Anda di halaman 1dari 6

Berikut merupakan hasil pengamatan kelarutan lemak domba: Pelarut Kelarutan Air Tidak larut Alkohol panas Tidak

larut Alkohol dingin Tidak larut Eter Larut Kloroform Larut

Air Tidak larut Bercak transparan Alkohol panas Tidak larut Bercak transparan Alkohol dingin Tidak larut Tidak ada bercak Eter Larut Bercak transparan Kloroform Larut Bercak transparan

Larutan standar + asam asetat anhidrat 10 tetes + 3 tetes H2SO4(p) ? terbentuk warna hijau Ekstrak kolesterol + asam asetat anhidrat 10 tetes + 3 tetes H2SO4(p) ? terbentuk warna hijau yang pekat

Kelarutan suatu zat dalam suatu pelarut ditentukan oleh banyak hal, antara lain adalah sifat kepolaran zat dan pelarutnya. Umumnya zat yang polar dapat larut dalam pelarut yang bersifat polar, namun tidak

dapat larut dalam pelarut nonpolar. Begitu juga sebaliknya. Hal ini dikarenakan adanya momen dipol pada zat atau pelarut sehingga dapat berikatan dan berinteraksi dengan sesamanya. Sedangkan pada pelarut nonpolar tidak memiliki momen dipol, sehingga tidak bisa berinteraksi dengan zat yang polar, jadi tidak dapat larut. Pada tes bercak lemak, adanya bercak transparan pada kertas saring menandakan adanya lemak pada zat tersebut. Pada zat dalam pelarut eter terdapat bercak karena lemak domba telah larut sehingga terbawa pada saat penetesan dan dapat membuat bercak pada kertas. Adeps lanae mengandung kolesterol, alkohol dan isokolesterol, bersama dengan berbagai ester lainnya. Selain itu, juga terdapat asam lanoserat, asam lanopalmitat, asam karnaubat, asam miristat, asam oleat, dan mungkin asam serotat serta asam palmitat. Kolesterol merupakan lipid amfipatik dan merupakan komponen penting struktural yang membentuk membran sel serta lapisan eksternal lipoprotein plasma. Kolesterol masuk ke dalam membran bilayer (membran sel) dengan gugus hidroksilnya mengarah ke fase air dan cincin hidrofobiknya berdekatan dengan gugus lemak dan fosfolipid. Gugus hidroksil dari kolesterol membentuk ikatan hidrogen dengan gugus polar fosfolipid. Kolesterol disintesis dari asetil-koA dalam banyak jaringan dan dikeluarkan dari tubuh lewat empedu. Kolesterol merupakan prekursor semua senyawa steroid dalam tubuh, seperti kortikosteroid, hormon seks, asam empedu dan vitamin D. Kolesterol terdapat dalam segala macam makanan yabg berasal dari hewan seperti kuning telur, daging hati, dan otak.

6. Reaksi Liebermann-Burchard (blanko) Percobaan ini dilakukan untuk mengidentifikasi adanya kolesterol dengn adanya pereaksi asam astat anhidrad dan H2SO4 (p) akan memberikan perubahan warna dari ungumerah menjadi biru dan kemudian hijau dengan sedikit endapan hitam yang melayang yang disebabkan adanya gugus kromofor dan auksokrom pada kolesterol. VII. KESIMPULAN 1. Lipid (lemak) larut dalam pelarut organik yang bersifat nonpolar. 2. Kolesterol dapat diuji dengan reaksi Liebermann-Burchard karena kolesterol mempunyai gugus kromofor yang memberikan warna dan mempunyai serapan pada panjang gelombang tertentu. 1.Pada lipida yang terkadung di minyak kelapa dapat membentuk noda semi transparan pada kertas. 2.Lipida last pada ester dan kloroform. Sedangkan, pada akuadestilata, dan alkohol tidak larut. Pada alkohol terbentuk emulsi.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 1995. Farmakope Indonesia edisi IV. Jakarta: Departemen Kesehatan Republik Indonesia, halaman 57-58. Murray, Robert K. et al. 2003. Biokimia Harper Edisi ke-25. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC, halaman 156, 277, 564.

http://www.nutrition.org.uk/information/foodandingredients/marg.ht ml VII.Daftar Pustaka Jalip, LS. 2008. Penuntun Praktikum Kimia Organik. Laboratorium Kimia Fakultas Biologi Universitas Nasional. Jakarta. Robinson, Trevor. 1995. Kandungan Organik Tumbuhan Tinggi. Penerbit ITB. Bandung

Adapun sifat fisika yang dimaksud ialah: (1) tidak larut dalam air, tetapi larut dalam satu atau lebih dari satu pelarut organik misalnya eter, aseton, kloroform, benzena yang sering juga disebut pelarut lemak; (2) ada hubungan dengan asam-asam lemak atau esternya; (3) mempunyai kemungkinan digunakan oleh makhluk hidup. Kesepakatan ini telah disetujui oleh Kongres Internasional Kimia Murni dan Terapan (International Congress of Pure and Applied Chemistry). Jadi berdasarkan pada sifat fisika tadi, lipid dapat diperoleh dari hewan atau tumbuhan dengan cara ekstraksi menggunakan alkohol panas, eter atau pelarut lemak yang lain. Macam senyawa-senyawa serta kuantitasnya yang diper-oleh melalui ekstraksi itu sangat tergantung pada bahan alam sumber lipid yang digunakan. Jaringan bawah kulit di sekitar perut, jaringan lemak sekitar ginjal mengandung banyak lipid

terutama lemak kira-kira sebesar 90%, dalam jaringan otak atau dalam telur terdapat lipid kira-kira sebesar 7,5 sampai 30%. (1) lipid sederhana, yaitu ester asam lemak dengan berbagai alkohol, con-tohnya lemak atau gliserida dan lilin (waxes) ; (2) lipid gabungan yaitu ester asam lemak yang mempunyai gugus tambahan, contoh-nya fosfolipid, serebrosida; (3) derivat lipid, yaitu senyawa yang dihasilkan oleh proses hidrolisis lipid, contohnya asam lemak, gliserol, dan sterol. Di samping itu berdasarkan sifat kimia yang penting, lipid dapat dibagi dalam dua golongan yang besar, yakni lipid yang dapat disabunkan, yakni dapat dihidrolisis dengan basa, contohnya lemak, dan lipid yang tidak dapat disabunkan, contohnya steroid. Hasil Tidak larut Terbentuk emulsi Larut Larut Lipida larut dalam kloroform karena merupakan pelarut organic. Sedangkan pada alcohol 96% terbentuk emulsi dan larutan tampak sedikit larut. Pada aquadestilata larut dan terbentuk emulsi. Pereaksi Olive oil Bau menusuk Kolestrol ? kuning Gliserol KHSO4

Tidak menimbulkan bau

Kolestrol + kloroform ? kuning Kolestrol + Kloroform + anhidrid ? ungu Kolestrol + kloroform + anhidrid +H2SO4 ? hitam

VII.Daftar Pustaka Jalip, LS. 2008. Penuntun Praktikum Kimia Organik. Laboratorium Kimia Fakultas Biologi Universitas Nasional. Jakarta. Robinson, Trevor. 1995. Kandungan Organik Tumbuhan Tinggi. Penerbit ITB. Bandung