Anda di halaman 1dari 6

Pertumbuhan dan Kehidupan Syaikh Abdul Qadir Al Jailani

Sunday, 12 June 2011 08:54 | Namanya Beliau adalah Abdul Qadir bin Abu Shalih Musa Janki Dausat bin Abu Abdullah bin Yahya Az-Zahid bin Muhammad bin Dawud bin Musa bin Abdullah bin Musa Al-Jun bin Abdullah Al-Mahadh. Beliau dijuluki juga dengan Mujmil bin Hasan Al-Matani bin Hasan bin Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu Anhu.1 Namun demikian, ada riwayat yang menjelaskan bahwa penasaban Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani kepada Ali bin Abi Thalib adalah tidak benar, seperti yang dicantumkan dalam buku Zail Thabagaat A1-Hanabilah karya lbnu Rajab,2 yang di dalamnya beliau berkata, "Sebagian manusia ada yang mengingkari penasabannya kepada Ali bin Abi Thalib." 3 Hanya saja kami tidak ingin memperpanjang pembicaraan tentang masalah ini karena masalah ini tidak ada ujung-pangkalnya. Yang penting dalam kehidupan manusia adalah perbuatan dan amalnya, bukan asal-usul dan nasabnya. Lagi pula syaikh Abdul Qadir Al -Jailani sendiri tidak pernah memperhatikan masalah ini, dan beliau tidak senang mengunggul-unggulkan diri, tetapi beliau lebih bersikap tawadhu' dan zuhud hingga dalam nasab dan gelar. Maka dari itu, beliau berkata ketika memperkenalkan dirinya, "Saya seorang ilmuwan dari Jailani."4 Kemudian, ketika beliau telah menjadi seorang syaikh terkenal, beliau tidak menginginkan kemasyhuran itu dan tidak ingin nasabnya disebarluaskan, padahal kemungkinan besar memang benar bahwa beliau masih keturunan Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu Anhu karena lemah dan jarangnya dalil orang-orang yang menyangkal, sementara kuat dan banyaknya dalil orang-orang yang menyatakan bahwa beliau adalah keturunan Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu Anhu.5 Julukan dan Gelarnya Written by Administrator |

Buku-buku sejarah dan biografi hampir semuanya sepakat mengatakan bahwa julukannya adalah Abu Muhammad dan nasabnya dinisbatkan kepada Al-Jailani atau Al-Jaili. Misalnya, Ibnu Al-Atsirb dalam AlKamil menjelaskan, "Dia adalah Abdul Qadir bin Abi Shalih Abu Muhammad AI-Jaili."' Gelar ini disepakati oleh lbnu Katsir dalam AI-Bidayah wa AnIYihayah sehingga beliau berkata, "Dia adalah Syaikh Abdul Qadir bin Abu Shalih Abu Muhammad AI-Jaili."8

Sedangkan Adz-Dzahabi dalam Siyar A'laam An-Nubala' mengatakan tentang biografinya, "Abdul Qadir bin Musa bin Abdullah bin Janki Dausat AlJaili."9 Az-Zarkali menambahkan dalam A1 A'laam seraya berkata, `Abdul Qadir bin Musa bin Abdullah bin Janki Dausat AI-Hasani Abu Muhammad Muhyiddin Al-Jailani atau Al-Kailani atau AI-Jaili."10 Adapun gelar-gelar yang diberikan kepadanya sangatlah banyak, yang menunjukkan pada keahlian-keahlian tertentu, yang pada saat ini mungkin mirip dengan gelar - gelar ilmiah atau spesifikasi dan keahlian Yang diberikan kepada para ilmuwan dan pembesar, sebagai tanda atas kemuliaan dan tingginya kedudukan mereka. Di antara gelar yang diberikan kepadanya adalah gelar imam yang diberikan oleh As-Sam'aani," seraya berkata, "Beliau adalah imam pengikut madzhab Hambali dan guru mereka pada masanya." Hal ini dia nukil dari lbnu Rajab.12 Dia juga digelari dengan Syaikhul Islam yang diberikan kepadanya oleh Adz-Dzahabi,13 ketika menulis_biografinya dalam kitabnya Sairu A'laam An-nubala.14 Para sufi juga memberinya banyak gelar seperti al-quthb wa alghauts,15 al-baaz al-asyhab dan sebagainya, yang akan kita jelaskan nanti di pembahasan lain dalam buku ini, ketika membahas tentang pemikiran tasawufnya. 3. Kelahiran dan Kematiannya Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani dilahirkan di negeri Jailan, yaitu negeri yang terpencil di belakang Thabrastan, yang dikenal dengan Kail atau Kailan. Penisbatan nama itu ke wilayah ini menjadi Jaili, Jailani, clan Kailani, adalah pada tahun 471 Hijriyah.16 Ada yang mengatakan bahwa beliau lahir pada tahun 470 Hijriyah dan riwayat ini diambil dari perkataan beliau sendiri tentang kelahirannya "Saya tidak mengetahui secara pasti, tetapi saya datang ke Baghdad pada tahun yang di dalamnya AtTamimi masih hidup dan usia saya pada saat itu delapan belas tahun." At-Tamimi adalah ayah Muhammad Izzatullah bin Abdul Wahab bin Abdul Aziz bin Al-Harits bin Asad yang meninggal pada tahun 488 H. 18 Sedangkan Syaikh Abdul Qadir AI-Jailani meninggal pada malam Sabtu tanggal delapan Rabi'ul Akhir tahun 561 H setelah maghrib dan jenazahnya dikubur di sekolahannya setelah disaksikan oleh manusia yang tidak terhitung jumlahnya.19 PENCARIAN ILMU DAN PETUALANGANNYA

Pada saat itu Baghdad menjadi pusat keilmuan terbesar di dunia Islam. Di kota itu berkumpul ribuan ulama dalam berbagai bidang. Biasanya perjalanan untuk mencari ilmu disesuaikan dengan tingkat usia pencari ilmu itu. Jika usia sudah memadai, mereka akan pindah dari negeri mereka meninggalkan keluarga dan kampung mereka untuk mencar ilmu dan pengetahuan tertentu demi kemaslahatan dan manfaat yang mereka harapkan sebagai bekal hidupnya. Adapun sarana dan prasarana yang tersedia pada saat itu tidak sebagus yang dimiliki oleh para pencari ilmu pada saat sekarang. Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani telah bepergian dari negerinya dan tempat kelahirannya, Jailan, menuju Baghdad tahun 488 H dan usianya pada saat itu adalah 18 tahun. Seperti yang dijelaskan di depan, di Baghdad beliau bertemu dengan banyak ulama terkenal yang ahli dalam berbagai bidang, lalu beliau belajar dari mereka dan mengambil manfaat dari pengetahuan mereka, sehingga beliau menjadi seorang yang ahli dalam berbagai bidang ilmu. AdzDzahabi ketika menulis biografinya mengatakan bahwa dia adalah seorang syaikh imam yang alim, zahid, berpengetahuan luas, teladan, Syaikhul Islam, ilmunya para wali, dan muhyiddin (penghidup agama).20

Seperti yang dijelaskan Ibnu Rajab dalam Zailu Thabaqaat Al Hanabilah, "Beliau adalah syaikh di masanya, teladannya orang-orang arif, penguasa para syuyukh, pemilik maqaamat (kedudukan), pemiIik karamah, dan pemilik ilmu dan pengetahuan." Syaikh Abdul Qadir AI-Jailani menuntut ilmu selama 32 tahun dan di dalamnya belajar berbagai macam ilmu syariat kemudian mengajar dan memberikan nasihat mulai tahun 520 H.22 Walaupun Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani harus menempuh perjalanan jauh, mengalami kesulitan hidup clan keprihatinan selama mencari ilmu, tetapi semua itu tidak mengurangi semangatnya dan tidak mengurangi kemauannya untuk menuntut ilmu. Ibnu Rajab menggambarkan kepada kita bagaimana kesulitan (penderitaan) yang dialami Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani itu dari perkataan beliau sendiri. "Saya makan pohon-pohon berduri, bawang yang mati dan daun kering di pinggir sungai dan parit. Saya mengalami kesulitan ekonomi yang sangat parah di Baghdad hingga berhari-hari saya tidak makan makanan, tetapi saya memakan tumbuh-tumbuhan yang baru bersemi. Pada suatu hari saya keluar karena sangat kelaparan, dengan berharap semoga saya menemukan daun kering atau bawang dan sebagainya untuk bisa saya makan. Tidak ada tempat yang saya datangi, kecuali orang lain sudah mendahuluiku. Jika aku menemukan orang, tentulah dia orang miskin yang saling berebut makanan itu sehingga saya meninggalkannya dalam keadaan malu.

Lalu saya pulang berjalan dengan melewati tengah kota, tidak aku temukan satu tumbuhan pun, kecuali sudah didahului orang lain hingga saya sampai di Masjid Yasin di Pasar Rayyahin Baghdad. Badan saya sudah lemas clan tidak kuat lagi berpegangan. Saya pun masuk masjid itu clan akhirnya terjatuh di samping masjid tersebut clan saya sudah hampir mati. Tiba-tiba masuklah seorang pemuda non-Arab dengan membawa roti lezat dan berdaging. Dia duduk di dekat saya clan makan. Hampirhampir setiap dia mengangkat tangannya dengan memegang roti itu, saya membuka mulut saya karena lapar yang menggigit hingga saya menepis semua itu dan saya katakan kepada diri saya, Apa-apaan ini', lalu saya katakan, `Tidak ada siapa-siapa di sini, kecuali Allah Subhanahu wa Ta'ala atau Dia akan menetapkan kematian kepada saya.' Tiba-tiba orang asing itu menoleh kepadaku dan melihatku seraya berkata, 'Bismillah, ambillah ini wahai saudaraku.' Tetapi saya menolak, lalu dia bersumpah kepadaku. Saya pun tetap menolaknya dan saya juga bersumpah. Tetapi akhirnya saya menerima pemberian itu, lalu saya makan sedikit. Dia bertanya kepadaku, Apa pekerjaanmu, dari mana kamu, siapa namamu'. Saya jawab, 'Saya seorang pelajar dari Jailan.' Dia berkata. 'Saya juga dari Jailan, apakah kamu tahu seorang pemuda dari Jai bernama Abdul Qadir?' Saya jawab, 'Sayalah orangnya.' Dia kelihatan sangsi dan wajahnya berubah seraya berkata, `Demi Allah Subhanhu wa Ta'ala, berarti saya telah sampai di Baghdad dan saya masih punya sisa bekalku. Saya telah bertanya tentangmu, namun tidak seorang pun yang menunjukkanku hingga bekalku habis. Selama tiga hari saya tidak punya bekal apa-apa, kecuali roti milikmu yang saya bawa ini. Saya hampir mati, maka saya mengambil dari barang titipanmu ini, berupa roti daging. Sekarang makanlah karena ini adalah milikmu dan sekarang saya adalah tamumu, setelah sebelumnya kamu menjadi tamuku.' saya katakan kepadanya, 'Lalu apa itu?' Dia menjawab, 'Ibumu menitipkan kepadaku untukmu delapan dinar. Saya membeli sesuatu darinya terpaksa, maka saya minta maaf kepadamu.' Saya pun menenangkannya dan memaafkannya, lalu saya memberikan kepadanya sisa makan dan sedikit emas untuk upah. Dia pun menerimanya dan pergi."23 Demikianlah kesungguhan dan kelelahan yang ditempuh oleh para penuntut ilmu pada masa itu, dengan penuh kesabaran dan ketabahan untuk merealisasikan cita-cita mereka dalam mendapatkan ilmu. Betapa menderita dan sengsaranya mereka dalam menuntut ilmu jika dibandingkan dengan keadaan kita sekarang, tetapi mengapa justru sekarang mereka malas, lemah semangat, dan tidak bergairah walaupun semua sarana dan prasarana tersedia, baik yang berupa buku-buku, referensi, maupun peralatan. Allah Subhanahu wa Ta'ala adalah tempat meminta pertolongan tidak ada daya dan kekuatan, kecuali dari Allah Subhanahu wa taala Yang Maha tinggi lagi Maha agung. Kisah yang dipaparkan oleh Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani ini merupakan karamahnya yang diberikan Allah Subhanahu wa Ta'ala padanya karena beliau

berpindah dari satu tempat ke tempat lain hingga sampai di masjid ini. Di dalamnya beliau bertemu dengan seseorang yang diutus ibunya, dan dengan pertemuan itu Allah Subhanahu wa Taala mengangkat kesulitan yang dihadapinya dan menyelamatkannya dari kebinasaan.

Lihat As-Syathnufi, Bahjah AI-Asraar, 88, dan Adz-Dzahabi, Siyar A'laam An-Nubala, XX, 439, dan Az-Zarkali, AI-A'laam, IV, 47.
2

Yaitu Abdurrahman bin Ahmad bin Rajab Abu AI-Faraj hapal hadits, dilahirkan di Baghdad, tumbuh dan meninggal di Damaskus. Dia mempunyai banyak karya di antaranya Jami'Al-Ulum wa AlHikam, Al-Qawaid Al-Fiqhiyah, Lathaif AI-Ma'aarif, dan Zail Thabaqaat Al-Hanabilah dan sebagainya. Ibnu Rajab, Adz- Zail Thabaqaat Al-Hanabilah, I, 290. Adz-Dzahabi, Siyar A7aam An-Nubala, XX, 444. Lihat Asy-Syathnufi, Bahjah Al-Asraar, 88 clan seterusnya.

Syaikh Imam Allamah Ali bin Muhammad bin AI-Atsir, pengarang kitab AI-Kamil ti At-Tarikh, lahir tahun 550 H, seorang imam besar, ahli hadits dan sastrawan. Di akhir hayatnya beliau belajar hadits. Beliau adalah tempat berteduhnya para pencari ilmu clan orang-orang mulia berkumpul mengelilinginya. Meninggal dunia tahun 630 H. Adz-Dzahabi, SiyarA'IaamAn-Nubala, XXII, 353. Ibnu AI-Atsir, Al-Kamil, XI, 923. Ibnu Katsir, AI-8idayah wa An-Nihayah, XII, 270. Adz-Dzahabi, Siyar~A'laam An-Nubala, XX, 439. Az-Zarkali, AI-A'laam, IV, 47.

10

Muhammad bin Manshur bin Muhammad As-Sam'aani, hafidz, muhaddits, ahli fikih, sastrawan, meninggal tahun 510 H. Lihat Adz-Dzahabi, Siyar A'laam AnNubala, XIX, 372.
12

11

Ibnu Rajab, Zail Ala Thabaqaat Al-Hanabilah, I, 291.

Imam Hafidz Syamsuddin Muhammad bin Ahmad Adz-Dzahabi, lahir tahun 673 H. Tentangnya Taj As-Subki berkata, "Dia adalah syaikh dan ustadz kami, seorang muhaddits modern, guru dalam bidang Jarh wa Ta'dil, pemuka manusia di segala jalan, seakan-akan umat ini berada pada satu tangga, lalu beliau melihat dari atas, kemudian mengabarkan kepada mereka, seperti mengabarkan kepada orang yang hadir di hadapannya. Beliau mempunyai banyak tulisan di antaranya Tarikhul Islam, Siyar A'laam An-Nubala, Tadzkiratu A!-Nuffadz, dan sebagainya. Meninggal pada tahun 748 H.

13

14

Adz-Dzahabi, Siyar A'laam An-Nubala, XX, 439.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata, "Adapun nama-nama yang keluar dari lisan kebanyakan ahli ibadah clan umum, seperti al-ghauts di Makkah, al-autad al-arba'ah, al-aqthaab assab'ah, al-abdal al-arba'in, dan an-nujaba' atstsalatsimiah, adalah nama-nama yang tidak ada dalam Kitabullah maupun Sunnah Rasulullah dengan sanad yang shahih maupun dha'if. Sedangkan kata al-ghauts atau al-ghayyats tidak berhak disandang kecuali oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala karena hanya Dia-lah Yang Maha Menolong orang-orang yang meminta pertolongan, maka tidak seorang pun boleh meminta pertolongan kepada selainNya, baik kepada raja, orang dekat, maupun nabi yang diutus. Barangsiapa mengira bahwa ada di antara penduduk bumi yang mampu mengabulkan keinginan mereka yang mereka minta untuk menghilangkan bahaya dari mereka, turunnya rahmat kepada tiga ratus orang, dan dari tiga ratus orang kepada tujuh puluh orang, dan dari tujuh puluh orang kepada empat puluh orang, dan dari empat puluh orang kepada tujuh orang, dan dari tujuh orang kepada empat orang, clan dari empat orang kepada al-ghauts adalah anggapan dusta, sesat, dan musyrik." Al-Fatawa, XI, 433438.
16

15

Adz-Dzahabi, Siyar A7aam An-Nubala, XX, 439.

17

Asy-Syathnufi, Bahjah AI-Asrar, 88. Ibid., hal. 88. Adz-Dzahabi, Siyar A'Iaam An-Nubala, XX, 410. Ibid., XX, 439. Ibnu Rajab, Zail Thabaqaat Al-Hanabilah, I, 290. Ibid., I, 291.

18

19

20

21

22

23

Ibnu Rajab, Zail Thabaqaat Al-Hanabilah, I, 298.

Sumber : Diambil dari kitab Asy- Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani wa arauhu Al Itiqadiyah wa Ash syufiyah versi terjemahan Last Updated (Sunday, 12 June 2011 09:19)