Anda di halaman 1dari 66

0

ABSTRAK
(judul + file lengkap lain di: http://skripsi-tesis-karyailmiah.blogspot.com/)
Ihda maratush Skolihah. B 100060067. Studi Empiris Faktor Yang
Mempengaruhi Struktur Modal Pada Perusahaan Manufaktur Di Bursa Efek
Jakarta. 2010. Skripsi S1. Universitas Muhammadiyah Surakarta.
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh kondisisi dimana banyak
perusahaan-perusahaan yang menggunakan sumber dana hutang baik disebabkan
oleh karena keterbatasan dana sendiri maupun asumsi untuk mengurangi pajak,
sehingga dirasa penting untuk dikaji tentang struktur modal yang ada pada
perusahaan dalam upaya menetapkan apakah kebutuhan dana perusahaan dipenuhi
dengan modal sendiri ataukah dipenuhi dengan modal dari luar.
Penelitian bertujuan untuk mengetahui (1) pengaruh faktor-faktor
struktur aktiva (tangible assets), ukuran perusahaan (size), operating leverage,
profitabilitas, likuiditas, dan pertumbuhan penjualan (growth sales) terhadap
struktur modal perusahaan manufaktur di bursa Efek Jakarta periode tahun 2006-
2008, (2) Faktor yang paling dominan dari variabel struktur aktiva (tangible
assets), ukuran perusahaan (size), operating leverage, profitabilitas, likuiditas, dan
pertumbuhan penjualan (growth sales) terhadap struktur modal perusahaan
manufaktur di Bursa Efek Jakarta tahun 2006-2008.
Penelitian menggunakan metode kuantitatif. Data yang digunakan
adalah data sekunder yang berupa laporan keuangan perusahaan manufaktur yang
dipublikasikan di Bursa Efek Jakarta khususnya dari Indonesian Capital Market
Directory tahun 2006-2008, yang berkaitan dengan total asset (TA), current asset
(CA), fixed asset (FA), total liabilities (TL), current liabilities (CL), capital,
sales, earning before interest and taxes (EBIT), dan net profit margin (NPM).
Teknik analisis data dilakukan dengan uji regresi linier berganda, dan uji-F, uji-t.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) Faktor-faktor Tangible asset
(FTA), Firm size (SIZE), Operating leverage (DOL), Profitabilitas (NPM),
Likuiditas (CR), dan Growth sales (GS) secara bersama-sama berpengaruh
signifikan terhadap struktur modal (DTA) pada perusahaan manufaktur di BEJ
tahun 2006-2008, (2) Apabila faktor-faktor struktur modal tidak bekerja secara
serempak, maka yang berpengaruh hanyalah tangible asset (FTA), firm size, dan
likuiditas (CR). Hal ini sebagaimana terlihat dalam uji-t yaitu nilai signifikansi t
yang lebih kecil dari 0,5 hanya tangible assets (FTA) yaitu sebesar 0,000, firm
size (SIZE) sebesar 0,023, dan likuiditas (CR) sebesar 0,000, (3) Bersasarkan
persamaan regresi yang diperoleh yaitu DTA = 0,75 - 0,569 FTA + 0,37 Size +
0,14 DOL -0,55 NPM 0,161 CR + 0,13 GS, maka terlihat bahwa koefisien
regresi terbesar adalah pada variabel tangible assets (FTA) dalam bentuk
pengaruh positif, selanjutnya adalah variabel NPM dalam bentuk pengaruh
negatif, selanjutnya adalah SIZE dalam bentuk pengaruh positif, selanjutnya
adalah CR dalam bentuk pengaruh negatif, selanjutnya adalah DOL dalam bentuk
pengaruh positif dan terakhir adalah GS dalam bentuk pengaruh positif.

Kata Kunci: Struktur modal, perusahaan manufaktur

1

BAB I
PENDAHULUAN

(judul + file lengkap lain di: http://skripsi-tesis-karyailmiah.blogspot.com/)
A. Latar Belakang Masalah
Kebutuhan perusahaan akan modal untuk melakukan
pengembangan-pengembangan usaha merupakan kebutuhan yang sifatnya
cukup urgen. Berbagai perusahaan melakukan upaya-upaya tertentu untuk
mencukupi kebutuhan modalnya, diantaranya dengan membuat hutang-
hutang pada perusahaan pendanaan, ataupun dengan pembiayaan sendiri.
Fungsi keuangan merupakan salah satu fungsi penting bagi perusahaan dalam
kegiatan perusahaan. Dalam mengelola fungsi keuangan salah satu unsur
yang perlu diperhatikan adalah seberapa besar perusahaan mampu memenuhi
kebutuhan dana yang akan digunakan untuk beroperasi dan mengembangkan
usahanya. Pemenuhan dana ini bisa bersumber dari dana sendiri, modal
saham maupun dengan hutang, baik hutang jangka pendek maupun hutang
jangka panjang.
Kecenderungan perusahaan yang makin banyak menggunakan
hutang, tanpa disadari secara berangsur-angsur akan menimbulkan kewajiban
yang makin berat bagi perusahaan saat harus melunasi hutang tersebut. Tidak
jarang perusahaan-perusahaan yang akhirnya tidak mampu memenuhi
kewajiban tersebut, dan bahkan dinyatakan pailit. Hingga kini belum ada
rumus matematik yang tepat untuk menentukan jumlah optimal dari hutang
dan ekuitas dalam struktur modal (Seitz, 1984:301). Pedoman umum

1
2

hanyalah mencari hutang sebanyak mungkin tanpa meningkatkan risiko atau
menurunkan fleksibilitas perusahaan.
Keputusan pendanaan keuangan perusahaan akan sangat
menentukan kemampuan perusahaan dalam melakukan aktivitas operasinya
dan juga akan berpengaruh terhadap resiko perusahaan itu sendiri. Jika
perusahaan meningkatkan leverage maka perusahaan ini dengan sendirinya
akan meningkatkan resiko keuangan perusahaan. Sebaliknya, perusahaan
harus memperhatikan masalah pajak, karena sebagian ahli berpendapat bahwa
penggunaan modal yang berlebihan akan menurunkan tingkat profitabilitas.
Untuk itu sebagian manajer tidak sepenuhnya mendanai perusahaannya
dengan modal tetapi juga disertai penggunaan dana melalui hutang baik itu
hutang jangka pendek maupun hutang jangka panjang karena terkait dengan
sifat penggunaan dari hutang tersebut yaitu bersifat mengurangi pajak. Hal ini
merupakan salah satu alasan mengapa banyak perusahaan menggunakan
hutang sebagai sumber pendanaannya. Sebagaimana dikemukakan oleh
Franco Modigliani dan Merton Miller adalah bapak dari teori struktur modal
(Groth dan Anderson, 1997) dalam Theory of Investment, mereka
mengemukakan teori struktur modal dengan berbagai asumsi yang tidak
mungkin terjadi, akan tetapi sangat membantu dalam memahami bagaimana
perusahaan menentukan bauran pendanaan yang berasal dari hutang dan
ekuitas secara benar. Asumsi-asumsi yang mendasari adalah (Megginson,
1997:316):

3

1. Semua aktiva berujud dimiliki oleh perusahaan.
2. Pasar modal sempurna (tidak ada pajak, tidak ada biaya transaksi, dan
tidak ada biaya kebangkrutan).
3. Perusahaan hanya dapat menerbitkan dua macam sekuritas, yakni ekuitas
yang berisiko dan hutang bebas (tanpa) risiko.
4. Individu maupun perusahaan dapat meminjam atau meminjamkan uang
dengan tingkat suku bunga bebas risiko.
5. Para investor mempunyai ekspektansi yang sama (homogen) terhadap
keuntungan perusahaan di masa yang akan datang.
6. Semua perusahaan tidak mengalami pertumbuhan (arus kas diasumsikan
konstan dan perpetual, dan semua laba dibagikan dalam bentuk dividen).
7. Semua perusahaan dapat dikelompokkan dalam satu kelompok kembalian,
dan kembalian saham dari semua perusahaan dalam kelompok tersebut
adalah proporsional.
Terdapat asumsi bahwa maka nilai perusahaan yang tidak menggunakan
hutang (unlevered firm) sama persis dengan perusahaan yang menggunakan
hutang (levered firm) (Megginson, 1997:316).
Menurut Ferri & John (1979 dalam Muhammad Rizal, 2002)
struktur keuangan dipengaruhi oleh beberapa hal antara lain klasifikasi
industri, ukuran perusahaan, risiko bisnis (business risk), dan operating
leverage. Sedangkan Rajan & Zinggales (1995 dalam Muhammad Rizal,
2002: 23) mengatakan bahwa ada beberapa faktor yang berhubungan dengan
leverage perusahaan yaitu tangible asset, the market to book ratio (investment
4

opportunity), ukuran perusahaan (firm size) dan profitabilitas perusahaan.
Sedangkan Wald (1999 dalam Muhammad Rizal, 2002:44) mengatakan
bahwa struktur modal berhubungan dengan tingkat long term debt / asset
ratio, resiko perusahaan, profitabilitas, firm size dan growth. Menurut Ghosh,
Cai dan Li (2000 dalam Rizal, 2002:26) bahwa asset size, beban research dan
development, beban periklanan, beban penjualan dan koefisien variasi dari
cash flow digunakan dalam memprediksi faktor-faktor yang mempengaruhi
struktur modal. Sedangkan Ozkan (2001 dalam Rizal, 2002:28) menemukan
bahwa profitability, liquidity dan growth mempunyai pengaruh yang negatif
terhadap struktur modal.
Mengingat bahwa saat ini sangat banyak perusahaan-perusahaan
yang menggunakan sumber dana hutang baik disebabkan oleh karena
keterbatasan dana sendiri maupun asumsi untuk mengurangi pajak, maka
penting untuk dikaji tentang struktur modal yang ada pada perusahaan dalam
upaya menetapkan apakah kebutuhan dana perusahaan dipenuhi dengan
modal sendiri ataukah dipenuhi dengan modal dari luar. Sebagaimana
disebutkan Weston dan Brigham (1990:24) bahwa kebijakan mengenai
struktur modal melibatkan trade off antara risiko dan tingkat pengembalian-
penambahan utang dapat memperbesar risiko perusahaan tetapi sekaligus juga
memperbesar tingkat pengembalian yang diharapkan. Risiko yang semakin
tinggi akibat membesarnya utang cenderung menurunkan harga saham, tetapi
meningkatnya tingkat pengembalian yang diharapkan akan menaikkan harga
saham tersebut. Struktur modal yang optimal adalah struktur modal yang
5

mengoptimalkan keseimbangan antara risiko dan pengembalian sehingga
memaksimumkan harga saham. Untuk itu, dalam penetapan struktur modal
suatu perusahaan perlu mempertimbangkan berbagai variabel yang
mempengaruhinya.
Penggunaan modal yang berasal dari pembuatan hutang dengan
perusahaan-perusahan finansial (lising) ini banyak dijumpai pada perusahaan
maufaktur yang ada di Bursa Efek Jakarta (BEJ) pada tahun 2006-2008.
Dengan demikian, maka analisis struktur modal bagi perusahaan manufaktur
di Bursa Efek jakarta tahun 2006-2008 ini sangat penting dilakukan untuk
meningkatkan efektivitas pengambilan keputusan manajemen dalam hal
sumber biaya dari hutang dengan perusahaan pembiayaan. Atas dasar kondisi
ini, maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian yang berjudul Studi
Empiris Faktor Yang Mempengaruhi Struktur Modal Pada Perusahaan
Manufaktur Di Bursa Efek Jakarta.

B. Identifikas Masalah
Berdasarkan atas uraian yang telah dikemukakan dalam
latarbelakang masalah, dapat dibuat identifikasi masalah sebagai berikut:
1. Penggunaan modal yang bersumber dari hutang merupakan hal yang
dianggap cukup menguntungkan baik bagi perusahaan-perusahaan yang
mengalami keterbatasan sumber dana internal maupun oleh perusahaan-
perusahaan yang ingin meminimalkan biaya pajak. Hal ini mengakibatkan
banyak perusahaan menjadikan sumber dana hutang sebagai alternatif
6

yang cukup sering diambil untuk mencukupi kebutuhan pembiayaan
perusahaan.
2. Penggunaan sumber dana hutang yang dilakukan tanpa memperhitungkan
kemampuan perusahaan dan struktur modalnya dapat berakibat pada
tingginya resiko beban perusahaan dan ketidak efektifan penggunaan
sumberdaya finansial.

C. Rumusan Masalah
Berdasarkan pada latar belakang masalah dan identifikasi masalah
yang telah diuraikan, dibuat rumusan masalah penelitian sebagai berikut:
1. Apakah struktur modal perusahaan manufaktur di bursa Efek Jakarta
(BEJ) periode tahun 2006-2008 dipengaruhi oleh faktor-faktor antara lain
struktur aktiva (tangible assets), ukuran perusahaan (size), operating
leverage, profitabilitas, likuiditas, dan pertumbuhan penjualan (growth
sales)?
2. Dari keseluruhan variabel di atas, variabel manakah yang paling
berpengaruh terhadap struktur modal perusahaan manufaktur di Bursa
Efek Jakarta tahun 2006-2008?

D. Tujuan Penelitian
Adapun tujuan dari dilaksanakannya penelitian ini adalah untuk
mengetahui hal-hal berikut:
7

1. Pengaruh faktor-faktor struktur aktiva (tangible assets), ukuran
perusahaan (size), operating leverage, profitabilitas, likuiditas, dan
pertumbuhan penjualan (growth sales) terhadap struktur modal
perusahaan manufaktur di bursa Efek Jakarta periode tahun 2006-2008.
2. Faktor yang paling dominan dari variabel struktur aktiva (tangible
assets), ukuran perusahaan (size), operating leverage, profitabilitas,
likuiditas, dan pertumbuhan penjualan (growth sales) terhadap struktur
modal perusahaan manufaktur di Bursa Efek Jakarta tahun 2006-2008.

E. Manfaat Penelitian
Hasil penelitian diharapkan dapat memberikan manfaat dalam
beberapa aspek sebagai berikut:
1. Manfaat Teoretis
Hasil penelitian diharapkan dapat menambah khasanah penegtahuan yang
berkaitan dengan faktor-faktor yang mempengaruhi struktur modal dalam
suatu perusahaan.
2. Manfaat Praktis
a. Bagai Perusahaan
Hasil penelitian diharapkan dapat menjadi rujukan dalam pembuatan
keputusan tentang penggunaan dana hutang dalam upaya untuk
menyesuaikan terhadap struktur modal yang ada dalam perusahaan
sehingga terbentuk keputusan yang lebih efektif.

8

b. Bagi Pihak Lain
Hasil penelitian diharapkan dapat menjadi referensi untuk
dilakukannya penelitian lanjutan tentang struktur modal dan faktor-
faktor yang mempengaruhinya sebagai penelitian pendalaman yang
lebih spesifik.

F. Sistematika Penulisan Skripsi
Bab satu, pendahuluan yang berisi latarbelakang masalah, identifikasi
masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, dan
sistematika penulisan.
Bab dua, landasan teoretik yang berisi teori-teori tentang modal,
konsep modal hutang dan struktur modal, faktor yang mempengaruhi struktur
modal, penelitian terdahulu, dan hipotesis penelitian.
Bab tiga, metodologi penelitian yang berisi pendekatan penelitian,
tempat dan waktu penelitian, populasi dan sampel penelitian, data dan teknik
pengumpulan data, variabel penelitian, dan teknik analisis data.
Bab empat, hasil penelitian dan pembahasan yang berisi hasil
penelitian dan pembahasan.
Bab lima, penutup berisi kesimpilan, implikasi hasil penelitian, dan
saran.


9

BAB II
LANDASAN TEORI
(judul + file lengkap lain di: http://skripsi-tesis-karyailmiah.blogspot.com/)
A. Kajian Teori
1. Konsep Tentang Modal
Dalam ilmu ekonomi, istilah capital (modal) merupakan
konsep yang pengertiannya berbeda-beda, tergantung dari konteks
penggunaannya dan aliran pemikiran (school of thought) yang dianut.
Secara historis konsep modal juga mengalami perubahan/perkembangan
(Snavely, dalam Encyclopedia Americana 1980:595). Dalam abad ke-16
dan 17 istilah capital dipergunakan untuk memnunjuk kepada (a) stok
uang yang akan dipakai untuk membeli komoditi fisik yang kemudian
dijual guna memperoleh keuntungan, atau (b) stok komoditi itu sendiri.
Pada waktu itu istilah stock dan istilah capital sering dipakai secara
sinonim. Perusahaan dagang Inggris yang didirikan dalam masa itu atas
dasar saham misalnya, dikenal sebagai join stock companies atau
capital stock companies.
Adam Smith dalam The Wealth of Nation (1776 dalam
Wirdadi, 2008:3) juga menggunakan istilah capital dan circulating
capital. Pembedaan ini didasarkan atas kriteria sejauh mana suatu unsur
modal itu terkonsumsi dalam jangka waktu tertentu (misal satu tahun).
Jika suatu unsur modal itu dalam jangka waktu tertentu hanya
terkonsumsi sebagian sehingga hanya sebagian (kecil) nilainya menjadi

9
10

susut, maka unsur itu disebut fixed capital (misal mesin, bangunan, dan
sebagainya). Tetapi jika unsur modal terkonsumsi secara total, maka ia
disebut circulating capital (misal tenaga kerja, bahan mentah dan sarana
produksi). Pembedaan semacam ini (yang juga masih umum
dipergunakan sampai sekarang), mendapat kritik dari Marx (Bottomore
1983, dalam Wirdadi 2008: 4).
John Stuart Mill dalam Principle of Political Economy (1848)
menggunakan istilah capital dengan arti: (1) barang fisik yang
dipergunakan untuk menghasilkan barang lain, dan (2) suatu dana yang
tersedia untuk mengupah buruh. Pada akhir abad ke-19, modal dalam arti
barang fisik yang dipergunakan untuk menghasilkan barang lain,
dipandang sebagai salah satu di antara empat faktor utama produksi (tiga
lainnya adalah tanah, tenaga kerja dan organisasi atau managemen). Para
ahli ekonomi neo-klasik pun menggunakan pandangan ini, misalnya
Alfred Marshall dalam Principles of Economies 1890 (Wirdadi: 2008:4).
Sekarang, modal sebagai suatu konsep ekonomi
dipergunakan dalam konteks yang berbeda-beda. Dalam rumusan yang
sederhana, misalnya Mubyarto (1973 dalam Wirdadi, 2008:4)
memberikan definisi modal sebagai barang atau uang, yang bersama-
sama faktor produksi tanah dan tenaga kerja menghasilkan barang-barang
baru. Dalam artian yang lebih luas, dan dalam tradisi pandangan ekonomi
non-Marxian pada umumnya, modal mengacu kepada asset yang dimiliki
seseorang sebagai kekayaan (wealth) yang tidak segera dikonsumsi
11

melainkan disimpan atau dipakai untuk menghasilkan barang/jasa baru
(investasi). Dengan demikian, modal dapat berwujud barang dan uang.
Akan tetapi, tidak setiap jumlah uang dapat disebut modal.
Sejumlah uang itu menjadi modal apabila uang tersebut ditanam atau
diinvestasikan untuk menjamin adanya suatu kembalian (rate of return).
Dalam arti ini modal juga mengacu kepada investasi itu sendiri yang
dapat berupa alat-alat finansial seperti deposito, stok barang, ataupun
surat saham yang mencerminkan hak atas sarana produksi, atau dapat
pula berupa sarana produksi fisik. Kembalian itu dapat berupa
pembayaran bunga, ataupun klaim atas suatu keuntungan.
Modal yang berupa barang (capital goods), mencakup
durable (fixed) capital dalam bentuk bangunan pabrik, mesin-mesin,
peralatan transportasi, kemudahan distribusi, dan barang-barang lainnya
yang dipergunakan untuk memproduksi barang/jasa baru; dan non
durable (circulating) capital, dalam bentuk barang jadi ataupun setengah
jadi yang berada dalam proses untuk diolah menjadi barang jadi.
Terdapat pula adanya penggunaan istilah capital untuk
mengacu kepada arti yang lebih khusus, misalnya social capital dan
human capital. Istilah yang pertama mengacu kepada jenis modal yang
tersedia bagi kepentingan umum, seperti rumah sakit, gedung sekolahan,
jalan raya dan sebagainya, sedangkan istilah yang kedua mengacu kepada
faktor manusia produtif yang secara inherent tercakup faktor kecakapan
dan keterampilan manusia. Menyelenggarakan pendidikan misalnya,
12

disebut sebagai suatu investasi dalam human capital (Schultz 1961,
dalam Mubyarto 1973:98).
Para ahli ekonomi non-Marxian pada umumnya mengikuti
pengerian-pengertian di atas, sedangkan Marx menggunakan istilah
capital untuk mengacu kepada konsep yang berbeda. Modal bukanlah
barang, melaikan hubungan (produksi) sosial yang menampakkan diri
sebagai barang. Memang, berbicara tentang modal berarti berbicara
tentang bagaimana menghasilkan uang, tetapi asset yang menghasilkan
uang itu mewadahi hubungan khusus antara si pemilik dengan yang
bukan pemilik sedemikian rupa sehingga bukan saja bahwa uang dibuat,
tetapi juga bahwa hubungan-hubungan pemilikan pribadi yang
melahirkan proses tersebut secara terus-menerus terlestarikan (Bottmore
1983:60). Dengan demikian, capital adalah suatu konsep abstrak yang
manifestasinya dapat berupa barang atau uang. Karena itu, ia merupakan
kategori yang kompleks, yang tidak cukup diterangkan hanya dengan
satu definisi. Konseptualisasi Marx mengenai capital barangkali dapat
dijabarkan secara sederhana dalam enam butir pokok berikut ini
(Bottomore 1983:60-63):
a. Transformasi uang menjadi modal berjalan melalui proses tertentu,
terdiri dari dua rangkaian transaksi dalam suasana sirkulasi, yaitu:
(1) menjual komoditas (K) dan uang yang diterima (U) dipakai untuk
membeli komoditas lain; dan (2) membeli komoditas untuk
kemudian dijual lagi (Secara bagan: K-U-K; dan U-K-U).
13

b. Dalam rangkaian transaksi itu faktor nilai menjadi penting, sebab
terutama dalam U-K-U, transaksi itu hanya bermakna jika jumlah
uang pada titik akhir menjadi lebih besar daripada jumlah asal (kalau
tidak, ya bagaimana keuntungan dapat diperoleh). Kalau pertukaran
itu merupakan pertukaran nilai yang setara, bagaimana tambahan
uang bisa diperoleh. Sebaliknya, kalau tidak setara, berarti nilai itu
sendiri tidak tercipta. Marx menjawab persoalan ini dengan
menerapkan nilai-guna. Nilai guna mempunyai sifat menciptakan
nilai tambahan atau nilai-lebih. Komoditas yang mempunyai nilai-
guna seperti itu adalah tenaga kerja.
c. Jalur K-U-K, secara tipikal mengacu kepada transaksi pengupahan
tenaga kerja. Buruh menjual tenaganya untuk memperoleh sejumlah
uang (berupa upah) yang pada gilirannya dipakai untuk membeli
barang lain (pangan dan lain-lain kebutuhan) yang diperlukan untuk
dapay mereproduksi tenaganya. Karena itu dalam transaksi ini, uang
sama sekali tidak bertindak sebagai modal. Namun, jika dilihat dari
arah transaksi yang terbalik dan nilai dimasukan, maka uang di sini
dapat disebut sebagai unsur modal yang oleh Marx disebut dengan
istilah variable capital (VC). Tetapi VC dilihat dari si pengupah.
d. Sebaliknya, jalur U-K-U meupakan transaksi yang mencakup
pembelian sarana produksi yang kemudian diolah menjadi produk
yang kemudian dijual untuk memperoleh uang lebih banyak. Jadi,
berbeda dengan upah yang dibelanjakan untuk membeli barang yang
14

dikonsumsi dan kemudian lenyap sama sekali, dalam jalur U-K-U ini
uang hanya merupakan advance untuk kemudian muncul kembali
dalam jumlah yang lebih banyak. Disinilah uang ditranformasikan
menjadi capital dalam suatu proses historis ketika tenaga kerja
menjadi komoditas. Hal ini terkait dengan konsep freedom makna
ganda.
e. Modal (dalam konsep Marx) adalah nilai yang membengkak sendiri
(self expanding value) atau nilai dalam gerak (value in motion).
f. Ada sepasang konsep lagi dari Marx yang sering dikacaukan
penggunaannya dengan konsep fixed dan circulating capital dari
ekonomi non-Marxian, yaitu apa yang disebut constant capital (CC)
dan variable capital (VC). CC adalah bagian dari modal yang
dikeluarkan (advance) untuk diubah menjadi sarana produksi yang
dalam proses produksi tidak mengalami perubahan nilai. Artinya,
nilai sarana produksi itu disimpan dalam nilai produk yang
dihasilkan, suatu proses pengalihan nilai melalui proses kerja.
Proses produksi adalah transformasi nilai-guna. Nilai-guna dari
barang (sarana produksi) yang diolah, dikonsumsi. Tetapi nilai
barang itu sendiri dialihkan ke dalam produk baru. Demikian tentang
CC. VC adalah bagian dari modal yang dikeluarkan untuk diubah
menjadi tenaga kerja yang dalam proses produksi kegiatannya
menuju kepada dua arah, yaitu produksi nilai setaranya sendiri, dan
15

di lain pihak menghasilkan nilai-tambah, yang besarnya beragam
menurut keadaan.
2. Konsep Modal Hutang dan Struktur Modal
Modal (pembelanjaan dari luar perusahaan) dikelompokkan
dalam dua jenis, yaitu hutang dan ekuitas (modal sendiri). Hutang
mempunyai keunggulan berupa (Brigham and Gapenski, 1997:767-768):
a. Bunga mengurangi pajak sehingga biaya hutang rendah,
b. Kreditur memperoleh return terbatas sehingga pemegang saham tidak
perlu berbagi keuntungan ketika kondisi bisnis sedang maju,
c. Kreditur tidak memiliki hak suara sehingga pemegang saham dapat
mengendalikan perusahaan dengan penyertaan dana yang kecil.
Meskipun demikian, hutang juga mempunyai beberapa kelemahan,
yaitu:
a. Hutang biasanya berjangka waktu tertentu untuk dilunasi tepat waktu,
b. Rasio hutang yang tinggi akan meningkatkan risiko yang selanjutnya
akan meningkatkan biaya modal,
c. Bila perusahaan dalam kondisi sulit dan labanya tidak dapat
memenuhi beban bunga maka tidak tertutup kemungkinan dilakukan
tindakan likuidasi.
Bauran hutang dan ekuitas untuk pendanaan perusahaan merupakan
bahasan utama dari keputusan struktur modal (capital structure decision).
Bauran modal yang efisien dapat menekan biaya modal (cost of capital),
yang dapat meningkatkan kembalian ekonomi netto dan meningkatkan
16

nilai perusahaan. Perusahaan yang hanya menggunakan ekuitas disebut
unlevered firm, sedangkan yang menggunakan bauran ekuitas dan
berbagai macam hutang disebut levered firm.
Pemilihan alternatif penambahan modal yang berasal dari
kreditur (hutang) pada umumnya didasarkan pada pertimbangan: murah.
Dikatakan murah, karena biaya bunga yang harus ditanggung lebih kecil
dari laba yang diperoleh dari pemanfaatan hutang tersebut. Sesuai dengan
EBIT-EPS Analysis (Gitman, 1994:465-468), bila biaya bunga hutang
murah, perusahaan akan lebih beruntung menggunakan sumber modal
berupa hutang yang lebih banyak, karena menghasilkan laba per saham
yang makin banyak. Sebagai gambaran mengenai EBIT-EPS Analysis
dapat dilihat pada Gambar 1 berikut:

Gambar 1. Contoh Analisis EBIT-EPS
17


Penggunaan hutang yang makin banyak, dicerminkan oleh debt ratio
(rasio antara hutang dengan total aktiva) yang makin besar, pada
perolehan laba sebelum bunga dan pajak (EBIT) yang sama akan
menghasilkan laba per saham (EPS) yang lebih besar. Gambaran
semacam ini yang banyak diacu oleh perusahaan-perusahaan dalam
memenuhi kebutuhan modalnya.
Mengacu pada penelitian yang dilakukan oleh Ghosh (2000,
dalam Susetyo, 2006:14), struktur modal adalah perbandingan antara
hutang perusahaan (total debt) dengan total aktiva (total assets).
Pengertian lain adalah struktur modal merupakan proporsi atau bauran
dari penggunaan modal sendiri dan hutang dalam memenuhi kebutuhan
dana perusahaan.
Terkait dengan struktur modal, terdapat beberapa teori sebagai
berikut:
a. Agency Theory
Teori ini dikemukakan oleh Michael C. Jansen dan
William H. Meckling pada tahun 1976 (Horne dan Wachowicz,
1998, dalam Saidi, 2001:87), manajemen merupakan agen dari
pemegang saham, sebagai pemilik perusahaan. Para pedagang saham
berharap agen akan bertindak atas kepentingan mereka sehingga
mendelegasikan wewenang kepada agen. Untuk dapat melakukan
fungsinya dengan baik, manajemen harus diberikan insentif dan
18

pengawasan yang memadai. Pengawasan dapat dilakukan melalui
cara-cara seperti pengikatan agen, pemeriksaan laporan keuangan,
dan pembatasan terhadap keputusan yang dapat diambil manajemen.
Kegiatan pengawasan tentu saja membutuhkan biaya yang disebut
dengan biaya agensi.
Biaya agensi menurut (Horne dan Wachowic, 1998:482
dalam Saidi, 2001:88) adalah biaya-biaya yang berhubungan dengan
pengawasan manajemen untuk meyakinkan bahwa manajemen
bertindak konsisten sesuai dengan perjanjian kontraktual perusahaan
dengan kreditor dan pemegang saham. Menurut (Horne dan
Wachowicz 1998, dalam Saidi, 2001:88), salah satu pendapat dalam
teori agensi adalah siapapun yang menimbulkan biaya pengawasan,
biaya yang timbul pasti tanggungan pemegang saham. Sebagai
misal, pemegang obligasi, mengantisipasi biaya pengawasan, serta
membebankan bunga yang lebih tinggi. Semakin besar peluang
timbulnya pengawasan, semakin tinggi tingkat bunga, dan semakin
rendah nilai perusahaan bagi pemegang saham. Biaya pengawasan
berfungsi sebagi insentif dalam penerbitan obligasi, terutama dalam
jumlah yang besar. Jumlah pengawasan yang diminta pemegang
obligasi akan meningkat seiring dengan meningkatnya jumlah
obligasi yang beredar.


19

b. Signaling Theory
Isyarat atau signal menurut (Brigham dan Houston, 1999
dalam Saidi, 2001:92) adalah suatu tindakan yang diambil
manajemen perusahaan yang memberi petunjuk bagi investor tentang
bagaimana manajemen memandang prospek perusahaan. Dalam
(Brigham dan Houston, 1999 dalam Saidi, 2001:92), perusahaan
dengan prospek yang menguntungkan akan mencoba menghindari
penjualan saham dan mengusahakan setiap modal baru yang
diperlukan dengan cara-cara lain, termasuk penggunaan hutang yang
melebihi target struktur modal yang normal. Perusahaan dengan
prospek yang kurang menguntungkan akan cenderung untuk menjual
sahamnya. Pengumuman emisi saham oleh suatu perusahaan
umumnya merupakan suatu isyarat (signal) bahwa manajemen
memandang prospek perusahaan tersebut suram. Apabila suatu
perusahaan menawarkan penjualan saham baru lebih sering dari
biasanya, maka harga sahamnya akan menurun, karena menerbitkan
saham baru berarti memberikan isyarat negatif yang kemudian dapat
menekan harga saham sekalipun prospek perusahaan cerah.
c. Asymmetric Information Theory
Asymmetric Information atau ketidaksamaan informasi
menurut (Brigham dan Houston, 1999;35 dalam Saidi, 2001:94)
adalah situasi di mana manajer memiliki informasi yang berbeda
(yang lebih baik) mengenai prospek perusahaan daripada yang
20

dimiliki investor. Asimetri informasi ini terjadi karena pihak
manajemen mempunyai informasi yang lebih banyak daripada para
pemodal. Dengan demikian, pihak manajemen mungkin berpikir
bahwa harga saham saat ini sedang over value (terlalu mahal). Kalau
hal ini yang diperkirakan terjadi, maka manajemen tentu akan
berpikir untuk lebih baik menawarkan saham baru sehingga dapat
dijual dengan harga yang lebih mahal dari yang seharusnya.
Tetapi, pemodal akan menafsirkan kalau perusahaan
menawarkan saham baru, salah satu kemungkinannya adalah harga
saham saat ini sedang terlalu mahal (sesuai dengan persepsi pihak
manajemen). Sebagai akibatnya para pemodal akan menawar harga
saham baru tersebut dengan harga yang lebih rendah. Karena itu
emisi saham baru akan menurunkan harga saham.
d. Pecking Order Theory
Teori ini menyatakan bahwa: (a) Perusahaan menyukai
internal financing (pendanaan dari hasil operasi perusahaan
berwujud laba ditahan), (b) Apabila pendanaan dari luar (eksternal
financing) diperlukan, maka perusahaan akan menerbitkan sekuritas
yang paling aman terlebih dulu, yaitu dimulai dengan penerbitan
obligasi, kemudian diikuti oleh sekuritas yang berkarakteristik opsi
(seperti obligasi konversi), baru akhirnya apabila masih belum
mencukupi, saham baru diterbitkan. Sesuai dengan teori ini, tidak
ada suatu target debt to equity ratio, karena ada dua jenis modal
21

sendiri, yaitu internal dan eksternal. Modal sendiri yang berasal dari
dalam perusahaan lebih disukai daripada modal sendiri yang berasal
dari luar perusahaan.
Menurut Myers (1996) perusahaan lebih menyukai
penggunaan pendanaan dari modal internal, yaitu dana yang berasal
dari aliran kas, laba ditahan dan depresiasi. Urutan penggunaan
sumber pendanaan dengan mengacu pada packing order theory
adalah internal fund (dana internal), debt (hutang), dan equity
(modal sendiri) (Kaaro, 2003 dalam Saidi, 2001:95).
Dana internal lebih disukai karena memungkinkan
perusahaan untuk tidak perlu membuka diri lagi dari sorotan
pemodal luar. Kalau bisa memperoleh sumber dana yang diperlukan
tanpa memperoleh sorotan dan publisitas publik sebagai akibat
penerbitan saham baru. Dana eksternal lebih disukai dalam bentuk
hutang daripada modal sendiri karena dua alasan. Pertama adalah
pertimbangan biaya emisi. Biaya emisi obligasi lebih murah dari
biaya emisi saham baru (Suad Husnan, 1996:325), hal ini disebabkan
karena penerbitan saham baru akan menurunkan haraga saham lama.
Kedua, manajer khawatir kalau penerbitan saham baru akan
ditafsirkan sebagai kabar buruk oleh pemodal, dan membuat harga
saham akan turun. Hal ini disebabkan antara lain oleh kemungkinan
adanya informasi asimetrik antara pihak manajemen dengan pihak
pemodal.
22

3. Faktor yang Mempengaruhi Struktur Modal
Menurut Maness (1988 dalam Aditya, 2006:24), ada beberapa
faktor yang mempengaruhi penentuan struktur modal yang optimal,
yaitu:
a. Stabilitas Penjualan

Perusahaan dengan penjualan yang relatif stabil dapat lebih aman
memperoleh lebih banyak pinjaman dan menanggung beban tetap
yang lebih tinggi dibandingkan dengan perusahaan yang penjualannya
tidak stabil.
b. Operating Leverage

Perusahaan yang mengurangi leverage operasinya lebih mampu untuk
menaikkan penggunaan leverage keuangan (hutang).
c. Corporate Taxes

Karena bunga tax-deductable, ada sebuah keuntungan jika
menggunakan hutang. Marginal tax rate perusahaan yang lebih tinggi,
maka keuntungan menggunakan hutang akan lebih tinggi, semua yang
lainnya dianggap sama.
d. Kadar resiko dari aktiva

Tingkat atau kadar resiko dari setiap aktiva didalam perusahaan
adalah tidak sama. Makin panjang jangka waktu penggunaan suatu
aktiva didalam perusahaan, makin besar derajat resikonya, dan
perkembangan dan kemajuan teknologi serta ilmu pengetahuan yang
tiada henti, dalam artian ekonomis dapat mempercepat tidak
23

digunakannya suatu aktiva, meskipun dalam artian teknis masih dapat
digunakan.
e. Lenders dan rating agencies

Jika perusahaan menggunakan hutang semakin berlebih, maka pihak
lenders akan mulai meminta tingkat bunga yang lebih tinggi dan rating
agencies akan mulai menurunkan rating pada tingkat hutang
perusahaan.
f. Internal cash flow

Tingkat internal cash flow yang lebih tinggi dan lebih stabil dapat
menjastifikasi sebuah tingkat leverage lebih stabil
g. Pengendalian

Banyak perusahaan sekarang meningkatkan tingkat hutangnya dan
memulai dengan menerbitkan hutang baru hingga repurchase
outstanding commonstock. Tujuan dari peningkatan hutang tersebut
adalah untuk mendapatkan return yang lebih tinggi, sedangkan
pembelian kembali saham bertujuan untuk lebih meningkatkan tingkat
pengendalian.
h. Kondisi ekonomi

Kondisi ekonomi seperti sekarang ini dan juga kondisi pada pasar
keuangan dapat mempengaruhi keputusan struktur modal. Ketika
tingkat suku bunga tinggi, mungkin keputusan pendanaan lebih
mengarah pada short-term debt, dan akan dilakukan refinance dengan
long-term debt atau equity jika kondisi pasar memungkinkan.
24

i. Preferensi pihak manajemen
Preferensi manajemen terhadap resiko dan gaya manajemen
mempunyai peran dalam hubungannya dengan kombinasi debt-equity
perusahaan pada struktur modalnya.
j. Debt covenant
Uang yang dipinjam dari sebuah bank dan juga penerbitan surat
hutang dan terwujud melalui serangkaian kesepakatan (debt
covenant).
k. Agency cost
Agency cost adalah sebuah biaya yang diturunkan guna memonitor
kegiatan pihak manajemen untuk menjamin bahwa kegiatan mereka
selaras dengan persetujuan antara manajer, kreditur dan juga para
shareholders.
l. Profitabilitas
Perusahaan dengan profitabilitas yang tinggi, dan penggunaan internal
financing yang lebih besar dapat menurunkan penggunaan hutang
(rasio hutang).

B. Penelitian Terdahulu
Januarino Aditya (2006) melakukan penelitian tentang faktor yang
mempengaruhi struktur modal pada perusahaan manufaktur di Bursa Efek
Jakarta tahun 2000-2003. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-
faktor yang mempengaruhi struktur modal perusahaan. Variabel terikat yang
digunakan adalah struktur aktiva, ukuran perusahaan, profitabilitas, likuiditas,
operating leverage dan pertumbuhan penjualan. Hasil yang diperoleh yaitu
25

hanya ada empat variabel bebas yang berpengaruh secara parsial terhadap
variabel terikat struktur modal yaitu variabel struktur aktiva, ukuran
perusahaan, profitabilitas dan likuiditas. Sedangkan untuk kedua variabel
lainnya yaitu operating leverage dan pertumbuhan penjualan tidak
berpengaruh signifikan secara parsial terhadap struktur modal.
Arief sustyo A (2006) melakukan penelitian tentang faktor yang
mempengaruhi struktur modal pada perusahaan manufaktur yang go publik di
Bursa Efek Jakarta tahun 2000-2003. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan
untuk mengetahui secara empiris pengaruh dari risiko bisnis, struktur aktiva,
profitabilitas dan ukuran perusahaan terhadap struktur modal. Sampel yang
digunakan dalam penelitian ini adalah perusahaan-perusahaan manufaktur go
public di BEJ pada periode 2000-2003. Hasil penelitian ini menunjukkan
bahwa: (1) Resiko bisnis, struktur aktiva, profitabilitas dan ukuran perusahaan
secara bersama-sama berpengaruh signifikan terhadap struktur modal. 86.9%
dari variasi yang terjadi dalam struktur modal perusahaan ditentukan atau
disebabkan oleh variasi yang terjadi pada resiko bisnis, struktur aktiva,
profitabilitas dan ukuran perusahaan. (2) Resiko bisnis berpengaruh negatif
dan signifikan terhadap struktur modal perusahaan, (3) Struktur aktiva
berpengaruh positif dan signifikan terhadap struktur modal perusahaan, (4)
Profitabilitas berpengaruh negatif dan signifikan terhadap struktur modal
perusahaan, (5) Ukuran perusahaan berpengaruh positif dan signifikan
terhadap struktur modal perusahaan.

C. Kerangka Pikir Penelitian
Manajer keuangan pada umumnya berusaha untuk memenuhi suatu
sasaran tertentu mengenai perimbangan antara besarnya hutang jumlah modal
26

sendiri yang tercermin dalam struktur modal perusahaan. Perlu
diperhitungkan berbagai faktor-faktor yang mempengaruhi struktur, seperti
disajikan pada gambar 2. berikut:







(Gambar 2. Kerangka Pikir Penelitian)
Semakin tinggi struktur aktiva (semakin besar jumlah aktiva tetap)
maka penggunaan modal sendiri akan semakin tinggi (penggunaan modal
asing semakin sedikit) atau struktur modalnya makin rendah. Untuk SIZE,
semkain besar ukuran perusahaan (semakin besar total assetnya) maka akan
semakin kecil kebutuhan akan penggunaan modal hutang. Untuk operating
average (DOL), perusahaan yang mengurangi leverage operasinya lebih
mampu untuk menaikkan penggunaan hutang (mempengaruhi struktur
modalnya). Untuk profitabilitas (NPM), perusahaan dengan profitabilitas
yang tinggi, dan penggunaan internal financing yang lebih besar dapat
menurunkan penggunaan hutang (berpengaruh terhadap struktur modalnya).
Untuk likuiditas (CR), perusahaan dengan tingkat pengembalian yang tinggi
atas investasi akan menggunakan hutang yang relatif kecil. Untuk
pertumbuhan penjualan (GS), perusahaan yang memiliki pertumbuhan
Struktur Aktiva (FTA)
Ukuran Perusahaan (SIZE)
Degree of Operating Leverage (DOL)
Profitabilitas
Likuiditas
Growth Sales (GS)
Struktur Modal (DTA)
27

penjualan tinggi akan memiliki keamanan yang lebih baik dalam membuat
hutang sehingga berpengaruh terhadap struktur modalnya.

D. Hipotesis Penelitian
Berdasarkan atas rumusan masalah dan tujuan penelitian, dibuat
hipotesis penelitian yaitu:
H
1
: Struktur aktiva (tangible assets) memiliki pengaruh yang signifikan
terhadap struktur modal perusahaan manufaktur di bursa Efek Jakarta
(BEJ).
H2: Ukuran perusahaan (firm size) memiliki pengaruh yang signifikan
terhadap struktur modal perusahaan manufaktur di bursa Efek Jakarta
(BEJ).
H3: Operating Leverage memiliki pengaruh yang signifikan terhadap
struktur modal perusahaan manufaktur di bursa Efek Jakarta (BEJ).
H4: Profitabilitas memiliki pengaruh yang signifikan terhadap struktur
modal perusahaan manufaktur di bursa Efek Jakarta (BEJ).
H5: Likuiditas memiliki pengaruh yang signifikan terhadap struktur modal
perusahaan manufaktur di bursa Efek Jakarta (BEJ).
H6: Pertumbuhan penjualan (growth sales) memiliki pengaruh yang
signifikan terhadap struktur modal perusahaan manufaktur di bursa
Efek Jakarta (BEJ)
H7: Struktur aktiva (tangible assets), ukuran perusahaan (size), operating
leverage, profitabilitas, likuiditas, dan pertumbuhan penjualan
(growth sales) memiliki pengaruh yang signifikan terhadap struktur
modal perusahaan manufaktur di bursa Efek Jakarta (BEJ)
28

BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
(judul + file lengkap lain di: http://skripsi-tesis-karyailmiah.blogspot.com/)

A. Pendekatan Penelitian
Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif. Dalam metode
kuantitatif, data-data yang digunakan adalah data numerik atau berasal dari
data non matematis seperti yang dirubah menjadi data matematis melalui
scorring, untuk kemudian diolah dengan cara matematis. Hasil analisis data
yang berupa nilai-nilai kuantitatif selanjutnya akan ditranformasikan kedalam
penjelasan kualitatif agar lebih mudah difahami.

B. Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian dilakukan di Bursa Efek Jakarta yang dilakukan pada
tahun 2009.

C. Populasi dan Sampel
Populasi merupakan seluruh unsur kajian, yaitu seluruh perusahaan
manufaktur di Bursa Efek jakarta (BEJ). Oleh karena cukup banyaknya jumlah
perusahaan yang terdaftar di BEJ, maka dilakukan pengambilan sampel yang
memungkinkan untuk dilaksanakannya penelitian. Pengambilan sampel
dilakukan dengan purposif sampling dengan mendasarkan pada pertimbangan-
pertimbangan berikut:
28

29

1. Ketersediaan laporan keuangan selama tiga tahun yaitu dari tahun 2006-
2008.
2. Penggunaan modal hutang dari perusahaan pembiayaan.
3. Kemudahan untuk memperoleh data.

D. Data dan Teknik Pengumpulan Data
1. Data Penelitian
Penelitian ini menggunakan data sekunder. yaitu data dokumen
yang telah dikumpulkan pihak lain. Data sekunder tersebut berupa laporan
keuangan perusahaan manufaktur yang dipublikasikan di Bursa Efek
Jakarta khususnya dari Indonesian Capital Market Directory tahun 2006-
2008, yang berkaitan dengan total asset (TA), current asset (CA), fixed
asset (FA), total liabilities (TL), current liabilities (CL), capital, sales,
earning before interest and taxes (EBIT), dan net profit margin (NPM).
2. Teknik Pengumpulan Data
Dalam penelitian ini, teknik pengumpulan data dilakukan dengan
menggunakan dokumentasi yaitu pengumpulan melalui dokumen laporan
keuangan perusahaan.

E. Variabel Penelitian
Variabel adalah konsep yang memiliki bermacam-macam nilai
(Nasir, 1988: 151). Variabel bebas adalah variabel yang nilainya tidak
terpengaruh oleh variabel lainnya, sedangkan variabel terikat adalah variabel
yang nilainya dipengaruhi oleh variabel lain. Sebagai variabel terikat adalah
30

struktur modal yang berkaitan dengan jumlah utang jangka pendek yang
bersifat permanen, utang jangka panjang, saham preferen dan saham biasa.
Sedangkan sebagai variabel bebas adalah struktur aktiva (tangible assets),
ukuran perusahaan (size), operating leverage, profitabilitas, likuiditas, dan
pertumbuhan penjualan (growth sales).
1. Struktur Modal dapat diukur dengan rasio debt to total assets (DTA),
diformulasikan :




2. Tangible Assets (FTA), pada penelitian ini diproyeksikan antara Fixed
Asset (FA) terhadap Total Asset (TA) selama periode tahun 2006 sampai
dengan tahun 2008. Data Fixed Asset dan Total Asset diambil dari
Indonesian Capital Market Directory tahun 2006-2008. . Tangible assets
(FTA) diformulasikan sebagai berikut:




3. Firm Size (SIZE). Firm size (SIZE) diproyeksikan antara LogNatural dari
total assets. Formulasinya:
SIZE =Ln (TA)
4. Data tentang Ukuran Perusahaan tidak terdapat dalam Laporan
Keuangan Perusahaan Manufaktur yang dipublikasikan di Bursa Efek
Jakarta khususnya dari Indonesian Capital Market Directory tahun 2006-
2008.
5. Operating Leverage (DOL). Operating Leverage (DOL) yaitu tingkat
31

biaya modal yang dioperasikan. Variabel tersebut diformulasikan :




6. Profitabilitas (NPM). Profitabilitas (NPM) adalah tingkat keuntungan
bersih yang mampu dihasilkan perusahaan dalam menjalankan
operasinya. Profitabilitas perusahaan dalam penelitian ini dapat diukur
dengan menggunakan rasio net proft margin yang menghitung sejauh
mana kemampuan perusahaan menghasilkan laba bersih pada tingkat
penjualan tertentu. Formulasinya :




7. Likuiditas (CR). Likuiditas (CR) diproyeksikan antara current assets dan
current liabilities.




8. Growth Sales (GS). Growth Sales (GS) dalam penelitian ini dihitung
dengan menggunakan prosentase kenaikan atau penurunan penjualan dari
suatu periode ke periode berikutnya. Formulasinya:




F. Teknik Analisis Data
Untuk melaksanakan analisis data yang dilakukan dengan teknik
Anova dua arah, maka beberapa persyaratan yang harus dipenuhi adalah data
harus berdistribusi normal, dan homogen (Budiyono, 2003: 1005).

32

1. Uji Normalitas
Uji ini dilakukan untuk mengetahui apakah data yang diperoleh dari
instrumen penelitian berdistribusi normal atau tidak. Dalam statistik,
salah satu syarat untuk dilakukannya uji regresi adalah data harus
tersebar normal. Uji Normalitas dilakukan dengan uji Lilliefors dengan
mengacu pada rumus (Sudjana, 2002:466):
L=max
zi zi
S F
Dimana:
n
z yang z z z Banyaknya
S
i n
zi
s
=
,... ,
2 1

zi
F =
zi z
P
s
dan nilai zi dicari dengan
s
x xi
zi

=
Keterangan:
Xi = nilai (skor) yang diamati
= rata-rata skor yang diamati
n = Banyaknya data
s = Varians data
zi = Skor standarisasi untuk xi
Apabila nilai L
max
yang diperoleh dari perhitungan < nilai L
tabel
, maka
dikatakan bahwa data berdistribusi normal. Untuk mendapatkan
keakuratan perhitungan dan kemudaan bagi peneliti, uji Normalitas ini
akan dilakukan dengan program SPSS 15 untuk memperoleh hasil yang
lebih akurat.


33

2. Uji Homogenitas
Data yang homogen adalah data yang memiliki varians-varians yang
sama. Varians merupaka ukuran rata-rata penyimpangan nilai setiap data
terhadap nilai rata-rata dari data tersebut. Uji homogenitas dilakukan
dengan rumus Bartlett:
X
2
= (2,303/c) (f log MS
error
- E f
i
log s
i
2
)
Keterangan:
f = Derajat kebebasan untuk MS Error, yaitu sebesar k 1
f
i
= Derajat kebebasan untuk xi
si = varian untuk xi
n = Banyaknya seluruh amatan
ni = Banyaknya amatan pada sampel ke i
c =

+ )
1 1
(
) 1 (
1
1
f f k s
j

MS error = ESS
J
/Ef
ESS
J
= E X
2
j
{(EXj)
2
} / n
j

Apabila nilai X
2
hasil perhitungan < dari X
2
tabel, maka dikatakan bahwa
data memiliki varians yang homogen. Uji ini akan dilakukan dengan
SPSS 15 untuk memperoleh hasil yang akurat.
3. Analisis Regresi Linear Berganda
Analisis yang digunakan untuk mengetahui pengaruh variabel
independen (dalam jumlah lebih dari satu) terhadap variabel dependen,
digunakan rumus : (Budiyono, 2000 : 275) :
34

Y = a + |
1
X
1
+ |
2
X
2
+...+|
n
X
n
Keterangan :
Y : Variabel terikat (dalam hal ini adalah struktur modal
a : Konstanta
|
1
: Koefisien regresi variable bebas ke-1
|
n
: Koefisien regresi variable bebas ke-n
X
1
: variabel bebas ke-1
X
n
: variabel bebas ke-n
Analisis ini digunakan untuk mengukur besarnya sumbangan variabel
independen (komunikasi, kepemimpinan, dan kompensasi) terhadap
variabel dependen (kinerja pegawai) dengan mengunakan rumus
determinasi (R
2
) Hadi (1984:25) :
R =
2
2 2 1 1
Y
Y X Y X Y X
n n
+ + | | |

keterangan :
R
2
: koefisien determinasi linier berganda
|
1
: Koefisien regresi variable bebas ke-1
|
n
: Koefisien regresi variable bebas ke-n
X
1
: variabel bebas ke-1
X
n
: variabel bebas ke-n


35


4. Uji Hipotesis
a. Uji F
Uji F digunakan untuk mengetahui signifikan pengaruh secara
bersama antara variabel terikat terhadap variabel bebas. Test (uji)
keberartian koefisien korelasi melalui pengujian hipotesis dengan
mengunakan rumus sebagai berikut (Budiyono, 2000 : 292):
F =
) 1 )( 1 (
/
2
2
k n r
k r

Keterangan :
r
2
= koefisien korelasi
k = banyaknya variabel bebas
n = banyaknya sampel
Formula hipotesis adalah :
Ho : | = 0, artinya tidak ada pengaruh variabel X
1,
dan X
2

terhadap variabel Y.
Ho :
|
= 0, artinya terdapat hubungan varibel varibel X
1
dan X
2

terhadap variabel Y..
Ho diterima apabila F hitung < F tabel
Ho ditolak apabila F hitung
>
F tabel
b. Uji t (t test).
Uji t test ini digunakan untuk menguji nilai pengaruh variabel
independen terhadap dependen secara parsial (individual). Nilai t
hitung digunakan rumus (Santosa, 2000:168).
t
hitung
=
r
n r

1
2

36

Kesimpulan Uji :
Ho diterima apabila t
hitung
< t
tabel.

Ho ditolak apabila t
tabel
> t
tabel
.

37

BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
(judul + file lengkap lain di: http://skripsi-tesis-karyailmiah.blogspot.com/)

A. Diskripsi Data
Populasi dalam penelitian ini adalah semua perusahaan
manufaktur yang terdaftar di BEJ di Bursa Efek Jakarta (BEJ) dari sebelum 1
Januari 2006 dan tetap terdaftar sampai 31 desember 2008. Jumlah populasi
perusahaan adalah 32 perusahaan, dengan jumlah sampel yang digunakan
adalah delapan perusahaan dengan berbagai pertimbangan sebagaimana telah
diuraikan dalam bab sebelumnya.
Deskripsi data diuraikan berdasarkan pengamatan sejumlah
variabel yang digunakan dalam penelitian yang meliputi satu variabel
dependen yaitu struktur modal (DTA) dan enam variabel independen yaitu
tangible assets (FTA), firm size (SIZE), degree of operating leverage (DOL),
profitabilitas (NPM), likuiditas (CR), dan growth sales (GS). Data-data
variabel tersebut diperoleh melalui perhitungan data-data akuntansi keuangan
yang berupa total hutang (liabilities), total aktiva, aktiva tetap, aktiva lancar,
perubahan laba sebelum bunga dan pajak (EBIT) pada tahun perhitungan
dengan tahun sebelumnya, hutang lancar, laba bersih, penjualan pada tahun
perhitungan, penjualan pada tahun sebelum tahun perhitungan, serta
perubahan penjualan pada tahun perhitungan dengan penjualan tahun

37
38

sebelumnya (data terlampir). Berikut adalah tabel proses dan hasil
perhitungan nilai-nilai variabel yang diteliti:
Tabel 4.1. Perhitungan Tahun 2006
PERUSA
HAAN DTA=[1]/[2] FTA= [3]/[2] SIZE=Ln [2] DOL=[5]/[11] NPM=[7]/[8] CR=[4]/[6]
GS=([9]-
[10])/[10]
TRIAS
0,517199327 0,70672374 28,33435531 0,026226284 0,021492253 1,059464743 0,116942397
ALKA
0,889197883 0,082341119 25,66174187 0,005360494 0,004894649 1,33324545 1,300889393
BTII
0,492735544 0,278864902 28,48456016 1,05875593 0,46108306 1,607266513 0,2851525
BTONM
0,238835504 0,410136998 24,23999474 -0,45681925 0,01428545 2,826273062 0,052449703
ABBA
0,427080891 0,695286123 25,73516297 -0,68150688 0,010145017 1,184991005 0,099281571
VOKS
0,449254595 0,258592693 26,88011784 0,441220647 0,038712035 1,764222289 0,14472353
MULTI
0,662331423 0,545378128 29,64315257 -0,02339895 0,01373558 1,361416275 0,214884788
BAJ
0,712907921 0,695265421 27,5601844 0,151842111 0,019272855 1,252901717 0,047126694
RATA-RATA
0,548692886 0,45907364 27,06740873 0,065210048 0,072952612 1,548722632 0,282681322
(Sumber: data Diolah)
Keterangan:
[1] = Total Liabilities [7] = Laba Bersih
[2] = Total Aktiva [8] = Penjualan Bersih
[3] = Aktiva Tetap [9] = Penjualan Tahun perhitungan
[4] = Aktiva Lancar [10] = Penjualan tahun sebelumnya
[5] = Perubahan EBIT [11]= Selisih Penjualan
[6] = Hutang Lancar

Nilai [1] [11] terdapat dalam tabel rekapitulasi data penelitian

Tabel 4.2. Perhitungan Tahun 2007
PERUSA
HAAN DTA=[1]/[2] FTA= [3]/[2] SIZE=Ln [2] DOL=[5]/[6] NPM=[7]/[8] CR=[4]/[6]
GS=([9]-
[10])/[10]
TRIAS
0,541297322 0,661310129 28,39135518 -0,01469361 0,011858872 1,075914763 0,239825822
ALKA
0,84624394 0,086417851 25,74030651 0,002635065 0,005166029 1,412075742 -0,170115847
BTII
0,600555735 0,228608114 28,98147074 0,023778885 0,052969118 3,532448559 13,53188748
BTONM
0,259397869 0,260484959 24,56205554 0,195998049 0,076245297 3,151541823 1,012115918
ABBA
0,441895875 0,588455315 25,79327604 0,588283251 0,028191194 1,509941776 0,184649809
VOKS
0,616304915 0,169788845 27,4142 -0,12292843 0,039525481 1,394466496 0,477535428
MULTI
0,60429598 0,554272337 29,75168593 0,022625014 0,004123373 1,376497996 -0,760315064
BAJ
0,552858646 0,552243427 28,02687418 -0,05124193 0,034197636 1,612798425 0,258540341
RATA-RATA
0,557856285 0,387697622 27,33265302 0,080557037 0,031534625 1,883210698 1,846765486
(Sumber: data Diolah)
39

Tabel 4.3. Perhitungan Tahun 2008
PERUSA
HAAN DTA=[1]/[2] FTA= [3]/[2] SIZE=Ln [2] DOL=[5]/[6] NPM=[7]/[8] CR=[4]/[6]
GS=([9]-
[10])/[10]
TRIAS
0,519475733 0,664738177 28,40060404 0,005813235 0,032041945 1,01359662 0,210070056
ALKA
0,810706455 0,097099657 25,78980518 0,018156961 0,00351245 1,522160579 -0,086715964
BTII
0,611673625 0,314769758 29,12516758 -0,02724159 0,040253473 2,478300908 0,29541919
BTONM
0,216576682 0,143032396 24,97900357 0,305179603 0,120789962 4,32149803 0,496412227
ABBA
0,288350643 0,562258687 26,14494693 0,068718226 0,01430115 2,188495331 0,283968934
VOKS
0,729347185 0,214583486 27,78385192 -0,07320277 0,002310042 1,10021648 0,668926751
MULTI
0,637571903 0,539140985 29,88270989 -0,00451858 0,002891944 1,829619635 0,195311898
BAJ
0,618136277 0,580262546 28,1609138 -0,18344084 0,021250822 1,047467597 0,149366288
RATA-RATA
0,553979813 0,389485711 27,53337536 0,013683031 0,029668974 1,937669397 0,276594922
(Sumber: data Diolah)

Berdasarkan hasil perhitungan dalam tabel 4.1., tabel 4.2., dan
tabel 4.3 terlihat bahwa rata-rata struktur modal (DTA) perusahaan yang
diteliti dari tahun ke tahun mulai dari tahun 2006 sampai tahun 2008 secara
umum tidak memiiki pola kenaikan atau penurunan yang konstan. Dari tahun
2006 ke 2007, nilai rata-rata struktur modal yang diukur dengan DTA
mengalami kenaikan dari 0,548692886 atau 0,55 menjadi 0,557856285 atau
sebesar 0,56. Sementara itu, pada tahun 2008 nilai rata-rata struktur modal
(DTA) ini mengalamu penurunan kembali menjadi 0,553979813 atau sebesar
0,55. Dengan demikian, nilai struktur modal (DTA) pada tahun 2008 dapat
dikatakan kembali ke posisi semula yaitu sama dengan nilai pada tahun 2006.
Nilai tangible assets (FTA) dari tahun 2006 sampai tahun 2008
cenderung mengalami penurunan, yaitu dari 0,45907364 atau 0,46 pada tahun
2006 menjadi 0,387697622 atau 0,39 pada tahun 2007, dan pada tahun 2008
40

hampir tidak mengalami perubahan yaitu sebesar 0,389485711 atau 0,39.
Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada gambar berikut:


Gambar 4.1. Fluktuasi faktor-faktor struktur modal.
Nilai rata-rata firm size dari tahun 2006 sampai 2008 sebagaimana
ditunjukkan dalam grafik memiliki kecenderungan kenaikan yang lebih jelas
dari tahun ke tahun. Pada tahun 2006 nilai rata-rata firm size sebesar
27,06740873 atau 27, dan pada tahun 2007 meningkat menjadi 27,33265302
atau 27,3 dan meningkat lagi pada tahun 2008 menjadi 27,53337536 atau
27,5.
Kondisi nilai tingkat biaya modal (degree of operating laverage
/DOL) merupakan kondisi yang paling berbeda dengan faktor struktur modal
lainnya. Hal ini terjadi karena perhitungan DOL dilakukan berdasarkan
perhitungan perubahan laba sebelum bunga dan pajak (EBIT) dalam tahun
0
5
10
15
20
25
30
2006 2007 2008
Rata-rata DTA
Rata-Rata FTA
Rata-Rata SIZE
Rata-Rata DOL
rata-Rata NPM
Rata-Rata CR
Rata-Rata GS
41

perhitungan terhadap tahun berikutnya, di mana pada beberapa perusahaan
nilai ini sempat mengalami nilai yang negatif. Nilai negatif ini terjadi akibat
menurunnya laba sebelum bunga dan pajak (EBIT) terhadap EBIT tahun
sebelumnya. Perhitungan DOL juga dilakukan berdasarkan atas perubahan
nilai penjualan bersih pada tahun perhitungan dengan tahun sebelumnya, di
mana pada beberapa perusahaan sempat mengalami nilai negatif yang berarti
terjadinya penurunan nilai penjualan bersih dari tahun sebelumnya. Kedua hal
ini mengakibatkan nilai DOL sempat mengalami penurunan drastis. Nilai
DOL pada tahun 2006 sebesar 0,065210048 atau 0,06, dan pada tahun 2007
naik menjadi 0,080557037 atau 0,08 dan pada tahun 2008 turun drastis
menjadi 0,013683031 atau 0,01 akibat banyaknya nilai DOL yang negatif
pada tahun 2008 ini. Nilai negatif dalam perhitungan ini hanyalah
menunjukkan adanya penurunan EBIT pada tahun perhitungan terhadap tahun
sebelumnya.
Nilai rata-rata profitabilitas (NPM) dari tahun 2006 sampai 2008
cenderung mengalami penurunan. Nilai rata-rata NPM tahun 2006 adalah
0,072952612 atau sebesar 0,73 sedangkan pada tahun 2007 turun drastis
menjadi 0,031534625 atau sebesar 0,032 dan pada tahun 2008 turun lagi
menjadi 0,029668974 atau sebesar 0,30.
Nilai rata-rata current ratio (CR) dari tahun 2006-2008 justru
mengalami peningkatan yaitu dari 1,548722632 atau sebesar 1,55 menjadi
1,883210698 atau sebesar 1,88 pada tahun 2007 dan naik lagi menjadi
1,937669397 atau sebesar 1,94.
42

Kondisi rata-rata growth sales (GS) mengalami perubahan dari
tahun ke tahun yaitu dari 0,282681322 atau sebesar 0,28 pada tahun 2006
naik menjadi 1,846765486 atau sebesar 1,85 pada tahun 2007 dan turun lagi
menjadi 0,276594922 atau sebesar 0,28 pada tahun 2008.

B. Analisis Data
Untuk melakukan analisis data, dilakukan dengan prosedur sebagai
berikut:
1. Uji Normalitas
Uji normalitas merupakan salah satu bagian dalam uji prasyarat
statistik yaitu untuk mengetahui apakan nilai-nilai yang akan diuji secara
statistik berdistribusi normal atau tidak. Apabila data tidak berdistribusi
normal, maka data harus ditransformasikan kedalam bentuk data
logaristmis sehingga dapat diuji secara statistik parametrik, sedangkan
apabila data telah berdistribusi normal, maka dapat dilakukan uji statistik
berikutnya. Pengujian dilakukan dalam signifikansi 5% atau pada derajat
kepercayaan 95%. Adapun hasil uji normalitas dapat dilihat pada tabel
4.3, yang kesemuanya dilakukan dengan menggunakan software statistik
SPSS 15 berikut:





43

Tabel 4.4. Hasil Uji Normalitas
Tests of Normality


Kolmogorov-Smirnov(a) Shapiro-Wilk
Statistic df Sig. Statistic df Sig.
Struktur Modal (Debt To
Total Assets)
,101 24 ,210 ,964 24 ,527
Tangible Assets
,118 24 ,065 ,892 24 ,065
Firm Size
,147 24 ,194 ,942 24 ,182
Tingkat Biaya Modal
,141 24 ,061 ,855 24 ,060
Profitabilitas
,053 24 ,099 ,428 24 ,096
Likuiditas (Current ratio)
,147 24 ,071 ,794 24 ,060
Growth sales
,094 24 ,081 ,322 24 ,068
* This is a lower bound of the true significance.
a Lilliefors Significance Correction

(Sumber: Data diolah)

Berdasarkan tabel tersebut, terlihat bahwa nilai signifikansi uji
(sig) pada kolom Kolmogorov-Smirnov yang telah di koreksi dengan uji
Lilliefoers (a) menunjukkan bahwa nilai signifikansi untuk variabel
struktur modal adalah 0,210, tangible assets adalah 0,65, firm size adalah
0,194, tingkat biaya modal adalah 0,061, profitabilitas adalah 0,099,
likuiditas adalah 0,071, dan growth sales adalah 0,081memiliki nilai
signifikansi yang lebih besar dari 0,05. Semua variabel tersebut memiliki
nilai signifikansi yang lebih besar dari 0,05, maka secara statistik
diyakini bahwa data hasil perhitungan adalah berdistribusi normal.
Dengan demikian, data ini tidak perlu ditransformasikan kedalam bentuk
logaritma untuk uji statistik berikutnya.
2. Uji Homogenitas
Uji ini juga dilakukan pada signifikansi 5% atau pada derajat
kepercayaan 95%. Uji ini dilakukan untuk menguji tingkat keseragaman
44

tingkat penyimpangan data dari nilai rata-ratanya (keseragaman varians).
Hal ini merupakan salah satu prasyarat untuk uji statistik parametrik yaitu
data harus homogen atau memiliki varians yang seragam pada signifikani
5%. Adapun hasil uji homogenitas yang dilakukan dengan SPSS 15
adalah sebagai berikut:

Tabel 4.5. Hasil Uji Homogenitas
Test of Homogeneity of Variance


Levene
Statistic df1 df2 Sig.
Data Based on Mean
7,091 6 161 ,766
Based on Median
4,782 6 161 ,587
Based on Median and with
adjusted df
4,782 6 33,001 ,645
Based on trimmed mean
5,273 6 161 ,887

(Sumber: Data diolah)
Berdasarkan tabel 4.5 yang disajikan tersebut, terlihat bahwa
nilai signifikansi pada based of mean adalah 0,766. Nilai tersebut lebih
besar dari niali standar yang ditetapkan dalam statistik yaitu 0,05
sehingga secara statistik diyakini bahwa data memiliki varians yang
homogen. Dengan demikian, maka data yang diperoleh memenuhi kriteria
untuk diuji secara statistik.
3. Uji Regresi
Uji regresi dilakukan untuk mengetahui formulasi empiris atas pengaruh
yang ditimbulkan variabel bebas yaitu tangible assets (FTA), firm size
(SIZE), degree of operating leverage (DOL), profitabilitas (NPM),
likuiditas (CR), dan growth sales (GS) terhadap variabel terikatnya yaitu
45

struktur modal yang diukur dengan ratio debt to total assets (DTA).
Analisis regresi ini digunakan untuk mengetahui persamaan matematis
yang dapat digunakan untuk memprediksi terjadinya perubahan nilai
pada variabel terikat yaitu struktur modal apabila terjadi perubahan nilai
atau fluktuasi pada variabel-variabel bebasnya. Adapun berdasarkan hasil
perhitungan yang dilakukan dengan SPSS 15, diperoleh nilai-nilai
sebagai berikut:

Tabel 4.6. Hasil Uji Regresi
Variabel bebas Bilangan
Konstant
(a)
Koefisien Regresi
(b)
Tangible assets (FTA) 0,75 -0,569
Firm Size (Size) 0,037
Tingkat biaya modal (DOL) 0,014
Profitabilitas (NPM) -0,555
Likuiditas (CR) -0,161
Growth Sales (GS) 0,013
(Sumber: Data diolah)
Berdasarkan atas hasil tersebut, maka persamaan matematis
yang menggambarkan pengaruh yang ditimbulkan variabel bebas terhadap
variabel terikatnya adalah dapat digambarkan dengan persamaan:
DTA = 0,75 - 0,569 FTA + 0,37 Size + 0,14 DOL -0,55 NPM 0,161 CR
+ 0,13 GS.
Persamaan empiris tersebut menjelaskan bahwa tangible assets (FTA)
memiliki koefisien regresi yang bernilai negatif yaitu -0,569. Intepretasi
dari hasil ini untuk FTA adalah jika:
46

a. Nilai FTA berubah sebesar 1 (mengalami kenaikan), maka nilai DTA
berubah sebesar -0,569 x 1 yaitu menurun sebesar -0,560 (FTA naik
menyebabkan DTA turun).
b. Nilai FTA berubah sebesar -1 (mengalami penurunan), maka nilai
DTA berubah menjadi -0,569 x -1 yaitu naik sebesar 0,569 (FTA turun
mengakibatkan DTA naik).
Hal ini menunjukkan bahwa dalam penelitian ini, nilai tangibel assets
menyebabkan adanya pengaruh terbalik terhadap struktur modal (DTA),
yaitu apabila terjadi kenaikan pada FTA akan berakibat pada menurunnya
nilai DTA dan sebaliknya bila terjadi penurunan pada nilai FTA akan
berakibat pada naiknya nilai DTA.
Firm size (SIZE) dalam persamaan regresi yang diperoleh
menunjukkan nilai yang positif yaitu 0,37. Intepretasi dari hasil ini
adalah:
a. Nilai SIZE berubah sebesar 1 (mengalami kenaikan), maka nilai DTA
berubah sebesar 0,37 x 1 yaitu naik sebesar 0,37 (SIZE naik
menyebabkan DTA naik)
b. Nilai SIZE berubah sebesar -1 (mengalami penurunan), maka nilai
DTA berubah menjadi 0,37 x -1 yaitu turun sebesar 0,37 (SIZE turun
mengakibatkan DTA turun)
Hal ini berarti bahwa firm size menimbulkan pengaruh searah, yaitu
apabila terjadi kenaikan nilai firm size akan mengakibatkan naiknya nilai
47

DTA. Demikian pula sebaliknya, apabila terjadi penurunan nilai firm size
akan berakibat pada menurunnya nilai DTA.
Untuk tingkat biaya modal (degree of operating laverage /DOL)
dalam persamaan regresi yang diperoleh juga menunjukkan nilai yang
positif yaitu 0,14. Intepretasi dari hasil ini adalah:
c. Nilai DOL berubah sebesar 1 (mengalami kenaikan), maka nilai DTA
berubah sebesar 0,14 x 1 yaitu naik sebesar 0,14 (DOL naik
menyebabkan DTA naik)
d. Nilai DOL berubah sebesar -1 (mengalami penurunan), maka nilai
DTA berubah menjadi 0,14 x -1 yaitu turun sebesar -0,14 (DOL turun
mengakibatkan DTA turun)
Hal ini menunjukkan adanya pengaruh positif atau searah dari DOL
terhadap struktur modal (DTA) yang berarti bahwa setiap kenaikan DOL
akan mengakibatkan naiknya nilai DTA, dan sebaliknya setiap penurunan
DOL berpengaruh terhadap penurunan nilai DTA.
Koefisien regresi profitabilitas (NPM) menunjukkan nilai negatif
yaitu -0,55 sebagaimana variabel tangible assets (FTA). Intepretasi dari
hasil ini adalah:
a. Nilai NPM berubah sebesar 1 (mengalami kenaikan), maka nilai DTA
berubah sebesar -0,55 x 1 yaitu menurun sebesar -0,55 (NPM naik
menyebabkan DTA turun).
48

b. Nilai NPM berubah sebesar -1 (mengalami penurunan), maka nilai
DTA berubah menjadi -0,55 x -1 yaitu naik sebesar 0,55 (NPM turun
mengakibatkan DTA naik).
Dengan demikian, maka NPM sebagaimana FTA menimbulkan pengaruh
terbalik terhadap DTA, yaitu setiap kenaikan NPM akan mengakibatkan
penurunan nilai pada DTA, dan sebaliknya setiap penurunan NPM akan
berakibat pada naiknya DTA.
Nilai koefisien regresi untuk current ratio dalam penelitian ini
juga negatif yaitu 0,161. Intepretasi dari hasil ini adalah:
a. Nilai CR berubah sebesar 1 (mengalami kenaikan), maka nilai DTA
berubah sebesar -0,161 x 1 yaitu menurun sebesar -0,161 (CR naik
menyebabkan DTA turun).
b. Nilai CR berubah sebesar -1 (mengalami penurunan), maka nilai DTA
berubah menjadi -0,161 x -1 yaitu naik sebesar 0,161 (CR turun
mengakibatkan DTA naik).
Sebagaimana dengan FTA dan NPM, nilai CR yang negatif ini
menunjukkan pengaruh terbalik, yaitu setiap kenaikan CR akan
mengakibatkan penurunan DTA sedangkan setiap penurunan CR akan
mengakibatkan kenaikan DTA.
Sementara itu, nilai koefisien regresi growth sales (GS) bernilai
positif yaitu 0,13. Intepretasi dari hasil ini adalah:
49

a. Nilai GS berubah sebesar 1 (mengalami kenaikan), maka nilai DTA
berubah sebesar 0,13 x 1 yaitu naik sebesar 0,13 (GS naik
menyebabkan DTA naik)
b. Nilai DOL berubah sebesar -1 (mengalami penurunan), maka nilai
DTA berubah menjadi 0,13 x -1 yaitu turun sebesar -0,13 (GS turun
mengakibatkan DTA turun)
GS memiliki pengaruh positif terhadap DTA, yaitu setiap kenaikan GS
akan mengakibatkan kenaikan DTA dan setiap penurunan GS akan
mengakibatkan penurunan DTA.
Untuk melihat faktor yang paling berpengaruh terhadap nilai
struktur modal, DTA dapat dilihat dengan tabel intepretasi atas rumus
regresi DTA = 0,75 - 0,569 FTA + 0,37 Size + 0,14 DOL -0,55 NPM
0,161 CR + 0,13 GS seperti yang telah dilakukan diatas, sebagai berikut:
Tabel 4.7. Intepretasi Hasil Regresi
Perubahan
Faktor Strukrur
Modal
Perhitungan
Perubahan Struktur
Modal (DTA)
Hasil DTA
Perubahan
FTA
1 (naik)
-1(turun)
-0,569 x 1
-0,569 x -1
-0,569 (turun)
0,569 (naik)
Perubahan
SIZE
1 (naik)
-1 (turun)
0,37 x 1
0,37 x -1
0,37 (naik)
-0,37(turun)
Perubahan
DOL
1 (naik)
-1 (turun)
0,14 x 1
0,14 x -1
0,14 (naik)
-0,14 (turun)
Perubahan
NPM
1 (naik)
-1 (turun)
-0,55 x 1
-0,55 x -1
-0,55 (turun)
0,55 (naik)
Perubahan
CR
1 (naik)
-1 (turun)
-0,161 x 1
-0,161 x -1
-0,161 (turun)
0,161 (naik)
Perubahan
GS
1 (naik)
-1 (turun)
0,13 x 1
-0,13 x 1
0,13 (naik)
-0,13 (turun)
(Sumber: data diolah)
Berdasarkan hasil perhitungan dalam intepretasi rumus regresi tersebut,
terlihat bahwa untuk perubahan faktor struktur modal dari 1 sampai -1,
50

kisaran perubahan struktur modal yang terbesar adalah sebesar -0,569
sampai 0,569, yaitu akibat perubahan pada faktor FTA. Hal ini
menunjukkan bahwa FTA memiliki pengaruh terbesar dalam menciptakan
perubahan pada DTA dibandingkan dengan faktor lainnya.
Adapun bagaimana kemungkinan penggunaan persamaan regresi
tersebut, apakah dapat digunakan apabila faktor struktur modal digunakan
hanya dilihat satu per satu dan apakah dapat digunakan apabila semua
faktor struktur modal digunakan secara bersamaan, dikaji melalui uji-t dan
uji-F selanjutnya.
4. Uji-t
Uji-t parsial dilakukan untuk mengetahui signifikansi pengaruh
tiap-tiap faktor-faktor struktur secara sendiri-sendiri terhadap struktur
modal perusahaan. Apabila suatu faktor struktur modal secara statistik
diyakini memiliki pengaruh yang signifikan secara sendiri terhadap
struktur modal, maka faktor tersebut memiliki peranan dalam merubah
nilai struktur modal apabila terjadi fluktuasi pada faktor tersebut,
meskipun tidak terdapat perubahan nilai pada seluruh faktor lainnya.
Sementara itu, apabila secara statistik suatu faktor struktur modal diyakini
tidak memiliki pengaruh secara signifikan terhadap struktur modalnya,
maka terjadinya perubahan nilai atau fluktuasi pada faktor tersebut tidak
dapat digunakan untuk memprediksi perubahan yang terjadi pada struktur
modalnya, kecuali atas keteribatan fluktuasi pada faktor-faktor lainnya
(hal inipun dapat dibenarkan hanya apabila secara statistik diyakini
51

terdapat pengaruh signifikan dari seluruh faktor struktur modal secara
bersama-sama terhadap struktur modalnya). Adapun hasil uji-t dilakukan
dengan prasyarat uji sebagai berikut (Sutrisno Hadi, 2007: 24):
a. Jika t
hitung
> t
tabel
(untuk t positif) atau t
hitung
< -t
tabel
(untuk t negatif)
maka Ho (yang menyatakan bahwa tidak ada pengaruh signifikan dari
variabel bebas terhadap variabel terikat) ditolak, dan H
1
(yang
menyatakan bahwa ada pengaruh signifikan dari variabel bebas
terhadap variabel terikat) diterima.
b. Jika t
hitung
< t
tabel
(untuk t positif) atau t
hitung
> -t
tabel
(untuk t negatif)
maka Ho (yang menyatakan bahwa tidak ada pengaruh signifikan dari
variabel bebas terhadap variabel terikat) diterima, dan H
1
(yang
menyatakan bahwa ada pengaruh signifikan dari variabel bebas
terhadap variabel terikat) ditolak.
Tabel 4.8. Hasil Uji-t

t-hitung

t
tabel

(sig 5%,
n=8 Sig.
Kesimpulan uji Keterangan
Tangible Assets
(FTA)
-5,214 2,31 0,000
t
hitung
< - t
tabel
Sig < 0,05
Ho(1): ditolak
H
1
(1): diterima
Ada pengaruh
Signifikan negatif
Firm Size
(SIZE)
2,506 2,31 0,023
t
hitung
> t
tabel
Sig < 0,05
Ho(2): ditolak
H
1
(2): diterima
Ada pengaruh
signifikan positif
Tingkat Biaya
Modal
(DOL)
0,164 2,31 0,872
t
hitung
< t
tabel
Sig >0,05
Ho(3): diterima
H
1
(3): ditolak
Tidak ada pengaruh
signifikan
Profitabilitas
(NPM)
-1,773 2,31 0,094
t
hitung
> - t
tabel
Sig > 0,05
Ho(4): diterima
H
1
(4): ditolak
52

Tidak ada pengaruh
signifikan
Likuiditas (CR) -5,211

2,31
0,000
t
hitung
< - t
tabel
Sig < 0,05
Ho(5): ditolak
H
1
(5): diterima
Ada pengaruh
Signifikan negatif
Growth sales
(GS)
1,392 2,31 0,182
t
hitung
< t
tabel
Sig > 0,05
Ho(6): diterima
H
1
(6): ditolak
Tidak ada pengaruh
signifikan
(Sumber: Data diolah)
Berdasarkan atas hasil analisis tersebut, maka diyakini bahwa
secara statistik, tangible assets (FTA), firm size (SIZE), dan likuiditas
(CR) secara sendiri-sendiri atau secara parsial memiliki pengaruh yang
signifikan terhadap struktur modal yang diukur dengan DTA, sedangkan
untuk tingkat biaya modal (DOL), pofitabilitas (NPM), dan growth sales
(GS) secara sendiri-sendiri atau parsial tidak berpengaruh signifikan
terhadap struktur modal (DTA). Dengan demikian, maka apabila terjadi
perubahan individual pada FTA, SIZE, dan CR, maka hal ini dapat
digunakan untuk memprediksi perubahan nilai pada struktur modalnya
(DTA), sedangkan apabila terjadi perubahan individual pada DOL, NPM,
dan GS, maka hal ini tidak dapat digunakan untuk memprediksi
perubahan pada nilai struktur modalnya (DTA).
Adapun positif atau negatifnya nilai t menunjukkan
bagaimana model pengaruh individual yang ditimbulkan oleh faktor
struktur modal terhadap struktur modalnya. Nilai t yang negarif
menunjukkan pengaruh yang terbalik, sedangkan nilai t yang positif
menunjukkan pengaruh yang searah. Adapun berdasarkan atas hasil uji t
53

sebagaimana dalam tabel 4.7, dan hasil analisis terhadap hipotesis
penelitian, yaitu untuk faktor-faktor yang berpengaruh signifikan terhadap
struktur modal, terlihat bahwa nilai t adalah positif untuk firm size (SIZE),
sedangkan untuk tangible assets (FTA) dan likuiditas (CR) adalah negatif
(untukfaktor-faktor yang tidak berpengaruh signifikan terhadap struktur
modal, tidak dilakukan analisis). Dengan demikian, firm size (SIZE)
memiliki pengaruh parsial atau individual yang positif terhadap struktur
modal, dengan pengertian apabila terjadi kenaikan nilai pada SIZE akan
mengakibatkan kenaikan nilai pada struktur modalnya, dan apabila terjadi
penurunan nilai pada SIZE akan mengakibatkan penururunan nilai pada
struktur modalnya. Sementara itu, untuk tangible assets (FTA) dan
likuiditas (CR) memiliki pengaruh negatif terhadap struktur modalnya,
dengan pengetian bahwa apabila terjadi kenaikan nilai pada FTA ataupun
CR maka akan mengakibatkan penurunan nilai pada struktur modalnya,
dan sebaliknya apabila terjadi penurunan nilai pada FTA atau CR maka
akan mengakibatkan kenaikan nilai pada struktur modalnya.
5. Uji Varians (F)
Uji-F untuk mengetahui signifikansi pengaruh yang ditimbulkan
oleh seluruh faktor struktur modal secara bersamaan terhadap struktur
modalnya. Pengertian secara bersamaan atau simultan disini adalah
apabila terjadi perubahan nilai secara serentak atau apabila seluruh faktor
struktur modal dilibatkan dalam memprediksi nilai struktur modalnya.
pada Uji-F ini menentukan apakah persamaan empiris yang diperoleh dari
54

analisis regresi dapat digunakan secara terpercaya guna memprediksi
perubahan nilai yang terjadi pada struktur modal apabila terjadi perubahan
nilai secara bersama-sama pada semua faktor struktur modalnya.
Berdasarkan atas hasil yang diperoleh dari analisis uji-F yang dilakukan
dengan SPSS 15, diperoleh hasil seperti berikut:

Tabel 4.9. Hasil Uji-F
F
hitung
F
tabel
Sig. Kesimpulan Uji Keterangan
10,877 4,15 0,000
F
hitung
> F
tabel
Sig < 0,05
Ho(7): ditolak
H
1
(7): diterima
Ada pengaruh
signifikan

(Sumber: Data diolah)

Berdasarkan hasil analisis uji sebagaimana dalam tabel 4.8. tersebut,
maka secara statistik diyakini bahwa variabel tangible assets (FTA), firm
size (SIZE), degree of operating leverage (DOL), profitabilitas (NPM),
likuiditas (CR), dan growth sales (GS) secara bersama-sama (simultan)
berpengaruh terhadap struktur modal yang diukur dengan ratio debt to
total assets (DTA) dalam signifikansi 5%. Model pengaruh yang
ditimbulkan yaitu apakah dalam bentuk pengaruh positif dan negatif,
terlihat dalam positif atau negatifnya koefisien regresi sebagaimana telah
diuraikan sebelumnya.
Kontribusi pengaruh variabel-variabel bebas tersebut dalam
mempengaruhi struktur modal ditunjukkan dengan nilai determinal (R
square) dalam tabel 4.6. berikut:

55

6. Uji Determinan (R
2
)
Uji determinan merupakan uji untuk mengetahui seberapa kontribusi dari
faktor-faktor struktur modal dalam mempengaruhi nilai struktur modalnya
serta seberapa besar kontribusi oleh faktor-faktor lain yang tidak diteliti.
Adapun hasil perhiungan yang dilakukan dengan SPSS 15 adalah sebagai
berikut
Tabel 4.10. Hasil Uji Determinan

Model R R Square
Adjusted R
Square
Std. Error of
the Estimate
1
,891(a) ,793 ,720 ,0968137
a Predictors: (Constant), Growth sales, Tingkat Biaya Modal , Firm Size, Tangible
Assets, Likuiditas (Current ratio), Profitabilitas

(Sumber: Data diolah)
Berdasarkan hasil dalam tabel tersebut, terlihat bahwa nilai R square atau
R
2
adalah 0,793 atau 79,3%. Dengan demikian, perubahan-perubahan
nilai DTA dalam penelitian ini 79,3% diakibatkan oleh perubahan dalam
tangible assets (FTA), firm size (SIZE), degree of operating leverage
(DOL), profitabilitas (NPM), likuiditas (CR), dan growth sales (GS).
Dengan kata lain, seluruh variabel tersebut secara bersama-sama
memiliki kontribusi sebesar 79,3% terhadap nilai struktur modal (DTA),
sedangkan 20,7% dipengaruhi oleh faktor lain yang tidak diteliti.

C. Pembahasan
Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat pengaruh yang
signifikan dari tangible assets (FTA), firm size (SIZE), degree of operating
56

leverage (DOL), profitabilitas (NPM), likuiditas (CR), dan growth sales
(GS).
Dalam penelitian ini, struktur modal diukur dengan ratio debt to
total asset (DTA) sebagai perbandingan total hutang (liabilities) terhadap
total asset sebagaimana konsep yang dijelaskan oleh Susetyo (2006: 14).
Dengan kata lain, struktur modal dianggap sebagai banyaknya hutang yang
ditanggung oleh setiap nilai asset perusahaan yang dimiliki.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada perusahaan manufaktur
di BEJ untuk tahun 2006 sampai 2007, struktur aktiva (tangible assets /FTA)
secara bersamaan dengan faktor struktur modal lainnya berpengaruh secara
negatif terhadap struktur modal (DTA), dengan kekuatan pengaruh yang
terbesar berdasarkan intepretasi yang dilakukan dari rumus regresi yang
diperoleh. Dalam hasil uji-t parsial, terlihat bahwa tangible asset juga
berpengaruh signifikan dengan nilai t yang negatif. Hal ini menunjukkan
bahwa struktur aktiva secara sendiri (tidak bersamaan dengan faktor struktur
modal lainnya) juga berpengaruh secara negatif terhadap struktur modalnya.
Struktur aktiva (FTA) merupakan rasio antara fixed asset (aktiva tetap)
terhadap total asset. Berdasarkan hasil penelitian, pada perusahaan
manufaktur di BEJ, rasio ini berpengaruh secara terbalik yaitu semkin besar
struktur aktiva akan mengakibatkan menurunnya struktur modal. Dengan
demikian, maka dapat difahami bahwa pada perusahaan manufaktur di BEJ,
semakin besar proporsi aktiva tetap (fixed asset) terhadap total assetnya akan
berakibat pada menurunnya nilai rasio total hutang terhadap total assetnya.
57

Arti lain adalah apabila total aktiva tidak mengalami perubahan, maka
meningkatnya nilai aktiva tetap pada perusahaan manufaktur di BEJ justru
cenderung menurunkan jumlah total hutangnya. Hal ini berarti bahwa pada
perusahaan manufaktur di BEJ yang memiliki aktiva tetap tinggi justru
cenderung tidak banyak membuat hutang pada pihak lain. Hal ini
kemungkinan terjadi akibat perusahaan yang memiliki fixed assets yang
tinggi meskipun diartikan mereka memiliki collateral assets yang tinggi
justru merasa labih baik jika melakukan pembiayaan sendiri dalam
mengoperasikan perusahaan dibanding dengan harus membuat hutang.
Sementara itu, menurut konsep yang dikemukakan Brigham (1984) hal ini
terlihat berkebalikan, yaitu perusahaan yang besar atau yang cenderung
memiliki fixed assets yang tinggi memiliki kemampuan membuat hutang
yang lebih besar, karena perusahaan pemberi hutang memiliki jaminan
collateral assets yang lebih baik dengan banyaknya fixed assets perusahaan.
Dengan demikian, dapat diambil kesimpulan bahwa perusahaan-perusahaan
manufaktur yang besar di BEJ tidak mengoptimalkan kemampuannya dalam
membuat hutang dengan pihak lain karena merasa lebih baik melakukan
pembiayaan sendiri.
Sementara itu, Firm Size dalam penelitian ini bersama-sama
dengan faktor struktur modal lainnya memiliki pengaruh positif yang
signifikan terhadap struktur modalnya (DTA). Firm size atau ukuran
perusahaan dalam hal ini diukur berdasarkan lognatural atas total assets nya.
Semakin besar total assets perusahaan maka diyakini sebagai perusahaan
58

yang berukuran lebih besar. Dengan ditemukannya kondisi bahwa pada
perusahaan manufaktur di BEJ berpengaruh positif terhadap struktur modal
(yang merupakan rasio total hutang terhadap total assetnya), maka dapat
diambil pengertian bahwa semakin besar ukuran perusahaan manufaktur di
BEJ maka semakin besar tingkat hutang per nilai assetnya. Hal ini
menunjukkan bahwa kebijakan perusahaan dalam membuat hutang dengan
pihak lain lebih banyak mempertimbangkan nilai total asset yang dimiliki
dibandingkan dengan melihat fixed asset perusahaan semata. Hasil uji-t
parsial menunjukkan adanya pengaruh positif yang signifikan apabila firm
size berdiri sendiri atau tidak bersamaan dengan faktor struktur modal
lainnya. Pengaruh positif ini ditunjukkan dengan nilai t yang positif. Dengan
demikian, dapat disimpulkan bahwa dalam membuat hutang kepada pihak
lain, perusahaan juga sering memperhatikan firm size secara saja tanpa harus
memperhatikan faktor lainnya, meskipun hasil penelitian juga menunjukkan
bahwa perusahaan juga cenderung memperhatikan firm size dikaitkan dengan
faktor-faktor lainnya secara bersamaan.
Tingkat biaya modal (degree of operating leverage /DOL) dalam
penelitian ini secara bersamaan dengan faktor lainnya memiliki pengaruh
yang signifikan terhadap struktur modal dalam bentuk pengaruh yang positif.
Akan tetapi, tingkat biaya modal ini secara sendiri tidak berpengaruh
signifikan terhadap struktur modal, yang ditunjukkan dengan nilai
signifikansi yang lebih besar dari 0,05 dalam uji-t parsial. Tingkat biaya
modal dalam penelitian ini merupakan rasio perubahan laba sebelum bunga
59

dan pajak (EBIT) dari tahun sebelumnya terhadap perubahan penjualan bersih
dari tahun sebelumnya. Dengan kata lain, tingkat biaya modal merupakan
kepekaan EBIT terhadap penjualan perusahaan. Operating laverage juga
merupakan biaya tetap yang harus ditutup berapapun besar volume
kegiatannya. Dari hasil penelitian yang dilakukan, menunjukkan bahwa
semakin besar kepekaan EBIT terhadap penjualan di perusahaan manufaktur
BEJ berpengaruh terhadap semakin besarnya struktur modal atau rasio hutang
perusahaan terhadap total assetnya. Apabila operating laverage dipahami
identik dengan besarnya biaya operasi, maka dapat disimpulkan bahwa pada
perusahaan manufaktur di BEJ, semakin besar biaya operasinya maka
semakin besar minat perusahaan dalam membuat hutang. Dengan demikian,
perusahaan manufaktur di BEJ cenderung memperhatikan biaya operasi yang
tercermin dalam degree of operating laverage dalam memperhatikan faktor-
faktor struktur modal secara bersamaan. Hasil penelitian yang menunjukkan
bahwa DOL tidak berpengaruh secara signifikan apabila berdiri sendiri tidak
bersamaan dengan faktor lainnya, menunjukkan bahwa perusahaan cenderung
tidak memperhatikan DOL secara tersendiri akan tetapi terintegrasi dengan
faktor-faktor lainnya.
Hasil penelitian menunjukkan adanya pengaruh negatif yang
signifikan dari profitabilitas (NPM) secara bersamaan dengan faktor lainnya
terhadap struktur modal. Profitabilitas dalam penelitian ini dipahami sebagai
rasio laba bersih terhadap penjualan yang terjadi. Berdasarkan hasil
penelitian, terlihat bahwa perusahaan manufaktur di BEJ cenderung
60

menaikkan hutang apabila nilai rasio laba bersih terhadap penjualannya
menurun dan sebaliknya cenderung meningkatkan hutang apabila rasio laba
bersih terhadap penjualannya menurun. Hal ini menunjukkan bahwa
perusahaan manufaktur di BEJ cenderung memandang bahwa terjadinya
penurunan tingkat laba bersih terhadap penjualan merupakan salah satu
kebutuhan terhadap ditingkatkannya jumlah hutang yang tercermin dalam
struktur modalnya (DTA). Demikian juga peningkatan terhadap rasio laba
bersih terhadap penjualan cenderung dianggap semakin rendahnya kebutuhan
perusahaan dalam membuat hutang kepada pihak lain. Profitabilitas ini secara
sendiri tidak berpengaruh signifikan terhadap struktur modal perusahaan
manufaktur di BEJ. Hal ini menunjukkan bahwa perusahaan cenderung jarang
mempertimbangkan pembuatan hutang hanya berdasarkan profitabilitas
perusahaan semata, akan tetapi lebih memperhatikan integrasinya dengan
faktor struktur modal lainnya.
Variabel likuiditas yang diukur dengan current ratio (CR) secara
bersama-sama menunjukkan adanya pengaruh negatif yang signifikan
terhadap faktor struktur modal perusahaan manufaktur di BEJ. Likuiditas
merupakan rasio antara aktiva lancar dengan hutang lancar perusahaan.
Dengan pemahaman ini, hasil penelitian dapat dimaknai bahwa semakin besar
nilai aktiva lancar per hutang lancarnya, maka akan berakibat pada semakin
menurunnya nilai total hutang terhadap total asetnya, dan sebaliknya semakin
kecil nilai aktiva lancar per hutang lancarnya maka berdampak pada semakin
tingginya nilai total hutang per total assetnya. Pengertian lain dari hasil
61

penelitian ini adalah pada perusahaan manufaktur di BEJ, semakin besar
kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban justru berpengaruh
terhadap semakin rendahnya rasio hutang terhadap total assetnya (struktur
modalnya). Hal ini menunjukkan beberapa kemungkinan, diantaranya adalah
semakin besar kemampuan perusahaan memenuhi kewajiban identik dengan
semakin besarnya kemampuan perusahaan dalam melakukan pembiayaan,
sehingga justru berakibat pada menurunnya rasio hutang yang dibuat per nilai
asset totalnya. Kemungkinan lain adalah perusahaan-perusahaan manufaktur
di BEJ cenderung membuat hutang dengan nilai yang jauh dibawah
kemampuannya membayar kewajiban, peningkatan kemampuannya dalam
membayar kewajiban tidak diikuti dengan meningkatnya jumlah hutang yang
dibuat perusahaan. Kemungkinan lain adalah perusahaan manufaktur di BEJ
yang memiliki kemampuan pengembalian rendah justru merasa perlu
mengotimalkan jumlah hutangnya berdasarkan kemampuannya
mengembalikan, sedangkan perusahaan yang memiliki kemampuan
membayar kewajiban tinggi justru lebih menekan pembuatan hutang pada
pihak lain. Likuiditas dalam penelitian ini secara sendiri tidak berpengaruh
signifikan terhadap struktur modal perusahaan. Dengan demikian, besar
kemungkinan bahwa perusahaan manufaktur di BEJ lebih cenderung
memikirkan faktor-faktor likuiditas secara bersamaan dibandingkan dengan
kemungkinan memikirkan likuiditas secara sendiri dalam membuat hutang
dengan pihak luar.
62

Variabel pertumbuhan penjualan (growth sales) dalam penelitian
ini secara simultan dengan faktor lainnya memiliki pengaruh positif yang
signifikan terhadap struktur modal pada perusahaan manufaktur di BEJ. Hal
ini menunjukkan bahwa tingkat pertumbuhan penjualan perusahaan cukup
menentukan struktur modal perusahaan. Semakin besar tingkat pertumbuhan
penjualan perusahaan, maka kemauan atau keberanian perusahaan
manufaktur di BEJ dalam membuat hutang menjadi lebih tinggi.

63

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil analisis data yang telah dikemukakan dalam bab
sebelumnya, maka dapat diambil beberapa kesimpulan sebagai berikut:
1. Faktor-faktor Tangible asset (FTA), Firm size (SIZE), Operating
leverage (DOL), Profitabilitas (NPM), Likuiditas (CR), dan Growth sales
(GS) secara bersama-sama berpengaruh signifikan terhadap struktur
modal (DTA) pada perusahaan manufaktur di BEJ tahun 2006-2008. Hal
ini dibuktikan dengan nilai F hitung 10,877 yang lebih besar dari nilai F
tabel 4,15, dan dibuktikan dengan nilai signifikansi uji sebensar 0,000
yang lebih kecil dari nilai kritis 0,05.
2. Apabila faktor-faktor struktur modal tidak bekerja secara serempak,
maka yang berpengaruh hanyalah tangible asset (FTA) dengan nilai
t
hitung
-5,214 yang lebih kecil dari t
tabel
-2,31 dan signifikani 0,000 yang
lebih kecil dari 0,05, firm size dengan t
hitung
2,506 yang lebih besar dari t
tabel
2,31 dan signifikansi 0,023 yang lebih kecil dari 0,05, serta likuiditas
(CR) dengan nilai t
hitung
-5,211 yang lebih kecil dari t
tabel
yaitu -2,31
dan signifikansi 0,000 yang lebih kecil dari 0,05.
3. Bersasarkan intepretasi atas persamaan regresi yang diperoleh yaitu DTA
= 0,75 - 0,569 FTA + 0,37 Size + 0,14 DOL -0,55 NPM 0,161 CR +
0,13 GS, faktor struktur modal yang memiliki pengaruh terbesar terhadap

63
64

struktur modal adalah tangibel asset (FTA), yang dibuktikan dengan
intepretasi uji regresi yang mampu menciptakan perubahan DTA terbesar
yaitu dalam range -0,569 sampai 0,569 untuk perubahan faktor struktur
modal dari -1 sampai 1.

B. Saran
Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh, dapat diberikan saran-
saran sebagai berikut:
1. Perusahaan perlu memperhatikan tangibel assets (FTA), firm size (SIZE),
tingkat biaya modal (DOL), profitabilitas (NPM), dan growth sales dalam
rangka meningkatkan nilai struktur modal (DTA).
2. Optimalisasi faktor-faktor struktur modal seharusnya dilakukan dengan
memperhatikan positif atau negatifnya pengaruh yang ditimbulkan
terhadap DTA.

(judul + file lengkap lain di: http://skripsi-tesis-karyailmiah.blogspot.com/)








65

(judul + file lengkap lain di: http://skripsi-tesis-karyailmiah.blogspot.com/)
DAFTAR PUSTAKA

Altman, Edward I., 1993, Corporate Financial Distress and Bankruptcy: A
Complete Guide to Predicting & Avoiding Distress and Profiting from
Bankruptcy, Second Edition, New York: John Wiley & Sons, Inc.

Brigham, Eugene F., and Louis C. Gapenski, 1997, Financial Management:
Theory and Practice, Eighth Edition, Orlando, Florida: The Dryden
Press.

Brigham, Eugene F., and Michael C. Ehrhardt, 2005, Financial Management:
Theory and Practice, Eleventh Edition, South-Western, Australia:
Thomson Learning.

Frank, Murray Z., and Vidhan K. Goyal, 2003, Capital Structure Decisions,
Working paper, Faculty of Commerce, University of British Columbia,
and Department of Finance, Hong Kong University of Science and
Technology, 1 55.

Gitman, Lawrence J., 1994, Principles of Managerial Finance, Seventh Edition,

Atmaja, Setia L, (1999), Manajemen Keuangan, Edisi Kedua. Andi Offset
yogyakarta.

Riyanto Bambang, (1990), Dasar-dasar Pembelanjaan, Yayasan Badan Penerbit
Gajah Mada.

Sartono Agus, Ragil sriharto, (1999), Faktor-faktor Penentu Struktur Modal
Perusahaan Manufaktur diIndonesia, Sinergi Vol 2 No.2.

Sartono, R.Agus, (1990), Manajemen Keuangan, Edisi Ketiga, BPFE,
Yogyakarta.

Sutrisno, (2000), Manajemen Keuangan (Teori, Konsep dan Aplikasi), Ekonisia,
Yogayakarta.

Weston, J. Fred, Eugene F.Brigham, (1990), Manajemen Keuangan Edisi
Sembilan, Penerbit Erlangga, Jakarta