Anda di halaman 1dari 3

Pengaruh Lama Belajar terhadap Memori

oleh Leslie Melisa, 1006684693 LTM Pemicu 3 Modul Neurosains Tingkat I Semester II Tahun Akademik 2010 / 2011 Belajar adalah suatu proses penerimaan pengetahuan atau keterampilan berdasarkan pengalaman, instruksi, atau keduanya. Pemberian reward dan punishment diyakini sebagai salah satu bagian integral dari proses pembelajaran. Misalnya ketika seekor anjing dimarahi ketika dia membuang air kecil di karpet dan dipuji ketika dia melakukannya di luar, dia akan belajar mengetahui tempat pembuangan tinja yang pantas.i Belajar tanpa adanya memori adalah sia-sia. Oleh karena itu, manusia dikaruniai kapasitas untuk menyimpan dan menggali kembali informasi atau pengalaman yang pernah ia dapatkan sebelumnya, yakni memori. Belajar dimulai dari proses diterimanya informasi dari luar berupa visual, audio, kinestetik, dll. oleh reseptor tubuh dan kemudian diregistrasi serta didepositkan ke short-term memory.i, ii Informasi tersebut akan mengalami dua nasib: dilupakan atau diproses lebih lanjut.i Mengingat adalah kemampuan menggali kembali informasi dari gudang ingatan sedangkan lupa adalah ketidakmampuan untuk mencari kembali informasi yang diinginkan.i Manusia mempunyai batas kemampuan konsentrasi belajar yang total sekitar 25 menit. Lewat dari itu, fokus akan menurun. Oleh karena itu, disarankan untuk membagi waktu belajar menjadi unit-unit yang terdiri atas 30-45 menit belajar dan 5-10 menit istirahat. Selain dapat menyegarkan dan mengembalikan fokus, cara ini juga menghindari terjadinya kelelahan anggota gerak tubuh seperti mata, tangan, jari, bahu, leher, dan punggung. Ibarat ketika Anda memakan roti, Anda tidak melahap satu buah sekaligus, melainkan dengan gigitan-gigitan kecil.iii Dengan begitu, Anda tidak akan tersedak dan dapat menikmati yang Anda makan. Mengapa kita bisa jenuh jika belajar terlalu lama? (belajar di sini adalah belajar dalam arti sesungguhnya: tidak bermain-main, fokus, dan aktif berpikir). Padahal bila dipikirkan, otak mempunyai kapasitas yang sangat besar.iii Perlu diingat bahwa informasi pertama kali disetor ke short-term memory yang mempunyai kapasitas besar namun terbatas. Oleh sebab itu, jika kita terus menjejalkan informasi tanpa berhenti sejenak, short-term memory bisa-bisa meledak. Yang ia butuhkan hanyalah sedikit waktu untuk menyediakan ruang baru dan merapikan informasi dengan benar.iv

Tidak dapat dipungkiri bahwa manusia tidaklah sempurna. Manusia bisa lupa akan apa yang terjadi sebelumnya dan apa yang ia pelajari dahulu. Suatu peribahasa dalam bahasa Inggris berkata, Use it or Lose it. Hal tersebut benar adanya dan berlaku pada memori manusia. Bila informasi yang didapatkan tidak segera digunakan dan diulang, dia akan hilang dari memori karena hanya berupa short term memory. Pada kenyataannya, 75% dari apa yang dipelajari akan dilupakan dalam waktu 24 jam. Ibaratnya Anda sedang mendorong sebuah kotak menaiki papan luncur yang panjang dan Anda telah mencapai 1/3 perjalanan. Anda kemudian berhenti sangat lama (tanpa menopang kotak tersebut) sehingga kotak tersebut meluncur ke bawah. Akibatnya, Anda harus berpeluh keringat memulai dari awal kembali. Solusinya? Jangan beristirahat terlalu lama. Sering kita telah mempelajari sesuatu dengan segenap hati, tetapi membiarkannya terkubur sampai sebulan kemudian baru kita menyadari bahwa kebanyakan dari hal tersebut telah hilang dari ingatan kita.iii Seperti yang telah diketahui, long-term memory mempunyai kapasitas yang luar biasa besar, tetapi juga membutuhkan waktu lebih lama untuk konsolidasi. Salah satu cara konsolidasi adalah melalui revisi (rehearsal, repetisi).i Metode revisi yang paling umum adalah dalam jangka waktu 10 menit, sehari, seminggu, sebulan, dan tiap bulan berikutnya.iii,iv Revisi tidak berarti Anda harus membaca secara detail lagi dari awal; Anda cukup melakukan speed reading untuk recognition dan recall.iii Di samping itu, belajar perlu pengalokasian kuantitas dan kualitas, bukan waktu. Beberapa orang berkata bahwa mereka belajar selama tiga, empat, lima jam sehari dan jikalau saatnya ujian, mereka perlu meningkatkan jam belajar mereka menjadi delapan jam. Hal tersebut tidak salah, tetapi tidak dapat dibenarkan pula. Kembali kepada pribadi masingmasing, jam belajar dapat bervariasi tergantung kecepatan tiap individu menangkap informasi. Namun, waktu seharusnya tidak dijadikan patokan dalam belajar. Analoginya adalah sebagai berikut: Anda membiayai seorang tukang kayu untuk membuat kursi antara Rp 30.000,- per jam atau Rp 60.000,-. Satu kursi kira-kira diselesaikannya dalam waktu 2 jam. Jika Anda membayar dia perjam, dia tentu akan bermalas-malasan supaya mendapat lebih banyak uang. Sebaliknya, jika dibayar perkursi, dia akan lebih giat membuat kursinya supaya menerima lebih banyak uang.iii (catatan: kualitas kursi adalah standar) Cara belajar dengan sistem kebut sehari atau semalam tidak dianjurkan karena sangat mengandalkan kemampuan short-term memory; sangat sedikit orang yang bisa meretensi ingatan mereka tentang pelajaran yang dikebut dalam sehari atau semalam. Selain itu, karena

belum menyelesaikan bahan ujian keesokan harinya, beberapa orang sampai mengkorting waktu tidurnya/ begadang. Menurut sebuah penelitian terbaru di University of California, Berkeley, begadang justru menurunkan kemampuan untuk menjejalkan informasi sebanyak 40%. Hal tersebut dikarenakan beberapa daerah di otak melemah karena kurang tidur.v Daftar Pustaka

Sherwood L. Human physiology from cells to systems. 7th ed. United States: Brooks/Cole,

Cengage Learning; 2010.


ii

Daldiyono. How to be a real and successful student buku panduan untuk menjadi sarjana Thakore A. The portrait of a super student. Singapore: Singapore Asian Publications (S) Pte Buzan T, Abbott S. Buku pintar mind map untuk anak agar anak mudah menghafal dan Midday nap markedly boosts the brains learning capacity [Internet] 2010 Feb 22 [disitasi

yang sadar dan berpikir. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama; 2009.


iii

Ltd; 2008.
iv

berkonsentrasi. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama; 2007.


v

2011 Mei 31]. Tersedia di: http://www.sciencedaily.com/releases/2010/02/100221110338.htm