Anda di halaman 1dari 5

Tugas Antropologi Politik Review buku Penulis Oleh NIM Prodi : Negara Teater : Clifford Geertz : Isnan Amaludin

: 08/275209/PSA/1973 : S2 Sejarah

Geertz sepertinya tertarik pada Bali karena menjadi suaka terakhir budaya Hindu di Nusantara, dalam memahami periode Hindu di Indonesia. Di sini Geertz mencoba menyingkirkan kekeliruan-kekeliruan metodis yang selama ini banyak digunakan. Yang pertama, pendapat Thomas Raffles (Gubernur Jenderal di Indonesia pada zaman penjajahan Inggris) yang menyatakan bahwa Bali modern adalah "museum" yang melestarikan budaya pedalaman Indonesia prakolonial. Yang kedua, bahwa adanya bukti praktik sosial, bentuk kultural, suatu adat, kepercayaan, atau lembaga tertentu di Jawa, pada akhirnya harus didasarkan pada bukti yang bukan dari Bali. Organisasi-organisasi pengairan dan pemujaan terhadap sihir bukan merupakan bukti bahwa adat-adat tersebut bisa didapati di Jawa masa lalu. Ketiga, waaupun Bali sama-sama menjadi taklukan Majapahit, tetapi Bali tetap berbeda dengan daerah lain di Indonesia yang beraneka ragam. Dalam buku itu digambarkan keadaan di Bali abad ke-19 tentang bagaimana hubungan agama dengan negara, para ksatria dengan pemuka agama, dan penguasa dengan para pedagang. Geertz menggunakan istilah perklienan untuk melukiskan hubungan para penguasa/ksatria dengan pemuka agama maupun pedagang. Sedangkan untuk hubungan antardadia (dadia adalah kelompok masyarakat semacam marga, terutama dengan tujuan politis) digunakan istilah aliansi. Bali adalah negara teater yang di dalamnya raja-raja dan para pangeran adalah impresario-impresario, para pendetanya sutradara, dan para petaninya aktor pendukung, penata panggung, dan penonton.

Begitulah ia mengibaratkan "skema" kemasyarakatan di Bali. Dengan pendekatan etnografi yang kental, Geertz menguraikan tentang seperangkat nilai, budaya, bahkan mitos terhadap (ke)kuasa(an) yang berlangsung pada kerajaan-kerajaan di Bali ketika itu. Kekuasaan, dalam kaitan studi kerajaan di Bali ini, ia didefinisikan sebagai kemampuan untuk membuat keputusan yang mengikat orang lain, dengan pemaksaan sebagai ekspresinya, kekerasan sebagai fondasinya, dan dominasi sebagai tujuannya. Geertz mengungkap sejarah bahwa raja di Bali yang berasal dari Jawa, paling awal adalah Ida Dalam Ktut Kresna Kepakisan. Raja ini cucu seorang brahmana di Jawa. Ia menjadi raja di Bali mulai tahun 1352, pada zaman Gadjah Mada menjadi patih di Majapahit. Penaklukan Bali oleh Majapahit itu, menurut Geertz dianggap sebagai perubahan besar dalam sejarah Bali karena memutus babarisme. Kepakisan bukan lagi brahmana setelah berada di Bali menjadi raja di Gelgel. Ia mengubah gelarnya menjadi "dalem". Sedangkan pengiringnya dari Jawa, kemudian menjadi raja-raja regional, yang "sekunder". Lalu muncul semacam raja-raja kecil "tersier", yang oleh Geertz disebutkan sebagai pemisahan dari raja sekunder. Dan di Bali pun terdapat banyak kerajaan-kerajaan kecil. Sudah menjadi argumen sentral Geertz dalam buku ini, yang ditampilkan dalam pembagian-pembagian isi melalui keseluruhan pemaparannya, bahwa kehidupan yang berkisar sekitar para punggawa, perbekel, puri, dan jero di Bali klasik merupakan suatu konsepsi alternatif. Seperti apa dan untuk apa perpolitikan dan kekuasaan itu. Sebagai suatu struktur tindakan, yang kadang-kadang berdarah, dan kali lain seremonial, negara adalah suatu struktur pikiran. Menjelaskan negara, berarti menjelaskan suatu konstelasi gagasan-gagasan yang disakralkan. Negara (nagara, nagari, negeri), sebuah kata Sansekerta yang tadinya berarti "kota", dipakai dalam bahasa Indonesia selain berarti "negara" juga berarti "istana", "ibu kota", "negara", "wilayah kekuasaan", dan lagi "kota". Dalam artinya yang lebih luas, kata itu dipakai untuk

menunjuk suatu peradaban (klasik) dunia Kota tradisional, dunia budaya tinggi yang berkembang di kota itu, dan sistem wewenang politik tinggi yang berpusat di situ. Kata lawannya adalah "desa", juga kata sanskertaberarti juga dengan acuan yang luwes, "daerah pedalaman", "daerah", "mukim", "tempat", dan kadang-kadang "daerah momongan" atau "daerah yang diperintah". Dalam artinya yang luas, "desa" adalah pengertian yang berkaitan dengan berbagai jenis organisasinya di permukiman pedalaman, dunia petani, penyewa tanah, kawula, "rakyat". Antara kedua kutub ini, negara dan desa, terdapat perbedaan besar pada politik klasik yang berkembang di dalamnya dan memperoleh bentuknya yang berbeda, atau khas, dalam konteks kosmologi yang dipinjam dari India. Memahami negara adalah memahami emosi-emosi pelakunya dan menafsirkan tindakan-tindakan itu; memperjelas suatu seni kekuasaan bukan mekaniknya. Idiom derajat bukan saja membentuk konteks yang di dalamnya hubungan-hubungan praktis dari aktor-aktor politis yang utama-punggawa, perbekel, kawula dan perekan-memperoleh bentuknya dan memiliki makna. Akan tetapi, idiom itu juga meresapi drama-drama yang secara bersama mereka selenggarakan, dicor theatreal, serta tujuan-tujuan lebih besar yang ingin mereka capai dengan penyelenggarakan drama-drama tersebut. Negara memperoleh kekuatannya, yang memang nyata, dari energienergi imajinatif, kepastian semiotiknya untuk menjadikan ketidaksamaan status. Yang perlu diketahui, ungkap Geertz, Negara Bali adalah suatu representasi dari bagaimana realitas itu ditata; sebuah sosok yang sangat besar tempat di mana benda-benda seperti keris, bangunan-bangunan (seperti istana), praktik-praktik seperti kremasi, gagasan-gagasan (seperti dalem), dan perbuatan (seperti bunuh diri dinastik), mendapatkan kekuatan seperti yang mereka miliki itu. Clifford Geertz menyebutkan bahwa raja-raja di Bali di masa lalu sering kali melakukan bebagai dan upacara kebesaran besar-besaran kekuasaannya. untuk Dalam memperlihatkan keagungan

batasan lebih jauh bisa ditafsirkan bahwa upacara ini bukan saja untuk memperlihatkan kebesaran itu kepada raja pesaing, tetapi juga kepada rakyat agar para kawula ini tetap tunduk terhadap kekuasaan. Intinya, berbagai upacara itu adalah upaya legitimasi kekuatan. Dalam pandangan Geertz, upacara besar-besaran tidak lain sebuah panggung pertunjukan, pameran kekuatan dan show of force dari si pelaku dalam berbagai bentuk. Biaya yang dikeluarkan seolah tidak menjadi hitungan asal image tentang kebesaran itu bisa melekat pada sasaran tujuan. Dalam batasan tertentu, tampaknya praktik demikian masih berlaku hingga sekarang dalam realitas sosial kontemporer di Bali. Dari buku Negara Teater kita tahu bahwa di Bali upacara adalah bagian hidup masyarakat yang sudah ada secara turun-temurun dan terutama dipelihara oleh penguasa sebagai alat peraga untuk "menampakkan diri". Makin hebat upacara yang diselenggarakan, pada zaman kerajaan-kerajaan abad ke-19 itu, kian memberi kesan bahwa penguasanya besar wibawanya. Cara "menampakkan diri" si penguasa dengan menggunakan berbagai upcara tersebut, sampai kini masih bisa ditemukan di mana pun. Dengan menyimak buku tersebut, kita akan memperoleh pemahaman bahwa segala upacara demikian tadi sebenarnya tertuju untuk penguasa atau penggede, bukan untuk menghargai rakyat. Sedangkan lainnya, yang bukan kelompok penguasa, tak bukan hanyalah sekadar pendukung atau "alat" upacara. Bahkan Geertz jelas-jelas mengatakan, kasta "brahmana" pun dalam upacara-upacara hanya berfungsi untuk memperbesar wibawa penguasa. Makin banyak brahmana yang datang, kalau bisa juga dari negara lain, semakin memperlihatkan besarnya pengaruh sang penguasa.

Menurut Geertz kekuasan lah yang melayani upacara bukan upacara melayani kekuasaan. Mungkin suatu pendapat yang kurang benar, karena sifat dasar manusia yang sosial ini adalah ingin menguasai. Upacaraupacara ritual yang ada di Bali merupakan suatu legitimasi tersendiri dan khas dari penguasa-penguasa setempat. Kaarena hanya dengan cara itulah legitimasi dapat diperoleh, juga status dan kharisma dapat dipertahankan. Kerajaan-kerajaan Hindu pada umumnya menganggap raja sebagai dewa, sehingga ritus-ritus perlu dilakukan dan diselenggarakan. Walaupun sepertinya kekuasaan melayani upacara, tetapi sebenarnya hanya sebagai cara memperoleh legtimasi dari rakyanya.