KEPUTUSAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 907/MENKES/SK/VII/2002

TENTANG

SYARAT-SYARAT DAN PENGAWASAN KUALITAS AIR MINUM MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA,
Menimbang: a. bahwa dala m rangka meningkatkan derajat kesehatan masyarakat, perlu dilaksanakan berbagai upaya kesehatan termasuk pengawasan kualitas air minum yang dikonsumsi oleh masyarakat

b. bahwa agar air minum yang di konsumsi masyarakat tidak menimbulkan gangguan kesehatan perlu menetapkan persyaratan kesehatan kualitas air minum; c. bahwa sehubungan dengan huruf a dan b tersebut diatas, perlu ditetapkan Keputusan Menteri Kesehatan tentang Syarat-syarat dan Pengawasan Kualitas Air Minum; Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1984 tentang Wabah Penyakit Menular (Lembaran Negara Tahun 1984 Nomor 20, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3273); Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1992 tentang Perumahan dan Permukiman (Lembaran Negara Tahun 1992 Nomor 23, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3469); Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan (Lembaran Negara Tahun 1992 Nomor 100, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3495); Undang-undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen (Lembaran Negara Tahun 1999 Nomor 42, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3821); Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Tahun 1999 Nomor 60, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3839); Peraturan Pemerintah Nomor 22 Tahun 1982 Tentang Tata Pengaturan Air (Lembaran Negara Tahun 1982 Nomor 37, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3225); Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1999 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup (Lembaran Negara Tahun 1999 Nomor 59, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3838);

Mengingat:

1.

2.

3.

4.

5.

6.

7.

8.

Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 2000 tentang Kewenangan Pemerintah dan Pemerintah Propinsi sebagai Daerah Otonom (Lembaran Negara Tahun 2000 Nomor 54, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3952); 9. Peraturan Peme, rintah Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pembinaan dan Pengawasan Atas Penyelenggaraan Pemerintah Daerah (Lembaran Negara Tahun 2001 Nomor 41, Tambahan Lembaran Negara 4190); 10. Peraturan Pemerintah Nomor 82 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air (Lembaran Negara Tahun 2001 Nomor 153, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4161); 11. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1277/Menkes/SK/XI/2001 tentang Organisasi can Tata Kerja Departemen Kesehatan; MEMUTUSKAN: Menetapkan: KEPUTUSAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA TENTANG SYARAT-SYARAT DAN PENGAWASAN KUALITAS AIR MINUM. BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Dalam Keputusan ini yang dimaksud dengan : 1. Air Minum adalah air yang melalui proses pengolahan atau tanpa proses pengolahan yang memenuhi syarat kesehatan dan dapat langsung di minum. 2. Sampel Air adalah air yang diambil sebagai contoh yang digunakan untuk keperluan pemeriksaan laboratorium. 3. Pengelola Penyediaan Air Minum adalah Badan Usaha yang mengelola air minum untuk keperluan masyarakat. 4. Dinas Kesehatan adalah Diras Kesehatan Kabupaten/Kota. BAB II RUANG LINGKUP DAN PERSYARATAN (1) Jenis air minum meliputi : a. Air yang didistribusikan melalui pipa untuk keperluan rumah tangga; b. Air yang didistribusikan melalui tangki air; c. Air kemasan; d. Air yang digunakan untuk produksi bahan makanan dan minuman yang disajikan kepada masyarakat;

f. Inspeksi sanitasi dan pengambilan sampel air termasuk air pada sumber air baku. Pasal 4 (1) Pengawasan kualitas air minum dilaksanakan oleh Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota melalui kegiatan: a. c. d. instalasi pengolahan air dan jaringan perpipaan. BAB III PEMBINAAN DAN PENGAWASAN Pasal 3 Menteri Kesehatan melakukan pembinaan teknis terhadap segala kegiatan yang berhubungan dengan penyelenggaraan persyaratan kualitas air minum. b. e. Hasil pengawasan sebagaimana dimaksud ayat (1) wajib dilaporkan secara berkala oleh Kepala Dinas kepada Bupati/Wali Kota. (2) Persyaratan kualitas air minum sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi persyaratan bakteriologis. (3) Persyaratan kualitas air minum sebagaimana dimaksud pada ayat (2) tercantum dalam Lampiran I Keputusan ini. proses produksi. Pemilihan parameter sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan setelah dilakukan pemeriksaan kondisi awal kualitas air minum dengan mengacu pada Lampiran II Keputusan ini. Pasal 5 (1) Dalam pelaksanaan pengawasan kualitas air minum. sesuai dengan kebutuhan dan kondisi daerah tangkapan air. Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota dapat menentukan parameter kualitas air yang akan diperiksa. Tata cara penyelenggara pengawasan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (2) sebagaimana tercantum pada Lampiran II Keputusan ini. Pemeriksaan air dilakukan di tempat/di lapangan dan atau di laboratorium. dan air minum isi ulang dan air minum dalam kemasan.harus memenuhi syarat kualitas air minum. c yang ditujukan kepada pengelola penyediaan air minum. Analisis hasil pemeriksaan laboratorium dan pengamatan lapangan. Memberi rekomendasi untuk mengatasi masalah yang ditemui dari hasil kegiatan a. b. radioaktif dan fisik. Tindak lanjut upaya penanggulangan/perbaikan dilakukan oleh pengelola penyediaan air minum. (2) (3) (2) . Penyuluhan kepada masyarakat. jaringan distribusi. kimiawi.

asosiasi pengelola air minum.Pasal 6 Pemeriksaan sampel air minum dilaksanakan di laboratorium pemeriksaan kualitas air yang ditunjuk oleh Pemerintah Kabupaten/Kota. lembaga swadaya masyarakat dan organisasi profesi yang terkait. gempa bumi. dimana telah terjadi sesuatu diluar keadaan normal misalnya banjir. pemeriksaan pada pipa sambungan ke konsumen. dengan melaksanakan pemeriksaan secara berkala terhadap kualitas air yang diproduksi mulai dari : pemeriksaan instalasi pengolahan air. (b) melakukan pengamanan terhadap sumber air baku yang dikelolanya dari segala bentuk pencemaran peraturan perundangan yang berlaku. pemeriksaan pada proses isi ulang dan kemasan. pemeriksaan pada jaringan pipa distribusi. Pasal 9 (1) Pengelola penyediaan air minum harus : (a) menjamin air minum yang diproduksinya memenuhi syarat kesehatan. Pasal 8 (2) Pemerintah Kabupaten/Kota daiam melakukan pengawasan dapat mengikut sertakan instansi terkait. kekeringan dan sejenisnya. apabila terjadi penyimpangan dari syarat-syarat kualitas air minum yang ditetapkan dibolehkan sepanjang tidak membahayakan kesehatan. (2) . Pasal 7 (1) Dalam keadaan khusus/darurat dibawah pengawasan Pemerintah Kabupaten/Kota. Keadaan khusus/darurat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) yaitu suatu kondisi yang tidak seperti keadaan biasanya. Kegiatan pengawasan oleh pengelola sebagaimana di maksuokan pada ayat (1) di laksanakan sesuai pedoman sebagaimana terlampir dalam Lampiran III Keputusan ini.

. sepanjang menyangkut air minum dinyatakan tidak berlaku lagi. BAB VII KETENTUAN PENUTUP Pasal 14 Dengan ditetapkannya Keputusan ini. melakukan perbuatan yang Keputusan ini yang dapat merugikan kepentingan umum pidana berdasarkan peraturan BAB VI KETENTUAN PERALIHAN Pasal 12 Semua pengelola Penyediaan Air Minum yang telah ada harus menyesuaikan dengan ketentuan yang diatur dalam Keputusan ini selambat-lambatnya dalam waktu 2 (dua) tahun setelah ditetapkannya Keputusan ini. BAB V SANKSI Pasal 11 Setiap Pengelola Penyediaan Air Minum yang bertentangan dengan ketentuan-ketentuan dalam mengakibatkan gangguan kesehatan masyarakat dan dapat dikenakan sanksi administratif dan/ atau sanksi yang berlaku.BAB IV PEMBIYAAAN Pasal 10 Pembiayaan pemeriksaan sampel air minum sebagaimana dimaksudkan dalam Keputusan ini dibebankan kepada pihak pengelola air minum. sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. maka Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 416/MENKES/Per/IX/1990 tentang Syarat-syarat dan Pengawasan Kualitas Air. ditetapkan lebih lanjut dengan Peraturan Daerah. Pasal 13 Ketentuan pelaksanaan Keputusan Menteri Kesehatan ini. pemerintah maupun swasta dan masyarakat.

Pasal 15 Keputusan ini berlaku sejak ditetapkan. ACHMAD SUJUDI . Ditetapkan di J A K A R T A Pada Tanggal 29 Juli 2002 MENTERI KESEHATAN RI. ttd. Dr.

Air Minum E.Coli atau fecal coli Total Bakteri Coliform Jumlah per 100 ml sampel Jumlah per 100 ml sampel 0 0 2.005 Keterangan 4 . Air yang masuk sistem distribusi E. KIMIAWI 2.Coli atau fecal coli b.Coli atau fecal coli Total Bakteri Coliform c. BAKTERIOLOGIS Kadar Maksimum yang diperbolehkan 3 0 Parameter 1 a. A.1. Air pada distribusi sistem Satuan 2 Jumlah per 100 ml sampel Keterangan 4 Jumlah per 100 ml sampel Jumlah per 100 ml sampel 0 0 E. Bahan Anorganik Parameter 1 Antimon Satuan 2 (mg/liter) Kadar Maksimum yang diperbolehkan 3 0.Lampiran I KEPUTUSAN MENTERI KESEHATAN RI Nomor : 907/MENKES/SK/VII/2002 Tanggal : 29 Juli 2002 PERSYARATAN KUALITAS AIR MINUM 1. Bahan kimia yang memiliki pengaruh langsung pada kesehatan.

5 0. Bahan Organik Parameter 1 Chlorinated alkanes Carbon tetrachloride Dichloromethane 1.2-dichloroethane 1.7 0.Parameter 1 Air Raksa Arsenic Barium Boron Kadmium Kromium (Valensi 6) Tembaga Sianida Fluorida Timbal Molybdenum Nikel Nitrat( sebagai N03) Nitrit( sebagai NO 2 ) Selenium Satuan 2 (mg/liter) (mg/liter) (mg/liter) (mg/liter) (mg/liter) (mg/liter) (mg/liter) (mg/liter) (mg/liter) (mg/liter) (mg/liter) (mg/liter) (mg/liter) (mg/liter) (mg/liter) Kadar Maksimum yang diperbolehkan 3 0.01 Keterangan 4 B.1-dichloroethene 1.3 0.01 0.07 0.01 0.07 1.1-trichloroethane Chlorinated ethenes Vinyl chloride 1.02 50 3 0.2-dichloroethene Trichloroethene Satuan 2 Kadar Maksimum yang diperbolehkan 3 Keterangan 4 (µg/liter) (µg/liter) (µg/liter) (µg/liter) (µg/liter) (µg/liter) (µg/liter) (µg/liter) 2 20 30 2000 5 30 50 70 .001 0.1.003 0.05 2 0.

2-dichlorobenzene 1.5 0. Pestisida Satuan 2 (µg/liter) (µg/liter) (µg/liter) (µg/liter) (µg/liter) (µg/liter) (µg/liter) (µg/liter) (µg/liter) (µg/liter) (µg/liter) (µg/liter) (µg/liter) (µg/liter) (µg/liter) (µg/liter) Kadar Maksimum yang diperbolehkan 3 40 10 700 500 0.6 200 10 Keterangan 4 Parameter 1 Alachlor Aldicarb Aldrin/dieldrin Atrazine Bentazone Carbofuran Satuan 2 (µg/liter) (µg/liter) (µg/liter) (µg/liter) (µg/liter) (µg/liter) Kadar Maksimum yang diperbolehkan 3 20 10 0.4 0.03 2 30 5 Keterangan 4 .Parameter 1 Tetrachloroethene Aromatic hydrocarbons Benzene Toluene Xylenes Benzo[a]pyrne Chlorinated benzenes Monochlorobenzene 1.4-dichlorobenzene Trichlorobenzenes (togal) Lain-lain Di(2-ethyl hexy)adipate Di(2-ethylhexyl) phthalate Acrylamide Epichlorohydrin Hexachlorobutadiene Edetic acid (EDTA) Tributyltin oxide C.7 300 1000 300 20 80 8 0.

4D dan MCPA 2.2 30 2 1 30 20 20 0.Parameter 1 Chlordane Chlorotoluron DDT 1.3-dichloropropene Heptachlor and Heptachlor epoxide Hexachlorobenzene Isoproturon Lindane MCPA Methoxychlor Metolachlor Molinate Pendimethalin Pentachlorophenol Permethrin Propanil Pyridate Simazine Trifluralin Satuan 2 (µg/liter) (µg/liter) (µg/liter) (µg/liter) (µg/liter) (µg/liter) (µg/liter) (µg/liter) (µg/liter) (µg/liter) (µg/liter) (µg/liter) (µg/liter) (µg/liter) (µg/liter) (µg/liter) (µg/liter) (µg/liter) (µg/liter) (µg/liter) (µg/liter) (µg/liter) (µg/liter) (µg/liter) (µg/liter) (µg/liter) (µg/liter) (µg/liter) (µg/liter) (µg/liter) (µg/liter) Kadar Maksimum yang diperbolehkan 3 0.2-dichloropropane 1.03 1 9 2 2 20 10 6 20 9 20 20 100 2 20 Keterangan 4 Chlorophenoxy Herbicides selain 2.2-dibromo 3-chloropropane 2.4-D 1.4-DB Dichlorprop Fenoprop Mecoprop 90 100 9 10 .

5-T Satuan 2 (µg/liter) Kadar Maksimum yang diperbolehkan 3 9 Keterangan 4 D. Desinfektan dan hasil sampingannya Kadar Maksimum yang diperbolehkan 3 3 5 25 200 200 900 100 100 60 200 50 100 10 90 100 1 70 Parameter 1 Monochloramine Chlorine Bromate Chlorite Chlorophenol 2.4.4.6-trichlorophenol Formaldehyde Satuan 2 (mg/liter) (mg/liter) (µg/liter) (µg/liter) (µg/liter) (µg/liter) (µg/liter) (µg/liter) (µg/liter) (µg/liter) (µg/liter) (µg/liter) (µg/liter) (µg/liter) (µg/liter) (µg/liter) (µg/liter) (µg/liter) (µg/liter) Keterangan 4 Trihalomethanes Bromoform Dibromochloromethane Bromodichloromethane Chloroform Chlorinated acetic acids Dichloroacetic acid Trichloroacetic acid Chloral hydrate (trichloroacetaldehyde) Halogenated acetonitriles Dichloroacetonitrile Dibromoacetonitrile Trichloracetonitrile Cyanogen chloride (sebagai CN) .Parameter 1 2.

5 200 250 1000 3 Keterangan 4 B.2.5-8.2 Bahan Kimia yang kemungkinan dapat menimbulkan keluhan pada konsumen A.3-30 .05 0.2-dichlorobenzene 1. Bahan Anorganik Parameter 1 Ammonia Alumunium Klorida Tembaga Kesadahan Hidrogen Sulfida Besi Mangan pH Sodium Sulfat Total zat padat terlarut Seng Satuan 2 mg/l mg/l mg/l mg/l mg/l mg/l mg/l mg/l mg/l mg/l mg/l mg/l Kadar Maksimum yang diperbolehkan 3 1.3 0.5 0.4-dichlorobenzene (µg/l) (µg/l) (µg/l) (µg/l) (µg/l) (µg/l) (µg/l) 24-170 20-1800 2-200 4-2600 10-120 1 -10 0.1 6. Desinfektan dan hasil sampingannya Kadar Maksimum yang diperbolehkan 3 Parameter 1 Satuan 2 Keterangan 4 Organik Toluene Xylene Ethylbenzene Styrene Monochlorobenzene 1. Bahan Organik.2 250 1 500 0.

Dr.6-trichlorophenol 3. ttd.4.1 -10 0.4-dichlorophenol 2. RADIOAKTIFITAS Satuan 2 (µg/l) (µg/l) Kadar Maksimum yang diperbolehkan 3 5-50 50 Keterangan 4 (µg/l) (µg/l) (µg/l) (µg/l) 600-1000 0. FISIK Parameter 1 Parameter Fisik Warna Rasa dan bau Temperatur Kekeruhan Satuan 2 (Bq/liter) (Bq/liter) Kadar Maksimum yang diperbolehkan 3 0.1 1 Keterangan 4 Satuan 2 TCU _ °C NTU Kadar Maksimum yang diperbolehkan 3 15 _ Suhu udara ± 3`C 5 Keterangan 4 tidak berbau dan berasa MENTERI KESEHATAN R1. ACHMAD SUJUDI .3-40 2-300 Parameter 1 Gross alpha activity Gross beta activity 4.Parameter 1 Trichloorbenzenes (total) Deterjen Desinfektan dan hasil sampingannya Chlorine 2-chlorophenol 2.

.

dan titik sampel air minum harus dilaksanakan sesuai kebutuhan. baik pemerintah maupun swasta. frekuensi.000 jiwa. Titik pengambilan sampel air: . Air minum yang diproduksi oleh suatu perusahaan. 2) Pengambilan sampel : Jumlah.Lampiran II KEPUTUSAN MENTERI KESEHATAN RI Nomor :907/Menkes/SK/VII/2002 Tanggal : 29 Juli 2002 TATA CARA PELAKSANAAN PENGAWASAN KUALITAS AIR MINUM Dalam rangka memenuhi persyaratan kualitas air minum sebagaimana tercantum pada pasal 2 Keputusan ini. Air minum yang diproduksi oleh suatu perusahaan.000 jiwa Jumlah minimal sampel per bulan 1 sampel 1 sampel per 5000 jiwa 1 sampel per 10. didistribusikan kepada masyarakat dengan kemasan dan atau isi ulang. terjamin kualitasnya. dilakukan pada seluruh unit pengolahan air minum. dengan ketentuan minimal sebagai berikut : a) Untuk Penyediaan Air Minum Perpipaan : \ (1) Pemeriksaan kualitas bakteriogi : Jumlah minimal sampel air minum perpipaan pada jaringan distribusi adalah : Penduduk yang dilayani < 5000 jiwa 5000 s/d 10. 2. Pengawasan kualitas air minum dalam hal ini meliputi : 1. sesuai dengan persyaratan kualitas air minum yang tercantum dalam Keputusan ini. yang meiiputi : 1) Pengamatan lapangan atau inspeksi sanitasi : Pada air minum perpipaan maupun air minum kemasan. instalasi pengolahan. ditambah 10 sampel tambahan (2) (3) Pemeriksaan kualitas kimiawi : Jumlah sampel air minum perpipaan pada jaringan distribusi minimal 10% dari jumlah sampel untuk pemeriksaan bakteriologi. mulai dari sumber air baku. dan jaringan distribusi sampai dengan sambungan rumah bagi air minum perpipaan. Kegiatan pengawasan ini dilakukan oleh Dinas Kesehatan Kabupaten/ Kota.000 jiwa > 100. baik pemerintah maupun swasta yang didistribusikan ke masyarakat dengan sistem perpipaan. proses pengemasan bagi air minum kemasan. maka perlu dilaksanakan kegiatan pengawasan kualitas air minum yang diselenggarakan secara terus menerus dan berkesinambungan agar air yang digunakan oleh penduduk dari penyediaan air minum yang ada.

Coli 2) Total Bakteri Koliform b) Kimia an-organik 1) Arsen 2) Fluorida 3) Kromium (Valensi 6) .Air dalam kemasan minimal satu sampel sebulan sekali (3) Pemeriksaan kualitas air minum: Dilakukan di lapangan. selambat-lambatnya 7 hari untuk pemeriksaan mikrobiologik dan 10 hari untuk pemeriksaan kualitas kimiawi. dan di Laboratorium Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota. Air yang siap dimasukkan kedalam kemasan/botol isi ulang.2mg/I. Untuk Penyediaan Air Minum Kemasan dan atau Isi Ulang Jumlah dan frekuensi sampel air minum harus dilaksanakan sesuai kebutuhan dengan ketentuan minimal sebagai berikut: (1) Pemeriksaan kualitas Bakteriologi : Jumlah minimal sampel air minum pada penyediaan air minum kemasan dan atau isi ulang adalah sebagai berikut: Air baku diperiksa minimal satu sampel tiga bulan sekali. .\ Air dalam kemasan minimal dua sampel sebulan sekali (2) Pemeriksaan kualitas kimiawi: Jumlah minimal sampel air minum adalah sebagai berikut: . jika bahan khlor digunakan sebagai desinfektan. sisa khlor pada sampel air minimal 0. minimal satu sampel sebulan sekali.b) Harus dipilih sedemikian rupa sehingga mewakili secara keseluruhan dari sistem penyediaan air minum tersebut. (4) Hasil pemeriksaan laboratorium harus disampaikan kepada pemakai jasa. (6) Parameter kualitas air yang diperiksa : Dalam rangka pengawasan kualitas air minum secara rutin yang dilakukan oleh Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota. maka parameter kualitas air minimal yang harus diperiksa di Laboratorium adalah sebagai berikut : Parameter yang berhubungan langsung dengan kesehatan: a) Parameter Mikrobilogi : 1) E. termasuk sampel air baku. (4) Pada saat pengambilan sampel.Air yang siap dimasukkan kedalam kemasan/botol isi ulang minimal satu sampel sebulan sekali.Air baku diperiksa minimal satu sampel tiga bulan sekali . (5) Pengambilan dan pemeriksaan sampel air minum dapat dilakukan sewaktu-waktu bila diperlukan karena adanya dugaan terjadinya pencemaran air minum yang menyebabkan terjadinya gangguan kesehatan atau kejadian luar biasa pada para konsumen. atau laboratorium lainnya yang ditunjuk.

. (Sebagai NO Z) 6) Nitrat. Bahan kimia yang diperbolehkan digunakan untuk pengolahan air.4. termasuk bahan kimia tambahan lainnya hanya boleh digunakan setelah mendapatkan rekomendasi dari Dinas Kesehatan setempat. dapat dilakukan pemeriksaan bila diperlukan. Bila parameter yang teracantum dalam Lampiran II ini tidak dapat diperiksa di laboratorium kabupaten/kota.- 4) Kadmium 5) Nitrit. maka pemeriksaannya dapat dirujuk ke laboratorium propinsi atau laboratorium yang ditunjuk sebagai laboratorium rujukan. (Sebagai N03) 7) Sianida 8) Selenium Parameter yang tidak langsung berhubungan dengan kesehatan : a) Parameter Fisik : 1) Bau 2) Warna 3) Total zat padat terlarut (TDS) 4) Kekeruhan 5) Rasa 6) Suhu b) Parameter Kimiawi: 1) Aluminium 2) Besi 3) Kesadahan 4) Khlorida 5) Mangan 6) PH 7) Seng 8) Sulfat 9) Tembaga 10) Sisa Khlor 11) Amonia (7) (8) (9) (10) Parameter kualitas air minum lainnya selain dari parameter yang tersebut pada lampiran II ini. terutama karena adanya indikasi pencemaran oleh bahan tersebut. jumlah para meter yang diperiksa minimal seperti yang tercantum pada Lampiran II point c. untuk pemeriksaan selanjutnya dilakukan sesuai dengan ketentuan pengambilan sampel pada angka 2 butir a dan b Keputusan ini. Pada awal beroperasinya suatu sistem penyediaan air minum.

ttd. dengan tembusan kepada Dinas Kesehatan Propinsi dan Direktur JenderaL. Dr.(11) Hasil pengawasan kualitas air wajib dilaporkan secara berkala oleh Kepala Dinas Kesehatan setempat kepada Pemerintah Kabupaten/Kota setempat secara rutin. dan apabila terjadi kejadian luar biasa karena terjadinya penurunan kualitas air minum dari penyediaan air minum fersebut maka pelaporannya wajib langsung dilakukan. minimal setiap 3 (tiga) bulan sekali. MENTERI KESEHATAN RI. ACHMAD SUJUDI .

Total Bakteri Coliforms/E. Alkalinitas. minimal satu kali perminggu Daya Hantar Listrik (DHL). kesadahan Total.000 M3/Tahun/Unit produksi : Pada setiap reservoir (Tandon Air)/Stasiun Khlorinasi(1) (3)(1) (3) dilakukan pemeriksaan parameter: Sisa Khlor dilakukan minimal satu kali sehari pH. minimal satu kali perbulan. dilakukan minimal satu kali sebulan bila menjadi masalah. COz Agresif. 2. Untuk produksi air minum sebesar : <200. dilakukan pemeriksaan sebanyak satu sampel per 15.000 M3 produksi air minum. Coli. Untuk produksi air minum sebesar : >200.2 mg/I. Alkalinitas. dan Suhu. dilakukan minimal satu kali per minggu Daya hantar Listrik (DHL).000 M3 produksi air minum . dan Suhu. minimal satu kali sehari. dilakukan minimal satu kali per bulan bila menjadi masalah Pada jaringan pipa distribusi dilakukan pemeriksaan parameter: . sesuai dengan ketentuan sebagai berikut : 1. sisa khlor > 0. minimal satu bulan sekali pada outlet reservoir dan konsumen terjauh.Sisa Khlor/ORP(2) . pada outlet reservoir dan konsumen terjauh. sisa khlor > 0. dilakukan minimal satu kali perminggu Besi dan Mangan. dilakukan pemeriksaan sebanyak satu sampel per 15. minimal satu kali perminggu. Pengelola Air Minum dengan sistem perpipaan wajib mengadakan pengawasan internal terhadap kualitas air yang diproduksinya.2 mg/l pH.pH. COz Agresif. pada outlet reservoir sampai dengan konsumen terjauh. dilakukan minimal satu kali per minggu Besi dan Mangan. Kekeruhan. Pada jaringan pipa distribusi dilakukan pemeriksaan parameter: .000 M3/Tahun/Unit produksi: Pada setiap reservoir (Tandon Air) dilakukan pemeriksaan parameter: Sisa Khlor dilakukan minimal satu kali sehari .Sisa Khlor.Coli.Lampiran III KEPUTUSAN MENTERI KESEHATAN RI Nomor :907/Menkes/SK/VII/2002 Tanggal : 29 Juli 2002 PELAKSANAAN PENGAWASAN INTERNAL KUALITAS AIR OLEH PENGELOLA PENYEDIAAN AIR MINUM Untuk menjamin kualitas air minum yang diproduksi memenuhi persyaratan. Daya hantar Lisrik (DHL). kesadahan Total. Total Bakteri Coliforms/E.

b) Melakukan pemeliharaan jaringan perpipaan dari kebocoran dan melakukan usahausaha untuk mengatasi korosifitas air di dalam jaringan perpipaan secara rutin. titik sampling). nomor rumah. jalan. Dr. diantaranya a) Memperbaiki dan menjaga kualitas air sesuai petunjuk yang diberikan Dinas Kesehatan berdasarkan hasil pemeriksaan yang telah dilakukan. (3) Berlaku jika khlor dipakai sebagai desinfektan. jika tidak sampel khlor bebas diganti menjadi tambahan Fecal/Total coli. dilakukan pemeriksaan sebanyak satu sampel per 15. dilakukan bila menjadi masalah. DHL.Coli pH. COZ agresif. meliputi parameter : Total Bakteri Coliforms/E. Kekeruhan. Daya Hantar Listrik (DHL). hasil analisa pemeriksaan laboratorium termasuk metode yang dipakai. meliputi tempat pengambilan sampel (permukiman. Kesadahan Total. 3. Bahan Organik . DO. hanya jika telah terbukti terdapat hubungan antara sisa Chlor dan ORP dan secara rutin dikalibrasi. Suhu. waktu pengambilan. dan penyimpangan parameter. e) Mengirimkan duplikat pencatatan kepada Dinas Kesehatan setempat. d) Mencatat hasil pemeriksaan setiap sampel air.00 M3 produksi air minum. c) Membantu petugas Dinas Kesehatan setempat dalam pelaksanaan pengawasan kualitas air dengan memberi kemudahan petugas memasuki tempat-tempat dimana tugas pengawasan kualitas air diiaksanakan. ttd. ACHMAD SUJUDI (1) Untuk memastikan efisiensi proses khlorinasi sebelum didistribusikan. menurut sumber airnya. MENTERI KESEHATAN RI. Besi dan Mangan. . Langkah-langkah menjamin kualitas air minum oleh pengelola penyediaan air minum melalui sistem perpipaan. Kualitas Air Baku : Pemeriksaan kualitas air baku air minum dilakukan minimal dua kali per tahun.pH. Alkalinitas. Dokumen ini harus disimpan arsipnya untuk masa selama minimal 5 tahun. (2) Untuk pemeriksaan rutin sisa Khlor dapat digantikan sebagian dengan pengukuran ORP.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful