBER 2009 TENTANG PETA PANDUAN (ROAD MAP) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI KERAJINAN DAN BARANG SENI PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN NOMOR 133/M-IND/PER/10/2009 TANGGAL 14 OKTOBER 2009 TENTANG PETA PANDUAN (ROAD MAP) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI BATU MUTIARA DAN PERHIASAN

81.

KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 705/MPP/KEP/11/2003 TANGGAL 10 NOPEMBER 2003 TENTANG PERSYARATAN TEKNIS INDUSTRI AIR MINUM DALAM KEMASAN DAN PERDAGANGANNYA KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 710/MPP/KEP/12/2003 TANGGAL 5 DESEMBER 2003

82.

PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN NOMOR 134/M-IND/PER/10/2009 TANGGAL 14 OKTOBER 2009 TENTANG PETA PANDUAN

306

TENTANG PERUBAHAN ATAS KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN NOMOR 458/MPP/KEP/7/2003 TENTANG KETENTUAN DAN TATA CARA IMPOR BUS KOTA DAN PERKOTAAN DALAM KEADAAN BUKAN BARU 83. KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 711/MPP/KEP/12/2003 TANGGAL 6 DESEMBER 2003 TENTANG KETENTUAN IMPOR BESI ATAU BAJA CANAI LANTAIAN DAN PRODUK BAJA KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 757/MPP/KEP/12/2003 TANGGAL 31 DESEMBER 2003 TENTANG LARANGAN SEMENTARA IMPOR HEWAN RUMINANSIA DAN PRODUK TURUNANNYA YANG BERASAL DARI AMERIKA SERIKAT KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 756/MPP/KEP/12/2003 TANGGAL 31 DESEMBER 2003 TENTANG IMPOR BARANG MODAL BUKAN BARU

(ROAD MAP) PENGEMBANGAN INDUSTRI GARAM

KLASTER

PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN NOMOR 135/M-IND/PER/10/2009 TANGGAL 14 OKTOBER 2009 TENTANG PETA PANDUAN (ROAD MAP) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI GERABAH DAN KERAMIK HIAS PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN NOMOR 136/M-IND/PER/10/2009 TANGGAL 14 OKTOBER 2009 TENTANG PETA PANDUAN (ROAD MAP) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI MINYAK ATSIRI

84.

85.

PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN NOMOR 137/M-IND/PER/10/2009 TANGGAL 14 OKTOBER 2009 TENTANG PETA PANDUAN (ROAD MAP) PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI MAKANAN RINGAN PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN NOMOR 2 TAHUN 2008 TANGGAL 24 JANUARI 2008 TENTANG PENCABUTAN KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN NOMOR: 153/MPP/KEP/5/2001 TENTANG PENERAPAN SECARA WAJIB SNI TEPUNG TERIGU SEBAGAI BAHAN MAKANAN (SNI 01.3751-2000/REV.1995) DAN REVISINYA SERTA KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN NOMOR: 323/MPP/KEP/11/2001 TENTANG PERUBAHAN ATAS KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN NOMOR: 153/MPP/KEP/5/2001 TENTANG PENERAPAN SECARA WAJIB SNI TEPUNG TERIGU SEBAGAI BAHAN MAKANAN (SNI 01.3751-2000/REV.1995) DAN REVISINYA. PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN NOMOR 4 TAHUN 2008 TANGGAL 6 FEBRUARI 2008 TENTANG PERUBAHAN PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN NOMOR. 28/MIND/PER/3/2007 TENTANG HARGA RESMI TABUNG BAJA GAS LPG 3 (TIGA) KG DAN KOMPOR GAS LPG SATU MATA TUNGKU BESERTA ASESORISNYA DALAM RANGKA PROGRAM PENGALIHAN PENGGUNAAN MINYAK TANAH MENJADI LPG UNTUK KELUARGA MISKIN PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 06/MIND/PER/2/2008 TANGGAL 13 FEBRUARI 2008 TENTANG PEMBERLAKUAN STANDAR NASIONAL INDONESIA (SNI) BAJA TULANGAN BETON SECARA WAJIB PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 07/MIND/PER/2/2008 TANGGAL 13 FEBRUARI 2008

86.

KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN RI NOMOR 24/MPP/KEP/1/2002 TANGGAL 15 JANUARI 2002 TENTANG PEMBEBASAN DAN PENGANGKATAN KETUA MERANGKAP ANGGOTA KOMITE ANTI DUMPING INDONESIA (KADI)

87.

KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN NOMOR 59/MPP/KEP/I/2002 TANGGAL 31 JANUARI 2002 TENTANG PENUNJUKAN BALAI/LEMBAGA UJI SEBAGAI LABORATORIUM PENGUJI TEPUNG TERIGU

88.

KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN NOMOR 58/MPP/KEP/I/2002 TANGGAL 31 JANUARI 2002 TENTANG PENUGASAN GABUNGAN PERUSAHAAN KARET INDONESIA (GAPKINDO) SEBAGAI NATIONAL TRIPARTITE RUBBER CORPORATION (NTRC) KEPUTUSAN BERSAMA MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN, MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN, DAN MENTERI NEGARA

89.

307

LINGKUNGAN HIDUP NOMOR 01/MENLH/2/2002 TANGGAL 14 FEBRUARI 2002 TENTANG PENGHENTIAN SEMENTARA EKSPOR PASIR LAUT 90. KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 111/MPP/KEP/2/2002 TANGGAL 21 FEBRUARI 2002 TENTANG SURAT KETERANGAN ASAL ("CERTIFICATE OF ORIGIN") BARANG EKSPOR INDONESIA MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA

TENTANG PEMBERLAKUAN STANDAR NASIONAL INDONESIA (SNI) BAJA LEMBARAN LAPIS SENG SECARA WAJIB PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN NOMOR 21/M-IND/PER/4/2008 TANGGAL 17 APRIL 2008 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN NOMOR 92/M-IND/PER/11/2007 TENTANG PEMBERLAKUAN STANDAR NASIONAL INDONESIA TERHADAP 5 (LIMA) PRODUK INDUSTRI SECARA WAJIB PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN NOMOR 24/M-IND/PER/4/2008 TANGGAL 28 APRIL 2008 TENTANG KODE ETIK AUDITOR DEPARTEMEN PERINDUSTRIAN

91.

KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 121/MPP/KEP/2/2002 TANGGAL 25 FEBRUARI 2002 TENTANG KETENTUAN PENYAMPAIAN LAPORAN KEUANGAN TAHUNAN PERUSAHAAN KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN NOMOR 118/MPP/KEP/2/2003 TANGGAL 28 FEBRUARI 2002 TENTANG PERUBAHAN ATAS LAMPIRAN KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN NOMOR 558/MPP/KEP/12/1998 TENTANG KETENTUAN UMUM DIBIDANG EKSPOR SEBAGAIMANA TELAH DIUBAH BEBERAPA KALI TERAKHIR DENGAN KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN NOMOR 31/MPP/KEP/1/2003 KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 141/MPP/KEP/3/2002 TANGGAL 6 MARET 2002 TENTANG NOMOR PENGENAL IMPORTIR KHUSUS (NPIK)

92.

PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN NOMOR 27/M-IND/PER/5/2008 TANGGAL 19 MEI 2008 TENTANG KETENTUAN DAN TATA CARA VERIFIKASI INDUSTRI BAGI INDUSTRI YANG MEMANFAATKAN FASILITAS KERINGANAN DAN ATAU PEMBEBASAN BEA MASUK

93.

PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 35/MIND/PER/6/2008 TANGGAL 9 JUNI 2008 TENTANG PENUNJUKAN LEMBAGA PENILAIAN KESESUAIAN DALAM RANGKA PENERAPAN/PEMBERLAKUAN DAN PENGAWASAN STANDAR NASIONAL INDONESIA SECARA WAJIB BAJA TULANGAN BETON PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 36/MIND/PER/6/2008 TANGGAL 9 JUNI 2008 TENTANG PERUBAHAN KEDUA ATAS PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN NOMOR 28/MIND/PER/3/2007 TENTANG HARGA RESMI TABUNG BAJA GAS LPG 3 (TIGA) KG DAN KOMPOR GAS LPG SATU MATA TUNGKU BESERTA ASESORISNYA DALAM RANGKA PROGRAM PENGALIHAN PENGGUNAAN MINYAK TANAH MENJADI LPG UNTUK KELUARGA MISKIN SEBAGAIMANA TELAH DIUBAH DENGAN PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN NOMOR 04/M-IND/PER/2/2008 PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 40/MIND/PER/6/2008 TANGGAL 25 JUNI 2008 TENTANG PEMBERLAKUAN STANDAR NASIONAL INDONESIA (SNI) HELM PENGENDARA KENDARAAN BERMOTOR RODA DUA SECARA WAJIB PERATURAN MENTERI REPUBLIK INDONESIA IND/PER/6/2008 TANGGAL PERINDUSTRIAN NOMOR 41/M25 JUNI 2008

94.

KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 304/MPP/KEP/4/2001 TANGGAL 11 APRIL 2002 TENTANG PENETAPAN HARGA PATOKAN IKAN UNTUK PERHITUNGAN PUNGUTAN HASIL PERIKANAN

95.

KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 304/MPP/KEP/4/2002 TANGGAL 11 APRIL 2002 TENTANG PENETAPAN HARGA PATOKAN IKAN UNTUK PERHITUNGAN PUNGUTAN HASIL PERIKANAN

96.

KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 418/MPP/KEP/4/2002 TANGGAL 30 APRIL 2002

308

TENTANG PEMBENTUKAN TIM PENYELEKSI CALON ANGGOTA BADAN PERLINDUNGAN KONSUMEN 97. KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 419/MPP/KEP/4/2002 TANGGAL 30 APRIL 2002 TENTANG PEMBENTUKAN TIM PENYELEKSI PENETAPAN ANGGOTA BADAN PENYELESAIAN SENGKETA KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 442/MPP/KEP/5/2002 TANGGAL 3 MEI 2002 TENTANG PERUBAHAN ATAS KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN NOMOR 337/MPP/KEP/11/2001 TENTANG PENERAPAN SECARA WAJIB SNI LAMPU SWA BALLAST UNTUK PELAYANAN PENCAHAYAAN UMUMPERSYARATAN KESELAMATAN (SNI 04-6504-2001 DAN REVISINYA) KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN RI NOMOR 426/MPP/KEP/5/2002 TANGGAL 20 MEI 2002 TENTANG PEDOMAN ADMINISTRASI UMUM

TENTANG KETENTUAN DAN TATA CARA PEMBERIAN IZIN USAHA INDUSTRI, IZIN PERLUASAN DAN TANDA DAFTAR INDUSTRI PERATURAN BERSAMA MENTERI PERINDUSTRIAN NOMOR 47/M-IND/PER/7/2008 TANGGAL 14 JULI 2008 TENTANG PENGOPTIMALAN BEBAN LISTRIK MELALUI PENGALIHAN WAKTU KERJA PADA SEKTOR INDUSTRI DI JAWA-BALI PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN NOMOR 44/M-IND/PER/7/2008 TANGGAL 7 JULI 2008 TENTANG PENUNJUKAN/PENETAPAN SURVEYOR SEBAGAI PELAKSANA VERIFIKASI INDUSTRI DALAM RANGKA USDFS IJ-EPA

98.

99.

PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN NOMOR 48/M-IND/PER/7/2008 TANGGAL 14 JULI 2008 TENTANG SPESIFIKASI TEKNIS PUPUK SUPER FOSPAT TUNGGAL SP-18 PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN NOMOR 43/M-IND/PER/7/2008 TANGGAL 1 JULI 2008 TENTANG PENETAPAN KELOMPOK INDUSTRI YANG DAPAT MEMANFAATKAN TARIF BEA MASUK DENGAN SKEMA USER SPECIFIC DUTY FREE SCHEME (USDFS) DALAM RANGKA PERSETUJUAN ANTARA REPUBLIK INDONESIA DAN JEPANG MENGENAI SUATU KEMITRAAN EKONOMI PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN NOMOR 49/M-IND/PER/7/2008 TANGGAL 14 JULI 2008 TENTANG PEMBERLAKUAN STANDAR NASIONAL INDONESIA (SNI) TEPUNG TERIGU SEBAGAI BAHAN MAKANAN SECARA WAJIB

100. KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN NOMOR 441/MPP/KEP/5/2002 TANGGAL 23 MEI 2002 TENTANG KETENTUAN EKSPOR PASIR LAUT

101. KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN NOMOR 443/MPP/KEP/5/2002 TANGGAL 24 MEI 2002 TENTANG PERUBAHAN ATAS LAMPIRAN KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN NOMOR 558/MPP/KEP/12/1998 TENTANG KETENTUAN UMUM DIBIDANG EKSPOR SEBAGAIMANA TELAH DIUBAH BEBERAPA KALI TERAKHIR DENGAN KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN NOMOR 57/MPP/KEP/1/2002 102. KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 456/MPP/KEP/6/2002 TANGGAL 10 JUNI 2002 TENTANG TATA NIAGA IMPOR GULA KASAR (RAW SUGAR)

PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN NOMOR 58/M-IND/PER/8/2008 TANGGAL 12 AGUSTUS 2008 TENTANG PENGGUNAAN SISTEM ELEKTRONIK DALAM PELAYANAN PERIZINAN, REKOMENDASI DAN SPPT SNI DI LINGKUNGAN DEPARTEMEN PERINDUSTRIAN DALAM KERANGKA INDONESIA NATIONAL SINGLE WINDOW PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN NOMOR 61/M-IND/PER/8/2008 TANGGAL 22 AGUSTUS 2008 TENTANG TIM TEKNIS PENYUSUNAN KEBIJAKAN PERCEPATAN DIVERSIFIKASI KONSUMSI PANGAN BERBASIS SUMBERDAYA LOKAL

103. KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN RI NOMOR 480/MPP/KEP/6/2002 TANGGAL 13 JUNI 2002 TENTANG PERUBAHAN ATAS KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN NOMOR 302/MPP/KEP/10/2001 TENTANG PENDAFTARAN LEMBAGA PERLINDUNGAN KONSUMEN SWADAYA MASYARAKAT 104. KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN

PERATURAN

MENTERI

PERINDUSTRIAN

309

PERDAGANGAN NOMOR 510/MPP/KEP/6/2002 TANGGAL 28 JUNI 2002 TENTANG PENETAPAN HARGA PATOKAN UNTUK PERHITUNGAN PROVISI SUMBER DAYA HUTAN (PSDH)

NOMOR 52/M- IND/PER/8/2008 TANGGAL 11 AGUSTUS 2008 TENTANG TENTANG PENUNJUKAN LEMBAGA PENILAIAN KESESUAIAN DALAM RANGKA PENERAPAN/PEMBERLAKUAN DAN PENGAWASAN STANDAR NASIONAL INDONESIA (SNI) SECARA WAJIB BAJA LEMBARAN LAPIS SENG (SNI 07-2053-2006) PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN NOMOR 62/M-IND/PER/8/2OO8 TANGGAL 25 AGUSTUS 2008 TENTANG TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN MENTERII PERINDUSTRIAN NOMOR 43/M-IND/PER/7/2008 TENTANG PENETAPAN KELOMPOK INDUSTRII YANG DAPAT MEMANFAATKAN TARIF BEA MASUK DENGAN SKEMA USER SPECIFIC DUTY FREE SCHEME (USDFS) DALAM RANGKA PERSETUJUAN ANTARA REPUBLIK INDONESIA DAN JEPANG MENGENAI SUATU KEMITRAAN EKONOMI PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN NOMOR 66/M-IND/PER/9/2008 TANGGAL 4 SEPTEMBER 2008 TENTANG PELIMPAHAN KEWENANGAN PEMBERIAN IZIN USAHA INDUSTRI DAN IZIN PERLUASAN DALAM RANGKA PENANAMAN MODAL

105. LAMPIRAN KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN NOMOR 547/MPP/KEP/7/2002 TANGGAL 4 JULI 2002 TENTANG LAMPIRAN KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN RI NOMOR : 547/MPP/KEP/7/2002 TANGGAL 24 JULI 2002

106. KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN RI NOMOR 527/MPP/KEP/7/2002 TANGGAL 5 JULI 2002 TENTANG TATA KERJA TIM NASIONAL WTO DAN PEMBENTUKAN KELOMPOK PERUNDING UNTUK PERUNDINGAN PERDAGANGAN MULTILATERAL DALAM KERANGKA WTO 107. KEPUTUSAN MENTERI PERUNDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN RI NOMOR 546/MPP/KEP/7/2002 TANGGAL 24 JULI 2002 TENTANG PEMBENTUKAN TIM BEA MASUK ANTI DUMPING TERHADAP IMPOR TEPUNG TERIGU 108. KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 547/MPP/KEP/7/2002 TANGGAL 24 JULI 2002 TENTANG PEDOMAN PENDAFTARAN PETUNJUK PENGGUNAAN (MANUAL) DAN KARTU JAMINAN/GARANSI DALAM BAHASA INDONESIA BAGI PRODUK TEKNOLOGI INFORMASI DAN ELEKTRONIKA 109. KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 547/MPP/KEP/7/2002 TANGGAL 24 JULI 2002 TENTANG PENETAPAN HARGA PATOKAN IKAN UNTUK PERHITUNGAN PUNGUTAN HASIL PERIKANAN 110. KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 560/MPP/KEP/7/2002 TANGGAL 31 JULI 2002 TENTANG TANDA TERA TAHUN 2003

PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN NOMOR 72/M-IND/PER/10/2008 TANGGAL 24 OKTOBER 2008 TENTANG PENDAFTARAN DAN PENGAWASAN PENGGUNANAN MESIN LINTING SIGARET (ROKOK) PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN NOMOR 75/M-IND/PER/10/2008 TANGGAL 21 OKTOBER 2008 TENTANG PENUNJUKAN/PENETAPAN SURVEYOR SEBAGAI PELAKSANA VERIFIKASI INDUSTRI DALAM RANGKA PEMBERIAN BEA MASUK DITANGGUNG PEMERINTAH (BM-DTP) ATAS IMPOR BARANG UNTUK INDUSTRI PERATURAN BERSAMA NOMOR 922.1/MIND/10/2008 TANGGAL 22 OKTOBER 2008 TENTANG PEMELIHARAAN MOMENTUM PERTUMBUHAN EKONOMI NASIONAL DALAM MENGANTISIPASI PERKEMBANGAN PEREKONOMIAN GLOBAL PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN NOMOR 78/M-IND/PER/10/2008 TANGGAL 29 OKTOBER 2008 TENTANG PENUNJUKKAN LEMBAGA PENILAIAN KESESUAIAN DALAM RANGKA PEMBERLAKUAN DAN PENGAWASAN STANDAR NASIONAL INDONESIA (SNI) HELM PENGENDARA KENDARAAN BERMOTOR RODA DUA SECARA WAJIB PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN NOMOR 83/M-IND/PER/11/2008 TANGGAL 13 NOPEMBER 2008 TENTANG PEMBERLAKUAN STANDAR NASIONAL INDONESIA (SNI) GULA KRISTAL RAFINASI SECARA WAJIB

111. KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 564/MPP/KEP/7/2002 TANGGAL 31 JULI 2002 TENTANG PENUNJUKAN BALAI/LEMBAGA UJI SEBAGAI LABORATORIUM PENGUJI LAMPU SWA BALLAST UNTUK PELAYANAN PENCAHAYAAN

310

UMUM 112. KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN NOMOR 575/MPP/KEP/VIII/2002 TANGGAL 6 AGUSTUS 2002 TENTANG PERUBAHAN ATAS LAMPIRAN KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN NOMOR 558/MPP/KEP/12/1998 TENTANG KETENTUAN UMUM DIBIDANG EKSPOR SEBAGAIMANA TELAH DIUBAH BEBERAPA KALI TERAKHIR DENGAN KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN NOMOR 443/MPP/KEP/5/2002 113. KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 594/MPP/KEP/VIII/2002 TANGGAL 16 AGUSTUS 2002 TENTANG KETENTUAN PERIZINAN USAHA JASA PENILAIAN PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN NOMOR 85/M-IND/PER/11/2008 TANGGAL 18 NOPEMBER 2008 TENTANG PEMBERLAKUAN STANDAR NASIONAL INDONESIA (SNI) TERHADAP 5 (LIMA) PRODUKINDUSTRI SECARA WAJIB

PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN NOMOR 86/M-IND/PER/11/2008 TANGGAL 14 NOPEMBER 2008 TENTANG PETUNJUK TEKNIS PENGGUNAAN DAN TATA CARA PENGAWASAN PENGGUNAAN LOGO NON CFC DAN NON HALON & NON CFC MENTERI PERINDUSTRIAN NOMOR 77/MIND/PER/10/2008 TANGGAL 29 OKTOBER 2008 TENTANG PENUNJUKAN LEMBAGA PENILAIAN KESESUAIAN DALAM RANGKA PENERAPAN/PEMBERLAKUAN DAN PENGAWASAN STANDAR NASIONAL INDONESIA (SNI) TEPUNG TERIGU SEBAGAI BAHAN MAKANAN (SNI 01-3751-2006) SECARA WAJIB PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN NOMOR 90/M-IND/PER/11/2008 TANGGAL 21 NOPEMBER 2008 TENTANG PROGRAM RESTRUKTURISASI MESIN/PERALATAN INDUSTRI ALAS KAKI

114. KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 605/MPP/KEP/8/2002 TANGGAL 29 AGUSTUS 2002 TENTANG PENGANGKATAN ANGGOTA BADAN PENYELESAIAN SENGKETA KONSUMEN PADA PEMERINTAH KOTA MAKASSAR, KOTA PALEMBANG, KOTA SURABAYA KOTA BANDUNG, KOTA SEMARANG, KOTA YOGYAKARTA DAN KOTA MEDAN 115. KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 606/MPP/KEP/9/2002 TANGGAL 3 SEPTEMBER 2002 TENTANG PEMBENTUKAN KELOMPOK KERJA (WORKING GROUP) INDONESIA – AFRIKA BAGIAN SELATAN 116. KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 634/MPP/KEP/9/2002 TANGGAL 18 SEPTEMBER 2002 TENTANG KETENTUAN DAN TATA CARA PENGAWASAN BARANG DAN ATAU JASA YANG BEREDAR DI PASAR 117. KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN NOMOR 635/MPP/KEP/9/2002 TANGGAL 20 SEPTEMBER 2002 TENTANG PENUNJUKAN BALAI/LEMBAGA UJI SEBAGAI LABORATORIUM PENGUJI PUPUK

PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN NOMOR 91/M-IND/PER/11/2008 TANGGAL 21 NOPEMBER 2008 TENTANG PROGRAM RESTRUKTURISASI MESIN/PERALATAN PABRIK GULA

PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN NOMOR 94/M-IND/PER/11/2008 TANGGAL 24 NOPEMBER 2008 TENTANG PROGRAM RESTRUKTURISASI MESIN/PERALATAN INDUSTRI KECIL MENENGAH (IKM) TEKSTIL PRODUK TEKSTIL (TPT) DAN INDUSTRI KECIL MENENGAH (IKM) ALAS KAKI PERATURAN BERSAMA MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI, MENTERI DALAM NEGERI, MENTERI PERINDUSTRIAN DAN MENTERI PERDAGANGAN NOMOR PER 21/MEN/XI/2008 TANGGAL 27 NOPEMBER 2008 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN BERSAMA MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI, MENTERI DALAM NEGERI, MENTERI PERINDUSTRIAN, DAN MENTERI PERDAGANGAN NOMOR PER.16/MEN/X/2008, NOMOR 49/2008, NOMOR 922.1/M-IND/10/2008, DAN NOMOR 39/M-DAG/PER/10/2008 TENTANG PEMELIHARAAN MOMENTUM PERTUMBUHAN EKONOMI NASIONAL DALAM MENGANTISIPASI

118. KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN NOMOR 643/MPP/KEP/9/2002 TANGGAL 23 SEPTEMBER 2002 TENTANG TATA NIAGA IMPOR GULA

311

PERKEMBANGAN PEREKONOMIAN GLOBAL 119. KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN NOMOR 640/MPP/KEP/9/2002 TANGGAL 23 SEPTEMBER 2002 TENTANG TIM PENGENDALI VOLUME EKSPOR PASIR LAUT PERATURAN MENTRI PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 06/MIND/PER/2/2008 TANGGAL 13 FEBRUARI 2008 TENTANG PEMBERLAKUAN STANDAR NASIONAL INDONESIA (SNI) BAJA TULANGAN BETON SECARA WAJIB PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 07/MIND/PER/2/2008 TANGGAL 13 FEBRUARI 2008 TENTANG PEMBERLAKUAN STANDAR NASIONAL INDONESIA BAJA LEMBARAN LAPIS SENG SECARA WAJIB

120. KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN NOMOR 646/MPP/KEP/9/2002 TANGGAL 23 SEPTEMBER 2002 TENTANG PEMBENTUKAN TIM PEMANTAUAN HARGA DAN ANTISIPASI PENGADAAN DAN PENDISTRIBUSIAN BARANG KEBUTUHAN POKOK MENGHADAPI HARI RAYA KEAGAMAAN NASIONAL TAHUN 2002/2003 121. KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN NOMOR 642/MPP/KEP/9/2002 TANGGAL 23 SEPTEMBER 2002 TENTANG PERUBAHAN LAMPIRAN I KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN NOMOR 230/MPP/KEP/7/1997 TENTANG BARANG YANG DIATUR TATA NIAGA IMPORNYA 122. KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN NOMOR 641/MPP/KEP/9/2002 TANGGAL 23 SEPTEMBER 2002 TENTANG PENETAPAN BESARNYA HARGA PATOKAN ESKPOR (HPE) PASIR LAUT

PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 04/M-IND/PER/PER/1/2007 TANGGAL 12 JANUARI 2007 TENTANG PENETAPAN 6 (ENAM) SPESIFIKASI TEKNIS PRODUK INDUSTRI

PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN NOMOR 12/M-IND/PER/2/2007 TANGGAL 2 FEBRUARI 2007 TENTANG PEDOMAN PENGADAAN BARANG/JASA DEPARTEMEN PERINDUSTRIAN DENGAN SISTEM EPROCUREMENT PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN RI NOMOR 17/M-IND/PER/2/2007 TANGGAL 19 FEBRUARI 2007 TENTANG PERUBAHAN ATAS LAMPIRAN KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN NOMOR: 20/M-IND/PER/5/2006 TENTANG PENUNJUKAN LEMBAGA PENILAIAN KESESUAIAN DALAM RANGKA PENERAPAN /PEMBERLAKUAN DAN PENGAWASAN STANDAR NASIONAL INDONESIA PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 25/M-IND/3/2007 TANGGAL 29 MARET 2007 TENTANG PUSAT INFORMASI PRODUK INDUSTRI MAKANAN DAN MINUMAN PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 27/MIND/PER/3/2007 TANGGAL 29 MARET 2007 TENTANG BANTUAN DALAM RANGKA PEMBELIAN MESIN/PERALATAN INDUSTRI TEKSTIL DAN PRODUK TEKSTIL PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 35/MIND/PER/4/2007 TANGGAL 17 APRIL 2007 TENTANG PEMBERLAKUAN STANDAR NASIONAL INDONESIA (SNI) SEMEN SECARA WAJIB PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 33/MIND/PER/4/2007 TANGGAL 17 APRIL 2007 TENTANG LARANGAN MEMPRODUKSI BAHAN

123. KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 731/MPP/KEP/10/2002 TANGGAL 21 OKTOBER 2002 TENTANG PENGELOLAAN KEMETROLOGIAN DAN PENGELOLAAN LABORATORIUM KEMETROLOGIAN

124. KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 732/MPP/KEP/10/2002 TANGGAL 22 OKTOBER 2002 TENTANG TATA NIAGA IMPOR TEKSTIL

125. KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 751/MPP/KEP/11/2002 TANGGAL 7 NOPEMBER 2002 TENTANG KETENTUAN IMPOR BESI ATAU BAJA CANAI LANTAIAN

126. KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 753/MPP/KEP/11/2002 TANGGAL 8 NOPEMBER 2002 TENTANG STANDARDISASI DAN PENGAWASAN STANDAR NASIONAL INDONESIA

127. KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 756MPP/KEP/11/2002 TANGGAL 12 NOPEMBER 2002 TENTANG IMPOR MESIN DAN PERALATAN MESIN

312

BUKAN BARU

PERUSAK LAPISAN OZON SERTA MEMPRODUKSI BARANG YANG MENGGUNAKAN BAHAN PERUSAK LAPISAN OZON PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 36/MIND/PER/4/2007 TANGGAL 20 APRIL 2007 TENTANG PERUBAHAN PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN NOMOR 27/M-IND/PER/3/2007 TENTANG BANTUAN DALAM RANGKA PEMBELIAN MESIN/PERALATAN INDUSTRI TEKSTIL DAN PRODUK TEKSTIL

128. KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 789/MPP/KEP/12/2002 TANGGAL 2 DESEMBER 2002 TENTANG PERUBAHAN KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN NOMOR 111/MPP/KEP/1/1998 TENTANG PERUBAHAN KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN NOMOR 230/MPP/KEP/7/1997 TENTANG BARANG YANG DIATUR TATA NIAGA IMPORNYA SEBAGAIMANA TELAH DIUBAH DENGAN KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN NOMOR 411/MPP/KEP/9/1998 129. KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 790/MPP/KEP/12/2002 TANGGAL 2 DESEMBER 2002 TENTANG PERUBAHAN KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN NOMOR 110/MPP/KEP/1/1998 TENTANG LARANGAN MEMPRODUKSI DAN MEMPERDAGANGKAN BAHAN PERUSAK LAPISAN OZON SERTA MEMPRODUKSI DAN MEMPERDAGANGKAN BARANG BARU YANG MENGGUNAKAN BAHAN PERUSAK LAPISAN OZON (OZONE DEPLETING SUBSTANCES) SEBAGAIMANA TELAH DIUBAH DENGAN KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN NOMOR 410/MPP/KEP/9/1998 130. KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 802/MPP/KEP/12/2002 TANGGAL 12 DESEMBER 2002 TENTANG PUSAT PENYELESAIAN MASALAH USAHA (BUSINESS SOLUTION CENTER)

PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN NOMOR 57 TAHUN 2007 TANGGAL 10 JULI 2007 TENTANG TIM PENINGKATAN PENGGUNAAN PRODUKSI DALAM NEGERI DEPARTEMEN PERINDUSTRIAN

PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 92/MIND/PER/11/07 TANGGAL 30 NOPEMBER 2007 TENTANG PEMBERLAKUAN STANDAR NASIONAL INDONESIA TERHADAP 5 (LIMA) PRODUK INDUSTRI SECARA WAJIB PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 93/MIND/PER/11/2007 TANGGAL 30 NOPEMBER 2007 TENTANG PENUNJUKAN LEMBAGA PENILAIAN KESESUAIAN DALAM RANGKA PENERAPAN/PEMBERLAKUAN DAN PENGAWASAN STANDAR NASIONAL INDONESIA SECARA WAJIB TERHADAP 5 (LIMA) PRODUK INDUSTRI PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 34/MIND/PER/4/2007 TANGGAL 17 APRIL 2007 TENTANG PEMBERLAKUAN STANDAR NASIONAL INDONESIA (SNI) KACA PENGAMAN UNTUK KENDARAAN BERMOTOR SECARA WAJIB

131. KEPUTUSAN BERSAMA MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN DAN MENTERI KEHUTANAN NOMOR 803/MPP/KEP/12/2002 DAN NOMOR 10267/KPTS-II/2002 TANGGAL 13 DESEMBER 2002 TENTANG PEMBENTUKAN BADAN REVITALISASI INDUSTRI KEHUTANAN

132. KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN RI NOMOR 807/MPP/KEP/12/2002 TANGGAL 16 DESEMBER 2002 TENTANG PENCABUTAN KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN NOMOR 791/MPP/KEP/11/2002 DAN PEMBENTUKAN TIM PENGKAJIAN KELAYAKAN PENGUSAHA KECIL DAN KOPERASI UNTUK MEMPEROLEH KUOTA PERTUMBUHAN TEKSTIL DAN PRODUK TEKSTIL TAHUN KUOTA 2003 133. KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 818/MPP/KEP/12/2002 TANGGAL 27 DESEMBER 2002 TENTANG PENUNJUKAN LEMBAGA SERTIFIKASI PRODUK, LABORATORIUM PENGUJI DAN LEMBAGA INSPEKSI DALAM RANGKA

PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 28/MIND/PER/3/2007 TANGGAL 28 MARET 2007 TENTANG HARGA RESMI TABUNG BAJA GAS LPG 3 (TIGA) KG DAN KOMPOR GAS LPG SATU MATA TUNGKU BESERTA AKSESORISNYA

313

PEMBERLAKUAN DAN PENGAWASAN SNI WAJIB

DALAM RANGKA PROGRAM PENGALIHAN PENGGUNAAN MINYAK TANAH MENJADI LPG UNTUK KELUARGA MISKIN

134. LAMPIRAN KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN RI NOMOR 818/MPP/KEP/12/2002 TANGGAL 27 DESEMBER 2002 TENTANG LEMBAGA SERTIFIKASI PRODUK YANG DITUNJUK DALAM RANGKA PEMBERLAKUAN DAN PENGAWASAN SNI WAJIB 135. KEPUTUSAN BERSAMA MENTERI KEUANGAN DAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR MO-194/MK/2002 DAN NOMOR 712/MPP/XII/2002 TANGGAL 30 DESEMBER 2002 TENTANG KOORDINASI DALAM HAL INVENTARISASI, EVALUASI DAN PENYELESAIAN MASALAH YANG TERKAIT DENGAN PELAKSANAAN TUGAS MASING-MASING 136. KEPUTUSAN BERSAMA MENTERI KEUANGAN DAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 527/KMK.04/2002 DAN NOMOR 819/MPP/KEP/12/2002 TANGGAL 30 DESEMBER 2002 TENTANG TERTIB ADMINISTRASI IMPORTIR 137. KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 829/MPP/KEP/12/2002 TANGGAL 31 DESEMBER 2002 TENTANG PEMBERIAN TANDA PENGHARGAAN PRIMANIYARTA KEPADA EKSPORTIR YANG BERPRESTASI SELAMA PERIODE 1997 SAMPAI DENGAN 2001 138. KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN NOMOR 02/MPP/KEP/1/2001 TANGGAL 4 JANUARI 2001 TENTANG KETENTUAN KUOTA EKSPOR TEKSTIL DAN PRODUK TEKSTIL 139. KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN NOMOR 01/MPP/KEP/1/2001 TANGGAL 4 JANUARI 2001 TENTANG PENCABUTAN KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN NOMOR580/KEP/10/1999 TENTANG PENGAWASAN IMPOR BARANG YANG TERCEMAR DIOXIN 140. KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN NOMOR 01/MPP/KEP/1/2001 TANGGAL 4 JANUARI 2001 TENTANG PENCABUTAN KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN NOMOR580/KEP/10/1999 TENTANG PENGAWASAN IMPOR BARANG YANG TERCEMAR DIOXIN 141. KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17/MPP/KEP/1/2001 TANGGAL 17 JANUARI 2001 TENTANG PEMBENTUKAN KOMITE SUPERVISI/SUPERVISORY COMMITTEE (SC) DAN KOMITE TEKNIS/TECHNICAL COMMITTEE (TC) PROGRAM PELATIHAN DAN BANTUAN TEKNIS UNTUK PEMANFAATAN DANA TEKNOLOGI INFORMASI (TATP) BANTUAN PINJAMAN BANK DUNIA

314

142. KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN RI NOMOR 51/MPP/KEP/2/2001 TANGGAL 14 FEBRUARI 2001 TENTANG PENETAPAN EKSPORTIR TERDAFTAR TEKSTIL DAN PRODUK TEKSTIL PENGUSAHA KECIL DAN KOPERASI (ETTPT-PKK) UNTUK MEMPEROLEH KUOTA PERTUMBUHAN (KPT) TEKSTIL DAN PRODUK TEKSTIL TAHUN KUOTA 2001 143. KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 57/MPP/KEP/2/2001 TANGGAL 19 FEBRUARI 2001 TENTANG PENETAPAN BESARNYA HARGA PATOKAN UNTUK PERHITUNGAN PROVISI SUMBER DAYA HUTAN (PSDH) 144. KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 62/MPP/KEP/02/2001 TANGGAL 21 FEBRUARI 2001 TENTANG PERUBAHAN LAMPIRAN I KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN NOMOR 230/MPP/KEP/7/1997 TENTANG BARANG YANG DIATUR TATA NIAGA IMPORNYA SEBAGAIMANA TELAH BEBERAPA KALI DIUBAH TERAKHIR DENGAN KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN NOMOR 192/MPP/KEP/6/2000 145. LAMPIRAN KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 78/MPP/KEP/3/2001 TANGGAL 2 MARET 2001 TENTANG PEDOMAN STANDAR PELAYANAN MINIMAL (PSPM) BIDANG PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN 146. KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 78/MPP/KEP/3/2001 TANGGAL 2 MARET 2001 TENTANG PEDOMAN STANDAR PELAYANAN MINIMAL (PSPM) BIDANG PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN 147. KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 80/MPP/KEP/3/2001 TANGGAL 7 MARET 2001 TENTANG PENGHAPUSAN BARANG MILIK/KEKAYAAN NEGARA DI LINGKUNGAN DEPARTEMEN PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN DENGAN TINDAK LANJUT DIALIHKAN KEPADA PEMERINTAH DAERAH 148. KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 93/MPP/KEP/3/2001 TANGGAL 14 MARET 2001 TENTANG PENGADAAN DAN PENYALURAN PUPUK UREA UNTUK SEKTOR PERTANIAN 149. KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN NOMOR 62/DJPL/III/2001 TANGGAL 29 MARET 2001 TENTANG PENETAPAN HARGA PATOKAN BARANG-BARANG EKSPOR (HARGA FOB) BERLAKU DARI TANGGAL 1 APRIL S/D 30 JUNI 2001 150. KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 153/MPP/KEP/5/2001 TANGGAL 2 MEI 2001 TENTANG

315

PENERAPAN SECARA WAJIB SNI TEPUNG TERIGU SEBAGAI BAHAN MAKANAN (SNI 01.37512000/REV.1995 DAN REVISINYA 151. KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 172/MPP/KEP/5/2001 TANGGAL 17 MEI 2001 TENTANG IMPOR MESIN DAN PERALATAN MESIN BUKAN BARU 152. KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 191/MPP/KEP/6/2001 TANGGAL 5 JUNI 2001 TENTANG PERUBAHAN ATAS KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN NOMOR 551/MPP/KEP/10/1999 TENTANG BENGKEL UMUM KENDARAAN BERMOTOR 153. KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 195/MPP/KEP/6/2001 TANGGAL 12 JUNI 2001 TENTANG TANDA TERA TAHUN 2002 154. KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 197/MPP/KEP/6/2001 TANGGAL 15 JUNI 2001 TENTANG LEMBAGA SURVEYOR BENGKEL UMUM KENDARAAN BERMOTOR 155. KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 199/MPP/KEP/6/2001 TANGGAL 19 JUNI 2001 TENTANG PERSETUJUAN PENYELENGGARAAN PAMERAN DAGANG, KONVENSI DAN ATAU SEMINAR DAGANG 156. KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN NOMOR 204/MPP/KEP/6/2001 TANGGAL 25 JUNI 2001 TENTANG PENETAPAN BESARNYA HARGA PATOKAN UNTUK PERHITUNGAN PROVISI SUMBER DAYA HUTAN (PSDH) 157. KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN R.I. NOMOR 214/MPP/KEP/7/2001 TANGGAL 6 JULI 2001 TENTANG UJI PUBLIK KENDARAAN BERMOTOR RODA EMPAT DAN RODA DUA 158. KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN NOMOR 213/MPP/KEP/7/2001 TANGGAL 6 JULI 2001 TENTANG PENETAPAN HARGA PATOKAN IKAN UNTUK PERHITUNGAN PUNGUTAN HASIL PERIKANAN 159. KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN R.I. NOMOR 216/MPP/KEP/7/2001 TANGGAL 9 JULI 2001 TENTANG PERUBAHAN KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN NOMOR 261/MPP/KEP/9/1996 TENTANG TATA CARA DAN PERSYARATAN PERMOHONAN PENYELIDIKAN ATAS BARANG DUMPING DAN ATAU BARANG MENGANDUNG SUBSIDI 160. KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN

316

PERDAGANGAN NOMOR 217.A./MPP/KEP/7/2001 TANGGAL 9 JULI 2001 TENTANG KETENTUAN DAN TATA TARA PEROLEHAN FASILITAS PENGECUALIAN DARI KEWAJIBAN PEMBAYARAN PAJAK PENGHASILAN BAGI ANGGOTA MISI DAGANG ATAU PAMERINTAH YANG MEWAKILI PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA KE LUAR NEGERI 161. KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN R.I. NOMOR 222A/MPP/KEP/7/2001 TANGGAL 13 JULI 2001 TENTANG PENUNJUKAN LEMBAGA UJI PUBLIK KENDARAAN BERMOTOR RODA EMPAT DAN RODA DUA 162. KEPUTUSAN BERSAMA MENTERI ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL, MENTERI KEUANGAN DAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN, REPUBLIK INDONESIA NOMOR 426/KMK.01/2001 DAN NOMOR 233/MPP/KEP/7/2001 TANGGAL 20 JULI 2001 TENTANG KETENTUAN IMPOR PELUMAS 163. KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 263/MPP/KEP/8/2001 TANGGAL 31 AGUSTUS 2001 TENTANG PERUBAHAN LAMPIRAN KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN NOMOR 78/MPP/KEP/3/2001 TENTANG PEDOMAN STANDAR PELAYANAN MINIMAL (PSPM) BIDANG PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN 164. LAMPIRAN KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 289/MPP/KEP/10/2001 TANGGAL 5 OKTOBER 2001 TENTANG KETENTUAN DAN TATA CARA PEMBERIAN SURAT IZIN USAHA PERDAGANGAN (SIUP) 165. KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 289/MPP/KEP/10/2001 TANGGAL 5 OKTOBER 2001 TENTANG KETENTUAN STANDAR PEMBERIAN SURAT IZIN USAHA PERDAGANGAN (SIUP) 166. KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN RI NOMOR 293/MPP/KEP/2001 TANGGAL 8 OKTOBER 2001 TENTANG PENCABUTAN KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN NOMOR 463/MPP/KEP/10/1998 TENTANG KETENTUAN EKSPOR KAYU BULAT 167. KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN R.I. NOMOR 294/MPP/KEP/10/2001 TANGGAL 8 OKTOBER 2001 TENTANG PENCABUTAN KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN NOMOR 146/MPP/KEP/4/1999 DAN PENETAPAN BARANG YANG DIATUR, DIAWASI DAN DILARANG EKSPORNYA 168. KEPUTUSAN BERSAMA MENTERI KEHUTANAN RI DAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN RI NOMOR 292/MPP/KEP/10/2001 TANGGAL 8 OKTOBER 2001 TENTANG PENGHENTIAN EKSPOR KAYU BULAT/BAHAN

317

BAKU SERPIH 169. KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN RI NOMOR 300/MPP/KEP/10/2001 TANGGAL 24 OKTOBER 2001 TENTANG PEMBENTUKAN TIM PEMANTAU HARGA DAN ANTISIPASI PENGADAAN DAN PENDISTRIBUSIAN BARANG KEBUTUHAN POKOK MENGHADAPI HARI RAYA KEAGAMAAN NASIONAL TAHUN 2001/2002 170. KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 302/MPP/KEP/10/2001 TANGGAL 24 OKTOBER 2001 TENTANG PENDAFTARAN LEMBAGA PERLINDUNGAN KONSUMEN SWADAYA MASYARAKAT 171. KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 311/MPP/KEP/10/2001 TANGGAL 30 OKTOBER 2001 TENTANG KETENTUAN KUOTA EKSPOR TEKSTIL DAN PRODUK TEKSTIL 172. KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 310/MPP/KEP/10/2001 TANGGAL 31 OKTOBER 2001 TENTANG TIM VERIFIKASI MANAJEMEN KUOTA TEKSTIL DAN PRODUK TEKSTIL (TPT) TAHUN KUOTA 2001 173. KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 337/MPP/KEP/11/2001 TANGGAL 30 NOPEMBER 2001 TENTANG PENERAPAN SECARA WAJIB SNI LAMPU SWA BALLAST UNTUK PELAYANAN PENCAHAYAAN UMUMPERSYARATAN KESELAMATAN (SNI 04-6504-2001 DAN REVISINYA) 174. KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 365/MPP/KEP/12/2001 TANGGAL 14 DESEMBER 2001 TENTANG PENETAPAN HARGA PATOKAN IKAN UNTUK PERHITUNGAN PUNGUTAN HASIL PERIKANAN 175. KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 372/MPP/KEP/12/2001 TANGGAL 24 DESEMBER 2001 TENTANG KETENTUAN PEMBERIAN IZIN USAHA INDUSTRI PABRIKASI PELUMAS DAN PENGOLAHAN PELUMAS BEKAS 176. KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN NOMOR 7/MPP/KEP/1/2000 TANGGAL 11 JANUARI 2000 TENTANG TATA CARA PENDAFTARAN PETUNJUK PENGGUNAAN (MANUAL) DAN KARTU JAMINAN/GARANSI DALAM BAHASA INDONESIA BAGI PRODUK ELEKTRONIKA 177. KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN NOMOR 26/MPP/KEP/II/2000 TANGGAL 1 FEBRUARI 2000 TENTANG PENCABUTAN KEPUTUSAN MENTERI PERDAGANGAN NOMOR:102/SK/VIII/1967 TENTANG KETENTUAN PELAKSANAAN KEBIJAKSANAAN

318

DALAM BIDANG EKSPOR DAN PEMASARAN BARANG-BARANG/HASIL-HASIL BUMI INDONESIA 178. KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN NOMOR 49/MPP/KEP/2/2000 TANGGAL 25 FEBRUARI 2000 TENTANG PERSYARATAN IMPOR KENDARAAN BERMOTOR DALAM KEADAAN UTUH (CBU) DALAM KEADAAN UTUH (CBU) 179. KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN NOMOR 50/MPP/KEP/2/2000 TANGGAL 25 FEBRUARI 2000 TENTANG PERUBAHAN KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN NOMOR 230/MPP/KEP/7/1997 TENTANG BARANG YANG DIATUR TATA NIAGA IMPORNYA SEBAGAIMANA TELAH DIUBAH BEBERAPA KALI TERAKHIR DENGAN KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN NOMOR: 290/MPP/KP/6/1999 180. KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN NOMOR 53/MPP/KEP/2/2000 TANGGAL 25 FEBRUARI 2000 TENTANG PENGAMBILALIHAN KUOTA TEKSTIL DAN PRODUK TEKSTIL 181. KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN NOMOR 67/MPP/KEP/3/2000 TANGGAL 15 MARET 2000 TENTANG KETENTUAN KUOTA EKSPOR TEKSTIL DAN PRODUK TEKSTIL 182. KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN NOMOR 73/MPP/KEP/3/2000 TANGGAL 15 MARET 2000 TENTANG KETENTUAN KEGIATAN USAHA PENJUALAN BERJENJANG 183. KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN NOMOR 129/MPP/KEP/4/2000 TANGGAL 24 APRIL 2000 TENTANG IMPOR MESIN, PERALATAN MESIN DAN BARANG MODAL DALAM KEADAAN BUKAN BARU 184. KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 158/MPP/KEP/5/2000 TANGGAL 12 MEI 2000 TENTANG PEMBENTUKAN TIM PEMERIKSA PETUNJUK PENGGUNAAN (MANUAL) DAN KARTU JAMINAN/GARANSI DALAM BAHASA INDONESIA BAGI PRODUK ELEKTRONIKA 185. KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN NOMOR 180/MPP/KEP/5/2000 TANGGAL 25 MEI 2000 TENTANG TANDA TERA TAHUN 2001 186. KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 174/MPP/KEP/5/2000 TANGGAL 25 MEI 2000 TENTANG PERUBAHAN KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN NOMOR 67/MPP/KEP/3/2000 TENTANG KETENTUAN KUOTA EKSPOR TEKSTIL DAN PRODUK TEKSTIL 187. KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN NOMOR 184/MPP/KEP/5/2000

319

TANGGAL 29 MEI 2000 TENTANG PERUBAHAN KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN NOMOR 42/MPP/KEP/2/1997 TENTANG KRITERIA DAN PENETAPAN PERUSAHAAN EKSPORTIR TERTENTU (PET) 188. KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN NOMOR 192/MPP/KEP/6/2000 TANGGAL 2 JUNI 2000 TENTANG PERUBAHAN KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN NOMOR 230/MPP/KEP/7/1997 TENTANG BARANG YANG DIATUR TATA NIAGA IMPORNYA SEBAGAIMANA TELAH DIUBAH BEBERAPA KALI TERAKHIR DEGAN KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN NOMOR 50/MPP/KEP/2/2000 189. KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 233/MPP/KEP/6/2000 TANGGAL 25 JUNI 2000 TENTANG PERUBAHAN LAMPIRAN ATAS KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN NOMOR 589/MPP/KEP/10/1999 TENTANG PENETAPAN JENIS-JENIS INDUSTRI DALAM PEMBINAAN MASING-MASING DIREKTORAT JENDERAL DAN KEWENANGAN PEMBERIAN IZIN BIDANG INDUSTRI DAN PERDAGANGAN DI LINGKUNGAN DEPARTEMEN PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN 190. LAMPIRAN KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 234/MPP/KEP/6/2000 TANGGAL 26 JUNI 2000 TENTANG PENYELENGGARAAN PENDAFTARAN LAPORAN KEUANGAN TAHUNAN PERUSAHAAN 191. KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 234/MPP/KEP/6/2000 TANGGAL 27 JUNI 2000 TENTANG PENYELENGGARAAN PENDAFTARAN LAPORAN KEUANGAN TAHUNAN PERUSAHAAN 192. KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 253/MPP/KEP/7/2000 TANGGAL 4 JULI 2000 TENTANG PERUBAHAN KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN NOMOR 550/MPP/KEP/10/1999 TENTANG ANGKA PENGENAL IMPORTIR (API) 193. KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 254/MPP/KEP/7/2000 TANGGAL 5 JULI 2000 TENTANG TATA NIAGA IMPOR DAN PEREDARAN BAHAN BERBAHAYA TERTENTU 194. LAMPIRAN KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 254/MPP/KEP/7/2000 TANGGAL 5 JULI 2000 TENTANG TATA NIAGA IMPOR DAN PEREDARAN BAHAN BERBAHAYA TERTENTU 195. KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN NOMOR 268/MPP/KEP/7/2000 TANGGAL 11 JULI 2000 TENTANG PENETAPAN BESARNYA HARGA PATOKAN UNTUK

320

PERHITUNGAN PROVISI SUMBER DAYA HUTAN (PSDH) 196. KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN NOMOR 278/MPP/KEP/7/2000 TANGGAL 17 JULI 2000 TENTANG IMPOR MESIN, PERALATAN MESIN DAN BARANG MODAL BUKAN BARU 197. KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN NOMOR 427/MPP/KEP/10/2000 TANGGAL 10 OKTOBER 2000 TENTANG KOMITE ANTI DUMPING INDONESIA 198. KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN NOMOR 428/MPP/KEP/10/2000 TANGGAL 10 OKTOBER 2000 TENTANG PENUNJUKAN DAN PENGANGKATAN ANGGOTA PENUNJUKAN DAN PENGANGKATAN ANGGOTA KOMITE ANTI DUMPING INDONESIA 199. KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN RI NOMOR 472/MPP/KEP/II/2000 TANGGAL 16 NOPEMBER 2000 TENTANG KRITERIA PENGUSAHA KECIL DAN KOPERASI UNTUK MEMPEROLEH KUOTA PERTUMBUHAN TAHUN 2001 200. KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN NOMOR 06/MPP/KEP/1/1999 TANGGAL 6 JANUARI 1999 TENTANG PENETAPAN BESARNYA HARGA PATOKAN UNTUK PERHITUNGAN PROVISI SUMBER DAYA HUTAN (PSDH) 201. KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN NOMOR 26/MPP/KEP/1/1999 TANGGAL 14 JANUARI 1999 TENTANG PENDISTRIBUSIAN PUPUK UNTUK PETANI TANAMAN PANGAN DI DAERAH YANG SULIT DIJANGKAU 202. KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN NOMOR 29/MPP/KEP/I/1999 TANGGAL 21 JANUARI 1999 TENTANG KETENTUAN EKSPOR KOPI 203. LAMPIRAN I, KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN NOMOR 29/MPP/KEP/I/1999 TANGGAL 21 JANUARI 1999 TENTANG KETENTUAN EKSPOR KOPI 204. LAMPIRAN II, KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN NOMOR 29/MPP/KEP/I/1999 TANGGAL 21 JANUARI 1999 TENTANG KETENTUAN EKSPOR KOPI 205. LAMPIRAN III, KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN NOMOR 29/MPP/KEP/I/1999 TANGGAL 21 JANUARI 1999 TENTANG KETENTUAN EKSPOR KOPI 206. KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN NOMOR 84/MPP/KEP/3/1999 TANGGAL 28 FEBRUARI 1999 TENTANG PENETAPAN KUOTA PERTUMBUHAN TEKSTIL DAN

321

PRODUK TEKSTIL (KPT) TAHUN KUOTA 1999 UNTUK NEGARA TUJUAN AMERIKA SERIKAT, MASYARAKAT EROPA, NORWEGIA, KANADA DAN TURKI 207. PETUNJUK PELAKSANAAN KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN NOMOR 84/MPP/KEP/3/1999 TANGGAL 28 FEBRUARI 1999 TENTANG PENETAPAN KUOTA PERTUMBUHAN TEKSTIL DAN PRODUK TEKSTIL (KPT) TAHUN KUOTA 1999 UNTUK NEGARA TUJUAN AMERIKA SERIKAT, MASYARAKAT EROPA, NORWEGIA, KANADA DAN TURKI 208. KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN NOMOR 146/MPP/KEP/4/1999 TANGGAL 22 APRIL 1999 TENTANG PERUBAHAN LAMPIRAN KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN NOMOR 558/MPP/KEP/12/1998 TENTANG KETENTUAN UMUM DI BIDANG EKSPOR 209. KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN NOMOR 202/MPP/KEP/5/1999 TANGGAL 26 MEI 1999 TENTANG KETENTUAN DAN TATACARA PERMOHONAN FASILITAS DALAM RANGKA PELAKSANAAN PERJANJIAN "BASIC AGREEMENT ON THE ASEAN INDUSTRIAL COOPERATION" 210. KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN NOMOR 231/MPP/KEP/6/1999 TANGGAL 3 JUNI 1999 TENTANG PENCABUTAN KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN NO. 108/KEP/I/1984 TENTANG PENUNJUKAN PT. BERDIKARI SEBAGAI DISTRIBUTOT TUNGGAL ALUMINIUM INGOT PRODUKSI PT. INALUM 211. KEPUTUSAN MENTERI KEUANGAN NOMOR 189/KMK.017/1999 TANGGAL 3 JUNI 1999 TENTANG PENETAPAN BESARNYA TARIP PAJAK EKSPOR KELAPA SAWIT, MINYAK KELAPA SAWIT, MINYAK KELAPA DAN PRODUK TURUNANNYA 212. KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN NOMOR 230/MPP/KEP/6/1999 TANGGAL 4 JUNI 1999 TENTANG PENCABUTAN KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN NO. 505/MPP/KEP/10/1998 TENTANG PERDAGANGAN DAN DISTRIBUSI MINYAK GORENG DAN GULA PASIR 213. KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN NOMOR 251/MPP/KEP/6/1999 TANGGAL 11 JUNI 1999 TENTANG PERUBAHAN KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN NO: 61/MPP/KEP/2/1998 TENTANG PENYELENGGARAAN KEMETROLOGIAN 214. KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN NOMOR 250/MPP/KEP/6/1999 TANGGAL 11 JUNI 1999 TENTANG TANDA TERA TAHUN 2000 215. KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN

322

PERDAGANGAN NOMOR 327/MPP/KEP/7/1999 TANGGAL 21 JUNI 1999 TENTANG PERUBAHAN KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN NO. 12/MPP/KEP/I/1998 TENTANG PENYELENGGARAAN WAJIB DAFTAR PERUSAHAAN 216. KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN NOMOR 274/MPP/KEP/6/1999 TANGGAL 21 JUNI 1999 TENTANG LARANGAN DAN PENGAWASAN IMPOR, DISTRIBUSI DAN PRODUKSI BARANG YANG TERCEMAR DIOXIN 217. KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN NOMOR 288/MPP/KEP/6/1999 TANGGAL 23 JUNI 1999 TENTANG PEMBENTUKAN TIM PENINGKATAN PENGGUNAAN PRODUKSI DALAM NEGERI 218. KEPUTUSAN MENTERI KEUANGAN NOMOR 348/KMK.01/1999 TANGGAL 24 JUNI 1999 TENTANG MACAM DAN JENIS KENDARAAN BERMOTOR YANG DIKENAKAN PAJAK PENJUALAN ATAS BARANG MEWAH 219. KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN NOMOR 291/MPP/KEP/6/1999 TANGGAL 24 JUNI 1999 TENTANG PEMBENTUKAN TIM MONITORING INDUSTRI KENDARAAN BERMOTOR 220. KEPUTUSAN MENTERI KEUANGAN NOMOR 346/KMK.01/1999 TANGGAL 24 JUNI 1999 TENTANG PEMBEBASAN BEA MASUK ATAS IMPOR BARANG DAN BAHAN UNTUK PEMBUATAN KOMPONEN, PERALATAN DAN KAROSERI KENDARAAN BERMOTOR KHUSUS 221. KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN NOMOR 290/MPP/KEP/6/1999 TANGGAL 24 JUNI 1999 TENTANG PERUBAHAN KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN NOMOR 230/MPP/KEP/7/1997 TENTANG BARANG YANG DIATUR TATA NIAGA IMPORNYA SEBAGAIMANA TELAH DIUBAH BEBERAPA KALI TERAKHIR DENGAN KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN NOMOR 439/MPP/KEP/9/1998 222. KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN NOMOR 276/MPP/KEP/6/1999 TANGGAL 24 JUNI 1999 TENTANG PENDAFTARAN TIPE DAN VARIAN KENDARAAN BERMOTOR 223. KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN NOMOR 275/MPP/KEP/6/1999 TANGGAL 24 JUNI 1999 TENTANG INDUSTRI KENDARAAN BERMOTOR 224. KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN NOMOR 321/MPP/KEP/7/1999 TANGGAL 13 JULI 1999 TENTANG PENETAPAN BESARNYA HARGA PATOKAN UNTUK PERHITUNGAN PROVISI SUMBER DAYA HUTAN (PSDH)

323

225. KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN NOMOR 364/MPP/KEP/8/1999 TANGGAL 5 AGUSTUS 1999 TENTANG TATA NIAGA IMPOR GULA 226. KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN NOMOR 365/MPP/KEP/8/1999 TANGGAL 5 AGUSTUS 1999 TENTANG PENUNJUKAN PELAKSANA PEMANTAUAN PERDAGANGAN LUAR NEGERI DAN PERKEMBANGAN INDUSTRI 227. KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN NOMOR 366/MPP/KEP/8/1999 TANGGAL 5 AGUSTUS 1999 TENTANG PERUBAHAN PASAL 11 KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN RI NOMOR: 374/MPP/KEP/8/1998 TENTANG KETENTUAN EKSPOR KUOTA TEKSTIL DAN PRODUK TEKSTIL 228. KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN NOMOR 384/MPP/KEP/8/1999 TANGGAL 18 AGUSTUS 1999 TENTANG PERUBAHAN KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN NO. 108/MPP/KEP/1996 TENTANG STANDARDISASI, SERTIFIKASI, AKREDITASI DAN PENGAWASAN MUTU PRODUK DI LINGKUNGAN DEPARTEMEN PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN 229. KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN NOMOR 405/MPP/KEP/9/1999 TANGGAL 2 SEPTEMBER 1999 TENTANG PENYEMPURNAAN KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN NO: 439/MPP/KEP/9/1998 230. KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN NOMOR 551/MPP/KEP/10/1999 TANGGAL 5 OKTOBER 1999 TENTANG BENGKEL UMUM KENDARAAN BERMOTOR 231. KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN NOMOR 550/MPP/KEP/10/1999 TANGGAL 5 OKTOBER 1999 TENTANG ANGKA PENGENAL IMPORTIR (API) 232. KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN NOMOR 556/MPP/KEP/10/1999 TANGGAL 6 OKTOBER 1999 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA BAPPEBTI 233. KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN NOMOR 559/MPP/KEP/10/1999 TANGGAL 6 OKTOBER 1999 TENTANG KRITERIA PENGUSAHA KECIL DAN KOPERASI UNTUK MEMPEROLEH KUOTA PERTUMBUHAN TAHUN 2000 234. KEPUTUSAN MENTERI NEGARA INVESTASI/KEPALA BADAN KOORDINASI PENANAMAN MODAL/BKPM NOMOR 38/SK/1999 TANGGAL 6 OKTOBER 1999 TENTANG PEDOMAN DAN TATA CARA PERMOHONAN PENANAMAN MODAL YANG DIDIRIKAN DALAM RANGKA PENANAMAN MODAL DALAM NEGERI DAN

324

PENANAMAN MODAL ASING 235. KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN NOMOR 590/MPP/KEP/10/1999 TANGGAL 13 OKTOBER 1999 TENTANG KETENTUAN DAN TATA CARA PEMBERIAN IZIN USAHA INDUSTRI, IZIN PERLUASAN DAN TANDA DAFTAR INDUSTRI 236. KEPUTUSAN MENTERI KEUANGAN R.I. NOMOR 490/KMK.01/1999 TANGGAL 13 OKTOBER 1999 TENTANG PEMBEBASAN BEA MASUK ATAS IMPOR BAHAN BAKU, MESIN-MESIN, ALAT-ALAT PERLENGKAPAN SERTA SUKU CADANG UNTUK PEMBUATAN, PERBAIKAN DAN PEMELIHARAAN KAPAL LAUT DAN ALAT APUNG SELAIN KAPAL PESIAR DAN KAPAL OLAHRAGA 237. KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN NOMOR 580/MPP/KEP/10/1999 TANGGAL 13 OKTOBER 1999 TENTANG PENGAWASAN IMPOR BARANG YANG TERCEMAR DIOXIN 238. KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN NOMOR 589/MPP/KEP/10/1999 TANGGAL 13 OKTOBER 1999 TENTANG PENETAPAN JENIS-JENIS INDUSTRI DALAM PEMBINAAN MASING-MASING DIREKTORAT JENDERAL DAN KEWENANGAN PEMBERIAN IZIN BIDANG INDUSTRI DAN PERDAGANGAN 239. KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN NOMOR 587/MPP/KEP/10/1999 TANGGAL 13 OKTOBER 1999 TENTANG PEMBENTUKAN KANTOR PENDAFTARAN PERUSAHAAN (KPP) 240. KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN NOMOR 591/MPP/KEP/10/1999 TANGGAL 13 OKTOBER 1999 TENTANG KETENTUAN TATA CARA PEMBERIAN SURAT IZIN USAHA PERDAGANGAN (SIUP) 241. LAMPIRAN KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN NOMOR 590/MPP/KEP/10/1999 TANGGAL 13 OKTOBER 1999 TENTANG KETENTUAN DAN TATA CARA PEMBERIAN IZIN USAHA INDUSTRI, IZIN PERLUASAN DAN TANDA DAFTAR INDUSTRI 242. KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN NOMOR 608/MPP/KEP/10/1999 TANGGAL 14 OKTOBER 1999 TENTANG PETUNJUK PENGGUNAAN (MANUAL) DAN KARTU JAMINAN/GARANSI DALAM BAHASA INDONESIA BAGI PRODUK ELEKTRONIKA 243. KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN NOMOR 616/MPP/KEP/10/1999 TANGGAL 14 OKTOBER 1999 TENTANG PENGAWASAN MUTU SECARA WAJIB SNI CRUMB RUBBER STANDARD INDONESIA RUBBER 244. KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN RI NOMOR 588/MPP//KEP/10/1999

325

TANGGAL 14 OKTOBER 1999 TENTANG PENETAPAN TATA KERJA TIM NASIONAL DAN PEMBENTUKAN KELOMPOK PERUNDING UNTUK PERUNDINGAN PERDAGANGAN MULTILATERAL DALAM KERANGKA WTO 245. KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN NOMOR 717/MPP/KEP/12/1999 TANGGAL 28 DESEMBER 1999 TENTANG PENCABUTAN TATA NIAGA IMPOR GULA DAN BERAS 246. KEPUTUSAN MENTERI KEUANGAN RI NOMOR 568/KMK.01/1999 TANGGAL 31 DESEMBER 1999 TENTANG PENETAPAN TARIP BEA MASUK ATAS IMPOR BERAS DAN GULA 247. KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN NOMOR 726/MPP/KEP/12/1999 TANGGAL 31 DESEMBER 1999 TENTANG PENETAPAN BESARNYA HARGA PATOKAN UNTUK PERHITUNGAN PROVISI SUMBER DAYA HUTAN (PSDH) 248. KEPUTUSAN MENTERI KEUANGAN RI NOMOR 570/KMK.01/1999 TANGGAL 31 DESEMBER 1999 TENTANG PERUBAHAN TARIF BEA MASUK ATAS IMPOR BEBERAPA PRODUK TERTENTU 249. KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 12/MPP/KEP/1/1998 TANGGAL 16 JANUARI 1998 TENTANG PENYELENGGARAAN WAJIB DAFTAR PERUSAHAAN 250. KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN (PAKET REFORMASI) NOMOR 20/MPP/KEP/1/1998 TANGGAL 21 JANUARI 1998 TENTANG PENCABUTAN KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN NO. 142/MPP/KEP/6/1996 TENTANG PEMBUATAN MOBIL NASIONAL 251. KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN (PAKET REFORMASI) NOMOR 23/MPP/KEP/1/1998 TANGGAL 21 JANUARI 1998 TENTANG LEMBAGA-LEMBAGA USAHA PERDAGANGAN 252. KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN (PAKET REFORMASI) NOMOR 21/MPP/KEP/1/1998 TANGGAL 21 JANUARI 1998 TENTANG PENCABUTAN KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN NO. 407/MPP/KEP/11/1997 TENTANG PENGADAAN DAN PENYALURAN TEPUNG TERIGU DI DALAM NEGERI 253. KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN NOMOR 23/MPP/KEP/1/1998 TANGGAL 21 JANUARI 1998 TENTANG LEMBAGALEMBAGA USAHA PERDAGANGAN 254. KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN (PAKET REFORMASI) NOMOR 22/MPP/KEP/1/1998 TANGGAL 21 JANUARI 1998 TENTANG PEDOMAN PELAKSANAN

326

PERDAGANGAN CENGKEH 255. KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN (PAKET REFORMASI) NOMOR 19/MPP/KEP/1/1998 TANGGAL 21 JANUARI 1998 TENTANG PENCABUTAN SURAT KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN NO. 31/MPP/SK/2/1996 TENTANG KENDARAAN BERMOTOR NASIONAL 256. KEPUTUSAN MENTERI KEUANGAN (PAKET REFORMASI) NOMOR 16/KMK.017/1998 TANGGAL 21 JANUARI 1998 TENTANG PENURUNAN TARIF BEA MASUK BEBERAPA PRODUK PERTANIAN TERTENTU 257. KEPUTUSAN MENTERI KEUANGAN (PAKET REFORMASI) NOMOR 17/KMK.017/1998 TANGGAL 21 JANUARI 1998 TENTANG PENURUNAN TARIF BEA MASUK ATAS IMPOR PRODUK TERTENTU 258. KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN (PAKET REFORMASI) NOMOR 31/MPP/KEP/1/1998 TANGGAL 21 JANUARI 1998 TENTANG PENCABUTAN KEPUTUSAN MENTERI PERDAGANGAN NO. 62/KP/IV/89 TENTANG PENGUKUHAN PEMBENTUKAN KELOMPOK BADAN PEMASARAN BERSAMA (BPB) 259. KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN (PAKET REFORMASI) NOMOR 32/MPP/KEP/1/1998 TANGGAL 21 JANUARI 1998 TENTANG KETENTUAN EKSPOR KAYU GERGAJIAN DAN KAYU OLAHAN 260. KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN (PAKET REFORMASI) NOMOR 30/MPP/KEP/1/1998 TANGGAL 21 JANUARI 1998 TENTANG PENCABUTAN KEPUTUSAN MENTERI PERDAGANGAN NO. 119/KP/V/87 TENTANG TATA NIAGA EKSPOR KAYU GERGAJIAN DAN KAYU OLAHAN 261. KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN (PAKET REFORMASI) NOMOR 25/MPP/KEP/1/1998 TANGGAL 21 JANUARI 1998 TENTANG PERUBAHAN KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN NO. 230/MPP/KEP/7/97 TENTANG BARANG YANG DIATUR TATA NIAGA IMPORNYA SEBAGAIMANA TELAH DIUBAH DENGAN KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN NOMOR: 406/MPP/KEP/11/1997 262. KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN (PAKET REFORMASI) NOMOR 26/MPP/KEP/1/1998 TANGGAL 21 JANUARI 1998 TENTANG PENCABUTAN KEPUTUSAN MENTERI PERDAGANGAN DAN KOPERASI NO. 152/KP/V/82 TENTANG TATA NIAGA EKSPOR KAYU LAPIS 263. KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN (PAKET REFORMASI) NOMOR 33/MPP/KEP/1/1998 TANGGAL 21 JANUARI 1998 TENTANG PENCABUTAN KEPUTUSAN MENTERI PERDAGANGAN NO. 410/KP/XII/88 TENTANG

327

KETENTUAN ROTAN

TATA

NIAGA

EKSPOR

LAMPIT

264. KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN (PAKET REFORMASI) NOMOR 28/MPP/KEP/1/1998 TANGGAL 21 JANUARI 1998 TENTANG KETENTUAN EKSPOR KAYU LAPIS 265. KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN (PAKET REFORMASI) NOMOR 29/MPP/KEP/1/1998 TANGGAL 21 JANUARI 1998 TENTANG PENCABUTAN KEPUTUSAN MENTERI PERDAGANGAN NO. 128/KP/IV/86 TENTANG JATAH EKSPOR KAYU LAPIS 266. KEPUTUSAN BERSAMA MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN, MENTERI PERTANIAN DAN MENTERI KOPERASI DAN PEMBINAAN PENGUSAHA KECIL (PAKET REFORMASI) NOMOR 24/MPP/KEP/1/1998, NOMOR 30/KPTS/TN.320/1/1998 DAN NOMOR 01/SKB/M/I/1998 TANGGAL 21 JANUARI 1998 TENTANG PENCABUTAN KEPUTUSAN BERSAMA MENTERI PERDAGANGAN DAN KOPERASI NOMOR: 236/KPB/VII/1982, NOMOR: 341/M/SK/7/1982 DAN NOMOR: 521/KPTS/UM/7/1982 TENTANG PENGEMBANGAN USAHA PENINGKATAN PRODUKSI, PENGOLAHAN DAN PEMASARAN SUSU DALAM NEGERI 267. KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN (PAKET REFORMASI) NOMOR 27/MPP/KEP/1/1998 TANGGAL 21 JANUARI 1998 TENTANG PENCABUTAN KEPUTUSAN MENTERI PERDAGANGAN NO. 1198/KP/X/84 TENTANG PENGUKUHAN PEMBENTUKAN KELOMPOK BADAN PEMASARAN BERSAMA DAN TATA NIAGA EKSPOR KAYU LAPIS 268. KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 110/MPP/KEP/1/1998 TANGGAL 27 JANUARI 1998 TENTANG LARANGAN MEMPRODUKSI DAN MEMPERDAGANGKAN BAHAN PERUSAK LAPISAN OZON SERTA MEMPRODUKSI DAN MEMPERDAGANGKAN BARANG BARU YANG MENGGUNAKAN BAHAN PERUSAK LAPISAN OZON (OZONE DEPLETING SUBSTANCES) 269. KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN NOMOR 97/MPP/KEP/2/1998 TANGGAL 26 FEBRUARI 1998 TENTANG PERUBAHAN KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN, NOMOR: 228/MPP/KEP/7/1997 TENTANG KETENTUAN UMUM DI BIDANG EKSPOR 270. KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN NOMOR 105/MPP/KEP/2/1998 TANGGAL 27 FEBRUARI 1998 TENTANG PENATAAN DAN PEMBINAAN PERGUDANGAN 271. KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN NOMOR 107/MPP/KEP/2/1998 TANGGAL 27 FEBRUARI 1998 TENTANG KETENTUAN TATA CARA PEMBERIAN IZIN USAHA PASAR MODERN

328

272. LAMPIRAN KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN NOMOR 107/MPP/KEP/2/1998 TANGGAL 27 FEBRUARI 1998 TENTANG KETENTUAN TATA CARA PEMBERIAN IZIN USAHA PASAR MODERN 273. KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN NOMOR 159/MPP/KEP/4/1998 TANGGAL 1 APRIL 1998 TENTANG PERUBAHAN ATAS KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN NO. 23/MPP/KEP/1/1998 TENTANG LEMBAGA-LEMBAGA USAHA PERDAGANGAN 274. MEMORANDUM TAMBAHAN, MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN NOMOR TANGGAL 10 APRIL 1998 TENTANG EKONOMI DAN KEUANGAN 275. KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN NOMOR 181/MPP/KEP/4/1998 TANGGAL 17 APRIL 1998 TENTANG PENCABUTAN KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN NOMOR : 102/MPP/KEP/2/11990 TENTANG PASOKAN DALAM NEGERI CRUDE PALM OIL (CPO), REFINED BLEACHING DEODORIZED PALM OIL (RBD PO), CRUDE OLEIN (CRD OLEIN) DAN REFINED BLEACHING DEODORIZED OLEIN (RED OLEIN) 276. KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN NOMOR 187/MPP/KEP/4/1998 TANGGAL 20 APRIL 1998 TENTANG KETENTUAN EKSPOR ROTAN 277. KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN NOMOR 182/MPP/KEP/4/1998 TANGGAL 20 APRIL 1998 TENTANG KETENTUAN UMUM DI BIDANG EKSPOR 278. KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN NOMOR 183/MPP/KEP/4/1998 TANGGAL 20 APRIL 1998 TENTANG PENCABUTAN KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN NOMOR. 32/MPP/KEP/1/1998 TENTANG KETENTUAN EKSPOR KAYU GERGAJIAN DAN KAYU OLAHAN 279. KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN NOMOR 184/MPP/KEP/4/1998 TANGGAL 20 APRIL 1998 TENTANG PENCABUTAN KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN NOMOR. 34/MPP/KEP/4/1998 TENTANG KETENTUAN EKSPOR LAMPIT ROTAN 280. KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN NOMOR 182/MPP/KEP/4/1998 TANGGAL 20 APRIL 1998 TENTANG KETENTUAN UMUM DI BIDANG EKSPOR 281. KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN NOMOR 185/MPP/KEP/4/1998 TANGGAL 20 APRIL 1998 TENTANG KETENTUAN EKSPOR KAYU BULAT 282. KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN NOMOR 186/MPP/KEP/4/1998

329

TANGGAL 20 APRIL 1998 TENTANG KETENTUAN EKSPOR KAYU GERGAJIAN DAN KAYU OLAHAN 283. KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN NOMOR 348/MPP/KEP/7/1998 TANGGAL 22 JULI 1998 TENTANG PERDAGANGAN DAN DISTRIBUSI MINYAK GORENG DAN GULA PASIR 284. KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN NOMOR 438/MPP/KEP/9/1998 TANGGAL 24 JULI 1998 TENTANG PERUBAHAN KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN NOMOR 350/MPP/KEP/7/1998 TENTANG PEMBATASAN EKSPOR BARANGBARANG TERTENTU YANG MENDAPAT SUBSIDI DARI PEMERINTAH 285. KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN NOMOR 307/MPP/KEP/6/1998 TANGGAL 24 JULI 1998 TENTANG TANDA TERA TAHUN 1999 286. KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN NOMOR 349/MPP/KEP/7/1998 TANGGAL 24 JULI 1998 TENTANG HARGA JUAL BELI PABRIK ATAS GULA PASIR YANG DIBELI BULOG DARI PT. PERKEBUNAN NUSANTARA/PT. RAJAWALI NUSANTARA INDONESIA DAN PETANI SERTA PRODUSEN LAINNYA 287. KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN NOMOR 350/MPP/KEP/7/1998 TANGGAL 27 JULI 1998 TENTANG PEMBATASAN EKSPOR BARANG-BARANG TERTENTU YANG MENDAPATKAN SUBSIDI DARI PEMERINTAH 288. KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN NOMOR 410/MPP/KEP/9/1998 TANGGAL 3 SEPTEMBER 1998 TENTANG PERUBAHAN KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN NOMOR 110/MPP/KEP/1/1998 TENTANG LARANGAN MEMPRODUKSI DAN MEMPERDAGANGKAN BAHAN PERUSAK LAPISAN OZON SERTA MEMPRODUKSI DAN MEMPERDAGANGKAN BARANG BARU YANG MENGGUNAKAN BAHAN PERUSAK LAPISAN OZON (OZONE DEPLETING SUBSTANCES) 289. KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN NOMOR 411/MPP/KEP/9/1998 TANGGAL 3 SEPTEMBER 1998 TENTANG PERUBAHAN KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN NOMOR 111/MPP/KEP/1/1998 TENTANG PERUBAHAN KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN NOMOR 230/MPP/KEP/7/1997 TENTANG BARANG YANG DIATUR TATA NIAGA IMPORNYA 290. KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN NOMOR 442/MPP/KEP/9/1998 TANGGAL 25 SEPTEMBER 1998 TENTANG PERUBAHAN LAMPIRAN KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN NOMOR 182/MPP/KEP/4/1998 TENTANG KETENTUAN UMUM

330

DI BIDANG EKSPOR 291. KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN NOMOR 441/MPP/KEP/9/1998 TANGGAL 25 SEPTEMBER 1998 TENTANG KETENTUAN EKSPOR KAYU GERGAJIAN 292. KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN NOMOR 440/MPP/KEP/9/1998 TANGGAL 25 SEPTEMBER 1998 TENTANG KETENTUAN EKSPOR ROTAN BULAT 293. KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN NOMOR 525/MPP/KEP/XI/1998 TANGGAL 13 NOPEMBER 1998 TENTANG PENYELENGGARAAN PENDAFTARAN LAPORAN KEUANGAN TAHUNAN PERUSAHAAN 294. KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN NOMOR 558/MPP/KEP/12/1998 TANGGAL 4 DESEMBER 1998 TENTANG KETENTUAN UMUM DI BIDANG EKSPOR 295. KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN (PAKJUL '97) NOMOR 229/MPP/KEP/7/1997 TANGGAL 7 JULI 1997 TENTANG KETENTUAN UMUM DI BIDANG IMPOR 296. KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN (PAKJUL '97) NOMOR 230/MPP/KEP/7/1997 TANGGAL 7 JULI 1997 TENTANG BARANG YANG DIATUR TATA NIAGA IMPORNYA 297. KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN (PAKJUL '97) NOMOR 228/MPP/KEP/7/1997 TANGGAL 7 JULI 1997 TENTANG KETENTUAN UMUM DI BIDANG EKSPOR 298. KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN (PAKJUL '97) NOMOR 231/MPP/KEP/7/1997 TANGGAL 7 JULI 1997 TENTANG PROSEDUR IMPOR LIMBAH 299. KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN (PAKJUL '97) NOMOR 227/MPP/KEP/7/1997 TANGGAL 7 JULI 1997 TENTANG PENYEMPURNAAN KEPUTUSAN MENTERI PERDAGANGAN DAN KOPERASI, NOMOR: 04/KP/I/1980 TENTANG KETENTUAN GOLONGAN USAHA, UANG JAMINAN DAN BIAY 300. KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN NOMOR 255/MPP/KEP/7/1997 TANGGAL 28 JULI 1997 TENTANG PELIMPAHAN WEWENANG PERIZINAN DI BIDANG INDUSTRI DAN PERDAGANGAN DI LINGKUNGAN DEPARTEMEN PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN 301. KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN NOMOR 254/MPP/KEP/7/1997 TANGGAL 28 JULI 1997 TENTANG KRITERIA INDUSTRI KECIL DI LINGKUNGAN DEPARTEMEN PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN

331

302. LAMPIRAN 2, KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN NOMOR 255/MPP/KEP/7/1997 TANGGAL 28 JULI 1997 TENTANG PELIMPAHAN WEWENANG PERIZINAN DI BIDANG INDUSTRI DAN PERDAGANGAN DI LINGKUNGAN DEPARTEMEN PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN 303. LAMPIRAN 1, KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN NOMOR 255/MPP/KEP/7/1997 TANGGAL 28 JULI 1997 TENTANG PELIMPAHAN WEWENANG PERIZINAN DI BIDANG INDUSTRI DAN PERDAGANGAN DI LINGKUNGAN DEPARTEMEN PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN 304. LAMPIRAN 2, KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN NOMOR 256/MPP/KEP/7/1997 TANGGAL 28 JULI 1997 TENTANG KETENTUAN DAN TATA CARA PEMBERIAN IZIN USAHA, IZIN PERLUASAN DAN TANDA DAFTAR INDUSTRI 305. KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN NOMOR 317/MPP/KEP/7/1997 TANGGAL 28 JULI 1997 TENTANG PERUBAHAN KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN NOMOR 225/KP/X/1995 TENTANG PENGELUARAN BARANG-BARANG KE LUAR NEGERI DI LUAR KETENTUAN UMUM DI BIDANG EKSPOR 306. LAMPIRAN 2, KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN NOMOR 259/MPP/KEP/7/1997 TANGGAL 28 JULI 1997 TENTANG KETENTUAN DAN TATA CARA PELAKSANAAN PENDAFTARAN USAHA WARALABA 307. KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 361/MPP/KEP/10/1997 TANGGAL 1 NOPEMBER 1997 TENTANG PENUNJUKAN DISTRIBUTOR DAN SUB DISTRIBUTOR MINUMAN BERALKOHOL 308. KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 359/MPP/KEP/10/1997 TANGGAL 1 NOPEMBER 1997 TENTANG PENGAWASAN DAN PENGENDALIAN PRODUKSI, IMPOR, PENGEDARAN DAN PENJUALAN MINUMAN BERALKOHOL 309. KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 360/MPP/KEP/10/1997 TANGGAL 1 NOPEMBER 1997 TENTANG TATA CARA PEMBERIAN SURAT IZIN USAHA PERDAGANGAN MINUMAN BERALKOHOL 310. KEPUTUSAN BERSAMA MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN, MENTERI KEUANGAN DAN GUBERNUR BANK INDONESIA (PAKET 26 JANUARI 1996) NOMOR 09/MPP/SK/I/1996, NOMOR 41/KMK.01/1996 DAN NOMOR 28/11/KEP/GBI TANGGAL 26 JANUARI 1996 TENTANG PENCABUTAN SKB MENPERDA TENTANG PENYEMPURNAAN KETENTUAN UMUM DI BIDANG

332

EKSPOR 311. KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN (PAKET 26 JANUARI 1996) NOMOR 11/MPP/SK/I/1996 TANGGAL 26 JANUARI 1996 TENTANG KEGIATAN PERUSAHAANPENANAMAN MODAL ASING DI BIDANG EKSPOR. 312. KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN (PAKET 26 JANUARI 1996) NOMOR 10/MPP/SK/I/1996 TANGGAL 26 JANUARI 1996 TENTANG KETENTUAN UMUM DI BIDANG EKSPOR 313. KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN (PAKET 26 JANUARI 1996) NOMOR 12/MPP/SK/I/1996 TANGGAL 26 JANUARI 1996 TENTANG PENUNJUKAN PELAKSANA PEMANTAUAN EKSPOR TEKSTIL DAN PRODUK TEKSTIL YANG DIKENAKAN KUOTA. 314. KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN (PAKET 26 JANUARI 1996) NOMOR 18/MPP/SK/I/1996 TANGGAL 26 JANUARI 1996 TENTANG PEMASUKAN DAN PENGELUARAN BARANG KE DAN DARI EPTE. 315. KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN (PAKET 26 JANUARI 1996) NOMOR 125/MPP/SK/I/1996 TANGGAL 26 JANUARI 1996 TENTANG PENJELASAN KEPRES NOMOR 31 TAHUN 1995 KEPADA MENTERI NEGARA PENGGERAK DANA INVESTASI/KETUA BKPM. 316. KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN (PAKET 26 JANUARI 1996) NOMOR 14/MPP/SK/I/1996 TANGGAL 26 JANUARI 1996 TENTANG BARANG YANG DIATUR TATA NIAGA IMPORNYA 317. KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN (PAKET 26 JANUARI 1996) NOMOR 17/MPP/SK/I/1996 TANGGAL 26 JANUARI 1996 TENTANG PEMASUKAN DAN PENGELUARAN BARANG KE DAN DARI KAWASAN BERIKAT. 318. KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN (PAKET 26 JANUARI 1996) NOMOR 16/MPP/SK/I/1996 TANGGAL 26 JANUARI 1996 TENTANG KEGIATAN IMPOR OLEH PERUSAHAANPENANAMAN MODAL ASING KE KAWASAN BERIKAT (KB) DAN ATAU ENTREPOT PRODUKSI UNTUK TUJUAN EKSPOR 319. KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN (PAKET 26 JANUARI 1996) NOMOR 15/MPP/SK/I/1996 TANGGAL 26 JANUARI 1996 TENTANG PROSEDUR IMPOR LIMBAH 320. KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN (PAKET 4 JUNI 1996) NOMOR 137/MPP/KEP/6/1996 TANGGAL 4 JUNI 1996 TENTANG PROSEDUR IMPOR LIMBAH 321. KEPUTUSAN BERSAMA MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN, MENTERI KEUANGAN DAN GUBERNUR BANK INDONESIA (PAKET 4 JUNI 1996)

333

NOMOR 129/MPP/KEP/6/1996, NOMOR 376/KMK.01/1996 DAN NOMOR 29/5/KEP/GBI TANGGAL 4 JUNI 1996 TENTANG PENCABUTAN KEPUTUSAN BERSAMA MENTERI PERDAGANGAN, MENTERI KEUANGAN DAN GUBERNUR BANK INDONESIA, NOMOR: 656/KPB/IV/85, NOMOR:329/KMK.05/1985 DAN NOMOR: 18/2/KEP/GBI TENTANG PENYEMPURNAAN KETENTUAN-KETENTUAN UMUM DI BIDANG IMPOR, SEBAGAIMANA TELAH DIUBAH DUA KALI TERAKHIR DENGAN SURAT KEPUTUSAN BERSAMA MENTERI PERDAGANGAN, MENTERI KEUANGAN DAN GUBERNUR BANK INDONESIA NOMOR: 247B/KPB/X/1990, NOMOR: 1118A/KMK.00/1990 DAN NOMOR:23/5A/KEP/GBI 322. KEPUTUSAN BERSAMA MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN, MENTERI KEUANGAN DAN GUBERNUR BANK INDONESIA (PAKET 4 JUNI 1996) NOMOR 128/MPP/KEP/6/1996, NOMOR 377/KMK.01/1996 DAN NOMOR 29/4/KEP/GBI TANGGAL 4 JUNI 1996 TENTANG PELAYANAN KHUSUS BAGI PERUSAHAAN EKSPORTIR TERTENTU 323. KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN (PAKET 4 JUNI 1996) NOMOR 135/MPP/KEP/6/1996 TANGGAL 4 JUNI 1996 TENTANG PENETAPAN JENIS INDUSTRI YANG DIKLASIFIKASIKAN KE DALAM KELOMPOK INDUSTRI KOMPONEN ELEKTRONIKA 324. KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN (PAKET 4 JUNI 1996) NOMOR 134/MPP/KEP/6/1996 TANGGAL 4 JUNI 1996 TENTANG KEGIATAN IMPOR DAN PERDAGANGAN DALAM NEGERI BARANG KOMPLEMENTER OLEH PERUSAHAAN ASING DI BIDANG PRODUKSI 325. KEPUTUSAN MENTERI PERDAGANGAN NOMOR 89/KP/V/95 TANGGAL 23 MEI 1995 TENTANG BARANG-BARANG YANG DIATUR TATA NIAGA IMPORNYA. 326. KEPUTUSAN MENTERI PERDAGANGAN NOMOR 90/KP/V/95 TANGGAL 23 MEI 1995 TENTANG PEMASARAN KE DALAM NEGERI HASIL PENGOLAHAN PERUSAHAAN PENGHASIL BARANG ATAU BAHAN (KOMPONEN) DI DALAM KAWASAN BERIKAT DAN PERUSAHAAN PENGHASIL BARANG ATAU BAHAN (KOMPONEN) YANG BERSTATUS ENTREPORT PRODUKSI UNTUK TUJUAN EKSPOR. 327. KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN NOMOR 108/M/SK/5/1995 TANGGAL 23 MEI 1995 TENTANG PERUBAHAN PADA LAMPIRAN I SURAT KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN NOMOR 114/M/SK/6/1993 TANGGAL 9 JUNI 1993, TENTANG PENETAPAN TINGKAT KANDUNGAN LOKAL KENDARAAN BERMOTOR ATAU KOMPONEN BUATAN DALAM NEGERI. 328. KEPUTUSAN MENTERI PERDAGANGAN (PAKET 27 JUNI 1994) NOMOR 126/KP/VI/94 TANGGAL 27 JUNI 1994 TENTANG RASIO IMPOR BUNGKIL KACANG KEDELAI DENGAN PENYERAPAN BUNGKIL

334

KACANG KEDELAI PRODUKSI DALAM NEGERI. 329. KEPUTUSAN MENTERI PERDAGANGAN (PAKET 27 JUNI 1994) NOMOR 125/KP/VI/94 TANGGAL 27 JUNI 1994 TENTANG BARANG-BARANG YANG DIATUR TATA NIAGA IMPORNYA. 330. KEPUTUSAN MENTERI PERDAGANGAN (PAKET 27 JUNI 1994) NOMOR 127/KP/VI/94 TANGGAL 27 JUNI 1994 TENTANG PEMASUKAN DAN PENGELUARAN BARANG KE DAN DARI ENTREPOT PRODUKSI UNTUK TUJUAN EKSPORT (EPTE). 331. KEPUTUSAN MENTERI PERDAGANGAN (PAKET 27 JUNI 1994) NOMOR 128/KP/VI/94 TANGGAL 27 JUNI 1994 TENTANG PEMASUKAN DAN PENGELUARAN BARANG KE DAN DARI KAWASAN BERIKAT. 332. KEPUTUSAN MENTERI PERDAGANGAN (PAKET 10 JUNI 1993) NOMOR 133/KP/VI/1993 TANGGAL 10 JUNI 1993 TENTANG RASIO IMPOR BUNGKIL KACANG KEDELAI DENGAN PENYERAPAN BUNGKIL KACANG KEDELAI PRODUKSI DALAM NEGERI. 333. KEPUTUSAN MENTERI PERDAGANGAN (PAKET 10 JUNI 1993) NOMOR 135/KP/VI/1993 TANGGAL 10 JUNI 1993 TENTANG PEMASUKAN DAN PENGELUARAN BARANG KE DAN DARI KAWASAN BERIKAT. 334. KEPUTUSAN MENTERI PERDAGANGAN (PAKET 10 JUNI 1993) NOMOR 134/KP/VI/1993 TANGGAL 10 JUNI 1993 TENTANG PEMASUKAN DAN PENGELUARAN BARANG KE DAN DARI ENTREPOT PRODUKSI UNTUK TUJUAN EKSPOR (EPTE). 335. KEPUTUSAN BERSAMA MENTERI PERDAGANGAN, MENTERI KEUANGAN DAN GUBERNUR BANK INDONESIA (PAKET 10 JUNI 1993) NOMOR 136/KPB/VI/93, NOMOR 648/KMK.01/1993 DAN NOMOR 26/1/KEP/GBI TANGGAL 10 JUNI 1993 TENTANG PENCABUTAN KEPUTUSAN BERSAMA MENTERI PERDAGANGAN, MENTERI KEUANGAN DAN GUBERNUR BANK INDONESIA NOMOR 138/KPB/V/86,319/KMK.01/1986, DAN 19/7/KEP/GBI TENTANG TATA CARA PEMASUKAN DAN PENGELUARAN BARANG KE DAN DARI KAWASAN BONDED. 336. KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN (PAKET 10 JUNI 1993) NOMOR 115/M/SK/6/1993 TANGGAL 10 JUNI 1993 TENTANG PENDAFTARAN TIPE KENDARAAN BERMOTOR. 337. KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN (PAKET 10 JUNI 1993) NOMOR 114/M/SK/6/1993 TANGGAL 10 JUNI 1993 TENTANG PENETAPAN TINGKAT KANDUNGAN LOKAL KENDARAAN BERMOTOR ATAU KOMPONEN BUATAN DALAM NEGERI. 338. KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN (PAKET 23 OKTOBER 1993) NOMOR 313/KP/X/1993 TANGGAL 23 OKTOBER 1993 TENTANG PEMASUKAN DAN PENGELUARAN BARANG KE DAN DARI KAWASAN BERIKAT.

335

339. KEPUTUSAN MENTERI PERDAGANGAN (PAKET 23 OKTOBER 1993) NOMOR 231/M/SK/10/1993 TANGGAL 23 OKTOBER 1993 TENTANG PERUBAHAN KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN NO.30/M/SK/4/1991 TENTANG KETENTUAN DAN TATA CARA PELAKSANAAN PENETAPAN KAWASAN INDUSTRI YANG DIBERI STATUS KAWASAN BERIKAT 340. KEPUTUSAN BERSAMA MENTERI PERDAGANGAN DAN MENTERI PERINDUSTRIAN (PAKET 23 OKTOBER 1993) NOMOR 310/KPB/X/1993 DAN NOMOR 232/M/SK/X/1993 TANGGAL 23 OKTOBER 1993 TENTANG PENCABUTAN KEPUTUSAN BERSAMA MENTERI PERDAGANGAN NO.201/KPB/VII/92 DAN NO.107/M/SK/VII/1 341. KEPUTUSAN MENTERI PERDAGANGAN (PAKET 23 OKTOBER 1993) NOMOR 312/KP/X/1993 TANGGAL 23 OKTOBER 1993 TENTANG PEMASUKAN DAN PENGELUARAN BARANG KE DAN DARI ENTREPOT PRODUKSI UNTUK TUJUAN EKSPOR (EPTE). 342. KEPUTUSAN MENTERI PERDAGANGAN (PAKET 23 OKTOBER 1993) NOMOR 309/KP/X/1993 TANGGAL 23 OKTOBER 1993 TENTANG BARANG-BARANG YANG DIATUR TATA NIAGA IMPORNYA. 343. KEPUTUSAN MENTERI PERDAGANGAN (PAKET 23 OKTOBER 1993) NOMOR 230/M/SK/10/1993 TANGGAL 23 OKTOBER 1993 TENTANG PERUBAHAN KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN NO.291/M/SK/10/1989 TENTANG TATA CARA PERIZINAN DAN STANDAR TEKNIS KAWASAN INDUSTRI. 344. KEPUTUSAN MENTERI PERDAGANGAN (PAKET 23 OKTOBER 1993) NOMOR 311/KP/X/1993 TANGGAL 23 OKTOBER 1993 TENTANG PENYEDERHANAAN IMPOR MESIN, PERALATAN MESIN DAN BARANG MODAL LAINNYA DALAM KEADAAN BUKAN BARU. 345. KEPUTUSAN MENTERI PERDAGANGAN (PAKET 6 JULI 1992) NOMOR 200/KP/VII/92 TANGGAL 6 JULI 1992 TENTANG PERUBAHAN KEPUTUSAN MENTERI PERDAGANGAN 135/KP/VI/1991 TENTANG BARANG YANG DIATUR TATA NIAGA IMPORNYA SEBAGAIMANA TELAH DIUBAH DENGAN KEPUTUSAN MENTERI PERDAGANGAN NOMOR 197/KP/VIII/91 346. KEPUTUSAN BERSAMA MENTERI PERDAGANGAN DAN MENTERI PERINDUSTRIAN (PAKET 6 JULI 1992) NOMOR 201/KPB/VII/92 DAN NOMOR 107/M/SK/VII/1992 TANGGAL 6 JULI 1992 TENTANG IMPOR MESIN, PERALATAN MESIN DAN BARANG MODAL LAINNYA DALAM KEADAAN BUKAN BARU 347. KEPUTUSAN MENTERI PERDAGANGAN (PAKET 3 JUNI 1991) NOMOR 135/KP/VI/91 TANGGAL 3 JUNI 1991 TENTANG BARANG-BARANG YANG DIATUR TATA NIAGA IMPORNYA. 348. KEPUTUSAN MENTERI PERDAGANGAN (PAKET 3

336

JUNI 1991) NOMOR 137/KP/VI/91 TANGGAL 3 JUNI 1991 TENTANG PENYEDERHANAAN KETENTUANKETENTUAN DI BIDANG EKSPOR. 349. PENYABUTAN KEPUTUSAN BERSAMA MENTERI PERDAGANGAN DAN KOPERASI, MENTERI PERTANIAN DAN MENTERI PERINDUSTRIAN NO.275/KPB/XII/78,NO.764/KPTS/UM/12/1978,DAN NO.252/M/SK/12/1978 TENTANG PENGADAAN MINYAK NABATI KEBUTUHAN DALAM NEGERI. 350. KEPUTUSAN MENTERI PERDAGANGAN (PAKET 28 MEI 1990) NOMOR 145/KP/V/90 TANGGAL 28 MEI 1990 TENTANG PEMBEBASAN SAYUR MAYUR DARI SUMATERA UTARA DARI KETENTUAN TATA NIAGA EKSPOR. 351. KEPUTUSAN MENTERI PERDAGANGAN (PAKET 28 MEI 1990) NOMOR 140/KP/V/90 TANGGAL 28 MEI 1990 TENTANG PENCABUTAN PENGUKUHAN PEMBENTUKAN KELOMPOK EKSPORTIR TERDAFTAR KOPI DAN BADAN PEMASARAN BERSAMA (MARKETING GROUP) EKSPORTIR KOPI INDONESIA. 352. KEPUTUSAN MENTERI PERDAGANGAN (PAKET 28 MEI 1990) NOMOR 147/KP/V/90 TANGGAL 28 MEI 1990 TENTANG PERUBAHAN DAN PENYEMPURNAAN KEPUTUSAN MENTERI PERDAGANGAN NO.375/KP/VI/1988 TANGGAL 21 NOPEMBER 1988. 353. KEPUTUSAN MENTERI PERDAGANGAN (PAKET 28 MEI 1990) NOMOR 141/KP/V/90 TANGGAL 28 MEI 1990 TENTANG PEMBEBASAN PALA/BUNGA PALA DARI KETENTUAN TATA NIAGA EKSPOR. 354. KEPUTUSAN MENTERI PERDAGANGAN (PAKET 28 MEI 1990) NOMOR 146/KP/V/90 TANGGAL 28 MEI 1990 TENTANG TATA NIAGA EKSPOR KAYU CENDANA, LAKA DAN GAHARU. 355. KEPUTUSAN BERSAMA MENTERI PERTANIAN, MENTERI KESEHATAN DAN MENTERI PERDAGANGAN (PAKET 28 MEI 1990) NOMOR 363/KPTS/IK.120/5/1990, NOMOR 248/MENKES/SKB/V/1990 DAN NOMOR 143/KPB/V/90 TANGGAL 28 MEI 1990 TENTANG PETUNJUK PELAKSANAAN INSTRUKSI PRESIDEN 2/1990 TENTANG 356. KEPUTUSAN MENTERI PERDAGANGAN (PAKET 28 MEI 1990) NOMOR 142/KP/V/90 TANGGAL 28 MEI 1990 TENTANG PEMBEBASAN EKSPOR TENGKAWANG DARI KETENTUAN TATA NIAGA EKSPOR. 357. KEPUTUSAN MENTERI PERDAGANGAN (PAKET 21 NOVEMBER 1988) NOMOR 378/KP/XI/1988 TANGGAL 21 NOPEMBER 1988 TENTANG PENYEDERHANAAN KETENTUAN MASA BERLAKU ANGKA PENGENAL IMPOR TERBATAS (APIT). 358. KEPUTUSAN BERSAMA MENTERI PERDAGANGAN DAN MENTERI PERHUBUNGAN (PAKET 21 NOVEMBER 1988) NOMOR 371/KPB/XI/1988 DAN

337

NOMOR KM 81 TANGGAL 21 NOPEMBER 1988 TENTANG PENYELENGGARAAN KEGIATAN PENYEDIAAN INFORMASI MUATAN DAN RUANG KAPAL 359. KEPUTUSAN MENTERI PERDAGANGAN (PAKET 21 NOVEMBER 1988) NOMOR 372/KP/XI/88 TANGGAL 21 NOPEMBER 1988 TENTANG PERUBAHAN KEPUTUSAN MENTERI PERDAGANGAN NO.1458/KP/XII/1984 TENTANG SURAT IZIN USAHA PERDAGANGAN (SIUP). 360. KEPUTUSAN MENTERI PERDAGANGAN (PAKET 21 NOVEMBER 1988) NOMOR 374/KP/XI/1988 TANGGAL 21 NOPEMBER 1988 TENTANG PENDAFTARAN KEMBALI IMPORTIR UMUM (IU). 361. KEPUTUSAN MENTERI PERDAGANGAN (PAKET 21 NOVEMBER 1988) NOMOR 375/KP/XI/1988 TANGGAL 21 NOPEMBER 1988 TENTANG PERUBAHAN DAN TAMBAHAN KEPUTUSAN MENTERI PERDAGANGAN NO.333/KP/XII/87 TGL.23 DESEMBER 1987 TENTANG PENYEDERHANAAN KETENTUAN TATA NIAGA IMPO 362. KEPUTUSAN MENTERI PERDAGANGAN (PAKET 21 NOVEMBER 1988) NOMOR 377/KP/XI/1988 TANGGAL 21 NOPEMBER 1988 TENTANG GUDANG DAN JASA PERGUDANGAN (VEEM). 363. KEPUTUSAN MENTERI PERDAGANGAN (PAKET 21 NOVEMBER 1988) NOMOR 376/KP/XI/1988 TANGGAL 21 NOPEMBER 1988 TENTANG PERUBAHAN KEPUTUSAN MENTERI PERDAGANGAN NO.77/KP/III/78 TENTANG KETENTUAN MENGENAI KEGIATAN PERDAGANGAN TERBATAS BAGI PERUSAHAAN PRODUKSI

338

LAMPIRAN 3 SUPPLY-DEMAND STATUS NSPK KE DALAM KATEGORI S1, S2, DAN S3.
Keterangan:
S1 : belum ada sama sekali S2 : dalam proses atau sudah kuno S3 : sudah ada

339

1. BIDANG PENDIDIKAN
SUB BIDANG SUB SUB BIDANG PEMERINTAH PEMERINTAHAN DAERAH PROVINSI 1.a. Penetapan kebijakan operasional pendidikan di provinsi sesuai dengan kebijakan nasional. PEMERINTAHAN DAERAH KABUPATEN/KOTA 1.a. Penetapan kebijakan operasional pendidikan di kabupaten/kota sesuai dengan kebijakan nasional dan provinsi. KEBUTUHAN NSPK PERLU TIDAK 1 KETERANGAN STATUS NSPK S1 S2 S3 1 KETERANGAN

1. Kebijakan

1. Kebijakan dan Standar

1.a. Penetapan kebijakan nasional pendidikan.

Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan

PERMENDIKNAS RI NO: 1 TAHUN 2010 TENTANG PERUBAHAN PENGGUNAAN NAMA DEPAR TEMEN PENDIDIKAN NASIONAL MENJADI KEMENTERIAN PENDIDIKAN NASIONAL PERMENDIKNAS RI NO: TAHUN 2010 TENTANG RENCANA STRATEGIS KEMENTERIAN PENDIDIKAN NASIONAL TAHUN 2010-2014 PERMENDIKNAS RI NO:0 TAHUN 2010 TENTANG NORMA, STANDAR, PROSEDUR, DAN KRITERIA DI BIDANG PENDIDIKAN PERMENDIKNAS RI NO: 46 TAHUN 2009 TENTANG PEDOMAN UMUM EJAAN BAHASA INDONESIA YANG DISEMPURNAKAN PERMENDIKNAS RI NO: 71 TAHUN 2009 TENTANG MEKANISME PENDIRIAN BADAN HUKUM PENDIDIKAN YANG MENYELENGGARAKAN PENDIDIKAN DASAR DAN/ATAU MENENGAH DAN PENGAKUAN PENYELENGGARA PENDIDIKAN DASAR DAN/ATAU MENENGAH SEBAGAI BADAN HUKUM PENDIDIKAN

PERMENDIKNAS RI NO: 32 TAHUN 2009 TENTANGMEKANISME PENDIRIAN BADAN HUKUM PENDIDIKAN, PERUBAHAN BADAN HUKUM MILIK NEGARA ATAU PERGURUAN TINGGI, DAN PENGAKUAN PENYELENGGARA PENDIDIKAN TINGGI SEBAGAI BADAN HUKUM PENDIDIKAN PERMENDIKNAS RI NO: 72 TAHUN 2009 TENTANG PELIMPAHAN SEBAGIAN URUSAN PEMERINTAHAN BIDANG PENDIDIKAN KEPADA GUBERNUR DALAM PENYELENGGARAAN DEKONSENTRASI TAHUN ANGGARAN 2010 PERMENDIKNAS RI NO: 4 TAHUN 2008 TENTANG KALENDER PERHELATAN PENDIDIKAN NASIONAL TAHUN 2008 PERMENDIKNAS RI NO: 14 TAHUN 2008 TENTANG INDIKATOR KINERJA KUNCI DI LINGKUNGAN DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL PERMENDIKNAS RI NO: 9 TAHUN 2007 TENTANG PROSEDUR PENYIAPAN BAHAN RAPAT ATAU LAPORAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL KEPADA PRESIDEN, WAKIL PRESIDEN, DEWAN PERWAKILAN RAKYAT, DEWAN PERWAKILAN DAER AH, DAN/ATAU MENTERI KOORDINATOR

341

PERMENDIKNAS RI NO: 15 TAHUN 2007 TENTANG SISTEM PERENCANAAN TAHUNAN DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL PERMENDIKNAS RI NO:6 TAHUN 2007 TENTANG KERJASAMA PERGURUAN TINGGI DI INDONESIA DENGAN PERGURUAN TINGGI ATAU LEMBAGA LAIN DL LUAR NEGERI PERMENDIKNAS RI NO: 30 TAHUN 2007 TENTANG PENGELOLAAN REKENING DI LINGKUNGAN DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL PERMENDIKNAS RI NO:2 TAHUN 2006 TENTANG BADAN PERTIMB ANGAN JABATAN DAN KEPANGKATAN DI LINGKUNGAN DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL PERMENDIKNAS RI NO: 4 TAHUN 2006 TENTANG PEMBENTUKAN GERAI INFORMASI DAN MEDIA DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL PERMENDIKNAS RI NO: 17 TAHUN 2005 TENTANG MARS SEKOLAH MENENGAH PERTAMA TERBUKA PERMENDIKNAS RI NO:5 TAHUN 2005 TENTANG TATA TERTIB RAPAT PIMPINAN DI LINGKUNGAN DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL

342

PERMENDIKNAS RI NO: 35 TAHUN 2006 TENTANG PEDOMAN PELAKSANAAN GERAKAN NASIONAL PERCEPATAN PENUNTASAN WAJIB BELAJAR PENDIDIKAN DASAR SEMBILAN TAHUN DAN PEMBERANTASAN BUTA AKSARA b.Koordinasi dan sinkronisasi kebijakan operasional dan program pendidikan antar provinsi. b. Koordinasi dan sinkronisasi kebijakan operasional dan program pendidikan antar kabupaten/kota. b. ― 1 Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan 1 KEPMENDIKNAS R I NO: 107/U/2001 TENTANG PENYELENGGARAAN PROGRAM PENDIDIKAN TINGGI JARAK JAUH

PERMENDIKNAS RI NO: 81 TAHUN 2009 TENTANG KOORDINASI DAN PENGENDALIAN PROGRAM DI LINGKUNGAN DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL TAHUN ANGGARAN 2010 PERMENDIKNAS RI NO:7 TAHUN 2006 TENTANG RINCIAN TUGAS UNIT KERJA DI LINGKUNGAN PUSAT-PUSAT c. Perencanaan strategis pendidikan nasional. c. Perencanaan strategis pendidikan anak usia dini, pendidikan dasar, pendidikan menengah dan pendidikan nonformal sesuai dengan perencanaan strategis pendidikan nasional. c. Perencanaan operasional program pendidikan anak usia dini, pendidikan dasar, pendidikan menengah dan pendidikan nonformal sesuai dengan perencanaan strategis tingkat provinsi dan nasional. 1 Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan 1 PERMENDIKNAS RI NO: 36 TAHUN 2009 TENTANG PROGRAM P AKET C KEJURUAN

PERMENDIKNAS RI NO: 70 TAHUN 2009 TENTANG PENDIDIKAN INKLUSIF BAGI PESERTA DIDIK YANG MEMILIKI KELAINAN DAN MEMILIKI POTENSI KECERDASAN DAN/ATAU BAKAT ISTIMEWA

343

2.a. Pengembangan dan penetapan standar nasional pendidikan (isi, proses, kompetensi lulusan, tenaga kependidikan, sarana dan prasarana, pengelolaan, pembiayaan, dan penilaian pendidikan).

2.a. ―

2.a. ―

1

Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan

1

KEPMENDIKNAS R I NO: 178/U/2001 TENTANG GELAR DAN LULUSAN PERGURUAN TINGGI

PERMENDIKNAS RI NO: 6 TAHUN 2007 TENTANG PERUBAHAN PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL NOMOR 24 TAHUN 2006 TENTANG PELAKSANAAN PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL NOMOR 22 TAHUN 2006 TENTANG STANDAR ISI UNTUK SATUAN PENDIDIKAN DASAR DAN MENENGAH DAN PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL NOMOR 23 TAHUN 2006 TENTANG STANDAR KOMPETENSI LULUSAN UNTUK SATUAN PENDIDIKAN DASAR DAN MENENGAH PERMENDIKNAS RI NO:0 TAHUN 2007 TENTANG STANDAR PENILAIAN PENDIDIKAN b. Sosialisasi standar nasional pendidikan dan pelaksanaannya pada jenjang pendidikan tinggi. b. Sosialisasi dan pelaksanaan standar nasional pendidikan di tingkat provinsi. b. Sosialisasi dan pelaksanaan standar nasional pendidikan di tingkat kabupaten/kota. 1 Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan. 1 PERMENDIKNAS RI NO: 58 TAHUN 2009 TENTANG STANDAR PENDIDIKAN ANAK USIA DINI

344

3. Penetapan pedoman pengelolaan dan penyelenggaraan pendidikan anak usia dini, pendidikan dasar, pendidikan menengah, pendidikan tinggi, dan pendidikan nonformal.

3. Koordinasi atas pengelolaan dan penyelenggaraan pendidikan, pengembangan tenaga kependidikan dan penyediaan fasilitas penyelenggaraan pendidikan lintas kabupaten/kota, untuk tingkat pendidikan dasar dan menengah.

3. Pengelolaan dan penyelenggaraan pendidikan anak usia dini, pendidikan dasar, pendidikan menengah dan pendidikan nonformal.

1

Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan.

1

PERMENDIKNAS RI NO: 14 TAHUN 2007 TENTANG STANDAR ISI UNTUK PROGRAM PAKET A, PROGRAM PAKET B, DAN PROGRAM PAKET C KEPMENDIKNAS R I NO: 045/U/2002 TENTANG KURIKULUM INTI PENDIDIKAN TINGGI

PERMENDIKNAS RI NO: 40 TAHUN 2009 TENTANG STANDAR PENGUJI PADA KURSUS DAN PELATIHAN PERMENDIKNAS RI NO: 41 TAHUN 2009 TENTANG STANDAR PEMBIMB ING PADA KURSUS DAN PELATIHAN PERMENDIKNAS RI NO: 42 TAHUN 2009 TENTANG STANDAR PENGELOLA KURSUS PERMENDIKNAS RI NO: 44 TAHUN 2009 TENTANG STANDAR PENGELOLA PENDIDIKAN PADA PROGRAM PAKET A, PAKET B , DAN PAKET C PERMENDIKNAS RI NO: 1 TAHUN 2008 TENTANG STANDAR PROSES PENDIDIKAN KHUSUS TUNANETRA, TUNARUNGU, TUNAGRAHITA, TUNADAKSA, DAN TUNALARAS

345

PERMENDIKNAS RI NO: 3 TAHUN 2008 TENTANG STANDAR PROSES PENDIDIKAN KESETARAAN PROGRAM PAKET A, PROGRAM PAKET B, DAN PROGRAM P AKET C PERMENDIKNAS RI NO: 19 TAHUN 2007 TENTANG STANDAR PENGELOLAAN PENDIDIKAN OLEH SATUAN PENDIDIKAN DASAR DAN MENENGAH PERMENDIKNAS RI NO: 1 TAHUN 2006 TENTANG PEMBERIAN KEWENANGAN KEPADA EMPAT PERGURUAN TINGGI BADAN HUKUM MILIK NEGARA UNTUK MEMBUKA DAN MENUTUP PROGRAM STUDI PADA PERGURUAN TINGGI YANG BERSANGKUTAN 4. Penetapan kebijakan tentang satuan pendidikan bertaraf internasional dan satuan pendidikan berbasis keunggulan lokal. 5.a. Pemberian izin pendirian serta pencabutan izin perguruan tinggi. 4. — 4. — 1 Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan. Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan. 1 Tidak Memerlukan NSPK karena menjadi wewenang pusat. 1 1 PERMENDIKNAS RI NO:5 TAHUN 2007 TENTANG PERSYARATAN DAN PROSEDUR BAGI WARGA NEGARA ASING UNTUK MENJADI MAHASISWA PADA PERGURUAN TINGGI DI INDONESIA NSPK Urusan Izin Pendirian dan Pencabutan Perguruan Tinggi

5.a. ―

b.Pemberian izin pendirian serta pencabutan izin satuan pendidikan dan/atau program studi bertaraf internasional.

b.—

5.a. Pemberian izin pendirian serta pencabutan izin satuan pendidikan dasar, satuan pendidikan menengah dan satuan/penyelenggara pendidikan nonformal. b.—

1

346

c. Penyelenggaraan dan/atau pengelolaan satuan pendidikan dan/atau program studi bertaraf internasional d.―

c. Penyelenggaraan dan/atau pengelolaan satuan pendidikan dan/atau program studi bertaraf internasional pada jenjang pendidikan dasar dan menengah. d.―

c. Penyelenggaraan dan/atau pengelolaan satuan pendidikan sekolah dasar bertaraf internasional.

1

Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan. Memerlukan NSPK. Jika tidak ditetapkan aturan umum terkait urusan ini dikhawatirkan akan menyebabkan kerancuan, keragaman dan pelanggaran dalam penetapan kebijakan pada tiap tingkat daerah. Tidak membutuhkan NSPK. Hal ini dikarenakan urusan yang dibahas bersifat kedaerahan sehingga jika ditetapkan secara umum permasalahan yang bersifat khusus tidak dapat diselesaikan. Memerlukan NSPK. Jika tidak ditetapkan aturan umum terkait urusan ini dikhawatirkan akan menyebabkan kerancuan, keragaman dan pelanggaran dalam penetapan kebijakan pada tiap tingkat daerah. 1

1

PERMENDIKNAS RI NO: 78 TAHUN 2009 TENTANG PENYELENGGARAAN SEKOLAH BERTARAF INTERNASIONAL PADA JENJANG PENDIDIKAN DASAR DAN MENENGAH

d.Pemberian izin pendirian serta pencabutan izin satuan pendidikan dasar danmenengah berbasis keunggulan lokal.

1

NSPK pemberian izin dan pencabutan izin satuan pendidikan dasar

e. ―

e. ―

e. Penyelenggaraan dan/atau pengelolaan pendidikan berbasis keunggulan lokal pada pendidikan dasar dan menengah.

1

6. Pengelolaan dan/atau penyelenggaraan pendidikan tinggi.

6. Pemberian dukungan sumber daya terhadap penyelenggaraan perguruan tinggi.

6. Pemberian dukungan sumber daya terhadap penyelenggaraan perguruan tinggi.

1

1

PERMENDIKNAS RI NO: 7 TAHUN 2008 TENTANG STATUTA POLITEKNIK NEGERI SEMARANG

PERMENDIKNAS RI NO: 11 TAHUN 2010 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA UNIVERSITAS CENDERAWASIH

347

PERMENDIKNAS RI NO: 16 TAHUN 2010 TENTANG STATUTA UNIVERSITAS TADULAKO PERMENDIKNAS RI NO: TAHUN 2009 TENTANG STATUTA UNIVERSITAS NUSA CENDANA PERMENDIKNAS RI NO: 4 TAHUN 2009 TENTANG STANDAR PELAYANAN MINIMUM PADA UNIVERSITAS NEGERI GORONTALO PERMENDIKNAS RI NO: 14 TAHUN 2009 TENTANG STANDAR PELAYANAN MINIMUM PADA UNIVERSITAS BENGKULU PERMENDIKNAS RI NO: 17 TAHUN 2009 TENTANG STANDAR PELAYANAN MINIMUM PADA UNIVERSITAS SRIWIJAYA PERMENDIKNAS RI NO:3 TAHUN 2009 TENTANG STANDAR PELAYANAN MINIMUM PADA UNIVERSITAS ANDALAS PERMENDIKNAS RI NO:4 TAHUN 2009 TENTANG STANDAR PELAYANAN MINIMUM PADA UNIVERSITAS NEGERI JAKARTA PERMENDIKNAS RI NO: 10 TAHUN 2010 TENTANG PERUBAHAN KEDUA ATAS KEPUTUSAN MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN NOMOR 276/O/1999 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA UNIVERSITAS NEGERI PADANG PERMENDIKNAS RI NO:7 TAHUN 2009 TENTANG STANDAR PELAYANAN MINIMUM PADA UNIVERSITAS HALUOLEO

348

PERMENDIKNAS RI NO:5 TAHUN 2009 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN PERMENDIKNAS RI NO: 34 TAHUN 2009 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA SEKOLAH TINGGI INTELIJEN NEGARA PERMENDIKNAS RI NO: 35 TAHUN 2009 TENTANG STATUTA INSTITUT SENI INDONESIA SURAKARTA PERMENDIKNAS RI NO: 38 TAHUN 2009 TENTANG STANDAR PELAYANAN MINIMUM PADA UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN PERMENDIKNAS RI NO: 59 TAHUN 2009 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG PERMENDIKNAS RI NO: 51 TAHUN 2009 TENTANG STANDAR PELAYANAN MINIMUM PADA UNIVERSITAS RIAU PERMENDIKNAS RI NO: 60 TAHUN 2009 TENTANG STATUTA SEKOLAH TINGGI INTELIJEN NEGARA PERMENDIKNAS RI NO: 65 TAHUN 2009 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA UNIVERSITAS DIPONEGORO PERMENDIKNAS RI NO: 10 TAHUN 2007 TENTANG STATUTA UNIVERSITAS SULTAN AGENG TIRTAYASA PERMENDIKNAS RI NO:3 TAHUN 2007 TENTANG STATUTA UNIVERSITAS TERBUKA

349

PERMENDIKNAS RI NO:9 TAHUN 2007 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA UNIVERSITAS PENDIDIKAN GANESHA PERMENDIKNAS RI NO: 3 TAHUN 2006 TENTANG STATUTA POLITEKNIK NEGERI BANDUNG PERMENDIKNAS RI NO: 8 TAHUN 2006 TENTANG STATUTA INSTITUT SENI INDONESIA DENPASAR PERMENDIKNAS RI NO: 11 TAHUN 2006 TENTANG STATUTA UNIVERSITAS TRUNOJOYO PERMENDIKNAS RI NO: 12 TAHUN 2006 TENTANG PERUBAHAN ATAS KEPUTUSAN MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN NOMOR 274/O/1999 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA PERMENDIKNAS RI NO: 16 TAHUN 2006 TENTANG PENDIRIAN FAKULTAS SAINS DAN TEKNIK PADA UNIVERSITAS NUSA CENDANA PERMENDIKNAS RI NO: 30 TAHUN 2006 TENTANG STATUTA POLITEKNIK PERTANIAN NEGERI PANGKAJENE DAN KEPULAUAN PERMENDIKNAS RI NO: 32 TAHUN 2006 TENTANG PERUBAHAN KEPUTUSAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL NOMOR 042/U/2000 TENTANG PERSYARATAN DAN TATA CARA PENETAPAN PERGURUAN TINGGI NEGERI SEBAGAI BADAN HUKUM

350

7. Pemantauan dan evaluasi satuan pendidikan bertaraf internasional.

7. Pemantauan dan evaluasi satuan pendidikan bertaraf internasional.

7. Pemantauan dan evaluasi satuan pendidikan sekolah dasar bertaraf internasional.

1

Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan. 1

1

PERMENDIKNAS RI NO: 16 TAHUN 2005 TENTANG STATUTA UNIVERSITAS AIRLANGGA NSPK urusan Pemantauan dan evaluasi satuan pendidikan bertaraf internasional.

8. Penyelenggaraan sekolahIndonesia di luar negeri. 9. Pemberian izin pendirian, pencabutan izin penyelenggaraan, dan pembinaan satuan pendidikan Asing di Indonesia. 10.a. Pengembangan sistem informasi manajemen pendidikan secara nasional.

8. ―

8. ―

9. ―

9. ―

1

Tidak Memerlukan NSPK karena menjadi wewenang pusat.

10. a. ―

10. a. ―

1

Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan.

1

PERMENDIKNAS RI NO: 13 TAHUN 2006 TENTANG JADWAL RETENSI ARSIP SUBSTANTIF DAN FASILITATIF DI LINGKUNGAN DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL PERMENDIKNAS RI NO:6 TAHUN 2006 TENTANG JADWAL RETENSI ARSIP SUBSTANTIF DAN FASILITATIF DI LINGKUNGAN PERGURUAN TINGGI NEGERI DAN KOORDINASI PERGURUAN TINGGI SWASTA PERMENDIKNAS RI NO: 42 TAHUN 2006 TENTANG TATA PERSURATAN DI LINGKUNGAN DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL

351

2. Pe mbiayaan

b. Peremajaan data dalam sistem informasi manajemen pendidikan nasional untuk tingkat nasional. 1.a. Penetapan pedoman pembiayaan pendidikan anak usia dini, pendidikan dasar, pendidikan menengah, pendidikan tinggi, pendidikan nonformal.

b. Peremajaan data dalam sistem infomasi manajemen pendidikan nasional untuk tingkat provinsi. 1.a. ―

b. Peremajaan data dalam sistem infomasi manajemen pendidikan nasional untuk tingkat kabupaten/kota.

1

1.a. ―

1

Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan. Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan.

1

PERMENDIKNAS RI NO: 37 TAHUN 2006 TENTANG TATA KEARSIPAN DI LINGKUNGAN DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL NSPK Urusan data dalam sistem informasi manajemen pendidikan nasional untuk tingkat nasional.

1

PERMENDIKNAS RI NO: 5 TAHUN 2010 TENTANG PETUNJUK TEKNIS PENGGUNAAN DANA ALOKASI KHUSUS (DAK) BIDANG PENDIDIKAN TAHUN ANGGARAN 2010

PERMENDIKNAS RI NO: 18 TAHUN 2010 TENTANG PETUNJUK TEKNIS PENGGUNAAN DANA ALOKASI KHUSUS (DAK) BIDANG PENDIDIKAN TAHUN ANGGARAN 2010 UNTUK SD/SDLB PERMENDIKNAS RI NO: 19 TAHUN 2010 TENTANG PETUNJUK TEKNIS PENGGUNAAN DANA ALOKASI KHUSUS (DAK) BIDANG PENDIDIKAN TAHUN ANGGARAN 2010 UNTUK SEKOLAH MENENGAH PERTAMA (SMP)

352

PERMENDIKNAS RI NO: 69 TAHUN 2009 TENTANG STANDAR BIAYA OPERASI NONPERSONALIA TAHUN 2009 UNTUK SEKOLAH DASAR/MADRASAH IBTIDAIYAH (SD/MI), SEKOLAH MENENGAH PERTAMA/MADRASAH TSANAWIYAH (SMP/MTS), SEKOLAH MENENGAH ATAS/MADRASAH ALIYAH (SMA/MA), SEKOLAH MENENGAH KEJURUAN (SMK), SEKOLAH DASAR LUAR BIASA (SDLB), SEKOLAH MENENGAH PERTAMA LUAR BIASA (SMPLB), DAN SEKOLAH MENENGAH ATAS LUAR BIASA (SMALB) PERMENDIKNAS RI NO: 16 TAHUN 2008 TENTANG SISTEM AKUNTANSI DAN PELAPORAN KEUANGAN DI LINGKUNGAN DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL PERMENDIKNAS RI NO: 44 TAHUN 2006 TENTANG BANTUAN UNTUK LEMBAGA PENDIDIKAN YANG DISELENGGARAKAN OLEH MASYARAKAT DAN LEMBAGA KEMASYARAKATAN PERMENDIKNAS RI NO: 14 TAHUN 2006 TENTANG LAPORAN AKUNTABILITAS KINERJA PERMENDIKNAS RI NO: 7 TAHUN 2009 TENTANG PEMBERIAN BANTUAN KEPADA LEMBAGA PENDIDIKAN NONFORMAL DAN INFORMAL

b.Penyediaan bantuan biaya penyelenggaraan pendidikan tinggi sesuai kewenangannya.

b.Penyediaan bantuan biaya penyelenggaraan pendidikan bertaraf internasional sesuai kewenangannya.

b.Penyediaan bantuan biaya penyelenggaraan pendidikan anak usia dini, pendidikan dasar, pendidikan menengah dan pendidikan nonformal sesuai kewenangannya.

1

Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan.

1

353

PERMENDIKNAS RI NO:0 TAHUN 2009 TENTANG BEASISWA UNGGULAN PERMENDIKNAS RI NO: 57 TAHUN 2009 TENTANG PEMBERIAN BANTUAN PENGEMBANGAN SEKOLAH SEHAT PERMENDIKNAS RI NO: 19 TAHUN 2006 TENTANG PEMBERIAN TUNJANGAN DARMASISWA KEPADA MAHASISWA ASING YANG BELAJAR DL INDONESIA PERMENDIKNAS RI NO: 2 TAHUN 2005 SUBSIDI SILANG BIAYA OPERASI PERGURUAN TINGGI c. Pembiayaan penjaminan mutu satuan pendidikan sesuai kewenangannya. c. Pembiayaan penjaminan mutu satuan pendidikan sesuai kewenangannya. c. Pembiayaan penjaminan mutu satuan pendidikan sesuai kewenangannya. 1 Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan. Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan. 1 PERMENDIKNAS NO 63 TAHUN 2009 TENTANG SISTEM PENJAMINAN MUTU PENDIDIKAN

3. Kurikulum

1.a. Penetapan kerangka dasar dan struktur kurikulum pendidikan anak usia dini, pendidikan dasar dan pendidikan menengah. b. Sosialisasi kerangka dasar dan struktur kurikulum pendidikan anak usia dini, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah.

1.a. Koordinasi dan supervisi pengembangan kurikulum tingkat satuan pendidikan pada pendidikan menengah.

1.a. Koordinasi dan supervisi pengembangan kurikulum tingkat satuan pendidikan pada pendidikan dasar.

1

1

NSPK Urusan kurikulum pendidikan anak usia dini, pendidikan dasar dan pendidikan menengah.

b. Sosialisasi kerangka dasar dan struktur kurikulum pendidikan anak usia dini, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah.

b. Sosialisasi kerangka dasar dan struktur kurikulum pendidikan anak usia dini, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah.

354

c. Penetapan standar isi dan standar kompetensi lulusan pendidikan dasar dan menengah, dan sosialisasinya. 2.a. Pengembangan model kurikulum tingkat satuan pendidikan pada pendidikan anak usia dini, pendidikan dasar, pendidikan menengah, dan pendidikan nonformal. b.Sosialisasi dan fasilitasi implementasi kurikulum tingkat satuan pendidikan.

c. Sosialisasi dan implementasi standar isi dan standar kompetensi lulusan pendidikan menengah.

c. Sosialisasi dan implementasi standar isi dan standar kompetensi lulusan pendidikan dasar.

1

Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan. Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan. 1

1

PERMENDIKNAS RI NO:8 TAHUN 2009 TENTANG STANDAR KOMPETENSI KEJURUAN SEKOLAH MENENGAH KEJURUAN (SMK)/MADRASAH ALIYAH KEJURUAN (MAK)

2.a. ―

2.a. ―

1

NSPK Urusan kurikulum pendidikan anak usia dini, pendidikan dasar dan pendidikan menengah.

3. Pengawasan pelaksanaan kurikulum tingkat satuan pendidikan pada pendidikan anak usia dini, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah.

b.Sosialisasi dan fasilitasi implementasi kurikulum tingkat satuan pendidikan pada pendidikan menengah. 3. Pengawasan pelaksanaan kurikulum tingkat satuan pendidikan pada pendidikan menengah.

b.Sosialisasi dan fasilitasi implementasi kurikulum tingkat satuan pendidikan pada pendidikan anak usia dini dan pendidikan dasar. 3. Pengawasan pelaksanaan kurikulum tingkat satuan pendidikan pada pendidikan dasar.

1

Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan.

1

NSPK Urusan Pengawasan pelaksanaan kurikulum tingkat satuan pendidikan pada pendidikan anak usia dini, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah.

355

4. Sarana dan Prasarana

1.a. Monitoring dan evaluasi pelaksanaan dan pemenuhan standar nasional sarana dan prasarana pendidikan.

1.a. Pengawasan terhadap pemenuhan standar nasional sarana dan prasarana pendidikan menengah.

1.a. Pengawasan terhadap pemenuhan standar nasional sarana dan prasarana pendidikan anak usia dini, pendidikan dasar, pendidikan menengah, dan pendidikan nonformal.

1

Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan.

1

PERMENDIKNAS RI NO: 11 TAHUN2007 TENTANG PENGGUNAAN DAN PENGELOLAAN GEDUNG DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL YANG BERLOKASI DI KOMPLEKS JALAN JENDERAL SUDIRMAN SENAYAN JAKARTA, JALAN R.S FATMAWATI CIPETE JAKARTA, JALAN GUNUNG SAHARI JAKARTA, GUDANG CIKETING BEKASI, DAN WISMA ARGA MULYA CISARUA BOGOR PERMENDIKNAS RI NO:4 TAHUN 2007 TENTANG STANDAR SARANA DAN PRASARANA UNTUK SEKOLAH DASAR/MADRASAH IBTIDAIYAH (SD/MI), SEKOLAH MENENGAH PERTAMA/MADRASAH TSANAWIYAH (SMP/MTS), DAN SEKOLAH MENENGAH ATAS/MADRASAH ALIYAH (SMA/MA) PERMENDIKNAS RI NO: 13 TAHUN 2008 TENTANG HARGA ECERAN TERTINGGI BUKU TEKS PELAJARAN YANG HAK CIPTANYA DIBELI OLEH DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL PERMENDIKNAS RI NO: 9 TAHUN 2009 TENTANG PENETAPAN BUKU TEKS PELAJARAN YANG MEMENUHI SYARAT KELAYAKAN UNTUK DIGUNAKAN DALAM PROSES PEMBELAJARAN

b.Pengawasan pendayagunaan bantuan sarana dan prasarana pendidikan.

b.Pengawasan pendayagunaan bantuan sarana dan prasarana pendidikan.

b. Pengawasan pendayagunaan bantuan sarana dan prasarana pendidikan.

1

Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan. Memerlukan NSPK. Jika tidak ditetapkan aturan umum terkait urusan ini dikhawatirkan akan menyebabkan kerancuan, keragaman dan pelanggaran dalam penetapan kebijakan pada tiap tingkat daerah.

1

2.a. Penetapan standar dan pengesahan kelayakan buku pelajaran.

2.a. ―

2.a. ―

1

1

356

PERMENDIKNAS RI NO: TAHUN 2008 TENTANGBUKU b.― b. Pengawasan penggunaan buku pelajaran pendidikan menengah. b.Pengawasan penggunaan buku pelajaran pendidikan anak usia dini, pendidikan dasar, pendidikan menengah, dan pendidikan nonformal. 1.a. Perencanaan kebutuhan pendidik dan tenaga kependidikan pendidikan anak usia dini, pendidikan dasar, pendidikan menengah dan pendidikan nonformal sesuai kewenangannya.

5. Pendidik dan Tenaga Kependidika n

1.a. Perencanaan kebutuhan dan pengadaan pendidik dan tenaga kependidikan secara nasional.

1.a. Perencanaan kebutuhan pendidik dan tenaga kependidikan untuk pendidikan bertaraf internasional sesuai kewenangannya.

1

Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan.

1

PERMENDIKNAS RI NO: 7 TAHUN 2010 TENTANG PEMENUHAN KEBUTUHAN, PENINGKATAN PROFESIONALISME, DAN PENINGKATAN KESEJAHTERAAN GURU, KEPALA SEKOLAH/MADRASAH, DAN PENGAWAS DI KAWASAN PERBATASAN DAN PULAU KECIL TERLUAR PERMENDIKNAS RI NO: 1 TAHUN 2009 TENTANG STAF AHLI MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL PERMENDIKNAS RI NO: 5 TAHUN 2009 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL NOMOR 20 TAHUN 2006 TENTANG RINCIAN TUGAS UNIT KERJA DI LINGKUNGAN INSPEKTORAT JENDERAL DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL PERMENDIKNAS RI NO: 43 TAHUN 2009 TENTANG STANDAR TENAGA ADMINISTRASI PENDIDIKAN PADA PROGRAM P AKET A, PAKET B, DAN PAKET C

357

PERMENDIKNAS RI NO: 6 TAHUN 2009 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA LEMBAGA PENGEMBANGAN DAN PEMBERDAYAAN KEPALA SEKOLAH PERMENDIKNAS RI NO: 66 TAHUN 2009 TENTANG PEMBERIAN IZIN PENDIDIK DAN TENAGA KEPENDIDIKAN ASING PADA SATUAN PENDIDIKAN FORMAL DAN NONFORMAL DI INDONESIA PERMENDIKNAS RI NO: 6 TAHUN 2006 TENTANG PEMBERIAN KUASA KEPADA PEJABAT TERTENTU UNTUK MENANDATANGANI PENETAPAN HASIL SELEKSI CALON PESERTA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEPEMIMPINAN DI LINGKUNGAN DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL PERMENDIKNAS RI NO: 8 TAHUN 2008 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA PUSAT PENGEMBANGAN PENDIDIKAN NONFORMAL DAN INFORMA PERMENDIKNAS RI NO:20 TAHUN 2008 TENTANG PENETAPAN INPASSING PANGKAT DOSEN BUKAN PEGAWAI NEGERI SIPIL YANG TELAH MENDUDUKI JABATAN AKADEMIK PADA PERGURUAN TINGGI YANG DISELENGGARAKAN OLEH MASYARAKAT DENGAN PANGKAT PEGAWAI NEGERI SIPIL PERMENDIKNAS RI NO:2 TAHUN 2008 TENTANG RINCIAN TUGAS UNIT KERJA DI LINGKUNGAN SEKRETARIAT JENDERAL

358

PERMENDIKNAS RI NO:1 TAHUN 2008 TENTANG RINCIAN TUGAS UNIT KERJA DI LINGKUNGAN DIREKTORAT JENDERAL PENINGKATAN MUTU PENDIDIK DAN TENAGA KEPENDIDIKAN PERMENDIKNAS RI NO: 8 TAHUN 2007 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA PUSAT PENGEMBANGAN DAN PEMBERDAYAAN PENDIDIK DAN TENAGA KEPENDIDIKAN PERMENDIKNAS RI NO:8 TAHUN 2007 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA BALAI PENGEMBANGAN PENDIDIKAN NONFORMAL DAN INFORMAL PERMENDIKNAS RI NO: 7 TAHUN 2007 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA LEMBAGA PENJAMINAN MUTU PENDIDIKAN PERMENDIKNAS RI NO: 6 TAHUN 2006 TENTANG PEMBERIAN KUASA KEPADA PEJABAT TERTENTU UNTUK MENANDATANGANI PENETAPAN HASILSELEKSI CALON PESERTA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEPEMIMPINAN DL LINGKUNGAN DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL PERMENDIKNAS RI NO: 9 TAHUN 2006 TENTANG PEDOMAN PENATAAN PEGAWAI NEGERI SIPIL DI LINGKUNGAN UNIT UTAMA DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL

359

PERMENDIKNAS RI NO:20 TAHUN 2006 TENTANG RINCIAN TUGAS UNIT KERJA DL LINGKUNGAN INSPEKTORAT JENDERAL PERMENDIKNAS RI NO:1 TAHUN 2006 TENTANG RINCIAN TUGAS UNIT KERJA DL LINGKUNGAN DIREKTORAT JENDERAL PENDIDIKAN TINGGI PERMENDIKNAS RI NO:5 TAHUN 2006 TENTANG RINCIAN TUGAS UNIT KERJA DL LINGKUNGAN DIREKTORAT JENDERAL MANAJEMEN PENDIDIKAN DASAR DAN MENENGAH PERMENDIKNAS RI NO:2 TAHUN 2006 TENTANG STANDAR ISI UNTUK SATUAN PENDIDIKAN DASAR DAN MENENGAH

b. ―

b. Pengangkatan dan penempatan pendidik dan tenaga kependidikan PNS untuk satuan pendidikan bertaraf internasional.

b. Pengangkatan dan penempatan pendidik dan tenaga kependidikan PNS untuk pendidikan anak usia dini, pendidikan dasar, pendidikan menengah, dan pendidikan nonformal sesuai kewenangannya.

1

2. Pemindahan pendidik dan tenaga kependidikan PNS antar provinsi.

2. Pemindahan pendidik dan tenaga kependidikan PNS antar kabupaten/kota.

2. Pemindahan pendidik dan tenaga kependidikan PNS di kabupaten/ kota.

1

Memerlukan NSPK. Jika tidak ditetapkan aturan umum terkait urusan ini dikhawatirkan akan menyebabkan kerancuan, keragaman dan pelanggaran dalam penetapan kebijakan pada tiap tingkat daerah. Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan.

1

NSPK Pengangkatan dan penempatan pendidik dan tenaga kependidikan PNS untuk satuan pendidikan bertaraf internasional.

1

PERMENDIKNAS RI NO: 19 TAHUN 2009 TENTANG PENYALURAN TUNJ ANGAN KEHORMATAN PROFESOR

360

PERMENDIKNAS RI NO: 31 TAHUN 2009 TENTANG PEMBERIAN KUASA KEPADA DIREKTUR JENDERAL PENINGKATAN MUTU PENDIDIK DAN TENAGA KEPENDIDIKAN UNTUK MENANDATANGANI KEPUTUSAN PEMBERIAN TUNJANGAN PROFESI GURU, TUNJANGAN KHUSUS BAGI GURU YANG BERTUGAS DI DAERAH KHUSUS, B ANTUAN KESEJAHTERAAN GURU DI DAERAH TERTINGGAL, DAN SUBSIDI TUNJANGAN FUNGSIONAL BAGI GURU NON PEGAWAI NEGERI SIPIL PERMENDIKNAS RI NO: 18 TAHUN 2008 TENTANG PENYALURAN TUNJ ANGAN PROFESI DOSEN PERMENDIKNAS RI NO: 7 TAHUN 2006 TENTANG HONORARIUM GURU BANTU PERMENDIKNAS RI NO: 17 TAHUN 2006 TENTANG PEMBERIAN DELEGASI WEWENANG KEPADA PEJABAT TERTENTU UNTUK MENETAPKAN PENYESUAIAN GAJI POKOK PEGAWAI NEGERI SIPIL DI LINGKUNGAN DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL 3. Peningkatan kesejahteraan, penghargaan, dan perlindungan pendidik dan tenaga kependidikan. 3. Peningkatan kesejahteraan, penghargaan, dan perlindungan pendidik dan tenaga kependidikan pendidikan bertaraf internasional. 3. Peningkatan kesejahteraan, penghargaan, dan perlindungan pendidik dan tenaga kependidikan pendidikan anak usia dini, pendidikan dasar, pendidikan menengah dan pendidikan 1 Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan. 1 PERMENDIKNAS RI NO: 8 TAHUN 2009 TENTANG PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI GURU PRA JABATAN

361

nonformal.

PERMENDIKNAS RI NO: 61 TAHUN 2009 TENTANG PEMBERIAN KUASA DAN DELEGASI WEWENANG PELAKSANAAN KEGIATAN ADMINISTRASI KEPEGAWAIAN KEPADA PEJABAT TERTENTU DI LINGKUNGAN DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL PERMENDIKNAS RI NO: 9 TAHUN 2008 TENTANG PERPANJANGAN BATAS USIA PENSIUN PEGAWAI NEGERI SIPIL YANG MENDUDUKI JABATAN GURU BESAR/PROFESOR DAN PENGANGKATAN GURU BESAR/PROFESOR EMERITUS PERMENDIKNAS RI NO:4 TAHUN 2008 TENTANG STANDAR TENAGA ADMINISTRASI SEKOLAH/MADRASAH PERMENDIKNAS RI NO:5 TAHUN 2008 TENTANG STANDAR TENAGA PERPUSTAKAAN SEKOLAH/MADRASAH PERMENDIKNAS RI NO:6 TAHUN 2008 TENTANG STANDAR TENAGA LABORATORIUM SEKOLAH/MADRASAH PERMENDIKNAS RI NO:7 TAHUN 2008 TENTANG STANDAR KUALIFIKASI AKADEMIK DAN KOMPETENSI KONSELOR

362

PERMENDIKNAS RI NO:7 TAHUN 2008 TENTANG STANDAR KUALIFIKASI AKADEMIK DAN KOMPETENSI KONSELOR PERMENDIKNAS RI NO: 13 TAHUN 2007 TENTANG STANDAR KEPALA SEKOLAH/MADRASAH PERMENDIKNAS RI NO: 18 TAHUN 2005 TENTANG PENETAPAN ANGKA KREDIT JABATAN FUNGSIONAL GURU PERMENDIKNAS RI NO: 31 TAHUN 2005 TENTANG PEMBINAAN UNIT PELAKSANA TEKNIS PUSAT PENATAR AN DAN PENGEMBANGAN GURU, LEMBAGA PENJAMIN MUTU PENDIDIKAN, DAN BALAI PENGEMBANGAN PENDIDIKAN LUAR SEKOLAH DAN PEMUDA

4.a. Perencanaan kebutuhan, pengangkatan, dan penempatan pendidik dan tenaga kependidikan bagi unit organisasi di lingkungan departemen yang bertanggungjawab di bidang kependidikan.

4.a. Pembinaan dan pengembangan pendidik dan tenaga kependidikan pendidikan bertaraf internasional.

4.a. Pembinaan dan pengembangan pendidik dan tenaga kependidikan pendidikan anak usia dini, pendidikan dasar, pendidikan menengah dan pendidikan nonformal.

1

Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan.

1

PERMENDIKNAS RI NO: 41 TAHUN 2006 TENTANG PEMBERIAN KUASA KEPADA PEJABAT TERTENTU DI LINGKUNGAN DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL UNTUK MENANDATANGANI SURAT PERINTAH MELAKUKAN PEMERIKSAAN TERHADAP PEGAWAI NEGERI SIPIL YANG DISANGKA MELAKUKAN PELANGGARAN DISIPLIN

363

b. Pemberhentian pendidik dan tenaga kependidikan PNS karena pelanggaran peraturan perundangundangan.

b.Pemberhentian pendidik dan tenaga kependidikan PNS pada pendidikan bertaraf internasional selain karena alasan pelanggaran peraturan perundangundangan

5. ―

5. Pengalokasian tenaga potensial pendidik dan tenaga kependidikan di daerah.

b. Pemberhentian pendidik dan tenaga kependidikan PNS pada pendidikan anak usia dini, pendidikan dasar, pendidikan menengah, dan pendidikan nonformal selain karena alasan pelanggaran peraturan perundangundangan. 5. ―

1

6. Sertifikasi pendidik.

6. ―

6. ―

1

Memerlukan NSPK. Jika tidak ditetapkan aturan umum terkait urusan ini dikhawatirkan akan menyebabkan kerancuan, keragaman dan pelanggaran dalam penetapan kebijakan pada tiap tingkat daerah. Memerlukan NSPK. Jika tidak ditetapkan aturan umum terkait urusan ini dikhawatirkan akan menyebabkan kerancuan, keragaman dan pelanggaran dalam penetapan kebijakan pada tiap tingkat daerah.

1

NSPK urusan tenaga potensial pendidik dan tenaga kependidikan di daerah.

1

KEPMENDIKNAS R I NO: 057/O/2007 TENTANG PENETAPAN PERGURUAN TINGGIPENYELENGGARA SERTIFIKASI BAGI GURU DALAM JABATAN

PERMENDIKNAS RI NO: 47 TAHUN 2009 TENTANG SERTIFIKASI PENDIDIK UNTUK DOSEN PERMENDIKNAS RI NO: 10 TAHUN 2009 TENTANG SERTIFIKASI BAGI GURU DALAM JABATAN

364

6. Pe ngendalian Mutu Pe ndidikan

1. Penilaian Hasil Belajar

1. Penetapan pedoman, bahan ujian, pengendalian pemeriksaan, dan penetapan kriteria kelulusan ujian nasional.

1. ─

1. ─

1

2. Pelaksanaan ujian nasional pendidikan dasar, pendidikan menengah, dan pendidikan nonformal.

2. Membantu pelaksanaan ujian nasional pendidikan dasar, pendidikan menengah, dan pendidikan nonformal.

2. Membantu pelaksanaan ujian nasional pendidikan dasar, pendidikan menengah dan pendidikan nonformal.

1

Memerlukan NSPK. Jika tidak ditetapkan aturan umum terkait urusan ini dikhawatirkan akan menyebabkan kerancuan, keragaman dan pelanggaran dalam penetapan kebijakan pada tiap tingkat daerah. Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan.

1

PERMENDIKNAS RI NO: 15 TAHUN 2008 TENTANG UJIAN NASIONAL PENDIDIKAN KESETARAAN TAHUN 2008

1

PERMENDIKNAS RI NO: 3 TAHUN 2010 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL NOMOR 84 TAHUN 2009 TENTANG PERUBAHAN PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL NOMOR 75 TAHUN 2009 TENTANG UJIAN NASIONAL SEKOLAH MENENGAH PERTAMA/MADRASAH TSANAWIYAH (SMP/MTS), SEKOLAH MENENGAH PERTAMA LUAR BIASA (SMPLB), SEKOLAH MENENGAH ATAS/MADRASAH ALIYAH (SMA/MA), SEKOLAH MENENGAH ATAS LUAR BIASA (SMALB), DAN SEKOLAH MENENGAH KEJURUAN (SMK) TAHUN PELAJARAN 2009/2010 PERMENDIKNAS RI NO: 4 TAHUN 2010 TENTANG UJIAN SEKOLAH/MADRASAH TAHUN PELAJARAN 2009/2010 PERMENDIKNAS RI NO: 15 TAHUN 2009 TENTANG UJIAN SEKOLAH/MADRASAH TAHUN PELAJARAN 2008/2009

365

PERMENDIKNAS RI NO: 74 TAHUN 2009 TENTANG UJIAN AKHIR SEKOLAH BERSTANDAR NASIONAL (UASBN) SEKOLAH DASAR/MADRASAH IBTIDAIYAH/ SEKOLAH DASAR LUAR BIASA (SD/MI/SDLB) TAHUN PELAJARAN 2009/2010 PERMENDIKNAS RI NO: 84 TAHUN 2009 TENTANG PERUBAHAN PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL NOMOR 75 TAHUN 2009 TENTANG UJIAN NASIONAL SEKOLAH MENENGAH PERTAMA/MADRASAH TSANAWIYAH (SMP/MTS), SEKOLAH MENENGAH PERTAMA LUAR BIASA (SMPLB), SEKOLAH MENENGAH ATAS/MADRASAH ALIYAH (SMA/MA), SEKOLAH MENENGAH ATAS LUAR BIASA (SMALB), DAN SEKOLAH MENENGAH KEJURUAN (SMK) TAHUN PELAJARAN 2009/2010 PERMENDIKNAS RI NO: 76 TAHUN 2009 TENTANG UJIAN NASIONAL PROGRAM PAKET C KEJURUAN TAHUN 2009 PERMENDIKNAS RI NO: 77 TAHUN 2009 TENTANG UJIAN NASIONAL PROGRAM PAKET A, PROGRAM P AKET B, PROGRAM PAKET C, DAN PROGRAM PAKET C KEJURUAN TAHUN 2010 PERMENDIKNAS RI NO:1 TAHUN 2009 TENTANG UJIAN NASIONAL UNTUK PROGRAM PAKET A, PROGRAM PAKET B, DAN PROGRAM PAKET C TAHUN 2009

366

3. Koordinasi, fasilitasi, monitoring, dan evaluasi pelaksanaan ujian nasional. 4. Penyediaan blanko ijazah dan/atau sertifikat ujian nasional.

3. Koordinasi, fasilitasi, monitoring, dan evaluasi pelaksanaan ujian sekolah skala provinsi. 4. ―

3. Koordinasi, fasilitasi, monitoring, dan evaluasi pelaksanaan ujian sekolah skala kabupaten/kota. 4. ―

1

1

5. Penyediaan biaya penyelenggaraan ujian nasional.

5. Penyediaan biaya penyelenggaraan ujian sekolah skala provinsi.

5. Penyediaan biaya penyelenggaraan ujian sekolah skala kabupaten/kota.

1

2. Evaluasi

1.a. Penetapan pedoman evaluasi terhadap pengelola, satuan, jalur, jenjang dan jenis pendidikan. b.Pelaksanaan evaluasi nasional terhadap pengelola, satuan, jalur, jenjang dan jenis pendidikan.

1.a. ―

1.a. ―

1

Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan. Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan. Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan. Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan.

1

NSPK Urusan Koordinasi, fasilitasi, monitoring, dan evaluasi pelaksanaan ujian nasional.

1

PERMENDIKNAS RI NO:6 TAHUN 2009 TENTANG PENILAIAN IJAZAH LULUSAN PERGURUAN TINGGI LUAR NEGERI

1

NSPK Urusan Penyediaan biaya penyelenggaraan ujian nasional.

1

NSPK Urusan Penetapan pedoman evaluasi terhadap pengelola, satuan, jalur, jenjang dan jenis pendidikan.

2.a. Penetapan pedoman evaluasi pencapaian standar nasional pendidikan.

b.Pelaksanaan evaluasi pengelola, satuan, jalur, jenjang, dan jenispendidikan pada pendidikan anak usia dini, pendidikan dasar, pendidikan menengah, dan pendidikan nonformal skala provinsi. 2.a. ―

b.Pelaksanaan evaluasi pengelola, satuan, jalur, jenjang, dan jenis pendidikan pada pendidikan anak usia dini, pendidikan dasar, pendidikan menengah dan pendidikan nonformal skala kabupaten/kota. 2.a. ― 1 Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan. 1 NSPK Urusan evaluasi pencapaian standar nasional pendidikan.

367

b. Pelaksanaan evaluasi pencapaian standar nasional pendidikan.

3. Akreditasi

1.a. Penetapan pedoman akreditasi pendidikan jalur pendidikan formal dan non formal.

b. Pelaksanaan evaluasi pencapaian standar nasional pendidikan pada pendidikan anak usia dini, pendidikan dasar, pendidikanmenengah, dan pendidikan nonformal skala provinsi. 1.a. ―

b.Pelaksanaan evaluasi pencapaian standar nasional pendidikan pada pendidikan anak usia dini, pendidikan dasar, pendidikan menengah dan pendidikan nonformal skala kabupaten/kota.

1.a. ―

1

Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan.

1

PERMENDIKNAS RI NO: 11 TAHUN 2009 TENTANG KRITERIA DAN PERANGKAT AKREDITASI SEKOLAH DASAR/MADRASAH IBTIDAIYAH (SD/MI) PERMENDIKNAS RI NO: 56 TAHUN 2009 TENTANG KRITERIA DAN PERANGKAT AKREDITASI SEKOLAH MENENGAH ATAS LUAR BIASA PERMENDIKNAS RI NO: 55 TAHUN 2009 TENTANG KRITERIA DAN PERANGKAT AKREDITASI SEKOLAH MENENGAH PERTAMA LUAR BIASA PERMENDIKNAS RI NO: 53 TAHUN 2009 TENTANG KRITERIA DAN PERANGKAT AKREDITASI TAMAN KANAKKANAK LUAR BIASA PERMENDIKNAS RI NO: 68 TAHUN 2009 TENTANG PEDOMAN AKREDITASI BERKALA ILMIAH PERMENDIKNAS RI NO: 52 TAHUN 2009 TENTANG KRITERIA DAN PERANGKAT AKREDITASI TAMAN KANAKKANAK/RAUDHATUL ATHFAL (TK/RA)

368

b.Pelaksanaan akreditasi pendidikan jalur pendidikan formal dan nonformal.

b. Membantu pemerintah dalam pelaksanaan akreditasi pendidikan dasar dan menengah.

b. Membantu pemerintah dalam akreditasi pendidikan nonformal.

1

Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan.

1

KEPMENDIKNAS R I NO: 004/U/2002 TENTANG AKREDITASI PROGRAM STUDI PADA PERGURUAN TINGGI

PERMENDIKNAS RI NO: 67 TAHUN 2009 TENTANG AKREDITASI BERKALA ILMIAH PERMENDIKNAS RI NO: 73 TAHUN 2009 TENTANG PERANGKAT AKREDITASI PROGRAM STUDI SARJANA (S1) PERMENDIKNAS RI NO:8 TAHUN 2005 TENTANG BADAN AKREDITASI NASIONAL PERGURUAN TINGGI 4. Penjaminan Mutu 1. Penetapan pedoman penjaminan mutu satuan pendidikan. 1. ─ 1. ─ 1 Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan. 1 PERMENDIKNAS RI NO: 48 TAHUN 2009 TENTANG PEDOMAN PEMBERIAN TUGAS BELAJAR BAGI PEGAWAI NEGERI SIPIL DI LINGKUNGAN DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL PERMENDIKNAS RI NO: 63 TAHUN 2009 TENTANG SISTEM PENJAMINAN MUTU PENDIDIKAN PERMENDIKNAS RI NO: 16 TAHUN 2007 TENTANG STANDAR KUALIFIKASI AKADEMIK DAN KOMPETENSI GURU 2.a. Supervisi dan fasilitasi satuan pendidikan dalam pelaksanaan penjaminan mutu untuk memenuhi standar nasional pendidikan. 2.a. ─ 2.a. Supervisi dan fasilitasi satuan pendidikan anak usia dini, pendidikan dasar, pendidikan menengah dan pendidikan nonformal dalam penjaminan mutu untuk memenuhi standar 1 Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan. 1 KEPMENDIKNAS R I NO: 184/U/2001 TENTANG PEDOMAN PENGAWASAN PENGENDALIAN DAN PEMBINAAN PROGRAM DIPLOMA, SARJANA DAN PASCASARJ ANA Dl PERGURUAN TINGGI

369

nasional pendidikan.

PERMENDIKNAS RI NO: 17 TAHUN 2010 TENTANG PENCEGAHAN DAN PENANGGULANGAN PLAGIAT DI PERGURUAN TINGGI PERMENDIKNAS RI NO: 12 TAHUN 2009 TENTANG KRITERIA DAN PERANGKAT AKREDITASI SEKOLAH MENENGAH PERTAMA/MADRASAH TSANAWIYAH (SMP/MTS) PERMENDIKNAS RI NO: 13 TAHUN 2009 TENTANG KRITERIA DAN PERANGKAT AKREDITASI SEKOLAH MENENGAH KEJURUAN/MADRASAH ALIYAH KEJURUAN (SMK/MAK) PERMENDIKNAS RI NO: 16 TAHUN 2009 TENTANG SATUAN PENGAWASAN INTERN DI LINGKUNGAN DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL PERMENDIKNAS RI NO: 33 TAHUN 2009 TENTANG PEDOMAN PENGANGKATAN DEWAN PENGAWAS PADA PERGURUAN TINGGI NEGERI DI LINGKUNGAN DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL YANG MENERAPKAN PENGELOLAAN KEUANGAN B ADAN LAYANAN UMUM

370

PERMENDIKNAS RI NO: 37 TAHUN 2009 TENTANG TINDAK LANJUT HASIL PEMERIKSAAN DI LINGKUNGAN DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL PERMENDIKNAS RI NO: 39 TAHUN 2009 TENTANG PEMENUHAN BEBAN KERJA GURU DAN PENGAWAS SATUAN PENDIDIKAN PERMENDIKNAS RI NO: 12 TAHUN 2007 TENTANG STANDAR PENGAWAS SEKOLAH/MADRASAH NSPK Urusan Supervisi dan fasilitasi satuan pendidikan bertaraf internasional dalam penjaminan mutu untuk memenuhi standar internasional.

b.Supervisi dan fasilitasi satuan pendidikan bertaraf internasional dalam penjaminan mutu untuk memenuhi standar internasional.

b.Supervisi dan fasilitasi satuan pendidikan bertaraf internasional dalam penjaminan mutu untuk memenuhi standar internasional.

b. Supervisi dan fasilitasi satuan pendidikan bertaraf internasional dalam penjaminan mutu untuk memenuhi standar internasional.

1

Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan.

1

c. -

c. ─

c. Supervisi dan Fasilitasi satuan pendidikan berbasis keunggulan lokal dalam penjaminan mutu.

1

d. Evaluasi pelaksanaan dan dampak penjaminanmutu satuan pendidikan skala nasional.

d. Evaluasi pelaksanaan dan dampak penjaminan mutu satuan pendidikan skala provinsi.

d. Evaluasi pelaksanaan dan dampak penjaminan mutu satuan pendidikan skala kabupaten/kota.

1

Tidak membutuhkan NSPK. Hal ini dikarenakan urusan yang dibahas bersifat kedaerahan sehingga jika ditetapkan secara umum permasalahan yang bersifat khusus tidak dapat diselesaikan. Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan.

1

NSPK Urusan Evaluasi pelaksanaan dan dampak penjaminanmutu satuan pendidikan skala nasional.

TOTAL DEMAND

44

TOTAL SUPPLY

15

1

28

44

371

2. BIDANG KESEHATAN
SUB SUB BIDANG PEMERINTAHAN DAERAH PROVINSI PEMERINTAHAN DAERAH KABUPATEN/KOTA KEBUTUHAN NSPK YA TIDAK STATUS NSPK KETERANGAN S1 S2 S3 PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 949/MENKES/SK/VIII/2004 TENTANG PEDOMAN PENYELENGGARAAN SISTEM KEWASPADAAN DINI KEJADIAN LUAR BIASA (KLB) Peraturan Pemerintah Nomor 40 Tahun 1991 tentang Penanggulangan Penyakit Menular (Lembaran Negara Tahun 1991 Nomor 49, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3447) KETERANGAN

SUB BIDANG

PEMERINTAH

1. Upaya Kesehatan

1. Pengelolaan survailans epidemiologi kejadian luar biasa skala nasional.

1. Penyelenggaraan survailans epidemiologi, penyelidikan kejadian luar biasa skala provinsi.

1. Penyelenggaraan survailans epidemiologi, penyelidikan kejadian luar biasa skala kabupaten/kota

1

Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan.

1

1. Pencegahan dan Pemberantasa n Penyakit

2. Pengelolaan pencegahan dan penanggulangan penyakit menular berpotensial wabah, dan yang merupakan komitmen global skala nasional dan internasional. 3. Pengelolaan pencegahan dan penanggulangan penyakit tidak menular tertentu skala nasional.

2. Penyelenggaraan pencegahan dan penanggulangan penyakit menular skala provinsi.

2. Penyelenggaraan pencegahan dan penanggulangan penyakit menular skala kabupaten/kota.

1

Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan.

1

3. Penyelenggaraan pencegahan dan penanggulangan penyakit tidak menular tertentu skala provinsi.

3. Penyelenggaraan pencegahan dan penanggulangan penyakit tidak menular tertentu skala kabupaten/kota.

1

Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan.

1

Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 1479/Menkes/SK/X/ 2003 tentang Pedoman Penyelenggaraan Sistem Surveilans Epidemiologi Penyakit Menular dan Penyakit Tidak Menular Terpadu

372

4. Penanggulangan masalah kesehatan akibat bencana dan wabah skala nasional.

4. Pengendalian operasional penanggulangan masalah kesehatan akibat bencana dan wabah skala provinsi.

4. Penyelenggaraan operasional penanggulangan masalah kesehatan akibat bencana dan wabah skala kabupaten/kota.

1

Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan.

1

1357/Menkes/SK/XII/2001 Standar Minimal Penanggulangan Masalah Kesehatan Akibat Bencana dan Pengungsi, Keputusan Menteri Kesehatan No 828/MENKES/IX/2008, KEPMENKES NO. 145 TAHUN 2007 TENTANG PEDOMAM PENANGGULANGAN BENCANA BIDANG KESEHATAN

5. Pengelolaan karantina kesehatan skala nasional.

5. ―

5. ―

1

Tidak membutuhkan NSPK. Hal ini dikarenakan urusan yang dibahas bersifat kedaerahan sehingga jika ditetapkan secara umum permasalahan yang bersifat khusus tidak dapat diselesaikan. PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA Nomor: 173/Men. Kes/Per/VIII/77 TENTANG PENCEMARAN AIR DARI BADAN AIR UNTUK BERBAGAI KEGUNAAN YANG BERHUBUNGAN DENGAN KESEHATAN

1. Pengelolaan pencegahan dan penanggulangan pencemaran lingkungan skala nasional. 2. Lingkungan Sehat

1. Penyelenggaraan pencegahan dan penanggulangan pencemaran lingkungan skala provinsi.

1. Penyelenggaraan pencegahan dan penanggulangan pencemaran lingkungan skala kabupaten/kota.

1

Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan.

1

2. ―

2. ―

2. Penyehatan lingkungan.

1

Tidak membutuhkan NSPK. Hal ini dikarenakan urusan yang dibahas bersifat kedaerahan sehingga jika ditetapkan secara umum permasalahan yang bersifat khusus tidak dapat diselesaikan.

PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA Nomor : 928/Menkes/Per/IX/1995 TENTANG PENYUSUNAN ANALISIS MENGENAI DAMPAK LINGKUNGAN BIDANG KESEHATAN

373

1. Pengelolaan survailans kewaspadaan pangan dan gizi buruk skala nasional

1. Penyelenggaraan survailans gizi buruk skala provinsi.

1. Penyelenggaraan survailans gizi buruk skala kabupaten/kota

1

Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan. Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan. Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan. Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan.

Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 1479/Menkes/SK/X/2004 Tentang Surveilans Gizi Buruk 1

Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 2000 1

3. Perbaikan Gizi Masyarakat

2.a. Pengelolaan penanggulangan gizi buruk skala nasional.

2.a. Pemantauan penanggulangan gizi buruk skala provinsi.

2.a. Penyelenggaraan penanggulangan gizi buruk skala kabupaten/kota.

1

Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia. Nomor : 747/MENKES/SK/VI/2007 1

b.―

b.―

b.Perbaikan gizi keluarga dan masyarakat.

1

4. Pelayanan Kesehatan Perorangan dan Masyarakat

1. Pengelolaan pelayanan kesehatan haji skala nasional.

1. Bimbingan dan pengendalian pelayanan kesehatan haji skala provinsi.

1061/MENKES/SK/XI/2008 PENETAPAN RUMAH SAKIT RUJUKAN HAJI 1

1. Penyelenggaraan pelayanan kesehatan haji skala kabupaten/kota.

1

374

2. Pengelolaan upaya kesehatan dan rujukan nasional.

2. Pengelolaan pelayanan kesehatan rujukan sekunder dan tersier tertentu.

2. Pengelolaan pelayanan kesehatan dasar dan rujukan sekunder skala kabupaten/kota.

1

Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan.

1

KEPUTUSAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA. NOMOR : 331/MENKES/SK r'/2006. TENTANG. RENCANA STRATEGIS DEPARTEMEN KESEHATAN, 1. PERATURAN MENTERI KESEHATAN RI NO.741/MENKES/PER/VII/2008 TENTANG STANDAR PELAYANAN MINIMAL DI KABUPATEN/KOTA

3. Bimbingan dan pengendalian upaya kesehatan pada daerah perbatasan, terpencil, rawan dan kepulauan skala provinsi

3. Penyelenggaraan upaya kesehatan pada daerah perbatasan, terpencil, rawan dan kepulauan skala kabupaten/kota.

1

Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan. Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan. Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan.

Peraturan Menteri Kesehatan No. 331 Tahun 2006 tentang Rencana. Strategis Departemen Kesehatan. 1

4. Registrasi, akreditasi, sertifikasi sarana kesehatan sesuai peraturan perundangundangan.

4. Registrasi, akreditasi, sertifikasi sarana kesehatan sesuai peraturan perundang-undangan.

4. Registrasi, akreditasi, sertifikasi sarana kesehatan sesuai peraturan perundangundangan.

1

NSPK tentang Tata Cara Registrasi, akreditasi, sertifikasi sarana kesehatan sesuai peraturan perundang-undangan 1

5.a. Pemberian izin sarana kesehatan tertentu.

5.a. Pemberian rekomendasi izin sarana kesehatan tertentu yang diberikan oleh pemerintah.

Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 81/Menkes/SK/l/ 2004 1

5.a. Pemberian rekomendasi izin sarana kesehatan tertentu yang diberikan oleh pemerintah dan provinsi.

1

375

b. Pemberian izin sarana kesehatan meliputi rumah sakit pemerintah Kelas B non pendidikan, rumah sakit khusus, rumah sakit swasta serta sarana kesehatan penunjang yang setara.

b. Pemberian izin sarana kesehatan meliputi rumah sakit pemerintah Kelas C, Kelas D, rumah sakit swasta yang setara, praktik berkelompok, klinik umum/spesialis, rumah bersalin, klinik dokter keluarga/dokter gigi keluarga, kedokteran komplementer, dan pengobatan tradisional, serta sarana penunjang yang setara.

1

Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan.

Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 806b/Menkes/SK/XII/1987 tentang Klasifikasi Rumah Sakit Umum Swasta

1

1.a. Penetapan norma, standar, prosedur dan kriteria bidang jaminan pemeliharaan kesehatan.

1.a. Pengelolaan/penyelen ggaraan, bimbingan, pengendalian jaminan pemeliharaan kesehatan skala provinsi.

1.a. Pengelolaan/penyelengg araan, jaminan pemeliharaan kesehatan sesuai kondisi lokal.

1

Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan.

1

2. Pembiayaan Kesehatan

1. Pembiayaan Kesehatan Masyarakat

KEPUTUSAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 274/Menkes/SK/III/2008 TENTANG PEDOMAN REKRUTMEN TENAGA PELAKSANA VERIFIKASI DALAM PELAKSANAAAN PROGRAM JAMINAN KESEHATAN MASYARAKAT (JAMKESMAS) Kep utusan Menteri Kesehatan No 828/MENKES/IX/2008 KEPUTUSAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 274/Menkes/SK/III/2008 TENTANG PEDOMAN REKRUTMEN TENAGA PELAKSANA VERIFIKASI DALAM PELAKSANAAAN PROGRAM JAMINAN KESEHATAN MASYARAKAT (JAMKESMAS)

b.Pengelolaan jaminan pemeliharaan kesehatan nasional.

b.Bimbingan dan pengendalian penyelenggaraan jaminan pemeliharaan kesehatan nasional (Tugas Pembantuan).

b.Penyelenggaraan jaminan pemeliharaan kesehatan nasional (Tugas Pembantuan).

1

Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan.

1

376

1. Pengelolaan tenaga kesehatan strategis.

1. Penempatan tenaga kesehatan strategis, pemindahan tenaga tertentu antar kabupaten/kota skala provinsi.

1. Pemanfaatan tenaga kesehatan strategis.

1

Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan. Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan.

NSPK tentang pengelolaan tenaga kesehatan strategis. 1

2. Pendayagunaan tenaga kesehatan makro skala nasional.

KEPUTUSAN MENTERI KESEHATA177/MENKES/PB/X II/2008 Tahun 2008 1

2. Pendayagunaan tenaga kesehatan skala provinsi.

2. Pendayagunaan tenaga kesehatan skala kabupaten/kota.

1

3. Sumber Daya Manusia Kesehatan

1. Peningkatan Jumlah, Mutu dan Penyebaran Tenaga Kesehatan

3. Pembinaan dan pengawasan pendidikan dan pelatihan (diklat) dan Training Of Trainer (TOT) tenaga kesehatan skala nasional 4. Registrasi, akreditasi, sertifikasi tenaga kesehatan skala nasional sesuai peraturan perundangundangan. 5. Pemberian izin tenaga kesehatan asing sesuai peraturan perundangundangan.

3. Pelatihan diklat fungsional dan teknis skala provinsi.

3. Pelatihan teknis skala kabupaten/kota.

1

Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan.

Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 331/Menkes/SK/V/2006 Tahun. 2006 tentang Rencana Strategis Departemen Kesehat 1

4. Registrasi, akreditasi, sertifikasi tenaga kesehatan tertentu skala provinsi sesuai peraturan perundang-undangan.

4. Registrasi, akreditasi, sertifikasi tenaga kesehatan tertentu skala kabupaten/kota sesuai peraturan perundangundangan.

1

Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan. Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan.

Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 1239/Menkes/SK/XI/2001 1

5. Pemberian rekomendasi izin tenaga kesehatan asing.

5. Pemberian izin praktik tenaga kesehatan tertentu.

1

PMK No. 317 Peraturan Menteri Kesehatan No. 317 tentang Pendayagunaan Tenaga Kesehatan Warga Negara Asing Di Indonesia 1

377

1. Penyediaan dan pengelolaan bufferstock obat nasional, alat kesehatan tertentu, reagensia tertentu dan vaksin tertentu skala nasional. 2.a. Registrasi, akreditasi, sertifikasi komoditi kesehatan sesuai peraturan perundangundangan.

1. Penyediaan dan pengelolaan bufferstock obat provinsi, alat kesehatan, reagensia dan vaksin lainnya skala provinsi.

1. Penyediaan dan pengelolaan obat pelayanan kesehatan dasar, alat kesehatan, reagensia dan vaksin skala kabupaten/kota

1

Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan.

Keputusan MenKes RI No. 1239/Menkes/SK/XI/2001

1

4. Obat dan Pe rbekalan Kesehatan

1. Ketersediaan, Pemerataan, Mutu Obat dan Keterjangkau an Harga Obat Serta Perbekalan Kesehatan

2.a. Sertifikasi sarana produksi dan distribusi alat kesehatan, Perbekalan Kesehatan Rumah Tangga (PKRT) Kelas II.

2.a. Pengambilan sampling/contoh sediaan farmasi di lapangan.

1

Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan. Tidak membutuhkan NSPK. Hal ini dikarenakan urusan yang dibahas bersifat kedaerahan sehingga jika ditetapkan secara umum permasalahan yang bersifat khusus tidak dapat diselesaikan. Tidak membutuhkan NSPK. Hal ini dikarenakan urusan yang dibahas bersifat kedaerahan sehingga jika ditetapkan secara umum permasalahan yang bersifat khusus tidak dapat diselesaikan.

Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 331/Menkes/SK/V/2006 1

b.—

b.—

b.Pemeriksaan setempat sarana produksi dan distribusi sediaan farmasi.

1

c. —

c. —

c. Pengawasan dan registrasi makanan minuman produksi rumah tangga.

1

378

d.—

d.—

d.Sertifikasi alat kesehatan dan PKRT Kelas I.

1

Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan. Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan. Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan.

Keputusan Menteri Kesehatan Nomor : 374/MENKES/ SK/V/2009 tentang Sistem Kesehatan Nasional 1

3.a. Pemberian izin industri komoditi kesehatan, alat kesehatan dan Pedagang Besar Farmasi (PBF).

3.a. Pemberian rekomendasi izin industri komoditi kesehatan, PBF dan Pedagang Besar Alat Kesehatan (PBAK).

Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 6 Tahun 2007 1

3.a. Pemberian rekomendasi izin PBF Cabang, PBAK dan Industri Kecil Obat Tradisional (IKOT).

1

Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia. Nomor 1332/Menkes/SK/IX/2002 1

b.―

b.Pemberian izin PBF Cabang dan IKOT.

b.Pemberian izin apotik, toko obat.

1

5. Pe mberdayaan Masyarakat

1. Pemberdayaa n Individu, Keluarga dan Masyarakat Berperilaku Hidup Sehat dan Pengembanga n Upaya Kesehatan Bersumberda ya Masyarakat (UKBM)

Keputusan Menteri Kesehatan nomor 585/Menkes/SK/V/2007

1. Pengelolaan promosi kesehatan skala nasional.

1. Penyelenggaraan promosi kesehatan skala provinsi.

1. Penyelenggaraan promosi kesehatan skala kabupaten/kota.

1

Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan.

1

379

6. Manajemen Kesehatan

1. Kebijakan

1. Penetapan norma, standar, prosedur, dan kriteria bidang kesehatan.

1. Bimbingan dan pengendalian norma, standar, prosedur, dan kriteria bidang kesehatan.

1. Penyelenggaraan, bimbingan dan pengendalian operasionalisasi bidang kesehatan.

1

Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan.

Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 331/Menkes/SK/V/2006. Kep utusan Menteri Kesehatan No 828/MENKES/IX/2008 1

1.a. Pengelolaan penelitian dan pengembangan kesehatan strategis dan terapan, serta penapisan ilmu pengetahuan dan teknologi (Iptek) kesehatan skala nasional.

Peraturan Menteri Kesehatan No. 331 Tahun 2006 1.a. Penyelenggaraan penelitian dan pengembangan kesehatan yang mendukung perumusan kebijakan provinsi. 1.a. Penyelenggaraan penelitian dan pengembangan kesehatan yang mendukung perumusan kebijakan kabupaten/kota. Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan.

1

1

2. Penelitian dan Pengembanga n Kesehatan

b.―

b.Pengelolaan survei kesehatan daerah (surkesda) skala provinsi.

b.Pengelolaan surkesda skala kabupaten/kota.

1

Tidak membutuhkan NSPK. Hal ini dikarenakan urusan yang dibahas bersifat kedaerahan sehingga jika ditetapkan secara umum permasalahan yang bersifat khusus tidak dapat diselesaikan. NSPK tentang iptek kesehatan. Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan.

c. ―

c. Pemantauan pemanfaatan Iptek kesehatan skala provinsi.

c. Implementasi penapisan Iptek di bidang pelayanan kesehatan skala kabupaten/kota.

1

1

380

3. Kerjasama Luar Negeri

1. Pengelolaan kerjasama luar negeri di bidang kesehatan skala nasional.

1. Penyelenggaraan kerjasama luar negeri skala provinsi.

1. Penyelenggaraan kerjasama luar negeri skala kabupaten/kota.

1

Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan. Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan.

KEPUTUSAN MENTERI 21/MENKES/SK/VI/2009 1

4. Peningkatan Pengawasan dan Akuntabilitas

1. Pembinaan, monitoring, evaluasi dan pengawasan skala nasional. 1. Pengelolaan dan pengembangan SIK skala nasional dan fasilitasi pengembangan sistem informasi kesehatan daerah.

1. Pembinaan, monitoring, evaluasi dan pengawasan skala provinsi.

1. Pembinaan, monitoring, evaluasi dan pengawasan skala kabupaten/kota.

Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 1350/Menkes/SK/XII/2001 1

1

5. Pengembanga n Sistem Informasi Kesehatan (SIK)

1. Pengelolaan SIK skala provinsi

1. Pengelolaan SIK skala kabupaten/kota

1

Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan. 33 TOTAL SUPPLY 3

Keputusan Menteri Kesehatan Nomor. 131/MENKES/SK/11/ 2004 1

TOTAL DEMAND

27

3

381

3. BIDANG PEKERJAAN UMUM
SUB BIDANG SUB SUB BIDANG PEMERINTAH PEMERINTAHAN DAERAH PROVINSI 1. Penetapan kebijakan pengelolaan sumber daya air provinsi. PEMERINTAHAN DAERAH KABUPATEN/KO TA 1. Penetapan kebijakan pengelolaan sumber daya air kabupaten/kota. KEBUTUHAN NSPK PERLU TIDAK 1 KETERANGAN Status NSPK S1 Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan S2 1 S3 Draft Permen PU tentang Pedoman Teknis Penggunaan Sumber Daya Air KETERANGAN

1. Sumber Daya Air

1. Pengaturan

1. Penetapan kebijakan nasional sumber daya air.

2. Penetapan pola pengelolaan sumber daya air pada wilayah sungai lintas provinsi, wilayah sungai lintas negara, dan wilayah sungai strategis nasional.

2. Penetapan pola pengelolaan sumber daya air pada wilayah sungai lintas kabupaten/kota.

2. Penetapan pola pengelolaan sumber daya air pada wilayah sungai dalam satu kabupaten/kota.

1

Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan

1

PER. 04/PRT/M/2008 tentang PEDOMAN PEMBENTUKAN WADAH KOORDINASI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR

3. Penetapan rencana pengelolaan sumber daya air pada wilayah sungai lintas provinsi, wilayah sungai lintas negara, dan wilayah sungai strategis nasional.

3. Penetapan rencana pengelolaan sumber daya air pada wilayah sungai kabupaten/kota.

3. Penetapan rencana pengelolaan sumber daya air pada wilayah sungai dalam satu kabupaten/kota.

1

Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan

1

Draft Permen PU tentang Pedoman Penyusunan Rancangan Rencana Pengelolaan Sumber Daya Air

382

4. Penetapan dan pengelolaan kawasan lindung sumber air pada wilayah sungai lintas provinsi, wilayah sungai lintas negara, dan wilayah sungai strategis nasional.

4. Penetapan dan pengelolaan kawasan lindung sumber air pada wilayah sungai lintas kabupaten/kota.

4. Penetapan dan pengelolaan kawasan lindung sumber air pada wilayah sungai dalam satu kabupaten/kota.

1

Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan

1

NSPK tentang penetapan dan pengelolaan kawasan lindung sumber air.

5. Pembentukan Dewan Sumber Daya Air Nasional, wadah koordinasi sumber daya air wilayah sungai lintas provinsi, dan wadah koordinasi sumber daya air wilayah sungai strategis nasional.

5. Pembentukan wadah koordinasi sumber daya air di tingkat provinsi dan/atau pada wilayah sungai lintas kabupaten/kota.

5. Pembentukan wadah koordinasi sumber daya air di tingkat kabupaten/kota dan/atau pada wilayah sungai dalam satu kabupaten/kota.

1

Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan

1

PER. 04/PRT/M/2008 tentang PEDOMAN PEMBENTUKAN WADAH KOORDINASI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR

6. Penetapan norma, standar, prosedur, dan kriteria (NSPK) pengelolaan sumber daya air.

6. —

6. —

1

Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan

1

NSPK tentang penetapan norma, standar, prosedur, dan kriteria (NSPK) pengelolaan sumber daya air.

383

7. Penetapan wilayah sungai dalam satu kabupaten/kota, wilayah sungai lintas kabupaten/kota, wilayah sungai lintas provinsi, wilayah sungai lintas negara, dan wilayah sungai strategis nasional.

7. —

7. —

1

Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan

1

PER. 11 A/PRT/M/2006 tentang PEDOMAN PEMBENTUKAN WADAH KOORDINASI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR

8. Penetapan status daerah irigasi yang sudah dibangun yang menjadi wewenang dan tanggung jawab Pemerintah, pemerintah provinsi, dan pemerintah kabupaten/kota.

8. —

8. —

1

Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan

1

Draft Permen PU tentang Pedoman Pengaturan Jaringan Irigasi Yang Telah Diserahkan Sementara Aset dan/atau Pengelolaannya Kepada Perkumpulan Petani Pemakai Air/Gabungan Petani Pemakai Air/Induk Perkumpulan Petani Pemakai Air

384

9. Pengesahan pembentukan komisi irigasi antar provinsi

9. Pembentukan komisi irigasi provinsi dan pengesahan pembentukan komisi irigasi antar kabupaten/kota.

9. Pembentukan komisi irigasi kabupaten/kota

1

Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan

1

PER. 31/PRT/M/2007 tentang PEDOMAN MENGENAI KOMISI IRIGASI

2. Pembinaan

1. Penetapan dan pemberian izin atas penyediaan, peruntukan, penggunaan, dan pengusahaan sumber daya air pada wilayah sungai lintasprovinsi, wilayah sungai lintas negara, dan wilayah sungai strategis nasional.

1. Penetapan dan pemberian izin atas penyediaan, peruntukan, penggunaan, dan pengusahaan sumberdaya air pada wilayah sungai lintas kabupaten/kota.

1. Penetapan dan pemberian izin atas penyediaan, peruntukan, penggunaan, dan pengusahaan sumber daya air pada wilayah sungai dalam satu kabupaten/kota.

1

Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan

1

Draft Permen PU Pedoman Penentuan Peruntukan Ruang di Wilayah Sungai

385

2. Penetapan dan pemberian rekomendasi teknis atas penyediaan, peruntukan, penggunaan, dan pengusahaan air tanah pada cekungan air tanah lintas provinsi dan cekungan air tanah lintas negara.

2. Penetapan dan pemberian rekomendasi teknis atas penyediaan, pengambilan, peruntukan, penggunaan dan pengusahaan air tanah pada cekungan air tanah lintas kabupaten/kota.

2. Penetapan dan pemberian izin penyediaan, peruntukan, penggunaan,dan pengusahaan air tanah.

1

Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan

1

NSPK tentang penetapan dan pemberian izin penyediaan, peruntukan, penggunaan,dan pengusahaan air tanah.

3. Menjaga efektivitas, efisiensi, kualitas, dan ketertiban pelaksanaan pengelolaan sumber daya air padawilayah sungai lintas provinsi, wilayah sungai lintas negara, dan wilayah sungai strategis nasional.

3. Menjaga efektivitas, efisiensi, kualitas, dan ketertiban pelaksanaan pengelolaan sumber daya air pada wilayah sungai lintas kabupaten/kota.

3. Menjaga efektivitas, efisiensi, kualitas, dan ketertiban pelaksanaan pengelolaan sumber daya air pada wilayah sungai dalam satu kabupaten/kota.

1

Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan

1

Draft Permen PU tentang Pedoman Penyusunan Rancangan Rencana Pengelolaan Sumber Daya Air

386

4. Pemberian bantuan teknis dalam pengelolaan sumber daya air kepada provinsi dan kabupaten/kota.

4. Pemberian bantuan teknis dalam pengelolaan sumber daya air kepada kabupaten/kota.

4. —

1

Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan

1

PER. 04/PRT/M/2008 tentang PEDOMAN PEMBENTUKAN WADAH KOORDINASI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR

5. Fasilitasi penyelesaian sengketa antar provinsi dalam pengelolaan sumber daya air.

5. Fasilitasi penyelesaian sengketa antar kabupaten/kota dalam pengelolaan sumber daya air.

5. —

1

Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan

1

PER. 04/PRT/M/2008 tentang PEDOMAN PEMBENTUKAN WADAH KOORDINASI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR

387

6. Pemberian izin pembangunan, pemanfaatan, pengubahan, dan/atau pembongkaran bangunan dan/atau saluran irigasi pada jaringan irigasi primer dan sekunder dalam daerah irigasi lintas provinsi, daerah irigasi lintas negara, dan daerah irigasi strategis nasional. 7. Pemberdayaan para pemilik kepentingan dalam pengelolaan sumber daya air tingkat pusat, provinsi, dan kabupaten/kota. 8. Pemberdayaan kelembagaan sumber daya air tingkat pusat, provinsi dan kabupaten/kota.

6. Pemberian izin pembangunan, pemanfaatan, pengubahan, dan/atau pembongkaran bangunan dan/atau saluran irigasi pada jaringan irigasi primer dan sekunder dalam daerah irigasi lintas kabupaten/kota.

6. Pemberian izin pembangunan, pemanfaatan, pengubahan, dan/atau pembongkaranbangu nan dan/atau saluran irigasi pada jaringan irigasi primer dan sekunder dalam daerah irigasi yang berada dalam satu kabupaten/kota.

1

Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan

1

Draft Permen PU tentang Pedoman Pengelolaan Aset Irigasi

7. Pemberdayaan para pemilik kepentingan dalam pengelolaan sumber daya air tingkat provinsi dan kabupaten/kota.

7. Pemberdayaan para pemilik kepentingan dalam pengelolaan sumber daya air tingkat kabupaten/kota.

1

Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan

1

PER. 04/PRT/M/2008 tentang PEDOMAN PEMBENTUKAN WADAH KOORDINASI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR

8. Pemberdayaan kelembagaan sumber daya air tingkat provinsi dan kabupaten/ kota.

8. Pemberdayaan kelembagaan sumber daya air tingkat kabupaten/kota.

1

Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan

1

PER. 30/PRT/M/2007 tentang PEDOMAN PENGEMBANGAN DAN PENGELOLAAN SISTEM IRIGASI PARTISIPATIF

388

3. Pembangunan/ Pengelolaan

1. Konservasi sumber daya air pada wilayah sungai lintas provinsi, wilayah sungai lintas negara, dan wilayah sungai strategis nasional. 2. Pendayagunaan sumber daya air pada wilayah sungai lintas provinsi,wilayah sungai lintas negara, dan wilayah sungai strategis nasional.

1. Konservasi sumber daya air pada wilayah sungai lintas kabupaten/kota.

1. Konservasi sumber daya air pada wilayah sungai dalam satu kabupaten/kota.

1

Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan

1

Draft Permen PU Pedoman Penentuan Peruntukan Ruang di Wilayah Sungai

2. Pendayagunaan sumber daya air pada wilayah sungai lintas kabupaten/kota.

2. Pendayagunaan sumber daya air pada wilayah sungai dalam satu kabupaten/kota.

1

Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan

1

PER. 11 A/PRT/M/2006 tentang PEDOMAN PEMBENTUKAN WADAH KOORDINASI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR

3. Pengendalian daya rusak air yang berdampak skala nasional.

3. Pengendalian daya rusak air yang berdampak skala provinsi.

3. Pengendalian daya rusak air yang berdampak skala kabupaten/kota.

1

Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan

1

Draft Permen PU tentang Operasi dan Pemeliharaan Sungai

389

4. Penyelenggaraan sistem informasi sumber daya air tingkat nasional.

4. Penyelenggaraan sistem informasi sumber daya air tingkat provinsi.

4. Penyelenggaraan sistem informasi sumber daya air tingkat kabupaten/kota.

1

Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan

1

PER. 294/PRT/M/2005 tentang BADAN PENDUKUNG PENGEMBANGAN SISTEM PENYEDIAAN AIR MINUM

5. Pembangunan dan peningkatan sistem irigasi primer dan sekunder pada daerah irigasi lintas provinsi, daerah irigasi lintas negara, dan daerah irigasi strategis nasional.

5. Pembangunan dan peningkatan sistem irigasi primer dan sekunder pada daerah irigasi lintas kabupaten/kota.

5. Pembangunan dan peningkatan sistem irigasi primer dan sekunder pada daerah irigasi dalam satu kabupaten/kota.

1

Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan

1

NSPK tentang pembangunan dan peningkatan sistem irigasi primer dan sekunder pada daerah irigasi.

390

6. Operasi, pemeliharaan dan rehabilitasi sistem irigasi primer dan sekunder pada daerah irigasi yang luasnya lebih dari 3.000 ha atau pada daerah irigasi lintas provinsi, daerah irigasi lintas negara, dan daerah irigasi strategis nasional.

6. Operasi, pemeliharaan dan rehabilitasi sistem irigasi primer dan sekunder pada daerah irigasi yang luasnya1.000 ha sampai dengan3.000 ha atau pada daerah irigasi yang bersifat lintas kabupaten/kota.

6. Operasi, pemeliharaan dan rehabilitasi sistem irigasi primer dan sekunder pada daerah irigasi dalam satu kabupaten/kota yang luasnya kurang dari 1.000 ha.

1

Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan

1

PER. 32/PRT/M/2007 tentang PEDOMAN OPERASI DAN PEMELIHARAAN JARINGAN IRIGASI.

7. Operasi, pemeliharaan dan rehabilitasi pada sungai, danau, waduk dan pantai pada wilayah sungai lintas provinsi, wilayah sungai lintas negara dan wilayah sungai strategis nasional.

7. Operasi, pemeliharaan dan rehabilitasi pada sungai, danau, waduk dan pantai pada wilayah sungai lintas kabupaten/kota.

7. Operasi, pemeliharaan dan rehabilitasi pada sungai, danau, waduk dan pantai pada wilayah sungai dalam satu kabupaten/kota.

1

Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan

1

Draft Permen PU tentang Operasi dan Pemeliharaan Sungai,

391

4. Pengawasan dan Pengendalian

1. Pengawasan pengelolaan sumber daya air pada wilayah sungai lintas provinsi, wilayah sungai lintas negara, dan wilayah sungai strategis nasional.

1. Pengawasan pengelolaan sumber daya air pada wilayah sungai lintas kabupaten/kota.

1. Pengawasan pengelolaan sumber daya air pada wilayah sungai dalam kabupaten/kota.

1

Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan

1

NSPK tentang pengawasan pengelolaan sumber daya air pada wilayah sungai lintas.

2. Bina Marga

1. Pengaturan

1. Pengaturan jalan secara umum: a. Pembentukan peraturan perundangundangan sesuai dengan kewenangannya.

1. —

1. —

1

a. —

a. —

Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan

1

Draft Permen PU tentang Penyelenggaraan Pengkajian Pemeliharaan dan Pengembangan di Bidang Jalan

b. Perumusan kebijakan perencanaan. c. Pengendalian penyelenggaraan jalan secara makro. d. Penetapan norma, standar, prosedur dan kriteria pengaturan jalan.

b. —

b. —

c. —

c. —

d. —

d. —

392

2. Pengaturan jalan nasional:

2. Pengaturan jalan provinsi:

2. Pengaturan jalan kabupaten/kota:

a. —

a. Perumusan kebijakan penyelenggaraan jalan provinsi berdasarkan kebijakan nasional di bidang jalan.

a. Perumusan kebijakan penyelenggaraan jalan kabupaten/desa dan jalan kota berdasarkan kebijakan nasional di bidang jalan dengan memperhatikan keserasian antar daerah dan antar kawasan.

1

Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan

1

Draft Permen PU tentang Pedoman Rencana Umum Jangka Menengah Jaringan Jalan Nasional,

393

b.—

b.Penyusunan pedoman operasional penyelenggaraan jalan provinsi dengan memperhatikan keserasian antar wilayah provinsi.

b.Penyusunan pedoman operasional penyelenggaraan jalan kabupaten/desa dan jalan kota.

c. Penetapan fungsi jalan arteri dan jalan kolektor yang menghubungkan antar ibukota provinsi dalam sistem jaringan jalan primer.

c. Penetapan fungsi jalan dalam sistem jaringan jalan sekunder dan jalankolektor yangmenghubungka n ibukota provinsi dengan ibukota kabupaten, antar ibukota kabupaten, jalan lokal, dan jalan lingkungan dalam sistem jaringan jalan primer.

c. —

394

d.Penetapan status jalan nasional.

d.Penetapan status jalan provinsi.

d.Penetapan status jalan kabupaten/desa dan jalan kota.

e. Penyusunan perencanaan umum dan pembiayaan jaringan jalan nasional.

e. Penyusunan perencanaan umum dan pembiayaan jaringan jalan provinsi.

e. Penyusunan perencanaan umum dan pembiayaan jaringan jalan kabupaten/desa dan jalan kota.

3. Pengaturan jalan tol: a. Perumusan kebijakan perencanaan, penyusunan perencanaan umum, penetapan ruas jalan tol dan pembentukan peraturan perundangundangan.

3. —

3. —

a. —

a. —

1

Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan

1

KEP. 370/KPTS/M/2007 tentang PENETAPAN GOLONGAN JENIS KENDAR AAN BERMOTOR PADA RUAS JALAN TOL.

395

b.Pemberian rekomendasi tarif awal dan penyesuaiannya, serta pengambilalihan jalan tol pada akhir masa konsesi dan pemberian rekomendasi pengoperasian selanjutnya.

b.—

b.—

2. Pembinaan

1. Pembinaan jalan secara umum dan jalan nasional:

1. Pembinaan jalan provinsi:

1. Pembinaan jalan kabupaten/kota:

a. Pengembangan sistem bimbingan, penyuluhan serta pendidikan dan pelatihan di bidang jalan.

a. —

a. —

1

Memerlukan NSPK. Jika tidak ditetapkan aturan umum terkait urusan ini dikhawatirkan akan menyebabkan kerancuan, keragaman dan pelanggaran dalam penetapan kebijakan pada tiap tingkat daerah.

1

Draft Permen PU tentang Tata Cara Pengawasan Jalan secara Umum, Jalan Nasional, Jalan Provinsi , Jalan Kab/Kota dan Jalan Desa.

396

b. Pemberian bimbingan, penyuluhan dan pelatihan para aparatur di bidang jalan.

b. Pemberian bimbingan penyuluhan serta pendidikan dan pelatihan para aparatur penyelenggara jalan provinsi dan aparatur penyelenggara jalan kabupaten/kota.

b. Pemberian bimbingan penyuluhan serta pendidikan dan pelatihan para aparatur penyelenggara jalan kabupaten/desa dan jalan kota.

1

Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan

1

Draft Permen PU tentang Tata Cara Pengawasan Jalan secara Umum, Jalan Nasional, Jalan Provinsi , Jalan Kab/Kota dan Jalan Desa.

c. Pengkajian serta penelitian dan pengembangan teknologi bidang jalan dan yang terkait.

c. Pengkajian serta penelitian dan pengembangan teknologi bidang jalan untuk jalan provinsi.

c. —

1

Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan

1

Draft Permen PU tentang Tata Cara Pengawasan Jalan secara Umum, Jalan Nasional, Jalan Provinsi , Jalan Kab/Kota dan Jalan Desa.

397

d. Pemberian fasilitasi penyelesaian sengketa antar provinsi dalam penyelenggaraan jalan.

d. Pemberian fasilitasi penyelesaian sengketa antar kabupaten/kota dalam penyelenggaraan jalan.

d. —

1

Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan

1

Draft Permen PU tentang Tata Cara Pengawasan Jalan secara Umum, Jalan Nasional, Jalan Provinsi , Jalan Kab/Kota dan Jalan Desa.

e. Penyusunan danpenetapan norma, standar, kriteria dan pedoman pembinaan jalan.

e. —

e. —

1

Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan

1

Draft Permen PU tentang Tata Cara Pengawasan Jalan secara Umum, Jalan Nasional, Jalan Provinsi , Jalan Kab/Kota dan Jalan Desa.

f. —

f. —

f. Pemberian izin, rekomendasi, dispensasi dan pertimbangan pemanfaatan ruang manfaat jalan, ruang milik jalan, dan ruang pengawasan jalan.

1

Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan

1

Draft Permen PU tentang Tata Cara Pengawasan Jalan secara Umum, Jalan Nasional, Jalan Provinsi , Jalan Kab/Kota dan Jalan Desa.

398

2. Pengembangan teknologi terapan di bidang jalanuntuk jalan kabupaten/kota.

2. Pengembangan teknologi terapan di bidang jalan untuk jalan kabupaten/desa dan jalan kota.

2. Pengembangan teknologi terapan di bidang jalan untuk jalan kabupaten/desa dan jalan kota.

1

Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan

1

NSPK tentang pengembangan teknologi terapan di bidang jalan.

3. Pembinaan jalan tol: Penyusunan pedoman dan standar teknis, pelayanan, pemberdayaan serta penelitian dan pengembangan. 3. Pembangunan dan Pengusahaan 1. Pembangunan jalan nasional:

3.-

3.-

1

Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan

1

PER. 392/PRT/M/2005 Standar Pelayanan Minimal Jalan Tol

1. Pembangunan jalan provinsi:

1. Pembangunan jalan kabupaten/kota:

1

Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan

1

Draft Permen PU tentang Pedoman Rencana Umum Jangka Menengah Jaringan Jalan Nasional; KEP. 369/KPTS/M/2005 Rencana Umum Jaringan Jalan nasional

399

a. Pembiayaan pembangunan jalan nasional.

a. Pembiayaan pembangunan jalan provinsi.

a. Pembiayaan pembangunan jalan kabupaten/desa dan jalan kota.

b. Perencanaan teknis, pemrograman dan penganggaran, pengadaan lahan, serta pelaksanaan konstruksi jalan nasional.

b. Perencanaan teknis, pemrograman dan penganggaran, pengadaan lahan, serta pelaksanaan konstruksi jalan provinsi.

b. Perencanaan teknis, pemrograman dan penganggaran, pengadaan lahan, serta pelaksanaan konstruksi jalan kabupaten/desa dan jalan kota.

c. Pengoperasian dan pemeliharaan jalan nasional.

c. Pengoperasian dan pemeliharaan jalan provinsi.

c. Pengoperasian dan pemeliharaan jalan kabupaten/desa dan jalan kota.

400

d. Pengembangan dan pengelolaan sistem manajemen jalan nasional.

d. Pengembangan dan pengelolaan sistem manajemen jalan provinsi.

d. Pengembangan dan pengelolaan manajemen jalan kabupaten desa dan jalan kota.

2. Pengusahaan jalan tol: a. Pengaturan pengusahaan jalan tol meliputi kegiatan pendanaan, perencanaan teknis, pelaksanaan konstruksi, pengoperasian, dan/atau pemeliharaan.

2. —

2. —

a. —

a. —

1

Memerlukan NSPK. Jika tidak ditetapkan aturan umum terkait urusan ini dikhawatirkan akan menyebabkan kerancuan, keragaman dan pelanggaran dalam penetapan kebijakan pada tiap tingkat daerah.

1

PER. 27/PRT/M/2006 Pedoman Pengadaan Pengusahaan Jalan Tol

b. Persiapan pengusahaan jalan tol, pengadaan investasi dan pemberian fasilitas pembebasan tanah.

b. -

b. -

401

4. Pengawasan

1. Pengawasan jalan secara umum:

1. —

1. —

1

Memerlukan NSPK. Jika tidak ditetapkan aturan umum terkait urusan ini dikhawatirkan akan menyebabkan kerancuan, keragaman dan pelanggaran dalam penetapan kebijakan pada tiap tingkat daerah.

1

Draft Permen PU tentang Tata Cara Pengawasan Jalan secara Umum, Jalan Nasional, Jalan Provinsi , Jalan Kab/Kota dan Jalan Desa

a. Evaluasi dan pengkajian pelaksanaan kebijakan penyelengaraan jalan. b. Pengendalian fungsi dan manfaat hasil pembangunan jalan. 2. Pengawasan jalan nasional:

a. —

a. —

b. —

b. —

2. Pengawasan jalan provinsi:

2. Pengawasan jalan kabupaten/kota:

1

Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan

1

Draft Permen PU tentang Tata Cara Pengawasan Jalan secara Umum, Jalan Nasional, Jalan Provinsi , Jalan Kab/Kota dan Jalan Desa

402

a. Evaluasi kinerja penyelenggaraan jalan nasional.

a. Evaluasi kinerja penyelenggaraan jalan provinsi.

a. Evaluasi kinerja penyelenggaraan jalan kabupaten/desa dan jalan kota.

b. Pengendalian fungsi dan manfaat hasil pembangunan jalan nasional.

b. Pengendalian fungsi dan manfaat hasil pembangunan jalan provinsi.

b.Pengendalian fungsi dan manfaat hasil pembangunan jalan kabupaten/desa dan jalan kota.

3. Pengawasan jalan tol:

3. —

3. —

1

Memerlukan NSPK. Jika tidak ditetapkan aturan umum terkait urusan ini dikhawatirkan akan menyebabkan kerancuan, keragaman dan pelanggaran dalam penetapan kebijakan pada tiap tingkat daerah.

1

PER. 295/PRT/M/2005 Badan Pengatur Jalan Tol

403

a. Pemantauan dan evaluasi pengaturan dan pembinaan jalan tol. b. Pemantauan dan evaluasi pengusahaan jalan tol dan terhadap pelayanan jalan tol. 1. Penetapan kebijakan dan strategi nasional pembangunan perkotaan dan perdesaan.

a. —

a. —

b. —

b. —

3. Perkotaan dan Perdesaan

1. Pengaturan

1. Penetapan kebijakan dan strategi wilayah provinsi dalam pembangunan perkotaan dan perdesaan (mengacu kebijakan nasional).

1. Penetapan kebijakan dan strategi pembangunan perkotaan dan perdesaan wilayah kabupaten/kota (mengacu kebijakan nasional dan provinsi). 2. Penetapan peraturan daerah kabupaten/kota mengenai pengembangan perkotaan dan perdesaan berdasarkan NSPK.

1

Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan

1

PER. 494/PRT/M/2005 Kebijakan dan Strategi Nasional Pengembangan Perkotaan (KSNP Kota)

2. Penetapan norma, standar, prosedur, dan kriteria pengembangan perkotaan dan perdesaan.

2. Penetapan peraturan daerah provinsi mengenai pengembangan perkotaan dan perdesaan mengacu NSPK nasional.

1

Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan

1

PER. 494/PRT/M/2005 Kebijakan dan Strategi Nasional Pengembangan Perkotaan (KSNP Kota)

404

2. Pembinaan

1. Fasilitasi peningkatan kapasitas manajemen pembangunan dan pengelolaan Prasarana dan Sarana (PS) perkotaan dan pedesaan tingkat nasional.

1. Fasilitasi peningkatan kapasitas manajemen pembangunan dan pengelolaan PS perkotaan dan pedesaan tingkat provinsi.

1. Fasilitasi peningkatan kapasitas manajemen pembangunan dan pengelolaan PS perkotaan dan pedesaan tingkat kabupaten/kota.

1

Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan

1

PER. 22/PRT/M/2008 Pedoman Teknis Pengadaan, Pendaftaran, Penetapan Status, penghunian, Pengalihan Staus, dan Pengalihan Hak Atas

2. Fasilitasi pemberdayaan masyarakat dan dunia usaha dalam pembangunan perkotaan dan perdesaan secara nasional.

2. Fasilitasi pemberdayaan masyarakat dan dunia usaha dalam pembangunan perkotaan dan perdesaan di wilayah provinsi.

2. Pemberdayaan masyarakat dan dunia usaha dalam pembangunan perkotaan dan perdesaan di wilayah kabupaten/kota.

1

Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan

1

NSPK tentang fasilitasi pemberdayaan masyarakat dan dunia usaha dalam pembangunan perkotaan dan perdesaan secara nasional.

405

3. Pembangunan

1. Fasilitasi perencanaan program pembangunan sarana dan prasarana perkotaan dan perdesaan jangka panjang dan jangka menengah.

1. Fasilitasi penyiapan program pembangunan sarana dan prasarana perkotaan dan perdesaan jangka panjang dan jangka menengah kota/kabupaten di wilayah.

1. Penyiapan program pembangunan sarana dan prasarana perkotaan dan perdesaan jangka panjang dan jangka menengah kabupaten/kota dengan mengacu pada RPJP dan RPJM nasional dan provinsi. 2. Penyelenggaraan kerjasama/ kemitraan antara pemerintah daerah/dunia usaha/ masyarakat dalam pengelolaan dan pembangunan sarana dan prasarana perkotaan dan perdesaan di lingkungan kabupaten/kota. 3. Penyelenggaraan pembangunan PS perkotaan dan perdesaan

1

Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan

1

PER. 494/PRT/M/2005 Kebijakan dan Strategi Nasional Pengembangan Perkotaan (KSNP Kota)

2. Fasilitasi kerjasama/kemitr aan tingkat nasional antara pemerintah/daera h dalam pengelolaan dan pembangunan sarana dan prasarana perkotaan dan perdesaan.

2. Fasilitasi kerjasama/ kemitraan antara pemerintah/daerah dalam pengelolaan dan pembangunan sarana dan prasarana perkotaan dan perdesaan di lingkungan provinsi.

1

Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan

1

NSPK tentang fasilitasi kerjasama/kemitraan tingkat nasional antara pemerintah/daerah dalam pengelolaan dan pembangunan sarana dan prasarana perkotaan dan perdesaan.

3. Penyelenggaraan pembangunan PS perkotaan dan perdesaan di kawasan strategis nasional.

3. Penyelenggaraan pembangunan PS perkotaan dan perdesaan lintas kabupaten/kota di lingkungan wilayah provinsi.

1

Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan

1

NSPK tentang penyelenggaraan pembangunan PS perkotaan dan perdesaan di kawasan strategis nasional.

406

4. —

4. Fasilitasi pembentukan lembaga/badan pengelola pembangunan perkotaan dan perdesaan lintas kabupaten/kota.

4. Pembentukan lembaga/badan pengelola pembangunan perkotaan dan perdesaan di kabupaten/kota.

1

Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan

1

NSPK tentang fasilitasi pembentukan lembaga/badan pengelola pembangunan perkotaan dan perdesaan lintas kabupaten/kota.

4. Pengawasan

1. Pengawasan dan pengendalian program pembangunan dan pengelolaan kawasan perkotaan dan perdesaan secara nasional.

1. Pengawasan dan pengendalian terhadap pembangunan dan pengelolaan kawasan perkotaan dan perdesaan di provinsi.

1. Pengawasan dan pengendalian terhadap pelaksanaan pembangunan dan pengelolaan kawasan perkotaan dan perdesaan di kabupaten/kota.

1

Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan

1

PER. 20/PRT/M/2006 Kebijakan dan Strategi Nasional Pengembangan Sistem Penyediaan Air Minum (KSNP-PAM)

2. Pengawasan dan pengendalian atas pelaksanaan NSPK.

2. Pengawasan dan pengendalian atas pelaksanaan NSPK

2. Pengawasan dan pengendalian atas pelaksanaan NSPK.

1

Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan

1

PER. 294/PRT/M/2005 Badan Pendukung Pengembangan Sistem Penyediaan Air Minum

407

4. Air Minum

1. Pengaturan

1. Penetapan kebijakan dan strategi nasional pengembangan pelayanan air minum.

1. Penetapan peraturan daerah provinsi mengenai kebijakan dan strategi pengembangan air minumlintas kabupaten/kota di wilayahnya.

1. Penetapan peraturan daerah kabupaten/kota mengenai kebijakan dan strategi pengembangan air minum di daerah kabupaten/kota.

1

Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan

1

NSPK tentang penetapan kebijakan dan strategi nasional pengembangan pelayanan air minum.

2. Pembentukan Badan Pendukung Pengembangan Sistem Penyediaan Air Minum (BPPSPAM).

2. —

2. —

1

Memerlukan NSPK. Jika tidak ditetapkan aturan umum terkait urusan ini dikhawatirkan akan menyebabkan kerancuan, keragaman dan pelanggaran dalam penetapan kebijakan pada tiap tingkat daerah.

1

NSPK tentang pembentukan Badan Pendukung Pengembangan Sistem Penyediaan Air Minum (BPPSPAM).

408

3. Penetapan BUMN penyelenggara SPAM lintas provinsi.

3. Penetapan BUMD provinsi sebagai penyelenggara SPAM lintas kabupaten/kota.

3. Penetapan BUMD sebagai penyelenggara SPAM di kabupaten/kota.

1

Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan

1

NSPK tentang penetapan BUMN penyelenggara SPAM.

4. Penetapan norma, standar, prosedur, dan kriteria pelayanan PS air minum secara nasional termasuk penetapan Standar Pelayanan Minimal (SPM).

4. Penetapan peraturan daerah NSPK pelayanan PS air minum berdasarkan SPM yang disusun pemerintah.

4. Penetapan peraturan daerah NSPK pelayanan PS air minum berdasarkan SPM yang disusun pemerintah dan provinsi.

1

Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan

1

NSPK tentang penetapan norma, standar, prosedur, dan kriteria pelayanan PS air minum secara nasional termasuk penetapan Standar Pelayanan Minimal (SPM).

5. Memberikan izin penyelenggaraan pelayanan PS air minum lintas provinsi.

5. Memberikan izin penyelenggaraan untuk lintas kabupaten/kota.

5. Memberikan izin penyelenggaraan pengembangan SPAM di wilayahnya.

1

Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan

1

NSPK tentang pemberikan izin penyelenggaraan pelayanan PS air minum lintas provinsi.

409

6. Penentuan alokasi air baku untuk kebutuhan pengembangan SPAM.

6. —

6. —

1

Memerlukan NSPK. Jika tidak ditetapkan aturan umum terkait urusan ini dikhawatirkan akan menyebabkan kerancuan, keragaman dan pelanggaran dalam penetapan kebijakan pada tiap tingkat daerah.

1

PER. 18/PRT/M/2007 tentang PENYELENGGARAAN PENGEMBANGAN SISTEM PENYEDIAAN AIR MINUM

2. Pembinaan

1. Fasilitasi penyelesaian masalah dan permasalahan antar provinsi, yang bersifat khusus, strategis, baik yang bersifat nasional maupun internasional.

1. Penyelesaian masalah dan permasalahan yang bersifat lintas kabupaten/kota.

1. Penyelesaian masalah dan permasalahannya di dalam wilayah kabupaten/kota.

1

Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan

1

NSPK tentang penyelesaian masalah dan permasalahan.

2. Fasilitasi peningkatan kapasitas teknis dan manajemen pelayanan air minum secara nasional.

2. Peningkatan kapasitas teknis dan manajemen pelayanan air minum di lingkungan wilayah provinsi.

2. Peningkatan kapasitas teknis dan manajemen pelayanan air minum di wilayah kabupaten/kota termasuk kepada Badan Pengusahaan Pelayanan (operator) BUMD.

1

Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan

1

NSPK tentang fasilitasi peningkatan kapasitas teknis dan manajemen pelayanan air minum.

410

3. Penetapan standar kompetensi teknis SDM untuk kelompok ahli dan terampil bidang air minum.

3. —

3. —

1

Memerlukan NSPK. Jika tidak ditetapkan aturan umum terkait urusan ini dikhawatirkan akan menyebabkan kerancuan, keragaman dan pelanggaran dalam penetapan kebijakan pada tiap tingkat daerah.

1

NSPK tentang penetapan standar kompetensi teknis SDM untuk kelompok ahli dan terampil bidang air minum.

3. Pembangunan

1. Fasilitasi pemenuhan kebutuhan air baku untuk kebutuhan pengembangan SPAM secara nasional.

1. Penetapan kebutuhan air baku untuk kebutuhan pengembangan SPAM di lingkungan wilayah provinsi.

1. Penetapan pemenuhan kebutuhan air baku untuk kebutuhan pengembangan SPAM di wilayah kabupaten/kota.

1

Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan

1

PER. 18/PRT/M/2007 Penyelenggaraan Pengemangan Sistem Penyediaan Air Minum

411

2. —

2. —

2. Pengembangan SPAM di wilayah kabupaten/kota untuk pemenuhan SPM.

1

Tidak membutuhkan NSPK. Hal ini dikarenakan urusan yang dibahas bersifat kedaerahan sehingga jika ditetapkan secara umum permasalahan yang bersifat khusus tidak dapat diselesaikan.

3. Fasilitasi penyelenggaraan bantuan teknis penyelenggaraan pengembangan SPAM secara nasional.

3. Fasilitasi penyelenggaraan (bantuan teknis) penyelenggaraan pengembangan SPAM di wilayah provinsi.

3. Fasilitasi penyelenggaraan (bantuan teknis) kepada kecamatan, pemerintah desa, serta kelompok masyarakat di wilayahnya dalam penyelenggaraan pengembangan SPAM.

1

Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan

1

PER. 18/PRT/M/2007 Penyelenggaraan Pengemangan Sistem Penyediaan Air Minum

412

4. Penyusunan rencana induk pengembangan SPAM wilayah pelayanan lintas provinsi.

4. Penyusunan rencana induk pengembangan SPAM wilayah pelayanan lintas kabupaten/kota setelah berkoordinasi dengan daerah kabupaten/kota.

4. Penyusunan rencana induk pengembangan SPAM wilayah administrasi kabupaten/kota.

1

Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan

1

NSPK tentang penyusunan rencana induk pengembangan SPAM.

5. Fasilitasi penyediaan prasarana dan sarana air minum dalam rangka kepentingan strategis nasional.

5. Penyediaan PS air minum untuk daerah bencana dan daerah rawan air skala provinsi.

5. Penyediaan PS air minum untuk daerah bencana dan daerah rawan air skala kabupaten/kota.

1

Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan

1

NSPK tentang fasilitasi penyediaan prasarana dan sarana air minum dalam rangka kepentingan.

6. Penanganan bencana alam tingkat nasional.

6. Penanganan bencana alam tingkat provinsi

6. Penanganan bencana alam tingkat kabupaten/kota.

1

Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan

1

NSPK tentang penanganan bencana alam.

413

4. Pengawasan

1. Pengawasan terhadap seluruh tahapan penyelenggaraan pengembangan SPAM secara nasional.

1. Pengawasan terhadap seluruh tahapan penyelenggaraan pengembangan SPAM yang berada di wilayah provinsi.

1. Pengawasan terhadap seluruh tahapan penyelenggaraan pengembangan SPAM yang berada di wilayah kabupaten/kota.

1

Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan

1

NSPK tentang pengawasan terhadap seluruh tahapan penyelenggaraan pengembangan SPAM.

2. Evaluasi kinerja pelayanan penyelenggaraan pengembangan SPAM secara nasional.

2. Evaluasi kinerja pelayanan air minum di lingkungan wilayah provinsi.

2. Evaluasi terhadap penyelenggaraan pengembangan SPAM yang utuh di wilayahnya.

1

Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan

1

NSPK tentang evaluasi kinerja pelayanan air minum.

3. Pengawasan dan pengendalian atas pelaksanaan NSPK.

3. Pengawasan dan pengendalian atas pelaksanaan NSPK.

3. Pengawasan dan pengendalian atas pelaksanaan NSPK.

1

Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan

1

NSPK tentang pengawasan dan pengendalian atas pelaksanaan NSPK.

414

5. Air Limbah

1. Pengaturan

1. Penetapan kebijakan dan strategi nasional pengembangan PS air limbah.

1. Penetapan peraturan daerah kebijakan pengembangan PS air limbah di wilayah provinsi mengacu pada kebijakan nasional.

1. Penetapan peraturan daerah kebijakan pengembangan PS air limbah di wilayah kabupaten/kota mengacu pada kebijakan nasional dan provinsi.

1

Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan

1

;PER. 16/PRT/M/2008 Kebijakan dan Strategi Nasional Pengembangan Sistem Pengelolaan Air Limbah Permukiman (KSNP-SPALP)

2. Pembentukan lembaga penyelenggara pelayanan PS air limbah lintas provinsi.

2. Pembentukan lembaga tingkat provinsi sebagai penyelenggara PS air limbah di wilayah provinsi.

2. Pembentukan lembaga tingkat kabupaten/kota sebagai penyelenggara PS air limbah di wilayah kabupaten/kota.

1

Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan

1

Draft Permen PU tentang Penyelenggaraan Air Limbah Permukiman Setempat;

415

3. Penetapan norma, standar, prosedur, dan kriteria pelayanan PS air limbah secara nasional termasuk SPM.

3. Penetapan peraturan daerah NSPK berdasarkan SPM yang ditetapkan oleh pemerintah.

3. Penetapan peraturan daerah berdasarkan NSPK yang ditetapkan oleh pemerintah dan provinsi.

1

Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan

1

Draft Permen PU tentang Standar Pelayanan Minima

4. Memberikan izin penyelenggaraan PS air limbah yang bersifat lintas provinsi.

4. Memberikan izin penyelenggaraan PS air limbah lintas kabupaten/kota.

4. Memberikan izin penyelenggaraan PS air limbah di wilayah kabupaten/kota.

1

Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan

1

Draft Permen PU tentang Penyelenggaraan Air Limbah Permukiman Terpusat

5. Penetapan standar kompetensi teknis SDM untuk kelompok ahli dan terampil bidang air limbah.

5. —

5. —

1

Memerlukan NSPK. Jika tidak ditetapkan aturan umum terkait urusan ini dikhawatirkan akan menyebabkan kerancuan, keragaman dan pelanggaran dalam penetapan kebijakan pada tiap tingkat daerah.

1

NSPK tentang penetapan standar kompetensi teknis SDM untuk kelompok ahli dan terampil bidang air limbah.

416

2. Pembinaan

1. Fasilitasi penyelesaian permasalahan antar provinsi yang bersifat khusus, strategis baik yang bersifat nasional maupun internasional. 2. Fasilitasi peran serta dunia usaha tingkat nasional dalam penyelenggaraan pengembangan PS air limbah.

1. Fasilitasi penyelesaian masalah yang bersifat lintas kabupaten/kota.

1. Penyelesaian masalah pelayanan di lingkungan kabupaten/kota.

1

Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan

PER. 600/PRT/M/2005 Pedoman Bantuan Hukum di Lingkungan Departemen Pekerjaan Umum;

2. Fasilitasi peran serta dunia usaha dan masyarakat dalam penyelenggaraan pengembangan PS air limbah kabupaten/kota.

2. Pelaksanaan kerjasama dengan dunia usaha dan masyarakat dalam penyelenggaraan pengembangan PS air limbah kabupaten/kota.

1

Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan

1

NSPk tentang fasilitasi peran serta dunia usaha tingkat nasional dalam penyelenggaraan pengembangan PS air limbah.

417

3. Fasilitasi penyelenggaraan (bantek) pengembangan PS air limbah.

3. Fasilitasi penyelenggaraan (bantek) pengembangan PS air limbah lintas kabupaten/kota.

3. Penyelenggaraan (bantek) pada kecamatan, pemerintah desa, serta kelompok masyarakat di wilayahnya dalam penyelenggaraan PS air limbah.

1

Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan

1

NSPK tentang fasilitasi penyelenggaraan (bantek) pengembangan PS air limbah.

3. Pembangunan

1. Fasilitasi pengembangan PS air limbah skala kota untuk kota-kota metropolitan dan kota besar dalam rangka kepentingan strategis nasional.

1. Fasilitasi pengembangan PS air limbah lintas kabupaten/kota di wilayah provinsi.

1. Penyelenggaraan pembangunan PS air limbah untuk daerah kabupaten/kota dalam rangka memenuhi SPM.

1

Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan

1

PER. 603/PRT/M/2005 Pedoman Umum Sistem Pengendalian Manajemen Penyelenggaraan Pembangunan Prasarana dan Sarana Bidang Pekerjaan Umum

418

2. Penyusunan rencana induk pengembangan PS air limbah lintas provinsi.

2. Penyusunan rencana induk pengembangan PS air limbah lintas kabupaten/kota.

2. Penyusunan rencana induk pengembangan PS air limbah kabupaten/kota.

1

Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan

1

NSPK tentang penyusunan rencana induk pengembangan PS air limbah.

3. Penanganan bencana alam tingkat nasional.

3. Penanganan bencana alam tingkat provinsi.

3. Penanganan bencana alam tingkat lokal (kabupaten/kota).

1

Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan

1

NSPK tentang penanganan bencana alam.

4. Pengawasan

1. Pengendalian dan pengawasan atas penyelenggaraan pengembangan PS air limbah.

1. Melakukan pengawasan terhadap penyelenggaraan PS air limbah di wilayahnya.

1. Monitoring penyelenggaraan PS air limbah di kabupaten/kota.

1

Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan

1

NSPk tentang pengendalian dan pengawasan atas penyelenggaraan pengembangan PS air limbah.

2. Evaluasi atas kinerja pengelolaan PS air limbah secara nasional.

2. Evaluasi atas kinerja pengelolaan PS air limbah di wilayah provinsi lintas kabupaten/kota.

2. Evaluasi terhadap penyelenggaraan pengembangan air limbah di kabupaten/kota.

1

Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan

1

NSPK tentang evaluasi atas kinerja pengelolaan PS air limbah.

419

3. Pengawasan dan pengendalian atas pelaksanaan NSPK.

3. Pengawasan dan pengendalian atas pelaksanaan NSPK.

3. Pengawasan dan pengendalian atas pelaksanaan SPM.

1

Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan

1

NSPK tentang pengawasan dan pengendalian atas pelaksanaan NSPK.

6. Persampahan

1. Pengaturan

1. Penetapan kebijakan dan strategi nasional pengembangan PS persampahan.

1. Penetapan peraturan daerah kebijakan pengembangan PS persampahan lintas kabupaten/kota di wilayah provinsi mengacu pada kebijakan nasional. 2. Penetapan lembaga tingkat provinsi penyelenggara pengelolaan persampahan lintas kabupaten/kota di wilayah provinsi.

1. Penetapan peraturan daerah kebijakan pengembangan PS persampahan di kabupaten/kota mengacu pada kebijakan nasional dan provinsi. 2. Penetapan lembaga tingkat kabupaten/kota penyelenggara pengelolaan persampahan di wilayah kabupaten/kota.

1

Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan

1

PER. 21/PRT/M/2006 Kebijakan dan Strategi nasional Pengembangan Sistem Pengelolaan Persampahan (KSNP-SPP); Draft Permen PU tentang Pengelolaan Sampah

2. Penetapan lembaga tingkat nasional penyelenggara pengelolaan persampahan (bila diperlukan).

1

Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan

1

Draft Permen PU tentang Pengelolaan Sampah

3. Penetapan NSPK pengelolaan persampahan secara nasional termasuk SPM.

3. Penetapan peraturan daerah NSPK pengelolaan persampahan mengacu kepada SPM yang ditetapkan oleh pemerintah.

3. Penetapan peraturan daerah berdasarkan NSPK yang ditetapkan oleh pemerintah dan provinsi.

1

Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan

1

PER. 21/PRT/M/2006 Kebijakan dan Strategi nasional Pengembangan Sistem Pengelolaan Persampahan (KSNP-SPP)

420

4. Memberikan izin penyelenggara pengelolaan persampahan lintas provinsi.

4. Memberikan izin penyelenggara pengelolaan persampahan lintas kabupaten/kota.

4. Pelayanan perizinan dan pengelolaan persampahan skala kabupaten/kota.

1

Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan

1

NSPk tentang memberikan izin penyelenggara pengelolaan persampahan.

2. Pembinaan

1. Fasilitasi penyelesaian masalah dan permasalahan antar provinsi.

1. Fasilitasi penyelesaian masalah dan permasalahan antar kabupaten/kota.

1. —

1

Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan

1

Draft Permen PU tentang Pengelolaan Sampah

421

2. Peningkatan kapasitas manajemen dan fasilitasi kerjasama pemda/dunia usaha dan masyarakat dalam penyelenggaraan pengembangan PS persampahan.

2. Peningkatan kapasitas manajemen dan fasilitasi kerjasama pemda/dunia usaha dan masyarakat dalam penyelenggaraan pengembangan PS persampahan lintas kabupaten/kota.

2. Peningkatan kapasitas manajemen dan fasilitasi kerjasama dunia usaha dan masyarakat dalam penyelenggaraan pengembangan PS persampahan kabupaten/kota.

1

Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan

1

NSPk tentang peningkatan kapasitas manajemen dan fasilitasi kerjasama pemda/dunia usaha dan masyarakat dalam penyelenggaraan pengembangan PS persampahan.

3. Fasilitasi bantuan teknis penyelenggaraan pengembangan PS persampahan.

3. Memberikan bantuan teknis dan pembinaan lintas kabupaten/kota.

3. Memberikan bantuan teknis kepada kecamatan, pemerintah desa, serta kelompok masyarakat di kabupaten/kota.

1

Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan

1

NSPK tentang fasilitasi bantuan teknis penyelenggaraan pengembangan PS persampahan.

422

3. Pembangunan

1. Fasilitasi penyelenggaraan dan pembiayaan pembangunan PS persampahan secara nasional (lintas provinsi).

1. Fasilitasi penyelenggaraan dan pembiayaan pembangunan PS persampahan secara nasional di wilayah provinsi.

1. Penyelengaraan dan pembiayaan pembangunan PS persampahan di kabupaten/kota.

1

Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan

1

PER. 603/PRT/M/2005 Pedoman Umum Sistem Pengendalian Manajemen Penyelenggaraan Pembangunan Prasarana dan Sarana Bidang Pekerjaan Umum;Konsep Pedoman Pemanfaatan Ruang Kawasan Sekitar TPA Sampah

2. Penyusunan rencana induk pengembangan PS persampahan lintas provinsi.

2. Penyusunan rencana induk pengembangan PS persampahan lintas kabupaten/kota.

2. Penyusunan rencana induk pengembangan PS persampahan kabupaten/kota.

1

Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan

1

NSPK tentang penyusunan rencana induk pengembangan PS persampahan.

423

4. Pengawasan

1. Pengawasan dan pengendalian pengembangan persampahan secara nasional.

1. Pengawasan dan pengendalian pengembangan persampahan di wilayah provinsi.

1. Pengawasan terhadap seluruh tahapan pengembangan persampahan di wilayah kabupaten/kota.

1

Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan

1

NSPk tentang pengawasan dan pengendalian pengembangan persampahan.

2. Evaluasi kinerja penyelenggaraan PS persampahan secara nasional.

2. Evaluasi kinerja penyelenggaraan yang bersifat lintas kabupaten/kota.

2. Evaluasi kinerja penyelenggaraan di wilayah kabupaten/kota.

1

Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan

1

NSPk tentang evaluasi kinerja penyelenggaraan PS persampahan.

3. Pengawasan dan pengendalian atas pelaksanaan NSPK.

3. Pengawasan dan pengendalian atas pelaksanaan NSPK.

3. Pengawasan dan pengendalian atas pelaksanaan NSPK.

1

Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan

1

NSPK tentang pengawasan dan pengendalian atas pelaksanaan NSPK.

424

7. Drainase

1. Pengaturan

1. Penetapan kebijakan dan strategi nasional dalam penyelenggaraan drainase dan pematusan genangan.

1. Penetapan peraturan daerah kebijakan dan strategi provinsi berdasarkan kebijakan dan strategi nasional.

1. Penetapan peraturan daerah kebijakan dan strategi kabupaten/kota berdasarkan kebijakan nasional dan provinsi.

1

Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan

1

NSPk tentang penetapan kebijakan dan strategi nasional dalam penyelenggaraan drainase dan pematusan genangan.

2. Penetapan NSPK penyelenggaraan drainase dan pematusan genangan.

2. Penetapan peraturan daerah NSPK provinsi berdasarkan SPM yang ditetapkan oleh pemerintah di wilayah provinsi.

2. Penetapan peraturan daerah NSPK drainase dan pematusan genangan di wilayah kabupaten/kota berdasarkan SPM yang disusun pemerintah pusat dan provinsi.

1

Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan

1

NSPK tentang penetapan NSPK penyelenggaraan drainase dan pematusan genangan.

425

2. Pembinaan

1. Fasilitasi bantuan teknis pembangunan, pemeliharaan dan pengelolaan drainase.

1. Bantuan teknis pembangunan, pemeliharaan dan pengelolaan).

1. —

1

Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan

1

NSP tentang fasilitasi bantuan teknis pembangunan, pemeliharaan dan pengelolaan drainase.

2. Peningkatan kapasitas teknik dan manajemen penyelenggara drainase dan pematusan genangan secara nasional.

2. Peningkatan kapasitas teknik dan manajemen penyelenggara drainase dan pematusan genangan di wilayah provinsi.

2. Peningkatan kapasitas teknik dan manajemen penyelenggara drainase dan pematusan genangan di wilayah kabupaten/kota.

1

Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan

1

NSPK tentang peningkatan kapasitas teknik dan manajemen penyelenggara drainase dan pematusan genangan.

426

3. Pembangunan

1. Fasilitasi penyelesaian masalah dan permasalahan operasionalisasi sistem drainase danpenanggulang an banjir lintas provinsi.

1. Fasilitasi penyelesaian masalah dan permasalahan operasionalisasi sistem drainase dan penanggulangan banjir lintas kabupaten/kota.

1. Penyelesaian masalah dan permasalahan operasionalisasi sistem drainase dan penanggulangan banjir di wilayah kabupaten/kota serta koordinasi dengan daerah sekitarnya.

1

Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan

1

NSPK tentang fasilitasi penyelesaian masalah dan permasalahan operasionalisasi sistem drainase danpenanggulangan banjir.

2. Fasilitasi penyelenggaraan pembangunan dan pemeliharaan PS drainase dan pengendalian banjir di kawasan khusus dan strategis nasional.

2. Fasilitasi penyelenggaraan pembangunan dan pemeliharaan PS drainase di wilayah provinsi.

2. Penyelenggaraan pembangunan dan pemeliharaan PS drainasedi wilayah kabupaten/kota.

1

Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan

1

Draft Pedoman Pengendalian Pemanfaatan Ruang di Kawasan Rawan Bencana Banjir

427

3. Fasilitasi penyusunan rencana induk penyelenggaraan prasarana sarana drainase dan pengendalian banjir skala nasional.

3. Penyusunan rencana induk PS drainase skala regional/lintas daerah.

3. Penyusunan rencana induk PS drainase skala kabupaten/kota.

1

Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan

1

PER. 05/PRT/M/2009 Pedoman Tata Cara Pembanguan Pos Duga Air Tipe Konsol di Sungai/Saluran Terbuka

4. Pengawasan

1. Evaluasi kinerja penyelenggaraan sistem drainase dan pengendali banjir secara nasional.

1. Evaluasi di provinsi terhadap penyelenggaraan sistem drainase dan pengendali banjir di wilayah provinsi.

1. Evaluasi terhadap penyelenggaraan sistem drainase dan pengendali banjir di wilayah kabupaten/kota.

1

Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan

1

NSPK tentang evaluasi kinerja penyelenggaraan sistem drainase dan pengendali banjir.

2. Pengawasan dan pengendalian penyelenggaraan drainase dan pengendalian banjir secara lintas provinsi.

2. Pengawasan dan pengendalian penyelenggaraan drainase dan pengendalian banjir lintas kabupaten/kota.

2. Pengawasan dan pengendalian penyelenggaraan drainase dan pengendalian banjir di kabupaten/kota.

1

Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan

1

NSPK tentang pengawasan dan pengendalian penyelenggaraan drainase dan pengendalian banjir.

428

3. Pengawasan dan pengendalian atas pelaksanaan NSPK.

3. Pengawasan dan pengendalian atas pelaksanaan NSPK.

3. Pengawasan dan pengendalian atas pelaksanaan NSPK.

1

Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan

1

NSPK tentang pengawasan dan pengendalian atas pelaksanaan NSPK.

8. Permukiman

1. Kawasan Siap Bangun (Kasiba) dan Lingkungan Siap Bangun (Lisiba) yang berdiri sendiri: a. Pengaturan

1. Penetapan kebijakan teknis Kasiba dan Lisiba nasional.

1. Penetapan peraturan daerah kebijakan dan strategi Kasiba/Lisiba di wilayah provinsi.

1. Penetapan peraturan daerah kebijakan dan strategi Kasiba/Lisiba di wilayah kabupaten/kota.

1

Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan

1

NSPK tentang penetapan kebijakan teknis Kasiba dan Lisiba nasional.

429

2. Penyusunan NSPK Kasiba dan Lisiba secara nasional.

2. Penetapan Peraturan Daerah NSPK Kasiba dan Lisiba di wilayah provinsi.

2. Penetapan Peraturan Daerah NSPK Kasiba dan Lisiba di wilayah kabupaten/kota.

b.Pembinaan

1. Fasilitasi peningkatan kapasitas daerah dalam pembangunan Kasiba dan Lisiba.

1. Fasilitasi peningkatan kapasitas manajemen dalam pembangunan Kasiba dan Lisiba.

1. —

2. Fasilitasi penyelesaian masalah Kasiba/Lisiba yang terkait dengan pelaksanaan kebijakan nasional.

2. Fasilitasi penyelesaian pembangunan Kasiba/Lisiba antar kabupaten/kota.

2. —

430

c. Pembangunan

1. Fasilitasi penyelenggaraan pembangunan Kasiba/Lisiba strategis nasional.

1. Fasilitasi penyelenggaraan pembangunan Kasiba/Lisiba lintas kabupaten/kota.

1. Penyelenggaraan pembangunan Kasiba/Lisiba di kabupaten/kota.

2. Fasilitasi kerjasama swasta, masyarakat tingkat nasional dalam pembangunan Kasiba/Lisiba.

2. Fasilitasi kerjasama swasta, masyarakat tingkat nasional dalam pembangunan Kasiba/Lisiba lintas kabupaten/kota.

2. Pelaksanaan kerjasama swasta, masyarakat tingkat nasional dalam pembangunan Kasiba/Lisiba.

3. —

3. Penetapan izin lokasi Kasiba/Lisiba lintas kabupaten/kota.

3. Penetapan izin lokasi Kasiba/Lisiba di kabupaten/kota.

431

d.Pengawasan

1. Pengawasan dan pengendalian kebijakan nasional penyelenggaraan Kasiba dan Lisiba.

1. Pengawasan pelaksanaan kelayakan program Kasiba dan Lisiba di provinsi.

1. Pengawasan dan pengendalian penyelenggaraan Kasiba dan Lisiba di kabupaten/kota.

2. Evaluasi kebijakan nasional penyelenggaraan pembangunan Kasiba dan Lisiba.

2. Evaluasi penyelenggaraan pembangunan Kasiba dan Lisiba di provinsi.

2. Evaluasi penyelenggaraan pembangunan Kasiba dan Lisiba di kabupaten/kota.

3. Pengawasan dan pengendalian atas pelaksanaan NSPK.

3. Pengawasan dan pengendalian atas pelaksanaan NSPK di provinsi.

3. Pengawasan dan pengendalian atas pelaksanaan NSPK di kabupaten/kota.

432

2. Permukiman Kumuh/ Nelayan:

a. Pengaturan

1. Penetapan kebijakan nasional tentang penanggulangan permukiman kumuh perkotaan dan nelayan.

1. —

1. Penetapan peraturan daerah kebijakan dan strategi penanggulangan permukiman kumuh/nelayan di wilayah kabupaten/kota.

1

Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan

1

Draft Konsep Pedoman Pemanfaatan Ruang Kawasan Sekitar TPA Sampah

2. Penyusunan NSPK kawasan permukiman.

2. —

2. Penetapan peraturan daerah tentang pencegahan timbulnya permukiman kumuh di wilayah kabupaten/kota.

433

b. Pembinaan

1. Fasilitasi peningkatan kapasitas daerah dalam pembangunan dalam penanganan permukiman kumuh secara nasional. (bantuan teknis)

1. Fasilitasi peningkatan kapasitas manajemen dalam penanganan permukiman kumuh di wilayah provinsi.

1. —

1

Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan

1

NSPK tentang fasilitasi peningkatan kapasitas daerah dalam pembangunan dalam penanganan permukiman kumuh secara nasional. (bantuan teknis)

c. Pembangunan

1. Fasilitasi program penanganan permukiman kumuh bagi lokasi yang strategis secara nasional.

1. Fasilitasi penyelenggaraan penanganan permukiman kumuh di wilayahnya.

1. Penyelenggaraan penanganan kawasan kumuh perkotaan di kabupaten/kota.

1

Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan

1

NSPK tentang fasilitasi program penanganan permukiman kumuh bagi lokasi yang strategis.

2. Fasilitasi dan bantuan teknis untuk peremajaan/perb aikan permukiman kumuh/nelayan dengan Rumah Susun Sewa (RUSUNAWA).

2. Fasilitasi peremajaan/ perbaikan permukiman kumuh/nelayan.

2. Pengelolaan peremajaan/ perbaikan permukiman kumuh/nelayan dengan rusunawa.

Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan

1

PER. 05/PRT/M/2007 Pedoman Teknis Pembangunan Rumah Susun Sederhana Bertingkat Tinggi

434

d. Pengawasan

1. Melaksanakan pengawasan dan pengendalian penanganan permukiman kumuh nasional.

1. —

1. Melaksanakan pengawasan dan pengendalian permukiman kumuh di wilayah kabupaten/kota.

1

Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan

1

NSPK tentang pelaksanakan pengawasan dan pengendalian penanganan permukiman kumuh.

2. Evaluasi kebijakan nasional penanganan permukiman kumuh.

2. Monitoring evaluasi pelaksanaan program penanganan permukiman kumuh di wilayahnya.

2. Evaluasi pelaksanaan program penanganan permukiman kumuh di kabupaten/kota.

3. Pengawasan dan pengendalian atas pelaksanaan NSPK .

3. Pengawasan dan pengendalian atas pelaksanaan NSPK di provinsi.

3. Pengawasan dan pengendalian atas pelaksanaan NSPK di kabupaten/kota.

435

3. Pembangunan Kawasan statergis nasional

1

Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan

1

PER. 18/PRT/M/2010 Pedoman Revitalisasi Kawasan : Modul Terapan Pedoman Penataan Ruang Kawasan Rawan Letusan Gunung Berapi dan Kawasan Rawan Gempa Bumi; Pedoman Pengendalian Pemanfaatan Ruang di Kawasan Rawan Bencana Longsor.

a. Pengaturan

1. Penetapan kebijakan pembangunan kawasan strategis nasional.

1. —

1. Penetapan peraturan daerah kebijakan dan strategi pembangunan kawasan di wilayah kabupaten/kota.

436

2. Penyusunan NSPK pembangunan kawasan strategis nasional.

2. —

2. Penetapan peraturan daerah NSPK pembangunan kawasan di wilayah kabupaten/kota.

b.Pembinaan

1. Fasilitasi peningkatan kapasitas daerah dalam pembangunan kawasan strategis nasional.

1. —

1. —

2. Fasilitasi penyelesaian masalah pembangunan kawasan yang terkait dengan pelaksanaan kebijakan nasional.

2. Fasilitasi penyelesaian masalah pembangunan kawasan di wilayah provinsi.

2. —

c. Pembangunan

1. Fasilitasi penyelenggaraan pembangunan kawasan strategis nasional.

1. —

1. Penyelenggaraan pembangunan kawasan strategis nasional.

437

d.Pengawasan

1. Pengawasan dan pengendalian pembangunan kawasan strategis nasional.

1. Pengawasan dan pengendalian pembangunan kawasan di wilayah provinsi.

1. Melaksanakan pengawasan dan pengendalian pembangunan kawasan di wilayah kabupaten/kota.

2. Evaluasi kebijakan nasional program pembangunan kawasan nasional.

2. Evaluasi pelaksanaan program pembangunan kawasan di provinsi.

2. Evaluasi pelaksanaan program pembangunan kawasan di kabupaten/kota.

3. Pengawasan dan pengendalian atas pelaksanaan NSPK.

3. Pengawasan dan pengendalian atas pelaksanaan NSPK di provinsi.

3. Pengawasan dan pengendalian atas pelaksanaan NSPK di kabupaten/kota.

438

9. Bangunan Gedung dan Lingkungan

1. Pengaturan

1. Penetapan peraturan perundangundangan, norma, standar, prosedur dan kriteria/bangunan gedung dan lingkungan

1. Penetapan peraturan daerah Provinsi, mengenai bangunan gedung dan lingkungan mengacu pada norma, standar, prosedur dan kriteria nasional.

1. Penetapan peraturan daerah kabupaten/kota, mengenai bangunan gedung dan lingkungan mengacu pada norma, standar, prosedur dan kriteria nasional.

1

Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan

1

PER. 26/PRT/M/2007 Pedoman Tim Ahli Bangunan Gedung;Draft Permen PU tentang Pedoman Teknis Pemeriksaan Berkala Bangunan Gedung;PER. 17/PRT/M/2010 Pedoman Teknis Pendataan Bangunan Gedung;PER. 30/PRT/M/2006 Pedoman Teknis Fasilitas dan Aksesibilitas Pada Bangunan Gedung dan Lingkungan

2. Penetapan kebijakan dan strategi nasional bangunan gedung dan lingkungan.

2. Penetapan kebijakan dan strategi wilayah provinsi mengenai bangunan gedung dan lingkungan.

2. Penetapan kebijakan dan strategi kabupaten/kota mengenai bangunan gedung dan lingkungan.

1

Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan

1

NSPK tentang penetapan kebijakan dan strategi nasional bangunan gedung dan lingkungan.

439

3. Penetapan kebijakan pembangunan dan pengelolaan gedung dan rumah negara.

3. —

3. Penetapan kelembagaan bangunan gedung di kabupaten/kota.

1

Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan

1

4. Penyelenggaraan IMB gedung fungsi khusus.

4. —

4. Penyelenggaraan IMB gedung.

1

Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan

1

Draft Permen PU tentang Pedoman Penyelenggaraan Bangunan Gedung Fungsi Khusus

5. —

5. —

5. Pendataan bangunan gedung.

1

Tidak membutuhkan NSPK. Hal ini dikarenakan urusan yang dibahas bersifat kedaerahan sehingga jika ditetapkan secara umum permasalahan yang bersifat khusus tidak dapat diselesaikan.

440

6. —

6. —

6. Penetapan persyaratan administrasi dan teknis untuk bangunan gedung adat, semi permanen, darurat, dan bangunan gedung yang dibangun di lokasi bencana.

1

Tidak membutuhkan NSPK. Hal ini dikarenakan urusan yang dibahas bersifat kedaerahan sehingga jika ditetapkan secara umum permasalahan yang bersifat khusus tidak dapat diselesaikan.

7. —

7. —

7. Penyusunan dan penetapan Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan (RTBL).

1

Tidak membutuhkan NSPK. Hal ini dikarenakan urusan yang dibahas bersifat kedaerahan sehingga jika ditetapkan secara umum permasalahan yang bersifat khusus tidak dapat diselesaikan.

441

2. Pembinaan

1. Pemberdayaan kepada pemerintah daerah dan penyelenggara bangunan gedung dan lingkungannya.

1. Pemberdayaan kepada pemerintah daerah dan penyelenggara bangunan gedung dan lingkungannya.

1. Pemberdayaan kepada masyarakat dalam penyelenggaraan bangunan gedung dan lingkungannya.

1

Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan

1

Draft Permen PU tentang Bangunan Gedung di Atas dan di Bawah Air/Prasarana Lingkungan

2. Fasilitasi peningkatan kapasitas manajemen dan teknis Pemerintah daerah untuk bangunan gedung dan lingkungan.

2. Fasilitasi penyelenggaraan bangunan gedung dan lingkungan.

2. Pemberdayaan masyarakat dalam penyelenggaraan bangunan gedung dan lingkungan.

1

Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan

1

Draft Permen PU tentang Pedoman Teknis Pendataan Bangunan Gedung

3. Pembangunan

1. Fasilitasi bantuan teknis penyelenggaraan bangunan gedung dan lingkungan.

1. Penyelenggaraan model bangunan gedung dan lingkungan.

1. Penyelenggaraan bangunan gedung dan lingkungan dengan berbasis pemberdayaan masyarakat.

1

Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan

1

PER. 24/PRT/M/2007 Pedoman Teknis Izin Mendirikan Bangunan Gedung

442

2. Pembangunan dan pengelolaan bangunan gedung dan rumah negara yang menjadi aset pemerintah.

2. Pembangunan dan pengelolaan bangunan gedung dan rumah negara yang menjadi aset pemerintah provinsi.

2. Pembangunan dan pengelolaan bangunan gedung dan rumah negara yang menjadi aset pemerintah kabupaten/kota.

1

Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan

1

NSPK tentang pembangunan dan pengelolaan bangunan gedung dan rumah negara yang menjadi aset pemerintah.

3. Penetapan status bangunan gedung dan lingkungan yang dilindungi dan dilestarikan yang berskala nasional atau internasional.

3. Penetapan status bangunan gedung dan lingkungan yang dilindungi dan dilestarikan yang berskala provinsi atau lintas kabupaten/kota.

3. Penetapan status bangunan gedung dan lingkunganyang dilindungi dan dilestarikan yang berskala lokal.

1

Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan

1

Draft Permen PU tentang Pelestarian Bangunan Gedung dari Lingkungan

443

4. Pengawasan

1. Pengawasan secara nasional terhadap pelaksanaan peraturan perundangundangan, pedoman, dan standar teknis bangunan gedung dan lingkungannya, serta gedung dan rumah negara.

1. Pengawasan secara regional terhadap pelaksanaan peraturan perundangundangan, pedoman dan standar teknis bangunan gedung dan lingkungannya gedung dan rumah negara.

1. Pengawasan terhadap pelaksanaan peraturan perundangundangan, pedoman dan standar teknis dalam penyelenggaraan bangunan gedung dan lingkungannya.

1

Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan

1

PER. 16/PRT/M/2010 Pedoman Teknis Pemeriksaan Berkala Bangunan Gedung;PER. 25/PRT/M/2007 Pedoman Sertifikat Laik Fungsi Bangunan Gedung

2. Pengawasan dan penertiban pembangunan dan pemanfaatan bangunan gedung fungsi khusus.

2. —

2. Pengawasan dan penertiban pembangunan, pemanfaatan, dan pembongkaran bangunan gedung.

1

Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan

1

PER. 29/PRT/M/2006 Pedoman Persyaratan Teknis Bangunan Gedung

444

3. Pengawasan dan penertiban pelestarian bangunan gedung dan lingkungan yangdilindungi dan dilestarikan yang berskala nasional atau internasional

3. Pengawasan dan penertiban pelestarian bangunan gedung dan lingkungan yang dilindungi dan dilestarikan yang berskala provinsi atau lintas kabupaten/kota.

3. Pengawasan dan penertiban pelestarian bangunan gedung dan lingkungan yang dilindungi dan dilestarikan yang berskala lokal.

1

Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan

1

PER. 24/PRT/M/2008 Pedoman Pemeliharaan dan Perawatan Bangunan Gedung

10. Jasa Konstruksi

1. Pengaturan

1. Penetapan dan penerapan kebijakan nasional pengembangan usaha, termasuk upaya mendorong kemitraan fungsional sinergis.

1. Pelaksanaan kebijakan pembinaan jasa konstruksi yang telah ditetapkan.

1. Pelaksanaan kebijakan pembinaan jasa konstruksi yang telah ditetapkan.

1

Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan

1

PER. 43/PRT/M/2007 Standar dan Pedoman Pengadaan Jasa Konstruksi

445

2. Fasilitasi untuk mendapatkan dukungan lembaga keuangan dalam memberikan prioritas pelayanan, kemudahan dan akses untuk memperoleh pendanaan.

2. —

2. —

1

Tidak membutuhkan NSPK. Hal ini dikarenakan urusan yang dibahas bersifat kedaerahan sehingga jika ditetapkan secara umum permasalahan yang bersifat khusus tidak dapat diselesaikan.

3. Penetapan dan penerapan kebijakan nasional pengembangan penyelenggaraan konstruksi.

3. —

3. —

1

Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan

1

NSPK tentang penetapan dan penerapan kebijakan nasional pengembangan penyelenggaraan konstruksi.

4. Fasilitasi untuk mendapatkan dukungan lembaga pertanggungan dalam memberikan prioritas, pelayanan, kemudahan dan akses untuk memperoleh jaminan pertanggungan resiko.

4. —

4. —

1

Tidak membutuhkan NSPK. Hal ini dikarenakan urusan yang dibahas bersifat kedaerahan sehingga jika ditetapkan secara umum permasalahan yang bersifat khusus tidak dapat diselesaikan.

446

5. Penetapan dan penerapan kebijakan nasional pengembangan keahlian dan teknik konstruksi.

5. —

5. —

1

Memerlukan NSPK. Jika tidak ditetapkan aturan umum terkait urusan ini dikhawatirkan akan menyebabkan kerancuan, keragaman dan pelanggaran dalam penetapan kebijakan pada tiap tingkat daerah.

1

KEP. 498/KPTS/M/2005 Pengesahan 15 Rancangan SNI dan 44 Pedoman Teknis Bidang Konstruksi dan Bangunan

6. Penetapan dan penerapan kebijakan nasional pengembangan SDM bidang konstruksi.

6. —

6. —

1

Memerlukan NSPK. Jika tidak ditetapkan aturan umum terkait urusan ini dikhawatirkan akan menyebabkan kerancuan, keragaman dan pelanggaran dalam penetapan kebijakan pada tiap tingkat daerah.

1

Draft Permen PU tentang Pedoman Penyelenggaraan Pembinaan Jasa Konstruksi

447

2. Pemberdayaan

1. Pemberdayaan Lembaga Pengembangan Jasa Konstruksi (LPJK) Nasional serta asosiasi badan usaha dan profesi tingkat nasional.

1. Pengembangan sistem informasi jasa konstruksi dalam wilayah provinsi yang bersangkutan.

1. Pengembangan sistem informasi jasa konstruksi dalam wilayah kabupaten/kota yang bersangkutan.

1

Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan.

1

KEP. 45/KPTS/M/2005 Pedoman Pemberdayaan Penanggung Jawab Teknik Badan Usaha Jasa Konstruksi Kualifikasi Kecil

2. Peningkatan kemampuan teknologi, sistem informasi, penelitian dan

2. Penelitian dan pengembangan jasa konstruksi dalam wilayah

2. Penelitian dan pengembangan jasa konstruksi dalam wilayah

1

Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan.

1

PER. 207/PRT/M/2005 Pedoman Pengadaan Jasa Konstruksi Pemerintah Secara Elektronik

pengembangan teknologi bidang konstruksi.

provinsi yang bersangkutan.

kabupaten/kota yang bersangkutan.

3. Pemberdayaan penerapan keahlian dan teknik konstruksi kepada LPJK nasional serta asosiasi profesi tingkat nasional.

3. Pengembangan sumber daya manusia bidang jasa konstruksi di tingkat provinsi.

3. Pengembangan sumber daya manusia bidang jasa konstruksi di tingkat kabupaten/kota.

1

Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan.

1

PER. 23/PRT/M/2009 Pedoman Fasilitasi Penyelenggaraan Forum Jasa Konstruksi

448

4. Perintisan penyelenggaraan pelatihan tenaga terampil konstruksi sebagai model.

4. Peningkatan kemampuan teknologi jasa konstruksi dalam wilayah provinsi yang bersangkutan.

4. Peningkatan kemampuan teknologi jasa konstruksi dalam wilayah kabupaten/kota yang bersangkutan

1

Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan.

1

NSPK tentang perintisan penyelenggaraan pelatihan tenaga terampil konstruksi sebagai model.

5. Fasilitasi proses sertifikasi tenaga terampil konstruksi.

5. Pelaksanaan pelatihan, bimbingan teknis dan penyuluhan dalam wilayah provinsi.

5. Melaksanakan pelatihan, bimbingan teknis dan penyuluhan dalam wilayah kabupaten/kota.

1

Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan.

1

PER. 10/PRT/M/2010 Tata Cara Pemilihan Pengurus, Masa Bakti, Tugas Pokok dan Fungsi, Serta Mekanisme Kerja Lembaga Pengembangan Jasa Konstruksi

449

6. —

6. Pelaksanaan pemberdayaan terhadap LPJK daerah dan asosiasi di provinsi yang bersangkutan.

6. Penerbitan perizinan usaha jasa konstruksi.

1

Tidak membutuhkan NSPK. Hal ini dikarenakan urusan yang dibahas bersifat kedaerahan sehingga jika ditetapkan secara umum permasalahan yang bersifat khusus tidak dapat diselesaikan.

3. Pengawasan

1. Pengawasan guna tertib usaha mengenai persyaratan perizinan dan ketentuan ketenagakerjaan.

1. Pengawasan tata lingkungan yang bersifat lintas kabupaten/kota.

1. Pengawasan tata lingkungan dalam wilayah kabupaten/kota yang bersangkutan.

1

Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan.

1

PER. 23/PRT/M/2009 Pedoman Fasilitasi Penyelenggaraan Forum Jasa Konstruksi

2. Pengawasan terhadap LPJKNasional serta asosiasi badan usaha dan profesi tingkat nasional.

2. Pengawasan sesuai kewenangannya untuk terpenuhinya tertib penyelenggaraan pekerjaan konstruksi.

2. Pengawasan sesuai kewenangannya untuk terpenuhinya tertib penyelenggaraan pekerjaan konstruksi.

1

Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan.

1

NSPK tentang pengawasan terhadap LPJK- Nasional serta asosiasi badan usaha dan profesi tingkat nasional.

450

3. Pengawasan guna tertib penyelenggaraan dan tertib pemanfaatan pekerjaan konstruksi (ketentuan keteknikan, K3, keselamatan umum,lingkunga n, tata ruang, tata bangunan dan ketentuan lainnya yang berkaitan dengan penyelenggaraan konstruksi).

3. Pengawasan terhadap LPJK daerah dan asosiasi di provinsi yang bersangkutan.

3. —

1

Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan.

1

PER. 09/PER/M/2008 Pedoman Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja Konstruksi Bidang Pekerjaan umum

Jumlah

134

7

57

51

26

134

4. BIDANG PERUMAHAN RAKYAT
SUB SUB BIDANG 1. Pembangunan Baru PEMERINTAHAN DAERAH PROVINS I 1. Penetapan kebijakan, strategi, dan program provinsi di bidang pembiayaan perumahan. PEMERINTAHAN DAERAH KABUPATEN/KOTA 1. Penetapan kebijakan, strategi, dan program kabupaten/kota di bidang pembiayaan perumahan. KEBUTUHAN NSPK (Y=YA, T=TIDAK) Y 1 T Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan. 1 STATUS NSPK KETERANGAN S1 S2 S3 NSPK tentang penetapan kebijakan, strategi, dan program nasional di bidang pembiayaan perumahan KETERANGAN

SUB BIDANG

PEMERINTAH

1. Pembiayaan

1. Penetapan kebijakan, strategi, dan program nasional di bidang pembiayaan perumahan.

451

2. Penyusunan norma, standar, pedoman, dan manual (NSPM) nasional bidang pembiayaan perumahan. 3. Pengembangan sistem pembiayaan dan instrumen pembiayaan.

2. Penyusunan NSPM provinsi bidang pembiayaan perumahan.

2. Penyusunan NSPM kabupaten/kota bidang pembiayaan perumahan.

1

Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan.

1

Peraturan Menteri Negara Perumahan Rakyat No 05/Permen/M/2008

3. Koordinasi penyelenggaraan dan mendorong terciptanya pengaturan instrumen pembiayaan dalam rangka penerapan sistem pembiayaan perumahan.

3. Pelaksanaan, penerapan dan penyesuaian pengaturan instrumen pembiayaan dalam rangka penerapan sistem pembiayaan.

1

Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan.

1

4. Fasilitasi bantuan teknis bidang pembiayaan perumahan kepada para pelaku di tingkat nasional. 5. Pemberdayaan pelaku pasar dan pasar perumahan di tingkat nasional. 6. Fasilitasi bantuan pembiayaan pembangunan dan pemilikan rumah serta penyelenggaraan rumah sewa.

4. Fasilitasi bantuan teknis bidang pembiayaan perumahan kepada para pelaku di tingkat provinsi.

4. Fasilitasi bantuan teknis bidang pembiayaan perumahan kepada para pelaku di tingkat kabupaten/kota.

1

Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan.

1

Peraturan Menteri Negara Perumahan Rakyat Nomor 02/PERMEN/ M/2008 tentang PERATURAN MENTERI NEGARA PERUMAHAN RAKYAT NOMOR : 34 /PERMEN/M/2006 TENTANG PEDOMAN UMUM PENYELENGGARAAN KETERPADUAN PRASARANA, SARANA DAN UTILITAS (PSU) KAWASAN PERUMAHAN Keputusan Menteri Permukiman dan Prasarana Wilayah Nomor. 403/KPTS/M/2002 tentang Pedoman Teknis Pembangunan Rumah

5. Pemberdayaan pelaku pasar dan pasar perumahan di tingkat provinsi.

5. Pemberdayaan pelaku pasar dan pasar perumahan di tingkat kabupaten/kota.

1

Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan. Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan.

1

NPSK tentang Pemberdayaan pelaku pasar dan pasar perumahan di tingkat nasional.

6. Fasilitasi bantuan pembiayaan pembangunan dan pemilikan rumah serta penyelenggaraan rumah sewa.

6. Fasilitasi bantuan pembiayaan pembangunan dan pemilikan rumah serta penyelenggaraan rumah sewa.

1

1

Keputusan Menteri Permukiman dan Prasarana Wilayah Nomor. 403/KPTS/M/2002 tentang TENTANG. PEDOMAN TEKNIS PEMBANGUNAN RUMAH SEDERHANA SEHAT (Rs SEHAT)

452

7. Pengendalian penyelenggaraan bidang pembiayaan perumahan di tingkat nasional.

7. Pengendalian penyelenggaraan bidang pembiayaan perumahan di tingkat provinsi.

7. Pengendalian penyelenggaraan bidang pembiayaan perumahan di tingkat kabupaten/kota.

1

Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan.

1

8. Melakukan evaluasi penyelenggaraan bidang pembiayaan perumahan di tingkat nasional.

8. Melakukan evaluasi penyelenggaraan bidang pembiayaan perumahan di tingkat provinsi.

8. Melakukan evaluasi penyelenggaraan bidang pembiayaan perumahan di tingkat kabupaten/kota.

1

Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan.

1

2. Perbaikan

1. Penetapan kebijakan, strategi, dan program nasional di bidang pembiayaan perumahan. 2. Penyusunan NSPM nasional bidang pembiayaan perumahan. 3. Pengembangan sistem pembiayaan dan instrumen pembiayaan.

1. Penetapan kebijakan, strategi, dan program provinsi di bidang pembiayaan perumahan 2. Penyusunan NSPM provinsi bidang pembiayaan perumahan.

1. Penetapan kebijakan, strategi, dan program kabupaten/kota di bidang pembiayaan perumahan.

1

Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan.

1

PERATURAN MENTERI NEGARA PERUMAHAN RAKYAT NOMOR : 34 /PERMEN/M/2006 TENTANG PEDOMAN UMUM PENYELENGGARAAN KETERPADUAN PRASARANA, SARANA DAN UTILITAS (PSU) KAWASAN PERUMAHAN Peraturan Menteri Negara Perumahan Rakyat Nomor 33/M/2008 tentang PERATURAN MENTERI NEGARA PERUMAHAN RAKYAT NOMOR : 17/PERMEN/M/2008 TENTANG STANDAR DAN PROSEDUR PELAKSANAAN SUBSIDI PERUMAHAN MELALUI KPR SARUSUNA SYARIAH BERSUBSIDI NSPK tentang Penetapan kebijakan, strategi, dan program nasional di bidang pembiayaan perumahan.

2. Penyusunan NSPM kabupaten/kota bidang pembiayaan perumahan.

1

Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan. Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan. 1

1

Peraturan Menteri Negara Perumahan Rakyat No 05/Permen/M/2008

3. Koordinasi penyelenggaraan dan mendorong terciptanya pengaturan instrumen pembiayaan dalam rangka penerapan

3. Pelaksanaan, penerapan dan penyesuaian pengaturan instrumen pembiayaan dalam rangka penerapan sistem pembiayaan.

1

NSPK tentang Pengembangan sistem pembiayaan dan instrumen pembiayaan.

453

sistem pembiayaan perumahan.

4. Fasilitasi bantuan teknis bidang pembiayaan perumahan kepada para pelaku di tingkat nasional. 5. Pemberdayaan pelaku pasar dan pasar perumahan di tingkat nasional. 6. Fasilitasi bantuan pembiayaan perbaikan/pemban gunan rumah swadaya milik. 7. Pengendalian penyelenggaraan bidang pembiayaan perumahan di tingkat nasional.

4. Fasilitasi bantuan teknis bidang pembiayaan perumahan kepada para pelaku di tingkat provinsi.

4. Fasilitasi bantuan bidang pembiayaan perumahan kepada para pelaku di tingkat kabupaten/kota.

1

Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan.

1

Keputusan Menteri Permukiman dan Prasarana Wilayah Nomor. 403/KPTS/M/2002 tentang Pedoman Teknis Pembangunan Rumah

5. Pemberdayaan pelaku pasar dan pasar perumahan di tingkat provinsi.

5. Pemberdayaan pelaku pasar dan pasar perumahan di tingkat kabupaten/kota.

1

Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan. Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan. Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan.

1

NPSK tentang Pemberdayaan pelaku pasar dan pasar perumahan di tingkat nasional.

6. Fasilitasi bantuan pembiayaan perbaikan/pembangu nan rumah swadaya milik. 7. Pengendalian penyelenggaraan bidang pembiayaan perumahan di tingkat provinsi.

6. Fasilitasi bantuan pembiayaan perbaikan/pembangunan rumah swadaya milik.

1

1

7. Pengendalian penyelenggaraan bidang pembiayaan perumahan di tingkat kabupaten/kota.

1

1

8. Melakukan evaluasi penyelenggaraan bidang pembiayaan perumahan di tingkat nasional.

8. Melakukan evaluasi penyelenggaraan bidang pembiyaan perumahan di tingkat provinsi.

8. Melakukan evaluasi penyelenggaraan bidang pembiayaan perumahan di tingkat kabupaten/kota.

1

Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan.

1

Keputusan Menteri Permukiman dan Prasarana Wilayah Nomor. 403/KPTS/M/2002 tentang Pedoman Teknis Pembangunan Rumah PERATURAN MENTERI NEGARA PERUMAHAN RAKYAT NOMOR : 34 /PERMEN/M/2006 TENTANG PEDOMAN UMUM PENYELENGGARAAN KETERPADUAN PRASARANA, SARANA DAN UTILITAS (PSU) KAWASAN PERUMAHAN Peraturan Menteri Negara Perumahan Rakyat Nomor 33/M/2008 tentang PERATURAN MENTERI NEGARA PERUMAHAN RAKYAT NOMOR : 17/PERMEN/M/2008 TENTANG STANDAR DAN

454

PROSEDUR PELAKSANAAN SUBSIDI PERUMAHAN MELALUI KPR SARUSUNA SYARIAH BERSUBSIDI

2. Pembinaan Pe rumahan Formal

1. Pembangunan Baru

1.a. Penyusunan dan penyempurnaan peraturan perundangundangan bidang perumahan.

b.—

2. Perumusan kebijakan dan strategi nasional pembangunan dan pengembangan perumahan. 3. Penyusunan pedoman efisiensi pasar dan industri perumahan.

1.a. Koordinasi masukan penyusu nan dan penyempurnaan peraturan perundangundangan bidang perumahan di kabupaten/kota. b.Koordinasi peninjauan kembali (review) kesesuaian dengan peraturan perundangundangan bidang perumahan di kabupaten/kota dengan peraturan perundangundangan terkait. 2. Koordinasi pelaksanaan kebijakan dan strategi nasional pembangunan dan pengembangan pada skala provinsi. 3. Koordinasi upaya efisensi pasar dan industri perumahan skala provinsi.

1.a. Memberikan masukan penyusunan dan penyempurnaan peraturan perundangundangan bidang perumahan.

1

Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan.

1

PERMENPERA NOMOR: 22/PERMEN/M/2008 TENTANG STANDAR PELAYANAN MINIMAL B IDANG PERUMAHAN RAKYAT DAERAH PROVINSI DAN DAERAH KABUPATEN/KOTA

b.Peninjauan kembali kesesuaian peraturan perundang-undangan bidang perumahan di kabupaten/kota dengan peraturan perundangundangan di atasnya.

1

Tidak membutuhkan NSPK. Hal ini dikarenakan urusan yang dibahas bersifat kedaerahan sehingga jika ditetapkan secara umum permasalahan yang bersifat khusus tidak dapat diselesaikan.

2. Pelaksanaan kebijakan dan strategi nasional pembangunan dan pengembangan pada skala kabupaten/kota.

1

Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan.

1

PERMENPERA NOMOR:04/PERMEN/M/20 06 TENTANG RENCANA STRATEGIS KEMENTERIAN NEGARA PERUMAHAN RAKYAT TAHUN 2005-2009. NSPK tentang efisiensi pasar dan industri perumahan

3. Pelaksanaan upaya efisiensi pasar dan industri perumahan skala kabupaten/kota.

1

Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan.

1

455

4. Sosialisasi peraturan perundangundangan, produk NSPM, serta kebijakan dan Strategi nasional perumahan.

4. Koordinasi pelaksanaan sosialisasi peraturan perundangundangan, produk NSPM, serta kebijakan dan strategi nasional perumahan skala provinsi.

4. Pelaksanaan peraturan perundangundangan, produk NSPM, serta kebijakan dan strategi nasional perumahan.

1

Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan.

1

5. Bantuan teknis penyelenggaraan perumahan (basis kawasan, lembaga pendampingan, kelompok masyarakat). 6. Fasilitasi terhadap badan usaha pembangunan perumahan, baik Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Badan Usaha Milik Daerah (BUMD), Koperasi, perorangan maupun swasta, yang bergerak di bidang usaha industri bahan bangunan,industri komponen bangunan, konsultan, kontraktor dan pengembang.

5. Koordinasi pelaksanaan bantuan teknis penyelenggaraan perumahan.

5. Pelaksanaan teknis penyelenggaraan perumahan.

1

Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan.

1

PERMENPERA NOMOR: 22/PERMEN/M/2008 PERMENPERA NOMOR: 22/PERMEN/M/2008 TENTANG STANDAR PELAYANAN MINIMAL B IDANG PERUMAHAN RAKYAT DAERAH PROVINSI DAN DAERAH KABUPATEN/KOTA, PERMENPERA NOMOR:04/PERMEN/M/20 06 TENTANG RENCANA STRATEGIS KEMENTERIAN NEGARA PERUMAHAN RAKYAT TAHUN 2005-2009. PERMENPERA NOMOR: 01/PERMEN/M/2009 TENTANG ACUAN PENYELENGGARAAN PENINGKATAN KUALITAS PERUMAHAN.

6. Pembinaan terhadap badan usaha pembangunan perumahan,baik BUMD, koperasi, perorangan maupun swasta, yang bergerak di bidang usaha industri bahan bangunan, industri komponen bangunan, konsultan, kontraktor dan pengembang.

6. Memanfaatkan badan usaha pembangunan perumahan, baik BUMN,BUMD, koperasi, perorangan maupun swasta, yang bergerak di bidang usaha industri bahan bangunan, industri komponen banguan, konsultan, kontraktor dan pengembang.

1

Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan.

1

PERMENPERA NOMOR: 33/PERMEN/M/2006 TENTANG PEDOMAN TATACARA PENUNJUKAN BADAN PENGELOLA KAWASAN SIAP BANGUN DAN PENYELENGGARA LINGKUNGAN SIAP BANGUN YANG BERDIRI SENDIRI

456

7. Penyusunan standar, pedoman dan manual (SPM) perencanaan, pembangunan dan pemeliharaan Prasarana, Sarana, Utilitas (PSU).

7. Penyusunan pedoman perencanaan, pembangunan dan pemeliharaan PSU lintas kabupaten/kota.

7. Penyusunan pedoman dan manual perencanaan, pembangunan dan pengelolaan PSU skala kabupaten/kota.

1

Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan.

1

8. Sosialisasi peraturan perundangundangan, produk SPM, serta kebijakan dan strategi nasional perumahan.

8. Koordinasi pelaksanaan sosialisasi peraturan perundangundangan, produk SPM, serta kebijakan dan strategi nasional perumahan dan provinsi bersangkutan.

8. Melaksanakan hasil sosialisasi.

1

Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan.

1

PERMENPERA NOMOR: 34/PERMEN/M/2006 TENTANG PEDOMAN UMUM PENYELENGGARAAN KETERPADUAN PRASARANA, SARANA DAN UTILITAS (PSU) KAWASAN PERUMAHAN, PERMENPERA NOMOR: 10/PERMEN/M/2007 TENTANG PEDOMAN BANTUAN STIMULAN PRASARANA, SARANA DAN UTILITAS UMUM (PSU) PERUMAHAN DAN PERMUKIMAN, PERMENPERA NOMOR: 02/PERMEN/M/2009 TENTANG TATA CARA PELAKSANAAN BANTUAN STIMULAN PRASARANA, SARANA DAN UTILITAS UMUM PERUMAHAN DAN PERMUKIMAN. PERMENPERA NOMOR: 22/PERMEN/M/2008 TENTANG STANDAR PELAYANAN MINIMAL BIDANG PERUMAHAN RAKYAT DAERAH PROVINSI DAN DAERAH KABUPATEN/KOTA

457

9. Fasilitasi peningkatan kapasitas penyelenggara dan pelaku pembangunan perumahan (pemerintah, swasta dan masyarakat). 10. Bantuan teknis penyelenggaraan perumahan (basis kawasan, lembaga pendampingan, kelompok masyarakat). 11. Pembinaan terhadap badan usaha pembangunan perumahan, baik BUMN, BUMD, Koperasi, perorangan maupun swasta, yang bergerak di bidang usaha industri bahan bangunan, industri komponen bangunan, konsultan, kontraktor dan pengembang tingkat nasional. 12. Fasilitasi pelaksanaan tindakan turun tangan dalam penyelenggaraan pembangunan perumahan dan PSU yang berdampak regional.

9. Koordinasi pelaksanaan peningkatan kapasitas penyelenggara dan pelaku pembangunan perumahan.

9. Pelaksanaan kegiatan melalui pelaku pembangunan perumahan.

1

Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan.

1

PERMENPERA NOMOR: 01/PERMEN/M/2009 TENTANG ACUAN PENYELENGGARAAN PENINGKATAN KUALITAS PERUMAHAN.

10. Koordinasi pelaksanaan bantuan teknis penyelenggaraan perumahan.

10. Penyelenggaraan perumahan sesuai teknik pembangunan.

1

Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan.

1

PERMENPERA NOMOR: 01/PERMEN/M/2009 TENTANG ACUAN PENYELENGGARAAN PENINGKATAN KUALITAS PERUMAHAN.

11. Pembinaan terhadap badan usaha pembangunan perumahan, baik BUMD, koperasi, perorangan maupun swasta, yang bergerak di bidang usaha industri bahan bangunan, industri komponen bangunan, konsultan, kontraktor dan pengembang di provinsi.

11. Pembinaan dan kerjasama dengan badan usaha pembangunan perumahan, baik BUMN,BUMD, koperasi, perorangan maupun swasta, yang bergerak di bidang usaha industri bahan bangunan, industri komponen bangunan, konsultan, kontraktor dan pengembang di kabupaten/kota.

1

Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan.

1

PERMENPERA NOMOR: 33/PERMEN/M/2006 TENTANG PEDOMAN TATACARA PENUNJUKAN BADAN PENGELOLA KAWASAN SIAP BANGUN DAN PENYELENGGARA LINGKUNGAN SIAP BANGUN YANG BERDIRI SENDIRI

12. Fasilitasi pelaksanaan tindakan turun tangan dalam penyelenggaraan pembangunan perumahan dan PSU yang berdampak lintas kabupaten/kota.

12. Fasilitasi pelaksanaan tindakan turun tangan dalam penyelenggaraan pembangunan perumahan dan PSU yang berdampak lokal.

1

Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan.

1

PERMENPERA NOMOR: 01/PERMEN/M/2009 TENTANG ACUAN PENYELENGGARAAN PENINGKATAN KUALITAS PERUMAHAN.

458

13. Perumusan Rencana Pembangunan Jangka Panjang (RPJP) dan Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) nasional.

13. Perumusan RPJP dan RPJM provinsi.

13. Perumusan RPJP dan RPJMkabupaten/kota.

1

Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan.

1

14. Fasilitasi percepatan pembangunan perumahan secara nasional. 15. Pengalokasian pendanaan pembangunan Rumah Susun Sewa (Rusunawa) dan Rumah Susun Milik (Rusunami) sebagai stimulan di perkotaan, perbatasan internasional, pusat kegiatan perdagangan/prod uksi.

14. Fasilitasi percepatan pembangunan perumahan skala provinsi. 15. Pelaksanaan pembangunan Rusunawa dan Rusunami sebagai stimulan di perkotaan, perbatasan internasional, pusat kegiatanperdaganga n/produksi dan fasilitasi pengelolaan, pemeliharaan kepada kabupaten/kota.

14. Fasilitasi percepatan pembangunan perumahan skala kabupaten/kota.

1

Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan. Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan.

1

PERMENPERA NOMOR: 02/PERMEN/M/2010 TENTANG RENCANA STRATEGIS KEMENTERIAN PERUMAHAN RAKYAT TAHUN 2010-2014, PERMENPERA NOMOR:04/PERMEN/M/20 06 TENTANG RENCANA STRATEGIS KEMENTERIAN NEGARA PERUMAHAN RAKYAT TAHUN 2005-2009. Nspk tentang fasilitasi percepatan pembangunan perumahan.

15. Pembangunan Rusunawa dan Rusunami lengkap dengan penyediaan tanah, PSU dan melakukan pengelolaan dan pemeliharaan diperkotaan, perbatasan internasional, pusat kegiatan, perdagangan/produksi.

1

1

PERMENPERA NOMOR: 14/PERMEN/M/2007 TENTANG PENGELOLAAN RUMAH SUSUN SEDERHANA SEWA, PERMENPERA NOMOR: 18/PERMEN/M/2007 TENTANG PETUNJUK PELAKSANAAN PERHITUNGAN TARIF SEWA RUMAH SUSUN SEDERHANA YANG DIB IAYAI APBN DAN APBD, PERMENPERA NOMOR: 09/PERMEN/M/2008 TENTANG PEDOMAN BANTUAN PEMBANGUNAN RUMAH SUSUN SEDERHANA SEWA PADA LEMBAGA PENDIDIKAN TINGGI DAN LEMBAGA PENDIDIKAN

459

BERASRAMA

16. Pengalokasian pendanaan pembangunan prasarana, sarana dan utilitas umum sebagai stimulan di RSH, rumah susun (Rusun) dan rumah khusus (Rusus).

16. Pelaksanaan pembangunan prasarana, sarana dan utilitas umum sebagai stimulan di RSH, Rusun, Rusus dan fasilitasi pengelolaan, pemeliharaan kepada kabupaten/kota.

16. Pembangunan prasarana, sarana dan utilitas umum sebagai stimulan di RSH, Rusun dan Rusus dengan melaksanakan pengelolaan dan pemeliharaan.

1

Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan.

1

PERMENPERA NOMOR: 10/PERMEN/M/2007 TENTANG PEDOMAN BANTUAN STIMULAN PRASARANA, SARANA DAN UTILITAS UMUM (PSU) PERUMAHAN DAN PERMUKIMAN, PERMENPERA NOMOR: 02/PERMEN/M/2009 TENTANG TATA CARA PELAKSANAAN BANTUAN STIMULAN PRASARANA, SARANA DAN UTILITAS UMUM PERUMAHAN DAN PERMUKIMAN, PERMENPERA NOMOR: 34/PERMEN/M/2006 TENTANG PEDOMAN UMUM PENYELENGGARAAN KETERPADUAN PRASARANA, SARANA DAN UTILITAS (PSU) KAWASAN PERUMAHAN

460

17. Pengalokasian pendanaan untuk pembangunan rumah contoh (RSH) sebagai stimulan pada daerah terpencil dan uji coba.

18. Pengalokasian pendanaan untuk pembangunan rumah untuk korban bencana dan khusus lainnya serta penyiapan depo pada daerah rawan bencana. 2. Perbaikan 1. Perumusan kebijakan dan strategi nasional pembangunan dan pengembangan perumahan. 2. Perumusan Standar, Prosedur dan Operasi (SPO) baku penanganan pengungsi akibat bencana nasional (alam maupun konflik sosial). 3. Perumusan kebijakan Public Service Obligation (PSO) perumahan.

17. Pelaksanaan pembangunan rumah contoh (RSH) sebagai stimulan pada daerah terpencil dan uji coba serta fasilitasi pengelolaan, pemeliharaan kepada kabupaten/kota. 18. Pembangunan rumah untuk korban bencana dan khusus lainnya serta pengelolaan depo dan pendistribusiannya.

17. Pembangunan rumah contoh (RSH) sebagai stimulan pada daerah terpencil dan uji coba serta fasilitasi pengelolaan, pemeliharaan kepada kabupaten/kota, penyediaan tanah, PSU umum. 18. Pelaksanaan pembangunan rumah untuk korban bencana dan khusus lainnya serta pengelolaan depo dan pendistribusian logistik penyediaan lahan, pengaturan, pemanfaatan seluruh bantuan. 1. Perumusan kebijakan dan strategi pembangunan dan pengembangan perumahan skala kabupaten/kota. 2. Pelaksanaan SPO baku penanganan pengungsi akibat bencana skala kabupaten/kota.

1

Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan.

1

NSPK tentang pengalokasian pendanaan untuk pembangunan rumah contoh (RSH) sebagai stimulan pada daerah terpencil dan uji coba.

1

Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan.

1

NSPK tentang pengalokasian pendanaan untuk pembangunan rumah untuk korban bencanan dan khsusu lainnya serta penyiapan depao dapa daerah rawan bencana.

1. Perumusan kebijakan dan strategi pembangunan dan pengembangan perumahan skala provinsi. 2. Perumusan SPO baku penanganan pengungsi akibat bencana skala provinsi.

1

Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan.

1

PERMENPERA NOMOR:04/PERMEN/M/20 06 TENTANG RENCANA STRATEGIS KEMENTERIAN NEGARA PERUMAHAN RAKYAT TAHUN 2005-2009 NSPK tentang SPO baku penanganan pengungsi akibat bencanan nasional.

1

Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan.

1

3. —

3. —

1

Tidak Memerlukan NSPK karena menjadi wewenang pusat.

461

4. Penyusunan SPM perumahan dan PSU pesisir dan pantai serta pulau kecil, khususnya di perbatasan internasional.

4. Penyusunan SPM perumahan dan PSU pesisir dan pantai serta pulau kecil, khususnya di perbatasan antar kabupaten/kota.

4. Pelaksanaan SPM perumahan dan PSU pesisir dan pantai serta pulau kecil, di kabupaten/kota.

1

Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan.

1

5. Penyusunan dan penyelenggaraan skema bantuan perumahan tidak susun, susun, khusus dan PSU.

5. Koordinasi penetapan sasaran penerima bantuan perumahan dan pengawasannya.

5. Pelaksanaan dan atau penerima bantuan perumahan.

1

Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan.

1

PERMENPERA NOMOR: 10/PERMEN/M/2007 TENTANG PEDOMAN BANTUAN STIMULAN PRASARANA, SARANA DAN UTILITAS UMUM (PSU) PERUMAHAN DAN PERMUKIMAN, PERMENPERA NOMOR: 02/PERMEN/M/2009 TENTANG TATA CARA PELAKSANAAN BANTUAN STIMULAN PRASARANA, SARANA DAN UTILITAS UMUM PERUMAHAN DAN PERMUKIMAN, PERMENPERA NOMOR: 34/PERMEN/M/2006 TENTANG PEDOMAN UMUM PENYELENGGARAAN KETERPADUAN PRASARANA, SARANA DAN UTILITAS (PSU) KAWASAN PERUMAHAN PERMENPERA NOMOR: 10/PERMEN/M/2007 TENTANG PEDOMAN BANTUAN STIMULAN PRASARANA, SARANA DAN UTILITAS UMUM (PSU) PERUMAHAN DAN PERMUKIMAN, PERMENPERA NOMOR: 02/PERMEN/M/2009 TENTANG TATA CARA PELAKSANAAN BANTUAN STIMULAN PRASARANA, SARANA DAN UTILITAS UMUM PERUMAHAN DAN

462

PERMUKIMAN, PERMENPERA NOMOR: 34/PERMEN/M/2006 TENTANG PEDOMAN UMUM PENYELENGGARAAN KETERPADUAN PRASARANA, SARANA DAN UTILITAS (PSU) KAWASAN PERUMAHAN

6. Penyusunan pedoman pengendalian harga sewa rumah (tidak susun, susun khusus). 7. Fasilitasi pembangunan perumahan untuk penampungan pengungsi.

6. Koordinasi pengendalian penetapan harga sewa rumah.

6. Penetapan harga sewa rumah.

1

Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan. Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan.

1

NSKP tentang pengendalian dan penetapan sewa rumah.

3. Pemanfaatan

1. Penyelenggaraan bantuan pembangunan dan kelembagaan perumahan melalui format anggaran khusus (dana dekonsenterasi, dana tugas pembantuan dan dana alokasi khusus).

7. Koordinasi usulan pembangunan perumahan untuk penampungan pengungsi lintas kabupaten/kota. 1. Koordinasi usulan penerima bantuan pembangunan dan kelembagaan perumahan di provinsi serta penyelenggaraan perumahan dengan dana dekonsentrasi.

7. Pelaksanaan pembangunan perumahan untuk penampungan pengungsi lintas kawasan sekabupaten/kota. 1. Pelaksanaan bantuan pembangunan dan kelembagaan serta penyelenggaraan perumahan dengan dana tugas pembantuan.

1

1

NSPK tentang fasilitasi pembangunan perumahan untuk penampungan pengungsi.

1

Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan.

1

PERMENPERA NOMOR: 03/PERMEN/M/2010 TENTANG PELIMPAHAN SEBAGIAN URUSAN KEMENTERIAN PERUMAHAN RAKYAT TAHUN 2010 MELALUI DEKONSENTRASI, PERMENPERA NOMOR: 04/PERMEN/M/2010 TENTANG PEDOMAN PELAKSANAAN DEKONSENTRASI LINGKUP KEMENTERIAN PERUMAHAN RAKYAT TAHUN 2010,.

463

2. Penyelenggaraan bantuan investasi rumah susun untuk masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) rumah khusus, rumah nelayan, perbatasan internasional dan pulau-pulau kecil.

2. Koordinasi penetapan penerima bantuan investasi rumah susun untuk MBR dan rumah khusus, rumah nelayan, perbatasan internasional dan pulau-pulau kecil.

2. Pelaksanaan pembangunan rumah susun untuk MBR dan rumah khusus, rumah nelayan, perbatasan internasional dan pulaupulau kecil.

1

Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan.

1

3. Penyelenggaraan bantuan pembangunan PSU. 4. Fasilitasi pembentukan kelembagaan perumahan skala nasional. 5. Pemantauan dan evaluasi pelaksanaan kebijakan dan strategi nasional pengembangan perumahan.

3. Koordinasi penetapan penerima bantuan PSU.

3. Pengelolaan PSU bantuan pusat.

1

Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan. Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan. Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan. 1

1

4. Fasilitasi pembentukan kelembagaan perumahan skala provinsi. 5. Pemantauan dan evaluasi pelaksanaan kebijakan dan strategi nasional pengembangan perumahan di

4. Pembentukan kelembagaan perumahan kabupaten/kota.

1

PERMENPERA NOMOR: 14/PERMEN/M/2007 TENTANG PENGELOLAAN RUMAH SUSUN SEDERHANA SEWA, PERMENPERA NOMOR: 18/PERMEN/M/2007 TENTANG PETUNJUK PELAKSANAAN PERHITUNGAN TARIF SEWA RUMAH SUSUN SEDERHANA YANG DIB IAYAI APBN DAN APBD, PERMENPERA NOMOR: 09/PERMEN/M/2008 TENTANG PEDOMAN BANTUAN PEMBANGUNAN RUMAH SUSUN SEDERHANA SEWA PADA LEMBAGA PENDIDIKAN TINGGI DAN LEMBAGA PENDIDIKAN BERASRAMA PERMENPERA NOMOR: 10/PERMEN/M/2007, PERMENPERA NOMOR: 02/PERMEN/M/2009, PERMENPERA NOMOR: 34/PERMEN/M/2006 NSPK tentang pembentukan kelembagaan perumahan.

5. Pengawasan dan pengendalian pelaksanaan kebijakan pembangunan dan pengelolaan perumahan.

1

1

PERMENPERA NOMOR: 02/PERMEN/M/2010 TENTANG RENCANA STRATEGIS KEMENTERIAN PERUMAHAN RAKYAT TAHUN 2010-2014,

464

provinsi.

PERMENPERA NOMOR:04/PERMEN/M/20 06

3. Pembinaan Pe rumahan Swadaya

1. Pembangunan Baru

6. Penyusunan SPM pembangunan, penghunian dan pengelolaan perumahan nasional (Rumah Tidak Susun, Rusun, dan Rusus). 7. Monitoring dan evaluasi terhadap penghunian dan pengelolaan rusun dan rusus penerima bantuan investasi. 1. Perumusan kebijakan dan strategi nasional tentang lembaga pendukung pembangunan perumahan, pendataan perumahan dan peningkatan kapasitas pelaku pembangunan perumahan swadaya.

6. Koordinasi penyusu nan pedoman pembangunan, penghunian dan pengelolaan perumahan lintas kabupaten/kota.

6. Penyusunan pedoman dan manual penghunian, dan pengelolaan perumahan setempat dengan acuan umum SPM nasional.

1

Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan.

1

PERMENPERA NOMOR: 22/PERMEN/M/2008, PERMENPERA NOMOR:04/PERMEN/M/20 06 TENTANG RENCANA STRATEGIS KEMENTERIAN NEGARA PERUMAHAN RAKYAT TAHUN 2005-2009 NSPK tentang penghunian dan pengelolaan rusun dan rusus penerima bantuan investasi.

7. Pengawasan langsung terhadap penghunian dan pengelolaan rusun dan rusus penerima bantuan investasi ke kabupaten/kota. 1. Perumusan kebijakan dan strategi provinsi tentang lembaga pendukung pembangunan perumahan, pendataan perumahan dan peningkatan kapasitas pelaku pembangunan perumahan swadaya.

7. Pengawasan dan pengendalian pengelolaan rusun dan rusus.

1

Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan.

1

1. Perumusan kebijakan dan strategi kabupaten/kota tentang lembaga pendukung pembangunan perumahan, pendataan perumahan dan peningkatan kapasitas pelaku pembangunan perumahan swadaya.

1

Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan.

1

PERMENPERA NOMOR: 08/PERMEN/M/2006 TENTANG PEDOMAN PELAKSANAAN PEMBERIAN STIMULAN UNTUK PERUMAHAN SWADAYA BAGI MASYARAKAT BERPENGHASILAN RENDAH MELALUI LEMBAGA KEUANGAN MIKRO / LEMBAGA KEUANGAN NON BANK

2. Penyusunan RPJP dan RPJM nasional tentang perumahan swadaya.

2. Penyusunan RPJP dan RPJM provinsi tentang perumahan swadaya.

2. Penyusunan RPJP dan RPJM kabupaten/kota tentang perumahan swadaya.

1

Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan.

1

Menteri Pekerjaan Umum Nomor 15/PRT/M/2009 tentang PEDOMAN PENYUSUNAN. RENCANA TATA RUANG WILAYAH PROVINSI.

465

3. Penyusunan NSPM pembangunan perumahan swadaya tingkat nasional.

3. Penyusunan NSPM pembangunan perumahan swadaya di provinsi.

3. Penyusunan NSPM pembangunan perumahan swadaya di kabupaten/kota.

1

Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan.

1

4. Koordinasi pelaksanaan kebijakan dan strategi nasional tentang lembaga pendukung pembangunan perumahan, pendataan perumahan dan peningkatan kapasitas pelaku pembangunan perumahan swadaya.

4. Koordinasi pelaksanaan kebijakan dan strategi provinsi tentang lembaga pendukung pembangunan perumahan, pendataan perumahan dan peningkatan kapasitas pelaku pembangunan perumahan swadaya.

4. Koordinasi pelaksanaan kebijakan dan strategi kabupaten/kota tentang lembaga pendukung pembangunan perumahan, pendataan perumahan dan peningkatan kapasitas pelaku pembangunan perumahan swadaya.

1

Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan.

1

Peraturan Menteri Negara Perumahan Rakyat No 05/Permen/M/2008 tentang Tentang Perubahan atas Permenpera Nomor 05PERMENM2007 tentang Pengadaan Perumahan dan Permukiman dengan Dukungan Fasilitas Subsidi Perumahan Melalui KPRS/KPRS Syariah Bersubsidi NSPK tentang Koordinasi pelaksanaan kebijakan dan strategi nasional tentang lembaga pendukung pembangunan perumahan, pendataan perumahan dan peningkatan kapasitas pelaku pembangunan perumahan swadaya.

5. Fasilitasi pelaksanaan kebijakan dan strategi nasional tentang lembaga pendukung pembangunan perumahan, pendataan perumahan dan peningkatan kapasitas pelaku pembangunan perumahan swadaya.

5. Fasilitasi pelaksanaan kebijakan dan strategi provinsi tentang lembaga pendukung pembangunan perumahan, pendataan perumahan dan peningkatan kapasitas pelaku pembangunan perumahan swadaya.

5. Fasilitasi pelaksanaan kebijakan dan strategi kabupaten/kota tentang lembaga pendukung pembangunan perumahan, pendataan perumahan dan peningkatan kapasitas pelaku pembangunan perumahan swadaya.

1

Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan.

1

NSPK tentang Fasilitasi pelaksanaan kebijakan dan strategi nasional tentang lembaga pendukung pembangunan perumahan, pendataan perumahan dan peningkatan kapasitas pelaku pembangunan perumahan swadaya.

466

6. Pengawasan dan pengendalian pelaksanaan kebijakan dan strategi nasional tentang lembaga pendukung pembangunan perumahan, pendataan perumahan dan peningkatan kapasitas pelaku pembangunan perumahan swadaya.

6. Pengawasan dan pengendalian pelaksanaan kebijakan dan strategi provinsi tentang lembaga pendukung pembangunan perumahan, pendataan perumahan dan peningkatan kapasitas pelaku pembangunan perumahan swadaya.

6. Pengawasan dan pengendalian pelaksanaan kebijakan dan strategi kabupaten/kota tentang lembaga pendukung pembangunan perumahan, pendataan perumahan dan peningkatan kapasitas pelaku pembangunan perumahan swadaya.

1

Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan.

1

NPSK tentang Pengawasan dan pengendalian pelaksanaan kebijakan dan strategi nasional tentang lembaga pendukung pembangunan perumahan, pendataan perumahan dan peningkatan kapasitas pelaku pembangunan perumahan swadaya.

7. Sosialisasi kebijakan strategi, program dan NSPM pembangunan perumahan swadaya di tingkat pusat.

7. Sosialisasi kebijakan strategi, program dan NSPM pembangunan perumahan swadaya di pusat.

7. Sosialisasi kebijakan strategi, program dan NSPM pembangunan perumahan swadaya di kabupaten/kota.

1

Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan.

1

8. Pengkajian kebijakan dan peraturan yang terkait dengan pembangunan perumahan swadaya.

8. Pengkajian kebijakan dan peraturan daerah provinsi yang terkait dengan pembangunan perumahan swadaya.

8. Pengkajian kebijakan dan peraturan daerah kabupaten/kota yang terkait dengan pembangunan perumahan swadaya.

1

Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan.

1

Peraturan Menteri Negara Perumahan Rakyat No 05/Permen/M/2008 tentang Tentang Perubahan atas Permenpera Nomor 05PERMENM2007 tentang Pengadaan Perumahan dan Permukiman dengan Dukungan Fasilitas Subsidi Perumahan Melalui KPRS/KPRS Syariah Bersubsidi PERUBAHAN ATAS PERATURAN MENTERI NEGARA PERUMAHAN RAKYAT NOMOR : 02/PERMEN/M/2005 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA KEMENTERIAN

467

2. Pemugaran

1. Perumusan kebijakan dan strategi nasional tentang lembaga pendukung pembangunan perumahan, pendataan perumahan dan peningkatan kapasitas pelaku pembangunan perumahan swadaya.

1. Perumusan kebijakan dan strategi provinsi tentang lembaga pendukung pembangunan perumahan, pendataan perumahan dan peningkatan kapasitas pelaku pembangunan perumahan swadaya.

1. Perumusan kebijakan dan strategi kabupaten/kota tentang lembaga pendukung pembangunan perumahan, pendataan perumahan dan peningkatan kapasitas pelaku pembangunan perumahan swadaya.

1

Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan.

1

2. Penyusunan RPJP dan RPJM nasional perumahan swadaya.

2. Penyusunan RPJP dan RPJM provinsi perumahan swadaya.

2. Penyusunan RPJP dan RPJM kabupaten/kota perumahan swadaya.

1

Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan.

1

PERMENPERA NOMOR: 06/PERMEN/M/2006 TENTANG PEMBANGUNAN/PERBAI KAN PERUMAHAN SWADAYA MELALUI KREDIT/PEMBIAYAAN MIKRO DENGAN DUKUNGAN FASILITAS SUBSIDI PERUMAHAN, PERMENPERA NOMOR: 07/PERMEN/M/2006 TENTANG DUKUNGAN PENJAMINAN KREDIT/PEMBIAYAAN UNTUK PEMBANGUNAN/PERBAI KAN PERUMAHAN SWADAYA MELALUI KREDIT/PEMBIAYAAN MIKRO, PERMENPERA NOMOR: 26/PERMEN/M/2006 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN MENTERI NEGARA PERUMAHAN RAKYAT NOMOR 07/PERMEN/M/2006 TENTANG DUKUNGAN PENJAMINAN KREDIT/PEMBIAYAAN UNTUK PEMBANGUNAN/PERBAI KAN PERUMAHAN SWADAYA MELALUI KREDIT/PEMBIAYAAN MIKRO Keputusan Menteri Keuangan Nomor 84/KMK.01/2006 TENTANG. RENCANA STRATEGIS DEPARTEMEN

468

KEUANGAN.

3. Penyusunan NSPM pembangunan perumahan swadaya tingkat nasional.

3. Penyusunan NSPM pembangunan perumahan swadaya di provinsi.

3. Penyusunan NSPM pembangunan perumahan swadaya di kabupaten/kota.

1

Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan.

1

4. Koordinasi pelaksanaan kebijakan dan strategi nasional tentang lembaga pendukung pembangunan perumahan, pendataan perumahan dan peningkatan kapasitas pelaku pembangunan perumahan swadaya.

4. Koordinasi pelaksanaan kebijakan dan strategi provinsi tentang lembaga pendukung pembangunan perumahan, pendataan perumahan dan peningkatan kapasitas pelaku pembangunan perumahan swadaya.

4. Koordinasi pelaksanaan kebijakan dan strategi kabupaten/kota tentang lembaga pendukung pembangunan perumahan, pendataan perumahan dan peningkatan kapasitas pelaku pembangunan perumahan swadaya.

1

Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan.

1

Peraturan Menteri Negara Perumahan Rakyat No 05/Permen/M/2008 tentang Tentang Perubahan atas Permenpera Nomor 05PERMENM2007 tentang Pengadaan Perumahan dan Permukiman dengan Dukungan Fasilitas Subsidi Perumahan Melalui KPRS/KPRS Syariah Bersubsidi NSPK tentang Koordinasi pelaksanaan kebijakan dan strategi nasional tentang lembaga pendukung pembangunan perumahan, pendataan perumahan dan peningkatan kapasitas pelaku pembangunan perumahan swadaya.

469

5. Fasilitasi pelaksanaan kebijakan dan strategi nasional tentang lembaga pendukung pembangunan perumahan, pendataan perumahan dan peningkatan kapasitas pelaku pembangunan perumahan swadaya.

5. Fasilitasi pelaksanaan kebijakan dan strategi provinsi tentang lembaga pendukung pembangunan perumahan, pendataan perumahan dan peningkatan kapasitas pelaku pembangunan perumahan swadaya.

5. Fasilitasi pelaksanaan kebijakan dan strategi Kabupaten/kota tentang lembaga pendukung pembangunan perumahan, pendataan perumahan dan peningkatan kapasitas pelaku pembangunan perumahan swadaya.

1

Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan.

1

NSPK tentang Fasilitasi pelaksanaan kebijakan dan strategi nasional tentang lembaga pendukung pembangunan perumahan, pendataan perumahan dan peningkatan kapasitas pelaku pembangunan perumahan swadaya.

6. Pengawasan dan pengendalian pelaksanaan kebijakan dan strategi nasional tentang lembaga pendukung pembangunan perumahan, pendataan perumahan dan peningkatan kapasitas pelaku pembangunan perumahan swadaya.

6. Pengawasan dan pengendalian pelaksanaan kebijakan dan strategi provinsi tentang lembagapendukung pembangunan perumahan, pendataan perumahan dan peningkatan kapasitas pelaku pembangunan perumahan swadaya.

6. Pengawasan dan pengendalian pelaksanaan kebijakan dan strategi kabupaten/kota tentang lembaga pendukung pembangunan perumahan, pendataan perumahan dan peningkatan kapasitas pelaku pembangunan perumahan swadaya.

1

Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan.

1

NSPK tentang Pengawasan dan pengendalian pelaksanaan kebijakan dan strategi nasional tentang lembaga pendukung pembangunan perumahan, pendataan perumahan dan peningkatan kapasitas pelaku pembangunan perumahan swadaya.

7. Sosialisasi kebijakan strategi, program dan NSPM pembangunan perumahan swadaya di tingkat pusat.

7. Sosialisasi kebijakan strategi, program dan NSPM pembangunan perumahan swadaya di tingkat provinsi.

7. Sosialisasi kebijakan strategi, program dan NSPM pembangunan perumahan swadaya di tingkat kabupaten/kota.

1

Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan.

1

Keputusan Menteri Pekerjaan Umum Nomor: 286/PRT/M/2005 tentang Organisasi dan Tata Kerja Departemen Pekerjaan Umum

470

8. Pengkajian kebijakan dan peraturan yang terkait dengan pembangunan perumahan swadaya. 3. Perbaikan 1. Perumusan kebijakan dan strategi nasional tentang lembaga pendukung pembangunan perumahan, pendataan perumahan dan peningkatan kapasitas pelaku pembangunan perumahan swadaya. 2. Penyusunan RPJP dan RPJM nasional perumahan swadaya. 3. Penyusunan NSPM pembangunan perumahan swadaya tingkat nasional.

8. Pengkajian kebijakan dan peraturan daerah provinsi yang terkait dengan pembangunan perumahan swadaya. 1. Perumusan kebijakan dan strategi provinsi tentang lembaga pendukung pembangunan perumahan, pendataan perumahan dan peningkatan kapasitas pelaku pembangunan perumahan swadaya. 2. Penyusunan RPJP dan RPJM provinsi perumahan swadaya.

8. Pengkajian kebijakan dan peraturan daerah kabupaten/kota yang terkait dengan pembangunan perumahan swadaya. 1. Perumusan kebijakan dan strategi kabupaten/kota tentang lembaga pendukung pembangunan perumahan, pendataan perumahan dan peningkatan kapasitas pelaku pembangunan perumahan swadaya.

1

Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan.

1

NSPK tentang Pengkajian kebijakan dan peraturan yang terkait dengan pembangunan perumahan swadaya.

1

Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan.

1

2. Penyusunan RPJP dan RPJM kabupaten/kota perumahan swadaya.

1

Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan. Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan.

1

3. Penyusunan NSPM pembangunan perumahan swadaya di provinsi.

3. Penyusunan NSPM pembangunan perumahan swadaya di kabupaten/kota.

1

1

PERMENPERA NOMOR: 06/PERMEN/M/2006 TENTANG PEMBANGUNAN/PERBAI KAN PERUMAHAN SWADAYA MELALUI KREDIT/PEMBIAYAAN MIKRO DENGAN DUKUNGAN FASILITAS SUBSIDI PERUMAHAN, PERMENPERA NOMOR: 07/PERMEN/M/2006 TENTANG DUKUNGAN PENJAMINAN KREDIT/PEMBIAYAAN UNTUK PEMBANGUNAN/PERBAI KAN PERUMAHAN SWADAYA MELALUI KREDIT/PEMBIAYAAN MIKRO, PERMENPERA NOMOR: 26/PERMEN/M/2006 TENTANG

471

4. Koordinasi pelaksanaan kebijakan dan strategi nasional tentang lembaga pendukung pembangunan perumahan, pendataan perumahan dan peningkatan kapasitas pelaku pembangunan perumahan swadaya.

4. Koordinasi pelaksanaan kebijakan dan strategi provinsi tentang lembaga pendukung pembangunan perumahan, pendataan perumahan dan peningkatan kapasitas pelaku pembangunan perumahan swadaya.

4. Koordinasi pelaksanaan kebijakan dan strategi kabupaten/kota tentang lembaga pendukung pembangunan perumahan, pendataan perumahan dan peningkatan kapasitas pelaku pembangunan perumahan swadaya.

1

Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan.

1

PERUBAHAN ATAS PERATURAN MENTERI NEGARA PERUMAHAN RAKYAT NOMOR 07/PERMEN/M/2006 TENTANG DUKUNGAN PENJAMINAN KREDIT/PEMBIAYAAN UNTUK PEMBANGUNAN/PERBAI KAN PERUMAHAN SWADAYA MELALUI KREDIT/PEMBIAYAAN MIKRO

5. Fasilitasi pelaksanaan kebijakan dan strategi nasional tentang lembaga pendukung pembangunan perumahan, pendataan perumahan dan peningkatan kapasitas pelaku pembangunan perumahan swadaya.

5. Fasilitasi pelaksanaan kebijakan dan strategi provinsi tentang lembaga pendukung pembangunan perumahan, pendataan perumahan dan peningkatan kapasitas pelaku pembangunan perumahan swadaya.

5. Fasilitasi pelaksanaan kebijakan dan strategi kabupaten/kota tentang lembaga pendukung pembangunan perumahan, pendataan perumahan dan peningkatan kapasitas pelaku pembangunan perumahan swadaya.

1

Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan.

1

472

6. Pengawasan dan pengendalian pelaksanaan kebijakan dan strategi nasional tentang lembaga pendukung pembangunan perumahan, pendataan perumahan dan peningkatan kapasitas pelaku pembangunan perumahan swadaya.

6. Pengawasan dan pengendalian pelaksanaan kebijakan dan strategi provinsi tentang lembaga pendukung pembangunanperum ahan, pendataan perumahan dan peningkatan kapasitas pelaku pembangunan perumahan swadaya.

6. Pengawasan dan pengendalian pelaksanaan kebijakan dan strategi kabupaten/kota tentang lembaga pendukung pembangunan perumahan, pendataan perumahan dan peningkatan kapasitas pelaku pembangunan perumahan swadaya.

1

Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan.

1

7. Sosialisasi kebijakan strategi, program dan NSPM pembangunan perumahan swadaya di tingkat pusat. 8. Pengkajian kebijakan dan peraturan yang terkait dengan pembangunan perumahan swadaya.

7. Sosialisasi kebijakan strategi, program dan NSPM pembangunan perumahan swadaya di provinsi.

7. Sosialisasi kebijakan strategi, program dan NSPM pembangunan perumahan swadaya di kabupaten/kota.

1

Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan.

1

8. Pengkajian kebijakan dan peraturan daerah provinsi yang terkait dengan pembangunan perumahan swadaya.

8. Pengkajian kebijakan dan peraturan daerah kabupaten/kota yang terkait dengan pembangunan perumahan swadaya.

1

Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan.

1

473

4. Perluasan

1. Perumusan kebijakan dan strategi nasional tentang lembaga pendukung pembangunan perumahan, pendataan perumahan dan peningkatan kapasitas pelaku pembangunan perumahan swadaya.

1. Perumusan kebijakan dan strategi provinsi tentang lembaga pendukung pembangunan perumahan, pendataan perumahan dan peningkatan kapasitas pelaku pembangunan perumahan swadaya.

1. Perumusan kebijakan dan strategi kabupaten/kota tentang lembaga pendukung pembangunan perumahan, pendataan perumahan dan peningkatan kapasitas pelaku pembangunan perumahan swadaya.

1

Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan.

1

2. Penyusunan RPJP dan RPJM nasional perumahan swadaya. 3. Penyusunan NSPM pembangunan perumahan swadaya tingkat nasional. 4. Koordinasi pelaksanaan kebijakan dan strategi nasional tentang lembaga pendukung pembangunan perumahan, pendataan perumahan dan peningkatan kapasitas pelaku pembangunan perumahan swadaya.

2. Penyusunan RPJP dan RPJM provinsi perumahan swadaya.

2. Penyusunan RPJP dan RPJM kabupaten/kota perumahan swadaya.

1

Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan. Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan. Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan.

1

3. Penyusunan NSPM pembangunan perumahan swadaya tingkat provinsi. 4. Koordinasi pelaksanaan kebijakan dan strategi provinsi tentang lembaga pendukung pembangunan perumahan, pendataan perumahan dan peningkatan kapasitas pelaku pembangunan perumahan swadaya.

3. Penyusunan NSPM pembangunan perumahan swadaya tingkat kabupaten/kota.

1

1

4. Koordinasi pelaksanaan kebijakan dan strategi kabupaten/kota tentang lembaga pendukung pembangunan perumahan, pendataan perumahan dan peningkatan kapasitas pelaku pembangunan perumahan swadaya.

1

1

PERMENPERA NOMOR: 06/PERMEN/M/2006 TENTANG PEMBANGUNAN/PERBAI KAN PERUMAHAN SWADAYA MELALUI KREDIT/PEMBIAYAAN MIKRO DENGAN DUKUNGAN FASILITAS SUBSIDI PERUMAHAN, PERMENPERA NOMOR: 07/PERMEN/M/2006 TENTANG DUKUNGAN PENJAMINAN KREDIT/PEMBIAYAAN UNTUK PEMBANGUNAN/PERBAI KAN PERUMAHAN SWADAYA MELALUI KREDIT/PEMBIAYAAN MIKRO, PERMENPERA NOMOR: 26/PERMEN/M/2006 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN MENTERI NEGARA PERUMAHAN RAKYAT NOMOR 07/PERMEN/M/2006 TENTANG DUKUNGAN PENJAMINAN KREDIT/PEMBIAYAAN UNTUK PEMBANGUNAN/PERBAI KAN PERUMAHAN SWADAYA MELALUI KREDIT/PEMBIAYAAN MIKRO

474

5. Fasilitasi pelaksanaan kebijakan dan strategi nasional tentang lembaga pendukung pembangunan perumahan, pendataan perumahan dan peningkatan kapasitas pelaku pembangunan perumahan swadaya.

5. Fasilitasi pelaksanaan kebijakan dan strategi provinsi tentang lembaga pendukung pembangunan perumahan, pendataan perumahan dan peningkatan kapasitas pelaku pembangunan perumahan swadaya.

5. Fasilitasi pelaksanaan kebijakan dan strategi kabupaten/kota tentang lembaga pendukung pembangunan perumahan, pendataan perumahan dan peningkatan kapasitas pelaku pembangunan perumahan swadaya.

1

Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan.

1

6. Pengawasan dan pengendalian pelaksanaan kebijakan dan strategi nasional tentang lembaga pendukung pembangunan perumahan, pendataan perumahan dan peningkatan kapasitas pelaku pembangunan perumahan swadaya.

6. Pengawasan dan pengendalian pelaksanaan kebijakan dan strategi provinsi tentang lembagaperumahan, pendataan perumahan dan peningkatan kapasitas pelaku pembangunan perumahan swadaya.

6. Pengawasan dan pengendalian pelaksanaan kebijakan dan strategi kabupaten/kota tentang lembaga pendukung pembangunan perumahan, pendataan perumahan dan peningkatan kapasitas pelaku pembangunan perumahan swadaya.

1

Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan.

1

7. Sosialisasi kebijakan strategi, program dan NSPM pembangunan perumahan swadaya di tingkat pusat.

7. Sosialisasi kebijakan strategi, program dan NSPM pembangunan perumahan swadaya di provinsi.

7. Sosialisasi kebijakan strategi, program dan NSPM pembangunan perumahan swadaya di kabupaten/kota.

1

Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan.

1

475

8. Pengkajian kebijakan dan peraturan yang terkait dengan pembangunan perumahan swadaya. 5. Pemeliharaan 1. Perumusan kebijakan dan strategi nasional tentang lembaga pendukung pembangunan perumahan, pendataan perumahan dan peningkatan kapasitas pelaku pembangunan perumahan swadaya.

8. Pengkajian kebijakan dan peraturan daerah provinsi yang terkait dengan pembangunan perumahan swadaya. 1. Perumusan kebijakan dan strategi provinsi tentang lembaga pendukung pembangunan perumahan, pendataan perumahan dan peningkatan kapasitas pelaku pembangunan perumahan swadaya.

8. Pengkajian kebijakan dan peraturan daerah kabupaten/kota yang terkait dengan pembangunan perumahan swadaya.

1

Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan.

1

1. Perumusan kebijakan dan strategi kabupaten/kota tentang lembaga pendukung pembangunan perumahan, pendataan perumahan dan peningkatan kapasitas pelaku pembangunan perumahan swadaya.

1

Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan.

1

2. Penyusunan RPJP dan RPJM nasional perumahan swadaya. 3. Penyusunan NSPM pembangunan perumahan swadaya tingkat nasional.

2. Penyusunan RPJP dan RPJM provinsi perumahan swadaya.

2. Penyusunan RPJP dan RPJM kabupaten/kota perumahan swadaya.

1

Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan. Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan.

1

3. Penyusunan NSPM pembangunan perumahan swadaya di provinsi.

3. Penyusunan NSPM pembangunan perumahan swadaya di kabupaten/kota.

1

1

PERMENPERA NOMOR: 06/PERMEN/M/2006 TENTANG PEMBANGUNAN/PERBAI KAN PERUMAHAN SWADAYA MELALUI KREDIT/PEMBIAYAAN MIKRO DENGAN DUKUNGAN FASILITAS SUBSIDI PERUMAHAN, PERMENPERA NOMOR: 07/PERMEN/M/2006 TENTANG DUKUNGAN PENJAMINAN KREDIT/PEMBIAYAAN UNTUK PEMBANGUNAN/PERBAI KAN PERUMAHAN SWADAYA MELALUI KREDIT/PEMBIAYAAN MIKRO, PERMENPERA NOMOR: 26/PERMEN/M/2006 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN MENTERI

476

4. Koordinasi pelaksanaan kebijakan dan strategi nasional tentang lembaga pendukung pembangunan perumahan, pendataan perumahan dan peningkatan kapasitas pelaku pembangunan perumahan swadaya.

4. Koordinasi pelaksanaan kebijakan dan strategi provinsi tentang lembaga pendukung pembangunan perumahan, pendataan perumahan dan peningkatan kapasitas pelaku pembangunan perumahan swadaya.

4. Koordinasi pelaksanaan kebijakan dan strategi kabupaten/kota tentang lembaga pendukung pembangunan perumahan, pendataan perumahan dan peningkatan kapasitas pelaku pembangunan perumahan swadaya.

1

Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan.

1

NEGARA PERUMAHAN RAKYAT NOMOR 07/PERMEN/M/2006 TENTANG DUKUNGAN PENJAMINAN KREDIT/PEMBIAYAAN UNTUK PEMBANGUNAN/PERBAI KAN PERUMAHAN SWADAYA MELALUI KREDIT/PEMBIAYAAN MIKRO

5. Fasilitasi pelaksanaan kebijakan dan strategi nasional tentang lembaga pendukung pembangunan perumahan, pendataan perumahan dan peningkatan kapasitas pelaku pembangunan perumahan swadaya.

5. Fasilitasi pelaksanaan kebijakan dan strategi provinsi tentang lembaga pendukung pembangunan perumahan, pendataan perumahan dan peningkatan kapasitas pelaku pembangunan perumahan swadaya.

5. Fasilitasi pelaksanaan kebijakan dan strategi kabupaten/kota tentang lembaga pendukung pembangunan perumahan, pendataan perumahan dan peningkatan kapasitas pelaku pembangunan perumahan swadaya.

1

Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan.

1

477

6. Pengawasan dan pengendalian pelaksanaan kebijakan dan strategi nasional tentang lembaga pendukung pembangunan perumahan, pendataan perumahan dan peningkatan kapasitas pelaku pembangunan perumahan swadaya.

6. Pengawasan dan pengendalian pelaksanaan kebijakan dan strategi provinsi tentang lembaga pendukung pembangunan perumahan, pendataan perumahan dan peningkatan kapasitas pelaku pembangunan perumahan swadaya.

6. Pengawasan dan pengendalian pelaksanaan kebijakan dan strategi kabupaten/kota tentang lembaga pendukung pembangunan perumahan, pendataan perumahan dan peningkatan kapasitas pelaku pembangunan perumahan swadaya.

1

Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan.

1

7. Sosialisasi kebijakan strategi, program dan NSPM pembangunan perumahan swadaya di tingkat pusat. 8. Pengkajian kebijakan dan peraturan yang terkait dengan pembangunan perumahan swadaya.

7. Sosialisasi kebijakan strategi, program dan NSPM pembangunan perumahan swadaya di provinsi.

7. Sosialisasi kebijakan strategi, program dan NSPM pembangunan perumahan swadaya di kabupaten/kota.

1

Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan.

1

8. Pengkajian kebijakan dan peraturan daerah provinsi yang terkait dengan pembangunan perumahan swadaya.

8. Pengkajian kebijakan dan peraturan daerah kabupaten/kota yang terkait dengan pembangunan perumahan swadaya.

1

Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan.

1

478

6. Pemanfaatan

1. Perumusan kebijakan dan strategi nasional tentang lembaga pendukung pembangunan perumahan, pendataan perumahan dan peningkatan kapasitas pelaku pembangunan perumahan swadaya.

1. Perumusan kebijakan dan strategi provinsi tentang lembaga pendukung pembangunan perumahan, pendataan perumahan dan peningkatan kapasitas pelaku pembangunan perumahan swadaya.

1. Perumusan kebijakan dan strategi kabupaten/kota tentang lembaga pendukung pembangunan perumahan, pendataan perumahan dan peningkatan kapasitas pelaku pembangunan perumahan swadaya.

1

Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan.

1

2. Penyusunan RPJP dan RPJM nasional perumahan swadaya. 3. Penyusunan NSPM pembangunan perumahan swadaya tingkat nasional. 4. Koordinasi pelaksanaan kebijakan dan strategi nasional tentang lembaga pendukung pembangunan perumahan, pendataan perumahan dan peningkatan kapasitas pelaku pembangunan perumahan swadaya.

2. Penyusunan RPJP dan RPJM provinsi perumahan swadaya.

2. Penyusunan RPJP dan RPJM kabupaten/kota perumahan swadaya.

1

Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan. Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan. Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan.

1

3. Penyusunan NSPM pembangunan perumahan swadaya di provinsi. 4. Koordinasi pelaksanaan kebijakan dan strategi provinsi tentang lembaga pendukung pembangunan perumahan, pendataan perumahan dan peningkatan kapasitas pelaku pembangunan perumahan swadaya.

3. Penyusunan NSPM pembangunan perumahan swadaya di kabupaten/kota.

1

1

4. Koordinasi pelaksanaan kebijakan dan strategi kabupaten/kota tentang lembaga pendukung pembangunan perumahan, pendataan perumahan dan peningkatan kapasitas pelaku pembangunan perumahan swadaya.

1

1

PERMENPERA NOMOR: 06/PERMEN/M/2006 TENTANG PEMBANGUNAN/PERBAI KAN PERUMAHAN SWADAYA MELALUI KREDIT/PEMBIAYAAN MIKRO DENGAN DUKUNGAN FASILITAS SUBSIDI PERUMAHAN, PERMENPERA NOMOR: 07/PERMEN/M/2006 TENTANG DUKUNGAN PENJAMINAN KREDIT/PEMBIAYAAN UNTUK PEMBANGUNAN/PERBAI KAN PERUMAHAN SWADAYA MELALUI KREDIT/PEMBIAYAAN MIKRO, PERMENPERA NOMOR: 26/PERMEN/M/2006 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN MENTERI NEGARA PERUMAHAN RAKYAT NOMOR 07/PERMEN/M/2006 TENTANG DUKUNGAN PENJAMINAN KREDIT/PEMBIAYAAN UNTUK PEMBANGUNAN/PERBAI KAN PERUMAHAN SWADAYA MELALUI KREDIT/PEMBIAYAAN MIKRO

479

5. Fasilitasi pelaksanaan kebijakan dan strategi nasional tentang lembaga pendukung pembangunan perumahan, pendataan perumahan dan peningkatan kapasitas pelaku pembangunan perumahan swadaya.

5. Fasilitasi pelaksanaan kebijakan dan strategi provinsi tentang lembaga pendukung pembangunan perumahan, pendataan perumahan dan peningkatan kapasitas pelaku pembangunan perumahan swadaya.

5. Fasilitasi pelaksanaan kebijakan dan strategi kabupaten/kota tentang lembaga pendukung pembangunan perumahan, pendataan perumahan dan peningkatan kapasitas pelaku pembangunan perumahan swadaya.

1

Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan.

1

6. Pengawasan dan pengendalian pelaksanaan kebijakan dan strategi nasional tentang lembaga pendukung pembangunan perumahan, pendataan perumahan dan peningkatan kapasitas pelaku pembangunan perumahan swadaya.

6. Pengawasan dan pengendalian pelaksanaan kebijakan dan strategi provinsi tentang lembaga pendukung pembangunan perumahan, pendataan perumahan dan peningkatan kapasitas pelaku pembangunan perumahan swadaya.

6. Pengawasan dan pengendalian pelaksanaan kebijakan dan strategi kabupaten/kota tentang lembaga pendukung pembangunan perumahan, pendataan perumahan dan peningkatan kapasitas pelaku pembangunan perumahan swadaya.

1

Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan.

1

7. Sosialisasi kebijakan strategi, program dan NSPM pembangunan perumahan swadaya di tingkat pusat.

7. Sosialisasi kebijakan strategi, program dan NSPM pembangunan perumahan swadaya di provinsi.

7. Sosialisasi kebijakan strategi, program dan NSPM pembangunan perumahan swadaya di kabupaten/kota.

1

Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan.

1

480

8. Pengkajian kebijakan dan peraturan yang terkait dengan pembangunan perumahan swadaya. 4. Pe ngembangan Kawasan 1. Sistem Pengembangan Kawasan 1. Penetapan kebijakan dan strategi nasional dan NSPM dalam pengembangan kawasan. 2. Penyusunan Rencana Nasional dalam Pembangunan dan Pengembangan Perumahan dan Permukiman (RP4- Nasional). 3. Pembinaan teknis penyusunan RP4D.

8. Pengkajian kebijakan dan peraturan daerah provinsi yang terkait dengan pembangunan perumahan swadaya. 1. Penetapan kebijakan dan strategi provinsi dalam pengembangan kawasan. 2. Penyusunan Rencana Provinsi dalam Pembangunan Dan Pengembangan Perumahan dan Permukiman Daerah (RP4D-Provinsi).

8. Pengkajian kebijakan dan peraturan daerah kabupaten/kota yang terkait dengan pembangunan perumahan swadaya. 1. Penetapan kebijakan dan strategi kabupaten/kota dalam pengembangan kawasan.

1

Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan.

1

1

Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan.

1

2. Penyusunan Rencana Kabupaten/Kota dalam Pembangunan dan Pengembangan Perumahan dan Permukiman Daerah (RP4DKabupaten/Kota). 3. Pembinaan teknis penyusu nan RP4D di wilayahnya.

1

Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan.

1

3. Pembinaan teknis penyusunan RP4D di wilayahnya.

1

Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan. Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan. Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan.

1

4. Fasilitasi dan bantuan teknis penyusunan RP4D.

4. Fasilitasi dan bantuan teknis penyusu nan RP4D di wilayahnya.

4. Penyusunan RP4D di wilayahnya.

1

1

5. Monitoring dan evaluasi pelaksanaan kebijakan dan strategi nasional pengembangan kawasan dan RP4D.

5. Monitoring dan evaluasi pelaksanaan kebijakan dan strategi pengembangan kawasan dan RP4D skala provinsi.

5. Monitoring dan evaluasi pelaksanaan kebijakan dan strategi pengembangan kawasan dan RP4D di skala kabupaten/kota.

1

1

PERMENPERA NOMOR: 14/PERMEN/M/ 2006 TENTANG PENYELENGGARAAN PERUMAHAN KAWASAN KHUSUS, PERMENPERA NOMOR: 15/PERMEN/M/2006 TENTANG PETUNJUK PELAKSANAAN PENYELENGGARAAN PENGEMBANGAN KAWASAN NELAYAN, PERMENPERA NOMOR: 16/PERMEN/M/2006 TENTANG PETUNJUK PELAKSANAAN PENYELENGGARAAN PENGEMBANGAN PERUMAHAN KAWASAN INDUSTRI, PERMENPERA NOMOR: 17/PERMEN/M/2006 TENTANG PETUNJUK PELAKSANAAN PENYELENGGARAAN PENGEMBANGAN PERUMAHAN KAWASAN PERBATASAN, PERMENPERA NOMOR: 32/PERMEN/M/2006 TENTANG PETUNJUK TEKNIS

481

6. Pengendalian pelaksanaan kebijakan dan strategi nasional dalam pengembangan kawasan dan penyusunan RP4D. 2. Kawasan SkalaBesar 1. Penetapan kebijakan dan strategi nasional dan NSPM dalam penyelenggaraan pembangunan dan pengelolaan kawasan skala besar. 2. Pembinaan teknis pelaksanaan penyelenggaraan pembangunan dan pengelolaan kawasan skala besar. 3. Fasilitasi, bantuan teknis dan bantuan stimulan pelaksanaan penyelenggaraan pembangunan dan pengelolaan kawasan skala besar. 4. Monitoring dan evaluasi pelaksanaan kebijakan dan strategi nasional dalam penyelenggaraan pembangunan dan pengelolaan kawasan skala besar.

6. Pengendalian pelaksanaan kebijakan dan strategi pengembangan kawasan dan RP4D di wilayahnya.

6. Pengendalian pelaksanaan kebijakan dan strategi pengembangan kawasan dan RP4D di wilayahnya.

1

Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan.

1

1. Penetapan kebijakan dan strategi provinsi dalam penyelenggaraan pembangunan dan pengelolaan kawasan skala besar. 2. Pembinaan teknis pelaksanaan penyelenggaraan pembangunan dan pengelolaan kawasan skala besar di wilayahnya. 3. Fasilitasi, bantuan teknis dan bantuan stimulan pelaksanaan penyelenggaraan pembangunan dan pengelolaan kawasan skala besar di wilayahnya. 4. Monitoring dan evaluasi pelaksanaan penyelenggaraan pembangunan dan pengelolaan kawasan skala besar di wilayahnya.

1. Penetapan kebijakan dan strategi kabupaten/kota dalam penyelenggaraan pembangunan dan pengelolaan kawasan skala besar.

1

Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan.

1

2. Pembinaan teknis pelaksanaan penyelenggaraan pembangunan dan pengelolaan kawasan skala besar di wilayahnya. 3. Pelaksanaan penyelenggaraan pembangunan dan pengelolaan kawasan skala besar di wilayahnya.

1

Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan.

1

KAWASAN SIAP BANGUN DAN LINGKUNGAN SIAP BANGUN YANG BERDIRI SENDIRI, PERMENPERA NOMOR: 33/PERMEN/M/2006 TENTANG PEDOMAN TATACARA PENUNJUKAN BADAN PENGELOLA KAWASAN SIAP BANGUN DAN PENYELENGGARA LINGKUNGAN SIAP BANGUN YANG BERDIRI SENDIRI, PERMENPERA NOMOR: 34/PERMEN/M/2006 TENTANG PEDOMAN UMUM PENYELENGGARAAN KETERPADUAN PRASARANA, SARANA DAN UTILITAS (PSU) KAWASAN PERUMAHAN.

1

Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan.

1

4. Monitoring dan evaluasi pelaksanaan penyelenggaraan pembangunan dan pengelolaan kawasan skala besar di wilayahnya.

1

Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan.

1

482

5. Pengendalian pelaksanaan kebijakan dan strategi nasional dalam penyelenggaraan pembangunan dan pengelolaan kawasan skala besar. 3. Kawasan Khusus 1. Penetapan kebijakan dan strategi nasional dan NSPM dalam penyelenggaraan pembangunan dan pengelolaan kawasan khusus. 2. Pembinaan teknis pelaksanaan penyelenggaraan pembangunan dan pengelolaan kawasan khusus. 3. Fasilitasi, bantuan teknis dan bantuan stimulan pelaksanaan penyelenggaraan pembangunan dan pengelolaan kawasan khusus.

5. Pengendalian pelaksanaan penyelenggaraan pembangunan dan pengelolaan kawasan khusus di wilayahnya.

5. Pengendalian pelaksanaan penyelenggaraan pembangunan dan pengelolaan kawasan skala besar di wilayahnya.

1

Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan.

1

1. Penetapan kebijakan dan strategi provinsi dalam penyelenggaraan pembangunan dan pengelolaan kawasan khusus. 2. Pembinaan teknis pelaksanaan penyelenggaraan pembangunan dan pengelolaan kawasan skala khusus di wilayahnya. 3. Fasilitasi, bantuan teknis dan bantuan stimulan pelaksanaan penyelenggaraan pembangunan dan pengelolaan kawasan khusus di wilayahnya.

1. Penetapan kebijakan dan strategi kabupaten/kota dalam penyelenggaraan pembangunan dan pengelolaan kawasan khusus.

1

Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan.

1

2. Pembinaan teknis pelaksanaan penyelenggaraan pembangunan dan pengelolaan kawasan skala besar di wilayahnya. 3. Pelaksanaan penyelenggaraan pembangunan dan pengelolaan kawasan khusus di wilayahnya.

1

Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan.

1

1

Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan.

1

PERMENPERA NOMOR: 14/PERMEN/M/ 2006 TENTANG PENYELENGGARAAN PERUMAHAN KAWASAN KHUSUS, PERMENPERA NOMOR: 15/PERMEN/M/2006 TENTANG PETUNJUK PELAKSANAAN PENYELENGGARAAN PENGEMBANGAN KAWASAN NELAYAN, PERMENPERA NOMOR: 16/PERMEN/M/2006 TENTANG PETUNJUK PELAKSANAAN PENYELENGGARAAN PENGEMBANGAN PERUMAHAN KAWASAN INDUSTRI, PERMENPERA NOMOR: 17/PERMEN/M/2006 TENTANG PETUNJUK

483

4. Monitoring dan evaluasi pelaksanaan kebijakan dan strategi nasional dalam penyelenggaraan pembangunan dan pengelolaan kawasan khusus. 5. Pengendalian pelaksanaan kebijakan dan strategi nasional dalam penyelenggaraan pembangunan dan pengelolaan kawasan khusus.

4. Monitoring dan evaluasi pelaksanaan penyelenggaraan pembangunan dan pengelolaan kawasan khusus di wilayahnya.

4. Monitoring dan evaluasi pelaksanaan penyelenggaraan pembangunan dan pengelolaan kawasan khusus di wilayahnya.

1

Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan.

1

5. Pengendalian pelaksanaan penyelenggaraan pembangunan dan pengelolaan kawasan khusus di wilayahnya.

5. Pengendalian pelaksanaan penyelenggaraan pembangunan dan pengelolaan kawasan khusus di wilayahnya.

1

Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan.

1

4. Keterpaduan Prasarana Kawasan

1. Penetapan kebijakan dan strategi nasional dan NSPM dalam penyelenggaraan keterpaduan prasarana kawasan.

1. Penetapan kebijakan dan strategi provinsi dalam penyelenggaraan keterpaduan prasarana kawasan.

1. Penetapan kebijakan dan strategi kabupaten/Kota dalam penyelenggaraan keterpaduan prasarana kawasan.

1

Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan.

1

PELAKSANAAN PENYELENGGARAAN PENGEMBANGAN PERUMAHAN KAWASAN PERBATASAN, PERMENPERA NOMOR: 32/PERMEN/M/2006 TENTANG PETUNJUK TEKNIS KAWASAN SIAP BANGUN DAN LINGKUNGAN SIAP BANGUN YANG BERDIRI SENDIRI, PERMENPERA NOMOR: 33/PERMEN/M/2006 TENTANG PEDOMAN TATACARA PENUNJUKAN BADAN PENGELOLA KAWASAN SIAP BANGUN DAN PENYELENGGARA LINGKUNGAN SIAP BANGUN YANG BERDIRI SENDIRI, PERMENPERA NOMOR: 34/PERMEN/M/2006 TENTANG PEDOMAN UMUM PENYELENGGARAAN KETERPADUAN PRASARANA, SARANA DAN UTILITAS (PSU) KAWASAN PERUMAHAN. PERMENPERA NOMOR: 14/PERMEN/M/ 2006 TENTANG PENYELENGGARAAN PERUMAHAN KAWASAN KHUSUS, PERMENPERA NOMOR: 34/PERMEN/M/2006

484

2. Pembinaan teknis pelaksanaan penyelenggaraan keterpaduan prasarana kawasan. 3. Fasilitasi dan bantuan teknis pelaksanaan penyelenggaraan keterpaduan prasarana kawasan. 4. Monitoring dan evaluasi pelaksanaan penyelenggaraan keterpaduan prasarana kawasan. 5. Pengendalian pelaksanaan kebijakan dan strategi nasional dalam penyelenggaraan keterpaduan prasarana kawasan. 5. Keserasian Kawasan 1. Penetapan kebijakan dan strategi nasional dan NSPM dalam penyelenggaraan keserasian kawasan dan lingkungan hunian berimbang. 2. Pembinaan teknis pelaksanaan penyelenggaraan keserasian kawasan dan lingkungan

2. Pembinaan teknis pelaksanaan penyelenggaraan keterpaduan prasarana kawasan di wilayahnya. 3. Fasilitasi dan bantuan teknis pelaksanaan penyelenggaraan keterpaduan prasarana kawasan di wilayahnya. 4. Monitoring dan evaluasi pelaksanaan penyelenggaraan keterpaduan prasarana kawasan di wilayahnya. 5. Pengendalian pelaksanaan penyelenggaraan keterpaduan prasarana kawasan di wilayahnya.

2. Pembinaan teknis pelaksanaan penyelenggaraan keterpaduan prasarana kawasan di wilayahnya.

1

Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan.

1

TENTANG PEDOMAN UMUM PENYELENGGARAAN KETERPADUAN PRASARANA, SARANA DAN UTILITAS (PSU) KAWASAN PERUMAHAN.

3. Pelaksanaan penyelenggaraan keterpaduan prasarana kawasan di wilayahnya.

1

Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan.

1

4. Monitoring dan evaluasi pelaksanaan penyelenggaraan keterpaduan prasarana kawasan di wilayahnya.

1

Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan.

1

5. Pengendalian pelaksanaan penyelenggaraan keterpaduan prasarana kawasan di wilayahnya.

1

Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan.

1

1. Penetapan kebijakan dan strategi provinsi dalam penyelenggaraan keserasian kawasan dan lingkungan hunian berimbang. 2. Pembinaan teknis pelaksanaan penyelenggaraan keserasian kawasan dan lingkungan hunian berimbang di wilayahnya.

1. Penetapan kebijakan dan strategi kabupaten/kota dalam penyelenggaraan keserasian kawasan dan lingkungan hunian berimbang.

1

Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan.

1

2. Pembinaan teknis pelaksanaan penyelenggaraan keserasian kawasan dan lingkungan hunian berimbang di wilayahnya.

1

Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan.

1

PERMENPERA NOMOR: 14/PERMEN/M/ 2006 TENTANG PENYELENGGARAAN PERUMAHAN KAWASAN KHUSUS, PERMENPERA NOMOR: 15/PERMEN/M/2006 TENTANG PETUNJUK PELAKSANAAN PENYELENGGARAAN PENGEMBANGAN KAWASAN NELAYAN, PERMENPERA NOMOR: 16/PERMEN/M/2006 TENTANG

485

hunian berimbang.

3. Fasilitasi dan bantuan teknis pelaksanaan penyelenggaraan keserasian kawasan dan lingkungan hunian berimbang. 4. Monitoring dan evaluasi pelaksanaan kebijakan dan strategi nasional dalam penyelenggaraan keserasian kawasan dan lingkungan hunian berimbang. 5. Pengendalian pelaksanaan kebijakan dan strategi nasional dalam penyelenggaraan keserasian kawasan dan lingkungan hunian berimbang.

3. Fasilitasi dan bantuan teknis pelaksanaan penyelenggaraan keserasian kawasan dan lingkungan hunian berimbang di wilayahnya. 4. Monitoring dan evaluasi pelaksanaan penyelenggaraan keserasian kawasan dan lingkungan hunian berimbang di wilayahnya.

3. Pelaksanaan penyelenggaraan keserasian kawasan dan lingkungan hunian berimbang di wilayahnya.

1

Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan.

1

4. Monitoring dan evaluasi pelaksanaan penyelenggaraan keserasian kawasan dan lingkungan hunian berimbang di wilayahnya.

1

Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan.

1

5. Pengendalian pelaksanaan penyelenggaraan keserasian kawasan dan lingkungan hunian berimbang di wilayahnya.

5. Pengendalian pelaksanaan penyelenggaraan keserasian kawasan dan lingkungan hunian berimbang di wilayahnya.

1

Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan.

1

PETUNJUK PELAKSANAAN PENYELENGGARAAN PENGEMBANGAN PERUMAHAN KAWASAN INDUSTRI, PERMENPERA NOMOR: 17/PERMEN/M/2006 TENTANG PETUNJUK PELAKSANAAN PENYELENGGARAAN PENGEMBANGAN PERUMAHAN KAWASAN PERBATASAN, PERMENPERA NOMOR: 32/PERMEN/M/2006 TENTANG PETUNJUK TEKNIS KAWASAN SIAP BANGUN DAN LINGKUNGAN SIAP BANGUN YANG BERDIRI SENDIRI, PERMENPERA NOMOR: 33/PERMEN/M/2006 TENTANG PEDOMAN TATACARA PENUNJUKAN BADAN PENGELOLA KAWASAN SIAP BANGUN DAN PENYELENGGARA LINGKUNGAN SIAP BANGUN YANG BERDIRI SENDIRI, PERMENPERA NOMOR: 34/PERMEN/M/2006 TENTANG PEDOMAN UMUM PENYELENGGARAAN KETERPADUAN PRASARANA, SARANA DAN UTILITAS (PSU) KAWASAN PERUMAHAN.

486

5. Pembinaan Hukum, Pe raturan Pe rundangundangan dan Pe rtanahan untuk Pe rumahan

1. Pembangunan Baru

1. Penyusunan dan penyempurnaan peraturan perundangundangan bidang perumahan.

1. Koordinasi penyusu nan dan penyempurnaan peraturan perundangundangan bidang perumahan di tingkat provinsi. 2. Peninjauan kembali (review) kesesuaian peraturan daerah kabupaten/kota dengan peraturan perundangundangan terkait di bidang perumahan. 3. Sosialisasi peraturan perundangundangan bidang perumahan dalam rangka mewujudkan jaminan kepastian hukum dan perlindungan hukum dalam bermukim di provinsi.

1. Pelaksanaan penyusu nan dan penyempurnaan peraturan perundangundangan bidang perumahan di tingkat kabupaten/kota.

1

Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan.

1

NSPK tentang penyusunan dan penyempurnaan peraturan perundangundangan bidang perumahan.

2. Evaluasi peraturan perundangundangan bidang perumahan.

2. Pelaksanaan kesesuaian peraturan daerah kabupaten/kota dengan peraturan perundang- undangan terkait di bidang perumahan.

1

Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan.

1

NSPK tentang peraturan perundang-undangan bidang perumahan.

3. Koordinasi dan sosialisasi peraturan perundangundangan bidang perumahan dalam rangka mewujudkan jaminan dan kepastian hukum dan perlindungan hukum dalam bermukim. 4. Koordinasi pengawasan dan pengendalian pelaksanaan peraturan perundangundangan bidang perumahan.

3. Pelaksanaan sosialisasi peraturan perundang- undangan bidang perumahan dalam rangka mewujudkan jaminan kepastian hukum dan perlindungan hukum dalam bermukim di kabupaten/kota.

1

Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan.

1

NSPK tentang koordinasi, sosialisasi dan pelaksanaan peraturan perundangundangan.

4. Koordinasi pengawasan dan pengendalian pelaksanaan peraturan perundangundangan bidang perumahan di provinsi.

4. Koordinasi pengawasan dan pengendalian pelaksanaan peraturan perundang- undangan bidang perumahan di kabupaten/kota.

1

Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan.

1

NSPK tentang koordinasi pengawasan dan pengendalian pelaksanaan peraturan perundangundangan bidang perumahan.

487

5. Pengkajian, perumusan kebijakan dan koordinasi penanganan masalah dan sengketa bidang perumahan. 6. Fasilitasi penanganan masalah dan sengketa bidang perumahan.

5. Koordinasi pelaksanaan kebijakan dan penanganan masalah dan sengketa bidang perumahan di provinsi. 6. Koordinasi fasilitasi penanganan masalah dan sengketa bidang perumahan di provinsi. 7. Fasilitasi penyusu nan, koordinasi dan sosialisasi NSPM bidang perumahan di tingkat provinsi. 8. Koordinasi dan sosialiasi NSPM penyediaan lahan untuk pembangunan perumahan tingkat provinsi lintas kabupaten/kota. 9. Koordinasi pelaksanaan kebijakan provinsi tentang pembangunan perumahan yang sesuai dengan penataan ruang dan penataan pertanahan lintas kabupaten/kota.

5. Pelaksanaan kebijakan dan penanganan masalah dan sengketa bidang perumahan di kabupaten/kota.

1

Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan.

1

NSPK tentang penanganan masalah dan sengketa bidang perumahan.

6. Pelaksanaan fasilitasi penanganan masalah dan sengketa bidang perumahan di kabupaten/kota.

1

Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan.

1

NSPK tentang fasilitasi penanganan masalah dan sengketa bidang perumahan.

7. Fasilitasi penyusunan, koordinasi dan sosialisasi NSPM bidang perumahan. 8. Penyusunan dan sosialisasi NSPM penyediaan lahan untuk pembangunan perumahan. 9. Perumusan kebijakan nasional tentang pembangunan perumahan yang sesuai dengan penataan ruang dan penataan pertanahan.

7. Fasilitasi penyusu nan, koordinasi dan sosialisasi NSPM bidang perumahan di tingkat kabupaten/kota. 8. Pelaksanaan dan sosialisasi NSPM penyediaan lahan untuk pembangunan perumahan di kabupaten/kota. 9. Pelaksanaan kebijakan kabupaten/kota tentang pembangunan perumahan sesuai dengan penataan ruang dan penataan pertanahan di kabupaten/kota.

1

Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan. Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan.

1

NSPK tentang fasilitasi penyusunan, koordinasi dan sosialisasi NSPM bidang perumahan.

1

1

NSPK tentang penysusunan dan sosialisasi lahan unruk pembangunan perumahan.

1

Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan.

1

NSPK tentang kebijakan pembangunan perumahan yang sesuai dengan penataan ruang dan penataan pertanahan.

488

10. Koordinasi pelaksanaan kebijakan nasional tentang pembangunan perumahan yang sesuai dengan penataan ruang dan penataan pertanahan.

10. Koordinasi pelaksanaan kebijakan provinsi tentang pembangunan perumahan yang sesuai dengan penataan ruang dan penataan pertanahan.

10. Pelaksanaan kebijakan kabupaten/kota tentang pembangunan perumahan sesuai dengan penataan ruang dan penataan pertanahan.

1

Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan.

1

NSPK tentang pembangunan perumahaan yang sesuai dengan penataan ruang dan penataan pertanaha.

11. Fasilitasi pelaksanaan kebijakan nasional tentang pembangunan perumahan yang sesuai dengan penataan ruang dan penataan pertanahan.

11. Fasilitasi pelaksanaan kebijakan provinsi tentang pembangunan perumahan sesuai dengan penataan ruang dan penataan pertanahan.

11. Fasilitasi pelaksanaan kebijakan kabupaten/kota tentang pembangunan perumahan sesuai dengan penataan ruang dan penataan pertanahan.

1

Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan.

1

NSPK tentang fasilitasi pelaksanaan kebijakan nasional tentang pembangunan perumahan yang sesuai dengan penataan ruang dan penataan pertanahan.

12. Pengawasan dan pengendalian pelaksanaan kebijakan nasional tentang pembangunan perumahan yang sesuai dengan penataan ruang dan penataan pertanahan.

12. Koordinasi pengawasan dan pengendalian pelaksanaan kebijakan provinsi tentang pembangunan perumahan sesuai dengan penataan ruang dan penataan pertanahan.

12. Pelaksanaan pengawasan dan pengendalian pelaksanaan kebijakan kabupaten/kota tentang pembangunan perumahan sesuai dengan penataan ruang dan penataan pertanahan.

1

Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan.

1

NSPK tentang pengawasan dan pengendalian pelaksanaan kebijakan nasional tentang pembangunan perumahan yang sesuai dengan penataan ruang dan penataan pertanahan.

13. Fasilitasi penyelesaian eksternasitas pembangunan perumahan lintas provinsi.

13. Fasilitasi penyelesaian eksternasitas pembangunan perumahan lintas kabupaten/kota.

13. Fasilitasi penyelesaian eksternasitas pembangunan perumahan di kabupaten/kota.

1

Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan.

1

NSPK tentang fasilitasi penyelesaian eksternasitas pembangunan perumahan.

489

2. Pemugaran

1. Penyusunan dan penyempurnaan peraturan perundangundangan bidang perumahan. 2. Evaluasi peraturan perundangundangan bidang perumahan.

3. Koordinasi dan sosialisasi peraturan perundangundangan bidang perumahan dalam rangka mewujudkan jaminan dan kepastian hukum dan perlindungan hukum dalam bermukim. 4. Koordinasi pengawasan dan pengendalian pelaksanaan peraturan perundangundangan bidang perumahan. 5. Pengkajian, perumusan kebijakan dan koordinasi penanganan masalah dan sengketa bidang perumahan.

1. Koordinasi penyusu nan dan penyempurnaan peraturan perundangundangan bidang perumahan di tingkat provinsi. 2. Peninjauan kembali (review) kesesuaian peraturan daerah kabupaten/kota dengan peraturan perundangundangan terkait di bidang perumahan. 3. Sosialisasi peraturan perundangundangan bidang perumahan dalam rangka mewujudkan jaminan kepastian hukum dan perlindungan hukum dalam bermukim di provinsi.

1. Pelaksanaan penyusu nan dan penyempurnaan peraturan perundangundangan bidang perumahan di tingkat kabupaten/kota. 2. Pelaksanaan kesesuaian peraturan daerah kabupaten/kota dengan peraturan perundang- undangan terkait di bidang perumahan.

1

Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan.

1

NSPK tentang penyusunan dan penyempurnaan peraturan perundangundangan bidang perumahan.

1

Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan.

1

NSPK tentang evaluasi, peninjauan dan pelaksanaan peraturan perundangundangan bidang perumahan.

3. Pelaksanaan sosialisasi peraturan perundang- undangan bidang perumahan dalam rangka mewujudkan jaminan kepastin hukum dan perlindungan hukum dalam bermukim di kabupaten/kota.

1

Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan.

1

NSPK tentang koordinasi, sosialisasi dan pelaksanaan peraturan perundangundangan bidang perumahan dalam rangka mewujudkan jaminan dan kepastian hukum dan perlindungan hukum dalam bermukim.

4. Koordinasi pengawasan dan pengendalian pelaksanaan peraturan perundangundangan bidang perumahan di provinsi. 5. Koordinasi pelaksanaan kebijakan dan penangangan masalah dan sengketa bidang perumahan di provinsi.

4. Koordinasi pengawasan dan pengendalian pelaksanaan peraturan perundang- undangan bidang perumahan di kabupaten/kota.

1

Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan.

1

NSPK tentang koordinasi pengawasan dan pengendalian pelaksanaan peraturan perundangundangan bidang perumahan.

5. Pelaksanaan kebijakan dan penanganan masalah dan sengketa bidang perumahan di kabupaten/kota.

1

Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan.

1

NSPK tentang pengkajian, perumusan kebijakan dan koordinasi penanganan masalah dan sengketa bidang perumahan.

490

6. Fasilitasi penanganan masalah dan sengketa bidang perumahan.

7. Fasilitasi penyusunan, koordinasi dan sosialisasi NSPM bidang perumahan. 8. Penyusunan dan sosialisasi NSPM penyediaan lahan untuk pembangunan perumahan. 9. Perumusan kebijakan nasional tentang pembangunan perumahan yang sesuai dengan penataan ruang dan penataan pertanahan.

10. Koordinasi pelaksanaan kebijakan nasional tentang pembangunan perumahan yang sesuai dengan penataan ruang dan penataan pertanahan.

6. Koordinasi fasilitasi penanganan masalah dan sengketa bidang perumahan di provinsi. 7. Fasilitasi penyusu nan, koordinasi dan sosialisasi NSPM bidang perumahan di tingkat provinsi. 8. Koordinasi dan sosialiasi NSPM penyediaan lahan untuk pembangunan perumahan tingkat provinsi lintas kabupaten/kota. 9. Koordinasi pelaksanaan kebijakan provinsi tentang pembangunan perumahan yang sesuai dengan penataan ruang dan penataan pertanahan lintas kabupaten/kota. 10. Koordinasi pelaksanaan kebijakan provinsi tentang pembangunan perumahan yang sesuai dengan penataan ruang dan penataan pertanahan.

6. Pelaksanaan fasilitasi penanganan masalah dan sengketa bidang perumahan di kabupaten/kota.

1

Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan.

1

NSPK tentang fasilitasi penanganan masalah dan sengketa bidang perumahan.

7. Fasilitasi penyusu nan, koordinasi dan sosialisasi NSPM bidang perumahan di tingkat Kabupaten/kota. 8. Pelaksanaan dan sosialisasi NSPM penyediaan lahan untuk pembangunan perumahan di Kabupaten/kota. 9. Pelaksanaan kebijakan Kabupaten/kota tentang pembangunan perumahan sesuai dengan penataan ruang dan penataan pertanahan di kabupaten/kota.

1

Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan. Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan.

1

NSPK tentang fasilitasi penyusunan, koordinasi dan sosialisasi NSPM bidang perumahan.

1

1

NSPK tentang penyusunan, sosialisasi dan pelaksanaan NSPM penyediaan lahan untuk pembangunan perumahan.

1

Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan.

1

NSPK tentang kebijakan nasional tentang pembangunan perumahan yang sesuai dengan penataan ruang dan penataan pertanahan.

10. Pelaksanaan kebijakan Kabupaten/kota tentang pembangunan perumahan sesuai dengan penataan ruang dan penataan pertanahan.

1

Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan.

1

NSPK tentang koordinasi dan pelaksanaan kebijakan nasional tentang pembangunan perumahan yang sesuai dengan penataan ruang dan penataan pertanahan.

491

11. Fasilitasi pelaksanaan kebijakan nasional tentang pembangunan perumahan yang sesuai dengan penataan ruang dan penataan pertanahan.

11. Fasilitasi pelaksanaan kebijakan provinsi tentang pembangunan perumahan sesuai dengan penataan ruang dan penataan pertanahan.

11. Fasilitasi pelaksanaan kebijakan Kabupaten/kota tentang pembangunan perumahan sesuai dengan penataan ruang dan penataan pertanahan.

1

Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan.

1

NSPK tentang fasilitasi pelaksanaan kebijakan nasional tentang pembangunan perumahan yang sesuai dengan penataan ruang dan penataan pertanahan.

12. Pengawasan dan pengendalian pelaksanaan kebijakan nasional tentang pembangunan perumahan yang sesuai dengan penataan ruang dan penataan pertanahan.

12. Koordinasi pengawasan dan pengendalian pelaksanaan kebijakan provinsi tentang pembangunan perumahan sesuai dengan penataan ruang dan penataan pertanahan.

12. Pelaksanaan pengawasan dan pengendalian pelaksanaan kebijakan kabupaten/kota tentang pembangunan perumahan sesuai dengan penataan ruang dan penataan pertanahan.

1

Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan.

1

NSPK tentang pengawasan dan pengendalian pelaksanaan kebijakan nasional tentang pembangunan perumahan yang sesuai dengan penataan ruang dan penataan pertanahan.

13. Fasilitasi penyelesaian eksternalitas pembangunan perumahan lintas provinsi. 3. Perbaikan 1. Penyusunan dan penyempurnaan peraturan perundangundangan bidang perumahan. 2. Evaluasi peraturan perundangundangan bidang perumahan.

13. Fasilitasi penyelesaian eksternalitas pembangunan perumahan lintas kabupaten/kota. 1. Koordinasi penyusu nan dan penyempurnaan peraturan perundangundangan bidang perumahan di tingkat provinsi. 2. Peninjauan kembali (review) kesesuaian peraturan daerah kabupaten/kota dengan peraturan perundang-

13. Fasilitasi penyelesaian eksternalitas pembangunan perumahan di kabupaten/kota. 1. Pelaksanaan penyusu nan dan penyempurnaan peraturan perundangundangan bidang perumahan di tingkat kabupaten/kota. 2. Pelaksanaan kesesuaian peraturan daerah kabupaten/kota dengan peraturan perundang- undangan terkait di bidang perumahan.

1

Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan.

1

NSPK tentang fasilitasi penyelesaian eksternalitas pembangunan perumahan lintas provinsi.

1

Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan.

1

NSPK tentang penyusunan dan penyempurnaan peraturan perundangundangan bidang perumahan.

1

Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan.

1

NSPK tentang evaluasi peraturan perundangundangan bidang perumahan.

492

undangan terkait di bidang perumahan.

3. Koordinasi dan sosialisasi peraturan perundangundangan bidang perumahan dalam rangka mewujudkan jaminan dan kepastian hukum dan perlindungan hukum dalam bermukim. 4. Koordinasi pengawasan dan pengendalian pelaksanaan peraturan perundangundangan bidang perumahan. 5. Pengkajian, perumusan kebijakan dan koordinasi penanganan masalah dan sengketa bidang perumahan. 6. Fasilitasi penanganan masalah dan sengketa bidang perumahan.

3. Sosialisasi peraturan perundangundangan bidang perumahan dalam rangka mewujudkan jaminan kepastian hukum dan perlindungan hukum dalam bermukim di provinsi.

3. Pelaksanaan sosialisasi peraturan perundang- undangan bidang perumahan dalam rangka mewujudkan jaminan kepastin hukum dan perlindungan hukum dalam bermukim di kabupaten/kota.

1

Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan.

1

NSPK tentang koordinasi dan sosialisasi peraturan perundang- undangan bidang perumahan dalam rangka mewujudkan jaminan dan kepastian hukum dan perlindungan hukum dalam bermukim.

4. Koordinasi pengawasan dan pengendalian pelaksanaan peraturan perundangundangan bidang perumahan di provinsi. 5. Koordinasi pelaksanaan kebijakan dan penanganan masalah dan sengketa bidang perumahan di provinsi. 6. Koordinasi fasilitasi penanganan masalah dan sengketa bidang perumahan di provinsi.

4. Koordinasi pengawasan dan pengendalian pelaksanaan peraturan perundang- undangan bidang perumahan di kabupaten/kota.

1

Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan.

1

NSPK tentang koordinasi pengawasan dan pengendalian pelaksanaan peraturan perundangundangan bidang perumahan.

5. Pelaksanaan kebijakan dan penanganan masalah dan sengketa bidang perumahan di kabupaten/kota.

1

Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan.

1

NSPK tentag pengkajian, perumusan kebijakan dan koordinasi penanganan masalah dan sengketa bidang perumahan.

6. Pelaksanaan fasilitasi penanganan masalah dan sengketa bidang perumahan di kabupaten/kota.

1

Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan.

1

NSPK tentang fasilitasi penanganan masalah dan sengketa bidang perumahan.

493

7. Fasilitasi penyusunan, koordinasi dan sosialisasi NSPM bidang perumahan. 8. Penyusunan dan sosialisasi NSPM penyediaan lahan untuk pembangunan perumahan. 9. Perumusan kebijakan nasional tentang pembangunan perumahan yang sesuai dengan penataan ruang dan penataan pertanahan.

10. Koordinasi pelaksanaan kebijakan nasional tentang pembangunan perumahan yang sesuai dengan penataan ruang dan penataan pertanahan.

7. Fasilitasi penyusu nan, koordinasi dan sosialisasi NSPM bidang perumahan di tingkat provinsi. 8. Koordinasi dan sosialisasi NSPM penyediaan lahan untuk pembangunan perumahan tingkat provinsi lintas kabupaten/kota. 9. Koordinasi pelaksanaan kebijakan provinsi tentang Pembangunan perumahan yang sesuai dengan penataan ruang dan penataan pertanahan lintas kabupaten/kota. 10. Koordinasi pelaksanaan kebijakan provinsi tentang pembangunan perumahan yang sesuai dengan penataan ruang dan penataan pertanahan.

7. Fasilitasi penyusu nan, koordinasi dan sosialisasi NSPM bidang perumahan di tingkat kabupaten/kota. 8. Pelaksanaan dan sosialisasi NSPM penyediaan lahan untuk pembangunan perumahan di kabupaten/kota. 9. Pelaksanaan kebijakan kabupaten/kota tentang pembangunan perumahan sesuai dengan penataan ruang dan penataan pertanahan di kabupaten/kota.

1

Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan. Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan.

1

NSPK tentang fasilitasi penyusunan, koordinasi dan sosialisasi NSPM bidang perumahan.

1

1

NSPK tentang penyusunan dan sosialisasi NSPM penyediaan lahan untuk pembangunan perumahan.

1

Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan.

1

NSPK tentang kebijakan nasional tentang pembangunan perumahan yang sesuai dengan penataan ruang dan penataan pertanahan.

10. Pelaksanaan kebijakan kabupaten/kota tentang pembangunan perumahan sesuai dengan penataan ruang dan penataan pertanahan.

1

Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan.

1

NSPK tentang koordinasi pelaksanaan kebijakan nasional tentang pembangunan perumahan yang sesuai dengan penataan ruang dan penataan pertanahan.

494

11. Fasilitasi pelaksanaan kebijakan nasional tentang pembangunan perumahan yang sesuai dengan penataan ruang dan penataan pertanahan.

11. Fasilitasi pelaksanaan kebijakan provinsi tentang pembangunan perumahan sesuai dengan penataan ruang dan penataan pertanahan.

11. Fasilitasi pelaksanaan kebijakan kabupaten/kota tentang pembangunan perumahan sesuai dengan penataan ruang dan penataan pertanahan.

1

Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan.

1

NSPK tentang fasilitasi pelaksanaan kebijakan nasional tentang pembangunan perumahan yang sesuai dengan penataan ruang dan penataan pertanahan.

12. Pengawasan dan pengendalian pelaksanaan kebijakan nasional tentang pembangunan perumahan yang sesuai dengan penataan ruang dan penataan pertanahan.

12. Koordinasi pengawasan dan pengendalian pelaksanaan kebijakan provinsi tentang pembangunan perumahan sesuai dengan penataan ruang dan penataan pertanahan.

12. Pelaksanaan pengawasan dan pengendalian pelaksanaan kebijakan kabupaten/kota tentang pembangunan perumahan sesuai dengan penataan ruang dan penataan pertanahan.

1

Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan.

1

NSPK tentang pengawasan dan pengendalian pelaksanaan kebijakan nasional tentang pembangunan perumahan yang sesuai dengan penataan ruang dan penataan pertanahan.

13. Fasilitasi penyelesaian eksternasitas pembangunan perumahan lintas provinsi. 4. Perluasan 1. Penyusunan dan penyempurnaan peraturan perundangundangan bidang perumahan. 2. Evaluasi peraturan perundangundangan bidang perumahan.

13. Fasilitasi penyelesaian eksternasitas pembangunan perumahan lintas kabupaten/kota. 1. Koordinasi penyusu nan dan penyempurnaan peraturan perundangundangan bidang perumahan di tingkat provinsi. 2. Peninjauan kembali (review) kesesuaian peraturan daerah kabupaten/kota dengan peraturan perundang-

13. Fasilitasi penyelesaian eksternasitas pembangunan perumahan di kabupaten/kota. 1. Pelaksanaan penyusu nan dan penyempurnaan peraturan perundangundangan bidang perumahan di tingkat kabupaten/kota. 2. Pelaksanaan kesesuaian peraturan daerah kabupaten/kota dengan peraturan perundang- undangan terkait di bidang perumahan.

1

Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan.

1

NSPK tentang fasilitasi penyelesaian eksternasitas pembangunan perumahan lintas provinsi.

1

Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan.

1

NSPK tentang penyusunan dan penyempurnaan peraturan perundangundangan bidang perumahan.

1

Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan.

1

NSPK tentang evaluasi peraturan perundangundangan bidang perumahan.

495

undangan terkait di bidang perumahan.

3. Koordinasi dan sosialisasi peraturan perundangundangan bidang perumahan dalam rangka mewujudkan jaminan dan kepastian hukum dan perlindungan hukum dalam bermukim. 4. Koordinasi pengawasan dan pengendalian pelaksanaan peraturan perundangundangan bidang perumahan. 5. Pengkajian, perumusan kebijakan dan koordinasi penanganan masalah dan sengketa bidang perumahan. 6. Fasilitasi penanganan masalah dan sengketa bidang perumahan.

3. Sosialisasi peraturan perundangundangan bidang perumahan dalam rangka mewujudkan jaminan kepastian hukum dan perlindungan hukum dalam bermukim di provinsi.

3. Pelaksanaan sosialisasi peraturan perundang- undangan bidang perumahan dalam rangka mewujudkan jaminan kepastin hukum dan perlindungan hukum dalam bermukim di kabupaten/kota.

1

Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan.

1

NSPK tentang koordinasi dan sosialisasi peraturan perundang- undangan bidang perumahan dalam rangka mewujudkan jaminan dan kepastian hukum dan perlindungan hukum dalam bermukim.

4. Koordinasi pengawasan dan pengendalian pelaksanaan peraturan perundangundangan bidang perumahan di provinsi. 5. Koordinasi pelaksanaan kebijakan dan penanganan masalah dan sengketa bidang perumahan di provinsi. 6. Koordinasi fasilitasi penanganan masalah dan sengketa bidang perumahan di Provinsi.

4. Koordinasi pengawasan dan pengendalian pelaksanaan peraturan perundang- undangan bidang perumahan di kabupaten/kota.

1

Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan.

1

NSPK tentang koordinasi pengawasan dan pengendalian pelaksanaan peraturan perundangundangan bidang perumahan.

5. Pelaksanaan kebijakan dan penanganan masalah dan sengketa bidang perumahan di kabupaten/kota.

1

Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan.

1

NSPK tentang pengkajian, perumusan kebijakan dan koordinasi penanganan masalah dan sengketa bidang perumahan.

6. Pelaksanaan fasilitasi penanganan masalah dan sengketa bidang perumahan di kabupaten/kota.

1

Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan.

1

NSPK tentang fasilitasi penanganan masalah dan sengketa bidang perumahan.

496

7. Fasilitasi penyusunan, koordinasi dan sosialisasi NSPM bidang perumahan. 8. Penyusunan dan sosialisasi NSPM penyediaan lahan untuk pembangunan perumahan. 9. Perumusan kebijakan nasional tentang pembangunan perumahan yang sesuai dengan penataan ruang dan penataan pertanahan.

10. Koordinasi pelaksanaan kebijakan nasional tentang pembangunan perumahan yang sesuai dengan penataan ruang dan penataan pertanahan.

7. Fasilitasi penyusu nan, koordinasi dan sosialisasi NSPM bidang perumahan di tingkat provinsi. 8. Koordinasi dan sosialiasi NSPM penyediaan lahan untuk pembangunan perumahan tingkat provinsi lintas kabupaten/kota. 9. Koordinasi pelaksanaan kebijakan provinsi tentang pembangunan perumahan yang sesuai dengan penataan ruang dan penataan pertanahan lintas kabupaten/kota. 10. Koordinasi pelaksanaan kebijakan provinsi tentang pembangunan perumahan yang sesuai dengan penataan ruang dan penataan pertanahan.

7. Fasilitasi penyusu nan, koordinasi dan sosialisasi NSPM bidang perumahan di tingkat kabupaten/kota. 8. Pelaksanaan dan sosialisasi NSPM penyediaan lahan untuk pembangunan perumahan di kabupaten/kota. 9. Pelaksanaan kebijakan kabupaten/kota tentang pembangunan perumahan sesuai dengan penataan ruang dan penataan pertanahan di kabupaten/kota.

1

Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan. Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan.

1

NSPK tentang fasilitasi penyusunan, koordinasi dan sosialisasi NSPM bidang perumahan.

1

1

NSPK tentang penyusunan dan sosialisasi NSPM penyediaan lahan untuk pembangunan perumahan.

1

Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan.

1

NSPK tentang perumusan kebijakan nasional tentang pembangunan perumahan yang sesuai dengan penataan ruang dan penataan pertanahan.

10. Pelaksanaan kebijakan kabupaten/kota tentang pembangunan perumahan sesuai dengan penataan ruang dan penataan pertanahan.

1

Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan.

1

NSPK tentang koordinasi pelaksanaan kebijakan nasional tentang pembangunan perumahan yang sesuai dengan penataan ruang dan penataan pertanahan.

497

11. Fasilitasi pelaksanaan kebijakan nasional tentang pembangunan perumahan yang sesuai dengan penataan ruang dan penataan pertanahan.

11. Fasilitasi pelaksanaan kebijakan provinsi tentang pembangunan perumahan sesuai dengan penataan ruang dan penataan pertanahan.

11. Fasilitasi pelaksanaan kebijakan kabupaten/kota tentang pembangunan perumahan sesuai dengan penataan ruang dan penataan pertanahan.

1

Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan.

1

NSPK tentang fasilitasi pelaksanaan kebijakan nasional tentang pembangunan perumahan yang sesuai dengan penataan ruang dan penataan pertanahan.

12. Pengawasan dan pengendalian pelaksanaan kebijakan nasional tentang pembangunan perumahan yang sesuai dengan penataan ruang dan penataan pertanahan.

12. Koordinasi pengawasan dan pengendalian pelaksanaan kebijakan provinsi tentang pembangunan perumahan sesuai dengan penataan ruang dan penataan pertanahan.

12. Pelaksanaan pengawasan dan pengendalian pelaksanaan kebijakan kabupaten/kota tentang pembangunan perumahan sesuai dengan penataan ruang dan penataan pertanahan.

1

Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan.

1

NSPK tentang pengawasan dan pengendalian pelaksanaan kebijakan nasional tentang pembangunan perumahan yang sesuai dengan penataan ruang dan penataan pertanahan.

13. Fasilitasi penyelesaian eksternalitas pembangunan perumahan lintas provinsi. 5. Pemeliharaan 1. Penyusunan dan penyempurnaan peraturan perundangundangan bidang perumahan. 2. Evaluasi peraturan perundangundangan bidang perumahan.

13. Fasilitasi penyelesaian eksternalitas pembangunan perumahan lintas kabupaten/kota. 1. Koordinasi penyusu nan dan penyempurnaan peraturan perundangundangan bidang perumahan di tingkat provinsi. 2. Peninjauan kembali (review) kesesuaian peraturan daerah kabupaten/kota dengan peraturan perundang-

13. Fasilitasi penyelesaian eksternalitas pembangunan perumahan di kabupaten/kota. 1. Pelaksanaan penyusu nan dan penyempurnaan peraturan perundangundangan bidang perumahan di tingkat kabupaten/kota. 2. Pelaksanaan kesesuaian peraturan daerah kabupaten/kota dengan peraturan perundang- undangan terkait di bidang perumahan.

1

Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan.

1

NSPK tentang fasilitasi penyelesaian eksternalitas pembangunan perumahan lintas provinsi.

1

Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan.

1

NSPK tentang penyusunan dan penyempurnaan peraturan perundangundangan bidang perumahan.

1

Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan.

1

NSPK tentang evaluasi peraturan perundangundangan bidang perumahan.

498

undangan terkait di bidang perumahan.

3. Koordinasi dan sosialisasi peraturan perundangundangan bidang perumahan dalam rangka mewujudkan jaminan dan kepastian hukum dan perlindungan hukum dalam bermukim. 4. Koordinasi pengawasan dan pengendalian pelaksanaan peraturan perundangundangan bidang perumahan. 5. Pengkajian, perumusan kebijakan dan koordinasi penanganan masalah dan sengketa bidang perumahan. 6. Fasilitasi penanganan masalah dan sengketa bidang perumahan.

3. Sosialisasi peraturan perundangundangan bidang perumahan dalam rangka mewujudkan jaminan kepastian hukum dan perlindungan hukum dalam bermukim di provinsi.

3. Pelaksanaan sosialisasi peraturan perundang- undangan bidang perumahan dalam rangka mewujudkan jaminan kepastin hukum dan perlindungan hukum dalam bermukim di kabupaten/kota.

1

Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan.

1

NSPK tentang koordinasi dan sosialisasi peraturan perundang- undangan bidang perumahan dalam rangka mewujudkan jaminan dan kepastian hukum dan perlindungan hukum dalam bermukim.

4. Koordinasi pengawasan dan pengendalian pelaksanaan peraturan perundangundangan bidang perumahan di provinsi. 5. Koordinasi pelaksanaan kebijakan dan penangangan masalah dan sengketa bidang perumahan di provinsi. 6. Koordinasi fasilitasi penanganan masalah dan sengketa bidang perumahan di provinsi.

4. Koordinasi pengawasan dan pengendalian pelaksanaan peraturan perundang- undangan bidang perumahan di kabupaten/kota.

1

Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan.

1

NSPK tentang koordinasi pengawasan dan pengendalian pelaksanaan peraturan perundangundangan bidang perumahan.

5. Pelaksanaan kebijakan dan penanganan masalah dan sengketa bidang perumahan di kabupaten/kota.

1

Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan.

1

NSPK tentang pengkajian, perumusan kebijakan dan koordinasi penanganan masalah dan sengketa bidang perumahan.

6. Pelaksanaan fasilitasi penanganan masalah dan sengketa bidang perumahan di kabupaten/kota.

1

Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan.

1

NSPK tentang fasilitasi penanganan masalah dan sengketa bidang perumahan.

499

7. Fasilitasi penyusunan, koordinasi dan sosialisasi NSPM bidang perumahan. 8. Penyusunan dan sosialisasi NSPM penyediaan lahan untuk pembangunan perumahan. 9. Perumusan kebijakan nasional tentang pembangunan perumahan yang sesuai dengan penataan ruang dan penataan pertanahan.

10. Koordinasi pelaksanaan kebijakan nasional tentang pembangunan perumahan yang sesuai dengan penataan ruang dan penataan pertanahan.

7. Fasilitasi penyusu nan, koordinasi dan sosialisasi NSPM bidang perumahan di tingkat provinsi. 8. Koordinasi dan sosialiasi NSPM penyediaan lahan untuk pembangunan perumahan tingkat provinsi lintas kabupaten/kota. 9. Koordinasi pelaksanaan kebijakan provinsi tentang pembangunan perumahan yang sesuai dengan penataan ruang dan penataan pertanahan lintas kabupaten/kota. 10. Koordinasi pelaksanaan kebijakan provinsi tentang pembangunan perumahan yang sesuai dengan penataan ruang dan penataan pertanahan.

7. Fasilitasi penyusu nan, koordinasi dan sosialisasi NSPM bidang perumahan di tingkat kabupaten/kota. 8. Pelaksanaan dan sosialisasi NSPM penyediaan lahan untuk pembangunan perumahan di kabupaten/kota. 9. Pelaksanaan kebijakan kabupaten/kota tentang pembangunan perumahan sesuai dengan penataan ruang dan penataan pertanahan di kabupaten/kota.

1

Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan. Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan.

1

NSPK tentang fasilitasi penyusunan, koordinasi dan sosialisasi NSPM bidang perumahan.

1

1

NSPK tentang penyusunan dan sosialisasi NSPM penyediaan lahan untuk pembangunan perumahan.

1

Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan.

1

NSPK tentang perumusan kebijakan nasional tentang pembangunan perumahan yang sesuai dengan penataan ruang dan penataan pertanahan.

10. Pelaksanaan kebijakan kabupaten/kota tentang pembangunan perumahan sesuai dengan penataan ruang dan penataan pertanahan.

1

Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan.

1

NSPK tentang koordinasi pelaksanaan kebijakan nasional tentang pembangunan perumahan yang sesuai dengan penataan ruang dan penataan pertanahan.

500

11. Fasilitasi pelaksanaan kebijakan nasional tentang pembangunan perumahan yang sesuai dengan penataan ruang dan penataan pertanahan.

11. Fasilitasi pelaksanaan kebijakan provinsi tentang pembangunan perumahan sesuai dengan penataan ruang dan penataan pertanahan.

11. Fasilitasi pelaksanaan kebijakan kabupaten/kota tentang pembangunan perumahan sesuai dengan penataan ruang dan penataan pertanahan.

1

Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan.

1

NSPK tentang fasilitasi pelaksanaan kebijakan nasional tentang pembangunan perumahan yang sesuai dengan penataan ruang dan penataan pertanahan.

12. Pengawasan dan pengendalian pelaksanaan kebijakan nasional tentang pembangunan perumahan yang sesuai dengan penataan ruang dan penataan pertanahan.

12. Koordinasi pengawasan dan pengendalian pelaksanaan kebijakan provinsi tentang pembangunan perumahan sesuai dengan penataan ruang dan penataan pertanahan.

12. Pelaksanaan pengawasan dan pengendalian pelaksanaan kebijakan kabupaten/kota tentang pembangunan perumahan sesuai dengan penataan ruang dan penataan pertanahan.

1

Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan.

1

NSPK tentang pengawasan dan pengendalian pelaksanaan kebijakan nasional tentang pembangunan perumahan yang sesuai dengan penataan ruang dan penataan pertanahan.

13. Fasilitasi penyelesaian eksternasitas pembangunan perumahan lintas provinsi. 6. Pemanfaatan 1. Penyusunan dan penyempurnaan peraturan perundangundangan bidang perumahan. 2. Evaluasi peraturan perundangundangan bidang perumahan.

13. Fasilitasi penyelesaian eksternasitas pembangunan perumahan lintas kabupaten/kota. 1. Koordinasi penyusu nan dan penyempurnaan peraturan perundangundangan bidang perumahan di tingkat provinsi. 2. Peninjauan kembali (review) kesesuaian peraturan daerah kabupaten/kota dengan peraturan perundang-

13. Fasilitasi penyelesaian eksternasitas pembangunan perumahan di kabupaten/kota. 1. Pelaksanaan penyusu nan dan penyempurnaan peraturan perundangundangan bidang perumahan di tingkat kabupaten/kota. 2. Pelaksanaan kesesuaian peraturan daerah kabupaten/kota dengan peraturan perundang- undangan terkait di bidang perumahan.

1

Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan.

1

NSPK tentang fasilitasi penyelesaian eksternasitas pembangunan perumahan lintas provinsi.

1

Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan.

1

NSPK tentang penyusunan dan penyempurnaan peraturan perundangundangan bidang perumahan.

1

Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan.

1

NSPK tentang evaluasi peraturan perundangundangan bidang perumahan.

501

undangan terkait di bidang perumahan.

3. Koordinasi dan sosialisasi peraturan perundangundangan bidang perumahan dalam rangka mewujudkan jaminan dan kepastian hukum dan perlindungan hukum dalam bermukim. 4. Koordinasi pengawasan dan pengendalian pelaksanaan peraturan perundangundangan bidang perumahan. 5. Pengkajian, perumusan kebijakan dan koordinasi penanganan masalah dan sengketa bidang perumahan. 6. Fasilitasi penanganan masalah dan sengketa bidang perumahan.

3. Sosialisasi peraturan perundangundangan bidang perumahan dalam rangka mewujudkan jaminan kepastian hukum dan perlindungan hukum dalam bermukim di provinsi.

3. Pelaksanaan sosialisasi peraturan perundang- undangan bidang perumahan dalam rangka mewujudkan jaminan kepastian hukum dan perlindungan hukum dalam bermukim di kabupaten/kota.

1

Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan.

1

NSPK tentang koordinasi dan sosialisasi peraturan perundang- undangan bidang perumahan dalam rangka mewujudkan jaminan dan kepastian hukum dan perlindungan hukum dalam

4. Koordinasi pengawasan dan pengendalian pelaksanaan peraturan perundangundangan bidang perumahan di provinsi. 5. Koordinasi pelaksanaan kebijakan dan penanganan masalah dan sengketa bidang perumahan di provinsi. 6. Koordinasi fasilitasi penanganan masalah dan sengketa bidang perumahan di provinsi.

4. Koordinasi pengawasan dan pengendalian pelaksanaan peraturan perundang- undangan bidang perumahan di kabupaten/kota.

1

Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan.

1

NSPK tentang koordinasi pengawasan dan pengendalian pelaksanaan peraturan perundangundangan bidang perumahan.

5. Pelaksanaan kebijakan dan penanganan masalah dan sengketa bidang perumahan di kabupaten/kota.

1

Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan.

1

NSPK tentang pengkajian, perumusan kebijakan dan koordinasi penanganan masalah dan sengketa bidang perumahan.

6. Pelaksanaan fasilitasi penanganan masalah dan sengketa bidang perumahan di kabupaten/kota.

1

Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan.

1

NSPK tentang fasilitasi penanganan masalah dan sengketa bidang perumahan.

502

7. Fasilitasi penyusunan, koordinasi dan sosialisasi NSPM bidang perumahan. 8. Penyusunan dan sosialisasi NSPM penyediaan lahan untuk pembangunan perumahan. 9. Perumusan kebijakan nasional tentang pembangunan perumahan yang sesuai dengan penataan ruang dan penataan pertanahan.

10. Koordinasi pelaksanaan kebijakan nasional tentang pembangunan perumahan yang sesuai dengan penataan ruang dan penataan pertanahan.

7. Fasilitasi penyusu nan, koordinasi dan sosialisasi NSPM bidang perumahan di tingkat provinsi. 8. Koordinasi dan sosialiasi NSPM penyediaan lahan untuk pembangunan perumahan tingkat provinsi lintas kabupaten/kota. 9. Koordinasi pelaksanaan kebijakan Provinsi tentang pembangunan perumahan yang sesuai dengan penataan ruang dan penataan pertanahan lintas kabupaten/kota. 10. Koordinasi pelaksanaan kebijakan provinsi tentang pembangunan perumahan yang sesuai dengan penataan ruang dan penataan pertanahan.

7. Fasilitasi penyusu nan, koordinasi dan sosialisasi NSPM bidang perumahan di tingkat kabupaten/kota. 8. Pelaksanaan dan sosialisasi NSPM penyediaan lahan untuk pembangunan perumahan di kabupaten/kota. 9. Pelaksanaan kebijakan kabupaten/kota tentang pembangunan perumahan sesuai dengan penataan ruang dan penataan pertanahan di kabupaten/kota.

1

Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan. Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan.

1

NSPK tentang fasilitasi penyusunan, koordinasi dan sosialisasi NSPM bidang perumahan

1

1

NSPK tentang penyusunan dan sosialisasi NSPM penyediaan lahan untuk pembangunan perumahan.

1

Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan.

1

NSPK tentang perumusan kebijakan nasional tentang pembangunan perumahan yang sesuai dengan penataan ruang dan penataan pertanahan.

10. Pelaksanaan kebijakan kabupaten/kota tentang pembangunan perumahan sesuai dengan penataan ruang dan penataan pertanahan.

1

Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan.

1

NSPK tentang koordinasi pelaksanaan kebijakan nasional tentang pembangunan perumahan yang sesuai dengan penataan ruang dan penataan pertanahan.

503

11. Fasilitasi pelaksanaan kebijakan nasional tentang pembangunan perumahan yang sesuai dengan penataan ruang dan penataan pertanahan.

11. Fasilitasi pelaksanaan kebijakan provinsi tentang pembangunan perumahan sesuai dengan penataan ruang dan penataan pertanahan.

11. Fasilitasi pelaksanaan kebijakan kabupaten/kota tentang pembangunan perumahan sesuai dengan penataan ruang dan penataan pertanahan.

1

Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan.

1

NSPK tentang fasilitasi pelaksanaan kebijakan nasional tentang pembangunan perumahan yang sesuai dengan penataan ruang dan penataan pertanahan.

12. Pengawasan dan pengendalian pelaksanaan kebijakan nasional tentang pembangunan perumahan yang sesuai dengan penataan ruang dan penataan pertanahan.

12. Koordinasi pengawasan dan pengendalian pelaksanaan kebijakan provinsi tentang pembangunan perumahan sesuai dengan penataan ruang dan penataan pertanahan.

12. Pelaksanaan pengawasan dan pengendalian pelaksanaan kebijakan kabupaten/kota tentang pembangunan perumahan sesuai dengan penataan ruang dan penataan pertanahan.

1

Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan.

1

NSPK tentang pengawasan dan pengendalian pelaksanaan kebijakan nasional tentang pembangunan perumahan yang sesuai dengan penataan ruang dan penataan pertanahan.

13. Fasilitasi penyelesaian eksternasitas pembangunan perumahan lintas provinsi. 6. Pembinaan Teknologi dan Industri 1. Pembangunan Baru 1. Perumusan kebijakan nasional tentang pendayagunaan dan pemanfaatan hasil teknologi dan bahan bangunan, sosial ekonomi budaya, serta PSU pendukung perumahan.

13. Fasilitasi penyelesaian eksternasitas pembangunan perumahan lintas kabupaten/kota. 1. Koordinasi pelaksanaan kebijakan provinsi tentang pendayagunaan dan pemanfaatan hasil teknologi dan bahan bangunan, sosial ekonomi budaya, serta PSU pendukung perumahan.

13. Fasilitasi penyelesaian eksternasitas pembangunan perumahan di kabupaten/kota. 1. Pelaksanaan kebijakan kabupaten/kota tentang pendayagunaan pemanfaatan hasil teknologi bahan bangunan, sosial ekonomi budaya serta PSU pendukung perumahan.

1

Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan.

1

NSPK tentang fasilitasi penyelesaian eksternasitas pembangunan perumahan.

1

Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan.

1

PERMENPERA NOMOR: 10/PERMEN/M/2007 TENTANG PEDOMAN BANTUAN STIMULAN PRASARANA, SARANA DAN UTILITAS UMUM (PSU) PERUMAHAN DAN PERMUKIMAN, PERMENPERA NOMOR: 02/PERMEN/M/2009 TENTANG TATA CAR A PELAKSANAAN

504

2. Koordinasi pelaksanaan kebijakan nasional tentang pendayagunaan dan pemanfaatan hasil teknologi dan bahan bangunan, sosial ekonomi budaya, serta PSU pendukung perumahan. 3. Fasilitasi pelaksanaan kebijakan nasional tentang pendayagunaan dan pemanfaatan hasil teknologi dan bahan bangunan, sosial ekonomi budaya, serta PSU pendukung perumahan. 4. Pengawasan dan pengendalian pelaksanaan kebijakan nasional tentang pendayagunaan dan pemanfaatan hasil teknologi dan bahan bangunan, sosial ekonomi budaya, serta PSU pendukung perumahan.

2. Koordinasi pelaksanaan kebijakan provinsi tentang pendayagunaan dan pemanfaatan hasil teknologi dan bahan bangunan, sosial ekonomi budaya, serta PSU pendukung perumahan. 3. Fasilitasi pelaksanaan kebijakan provinsi tentang pendayagunaan dan pemanfaatan hasil teknologi dan bahan bangunan, sosial ekonomi budaya, serta PSU pendukung perumahan. 4. Pengawasan dan pengendalian pelaksanaan kebijakan provinsi tentang pendayagunaan dan pemanfaatan hasil teknologi dan bahan bangunan, sosial ekonomi budaya, serta PSU pendukung perumahan.

2. Koordinasi pelaksanaan kebijakan kabupaten/kota tentang pendayagunaan dan pemanfaatan hasil teknologi dan bahan bangunan, sosial ekonomi budaya, serta PSU pendukung perumahan.

1

Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan.

1

3. Fasilitasi pelaksanaan kebijakan kabupaten/kota tentang pendayagunaan dan pemanfaatan hasil teknologi dan bahan bangunan, sosial ekonomi budaya, serta PSU pendukung perumahan.

1

Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan.

1

BANTUAN STIMULAN PRASARANA, SARANA DAN UTILITAS UMUM PERUMAHAN DAN PERMUKIMAN, PERMENPERA NOMOR: 34/PERMEN/M/2006 TENTANG PEDOMAN UMUM PENYELENGGARAAN KETERPADUAN PRASARANA, SARANA DAN UTILITAS (PSU) KAWASAN PERUMAHAN

4. Pengawasan dan pengendalian pelaksanaan kebijakan kabupaten/kota tentang pendayagunaan dan pemanfaatan hasil teknologi dan bahan bangunan, sosial ekonomi budaya, serta PSU pendukung perumahan.

1

Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan.

1

505

2. Pemugaran

1. Perumusan kebijakan nasional tentang pendayagunaan dan pemanfaatan hasil teknologi dan bahan bangunan, sosial ekonomi budaya, serta PSU pendukung perumahan. 2. Koordinasi pelaksanaan kebijakan nasional tentang pendayagunaan dan pemanfaatan hasil teknologi dan bahan bangunan, sosial ekonomi budaya, serta PSU pendukung perumahan. 3. Fasilitasi pelaksanaan kebijakan nasional tentang pendayagunaan dan pemanfaatan hasil teknologi dan bahan bangunan, sosial ekonomi budaya, serta PSU pendukung perumahan.

1. Koordinasi pelaksanaan kebijakan provinsi tentang pendayagunaan dan pemanfaatan hasil teknologi dan bahan bangunan, sosial ekonomi budaya, serta PSU pendukung perumahan. 2. Koordinasi pelaksanaan kebijakan provinsi tentang pendayagunaan dan pemanfaatan hasil teknologi dan bahan bangunan, sosial ekonomi budaya, serta PSU pendukung perumahan. 3. Fasilitasi pelaksanaan kebijakan provinsi tentang pendayagunaan dan pemanfaatan hasil teknologi dan bahan bangunan, sosial ekonomi budaya, serta PSU pendukung perumahan.

1. Pelaksanaan kebijakan kabupaten/kota tentang pendayagunaan pemanfaatan hasil teknologi bahan bangunan, sosial ekonomi budaya serta PSU pendukung perumahan.

1

Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan.

1

2. Koordinasi pelaksanaan kebijakan kabupaten/kota tentang pendayagunaan dan pemanfaatan hasil teknologi dan bahan bangunan, sosial ekonomi budaya, serta PSU pendukung perumahan.

1

Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan.

1

3. Fasilitasi pelaksanaan kebijakan kabupaten/kota tentang pendayagunaan dan pemanfaatan hasil teknologi dan bahan bangunan, sosial ekonomi budaya, serta PSU pendukung perumahan.

1

Memerlukan NSPK karena bersifat Nasional. Urusan ini memerlukan NSPK sebagai acuan bagi semua tingkatan pemerintahan.

1

PERMENPERA NOMOR: 10/PERMEN/M/2007 TENTANG PEDOMAN BANTUAN STIMULAN PRASARANA, SARANA DAN UTILITAS UMUM (PSU) PERUMAHAN DAN PERMUKIMAN, PERMENPERA NOMOR: 02/PERMEN/M/2009 TENTANG TATA CAR A PELAKSANAAN BANTUAN STIMULAN PRASARANA, SARANA DAN UTILITAS UMUM PERUMAHAN DAN PERMUKIMAN, PERMENPERA NOMOR: 34/PERMEN/M/2006 TENTANG PEDOMAN UMUM PENYELENGGARAAN KETERPADUAN PRASARANA, SARANA DAN UTILITAS (PSU) KAWASAN PERUMAHAN

506

4. Pengawasan dan pengendalian pelaksanaan kebijakan nasional tentang pendayagunaan dan pemanfaatan hasil teknologi dan bahan bangunan, sosial ekonomi budaya, serta PSU pendukung perumahan. 3. Perbaikan 1. Perumusan kebijakan nasional tentang pendayagunaan dan pemanfaatan hasil teknologi dan bahan bangunan, sosial ekonomi budaya, serta PSU pendukung peru