Anda di halaman 1dari 17

2.

Landasan Teori Landasan teori yang dijelaskan pada bab ini digunakan sebagai pendukung dan dasar teori mengenai tema yang dilakukan dalam kerja praktek. Landasan teori terdiri dari penjelasan mengenai definisi Klasifikasi ABC (Analisa Pareto), peramalan beserta metodenya, sistem persedian, dan metode pengendalian persediaan.

2.2.3

Klasifikasi ABC Sesuai hukum Pareto, barang-barang yang disimpan dibagi berdasar pada sistem persediaan dalam tiga kelas yaitu A, B, dan C. Klasifikasi ini dibuat berdasarkan nilai barang terhadap investasi total tahunan barang yang disimpan. Sering ditemui situasi dimana dari ribuan item persediaan yang harus dikontrol hanya beberapa saja yang mempunyai nilai pemakaian tahunan yang tinggi, sedangkan sebagian besar hanya mempunyai nilai pemakaian yang rendah, nilai pemakaian tahunan yang dimaksud adalah sebagai berikut : Nilai pemakaian tahunan = Annual Used x Nilai Unit cost......persamaan 2.2 Klasifikasi ABC adalah suatu pedoman dalam manajemen persediaan untuk menetapkan prioritas pengontrolan. Dalam klasifikasi ABC, persediaan diklasifikasikan menurut nilai pemakaian tahunannya, sehingga dapat dibedakan menjadi tiga kelas, yaitu : Kelas A : Nilai pemakaian tahunannya tinggi (80%) Kelas B : Nilai pemakaian tahunannya tinggi (15%) Kelas C : Nilai pemakaian tahunannya tinggi (5%) Kelas A mewakili item bernilai tinggi dengan pengawasan tinggi, sedang item B memerlukan pengawasan menengah dengan jumlah item sedang, dan item C sebagai item terbanyak tetapi membutuhkan pengawasan minimum. Prosedur untuk melakukan klasifikasi ABC adalah sebagai berikut : 1. Mentabulasikan nama, harga per unit, dan jumlah unit yang dikonsumsi per tahun. 2. Mengalikan harga per unit dengan jumlah unit yang dipakai selama setahun untuk mendapatkan nilai rupiah konsumsi setahun dari masing-masing item. Program Studi Teknik Industri Fakultas Teknik UNDIP 1

3. Menjumlahkan nilai rupiah tahunan untuk keseluruhan item dan hitung persentase pemakaian tahunan untuk tiap-tiap item. 4. Mengurutkan item-item mulai dari yang komsumsi rupiah tahunannya besar. 5. Membuat klasifikasi ABC dengan klasifikasi Kelas A 80%, B 15%, dan C 5%. 2.2.4 Peramalan Peramalan adalah suatu proses untuk mengestimasi atau memperkirakan kejadian yang akan datang. Dalam dunia usaha, sesuatu yang terjadi di periode mendatang sangatlah penting untuk diketahui oleh pihak manajemen (pengusaha) untuk menentukan kebijakan-kebijakan yang perlu diambil saat ini demi kelancaran operasional. Peramalan merupakan bagian integral dari kegiatan pengambilan keputusan manajemen. Perusahaan atau organisasi selalu menentukan sasaran dan tujuan tersebut. Kebutuhan akan peramalan meningkat sejalan dengan usaha manajemen untuk mengurangi ketergantungannya pada hal-hal yang belum pasti, apalagi seiring dengan meningkatnya kompleksitas, persaingan dan tingkat perubahan lingkungan (Makridakis dan Whellwright, 1992). 1. Prinsip-prinsip Peramalan a. Peramalan melibatkan kesalahan (error). Jadi peramalan sifatnya hanya mengurangi ketidakpastian tetapi tidak menghilangkan. b. Peramalan memakai tolok ukur kesalahan. Jadi pemakai harus tahu besar kesalahan yang dapat digunakan dalam satuan unit atau persentase. c. Peramalan jangka pendek lebih akurat dibandingkan peramalan jangka panjang, karena dalam jangka pendek kondisi-kondisi cenderung tetap atau berubah lambat. 2. Metode-metode Peramalan Secara garis besar ada 2 macam metode peramalan yang dapat digunakan: a. Peramalan dengan menggunakan metode kualitatif. Peramalan dengan metode kualitatif dilakukan dengan beberapa alasan sebagai berikut: Data masa lalu belum pernah ada atau susah diperoleh. Trend data masa lalu diperkirakan berbeda dengan trend masa yang akan datang. Program Studi Teknik Industri Fakultas Teknik UNDIP 2

b. Peramalan dengan menggunakan metode kuantitatif. Peramalan dengan kuantitatif dapat dilakukan dengan beberapa persyaratan sebagai berikut: Data masa lalu bisa diperoleh dan dapat dikuantifikasi. Data masa lalu diperkirakan memiliki trend yang sama dengan data yang akan datang. Metode peramalan kuantitatif dapat digolongkan pada dua bagian, yaitu: a. Teknik deret berkala (time series), yaitu memperlakukan proses untuk memperoleh output/ taksiran sebagai sistem yang tidak bisa diketahui/ black box dan tidak perlu dilakukan usaha untuk menelusurinya. Berdasar pola datanya, metode time series ada 4 tipe yaitu : pola stasioner, musiman (seasonal), siklik, trend. Gambar 2.5 merupakan gambar dari masing-masing pola data time series :

Pola data stationer

Pola data musiman

Pola data siklis

Pola data trend

Gambar 2.6 Pola Data Tome Series Sumber : Vincent Gasperz, 2001

Keterangan gambar: Pola data stationer (horizontal): 3

Program Studi Teknik Industri Fakultas Teknik UNDIP

Suatu data runtut waktu yang bersifat stationer atau horizontal, dimana serial data nilai rata-ratanya tidak berubah sepanjang waktu (data berfluktuasi konstan pada nilai tertentu. Pola data musiman: Suatu data runtut waktu yang bersifat musiman, dimana data mempunyai perubahan yang berulang (sekumpulan data dipengaruhi faktor musiman). Pola data siklis: Pola data trend: Suatu data yang dipengaruhi fluktuasi ekonomi jangka panjang. Suatu data runtut waktu yang bersifat trend. Suatu data runtut waktu dikatakan mempunyai trend jika nilai harapannya beubah sepanjang waktu sehingga data tersebut diharapkan akan meningkat atau menurun selama periode dimana peramalan diinginkan. b. Teknik explanatory/kausal, yaitu menganggap output/ taksiran mempunyai hubungan sebab akibat dengan input dalam sistem. 3. Metode-Metode Peramalan Kuantitatif Time Series Persamaan matematis yang digunakan dalam masing-masing metode peramalan kuantitatif tersebut adalah sebagai berikut (Slipper dan Bulfin,1997). a. Weighted Moving Average ...........persamaan 2.3 .A W
i i i =t m + 1

i W b. Single exponential smoothing


F(0) = A(1) F(t) = A(t) + (1 - ) F(t - 1)...............................persamaan 2.4 f(t + ) = F(t) Pengaruh smoothing pada metode ini yaitu semakin besar , smoothing yang dilakukan semakin kecil, dan sebaliknya. Karena berupa variabel, masalah pada peramalan metode ini dalah mencari nilai yang optimal. c. Double exponential smoothing Program Studi Teknik Industri Fakultas Teknik UNDIP 4

F (t +1) = i =t m +1 t

F(0) F(t) (t)

= (0) = A(1) = A(t) + (1 - ) F(t - 1) = F(t) + (1 - ) (t - 1) .....................................persamaan 2.5

f(t + ) = (t) d. Adaptive exponential smoothing Metode ini dimulai dengan menetapkan nilai , pada setiap periode, pengecekan terhadap nilai dengan 3 nilai, -0.05, , +0.05, akan diperoleh nilai F(t) dengan error absolut terkecil. Formula untuk metode ini adalah F(0) F(t) t m: A(t) f(t) T(t) W(t) I(t) e(t) A = A(1) = A(t) + (1 - )F(t 1) ..........................................persamaan 2.6 : waktu / periode : waktu dari t : periode moving average : parameter first smoothing : parameter trend smoothing : parameter seasonal smoothing : aktual data dalam periode t : peramalan untuk periode t : trend untuk periode t : bobot untuk periode t : seasonal index untuk periode t : kesalahan dalam periode t, yang mana A(t) - f(t) : rata rata data aktual

Keterangan :

4. Pemilihan Teknik Peramalan Sebelum memilih suatu model peramalan tertentu, sebaiknya kita mengidentifikasi pola historis dari data aktual permintaannya. Dalam hal ini kita dapat memplotkan data permintaan aktual ke dalam grafik. Grafik dapat berupa: a. Jika pola historisnya bergerak didaerah garis lurus (relatif stabil) maka kita bisa menggunakan model rata-rata bergerak (Moving Average). Program Studi Teknik Industri Fakultas Teknik UNDIP 5

b. Jika pola historisnya membentuk tren maka kita dapat menggunakan model analisis garis kecenderungan (Trend Line Analysis). c. Jika pola historisnya bergejolak atau tidak stabil dari waktu ke waktu maka kita dapat menggunakan model peramalan pemulusan eksponensial (Exponential Smoothing) d. Model yang digunakan juga mungkin merupakan campuran dari dua atau ketiga model diatas. Seperti Moving Average with Linear Trend, Exponential Smoothing with Linear Trend, Double Exponential Smoothing with Linear Trend, ataupun Winters Model. 5. Pengukuran Kesalahan Peramalan Peramalan yang baik mempunyai berbagai kriteria yang penting antara lain akurasi, biaya dan kemudahan. Akurasi dari suatu hasil peramalan diukur dengan bias dan konsistensi peramalan. Hasil peramalan dikatakan bias bila peramalan tersebut terlalu tinggi atau terlalu rendah dibandingkan dengan kenyataan yang sebenarnya terjadi. Hasil peramalan dikatakan konsisten jika besar kesalahan peramalan relatif kecil. Ukuran akurasi hasil peramalan merupakan tingkat perbedaan antara hasil peramalan dengan permintaan yang sebenarnya terjadi. (Slipper dan Bulfin, 1997). Ukuran akurasi peramalan yang biasa digunakan yaitu: a. Mean Error
ME = et .....persamaan 2.7 n
et .................persamaan 2.8 n

b. Mean Absolut Deviation


MAD =

c. Sum Of Square Error


SSE = et2 ...... ........persamaan 2.9

d. Mean Squared Error


e2 MSE = t ..persamaan 2.10 n a. Standard Deviation of Error

Program Studi Teknik Industri Fakultas Teknik UNDIP

et2 SDE = n 1 ....persamaan 2.11

b.
PE =

Percentage Error
et x100% Yt ................persamaan 2.12

c.

Mean Percentage Error


PE t n ...persamaan 2.13

MPE =

h.

Mean Absolute Percentage Error


MAPE = PE t n

.........persamaan 2.14

dimana ei merupakan kesalahan (error) pada periode i yang nilainya didapat dari selisih antara nilai aktual dengan nilai ramalan periode i. Secara matematis ei dinyatakan sebagai berikut :

e = X F
i i

Xi : data aktual pada periode i Fi : hasil forecasting pada periode ke-i 6. Validasi Model Peramalan Tracking signal adalah suatu ukuran bagaimana baiknya suatu ramalan memperkirakan nilai-nilai aktual. Suatu ramalan diperbaharui setiap minggu, bulan, atau triwulan, sehingga data permintaan yang baru dibandingkan terhadap nilai-nilai ramalan. Tracking signal dihitung sebagai running sum of the forecast error (RFSE) dibagi dengan mean absolut deviation (MAD). persamaan untuk menentukan tracking signal adalah
RFSE Tracking Signal = = MAD

(Y

Y ) .persamaan 2.15 MAD


t

Keterangan:

Program Studi Teknik Industri Fakultas Teknik UNDIP

RFSE : Running sum of the forecast error Yt : Nilai aktual pada periode t : Nilai peramalan pada periode t Tracking signal yang positif menunjukkan bahwa nilai aktual permintaan lebih besar daripada ramalan, sedangkan tracking signal yang negatif berarti nilai aktual permintaan lebih kecil daripada ramalan. Suatu tracking signal disebut baik apabila memiliki RFSE yang rendah, dan mempunyai positif error yang sama banyak atau seimbang dengan negatif error, sehingga pusat dari tracking signal mendekati nol. Apabila tracking signal telah dihitung, peta kontrol tracking signal dapat dibangun dengan nilai tracking signal maksimum 4, sebagai batas-batas pengendalian untuk tracking signal, yang memiliki batas kontrol atas dan batas kontrol bawah. 2.2.5 Pengertian Persediaan Persediaan adalah bahan atau barang yang disimpan yang akan digunakan untuk memenuhi tujuan tertentu, misalnya untuk proses produksi atau perakitan, untuk dijual kembali, dan untuk suku cadang dan suatu peralatan atau mesin (Herjanto, 1999). Persediaan dapat berupa bahan mentah, bahan pembantu, barang dalam proses, barang jadi, ataupun suku cadang. Persediaan merupakan suatu hal yang tak terhindarkan. Penyebab timbulnya persediaan sebagai berikut: 1. Mekanisme pemenuhan atas permintaan. Permintaan terhadap suatu barang tidak dapat terpenuhi seketika bila barang tersebut tidak tersedia sebelumnya. Untuk menyiapkan barang tersebut, diperlukan waktu untuk pembuatan dan pengiriman, maka adanya persediaan merupakan hal yang sulit dihindarkan. 2. Keinginan untuk meredam ketidakpastian. Ketidakpastian terjadi akibat permintaan yang bervariasi dan tidak pasti dalam jumlah maupun kedatangan, waktu pembuatan yang tidak cenderung konstan antara satu produk dengan produk berikutnya, waktu tenggang (lead time) yang cenderung tidak pasti

Program Studi Teknik Industri Fakultas Teknik UNDIP

karena banyak faktor yang tidak dapat dikendalikan. Ketidakpastian ini dapat diredam dengan mengadakan persediaan. 3. 2.2.6 Sistem Persediaan Sistem pengendalian persediaan adalah mekanisme mengenai bagaimana mengelola masukan yang berhubungan dengan persediaan menjadi output, sehingga diperlukan umpan balik agar output memenuhi standar tertentu. Mekanisme ini adalah pembuatan serangkaian kebijakan yang memonitor tingkat persediaan, menentukan persediaan yang harus dijaga, kapan reorder point harus dilakukan, dan berapa besar order quantity. Sistem ini bertujuan menetapkan dan menjamin tersedianya produk jadi, barang dalam proses, komponen, dan bahan baku secara optimal, dalam kuantitas dan pada waktu yang optimal. Kriteria optimal adalah minimasi biaya total yang terkait dengan persediaan, yaitu biaya penyimpanan, biaya pemesanan, dan biaya kekurangan persediaan. Variabel keputusan dalam pengendalian sistem persediaan sebagai berikut: 1. dibuat. 2. 3. 4. sebagai berikut: 1. Static deterministic inventory model: pada model ini, permintaan bersifat deterministic (jumlah total persediaan yang terjadi pada periode waktu yang tetap, nilainya diketahui dan konstan) dan tingkat permintaan sama setiap periode. 2. 3. Dynamic deterministic inventory model: permintaan setiap periode diketahui Static probabilistic inventory model: permintaan merupakan variabel random, dan konstan, tetapi tingkat permintaan bervariasi setiap periodenya. memiliki distribusi probabilitas yang bergantung pada panjangnya periode. Distribusi probabilitas permintaan adalah sama setiap periode. Program Studi Teknik Industri Fakultas Teknik UNDIP 9 Kapan pemesanan atau pembuatan harus dilakukan. Berapa jumlah persediaan pengaman. Bagaimana mengendalikan persediaan. Klasifikasi model persediaan berdasarkan karakteristik demand (Elsayed, 1994) Berapa banyak jumlah barang yang akan dipesan atau Keinginan melakukan spekulasi yang bertujuan mendapatkan keuntungan besar dari kenaikan harga di masa mendatang.

4.

Dynamic probabilistic

inventory model: sama seperti model static

probabilistic inventory model, tetapi distribusi probabilitas permintaan setiap periode bervariasi. 2.2.7 Biaya Dalam Sistem Persediaan Unsur biaya yang terdapat dalam persediaan dapat digolongkan menjadi tiga, yaitu biaya pemesanan, biaya penyimpanan, dan biaya kekurangan persediaan. 1. Biaya pemesanan Biaya pemesanan (ordering costs, set up cost, procurement costs) adalah biaya yang dikeluarkan sehubungan dengan kegiatan pemesanan part, sejak dari penempatan pemesanan sampai tersedianya barang di gudang. Biaya pemesanan ini meliputi semua biaya yang dikeluarkan dalam rangka mengadakan pemesanan barang tersebut, yang dapat mencakup biaya administrasi dan penempatan order, biaya pemilihan vendor/ pemasok, biaya pengangkutan dan bongkar muat, biaya penerimaan dan biaya pemeriksaan barang. Biaya pemesanan tidak tergantung dari jumlah yang dipesan, tetapi tergantung dari berapa kali pesanan dilakukan. 2. Biaya penyimpanan Biaya penyimpanan (carrying costs, holding costs) adalah biaya yang dikeluarkan berkenaan dengan diadakannya persediaan barang. Yang termasuk biaya ini, antara lain biaya sewa gudang, biaya administrasi pergudangan, gaji pelaksana pergudangan, biaya listrik, biaya modal yang tertanam dalam persediaan, biaya asuransi, ataupun biaya kerusakan, kehilangan atau penyusutan barang selama dalam penyimpanan. Biaya modal merupakan komponen biaya penyimpanan yang terbesar, baik itu berupa biaya bunga kalau modalnya berasal dan pinjaman maupun biaya oportunitas apabila modalnya milik sendiri. Biaya penyimpanan dapat dinyatakan dalam dua bentuk, yaitu sebagai persentase dari nilai rata-rata persediaan per-tahun dan dalam bentuk rupiah per-tahun per-unit barang. 3. Biaya kekurangan persediaan Biaya kekurangan persediaan (shortage costs, stock out costs) adalah biaya yang timbul sebagai akibat tidak tersedianya barang pada waktu diperlukan. Biaya kekurangan persediaan ini pada dasarnya bukan biaya nyata (riil), melainkan berupa biaya kehilangan kesempatan. Termasuk dalam biaya ini, antara lain semua biaya Program Studi Teknik Industri Fakultas Teknik UNDIP 10

kesempatan yang timbul karena terhentinya proses produksi sebagai akibat tidak adanya bahan yang diproses, biaya administrasi tambahan, biaya tertundanya penerimaan keuntungan, bahkan biaya kehilangan pelanggan. 2.2.8 Penentuan Jumlah Pembelian yang Optimal (EOQ) Untuk dapat melaksanakan pengadaan bahan baku dalam perusahaan, harus diadakan pembelian terlebih dahulu. Dalam pelaksanaan pembelian ini persoalan yang mungkin akan dihadapi perusahaan adalah menentukan beberapa kali pembelian bahan baku dilaksanakan untuk memenuhi kebutuhan proses produksi dan efisiensi dari persediaan yang diselenggarakan di dalam perusahaan, berapa kali pembelian bahan baku ini dilakukan, sebelumnya manajemen perusahaan akan memperhitungkan baiyabiaya persediaan yang harus dikeluarkan dalam pembelian tersebut. Kuantitas pembelian yang optimal (Economic Order Quantity) adalah merupakan suatu jumlah pembelian bahan yang akan dapat mencapai biaya persediaan yang paling minimal. (Agus Ahyari, 1979). Dengan adanya kuntitas optimal ini diharapkan biaya-biaya persediaan yang timbul akan dapat ditekan serendah-rendahnya sehingga efisiensi persediaan bahan dalam perusahaan dapat terlaksana dengan sebaikbaiknya. Dalam menentukan besarnya jumlah persediaan yang optimal ini, hanya diperhatikan biaya variabel dari persediaan tersebut, baik biaya variabel yang bersifat perubahannya searah dengan perubahan jumlah persediaan yang dibeli (dipesan) maupun biaya variabel yang sifat perubahannya berlawanan dengan jumlah persediaan tersebut. Dua jenis biaya tersebut, yaitu : a. Biaya pesan, Yaitu biaya yang dikelurkan sehubungan dengan kegiatan pemesanan bahan mentah. Biaya ini berubah sesuai dengan frekuensi pemesanan. Semakin tinggi frekuensi pemesanan semakin tinggi biaya pemesanannya. Sebaliknya biaya ini berbanding terbalik dengan jumlah bahan setiap kali pemesanan. Hal ini disebabkan karena semakin besar jumlah setiap kali pemesanan berarti frekuensinya menjadi semakin rendah, misalnya : Biaya-biaya persiapan pemesanan. Biaya administrasi. Program Studi Teknik Industri Fakultas Teknik UNDIP 11

Biya pengiriman pemesanan. b. Biaya simpan Yaitu biaya-biaya yang dikeluarkan sehubungan dengan kegitan penyimpanan bahan mentah yang telah dibeli. Biaya ini berubah sesuai dengan jumlah bahan yang disimpan. Semakin besar jumlah setiap kali pemesanan maka biaya penyimpanan mempunyai sifat yang berlainan dengan biaya pemesanan, misalnya:

Biaya pemeliharaan/memiliki persediaan. Biaya perbaikan kerusakan barang. Biaya modal. Biaya bahan bakar Biaya listrik gudang Dengan memperhatikan kedua jenis biaya di atas maka jumlah pembelian yang paling ekonomis dapat dihitung dengan rumus : EOQ = ......persamaan 2.16 Keterangan : EOQ Oc A Hc = = = = Jumlah pembelian bahan yang ekonomis Biaya pemesanan tiap kali pesan (Ordering Cost) Jumlah Permintaan Biaya penyimpanan per unit (Holding Cost)

Namun, penentuan jumlah pesanan optimal dengan EOQ juga memperhatikan besarnya tingkat permintaan. Jadi, jika jumlah pemesanan menurut EOQ lebih besar dari jumlah permintaan, maka dipilih nilai yang lebih kecil c. Total Cost Pembelian Perhitungan Total Cost pembelian dangan metode EOQ dapat ditentukan dengan persamaan berikut : Total Cost EOQ = EOQ Oc = = ...............persamaan 2.17 Jumlah pembelian bahan yang ekonomis Biaya pemesanan tiap kali pesan (Ordering Cost)

Program Studi Teknik Industri Fakultas Teknik UNDIP

12

A Hc P 2.2.9

= = =

Jumlah Permintaan Biaya penyimpanan per unit (Holding Cost) Price (harga)

Menentukan Reorder Quantity (ROQ) Dengan menggunakan rumus di bawah ini ROQ dapat ditentukan sebagai berikut : ROQ = (Average Monthly Used x Av. Lead Time) x K-faktor.persamaan 2.18 Dimana K-faktor : diambil sebesar 1,65 yang member service level/tingkat kepercayaan sebesar 95% (persen order tanpa kemungkinan stock out). Tabel nilai Kfaktor dapat dilihat dalam Tabel 2.1 berikut ini : Tabel 2.1 Faktor Pengamanan dan Tingkat Kepercayaan

Sedangkan untuk menentukan nilai Total Cost dari metode ROQ dapat ditentukan dari persamaan berikut ini : Total Cost ROQ = ROQ Oc A Hc = = = =

Jumlah Pemesanan Kembali Jumlah Permintaan

Biaya pemesanan tiap kali pesan (Ordering Cost) Biaya penyimpanan per unit (Holding Cost)

Program Studi Teknik Industri Fakultas Teknik UNDIP

Faktor Pengamana 0,00 0,67 0,84 1,00 1,28 1,50 1,65


...............persamaan 2.19 13

P 2.2.10

Price (harga) Penentuan Waktu Tunggu (Lead Time) dan Titik Pemesanan

Kembali

(ROP) Penentuan Waktu Tunggu (Lead Time) dan Titik

Pemesanan Kembali (ROP) Sebelumnya akan dibahas terlebih dahulu tentang ketidakpastian bahan baku yang kemungkinan akan dihadapi perusahaan. Ketidakpastian ini timbul karena segala sesuatu yang telah direncanakan perusahaan tidak berjalan sesuai dengan kenyataan. Secara umum ketidakpastian ini akan dipisahkan menjadi dua macam : (Marwan Asri, 1981) a. Ketidakpastian yang berasal dari dalam perusahaan Ketidakpastian timbul akibat dari penyerapan bahan baku yang tidak sama dengan perencanaan pemakaian bahan baku yang telah disusun sebelumnya. Faktor-faktor yang menjadi penyebab keadaan tersebut antara lain karena adanya gangguan teknis dalam pelaksanaan proses produksi, adanya pesanan kilat, kerja lembur, tidak dipenuhinya standar kualitas bahan baku dan sebagainya. b. Ketidakpastian yang berasal dari luar perusahaan Ketidakpastian ini timbul akibat faktor-faktor dari luar perusahaan. Dalam melakukan pembelian (pemesanan) bahan baku, ada kalanya bahan yang dipesan tersebut akan datang lebih cepat atau lambat dari waktu yang telah disepakati bersama. Keduanya akan mendatangkan akibat yang tidak menguntungkan bagi perusahaan. Untuk mengatasi ketidakpastian bahan baku dari luar perusahaan harus dicari titik pemesanan kembali yang paling optimal (reorder point = ROP). Namun sebelumnya harus dicari terlebih dahulu waktu tunggu (lead time) yang tepat untuk bahan baku tersebut. Adapun yang dimaksud reorder point adalah saat atau titik dimana harus diadakan pemesanan lagi sedemikian rupa sehingga penerimaan atau kedatangan material yang dipesan itu tepat pada waktu dimana persediaan di atas safety stock sama dengan nol. Sedangkan lead time adalah jangka waktu sejak dilakukannya pemesanan sampai saat datangnya bahan mentah yang dipesan siap untuk digunakan dalam proses produksi. (Marwan Asri, 1981). Program Studi Teknik Industri Fakultas Teknik UNDIP 14

Faktor-faktor yang harus diperhatikan dalam penentuan reorder point adalah: a. Penggunaan meterial selama tenggang waktu mendapatkan barang yaitu waktu dimana meliputi dimulainya usaha-usaha untuk memesan barang atau meterial tersebut diterima dan ditempatkan dalam gudang. b. Besarnya safety stock yaitu jumlah persediaan pengaman yang harus ada untuk menjamin kelangsungan proses produksi. Cara menentukan reorder point antara lain dengan : a. Menetapkan jumlah penggunaan selama lead time dan ditambah dengan persentase tertentu. b. Dengan menetapkan penggunaan selama lead time dan ditambah dengan safety stock. ROP = ( d x L ) + SS....................................................persamaan 2.20 (Bambang Riyanto, 1994) Keterangan : ROP d L SS 2.2.10 = Titik pesanan kembali = Penggunaan bahan rata-rata = Lead time rata-rata = Safety stock

Penentuan Persediaan Pengaman (Safety Stock) Safety stock merupakan persediaan pengaman yang harus ada dalam perusahaan

yang berguna untuk menjaga kemungkinan terjadi kekurangan bahan (stock out). Kemungkinan stock out ini disebabkan karena penggunaan bahan yang melebihi perkiraan semula atau karena terlambat pengiriman bahan yang dipesan. Untuk menentukan besarnya persediaan pengaman ini digunakan analisis statistik. Dengan menggunakan rumus standart deviasi sebagai berikut :

Sd =

( Xi )
i =1

n 1
= kebutuhan pada bulan/periode i = Rata-rata kebutuhan

Dimana Xi

Program Studi Teknik Industri Fakultas Teknik UNDIP

15

= jumlah sampel suatu data

Setelah nilai standar deviasi didapat, dengan menggunakan nilai n 1 dicari dalam tabel t (nilai penyimpangan) kemudian dimasukkan dalam rumus safety stock. Safety stock (SS) = Z x SDpersamaan 2.21 Dimana : Z = tabel distribusi normal/policy factor. Service level (misal Z = 95%, ini berarti tingkat pelayanan sebesar 95% dari permintaan atau dengan kata lain penjagaan terhadap kemungkinan terjadinya stock out hanya 5%). SD = standar deviasi atau simpangan baku 2.2.11 Grafik hubungan antara EOQ, Safety Stock (SS) dan ROP Persediaan (dalam unit) ROP Jumlah stock pada waktu material yang dipesan datang penggunaan selama procurement lead time safety stock

lead time

waktu

Gambar 2.7 Grafik hubungan antara EOQ, Safety Stock (SS) dan ROP Sumber : Dr Vincent Gaspersz, D.Sc, CIQA, CFPIM. 2001

2.2.12 Penentuan Persediaan Maksimum dan Minimum Persediaan maksimum adalah jumlah persediaan yang paling banyak yang boleh dimiliki oleh perusahaan. Maksud diadakannya persediaan maksimum adalah untuk Program Studi Teknik Industri Fakultas Teknik UNDIP 16

menghindari kemungkinan terjadinya pemborosan akibat dari modal yang ditanam perusahaan. Untuk menentukan berapa jumlah persediaan maksimum dapat dihitung dengan cara sebagai berikut: Persediaan maksimum = safety stock (SS) + EOQ.persamaan 2.22 Persediaan minimum = (Av. Annual Used x Av. L.Time) + SS...persamaan 2.23 TC ( Min-Max) =

.............................................................................................persamaan 2.24 1.2.13 Pengendalian Persediaan dengan Metode Blanket Order Blanket Order mengalokasikan pesanan dalam beberapa waktu tertentu dalam satu periode. Metode ini biasanya diterapkan untuk pesanan yang berulang. Dalam PT. Pupuk Kalimantan Timur, pesanan dengan metode Blanket Order dilakukan dua kali dalam satu tahun (satu periode). Jumlah Pasokan (Q) = ........................................................persamaan 2.25 TC (Blanket Order) =

.........................................................................................persamaan 2.26 1.2.14 Pengendalian Persediaan dengan Metode Konsinyasi (Consigment) Transaksi konsinyasi adalah transaksi penitipan barang consignor (pihak yang memiliki barang) kepada consignee (pihak yang mengusahakan penjualan barang). Pembayaran dilakukan setelah barang tersebut terjual. Barang merupakan kepemilikan consignor, namun consignee berkewajiban memelihara sesuai perjanjian yang telah disepakati. TC (Konsinyasi) = .........persamaan 2.27

Program Studi Teknik Industri Fakultas Teknik UNDIP

17