Anda di halaman 1dari 3

Appreaciative Inquiry (Gerakan Lingkungan Hidup, Perlu Menjadikannya Pilihan) Oleh : Feybe Lumuru Setelah membahas lompatan kurva

S gerakan lingkungan hidup pada artikel sebelumnya, maka ada dua pertanyaan lagi yang harus kita bahas. Bagaimana mengawal lompatan gerakan lingkungan hidup sebagai organisasi publik ? dan bagaimana menciptakan transformasi didalam gerakan ini ? Saya berpendapat, kita perlu menerapkan pendekatan Appreciative Inquiry. Sebagaimana diketahui bersama Appreciative Inquiry (AI) pertama kali dikembangkan oleh David Cooperrider dan Suresh Srivastva di Case Western Reserve University di Cleveland, Ohio. Mereka berdua melakukan wawancara yang terfokus pada faktor-faktor yang memberikan kontribusi bagi efektivitas organisasi. Proses wawancara ini kemudian memancing seluruh anggota organisasi membicarakan kisah-kisah keberhasilan organisasi secara antusias. Apresiasi mengacu pada tindakan mengakui dan menghargai apa yang telah dimiliki dan dilakukan di masa lalu, apakah itu kekuatan, kesuksesan, aset, maupun potensi. Inquiry berarti tindakan eksplorasi dan penemuan. Tindakan ini menyiratkan penyelidikan tentang kemungkinan-kemungkinan baru dimasa depan. Sehingga AI dapat kita sebutkan sebagai sebuah tindakan komunikasi atau sistem pembangunan masa depan dengan berbasis kekuatan, kesuksesan, aset maupun potensi. Fokus positif yang digunakan dalam AI tidak berarti membutakan diri terhadap kelemahan dan masalah yang dihadapi organisasi. Bagaimana pun, setiap manusia pasti mempunyai kesalahan, demikian pula organisasi yang notabene adalah kumpulan manusia yang memiliki tujuan yang sama. Dengan AI, kita diajak berpikir apresiatif, betul kita memiliki kesalahan, tapi selalu ada hikmah yang dapat dipetik. Selalu ada titik terang di ujung kegelapan. Satu hal lagi, AI tidak hanya melibatkan internal organisasi, tapi seluruh stakeholder organisasi. Pertanyaannya mengapa AI relevan untuk mengawal perubahan gerakan lingkungan sebagai organisasi publik dan mampu menciptakan transformasi dalam gerakan ini ? Ada 2 alasan untuk hal ini. Pertama, perubahan ataupun transformasi gerakan lingkungan hidup membutuhkan energi, dan AI adalah sumber energi yang tepat untuk hal ini. AI mengajarkan kita untuk apresiatif terhadap kehidupan manusia. Apresiatif berarti menghargai, memberi nilai tambah, dan mengambil pelajaran. Praktek apresiatif inilah yang kemudian akan membuat kita mampu menghargai segala sesuatu dan melahirkan inspirasi-inspirasi baru, menjadi energi dalam perubahan ataupun transformasi yang hendak kita bangun. Coba perhatikan, bagaimana Mahatma Gandhi dapat menggerakkan rakyat India? atau Sukarno mampu menggerakkan rakyat Indonesia? Bagaimana Martin Luther King didengarkan dan diikuti oleh jutaan orang? Mereka menggunakan kekuatan kata-kata apresiatif untuk menyentuh hati, menggugah kesadaran, dan memberi pencerahan kepada orang-orang disekitarnya. Pidato Sukarno yang berkobar-kobar membakar ketertundukan jiwa rakyat Indonesia. Orasi Martin Luther King tentang impian membuka kesadaran pendengarnya tentang adanya kemungkinan kehidupan yang jauh lebih baik. Kata-kata Gandhi melahirkan kesabaran yang luar biasa pada pengikutnya untuk menerima pukulan fisik pasukan Inggris tanpa sama sekali membalas.

Apa yang sebenarnya terjadi? Apakah kata-kata dan kisah inspiratif tokoh-tokoh tersebut merupakan mantra yang mempunyai daya magis? Banyak penelitian psikologi yang menunjukkan bahwa kata-kata apresiatif memang mempunyai kekuatan yang luar biasa. Baik Gandhi, Soekarno maupun Martin Luther King, dengan sangat cerdas telah menggunakan kata-kata apresiatif sebagai sumber energi untuk membangun perubahan dalam momentum hidup mereka. Mereka mewujudkan apa yang tidak mungkin menjadi suatu kenyataan. Bahkan, jauh setelah meninggal, kisah mereka tetap menjadi inspirasi jutaan orang. Perubahan ataupun transformasi gerakan lingkungan hidup di Indonesia membutuhkan tindakan-tindakan apreasiatif sebagai sumber energinya. Kita, terlalu lama membangun gerakan ini dengan cara berpikir defisit serta fokus pada kelemahan dan kekurangan. Akibatnya kita selalu kehabisan energi dan mengalami keletihan. Kita tentu tidak akan dapat menjalankan gerakan apapun dalam kondisi yang sepeti ini. Jika ingin membangun perubahan atau mencipta transformasi, tentulah sumber energi gerakan ini, haruslah terlebih dulu diperbaharui. Kedua, prinsip-prinsip AI yang meliputi social constructionist, simultaneity dan poetic, merupakan 3 komponen yang sangat dibutuhkan dalam perubahan ataupun transformasi gerakan lingkungan hidup di Indonesia. Mengapa ? Karena gerakan lingkungan hidup adalah sebuah proses konstruksi sosial. Gerakan lingkungan dibangun dari ide-ide dan argumen-argumen tentang pelestarian lingkungan dan perilaku hidup pro lingkungan. Gerakan ini, bukan sebuah absolut turth, dimana kita bisa secara mutlak mengatur benar atau salahnya sesuatu hal maupun juga benar atau tidaknya perilaku seseorang. Dalam gerakan lingkungan hari-hari ini, kita masih menciptakan pilihan-pilihan dengan kata awal, sebaiknya seperti ini, alangkah baiknya jika begini, jika begitu, dan lain sebagainya. Semuanya masih dalam tataran anjuran dan saran, masih dalam tataran konstruksi pilihan dan alternatif. Dilevel internasional misalnya, untuk penanggulangan perubahan iklim, meski sejak tahun 1997 Protokol Kyoto telah sepakati, namun sampai pelaksanaan COP di Copenhagen, UNFCCC dan negara-negara peratifikasi protokol ini, belum bisa mendesak Amerika, negara penghasil emisi gas rumah kaca terbesar di dunia, untuk meratifikasi Protokol Kyoto. Ditingkat nasional seperti itu juga, meski kita baru saja mengesahkan undangundang perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup yang baru, dan telah lama memiliki lembaga-lembaga pemerintah untuk urusan pengelolaan lingkungan hidup, presfektif pengelolaan lingkungan hidup berkelanjutan ternyata belum menjadi pilar kebijakan pemerintah di negeri ini. Gerakan ini masih jauh dari kemampuan memperngaruhi kebijakan negara atau pun perilaku orang perorang dalam masyarakat. Gerakan ini, sekali lagi masih berada dalam konstruksi ide-ide, norma-norma dan argumen-argumen tentang pelestarian lingkungan hidup dan perilaku ramah lingkungan. Soal apakah ide-ide, norma dan argumen yang kita sampaikan dalam gerakan ini, akan diimplementasikan atau tidak oleh negara dan masyarakat, itu bergantung pada pilihan mereka dan seberapa efektif kita mengkonstruksikannya. Nah, jika konstruksi sosial adalah sebuah penyampaian ide-ide, norma dan argumen-argumen untuk menjadi norma bersama aktor-aktor dalam suatu sistem sosial, berarti realitas dikonstruksikan secara sosial melalui interaksi dan komunikasi. Dengan kata lain, bahasa kitalah yang mengkonstruksi atau menciptakan gerakan

ini, karena tidak sesuatupun ada sampai kita memberikan gambaran tentangnya. Dan ketika kita menggambarkannya, maka berarti kita menciptakan pembedapembeda untuk mengatur tindakan kita. Dalam sebuah proses konstruksi sosial, kita tidak hanya menggambarkan realitas dunia yang kita lihat, tetapi kita mengajak orang lain melihat dunia yang kita gambarkan dan idamkan. Sekarang bayangkan, jika gerakan yang adalah sebuah proses konstruksi, dibangun dengan komunikasi dan interaksi yang negatif, penuh kecurigaan dan fokus pada kelemahan-kelemahan. Sudah pasti gerakan ini akan sulit berbaur dan sulit berkembang, karena ide-ide, norma dan argumennya adalah sesuatu fokus pada masalah-masalah, mengorek masa lalu yang pedih, menyakitkan dan juga mematikan harapan. Karena itu gerakan lingkungan hidup membutuhkan AI. Appreciative Inquiry merupakan pendekatan yang sama sekali berbeda dari kebanyakan pendekatan yang dikenal di Indonesia. Apabila pendekatan lain memfokuskan kajiannya terhadap masalah dan kelemahan, serta kapasitas individu. AI justru fokus pada interaksi dan komunikasi antar individu dalam organisasi atau komunitas. Intervensi utama AI lebih berkenaan pada penciptaan dialog yang apresiatif untuk memberdayakan semua pihak dalam mengkonstruksikan realitas yang diidamkan (social constructionist). AI juga menciptakan seperangkat pertanyaan yang menjadi pemicu perubahan (simutaneity). Kita tahu, dalam konstruksi sosial, pertanyaan yang kita ajukan merupakan stimulus terhadap diri kita. Stimulus yang akan direspon oleh otak kita (secara kognitif maupun emosi). Pertanyaan akan mengarahkan perhatian kepada obyek yang ditanyakan. Kita menanyakan persoalan maka kita akan memperhatikan persoalan. Kita menanyakan kebaikan seseorang, maka emosi dan tindakan kita lebih positif terhadap orang itu. Appreciative Inquiry meyakini bibit perubahan sudah ada dalam pertanyaan yang kita ajukan. Oleh karena itu, praktisi Appreciative Inquiry menciptakan seperangkat pertanyaan yang menjadi pemicu perubahan. Dengan AI, konstruksi gerakan lingkungan pun ibarat sebuah cerita yang sarat makna (poetic). Kita dapat memilih cerita yang akan kita tulis tentangnya. Pilihan kita akan sangat menentukan dan bahkan menciptakan gerakan lingkungan hidup. Seringkali, kita merasa ada dalam keadaan yang sangat terbatas dan tanpa pilihan. Akan tetapi prinsip AI membongkar keyakinan kita. Dimanapun kita berada, kita bisa memilih cerita dan makna gerakan ini. AI mengawali inisiatif perubahan dengan menentukan topik afirmatif, topik yang memberdayakan kita untuk menciptakan realitas baru. Bukankah hal ini yang kita inginkan dalam gerakan lingkungan hidup ? Bagaimana pun dari sekian panjang daftar protes dan masalah yang kita punya, pasti selalu ada makna yang bisa dipetik, ada cerita sukses yang menjadi kekuatan hingga gerakan ini dapat terus berproses dalam bingkai Indonesia. Ingin membangun perubahan ataupun menciptakan transformasi gerakan lingkungan hidup dimasa depan ? Kita perlu menjadikan appreciative inquiry (AI) sebagai pilihan. Hingga, meski ada banyak masalah dan kendala, kita akan senantiasa mampu memaknai bahwa kita memiliki potensi dan aset untuk melakukan terobosan. Kita akan senantiasa mempunyai harapan untuk terus mengkontruksi ide-ide, norma dan argumen pelestarian lingkungan untuk dijadikan norma hidup dan perilaku bersama di tanah air.