Anda di halaman 1dari 38

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Umum Sampah merupakan buangan padat atau setengah padat terdiri dari zat organik dan zat an- organik yang kehadirannya tidak diinginkan atau tidak berguna oleh masyarakat. Setiap aktivitas manusia menghasilkan sampah, dengan bertambahnya jumlah penduduk mengakibatkan sampah yang dihasilkan semakin besar. Hal ini menyebabkan masalah sampah mulai mengganggu baik terhadap kesehatan manusia maupun terhadap lingkungan yang menyebabkan tercemarnya tanah, air dan udara. Maka dari itu sampah tersebut perlu pengelolaan khusus agar tidak membahayakan kesehatan manusia, lingkungan dan melindungi investasi pembangunan (Tchobanoglous, 1993). Menurut SNI 19-2454-1991 tentang tata cara pengelolaan teknik sampah perkotaan, sampah didefenisikan sebagai limbah yang bersifat padat terdiri dari zat organik dan zat anorganik yang dianggap tidak berguna lagi dan harus dikelola agar tidak membahayakan lingkungan dan melindungi investasi pembangunan. Sampah umumnya dalam bentuk sisa makanan (sampah dapur), daun-daunan, ranting pohon, kertas/karton, plastik, kain bekas, kaleng-kaleng, debu sisa penyapuan, dan sebagainya. Sedangkan pengelolaan persampahan itu sendiri dapat diartikan sebagai suatu usaha atau kegiatan yang mengontrol jumlah timbulan sampah, pewadahan, pengumpulan, transfer dan transport, daur ulang serta pembuangan sampah dengan memperhatikan faktor kesehatan masyarakat, ekonomi, teknik, konservasi lingkungan, estetika, dan pertimbangan lingkungan lainnya (Tchobanoglous,1993). Sampah menjadi masalah penting di kotakota di Indonesia. Tanah-tanah yang masih kosong dijadikan sebagai tempat penumpukan sampah. Masyarakat yang terbiasa membuang sampah ke sungai atau saluran drainase tidak memikirkan apa dampak dari perbuatan yang mereka lakukan tersebut. Padahal tumpukan sampah tersebut merupakan suatu resiko yang sangat potensial mengancam kesehatan lingkungan. Kebijakan yang diterapkan di Indonesia dalam mengelola sampah ini adalah seperti yang diarahkan oleh Departemen PU (Direktorat Jendral Cipta Karya) sebagai departemen teknis yang mengelola persampahan di Indonesia. Sistem pengelolaan sampah perkotaan pada dasarnya dilihat sebagai komponenkomponen subsistem yang saling mendukung satu dengan yang lain untuk mencapai tujuan, yaitu kota yang bersih, sehat, dan teratur.

Sumber sampah itu sendiri dapat berasal dari:

Tinjauan Pustaka

a. Kegiatan penghasilan sampah seperti pasar, rumah tangga, pertokoan, penyapuan jalan, taman, atau tempat umum lainnya, dan kegiatan lain seperti industri dengan limbah yang sejenis sampah; b. Sampah yang dihasilkan manusia sehari-hari yang kemungkinan mengandung limbah berbahaya, seperti sisa baterai, sisa oli/minyak rem mobil, sisa bekas permusnahan nyamuk, sisa biosida tanaman, dan sebagainya. Komponenkomponen subsistem yang saling mendukung dan saling berinteraksi tersebut adalah (Damanhuri, 2004): Organisasi dan manajemen; Teknik operasional; Pembiayaan; Pengaturan; Peran serta masyarakat. Menurut Damanhuri (2004) sampah dapat diklasifikasikan berdasarkan beberapa hal seperti dibawah ini, yaitu: a. Klasifikasi sampah berdasarkan sumbernya antara lain: 1. Sampah permukiman; 2. Sampah daerah komersil; 3. Sampah institusi; 4. Sampah konstruksi dan pembongkaran bangunan; 5. Sampah fasilitas umum; 6. Sampah kawasan industri; 7. Sampah pertanian. b. Berdasarkan cara penanganan dan pengolahan sampah dibedakan berdasarkan: 1. Komponen yang mudah membusuk; 2. Komponen bervolume besar dan mudah terbakar; 3. Komponen bervolume besar dan sulit terbakar; 4. Komponen kecil dan sulit terbakar; 5. Wadah bekas; 6. Tabung bertekanan/gas; 7. Serbuk dan abu; 8. Lumpur baik organik maupun non organik; 9. Puing bangunan; 10. Kendaraan terpakai; 11. Sampah radioaktif. c. Klasifikasikan sampah dari negara industri dibedakan atas: 1. Sampah organik mudah membusuk (garbage); 2. Sampah organik tak membusuk (rubbish); 3. Sampah sisa abu pembakaran penghangat rumah (ashes); 4. Sampah bangkai binatang; 5. Sampah sapuan jalan; 6. Sampah buangan konstruksi. d. Klasifikasi sampah berdasarkan komposisi antara lain: 1. Sampah seragam seperti kertas, karton; 2. Sampah tidak seragam (campuran).
Wahyu Eka Putri Dj (0810941002), Dita Sophy Syakdiah (0910941006), M. Ali Arridha ( 0910942029) II-2

a. b. c. d. e.

Tinjauan Pustaka

e. Berdasarkan status pemukiman sampah dibedakan atas: 1. Sampah kota; 2. Pedesaan. f. Berdasarkan sifat-sifat biologis dan kimianya sampah dapat digolongkan menjadi: 1. Sampah yang dapat membusuk (garbage); 2. Sampah yang tidak membusuk (rubbish); 3. Sampah berupa debu dan abu; 4. Sampah yang mengandung zat-zat kimia atau fisis yang berbahaya. Beberapa faktor yang mempengaruh komposisi sampah antara lain (Damanhuri, 2004): a. Cuaca; b. Frekuensi pengumpulan; c. Musim; d. Tingkat sosial ekonomi; e. Pendapatan perkapita; f. Kemasan produk. Karakteristik sampah antara lain (Damanhuri, 2004): a. Karakteristik kimia, terdiri dari unsur C, N, O, P, H, S; b. Karakteristik fisika, seperti densitas, kadar volatile, kadar abu, nilai kalor dan distribusi ukuran. Pada abad ke-19 pengelolaan sampah mulai dilakukan secara sederhana yaitu dengan mengumpulkan sampah makanan yang bertujuan untuk mengontrol serangga, lalat, dan tikus. Namun pengelolaan sampah dengan cara penumpukan ini tetap menimbulkan dampak karena sampah yang dikumpulkan/ditumpuk tersebut tetap menghasilkan air sampah (leachate) yang akan mempengaruhi air permukaan dan air tanah sehingga daya asimilasi alam akan terlampaui. Cara pengelolaan sampah seperti di atas berlangsung sampai munculnya masyarakat teknologi yang ditandai dengan terjadinya revolusi industri. Pada saat ini masalah sampah menjadi lebih kompleks karena sampah yang dihasilkan lebih beragam dengan jumlah yang besar. Kemajuan teknologi sangat berpengaruh terhadap karakteristik sampah seperti: a. Jumlah garbage (sampah basah) menjadi berkurang; b. Meningkatnya kuantitas sampah yang bersifat nonbiodegradable; c. Kuantitas sampah fraksi berat dan logam berat meningkat yang bersumber dari bekas kemasan makanan dan limbah industri. 2.2 Sistem Pengelolaan Persampahan Secara umum, pengelolaan persampahan ini jika dilihat dari sudut biaya akan mengeluarkan/menaikkan biaya. Di sektor industri, banyak yang menganggap bahwa komponen ini perlu ditekan serendah mungkin atau jika memungkinkan komponen ini akan ditekan dengan membuang sampah langsung ke lingkungan tanpa dilakukan pengolahan sebelumnya. Tujuan umum dari sistem pengelolaan persampahan adalah untuk menyediakan pelayanan yang berkelanjutan dan dapat menciptakan pelayanan yang memadai dalam pengumpulan sampah, transportasi
Wahyu Eka Putri Dj (0810941002), Dita Sophy Syakdiah (0910941006), M. Ali Arridha ( 0910942029) II-3

Tinjauan Pustaka

sampah, dan ketersediaan tempat pembuangan sampah (TPA) bagi komunitas umum. Tujuan pengelolaan persampahan, antara lain (Damanhuri, 2004): a. Meningkatkan kesehatan lingkungan pemukiman manusia di kota maupun di desa yang dapat berpengaruh langsung untuk memperbaiki dan meningkatkan kesehatan individu manusia di kota dan di desa tersebut; b. Menyelamatkan investasi pembangunan sarana dan prasarana sosial dan ekonomi seperti jalan-jalan dari kerusakan akibat kurangnya sarana penyehatan lingkungan pemukiman; c. Menyelamatkan berbagai sumber daya alam, terutama air dari kerusakan dan penurunan kualitasnya yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan manusia, yang disebabkan karena pencemaran yang terjadi dalam lingkungan pemukiman. Berdasarkan arus pergerakan persampahan sejak dari sumber hingga menuju ke pomrosesan atau pembuangan akhir, penanganan sampah di suatu kota di Indonesia dapat dibagi dalam tiga kelompok utama tingkat pengelolaan, yaitu (Damanhuri, 2004): a. Penanganan sampah tingkat sumber Penanganannya merupakan kegiatan secara individual yang dilakukan sendiri oleh penghasil sampah dalam area dimana penghasil sampah tersebut berada. Ciri-ciri penanganannya sebagai berikut: 1. Sangat bergantung pada karakter, kebiasaan, dan cara pandang penghasil sampah; 2. Penghasil sampah dapat berbentuk individu atau kelompok individu atau dalam bentuk institusi, misalnya kantor, hotel, dsb; 3. Kelompok individu dapat berkarakter homogen, atau bersifat heterogen; 4. Keberhasilan dalam upaya-upaya pengelolaan sampah sangat bergantung pada tingkat kesadaran masing-masing individu. b. Penanganan sampah tingkat kawasan Penanganannya merupakan kegiatan penanganan secara komunal untuk melayani sebagian atau keseluruhan sumber sampah yang ada dalam area dimana pengelola kawasan berada. Ciri-ciri penangananny adalah sebagai berikut: 1. Bersifat heterogen, sampah sumber-sumber yang berbeda; 2. Keberhasilan upaya dalam penanganansampah skala ini sangat tergantung pada kesadaran kelompok pembentuk tingkat kawasan; 3. Peran serta masyarakat yang diharapkan terjadi pada sumber, pada tingkat ini akan sulit terwujudkan; 4. Peran aktif pengelola kota sangat dibutuhkan. c. Penanganan sampah tingkat kota Penanganannya merupakan kegiatan yang dilakukan oleh pengelola kebersihan kota. Beberapa ciri penanganan sampah tingkat kota: 1. Pengelolaan sampah diposisikan sebagai bagian dari infrastruktur perkotaan;

Wahyu Eka Putri Dj (0810941002), Dita Sophy Syakdiah (0910941006), M. Ali Arridha ( 0910942029) II-4

Tinjauan Pustaka

2. Terdapat kemungkinan bahwa pengelolaan tersebut dilaksanakan oleh pihak luar atau swasta dengan kontrol kualitas pelayanan tetap dibawah kendali pemerintah daerah; 3. Dapat memperlihatkan kondisi kota yang bersih sehingga area yang merupakan wajah sebuah kota akan lebih diproritaskan pelayanannya. Sistem pengelolaan persampahan terbagi atas dua jenis, yaitu (Damanhuri, 2004): a. Pengelolaan Individu Pengelolaan individu adalah cara-cara pengelolaan yang dilakukan oleh tiap-tiap rumah tangga, yang dilakukan dengan sederhana, dan biasanya dengan cara pembuangan/ pengelolaan sampah yang mudah dilakukan oleh lingkungan kompleks perumahan dan industri yang mengelola secara tersendiri lepas dari sistem pengelolaan perkotaan. b. Pengelolaan Perkotaan Pengelolaan sampah untuk seluruh kota merupakan suatu sistem yang menyangkut beberapa aspek yang saling berpengaruh dan merupakan sub sistem dari pengelolaan keseluruhannya. Sistem pengelolaan persampahan ini mempunyai 5 komponen aspek, yaitu: 1. Aspek teknis operasional; 2. Aspek pengaturan (legal); 3. Aspek pembiayaan; 4. Aspek institusi; 5. Aspek peran serta masyarakat. 2.2.1 Aspek Teknis Operasional Teknik operasional ini meliputi: perhitungan produksi sampah (generation rate), menentukan daerah pelayanan, penentuan jenis pewadahan yang digunakan, penentuan cara pengumpulan dan pengangkutan sampah, cara penentuan lokasi, dan luas pembuangan akhir, termasuk di dalamnya penentuan peralatan yang dibutuhkan. Secara umum, teknik operasional pengelolaan sampah dikenal dalam beberapa subsistem sebagai berikut: a. Sumber sampah (waste generation); b. Pewadahan sampah (storage); c. Pengumpulan (collection); d. Pemindahan (transfer) dan pengangkutan (transport); e. Pengelolaan dan pemanfaatan kembali (processing and recovery ); f. Pembuangan akhir (disposal). Elemen-elemen yang terdapat pada pengelolaan sampah dan hubungan antar elemen tersebut (Tchobanoglous, 1993), dapat dilihat pada diagram Gambar 2.1 berikut:

Wahyu Eka Putri Dj (0810941002), Dita Sophy Syakdiah (0910941006), M. Ali Arridha ( 0910942029) II-5

Tinjauan Pustaka Sumber Sampah

Pewadahan

Pengumpulan Transfer dan Transport Pembuangan

Pengolahan

Gambar 2.1 Hubungan antara elemen-elemen pengelolaan sampah


Sumber :Tchobanoglous, 1993

2.2.1.1

Sumber dan Timbulan Sampah

Timbulan sampah dinyatakan dalam (Damanhuri, 2004): a. Satuan berat : kilogram perorang perhari (kg/o/h) atau kilogram per meter persegi bangunan perhari (kg/m2/h) atau kilogram per tempat tidur per hari (kg/bed/h) dan sebagainya. b. Satuan volume : liter/orang/hari (l/o/h) liter permeter persegi bangunan perhari (l/m2/h). Jumlah timbulan biasanya berhubungan dengan: a. Pemilihan peralatan, misalnya alat pengumpulan, pengangkutan; b. Perencanaan rute pengangkutan; c. Fasilitas rute daur ulang; d. Luas dan jenis TPA. dan alat

Sumber sampah pada suatu tempat atau komunitas berhubungan dengan penggunaan lahan dan zona daerah. Klasifikasi sumber sampah yang sering digunakan berasal dari: a. Rumah tinggal; b. Daerah komersil; c. Institusi; d. Konstruksi dan pemugaran; e. Pelayanan kota; f. Instalasi pengolahan limbah; g. Industri; h. Pertanian. Langkah umum penentuan timbulan sampah untuk persampahan pada suatu kota adalah: a. Penetapan tujuan; Penentuan satuan timbulan sampah diperlukan untuk evaluasi, atau untuk keperluan lainnya. b. Penyimpan data-data yang diperlukan; pengelolaan perencanan,

Wahyu Eka Putri Dj (0810941002), Dita Sophy Syakdiah (0910941006), M. Ali Arridha ( 0910942029) II-6

Tinjauan Pustaka

c. Penetapan metode sampling dan sampel; d. Penetapan periodesasi mingguan dan bulanan; e. Pelaksanaan; f. Penyajian dan pengolahan data sesuaikan dengan sasaran kebutuhan informasi. Rata-rata timbulan sampah biasanya akan berkurang dari hari ke hari antara satu daerah dengan daerah lainnya dan dari suatu negara ke negara lainnya. Variasi ini disebabkan oleh faktor-faktor sebagai berikut (Damanhuri, 2004): a. Jumlah penduduk, tingkat pertumbuhannya, dan tingkat hidup. Makin tinggi tingkat hidup masyarakat makin besar timbulan sampahnya; b. Musim, di negara barat timbulan sampah akan mencapai angka minimum pada musim panas; c. Cara hidup dan mobilitas penduduk; d. Iklim di negara barat, debu hasil pembakaran alat pemanas akan bertambah pada musim dingin; e. Cara penggunaan makanannya. Secara umum sumber sampah pada suatu tempat atau komunitas sangat berhubungan dengan penggunaan lapangan dan zona daerah tersebut. Debit timbulan sampah dapat dihitung dengan cara: qe =
P qk Ak

............................................................................................................... .................................(2.1) qt = (qd + qe) .............................................................................................................. ..................................(2.2) Dimana : qe = debit satuan ekivalen (lkh) Ak = luas daerah komersil (Ha) P = populasi kota qk = debit timbulan sampah daerah komersil (l/Ha/h) qt = debit satuan sampah seluruh kota (lkh) qd = debit satuan sampah daerah domestik (lkh) Klasifikasi Sampah Sampah Berdasarkan Sumbernya Penggolongan sampah berdasarkan sumbernya ini pada umumnya berhubungan erat dengan tata guna lahan dan pembagian daerah. Pada dasarnya sampah berdasarkan sumbernya dapat dikategorikan sebagai berikut: a. Sampah domestik (pemukiman penduduk) Sampah ini berasal dari aktivitas pemukiman. Jenis sampah yang dihasilkan seperti sisa makanan dan bahanbahan sisa dari
Wahyu Eka Putri Dj (0810941002), Dita Sophy Syakdiah (0910941006), M. Ali Arridha ( 0910942029) II-7

Tinjauan Pustaka

pengolahan makanan atau sampah basah (garbage), sampah kering (rubbish), abu, dan sampahsampah khusus. b. Sampah komersil Daerah komersil yaitu berupa toko, rumah makan, hotel, dan lainlain. Jadi, daerah komersil itu dapat berarti tempat yang dimungkinkan banyak orang berkumpul dan melakukan kegiatan termasuk tempat perdagangan. Jenis sampah yang dihasilkan seperti sisasisa makanan (sampah basah), sampah kering, abu, sisa-sisa bahan bangunan, sampah khusus dan terkadang juga terdapat sampah berbahaya. c. Aktivitas perkotaan Sampah ini berasal dari tempat hiburan, jalan-jalan, tempat parkir, dan lain-lain. Sampah yang dihasilkan biasanya sampah kering dan sampah basah. Sampah yang dihasilkan dari aktivitas kota (kecuali sampah industri dan pertanian), mempunyai distribusi berat masing masing (Tchobagnolous, 1993), seperti yang terlihat dari Tabel 2.1.
Tabel 2.1 Distribusi Komposisi Sampah
No 1 2 3 4 5 6 Sumber sampah Rumah tinggal dan komersil (selain sampah khusus dan B3) Sampah khusus Sampah B3 Institusi Konstruksi dan pemugaran Pelayanan kota : a. Sampah jalan b. Daun c. Taman dan rekreasi d. Pembersihan saluran Instalasi pengolahan limbah Total Range (% berat) 50 75 3 12 0,01 - 1,0 3-5 8 20 2-5 2-5 1,5 - 3 0,5 - 1,2 38 Tipikal (% berat) 62,0 5,0 0,1 3,4 14,0 3,8 3,0 2,0 0,7 6,0 100

Sumber :Tchobanoglous, 1993

a. Sampah industri Jenis industri ini seperti: konstruksi, pabrik industri ringan dan berat, kilang minyak, industri kimia, industri kayu, dan lain-lain. Jenis sampah yang dihasilkannya yaitu garbage, rubbish, ash, hazardous waste, dan lain-lain. b. Pertanian dan peternakan Sampah ini berasal dari hasil aktivitas pada daerah persawahan, ladang, kebun, daerah peternakan, dan lainlain. Jenis sampah yang dihasilkan seperti: garbage, agricultural waste, rubbish, dan hazardous wasts. c. Institusional Sampah ini berasal dari hasil aktivitas perkotaan, sekolah, rumah ibadah, dan lain-lain. Sumber dan jenis sampah (Tchobanoglous, 1993) dapat dilihat pada Tabel 2.2
Tabel 2.2 Sumber dan Jenis Sampah yang Dihasilkan
Sumber Sampah 1 Rumah tinggal Wahyu Eka Putri Dj ( 0910942029) No Tipe fasilitas, aktivitas, atau lokasi Tipe sampah yang yang menghasilkan sampah. dihasilkan Rumah tinggal tunggal, terpisah, multi Sampah makanan, kertas, family, apartemen rendah, dan karton, plastik, sampah (0810941002), Dita Sophy Syakdiah (0910941006), M. Ali Arridha II-8

Tinjauan Pustaka bertingkat. 2 Komersil Pasar, restoran, swalayan, kantor, hotel, motel, bengkel, dan percetakan. Sekolah, rumah sakit, penjara, dan pusat pemerintahan. Tipe fasilitas, aktivitas, atau lokasi yang menghasilkan sampah. Konstruksi baru, remodeling, dan perbaikan bangunan. Sampah taman, pantai, sarana rekreasi, dan bekas sapuan jalan. Pengolahan air minum dan air buangan, serta proses pengolahan limbah industri. Kontruksi, pabrikasi, industri kecil dan besar, industri kimia, pembangkit energi, dan lain lain. Penanaman, pemupukan, peternakan. halaman, kayu, kaca, dan lain- lain. Kertas, karton, plastik, kayu, sampah makanan, kaca, logam, sampah B3, dan sampah khusus. Sama dengan sampah komersil. Tipe sampah yang dihasilkan Kayu, baja, beton, bata, dan lain- lain. Sampah khusus, sampah kering, sampah kering, sampah jalan, daun dan pohon, dan lain- lain. Lumpur hasil pengolahan Sampah hasil proses industri, sampah kering, sampah khusus, dan sampah B3 . Sampah pertanian hasil pengolahan makanan, sampah kering, dan B3.

Institusi Sumber Sampah Konstruksi dan pemugaran Pelayanan kota Instalasi pengolaha n limbah Industri

No 4

6 7

Pertanian

Sumber :Tchobanoglous, 1993

Berdasarkan kandungan bahan organik dan anorganik sampah dapat digolongkan atas: a. Garbage (sampah basah) Mengandung bahan organik, mudah membusuk dan terdekomposisi, serta menghasilkan air lindi (leachate). Misalnya: sampah makanan. b. Rubbish (sampah kering) Dominan mengandung bahan anorganik, tidak mudah membusuk dan terdekomposisi, serta tidak mengandung air. Misalnya: Metal : sampah yang mengandung logam berat seperti Be, Cd, Cr, Hg, dan lain-lain. Non Metal : yang terdiri dari combustible (mudah dibakar) dan non combustible (sukar dibakar). c. Dust/Ash (sampah halus). Terdiri dari bahan organik dan anorganik, berukuran sangat kecil, dan mudah beterbangan. Sampah Berdasarkan Pembentukannya Ditinjau dari bentuknya, sampah dapat di bagi lagi menjadi beberapa bagian, yaitu : a. Limbah yang berasal dari bahan baku yang tidak mengalami perubahan komposisi baik secara kimia ataupun biologi. Mekanisme
Wahyu Eka Putri Dj (0810941002), Dita Sophy Syakdiah (0910941006), M. Ali Arridha ( 0910942029) II-9

Tinjauan Pustaka

yang terjadi hanyalah bersifat fisis saja seperti pemotongan, penggergajian, pengecatan, dan lain-lain; b. Limbah yang terbentuk dari akibat hasil samping sebuah proses kimia, fisika, dan biologis, atau dapat juga karena tidak optimum proses yang berlangsung; c. Limbah yang terbentuk akibat penggunaan bahan baku sekunder, misalnya pelarut atau pelumas. Bahan baku sekunder ini tidak ikut bereaksi pembentukan produk, melainkan hanya sebagai pembantu; d. Limbah yang berasal dari hasil samping proses pengolahan limbah; e. Limbah yang berasal dari bahan samping pemasaran produk industri. 2. Kuantitas dan Timbulan Sampah Kuantitas sampah adalah jumlah sampah yang dihasilkan manusia pada suatu daerah. Sedangkan timbulan sampah adalah volume sampah yang dihasilkan setiap orang per harinya. Kuantitas sampah diperlukan untuk menentukan dan mendesain peralatan yang digunakan dalam transportasi sampah, fasilitas recovery material dan fasilitas Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Kuantitas dinyatakan dalam volume dan berat. Data kuantitas yang dinyatakan dalam berat tidak dipengaruhi oleh angka kompaksi dan biasa langsung diukur. Walaupun kuantitas sampah lebih sering dinyatakan dalam berat, tapi dalam mendesain Tempat Pembuangan Akhir, volume, dan berat samasama digunakan. Metoda perhitungan terhadap kuantitas sampah (Tchobanoglous, 1993): a.Analisa perhitungan beban Analisa ini dilakukan dengan menghitung beban dari masing-masing kendaraan dan karakteristik sampah pada perioda tertentu. Analisa berat Analisa ini dilakukan dengan mengukur dan menimbang beban kendaraan. c. Analisa keseimbangan material Proses yang harus dilakukan dalam analisa ini adalah: Tentukan daerah studi; Identifikasi jumlah aktivitas yang menghasilkan sampah; Hitung timbulan sampah yang dihasilkan. Faktor-faktor yang mempengaruhi kuantitas sampah adalah: a. Reduksi pada sumber dan recycling yang dilakukan; b. Peran serta masyarakat; c. Faktor geografi dan faktor fisik lainnya seperti musim, dan frekuensi pengumpulan. Faktorfaktor yang mempengaruhi timbulan sampah adalah: a. Tingkat hidup; b. Iklim dan musim; c. Cara hidup dan mobilitas penduduk; d. Cara penanganan dan pola makan.

b.

Wahyu Eka Putri Dj (0810941002), Dita Sophy Syakdiah (0910941006), M. Ali Arridha ( 0910942029) II-10

Tinjauan Pustaka

2.2.1.2 Karakteristik Sampah Salah satu yang harus diketahui dalam merencanakan sistem pengelolaan sampah adalah karakteristik sampah. Karakteristik sampah ini sangat dipengaruhi oleh tingkat pendapatan penduduk (rendah, menengah, dan tinggi), pertumbuhan penduduk, produksi pertanian, pertumbuhan industri, dan perubahan musim. Karakteristik-karakteristik sampah tersebut, antara lain: a. Karakteristik fisik Karakteristik fisik berguna untuk pemilihan jenis operasi, perlengkapan, dan fasilitas yang akan digunakan. Karakteristik fisika yang dijadikan patokan adalah individual komponen, seperti kelembaban, berat jenis, ukuran partikel dan distribusi ukuran, serta permeabilitas sampah yang dipadatkan. b. Karakteristik kimia Karakteristik ini sangat diperlukan untuk menentukan alternatif proses dan recovery. 1. Analisa perkiraan, terdiri dari: Kelembaban; Volatile combustible matter; Fixed carbon (sisa setelah volatile hilang); Abu (sisa pembakaran). 2. Titik lebur abu; 3. Analisa komponen sampah (C, H, O, N, S, dan Abu); 4. Kandungan energi. c. Karakteristik biologi Karakteristik biologi yang biasa digunakan adalah biodegradabilitas komponen organik sampah, produksi bau, dan pertumbuhan lalat. 2.2.1.3 Sistem Pewadahan

Pewadahan sangat dibutuhkan karena sampah yang dihasilkan bila dibiarkan akan berdampak pada kesehatan masyarakat dan estetika, karena sampah adalah vektor penyakit, tempat lalat dan nyamuk berkembang biak, dan sampah menghasilkan bau yang akan mengganggu kenyamanan dan keindahan. Setiap sampah yang ditimbulkan dari suatu sumber akan ditampung dalam suatu wadah, baik itu permanen ataupun tidak. Dalam penentuan jenis dan sistem pewadahan yang akan digunakan perlu diperhatikan faktor-faktor berikut: a. Pengaruh pewadahan terhadap komponen sampah; b. Tipe wadah/kontainer yang akan digunakan; Tipe dan kapasitas kontainer yang akan digunakan tergantung pada: 1. Karakteristik dan jenis sampah; 2. Sistem pengumpulan yang digunakan; 3. Frekuensi pengumpulan; 4. Lahan yang tersedia untuk perletakkan container. c. Lokasi kontainer; d. Kesehatan masyarakat dan segi estetika. Jenis-jenis pewadahan yang biasa digunakan adalah (Damanhuri, 2004):
Wahyu Eka Putri Dj (0810941002), Dita Sophy Syakdiah (0910941006), M. Ali Arridha ( 0910942029) II-11

Tinjauan Pustaka

a. Untuk pemukiman, biasanya digunakan kantong plastik (30 liter), bin/tong plastik (40 liter), dan bak sampah; b. Untuk pasar, biasanya digunakan bin/tong (70 liter, 120 liter, 240 liter), bak sampah, dan gerobak bak sampah (1 m3); c. Untuk pertokoan, biasanya digunakan kantong plastik (30 liter) dan bin/tong (40 liter, 70 liter, 120 liter, 240 liter); d. Untuk bangunan institusi, biasanya digunakan kontainer (1 m3, 8 m3) dan bak sampah; e. Untuk tempat umum dan jalan taman, biasanya digunakan bin/tong (120 liter, 240 liter), tong (70 liter), dan bak sampah. Jenis peralatan untuk pewadahan (Departemen Pekerjaan Umum, 1990), dapat dilihat pada Tabel 2.3.
Tabel 2.3 Jenis Peralatan Pewadahan
No 1 2 3 Jenis Wadah Kantong plastik Bin Kontainer Kapasitas 10-40 40-240 6000 Umur Wadah 2-3 hari 2-3 tahun 2-3 tahun

Sumber : Departemen Pekerjaan Umum, 1990

Agar lebih jelas tentang pola dan karakteristik pewadahan (Departemen Pekerjaan Umum, 1990), dapat dilihat pada Tabel 2.4
Tabel 2.4 Pola dan Karakteristik Pewadahan Sampah
No 1. 2 3 4 5 Karakteristik dan Pola Pewadahan Bentuk/jenis Sifat Bahan Volume Pengadaan Individual Kotak, silinder, kontainer, bin (tong), semua tertutup, dan kantong. Ringan, mudah dipindahkan, dan dikosongkan. Logam, plastik, fiberglass (GRP), kayu, bambu, rotan, dan kertas. Pemukiman dan toko kecil ukuran 10-40 liter. Kantor, toko besar, hotel, ukuran 100 500 liter. Pribadi, instansi, dan pengelola. Komunal Kotak, silinder, kontainer, bin (tong), semua tertutup, dan kantong. Ringan, mudah dipindahkan, dan dikosongkan. Logam., plastik, fiberglass (GRP), kayu, bambu, dan rotan Pinggir jalan dan taman ukuran 3040 liter. Pemukiman dan pasar ukuran 100-1000 liter; Instansi pengelola.

Sumber : Departemen Pekerjaan Umum, 1990

2.2.1.4

Sistem Pengumpulan

Pengumpulan sampah merupakan kegiatan operasi yang dimulai dari sumber sampah ke tempat pembuangan sementara (transfer) sebelum dibuang ke tempat pembuangan akhir. Dalam pengelolaan persampahan, diperkirakan 50 sampai 70 % biaya yang digunakan pada sistem pengumpulan ini. Oleh sebab itu, sistem ini perlu diperhatikan sebaikbaiknya agar persentase tersebut dapat dikurangi sehingga biaya pengelolaan sampah dapat ditekan. a. Pada pengumpulan sampah perlu diperhatikan hal-hal berikut: Pelayanan dari sistem pengumpulan;
Wahyu Eka Putri Dj (0810941002), Dita Sophy Syakdiah (0910941006), M. Ali Arridha ( 0910942029) II-12

Tinjauan Pustaka

b. c. d.

Jenis sistem pengumpulan dan perlengkapan yang digunakan; Analisa sistem pengumpulan; Metoda umum untuk rute pengumpulan. Frekuensi pengumpulan sampah mempunyai arti yang sangat penting. Untuk menentukan waktu dan jumlah frekuensi pengumpulan harus berpedoman pada faktor-faktor dibawah ini: a. Karakteristik dari sampah; b. Iklim; c. Wadah bersama atau tiap rumah /terpisah; d. Karakteristik tempat tinggal atau toko yang ada; e. Kewajiban dari pemilik rumah. Peralatan atau perlengkapan yang biasa digunakan dalam mengumpulkan sampah adalah: a. Gerobak sampah (0.5 m3 1 m3); b. Kontainer (1 m3); c. Transfer station. Berdasarkan pelayanan, ada dua metoda yang biasa dipakai dalam mengumpulkan sampah, yaitu: a. Pelayanan Individu (Individual service); 1. Memakai transfer station Pengumpulan dilakukan dari rumah ke rumah (door to door). Kegunaannya untuk jarak pendek secara manual dengan menggunakan kendaraan atau gerobak. Sampah-sampah tersebut kemudian dibawa ke stasiun transfer. 2. Tanpa transfer station Pengumpulan dari rumah ke rumah (door to door) dilakukan dengan truk. Sampah-sampah tersebut langsung diangkut ke tempat pembuangan akhir (final disposal). b. Pelayanan Bersama (Communal Service). 1. Sampah diangkut ke tempat tertentu untuk dikumpulkan atau ke kontainer oleh penduduk. 2. Sampah diangkut ke kendaraan pengumpul oleh penduduk. Kendaraan ini berhenti pada tempat yang telah ditentukan. 2.2.1.5 Sistem Transfer dan Transportasi Sistem transfer dan transport merupakan fasilitas yang digunakan untuk memindahkan sampah dari satu lokasi ke lokasi lain. Transfer dan transport diperlukan ketika jarak angkut ke tempat pembuangan akhir sampah cukup jauh. Transfer stasiun digunakan untuk melengkapi pemindahan sampah dari tempat pengumpulan dan kendaraan-kendaraan kecil lainnya ke peralatan pengangkutan yang lebih besar. Berdasarkan metoda yang dipakai kendaraan transport untuk memuat sampah, maka stasiun transfer dapat diklasifikasikan menjadi: a. Direct Load Pada jenis ini sampah langsung dimasukkan ke trailer/kendaraan angkut dipadatkan dan dibawa ke TPA. b. Storage Load
Wahyu Eka Putri Dj (0810941002), Dita Sophy Syakdiah (0910941006), M. Ali Arridha ( 0910942029) II-13

Tinjauan Pustaka

Sampah dimasukkan ke wadah penampungan dengan kapasitas penyimpanan 1 sampai 3 hari, baru dibawa ke TPA. c. Combined Direct Load and Storage Load Transfer station ini biasanya digunakan pada fasilitas multipurpose, kombinasi pemuatan secara langsung, dan pembongkaran muatan. Sistem pengangkutan (transport) sampah yang dapat dilakukan adalah dengan cara-cara berikut ini: 1. Non Container Untuk pengumpulan sampah yang dilakukan dengan menggunakan Lokasi Pembuangan Sementara (LPS) non container. Sistem yang dapat diterapkan adalah sebagai berikut: a. Kendaraan pengangkut yang keluar dari pool lokasi kendaraan langsung menuju ke LPS untuk mengangkut sampah menuju Lokasi Pembuangan Akhir (LPA); b. Setelah sampah dibuang, kendaraan kembali menuju ke LPS yang sama, atau yang lain untuk kembali mengangkut sampah pada rit berikutnya. Untuk lebih jelasnya sistem nonkontainer ini, dapat dilihat pada Gambar 2.2 (Tchobagnolous, 1993):
LPS LPA

Pool Kendaraan Gambar 2.2 Pengangkutan Sampah Non Container


Sumber : Tchobagnolous, 1993

2. Container. Ada 2 jenis sistem pengangkutan sampah dengan menggunakan kontainer yaitu HCS (Hauled Container System) yaitu kontainer yang berfungsi sebagai pengumpul sampah yang diangkut menuju LPA atau LPS dan SCS (Stationary Container Sistem) yaitu dengan kondisi kontainer tetap berada ditempatnya. Keduanya memiliki cara persamaan tersendiri dalam menentukan jumlah sampah terangkut dan ritasi yang dapat diperoleh. Sistem pengangkutan dapat juga dibedakan berdasarkan model operasi, perlengkapan yang digunakan, dan jenis sampah yang diangkutkan. Berdasarkan model operasi, sistem pengangkutan dapat dibagi atas: a. Hauled Container System (HCS); Kontainer dibawa ke tempat pengumpulan, dikosongkan, dan dikembalikan ke lokasi semula. Pola sistem Pengangkut HCS terbagi atas 3, yaitu (Damanhuri, 2004). Pola pengangkutan dengan sistem pengosongan container Cara 1
Isi a
1

Kosong a
4

b
3

b
5

c
6 8 10 9

ke Pool

Kontainer Pool
2

TPA Wahyu Eka Putri Dj (0810941002), Dita Sophy Syakdiah (0910941006), M. Ali Arridha ( 0910942029) II-14

Tinjauan Pustaka

Gambar 2.3 Pola Pengangkutan dengan Sistem Pengosongan Kontainer Cara 1


Sumber : Damanhuri, 2004

Keterangan : 1. Kendaraan dari pool menuju kontainer isi pertama untuk mengangkut sampah ke pemrosesan atau ke TPA. 2. Kontainer kosong dikembalikan ke tempat semula. 3. Menuju ke kontainer isi berikutnya untuk diangkut ke pemrosesan atau ke TPA. 4. Kontainer kosong dikembalikan ke tempat semula. 5. Demikian seterusnya sampai rit terakhir.

Pola pengangkutan dengan sistem pengosongan kontainer Cara 2


Isi
1

Kosong Ko kontainer
4 2 3 7 5 6

Pool

TPA

Ke Lokasi Kontainer

Gambar 2.4 Pola Pengangkutan dengan Sistem Pengosongan Kontainer Cara 2


Sumber : Damanhuri, 2004

Keterangan : 1. Kendaraan dari pool menuju kontainer isi pertama untuk mengangkut sampah ke pemrosesan atau ke TPA. 2. Dari sana kendaraan tersebut dengan kontainer kosong menuju ke lokasi kedua untuk menurunkan kontainer kosong dan membawa container isi untuk diangkut ke pemrosesan. 3. Demikian seterusnya sampai pada rit terakhir. 4. Pada rit terakhir dengan kontainer kosong dari pemrosesan atau TPA menuju ke lokasi kontainer pertama. 5. Sistem ini diberlakukan pada kondisi tertentu, misalnya: pengambilan pada jam tertentu atau mengurangi kemacetan lalu lintas. Pola pengangkutan sampah dengan sistem pengosongan kontainer cara 3
Wahyu Eka Putri Dj (0810941002), Dita Sophy Syakdiah (0910941006), M. Ali Arridha ( 0910942029) II-15

Tinjauan Pustaka Kosong Isi

1
Pool

6
Ke Pool

TPA

Gambar 2.5 Pola Pengangkutan dengan Sistem Pengosongan Kontainer Cara 3


Sumber : Damanhuri, 2004

Keterangan : 1. Kendaraan dari pool membawa kontainer kosong menuju lokasi kontainer isi untuk mengganti/mengambil dan langsung membawanya ke TPA. 2. Kendaraan dengan membawa kontainer kosong dari TPA menuju ke kontainer isi berikutnya. 3. Demikian seterusnya sampai pada rit terakhir. Untuk keefektifan sistem yang digunakan, ada beberapa analisa yang perlu diperhatikan: Waktu yang diperlukan per trip: Thcs = (Phcs + s + h) ...................................................................................................................... ..(2.3) Thcs = (Phcs + s + a + bx) ............................................................................................................... ..(2.4) Phcs = Pc + Uc + dbc ......................................................................................................... ... (2.5) Dimana: Thcs Phcs S h a.b x Pc (jam/trip) Uc dbc = waktu total per trip ke TPS (jam/trip) = waktu pengambilan per trip (jam/trip) = waktu pembongkaran per trip (jam/trip) = waktu angkut per trip (jam/trip) = konstanta empiris = jarak tempuh (mil) = waktu untuk memuat kontainer ke kendaraan = waktu untuk meletakkan kontainer kosong = waktu perjalanan ke kontainer lain (jam/trip)

Jumlah trip yang dilakukan per hari:


Wahyu Eka Putri Dj (0810941002), Dita Sophy Syakdiah (0910941006), M. Ali Arridha ( 0910942029) II-16

Tinjauan Pustaka

Nd =

[ H (1 w) (t + t )]
1 2

Thcs

............................................................................

...........................(2.6)

Nd

.................................................................................................................. ...................(2.7) Dimana: Nd = jumlah trip per hari (trip/hari) H = waktu kerja (jam/hari) W = waktu hambatan t1 = waktu dari keberangkatan ke lokasi 1 (jam) t2 = waktu dari lokasi ke kontainer terakhir (jam) Vd = kuantitas sampah yang dikumpulkan rata-rata per hari 3 (yd /hari) C = rata-rata ukuran kontainer (yd3/trip) F = faktor utilisasi kontainer rata-rata b. Stationary Container System (SCS). Kontainer tetap ditempat semula, sampah dipindahkan ke kontainer kosong yang dibawa sebelumnya.
Isi Kosong

Vd c f

1 Pool

Kontainer TPA Gambar 2.6 Pola Pengangkutan dengan Sistem Kontainer Tetap Sumber : Damanhuri, 2004

Keterangan : Kendaraan dari pool menuju kontainer pertama, sampah dituang ke dalam truck compactor dan meletakkan kembali kontainer yang kosong 2. Kendaraan menuju ke kontainer berikutnya sehingga truck penuh, untuk kemudian langsung ke pemrosesan atau ke TPA. 3. Demikian seterusnya sampai pada rit terakhir.
1.

Sistem Mekanis: Waktu yang dibutuhkan per trip: Tscs = (Pscs + s +a + bx) ............................................................................................................... (2.8) Pscs = Ct(Uc)+(np 1) (dbc) ....................................................................................................... (2.9)
Wahyu Eka Putri Dj (0810941002), Dita Sophy Syakdiah (0910941006), M. Ali Arridha ( 0910942029) II-17

Tinjauan Pustaka

Ct

=c f .......................................................................................

V .r

..................(2.10) Dimana: Tscs = waktu total per trip ke TPS (jam/trip) Pscs = waktu pengambilan per trip (jam/trip) s = waktu pembongkaran per trip (jam/trip) a.b = konstanta empiris x = jarak tempuh (mil) Ct = jumlah kontainer yang dikosongkan per trip (kont/trip) Uc = rata-rata waktu pengosongan kontainer (jam/trip) np = jumlah lokasi kontainer per trip (lokasi ke yang lain) dbc = waktu pindah dari suatu lokasi ke yang lain (jam/trip) v = volume kendaraan pengumpul (yd3/trip) c = rata-rata ukuran kontainer (yd3/trip) f = faktor utilisasi kontainer rata-rata Jumlah trip yang dilakukan per hari: Nd =
V d V r

(2.11) Dimana: Nd = jumlah trip per hari (trip/hari) Vd = kuantitas sampah yang dikumpulkan rata-rata per hari (yd3/hari) v = volume kendaraan pengumpulan (yd3/hari) r = angka kompaksi Waktu kerja per hari H =

[(t + t )] + Nd( Tscs)


1 2

(1 w)

(2.12) Dimana: H = waktu kerja (jam/hari) Tscs = waktu total per trip ke TPS (jam/trip) t1 = waktu dari keberangkatan ke lokasi 1 (jam) t2 = waktu dari lokasi ke kontainer terakhir (jam) Nd = jumlah trip per hari (trip/hari) w = waktu hambatan Sistem Manual: Jumlah lokasi yang diambil per trip: Np = 60 Pscs n (2.13)
p

Wahyu Eka Putri Dj (0810941002), Dita Sophy Syakdiah (0910941006), M. Ali Arridha ( 0910942029) II-18

Tinjauan Pustaka

tp

= dbc + k1 + Cn + k2 (PRH) (2.14)

Dimana: Np = jumlah lokasi kontainer per trip (lokasi/trip) 60 = jumlah menit per jam n = jumlah petugas tp = waktu pengambilan per lokasi (menit/lokasi) dbc = waktu pindah dari satu lokasi ke yang lain (jam/trip) k1 = konstanta waktu pengambilan kontainer (menit/kont) Cn = rata-rata kontainer pada tiap lokasi pengambilan k2 = konstanta waktu yang dibutuhkan untuk mengumpulkan sampah dari pekarangan rumah (menit/PRH) PRH = persentase rumah yang sampahnya di pekarangan (%) Faktor-faktor yang menyebabkan diperlukan operasi transfer: a. Menghindari terjadinya pembuangan sampah ilegal; b. Lokasi TPA yang jauh dari tempat pengumpulan, lebih dari 10 mil; c. Kapasitas kendaraan pengumpulan yang kecil; d. Daerah pelayanan kecil; e. Menggunakan sistem HCS dengan kontainer kecil; f. Menggunakan sistem pengumpulan secara hidrolis. Untuk mendesain stasiun transfer perlu diperhatikan hal-hal sebagai berikut: a. Jenis operasi transfer yang digunakan; b. Penyimpanan dan kapasitas yang diperlukan; c. Perlengkapan yang dibutuhkan; d. Pertimbangan sanitasi lingkungan. Lokasi stasiun transfer harus memenuhi persyaratan sebagai berikut: a. Berada ditengah daerah pelayaran; b. Mudah dicapai; c. Penduduknya jarang dan tidak ada efek lingkungan yang ditimbulkan; d. Konstruksi dan operasinya ekonomis. Pengangkutan mempunyai beberapa metoda sebagai berikut: a. Pengangkutan dengan pola door to door; b. Pengangkutan dari satu lokasi pemindahan ke tempat pembuangan akhir; c. Pengangkutan dari kelompok pemindahan menuju tempat pemindahan akhir. Pengangkutan sampah merupakan kegiatan yang dimulai dari tempat pembuangan sementara (TPS) ke tempat pembuangan akhir (TPA). Usahausaha yang harus dilakukan untuk melakukan operasi pengangkutan yang ekonomis dan dengan biaya yang serendah rendahnya, serta dengan pendayagunaan peralatan yang seefisien dan seefektif mungkin yaitu: a. Pemilihan rute yang sependek mungkin dan paling sedikit hambatannya;
Wahyu Eka Putri Dj (0810941002), Dita Sophy Syakdiah (0910941006), M. Ali Arridha ( 0910942029) II-19

Tinjauan Pustaka

b. Mempergunakan truk yang berkapasitas atau daya angkut yang semaksimal mungkin; c. Menggunakan kendaraan yang hemat energi; d. Jumlah trip pengangkutan sebanyak mungkin dalam waktu kerja yang diizinkan. Sistem pengangkutan sampah (Yefriska, 2001), dapat dilihat pada Gambar 2.7

Lingkungan tempat tinggal Lingkungan tempat umum Lingkungan tempat kerja

Becak/ Gerobak

LPS/Transfer Dipo

Tru k

Kendaraa n angkutan Truk

LPS/Transfer Dipo

Tru k

TPA

LPS/Transfer Dipo
Sumber :Yefriska, 2001

Tru k

Gambar 2.7 Sistem Pengangkutan Sampah

Pada umumnya kendaraan yang digunakan untuk pengangkutan di jalan raya harus memenuhi: a. Sampah harus ditransportasikan dengan biaya yang rendah; b. Sampah harus ditutup selama operasi pengangkutan; c. Kendaraan harus didesain untuk lalu lintas jalan raya; d. Kapasitas kendaraan harus seperti bobot yang diizinkan; e. Metoda yang digunakan intuk pemuatan harus yang sederhana. Kendaraankendaraan yang digunakan untuk sistem ini adalah: a. Truk terbuka; b. Dump truk; c. Arm roll atau truk kontainer pengangkut muatan (load hauled container truck); d. Kompaktor truk; e. Sistemsistem khusus (truk besar, barge, dan roll). Perencanaan operasional sistem transportasi harus meliputi: a. Tipe dan lokasi dari transpor stasiun; b. Pemilihan kendaraan transpor; c. Rencana rute kendaraan; d. Daerahdaerah pelayanan untuk masingmasing kendaraan; e. Jumlah trip/hari dan waktu kerja. 2.2.1.6 Pengolahan Sampah
Wahyu Eka Putri Dj (0810941002), Dita Sophy Syakdiah (0910941006), M. Ali Arridha ( 0910942029) II-20

Tinjauan Pustaka

Pengolahan sampah adalah segala bentuk bentuk usaha untuk mengurangi volume atau jumlah sampah sebelum sampah dibuang ke TPA. Usaha ini meliputi pemisahan, pengolahan, pemanfaatan kembali, dan transformasi sampah. Tujuan dari pengolahan ini adalah: a. Untuk memanfaatkan kembali benda-benda yang memiliki nilai ekonomis yang terbuang bersama sampah; b. Untuk mendapatkan sistem operasional TPA yang lebih efisien dengan mengurangi volume dan berat sampah; c. Untuk memanfaatkan energi yang terdapat dalam sampah. Prinsip dasar dalam pengolahan sampah adalah: Pemanfaatkan kembali (recovery/reuse/recycling/reduce/rethink/elimination) Re-think, adalah suatu konsep pemikiran yang harus dimiliki pada saat awal kegiatan akan beroperasi. Implikasi dari re-think adalah, perubahan dalam pola produksi dan konsumsi berlaku baik pada proses maupun produk yang dihasilkan, sehingga harus dipahami betul analisis daur hidup produk dan semua tidak terwujud tanpa adanya perubahan dalam pola pikir, sikap dan tingkah laku dari semua pihak terkait baik pemerintah, masyarakat maupun kalangan dunia usaha. Recovery/Reclaim (pungut ulang atau ambil ulang) adalah upaya mengambil bahanbahan yang masih mempunyai nilai ekonomi tinggi dari suatu limbah, kemudian dikembalikan ke dalam proses produksi dengan atau tanpa perlakuan fisika, kimia dan biologi. Reuse (pakai ulang/penggunaan kembali) adalah upaya yang memungkinkan suatu limbah dapat digunakan kembali tanpa perlakuan fisika, kimia atau biologi. Recycle (daur ulang) adalah upaya mendaur ulang limbah untuk memanfaatkan limbah dengan memrosesnya kembali ke proses semula melalui perlakuan fisika, kimia dan biologi. Reduce (pengurangan) adalah upaya untuk menurunkan atau mengurangi limbah yang dihasilkan dalam suatu kegiatan. Elimination (pencegahan) adalah upaya untuk mencegah timbulan limbah langsung dari sumbernya, mulai dari bahan baku, proses produksi sampai produk. Pada pengolahan ini material-material yang dapat dimanfaatkan kembali pada sampah dipisahkan di sumber atau dipilah-pilah pada tempat yang telah ditentukan. Manfaat material-material tersebut: 1. Digunakan langsung seperti fungsi semula; 2. Sebagai bahan baku pabrik; 3. Sebagai bahan konversi secara biologi dan kimia; 4. Sumber bahan bakar;
Wahyu Eka Putri Dj (0810941002), Dita Sophy Syakdiah (0910941006), M. Ali Arridha ( 0910942029) II-21

Tinjauan Pustaka

5. Untuk reklamasi tanah. Untuk memudahkan proses pemanfaatan kembali perlu dilakukan: 1. Pemisahan sampah dari sumber; 2. Adanya tempat pembuangan khusus. b. Pemisahan dan pengolahan sampah. Pada pengolahan ini terdapat beberapa cara dalam pemisahan dan pengolahan sampah, yaitu: 1. Handsorting/Manual /Separation Adalah pemisahan material sampah dengan tenaga manusia. Pemisahan ini dapat dilakukan pada sumber, kontainer, MRF, atau pada TPA. 2. Size Reduction Adalah pengolahan dengan cara pengurangan ukuran material sampah dengan cara shredding, grinding, dan miling. Alat yang digunakan adalah shear shredder, tube grinder, dan hammer mill. 3. Size Separation/Screening Merupakan pengolahan untuk menjadikan ukuran sampah yang bermacam-macam menjadi satu atau lebih ukuran seragam dengan menggunakan screen atau saringan. Alat-alat yang digunakan; vibrating screen, rotary drum screen, dan disc screen. 4. Mechanical Separation Merupakan pemisahan mekanis yang dilakukan untuk memisahkan material fraksi berat dengan yang ringan. Untuk pemisahan ini digunakan beberapa metoda diantaranya; digunakan perbedaan kerapatan material dan kecepatan udara pada alat pada density separation/air clarification, getaran, dan kekuatan dorong angin pada stoner, daya apung material pada floatation, kekuatan magnet dan listrik material pada magnetic, dan electric separation. 5. Densification/Compaction Adalah pengolahan dengan memanfaatkan kepadatan material. Dengan pemadatan maka volume sampah akan berkurang, sehingga mudah untuk pengolahan selanjutnya. Alat-alat yang digunakan adalah compactor, baling , cubing, dan pelleting. Pengolahan sampah yang biasa digunakan adalah: a. Composting Composting merupakan salah satu cara penanganan sampah di lokasi pembuangan akhir yang nantinya akan dihasilkan sebagai pupuk untuk menyuburkan tanah. Kompos memiliki pengertian: 1. Cara untuk merombakan bahan-bahan organik menjadi bahan yang lebih sederhana dengan bantuan aktivitas mikroorganisme; 2. Proses degradasi biokimia bahan organik menjadi humus.

b. Incinerator Incinerator ini didefinisikan sebagai penghancuran limbah dengan menggunakan pembakaran nyala api pada kondisi terkendali dan
Wahyu Eka Putri Dj (0810941002), Dita Sophy Syakdiah (0910941006), M. Ali Arridha ( 0910942029) II-22

Tinjauan Pustaka

limbah diuraikan dari senyawa organik yang komplek menjadi senyawa sederhana seperti CO2 dan H2O. 2.2.1.7 Sistem Pemrosesan Akhir Proses akhir dari rangkaian penanganan sampah yang biasa dijumpai di Indonesia adalah dilaksanakan di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA). Pada umumnya pemprosesan akhir sampah yang dilaksanakan di TPA adalah berupa proses landfiling (pengurugan), dan sebagian besar dilaksanakan dengan open dumping, yang mengakibatkan permasalahan lingkungan, seperti timbulnya bau, tercemarnya air tanah, timbulnya asap, dan sebagainya. Teknologi landfiling membutuhkan lahan luas karena memiliki kemampuan reduksi volume sampah secara terbatas akibatnya kebutuhan luas lahan TPA dirasakan tiap waktu meningkat sebanding dengan peningkatan jumlah timbulan. Untuk mengantisipasi masalah tersebut maka diperlukan suatu usaha optimalisasi TPA yang telah ada sehingga diharapkan dapat memperbaiki kinerja dan masa layan TPA. TPA sampah merupakan langkah akhir dari rangkaian proses penanganan masalah. Dalam pemusnahan ini dikenal berbagai metoda, antara lain landfill, jenis-jenis landfill antara lain (Damanhuri, 2004): 1. Open Dumping Open Dumping adalah membuang dan menumpuk sampah ke suatu lokasi terbuka tanpa penutupan dan pengolahan. Cara ini tidak dianjurkan karena memiliki dampak negatif yang tinggi terhadap kesehatan lingkungan. 2. Controlled Landfill Control Landfill adalah membuang dan menumpuk sampah ke suatu lokasi yang cekung, yang kemudian permukaannya diratakan serta ditutupi tanah pada ketebalan tertentu yang dilakukan secara periodik. Cara ini bukan yang ideal namun untuk saat ini cocok diterapkan di Indonesia. 3. Sanitary Landfill. Sanitary Landfill adalah membuang dan menumpuk sampah pada lokasi cekung, kemudian pada ketebalan tertentu diurug dengan tanah. Pada bagian atas urugan digunakan lagi untuk menimbun sampah lalu diurug lagi dengan tenah sehingga berbentuk lapisan-lapisan sampah dan tanah. Bagian dasar konstruksi sanitary landfill dibuat lapisan kedap air yang dilengkapi dengan pipa pengumpul dan penyalur air lindi (leachate) yang terbentuk dari proses penguraian sampah organik. Metode ini merupakan cara yang ideal namun memerlukan biaya investasi dan operasional yang tinggi. Ada tiga metode sanitary Landfill menurut yaitu: Metoda parit, yaitu sampah disebar dan dipadatkan dalam galian lubang yang sudah disiapkan. Tanah penutup yang berasal dari galian tanah tersebut disebarkan dan dipadatkan diatas susunan sampah untuk membentuk susunan sel; 2. Metoda lapangan, yaitu sampah disebarkan dan dipadatkan di atas tanah yang akan ditimbun, disini tidak diperlukan penggalian tanah, 1.
Wahyu Eka Putri Dj (0810941002), Dita Sophy Syakdiah (0910941006), M. Ali Arridha ( 0910942029) II-23

Tinjauan Pustaka

3.

sedang penutup diambil dari tempat lain. Cara ini dimaksudkan agar tanahnya menjadi lebih tinggi dari semula; Metoda Jurang, metoda ini banyak dipakai untuk menimbun daerah yang memiliki cekungan dalam seperti jurang atau lembah. Pelaksanaannya sama dengan metoda Ramp yaitu memakai kemiringan penimbunan 2:1.

Tabel 2.5 dibawah ini memberikan kelebihan dan kekurangan dari berbagai cara pengurugan/landfilling yang telah dikenal di Indonesia (Damanhuri, 2004):
Tabel 2.5 Perbandingan Metode Landfilling/pengurugan
Metoda Landfilling Kelebihan Open Dumping Terjadi pencemaran udara oleh gas, bau, dan debu; Personel lapangan Pencemaran terhadap isi tanah oleh terbentuknya leachate; Biaya operasi dan Mudah terjadi kabut relatif rendah. asap; Mendorong tumbuhnya sarang vektor penyakit (tikus, lalat, dan nyamuk); Mengurangi estetika lingkungan ; Lahan tidak dapat digunakan kembali dalam waktu yang cukup lama. Controlled Landfill Dampak terhadap Operasi lapangan lingkungan dapat diperkecil; relatif lebih sulit; Lahan dapat Biaya investasi, digunakan setelah selesai dipakai; operasi, perawatan cukup besar; Estetika lingkungan - Memerlukan personalia lapangan yang yang cukup baik. cukup terlatih. Sanitary Landfill mudah; relatif sedikit ; perawatan yang - Biaya investasi lebih rendah dibanding metoda pengolahan lain; - Merupakan metoda pembuatan akhir yang lengkap, tanpa memerlukan pengolahan dibandingkan insinerasi dan composting; - Dapat menerima berbagai tipe sampah; - Metoda yang fleksibel terhadap fluktuasi kuantitas sampah; - Setelah selesai pemakaiannya, dapat digunakan untuk berbagai keperluan seperti areal parkir, lapangan golf, dan kebutuhan lain.
Sumber: Damanhuri, 2004

Kekurangan

Teknis pelaksanaan

- Pada daerah dengan populasi yang tinggi, ketersediaan lahan menjadi sulit; - Jika operasi tidak berjalan semestinya dapat menghasilkan akibat seperti metode open dumping

Lahan TPA dipilih berdasarkan:


Wahyu Eka Putri Dj (0810941002), Dita Sophy Syakdiah (0910941006), M. Ali Arridha ( 0910942029) II-24

Tinjauan Pustaka

a. Jarak timbulan sampah ke TPA minimal; b. Jalan atau akses ke TPA memadai; c. Berada pada lokasi terbuka, vegetasi alamiah atau lahan pertanian, yang terbaik jika tidak berpenduduk padat; d. Terdapat bukit-bukit atau pepohonan yang berguna sebagai screening atau penghalang pemandangan; e. Jauh dari bandara (masalah burung, paling baik jika >20m); f. Tersedia tanah untuk penutup. Mencari luas lahan untuk TPA dapat menggunakan persamaan sebagai berikut: A =
365 10 7 Lk Kp Rd p q n ( s + t / Rd ) H s

(2.15) .......................................................

Dimana: A = Luas area lanfill (Ha) Lk= Faktor perkalian lahan kosong Rd = Faktor reduksi dekomposisi Kp = Kapasitas pengelolaan p = Jumlah populasi (jiwa) q = Jumlah timbulan sampah (l/o/h) s = Perbandingan sampah t = Perbandingan tanah penutup n = Tahun Desain (tahun) h = Tinggi akhir timbulan (meter)
Pnd + ( r Pd ) 100

Rd = (2.16)

Dimana: Pnd = % sampah rata-rata non dekomposisi Pd = % sampah rata-rata dekomposisi r = Kecepatan produksi d = Jarak reduksi dekomposisi r= Untuk h 3 m, r ditentukan dengan persamaan :
1 x (100 xn )

((60 / n) + 20)
i

(2.17) r = Untuk 3 < h 10, r ditentukan dengan persamaan :


1 x (d + 21,25)(2.18) (100 xn )

Wahyu Eka Putri Dj (0810941002), Dita Sophy Syakdiah (0910941006), M. Ali Arridha ( 0910942029) II-25

Tinjauan Pustaka

d = 60 1,25 n (2.19) Untuk h > 10, r ditentukan dengan persamaan : r =


1 x (d + 30) (100 xn )

(2.20) d = 70 1,75 n (2.21) Dari rumusan di atas dapat dicari luas lahan TPA sesuai dengan tahun desain yang diinginkan. Fasilitas Tempat Pembuangan Akhir menurut Damanhuri (1995) antara lain: 1. Pelapis dasar TPA (Liner Landfill); Landfill liner buangan padat didesain untuk menjaga polutan-polutan yang potensial bahayanya tinggi berpindah melewati batas landfill, dengan melapisi tanah sel sampah dengan tanah liat (clay) yang dipadatkan dengan ketebalan 20 cm. Namun sebelum pemasangan clay tersebut sel sampah diratakan dan dipadatkan dahulu dengan alat berat atau loader dan vibrator. Teknis pelaksanaannya adalah sebagai berikut: melalui pekerjaan cut dan fill, lahan yang akan dijadikan sel sampah diratakan dengan kemiringan yang diinginkan. Untuk meratakan lahan tersebut digunakan alat berat yaitu loader, kemudian dipadatkan dengan vibrator. Setelah didapatkan lahan yang mantap dan stabil baru dilakukan pelapisan dengan clay. Kemiringan linier terakhir tidak kurang dari 2%. 2. Sistem pengumpulan leachate. Sistem pengumpulan leachate membutuhkan standar fungsi minimum, sistem pengumpul leachate didesain 2 ft di bawah area aktif. Sistem pengumpul leachate membutuhkan lapisan yang mempunyai permeabilitas yang tinggi yang terletak pada lapisan terbawah dan arah perkolasi leachate menuju kelapisan bottom liner dari outlet TPA tersebut. Tipe-tipe sistem pengumpul leachate: 1........................................................................................................................................ Lapisan material agregat yang sangat permeable termasuk pasir dan kerikil (drainage layer); 2........................................................................................................................................ Jaringan dari pipa perforasi terletak dalam lapisan agregat (collection pipe); 3........................................................................................................... Lapisan filter terbuat dari agregat dimana kebutuhan untuk mencegah penyumbatan pada pipa.

Wahyu Eka Putri Dj (0810941002), Dita Sophy Syakdiah (0910941006), M. Ali Arridha ( 0910942029) II-26

Tinjauan Pustaka

Plastic draigane nets yang dikeluarkan oleh pabrik dikombinasikan dengan lapisan agregat atau pipa perforasi untuk meningkatkan kapasitas aliran, atau meningkatkan efisiensi sistem. 4........................................................................................................................................ Sistem transmisi leachate. Leachate dikumpulkan dalam saluran pengumpul dialirkan melalui sistem transmisi leachate yang terdiri dari pipa non perforasi, pemompaan sering digunakan meskipun kondisi topografinya memungkinkan untuk leachate mengalir sendiri tanpa dipompa dari pipa pengumpul ke pengolahan atau pada penampungan sementara sebelum dilakukan pengolahan. 2.2.2 Aspek Pengaturan/Legalitas Aspek pengaturan didasarkan atas kenyataan bahwa negara Indonesia adalah negara hukum, dimana sendi-sendi kehidupan bertumpu pada hukum yang berlaku. Manajemen persampahan kota di Indonesia membutuhkan kekuatan dan dasar hukum, seperti dalam pembentukan organisasi, pemungutan restribusi, keterlibatan masyarakat, dan sebagainya. Peraturan yang diperlukan dalam penyelenggaraan sistem pengelolaan sampah di perkotaan antara lain adalah yang mengatur tentang: a. Keterlibatan umum yang terkait dengan penanganan sampah; b. Rencana induk pengelolaan sampah kota; c. Bentuk lembaga dan organisasi pengelola; d. Tata cara penyelenggaraan pengelolaan; e. Besaran tarif jasa pelayanan atau retribusi. Kerjasama dengan berbagai pihak terkait sangat diperlukan diantaranya kerjasama antar daerah, atau kerjasama dengan pihak swasta. Organisasi dan manajemen disini maksudnya suatu kegiatan yang multidisiplin yang bertumpu pada prinsip teknik dan manajemen yang menyangkut aspekaspek ekonomi, sosial, budaya, dan kondisi fisik wilayah kota, dan memperhatikan pihak yang dilayani, yaitu masyarakat kotaa. Perancangan dan pemilihan bentuk organisasi disesuaikan dengan: a. Peraturan pemerintah yang membinanya; b. Pola sistem operasional yang diterapkan; c. Kapasitas kerja sistem; d. Lingkup pekerjaan dan tugas yang harus ditangani. 2.2.3 Aspek Pembiayaan Menurut Damanhuri (2004) struktur pembiayaan dapat dikelompokkan menjadi dua bagian, yaitu: a. Biaya investasi Merupakan biaya yang diperlukan untuk pengadaan perangkat keras (peralatan dan sasaran) dan pengadaan lunak seperti studi/perencanaan induk program persampahan, penyusunan sistem prosedur, pendidikan dan latihan awal, serta biaya insidential penerapan sistem baru. b. Biaya operasional, seperti: Gaji dan upah;
Wahyu Eka Putri Dj (0810941002), Dita Sophy Syakdiah (0910941006), M. Ali Arridha ( 0910942029) II-27

1.

Tinjauan Pustaka

2. 3. 4. 5.

Transportasi, seperti bahan bakar; Perawatan dan perbaikan; Pendidikan dan latihan; Administrasi kantor dan lapangan. 2.2.4 Aspek Institusi Aspek institusi merupakan suatu kegiatan yang multidisiplin yang bertumpu pada prinsip teknik dan manajemen yang menyangkut aspekaspek ekonomi, sosial, budaya, dan kondisi fisik wilayah kota, dan memperhatikan pihak yang dilayani yaitu masyarakat kota, perancangan dan pemilihan bentuk organisasi disesuaikan dengan: a. Peraturan pemerintah yang membinanya; b. Pola sistem operasional yang diterapkan; c. Kapasitas kerja sistem; d. Lingkup pekerjaan dan tugas yang harus ditangani. Kebijakan yang diterapkan di Indonesia dalam mengelola sampah kota secara formal adalah seperti yang diarahkan oleh Departemen Pekerjaan Umum (sekarang: Departemen Permukiman dan Prasarana Wilayah) sebagai departemen teknis yang membina pengelola persampahan perkotaan di Indonesia. Bentuk institusi pengelolaan persampahan kota yang dianut di Indonesia: a. Seksi Kebersihan dibawah satu dinas, misalnya Dinas Pekerjaan Umum (PU) terutama apabila masalah kebersihan kota masih bisa ditanggulangi oleh suatu seksi dibawah dinas tersebut. b. Unit Pelaksana Teknik Dinas (UPTD) dibawah suatu dinas, Dinas PU terutama apabila dalam struktur organisasi belum ada seksi khusus dibawah dinas yang mengelola kebersihan, sehingga lebih memberikan tekanan pada masalah operasi, dan lebih mempunyai otonom daripada seksi. c. Dinas Kebersihan akan memberikan percepatan dan pelayanan pada masyarakat dan bersifat laba. Dinas ini perlu dibentuk karena aktivitas dan volume pekerjaan yang sudah meningkat. d. Perusahaan Daerah (PD) Kebersihan, merupakan organisasi pengelola yang dibentuk bila permasalahan di kota tersebut sudah cukup luas dan kompleks. Pada prinsipnya perusahaan daerah ini tidak lagi disubsidi oleh pemerintah daerah (Pemda) sehingga efektivitas penarikan restribusi akan lebih menentukan. Bentuk ini sesuai untuk kota metropolitan. 2.2.5 Aspek Peran Serta Masyarakat Tanpa adanya partisipasi masyarakat penghasil sampah, semua program pengelolaan sampah yang direncanakan akan sia-sia. Salah satu pendekatan kepada masyarakat untuk dapat membantu program pemerintah dalam kebersihan adalah bagaimana membiasakan masyarakat kepada tingkah laku yang sesuai dengan tujuan program ini. Hal ini antara lain menyangkut: a. Bagaimana merubah persepsi masyarakat terhadap pengelolaan sampah yang tertib dan teratur; b. Faktor-faktor sosial, struktur dan budaya setempat;
Wahyu Eka Putri Dj (0810941002), Dita Sophy Syakdiah (0910941006), M. Ali Arridha ( 0910942029) II-28

Tinjauan Pustaka

c.

Kebiasaan dalam pengelolaan sampah selama ini.

Permasalahan yang terjadi berkaitan dengan peran serta masyarakat dalam pengelolaan persampahan, yaitu antaranya: a. Tingkat penyebaran penduduk yang tidak merata; b. Belum melembagakan keinginan dalam masyarakat untuk menjaga lingkungan; c. Belum ada pola baku bagi pembinaan masyarakat yang dapat dijadikan pedoman pelaksanaan; d. Masih banyak pengelola kebersihan yang belum mencantumkan penyuluhan dalam programnya; Kekhawatiran pengelola bahwa inisiatif masyarakat tidak akan sesuai dengan konsep pengelolaan yang ada. 2.3 Metode Pengambilan dan Pengukuran Contoh Timbulan dan Komposisi Sampah berdasarkan SNI 19 3946 1994 2.3.1 Maksud Metode pengambilan dan pengukuran contoh timbulan dan komposisi sampah perkotaan ini dimaksudkan sebagai pegangan bagi penyelengaraan pembangunan dalam melakukan pengambilan dan pengukuran contoh timbulan dan komposisi sampah untuk suatu kota. 2.3.2 Tujuan Tujuan dari metode ini adalah untuk mendapatkan besaran timbulan sampah yang digunakan dalam perencanaan dan pengelolaan sampah. 2.3.3 Ruang Lingkup Metode ini berisi pengertian, persyaratan, ketentuan, cara pelaksanaan pengambilan, dan pengukuran contoh timbulan dan komposisi sampah untuk suatu kota. 2.3.4 Pengertian Yang dimaksud dengan: a. Contoh timbulan sampah adalah sampah yang diambil dari lokasi pengambilan terpilih, untuk diukur volumenya, ditimbang beratnya, dan diukur komposisinya; b. Komponen komposisi sampah adalah komponen fisik sampah seperti sisa-sisa makanan, kertas-katon, kayu, kain-tekstil, karet-kulit, plastik, logam besi-non besi, kaca, dan lain-lain (misalnya: tanah, pasir, batu, dan keramik). 2.3.5 Persyaratan-persyaratan Pesyaratan pengambilan dan pengukuran contoh timbulan dan komposisi sampah meliputi: a. Peraturan-peraturan dan petunjuk di bidang persampahan yang berlaku di daerah; b. Lokasi dan waktu pengambilan yang dipilih harus dapat mewakili suatu kota; c. Alat pengambil dan pengukur contoh, yaitu:
Wahyu Eka Putri Dj (0810941002), Dita Sophy Syakdiah (0910941006), M. Ali Arridha ( 0910942029) II-29

Tinjauan Pustaka

1. Terbuat dari bahan yang tidak mempengaruhi sifat contoh (tidak terbuat dari logam); 2. Mudah dicuci dari bekas contoh sebelumnya. 2.3.6 Ketentuan-ketentuan 2.3.6.1 Pelaksanaan Langkah-langkah pengambilan dan pengukuran contoh timbulan dan komposisi sampah dapat dilihat pada Gambar 2.8.
Pengambilan contoh di perumahan Rerata timbulan dan komposisi sampah rumah tangga

Besaran timbulan dan komposisi sampah perkotaan

Pengambilan contoh di non perumahan

Rerata timbulan dan komposisi sampah non rumah tangga

Gambar 2.8 Langkah-langkah pengambilan dan pengukuran contoh timbulan sampah


Sumber: Damanhuri, 2004

2.3.7 Pengambilan Contoh 2.3.7.1 Lokasi Lokasi pengambilan contoh timbulan sampah dibagi menjadi 2 kelompok utama, yaitu: a. Perumahan yang terdiri dari: Permanen pendapatan tinggi; Semi permanen pendapatan sedang; Non permanen pendapatan rendah. b. Non perumahan yang terdiri dari: 1. Toko; 2. Kantor; 3. Sekolah; 4. Pasar; 5. Jalan; 6. Hotel; 7. Restoran, rumah makan;
Wahyu Eka Putri Dj (0810941002), Dita Sophy Syakdiah (0910941006), M. Ali Arridha ( 0910942029) II-30

1. 2. 3.

Tinjauan Pustaka

8. Fasilitas umum lainnya. 2.3.7.2 Cara pengambilan Pengambilan contoh sampah dilakukan di sumber sampah masing-masing perumahan dan non perumahan. 2.3.7.3 Jumlah Contoh Pelaksanaan pengambilan contoh timbulan sampah dilakukan secara acak untuk setiap strata dengan jumlah sebagai berikut: a. Jumlah contoh jiwa dan kepala keluarga (KK) dapat dilihat pada tabel 1 yang dihitung berdasarkan rumus 2.22 dan 2.23 di bawah ini. b. S=
C d P s

(2.22) Dimana: S = jumlah contoh jiwa Cd = koefisien perumahan`` Cd = kota besar / metropolitan Cd = kota sedang/kecil/1KK Ps = populasi(jiwa) K = (2.23) Dimana: K= jumlah contoh (KK) N = jumlah jiwa per keluarga = 5 Jumlah contoh timbulan sampah dan perumahan adalah sebagai berikut: 1. contoh dari perumahan permanen (S1 x K) keluarga 2. contoh dari perumahan semi permanen (S2 x K) keluarga 3. contoh dari perumahan non permanen (S3 x K) keluarga dimana: Dimana: S1 = proporsi jumlah KK perumahan non permanen dalam (%) S2 = proporsi jumlah KK perumahan semi permanen alam (%) S3 = proporsi jumlah KK perumahan non permanen dalam (%) S = jumlah contoh jiwa N = jumlah jiwa per keluarga K = S/N = jumlah KK
Tabel 2.6 Jumlah Contoh Jiwa dan KK
No 1 2 3 Klasifikasi kota Metropolitan Besar Sedang, kecil, 1KK Jumlah penduduk 1000000-2500000 500000-1000000 3000-500000 Jumlah contoh jiwa (S) 1000-1500 700-1000 150-350 Jumlah KK (K) 200-300 140-200 30-70

S N

c.

Wahyu Eka Putri Dj (0810941002), Dita Sophy Syakdiah (0910941006), M. Ali Arridha ( 0910942029) II-31

Tinjauan Pustaka

Contoh perlindungan cara penentuan jumlah contoh jiwa dari perumahan dapat dilihat pada lampiran A. Contoh perhitungan jumlah contoh timbulan sampah (KK) yang diambil dari perumahan dapat dilihat pada lampiran A. d. Jumlah contoh timbulan sampah dari non perumahan dapat dilihat pada tabel 2.7 yang dihitung berdasarkan rumus dibawah ini: S=
C d Ts

(2.24) Dimana: S = jumlah contoh masing-masing jenis bangunan non perumahan Cd = koefisien bangunan non perumahan -1 Ts = jumlah bangunan non perumahan 2.3.8 Kiteria 2.3.8.1 Kriteria Perumahan Kategori perumahan yang ditentukan berdasarkan: a. Keadaan fisik rumah dan, atau ; b. Pendapat rata-rata kepala keluarga dan atau; c. Fasilitas rumah tangga yang ada. 2.3.8.2 Kriteria Non Perumahan Kriteria non perumahan berdasarkan: a. Fungsi jalan, yaitu: 1. Jumlah arteri sekunder; 2. Jalan kolektor sekunder; 3. Jalan lokal; 4. Untuk kota yang tidak melakukan penyapuan jalan minimal 500 m panjang jalan arteri sekunder di pusat kota. b. Kriteria untuk pasar : berdasarkan fungsi pasar; c. Kriteria untuk hotel : berasarkan jumlah fasilitas yang tersedia; d. Kriteria untuk rumah makan dan restoran: berdasarkan jenis kegiatan; e. Kriteria untuk fasilitas umum berdasarkan fungsinya.

Tabel 2.7 Jumlah Contoh Timbulan Sampah Dari Non Perumahan


No 1 2 Klasifikasi/ lokasi pengambilan contoh Toko Sekolah Kota metropolitan (contoh) 13-30 13-30 Kota besar kecil 10-13 10-13 Kota sedang dan kecil (contoh) 5-10 5-10 1 KK 3-5 3-5

Wahyu Eka Putri Dj (0810941002), Dita Sophy Syakdiah (0910941006), M. Ali Arridha ( 0910942029) II-32

Tinjauan Pustaka 3 4 5 Kantor Pasar Jalan 13-30 6-15 6-15 10-13 3-6 3-6 5-10 1-3 1-3 3-5 1 1

Contoh perhitungan jumlah contoh timbulan sampah dari non perumahan dapat dilihat pada lampiran A. Jumlah contoh timbulan sampah dari non perumahan untuk mg tidak tercantum pada tabel 2; yaitu hotel, rumah makan/restoran, dan fasilitas umum lainnya diambil 10% dari jumlah kelurahan, sekurang-kurangnya 1. 2.3.9 Frekuensi Pengambilan cntoh dapat dilakukan dengan frekwensi sebagai berikut: a. Pengambilan contoh dapat dilakukan dalam 8 hari berturut-turut pada lokasi yang sama dan dilaksanakan dalam 2 pertengahan musim tahun pengambilan contoh; b. Butir 1 dilakukan paling lama 5 tahun sekali. 2.3.10 Pengukuran dan Perhitungan Pengukuran dan perhitungan contoh timbulan sampah harus mengikuti ketentuan sebagai berikut: a. Satuan yang digunakan dalam pengukuran timbulan sampah adalah: Volume basah (asal) dengan satuan liter/unit/hari; Berat basah (asal) dengan satuan kilogram/unit/hari. Satuan yang digunakan dalam pengukuran komposisi sampah adalah dalam % berat basah/asal. b. Jumlah unit masing-masing lokasi pengambilan contoh timbulan sampah, yaitu : 1. Perumahan : jumlah jiwa dalam keluarga; 2. Toko : jumlah petugas atau luas areal; 3. Sekolah : jumalah murid dan guru; 4. Pasar : luas pasar atau jumlah pedangang; 5. Kantor : jumlah pengawai; 6. Jalan : panjang jalan dalam meter; 7. Hotel : jumlah tempat tidur; 8. Restoran : jumlah kursi atau luas areal; 9. Fasilitas umum lainnya : luas areal. c. Metoda pengukuran contoh timbulan sampah, diantaranya: 1. sampah terkumpul diukur volume dengan wadah pengukuran 40 liter dan ditimbang beratnya; 2. sampah terkumpul diukur dalam bak pengukur besar 500 liter dan ditimbang beratnya, kemudian dipisahkan berdasarkan komponen komposisi sampah dan ditimbang beratnya. Contoh perhitungan % berat basah sampah per komponen komposisi sampah dapat dilihat pada lampiran A. 1. 2. d. Perhitungan besaran timbulan sampah perkotaan berdasarkan: rata-rata timblan sampah perumahan; perbandingn total sapah perumahan dan non perumahan. 2.3.11 Peralatan dan Perlengkapan
Wahyu Eka Putri Dj (0810941002), Dita Sophy Syakdiah (0910941006), M. Ali Arridha ( 0910942029) II-33

1. 2.

Tinjauan Pustaka

Peralatan dan perlengkapan yang digunakan terdiri dari: a. Alat pengambilan contoh berupa kantong plastik dengan volume 40 liter; b. Alat pengukuran volume contoh berupa kotak berukuran 20 cm x 20 cm x 100 cm, yang dilengkapi dengan skala tingi; c. Timbangan (0-5)kg dan (0-100) kg; d. Alat pengukur, volume contoh berupa bak berukuran (1,0 m x 0,5 m x 1,0m) yang dilengkapi dengan skala tinggi; e. Perlengkapan berupa alat pemindah (seperti sekop) dan sarung tangan. 2.3.12 Cara Pengerjaan 2.3.11.1 Cara pengambilan dan pengukuran contoh perumahan. dari lokasi

Pengukuran dan perhitungan contoh timbulan sampah harus mengikuti ketentuan sebagai berikut: a. Satuan yang digunakan dalam pengukuran timbulan sampah adalah: Volume basah (asal) dengan satuan liter/unit/hari; Berat basah (asal) dengan satuan kilogram/unit/hari. Satuan yang digunakan dalam pengukuran komposisi sampah adalah dalam % berat basah/asal. Jumlah unit masing-masing lokasi pengambilan contoh timbulan sampah, yaitu : 1. Perumahan : jumlah jiwa dalam keluarga; 2. Toko : jumlah petugas atau luas areal; 3. Sekolah : jumalah murid dan guru; 4. Pasar : luas pasar atau jumlah pedangang; 5. Kantor : jumlah pengawai; 6. Jalan : panjang jalan dalam meter; 7. Hotel : jumlah tempat tidur; 8. Restoran : jumlah kursi atau luas areal; 9. Fasilitas umum lainnya : luas areal. c. Metoda pengukuran contoh timbulan sampah, diantaranya: 1. sampah terkumpul diukur volume dengan wadah pengukuran 40 liter dan ditimbang beratnya; 2. sampah terkumpul diukur dalam bak pengukur besar 500 liter dan ditimbang beratnya, kemudian dipisahkan berdasarkan komponen komposisi sampah dan ditimbang beratnya. Contoh perhitungan % berat basah sampah per komponen komposisi sampah dapat dilihat pada lampiran A. d. Perhitungan besaran timbulan sampah perkotaan berdasarkan: 1. rata-rata timblan sampah perumahan; 2. perbandingn total sapah perumahan dan non perumahan. 2.3.11.2 Cara pengerjaan pengambilan dan pengukuran contoh dari lokasi non perumahan. a. Lokasi toko, sekolah, dan kantor;
Wahyu Eka Putri Dj (0810941002), Dita Sophy Syakdiah (0910941006), M. Ali Arridha ( 0910942029) II-34

b.

Tinjauan Pustaka

Cara pengerjaan pengambilan dan pengukuan contoh adalah sebagai berikut: 1. Tentukan lokasi pengambilan contoh; 2. Tentukan jumlah tenaga pelaksanan; 3. Siapkan peralatan. b. Laksanakan pengambilan dan pengukuran contoh timbulan sampah sebagai berikut: 1. Bagikan kantong plastik yang sudah diberi tanda kepada sumber sampah 1 hari sebelum dikumpulkan; 2. Catat jumlah unit masing-masing penghasil sampah; 3. Kumpulkan kantong pastik yang sudah terisi sampah; 4. Angkut seluruh kantong plastik ke tempat pengukuran; 5. Timbang kotak pengukur; 6. Tuang secara bergiliran contoh tersebut ke kotak pengukur 40 l; 7. Hentak 3 kali kotak contoh dengan mengangkat kotak setinggi 20 cm, lalu jatuhkan ke tanah; 8. Ukur dan catat volume sampah (vs); 9. Timbang dan catat berat sampah (bs); 10. Timbang bak pengukur 500 liter 11. Campur seluruh contoh dari setiap lokasi pengambilan dalam bak pengukur 500 l; 12. Ukur dan catat volume sampah; 13. Timbang dan catat berat sampah; 14. Pilah contoh berdasarkan kompoanen komposisi sampah; 15. Timbang dan catat berat sampah 16. Hitunglah komponen komposisis sampah seperti contoh dalam lampiran A. 17. Bila akan dibawa ke laboratorium uji (pengujian karakteristik sampah) akukan sub butir berikut ini: Ambil dari tiap komponen contoh seberat (lihat contoh perhitungan pada lampiran A); Aduk merata contoh-contoh tersebut dan dimasukkan dalam katong plastik ditutup rapat dan diangkat ke laboratorium. c. Lokasi pasar, jalan, hotel, restoran dan fasilitas umum lainnya. Cara pengerjaan pengambilan dan pengukuran contoh adalah sebagai berikut: 1. Tentukan lokasi pengabilan contoh; 2. Tentukan jumlah tenaga pelaksana; 3. Siapkan peralatan. d. Laksanakan pengmbilan dan pengukuran contoh timbulan sebagai berikut: 1. Catat jumlah unit masing-masing penghasil sampah; 2. Timbang bak pengukur (500 liter); 3. Ambil sampah dari tempat pengumpulan sampah dimasukkan ke masing-masing bak pengukur 500 liter; 4. Hentak 3 kali bak contoh dengan mengangkat setinggi 20 cm, lalu jatuakan ke tanah; 5. Ukur dan catat volume sampah (Vs); 6. Timbang dan catat berat sampah (Bs);
Wahyu Eka Putri Dj (0810941002), Dita Sophy Syakdiah (0910941006), M. Ali Arridha ( 0910942029) II-35

Tinjauan Pustaka

7. Pilah contoh berdasarkan komponen komposisi sampah; 8. Timbang dan catat berat sampah; 9. Bila akan dibawa ke laboratorium uji (pengujian karakteristik sampah), lakukan sub butir di bawah ini: Ambil dari tiap komponen seberat contoh seberat (lihat contoh pada lampiran A) Aduk merata contoh-contoh tersebut dan imasukkan ke alan kantong plasti ditutup rapat dan diangkat ke laboratorium. 2.3.13 Laporan Pengambilan Contoh 2.3.12.1 Catatan lapangan Hasil pemeriksaan dilaporkan dalam catatan lapangan (lihat lampiran) dengan mencamtumkan isi sebagai berikut: a. Umum, berisi nama daerah, nama lokasi, kriteria lokai, tanggal dan waktu, keadaan cuaca, dan nama pelaksana; b. Hasil pemeriksaan.

2.3.12.2 Formulir data Data dan catatan lapangan dipindahkan ke formulir.

Wahyu Eka Putri Dj (0810941002), Dita Sophy Syakdiah (0910941006), M. Ali Arridha ( 0910942029) II-36

Tinjauan Pustaka

LAMPIRAN A LAIN-LAIN Contoh fomulir pengambilan dan pengukuran contoh. Laporan pengambilan dan pengukuran contoh: I. Umum Daerah : Kelurahan turangga Tanggal : 3-7-1989 Lokasi : Perumahan Pengambilan Kriteria lokasi : Rumah permanen 25% Pelaksana : NBS II. Hasil Pemeriksaan - Jumlah contoh jiwa : 1000 jiwa - Jumah KK : 1000/6 - Jumlah contoh : 25/100 x 1000/6 = 42 rumah - Volume sampah (Vs/u) rata-rata

( Vs1/u
(B s1/u

+ Vs2/u).... .......... Vs24/u 42


+bs2/u.....

Berat sampah (Bs/u) rata-rata:


.......... .......... .......... ......B s24 42 /u)

% berat sampah per komponen: Sisa makanan dan daun-daunan (or)


B or1 +B or2 .......... .......... .......... ....B or42 BS B x 100 % =.......... .......... .

Kertas (kr)
B or1 +B or2 .......... .......... .......... ....B r42 o BS B x1 00 % =.......... .......... .

Kayu (ky)
B ky1 +B ky2 .......... .......... .......... ...B ky42 BS B x 100 % =.......... ..........

Kain tekstil (kn)


B kn1 +B kn2 .......... .......... .......... ...B kn42 BS B x 100 % =.......... .........

Karet,kulit (kt)

Wahyu Eka Putri Dj (0810941002), Dita Sophy Syakdiah (0910941006), M. Ali Arridha ( 0910942029) II-37

Tinjauan Pustaka

B kt1 +B t2 .......... .......... ........B t4 x 10 % =.......... .......... ....... k k 2 0 BS B

Plastik (pl)
B pl1 +B pl2 .......... .......... ........B l42 x 100 % =.......... .......... ....... p BS B

Logam (lm)
B 1 +B 2 .......... .......... ......B 4 lm lm lm BS B 2 x 100 % =.......... .......... .....

(kc)

Gelas/Kaca

B kc1 +B kc2 .......... .......... .......B kc 2 x 100 % =.......... .......... ........ BS B


B 1 +B 2 .......... .......... .......... B 2 x 1 0 % =.......... .......... .......... x x x 0 BS B

Dan lain-lain (x)

- Berat sampah yang dikirim ke laboratorium = 2,0 kg Contoh Perhitungan jumlah jiwa - Jumlah jiwa dapat dihitung menggunaan persamaan sebagai berikut: S = Cd PS Dimana: PS < 1 juta jiwa S = Jumlah contoh jiwa PS = Populasi (jiwa) Cd = Koefisien perumahan Cd kota metropolitan dan besar =1 Cd kota sedang dan kecil, IKK = 0,5

Wahyu Eka Putri Dj (0810941002), Dita Sophy Syakdiah (0910941006), M. Ali Arridha ( 0910942029) II-38