PEDOMAN UMUM

PENGEMBANGAN ANAK USIA DINI HOLISTIK-INTEGRATIF
Deputi Bidang SDM dan Kebudayaan, Bappenas
Disampaikan pada Pertemuan Koordinasi dan Sosialisasi Pendidikan Nonformal dan Informal dengan Organisasi Mitra, di Jakarta, 14-16 Juni 2010.

1

DAFTAR ISI
I. II. PENDAHULUAN PENGERTIAN, TUJUAN, SASARAN, DAN POKOKPOKOK PENGEMBANGAN ANAK USIA DINI HOLISTIK-INTEGRATIF ARAH KEBIJAKAN DAN STRATEGI, JENIS PELAYANAN SERTA INDIKATOR CAPAIAN PENYELENGGARAAN PELAYANAN PENGEMBANGAN ANAK USIA DINI HOLISTIKINTEGRATIF MEKANISME KOORDINASI PERENCANAAN, PELAKSANAAN MONITORING DAN EVALUASI LANGKAH-LANGKAH IMPLEMENTASI PEDOMAN UMUM PENUTUP
2

III. IV.

V. VI. VII.

BAB I. PENDAHULUAN

3

A. Latar Belakang (1) 

Perlunya pengembangan anak usia dini yang dilakukan secara holistik-integratif:  Untuk memenuhi kebutuhan esensial anak secara utuh dan terpadu.  Melalui pelayanan yang sistematik dan terencana.  Mencakup lingkungan mikro, meso, exo dan makro.
4

A. Latar Belakang (2) 

Kelemahan dari sisi kelembagaan: 
kualitas pengelolaan yang belum profesional.  keterbatasan jumlah lembaga penyelenggara.  distribusi dan kualitas tenaga.  fasilitas pelayanan yang kurang memadai.  pemahaman para pemangku kepentingan baik pengambil kebijakan, penyelenggara, masyarakat akan pentingnya pengembangan anak usia dini yang holistik integratif juga masih terbatas.
5

merumuskan Pedoman/Petunjuk/Panduan Teknis masing-masing kementerian/lembaga dan pemerintah daerah dalam penyelenggaraan pengembangan anak usia dini holistik-integratif. masyarakat serta lembaga penyelenggara sesuai dengan tugas pokok dan fungsi masing-masing.B. Tujuan Penyusunan Sebagai acuan untuk: mengkoordinasikan dan mengintegrasikan penyelenggaraan pengembangan anak usia dini yang holistik-integratif oleh pemerintah pusat dan daerah. 6 .

Depkes.  Pusat: Kantor Menko Kesra. KNPP. Depdagri. Depag. dan BPS serta mitra yang bergerak dalam pengembangan anak usia dini. pengasuhan dan perlindungan anak usia dini/ kesejahteraan sosial. data dan statistik serta perangkatnya di lapangan. Depsos. 7 .. Kabupaten/Kota yang bertanggungjawab dalam bidang kesehatan dan gizi.  Daerah: Dinas/Kantor Wilayah/Instansi/SKPD Provinsi. Sasaran Pengguna  Penanggungjawab dan mitra pengembangan anak usia dini. Bappenas. BKKBN. Depdiknas. termasuk lembaga penyelenggara pengembangan anak usia dini. serta masyarakat. baik di tingkat pusat maupun daerah. pendidikan. BKKBN.

Landasan Hukum  Pedoman ini mengacu pada semua peraturan perundang-undangan yang mengatur tentang hak-hak anak dan undang-undang lain yang berkaitan. 8 .D.

Pendidikan serta Pengasuhan dan Perlindungan. Strategi Nasional Pengembangan Anak Usia Dini Holistik-integratif.LANGKAH-LANGKAH PENYUSUNAN  Pencermatan referensi peraturan perundang-undangan yang terkait. 9 .  Penyusunan draft Pedoman Umum Pengembangan Anak Usia Dini di bidang Kesehatan dan Gizi. Pedoman/Panduan dari K/L terkait.  Pematangan draft Pedoman umum melalui lokakarya Pengembangan Anak Usia Dini Holistik-Integratif.  Finalisasi Pedoman Umum Pengembangan Anak Usia Dini Holistik-Integratif. Hasil Studi Kebijakan Pengembangan Anak Usia Dini Holistik-integratif.  Konsultasi dengan K/L penanggung jawab pengembangan anak usia dini.  Pencermatan hasil kunjungan lapangan di beberapa provinsi dan hasil studi banding di Philipina.

PENGERTIAN. TUJUAN. SASARAN DAN POKOK-POKOK PENGEMBANGAN ANAK USIA DINI HOLISTIK-INTEGRATIF 10 .BAB II.

anak usia 1 ± 24 bulan. 11 . bayi usia 0 ± 28 hari. Pengelompokan anak usia dini: janin dalam kandungan sampai lahir. anak usia 2 ± 6 tahun¶ Pengembangan anak usia dini holistik integratif adalah pengembangan anak usia dini yang dilakukan berdasarkan pemahaman untuk memenuhi kebutuhan esensial anak yang beragam dan saling berkait secara simultan dan sistematis. Pengertian Anak Usia dini mencakup janin dalam kandungan sampai dengan usia 6 tahun.A.

 Sasaran tidak langsung: orang tua. sehingga anak dapat tumbuh kembang secara optimal sesuai dengan tahap perkembangan dan usianya. kader. Tujuan dan Sasaran Tujuan Agar seluruh kebutuhan esensial anak usia dini dapat terpenuhi. keluarga. organisasi sosial masyarakat. masyarakat. para pengambil kebijakan. Sasaran  Sasaran langsung: anak usia dini sejak janin dalam kandungan sampai dengan usia 6 tahun. berbagai provider dan stakeholder lainnya yang relevan dengan terpenuhinya kebutuhan esensial anak usia dini. 12 . pendidik. pengasuh.B. tenaga kesehatan dan gizi.

. Ekologi Tumbuh Kembang Anak Usia Dini: Sumber: Bronfebrenner (1979) 13 . POKOK-POKOK YANG MENDASARI (1) 1.

. intelegensia. POKOK-POKOK YANG MENDASARI (2) 2. kematangan emosional dan spiritual. periode kritis pembentukan kemampuan anak dalam kurun waktu dua tahun pertama secara biologis berada pada tahap yang sangat prima untuk mengembangkan struktur syaraf atau keterampilan yang dipengaruhi oleh stimulus yang tepat. Masa Emas Tumbuh kembang Anak:  Pertumbuhan dan Perkembangan anak sejak dalam rahim sampai usia 6 tahun sangat menentukan derajat kesehatan. serta produktivitas manusia di masa berikutnya.  Berdasarkan pengamatan teknis. 14 .

Nelson. Perkembangan Otak Manusia: Pembentukan Sinaps-Sinaps (penglihatan. From Neurons to Neighborhoods.Gambar . 2000 . pendengaran) Sensing Pathways Bahasa ungsi ognitif lebih tinggi Kehamilan -6 -3 3 0 Bulan 6 9 1 4 8 12 Tahun 16 Usia Sumber: C.

MANFAAT SOSIAL DAN EKONOMI .

Perkembangan Otak ± Peluang dan Investasi Pembentukan Jaringan dan Perkembangan Otak .

pendengaran. 18 .C. sosial-emosional.Pengaruh Asupan Gizi. fisik-motorik. merangsang kreativitas. POKOK-POKOK YANG MENDASARI (3) 3. dan Stimulasi Dini: Asupan Gizi Berbagai penelitian menunjukkan bahwa kurangnya asupan zat gizi makro dan mikro merupakan penyebab utama terjadinya gangguan tumbuh kembang anak. Pola Asuh. moral-spiritual. Pola Asuh Pengasuhan penuh kasih sayang merupakan hak setiap anak yang sekurang-kurangnya dipenuhi oleh satu orang dewasa. dan kemampuan kognitif yang lebih tinggi dengan mengedepankan kebebasan memilih. bahasa dan komunikasi. dan penumbuhan karakter. Stimulasi Dini Pemberian rangsangan perkembangan pada anak usia dini sangat penting untuk melejitkan semua aspek perkembangan yang mencakup perkembangan visual.

C. maka pengembangannya harus dilakukan secara holistik (utuh dan menyeluruh) dan tidak tersekat-sekat oleh ego sektoral. Manfaat dan Pendekatan: Manfaat Berbagai evaluasi ilmiah menunjukkan bahwa pelayanan anak usia dini memberikan manfaat yang positif. Pendekatan Mengingat anak merupakan suatu totalitas yang utuh. 19 . POKOK-POKOK YANG MENDASARI (4) 4. Hasil studi mengungkapkan bahwa investasi yang diberikan pada kelompok penduduk yang berusia dini akan memberikan hasil berlipat ganda di kemudian hari.

ARAH KEBIJAKAN DAN STRATEGI. SERTA INDIKATOR CAPAIAN 20 .BAB III. JENIS PELAYANAN.

Peningkatan koordinasi dan kerjasama lintas sektor. serta kemitraan antar institusi pemerintah. Peningkatan kualitas penyelenggaraan pelayanan pengembangan anak usia dini. 2. Arah Kebijakan 1. 4. dan organisasi terkait.A. Penguatan kelembagaan dan dasar hukum. 21 . nasional. baik lokal. serta pelibatan masyarakat termasuk dunia usaha dan media masa dalam penyelenggaran pelayanan Pengembangan Anak usia Dini. lembaga penyelenggara layanan. Peningkatan akses. maupun internasional. serta kelengkapan jenis pelayanan pengembangan anak usia dini. pemerataan. 3.

Meningkatkan kualitas pelayanan pengembangan anak usia dini. 22 . orang tua. Strategi (1) 1. dan pengasuh pengganti dalam melakukan pengasuhan anak secara optimal. keluarga. Menyelenggarakan pelayanan pengembangan anak usia dini yang merata dan terjangkau. Meningkatkan pemahaman remaja dan calon pengantin. 3. Melakukan internalisasi nilai-nilai agama dan budaya. 2.B. 4.

23 . Meningkatkan komitmen.B. koordinasi dan kerjasama antar institusi pemerintah. Memperkuat dan harmonisasi landasan hukum penyelenggaraan layanan pengembangan anak usia dini holistikintegratif. lembaga penyelenggara layanan. dan organisasi terkait. 7. Memberdayakan masyarakat dan dunia usaha. 6. Strategi (2) 5.

Kebutuhan Esensial & Jenis Pelayanan Anak Usia Dini 1. (b) Ibu.kebutuhan fisik-biomedis (asuh) . Jenis Pelayanan: Meliputi pelayanan untuk: (a) Anak.C. 24 . dan (c) Keluarga. Kebutuhan Esensial Anak Usia Dini: .kebutuhan emosi/kasih sayang (asih) .kebutuhan stimulasi (asah) 2.

Peningkatan kemampuan SDM pengembangan anak usia dini. 2. 25 . 5.KEGIATAN PENDUKUNG 1. Peningkatan Manajemen Kelembagaan dan Program Instansi Pemerintah. Peningkatan peran dan kemitraaan dengan media masa 6. Peningkatan Pemahaman masyarakat 3.D. Peningkatan peran dan kemitraan dengan dunia usaha yang mempekerjakan ibu/bapak anak usia dini. Peningkatan pemahaman dan kemampuan lembaga penyelenggara pelayanan 4.

Persentase pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan. e. Cakupan menyusu dini. 26 .E. b. Status gizi ibu dan cakupan gizi mikro. Cakupan imunisasi ibu hamil. Cakupan anak yang memperoleh stimulasi. Pelayanan bayi usia 0-28 hari a. Pelayanan untuk janin dalam kandungan sampai bayi lahir: a. 2. Status gizi ibu dan cakupan gizi mikro terutama zat besi. Cakupan Imunisasi. INDIKATOR CAPAIAN (1) 1. d. c. d. b. Cakupan ASI eksklusif. g. c. Presentase bayi yang memiliki akte kelahiran. Cakupan K-4 dan cakupan penyuluhan Ibu hamil. f. Kunjungan Neonatal.

n.E. g. l. INDIKATOR CAPAIAN (2) 3. j. Cakupan keluarga yang menggunakan kelambu (khusus daerah endemik malaria). Cakupan ASI eksklusif Persentase bayi usia 6-24 bulan yang mendapat ASI Cakupan MP-ASI untuk keluarga miskin Status gizi balita Cakupan vitamin A SKDN Cakupan anak yang memperoleh stimulasi Cakupan ibu/keluarga yang mendapat penyuluhan Cakupan DDTK Cakupan imunisasi Persentase balita sakit yang dilayani Presentase balita gizi buruk yang dirawat Cakupan keluarga yang mengakses air bersih dan sanitasi yang layak. m. d. f. k. h. c. i. 27 . e. Pelayanan Bayi Usia 1-24 bulan a. b.

28 . Angka partisipasi pendidikan anak usia dini. i. Pelayanan Anak Usia 2-6 tahun: a. b.E. h. j. Cakupan keluarga yang menggunakan kelambu di daerah endemik malaria l. INDIKATOR CAPAIAN (3) 4. Ketersediaan sanitasi dasar di satuan pelayanan. e. Status gizi balita Cakupan vitamin A SKDN Cakupan anak yang memperoleh stimulasi Cakupan keluarga yang mendapat penyuluhan Cakupan DDTK Cakupan Imunisasi Persentase balita sakit yang dilayani Presentase balita gizi buruk yang dirawat Cakupan keluarga yang mengakses air bersih dan jamban k. g. f. c. d. m.

29 . Cakupan balita terlantar yang dilayani di PSAB e. Cakupan anak usia dini yang dilayani di TPA dan KB d. INDIKATOR CAPAIAN (4) 5. Cakupan keluarga yang mendapat penyuluhan b. Cakupan keluarga miskin yang mendapat bantuan (program PKH) c. Cakupan anak usia dini berkebutuhan khusus di lembaga pengesuhan dan perlindungan.E. Pelayanan Pengasuhan dan Perlindungan a.

Ibu menyusui sehat. 30 . memanfaatkan KMS dan KIA f. menyusui eksklusif. Pelayanan untuk Ibu: a.E. Ibu hamil sehat. INDIKATOR CAPAIAN (5) 6. Cakupan imunisasi ibu hamil c. menyusui secara benar. Cakupan penyuluhan bagi ibu hamil d. yang diindikasikan dari status gizi ibu dan cakupan gizi mikro yang diberikan. Ibu bersalin normal. 7. Cakupan keluarga yang mendapat penyuluhan. e. Ibu nifas sehat. b. dengan indikasi presentase pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan. memperoleh pelayanan PONED atau PONEK. dapat melakukan inisiasi dini. Pelayanan untuk keluarga a. Cakupan keluarga miskin yang mendapat PKH. b.

Peningkatan peran dan kemitraan dengan dunia usaha 13.Peningkatan manajemen kelembagaan dan program instansi/jajaran pemerintah. INDIKATOR CAPAIAN (6) 8. 31 .Peningkatan peran dan kemitraan dengan media masa 14. Pelayanan untuk Remaja & Calon Pengantin a. Cakupan calon pengantin yang memperoleh layanan konseling dan penyuluhan. 9.Peningkatan pemahaman dan kemampuan lembaga penyelenggara dan pelayanan 12.E. Cakupan remaja yang memperoleh penyuluhan.Peningkatan Pemahaman Masyarakat 11. b. Peningkatan kemampuan SDM 10.

BAB IV. PENYELENGGARAAN PELAYANAN PENGEMBANGAN ANAK USIA DINI HOLISTIK-INTEGRATIF 32 .

Partisipasi masyarakat 6. Pelayanan yang berkesinambungan 3. Perluasan distribusi pelayanan antarkelompok masyarakat 5. Pelayanan yang tidak diskriminatif 4. Pelayanan yang holistik 2. PRINSIP-PRINSIP PENYELENGGARAAN PELAYANAN PENGEMBANGAN ANAK USIA DINI HOLISTIK-INTEGRATIF 1. Good governance 33 .A. Berbasis budaya yang konstruktif 7.

dan pelaporan: Kepala Desa/Lurah. Tk Desa/Kelurahan: Penanggungjawab perencanaan. Tk Kec: Penanggungjawab perencanaan. dan pelaporan: Camat. Tk Propinsi: Koordinator dan inisiator penyelenggaraan program: Asda Bidang Kesra. Tk Kab/kota: Koordinator dan inisiator penyelenggaraan program: Asda Bidang Kesra. 34 . Struktur Organisasi Perencanaan dan Pembinaan a. d. Tk Pusat: Koordinator Kantor Menko Kesra. KELEMBAGAAN (1) 1.B. pelaksanaan. b. c. pelaksanaan. e.

i. g. Lembaga Penyelenggara: a. d. Satuan layanan anak usia dini lainnya yang sejenis 35 . Bina Iman Anak. b.B. Posyandu Bina Keluarga Balita Pos PAUD/Taman Posyandu Kelompok Bermain Taman Penitipan Anak Taman Kanak-Kanak Raudatul Athfal Bustanul Athfal Taman Pendidikan Alqur¶an/Taman Kanak-Kanak Al-Qur¶an. Sekolah Minggu j. c. KELEMBAGAAN (2) 2. h. f. e.

Layanan Lengkap dan Terintegrasi. 4. 5. Layanan Tidak Lengkap dan Fragmented. TIPOLOGI/BENTUK PELAYANAN 1. Terintegrasi pada satu tempat. Layanan Belum Lengkap tetapi berada pada satu lokasi. Layanan Lengkap.C. 3. . Layanan Lengkap dan Fragmented. 2.

TIPE PELAYANAN YANG DIHARAPKAN TIPE PELAYANAN LENGKAP TERINTEGRASI TIPE PELAYANAN LENGKAP TERINTEGRASI SATU ATAP 37 .

TIPE PELAYANAN LENGKAP TERINTEGRASI (1) 38 .

pendidikan. 39 . pengasuhan serta perlindungan yang dilaksanakan secara terintegrasi oleh berbagai pihak penyelenggara. di berbagai lokasi.TIPE PELAYANAN LENGKAP TERINTEGRASI 2)  Pengertian: penyelenggaraan pelayanan pengembangan anak usia dini dengan jenis pelayanan yang lengkap dan utuh mencakup pemenuhan kebutuhan pelayanan kesehatan. gizi.

TIPE PELAYANAN LENGKAP TERINTEGRASI SATU ATAP (1) 40 .

TIPE PELAYANAN LENGKAP TERINTEGRASI SATU ATAP (2) Pengertian: penyelenggaraan pelayanan pengembangan anak usia dini dengan jenis layanan yang lengkap dan utuh mencakup pemenuhan kebutuhan pelayanan kesehatan. serta perlindungan yang dilaksanakan oleh satu atau beberapa lembaga penyelenggara di satu lokasi 41 . gizi. pengasuhan. pendidikan.

42 . Pemerintah Pusat dan Daerah: diperlukan SDM yang memahami perihal anak usia dini khususnya dan anak pada umumnya. memiliki latar belakang pendidikan/ pelatihan/pengalaman penyelenggaraan/pelayanan anak usia dini. SUMBER DAYA 1. Legislatif Pusat dan Daerah: terutama pada Komisi yang menangani bidang kesehatan dan gizi. perlu mempunyai komitmen dan memahami mengenai pentingnya pengembangan anak usia dini. pengasuhan dan perlindungan anak. Kemampuan mengelola dan melakukan rujukan di antara penyelenggara. c.D. Lembaga penyelenggara: diperlukan SDM yang memahami. Sumber Daya Manusia: (1) a. pendidikan. b.

sumber dana dari APBD. atau donatur. UPT Pemerintah Pusat. UPT Pemerintah Daerah. APB Desa. 43 . dan dapat saja dari bantuan APBN. dana non reguler (sesuai peruntukan) dari sumber APBN dan donasi/kemitraan. Lembaga Penyelenggara milik masyarakat. sumber dana dari APBN. sumber dana dari Lembaga yang bersangkutan. SUMBER DAYA (2) 2. c.D. orangtua. b. APBD. Sumber Dana: Pendanaan untuk pelayanan pengembangan anak usia dini holistik-integratif berasal dari: a.

peralatan. 44 . obat. materi bahan ajar. buku KIA. alat bermain di dalam dan luar ruangan  Sarana belajar seperti kurikulum. sesuai standar minimum masing-masing pelayanan  Lahan bermain (play-ground)  Taman bermain  Perpustakaan  SARANA  Sarana bermain seperti APE. ruang periksa.  Sarana kesehatan seperti anhopometer kit. sesuai dengan fungsi setiap jenis pelayanan.SARANA DAN PRASARANA  PRASARANA  Bangunan tempat pelayanan. KMS. buku. ruang rawat. kamar tidur. suplementasi gizi mikro.  Sarana pembekalan kesehatan seperti vaksin. DDTK. KKA. furnitur.

PELAKSANAAN MONITORING DAN EVALUASI A. tahap pelaksanaan. hingga tahap pemantauan dan evaluasi.BAB V. MEKANISME KOORDINASI PERENCANAAN. 45 . 2. Mekanisme Koordinasi Mekanisme koordinasi dimulai sejak tahap perencanaan. Mekanisme Integrasi Lembaga Pelayanan Mencakup mekanisme integrasi pada pelayanan Tipe Lengkap Terintegrasi dan mekanisme pengintegrasian pelayanan Lengkap Terpadu Satu Atap. Mekanisme Koordinasi dan Integrasi 1.

MEKANISME PELAPORAN Mengatur mekanisme pelaporan dari tingkat lembaga penyelenggara hingga tingkat pusat. 46 . C. PEMBINAAN DAN PENGAWASAN Mengatur tujuan. D.B. dan ruang lingkup pembinaan dan pengawasan yang dilakukan. MEKANISME KOORDINASI MONITORING DAN EVALUASI Mengatur mekanisme koordinasi monitoring dan evaluasi dari tingkat pusat dan daerah dan tingkat penyelenggara layanan. sasaran.

E. PERAN PEMANGKU KEPENTINGAN Pemerintah Pusat Pemda Provinsi dan Kb/Kota Kecamatan Desa/Kelurahan Masyarakat Lembaga Sosial Kemasyarakatan Dunia usaha Media Massa Lembaga Penyelenggara 47 .

Sosialisasi B.BAB VI. Penyelenggaraan Kegiatan D. Pembinaan. Pemantauan. Pengawasan. LANGKAH IMPLEMENTASI PEDUM PAUD A. Konsolidasi dan Pengaturan Pelaksanaan C. dan Evaluasi 48 .

dan lembaga penyelenggara. 49 . lembaga sosial kemasyarakatan.  Agar semua kebutuhan esensial anak dapat dipenuhi. maka diperlukan kejelasan peran keluarga. pemerintah.  Penyelenggaraan pelayanan anak usia dini dapat memilih bentuk/ tipologi pelayanan Lengkap dan Terintegrasi atau Pelayanan Lengkap dan Terintegrasi Satu Atap. dunia usaha. PENUTUP  Pembangunan SDM memiliki peran yang sangat penting dalam mencapai kemajuan dan kemakmuran suatu bangsa.  Mengingat penyelenggaraan pengembangan anak usia dini dilaksanakan oleh berbagai pihak.VII. media massa. maka diperlukan pendekatan holistik-integratif dalam pengembangan anak usia dini. masyarakat.

TERIMA KASIH 50 .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful