Anda di halaman 1dari 89

PEMANTAUAN GUNUNGAPI

MATA KULIAH VULKANOLOGI IGAN S. SUTAWIDJAJA

FAKULTAS TEKNIK GEOLOGI UNIVERSITAS PADJADJARAN

MENGAPA GUNUNGAPI MELETUS ?


GUNUNGAPI : Lubang kepundan (termasuk batuan samping) tempat magma keluar MAGMA : Campuran cairan silikat, kristal dan gas

MENGAPA TERJADI LETUSAN ?


Pergerakan lempeng bumi Peleburan bag. Atas dan bawah kerak bumi Umumnya berkomposisi basaltis, suhu 1000 1300 oC Banyak volatil yg berkembang menjadi gelembung gas bergerak ke bag. Atas dapur magma terkonsentrasi di bag. Atas dapur magma Pemanasan batuan dan air bawah permukaan di sekitarnya mengakibatkan retakan batuan penutup memudahkan magma bergerak ke permukaan, semampu tekanan yang dipunyai Tekanan > batuan penutup Letusan

Penampang suatu gunungapi dan bagian-bagiannya.

Penampang belahan Bumi

Penampang yang memperlihatkan batas lempeng utama dengan pembentukan busur gunungapi

Penampang diagram yang memper lihatkan bagaimana gunungapi ter bentuk di permukaan melalui kerak benua dan kerak samudera serta mekanisme peleburan batuan yang menghasilkan busur gunungapi, busur gunungapi tengah samudera, busur gunungapi tengah benua dan busur gunungapi dasar samudera

GEJALA AWAL LETUSAN GUNUNGAPI


1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. KEGEMPAAN (SEISMICITY) PERUBAHAN TUBUH (GROUND DEFORMATION) PERUBAHAN GRAVITASI (GRAVITY CHANGE) PERUBAHAN KEMAGNETAN (MAGNETIC CHANGE) PERUBAHAN EMISI GAS (GAS EMISSION CHANGE) PERUBAHAN SIFAT LISTRIK (ELECTRICAL CHANGE) PERUBAHAN SIFAT PANAS (THERMAL CHANGE) PERUBAHAN VISUAL (VISUAL CHANGE) SEBELUM ATAU SELAMA LETUSAN TERJADI

1. KEGEMPAAN
TIPE GEMPABUMI VULKANIK
Gempa Tipe-A : terjadi pada kedalaman > 1Km, frekuensi tinggi (>/= 3 Hz), gelombang P dan S teramati jelas. Gempa Tipe-B : terjadi pada kedalaman 0 1 Km, umumnya frekuensi rendah (< 3Hz), gelombang S kurang jelas. Gempa Letusan : mirip dengan gempa Tipe-B, tetapi terjadi saat letusan di permukaan. Tremor Vulkanik : getaran menerus atau perulangan gempa kecil, terjadi akibat gangguan yang menerus.

BERBAGAI MACAM REKAMAN GEMPA YANG DITIMBULKAN OLEH BERBAGAI KEGIATAN

Rekaman gempa yang timbul akibat kegiatan gunungapi

Rekaman gempa vulkanik dangkal oleh seismograf digital

Sebaran episenter dan hiposenter G. Guntur hasil seismograf digital

PERANGKAT DIGITAL SEISMOGRAF

PERANGKAT SEISMOGRAF MANUAL

Penampang kegiatan vulkanik

2. PERUBAHAN TUBUH
DISEBABKAN TEKANAN LEMAH AKIBAT ERUPSI ATAU MIGRASI MAGMA TERHADAP CELAH/REKAHAN LATERAL DAPAT MENGAKIBATKAN PENGANGKATAN TUBUH GUNUNGAPI.

Precise leveling Mengukur pengengkatan atau penurunan tubuh gunungapi Dipasang secara radial dari pusat erupsi atau sekeliling tubuh gunungapi Electronic Distance Measurement (EDM) Mengukur pembengkakan vertikal maupun hrizontal tubuh gunungapi Jarak EDM ke reflektor merupakan jarak tetap, artinya titik ukur tidak boleh berubah Koreksi dibuat untuk suhu dan tekanan udara serta uap air selama pengukuran.

Pengukuran Ungkitan (Tilting)

Titik-titik pada lereng gunungapi umumnya memperlihatkan ungkitan sebelum terjadi erupsi Ungkitan terjadi antara puluhan sampai ratusan microradian sebelum letusan, dan jarang sekali dalam ribuan microradian.

Pengukuran Levelling

Pengukuran Levelling

Pengukuran Deformasi dengan EDM

Pengukuran Deformasi dengan EDM

Rekahan yang menyebabkan keluarnya magma ke permukaan

Rekahan yang menyebabkan keluarnya gas/uap ke permukaan

3. PERUBAHAN GARVITASI
Percepatan gravitasi setempat merupakan fungsi dari ketinggian dan batuan dekat permukaan bumi Dalam tubuh gunungapi, perubahan gravitasi dapat berasal dari pengangkatan atau penurunan tubuh, perubahan berat jenis batuan yang disebabkan terobosan magma atau perubahan level air bawah permukaan, atau kedua-duanya.

Pengangkatan kira-kira 3 microgals/cm (rata-rata gravitasi bumi di seluruh dunia adalah 980 gals). 1 microgal = seper milyar seluruh lapangan gravitasi. Ciri-ciri perubahan gravitasi pergantian perubahan pembengkakan dan pengempisan dapur magma dalam tubuh gunungapi akibat pengisian dan pengosongan magma.

4. PERUBAHAN KEMAGNETAN

Perubahan kekuatan magnet bumi terjadi akibat : terobosan magma tau penekanan batuan samping Umumnya mineral yang mengandung magnet di dalam magma tidak mengalami perubahan suhu Curie, sehingga terobosannya akan mengurangi kekuatan lapangan magnet secara total Terobosan magma juga akan memagnetisasi batuan samping yang akan banyak berpengaruh terhadap lapangan magnet Perubahan kemagnetan juga disebabkan oleh pemanasan yang relatif lamban, perambatan dan penyebaran panasnya terbatas Arah dan kekuatan magnet diukur pada satu atau lebih lokasi pada tubuh gunungapi dan satu lokasi jauh dari gunungapi

5. PERUBAHAN KELISTRIKAN

Anomali tekanan dan pemanasan batuan dan air bawah permukaan dapat menyebabkan lemahnya arus listrik atau perubahan ketahanan Perubahan tersebut dapat disebabkan langsung oleh sifat listrik, tetapi mungkin juga oleh pengaruh elektromagnet, akibat perubahan lapangan magnet setempat 2 parameter dalam sifat kelistrikan : Potensi diri (Electrical Self-Potential) Sifat arus berfrekuensi sangat rendah dari sumbernya.

6. PEMANTAUAN GAS

Tekanan dan tegangan fisik di bawah tubuh gunungapi dan erupsinya sendiri adalah dipicu oleh pembumbungan magma akibat pelepasan gas, dan juga oleh uap air bawah permukaan. Pengeluaran gas seperti : H2O, CO2, CO, SO4, H2S dan hologen dipermukaan gunungapi, erat hubungannya dengan pembentukan gas di dalam magma. Sedangkan kegiatan hidrotermal disebabkan oleh interaksi magma dengan air bawah permukaan.

PEMANTAUAN GAS SO2 DENGAN COSPEC

PENGAMBILAN CONTO GAS DI G. MERAPI

7. PEMANTAUAN TERMAL

Hampir semua gunungapi aktif menunjukkan manifestasi termal dipermukaan : solfatara, fumarola dll. Apabila magma bergerak ke permukaan cenderung akan meningkatkan suhu manifestasi di permukaan akibat terpanaskannya batuan samping dan air bawah permukaan. Pengukuran suhu dapat dilakukan pada : solfatara, fumarola, mataair panas, lumpur panas atau danau kawah.

MANIFESTASI PANAS YANG DIUKUR DENGAN KAMERA THERMAL

8. PENGAMATAN VISUAL

Pengamatan visual gunungapi dilakukan secara rutin setiap hari dari Pos Pengamatan Gunungapi, atau secara periodik bagi gunungapi yang belum ada posnya. Pengamatan intensif dilakukan sebelum terjadi letusan yang mungkin timbulnya gejala sebagai berikut : Sinar api sepanjang rekahan di sekitar kawah Meningkatnya suhu asap atau uap air Perubahan warna tiang asap Perubahan bau asap Perubahan tubuh gunungapi secara drastis Perubahan warna air danau kawah Gejala lainnya sekitar kawah atau tubuh gunungapi

Hasil pengukuran berbagai metoda sebelum terjadi letusan

ADALAH PERISTIWA ALAM/ PERBUATAN MANUSIA YANG MENGAKIBATKAN JATUHNYA KORBAN JIWA DAN PENDERITAAN MANUSIA, KERUGIAN HARTA BENDA, RUSAKNYA LINGKUNGAN HIDUP, SERTA TERGANGGUNYA RODA PEREKONOMIAN MASYARAKAT

BENCANA ALAM YG DISEBABKAN OLEH PROSES-PROSES GEOLOGI, a.l.:

BEBERAPA SIFAT BENCANA

DAPAT DIPELAJARI DAN DIKETAHUI BAHWA SUATU KAWASAN BERPOTENSI UNTUK TERJADINYA BENCANA. NAMUN TIDAK DAPAT DIKETAHUI KAPAN AKAN TERJADI DAN BERAPA BESAR KORBAN YANG AKAN TERJADI; JANGKAUAN DAMPAK BENCANA TIDAK MENGENAL BATAS WILAYAH ADMINISTRATIF DAERAH OTONOM

KELEMBAGAAN PENANGGULANGAN BENCANA

 

DIBENTUK BADAN NASIONAL PENANGGULANGAN (BNPB), DENGAN UU NO 24 TAHUN 2007, BPBD PROPINSI BPBD KABUPATEN/KOTA

BENCANA

KEANGGOTAAN: WAPRES RI, MENKO KESRA, 6 KEMENTERIAN, PANGLIMA TNI, KAPOLRI DAN GUBERNUR YANG WILAYAHNYA TERKENA BENCANA BADAN GEOLOGI MELALUI DIREKTORAT VULKANOLOGI DAN MITIGASI BENCANA GEOLOGI MENANGANI BENCANA GUNUNGAPI, TANAH LONGSOR, GEMPA BUMI, TSUNAMI, EROSI DAN SEDIMENTASI

MANAJEMEN BENCANA
MANAJEMEN BENCANA MELIPUTI UPAYA-UPAYA: 1. 2. PENCEGAHAN, UNTUK MENIADAKAN SEBAGIAN ATAU SELURUH KORBAN AKIBAT BENCANA YANG MUNGKIN AKAN TERJADI MITIGASI, IDENTIFIKASI SUMBER-SUMBER BENCANA, MEMETAKAN DAERAH BAHAYA, PENYEBARAN INFORMASI DAN SOSIALISASI KEBENCANAAN, DAN PELATIHAN PENANGGULANGAN BENCANA KESIAGAAN, MEMPERSIAPKAN DIRI, INSTITUSI, DAN MASYARAKAT DALAM MENGHADAPI BENCANA YANG MUNGKIN TERJADI TANGGAP DARURAT, MENCAKUP SERANGKAIAN KEGIATAN PEMBERIAN BANTUAN KEPADA KORBAN BENCANA PEMULIHAN, MENCAKUP PEMULIHAN SARANA DAN PRASARANA DASAR FISIK, SOSIAL, DAN EKONOMI UNTUK MEMULIHKAN TATA KEHIDUPAN PEMBANGUNAN KEMBALI, PELAKSANAAN PERBAIKAN, PEMBANGUNAN DAN ATAU PENATAAN KEMBALI UNTUK JANGKA MENENGAH DAN PANJANG TERHADAP KERUSAKAN FISIK, SOSIAL SERTA EKONOMI

3. 4. 5. 6.

KEGIATAN BADAN GEOLOGI DALAM PENANGGULANGAN BENCANA GEOLOGI


1. SEBELUM BENCANA : * PEMETAAN DAERAH RAWAN GERAKAN TANAH; * PEMANTAUAN GERAKAN TANAH; * PEMETAAN KEGEMPAAN; * PENYELIDIKAN TSUNAMI; * PEMANTAUAN GUNUNGAPI; * KEWASPADAAN MENGHADAPI BENCANA. 2. SELAMA DAN SESUDAH TERJADI BENCANA : * PEMERIKSAAN TANAH LONGSOR; * PEMERIKSAAN GEMPA BUMI; * PENYELIDIKAN PASCA TSUNAMI; * PENENTUAN STATUS / TINGKAT KEGIATAN GUNUNGAPI. 3. UPAYA MITIGASI BENCANA GEOLOGI ADANYA PROTAP : GUNUNGAPI, TANAH LONGSOR, GEMPABUMI.

SISTEM INFORMASI BENCANA ALAM GEOLOGI


PERANGKAT LUNAK BERISI INFORMASI YANG DAPAT DIJADIKAN PEDOMAN BAGI MASYARAKAT DALAM MEWASPADAI TERJADINYA BENCANA GEOLOGI DALAM SISTEM INFORMASI BENCANA ALAM GEOLOGI TERMUAT: DATA TEKSTUAL, PETA,ANGKA,YANG TERKAIT DENGAN BENCANA; INFORMASI YANG TERKAIT DENGAN BENCANA SECARA SISTEMATIS; LAPORANLAPORAN BENCANA YANG SIFATNYA STANDAR; STATISTIK KEJADIAN BENCANA. KENDALA: SISTEM INFORMASI BENCANA ALAM GEOLOGI SECARA TERPADU BELUM TERBENTUK PEMANFAATAN SISTEM INFORMASI YANG BELUM OPTIMAL WEBSITE PVMBG: www.vsi.esdm.go.id

SEBARAN GUNUNGAPI DI DUNIA Daerah Lingkar Pasifik Indonesia Benua Eurasia Afrika, Laut Merah Lautan Pasifik Lautan Atlantik Lautan Hindia Jumlah 512 129 30 79 14 60 5 % 61,8 15,6 3,6 9,5 1,7 7,2 0,6

PETA SEBARAN GUNUNGAPI DI DUNIA

SEBARAN GUNUNG API DI INDONESIA


Daerah Sumatera Jawa Lombok Bali Sumbawa Flores Laut Banda Sulawesi Kep. Sangihe Halmahera Jumlah Jumlah Gunungapi Aktif Tipe A 12 21 1 2 2 17 8 6 5 5 79 Tipe B 12 9 3 1 2 2 29 Tipe C 6 5 5 5 21 30 35 1 2 2 25 9 13 5 7 129 Jumlah

PETA SEBARAN GUNUNGAPI DI INDONESIA

BAHAYA GUNUNGAPI
Bahaya letusan gunungapi dapat berpengaruh secara langsung (primer) dan tidak langsung (sekunder) yang menjadi bencana bagi kehidupan manusia.

Bahaya yang langsung oleh letusan gunungapi adalah:


Aliran lava Aliran piroklastik/awan panas Jatuhan piroklastik/hujan abu Lahar letusan Gas vulkanik beracun

LELERAN / ALIRAN LAVA


Leleran lava merupakan cairan magma yang keluar ke permukaan bumi, pekat dan panas dapat merusak segala bumi, infrastruktur yang dilaluinya. dilaluinya. Kecepatan aliran lava tergantung dari kekentalan magmanya, magmanya, makin rendah kekentalannya, maka makin jauh jangkauan kekentalannya, alirannya. alirannya. Suhu lava pada saat dierupsikan berkisar antara 800o 1200o C. Pada umumnya di Indonesia, leleran lava yang dierupsikan gunungapi, gunungapi, komposisi magmanya menengah sehingga pergerakannya cukup lamban sehingga manusia dapat menghindarkan diri dari terjangannya. terjangannya.

LELERAN / ALIRAN LAVA

LELERAN LAVA

AWAN PANAS / ALIRAN PIROKLASTIK

Aliran piroklastik dapat terjadi akibat runtuhan tiang asap erupsi plinian, letusan langsung ke satu arah, guguran kubah lava atau lidah lava dan aliran pada permukaan tanah (surge). Aliran piroklastik sangat dikontrol oleh gravitasi dan cenderung mengalir melalui daerah rendah atau lembah. Mobilitas tinggi aliran piroklastik dipengaruhi oleh pelepasan gas dari magma atau lava atau dari udara yang terpanaskan pada saat mengalir. Kecepatan aliran dapat mencapai 150 250 km/jam dan jangkauan aliran dapat mencapai puluhan kilometer walaupun bergerak di atas air/laut.

AWAN PANAS / ALIRAN PIROKLASTIK

AWAN PANAS

AWAN PANAS / ALIRAN PIROKLASTIK

Korban awan panas G. Merapi 1994, Yogyakarta

HUJAN ABU / JATUHAN PIROKLASTIK

Jatuhan piroklastik terjadi dari letusan yang membentuk tiang asap cukup tinggi, pada saat energinya habis, abu akan menyebar sesuai arah angin kemudian jatuh lagi ke muka bumi. Hujan abu ini bukan merupakan bahaya langsung bagi manusia, tetapi endapan abunya akan merontokkan daundaun dan pepohonan kecil sehingga merusak agro dan pada ketebalan tertentu dapat merobohkan atap rumah. Sebaran abu di udara dapat menggelapkan bumi beberapa saat, pada volume besar dapat merubah iklim dunia serta mengancam bahaya bagi jalur penerbangan.

HUJAN ABU / JATUHAN PIROKLASTIK

G. Bromo 2004

G. Talang 2002

G. Papandayan 2002

HUJAN ABU

LAHAR LETUSAN
Lahar letusan terjadi pada gunungapi yang mempunyai danau kawah. Apabila volume air dalam kawah cukup besar akan menjadi ancaman langsung saat terjadi letusan dengan menumpahkan lumpur panas.

LAHAR LETUSAN

GAS VULKANIK BERACUN


Gas beracun umumnya muncul pada gunungapi aktif berupa CO, CO2, HCN, H2S, SO2 dll, pada konsentrasi di atas ambang batas dapat membunuh.

GAS RACUN

BENCANA BESAR LETUSAN GUNUNGAPI DI DUNIA


No. 1. 2. Nama Gunung Vesuvius Mt. Pele Lokasi Italia Kep. Martinique USA Jepang Philipina Tahun 79 1910 Korban Pompeii hancur St. Martinique hancur Ratusan meninggal Puluhan meninggal Ratusan meninggal

3 4 5

St. Helena Unzen Pinatubo

1980 1991 1993

BENCANA BESAR LETUSAN GUNUNGAPI DI INDONESIA

No. Nama Gunung


1. 2. 3. 4 5 6 7 G. Awu G. Tambora G. Galunggung G. Krakatau G. Kelut G. Merapi G. Agung

Lokasi
Sulawesi Utara P. Sumbawa Jawa Barat Selat Sunda Jawa Timur Jawa Tengah Bali

Tahun
1711 1815 1822 1883 1919 1930 1963

Korban Jiwa
3.000 92.000 4.011 36.000 5.160 1.369 1.148

BAHAYA TIDAK LANGSUNG / BAHAYA SEKUNDER


Lahar

hujan Banjir bandang Longsoran vulkanik Tsunami

LAHAR HUJAN
Lahar hujan terjadi apabila endapan material lepas hasil erupsi gunungapi yang diendapkan pada puncak dan lereng, terangkut oleh hujan atau air permukaan. Aliran lahar ini berupa aliran lumpur yang sangat pekat sehingga dapat mengangkut material berbagai ukuran. Bongkahan batu besar berdiameter lebih dari 5 m dapat mengapung pada aliran lumpur ini. Lahar juga dapat merubah topografi sungai yang dilaluinya dan merusak infrastruktur.

LAHAR

BANJIR BANDANG

Banjir Bandang 2004 yang memporak porandakan daerah Beburung dan Blanting

LONSORAN VULKANIK

Longsoran vulkanik dapat terjadi akibat letusan gunungapi, eksplosi uap air, alterasi batuan pada tubuh gunungapi sehingga menjadi rapuh, atau terkena gempabumi berintensitas kuat. Longsoran vulkanik ini jarang terjadi di gunungapi secara umum sehingga dalam peta kawasan rawan bencana tidak mencantumkan bahaya akibat longsoran vulkanik.

Longsoran vulkanik G. Papandayan 2002

LONGSOR

MITIGASI BENCANA GUNUNGAPI


Dalam mitigasi bencana letusan gunungapi dibagi menjadi tiga bagian, yaitu:
  

persiapan sebelum terjadi letusan, saat terjadi letusan dan sesudah terjadi letusan.

Sebelum terjadi letusan :


 

   

Pemantauan dan pengamatan kegiatan pada semua gunungapi aktif, Pembuatan dan penyediaan Peta Kawasan Rawan Bencana dan Peta Zona Resiko Bahaya Gunungapi yang didukung dengan dengan Peta Geologi Gunungapi, Melaksanakan prosedur tetap penanggulangan bencana letusan gunungapi, Melakukan pembimbingan dan pemeberian informasi gunungapi, Melakukan penyelidikan dan penelitian geologi, geofisika dan geokimia di gunungapi, Melakukan peningkatan sumberdaya manusia dan pendukungnya seperti peningkatan sarana dan prasarananya.

SISTIM PEMANTAUAN GUNUNGAPI INDONESIA

 Sistim Pengamatan Lokal  Sistim Pengamatan Regional  Sistim Pengamatan Global


METODA PEMANTAUAN

 Metoda Visual  Metoda Instrumental  Metoda telemetri / satelit

DIAGRAM SISTIM PEMANTAUAN GUNUNGAPI REGIONAL INDONESIA

PETA KAWASAN RAWAN BENCANA GUNUNGAPI SEMERU

PROTAP
Prosedur Tetap Tingkat Kegiatan Gunungapi


Aktif Normal (Level I), Kegiatan gunungapi berdasarkan pengamatan dari hasil visual, kegempaan dan gejala vulkanik lainnya tidak memperlihatkan adanya kelainan. Waspada (Level II), Terjadi peningkatan kegiatan berupa kelainan yang tampak secara visual atau hasil pemeriksaan kawah, kegempaan dan gejala vulkanik lainnya. Siaga (Level III), Peningkatan semakin nyata hasil pengamatan visual/pemeriksaan kawah, kegempaan dan metoda lain saling mendukung. Berdasarkan analisis, perubahan kegiatan cenderung diikuti letusan. Awas (Level IV), Menjelang letusan utama, letusan awal mulai terjadi berupa abu/asap. Berdasarkan analisis data pengamatan, segera akan diikuti letusan utama.

Saat terjadi letusan :


   

Membentuk tim gerak cepat, Meningkatkan pemantauan dan pengamatan dengan didukung oleh penambahan peralatan yang lebih memadai, Meningkatkan pelaporan dan frekuensi pelaporan sesuai kebutuhan, Memberikan rekomendasi kepada Pemerintah Daerah sesuai prosedur.

Setelah terjadi letusan :


      

Menginventarisir data, mencakup sebaran dan volume hasil letusan, Mengidentifikasi daerah yang terancam bahaya, Memberikan saran penanggulangan bahaya, Memberikan penataan kawasan jangka pendek dan jangka panjang, Memperbaiki fasilitas pemantauan yang rusak, Menurunkan status kegiatan, bila keadaan sudah menurun, Melanjutkan memantauan rutin.

PEMBUATAN DAM PENGELAK LAHAR DI G. MERAPI

PEMBUANGAN AIR DANAU KAWAH G. GALUNGGUNG PEMBUANGAN AIR DANAU KAWAH G. GALUNGGUNG

Model rumah yang disarankan untuk daerah sekitar gunungapi, agar terhindar dari beban endapan abu gunungapi.

 

Kemiringan atap 45o atau lebih curam lagi, Tiang penopang atap lebih kerap dibantu dengan tiang diagonal, Dianjurkan atap terbuat dari seng agar tahan panas dari lontaran batu (pijar), Dibuat satu tiang penopang di pusat bangunan.

RINCIAN JUMLAH KORBAN SEBELUM ADA SISTEM PENANGGULANGAN


USAHA PENANGGULANGAN
- TIDAK ADA SISTEM PENANGGULANGAN BENCANA: - BELUM ADA POS PENGAMATAN GUNUNGAPI

LETUSAN GUNUNGAPI
KERAJAAN MATARAM HANCUR MERAPI 1672 AWU 1711 AWU 1812 AWU 1856 AWU 1892 PAPANDAYAN 1772 TAMBORA 1815 GALUNGGUNG 1822 KRAKATAU 1883 KELUT 1901 KELUT 1919 MERAPI 1930 AGUNG 1963 3,000 3,000 RATUSAN 2,806 1,532 2,951 92,000 4,011 35,541 BANYAK 5,160 1,369 1,148

KORBAN

PENGUNGSI

MERAPI 928

RINCIAN JUMLAH KORBAN SETELAH ADA SISTEM PENANGGULANGAN BENCANA (PERIODE SETELAH TAHUN 1980)
USAHA PENGUNGSI PENANGULANGAN LETUSAN
GAMALAMA 1980 GAMALAMA 1990 GAMKONORA 1981 GALUNGGUNG 1982 COLO 1983 MERAPI 1984 KARANGETANG 1984 SANGEANGAPI 1985 BANDAAPI 1988 KIE BESI 1988 KELUT 1990 35 LOKON 1990 LOKON 1992 KARANGETANG 1992 KRAKATAU 1993 MERAPI 1993 SEMERU 1994 MERAPI 1994 SEMERU 1995 MERAPI 1996 SANGEANGAPI

KORBAN
19,855 1 7 1 1 6 64 10,000 275 5,426 > 5,000 52,555 1,092 2,000 72,000 7,000 680 3,000 1,950 1,600 12.932

ADA SISTEM PENANGGULANGAN BENCANA : - POS PENGAMATAN GUNUNGAPI

GUNUNGAPI

- BANGUNAN PELINDUNG - PERALAATAN PEMANTAUAN - JARINGAN KOMUNIKASI - KESADARAN PENDUDUK AKAN BAHAYA GUNUNGAPI

SAMPAI JUMPA