P. 1
CITARUM-Media Monitoring Pada Kegiatan Ekspedisi Kompas Citarum 2011

CITARUM-Media Monitoring Pada Kegiatan Ekspedisi Kompas Citarum 2011

|Views: 603|Likes:
Dipublikasikan oleh cita_citarum

More info:

Categories:Types, Research
Published by: cita_citarum on Jun 30, 2011
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/08/2012

pdf

text

original

Sections

MEDIA MONITORING REPORT Pemberitaan Kompas tentang Citarum 8 Maret - 6 Mei 2011

Communication and Media ICWRMIP

Table of Content
1. 2. 3. 4. Analisis Isi Pemberitaan Media Monitoring Daftar Pemberitaan Kompas Kliping Berita 3 5 14 16

2

ANALISIS ISI PEMBERITAAN KOMPAS 8 Maret-6 Mei 2011

Isi Pemberitaan terkait Program dan Institusi Dalam pemberitaan Kompas sepanjang Maret-Mei 2011, terkait isu ICWRMIP dan Citarum Roadmap termuat dalam satu artikel “Solusi Terpadu yang (Tak) Terintegrasi” yang membahas tentang kegiatan-kegiatan dalam penanganan pengelolaan terpadu untuk Citarum. Kemudian terkait Kementerian Pekerjaan Umum termuat dalam tiga artikel, “Membangun dengan Kearifan Lingkungan”, “Solusi Terpadu yang (Tak) Terintegrasi” dan “Sungai Purba di Ujung Peradaban”. Sedangkan terkait Balai Besar Wilayah Sungai Citarum termuat dalam lima artikel, “Kemerdekaan Mengalir dari Citarum”, “Sungai Purba di Ujung Peradaban”, “Sabar Menanti Janji Ditepati”, “Solusi Terpadu yang (Tak) Terintegrasi” dan “Kerusakan Citarum Merugikan Semua Pihak”. Sedangkan untuk terkait Bappenas termuat dalam satu artikel, “Solusi Terpadu yang (Tak) Terintegrasi” yang membahas tentang koordinasi peta rancangan Citarum Roadmap. Kemudian ADB termuat dalam satu artikel ““Kerusakan Citarum Merugikan Semua Pihak” yang membahas tentang pembiayaan dari kegiatan Citarum Roadmap.

Topik Dalam isi Pemberitaan Pemberitaan Kompas sepanjang Maret-Mei 2011 terkait Citarum terbagi dalam beberapa topik besar yang dapat dikategorikan antara lain: merusakan lingkungan, kualitas air, limbah dan pencemaran (18 berita) penataan dan pembangunan fisik (13 berita), upaya pelestarian lingkungan (8 berita), kisah sejarah (9 berita), kehidupan warga (13 berita), industri (5 berita), kondisi waduk, PLTA dan Jatiluhur (7 berita), banjir (3 berita), upaya pemerintah (8 berita) dan irigasi (6 berita).

3

Assesment pemberitaan Kompas tentang Citarum Selama Maret-Mei 2011, Kompas memuat pemberitaan bernada positif sebanyak 17 artikel, pemberitaan bernada netral 16 artikel dan pemberitaan bernada negatif sebanyak 29 artikel.

4

DAILY MEDIA MONITORING Pemberitaan Kompas tentang Citarum
8 Maret - 6 Mei 2011

Date
8/3/11

Publication
Kompas cetak

Page

Headline
Debit Citarum Surut

Summary
Debit air yang masuk ke aliran Sungai Citarum terus surut, petani di daerah irigasi Jatiluhur, diimbau hemat air. tinggi muka air Waduk Saguling, Cirata, dan Ir H Djuanda terus turun mendekati titik kritis Penegakkan hukum terhadap perusakan lingkungan di DAS Citarum dinilai tak berjalan. Pembiaran oleh pihak-pihak yang seharusnya menindak dinilai terus terjadi selama belasan tahun Kualitas air Sungai Citarum yang buruk akibat pencemaran mempercepat korosi peralatan PLTA. Seperti di PLTA Waduk Cirata di Plered, Purwakarta, umur komponen hanya setengah dari yang semestinya. Buruknya kualitas air Sungai Citarum akibat tercemar berbagai limbah berimbas pada nelayan di bagian hilir. Seperti di

Tone
negative

10/3/11

Kompas online

regional

Kritis, Volume Air Tiga Waduk di Citarum

negative

26/3/11

Kompas online

Regional

Penegakkan Hukum Tak Jalan di Citarum

negative

27/3/11

Kompas online

Regional

Air Tercemar Percepat Korosi Alat PLTA

negative

28/3/11

Kompas online

Bisnis keuangan

Pencemaran Lingkungan: Nelayan Terimbas Limbah Citarum

negative

5

29/3/11

Kompas online

regional

Kehidupan di Pesisir Citarum: Cuci, Mandi, sampai Buang Hajat di Sini

29/3/11

Kompas cetak

Perikanan: Pencemaran Citarum Hancurkan Perikanan

29/3/11

Kompas online

regional

Kebutuhan Air: Pasokan Air dari Citarum Menipis

23/4/11

Kompas cetak

23/4/11

Kompas cetak

Ekspedisi Citarum: Cisanti, Menerangi Peradaban Pulau Jawa Ekspedisi Citarum: Ketika Kearifan Lokal Tergerus Zaman

24/4/11

Kompas online

regional

Ekspedisi Citarum: Puluhan Ton Limbah Mengalir ke Citarum Sayur Berlimpah,

Muara Gembong, Bekasi, tangkapan ikan para nelayan turun dari tahun ke tahun. Kondisi air yang paling parah terlihat di hilir seperti di Muara Gembong, Bekasi, dan digunakan untuk kebutuhan sehari-hari warga. Pencemaran Sungai Citarum yang terus berlangsung telah menghancurkan usaha perikanan tambak di utara Kabupaten Karawang dan Kabupaten Bekasi, Jawa Barat. Petambak sering merugi karena udang dan ikan mati gara-gara limbah. Rendahnya curah dan intensitas hujan di DAS Citarum sejak Januari 2011 hingga akhir Maret 2011 mengancam pasokan air untuk irigasi maupun air minum saat musim kemarau yang diprediksi mulai terjadi Juni. Kisah tentang sejarah dan kehidupan di daerah Cisanti Mitos dan sejarah di Cisanti serta keadaannya saat ini seiring perkembangan zaman. Limbah ternak yang langsung dibuang ke sungai dan tidak dijadikan biogas. Sentra pertanian

negative

negative

negative

positive

neutral

negative

24/4/11

Kompas online

regional

neutral

6

Harga di Pacet Anjlok 24/4/11 Kompas online regional Ekspedisi Citarum: Agus, Dulu Perambah Kini Pembina

yang airnya dijamin aliran Citarum. Mantan perambah hutan tersebut kini aktif menyadarkan petani sayuran semusim lain untuk melestarikan daerah penghasil air bagi Sungai Citarum Mantan perambah hutan tersebut kini aktif menyadarkan petani sayuran semusim lain untuk melestarikan daerah penghasil air bagi Sungai Citarum Sungai citarum yang sejajar dengan peradaban sungai Nil, beserta kritik atas keadaanya saat ini. Sungai Citarum tercemar logam berat. Pencemaran disertai pelumpuran dan pendangkalan yang hebat terus berlangsung tanpa ada penanganan serius. Kehidupan kampung pemasok kebutuhan sayurmayur untuk Provinsi Jawa Barat, Banten, dan DKI Jakarta Warga ciwalengke memanfaatkan sungai Citarum untuk kebutuhan sehari-hari. Limbah pabrik yang langsung mengalir ke anak sungai Citarum Wisata pesona Citarum yang dikembangkan positive

25/4/11

Kompas online

regional

Ekspedisi Citarum: Perintis Kebangkitan Citarum

positive

25/4/11

Kompas online

regional

Ekspedisi Citarum: Kemerdekaan Mengalir dari Citarum

negative

25/4/11

Kompas cetak

1

Citarum Tercemar dari Hulu

negative

26/4/11

Kompas online

regional

Ekspedisi Citarum: Sayur yang Tak Lagi Menyehatkan Petani

neutral

26/4/11

Kompas online

regional

Ekspedisi Citarum: Gosok Gigi Pun Memakai Air Berlimbah Pencemaran Lingkungan: Citarum Bagai Pelangi Ekspedisi Citarum: Menikmati Sibakan Selendang Dayang Sumbi

negative

26/4/11

Kompas online

regional

negative

26/4/11

Kompas cetak

positive

7

26/4/11

Kompas online

regional

Ekspedisi Citarum: Kerusakan Citarum Merugikan Semua Pihak

27/4/11

Kompas online

regional

27/4/11

Kompas cetak

Ekspedisi Citarum: Asep, Fondasi Perikanan Darat Ekspedisi Citarum: Ketika Eceng Gondok Penuhi Citarum Ekspedisi Citarum: "Emas Putih" Bandung Selatan

27/4/11

Kompas cetak

27/4/11

Kompas cetak

Ekspedisi Citarum: Dilema Industri Tekstil

28/4/11

Kompas online

regional

Ekspedisi Citarum: Potret Pendidikan Sekeruh Air Citarum

28/4/11

Kompas cetak

Ekspedisi Citarum: Tukang Kawal Banjir Majalaya

Kerusakan Sungai Citarum telah merugikan semua pihak, baik pemerintah, pusat listrik tenaga air (PLTA), petani, pembudidaya ikan, maupun rakyat Indonesia. Dunia usaha juga rugi karena Citarum setiap musim hujan meluap Peranan asep dalam produksi perikanan darat. Tanaman yang menjadi indikator tercemarnya air sungai itu benarbenar merepotkan Desa Tarumajaya, gambaran khas desa peternakan sapi perah, salah satu mata pencaharian utama masyarakat pegunungan Bandung selatan dan dilema limbah Kendati dituduh sebagai salah satu penyumbang pencemaran Citarum, ada keterikatan ekonomi kuat antara industri dan masyarakat selama puluhan tahun. di balik kemilaunya itu, masalahan pendidikan di daerah aliran sungai itu sama keruhnya dengan warna air yang telah tercemar. Beberapa elemen pemuda sepakat membuat operasi banjir menyelamatkan warga dan harta bendanya dari terjangan bah

negative

positive

negative

neutral

neutral

neutral

positive

8

28/4/11

Kompas cetak

29/4/11

Kompas cetak

29/4/11

Kompas online

regional

Ekspedisi Citarum: Majalaya, Seabad Geliat Tekstil Rakyat Ekspedisi Citarum: Batuan Purba Penahan Erosi Ekspedisi Citarum: Air Waduk Surut, Nelayan Bercocok Tanam

Sejarah perkembangan industri tekstil Cerita batuan Curug Jompong Surutnya air waduk menyulitkan akses nelayan ke lokasi penangkapan dan menurunkan hasil tangkapan. Dan beralih profesi menjadi petani Banjir merugikan warga Dayeuhkolot. Industri penghasil teh yang sudah mendunia. Upaya mengatasi alih fungsi lahan di hulu dengan membuat embung Cienteung dan permasalahan banjir serta solusi yang dijanjikan Kelompok tani pembudidaya ikan Kesulitan mengakses sekolah melalui jalur air di desa Sukasari. Kisah tentang waduk Jatiluhur Kisah candi di Batujaya kab Kerawang Kompleks Candi Batujaya, kompleks candi tertua yang pernah ditemukan di Indonesia hingga saat ini Kisah pohon aren sebagai pohon konservasi multiguna Warga menjauh dari sungai akibat industrialisasi.

neutral

neutral

neutral

29/4/11

Kompas cetak

29/4/11

Kompas cetak

29/4/11

Kompas cetak

Ekspedisi Citarum: Warga Bersihkan Rumah Ekspedisi Citarum: Dari Citarum untuk Dunia... Alih Fungsi Hutan: Ribuan Kantong Air di Hulu Citarum regional Ekspedisi Citarum: Sabar Menanti Janji Ditepati Ekspedisi Citarum: Haji Lauk dari Waduk Cirata Ekspedisi Citarum: Kami Ingin Tetap Sekolah... Si Perkasa di Citarum Ekspedisi Citarum: "Unur-unur" Berharga di Pantai Utara Ekspedisi Citarum: Batujaya, Sisa Peradaban Sungai Purba

neutral

positive

positive

29/4/11

Kompas online

negative

29/4/11

Kompas cetak

positive

30/4/11

Kompas online

regional

negative

30/4/11

Kompas cetak

lipsus

neutral

30/4/11

Kompas online

regional

positive

30/4/11

Kompas online

regional

positive

30/4/11

Kompas cetak

1/5/11

Kompas cetak

Ekspedisi Citarum: Lestarikan Tangkal Kawung di DAS Citarum Ekspedisi Citarum: Kala Bandung Lupa Sungai

positive

negative

9

1/5/11

Kompas online

regional

Ekspedisi Citarum: Tertatih di Seberang Waduk Jatiluhur

1/5/11

Kompas online

regional

Ekspedisi Citarum: Sisa-sisa Kejayaan Citarum Purba

1/5/11

Kompas online

Bisnis keuangan

Jatiluhur Butuh Jutaan Ikan Pemakan Plankton

1/5/11

Kompas online

regional

Ekspedisi Citarum: Ikan-ikan Pun Kalah di Citarum

2/5/11

Kompas cetak

2/5/11

Kompas cetak

Ekspedisi Citarum: Cimahi Punya Rumah Desain dan Kemasan Ekspedisi Citarum: Senja Kala Lumbung Ikan Citarum

Buruknya kondisi jalan memaksa siswa dan warga di seberang Waduk Jatiluhur tetap memilih perahu sebagai alat transportasi utama Kisah Batuan kapur yang terbentuk dari laut dangkal sekitar 25-30 juta tahun lalu di Sungai Citarum purba yang kini masuk kawasan Unit Pembangkit Listrik Saguling, Jawa Barat Meledaknya jumlah keramba jaring apung di Waduk Ir H Djuanda Jatiluhur, Kabupaten Purwakarta, sepuluh tahun terakhir, membuat fitoplankton berkembang pesat. Sebanyak 14 jenis ikan asli Sungai Citarum diperkirakan punah dalam kurun 40 tahun hingga 2007. Selain oleh perubahan habitat pemijahan dan pembesaran akibat pembendungan sungai, ikan-ikan itu punah karena tak mampu beradaptasi dengan air yang kian tercemar. usaha menengah kecil mikro di Cimahi Puluhan ribu keramba di aliran Citarum merupakan lumbung ikan air tawar nasional. Namun, keberadaannya

negative

positive

negative

negative

neutral

negative

10

3/5/11

Kompas cetak

Pesona Nusantara: Waduk Jatiluhur, Pesona di "Jantung" Citarum Ekspedisi Citarum: Membangun dengan Kearifan Lingkungan

3/5/11

Kompas cetak

3/5/11

Kompas online

regional

3/5/11

Kompas online

regional

Lingkungan: Tanda Tanya di Sungai Citarum... Lingkungan: Soal Citarum, Pemerintah Gagal!

4/5/11

Kompas online

regional

Ekspedisi Citarum: Jerat Kemiskinan di Jaring Kami...

4/5/11

Kompas cetak

Sungai Citarum: Ruwetnya Berlayar di Muara

4/5/11

Kompas online

regional

Ekspedisi Citarum: Ruwetnya Berlalu Lintas di Muara Citarum

kian rapuh oleh pencemaran, sedimentasi, dan serangan virus bertubi-tubi. Beragam potensi Waduk Jatiluhur yang layak dinikmati sebagai obyek wisata alam. Memed, perancang saluran irigasi, yang juga mendesain ratusan bendung dan waduk yang manfaatnya luar biasa bagi bangsa. mengadvokasi isu kelestarian sungai oleh Greenpeace survei yang dilakukan Greenpeace bekerja sama dengan LP3ES mengenai Sungai Citarum, kesimpulan salah satunya adalah penilaian bahwa pemerintah sudah gagal dalam menangani pencemaran. Desa Muara Jaya, kemiskinan struktural yang diakibatkan oleh buruknya kualitas lingkungan, rendahnya pendidikan, bobroknya infrastruktur dan minimnya perhatian pemerintah. Masalah susahnya melintasi ruwetnya pesisir hilir, karena jaring apung milik nelayan dan harus menjauhi sedimen Masalah susahnya melintasi ruwetnya pesisir hilir, karena jaring apung milik nelayan dan harus

positive

positive

negative

negative

negative

neutral

neutral

11

4/5/11

Kompas cetak

Ekspedisi Citarum: Kerinduan kepada Burung Citarum

4/5/11

Kompas cetak

4/5/11

Kompas cetak

Ekspedisi Citarum: Karamnya Industri Perahu Cikaobandung Lingkungan: Pemerintah Tak Serius Selamatkan Citarum

6/5/11

Kompas cetak

Bersama Menjaga Sungai Citarum

6/5/11

Kompas cetak

Fokus: Mari Berseluncur di Sungai Cikapundung Irigasi Jatiluhur: "Raksasa" Itu Sedang Terkapar

menjauhi sedimen Citarum dulunya rumah bagi 314 jenis burung. Namun, seiring hancurnya lingkungan Citarum mulai dari hulu hingga hilir, perlahan burung pun menjauhi sungai itu Cikaobandung sebagai sentra pembuatan perahu kayu. Greenpeace menggelar kampanye sumber air bersih Sungai Citarum dengan mendesak pemerintah lebih serius mengawasi industri pencemar sungai Hasil dialog antar pakar di Seminar Kompas bahwa penyelesaikan harus melibatkan semua pemangku kepentingan. Salah satunya melalui badan yang memiliki otoritas penuh terhadap DAS Citarum. Pemerintah tidak mungkin mampu menyelesaikan sendirian. Untuk itu, warga di DAS Citarum pun harus dilibatkan. Olahraga air di sungai Cikapundung

positive

neutral

negative

positive

positive

6/5/11

Kompas cetak

6/5/11

Kompas cetak

Pengolahan Limbah: Menjaga

perkembangan waduk Jatiluhur yang sangat vital fungsinya hingga kini. Masalah besar yang dihadapi oleh

negative

neutral

12

6/5/11

Kompas cetak

6/5/11

Kompas cetak

Citarum untuk Masyarakat Penanganan Citarum: Solusi Terpadu yang (Tak) Terintegrasi Sungai Citarum: Sungai Purba di Ujung Peradaban

sungai Citarum. Langkah penanganan Citarum oleh pemerintah Tidak ada pihak yang berupaya mengendalikan pencemaran sehingga Citarum dibiarkan kehilangan fungsi negative

negative

13

Daftar Pemberitaan Kompas tentang Citarum
8 Maret - 6 Mei 2011

8 Maret 2011  Debit Citarum Surut 10 Maret 2011  Kritis, Volume Air Tiga Waduk di Citarum 26 Maret 2011  Penegakkan Hukum Tak Jalan di Citarum 27 Maret 2011  Air Tercemar Percepat Korosi Alat PLTA 28 Maret 2011  Pencemaran Lingkungan: Nelayan Terimbas Limbah Citarum 29 Maret 2011  Kehidupan di Pesisir Citarum: Cuci, Mandi, sampai Buang Hajat di Sini  Perikanan: Pencemaran Citarum Hancurkan Perikanan  Kebutuhan Air: Pasokan Air dari Citarum Menipis 23 April 2011  Ekspedisi Citarum: Cisanti, Menerangi Peradaban Pulau Jawa  Ekspedisi Citarum: Ketika Kearifan Lokal Tergerus Zaman 24 April 2011  Ekspedisi Citarum: Puluhan Ton Limbah Mengalir ke Citarum  Sayur Berlimpah, Harga di Pacet Anjlok  Ekspedisi Citarum: Agus, Dulu Perambah Kini Pembina 25 April 2011  Ekspedisi Citarum: Perintis Kebangkitan Citarum  Ekspedisi Citarum: Kemerdekaan Mengalir dari Citarum  Citarum Tercemar dari Hulu 26 April 2011  Ekspedisi Citarum: Sayur yang Tak Lagi Menyehatkan Petani  Ekspedisi Citarum: Gosok Gigi Pun Memakai Air Berlimbah  Pencemaran Lingkungan: Citarum Bagai Pelangi  Ekspedisi Citarum: Menikmati Sibakan Selendang Dayang Sumbi  Ekspedisi Citarum: Kerusakan Citarum Merugikan Semua Pihak 27 April 2011  Ekspedisi  Ekspedisi  Ekspedisi  Ekspedisi Citarum: Citarum: Citarum: Citarum: Asep, Fondasi Perikanan Darat Ketika Eceng Gondok Penuhi Citarum "Emas Putih" Bandung Selatan Dilema Industri Tekstil

14

28 April 2011  Ekspedisi Citarum: Potret Pendidikan Sekeruh Air Citarum  Ekspedisi Citarum: Tukang Kawal Banjir Majalaya  Ekspedisi Citarum: Majalaya, Seabad Geliat Tekstil Rakyat 29 April 2011  Ekspedisi Citarum: Batuan Purba Penahan Erosi  Ekspedisi Citarum: Air Waduk Surut, Nelayan Bercocok Tanam  Ekspedisi Citarum: Warga Bersihkan Rumah  Ekspedisi Citarum: Dari Citarum untuk Dunia...  Alih Fungsi Hutan: Ribuan Kantong Air di Hulu Citarum  Ekspedisi Citarum: Sabar Menanti Janji Ditepati  Ekspedisi Citarum: Haji Lauk dari Waduk Cirata 30 April 2011  Ekspedisi Citarum: Kami Ingin Tetap Sekolah...  Si Perkasa di Citarum  Ekspedisi Citarum: "Unur-unur" Berharga di Pantai Utara  Ekspedisi Citarum: Batujaya, Sisa Peradaban Sungai Purba  Ekspedisi Citarum: Lestarikan Tangkal Kawung di DAS Citarum 1 Mei      2011 Ekspedisi Citarum: Kala Bandung Lupa Sungai Ekspedisi Citarum: Tertatih di Seberang Waduk Jatiluhur Ekspedisi Citarum: Sisa-sisa Kejayaan Citarum Purba Jatiluhur Butuh Jutaan Ikan Pemakan Plankton Ekspedisi Citarum: Ikan-ikan Pun Kalah di Citarum

2 Mei 2011  Ekspedisi Citarum: Cimahi Punya Rumah Desain dan Kemasan  Ekspedisi Citarum: Senja Kala Lumbung Ikan Citarum 3 Mei     4 Mei       6 Mei       2011 Pesona Nusantara: Waduk Jatiluhur, Pesona di "Jantung" Citarum Ekspedisi Citarum: Membangun dengan Kearifan Lingkungan Lingkungan: Tanda Tanya di Sungai Citarum... Lingkungan: Soal Citarum, Pemerintah Gagal! 2011 Ekspedisi Citarum: Jerat Kemiskinan di Jaring Kami... Sungai Citarum: Ruwetnya Berlayar di Muara Ekspedisi Citarum: Ruwetnya Berlalu Lintas di Muara Citarum Ekspedisi Citarum: Kerinduan kepada Burung Citarum Ekspedisi Citarum: Karamnya Industri Perahu Cikaobandung Lingkungan: Pemerintah Tak Serius Selamatkan Citarum 2011 Bersama Menjaga Sungai Citarum Fokus: Mari Berseluncur di Sungai Cikapundung Irigasi Jatiluhur: "Raksasa" Itu Sedang Terkapar Pengolahan Limbah: Menjaga Citarum untuk Masyarakat Penanganan Citarum: Solusi Terpadu yang (Tak) Terintegrasi Sungai Citarum: Sungai Purba di Ujung Peradaban

15

KLIPING BERITA KOMPAS 8 Maret - 6 Mei 2011 Debit Citarum Surut
| Selasa, 8 Maret 2011 | 06:22 WIB Purwakarta, Kompas - Debit air yang masuk ke aliran Sungai Citarum terus surut hingga lebih rendah dari kriteria sangat kering seiring berkurangnya intensitas dan curah hujan dua bulan terakhir. Oleh karena itu, pengguna air, khususnya petani di daerah irigasi Jatiluhur, diimbau hemat air. Berdasarkan data Perum Jasa Tirta (PJT) II, volume air Sungai Citarum pada Senin (7/3) pagi mencapai 1.318 juta meter kubik atau hanya 62,25 persen dari rencana 2.118 juta meter kubik. Tinggi muka air (TMA) tiga waduk di aliran Sungai Citarum juga tercatat lebih rendah dari rencana. Tinggi Muka Air Waduk Saguling tercatat 630,3 meter di atas permukaan laut (mdpl) atau lebih rendah dari rencana 638,3 mdpl. Sementara TMA Waduk Cirata, waduk kedua dari hulu Sungai Citarum, tercatat 208,4 mdpl atau lebih rendah dari rencana 214,9 mdpl. Adapun TMA Waduk Ir H Djuanda tercatat 97,03 mdpl atau lebih rendah dari rencana 100,8 mdpl. Menurut Kepala Biro Pengelolaan Data Sumber Daya Air PJT II, Sutisna Pikrasaleh, curah dan intensitas hujan yang turun di daerah aliran Sungai Citarum sejak pertengahan Januari 2011 lebih rendah dari perkiraan. Hal itu terlihat dari volume air yang masuk ke aliran Sungai Citarum, yakni 376,15 juta meter kubik selama Januari 2011 dan 317,27 juta meter kubik pada Februari 2011. Angka tersebut, lanjut Sutisna, lebih rendah dibandingkan volume air masuk pada kriteria sangat kering, yakni sebanyak 405,51 juta meter kubik (Januari) dan 435,46 juta meter kubik (Februari). Kondisi ekstrem seperti itu belum pernah terjadi, setidaknya dalam 10 tahun terakhir. Hemat Sutisna menambahkan, dalam rangka menjaga keandalan fungsi waduk, debit air yang digelontorkan dari Bendung Curug ke tiga saluran induk pun dikurangi, yakni 103,53 meter kubik per detik atau sekitar 90 persen dari kebutuhan. Khusus saluran induk Tarum Barat yang menuju ke DKI Jakarta dan Tarum Timur yang menuju ke Subang dan Indramayu, debit air belum termasuk suplai air dari sumber-sumber setempat, seperti Kali Bekasi, Cibeet, Cijengkol, dan Cipunagara. ”Dengan pasokan 90 persen dari kebutuhan, pertanian belum terganggu. Namun untuk antisipasi, petani diimbau berhemat air, mempercepat penanaman pada musim tanam kedua, serta melakukan gilir giring agar air termanfaatkan lebih optimal,” kata Sutisna. Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Karawang, Nahrowi Muhamad Nur, dan Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Subang, Djadja Rohadarmadja, yang dihubungi secara terpisah, mengatakan, penurunan debit air Sungai Citarum belum memengaruhi sektor pertanian di wilayahnya. Apalagi sebagian besar persawahan kini baru akan memasuki masa panen sehingga tidak butuh banyak air. Meskipun demikian, usaha mengefisienkan pemakaian air akan ditempuh untuk mengamankan produksi pangan, seperti dengan cara gilir giring. Dampak penurunan muka air waduk tersebut paling tidak dirasakan oleh pembudidaya keramba jaring apung di bagian selatan Waduk Ir H Djuanda di daerah Galumpit, Kecamatan Tegalwaru, Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat. Sejumlah keramba tak dapat dioperasikan karena air terlalu dangkal. Sebagian pembudidaya menggeser kolamnya ke perairan yang lebih dalam agar bisa tetap berproduksi. (mkn)

16

Pengairan

Kritis, Volume Air Tiga Waduk di Citarum

Mukhamad Kurniawan | yuli | Kamis, 10 Maret 2011 | 05:58 WIB PURWAKARTA, KOMPAS.com — Rendahnya curah dan intensitas hujan di Daerah Aliran Sungai Citarum membuat tinggi muka air Waduk Saguling, Cirata, dan Ir H Djuanda terus turun mendekati titik kritis pada dua bulan terakhir. Hujan buatan diharapkan menambah pasokan air untuk memenuhi kebutuhan irigasi, produksi listrik, air minum, dan industri. Tinggi muka air (TMA) Waduk Saguling, Rabu (9/3/2011), tercatat 630,23 meter di atas permukaan laut (mdpl) atau hanya 5,23 meter di atas titik terendah operasional waduk (625 mdpl). Sementara TMA Waduk Cirata 208,34 mdpl atau hanya 2,34 meter di atas titik terendah, yakni 206 mdpl. Adapun TMA Waduk Ir H Djuanda 97,1 mdpl atau 22,1 meter menjelang titik terendah. Volume air efektif ketiga waduk juga lebih rendah dari rencana operasi. Volume air Saguling tercatat 92,51 juta meter kubik atau hanya 28,09 persen dari rencana, sedangkan Cirata 99,94 juta meter kubik (24,13 persen), dan Ir H Djuanda 1.123,32 juta meter kubik (80,62 persen). Secara umum, rata-rata debit aliran Citarum selama Januari 140,44 meter kubik per detik atau 92,76 persen dari rencana dan Februari 131,15 meter kubik per detik (72,86 persen rencana). Direktur Pengelolaan Air Perum Jasa Tirta (PJT) II Herman Idrus, di Purwakarta, Jawa Barat, mengatakan, meski hujan masih turun di DAS Citarum hingga kini, curah dan intensitasnya rendah sehingga volume air yang masuk minim. Hal itu terlihat dari debit yang masuk ke waduk-waduk di aliran Citarum. Herman menambahkan, jika kondisi ini berlanjut, defisit air untuk memenuhi kebutuhan irigasi, air baku minum dan industri, serta listrik selama periode Maret-September 2011 mencapai 571,74 juta meter kubik. Sebab, dari 3.084,64 juta meter kubik kebutuhan air, hanya 2.512,91 juta meter kubik yang terpenuhi dari air yang tertampung di waduk dan prediksi aliran Sungai Citarum. Hujan buatan Selain mengefisienkan penggelontoran air, terutama ke 240.000 hektar persawahan di daerah irigasi Jatiluhur utara, upaya menambah stok air ditempuh dengan hujan buatan. Menurut Herman, Perusahaan Listrik Negara melalui PT Pembangkitan Jawa Bali dan Indonesia Power telah menempuh cara itu sejak 14 Februari 2011 dan akan berakhir pada 16 Maret 2011. "Kami berencana melanjutkan upaya (hujan buatan) itu selama potensinya masih ada. Harapannya, defisit air bisa tertutupi. Setidaknya, kebutuhan air untuk musim tanam AprilSeptember dapat dipenuhi agar tidak mengganggu ketahanan pangan," kata Herman. Penghematan ditempuh dengan, antara lain, mengurangi kelebihan 10 persen pasokan yang selama ini dicadangkan untuk mengantisipasi kehilangan dalam proses distribusi air. Debit air yang dikeluarkan dari Bendung Curug menuju Tarum Barat, Tarum Utara, dan Tarum Timur pada Rabu pagi, misalnya, 102,55 meter kubik per detik. Kepala Pengelolaan Data Sumber Daya Air PJT II Sutisna Pikrasaleh menambahkan, PJT II

17

telah menyurati bupati dan instansi terkait di wilayah pengairan Jatiluhur untuk mempercepat penanaman serta mengoptimalkan pemakaian air irigasi dengan sistem gilir giring. Waduk Ir H Djuanda mengairi sekitar 240.000 hektar persawahan di utara Jawa Barat yang menjadi lumbung padi nasional, yakni Kabupaten Bekasi, Karawang, Subang, dan Indramayu.

Penegakkan Hukum Tak Jalan di Citarum

Sandro Gatra | Asep Candra | Sabtu, 26 Maret 2011 | 08:21 WIB BANDUNG, KOMPAS.com - Penegakkan hukum terhadap perusakan lingkungan di sepanjang daerah aliran sungai (DAS) Citarum dinilai tak berjalan. Pembiaran oleh pihak-pihak yang seharusnya menindak dinilai terus terjadi selama belasan tahun hingga kondisi Sungai Citarum memprihatinkan. Demikian dikatakan Dadan Ramdan, aktivis Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Jawa Barat, Sobirin Supardiono, anggota Dewan Pemerhati Kelestarian dan Lingkungan Tatar Sunda, serta T Bachtiar, anggota Masyarakat Geografi Indonesia dan Kelompok Riset Cekungan Bandung, ketika berbincang-bincang dengan Kompas.comdi Bandung. Dadan mengatakan, sekitar 500 pabrik berdiri di beberapa daerah di hulu Citarum. Mayoritas adalah pabrik tekstil. Dari seluruh pabrik yang berdiri, kata dia, hanya 20 persen yang mengolah limbah melalui Instalasi Pengolah Air Limbah (Ipal). "Sisanya dibuang ke sub-sub DAS yang larinya ke Citarum," ucap dia. Walhi, kata Dadan, pernah mendampingi tiga kasus pencemaran serius di Rancaekek, Majalaya, dan Saguling. Namun, tambah dia, tidak ada satu pun kasus itu yang masuk ke pengadilan. "Artinya penegakkan hukum untuk penjahat lingkungan sangat lemah," lontarnya. "Komunitas peduli lingkungan berkali-kali laporkan pencemaran ke Badan Pengendalian Lingkungan Hidup Daerah (BPLHD) Jawa Barat. Tapi mereka tidak pernah melakukan penyelidikan secara serius. Mereka ke lapangan, tapi hasilnya disimpulkan tidak ada pencemaran. Padahal jelas-jelas kelihatan warna sungai berubah. Kepolisian tidak bisa lakukan apa-apa," tambahnya. Sobirin mengatakan, kebanyakan langkah dari BPLHD hanya memberikan teguran kepada para pengusaha yang terbukti melanggar. "Hanya surat teguran. Diikutin boleh, ngga diikutin boleh," ucap dia. Akibat dari pembiaran atas laporan pencemaran, kata Sobirin, masyarakat semakin tak peduli terhadap lingkungan di sekitar mereka. "Kini terjadi keputusasaan masyarakat. Ketika dia lapor tapi tidak ditanggapi, yah biarlah seperti ini," katanya. Melihat pembiaran pencemaran sungai yang terus terjadi, Bachtiar mengatakan, "Kepala BPLHD bisa diajukan ke pengadilan,". Dadan, Sobirin, dan Bachtiar mencurigai adanya suap dari para pengusaha nakal kepada pihak-pihak yang seharusnya menindak. "Masalah selesai ketika ada sogok atau suap dari pihak pabrik," tegas Dadan. Waduk Cirata

Air Tercemar Percepat Korosi Alat PLTA
Sandro Gatra | yuli | Minggu, 27 Maret 2011 | 07:12 WIB BANDUNG, KOMPAS.com - Kualitas air Sungai Citarum yang buruk akibat pencemaran mempercepat korosi peralatan Pembangit Listrik Tenaga Air (PLTA). Seperti di PLTA Waduk Cirata di Plered, Purwakarta, umur komponen hanya setengah dari yang semestinya.

18

Wirawan, Manager Engineering PT Pembangkit Jawa Bali Waduk Cirata, mengatakan, pihaknya kini lebih sering mengganti atau menambal dan mengecat ulang beberapa komponen yang dialiri air seperti pipa-pipa dan pendingin generator. "Misalnya, umur pendingin generator seharusnya kurang lebih 5 tahun sampai 7 tahun tapi sekarang baru 2 tahun sampai tiga tahun sudah mulai bocor," ucap Wirawan ketika ditemui Kompas.com di lingkungan PLTA. Akibatnya, pihaknya harus mengeluarkan dana lebih untuk pergantian komponen. Seperti pendingin generator, kata Wirawan, harganya antara Rp 100 juta sampai Rp 200 juta. "PLTA Cirata ada 8 unit pembangkit. Setiap unit butuh 12 pendingin generator. Jadi total 96," ucap dia. PLTA Cirata adalah salah satu dari tiga PLTA yang memanfaatkan aliran Sungai Citarum. PLTA Cirata terletak di antara PLTA Saguling di hulu dan PLTA Jati Luhur di hilir Citarum. Pencemaran sudah terjadi di hulu yakni limbah pertanian dan peternakan. Turun ke bawah, sungai tercemar limbah industri ditambah limbah rumah tangga. Pencemaran Lingkungan

Nelayan Terimbas Limbah Citarum

Sandro Gatra | Pepih Nugraha | Senin, 28 Maret 2011 | 08:59 WIB BEKASI, KOMPAS.com - Buruknya kualitas air Sungai Citarum akibat tercemar berbagai limbah berimbas pada nelayan di bagian hilir. Seperti di Muara Gembong, Bekasi, tangkapan ikan para nelayan turun dari tahun ke tahun. Supardi (60), salah satu nelayan, mengatakan, ia kini sulit mencari ikan di sekitar muara lantaran air sangat kotor. "Sekarang harus ke tengah laut (Jawa). Liat aja airnya kaya gitu, cokelat, kadang hitam," kata dia ketika ditemui Kompas.com di rumahnya di Dusun Muara Jaya, Desa Pantai Mekar, Muara Gembong, Bekasi. Biasanya, Supardi melaut bersama empat nelayan lain dalam satu perahu miliknya. Hasil melaut sejak pukul 5.00 hingga 21.00, paling bagus Supardi menangkap tiga kuwintal ikan. Jika sedang tak bagus, mereka hanya mampu menangkap belasan kilogram atau bahkan tak menangkap sama sekali. "Sekarang kebanyakkan sepi. Apalagi musim hujan, makin parah. Limbah turun ke sini, ngga ada ikan. Padahal setiap kelaut perlu 15 liter solar, terus keperluan buat di laut kaya rokok, kopi, kue antara Rp 150 ribu sampai Rp 200 ribu. Terus buat es, sebalok harganya Rp 24 ribu," papar pria yang telah 23 tahun jadi nelayan itu. Nasib lebih buruk dialami nelayan yang memiliki perahu kecil lantaran tak dapat melaut jauh dari muara. Tri (36), nelayan lain, mengatakan, jika sedang bagus, ia mampu menangkap sekitar 10 kilogram di sekitar muara. Kebanyakan ikan yang ditangkap jenis kembung dengan harga sekitar Rp 20 ribu perkilo. "Itu dapat paling bagus. Lebih sering dapat dikit, paling dua sampai tiga kilogram aja. Dipingir-pinggir sedikit ikannya. Kadang saya nombok buat solar Rp 100 ribu sekali jalan. Belum lagi nabung buat beli jaring Rp 200 ribu. Jaring harus diganti habis 10 kali pakai," ucap Tri. "Ini perahu seharusnya udah di- docking . Umurnya udah tiga tahun, bocor disana-sini. Sekarang belum ada uangnya. Buat docking minimal habis Rp 500 ribu. Terpaksa didempul dikit-dikit," ucapnya sambil menambal perahu dengan campuran semen dan lem. Supardi dan Tri hanya tahu air di sekitar muara kotor akibat pembuangan limbah dari Bekasi dan kapal ditengah laut. Seperti diketahui, air sudah tercemar mulai dari hulu Citarum. Limbah pertanian dan perternakan, limbah industri, dan limbah rumah tangga dibuang ke sungai tanpa ada pengolahan terlebih dulu.

19

Kehidupan di Pesisir Citarum

Cuci, Mandi, sampai Buang Hajat di Sini
Sandro Gatra | Glori K. Wadrianto | Selasa, 29 Maret 2011 | 13:48 WIB KARAWANG, KOMPAS.com — Seorang ibu paruh baya menceburkan dirinya di aliran irigasi selebar 2,5 meter. Dengan masih berpakaian lengkap, ibu itu menggosok tubuhnya dengan sabun. Sesekali ia membungkuk hingga kepalanya terendam, lalu menggosok kulit kepalanya. Sekitar 500 meter dari lokasi ibu yang tengah mandi itu, empat ibu lain menggosok helai demi helai pakaian sambil bercerita satu sama lain di aliran irigasi yang sama. Di sela-sela tumpukan pakaian ditaruh sepatu dan piring yang telah bersih dicuci. Lima meter melawan arus, tanpa menghiraukan sekitar, seorang perempuan muda mandi dengan pakaian lengkap seusai membilas pakaian. 300 meter menjauh dari mereka, seorang bocah jongkok untuk buang air besar. Plung, kotoran turun lalu terbawa arus. Tiga bocah lain asyik bermain air di sekitarnya. Di beberapa titik di sepanjang aliran irigasi, tumpukan sampah, dan eceng gondok memenuhi aliran irigasi. Air pun keruh dan berbau. Begitulah gambaran suasana di aliran irigasi di sekitar Kecamatan Pakisjaya, Karawang, Jawa Barat. Aliran air sepanjang sekitar 20 kilometer dari Sungai Citarum itu dimanfaatkan ribuan warga untuk mandi, cuci, dan kakus. "Ya mandi, ya nyuci, buang air besar numpuk di sini," ucap Nur Aini (25), salah satu warga yang memanfaatkan air irigasi, ketika ditemui Kompas.com. Nur mengatakan, kebanyakan ibu-ibu, seperti dirinya, mandi saat subuh. "Kita mandi waktu subuh. Malu kalau banyak orang. Ada yang udah mandi jam 4.00. Habis itu nyuci. Penuh di sini kalau pagi," kata ibu dari Andi Prama (4) dan Ade (10) itu. Kebiasaan itu sudah Nur lakukan sejak lahir. Meskipun memiliki sumur di rumahnya di RT 13 RW 14 Kampung Baru Dua Putra, Desa Teluk Jaya, Pakisjaya, Nur memilih menggunakan air irigasi. "Pakeair sumur malah jadi kucel pakaian. Pake air ini baju bersih, cemerlang," katanya sambil membilas pakaian. Nur mengaku tak merasakan dampak apa-apa menggunakan air yang tercemar itu. "Enggak gatel, kan airnya ngalir. Orang kampung mah udah biasa. Kebanyakan yang pake air di sini enggak punya sumur di rumah," ucap dia. Kalau minum pakai air apa? "Kalau ada duit beli air bersih, sejeriken besar Rp 5.000 buat empat hari.Kagak ada duit yah nampung air hujan. Kadang minum pake air Citarum, vitaminnya banyak. Yahlimbah, sampah, lengkap deh," katanya disambut tawa. Bukan lagi informasi baru kalau disebut air Sungai Citarum telah tercemar mulai dari hulu. Limbah pertanian dan perternakan, limbah industri, dan limbah rumah tangga dibuang ke sungai tanpa diolah terlebih dulu. Kondisi air yang paling parah terlihat di hilir seperti di Muara Gembong, Bekasi.

PERIKANAN

Pencemaran Citarum Hancurkan Perikanan
Selasa, 29 Maret 2011 | 03:31 WIB Karawang, Kompas - Pencemaran Sungai Citarum yang terus berlangsung telah menghancurkan usaha perikanan tambak di utara Kabupaten Karawang dan Kabupaten Bekasi, Jawa Barat. Petambak sering merugi karena udang dan ikan mati gara-gara limbah.

20

Udang alam bahkan langsung mati jika air Citarum masuk tambak. Tercemarnya air Citarum sudah berlangsung lebih dari 10 tahun, dan sejak lima tahun lalu intensitasnya makin tinggi. ”Tiga bulan sekali udang di sini mabuk dan mati,” kata sejumlah petambak di Desa Tanjungbungin, Kabupaten Karawang, daerah hilir Citarum, Senin (28/3). Tanjungbungin terletak 5 kilometer dari muara Citarum di Laut Jawa. Sebelum sampai ke muara, air Citarum digunakan untuk keperluan sebagian warga pantai utara Karawang dan Bekasi untuk mandi, minum, hingga keperluan budidaya tambak. Kim Yong (63), pembudidaya di Desa Tanjung Pakis, Kecamatan Pakisjaya, Karawang, mengatakan, mayoritas petambak tidak membudidayakan udang windu secara intensif sejak 1990. Aliran limbah dari sungai dan laut membuat udang mati. Akibatnya, pembudidaya rugi hingga puluhan juta rupiah. Menurut Kim Yong, sebagian besar dari sekitar 2.000 hektar tambak di Tanjung Pakis kini tidak diusahakan secara intensif. Benih udang ditebar tanpa pakan dan peralatan yang memadai. Ketua Kelompok Pengawas Masyarakat Muara Bendera di Muaragembong, Bekasi, Sulim (40), mengatakan, pencemaran menghancurkan usaha budidaya di kawasan tambak seluas 4.300 hektar di sekitar muara Citarum. Jaenul (49), petambak di Desa Pantaibakti, Muaragembong, meminta pemerintah daerah agar melakukan kontrol terhadap kualitas air Citarum. ”Air Citarum yang tercemar limbah dan masuk ke tambak milik saya membuat banyak bibit bandeng dan udang mati. Saat ini, secara swadaya petambak di Biyongbong membuat pintu air untuk mencegah air Citarum masuk ke tambak,” kata Jaenul. Sekretaris Desa Pantaibakti, Muaragembong, Suryana, mengatakan, saat ini sekitar 50 persen dari 2.500 hektar tambak udang dan bandeng di Pantaibakti terancam terkontaminasi limbah cair yang dibawa Sungai. Kesulitan solar Masalah berbeda dialami nelayan dan pemilik perahu di Belawan, Sumatera Utara. Mereka tidak melaut dalam lima hari ini karena kesulitan bahan bakar minyak. Tiga agen premium dan minyak solar di kawasan Gabion, Belawan, tidak lagi mendapat pasokan BBM dari Pertamina sejak 2010. Sementara nelayan tak berani membeli di tempat lain karena khawatir ditangkap polisi. Nelayan dan pemilik perahu, Tarco (31), menjelaskan, dia mulai kesulitan solar sejak 23 Maret. ”Susah sekali dapat solar. Terpaksa perahu berhenti melaut,” ujarnya. Menurut Ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia Kota Medan Sulfachri Siagian, setidaknya 500 nelayan dan puluhan pemilik perahu terancam bangkrut jika pasokan BBM terus tersendat. Asisten Manager External Relations Pertamina Pemasaran BBM Retail Region I, Fitri Erika, menyebutkan, penghentian pasokan ke beberapa agen premium dan solar dilakukan karena bermasalah dalam hal administrasi. (rek/che/mkn/dmu/ron/mhf) Kebutuhan Air

Pasokan Air dari Citarum Menipis
Sandro Gatra | Nasru Alam Aziz | Selasa, 29 Maret 2011 | 21:42 WIB

21

PURWAKARTA, KOMPAS.com - Rendahnya curah dan intensitas hujan di Daerah Aliran Sungai (DAS) Citarum sejak Januari 2011 hingga akhir Maret 2011 mengancam pasokan air untuk irigasi maupun air minum saat musim kemarau yang diprediksi mulai terjadi Juni. Kepala Pengelola Data Sumber Daya Air PJT II, Sutisna Pikrasaleh mengemukakan, cadangan air sampai saat ini baru 57 persen atau sekitar 1.336,30 juta meter kubik dari rencana sebesar 2.319,38 juta meter kubik. Ia memprediksi cadangan air tak akan sampai 100 persen hingga Mei. "Terkacaukan tahun 2010, tidak ada kemarau. Aliran air Citarum dua kali lipat dari rata-rata. Sekarang kita kumpulkan air dari Januari sampai Mei tapi sampai akhir Maret baru terealisasi 57 persen. Musim hujan tapi airnya sedikit," tutur Sutisna, Selasa (29/3/2011) di Purwakarta. Jika cadangan air tak sesuai dengan rencana, menurut Sutisna, pihaknya akan mengurangi pasokan air untuk irigasi. Biasanya, Waduk Ir H Djuanda membagi 90 persen air untuk irigasi dan 10 persen untuk air minum. "Kalau begini terus, kita coba kurangi sekian puluh persen air ke pertanian. Kalau 80 persen saya kira tidak ada masalah, tidak akan mengganggu pertanian. Diharapkan ada kebersamaan para petani, jangan rebutan air," katanya. Waduk Ir H Djuanda mengairi sekitar 240.000 ribu hektare persawahan di utara Jawa Barat yang menjadi lumbung padi nasional, yakni Kabupaten Bekasi, Karawang, Subang, dan Indramayu. PT PLN telah menjatuhkan hujan buatan, 14 Februari hingga 16 Maret 2011, untuk menambah pasokan air. Ekspedisi Citarum

Cisanti, Menerangi Peradaban Pulau Jawa

Jannes Eudes Wawa | nurulloh | Sabtu, 23 April 2011 | 13:18 WIB BANDUNG, KOMPAS.com -- Siang itu, Mang Aep (43) hanya menatap kosong rombongan ikan yang bergerak-gerak di tengah Situ Cisanti, danau seluas 10 hektar di kaki Gunung Wayang, Bandung Selatan. Angin dingin bertiup kencang, karena sumber air hulu Sungai Citarum tersebut terletak pada kawasan hutan berketinggian 1.800 meter di atas permukaan laut. “Kalau angin begini, biasanya ikan tidak mau makan umpan,” ujar Mang Aep memberi alasan bahwa ia tak juga melempar mata pancingnya ke tengah danau. Hari itu Jumat (4/3), terlihat lima pemancing duduk berpencar di pinggir danau. Kalau lagi mujur, bapak lima anak ini bisa memperoleh satu kilogram ikan. Tidak dijual, tapi untuk makan sehari-hari keluarganya. Sebuah perahu berisi empat pencari lumut hilir mudik mengambil lumut di dasar danau. “Lumut ini dijual sampai ke Waduk Saguling, Cirata, hingga Jatiluhur untuk umpan pancing ikan. Lumayan, sehari bisa memperoleh hasil jual lumut Rp 5.000-Rp 10.000 per orang,” kata Oman (58), salah seorang juru kunci di danau itu. Lumut yang tumbuh subur di dasar danau juga merupakan sumber pakan ikan-ikan yang ditebarkan di danau itu. Ikan-ikan di danau ini ditebarkan pemerintah daerah, baik provinsi, kabupaten, maupun dinas/instansi terkait seperti Perum Perhutani. Hari Sabtu (5/3) misalnya, Gubernur Jabar Ahmad Heryawan menebar 25.000 ekor ikan Nila dan 500 ekor ikan Koi di Situ Cisanti. “Kami tinggal memancingnya dan tidak pernah memberi makan karena yang menyediakan pakannya, sudah disediakan alam,” ujar Aep pendek. Ikan dan lumut, hanyalah secuil potensi ekonomi Cisanti yang sangat bermanfaat bagi kehidupan warga. Potensi eknomi yang sangat besar dari situ yang terletak di Desa Hutan Tarumajaya, Kecamatan Kertasari, Kabupaten Bandung ini adalah tak pernah berhenti mengaliri Sungai Citarum.

22

Kawasan sungai purba Citarum adalah daerah aliran sungai (DAS) utama di Provinsi Jabar yang melewati dan mengairi Waduk Saguling di Kabupaten Bandung, Waduk Cirata di perbatasan Kabupaten Bandung Barat, Cianjur, dan Purwakarta dan Waduk Jatiluhur di Kabupaten Purwakarta. Ketiga waduk ini menghasilkan 2.585 megawatt listrik pada jaringan interkoneksi Pulau Jawa dan Bali. Sejak berpuluh tahun lalu Cisanti, melalui ketiga waduk ini menerangi peradaban hampir separuh warga negara yang tinggal di kedua pulau padat itu. Di hilir, air Citarum digunakan untuk mengairi 300.000 sawah di delapan kabupaten kota, termasuk lumbung padi nasional, Kabupaten Karawang, Purwakarta, Subang, dan Indramayu. Air Citarum juga merupakan bahan baku air minum 80 persen kebutuhan air minum warga DKI Jakarta. Perambahan Pasang surut peradaban juga pernah mendera Cisanti, pasca reformasi. Ketua Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) Wana Lestari Tarumajaya, Agus Darajat mengisahkan, kawasan petak 73 seluas 265 hektar di hulu Cisanti dirambah 334 kepala keluarga petani. Aktivitas itu berlangsung sejak tahun 1999 hingga 2003. Komoditas yang ditanam adalah kentang, kubis, atau wortel. Di daerah kaki Gunung Wayang ini tanahnya subur sehingga satu hektar lahan bisa menghasilan 15-20 ton kentang per sekali panen. Jika harga kentang Rp 5.000 saja per kg, berarti sudah Rp 100 juta, modalnya hanya Rp 50 juta-an. Selain itu perambahan juga terkait kepemilikan tanah yang sempit akibat tekanan penduduk. Di Kecamatan Kertasari, menurut Dede Jauhari, seorang penggerak Masyarakat Peduli Sumber Daya Alam setempat, dihuni 70.000 penduduk atau 12 ribu kepala keluarga yang hampir seluruhnya berusaha tani. Padahal tanah milik yang kini dijadikan lahan pertanian sayur mayur hanya 700 hektar saja. Selain itu ada lahan 1.150 hektar eks perkebunan kina yang kini sudah disulap menjadi lahan sayur oleh 1.250 petani. Lahan itu terletak di Desa Cikembang, 600 hektar, Tarumajaya, 170 hektar, Sukapura 200 hektar dan Cibeureum 1.500 hektar. “Tanah itu sudah 13 tahun digarap petani dengan cara menyewa. Satu petani rata-rata menggarap 0,5 hektar dan 1 petani rata-rata memiliki 4 buruh tani,” ujar Agus. Kabarnya pihak perkebunan juga terus memproses perpanjangan HGU, namun Agus, bisa memprediksi harus kemana lagi petani juga harus terusir dari lahan itu. Akibat perambahan hutan di sekitar Situ Cisanti, lekukan gunung yang melingkari danau tersebut hanya terlihat warna kecoklatan dan kadang hitam karena digunakan sebagai lahan pertanian. Karena merupakan daerah hulu, apa yang menimpa pasti lebih parah lagi peristiwanya di hilir. Malah tujuh mata air sebagian sempat tidak mengeluarkan air. Akibat paling parah adalah air danau yang menyusut dan kemudian terlihat seperti rawa-rawa karena tertimbun tanah dari atas yang tergerus air hujan. Agus Deradjat mengungkapkan, komitmen bersama dari masyarakat untuk mengembalikan hijaunya Situ Cisanti memegang peranan paling penting. Buktinya setelah 334 KK petani tersebut tidak menggarap kawasan itu lagi sejak 2003, debit air Cisanti agak stabil. Namun sebagian besar kawasan berlereng terjal di sekitarnya masih dipenuhi lahan pertanian semusim yang tidak memperhatikan kaidah konservasi. Pada awalnya kawasan itu gundul, lalu inisiatif masyarakat Citarum Bergetar (bersih, geulis, lestari) tahun 2000-2003 bergiat menyadarkan dan melakukan pendekatan kepada petani. Mereka akhirnya mau turun, namun tetap menggarap dengan menanami kopi. Mereka tidak lagi menaman sayur yang menyumbang laju erosi cukup tinggi terhadap sungai. Tujuh mata air

23

Situ Cisanti bersumber dari tujuh mata air, masing-masing bernama Pangsiraman, Cikolebere, Cikawadukan, Cikahuripan, Cisadana, Cihaniwung dan Cisanti. Setiap mata air, menurut mitos, memiliki kesaktian. Di mata air Pangsiraman, misalnya, selalu menjadi tempat mandi bagi mereka yang ingin mencari jodoh, jabatan atau kekayaan. Bagi yang ingin mendapatkan ketenangan bathin bisa bermandi di mata air Cikahuripan, sedangkan untuk memperoleh kesaktian mandi di mata air Cikawadukan. “Mitos ini masih tetap menjadi cerita di kalangan masyarakat Sunda. Bahkan, ada sejumlah pejabat dan masyarakat yang selalu datang mandi di sejumlah mata air di sekitar Situ Cisanti,” kata Dudu Dudu Durahman, pimpinan Perhutani di Cisanti. Konon, ada mitos yang menyebutkan kawasan Cisanti merupakan tempat petilasan Sembah Dalem Dipati Ukur. Dipati Ukur, yang konon kaya raya pada zamannya, lalu bermeditasi di Gunung Wayang. “Beliau bersemedi seperti ingin melimpahkan kekayaannya, lalu tilem (menghilang) ke dalam air dan munculah mata air” ujar Oman. Dipati Ukur bukan fiksi, melainkan tokoh sejarah manusia Sunda, wedana para bupati Priangan bawahan Mataram pada abad ke-17. Ia adalah seorang wedana yang telah memimpin sebuah pasukan besar untuk menyerang Belanda di Batavia (1628) atas perintah Mataram. Dipati Ukur kemudan ditelikung oleh pimpinan masyarakat Sunda lain yang diajak angkat senjata, menikam dari belakang dan melaporkan niat pemberontakannya kepada Sultan Mataram. Dipati Ukur dan pengikutnya kemudian dihancurkan. Boleh jadi antara mitos dan sejarah itu saling terkait. Ketika beratus tahun kemudian, ribuan keturunan Dipati Ukur “menelikung” Situ Cisanti dan Sungai Citarum, generasi itu pun menghancurkan kehidupannya sendiri. (Dedi Muhtadi dan Jannes Eudes Wawa)

Ekspedisi Citarum

Ketika Kearifan Lokal Tergerus Zaman
Dedi Muhtadi | nurulloh | Sabtu, 23 April 2011 | 14:31 WIB BANDUNG, KOMPAS.com - Di sekitar Situ Cisanti, tempat pertama kali sungai purba Citarum mengalirkan air dari kawasan hutan Gunung Wayang, Bandung Selatan, terdapat beragam mitos yang diungkapkan sejumlah juru kunci. Namun titah karuhun yang terkait dengan pelestarian alam, tidak ada yang dilestarikan. Oman (58), seorang juru kunci yang turun-temurun tingal di sana mengungkapkan, dulu pamali (tabu) orang masuk hutan Gunung Wayang karena itu larangan karuhun. Siapa saja yang berani masuk, apalagi berniat tidak baik, bakal tersesat dan terkena mamala (musibah). “Pernah ada orang masuk dan menebang pohon di Gunung Wayang, pulangnya meninggal dunia,” ujar Oman. "Dulu hutan ini angker, siapa saja yang masuk ke hutan ini sering kasarung (tersesat). Dia terus berputar-putar di sekitar hutan dan tidak bisa pulang,” timpal Ma Abu (75), juru kunci lainnya, menguatkan. Makna dari ketabuan itu sebenarnya adalah, agar hutan di kawasan itu tidak rusak. Namun warga sekarang, sudah tidak lagi memperhatikan ketabuan. “Sekarang zamannya sudah lain,” tambah Oman seraya menunjuk rribuan petani masuk ke areal hutan dan menyulapnya menjadi lahan pertanian semusim. Padahal, penggunaan mitos atau kepercayaan masyarakat setempat untuk mengeramatkan sebuah tempat masih efektif sebagai cara melestarikan alam di sekitar tempat tersebut.

24

Bahkan, cara itu bisa berdampingan dengan institusi formal yang sudah ada, seperti undangundang, termasuk aparat penegak hukum. "Itulah sebabnya, banyak komunitas adat yang dulu sering menggelar ritual adat di sebuah lokasi bertujuan agar menimbulkan kesan angker atau harus diperlakukan dengan hati-hati oleh masyarakat biasa," kata Dadan Madani, tokoh pemuda dari Kecamatan Kertasari beberapa waktu lalu. Generasi keenam dari kuncen atau penjaga Gunung Wayang, Ujang Suhanda, menimpali, institusi formal seperti undang-undang disertai aparatnya sebenarnya bisa berjalan bersama dengan institusi budaya. "Masyarakat masih percaya bahwa ada peraturan tersendiri ketika memasuki kawasan yang dianggap angker. Peraturan tersebut bisa berupa pantangan maupun kewajiban yang harus dilakukan sebelum beraktivitas," kata Ujang. Di hulu Citarum, penggunaan mitos belum sebanyak yang dilakukan berbagai komunitas adat untuk melindungi alam dari perusakan oleh manusia. Sebab, mitos sering dibenturkan dengan agama sehingga yang tampak hanya ideologi atau keyakinan. Padahal, nilai-nilai kearifan lokal dalam konservasi alam selalu bertujuan pada kemaslahatan bersama. Acara ritual adat untuk menyelamatkan hutan dan air yang pernah ada di sana misalnya, upacara Kuwera Bakti Darma Wisada. Terakhir upacara ini digelar medio 2007 lalu dan tidak pernah digelar lagi karena dianggap kontroversi. “Kami akhirnya melakukan pendekatan rasional bahwa sumber air itu milik bersama dan harus dilestarikan. Pengetahun warga kami cukup terbuka karena akses pendidikan di Kota Bandung relatif dekat,” ungkap Agus Darajat, Ketua Lembaga Masyarakat Desa Hutan Wana Lestari Desa Tarumajaya Kecamatan Kertasari Kabupaten Bandung. Konservasi-ekonomis Perambahan yang menyebabkan alih fungsi lahan dari penangkap air (catchment area) menjadi pertanian semusim, terkait kepemilikan tanah yang sempit akibat tekanan penduduk. Di Kecamatan Kertasari, menurut Dede Jauhari, seorang penggerak Masyarakat Peduli Sumber Daya Alam setempat, dihuni 70.000 penduduk atau 12 ribu kepala keluarga yang hampir seluruhnya berusaha tani. Secara umum, Kawasan Hutan Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Bandung Selatan didominsasi oleh Kawasan Hutan Lindung dan sebagian besar kawasan masuk dalam daera aliran sungai (DAS) Citarum Hulu. Salah satu area yang menjadi pusat perhatian Perum Perhutani adalah Situ Cisanti yang merupakan hulu sungai Citarum. Aliran sungainya mengalir melalui kawasan hutan yang berada di Resor Pemangkuan Hutan Pacet Bagian KPH Ciparay petak 59, 60. Sebagian besar kawasan hutan yang berada pada aliran utama DAS Citarum Hulu lebar kawasan hutan hanya berkisar antara 50 m s/d 200 m. Sedangkan areal di sekitarnya merupakan tanah milik masyarakat yang dijadikan areal pertanian sayuran dengan tidak mengindahkan kaidah-kaidah konservasi. “Mengingat posisi yang sangat vital, maka diperlukan kegiatan peningkatan kualitas sempadan sungai DAS Citarum Hulu yang berada dalam kawasan hutan,” ujar Bambang Julianto, Administratur Perum Perhutani Bandung Selatan. Guna meningkatkan fungsi konservasi dari kawasan hutan, maka perlu dilakukan pengkayaan dengan penanaman tanaman yang berfungsi sebagai penahan erosi permukaan maupun longsor. Jenis-jenis yang dipilih adalah jenis kaliandra, bambu dan rumput gajah. Pemilihan jenis tersebut dimaksudkan selain fungsinya sebagai penahan erosi dan longsor, fungsi ekonomi dari ketiga jenis tersebut juga dapat menjadi salah satu sumber dari pendapatan masyarakat. Warga bisa mengembangkan perlebahan maupun peternakan.

25

Terhadap warga perlu dilakukan pendekatan konservasi dan ekonomis. Pemilihan jenis tanaman kaliandra misalnya membantu pengembangan perlebahan di samping sebagai penyedia kebutuhan kayu bakar bagi masyarakat sekitar. Pengembangan rumput gajah sebagai penahan erosi permukaan juga sebagai penyedia hijauan makanan ternak yang merupakan salah satu budaya usaha masyarakat sekitar. Sedangkan pengembangan bambu yang memiliki perakaran kuat akan berfungsi menahan sempadan sungai dari gerusan air. Apapun inisiatifnya, upaya pelestarian daerah hulu sungai Citarum harus dilakukan semua pihak karena sungai purba sepanjang 310 kilometer yang mengalir dari Situ Cisanti hingga laut Jawa di ujung Kabupaten Karawang-Bekasi ini sangat strategis. Salah satunya, penyumbang listrik interkoneksi Pulau Jawa Bali untuk menggerakan usaha dan menerangi hampir setengah dari penduduk republik ini. Luas daerah alirannya mencapai 718.289 hektar. Terdiri dari hutan negara 158.174 hektar (22 persen), yakni milik Perhutan 137.298 hektar (19 persen) dan kesatuan pemangkuan hutan Bandung Selatan 55.446 hektar (8 persen). Kawasan konservasinya hanya tiga persen. Sebagian besar lahan di daerah aliran sungai terpanjang di Jabar ini milik masyarakat, 560.094 hektar (78 persen) yang didominasi oleh lahan pertanian, pemukiman, industri dan lain-lain. Semua limbah dari aktivitas kehidupan di kawasan ini dibuang ke Citarum. EKSPEDISI CITARUM

Puluhan Ton Limbah Mengalir ke Citarum
Sandro Gatra | Latief | Minggu, 24 April 2011 | 12:09 WIB BANDUNG, KOMPAS.com — Oma (43) langsung menarik selang begitu melihat kotoran sapi perahnya menumpuk di kandang yang dibangun di samping rumahnya di Kampung Pajaten, Desa Taruma Jaya, Kecamatan Kertasari, Bandung Selatan, Jawa Barat. Ujung selang itu ditutupnya sebagian agar air mengalir deras. Tumpukan kotoran di bawah kandang tujuh sapi milik keluarganya itu lalu didorongnya dengan air hingga masuk ke selokan di samping kandang. Air yang tadinya jernih berubah menjadi hijau. Limbah ternak tersebut kemudian mengalir ke selokan di depan rumah Oma dan bercampur limbah buangan dari peternak sapi perah lain di kawasan itu. Setelah bergabung, warna air kembali berubah menjadi hijau pekat. Bau tak sedap lantas tercium di sepanjang aliran selokan. Limbah ternak yang mengalir di selokan-selokan di permukiman itu kemudian bermuara ke Sungai Citarum dan menjadi pencemar pertama aliran air bersih yang keluar dari sumber mata air di hulu Citarum, yakni Situ Cisanti. Sejak dulu hingga kini, limbah ternak masih menjadi masalah serius pencemaran Sungai Citarum. Setidaknya ada 1.500 peternak dengan jumlah sapi mencapai 5.500 ekor di Kecamatan Kertasari. Satu sapi bisa mengeluarkan kotoran 10 kilogram sampai 20 kg per hari. Jika diambil nilai tengah 15 kg per hari, setidaknya ada 82,5 ton kotoran dihasilkan sapi di Kertasari per hari. Dari puluhan ton limbah itu, hanya sebagian kecil yang diolah untuk menghasilkan gas dengan sistem biogas. Di Kampung Pajaten, hanya ada satu biogas yang dikelola Aceng (60), salah satu peternak, yang masih beroperasi. Sementara itu, delapan biogas lainya telah rusak karena hanya dibuat dari bahan plastik. Adapun biogas bantuan pemerintah di samping rumah Aceng dibuat permanen berbahan semen. "Warga di sini malas masukin kotoran ke biogas, langsung saja disiram. Padahal, biogas ini bisa buat 10 keluarga. Sekarang cuma saya saja yang pakai," ucap Aceng kepada Tim Ekspedisi Sungai Citarum pertengahan Maret 2011.

26

Camat Kertasari Asep Ruswadi mengatakan, saat ini tinggal empat biogas yang masih bertahan di empat desa. "Yang lain enggak berfungsi. Dibuatkan sampai jadi, terus kalau ada kerusakan warga bingung membetulkannya. Pemahaman masyarakat kurang tentang biogas," kata Asep. Seperti diketahui, aliran Sungai Citarum telah tercemar mulai dari hulunya, yaitu sejak dimanfaatkan oleh sebagian warga Jabar. Seperti pada pembangunan tiga waduk, yakni Waduk Saguling di Kabupaten Bandung, Waduk Cirata di perbatasan Kabupaten Bandung Barat, Cianjur, dan Purwakarta, serta Waduk Jatiluhur di Kabupaten Purwakarta, yang dipenuhi keramba jaring apung. Di hilir Citarum, air digunakan untuk mengairi sawah di delapan kabupaten kota. Air Citarum juga merupakan bahan baku air minum untuk memenuhi 80 persen kebutuhan air minum warga Jakarta. EKSPEDISI CITARUM

Sayur Berlimpah, Harga di Pacet Anjlok

Cornelius Helmy Herlambang | Latief | Minggu, 24 April 2011 | 14:17 WIB BANDUNG, KOMPAS.com - Harga sayur-mayur di sentra sayur Pacet, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, anjlok. Penyebabnya adalah melimpahnya hasil panen petani Kabupaten Bandung dan Jawa Tengah di Pasar Induk Sayur di Jakarta, Bandung, dan Tangerang. Pacet merupakan daerah sentra pertanian di hulu Sungai Citarum. Keberadaan lahan yang pasokannya dijamin aliran sungai Citarum membuat kawasan Pacet menjadi sentra pertanian sayur besar di Jawa Barat. Olih (29), petani Pacet, mengatakan penurunan terbesar pada tanaman kol. Saat ini harga kol anjlok menjadi Rp 200 per kilogram dari Rp 4.000 per kilogram per kilo dalam sebulan terakhir. Akibatnya, ia kesulitan mengembalikan modal tanam Rp 600.000 karena hanya mampu menjual hasil panen Rp 480.000. Hal yang sama dikatakan Oleh (45), petani lainnya. Ia mengalami kerugian sangat besar karena hanya mampu mendapatkan uang Rp 500.000 dari hasil panen satu ton bawang daun miliknya. Padahal, ia mengeluarkan modal tanam Rp 1,2 juta. "Yang ada, kini kami hanya menimbun utang," kata Oleh.

EKSPEDISI CITARUM

Agus, Dulu Perambah Kini Pembina
Sandro Gatra | Latief | Minggu, 24 April 2011 | 15:30 WIB BANDUNG, KOMPAS.com — Rusaknya daratan di hulu Sungai Cisanti, Bandung Selatan, Jawa Barat, sejak 1990-an hingga saat ini membuat Agus Darajat (44) sadar. Mantan perambah hutan tersebut kini aktif menyadarkan petani sayuran semusim lain untuk melestarikan daerah penghasil air bagi Sungai Citarum itu. Agus masih ingat betul kondisi hutan di kaki Gunung Wayang, hulu Cisanti, lebat ditumbuhi pohon di sekitar tahun 1987. Saat itu belum ada perambah yang membabat pohon untuk dijadikan lahan pertanian. "Gunung Wayang masih seram waktu itu," kata Agus kepada tim Ekspedisi Sungai Citarum pertengahan Maret 2011. Satu tahun kemudian, Agus dan para petani lain mulai masuk ke kawasan petak 73 milik Perhutani. Tak tanggung-tanggung, ia merambah hutan hingga 15 hektar. Masih sedikitnya jumlah penduduk saat itu membuat Agus dan warga lain dapat memiliki lahan garapan luas.

27

Omzet bertani sayuran semusim yang besar membuat warga tergiur. Sebagai contoh, kata Agus, 1 hektar dapat menghasilkan kentang hingga 15-20 ton. Komoditas unggulan lain di situ adalah kubis, wortel, dan daun bawang. Warga dari daerah lain kemudian masuk dan ikut merambah hutan hingga semakin tak terkendali. Akhirnya, jumlah penduduk pun tidak sebanding dengan lahan yang ada. Aktivitas itu, kata Agus, terjadi hingga tahun 2002. "Warna Gunung Wayang kelihatannya cuma coklat, pohon habis ditebang. Danau Cisanti surut, penuh sedimentasi. Pemerintah tahun 90-an masih pakai cara-cara represif. Tentara nginap di atas, masyarakat dipaksa turun. Tentara pergi, masyarakat naik lagi. Jadi, enggak berhasil," cerita Agus. Melihat kondisi hulu Cisanti begitu memprihatinkan, Agus lalu sadar dan mengajak pimpinan petani berubah. Mereka kemudian membuat Forum Petak 73. Forum itu dijadikan wadah untuk menampung aspirasi petani sebelum diteruskan ke pemerintah. "Waktu itu aspirasi petani mau turun dan tinggalkan perambahan. Tapi kami diberi apa? Pemerintah tanya petani mau apa? Kami jawab kami mau sapi. Lalu, muncul program alih profesi, alih komoditas, alih lokasi," ujar suami dari Elit Siti M (41) dan ayah dari lima putri, yakni Rihana (2,5), Bela (6), Sofia (12), Eva (15), dan Anggi (20), ini. "Pemerintah kasih domba 580 ekor. Satu petani dapat 11 ekor. Itu jumlah yang pas buat beternak. Tapi terjadi permasalahan karena enggak semua petani dapat. Dari pada ribut, kami bagi rata dombanya, jadi masing-masing dua ekor. Pikiran saya yang penting mereka turun dulu. Tapi, akhirnya malah dijual," tambah Agus. Setelah para perambah turun, lanjut guru SD Tarumajaya itu, ratusan warga tak memiliki mata pencarian. Akibatnya, saat itu ia mendapat julukan pembunuh petani. Bahkan, rumahnya sempat dilempari batu oleh petani. Yang lebih menyakitkan, ucap Agus, para petani memindahkan anaknya dari sekolah tempat dia mengajar. Wadah pembinaan Tahun 2003, Agus dan para petani lain membentuk wadah pembinaan yang diberi nama Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) Tarumajaya. Ia ditunjuk sebagai ketua hingga saat ini. Program utama LMDH saat itu adalah membina petani untuk perlahan beralih dari bertani sayuran semusim yang minim meresap air dengan komoditas lebih ramah lingkungan. LMDH menawarkan beberapa komoditas, seperti kopi, terong kori, daun murbei, dan teh. Selain itu, petani juga dicarikan lahan lain di luar lahan milik Perhutani. Hasilnya, 334 keluarga petani yang dulu merambah hutan di sekitar Gunung Wayang itu kini tak lagi menggarap kawasan seluas 265 hektar tersebut. Ekspedisi Citarum

Perintis Kebangkitan Citarum
Didit Putra Erlangga Rahardjo | nurulloh | Senin, 25 April 2011 | 13:24 WIB BANDUNG, KOMPAS.com — Kecamatan Kertasari yang menjadi hulu Sungai Citarum menarik minat banyak orang, termasuk Agus Derajat (44), untuk menanami sayuran meski akhirnya harus dikategorikan sebagai perambah. Kini, dia justru berada paling depan untuk menjaga daerah tangkapan air bagi sungai yang menghidupi jutaan orang ini. Barangkali Situ Cisanti bisa menjadi kesaksian bagi kiprah Agus yang kini menjabat selaku Ketua Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) Tarumajaya. Situ Cisanti berasal dari kumpulan tujuh mata air yang dibendung hingga menjadi danau. Danau tersebut dikelilingi

28

pepohonan yang tumbuh subut dan menjadi bagian dari arboretum Wayang Windu. Wilayah tersebut masuk dalam Petak 73 Perhutani yang menjadi kewenangan LMDH Tarumajaya. "Kondisi tahun 2002 sangat jauh berbeda. Lereng gunung dipenuhi kebun sayur, pohon hilang karena ditebangi, mata air tidak memancar," kata Agus. Sebagai Ketua LMDH Tarumajaya, Agus bersama Perhutani ikut mengajak penggarap sayuran untuk turun dari wilayah hutan. Sebagai gantinya, dia menganjurkan agar komoditasnya dialihkan menjadi tanaman kopi. Upayanya terbilang sukses. Petak 73 yang menaungi Situ Cisanti kembali rimbun, tujuh mata air kembali mengalirkan airnya yang jernih. Pepohonan eukaliptus berdiri jangkung menyambut siapa pun yang berkunjung ke Situ Cisanti. Hanya saja, hal yang sama belum bisa dilakukan di petak yang lain. Agus menuturkan bahwa Petak 73 mendapatkan perlakuan istimewa karena menjadi hulu Sungai Citarum sehingga program lintas sektor pun dikucurkan di sana. "Harusnya upaya serupa juga diulangi di petak lain," katanya. Pekerjaan rumah yang belum diselesaikan adalah mencari komoditas yang bisa membuat petani berpaling dari sayuran. Agus menuturkan bahwa lahan kopi seluas 2 hektar hanya bisa menghasilkan keuntungan Rp 2 juta tiap panen sementara sayuran bisa menghasilkan dua hingga tiga kali lipat dalam waktu empat bulan saja. Komoditas lain seperti rumput gajah maupun murbei juga tidak bisa diharapkan karena permintaannya tidak jelas. Tambahan Penghasilan Agus awalnya datang ke Kertasari di tahun 1987 karena penempatannya sebagai guru. Lulus setahun sebelumnya dari Sekolah Pendidikan Guru dengan spesialisasi matematika. Dia mengajar di SDN Tarumajaya sebagai wakil kelas VI. Perkenalannya dengan budidaya sayur dimulai setahun setelah tinggal di Kertasari. Dengan penghasilan saat itu sebesar Rp 400.000 per bulan, dia ingin mencari tambahan. Dari sana Agus tertarik untuk menanam sayur secara berpindah-pindah di lahan Perhutani dengan garapan seluas 15 hektar. Saat itu, wilayah tersebut masih dikategorikan sebagai hutan produksi dengan komoditas pinus dan kayu putih. "Kondisi hutan tahun 1988 masih sangat bagus. Gunung Wayang masih dikenal karena keangkerannya," ujarnya. Maraknya pemberian Kredit Usaha Tani sekitar tahun 1998 membuat semua orang kian mudah memiliki modal untuk menjadi petani. Hal itu menimbulkan dampak serius kepada perkebunan sayur di Kertasari, orang yang datang dengan uang banyak lalu menyewa tanah garapan. Alih fungsi wilayah hutan menjadi lahan sayuran berlangsung dengan laju yang agresif dan berlangsung hingga 2002. Kenyataan tersebut mengejutkan Agus sehingga memilih berbalik dan melawan arus. Dia sadar bahwa ada dua kepentingan yang sedang beradu yaitu memenuhi kebutuhan ekonomi serta kelestarian lingkungan yang dibutuhkan lebih banyak orang. Dia pun mengajak tokoh petani penggarap untuk berserikat dan mendirikan Forum Petak 73 sebagai wadah yang berisi 334 kepala keluarga. Melalui musyawarah, aspirasi warga dikumpulkan dan dicatat satu per satu, dari sana kemudian disampaikan kepada Pemerintah Provinsi Jawa Barat. Aspirasinya saat itu adalah mereka bersedia turun dari wilayah hutan asalkan ada pengganti komoditas untuk menghidupi keluarga. Salah satu solusi yang ditawarkan adalah sapi perah yang bisa diadakan melalui mekanisme kredit atau hibah. Pembunuh Petani Keinginan pemerintah untuk menurunkan perambah ternyata tidak dibarengi dengan kekuatan anggaran. Dari 334 kepala keluarga yang ada di bawah Forum Petak 73, ternyata hanya

29

mendapatkan bantuan domba sebanyak 580 ekor dengan skema setiap keluarga mendapat 11 ekor sehingga hanya 52 keluarga yang mendapatkan jatah bantuan. Kondisi tersebut membuat posisi Agus terpojok, tidak ada solusi bagi 282 keluarga lain sambil menunggu domba yang dipelihara 52 keluarga hingga beranak dan bergulir. Demi menghindari keributan, dia membagi domba-domba tersebut kepada seluruh anggota meskipun tidak disarankan karena tidak efektif. "Yang penting mereka turun terlebih dahulu," katanya. Tindakan Agus yang mengajak petani untuk turun dari perambahan membuatnya dapat julukan kurang mengenakkan, pembunuh petani. Yang membuat dia sakit hati, ada orang tua yang sengaja memindahkan anak mereka dari sekolah yang diajar Agus gara-gara tindakannya. Sebutan itu tak lantas membuatnya ciut. Akhir tahun 2003, dia terpilih menjadi Ketua LMDH Tarumajaya yang menjadi cikal bakal LMDH Perhutani. Beranggotakan 786 orang, wilayahnya seluas 700 hektar, meliputi tujuh petak Perhutani. Dia mengakui, sampai sekarang masih ada anggotanya yang tetap menanam sayur di wilayah Perhutani. Namun hal tersebut takkan membuatnya menyerah. "Tidak bisa menggunakan pendekatan represif, harus sabar membina dan menyadarkan mereka," kata Agus. Sebagai guru, dia juga menyelipkan materi lingkungan. Setiap hari Sabtu, dia mengajak para murid untuk berjalan-jalan ke Cisanti dan melihat sendiri manfaat dari cinta lingkungan. Dengan sendirinya, sebutan pembunuh petani pun perlahan meredup. Masalah Lahan Selain LMDH, Agus juga dipercaya sebagai Ketua Forum Kertasari Bersatu yang menaungi kalangan lebih luas lagi. Salah satu agenda mereka adalah mengadvokasi warga agar memiliki lahan garapan. "Akar masalah di Kertasari adalah keterbatasan lahan yang bisa diolah sehingga membuat warga tidak punya pilihan selain merambah hutan," katanya. Kecamatan Kertasari memiliki luas 15.000 hektar, hanya 1.000 hektar yang statusnya milik masyarakat, sisanya terbagi dalam wilayah Perhutani atau PT Perkebunan Nusantara VIII. Dengan lahan seluas 1.000 hektar, jelas masalah timbul karena jumlah penduduk mencapai 66.000 jiwa. Saat ini, mereka memanfaatkan tanah milik PTPN VIII yang dianggap telah habis masa Hak Guna Usahanya seluas 1.053 hektar. Dia mengkhawatirkan masalah lebih besar bakal timbul bila pemerintah menutup akses ke tanah perkebunan itu yakni masyarakat kembali naik ke hutan. Agus Derajat Lahir: 21 Agustus 1967 Pendidikan Terakhir: 2008 – S1 Universitas Pendidikan Indonesia Jurusan Matematika Istri: Elit Siti Mariah (41) Anak: Rihana, Bella, Sopia, Eva, Anggi

Ekspedisi Citarum

Kemerdekaan Mengalir dari Citarum
Dedi Muhtadi | nurulloh | Senin, 25 April 2011 | 12:08 WIB ANDUNG, KOMPAS.com — Tidak ada sungai yang peran dan fungsinya begitu strategis sebesar Citarum. Selain menerangi peradaban hampir separuh penduduk negara ini di Pulau Jawa dan Bali, Citarum juga mengairi irigasi pertanian, perikanan, pemasok air untuk industri, dan menyumplai bahan baku air minum, khususnya bagi 80 persen warga DKI Jakarta.

30

Itulah yang menjadi alasan Kompas melakukan ekspedisi Citarum 2011. Bagi peradaban bangsa, eksistensi sungai yang mengalir dari Situ Cisanti di kaki Gunung Wayang, Bandung Selatan sejauh 269 kilometer hingga Muara Bendera Kecamatan Muaragembong Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, tidak sekedar penyedia kebutuhan jasmani, yaitu air bersih. Melainkan multifungsi, baik secara ekonomi, perdagangan, pertanian, dan peternakan, maupun pertahanan (benteng alam) dari musuh. Untuk fungsi yang terakhir ini, peran Citarum hampir sebanding dengan sungai pada peradaban tua dunia seperti Sungai Nil di Mesir, Mesopotamia atau Eropa yang kemudian menghasilkan ilmu pengelolaan sungai, one river, one plan, one management. Peran ini terutama ditunjukan Citarum di Rengasdengklok, sebuah kecamatan di Kabupaten Karawang, Jawa Barat. Malah melalui kota kecil yang terletak 25 kilometer utara Kota Karawang ini Sungai Citarum telah mengantarkan bangsa ini ke pintu gerbang kemerdekaan. Kota itu dalam sejarah nasional menjadi tempat perjuangan sekaligus mempertahankan proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia 1945. Itu semua, berkat letaknya yang strategis di pinggir Sungai Citarum. Aliran Citarum yang memanjang dari Tanjungpura (Karawang)-Rengasdengklok- hingga Laut Jawa sejauh 60 kilometer merupakan benteng alamiah dari serbuan musuh republik yang datang dari arah Jakarta. Pada masa pendudukan Jepang, Rengasdengklok diincar untuk dijadikan benteng pertahanan menghadapi Sekutu (Ensklikopedi Nasional Indonesia, Delta Pamungkas 1997). Ketika Jepang menyerah pada Sekutu 14 Agustus 1945, pasukan Rakyat dan Pembela Tanah Air (PETA) segera mengambil pos-pos pertahanan penjajah Negeri Sakura itu. Di sepanjang Sungai Citarum lalu dibangun pos-pos penjagaan. Sebab wilayah ini merupakan basis pertahanan barisan pejuang yang tergabung dalam pasukan gerilya, di antaranya Benteng Wulung Macan Citarum. Pada tanggal 16 Agustus 1945 dilakukan pengibaran bendera Merah Putih sekaligus menurunkan bendera Jepang. Setelah pengibaran Merah Putih di tangsi Peta itu dilakukan pengibaran Merah Putih di depan gedung kewedanaan Rengasdengklok yang dipimpin oleh asisten Wedana Sujono Hadipranoto, diikuti oleh barisan Pelopor. Setelah upacara, Achmad Ginun dari barisan pelopor ditugaskan untuk mengumumkan kepada seluruh rakyat bahwa Indonesia telah merdeka. Saat itu Bung Karno dan Bung Hatta berada di rumah singgah milik Djiauw Kie Siong di pinggir Sungai Citarum, Rengasdengklok. Kedua pemimpin bangsa itu kemudian mengumumkan Proklamasi Kemerdekaan RI esok harinya, 17 Agustus 1945 di Jakarta. Namun para pejuang lebih dulu mengumandangkannya di aliran Sungai Citarum. Mengawal peradaban Setelah merdeka, Citarum terus mengalirkan semangat sekaligus mengawal peradaban bangsa ini dengan menebarkan fungsinya. Sungai terbesar dan terpanjang (269 kilometer, versi Balai Besar Wilayah Citarum-BBWS/Kementerian Pekerjaan Umum) di Jawa Barat ini memasok air ke Pusat Listrik Tenaga Air di Waduk Jatiluhur (187 Mega Watt). Waduk Juanda (Jatiluhur) yang dibangun tahun 1963 juga mengairi 240.000 hektar sawah di Kabupaten Karawang, Purwakarta, Subang, dan sebagian Indramayu. Daerah pantura ini dikenal sebagai lumbung padi nasional. Waduk ini juga memasok air minum warga Ibu Kota Jakarta. Tahun 1986 dibangun Waduk Saguling (700-1.400 MW) dan Cirata dua tahun kemudian (1.008 MW). PLTA di kedua waduk ini memasok listrik untuk jaringan interkoneksi Pulau JawaBali yang dihuni hampir separuh dari penduduk republik ini. Kini Citarum yang memiliki wilayah daerah aliran sungai (DAS) seluas 12.000 kilometer persegi ini melayani air minum 25 juta jiwa penduduk, 15 juta di Jabar dan 10 juta di DKI Jakarta. Total air irigasi yang dipasok

31

Citarum mencapai 420.000 hektar di Kabupaten Bandung, Kota Bandung, Kabupaten Bandung Barat, Kabupaten Cianjur, Purwakarta, Karawang, Subang, dan Indramayu. Akan tetapi, bangsa ini lupa sejarah dan tidak tahu berterima kasih. Secara tak bertanggungjawab sejak hulu, Citarum malah dijadikan tempat pembuangan limbah peternakan, pertanian, pabrik/industri, dan rumah tangga. Di hulu sungai, daerah tangkapan airnya dieksploitasi melalui peralihan fungsi lahan dari hutan menjadi tanaman semusim. Semua itu dilakukan tanpa kendali sehingga menimbulkan erosi dan sedimentasi yang sangat tinggi. Penanganan yang ada selama ini dilakukan oleh BBWS Citarum melalui pengerukan sungai dan pemeliharaan tanggul, terutama di Cekungan Bandung. Pada DAS Citarum tidak ada satu lokasi pun yang kualitas airnya memenuhi baku mutu air. Di Waduk Cirata misalnya, kualitas airnya berkategori buruk bagi air baku minum (Laporan Badan Pengelola Waduk Citara dan Pusat Penelitian Sumber Daya Alam dan Lingkungan Unpad Bandung Triwulan IV 2010). Air yang sudah terendapkan di waduk ini juga tidak layak bagi perikanan dan peternakan. Padahal di waduk ini terdapat 50-70 ribu perikanan keramba jaring terapung (KJA). Setiap hari puluhan ton ikan dipasarkan bagi konsumen Bandung, Bekasi, dan di DKI Jakarta. Parameter yang tidak memenuhi syarat bagi air minum karena air Cirata mengandung H2S, bakteri E Coli dan Coliform serta COD dan BOD nya melebihi ambang batas. Sedangkan tidak layak bagi perikanan dan peternakan karena mengandung H2S, NH3-N, NO2-N, Cl2, dan CU. “Kami hanya bisa prihatin karena air jernih dijadikan pembuangan kotoran sapi,” ungkap Agus Darajat, tokoh masyarakat Desa Tarumajaya Kecamatan Kertasari. Di desa ini terdapat Situ Cisanti, di kaki Gunung Wayang yang menjadi sumber pertama mata air Citarum. Sampai hilir Pencemaran dan sedimentasi yang hebat terus mengalir ke hilir Citarum seiring bergulirnya perjalanan sejarah kemerdekaan bangsa. “Tiga bulan sekali bisa dipastikan udang mabuk dan mati di Citarum,” ujar sejumlah warga Desa Tanjungbungin, Karawang dan Jayasakti, Kabupaten Bekasi, 10 kilometer sebelum muara Citarum di Laut Jawa. Kedua desa di dua kabupaten ini terpisah oleh Sungai Citarum selebar 200-an meter. “Jika air Citarum dimasukan ke tambak, hanya ikan bandeng yang bertahan. Semua jenis udang alam, seperti udang bago dan udang peci tak tahan oleh kotornya air Citarum. Padahal udang liar ini merupakan tambahan penghasilan bagi petambak,” ujar Tarman (48), petambak bandeng di Desa Tanjungpakis Kecamatan Pakisjaya, Karawang, sekitar 10 kilometer dari Laut Jawa. Air tawar Sungai Citarum diperlukan untuk mengurangi keasinan air tambak menjadi payau sehingga kondusif bagi tumbuhnya ikan bandeng. Akibat airnya tercemar kini puluhan ribu hektar di kawasan pesisir pantai utara Karawang dan Bekasi tidak dikelola optimal. Di Desa Pantai Bahagia saja terdapat 3.000 hektar tambak, 1.000 hektar di antaranya rusak terkena abrasi. Areal tambak di kawasan muara Citarum terdapat di lima desa dalam Kecamatan Muaragembong, Kabupaten Bekasi dan empat desa di Kecamatan Pakisjaya, Karawang Pencemaran Citarum di sekitar muara, telah menyempurnakan persoalan pesisir pantai utara. Di wilayah pesisir utara Jawa Barat, kerusakan meliputi hutan bakau, abrasi pantai serta pendangkalan muara sungai yang berdampak pada aktivitas lalu lintas perahu. Di tengah hebatnya eksploitasi Sungai Citarum, perusakan sungai ini tak kalah dahsyat dan dibiarkan terus berlangsung. Seandainya Citarum itu manusia barangkali ia akan berkata, “Sungguh kalian itu bangsa yang tak beradab!”

Citarum Tercemar dari Hulu
25 april 2011 Bandung, Kompas - Sungai Citarum, sumber air minum bagi 25 juta warga Jawa Barat dan DKI Jakarta serta pemasok tenaga listrik bagi Pulau Jawa dan Bali, kini tercemar logam berat.

32

Pencemaran disertai pelumpuran dan pendangkalan yang hebat terus berlangsung tanpa ada penanganan serius. Akibatnya, hampir semua fungsi sungai yang sangat strategis bagi kepentingan nasional itu rusak berat. Percemaran dan sedimentasi terjadi mulai dari hulu sungai di Situ Cisanti di kaki Gunung Wayang, Bandung selatan, dan mengalir sepanjang 269 kilometer hingga muara sungai di Pantai Muara Merdeka, Kecamatan Muara Gembong, Kabupaten Bekasi, Jabar. Sebelum mengalir ke Laut Jawa, sungai terbesar dan terpanjang di Jabar ini digunakan untuk pembangkit listrik tenaga air (PLTA) di Waduk Saguling (kapasitas 700-1.400 megawatt), WadukWaduk Cirata (1.008 MW), dan Waduk Jatiluhur (187 MW). Ketiga PLTA itu memasok listrik untuk jaringan interkoneksi Pulau Jawa-Bali yang dihuni hampir separuh dari penduduk negeri ini. Air Citarum yang tercemar juga digunakan untuk perikanan dan irigasi di 420.000 hektar lahan pertanian di Kabupaten Bandung, Kota Bandung, Kabupaten Bandung Barat, Cianjur, Purwakarta, serta lumbung padi nasional di Kabupaten Karawang, Subang, dan Indramayu. Tingkat kerusakan Ekspedisi Sungai Citarum 2011 yang dilakukan Kompas dengan menyusuri sungai dari Situ Cisanti hingga Muara Gembong, pekan lalu, mencatat, perusakan sungai berlangsung sejak puluhan tahun lalu dan dibiarkan begitu saja melintasi alur sungai. Secara kasatmata, hanya 700 meter dari Situ Cisanti, air Citarum dijadikan tempat pembuangan limbah kotoran sapi. Padahal, air yang keluar dari tujuh mata air di hulu itu sangat bening. Setelah itu, aliran sungai ini melewati perkampungan padat Desa Tarumajaya, Kecamatan Kertasari, Kabupaten Bandung, yang sebagian besar penduduknya merupakan petani sayur dan peternak sapi perah. ”Semua peternak sapi perah di desa ini membuang kotoran sapinya langsung ke sungai,” ujar Agus Darajat, tokoh masyarakat yang juga Ketua Kertasari Bersatu. Hasil pemantauan kualitas air Perum Jasa Tirta II menyebutkan, air dari Outlet Cisanti sudah mengandung HS (hidrogen sulfida) dan chemical oxygen demand (COD) melebihi ambang baku mutu. Alih fungsi lahan Tokoh masyarakat hulu Citarum, Dede Jauhari, menilai kerusakan itu akibat alih fungsi lahan dari seharusnya kawasan hutan konservasi daerah penangkap air menjadi daerah pertanian semusim. Hampir semua pertanian sayur (wortel, kol, kentang, dan daun bawang) di hulu Citarum menggunakan pestisida dan pupuk kimia. Di sentra industri tekstil Kecamatan Majalaya, 20 km dari Kertasari, limbah industri berwarna pekat dengan bau menyengat serta temperatur dan keasaman tinggi langsung dibuang ke Citarum. Di Kecamatan Dayeuhkolot hingga Soreang, 40-60 km dari hulu, selain limbah industri, sampah domestik yang dibuang dari permukiman padat ke sungai juga memperparah pencemaran. Sampah dari Kota Bandung yang terbawa anak sungai pun turut menjadi bagian dari pencemaran Sungai Citarum. Di Cekungan Bandung ini, sejumlah anak sungai bermuara ke Citarum, yakni Sungai Cikijing, Citarik, Cikeruh, Cidurian, Cikapundung, Cisangkuy, Citepus, dan Cibeureum, yang dijadikan tempat pembuangan limbah dan sampah oleh semua pihak. Berdasarkan hasil evaluasi pemantauan kualitas air oleh Perum Jasa Tirta II, zat kimia Zn (seng), Fe (logam), NH-N, NON (nitrogen), HS, Mn (mangan), biochemical oxygen demand (BOD), COD, dan oksigen terlarut melebihi baku mutu air. ”Sampah dari rumah tangga lebih mudah terurai bila dibandingkan dengan limbah industri yang membahayakan,” ujar Kepala Badan Pengelolaan Lingkungan Hidup Daerah Jabar Iwan Setiawan Wangsaatmadja. Pencemaran dan sedimentasi terus berlangsung ke tengah, sekitar Waduk Saguling, Cirata, dan Jatiluhur, hingga ke muara di Laut Jawa. General Manager Indonesia Power Unit Bisnis Pembangkit Saguling Erry Wibowo membenarkan, air Citarum yang masuk ke Waduk Saguling sudah tercemar bahan kimia, terutama HS. Pencemaran berlangsung sejak waduk dioperasikan pada 1985 tanpa ada upaya

33

pengendalian. ”Kami khawatir kasus minamata terjadi di Citarum karena hingga kini belum ada pengendalilan,” ujar Erry. Hasil penelitian Pusat Lembaga Sumber Daya Alam Lingkungan Universitas Padjadjaran Bandung, Indonesia Power, Pembangkit Jawa-Bali, dan Perum Jasa Tirta menunjukkan, air di ketiga waduk itu tak layak untuk air baku minum, budidaya perikanan, dan peternakan. Air minum Jakarta Dari Waduk Jatiluhur, air mengalir ke hilir melalui Bendung Curug yang membagi air ke irigasi Tarum Barat dan Tarum Timur. Tarum Barat mengalirkan air untuk bahan baku air minum 10 juta warga DKI Jakarta. Sebanyak 8.500 liter per detik air baku dikelola PT Aetra Air Jakarta dan 6.000 liter per detik air baku diolah PT Palyja. Di kawasan Muara Gembong, air Citarum berwarna coklat muda langsung masuk ke Laut Jawa. Menurut laporan Perum Jasa Tirta II, Desember 2010, air Citarum di Muara Gembong mengandung Fe, NO-N, dan HS lebih dari baku mutu. ”Tahun 2009 pernah semua ikan mati dan mengambang di Sungai Citarum,” ungkap Suryana (35), Sekretaris Desa Pantai Bahagia, Kecamatan Muara Gembong, Kabupaten Bekasi. Gubernur Jabar Ahmad Heryawan mengaku, di balik perannya yang strategis, Citarum juga sering memicu banjir. Luas Daerah Aliran Sungai Citarum tercatat 6.614 km persegi dan dihuni 15,3 juta penduduk. Yang mengherankan, belum ada instansi yang menangani perusakan dan pencemaran Citarum. ”Selama Citarum masih berair, walaupun tercemar hebat, itu dianggap biasa,” ujar Guru Besar Lingkungan Institut Teknologi Bandung Mubiar Purwasasmita. (REK/CHE/ELD/MKN/HEI/DMU/GRE/JAN)

Ekspedisi Citarum

Sayur yang Tak Lagi Menyehatkan Petani
Herlambang Jaluardi | nurulloh | Selasa, 26 April 2011 | 11:30 WIB BANDUNG, KOMPAS.com — Keheningan di Situ Cisanti, Kecamatan Kertasari, Kabupaten Bandung, yang merupakan sumber dari Sungai Citarum, sungguh bertolak belakang dengan hiruk-pikuk kampung di sekitarnya. Nyaris sepanjang 24 jam aktivitas pertanian sayur-mayur tak berhenti. Dari kampung inilah, kebutuhan sayur-mayur untuk Provinsi Jawa Barat, Banten, dan DKI Jakarta dipenuhi. Dari balik kaca mobil yang terpaksa melaju pelan karena jalan aspal yang sudah bolong di sana-sini, terlihat lereng-lereng Gunung Wayang dipenuhi beraneka ragam sayuran seperti daun bawang, wortel, tomat, dan kol. Kegiatan pertanian berbagi tempat dengan peternakan sapi perah di kecamatan berpenduduk sekitar 66.000 jiwa ini. Kesibukan masih terasa hingga menjelang malam sekitar pukul 19.00. Iyep Taryana (43), masih mengawasi keenam anak buahnya mencuci wortel di Kampung Pajaten yang akan ia bawa ke Pasar Induk Kramat Jati di Jakarta. Dalam satu hari, rata-rata ia mengangkut enam ton wortel yang ia beli dari petani. “Biasanya pencucian wortel ini baru selesai sekitar jam 12.00 malam, kemudian langsung kami angkut ke pasar. Keesokan paginya, sudah ada lagi petani yang menyetorkan wortelnya kepada kami, begitu seterusnya,” ujar Iyep yang memiliki tempat pencucian wortel sendiri sejak empat tahun lalu. Meski seolah tanpa jeda sepanjang hari, hasil pertanian sayur-mayur tidak selalu menggembirakan bagi petani, maupun bagi pedagang. Iyep, misalnya, mengaku masih bisa

34

mencicip untung Rp 100 per kilogram dari wortel yang ia “setor” kepada pedagang di Jakarta, Tangerang, dan Bandung. Nasib lebih buruk justru menimpa para petaninya. Harga jual sayur-mayur cenderung tidak stabil. Pada masa panen di akhir Maret lalu, misalnya, harga jual sayur mencapai titik yang sepertinya tidak masuk akal. Harga daun bawang tidak lebih dari Rp 500 per kilogram. Harga wortel juga tidak sampai Rp 1.000 per kilogram. Bahkan kol hanya dihargai Rp 200 per kilogram. Idin (33), petani daun bawang di Desa Cibeureum, Kecamatan Kertasari, mengatakan hanya mampu menjual hasil cocok tanamnya seharga Rp 500 per kilogram. “Paling mahal Rp 600 per kilogram. Padahal dua minggu lalu harganya masih Rp 1.500 per kilogram. Harga itu jauh dari ongkos produksi yang mencapai Rp 2.500 per kilogram,” keluh Idin. Anjlok Sejumlah petani menuturkan, penurunan harga jual komoditas daun bawang sudah mulai sejak pertengahan Februari. Pada awal Januari, harga jualnya disebutkan masih sekitar Rp 5.000 per kilogram. Hingga pertengahan Maret, harganya terus merosot mencapai 80 persen. Komoditas wortel pun mengalami nasib yang sama. Pada akhir Februari, harga jualnya masih mencapai Rp 2.500 per kilogram. Tetapi akhir Maret lalu, sayuran yang sarat vitamin A ini cuma dihargai paling bagus Rp 800 per kilogram. Petani menduga penurunan harga jual terjadi akibat musim panen yang berlangsung serentak di sejumlah sentra pertanian sayur di Jawa Barat seperti di Kertasari, Pangalengan, dan Lembang. Eman Sulaeman (42), petani di Desa Tarumajaya, Kecamatan Kertasari, menuturkan permintaan dari pedagang di Pasar Induk Cibitung (Bekasi), Caringin (Bandung), Kramat Jati (Jakarta), dan sejumlah pasar lain di Depok, Tangerang, Bogor, serta Cirebon sedang menurun. Itu terjadi karena sayuran dari sentra pertanian lain banyak juga yang masuk pasar. Petani tentu merugi dengan keadaan ini. Eman menggambarkan, hasil panen wortel dari satu patok lahan (sekitar 625 meter persegi) mencapai empat kuintal. Dengan ongkos produksi wortel rata-rata Rp 400.000 dan harga jual Rp 700 per kilogram, petani merugi Rp 120.000 dari setiap patok garapannya. “Untuk musim tanam berikutnya saya berencana berhutang sekitar Rp 20 juta dari saudara saya,” ucap Eman. Masa keemasan Selain dianggap menyehatkan tubuh, sayur-mayur bagi petani di Kecamatan Kertasari pada akhir dekade 1990-an juga “menyehatkan” ekonomi keluarga. Saking menggiurkannya, petani padi berbondong-bondong beralih menanam sayur. Enjang Rahman (54) adalah salah seorang petani sayur yang dulunya menanam padi sejak 1985. “Hasil padi saya tidak banyak karena lahannya sempit. Melihat banyak tetangga yang mulai menanam sayur, akhirnya saya ikutan juga,” kata Enjang yang memilih menanam daun bawang. Saat musim panen tiba, Enjang memanen dua ton daun bawang dari sekitar 1.000 meter persegi lahannya. Saat itu, ia mengenang harga jual daun bawang mencapai Rp 2.500 per kilogram dengan modal yang dibutuhkan “hanya” Rp 500.000 untuk beli pupuk dan bibit. Ia pun untung sampai Rp 5 juta, jumlah yang dinilai Enjang lebih dari lumayan pada masa itu. Selain modalnya lebih kecil dibandingkan pertanian padi, waktu panen sayuran relatif lebih cepat. Daun bawang dan wortel, misalnya, hanya butuh waktu 30-50 hari untuk panen. Bandingkan dengan padi yang butuh waktu sampai 3,5 bulan. Kondisi tanah di DAS Citarum juga dianggap sangat cocok untuk bertanam sayuran. Enjang mengisahkan, dekade 1990-an menjadi masa keemasan petani sayuran. Sebabnya, pedagang di Jakarta mengutamakan pasokan sayuran dari wilayah Bandung karena dianggap paling dekat jaraknya. “Setiap musim panen, sepeda motor baru banyak yang berseliweran. Istri-istri petani juga memenuhi toko emas untuk belanja,” ujarnya.

35

Ketua Asosiasi Pedagang Komoditas Agro (APKA) Jawa Barat, Yoke Yusuf mengatakan, anjloknya harga sayur ketika panen raya tiba sebenarnya bisa disiasati dengan mengatur pola dan jenis komoditas tanam di antara masing-masing sentra sayur. “Kalau di Garut sedang tanam wortel, petani di Pangalengan jangan menanam wortel juga. Namun hal ini butuh campur tangan pemerintah,” kata Yoke. Dampak ekologi Di sisi lain, pertanian sayur di hulu Sungai Citarum yang tidak mengindahkan kaidah ekologis ini berdampak buruk bagi kelestarian sungai. Gerusan tanah pertanian akibat aliran air hujan di lereng Gunung Wayang ini menciptakan sedimentasi di dasar sungai. Pendangkalan sungai akibat sedimentasi itu menyebabkan banjir yang sering terjadi di kawasan Baleendah dan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung. Kepala Badan Pengelolaan Lingkungan Hidup Daerah Jawa Barat Setiawan Wangsaatmaja mengatakan, frekuensi banjir di DAS Citarum yang menunjukan tren peningkatan, salah satunya disebabkan oleh menurunnya tingkat infiltrasi dan retensi akibat kerusakan hutan dan erosi. Lebih jauh lagi, endapan yang terbawa sampai ke Waduk Saguling bisa mengurangi usia produktif bendungan yang menghasilkan listrik untuk kebutuhan Jawa dan Bali ini. Permasalahan dampak ekologi akibat pertanian ini belum menemukan solusi yang tepat. Seperti diungkapkan oleh Agus Derajat, Ketua Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) Tarumajaya, masyarakat Tarumajaya masih mengandalkan komoditas sayuran karena musim panennya yang relatif cepat. “Belum ada komoditas pengganti sayuran yang menawarkan keuntungan yang cepat seperti itu. Penanaman kopi yang sedang kami lakukan juga tidak terlalu diminati karena panennya baru terjadi dua tahun sejak ditanam,” kata Agus. (Gregorius M Finesso/Mukhamad Kurniawan/Didit Putra ER) Ekspedisi Citarum

Gosok Gigi Pun Memakai Air Berlimbah
Sandro Gatra | Glori K. Wadrianto | Selasa, 26 April 2011 | 09:32 WIB BANDUNG, KOMPAS.com — Rohimah (45) tanpa khawatir menggosok giginya dari air yang mengalir melalui tong sebagai wadah penampungan. Seusai membilas mulutnya, Rohimah langsung mencuci tumpukan piring dan gelas yang bertumpuk di sebelahnya. Sementara itu, di dalam bilik 1 meter persegi di samping tempat Rohimah mencuci, seorang kakek mandi dengan air yang ditampung di bak kecil. Sumber air di tong maupun bak mandi itu sama, yakni sumur yang berada di tengah antara tong dan bak. Sumur itu dialiri air yang melewati sambungan pipa-pipa. Ujung pipa itu berasal dari Sungai Ciwalengke, salah satu anak Sungai Citarum yang tercemar berbagai limbah. Rohimah dan keluarganya tak sendirian memanfaatkan aliran Sungai Citarum. Setidaknya 20 keluarga lain di RW 10 di Desa Sukamaju, Majalaya, yang tinggal di sekitar sumur itu terpaksa berhadapan langsung dengan air yang telah tercemar sejak belasan tahun lalu. Tak ada sistem penyaring air yang mampu menjernihkan atau membunuh kuman. Hanya tumpukan ijuk sebelum masuk ke sumur ditambah kaus kaki bekas yang dipasang di ujung keran untuk menyaring air. Warga tahu betul air yang mereka gunakan tak baik untuk kesehatan. Kemiskinan yang membuat mereka tak mampu membeli air bersih. "Kami terpaksa, mau bagaimana lagi. Air bersih harganya Rp 3.000 per jeriken. Kami cuma mampu beli buat air minum aja," kata Jajang (40), warga RT 02, ketika ditemui Kompas.com beberapa waktu lalu. Jajang mengatakan, hampir semua warga mengalami gatal-gatal. Kondisi memprihatinkan dialami anak-anak. Di beberapa bagian tubuh mereka bentol-bentol dan meninggalkan bercak hitam.

36

"Pakaian cepet kucel warnanya. Cuci piring, piringnya jadi kuning," kata Ali (30), warga lain. "Itu kalau kaus kaki dibuka, isinya numpuk kotoran semua," timpal Jajang sambil menunjuk arah keran. Warga yang memiliki sumur bor bernasib lebih baik lantaran bisa menikmati air Citarum yang layak. Seperti Agus Kusnadi (40) membuat kolam penampungan di halaman rumahnya. Kolam berukuran 1 x 3 meter itu dialiri air Sungai Ciwalengke melalui pipa. Air dalam kolam secara perlahan meresap ke dalam tanah. Kolam itu juga dijadikan tempat untuk ternak ikan lele. "Air itu nanti meresap ke bawah. Sampai di bawah sudah bersih, enggak bau. Air sungai bau sekali kalau lagi kemarau," kata pria yang telah 16 tahun memanfaatkan kolam penampungan itu. Limbah dibuang Pantauan Kompas.com, Sungai Citarum telah tercemar sejak di hulu. Tujuh ratus meter dari sumber mata air di Situ Cisanti di Kecamatan Kertasari, Bandung Selatan, air langsung dicemari kotoran sapi perah. Kotoran dari 5.000-an sapi langsung dibuang peternak ke selokan yang mengalir ke sungai. Untuk diketahui, setiap ekor mengeluarkan kotoran 10 kilogram sampai 20 kilogram. Belum lagi limbah rumah tangga mulai dari hulu. Pencemaran yang jauh lebih berbahaya adalah limbah industri tekstil di sekitar Majalaya. Pabrik terang-terangan membuang sisa celupan tekstil berbagai warna ke anak-anak Sungai Citarum. Aliran air tampak berwarna merah, kuning, hijau, coklat, hingga hitam pekat. Fahtoni, aktivis LSM Elemen Lingkungan (Elingan), mengatakan, tak hanya limbah tekstil yang dibuang pabrik di Majalaya, limbah sisa bahan bakar batu bara ikut dibuang ke sungai. "Dulu pabrik masih pakai pewarna alami, tetapi sekarang sudah pakai pewarna buatan. Akibatnya, ya, ke warga," kata dia.

Pencemaran Lingkungan

Citarum Bagai Pelangi

Sandro Gatra | Hertanto Soebijoto | Selasa, 26 April 2011 | 11:43 WIB BANDUNG, KOMPAS.com - Tepat di bawah tembok belakang pabrik di Desa Sukamaju, Kecamatan Majalaya, Kabupaten Bandung, limbah tekstil berwarna merah keluar dari pipa kecil yang menghubungkan ke bagian dalam pabrik. Limbah berbusa itu terus mengalir bersamaan deru mesin pabrik. Limbah dari perusahaan yang tak bertanggung jawab itu lalu mengalir ke Sungai Ciwalengke, anak Sungai Citarum, yang melintas di belakang pabrik. Limbah lalu bercampur dengan air sungai yang telah tercemar mulai dari hulu di sekitar Situ Cisanti, Bandung Selatan. Pemandangan itu tak seberapa "ngeri". Sekitar dua kilometer dari lokasi itu, tepatnya di seberang Kampung Pondang, Kompas.com melihat kondisi yang jauh lebih memprihatinkan. Limbah berwarna hitam pekat dan berbau keluar dari pipa selebar satu meter. Air berwarna hitam pekat lantaran telah tercampur berbagai warna sisa celupan tekstil pabrik serta limbah rumah tangga. "Limbah keluar kadang malam, kadang siang. Warna limbah macem-macem, ada merah, hijau, biru, kadang kuning," Kata Adang Suhendar, petugas pemantau muka air setempat. Air yang telah tercemar bahan kimia itu dimanfaatkan oleh sebagian warga untuk mandi, cuci, kakus. Warga hanya menyaring dengan tumpukan ijuk dan kain bekas. Akibatnya, warga harus berhadapan dengan penyakit kulit. Dadan Ramdan, aktivis Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Jawa Barat, Sobirin Supardiono anggota Dewan Pemerhati Kelestarian dan Lingkungan Tatar Sunda, serta T

37

Bachtiar anggota Masyarakat Geografi Indonesia dan Kelompok Riset Cekungan Bandung, menilai ada pembiaran pelanggaran oleh penegak hukum di Majalaya. Dadan mengatakan, sekitar 500 pabrik berdiri di beberapa daerah di hulu Citarum. Mayoritas adalah pabrik tekstil. Dari seluruh pabrik yang berdiri, kata dia, hanya 20 persen yang mengolah limbah melalui Instalasi Pengolah Air Limbah (IPAL). Sisanya langsung dibuang ke anak-anak Sungai Citarum. Sobirin menambahkan, selain memindahkan kawasan industri dari Majalaya, solusi lain mengatasi pencemaran yang telah terjadi sejak belasan tahun lalu itu yakni dengan membangun IPAL terpadu seperti di kawasan Cisirung. "IPAL bersama untuk menampung 80 industri. Diawasi pelaksanannya oleh berbagai pihak," ucap dia. Ekspedisi Citarum

Menikmati Sibakan Selendang Dayang Sumbi
Cornelius Helmy Herlambang | nurulloh | Selasa, 26 April 2011 | 11:55 WIB BANDUNG, KOMPAS.com — Tidak heran bila Sangkuriang begitu kecewa besar saat cintanya ditolak Dayang Sumbi, yang tidak lain adalah ibunya sendiri. Syarat pembuatan perahu dalam waktu semalam, sebagai syarat dari Dayang Sumbi, sebenarnya sedikit lagi selesai. Rasa kecewa itu semakin mendalam setelah mengetahui kalau Dayang Sumbi ikut campur menghadirkan matahari pagi. Perahu setengah jadi pun ia tendang sehingg terbalik (tangkuban) yang jejaknya dipercaya sebagai proses Gunung Tangkuban Parahu. Mengenai kecantikan Dayang Sumbi, Sangkuriang sepertinya tidak salah. Setidaknya, ada sisa kecantikan Dayang Sumbi yang masih tersisa hingga saat ini. Bukan dalam bentuk wajah atau fisik lainnya tapi untaian selendang yang terpahat di atas batu basalt di Taman Hutan Rakyat Bandung. “Bentuknya seperti selendang batik yang sangat indah. Oleh karena itu kami menamakannya sebagai Situs Geologi Selendang Batik Dayang Sumbi,” kata Riben, salah seorang petugas Tahura Bandung. Tahura Juanda adalah Tahura adalah kawasan pelestarian alam untuk tujuan koleksi tumbuhan dan atau satwa yang dimanfaatkan bagi kepentingan umum sebagai tujuan penelitian, ilmu pengetahuan, pendidikan dan wisata. Lahan ini dikelola oleh Dinas Kehutanan Jawa Barat ini kini luasnya 590 hektar dengan koleksi 2.500 tumbuhan. Tahura yang dibangun tahun 1912 ini tercatat sebagai yang tertua pernah dibangun Belanda. Pusat taman yang sebelumnya dikenal dengan Taman Rakyat Pulosari atau biasa disebut masyarakat sebagai Palasari terletak di Kampung Pakar, Desa Ciburial, Kecamatan Cimeyan, Kabupaten Bandung. Akses menuju Tahura juga mudah dijangkau. Bagi pengguna kendaraan pribadi diuntungkan dengan papan penunjuk arah di sepanjang Jalan Bukit Dago. Sedangkan, pengunjung yang menggunakan angkutan umum, dapat naik angkutan kota jurusan Bandung-Terminal Dago. Dari Terminal Dago, perjalanan dilanjutkan dengan berjalan kaki, atau naik ojek menuju lokasi. Layaknya peristiwa terbentuknya Tangkuban Parahu yang bisa dijelaskan lewat proses ilmiah, proses terbentuknya Selendang Dayang Sumbi tidak kalah indah untuk diceritakan. Bila Tangkuban Parahu lahir akibat kuatnya letusan Gunung Sunda, Selendang Dayang Sumbi adalah lukisan alam dari aliran lava panas sisa letusan Tangkuban Parahu 48.000 tahun yang lalu. Geograf dari Masyarakat Geografi Indonesia T Bachtiar mengatakan bentuk jejak lava itu begitu eksotis karena membentuk pola lipatan berulang-ulang dengan ukuran dan jarak yang sama. Ada lipatan yang lancip dan gemuk yang tergambar secara vertikal. Bila dilihat dari atas, sepintas jejak itu mirip motif batik.

38

Sebagai temuan geologi yang relatif baru ditemukan, situs Selendang Dayang Sumbi belum banyak dikenal pengunjung Taman Hutan Rakyat. Ditemukan oleh pemancing tradisional, lokasinya terletak di dasar tebing sedalam 20 meter yang berada sekitar 4 kilometer dari kantor pengelolaan Tahura. Tepatnya di bantaran Sungai Cikapundung antara Air Terjun Lalai dan Cikidang. Cukup sulit untuk menemukan lokasinya. Tim Ekspedisi Citarum harus ditemani petugas Tahura untuk menuruni tebing tanah curam sekitar 100 meter dengan kontur tanah licin. Petugas harus memasang alat bantu berupa tali kuat berdiameter 1 sentimeter sebagai pegangan. Sampai di bawah, rasa penasaran itu tergantikan kekaguman. Jejak itu terekam dalam batuan datar seluas 5 meter x 2 meter. Ada sekitar 5 motif yang terbentuk dengan ukuran yang berbeda. Ada lipatan panjang dengan ujung lancip tapi ada juga yang pendek dengan lipatan yang lebih besar. Keindahannhya dipadukan dengan blok formasi batuan sisa letusan gunung berapi lainnya yang tersebar di atas tebing, dan sepanjang Sungai Cikapundung. Ditemani suara keras air yang menghantam batu vulkanik di Sungai Cikapundung, kekaguman itu bertambah besar karena bila dilihat dari atas, jejak itu terlihat mengkilap seperti kaca saat beradu dengan sinar matahari. Bachtiar yakin di Indonesia, fenomena ini baru ditemukan di Tahura. Hal yang kurang lebih serupa banyak ditemukan di Hawaii, Islandia, dan Kolombia. Bachtiar mengatakan lava itu adalah tetesan dari lava yang berada di atasnya lantas mengalir secara vertikal. Semakin jauh kekentalannya meningkat dan bagian permukaannya membeku. Namun, karena bagian dalamnya masih encer dan panas maka lava terus bergerak membentuk pola baru. Kejadian itu terjadi berulang-ulang hingga semua bagian lava membeku. Fenomena ini hampir mirip dengan bukti geologi lava pahoehoe di Hawai. Dalam bahasa hawaii, Pahoehoe artinya adalah tali. Humas Tahura Jasmiaty mengatakan pihaknya akan segera mengembangkan Selendang Dayang Sumbi sebagai objek wisata alam andalan. Rencannya, pertengahan tahun 2011, penggarapannya akan dilakukan lebih serius bersama beberapa wahana baru lainnya. Setelah mayoritas pengunjung hanya mengenal curug maribaya dan curug omas, Tahura akan memperkenalkan tiga curug (air terjun) yang letaknya tidak jauh dengan Selendang Dayang Sumbi. Tiga air terjun yang selama ini masih tersembunyi di balik lebatnya hutan Tahura itu adalah Lalay, Kidang, dan Koleang. Ketinggiannya sekitar 15 meter sebelum airnya menyentuh bagian dasar. Jasmiaty mengatakan kelebihan Lalay adalah keberadaan gua tempat keluarnya air. Gua ini menjadi tempat berkembangbiaknya kawanan kelelawar (dalam bahasa Sunda disebut lalay). Sedangkan Kidang dan Koleang juga tidak kalah indah karena menawarkan pemandangan turunnya air menerpa batuan di bawahnya. Aktivitas lainnya adalah memperkenalkan pengunjung tentang keberadaan bendungan pembangkit listrik Pakar buatan Belanda yang dibuat awal 1900-an. Interpreter Tahura Ganjar mengatakan bendungan ini menjadi saksi sejarah pembangkit listrik buatan Belanda di sekitar Tahura, sebelum pembangkit listrik II Pakar II yang dibuat tahun 1910, saluran air Gua Belanda tahun 1918 atau pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Air di Dago Bengkok tahun 1922. Wisata flora dan fauna juga akan mendapat tempat khusus. Setelah menjadi rumah bagi beragam satwa seperti kera ekor panjang (Macaca fascicularis), burung kacamata (Zoeteraps palpebrosus), perenjak Jawa (Lonchura leucogastroides), burung cinenen pisang (Orthotomus sutorius), dan ayam hutan (Galus-galus banriva). Tahura akan membuat konservasi pembiakan rusa yang diambil dari Istana Bogor. Lahan yang sudah disiapkan berada di dalam kompleks Tahura di daerah Bantarawi. Ganjar berharap penambahan wahana itu akan membuat pengunjung menghabiskan waktu lebih lama di Tahura. Saat ini, di Tahura disediakan fasilitas menginap untuk sekitar 20 orang,

39

sarana flying fox dan outbond, panggung terbuka, dan lapangan tenis. Tempat parkirnya pun mampu menampung puluhan mobil dan motor. “Kami berharap agar segala sarana pendukung ini bisa menjadi magnet bagi pengembangan kelestarian alam di Tahura,” kata Ganjar. Ekspedisi Citarum

Kerusakan Citarum Merugikan Semua Pihak
Dedi Muhtadi | nurulloh | Selasa, 26 April 2011 | 12:07 WIB BANDUNG, KOMPAS.com — Kerusakan Sungai Citarum di Jawa Barat akibat pencemaran dan sedimentasi yang hebat telah merugikan semua pihak, baik pemerintah, pusat listrik tenaga air (PLTA), petani, pembudidaya ikan, maupun rakyat Indonesia. Dunia usaha juga rugi karena Citarum setiap musim hujan meluap menggenangi kawasan industri di Cekungan Bandung. Padahal investasi tesktil dan produk tekstil saja di daerah aliran Citarum mencapai sekitar Rp 80 triliun. Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Jawa Barat Deddy Wijaya mengatakan, saat banjir Citarum melanda selama sebulan penuh, Maret 2010 silam, kerugian semua jenis industri di Kabupaten Bandung, Purwakarta, dan Karawang mencapai Rp 200 miliar. Kerugian dialami lebih dari 200 perusahaan. Selain TPT, pabrik-pabrik yang berhenti operasi bergerak dalam bidang otomotif dan elektronik. Pemerintah kini harus meminjam dana untuk merehabilitasi Daerah Aliran Sungai Citarum sebesar Rp 35 triliun dalam Citarum Road Map atau peta rancangan proyek yang dikoordinir oleh Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas). Sementara Pemerintah Provinsi Jabar juga membuat perencanaan penanganan Citarum terpadu. Untuk membebaskan tanah di hulu Citarum saja perlu dana sekitar Rp 3,6 triliun. “Sayangnya, program ini lebih mendahulukan hilir yakni perbaikan irigasi Tarum Barat, padahal persoalan besar Citarum berada di hulu,” ungkap Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup Jawa Barat Setiawan Wangsaatmadja. Staf ahli Gubernur Jawa Barat Dede Mariana menyebutkan, harus ada kesadaran baru dari semua pihak bahwa mengurus Sungai Citarum itu harus terintegrasi. Yakni sinergi dari hulu hingga hilir. “Semuanya harus terbuka bila ada dana pinjaman atau utang luar negeri karena itu beban bagi rakyat Indonesia,” ungkap Dede yang juga guru besar Ilmu Politik Universitas Padjadjaran Bandung ini. Data dari Cita-Citarum, lembaga mitra Bappenas yang mengkordinir proyek itu menyebutkan, Citarum Road Map, meliputi 80 kegiatan yang dilaksanakan dalam kurun waktu 15 tahun (2010-2025) dengan biaya 3,5 miliar dollar AS atau sekitar Rp 35 triliun. Dana itu bersumber dari fasilitas pembiayaan bertahap Asian Development Bank (ADB), Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) dan sumber pendanaan dari donor lainnya. Pendanaan pinjaman ini dilakukan secara bertahap sesui dengan perkembangan. Merusak turbin listrik General Manajer Indonesia Power unit bisnis pembangkit Saguling Erry Wibowo mengungkapkan, akibat pencemaran itu peralatan turbin menjadi cepat rusak akibat pengkaratan yang cepat. “Kami harus menggantinya segera karena kalau terlambat menggganti akan mengganggu sistem operasi,” ujarnya. PLTA Saguling memproduksi listrik 2.156 gigawatt per jam selama setahun. Tahun 2010, produksi Saguling melimpah hingga 4.000 GwH karena tingginya curah hujan. Saguling juga terhubung dalam sistem kelistrikan interkoneksi Jawa-Bali.

40

Listrik sebesar 2.156 GwH bisa digantikan dengan menghabiskan 667.000 barel bahan bakar minyak. Kalau harga solar subsidi Rp 4.500/liter, maka nilainya Rp 351 triliun. Kotornya air Citarum juga telah menumbuhkan berbagai vektor penyakit. Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (BPHLD) Jawa Barat mencatat, di Saguling ditemukan jenis vektor penyakir seperti nyamuk, moluska, cacing dan tikus. Jenis-jenis hewan itu dikenal sebagai pembawa penyakit seperti malaria, demam berdarah, cacing atmbang, dan tipus. Malah penelitian tahun 2005 vektor-vektor itu mempunyai kemetakan/probabilitas tinggi sebagai sumber terjadinya out break pada manusia. Sedimentasi juga mengancam produksi listrik PLTA Cirata dan PLTA Ir H Djuanda karena usia waduk berkurang. Sementara pencemaran melambungkan ongkos perawatan PLTA karena meningkatkan laju korosi. Umur generator pendingin, misalnya, berkurang dari 5-7 tahun menjadi 2-3 tahun karena terkorosi. Padahal, PLTA Cirata memproduksi listrik rata-rata 1.428 gigawatthour (GWh) per tahun, sementara PLTA Ir H Djuanda 690 GWh per tahun. Bersama PLTA Saguling, keduanya menyumbang kebutuhan listrik pada interkoneksi Jawa-Bali. Merugikan petani Tingginya sedimentasi dan pencemaran limbah industri dan rumah tangga pada Sungai Citarum menyebabkan sekitar 100.000 hektar sawah yang mendapat pengairan dari sungai itu tidak produktif. Kerusakan sungai itu mengakibatkan berkurangnya pasokan air irigasi, sehingga Jabar kehilangan potensi sekitar Rp 16 triliun per tahun. Staf Ahli Gubernur Jabar Anang Sudarna menjelaskan, Sungai Citarum mengairi sekitar 300.000 hektar sawah di Kabupaten Bandung, Bandung Barat, Kota Bandung, Cimahi,Kabupaten Cianjur,Purwakarta,Karawang, Subang, dan Indramayu. Dari sekitar 100 ribu hektar saja, Anang menghitung, potensi kerugiannya bisa mencapai Rp 16 triliun per tahun. Jika kondisi ini dibiarkan akan mengganggu ketersediaan pangan nasional, karena Jabar merupakan salah satu lumbung beras nasional. Buruknya kualitas air juga telah menghancurkan budi daya ikan keramba jaring terapung (KJA) di Saguling, Cirata dan Jatiluhur. Ketua Pakan Aquakultur Gabungan Pengusaha Makanan Ternak (GPMT) Denny D Indradjaja membenarkan, pasokan pakan ikan selama lima tahun terakhir terus turun ke waduk ini. Para pembudidaya ikan di Waduk Cirata, hilir Saguling, semula bisa menyerap 10.000 ton pakan ikan setiap bulannya. Secara perlahan terus turun dan tahun 2010 lalu sudah anjlok hingga 4-5 ton per bulan. Angka yang hampir sama juga terjadi di Waduk Jatiluhur, di hilir Cirata. Harga pakan ikan di tingkat pembudidaya berkisar Rp 5.000 per kg. Di waduk Cirata saja, investasi KJA mencapai Rp 2,5-3,5 triliun. Ini terhitung dari 50.000-70.000 KJA yang nilainya per KJA Rp 50 juta. Di Jatiluhur ada sekitar 17.000 KJA yang total investasinya Rp 850 miliar. Di wilayah hilir, air tawar Sungai Citarum diperlukan untuk mengurangi keasinan air tambak menjadi payau sehingga kondusif bagi tumbuhnya ikan bandeng. Akibat airnya tercemar kini puluhan ribu hektar di kawasan pesisir pantai utara Karawang dan Bekasi tak bisa ditanami udang windu. Di Desa Pantai Bahagia saja terdapat 3.000 hektar tambak, 1.000 hektar di antaranya rusak terkena abrasi. Areal tambak di kawasan muara Citarum terdapat di lima desa dalam Kecamatan Muaragembong, Kabupaten Bekasi dan empat desa di Kecamatan Pakisjaya, Karawang. Di wilayah hilir Citarum terdapat sekitar 30.000 hektar tambak bandeng. Akibat pencemaran udang windu yang berpotensi menghasilkan Rp 20 juta per hektar/tiga bulan hilang. Berarti petambak kehilangan potensi dari tambak ini sekitar Rp 600 miliar atau Rp 2,4 triliun per tahun.(MKN/ELD/DMU)

41

Ekspedisi Citarum

Asep, Fondasi Perikanan Darat

Didit Putra Erlangga Rahardjo | nurulloh | Rabu, 27 April 2011 | 11:39 WIB BANDUNG, KOMPAS.com — Tangan Asep Sukarsa (42) menunjuk ke gemericik air di tengah kolam miliknya di Ciparay, Kabupaten Bandung. Di sana, terdapat jutaan benih ikan mas yang siap dibesarkan di berbagai daerah. Dia berperan sebagai pembenih, sebuah fondasi dari rantai panjang produksi perikanan darat. ”Benih yang baik tentunya menghasilkan ikan yang memiliki daging yang banyak. Pembenih sebetulnya bisa meraih untung dengan benih tidak berkualitas karena pengaruhnya baru terlihat pada proses pembesaran,” ujar Asep yang ditemui di kediamannya awal April. Pembenihan ikan dimulai dari proses pemijahan yakni mengawinkan induk betina dengan induk jantan. Setelah kawin, induk betina secara naluriah akan mencari ijuk untuk meletakkan telurnya. Telurnya ditetaskan untuk mendapatkan benih ikan. Induk seberat 3,5 kilogram bisa menghasilkan 100.000 lebih telur meski tidak semuanya menetas. Kualitas benih bukanlah satu-satunya yang menghantui perikanan darat. Mulai dari pencemaran air di tempat pendederan maupun pembesaran hingga rasio pakan dengan daging yang kian jauh dari angka ideal. Para peternak ikan yang ada di Waduk Cirata maupun Waduk Saguling bergantung dari kuantitas daging yang dihasilkan ikan sehingga berimbas pada keuntungan penjualan. Memimpin kelompok pembenih ”Mina Perkasa”, Asep menawarkan teknik pembenihan yang menghasilkan hasil yang berkualitas dan tentunya juga memberikan keuntungan. Mulai dari teknik pemijahan menggunakan ijuk, penetasan, hingga pemeliharaan kolam. Dia beberapa kali mengungkapkan bahwa persiapan kolam adalah segalanya, upaya setengah hati juga memberikan hasil yang setengah-setengah. Berbekal pendidikan sekolah menengah tingkat atas, Asep memahami konsep pengelolaan tanah yang harus mendapat prioritas pertama. Untuk itu, dia sangat menegaskan pentingnya membolak balik tanah agar bakteri yang ada di tanah bisa mati. Bila tidak diantisipasi, bakteri bisa mengakibatkan benih mati dan berujung pada hasil yang tidak optimal sewaktu dipanen. Menurut catatan kelompoknya, ada sepuluh pembenih yang tergabung dalam kelompok Mina Perkasa meski yang tidak resmi lebih dari itu. Produksinya selama setahun bisa mencapai 10.000 gelas, satu gelas bisa berisi 1.000-1.500 ekor. ”Kami punya pekerjaan yang lebih penting daripada menghitung jumlah benih yang dijual,” ujarnya diiringi tawa. Dikejar uang Kiprah Asep di pembenihan ikan dimulai sejak tahun 1991. Menikahi Lilis Sumartini, Asep diberi lahan sawah oleh mertuanya seluas 150 tumbak atau sekitar 2.100 meter persegi dan kemudian dibagi menjadi empat petak. Namun, tidak semuanya ditanami padi oleh Asep. Dia justru menanam dua petak dengan padi dan dua petak lainnya dibuat menjadi kolam ikan. Meski hanya lulusan SMA Karya Pembangunan, Asep ternyata belajar teknik memijahkan ikan dari kakeknya. ”Saya ingin menjadikan dua petak itu sebagai percontohan. Masyarakat lebih suka melihat contohnya secara langsung dari pada diceramahi,” ujarnya. Terbukti memang, dua petak kolam ikan miliknya bisa menghasilkan tiga kali lipat dari dua petak sawah dalam setahun. Dengan hasil 75 gelas tiap kolam, dia bisa menjualnya Rp 2.500 per gelas. Benih ikan juga bisa dipanen lebih cepat atau setiap 20 hari. Dalam setahun, upayanya langsung membuahkan hasil. Petak-petak sawah yang ada di sekitar rumahnya langsung berubah menjadi kolam ikan. Asep kian agresif menekuni usaha pembenihan ikan mas miliknya. Seluruh sawah milik mertuanya seluas 3.000 tumbak atau sekitar 4 hektar dijadikan kolam ikan, dia juga menyewa kolam di tiga kecamatan yaitu Majalaya, Ciparay, dan Pacet.

42

Dia tidak segan meminjamkan kolamnya begitu saja kepada setiap petani yang masih raguragu tanpa harus membayar apa pun. Begitu merasakan sendiri hasilnya, sang petani pun beralih menjadi pembenih ikan. Meroketnya usaha pembenihan ikan juga didukung usaha pendederan ikan yang ada di wilayah Bojongsoang. Benih dari Ciparay dimasukkan di sana untuk proses pendederan selama dua minggu dan kemudian dibesarkan di Waduk Saguling, Cirata, maupun Jatiluhur hingga menjadi ikan yang siap dikonsumsi. Dari proses itulah muncul istilah “Segi Tiga Emas Perikanan Darat”. Permintaan akan benih ikan yang tinggi membuat Asep dikejar-kejar para pemilik kolam di Bojongsoang. Telepon maupun tamu yang datang tanpa henti mencarinya bahkan sempat membuatnya harus bersembunyi. ”Pada saat itu, bisa dikatakan saya dikejar-kejar uang,” kenang Asep. Kembali merayap Krisis moneter yang terjadi tahun 1998 merobohkan kisah manis yang sedang dikecap Asep. Produksi ikan yang morat marit dengan harga jual melorot di segala lini, baik pembenihan, pendederan, maupun pembesaran. Asep juga terpaksa menghentikan usahanya selama dua tahun sambil menunggu kondisi membaik. ”Menjual motor maupun modal kerja yang lain bukanlah cerita yang aneh,” kenangnya. Tahun 2000, Asep kembali merintis usaha pembenihan dengan kondisi yang tidak lagi ramah. Beberapa masalah harus dihadapi seperti harga jual benih yang melorot, harga indukan yang kian melonjak, serta daya serap peternak ikan yang tidak setinggi sebelumnya. Daerah pendederan ikan, Bojongsoang, juga kian tergerus dengan perumahan begitu pula jaring apung di Waduk Saguling yang melorot akibat penurunan kualitas air. Nama Ciparay sebagai penghasil benih ikan juga tercoreng akibat sebagian pembenih yang memilih jalan pintas menjual benih berkualitas rendah. Asep tidak menyerah, dia konsisten bertahan di dunia pembenihan ikan demi memenuhi kebutuhan hidupnya, istilah sunda adalah bakat ku butuh. ”Hanya keterampilan memijahkan ikan saja yang saya kuasai. Dari sana saya bisa memiliki rumah dan menyekolahkan enam anak saya,” ujarnya. Beberapa upaya dia lakukan seperti mengalihkan benih-benih untuk dibesarkan melalui mina padi atau ditanam di lahan persawahan. Dengan sistem bagi hasil itu, petani mendapatkan penghasilan tambahan sementara pembenih mendapat untung karena benih ikan bisa terserap. Begitu pula dengan kualitas indukan. Asep memahami indukan yang berkualitas bakal menghasilkan benih yang berkualitas pula. Dia menghindari mengawinkan induk jantan dan betina melalui inbreeding atau perkawinan sekerabat dengan mendapatkan induk jantan dari Tasikmalaya dan induk betina dari Subang. Saat ini harga jual benih ikan mencapai Rp 8.000 per gelas. Menurutnya, harga tersebut sudah mencapai harga yang sama-sama menguntungkan pembenih, petani mina padi, maupun peternak ikan. Ditanya rencana di masa mendatang, Asep menjawab pendek dan mantap, ”Tetap di pembenihan ikan.” ASEP SUKARSA (42) Pendidikan Terakhir: SMA Karya Pembangunan Istri: Lilis Sumartini Anak: - Deli Agustiana - Sonny M Ramdani - Yuni Purnamawati - Firman Purnama

43

- Astri Andrian - Taufik Muhammad Fauzi

Ekspedisi Citarum

Ketika Eceng Gondok Penuhi Citarum
Dedi Muhtadi | nurulloh | Rabu, 27 April 2011 | 11:59 WIB BANDUNG, KOMPAS.com — Anda butuh eceng gondok? Datanglah ke Sungai Citarum, tepatnya hulu Waduk Cirata Desa Margaluyu Kecamatan Cipeundeuy Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat. Tanaman air itu memenuhi sekitar satu kilometer sungai yang di kawasan ini lebarnya sekitar 300 meteran. Tanaman yang menjadi indikator tercemarnya air sungai itu benar-benar merepotkan Ma’mun (50), tukang perahu yang sehari-hari bertugas menyeberangkan penduduk. Sebab sungai purba Citarum di titik ini merupakan jalur lalu lintas warga Margaluyu, Bandung Barat bertahun-tahun menuju Desa Kertamukti Kecamatan Ciranjang, Kabupaten Cianjur. “Kalau pagi, kami harus menyingkirkan eceng gondok agar perahu bisa melaju. Tidak jarang, anak sekolah kesiangan karena perahu lambat tiba di seberang sungai,” ujar bapak beranak tiga yang secara turun temurun menjadi pabelah (tukang menyeberangkan perahu). Dari pada malu kesiangan, biasanya anak-anak pelajar itu tidak sampai ke sekolah. Mereka hanya berkumpul sambil menunggu jam pulang sekolah. Tukang perahu dan tukang ojek di sana maklum adanya, karena untuk menyingkirkan eceng gondok yang padat bisa sampai setengah meter itu bukan perkara gampang. Padahal pihak sekolah sudah memberi subsidi transportasi ke pabelah Rp 3 juta per tahun. Setiap hari Ma’mun menyeberangkan 100-150 orang warga dari desa di dua kabupaten yang terpisah oleh sungai terpanjang dan terbesar di Jabar itu. Sebanyak 40 orang di antaranya anak sekolah SMP dan SMA. Jalur itu merupakan jalan pintas anak sekolah, dari Bandung ke Cianjur. Jika lewat jalan darat harus melingkar sejah 20 kilometer karena harus melewati jembatan tol Citarum di jalan negara Jakarta-Bandung. Kalau lewat Citarum, jaraknya kurang dari setengahnya dan waktu tempuh pun relatif lebih cepat. “Dari dulu desa kami terisolasi sehingga Sungai Citarum menjadi jalur lalu lintas warga,” ujar Asep Sulaeman, warga Desa Margaluyu. Sebelum Waduk Cirata dibangun, warga desa ini lebih memilih pergi ke Cianjur lewat Citarum untuk memenuhi keperluan sehari-hari. Sebab menuju kota Kecamatan Cipeundeuy, walaupun jaraknya hanya 20 kilometer, jalannya turun naik lewat pegunungan dan perkebunan karet yang sering rusak. Kondisi itu hampir tidak pernah berubah hingga kini sehingga Sungai Citarum tetap menjadi lintas utama warga di kedua kabupaten itu. Dulu, penyeberangan ini menggunakan tambang yang dikerek secara manual. Setelah Pusat Listrik Tenaga Air (PLTA) Cirata beroperasi, keluarga Ma’mun menggantinya dengan perahu kayu bermesin Honda 5,5 PK. Keluarga Ma’mun menyediakan dua perahu untuk penyeberangan itu yang harganya masingmasing Rp 8 juta. Perahu kayu itu mampu bertahan rata-rata 2 tahun. Ongkos BandungCianjur ini hanya Rp 5.000 umum dan Rp 3.000 anak sekolah. “Tidak jarang pula mereka hanya bayar dengan, hatur nuhun. Tapi saya tidak apa-apa, itung-itung amal ibadah,” ujar Ma’mun. Pendapatannya sehari dari pukul 05.00-19.00 berkisar antara Rp 100-150 ribu. Dirundung masalah

44

Pencemaran dan sedimentasi merupakan masalah utama Citarum, sungai sepanjang 269 kilometer yang mengalir dari hulunya, Situ Cisanti, Gunung Wayang Bandung Selatan hingga Pantai Merdeka Muara Gembong, Kabupaten Bekasi. Menurut data Badan Pengelola Lingkungan Hidup Jawa Barat di daerah aliran sungai (DAS) Citarum tidak satu lokasipun yang kualitas airnya memenuhi kriteria mutu air baik untuk minum maupun kegiatan perikanan/pertanian. Pencemaran air sungai disebabkan oleh banyaknya air limbah yang masuk ke dalam sungai yang berasal dari berbagai sumber pencemaran yaitu dari limbah industri, domestik, rumah sakit, peternakan, pertanian dan sebagainya. Dari data kualitas air yang diukur, kondisi Sungai Citarum sudah masuk ke tingkat pencemaran berat. Banyak parameter kunci yang sudah melebihi baku mutu, baik dari limbah organik hingga kandungan logam berat. Sekitar 40 persen limbah Sungai Citarum, merupakan limbah organic dan rumah tangga. Sisanya merupakan limbah kimia atau industri dan limbah peternakan serta pertanian. Citarum juga dirundung sedemintasi yang tinggi dan diperkirakan mencapai 10 juta meter kubik pertahun. Sedimentasi dan erosi sudah berlangsung sejak hulunya yakni di Kecamatan Kertasari Kabupaten Bandung. Tokoh masyarakat dulu Citarum Dede Jauhari mengamati, semua itu akibat alih fungsi lahan dari yang seharusnya kawasan hutan konservasi daerah penangkap air, menjadi daerah pertanian semusim seperti sayuran. Sebagian besar budi daya tanaman berusia pendek itu dilakukan tanpa mengikuti kaidah-kaidah konservasi, sehingga menimbulkan erosi yang sangat tinggi terhadap sungai. Di Kertasari menurut camat Asep Ruswandi, terdapat 15.000 hektar lahan, 3.000 hektar di antaranya milik warga. Hampir 70.000 jiwa warga Kertasari adalah petani yang mengelolahan lahan hingga ke hutan berkemiringan di atas 30 persen. “Kami tidak bisa berbuat apa-apa kecuali mengimbau warga bahwa lahan itu adalah lahan negara,” ujarnya. Padahal air Citarum digunakan untuk tiga PLTA yakni Saguling (700-1.400 Megawatt), Cirata (1.008 MW) dan Jatiluhur (187 MW). Menurut data Citarum Fact Sheet, Cita-Citarum, dari tiga PLTA menghasilkan energi setara bahan bakar minyak sebanyak 16 Juta ton/tahun. Namun sekitar 4 juta meter kubik lumpur masuk ke waduk Saguling. Kemudian, rata-rata tahunan sampah yang disaring oleh Unit Bisnis Pembangkit Saguling mencapai 250.000 meter kubik tahun. Terus turun Sedimentasi kemudian masuk ke Waduk Cirata di hilir Saguling. “Penelitian tahun 2007 sedimentasi di Cirata 7,41 juta meter kubik per tahun, sebelumnya hanya 5,5 juta meter kubik,” ujar Asisten Analis Hidrologi dan Sedimentas (BPWC) Tuarso. Berdasarkan perhitungan BPWC, dengan sedimentasi setinggi itu waduk yang didesain berusia 100 tahun itu akan berkurang 20 tahun. Danau yang menghasilkan daya listrik 1.008 megawatt untuk interkoneksi Jawa-Bali itu beroperasi sejak 1987. Kementerian Kelautan dan Perikanan pernah mewacanakan mengeruk waduk untuk memperpanjang umur teknis/ekonomis waduk sekaligus mendukung perikanan waduk. Namun ongkos mengeruk waduk itu sekitar Rp 40.000 per kubik. Jadi kalau 7 juta kubik berarti 7.000.000 x 40.0000 = Rp 280 miliar pertahun. Kemudian muncul masalah baru, lumpur yang sudah dikeruk akan disimpan dimana. Sebab sedimen ini kurang ekonomis dijadikan bahan kompos sebab 60 persennya lumpur. Akhirnya wacana pengerukan terus mengalir ke laut dan sedimentasi waduk itu terus berlangsung tanpa ada pengendalian. Ironis, karena seiring dengan lajunya pencemaran dan sedimentasi, derajat kehidupan puluhan juta manusia yang hidup di DAS Citarum juga terus turun.

45

Ekspedisi Citarum

"Emas Putih" Bandung Selatan
Gregorius Magnus Finesso | nurulloh | Rabu, 27 April 2011 | 10:49 WIB BANDUNG. KOMPAS.com — Senja mulai merayapi Desa Tarumajaya Kecamatan Kertasari di lereng Gunung Wayang, Bandung selatan, Senin (21/3) petang. Mojang-mojang berbalut baju rajut dan beberapa anak kecil berduyun-duyun menenteng milk can, wadah susu berwarna perak dari baja tahan karat, menuju unit koperasi penampungan. Tawa kecil mereka menghangatkan hawa dingin yang kian menusuk tulang. Suasana bersahaja itu saban hari rutin terlihat di Desa Tarumajaya, dekat Situ Cisanti, hulu Sungai Citarum, Jawa Barat. Gambaran khas desa peternakan sapi perah yang merupakan salah satu mata pencaharian utama masyarakat pegunungan Bandung selatan. Bagi peternak, sapi perah merupakan tumpuan hidup. Untuk itu, seluruh anggota keluarga terlibat di dalamnya. “Biasanya yang mencari pakan rumput, kakak saya laki-laki. Kalau bapak membersihkan kandang dan memberi pakan, sedangkan ibu memerah susunya. Saya yang mengantarkan susu ke koperasi tiap pagi dan sore,” tutur Oneng (15), perempuan anak peternak sapi di desa Tarumajaya. Aceng (60) yang telah sekitar 20 tahun bergantung hidup dari penjualan “emas putih” mengatakan, beternak sapi perah memang modalnya cukup banyak. Ia mencontohkan, harga satu ekor sapi perah kualitas super yang dapat menghasilkan 20 liter susu per hari mencapai Rp 12 juta. Aceng yang mantan pegawai perkebunan kina di Kertasari, semula hanya memiliki dua ekor sapi yang dibelinya pada 1990 seharga Rp 10 juta. Dari ketekunannya, ia kini memiliki delapan ekor sapi, dua hektar sawah, dan bisa mendirikan sekolah mengaji di dekat rumahnya. Bahkan, dia naik haji dari beternak sapi perah. Untuk mendapatkan ternak sehat, Aceng sangat memerhatikan pakan dan kebersihan kandang. Pakan sapi lazimnya berupa campuran konsentrat dan rumput. Jika ditotal, menurut Aceng, biaya pemeliharaan delapan sapi miliknya sekitar Rp 240.000 per hari. Sedangkan harga susu dari koperasi Rp 3.000-Rp 3.300 per liter tergantung kualitas. Jika seekor sapi bisa menghasilkan rata-rata 14 liter per hari saja, dengan asumsi per liternya dihargai Rp 3.100, penghasilan kotor Aceng mencapai Rp 347.200. Dikurangi biaya pemeliharaan dan potongan koperasi, setidaknya Aceng mendapatkan Rp 100.000 per hari atau Rp 3 juta per bulan. “Asal tekun, dari beternak sapi bisa buat menabung. Kalau ada peternak enggak juga bisa berkembang biasanya karena malas memelihara pedet (anakan sapi). Padahal, memelihara pedet sama saja berinvestasi,” tutur Aceng. Sapi Unggul Sejak zaman pendudukan Belanda, Bandung selatan sudah menjadi salah satu sentra peternakan sapi perah. Haryoto Kunto dalam Wajah Bandoeng Tempo Doloe (1984) menyebutkan, sejak awal tahun 1800-an, sapi-sapi impor jenis unggul mulai didatangkan dari Friensland, “negeri leluhur” sapi perah di Belanda. Di Pangalengan peternakan saat itu dikelola perusahaan Belanda, De Friesche Terp, Almanak, Van Der Els dan Big Man. Susunya ditampung dan dipasarkan Bandoengche Melk Centrale (BMC) yang hingga kini masih berdiri di Pusat Kota Bandung. Begitu banyaknya sapi-sapi bibit unggul dari wilayah Friesland Belanda yang diternakkan di Pangalengan, daerah ini pernah disebut “Friesland in Indie” atau Friesland-nya Hindia (Indonesia). Setelah masa penjajahan Jepang, para peternak Pangalengan mendirikan koperasi pertama pada 1949 dengan nama Gabungan Petani Peternak Sapi Indonesia Pangalengan (Gappsip).

46

Pada 1961, Gappsip tak mampu menghadapi labilnya perekonomian dan tata niaga persusuan yang dikuasai tengkulak. Saat itulah, Daman Danuwidjaja (alm) dan beberapa tokoh masyarakat Pangalengan mendirikan Koperasi Peternakan Bandung Selatan (KPBS). Pembangunan instalasi milk treatment mampu menangkal ulah tengkulak. KPBS pun berkembang pesat dengan jumlah karyawan saat ini mencapai 250 orang. Begitu pula peningkatan jumlah anggota dari sekitar 600 peternak menjadi 5.200 peternak. Ketua Umum KPBS Aun Gunawan mengatakan, populasi sapi milik anggota bertambah dari 2.000 ekor pada 1961, menjadi 22.000 ekor. Demikian halnya kapasitas produksi koperasi saat ini lebih kurang 135 ton per hari, dengan 95 persen merupakan susu segar. Dilema Limbah Walau begitu, geliat peternakan sapi perah di hulu Citarum bukannya tak meninggalkan persoalan lingkungan. Populasi sapi mencapai 6.000 ekor ternyata belum dibarengi manajemen pengelolaan limbah yang memadai. Keterbatasan lahan menyebabkan para peternak berpikir pendek dan membuangnya begitu saja ke aliran sungai tanpa diolah. Ini menyumbang persoalan sedimentasi yang terbawa sungai hingga ke daerah yang lebih rendah. Belum lagi kandungan bakteri eschericia coli (e-coli) yang menyebabkan gangguan kesehatan jika dikonsumsi. KPBS mencatat, dari sekitar 18.500 ekor sapi perah di seluruh Bandung selatan, volume limbah kotoran yang dihasilkan mencapai 8.600 ton per bulan! Pengamatan Tim Ekspedisi Citarum Kompas, pembuangan limbah ternak sudah dimulai 700 meter selepas Situ Cisanti. Ketua Masyarakat Peduli Sumber Air (MPSA), Dede Juhari, mengatakan, kondisi itu mebuat air Sungai Citarum tak memenuhi baku mutu air minum golongan A, yakni air yang dapat digunakan sebagai air minum secara langsung tanpa pengolahan terlebih dulu. Padahal, dengan membuang limbah ternak begitu saja, peternak membuang kesempatan mendapat nilai tambah dengan mengolahnya menjadi biogas dan pupuk. Mengenai persoalan limbah kotoran, Aun mengatakan, pihak KPBS berencana memaksimalkan pengolahan kotoran sapi menjadi pupuk organik. Pupuk tersebut di antaranya bisa disalurkan memenuhi kebutuhan perkebunan teh di Pangalengan. Ia juga berharap, pemerintah membantu pembiayaan pembuatan reaktor biogas dari limbah sapi. Selain pembuangan limbahnya yang disorot, peternak juga didera persoalan harga susu yang tak kunjung naik. Sudah dua tahun ini, harga jual susu dari koperasi ke industri pengolahan susu (IPS) seharga Rp 3.500-Rp 3.700 per liter. Ini paling rendah di Asia Tenggara. Di Filipina, harga dari peternak ke koperasi sekitar Rp 4.800 per liter. Di tingkat yang sama, harga di Thailand sekitar Rp 5.022 per liter, di Vietnam Rp 4.000 per liter, dan Malaysia sekitar Rp 5.400 per liter. Sementara itu, Ketua Gabungan Koperasi Susu Indonesia Dedi Setiadi yang juga ketua Koperasi Peternakan Susu Bandung Utara (KPSBU) mengakui, negosiasi kenaikan harga dengan kalangan IPS masih alot. Peran pemerintah juga sangat minim dalam menengahi persoalan ini. “Satu-satunya jalan yakni dengan mengoptimalkan industri hilir pengelolaan mandiri yang sudah dimiliki KPBS dan KPSBU. Tentunya, didahului penetrasi pasar yang intensif. Sehingga lambat laun, peternak dan koperasi tak lagi terlalu bergantung pada IPS,” ujar Dedi. (Gregorius M Finesso/Didit Putra/Mukhamad Kurniawan) Ekspedisi Citarum

Dilema Industri Tekstil

Gregorius Magnus Finesso | nurulloh | Rabu, 27 April 2011 | 11:03 WIB

47

BANDUNG, KOMPAS.com — Banjir tahunan Sungai Citarum di Cekungan Bandung menimbulkan dilema bagi sekitar 600 industri tekstil dan produk tekstil yang berlokasi di sepanjang daerah aliran sungai itu. Kendati dituduh sebagai salah satu penyumbang pencemaran Citarum, ada keterikatan ekonomi kuat antara industri dan masyarakat selama puluhan tahun. Ini sebabnya wacana relokasi tak mudah diwujudkan. Padahal, industri tekstil dan produk tekstil (TPT) yang menjadi penopang roda ekonomi di Majalaya, Baleendah, Banjaran, Dayeuhkolot hingga Rancaekek Kabupaten Bandung itu diperkirakan merugi hingga Rp 60 miliar per tahun tiap banjir melanda. Selain itu, infrastruktur jalan yang rusak dan semakin terhimpit permukiman penduduk memicu biaya ekonomi tinggi. Bahkan, Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Jawa Barat Deddy Wijaya mengatakan, saat banjir Citarum melanda selama sebulan penuh, Maret 2010 silam, kerugian semua jenis industri di Kabupaten Bandung, Purwakarta, dan Karawang mencapai Rp 200 miliar. Kerugian dialami lebih dari 200 perusahaan. Selain TPT, pabrik-pabrik yang berhenti operasi bergerak dalam bidang otomotif, elektronik, dan tekstil. Ketua Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) Ade Sudradjat mengatakan, bencana banjir di wilayah Bandung selatan semakin parah terjadi sejak awal 2000. Selain berhenti beroperasi, industri TPT juga harus menanggung upah buruh yang libur selama banjir, kerusakan bahan baku dan mesin, serta denda dari importir akibat keterlambatan pengiriman. “Untuk mengejar tenggat waktu pengiriman, pengusaha terpaksa mengirimkan barang melalui pesawat yang harganya enam kali lebih mahal dibandingkan lewat jalur laut,” ujar Ade yang juga mantan Ketua API Jabar tersebut, akhir Maret lalu. Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Kabupaten Bandung Jimmy Kartiwa tak menyanggah, saat banjir besar tahun 2010, ada beberapa pabrik tutup akibat keuangannya goyah karena tidak beroperasi selama banjir. Dalam kondisi persaingan dengan China paskaperdagangan bebas, banjir membawa dampak yang lebih besar. Sebab, menurut Jimmy, jika industri TPT lokal tak mampu memenuhi pesanan karena terhambat banjir, pembeli luar negeri akan beralih ke produk China yang harganya lebih murah. Daerah Bandung selatan mulai menjadi sentra TPT sejak sekitar 1970. Wilayah tersebut menjadi penyumbang utama ekspor tekstil nasional. Dari data API, ekspor tekstil nasional tahun 2010 mencapai 11,2 miliar dollar AS atau sekitar Rp 100,8 triliun. Sementara pangsa pasar lokalnya mencapai Rp 4,5 triliun. Sekitar 60 persen dari omzet sebesar Rp 105,3 triliun tersebut, atau Rp 60 triliun disumbang Jabar. Dari angka itu, Rp 40 triliun di antaranya merupakan nilai penjualan produk TPT di wilayah Bandung dan sekitarnya. Sumbang Pencemaran Kendati demikian, dari sisi lingkungan, kehadiran industri TPT kerap dituding sebagai penyumbang pencemaran DAS Citarum. Mereka diduga tidak mengoperasikan instalasi pengolahan air limbah (IPAL) yang baik, bahkan sebagian besar membuang limbahnya secara langsung ke sungai Citarum tanpa diproses terlebih dulu. Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Bandung pernah melansir, kondisi baku mutu air Citarum di sekitar areal pabrik tekstil sudah sangat buruk. Setiap hari, sekitar 1.320 liter per detik atau setara dengan 270 ton per hari limbah dibuang dari industri-industri di sepanjang DAS Citarum di kawasan Kabupaten Bandung. Padahal, berdasarkan Surat Keputusan Gubernur Jawa Barat Nomor 39 Tahun 2002, limbah hasil industri harus melalui pengolahan agar sesuai dengan baku mutu yang aman bagi lingkungan.

48

Realita ini tidak ditampik oleh pihak pengusaha. Ade mengakui, dari sekitar 600 industri TPT di DAS Citarum, hanya 10 persen di antaranya saja yang sudah mengoperasikan IPAL sesuai standar. Kebanyakan yang menyumbang limbah adalah industri subsektor pencelupan (dyeing) yang jumlahnya sekitar 35 persen dari seluruh usaha TPT di kawasan itu. Selain pencelupan, subsektor TPT lain yakni spinning (pintal), weaving (tenun), knitting (perajutan), pengecapan dan garmen. “Sebenarnya bisa saja dibuat IPAL terpadu yang biayanya mencapai Rp 100 miiar dan bisa diakses 30 industri. Namun, jika tidak dibantu pemerintah, tetap saja pengusaha akan berhitung untung ruginya,” terangnya. Wacana Relokasi Saat ini, untuk bertahan di tengah bencana banjir, pihak API secara swadaya telah membuat kirmir hijau dari akar wangi sepanjang 18 kilometer di wilayah Majalaya. Rencananya, pembuatan kirmir akan dilanjutkan sepanjang 15 km lagi ke arah Baleendah. Kendati belum maksimal, hal ini menurut Sekretaris API Jabar Kevin Hartanto, dapat menekan banjir di Majalaya. Jika lima tahun lalu, banjir di Majalaya setinggi 1,5 meter, sekarang tinggal 20-30 sentimeter. Akibat terus menerus didera bencana banjir, investasi TPT sekitar Rp 80 triliun di Cekungan Bandung terancam. Ini memunculkan wacana relokasi besar-besaran industri TPT. Dari sekian banyak daerah yang ditawarkan, Kabupaten Majalengka menjadi alternatif utama. Ini sejalan dengan rencana tata ruang Pemprov Jabar yang berencana menjadikan Majalengka sebagai kluster industri. “Lebih baik relokasi gradual. Awalnya, yang dipindah adalah industri pencelupan tekstil terlebih dulu. Lagipula, industri jenis ini tidak banyak menyerap tenaga kerja. Pada saatnya, ketika sumber daya pendukungnya sudah memenuhi, sebagian industri TPT yang memadati Cekungan Bandung ini pasti setuju untuk pindah ke sana,” katanya. Ekspedisi Citarum

Potret Pendidikan Sekeruh Air Citarum

Herlambang Jaluardi | nurulloh | Kamis, 28 April 2011 | 12:20 WIB BANDUNG, KOMPAS.com — Sungai Citarum boleh berpredikat mentereng sebagai sungai pemasok air untuk kebutuhan ibukota Jakarta dan menjadi andalan bagi pertanian sayurmayur untuk tiga provinsi: Jawa Barat, Banten, dan DKI Jakarta. Tetapi di balik kemilaunya itu, masalahan pendidikan di daerah aliran sungai itu sama keruhnya dengan warna air yang telah tercemar. Tengok saja di Kecamatan Kertasari, Kabupaten Bandung yang menjadi lokasi hulu sungai. Di kecamatan berpenduduk 66.000 jiwa yang kesibukan transaksi sayur-mayur dan pemerahan susu sapi berlangsung hampir 24 jam setiap hari itu, sebanyak 68 persen penduduknya lulusan sekolah dasar. Lulusan SMP sebanyak 10 persen, dan lulusan SMA 18 persen. Dengan kondisi semacam itu, Kecamatan Kertasari adalah kecamatan paling bontot dalam hal indeks pembangunan manusia dibandingkan 30 kecamatan lainnya di Kabupaten Bandung. Padahal, kecamatan ini punya dua sekolah SMA negeri, dan juga dua SMP negeri, belum lagi beberapa sekolah swasta, yang menurut Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Bandung, Juhana, jumlahnya lebih banyak dibandingkan sekolah negeri. Iwan Rachman (21) adalah salah seorang anak muda yang hanya lulus dari sekolah dasar. Saat masih bersekolah, Iwan sudah membantu orang tuanya yang menjadi pedagang sayur. Setelah menamatkan SD, ia bekerja di tempat pencucian wortel milik pamannya. “Sejak SD saya sudah bekerja membantu orang tua. Setelah tidak lagi sekolah, saya meneruskan bekerja, dengan upah seadanya,” ujar Iwan.

49

Setelah dirasa kurang mencukupi kebutuhan sehari-harinya, Iwan merantau ke Jakarta. Tiga bulan bekerja di pabrik perakitan alat elektronik, ia tidak betah. Ia pun pulang kampung dan kini bersama pamannya mengelola pencucian wortel. “Kerja di kampung lebih enak. Pengeluarannya tidak sebanyak di Jakarta,” katanya enteng. Pandi (50), adalah petani daun bawang di Desa Sukapura, Kecamatan Kertasari. Ia juga hanya lulus dari sekolah dasar. Putri sulungnya, yang kini sudah punya dua anak, juga tamatan SD. “Dia waktu itu pilih kerja bantu orang tua. Teman-temannya juga banyak yang seperti itu,” kata Pandi. Namun, belakangan Pandi mengaku menyadari bahwa pendidikan adalah bekal penting bagi kehidupan anak-anaknya. Ketiga anak lainnya pun ia dorong untuk mementingkan sekolah. Alhasil, anak kedua dan ketiganya lulus SMP. Sedangkan anak bungsunya bisa merampungkan SMA, dan kini bekerja di Bandung sebagai penjaga supermarket. Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Bandung, Juhana, mengakui rendahnya tingkat pendidikan di Kecamatan Kertasari turut mempengaruhi tingkat indeks pembangunan manusia. “Permasalahannya adalah, masyarakat Kertasari adalah masyarakat pertanian dengan aktivitas tinggi. Mungkin para orang tua kurang bisa memotivasi anak-anaknya untuk bersekolah sehingga tingkat pendidikan masyarakat sana rendah,” kata Juhana. Ia menjelaskan, instansinya akan menggenjot program kesetaraan kejar paket A hingga C. Pelaksanaannya, lanjut dia, tidak harus berada di kelas, melainkan bisa langsung di lokasi kebun. “Sebenarnya program ini sudah ada. Hanya pelaksanaannya masih belum maksimal. Kami akan menambah tenaga pengajar,” katanya. Perahu Di bagian hilir, kondisinya tidak lebih baik. Minimnya sarana trasnportasi menjadi kendala yang tidak bisa dipandang sebelah mata. Di Desa Pantai Bahagia, Kecamatan Muaragembong, Kabupaten Bekasi, misalnya, anak sekolah masih memanfaatkan perahu untuk mengantar mereka dari sekolah ke rumah, dan sebaliknya. Tim ekspedisi tiba di depan SD Pantai Bahagia 2 pada siang yang menyengat menjelang bubaran sekolah. Di depan gerbang sekolah itu, tertambat perahu kayu bermesin di tepi sungai. Kurang dari setengah jam, para siswa yang umumnya anak nelayan itu keluar dari sekolah dan naik ke perahu. Riak gelombang di sungai setelah perahu itu bergerak mengguratkan potret pendidikan yang keruh. “Perahu itu dibeli tahun 2010 menggantikan perahu sebelumnya yang rusak. Harganya Rp 95 juta,” kata Abdul Muin, Kepala SD Pantai Bahagia 2. Sekolah yang dipimpin Muin berada sekitar enam kilometer dari Muarabendera, salah satu muara Sungai Citarum sebelum bersinggungan dengan Laut jawa di perbatasan Karawang dan Bekasi. Menurut Muin, keberadaan perahu sangat penting bagi para siswa. Sebab, sekolah itu berada di sebuah delta dengan akses jalan darat amat terbatas. “Sebelum ada perahu, murid berjalan kaki dengan radius tiga hingga enam kilometer. Mereka terpaksa berangkat lebih awal agar bisa masuk tepat waktu. Dengan jam belajar yang dimulai pukul 7.30, siswa harus berangkat dari rumah setidaknya jam 5.30,” ucap Muin. Kondisi itu mengakibatkan tingkat kehadiran siswa di SD Pantai Bahagia 2 relatif rendah. Dalam sebulan, rata-rata seorang siswa bolos 2-3 hari. Untuk menjaga prestasi siswa tetap baik, gurulah yang bekerja keras. Mereka tetap memberikan materi yang tertunda kepada siswa yang rumahnya kebanjiran. “Untunglah selama ini bisa teratasi. Dari 35 siswa kelas enam tahun lalu, semuanya lulus dan melanjutkan ke SMP atau MTS,” lanjut Muin. Tak lulus Namun, kondisi infrastruktur yang buruk tetap menjadi kendala utama bagi proses belajarmengajar. Jika jalur darat diperbaiki, perjalanan menuju sekolah bisa lebih cepat. Bagi guru

50

dan siswa yang rumahnya tidak dilintasi jalur perahu, mereka tetap bisa ke sekolah dengan jalur darat. Jalur darat yang ada saat ini berupa jalan tak beraspal, berbatu dan penuh lubang. Saat hujan turun, jalur itu selalu tergenang dan becek. Tidak ada angkutan umum yang melintasi jalur tersebut. Sekolah telah meminta pemerintah setempat menyediakan perahu untuk guru, tetapi belum disetujui. Perahu bagi siswa sekarang ini juga hasil sumbangan dari komite sekolah. Kondisi jalan rusak juga menjadi hambatan bagi Monika (15). Siswa yang semestinya kini telah lulus SMP itu urung menamatkan sekolahnya lantaran gagal berangkat ke ujian akhir. Dari rumahnya di Desa Muarajaya, Kecamatan Muaragembong, sekolahnya berjarak sekitar 15 km. Rumah Monika berbatasan langsung dengan laut lepas, atau berada di ujung muara Citarum. Jalan beton di kampungnya rusak berat sehingga tukang ojek emoh masuk ke sana. Untuk menuju terminal terdekat, ia harus berjalan kaki sejauh 2 km. “Untuk mengangkut anak sekolah, sering kali ojek keberatan karena harganya yang lebih murah. Anak sekolah dihargai Rp 10.000, sedangkan orang umum Rp 20.000,” kata Sukandi (40), ayah Monika yang sehari-harinya mencari rajungan di laut lepas. Karena biaya transportasi yang mahal itulah, ketujuh anak Sukandi tidak ada yang lulus SMP. Dari lima anaknya yang sudah bersekolah, semua tamatan SD. Penghasilan sehari-hari Sukandi sebagai nelayan tak cukup memenuhi biaya hidup dan transportasi yang tinggi. Dalam sehari, ia sudah bersyukur bisa meraih 1 kg rajungan yang dijual Rp 23.000. Namun, dalam kondisi laut tercemar dan cuaca ekstrem, sering kali ia harus puas dengan 4 ons rajungan. Jika sudah begitu, demi urusan perut, pendidikan harus dikalahkan... (Rini Kustiasih dan Herlambang Jaluardi) Ekspedisi Citarum

Tukang Kawal Banjir Majalaya

Rini Kustiasih | nurulloh | Kamis, 28 April 2011 | 11:38 WIB BANDUNG, KOMPAS.com — Riki Waskito (34) menyadari bahwa sekadar mengharapkan bantuan dari pemerintah untuk menanggulangi banjir tahunan di Kecamatan Majalaya, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, adalah mimpi di tengah hari. Setiap kali banjir, warga selalu telat memperoleh informasi dan peringatan, sehingga rumah telanjur diterjang air bah berikut perabotnya. Setelah beberapa waktu banjir merendam, tim evakuasi pun baru datang. Kondisi itu membuat pemuda di Majalaya memutar otak. Beberapa elemen pemuda di sana sepakat untuk membuat operasi banjir menyelamatkan warga dan harta bendanya dari terjangan bah. Jika sebelumnya setiap pemuda sibuk sendiri menyelamatkan keluarga masing-masing, kini terpikirkan untuk membuat sebuah gerakan yang lebih massal dalam mitigasi dan evakuasi saat bencana. “Kami yang berlatar belakang pencinta lingkungan dan gemar naik gunung lalu sepakat bertemu. Saat itu kami masih tergabung dalam Sasak Kondang, kelompok pemuda di Kampung Kondang, Majalaya, yang menyukai kegiatan luar ruangan (outdoor),” katanya. Diberi nama Sasak (Sunda) yang artinya jembatan, karena puluhan pemuda itu tinggal di kampung yang berdekatan dengan Jembatan Majalaya. Jembatan itu melintas di atas Sungai Citarum. Kelompok yang didirikan tahun 2002 itu menjadi cikal bakal berdirinya Garda Caah. Caah (sunda) yang berarti banjir, sehingga Garda Caah artinya garda banjir. Pada 2007, pertemuan antarkelompok pemuda semakin intensif. Pemuda Majalaya Sasak Kondang lalu bergabung dengan Forum Komunikasi Pencinta Alam Kabupaten Bandung. “Saat itu semangat kami berapi-api setelah terinspirasi dari pelatihan Gladian Panji Geografi yang diadakan oleh Wanadri,” kata Riki yang merupakan salah satu pelopor berdirinya Garda Caah. Satu demi satu, kelompok lain di Majalaya dan Kabupaten Bandung ikut bergabung, seperti Komunitas Peduli Lingkungan, Generasi Muda Majalaya, dan Pencinta Alam LeuwidulangMajalaya. Pada 1 November 2008, lahirlah operasi Garda Caah.

51

Upaya Sederhana Jalannya operasi itu sebenarnya relatif sederhana, yakni dengan basis perkuatan informasi. Jumlah relawan yang ketika itu mencapai 60 orang semua bersiap di rumah dan wilayah masing-masing. Jalur informasi yang dibangun ialah antara relawan yang berada di bagian hulu dan hilir Citarum. Yang termasuk kawasan hulu yakni Pacet dan Cibeureum, sedangkan di kawasan hilir ada Majalaya dan Ciparay. “Jika hujan deras di bagian hulu lebih dari dua jam, relawan yang di hulu segera menginformasikan hal itu kepada relawan di hilir. Artinya, banjir akan datang dan warga hilir diminta kesiapannya untuk mengungsi serta tidak lengah,” kata Riki. Informasi itu disampaikan melalui pesan singkat telepon selular. Penerima pesan di hilir segera menyebarkan kabar itu dan menetapkan status keamanan. “Jika di hulu waspada, kami di hilir menetapkan siaga. Status di hilir selalu dibuat lebih tinggi agar ada persiapan ekstra menghadapi kemungkinan terburuk dari banjir yang datang,” ujar Riki. Informasi akan datangnya banjir dari kawasan hulu kemungkinan kecil keliru, sebab relawan di sana juga berkoordinasi dengan petugas lapangan dari Dinas Pengelolaan Sumber Daya Air (PSDA) Kabupaten Bandung yang ditugaskan memantau ketinggian air Citarum di Majalaya. Adang Suhendar, nama petugas itu, selalu mengabari Garda Caah setiap kali permukaan air Sungai Citarum meninggi. Saat mengudara, Adang dikenal sebagai "Abah Uyut" dan berpasangan dengan istrinya, Ayuningsih, yang akrab dikenal sebagai "Mak Uyut". Dalam operasinya, para pemuda ini menggandeng Radio Antarpenduduk Indonesia Lokal IV Wilayah Majalaya. Sejumlah tokoh dan pengusaha lokal pun membantu dengan menyumbang 11 handy-talkie. Alat itu dibagikan kepada pemuda yang menempati empat desa yang rawan di Majalaya, yakni Majalaya, Majakerta, Majasetra, dan Sukamaju. Informasi soal banjir Majalaya bahkan terdengar sampai Karawang. Setelah relawan mengetahui kondisi lapangan, mereka menyebarkannya kepada tokoh kampung, RT dan RW. Semua warga diimbau bersiaga mengungsikan harta bendanya, atau memasang tanggul pasir di depan rumah. Warga yang sedang lelap di malam hari pun dibangunkan agar bersiap menghadapi banjir. Sering kali banjir datang tak terduga di malam hari. Pada beberapa kejadian, warga lanjut usia sering terlupakan saat mereka lelap tidur. Akibatnya, ada yang terjebak atau luka-luka saat berusaha keluar dari rumahnya yang terkepung air dan lumpur. “Tujuan awalnya memang pemberian informasi, sehingga ada kesiapan warga dan memperkecil jatuhnya korban,” ungkap Riki mengemukakan tujuan dasar garda banjir itu. Namun, pada praktiknya, relawan Garda Caah juga pontang-panting di lapangan. Seperti pekerja serabutan, mereka mengerjakan apapun yang bisa dilakukan saat bencana tiba. Mereka turut mengangkati bantuan, membersihkan rumah yang terendam lumpur, membersihkan selokan dari lumpur, membersihkan jalan, sampai membawakan barangbarang berharga milik warga. Peralatan yang digunakan pun seadanya, seperti sekop, cangkul, tambang dan pelampung pinjaman. Upaya Riki dan kawan-kawannya tak sia-sia. Pada banjir besar 12 November 2008, misalnya, tak ada korban jiwa dan warga yang terluka minim. Warga sudah banyak sedia karung pasir ataupun sudah keluar dari rumah saat banjir tiba. Hasilnya, 4.231 warga kecamatan itu selamat, sekalipun tinggi lumpur sampai satu meter di beberapa titik. Banjir lumpur itu merupakan yang terbesar di Majalaya setelah banjir tahun 1986. Giat Sosialisasi Mengetahui peran krusial generasi muda dalam mengantisipasi banjir, Riki dan kawankawannya di Garda Caah memasuki ranah pendidikan. Riki ikut menyosialisasikan pentingnya menjaga kebersihan dan kelestarian Citarum kepada anak-anak sekolah. Dalam setiap

52

sosialisasi, ia membuat brosur atau pamflet yang berisi informasi singkat soal Citarum dan hal-hal sederhana yang bisa dilakukan oleh warga. “Kebiasaan membuang sampah, misalnya, masih banyak orang yang tidak disiplin dengan membuang sampah sembarangan ke dalam sungai. Tetangga saya sendiri pernah saya tegur, tetapi karena yang bersangkutan tidak terima lalu sampai mau memukul saya,” ujarnya mengenang. Untuk keperluan operasional dan sosialisasi kepada warga, Riki dan kawan-kawannya menggalang dana dari kantong pribadi. Latar belakang pekerjaan anggota Garda Caah beragam, ada yang menjadi pekerja pabrik, wiraswasta, pegawai negeri, atau pekerja swasta seperti Riki yang bekerja di sebuah tempat percetakan di Buah Batu, Kota Bandung. “Dengan keterbatasan dana dan waktu yang ada, operasi Garda Caah harus terus berjalan. Pembagian tugas di antara anggota menjadi kuncinya,” ungkap bapak satu anak tersebut. Saat tidak ada banjir, Garda Caah mendata penduduk sekali dalam setahun. Pendataan itu dilakukan secara detil, seperti berapa banyak warga yang sedang mengandung, memiliki anak kecil, merawat orang lanjut usia dan warga dengan keterbatasan fisik. Rumah masing-masing warga pun ditandai, seperti berapa banyak belokan menuju ke sana, belokasi pada ketinggian berapa meter, sampai jarak lokasinya dengan sungai. Data-data itu diperlukan untuk evakuasi warga. “Ada juga warga yang mengira pendataan itu untuk keperluan penyaluran bantuan, padahal tidak,” ungkapnya. Di sela-sela kesibukannya, Riki mesti bergulat dengan penyakit yang dideritanya. Sedari kecil, lelaki sederhana tamatan SMA ini menderita rasa panas di kedua kakinya. Dokter yang memeriksanya tidak bisa memberikan diagnosa yang pasti atas kasus Riki. Rasa panas yang dideritanya itu sampai membuat kedua kakinya merah dari bawah lutut sampai telapak kaki. Sejak di sekolah, ia pun tak bisa mengenakan celana panjang. Pada titik ekstrem, ia sampai tak bisa berjalan karena panas di kakinya. “Kemungkinan ada masalah dengan syaraf saya,” tuturnya. Namun, dengan segala keterbatasan fisik yang dialaminya, Riki tak kecil hati. Hingga kini, ia masih teguh memegang baiat sebagai “pengawal” banjir Majalaya... *** Riki Waskito Tempat dan Tanggal Lahir: Majalaya, 15 Mei 1977 Istri: Septi Susanti (25) Anak: Jati Guna (8 bulan) Pengalaman pelatihan: - Gladian Panji Geografi Wanadri (2007) - Pelatihan evakuasi bencana oleh Kopassus (2008)

Ekspedisi Citarum

Majalaya, Seabad Geliat Tekstil Rakyat
Gregorius Magnus Finesso | nurulloh | Kamis, 28 April 2011 | 11:58 WIB BANDUNG, KOMPAS.com — Memasuki Kecamatan Majalaya di Kabupaten Bandung, sebatas mata memandang hanya menyapu tembok pabrik-pabrik kusam berlumut, bekas endapan lumpur banjir. Udara kotor berdebu menyelimuti jalan-jalan sempit yang banyak bolongnya. Semrawut lalu lalang dokar menggantikan geliat kawasan yang pernah menyandang julukan “Kota Dollar” karena kiprah tekstil rakyatnya itu. Matahari di atas alun-alun Majalaya belum terlalu terik kala Didin (27) beristirahat di bangku dokar miliknya, Kamis (24/3). Sebagai penarik dokar, paras pemuda itu kelewat bersih. Celana jins dan sandalnya bermerek. Lebih mirip seorang anak kuliahan.

53

“Saya beli dokar ini dua tahun lalu seharga Rp 1,5 juta. Waktu itu, bapak beli lima dokar, empat yang lain disewain ke tetangga. Saya yang disuruh mengurus setoran hariannya,” tutur anak salah satu juragan dokar di daerah aliran sungai (DAS) Citarum itu. Lima dokar itu dibeli ayah Didin dengan uang hasil menjual mesin tenun kuno merk Suzuki yang diwariskan kakeknya. Awalnya, Misbun, ayah Didin, adalah salah satu perajin tekstil rakyat yang memiliki tiga mesin tekstil buatan Jepang. Saat badai krisis menghantam tahun 1999, satu per satu mesin dijual untuk modal usaha. Didin mengaku, sempat diajari ayahnya mengoperasikan mesin tenun. Walau pada akhirnya, ia lebih memilih menjadi juragan dokar karena melihat peluang usaha tekstil rakyat kian meredup. “Kalau bosan di rumah, saya baru narik dokar. Lumayan, sehari paling enggak dapet Rp 50.000. Kalau usaha tenun sekarang, kata bapak, modalnya besar, tapi untungnya belum tentu,” ujarnya polos. Penjualan mesin-mesin tenun bekas di Majalaya bukan hal baru. Ini diakui Deden Suwega (47), pemilik CV Sandang Makmur. Ia juga membenarkan banyak keturunan pengusaha tekstil yang gagal bertahan beralih profesi menjadi juragan dokar, pedagang pasar hingga petani. “Banyak mesin tekstil tua dijual di pasar. Bahkan ada yang dijual kiloan. Miris kalau saya melihat mesin-mesin itu teronggok di pasar loak. Padahal, Majalaya berhutang besar kepada mesin-mesin tua itu,” kata generasi ketiga pewaris salah satu usaha tekstil rakyat di tepian Sungai Citarum tersebut. Kota Dollar Ia masih ingat betul kisah kejayaan industri tekstil pada tahun 1960-an saat Majalaya dijuluki Kota Dollar. Untuk memenuhi bahan baku tenun maupun keperluan sehari-hari saat itu sangat mudah. Warga tinggal keluar rumah. Sudah banyak penjual mengantre layaknya semut merubungi ceceran gula. Tak dimungkiri, Majalaya adalah cikal bakal industri tekstil modern di Indonesia. Walau perkembangannya baru terasa tahun 1930-an dipelopori beberapa pengusaha tekstil lokal seperti Ondjo Argadinata dan Abdulgani, namun geliatnya sebenarnya telah dimulai sejak 1910. Saat itu, sudah ada perempuan-perempuan yang menekuni alat tenun kentreung atau banyak disebut gedhogan dengan bahan baku kapas dan bahan pewarna dari kebun. Namun, skalanya masih sangat terbatas, dan haya untuk konsumsi rumah tangga saja. Pada 1921, pemerintah kolonial Belanda mendirikan Textile Inrichting Bandeng atau kelak bernama Sekolah Tinggi Tekstil Bandung. Pada 1928, empat gadis asal Majalaya, Emas Mariam, Endah Suhaenda, Oya Rohana, dan Cicih dikirim ke Bandung untuk belajar tenun menggunakan alat tenun semi otomatis yang tidak membutuhkan listrik disebut alat tenun bukan mesin (ATBM). Emas, Endah, dan Oya-lah yang kelak mewariskan teknik tenun dan membangun dinasti-dinasti usaha tekstil rakyat Majalaya. Pascakemerdekaan, Majalaya disiapkan Pemerintah Indonesia menjadi pusat tekstil nasional guna memenuhi kebutuhan sandang, yang kala itu masih ditopang impor. Matsuo H (The Development of Javaneses Cotton Industry, 1970) menuliskan, industri tenun Majalaya mencapai puncak kejayaan pada awal 1960-an. Saat itu, mereka memproduksi 40 persen dari total produksi kain di Indonesia. Akhir 1964, Majalaya menguasai 25 persen dari 12.882 alat tenun mesin (ATM) di Jabar. Hampir seluruhnya berada di Desa Majalaya dan Padasuka (saat ini dimekarkan menjadi tiga desa: Sukamaju, Padamulya, dan Sukamukti). Deden menuturkan, pada zaman kejayaannya, menjadi pekerja di pabrik tenun merupakan pekerjaan paling popular di mata remaja setempat, bahkan ketimbang sektor pertanian. Sebab, penghasilan di industri tenun lebih tetap dan tidak bergantung musim. Bahkan, hingga 1970-an, sarung Majalaya begitu diminati, termasuk para pejabat seantero negeri. Terseok-seok

54

Gegap gempita tekstil rakyat mulai meredup ketika sekitar tahun 1980-an, dengan kekuatan finansialnya, pemodal-pemodal non-lokal Majalaya mulai marak mendirikan pabrik di kawasan tersebut. Ketidakmampuan industri tekstil lokal merestrukturisasi mesin-mesin tua ke mesin modern yang lebih efisien menurunkan daya saing. Perlahan, industri tekstil rakyat tersisih. Deden mencontohkan, orangtuanya, H Kamal Sabari, termasuk generasi pertama yang memiliki alat tenun mesin pada 1956. Kini, mesin-mesin berumur 55 tahun warisan ayahnya masih diandalkan Deden dan kebanyakan pengusaha tekstil rakyat lain. Padahal, tingkat efisiensinya sangat rendah. Tokoh pengusaha tekstil Majalaya Satja Natapura menyebutkan, saat krisis ekonomi mengguncang Indonesia pada 1998, hampir separuh usaha tekstil di Majalaya kolaps. Jika sebelumnya jumlah industri rakyat masih sekitar 250, setelah krisis menyusut jadi 130 pabrik. Bahkan, ia memperkirakan saat ini industri tekstil rakyat yang masih tersisa tak lebih dari 100 usaha. Kini, mereka yang tersisa hanya bertahan dengan ceruk pasar yang kian menyempit. Salah satunya mendompleng pasar sarung yang sudah punya nama. Tak heran ketika Lebaran tiba, banyak dijumpai merek-merek sarung seperti “Gajah Duku”, “Altas”, atau “Manggis”. Dalam skala terbatas, tekstil rakyat juga masih dipesan untuk membuat pakaian perlengkapan tentara, polisi dan pakaian sekolah. Meski demikian, Deden, Satja, dan sejumlah pewaris mesin tenun di Majalaya lain masih berupaya bertahan di tengah gempuran kapitalisasi industri yang kian liberal. Sempat bangkit, mereka tergopoh-gopoh lagi diterpa badai krisis ekonomi dan dihajar mekanisme perdagangan bebas. Berkali-kali sempoyongan mengikuti langgam zaman hampir seabad lamanya, Majalaya terus berusaha mempertahankan sejarah. Ekspedisi Citarum

Batuan Purba Penahan Erosi

Dedi Muhtadi | nurulloh | Jumat, 29 April 2011 | 11:24 WIB BANDUNG, KOMPAS.com — Sabtu (9/4) pukul 08.00, Mang Jumar (62) sudah turun ke Sungai Citarum untuk mengambil botol-botol plastik yang tersangkut di batuan air terjun Curug Jompong. Lebih dari 20 tahun pekerjaan itu dilakoninya. Setiap hari, dari botol-botol plastik bekas minuman ringan tersebut, ia meraih pendapatan sekitar Rp 10.000. Hanya berdua dengan tetangganya, Isur (35), Jumar mengais rezeki di air jeram yang terletak di Desa Jelegong, Kecamatan Pasirwangi, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, itu. Pasalnya, tak banyak orang yang mau berdiam lama di tempat yang berbau menyengat akibat berbagai limbah, kotor, sepi, dan terkesan angker tersebut. Biasanya mayat yang terdampar di Curug Jompong dalam kondisi rusak dan bau karena jatuh terbawa air dan tersangkut di batu. ”Jika melihat mayat, sebagian warga di pinggir Citarum hanya menonton dari jauh karena takut dimintai tolong mengangkatnya,” ungkap Jumar seraya menunjuk air terjun setinggi 10 meter yang jatuh ke batuan di bawahnya. Untuk mencapai air terjun ini, dari jalan desa harusmenuruni tebing yang hampir tegak sejauh 500 meter. Jalan setapak yang dibuat Jumar dipenuhi ilalang sehingga pejalan kaki tak mudah melewatinya jika tak membabat lebih dahulu. Sebelum sampai ke Curug Jompong, alur Citarum sepanjang 30 kilometer dari sentra industri Dayeuhkolot, Bandung, relatif datar. Aliran Citarum baru bergerak liar setelah berputar dan jatuh menjadi air terjun di Curug Jompong. Sejak menjadi kuncen di Curug Jompong 20 tahun lalu, Jumar sudah mengangkat 25 mayat, termasuk mayat mahasiswi yang dibuang di sungai itu beberapa tahun lalu.

55

Batuan purba di Curug Jompong itu terbentuk dari batuan dasit 4 juta tahun lalu. Letaknya di perbatasan Kabupaten Bandung dan Bandung Barat. Batuan dari gerakan magma itu muncul ke permukaan bumi, tetapi tidak meledak karena energinya lemah. ”Ribuan tahun lalu Citarum purba terbentuk dari letusan Gunung Sunda yang dahsyat, lalu membentuk Danau Bandung Purba,” ujar T Bachtiar, ahli geografi yang juga anggota Kelompok Riset Cekungan Bandung. Batuan purba ini hampir menutup lebar sungai dengan permukaan yang berundak-undak. Beberapa benjolannya menjulang 5-20 meter di Sungai Citarum sehingga aliran air ada yang berbelok sebelum terjun ke bawah. Saat kemarau, hampir semua batuan itu tampak dan air mengalir di sela-sela batu. Namun, pada musim hujan semua batu itu tertutupi aliran air Sungai Citarum. Penahan erosi Pada masa kolonial, Pemerintah Hindia Belanda menjadikan lokasi ini sebagai tujuan wisata. Itu tertulis dalam buku panduan wisata tahun 1927, Gids van Bandoeng en Midden-Priangan, door SA Reistma e WH Hoogland. Namun, puluhan tahun kemudian, tempat itu berubah jadi angker dan jarang dikunjungi. Kini, aliran air sungai ke Curug Jompong berwarna coklat dan berminyak. Warna dan aroma itu berubah-ubah sesuai pabrik tekstil itu tengah mencelup kain warna apa. Beberapa waktu terakhir, jeram di bagian tengah Citarum itu mengundang perdebatan banyak pihak. Sejumlah ahli ingin batuan purba itu dipapras untuk mengurangi genangan banjir di kawasan Baleendah dan Dayeuhkolot. Pendapat lain menilai pemaprasan hanya akan menyianyiakan peninggalan geologis Bandung Purba. Wacana pemaprasan itu kini kandas setelah Gubernur Jabar Ahmad Heryawan menegaskan tidak akan ”mengutak-atik” Curug Jompong. Bachtiar memprediksi, setiap tahun ada sekitar 4 juta meter kubik lumpur akibat erosi melintasi curug. Sebagian sedimen itu tersangkut di dasar batu. Sisanya, dengan volume lebih besar, masuk ke Waduk Saguling. ”Curug Jompong adalah filter alam bagi sedimentasi di Citarum sekalipun kemampuan itu terbatas. Curug itu juga mencegah erosi,” kata penulis buku Bandung Purba itu. Dengan morfologi itu, aliran air yang melewati rangkaian batu tersebut akan beriak dan terjun bebas ke bawah, membentuk air terjun kecil yang deras. Warga sekitar menyebut rangkaian batu itu curug (Sunda) yang berarti ’air terjun’. Curug Jompong terbentuk dari sisa lava gunung api sekitar 4 juta tahun lalu. Dalam buku Bandung Purba, Bachtiar menyebutkan, rangkaian gunung api berbatu keras itu membentang dari Gunung Puncaksalam, Pasir Kamuning, Pasir Kalapa, Gunung Lalakon, Pasir Malang, Gunung Selacau, Gunung Lagadar, Gunung Padakasih, Gunung Jatinunggal, sampai Gunung Bohong di selatan Cimahi. Rangkaian gunung itu disebut Bachtiar sebagai Pematang Tengah karena membatasi Danau Bandung timur dan barat. Sisa-sisa ”kegagahan” Pematang Tengah masih terlihat hingga kini di Curug Jompong. Batubatu raksasa mengelilingi tepian sungai seperti mangkuk yang jebol pada sebagian sisinya, air pun meluber jatuh. Jadi, tidak keliru jika Curug Jompong patut diselamatkan. (Rini Kustiasih dan Dedi Muhtadi)

Ekspedisi Citarum

Air Waduk Surut, Nelayan Bercocok Tanam
Mukhamad Kurniawan | Glori K. Wadrianto | Jumat, 29 April 2011 | 09:31 WIB

56

PURWAKARTA, KOMPAS.com — Ratusan nelayan tangkap di perairan Waduk Ir H Djuanda atau Waduk Jatiluhur di Kecamatan Tegalwaru, Maniis, dan Sukasari, Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat, beralih profesi menjadi petani, dua bulan terakhir. Surutnya air waduk menyulitkan akses nelayan ke lokasi penangkapan dan menurunkan hasil tangkapan. Jarak dari permukiman ke perairan bertambah dari hanya beberapa meter tahun lalu menjadi lebih dari 1 kilometer saat ini karena muka air waduk turun. "Sulit mencari tempat menambatkan perahu karena bekas area genangan berlumpur. Jika diinjak, kaki bisa terperosok hingga 0,5 meter," kata Acon Wiguna, Ketua Himpunan Nelayan Jatiluhur (Hinpujat), di Desa Galumpit, Kecamatan Tegalwaru, Jumat (29/4/2011). Hinpujat beranggotakan sekitar 400 nelayan dari sejumlah desa di tiga kecamatan, yakni Tegalwaru, Maniis, dan Sukasari. Tiga kecamatan itu berada di bagian selatan atau hulu Waduk Jatiluhur yang luasnya mencapai 8.300 hektar dan meliputi enam kecamatan di Kabupaten Purwakarta. Saat muka air waduk surut, area genangan di beberapa desa di tiga kecamatan itu yang pertama kali kering. Menurut Acon, sebagian besar nelayan beralih profesi menjadi petani padi, jagung, cabai, atau kacang panjang saat air surut. Mereka menanami sekitar 60 hektar daerah genangan waduk saat surut seperti sekarang. Jika beruntung, mereka bisa panen dan meraup untung hingga jutaan rupiah. Namun, tak jarang tanaman tergenang sebelum panen tiba karena muka air waduk naik lagi. Jeje, salah satu nelayan di daerah itu, kini menggarap sekitar 400 meter persegi di tepian waduk Kampung Galumpit. Bersama Ara, istrinya, Jeje menanam padi yang kini usianya telah satu bulan. "Mudah-mudahan 2-3 bulan ke depan tanaman selamat (tak tergenang) dan bisa dipanen," ujarnya. Saat sebagian besar nelayan beraktivitas, anggota Hinpujat bisa menghasilkan tangkapan hingga ratusan kilogram ikan per hari. Ikan yang tertangkap jaring sebagian besar adalah nila, mas, dan patin yang banyak dibudidayakan pembudidaya keramba jaring apung. Oleh pengepul, ikan-ikan tangkapan nelayan itu dipasarkan ke pasar-pasar di Purwakarta, Bandung, dan Jakarta. Rendahnya curah dan intensitas hujan di daerah aliran Sungai Citarum sejak awal tahun ini membuat tinggi muka air Waduk Saguling, Cirata, dan Ir H Djuanda terus turun mendekati titik kritis. Tinggi muka air (TMA) Waduk Saguling pada Rabu (9/3/2011), misalnya, berdasarkan catatan Perum Jasa Tirta (PJT) II, tercatat 630,23 meter atau 5,23 meter di atas titik terendah operasional waduk 625 meter. Sementara TMA Waduk Cirata 208,34 meter atau 2,34 meter di atas titik terendah, yakni 206 meter. Volume air efektif ketiga waduk juga lebih rendah dari rencana operasi. Volume air Saguling tercatat 92,51 juta meter kubik atau hanya 28,09 persen dari rencana, sementara Cirata 99,94 juta meter kubik (24,13 persen), dan Ir H Djuanda 1.123,32 juta meter kubik (80,62 persen). Secara umum, rata-rata debit aliran Citarum selama Januari 140,44 meter kubik per detik atau 92,76 persen dari rencana dan Februari 131,15 meter kubik per detik (72,86 persen rencana). Ekspedisi Citarum

Warga Bersihkan Rumah

Didit Putra Erlangga Rahardjo | nurulloh | Jumat, 29 April 2011 | 11:34 WIB BANDUNG, KOMPAS.com — Sebagian besar warga Baleendah dan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Kamis (28/4/2011), membersihkan rumahnya seiring surutnya

57

genangan hingga 50 sentimeter. Air tidak lagi masuk ke rumah warga seperti sehari sebelumnya yang mencapai 1,6 meter. Warga Kelurahan Bojongasih, Kecamatan Dayeuhkolot, misalnya, tampak sibuk membersihkan rumah. Mereka juga membersihkan saluran air agar genangan dapat dibuang. Nana Juhana, seorang warga, berharap ketinggian air tak kembali naik. Daerah Baleendah dan Dayeuhkolot yang dilintasi Sungai Citarum kerap dilanda banjir. Dalam data Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Bandung disebutkan, sekitar 9.000 rumah tergenang limpasan Sungai Citarum dengan ketinggian bervariasi dari 30 sentimeter hingga 1,5 meter. Jumlah pengungsi yang tercatat hingga Kamis siang mencapai 72 keluarga. Hujan deras yang mengguyur Bandung dan sekitarnya membuat Sungai Citarum meluap dan menggenangi ribuan rumah di Dayeuhkolot, Baleendah, dan Majalaya, Kabupaten Bandung, pekan ini. Hujan deras juga mengguyur wilayah Purwakarta. Di Kabupaten Purwakarta, para petani penggarap lahan genangan Waduk Jatiluhur di Desa Galumpit, Kecamatan Tegalwaru, mencemaskan tanamannya dilanda banjir Citarum. Jika debit air terus naik, tanaman bakal terendam dan petani rugi tenaga, waktu, dan modal. Sekitar 60 hektar area genangan waduk di Galumpit mulai ditanami padi, jagung, kacang panjang, dan cabai seiring surutnya air dua bulan terakhir. Daerah di bagian selatan Waduk Jatiluhur itu menjadi lahan garapan musiman warga setempat saat air waduk surut. Di Jawa Tengah bagian selatan, angin kencang disertai hujan deras dan petir masih mengancam hingga Mei. (GRE/ELD/MKN) Ekspedisi Citarum

Dari Citarum untuk Dunia...
Gregorius Magnus Finesso | nurulloh | Jumat, 29 April 2011 | 10:51 WIB BANDUNG, KOMPAS.com — Menyusuri lekukan lembah Sungai Citarum di Tatar Priangan, pandangan tak akan terlepas dari kebun teh yang menghampar bak permadani hijau raksasa. Di sela-selanya, lenggak-lenggok perempuan bercaping sigap memetik pucuk-pucuk daunnya seolah berkejaran dengan mentari. Berawal dari tetes keringat merekalah daun itu diolah hingga citarasanya termasyhur di berbagai belahan benua. ”Saya mah sudah jadi tukang petik daun teh sejak kecil. Turuntemurun dari zaman nenek saya,” tutur Euis (31), pemetik daun teh di Kebun Teh Kertamanah, akhir Maret lalu. Kendati penghasilannya tak bisa dibilang cukup, menjadi pemetik teh tetap dilakoninya. Euis rata-rata bisa memetik daun sebanyak 15 kilogram per hari yang dapat ia tukarkan dengan uang Rp 10.000 karena upak petik teh hanya Rp 625 per kg. Dengan demikian, dia berpenghasilan Rp 300.000 per bulan. Beruntung suaminya, Nasrudin (35), bekerja sebagai salah satu mandor kebun teh dengan bayaran Rp 600.000 per bulan. Dengan pendidikan yang relatif rendah, hanya tamatan SD, kebun teh menjadi gantungan hidup bagi Euis dan ribuan warga di sekitar areal perkebunan. Dan itu tak membuat mereka mengeluh. Seolah kebun teh dan pemetiknya telah direkatkan ikatan sosial budaya dan ekonomi sejak baheula. Tanaman teh memang menjadi salah satu kekhasan Bumi Priangan sejak lebih kurang 200 tahun lalu. Kontur geografis yang mirip dengan asalnya di daerah pegunungan Assam, India, China, Myanmar, dan Thailand membuat daun teh di wilayah ini punya citarasa tinggi. Di hulu Citarum, perkebunan teh terhampar mulai dari Kecamatan Pangalengan, Ciwidey, Cipeundeuy, Cikalong Wetan, Gambung, hingga Pasirjambu. ”Pangeran teh”

58

Berkembangnya perkebunan teh di Tatar Sunda tak lepas dari tangan dingin para ”pangeran teh” yang sejak 1840-an mengembangkan perkebunan teh di lereng-lereng pegunungan di Priangan, mulai dari Sukabumi hingga Garut. Para pengusaha itu, antara lain GIJ van der Hucht (1844), Karel Federik Holle (1865), Adriaan Walrafen Holle (1857), RE Kerkhoven (1873), dan KAR Bosscha (1896). Para pengusaha swasta Belanda ini dimungkinkan membuka perkebunan teh selepas dihapusnya masa tanam paksa (cultuur stesel). Selanjutnya Pemerintah Belanda pada 1870 mengeluarkan Undang-Undang Agraria yang membuka kesempatan seluasnya bagi pemodal swasta di sektor perkebunan. Menurut Sekretaris Eksekutif Asosiasi Teh Indonesia Atik Dharmadi, para pengusaha swasta itu berhasil memperbaiki sistem perkebunan teh di Priangan pascatanam paksa dengan sistem yang lebih modern. Keberhasilan tersebut membuat GIJ van der Hucht, Karel Federik Holle, Adriaan Walrafen Holle, RE Kerkhoven, dan KAR Bosscha dijuluki para pangeran kerajaan teh di Priangan (de thee jonkers van Preanger). Merekalah yang ”babat alas” ribuan hektar hutan untuk digarap menjadi kebun teh. Tercatat, pada 1930, dari 286 perkebunan teh di Pulau Jawa, sebanyak 249 kebun di antaranya berada di wilayah Priangan. Sejak itu, teh hasil perkebunan di Priangan mulai diekspor ke berbagai negara di benua Eropa. Pendorong kemajuan Berkembangnya perkebunan teh tak hanya membawa berkah bagi masyarakat di hulu Citarum dengan menjadi pemetik teh, pekerja pabrik, ataupun penjaga kebun. Kondisi tatar Priangan pun maju pesat. Hingga kini, perkebunan teh di Jawa Barat merupakan yang terbesar di Indonesia. Meski terus menyusut, luas areal perkebunan mencapai 97.138 hektar atau 70 persen dari luas areal perkebunan teh di Indonesia dan 50.137 hektar di antaranya adalah perkebunan teh rakyat. Sedangkan perkebunan negara seluas 25.899 hektar dan swasta 21.102 hektar. Setiap tahun, produksi teh dari provinsi ini menyumbang sekitar 80 persen produksi teh nasional. Sekitar 42 persen produksi teh Jabar dihasilkan dari kabupaten yang berada di hulu Sungai Citarum ini. Berdasarkan data Pusat Penelitian Teh dan Kina (PPTK) Gambung, Indonesia merupa- kan eksportir urutan kelima yang mengekspor rata-rata 98.500 ton teh per tahun senilai sekitar 130 juta dollar AS. Dari nilai tersebut, produk teh sekitar DAS Citarum menyumbang sekitar 30.000 ton senilai 38,33 juta dollar AS. Menurut Kepala Bidang Penelitian PPTK Gambung Rohayati Suprihatini, 75 persen teh produksi Indonesia merupakan teh hitam, yang hampir 95 persen di antaranya untuk ekspor. ”Kualitas teh hitam dari Kabupaten Bandung adalah yang terbaik ketiga di dunia setelah Sri Lanka dan India,” tuturnya. Meski demikian, banyaknya kebun teh dengan usia di atas 50 tahun membutuhkan penanaman kembali hingga revitalisasi. Data Dinas Perkebunan Jabar, sekitar 50.666 hektar kebun teh rakyat butuh revitalisasi untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas produksi. Selain peremajaan kebun, PT Perkebunan Nusantara XIII sebagai pengelola perkebunan negara kian fokus menangani industri hilirnya. Direktur Komoditi Teh PTPN XIII Agus Supriyadi menyebutkan, selain merek Walini yang kini jadi ikon produk teh di Bandung dan sekitarnya, pihaknya terus melakukan riset untuk mengembangkan teh premium dan siap saji. Teh Walini sendiri merupakan olahan daun teh dari beberapa kebun PTPN XIII yang selama ini juga menyuplai banyak produk teh dunia, seperti Lipton dan Sara Lee. Jadi, jika Anda menikmati secangkir teh di kafe ataupun di kamar hotel berbintang di London, Amsterdam, atau di Paris, jangan sampai salah memberikan sanjungan. Boleh jadi, teh bercitarasa tinggi itu dipetik dari kebun-kebun teh di lembah Sungai Citarum....

59

ALIH FUNGSI HUTAN

Ribuan Kantong Air di Hulu Citarum
Jumat, 29 April 2011 | 04:39 WIB ir niscaya bablas menuruni kemiringan lahan Kertasari, kawasan di hulu Sungai Citarum, di Kabupaten Bandung, Jawa Barat, yang curam dan gundul. Namun, seribu lebih embung mengantongi dan menyimpan air, menjadi sebagian sumber penghidupan warganya. Kertasari krusial sebagai daerah tangkapan air. Berada di kaki Gunung Wayang, kawasan Kertasari menjadi titik nol kilometer Sungai Citarum dengan tujuh mata airnya, yakni Pangsiraman, Cikoleberes, Cikawedukan, Cikahuripan, Cisadane, Cihaniwung, dan Cisanti. Air dari ketujuh sumber tertampung di Situ Cisanti, lalu mengalir ke hilir Sungai Citarum. Kertasari idealnya hijau dan rimbun oleh tanaman keras. Namun, perambahan lahan telah mendorong alih fungsi hutan dan perkebunan di kawasan itu menjadi ladang sayuran. Kini, 1.053 hektar lahan eks perkebunan kina telah berubah menjadi ladang sayuran. Sebagian ladang berada di kemiringan lahan lebih dari 50 derajat dan tanpa terasering! Ketua Lembaga Masyarakat Desa Hutan Tarumajaya Agus Derajat menyebutkan, dari sekitar 15.000 hektar luas Kecamatan Kertasari, hanya 1.000 hektar atau 0,6 persen di antaranya yang dimiliki warga yang jumlahnya 66.000 jiwa. Sisanya lahan perkebunan dan hutan milik negara yang dikelola PT Perkebunan Nusantara VIII dan Perum Perhutani. Tekanan kebutuhan hidup mendorong warga menanam komoditas yang lebih menguntungkan. Menurut Agus, awalnya ada sekitar 2.500 pohon kina di setiap satu hektar kebun, namun kini tinggal 10-15 persen saja. Upaya pemerintah, terutama Perhutani, mengajak beralih ke komoditas yang lebih ramah lingkungan, seperti kopi, belum mampu menggerakkan masyarakat. Akibatnya, lanjut Agus, belum semua kawasan hutan sudah bebas dari perambahan. ”Semua butuh waktu untuk mengajak para petani berhenti bertanam sayuran di hutan,” katanya. Dalam kondisi gundul, air meluncur menuruni lahan dan menggerus tanah hingga ke badan sungai. Sedimentasi bukan perkara remeh karena endapan terbawa hingga ke Waduk Saguling. Pemerintah terpaksa menganggarkan Rp 200 miliar untuk mengeruk Citarum. Tahun 2003, Masyarakat Peduli Sumber Air (MPSA) menginisiasi pembuatan embung dengan mengampanyekan kearifan tradisional terkait penataan ruang berbasis topografi, yakni gunung kaian, gawir awian, lebak caian, legok balongan (gunung dihutankan, tebing ditanami bambu, tempat rendah untuk menyimpan air, cekungan untuk kolam). Bermula di Kampung Pajaten, Desa Tarumajaya, Kecamatan Kertasari, embung-embung baru dibangun di kampung lain di Desa Tarumajaya, Cibeureum, dan Sukapura. Menurut Ketua MPSA Dede Juhari, selama tahun 2003 hingga 2005, sebanyak 1.847 embung terbangun di kawasan Kertasari. Air yang tertampung di kawasan itu mencapai 923.500 meter kubik. Penghijauan Kertasari terus berpacu dengan laju perusakan yang ditimbulkan oleh perladangan. Di tengah usaha menyelamatkan daerah tangkapan air itu, warga mengandalkan seribu embung untuk menopang kehidupan mereka. Setidaknya dari sana masyarakat bisa memahami manfaat menyimpan air di tanah. (M Kurniawan dan Didit Putra)

Ekspedisi Citarum

Sabar Menanti Janji Ditepati

Didit Putra Erlangga Rahardjo | nurulloh | Jumat, 29 April 2011 | 10:30 WIB BANDUNG, KOMPAS.com — Yani Quraisin (47) duduk melepas lelah sambil di teras rumahnya yang masih mengkilat basah di tepian Sungai Citarum. Bukan sapu atau kain pel yang digunakan, melainkan semacam gagang dengan lembaran karet di ujungnya yang berguna

60

untuk mendorong lumpur. Dia baru saja selesai mengeluarkan lumpur yang terbawa banjir dan rehat sebelum melanjutkan untuk mengeluarkan air yang masih terperangkap di dalam rumah dua tingkat yang berukuran 7x8 meter. Rumah Yani terselip di antara pemukiman padat di Kampung Cieunteung, sebuah daerah berpenduduk 300 keluarga di Kelurahan dan Kecamatan Baleendah Kabupaten Bandung. Masuk ke sebuah gang sempit di samping masjid, kemudian beberapa kali berbelok di persimpangan kecil. Kediaman ibu empat anak dan satu cucu ini tersempil di satu tikungan dengan pintu masuk selebar pundak orang dewasa. Pada musim hujan, membersihkan rumah menjadi sebuah rutinitas bagi Yani, bahkan dia sampai kalang kabut dibuatnya. Begitu selesai membersihkan lumpur pada siang hari, malam hari rumahnya kembali tergenang air berikut lumpur. Bila ketinggian air mencapai 1,5 meter, barulah dia menyerah dan mengungsi, membersihkan rumah baru dilakukan setelah banjir surut. Ditengok ke dalam, tidak ada perabot yang diletakkan di lantai pertama. Yani juga memang tidak berniat mempercantik rumahnya. ”Percuma diisi perabotan, semuanya pasti rusak terendam air. Yang tersisa adalah kasur, kompor, dan pakaian yang sudah diungsikan ke atas,” kata Yani. Mengandalkan gaji suaminya sebesar Rp 2 juta yang bekerja di sebuah dinas di Kota Bandung, Yani memang tidak bisa berbuat banyak. Diboyong ke sana oleh suaminya sejak tahun 1980-an, Yani mengaku bahwa sebelumnya tidak ada masalah untuk tinggal di Kampung Cieunteung, tempatnya sekarang ini. Sepanjang tinggal di sana, hanya dua tahun yang diingatnya sebagai puncak banjir yakni 1986 dan 2005 dengan ketinggian air melebihi dua meter. Pindah dari tempat itu bukanlah pilihan yang bisa dipertimbangkan Yani yang setiap hari harus bergulat dengan keterbatasan uang agar dapur tetap mengepul. Hidup dengan banjir pun menjadi jalan yang tersedia. Hal senada diungkapkan Cucu Rohayati (48), warga Cieunteung lainnya. Cucu yang setiap hari mendapat Rp 10.000 dengan membungkus kue cokelat mengaku kerasan tinggal di sana. Meski hidup terbatas dengan menghidupi dua anak tanpa keberadaan suami, dia masih menganggap daerah itu masih bisa menghidupinya. Tinggal di sebuah kamar kos dengan sewa Rp 150.000 per bulan, Cucu memilih bertahan di Cieunteung karena tidak ada lagi pekerjaan yang bisa dia lakukan. Penghasilan tambahan dengan menjual gorengan di pagi hari harus libur sementara karena daerah tersebut sering kebanjiran. Pertemuan Anak Sungai Kampung Cieunteung adalah satu dari beberapa wilayah di Baleendah maupun Dayeuhkolot yang rajin disambangi banjir setiap musim hujan tiba. Penyebabnya, daerah tersebut berada di tepi Sungai Citarum yang mengalir dari timur ke barat. Daerah tersebut juga menjadi pertemuan dengan anak sungai yakni Cisangkuy dari selatan dan Citepus di utara. Pelurusan sungai yang dilakukan pemerintah menyebabkan air dari Kota Bandung maupun anak sungai lainnya berpindah dengan cepat ke daerah yang lebih rendah dan bertemu di Baleendah. Sedimentasi yang berlangsung selama sepuluh tahun sejak proyek normalisasi sungai juga menyebabkan endapan setebal tiga meter di dasar sungai. Tinggi genangan yang bisa ditampung badan sungai menurut desain proyek normalisasi adalah 659,3 meter di atas permukaan laut sedangkan kampung Cieunteung sendiri berada di elevasi 658 mdpl. Menurut catatan dari Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Citarum, Cieunteung termasuk dalam 1.000 hektar (ha) daerah yang tidak akan bebas banjir. Alasannya, daerah itu secara alami merupakan kawasan limpasan air. Kontur tanah Cieunteung lebih rendah dari bibir sungai.

61

Itulah kenapa, banjir mudah terjadi di sana karena beberapa faktor yang terjadi bersamaan. Hingga kini, mitigasi yang dilakukan Pemerintah Kabupaten Bandung baru sebatas mendirikan dapur umum untuk menyuplai makanan bagi warga yang mengungsi di tenda-tenda. Menurut Kepala Dinas Pengelolaan Sumber Daya Air Provinsi Jawa Barat, Daddi Mulyadi, tahun 2011 ini pemerintah memulai proyek untuk mengeruk sedimen di badan sungai yang bakal memakan waktu 3 tahun. Pengerukan sungai sepanjang 30 kilometer ini diperkirakan memakan biaya Rp 300 miliar yang berasal dari pinjaman luar negeri. Pengerukan tersebut sebetulnya bertujuan untuk mengembalikan kondisi Sungai seperti saat sudah dinormalisasi. ”Tentu saja, semua bakal sia-sia bila kerusakan di hulu tidak dicegah, sedimen akan kembali lagi memenuhi sungai di hilir,” katanya. Rusun Kondisi yang ada sekarang, rusun bagi warga korban banjir memang sedang dibangun oleh pemerintah. Lokasinya berada di belakang kantor Kecamatan Baleendah, atau sekitar 1 kilometer (km) dari Kampung Cieunteung. Rusun yang sudah 80 persen rampung itu adalah hibah dari Kementerian Perumahan Rakyat. Warga korban banjir diimbau tinggal di rusun itu. Harga sewa bulanan yang semula dipatok adalah Rp 150.000 dan kurang disambut oleh warga. Namun, sebagian warga Cieunteung lebih memilih untuk bertahan di rumah mereka daripada harus berpindah ke tempat baru. Hal itu diutarakan Ketua RW 20, Jaja. ”Kami ingin melihat pemerintah bekerja dengan sungguh-sungguh untuk menanggulangi banjir. Sampai sekarang belum terlihat,” katanya. Jaja mengetahui rencana pemerintah untuk mengeruk Sungai Citarum dan memutuskan untuk melihat hasilnya. Bila banjir tetap terjadi meski setelah sungai dikeruk, warga tidak punya pilihan lain kecuali pindah ke daerah lain. Dia menegaskan, membangkang bukanlah tindakan yang sedang mereka lakukan. Sikap tersebut juga didasarkan sikap pemerintah yang tidak jelas. Menurut Jaja, mereka pernah ditawari solusi dari pemerintah pada tahun 2010 yakni membangun rumah singgah, pengadaan perahu, hingga mengubah rumah menjadi panggung. Namun, begitu banjir besar yang terjadi pada malam pergantian tahun baru, pemerintah tiba-tiba mengeluarkan tawaran untuk relokasi. ”Sungai Citarum Banjir bukan hanya soal Cieunteung saja, merelokasi kami takkan menyelesaikan apa pun,” ujar Jaja. Setidaknya sikap itu juga diamini Lurah Baleendah, Heru Kiatno. Pejabat yang semula menuding warga Cieunteung keras kepala pun bisa memahami setelah turun ke lapangan dan melihat banjir dari sudut pandang mereka. Dan itulah yang terus mereka lakukan sampai sekarang, setia menanti. (Didit Putra Erlangga Rahardjo/Rini Kustiasih)

Ekspedisi Citarum

Haji Lauk dari Waduk Cirata
Dedi Muhtadi | nurulloh | Jumat, 29 April 2011 | 11:12 WIB BANDUNG, KOMPAS.com — Para petani pembudidaya ikan di Kampung Ciloa, Desa Margaluyu, Kecamatan Cipeundeuy, Kabupaten Bandung Barat, terlambat sadar bahwa pepatah kuno bersatu kita teguh bercerai bakal runtuh itu tak luntur oleh waktu atau lekang oleh zaman. Kesadaran itu muncul ketika mereka mengangkat H Iim Misbah (56) sebagai Ketua Kelompok Pembudidaya Ikan Nila (Pokdakan) ”Doa Ibu” di kolam jaring apung (KJA) Waduk Cirata tahun 2005 lalu. Lewat kesadaran tersebut, paling tidak usaha kelompok ini mampu bertahan dalam situasi sulit yang sering menjepit mereka di tengah waduk.

62

Misalnya, ketika terjadi upwelling (arus bawah waduk naik ke atas dan mematikan seluruh ikan), masing-masing petani hanya bisa gigit jari. Setelah berkelompok, saat pembudidaya tersebut terkena musibah, mereka dapat ”bantuan” Rp 5 juta dari kelompok. Uang itu adalah dana cadangan kelompok yang dikumpulkan pada saat mereka panen ikan. Tentu saja dana pengganti modal kerja untuk pembelian benih dan pakan ikan itu harus dikembalikan dalam jangka waktu dua tahun. ”Alhamdulillah, mereka selalu taat membayar kewajibannya, sebab tahu bahwa uang itu milik bersama,” ujar Iim. Keuntungan lain bernaung di bawah kelompok, yakni bisa membeli pakan lebih murah. Karena mereka bersama-sama berhimpun, pakan yang dibeli dengan sendirinya dalam jumlah banyak sehingga harganya lebih murah. Jika harga untuk perorangan Rp 5.735 per kg, untuk kelompok hanya Rp 5.620 per kg. Beda harga pakan yang Rp 115 per kg sangat berarti jika dihitung dengan kebutuhan kelompok yang mencapai ratusan ton setiap bulannya. Kalau 10 ton per hari saja, berarti penghematan usaha hampir Rp 35 juta setiap bulannya. Diangkatnya bapak beranak tiga ini menjadi ketua kelompok atas keinginan bersama para pembudidaya ikan. Mereka melihat usaha Iim bertahan stabil cukup lama dan mampu melewati gelombang pasang surut usaha budidaya ikan yang rentan terhadap cuaca dan fluktuasi harga. Ia juga merupakan nasabah bank paling lama bertahan dari terpaan nonperforming loan alias kredit macet yang sering dialami pembudidaya ikan. ”Kami mendapat pinjaman dari bank sekitar Rp 500 juta atas jaminan pribadi H Iim,” ujar Asep Sulaeman (35), anggota sekaligus Sekretaris Pokdakan. Bank pun mendapat jaminan karena Iim menerapkan pola tanggung renteng, jika anggota kelompok telat bayar cicilan utang. Penggunaan uang oleh anggota juga dikontrol pengurus kelompok. ”Tidak ada anggota yang menggunakan uang untuk beli sepeda motor atau bangun rumah. Sebab modal kerja ini khusus untuk memodali ikan,” ungkap Asep. Kini, Iim memimpin langsung pengelolaan usaha 23 anggota kelompok pembudidaya dengan 225 petak KJA. Satu petak KJA modalnya sekitar Rp 15 juta. Jadi total investasi kelompok ini hampir Rp 3,4 miliar. Ini belum termasuk investasi 17 mesin alcon (penyedot air) kolam yang diperlukan untuk menggerakan air kolam ketika terancam upwelling. Investasi miliaran rupiah itu nilainya sangat besar jika dihubungkan dengan lokasi Margaluyu, sebuah desa terisolasi di daerah aliran Sungai Citarum, 60 km barat Kota Bandung. Lewat kepemimpinan Iim, semua KJA di kelompoknya memperoleh izin dari Dinas Perikanan Jawa Barat dengan surat penempatan lokasi. Berdasarkan catatan, di waduk ini terdapat 52.000 petak KJA, padahal Gubernur Jawa Barat hanya memberikan izin bagi 12.000 KJA. Sayang, karena tidak ada sanksi bagi pelanggar, banyak KJA ilegal beroperasi di waduk tersebut. ”Pokdakan Doa Ibu merupakan contoh pembudidaya ikan yang taat aturan,” ujar Sugandi, penyuluh perikanan dari Dinas Perikanan Kabupaten Bandung Barat. Tergusur Keluarga besar Iim lahir dan dibesarkan di Desa Margaluyu. Sebelum waduk ini beroperasi 1988 lalu, desa tertinggal ini sulit dijangkau karena terjepit di antara perkebunan dan hutan. Untuk mencapai kota Kecamatan Cipeundeuy harus ditempuh berjam-jam turun naik perbukitan yang jalannya jelek, berlubang, dan banyak batu. Saat Waduk Cirata beroperasi, seluruh lahan pertanian seluas 3 hektar milik keluarga Iim terendam air waduk. Lewat uang hasil ganti rugi, ia membeli lahan pertanian di ujung desa yang tidak terendam, tapi hasilnya tidak cukup untuk makan keluarga. Kemiskinan nyaris melanda keluarga ini. Tahun 1995, sisa uang penggusuran waduk ia belikan dua petak KJA. Mulailah keluarga Iim menapaki kehidupan baru, bertransformasi menjadi petani ikan. Jalan usahanya tidak mulus

63

karena perikanan sangat terkait iklim yang sulit dibaca dan harga produksi yang sulit diprediksi. Bila dapat untung, sedikit demi sedikit uangnya ditabung dan dibelikan lahan kebun atau sawah untuk padi. ”Sebetulnya budidaya ikan menguntungkan jika dikelola secara jujur dan benar,” ujarnya. Sembilan tahun kemudian, Iim dan istrinya, Hj Nani (55), menunaikan ibadah haji. Waktu itu ongkos naik haji sekitar Rp 60 juta untuk dua orang. Biaya ibadah haji dari tabungan hasil budidaya ikan nila. Karena itu, di kalangan petugas Dinas Perikanan, Iim dikenal sebagai Haji Lauk Nila. Lauk, dalam bahasa Sunda, berarti ikan. Kini lahan yang tergusur oleh waduk sudah ”dikembalikan” lewat usaha budidaya ikan selama 16 tahun. Malah KJA-nya sudah bertambah menjadi 22 petak. Kalau lagi mulus, dari satu petak yang ditanami ikan mas senilai Rp 7,5 juta, termasuk pakan, selama tiga bulan bisa menghasilkan Rp 12 juta-Rp 13 juta. Kalau ikan nila, dengan modal Rp 4 jutaan, satu petak menghasilkan Rp 12-Rp 13 juta per lima bulan. Di Waduk Cirata seluas 6.200 hektar, hambatan budidaya ikan yang belum bisa diatasi adalah penyakit koi herves virus (KHV) dan upwelling. Kedua gangguan ini bisa menyebabkan kematian massal, terutama ikan mas. Iim berinovasi menyegarkan air kolam, disedot lewat mesin alcon lalu dialirkan kembali ke kolam. Dengan air mengalir, diharapkan kebutuhan oksigen bagi ikan terpenuhi dan ikan bertahan hidup. Pernah sehari semalam Iim menghabiskan 400 liter solar untuk mengalirkan air ke 22 petak kolam. Pengalaman itu lalu ditularkan kepada para anggota kelompoknya. ”Sekarang, ketika gangguan itu datang, di kolam masih tersisa 20-40 persen ikan,” kata Asep. *** H Iim Misbah • Pendidikan: Sekolah dasar • Istri: Hj Nani (55) • Anak : - Eusi Maryati (38) - Ai Marlina (35) - Ujang Mulyadi (27)

Ekspedisi Citarum

Kami Ingin Tetap Sekolah...
Cornelius Helmy Herlambang | Hertanto Soebijoto | Sabtu, 30 April 2011 | 18:14 WIB KOMPAS.com — Surutnya debit air Waduk Jatiluhur tidak membuat semangat Ani Aryani (16) bersama enam siswa SMAN 1 Sukasari lainnya asal Kampung Naringgul, Desa Kertamanah, Kecamatan Sukasari, Kabupaten Purwakarta, berkurang. Di balik batuan besar yang mencuat dan sisi waduk yang mengering dan menyisakan lumpur sedimentasi yang tebal, sejak pukul 06.00, mereka menunggu perahu jemputan yang akan mengantarkan mereka menuju sekolah. Sekitar setengah jam kemudian, perahu berukuran 9 meter x 1, 5 meter pun tiba. Perahu bermesin tunggal berkekuatan 80 cc ini adalah satu-satunya alat transportasi andalan yang biasa digunakan Ani dan kawannya setiap pagi menuju sekolah. Bukan karena fasilitas yang mewah, tapi perahu adalah alat transportasi termurah dan tercepat yang bisa mereka gunakan setiap pagi dan sore setelah kegiatan belajar-mengajar selesai. "Kalau surut seperti itu jalannya harus hati-hati. Biasanya kami berjalan di batu yang besar supaya tidak terperosok ke lumpur yang tebal. Sekali terperosok kaki bisa terbenam setengah meter, penuh lumpur pula," katanya.

64

Dua tahun terakhir, Ani menjadi salah satu pelanggan perahu sekolah. Kondisi geografis rumahnya yang relatif jauh membuat dia memilih menggunakan jasa perahu sekolah. Untuk menempuh perjalanan sejauh 15 kilometer dengan kecepatan sekitar 15 kilometer per jam, Ani ditarik bayaran Rp 2.500 pulang dan pergi. "Senang naik perahu ini karena lebih murah, tarifnya 5 kali lipat lebih rendah dari perahu umum. Namun, saat paling menakutkan naik perahu waktu hujan deras atau angin kencang," kata Ani. Semangat Kiki Nurhidayat (19), siswa kelas 12, warga Naringgul lainnya, pun tidak pernah tenggelam meski dia sering mengalami angin kencang dan guyuran air hujan saat hendak berangkat ke sekolah. Bahkan, dia mengaku sering khawatir kalau sewaktu-waktu perahu oleng dan tenggelam. Namun, selama 3 tahun menjadi pelanggan perahu sekolah, dia belum pernah bolos, kecuali sakit atau ada urusan keluarga. "Kami hidup di daerah terpencil. Yang bisa mengubah nasib menjadi lebih baik, ya diri sendiri. Kalau malas, akan selamanya begini. Meski harus menyeberang waduk setiap hari, saya berusaha menjalaninya senang hati. Selama ini, kalau kehujanan ya belajar pakai baju basah di kelas," ujarnya. Jalur air Perahu menjadi satu-satunya moda transportasi bagi siswa-siswi dari perkampungan di seberang Waduk Jatiluhur, khususnya di Kecamatan Sukasari, untuk mencapai sekolah. Buruknya kondisi jalan dan terputusnya jalur darat di beberapa titik memaksa siswa dan warga daerah itu untuk menempuh jalur air. Kalau tidak ada perahu, mungkin dua jam sebelum pelajaran dimulai saya harus pergi sekolah. Saya punya keinginan besar untuk tetap sekolah. Kalau sudah lulus, saya ingin jadi guru di Kertamanah (pusat Kecamatan Sukasari)," katanya. Tetapi, bila ada pilihan antara perbaikan jalan darat atau tetap menggunakan jalur waduk, Kiki mengatakan memilih opsi pertama karena dinilai lebih menguntungkan dan mampu memangkas waktu lebih cepat. Bila menggunakan perahu, dia harus menempuh perjalanan lebih lama karena harus menjemput siswa lainnya. Dari Naringgul-Gunung Bueled-Cibunipasir Kutamanah, perjalanan dengan perahu harus ditempuh selama satu jam. Tak jarang siswa terlambat masuk ke kelas karena operator perahu sekolah harus mendatangi beberapa lokasi penjemputan siswa sekaligus. Mereka saling menunggu. Biasanya, perahu menuju lokasi penjemputan terjauh, kemudian menyisir tepian waduk dan mendatangi titiktitik penjemputan menuju ke sekolah. Hingga kini, setidaknya ada tiga desa di Sukasari yang masih sulit diakses melalui jalur darat, yakni Ciririp, Sukasari, dan Parungbanteng. Dua desa lain di Sukasari, yakni Kutamanah dan Kertamanah yang berjarak sekitar 15 kilometer dari pusat kota Purwakarta, lebih dulu bisa ditembus melalui darat setelah pemerintah membangun dan memperbaiki jalan, meski di beberapa titik kini mulai rusak lagi. Sukasari hanya berjarak 90-100 kilometer dari ibu kota Jakarta. Selama puluhan tahun sejak dibangunnya Waduk Jatiluhur tahun 1957-1967, Sukasari selalu tertinggal. Hingga kini, infrastruktur jalan dan jembatan di Sukasari masih saja tertatih. Tetapi, melihat semangat belajar Ani, Kiki, dan siswa-siswi Sukasari lain, daerah itu punya harapan baik di masa depan.

Si Perkasa di Citarum
30 april 2011 Dari para penjaga Bendungan Jatiluhur ataupun hasil berselancar di dunia maya, terbuka wawasan tentang bangunan yang berjasa sebagai fasilitas penting pembangkit listrik,

65

pengairan persawahan, perikanan, wisata, dan sumber air baku air minum. Jatiluhur merupakan bendungan terbesar di Indonesia yang dibangun untuk memanfaatkan potensi aliran Sungai Citarum di Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat. Bendungan ini dibangun mulai tahun 1957 dan baru dioperasikan tahun 1967. Bendungan utama Ir H Djuanda, yang lebih dikenal sebagai Bendungan Jatiluhur, membentang sepanjang 1.200 meter dan tinggi menara 114,5 meter. Ada pintu air berbentuk tabung dengan mulut melingkar. Sebuah jembatan dari besi yang menghubungkan dinding bendungan dengan pintu air memungkinkan pengunjung untuk melihat langsung ke dalam pintu air. Mengerikan, sekaligus takjub melihat dasar pintu air yang begitu dalam dengan aliran air yang deras merangsek masuk. ”Waktu banjir besar Maret tahun lalu, permukaan waduk ini mungkin dua kali lipat tinggi air sekarang sehingga pintu air dibuka dan ada penggelontoran air,” ujar salah satu penjaga keamanan di dekat pintu air saat ditemui pekan lalu. Sejarahnya, Jatiluhur dibuat menyerupai gaya bendungan yang terbesar di dunia, yaitu Bendungan Aswan di Mesir. Bagian-bagian dari bangunan ini juga menjadi simbol penting bagi Indonesia. Pompa hidrolik untuk saluran Tarum Barat, misalnya, berjumlah 17 buah, pilar pemegang pintu pengatur untuk meneruskan aliran ke daerah Walahar beserta menaranya berjumlah 8 buah, dan angka 45 ditunjukkan pada kemiringan 45 derajat pompa-pompa listrik untuk saluran Tarum Timur dengan tujuan agar lebih efisien dan efektif. Angka-angka itu adalah representasi dari hari kemerdekaan Indonesia, yaitu 17 Agustus 1945. Luas keselurahan bendungan 8.300 hektar dengan potensi ketersediaan air 12,9 miliar meter kubik per tahun. Jatiluhur mampu mengairi 242.000 hektar sawah dan berperan penting sebagai penyedia air baku air minum, budidaya perikanan, dan pengendali banjir. Sebagai pembangkit listrik, di Bendungan Jatiluhur terpasang enam turbin, dengan daya terpasang 187 megawatt, yang menghasilkan tenaga listrik rata-rata 1.000 juta kilowatt per jam setiap tahun yang dikelola PT PLN (Persero). (NEL) Ekspedisi Citarum

"Unur-unur" Berharga di Pantai Utara
Cornelius Helmy Herlambang | nurulloh | Sabtu, 30 April 2011 | 13:22 WIB KARAWANG, KOMPAS.com - Hingga tahun 1985, unur yang bertebaran di Kawasan Batujaya, Kabupaten Karawang tak lebih dari gundukan tanah. Berkat jasa peneliti dan arkeolog, gundukan itu kini mewujud candi dengan beragam peninggalan berharga yang menyimpan kisah manusia masa lampau pantai utara Jawa Barat. Warga Batujaya menyebut gundukan-gundukan tanah yang tersebar di sekitar tempat tinggalnya dengan istilah unur atau lemah duhur (tanah tinggi). Sebutan unur juga mengacu pada reruntuhan bata yang menggunduk dan menyerupai sarang rayap di tengah hamparan sawah. Sejumlah unur telah memiliki nama, seperti Unur Jiwa, Blandongan, Serut, Lempeng, Lingga, Asem, Damar, dan Gundul. Tak sedikit yang belum punya nama dan tersebar di hamparan seluas 5 kilometer persegi atau 500 hektar di wilayah Desa Segaran, Kecamatan Batujaya, serta Desa Telagajaya, Kecamatan Pakisjaya. Wilayah ini berada sekitar 47 kilometer barat laut pusat kota Karawang. Kaisin (73), juru pelihara Kompleks Percandian Batujaya, warga Desa Segaran, Kecamatan Batujaya mengatakan, beberapa nama unur mengacu identifikasi warga terhadap tempat tersebut. Unur Jiwa, misalnya, disebut demikian karena sering ada domba atau kambing milik warga yang mati atau kehilangan jiwa tanpa sebab jelas saat ditambatkan di lokasi ini.

66

"Tahun 1960-an, satu dari dua ekor kambing saya mati di sini, seperti beberapa kali menimpa hewan gembalaan warga lain sebelumnya," ujarnya. Sementara nama Blandongan mengacu pada tempat berkumpul. Saat terjadi banjir akibat luapan Sungai Citarum, lanjut Kaisin, Unur Blandongan menjadi tempat berkumpul bagi warga. Lokasinya lebih tinggi dari tanah di sekitarnya sehingga terbebas dari genangan banjir. Situs Batujaya pertama kali ditemukan tim dari Jurusan Arkeologi Fakultas Sastra Universitas Indonesia (FSUI) tahun 1985. Sebelumnya, tim ini menerima informasi warga tentang keberadaan unur-unur yang berserak di Batujaya saat melanjutkan penelitian di Situs Cibuaya, tempat ditemukannya arca Wisnu I (tahun 1952), arca Wisnu II (tahun 1957), dan arca Wisnu III (tahun 1975), sekitar 15 kilometer di timur Batujaya. Warga menginformasikan banyak menemukan bata berukuran besar di Batujaya yang terpendam di tanah atau menumpuk membentuk gundukan di tengah sawah. Jumlah reruntuhan bangunan mencapai lebih dari 20 buah dan tersebar di kompleks yang berjarak sekitar 500 meter dari Sungai Citarum itu. Penelitian tim FSUI di Batujaya menemukan Candi Jiwa, bangunan bata berbentuk bujur sangkar berukuran 19 meter x 19 meter dan tinggi 4,7 meter di atas permukaan sawah sekitarnya. Setelah bentuknya berhasil dimunculkan secara utuh, terlihat struktur bata dengan permukaan bergelombang dan bentuk melingkar yang menyerupai bunga teratai di bagian atas bangunan. Tahun 1999 pemugaran berlanjut ke Candi Blandongan hanya beberapa meter dari Candi Jiwa. Bangunan utama Candi Blandongan yang berukuran 25 meter x 25 meter telah terlihat utuh sejak beberapa tahun lalu, tetapi penelitian dan pemugaran reruntuhan di sekitarnya masih berlangsung hingga kini. Manusia awal sejarah Kompleks Percandian Batujaya menyimpan beberapa temuan penting, di antaranya votif tablet berelief Buddha, fragmen prasasti tanah liat bertuliskan aksara pallawa, tembikar, serta kerangka-kerangka manusia. Arkeolog Hasan Djafar menyebutkan, berdasarkan penentuan pertanggalan relatif dengan karbon C-14, kerangka-kerangka manusia ini diduga berasal dari tahun 150-400 Masehi atau sebelum masa candi tahun 650-900 Masehi. Pada awal Mei 2010, tim penggalian Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Serang menemukan enam kerangka manusia sekitar 50 meter di selatan Candi Blandongan dalam proyek pemugaran yang ke-11 tahun 2010. Enam kerangka itu mirip dengan "Jack the Ripper", sebutan untuk kerangka manusia yang ditemukan Puslit Arkenas bersama Ecole Francaise d'Extreme-Orient (Perancis) di sekitar lokasi itu tahun 2005. Selain posisi kerangka membujur arah timur laut-barat daya, di dekat kerangka juga ditemukan gerabah yang diduga menjadi bekal kubur. Sebagian arkeolog berpendapat kerangka-kerangka itu adalah pendukung budaya candi dan berasal dari rentang waktu yang sama. Sebagian arkeolog lain menilai kerangka dikubur sebelum ada candi atau dari awal sejarah. Arkeolog Puslit Arkenas Amelia Driwantoro menyebutkan, kerangka-kerangka serupa pernah ditemukan di sejumlah lokasi di utara Karawang, seperti Desa Cikuntul, Kecamatan Tempuran; Desa Kendaljaya dan Dongkal Kecamatan Pedes; Desa Pusakajaya Utara, Kecamatan Cilebar; serta Desa Jayakerta, Kecamatan Jayakerta. Hampir di semua tempat itu ditemukan bekas kubur, termasuk tembikar dengan kemiripan corak khas Buni yang diperkirakan berkembang pada abad kedua Masehi. Nama Buni mengacu pada tempat tembikar serupa ditemukan di Buni, Bekasi, dan dicatat sebagai temuan arkeologi. Wisata Penelitian, penggalian, dan pemugaran unur-unur di Kompleks Percandian Batujaya masih jauh dari selesai. Namun, dengan candi, reruntuhan bangunan, dan benda-benda purbakala yang ditemukan, kawasan ini memiliki potensi wisata edukasi dan wisata sejarah yang luar biasa.

67

Sejak tahun 2004, Situs Batujaya memiliki gedung Penyelamatan Benda Cagar Budaya yang berdiri di lahan seluas 1.500 meter persegi, berjarak sekitar 600 meter dari Candi Jiwa. Bangunan itu memiliki ruang utama berukuran 9 meter x 6 meter dengan beberapa kotak kaca yang memampang benda-benda cagar budaya. Gedung itu kini dalam rehabilitasi dan penambahan ruang oleh pemerintah daerah. Namun, kapasitasnya dinilai belum memadahi ratusan benda hasil penggalian yang masih menumpuk di ruang informasi dan gudang. Gedung juga dinilai belum mewadahi pengunjung yang terkadang mencapai puluhan hingga ratusan orang dalam sekali kunjungan. Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Karawang, Acep Jamhuri menyatakan, pemerintah daerah menetapkan Kompleks Percandian Batujaya sebagai satu dar 11 kawasan pengembangan wisata Karawang. Kompleks tersebut juga diusulkan menjadi kawasan strategis nasional. Pengembangan Situs Batujaya mengalami kendala, terutama terkait pengelolaan yang melibatkan pemerintah kabupaten, provinsi, dan pusat. Proses satu dan lainnya saling terkait sehingga harus melalui proses penelitian, perencanaan, dan pelaksanaan yang matang. Upaya memperluas bangunan museum, misalnya, harus menunggu hasil penelitian dan pemetaan sehingga tidak merusak benda yang dimungkinkan berada di bawahnya. (Cornelius Helmy dan M Kurniawan) Ekspedisi Citarum

Batujaya, Sisa Peradaban Sungai Purba

Cornelius Helmy Herlambang | nurulloh | Sabtu, 30 April 2011 | 12:57 WIB KARAWANG, KOMPAS.com — Inilah Kompleks Candi Batujaya, kompleks candi tertua yang pernah ditemukan di Indonesia hingga saat ini. Melalui metode isotop Carbon-14, candi Budha ini dibangun pertama kali antara abad ke-6 dan ke-7 dan dilanjutkan abad ke-9 dan ke-10. Tidak hanya tertua, keberadaan candi di dekat Sungai Citarum ini seakan memberikan bukti Indonesia dilahirkan lewat rahim orang-orang berbekal teknologi tinggi. Situs percandian Batujaya berjarak kurang dari 1 kilometer di sebelah timur aliran Sungai Citarum. Luas kompleksnya mencapai 5 kilometer persegi atau 500 hektar yang mencakup wilayah Desa Segaran Kecamatan Batujaya dan Desa Telagajaya Kecamatan Pakisjaya, sekitar 47 kilometer arah barat laut dari pusat kota Kabupaten Karawang, Jawa Barat. Kompleks Candi yang pertama kali diteliti tim jurusan Arkeologi Fakultas Sastra Universitas Indonesia tahun 1985 itu memiliki 30 situs candi dan tempat pemujaan. Beberapa candi besar yang sudah diekskavasi adalah Candi Jiwa yang berbentuk bujur sangkar ukuran 19 meter x 19 meter serta Candi Blandongan yang berukuran 25,33 meter x 25,33 meter. Geograf dari Masyarakat Geografi Indonesia T Bachtiar mengatakan meski saat ini berada di pinggir sungai, Candi Batujaya sesungguhnya lahir dari muara Citarum. Ia mengibaratkan dilahirkan di muara Citarum dan dibesarkan aliran Sungai Citarum. Bila melihat kondisi saat ini, pernyataan itu sulit dibayangkan. Alasannya, kini candi Batujaya berada sekitar 5-6 kilometer dari garis pantai Laut Jawa. Batujaya pun letaknya lebih tinggi 2 meter di atas permukaan laut ketimbang Muara Citarum. Akan tetapi, menurut Bachtiar, bila menilik kurva perubahan muka laut kala jaman Holosen di Indonesia, akan terlihat jelas kebenaran teori itu. Kurva itu diambil dari tulisan Yahdi Zaim yang memuat gambar peta buatan De Klerk tahun 1983. Pelabuhan antarnegara? Dijelaskan bahwa telah terjadi transgresi (penambahan muka air laut) dan regresi (penurunan muka air laut) dihitung dari 7.000 tahun yang lalu hingga tahun 1983. Kurva itu menyebutkan antara tahun 485 masehi hingga 983 masehi, atau saat pembangunan Batujaya, muara air

68

laut berada pada ketinggian 0 mdpl - 0,5 mdpl. Artinya, candi memang dibangun di wilayah pantai. Namun, seiring waktu, terjadi regresi air laut sehingga ketinggian air laut berkurang. Sejak tahun 1983 hingga kini, Batujaya dihitung para ahli berada pada ketinggian 2 mdpl. Bukti lain di dekat Batujaya pernah ada pelabuhan laut antar negara bisa dilihat dari penemuan benda kuno beragam bentuk di tepi Sungai Citarum dekat Batujaya. Daerah itu diduga kuat sebagai muara Citarum. Benda itu seperti cermin, peralatan perunggu, gelang loklak, dan keramik dari Guandong yang berasal dari abad ke-9 dan ke-10. Benda itu diduga adalah bahan pertukaran atau jual beli di muara Citarum. Arkeolog dari Universitas Indonesia Hasan Jafar mengatakan budaya muara dan sungai sangat memengaruhi perkembangan kebudayaan Candi Batujaya. Masyarakat di sekitarnya lebih mudah menerima budaya baru dan kreatif mengembangkan beragam hal. Hasilnya, meski dianggap yang tertua, Candi Batujaya menonjol dalam pengembangan teknologi ”Ada pengaruh tradisi dari Nalanda di India Utara. Kebudayaan India itu datang seiring banyaknya pendatang dari berbagai negara di pantai utara Jawa Barat,” ujarnya. Pengolahan tanah liat menjadi batu bata, misalnya. Proses pembuatan batu bata sangat maju karena menerapkan inovasi campuran sekam atau kulit padi. Campuran itu diyakini mematangkan bagian dalam batu bata saat dipanaskan hingga suhu 700 derajat celcius. Teknologi lain adalah stuko atau plester berwarna putih berbahan dasar kapur. Kapur diambil dari pegunungan kapur di Karawang Selatan. Perbukitan itu masuk dalam Formasi Parigi yang terdiri dari batu gamping klastik dan batu gamping terumbu yang melintang dari arah barat ke timut dengan panjang 20 kilometer. Bahan pembuatan dan kegunaannya pun disesuaikan dengan tujuan penggunaan. Untuk melapisi tembok, arsitek mencampur kapur dan kulit kerang. Hal ini terkait keberadaan candi yang berada di tepi pantai. Kerang dianggap sebagai bahan kuat penahan abrasi air laut. Stuko juga digunakan untuk membuat ornamen, relief, dan arca. Untuk ini, biasanya pekerja membakar kapur dengan suhu 900-1.000 derajat celsius. Sedangkan untuk memperoleh fondasi yang kuat, kapur dicampur dengan pasir, dan kerikil. Mitigasi bencana Penerapan mitigasi bencana juga sudah terlihat dari usaha meninggikan halaman candi dan mengeraskan lantai dengan lapisan beton stupa guna menghindari banjir Buktinya, bisa dilihat dari reruntuhan Candi Segaran V (Candi Blandongan). Hasan mengatakan arsiteknya sudah mengetahui resiko banjir bila hidup di sepanjang sungai dan muara Citarum. Moda transportasi mengandalkan Citarum juga sudah terlihat. Dengan menggunakan perahu dayung dalam melakukan aktivitas pengambilan kapur dari Karst Pangkalan melewati Sungai Citarum. Buktinya, penemuan dayung di sekitar situs. Akan tetapi, Arkeolog dari Balai Arkeologi Bandung Lutfi Youndri belum semua keunggulan Batujaya bisa diungkapkan ke permukaan. Dari 30 yang telah dieskavasi sebanyak 8 situs belum dieksplorasi lebih lanjut. Bahkan, dari 22 situs yan telah tergali informasi pun belum selengkapnya diketahui. Oleh karena ia mengharapkan agar ke depannya, minat untuk menggali lebih dalam tentang pesona Batujaya bisa datang lebih banyak dari berbagai pihak. Bukan sekedar bernostalgia tapi memetik semangat yang ada di dalamnya. “Salah satu yang menarik digali adalah kemungkinan adanya kanal yang mengelilingi layaknya bangunan suci kuno. Bila benar, maka akan semakin nyata bukti bahwa air, sungai dan laut adalah identitas utama masyarakat Batujaya,” katanya. (M Kurniawan dan Cornelius Helmy)

69

Ekspedisi Citarum

Lestarikan Tangkal Kawung di DAS Citarum
Dedi Muhtadi | nurulloh | Sabtu, 30 April 2011 | 11:17 WIB Oleh Dedi Muhtadi BANDUNG, KOMPAS.com — Hari hampir gelap, namun Kadi (61) warga Kampung Cigangsa Desa Nangeleng Kecamatan Cipeundeuy Kabupaten Bandung Barat masih memanjati pohon aren (tangkal kawung-Sunda). Tiap hari tangkal kawung, disebut juga pohon enau (Arengga pinnata – Wurmb- Merill atau Arenga saccarifera Labill, famili Arecaceae) setinggi 5-10 meter ini harus dia naiki satu persatu untuk menyimpan dan mengambil lodong-lodong, yakni potongan bambu penampung air nira. Pukul 06.00 pagi, lodong itu dia ambil lagi dan diganti dengan lodong baru. Pekerjaan itu diulanginya sore hari. Air nira yang sudah tersimpan di lodong itu lalu dimasukan ke dalam kuali untuk dimasak menjadi gula merah. Penggodokan air nira di atas tungku tanah sederhana dengan pemanas kayu bakar berlangsung 1,5 – 5 jam, tergantung banyaknya air nira. Biasanya pukul 12.00 siang, bapak beranak satu dan bercucu dua ini sudah bisa membungkus gula merah bulat berdiameter 5 cm, tabal 3 cm. Tiap hari rata-rata menghasilkan 5 bungkus gula merah senilai Rp 50.000 atau Rp 10 ribu per bungkus, berisi sepuluh bulatan gula per bungkus. Tiap hari pula bandar gula dari pasar Cipeundeuy, 5 kilometer dari kampungnya, datang mengambil gula. Itulah keseharian keluarga Bah Kadi yang sudah dilakoninya sejak berpuluh-puluh tahun lalu. Kepandaian menyadap nira untuk dijadikan gula, diperolehnya secara turun temurun dari orang tuanya dulu. Praktis keluarga ini hidup dari pohon aren yang tumbuh di sekeliling kampungnya. Di sekitar rumahnya, Bah Kadi kini mengurus sekitar 300 pohon enau, sebagian tumbuh secara alami lewat ekosistem musang dan sebagian lagi hasil pembibitannya sendiri. Beberapa pohon di antaranya sudah tua, daunnya jarang dan sudah tidak banyak menghasilkan air nira. Biasanya pohon ini laku untuk pembuatan tepung aren (aci kawung). “Setelah diipuk (dibenihkan), bijinya saya sebar di sini, dan tumbuh seperti kelapa saja,” ungkap Bah Kadi Kamis (17/3) seraya menunjuk sebuah tebing berkemiringan di atas 30 derajat derajat di belakang rumahnya. Di sana tumbuh sejumlah pohon aren yang usianya di atas lima tahunan. Pohon konservasi Untuk mencapai Kampung Kadi bisa ditempuh lewat jalan raya Bandung-Cianjur-Jakarta, tepatnya Rajamandala Kecamatan Cipatat Kabupaten Bandung Barat. Dari Rajamandala masuk ke jalan kabupaten sekitar 15 km melewati kawasan perkebunan dan hutan jati Perum Perhutani. Daerah ini merupakan dataran tinggi Jawa Barat bagian tengah, Daerah Aliran Sungai (DAS) Cimeta, salah satu anak Sungai Citarum. Rumah Kadi dan pemukiman 15 penyadap lainnnya di Kampung Cigangsa, terletak pada tebing dengan kemiringan 15-30 derajat. Namun sejak berpuluh tahun tinggal di kampung ini mereka aman dari bencana longsor dan erosi karena terlindung oleh banyaknya tegakan pohon, termasuk pohon aren. Sekitar 10 kilometer di bawah desa ini terletak Waduk Cirata, pusat listrik tenaga air (PLTA) yang menghasilkan listrik 1.008 Megawatt. Listrik ini memasok jaringan interkoneksi Pulau Jawa dan Bali yang menerangi hampir separuh dari penduduk republik ini. Karena itu betapa strategisnya kultur kehidupan warga desa ini bagi kelestarian Waduk Cirata yang kini sedang menghadapi masalah tingginya sedimentasi. Dan secara langsung kehidupan

70

keluarga Bah Kadi secara turun temurun sudah terkait dengan upaya pelestarian sabuk hijau (green belt) waduk lewat pembudidayaan tanaman konservasi, tangkal kawung. Di rumah panggung tanpa listrik, istrinya Amidah (58) berdagang warung yang menyediakan segala macam keperluan penduduk, termasuk mainan anak-anak. Anaknya Nyi Encah (38) sudah memberinya dua cucu, dan menantunya, Ecep (40) juga bermata pencaharian sebagai penyadap. “Dari dulu bapak tidak mau menebang pohon aren walaupun ada yang nawar Rp 100 ribu,” ujar Ny Encah. Bapak dan anak menatu itu dengan tekun menyadap tiap tangkai calon berbuah kolang-kaling dipotong untuk diambil air niranya. Setiap tangkai bisa menghasilkan air nira yang bisa dibuat gula merah 1-5 bungkus. Atau dua bungkus per lodong. Bah Kadi sendiri tiap hari dia memasang 6 lodong hingga 12 lodong. Di desa Nangeleng ada sekitar 100 penyadap/perajin gula. Tiap pohon yang berumur 10 tahun sudah bisa disadap hingga 18-20 tahun kemudian. Dari pohon aren, dia juga bisa menjual kolang-kaling pada bulan puasa, terutama menjelang lebaran. Tiap tiga bulan sekali Bah Kadi panen ijuk yang menghasilkan beberapa puluh ribu rupiah. Di belakang rumah ia mengembangkan ternak domba untuk memanfaatkan rumput yang tumbuh di sekitar hutan. Multiguna Sejumlah penelitian menyimpulkan tanaman keras ini sangat multiguna. Di samping menghidupi warga pedesaan, pohon ini merupakan pelindung dan penyeimbang ekosistem dan ekologi pedesaan. Akar serabut pohon aren sangat kokoh, dalam, dan tersebar sehingga memiliki fungsi penting bagi penahan erosi tanah. “Akar aren juga memiliki kemampuan mengikat air sehingga pohon aren bisa ditanam di daerah yang relatif kering dan tidak perlu perawatan intensif,” ujar Johan Iskandar, guru besar biologi Universitas Padjadjaran Bandung. Nira aren juga dapat dijadikan bahan obat-obatan tradisional, misalnya untuk haid yang tidak teratur, sembelit, sariawan, radang paru-paru, disentri, kepala pusing, dan pemulih badan letih. Cuka dari tuak aren biasa dijadikan bahan ramuan biopestisida pembasmi serangga hama di huma (Iskandar dan Iskandar: 2005). Akar muda biasa digunakan untuk obat kencing batu ginjal, dan akar tuanya untuk bahan obat sakit gigi. Aren biasa tumbuh secara liar lewat bantuan binatang musang (Paradoxurus hermaphroditus) atau careuh (Sunda). Namun oleh manusia tanaman ini bisa dibudidayakan secara massal. Badan Pengelola Waduk Cirata, Jawa Barat sendiri sudah menyemai sekitar 8.000 pohon dan 4.000 di antaranya sudah ditanam. Pemilihan biji yang berkualitas dengan penanganan yang tepat dapat meningkatkan keberhasilan jumlah biji yang ditanam hingga 90 persen. Kadi sudah membuktikannya, biji yang akan ditanam direndam air mengalir sehari semalam. Lalu pada bagian mata tunasnya dikikis tipis untuk memudahkan proses perkecambahan. Sebulan sejak penanaman biji dalam pasir, kecambah sudah bisa ditanam dalam polybag hingga siap tanam pada usia 18-24 bulan. Setelah ditanam di lahan terbuka, 8-10 tahun kemudian pohon itu sudah bisa menghasilkan nira untuk kehidupan. Keluarga Kadi sudah melakukannya bertahun-tahun pada lahan seluas tiga hektar di lereng pegunungan, di atas Danau Cirata. Seandainya warga lain, penghuni 560.094 hektar kawasan DAS Citarum bercocok tanam seperti Kadi, persoalan erosi dan sedimentasi yang mencapai 10 juta meter kubik per tahun akan selesai. Kadi

71

Lahir 1949 di Desa Nangeleng Kecamatan Cipeundeuy Kabupaten Bandung Barat. Pendidikan: SD Istri: Amidah (58) Anak : Encah (38) Ekspedisi Citarum

Kala Bandung Lupa Sungai
Aryo Wisanggeni G | nurulloh | Minggu, 1 Mei 2011 | 14:15 WIB BANDUNG, KOMPAS.com — Industrialisasi di Bandung tidak hanya mengubah wajah Sungai Citarum, tetapi juga mengubah cara hidup ”urang” Bandung. Perekonomian warga berkembang, tetapi warganya kian terasing dari sungai. Begitu perupa Tisna Sanjaya memarkir motornya di depan hamparan padang plastik berukuran sekitar 25 meter x 25 meter, warga Kelurahan Cigondewah Kaler langsung mengelukannya. ”Kumaha damang Kang Kabayan?” beberapa warga menyapa bertanya kabar, berebut bersalaman. Tisna memang terkenal sebagai Kang Kabayan, lantaran ia menjadi pembawa acara talkshow televisi lokal, Kabayan Nyintreuk. Si Kabayan menjejaki hamparan sampah itu, mengenang masa kecilnya. ”Dulu ini kolam, situ, yang airnya begitu jernih. Warga bahkan mengambil air wudu di situ itu,” tutur Tisna. Kini, sampah plastik aneka warna, karton bekas, juga potongan busa dan beling, terhampar menjadi pemandangan setiap rumah yang berjajar mengelilingi bekas situ tersebut. Tisna bersemangat mengisahkan cita-citanya menyulap hamparan plastik itu menjadi hutan kota yang teduh dan hijau tanpa plastik. Namun, ”protes” Amas (62) membuyarkan angan Tisna. ”Kalau Kang Kabayan membuat hutan di sini, lalu di mana saya harus menjemur plastik? Lapangan ini satu-satunya tempat menjemur plastik dan kertas semen saya,” ujar Amas. Tisna merindukan sungai yang berair jernih. Tetapi air di tempat itu kini selalu berganti warna mengikuti warna limbah buangan pabrik. Namun, Amas yang juga orang asli Cigondewah Kaler punya ingatan masa yang berbeda. ”Dulu Cigondewah memang lumbung beras. Saya dulu buruh tani, tidak pernah punya sawah meski Blok Sawah di Cigondewah kondang sebagai lumbung beras. Kini saya pengumpul plastik dan kertas semen, dan memiliki penghasilan yang lebih baik daripada menjadi buruh tani. Memang air tanah kami kini rusak sehingga kami harus membeli air untuk memasak seharga Rp 1.500 per 20 liter,” ujar Amas. Kumuh miskin Pabrik aneka industri di Kabupaten Cimahi dan Bandung tidak hanya memerah-kuninghijaukan Sungai Cikendal, anak Sungai Citarum yang membelah Cigondewah Kaler. Industrialisasi yang dimulai sejak akhir tahun 1970-an itu juga menyediakan peluang usaha baru. Cigondewah Kaler yang dulu kampung jawara, ”Jago Bobok - Jago Tarok”, kini dikenal sebagai kampung ”Kuya-Kumis”. Kuya-Kumis itu satir kehidupan Cigondewah Kaler, pelesetan kata ”kumuh kaya” dan ”kumuh miskin” yang hidup dengan menampung aneka sampah pabrik. Plastik dilebur ulang menjadi bijih, sisa kain pabrik tekstil menjadi keset perca, karung bekas dicuci, kardus bekas dipilah, makanan kedaluwarsa disulap menjadi pakan ternak. Segala sampah pabrik menjadi pundi-pundi uang di Cigondewah. Di kelurahan seluas 140 hektar itu ada 1.687 usaha kecil dan menengah, 432 usaha

72

perdagangan, 65 warung, dan toko. Dari 16.000 penduduknya, hanya 278 orang yang menjadi petani. Jika 30 tahun lalu 90 persen lahan di Cigondewah Kaler adalah sawah, luasan sawah tersisa kurang dari 16 hektar. ”Puncaknya pertumbuhan ekonomi Cigondewah Kaler terjadi sebelum krisis moneter 1997. Mobil mewah itu barang biasa di Cigondewah. Saya kerap mencicipi rasanya menyetir mobil keluaran terbaru, diajak warga menjajal mobil baru mereka,” tutur Lurah Cigondewah Kaler Maulana Fatahudin. Arif (24) dan adiknya, Ujang (23), bekerja di penimbunan plastik orangtuanya. Setiap hari mereka membakar hingga 200 kilogram sampah plastik menjadi gumpalan plastik yang lantas dicacahnya menjadi bijih plastik siap daur ulang. ”Untuk membakar plastik, kami memakai plastik tidak lolos sortir,” kata Arif. Setiap bulan, bapak satu anak itu menerima upah Rp 1,1 juta hingga Rp 1,7 juta. Kemenakan dan tetangga mereka, Yusuf (13) dan Nanan (13), mulai ”magang” bisnis sampah dengan menjadi buruh cuci plastik. ”Saya tidak melanjutkan sekolah ke SMP, lebih baik bekerja daripada sekolah,” kata Yusuf sembari menjejalkan segunung plastik bening yang telah dicucinya di Sungai Cicukang ke dalam karung goni. Yusuf dan teman-temannya adalah saksi bagaimana belajar mengurus sampah lebih menjanjikan masa depan ketimbang sekolah. Separuh warga Cigondewah Kaler tidak pernah bersekolah, atau tidak lulus SD, seperempat lainnya hanya ”Sarjana Dasar”. Tak ada SMP dan SMA di Cigondewah Kaler. Beberapa tahun mendatang, Yusuf akan menikahi gadis Cigondewah. ”Sangat jarang terjadi orang Cigondewah menikahi orang luar Cigondewah. Urbanisasi ke Cigondewah hampir tidak ada, jadi akulturasi jarang terjadi. Mereka yang ’kuya’ orang asli Cigondewah, yang ’kumis’ juga asli Cigondewah. Industrialisasi memberikan segala peluangnya, tetapi kualitas hidup masyarakat kami tidak lebih baik,” ujar Usep Yudha Prawira, Ketua Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Cigondewah Kaler. Perubahan hidup Cigondewah Kaler hanya potret kecil perubahan hidup permukiman di Daerah Aliran Sungai Citarum dan anak-anak sungainya yang dikepung pabrik. ”Ada yang menjadi kantong urbanisasi, ada pula yang menjadi gudang pengusaha seperti Cigondewah,” kata antropolog Universitas Padjajaran, Budi Rajab. Bukan sungai yang tercemar yang memaksa warga bersalin jalan hidup. Namun, daya pikat peluang yang dimunculkan industrialisasilah yang mengubah mereka. ”Bagi orang Sunda, sungai dan air hanya instrumen ekonomi. Berbeda dengan orang Dayak misalnya, yang menempatkan sungai sebagai bagian dari kehidupan ritualnya,” tutur Budi Rajab. Warga mengabaikan kerusakan DAS Citarum dan anak sungainya, karena merasa manfaat ekonomi pabrik pencemar dianggap cukup menggantikan manfaat ekonomi sungai, bahkan dengan pendapatan yang lebih besar. ”Kalau kami tidak segera membangun kebudayaan sungai kami, pastilah DAS Citarum akan semakin hancur,” kata Budi. Tisna mencoba membangunnya di Cigondewah melalui Pusat Kebudayaan Cigondewah, yang kerap menggarap kehancuran lingkungan Cigondewah sebagai inspirasi proses kreatif bersama warganya. ”Kami tidak bisa mengkritik frontal kehancuran lingkungan Cigondewah. Melalui seni, kami mencoba menginspirasi, mengajak warga memikirkan sungai dan airnya. Memang tidak mudah,” ujar Tisna.

73

Ekspedisi Citarum

Tertatih di Seberang Waduk Jatiluhur
Cornelius Helmy Herlambang | nurulloh | Minggu, 1 Mei 2011 | 13:59 WIB PURWAKARTA, KOMPAS.com — Turun dari perahu, Kusnadi (13) bergegas lari menaiki bukit di tepian Waduk Ir H Djuanda di Kecamatan Sukasari, Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat, Rabu (30/3) pagi. Dengan nafas tersengal dia meminta izin Hermanto (48), sang guru, untuk masuk ke kelas yang telah setengah jam memulai pelajaran IPA. Hari itu Kusnadi terlambat lagi. Seperti belasan temannya, siswa kelas II SMP Negeri 1 Sukasari itu harus menempuh perjalanan darat dan air dari rumah menuju sekolah. Setelah berjalan kaki ratusan meter, dia harus menyeberangi perairan sejauh lima kilometer, kemudian berjalan kaki lagi dari tepian waduk terdekat menuju sekolah. Dengan mengandalkan satu-satunya perahu jemputan milik sekolah, siswa-siswa dari perkampungan seberang waduk itu sering terlambat masuk kelas. Sebab, Asikin (35), pengemudi perahu SMP 1 Sukasari, harus mendatangi siswa di sedikitnya dua titik penjemputan, yakni Kampung Gunung Buleud, Desa Ciririp serta Kampung Cibuni Pasir Desa Kertamanah. Berangkat pukul 05.15, Asikin langsung menuju titik penjemputan terjauh. Butuh waktu hampir 45 menit untuk mencapainya. Hari itu Asikin harus mengantar Pairin (44), Kepala SD Sukasari, terlebih dulu ke Kampung Nagrak, Desa Sukasari, sebelum menjemput lima siswa di titik penjemputan pertama kemudian sembilan siswa lain di titik kedua. ”Situasi angin dan ombak di perjalanan sulit diprediksi, maka waktu antar jemput kadang lebih lama dan siswa tidak tepattiba di sekolah pukul 07.00. Prinsipnya, biar telat asal selamat,” ujar pegawai honorer yang bekerja sejak tahun 2004 itu. Tanggungjawab Asikin terhadap keselamatan penumpangnya jauh lebih besar ketimbang honornya yang hanya Rp 224.000 per bulan. Oleh karena itu, dia terkadang harus berbagi penumpang dengan Tiar Budiman (32), pengemudi perahu milik SMA 1 Sukasari yang juga mengantar jemput siswa, karena melebihi kapasitas penumpang. Infrastruktur Musim hujan dan angin kencang, biasanya terjadi bulan Juni-September, menjadi momen menegangkan bagi Asikin dan Tiar. Sebab perahu kayu sepanjang 9 meter dan lebar 1 meter berkapasitas 15 penumpang harus membawa 20-30 penumpang di tengah terpaan angin dan gelombang. Dalam situasi seperti itu, tak sedikit siswa yang memilih membolos karena mengkhawatirkan keselamatannya. Endah Puspita (16), siswi asal Gunung Buleud, misalnya, mengaku pernah membolos hingga enam hari dalam sebulan. Sebagian siswa memberanikan diri untuk tetap berangkat ke sekolah karena tidak ingin tertinggal pelajaran. Buruknya kondisi jalan memaksa siswa dan warga di seberang Waduk Jatiluhur tetap memilih perahu sebagai alat transportasi utama. Menurut Kusnadi, meski hanya berjarak sekitar lima kilometer, waktu tempuh dari rumah ke sekolah melalui jalur darat bisa memakan waktu 45 menit lebih. Dalam kondisi jalan becek akibat guyuran hujan, waktu tempuh bisa molor lebih dari 1 jam. Jalan rusak yang didominasi batu dan tanah menyulitkan kendaraan bermotor melintas di atasnya. Kondisi itu pula yang membuat Sukiman, Kepala SMP 1 Sukasari, memilih menginap di sekolah ketimbang pulang pergi ke rumahnya di daerah Bunder, Kecamatan Jatiluhur, Kabupaten Purwakarta. ”Perjalanan darat dengan sepeda motor bisa 1-1,5 jam meski jaraknya hanya sekitar 15

74

kilometer. Ketimbang capai meladeni jalan yang rusak dan waktu habis di jalan, saya memilih menginap di sini. Sesekali pulang melalui jalur air,” kata Sukiman. Hermanto dan beberapa guru sekolah itu memilih pulang pergi dengan sepeda motor meski beberapa kali terjatuh di jalan rusak. Namun, saat hujan deras turun dan kondisi perairan waduk bergejolak, mereka takluk juga dan memilih menginap di sekolah. SMP 1 Sukasari dan SMA 1 Sukasari, keduanya berada di Desa Kertamanah, menjadi satusatunya SMP dan SMA di Kecamatan Sukasari. Hingga 46 tahun lebih sejak proyek Waduk Ir H Djuanda dibangun, baru dua dari lima desa di kecamatan di seberang waduk itu yang terhubung dan dapat diakses melalui jalur darat, yakni Desa Kutamanah dan Kertamanah. Tiga desa lainnya, Ciririp, Sukasari, dan Parungbanteng, meski memiliki akses darat, hingga kini lebih sering diakses melalui jalur air karena ada beberapa jembatan yang belum terhubung. Selain pelajar, pedagang dan petani yang akan berbelanja atau menjual hasil panennya, juga memanfaatkan jasa perahu penyeberangan. Harga barang Dampak keterisolasian itu tampak jelas di harga barang-barang kebutuhan di Sukasari. Hermanto menyebutkan, harga semen yang mencapai Rp 50.000 per zak meski di pusat Purwakarta yang berjarak 20 kilometer Rp 40.000 per zak. Pasir yang di kota Rp 300.000 per mobil (empat meter kubik), di Sukasari harganya Rp 500.000. Sebaliknya, harga hasil bumi Sukasari tertekan akibat mahalnya ongkos transportasi. Bambu yang banyak dihasilkan di kebun-kebun warga Sukasari hanya laku Rp 2.000 per batang, meski harga jual di kota mencapai Rp 5.000-Rp 7.000 per batang. Nasib yang sama dialami komoditas pisang, padi, dan jagung. Kondisi itu pula yang turut menghambat pembangunan dua ruang kelas SMA 1 Sukasari. Menurut Retno Fadillah (32), salah satu guru di sekolah itu, anggaran sebesar Rp 140 juta dari pemerintah habis sebelum bangunan selesai. ”Kami mendapat jatah anggaran yang sama dengan sekolah di kota, padahal kebutuhan dana pembangunan di sini jauh lebih besar karena kendala mahalnya ongkos transportasi,” ujarnya. Kendala itu pula yang menghambat pembangunan laboratorium seluas 150 meter persegi milik SMP 1 Sukasari. Pembangunan sempat terhenti karena kebutuhan anggaran lebih besar dari perkiraan, antara lain karena harga material yang lebih mahal. ”Akhirnya selesai setelah ada tambahan Rp 30 juta dari pemerintah daerah,” tambah Hermanto. Pemerintah setempat memang telah memperbaiki sebagian jalan menuju beberapa desa di Sukasari, tetapi kini jalan sudah rusak lagi meski belum genap berumur dua tahun. Pemerintah juga menjangkau rumah-rumah yang sebelumnya belum teraliri listrik. Namun, melihat sejumlah kenyataan itu, warga Sukasari rupanya masih tertatih.(Mukhamad Kurniawan/Cornelius Helmy) Ekspedisi Citarum

Sisa-sisa Kejayaan Citarum Purba
Dedi Muhtadi | nurulloh | Minggu, 1 Mei 2011 | 12:13 WIB OLEH DEDI MUHTADI BANDUNG, KOMPAS.com — Anda tertarik batuan purba yang usianya lebih dari 25 juta tahun? Batuan kapur yang terbentuk dari laut dangkal sekitar 25-30 juta tahun lalu itu masih ada di Sanghyangpoek, Sanghyangtikoro, dan Sanghyangkenit, di Sungai Citarum purba yang kini masuk kawasan Unit Pembangkit Listrik Saguling, Jawa Barat. Sanghyangpoek (poek artinya gelap, Dewa Kegelapan, karena bagian dalam gua sangat gelap). Tikoroartinya tenggorokan, Dewa Tenggorokan karena begitu air masuk ke gua ini seperti masuk ditelan bumi. Sanghyangkenit adalah Dewa Selendang.

75

Ketiga dewa itu, menurut legenda masyarakat Sunda buhun, berada di sepenggal Sungai Citarum sepanjang 7 kilometer yang masih bersih dengan pesona lingkungan yang indah, hijau lestari. Ketika matahari Sabtu (9/4) siang agak menyengat, dua petani pisang penuh riang, mandi bertelanjang di lubuk (leuwi) dangkal berair jernih yang mengalir di sela-sela batuan besar Sungai Citarum. Dasar sungai berpasir jernih terlihat jelas, lengkap dengan binatang air yang ikut berenang di sela-sela batu. Binatang ini merupakan indikator bahwa air itu masih bersih. Pikulan pisang disimpan sembarang di pinggir sungai. Aman, karena daerah tertutup ini jarang dimasuki orang luar. ”Tiap dua minggu kami panen pisang sekitar 60-70 kilogram seharga Rp 1.250 per kilogram,” ujar Tadjudin (44), petani pisang warga Desa Rajamandala, Kabupaten Bandung Barat. Tanah garapan Tadjudin bersama 40-an tetangganya berada di hutan Desa Cihea, Kecamatan Haurwangi, Kabupaten Cianjur, yang merupakan kawasan jati Perum Perhutani Unit III JabarBanteng. Untuk mencapai lahan itu, Tadjudin harus berjalan sejauh 15 kilometer selama 2 jam. Mereka menanami lahan itu secara tumpang sari di sela-sela pohon jati Perhutani yang sedang tumbuh. Mereka menjaga pohon utama itu dari berbagai gangguan, termasuk penjarahan kayu. Sebagian besar tanaman petani yang tumbuh di kawasan hutan Daerah Aliran Sungai (DAS) Citarum adalah pisang ambon. ”Kami sudah 15 tahun menanami lahan itu,” ujar Bah Ohan (66) seraya menunjuk sederetan tanaman jati yang diameternya rata-rata sebesar tangan orang dewasa. Memberi kehidupan Bah Ohan, Tadjudin, maupun petani penggarap lainnya masing-masing memiliki binatang peliharaan pemakan rumput. Tadjudin memiliki 20 kambing yang rumputnya setiap hari secara mudah bisa diperoleh di sisi-sisi Sungai Citarum. Setahun sekali Tadjudin panen raya kambing yang dijual menjelang Idul Adha. Saat itu harganya sedang tinggi karena diperlukan untuk hewan kurban. ”Ketiga anak saya biaya sekolahnya dari hasil jual kambing,” ujarnya seraya menunjuk anak pertamanya yang baru lulus SMA. Alam yang terpelihara telah memberikan kehidupan kepada warga desa itu terus-menerus. Malah 30-40 tahun lalu atau sebelum kawasan industri (tekstil) berkembang di Majalaya dan Dayeuhkolot di Kota Bandung, sekitar 50 kilometer hulu Saguling, Citarum purba di kampung Tadjudin berair jernih dan sering dijadikan sumber air minum langsung. ”Kami pergi ke tengah sungai lalu membenamkan lodong (potongan bambu sepanjang 2 meteran). Air itu langsung kami minum atau digunakan untuk menanak nasi,” kenangnya. Akan tetapi setelah Citarum tercemar, menurut Tadjudin, warga di sana menderita. ”Jangankan untuk minum, jika kulit kena air Citarum sekarang bisa gatal,” ungkap Tadjudin. Meski demikian, sisa-sisa kejayaan sungai purba ini masih ada, yakni di sepanjang tujuh kilometer antara Bendung Saguling dan Power House, Saguling. Ini karena bendung Saguling menutup arus Citarum untuk dialirkan ke turbin. Setelah memutar turbin berkapasitas 7001.400 megawatt itu, air Citarum yang mengalir dari hulunya di Gunung Wayang, Bandung Selatan, dikeluarkan kembali ke Citarum di Sanghyangtikoro, di bawah turbin. Citarum lama ini hanya dipasok oleh selokan-selokan kecil yang mengalir dari mata air-mata air di sekitar hutan kawasan ini. Di sepanjang alur ini ribuan batu besar-kecil yang memenuhi sungai masih berwarna abu-abu batuan asli. Gemericik air mengalir terus-menerus menambah indahnya panorama alam sisa-sisa ujung barat danau Bandung purba itu. Namun, lima ratus meter di hilir Sanghyangpoek, warna ribuan batuan itu berwarna kuning busuk karena mendapat aliran air dari air Citarum yang sudah tercemar. Jika air di sekitar Sanghyangpoek warnanya bening dan bersih, setelah Sanghyangtikoro ke hilir melewati Sanghyangkenit, airnya kotor, penuh bermacam-macam sampah, terutama plastik.Keragaman bumi Ketiga fenomena alam zaman baheula ini berlokasi di Desa Rajamandala, Kecamatan Cipatat, Kabupaten Bandung Barat, yang langsung berbatasan dengan Desa Cihea, Kecamatan

76

Haurwangi, Kabupaten Cianjur. Jika Sanghyangtikoro berada di sekitar pembangkit Saguling sebagai pusatnya, jari-jarinya sekitar 500 meter ke hulu adalah Sanghyangpoek dan ke hilir 500 meter adalah Sanghyangkenit. ”Ini merupakan keragaman bumi yang sangat indah dan mengandung nilai keilmuan yang tinggi,” ungkap T Bachtiar, penulis yang juga anggota Masyarakat Geografi Indonesia dari Kelompok Riset Cekungan Bandung. Pada zaman kolonial, kawasan ini sudah dijadikan daerah tujuan wisata orang-orang Belanda, seperti yang tertulis dalam buku panduan wisata tahun 1927, Gids van Bandoeng en MiddenPriangan, door SA Retsna en WH Hoodland. Pada awalnya gua kapur dua lorong sepanjang 25 meter ini merupakan sungai purba bawah tanah saat Citarum belum dibendung Saguling. Menurut Bachtiar, batu kapur ini di Sanghyangpoek terdiri dari kalsium karbonat (CaCO3) yang larut dalam air dan menghasilkan gas karbon dioksida (CO) dari atmosfer. Air Sungai mengasah dan melarutkan batu kapur dari sisi sungai, menghasilkan bentukan yang oleh penggemar arung jeram disebut undercut. Kemudian jadi sungai bawah tanah yang berpadu dengan pelarutan dari atas, maka lengkaplah proses pembentukan gua menjadi sungai bawah tanah karena air mengalir ke dalam gua. Kini Sanghyangpoek sudah tidak menjadi sungai bawah tanah sehingga dengan mudah dapat ditelusuri lorong-lorongnya. Di beberapa titik, tetes-tetes air masih melarutkan batu kapur yang berarti proses pelarutan batu kapur masih berlangsung. Karena itu proses pembentukan stalaktit, bentukan yang menggantung di langit-langit gua, dan stalagmit, bentukan alamiah di dasar gua, ataupun bentukan dindingnya masih terus berlangsung. Di lorong-lorong gua yang tidak terlalu panjang, tersajikan pesona alam yang luar biasa indah. Di pinggirnya, gemericik air bening, bersih mengalir abadi, bertautan dengan suara burung yang beterbangan di antara hijaunya pepohonan. Nyanyian alam itu begitu syahdu, merdu walaupun hanya berlangsung di sepenggal alur Citarum lama. Di luar kawasan ini gemuruh air Citarum sepanjang 269 kilometer bernada serak, sumbang, dan mengerikan. Sejumlah bahan kimia berbahaya, terutama logam berat, telah mencemari sungai purba ini sejak hulu hingga muaranya di Laut Jawa.

Jatiluhur Butuh Jutaan Ikan Pemakan Plankton
Mukhamad Kurniawan | Erlangga Djumena | Minggu, 1 Mei 2011 | 14:22 WIB PURWAKARTA, KOMPAS.com - Meledaknya jumlah keramba jaring apung di Waduk Ir H Djuanda Jatiluhur, Kabupaten Purwakarta, sepuluh tahun terakhir, membuat fitoplankton berkembang pesat. Keberadaannya turut memicu anjloknya kandungan oksigen terlarut yang menjadi salah satu penyebab kematian ikan massal. Menurut sejumlah instansi, jumlah keramba yang ideal di waduk seluas 8.300 hektar itu 2.500-6.200 unit. Namun, hasil pemantauan terakhir, jumlahnya ditaksir telah mencapai 17.000 unit. Kolamkolam itu telah menjangkau beberapa sudut waduk. Seperti terlihat pada Sabtu (30/4/2011), petak-petak KJA menyebar di bagian timur, selatan, dan barat waduk yang meliputi enam kecamatan di Kabupaten Purwakarta tersebut. Menurut Kepala Loka Riset Pemacuan Stok Ikan Badan Riset Kelautan dan Perikanan, Didik Wahju, dengan jumlah KJA dan kondisi perairan saat ini, Waduk Jatiluhur membutuhkan 4,110 juta ekor ikan pemakan fitoplankton. Ledakan jumlah fitoplankton membuat persaingan dalam perebutan oksigen untuk respirasi berlangsung hebat. Maka dalam situasi tertentu, kandungan oksigen bisa anjlok dan membuat ikan limbung. Pemerintah dan instansi swasta, lanjut Didik, selama ini telah beberapa kali menebar benih ikan pemakan fitoplankton. Namun, jumlahnya masih jauh dari kebutuhan. Lemahnya

77

pengawasan penangkapan juga membuat fungsi penebaran berjalan kurang optimal. "Ikanikan hasil tebaran yang masih seukuran 2-3 jari juga ikut dijaring," ujarnya. Selain terlampau sedikit, penebaran ikan juga belum konsisten. Menurut Didik, jumlah 4,1-10 juta ekor benih diealnya ditebar bertahap 3-4 bulan sekali untuk mengurangi biomassa fitoplankton. Dengan bertahap, kompetisi untuk memperebutkan sumber pangan dapat dihindari. Kini diperkirakan ada sekitar 900 nelayan tangkap di Waduk Jatiluhur. Acon Wiguna, Ketua Himpunan Nelayan Jatiluhur menambahkan, hasil tangkapan nelayan cenderung turun. Jumlah tangkapan meningkat 3-4 bulan setelah ada penebaran benih, tetapi setelah itu terus turun. Para nelayan juga semakin kesulitan menangkap ikan-ikan asli Citarum, seperti lika dan balidra. Selain faktor perubahan habitat akibat pembendungan sungai, ikan-ikan itu semakin jarang tertangkap nelayan karena air Sungai Citarum kian tercemar limbah peternakan, perikanan, industri, dan rumah tangga. Ekspedisi Citarum

Ikan-ikan Pun Kalah di Citarum

Cornelius Helmy Herlambang | nurulloh | Minggu, 1 Mei 2011 | 13:49 WIB BANDUNG, KOMPAS.com — Sebanyak 14 jenis ikan asli Sungai Citarum diperkirakan punah dalam kurun 40 tahun hingga 2007. Selain oleh perubahan habitat pemijahan dan pembesaran akibat pembendungan sungai, ikan-ikan itu punah karena tak mampu beradaptasi dengan air yang kian tercemar. Jeje (64), nelayan di Desa Galumpit, Kecamatan Tegalwaru, Kabupaten Purwakarta, Rabu (30/3) siang, memejamkan mata sejenak saat diminta mengingat ikan-ikan langka yang pernah tertangkap jaringnya. ”Kebogerang, gabus, dan hampal beberapa kali kena, tetapi lika, arengan, dan balidra sudah lama ngga (tertangkap),” ujarnya. Ada beberapa jenis ikan yang sudah tidak dia ingat lagi namanya karena bertahun-tahun tak terjaring. Kini, seperti ratusan nelayan lain di perairan Waduk Ir H Djuanda atau Waduk Jatiluhur, Jeje lebih sering menangkap ikan nila, mas, dan patin yang juga banyak dibudidayakan di petak-petak keramba jaring apung, atau bandeng yang benihnya pernah ditebar pemerintah beberapa tahun terakhir. Nelayan lain yang lebih muda dari Jeje lebih kesulitan menyebut nama-nama ikan asli Citarum. Mereka mengaku belum pernah menangkap atau melihatnya secara langsung. Sejumlah pemancing dan nelayan berusia 28-35 tahun bahkan mengaku baru mendengar beberapa nama ikan seperti genggehek, balidra, dan lika. Aris (34), pemancing asal Pangalengan, Kabupaten Bandung, yang 2-3 kali dalam sepekan memancing di perairan Waduk Cirata, juga lebih sering menangkap ikan budidaya (tebaran) ketimbang ikan asli. ”Kalau pun dapat ikan asli, biasanya jenis kebogerang atau gabus,” kata Aris. Endi Setiadi Kartamihardja, peneliti Pusat Riset Perikanan Tangkap dalam Jurnal Iktiologi Indonesia Volume 8 Tahun 2008 menyebutkan, pada kurun 1968-1977 terdapat 31 jenis ikan hidup di Waduk Ir H Djuanda, waduk yang membendung Sungai Citarum di Jatiluhur, Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat. Sebanyak 23 jenis di antaranya adalah ikan asli (indigenous species) dan 8 jenis sisanya adalah ikan tebaran. Akan tetapi, pada penelitian tahun 1998-2007, dari 23 jenis ikan asli, hanya ditemukan 9 jenis yakni hampal (Hampala macrolepidota), lalawak (Barbodes bramoides), beunteur (Puntius binotatus), tagih (Mystus nemurus), kebogerang (Mystus negriceps), lais (Lais hexanema), lele (Clarias bratachus), lempuk (Callichrous bimaculatus), dan gabus (Channa striatus). Sementara ikan tebaran, seperti mas (Cyrpinus carpio) dan mujair (Oreochromis mosammbicus), cenderung bertahan.

78

Ikan-ikan yang sudah tidak ditemukan lagi dan diduga kuat punah antara lain julung-julung (Dermogenys pusillus), tilan (Macrognathus aculeatus), tawes (Barbodes gonionotus), genggehek (Mystacoleucus marginatus), arengan (Labeo crysophaekadion), kancra (Tor douronensis), nilem (Osteochillus hasselti), dan paray (Rasbora argyrotaenia). Pencemaran Kepala Loka Riset Pemacuan Stok Ikan Badan Riset Kelautan dan Perikanan, Didik Wahju Hendro Tjahjo menambahkan, penyebab utama berkurangnya keanekaragam jenis ikan di suatu perairan adalah hilangnya habitat. Pembendungan Sungai Citarum seiring dibangunnya Waduk Ir H Djuanda (1967), Saguling (1985), dan Cirata (1987), merubah ekosistem perairan dari mengalir menjadi tergenang. Hal senada dilontarkan Guru Besar Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Padjadjaran Bandung Johan Iskandar mengatakan penelitiannya di awal 1990-an, menyebutkan ada 23 jenis ikan liar yang umum ditangkap penduduk lokal dari Sungai Citarum. Ikan itu antara lain sidat, lika, kebogerang, hinur, arengan, genggehek, beunteur, lalawak, leat, berod, balidra, gabus, lais, jambal dan lemp. Namun keberadaan ikan itu semakin hari semakin berkurang. Bahkan, ada banyak ikan yang dulu banyak ditemukan kini mulai jarang terlihat, seperti arengan, lempuk, balidra dan jambal. Penyebabnya perubahan kontur air sungai Citarum yang deras menjadi waduk yang berair tenang, pencemaran limbah pestisida lahan pertanian, limbah industri dan limbah rumah tangga. Tidak hanya itu, karena banyaknya jenis-jenis ikan yang hilang dapat pula menyebabkan hilangnya berbagai pengetahuan lokal masyarakat, seperti pengetahuan tentang jenis-jenis ikan, kehidupan jenis-jenis ikan, teknik-teknik penangkapan ikan. “Contohnya budaya palika atau penangkap ikan di Jawa Barat. Palika memiliki kemampuan menahan nafas yang sangat lama di dalam air untuk mencari ikan di air derasa seperti Citarum. Seiring tidak ada lagi ikan lincah karena hidup di air deras, palika pun ditinggalkan. Masyarakat cukup menjala atau memancing,” katanya. Dalam perkembangannya, fungsi waduk bertambah seiring introduksi teknologi keramba jaring apung (KJA) sejak 1988. Jumlah KJA terus bertambah hingga menambah jumlah kotoran dan sisa pakan yang terbuang dan mengendap di dasar waduk. Menurut Didik, limbah KJA membuat kandungan unsur nitrat, nitrit, dan amonia meningkat sehingga perairan menjadi subur. Organisme perairan seperti plankton, bentos, dan tumbuhan pun berkembang pesat. Dampaknya, kandungan oksigen rentan anjlok karena diperebutkan oleh organisme perairan dalam proses respirasi terutama pada malam hari. Minimnya kandungan oksigen dinilai turut memicu kematian ikan-ikan budidaya secara massal untuk pertama kalinya di Waduk Ir H Djuanda pada tahun 1996. Meledaknya jumlah KJA setelah tahun 2000 melipatgandakan jumlah limbah yang terbuang dan membuat mutu air menurun dan kasus kematian ikan massal berulang. Kondisi itu diperparah dengan masuknya limbah industri dan rumah tangga dari hulu Citarum. Dampak berkurangnya jenis ikan dan keanekaragaman hayati merubah ekosistem perairan dan mengurangi fungsi ekohidrologinya. Fungsi pemurnian air secara alami tidak berjalan semestinya karena sebagian jenis ikan dan biota akuatik yang seharusnya ada dalam daur ekohidrologi menjadi berkurang atau hilang. Upaya memperbaiki mutu perairan seperti dengan penebaran benih ikan pemakan plankton dan tumbuhan, menurut Didik, belum efektif karena jumlahnya belum memadahi dan penangkapan tak terkendali. Waduk Ir H Djuanda, misalnya, membutuhkan 4,2 juta hingga 10 juta bibit ikan pemakan plankton, namun beberapa tahun terakhir jumlah yang ditebar kurang dari separuhnya. Ikan-ikan ukuran kecil yang seharusnya tidak boleh ditangkap juga sering ditemukan di tempat-tempat penampung ikan. Belum lagi limbah organik dan non-organik yang terus masuk ke Citarum, membuat ikan-ikan

79

kian sulit hidup. Jika bisa bicara, hampal, lalawak, beunteur, tagih, dan ikan lain yang masih bertahan mungkin akan teriak, ”Selamatkan kami segera!”(MKN/CHE) Ekspedisi Citarum

Cimahi Punya Rumah Desain dan Kemasan
Dedi Muhtadi | nurulloh | Senin, 2 Mei 2011 | 15:39 WIB CIMAHI, KOMPAS.com — Di sebuah toko makanan di Kota Cimahi, Jawa Barat ada makanan ringan Comring (comro kering) terbungkus dengan dus cantik berwarna kuning kemerahan. Di belakang dus ukuran 10 x 25 centimeter, tertulis izin Depkes – MUI yang menyatakan makanan itu sehat dan halal produksi Mustika Sari dengan huruf tebal hitam cukup profesional. Sepintas makanan kecil berkomposisi singkong, cabe, bawang, gula, garam dan ketumbar itu seperti produk industri besar. Siapa sangka, snack yang terbungkus rapi lengkap dengan ukuran beratnya itu buatan ibu-ibu rumah tangga yang tinggal di gang sempit, Jl Leuwi Gajah Blk 128 Kelurahan Cigugur Tengah Kota Cimahi. Begitu juga Sumpia, makanan renyah dan gurih berbahan baku udang kering yang terbungkus dengan dus warna kuning dan merah jambu. Produsennya tertulis ChanTika Dewi beralamat di Jl Raya Cilember Cigugur Tengah Kota Cimahi. Ternyata, “pabrik” nya terletak di gang sempit Tunggal Bakti 5/7 RT 04 RW 06 yang tempat penggorengannya bersatu dengan teras rumah berukuran 5 X 7 meter. “Kami sudah 11 tahun memproduksi comring,” ungkap Sardjo, suami Bu Enok, panggilan akrab Ny Warni, sambil membungkus comring yang sudah digoreng. Comring-comring itu diletakan di sebuah wadah di atas kursi panjang tengah rumah yang bersatu dengan dapur. Comro sendiri adalah makanan tradisional Sunda yang berarti oncom dijero (di dalam). Sebelum digoreng, oncom diletakan didalam parutan singkong yang dibentuk bulat-bulat. Dalam pembuatan comring, Bu Enok bertugas membuat adonan dari singkong parutan dan membumbuinya. Setelah siap goreng, lalu disebarkan ke 5 kelompok ibu-ibu tetangganya yang masing-masing kelompok beranggotakan 3 ibu rumah tangga. Setelah comring matang, disetorkan kembali ke Bu Enok untuk dibungkus dan diberi label. Dari hasil penggorengan itu tiap anggota memperoleh penghasilan rata-rata Rp 30.000 per hari. “Lumayan untuk meringankan beban suami,” ujar Ny Ika Rostikawati (31) yang menjadi mitra Bu Enok. Dengan pola itu selain menyebarkan usaha dan menambah penghasilan rumah tangga, juga menyebarkan usaha. Hal yang sama juga dilakukan oleh Ny Ai Tarmini dengan 10-15 ibu-ibu tetangganya. Selain di Cimahi dan Bandung, Ai juga menjual makanan tradisonal itu ke Jakarta dan rest area di Jalan Tol Cikampek dan Cipularang. “Kami juga membantu menjualkan comring dan beberapa makanan ringan hasil ibu-ibu lainnya di Cimahi,” ujar Ai Tarmini yang menggeluti sumpia sejak 2005 lalu. Merk dari hasil kerajinan tangan Ai Tarmini sudah memperoleh hak cipta dari Dephukham. Di kartu namanya juga tercantum alamat lengkap website dan email. Layanan RDKC Ibu-ibu rumah tangga itu merupakan dua di antara 30 pelaku usaha menengah kecil mikro (UMKM) yang menerima bantuan stimulan kemasan dari Rumah Desain Kemasan Kota Cimahi atau RDKC. RDKC adalah unit pelaksana teknis di bawah Dinas Koperasi Perindustrian, Perdagangan, dan Pertanian (Diskopindagtan) Kota Cimahi yang bertugas melayani kebutuhan UMKM melalui berbagai konsultasi. Misalnya, memberikan informasi detail proses desain dan aliran prosespembuatan bungkus produk sampai pencetakan. Konsultasi detail desain kemasan baik grafis atau struktur bagi produk yang dihasilkan UMKM. Dengan begitu diharapkan setiap pembungkusan/pengemasan

80

yang dikeluarkan mempunyai karakteristik dan memberi dampak lebih besar terhadap usaha mereka dan bukan semata mampu mengikuti tren. Konsultasi pengembangan pemasaran produk-produk UMKM setelah mendapatkan kemasan baru melalui akses pasar yang dijalin oelh tim RDKC ataupun informasi-informasi potensi pasar untuk produk-produk tersebut. Konsultasi manajemen baik produksi, keuangan maupun pemasaran dan distribusinya dimana bagi UMKM yang telah mapan agar dapat melakukan kegitana produksinya dengan nuansa pemberdayaan. Yaitu melibatkan masyarakat sekitar agar ikut dalam kegiatan usaha tersebut. Atau melakukan hal yang sama dan produksinya ditampung dan dipasarkan melalui akses pasar yang telah berjalan. “Dengan begitu diharapkan dapat tercipta sentra produksi sejenis di wilayah tersebut,” kata Harjono, Kahumas Pemkot Cimahi. Menawarkan kerja sama dalam pengemasan produk melalui fasilitasi mesin-mesin kemasan yang dimiliki oleh RDKC. Setelah itu konsultasi tentang perizinan yang menjadi persyaratan sebuah produk. Khususnya produk olahan makanan serta konsultasi persyaratan-persyaratan kemasan untuk dapat masuk dalam beberapa segmen pasar. Didukung APBD Tiap tahun APBD Cimahi menganggarkan belanja langsung untuk UMKM ini sekitar Rp 5 miliar. Namun khusus untuk RDKC, dialokasikan dana Rp 300-500 juta per tahun. Wali Kota Cimahi HM Itoc Tochija menjelaskan, pengembangan UMKM didasari oleh kenyataan bahwa warga Cimahi tingkat daya belinya masih di bawah rata-rata Jawa Barat. Padahal derajat kesehatan dan pendidikan sudah di atas rata-rata Jabar. Karakteristik kota Cimahi ini adalah industri, namun sejak krisis ekonomi berlangsung sudah 58 industri berhenti. Dengan komposisi tenaga kerja 60 persen dari luar dan 40 persen dari Kota Cimahi, hal itu berpengaruh terhadap pendapatan warga. Akibatnya di daerah kantung-kantung di dekat industri penghasilan warga terbatas. Malah penghasilan mereka banyak yang kurang dari upah minimum kota. Dari kenyataan itu Pemkot lalu mencari formulasi untuk mengembangkan UMKM. Pertama, memfasilitasi program maklun yakni mengupahkan pengerjaan barang kepada pihak lain. Misalnya industri komponen kendaraan yang memaklunkan suku cadangnya kepada UMKM. Ini terjadi di industri otomotif, misalnya karet-karet penahan benturan antarbesi dengan besi. Kedua garmen yang sekarang ini pasarnya masih bisa diandalkan. Ketiga adalah kuliner yang terutama diarahkan untuk kemampuan meningkatkan kualitas higienis produk hingga memasakannya. Pemkot lalu menyediakan Sekolah Jumat yang dikelola oleh ibu-ibu PKK. Di sini para pelaku UMKM dilatih cara memproduksi, menggoreng, hingga membungkus makanan sehat. “Misalnya para pembuat roti terutama yang biasa dijajakan ke anak-anak sekolah, kami bina betul terutama kesehatan makanannya,” ujar Itoc. Hingga kini sudah 86 pengusaha UMKM bidang kuliner dibimbing mulai dari pembungkusan hingga pemasaran. Untuk mendukung tenaga ahli, disediakan jurusan Tataboga pada SMK III Cimahi. Di SMK ini terdapat tempat pelatihan yang cukup mumpuni bagi para pelaku UMKM. Cimahi yang letaknya terjepit oleh Kota Bandung, Kabupaten Bandung, dan Kabupaten Bandung Barat memiliki tiga kecamatan dan 15 kelurahan, 307 rukun kampung/warga dan 1.675 rukun tetangga (RT) berpenduduk 522.731 jiwa (2007). Kota dilewati Sungai Cimahi yang bermuara ke Sungai Citarum. Secara geografis wilayah ini merupakan lembah yang juga mengarah ke Citarum. Melihat fakta itu, program pembangunan harus langsung diarahkan kepada peningkatan peningkatan kesejahteraan masyarakat berbasis keluarga. Di tiap-tiap RT yang memiliki potensi usaha dibuat proyek perintis lalu dibina oleh RDKC. RDKC kemudian melakukan advokasi dan pelatihan sehingga pelaku ekonomi di tingkat akar rumput itu memiliki kemampuan berusaha.

81

Bagi yang sudah berusaha didorong agar meningkatkan kemampuannya, misalnya bidang pemasaran. Bagaimana produk-produk hasil kerajinan rakyat itu bisa dipasarkan lebih baik, maka pembungkusan atau pengemasannya harus menarik. Asisten Ekonomi Pembangunan Kota Cimahi Syamsul Hidayat, menambahkan, RDKC juga diarahkan menjadi badan usaha milik daerah (BUMD). Pelaku UMKM yang sudah menerima stimulan kemasan, seterusnya berlangganan bungkus/kemasan bagi produknya yang desainnya dibuat di RDKC. (Dedi Muhtadi) EKSPEDISI CITARUM 2011

Senja Kala Lumbung Ikan Citarum
2 Mei 2011 Mukhamad Kurniawan dan Rini Kustiasih Puluhan ribu keramba di aliran Citarum merupakan lumbung ikan air tawar nasional. Namun, keberadaannya kian rapuh oleh pencemaran, sedimentasi, dan serangan virus bertubi-tubi. Bagi sebagian pelaku, era kejayaan perikanan Citarum telah berlalu, bahkan menjadi masa lalu. Empat bersaudara Nukman (44), Misbah (41), Obin (36), dan Iwan (25) merasakan betul kemunduran itu. Mewarisi 20 petak keramba jaring apung (KJA) dari orangtua di perairan Waduk Saguling, Desa Rancapanggung, Kecamatan Cililin, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, kakak beradik ini mampu berdikari sejak 1997. O bin, misalnya, sanggup membangun sendiri lima petak KJA pertamanya. Dari hasil panen ikan mas, nila, dan patin, dia bisa menyisihkan uang untuk membeli tanah, membangun rumah, dan menambah jumlah kolam. Demikian pula dengan kakak dan adiknya. ”Baru 3-4 tahun merasakan nikmatnya membudidaya, masalah datang silih berganti. Ikan mati secara massal berulang setiap kali tebar. Akibat sering rugi, tahun 2003 saya berhenti,” kata Obin. Kasus kematian ikan rupanya kian sering terjadi. Selain akibat serangan virus, ikan mati karena kandungan oksigen terlarut anjlok. Arus juga sering mengaduk endapan dasar waduk sehingga menambah risiko kematian ikan. Usaha KJA di Saguling pun meredup. Ridwan (44), pemasok pakan ikan di kawasan itu, mengaku terguncang karena permintaan pakan terus menurun seiring dengan meredupnya budidaya ikan KJA. Jika tahun 1996 dia masih memasok lebih dari 200 ton pakan per bulan, kini rata-rata permintaan kurang dari 50 ton per bulan. ”Belasan pengecer pakan sudah tidak berjualan karena rugi,” ujarnya. Kemunduran juga dialami pelaku usaha serupa di Waduk Cirata. Asep Sulaeman (37), pembudidaya di perairan Desa Nanggeleng, Kecamatan Cipeundeuy, Kabupaten Bandung Barat, menambahkan, karena mutu air terus menurun, pembudidaya mengurangi kepadatan tebar benih dari 50-75 kilogram per kolam menjadi 30 kg per kolam. Pada bulan tertentu, terutama puncak musim hujan, mereka mengosongkan kolam untuk menghindari risiko rugi akibat kematian ikan secara massal. Jabar merupakan produsen utama ikan budidaya, khususnya pada subsektor jaring apung. Data Badan Pusat Statistik 2005-2008 menunjukkan, produksi Jabar selalu mendominasi produksi nasional. Tahun 2006 produksi ikan dari jaring apung Jabar mencapai 80,9 persen dari 143.252 ton total produksi nasional. Tahun 2008 produksi Jabar mencapai 144.560 ton atau 54,9 persen dari 263.169 ton total produksi nasional. Keberadaan puluhan ribu KJA di Waduk Saguling, Cirata, dan Ir H Djuanda yang membendung aliran Sungai Citarum menyumbang produksi tersebut. Sejak diuji coba tahun 1974 dan dibudidayakan pada 1988 di Waduk Ir H Djuanda, pola budidaya KJA terus berkembang ke Saguling dan Cirata. Jumlah KJA di tiga waduk itu terus meningkat dan diperkirakan lebih dari 70.000 petak.

82

Teknologi KJA tergolong baru dan menguntungkan. Oleh karena itu, usaha yang awalnya direkomendasikan bagi warga yang terkena dampak pembangunan waduk itu telah menjadi incaran investor kakap. Dengan modal besar, mereka membangun puluhan hingga ratusan KJA. Jumlahnya kemudian berlipat ganda hingga melampaui ambang batas yang direkomendasikan instansi mana pun. Pesatnya perkembangan jumlah KJA, ditambah pencemaran dan sedimentasi dari hulu Citarum, membuat daya dukung perairan terus menurun. Gabungan Pengusaha Makanan Ternak (GPMT) mencatat, akumulasi masalah itu membuat budidaya ikan KJA kian lesu dalam 13 tahun terakhir, khususnya di Saguling dan Cirata. Ketua GPMT Denny Indradjaja menyebutkan, permintaan pakan ikan dari pembudidaya di Waduk Saguling anjlok dari 4.000 ton per bulan pada 1997 menjadi hanya 100 ton per bulan pada 2010. Kondisi serupa terjadi di Waduk Cirata. Permintaan pakan anjlok dari 12.000 ton per bulan pada 1999-2002 menjadi 4.000 ton per bulan pada 2010. ”Karena sudah tidak menguntungkan, sebagian pembudidaya ikan KJA di Saguling dan Cirata memilih memindahkan jaring apungnya ke Waduk Ir H Djuanda yang kondisi airnya dinilai lebih baik,” kata Denny. Konsumsi pakan di Waduk Ir H Djuanda pun meningkat dari 1.500 ton per bulan sebelum tahun 2005 menjadi 4.000 ton per bulan tahun 2010. Sejumlah pembudidaya meyakini, usaha KJA di Citarum sudah melewati masa kejayaannya. Usaha ini bahkan menghadapi ancaman kehancuran karena mutu air kian tak memenuhi syarat baku perikanan. Berdasarkan pemantauan PT Pembangkitan Jawa Bali selama triwulan I-IV tahun 2009, air tidak memenuhi baku mutu untuk air minum dan perikanan. Hal itu, antara lain, karena kandungan hidrogen sulfida (HS), amonia (NH), oksigen terlarut (DO), seng (Zn), kuprum/tembaga (Cu), timbal (Pb), dan kadmium (Cd) melebihi ambang. Menurut Kepala Biro Perikanan Budidaya Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia Jabar Muhamad Husen, butuh langkah revolusioner untuk mengatasi kompleksnya persoalan perikanan di DAS Citarum. Sementara Hery Gunawan, Sekretaris Dinas Perikanan Jabar, menambahkan, sudah ada upaya untuk memperbaiki mutu air waduk, antara lain menebar ikan pemakan plankton, membatasi jumlah KJA dengan menghentikan izin baru, dan melarang penggunaan styrofoam untuk pembuatan kolam. Namun, saat rencana dan program menunggu hasil, Obin dan ribuan pembudidaya sudah telanjur jatuh dalam lubang kebangkrutan. Sebagian bekerja dalam ”keremangan senja” perikanan Citarum. PESONA NUSANTARA

Waduk Jatiluhur, Pesona di "Jantung" Citarum
3 Mei 2011 Waduk Ir H Djuanda, biasa disebut Waduk Jatiluhur, adalah jantung di aliran Sungai Citarum. Membendung sungai di wilayah Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat, waduk seluas 8.300 hektar itu memompa ”kehidupan”. Beragam potensinya layak dinikmati sebagai obyek wisata alam. Mulai dibangun tahun 1957, Jatiluhur diproyeksikan menjadi waduk serbaguna. Selain mencegah banjir di hilir Citarum, Waduk Jatiluhur juga mengairi 240.000 hektar sawah di utara Jawa Barat, membangkitkan listrik 700-800 gigawatt hour per tahun, serta menyuplai kebutuhan air baku industri dan air bersih DKI Jakarta, Bekasi, dan Karawang. Waduk Jatiluhur juga berkembang menjadi lahan budidaya ikan melalui keramba jaring apung (KJA). Teknologi KJA diuji coba pertama kali di waduk itu tahun 1974, kemudian dikembangkan tahun 1988. Sepuluh tahun terakhir, usaha itu berkembang pesat. Kini jumlahnya mencapai 17.000 unit dengan volume produksi sekitar puluhan ribu ton per tahun. Belakangan Jatiluhur juga dikembangkan sebagai lokasi tujuan wisata. Berpusat di pantai timur—sebutan bagi kawasan di tepi timur waduk—obyek wisata Jatiluhur menempati lahan seluas 53 hektar di wilayah Desa Jatimekar, Kecamatan Jatiluhur.

83

Dari Bandung, kami menyasar lokasi ini melalui Jalan Tol Purbaleunyi. Keluar melalui gerbang Jatiluhur di daerah Ciganea, Purwakarta, lokasi obyek wisata dapat ditempuh hanya belasan menit. Pengunjung dari Jakarta juga akan lebih baik melalui gerbang tol ini, karena hanya berjarak tujuh kilometer dari obyek wisata. Setelah melalui jalan menanjak dengan beberapa kelokan, gerbang utama kawasan wisata langsung menyapa. Di sini, para pengunjung diwajibkan membayar karcis masuk Rp 5.000 per orang. Khusus akhir pekan atau hari libur nasional, tarifnya naik menjadi Rp 7.500 per orang. Hanya satu kilometer dari gerbang masuk, pengunjung langsung disuguhi hamparan air yang teramat luas. Saking luasnya, kami menyebut waduk ini mirip lautan. Deretan gunung dan ribuan petak keramba mengisi cakrawala di seberang barat. Ditingkahi suara perahu yang lalu lalang mengantar pengunjung, angin menerpa daratan dan mengibarkan daun-daun pohon yang berderet di pantai timur. Di bawah pohon-pohon ini, panorama alam Jatiluhur bisa dinikmati utuh dari sisi utara, barat, kemudian selatan, atau sebaliknya. Memancing Di kawasan obyek wisata Jatiluhur, terdapat ”markas besar” cabang olah raga dayung. Jika beruntung, Anda bisa menyaksikan atlet-atlet dayung nasional berlatih kano, kayak, atau perahu naga melintasi perairan Waduk Jatiluhur. Akan tetapi, memancing ikan tidak kalah seru dari menonton atlet dayung yang beradu cepat. Pengunjung bisa membawa sendiri pancing dan umpannya. Tetapi, Anda juga bisa membelinya di warung-warung di kanan kiri jalan beberapa kilometer menjelang obyek wisata dengan modal uang ribuan hingga belasan ribu rupiah. Keberadaan belasan ribu unit keramba jaring apung sungguh menguntungkan pemancing. Zaenal (32), pemancing asal Plered, Purwakarta, yakin sebagian besar hasil tangkapannya adalah ikan-ikan yang terlepas dari kolam-kolam pembudidaya. Sebab yang tersangkut pancing umumnya jenis nila, mas, atau patin, yang banyak dibudidayakan di kawasan itu. Untuk sekadar memancing, Anda bisa mencoba lokasi lain di luar kawasan wisata. Waduk Jatiluhur mencakup enam kecamatan di Kabupaten Purwakarta, yakni Jatiluhur, Sukatani, Plered, Tegalwaru, Maniis, dan Sukasari. Hampir semuanya memiliki tepian yang bisa dijadikan lokasi memancing. Di Kawasan Cibinong, Kecamatan Jatiluhur; di Kutamanah, Kecamatan Sukasari; atau di Galumpit, Kecamatan Tegalwaru, Anda dengan mudah menemukan lapak pemancingan, semacam gubuk berbahan bambu, yang disewakan Rp 5.000 per hari. Di lapak-lapak itu para pemancing biasa menjulurkan umpan, menunggu sambaran ikan hingga berjam-jam, dan berteduh dari terik dan hujan. Di beberapa lokasi itu juga terdapat tempat penitipan sepeda motor. Wajar, sebab sebagian pemancing juga bermalam di tepian waduk. Mereka membawa sendiri bekal makanan atau minumannya, tetapi tak sedikit pedagang berperahu menghampiri lapak-lapak pemancing di Jatiluhur menawarkan gorengan, nasi plus lauknya, atau sekadar rokok dan kopi. Ikan bakar Kawasan wisata Jatiluhur yang dikelola Unit Kepariwisataan Perum Jasa Tirta (PJT) II juga menawarkan wisata edukasi berupa kunjungan dan penjelasan soal teknologi bendungan dan pembangkit listrik. Namun, karena alasan keamanan, paket ini tidak dibuka untuk umum beberapa tahun terakhir. Obyek wisata Jatiluhur menawarkan tempat berkemah dan gedung pertemuan, penginapan hotel dan bungalo, jelajah perairan waduk, arena bermain anak, serta kolam renang. Fasilitas kapal untuk jelajah perairan dapat dinikmati dengan tarif Rp 10.000-Rp 12.500 per orang untuk sekali perjalanan. Sementara sarana bermain kereta monorel Rp 10.000, motor mini Rp 10.000, dan water world Rp 27.500 per orang. Salah satu yang membuat kawasan ini berbeda dari obyek wisata lain adalah menu ikan bakarnya. Pantai timur Waduk Jatiluhur dipadati warung makan dengan menu andalan ikan

84

bakar. Jenis ikan yang ditawarkan antara lain ikan mas, nila, patin, jambal, dan betutu bakar atau goreng dengan tarif Rp 25.000-Rp 300.000 per kilogram. Beberapa pemilik warung juga menawarkan menu pendamping seperti sayur asam, sambal, lalapan, karedok, dan es kelapa muda. Kepala Unit Kepariwisataan PJT II, Heri Hermawan, menambahkan, pihaknya menjalin kerja sama dengan pihak ketiga yang menawarkan jasa kegiatan luar ruang di kawasan Waduk Jatiluhur. Kerja sama antara lain dengan Pelopor Adventure Camp dan Outbond Indonesia, yang menawarkan jasa wisata petualangan alam dan team building. Kawasan pantai timur Waduk Jatiluhur juga sering menjadi titik pemberangkatan menuju tebing batu andesit tertinggi di Indonesia, tebing Gunung Parang di Desa Sukamulya, Kecamatan Sukatani, salah satu kawasan di sisi timur waduk. Struktur batuan yang keras dan ”miskin” pegangan menarik minat dan menantang pemanjat tebing profesional untuk datang dan menaklukkannya. Lokasi Sukamulya dapat ditempuh dengan berperahu motor sekitar 1,5 jam perjalanan menyeberangi waduk dan meniti jalan setapak. Gunung Parang memiliki tiga puncak (tower), yang tertinggi Tower I setinggi 963 meter di atas permukaan laut. Tower ini memiliki medan panjat setinggi kurang lebih 600 meter dan menjadi lokasi favorit para pemanjat tebing. Tertarik untuk menikmati salah satu atau semuanya? Silakan datang sendiri ke Waduk Jatiluhur. Selamat mencoba. Ekspedisi Citarum

Membangun dengan Kearifan Lingkungan
Rini Kustiasih | nurulloh | Selasa, 3 Mei 2011 | 16:30 WIB BANDUNG, KOMPAS.com — Mochammad Memed (74) sedari kecil takjub pada bangunanbangunan air yang diakrabinya di Majalaya, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Dalam pelarian keluarganya ke Majalaya untuk menghindari Jepang, Memed kecil menghabiskan waktu bersama teman-temannya berenang di saluran irigasi Cikaro yang airnya berasal dari Sungai Citarum. Kelak di kemudian hari, Memed dikenal sebagai salah seorang ahli hidraulika di Tanah Air. Ia tidak hanya merancang saluran irigasi, tetapi juga mendesain ratusan bendung dan waduk yang manfaatnya luar biasa bagi bangsa. Di usia pensiunnya, Memed masih semangat berbicara soal bangunan air, apalagi jika terkait dengan Citarum. Kerusakan lingkungan mulai dari hulu sampai hilir di Citarum akan berdampak langsung terhadap fungsi waduk dan bendung yang memanfaatkan air sungai terpanjang di Jabar itu. ”Kalau sedimentasi tak tertangani dan lumpur menumpuk di dasar danau, bagaimana jadinya kalau waduk-waduk itu sudah tak mampu lagi menahan debit air dan erosi dari hulu. Jika salah satu waduk besar di Jabar (Saguling, Cirata, Jatiluhur) jebol, efeknya lebih dahsyat daripada tsunami di Aceh. Ada ribuan hektar sawah dan jutaan orang tinggal di sana,” kata Memed saat ditemui di rumahnya, Jalan Ir H Djuanda, Bandung, akhir Maret. Kekhawatiran Memed itu wajar mengingat kondisi ketiga waduk di Jabar yang kini kian memprihatinkan akibat pencemaran dan sedimentasi. Setiap tahun lebih dari 4 juta meter kubik lumpur masuk ke Citarum. Sebuah laporan penelitian yang dilakukan Universitas Padjadjaran juga menyebutkan, sungai itu setiap hari dialiri 11 ton tinja manusia. Tidak salah kiranya apabila ada sebutan bagi Citarum sebagai septic tank terpanjang di dunia. Kurang perhatian

85

Memed yang juga mantan anggota tim peneliti Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Kementerian (dulu departemen) Pekerjaan Umum (PU)—yang membuat desain rancang bangun waduk, terutama untuk sistem pengambilan air (intake) dan penggelontoran air (spillway)—mengatakan, selain daya dukung alam yang kian kurang, perawatan terhadap waduk juga minim. Ia menyayangkan masih sedikitnya ahli sipil basah yang berkutat dengan rancang bangun ataupun sistem hidraulika waduk dan bangunan air lainnya. Seusai eranya, ia khawatir tidak ada lagi ahli dari kalangan muda di Indonesia yang mau mendalami soal bangunan air. ”Bangunan air, apa pun itu, apakah waduk atau bendung, sangat krusial perannya, baik untuk irigasi, kelistrikan, air minum, maupun pengendalian banjir. Banyak bangunan air di daerah rusak dan belum mendapatkan perhatian,” ujarnya. Sistem pendidikan berdasarkan satuan kredit semester (SKS), menurut dia, kurang mencukupi untuk membuat seorang mahasiswa menguasai ilmu hidraulika. Memed yang kini masih aktif mengajar di Universitas Jenderal Achmad Yani, Cimahi, beberapa kali menguji mahasiswanya agar membuat desain bangunan jembatan sederhana dengan kondisi sungai, tingkat kemiringan, dan aspek alam lain yang telah ditetapkan sebelumnya. Kebanyakan mahasiswa, ujarnya, gagal melewati tes itu. Pada masanya, Memed beruntung karena bisa berguru langsung kepada ahli sipil basah di Institut Teknologi Bandung (ITB) yang sempat mengenyam pendidikan dari sejumlah profesor asal Belanda. Guru-guru asal Belanda itu dikenal mumpuni soal bangunan air. Saat itu, Memed juga menerima pelajaran hidraulika langsung dari Prof Van Kregten, seorang warga Belanda. Masuk ke ITB tahun 1956 pada Jurusan Teknik Sipil Basah, Memed dibimbing M Besari, asisten dosen dari Prof Ir R Soetedjo. Di era Orde Lama, Soetedjo menjabat Menteri Pekerjaan Umum. Memed dibimbing Besari yang amat telaten mengajari mahasiswanya. Bahkan, gurunya itu membuatkan model fisik khusus bagi setiap mahasiswa. Tahun 1962, saat sebagai mahasiswa ITB, ia ditunjuk memimpin tim survei yang terdiri atas delapan mahasiswa sipil ITB. Survei dilakukan untuk keperluan penanganan banjir di Jabar utara yang disebabkan meluapnya Sungai Cimanuk ke daerah irigasi Cilutung, Sindopraja, dan Cipelang. Banjir itu juga disebabkan luapan Citarum ke Karawang dan Bekasi. Tugas itu diberikan oleh Lembaga Penyelidikan Masalah Air (LPMA) dari Direktorat Jenderal Pengairan. Dari survei itulah, Memed semakin mendalami soal sumber daya air dan lahan. Ia belajar praktik langsung dalam membuat rekayasa sipil keairan. Setelah menyelesaikan studinya di ITB, tahun 1963 Memed menjadi peneliti di LPMA. Bersama sejumlah profesornya, ia aktif mengumpulkan data, informasi, dan masalah tentang sungai, danau, bendung, dan bangunan air irigasi. 600 bangunan air Sejak 1970 Memed aktif dalam dunia bangunan air. Bisa dibilang hampir semua bangunan air di masa Orde Baru tak lepas dari polesannya. Hingga pensiun sebagai Ahli Peneliti Utama Balitbang Kementerian PU, lebih dari 600 bangunan air ditanganinya, mulai dari identifikasi masalah, desain, perbaikan sistem hidraulik, renovasi, hingga pemugaran. Ia, antara lain, menyempurnakan desain Bendung Krueng Aceh (Aceh), mendesain Bendung Kerasaan (Pematang Siantar), merehabilitasi Curug Walahar (Purwakarta), mendesain Bendung Lomaya (Gorontalo), dan memperbaiki sistem intake Bendung Gumbassa (Sulawesi Tengah). Selain dalam kondisi rusak, banyak pengelola waduk dan bendung yang tidak paham fungsi bangunan air. Untuk pengendalian banjir, misalnya, waduk amat berperan. ”Sayangnya, kini daerah limpasan air waduk justru dibanguni permukiman sehingga saat muka air waduk belum kritis, spillway sudah dibuka. Pengelola waduk khawatir daerah tertentu akan banjir jika spillway telat dibuka. Padahal, daerah itu memang untuk limpasan air,” papar Memed.

86

Pendiri Himpunan Ahli Teknik Hidraulik Indonesia ini juga menyayangkan adanya anggapan pembuatan bangunan air hanya berorientasi proyek. ”Tujuannya bukanlah proyek. Air sungai sangat sayang jika dibiarkan langsung masuk ke laut. Sungai perlu dibendung agar manfaatnya bisa dinikmati masyarakat. Misalnya untuk irigasi, pariwisata, perikanan, dan kelistrikan. Jika tidak diolah, potensi sungai akan sia-sia,” ujarnya. Memed berprinsip, selama masih ada sisa usia, ia akan membaktikan diri bagi kemajuan dunia bangunan air di Indonesia. Mochammad Memed Lahir: Bandung, 25 Mei 1937 Istri: Yati Harsiyati (69) Anak: Ari Harmedi (45), Muhammad Wahyudi (44), Dewi Metyasari (41) Pendidikan: S-1 ITB Jurusan Teknik Sipil Basah; International Institute of Hydraulic Engineering (IHE), Belanda Karier: Kepala Seksi Hidraulika Sungai di LPMA (1970); Kepala Subdirektorat Hidraulika di LPMA (1984); Kepala Balai Hidraulika di Pusat Penelitian dan Pengembangan Sumber Daya Air Balitbang Kementerian PU (1992)

Lingkungan

Tanda Tanya di Sungai Citarum...
Didit Putra Erlangga Rahardjo | Glori K. Wadrianto | Selasa, 3 Mei 2011 | 10:47 WIB BANDUNG, KOMPAS.com - Selasa (3/5/2011) pagi, di tepian Sungai Citarum, tepatnya di Kelurahan Andir, Kecamatan Baleendah, Kabupaten Bandung, bendera berwarna kuning dengan logo tanda tanya berwarna hitam dibentangkan orang berseragam oranye. Ada pula bendera raksasa yang lebarnya hampir menutupi Sungai Citarum dibentangkan dan dibiarkan terbawa arus sungai. Kegiatan tersebut bukanlah promosi film tanda tanya besutan Hanung Bramantyo yang sedang banyak dibicarakan. Hari ini menandai partisipasi Lembaga Swadaya Masyarakat internasional Greenpeace untuk turut serta mengadvokasi isu kelestarian sungai yang membentang sejauh 300 kilometer lebih. Juru Kampanye Air Greenpeace Asia Tenggara, Ashov Birry, mengungkapkan, pihaknya mendesak pemerintah Indonesia untuk mengambil tindakan untuk menangani pencemaran sumber air bersih dengan kampanya perlindungan Sungai Citarum. Tajuk kampanye, sesuai bendera yang dibentangkan di tengah sungai yaitu "Citarum Nadiku, Mari Rebut Kembali." Pada saat yang sama, Greenpeace juga merilis hasil survei yang menyatakan 79,8 persen responden yakni masyarakat di Daerah Aliran Sungai Citarum meyakini bahwa penyumbang terbesar polusi adalah industri. Hasil lainnya, 80,3 persen responden meminta agar pemerintah harus menegakkan peraturan lebih kuat untuk mencegah industri untuk membuang limbah. Ashov menerangkan, jajak pendapat dilakukan April 2011 dengan 400 responden dari 20 desa di sekitar Citarum dari hulu sampai hilir. Lingkungan

Soal Citarum, Pemerintah Gagal!
Didit Putra Erlangga Rahardjo | Glori K. Wadrianto | Selasa, 3 Mei 2011 | 10:52 WIB BANDUNG, KOMPAS.com — Berdasarkan hasil survei yang dilakukan Greenpeace bekerja sama dengan LP3ES mengenai Sungai Citarum, ternyata beberapa kesimpulannya cukup mencengangkan. Salah satunya adalah penilaian bahwa pemerintah sudah gagal dalam menangani pencemaran.

87

Hal tersebut diungkapkan Kurniawan Zein dari LP3ES di Kelurahan Andir, Kecamatan Baleendah, Kabupaten Bandung, Selasa (3/5/2011). Survei tersebut dilaksanakan terhadap 400 orang yang tersebar dari hulu hingga hilir selama April 2011. "Sebanyak 53-57 persen warga di daerah hulu menilai pemerintah gagal, sementara 50-64 persen warga di hilir berpendapat sama," ujar Kurniawan mengungkapkan hasil penelitiannya. Hasil lain dari survei tersebut, lanjutnya, masyarakat di sepanjang sungai sebetulnya sudah memiliki pengetahuan bahwa sungai tersebut rusak parah dan pembuangan limbah sama dengan pelanggaran peraturan. Mayoritas responden, mencapai 72-76 persen, ternyata mengaku setuju untuk terlibat secara langsung bila pemerintah membuka tangan. Ekspedisi Citarum

Jerat Kemiskinan di Jaring Kami...

Cornelius Helmy Herlambang | nurulloh | Rabu, 4 Mei 2011 | 16:53 WIB BEKASI, KOMPAS.com — Jerat kemiskinan di Tanah Air seolah tak mau beranjak dari kehidupan warga pesisir. Begitu pula yang dialami masyarakat di hilir Sungai Citarum, Jawa Barat. Bagai di dalam jebakan, mereka tak bisa lepas dari kemiskinan struktural yang diakibatkan oleh buruknya kualitas lingkungan, rendahnya pendidikan, bobroknya infrastruktur dan minimnya perhatian pemerintah. Sukandi (40), warga Kampung Muarajaya, Desa Pantai Mekar, Kecamatan Muaragembong, Kabupaten Bekasi, sejak 15 tahun lalu berupaya mengurai jerat kemiskinan itu dengan setia menata jaringnya setiap pagi. Dibantu dua anak perempuannya, ia menata jaring rajungan yang akan dibawanya melaut bersama adiknya Sukana (35). “Tiga tahun terakhir ini rajungan sangat sulit didapat. Banyak rajungan yang mabuk karena terkena limbah. Dulu, saya bisa memperoleh 15-20 kilogram rajungan, sekarang bisa menjaring 1 kg rajungan sudah untung. Saya pernah hanya mendapatkan 4 ons dalam sehari,” tutur bapak tujuh anak itu. Padahal, untuk sekali melaut ia memerlukan 8 liter solar. Harga per liternya Rp 6.500, sehingga biaya bahan bakar saja Rp 52.000. Dengan hanya memperoleh 1 kg rajungan yang dihargai Rp 23.000 oleh bandar ikan, Sukandi merugi. Ia dan adiknya terpaksa mengutang ke warung atau bandar untuk modal melaut esok hari. “Utang baru tertutup kalau besok mendapatkan rajungan lebih banyak. Tetapi, sering kali enggak tertutup dan utang malah menumpuk,” ujarnya sambil terus mengurai jaring di tangannya. Jaring itu akan dipasangnya pada sore hari dan diambil besok paginya. Untuk menutupi kebutuhan sehari-hari, Sukandi dan nelayan lainnya di Muarajaya menjadi pemulung plastik, botol air mineral dan barang bekas di tepian hutan bakau. Anak-anak nelayan di sana seusai pulang sekolah langsung mencari plastik. Mereka menyebut sampah plastik itu dengan “mainan”. Plastik itu kemudian dijual kepada pengepul keliling seharga Rp 1.700 per kg. Dalam sehari, anak-anak itu bisa mendapatkan 4 kg sampah. Istri Sukandi, Inah (34), yang masih menyusui anak berusia dua tahun, juga membanting tulang dengan membuat ikan asin bersama ibunya. Satu ikan asin ukuran sedang dijualnya Rp 1.000. Dalam sehari bisa diperoleh Rp 5.000 dari menjual ikan asin. “Hasilnya lumayan untuk jajan anak-anak,” kata Inah. Ali (68), nelayan lainnya, juga merasakan pendapatan ikan yang terus menurun. Setiap hari ia berangkat subuh dan pulang pukul satu siang. Ali yang menua hanya berani melaut hingga 500 meter dari mulut muara. Ia hanya mampu membawa pulang ikan belok atau kembung rata-rata 1-2 kg. Bahkan, lebih sering ia tak mendapat hasil apapun. Pencemaran sungai dan terbatasnya alat tangkap membuat hasil tangkapan menurun dari tahun ke tahun. Belum lagi, kenaikan harga ikan tak sebanding dengan lonjakan harga beras,

88

elpiji, dan bahan bakar. Betapa tidak, setelah dipotong biaya balok es dan pengiriman oleh pengepul, Ali mendapat Rp 25.000-Rp 30.000. Tapi itu belum dikurangi biaya solar empat liter seharga Rp 22.000 untuk bahan bakar perahu. Artinya, penghasilan bersihnya Rp 3.000 per hari! Diterjang Abrasi Beban hidup nelayan di hilir Citarum kian mencekik manakala abrasi menerjang perkampungan mereka. Jalan kampung sejauh 7 km di Muarajaya rusak parah akibat abrasi. Jalan beton pecah dan mengelupas, sehingga tidak bisa dilewati kendaraan bermotor. Rumah nelayan yang berhadapan dengan mulut muara Citarum pun hancur. Abrasi di pesisir Muarajaya memang dashyat. Sekitar 10 tahun lalu, menurut Ali, jarak laut lepas dengan rumahnya masih mencapai 100 meter. Namun kini tinggal lima meter. Saat memasuki rumah Ali, lantainya gelap dan kotor karena endapan lumpur. Tak ada perkakas berharga selain TV 14 inchi. Selain rumah Ali, tiga rumah lainnya juga roboh. Ancaman abrasi juga membuat keluarga Sukandi was-was. Saat malam hari, desir angin kencang membuat seisi rumah tak bisa tidur. Mereka khawatir rumah semipermanen berlantai tanah yang mereka tinggali itu roboh diterjang rob. “Suara kayu yang berderit sangat menakutkan. Saat angin kencang kami keluar rumah, berjaga-jaga sampai pagi,” tutur Inah yang asli Indramayu itu. Kerusakan infrastruktur akibat abrasi lambat ditangani pemerintah. Selama empat bulan, jalan kampung yang rusak berat itu tidak diperbaiki. Sebelum abrasi, jalan kampung itu pun sudah tidak layak dilewati. “Anak saya sulit sekolah karena jalan rusak. Tidak ada ojek mau masuk kampung, sehingga ia harus berjalan kaki ke luar kampung sejauh 7 km,” ungkap Sukandi. SMP terdekat dengan Muarajaya berjarak sekitar 15 km, sedangkan SD terdekat jaraknya 6 km. Puskesmas jaraknya sekitar 5 km. Ketiadaan jalan darat yang baik membuat warga kesulitan bersekolah dan mendapatkan pelayanan kesehatan. Selain jalan kaki, moda transportasi yang mungkin dipakai ialah perahu. Namun, perahu angkutan tidak selalu ada sebab jumlahnya terbatas. Tergiur Bekerja Pendidikan warga di hilir Citarum pun umumnya masih rendah. Dari tujuh anak Sukandi, misalnya, tak satupun yang lulus SD. Selain karena buruknya infrastruktur, anak-anak nelayan itu tergiur bekerja untuk membantu orangtua. Parja (72), warga Kampung Muara Bendera, Desa Pantai Bahagia, Kecamatan Muara Gembong, mencontohkan anak kelimanya, Rokhman (20), yang berhenti sekolah menjelang ujian akhir kelas VI. Rokhman kini menjadi pengemudi perahu antar jemput siswa dengan upah Rp 20.000-Rp 30.000 per hari. Anak-anak usia belasan tahun lainnya ikut mencari ikan ke tengah laut bersama orang tua atau saudaranya yang nelayan. Sementara sebagian remaja putri merantau ke luar kota atau ke luar negeri. Mereka umumnya bekerja di sektor informal, seperti Mariah (28) dan Karmi (26), putra ketiga dan keempat Parja, yang menjadi pembantu rumah tangga di Arab Saudi. Keberadaan tempat pariwisata juga tak mampu mendongkrak perbaikan hidup warga di hilir Citarum. Hal itu seperti ditemui di Pantai Tanjungpakis, Karawang. Pantai yang berjarak sekitar 100 km dari pusat kota itu hanya ramai di akhir pekan, libur sekolah dan Hari Raya. "Laut menjadi pilihan terakhir saat pendapatan tidak ada. Ingin bekerja sebagai nelayan tapi tidak cukup modalnya. Ya sudah jadi pencari rebon di pingggir pantai," kata Asmat (33) yang pembuat terasi itu. Diklaim sebagi tempat wisata unggulan Karawang, Pantai Tanjungpakis justru jauh dari keindahan. Kondisi pantai kotor dan jalan menuju pantai utama rusak berat sekitar 15 km. Neti (28), pemilik warung dan penangkap rebon, meminta pemerintah daerah turut mengembangkan usaha Pariwisata di Tanjungpakis.

89

Masyarakat di hilir Citarum sudah lama mendambakan kualitas hidup yang lebih baik. Peran pembuat kebijakan amat krusial dalam hal ini. Namun, sampai kapankah kemiskinan mereka didiamkan?(Rini Kustiasih/Gregorius M Finesso/Cornelius Helmy/Mukhamad Kurniawan)

SUNGAI CITARUM

Ruwetnya Berlayar di Muara
4 mei 2011Mengarungi pesisir dari Pakisjaya, Kabupaten Kawarang, ke Muara Bendera, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, sungguh ruwet. Di sepanjang perjalanan perahu harus sigap menghindari jaring apung milik nelayan, menjauhi sedimen, serta menyapa nelayan lain yang sedang lewat dengan perahunya. Akhir Maret lalu, Tim Ekspedisi Citarum Kompas ditemani empat awak perahu meluncur dari Pakisjaya menuju salah satu muara Citarum di Muara Bendera. Perahu kami yang berukuran 9 meter x 1,1 meter dengan mesin ganda berkekuatan 80 tenaga kuda (PK), pagi itu membelah Laut Jawa menuju mulut Citarum. Menempuh jarak sekitar 20 kilometer (km), perjalanan itu memerlukan waktu 2,5 jam. Perahu kami beberapa kali harus memperlambat lajunya karena ada jaring apung nelayan menghadang. Dalam kondisi seperti itu, awak perahu harus mencari jalan yang bebas hambatan. Jika dipaksakan lewat, perahu berisiko terbalik atau mesinnya rusak akibat tersangkut jala. Selain itu, jaring apung nelayan bakal rusak. Awak yang bertugas memandu perjalanan perahu adalah Harun (28). Warga Karawang itu dengan awas duduk di haluan perahu. Sesekali tangannya memberikan kode, seperti kepalan, jari-jari terbuka, telunjuk ke kanan atau ke kiri, dan beberapa kali berteriak karena arah kapal tak sesuai keinginannya. Subur (43), nakhoda perahu, pun harus cepat mengubah perjalanan sebelum mesin tersangkut jaring atau perahu salah arah. ”Percuma menggunakan perangkat canggih, seperti global positioning system (GPS) atau sounder. Jaring apung yang ditanam nelayan terlalu banyak dan laut terlampau keruh. Jika salah perhitungan, baling-baling perahu bisa tersangkut dan merusak mesin,” kata Subur. Sekitar lima kilometer menjelang Muara Bendera, awak perahu makin sibuk. Gelombang laut makin besar dan laut berwarna kecoklatan menandakan abrasi dan pencemaran berat di muara sungai. Perahu kami juga harus menghindari sedimen agar tidak kandas. Sebagai ”mata” perahu, Harun semakin sering memberikan tanda kepada nakhoda. Tangan tegak ke kanan atau ke kiri, artinya perahu harus bergerak ke kanan atau ke kiri. Ada juga gerakan telapak tangan berputar yang artinya harus berbalik arah, atau tanda kepalan tangan yang menandakan perahu harus mengurangi kecepatan lalu berhenti atau gerakan tangan mengayuh yang artinya menyuruh pengemudi perahu meningkatkan kecepatan. Subur mengatakan, semakin ramainya jaring apung membuat perahu yang hendak masuk ke Muara Bendera terhambat. Jika terburu-buru masuk tanpa memerhatikan keadaan sekitar, baling-baling bisa terjerat jaring. Air laut yang keruh juga menyulitkan perahu saat berlayar. Pemandu perahu kerap kesulitan melihat tanda jaring apung dan rambu lalu lintas. Banyaknya sampah di pesisir juga rentan mengaburkan pandangan pengemudi perahu. ”Biasanya rambu lalu lintas hanya seperti bendera plastik. Sedangkan pembatas jaring kerap menggunakan botol plastik. Nah, kalau ada sampah serupa, pemandu rentan salah memprediksikannya,” kata Subur.

90

Setelah beberapa kali mencoba bertanya kepada sejumlah nelayan, perahu kami akhirnya tiba juga di Muara Bendera jelang tengah hari. Kami disambut pemandangan deretan perahu disandarkan pada rumah panggung di kanan-kiri muara. Beberapa bendera dan badan perahu tampak jahil dengan tulisan seperti ”Nok Leha, Sudah Lama Tak Pulang. Abang Sayang”. Lalu, ”Abang Jarang Pulang, Demi Nok Sinta”, dan tulisan lainnya yang menggambarkan betapa kerinduan nelayan untuk pulang sudah memuncak. Nelayan yang datang ke Muara Bendera umumnya berasal dari Cirebon dan Indramayu. Mereka mendarat di lokasi itu setelah perjalanan melintasi laut selama beberapa hari. Di Muara Bendera, mereka mencari ikan. Hasilnya dibawa pulang untuk beberapa bulan kemudian. Pukat harimau Tiga sekawan, yakni Slamet (35), Warsam (25), dan Sodikin (30), misalnya, adalah nelayan dari Gebang, Cirebon. Mereka datang ke Muara Bendera tiga kali dalam setahun. Tiap kali datang tinggal selama dua bulan. Namun, tiga nelayan itu kurang beruntung dalam persinggahan kali ini. Setelah hampir sebulan mencari ikan di Muara Bendera, hasilnya tak memuaskan. ”Kami di laut semalaman cuma dapat kurang dari satu kilogram ikan dan rajungan. Ikan habis dijaring troll (pukat harimau). Ada ratusan pukat di sini,” kata Slamet. Pukat harimau tak hanya menjaring ikan besar, ikan kecil pun ludes terjala. Ikan yang semakin berkurang juga disebabkan meluasnya abrasi dan pencemaran. Sedimen yang tebal membuat perahu kandas. Akibatnya, beberapa muara yang dulu bisa didatangi nelayan kini sulit disinggahi. Ketua Kelompok Pengawas Masyarakat Muara Gembong, Sulim (40), mengatakan, dari empat muara utama Sungai Citarum, tiga di antaranya makin jarang dilalui karena dangkal akibat sedimentasi, yakni Muara Gembong, Muara Beuting, dan Muara Bungin. Saat Citarum surut, lebar Muara Gembong kurang dari 30 meter (m) dan kedalaman 3-5 m, Muara Bungin 40 m dengan kedalaman 2-4 m, dan Muara Beuting mirip sungai mati karena sempit dan dangkal. Hanya Muara Bendera yang memiliki lebar 80-90 m dan kedalaman 12-18 m yang bisa dilalui perahu meski muka air laut dan Citarum sedang surut. Perjalanan melintasi muara Citarum memang ruwet, tetapi setiap detailnya menghadirkan arti bagi manusia.(Cornelius Helmy/Mukhamad Kurniawan)

Ekspedisi Citarum

Ruwetnya Berlalu Lintas di Muara Citarum
Cornelius Helmy Herlambang | nurulloh | Rabu, 4 Mei 2011 | 16:43 WIB BEKASI, KOMPAS.com — Butuh awak perahu berpengalaman untuk mengarungi ruwetnya pesisir antara Pakisjaya, Kabupaten Kawarang dan Muara Bendera, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat. Di sepanjang perjalanan dari Pakisjaya menuju Muara Bendera, perahu kami harus sigap menghindari jaring apung milik nelayan, menjauhi sedimen, dan memberi “salam” kepada perahu nelayan yang lewat. Ya, berlalu-lintas di lautan pun berkaidah dan mengutamakan adab kesopanan. Akhir Maret lalu, Tim Ekspedisi Citarum Kompas yang berjumlah 7 orang dengan ditemani 4 awak perahu meluncur dari Pakisjaya menuju salah satu muara Citarum di Muara Bendera. Perahu kami yang berukuran 9 meter x 1,1 meter dengan dua mesin masing-masing berkekuatan 40 tenaga kuda (PK), pagi itu membelah Laut Jawa menuju mulut Citarum. Menempuh jarak sekitar 20 kilometer (km), perjalanan itu memerlukan waktu 2,5 jam. Perahu kami beberapa kali harus memperlambat lajunya karena ada jaring apung belayan menghadang. Dalam kondisi seperti itu, awak perahu harus mencari jalan yang bebas

91

hambatan. Sebab, jika dipaksakan lewat perahu berisiko terbalik atau mesinnya rusak akibat tersangkut jala. Selain itu, jaring apung nelayan sudah pasti rusak. Awak yang bertugas memandu perjalanan perahu ialah Harun (28). Warga Karawang itu dengan awas duduk di moncong perahu bagian depan. Sesekali tangannya memberikan kode seperti kepalan, jari-jari terbuka, telunjuk ke kanan atau ke kiri, dan beberapa kali berteriak karena arah kapal tak sesuai keinginannya. Subur (43), nahkoda yang berada di belakang kemudi pun harus buru-buru mengubah haluan sebelum mesin di bagian bawah perahu tersangkut jaring atau perahu salah arah. "Percuma menggunakan perangkat canggih seperti global positioning system (GPS) atau sounder. Jaring apung yang ditanam nelayan terlalu banyak dan arus keruh terlampau besar. Salah perhitungan baling-baling perahu bisa tersangkut dan merusak mesin," kata Subur. Sekitar 5 km menjelang Muara Bendera, awak perahu terlihat lebih sibuk. Gelombang laut semakin besar dan air yang berwarna kecokelatan menandakan abrasi berat di muara sungai. Perahu kami juga harus menghindari sedimen agar tidak kandas. Sebagai “mata” perahu, Harun semakin sering memberikan tanda kepada nahkoda. Tangan tegak ke kanan atau ke kiri, artinya, perahu harus bergerak ke kanan atau ke kiri. Ada juga gerakan telapak tangan berputar yang artinya harus berbalik arah, atau tanda kepalan tangan yang menandakan perahu harus mengurangi kecepatan lalu berhenti atau gerakan tangan mengayuh yang artinya menyuruh pengemudi perahu menaikan kecepatan. Subur mengatakan, semakin ramainya jaring apung membuat perahu yang hendak masuk ke Muara Bendera terhambat. Bila terburu-buru masuk tanpa memerhatikan keadaan sekitar, baling-baling akan macet terjerat jaring. Tanpa pengawasan dan aturan yang jelas, keberadaan jaring akan bertambah luas dan menganggu arus transportasi laut. Air laut yang keruh juga menyulitkan perahu saat berlayar. Pemandu perahu kerap kesulitan melihat tanda jaring apung dan rambu lalu lintas. Banyaknya sampah di pesisir juga menimbulkan masalah baru karena rentan mengaburkan pandangan pengemudi perahu. "Biasanya rambu lalu lintas hanya seperti bendera plastik. Sedangkan pembatas jaring kerap menggunakan botol plastik. Nah, kalau ada sampah serupa, pemandu rentan salah memprediksikannya," kata Subur. Setelah beberapa kali memperlambat mesin untuk bertanya kepada nelayan yang lewat tentang arah Muara Bendera, perahu kami pun sampai di Muara Bendera menjelang tengah hari. Kami disambut pemandangan deretan perahu yang disandarkan pada rumah panggung di kanan-kiri muara. Nelayan Pendatang Beberapa bendera dan badan perahu tampak jahil dengan tulisan seperti “Nok Leha, Sudah Lama Tak Pulang. Abang Sayang.” Lalu, “Abang Jarang Pulang, Demi Nok Sinta,” dan tulisan lainnya yang menggambarkan betapa kerinduan nelayan untuk pulang sudah memuncak. Umumnya, nelayan yang datang ke Muara Bendera berasal dari Cirebon dan Indramayu. Mereka mendarat di Muara Bendera setelah perjalanan melintasi air selama beberapa hari. Di Muara Bendera, mereka beradu nasib mencari ikan. Hasil dari pencarian ikan itu dibawa pulang beberapa bulan kemudian. Tiga sekawan, Slamet (35), Warsam (25) dan Sodikin (30), misalnya, adalah nelayan dari Gebang, Cirebon. Mereka datang ke Muara Bendera tiga kali dalam setahun. Setiap kali datang, kelompok nelayan itu singgah sampai 2 bulan di Muara Bendera. Namun, tiga nelayan itu kurang beruntung dalam persinggahan kali ini. Setelah hampir lewat sebulan mencari ikan di Muara Bendera, hasilnya tidak memuaskan. “Kami di laut semalaman cuma dapat kurang dari satu kg ikan dan rajungan. Ikan habis dijaring troll (pukat harimau). Ada ratusan pukat di sini,” kata Slamet. Pukat harimau tidak hanya menjaring ikan dewas, tetapi ikan anakan pun ludes terjala. Ikan yang semakin berkurang juga disebabkan oleh tingginya abrasi dan pencemaran. Abrasi membuat sedimentasi di pesisir semakin tinggi. Sedimen yang tebal membuat perahu kandas

92

oleh lumpur. Beberapa muara yang dulu bisa didatangi nelayan kini tidak bisa lagi disinggahi akibat sedimentasi. Sedimentasi Berat Ketua Kelompok Pengawas Masyarakat (Pokwasmas) Muara Gembong, Sulim (40) mengatakan, dari empat muara utama Sungai Citarum, tiga di antaranya jarang dilalui karena dangkal akibat sedimentasi, yakni Muara Gembong, Muara Beuting, dan Muara Bungin. Saat Citarum surut seperti akhir Maret lalu, lebar Muara Gembong kurang dari 30 meter (m) dan kedalaman 3-5 m, Muara Bungin 40 m dengan kedalaman 2-4 m, dan Muara Beuting mirip sungai mati karena sempit dan dangkal. Dengan kondisi itu, hanya Muara Bendera yang memiliki lebar 80-90 m dan kedalaman 12-18 m yang bisa dilalui perahu meski muka air laut dan Citarum sedang surut. "Sekarang paling aman berlabuh di Muara Gembong. Muara lain seperti Muara Beting dan Muara Pecah mustahil dikunjungi karena kedalamnnya berkurang karena abrasi dan sedimentasi,” kata Sulim. Tim ekspedisi memutuskan untuk mencoba melintasi Muara Bungin yang disebut Salim mengalami sedimentasi berat. Dan benar saja, saat melintasi muara itu perahu kami kandas. Empat awak perahu terpaksa terjun ke dalam lumpur untuk mendorong perahu agar berjalan. Setelah satu jam berlalu, tim memutuskan untuk melintasi jalan darat. Perjalanan melintasi ruwetnya muara Citarum memang berakhir sampai di situ, namun setiap detilnya menghadirkan makna bagi setiap anggota tim. (Rini Kustiasih/Cornelius Helmy/Mukhamad Kurniawan)

Ekspedisi Citarum

Kerinduan kepada Burung Citarum

Cornelius Helmy Herlambang | nurulloh | Rabu, 4 Mei 2011 | 16:30 WIB Oleh Cornelius Helmy BANDUNG, KOMPAS.com — Aliran Sungai Citarum yang membelah wilayah delapan kota dan kabupaten di Jawa Barat sesungguhnya anugerah. Citarum tidak hanya menjadi sumber air bagi irigasi, tapi juga bagi pembangkit listrik, bahkan saluran pembuangan limbah bagi perusahaan nakal di sepanjang Citarum. Sungai terpanjang di Jawa Barat beserta anak sungai menjadi rumah bagi 314 jenis burung. Namun, seiring hancurnya lingkungan Citarum mulai dari hulu hingga hilir, perlahan burung pun menjauhi sungai itu. Mereka mencari lingkungan yang mampu menopang hidup mereka. ”Citarum yang pernah jadi ’surga’ kini menjadi tempat menyeramkan bagi burung,” ujar ornitolog alias pakar ilmu burung, Johan Iskandar (57). Dia merasakan benar rasa rindu itu. Dahaganya terpuaskan saat melihat kembali kuntul kerbau dan blekok di Kota Bandung. Kedua burung itu dulu banyak terlihat di Citarum dan anak-anak sungainya. Namun, terdesak pembangunan, pencemaran air, dan aktivitas manusia lainnya, keberadaan kuntul kerbau dan blekok pun tak terlacak. Hingga sekitar beberapa tahun lalu, Johan mendapat kabar bahwa blekok (Ardeola speciosa) dan kuntul kerbau (Bubulcus ibis) berkembang biak dengan baik di empat rumpun bambu besar di Kampung Rancabayawak, Kelurahan Cisaranten Kulon, Kecamatan Gedebage, Kota Bandung. Ratusan blekok dan kuntul kerbau hidup berbaur dengan masyarakat setempat yang tinggal di antara dua aliran sungai anak Citarum, Cinambo dan Cisaranten. ”Sore hari saat mereka pulang setelah mencari makan, adalah saat terindah,” katanya. Selain daya jelajah yang bisa mencapai lebih dari seratusan kilometer, khusus keberadaan kuntul kerbau sangat penting bagi ekosistem sawah. Mereka memakan hama serangga dan ulat yang rentan merusak tanaman padi. Namun, yang lebih penting, keberadaan kuntul adalah bukti masih sehatnya lingkungan di sekitar.

93

”Kehadiran mereka bisa jadi momentum warga Bandung melestarikan lingkungan ekosistem sungai yang kini ternoda oleh limbah berat dan sampah rumah tangga,” kata Johan. Pertemuan Bagi Johan, Citarum dengan anak sungainya adalah tempat yang mempertemukannya dengan dunia burung. Secara tidak sengaja ia diminta profesornya di Universitas Padjadjaran, Bandung, Prof Dr Ir Otto Soemarwoto, mendampingi mahasiswa dari Universitas Wagenigen Belanda bernama Bastian van Helvoort, yang hendak melakukan penelitian burung di DAS Citarum tahun 1975. Bastian ingin mengisi kekosongan penelitian burung di Citarum yang dilakukan Hoogerwerf pada tahun 1948. Awalnya, Johan hanya menjadi pendamping Bastian untuk memenuhi keperluan sehari-hari, seperti menyediakan tempat tinggal atau berinteraksi dengan masyarakat setempat. Namun, pengetahuan masa kecil tentang burung ternyata memegang peranan penting bagi kepentingan penelitian Bastian. Besar sebagai anak desa di Purwakarta memberikan pengetahuan tentang beragam jenis burung hanya dari suara atau kekhasan tingkah lakunya. Ia biasanya memberikan nama daerah, suara, dan kriteria fisik kemudian dicocokan dengan buku lapangan mengenal jenisjenis burung di alam milik Bastian. Contohnya, burung gagak (Corvus enca), cipeuw (Aegithina tiphia), dan perkutut (Geopelia striata). Ada juga yang khas tingkah lakunya seperti manuk jantung (Arachnotera longirostra) dan manuk apung (Mirafra javanica). Belum akrab Di luar dugaan, Bastian terkesan dengan kemampuan Johan. Bastian lantas merekomendasikan Johan mendapatkan program kursus tentang Ekologi Burung (ornitologi) selama delapan bulan di Belanda pada tahun 1983/1984. Beragam jenis burung dari berbagai daerah, seperti di Wageningen, Leiden, dan Utrecht lantas ia data dan kenali aktivitasnya. Johan begitu terkesan dengan minat Belanda pada burung meski jumlahnya jauh lebih sedikit ketimbang Indonesia. Pulang ke Indonesia tahun 1984, ia menjadi satu dari sedikit ornitolog di Indonesia. Kiprahnya di Tanah Air dilanjutkan dengan mendata ratusan jenis burung di Citarum, Cimanuk, Citanduy, dan Ciliwung. Johan mengaku banyak belajar dari masyarakat setempat tentang ciri atau jenis kelamin burung yang diamatinya. ”Masyarakat di beberapa daerah sudah sadar benar dengan perlindungan burung. Mereka percaya, burung bisa memberikan banyak pertanda dalam kehidupan,” katanya. Akan tetapi, ia merasa terpukul saat tak kuasa berbuat maksimal melindungi populasi burung kowak malam (Nycticorax nycticorax) di Kota Bandung. Keberadaan mereka tidak diterima masyarakat yang tinggal di sekitar Kebun Binatang Bandung dan Institut Teknologi Bandung, yang notabene dekat dengan Sungai Cikapundung. ”Masyarakat terganggu dengan kotoran yang bau. Bahkan, sempat ada yang mengusulkan agar burung itu ditembak sehingga lekas pergi ke tempat lain,” katanya. Agar niat buruk itu tidak terlaksana, dibantu beberapa rekan, Johan berusaha memindahkan kawanan yang jumlahnya mencapai 1.073 ekor dengan berbagai cara yang lebih bersahabat. Di antaranya, memasang jaring ditalikan di balon gas untuk menangkap burung kowak malam dewasa, memindahkan anaknya ke tempat lain, dan mengusirnya dengan bunyi riuh kaleng. Dana yang digunakan untuk membiayainya kebanyakan berasal dari koceknya sendiri. ”Cara itu cukup efektif karena kawanan burung itu pindah ke daerah Pindad Kiaracondong dan Cibeureum, Kota Bandung. Namun, kabar terakhir, keberadaan mereka tidak terlacak,” katanya. Pelajaran Hilangnya habitat burung kowak malam, menurut Johan, seharusnya memberikan pelajaran bagi pemerintah untuk mencari cara melindungi keberadaan hewan langka.

94

Salah satunya yang hingga kini tidak pernah terwujud adalah usulan perlindungan jenis burung berdasarkan familinya. Intinya, bila ada salah satu spesies dari famili tertentu sudah dilindungi, maka spesies lainnya otomatis dilindungi. ”Belum terlaksananya aturan itu justru menyuburkan penyeludupan burung. Di Papua, penyelundup kerap mengecat burung cenderawasih dengan warna hitam agar jenisnya tidak diketahui petugas pengawasan,” katanya. Perlindungan lain adalah penataan vegetasi tempat hidup burung. Salah satu contohnya adalah pencemaran di Citarum. Fakta itu, menimbulkan ancaman dari berbagai lini. Banyak burung terancam mati, cacat, dan sulit berkembang biak karena terpapar limbah berbahaya. ”Bila terus dibiarkan, besar kemungkinan kepunahan burung khas Citarum akan terjadi. Penyesalan tidak akan cukup ampuh membayar kerinduan pada kicauan burung liar,” katanya. Johan Iskandar Lahir: Purwakarta, 7 Agustus 1953 Pekerjaan: Dosen Biologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, dan Pascasarjana Universitas Padjadjaran, serta peneliti PPSDAL/Institute of Ecology, Universitas Padjadjaran. Istri: Budiawati Supangkat (52) Anak: Oktarian Iskandar (20), Septabian Iskandar (17), Oktabrian Iskandar (16) Ekspedisi Citarum

Karamnya Industri Perahu Cikaobandung
Cornelius Helmy Herlambang | nurulloh | Rabu, 4 Mei 2011 | 16:19 WIB PURWAKARTA, KOMPAS.com — “Selamat Datang di Kampung Perahu Kampung Batujaya Desa Cikaobandung”. Kalimat sambutan tanpa huruf a pada kata “datang” itu terpampang di gapura besi setinggi 10 meter di jalan masuk menuju Desa Cikaobandung, Kecamatan Jatiluhur, Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat. Gapura itu seperti ingin menegaskan Cikaobandung sebagai sentra pembuatan perahu kayu. Akan tetapi, informasi tentang banyaknya pembuat perahu di desa itu belum terlihat buktinya. Di jalan desa sejauh 2 kilometer (km) hanya satu perahu yang ditinggalkan perajinnya. Indikasi karamnya pembuatan perahu di Desa yang berjarak sekitar 15 km dari pusat kota Purwakarta ini mulai mengusik Tim Ekspedisi Citarum. Berdasarkan cerita para perajin, ketenaran Cikaobandung sebagai kampung perahu tidak lepas dari peran warga bernama Haji Mansyur. Perajin hawu (kapur) ini adalah pembuat perahu pertama di Cikaobandung. Perahu itu digunakan mengangkut bahan baku hawu berupa cangkang kerang. Rutenya ialah Sungai Cikaobandung - Sungai Citarum Muaragembong – Tanjungpriok. Menilik penggunaan Citarum sebagai jalan utama, bisa disimpulkan aktivitas itu dilakukan sebelum 1925. Alasannya, Pemerintah Kolonial Hindia Belanda membendung Citarum dengan membangun Bendungan Walahar untuk irigasi pada tahun 1925. Keberadaan Walahar membuat alur Citarum memiliki pintu yang tidak bisa dilewati oleh perahu. Entang, salah satu perajin, mengatakan, masa emas pembuatan perahu terjadi hingga akhir 1990. Saat itu, setidaknya ada 20 perajin yang aktif membuat perahu. Setiap perajin memiliki 4-5 orang pekerja. Dalam sebulan, rata-rata ada pesanan 20 perahu. “Dari perahu, saya mampu membangun rumah seharga Rp 21 juta,” ujarnya bangga. Adi (61), perajin lainnya, menuturkan, ia memproduksi sekitar 600 perahu berbagai ukuran sejak 1980. Sebanyak 400 perahu di antaranya dipesan penambang pasir di Citanduy dan 200 lainnya dipesan penambang pasir di Citarum. Sebuah perahu biasanya dikerjakan perajin selama empat hari. Bagian tersulit ialah saat membuat lunas dan sambungan antar lembar jati di dinding perahu. Keduanya penentu perahu tidak oleng atau bocor saat dibawa berlayar. Perajin membanderol perahu seharga Rp

95

2 juta dengan jaminan layak pakai 3 tahun. Konsumen terbesar perahu Cikaobandung adalah penambang pasir Sungai Citarum dan peternak ikan di Waduk Jatiluhur. Tenggelam Nama besar kampung perahu itu kian tenggelam karena minimnya pesanan. Hal itu diakibatkan oleh makin berkurangnya aktivitas penambangan pasir di Citarum. Pasir sulit didapat karena dasar Citarum tertutup lumpur. Akibatnya, penambang memilih alih profesi jadi buruh tani. Sentra pembuatan perahu Cikaobandung kini hanya menyisakan dua perajin dengan empat pekerja. Ledakan petambak ikan di Jatiluhur mengakibatkan waduk semakin sesak, sehingga pembukaan usaha tambak baru bagi orang lain sudah tidak mungkin.Akibatnya, jarang ada petambak baru yang memesan perahu. Entang menuturkan, pada era 90-an pesanan perahu mulai turun drastis. Di masa jayanya, ia bisa meraih penghasilan 600.000 per hari. Kini, Entang terpuruk sebagai buruh pembuat perahu yang setiap harinya dibayar Rp 60.000. Padahal, untuk membiayai lima anggota keluarganya, ia memerlukan Rp 40.000 hanya untuk makan sehari. Ia pun kini terpaksa menumpuk hutang di warung tetangga sebesar Rp 600.000. Sepinya pesanan perahu besar bagi penambang pasir membuat Entang mengalihkan pembuatan ke perahu yang lebih kecil untuk transpotasi petambak ikan Jatiluhur. Bila harga perahu besar berukuran 9 m x 7 m mencapai Rp 2 juta, perahu kecil ukuran 7 m x 12 m hanya Rp 500.000. Perahu jenis ini biasanya lebih cepat terjual karena harganya lebih murah. Dalam sebulan biasanya ada dua perahu kecil yang terjual. Adi, menambahkan, hingga kini ia masih menyimpan perahu yang belum laku terjual sejak 5 tahun yang lalu. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, ia menjadi buruh pencari kayu bakar. Dalam sehari, Adi mendapat sekubik kayu bakar yang dijual Rp 30.000 per kubik. Sepinya pesanan membuat generasi muda setempat kehilangan semangat meneruskan pembuatan perahu. Salah satunya Yusuf (32) yang memilih menjadi perajin mebel lemari, pintu, atau kusen. Untuk lemari harganya rata-rata Rp 1 juta-Rp 1,5 juta tergantung ukuran, sedangkan kusen Rp 500 ribu per pintu. Keuntungannya Rp 300 ribu-Rp 500 ribu per bulan. Semakin Jarang Pembuat perahu juga semakin jarang ditemui di Tegalwaru. Oman (45), pembuat perahu kayu yang tersisa di Kampung Cilangohar, Desa Pasanggrahan, Kecamatan Tegalwaru, Kabupaten Purwakarta, mengatakan, sekitar tahun 1980 hingga awal 1990, masih ada empat pembuat perahu di Kampung Cilangohar. Namun, sekarang yang bertahan hanya dirinya. “Dulu, tiap bulan ada pesanan perahu setidaknya empat unit. Sekarang, saya paling banter membuat satu perahu per bulan,” tutur Oman yang menekuni pembuatan perahu khususnya jenis compreng sejak 1983. Pesanan perahu marak ketika mulai banyak usaha keramba jaring apung di Waduk Jatiluhur. Perahu sangat dibutuhkan karena menjadi satu-satunya moda transportasi yang praktis bagi warga di areal waduk. Transportasi darat memakan waktu lebih lama dengan kondisi jalan yang umumnya buruk. Saat ini, perahu bikinan Oman untuk muatan 4 ton dihargai Rp 12 juta, sedangkan harga perahu bermuatan maksimal 6 ton bisa sampai 15 juta. Kebanyakan konsumen memesan perahu kecil dengan panjang lima meter seharga Rp 5 juta. Perahu buatan Omen berbahan baku kayu jati yang didapatkannya dari gudang penjualan di Purwakarta. Untuk membuat perahu sepanjang lima meter dibutuhkan waktu 20 hari. Ia dibantu dua rekannya. Tak Menguntungkan Oman mengakui, usaha perahu semakin tak menguntungkan. Untuk membuat perahu berukuran 12 meter x 1,8 meter seharga Rp 12 juta, dibutuhkan tiga kubik kayu jati. Adapun harga satu kubik kayu jati saat ini Rp 3 juta. Jika ditambah ongkos angkut hingga ke desanya,

96

cat dan bahan-bahan lain, modal pembuatan sekitar Rp 10 juta. “Saya juga mesti membayar ongkos pekerja Rp 1 juta. Jadi, untung bersih saya hanya Rp 1 juta,” tuturnya. Untuk menambah penghasilan, ia menerima perbaikan perahu dengan ongkos Rp 500.000 per unit. Dalam sebulan, Oman bisa menerima jasa perbaikan sampai 10 perahu. Saat sepi, ia bekerja serabutan untuk memenuhi kebutuhannya. ”Bekerja apa saja, asal bisa mendapat uang paling enggak Rp 25.000 per hari, saya tinggalkan pekerjaan membuat perahu,” ujarnya. Jebolan sekolah teknik kayu di Purwakarta ini menuturkan, regenerasi pembuat perahu di Waduk Jatiluhur tidaklah mudah, sebab dinilai tidak lagi menguntungkan. “Anak saya pun tidak mau jadi pembuat perahu. Ia lebih memilih kerja di kota,” kata ayah dua anak ini. Seiring makin berkurangnya pembuat perahu, sejarah panjang Citarum sebagai jalur transportasi air yang ramai kian mendekati masa akhir. Budaya sungai pun tanpa disadari kian terkikis karena perbuatan manusia yang banal dan abai pada lingkungan. (Cornelius Helmy, Rini Kustiasih dan Gregorius M Finesso) LINGKUNGAN

Pemerintah Tak Serius Selamatkan Citarum
4 mei 2011 BANDUNG, KOMPAS - Lembaga swadaya masyarakat lingkungan internasional Greenpeace menggelar kampanye sumber air bersih Sungai Citarum dengan mendesak pemerintah lebih serius mengawasi industri pencemar sungai. Aksi tersebut mengawali keterlibatan lembaga itu dalam aksi penyelamatan Sungai Citarum. Aktivis Greenpeace mengenakan seragam warna oranye, membentangkan bendera besar berisi tanda tanya warna hitam. Menggunakan perahu, spanduk bertuliskan ”Citarum Nadiku, Mari Rebut Kembali” dibentangkan di tengah sungai. Kampanye berlangsung di Kelurahan Andir, Kecamatan Baleendah, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Selasa (3/5), diakhiri dengan pengambilan sampel air berwarna hitam yang mengalir dari saluran pembuangan pabrik. ”Sungai Citarum adalah sungai super strategis yang menyuplai air baku untuk air minum warga Jakarta, sumber pembangkit listrik untuk sistem interkoneksi Jawa-Bali, serta sumber air irigasi,” kata juru kampanye air Greenpeace Asia Tenggara, Ahmad Ashov Birry. Sungai Citarum dijadikan ujung tombak dalam kampanye Greenpeace untuk memperjuangkan isu air bersih bebas bahan kimia. Dia mengatakan, hasil survei yang dilakukan pemerintah menyebut 35 sungai di Indonesia sudah tercemar bahan kimia. Strategi kampanye yang dilakukan Greenpeace adalah menyosialisasikan data dan fakta mengenai pencemaran Sungai Citarum kepada pemerintah. Tidak tertutup kemungkinan strategi lainnya, seperti pelibatan ahli yang dimiliki Greenpeace untuk turun dan membuat penelitian di Sungai Citarum. Dalam waktu yang sama, Greenpeace juga merilis hasil survei yang melibatkan 400 responden dari warga yang tinggal di sepanjang Sungai Citarum, dari hulu hingga hilir pada April 2011. Dari riset itu terungkap masyarakat yang tinggal di sepanjang Sungai Citarum mengetahui kondisi sungai sedang tercemar, memahami larangan membuang limbah di sungai, dan menyadari dampak negatif bagi kesehatan dari pencemaran tersebut. ”Ada 53-57 persen responden di hulu dan 53-64 persen responden di hilir menilai, pemerintah gagal mencegah pencemaran Sungai Citarum dari limbah beracun industri,” ujar Kurniawan Zein dari Lembaga Penelitian, Pendidikan, dan Penerangan Ekonomi dan Sosial. (eld)

Bersama Menjaga Sungai Citarum
6 Mei 2011 Dalam dialog antarpakar bertema ”Mencari Jalan Penyelesaian Permasalahan DAS Citarum” yang digelar Kompas di Bandung dan dihadiri sejumlah pakar dan aktivis lingkungan, akademisi, serta lembaga swadaya masyarakat, akhir Maret lalu, disimpulkan, penyelesaikan harus melibatkan semua pemangku kepentingan. Salah satunya melalui badan yang memiliki

97

otoritas penuh terhadap DAS Citarum. Pemerintah tidak mungkin mampu menyelesaikan sendirian. Untuk itu, warga di DAS Citarum pun harus dilibatkan. ”Kalau tidak bisa, harus ada moratorium segala kegiatan yang menimbulkan kerusakan terhadap Citarum sekarang juga. Persoalannya, berani atau tidak,” tegas Sobirin Supardiono, anggota Dewan Pemerhati Kelestarian Lingkungan Tatar Sunda. Sejak 6.000 tahun lalu, sungai telah membentuk peradaban air di daerah yang dilaluinya. Di daerah aliran sungai berdiri pusat-pusat pemerintahan, industri, dan ekonomi. Peradaban selalu berkembang dari pinggir sungai. Mesir di pinggir sungai, Majapahit di pinggir sungai, Jakarta atau kota-kota besar di Eropa juga dibangun di pinggir sungai. Hampir semua sungai di dunia terpolusi karena terjadi pemanfaatan sungai secara bersamaan untuk berbagai kepentingan. ”Misalnya, penggunaan air untuk industri, pasti membuat pencemaran,” ungkap sosiolog Unpad, Budi Radjab. Hampir semua negara juga tidak mampu menangani kerusakan sungai ini sendirian, termasuk negara-negara di Eropa. Eropa bisa jadi contoh Negara-negara di Eropa bisa dijadikan contoh upaya mengeliminasi kerusakan sungai. Sejak revolusi industri di Inggris, misalnya, industri memanfaatkan sungai secara besar-besaran. Belakangan, muncul kesadaran bahwa sungai memiliki kepentingan lain di luar bisnis. Pemerintah negara-negara seperti Jerman, Perancis, Inggris, dan Italia pun sadar bahwa mereka tidak bisa menangani sendirian. Karena itu, berbagai kepentingan pun dibenturkan. Bisnis dan pariwisata dibenturkan dengan kepentingan industri, dalam hal ini pabrik-pabrik. Untuk kepentingan turis dimunculkanlah gerakan masyarakat (community movement) yang terdiri dari masyarakat pencinta lingkungan. Pada batas-batas tertentu, pihak industri kalah dan mundur beberapa langkah dari sungai. ”Kalau pemerintah mampu menyelesaikan sendiri, mungkin tidak perlu dibenturkan,” ungkap Budi. Pembenturan kepentingan ini bukan secara kekerasan, melainkan dalam bentuk dialog, konvensi, atau kegiatan. Salah satunya adalah dengan mencari pola-pola kegiatan ekonomi dan pariwisata di sungai secara bersamaan. Pola ini sebenarnya telah coba dilakukan di Kota Bandung dengan mengaktifkan kegiatan arung jeram di Sungai Cikapundung. Jadi, pencemaran dilawan oleh suatu kegiatan yang dimaksudkan untuk membangkitkan kesadaran akan pentingnya memelihara sungai untuk keberlangsungan hidup umat manusia.(dmu/mkn) FOKUS

Mari Berseluncur di Sungai Cikapundung
6 Mei 2011 Cornelius Helmy Dicky Septiana (15) tidak lagi memiliki waktu untuk mengamen, kegiatan yang dia lakoni sejak putus sekolah tiga tahun lalu, di perempatan Jalan Dago, Kota Bandung, Jawa Barat. Bagi dia, tak ada yang lebih indah selain menceburkan diri ke Sungai Cikapundung dengan papan seluncur. ”Sekarang saya mantap punya cita-cita. Saya ingin jadi operator riverboarding,” kata Dicky. Riverboarding adalah kegiatan mengarungi sungai dengan merebahkan tubuh di atas papan ukuran 1 meter x 0,5 meter. Bersama 50 anak jalanan lain, Dicky aktif menjalani kegiatan riverboarding di Sungai Cikapundung di bawah naungan Cikapundung Rehabilitation Program (CRP). CRP adalah lembaga swadaya masyarakat yang mengampanyekan kepedulian pada sungai yang paling besar membawa limbah domestik bagi induknya, yaitu Sungai Citarum. Menurut Angga Aziluhung, penggiat CRP, pelibatan anak jalanan bertujuan mengurangi aktivitas mereka di jalan karena mereka punya potensi tersembunyi. Menurut Angga, lima bekas anak jalanan sudahmenjadi instruktur river- boarding.

98

”Tujuan utamanya menyinergikan kepedulian lingkungan dan manfaat sungai bagi manusia,” katanya. Kegiatan di Sungai Cikapundung itu berangkat dari keprihatinan akan kondisi sungai yang kotor akibat sampah rumah tangga. Sebelumnya, sampah plastik dan kotoran ternak memenuhi sungai, menjadikannya seperti tempat sampah raksasa. ”Kalau hanya dilarang buang sampah ke sungai, pasti tidak efektif. Harus ada kegiatan menyenangkan yang bisa melatih tanggung jawab menjaga sungai,” kata penasihat CRP, Abah Kuncung. Olahraga air Pilihan jatuh pada olahraga air, seperti riverboarding dan arung jeram. Pesertanya masyarakat sekitar Sungai Cikapundung. Selain 50 anak jalanan, 90 warga Kecamatan Cidadap dan Coblong juga menikmati olahraga air di Sungai Cikapundung dengan rute Dago BengkokSiliwangi sepanjang 2 kilometer itu. Kenikmatan bermain olahraga air itu perlahan mulai mengurangi kebiasaan masyarakat membuang sampah ke sungai. ”Kami belum membuka kegiatan ini secara komersial. Dana operasional masih swadaya masyarakat,” kata Abah Kuncung yang berniat membagi kegiatan ini dengan warga lain. Pendekatan serupa dilakukan masyarakat bantaran Sungai Cidurian, salah satu anak Sungai Cikapundung, di Kecamatan Cibeunying Kaler, Kota Bandung. Sungai di perbatasan Kabupaten dan Kota Bandung ini sebelumnya dipenuhi sampah sehingga air meluap dan menggenangi rumah warga. Selain itu, sering terjadi erosi tanah yang menyebabkan pendangkalan sungai. Bosan dengan keadaan ini, sejak setahun lalu warga mulai membersihkan sampah dan merawat kebersihan dinding sungai. Selain itu, menurut Camat Cibeunying Kaler Unjang Zaenudin, ada kegiatan favorit warga, yaitu menebar puluhan ribu bibit ikan di Sungai Cidurian. Masyarakat sekitar dijanjikan boleh memancing ikan itu apabila tiba waktunya. ”Sederhana saja. Kalau kualitas sungai rusak, ikan mati dan warga tidak bisa menikmati hasilnya,” tutur Unjang. Cigondewah Di Sungai Cigondewah yang juga bermuara ke Citarum, seniman Tisna Sanjaya dengan dana pribadi hasil barter lima lukisan mendapat 600 meter persegi tanah di Desa Baturengat, Cigondewah Hilir, Kota Bandung. Ia membangun galeri di atasnya. Ia sengaja memilih tempat itu karena letaknya di bantaran Sungai Cigondewah, tempat Tisna bermain semasa kecil. Tisna mengatakan, pada 1960-an daerah Cigondewah adalah persawahan dengan kualitas padi nomor satu di Kota Bandung. Masa kejayaan itu surut memasuki tahun 1990-an. Sawah beralih fungsi menjadi tempat penjemuran limbah plastik, penggilingan padi menjadi tempat pengolahan bijih plastik, dan sungai menjadi saluran pembuangan limbah berbahaya. ”Keuntungan dari industri yang tumbuh di Cigondewah dibayar dengan kerusakan tanah, menurunnya kualitas air, dan hilangnya ruang publik. Masyarakat di sekitar sungai di Kota Bandung seperti dipaksa menyelamatkan diri sendiri dengan begitu banyak polutan dan kerusakan di sekeliling mereka,” ungkap Tisna. Keresahan itu mendorong Tisna menggelar acara Environmental Day bertema penyelamatan lingkungan dan identitas sosial, pertengahan 2010. Bersama seniman lain, mahasiswa, dan masyarakat setempat, beragam kegiatan seni dan sosial dilakukan di sepanjang sungai. Mereka mementaskan ruwatan air, mandi bersama, dan menggelar teater air. Pesertanya ada yang dari Singapura dan Latvia. ”Metode ini juga saya tampilkan di National University of Singapore pada 17 Februari-22 Maret 2010. Semoga bisa menjadi suara perubahan bagi Cigondewah,” kata Tisna. Wakil Wali Kota Bandung Ayi Vivananda berniat terus mendukung kegiatan mandiri ini karena sejalan dengan rencana Pemerintah Kota Bandung merevitalisasi 14 anak sungai sebagai bagian dari Gerakan Cikapundung Bersih. Ketua Wahana Lingkungan Hidup Indonesia Jawa Barat Muhammad Hendarsyah mengatakan, pemerintah harus mendampingi masyarakat dalam upaya mandiri tersebut. ”Setelah ada niat

99

baik dari masyarakat, seharusnya pemerintah menjadi komponen yang mendukung dan memfasilitasi kegiatan,” ungkapnya.

IRIGASI JATILUHUR

"Raksasa" Itu Sedang Terkapar
6 Mei 2011 Ribuan kilometer jaringan irigasi Jatiluhur mengalirkan ”kehidupan” selama hampir setengah abad. Dibangun untuk melipatgandakan produksi pangan, keberadaannya kini bak raksasa yang rapuh. Kemunduran terus terjadi seolah berpacu dengan perbaikan yang tak henti. Proyek pengairan Jatiluhur dibangun seiring dengan pembangunan waduk serbaguna Ir H Djuanda pada kurun 1957-1967. Guna mendongkrak produksi beras, proyek ini menyasar 123.000 hektar lahan nonpertanian, tadah hujan, dan irigasi setengah teknis untuk diubah menjadi irigasi teknis, menggenapi 117.000 hektar sawah irigasi teknis yang telah ada sebelumnya. Dengan perubahan status tersebut, produktivitas lahan ditargetkan meningkat dari 1,5 ton beras per hektar menjadi 2,6 ton beras per hektar. Ketika itu produksi dari 240.000 hektar lahan pertanian ditargetkan meningkat dari 325.215 ton menjadi 624.000 ton per tahun. Dengan panjang saluran induk (primer) sekitar 280 kilometer, 3.000 kilometer saluran sekunder, 16 bendung, dan sekitar 4.000 pintu pembagi, jaringan irigasi Jatiluhur tak ubahnya pohon raksasa dengan batang, dahan, dan ranting yang rimbun. Luas lahan yang diairi mencapai 240.000 hektar, tersebar di utara Jawa Barat, antara lain Bekasi, Karawang, Subang, dan sebagian Indramayu. Waduk Ir H Djuanda atau Waduk Jatiluhur membendung Sungai Citarum di Kabupaten Purwakarta menjadi pemasok utama irigasi Jatiluhur. Di beberapa titik, jaringan ini mendapat pasokan tambahan dari sumber setempat, seperti Sungai Cibeet, Cikarang, dan Kali Bekasi di saluran induk Tarum Barat, juga Sungai Cijengkol dan Ciasem di Tarum Timur. Dari sisi luas lahan yang diairi, daerah irigasi Jatiluhur tergolong raksasa, dua kali lebih luas dari daerah irigasi Batutegi di Lampung (90.000 hektar), empat kali lebih besar dari Waduk Kedung Ombo di Jawa Tengah (59.645 hektar), serta sepuluh kali Waduk Gajah Mungkur (23.600 hektar). Keberadaan daerah irigasi Jatiluhur juga menopang Jabar sebagai lumbung padi nasional. Dalam sepuluh tahun terakhir, mengacu data Badan Pusat Statistik, rata-rata produksi padi Jabar tertinggi dibandingkan provinsi sentra padi di Indonesia lainnya. Tahun 2009, produksi padi Jabar sebesar 11,3 juta ton gabah kering giling (GKG) atau 17,5 persen dari total produksi nasional yang 64,3 juta ton GKG. Produktivitasnya juga tinggi, yakni 5,8 ton GKG per hektar, lebih tinggi dari rata-rata nasional (tahun 2009) 4,9 ton GKG per hektar. Alih fungsi Akan tetapi, sebagai lumbung padi nasional, Jabar menghadapi persoalan pelik terkait penyediaan lahan. Pemerintah daerah menghadapi dilema antara mempertahankan lahan pertanian sebagai sarana produksi utama dan menyediakan lahan untuk menopang perkembangan industri dan kebutuhan perumahan bagi warganya. Dengan penduduk 43,021 juta jiwa (hasil sensus penduduk 2010), Jabar adalah provinsi dengan jumlah penduduk terbesar di Indonesia. Permintaan tanah untuk perumahan terus bertambah seiring bertumbuhnya penduduk serta perkembangan sektor industri. Letak geografis yang berdekatan dengan ibu kota negara, Jakarta, sekaligus sebagai kawasan pengembangan industri, kebutuhan tanah di Jabar diprediksi bakal berlipat ganda. Alih fungsi lahan pertanian pun terus terjadi. Di Karawang, misalnya, alih fungsi selama 17 tahun hingga 2006 mencapai 2.502 hektar atau rata-rata 147 hektar per tahun. Padahal,

100

dengan sumbangan 10,7 persen dari total 10,1 juta ton GKG tahun 2008, Karawang adalah penyumbang terbesar produksi padi Jabar. Alih fungsi juga berlangsung di Subang, Indramayu, dan Cirebon yang menjadi penyumbang utama padi Jabar, yang mencapai 3,7 juta ton GKG atau 37 persen. Konversi lahan pertanian dikhawatirkan kian gencar terjadi di wilayah utara seiring rencana pembangunan Jalan Tol Cikampek-Palimanan sepanjang 116 kilometer yang melintasi Purwakarta, Subang, Indramayu, Majalengka, dan Cirebon. Pemerintah berkomitmen melindungi lahan pertanian dengan mengamankan sawah-sawah irigasi di sekitar jalan tol, namun konversi lahan diperkirakan sulit diatasi. Pengalaman selama ini, pembangunan jalan selalu diikuti dengan rentetan permintaan lahan untuk membangun fasilitas penunjang, seperti perumahan, jasa, dan industri. Jalan Tol Cikampek-Palimanan belum juga dibangun, tetapi pabrik-pabrik baru telah berdiri di bekas kebun, sawah, atau permukiman di sekitar jalur yang akan dilalui tol dalam tiga tahun terakhir. Ini bisa dilihat di daerah Cipeundeuy, Purwadadi, Kalijati, dan Dawuan di Kabupaten Subang. Mutu air Selain alih fungsi, lahan pertanian di daerah irigasi Jatiluhur menghadapi persoalan terkait dengan penurunan mutu lingkungan. Seperti kawasan lain di daerah aliran sungai (DAS) Citarum, jaringan irigasi di hilir Citarum menghadapi persoalan sedimentasi dan pencemaran. Tingginya kandungan endapan membuat saluran-saluran irigasi kian cepat dangkal. Limbah rumah tangga juga mengalir meski relatif lebih terkendali dibandingkan pencemaran di sungai atau saluran pembuang. Iwan (37), petani di daerah hilir irigasi di Desa Tanjung Mekar, Kecamatan Pakisjaya, Kabupaten Karawang, merasakan betul bagaimana fungsi pengairan melemah. Lahan seluas 0,3 hektar miliknya semakin sulit digarap hingga tiga kali setahun karena air sering tidak sampai ke petak sawahnya. Penyerobotan, kebocoran akibat kerusakan infrastruktur, dan pendangkalan saluran irigasi turut menjadi pemicunya. ”Ada sekitar 40 hektar sawah di desa ini yang rentan kekeringan saat musim kemarau. Meski beririgasi teknis, sawah jarang bisa diolah 2-3 kali setahun karena air sering tidak sampai ke petak sawah,” ujarnya. Sejumlah tanaman air juga tumbuh subur di saluran irigasi hingga menghambat aliran air, seperti eceng gondok (Eichornia crassipes), ganggang air (Hydrilla verticilata), dan apungapung (Salvinia molesta). Beberapa tanaman yang menjadi indikator perairan dangkal itu mudah tumbuh, terutama di hilir saluran irigasi. Air irigasi pertanian juga ”dirongrong” oleh pencemaran. Meski dinilai memenuhi ambang baku air untuk pertanian, beberapa temuan di sejumlah titik aliran Citarum terbilang mencemaskan. Hasil pemantauan Perum Jasa Tirta II di Sungai Citarum daerah Sapan, Dayeuhkolot, Margahayu, dan Nanjung pada Desember 2010, misalnya, menemukan parameter hidrogen sulfida (HS), seng (Zn), dan besi (Fe) yang melebihi baku mutu. Pemantauan PT Pembangkitan Jawa Bali terhadap air Citarum yang masuk ke Waduk Cirata, selama triwulan I hingga IV tahun 2009 menguatkan, air tidak memenuhi baku mutu untuk air minum dan perikanan, antara lain karena kandungan HS, amonia (NH), oksigen terlarut (DO), Zn, kuprum/tembaga (Cu), timbal (Pb), dan kadmium (Cd) yang melebihi ambang. Pengendalian tanaman air, pembuangan limbah, pengerukan sedimentasi, dan perbaikan infrastruktur irigasi terus dilakukan. Akan tetapi, sebagai ”turunan” Citarum, jaringan irigasi Jatiluhur di bagian hilir Citarum akan turut menanggung beban penurunan mutu lingkungan di hulu dan sepanjang DAS. Maka, jadilah jaringan ini sebagai ”raksasa” yang rapuh.(Mukhamad Kurniawan) PENGOLAHAN LIMBAH

Menjaga Citarum untuk Masyarakat
101

6 Mei 2011 Ketika air sungai dimanfaatkan sebagai sumber kehidupan, secara sengaja atau tidak, dalam waktu bersamaan manusia ikut andil merusaknya dengan berbagai bahan pencemar. ktivitas yang berdampak negatif pada lingkungan terjadi di hampir semua daerah aliran sungai (DAS) di Indonesia, tidak terkecuali Citarum yang memiliki nilai strategis. Meskipun banyak instansi pemerintah yang berkepentingan pada keberlangsungan Citarum karena fungsinya, sungai terpanjang di Jawa Barat ini memiliki berbagai masalah lingkungan yang kompleks. Di DAS Citarum terdapat tiga pembangkit listrik tenaga air berkapasitas lebih dari 1.900 megawatt, tiga waduk bervolume 5,3 miliar meter kubik air untuk mengairi sawah hingga 300.000 hektar, serta menjadi air baku bagi 80 persen konsumsi air bersih DKI Jakarta, Permasalahan yang kompleks itu tidak lepas dari tekanan penduduk yang tinggi di sekitar DAS Citarum, mulai dari hulu di Situ Cisanti, Kabupaten Bandung, hingga hilirnya di Muara Gembong, Kabupaten Bekasi. Wujud tekanan manusia ini bermuara pada menyusutnya lahan hutan sekitar 85 persen dalam kurun 2000-2009. Lahan hutan beralih menjadi lahan permukiman dan usaha. Total populasi di aliran sungai sepanjang 269 kilometer—yang melewati 6 kabupaten, 47 kecamatan, dan 231 desa—itu mencapai sekitar 10 juta jiwa. Beberapa desa merupakan daerah industri yang padat penduduk. Menurut data Direktori Industri Provinsi Jawa Barat 2009, jumlah industri yang berada di sepanjang aliran Sungai Citarum tak kurang dari 200 unit usaha. Mayoritas industri tersebut berada di wilayah Kabupaten Bandung, Purwakarta, dan Karawang. Sebaran industri itu umumnya berdekatan dengan permukiman penduduk yang cenderung memadat di sentra perekonomian. Hal ini menyebabkan Citarum bagaikan sebuah got besar tempat penampungan berbagai limbah, baik dari buangan industri maupun rumah tangga. Bila merunut Citarum dari hulu-hilir, sulit sekali menemukan lokasi berair bersih, tidak tercemar, jernih, dan tidak berbau. Di bagian hulu atau Cisanti sekalipun, air sudah tercemar. Menurut pantauan Perum Jasa Tirta (PJT) II, di Situ Cisanti pada Desember 2010 parameter hidrogen sulfidanya melebihi baku mutu yang ditetapkan untuk air baku air minum. Air di hulu Citarum tidak layak untuk dikonsumsi karena mengandung gas berbau busuk yang berasal dari proses dekomposisi sampah organik berupa tanaman, hewan, ikan, atau kotoran yang mengendap di air. Manusia yang menghirup senyawa ini dalam batas tertentu akan pusing atau bahkan tidak sadarkan diri. Semakin ke hilir, permasalahan Citarum kian kompleks dan ancaman kesehatan semakin besar. Hampir semua institusi pemerintah yang melakukan pemantauan kualitas air Citarum menemukan beberapa variabel di semua titik sampel tidak memenuhi baku mutu. Badan Pengelolaan Lingkungan Hidup Daerah (BPLHD) Provinsi Jabar, yang rutin melakukan pemantauan tiga kali setahun di 10 titik, mendapatkan hal itu. Melalui parameter uji fisika, kimia, dan biologi terjaring beberapa pencemar yang sering tidak sesuai baku mutu, seperti detergen, nitrit, klorin, senyawa sulfida, fenol, koli, zat padat tersuspensi, COD, BOD, DO, dan beberapa logam berat, seperti kadmium, kobalt, seng, besi, dan mangan. Polutan ini bila terkontaminasi ke dalam tubuh dapat mengakibatkan berbagai penyakit, mulai dari yang ringan hingga mematikan. Pengolahan buruk Kontributor utama pencemaran adalah limbah cair yang berasal dari buangan rumah tangga, perkantoran, usaha, atau industri di sekitar DAS Citarum. Akumulasi polutan bertambah lengkap dengan bergabungnya berbagai limbah dari anak-anak Sungai Citarum. Pantauan PJT II di beberapa anak sungai seperti di Cikapundung, Cikijing, Cisangkuy, Citepus, Cimahi, Cibeureum, Cidurian, Cikeruh, Cikao, dan Citarik menunjukkan kualitas air sudah tidak memenuhi baku mutu sebelum masuk ke sungai utama. Indikasinya terlihat dari nilai BOD dan COD yang mayoritas melebihi ambang batas. Tingginya kedua parameter kimia ini menunjukkan nilai DO atau oksigen terlarut di air semakin rendah yang mengisyaratkan terjadinya pencemaran.

102

Pengolahan limbah yang relatif masih sederhana dan tidak peduli lingkungan merupakan pangkal terjadinya polusi air di Citarum. Berdasarkan pantauan Balai Lingkungan Keairan PUSAIR Bandung pada 2010 masih banyak limbah—terutama yang berasal dari rumah tangga—ditangani secara sederhana. Kotoran yang diolah hanya berasal dari kakus, sedangkan sisanya langsung terbuang ke badan sungai sehingga kadar polutan koli dan detergen di Citarum tinggi. Degradasi kualitas air itu diperparah dengan perilaku beberapa industri yang buruk penanganan limbahnya. Sering kali pabrik-pabrik hanya menjalankan instalasi pengolahan air limbah (IPAL) ketika ada pemeriksaan, sedangkan pada hari-hari biasa, terutama pada malam hari atau ketika hujan turun, pabrik langsung membuang limbahnya ke sungai. Indikasi adanya polutan industri itu terlihat dari temuan beberapa unsur logam berat yang tidak memenuhi baku mutu di hampir semua titik observasi yang dilakukan PJT II dan BPLHD. Salah satu yang muncul adalah unsur seng (Zn) yang umumnya berasal dari industri penyepuhan logam, tekstil, pengelantang, barang jadi lateks, dan sejenisnya. Hal ini menunjukkan IPAL beberapa industri di sekitar Citarum tidak bekerja optimal. Di wilayah Kota Bandung, Kabupaten Bandung, Bandung Barat, dan Kota Cimahi terdapat sekitar 215 usaha industri tekstil. Namun, sarana IPAL yang ada tampaknya belum bekerja optimal karena hingga kini beberapa unsur kimia logam berat dan unsur lainnya dari industri tekstil terindikasi masih mencemari DAS Citarum. Merembes dan membanjiri Kondisi itu dapat berakibat buruk bagi kesehatan karena berpotensi menyebabkan munculnya penyakit berbahaya. Peluang masyarakat di pinggiran Citarum terkontaminasi unsur berbahaya relatif besar. Berdasarkan data Potensi Desa 2008 dari Badan Pusat Statistik, setidaknya di sepanjang kanan-kiri bantaran Citarum terdapat 3.049 rumah yang dihuni oleh 3.527 kepala keluarga. Sebagian besar warga ini mengakses air bersih melalui sumur di sekitar rumahnya. Bukan mustahil jika air Citarum yang berpolutan itu dapat merembes ke dalam sumur penduduk. Selain rawan terkontaminasi tidak langsung, penduduk di sekitar sungai juga rawan tercemar secara langsung. Hal ini dimungkinkan terjadi jika Citarum meluap dan membanjiri daerah sekitarnya sehingga polutan beracun mengendap di sumur-sumur atau bak penampungan air. Wilayah sekitar Citarum merupakan langganan banjir. Dalam sejarah banjir Citarum selama 30 tahun (1980-2010), hanya delapan tahun saja yang tidak terjadi banjir. Selebihnya wilayah sekitar Citarum merupakan langganan banjir tahunan. Pada 2010 terjadi banjir besar yang menggenangi cekungan Bandung seluas 7.800 hektar. Luas area ini hampir sama dengan luas genangan banjir besar yang terjadi pada 1986, yakni mencapai 7.450 hektar. Untuk memulihkan Citarum dari pencemaran, diperlukan proses yang panjang karena polutan telah merata mulai dari hulu hingga hilir. Upaya penyadaran masyarakat melalui peran pemerintah, instansi, atau LSM terkait perlu diaktifkan untuk menekan bahaya bagi kesehatan. Solusi nyata yang dapat dilakukan, antara lain, membangun tangki kotoran (septic tank) komunal di daerah permukiman untuk mengurangi beban limbah domestik di DAS Citarum. Di samping itu, perlu ketegasan pemerintah untuk menindak industri-industri yang tidak mengolah limbah secara benar.(BUDIAWAN SIDIK ARIFIANTO/ Litbang Kompas) PENANGANAN CITARUM

Solusi Terpadu yang (Tak) Terintegrasi
6 Mei 2011 ”Memangnya mau beli rumah di sini? Rumah di sini murah-murah, tetapi banyak yang belum laku.” Pertanyaan dan pernyataan itu meluncur dari mulut Sukino (60), warga Perumahan

103

Pondok Gede Permai, Jatirasa, Kabupaten Bekasi, saat tim ekspedisi Kompas melewati daerah itu, Kamis (31/3). Perumahan Pondok Gede Permai adalah salah satu perumahan yang berhampiran langsung dengan Kali Bekasi, sungai yang membelah Kabupaten Bekasi. Tetapi, sama seperti sungai lain yang ditakdirkan menelusuri kelok kota besar, sungai sepanjang 27 kilometer ini kerap dituding sebagai biang pencemaran, bau busuk, dan banjir. Sembari menunjukkan rumah rusak berukuran 36 meter persegi yang tak kunjung laku di samping rumahnya, Sukino mengatakan, banjir sudah berhenti sejak lima tahun lalu begitu tanggul penahan banjir di pinggir Kali Bekasi selesai dibangun. Setelah banjir selesai, yang kini menyiksa warga adalah bau busuk yang kerap datang setiap tiga bulan. ”Setiap tiga bulan ada bau busuk dari Kali Bekasi. Mungkin hasil aktivitas dari banyak pabrik sekitar Kali Bekasi. Akibatnya, banyak penghuni pindah, tetapi rumah yang ditinggalkan tidak kunjung laku,” kata dia. Warga lain, Sri (32), mengaku saat bau busuk datang, biasanya air di Kali Bekasi berubah menjadi hitam atau kadang kala merah. Sri berharap Pemerintah Kabupaten Bekasi bisa menertibkan ulah para pembuang limbah itu. Bau busuk Dalam perjalanan sejarahnya, sungai hasil pertemuan antara Sungai Cileungsi dan Sungai Cikeas ini pernah punya peran penting. Di mata para arkeolog, Kali Bekasi dikenal sebagai Kali Bhagasasi yang digali dan ditata dengan indah oleh raja terbesar Tarumanegara, Purnawarman. Di mata pejuang kemerdekaan, Kali Bekasi juga menjadi saksi heroiknya perjuangan masyarakat Indonesia meraih kemerdekaan. Kini, kisah indah itu tinggal kenangan, menyisakan bau busuk limbah pabrik. Menurut data Badan Pengendali Lingkungan Hidup tahun 2008, sebanyak 45 perusahaan atau 60 persen dari total perusahaan di sekitar Kali Bekasi tidak memiliki instalasi pengolah air limbah. Artinya, mereka membuang begitu saja limbah pabrik langsung ke sungai. Ancaman sanksi hukuman tiga tahun penjara dengan denda Rp 3 miliar pun seperti tidak bergigi. Agustus 2009, Kali Bekasi menjadi buah bibir. Akibat dianggap memiliki potensi tinggi sebagai pencemar air bersih Saluran Irigasi Tarum Barat, maka dibangun sifon (terowongan bawah sungai) guna memisahkan Kali Bekasi dengan Tarum Barat. Menurut data Dinas Bina Marga dan Tata Air Kota Bekasi, terowongan akan berukuran 98,6 meter x 6,9 meter dengan diameter 17 meter. Posisinya di bawah Kali Bekasi. Lokasinya di Kelurahan Margahayu dan Kelurahan Margajaya. Adapun dana pembangunannya berasal dari pinjaman Bank Pembangunan Asia. Diperkirakan, bangunan sifon ini menelan biaya Rp 500 miliar-Rp 1 triliun. Direktur Pengelolaan Air Perum Jasa Tirta II, Herman Idrus, mengatakan, sifon harus dibuat untuk memisahkan Kali Bekasi yang telanjur terkontaminasi limbah pabrik dan rumah tangga. Ia yakin itu cara paling cepat menyelamatkan kualitas air Tarum Barat. Namun, pembuatan sifon tidak hanya akan dilakukan di persimpangan Kali Bekasi. ”Kali Beet dan Cikarang yang masuk ke Tarum Barat juga akan kami buatkan sifon,” kata dia. Logikanya, kalau dulu orang Jakarta cukup mendapat air dari Ciliwung, sekarang tidak bisa lagi, karena Ciliwung juga tercemar. Pembangunan sifon lain diusahakan menggunakan dana internal. Tetapi kalau dana tidak cukup, akan dicari dana pinjaman lagi. Ada yang diingatkan Herman soal pembangunan sifon. Cara ini memang paling cepat untuk mencegah pencemaran ke Tarum Barat, tetapi idealnya harus tetap dilakukan penyelamatan lingkungan di semua sungai, mulai dari hulu hingga ke hilir. ”Langkah ini harus terintegrasi. Semua pihak harus terlibat membuat lingkungan sekitar sungai menjadi lebih baik dan tidak cukup puas hanya dengan membuat sifon,” kata dia. Citarum Roadmap

104

Langkah di atas merupakan tahap pertama dari sembilan kegiatan Citarum Roadmap dari Integrated Citarum Water Resources Management Investment Program (ICWRMIP) atau pengelolaan sumber daya air terpadu di wilayah Sungai Citarum. Kesembilan proyek itu, antara lain, rehabilitasi saluran Tarum Barat; peningkatan pengelolaan lahan dan air; pengelolaan air dan sanitasi berbasis masyarakat; rencana aksi peningkatan kualitas air, perlindungan lingkungan dan keanekaragaman hayati di hulu sungai, serta penataan ruang. Di luar itu, ada proyek pengelolaan banjir di kawasan hulu; desain untuk peningkatan sistem penyediaan air bersih Kota Bandung, dan strategi adaptasi terhadap perubahan iklim Menurut data Cita-Citarum, lembaga mitra Bappenas, Citarum Roadmap menggunakan pendekatan komprehensif, multisektor, dan terpadu untuk memahami dan memecahkan masalah kompleks seputar air dan lahan di sepanjang aliran Citarum. Pelaksanaan program ini dilakukan melalui koordinasi dan konsultasi antarpemangku kepentingan serta mengutamakan partisipasi masyarakat dalam menentukan prioritas, rancangan, hingga pelaksanaan. Hingga kini, telah teridentifikasi 80 jenis program dengan perkiraan kebutuhan pembiayaan Rp 35 triliun (2007) yang berasal dari berbagai sumber pembiayaan. Baik itu anggaran pemerintah, kontribusi pihak swasta, maupun masyarakat, juga pinjaman lembaga keuangan internasional yang dilaksanakan bertahap dalam waktu 15 tahun ke depan. Koordinasi program dilakukan Bappenas, sedangkan lembaga pelaksana kegiatan dikoordinasikan Ditjen Sumber Daya Air, Kementerian Pekerjaan Umum, melalui Balai Besar Wilayah Sungai Citarum, dengan melibatkan sejumlah departemen dan kementerian terkait di tingkat provinsi maupun kabupaten/kota melalui dinas-dinas terkait. Semua instansi pelaksana itu bersifat koordinasi dan belum terintegrasi melalui satu badan otoritas. Staf Ahli Gubernur Jabar, Dede Mariana, mengatakan, Citarum selama ini salah urus. Penyelesaian parsial atau egosektoral lebih banyak mewarnai kebijakan publik yang diambil pemerintah pusat maupun pemerintah daerah. ”Sudah saatnya ada badan pengelola Citarum yang secara khusus mengoordinasi badanbadan lain dalam penanganan Citarum. Dengan demikian, jelas siapa saja pihak-pihak yang bertanggung jawab dan memiliki kewenangan mengatasi persoalan Citarum. Kondisi sekarang, berbagai pihak bekerja sendiri-sendiri,” kata dia. Menurut Dede, harus ada kesadaran baru dari semua pihak bahwa mengurus Sungai Citarum harus terintegrasi, bersinergi, dari hulu hingga hilir, dan semua harus terbuka. Pasalnya, dana yang dipakai pinjaman atau utang luar negeri yang akan menjadi beban rakyat Indonesia. ”Program ini lebih mendahulukan hilir, yakni perbaikan irigasi Tarum Barat, padahal persoalan besar Citarum berada di hulu,” ungkap Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup Jawa Barat Setiawan Wangsaatmadja. (CHE/MKN/DMU)

SUNGAI CITARUM

Sungai Purba di Ujung Peradaban
6 Mei 2011 Kerusakan Sungai Citarum, yang membentang sejauh 269 kilometer dari Bandung Selatan hingga Muara Gembong, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, dari tahun ke tahun semakin parah. Tidak ada pihak yang berupaya mengendalikan pencemaran sehingga Citarum dibiarkan kehilangan fungsi. Selama airnya masih ada, walaupun kecil dan pekat akibat pencemaran hebat, persoalan Citarum dianggap biasa,” sindir Mubiar Purwasasmita, Guru Besar Lingkungan Institut Teknologi Bandung. ”Kami sudah melaporkan semua persoalan Citarum, tetapi hingga kini tidak ada penanganan tuntas,” tambah Erry Megantara, Guru Besar Ilmu Lingkungan Universitas Padjadjaran.

105

Instansi yang langsung menangani Sungai Citarum adalah Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Citarum di bawah Kementerian Pekerjaan Umum. Lembaga ini pun lebih menangani fisik sungai untuk mengurangi genangan banjir di Bandung Selatan atau wilayah hulu Citarum. Pekerjaan konstruksi tahap pertama BBWS 1994-1999 mengeruk lumpur sedimen Citarum 2 juta-3 juta meter kubik. Tahap kedua 1999-2008 juga mengeruk 2 juta-3 juta meter kubik. Luas genangan banjir memang menurun, dari 7.450 hektar tahun 1985 menjadi 1.402 hektar pada tahun 2008. ”Di sisi lain, sedimen yang turun dari Citarum hulu berkisar 10 juta meter kubik per tahun,” ungkap Staf Ahli Gubernur Jabar Anang Sudarna, yang juga mantan Kepala Dinas Kehutanan Jabar. Sementara itu, untuk pencemarannya hingga kini tidak ada yang mengendalikan. Mulai dari bagian hulu di Situ Cisanti, kaki Gunung Wayang Bandung Selatan, hingga ke Muara Gembong, aliran Sungai Citarum sudah tercemar berbagai bahan kimia berbahaya. Penyebabnya, sungai terpanjang dan terbesar di Jabar ini dijadikan tempat pembuangan limbah pertanian, peternakan, industri/pabrik tekstil, sampah rumah tangga, dan segala aktivitas kehidupan kota di sekitar daerah aliran sungai (DAS) Citarum, termasuk Bandung Raya. Ironis, ketika kesadaran tentang kelestarian alam semakin berkembang, semua fungsi Sungai Citarum untuk melanjutkan cita-cita kemerdekaan dirusak oleh hampir semua komponen bangsa. Sepertinya, sungai purba itu kini tengah berada di ujung peradaban. Makin buruk Sungai Citarum bernilai sangat strategis bagi kepentingan nasional karena airnya dimanfaatkan tiga waduk pembangkit listrik tenaga air (PLTA), yakni Waduk Saguling (7001.400 megawatt), Cirata (1.008 megawatt), dan Jatiluhur (187 megawatt). Ketiga PLTA ini menerangi Jawa dan Bali. Di hilir, air Citarum digunakan mengairi sawah di lumbung padi nasional, yaitu Kabupaten Karawang, Purwakarta, Subang, dan sebagian Indramayu. Air Citarum juga merupakan bahan baku air minum bagi 80 persen kebutuhan air minum warga DKI Jakarta. Kini, Citarum yang memiliki wilayah sekitar 12.000 kilometer persegi melayani air minum bagi 25 juta jiwa penduduk. Sebanyak 15 juta penduduk tinggal di Jabar dan 10 juta jiwa lainnya di DKI Jakarta. Total air irigasi yang dipasok Citarum mencapai 420.000 hektar di Kabupaten Bandung, Kota Bandung, Kabupaten Bandung Barat, Kabupaten Cianjur, Purwakarta, Karawang, Subang, dan Indramayu. Sayangnya, sumber daya sebesar itu disia-siakan. Kepala Badan Pengelola Lingkungan Hidup Daerah (BPLHD) Jabar Iwan Setiawan melaporkan, akibat pencemaran dan sedimentasi, kualitas air Citarum makin lama makin buruk. Berdasarkan pemantauan tahun 2010, di DAS Citarum tidak ada satu lokasi pun yang kualitas airnya memenuhi mutu air baku minum (kelas II) maupun pertanian/perikanan (kelas III). Apa parameternya sampai air Sungai Citarum bahkan tak layak dipakai di lahan pertanian dan perikanan? Ternyata, air sungai ini, antara lain, tinggi nilai COD (chemical oxygen demand), yaitu ukuran jumlah cemaran bahan organik di permukaan air), seng, nitrit, sulfid, besi (Fe), detergen, bakteri koli, serta coliform dari kotoran manusia dan hewan. ”Untuk pertanian tidak baik, apalagi kalau air tersebut mengandung logam berat, lebih buruk lagi untuk perikanan,” tutur Erry. Nilai ekonomi Sungai, di mana pun, selalu memberi nilai ekonomi bagi manusia. Tak terkecuali Citarum. Mengacu data Badan Pusat Statistik, Provinsi Jabar adalah produsen utama perikanan budidaya di republik ini. Pada subsektor jaring apung, antara tahun 2005 dan 2008 produksi Jabar selalu mendominasi produksi nasional.

106

Tahun 2006, produksi ikan dari jaring apung Jabar bahkan mencapai 80,9 persen dari total produksi nasional atau 143.252 ton. Tahun 2008 mencapai 144.560 ton dari total produksi nasional sebesar 263.169 ton. Ikan-ikan itu merupakan konsumsi warga Jabar, Banten, dan DKI Jakarta. Keberadaan kolam-kolam keramba jaring apung (KJA) di Waduk Saguling, Cirata, dan Ir H Djuanda (Jatiluhur) menyumbang angka produksi di atas. Sejak diuji coba tahun 1974 dan dibudidayakan tahun 1988 di Waduk Ir Djuanda, pola budidaya KJA terus berkembang. Jumlah KJA di tiga waduk terus meningkat dan kini ditaksir lebih dari 70.000 unit. Teknologi KJA tergolong baru dan menguntungkan. Oleh karena itu, usaha yang awalnya direkomendasikan bagi warga yang terdampak pembangunan waduk itu menjadi incaran investor. Meski begitu, konsumen rupanya menyadari buruknya kualitas Citarum. ”Ibu-ibu di kompleks saya tidak mau beli kalau ikannya datang dari Saguling. Mereka tahu waduk itu tempat pertama penampungan limbah Citarum,” ujar Mohamad Husen, warga Kompleks Margahayu Raya Bandung. Pesatnya perkembangan jumlah KJA, ditambah pencemaran dan sedimentasi dari hulu Citarum, membuat daya dukung perairan terus menurun. Gabungan Pengusaha Makanan Ternak (GPMT) mencatat, akumulasi sejumlah masalah itu membuat usaha budidaya ikan KJA melesu dalam 13 tahun terakhir, khususnya di Waduk Saguling dan Cirata. Ketua GPMT Denny Indradjaja menyebutkan, permintaan pakan ikan dari pembudidaya di Waduk Saguling anjlok dari sekitar 4.000 ton per bulan tahun 1997 menjadi 100 ton per bulan tahun 2010. Kondisi serupa terjadi di Waduk Cirata, yang anjlok dari 12.000 ton per bulan tahun 1999-2002 menjadi 4.000 ton per bulan tahun 2010. Buruknya kualitas air meningkatkan risiko kematian ikan akibat anjloknya kadar oksigen terlarut, serangan virus, atau teraduknya endapan dasar waduk. Menurut Denny, karena sudah tidak menguntungkan, sebagian pembudidaya ikan KJA di Saguling dan Cirata memilih memindahkan jaring apungnya ke Waduk Ir H Djuanda yang kondisi airnya dinilai lebih baik. Konsumsi pakan di Waduk Ir H Djuanda pun meningkat dari 1.500 ton per bulan sebelum tahun 2005 menjadi 4.000 ton per bulan tahun 2010. Begitu banyak orang menggantungkan hidup pada Citarum, begitu besar nilai ekonomi sungai tersebut. Tidak ada jalan lain kecuali merevitalisasi sungai itu, mengendalikan kerusakan daerah aliran sungai, dan menghentikan pencemarannya bila jutaan orang tetap ingin mendapat manfaat dari sungai tersebut. (DMU/MKN)

107

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->