Anda di halaman 1dari 19

PERTEMUAN KE-11 DAN 12

MATA KULIAH : ANALISA LAPORAN KEUANGAN FAKULTAS EKONOMI PROGRAM STUDI : AKUNTANSI Materi :

KINERJA PERUSAHAAN DAN ANALISIS KREDIT

Ada berbagai tolok ukur untuk melihat pencapaian kinerja. Salah satu di antaranya adalah sejalan yang dikemukakan oleh Denison (2000) bahwa suatu perusahaan dikatakan berkinerja baik dengan tolok ukur berpredikat baik pada: (1) keuntungan, (2) kualitas, (3) inovasi, (4) pangsa pasar, (5) pertumbuhan penjualan, dan (6) kepuasan para karyawannya. Salah satu faktor kunci yang berpengaruh pada upaya peningkatan nilai adalah ada komitmen organisasional yang tinggi. Luthan's (1992) menyatakan komitmen organisasional terdiri atas tiga dimensi, yakni (1) keinginan kuat tetap menjadi anggota organisasi (stakeholder), (2) kemauan besar untuk berjuang dan berusaha bagi organisasi, serta (3) kepercayaan kuat dan penerimaan yang tinggi terhadap nilai serta tujuan organisasi. Faktor umur perusahaan juga merupakan faktor yang memengaruhi kinerja perusahaan. Umur perusahaan dapat menunjukkan kemampuan dalam mengatasi kesulitan dan hambatan yang dapat mengancam kehidupan perusahaan, serta menunjukkan kemampuan perusahaan mengambil kesempatan dalam lingkungannya untuk mengembangkan usaha. Di samping itu, unsur perusahaan dapat menunjukkan kemampuan dalam keunggulan berkompetisi. Dengan demikian makin lama perusahaan berdiri kian menunjukkan eksistensinya dalam lingkungannya dan makin bisa meningkatkan kepercayaan investor. Kesuksesan go public Bank BRI (BBRI) juga ditopang oleh umur lembaga keuangan tersebut yang sudah teruji sedemikian lama.

Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB

ABDUL ROSID,SE,MM ANALISA LAPORAN KEUANGAN

Suatu

perusahaan

tergolong

mempunyai

keunggulan

dalam

berkompetisi

(Bharadwaj, 1993) dengan tolok ukur: (1) bernilai, (2) berbeda dari yang lain ke arah yang lebih baik, dan (3) tidak mudah ditiru. Tujuan utama perusahaan, menurut Brigham (1983), adalah meningkatkan nilai perusahaan melalui peningkatan kemakmuran pemilik ata pemegang saham. Nilai perusahaan merupakan harga yang bersedia dibayar oleh calon pembeli andai perusahaan tersebut dijual. Bagi perusahaan yang menerbitkan saham di pasar modal harga saham yang ditransaksikan di bursa merupakan indikator nilai perusahaan. Optimalisasi Upaya mendapatkan posisi unggul diperoleh melalui optimalisasi sumber internal yang dimiliki oleh perusahaan dan optimalisasi sumber eksternal. Penguatan optimalisasi sumber eksternal salah satunya lewat program kemitraan. Sebagai ilustrasi, perusahaan yang berhasil dengan program kemitraan adalah PT Astra Internasional. Perusahaan otomotif Toyota merupakan perusahaan yang terkenal berhasil dengan kualitas produk melalui strategi diferensiasi. Daihatsu terkenal dengan mobil yang terjangkau harganya melalui strategi biaya rendah. Kemitraan antara keduanya menghasilkan Toyota Avanza dan Daihatsu Xenia yang merupakan produk berkualitas dengan harga lebih terjangkau oleh masyarakat. Sejalan dengan yang dikemukakan oleh Jeffrei H Dyer (1997) bentuk kemitraan yang dilakukan berupa sharing atau berbagi informasi dalam mewujudkan produk berkualitas, berbagi informasi tentang produk dengan biaya rendah, dan berbagi informasi dalam manajemen distribusi produk. Seiring dengan keberhasilan dalam penjualan produk nilai sahamnya meningkat. Pada saat kemitraan antara Toyota dan Daihatsu harga saham Astra Internasional (ASII) awal Januari 2004 berada di posisi Rp 5.100/lembar. Kini (10 Maret 2005) harganya naik menjadi Rp 1.900 atau 113,7%. Peningkatan nilai perusahaan juga dapat diukur lewat seberapa besar komitmen dalam mengoptimalkan aset atau nilai bukunya. PT Astra Internasional pada awal 2004 mempunyai nilai buku per saham sebesar Rp 2.831. Dengan harga saham

Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB

ABDUL ROSID,SE,MM ANALISA LAPORAN KEUANGAN

pada waktu itu sebesar Rp 5.100 berarti perbandingan harga saham terhadap nilai buku atau price to book value (PBV) 1,8 kali. Indikasi keberhasilan dalam program kemitraan ditandai oleh aset atau nilai bukunya yang menjadi lebih optimal. Dengan harga saham kini Rp 10.900 berarti perbandingan antara harga saham dan nilai bukunya menjadi optimal lebih dari 3 kali. Hal itu menunjukkan salah satu perwujudan komitmen perusahaan pada pemegang saham. Perbandingan antara harga saham dan nilai buku sebesar 1 menunjukkan komitmen organisasionalnya statis karena kinerjanya berarti sama dengan nilai buku asetnya. Jika angka koefisiennya kurang dari 1 menunjukkan komitmen organisasionalnya degresif. Namun apabila angka koefisiennya lebih dari 1 menunjukkan komitmen

organisasionalnya progresif dan berarti nilai sahamnya lebih besar dari nilai bukunya. Demikianlah, makin lama usia perusahaan kinerjanya akan kian meningkat. Namun hal tersebut akan terjadi jika disertai oleh komitmen organisasional yang tinggi. Pengertian kredit menurut Kasmir ( 2003: 72 ) mengatakan bahwa: Dalam bahasa latin kredit disebut credere yang artinya percaya. Maksudnya si pemberi kredit percaya kepada sipenerima kredit yang disalurkan pasti akan dikembalikan sesuai perjanjian. Sedangkan bagi si penerima kredit berarti menerima kepercayaan, sehingga mempunyai kewajiban untuk membayar kembali pinjaman tersebut sesuai dengan jangka waktunya. Pengertian kredit menurut UU Perbankan No.10 tahun 1998, mengatakan bahwa: Kredit adalah penyedia uang atau tagihan yang dapat dipersamakan dengan itu, berdasarkan persetujuan atau kesepakatan pinjam meminjam antara bank dengan pihak lain yang mewajibkan pihak peminjam melunasi hutangnya setelah jangka waktu tertentu. Sedangkan pengertian kredit menurut UU No.7 tahun 1992, mengatakan bahwa: Kredit adalah penyediaan uang atau tagihan yang dapat dipersamakan dengan itu, berdasarkan persetujuan atau kesepakatan pinjam meminjam

Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB

ABDUL ROSID,SE,MM ANALISA LAPORAN KEUANGAN

antara bank dengan pihak lain yang mewajibkan pihak peminjam untuk melunasi utangnya setelah jangka waktu tertentu dengan pemberian bunga. Definisi kredit menurut undang-undang tersebut memberikan konsekuensi bagi bank dan peminjam mengenai hal-hal berikut: a. Penyediaan uang atau yang dapat dipersamakan denga itu oleh bank. b. Kewajiban debitur mengembalikan kredit yang diterimanya c.Jangka waktu pengembalian kredit d. Pembayaran bunga e. Perjanjian kredit Berdasarkan kedua pendapat di atas dapat penulis simpulkan bahwa pengertian kredit adalah uang bank yang di pinjamkan kepada nasabah dan akan dikembalikan lagi pada waktu tertentu yang disertai dengan bunga. Dari pengertian tersebut dapat disimpulkan bahwa unsur yang terdapat dalam kredit adalah: 1. Adanya orang atau badan yang memiliki uang, barang atau jasa yang bersedia untuk meminjamkannya kepada pihak lain. 2. Adanya pihak yang membutuhkan atau meminjam uang, barang atau jasa (pihak ini disebut debitur). 3. Adanya kepercayaan dari kreditur terhadap debitur kepada kreditur. 4. Adanya janji dan kesanggupan membayar dari debitur kepada kreditur. 5. Adanya perbedaan waktu yaitu perbedaan antara saat penyerahan uang, barang atau jasa oleh kreditur dengan saat pembayaran kembali dari debitur. 6. Adanya resiko yaitu sebagai akibat dari adanya unsur perbedaan waktu seperti di atas, dimana masa yang akan dating merupakan sesuatu yang belum pasti maka kredit itu pada dasarnya mengandung resiko. Klasifikasi Kredit Kita lihat dari berbagai jenis kredit yang dapat diklasifikasikan sehingga diketahui variasinya, adalah sebagai berikut (Wijaya dan Wirasasmita, 2000: 75) : 1. Kredit menurut tujuan penggunaannya Yaitu : kredit konsumtif dan kredit peroduktif (kredit investasi, kredit modal kerja, kerja likuidasi) 2. Kredit dalam pengalihan hak materinya Yaitu : kredit dalam bentuk uang, dan kredit bukan dalam bentuk uang. 3. Kredit menurut jangka waktunya Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB ABDUL ROSID,SE,MM ANALISA LAPORAN KEUANGAN

Yaitu : kredit jangka pendek (selama-lamanya satu tahun),sebagai modal kerja. Kredit jangka menengah (selama-lamanya 1-3 tahun), modal kerja dan investasi yang jumlahnya kecil. Kredit jangak panjang (selama-lamanya 3-5 tahun), investasi besar 4. Kredit menurut cara penggunaannya Yaitu kredit tunai, dan kredit bukan tunai (garansi bank/jaminan/letter of credir) 5. Kredit cara penarikannya dan cara pembayaran Yaitu : kredit sekaligus (atlopend), Kredit Rekening Koran (R/K atau R/C), kredit bertahap, kredit berulang (Revolving Credit), kredit bertransaksi (Selfiquidating Credit-eenmaligetras Credit). 6. Kredit dilihat dari sektor ekonomi Yaitu : kredit yang dilihat dari sektor pertanian, kredit sektor pertambangan, kredit sekotr perindustrian/manufakturing, kredit sektor listrik, gas, dan air, kredit sektor kontruksi. 7. Kredit dilihat dari segi jaminan Yaitu : kredit personal securities, (tangible/berwujud dan intangible/tak berwujud). 8. Kredit tanpa jaminan 9. Kredit menurut pemberiannya Yaitu : ada dua golongan diantaranya Organized Credit dan Orgaanized Credit 10. Kredit menurut alat buktinya Yaitu secara lisan, tercatat dan perjanjian tertulis atau banyak dikenal seperti Kertas Perbendaharaan Negara, Obligasi, dan Promes. 11. Kredit menurut sumber dananya Yaitu : kredit yang dananya berasal dari tabungan masyarakat, dan kredit yang dananya berasal dari penciptaan uang baru. 12. Kredit menurut Kolektibilitasnya Yaitu : kredit yang terdiri dari kredit lancar, kredit kurang lancar, kredit yang diragukan. Kebijakan Kredit Pada umumnya manajer keuangan langsung mengawsi piutang dagang melalui keterlambatannya dalam pengeloalaan, yaitu : 1. Kebijakan kredit, suatu penentuan dalam penyeleksian pembarian kredit, standar kradit dan syarat kredit Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB ABDUL ROSID,SE,MM ANALISA LAPORAN KEUANGAN

2. Kebijakan penagihan, pendekatan perusahaan untuk mengelola setiap aspek piutang dagang sangat dipengaruhi oleh kondisi persaingan Seleksi dalam pemberian kredit (Credit Selection) adalah suatu keputusan dimana seseorang atau perusahaan akan memberikan kredit kepada pelanggannya dan berapa besar kredit yang akan diberikan. Kebijaksanaan penjualan kredit merupakan pedoman yang ditempuh oleh perusahaan dalam menentukan apakah kepada seseorang akan diberikan kredit atau kalau diberikan berapa banyak atau berapa jumlah kredit yang akan diberikan tersebut. Jenis-Jenis Kredit Menurut Ade Arthea (2006:175) jenis-jenis kredit dikelompokan berdasarkan: 1. Penggunaannya 1) Kredit Konsumtif Ditujukan ke nasabah yang memerlukan dana untuk kebutuhan konsumsi. Misalnya pembelian rumah, kendaraan dan barang-barang konsumtif lainnya. 2) Kredit Produktif Yaitu jenis kredit yang digunakan untuk keperluan produksi atau usaha. 2. Keperluan Produksinya 1) Kredit Modal Kerja (KMK) Ditujukan ke nasabah yang mengalami kekurangan modal kerja untuk pengembangan usahanya. 2) Kredit Investasi Ditujukan ke nasabah yang membutuhkan barang modal untuk pertumbuhan usahanya. 3. Jangka Waktunya 1) Kredit Jangka Pendek Yaitu jenis kredit yang mempunyai jangka waktu kurang dari satu tahun. 2) Kredit Jangka Menengah Yaitu jenis kredit yang mempunyai jangka waktu antara satu hingga tiga tahun. 3) Kredit Jangka Panjang

Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB

ABDUL ROSID,SE,MM ANALISA LAPORAN KEUANGAN

Yaitu jenis kredit yang mempunyai jangka waktu lebih dari tiga tahun. 4. Cara Penggunaan 1) Kredit Rekening Koran Bebas Yaitu jenis kredit dimana debitur menerima seluruh kreditnya dalam bentuk rekening koran dan pemakaian tidak dibatasi tetapi disesuaikan dengan maksimum kredit yang diberikan. 2) Kredit Rekening Koran Terbatas Yaitu jenis kredit dimana debitur menerima seluruh kreditnya dalam bentuk rekening koran, namun terdapat pembatasan dalam pemakaiannya. 3) Kredit Rekening Koran Aflopend Yaitu jenis kredit dimana penarikan dilakukan sekaligus pada waktu penarikan pertama dan pembayarannya dilakukan dengan cara mengangsur. 4) Kredit Revolving Yaitu jenis kredit dengan penarikan yang sama dengan rekening koran bebas, namun dibedakan menurut pemakaiannya. Prinsip-Prinsip Pemberian Kredit Sebelum bank memutuskan untuk menyetujui permintaan kredit perlu bank dalam mengadakan evaluasi resiko kredit dan mempertimbangkan berbagai faktor yang menentukan besar kecilnya jumlah kredit tersebut. Pada umumnya bank mengadakan penilaian resiko kredit adalah dengan memperhatikan unsur 5C yaitu: 1. Character Yaitu watak dari para calon peminjam merupakan salah satu pertimbangan yang terpenting dalam memutuskan pemberian kredit. 2. Capacity Yaitu pihak bank harus mengetahui dengan pasti sampai dimana kemampuan menjalankan usaha dari pada si calon peminjam didalam membayar kredit atau pinjaman dalam penggunaan kredit tersebut. 3. Capital Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB ABDUL ROSID,SE,MM ANALISA LAPORAN KEUANGAN cara

Yaitu modal menyangkut berapa banyak dan bagaimana struktur modal yang telah dimiliki oleh calon peminjam. 4. Condition of economic Yaitu azas dan situasi ekonomi perllu pula diperhatikan dalam pertimbangan pemberian kredit terutama hubungannya dengan keadaan usaha calon peminjam. 5. Collateral Yaitu jaminan atau agunan berupa harta benda milik debitur yang diikat sebagai tanggungan andaikata terjadi ketidakmampuan debitur tersebut untuk menyelesaikan utangnya sesuai dengan perjanjian kredit. Selanjutnya di kenal konsep 7 P yang menurut Kasmir 93 ) terdiri dari: 1. Party Yaitu mencoba menggolongkan peminjam kedalam tertentu menurut character, capacity dan capital penilaian atas ke 3C tersebut. 2. Purpose Yaitu tujuan penggunaan kredit yang diajukan, apa tujuan sebenarnya dari kredit tersebut, apakah mempunyai aspek-aspek sosial yang positif dan luas atau tidak. 3. Payment Setelah mengetahui tujuan sebenarnya dari kredit tersebut, maka hendaknya diperkirakan dan dihitung kemungkinan-kemungkinan besarnya pendapatan yang akan dicapai atau dihasilkan. 4. Profitability Yaitu selain kemampuan calon peminjam dan menghasilkan laba atau keuntungan juga dapat di nilai dari keuntungan-keuntungan yang mungkin dicapai oleh bank. 5. Protection Yaitu berjaga-jaga terhadap hal-hal yang tidak di duga sebelumnya, maka bank perlu untuk melindungi kredit yang di berikannya dengan cara memberikan jaminan debiturnya. 6. Personality Yaitu menilai nasabah dari segi kepribadiannya atau tingkah lakunya sehari-hari maupun kepribadian masa lalu. 7. Prospect Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB ABDUL ROSID,SE,MM ANALISA LAPORAN KEUANGAN kelompok dengan jalan (2003:

Yaitu untuk menilai usaha nasabah di masa yang akan datang menguntungkan atau tidak atau dengan kata lain mempunyai prospek atau sebaliknya. Dalam dunia perbankan dikenal dengan adanya pedoman 3R dalam pemberian kredit selain syarat-syarat kredit yang biasanya, misalnya segi yuridis. Menurut Bambang Riyanto (2006:216), terdiri dari: 1. Return Menunjukan hasil yang di harapkan dapat di peroleh dari penggunaan kredit tersebut. 2. Repayment capacity Yaitu bank harus menilai kemampuan perusahaan pemohon kredit untuk dapat membayar kembali pinjamannya pada saat-saat dimana kredit tersebut harus di angsur atau dilunasi. 3. Risk-bearing ability Yaitu bank harus menilai apakah perusahaan pemohon kredit mempunyai kemampuan cukup untuk menganggung resiko kegagalan atau ketidakpastian yang bersangkutan dengan penggunaan kredit tersebut Aspek-Aspek Penilaian Kredit a. Aspek Pemasaran Penilaian yang perlu ditekankan disini adalah menyangkut kemampuan daya beli masyarakat, kompetisi , pangsa pasar, kualitas produksi dan sebagainya. b. Aspek Teknis Penilaian terhadap aspek ini meliputi kelancaran produksi, kapasitas produksi, mesin-mesin dan peralatan, ketersediaan dan kontinuitas bahan baku. c. Aspek Manajemen Memperhatikan struktur organisasi dan anggota-anggota manajemen termasuk kemampuan dan pengalamannya serta pola kepemimpinan yang diterapkan oleh top manajemen. d. Aspek Yuridis Meliputi status hukum badan usaha misalnya akte pendirian yang telah disahkan oleh yang berwenang, legalitas barang-barang jaminan. e. Aspek Sosial Ekonomi Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB ABDUL ROSID,SE,MM ANALISA LAPORAN KEUANGAN

Penilaian aspek ini pada dasarnya untuk mengetahui apakah usaha yang akan dibiayai dengan kredit bank tersebut diterima atau memberi dampak positif atau negatif terhadap lingkungan masyarakat setempat. f. Aspek Finansial Meliputi keadaan keuangan debitur yang akan dibiayai. Untuk melakukan penilaian kredit keuangan yang perlu diperoleh datadata mengenai laporan keuangan, arus dana, realisasi, produksi, realisasi produksi, pembelian dan penjualan. Kredit Bermasalah Perkembangan pemberian kredit yang paling tidak menggembirakan bagi pihak bank adalah apabila kredit yang diberikannya ternyata menjadi kredit bermasalah. Hal ini terutama disebabkan oleh kegagalan pihak debitor memenuhi kewajibannya untuk membayar angsuran pokok kredit beserta bunga yang telah disepakati kedua belah pihak dalam perjanjian kredit. Ketentuan kategori kolektibitas kredit yang dibuat Bank Indonesia adalah sebagai berikut: 1. Kredit Lancar Kredit lancar adalah kredit yang tidak mengalami penundaan pengembalian pokok pinjaman dan pembayaran bunga. 2. Kredit Kurang Lancar Kredit kurang lancar adalah kredit yang pengembalian pokok pinjaman dan pembayaran bunganya telah mengalami penundaan selama tiga bulan dari waktu yang diperjanjikan.

3. Kredit Diragukan Kredit diragukan adalah kredit yang pengembalian pokok pinjaman dan pembayaran bunganya telah mengalami penundaan selama enam bulan atau dua kali dari jadwal yang telah diperjanjikan. 4. Kredit Macet Kredit macet adalah kredit yang pengembalian pokok pinjaman dan pembayaran bunganya telah mengalami penundaan lebih dari satu tahun sejak jatuh tempo menurut jadwal yang telah diperjanjikan. Kredit Macet Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB ABDUL ROSID,SE,MM ANALISA LAPORAN KEUANGAN

Dalam penyaluran kredit kepada debitur senantiasa ditemui adanya permasalahan kredit sehingga menimbulkan kredit macet, kredit macet merupakan kondisi dimana bank tidak bisa memperoleh kembali cicilan pokok atau bunga pinjaman yang diberikan sesuai dengan jangka waktu yang telah ditentukan. Kredit macet merupakan bagian dari pengelolaan kredit bank, karena kredit bermasalah itu sendiri merupakan risiko yang dihadapi bisnis perbankan. Hampir semua bank memiliki kredit macet. Bahkan dalam beberapa kasus kredit macet di Indonesia berakhir ke penutupan beberapa bank. Menurut Mudrajat Kuncoro (2002:462) kredit macet adalah suatu keadaan dimana nasabah sudah tidak sanggup membayar sebagian atau seluruh kewajibannya kepada bank seperti yang diperjanjikannya.. Sedangkan menurut Lukman Dendawijaya (2003:85) kredit macet yaitu pengembalian pokok pinjaman dan pembayaran bunganya telah mengalami penundaan lebih dari satu tahun sejak jatuh tempo menurut jadwal yang diperjanjikan. Dari kedua pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa kredit macet adalah kredit yang sejak jatuh tempo tidak dapat dilunasi oleh debitur sebagaimana mestinya sesuai dengan perjanjian. Pengertian jatuh tempo tersebut sesuai dengan ketentuan kolektibitas bank bersangkutan. Implikasi bagi pihak bank sebagai akibat timbulnya kredit macet tersebut yang berkaitan dengan pengaruhnya terhadap CAR adalah bank harus memperbesar penyisihan untuk cadangan aktiva produktif yang diklasifikasikan berdasarkan ketentuan yang ada. Hal ini pada akhirnya akan mengurangi besarnya modal bank dan akan sangat berpengaruh terhadap CAR. Penyebab Kredit Macet 1. Faktor Internal a. Kebijakan perkreditan yang ekspansif Bank yang mempunyai kelebihan dana sering menetapkan kebijakan perkreditan yang terlalu ekpansif yang melebihi

pertumbuhan kredit secara wajar yaitu dengan menetapkan sejumlah target kredit yang harus dicapai kurun waktu tertentu. b. Penyimpangan dalam pelaksanaan prosedur perkreditan

Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB

ABDUL ROSID,SE,MM ANALISA LAPORAN KEUANGAN

Pejabat bank sering tidak mengikuti dan kurang tata cara pemberian kredit dalam suatu bank.

disiplin dalam

menerapkan prosedur perkreditan sesuai dengan pedoman dan c. Lemahnya sistem administrasi dan pengawasan kredit Untuk mengukur kelemahan sistem administrasi dan pengawasan kredit bank dapat dilihat dari dokumen kredit yang seharusnya diminta dari debitur tetapi tidak dilakukan oleh bank, berkas perkerditan tidak lengkap dan tidak teratur, pemantauan terhadap usaha debitur tidak dilakukan secara rutin, termasuk peninjauan langsung pada usaha debitur secara periodik lemahnya sistem dilacak administrasi dan pengawasan tersebut menyebabkan kredit yang secara potensial akan mengalami masalah tidak dapat pencegahan. d. Lemahnya sistem informasi kredit Sistem informasi kredit yang tidak sengaja berjalan sebagaimana seharusnya akan memperlemah keakuratan pelaporan bank yang pada gilirannya akan sulit melakukan deteksi dini. Hal tersebut terlambatnya pengambilan langkah-langkah dapat menyebabkan secara dini, sehingga bank tidak dapat mengambil langkah

yang diperlukan untuk mencegah terjadinya kredit bermasalah. e. Itikad kurang baik dari pihak bank Pemilik atau pengurus bank seringkali memanfaatkan keberadaan banknya untuk kepentingan kelompok bisnisnya dengan sengaja melanggar ketentuan kehati-hatian perbankan terutama ketentuan legal lending limit. Skenario lain adalah pemlik atau pengurus bank memberikan kredit kepada debitur yang sebenarnya fiktif. 2. Faktor Eksternal a. Penurunan kegiatan ekonomi dan tingginya tingkat bunga kredit Kegiatan usaha debitur rentan terhadap terjadinya mengalami kenaikan tinggi. b. Pemanfaatan iklim persaingan perbankan yang tidak sehat oleh debitur Persaingan bank yang sangat ketat dalam penyaluran kredit dapat dimanfaatkan debitur yang kurang memiliki itikad baik dengan cara Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB ABDUL ROSID,SE,MM ANALISA LAPORAN KEUANGAN penurunan kegiatan ekonomi dan dalam waktu yang sama tingkat suku bunga

memperoleh kredit melebihi jumlah yang diperlukan dan untuk usaha yang tidak jelas atau untuk spekulasi. c. Kegagalan usaha debitur Kegagalan dapat terjadi karena sifat usaha debitur sensitif terhadap pengaruh eksternal misalnya kegagalan dalam pemasaran produk, terjadi perubahan harga di pasar, perubahan pola konsumen dan pengaruh perekonomian nasional. d. Debitur mengalami musibah Musibah dapat terjadi pada debitur misalnya meninggal dunia, lokasi usaha mengalami kebakaran atau kerusakan usaha debitur tidak dilindungi dengan asuransi. Penyelesaian Kredit Macet Menurut Kasmir (2003:129) penyelamatan terhadap kredit macet dapat dilakukan dengan cara: 1. Rescheduling Suatu tindakan yang diambil dengan cara memperpanjang jangka waktu kredit atau jangka waktu angsuran. 2. Reconditioning Bank merubah berbagai persyaratan yang ada, seperti: a. Kapitalisasi, yaitu bunga dijadikan hutang pokok. b. Penundaan pembayaran bunga sampai waktu tertentu, hanya bunga yang dapat ditunda pembayarannya sedangkan pokok pinjamannya tetap harus dibayar seperti biasa. c. Penurunan suku bunga, diharapkan dapat mempengaruhi jumlah angsuran yang semakin mengecil, sehingga diharapkan dapat membantu meringan kan nasabah. d. Pembebasan pinjamannya. 3. Retrukturing Merupakan tindakan bank kepada nasabah dengan cara menambah modal nasabah dengan pertimbangan nasabah memang membutuhkan dana dan usaha yang dibiayai masih layak. 4. Kombinasi Merupakan kombinasi tiga jenis diatas. 5. Penyitaan Jaminan Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB ABDUL ROSID,SE,MM ANALISA LAPORAN KEUANGAN bunga, nasabah mempunyai kewajian membayar pokok pinjaman sampai lunas tidak disertai bunga

Merupakan jalan terakhir apabila nasabah sudah benar-benar tidak punya itikad baik ataupun sudah tidak mampu lagi untuk membayar semua hutang-hutangnya. Sedangkan menurut Ade Arthesa (2006:183) penyelesaian kredit macet adalah dengan cara penghapusbukuan yaitu tindakan yang dilakukan bank terhadap debitur karena adanya kondisi yang menyebabkan kredit macet tidak dapat diselesaikan. Direksi bank memiliki wewenang menghapusbukukan kredit macet dan selanjutnya harus mempertanggungjawabkan ke rapat umum pemegang saham. Kredit macet yang telah di upayakan penyelesaiannya oleh bank ataupun melalui saluran hukum dan ternyata masih juga tidak terselesaikan harus dihapusbukukan dan dipindahkan sebagai kredit ekstrakomptabel. Penghapusbukuan kredit macet bukan merupakan pembebasan utang nasabah tetapi merupakan tindakan intern bank yang bersifat administratif. Oleh karena itu, semua langkah penyelesaian prioritas harus tetap dilanjutkan. Penanganan kredit macet harus ditinjau dari sebab terjadinya kemacetan, sehingga tidak terjadi kesalahan dalam dalam mengambil keputusan yang mengakibatkan reputasi bank bersangkutan menjadi buruk Capital Adequacy Ratio (CAR) Pengertian Capital Adequacy Ratio (CAR) Menurut Lukman Dendawijaya (2003:122) Capital Adequacy Ratio (CAR) adalah rasio yang memperlihatkan seberapa jauh seluruh aktiva bank yang mengandung risiko dana masyarakat dan pinjaman. Menurut Ade Arthesa (2006:146) CAR adalah ketentuan permodalan, yaitu rasio minimum perbandingan antara modal risiko dengan aktiva yang mengandung risiko. Menurut Mudrajat Kuncoro (2002:562) CAR adalah kecukupan modal yang menunjukan kemampuan bank dalam mempertahankan modal yang mencukupi dan kemampuan manajemen bank dalam ikut dibiayai dari dana modal sendiri bank disamping memperoleh dana-dana dari sumber luar bank, seperti atau penagihan yang direncanakan sesuai dengan kondisi debitur dan skala

Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB

ABDUL ROSID,SE,MM ANALISA LAPORAN KEUANGAN

mengidentifikasi, mengukur, mengawasi dan mengontrol risiko-risiko yang timbul yang dapat berpengaruh terhadap besarnya modal bank. Sedangkan menurut Lapoliwa (2000:137) CAR adalah perbandingan antara jumlah seluruh komponen modal terhadap aktiva tertimbang menurut resiko (ATMR). Dengan kata lain CAR adalah rasio kinerja bank untuk mengukur kecukupan modal yang dimiliki bank untuk menunjang aktiva yang mengandung atau menghasilkan risiko, dalam hal ini adalah pemberian kredit. CAR merupakan indikator terhadap kemampuan bank untuk menutupi penurunan aktivanya sebagai akibat dari kerugian bank yang disebabkan oleh aktiva yang berisiko. Komponen Modal Bank Menurut Lukman Dendawijaya (2000:46) modal bank terdiri atas modal inti dan modal pelengkap. Modal inti bank terdiri atas: 1. pemiliknya. 2. Agio Saham Agio saham adalah selisih lebih setoran modal yang diterima oleh bank sebagai akibat dari harga saham yang melebihi nilai nominalnya. 3. Cadangan Umum Cadangan umum adalah cadangan yang dibentuk dari penyisihan laba ditahan atau laba bersih setelah dikurangi pajak dan mendapat persetujuan RUPS. 4. Cadangan Tujuan Cadangan tujuan adalah bagian laba setelah dikurangi pajak yang disisihkan untuk tujuan tertentu dan telah mendapat persetujuan RUPS. 5. Laba Ditahan Laba ditahan adalah saldo laba bersih setelah dikurangi pajak yang oleh pemegang saham diputuskan untuk tidak dibagikan. 6. Laba Tahun Lalu Modal Disetor Modal disetor adalah modal yang telah disetor secara efektif oleh

Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB

ABDUL ROSID,SE,MM ANALISA LAPORAN KEUANGAN

Laba tahun lalu adalah laba bersih tahun-tahun lalu setelah dikurangi 7. Laba Tahun Berjalan Laba tahun berjalan adalh laba yang dioeroleh dlam tahun buku berjalan setelah dikurangi taksiran utang pajak. 8. Minority Interest pajak dan belum ditentukan penggunaanya oleh pemegang saham.

Adalah modal inti anak perusahaan setelah dikompensasikan nilai penyertaan bank pada anak perusahaan tersebut. Sedangkan modal pelengkap terdiri dari: 1. Cadangan Revaluasi Aktiva Tetap Adalah cadangan yang dibentuk dari selisih penilaian kembali aktiva tetap yang telah mendapat persetujuan dari Direktorat Jendral Pajak. 2. Cadangan Penghapusan Aktiva yang Diklasifikasikan Adalah cadangan yang dibentuk dengan membebani laba rugi tahun berjalan. Hal ini dimaksudkan untuk menampung kerugian yang mungkin timbul sebagai akibat tidak diterimanya kembali sebagian atau seluruh aktiva produktif 3. Modal Kuasi Adalah modal yang didukung oleh instrumen atau warkat yang memiliki sifat seperti modal. 4. Pinjaman Subordinasi Adalah pinjaman yang harus memenuhi berbagai syarat, seperti ada perjanjian tertulis antara bank dan pemberi pinjaman dengan mendapat persetujuan dari bank Indonesia.

Ketentuan Tentang Modal Minimum Bank Ketentuan tentang modal minimum bank yang berlaku di Indonesia mengikuti standar Bank for International Settlements (BIS). Sejalan dengan standar tersebut, dalam kerangka paket deregulasi tanggal 29 Februari 1991 (Pakfeb91), bank Indonesia mewajibkan setiap bank umum menyediakan modal minimum sebesar 8% dari total aktiva tertimbang menurut risiko (ATMR). Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB ABDUL ROSID,SE,MM ANALISA LAPORAN KEUANGAN

Persentase kebutuhan modal minimum yang diwajibkan menurut BIS ini disebut CAR. Dengan demikian CAR minimum bagi bank-bank umum di Indonesia adalah 8%. Penghitungan Kebutuhan Modal Minimum Bank Perhitungan penyediaan modal minimum atau kecukupan modal bank didasarkan pada rasio atau perbandingan antara modal yang dimiliki bank dan jumlah aktiva tertimbang menurut risiko (ATMR). ATMR merupakan penjumlahan aktiva yang tercantum dalam neraca dan aktiva yang bersifat administratif. Langkah-langkah perhitungan penyediaan modal minimum bank adalah sebagai berikut: 1) ATMR aktiva neraca dihitung dengan cara mengalikan nilai nominal masing-masing aktiva yang bersangkutan dengan bobot risiko dari masing masing pos aktiva neraca tersebut. 2) ATMR aktiva administratif dihitung dengan cara mengalikan nilai nomilan redenig administratif yang bersangkutan dengan bobot risiko dari masing-masing pos rekening tersebut. 3) Total ATMR sama dengan ATMR aktiva administratif. 4) Rasio modal bank dihitung dengan cara membandingkan antara modal bank dan total ATMR. 5) Hasil perhitungan rasio kemudian dibandingkan dengan kewajiban penyediaan modal minimum.dari hasil perhitungan tersebut dapt diketahui apakah bank telah memenuhi ketentuan CAR atau tidak ATMR aktiva neraca ditambah

ANALISIS STRUKTUR MODAL Struktur modal adalah perbandingan atau imbangan pendanaan jangka

panjang perusahaan yang ditunjukkan oleh perbandingan hutang jangka panjang terhadap modal sendiri. Pemenuhan kebutuhan dana perusahaan dari sumber modal sendiri berasal dari modal saham, laba ditahan, dan cadangan. Jika dalam pendanaan perusahaan yang berasal dari modal sendiri masih memiliki kekurangan (deficit) maka perlu dipertimbangkan pendanaan perusahaan yang berasl dari luar, yaitu dari hutang (debt financing). Namun dalam pemenuhan kebutuhan dana, perusahaan harus
Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB ABDUL ROSID,SE,MM ANALISA LAPORAN KEUANGAN

mencari alternative-alternatif pendanaan yang efisien. Pendanaan yang efisien akan terjadi bila perusahaan mempunyai struktur modal yang optimal. Struktur modal yang optimal dapat diartikan sebagai struktur modal yang dapat meminimalkan biaya penggunaan modal keseluruhan atau biaya modal rata-rata, sehingga memaksimalkan nilai perusahaan. Teori Struktur Modal Dalam teori struktur modal diasumsikan bawa perubahan struktur modal berasal dari penerbitan obligasi dan pembelian kembali saham biasa atau penerbitan saham baru. Selanjutnya perlu dikaji bagaimana pengaruh perubahan struktur modal tersebut terhadap nilai perusahaan dan apakah ada pengaruh struktur modal terhadap harga saham perusahaan sebagai pencerminan nilai perusahaan. Apabila ada pengaruh struktur modal terhadap nilai perusahaan, pertanyyan berikutnya adalah bagaimana struktur modal yang optimal bagi perusahaan. Dalam analisis struktur modal ini digunakan beberapa asumsi : 1. Tidak ada pajak 2. Tidak ada pertumbuhan laba 3. Pembayaran seluruh laba kepada pemegang saham yang berupa deviden 4. Perubahan struktur modal terjadi dengan menerbitkan obligasi dan membeli kembali saham biasa atau dengan menerbitkan saham biasa dan menarik obligasi Untuk menghitung besarnya biaya modal dalam kaitanya dengan struktur modal dan nilai perusahaan digunakan beberapa rumus berikut : 1. Rumus pertama untuk menghitung return obligasi : I Ki =---B Dimana : I = bunga hutang tahunan B = Nilai pasar obligasi yang beredar Ki = Return dari obligasi

Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB

ABDUL ROSID,SE,MM ANALISA LAPORAN KEUANGAN

2. Rumus kedua untuk menghitung return saham biasa : E Ke =---S Dimana : E = Laba untuk pemegang saham biasa S = Nilai pasar saham biasa yang beredar Ke = Return dari saham biasa 3. Rumus ketiga untuk mengitung return bersih perusahaan : O Ko =---V Dimana : O = Laba operasi bersih V = Total Nilai perusahaan Ko = Return bersih perusahaan

Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB

ABDUL ROSID,SE,MM ANALISA LAPORAN KEUANGAN