Anda di halaman 1dari 3

Kopiah, Dari Kebudayaan Sejagad Untuk Indonesia Teks Oleh Riki Dhamparan Putra 1 Kopiah memang hebat.

Selama berabad abad penutup kepala berbahan beludru ini telah menjadi tanda identitas, baik politik maupun kebudayaan. Terutama dalam kebudayaan kebudayaan mayor Asia. Di kepulauan Malaya dikabarkan, sejak abad 13 kopiah telah menjadi pakaian massal dan menjadi penanda dari Era Kebudayaan Islam di Asia Tenggara. Seorang penulis Brunei, Rozan Yunos, dalam sebuah artikel yang diterbitkan di surat kabar Brunei bahkan merinci, bahwa kopiah songkok diperkenalkan mula sekali oleh para pedagang Arab, bersamaan dengan dikenalkannya serban atau turban. Namun pandangan kopiah berasal dari Arab tersebut dianggap kurang kuat oleh sementara peneliti. Sebab, faktanya kopiah tidak lazim digunakan di Arab. Negeri negeri bercorak Islam yang menggunakan kopiah justru lebih banyak terdapat di benua Afrika seperti negara Mesir. Pandangan lain menyebutkan, kopiah mulai mendunia semenjak Kekaisaran Ottoman Turki menjadikannya salah satu pakaian tradisional. Dari imperium Ottoman yang menguasai Eropa dan jazirah Asia Tengah selama enam ratus tahun, itu kopiah kemudian menyeberang ke Asia Selatan. Yakni ke India, Bangladesh, Pakistan dan juga Srilanka. Di anak benua India ini, kopiah dibudayakan untuk menyatakan dukungan kepada kekaisaran Ottoman. Namun itu tak berarti Turki adalah negara yang pertama sekali menciptakani kopiah, lantaran sebagian pengamat mengatakan bahwa kata fezzy yang digunakan di Turki, berasal dari bahasa Yunani, fez. Jadi kopiah sudah ada sejak zaman Yunani kuno? Lebih jauh malah ada pendapat yang mengatakan, bahwa tarboosh ( sebutan kopiah di Mesir ) sudah ada sejak zaman Mesir kuno. Seperti tak mau ketinggalan, bangsa Yawadwipa ( spesifik Gresik dan sekitarnya ) juga mempunyai sebuah cerita tentang kopiah. Dikisahkan, Sunan Giri mempunyai seorang santri dari Maluku bernama Zainal Abidin. Ia adalah raja Ternate yang hidup antara tahun 14861500. Sekembali dari Pesantren Sunan Giri ke Ternate, Sultan Zainal Abidin membawa kopiah sebagai buah tangan. Sejak saat itulah kopiah mulai memasyarakat di Ternate dan sekaligus melegitimasi klaim sejarah bahwa Islam ke Ternate dibawa dari pulau Jawa. Cerita ini berasal dari keterangan penulis sejarah Orde Baru. Peci dari Giri dianggap magis dan sangat dihormati serta ditukar dengan rempah-rempah, terutama cengkeh, tulis Marwati Djoened Poesponegoro dan Nugroho Notosusanto dalam buku Sejarah Nasional Indonesia III. Tentu saja sejarah kopiah versi orde baru ini bersifat politis dan integratif dengan menjadikan Jawa sebagai sentral penyebaran agama Islam Padahal referensi sejarah tertulis . menunjukkan, kerajaan Islam Ternate jauh lebih tua ketimbang Islam di Jawa. Jadi mustahil kalau agama Islam di Ternate berkembang karena masuknya Kopiah Giri. Lalu bagaimana kopiah bisa membudaya dalam kultur di wilayah wilayah yang sekarang disebut Indonesia? Kopiah Indonesia tertua yang melanglang buana ke mancanegara dan sampai sekarang masih ada diketahui berasal dari Aceh. Kopiah ini dibuat tahun 1875 dan sekarang tersimpan di museum nasional Denmark. Seperti diberitakan Harian Waspada beberapa waktu lalu, kopiah tersebut terbuat dari bulu kuda dan diberikan oleh Kerajaan Aceh Darussalam kepada Kerajaan Denmark pada 31 Desember 1875. Fakta ini memperkuat bukti bahwa kopiah sejak lama telah menjadi bagian dari misi politik kerajaan kerajaan Melayu Islam di kawasan
1

Dimuat di majalah AND, 2010

Asia Tenggara. Karena itu tak salahlah kiranya, bila kopiah identik dengan kultur Melayu yang memang beragama Islam. Fakta yang makin meyakinkan, karena hampir dalam seluruh sub kebudayaan Melayu, kopiah merupakan pakaian tradisional yang menjadi tanda kesalehan dan keterpelajaran seseorang dalam agama Islam. Tak banyak berbeda dengan di negeri negeri Melayu Sumatra, kalangan santri di pulau Jawa juga menjadikan kopiah sebagai salah satu tanda identi as kesantrian yang terpenting. t Melalui jenis kopiah yang dikenakan, juga dibedakan strata sosial seorang santri dengan seorang yang sudah pergi haji. Santri biasa hanya boleh mengenakan kopiah hitam. Sedang kopiah haji berwarna putih hanya dikenakan oleh mereka yang sudah pergi haji. Kewajiban mengenakan kopiah sekaligus diangap sebagai bentuk kewiraian atau kezuhudan seseorang. Oleh karena itu seorang santri tidak pernah melepas peci baik dalam saat beribadah maupun dalam keseharian. Bahkan terdapat semacam mitos bahwa santri yang tidak mengenakan kopiah disebut dengan istilah santri gundul yang identik dengan santri badung. Sering melangar tatakrama, aturan dan pelajaran. Itulah yang mendorong budaya kopiah tetap berakar di kalangan pesantren hingga hari ini. Namun demikian, kisah kopiah sebagai tanda kesalehan ini segera berubah dengan dijadikannya kopiah sebagai simbolisasi perlawanan oleh tokoh dari kalangan pergerakan di era pergerakan nasional. Tersebutlah Mbah Tjokroaminoto, pendiri Sarekat Islam dan salah satu idola kaum pergerakan di permulaan abad 20. Berbeda dengan kalangan pergerakan priyayi Boedi Oetomo (1908) yang mengenakan blangkon sebagai penutup kepala dan identitas mereka, Mbah Tjokro justru menggunakan kopiah. Caranya berpakaian itu sekaligus menggambarkan karakter pergerakannya yang tidak ekslusif dan menolak dominasi keningratan. Mbah Tjokro antara lain menganjurkan bahasa jawa umum dalam komunikasi sehari hari, untuk membedakan diri dengan bahasa jawa ningrat dari kalangan Boedi Oetomo. Tentu saja, pengaruhnya yang besar kemudian membuat kopiah menjadi populer di kalangan pergerakan. Tidak hanya dari kalangan santri, kalangan priyayi pun banyak yang mengikuti gaya Mbah Tjokroaminoto mengenakan kopiah dalam pertemuan pertemuan resmi maupun sehari hari. Dari Mbah Tjokroaminot inilah kelak, cerita kopiah sebagai identitas pergerakan bermula. Kopiah kini tak lagi milik kalangan santri. Seorang murid Mbah Tjokro aminoto, bernama Soekarno, kemudian mempopulerkan kopiah sebagai simbol patriotisme dan nasionalisme. Pada rapat Jong Java di Surabaya, Juni 1921, Soekarno menyatakan Kita memerlukan sebuah simbol dari kepribadian Indonesia. Peci yang memiliki sifat khas ini, mirip yang dipakai oleh para buruh bangsa Melayu, adalah asli milik rakyat kita. Menurutku, marilah kita tegakkan kepala kita dengan memakai peci ini sebagai lambang Indonesia Merdeka kata Soekarno seperti dituturkan dalam Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia, tulisan Cindy Adams. Soekarno menyebut peci sebagai ciri khas saya... simbol nasionalisme kami. Soekarno mengkombinasikan peci dengan jas dan dasi. Ini, menurut Soekarno, untuk menunjukkan kesetaraan antara bangsa Indonesia yang terjajah dan Belanda yang penjajah. Walaupun, tentu saja, pernyataan itu tak selalu konsisen. Sebab bahan maupun rajutan peci Soekarno bukanlah produk dalam negeri. Menurut Molly Bondan dalam Spanning A Revolution, peci Soekarno terbuat dari beludru hitam, yang bahannya berasal dari pabrik di Italia.

Kebiasaan mengenakan peci oleh kalangan pergerakan terus berkembang. Bahkan bila ada ada tokoh yang tidak memakai kopiah, pasti menjadi objek sindiran para aktivis lainnya. Ketika Muhammad Hattta mewakili Indonesia dalam Konfrensi Meja Bundar di Den Hag, 27 desember 1949, ia digunjing oleh para aktivis lainnya sebagai blootshoofd (tanpa kopiah), karena Hatta saat itu tidak mengenakan kopiah. Sehingga dianggap menghilangkan ciri khas Keindonesiaan yang diharapkan bisa memberi garis tegas antara nasionalisme dan kolonialisme. Begitulah sekelumit kisah tentang kopiah di Indonesia. Rezim boleh berganti, Soekarno disingkirkan oleh Soeharto dan Soeharto disingkirkan oleh reformasi. Namun ada yang tak tersingkirkan, kopiah! Tak hanya menjadi pakaian resmi kenegaraan, kopiah juga dikenakan terdakwa koruptor di kursi pengadilan. Seakan mencerminkan kepribadian nasional yang unik, yang menyatupadukan kesantrian dengan kebiasaan korupsi. Wallualambisawab.