Anda di halaman 1dari 6

SEJARAH DAN PERKEMBANGAN ILMU MANTHIQ

Perumusan logika Aristoteles dan dijadikannya sebagai dasar ilmu pengetahuan secara epistemologi bertujuan untuk mengetahui dan mengenal cara manusia mencapai pengetahuan tentang kenyataan semesta baik sepenuhnya atau tidak serta mengungkap sebuah kebenaran. Karena akal adalah yang paling mudah untuk membedakan antara manusia dan bukan manusia. Wa Jaala Lakum alSama wa al- Abshar wa al- Af idah ( QS: 67 Ayat 23). Kalimat af idah dimaknai sebagai otak untuk berfikir, yang menurut Ibnu Khaldun mempunyai tiga komponen; pertama, (practical knowledge) termasuk di dalamnya politik, etika dan ekonomi, kedua (productive knowledge) termasuk art dan handycraft, ketiga (theoretical knowledge) termasuk matematika, filsafat dan metafisika.1 Definisi logika sebagai ilmu untuk meneliti hukum- hukum berpikir secara benar harus mempunyai titik pembenaran tentang kebenaran itu sendiri. Maka ahli mantik dalam hal ini mencapai sebuah konklusi, yaitu ketika sebuah pernyataan sesuai dengan kenyataannya maka itu benar dan pernyataan yang didasarkan pada koherensi2 logis adalah benar, karena kekuatan pikiran kita sebatas kebenaran yang kita ketahui. Pikiran yang tidak didasarkan pada kebenaran tidak memiliki kekuatan. Jika aklamasi mengarah kepada logika adalah representasi dari segala kebenaran pengetahuan, maka akan timbul pertanyaan keindependensian logika, apakah termasuk dari bagian sebuah pengetahuan atau hanya sebagai kacung ilmu pengetahuan? Stoikisme3 mengklasifikasikan ilmu menjadi tiga tema besar, yaitu metafisika, dialektika dan etika. Dan dialektika adalah logika. Maka mereka lebih cenderung memasukkan logika sebagai bagian dari Filsafat, berbeda dengan Ibnu Sina dalam bukunya al- Isyarat wa al- Tanbiihaat yang memisahkan logika sebagai

ilmu independen sekaligus sebagai pengantar.4 Dalam hal ini Al-Farabi lebih mengekor pernyataan Ibnu Sina bahwa Mantik sekali lagi adalah Khaadimul Ulum yang independen. Keterpengaruhan Mantik Arab dengan neo-platonisme dan Aristoteles sangat jelas jika dilihat dalam hal ini, karena essensi dari pada logika itu sendiri adalah ketetapan hukum untuk mengetahui sesuatu yang belum diketahui.5
Abdurrahman bin Muhammad bin Khaldun, Muqaddimah Ibnu Khaldun, Maktab al- Usrah, Kairo,
1

2006, hal. 916-917


Koherensi sebagai teori untuk menguji kebenaran, dengan menekankan konsistensi antara segala
2

keputusan- keputusan bersepakat; keterkaitan.


Stoikisme merupakan aliran filsafat yang didirikan oleh Zeno 308 M. percaya bahwa akal yang
3

meresapi alam semesta, dan orang- orang yang bijaksana harus melakukan disiplin terhadap dirinya dalam menerima nasibnya.
DR. Muhammad Mahran, Tathawwur al- Mantiq al- Arabi, Dar al- Maarif, Kairo, 1964, hal 18-19 5 Ibid, hal 20
4

Dan sejatinya tidak ditemukan perbedaan yang mendalam, hanya dari sisi pandangnya saja yang membuat seakan berbeda. Pengklasifikasian ilmu menurut Ibnu Khaldun terbagi menjadi dua hal, yaitu ulum maqsuudah bi al- dzaat termasuk di dalamnya ketetapan hukum-hukum syariat yang diambil dari penafsiran al-Quran, al-Sunnah, Fiqh dan Kalam, kemudian Metafisika dan Ketuhanan yang diambil dari Filsafat. Kedua adalah ilmu yang dijadikan sebagai alat dan pengantar ilmu itu sendiri seperti Bahasa Arab dan Mantik yang digunakan untuk mendalami Filsafat.6 Maka ketika melakukan pembacaan terhadap ilmu sebagai pengantar dianjurkan untuk menelaah hanya sebatas kapasitasnya saja sebagai sebuah alat, karena akan keluar dari arah tujuan awal dan bisa menghambat tercapainya ilmu yang dimaksud. Hal itulah yang banyak dilakukan oleh ulama modern dalam pembahasan Nahwu, Mantik dan Ushul Fiqh yang semakin tidak terarahkan7. Terlepas dari ilmu atau bukan, bisa dikatakan tujuan sebenarnya logika bukanlah sebagai peletak hukum berpikir melainkan berpikir untuk memperoleh kebenaran, yang salah atau yang benar.8 Logika oleh sebagian ilmuwan juga dapat dikatakan sebagai epistemologi, yaitu ilmu tentang pikiran. Akan tetapi logika sendiri terbagi menjadi dua yaitu minor dan mayor. Logika minor mempelajari struktur berpikir beserta dalil-dalilnya, dan mayor mempelajari hal pengetahuan, kebenaran, dan kepastian yang sama dengan lingkup epistemologi.

Logika dan perkembangannya Dalam dunia ilmiah dikenal adanya argumen sebagai penguat alasan. Dan setiap argumentasi dapat diuji kebenarannya dengan logika. Maka, untuk menguasai argumen dengan baik dan benar perlu menguasai logika. Dalam pembacaan kalimat tersebut, penulis sedikitnya telah menggunakan perumusan logika yang dicuatkan Aristoteles sebagai pencipta bentuk-bentuk pengungkapan dan penjelasan baru yang berupa dialektis atau logis. Karena, korelasi sebuah pernyataan dan jawaban yang logis akan dapat dibuktikan dengan rumusan tersebut. Kesalahan penyimpulan didapati ketika tidak menggunakan hukum, prinsip dan metode berpikir.9 Berangkat dari pencarian peta pembenaran tersebut
6

Muqoddimah Ibnu Khaldun, op. cit, hal 1114 Ibid, hal 1115 Abdurrahman al- Badawi, Al- Mantiq al- Shuri wa al- Riyadli, Maktabah al- Nahdlah al-

Misriyah,

Kairo, 1943, hal 19


Al-Imam Saduddin al- Taftazani ( di syarh oleh Syeikh Ubaidillah bin FadhluLLah alKhabiishi),
9

Al- Azhar press, Kairo, 2006, hal 12

Aristoteles, Plato, Socrates dan ilmuwan Yunani lainnya semakin gencar untuk merumuskan seperangkat metode berpikir yang rasional. Logika dalam perkembangannya mengalami berbagai fase. Bentuk logika formal yang ada dewasa ini adalah perwujudan kolaborasi antara pakar klasik dan modern. Tapi pionir logika formal yang sebenarnya adalah Aristoteles, meskipun dalam pengertian yang berbeda dengan logika formal modern. Bahwa hakekatnya logika tidak terpisah dari sebuah materi, yang pada awalnya merupakan sebuah pemahaman sehingga akan mewujudkan think (sesuatu). Tetapi pakar modern mengawali dari sesuatu sehingga akan muncul pemahaman.10 Makna awal logika Yunani adalah kalam yang kemudian dimaknai sebagai akal, pikiran dan burhan. Baru sekitar abad 2 M bangsa Arab mengadopsinya dan diterjemahkan sebatas segi bahasa yaitu kalam dan talaffud tanpa menghubungkannya dengan makna hakiki yang digunakan di Yunani ketika itu.11 Susunan logika Aristoteles yang sudah tertata rapi disertai peninggalan karya-karyanya dalam jumlah yang tidak sedikit dapat dikatakan sebagai salah satu faktor berkembangnya logika Aristoteles ke dunia Arab. Sejarahpun mencatat banyak karangan Aristoteles yang diterjemahkan ke berbagai bahasa seperti Syria, Arab, Persia dan India. Maka tak heran jika metode

Aristoteles sangat heboh mempengaruhi hampir di segala cabang ilmu pengetahuan. Terdapat enam tema besar dalam mantik Aristoteles di masa awal perkembangannya yaitu, Categoria Seu Praediecamenta (alMaqquulaat), Perihermenias Seu de Interpretatione (al-Ibarah), Analytica Priora (al-Tahliilaat al-Ulaa), Analytica Posteriora (al- Tahliilaat al- Tsaniyah), Topica, Seu De Locis Communis (al-Jadal), De Sophisticis Elenchis (al-Sofasthoi). Kemudian dalam perkembangan Mantik Arab logika tersebut banyak mengalami perubahan,12 yaitu dari yang enam menjadi sembilan; Isagog (madkhal), Retorika (alKhitobah), Potikia (al- Syir). Maka sembilan tema besar itulah yang berhasil diterima dunia Arab. Bahkan Khawarizmi dalam Mafaatihul Ulum juga mengklasifikasikan mantik ke dalam sembilan tema tersebut.13 Lain halnya dengan AlFarabi Ihshaa ul Ulum yang tidak mengkategorikan isagog (madkhal) sebagai bagian dari mantik.14
10

Tathawwur Mantik Arabi, op. cit, hal 24-25 Ibid, Abdurrahman al- Badawi, hal 3-4 Yang dilakukan oleh Organon dan Alexander Agung salah satu murid Aristo anak dari

11

12

Raja Philip

II dari Macedonia. Dia banyak menyebarkan pengaruh budaya Yunani ke Timur Tengah sehingga terjadi penukaran budaya terhebat sepanjang zaman. Selama dan sesudah karier Alexander kebudayaan Yunani begitu cepat tersebar ke Iran, Mesopotamia, Suriah, Yudea, Mesir.
Muhammad Hasan Abdul Aziz, Mafaatihul Ulum (Khawarizmi), Haiah al- Ammah liqushuuri
13

al- Tsaqofah, Kairo, 2004, hal 43


14

Ibid, hal 58

Ketika me-review kembali, sejarah mengisahkan tentang perkembangan ilmu berawal dari penerjemahan gede-gedean yang diprakarsai Khalifah Al-Mamun Dinasti Abbasiyah. Ketika itu AlMamun bermimpi bertemu dengan Aristoteles dalam pembicaraannya mengenai sumber kebenaran adalah akal. Segera AlMamun mengirim delegasi ke Roma guna mempelajari ilmu yang banyak berkembang dan tersimpan, kemudian diterjemahkan ke bahasa Arab. Yahya bin Khalid bin Barmak adalah Sang Hero pada masa itu karena

telah berhasil membujuk bahkan membebaskan karya orang Yunani dari cengkraman Romawi yang telah lama tersimpan. Ada beberapa hal yang ditakutkan Raja Romawi atas karya Yunani adalah ketika bukubuku tersebut dikonsumsi oleh rakyatnya maka agama Nasrani kemungkinan besar akan ditinggalkan dan kembali pada agama Yunani.15 Tongkat estafet tersebut kemudian diteruskan oleh Harun alRasyid yang menganjurkan untuk lebih memperdalam ilmu Kedokteran Yunani dan melakukan observasi serta riset-riset hingga kekhalifahan al-Mutawakkil (846-861M). Ilmu asing yang diadopsi Arab diklasifikasikan oleh Khawarizmi berjumlah sembilan cabang ilmu, dan Mantik adalah salah satu diantaranya. Isagog diterjemahkan pertama kali oleh Ayyub bin al-Qaasim al- Raqy dari bahasa Syria ke Arab yang pada awalnya telah mengadopsi dari Madrasah Iskandaria.16 Pindahnya Madrasah Alexandria ke Syria menimbulkan banyak pengaruh dalam dunia pengetahuan. Penertiban dan penyusunan ketika itu menjadikan logika sebagai pedoman dan ilmu dasar dalam bidang astronomi, kedokteran dan kalam yang berkembang pesat di Arab sekitar abad 9-11 M. Sarjana Islam mulai proaktif untuk mengembangkan ilmu yang bernafaskan scientific, termasuk Ibnu Sina, seorang Filosof Islam yang juga dokter dan Abu Bakar al-Razy yang mengawali pembukuan ilmu Kedokteran dan Farmasi. Ibnu Rusyd dan Farabi kemudian ikut andil dalam mengkolaborasikan Mantik Aristo dengan ilmu Islam termasuk Filsafat dan Nahwu.17 Al-Ghazali juga mulai mengkolaborasikan mantik dengan ilmu Kalam pada periode selanjutnya. Maka jika kita telisik kembali dalam perjalanan sejarah, lewat orang-orang muslimlah dunia modern sekarang ini mendapatkan cahaya dan kekuatannya. Pengembangan metode eksperimen dari Timur mempunyai pengaruh penting dalam pola berpikir manusia sehingga mengembangkan metode ilmiah yang menggabungkan cara berpikir baik secara deduktif dan induktif.
Jalaaluddin al- Suyuthi, Shaunu al- Mantiq wa al- Kalam, Dar al- Kitab al- Alamiyah, Beirut15

Libanon, 1947, hal 7


Ibnu al- Nadiim, Al- Fihrisat, Al- Haiah Al- Aammah Liqusuuri Al- Tsaqofah, Kairo, 2006, hal 24316

244
17

Mafaatihul Ulum, op. cit, hal 24-25

Obversi Rasionalitas Barat Syifa karya Ibnu Sina yang sangat


Abdurrahman al- Badawi, Falsafah Al- Ushuur al- Wustha, Darul Ulum- Beirut, 1979, hal 163 19 Ibid, hal 88-89
18

n utama agama nasrani adalah fikratul khallash, yang rasionalitas. Dalam bukunya De Civitate Dei dikatakan bahwa filsafat kristen adalah cinta akan kebenaran, dan kebenaran merupakan kalimah yang menyatu iman Ratio antecedit fidem guna menjelaskan nilai- nilai kebenaran dalam akidah, uan iman mendahului akal Credo ut intelligam hukumnya wajib rasionalitas agama lebih ditujukan kepada proses penalaran yang berangkat dari
Diini inda Zaki Najib Mahmud, Al Muassasah Al

Jaamiiyyah Liddirasaat wa al- Nasyr wa al- Tauzi, Beirut, 1996, hal 75

Machiavelli(1469-1527). Mereka mulai menguak kebudayaan klasik Yunani-Romawi kuno yang dihidupkan kembali dalam kesusastraan, seni dan filsafat. Jargon utamanya adalah Antroposentris ala mereka, pusat perhatian pemikiran tidak lagi wilayah kosmos, melainkan manusia. Mulai sekarang manusialah yang dianggap sebagai titik fokus dari kenyataan. apakah asal muasalnya pengetahuan manusia itu? diselaraskan dengan pertanyaan bagaimana saya tahu? adalah hepotesa aktif yang menuntut akal Perkembangan baru muncul lagi di abad 18-an, yang biasa disebut enlightment atau Aufklarung, yang mulai menciptakan suatu sintesis dari Nalar Arab- Islam
23

Tathawur Mantik Arabi, op. cit, hal 128