Anda di halaman 1dari 10

Daftar isi

BAB I Pendahuluan...1 BAB II Pengertian...2 Aliran dalam Suply Chain Management.......3 Komponen Rantai supply.3 Pokok pokok permasalahan dalam Supply chain management.4 Fungsi Supply chain management.4 Hambatan pada Supply chain management...6 BAB III Kesimpulan....8 Daftar Pustaka...9

BAB I
1

Pendahuluan

Dengan tercapainya kordinasi yang baik antara rantai pasok sebuah perusahaan maka di tiap channel rantai pasok tidak akan mengalami kekurangan ataupun kelebihan barang.Sehingga penurunan biaya pun dapat dicapai. Jika sebuah perusahaan memegang barang terlalu banyak maka biaya yang akan timbul semakin mahal, biaya-biaya tersebut timbul dari: 1. Harus menempatkan karyawan yang lebih banyak untuk mengurus barang selama penyimpanan. 2. Akan timbul biaya perawatan yang lebih selama barang tersebut disimpan, sebagai contoh ice cream maka akan dibutuhkan lemari pendingin yang lebih banyak sebagai dampaknya biaya listrik pun meningkat Permintaan pasar terhadap suatu barang sangat fluktuatif sehingga ketersediaan barang di suatu perusahaan harus dapat flexibel. Jika perusahaan tidak dapat meres-pon kebutuhan pasar maka akibatnya kepuasan pelanggan akan menurun yang dapat berakibat kehilangan pelanggan. Demi menjaga ketersediaan barang maka pemasok harus dapat merespon secara cepat apa dan berapa banyak barang yang dibutuhkan oleh perusahaan. Maka adanya kolaborasi yang baik antara sebuah perusahaan dan pemasok harus bagus demi menjamin ketersediaan barang mentah yang nantinya akan diproses oleh perusahaan menjadi barang jadi. Dengan kolaborasi yang baik dapat menghilangkan hal-hal yang dapat memper-lambat proses pengiriman barang ke pelanggan seperti lead time yang terlalu lama karena pemasok tidak siap akan permintaan yang fluktuatif dapat di cegah, jalur distribusi barang dari perusahaan ke distributor dapat dipersingkat. Semua itu akan berdampak kepada kepuasan pelanggan yang meningkat sehingga kesetiaan pelanggan untuk menggunakan produk tersebut meningkat. Seperti kita ketahui bahwa di marketing ada yang namanya marketing mix yaitu roduct, place, price dan promotion. Maka dengan kolaborasi yang baik dari pemasok hingga distributor maka perusahaan dapat memenangkan product, placedan price. Dikarenakan kualitas barang yang dihasilkan akan meningkat,kecepatan dan ketersediaan barang terjamin dan harga yang dijual dapat kompetitif dikarenakan proses yang efektif dan efisien.

BAB II
2

Manajemen rantai suplai


Manajemen Rantai Suplai (Supply chain management) adalah sebuah proses payung di mana produk diciptakan dan disampaikan kepada konsumen dari sudut struktural. Sebuah supply chain (rantai suplai) merujuk kepada jaringan yang rumit dari hubungan yang mempertahankan organisasi dengan rekan bisnisnya untuk mendapatkan sumber produksi dalam menyampaikan kepada konsumen. (Kalakota, 2000, h197) Hanfield dalam bukunya Supply Chain Redesign (2002:8) mendefinisikan SCM sebagai berikut:". merupakan integrasi dan organisasi pengelolaan rantai suplai dan kegiatan melalui hubungan organisasi koperasi, proses bisnis yang efektif, dan tingkat tinggi berbagi informasi untuk menciptakan sistem nilai berkinerja tinggi yang memberikan organisasi anggota keunggulan kompetitif yang berkelanjutan " Tujuan yang hendak dicapai dari setiap rantai suplai adalah untuk memaksimalkan nilai yang dihasilkan secara keseluruhan (Chopra, 2001, h5). Rantai suplai yang terintegrasi akan meningkatkan keseluruhan nilai yang dihasilkan oleh rantai suplai tersebut. Ada dua fokus utama dalam suply chain yaitu efesiensi yang tinggi (costefficiancy) dan responsiveness yang tinggi. Dalam melakukan semua aktifitas supply chain diusahakan dengan biaya yang rendah untuk mencapai hal itu maka diperlukan untuk menentukan channel yang dipilih harus berbiaya rendah dan menentukan jumlah gudang yang tidak terlalu banyak tetapi dapat memenuhi kebutuhan sehingga tidak ada keterlambatan pasokan barang. Pengertian Suply chain adalah Sebuah rangkaian atau jaringan perusahaanperusahaan yang bekerja secara bersama-sama untuk membuat dan menyalurkan produk atau jasa kepada konsumen akhir. Rangkaian atau jaringan ini terbentang dari penambang/ penghasil bahan mentah (di bagian hulu) sampai retailer / toko (pada bagian hilir). Jadi dapat kita simpulan , Supply chain management (SCM)adalah serangkaian pendekatan yang digunakan untuk secara efisien mengintegrasikan pemasok, produsen, gudang dan toko, sehingga barang diproduksi dan didistribusikan pada jumlah yang tepat, ke lokasi yang benar dan pada waktu yang tepat, untuk meminimalkan sistem biaya yang tinggi tetapi padatingkat layanan yang memuaskan Manajemen Rantai Suplai mengkoordinasi kan bahan, informasi dan arus keuangan antara perusahaan yang berpartisipasi. Manajemen rantai suplai bisa juga berarti seluruh jenis kegiatan komoditas dasar hingga penjualan produk akhir ke konsumen untuk mendaur ulang produk yang sudah dipakai.

Dalam sebuah SC terdapat tiga aliran:


3

Aliran material melibatkan arus produk fisik dari pemasok sampai konsumen melalui rantai, sama baiknya dengan arus balik dari retur produk, layanan, daur ulang dan pembuangan. Aliran informasi meliputi ramalan permintaan, transmisi pesanan dan laporan status pesanan, arus ini berjalan dua arah antara konsumen akhir dan penyedia material mentah. Aliran keuangan meliputi informasi kartu kredit, syarat-syarat kredit, jadwal pembayaran dalam penetapan kepemilikandan pengiriman. (Kalakota, 2000, h198)

Menurut Turban, Rainer, Porter (2004, h321), terdiri dari 3 macam bagian/komponen rantai suplai, yaitu: 1.Rantai Suplai Hulu/Upstream supply chain Bagian upstream (hulu) supply chain meliputi aktivitas dari suatu perusahaan manufaktur dengan para penyalurannya (yang mana dapat manufaktur, assembler, atau kedua-duanya) dan koneksi mereka kepada pada penyalur mereka (para penyalur second-trier). Hubungan para penyalur dapat diperluas kepada beberapa strata, semua jalan dari asal material (contohnya bijih tambang, pertumbuhan tanaman). Di dalam upstream supply chain, aktivitas yang utama adalah pengadaan. 2.Manajemen Internal Suplai Rantai/Internal supply chain management Bagian dari internal supply chain meliputi semua proses pemasukan barang ke gudang yang digunakan dalam mentransformasikan masukan dari para penyalur ke dalam keluaran organisasi itu. Hal ini meluas dari waktu masukan masuk ke dalam organisasi. Di dalam rantai suplai internal, perhatian yang utama adalah manajemen produksi, pabrikasi, dan pengendalian persediaan. 3.Segmen Rantai Suplai Hilir/Downstream supply chain segment Downstream (arah muara) supply chain meliputi semua aktivitas yang melibatkan pengiriman produk kepada pelanggan akhir. Di dalam downstream supply chain, perhatian diarahkan pada distribusi, pergudangan, transportasi, dan after-sales-service.

Didalam Manajemen Suply chain ,kita akan membahas Pokok Pokok permasalahan ,diantaranya sbb:

Distribusi Konfigurasi Jaringan: Jumlah dan lokasi supplier, fasilitas produksi, pusat distribusi ( distribution centre/D.C.), gudang dan pelanggan. Strategi Distribusi: Sentralisasi atau desentralisasi, pengapalan langsung, Berlabuh silang, strategi menarik atau mendorong, logistik orang ke tiga. Informasi: Sistem terintregasi dan proses melalui rantai suplai untuk membagi informasi berharga, termasuk permintaan sinyal, perkiraan, inventaris dan transportasi dsb. Manajemen Inventaris: Kuantitas dan lokasi dari inventaris termasuk barang mentah, proses kerja, dan barang jadi. Aliran dana: Mengatur syarat pembayaran dan metodologi untuk menukar dana melewati entitas didalam rantai suplai.

Eksekusi rantai suplai ialah mengatur dan koordinasi pergerakan material, informasi dan dana diantara rantai suplai tersebut. Alurnya sendiri dua arah. Aktivitas/Fungsi Manajemen supply chain Manajemen rantai suplai ialah pendekatan antar-fungsi (cross functional) untuk mengatur pergerakan material mentah kedalam sebuah organisasi dan pergerakan dari barang jadi keluar organisasi menuju konsumen akhir. Sebagaimana korporasi lebih fokus dalam kompetensi inti dan lebih fleksibel, mereka harus mengurangi kepemilikan mereka atas sumber material mentah dan kanal distribusi. Fungsi ini meningkat menjadi kekurangan sumber ke perusahaan lain yang terlibat dalam memuaskan permintaan konsumen, sementara mengurangi kontrol manajemen dari logistik harian. Pengendalian lebih sedikit dan partner rantai suplai menuju ke pembuatan konsep rantai suplai. Tujuan dari manajemen rantai suplai ialah meningkatkan ke[percayaan dan kolaborasi diantara rekanan rantai suplai, dan meningkatkan inventaris dalam kejelasannya dan meningkatkan percepatan inventori. Secara garis besar, fungsi manajemen ini bisa dibagi tiga, yaitu distribusi, jejaring dan perencaan kapasitas, dan pengembangan rantai suplai.[1] Sedangkan Aktivitas suplai rantai bisa dikelompokan ke tingkat strategi, taktis, dan operasional. Strategis

Optimalisasi jaringan strategis, termasuk jumlah, lokasi, dan ukuran gudang, pusat distribusi dan fasilitas Rekanan strategis dengan pemasok suplai, distributor, dan pelanggan, membuat jalur komunikasi untuk informasi amat penting dan peningkatan operasional seperti cross docking, pengapalan langsung dan logistik orang ketiga Rancangan produk yang terkoordinasi, jadi produk yang baru ada bisa diintregasikan secara optimal ke rantai suplai,manajemen muatan Keputusan dimana membuat dan apa yang dibuat atau beli Menghubungkan strategi organisasional secara keseluruhan dengan strategi pasokan/suplai

Taktis
5

Kontrak pengadaan dan keputusan pengeluaran lainnya Pengambilan Keputusan produksi, termasuk pengontrakan, lokasi, dan kualitas dari inventori Pengambilan keputusan inventaris, termasuk jumlah, lokasi, penjadwalan, dan definisi proses perencanaan. Strategi transportasi, termasuk frekuensi, rute, dan pengontrakan Benchmarking atau pencarian jalan terbaik atas semua operasi melawan kompetitor dan implementasi dari cara terbaik diseluruh perusahaan Gaji berdasarkan pencapaian

Operasional

Produksi harian dan perencanaan distribusi, termasuk semua hal di rantai suplai Perencanaan produksi untuk setiap fasilitas manufaktru di rantai suplai (menit ke menit) Perencanaan permintaan dan prediksi, mengkoordinasikan prediksi permintaan dari semua konsumen dan membagi prediksi dengan semua pemasok Perencanaan pengadaan, termasuk inventaris yang ada sekarang dan prediksi permintaan, dalam kolaborasi dengan semua pemasok Operasi inbound, termasuk transportasi dari pemasok dan inventaris yang diterima Operasi produksi, termasuk konsumsi material dan aliran barang jadi (finished goods) Operasi outbound, termasuk semua aktivitas pemenuhan dan transportasi ke pelanggan Pemastian perintah, penghitungan ke semua hal yang berhubungan dengan rantai suplai, termasuk semua pemasok, fasilitas manufaktur, pusat distribusi, dan pelanggan lain

Strukturisasi dan Tiering Jika dilihat lebih dekat pada apa yang terjadi dalam kenyataannya, istilah rantai suplai mewakili sebuah serial sederhana dari hubungan antara komoditas dasar dan produk akhir. Produk akhir membutuhkan material tambahan kedalam proses manufaktur. Arus Material dan Informasi Tujuan dalam rantai suplai ialah memastikan material terus mengalir dari sumber ke konsumen akhir. Bagian-bagian (parts) yang bergerak didalam rantai suplai haruslah berjalan secepat mungkin. Dan dengan tujuan mencegah terjadinya penumpukan inventori di satu lokasi, arus ini haruslah diatur sedemikian rupa agar bagian-bagian tersebut bergerak dalam koordinasi yang teratur. Istilah yang sering digunakan ialah synchronous. (Knill, 1992) tujuannya selalu berlanjut, arus synchronous. Berlanjut artinya tidak ada interupsi, tidak ada bola yang jatuh, tidak ada akumulasi yang tidak diperlukan. Dan synchronous berarti semuanya berjalan seperti balet. Bagian-bagian dan komponen-komponen dikirim tepat waktu, dalam sekuensi yang seharusnya, sama persis sampai titik yang mereka butuhkan.

Terkadang sangat susah untuk melihat sifat arus "akhir ke akhir" dalam rantai suplai yang ada. Efek negatif dari kesulitan ini termasuk penumpukan inventori dan respon tidak keruan pada permintaan konsumen akhir. Jadi, strategi manajemen membutuhkan peninjauan yang holistik pada hubungan suplai. Teknologi informasi memungkinkan pembagian cepat dari data permintaan dan penawaran. Dengan membagi informasi di seluruh rantai suplai ke konsumen akhir, kita bisa membuat sebuah rantai permintaan, diarahkan pada penyediaan nilai konsumen yang lebih. Tujuannya ialha mengintegrasikan data permintaan dan suplai jadi gambaran yang akuarasinya sudah meningkatdapat diambil tentang sifat dari proses bisnis, pasar dan konsumen akhir. Integrasi ini sendiri memungkinkan peningkatan keunggulan kompetitif. Jadi dengan adanya integrasi ini dalam rantai suplai akan meningkatkan ketergantungan dan inventori minimum.[3] Hambatan pada Supply Chain Management (SCM) SCM merupakan sesuatu yang sangat kompleks sekali, dimana banyak hambatan yang dihadapi dalam implementasinya, sehingga dalam implementasinya memang membutuhkan tahapan mulai tahap perancangan sampai tahap evaluasi dan continuous improvement. Selain itu implementasi SCM membutuhkan dukungan dari berbagai pihak mulai dari internal dalam hal ini seluruh manajemen puncak dan eksternal, dalam hal ini seluruh partner yang ada. Berikut ini merupakan hambatan-hambatan yang akan dialami dalam implementasi SCM yang semakin menguatkan argument bahwa implementasi SCM memang membutuhkan dukungan berbagai pihak (Chopra & Meindl 2001): 1. Incerasing Variety of Products. Sekarang konsumen seakan dimanjakan oleh produsen, hal ini kita lihat semakin beragamnya jenis produk yang ada di pasaran. Hal ini juga kita lihat strategi perusahan yang selalu berfokus pada customer (customer oriented). Jika dahulu produsen melakukan strategi dengan melakukan pembagian segment pada customer, maka sekarang konsumen lebih dimanjakan lagi dengan pelemparan produk menurut keinginan setiap individu bukan menurut keinginan segment tertentu. Banyaknya jenis produk dan jumlah dari yang tidak menentu dari masing-masing produk membuat produsen semakin kewalahan dalam memuaskan keinginan dari konsumen. 2. Decreasing Product Life Cycles. Menurunnya daur hidup sebuah produk membuat perusahan semakin kerepotan dalam mengatur strategi pasokan barang, karena untuk mengatur pasokan barang tertentu maka perusahaan membutuhkan waktu yang tertentu juga. Daur hidup produk diartikan sebagai umur produk tersebut dipasarkan 3. Increasingly Demand Customer. Supply chain management berusaha mengatur (manage) peningkatan permintaan secara cepat, karena sekarang customer semakin menuntut pemenuhan permintaan yang secara cepat walaupun permintaan itu sangat mendadak dan bukan produk yang standart (customize). 4. Fragmentation of Supply Chain Ownership. Hal ini menggambarkan supply chain itu melibatkan banyak pihak yang mempunyai masingmasing kepentingan, sehingga hal ini membuat Supply chain mangement semakin rumit dan kompleks. 5. Globalization.
7

Globalisasi membuat supply chain semakin rumit dan kompleks karena pihak-pihak yang terlibat dalam supply chain tersebut mencakup pihak-pihak di berbagai negara yang mungkin mempunyai lokasi diberbagai pelosok dunia.

BAB III Kesimpulan


8

Para pelaku bisnis pada saat ini dituntut untuk menjalankan bisnisnya secara effisien dan efektif dikarenakan tuntutan persaingan yang semakin ketat.Kecepatan pengiriman dan ketersediaan barang pada pelanggan menjadi factor yang sangat krusial dikarenakan jika kalah cepat dari pesaing mereka dapat kehilangan pelanggan. Disamping itu mereka juga dituntut untuk mengurangi biaya operasional sehingga harga yang dipatok dapat kompetitif. Oleh karena itu dibutuhkan integerasi yang baik dari supplier hingga pendistribusian barang. Integrasi tersebut dinamakan supply chain management. Dengan tercapainya kordinasi yang baik antara rantai pasok sebuah perusahaan maka di tiap bagian Suply chain tidak akan mengalami kekurangan ataupun kelebihan barang.Sehingga penurunan biaya dan kepuasana pelanggan dapat dicapai karena adanya kecepatan dan ketepatan dalam pendistribusian . Jika sebuah perusahaan menyimpan barang terlalu banyak dan lama maka biaya yang akan timbul semakin mahal

Daftar Pustaka
John Naylor (2002). Introduction to Operations Management. FT Prentice Hall
9

Logistic and Supply Chain, Harrison Fawcett, S. E., Magnan, G. M., & McCarter, M. W. (2008). Three Stage Implementation Model For Supply Chain Collaboration. Heizer, J., & Barry, R. (2004). Operation Management. Upper Saddle:Pearson Prentice Hall. http://www.wikepedia.com

10