Anda di halaman 1dari 7

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA KLINIK

PEMERIKSAAN URIN DENGAN METODE ESBACH

Hari/Tempat : Selasa/ Laboratorium Nonsteril Jurusan Farmasi Universitas Udayana Tanggal Waktu : 2011 : Pukul 10.20 12.30

Oleh Kelompok II : I Gusti Agung Suastika (0808505008)

Pande Putu Ayu Sukmawati (0808505011) I Nyoman Arta Widnyana Made Surya Wedana J.S Ni Wayan Eka Sumartini Kadek Welly Prasminda Wayan Ria Medisina Made Adi Wiradarma I Gusti Ketut Kusuma (0808505012) (0808505022) (0808505026) (0808505028) (0808505030) (0808505033) (0808505038)

JURUSAN FARMASI FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS UDAYANA 2011

PEMERIKSAAN URIN DENGAN METODE ESBACH

I.

TUJUAN Untuk mengetahui angka protein loss pada sampel urin

II. METODE

III. PRINSIP Asam pikrat dapat mengendapkan protein. Endapan ini dapat diukur secara kuantitatif

IV. DASAR TEORI Urinalisis adalah uji skrining digunakan untuk deteksi gangguan tertentu, tetapi tidak cukup untuk menetapkan diagnosis. Gangguan yang menginduksi perubahan urinalisis adalah: a. gangguan keseimbangan air dan asam-basa b. Penyakit ginjal: nephropathies glomerular (glomerulonefritis) dan tubulus-interstisial nephropathies (pielonefritis), batu ginjal c. mengubah fungsi ginjal: ARF (gagal ginjal akut), CRF (gagal ginjal kronis) d. gangguan post-rennal : infeksi saluran kencing (uretritis, sistitis) e. gangguan endokrin: diabetes mellitus, diabetes insipidus (kekurangan ADH) f. Penyakit hati: sindrom ikterus (Anonim a, tt). Pada uji urinalisis, salah satu parameter yang dapat diukur untuk mengetahui adanya kelainan ginjal adalah Protein (proteinurea). Urin dikatakan : a. NORMAL apabila mengandung sejumlah KECIL Albumin (<30 mg / hari) dan tes menunjukkan hasil negatif (-). b. MIKROALBUMINURIA apabila jumlah albumin 30 - 300 mg / hari = merupakan karakteristik untuk diabetes nefropati, tetapi tidak dapat diungkapkan selama uji urinalisis

c. PROTEINURIA (albuminuria) apabila jumlah albumin > 300 mg / hari = dan hasil tes positif dari 1 (+) hingga 4 (+) (15 - 500 mg / dl). (Anonim a, tt).

Pengukuran proteinuria penting dilakukan dalam mendiagnosis gangguan ginjal dan mengetahui respon pengobatan. Proteinuria Massive biasanya terjadi pada gangguan glomerular, dimana tingkat tertinggi pada sindrom nefrotik (SN). Proteinuria Massive dapat ditentukan dengan uji Esbach, yang merupakan standar terbaik untuk pengukuran proteinuria (Sukmawati dan Suarta, 2007). Uji Esbach merupakan pemeriksaan untuk menilai kadar protein dalam urin (proteinuria). Pada uji ini, pemeriksaan kuantitatif albumin dalam urine dengan cara mencampurkan larutan asam pikrat 1% dalam air dan larutan asam sitrat 2% dalam air dengan urine. Asam sitrat ini hanya digunakan untuk tujuan menjaga keasaman cairan. Hasil positif dilihat dengan adanya kekeruhan dan tingkat kekeruhan sesuai dengan junlah protein (Kurniati, 2010). Tes Esbach yang disebut juga metode dipstick, merupakan pemeriksaan kuantitatif dengan nilai 0-4 (+). Pemeriksaan ini sensitif terhadap 60mg/l albumin, tetapi kurang sensitif terhadap protein Bence Jones dan protein lain yang berat molekulnya rendah misal 2mikroglobulin. Pemeriksaan ini terkenal karena kemudahannya. Sampel urin yang digunakan untuk tes Esbach ini adalah dari pengumpulan urin 24 jam yang ditampung (Anonim, 2010). Jadi untuk mendapatkan sampel urin ini, pasien diharuskan menampung semua urinnya selama 24 jam mulai dari jam 6 pagi sampai jam 6 pagi pada hari berikutnya. Urin yang keluar pertama kali pada pagi hari tidak ditampung, karena merupakan hasil dari malam harinya. Jadi urin mulai ditampung setelah berkemih pertama kali pada pagi hari sampai pasien berkemih pertama kali pada pagi hari di hari berikutnya (Anonim, 2010.). Pengumpulan urin 24 jam ini membuat pasien tidak nyaman dan tidak praktis karena pasien harus membawa kemana-mana tempat untuk menampung urinnya, serta sering kali pasien lupa untuk menampung urinnya ketika sedang berkemih. Untuk menghindari proteinuria ortostatik dan intermiten maka pengumpulan urin 24 jam biasanya diganti dengan

Pengumpulan urin semalam, yang memiliki akurasi yang sama (Sukmawati dan Suarta, 2007). Setelah pengumpulan, selanjutnya urin asam disaring dituangkan ke dalam tabung gelas sampai U tanda, dan kemudian reagen khusus ditambahkan sampai tingkat berdiri cair pada R. Campur cairan secara menyeluruh (tanpa mengguncang) dengan membalik tabung (tutup dengan gabus, dan memungkinkan untuk berdiri tegak selama dua puluh empat jam) belasan kali. Kemudian dilakukan pembacaan skala, dimana ketinggian koagulum berdiri akan menunjukkan jumlah bagian per seribu, atau gram albumin dalam satu liter. Hasil ini dibagi dengan sepuluh menghasilkan persentase yang ditunjukkan pada Table 1 (Anonim b, tt). Tabel 1. Hasil dari tes Esbach atau metode dipstik memiliki nilai 0-4 (+): Hasil Samar 1(+) 2(+) 3(+) 4(+) Jumlah protein 10-30 mg % 30 mg % 100 mg % 500 mg % > 2000 mg %

Endapan protein urin proteinuria yaitu :

dengan metode Esbach mungkinkan evaluasi keparahan

a. RINGAN <1 g / hari (fisiologis, saluran kemih infeksi, batu ginjal), b. SEDANG 1-3 g / hari (nephropathies glomerulus dan tubulus-interstisial),dan c. BERAT >3,5 g / hari (sindrom nefrotik) (Anonim a, tt). Pada uji Esbach, hasil positif palsu (false positif) dapat terjadi bila sampel urin sifatnya terlalu basa atau terlalu encer. Selain itu bila pemeriksaan menunjukkan hasil positif palsu maka harus diperiksa dengan asam salisilsulfonat atau dengan tes pendidihan karena hasil positif palsu mungkin ditimbulkan oleh urin alkali yang berbufer kuat (Anonim, 2010). Beberapa kelemahan uji Esbach seperti pada pengukuran kualitatif sulit dilakukan pada anak-anak terutama pada yang tidak bisa mengendalikan buang air kecil karena hal ini akan menimbulkan kesulitan dalam pengumpulan urin 24 jam atau urin semalam, sering

terjadi kesalahan selama menghitung waktu dan saat mengakomodasi urin, dan hasil yang didapat tidak akurat (Sukmawati dan Suarta, 2007).

V. ALAT DAN BAHAN 1. Tabung Esbach 2. Sampel urin 24 jam (2 L) 3. Reagen Esbach a. Asam pikrat 10 b. Asam sitrat 20 c. Air suling 1 L 4. Alat-alat gelas lainnya

VI. CARA KERJA Sampel urin 24 jam dikumpulkan dan diukur volumenya ( 2 liter/jam) Sampel urin diaduk agar homogen kemudian diambil secukupnya kemudian ditetesi dengan beberapa tetes asam cuka 6% hingga ph urin menjadi < 6 lalu disaring Selanjutnya tabung Esbach diisi dengan urin sampai tanda U dan reagen Esbach hingga tanda R Tabung Esbach ditutup dengan gabus penutupnya, dibolak-balik beberapa kali agar urin dan reagen tercampur baik, lalu dibiarkan pada suhu kamar selama 24 jam. Setelah 24 jam dibaca endapan yang ditimbulkan dalam satuan g/L

VII. HASIL Pengukuran Ph : asam lemah Setelah penambahan reagen : Warna kuning Setelah didiamkan 24 jam : 0,7 g/L = 700 mg/L Persentase protein : 700 mg/L : 10 = 70 mg % Perhitungan Protein Loss Protein loss = a g/L x V L/24 jam = 0,7 x 2 = 1,4 g/24 jam

VIII.

PEMBAHASAN Pada praktikum ini, dilakukan pengukuran kadar protein dalam urin menggunakan

metode uji Esbach. Uji Esbach merupakan pemeriksaan untuk menilai kadar protein dalam urin (proteinuria) dimana hasil positif ditunjukkan dengan adanya kekeruhan dan tingkat kekeruhan sesuai dengan kuantitatif protein (Kurniati, 2010). Sampel urin 24 jam yang telah terkumpul diaduk agar homogen. Selanjutnya sampel diambil secukupnya untuk diteteskan dengan asam cuka 6% dan disaring. Penambahan asam cuka ini bertujuan untuk membuat urin menjadi asam (pH<6). Pada uji Esbach hasil positif palsu dapat terjadi bila urin sampel sifatnya terlalu basa atau terlalu encer (Anonim, 2010). Tabung Esbach kemudian ditambahkan urin sampai tanda U dan reagen Esbach hingga tanda R. Tabung Esbach dibolak-balik beberapa kali agar urin dan reagen tercampur baik, lalu dibiarkan pada suhu kamar selama 24 jam. Setelah 24 jam, dilihat jumlah endapan yang dihasilkan dalam satuan g/L. Dari pengujian tersebut endapan yang diperoleh sebanyak 0,7 g/L (700mg/L). Dari data tersebut dilakukan perhitungan persentase protein dan Protein Loss. Pada perhitungan persentase protein, persentase protein yang diperoleh sebesar 70 mg % yang menunjukkan hasil 1 (+) 2(+). Pada perhitungan Protein Loss diperoleh hasil 1,4 g/24 jam, jumlah ini menunjukkan bahwa keparahan proteinurea berada pada tingkat sedang (1-3 g / hari) yang disebabkan oleh adanya nepropati glomerulus dan tubulus-interstisial (Anonim b, tt).

IX. KESIMPULAN Dari praktikum yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa pasien mengalami proteinurea (albuminuria) pada tingkat sedang (1,4 g/24) dan hasil tes positif dari 1 (+) hingga 2 (+) (30 - 100 mg / dl).

DAFTAR PUSTAKA Anonim . 2010. Tes Esbach (Cited at : 20 Mei 2011). Available at : http://yuiforme.blogspot.com/2010/05/tes-Esbach.html Anonim a .tt. Practical Laboratories Physiology III-Urinalysis. (Cited at : 11 juni 2011). Available at : http://www.umft.ro/newpage/structura/catedre/FIZIO /Physiology_ III/Urinalysis.pdf

Anonim b. tt. The Analysis Of Urine. Introduction. Part 4 . (Cited at : 20 Mei 2011). Available at : http://chestofbooks.com/crafts/scientific-american/sup5/The-Analysis-

Of-Urine-Introduction-Part-4.html

Maftuhah Kurniati . 2010. Analisa Pemeriksaan Urine. (Cited at : 20 mei 2011). Available at : http://ruangpribadimaftuhah.blogspot.com/2010/02/analisa-pemeriksaan -urine.html Sukmawati, M, dan K. Suarta. 2007. Validity of protein-creatinine and protein-osmolality ratios in the estimation of massive proteinuria in children with nephrotic syndrome. Paediatr Indonesia, Vol. 47, No. 4 halaman 139-143