Anda di halaman 1dari 4

180-199 3,3-4,1 200-219 3,0-3,7 220-239 2,7-3,4 240-259 2,5-3,1 260-300 2,2-2,7

Setelah semua asam lemak bereaksi dengan KOH akan terjadi reaksi : KOH + HCl ? KCl + H2O Setelah semua KOH habis, reaksinya : H+ + PP ? tidak berwarna Untuk menghitung angka penyabunan digunakan rumus : a = jumlah HCl 0,5 N untuk titrasi larutan yang berisi zat uji b = jumlah HCl 0,5 N untuk titrasi blanko Namun, pada percobaan kali ini, praktikan tidak menggunakan KOH melainkan NaOH, namun pada prinsipnya adalah sama. 4. Penetapan Bilangan Iodium Menurut Farmakope Indonesia edisi III bilangan Iodium adalah bilangan yang menunjukkan jumlah gram Iodium yang diserap oleh 100 gram zat. o Bila bilangan iod 130 : drying oils Angka iodium dapat digunakan untuk menentukan derajat ketidakjenuhan asam lemak yang terkandung di dalamnya, tetapi tidak dapat memberikan informasi yang signifikan mengenai jumlah ikatan tidak jenuh yang ada dalam sampel. Dari sumber yang praktikan dapatkan, dapat dinyatakan bilangan iodium sebagai berikut: Asam Lemak Jumlah Ikatan Rangkap Bilangan Iodin Asam Palmitat 1 95 Asam Oleat 1 86

Asam Linoleat 2 173 Asam Linolenat 3 261 Asam Arakidonat 4 320

Pada zat uji, dalam hal ini margarin yang telah dilelehkan ditimbang 2 gram, setelah itu dilarutkan dalam 10 ml kloroform, dan dicampurkan dengan 25 ml KBrO3 0,2 N dan 1,5 gram KBr yang dilarutkan dalam 5 ml air dan 7 ml HCl 4 N. kemudian diamkan selama 1 jam di tempat gelap. Setelah itu ditambahkan larutan KI 16 % 7 ml yang akan membetuk warna larutan coklat. Pada pendiaman selama 1 jam tersebut akan terbentuk Br2. Br2 dihasilkan dari proses reduksi BrO3- (Br yang berasal dari KBr dioksidasi oleh Br dari KBrO3 membentuk Br2). Br2 yang dihasilkan kemudian sebagian akan mengadisi margarin dan sebagian lagi akan bereaksi dengan larutan KI (I-) membentuk I2, yang kemudian dititrasi dengan Na2S2O3 menjadi I- kembali. Br2 yang mengoksidasi I- menjadi I2 menyebabkan larutan berwarna coklat. Semakin banyak volume Na2S2O3, makin banyak I2 direduksi menjadi I-, sehingga menjadi larutan tidak berwarna. Maksud pendiaman di tempat gelap selama 1 jam setelah margarin dilarutkan dengan bermacam-macam pelarut dan sebelum bereaksi dengan KI adalah supaya BrO3- sebanyak mungkin tereduksi menjadi Br2, sehingga akan banyak bereaksi dengan zat dan larutan KI. Reaksi lengkapnya adalah : 2 BrO3- + 10 Br + 12 H+ ? 6 Br2 + 6 H2O Bagian Br2 lainnya akan bereaksi dengan penambahan larutan KI : Br2 + 2 I-? I2 + 2 Br (larutan menjadi berwarna coklat) I2 yang terbentuk dititrasi denagn menggunakan larutan natrium tiosulfat, dengan reaksi : I2 + 2 S2O32- ? 2 I- + S4O62- (larutan menjadi jernih) Titrasi dihentikan apabila telah terjadi perubahan warna larutan dari coklat menjadi tidak berwarna dan pada bagian bawah larutan terdapat endapan berwarna kuning muda. Titrasi dilakukan dengan menutup mulut erlenmeyer dengan plastik untuk menghindari penguapan I2. Dari percobaan dibutuhkan larutan natrium tiosulfat sebanyak 7,515 ml untuk larutan uji dan 54,650 ml untuk larutan blanko. Perhitungan bilangan iodium dapat dilakukan dengan menggunakan rumus : (b-a) x N Na2S2O3 x 100 x 0,1269 g b = jumlah ml Na2S2O3 0,1 N untuk titrasi blanko a = jumlah ml Na2S2O3 0,1 N untuk titrasi zat uji

5. Ekstraksi kolesterol dari merah telur Pertama-tama, praktikan memisahkan kuning telur dari putihnya. Putih telur mengandung protein berupa albumin. Sedangkan kuning telur mengandung berbagai fosfolipid dalam jumlah yang sebanding dengan berat merah telur. Kemudian kuning telur dipisahkan dari putihnya. Merah telur diaduk dengan campuran 25 ml alcohol dan 12.5 ml eter, diamkan sambil dikocok sewaktu-waktu selama 10 menit. Saring ke dalam beaker kering melalui kertas saring yang dibasahi dengan alcohol. Cuci residu di atas kertas saring dengan 10 ml larutan alcohol-eter segar yang dipakai untuk ekastraksi. Uapkan filtrat hingga kering diatas waterbath, larutkan residu di dalam 10 ml eter,tuang perlahan-lahan ke dalam 30 ml aseton sambil diaduk. Endapan yang terjadi adalah lesitin(fosfolipid). Lesitin atau fosfatidilkolin adalah senyawa fosfogliserol yang mengandung kolin (lesitin mengandung gliserol, asam lemak, asam fosfat, dan kolin). Senyawa ini adalah fosfolipid kolin terdapat dengan jumlah terbanyak di dalam membran sel dan menunjukkan proporsi simpanan kolin yang besar pada tubuh. Kolin sangat penting dalam proses transmisi saraf dan sebagai simpanan, gugus metil yang labil. Lesitin dapat diperoleh dari hewan, kuning telur, kecambah, gandum, ragi, dan kedelai.

Pemisahan fosfatidilkolin dari lemak dan kolesterol dilakukan dengan pelarut eter dan aseton. Lesitin memiliki gugus kolin yang bermuatan positif sehingga lebih larut dalam eter dan kurang larut dalam aseton. Hal ini disebabkan eter memiliki elektron bebas yang dapat diserang oleh muatan positif dari kolin sehingga kolin lebih larut dalam eter daripada aseton yang tidak memiliki elektron bebas. Filtrat yang diperoleh dari penyaringan lesitin (eter-aseton) diuapkan diatas waterbath sampai menghasilkan suatu pasta. Kemudian, ditambahkan 15 ml larutan KOH dalam etanol 10% lalu disaring. Endapannya adalah sabun, sedangkan filtratnya mengandung kolesterol yang berwarna kuning kemerahan/ kecoklatan (berupa sabun). Kolesterol merupakan lipid amfipatik dan merupakan komponen penting struktural yang membentuk membran sel serta lapisan eksternal lipoprotein plasma. Kolesterol masuk ke dalam membran bilayer (membran sel) dengan gugus hidroksilnya mengarah ke fase air dan cincin hidrofobiknya berdekatan dengan gugus lemak dan fosfolipid. Gugus hidroksil dari kolesterol membentuk ikatan hidrogen dengan gugus polar fosfolipid. Kolesterol disintesis dari asetil-koA dalam banyak jaringan dan dikeluarkan dari tubuh lewat empedu. Kolesterol merupakan prekursor semua senyawa steroid dalam tubuh, seperti kortikosteroid, hormon seks, asam empedu dan vitamin D. Kolesterol terdapat dalam segala macam makanan yabg berasal dari hewan seperti kuning telur, daging hati, dan otak. 6. Reaksi Liebermann-Burchard (blanko) Percobaan ini dilakukan untuk mengidentifikasi adanya kolesterol dengn adanya pereaksi asam astat anhidrad dan H2SO4 (p) akan memberikan perubahan warna dari ungumerah menjadi biru dan

kemudian hijau dengan sedikit endapan hitam yang melayang yang disebabkan adanya gugus kromofor dan auksokrom pada kolesterol. VII. KESIMPULAN 1. Lipid (lemak) larut dalam pelarut organik yang bersifat nonpolar. Pada percobaan untuk menyatakan ikatan tak jenuh terjadi reaksi adisi I2 dengan ketiga zat uji, yaitu margarin, adeps lanae dan minyak kelapa. Hal ini ditunjukkan dengan adanya perubahan warna. 2. Angka penyabunan = 29,4525/gr lemak domba 3. Bilangan Iodium = 10,9134/gr mentega 4. Kolesterol dapat diuji dengan reaksi Liebermann-Burchard karena kolesterol mempunyai gugus kromofor yang memberikan warna dan mempunyai serapan pada panjang gelombang tertentu. 5. Pada minyak kelapa, margarin, dan lemak padat (adeps lanae) terdapat ikatan tak jenuh yang dapat dibuktikan dengan hilangnya warna iodium.

DAFTAR PUSTAKA Anonim. 1995. Farmakope Indonesia edisi IV. Jakarta: Departemen Kesehatan Republik Indonesia, halaman 57-58. Murray, Robert K. et al. 2003. Biokimia Harper Edisi ke-25. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC, halaman 156, 277, 564. http://www.nutrition.org.uk/information/foodandingredients/marg.html