Anda di halaman 1dari 5

Valas dan Risiko Transaksi Ekspor - Impor

Bramantyo Djohanputro, PhD


Penulis: Dosen dan konsultan manajemen bidang keuangan, investasi, dan risiko Lecturer and consultant of management in finance, investment, and risk Sekolah Tinggi Manajemen PPM (PPM School of Management) Contact: brm@ppm-manajemen.ac.id bram.finance@gmail.com Blog: www.bram39.wordpress.com

Risiko Nilai Tukar terhadap Transaksi Barang

10.00 5.00 Rp triliun Maret-April 02 Maret-Mei 02 Maret-Juni 02

(5.00)

(10.00) (15.00) Pe riode


Maret 2002 US$ milyar 12.74 (7.20) 5.54 Nilai (Rp milyar) Maret 02 April 02 9,655 123,024.01 (69,525.66) 53,498.36 9,316 118,704.47 (67,084.52) 51,619.96

Nilai Tukar Rp/$ Ekspor Impor Net Ekspor

Mei 02 8,785 111,938.47 (63,260.79) 48,677.69

Juni 02 8,730 111,237.66 (62,864.73) 48,372.93

Eksportir rugi besar. Mau tahu alasannya? Coba kita runut angka-angka dalam tabel yang merupakan data aktual ekspor total Indonesia bulan Maret 2002.

Valas dan Risiko Ekspor - Impor#

Andaikan saja Andalah si eksportir. Untuk mempermudah, anggap saja seluruh nilai ekspor tersebut merupakan hasil kerja dari perusahaan Anda. Anda memperoleh dolar sebanyak US$12,74 milyar. Nilai tukar rata-rata Rp9.655 per US$ pada bulan Maret 2002. Jadi, bila Anda dibayar secara tunai (cash and carry), Anda mendapatkan uang sebanyak lebih dari Rp123 triliun. Tetapi kan sistem ekspor pada umumnya tidak menerapkan cara tunai, tetapi kredit melalui penggunaan L/C. Kalau Anda seorang pedagang, yang membeli barang jadi dari perusahaan atau pemasok, Anda dapat dengan cepat menyediakan barang pesanan. Mulai pesanan datang sampai pengiriman dapat Anda lakukan dalam waktu yang relatif pendek. Yang bisa menjadi masalah adalah lamanya waktu administrasi ekspor ke bea cukai dan perbankan. Bank koresponden Anda akan melakukan perjanjian dengan Anda setelah semua urusan dengan bank koresponden importir, yang menjadi rekanan dagang Anda di luar negeri, juga sudah beres. Setelah barang Anda kirim dan sampai di pelabuhan tujuan, pihak importir akan mengeccek kebenaraan isi dari barang impor, baik dari sisi jenis, kuantitas, maupun spesifikasi yang disepakati seperti tercantum dalam bill of lading. Setelah semuanya sesuai dengan kesepaktan, importir akan memerintahkan bank koresponden importir untuk mentransfer uang ke bank koresponden Anda selaku eksportir. Pada tahap ini barulah Anda menerima uang yang ditransfer ke rekening Anda. Oleh karena daerah operasional Anda di Indonesia, mayoritas transaksi dilakukan di Indonesia dengan menggunakan rupiah, laporan keuangan dibuat dalam mata uang rupiah, ini berarti rupiah menjadi mata uang fungsional (functional currency). Implikasinya, penerimaan US$ hasil ekspor perlu Anda tukar menjadi rupiah. Sekalipun Anda tidak secara riil menukar uang tersebut ke dalam

Valas dan Risiko Ekspor - Impor#

rupiah, Anda akan mencatatkan dalam laporan keuangan dalam satuan mata uang rupiah. Konsekuensi pencatatan dalam mata uang rupiah ini menimbulkan eksposur transaksi Anda terhadap perubahan nilai tukar (foreign exchange exposure). Tabel menunjukkan berapa nilai rupiah yang akan Anda terima bila menukarkan hasil ekspor Anda bulan Maret 2002 sebesar US$ 12.74 milyar. Bila Anda langsung menukar ke dalam rupiah pada bulan Maret, dengan rata-rata nilai tukar Rp9.655/$, Anda mendapat pendapatan (revenue) lebih dari Rp123 triliuh rupiah. Oleh karena adanya rentang waktu mulai dari pemesanan sampai pembayaran, Anda tidak akan memperoleh uang, dalam Rupiah, sebesar itu. Seandainya saja Anda menerima uang pada bulan April dan langsung menukar ke dalam rupiah, Anda hanya akan menerima uang kurang dari Rp119 triliun. Berarti Anda mengalami kerugian sebesar kurang lebih Rp4 triliun. Lebih parah lagi, bila Anda menerima dollar hasil ekspor pada bulan April tidak langsung Anda tukar ke dalam rupiah. Anda ingin menyimpannya dengan harapan dollar akan menguat selama bulan Mei (dengan kata lain, Anda mengharapkan rupiah melemah, harapan yang tidak menyenangkan bagi bank sentral). Ternyata Anda meleset, harrapan Anda tidak terwujud. Rupiah malah semakin menguat menjadi Rp8.785/US$. Bila Anda takut rupiah semakin kuat, Anda memilih untuk menukarnya menjadi rupiah, dan Anda mendapat hanya Rp112 triliun. Kerugian Anda membengkak menjadi Rp11 triliun. Anda mau coba berspekulasi lagi? Bila Anda menahan dollar Anda samp;ai akhir Juni 2002, kerugian membengkak. Dengan terus menguatnya rupiah menjadi Rp8.730/US$, hasil ekspor Anda turun menjadi Rp111 triliun. Kerugian Anda menjadi Rp12 triliun.

Valas dan Risiko Ekspor - Impor#

Lain eksportir, lain importir, sekalipun keduanya mengahdapi eksposur terhadap nilai tukar. Yang berbeda adalah nasibnya. Bila eksportir menanggung kerugian selama bulan Maret-Juni 2002, importir justru menerima keuntungan dengan menguatnya rupiah. Tinggal Anda membalik cerita eksportir di atas, jadilah skenario cerita importir. Dengan semakin menguatnya rupiah, si importir menyediakan rupiah yang lebih sedikit untuk membayar biaya impor barang dan jasa yang disepakati bahwa transaksi menggunakan US$. Dengan impor sebesar US$7.20 milyar pada bulan Maret 2002, importir seharusnya membayar sebanyak Rp69 triliun lebih bila dia membayarnya pada bulan Maret 2002. Dan ini banyak terjadi karena pemasok dari luar negeri tidak bersedia memberi kredit ke banyak importir Indonesia selama krisis ini. Tetapi bila sistem keuangan sudah pulih dan kondisi mendukung dunia usaha dengan baik, pemasok luar negeri akan dengan mudah memberi kredit. Dalam kondisi tersebut, Anda bisa menunda pembayaran. Anggap saja Anda adal;lah importir yang beruntung sehingga tidak perlu membayar impor secara tunai, tetaapi kredit. Tabel menunjukkan, rupiah yang Anda harus sediakan untuk membayar impor semakin kecil dari waktu ke waktu. Pada bulan Juni 2002, Anda hanya perlu menyediakan Rp63 triliun. Anda menghemat Rp6 triliun. Grafik menunjukkan perubahan kerugian eksportir atau keuntungan importir dalam periode tersebut. Oleh karena total ekspor kita lebih besar dari total impor, maka total kerugian akibat pergerekana valas lebih besar dari keuntungannya. Tabel dan grafik menunjukkan, kerugiaan neto pada bulan April, Mei dan Juni adalah berturut-turut Rp3 triliun, Rp5 triliun, dan Rp5,5 triliun./ Sebagian besar eksportir dan importir tidak mau berspekulasi dengan valas. Kalaupun ingin bermain valas, mereka menunjukkan fund manager eksternal atau mengangkat staf dalam perusahaan untuk mengelola valas.

Valas dan Risiko Ekspor - Impor#

Oleh karena keengganan eksportir dan importir untuk bermain valas, diperlukanlah berbagai alat lindung nilai (hedging tools). Masalahnya, kebanyakan alat lindung nilai memerulak sistem keuangan untuk mendesain produk-produk lindung nilai, diperlukan sistem keuangan yang sehat. Tentu ada saja lembaga keuangan yang mau menyediakan tetapi biuaya terlalu mahal. Jadi terserah eksportir dan importir, bermain valas atau bermain risiko. ********

Valas dan Risiko Ekspor - Impor#