Anda di halaman 1dari 2

RUMUSAN HASIL SEMINAR REGIONAL SEJARAH PERADABAN AGRARIS TINGKAT JAWA TENGAH DISELENGGARAKAN DI BALAI PEMBERDAYAAN SUMBER DAYA

MANUSIA PERTANIAN (BPSDMP) TANGGAL 18 S.D 19 JUNI 210 OLEH SEKSI KESEJARAHAN BIDANG SEJARAH DAN PURBAKALA DINAS KEBUDAYAN DAN PARIWISATA PROVINSI JAWA TENGAH Atas dasar paparan makalah dan hasil diskusi dari masukan peserta dapat dirumuskan beberapa simpulan sebagai berikut : 1. Kajian Sejarah Agraria merupakan kajian yang sangat penting untuk dilakukan, karena menunjang program Pemerintah Provinsi Jawa Tengah dalam merealisasikan Visi Misi Gubernur Jawa Tengah menuju masyarakat yang sejahtera. Kajian Sejarah Agraria akan membuka kesadaran pengambil keputusan dan masyarakat tentang pentingnya tanah sebagai asset pengembangan ekonomi terutama di Pedesaan. Hal ini relevan dengan slogan Gubernur Jawa Tengah Bali nDeso Bangun nDeso. 2. Perlu adanya peningkatan peran dari Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) dalam proses a.Pemberdayaan Sumber Daya Manusia, dalam hal ini adalah Pengusaha tembakau, Petani tambakau dan Buruh yang berhubungan dengan mata rantai proses produksi, b.Mengusahakan tembakau bernilai strategis, bermanfaat secara ekonomis, mempunyai nilai seimbang antara supply and demand sesuai dengan pasar global melalui usaha yang profesional berkelanjutan, penanaman dan produksi tembakau yang aman dan ramah lingkungan. c. Menyempurnakan sistem kemitraan kelembagaan di dalam Agrobisnis tembakau dan Industri hasil tembakau. 3. Perlu adanya pemahaman pada elemen masyarakat tentang perkembangan aturan pertanahan yang pernah ada di Indonesia dari Agrarische Wet 1870 (Undang undang Agraria 1870) sampai dengan Undang undang Pokok Agraria 1960. Pemahaman ini diperlukan sebagai suatu strategi untuk menyadarkan berbagai elemen masyarakat yang terkait dengan masalah pertanahan bahwa pemanfaatan tanah di Indonesia harus memihak rakyat banyak, dan mendukung perkembangan dunia pertanian, termasuk dalam hal ini perkebunan tembakau di Indonesia. 4. Perlu adanya sikap yang tegas dari pemerintah untuk meminimalisir dampak pemberlakuan RPP tentang Pengamanan produk tembakau sebagai zat adaktif bagi kesehatan (No 36 Th 2009), antara yang disebabkan karena a.Kehilangan mata pencaharian, b. Tanaman alternatif, c. Putus hubungan kerja, d. Pengangguran dan Subsistensi, e. Keresahan Sosial dan protes Sosial.

Pemerintah juga harus konsekwen dengan mencari solusi tanaman pengganti yang tepat untuk petani tembakau yang telah menggelutinya beberapa abad secara turun temurun. Pemerintah Indonesia juga harus memiliki politik tawar ( Political Bargaining) yang tinggi dalam menghadapi pemegang kekuatan Korporasi Internasional yang berhasil mempengaruhi WHO dengan slogannyaWorld No Tobacco day yang diperingati masyarakat dunia tiap tanggal 31 Juni. 5. Perlu adanya pengendalian atau pembatasan areal penanaman tembakau sesuai Surat Edaran Gubernur. Jenis tanaman tembakau yang ditanam hendaknya hanya jenis tembakau varietas rendah nikotin. Budidaya tembakau hendaknya juga memperhatikan lingkungan, dengan proses penanaman tembakau yang ramah lingkungan pada era agroindustri dan agrobisnis. Perlu sosialisasi pada masyarakat tentang Undang undang No 12 Th 1992. Pasal 6 ayat 1 tentang Petani memiliki kebebasan untuk menentukan pilihan jenis tanaman dan pembudidayaan, dan tembakau memberikan keuntungan ; Kampanye anti rokok tahun 1974 oleh WHO, dan Peraturan Pemerintah No 38 / 2000, menetapkan pembatasan kadar nikotin dan tar ; PP 19/2003 mencabut ketetapan No 38 2000 dan mencantumkan peringatan bahaya serta kandungan tar dan Nikotin. Selanjutnya juga perlu juga adanya pengembangan komoditas substitusi/ tanaman pengganti ( kopi, tebu, wijen, dll)`sebagai konservasi. Disusun oleh Tim Perumus : Dra. Ufi Saraswati, m. Hum Dra. Istiyarti, M. Pd Pada Tanggal 19 Juni 2010 di Temanggung