Anda di halaman 1dari 3

Kurva Sigmoid, Kurva Perubahan (Gerakan Lingkungan berselancar di dalamnya) Oleh : Feybe E.

N Lumuru Dalam ilmu manajemen dikenal yang namanya Kurva Sigmoid atau kurva S (seperti huruf S tertidur). Kurva ini menggambarkan pergerakan sebuah kemajuan selalu dimulai dari bawah menuju ke suatu puncak dan kemudian akan menurun. Rhenald Kasali dalam Change, mengibaratkan siklus kehidupan manusia, siklus bisnis, kerajaan-kerajaan nusantara bahkan kehidupan bangsa dan negara, berselancar dalam kurva S. Awalnya kita akan menurun untuk melakukan penyesuaian lalu kemudian naik hingga mencapai puncak, setelah itu maka siklus kita akan menurun dan semakin menurun. Apabila kita ingin tetap mempertahankan kesuksesan, maka kita harus melakukan perubahan. Perubahan sistem, kebijakan atau strategi, yang lama digantikan dengan sesuatu yang baru, yang lebih relevan dan up to date. Kita harus melompat dari kurva S yang lama ke kurva S yang baru. Rhenald Kasali menemukan bahwa lompatan antara kurva S ini dilakukan dalam 3 strategi perubahan yang berbeda yaitu transformasi, turn around, dan manajemen krisis. Transformasi adalah lompatan kurva yang dilakukan ketika kita ada dalam posisi yang sukses, mantap, atau establishment. Perubahan yang dilakukan dalam transformasi adalah perubahan antisipatif, dilakukan sebelum sesuatu yang menuntut kita berubah terjadi. Turn around adalah lompatan kurva yang dilakukan ketika kondisi kita mulai menurun. Perubahan yang dilakukan merupakan perubahan reaktif, dilakukan setelah sesuatu terjadi dan menuntut kita melakukan perubahan. Sedangkan manajemen krisis adalah lompatan kurva (perubahan krisis), kita lakukan ketika kondisi kita sudah sangat kritis dan benar-benar menurun. Diantara ketiga strategi ini, Rhenal merekomendasikan kita untuk memilih transformasi, melakukan perubahan dan lompatan kurva S saat kondisi organisasi atau bisnis kita sedang sehat dan ada pada kondisi puncak. Bagaimana dengan gerakan lingkungan hidup di Indonesia, apakah gerakan ini berselancar dalam kurva S ? Dany Wahyu Moenggoro dalam buku Menjadi Environmentalis itu Mudah menunjukan, bahwa gerakan lingkungan di Indonesia ternyata juga berselancar dalam kurva S. Gerakan lingkungan hidup di Indonesia setidaknya telah melakukan tiga kali lompatan kurva S. Pertama adalah daur pendidikan kesadaran publik. Gerakan lingkungan di tanah air bergerak pada kurva S ini dimasa awal kerja WALHI (forum dan organisasi jaringan 450 NGO, pecinta alam dan kelompok profesi pemerhati lingkungan hidup di Indonesia) dan juga organisasi lingkungan hidup lainnya (non anggota WALHI) para era 1980an, dimana mereka lebih memfokuskan diri pada promosi. Memperkenalkan keberadaannya ke seluruh lapisan masyarakat di Indonesia. Kegiatan utamanya pada saat itu, kampanye kesadaran pelestarian lingkungan hidup. Kurva S kedua adalah daur advokasi demokrasi kekayaan alam, pada awal dekade 1990-an. Kurva ini dimulai ketika WALHI terutama, didukung oleh

ratusan anggotanya diseluruh Indonesia mengambil sikap berseberangan dengan pemerintah dalam pengelolaan lingkungan hidup. Dengan pilihannya, WALHI senantiasa berada di garda terdepan gerakan lingkungan hidup untuk melakukan protes keras terhadap kebijakan pemerintah yang nyata-nyata mengancam kedaulatan rakyat atas sumberdaya alam. Sedangkan kurva S ketiga, adalah daur perluasan gerakan lingkungan. Lompatan pada kurva ketiga ini terjadi pada era 2000-an, saat WALHI dan beberapa organisasi lingkungan hidup lainnya seperti Green Peace dan WWF mencanangkan diri menjadi organisasi publik. Mereka melakukan penggalangan dana publik dengan berbagai bentuk kegiatan. Misalnya saja, kampanye publik bersama, rekrutmen sahabat atau supporter, penjualan produk-produk hijau, pendidikan publik yang luas hingga pengembangan lembaga kajian strategis. Sekarang bagaimana kita melihat lompatan gerakan lingkungan hidup dalam kurva S, apakah itu transformasi, turn around ataukah manajemen krisis ? Menurut saya lompatan-lompatan antar kurva S gerakan lingkungan hidup adalah kombinasi dari strategi turn around dan manajemen krisis. Kita tahu bersama, sejak awal mulainya gerakan lingkungan tidak suka diidentikkan dengan pemerintah. Tetapi tidak bisa dipungkiri, gerakan ini awalnya diinisiasi Emil Salim (Menteri Negara Lingkungan Hidup ketika itu), didukung oleh Tjokropranolo (Gubernur DKI) dan Sri Sultan Hamengkubuwono IX (ketua Indonesia Wildlife Fund). Pada masa baru bergulir, para aktivisnya diundang audiensi oleh Presiden Soeharto, gerakan ini juga sempat didanai pemerintah bahkan berkantor di gedung milik negara. Lalu, ketika kasus-kasus pencemaran lingkungan semakin marak, upayaupaya ekstraksi sumber daya alam yang disetujui dan diback up oleh kebijakan pemerintah tidak lagi memperhatikan daya dukung lingkungan dan hak-hak masyarakat, maka gerakan lingkungan hidup di Indonesia merubah strateginya dengan berpindah ke kurva S kedua. Dari gerakan yang awalnya diinisiasi dan diback up pemerintah, berubah menjadi sebuah gerakan advokasi kebijakan pemerintah. Lompatan kurva S ketika itu, adalah turn around dan manajemen krisis. Turn around, karena perubahan yang dilakukan gerakan lingkungan hidup Indoneia (WALHI) adalah perubahan reaktif. WALHI bereaksi berseberangan dengan pemerintah setelah kebijakan dan strategi pemerintah yang berandil besar merusak keberlanjutan fungsi lingkungan hidup ternyata kian marak terjadi. Gerakan lingkungan memilih membebaskan diri dari pengaruh pemerintah saat ia mulai menghadapi masalah-masalah pelik kerusakan lingkungan yang melibatkan pemerintah dan kroni-kroninya. Perubahan dilakukan saat gerakan ini juga menyadari bahwa ia masih punya cukup kekuatan (terutama idealisme dan sumber daya manusia) untuk melakukan perbaikanperbaikan. Tetapi lompatan ini juga bisa dikategorikan manajemen krisis, karena pada hal-hal yang berhubungan dengan operasional dan manajerial,

gerakan lingkungan berhadapan dengan keadaan krisis. Saat berseberangan dan mengajukan protes keras ke pemerintah, gerakan ini kehilangan support fasilitas dan finansial. Strategi manajemen krisis sudah pasti harus diambil melalui penggalangan sumber daya (fund raising) untuk mengatasi beban manajerial, operasional dan kepentingan implementasi program. Lalu ketika lompatan ke kurva S ketiga dilakukan, menurut saya itu juga adalah turn around. Dengan berpindah dari advokasi demokratisasi sumber daya alam ke organisasi publik, menolak dana yang bersumber negara serta perusahaan perusak lingkungan dan pelanggar HAM, lalu menggantinya dengan penggalangan publik, gerakan lingkungan kembali melakukan perubahan reaktif, bereaksi keras setelah kerusakan lingkungan dan pelanggaran hak-hak masyarakat kian marak terjadi. Meski popularitas gerakan sedang ada dalam trend naik dan mulai mendapat perhatian banyak pihak, tetapi secara internal ada masalah sistem dan manajemen yang perlu diurus. Gerakan lingkungan, meski sedang dalam pertumbuhan tetapi belum sampai pada tahap mapan. Sekarang saat lompatan kurva S ketiga gerakan lingkungan menapaki masa pertumbuhan menjadi organisasi publik, maka gerakan ini seharusnya mampu menata sistem dan manajemennya menjadi lebih transparan dan mandiri. Gerakan ini juga perlu melakukan analisa strategis terkait peran dan programnya, agar memperoleh kepercayaan dan dukungan publik yang lebih luas lagi. Sembari mempersiapkan strategi perubahan untuk melompat ke kurva S berikutnya, yang kali ini hendaknya merupakan perubahan antisipatif, bukan lagi reaktif atau krisis, strategi yang digunakan pun sebaiknya transformasi dan bukan lagi turn around atau manajemen krisis.