Anda di halaman 1dari 4

Dewasa ini semakin banyak timbul kelompok yang mengaku ulama dan da`i yang tidak siap dengan

perbedaan. Kebenaran seolah dimonopoli oleh mereka dan kelompok yang seide dengan mereka. Yang paling perah dari itupun sering terjadi, mereka menisbahkan kekafiran dan kemusyrikan kepada orang-orang yang berada di luar mereka. Apabila seorang manusia sudah dianggap kafir, maka secara fiqh islamy, darahnya halal untuk diperangi. apakah kita akan menghalalka darah saudara kiat yang bersyahadat la ilaaha illallah muhammadun rauslulullah? Ditengah semakin mudahnya sarana dan prasana untuk menuntut ilmu, justru yang terjadi adalah dekadensi keilmuan yang sangat naif sekali. Tak heran kerap timbul fitnah dan pertikaian sesama umat. Perlu dipahami bahwa perbedaan yang terjadi diakalangan ulama kerap terjadi pada permasalahan fiqh islamy yang bersifat amaliyah bukan perkara yang bersifat aqidah yang menyebabkan seseorang keluar dari agamanya dan dihukumi kafir. Perbedaan diantara umat Rasul saw juga bukan seperti perbedaan yang dicela Allah terhadap umat terdahulu yang menyebabkan umat terpecah belah dan menjadi kelompok-kelompok kecil. Ikhtilaf yang terjadi dikalangan umat bukan memancing kekeruhan dan semuanya bermakna negatif. Tidak sama sekali, tidak demikian adanya perbedaan pendapat di kalangan ulama dan umat islam. Oleh karena itu tidak layak kita bersifat kerdil dan memerangi perbedaan di kalangan ulama dan menanggapinya bak bara api yang membakar dan memusnahkan umat. Apalagi sampai membenci para ulama yang telah berkontribusi luar biasa terhadap agama dan umat tercinta ini. Umur mereka telah dihabiskan dan diwakafkan di medan ilmu untuk kebaikan umat ini. Tidak jarang kita temukan sebagian mereka lupa dengan kepentingan pribadinya. Mereka sampai lupa tidur dan berkeluarga, karena keasyikan belajar, mengajar dan menulis kitab yang akan menjadi warisan berharga mereka. Warisan berharga mereka itu alhamudlillah kita rasakan saat sekarang ini. Apa dosa para ahli ilmu yang menjadi pewaris para Nabi sampai kita perangi dan menyalahkan mereka serta menuduh mereka penyebab perpecahan umat? sudahkah kita menghukur diri, siapa mereka dan siapa kita? Harap jangan tergesa-gesa! Jangan menganggap mereka sebagai kambing hitam yang selalu menjadi objek sumpah serapah kita. Sebenarnya yang salah itu merekanya apa kita? Mereka memenginfakkan umur mereka untuk memahami nash-nash (literal) syariah dari dalil yang terperinci, kemudian membuat kaidah umum dan kode etik dalam menterjemahkan Al Qur`an dan sunnah ke ranah realita amaliyah kita. Fiqh islamy terus berkembang berdasarkan perkembangan permasalahan dan situasi yang dilalui oleh umat pada semua masa dan semua area yang dihuni mereka. Ketika anda ingin mengetahui hukum tertentu terhadap masalah tertentu, maka datangilah para pakar di bidangnya. Jangan salah orang dan jangan semuanya berbicara. Apalagi yang tidak punya ilmunya. Jangan sampai membuat kebohongan pada agama Allah dan mengatasnamakan agama. Perbedaan yang terjadi didalam fiqh islamy merupakan wujud usaha manusia berupaya memahami nash syar`i yang terkandung di dalam Al Quran dan sunnah Nabi yang sahih. Dari pemahaman dan lingkup nash-nas/literal syar`I inilah bisa diwujudkan ke ranah realita perbuatan manusia. Perbedaan yang dimaksudkan bukanlah perbedaan terhadap nash/nash syari`ah yang merupakan wahyu ilahy; al Qur`an dan sunnah Nabi yang sahih. Karena nash/nash syar`i ini tidak boleh dirubah, diganti, diselewengkan dan diabaikan. Perbedaan hanya dalam memahami

literal

yang

ada

Fiqh islamy adalah turats (warisan) maha kaya yang diwariskan oleh para ulama kita sebagai warisan yang sangat berharga di dunia dan di akhirat. Fiqh islamy akan terus berkembang sesuai dengan perkembangan permasalahan. peristiwa dan kejadian yang berkembang di tengah masyarakat. Karena nash-nash syar`i sangat terbatas sekali tekstualnya, sementara permasalahan umat semakin hari semakin berkembang, karena ada hukum-hukum syar`i yang akan berubah sesuai dengan perubahan situasi, orang/pelakunya, `urf (budaya yang berkembang), dan waktu terjadinya. Sebagaimana banyak kita dapati dalam kitab-kitab fiqh yang mu`tamad. Oleh karena itu selalu dibutuhkan ijtihad dan fatwa. Adanya ijthad dan fatwa, akan selama itu pula ikhtilaf akan terus terjadi di dalam fiqh islamy. Karena umumnya dalil-dalil dari hukum syar`i adalah zhanny al dalalah, maka akan mengundang banyak perbedaan dalam memandang sebuah permasalahan dan berpotensi munculnya banyak pendapat yang berbeda. Sangat sedikit kita temukan dalil-dalil yang bersifat qath`iy al dalalah. Ikhtilaf yang terjadi di wilayah ini adalah sebuah hal yang wajar dan patut di hargai selama permasalahan ini dihadapi dengan etika ikhtilaf dan kaedah yang disepakati dalam menghadapi ikhtilaf. Keberadaan ikhtilaf seperti ini bukan sebuah hal tercela dalam khazanah ilmiah dan syariat islam. Apa sih ikhtilaf itu? Al ikhtilaf berarti; masing-masing orang mengambil jalan/metode tersendiri yang berbeda dengan orang lain dalam berpendapat dan sikon yang dikehendakinya. Ikhtilaf ini lebih umum dari pada makna kontradiksi, karena setiap yang bersifat kontradiksi itu adalah ikhtilaf dan tidak semua yang ikhtilaf itu bersifat kontradiksi. Ikhtilaf adalah sunatullah yang natural dan fitrah yang mesti disyukuri. Di dalam dunia yang begitu kecil ini betapa banyak keanekaragaman dan variasi bentuk, warna dan corak flora dan fauna yang kita dapati. Hal tersebut juga kita temui pada dunia manusia dan perangkat kehidupan yang mereka pakai. Coba kita renungi sura Fathir ayat 17-18 berikut: Tidakkah kamu melihat bahwasanya Allah menurunkan hujan dari langit lalu Kami hasilkan dengan hujan itu buah-buahan yang beraneka macam jenisnya. Dan di antara gunung-gunung itu ada garis-garis putih dan merah yang beraneka macam warnanya dan ada (pula) yang hitam pekat. Dan demikian (pula) di antara manusia, binatang-binatang melata dan binatang-binatang ternak ada yang bermacam-macam warnanya (dan jenisnya). Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama. Sesungguhnya Allah Maha perkasa lagi Maha Pengampun. Dari dua ayat ini jelas sekali bahwa perbedaan dan keanekaragaman adalah suatu hal yang alamiah dan sunnatullah yang patut kita syukuri. Perbedaan yang alamiah ini justru menjadi salah satu sarana berpikir bagi kita. Sebagai medium kita untuk mentadabburi, betapa Allah Maha Berkehendak, Maha Besar dan Maha Berkuasa. Jika kita lihat ke diri kita, betapa sulitnya kita temukan adanya manusia yang sama persis dari segi fisik, psikologis dan pemikirannya. Manusia yang sama-sama makhluq Allah yang berakal justru juga ada perbedaan jenis kelamin,

warna kulit, bahasa, budaya, dsb. Perbedaan kelamin yang ad aantara sesama manusia adalah sebuah karunia Allah yang mesti kita syukuri. Coba kita renungi QS: Al Dzariyat; 29: Dan segala sesuatu Kami ciptakan berpasang-pasangan supaya kamu mengingat akan kebesaran Allah. Perbedaan suku bangsa, bahasa dan warna kulit juga merupakan sebuah hal natural yang sudah bersumber dari sononya, Allah berfirman QS: Al Ruum : 22: Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah menciptakan langit dan bumi dan berlainlainan bahasamu dan warna kulitmu. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang mengetahui. Sering kita temukan kawan yang berasal dari benua hitam, berasal dari ras Negroid, dari benua Asia, dari bangsa Mongoloid, Kaukasoid, dsb. Mereka berbicara dengan bahasa Indonesia, bahasa Arab, bahasa Jerman, bahasa Perancis, bahasa Amerika, bahasa Belanda, dsb. Semuanya menunjukkan bahwa perbedaan adalah sebuah hal yang alami dan sangat logis terjadi. Melihat kenyatan ini, apakah termasuk berakal, jikalau kita menafikan adanya perbedaan pendapat? Perbedaan akal, daya intelektualitas, dan tingkat pemahaman manusia Bila kita lebih melihat konteks manusia, maka kita dapati bahwa juga terjadi perbedaan dari segi akal, daya intelektuliatas dan tingkat pemahaman mereka. Tidak ada orang yang sama persis kemampuan IQ nya. Selalu saja berbeda masing-masing orang. Kalau pun ada kesamaan barangkali tidaklah banyak. Segi pemahaman terhadap apa yang dilihat, dirasa, didengar, diraba, dan yang dicium oleh setiap orangpun berbeda. Tidak satu persepsi. Bahkan satu orang yang sama, bisa berbeda daya intelektualitasnya dan tingkat pemahamannya, seiring dengan perkembangan ilmu, bacaan dan pengetahuannya. Akal, daya intelektualitas dan pemahaman adalah mutlak sebagai anugerah Allah kepada kita, bukan kehendak kita. Dalam sebuah kesempatan Rasul saw. duduk bersama sahabat dan beliau melontarkan sebuah pertanyaan kepada mereka, yang bertujuan unutk memberitahu mereka bahwa kita perlu memperhatikan segala sesuatu yang ada di bumi ini. Karena segala sesuatu yang kita lihat di bumi ini terdapat tanda-tanda kebesaran Allah. Di sisi lain beliau juga bermaksud mengajarkan metode belajar dan mengajar, bahwa terkadang sang guru sebaiknya memberikan nasehat dengan cara memberikan pertanyaan kepada objek ajarnya dan meminta mereka berpikir untuk menjawabnya. Masih banyak lagi faedah dari hadits yang Alnof nukilkan ini. Mari kita coba lihat tekstual hadits berikut: Rasul saw berkata; bahwa sebagian tanaman ada tanaman yang tidak pernah jatuh/tumbang daunnya. Tanaman ini seolah ibarat seorang muslim. Apakah nama tanaman tersebut? Ketika itu para sahabat mengira tanaman yang dimaksud adalah tanaman yang ada di perkampungan arab, Abdullah berkata; aku mengira tanaman itu adalah kurma, akan tetapi aku malu untuk mengungkapkannya. Sampai akhirnya para sahabat bertanya, beritahulah kami wahai Rasul saw. Rasul saw. Menjawab: bahwa tanaman tersebut adalah kurma. Dari hadits ini nampak oleh kita betapa sahabat-sahabat besar yang hadir di majlis Rasul saw tidak seorangpun tahu jawabannya, sementara itu Ibnu Umar yang masih usia belasan tahun sudah mengira bahwa tanaman yang dimaksud adalah kurma. Karena menghormati sahabatsahabat yang besar, beliau malu untuk menjawabnya. Apalagi di saat bersamaan bapaknya Umar

bin Khatab juga ada. Ini sebuah bukti riil bahwa daya intelektualitas dan tingkat pemahaman manusia itu berbeda. Tidaklah sama! Ketika daya itelektulitas manusia berbeda-beda, secara otomatis akan mempengaruhi kepada hasil dari pengkajian masing-masing orang terhadap objek kajiannya. Dalam megkaji literal syariat otomatis akan terjadi hal yang sama, karena masing-masing orang memeiliki daya intelektualitas dan pemahaman yang berbeda. Mereka tidak sama dalam memenemukan maslahat dan mafasid yang dicapai dari kajian mereka terhadap literal syariat yang ada, meskipn menggunakan dalil yang sama. Perbedaan mereka bukanlah momok yang perlu dikhawatirkan dan dijauhi. Yang paling menjadi masalah adalah sikap fanatis dan apatis kita terhadap pendapat, konsep pemikiran, mazhab, fatwa, dsbnya. Terlebih lagi apabila ada yang mengira mengira bahwa mereka telah berhak untuk memonopoli hakikat sesuatu dan kebenarannya. Seolah mereka pemilik hikmah yang tidak berhak dimiliki oleh orang lain. Hanya mereka yang selalu benar, tidak pernah salah dan yang lain selalu salah. Sebuah kenyataan yang membuat kita miris dan mengkhawatirkan. Justru memaksakan kebenaran dan membatasi kebenaran pada diri atau kelompok tertentu sangat berpotensi memecah umat. Perbedaan yang ada sunguh merupakan sunantullah dan sangat natural. Bukan sebuah rekayasa yang mesti dimusuhi dan dibuang. Justru dibuang sayang. Bakal membuat umat semakin kesulitan untuk mendapatkan solusi permasalahan-permasalahan yang mereka hadapi. Akan terasa agama ini stagnan dan sempit sekali. Adanya mazhab dan perbedaan mazhab justru membuat umat merasakan bahwa islam itu mudah dan sangat lapang. Dengan perbedaan yang ada, maka proses membangun alam raya dan peradaban akan berjalan sangat dinamis dan bertatanan kuat. Tidak stagnan dan kaku. Perbedaan yang ada sungguh nikmat Allah yang sangat besar. Allah telah ciptakan semua manusia dan dimudahkan bagi mereka, untuk mencapai obsesi dan cita-cita setiap makhluqnya. Perbedaan itu akan semakin indah apabila dikemas dengan lebih cantik dan berseni, Karena perbedaan yang ada dalam tubuh umat adalah perbedaan yang merupakan variasi dan keanekaramaan yang akan indah apabila digabungkan dan ditata dengan seninya. Ibarat sebuah taman yanag akan semakin indah apabila ditanami oleh banyaknya variasi bunga. Ikhtilaf yang ada didalam tubuh umat islam adalah perbedaan yang variatif, bukanlah perbedaan yang saling kontradiktif dan saling menjatuhkan satu sama lain. Mari kita simak dan cerna dengan seksama ayat berikut: QS: Hud: 118-119 Jika Tuhanmu menghendaki, tentu Dia menjadikan manusia umat yang satu, tetapi mereka senantiasa berselisih pendapat. Kecuali orang-orang yang diberi rahmat oleh Tuhanmu Dalam rangka membangun sebuah peradaban kokoh yang berbasis islam,dan akhlaq, mari merajut benang-benang ukhuwah dengan perbedaan yang ada.