Anda di halaman 1dari 12

internal bleeding post trauma tumpul abdomen

Dibuat oleh: Faerus Soraya,Modifikasi terakhir pada Wed 06 of Oct, 2010 [01:47 UTC] ABSTRAK : Trauma abdomen dapat dibagi menjadi trauma tembus dan trauma tumpul. Pada umumnya trauma abdomen disebabkan oleh trauma tumpul. Terkadang gaya yang dianggap ringan akan menyebabkan kerusakan organ visera yang berat dan bahkan untuk mendiagnosis atau menyingkirkan trauma intra abdomen menjadi sangat sulit dilakukan. Akibat dari trauma tumpul dapat berupa perforasi atau perdarahan. Kematian karena trauma abdomen biasanya terjadi akibat sepsis atau perdarahan. Sebagian dapat dicegah, pasien dengan resiko cidera abdomen harus menjalani pemeriksaan lengkap, cepat dan tepat. Perdarahan merupakan cirri utama dan jika parah dapat terjadi syok. pada pasien ini seorang laki-laki datang dengan keluhan nyeri pada seluruh lapang perut, pasien post jatuh dari pohon kelapa. terjadi benturan keras pada bagian kanan atas. pada pasien ini dilakukan observasi tanda-tanda syok, dan pemasangan NGT, selain itu juga direncanakan untuk dilakukan operasi apabila terlihat tanda-tanda syok. kata kunci : Trauma Tumpul Abdomen KASUS :

Seorang laki-laki berusia 27 tahun datang dengan keluhan nyeri pada seluruh lapang perut sejak 7 jam sebelum masuk Rumah Sakit. Tujuh jam sebelum masuk rumah sakit didapatkan informasi pasien baru saja jatuh dari pohon kelapa. Pada saat jatuh terjadi benturan keras pada perut bagian kanan atas. Nyeri dirasakan terus menerus. Nyeri perut bersifat tajam dan terasa seperti tertekan. Nyeri dirasakan bertambah apabila pasien bergerak dan lebih nyaman dengan posisi berbaring. Pasien mengeluh mual. Pasien dirawat di RSUD sudah 3 hari sebelum tindakan operasi dilakukan, namun kondisi pasien tidak membaik malah semakin memburuk. Dari awal pihak Rumah sakit sudah menyarankan rujuk namun pihak keluarga menolaknya. Selama dirawat di lakukan pemasangan NGT dan DC. Terlihat Produksi NGT yang sangan masiv pada saat sebelum operasi. Vital Sign: Tekanan darah : 111/69 mmHg, Suhu : 38.1 C, Nadi : 91 x/menit, teratur, kuat angkat, isi cukup, Pernafasan : 44 x/menit. Diagnosis : Berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisik diagnosis pada pasien ini adalah internal bleeding post trauma tumpul abdomen. Terapi :

Infuse RL 20 tpm, Bed rest total, Puasa, Injeksi Ranitidin 2x1 ampul, Injeksi ketorolac 1x1 ampul. Lab : Hb, CT, BT, ureum, creatinin, SGOT dan SGPT (CITO). Awasi vital sign dan tanda-tanda syok. DISKUSI : Pada pasien ini dicurigai terjadi ruptur atau internal bleeding post trauma tumpul abdomen. adanya internal bleeding bisa kita ketahui dengan dilakukannya pemeriksaan HB serial, bila di dapatkan penurunan HB secara bertahap harus segera diwaspadai. dari kasus ini dilakukan kembali pengkajian secara head to toe, dan observasi hemodinamik pasien setiap 15 30 menit bila stabil dan membaik bisa dilanjutkan dengan observasi setiap 1 jam sekali. Pemasangan cateter pada pasien ini untuk menilai output cairan, terapi cairan yang diberikan dan tentu saja hal penting lainnya adalah untuk melihat adanya perdarahan pada urine. Pasien dipuasakan dan dipasang NGT (Nasogastrik tube) utnuk membersihkan perdarahan saluran cerna, meminimalkan resiko mual dan aspirasi, serta bila tidak ada kontra indikasi dapat dilakukan lavage. Monitoring status mental pasien perlu dilakukan untuk menilai efektifitas terapi dan tindakan yang dilakukan, bila tindakan yang dilakukan sudah cepat, tepat dan cermat maka ancaman kematian dan kecacatan pada pasien dengan trauma abdomen dapat dihindari. Ketika terjadi perdarahan dari organ padat atau pembuluh darah besar atau terjadi peritonitis akibat organ berongga maka cirri klinis yang penting adalah : Nyeri abdomen akut dan persistan, Nyeri tekan abdomen yang jelas, nyeri tekan lepas, dan defans muskuler menunjukan adanya peritonitis, Perdarahan intraabdominal (internal bleeding) terus menerus meskipun sudah dilakukan resusitasi, Nyeri bahu akibat iritasi diafragma akibat terkena darah ataupun isi usus. Factor predisposisi adhesi dan dinding abdomen yang tidak kaku dapat meningkatkan resiko terjadinya trauma intra abdomen. Anamnesis riwayat trauma sangat penting untuk menilai cedera yang terjadi. Terutama mekanisme trauma dan waktu kejadian traumanya karena ini sangat mempengaruhi prognosis. Pasien dengan penurunan kesadaran dapat dilakukan aloanamnesa terhadap pengantar yang mengetahui kejadian. Disamping itu hal yang penting adalah keterangan mengenai tanda vital, cidera yang terlihat, dan respon terhadap perawatan pra masuk rumah sakit apabila pasien mendapatkan perawatan lain setelah kejadian trauma. Pemeriksaan harus cepat tetapi seksama, dan harus sesuai aturan dasar dalam diagnose pasien. Penilaian terhadap system kardiiovaskuler, system syaraf pusat, abdomen dan ekstrimitas dilakukan secara berurutan. Penatalaksanaan internal bleeding karena trauma tumpul : Penilaian Primary survey Airway, Breathing, Circulation, pemasangan pipa lambung (Tujuan pemasangan pipa lambung adalah untuk mengurangi dilatasi gaster yang akut, dekompresi abdomen sebelum melakukan DPL dan mengeluarkan isi abdomen sehingga mengurangi resiko aspirasi. KESIMPULAN :

Trauma abdomen merupakan kasus gawat darurat yang perlu penanganan segera dikarenakan adanya ancaman kematian. Penanganan dari keadaan pasien dengan trauma abdomen sebenarnya sama dengan prinsip penanganan kegawatdaruratan, dimana yang pertama perlu dilakukan primary survey. Penilaian keadaan penderita dan prioritas terapi dilakukan berdasarkan jenis perlukaan, tanda-tanda vital dan mekanisme trauma pada

penderita yang terluka parah terapi diberikan berdasarkan prioritas. Pengelolaan primary survery yang cepat dan kemudian resusitasi, secondary survey dan akhirnya terapi definitif. REFERENSI : 1. Sjamsunghidajat R, Wim de Jong, 1998, Trauma, Buku Ajar Ilmu Bedah, Edisi revisi, ECG, Jakarta .2. Anonym, 2000, Trauma Abdomen, Kapita Selekta Kedokteran, Editor Mansjoer A, dkk, edisi III, jilid 2, Media Aesculapius, FKUI, Jakarta. 3. Anonym, 1995, Trauma Abdomen, Kumpulan Kuliah Ilmu Bedah, Staf Pengajar Bagian Bedah FKUI,EGC,Jakarta 4. Erwin R, Meyer M, 2002, Trauma Tumpul Abdomen, Terapi Mutakhir, ed. IV, Binarupa Aksara, Jakarta. 5. Korte GTZ.R.Dr,2002, Abdomen, Bedah Primer Trauma, EGC, Jakarta.

PENULIS : faerus soraya, bagian Ilmu Bedah, RSUD Setjonegoro, Wonosobo


http://www.fkumyecase.net/wiki/index.php? page=internal+bleeding+post+trauma+tumpul+abdomen

Sabtu, 26 Februari 2011


Perdarahan Dalam (Internal Bleeding) Definisi Perdarahan Dalam (Internal Bleeding) Sementara publik umum mengerti bahwa perdarahan dalam berarti perdarahan yang tidak dapat dilihat pada bagian luar tubuh, personel medis cenderung menggunakan istilah-istilah yang menggambarkan secara tepat dimana didalam tubuh perdarahan ditemukan. Perdarahan internal mungkin terjadi didalam jaringan-jaringan, organ-organ, atau di rongga-rongga tubuh termasuk kepala, dada, dan perut. Contoh-contoh dari tempat-tempat perdarahan yang potensial termasuk mata, jaringan-jaringan pelapis dari jantung, otot-otot, dan sendisendi.

Perdarahan diluar tubuh adalah sangat mudah dikenali. Jika kulit rusak oleh pencabikan, tusukan, atau luka lecet, darah dapat disaksikan ketika ia mengalir keluar dari tubuh. Kulit kepala, dengan suplai yang kaya darahnya, terkenal untuk penunjukan kehilangan darah yang secara besar-besaran. Perdarahan internal dapat menjadi jauh lebih sulit untuk diidentifikasi. Ia mungkin tidak menjadi bukti untuk berjam-jam setelah ia mulai, dan gejala-gejala terjadi ketika ada kehilangan darah yang signifikan atau jika gumpalan darah cukup besar untuk menekan organ dan mencegahnya berfungsi secara benar. Perdarahan internal terjadi ketika kerusakan pada arteri atau vena mengizinkan darah terlepas dari sistim sirkulasi dan terkumpul didalam tubuh. Jumlah perdarahan tergantung pada jumlah kerusakan pada organ dan pembuluhpembuluh darah yang mensuplainya, serta kemampuan tubuh untuk memperbaiki pecahan-pecahan pada dinding-dinding dari pembuluh-pembuluh darah. Mekanisme-mekanisme perbaikan yang tersedia termasuk keduanya sistim pembekuan/penggumpalan darah dan kemampuan pembuluh-pembuluh darah untuk mengejang (spasme) untuk mengurangi aliran darah ke area yang terluka. Pasien-pasien yang mengkonsumsi obat anti-penggumpalan seperti warfarin (Coumadin), clopidogrel (Plavix), heparin, atau aspirin adalah lebih cenderung pada perdarahan daripada orang-orang yang tidak mengkonsumsi obat-obat ini. Individu-individu ini mungkin mengalami perdarahan yang signifikan bahkan dengan luka atau penyakit yang relatif minor, dan risiko perdarahan perlu diseimbangkan terhadap manfaat-manfaat dari mengkonsumsi obat. Beberapa orang-orang mempunyai kesalahan-kesalahan genetik atau pembawaan sejak lahir dari sistim pembekuan/penggumpalan darah. Luka-luka minor mungkin menyebabkan perdarahan besar pada kasus-kasus ini. Hemophilia dan penyakit von Willebrand adalah dua contohnya. Penyebab Perdarahan Dalam (Internal Bleeding) Perdarahan paling sering terjadi disebabkan oleh luka, dan tergantung pada keadaan-keadaan, jumlah tenaga yang diperlukan untuk menyebabkan perdarahan dapat menjadi sangat variabel. Blunt trauma (trauma tumpul) Kebanyakan orang-orang mengerti bahwa jatuh dari ketinggian atau terlibat dalam kecelakaan mobil dapat mengakibatkan tekanan dan trauma yang besar pada tubuh. Jika tenaga tumpul terlibat, bagian luar tubuh mungkin tidak perlu rusak, namun tekanan yang cukup mungkin terjadi pada organ-organ internal (dalam) untuk menyebabkan luka dan perdarahan. * Bayangkan seorang pemain sepak bola sedang ditombak/disundul oleh helmet pada perut. Limpa atau hati mungkin ditekan oleh tenaga dan menyebabkan

perdarahan didalam organ. Jika tubrukannya cukup keras, kapsul atau pelapis dari organ dapat robek, dan perdarahan dapat tumpah kedalam peritoneum (ruang dalam rongga perut yang mengandung organ-organ perut seperti usususus, hati, dan limpa). * Jika luka terjadi pada area belakang atau samping, dimana ginjal berlokasi, retroperitoneal bleeding (retro=belakang; belakang rongga perut) mungkin terjadi. * Mekanisme yang sama menyebabkan perdarahan yang disebabkan oleh lukaluka penghancuran. Contohnya, ketika pemberat jatuh pada kaki, pemberat tidak mengalah, begitu juga tanahnya. Tenaganya perlu diserap oleh tulang atau otototot dari kaki. Ini dapat menyebabkan tulangnya pecah dan/atau serat-serat ototnya robek dan berdarah. * Struktur-struktur lain dapat dimampatkan dan mungkin menyebabkan perdarahan internal. Contohnya, mata dapat ditekan/dimampatkan dalam orbit ketika ia dihantam oleh tinju atau bola. Bola matanya deformasi (mengubah bentuk) dan meloncat balik ke bentuk aslinya. Intraorbital hemorrhage mungkin terjadi. Deceleration trauma (trauma perlambatan) Perlambatan mungkin menyebabkan organ-organ dalam tubuh digeser didalam tubuh. Ini mungkin memotong pembuluh-pembuluh darah dari organ-organ dan menyebabkan terjadi perdarahan. Ini seringkali adalah mekanisme untuk intracranial bleeding seperti epidural atau subdural hematomas. Tenaga yang dikerahkan pada kepala menyebabkan luka percepatan/perlambatan pada otak, menyebabkan otak untuk "memantul ke sekeliling" didalam tengkorak. Ini dapat merobek beberapa vena-vena kecil pada permukaan otak dan menyebabkan perdarahan. Karena otak dibungkus didalam tengkorak, yang adalah struktur yang padat, bahkan sejumlah kecil darah dapat meningkatkan tekanan didalam tengkorak dan mengurangi fungsi otak. Fractures (patah/retak tulang) Perdarahan mungkin terjadi dengan tulang-tulang yang patah. Tulang-tulang mengandung sumsum tulang (bone marrow) dimana produksi darah terjadi. Mereka mempunyai suplai-suplai yang kaya darah, dan jumlah-jumlah darah yang signifikan dapat hilang dengan fractures. Kepatahan dari tulang yang panjang seperti femur (tulang paha) dapat berakibat pada kehilangan satu unit darah (350-500cc). Tulang-tulang yang datar seperti pelvis memerlukan jauh lebih banyak tenaga untuk menyebabkan fracture, dan banyak pembuluhpembuluh darah yang mengelilingi struktur dapat dirobek oleh trauma dan menyebabkan perdarahan secara besar-besaran. Kehamilan Perdarahan pada kehamilan adalah tidak pernah normal, namun bukan tidak biasa pada trimester pertama, dan adalah tanda keguguran yang potensial. Sejak dini, kekhawatiran adalah potential ectopic atau tubal pregnancy, dimana placenta dan fetus menanam dalam tabung Fallopian atau lokasi lain diluar

rongga kandungan. Ketika placenta tumbuh, ia mengikis melalui tabung atau organ-oragn lain yang terlibat dan mungkin menyebabkan perdarahan yang fatal. Perdarahan setelah 20 minggu kehamilan mungkin disebabkan oleh placenta previa atau placental abruption, dan perawatan medis darurat harus diakses. Placenta previa menggambarkan situasi dimana placenta melekat pada kandungan (uterus) dekat mulut dari cervix dan mungkin menyebabkan perdarahan vagina tanpa rasa sakit. Abruption terjadi ketika placenta secara partial memisahkan diri dari dinding kandungan dan menyebabkan nyeri yang signifikan dengan atau tanpa perdarahan dari vagina. Perdarahan secara spontan Perdarahan internal mungkin terjadi secara spontan, terutama pada orangorang yang mengkonsumsi obat-obat anti-penggumpalan (anticoagulation) atau yang mempunyai penyakit-penyakit perdarahan yang diturunkan (diwariskan). Benturan-benturan yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari mungkin menyebabkan persoalan-persoalan perdarahan yang signifikan. Obat Perdarahan internal mungkin disebabkan sebagai efek sampingan dari oba-obat (paling sering dari obat-obat antiperadangan nonsteroid seperti ibuprofen dan aspirin) dan alkohol. Unsur-unsur ini dapat menyebabkan peradangan dan perdarahn dari esophagus, lambung, dan duodenum (usus dua belas jari), bagian pertama dari usus kecil ketika ia meninggalkan lambung. Penyalahgunaan alkohol Penyalahgunaan alkohol jangka panjang dapat juga menyebabkan kerusakan hati, yang dapat menyebabkan persoalan-persoalan perdarahan melalui keberagaman dari mekanisme-mekanisme. Tanda-Tanda Dan Gejala-Gejala Dari Perdarahan Dalam (Internal Bleeding) Gejala-gejala dari perdarahan internal tergantung pada dimana perdarahan berlokasi, berapa banyak perdarahan telah terjadi, dan struktur-struktur dan fungsi-fungsi apa dalam tubuh yang dipengaruhi. Darah diluar sistim sirkulasi (jantung dan pembuluh-pembuluh darah) adalah sangat mengiritasi pada jaringan-jaringan, menyebabkan peradangan dan nyeri. Contoh-contoh dari beberapa situasi-situasi perdarahan internal didaftar dibawah. Perdarahan Intracranial dari trauma atau dari aneurysm yang bocor seringkali menyebabkan nyeri namun mungkin juga hadir dengan fungsi mental yang berubah. Hasil-hasil pemeriksaan neurological mencakup dari pemeriksaan hampir normal sampai kebingungan sampai koma. Gejala-gejala dari stroke, termasuk kelemahan, berbicara yang menyatu, dan kehilangan penglihatan, mungkin juga dihubungkan dengan perdarahan intracerebral. Tanda-tanda dan gejala-gejala tergantung pada dimana dan berapa banyak darah ada di otak. Jika

perdarahan berlanjut, gejala-gejala menjadi progresif dan lebih mudah untuk dikenali. Perdarahan Intra-abdominal mungkin tersembunyi dan hadir hanya dengan nyeri, namun jika ada cukup kehilangan darah, pasien mungkin mengeluh kelemahan, kepala yang ringan, sesak napas, dan gejala-gejala lain dari shock dan tekanan darah yang berkurang. Sekali lagi, gejala-gejala tergantung pada dimana di perut perdarahan terjadi. * Jika ada perdarahan pencernaan, pasien mungkin memuntahkan darah yang merah terang, atau ia telah ada di lambung untuk suatu periode waktu, muntahan mungkin terlihat seperti warna kopi. Feces-feces mungkin berdarah atau mereka mungkin hitam dan ber-ter, sekali lagi tergantung pada lokasi perdarahan pada saluran pencernaan. * Jika perdarahan internal menyebabkan darah tumpah kedalam peritoneum, dapat terjadi jumlah yang signifikan dari nyeri dengan gerakan apa saja, dan perut dapat menjadi tegang dan terasa kaku disentuh. * Adakalanya perdarahan intra-abdominal akan berjejak menuju kulit dan dapat dinilai pada pemeriksaan fisik. Tanda Cullen adalah istilah yang digunakan untuk merujuk pada penampakan dari pememaran yang mengelilingi umbilicus. Tanda Grey-Turner adalah memar pada sisi-sisi. Darah yang terlihat pada urin mungkin disebabkan oleh perdarahan internal di tempat mana saja didalam saluran kencing, dari ginjal sampai kantong kemih. Seringkali infeksi-infeksi kantong kemih berhubungan dengan darah dalam urin namun sebab-sebab lain perlu dipertimbangkan berdasarkan pada gejala-gejala tertentu serta umur dan sejarah medis pasien, terutama laki-laki yang mungkin telah mempunyai operasi prostat. Laki-laki dan wanita-wanita yang telah mempunyai terapi radiasi mungkin mengembangkan peradangan dari dinding kantong kemih yang dapat menyebabkan jumlah perdarahan yang signifikan. Perdarahan mungkin terjadi dalam sekali didalam otot-otot setelah luka, dan jarang, compartment syndrome mungkin terjadi. Jika sampai begitu banyak perdarahan terjadi sehingga pembentukan tekanan didalam otot adalah lebih besar dari tekanan darah pasien, darah tidak dapat memasuki sel-sel otot, dan mereka mulai mati. Gejala-gejala termasuk nyeri yang hebat, kesulitan menggerakan sendi-sendi dibawah luka, dan kehilangan sensasi. Paling umum ini terlihat pada tulang kering dan lengan bawah dan mungkin atau mungkin tidak berhubungan dengan tulang yang patah. Perdarahan mungkin juga terjadi kedalam sendi-sendi, menyebabkan nyeri yang signifikan dan kehilangan batasan dari gerakan. Ini paling sering terlihat pada pasien-pasien yang berada pada obat-obat anti-penggumpalan (anticoagulation). Luka mungkin atau mungkin tidak diperlukan untuk menyebabkan perdarahan. Mendiagnosa Perdarahan Dalam (Internal Bleeding)

Diagnosis dari perdarahan internal mulai dengan sejarah keseluruhan yang diambil oleh dokter. Ini diikuti oleh pemeriksaan fisik, konsentrasi pada area dari tubuh dimana perdarahan internal mungkin telah terjadi. Contohnya, jika ada kekhawatiran tentang perdarahan didalam otak, pemeriksaan fisik akan fokus pada sistim neurologic, atau jika itu adalah perdarahan intra-abdominal, pemeriksaan akan diarahkan menuju perut. Tes-tes darah mungkin dilakukan untuk memeriksa jumlah sel darah merah yang rendah, atau anemia. Bagaimanapun, jika perdarahan terjadi secara cepat, pembacaan awal hemoglobin atau jumlah sel darah merah mungkin adalah normal. Kecurigaan dari perdarahan akan seringkali memerlukan tes pencitraan untuk mencari sumber perdarahan. * Jika ada kekhawatiran bahwa ada perdarahan pencernaan, gastroenterologist (ahli pencernaan) mungkin menggunakan scope-scope serat optik untuk melihat kedalam esophagus dan lambung (endoscopy) atau kedalam usus besar (colonoscopy) untuk mengidentifikasi sumber. Jika ditemukan, dokter mungkin mampu menghentikan perdarahan menggunakan listrik untuk membakar pembuluh darah yang berdarah. * Computerized tomography (CT) adalah tes yang paling umum untuk mencari perdarahan dalam otak. Ia juga mampu untuk mengidentifikasi pembengkakan otak dan retak-retak tulang dari tengkorak. * Ultrasound mungkin digunakan untuk mencari darah dalam perut. Sementara ia mempunyai tempatnya dalam pengendalian trauma, ultrasound adalah terutama bermanfaat dalam mengevaluasi persoalan-persoalan obstetric (kandungan) dan gynecologic seperti perdarahan dari kista indung telur atau kehamilan diluar kandungan (ectopic atau tubal pregnancy). * Computerized tomography adalah alat yang efektif dalam mencari perdarahan intra-abdominal dan retroperitoneal. Ia dapat mengevaluasi tempat luka yang potensial, keparahan dari kerusakan organ, dan apakah perdarahan terdapat didalam organ (seperti hati, ginjal atau limpa) atau apakah perdarahan telah tumpah kedalam peritoneum. Ia juga adalah tes yang berguna dalam menilai retakan-retakan pelvis. * Jika sumber perdarahan diperkirakan disebabkan oleh kerusakan arteri, angiography mungkin digunakan untuk mengevaluasi aliran darah arteri. Pada beberapa situasi-situasi dimana pasien sakitnya kritis dari perdarahan internal, keputusan mungkin dibuat untuk menjalani operasi darurat untuk menemukan dan memperbaiki tempat perdarahan. Ini mungkin terjadi pada korban-korban trauma dengan luka-luka perut atau dada yang mempunyai tanda-tanda vital yang tidak stabil (tingkat kesadaran yang menurun, tekanan darah rendah, dan tanda-tanda lain dari shock) dan berisiko untuk perdarahan sampai meninggal jika mereka harus menunggu untuk tes-tes diagnostik.

Merawat Perdarahan Dalam (Internal Bleeding) Rencana perawatan awal dari segala pasien dengan perdarahan internal mulai dengan menilai stabilitas pasien dan memastikan ABCs dipelihara dengan baik. Ini termasuk memastikan pasien punya: * Saluran udara terbuka, * bahwa pasien bernapas, dan * bahwa ada sirkulasi yang cukup, yang berarti nadi dan tekanan darah yang baik. Perawatan yang definitif dari perdarahan internal tergantung pada dimana perdarahan terjadi, situasi individu, dan stabilitas pasien. Tujuan-tujuan dasar termasuk mengidentifikasi dan menghentikan sumber perdarahan dan memperbaiki segala kerusakan yang perdarahan mungkin telah menyebabkannya. Komplikasi-Komplikasi Dari Perdarahan Dalam (Internal Bleeding) Tergantung pada dimana itu terjadi, jika tidak dikenali, perdarahan internal mungkin menyeabkan kegagalan organ, shock, dan kematian. Contohnya: * Jika ada perdarahan yang tak terkontrol dalam dada atau perut, tubuh mungkin kehilangan cukup sel-sel darah merah yang bersirkulasi untuk mengkompromikan pengantaran oksigen pada sel-sel dalam tubuh. Situasi ini disebut shock. Jika perdarahan tidak dihentikan dan jika resuscitasi cairan dan mungkin transfusi darah tidak disediakan, pasien mungkin meninggal. * Perdarahan internal dalam otak mungkin menyebabkan kerusakan yang minimal, namun jika ada cukup untuk menyebabkan tekanan yang meningkat atau jika perdarahan meningkat, mungkin ada cukup jaringan otak yang rusak untuk menyebabkan gejala-gejala seperti stroke, koma, dan kematian. Diposkan oleh dr.elfriadi di 08:50 http://elfriadi.blogspot.com/2011/02/perdarahan-dalam-internal-bleeding.html.

Transfusi darah/komponen darah Pada penderita SSD penentuan golongan darah perlu dilakukan sebagai tindakan antisipasi seandainya diperlukan transfusi. Transfusi darah hanya diindikasikan pada kasus dengan perdarahan yang mengancam jiwa. Suatu perdarahan dalam (internal bleeding) sulit dikenali dalam keadaan hemokonsentrasi. Penurunan hematokrit misalnya dari 50% menjadi 40% setelah pemberian cairan yang memadai tanpa disertai perbaikan klinis yang nyata menunjukkan adanya perdarahan dalam yang berat. Transfusi darah segar lebih dianjurkan. Bila terdapat koagulopati dengan perdarahan masif, maka pemberian plasma beku segar (fresh frozen plasma/FFP) atau konsentrat trombosit diindikasikan6. Pemberian darah atau komponennya seperti konsentrat trombosit hanya benar-benar diberikan pada perdarahan yang mengancam jiwa, tidak berdasarkan nilai hitung trombosit. Bahkan walaupun hitung

trombosit kurang dari 20.000/mm3 sekalipun, jika tidak ada perdarahan, pemberian konsentrat trombosit tidak diperlukan25. Koagulasi intravaskuler diseminata (KID) biasanya terjadi pada syok berat dan menyebabkan perdarahan masif dan tidak jarang berujung ke syok letal. Untuk ini selain pemberian komponen darah seperti FFP, konsentrat trombosit dan kriopresipitat, mungkin juga diperlukan pemberian heparin selain perbaikan penyakit dasarnya26.
http://internershs.com/home3/index.php? option=com_content&task=view&id=110&Itemid=124. Primal Sudjana.2008

Perdarahan sal cerna bagian atas http://pustaka.unpad.ac.id/wpcontent/uploads/2011/03/pendarahan_akut_saluran_cerna_bagian_atas.pdf

Pengelolaan pasien Pengelolaan pasien dengan perdarahan akut SCBA meliputi tindakan umum dan tindakan khusus . Tindakan umum: Tindakan umum terhadap pasien diutamakan untuk ABC. Terhadap pasien yang stabil setelah pemeriksaan dianggap memadai,pasien dapat segera dirawat untuk terapi lanjutan atau persiapan endoskopi. Untuk pasien-pasien risiko tinggi perlu tindakan lebih agresif seperti: Pemasangan IV line paling sedikit 2 dengan jarum(kateter) yang besar minimal no 18. Hal ini penting untuk keperluan transfusi. Dianjurkan pemasangan CVP Oksigen sungkup/ kanula.Bila ada gangguan A-B perlu dipasang ETT Mencatat intake output,harus dipasang kateter urine Memonitor Tekanan darah, Nadi,saturasi oksigen dan keadaan lainnya sesuai dengan komorbid yang ada. Melakukan bilas lambung agar mempermudah dalam tindakan endoskopi Dalam melaksanakan tindakanumum ini,terhadap pasien dapat diberikan terapi Transfusi untuk mempertahankan hematokrit > 25% Pemberian vitamin K Obat penekan sintesa asam lambung (PPI) Terapi lainnya sesuai dengan komorbid Terhadap pasien yang diduga kuat karena ruptura varises gastroesofageal dapat diberikan oktreotid bolus 50 dilanjutkan dengan drip 50 g tiap 4 jam. g

Treatment of internal bleeding


1. Treat for shock. Keep the casualty warm. Place him in a comfortable position, preferably lying down with the legs slightly raised. Reassure him. Treat any external bleeding or bleeding from orifices. 2. Call for an ambulance as soon as possible and explain what has happened. Monitor and record the person's pulse and breathing rates. This information will be useful for the medical staff in determining the extent of the injury. If the casualty becomes unconscious, place in the recovery position and monitor airway and breathing. Be prepared to resuscitate if necessary
http://www.total-health-care.com/first-aid/internal-bleeding.htm.

Manajemen

Call or get someone to call emergency services. Panggilan atau mendapatkan seseorang untuk memanggil layanan darurat. Don't wait to see if the person improves or deteriorates. Jangan menunggu untuk melihat apakah orang itu membaik atau memburuk. If available put synthetic gloves on as bleeding may become apparent. Jika tersedia memakai sarung tangan sintetis sebagai perdarahan dapat menjadi jelas. Check airway, breathing and circulation. Periksa jalan napas, pernapasan dan sirkulasi. Begin cardiopulmonary resuscitation (CPR) if necessary. Mulailah resusitasi cardiopulmonary (CPR) jika perlu. If you want to understand CPR in more depth then go to CPR- Q's & A's. Jika Anda ingin memahami secara lebih mendalam CPR kemudian pergi ke CPR-Q & A. If unconscious and breathing place the person in the recovery position and with legs higher than the heart if possible. Jika pingsan dan pernapasan - tempat orang dalam posisi pemulihan dan dengan kaki lebih tinggi dari jantung jika memungkinkan. Injuries permitting. Cedera memungkinkan. If conscious lie the casualty down and raise or bend legs if injuries permit. Jika sadar - berbaring korban ke bawah dan mengangkat atau menekuk kakinya jika luka ijin. Keep casualty warm. Jauhkan korban hangat. This may help delay the onset of shock by minimising the bodies heat loss. Hal ini dapat membantu menunda timbulnya shock dengan meminimalkan kehilangan panas tubuh. Reassure and stay calm. Yakinkan dan tetap tenang. This helps provide security for the injured person. Hal ini membantu memberikan keamanan bagi orang yang terluka. Continue to check pulse and breathing. Lanjutkan untuk memeriksa denyut nadi dan pernapasan. Treat other injuries as appropriate. Mengobati luka lain yang sesuai.

Do not give anything to eat or drink as they may require surgery to stop the bleeding. Jangan memberikan apa-apa untuk makan atau minum karena mereka mungkin memerlukan pembedahan untuk menghentikan pendarahan. NOTE: If surgery is needed it is best that the person not consumed anything for minimum of 6 hours prior to having anaesthetic. CATATAN: Jika diperlukan operasi yang terbaik adalah bahwa orang tidak dikonsumsi apa pun untuk minimal 6 jam sebelum memiliki obat bius. The reason for this is if the stomach has contents in it they can exit the stomach and be inhaled into the lungs or remain in the throat and cause difficulty breathing during the operation. Alasan untuk ini adalah jika perut memiliki isi di dalamnya mereka dapat keluar dari perut dan terhirup ke dalam paruparu atau tetap dalam tenggorokan dan menyebabkan kesulitan bernapas selama operasi. Neither the patient nor the medical staff need this complication during surgery. Baik pasien maupun staf medis perlu komplikasi ini selama operasi.

http://www.firstaidanywhere.com/internal-bleeding-first-aid.html. 2010

Bagaimana perdarahan internal diperlakukan?

The initial treatment plan of any patient with internal bleeding begins with assessing the patient's stability and making certain the ABCs are well maintained. Rencana pengobatan awal dari setiap pasien dengan perdarahan internal dimulai dengan menilai stabilitas pasien dan membuat tertentu ABC terpelihara dengan baik. This includes making certain the patient's: Ini termasuk membuat tertentu pasien itu:

Airway is open, Jalan napas terbuka, that the patient is Breathing , and bahwa pasien Pernapasan, dan that there is adequate Circulation , meaning good pulse and blood pressure. bahwa ada Sirkulasi yang memadai, berarti pulsa yang baik dan tekanan darah.

The definitive treatment of internal bleeding depends upon where the bleeding is occuring, the individual situation, and the stability of the patient. Pengobatan definitif perdarahan internal tergantung pada dimana perdarahan yang terjadi, situasi individu, dan stabilitas pasien. The basic goals include identifying and stopping the source of bleeding and repairing any damage that the bleeding may have caused. Tujuan dasar termasuk mengidentifikasi dan menghentikan sumber perdarahan dan memperbaiki setiap kerusakan yang pendarahan mungkin telah disebabkan.
http://www.medicinenet.com/internal_bleeding/page5.htm. 2011