Anda di halaman 1dari 45

Bab 8 Business Continuity Planning and Disaster Recovery Planning

Kelompok 121M IKI-83408T MTI UI


Aston Freddy Sitorus Gerry Firmansyah Maulana Mukarom 7204000454 720400047Y 7204000535

2005 Kelompok 121M IKI-83408T MTI UI.


Silakan menggandakan bahan ajar ini, selama tetap mencantumkan nota hak cipta ini

Daftar Isi

Bab 8 Business Continuity Planning and Disaster Recovery Planning .............................. 1 8.1. Apa Itu Disaster ?..................................................................................................... 1 8.2. Business Continuity Planning .................................................................................. 3 8.2.1. Peristiwa-peristiwa yang mengganggu Kesinambungan Bisnis ....................... 4 8.2.2. Empat Unsur Utama BCP ................................................................................. 4 8.2.2.a. Inisiasi Lingkup dan Rencana ........................................................................ 4 8.2.2.b. Business Impact Assessment ......................................................................... 5 8.2.2.c. Pengembangan Business Continuity Plan...................................................... 8 8.2.2.d. Persetujuan Rencana dan Implementasi......................................................... 8 8.2.3. Bagai mana UKM menjalankan BCP ............................................................. 10 8.3. Disaster Recovery Planning................................................................................... 11 8.3.1. Tujuan dan Sasaran DRP ................................................................................ 12 8.3.2. Elemen Utama Yang Perlu Diperhatikan dalam DRP .................................... 12 8.3.2.a. Elemen-Elemen Yang Bersifat Umum Bagi Semua Aspek Rencana .......... 13 8.3.2.b. Elemen-Elemen Ketika Operasi Bisnis Dijalankan Lagi............................. 14 8.3.2.c. Elemen-Elemen Ketika Operasi Penyelamatan dan Pemulihan Dilakukan. 14 8.3.3. Proses Disaster Recovery Planning ................................................................ 15 8.3.3.a. Data Processing Continuity Planning........................................................... 16 8.3.4. Hal-hal Lain Yang Perlu Diperhatikan Dalam Menyusun Disaster Recovery Plan ........................................................................................................................... 19 8.3.5. Informasi Yang Harus Ada Pada Disaster Recovery Plan ............................. 19 8.3.6. Prasyarat Dalam Pembuatan Disaster Recovery Plan .................................... 20 8.3.7. Perencanaan Yang Komprehensif Terhadap Disaster Recovery Plan............ 21 8.3.8. Langkah-Langkah Untuk Mengatasi Bencana Sehubungan Dengan Disaster Recovery Plan ........................................................................................................... 22 8.3.9. Disaster Recovery Plan Maintenance ............................................................. 23 8.3.9.a. Tes Perencanaan Pemulihan bencana........................................................... 23 8.3.9.b. Prosedur-Prosedur Pemulihan Bencana....................................................... 25 8.3.10. Disaster Recover untuk UKM....................................................................... 26 8.4. Strategi Backup dan Recovery Data pada Disaster Recovery Center.................... 30 8.4.1. Mekanisme Disaster Recovery Centre Secara Umum .................................... 30 8.4.2. Strategi Backup dan Recovery Data ............................................................... 31 8.4.2.a. Offline Backup Solutions............................................................................. 31 8.4.2.b. Disk-to-Tape Deployment ........................................................................... 32 8.4.2.c. Disk-to-Disk-to-Tape Deployment .............................................................. 32 8.4.3. Online Data Protection Solutions.................................................................... 33 8.4.3.a. Active/Passive .............................................................................................. 33 8.4.3.b. Active/Active ............................................................................................... 34 8.4.3.c. Multisite Topologies .................................................................................... 35 8.4.3.d. Perbandingan Konfigurasi Active/Passive, Active/Active dan Multisite Topologies................................................................................................................. 36 8.4.4. Contoh Implementasi Recovery Sistem Operasi di UNIX ............................. 36

Bab 8 Business Continuity Planning and Disaster Recovery Planning


Business Continuity Planning (BCP) dan Disaster Recovery Planning (DRP) membahas murni masalah bisnis. Keduanya tidak membicarakan tentang pelanggaran kebijakan keamanan atau akses tidak sah, melainkan tentang membuat rencana darurat untuk keadaan darurat yang mengancam kelangsungan bisnis dan meneruskan bisnis tersebut walaupun terjadi bencana. BCP membahas tentang membuat rencana dan menciptakan kerangka kerja untuk memastikan bahwa bisnis itu dapat hidup dalam keadaan darurat; sedangkan DRP membahas tentang proses pemulihan secara cepat dari suatu keadaan darurat dengan dampak minimum pada organisasi.

8.1. Apa Itu Disaster ?


Bencana adalah sesuatu yang tak terpisahkan dalam sejarah manusia. Manusia bergumul dan terus bergumul agar bebas dari bencana (free from disaster). Dalam pergumulan itu, lahirlah praktek mitigasi, seperti mitigasi banjir, mitigasi kekeringan (drought mitigation), dll. Di Mesir, praktek mitigasi kekeringan sudah berusia lebih dari 4000 tahun. Konsep tentang Early Warning System untuk kelaparan (famine) dan kesiap-siagaan (preparedness) dengan lumbung raksasa yang disiapkan selama tujuh tahun pertama kelimpahan dan digunakan selama tujuh tahun kekeringan sudah lahir pada tahun 2000 BC, sesuai keterangan kitab Kejadian, dan tulisan-tulisan Yahudi Kuno. Konsep management bencana mengenai pencegahan (Prevention) atas bencana atau kutukan penyakit (plague), pada abad-abad non-peradababan selalu diceritakan ulang dalam simbol simbol seperti kurban, penyangkalan diri dan pengakuan dosa. Early warning kebanyakan didasarkan pada Astrologi atau ilmu Bintang. Tak heran mengapa kata bencana (DISASTER) secara etimologis berasal dari kata DIS yang berarti sesuatu yang tidak enak (unfavorable) dan ASTRO yang berarti bintang (stars). Dis-astro berarti an event precipitated by stars (peristiwa jatuhnya bintang-bintang ke bumi). Response kemanusiaan dalam krisis emergency juga sudah berusia lama walau catatan sejarah sangat sedikit, tetapi peristiwa Tsunami di Lisbon, Portugal pada tanggal 1 November 1755, mencatat bahwa ada respon bantuan dari Negara secara ala kadar. Jumlah korban meninggal pasca emergency sedikitnya 20,000 orang. Total meninggal diperkirakan 70,000 orang dari 275,000 penduduk. Hingga dekade yang lalu, cita-cita para ahli bencana masih terus mengumandangkan slogan bebas dari bencana (free from disaster) yang berdasarkan pada ketiadaan ancaman alam (natural hazard). Tiga tahun terakhir, dari publikasi tulisan-tulisan tentang management bencana, telah terjadi perubahan paradigma. Sebagai misal di Banglades dan Vietnam, khususnya yang hidup di

DAS Mekong, yang semulanya bermimpi untuk bebas dari banjir (free from flood), akhirnya memutuskan untuk hidup bersama banjir (living with flood). Tentunya komitmen hidup bersama banjir, tetap dilandasi oleh semangat bahwa banjir atau ancaman alam lainnya seperti gempa, siklon, dan kekeringan boleh terjadi tetapi bencana tidak harus terjadi. Di Timor, khususnya masyarakat Besikama, sudah sangat lama hidup bersama banjir. Masyarakat tradisional Besikama sebenarnya sudah mengenal tentang praktek mitigasi banjir berdasarkan konstruksi rumah tradisional mereka sejak lama, yakni rumah panggung, yang sudah sangat tidak popular karena pembangunan mengajarkan segala segala sesuatu yang modern. Disaster (bencana) didefiniskan sebagai kejadian yang waktu terjadinya tidak dapat diprediksi dan bersifat sangat merusak. Pengertian ini mengidentifikasikan sebuah kejadian yang memiliki empat faktor utama, yaitu : tiba-tiba tidak diharapkan bersifat sangat merusak kurang perencanaan

Bencana terjadi dengan frekuensi yang tidak menentu dan akibat yang ditimbulkannya meningkat bagi mereka yang tidak mempersiapkan diri terhadap kemungkinan-kemungkinan timbulnya bencana. Rencana pencegahan dan perbaikan terhadap bencana dapat membantu melindungi semua adet oraganisasi, termasuk sumber daya manusia, pekrjaan, data-data penting, dan fasilitas organisasi. Cakupan bencana tidak hanya terbatas pada hilangnya data dan sumber informasi, tetapi juga kematian dari pekerja yang sangat diandalkan, keracunan produk, meledaknya sistem peralatan, kebakaran yang terjadi pada pusat distribusi utama, atau tumpahnya cairan kimia, dan lain sebagainya, sangat mempengaruhi suatu organisasi. Tabel berikut memberikan contoh-contoh penyebab terjadinya bencana. Penyebab Terjadinya Bencana - kebakaran - badai - banjir - perubahan suhu dan kelembaban yang sangat ekstrim - gempa bumi dan tanah longsor - kecelakaan pesawat, kendaraan, dll. - virus komputer Tabel 1 Beberapa Penyebab Terjadinya Bencana Rencana pencegahan dan pemulihan dapat dengan mudah dimanfaatkan oleh pihakpihak tertentu dengan menambahkan biaya-biaya yang tidak perlu yang akan membuat rencana

tersebut menjadi tidak masuk akal bagi level manajemen. Rencana yang dibuat harus mencakup definisi yang jelas dari data-data atau record organisasi yang harus dilindungi. Halhal yang harus dihindari selama pembuatan rencana pemulihan adalah rekonstruksi material back-up, kopi, dan file-file yang tidak penting. Record-record organisasi atau perusahaan memiliki nilai yang bervariasi. Apakah record tersebut tersimpan secara elektronik ataupun di atas kertas, rencana yang dibuat harus mengidentifikasi record-record penting dan historis, yaitu record-record yang memuat sejarah perusahaan, pertumbuhan, pengembangan, operasi, dan kontribusi yang bersifat kenegaraan, termasuk record-record yang perlu ditindaklanjuti kekontinuitas bisnisnya setelah bencana. Daftar record penting diperlukan untuk menentukan prosedur melindungi dan merekonstruksi record-record penting yang tersimpan pada media magnetik, optik, atau bentuk lainnya yang berbeda dengan prosedur melindungi informasi yang terkandung pada media kertas.[1]

8.2. Business Continuity Planning


Secara sederhana, Business Continuity Plan diciptakan untuk mencegah gangguan terhadap aktivitas bisnis normal. BCP dirancang untuk melindungi proses bisnis yang kritis dari kegagalan/bencana alam atau yang dibuat manusia dan akibatnya hilangnya modal dalam kaitannya dengan ketidaktersediaan untuk proses bisnis secara normal. BCP merupakan suatu strategi untuk memperkecil efek gangguan dan untuk memungkinkan proses bisnis terus berlangsung. Peristiwa yang mengganggu adalah segala bentuk pelanggaran keamanan baik yang disengaja ataupun tidak yang menyebabkan bisnis tidak bisa beroperasi secara normal. Tujuan BCP adalah untuk memperkecil efek peristiwa mengganggu tersebut pada perusahaan. Tujuan BCP yang utama adalah untuk mengurangi risiko kerugian keuangan dan meningkatkan kemampuan perusahaan dalam proses pemulihan sesegera mungkin dari suatu peristiwa yang mengganggu. BCP juga membantu memperkecil biaya yang berhubungan dengan peristiwa yang mengganggu tersebut dan mengurangi risiko yang berhubungan dengan itu. Business Continuity Plan perlu melihat pada semua area pengolahan informasi kritis perusahaan, termasuk --tetapi tidak membatasi-- pada hal-hal berikut ini [2] : LAN, WAN, dan server Telekomunikasi dan link komunikasi data Workstation dan workspaces Aplikasi, perangkat lunak, dan data Media dan penyimpanan arsip Tugas-tugas staf dan proses produksi

8.2.1. Peristiwa-peristiwa yang mengganggu Kesinambungan Bisnis


Berikut daftar peristiwa-peristiwa yang dapat mengganggu kesinambungan bisnis yang digolongkan pada sumber terjadinya, akibat alam atau ulah manusia. Contoh peristiwa alami yang dapat mempengaruhi kesinambungan bisnis adalah sebagai berikut: Kebakaran atau ledakan Gempa bumi, badai, banjir, dan kebakaran alami

Contoh peristiwa yang diakibatkan oleh manusia yang dapat mempengaruhi kesinambungan bisnis sebagai adalah berikut: Peristiwa pemboman, sabotase, atau serangan lain yang disengaja Kegagalan infrastruktur komunikasi

8.2.2. Empat Unsur Utama BCP


Ada empat unsur utama proses BCP: Inisiasi Lingkup dan Rencana. Tahap ini menandai permulaan proses BCP. Proses ini meliputi pembuatan lingkup dan unsur-unsur lain yang diperlukan untuk menentukan parameter-parameter rencana. Business Impact Assessment. Proses BIA adalah suatu proses yang dilaksanakan untuk membantu unit-unit bisnis memahami dampak suatu peristiwa yang mengganggu. Tahap ini meliputi pelaksanaan vulnerability assessment. Pengembangan Business Continuity Plan. Istilah ini mengacu pada penggunaan informasi yang dikumpulkan pada tahap BIA untuk mengembangkan business continuity plan yang sebenarnya. Proses ini meliputi area dari implementasi rencana, pengujian rencana, dan pemeliharaan rencana berkelanjutan. Persetujuan Rencana dan Implementasi. Proses ini melibatkan pengambilan keputusan akhir manajemen senior, menciptakan kesadaran terhadap rencana tersebut ke seluruh personil perusahaan, dan menerapkan suatu prosedur pemeliharaan untuk membaharui rencana jika dibutuhkan.

8.2.2.a. Inisiasi Lingkup dan Rencana


Tahap inisiasi lingkup dan rencana adalah langkah pertama dalam pembuatan business continuity plan. Tahap ini menandai permulaan proses BCP. Proses ini melibatkan pembuatan lingkup untuk rencana dan unsur-unsur lain yang diperlukan untuk menentukan parameterparameter rencana tersebut. Tahap ini merepresentasikan suatu pengujian terhadap dukungan pelayanan dan operasi perusahaan. Lingkup aktivitas harus meliputi: pembuatan akun yang terperinci dari pekerjaan yang diperlukan, mendaftar sumber daya yang akan digunakan, dan mendefinisikan manajemen praktek untuk dipekerjakan.

Kelompok personal yang terlibat dalam BCP ini : Peran dan Tanggung Jawab. Proses BCP melibatkan banyak personil dari berbagai bagian dari perusahaan. Pembuatan komite BCP akan merepresentasikan keterlibatan seluruh aspek perusahaan yang pertama dari unit bisnis fungsional kritis yang utama. Unit-unit bisnis lainnya akan dilibatkan dalam beberapa cara di kemudian hari, terutama sepanjang tahap implementasi dan tahap pembentukan kesadaran (awareness). Komite BCP. Komite BCP harus dibentuk dan diberi tanggung jawab untuk menciptakan, menerapkan, dan menguji rencana yang dibuat. Panitia terdiri dari wakil dari manajemen senior, semua unit bisnis fungsional, sistem informasi, dan administrasi keamanan. Komite memulai dengan menyusun lingkup rencana, hal-hal mana yang berhadapan dengan bagaimana cara memulihkan secara cepet dari kaitannya dengan suatu peristiwa yang mengganggu. Peran Manajemen Senior. Manajemen senior mempunyai tanggung jawab yang paling besar untuk semua tahap rencana, yang meliputi tidak hanya pada proses inisiasi rencana tetapi juga memantau dan mengatur rencana selama pengujian dan pengawasan; dan pelaksanaan rencana ketika peristiwa yang mengganggu terjadi. Dukungan ini amatlah penting, dan tanpa komitmen manajemen dalam hal sumber daya yang cukup baik intangible maupun tangible, rencana tidak akan sukses. suatu peristiwa yang mengganggu dan mengurangi kerugian keuangan dan kerugian sumber daya dalam

8.2.2.b. Business Impact Assessment


Tujuan BIA adalah untuk menciptakan suatu dokumen yang akan digunakan untuk membantu memahami dampak apa yang akan ditimbulkan oleh suatu peristiwa yang mengganggu terhadap bisnis yang sedang berjalan. Dampak tersebut mungkin mempengaruhi sisi keuangan (kuantitatif) atau operasional (kualitatif, seperti ketidakmampuan untuk merespons keluhan pelanggan). Vulnerability assessment sering kali menjadi bagian dari proses BIA. BIA mempunyai tiga tujuan utama: Penentuan Prioritas. Tiap-Tiap proses unit bisnis kritis harus dikenali dan diprioritaskan, dan dampak suatu peristiwa yang mengganggu harus dievaluasi. Proses bisnis yang tidak time-critical diberi prioritas lebih rendah dibanding proses bisnis yang time-critical. Estimasi Downtime. BIA dilakukan untuk membantu menaksir maksimum downtime yang masih dapat ditolerir (MTD, maximum tolerable downtime) oleh perusahaan; di mana, periode waktu yang terpanjang suatu proses kritis dapat terus berlangsung sebelum perusahaan tersebut tidak mampu lagi memulihkan ke kondisi semula. Hal ini sering kali

ditemukan sepanjang proses BIA bahwa periode waktu tersebut jauh lebih pendek dibanding dengan apa yang diharapkan. Kebutuhan Sumber Daya. Kebutuhan sumber daya untuk proses yang kritis juga diidentifikasi pada proses ini, proses-proses yang paling time-sensitive memerlukan alokasi sumber daya yang paling banyak. Pada umumnya BIA terdiri dari empat tahap, yaitu: 1. Pengumpulan bahan-bahan penilaian yang diperlukan 2. Melakukan vulnerability assessment 3. Menganalisis informasi yang telah diolah 4. Mendokumentasikan hasilnya dan menentukan saran-saran terhadap apa yang harus dilakukan Penjelasan dari empat tahap itu adalah sebagai berikut :

Pengumpulan Bahan-bahan Penilaian yang Diperlukan


Langkah awal BIA adalah mengidentifikasi unit bisnis yang kritis. Sering kali, langkah awalnya adalah dengan melihat skema organisasi yang menunjukkan hubungan antar bisnis unit. Pada tahap ini dapat pula dilakukan pengumpulan dokumen-dokumen sebagai salah satu usaha untuk menentukan hubungan timbal balik fungsional organisasi. Setelah bahan-bahan dikumpulkan dan operasi-operasi fungsional bisnis dikenali, BIA akan menguji kebergantungan fungsi-fungsi bisnis ini dengan beberapa faktor, seperti faktor-faktor kesuksesan bisnis yang terlibat, menetapkan satu set prioritas antar unit, dan prosedur-prosedur proses alternatif apa yang dapat digunakan.

Vulnerability Assessment
Vulnerability Assessment sering menjadi bagian dari suatu BIA. Proses ini mirip dengan Risk Assessment yang di dalamnya terdapat penilaian kuantitatif (finansial) dan penilaian kualitatif (operasional). Perbedaannya, vulnerability assessment dilakukan dalam cakupan yang lebih kecil dan dipusatkan untuk menyediakan informasi yang akan digunakan semata-mata untuk pembuatan business continuity plan atau dissaster recovery plan. Kegunaan vulnerability assessment adalah untuk melakukan suatu analisa dampak kerugian. Ada dua bagian penilaian, penilaian keuangan dan penilaian operasional. Penting untuk menentukan ukuran-ukuran kerugian keduanya baik secara kuantitatif maupun kualitatif. Ukuran-ukuran kerugian secara kuantitatif dapat digambarkan sebagai berikut: o Penentuan besarnya kerugian keuangan dari hilangnya pendapatan, pengeluaran modal, atau resolusi kewajiban pribadi

Biaya operasional yang tambahan yang dibutuhkan dalam kaitan dengan kejadian yang mengganggu Penentuan kerugian keuangan dari resolusi pelanggaran persetujuan kontrak Penentuan kerugian keuangan dari resolusi pelanggaran pengatur atau pemenuhan kebutuhan

o o

Ukuran-ukuran kerugian kualitatif terdiri dari: o o o Hilangnya manfaat kompetisi atau penguasaan pasar Hilangnya kredibilitas atau kepercayaan publik Selama vulnerable assesment, critical support area harus ditentukan dalam rangka menilai dampak suatu peristiwa yang mengganggu. Critical support area didefinisikan sebagai suatu unit atau fungsi bisnis yang harus ada untuk mendukung kesinambungan proses-proses bisnis, memelihara keselamatan hidup, atau menghindari kebingungan masyarakat. Critical support area bisa meliputi: o o o Telekomunikasi, komunikasi data, atau area teknologi informasi infrastruktur fisik atau jasa transportasi Akuntansi, penggajian, proses transaksi, layanan pelanggan, pembelian

Analisa Informasi
Selama tahap analisa BIA, beberapa aktivitas berlangsung, seperti mendokumentasikan proses-proses yang diperlukan, mengidentifikasi ketergantungan satu proses dengan proses lainnya, dan menentukan periode gangguan yang masih bisa diterima. Tujuan dari tahap ini adalah untuk memaparkan secara jelas dukungan-dukungan apa saja yang diperlukan untuk memelihara arus pendapatan dan memelihara proses-proses bisnis sudah ada, seperti tingkatan proses transaksi dan tingkatan layanan pelanggan. Oleh karena itu, elemen-elemen analisa harus datang dari seluruh area di perusahaan tersebut.

Dokumentasi dan Rekomendasi


Langkah yang terakhir dalam proses BIA melibatkan pendokumentasian secara menyeluruh dari semua proses, prosedur, analisa, dan hasil dan mempresentasikan rekomendasi yang tepat kepada manajemen senior. Laporan berisi bahan-bahan yang sebelumnya dikumpulkan, daftar area kritis yang membutuhkan dukungan, rangkuman dampak kualitatif dan kuantitatif, dan menyediakan rekomendasi prioritas mengenai pemulihan yang pelru dilakukan yang diperoleh dari hasil analisa.

8.2.2.c. Pengembangan Business Continuity Plan


Pengembangan business continuity plan mengacu pada penggunaan informasi yang dikumpulkan pada proses BIA untuk membuat rencana strategi pemulihan untuk mendukung fungsi bisnis kritis. Di sini kita mengambil informasi yang dikumpulkan dari BIA dan memulai merencanakan suatu strategi untuk membuat continuity plan. Tahapan ini terdiri dari dua langkah utama: 1. Pendefinisian continuity strategy 2. Pendokumentasian continuity strategy Langkah-langkah utama dari pengembangan BCP yaitu :

Pendefinisian Continuity Strategy


Untuk menggambarkan strategi BCP, informasi yang dikumpulkan dari BIA digunakan untuk menciptakan continuity strategy untuk perusahaan. Tugas ini sangat besar, dan setiap unsur-unsur perusahaan harus dilibatkan dalam menentukan continuity strategy, seperti: Komputasi. Suatu strategi perlu ditentukan untuk memelihara unsur-unsur perangkat keras, perangkat lunak, jalur-jalur komunikasi, aplikasi, dan data. Fasilitas. Strategi perlu ditentukan untuk penggunaan gedung-gedung utama atau kampus dan fasilitas remote lainnya. Orang-Orang. Para operator, manajemen, dan personil pendukung teknis harus ditentukan peranannya di dalam menerapkan continuity strategy. Persediaan dan Peralatan. Dokumen-dokumen, formulir-formulir, atau peralatan keamanan lainnya harus didefinisikan ketika mereka dibutuhkan pada saat pelaksanaan continuity plan tersebut.

Pendokumentasian Continuity Strategy


Pendokumentasian continuity plan mengacu pada pembuatan dokumentasi yang dihasilkan pada tahap pendefinisian continuity strategy. Akan terdapat banyak dokumentasi. Dokumentasi diperlukan hampir di semua bagian, dan itu merupakan sifat alami BCP/DRP memerlukan banyak catatan/kertas.

8.2.2.d. Persetujuan Rencana dan Implementasi


Langkah yang terakhir adalah penerapan business continuity plan. Rencana tersebut harus berisi roadmap untuk implementasi. Implementasi di sini bukan berarti pelaksanaan skenario bencana dan menguji rencana tersebut, tetapi lebih mengacu pada langkah-langkah sebagai berikut: 1. Persetujuan oleh manajemen senior. 2. Membangun kesadaran terhadap rencana tersebut ke seluruh jajaran perusahaan. 3. Pemeliharaan rencana, termasuk pembaharuan ketika diperlukan.

Langkah-langkah penerapan pelaksanaan itu lebih rincinya sebagai berikut : Persetujuan Manajemen Senior. Seperti telah disebutkan sebelumnya, manajemen senior mempunyai tanggung jawab yang paling akhir untuk semua tahap rencana. Sebab mereka mempunyai tanggung jawab untuk pengawasan dan pelaksanaan rencana selama peristiwa yang mengganggu terjadi, mereka harus memberikan persetujuan akhir. Ketika suatu serangan bencana, manajemen senior harus mampu membuat keputusan yang diberitahukan dengan cepat selama proses penyelamatan berlangsung. Kesadaran Rencana. Kesadaran terhadap rencana tersebut dari seluruh jajaran perusahaan amatlah penting. Ada beberapa pertimbangan untuk ini, mencakup fakta bahwa kemampuan organisasi untuk memulihkan keadaan dari suatu peristiwa akan hampir bisa dipastikan tergantung pada usaha dari banyak individu. Pelatihan spesifik mungkin diperlukan untuk personil tertentu untuk menyelesaikan tugas mereka, dan pelatihan berkualitas dirasa sebagai manfaat yang dapat meningkatkan minat dan komitmen personil di dalam proses BCP. Pemeliharaan Rencana. Business continuity plan sering kali kadaluwarsa karena terdapat perubahan baru atau adanya alasan yang berbeda dari sebelumnya. Perusahaan dapat menyusun kembali dan bisnis-bisnis unit yang kritis mungkin berbeda dibanding ketika rencana yang pertama diciptakan. Paling umum, jaringan atau infrastruktur komputasi berubah, mencakup perangkat keras, perangkat lunak, dan komponen lainnya. Pertimbangan boleh jadi bersifat administratif: rencana yang sulit tidak mudah untuk dibaharui, personil yang kehilangan minat atau lupa, atau terjadinya pergantian karyawan bisa mempengaruhi keterlibatan. Apapun alasannya, teknik pemeliharaan rencana sebaiknya dilakukan oleh pihak luar sejak dari permulaan untuk memastikan bahwa rencana tersebut selalu up-to-date dan dapat dipakai. Adalah penting untuk membuat prosedur pemeliharaan di dalam organisasi dengan menerapkan job description yang memusatkan tanggung jawab untuk membaharui rencana. Juga, menciptakan prosedur audit yang dapat melaporkan secara teratur atas status rencana itu. Adalah juga penting untuk memastikan bahwa tidak muncul rencana dengan versi-versi yang berbeda, sebab hal itu bisa menciptakan kebingungan selama suatu keadaan darurat. Selalu menggantikan versi yang lebih lama dengan versi yang dibaharui ketika suatu rencana diubah atau digantikan.

8.2.3. Bagai mana UKM menjalankan BCP


BCP melibatkan pengembangan rencana dan persiapan terhadap bencana sebelum bencana itu terjadi dengan tujuan untuk meminimalkan kerugian (loss) dan memastikan sumber daya, orang, dan proses binis dapat berjalan sebagaimana mestinya. Prosesnya (otomatis maupun manual) dirancang untuk mengurangi ancaman terhadap fungsi-fungsi penting organisasi, sehingga menjamin kontinuitas layanan bagi operasi yang penting. Guna mengantisipasi kasus terburuk, BCP harus mempertimbangkan strategi jangka pendek (shortterm) dan strategi jangka panjang (long-term). BCP disebut juga dengan tindakan pencegahan. Untuk membuat BCP, perlu adanya dukungan dari pihak manajemen. Oleh karena itu BCP Pada sebuah UKM dibuat dengan pendekatan top-down (top down approach) bukan dengan pendekatan buttom up (buttom up approach). Kebijakan dan tujuan dari usaha perencanaan perlu dibuat oleh pihak manajemen. Sekali pihak manajemen menetapkan tujuan dan kebijakan serta prioritas perusahaan, staf lain yang bertanggung jawab dalam rencana ini akan dapat mengisi sisanya. Organisasi yang mengatur BCP ini biasanya level manajemen. Ada enam langkah pendekatan untuk contingency planning yang dapat diberikan sebagai berikut : 1. Indentifikasi fungsionalitas bisnis yang kritis. Pada tahap ini akan dilihat proritas dari fungsionalitas bisnis yang ada bagi perusahaan. Bagi sebuah UKM, proritas dari fungsionalitas bisnis yang ada dalam perusahaan adalah : Data operasional proyek karena pada data tersebut melibatkan data-data untuk keperluan tender dan pelaksanaan proyek. Jika fungsional ini down, maka perusahaan kehilangan data atau tidak bisa mengolah data untuk pengajuan tender dan pelaksanaan proyek. Dukungan sistem informasi yang digunakan untuk menjaga agar kondisi jaringan perusahaan sehingga pekerjaan operasional bisa dilakukan. Keuangan dan akuntansi karena digunakan untuk mengelola perhitungan laba rugi perusahaan. Penggajian dianggap penting karena digunakan untuk mengelola pembayaran gaji karyawan perusahaan. 2. Identifikasi sistem dan sumber daya yang diperlukan untuk mendukung fungsi-fungsi kritis. 3. Memperkirakan bencana dan ancaman potensial. Hal ini telah dijelaskan pada bab sebelumnya. 4. Pemilihan Strategi Perencanaan. Disaster Recovery Plan dan Contingency Plan akan terdiri dari emergency response, recovery dan resumption activities. Emergency response berhubungan dengan melindungi hidup dan mengurangi dampak kerusakan (praktek

10

manajemen

keamanan),

recovery

mencakup

langkah-langkah

yang

penting

untuk

mengembalikan fungsi-fungsi kritis kembali berjalan. Sedangkan resumption merupakan tindakan untuk mengembalikan perusahaan kembali pada operasional (keduanya bisa memanfaatkan dana asuransi). 5. Implementasi Strategi. Dokumentasi menjaid perhatian penting. 6. Test dan Revisi Perencanaan. Disaster Recovery Plan dan Contingency Plan harus diuji secara periodik karena lingkungan terus berubah dan menimbulkan kebutuhan perbaikan.

8.3. Disaster Recovery Planning


Disaster recovery plan merupakan program yang tertulis dan telah disetujui, diimplementasikan, serta dievaluasi secara periodik, yang menfokuskan pada semua aksi yang perlu dilakukan sebelum, ketika, dan setelah bencana. Rencana ini disusun berdasarkan review secara menyeluruh terhadap bencana-bencana yang potensial, yang mencakup lingkup fasilitas, lokasi geografis, atau industri. Rencana ini juga merupakan pernyataan dari tanggapan yang tepat untuk proses pemulihan yang bersifat efektif terhadap biaya dan cepat. Oleh karena itu, rencana yang dibuat haruslah mengidentifikasi di mana, yang mana, dan bagaimana recordrecord dapat diperoleh. Review yang harus dilakukan mencakup pertimbangan dari berbagai hal di bawah ini : Apakah media magnetik, optik, atau microfilm, disimpan pada kabinet yang sesuai? Apakah ada peraturan melarang merokok di area-area tempat penyimpanan media kertas atau bahan-bahan kimia ? Apakah kotak atau kontainer record berserakan di lantai bahkan selama proses awal berlangsung ? Apakah bahan-bahan kimia, termasuk yang digunakan di mesin-mesin kantor, disimpan dengan cara yang tepat dan pada tempat yang tepat sehingga bencana dapat dihindari atau diminimisasi ? Apakah peralatan elektrik dimatikan pada akhir hari ? Apakah perlu peralatan-peralatan yang ada di perusahaan digunakan untuk keperluan data rumahan ? dan lain-lain Disaster recovery planning adalah suatu pernyataan yang menyeluruh mengenai tindakan konsisten yang harus diambil sebelum, selama, dan setelah suatu peristiwa yang mengganggu yang menyebabkan suatu kerugian penting sumber daya sistem informasi. Disaster recovery plan adalah prosedur untuk merespons suatu keadaan darurat, menyediakan backup operasi selama gangguan terjadi, dan mengelola pemulihan dan menyelamatkan proses sesudahnya.

11

Sasaran pokok disaster recover plan adalah untuk menyediakan kemampuan dalam menerapkan proses kritis di lokasi lain dan mengembalikannya ke lokasi dan kondisi semula dalam suatu batasan waktu yang memperkecil kerugian kepada organisasi, dengan pelaksanaan prosedur recovery yang cepat.

8.3.1. Tujuan dan Sasaran DRP [5]


Tujuan DRP yang utama adalah untuk menyediakan suatu cara yang terorganisir untuk membuat keputusan jika suatu peristiwa yang mengganggu terjadi. Tujuan disaster recovery plan adalah untuk mengurangi kebingungan organisasi dan meningkatkan kemampuan organisasi untuk berhubungan dengan krisis tersebut. Sesungguhnya, ketika suatu peristiwa yang mengganggu terjadi, organisasi tidak akan mempunyai kemampuan untuk menciptakan dan melaksanakan suatu rencana pemulihan dengan segera. Oleh karena itu, jumlah perencanaan dan pengujian yang telah dilakukan sebelumnya bencana. DRP mempunyai banyak sasaran, dan masing-masing sasaran tersebut penting. Sasaransasaran tersebut meliputi: Melindungi suatu organisasi dari kegagalan penyediaan jasa komputer. Memperkecil risiko keterlambatan suatu organisasi dalam menyediakan jasa Menjamin keandalan sistem melalui pengujian dan simulasi Memperkecil pengambilan keputusan oleh personil selama suatu bencana Tahapan DRP ini meliputi: Proses DRP Pengujian disaster recovery plan Prosedur disaster recovery akan menentukan kemampuan organisasi tersebut dalam mengangani suatu

8.3.2. Elemen Utama Yang Perlu Diperhatikan dalam DRP


Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, disaster recovery merupakan proses menjalankan kembali operasi bisnis dan merekontruksi record-record bisnis yang penting setelah bencana. Disaster recovery mengidentifikasi dan melindungi semua record penting, baik yang terdapat pada media kertas, hardisk komputer, disk optik, dari proses penyelamatan hingga proses rekonstruksi. Untuk keperluan ini, ada baiknya kalau dibahas elemen-elemen utama pada disaster recovery planning. Elemen utama disaster recovery plan dapat dikelompokkan menjadi 3 kategori, yaitu : elemen-elemen yang bersifat umum bagi semua aspek rencana

12

elemen-elemen ketika operasi bisnis dijalankan lagi elemen-elemen ketika operasi penyelamatan dan pemulihan dilakukan

8.3.2.a. Elemen-Elemen Yang Bersifat Umum Bagi Semua Aspek Rencana


Dalam rangka disaster recovery plan menjadi efektif, maka perlu diperhatikan elemen-elemen dasar tertentu. Selagi deskripsi aktual dari elemen-elemen tersebut berubah dari satu tempat ke tempat yang lain, pengalaman menunjukkan bahwa masingmasing harus terdapat di dalam rencana agar rencana yang efektif dapat dicapai. Elemenelemen tersebut sebagai berikut :

pernyataan kebijakan yang jelas (clear policy statement), mencakup tujuan dan sasaran pemulihan;

wewenang aktivasi (activation authority), yaitu siapa yang berhak memimpin tim rencana pemulihan;

struktur tugas (task organization), mencakup tugas dan fungsi tiap tim atau anggota tim pemulihan;

tim pemulihan setelah bencana (disaster recovery team), yaitu anggota tim yang bertugas menjalankan disaster recovery plan;

layout organisasi (facility floor plan or layout), yaitu tata letak tiap tempat dalam suatu oraganisasi atau perusahaan;

prosedur distribusi informasi (information distribution procedure), merupakan metode spesifik untuk mengontak anggota tim pemulihan, vendor, agen pendukung, supplier, dan semua pihak yang terkait;

pemantauan kondisi yang berbahaya (monitoring of destructive area); traning pekerja (provision for training of employee), merupakan kegiatan untuk melatih para pekerja mengenai prosedur pemulihan;

hal-hal lain seiring dengan jalannnya proses pemulihan (provision for ongoing review and revision).

13

8.3.2.b. Elemen-Elemen Ketika Operasi Bisnis Dijalankan Lagi


Kebanyakan organisasi, seperti rumah sakit, stasiun TV atau radio, maskapai penerbangan, harus melakukan berbagai operasi selama berjam-jam setelah bencana untuk mempertahankan konsumen mereka dan kepercayaan masyarakat. Manajemen krisis berarti bersiap-siap terhadap kejadian yang mengancam dan tidak diharapkan, dan menyediakan kontinuitas bisnis selama dan setelah kondisi krisis. Manajemen krisis memiliki lingkup yang luas dibandingkan manajemen rekonstruksi informasi dan usaha penyelamatan setelah bencana. Krisis bisnis diilustrasikan sebagai situasi yang berbahaya dan mengancam yang sedang menjalani hal-hal penuh risiko, seperti

memperluas skala perusahaan; sedang di bawah pengawasan media dan pemerintahan; operasi bisnisnya kacau balau dengan sistem dasar organisasi rusak.

Manajemen krisis seharusnya didelegasikan ke tim manajemen yang ditunjuk, yang telah menerima training yang diperlukan sehubungan dengan bencana. Manajer dan staf yang lain sebaiknya konsentrasi pada usaha untuk menjaga tanggung jawab bisnis biasanya. Terdapat 3 elemen utama yang perlu dipertimbangkan dalam manajemen krisis yang merupakan bagian dari proses perencanaan terhadap bahaya yang terjadi :

kesinambungan pimpinan (continuity of authority), memastikan bahwa terdapat kepengurusan yang berkelajutan setelah terjadinya bahaya;

perjanjian pemilihan tim manajemen terhadap bencana yang terjadi (appointment of a select disaster management team), untuk mengidentifikasi, mengisolasi dan menanggapi krisis yang terjadi;

perjanjian mengenai orang yang harus berbicara kepada publik untuk memberi penjelasan mengenai kondisi perusahaan akibat bencana (appointment of an organization spokesperson).

8.3.2.c. Elemen-Elemen Ketika Operasi Penyelamatan dan Pemulihan Dilakukan


Penyelamatan dan pemulihan setelah bencana memerlukan tidak hanya kedekatan dengan tujuan, struktur, personel, operasi dan record yang terorganisasi, tetapi juga pengetahuan prosedur dan teknik pemulihan yang khusus, fasilitas komputer dan lokasi

14

kerja alternatif, sumber sementara dan sukarelawan, pemasok lokal, agen-agen bencana lokal, dan daftar konsultan yang dapat diandalkan. Elemen utama yang harus dipertimbangkan di dalam mengembangkan tahap rekonstruksi dan penyelamatan dari disaster recovery plan adalah :

tim pemulihan setelah bencana yang telah mendapat training dan disetujui oleh level manajemen (trained disaster recovery team);

inventori record seluruh departemen atau organisasi, termasuk record-record penting (inventory of all department records);

tujuan lokasi operasi alernatif (designation of alternative operating location); daftar prioritas pemulihan fungsi-fungsi penting (priority list for restoration of essential functions);

kontrak dan perjanjian dengan agen-agen yang khusus mengangani bencana (contracts and agreements with disaster support);

daftar sumber poternsial yang hendak dipulihkan (list of other potential recovery resources);

daftar perlengkapan dan peralatan organisasi (list of organization salvage equipment and supplies);

cetak biru atau informasi bangunan, seperti : switch catu daya, sistem pengaturan air dengan valve.

8.3.3. Proses Disaster Recovery Planning


Tahap ini meliputi mengembangan dan pembuatan rencana recovery yang mirip dengan proses BCP. Di sini, kita mengasumsikan bahwa identifikasi itu telah dibuat dan dasar pemikiran telah diciptakan. Sekarang kita tinggal menentukan langkah-langkah yang harus kita lakukan untuk melindungi bisnis itu ketika bencana yang sebenarnya terjadi. Langkah-Langkah di dalam tahap disaster planning process adalah sebagai berikut: Data Processing Continuity Planning. Perencanaan ketika terjadi bencana dan menciptakan rencana untuk mengatasi bencana tersebut. Disaster Recovery Plan Maintenance. Melihara rencana tersebut agar selalu diperbarui dan relevan.

15

8.3.3.a. Data Processing Continuity Planning


Berbagai cara proses backup adalah unsur-unsur terpenting dalam disaster recovery plan. Di bawah ini dapat lihat jenis-jenis proses yang paling umum: Mutual aid agreements Subcription services Multiple centers Service bureaus Data center backup alternatif lainnya

Penjelasan lebih rinci dari jenis-jenis proses diatas yaitu : Mutual Aid Agreements
Mutual aid agreements adalah suatu perjanjian dengan perusahaan lain yang mungkin punya kebutuhan komputasi serupa. Perusahaan lain mungkin punya bentuk wujud perangkat lunak atau perangkat keras serupa, atau memerlukan komunikasi data jaringan yang sama atau akses internet yang serupa dengan organisasi milik kita. Di dalam persetujuan ini, kedua belah pihak setuju untuk mendukung satu sama lain ketika suatu peristiwa yang mengganggu terjadi. Persetujuan ini dibuat dengan asumsi bahwa masing-masing operasi organisasi mempunyai kapasitas untuk mendukung operasi organisasi lain yang sejenis pada saat diperlukan. Ada keuntungan yang jelas dari perjanjian ini. Hal ini memungkinkan suatu organisasi untuk memperoleh tempat sementara untuk melakukan kegiatan operasionalnya ketika terjadi bencana dengan biaya yang sangat kecil atau tanpa biaya sama sekali. Juga, jika perusahaan mempunyai kebutuhan proses yang serupa, seperti sistem operasi jaringan yang sama, kebutuhan komunikasi data yang sama, atau prosedur proses transaksi yang sama prosedur, persetujuan jenis ini dilakukan. Persetujuan jenis ini mempunyai kerugian serius pula, bagaimanapun, dan benar-benar harus dipertimbangkan hanya jika organisasi mempunyai mitra yang sempurna dan tidak punya alternatif lain terhadap disaster recovery. Satu kerugiannya adalah mau tidak mau masing-masing infrastruktur organisasi harus mempunyai ekstra kapasitas yang tak terpakai untuk memungkinkan pengolahan operasional penuh sepanjang peristiwa yang mengganggu terjadi. Kekurangan yang paling besar dalam rencana jenis ini adalah apa yang akan terjadi ketika bencana tersebut cukup besar dan mempengaruhi kedua organisasi tersebut. Ketika keduanya mengalami bencana, keuntungan yang sedianya bisa diperoleh menjadi tidak lagi dimungkinkan. mungkin tepat dan dapat

Subscription Services

16

Jenis skenario lain yaitu dengan menggunakan jasa langganan (subcription services). Di dalam skenario ini, pihak ketiga, jasa komersial menyediakan proses backup dan fasilitas pemrosesannya. Jasa Langganan mungkin yang paling umum dilakukan. Jenis ini mempunyai kerugian dan keuntungan yang sangat spesifik. Terdapat tiga bentuk dasar subcription service dengan beberapa variasi: Hot Site Warm Site Cold Site

i. Hot Site
Ini adalah lokasi backup alternatif yang paling hebat. Hot site adalah suatu tempat yang mempunyai fasilitas komputer yang dipasok dengan daya listrik, pemanasan, ventilasi, dan proses pengaturan suhu, dan berfungsi sebagai file/print server dan workstation. Aplikasi yang diperlukan untuk mendukung proses transaksi secara remote di-install pada server dan workstation dan dijaga agar selalu up-to-date sesuai dengan kondisi operasional biasa. Lokasi jenis ini memerlukan pemeliharaan perangkat keras, perangkat lunak, data, dan aplikasi yang teratur untuk menjaga kesesuaian dengan kondisi biasanya. Hal ini memerlukan biaya administratif yang lebih dan cukup menghabiskan sumber daya. Keuntungan dari hot site ini cukup banyak. Keuntungan yang utama adalah bahwa ketersediannya selama 24/7. Hot site dapat digunakan secara cepat dan tersedia (atau di dalam toleransi waktu yang diperbolehkan) sesaat setelah peristiwa yang mengganggu terjadi.

ii. Warm Site


Warm site merupakan kombinasi antara hot site dan cold site. Seperti halnya hot site, pada warm site terdapat suatu fasilitas komputer yang tersedia dengan daya listrik dan HVAC, tetapi aplikasinya belum di-install atau dikonfigurasi. Untuk memungkinkan pengolahan secara remote pada lokasi jenis ini, workstation harus dikirimkan dengan cepat; dan aplikasi dan data mereka perlu di-restore dari backup media. Keuntungan warm site adalah sebagai berikut: Harga. Lebih murah dibanding hot site. Lokasi. Lokasi bisa dipilih lebih fleksibel. Sumber daya. Sumber daya yang digunakan lebih sedikit daripada sumber daya yang dibutuhkan hot site.

17

Kerugian yang utama dibandingkan dengan hot site, adalah diperlukannya waktu dan usaha yang lebih besar untuk memulai proses recovery di tempat yang baru. Jika proses operasional transaksi tidak begitu penting dan kritis, warm site dapat menjadi pilihan yang tepat.

iii. Cold Site


Cold site merupakan pilihan paling tidak siap dari ketiga pilihan yang ada, tetapi mungkin yang paling umum. Cold site berbeda dengan dua yang lain, cold site merupakan suatu ruang dengan daya listrik dan HVAC, tetapi komputer harus dibawa dari luar jika diperlukan, dan link komunikasi bisa ada ataupun tidak. File/print server harus dibawa masuk, seperti halnya semua workstation, dan aplikasi perlu diinstall dan data di-resore dari backup. Ada beberapa keuntungan cold site, bagaimanapun, yang menjadi alasan utama adalah biaya. Jika suatu organisasi mempunyai anggaran sangat kecil untuk suatu lokasi proses backup alternatif, cold site mungkin lebih baik dibanding tidak ada sama sekali.

Multiple Centers
Variasi untuk lokasi alternatif yang sebelumnya telah disebutkan sebelumnya dinamakan multiple centers, atau lokasi rangkap. Dalam suatu konsep multiple-center, proses pengolahan tersebar di beberapa pusat operasi, menciptakan suatu pendekatan reduncancy dan pembagian sumber daya tersedia. Multiple-center ini dimiliki dan diatur oleh organisasi yang sama (lokasi in-house) atau penggunaan bersama dengan beberapa macam persetujuan timbal balik. Keuntungannya terutama hanya semata-mata masalah finansial. Kerugian yang utama adalah relatif lebih sulit untuk dikelola.

Service Bureaus
Dalam kasus yang langka, suatu organisasi dapat mengontrak suatu kantor jasa/layanan untuk secara penuh menyediakan semua proses backup. Keuntungan yang besar pada jenis ini adalah ketersediaan dan tanggapan yang cepat kantor jasa/layanan dan uji coba bisa dilakukan. Kerugian dari jenis ini adalah biaya yang dibutuhkan cukup besar.

18

8.3.4. Hal-hal Lain Yang Perlu Diperhatikan Dalam Menyusun Disaster Recovery Plan
Berikut adalah daftar hal-hal lain yang perlu dipertimbangkan ketika membuat Information Disaster Recovery Plan sebuah perusahaan : memastikan keamanan para pekerja dan pengunjung pada lokasi di mana mereka berada; melindungi record dan informasi penting; memastikan keamanan fasilitas dan lokasi-lokasi bisnis; memastikan ketersediaan material, perlengkapan, dan peralatan; mengurangi risiko bencana yang diakibatkan oleh kesalahan manusia atau kegagalan peralatan yang digunakan; data-data dan fasilitas penting lainnya telah ditata dengan baik sehingga memudahkan proses pemulihan ketika bencana alam terjadi; memastikan kemampuan perusahaan untuk melanjutkan operasi setelah bencana; memulihkan record-record yang hilang atau rusak setelah bencana.

8.3.5. Informasi Yang Harus Ada Pada Disaster Recovery Plan


Pengetahuan tentang lingkup dan batasan disaster recovery plan memastikan harapan level manajemen itu bersifat realistik dan rencana memegang peranan penting di dalam memenuhi sasaran dan tujuan perusahaan. Disaster recovery plan harus memuat langkah-langkah dan aksi-aksi yang perlu dilakukan bila bencana terjadi. Sasaran spesifik perusahaan perlu tertulis pada disaster recovery plan. Secara umum, informasi yang terdapat pada disaster recovery plan harus mencakup hal-hal berikut : mengidentifikasi dan memberi perlindungan yang cukup terhaap record-record penting perusahaan atau program utama perusahaan; mengurangi risiko bencana yang diakibatkan oleh kesalahan manusia dan kegagalan peralatan atau gedung dengan mengadakan program training, pemeliharaan, dan sekuritas; memastikan kemampuan organisasi untuk beroperasi secara efektif setelah bencana dengan menerapkan kebijakan manajemen, prosedur, dan sumber daya yang diaktivasi pada situasi bencana; memastikan kemampuan organisasi untuk merekonstruksi informasi dan record-record yang rusak dengan cepat.

19

Informasi yang terdapat di dalam disaster recovery plan ditulis, disetujui, diimplementasikan, dan dievaluasi secara periodik untuk mengidentifikasi, melindungi, merekonstruksi, atau menyelamatkan catatan-catatan historis dan penting, serta membentuk prosedur pelaksanaan operasi bisnis ketika bencana terjadi.

8.3.6. Prasyarat Dalam Pembuatan Disaster Recovery Plan


Sebuah rencana untuk melindungi record bisnis akan menjadi tidak efisien jika recordrecord yang dilindungi tersebut tidak memiliki nilai historis, administratif, fiskal, penelitian, atau hukum. Untuk merekonstruksi atau menyelamatkan informasi yang tidak penting sangatlah membuang waktu dan uang. Oleh karena itu, perlu diperhatikan prasyarat apa saja yang perlu dilakukan sebelum membuat disaster recovery plan. Prasyarat tersebut dijabarkan sebagai berikut : Informasi dipandang sebagai Sumber Daya Perusahaan Perusahaan yang mengelola informasi selama siklus hidup informasi, dari pembuatan atau perumusan informasi, sampai ke penggunaan, penyimpanan, pengambilan kembali, dan pembuangan informasi, perlu menempatkan perencanaan terhadap bahaya di dalam program manajemen total perusahaan. Asuransi Yang Cukup Disaster recovery plan merupakan bentuk asuransi. Proses perencanaan menganjurkan agar program asuransi bisnis dimanfaatkan untuk melindungi aset perusahaan dan menyediakan proteksi liabilitas. Program ini sebaiknya telah diidentifikasi dan dilengkapi proteksi terhadap risiko dan bahaya tertentu. Disaster recovery plan mengidentifikasi secara elektrik. Program Record Yang Penting Pada saat terjadinya bencana, proses pemulihan dapat sangat memakan biaya. Oleh karena itu, penting bila record-record yang dilindungi, dipulihkan, direkonstruksi berisi informasi penting bagi kelanjutan operasi perusahaan. Identifikasi dan proteksi recordrecord yang penting ini merepresentasikan area di mana program penyimpan recordrecord penting dan disaster recovery plan saling overlap. Jadwal Penyimpanan Record Program penyimpan record-record penting dibangun berdasarkan jadwal penyimpan record yang terstruktur. Jadwal penyimpan record merupakan daftar yang memuat record-record, yang mengindikasikan serangkaian waktu yang perlu dijalani di lingkup kantor, pusat data, dan kapan informasi record ini dapat dihapus. Jadwal penyimpan record harus dibuat sebelum disaster recovery plan. Jadwal ini menyediakan informasi risiko tertentu seperti terjadinya banjir data pada tempat penyimpanan, kebakaran, badai, yang membahayakan record-record yang tersimpan

20

penting mengenai lokasi record, media tempat penyimpanan record, metode proteksi, dan nilai record individual. Sistem Klasifikasi dan Penggunaan Kembali Record Record-record yang tidak diklasifikasikan dengan baik tentunya akan meningkatkan biaya disaster recovery planning. Kendala utama adalah pada umumnya record-record belum dikelompokkan dalam unit file. Program Sekuritas Yang Cukup Program sekuritas untuk fasilitas dan informasi menyediakan kerangka kerja yang dapat dieksplorasi lebih lanjut pada pembuatan disaster recovery plan. Program sekuritas setidaknya memuat proteksi password komputer, proteksi informasi para pekerja, pembatasan daerah akses, detektor asap, dan lain sebagainya.

8.3.7. Perencanaan Yang Komprehensif Terhadap Disaster Recovery Plan


Sehubungan dengan bencana yang ada, terdapat berbagai tipe kerusakan atau kehilangan yang perlu dipertimbangkan, yaitu : fasilitas fisik (gedung, komputer, inventori, atau tempat kerja rusak); akses ke fasilitas (ruang rahasia); informasi (komputer rusak, harddisk crash); akses ke informasi (tidak terdapat akses database secara remote); sumber daya manusia (produksi, manager, pendukung).

Disaster recovery plan yang komprehensif harus mengalamati semua yang diperlukan untuk mendukung operasi bisnis yang sedang berjalan. Hal ini berarti setiap elemen fisik, setiap perangkat lunak, setiap sumber daya manusia, dan setiap proses bisnis perlu dipelajari dan dialamati. Informasi operasi dan finansial juga perlu dimasukkan. Rencana yang efektif mampu mengenali semua bencana yang potensial, dimulai dari perilaku alam hingga teroris atau cyberdisasters. Analisis berantai merupakan teknik yang berguna untuk mengalamati proses pemulihan aset fisik perusahaan. Bagian rencana ini seharusnya mengalamati bagaimana berhubungan dengan fasilitas penyimpanan dan manufaktur, sistem entri pesanan, pengepakan, sistem pembayaran, suku cadang, layanan konsumen, yang tidak tersedia. Karena waktu merupakan elemen utama, maka perlu untuk mengurangi waktu pemulihan untuk proses dan aplikasi penting hingga 24 jam atau kurang, dan untuk aplikasi yang kurang penting hingga 4 hari. Tiga tipe solusi yang perlu dipertimbangkan sebagai bagian dari proses perencanaan, yaitu :

21

perusahaan dapat membangun sistem yang redundansi, seperti memiliki dua buah pabrik yang terpisah lokasinya; melakukan perjanjian atau kerja sama dengan pusat data sehubungan dengan backup informasi penting mengasuransikan fasilitas-fasilitas tertentu sehingga dapat mengurangi biaya ketika bencana terjadi

Biasanya perusahaan memilih untuk mengkombinasikan ketiga solusi di atas. Vendor peralatan merupakan bagian yang penting lainnya. Biasanya vendor memiliki peralatan, staf, sumber finansial yang cukup untuk membantu dengan cepat ketika bencana terjadi. Hal penting lainnya sehubungan dengan disaster recovery plan adalah keperluan untuk mensosialisasikan disaster recovery plan itu sendiri.

8.3.8. Langkah-Langkah Untuk Mengatasi Bencana Sehubungan Dengan Disaster Recovery Plan
Setelah disaster recovery plan dibuat, maka perusahaan telah memiliki pedoman untuk menghadapi bencana. Lalu bagaimana langkah-langkah yang dapat diambil untuk menghadapi bencana ? Berikut diberikan langkah-langkah yang dapat diikuti : mendapatkan wewenang untuk menjalankan disaster recovery plan dan membentuk anggota tim menyediakan training dan pendidikan keselamatan bagi anggota tim seperlunya pada kondisi bencana, jalankan prosedur keselamatan dan evakuasi dahulu membunyikan alarm tanda bahaya dan memberitahu layanan emergensi memberitahukan tipe bencana pada manajemen atas mulai memanggil anggota tim pemulihan terhadap bencana semua anggota, level manajemen, dan departemen keselamatan harus memiliki kopi denah gedung yang memberitahukan jalan keluar dan perlengkapan keselamatan menaksir kerusakan mengimplementasikan prosedur untuk melindungi record-record penting pada lokasi masing-masing memberi tanda bagian-bagian yang rusak dan mengelompokkan bagian yang rusak dengan bagian yang tidak untuk bencana yang besar, lakukan pertemuan dengan perusahaan yang khusus menangani pemulihan perusahaan akibat bencana selanjutnya membuat perjanjian dengan perusahaan tersebut untuk melakukan pemulihan melakukan pemulihan

22

8.3.9. Disaster Recovery Plan Maintenance


Disaster Recovery Plan sering kali kadaluarsa. Perusahaan dapat menyusun kembali DRP-nya, bisnis unit yang kritis mungkin berbeda dibanding ketika rencana yang yang pertama diciptakan. Yang paling umum adalah berubahnya infrastruktur jaringan atau infrastruktur komputasi berubah (perangkat keras, perangkat lunak, dan lain komponennya). Pertimbangan boleh jadi administratif: DRP yang kompleks tidaklah dengan mudah dibaharui, personil kehilangan minat, atau terjadinya pergantian karyawan yang mempengaruhi keterlibatannya. Apapun alasannya, merencanakan teknik pemeliharaan harus dimulai sejak dari permulaan untuk memastikan bahwa rencana tersebut selalu up-to-date dan dapat dipakai. Adalah penting untuk membangun prosedur pengelolaan ke dalam organisasi dengan memasukkannya ke dalam job description masing-masing staf yang memusatkan tanggung jawab untuk selalu diperbaharui. Juga, menciptakan prosedur audit yang dapat melaporkan secara teratur atas status rencana tersebut. Adalah juga penting memastikan bahwa tidak ada versi yang ganda atas rencana tersebut, sebab hal tersebut bisa menciptakan kebingungan ketika terjadi suatu keadaan darurat.

8.3.9.a. Tes Perencanaan Pemulihan bencana


Tes terhadap rencana pemulihan bencana sangat penting (tape backup system tidak dapat di nyatakan bekerja hingga testes restorasi/perbaikan telah dilakukan), sehingga rencana pemulihan bencana memiliki banyak elemen yang hanya merupakan teori hingga elemen-elemen tersebut di tes dan diakui secara nyata. Tes terhadap rencana tersebut harus diciptakan dan percobaan harus dilakukan secara berurutan, dalam bentuk standar dan dilakukan pada basis reguler. Juga terdapat lima pengetesan pemulihan bencana yang spesifik yang harus diketahui oleh kandidat CISSP, latihan-latihan dan tes-tes pemulihan bencana yang reguler adalah secara berurutan dari setiap rencana pemulihan bencana. Tak ada kemampuan pemulihan yang didemonstrasikan hingga rencananya telah di tes. Setiap tes harus melatih setiap komponen rencana meminimalkan benturan-benturan dari kejadian-kejadian yang merusak. Alasan pengetesan Sebagai tambahan atas alasan umum untuk melakukan tes yang kita telah sebutkan sebelumnya, terdapat beberapa alasan khusus untuk melakukan tes, yang utama untuk menginformasikan manajemen kemampuan-kemampuan pemulihan perusahaan. Alasan-alasan lainnya yang lebih spesifikasi adalah sebagai berikut : Pengetesan memverifikasikan keakuratan/ketepatan prosedur-prosedur dan mengidentifikasikan kekurangan-kekurangan.

23

Pengetesan menyiapkan dan melatih personil-personil untuk melakukan tugas-tugas penting mereka. Pengetesan memverifikasikan kemampuan proses dari alternatif backup lapangan.

Membuat Dokumen Tes Untuk memperoleh keuntungan maksimal-maksimal koordinasi tes, sehingga dokumen outline skenario tes harus dibuat, yang berisi alasan pengetesan, tujuan tes dan jenis/tipe tes yang dijalankan (lihat lima tes di bawah). Juga di dalam dokumen seharusnya termasuk butir-butir detail apa yang terjadi selama tes, termasuk di bawah ini : 1. 2. 3. 4. 5. 6. Jadwal tes (schedule and timing). Durasi lama tes langkah-langkah spesifik dalam tes siapa yang menjadi partisipasi dalam tes petunjuk-petunjuk tugas untuk personil tes sumber daya dan layanan yang diminta (supply, hardware, software, dokumentasi) Konsep-konsep dasar yang pasti akan diaplikasikan pada prosedur tes, pada dasarnya tes harus tidak merusak/mengacaukan fungsi-fungsi normal bisnis, juga tes harus dimulai dengan jenis tes yang mudah (lihat seksi selanjutnya) dan dikerjakan hingga ke simulasi utama secara perlahan-perlahan, setelah tim recovery memperoleh keahlian-keahlian dalam tes. Hal yang penting diingat adalah bahwa alasan dari tes ini adalah untuk menemukan kelemahan dalam perencanaan tersebut. Jika ditemukan kelemahan, kemungkinan ini bukanlah tes yang akurat. Tes tersebut bukan sehingga kontes kualitas bagaimana rencana pemulihan yang baik/performa para pelaksana. Kesalahan-kesalahan akan terjadi dan ini adalah waktu untuk membuatnya. Dokumenkan masalah-masalah yang terjadi selama tes dilakukan dan update perencanaan di perlukan, lalu dilakukan tes lagi.

Lima Jenis Tes Disaster Recovery Plan


Ada 5 tipe tes rencana pemulihan bencana. Susunan di bawah ini adalah berdasarkan prioritas, dari yang paling sederhana hingga jenis/tipe tes yang paling lengkap. Setiap tes terlibat secara lebih progresif dan lebih akurat melukiskan tanggung jawab aktual perusahaan. Beberapa tipe-tipe tes, contohnya dua yang terakhir memerlukan investasi besar baik waktu, sumber daya dan koordinasi saat implementasi. Berikut ini adalah jenis/tipe tes :

24

Checklist Test. Duplikasi dari rencana tersebut didistribusikan ke masing-masing business units management. Rencana tersebut kemudian di-review untuk menjamin rencana tersebut terhubungkan memuaskan. Simulation Test. Selama tes simulasi, seluruh personil operasional dan support diharapkan menjalankan actual emergency meet pada sesi latihan. Tujuannya di sini adalah untuk menguji kemampuan personil dalam merespons simulasi bencana. Simulasi tersebut mengarah pada point relokasi untuk alternatif backup site atau menentukan prosedur pemulihan, tetapi tidak dilaksanakan proses pemulihan aktual atau proses alternatif. Paralel Test. Paralel adalah tes penuh dari rencana recovery, dengan menggunakan seluruh personil. Perbedaan antara paralel test dengan full interruption test selanjutnya adalah proses produksi utama pada bisnis tidak berhenti. Tujuan dari tes jenis ini adalah untuk memastikan bahwa critical system akan berjalan aktual pada alternatif proses backup site. Sistem-sistem tersebut direlokasikan ke site alternatif , proses paralel mulai dijalankan dan hasil transaksitransaksi dan elemen-elemen lainnya yang dibandingkan. Tipe ini yang paling umum dari tes disaster recovery plan. Full Interruption Test. Selama full interruption test, sesuatu bencana direplikasikan langsung ke sesuatu saat pelaksanaan produksi normal yang terhenti. Rencana tersebut secara keseluruhan di implementasikan seperti sebuah bencana yang nyata, langsung melibatkan emergency sevices (meskipun untuk tes yang lebih besar, local authorities mungkin di informasikan dan membantu cordinate). Tes tersebut merupakan bentuk tes yang sangat menakutkan, dari mana ini dapat menyebabkan sesuatu bencana pada tes tersebut. Ini juga merupakan jalan yang terbaik yang paling pasti untuk menguji disaster recovery plan. kesemua prosedur-prosedur dan area-area organisasi yang critical. Kenyataannya, ini dianggap sesuatu langkah pendahuluan tes yang nyata dan bukan tes yang

8.3.9.b. Prosedur-Prosedur Pemulihan Bencana


Seperti asuransi jiwa, berikut ini adalah prosedur-prosedur yang anda harapkan anda tidak akan pernah mengimplementasikan. Bagian dan rencana tersebut menjelaskan serinci aturan-aturan bermacam-macam personil yang berperan, apa tugas yang harus diimplementasikan untuk recover and salvage the site, bagaimana perusahaan berhadapan dengan grup-grup eksternal dan pertimbangan keuangan. Elemen-elemen utama dari proses recovery bencana dapat dijabarkan sebagai berikut: 1. Tim recovery 2. Salvage team

25

3. Normal operation resume 4. Isu-isu recovery lainnya

8.3.10. Disaster Recover untuk UKM [3]


Disaster recovery plan tak cuma monopoli perusahaan besar. UKM pun kini bisa memiliki dan memanfaatkannya, yang mungkin sangat berdampak terhadap daya tahan hidup perusahaan. Bencana datangnya tak terduga. Dalam hampir satu tahun belakangan ini, alam memang lagi menunjukkan kemurkaannya. Dari tsunami yang menimpa Aceh, topan Katrina dan Wilma yang memporakporandakan wilayah selatan dan tenggara AS, serta gempa besar yang melanda Kashmir di Pakistan. Selain korban jiwa dan harta benda, dampak pasca bencana pun tak kalah berat. Lumpuhnya ratusan bahkan ribuan usaha kecil dan menengah (UKM), dan besar juga sangat mempengaruhi ekonomi. Bagi perusahaan UKM, dampak bencana akan terasa lebih berat. Mungkin banyak dari perusahaan itu yang benar-benar kehilangan segalanya, sehingga sulit untuk bangkit. Kalaupun ada asuransi, yang dicakup sebagian besar adalah sarana fisiknya saja. Bagaimana dengan aset digitalnya? Kini banyak UKM yang menyimpan informasi penting, baik keuangan maupun data pelanggan, dalam bentuk digital, tersimpan di hard-drive maupun media penyimpanan lainnya. Kalau informasi ini tak terselamatkan, mungkin dibutuhkan waktu berbulan-bulan untuk mengembalikan seluruh informasi tersebut agar usaha kembali berjalan. Bagi perusahaan besar, masalah perlindungan informasi ini mungkin sudah tertata jauh lebih baik. Dari jauh hari mereka sudah mengantisipasi berbagai kemungkinan yang dapat mengancam keselamatan aset digital mereka, baik dari bencana alam maupun serangan teroris. Contohnya Lehman Brothers, sebuah perusahaan keuangan raksasa, yang kantor pusatnya luluh lantak bersamaan runtuhnya menara kembar WTC pada serangan 11 September 2001 di New York. Meski porak poranda, toh pada hari itu juga bagian treasury-nya masih sanggup menjalankan fungsi cash-management. Bahkan, keesokan harinya, perusahaan ini sudah memperdagangkan produk fixed-income-nya. Kurang dalam seminggu, 400 online tradernya sudah siap melakukan transaksi jual beli saham di bursa New York. Hal itu mungkin terjadi karena perusahaan ini memiliki disaster recovery di dua tempat, satu di New Jersey dan satunya lagi di London, Inggris. Di kedua tempat itulah tersimpan backup informasi penting milik perusahaan. Memang, itulah keistimewaan yang dimiliki perusahaan-perusahaan besar, yang dengan kocek tebalnya sanggup membangun sendiri disaster recovery center-nya. Atau, menyerahkannya ke pihak ketiga, seperti IBM dan Sungard, guna mengamankan data mereka, membantu memulihkan diri dari bencana, dan bahkan membantu mendirikan kantor sementara lengkap dengan semua infrastruktur teknologi informasi dan komunikasi yang dibutuhkan.

26

Bagi perusahaan sekelas UKM, fasilitas disaster recovery seperti yang dimiliki perusahaanperusahaan besar, mungkin tidak terjangkau. Namun, bukan berarti mereka tidak bisa membuat rencana untuk mengantisipasi bencana. Bencana seperti tsunami, gempa atau badai skala besar termasuk peristiwa langka. Namun bukan berarti ketika alam sedang ramah, bencana tidak akan terjadi. Misalnya Anda berkantor di rukan, bisa saja terjadi rukan tetangga Anda mengalami kebakaran yang merembet ke tempat Anda. Atau kantor Anda berada di daerah rawan banjir, misalnya. Nah, dalam menghadapi kejadian seperti ini, salah satu langkah antisipasi paling mudah dan sederhana, dan bisa dilakukan oleh perusahaan manapun, adalah membuat cadangan data. Seperti diungkapkan Robert Boyd, CEO Agility Recovery Solution, dengan memiliki copy catatan bisnis, seperti data akuntansi, dokumen-dokumen penting, maupun copy email bisnis, bisa membuat perbedaan yang signifikan antara menjaga perusahaan tetap bertahan atau bubar. Kalau Anda tidak menyimpan data dengan baik, sulit mengatasi bencana yang tiba-tiba terjadi, ujarnya. Bisa jadi Anda tidak lagi mengetahui siapa saja pelanggan Anda, seberapa besar hutang mereka, atau bagaimana menagihnya. Bahkan Anda tidak bisa mengetahui lagi inventaris perusahaan. Namun memiliki copy backup data saja menurut Boyd tidak cukup. Copy backup itu harus disimpan di tempat lain yang aman. Pemilik atau eksekutif perusahaan yang membawa copy tersebut ke rumah, atau menyimpan ke dalam kotak safe deposit biasanya sudah cukup memadai untuk mengantisipasi bencana kecil. Namun, untuk menghadapi bencana yang sifatnya regional seperti gempa atau tsunami, copy backup mungkin perlu disimpan di wilayah lain, atau propinsi lain. Selain itu, menurut Boyd, Anda memerlukan infrastruktur, yang tentunya berlokasi di luar kantor Anda, untuk me-recover backup data, dan kemudian menggunakannya agar roda bisnis tetap berjalan. Memiliki komputer backup, yang berisi aplikasi-aplikasi standar, seperti word processing, spreadsheet dan email dalam beberapa kasus sudah cukup memadai. Namun, jika usaha Anda menjalankan aplikasi khusus, seperti misalnya aplikasi akuntansi, ada baiknya komputer backup Anda juga memiliki aplikasi-aplikasi seperti ini. Komputer backup ini bisa Anda tempatkan di lokasi-lokasi yang Anda yakini cukup aman, misalnya rekanan, atau bahkan kerabat dekat yang Anda percayai. Planning dan Execise. Perencanaan juga merupakan bagian penting dari strategi disaster recovery untuk perusahaan kecil. Menurut Boyd, perencanaan ini meliputi pengumpulan informasi yang rinci untuk menghubungi karyawan-karyawan Anda dalam keadaan darurat. Selain itu, perencanaan ini juga meliputi latihan praktek menjalankan langkah-langkah disaster recovery yang Anda bangun.

27

Yang tak kalah penting, untuk perusahaan kecil sekalipun, disaster plan ini perlu dituangkan secara tertulis dan dibagi ke seluruh karyawan. Perencanaan ini memuat rincian peran dan tanggung jawab masing-masing karyawan pada saat bencana maupun pasca bencana. Rincian itu meliputi ke mana backup data dikirim, lokasi berkumpul pasca bencana, komunikasi antar karyawan, dan di mana alokasi alternatif untuk menjalankan perusahaan. Selain itu copy backup pun perlu dicoba untuk di-restore, guna memastikan bahwa backup tersebut memang benar-benar bisa berfungsi. Perencanaan menghadapi bencana tidak hanya berhenti sampai di situ. Anda tidak hanya perlu menjaga bisnis tetap berjalan, tapi juga mengamankan informasi yang tertinggal di lokasi kantor yang terkena bencana. Seandainya infrastruktur komputer milik perusahaan Anda selamat dari bencana, namun Anda tidak bisa menjangkau kantor karena seluruh akses jalan tertutup, tentunya hal ini akan berisiko terhadap keamanan informasi perusahaan. Ini berarti Anda harus menempatkan sistem security yang memadai untuk komputer Anda. Selain menggunakan user name dan password yang aman, data dan informasi yang tersimpan di komputer juga perlu di-enkripsi, khususnya untuk informasi-informasi yang bersifat sensitif. Pengamanan tersebut juga berlaku pada perangkat-perangkat mobile yang bisa menyimpan data atau informasi bisnis, seperti PDA, smartphone dan notebook. Dalam kondisi evakuasi, perangkat-perangkat mobile seperti ini sangat rentan hilang atau jatuh ke tangan orang lain. Bencana memang terkadang tak bisa dihindari atau ditolak. Namun, dengan membangun disaster recovery plan yang tepat, sosialisasikan ke kalangan karyawan, serta latihan yang rutin setidaknya bisa membuat perusahaan Anda memiliki kemungkinan lebih besar untuk kembali pasca bencana. Pada umumnya beberapa UKM akan menerapkan DRP yang baik agar aktifitas bisnisnya dapat tetap berjalan meskipun terjadi gangguan atau bencana. Mengacu pada topik security management practices, terlihat bahwa data keuangan dan data pegawai adalah dua data terpenting untuk sebuah UKM dari segi availability. Sementara berdasarkan analisa, sebuah UKM itu sering menghadapi ancaman ancaman sbb: 1. Penghapusan (destruction),misalnya: penghapusan data-data penjualan secara tidak sengaja , bencana banjir, kebakaran, kerusuhan, listrik mati atau virus. 2. Pencurian (theft/disclosure), misalnya: data penjualan atau rugi laba yaang bocor kepada semua pegawai. 3. Pengubahan (modification), misalnya: secara tidak sengaja mengubah nilai gaji dalam sistem penggajian pegawai. 4. Penipuan (fraud), misalnya: mengubah nilai gaji dalam sistem penggajian pegawai secara tidak sah, mengubah data penjualan secara tidak sah.

28

Untuk mengantisipasi ancaman ancaman yang mungkin timbul maka langkah langkah yang biasanya dilakukan oleh sebuah UKM adalah : 1. Ancaman Penghapusan (destruction) b. Bencana banjir Data diletakan ditempat yang kemungkinan tidak terkena banjir, termasuk backup data di kantor pusat dan mesin cash register di kantor cabang c. Kebakaran Setiap cabang mempunyai fire extinguisher didekat komputer operasional, dapur dan di dekat panel listrik. Mengharuskan mempunyai backup data 1 minggu terakhir yang disimpan dilemari tahan api. Data penjualan di kantor pusat menjadi backup data dari kantor cabang dengan selisih waktu 1 minggu. d. Kerusuhan Data dikirim ke kantor pusat minimum setiap minggu dan data transaksi disimpan dalam bentuk disket dan hardcopy. e. Listrik mati Semua komputer di kantor cabang maupun di kantor pusat diharuskan tersambung ke UPS f. Virus Semua komputer termasuk server diterapkan software anti virus dengan updatesetiap hari 1. Bekerja sama dengan pengelola gedung dalam membuat perencanaan penanggulangan bencana, khususnya terhadap aspek gangguan yang umum terjadi terhadap gedung, seperti kebakaran dan gangguan listrik. 2. Mempersiapkan UPS untuk setiap sumber daya sistem informasi yang menggunakan tenaga listrik. 3. Staf IT harus selalu melakukan up date anti virus, menjalankan back up secara rutin pada partisi hard disk server. 4. Karyawan diberikan pengarahan pengetahuan Perencanaan Pemulihan Bencana, termasuk agar berinisiatif untuk menggunakan komputer dengan sehat, dan rajin membuat back up di PC masing-masing.

29

8.4. Strategi Backup dan Recovery Data pada Disaster Recovery Center
8.4.1. Mekanisme Disaster Recovery Centre Secara Umum [7]
Strategi recovery yang akan dibahas dalam makalah ini adalah tentang proses pemindahan data pada sistem yang kritis ke pusat pengolahan data alternatif. Disaster Recovery Planning merupakan aktifitas yang penting. Disaster Recovery Plan didesain untuk menjamin kelangsungan proses bisnis yang vital jika terjadi disaster. Rencana ini merupakan solusi yang efektif yang dapat digunakan untuk merecover semua proses bisnis yang vital dalam jangka waktu yang diinginkan menggunakan record-record data vital yang disimpan secara off-line. Dalam implementasinya, disaster recovery planning memerlukan serangkaian langkah yang kompleks. Disaster recovery planning bukanlah pekerjaan yang dilakukan sekali dan langsung selesai pada saat itu juga, ia harus di-maintain dan dites secara berkala (dengan kata lain, disaster recovery planning merupakan pekerjaan yang dilakukan secara berkelanjutan). Skenario disaster recovery diperuntukkan untuk hal-hal tertentu, kehilangan akses ke pusat komputer, hilangnya di kemampuan komputer sistem tidak seperti dalam dapat

memproses data, dan terputusnya keterhubungan dengan jaringan. Skenario ini juga mengasumsikan bahwa semua peralatan ruang terselamatkan dan semua kemampuan kritis dari alat telekomunikasi telah hilang. Ketika terjadi disaster, petugas khusus akan mengambil tindakan cepat untuk memperingatkan Disaster Recovery Centre (DRC). Penyimpanan kembali data-data dari critical coverage (tempat data-data dari pusat komputer di-backup) ke pusat komputer dilakukan setelah pusat komputer itu beroperasi dengan baik. Adapun skenario disaster recovery adalah sbb : Pengiriman data dari Authorized User Data dan Software archived dalam bentuk off-site storage ke Disaster Recovery Center. Menghubungkan network lines ke DRC. Operating the Critical Applications on the Configuration at the Disaster Recovery Center Menyediakan Critical Coverage pada Disaster Recovery Center Menyediakan workspace dan peralatan yang dibutuhkan.

30

8.4.2. Strategi Backup dan Recovery Data


Salah satu keuntungan dari network storage berbasis IP adalah membuat customer bisa memilih arsitektur penyimpanan yang seperti apa (distributed atau centralized) sesuai dengan kebutuhan perusahaan. Dengan mempertimbangkan manajemen backup dan proses recovery, beragam strategi implementasi dapat diterapkan. Strategi implementasi pertama yang akan dibahas adalah offline backup ke media tape.

8.4.2.a. Offline Backup Solutions


Hampir setiap customer dengan storage deployment mengimplementasikan beberapa jenis dari metode backup. Offline backup adalah sebuah mekanisme yang melibatkan proses pembuatan copy-an data dari primary storage (di filers) ke offline media seperti tape. Proses ini menghubungkan tape drives langsung ke filers. Gambar tiga menggambarkan secara umum topologi jaringan untuk Offline Backup. Sebagai tambahan, topologi jaringan ini bisa menggunakan SCSI, Fibre Channel, atau Ethernet network fabric.

Metode offline backup ada dua, yaitu:

31

8.4.2.b. Disk-to-Tape Deployment


Penyebaran backup tipe NAS (Network Attached Storage) termasuk satu atau lebih aplikasi server backup yang ada di pusat data. Dengan peningkatan dalam penerapan konfigurasi backup berbasis NDMP, tidak ada batasan pada lokasi fisik dari NDMP-compliant backup servers.

Gambar 2

8.4.2.c. Disk-to-Disk-to-Tape Deployment


Pendekatan unik lain untuk backup berbasis LAN adalah sebuah teknologi baru dari NetApp, seperti produk NearStore, yang mendukung efektifitas mekanisme backup disk to disk. Software NetApp's SnapMirror dapat digunakan untuk replikasi data asyncronous melalui sebuah IP/Ethernet connection dari filers di remote sites ke NearStore appliance yang terletak di central site, dengan kapasitas penyimpanan yang besar yang tidak mahal, dimana dapat digunakan untuk mereplikasi data dari remote site. Gambar 5 menunjukkan contoh topology yang menggunakan NearStore dan teknologi SnapMirror.

32

8.4.3. Online Data Protection Solutions


Proses offline backup saja tidak cukup untuk memberikan jaminan proteksi data pada sebuah perusahaan bila terjadi data loss dalam proses backup data dari client ke filler. Oleh karena itu dibutuhkan online data protection untuk menangani masalah di atas. Salah satu bentuk online data protection yang dapat diterapkan pada DRC adalah Remote Site Disaster Recovery Plihan konfigurasi untuk remote site disaster recovery sangat beragam tergantung pada jarak antara sites, level redundansi yang dibutuhkan, dan metode lain untuk data recovery.

8.4.3.a. Active/Passive
Filer A di Site A di dalam gambar di bawah ini menggunakan teknologi SnapMirror untuk mengupdate data di Filer B di Site B. Dengan demikian, Filer B berperan sebagai tempat backup online untuk data dari filer A.

33

Gambar 4 Misalkan terjadi disaster di site A, copyan online dari data di filer B dapat dikonversi menjadi bentuk read/write ketika filer A berhenti melakukan snap mirror ke site B. Clients yang terhubung dengan Filer A dapat memulai mengakses data dari filer B. Ketika Filer A bisa berfungsi dengan baik lagi dan online, volume dan snapshot dari filer B dapat dikembalikan kembali ke filer A.

8.4.3.b. Active/Active
Konfigurasi disaster recovery active/active dalam gambar 7 mirip dengan konfigurasi active/passive terkecuali bahwa Site B juga digunakan sebagai production site. Setelah data dari filer A di replikasi ke filer B, data di filer B juga direplikasi kembali ke filer A dengan Snapmirror untuk perlindungan dua arah. Ini membuat kedua site bisa saling me-recover jika terjadi disaster di salah satu site. Setiap site juga terus melayani permintaan data dari local clients.

Gambar 5

34

Copy-an data dari hasil SnapMirror di site B dapat ditransfer ke tape library di site A untuk memusatkan operasi backup melalui multiple sites.

8.4.3.c. Multisite Topologies


Teknologi Snap Mirror yang dipakai di konfigurasi Multisite Topologies bisa disesuaikan arahnya. Multisite topologies digunakan di perusahaan besar yang mempunyai data center yang tersebar di berbagai benua. Contoh konfigurasi seperti ditunjukkan pada gambar 6 dapat mengatur disaster recovery dari 3 site.Site-site ini dapat terletak di dalam kampus, area metropolitan, atau antar negara. SnapMirror dapat dilakukan di Filer A, B, dan C dalam mode siklik. Volume data dan snapshot dari filer A direplikasi ke filer B, filer B ke Filer C, dan Filer C kembali ke Filer A. Hal ini memungkinkan data di sembarang site dapat diakses dari site pasangannya. Misalkan filer B di site B rusak, maka client-nya dapat mengakses data yang sudah di-copy dari Filer C. Dengan metode ini, jika terjadi disaster di salah satu site dapat ditanggulangi oleh site pasangannya. Data dari Site B dan Site C dapat direplikasi menggunakan SnapMirror ke data center Site A dan dipindahkan ke tape library selama penyimpanan offline.

35

8.4.3.d. Perbandingan Konfigurasi Active/Passive, Active/Active dan Multisite Topologies


Masing-masing konfigurasi untuk menerapkan online data protection memiliki kelebihan dan kekurangan. Konfigurasi Active/Active memiliki keunggulan pada proteksi dua arah. Dengan proteksi ini, jika terjadi disaster di salah satu site, maka kedua site bisa saling merecover. Selain itu, kedua site dalam konfigurasi Active/Active bisa berfungsi sebagai production site. Konfigurasi Multisite Topologies memiliki kehandalan dalam mengintegrasikan datadata yang berbeda dari banyak remote site.

8.4.4. Contoh Implementasi Recovery Sistem Operasi di UNIX


A. Langkah Proses Recovery Dalam disaster recovery, proses recovery sistem operasi merupakan satu hal yang sangat penting. Berikut adalah bagan proses recovery untuk Sistem Operasi jika terjadi kerusakan pada sistem operasi, backup software, dan server index serta file konfigurasi.

36

Gambar 7 B. Jenis-jenis Proses Recovery Sistem Operasi Ada dua metode yang biasa dipakai dalam proses recovery sistem operasi, yaitu menggunakan autochanger (autochanger berfungsi untuk membuat media loading dan mounting functions berjalan dengan otomatis selama proses backup dan recover) atau stand-alone drive. Untuk masing-masing metode, ada beberapa opsi untuk melakukan recovery sistem operasi. Opsi tersebut antara lain complete reinstallation (keseluruhan) atau partial reinstallation (sebagian). Penjelasan untuk masing-masing opsi tersebut adalah sbb : Complete Reinstallation Ketika kita melakukan complete reinstallation, yang kita lakukan adalah menginstall semua file sistem operasi dan menciptakan kembali konfigurasi unik apa saja yang ada sebelum terjadi kehilangan data atau disk crash. Pada beberapa kasus, recovery sistem operasi dapat lebih cepat bila dilakukan dengan complete reinstallation, khususnya bila kita menginstall sistem operasi dari CD dan kita memiliki sangat sedikit konfigurasi khusus yang harus dilakukan. Kecepatan complete reinstallation

37

tergantung kepada kecepatan dari backup device dan kecepatan jaringan. Proses complete reinstallation sendiri bisa saja lebih lama bila dilakukan untuk me-recover sisa file dan konfigurasi yang menggunakan backup selama prosedur disaster recovery. Yang harus diperhatikan adalah jika kita memiliki device dengan konfigurasi default, yang tidak didukung secara langsung oleh sistem operasi, kita juga harus memodifikasi file konfigurasi di device itu selama instalasi. Partial Reinstallation Di sisi lain, partial installation memungkinkan Backup Server berjalan dengan cepat, sehingga kita bisa berkonsentrasi pada proses disaster recovery itu sendiri. Selanjutnya, kita bisa merecover sisa dari file sistem operasi menggunakan Backup. Kita tentu saja akan sangat menghemat waktu jika kita memiliki jumlah client yang banyak dan jumlah device di jaringan yang cukup banyak untuk dikonfigurasi. Proses recover yang menggunakan backup, akan sangat menjamin bahwa server, client dan device akan dikonfigurasi ulang tepat seperti saat sebelum terjadinya disaster. Partial installation mengharuskan kita untuk melakukan beberapa langkah berikut ini: Jika perlu, pilihlah sebuah domain untuk system Installah file dasar sistem operasi dan software device driver Pastikan sistem yang dibangun berjalan dengan baik di jaringan.

Adapun kesamaan untuk kedua opsi ini (complete/partial installation) adalah kita harus menjalankan perintah tar untuk memastikan bahwa tape drive berfungsi dengan baik. 1. Recovery dengan menggunakan autochangers (JUKEBOXES) Autochangers dijalankan selama disaster recovery dimana kita mengalami

kehilangan indeks-indeks Backup server dan file-file konfigurasi. File-file konfigurasi itu terdapat di path (direktori) kondisi, yaitu: /nsr/res. Autochangers sering digunakan pada dua

38

apabila

terjadi

kehilangan

indeks-indeks

di

Backup

server

dan

file-file

konfigurasi di server asal pada saat kita memindahkan file backup dan kita harus me-recover indeks yang ada serta file konfigurasi ke server yang baru. Program yang me-recover indeks-indeks dan file konfigurasi tidak mengenal autochangers. Konsekuensinya, kita harus menggunakan autochanger seakan-akan autochanger itu merupakan standalone drive untuk bagian dari recovery itu. Gunakan kontrol panel autochanger untuk melakukan mount dan unmount dari volume backup yang penting. Setelah me-recover indeks dan file-file konfigurasi, kita akan memiliki semua file konfigurasi autochanger yang asli kembali ke tempatnya. Kita sekarang bisa menggunakan autochanger untuk me-recover sisa data kita. PENAMBAHAN DAN KONFIGURASI AUTOCHANGER Jika kita ingin me-recover dengan autochanger, maka ada beberapa hal yang harus kita ketahui, seperti: Jika autochanger memiliki lebih dari satu drive, maka gunakanlah drive yang pertama untuk recovery. Kita tidak akan mampu menggunakan fungsionalitas penuh dari autochanger ketika menyimpan kembali indeks-indeks server dan file konfigurasi. Kita harus menggunakan tombol backup mount dan tombol unmount serta kontrol panel autochanger untuk mount dan unmount volume. Ketika kita me-recover indeks-indeks server dan file konfigurasi, kita merecover file konfigurasi autochanger seakan-akan file-file dan indeks-indeks itu ada pada saat proses backup yang terakhir, termasuk inventory dari autochanger itu. Langkah-langkah untuk melakukan disaster recovery dengan autochanger: Jika perlu, install kembali system operasi dan software backup.

39

Jalankan perintah jbconfig untuk menambah dan mengkonfigur autochanger. Jalankan perintah nsrjb vHE. Jika opsi E tidak disupport oleh autochanger, gunakan /etc/LGTOuscsi/sjiielm untuk menginisialisasi status elemen. Perintah nsrjb vHE me-reset autochanger untuk melakukan operasi, mengeluarkan volume backup, menginisialisasi kembali elemen status, dan memeriksa setiap slot untuk sebuah volume.

Temukan lokasi data bootstrap, baik dalam bentuk file elektronik atau hardcopy. Dengan informasi dari data bootstrap, tentukan volume mana yang penting untuk me-recover indeks-indeks server dan file konfigurasi.

Ketikkan perintah nsrjb I untuk melakukan inventory terhadap isi dari autochanger, untuk membantu kita memutuskan jika volume yang dibutuhkan untuk me-recover bootstrap berada di luar autochanger.

Load volume yang tepat dengan mengetikkan perintah: # nsrjb -l -S slot -f device-name Slot adalah slot dimana volume pertama diletakkan dan device-name adalah nama path dari drive pertama. Kita juga bisa, sebagai ganti dari perintah ini menggunakan tombol Backup Mount.

Ketik mmrecov. Jika bootstrap spans melintasi lebih dari satu volume, maka proses backup akan mengingatkan kita untuk me-load volume backup yang lain.

Unmount volume tersebut setelah indeks-indeks selesai di-recover dengan mengetikkan perintah : # nsrjb -u -S slot -f device-name Atau kita juga bisa menggunakan tombol backup unmount.

Shutdown backup. Ubah nama direktori /nsr/res menjadi /nsr/res.orig

40

Ubah nama direktori /nsr/res.R Restart Backup

menjadi /nsr/res

2. Recovery dengan Stand-Alone drive Jika kita memilih untuk menggunakan drive yang ada di autochanger, maka kita harus memperhatikan hal-hal berikut ini: Jika autochanger memiliki lebih dari satu drive, maka gunakanlah drive yang pertama untuk recovery. Secara manual, kita harus melakukan mount terhadap volume backup yang dibutuhkan untuk me-recover indeks-indeks server dan file-file konfigurasi. Jika kita membuang volume backup dari autochanger cartridge yang digunakan untuk me-recover indeks-indeks backup dan file-file konfigurasi, pastikan untuk meletakkan mereka kembali dalam satu slot ketika semua proses telah selesai dilaksanakan. LANGKAH-LANGKAH UNTUK MELAKUKAN DISASTER RECOVERY DENGAN STAND-ALONE DRIVE: Jika perlu, install kembali sistem operasi dan software backup. Tentukan letak data bootstrap, baik dalam bentuk file elektronik atau hardcopy. Dengan informasi dari data bootstrap, tentukan volume mana yang penting untuk me-recover indeks-indeks server dan file konfigurasi. Secara manual, mount volume yang bersesuaian ke dalam drive. Ketikkan perintah mmrecov. Shutdown backup. Ubah nama direktori /nsr/res menjadi /nsr/res.orig

41

Ubah nama direktori /nsr/res.R Restart Backup Ketikkan perintah nsrjb -vHE.

menjadi /nsr/res

Perintah ini me-reset autochanger untuk operasi, mengeluarkan volume backup, menginisialisasi status elemen, dan memeriksa setiap slot untuk sebuah volume. Jika sebuah volume berada di dalam sebuah drive, volume itu akan di-remove dan ditempatkan dalam sebuah slot. Lakukan inventory terhadap isi dari autochanger dengan menggunakan perintah nsrjb-I atau gunakan perintah inventory ini dalam program administrator.

42

Daftar Pustaka

[1]. Jonatan A. Lassa, Pengenalan Disaster Risk Management (DRM), http://ww.ppiuk.org/files/jlassa_introduction_drm.pdf, diakses pada 10 Desember 2005 [2]. Yahya, Disaster Recovery Planning, budi.insan.co.id/courses/ ec7010/dikmenjur/yahyareport.doc, diakses pada 11 Desember 2005 [3]. Arief. 2005. Disaster Recovery untuk UKM. eBizz Asia, Volume IV No 31, NovemberDesember 2005 [4]. Disaster Recovery Information, http://recovery-disaster.info/?gclid=COGl6ajRIECFUwsGAodiT50lw#copy. diakses pada 10 Desember 2005 [5]. Krutz, R. L. & Vines R. D. 2003. The CISSP Prep Guide: Gold Edition. Indiana: Wiley Publishing, Inc. [6]. Contingency Planning For The Small Enterprise, http://www.contingency-planningdisaster-recovery-guide.co.uk/index.htm. Diakses pada 10 Desember 2005 [7]. Strategi Backup dan Recovery Data pada Disaster Recovery Center , http://www.ristishop.com/portal /portal_article_detail.php?id=243&lang=. Diakses pada 12 Desember 2005

43