Anda di halaman 1dari 5

FONEM-FONEM SUPRASEGMENTAL BAB I PENDAHULUAN Setiap hari tentu kita melakukan komunikasi, entah komunikasi lisan atau tertulis.

Komunikasi lisan diwujudkan dalam bentuk dialog, baik yang dilakukan dua orang atau lebih, seperti bermusyawarah, berdiskusi, bertelepon, atau rapat. Sedangkan komunikasi tertulis diwujudkan dengan tulisan, seperti surat kabar, majalah, atau telegram. Informasi yang kita simak disampaikan melalui sejumlah bunyi bahsa dan unsur-unsur lain yang menyertainya.

Latar Belakang

Dalam kehidupan sosialnya,manusia saling berhubungan antara yang satu dengan yang lain.Dalam hal ini perlu adanya komunikasi.Kebutuhan berkomunikasi itu semakin kompleks seiring dengan perkembangan kebudayaan manusia.Kenyataan demikian menempatkan bahasa sebagai alat komunikasi manusia pada posisi yang penting. Agar komunikasi tersebut berjalan dengan baik,kedua belah pihak memerlukan bahasa yang dapat dipahami bersama.Wujud bahasa yang utama adalah bunyi.Bunyi-bunyi itu disebut bunyi bahasa.Dalam pengucapannya,bunyi-bunyi bahasa dapat disegmentasikan atau dipisahpisahkan (bunyi segmental).Dalam bunyi yang dapat disegmentasikan itu terdapat unsurunsur yang menyertainya sehingga disebut fonem-fonem suprasegmental. Untuk dapat lebih benar dalam mengucapkan bunyi-bunyi tersebut,perlu diketahui unsurunsur yang menyertai fonem segmental tersebut.

Tujuan

Untuk mengetahui fonem-fonem suprasegmental

FONEM-FONEM SUPRASEGMENTAL

Fonem fonem yang sudah diuraukan bisa disebut Fonem Segmentalkarena dapat di segmentasikan sebagai segmenyang terkecil ( kata benda ialah segmen tanpa -t pada akhir, tetapi t-nya terdapat dalam istilah segmentasi dan segmental sebenarnya fonem sekmentasi itu tidak selalu dipisahkan secara segmental dari fonem fonem berikutnya dan yang mendahuluinya tetapi kita lewati saja uraian mengenai soal itu untuk mengerti fonem suprasegmental tidak perlu. Istilah Inggris : segmental phonemes dan suprasekmental phonemes. Apabila kita katakan kata indonesia lupa terdiri atas empat fonem yaitu : /l/, /u/, /p/, dan /a/ (dan memang dalam uraian tersebut )maka masing masing fonem itu merupakan segmen dapat dipotong supaya berdiri sendiri. fonem fonem adalah segmen yang terkecil dalam bahasa Yang penting sekarang ialah bahwa dalam bahasa ada pula bunyi bunyi tertentu yang tidak beripa segmental artinya yang terdapat sekaligus dengan satu silabel , atau malah sejumlah silabe atau frase suatu kalimat pun. Yang dimaksudkan disini ialah : (a) titi nada yang terdapat pada suatu silabel ( jadi dengan bunyi silabisnya, biasanya suatu vokal, dan dengan cara yang membedakan makna ) titi nada yang berfariasi dan terdapat pada suatu kalimat atau bagian kalimat, yaitu intonasi (c) tekanan tyang terdapat pada suatu bagia n kalimat, kecil atau panjang, untuk membedakan makna pula,misalnya suatu kontras (d) aksen yang terdapat pada suku kata tertentu dalam suatu kata, misal untuk membedakan kata yang bersangkutan dari suatu kata yang lain. (a) Titi nada sebagai pembeda makna feksikal Selain dari pemakaian suatu variasi nada dalam ujaran untuk menghasilkan intonasi tertentu, titi nada itu dapat dipakai pula dengan relefansi khusus untuk unsur leksikal (yaitu untuk kata). Titi nada sebagai fonem suprasegmental untuk membedakan makna leksikal terdapat dalam bahasa bahasa tertentu yang disebut bahasa nada (tone languages). sebagai contoh dapat disebutkan bahasa bahasa Tiong-Hoa ( misal saja bahasa cina mandarin ), bahasa Muang Thai, beberapa bahasa indian dimeksiko, misal bahsa Mixteco dan bahasa Mazatecho dan banyak yang lain. Misal dalam bahasa Cina standar (sama dengan bahasa mandarin tadi)ada empat kata yang menurut struktur sekmentalnya berupa wei.kata wei dengan nada yang datar berarti kutu kayu, wei dengan nada yang naik berarti berbahaya, kata wei dengan nada yang turun dulu lalu naik berarti menjawab dengan serta merta, sedang wei dengan nada yang
2

turun berarti takut. Tanda suprasegmental diatas kata kata tersebut ( yang disebut tanda diakritis) melambangkan ciri ciri nada yang dipakai Berdasarkan pembedaan antara phonetis dan phonemic dalam peristilahan inggris, para ahli linguistik telah mnciptakan istilah tonetic dan tonemic, untuk membedakan antara apa yang fonetis dalam tone itu, dan apa yang fonemis didalamnya. Mari kita tinjau istilah itu dlam bentuk indonesia tonetis dan tonemis sebuah unsur tonemis dapat disebut tonem ( toneme ). Misal dalam contoh mandarin tadi ada 4 tonem pada umumnya ( karena registernya (register inggrisnya) mencangkup 4 nada ), dan khususnya dalam hal kata Wei ada 4 tonem untuk membedakan keempat kata yang bersangkutan 1 dari yang lain.Tonem selalu dianggap merupakan ciri khas yang leksikal. Sekarang dapat kita rumuskan dengan lebih tepat apa yang tonetis dan apa yang tonemis dalam hal titi nada. Bila suatu tekanan dalam bahasa tertentu lazimnya duisertai dengan nada yang lebih tinggi, maka nada tersebut adalah tonetis saja mungkin saja bahwa tak ada suatu bahasa dimana pengertian semacam itu mutlak perlu para ahli lingwistik belum banyak menyelidiki mengenai masalah itu.bila memang suatu deretan ada nada yang berbeda dipakai sebagai ciri suprasegmental untuk suatu kalimat, maka analisa harus diadakan mengenai intonasi. Mengenai itulah perlu kita amati sekarang. (b) Titinada dalam intonasi Intonasi pada kalimat Apakah Saudara sudah makan? Jelas bersifat fonemis, apalagi bila kalimat tanya tidak memakai kata apakah itu: Saudara sudah makan? Namun perlu kita sadari bahwa bentuk kongkrit intonasi berbeda-beda dalam bermacam-macam bahasa. Misal ada bahasa inggris kalimat yang tidak di awali dengan kata tanya (misal Have you read this book?). Akan tetapi kalimat tanya yang di awali dengan kata tanya (What told you this? Atau When did you arrive?) diberi intonasi yang menurun (jadi seperti kalimat berita saja) dalam bahasa inggris, sedangkan intonasi yang menaik pada akhir kalimat sejenis itu sering didengar dalam bahasa Inggris Amerika. (c) Tekanan Seperti dijelaskan di situ tekanan sendiri, artinya bila tidak kita perhatikan entah nada entah aksen yang disertainya, terdiri dari lebarnya getaran udara saja. Jadi lebih keras suara si pengujar. Contoh pada kalimat Saya mau pergi ke Buru, bukan ke Boro. Kalimat itu dapat dipakai untuk mencegah adanya salah tangkap, dan untuk menciptakan kontras antara kata Buru dan kata Boro kedua kata itu tentu saja akan diucapkan dengan suara lebih keras.
3

Apakah kerasnya yang lebih kuat itu disertai oleh nada yang lebih tinggi tidak penting. Yang penting ialah bahwa tekanan dipakai untuk menghasilkan kontras. Maka dalam hal semacam itu tekanan pasti bersifat fonemis, bukannya fonetis. (d) Aksen Aksen sudah lama dikenal para ahli linguistik sebagai pembeda makna leksikal dalam banyak bahasa. Misal dalam bahasa inggris kata ?impo:rt) import barang yang di impor (tanda dipakai untuk melambangkan aksen, dan diletakkan di depan silabel yang diberi aksen) dibedakan dari kata /impo:rt/ Import mengimpor hanya dengan aksen saja. Contoh lainnya yaitu dalam bahasa Batak Tobs kata /tutu/ tutu benar , betul, dibedakan secara aksentuil dari kata /tutu/ tutu batu gilasan; demikian pula kata /bagas/ bagas rumah dari /bagas/ bagas dalam [yaitu tidak dangkal]. Dalam bahasa Tagalog aksen distingtif kita lihat dalam pasangan yang berikut: kaibigan teman dan kaibigan keinginan; makaalis dapat pergi dan makaalis tak sengaja pergi; matulog tidur dan matulog tertidur. Dalam bahasa indonesia pun dapat kita temukan pasangan semacam itu, akibat kebersamaan akhiran kata pinjaman, dalam beberapa kata; misal seorang Platonis adalah seorang penganut filsafat Plato, sedang Platonis, suatu kata sifat berarti menurut paham Plato; sama halnya dengan organis dan organis. Akan tetapi sebenarnya pasangan tersebut tidak merupakan pasangan minimal, karena ada perbedaan vokal dalam silabel yang terakhir: /-is/ dan /-is/.

BAB III PENUTUP

KESIMPULAN Fonem-fonem adalah segmen yang terkecil dalam bahasa. Dalam bahasa ada bunyibunyi tertentu yang tidak berupa segmental, artinya yang terdapat sekaligus dengan satu silabel, atau dengan sejumlah silabel, atau frase suatu kalimat. (a) Titinada yang terdapat pada suatu silabel (b) Titinada yang bervariasi dan terdapat pada suatu kalimat atau bagian kalimat (c) Tekanan yang terdapat pada suatu bagian kalimat, kecil/panjang, untuk membedakan makna (d) Aksen yang terdapat pada suku kata tertentu dalam suatu kata Dalam keempat hal tersebut lazimnya tanda-tanda yang dipakai para ahli fonologi ditulis diatas segmen yang bersangkutan, dan dari situlah berasal nama fonem suprasegmental (dari kata lain supra di atas) jadi penamaan itu kiasan saja. Istilah lain yang dipakai untuk fonem suprasegmental adalah fonem sekunder (secondary fonemes), dibedakan dari fonem primer (primary phonemes) yaitu fonem segmental.

SARAN Mudah-mudahan makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca dan penulis. Makalah ini dapat membantu pembaca yang ingin mengetahui fonem-fonem suprasegmental. Penulis sangat mengharapkan partisipasi para pembaca untuk memberikan kritik dan saran.

DAFTAR PUSTAKA Verhaar, J.W.M. 1988. Pangantar Linguistik. Yogjakarta: Gadjah Mada University press.