Anda di halaman 1dari 166

ANAK YANG SERING DIMARAHI

Seorang ibu muda bangga ketika anaknya sudah tidak lagi mengalami sibling rivalry, ketika anak pertamanya mampu mengasuh adiknya, sang ibu ini sangat bangga dengan kepatuhan anaknya, anak pertamanya memang sangat patuh bahkan cenderung pasiv. Setiap ibunya menatap dengan tatapan tajam sang anak langsung mundur dari berbagai aktivitas dan segera memilih menghentikan aktivitas, sebuah perilaku yang menyenangkan menurut ibu muda tersebut tetapi belum tentu baik menurut Kesehatan Jiwa. Pola asuh orang tua berpengaruh dalam perkembangan psikologis anak, seorang anak yang terlalu sering dibentak, seorang anak yang terlalu patuh dan penurut memiliki potensi untuk menjadi penderita Harga Diri Rendah, mengapa seorang anak yang diasuh dengan cara kasar tersebut mengalami Harga Diri Rendah? karena anak tidak pernah mendapatkan reward terhadap apa yang telah ia lakukan. Akibat anak tidak mendapatkan reward maka dia akan merasa tidak berharga, merasa selalu salah, merasa tidak memiliki keleb ihan dan merasa tidak memiliki sesuatu yang dapat dibanggakan. Pola asuh orang tua yang salah justru membuat kebanggaan anak terhadap dirinya menjadi runtuh, anak menjadi sangat tergantung dengan orang lain, kehilangan kemampuan untuk membuat keputusan sendiri dan cenderung ragu - ragu dengan apa yang akan dia lakukan, tanpa dukungan dari orang tua secara penuh maka anak menjadi sangat pasiv, kemampuan yang sangat sederhana yang dia miliki tidak akan dia keluarkan. Pola asuh yang sangat keras bahkan bisa meninggalkan satu dampak psikologis buruk anak di masa depan, jika mereka kemudian menanamkan mindset yang salah tersebut kedalam benaknya dan menganggap bahwa diri mereka tidak berharga maka anak akan menjadi menjauh dari interaksi sosial, orang tua yang belum menyadari pengaruh pola asuh terhadap perkembangan psikologisnya cenderung membuat anak gagal di masa depannya, mereka gagal memahami diri, gagal memahami orang lain dan menurunkan impian bahkan visi hidupnya ke taraf yang paling rendah.

Valentine, Perselingkuhan, Seks, dan Keretakan Perkawinan


oleh TanyaDokterAnda.com pada 07 Februari 2011 jam 5:45

Perubahan nilai yang begitu cepat dalam kehidupan kita saat ini karena kemajuan teknologi informasi dan media mengakibatkan kita bingung dalam menyikapi nilai-nilai perkawinan saat ini. Di saat perayaan hari kasih sayang yang lebih dikenal sebagai Valentines Day oleh kaum muda, perlu juga sekiranya kita merefleksikan kembali arti kasih sayang ini dengan nilai-nilai dan makna perkawinan sebagai komitmen untuk saling mencintai. Refleksi ini menjadi penting ketika saat ini kita melihat di sekitar kita terjadi peningkatan perceraian, perselingkuhan yang diawali dengan teman tapi mesra (TTM) dan maraknya praktek-praktek seks di luar perkawinan. Semua kekacauan ini berdampak negatif pada generasi muda, yang katanya penerus bangsa, karena membuat banyak anak-anak hasil produksi broken home. Hancur sudah dasar-dasar pola asuh dalam masa perkembangan sang anak sebagai pondasi nilai-nilai kehidupannya kelak di masa dewasa. Tulisan ini adalah hasil pengamatan yang diambil dari pengalaman penulis dalam berpraktek sebagai psikiater keluarga dan perkembangan anak.

Masalah Komunikasi dan Gangguan Jiwa Banyak masalah perkawinan dikaitkan dengan masalah komunikasi yang buruk antara suami dan istri sehingga akhirnya mereka merasa tidak ada lagi kecocokan satu sama lain. Pertanyaannya adalah mengapa komunikasi yang begitu baik pada awal mula pacaran sampai ke pernikahan sekarang menjadi buruk? Memang ketika jatuh cinta (kejadian yang tidak dapat dikendalikan oleh kita) segalanya menjadi indah dan komunikasi macam apa pun akan selalu lancar tetapi ketika sama-sama berkomitmen untuk tetap saling mencintai (kejadian ini harusnya dapat dikendalikan secara sadar oleh kita karena mencintai adalah pilihan) seharusnya sudah dapat mendeteksi masalah plus dan minus dari komunikasi tersebut! Menikah adalah komitmen untuk memilih saling mencintai partner kita untuk mencapai goal bersama di hari tua. Mengapa komunikasi ini menjadi buntu? Bertolak dari definisi Badan Kesehatan Dunia (WHO) tentang kesehatan mental yaitu: Perasaan sehat dan bahagia, mampu menghadapi tantangan hidup, dapat menerima orang lain apa adanya dan bersikap positif terhadap diri sendiri dan orang lain maka jika kita tidak dapat menerima pasangan apa adanya bisa jadi

dikarenakan faktor-faktor seperti:

1. Salah satu pasangan atau keduanya mengalami gangguan jiwa, baik yang memang gangguan karena faktor genetik (skizofrenia, bipolar, paranoia) dan lingkungan (depresi dan cemas akibat gangguan penyesuaian lingkungan) maupun gangguan jiwa yang dibuat sendiri seperti memakai narkoba dengan alasan untuk mencari kebahagiaan. 2. Gangguan kepribadian juga berperan penting dalam hubungan suami dan istri. Gangguan kepribadian yang sering menyebabkan perang dunia adalah gangguan kepribadian narsisitik yang merasa dirinya paling benar dan spesial sehingga selalu perlu didahulukan karena merasa dirinya lebih penting, gangguan kepribadian histrionik yang tak pernah cukup minta diperhatikan oleh pasangannya, gangguan kepribadian anankastik yang selalu mencari dan menuntut kesempurnaan bagi dirinya sendiri dan pasangannya. Jika salah satu atau kedua individu sudah terserang gangguan kepribadian ini maka tidak ada satu orang pun pasangannya yang akan tahan hidup bersama lagi. Sebenarnya gangguan ini sudah tampak bila diperhatikan secara cermat sejak masih masa pacaran dahulu, walaupun dalam satu dua kasus ada pasangan yang pandai menyembunyikan dirinya sebelum perkawinan. Jika gangguan jiwa dan gangguan kepribadian ini sudah ikutan berperan maka semua orang tahu bahwa kita tidak akan bisa berkomunikasi dengan normal pada orang dengan gangguan kejiwaan.

Perselingkuhan, Nilai Masyarakat, dan Puber Kedua

Biasanya ketika seseorang mengalami kebuntuan komunikasi dengan pasangannya, mereka akan mencari teman dekat untuk curhat. Nah biasanya teman dekat untuk curhat ini tidak terlatih untuk bersikap objektif, sering kali mereka menjadi bersimpati dan bahayanya dengan terlalu simpati adalah nasehat-nasehatnya akan sangat tidak rasional untuk menjaga keutuhan perkawinan. Belum lagi keterbatasan

wawasan akibat kurangnya pengalaman dalam menghadapi masalah-masalah perkawinan dan gangguan jiwa akan mengakibatkan penilaian yang salah dan nasehat yang keliru. Risiko yang lebih besar lagi adalah ketika teman curhat tersebut adalah lawan jenis! Yang tipe seperti ini biasanya dapat di-follow up menjadi TTM, lalu urusan perselingkuhan sampai seks! Sebenarnya istilah puber kedua adalah istilah yang sampai sekarang masih menjadi kontroversi sebab ternyata perselingkuhan dan hubungan seks di luar pernikahan bukan dipengaruhi oleh keadaan hormonal saja melainkan banyak faktor biopsikososial lainnya seperti kebutuhan dasar manusia yang selalu ingin diperhatikan, akibat tuntutan pekerjaan maka waktu bersama istri yang lebih sedikit dibandingkan bersama rekan kerja (apalagi kalau rekan kerjanya perhatian pula) dan tentunya setiap bertemu istri, istri tidak bersolek secantik teman kerja. Hal lain yang juga mempengaruhi adalah gaya hidup saat ini seperti bermain golf dengan caddy atau pelatih yang moleh-moleh, spa dengan terapis yang bohai-bohai, karaoke dan lain-lain yang tentunya didampingi pendamping yang memiliki service lebih oke dibandingkan di rumah. Nilai-nilai masyarakat juga kadang mendorong seseorang untuk memiliki simpanan dengan dalih bahwa semakin bonafid seorang pengusaha maka maklum dan wajar jika memiliki wanita lain. Belum lagi nilai-nilai korupsi yang merajalela di Indonesia seringkali juga menyuguhkan sogokan berupa seks.

Cinta dan Kesehatan Mental Akhir kata, sekali lagi penulis mengingatkan bahwa masalah perkawinan dan cinta kasih ini sangat berhubungan erat dengan mekanisme kerja sistem mental kita di otak yaitu cara pikir, berperasaan dan bertingkahlaku dalam hubungan dengan lingkungan dan sesama, khususnya partner hidup kita. Insting primitif kita dalam hal seksual seringkali menjebak kita sehingga gagal mencapai GOAL (fungsi luhur otak yang paling tinggi adalah mempunyai tujuan) dalam companionship cinta kasih perkawinan. Untuk mencegah kegagalan itu, kita harus selalu memiliki kewaspadaan dalam setiap pikiran, perasaan, dan perbuatan kita sebelum terjebak dalam kecanduan-kecanduan haus cinta kasih dan seksual akibat stimulasi berlebihan pada brain reward system di otak kita. Hati-hati dengan kondisi kesehatan mental dan gangguan kepribadian yang mungkin menghampiri kita atau pasangan kita dan bila perlu hal seperti ini dikonsultasikan pada profesional daripada ke teman, yang mana karena ketidak-profesionalannya bisa berakibat menyelesaikan masalah dengan masalah baru. Cinta yang sejati membawa ketenangan dan meningkatkan kesehatan mental kita te tapi cinta yang palsu hanya akan membawa kebimbangan dan ketidaktenangan dalam hati kita.

Penulis: dr Dharmawan A. Purnama, SpKJ. Direktur Smart Mind Center Jakarta d/a. Klinik Taman Anggrek, Apartemen Tower 2 L 7. Jl. S. Parman Slipi. Jakarta Barat. Telp. 5609432. Berpraktek juga di RS Royal Progress Sunter Paradise. Jl Danau Sunter Utara. Jakarta Utara. Telp 6400261. Email: dharmawan@purnama.de. Blog: www.infopsikiater.blogspot.com; www.adhd.or.id

FAKTOR SEHAT JIWA


Kesehatan jiwa sering berpijak pada beberapa komponen, beberapa komponen tersebut adalah : 1. Support system : dukungan dari orang lain atau keluarga membantu seseorang bertahan terhadap tekanan kehidupan, stresor yang menyerang seseorang akan melumpuhkan ketahanan psikologisnya, dengan dukungan dari sahabat, orang - orang terdekat, suami, istri, orang tua maka seseorang menjadi lebih kuat dalam menghadapi stressor. 2. Mekanisme Koping : bagaimana cara seseorang berespon terhadap stressor menjadi satu ciri khas bagi setiap individu, jika responnya adaptif maka hasilnya tentu perlaku positif, jika responnya negatif hasilnya adalah perilaku negatif. 3. Harga Diri : jika dia merasa lebih baik dari orang lain maka akan menjadi sombong, jika dia merasa orang lain lebih baik dari dia maka dia akan mengalami Harga Diri Rendah. 4. Ideal Diri : Bagaimana cara seseorang melihat dirinya, bagaimana dia seharusnya : " saya hanya akan menikah dengan seorang wanita anak pengusaha" comment tersebut adalah ideal diri tinggi, " saya hanya lulusan SD, menjadi buruh saja saya sudah maksimal" comment ini adalah ideal diri rendah. 5. Gambaran Diri : apakah seseorang menerima dirinya beserta semua kelebihan dan kekurangan, meski cantik dia menerima kecantikannya tersebut satu paket dengan keburukan lain yang menyertai kecantikan tersebut. 6. Tumbuh Kembang : Jika seseorang tidak pernah mengalami trauma maka dewasa dia tidak akan mengalami memori masa lalu yang kelam atau yang buruk. 7. Pola Asuh : kesalahan mengasuh orang tua memicu perubahan dalam psikologis anak. 8. Genetika : Schizofrenia bisa secara genetis menurun ke anak, bahkan pada saudara kembar peluang nya 50 %. 9. Lingkungan : Lingkungan yang buruk menjadi salah satu faktor pendukung munculnya gangguan jiwa. 10. Penyalahgunaan Zat : penyalahgunaan zat memicu depresi susunan saraf pusat, perubahan pada neurotransmitter sehingga terjadi perubahan pada fungsi neurologis yang berfungsi mengatur emosi.

11. Perawatan Diri : jika seseorang tidak pernah mendapatkan perawatan, ex : lansia maka dia akan mengalami suatu perasaan tidak berguna jika perasaan ini berlangsung lama bisa memicu gangguan jiwa. 12. Kesehatan Fisik : gangguan pada sistem saraf mampu merubah fungsi neurologis, dampak jangka panjangnya jika yang terkena adalah pusat pengaturan emosi akan memicu gangguan jiwa. Seharusnya ada banyak faktor yang memicu gangguan jiwa, jika semua faktor bisa direduksi dan di minimalisir maka ke depan jumlah penderita gangguan jiwa dapat ditekan sekecil mungkin.

Melirik Kondisi kejiiwaan Anak Jalanan Oleh: dr.Nova Riyanti Yusuf,SpKJ (Anggota Komisi IX DPR RI Fraksi Partai Demokrat) Perkara mendasar di tanah air tercinta Indonesia tampaknya belum mau kunjung surut. Masih segar dalam ingatan berbagai kasus terkait anak jalanan (anjal). Beberapa kasus terbaru yang nampak terkait dengan anak jalanan diantaranya adalah kasus Babeh dengan kelainan jiwa pedofilia yang memakan korban anak-anak jalanan dan juga bagaimana Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) merutuki pihak yang bersalah melibatkan anak-anak dan menganiaya anak-anak sehingga sejumlah anak terluka dalam peristiwa bentrok makam Mbah Priok di Koja beberapa waktu silam. Penulis pun teringat pada pengalaman masa silam saat berpraktek sebagai calon dokter jiwa dan menangani kasus seorang perempuan dewasa dengan kasus gangguan jiwa Obsesif Kompulsif yang jika dirunut riwayatnya maka ia pernah mengalami pelecehan seksual oleh pamannya sendiri pada saat masih berusia 13 tahun. Selain pihak anak banyak yang takut melaporkan peristiwa kekerasan seksual yang dialaminya karena dirinya diancam dan orangtua beranggapan bahwa kasus seperti ini aib, sewajarnya juga seorang anak (seseorang dengan usia di bawah 18 tahun) yang masih belum berkembang sempurna secara psikoseksual, tidak memahami bahwa ia menjadi korban kekerasan seksual. Akibatnya kekerasan seksual terhadap anak merupakan sebuah fenomena gunung es. Berdasarkan informasi dari Pusat Data dan Informasi Kementerian Sosial (2008), jumlah anak jalanan sebesar 232.984 jiwa. Jumlah tersebut cenderung meningkat bila dibandingkan tahun 2007 sebanyak 104.000 anak, dan tahun 2006 sebanyak 144.000 anak. Dari jumlah tersebut hanya 12% saja yang tertampung di rumah singgah. 50% anak jalanan tinggal bersama orangtuanya. Data dari Yayasan Cinta Anak Bangsa juga menunjukkan bahwa jumlah anak terlantar di Indonesia ada sekitar 3,3 juta anak dan 160.000 diantaranya adalah anak jalanan. Berdasarkan data Komisi Nasional Perlindungan Anak, kasus kekerasan seksual yang menimpa anak-anak sepanjang 2008 meningkat 30% menjadi 1.555 kasus atau 4,2 kasus per hari dari 1.194 kasus pada 2007. Menurut catatan Dinas Sosial DKI Jakarta sedikitnya ada 4.023 anak jalanan yang tersebar di 52 wilayah di Jakarta. Per definisi, anak jalanan adalah sebuah istilah umum yang mengacu pada anak -anak yang mempunyai kegiatan ekonomi di jalanan, namun masih memiliki hubungan dengan keluarganya. Sementara Kementerian Sosial RI mendefinisikan anak jalanan sebagai anak yang sebagian besar menghabiskan waktunya untuk mencari nafkah atau berkeliaran di jalanan atau tempat-tempat umum lainnya.

Ada dua hipotesis kontradiktif tentang hal ikhwal keberadaan anak jalanan di jalanan; bahwa mereka berada di jalan karena memang menikmati berada di jalan atau karena mereka tidak punya pilihan lain. Walau pilihan kedua tampaknya menjadi mayoritas, namun adakalanya kita temukan ekspresi jiwa anak jalanan yang bermain musik dengan riang dan sepenuh hati, sehingga bisa dikatakan perasat semacam itu menyelamatkan mereka dari kegilaan karena getirnya hidup. Sejauh ini anak jalanan tidak bisa dikatakan berada di jalanan untuk menikmati hidup di jalanan yang keji tanpa fasilitas kecuali kerap mengonsumsi teratur vitamin berupa polusi udara dan suara, karena pada dasarnya mereka selalu menjadi korban. Dengan begitu banyaknya dasar hukum penyelenggaraan perlindungan anak di Indonesia dan salah satunya yang utama adalah UU NO.23 tahun 2002 yang juga membahas tentang perlindungan anak dari kekerasan dan diskriminasi, lantas kenapa jumlah anak jalanan bertambah? Dan kenapa pada praktiknya aksi-aksi penanganan anak jalanan masih dilakukan secara parsial, sektoral, dan terfragmentasi tanpa kesinambungan waktu yang cukup memadai untuk sebuah program dapat berjalan dan terpantau dengan evaluasi dari efektivitasnya? Ilustrasi Kasus Ranah kekerasan terhadap anak dapat terjadi di jalanan, tetapi juga dapat terjadi di dalam ranah keluarga yang notabene aman dan nyaman bagi anak. Di jalanan anak -anak dipaksa menjadi pengemis, pelacur anak, pekerja malam, dan lainnya. Untuk ruang keluarga, seperti banyak dieksploitasi oleh sinetron kita, adalah contoh bagaimana anak dieksploitasi menjadi pekerja rumah tangga dan mengalami penganiayaan fisik juga psikis. Begitu juga kekerasan seksual terhadap anak yang tidak henti-hentinya terjadi, Babe alias Bahekuni (48 tahun) mengaku telah membunuh 8 anak jalanan, hampir semua dimutilasi setelah sebelumnya menjadi korban pedofilia. Kasus seperti ini menjadi repetisi dari sebuah kasus klasik yang sempat menjadi mimpi buruk, yaitu kekejaman Robot Gedek pada pertengahan tahun sembilan puluhan. Dan untuk melengkapi ironi dan tragedi dari kebengisan Robot Gedek, tentu semua korbannya adalah anak jalanan yang sepertinya memang identik dengan penderitaan. Anak korban pedofilia dapat mengalami gangguan fisik dan mental. Bila kejadian tersebut disertai paksaan dan kekerasan maka tingkat trauma psikologis yang ditimbulkan lebih berat bahkan sampai usia dewasa akan sulit dihilangkan. Gangguan kejiwaan dan berbagai kelainan psikopatologis lainnya juga tidak terelakkan. Dikatakan bahwa gangguan pedofilia yang dialami Babe diawali oleh kejadian dirinya menjadi korban pedofilia di usia remaja. Secara ideal, tentu kita berharap korban pedofilia dilaporkan. Jika saja korban pedofilia tersebut terlaporkan atau nyawanya tidak melayang, maka pendekatan terapi sejak dini harus segera dilakukan. Masih banyak lagi ragam kondisi kejiwaan yang bisa dialami oleh anak jalanan yang kadarnya dianggap di atas sekadar juvenile delinquency (kenakalan remaja), seperti penyalahggunaan zat dengan bahaya letal, gangguan emosi dan perilaku, gangguan afektif seperti depresi, kepribadian antisosial, perilaku impulsif, dan lain-lain. Namun cukup dengan menelaah satu kasus Babe saja, kita dapat membayangkan betapa berbedanya cara hidup anak pada umumnya dan anak jalanan. Anak-anak yang pada umumnya dapat hidup nyaman dan tentram dalam lingkungan keluarga (nature) dengan pola asuh (nurture) yang baik untuk anak, sementara anak jalanan bertanggungjawab atas tubuh dan dirinya secara utuh. Mereka wajib kebal terhadap risiko atas kekerasan hidup dan pekerjaan fisik yang tidak terbayangkan

dapat diterima oleh anak seusianya. Seolah-olah mereka hidup dengan menggantungkan panjang usia hidupnya pada proses seleksi alam. Metode terapeutik Berbagai program telah diciptakan untuk menangani anak jalanan. Ditjen Pelayanan dan Rehabilitasi Sosial Kementerian Sosial RI memiliki program Pelayanan Kesejahteraan Sosial Anak (PKSA) dengan salah satu sasaran yaitu anak jalanan. Bulan April 2010 lalu juga dikatakan bahwa Kementerian Sosial berencana memberikan bantuan tunai bersya yang rat besarnya antara Rp 900 ribu sampai dengan Rp 1,8 juta per anak, per tahun. Penyaluran bantuan tunai itu akan disalurkan melalui lembaga sosial anak yang ditunjuk pemerintah dan harus digunakan untuk memenuhi kebutuhan dasar anak jalanan serta meningkatkan akses mereka ke sarana pelayanan sosial dasar seperti fasilitas pendidikan dan kesehatan. Tetapi jangan diabaikan bahwa jika jiwanya sudah rapuh, maka tidak mudah untuk mempenetrasi anak jalanan untuk mau belajar dan peduli dengan kesehatan. Pada shelter ataupun KLA (program Kota Layak Anak) sebagai bagian dari upaya Kementerian Negara Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, perlu diselipkan metode terapeutik seperti Community Intervention Strategies yang ditujukan untuk memperkuat kemampuan dari komunitas untuk meningkatkan perilaku yang pro-sosial dan mengurangi sikap antisosial dan kenakalan remaja. Caranya dengan mengkombinasikan case management komunitas yang agresif, pendekatan keluarga secara intensif, dan pembentukan pola perilaku yang spesifik untuk mengurangi kriminalitas, kedekatan dengan teman sepergaulan yang menyimpang, penyalahgunaan zat, dan lain sebagainya. Metode ini tampaknya mempunyai dampak jangka panjang yang paling efektif terhadap perilaku remaja, terutama anak jalanan sehingga keluar dari kubangan rasa ketidakberdayaan atau learned helplessness. Anak jalanan bukan pesakitan dan tidak boleh distigma sakit jiwa, tetapi menghitung logika beban jiwa yang harus mereka hadapi maka mereka berhak untuk terganggu jiwanya.

Merenungi Sistem

AZAS (VALUE) KERJA PETUGAS MEDIS : Bekal Pelayanan Paripurna


Posted on March 22, 2011 by emanfamily

By Eman Sutrisna, dr. M Kes Pelayanan kesehatan merupakan pekerjaan yang sangat mulia, menolong setiap orang sakit tanpa membeda-bedakan atau diskriminasi apapun (agama, suku, bangsa, ideologi, kawan maupun lawan). Pelayanan kesehatan memberikan pelayanan sepenuh hati dan setulus jiwa petugasnya kepada siapa saja yang membutuhkan. Pelayanan kesehatan menghormati setiap kehidupan manusia sejak dari pembuahan (konsepsi) sampai meninggal dunia, menghormati pasien dan keluarganya, menghormati dan menghargai sejawatnya layaknya saudara kandung..begitulah beberapa tuntunan yang dijunjung tinggi setiap petugas kesehatan Untuk mewujudkan pelayanan kesehatan yang mulia ini maka diperlukan sumber daya manusia (petugas kesehatan) yang memiliki jiwa mulia, siap mengabdi, melayani dengan berpegang teguh Pada kode Etik profesi masing-masing, memberikan rasa nyaman, aman dan mengatasi penderitaan pasien yang ditolongnya. Pelayanan paripurna merupakan tujuan yang

diharapkan oleh setiap pasien dari petugas kesehatan. Karena manusia tidak hanya memiliki komponen fisik/jasmani semata tetapi juga komponen jiwa dengan kelengkapan rasa, karsa dan cipta. Oleh karena itu, manusia seyogyanya dipandang secara holistik. Demikian pula, pelayanan kesehatan kepada pasien hendaknya dilakukan secara holistik, melayani pasien seutuhnya dan paripurna, melayani pasien secara tuntas sehingga selesai pelayanan pasien memiliki kualitas hidup (Quality of Life) yang lebih baik. Beberapa azas (value) yang sebaiknya dipegang teguh oleh setiap petugas kesehatan, baik dokter, perawat, bidan dan petugas lainnya, sebagai landasan menjalankan profesinya guna pencapaian pelayanan yang holistik dan paripurna adalah
1. Iman dan Taqwa; keimanan dan ketaqwaan merupakan modal dasar seseorang yang melandasi nilai-nilai luhur dalam kehidupannya. nilai ini yang membentuk spiritual quotient (SQ) yang kuat. Nilai ini akan melahirkan suatu prinsip bahwa pelayanan kesehatan adalah ibadah. Penguatan pada prinsip ini akan menumbuhkan keikhlasan dalam memberikan pelayanan, membentuk jiwa yang kreatif untuk selalu berusaha memberikan pelayanan yang terbaik kepada pasiennya, jiwa yang jujur karena merasa selalu diawasi oleh Tuhan-Nya dan Jiwa yang kuat karena semua aktivitas pelayanan yang dilakukan adalah dalam rangka ibadah kepada-Nya. Iman dan taqwa adalah pondasi kerja keras dan kesungguhan untuk selalu meningkatkan kualitas kerja setiap Petugas kesehatan yang berasal dari dalam diri sendiri (self motivation) tanpa selalu tergantung pada pimpinan atau orang lain 2. Profesionalitas; merupakan bekal utama dalam menjalankan profesi seorang petugas kesehatan. Tidak dibenarkan seorang petugas kesehatan member ikan pelayanan kesehatan tanpa memperhatikan profesionalitas yang ia miliki. Tidak hanya karena semua UU atau peraturan praktek tenaga kesehatan mewajibkan memberikan pelayanan yang profesional atau sesuai standar tetapi yang sebaiknya selalu diingat bahwa yang dipelayanan adalah seorang manusia. Pantas dan wajar jika seorang yang memberikan pelayanan kesehatan dibawah standar (tidak profesional) perlu mendapatkan sanksi atas perbuatannya. Dalam pelaksanaannya ada 3 aspek profesionalitas yang harus dipenuhioleh setiap petugas kesehatan, yaitu : pengetahuan (knowledge), keterampilan (skill) dan perilaku/akhlaq (professional behavior). Ketiga aspek tersebut harus dimiliki oleh setiap petugas kesehatan secara berimbang. Pengetahuan medik yang tinggi, keterampilan klinis yang mumpuni dan prilaku yang baik merupakan persyaratan seorang petugas kesehatan disebut profesional/kompeten. Berbekal profesionalitas dan kompetensi yang tinggi maka petugas kesehatan diharapkan mampu menjalankan profesinya secara benar dandibenarkan. 3. Family atmosphere; merupakan suasana yang sebaiknya dibangun oleh setiap petugas kesehatan ketika memberikan pelayanan kepada pasiennya. Petugas kesehatan menganggap setiap pasien seolah-olah bagian dari keluarganya sendiri, membangun hubungan yang dekat, memberikan pelayanan sepenuh jiwa dan raga dengan sentuhan keramahan, senyum yang tulus sehingga mampu memberikan rasa aman dan nyaman kepada pasiennya. Suasana demikian sangat penting untuk menciptakan kepercayaan (thrust) pasien kepada petuga s kesehatan dan siap bekerjasama dalam pengobatan penyakitnya

Integrasi Program Kesehatan Jiwa dengan Program Puskesmas di Kebumen 3 (Pengantar)

Bahwa tujuan Pembangunan Kesehatan adalah tercapainya kemampuan hidup sehat bagi setiap penduduk agar dapat mewujudkan derajat kesehatan masyarakat yang optimal. Sedangkan kesehatan dalam hal ini didefinisikan sebagai suatu keadaan yang bukan hanya sekedar bebas dari suatu penyakit, cacat dan kelemahan, tapi lebih dari pada itu benar-benar merupakan suatu kondisi yang positif dari kesejahteraan fisik, mental dan social yang memungkinkan seseorang untuk hidup produktif. Sebagai dampak dari hasil pembangunan nasional terjadi peningkatan pendapatan, pendidikan dan social masyarakat. Hal ini cendrung menimbulkan pergeseran pola penyakit di masyarakat dari kelompok penyakit menular ke kelompok penyakit tidak menular termasuk salah satunya adalah gangguan jiwa. Pertumbuhan penduduk yang tidak seimbang dengan pertumbuhan ekonomi dapat menimbulkan berbagai masalah psiko-sosial yang mempengaruhi taraf kesehatan jiwa masyarakat. Juga dengan adanya penyebaran dan imigrasi penduduk yang timpang terutama urbanisasi, perubahan social yang cepat, pergeseran nilai-nilai hidup, teknologi informasi yang pesat dan gaya hidup yang merusak kesehatan seperti merokok, minum munuman beralkohol dan penyalah-gunaan obat akan berdampak pada perkembangan mental penduduk. Adanya persaingan global dibidang ekonomi dimana tidak semua orang mampu mengikuti perkembangan tersebut akan berdampak pada kondisi kesehatan jiwa seseorang seperti stres, cemas, rendah diri, perasaan tidak berguna dan gangguan mental lainnya. Oleh karena itu perlu dikembangkan upaya kesehatan jiwa dalam upaya untuk membantu mengatasi masalah kesehatan jiwa masyarakat. Upaya Kesehatan Jiwa di Puskesmas telah mulai dikembangkan sejak lama baik secara khusus maupun terintegrasi dengan kegiatan pokok Puskesmas lainnya, dengan kegiatan sesuai Pedoman Kerja Puskesmas adalah sbb : 1. Pengenalan Dini Kasus Gangguan Jiwa (Early Detection), meliputi : Gangguan Psikosis, Gangguan Kecemasan, Gangguan Depresi, Retardasi Mental, Gangguan Psikosomatik atau Psikofiologik, Gangguan Penggunaan Zat, Gangguan pada Anak dan Remaja (Gangguan tingkah laku, Gangguan pemusatan perhatian / sindom hiperkinetik, Gangguan perkembangan spesifik) dan Epilepsi. 2. Memberikan upaya pertolongan pertama pada kasus-kasus gangguan Jiwa (Primary Treatment). 3. Kegiatan rujukan yang memadai (Adequate referral). 4. Melaksanakan terapi lanjutan (follow up) terhadap kasus jiwa yang sudah selesai perawatan di RSJ untuk meringankan beban pasien. Dalam melaksanakan pelayanan kesehatan jiwa, sesuai Pedoman Kerja Puskesmas diharapkan petugas Puskesmas dapat : 1. Menangani gangguan jiwa baik yang akut maupun yang kronis yang dapat terjadi pada setiap manusia maupun kelompok masyarakat hingga dapat menurunkan angka kesakitan akibat gangguan jiwa.

2. Menangani gangguan jiwa dari setiap kelompok umur mulai dari anak, remaja, dewasa dan usia lanjut dengan memanfaatkan azas-azas kesehatan jiwa. 3. Menilai lebih sensitive dan waspada terhadap kemungkinan keterlibatan emosional pada keluhan-keluhan atau gejala yang ditujukkan pasien sewaktu berobat. 4. Memberikan penyuluhan sehingga masyarakat dapat memanfaatkan azas dasar kesehatan jiwa dalam kehidupannya. Walaupun Upaya Kesehatan Jiwa telah dikembangkan sejak lama, namun dalam perjalanannya belum mampu melaksanakan kegiatan secara optimal mengingat keterbatasan sarana, obat-obatan jiwa yang tersedia dan kemampuan petugas Puskesmas.Untuk itulah kemudian perlunya implementasi upaya kesehatan jiwa yang terintegrasi dengan upaya kesehatan lainnya di Puskesmas.

Related Posts by Categories


Kontrak Pelayanan
y y y y y y y y

Integrasi Program Kesehatan Jiwa dengan Program Puskesmas di Kebumen 3 Jadwal Pelayanan Posyandu di Puskesmas Kebumen 3 Hak Pengguna Layanan Puskesmas Kebumen 3 Penyampaian Keluhan, Kritik dan Saran untuk Puskesmas Kebumen 3 Standar Alur Pelayanan Rawat Jalan di Puskesmas Kebumen 3 Standar Waktu Pelayanan Rawat Jalan di Puskesmas Kebumen 3 Visi-Misi Puskesmas Kebumen 3 Apa itu Dokumen Kontrak Pelayanan atau Citizens Charter

Profil Puskesmas
y y y y y y y y y y y y

Integrasi Program Kesehatan Jiwa dengan Program Puskesmas di Kebumen 3 Jadwal Pelayanan UKS/UKGS Puskesmas Kebumen 3 Jadwal Pelayanan Dokter di Puskesmas Kebumen 3 Jadwal Pelayanan Posyandu di Puskesmas Kebumen 3 Hak Pengguna Layanan Puskesmas Kebumen 3 Penyampaian Keluhan, Kritik dan Saran untuk Puskesmas Kebumen 3 Standar Alur Pelayanan Rawat Jalan di Puskesmas Kebumen 3 Standar Waktu Pelayanan Rawat Jalan di Puskesmas Kebumen 3 Visi-Misi Puskesmas Kebumen 3 Data Profil Kesehatan Puskesmas Kebumen 3 Tahun 2010 Data Capaian Kinerja Pelayanan Puskesmas Kebumen 3 Tahun 2010 Wilayah Kerja Puskesmas Kebumen III

Artikel Kesehatan
y y y y y y y

Mengenal Implant, Kontrasepsi untuk wanita (Contraseptive for Female) Mengenal Alat Kontrasepsi IUD PARTOGRAF, dokumentasi pertolongan persalinan ibu Deteksi Dini Tumbuh Kembang Anak/Balita Melalui KMS Program Surveilans Puskesmas Revitalisasi Posyandu Keluarga Sadar Gizi (Kadarzi)

y y y y y y y y y y y y y y y y y y y

JAMKESMAS (Jaminan Kesehatan Masyarakat) Desa Siaga Asuhan Persalinan Normal (APN) Klinik Sanitasi Keluarga Sadar Gizi (Kadarzi) Pesan 7 PUGS: Biasakan makan pagi Pesan 5 PUGS: Makanlah Makanan Sumber Zat Besi Pesan 4 PUGS: Gunakan garam Beryodium Pesan 3 PUGS: Pilihlah makanan berkadar lemak sedang dan rendah lemak jenuh Pesan 2 PUGS: Makanlah makanan untuk memenuhi kecukupan energi Pesan 1 PUGS: Makanlah Makanan yang Beraneka Ragam Pedoman Umum Gizi Seimbang (PUGS) Perawatan Gigi dan Mulut Pelayanan Kesehatan Haji Posyandu Lansia Upaya Kesehatan Kerja Panduan Praktis Bagi Masyarakat Dalam Pencegahan Pandemi Flu Baru H1N1

KEPUTUSAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA


NOMOR : 220 / MENKES / SK / III / 2002 y TENTANG y PEDOMAN UMUM TIM PEMBINA, TIM PENGARAH, TIM PELAKSANA y KESEHATAN JIWA MASYARAKAT ( TP KJM ) y MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa upaya pencegahan dan penanggulangan gangguan kesehatan jiwa sangat penting, mengingat dari data SKRT 1995 diperkirakan satu dari empat penduduk Indonesia menderita kelainan jiwa dari rasa cemas, depresi, stress, penyalahgunaan obat, kenakalan remaja sampai skizofrenia; b. bahwa dalam kebijakan kesehatan jiwa masyarakat terdapat 4 (empat) perubahan yaitu dari berbasis rumah sakit menjadi berbasis masyarakat, dapat ditangani di semua pelayanan kesehatan yang ada, dahulu rawat inap sekarang mengandalkan pelayanan rawat jalan dan dahulu penderita gangguan jiwa perlu disantuni sekarang dapat diberdayakan;
y

y y

c. bahwa Buku Pedoman Kerja Badan Pembina Kesehatan Jiwa Masyarakat, dipandang perlu untuk disempurnakan / direvisi dan disesuaikan dengan situasi dan kondisi yang ada saat ini; d. bahwa sehubungan dengan huruf a, b dan c di atas perlu ditetapkan Keputusan Menteri Kesehatan tentang Pedoman Umum Tim Pembina, Tim Pengarah, Tim Pelaksana Kesehatan Jiwa Masyarakat (TP -KJM); Mengingat : 1. Undang -undang Nomor 6 Tahun 1974 tentang Ket entuanketentuan Pokok Mengenai Kesejahteraan Sosial (Lembaran Negara Tahun 1974 Nomor 53, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3039); 2. Undang-undang Nomor 2 Tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Lembaran Negara Tahun 1989 Nomor 6, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3390);
2

y y

y y

y y y y y y y y y y y y

3. Undang-undang Nomor 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan (Lembaran Negara Tahun 1992 Nomor 100, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3495); 4. Undang-undang Nomor 4 Tahun 1997 tentang Penyandang Cacat (Lembaran Negara Tahun 1997 Nomor 9, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3670); 5. Undang-undang Nomor 5 Tahun 1997 tentang Psikotropika (Lembaran Negara Tahun 1997 Nomor 10, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3671); 6. Undang-undang Nomor 22 Tahun 1997 tentang Narkotika (Lembaran Negara Tahun 1997 Nomor 67, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3698); 7. Undang-undang Nomor 25 Tahun 1997 tentang Ketenagakerjaan (Lembaran Negara Tahun 1997 Nomor 73, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3702); 8. Undang-undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Tahun 1999 Nomor 60, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3839); 9. Undang-undang Nomor 25 Tahun 1999 tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah (Lembaran Negara Tahun 1999 Nomor 72, Tambahan Lembaran Negara No mor 3848); 10. Peraturan Pemerintah Nomor 31 Tahun 1980 tentang Penanggulangan Gelandangan Pengemis (Lembaran Negara Tahun 1980 Nomor 51, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3177); 11. Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 2000 tentang Kewenangan Pemerintah dan Kewenangan Propinsi Sebagai Daerah Otonom (Lembaran Negara Tahun 2000 Nomor 54, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3952);
3

y y

y y

y y

y y y y

12. Peraturan Pemerintah Nomor 84 Tahun 2000 tentang Pedoman Organisasi Perangkat Daerah (Lembaran Negara Tahun 2000 Nomor 165); 13. Peraturan Pemerintah Nomor 39 Tahun 2001 tentang Penyelenggaraan Dekosentrasi (Lembaran Negara Tahun 2001 Nomor 62, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4095); 14. Peraturan Pemerintah Nomor 52 Tahun 2001 tentang Penyelenggaraan Tugas Pembantuan (Lembaran Negara Tahun 2001 Nomor 77, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4106); 15. Peraturan Pemerintah Nomor 106 Tahun 2001 tentang Pengelolaan dan Pertanggungjawaban Keuangan dalam Pelaksanaan Dekosentrasi dan Tugas Pembantuan (Lembaran Negara Tahun 2001 Nomor 203 , Tambahan Lembaran Negara Nomor 4023); 16. Keputusan Presiden Nomor 102 Tahun 2001 tentang Kedudukan, Tugas, Fungsi, Susunan Organisasi dan Tata Kerja Departemen; 17. Keputusan Presiden Nomor 109 Tahun 2001 tentang Unit Organisasi dan Tugas Eselon I Departemen; 18. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1993/Kdj/U/1970 tentang Perawatan Penderita Penyakit Jiwa; 19. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 547/Menkes/ SK/IV/2000 tentang Kebijakan Pembangunan Kesehatan Menuj u Indonesia Sehat 2010; 20. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1277/Menkes/ SK/XI/2001 tentang Organisasi dan Tata Kerja Departemen Kesehatan Republik Indonesia; 21. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1346/Menkes/SK/XII/2001 tentang Rencana Strategis Pembangunan Kesehatan 2001-2004;
4

y y

y y

y y y y y y y y

y y

y y

y y

y y y y y y

Memperhatikan : Surat Edaran Menteri Dalam Negeri RI Nomor 440.05/1908/ PUOD tanggal 17 Mei 1980 tentang Pembentukan Team/Badan Pembina Kesehatan Jiwa Masyarakat di Daerah. y MEMUTUSKAN: Menetapkan : Pertama : KEPUTUSAN MENTERI KESEHATAN TENTANG PEDOMAN UMUM TIM PEMBINA, TIM PENGARAH, TIM PELAKSANA KESEHATAN JIWA MASYARAKAT (TP-KJM). Kedua : Pedoman Umum Tim Pembina, Tim Pengarah, Tim Pelaksana Kesehatan Jiwa Masyarakat (TP-KJM) sebagaimana dimaksud Diktum Pertama tercantum dalam Lampiran Keputusan ini. Ketiga : Pedoman sebagaimana dimaksud Diktum Kedua merupakan acuan dalam penerapan standar pelayanan minimal masalah kesehatan jiwa masyarakat di Daerah sesuai dengan situasi dan kondisi masing -masing. Keempat : Keputusan ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan. Ditetapkan di Jakarta pada tanggal 25 Maret 2002 MENTERI KESEHATAN, ttd Dr. ACHMAD SUJUDI 5

y y y y

y y y y

Lampiran Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor : 220/MENKES/SK/III/2002 Tanggal : 25 Maret 2002_________ y PEDOMAN UMUM TIM PEMBINA, TIM PENGARAH, TIM PELAKSANA y KESEHATAN JIWA MASYARAKAT ( TP KJM ) I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang

Pengertian kesehatan diberikan / dijalankan oleh WHO sejak tahun 1947. Di Indonesia pengertian tentang kesehatan tersebut diadopsi tahun 1960 oleh Undang-undang Nomor 9 Tahun 1960 tentang Kesehatan, yang kemudian diperbaiki lagi oleh Undang-undang Nomor 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan. Pengertian kesehatan disini sudah lebih diarahkan untuk hidup lebih produktif, sebagaimana yang tertuang dalam Pasal 1 Ayat 1 Undang -undang Nomor 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan, yang menyebutkan : Kesehatan adalah keadaan sejahtera dari badan, jiwa dan sosial yang memungkinkan setiap orang hidup produktif secara sosial dan ekonomis. Atas dasar definisi Kesehatan tersebut diatas, maka manusia selalu dilihat sebagai satu kesatuan yang utuh (holistik) dari unsur badan (organobiologi), jiwa (psiko-edukatif), sosial (sosio-kultural), yang tidak dititik beratkan pada penyakit tetapi pada kualitas hidup yang terdiri dari kesejahteraan dan produktifitas sosial ekonomi. Kesehatan jiwa mempunyai sifat yang harmonis (serasi), memperhatikan semua segi kehidupan manusia dalam hubungannya dengan manusia lain. Oleh karena itu, kesehatan jiwa mempunyai kedudukan yang penting di dalam pemahaman kesehatan, sehingga tidak mungkin kita berbicara tentang kese hatan tanpa melibatkan kesehatan jiwa. Seseorang yang sehat jasmani dan rohaninya, sedikit banyak akan menyebabkan bertambahnya usia harapan hidup orang tersebut. Keberhasilan Pembangunan Jangka Panjang I, dalam upaya menurunkan angka kematian umum, angka kematian bayi dan angka kelahiran, telah meningkatkan umur harapan hidup waktu lahir. Pada tahun 1980, umur harapan waktu lahir sekitar 50 tahun; telah meningkat menjadi 57,9 tahun pada pria dan 61,5 tahun pada wanita pada tahun 1990. Angka ini diperkirak an akan meningkat menjadi 65 70 tahun pada tahun 2000. Namun bila berbicara soal data, jumlah penderita masalah kesehatan jiwa memang mengkhawatirkan. Secara global dari sekitar 6

450 juta orang yang mengalami gangguan mental, sekitar 1 juta diantaranya meninggal karena bunuh diri setiap tahunnya. Angka ini lumayan kecil bila dibandingkan dengan upaya bunuh diri dari para penderita masalah kejiwaan yang mencapai 20 juta orang/tahun. Kesehatan jiwa penting dilihat dari dampak yang ditimbulkannya, antara lain terdapatnya angka yang besar dari penderita gangguan kejiwaan yang diikuti pula dengan beban sosial ekonomi yang luas. Jadi tersirat disini bahwa Kesehatan Jiwa adalah bagian yang tidak terpisahkan (integral) dari Kesehatan dan unsur utama dalam menunjang terwujudnya kualitas hidup manusia yang utuh. Dalam Undang -undang Nomor 23 tahun 1992 tentang Kesehatan, pada pasal 24 disebutkan bahwa Upaya Kesehatan Jiwa diselenggarakan untuk mewujudkan jiwa yang sehat secara optimal, baik intelektual maupun emosional. Studi Bank Dunia ( World Bank ) pada tahun 1995 di beberapa negara, menunjukkan bahwa hari-hari produktif yang hilang atau Dissability Adjusted Life Years ( DALYs) sebesar 8,1% dari Global Burden of Disease disebabkan oleh masalah kesehatan jiwa , angka ini lebih tinggi dari pada dampak yang disebabkan oleh penyakit Tuberculosis (7,2%), Kanker (5,8%), Penyakit Jantung (4,4%) maupun Malaria (2,6%). Tingginya masalah tersebut menunjukkan bahwa masalah kesehatan jiwa merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat yang besar dibandingkan dengan masalah kesehatan lainnya yang ada di masyarakat. Masalah kesehatan jiwa mempunyai lingkup yang sangat luas dan kompleks serta saling berhubungan satu dengan lainnya. Apabila kita mengangkat data hasil Survey Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) yang dilakukan Badan Litbang Departemen Kesehatan pada tahun 1995, yang antara lain menunjukkan bahwa gangguan mental Remaja dan Dewasa te rdapat 140 per 1000 anggota rumah tangga, gangguan mental Anak Usia Sekolah terdapat 104 per 1000 anggota rumah tangga. Dalam kurun waktu 6 (enam) tahun terakhir ini, data tersebut dapat dipastikan meningkat karena krisis ekonomi dan gejolak -gejolak lainnya di seluruh daerah, bahkan masalah dunia internasionalpun akan ikut memicu terjadinya peningkatan dimaksud. Menghadapi hal seperti ini tentu tidak semata mata menjadi tanggungjawab Pemerintah tetapi sangat diperlukan adanya partisipasi aktif dari semua pi hak dan lapisan masyarakat. Dalam penyelenggaraan Pemerintah Daerah sebagaimana diatur dalam Undang undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah dan Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 2000 tentang Kewenangan Pemerintah dan Kewenangan Provinsi sebagai Daerah Otonom, 7

y y y

y y

khususnya Pasal 2 ayat (3) angka 10, Pasal 3 ayat (2) dan ayat (5) angka 9, telah di gariskan bahwa Pemerintah, Provinsi dan Kabupaten/Kota masing masing mempunyai kewenangan dalam menangani masalah kesehatan. Sekalipun demikian masyarakat baik secara individu maupun kelompok, juga harus aktif mulai dari pencegahan sampai dengan penanggulangannya. Dalam Otonomi Daerah, masalah kesehatan jiwa ikut mewarnai penyelenggaraan pemerintahan daerah. Pada pemahaman ini bukanlah dimaksudkan dengan otonomi luas, masyarakat dapat sebebas -bebasnya melakukan sesuatu tanpa batas, dan bukan berarti pula otonomi luas diciptakan untuk membuat makin banyak masyarakat yang kesehatan jiwanya terganggu. Tetapi justru sebaliknya, dengan otonomi luas dihar apkan masyarakat akan ikut secara aktif dalam kegiatan pembangunan, termasuk pembangunan kesehatan. Dalam upaya menangani masalah kesehatan jiwa, hampir seluruh Provinsi di Indonesia telah dibangun rumah sakit jiwa, namun kecenderungan penderita dengan gangguan jiwa ternyata terus meningkat. Ini menunjukkan bahwa tuntasnya penanganan kesehatan jiwa tidak hanya ditandai dengan banyaknya rumah sakit tetapi masih ada faktor lainnya yang ikut mempengaruhi. Tinjauan terhadap 10 rekomendasi dari WHO dan kenyata annya di Indonesia : 1. Pelayanan Kesehatan Jiwa di Pelayanan Kesehatan Dasar Pelayanan Kesehatan Jiwa di Pelayanan Kesehatan Dasar telah dilakukan melalui Puskesmas dan Rumah Sakit Umum, sampai dengan tahun 1990 dilaksanakan melalui kegiatan Integrasi D okter Spesialis Kedokteran Jiwa ke Puskesmas di beberapa Provinsi, setelah tahun 1990 sampai dengan saat ini, pelayanan kesehatan jiwa dilaksanakan melalui Dokter Puskesmas dan Perawat yang telah dilatih tentang bagaimana cara melakukan anamnesis dan pemeriksaan pasien. 2. Ketersediaan obat Psikotropik di berbagai Tingkat Pelayanan Di berbagai tingkat pelayanan telah tersedia berbagai jenis obat psikotropik yang tercantum dalam Daftar Obat Esensial Nasional yang telah dilaksanakan sejak lebih dari 10 tahun yang lalu. Penyusunan Daftar Obat Esensial Nasional telah dilakukan dengan memasukkan golongan obat Psikotropik termasuk beberapa golongan generasi baru yang lebih efektif serta sedikit efek samping untuk Puskesmas dan RSU.
8

y y y

y y

y y

y y

y y

3. Tersedianya Perawatan Kesehatan Jiwa di Masyarakat Dokter dan Perawat Puskesmas telah mendapat bekal tentang kesehatan jiwa, yaitu pengenalan, manajemen dan rujukan. Sebelum era desentralisasi, biaya perawatan penderita gangguan jiwa dianggarkan pada Departemen Kesehatan melalui Rumah Sakit Jiwa, sedangkan pada era Otonomi Daerah, kemampuan advokasi para profesional kesehatan jiwa kepada pemegang keputusan daerah sangat menentukan. 4. Pendidikan kepada Masyarakat Pendidikan masyarakat dalam rangka meningkatkan kesadaran terha dap kesehatan jiwa telah dilaksanakan melalui upaya pengembangan media promosi untuk petugas penyuluhan dan bekerjasama dengan program/sektor, organisasi profesi dan orgasisasi kemasyarakatan dalam bentuk kegiatan. 5. Keterlibatan peran serta masyarakat, keluarga dan consumer Setiap orang sebaiknya mendapatkan pelayanan sesuai dengan kebutuhannya, karena itu peran serta masyarakat dan keluarga sangat besar serta kerjasama lintas program dan lintas sektor perlu di tingkatkan. Dalam hal ini advokasi dari pemerintah kepada wakil rakyat perlu digiatkan, agar masyarakat di daerah ikut terperhatikan kesehatan jiwanya. 6. Menetapkan Kebijakan Nasional, program dan Peraturan Perundang undangan Kebijakan Nasional tentang Kesehatan Jiwa sudah ada sejak tahun 2000, namun Kebijakan Nasional tentang Kesehatan Jiwa Masyarakat dan Program -program Kesehatan Jiwa Masyarakat sedang dikembangkan. 7. Pengembangan Sumber Daya Manusia Jumlah tenaga Psikiater sangat terbatas, di beberapa Provinsi hanya ditemukan satu sampai dua Psikiater. Upaya yang ditempuh untuk mengatasi hal ini yaitu meningkatkan kemampuan dokter umum dan perawat di pelayanan kesehatan dasar untuk dapat menangani kesehatan jiwa. Dengan desentralisasi, daerah dapat mengembangkan kemampuan sumber daya manusia yang ada menjadi tenaga spesialis di bidang kesehatan jiwa, termasuk tenaga medis maupun non medis seperti Psikiater, Psikolog klinis, perawat psikiatri, pekerja sosial psikiat ri okupasi terapi, dll, sehingga mereka dapat bekerja sama dalam satu tim.
9

y y y

y y y

y y y y

8. Jaringan antar sektor Kesehatan jiwa tidak dapat ditangani oleh profesi kesehatan jiwa saja tetapi perlu bekerja sama dengan sektor lain seperti pendidikan, tenaga kerja, s osial, hukum, dll. Departemen Pendidikan Nasional telah membantu mendidik siswa berdaya tahan mental kuat melalui latihan Life Skill Education, membantu menyelesaikan kebutuhan pendidikan bagi mereka yang mengalami tekanan jiwa. 9. Pemantauan kesehatan j iwa di masyarakat Untuk memantau kesehatan jiwa di masyarakat diperlukan indikator, sistem pencatatan dan pelaporan yang memadai, mudah di akses dan dapat di analisa. Sistem ini masih perlu dibangun, budaya mendokumentasikan kegiatan perlu terus ditingkatkan, demikian juga kecepatan dalam menganalisa sebuah isu kesehatn jiwa secara terarah, dengan tetap memelihara ketenanganan masyarakat. 10. Dukungan terhadap penelitian -penelitian Penelitian atau riset di bidang biologik dan psikososial kesehatan jiwa telah dikembangkan oleh fasilitas pendidikan kedokteran jiwa atau Badan Litbangkes. Dari pembahasan diatas terlihat bahwa masalah kesehatan jiwa di masyarakat adalah sangat luas dan kompleks, bukan hanya meliputi yang jelas sudah terganggu jiwanya, tetap i juga berbagai problem psikososial, bahkan berkaitan dengan kualitas hidup dan keharmonisan hidup. Masalah ini tidak dapat dan tidak mungkin diatasi oleh pihak kesehatan jiwa saja, tetapi membutuhkan suatu kerjasama yang luas secara lintas sektor, yang me libatkan berbagai departemen, termasuk peran serta masyarakat dan kemitraan swasta, terlebih lagi dengan kondisi masyarakat kita yang saat ini sedang dilanda berbagai macam krisis, maka tindakan pencegahan secara lintas sektor perlu dilakukan secara terpad u dan berkesinambungan, agar masalah tersebut tidak memberikan dampak yang mendalam terhadap taraf kesehatan jiwa masyarakat. 10

y y y y

y y y y y y y y y y y y y y y y y

Mengingat makin kompleksnya serta makin meningkatnya masalah kesehatan jiwa di masyarakat, maka diperlukan pendekatan dan peme cahan masalah dengan persiapan dan langkah -langkah yang tepat. Pendekatan yang bersifat multidisipliner dengan pelaksanaan yang bersifat lintas sektor, melalui perkembangan upaya kesehatan jiwa di Indonesia khususnya sejak diterapkannya ilmu kedokteran j iwa modern dan sejak diberlakukannya Undang -undang Nomor 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan, akhirnya melahirkan TP -KJM ( TIM PEMBINA, TIM PENGARAH, TIM PELAKSANA KESEHATAN JIWA MASYARAKAT). Untuk mengetahui bagaimana terbentuknya TP -KJM itu, apa maksud dan tujuannya, apa yang menjadi landasan kerjanya, apa yang dipermasalahkannya, bagaimana administrasi, organisasi serta mekanisme kerjanya, maka disusunlah Pedoman Umum TIM PEMBINA, TIM PENGARAH, TIM PELAKSANA KESEHATAN JIWA MASYARAKAT ( TP-KJM ), untuk dapat dipakai oleh berbagai pihak yang berkepentingan, guna melaksanakan program kerjasama dalam pembinaan kesehatan masyarakat di Indonesia dengan lebih mudah dan baik. B. DASAR HUKUM 1. Undang-undang Nomor 6 Tahun 1974 tentang Ketentuan -ketentuan Pokok Mengenai Kesejahteraan Sosial . 2. Undang-undang Nomor 2 Tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional . 3. Undang-undang Nomor 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan . 4. Undang-undang Nomor 4 Tahun 1997 tentang Penyandang Cacat . 5. Undang-undang Nomor 5 Tahun 1997 tentang Psikotropika . 6. Undang-undang Nomor 22 Tahun 1997 tentang Narkotika . 7. Undang-undang Nomor 25 Tahun 1997 tentang Ketenagakerjaan . 8. Undang-undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah. 9. Undang-undang Nomor 25 Tahun 1999 tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah . 10. Peraturan Pemerintah Nomor 31 Tahun 1980 tentang Penanggulangan Gelandangan Pengemis . 11. Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 2000 tentang Kew enangan Pemerintah dan Kewenangan Propinsi Sebagai Daerah Otonom . 12. Peraturan Pemerintah Nomor 84 Tahun 2000 tentang Pedoman Organisasi Perangkat Daerah . 13. Peraturan Pemerintah Nomor 39 Tahun 2001 tentang Penyelenggaraan Dekosentrasi . 14. Peraturan Pemerintah Nomor 52 Tahun 2001 tentang Penyelenggaraan Tugas Pembantuan .
11

y y

y y y y

15. Peraturan Pemerintah Nomor 106 Tahun 2001 tentang Pengelolaan dan Pertanggungjawaban Keuangan dalam Pelaksanaan Dekosentrasi dan Tugas Pembantuan . 16. Keputusan Presiden Nomor 102 Tahun 2001 tentang Kedudukan, Tugas, Fungsi, Susunan Organisasi dan Tata Kerja Departemen. 17. Keputusan Presiden Nomor 109 Tahun 2001 tentang Unit Organisasi dan Tugas Eselon I Departemen. 18. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1993/Kdj/ U/1970 tentang Perawatan Penderita Penyakit Jiwa. 19. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 547/ Menkes/SK/IV/2000 tentang Kebijakan Pembangunan Kesehatan Menuju Indonesia Sehat 2010. 20. Keputusan Menteri Kesehatan Republi k Indonesia Nomor 1277/ Menkes/SK/XI/2001 tentang Organisasi dan Tata Kerja Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 21. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1346/Menkes/SK/XII/2001 tentang Rencana Strategis Pembangunan Kesehatan 2001-2004.
II. PENGERTIAN DAN RUANG LINGKUP A. Pengertian 1. Tim Pembina, Tim Pengarah, Tim Pelaksana Kesehatan Jiwa Masyarakat (TP-KJM) a. Tim Pembina Kesehatan Jiwa Masyarakat tingkat Pusat : adalah merupakan Tim yang membina program -program kesehatan jiwa masyarakat yang keanggotaannya terdiri dari unsur antar Departemen dan penyelenggaraan kegiatannya dibawah koordinasi Menteri Kesehatan RI. Fungsi sehari-hari kegiatan koordinasi tersebut di selenggarakan oleh Direktur Jenderal Bina Kesehatan Masyarakat Departemen Kesehatan dan pelaksana hariannya yaitu Direktur Kesehatan Jiwa Masyarakat Ditjen Bina Kesehatan Masyarakat Departemen Kesehatan. b. Tim Pengarah Kesehatan Jiwa Masyarakat tingkat P rovinsi : adalah merupakan Tim yang memberikan pengarahan bagi pelaksanaan program-program kesehatan jiwa masyarakat di Provinsi dan Kabupaten / Kota, yang keanggotaannya terdiri dari beberapa perangkat daerah yang terkait, Kepala Kepolisian Daerah dan Di rektur Rumah Sakit Jiwa Pusat / Provinsi di wilayahnya, yang pelaksanaannya dibawah koordinasi Sekretaris Daerah Provinsi. Pelaksanaan sehari -hari berada dibawah koordinasi Kepala Dinas yang membidangi Kesehatan. 12

y y y y y y y y

y y

y y

y y y

y y y y y y y y y y

c. Tim Pelaksana Kesehatan Jiwa Masyara kat tingkat Kabupaten/Kota : adalah merupakan Tim yang melaksanakan program -program kesehatan jiwa masyarakat di Kabupaten/Kota, yang keanggotaannya terdiri dari beberapa perangkat daerah yang terkait, Kepala Kepolisian Resort dan Direktur Rumah Sakit Jiwa di wilayahnya, yang pelaksanaannya dibawah koordinasi Sekretaris Daerah Kabupaten / Kota. Pelaksanaan sehari -hari berada dibawah koordinasi Kepala Dinas yang membidangi Kesehatan. 2. Beberapa Istilah Dalam Bidang Kesehatan Jiwa a. Kesehatan Jiwa ( Mental Health ) adalah suatu kondisi mental yang sejahtera yang memungkinkan hidup harmonis dan produktif sebagai bagian yang utuh dari kualitas hidup seseorang, dengan memperhatikan semua segi kehidupaan manusia. Seseorang yang sehat jiwa mempunyai ciri-ciri sebagai berikut : 1. Menyadari sepenuhnya kemampuan dirinya 2. Mampu menghadapi stress kehidupan yang wajar 3. Mampu bekerja secara produktif dan memenuhi kebutuhan hidupnya 4. Dapat berperan serta dalam lingkungan hidup 5. Menerima baik dengan apa yang ada pada dirinya 6. Merasa nyaman bersama dengan orang lain b. Gangguan Jiwa ( Mental Disorder ) adalah suatu perubahan pada fungsi jiwa yang menyebabkan adanya gangguan pada fungsi jiwa, yang menimbulkan penderitaan pada individu dan atau hambatan dalam melaksanakan peran sosialnya. c. Kesehatan Jiwa Masyarakat ( Community Mental Health ) Konsep Kesehatan Jiwa Masyarakat merupakan suatu orientasi kesehatan jiwa yang mencakup semua kegiatan kesehatan jiwa yang dilaksanakan di masyarakat dengan menitik beratkan pada upaya promotif dan preventif tanpa melupakan upaya kuratif dan rehabilitatif . 3. Beberapa Karakteristik / Prinsip Kesehatan Jiwa Masyarakat :

y y

y y y y y

a. Ditujukan terutama sekali kepada kelompok didalam masyarakat , walaupun fokus terhadap individupun tidak diabaikan b. Dititik beratkan pada promotif dan preventif
13

y y y

y y y

y y y

c. Diusahakan agar berbagai pelayanan lain turut serta dalam sistim pelayanan kesehatan jiwa d. Dititik beratkan kepada kerjasama lintas sektoral , khususnya mencakup kegiatan di sektor-sektor : pendidikan, kesejahteraan sosial, keagamaan, keluarga berencana, tenaga kerja, dan lain -lain. e. Menjalankan kegiatan Konseling dan yang bersifat Intervensi khususnya dalam kondisi krisis f. Mengusahakan peningkatan peran serta masyarakat g. Mengusahakan pendidikan dan latihan bagi para petugas dibidang pelayanan kemanusiaan seluas-luasnya, agar berorientasi terhadap prinsip kesehatan jiwa. h. Melaksanakan kerjasama yang seerat -eratnya dengan bidang Kesehatan Masyarakat i. Menjalankan kegiatan riset epidemiologi kesehatan jiwa j. Mengusahakan agar Pelayanan Kesehatan Jiwa tersebut dapat bersifat menyeluruh (komprehensif), yaitu meliputi seluruh usia atau life cycle manusia (dari anak dalam kandungan, balita, anak, remaja, dewasa, usia lanjut), berbagai jenis pelayanan (promotif / preventif, kuratif dan rehabilitatif) dan lain -lain.
4. Identifikasi Permasalahan Kesehatan Jiwa Masyarakat

y y y y

y y y

Urbanisasi, industrialisasi dan modernisasi sebagai hasil pembangunan dapat menimbulkan pengaruh sampingan berupa berbagai stres kehidupan yang intensif, baik bagi individu maupun kelompok. Stres kehidupan tersebut dapat menimbulkan berbagai proses, yang dapat dikelompokan sebagai berikut: a. Proses pertumbuhan kota yang cepat mengandung faktor -faktor yang menguntungkan maupun yang kurang menguntungkan bagi individu / kelompok b. Faktor-faktor yang menguntungkan maupun yang tidak, semuanya menimpa diri manusia dan manusia diharusk an mengolah semua faktor tersebut, disitulah tampak pentingnya faktor kepribadian ( personality) yang dimiliki oleh individu itu apakah ia berhasil menyelesaikan pengolahan itu dengan memadai. c. Faktor-faktor itu juga dapat menimpa keluarga dan masyar akat, akibatnya adalah terjadi pengelompokan baru dalam masyarakat yang sifatnya sangat majemuk (kompleks) dan didasari berbagai kepentingan ( interest ). Terjadi berbagai karakteristik pada lingkungan hidup dalam kota atau daerah yang berhasil membentuk konfigurasiatau corak baru dalam kehidupan, baik yang orientasinya bersifat material maupun nonmaterial. Beberapa stres kehidupan yang dimaksud, disebutkan dibawah ini: 14

y y

y y y y y

1. Stresor kehidupan pribadi

y y y y y y y y

Tekanan emosi berpengaruh | Pada sistem fisiologik, mengakibatkan timbulnya a.l. gangguan psikosomatik, cemas, depresi. Jumlahnya diperkirakan makin banyak. Bila hal ini berlangsung cukup lama, maka gangguan somatik yang sesungguhnya akan timbul. |Makin banyak dan sering terjadinya kecelakaan lalu lintas. Penyebab tersering adalah faktor manusia seperti kebosanan ( boredom), ansietas, frustasi, dll. |Makin meningkatnya kondisi-kondisi depresi dengan kecenderungan bunuh diri atau percobaan bunuh diri ( suicidal attempt). | Makin meluas terjadinya berbagai krisis pribadi yang berkaitan dengan perkawinan, melahirkan atau peristiwa meninggal dunia. |Makin berpengaruh kondisi suara dilingkungan hidup ( noise pollution)
2. Stress Sosio-Ekonomik

y y y y y y y

| Status dalam masyarakat sangat sering diukur atas standar taraf kehidupan sosio-ekonomik, maka hal-hal seperti penghasilan ( income), pekerjaan yang menghasilkan (gainful-employment), rumah atau tempat tinggal yang memadai dan lain-lain ukuran fisik, merupakan indikator -indikator yang penting dalam penilaian pribadi (diri sendiri maupun orang lain). |Kemiskinan / kekurangan menjadi soal dan stressor sosial -ekonomik yang tidak dapat dihindarkan, umpamanya bilamana tidak atau kurang tersedianya pemenuhan dari kebutuhan yang dir asakan primer ( tidak / kurang tersedianya sekolah / pendidikan bagi dirinya maupun anak -anaknya, demikian pula rekreasi yang terjangkau ataupun kesempatan bekerja yang terlalu sempit, dsb ). | Penolakan langsung untuk memasuki kalangan yang diinginkan seperti lingkungan kerja, rekreasi, dll.
3. Kepadatan penduduk yang makin meninggi.

Menimbulkan dua jenis akibat yang walaupun ada inter -relasinya perlu diperhatikan secara agak terpisah. |Pengaruh Psiko-Sosial Dalam kelompok ini dapat dimasukkan reaksi-reaksi apathy, depresi, hilangnya/berkurangnya rasa kehalusan (sering orang berkata rasa ketimuran), alienasi, sikap dingin dan keras terhadap sesamanya hingga orang berubah menjadi lebih
15

y y y y y y

keras, kejam, jahat, promiskus dan cenderung lebih cepat terjerumus ke dalam penyalahgunaan alkohol, narkotika dan obat. |Pengaruh Fisik-Biologik Dalam kelompok ini dapat dimasukkan kondisi -kondisi seperti dekompensasi dari semua jenis pelayanan kepada masyarakat mulai dari higiene sanitasi, transportasi, pendidikan, dll. Dengan sendirinya maka situasi seperti itu akan merupakan kondisi subur bagi fenomena -fenomena seperti migrasi ke kota, meluasnya penyakit venerik, dll.
4. Perubahan Sosial Walaupun perubahan itu tidak senantiasa negatif (malahan dapat bersifat menunjang dan positif terhadap perkembangan -perkembangan lainnya), harus diambil sikap kewaspadaan setinggi -tingginya supaya jangan terjerumus dalam kondisi human distress dan tendensi kearah social disorganization Beberapa faktor yang perlu diperhatikan : | Kemajuan teknologi yang memungkinkan komunikasi sangat cepat ( instant information) tetapi di pihak lain juga mengakibatkan dorongan untuk memperoleh kepuasan segera atau pemuasan segera ( instant gratification atau satisfication), dan lain-lain. | Perubahan pola extended family kearah nuclear family dengan pengertian bahwa masing-masing pola keluarga itu memiliki stress tersendiri, demikian pula fase transisi dari satu pola ke pola yang lainnya. | Timbulnya golongan kaya baru (noveau riches), yang merupakan salah satu dari sekelompok pergeseran yang biasanya menimbulkan stress tertentu. | Tidak dimanfaatkannya mereka yang berusia lanjut, umpamanya karena pensiun, tiada penampungan yang memadai, dsb. Terutama bagi mereka dengan ekonomi yang sangat terbatas (marginal) atau rendah. Kemajuan taraf kesehatan umum masyarakat menyebabkan harapan hidup lebih lama, sudah menjadi kenyataan (life expectancy) sekarang sekitar 65-70 tahun, dahulu sebelum perang dunia II lebih rendah dari 40 tahun. 5. Urbanisasi Migrasi ke kota besar dapat menimbulkan masalah pada kesehatan jiwa, meliputi : 16

y y y

y y

y y

y y y

y y

y y y y y

| Timbulnya berbagai daerah peri -urban dan slum area yang biasanya ditempati oleh mereka yang miskin karena bermigrasi dari daerah peda laman dengan berbagai harapan yang tidak semuanya relistik. |Timbulnya individu avonturir / petualang yang bertendensi nekat dan individu individu yang berkepribadian sejenis. | Timbulnya kecenderungan untuk memanipulasi golongan individu yang berkekuatan ekonomi rendah
6. Pola Kehidupan Keluarga Disebabkan terjadinya berbagai proses perubahan sosial, maka timbul pula berbagai stress yang mempengaruhi pola kehidupan keluarga dan lembaga lembaga kehidupan sosial terkenal dalam masyarakat, seperti k eluarga, kepercayaan, keagamaan, dll. Beberapa yang perlu diperhatikan, diantaranya : |Timbulnya new groupings yang didasari oleh kepentingan bersama mengenai opportunisme, fanatisme dan kepentingan -kepentingan lain. | Memungkinkan untuk penyelewengan dan berbagai tradisi masyarakat yang baik kearah yang kurang baik, seperti gotong royong dapat bertendensi parasitisma dan malahan menjurus ke kemungkinan pemerasan ( black mail), dsb. | Berbagai kemungkinan perubahan sikap dan nilai mengenai perka winan, hubungan seksual, dan lain -lain. |Perubahan sikap karena popularitas konsep -konsep / praktek-praktek keluarga berencana |Perceraian / perpisahan ( separation) antara orang tua |Pengaruh dari berbagai kondisi fisik hidup seperti bangunan susun y ang tinggi (high rise flats) dalam hubungan dengan tindak kejahatan, pencurian, perampasan, pemerkosaan, dan lain -lain. 7. Nasib dan keamanan dari orang yang berusia lanjut Terjepitnya kedudukan para senior citizens karena : |Life expectancy naik / distribusi demografi berubah |Makin gugurnya pola keluarga dari extendedfamily ke nuclear family |Sistem pensiun yang ketat |Orang usia lanjut senantiasa kehilangan status |Orang usia lanjut selalu berpredisposisi kearah makin berkurang kekayaannya atau bahkan makin miskin karena penghasilan tidak tetap 17

y y y

y y y y

y y y y y y y y

y y y

y y y y y y y y y y y y

8. Situasi dari berbagai Lembaga Sosial dalam masyarakat Berbagai stress yang harus ditanggung dan ditampung olehg be rmacam-macam lembaga itu, langsung diakibatkan karena urbanisasi, industrialisasi dan tekanan modernisasi, diantaranya: | Pekerjaan: karena proses urbanisasi dll, maka dapat dibayangkan bahwa syarat-syarat dan kondisi untuk menduduki suatu jabatan makin d itingkatkan dan diperketat. Dipihak lain belum tentu hal itu secara otomatik akan membawa hasil pada perbaikan suatu lingkungan kerja, perbaikan hubungan kerja , kepuasan kerja dan jaminan kerja. |Mutu sekolah / lembaga pendidikan yang tidak secara reali stik membaik | Anak-anak dari keluarga besar (jumlah anaknya banyak ) cenderung untuk relatif nyata terlantar, karena jaminan sosial tidak mencukupi. | Lembaga kesetikawanan dalam masyarakat seperti Rukun Tetangga, Rukun Warga perlu diusahakan untuk di perkuat. 9. Perbedaan Sosial-Budaya Dalam kondisi tidak menguntungkan , maka perbedaan itu dapat menjadi sumber timbulnya stress tertentu, diantaranya: | Di daerah urban sering dijumpai fenomena , bahwa perbedaan sosial budaya ini cenderung dipertajam ( status jabatan, ekonomi, sosial dimasyarakat, dll). | Perbedaan yang terikat pada lokasi tempat tinggal bisa dijadikan salah satu masalah. |Perbedaan kepercayaan / keagamaan juga dapat merupakan masalah. B. RUANG LINGKUP 1. TIM PEMBINA / TIM PENGARAH / TIM PELAKSANA KESEHATAN JIWA MASYARAKAT (TP-KJM) DALAM MELAKSANAKAN TUGAS, WEWENANG DAN TANGGUNG JAWABNYA MENCAKUP: a. Wilayah kegiatan TP-KJM berada di Pusat, Provinsi dan Kabupaten / Kota termasuk masyarakat / penduduknya b. Kegiatan pembinaan / pengarahan / pelaksanaan TP -KJM pada setiap wilayah kerja disesuaikan dengan situasi dan kondisi yang ada pada masing -masing wilayah. 18

y y

y y

c. Kegiatan TP-KJM di Pusat, Provinsi dan Kabupaten / Kota berprinsip pada koordinatif, konsultatif, informatif, fasilitatif, pengawasan, pengendalian dan pengembangan sistem serta pemecahan masalah lintas sektor dan peran serta masyarakat.
2. MASALAH KESEHATAN JIWA Lingkup masalah kesehatan jiwa bersifat luas dan kompleks saling berhubungan dengan segala aspek kehidupan manusia. Mengacu pada Undang -undang Nomor 23 tahun 1992 tentang Kesehatan dan Ilmu Kedokteran Jiwa (Psychiatri) yang berkembang dengan pesat, secara garis besar masalah kesehatan jiwa digolongkan menjadi : a. Masalah perkembangan manusia yang harmonis dan peningkatan kualitas hidup yaitu masalah kejiwaan yang terkait dengan makna dan nilai -nilai kehidupan manusia, misalnya : 1) masalah kesehatan jiwa yang berkaitan dengan life cycle kehidupan manusia mulai dari persiapan pranikah, anak dalam kandungan, balita, anak, remaja, dewasa dan usia lanjut 2) dampak dari menderita penyakit menahun yang menimbulkan disabilitas 3) pemukiman yang sehat 4) pemindahan tempat tinggal b. Masalah Psiko-Sosial yaitu masalah psikis atau kejiwaan yang timbul sebagai akibat terjadinya perubahan sosial, misalnya : 1) psikotik gelandangan (seseorang yang berkeliaran ditempat umum dan diperkirakan menderita gangguan jiw a psikotik, dianggap mengganggu ketertiban / keamanan lingkungan) 2) pemasungan penderita gangguan jiwa 3) masalah anak jalanan 4) masalah anak remaja : tawuran, kenakalan 5) penyalahgunaan narkotika dan psikotropika 6) masalah seksual : penyimpangan seksual, pelecehan 7) tindak kekerasan sosial 8) stres pasca trauma 9) pengungsi / migrasi 10) masalah usia lanjut yang terisolir 19

y y y

y y y

y y y y y y

y y y y y y y y y y

y y y y y

11) masalah kesehatan kerja: kesehatan jiwa tempat kerja, penurunan produktifitas, stres ditempat kerja, dan lain -lain
c. Masalah Gangguan Jiwa yaitu suatu perubahan pada fungsi jiwa yang menyebabkan adanya gangguan pada fungsi jiwa, yang menimbulkan penderitaan pada individu dan atau hambatan dalam melaksanakan peran sosial. Jenis -jenis gangguan jiwa ini tercantum dalam Pedoman Penggolongan Diagnosis Gangguan Jiwa Edisi Ketiga (PPDGJ-III) tahun 1995 atau chapter F00-F99 dari International Classification of Diseases ( ICD-X) antara lain: 1) Gangguan Mental dan Perilaku akibat penggunaan zat psikoaktif (Narkotika, Psikotropika dan Zat adiktif lainnya) 2) Skizofrenia 3) Gangguan Afektif ( Depresi, Mania ) 4) Ansietas / kecemasan, Gangguan somatoform (psikosomatik ) 5) Gangguan Mental Organik ( Demensia/ Alzheimer, Delirium, Epilepsi, Pasca Stroke dan lain-lain ) 6) Gangguan Jiwa Anak dan Remaja ( Gangguan Perkembangan Belajar , Autisme, Gangguan Tingkah Laku , Hiperaktifitas, Gangguan Cemas dan Depresi ) 7) Retardasi Mental III. TUJUAN DAN SASARAN A. TUJUAN Meningkatkan kerjasama lintas sektor terkait, termas uk peran serta masyarakat dan kemitraan swasta, LSM, kelompok profesi dan organisasi masyarakat secara terpadu dan berkesinambungan, dalam rangka meningkatkan kesadaran, kemauan dan kemampuan masyarakat dalam menghadapi masalah kesehatan jiwa, sehingga akan terbentuk perilaku sehat sebagai individu, keluarga dan masyarakat yang memungkinkan setiap orang hidup lebih produktif secara sosial dan ekonomis. B. SASARAN

y y y y y y

y y y y y

y y y y

Untuk mencapai tujuan dimaksud, sasarannya dikelompokkan sebagai berikut : 1. Sasaran utama yaitu Tim Pembina Kesehatan Jiwa Masyarakat (TP -KJM) di Pusat, Tim Pengarah Kesehatan Jiwa Masyarakat (TP -KJM) di Provinsi dan Tim Pelaksana Kesehatan Jiwa Masyarakat (TP -KJM) di Kabupaten / Kota. 2. Sasaran antara , dikelompokkan dalam :
20

y y y

y y y y y y y y y y

a. Pengambil keputusan (sektoral dan non sektoral) di tingkat Pusat, Provinsi, Kabupaten / Kota b. Tokoh Masyarakat (TOMA) di tingkat Pusat, Provinsi, Kabupaten / Kota. c. Tokoh Agama (TOGA) di tingkat Pusat, Provinsi, Kabupaten / Kota
IV. KEBIJAKAN A. KEBIJAKAN

DAN STRATEGI

1. Kebijakan dalam upaya mewujudkan kesehatan jiwa masyarakat berdasarkan prinsip partisipatif dengan ruang lingkup Primary Prevention (Health Education & Specific Protection) dan memperhatikan siklus kehidupan (Life Cycle) dan tatanan masyarakat (Social-Cultural Setting). 2. Sejalan dengan kebijakan desentralisasi perlu adanya advokasi terhadap Provinsi dan Kabupaten/Kota dalam menyusun kebijakan dan program kesehatan jiwa di Provinsi dan Kabupaten / Kota. Untuk keperluan ini harus mengacu pada Kebijakan Kesehatan Jiwa Nasional sebagai subsistem Kebijakan Kesehatan Nasional (Indonesia Sehat 2010) dan Kebijakan Desentralisasi Pemerintahan. 3. Pemerintah Daerah Provinsi dan Kabupaten/Kota harus disensitisasi dan ditingkatkan perannya dalam menghadapi masalah kesehatan jiwa masyarakat dan mengurangi dampaknya terhadap kesejahteraan masyarakat. Khususnya dalam pembentukan TP-KJM sebagai salah satu lembaga perangkat daerah dalam upaya Pengarah an dan Pelaksanaan Upaya Kesehatan Jiwa Masyarakat. 4. Upaya kesehatan jiwa masyarakat dilaksanakan secara konseptual dan melalui pendekatan multidisipliner dengan kerjasama lintas sektoral yang mengacu pada peningkatan kualitas sumber daya manusia denga n wadah koordinatif TP-KJM. 5. Pengembangan dan pendayagunaan sarana dan prasarana pelayanan kesehatan jiwa masyarakat yang komprehensif bagi pemenuhan kebutuhan penanggulangan masalah yang menjadi prioritas. 6. Program Peningkatan Partisipasi Masyarak at dan Kemitraan Swasta diarahkan untuk memberdayakan LSM atau Organisasi Swasta agar mampu mendorong kemandirian masyarakat untuk
21

y y

y y

y y

y y

y y

mencapai jiwa yang sehat, khususnya dalam hal membantu identifikasi masalah kesehatan jiwa dalam masyarakat dan sumber d aya yang ada dalam masyarakat (social supporting system), melakukan standarisasi pelayanan yang dilakukan LSM, Swasta, dan peningkatan pengetahuan masyarakat tentang kesehatan jiwa melalui media kultural daerah / lokal. 7. Peningkatan kesadaran akan penti ngnya kesehatan jiwa sehingga dapat mewujudkan perilaku sehat jiwa dalam masyarakat memerlukan upaya promotif dan preventif pada setiap strata masyarakat utamanya balita, anak, remaja, wanita, orang tua, usia lanjut dan kelompok -kelompok masyarakat dengan risiko tinggi dan rentan terhadap masalah kesehatan jiwa seperti pengungsi konflik sosial, penduduk korban kekerasan (mental dan seksual), anak jalanan, gelandangan psikotik, pekerja wanita yang rentan, remaja putus sekolah, dll. Upaya promotif dan preventif ini dapat dilakukan melalui tatanan perilaku hidup bersih yang telah ada di masyarakat. 8. Mempertajam skala prioritas penanganan permasalahan kesehatan dan kesejahteraan sosial, dengan mengacu kepada pertimbangan nilai manfaat dan strategis dalam rangka mendukung dan mempercepat pembangunan kesehatan khususnya dan pembangunan nasional pada umumnya. 9. Menetapkan kriteria keberhasilan dan cara pengukuran keberhasilan pembangunan kesehatan jiwa secara baku dan konsisten untuk perencanaan, pemantauan pelaksanaan dan penilaian penanggulangan masalah kesehatan jiwa masyarakat. 10. Mempererat silaturahmi Lembaga -lembaga Departemen dan Lembaga lembaga Non Departemen dalam rangka mewujudkan penyelenggaraan upaya kesehatan jiwa masyarakat.
B. STRATEGI

y y

y y

y y

y y y y y

1. Advokasi Kebijakan Publik yang memperhatikan aspek kesehatan jiwa. Program pembangunan di segala bidang harus memberikan kontribusi yang positif terhadap derajat kesehatan jiwa masyarakat. Hal ini dapat dicapai dengan adanya dukungan kebijakan publik yang memenuhi asa-asas kesehatan jiwa, misalnya kebijakan pemukiman yang menyediakan fasilitas sosial (tempat bermain anak, olahraga bagi remaja, kegiatan sosial bagi usia lanjut, dan lain lain), disetiap Kota/Kabupaten mempunyai Pusat Kegiatan Sosial da n Budaya , disetiap sekolah tersedia kepustakaan, lapangan olahraga yang memadai untuk menampung kreatifitas anak didik, dan lain -lain. Dalam upaya meningkatkan derajat kesehatan jiwa masyarakat ini secara lebih efektif dan efisien, maka upaya promotif dan preventif terhadap munculnya berbagai masalah
22

y y y y y

y y

kesehatan jiwa akan lebih diutamakan daripada upaya kuratif dan rehabilitatif. 2. Pemantapan Kerjasama Lintas Sektor dan Kemitraan dengan Swasta . Upaya kesehatan jiwa sangat terkait dengan berbagai kebijakan dari sektor sektor di luar kesehatan, sehingga kerjasama yang sudah terjalin selama ini perlu terus ditingkatkan dengan cara -cara yang lebih efektif, khususnya peningkatan pemberdayaan sektor swasta dalam upaya yang bersifat preventif dan promotif. 3. Pemberdayaan Masyarakat melalui pendidikan / penyuluhan / promosi tentang kesehatan jiwa secara terintegrasi dengan program kesehatan dan sektor pada umumnya. Metode dan materi pendidikan keseha tan jiwa harus disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat setempat (relevant), menggunakan tatanan yang sudah ada di masyarakat tersebut (social -cultural setting), dan dapat dimengerti dengan mudah oleh masyarakat (contextual communication). Menumbuhkembangkan pemberdayaan masyarakat untuk mengetahui potensi yang ada dan memanfaatkannya menuju kemandirian. Menciptakan pemberdayaan masyarakat melalui kegiatan institusi yang ada dalam masyarakat itu sendiri, seperti tradisi, adat istiadat, budaya, pemerintahan desa, organisasi kemasyarakatan secara gotong royong dan berkesinambungan. 4. Mengoptimalkan fungsi -fungsi TP-KJM sesuai dengan tugas pokoknya, dengan dukungan sarana dan prasarana yang memadai, serta mekanisme kerja dan koordinasi program yang dilaksan akan secara sinkron dan sinergi. 5. Desentralisasi program kesehatan jiwa pada Kabupaten/Kota. Dalam kaitan dengan desentralisasi penyelenggaraan pemerintahan pada tingkat Kabupaten/Kota, dan adanya keragaman sumber daya yang dimiliki oleh masing masing Kabupaten/Kota, serta keunikan dari masalah kesehatan jiwa yang ada. Maka perlu dikembangkan Program Kesehatan Jiwa di setiap Kabupaten/Kota oleh Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota dengan fasilitasi dan pemberdayaan dari Provinsi/Pusat. 6. Sosialisasi upaya kesehatan jiwa masyarakat ini dengan adanya dukungan bahan-bahan informasi yang lengkap dan memadai.
23

y y

y y

y y

y y

7. Meningkatkan komunikasi dan forum koordinasi dalam rangka pemberdayaan dan peningkatan kualitas sumber daya manusia dalam upaya pencegahan dan penanggulangan kesehatan jiwa masyarakat.
V. PENGORGANISASIAN A. KEDUDUKAN DAN TANGGUNG JAWAB Implikasi dari reformasi pemerintahan telah mengakibatkan terjadinya pergeseran paradigma penyelenggaraan pemerintahan, dari paradigma sentralistis ke arah desentralisasi yang ditandai dengan pelaksanaan otonomi yang luas dan nyata pada daerah. Pelaksanaan Otonomi Daerah pada dasarnya adalah untuk mendorong memberdayakan masyarakat, menumbuhkan prakarsa dan kreativitas, meningkatkan peran serta masyarakat serta mengembangkan peran dan fungsi Dewan Perwakilan Rakyat Daerah. Disamping itu penyelenggaraan Otonomi Daerah harus dilaksanakan dengan prinsip -prinsip demokrasi, peran serta masyarakat, pemerataan, dan keadilan serta memperhatikan potensi dan keanekaragaman daerah. Sebagai konsekuensi dari penyelenggaraan Otonomi Daerah tersebut maka telah dikeluarkan beberapa peraturan perundang -undangan yang mengatur hal tersebut, antara lain: a. Ketetapan MPR-RI Nomor XV/MPR/1999 tentang Penyelenggaraan Otonomi Daerah; Pengaturan Pembagian dan Pemanfaatan Sumber Daya Nasional Yang Berkeadilan Serta Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Daerah Dalam Kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia; b. Ketetapan MPR-RI Nomor IV/MPR/2000 tentang Rekomendasi Kebijakan Dalam Penyelenggaraan Otonomi Daerah; c. Undang-undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah; d. Undang-undang Nomor 25 Tahun 1999 tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Daerah; e. Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 2000 tentang Kewenangan Pemerintah dan Kewenangan Propinsi Sebagai Daerah Otonom; f. Peraturan Pemerintah Nomor 84 Tahun 2000 tentang Pedoman Organisasi Perangkat Daerah . g. Peraturan Pemerintah Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pembinaan dan Pengawasan Atas Penelenggaraan Pemerintah Daerah. 24

y y y y

y y y y y y y

y y y y y

y y y

h. Peraturan Pemerintah Nomor 39 Tahun 2001 tentang Penyelenggaraan Dekonsentrasi; i. Peraturan Pemerintah Nomor 52 Tahun 2001 tentang Penyelenggaraan Tugas Pembantuan; j. Peraturan Pemerintah Nomor 56 Tahun 2001 tentang Pelaporan Penyelenggaraan Pemerintah Daerah. k. Peraturan Pemerintah Nomor 106 Tahun 2001 tentang Pengelolaan dan Pertanggungjawaban Keuangan dalam Pelaksanaan Dekosentrasi dan Tugas Pembantuan . l. Keputusan Presiden Nomor 102 Tahun 2001 tentang Kedudukan, Tugas, Fungsi, Susunan Organisasi dan Tata Kerja Departemen. m. Keputusan Presiden Nomor 109 Tahun 2001 tentang Unit Organisasi dan Tugas Eselon I Departemen. n. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indon esia Nomor 1277/Menkes/SK/XI/2001 tentang Organisasi dan Tata Kerja Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Sebagai konsekuensi logis dari pelaksanaan Otonomi Daerah tersebut maka terjadi perubahan kedudukan, tugas dan fungsi lembaga -lembaga pemerintah baik di Pusat maupun di Daerah. Perubahan ini diakibatkan oleh bergesernya kewenangan Pemerintahan, baik yang berada di Pemerintah Pusat, Provinsi maupun Kabupaten/Kota, berdampak pada perubahan kewenangan dan tanggung jawab penyelenggaraan pemerintahan Tim Pembina Kesehatan Jiwa Masyarakat (TP -KJM) merupakan Tim Teknis Pemerintah Pusat yang berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Menteri Kesehatan. Sedangkan Tim Pengarah Kesehatan Jiwa Masyarakat (TP -KJM) di Provinsi di bawah dan bertanggungjawab kep ada Gubernur. Tim Pelaksana Kesehatan Jiwa Masyarakat (TP-KJM) di Kabupaten / Kota di bawah dan bertanggungjawab kepada Bupati/Walikota. Adapun bentuk, struktur dan mekanisme kerja Tim Pengarah dan Tim Pelaksana tersebut disesuaikan dengan situasi dan kondisi masing-masing daerah. Tugas, fungsi dan tanggung jawab Tim Pembina Kesehatan Jiwa Masyarakat (TP-KJM) di Pusat, Tim Pengarah Kesehatan Jiwa Masyarakat (TP -KJM) di Provinsi dan Tim Pelaksana Kesehatan Jiwa Masyarakat (TP -KJM) di Kabupaten / Kota, mendukung penyelenggaraan Kesehatan Jiwa Masyarakat meliputi : a. Perumusan kebijakan umum. b. Perumusan administrasi penyelenggaraan. c. Perumusan mekanisme koordinasi di Daerah. d. Perumusan kebijakan operasional.
25

y y

y y y y y

y y y y y y y

e. Perumusan penganggaran / pendana an. f. Perumusan langkah-langkah kegiatan monitoring dan evaluasi
2. TUGAS DAN KEWAJIBAN Tim Pembina Kesehatan Jiwa Masyarakat (TP -KJM) di Pusat mempunyai tugas membantu Menteri Kesehatan dalam menyusun kebijakan di bidang Kesehatan Jiwa Masyarakat untuk memelihara, mengusahakan dan mengembangkan upaya pencegahan dan penanggulangan masalah kesehatan jiwa masyarakat dengan cara pendekatan multi disi plin, multi sektor dan peran serta masyarakat secara aktif, guna meningkatkan kondisi kesehatan jiwa masyarakat.

y y y y y y

y y

Dalam melaksanakan tugas tersebut diatas Tim Pembina Kesehatan Jiwa Masyarakat (TP-KJM) berkewajiban : a. Mengidentifikasi dan mengklasifi kasi permasalahan Kesehatan Jiwa Masyarakat dalam rangka merumuskan kebijakan umum tingkat nasional. b. Memberi masukan kepada Menteri Kesehatan untuk menentukan mekanisme koordinasi dan kebijakan operasional tingkat nasional. c. Menyusun program kerja t ahunan, jangka menengah dan jangka panjang, bersama dengan peyusunan anggaran. d. Mengklarifikasi dan memberikan masukan kepada Menteri Kesehatan dalam perumusan kebijakan penyelenggaraan dekonsentrasi dan atau tugas pembantuan. e. Merumuskan langkah-langkah kegiatan monitoring dan evaluasi tingkat Nasional Tim Pengarah Kesehatan Jiwa Masyarakat (TP -KJM) di Provinsi mempunyai tugas membantu Gubernur dalam merumuskan kebijakan Pemerintah Provinsi dalam upaya pencegahan dan penanggulangan masalah kesehatan jiwa masyarakat melalui pendekatan multi disiplin dan peran serta masyarakat, guna meningkatkan kondisi Kesehatan Jiwa Masyarakat yang optimal di wilayahnya. Dalam melaksanakan tugas tersebut diatas Tim Pengarah Kesehatan Jiwa Masyarakat (TP-KJM) di Provinsi berkewajiban : a. Mengidentifikasi, mengklasifikasi dan memetakan permasalahan Kesehatan Jiwa Masyarakat dalam rangka merumuskan kebijakan umum tingkat Provinsi. b. Memberikan masukan kepada Gubernur untuk menentukan mekanisme koordinasi dan kebijakan operasional tingkat Provinsi.
26

y y y y y

y y y y y y

c. Menyusun program kerja tahunan, jangka menengah dan jangka panjang, bersama dengan peyusunan anggaran. d. Mengklarifikasi dan memberikan masukan kepada Gubernur dalam pelaksanaan dekonsentrasi dan tugas pemba ntuan. e. Merumuskan langkah-langkah kegiatan monitoring dan evaluasi.
Tim Pelaksana Kesehatan Jiwa Masyarakat (TP -KJM) di Kabupaten / Kota mempunyai tugas membantu Bupati / Walikota dalam merumuskan kebijakan Pemerintah Kabupaten/ Kota dalam upaya pe ncegahan dan penanggulangan masalah kesehatan jiwa masyarakat melalui pendekatan multi disiplin dan peran serta masyarakat, guna meningkatkan kondisi Kesehatan Jiwa Masyarakat yang optimal di daerahnya.

y y y

y y y y y y y y y y y y y y y y

Dalam melaksanakan tugas tersebut diatas Tim Pelaksana Kesehatan Jiwa Masyarakat (TP-KJM) di Kabupaten / Kota berkewajiban : a. Mengidentifikasi, mengklasifikasi dan memetakan permasalahan Kesehatan Jiwa Masyarakat dalam rangka merumuskan kebijakan umum tingkat Kabupaten / Kota. b. Memberikan masukan kepada Bupati / Walikota untuk menentukan mekanisme koordinasi dan kebijakan operasional tingkat Kabupaten / Kota. c. Menyusun program kerja tahunan, jangka menengah dan jangka panjang, bersama dengan peyusunan anggaran. d. Mengklarifikasi dan memberikan masukan kepada Bupati / Walikota dalam pelaksanaan tugas pembantuan. e. Merumuskan langkah-langkah kegiatan monitoring dan evaluasi.
3. BENTUK DAN SUSUNAN TIM KESEHATAN JIWA MASYARAKAT a. TIM PEMBINA KESEHATAN JIWA MASYARAKAT (TP-KJM) PUSAT Susunan Anggota TP-KJM Pusat Pembina : WAKIL PRESIDEN Koordinator : MENTERI KOORDINATOR KESEJAHTERAAN RAKYAT. Ketua : MENTERI KESEHATAN Anggota : 1. MENTERI DALAM NEGERI 2. MENTERI KEUANGAN 27

y y y y y y y y y y y y y y y y y y y y y y y y y y y y y y y

3. MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL 4. MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI 5. MENTERI SOSIAL 6. MENTERI AGAMA 7. MENTERI KEHAKIMAN DAN HAM 8. MENTERI NEGARA PEMBERDAYAAN PEREMPUAN 9. MENTERI NEGARA KOMUNIKASI DAN INFORMASI 10. SEKRETARIS NEGARA/SEKRETARIS KABINET. 11. KEPALA KEPOLISIAN RI. 12. KEPALA BKKBN
b. TIM PENGARAH KESEHATAN JIWA MASYARAKAT (TP-KJM) PROVINSI Susunan Anggota TP-KJM Provinsi Pembina : GUBERNUR KETUA DPRD PROVINSI Koordinator : SEKRETARIS DAERAH PROVINSI Ketua : KEPALA DINAS YANG MEMBIDANGI KESEHATAN Anggota : 1. BEBERAPA KEPALA PERANGKAT DAERAH YANG TERKAIT 2. KEPALA KEPOLISIAN DAERAH 3. DIREKTUR RUMAH SAKIT JIWA c. TIM PELAKSANA KESEHATAN JIWA MASYARAKAT (TP-KJM) KABUPATEN / KOTA Susunan Anggota TP-KJM Kabupaten / Kota Pembina : BUPATI / WALIKOTA KETUA DPRD KABUPATEN / KOTA Koordinator : SEKRETARIS DAERAH KABUPATEN / KOTA Ketua : KEPALA DINAS YANG MEMBIDANGI KESEHATAN Anggota : 1. BEBERAPA KEPALA PERANGKAT DAERAH YANG TERKAIT.
28

y y y y y y y y

2. KAPOLRES 3. DIREKTUR RUMAH SAKIT JIWA 4. CAMAT


VI. P R O G R A M Ada 4 (empat) hal penting yang perlu diketahui oleh Tim Pembina, Tim Pengarah, Tim Pelaksana Kesehatan Jiwa Masyarakat (TP -KJM) dalam melaksanakan Program Kesehatan Jiwa Masyarakat, yaitu : A. PRINSIP-PRINSIP KESEHATAN JIWA MASYARAKAT

y y y

y y

Terutama ditujukan kepada kelompok didalam masyarakat , dititik beratkan pada promotif dan preventif , diusahakan agar berbagai pelayanan lain turut serta dalam sistim pelayanan kesehatan jiwa , dititik beratkan kepada kerjasama lintas sektoral , menjalankan kegiatan konseling dan yang bersifat intervensi khususnya dalam kondisi krisis, mengusahakan peningkatan peran serta masyarakat , mengusahakan pendidikan dan latihan bagi para petugas dibidang pelayanan kemanusiaan seluas-luasnya, agar berorientasi terhadap prinsip kesehatan jiwa, melaksanakan kerjasama yang seerat -eratnya dengan bidang kesehatan masyarakat, menjalankan kegiatan riset epidemiologi kesehatan jiwa, mengusahakan agar Pelayanan Kesehatan Jiwa tersebut dapat bersifat menyeluruh (komprehensif), yaitu meliputi seluruh usia atau life cycle, berbagai jenis pelayanan (promotif / preventif, kuratif dan rehabilitatif) dan lain -lain. B. IDENTIFIKASI PERMASALAHAN KESEHATAN JIWA MASYARAKAT Urbanisasi, industrialisasi dan modernisasi sebagai hasil pembangunan dapat menimbulkan pengaruh sampingan berupa berbagai stres kehidupan yang intensif, baik bagi individu maupun kelompok. Stres kehidupan tersebut dapat menimbulkan berbagai proses yaitu Proses pertumbuhan kota yang cepat mengandung faktor -faktor yang menguntungkan maupun yang kurang menguntungkan bagi individu / kelompok, faktor -faktor ini menimpa diri manusia dan manusia diharuskan mengolah semua faktor tersebut, disitulah tampak pentingnya faktor kepribadian (personality) yang dimiliki oleh individu itu apakah ia berhasil menyelesaikan pengolahan itu dengan memadai,
29

y y y

y y y y y y y y y y y y y y y y y y y y y y y y y

faktor-faktor itu juga dapat menimpa keluarga dan masyarakat, akibatnya adalah terjadi pengelompokan baru dalam masyarakat yang sifatn ya sangat majemuk (kompleks) dan didasari berbagai kepentingan ( interest). Terjadi berbagai karakteristik pada lingkungan hidup dalam kota atau daerah yang berhasil membentuk konfigurasiatau corak baru dalam kehidupan, baik yang orientasinya bersif at material maupun non material. Beberapa stres kehidupan yang dimaksud yaitu stresor kehidupan pribadi, stress sosio-ekonomik, kepadatan penduduk yang makin meninggi, perubahan sosial, urbanisasi, pola kehidupan keluarga, nasib dan keamanan dari orang ya ng berusia lanjut, situasi dari berbagai lembaga sosial dalam masyarakat dan perbedaan sosial -budaya. C. STRATEGI UMUM DAN KHUSUS
1. Strategi Umum ( Kebijaksanaan Umum ) a. Prioritas Kegiatan Ditentukan atas dasar pertimbangan: |Mendesak / meluasnya masalah dimasyarakat |Seringnya masalah itu timbul |Akibat yang merugikan dari masalah itu | Tersedianya tenaga ahli atau tenaga yang dapat dididik / dilatih untuk menanggulanginya |Tersedianya sarana dan prasarana b. Desain Kegiatan Hal ini perlu meliputi beberapa kondisi umum seperti: | Sudah/belum tersedianya pelayanan kesehatan jiwa masyarakat didaerah tersebut |Tersedianya dukungan dari pengambil keputusan didaerah |Tersedianya pendanaan yang memadai |Kemungkinan akan tercapainyanya hasil yang memadai c. Kebutuhan dan kemampuan |Tersedianya sistem pelayanan dan informasi |Kemungkinan dilaksanakannya monitoring dan evaluasi |Kemungkinan integrasi dengan kegiatan penyelenggaraan pemerintah lainnya. 2. Strategi Khusus ( Pelaksanaan ) Bidang ini perlu direncanakan dan dilaksanakan dibawah supervisi yang berdisiplin. Oleh karena itu fase perencanaan senantiasa diuji kemantapannya pada implementasi strategi khusus, yang selalu 30

y y y y y

y y y

pula menghendaki komitmen sepenuhnya dari mereka yang melaksanakan tugas sehari-hari. a. Masyarakat Bertujuan untuk menjangkau masyarakat dan berhasil menciptakan suatu masyarakat yang efektif melalui peningkatan kepedulian, pengetahuan dan pemberdayaan tentang upaya pencegahan dan penangg ulangan masalah kesehatan jiwa masyarakat. Sasarannya pada tahap ini yaitu kelompok-kelompok masyarakat dan keluarga . b. Sistem rujukan Apabila memerlukan tindak lanjut kegiatan maka sistem rujukan meliputi langkah langkah sebagai berikut: diagnostik, terapi pendahuluan, feed back information (yang diharapkan kepada fasilitas yang merujuk) dari fasilitas yang menerima rujukan, serta tindak lanjut jangka panjang. Untuk itu perlu ada suatu buku pedoman yang dapat digunakan oleh semua fasilitas pelayanan. Beberapa contoh jalur rujukan antara lain: |Jalur Kesehatan RSU / RSJ Klinik Kesehatan Jiwa Puskesmas |Jalur Pendidikan Sekolah Guru Konselor Keluarga c. Pembinaan / Pendidikan / Pelatihan Untuk dapat melaksanakan pelayanan pada taraf operasional perlu diusahakan pembinaan / pendidikan / pelatihan ketenagaan secara kontinu dan berkelanjutan. Dalam hubungan ini ada beberapa langkah yang perlu dipertimbangkan, a.l. : | Semua latihan harus didasarkan atas kebutuhan realistik yang ada di masyarakat. |Tugas-tugas yang diberikan sebagai tanggung jawab dari petugas yang dilatih perlu dijabarkan
D. PRINSIP-PRINSIP PROGRAM KESEHATAN JIWA MASYARAKAT Beberapa prinsip dasar Program Kesehatan Jiwa Masyarakat adalah: 1. Kerjasama lintas -sektoral dan inter-disipliner Dalam rangka pelaksanaan upaya pencegahan dan penanggulangan masalah kesehatan jiwa masyarakat, dilakukan koordinasi dan kerjasama antar Departemen terkait ( sesuai dengan 31

y y y y y y y y

y y y y y y y y y y

y y y

y y y y

y y

y y y

Surat Keputusan Menteri Kesehatan ) serta berbagai disiplin ilmu yeng mempunyai minat dan kepedulian terhadap masalah kesehatan jiwa seperti edukasi, sosilogi, antropologi, keperawatan dan lain -lain. Di Provinsi, Kabupaten / Kota , koordinasi dan kerjasama di laksanakan antar perangkat Daerah terkait ( sesuai dengan Surat Keputusan Gubernur, Bupati/ Wali Kota ) serta berbagai disiplin ilmu yang mempunyai minat dan kepedulian di wilayah masing-masing. 2. Kesehatan Jiwa sebagai komponen dasar pelayanan Kesehatan Dalam bidang ini perlu diperhatikan dua jalur pelayanan kesehatan jiwa yang dijalankan selama ini perlu ditingkatkan efektifitas, yaitu: a. Integrasi Kesehatan Jiwa ( di Puskesmas dan RS Umum ) Peningkatan pengetahuan dan ketrampilan dokter / perawat d ibidang promosi, prevensi serta terapi dan rehabilitasi sangat diperlukan secara kontinu dan berkelanjutan. Pelatihan dan konsultasi secara reguler perlu diciptakan. b. Menyadari pentingnya faktor psiko -sosial-kultural Peningkatan dan penyebarluasan kesa daran dan kepedulian harus merupakan unsur yang integral dari seluruh strategi pelayanan kesehatan yang efektif. Dengan demikian maka sebagian dari penyakit -penyakit yang dilatar belakangi masalah psikososial dan stres ( stress induced conditions or diseases ) dapat ditanggulangi dengan tepat. Lebih lanjut dengan pendekatan tersebut gangguan psikofisiologik atau psikosomatik dapat dicegah sampai taraf tertentu. 3. Peran serta masyarakat Peran serta masyarakat penting dalam menghadapi berbagai kedaruratan / gangguan kesehatan jiwa baik ringan, sedang maupun berat. Masyarakat dapat berperan dalam hal misalnya : mengidentifikasi permasalahan kehidupan, menyebarluaskan pengetahuan kesehatan jiwa kepada masyarakat dan laian-lain. Disamping itu peran serta masyarakat juga dapat diarahkan pada mengidentifikasi kebutuhan -kebutuhan Pelayanan Kesehatan Jiwa yang belum tersedia dimasyarakat.

y y y

PROGRAM-PROGRAM TP-KJM
Dalam melaksanakan kegiatan Pemb inaan Kesehatan Jiwa Masyarakat di Pusat, harus berpedoman pada Peraturan Pemerintah No. 25 tahun 2000 tentang Kewenangan Pemerintah dan Kewenangan Provinsi sebagai Daerah Otonom, sehingga Direktorat Jenderal Bina Kesehatan Masyarakat 32

y y y y y y y y y y y y y y

Departemen Kesehatan RI dapat menjalankan program program sebagai berikut: A. PROGRAM UMUM |Menetapkan standar kesehatan jiwa masyarakat; |Pedoman sertifikasi kesehatan jiwa masyarakat; |Menetapkan pedoman biaya kesehatan jiwa masyarakat; |Menetapkan standar akreditasi Rumah Sakit, Pusat Rehabilitasi, Panti; |Menetapkan standar diklat kesehatan jiwa masyarakat; |Menetapkan standar penapisan kesehatan jiwa masyarakat; |Menetapkan standar etika penelitian kesehatan jiwa masyarakat ; |Survailance; |Penyediaan obat essensial tertentu;
B. PROGRAM KHUSUS Tim Pembina Kesehatan Jiwa Masyarakat melaksanakan program khusus dengan mengacu kepada program umum dan menu yang ada di dalam ruang lingkup masalah kesehatan jiwa, meliputi penyusunan standar pelayan tekn is bidang kesehatan jiwa masyarakat. Tim Pengarah Kesehatan Jiwa Masyarakat melaksanakan program khusus dengan mengacu kepada program umum dan menu yang ada di dalam ruang lingkup masalah kesehatan jiwa, serta standar pelayan teknis yang disusun oleh Tim Pembina Kesehatan Jiwa Masyarakat meliputi penyusunan standar pelayanan minimal bidang kesehatan jiwa masyarakat. Tim Pelaksana Kesehatan Jiwa Masyarakat melaksanakan program khusus dengan mengacu kepada program umum dan menu yang ada di dalam ruang lingkup masalah kesehatan jiwa, meliputi pelaksanaan standar pelayanan minimal bidang kesehatan jiwa masyarakat. VII. MEKANISME DAN TATA LAKSANA A. MEKANISME

y y y y y y y y y

1. Menteri Kesehatan membentuk Tim Pembina Kesehatan Jiwa Masyarakat (TP-KJM) melalui Keputusan Menteri Kesehatan. 2. Gubernur membentuk Tim Pengarah Kesehatan Jiwa Masyarakat (TP -KJM) melalui Keputusan Gubernur. 3. Bupati / Walikota membentuk Tim Pelaksana Kesehatan Jiwa Masyarakat (TP KJM) melalui Keputusan Bupati / Walikota.
33

y y y y

4. Tim Pembina, Tim Pengarah dan Tim Pelaksana Kesehatan Jiwa Masyarakat melaksanakan forum koordinasi, komunikasi dan hubungan kerja. 5. Tim Pembina, Tim Pengarah dan Tim Pelaksana Kesehatan Jiwa Masyarakat bersama-sama menyusun rencana dan melaksanakan kegiatan yang berskala nasional.
B. TATA LAKSANA KEGIATAN 1. Menteri Kesehatan, Gubernur, Bupati / Walikota adalah penanggung jawab umum penyelenggara koordinasi di bidang pembinaan kesehatan jiwa masyarakat di masing-masing tingkat administrasi pemerintahan. 2. Gubernur selaku Ketua Tim Pengarah Kesehatan Jiwa Masyarakat di Provinsi bertanggung jawab dan berkewajiban melaporkan pelaksanaan kegiatan dimaksud kepada Menteri Kesehatan dengan tembusan kepada Menteri Dalam Negeri. 3. Bupati / Walikota selaku Ketua Tim Pelaksana Kesehatan Jiwa Masyarakat di Kabupaten / Kota bertanggung jawab dan berkewajiban melaporkan pelaksanaan kegiatan dimaksud kepada Menteri Kesehatan dengan tembusan kepada Gubernur dan Menteri Dalam Negeri. 4. Hubungan kerja Tim Pembina, Tim Pengarah Kesehatan Jiwa Masyarakat Provinsi dan Tim Pelaksana Kesehatan Jiwa Masyarakat Kabupaten / Kota bersifat konsultatif dan fungsional. C. LANGKAH-LANGKAH PELAKSANAAN TIM PEMBINA, TIM PENGARAH DAN TIM PELAKSANA KESEHATAN JIWA MASYARAKAT 1. RAPAT PERIODIK a. RAPAT KERJA TAHUNAN (RAKER) 1) Raker diadakan 1 kali setahun untuk menentukan program kerja tahun yang akan datang. 2) Dalam Rapat Kerja ini : a) Dilaksanakan evaluasi pelaksanaan program yang telah dijalankan tahun yang lalu. b) Masing-masing sektor mengajukan masalah kesehatan jiwa masyarakat yang dijumpai, baik di Provinsi maupun di Kabupaten / Kota. 34

y y y

y y y y y y y y y y

y y y y y y y y

c) Pelaksanaan Perencanaan Program yang akan dilaksanakan tahun yang akan datang : (1) Menentuan Prioritas Masalah (2) Menentukan Kegiatan yang akan dilaksanakan masing -masing sektor (3) Menentukan koordinasi kegiatan masing -masing sektor 3) Dalam Rapat Kerja tahunan juga dievaluasi pelaksanaan program yang sedang dijalankan. 4) Rapat Kerja memutuskan masalah keseh atan jiwa masyarakat yang akan diberi prioritas pemecahannya pada tahun yang akan datang, dan masing masing sektor serta masyarakat menjabarkannya pada kegiatan yang akan dilaksanakan pada tahun yang akan datang.
b. RAPAT TIM Diadakan secara berkala minimum 3 bulan sekali dihadiri oleh anggota secara lengkap untuk membahas kegiatan tahun berjalan. c. RAPAT KELOMPOK KERJA (POKJA)

y y y y y y

y y y y y

Kelompok kerja ditetapkan oleh rapat pleno, tugasnya yaitu mengadakan pertemuan berkala minimum 1 bulan 1 kali untuk melaksa nakan hal-hal yang telah ditetapkan dalam rapat pleno serta menyiapkan bahan -bahan untuk rapat pleno yang akan datang. d. KELOMPOK KERJA KHUSUS Kelompok kerja ini dibentuk bila diperlukan untuk menyelesaikan hal -hal yang bersifat terbatas (menyusun renc ana / pelaksanaan kegiatan tertentu). 2. DOKUMENTASI KEGIATAN Setiap pertemuan / rapat yang telah dijalankan oleh Tim Pembina, Tim Pengarah dan Tim Pelaksana Kesehatan Jiwa Masyarakat hendaknya di dokumentasikan (dibuat risalah) secara rapi dan teratur ( disimpan dalam berkas). Segala keputusan / langkah yang diambil diketahui oleh semua anggota dengan pertinggal pada ketua / sekretaris.
35

y y

y y y

y y y y y

3. MATERI RAPAT Materi Rapat adalah berbagai masalah kesehatan jiwa yang berada dalam masyarakat pada dewasa ini dan diduga mungkin akan terjadi di masa mendatang. Oleh karena itu melalui berbagai sektor serta berbagai disiplin ilmu, hendaknya diadakan saling tukar informasi, saling berkonsultasi dan saling memberikan bantuan serta kemudahan (fasilitas) untuk dapat diambil langkah-langkah, antara lain : a) Melakukan identifikasi masalah kesehatan jiwa yang ada dalam masyarakat, baik yang ada maupun yang akan timbul di masa mendatang. b) Membahas permasalahan dan pemecahannya yang mungkin dapat dilaksanakan secara efektif dan efisien. c) Menyusun langkah kegiatan intervensi antara lain Komunikasi Informasi dan Edukasi,

KEPUTUSAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA


NOMOR : 220 / MENKES / SK / III / 2002 y TENTANG y PEDOMAN UMUM TIM PEMBINA, TIM PENGARAH, TIM PELAKSANA y KESEHATAN JIWA MASYARAKAT ( TP KJM ) y MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa upaya pencegahan dan penanggulangan gangguan kesehatan jiwa sangat penting, mengingat dari data SKRT 1995 diperkirakan satu dari empat penduduk Indonesia menderita kelainan jiwa dari rasa cemas, depresi, stress, penyalahgunaan obat, kenakalan remaja sampai skizofrenia; b. bahwa dalam kebijakan kesehatan jiwa masyarakat terdapat 4 (empat) perubahan yaitu dari berbasis rumah sakit menjadi berbasis masyarakat, dapat ditangani di semua pelayanan kesehatan yang ada, dahulu rawat inap sekarang mengandalkan pelayanan rawat jalan dan dahulu penderita gangguan jiwa perlu disantuni sekarang dapat diberdayakan;
y

y y

c. bahwa Buku Pedoman Kerja Badan Pembina Kesehatan Jiwa Masyarakat, dipandang perlu untuk disempurnakan / direvisi dan disesuaikan dengan situasi dan kondisi yang ada saat ini; d. bahwa sehubungan dengan huruf a, b dan c di atas perlu ditetapkan Keputusan Menteri Kesehatan tentang Pedoman Umum Tim Pembina, Tim Pengarah, Tim Pelaksana Kesehatan Jiwa Masyarakat (TP -KJM); Mengingat : 1. Undang -undang Nomor 6 Tahun 1974 tentang Ketentuan ketentuan Pokok Mengenai Kesejahteraan Sosial (Lembaran Negara Tahun 1974 Nomor 53, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3039); 2. Undang-undang Nomor 2 Tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Lembaran Negara Tahun 1989 Nomor 6, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3390);
2

y y

y y

y y y y y y y y y y y y

3. Undang-undang Nomor 23 Tahun 1992 tentang Kesehata n (Lembaran Negara Tahun 1992 Nomor 100, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3495); 4. Undang-undang Nomor 4 Tahun 1997 tentang Penyandang Cacat (Lembaran Negara Tahun 1997 Nomor 9, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3670); 5. Undang-undang Nomor 5 Tahun 1997 t entang Psikotropika (Lembaran Negara Tahun 1997 Nomor 10, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3671); 6. Undang-undang Nomor 22 Tahun 1997 tentang Narkotika (Lembaran Negara Tahun 1997 Nomor 67, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3698); 7. Undang-undang Nomor 25 Tahun 1997 tentang Ketenagakerjaan (Lembaran Negara Tahun 1997 Nomor 73, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3702); 8. Undang-undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Tahun 1999 Nomor 60, Tambahan Lemba ran Negara Nomor 3839); 9. Undang-undang Nomor 25 Tahun 1999 tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah (Lembaran Negara Tahun 1999 Nomor 72, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3848); 10. Peraturan Pemerintah Nomor 31 Tahun 1980 tentang Penanggulangan Gelandangan Pengemis (Lembaran Negara Tahun 1980 Nomor 51, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3177); 11. Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 2000 tentang Kewenangan Pemerintah dan Kewenangan Propinsi Sebagai Daerah Otonom (Lembara n Negara Tahun 2000 Nomor 54, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3952);
3

y y

y y

y y

y y y y

12. Peraturan Pemerintah Nomor 84 Tahun 2000 tentang Pedoman Organisasi Perangkat Daerah (Lembaran Negara Tahun 2000 Nomor 165); 13. Peraturan Pemerintah Nomor 39 Tahun 2001 tentang Penyelenggaraan Dekosentrasi (Lembaran Negara Tahun 2001 Nomor 62, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4095); 14. Peraturan Pemerintah Nomor 52 Tahun 2001 tentang Penyelenggaraan Tugas Pembantuan (Lembaran Negara Tahun 2001 Nomor 77, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4106); 15. Peraturan Pemerintah Nomor 106 Tahun 2001 tentang Pengelolaan dan Pertanggungjawaban Keuangan dalam Pelaksanaan Dekosentrasi dan Tugas Pembantuan (Lembaran Negara Tahun 2001 Nomor 203, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4023); 16. Keputusan Presiden Nomor 102 Tahun 2001 tentang Kedudukan, Tugas, Fungsi, Susunan Organisasi dan Tata Kerja Departemen; 17. Keputusan Presiden Nomor 109 Tahun 2001 tentang Unit Organisasi dan Tugas Eselon I Departemen; 18. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1993/Kdj/U/1970 tentang Perawatan Penderita Penyakit Jiwa; 19. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 547/Menkes/ SK/IV/2000 tentang Kebijakan Pembangunan Kesehatan Menuju Indonesia Sehat 2010; 20. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1277/Menkes/ SK/XI/2001 tentang Organisasi dan Tata Kerja Departemen Kesehatan Republik Indonesia; 21. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1346/Menkes/SK/XII/2001 tentang Rencana S trategis Pembangunan Kesehatan 2001-2004;
4

y y

y y

y y y y y y y y

y y

y y

y y

y y y y y y

Memperhatikan : Surat Edaran Menteri Dalam Negeri RI Nomor 440.05/1908/ PUOD tanggal 17 Mei 1980 tentang Pembentukan Team/Badan Pembina Kesehatan Jiwa Masyarakat di Daerah. y MEMUTUSKAN: Menetapkan : Pertama : KEPUTUSAN MENTERI KESEHATAN TENTANG PEDOMAN UMUM TIM PEMBINA, TIM PENGARAH, TIM PELAKSANA KESEHATAN JIWA MASYARAKAT (TP-KJM). Kedua : Pedoman Umum Tim Pembina, Tim Pengarah, Tim Pelaksana Kesehatan Jiwa Masyarakat (TP-KJM) sebagaimana dimaksud Diktum Pertama tercantum dalam Lampiran Keputusan ini. Ketiga : Pedoman sebagaimana dimaksud Diktum Kedua merupakan acuan dalam penerapan standar pelayanan minimal masalah kesehatan jiwa masyarakat di Daerah sesuai dengan situasi dan kondisi masing -masing. Keempat : Keputusan ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan. Ditetapkan di Jakarta pada tanggal 25 Maret 2002 MENTERI KESEHATAN, ttd Dr. ACHMAD SUJUDI 5

y y y y

y y y y

Lampiran Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor : 220/MENKES/SK/III/2002 Tanggal : 25 Maret 2002_________ y PEDOMAN UMUM TIM PEMBINA, TIM PENGARAH, TIM PELAKSANA y KESEHATAN JIWA MASYARAKAT ( TP KJM ) I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang

Pengertian kesehatan diberikan / dijalankan oleh WHO sejak tahun 1947. Di Indonesia pengertian tentang kesehatan tersebut diadopsi tahun 1960 oleh Undang-undang Nomor 9 Tahun 1960 tentang Kesehatan, yang kemudian diperbaiki lagi oleh Undang -undang Nomor 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan. Pengertian kesehatan disini sudah lebih diarahkan untuk hidup lebih produktif, sebagaimana yang tertuang dalam Pasal 1 Ayat 1 Undang -undang Nomor 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan, yang menyebutkan : Kesehatan adalah keadaan sejahtera dari badan, jiwa dan sosial yang memungkinkan setiap orang hidup produktif secara sosial dan ekonomis. Atas dasar definisi Kesehatan tersebut diatas, maka manusia selalu dilihat sebagai satu kesatuan yang utuh (holistik) dari unsur badan (or ganobiologi), jiwa (psiko-edukatif), sosial (sosio-kultural), yang tidak dititik beratkan pada penyakit tetapi pada kualitas hidup yang terdiri dari kesejahteraan dan produktifitas sosial ekonomi. Kesehatan jiwa mempunyai sifat yang harmonis ( serasi), memperhatikan semua segi kehidupan manusia dalam hubungannya dengan manusia lain. Oleh karena itu, kesehatan jiwa mempunyai kedudukan yang penting di dalam pemahaman kesehatan, sehingga tidak mungkin kita berbicara tentang kesehatan tanpa melibatkan kesehatan jiwa. Seseorang yang sehat jasmani dan rohaninya, sedikit banyak akan menyebabkan bertambahnya usia harapan hidup orang tersebut. Keberhasilan Pembangunan Jangka Panjang I, dalam upaya menurunkan angka kematian umum, angka kematian bayi dan a ngka kelahiran, telah meningkatkan umur harapan hidup waktu lahir. Pada tahun 1980, umur harapan waktu lahir sekitar 50 tahun; telah meningkat menjadi 57,9 tahun pada pria dan 61,5 tahun pada wanita pada tahun 1990. Angka ini diperkirakan akan meningkat me njadi 65 70 tahun pada tahun 2000. Namun bila berbicara soal data, jumlah penderita masalah kesehatan jiwa memang mengkhawatirkan. Secara global dari sekitar 6

450 juta orang yang mengalami gangguan mental, sekitar 1 juta diantaranya meninggal karena bu nuh diri setiap tahunnya. Angka ini lumayan kecil bila dibandingkan dengan upaya bunuh diri dari para penderita masalah kejiwaan yang mencapai 20 juta orang/tahun. Kesehatan jiwa penting dilihat dari dampak yang ditimbulkannya, antara lain terdapatnya angka yang besar dari penderita gangguan kejiwaan yang diikuti pula dengan beban sosial ekonomi yang luas. Jadi tersirat disini bahwa Kesehatan Jiwa adalah bagian yang tidak terpisahkan (integral) dari Kesehatan dan unsur utama dalam menunjang terwujudnya kualitas hidup manusia yang utuh. Dalam Undang -undang Nomor 23 tahun 1992 tentang Kesehatan, pada pasal 24 disebutkan bahwa Upaya Kesehatan Jiwa diselenggarakan untuk mewujudkan jiwa yang sehat secara optimal, baik intelektual maupun emosional. Studi Bank Dunia (World Bank ) pada tahun 1995 di beberapa negara, menunjukkan bahwa hari-hari produktif yang hilang atau Dissability Adjusted Life Years ( DALYs) sebesar 8,1% dari Global Burden of Disease disebabkan oleh masalah kesehatan jiwa , angka ini lebih tinggi dari pada dampak yang disebabkan oleh penyakit Tuberculosis (7,2%), Kanker (5,8%), Penyakit Jantung (4,4%) maupun Malaria (2,6%). Tingginya masalah tersebut menunjukkan bahwa masalah kesehatan jiwa merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat yang besar dibandingkan dengan masalah kesehatan lainnya yang ada di masyarakat. Masalah kesehatan jiwa mempunyai lingkup yang sangat luas dan kompleks serta saling berhubungan satu dengan lainnya. Apabila kita mengangkat data hasil Survey Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) yang dilakukan Badan Litbang Departemen Kesehatan pada tahun 1995, yang antara lain menunjukkan bahwa gangguan mental Remaja dan Dewasa terdapat 140 per 1000 anggota rumah tangga, gangguan mental Anak Usia Sekolah terdapat 104 per 1000 anggota rumah tangga. Dalam kurun waktu 6 (enam) tahun terakhir ini, data tersebut dapat dipastikan meningkat karena krisis ekonomi dan gejolak -gejolak lainnya di seluruh daerah, bahkan masalah dunia internasionalpun akan ikut memicu terjadinya peningkatan dimaksud. Menghadapi hal seperti ini tentu tidak semata mata menjadi tanggungjawab Pemerintah tetapi sangat diperlukan adanya partisipasi aktif dari semua pihak dan lapisan masyarakat. Dalam penyelenggaraan Pemerintah Daerah sebagaimana diatur dalam Undang undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah dan Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 2000 tentang Kewenangan Pemerintah dan Kewenangan Provinsi sebagai Daerah Otonom, 7

y y y

y y

khususnya Pasal 2 ayat (3) angka 10, Pasal 3 ayat (2) dan ayat (5) angka 9, telah di gariskan bahwa Pemerintah, Provinsi dan Kabupaten/Kota masing masing mempunyai kewenangan dalam menangani masalah kesehatan. Sekalipun demikian masyarakat baik secara individu maupun kelompok, juga harus aktif mulai dari pencegahan sampai dengan penanggul angannya. Dalam Otonomi Daerah, masalah kesehatan jiwa ikut mewarnai penyelenggaraan pemerintahan daerah. Pada pemahaman ini bukanlah dimaksudkan dengan otonomi luas, masyarakat dapat sebebas -bebasnya melakukan sesuatu tanpa batas, dan bukan berarti pula otonomi luas diciptakan untuk membuat makin banyak masyarakat yang kesehatan jiwanya terganggu. Tetapi justru sebaliknya, dengan otonomi luas diharapkan masyarakat akan ikut secara aktif dalam kegiatan pembangunan, termasuk pembangunan kesehatan. Dalam upaya menangani masalah kesehatan jiwa, hampir seluruh Provinsi di Indonesia telah dibangun rumah sakit jiwa, namun kecenderungan penderita dengan gangguan jiwa ternyata terus meningkat. Ini menunjukkan bahwa tuntasnya penanganan kesehatan jiwa tidak hanya d itandai dengan banyaknya rumah sakit tetapi masih ada faktor lainnya yang ikut mempengaruhi. Tinjauan terhadap 10 rekomendasi dari WHO dan kenyataannya di Indonesia : 1. Pelayanan Kesehatan Jiwa di Pelayanan Kesehatan Dasar Pelayanan Kesehatan Jiwa di P elayanan Kesehatan Dasar telah dilakukan melalui Puskesmas dan Rumah Sakit Umum, sampai dengan tahun 1990 dilaksanakan melalui kegiatan Integrasi Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa ke Puskesmas di beberapa Provinsi, setelah tahun 1990 sampai dengan saat ini, pelayanan kesehatan jiwa dilaksanakan melalui Dokter Puskesmas dan Perawat yang telah dilatih tentang bagaimana cara melakukan anamnesis dan pemeriksaan pasien. 2. Ketersediaan obat Psikotropik di berbagai Tingkat Pelayanan Di berbagai tingkat pelayanan telah tersedia berbagai jenis obat psikotropik yang tercantum dalam Daftar Obat Esensial Nasional yang telah dilaksanakan sejak lebih dari 10 tahun yang lalu. Penyusunan Daftar Obat Esensial Nasional telah dilakukan dengan memasukkan golongan obat Psikotr opik termasuk beberapa golongan generasi baru yang lebih efektif serta sedikit efek samping untuk Puskesmas dan RSU.
8

y y y

y y

y y

y y

y y

3. Tersedianya Perawatan Kesehatan Jiwa di Masyarakat Dokter dan Perawat Puskesmas telah mendapat bekal tentang kesehatan jiwa, yaitu pengenalan, manajemen dan rujukan. Sebelum era desentralisasi, biaya perawatan penderita gangguan jiwa dianggarkan pada Departemen Kesehatan melalui Rumah Sakit Jiwa, sedangkan pada era Otonomi Daerah, kemampuan advokasi para profesional kesehatan jiwa kepada pemegang keputusan daerah sangat menentukan. 4. Pendidikan kepada Masyarakat Pendidikan masyarakat dalam rangka meningkatkan kesadaran terhadap kesehatan jiwa telah dilak sanakan melalui upaya pengembangan media promosi untuk petugas penyuluhan dan bekerjasama dengan program/sektor, organisasi profesi dan orgasisasi kemasyarakatan dalam bentuk kegiatan. 5. Keterlibatan peran serta masyarakat, keluarga dan consumer Setiap orang sebaiknya mendapatkan pelayanan sesuai dengan kebutuhannya, karena itu peran serta masyarakat dan keluarga sangat besar serta kerjasama lintas program dan lintas sektor perlu di tingkatkan. Dalam hal ini advokasi dari pemerintah kepada wakil rakyat p erlu digiatkan, agar masyarakat di daerah ikut terperhatikan kesehatan jiwanya. 6. Menetapkan Kebijakan Nasional, program dan Peraturan Perundang undangan Kebijakan Nasional tentang Kesehatan Jiwa sudah ada sejak tahun 2000, namun Kebijakan Nasional tentang Kesehatan Jiwa Masyarakat dan Program -program Kesehatan Jiwa Masyarakat sedang dikembangkan. 7. Pengembangan Sumber Daya Manusia Jumlah tenaga Psikiater sangat terbatas, di beberapa Provinsi hanya ditemukan satu sampai dua Psikiater. Upaya yang ditempuh untuk mengatasi hal ini yaitu meningkatkan kemampuan dokter umum dan perawat di pelayanan kesehatan dasar untuk dapat menangani kesehatan jiwa. Dengan desentralisasi, daerah dapat mengembangkan kemampuan sumber daya manusia yang ada menjadi tenaga spe sialis di bidang kesehatan jiwa, termasuk tenaga medis maupun non medis seperti Psikiater, Psikolog klinis, perawat psikiatri, pekerja sosial psikiatri okupasi terapi, dll, sehingga mereka dapat bekerja sama dalam satu tim.
9

y y y

y y y

y y y y

8. Jaringan antar sektor Kesehatan jiwa tidak dapat ditangani oleh profesi kesehatan jiwa saja tetapi perlu bekerja sama dengan sektor lain seperti pendidikan, tenaga kerja, sosial, hukum, dll. Departemen Pendidikan Nasional telah membantu mendidik siswa berdaya tahan mental kuat melalui latihan Life Skill Education, membantu menyelesaikan kebutuhan pendidikan bagi mereka yang mengalami tekanan jiwa. 9. Pemantauan kesehatan jiwa di masyarakat Untuk memantau kesehatan jiwa di masyarakat diperlukan indikator, sistem pencatatan dan pelaporan yang memadai, mudah di akses dan dapat di analisa. Sistem ini masih perlu dibangun, budaya mendokumentasikan kegiatan perlu terus ditingkatkan, demikian juga kecepatan dalam menganalisa sebuah isu kesehatn jiwa secara terarah, dengan tetap memel ihara ketenanganan masyarakat. 10. Dukungan terhadap penelitian -penelitian Penelitian atau riset di bidang biologik dan psikososial kesehatan jiwa telah dikembangkan oleh fasilitas pendidikan kedokteran jiwa atau Badan Litbangkes. Dari pembahasan diatas terlihat bahwa masalah kesehatan jiwa di masyarakat adalah sangat luas dan kompleks, bukan hanya meliputi yang jelas sudah terganggu jiwanya, tetapi juga berbagai problem psikososial, bahkan berkaitan dengan kualitas hidup dan keharmonisan hidup. Masalah ini tidak dapat dan tidak mungkin diatasi oleh pihak kesehatan jiwa saja, tetapi membutuhkan suatu kerjasama yang luas secara lintas sektor, yang melibatkan berbagai departemen, termasuk peran serta masyarakat dan kemitraan swasta, terlebih lagi dengan kondisi masyarakat kita yang saat ini sedang dilanda berbagai macam krisis, maka tindakan pencegahan secara lintas sektor perlu dilakukan secara terpadu dan berkesinambungan, agar masalah tersebut tidak memberikan dampak yang mendalam terhadap taraf kesehata n jiwa masyarakat. 10

y y y y

y y y y y y y y y y y y y y y y y

Mengingat makin kompleksnya serta makin meningkatnya masalah kesehatan jiwa di masyarakat, maka diperlukan pendekatan dan pemecahan masalah dengan persiapan dan langkah -langkah yang tepat. Pendekatan yang bersifat multidisipliner dengan pelaksanaan yang bersifat lintas sektor, melalui perkembangan upaya kesehatan jiwa di Indonesia khususnya sejak diterapkannya ilmu kedokteran jiwa modern dan sejak diberlakukannya Undang -undang Nomor 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan, akhirnya melahirkan TP -KJM ( TIM PEMBINA, TIM PENGARAH, TIM PELAKSANA KESEHATAN JIWA MASYARAKAT). Untuk mengetahui bagaimana terbentuknya TP -KJM itu, apa maksud dan tujuannya, apa yang menjadi landasan kerjanya, apa yang diperma salahkannya, bagaimana administrasi, organisasi serta mekanisme kerjanya, maka disusunlah Pedoman Umum TIM PEMBINA, TIM PENGARAH, TIM PELAKSANA KESEHATAN JIWA MASYARAKAT ( TP-KJM ), untuk dapat dipakai oleh berbagai pihak yang berkepentingan, guna melaksan akan program kerjasama dalam pembinaan kesehatan masyarakat di Indonesia dengan lebih mudah dan baik. B. DASAR HUKUM 1. Undang-undang Nomor 6 Tahun 1974 tentang Ketentuan -ketentuan Pokok Mengenai Kesejahteraan Sosial . 2. Undang-undang Nomor 2 Tahun 19 89 tentang Sistem Pendidikan Nasional . 3. Undang-undang Nomor 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan . 4. Undang-undang Nomor 4 Tahun 1997 tentang Penyandang Cacat . 5. Undang-undang Nomor 5 Tahun 1997 tentang Psikotropika . 6. Undang-undang Nomor 22 Tahun 1 997 tentang Narkotika . 7. Undang-undang Nomor 25 Tahun 1997 tentang Ketenagakerjaan . 8. Undang-undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah. 9. Undang-undang Nomor 25 Tahun 1999 tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Pemeri ntah Daerah . 10. Peraturan Pemerintah Nomor 31 Tahun 1980 tentang Penanggulangan Gelandangan Pengemis . 11. Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 2000 tentang Kewenangan Pemerintah dan Kewenangan Propinsi Sebagai Daerah Otonom . 12. Peraturan Pemerintah Nomor 84 Tahun 2000 tentang Pedoman Organisasi Perangkat Daerah . 13. Peraturan Pemerintah Nomor 39 Tahun 2001 tentang Penyelenggaraan Dekosentrasi . 14. Peraturan Pemerintah Nomor 52 Tahun 2001 tentang Penyelenggaraan Tugas Pembantuan .
11

y y

y y y y

15. Peraturan Pemerintah Nomor 106 Tahun 2001 tentang Pengelolaan dan Pertanggungjawaban Keuangan dalam Pelaksanaan Dekosentrasi dan Tugas Pembantuan . 16. Keputusan Presiden Nomor 102 Tahun 2001 tentang Kedudukan, Tugas, Fungsi, Susunan Organisasi dan Ta ta Kerja Departemen. 17. Keputusan Presiden Nomor 109 Tahun 2001 tentang Unit Organisasi dan Tugas Eselon I Departemen. 18. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1993/Kdj/ U/1970 tentang Perawatan Penderita Penyakit Jiwa. 19. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 547/ Menkes/SK/IV/2000 tentang Kebijakan Pembangunan Kesehatan Menuju Indonesia Sehat 2010. 20. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1277/ Menkes/SK/XI/2001 tentang Organisasi dan Ta ta Kerja Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 21. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1346/Menkes/SK/XII/2001 tentang Rencana Strategis Pembangunan Kesehatan 2001-2004.
II. PENGERTIAN DAN RUANG LINGKUP A. Pengertian 1. Tim Pembina, Tim Pengarah, Tim Pelaksana Kesehatan Jiwa Masyarakat (TP-KJM) a. Tim Pembina Kesehatan Jiwa Masyarakat tingkat Pusat : adalah merupakan Tim yang membina program -program kesehatan jiwa masyarakat yang keanggotaannya terdiri dari unsur antar Departeme n dan penyelenggaraan kegiatannya dibawah koordinasi Menteri Kesehatan RI. Fungsi sehari-hari kegiatan koordinasi tersebut diselenggarakan oleh Direktur Jenderal Bina Kesehatan Masyarakat Departemen Kesehatan dan pelaksana hariannya yaitu Direktur Kesehat an Jiwa Masyarakat Ditjen Bina Kesehatan Masyarakat Departemen Kesehatan. b. Tim Pengarah Kesehatan Jiwa Masyarakat tingkat Provinsi : adalah merupakan Tim yang memberikan pengarahan bagi pelaksanaan program-program kesehatan jiwa masyarakat di Provinsi dan Kabupaten / Kota, yang keanggotaannya terdiri dari beberapa perangkat daerah yang terkait, Kepala Kepolisian Daerah dan Direktur Rumah Sakit Jiwa Pusat / Provinsi di wilayahnya, yang pelaksanaannya dibawah koordinasi Sekretaris Daerah Provinsi. Pelaksanaan sehari-hari berada dibawah koordinasi Kepala Dinas yang membidangi Kesehatan. 12

y y y y y y y y

y y

y y

y y y

y y y y y y y y y y

c. Tim Pelaksana Kesehatan Jiwa Masyarakat tingkat Kabupaten/Kota : adalah merupakan Tim yang melaksanakan program -program kesehatan jiwa masyarakat di Kabupaten/Kota, yang keanggotaannya terdiri dari beberapa perangkat daerah yang terkait, Kepala Kepolisian Resort dan Direktur Rumah Sakit Jiwa di wilayahnya, yang pelaksanaannya dibawah koordinasi Sekretaris Daerah Kabupaten / Kota. Pelaksanaan sehari -hari berada dibawah koordinasi Kepala Dinas yang membidangi Kesehatan. 2. Beberapa Istilah Dalam Bidang Kesehatan Jiwa a. Kesehatan Jiwa ( Mental Health ) adalah suatu kondisi mental yang sejahtera yang memungkinkan hidup harmonis dan produktif sebagai bagian yang utuh d ari kualitas hidup seseorang, dengan memperhatikan semua segi kehidupaan manusia. Seseorang yang sehat jiwa mempunyai ciri-ciri sebagai berikut : 1. Menyadari sepenuhnya kemampuan dirinya 2. Mampu menghadapi stress kehidupan yang wajar 3. Mampu bekerja secara produktif dan memenuhi kebutuhan hidupnya 4. Dapat berperan serta dalam lingkungan hidup 5. Menerima baik dengan apa yang ada pada dirinya 6. Merasa nyaman bersama dengan orang lain b. Gangguan Jiwa ( Mental Disorder ) adalah suatu perubahan pada fungsi jiwa yang menyebabkan adanya gangguan pada fungsi jiwa, yang menimbulkan penderitaan pada individu dan atau hambatan dalam melaksanakan peran sosialnya. c. Kesehatan Jiwa Masyarakat ( Community Mental Health ) Konsep Kesehatan Jiwa Masyarakat merupakan suatu orientasi kesehatan jiwa yang mencakup semua kegiatan kesehatan jiwa yang dilaksanakan di masyarakat dengan menitik beratkan pada upaya promotif dan preventif tanpa melupakan upaya kuratif dan rehabilitatif . 3. Beberapa Karakteristik / Prinsip Kesehatan Jiwa Masyarakat :

y y

y y y y y

a. Ditujukan terutama sekali kepada kelompok didalam masyarakat , walaupun fokus terhadap individupun tidak diabaikan b. Dititik beratkan pada promotif dan preventif
13

y y y

y y y

y y y

c. Diusahakan agar berbaga i pelayanan lain turut serta dalam sistim pelayanan kesehatan jiwa d. Dititik beratkan kepada kerjasama lintas sektoral , khususnya mencakup kegiatan di sektor-sektor : pendidikan, kesejahteraan sosial, keagamaan, keluarga berencana, tenaga kerja, dan lain -lain. e. Menjalankan kegiatan Konseling dan yang bersifat Intervensi khususnya dalam kondisi krisis f. Mengusahakan peningkatan peran serta masyarakat g. Mengusahakan pendidikan dan latihan bagi para petugas dibidang pelayanan kemanusiaan seluas-luasnya, agar berorientasi terhadap prinsip kesehatan jiwa. h. Melaksanakan kerjasama yang seerat -eratnya dengan bidang Kesehatan Masyarakat i. Menjalankan kegiatan riset epidemiologi kesehatan jiwa j. Mengusahakan agar Pelayanan Kesehatan Jiwa tersebut dapat bersifat menyeluruh (komprehensif), yaitu meliputi seluruh usia atau life cycle manusia (dari anak dalam kandungan, balita, anak, remaja, dewasa, usia lanjut), berbagai jenis pelayanan (promotif / preventif, kuratif dan rehabilitatif) dan la in-lain.
4. Identifikasi Permasalahan Kesehatan Jiwa Masyarakat

y y y y

y y y

Urbanisasi, industrialisasi dan modernisasi sebagai hasil pembangunan dapat menimbulkan pengaruh sampingan berupa berbagai stres kehidupan yang intensif, baik bagi individu maupun kelompok . Stres kehidupan tersebut dapat menimbulkan berbagai proses, yang dapat dikelompokan sebagai berikut: a. Proses pertumbuhan kota yang cepat mengandung faktor -faktor yang menguntungkan maupun yang kurang menguntungkan bagi individu / kelompok b. Faktor-faktor yang menguntungkan maupun yang tidak, semuanya menimpa diri manusia dan manusia diharuskan mengolah semua faktor tersebut, disitulah tampak pentingnya faktor kepribadian ( personality) yang dimiliki oleh individu itu apakah ia berhasil menyelesaika n pengolahan itu dengan memadai. c. Faktor-faktor itu juga dapat menimpa keluarga dan masyarakat, akibatnya adalah terjadi pengelompokan baru dalam masyarakat yang sifatnya sangat majemuk (kompleks) dan didasari berbagai kepentingan ( interest ). Terjadi berbagai karakteristik pada lingkungan hidup dalam kota atau daerah yang berhasil membentuk konfigurasiatau corak baru dalam kehidupan, baik yang orientasinya bersifat material maupun nonmaterial. Beberapa stres kehidupan yang dimaksud, diseb utkan dibawah ini: 14

y y

y y y y y

1. Stresor kehidupan pribadi

y y y y y y y y

Tekanan emosi berpengaruh | Pada sistem fisiologik, mengakibatkan timbulnya a.l. gangguan psikosomatik, cemas, depresi. Jumlahnya diperkirakan makin banyak. Bila hal ini berlangsung cukup lama, maka gangguan somatik yang sesungguhnya akan timbul. |Makin banyak dan sering terjadinya kecelakaan lalu lintas. Penyebab tersering adalah faktor manusia seperti kebosanan ( boredom), ansietas, frustasi, dll. |Makin meningkatnya kondisi-kondisi depresi dengan kecenderungan bunuh diri atau percobaan bunuh diri ( suicidal attempt). | Makin meluas terjadinya berbagai krisis pribadi yang berkaitan dengan perkawinan, melahirkan atau peristiwa meninggal dunia. |Makin berpengaruh kondisi suara dilingkungan hidup ( noise pollution)
2. Stress Sosio-Ekonomik

y y y y y y y

| Status dalam masyarakat sangat sering diukur atas standar taraf kehidupan sosio-ekonomik, maka hal-hal seperti penghasilan ( income), pekerjaan yang menghasilkan (gainful-employment), rumah atau tempat tinggal yang memadai dan lain-lain ukuran fisik, merupakan indikator -indikator yang penting dalam penilaian pribadi (diri sendiri maupun orang lain). |Kemiskinan / kekurangan menjadi soal dan stressor sosial -ekonomik yang tidak dapat dihindarkan, umpaman ya bilamana tidak atau kurang tersedianya pemenuhan dari kebutuhan yang dirasakan primer ( tidak / kurang tersedianya sekolah / pendidikan bagi dirinya maupun anak -anaknya, demikian pula rekreasi yang terjangkau ataupun kesempatan bekerja yang terlalu se mpit, dsb ). | Penolakan langsung untuk memasuki kalangan yang diinginkan seperti lingkungan kerja, rekreasi, dll.
3. Kepadatan penduduk yang makin meninggi.

Menimbulkan dua jenis akibat yang walaupun ada inter -relasinya perlu diperhatikan secara agak terpisah. |Pengaruh Psiko-Sosial Dalam kelompok ini dapat dimasukkan reaksi -reaksi apathy, depresi, hilangnya/berkurangnya rasa kehalusan (sering orang berkata rasa ketimuran), alienasi, sikap dingin dan keras terhadap sesamanya hingga orang berubah menjadi lebih
15

y y y y y y

keras, kejam, jahat, promiskus dan cenderung lebih cepat terjerumus ke dalam penyalahgunaan alkohol, narkotika dan obat. |Pengaruh Fisik-Biologik Dalam kelompok ini dapat dimasukkan kondisi -kondisi seperti dekompensasi dari semua jenis pelayanan kepada masyarakat mulai dari higiene sanitasi, transportasi, pendidikan, dll. Dengan sendirinya maka situasi seperti itu akan merupakan kondisi subur bagi fenomena-fenomena seperti migrasi ke kota, meluasnya penyakit venerik, dll.
4. Perubahan Sosial Walaupun perubahan itu tidak senantiasa negatif (malahan dapat bersifat menunjang dan positif terhadap perkembangan -perkembangan lainnya), harus diambil sikap kewaspadaan setinggi-tingginya supaya jangan terjerumus dalam kondisi human distress dan tendensi kearah social disorganization Beberapa faktor yang perlu diperhatikan : | Kemajuan teknologi yang memungkinkan komunikasi sangat cepat ( instant information) tetapi di pihak lain juga mengakibatkan dorongan untuk memperoleh kepuasan segera atau pemuasan segera ( instant gratification atau satisfication), dan lain-lain. | Perubahan pola extended family kearah nuclear family dengan pengertian bahwa masing-masing pola keluarga itu memiliki stress tersendiri, demikian pula fase transisi dari satu pola ke pola yang lainnya. | Timbulnya golongan kaya baru ( noveau riches), yang merupakan salah satu dari sekelompok pergeseran yang biasanya menimbulkan stress tertentu. | Tidak dimanfaatkannya mereka yang berusia lanjut, umpamanya karena pensiun, tiada penampungan yang memadai, dsb. Terutama bagi mereka dengan ekonomi yang sangat terbatas (marginal) atau rendah. Kemajuan taraf kesehatan umum masyarakat menyebabkan harapan hidup lebih lama, sudah menjadi kenyataan (life expectancy) sekarang sekitar 65-70 tahun, dahulu sebelum perang dunia II lebih rendah dari 40 tahun. 5. Urbanisasi Migrasi ke kota besar dapat menimbulkan masala h pada kesehatan jiwa, meliputi : 16

y y y

y y

y y

y y y

y y

y y y y y

| Timbulnya berbagai daerah peri -urban dan slum area yang biasanya ditempati oleh mereka yang miskin karena bermigrasi dari daerah pedalaman dengan berbagai harapan yang tidak semuanya relistik. |Timbulnya individu avonturir / petualang yang bertendensi nekat dan individu individu yang berkepribadian sejenis. | Timbulnya kecenderungan untuk memanipulasi golongan individu yang berkekuatan ekonomi rendah
6. Pola Kehidupan Keluarga Disebabkan terjadinya berb agai proses perubahan sosial, maka timbul pula berbagai stress yang mempengaruhi pola kehidupan keluarga dan lembaga lembaga kehidupan sosial terkenal dalam masyarakat, seperti keluarga, kepercayaan, keagamaan, dll. Beberapa yang perlu diperhatikan, diant aranya : |Timbulnya new groupings yang didasari oleh kepentingan bersama mengenai opportunisme, fanatisme dan kepentingan -kepentingan lain. | Memungkinkan untuk penyelewengan dan berbagai tradisi masyarakat yang baik kearah yang kurang baik, seperti gotong royong dapat bertendensi parasitisma dan malahan menjurus ke kemungkinan pemerasan ( black mail), dsb. | Berbagai kemungkinan perubahan sikap dan nilai mengenai perkawinan, hubungan seksual, dan lain -lain. |Perubahan sikap karena popularitas konsep-konsep / praktek-praktek keluarga berencana |Perceraian / perpisahan ( separation) antara orang tua |Pengaruh dari berbagai kondisi fisik hidup seperti bangunan susun yang tinggi (high rise flats) dalam hubungan dengan tindak kejahatan, pencurian , perampasan, pemerkosaan, dan lain -lain. 7. Nasib dan keamanan dari orang yang berusia lanjut Terjepitnya kedudukan para senior citizens karena : |Life expectancy naik / distribusi demografi berubah |Makin gugurnya pola keluarga dari extendedfamily ke nuclear family |Sistem pensiun yang ketat |Orang usia lanjut senantiasa kehilangan status |Orang usia lanjut selalu berpredisposisi kearah makin berkurang kekayaannya atau bahkan makin miskin karena penghasilan tidak tetap 17

y y y

y y y y

y y y y y y y y

y y y

y y y y y y y y y y y y

8. Situasi dari berbagai Lembaga Sosial dalam masyarakat Berbagai stress yang harus ditanggung dan ditampung olehg bermacam -macam lembaga itu, langsung diakibatkan karena urbanisasi, industrialisasi dan tekanan modernisasi, diantaranya: | Pekerjaan: karena proses urbanisasi dll, maka dapat dibayangkan bahwa syarat-syarat dan kondisi untuk menduduki suatu jabatan makin ditingkatkan dan diperketat. Dipihak lain belum tentu hal itu secara otomatik akan membawa hasil pada perbaikan suatu lingkungan kerja, perbaikan hubu ngan kerja , kepuasan kerja dan jaminan kerja. |Mutu sekolah / lembaga pendidikan yang tidak secara realistik membaik | Anak-anak dari keluarga besar (jumlah anaknya banyak ) cenderung untuk relatif nyata terlantar, karena jaminan sosial tidak mencukupi . | Lembaga kesetikawanan dalam masyarakat seperti Rukun Tetangga, Rukun Warga perlu diusahakan untuk diperkuat. 9. Perbedaan Sosial-Budaya Dalam kondisi tidak menguntungkan , maka perbedaan itu dapat menjadi sumber timbulnya stress tertentu, diantaranya: | Di daerah urban sering dijumpai fenomena , bahwa perbedaan sosial budaya ini cenderung dipertajam ( status jabatan, ekonomi, sosial dimas yarakat, dll). | Perbedaan yang terikat pada lokasi tempat tinggal bisa dijadikan salah satu masalah. |Perbedaan kepercayaan / keagamaan juga dapat merupakan masalah. B. RUANG LINGKUP 1. TIM PEMBINA / TIM PENGARAH / TIM PELAKSANA KESEHATAN JIWA MASYARAKAT (TP-KJM) DALAM MELAKSANAKAN TUGAS, WEWENANG DAN TANGGUNG JAWABNYA MENCAKUP: a. Wilayah kegiatan TP-KJM berada di Pusat, Provinsi dan Kabupaten / Kota termasuk masyarakat / penduduknya b. Kegiatan pembinaan / pengarahan / pelaksanaan TP -KJM pada setiap wilayah kerja disesuaikan dengan situasi dan kondisi yang ada pada masing -masing wilayah. 18

y y

y y

c. Kegiatan TP-KJM di Pusat, Provinsi dan Kabupaten / Kota berprinsip pada koordinatif, konsultatif, informatif, fasilitatif, pengawasan, pengendalian dan pengembangan sistem serta pemecahan masalah lintas sektor dan peran serta masyarakat.
2. MASALAH KESEHATAN JIWA Lingkup masalah kesehatan jiwa bersifat luas dan kompleks saling berhubungan dengan segala aspek kehidupan manusia. Mengacu pada Undang -undang Nomor 23 tahun 1992 tentang Kesehatan dan Ilmu Kedokteran Jiwa (Psychiatri) yang berkembang dengan pesat, secara garis besar masalah kesehatan jiwa digolongkan menjadi : a. Masalah perkembangan manusia yang harmonis dan peningkatan kualitas hidup yaitu masalah kejiwaan yang terkait dengan makna dan nilai -nilai kehidupan manusia, misalnya : 1) masalah kesehatan jiwa yang berkaitan dengan life cycle kehidupan manusia mulai dari persiapan pr anikah, anak dalam kandungan, balita, anak, remaja, dewasa dan usia lanjut 2) dampak dari menderita penyakit menahun yang menimbulkan disabilitas 3) pemukiman yang sehat 4) pemindahan tempat tinggal b. Masalah Psiko-Sosial yaitu masalah psikis atau kejiwaan yang timbul sebagai akibat terjadinya perubahan sosial, misalnya : 1) psikotik gelandangan (seseorang yang berkeliaran ditempat umum dan diperkirakan menderita gangguan jiwa psikotik, dianggap mengganggu ketertiban / keamanan lingkungan) 2) pemasungan penderita gangguan jiwa 3) masalah anak jalanan 4) masalah anak remaja : tawuran, kenakalan 5) penyalahgunaan narkotika dan psikotropika 6) masalah seksual : penyimpangan seksual, pelecehan 7) tindak kekerasan sosial 8) stres pasca trauma 9) pengungsi / migrasi 10) masalah usia lanjut yang terisolir 19

y y y

y y y

y y y y y y

y y y y y y y y y y

y y y y y

11) masalah kesehatan kerja: kesehatan jiwa tempat kerja, penurunan produktifitas, stres ditempat kerja, dan lain -lain
c. Masalah Gangguan Jiwa yaitu suatu perubahan pada fungsi jiwa y ang menyebabkan adanya gangguan pada fungsi jiwa, yang menimbulkan penderitaan pada individu dan atau hambatan dalam melaksanakan peran sosial. Jenis -jenis gangguan jiwa ini tercantum dalam Pedoman Penggolongan Diagnosis Gangguan Jiwa Edisi Ketiga (PPDGJ-III) tahun 1995 atau chapter F00-F99 dari International Classification of Diseases ( ICD-X) antara lain: 1) Gangguan Mental dan Perilaku akibat penggunaan zat psikoaktif (Narkotika, Psikotropika dan Zat adiktif lainnya) 2) Skizofrenia 3) Gangguan Afektif ( Depresi, Mania ) 4) Ansietas / kecemasan, Gangguan somatoform (psikosomatik ) 5) Gangguan Mental Organik ( Demensia/ Alzheimer, Delirium, Epilepsi, Pasca Stroke dan lain-lain ) 6) Gangguan Jiwa Anak dan Remaja ( Gangguan Perkembangan Belajar , Autisme, Gangguan Tingkah Laku , Hiperaktifitas, Gangguan Cemas dan Depresi ) 7) Retardasi Mental III. TUJUAN DAN SASARAN A. TUJUAN Meningkatkan kerjasama lintas sektor terkait, termasuk peran serta masyarakat dan kemitraan swasta, LSM, kelompok profesi dan organisasi masyarakat secara terpadu dan berkesinambungan, dalam rangka meningkatkan kesadaran, kemauan dan kemampuan masyarakat dalam menghadapi masalah kesehatan jiwa, sehingga akan terbentuk perilaku sehat sebagai individu, keluarga dan masyarakat yang memungkinkan setiap orang hidup lebih produktif secara sosial dan ekonomis. B. SASARAN

y y y y y y

y y y y y

y y y y

Untuk mencapai tujuan dimaksud, sasarannya dikelompokkan sebagai berikut : 1. Sasaran utama yaitu Tim Pembina Kesehatan Jiwa Masyarakat (TP -KJM) di Pusat, Tim Pengarah Kesehatan Jiwa Masyarakat (TP-KJM) di Provinsi dan Tim Pelaksana Kesehatan Jiwa Masyarakat (TP -KJM) di Kabupaten / Kota. 2. Sasaran antara , dikelompokkan dalam :
20

y y y

y y y y y y y y y y

a. Pengambil keputusan (sektoral dan non sektoral) di tingkat Pusat, Provinsi, Kabupaten / Kota b. Tokoh Masyarakat (TOMA) di tingkat Pusat, Provinsi, Kabupaten / Kota. c. Tokoh Agama (TOGA) di tingkat Pusat, Provinsi, Kabupaten / Kota
IV. KEBIJAKAN A. KEBIJAKAN

DAN STRATEGI

1. Kebijakan dalam upaya mewujudkan kesehatan jiwa masyarakat berdasarkan prinsip partisipatif dengan ruang lingkup Primary Prevention (Health Education & Specific Protection) dan memperhatikan siklus kehidupan (Life Cycle) dan tatanan masyarakat (Social-Cultural Setting). 2. Sejalan dengan kebijakan desentralisasi perlu adanya advokasi terhadap Provinsi dan Kabupaten/Kota dalam menyusun kebijakan dan program kesehatan jiwa di Provinsi dan Kabupaten / Kota. Untuk keperluan ini harus mengacu pada Kebijakan Kesehatan Jiwa Nasional sebagai subsistem Kebijakan Kesehatan Nasional (Indonesia Sehat 2010) dan Kebijakan Desentralisasi Pemerintahan. 3. Pemerintah Daerah Provinsi dan Kabupaten/Kota harus disensitisasi dan ditingkatkan perannya dalam menghadapi masalah kesehatan jiwa masyarakat dan mengurangi dampaknya terhadap kesejahteraan masyarakat. Khususnya dalam pembentukan TP-KJM sebagai salah satu lembaga perangkat daerah dalam upaya Pengarahan dan Pelaksanaan Upaya Kesehatan Jiwa Masyarakat. 4. Upaya kesehatan jiwa masyarakat dilaksanakan secara konseptual dan melalui pendekatan multidisipliner dengan kerjasama lintas sektoral yang mengacu pada peningkatan kualitas sumber daya manusia dengan wadah koordinatif TP-KJM. 5. Pengembangan dan pendayagunaan sarana dan prasarana pelayanan kesehatan jiwa masyarakat yang komprehensif bagi pemenuhan kebutuhan penanggulangan masalah yang menjadi prioritas. 6. Program Peningkatan Partisipasi Masyarakat dan Kemitraan Sw asta diarahkan untuk memberdayakan LSM atau Organisasi Swasta agar mampu mendorong kemandirian masyarakat untuk
21

y y

y y

y y

y y

y y

mencapai jiwa yang sehat, khususnya dalam hal membantu identifikasi masalah kesehatan jiwa dalam masyarakat dan sumber daya yang ada dalam masyarakat (social supporting system), melakukan standarisasi pelayanan yang dilakukan LSM, Swasta, dan peningkatan pengetahuan masyarakat tentang kesehatan jiwa melalui media kultural daerah / lokal. 7. Peningkatan kesadaran akan pentingnya kesehatan jiw a sehingga dapat mewujudkan perilaku sehat jiwa dalam masyarakat memerlukan upaya promotif dan preventif pada setiap strata masyarakat utamanya balita, anak, remaja, wanita, orang tua, usia lanjut dan kelompok -kelompok masyarakat dengan risiko tinggi dan rentan terhadap masalah kesehatan jiwa seperti pengungsi konflik sosial, penduduk korban kekerasan (mental dan seksual), anak jalanan, gelandangan psikotik, pekerja wanita yang rentan, remaja putus sekolah, dll. Upaya promotif dan preventif ini dapat dilaku kan melalui tatanan perilaku hidup bersih yang telah ada di masyarakat. 8. Mempertajam skala prioritas penanganan permasalahan kesehatan dan kesejahteraan sosial, dengan mengacu kepada pertimbangan nilai manfaat dan strategis dalam rangka mendukung dan mempercepat pembangunan kesehatan khususnya dan pembangunan nasional pada u mumnya. 9. Menetapkan kriteria keberhasilan dan cara pengukuran keberhasilan pembangunan kesehatan jiwa secara baku dan konsisten untuk perencanaan, pemantauan pelaksanaan dan penilaian penanggulangan masalah kesehatan jiwa masyarakat. 10. Mempererat silaturahmi Lembaga-lembaga Departemen dan Lembaga lembaga Non Departemen dalam rangka mewujudkan penyelenggaraan upaya kesehatan jiwa masyarakat.
B. STRATEGI

y y

y y

y y

y y y y y

1. Advokasi Kebijakan Publik yang memperhatikan aspek kesehatan jiwa. Program pembangunan d i segala bidang harus memberikan kontribusi yang positif terhadap derajat kesehatan jiwa masyarakat. Hal ini dapat dicapai dengan adanya dukungan kebijakan publik yang memenuhi asa -asas kesehatan jiwa, misalnya kebijakan pemukiman yang menyediakan fasilita s sosial (tempat bermain anak, olahraga bagi remaja, kegiatan sosial bagi usia lanjut, dan lain lain), disetiap Kota/Kabupaten mempunyai Pusat Kegiatan Sosial dan Budaya , disetiap sekolah tersedia kepustakaan, lapangan olahraga yang memadai untuk menampung kreatifitas anak didik, dan lain -lain. Dalam upaya meningkatkan derajat kesehatan jiwa masyarakat ini secara lebih efektif dan efisien, maka upaya promotif dan preventif terhadap munculnya berbagai masalah
22

y y y y y

y y

kesehatan jiwa akan lebih diutamakan d aripada upaya kuratif dan rehabilitatif. 2. Pemantapan Kerjasama Lintas Sektor dan Kemitraan dengan Swasta . Upaya kesehatan jiwa sangat terkait dengan berbagai kebijakan dari sektor sektor di luar kesehatan, sehingga kerjasama yang sudah terjali n selama ini perlu terus ditingkatkan dengan cara -cara yang lebih efektif, khususnya peningkatan pemberdayaan sektor swasta dalam upaya yang bersifat preventif dan promotif. 3. Pemberdayaan Masyarakat melalui pendidikan / penyuluhan / promosi tentang kesehatan jiwa secara terintegrasi dengan program kesehatan dan sektor pada umumnya. Metode dan materi pendidikan kesehatan jiwa harus disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat setempat (relevant), menggunakan tatanan yang sudah ada di masyarakat tersebut (social-cultural setting), dan dapat dimengerti dengan mudah oleh masyarakat (contextual communication). Menumbuhkembangkan pemberdayaan masyarakat untuk mengetahui potensi yang ada dan memanfaatkannya menuju kemandirian. Menciptakan pemberdayaan masyarakat melalui kegiatan institusi yang ada dalam masyarakat itu sendiri, seperti tradisi, adat istiadat, budaya, pemerintahan desa, organisasi kemasyarakatan secara gotong royong dan berkesinambungan. 4. Mengoptimalkan fungsi -fungsi TP-KJM sesuai dengan tugas pokoknya, dengan dukungan sarana dan prasarana yang memadai, serta mekanisme kerja dan koordinasi program yang dilaksanakan secara sinkron dan sinergi. 5. Desentralisasi program kesehatan jiwa pada Kabupaten/Kota. Dalam kaitan dengan desentralisasi pen yelenggaraan pemerintahan pada tingkat Kabupaten/Kota, dan adanya keragaman sumber daya yang dimiliki oleh masing masing Kabupaten/Kota, serta keunikan dari masalah kesehatan jiwa yang ada. Maka perlu dikembangkan Program Kesehatan Jiwa di setiap Kabupaten /Kota oleh Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota dengan fasilitasi dan pemberdayaan dari Provinsi/Pusat. 6. Sosialisasi upaya kesehatan jiwa masyarakat ini dengan adanya dukungan bahan-bahan informasi yang lengkap dan memadai.
23

y y

y y

y y

y y

7. Meningkatkan komunikasi dan forum koordinasi dalam rangka pemberdayaan dan peningkatan kualitas sumber daya manusia dalam upaya pencegahan dan penanggulangan kesehatan jiwa masyarakat.
V. PENGORGANISASIAN A. KEDUDUKAN DAN TANGGUNG JAWAB Implikasi dari reformasi pemerintahan telah mengakibatkan terjadinya pergeseran paradigma penyelenggaraan pemerintahan, dari paradigma sentralistis ke arah desentralisasi yang ditandai dengan pelaksanaan otonomi yang luas dan nyata pada daerah. Pelaksanaan Otonomi Daerah pada dasarnya adalah untuk mendorong memberdayakan masyarakat, menumbuhkan prakarsa dan kreativitas, meningkatkan peran serta masyarakat serta mengembangkan peran dan fungsi Dewan Perwakilan Rakyat Daerah. Disamping itu penyelenggaraan Otonomi Daerah harus dilaksanakan dengan prinsip -prinsip demokrasi, peran serta masyarakat, pemerataan, dan keadilan serta memperhatikan potensi dan keanekaragaman daerah. Sebagai konsekuensi dari penyelenggaraan Otonomi Daerah tersebut maka telah dikeluarkan beberapa p eraturan perundang-undangan yang mengatur hal tersebut, antara lain: a. Ketetapan MPR-RI Nomor XV/MPR/1999 tentang Penyelenggaraan Otonomi Daerah; Pengaturan Pembagian dan Pemanfaatan Sumber Daya Nasional Yang Berkeadilan Serta Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Daerah Dalam Kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia; b. Ketetapan MPR-RI Nomor IV/MPR/2000 tentang Rekomendasi Kebijakan Dalam Penyelenggaraan Otonomi Daerah; c. Undang-undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah; d. Undang-undang Nomor 25 Tahun 1999 tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Daerah; e. Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 2000 tentang Kewenangan Pemerintah dan Kewenangan Propinsi Sebagai Daerah Otonom; f. Peraturan Pemerintah Nomor 84 Tahun 2000 tentang Pedoman Organisasi Perangkat Daerah . g. Peraturan Pemerintah Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pembinaan dan Pengawasan Atas Penelenggaraan Pemerintah Daerah. 24

y y y y

y y y y y y y

y y y y y

y y y

h. Peraturan Pemerintah Nomor 39 Tahun 2001 tentang Penyelenggaraan Dekonsentrasi; i. Peraturan Pemerintah Nomor 52 Tahun 2001 tentang Penyelenggaraan Tugas Pembantuan; j. Peraturan Pemerintah Nomor 56 Tahun 2001 tentang Pelaporan Penyelenggaraan Pemerintah Daerah. k. Peraturan Pemerintah Nomor 106 Tahun 2001 tentang Pengelola an dan Pertanggungjawaban Keuangan dalam Pelaksanaan Dekosentrasi dan Tugas Pembantuan . l. Keputusan Presiden Nomor 102 Tahun 2001 tentang Kedudukan, Tugas, Fungsi, Susunan Organisasi dan Tata Kerja Departemen. m. Keputusan Presiden Nomor 109 Tahun 2001 tentang Unit Organisasi dan Tugas Eselon I Departemen. n. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1277/Menkes/SK/XI/2001 tentang Organisasi dan Tata Kerja Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Sebagai konsekuensi logis dari pelaksanaan Otonomi Daerah tersebut maka terjadi perubahan kedudukan, tugas dan fungsi lembaga -lembaga pemerintah baik di Pusat maupun di Daerah. Perubahan ini diakibatkan oleh bergesernya kewenangan Pemerintahan, baik yang b erada di Pemerintah Pusat, Provinsi maupun Kabupaten/Kota, berdampak pada perubahan kewenangan dan tanggung jawab penyelenggaraan pemerintahan Tim Pembina Kesehatan Jiwa Masyarakat (TP -KJM) merupakan Tim Teknis Pemerintah Pusat yang berada di bawah dan be rtanggung jawab kepada Menteri Kesehatan. Sedangkan Tim Pengarah Kesehatan Jiwa Masyarakat (TP -KJM) di Provinsi di bawah dan bertanggungjawab kepada Gubernur. Tim Pelaksana Kesehatan Jiwa Masyarakat (TP-KJM) di Kabupaten / Kota di bawah dan bertanggungjawab kepada Bupati/Walikota. Adapun bentuk, struktur dan mekanisme kerja Tim Pengarah dan Tim Pelaksana tersebut disesuaikan dengan situasi dan kondisi masing-masing daerah. Tugas, fungsi dan tanggung jawab Tim Pembina Kesehatan Jiwa Masyarakat (TP-KJM) di Pusat, Tim Pengarah Kesehatan Jiwa Masyarakat (TP -KJM) di Provinsi dan Tim Pelaksana Kesehatan Jiwa Masyarakat (TP -KJM) di Kabupaten / Kota, mendukung penyelenggaraan Kesehatan Jiwa Masyarakat meliputi : a. Perumusan kebijakan umum. b. Perumusan administrasi penyelenggaraan. c. Perumusan mekanisme koordinasi di Daerah. d. Perumusan kebijakan operasional.
25

y y

y y y y y

y y y y y y y

e. Perumusan penganggaran / pendanaan. f. Perumusan langkah-langkah kegiatan monitoring dan evaluasi


2. TUGAS DAN KEWAJIBAN Tim Pembina Kesehatan Jiwa Masyarakat (TP -KJM) di Pusat mempunyai tugas membantu Menteri Kesehatan dalam menyusun kebijakan di bidang Kesehatan Jiwa Masyarakat untuk memelihara, mengusahakan dan mengembangkan upaya pencegahan dan penanggulangan masalah kesehatan jiwa masyarakat dengan cara pendekatan multi disiplin, multi sektor dan peran serta masyarakat secara aktif, guna meningkatkan kondisi kesehatan jiwa masyarakat.

y y y y y y

y y

Dalam melaksanakan tugas tersebut diatas Tim Pembina Kesehatan Jiwa Masyarakat (TP-KJM) berkewajiban : a. Mengidentifikasi dan mengklasifikasi permasalahan Kesehatan Jiwa Masyarakat dalam rangka merumuskan kebijakan umum tingkat nasional. b. Memberi masukan kepada Menteri Kesehatan untuk menentukan mekanisme koordinasi dan kebijakan operasional tingk at nasional. c. Menyusun program kerja tahunan, jangka menengah dan jangka panjang, bersama dengan peyusunan anggaran. d. Mengklarifikasi dan memberikan masukan kepada Menteri Kesehatan dalam perumusan kebijakan penyelenggaraan dekonsentrasi dan atau tug as pembantuan. e. Merumuskan langkah-langkah kegiatan monitoring dan evaluasi tingkat Nasional Tim Pengarah Kesehatan Jiwa Masyarakat (TP -KJM) di Provinsi mempunyai tugas membantu Gubernur dalam merumuskan kebijakan Pemerintah Provinsi dalam upaya penc egahan dan penanggulangan masalah kesehatan jiwa masyarakat melalui pendekatan multi disiplin dan peran serta masyarakat, guna meningkatkan kondisi Kesehatan Jiwa Masyarakat yang optimal di wilayahnya. Dalam melaksanakan tugas tersebut diatas Tim Penga rah Kesehatan Jiwa Masyarakat (TP-KJM) di Provinsi berkewajiban : a. Mengidentifikasi, mengklasifikasi dan memetakan permasalahan Kesehatan Jiwa Masyarakat dalam rangka merumuskan kebijakan umum tingkat Provinsi. b. Memberikan masukan kepada Gubernur untuk menentukan mekanisme koordinasi dan kebijakan operasional tingkat Provinsi.
26

y y y y y

y y y y y y

c. Menyusun program kerja tahunan, jangka menengah dan jangka panjang, bersama dengan peyusunan anggaran. d. Mengklarifikasi dan memberikan masukan kepada Gubernur dalam pelaksanaan dekonsentrasi dan tugas pembantuan. e. Merumuskan langkah-langkah kegiatan monitoring dan evaluasi.
Tim Pelaksana Kesehatan Jiwa Masyarakat (TP -KJM) di Kabupaten / Kota mempunyai tugas membantu Bupa ti / Walikota dalam merumuskan kebijakan Pemerintah Kabupaten/ Kota dalam upaya pencegahan dan penanggulangan masalah kesehatan jiwa masyarakat melalui pendekatan multi disiplin dan peran serta masyarakat, guna meningkatkan kondisi Kesehatan Jiwa Masyaraka t yang optimal di daerahnya.

y y y

y y y y y y y y y y y y y y y y

Dalam melaksanakan tugas tersebut diatas Tim Pelaksana Kesehatan Jiwa Masyarakat (TP-KJM) di Kabupaten / Kota berkewajiban : a. Mengidentifikasi, mengklasifikasi dan memetakan permasalahan Kesehatan Jiwa Masyarakat dalam rangka merumuskan kebijakan umum tingkat Kabupaten / Kota. b. Memberikan masukan kepada Bupati / Walikota untuk menentukan mekanisme koordinasi dan kebijakan operasional tingkat Kabupaten / Kota. c. Menyusun program kerja tahunan, jangka menengah dan jan gka panjang, bersama dengan peyusunan anggaran. d. Mengklarifikasi dan memberikan masukan kepada Bupati / Walikota dalam pelaksanaan tugas pembantuan. e. Merumuskan langkah-langkah kegiatan monitoring dan evaluasi.
3. BENTUK DAN SUSUNAN TIM KESEHATAN JIWA MASYARAKAT a. TIM PEMBINA KESEHATAN JIWA MASYARAKAT (TP-KJM) PUSAT Susunan Anggota TP-KJM Pusat Pembina : WAKIL PRESIDEN Koordinator : MENTERI KOORDINATOR KESEJAHTERAAN RAKYAT. Ketua : MENTERI KESEHATAN Anggota : 1. MENTERI DALAM NEGERI 2. MENTERI KEUANGAN 27

y y y y y y y y y y y y y y y y y y y y y y y y y y y y y y y

3. MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL 4. MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI 5. MENTERI SOSIAL 6. MENTERI AGAMA 7. MENTERI KEHAKIMAN DAN HAM 8. MENTERI NEGARA PEMBERDAYAAN PEREMPUAN 9. MENTERI NEGARA KOMUNIKASI DAN INFORMASI 10. SEKRETARIS NEGARA/SEKRETARIS KABINET. 11. KEPALA KEPOLISIAN RI. 12. KEPALA BKKBN
b. TIM PENGARAH KESEHATAN JIWA MASYARAKAT (TP-KJM) PROVINSI Susunan Anggota TP-KJM Provinsi Pembina : GUBERNUR KETUA DPRD PROVINSI Koordinator : SEKRETARIS DAERAH PROVINSI Ketua : KEPALA DINAS YANG MEMBIDANGI KESEHATAN Anggota : 1. BEBERAPA KEPALA PERANGKAT DAERAH YANG TERKAIT 2. KEPALA KEPOLISIAN DAERAH 3. DIREKTUR RUMAH SAKIT JIWA c. TIM PELAKSANA KESEHATAN JIWA MASYARAKAT (TP-KJM) KABUPATEN / KOTA Susunan Anggota TP-KJM Kabupaten / Kota Pembina : BUPATI / WALIKOTA KETUA DPRD KABUPATEN / KOTA Koordinator : SEKRETARIS DAERAH KABUPATEN / KOTA Ketua : KEPALA DINAS YANG MEMBIDANGI KESEHATAN Anggota : 1. BEBERAPA KEPALA PERANGKAT DAERAH YANG TERKAIT.
28

y y y y y y y y

2. KAPOLRES 3. DIREKTUR RUMAH SAKIT JIWA 4. CAMAT


VI. P R O G R A M Ada 4 (empat) hal penting yang perlu diketahui oleh Tim Pembina, Tim Pengarah, Tim Pelaksana Kesehatan Jiwa Masyarakat (TP -KJM) dalam melaksanakan Program Kesehatan Jiwa Masyarakat, yaitu : A. PRINSIP-PRINSIP KESEHATAN JIWA MASYARAKAT

y y y

y y

Terutama ditujukan kepada kelompok didalam masyarakat , dititik beratkan pada promotif dan preventif , diusahakan agar berbagai pelayanan lain turut serta dalam sistim pelayanan kesehatan jiwa , dititik beratkan kepada kerjasama lintas sektoral , menjalankan kegiatan konseling dan yang bersifat intervensi khususnya dalam kondisi krisis, mengusahakan peningkatan peran serta masyarakat , mengusahakan pendidikan dan latihan bagi para petugas dibidang pelayanan kemanusiaan seluas-luasnya, agar berorientasi terhadap prinsip kesehatan jiwa, melaksanakan kerjasama yang seerat -eratnya dengan bidang kesehatan masyarakat, menjalankan kegiatan riset epidemiologi kesehatan jiwa, mengusahakan agar Pelayanan Kesehatan Jiwa tersebut dapat bersifat menyeluruh (komprehensif), yaitu meliputi seluruh usia atau life cycle, berbagai jenis pelayanan (promotif / preventif, kuratif dan rehabilitatif) dan lain -lain. B. IDENTIFIKASI PERMASALAHAN KESEHATAN JIWA MASYARAKAT Urbanisasi, industrialisasi dan modernisasi sebagai hasil pembangunan dapat menimbulkan pengaruh sampingan berupa berbagai stres kehidupan yang intensif, baik bagi individu maupun kelompok. Stres kehidupan tersebut dapat menimbulkan berbagai proses yaitu Pr oses pertumbuhan kota yang cepat mengandung faktor -faktor yang menguntungkan maupun yang kurang menguntungkan bagi individu / kelompok, faktor -faktor ini menimpa diri manusia dan manusia diharuskan mengolah semua faktor tersebut, disitulah tampak penting nya faktor kepribadian (personality) yang dimiliki oleh individu itu apakah ia berhasil menyelesaikan pengolahan itu dengan memadai,
29

y y y

y y y y y y y y y y y y y y y y y y y y y y y y y

faktor-faktor itu juga dapat menimpa keluarga dan masyarakat, akibatnya adalah terjadi pengelompokan baru dalam masyarakat yang sifatnya sangat majemuk (kompleks) dan didasari berbagai kepentingan ( interest). Terjadi berbagai karakteristik pada lingkungan hidup dalam kota atau daerah yang berhasil membentuk konfigurasiatau corak baru dalam kehidupan, baik yang orientasinya bersifat material maupun non material. Beberapa stres kehidupan yang dimaksud yaitu stresor kehidupan pribadi, stress sosio-ekonomik, kepadatan penduduk yang makin meninggi, perubahan sosial, urbanisasi, pola kehidupan keluarga, nasib dan keamanan dari orang yang berusia lanjut, situasi dari berbagai lembaga sosial dalam masyarakat dan perbedaan sosial -budaya. C. STRATEGI UMUM DAN KHUSUS
1. Strategi Umum ( Kebijaksanaan Umum ) a. Prioritas Kegiatan Ditentukan atas dasar pertimbangan: |Mendesak / meluasnya masalah dimasyarakat |Seringnya masalah itu timbul |Akibat yang merugikan dari masalah itu | Tersedianya tenaga ahli atau tenaga yang dapat dididik / dilatih untuk menanggulanginya |Tersedianya sarana dan prasarana b. Desain Kegiatan Hal ini perlu meliputi beberapa kondisi umum seperti: | Sudah/belum tersedianya pelayanan kesehatan jiwa masyarakat didaerah tersebut |Tersedianya dukungan dari pengambil keputusan didaerah |Tersedianya pendanaan yang memadai |Kemungkinan akan tercapainyanya hasil yang memadai c. Kebutuhan dan kemampuan |Tersedianya sistem pelayanan dan informasi |Kemungkinan dilaksanakannya monitoring dan evaluasi |Kemungkinan integrasi dengan kegiatan penyelenggaraan pemerintah lainnya. 2. Strategi Khusus ( Pelaksanaan ) Bidang ini perlu direncanakan dan dilaksanakan dibawah supervisi yang berdisiplin. Oleh karena itu fase perencanaan senantiasa diuji kemantapannya pada implementasi strategi khusus, yang selalu
30

y y y y y

y y y

pula menghendaki komitmen sepenuhnya dari mereka yang melaksanakan tugas sehari-hari. a. Masyarakat Bertujuan untuk menjangkau masyarakat dan berhasil menciptakan suatu masyarakat yang efektif melalui peningkatan kepedulian, pengetahuan dan pemberdayaan tentang upaya pencegahan dan penanggulangan masalah kesehatan jiwa masyarakat. Sasarannya pada tahap ini yaitu kelompok-kelompok masyarakat dan keluarga . b. Sistem rujukan Apabila memerlukan tindak lanjut kegiatan maka sistem rujukan meliputi langkah langkah sebagai berikut: diagnostik, terapi pendahuluan, feed back information (yang diharapkan kepada fasilitas yang merujuk) dari fasilitas yang menerima rujukan, serta tindak lanjut jangka panjang. Untuk itu perlu ada suatu buku pedoman yang dapat diguna kan oleh semua fasilitas pelayanan. Beberapa contoh jalur rujukan antara lain: |Jalur Kesehatan RSU / RSJ Klinik Kesehatan Jiwa Puskesmas |Jalur Pendidikan Sekolah Guru Konselor Keluarga c. Pembinaan / Pendidikan / Pelatihan Untuk dapat melaksanakan pelayanan pada taraf operasional perlu diusahakan pembinaan / pendidikan / pelatihan ketenagaan secara kontinu dan berkelanjutan. Dalam hubungan ini ada beberapa langkah yang perlu dipertimbangkan, a.l. : | Semua latihan harus didasarkan atas kebutuhan realistik yang ada di masyarakat. |Tugas-tugas yang diberikan sebagai tanggung jawab dari petugas yang dilatih perlu dijabarkan
D. PRINSIP-PRINSIP PROGRAM KESEHATAN JIWA MASYARAKAT Beberapa prinsip dasar Program Kesehatan Jiwa Masyarakat adalah: 1. Kerjasama lintas -sektoral dan inter-disipliner Dalam rangka pelaksanaan upaya pencegahan dan penanggulangan masalah kesehatan jiwa masyarakat, dilakukan koordinasi dan kerjasama antar Departemen terkait ( sesuai dengan 31

y y y y y y y y

y y y y y y y y y y

y y y

y y y y

y y

y y y

Surat Keputusan Menteri Kesehatan ) serta berbagai disiplin ilmu yeng mempunyai minat dan kepedulian terhadap masalah kesehatan jiwa seperti edukasi, sosilogi, antropologi, keperawatan dan lain -lain. Di Provinsi, Kabupaten / Kota , koordinasi dan kerjasam a dilaksanakan antar perangkat Daerah terkait ( sesuai dengan Surat Keputusan Gubernur, Bupati/ Wali Kota ) serta berbagai disiplin ilmu yang mempunyai minat dan kepedulian di wilayah masing-masing. 2. Kesehatan Jiwa sebagai komponen dasar pelayanan Keseh atan Dalam bidang ini perlu diperhatikan dua jalur pelayanan kesehatan jiwa yang dijalankan selama ini perlu ditingkatkan efektifitas, yaitu: a. Integrasi Kesehatan Jiwa ( di Puskesmas dan RS Umum ) Peningkatan pengetahuan dan ketrampilan dokter / peraw at dibidang promosi, prevensi serta terapi dan rehabilitasi sangat diperlukan secara kontinu dan berkelanjutan. Pelatihan dan konsultasi secara reguler perlu diciptakan. b. Menyadari pentingnya faktor psiko -sosial-kultural Peningkatan dan penyebarluasan kesadaran dan kepedulian harus merupakan unsur yang integral dari seluruh strategi pelayanan kesehatan yang efektif. Dengan demikian maka sebagian dari penyakit -penyakit yang dilatar belakangi masalah psikososial dan stres ( stress induced conditions or diseases ) dapat ditanggulangi dengan tepat. Lebih lanjut dengan pendekatan tersebut gangguan psikofisiologik atau psikosomatik dapat dicegah sampai taraf tertentu. 3. Peran serta masyarakat Peran serta masyarakat penting dalam menghadapi berbagai kedarura tan / gangguan kesehatan jiwa baik ringan, sedang maupun berat. Masyarakat dapat berperan dalam hal misalnya : mengidentifikasi permasalahan kehidupan, menyebarluaskan pengetahuan kesehatan jiwa kepada masyarakat dan laian-lain. Disamping itu peran serta masyarakat juga dapat diarahkan pada mengidentifikasi kebutuhan -kebutuhan Pelayanan Kesehatan Jiwa yang belum tersedia dimasyarakat.

y y y

PROGRAM-PROGRAM TP-KJM
Dalam melaksanakan kegiatan Pembinaan Kesehatan Jiwa Masyarakat di Pusat, harus berpedoman pada P eraturan Pemerintah No. 25 tahun 2000 tentang Kewenangan Pemerintah dan Kewenangan Provinsi sebagai Daerah Otonom, sehingga Direktorat Jenderal Bina Kesehatan Masyarakat 32

y y y y y y y y y y y y y y

Departemen Kesehatan RI dapat menjalankan program program sebagai berikut: A. PROGRAM UMUM |Menetapkan standar kesehatan jiwa masyarakat; |Pedoman sertifikasi kesehatan jiwa masyarakat; |Menetapkan pedoman biaya kesehatan jiwa masyarakat; |Menetapkan standar akreditasi Rumah Sakit, Pusat Rehabilitasi, Panti; |Menetapkan standar diklat kesehatan jiwa masyarakat; |Menetapkan standar penapisan kesehatan jiwa masyarakat; |Menetapkan standar etika penelitian kesehatan jiwa masyarakat ; |Survailance; |Penyediaan obat essensial tertentu;
B. PROGRAM KHUSUS Tim Pembina Kesehatan Jiwa Masyarakat melaksanakan program khusus dengan mengacu kepada program umum dan menu yang ada di dalam ruang lingkup masalah kesehatan jiwa, meliputi penyusunan standar pelayan teknis bidang kesehatan jiwa masyarakat. Tim Pengarah Kesehatan Jiwa Masyarakat melaksanakan program khusus dengan mengacu kepada program umum dan menu yang ada di dalam ruang lingkup masalah kesehatan jiwa, serta standar pelayan teknis yang disusun oleh Tim Pembina Kesehatan Jiwa Masyarakat meli puti penyusunan standar pelayanan minimal bidang kesehatan jiwa masyarakat. Tim Pelaksana Kesehatan Jiwa Masyarakat melaksanakan program khusus dengan mengacu kepada program umum dan menu yang ada di dalam ruang lingkup masalah kesehatan jiwa, meliputi pe laksanaan standar pelayanan minimal bidang kesehatan jiwa masyarakat. VII. MEKANISME DAN TATA LAKSANA A. MEKANISME

y y y y y y y y y

1. Menteri Kesehatan membentuk Tim Pembina Kesehatan Jiwa Masyarakat (TP-KJM) melalui Keputusan Menteri Kesehatan. 2. Gubernur membentuk Tim Pengarah Kesehatan Jiwa Masyarakat (TP-KJM) melalui Keputusan Gubernur. 3. Bupati / Walikota membentuk Tim Pelaksana Kesehatan Jiwa Masyarakat (TP KJM) melalui Keputusan Bupati / Walikota.
33

y y y y

4. Tim Pembina, Tim Pengarah dan Tim Pelaksana Keseha tan Jiwa Masyarakat melaksanakan forum koordinasi, komunikasi dan hubungan kerja. 5. Tim Pembina, Tim Pengarah dan Tim Pelaksana Kesehatan Jiwa Masyarakat bersama-sama menyusun rencana dan melaksanakan kegiatan yang berskala nasional.
B. TATA LAKSANA KEGIATAN 1. Menteri Kesehatan, Gubernur, Bupati / Walikota adalah penanggung jawab umum penyelenggara koordinasi di bidang pembinaan kesehatan jiwa masyarakat di masing-masing tingkat administrasi pemerintahan. 2. Gubernur selaku Ketua Tim Pengarah Keseha tan Jiwa Masyarakat di Provinsi bertanggung jawab dan berkewajiban melaporkan pelaksanaan kegiatan dimaksud kepada Menteri Kesehatan dengan tembusan kepada Menteri Dalam Negeri. 3. Bupati / Walikota selaku Ketua Tim Pelaksana Kesehatan Jiwa Masyarakat di Kabupaten / Kota bertanggung jawab dan berkewajiban melaporkan pelaksanaan kegiatan dimaksud kepada Menteri Kesehatan dengan tembusan kepada Gubernur dan Menteri Dalam Negeri. 4. Hubungan kerja Tim Pembina, Tim Pengarah Kesehatan Jiwa Masyarakat Provinsi dan Tim Pelaksana Kesehatan Jiwa Masyarakat Kabupaten / Kota bersifat konsultatif dan fungsional. C. LANGKAH-LANGKAH PELAKSANAAN TIM PEMBINA, TIM PENGARAH DAN TIM PELAKSANA KESEHATAN JIWA MASYARAKAT 1. RAPAT PERIODIK a. RAPAT KERJA TAHUNAN (RAKER) 1) Raker diadakan 1 kali setahun untuk menentukan program kerja tahun yang akan datang. 2) Dalam Rapat Kerja ini : a) Dilaksanakan evaluasi pelaksanaan program yang telah dijalank an tahun yang lalu. b) Masing-masing sektor mengajukan masalah kesehatan jiwa masyarakat yang dijumpai, baik di Provinsi maupun di Kabupaten / Kota. 34

y y y

y y y y y y y y y y

y y y y y y y y

c) Pelaksanaan Perencanaan Program yang akan dilaksanakan tahun yang akan datang : (1) Menentuan Prioritas Masalah (2) Menentukan Kegiatan yang akan dilaksanakan masing -masing sektor (3) Menentukan koordinasi kegiatan masing -masing sektor 3) Dalam Rapat Kerja tahunan juga dievaluasi pelaksanaan program yang sedang dijalankan. 4) Rapat Kerja memutus kan masalah kesehatan jiwa masyarakat yang akan diberi prioritas pemecahannya pada tahun yang akan datang, dan masing masing sektor serta masyarakat menjabarkannya pada kegiatan yang akan dilaksanakan pada tahun yang akan datang.
b. RAPAT TIM Diadakan secara berkala minimum 3 bulan sekali dihadiri oleh anggota secara lengkap untuk membahas kegiatan tahun berjalan. c. RAPAT KELOMPOK KERJA (POKJA)

y y y y y y

y y y y y

Kelompok kerja ditetapkan oleh rapat pleno, tugasnya yaitu mengadakan pertemuan berkala minimum 1 bulan 1 kali untuk melaksanakan hal-hal yang telah ditetapkan dalam rapat pleno serta menyiapkan bahan -bahan untuk rapat pleno yang akan datang. d. KELOMPOK KERJA KHUSUS Kelompok kerja ini dibentuk bila diperlukan untuk menyelesaikan hal -hal yang bersifat terbatas (menyusun rencana / pelaksanaan kegiatan tertentu). 2. DOKUMENTASI KEGIATAN Setiap pertemuan / rapat yang telah dijalankan oleh Tim Pembina, Tim Pengarah dan Tim Pelaksana Kesehatan Jiwa Masyarakat hendaknya di dokumentasikan (dibuat risalah) secara rapi dan teratur (disimpan dalam berkas). Segala keputusan / langkah yang diambil diketahui oleh semua anggota dengan pertinggal pada ketua / sekretaris.
35

y y

y y y

y y y y y

3. MATERI RAPAT Materi Rapat adalah berbagai masalah kesehatan jiwa yang berada dalam masyarakat pada dewasa ini dan diduga mungkin akan terjadi di masa mendatang. Oleh karena itu melalui berbagai sektor serta berbagai disiplin ilmu, hendaknya diadakan saling tukar informasi, saling berkonsultasi dan saling memberikan bantuan serta kemudahan (fasilitas) untuk dapat diambil langkah -langkah, antara lain : a) Melakukan identifikasi masalah kesehatan jiwa yang ada dalam masyarakat, baik yang ada maupun yang akan timbul di masa mendatang. b) Membahas permasalahan dan pemecahannya yang mungkin dapat dilaksanakan secara efektif dan efisien. c) Menyusun langkah kegiatan intervensi antara lain Komunikasi Informasi dan Edukasi,

KEPUTUSAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA


NOMOR : 220 / MENKES / SK / III / 2002 y TENTANG y PEDOMAN UMUM TIM PEMBINA, TIM PENGARAH, TIM PELAKSANA y KESEHATAN JIWA MASYARAKAT ( TP KJM ) y MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa upaya pencegahan dan penanggulanga n gangguan kesehatan jiwa sangat penting, mengingat dari data SKRT 1995 diperkirakan satu dari empat penduduk Indonesia menderita kelainan jiwa dari rasa cemas, depresi, stress, penyalahgunaan obat, kenakalan remaja sampai skizofrenia; b. bahwa dalam kebijakan kesehatan jiwa masyarakat terdapat 4 (empat) perubahan yaitu dari berbasis rumah sakit menjadi berbasis masyarakat, dapat ditangani di semua pelayanan kesehatan yang ada, dahulu rawat inap sekarang mengandalkan pelayanan rawat jalan dan dahulu pender ita gangguan jiwa perlu disantuni sekarang dapat diberdayakan;
y

y y

c. bahwa Buku Pedoman Kerja Badan Pembina Kesehatan Jiwa Masyarakat, dipandang perlu untuk disempurnakan / direvisi dan disesuaikan dengan situasi dan kondisi yang ada saat ini; d. bahwa sehubungan dengan huruf a, b dan c di atas perlu ditetapkan Keputusan Menteri Kesehatan tentang Pedoman Umum Tim Pembina, Tim Pengarah, Tim Pelaksana Kesehatan Jiwa Masyarakat (TP -KJM); Mengingat : 1. Undang -undang Nomor 6 Tahun 1974 tentang Ket entuanketentuan Pokok Mengenai Kesejahteraan Sosial (Lembaran Negara Tahun 1974 Nomor 53, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3039); 2. Undang-undang Nomor 2 Tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Lembaran Negara Tahun 1989 Nomor 6, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3390);
2

y y

y y

y y y y y y y y y y y y

3. Undang-undang Nomor 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan (Lembaran Negara Tahun 1992 Nomor 100, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3495); 4. Undang-undang Nomor 4 Tahun 1997 tentang Penyandang Cacat (Lembaran Negara Tahun 1997 Nomor 9, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3670); 5. Undang-undang Nomor 5 Tahun 1997 tentang Psikotropika (Lembaran Negara Tahun 1997 Nomor 10, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3671); 6. Undang-undang Nomor 22 Tahun 1997 tentang Narkotika (Lembaran Negara Tahun 1997 Nomor 67, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3698); 7. Undang-undang Nomor 25 Tahun 1997 tentang Ketenagakerjaan (Lembaran Negara Tahun 1997 Nomor 73, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3702); 8. Undang-undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Tahun 1999 Nomor 60, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3839); 9. Undang-undang Nomor 25 Tahun 1999 tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah (Lembaran Negara Tahun 1999 Nomor 72, Tambahan Lembaran Negara No mor 3848); 10. Peraturan Pemerintah Nomor 31 Tahun 1980 tentang Penanggulangan Gelandangan Pengemis (Lembaran Negara Tahun 1980 Nomor 51, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3177); 11. Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 2000 tentang Kewenangan Pemerintah dan Kewenangan Propinsi Sebagai Daerah Otonom (Lembaran Negara Tahun 2000 Nomor 54, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3952);
3

y y

y y

y y

y y y y

12. Peraturan Pemerintah Nomor 84 Tahun 2000 tentang Pedoman Organisasi Perangkat Daerah (Lembaran Negara Tahun 2000 Nomor 165); 13. Peraturan Pemerintah Nomor 39 Tahun 2001 tentang Penyelenggaraan Dekosentrasi (Lembaran Negara Tahun 2001 Nomor 62, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4095); 14. Peraturan Pemerintah Nomor 52 Tahun 2001 tentang Penyelenggaraan Tugas Pembantuan (Lembaran Negara Tahun 2001 Nomor 77, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4106); 15. Peraturan Pemerintah Nomor 106 Tahun 2001 tentang Pengelolaan dan Pertanggungjawaban Keuangan dalam Pelaksanaan Dekosentrasi dan Tugas Pembantuan (Lembaran Negara Tahun 2001 Nomor 203 , Tambahan Lembaran Negara Nomor 4023); 16. Keputusan Presiden Nomor 102 Tahun 2001 tentang Kedudukan, Tugas, Fungsi, Susunan Organisasi dan Tata Kerja Departemen; 17. Keputusan Presiden Nomor 109 Tahun 2001 tentang Unit Organisasi dan Tugas Eselon I Departemen; 18. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1993/Kdj/U/1970 tentang Perawatan Penderita Penyakit Jiwa; 19. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 547/Menkes/ SK/IV/2000 tentang Kebijakan Pembangunan Kesehatan Menuj u Indonesia Sehat 2010; 20. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1277/Menkes/ SK/XI/2001 tentang Organisasi dan Tata Kerja Departemen Kesehatan Republik Indonesia; 21. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1346/Menkes/SK/XII/2001 tentang Rencana Strategis Pembangunan Kesehatan 2001-2004;
4

y y

y y

y y y y y y y y

y y

y y

y y

y y y y y y

Memperhatikan : Surat Edaran Menteri Dalam Negeri RI Nomor 440.05/1908/ PUOD tanggal 17 Mei 1980 tentang Pembentukan Team/Badan Pembina Kesehatan Jiwa Masyarakat di Daerah. y MEMUTUSKAN: Menetapkan : Pertama : KEPUTUSAN MENTERI KESEHATAN TENTANG PEDOMAN UMUM TIM PEMBINA, TIM PENGARAH, TIM PELAKSANA KESEHATAN JIWA MASYARAKAT (TP-KJM). Kedua : Pedoman Umum Tim Pembina, Tim Pengarah, Tim Pelaksana Kesehatan Jiwa Masyarakat (TP-KJM) sebagaimana dimaksud Diktum Pertama tercantum dalam Lampiran Keputusan ini. Ketiga : Pedoman sebagaimana dimaksud Diktum Kedua merupakan acuan dalam penerapan standar pelayanan minimal masalah kesehatan jiwa masyarakat di Daerah sesuai dengan situasi dan kondisi masing -masing. Keempat : Keputusan ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan. Ditetapkan di Jakarta pada tanggal 25 Maret 2002 MENTERI KESEHATAN, ttd Dr. ACHMAD SUJUDI 5

y y y y

y y y y

Lampiran Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor : 220/MENKES/SK/III/2002 Tanggal : 25 Maret 2002_________ y PEDOMAN UMUM TIM PEMBINA, TIM PENGARAH, TIM PELAKSANA y KESEHATAN JIWA MASYARAKAT ( TP KJM ) I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang

Pengertian kesehatan diberikan / dijalankan oleh WHO sejak tahun 1947. Di Indonesia pengertian tentang kesehatan tersebut diadopsi tahun 1960 oleh Undang-undang Nomor 9 Tahun 1960 tentang Kesehatan, yang kemudian diperbaiki lagi oleh Undang-undang Nomor 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan. Pengertian kesehatan disini sudah lebih diarahkan untuk hidup lebih produktif, sebagaimana yang tertuang dalam Pasal 1 Ayat 1 Undang -undang Nomor 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan, yang menyebutkan : Kesehatan adalah keadaan sejahtera dari badan, jiwa dan sosial yang memungkinkan setiap orang hidup produktif secara sosial dan ekonomis. Atas dasar definisi Kesehatan tersebut diatas, maka manusia selalu dilihat sebagai satu kesatuan yang utuh (holistik) dari unsur badan (organobiologi), jiwa (psiko-edukatif), sosial (sosio-kultural), yang tidak dititik beratkan pada penyakit tetapi pada kualitas hidup yang terdiri dari kesejahteraan dan produktifitas sosial ekonomi. Kesehatan jiwa mempunyai sifat yang harmonis (serasi), memperhatikan semua segi kehidupan manusia dalam hubungannya dengan manusia lain. Oleh karena itu, kesehatan jiwa mempunyai kedudukan yang penting di dalam pemahaman kesehatan, sehingga tidak mungkin kita berbicara tentang kese hatan tanpa melibatkan kesehatan jiwa. Seseorang yang sehat jasmani dan rohaninya, sedikit banyak akan menyebabkan bertambahnya usia harapan hidup orang tersebut. Keberhasilan Pembangunan Jangka Panjang I, dalam upaya menurunkan angka kematian umum, angka kematian bayi dan angka kelahiran, telah meningkatkan umur harapan hidup waktu lahir. Pada tahun 1980, umur harapan waktu lahir sekitar 50 tahun; telah meningkat menjadi 57,9 tahun pada pria dan 61,5 tahun pada wanita pada tahun 1990. Angka ini diperkirak an akan meningkat menjadi 65 70 tahun pada tahun 2000. Namun bila berbicara soal data, jumlah penderita masalah kesehatan jiwa memang mengkhawatirkan. Secara global dari sekitar 6

450 juta orang yang mengalami gangguan mental, sekitar 1 juta diantaranya meninggal karena bunuh diri setiap tahunnya. Angka ini lumayan kecil bila dibandingkan dengan upaya bunuh diri dari para penderita masalah kejiwaan yang mencapai 20 juta orang/tahun. Kesehatan jiwa penting dilihat dari dampak yang ditimbulkannya, antara lain terdapatnya angka yang besar dari penderita gangguan kejiwaan yang diikuti pula dengan beban sosial ekonomi yang luas. Jadi tersirat disini bahwa Kesehatan Jiwa adalah bagian yang tidak terpisahkan (integral) dari Kesehatan dan unsur utama dalam menunjang terwujudnya kualitas hidup manusia yang utuh. Dalam Undang -undang Nomor 23 tahun 1992 tentang Kesehatan, pada pasal 24 disebutkan bahwa Upaya Kesehatan Jiwa diselenggarakan untuk mewujudkan jiwa yang sehat secara optimal, baik intelektual maupun emosional. Studi Bank Dunia ( World Bank ) pada tahun 1995 di beberapa negara, menunjukkan bahwa hari-hari produktif yang hilang atau Dissability Adjusted Life Years ( DALYs) sebesar 8,1% dari Global Burden of Disease disebabkan oleh masalah kesehatan jiwa , angka ini lebih tinggi dari pada dampak yang disebabkan oleh penyakit Tuberculosis (7,2%), Kanker (5,8%), Penyakit Jantung (4,4%) maupun Malaria (2,6%). Tingginya masalah tersebut menunjukkan bahwa masalah kesehatan jiwa merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat yang besar dibandingkan dengan masalah kesehatan lainnya yang ada di masyarakat. Masalah kesehatan jiwa mempunyai lingkup yang sangat luas dan kompleks serta saling berhubungan satu dengan lainnya. Apabila kita mengangkat data hasil Survey Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) yang dilakukan Badan Litbang Departemen Kesehatan pada tahun 1995, yang antara lain menunjukkan bahwa gangguan mental Remaja dan Dewasa te rdapat 140 per 1000 anggota rumah tangga, gangguan mental Anak Usia Sekolah terdapat 104 per 1000 anggota rumah tangga. Dalam kurun waktu 6 (enam) tahun terakhir ini, data tersebut dapat dipastikan meningkat karena krisis ekonomi dan gejolak -gejolak lainnya di seluruh daerah, bahkan masalah dunia internasionalpun akan ikut memicu terjadinya peningkatan dimaksud. Menghadapi hal seperti ini tentu tidak semata mata menjadi tanggungjawab Pemerintah tetapi sangat diperlukan adanya partisipasi aktif dari semua pi hak dan lapisan masyarakat. Dalam penyelenggaraan Pemerintah Daerah sebagaimana diatur dalam Undang undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah dan Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 2000 tentang Kewenangan Pemerintah dan Kewenangan Provinsi sebagai Daerah Otonom, 7

y y y

y y

khususnya Pasal 2 ayat (3) angka 10, Pasal 3 ayat (2) dan ayat (5) angka 9, telah di gariskan bahwa Pemerintah, Provinsi dan Kabupaten/Kota masing masing mempunyai kewenangan dalam menangani masalah kesehatan. Sekalipun demikian masyarakat baik secara individu maupun kelompok, juga harus aktif mulai dari pencegahan sampai dengan penanggulangannya. Dalam Otonomi Daerah, masalah kesehatan jiwa ikut mewarnai penyelenggaraan pemerintahan daerah. Pada pemahaman ini bukanlah dimaksudkan dengan otonomi luas, masyarakat dapat sebebas -bebasnya melakukan sesuatu tanpa batas, dan bukan berarti pula otonomi luas diciptakan untuk membuat makin banyak masyarakat yang kesehatan jiwanya terganggu. Tetapi justru sebaliknya, dengan otonomi luas dihar apkan masyarakat akan ikut secara aktif dalam kegiatan pembangunan, termasuk pembangunan kesehatan. Dalam upaya menangani masalah kesehatan jiwa, hampir seluruh Provinsi di Indonesia telah dibangun rumah sakit jiwa, namun kecenderungan penderita dengan gangguan jiwa ternyata terus meningkat. Ini menunjukkan bahwa tuntasnya penanganan kesehatan jiwa tidak hanya ditandai dengan banyaknya rumah sakit tetapi masih ada faktor lainnya yang ikut mempengaruhi. Tinjauan terhadap 10 rekomendasi dari WHO dan kenyata annya di Indonesia : 1. Pelayanan Kesehatan Jiwa di Pelayanan Kesehatan Dasar Pelayanan Kesehatan Jiwa di Pelayanan Kesehatan Dasar telah dilakukan melalui Puskesmas dan Rumah Sakit Umum, sampai dengan tahun 1990 dilaksanakan melalui kegiatan Integrasi D okter Spesialis Kedokteran Jiwa ke Puskesmas di beberapa Provinsi, setelah tahun 1990 sampai dengan saat ini, pelayanan kesehatan jiwa dilaksanakan melalui Dokter Puskesmas dan Perawat yang telah dilatih tentang bagaimana cara melakukan anamnesis dan pemeriksaan pasien. 2. Ketersediaan obat Psikotropik di berbagai Tingkat Pelayanan Di berbagai tingkat pelayanan telah tersedia berbagai jenis obat psikotropik yang tercantum dalam Daftar Obat Esensial Nasional yang telah dilaksanakan sejak lebih dari 10 tahun yang lalu. Penyusunan Daftar Obat Esensial Nasional telah dilakukan dengan memasukkan golongan obat Psikotropik termasuk beberapa golongan generasi baru yang lebih efektif serta sedikit efek samping untuk Puskesmas dan RSU.
8

y y y

y y

y y

y y

y y

3. Tersedianya Perawatan Kesehatan Jiwa di Masyarakat Dokter dan Perawat Puskesmas telah mendapat bekal tentang kesehatan jiwa, yaitu pengenalan, manajemen dan rujukan. Sebelum era desentralisasi, biaya perawatan penderita gangguan jiwa dianggarkan pada Departemen Kesehatan melalui Rumah Sakit Jiwa, sedangkan pada era Otonomi Daerah, kemampuan advokasi para profesional kesehatan jiwa kepada pemegang keputusan daerah sangat menentukan. 4. Pendidikan kepada Masyarakat Pendidikan masyarakat dalam rangka meningkatkan kesadaran terha dap kesehatan jiwa telah dilaksanakan melalui upaya pengembangan media promosi untuk petugas penyuluhan dan bekerjasama dengan program/sektor, organisasi profesi dan orgasisasi kemasyarakatan dalam bentuk kegiatan. 5. Keterlibatan peran serta masyarakat, keluarga dan consumer Setiap orang sebaiknya mendapatkan pelayanan sesuai dengan kebutuhannya, karena itu peran serta masyarakat dan keluarga sangat besar serta kerjasama lintas program dan lintas sektor perlu di tingkatkan. Dalam hal ini advokasi dari pemerintah kepada wakil rakyat perlu digiatkan, agar masyarakat di daerah ikut terperhatikan kesehatan jiwanya. 6. Menetapkan Kebijakan Nasional, program dan Peraturan Perundang undangan Kebijakan Nasional tentang Kesehatan Jiwa sudah ada sejak tahun 2000, namun Kebijakan Nasional tentang Kesehatan Jiwa Masyarakat dan Program -program Kesehatan Jiwa Masyarakat sedang dikembangkan. 7. Pengembangan Sumber Daya Manusia Jumlah tenaga Psikiater sangat terbatas, di beberapa Provinsi hanya ditemukan satu sampai dua Psikiater. Upaya yang ditempuh untuk mengatasi hal ini yaitu meningkatkan kemampuan dokter umum dan perawat di pelayanan kesehatan dasar untuk dapat menangani kesehatan jiwa. Dengan desentralisasi, daerah dapat mengembangkan kemampuan sumber daya manusia yang ada menjadi tenaga spesialis di bidang kesehatan jiwa, termasuk tenaga medis maupun non medis seperti Psikiater, Psikolog klinis, perawat psikiatri, pekerja sosial psikiat ri okupasi terapi, dll, sehingga mereka dapat bekerja sama dalam satu tim.
9

y y y

y y y

y y y y

8. Jaringan antar sektor Kesehatan jiwa tidak dapat ditangani oleh profesi kesehatan jiwa saja tetapi perlu bekerja sama dengan sektor lain seperti pendidikan, tenaga kerja, s osial, hukum, dll. Departemen Pendidikan Nasional telah membantu mendidik siswa berdaya tahan mental kuat melalui latihan Life Skill Education, membantu menyelesaikan kebutuhan pendidikan bagi mereka yang mengalami tekanan jiwa. 9. Pemantauan kesehatan j iwa di masyarakat Untuk memantau kesehatan jiwa di masyarakat diperlukan indikator, sistem pencatatan dan pelaporan yang memadai, mudah di akses dan dapat di analisa. Sistem ini masih perlu dibangun, budaya mendokumentasikan kegiatan perlu terus ditingkatkan, demikian juga kecepatan dalam menganalisa sebuah isu kesehatn jiwa secara terarah, dengan tetap memelihara ketenanganan masyarakat. 10. Dukungan terhadap penelitian -penelitian Penelitian atau riset di bidang biologik dan psikososial kesehatan jiwa telah dikembangkan oleh fasilitas pendidikan kedokteran jiwa atau Badan Litbangkes. Dari pembahasan diatas terlihat bahwa masalah kesehatan jiwa di masyarakat adalah sangat luas dan kompleks, bukan hanya meliputi yang jelas sudah terganggu jiwanya, tetap i juga berbagai problem psikososial, bahkan berkaitan dengan kualitas hidup dan keharmonisan hidup. Masalah ini tidak dapat dan tidak mungkin diatasi oleh pihak kesehatan jiwa saja, tetapi membutuhkan suatu kerjasama yang luas secara lintas sektor, yang me libatkan berbagai departemen, termasuk peran serta masyarakat dan kemitraan swasta, terlebih lagi dengan kondisi masyarakat kita yang saat ini sedang dilanda berbagai macam krisis, maka tindakan pencegahan secara lintas sektor perlu dilakukan secara terpad u dan berkesinambungan, agar masalah tersebut tidak memberikan dampak yang mendalam terhadap taraf kesehatan jiwa masyarakat. 10

y y y y

y y y y y y y y y y y y y y y y y

Mengingat makin kompleksnya serta makin meningkatnya masalah kesehatan jiwa di masyarakat, maka diperlukan pendekatan dan peme cahan masalah dengan persiapan dan langkah -langkah yang tepat. Pendekatan yang bersifat multidisipliner dengan pelaksanaan yang bersifat lintas sektor, melalui perkembangan upaya kesehatan jiwa di Indonesia khususnya sejak diterapkannya ilmu kedokteran j iwa modern dan sejak diberlakukannya Undang -undang Nomor 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan, akhirnya melahirkan TP -KJM ( TIM PEMBINA, TIM PENGARAH, TIM PELAKSANA KESEHATAN JIWA MASYARAKAT). Untuk mengetahui bagaimana terbentuknya TP -KJM itu, apa maksud dan tujuannya, apa yang menjadi landasan kerjanya, apa yang dipermasalahkannya, bagaimana administrasi, organisasi serta mekanisme kerjanya, maka disusunlah Pedoman Umum TIM PEMBINA, TIM PENGARAH, TIM PELAKSANA KESEHATAN JIWA MASYARAKAT ( TP-KJM ), untuk dapat dipakai oleh berbagai pihak yang berkepentingan, guna melaksanakan program kerjasama dalam pembinaan kesehatan masyarakat di Indonesia dengan lebih mudah dan baik. B. DASAR HUKUM 1. Undang-undang Nomor 6 Tahun 1974 tentang Ketentuan -ketentuan Pokok Mengenai Kesejahteraan Sosial . 2. Undang-undang Nomor 2 Tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional . 3. Undang-undang Nomor 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan . 4. Undang-undang Nomor 4 Tahun 1997 tentang Penyandang Cacat . 5. Undang-undang Nomor 5 Tahun 1997 tentang Psikotropika . 6. Undang-undang Nomor 22 Tahun 1997 tentang Narkotika . 7. Undang-undang Nomor 25 Tahun 1997 tentang Ketenagakerjaan . 8. Undang-undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah. 9. Undang-undang Nomor 25 Tahun 1999 tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah . 10. Peraturan Pemerintah Nomor 31 Tahun 1980 tentang Penanggulangan Gelandangan Pengemis . 11. Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 2000 tentang Kew enangan Pemerintah dan Kewenangan Propinsi Sebagai Daerah Otonom . 12. Peraturan Pemerintah Nomor 84 Tahun 2000 tentang Pedoman Organisasi Perangkat Daerah . 13. Peraturan Pemerintah Nomor 39 Tahun 2001 tentang Penyelenggaraan Dekosentrasi . 14. Peraturan Pemerintah Nomor 52 Tahun 2001 tentang Penyelenggaraan Tugas Pembantuan .
11

y y

y y y y

15. Peraturan Pemerintah Nomor 106 Tahun 2001 tentang Pengelolaan dan Pertanggungjawaban Keuangan dalam Pelaksanaan Dekosentrasi dan Tugas Pembantuan . 16. Keputusan Presiden Nomor 102 Tahun 2001 tentang Kedudukan, Tugas, Fungsi, Susunan Organisasi dan Tata Kerja Departemen. 17. Keputusan Presiden Nomor 109 Tahun 2001 tentang Unit Organisasi dan Tugas Eselon I Departemen. 18. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1993/Kdj/ U/1970 tentang Perawatan Penderita Penyakit Jiwa. 19. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 547/ Menkes/SK/IV/2000 tentang Kebijakan Pembangunan Kesehatan Menuju Indonesia Sehat 2010. 20. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1277/ Menkes/SK/XI/2001 tentang Organisasi dan Tata Kerja Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 21. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1346/Menkes/SK/XII/2001 tentang Rencana Strategis Pembangunan Kesehatan 2001-2004.
II. PENGERTIAN DAN RUANG LINGKUP A. Pengertian 1. Tim Pembina, Tim Pengarah, Tim Pelaksana Kesehatan Jiwa Masyarakat (TP-KJM) a. Tim Pembina Kesehatan Jiwa Masyarakat tingkat Pusat : adalah merupakan Tim yang membina program -program kesehatan jiwa masyarakat yang keanggotaannya terdiri dari unsur antar Departemen dan penyelenggaraan kegiatannya dibawah koordinasi Menteri Kesehatan RI. Fungsi sehari-hari kegiatan koordinasi tersebut di selenggarakan oleh Direktur Jenderal Bina Kesehatan Masyarakat Departemen Kesehatan dan pelaksana hariannya yaitu Direktur Kesehatan Jiwa Masyarakat Ditjen Bina Kesehatan Masyarakat Departemen Kesehatan. b. Tim Pengarah Kesehatan Jiwa Masyarakat tingkat P rovinsi : adalah merupakan Tim yang memberikan pengarahan bagi pelaksanaan program-program kesehatan jiwa masyarakat di Provinsi dan Kabupaten / Kota, yang keanggotaannya terdiri dari beberapa perangkat daerah yang terkait, Kepala Kepolisian Daerah dan Di rektur Rumah Sakit Jiwa Pusat / Provinsi di wilayahnya, yang pelaksanaannya dibawah koordinasi Sekretaris Daerah Provinsi. Pelaksanaan sehari -hari berada dibawah koordinasi Kepala Dinas yang membidangi Kesehatan. 12

y y y y y y y y

y y

y y

y y y

y y y y y y y y y y

c. Tim Pelaksana Kesehatan Jiwa Masyara kat tingkat Kabupaten/Kota : adalah merupakan Tim yang melaksanakan program -program kesehatan jiwa masyarakat di Kabupaten/Kota, yang keanggotaannya terdiri dari beberapa perangkat daerah yang terkait, Kepala Kepolisian Resort dan Direktur Rumah Sakit Jiwa di wilayahnya, yang pelaksanaannya dibawah koordinasi Sekretaris Daerah Kabupaten / Kota. Pelaksanaan sehari -hari berada dibawah koordinasi Kepala Dinas yang membidangi Kesehatan. 2. Beberapa Istilah Dalam Bidang Kesehatan Jiwa a. Kesehatan Jiwa ( Mental Health ) adalah suatu kondisi mental yang sejahtera yang memungkinkan hidup harmonis dan produktif sebagai bagian yang utuh dari kualitas hidup seseorang, dengan memperhatikan semua segi kehidupaan manusia. Seseorang yang sehat jiwa mempunyai ciri-ciri sebagai berikut : 1. Menyadari sepenuhnya kemampuan dirinya 2. Mampu menghadapi stress kehidupan yang wajar 3. Mampu bekerja secara produktif dan memenuhi kebutuhan hidupnya 4. Dapat berperan serta dalam lingkungan hidup 5. Menerima baik dengan apa yang ada pada dirinya 6. Merasa nyaman bersama dengan orang lain b. Gangguan Jiwa ( Mental Disorder ) adalah suatu perubahan pada fungsi jiwa yang menyebabkan adanya gangguan pada fungsi jiwa, yang menimbulkan penderitaan pada individu dan atau hambatan dalam melaksanakan peran sosialnya. c. Kesehatan Jiwa Masyarakat ( Community Mental Health ) Konsep Kesehatan Jiwa Masyarakat merupakan suatu orientasi kesehatan jiwa yang mencakup semua kegiatan kesehatan jiwa yang dilaksanakan di masyarakat dengan menitik beratkan pada upaya promotif dan preventif tanpa melupakan upaya kuratif dan rehabilitatif . 3. Beberapa Karakteristik / Prinsip Kesehatan Jiwa Masyarakat :

y y

y y y y y

a. Ditujukan terutama sekali kepada kelompok didalam masyarakat , walaupun fokus terhadap individupun tidak diabaikan b. Dititik beratkan pada promotif dan preventif
13

y y y

y y y

y y y

c. Diusahakan agar berbagai pelayanan lain turut serta dalam sistim pelayanan kesehatan jiwa d. Dititik beratkan kepada kerjasama lintas sektoral , khususnya mencakup kegiatan di sektor-sektor : pendidikan, kesejahteraan sosial, keagamaan, keluarga berencana, tenaga kerja, dan lain -lain. e. Menjalankan kegiatan Konseling dan yang bersifat Intervensi khususnya dalam kondisi krisis f. Mengusahakan peningkatan peran serta masyarakat g. Mengusahakan pendidikan dan latihan bagi para petugas dibidang pelayanan kemanusiaan seluas-luasnya, agar berorientasi terhadap prinsip kesehatan jiwa. h. Melaksanakan kerjasama yang seerat -eratnya dengan bidang Kesehatan Masyarakat i. Menjalankan kegiatan riset epidemiologi kesehatan jiwa j. Mengusahakan agar Pelayanan Kesehatan Jiwa tersebut dapat bersifat menyeluruh (komprehensif), yaitu meliputi seluruh usia atau life cycle manusia (dari anak dalam kandungan, balita, anak, remaja, dewasa, usia lanjut), berbagai jenis pelayanan (promotif / preventif, kuratif dan rehabilitatif) dan lain -lain.
4. Identifikasi Permasalahan Kesehatan Jiwa Masyarakat

y y y y

y y y

Urbanisasi, industrialisasi dan modernisasi sebagai hasil pembangunan dapat menimbulkan pengaruh sampingan berupa berbagai stres kehidupan yang intensif, baik bagi individu maupun kelompok. Stres kehidupan tersebut dapat menimbulkan berbagai proses, yang dapat dikelompokan sebagai berikut: a. Proses pertumbuhan kota yang cepat mengandung faktor -faktor yang menguntungkan maupun yang kurang menguntungkan bagi individu / kelompok b. Faktor-faktor yang menguntungkan maupun yang tidak, semuanya menimpa diri manusia dan manusia diharusk an mengolah semua faktor tersebut, disitulah tampak pentingnya faktor kepribadian ( personality) yang dimiliki oleh individu itu apakah ia berhasil menyelesaikan pengolahan itu dengan memadai. c. Faktor-faktor itu juga dapat menimpa keluarga dan masyar akat, akibatnya adalah terjadi pengelompokan baru dalam masyarakat yang sifatnya sangat majemuk (kompleks) dan didasari berbagai kepentingan ( interest ). Terjadi berbagai karakteristik pada lingkungan hidup dalam kota atau daerah yang berhasil membentuk konfigurasiatau corak baru dalam kehidupan, baik yang orientasinya bersifat material maupun nonmaterial. Beberapa stres kehidupan yang dimaksud, disebutkan dibawah ini: 14

y y

y y y y y

1. Stresor kehidupan pribadi

y y y y y y y y

Tekanan emosi berpengaruh | Pada sistem fisiologik, mengakibatkan timbulnya a.l. gangguan psikosomatik, cemas, depresi. Jumlahnya diperkirakan makin banyak. Bila hal ini berlangsung cukup lama, maka gangguan somatik yang sesungguhnya akan timbul. |Makin banyak dan sering terjadinya kecelakaan lalu lintas. Penyebab tersering adalah faktor manusia seperti kebosanan ( boredom), ansietas, frustasi, dll. |Makin meningkatnya kondisi-kondisi depresi dengan kecenderungan bunuh diri atau percobaan bunuh diri ( suicidal attempt). | Makin meluas terjadinya berbagai krisis pribadi yang berkaitan dengan perkawinan, melahirkan atau peristiwa meninggal dunia. |Makin berpengaruh kondisi suara dilingkungan hidup ( noise pollution)
2. Stress Sosio-Ekonomik

y y y y y y y

| Status dalam masyarakat sangat sering diukur atas standar taraf kehidupan sosio-ekonomik, maka hal-hal seperti penghasilan ( income), pekerjaan yang menghasilkan (gainful-employment), rumah atau tempat tinggal yang memadai dan lain-lain ukuran fisik, merupakan indikator -indikator yang penting dalam penilaian pribadi (diri sendiri maupun orang lain). |Kemiskinan / kekurangan menjadi soal dan stressor sosial -ekonomik yang tidak dapat dihindarkan, umpamanya bilamana tidak atau kurang tersedianya pemenuhan dari kebutuhan yang dir asakan primer ( tidak / kurang tersedianya sekolah / pendidikan bagi dirinya maupun anak -anaknya, demikian pula rekreasi yang terjangkau ataupun kesempatan bekerja yang terlalu sempit, dsb ). | Penolakan langsung untuk memasuki kalangan yang diinginkan seperti lingkungan kerja, rekreasi, dll.
3. Kepadatan penduduk yang makin meninggi.

Menimbulkan dua jenis akibat yang walaupun ada inter -relasinya perlu diperhatikan secara agak terpisah. |Pengaruh Psiko-Sosial Dalam kelompok ini dapat dimasukkan reaksi-reaksi apathy, depresi, hilangnya/berkurangnya rasa kehalusan (sering orang berkata rasa ketimuran), alienasi, sikap dingin dan keras terhadap sesamanya hingga orang berubah menjadi lebih
15

y y y y y y

keras, kejam, jahat, promiskus dan cenderung lebih cepat terjerumus ke dalam penyalahgunaan alkohol, narkotika dan obat. |Pengaruh Fisik-Biologik Dalam kelompok ini dapat dimasukkan kondisi -kondisi seperti dekompensasi dari semua jenis pelayanan kepada masyarakat mulai dari higiene sanitasi, transportasi, pendidikan, dll. Dengan sendirinya maka situasi seperti itu akan merupakan kondisi subur bagi fenomena -fenomena seperti migrasi ke kota, meluasnya penyakit venerik, dll.
4. Perubahan Sosial Walaupun perubahan itu tidak senantiasa negatif (malahan dapat bersifat menunjang dan positif terhadap perkembangan -perkembangan lainnya), harus diambil sikap kewaspadaan setinggi -tingginya supaya jangan terjerumus dalam kondisi human distress dan tendensi kearah social disorganization Beberapa faktor yang perlu diperhatikan : | Kemajuan teknologi yang memungkinkan komunikasi sangat cepat ( instant information) tetapi di pihak lain juga mengakibatkan dorongan untuk memperoleh kepuasan segera atau pemuasan segera ( instant gratification atau satisfication), dan lain-lain. | Perubahan pola extended family kearah nuclear family dengan pengertian bahwa masing-masing pola keluarga itu memiliki stress tersendiri, demikian pula fase transisi dari satu pola ke pola yang lainnya. | Timbulnya golongan kaya baru (noveau riches), yang merupakan salah satu dari sekelompok pergeseran yang biasanya menimbulkan stress tertentu. | Tidak dimanfaatkannya mereka yang berusia lanjut, umpamanya karena pensiun, tiada penampungan yang memadai, dsb. Terutama bagi mereka dengan ekonomi yang sangat terbatas (marginal) atau rendah. Kemajuan taraf kesehatan umum masyarakat menyebabkan harapan hidup lebih lama, sudah menjadi kenyataan (life expectancy) sekarang sekitar 65-70 tahun, dahulu sebelum perang dunia II lebih rendah dari 40 tahun. 5. Urbanisasi Migrasi ke kota besar dapat menimbulkan masalah pada kesehatan jiwa, meliputi : 16

y y y

y y

y y

y y y

y y

y y y y y

| Timbulnya berbagai daerah peri -urban dan slum area yang biasanya ditempati oleh mereka yang miskin karena bermigrasi dari daerah peda laman dengan berbagai harapan yang tidak semuanya relistik. |Timbulnya individu avonturir / petualang yang bertendensi nekat dan individu individu yang berkepribadian sejenis. | Timbulnya kecenderungan untuk memanipulasi golongan individu yang berkekuatan ekonomi rendah
6. Pola Kehidupan Keluarga Disebabkan terjadinya berbagai proses perubahan sosial, maka timbul pula berbagai stress yang mempengaruhi pola kehidupan keluarga dan lembaga lembaga kehidupan sosial terkenal dalam masyarakat, seperti k eluarga, kepercayaan, keagamaan, dll. Beberapa yang perlu diperhatikan, diantaranya : |Timbulnya new groupings yang didasari oleh kepentingan bersama mengenai opportunisme, fanatisme dan kepentingan -kepentingan lain. | Memungkinkan untuk penyelewengan dan berbagai tradisi masyarakat yang baik kearah yang kurang baik, seperti gotong royong dapat bertendensi parasitisma dan malahan menjurus ke kemungkinan pemerasan ( black mail), dsb. | Berbagai kemungkinan perubahan sikap dan nilai mengenai perka winan, hubungan seksual, dan lain -lain. |Perubahan sikap karena popularitas konsep -konsep / praktek-praktek keluarga berencana |Perceraian / perpisahan ( separation) antara orang tua |Pengaruh dari berbagai kondisi fisik hidup seperti bangunan susun y ang tinggi (high rise flats) dalam hubungan dengan tindak kejahatan, pencurian, perampasan, pemerkosaan, dan lain -lain. 7. Nasib dan keamanan dari orang yang berusia lanjut Terjepitnya kedudukan para senior citizens karena : |Life expectancy naik / distribusi demografi berubah |Makin gugurnya pola keluarga dari extendedfamily ke nuclear family |Sistem pensiun yang ketat |Orang usia lanjut senantiasa kehilangan status |Orang usia lanjut selalu berpredisposisi kearah makin berkurang kekayaannya atau bahkan makin miskin karena penghasilan tidak tetap 17

y y y

y y y y

y y y y y y y y

y y y

y y y y y y y y y y y y

8. Situasi dari berbagai Lembaga Sosial dalam masyarakat Berbagai stress yang harus ditanggung dan ditampung olehg be rmacam-macam lembaga itu, langsung diakibatkan karena urbanisasi, industrialisasi dan tekanan modernisasi, diantaranya: | Pekerjaan: karena proses urbanisasi dll, maka dapat dibayangkan bahwa syarat-syarat dan kondisi untuk menduduki suatu jabatan makin d itingkatkan dan diperketat. Dipihak lain belum tentu hal itu secara otomatik akan membawa hasil pada perbaikan suatu lingkungan kerja, perbaikan hubungan kerja , kepuasan kerja dan jaminan kerja. |Mutu sekolah / lembaga pendidikan yang tidak secara reali stik membaik | Anak-anak dari keluarga besar (jumlah anaknya banyak ) cenderung untuk relatif nyata terlantar, karena jaminan sosial tidak mencukupi. | Lembaga kesetikawanan dalam masyarakat seperti Rukun Tetangga, Rukun Warga perlu diusahakan untuk diperkuat. 9. Perbedaan Sosial-Budaya Dalam kondisi tidak menguntungkan , maka perbedaan itu dapat menjadi sumber timbulnya stress tertentu, diantaranya: | Di daerah urban sering dijumpai fenomena , bahwa perbedaan sosial budaya ini cenderung dipertajam ( status jabatan, ekonomi, sosial dimasyarakat, dll). | Perbedaan yang terikat pada lokasi tempat tinggal bisa dijadikan salah satu masalah. |Perbedaan kepercayaan / keagamaan juga dapat merupakan masalah. B. RUANG LINGKUP 1. TIM PEMBINA / TIM PENGARAH / TIM PELAKSANA KESEHATAN JIWA MASYARAKAT (TP-KJM) DALAM MELAKSANAKAN TUGAS, WEWENANG DAN TANGGUNG JAWABNYA MENCAKUP: a. Wilayah kegiatan TP-KJM berada di Pusat, Provinsi dan Kabupaten / Kota termasuk masyarakat / penduduknya b. Kegiatan pembinaan / pengarahan / pelaksanaan TP -KJM pada setiap wilayah kerja disesuaikan dengan situasi dan kondisi yang ada pada masing -masing wilayah. 18

y y

y y

c. Kegiatan TP-KJM di Pusat, Provinsi dan Kabupaten / Kota berprinsip pada koordinatif, konsultatif, informatif, fasilitatif, pengawasan, pengendalian dan pengembangan sistem serta pemecahan masalah lintas sektor dan peran serta masyarakat.
2. MASALAH KESEHATAN JIWA Lingkup masalah kesehatan jiwa bersifat luas dan kompleks saling berhubungan dengan segala aspek kehidupan manusia. Mengacu pada Undang -undang Nomor 23 tahun 1992 tentang Kesehatan dan Ilmu Kedokteran Jiwa (Psychiatri) yang berkembang dengan pesat, secara garis besar masalah kesehatan jiwa digolongkan menjadi : a. Masalah perkembangan manusia yang harmonis dan peningkatan kualitas hidup yaitu masalah kejiwaan yang terkait dengan makna dan nilai -nilai kehidupan manusia, misalnya : 1) masalah kesehatan jiwa yang berkaitan dengan life cycle kehidupan manusia mulai dari persiapan pranikah, anak dalam kandungan, balita, anak, remaja, dewasa dan usia lanjut 2) dampak dari menderita penyakit menahun yang menimbulkan disabilitas 3) pemukiman yang sehat 4) pemindahan tempat tinggal b. Masalah Psiko-Sosial yaitu masalah psikis atau kejiwaan yang timbul sebagai akibat terjadinya perubahan sosial, misalnya : 1) psikotik gelandangan (seseorang yang berkeliaran ditempat umum dan diperkirakan menderita gangguan jiw a psikotik, dianggap mengganggu ketertiban / keamanan lingkungan) 2) pemasungan penderita gangguan jiwa 3) masalah anak jalanan 4) masalah anak remaja : tawuran, kenakalan 5) penyalahgunaan narkotika dan psikotropika 6) masalah seksual : penyimpangan seksual, pelecehan 7) tindak kekerasan sosial 8) stres pasca trauma 9) pengungsi / migrasi 10) masalah usia lanjut yang terisolir 19

y y y

y y y

y y y y y y

y y y y y y y y y y

y y y y y

11) masalah kesehatan kerja: kesehatan jiwa tempat kerja, penurunan produktifitas, stres ditempat kerja, dan lain -lain
c. Masalah Gangguan Jiwa yaitu suatu perubahan pada fungsi jiwa yang menyebabkan adanya gangguan pada fungsi jiwa, yang menimbulkan penderitaan pada individu dan atau hambatan dalam melaksanakan peran sosial. Jenis -jenis gangguan jiwa ini tercantum dalam Pedoman Penggolongan Diagnosis Gangguan Jiwa Edisi Ketiga (PPDGJ-III) tahun 1995 atau chapter F00-F99 dari International Classification of Diseases ( ICD-X) antara lain: 1) Gangguan Mental dan Perilaku akibat penggunaan zat psikoaktif (Narkotika, Psikotropika dan Zat adiktif lainnya) 2) Skizofrenia 3) Gangguan Afektif ( Depresi, Mania ) 4) Ansietas / kecemasan, Gangguan somatoform (psikosomatik ) 5) Gangguan Mental Organik ( Demensia/ Alzheimer, Delirium, Epilepsi, Pasca Stroke dan lain-lain ) 6) Gangguan Jiwa Anak dan Remaja ( Gangguan Perkembangan Belajar , Autisme, Gangguan Tingkah Laku , Hiperaktifitas, Gangguan Cemas dan Depresi ) 7) Retardasi Mental III. TUJUAN DAN SASARAN A. TUJUAN Meningkatkan kerjasama lintas sektor terkait, termas uk peran serta masyarakat dan kemitraan swasta, LSM, kelompok profesi dan organisasi masyarakat secara terpadu dan berkesinambungan, dalam rangka meningkatkan kesadaran, kemauan dan kemampuan masyarakat dalam menghadapi masalah kesehatan jiwa, sehingga akan terbentuk perilaku sehat sebagai individu, keluarga dan masyarakat yang memungkinkan setiap orang hidup lebih produktif secara sosial dan ekonomis. B. SASARAN

y y y y y y

y y y y y

y y y y

Untuk mencapai tujuan dimaksud, sasarannya dikelompokkan sebagai berikut : 1. Sasaran utama yaitu Tim Pembina Kesehatan Jiwa Masyarakat (TP -KJM) di Pusat, Tim Pengarah Kesehatan Jiwa Masyarakat (TP -KJM) di Provinsi dan Tim Pelaksana Kesehatan Jiwa Masyarakat (TP -KJM) di Kabupaten / Kota. 2. Sasaran antara , dikelompokkan dalam :
20

y y y

y y y y y y y y y y

a. Pengambil keputusan (sektoral dan non sektoral) di tingkat Pusat, Provinsi, Kabupaten / Kota b. Tokoh Masyarakat (TOMA) di tingkat Pusat, Provinsi, Kabupaten / Kota. c. Tokoh Agama (TOGA) di tingkat Pusat, Provinsi, Kabupaten / Kota
IV. KEBIJAKAN A. KEBIJAKAN

DAN STRATEGI

1. Kebijakan dalam upaya mewujudkan kesehatan jiwa masyarakat berdasarkan prinsip partisipatif dengan ruang lingkup Primary Prevention (Health Education & Specific Protection) dan memperhatikan siklus kehidupan (Life Cycle) dan tatanan masyarakat (Social-Cultural Setting). 2. Sejalan dengan kebijakan desentralisasi perlu adanya advokasi terhadap Provinsi dan Kabupaten/Kota dalam menyusun kebijakan dan program kesehatan jiwa di Provinsi dan Kabupaten / Kota. Untuk keperluan ini harus mengacu pada Kebijakan Kesehatan Jiwa Nasional sebagai subsistem Kebijakan Kesehatan Nasional (Indonesia Sehat 2010) dan Kebijakan Desentralisasi Pemerintahan. 3. Pemerintah Daerah Provinsi dan Kabupaten/Kota harus disensitisasi dan ditingkatkan perannya dalam menghadapi masalah kesehatan jiwa masyarakat dan mengurangi dampaknya terhadap kesejahteraan masyarakat. Khususnya dalam pembentukan TP-KJM sebagai salah satu lembaga perangkat daerah dalam upaya Pengarahan dan Pelaksanaan Upaya Kesehatan Jiwa Masyarakat. 4. Upaya kesehatan jiwa masyarakat dilaksanakan secara konseptual dan melalui pendekatan multidisipliner dengan kerjasama lintas sektoral yang mengacu pada peningkatan kualitas sumber daya manusia dengan wadah koordinatif TP-KJM. 5. Pengembangan dan pendayagunaan sarana dan prasarana pelayanan kesehatan jiwa masyarakat yang komprehensif bagi pemenuhan kebutuhan penanggulangan masalah yang menjadi prioritas. 6. Program Peningkatan Partisipasi Masyarakat dan Kemitraan Sw asta diarahkan untuk memberdayakan LSM atau Organisasi Swasta agar mampu mendorong kemandirian masyarakat untuk
21

y y

y y

y y

y y

y y

mencapai jiwa yang sehat, khususnya dalam hal membantu identifikasi masalah kesehatan jiwa dalam masyarakat dan sumber daya yang ada dalam masyarakat (social supporting system), melakukan standarisasi pelayanan yang dilakukan LSM, Swasta, dan peningkatan pengetahuan masyarakat tentang kesehatan jiwa melalui media kultural daerah / lokal. 7. Peningkatan kesadaran akan pentingnya kesehatan jiw a sehingga dapat mewujudkan perilaku sehat jiwa dalam masyarakat memerlukan upaya promotif dan preventif pada setiap strata masyarakat utamanya balita, anak, remaja, wanita, orang tua, usia lanjut dan kelompok -kelompok masyarakat dengan risiko tinggi dan rentan terhadap masalah kesehatan jiwa seperti pengungsi konflik sosial, penduduk korban kekerasan (mental dan seksual), anak jalanan, gelandangan psikotik, pekerja wanita yang rentan, remaja putus sekolah, dll. Upaya promotif dan preventif ini dapat dilaku kan melalui tatanan perilaku hidup bersih yang telah ada di masyarakat. 8. Mempertajam skala prioritas penanganan permasalahan kesehatan dan kesejahteraan sosial, dengan mengacu kepada pertimbangan nilai manfaat dan strategis dalam rangka mendukung dan m empercepat pembangunan kesehatan khususnya dan pembangunan nasional pada umumnya. 9. Menetapkan kriteria keberhasilan dan cara pengukuran keberhasilan pembangunan kesehatan jiwa secara baku dan konsisten untuk perencanaan, pemantauan pelaksanaan dan peni laian penanggulangan masalah kesehatan jiwa masyarakat. 10. Mempererat silaturahmi Lembaga -lembaga Departemen dan Lembaga lembaga Non Departemen dalam rangka mewujudkan penyelenggaraan upaya kesehatan jiwa masyarakat.
B. STRATEGI

y y

y y

y y

y y y y y

1. Advokasi Kebijakan Publik yang memperhatikan aspek kesehatan jiwa. Program pembangunan di segala bidang harus memberikan kontribusi yang positif terhadap derajat kesehatan jiwa masyarakat. Hal ini dapat dicapai dengan adanya dukungan kebijakan publik yang memenuhi asa -asas kesehatan jiwa, misalnya kebijakan pemukiman yang menyediakan fasilitas sosial (tempat bermain anak, olahraga bagi remaja, kegiatan sosial bagi usia lanjut, dan lain lain), disetiap Kota/Kabupaten mempunyai Pusat Kegiatan Sosial dan Budaya , disetiap sekolah tersedia kepustakaan, lapangan olahraga yang memadai untuk menampung kreatifitas anak didik, dan lain -lain. Dalam upaya meningkatkan derajat kesehatan jiwa masyarakat ini secara lebih efektif dan efisien, maka upaya promotif dan preventif terhada p munculnya berbagai masalah
22

y y y y y

y y

kesehatan jiwa akan lebih diutamakan daripada upaya kuratif dan rehabilitatif. 2. Pemantapan Kerjasama Lintas Sektor dan Kemitraan dengan Swasta . Upaya kesehatan jiwa sangat terkait dengan berbagai kebijakan dari sektor sektor di luar kesehatan, sehingga kerjasama yang sudah terjalin selama ini perlu terus ditingkatkan dengan cara -cara yang lebih efektif, khususnya peningkatan pemberdayaan sektor swasta dalam upaya yang bersifat preventif dan promotif. 3. Pemberdayaan Masyarakat melalui pendidikan / penyuluhan / promosi tentang kesehatan jiwa secara terintegrasi dengan program kesehatan dan sektor pada umumnya. Metode dan materi pendidikan keseha tan jiwa harus disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat setempat (relevant), menggunakan tatanan yang sudah ada di masyarakat tersebut (social -cultural setting), dan dapat dimengerti dengan mudah oleh masyarakat (contextual communication). Menumbuhkembangkan pemberdayaan masyarakat untuk mengetahui potensi yang ada dan memanfaatkannya menuju kemandirian. Menciptakan pemberdayaan masyarakat melalui kegiatan institusi yang ada dalam masyarakat itu sendiri, seperti tradisi, adat istiadat, budaya, pemerintahan desa, organisasi kemasyarakatan secara gotong royong dan berkesinambungan. 4. Mengoptimalkan fungsi -fungsi TP-KJM sesuai dengan tugas pokoknya, dengan dukungan sarana dan prasarana yang memadai, serta mekanisme kerja dan koordinasi program yang dilaksan akan secara sinkron dan sinergi. 5. Desentralisasi program kesehatan jiwa pada Kabupaten/Kota. Dalam kaitan dengan desentralisasi penyelenggaraan pemerintahan pada tingkat Kabupaten/Kota, dan adanya keragaman sumber daya yang dimiliki oleh masing masing Kabupaten/Kota, serta keunikan dari masalah kesehatan jiwa yang ada. Maka perlu dikembangkan Program Kesehatan Jiwa di setiap Kabupaten/Kota oleh Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota dengan fasilitasi dan pemberdayaan dari Provinsi/Pusat. 6. Sosialisasi upaya kesehatan jiwa masyarakat ini dengan adanya dukungan bahan-bahan informasi yang lengkap dan memadai.
23

y y

y y

y y

y y

7. Meningkatkan komunikasi dan forum koordinasi dalam rangka pemberdayaan dan peningkatan kualitas sumber daya manusia dalam upaya pencegahan dan penanggulangan kesehatan jiwa masyarakat.
V. PENGORGANISASIAN A. KEDUDUKAN DAN TANGGUNG JAWAB Implikasi dari reformasi pemerintahan telah mengakibatkan terjadinya pergeseran paradigma penyelenggaraan pemerintahan, dari paradigma sentralistis ke arah desentralisasi yang ditandai dengan pelaksanaan otonomi yang luas dan nyata pada daerah. Pelaksanaan Otonomi Daerah pada dasarnya adalah untuk mendorong memberdayakan masyarakat, menumbuhkan prakarsa dan kreativitas, meningkatkan peran serta masyarakat serta mengembangkan peran dan fungsi Dewan Perwakilan Rakyat Daerah. Disamping itu penyelenggaraan Otonomi Daerah harus dilaksanakan dengan prinsip -prinsip demokrasi, peran serta masyarakat, pemerataan, dan keadilan serta memperhatikan potensi dan keanekaragaman daerah. Sebagai konsekuensi dari penyelenggaraan Otonomi Daerah tersebut maka telah dikeluarkan beberapa peraturan perundang -undangan yang mengatur hal tersebut, antara lain: a. Ketetapan MPR-RI Nomor XV/MPR/1999 tentang Penyelenggaraan Otonomi Daerah; Pengaturan Pembagian dan Pemanfaatan Sumber Daya Nasional Yang Berkeadilan Serta Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Daerah Dalam Kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia; b. Ketetapan MPR-RI Nomor IV/MPR/2000 tentang Rekomendasi Kebijakan Dalam Penyelenggaraan Otonomi Daerah; c. Undang-undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah; d. Undang-undang Nomor 25 Tahun 1999 tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Daerah; e. Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 2000 tentang Kewenangan Pemerintah dan Kewenangan Propinsi Sebagai Daerah Otonom; f. Peraturan Pemerintah Nomor 84 Tahun 2000 tentang Pedoman Organisasi Perangkat Daerah . g. Peraturan Pemerintah Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pembinaan dan Pengawasan Atas Penelenggaraan Pemerintah Daerah. 24

y y y y

y y y y y y y

y y y y y

y y y

h. Peraturan Pemerintah Nomor 39 Tahun 2001 tentang Penyelenggaraan Dekonsentrasi; i. Peraturan Pemerintah Nomor 52 Tahun 2001 tentang Penyelenggaraan Tugas Pembantuan; j. Peraturan Pemerintah Nomor 56 Tahun 2001 tentang Pelaporan Penyelenggaraan Pemerintah Daerah. k. Peraturan Pemerintah Nomor 106 Tahun 2001 tentang Pengelolaan dan Pertanggungjawaban Keuangan dalam Pelaksanaan Dekosentrasi dan Tugas Pembantuan . l. Keputusan Presiden Nomor 102 Tahun 2001 tentang Kedudukan, Tugas, Fungsi, Susunan Organisasi dan Tata Kerja Departemen. m. Keputusan Presiden Nomor 109 Tahun 2001 tentang Unit Organisasi dan Tugas Eselon I Departemen. n. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indon esia Nomor 1277/Menkes/SK/XI/2001 tentang Organisasi dan Tata Kerja Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Sebagai konsekuensi logis dari pelaksanaan Otonomi Daerah tersebut maka terjadi perubahan kedudukan, tugas dan fungsi lembaga -lembaga pemerintah baik di Pusat maupun di Daerah. Perubahan ini diakibatkan oleh bergesernya kewenangan Pemerintahan, baik yang berada di Pemerintah Pusat, Provinsi maupun Kabupaten/Kota, berdampak pada perubahan kewenangan dan tanggung jawab penyelenggaraan pemerintahan Tim Pembina Kesehatan Jiwa Masyarakat (TP -KJM) merupakan Tim Teknis Pemerintah Pusat yang berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Menteri Kesehatan. Sedangkan Tim Pengarah Kesehatan Jiwa Masyarakat (TP -KJM) di Provinsi di bawah dan bertanggungjawab kep ada Gubernur. Tim Pelaksana Kesehatan Jiwa Masyarakat (TP-KJM) di Kabupaten / Kota di bawah dan bertanggungjawab kepada Bupati/Walikota. Adapun bentuk, struktur dan mekanisme kerja Tim Pengarah dan Tim Pelaksana tersebut disesuaikan dengan situasi dan kondisi masing-masing daerah. Tugas, fungsi dan tanggung jawab Tim Pembina Kesehatan Jiwa Masyarakat (TP-KJM) di Pusat, Tim Pengarah Kesehatan Jiwa Masyarakat (TP -KJM) di Provinsi dan Tim Pelaksana Kesehatan Jiwa Masyarakat (TP -KJM) di Kabupaten / Kota, mendukung penyelenggaraan Kesehatan Jiwa Masyarakat meliputi : a. Perumusan kebijakan umum. b. Perumusan administrasi penyelenggaraan. c. Perumusan mekanisme koordinasi di Daerah. d. Perumusan kebijakan operasional.
25

y y

y y y y y

y y y y y y y

e. Perumusan penganggaran / pendana an. f. Perumusan langkah-langkah kegiatan monitoring dan evaluasi
2. TUGAS DAN KEWAJIBAN Tim Pembina Kesehatan Jiwa Masyarakat (TP -KJM) di Pusat mempunyai tugas membantu Menteri Kesehatan dalam menyusun kebijakan di bidang Kesehatan Jiwa Masyarakat untuk memelihara, mengusahakan dan mengembangkan upaya pencegahan dan penanggulangan masalah kesehatan jiwa masyarakat dengan cara pendekatan multi disi plin, multi sektor dan peran serta masyarakat secara aktif, guna meningkatkan kondisi kesehatan jiwa masyarakat.

y y y y y y

y y

Dalam melaksanakan tugas tersebut diatas Tim Pembina Kesehatan Jiwa Masyarakat (TP-KJM) berkewajiban : a. Mengidentifikasi dan mengklasifi kasi permasalahan Kesehatan Jiwa Masyarakat dalam rangka merumuskan kebijakan umum tingkat nasional. b. Memberi masukan kepada Menteri Kesehatan untuk menentukan mekanisme koordinasi dan kebijakan operasional tingkat nasional. c. Menyusun program kerja t ahunan, jangka menengah dan jangka panjang, bersama dengan peyusunan anggaran. d. Mengklarifikasi dan memberikan masukan kepada Menteri Kesehatan dalam perumusan kebijakan penyelenggaraan dekonsentrasi dan atau tugas pembantuan. e. Merumuskan langkah-langkah kegiatan monitoring dan evaluasi tingkat Nasional Tim Pengarah Kesehatan Jiwa Masyarakat (TP -KJM) di Provinsi mempunyai tugas membantu Gubernur dalam merumuskan kebijakan Pemerintah Provinsi dalam upaya pencegahan dan penanggulangan masalah kesehatan jiwa masyarakat melalui pendekatan multi disiplin dan peran serta masyarakat, guna meningkatkan kondisi Kesehatan Jiwa Masyarakat yang optimal di wilayahnya. Dalam melaksanakan tugas tersebut diatas Tim Pengarah Kesehatan Jiwa Masyarakat (TP-KJM) di Provinsi berkewajiban : a. Mengidentifikasi, mengklasifikasi dan memetakan permasalahan Kesehatan Jiwa Masyarakat dalam rangka merumuskan kebijakan umum tingkat Provinsi. b. Memberikan masukan kepada Gubernur untuk menentukan mekanisme koordinasi dan kebijakan operasional tingkat Provinsi.
26

y y y y y

y y y y y y

c. Menyusun program kerja tahunan, jangka menengah dan jangka panjang, bersama dengan peyusunan anggaran. d. Mengklarifikasi dan memberikan masukan kepada Gubernur dalam pelaksanaan dekonsentrasi dan tugas pemba ntuan. e. Merumuskan langkah-langkah kegiatan monitoring dan evaluasi.
Tim Pelaksana Kesehatan Jiwa Masyarakat (TP -KJM) di Kabupaten / Kota mempunyai tugas membantu Bupati / Walikota dalam merumuskan kebijakan Pemerintah Kabupaten/ Kota dalam upaya pe ncegahan dan penanggulangan masalah kesehatan jiwa masyarakat melalui pendekatan multi disiplin dan peran serta masyarakat, guna meningkatkan kondisi Kesehatan Jiwa Masyarakat yang optimal di daerahnya.

y y y

y y y y y y y y y y y y y y y y

Dalam melaksanakan tugas tersebut diatas Tim Pelaksana Kesehatan Jiwa Masyarakat (TP-KJM) di Kabupaten / Kota berkewajiban : a. Mengidentifikasi, mengklasifikasi dan memetakan permasalahan Kesehatan Jiwa Masyarakat dalam rangka merumuskan kebijakan umum tingkat Kabupaten / Kota. b. Memberikan masukan kepada Bupati / Walikota untuk menentukan mekanisme koordinasi dan kebijakan operasional tingkat Kabupaten / Kota. c. Menyusun program kerja tahunan, jangka menengah dan jangka panjang, bersama dengan peyusunan anggaran. d. Mengklarifikasi dan memberikan masukan kepada Bupati / Walikota dalam pelaksanaan tugas pembantuan. e. Merumuskan langkah-langkah kegiatan monitoring dan evaluasi.
3. BENTUK DAN SUSUNAN TIM KESEHATAN JIWA MASYARAKAT a. TIM PEMBINA KESEHATAN JIWA MASYARAKAT (TP-KJM) PUSAT Susunan Anggota TP-KJM Pusat Pembina : WAKIL PRESIDEN Koordinator : MENTERI KOORDINATOR KESEJAHTERAAN RAKYAT. Ketua : MENTERI KESEHATAN Anggota : 1. MENTERI DALAM NEGERI 2. MENTERI KEUANGAN 27

y y y y y y y y y y y y y y y y y y y y y y y y y y y y y y y

3. MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL 4. MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI 5. MENTERI SOSIAL 6. MENTERI AGAMA 7. MENTERI KEHAKIMAN DAN HAM 8. MENTERI NEGARA PEMBERDAYAAN PEREMPUAN 9. MENTERI NEGARA KOMUNIKASI DAN INFORMASI 10. SEKRETARIS NEGARA/SEKRETARIS KABINET. 11. KEPALA KEPOLISIAN RI. 12. KEPALA BKKBN
b. TIM PENGARAH KESEHATAN JIWA MASYARAKAT (TP-KJM) PROVINSI Susunan Anggota TP-KJM Provinsi Pembina : GUBERNUR KETUA DPRD PROVINSI Koordinator : SEKRETARIS DAERAH PROVINSI Ketua : KEPALA DINAS YANG MEMBIDANGI KESEHATAN Anggota : 1. BEBERAPA KEPALA PERANGKAT DAERAH YANG TERKAIT 2. KEPALA KEPOLISIAN DAERAH 3. DIREKTUR RUMAH SAKIT JIWA c. TIM PELAKSANA KESEHATAN JIWA MASYARAKAT (TP-KJM) KABUPATEN / KOTA Susunan Anggota TP-KJM Kabupaten / Kota Pembina : BUPATI / WALIKOTA KETUA DPRD KABUPATEN / KOTA Koordinator : SEKRETARIS DAERAH KABUPATEN / KOTA Ketua : KEPALA DINAS YANG MEMBIDANGI KESEHATAN Anggota : 1. BEBERAPA KEPALA PERANGKAT DAERAH YANG TERKAIT.
28

y y y y y y y y

2. KAPOLRES 3. DIREKTUR RUMAH SAKIT JIWA 4. CAMAT


VI. P R O G R A M Ada 4 (empat) hal penting yang perlu diketahui oleh Tim Pembina, Tim Pengarah, Tim Pelaksana Kesehatan Jiwa Masyarakat (TP -KJM) dalam melaksanakan Program Kesehatan Jiwa Masyarakat, yaitu : A. PRINSIP-PRINSIP KESEHATAN JIWA MASYARAKAT

y y y

y y

Terutama ditujukan kepada kelompok didalam masyarakat , dititik beratkan pada promotif dan preventif , diusahakan agar berbagai pelayanan lain turut serta dalam sistim pelayanan kesehatan jiwa , dititik beratkan kepada kerjasama lintas sektoral , menjalankan kegiatan konseling dan yang bersifat intervensi khususnya dalam kondisi krisis, mengusahakan peningkatan peran serta masyarakat , mengusahakan pendidikan dan latihan bagi para petugas dibidang pelayanan kemanusiaan seluas-luasnya, agar berorientasi terhadap prinsip kesehatan jiwa, melaksanakan kerjasama yang seerat -eratnya dengan bidang kesehatan masyarakat, menjalankan kegiatan riset epidemiologi kesehatan jiwa, mengusahakan agar Pelayanan Kesehatan Jiwa tersebut dapat bersifat menyeluruh (komprehensif), yaitu meliputi seluruh usia atau life cycle, berbagai jenis pelayanan (promotif / preventif, kuratif dan rehabilitatif) dan lain -lain. B. IDENTIFIKASI PERMASALAHAN KESEHATAN JIWA MASYARAKAT Urbanisasi, industrialisasi dan modernisasi sebagai hasil pembangunan dapat menimbulkan pengaruh sampingan berupa berbagai stres kehidupan yang intensif, baik bagi individu maupun kelompok. Stres kehidupan tersebut dapat menimbulkan berbagai proses yaitu Proses pertumbuhan kota yang cepat mengandung faktor -faktor yang menguntungkan maupun yang kurang menguntungkan bagi individu / kelompok, faktor -faktor ini menimpa diri manusia dan manusia diharuskan mengolah semua faktor tersebut, disitulah tampak pentingnya faktor kepribadian (personality) yang dimiliki oleh individu itu apakah ia berhasil menyelesaikan pengolahan itu dengan memadai,
29

y y y

y y y y y y y y y y y y y y y y y y y y y y y y y

faktor-faktor itu juga dapat menimpa keluarga dan masyarakat, akibatnya adalah terjadi pengelompokan baru dalam masyarakat yang sifatn ya sangat majemuk (kompleks) dan didasari berbagai kepentingan ( interest). Terjadi berbagai karakteristik pada lingkungan hidup dalam kota atau daerah yang berhasil membentuk konfigurasiatau corak baru dalam kehidupan, baik yang orientasinya bersif at material maupun non material. Beberapa stres kehidupan yang dimaksud yaitu stresor kehidupan pribadi, stress sosio-ekonomik, kepadatan penduduk yang makin meninggi, perubahan sosial, urbanisasi, pola kehidupan keluarga, nasib dan keamanan dari orang ya ng berusia lanjut, situasi dari berbagai lembaga sosial dalam masyarakat dan perbedaan sosial -budaya. C. STRATEGI UMUM DAN KHUSUS
1. Strategi Umum ( Kebijaksanaan Umum ) a. Prioritas Kegiatan Ditentukan atas dasar pertimbangan: |Mendesak / meluasnya masalah dimasyarakat |Seringnya masalah itu timbul |Akibat yang merugikan dari masalah itu | Tersedianya tenaga ahli atau tenaga yang dapat dididik / dilatih untuk menanggulanginya |Tersedianya sarana dan prasarana b. Desain Kegiatan Hal ini perlu meliputi beberapa kondisi umum seperti: | Sudah/belum tersedianya pelayanan kesehatan jiwa masyarakat didaerah tersebut |Tersedianya dukungan dari pengambil keputusan didaerah |Tersedianya pendanaan yang memadai |Kemungkinan akan tercapainyanya hasil yang memadai c. Kebutuhan dan kemampuan |Tersedianya sistem pelayanan dan informasi |Kemungkinan dilaksanakannya monitoring dan evaluasi |Kemungkinan integrasi dengan kegiatan penyelenggaraan pemerintah lainnya. 2. Strategi Khusus ( Pelaksanaan ) Bidang ini perlu direncanakan dan dilaksanakan dibawah supervisi yang berdisiplin. Oleh karena itu fase perencanaan senantiasa diuji kemantapannya pada implementasi strategi khusus, yang selalu 30

y y y y y

y y y

pula menghendaki komitmen sepenuhnya dari mereka yang melaksanakan tugas sehari-hari. a. Masyarakat Bertujuan untuk menjangkau masyarakat dan berhasil menciptakan suatu masyarakat yang efektif melalui peningkatan kepedulian, pengetahuan dan pemberdayaan tentang upaya pencegahan dan penangg ulangan masalah kesehatan jiwa masyarakat. Sasarannya pada tahap ini yaitu kelompok-kelompok masyarakat dan keluarga . b. Sistem rujukan Apabila memerlukan tindak lanjut kegiatan maka sistem rujukan meliputi langkah langkah sebagai berikut: diagnostik, terapi pendahuluan, feed back information (yang diharapkan kepada fasilitas yang merujuk) dari fasilitas yang menerima rujukan, serta tindak lanjut jangka panjang. Untuk itu perlu ada suatu buku pedoman yang dapat digunakan oleh semua fasilitas pelayanan. Beberapa contoh jalur rujukan antara lain: |Jalur Kesehatan RSU / RSJ Klinik Kesehatan Jiwa Puskesmas |Jalur Pendidikan Sekolah Guru Konselor Keluarga c. Pembinaan / Pendidikan / Pelatihan Untuk dapat melaksanakan pelayanan pada taraf operasional perlu diusahakan pembinaan / pendidikan / pelatihan ketenagaan secara kontinu dan berkelanjutan. Dalam hubungan ini ada beberapa langkah yang perlu dipertimbangkan, a.l. : | Semua latihan harus didasarkan atas kebutuhan realistik yang ada di masyarakat. |Tugas-tugas yang diberikan sebagai tanggung jawab dari petugas yang dilatih perlu dijabarkan
D. PRINSIP-PRINSIP PROGRAM KESEHATAN JIWA MASYARAKAT Beberapa prinsip dasar Program Kesehatan Jiwa Masyarakat adalah: 1. Kerjasama lintas -sektoral dan inter-disipliner Dalam rangka pelaksanaan upaya pencegahan dan penanggulangan masalah kesehatan jiwa masyarakat, dilakukan koordinasi dan kerjasama antar Departemen terkait ( sesuai dengan 31

y y y y y y y y

y y y y y y y y y y

y y y

y y y y

y y

y y y

Surat Keputusan Menteri Kesehatan ) serta berbagai disiplin ilmu yeng mempunyai minat dan kepedulian terhadap masalah kesehatan jiwa seperti edukasi, sosilogi, antropologi, keperawatan dan lain -lain. Di Provinsi, Kabupaten / Kota , koordinasi dan kerjasama di laksanakan antar perangkat Daerah terkait ( sesuai dengan Surat Keputusan Gubernur, Bupati/ Wali Kota ) serta berbagai disiplin ilmu yang mempunyai minat dan kepedulian di wilayah masing-masing. 2. Kesehatan Jiwa sebagai komponen dasar pelayanan Kesehatan Dalam bidang ini perlu diperhatikan dua jalur pelayanan kesehatan jiwa yang dijalankan selama ini perlu ditingkatkan efektifitas, yaitu: a. Integrasi Kesehatan Jiwa ( di Puskesmas dan RS Umum ) Peningkatan pengetahuan dan ketrampilan dokter / perawat d ibidang promosi, prevensi serta terapi dan rehabilitasi sangat diperlukan secara kontinu dan berkelanjutan. Pelatihan dan konsultasi secara reguler perlu diciptakan. b. Menyadari pentingnya faktor psiko -sosial-kultural Peningkatan dan penyebarluasan kesa daran dan kepedulian harus merupakan unsur yang integral dari seluruh strategi pelayanan kesehatan yang efektif. Dengan demikian maka sebagian dari penyakit -penyakit yang dilatar belakangi masalah psikososial dan stres ( stress induced conditions or diseases ) dapat ditanggulangi dengan tepat. Lebih lanjut dengan pendekatan tersebut gangguan psikofisiologik atau psikosomatik dapat dicegah sampai taraf tertentu. 3. Peran serta masyarakat Peran serta masyarakat penting dalam menghadapi berbagai kedaruratan / gangguan kesehatan jiwa baik ringan, sedang maupun berat. Masyarakat dapat berperan dalam hal misalnya : mengidentifikasi permasalahan kehidupan, menyebarluaskan pengetahuan kesehatan jiwa kepada masyarakat dan laian-lain. Disamping itu peran serta masyarakat juga dapat diarahkan pada mengidentifikasi kebutuhan -kebutuhan Pelayanan Kesehatan Jiwa yang belum tersedia dimasyarakat.

y y y

PROGRAM-PROGRAM TP-KJM
Dalam melaksanakan kegiatan Pemb inaan Kesehatan Jiwa Masyarakat di Pusat, harus berpedoman pada Peraturan Pemerintah No. 25 tahun 2000 tentang Kewenangan Pemerintah dan Kewenangan Provinsi sebagai Daerah Otonom, sehingga Direktorat Jenderal Bina Kesehatan Masyarakat 32

y y y y y y y y y y y y y y

Departemen Kesehatan RI dapat menjalankan program program sebagai berikut: A. PROGRAM UMUM |Menetapkan standar kesehatan jiwa masyarakat; |Pedoman sertifikasi kesehatan jiwa masyarakat; |Menetapkan pedoman biaya kesehatan jiwa masyarakat; |Menetapkan standar akreditasi Rumah Sakit, Pusat Rehabilitasi, Panti; |Menetapkan standar diklat kesehatan jiwa masyarakat; |Menetapkan standar penapisan kesehatan jiwa masyarakat; |Menetapkan standar etika penelitian kesehatan jiwa masyarakat ; |Survailance; |Penyediaan obat essensial tertentu;
B. PROGRAM KHUSUS Tim Pembina Kesehatan Jiwa Masyarakat melaksanakan program khusus dengan mengacu kepada program umum dan menu yang ada di dalam ruang lingkup masalah kesehatan jiwa, meliputi penyusunan standar pelayan teknis bidang kesehatan jiwa masyarakat. Tim Pengarah Kesehatan Jiwa Masyarakat melaksanakan program khusus dengan mengacu kepada program umum dan menu yang ada di dalam ruang lingkup masalah kesehatan jiwa, serta standar pelayan teknis yang disusun oleh Tim Pembina Kesehatan Jiwa Masyarakat meliputi penyusunan standar pelayanan minimal bidang k esehatan jiwa masyarakat. Tim Pelaksana Kesehatan Jiwa Masyarakat melaksanakan program khusus dengan mengacu kepada program umum dan menu yang ada di dalam ruang lingkup masalah kesehatan jiwa, meliputi pelaksanaan standar pelayanan minimal bidang kesehat an jiwa masyarakat. VII. MEKANISME DAN TATA LAKSANA A. MEKANISME

y y y y y y y y y

1. Menteri Kesehatan membentuk Tim Pembina Kesehatan Jiwa Masyarakat (TP-KJM) melalui Keputusan Menteri Kesehatan. 2. Gubernur membentuk Tim Pengarah Kesehatan Jiwa Masyarakat (TP -KJM) melalui Keputusan Gubernur. 3. Bupati / Walikota membentuk Tim Pelaksana Kesehatan Jiwa Masyarakat (TP KJM) melalui Keputusan Bupati / Walikota.
33

y y y y

4. Tim Pembina, Tim Pengarah dan Tim Pelaksana Kesehatan Jiwa Masyarakat melaksanakan forum koordinasi, komunikasi dan hubungan kerja. 5. Tim Pembina, Tim Pengarah dan Tim Pelaksana Kesehatan Jiwa Masyarakat bersama-sama menyusun rencana dan melaksanakan kegiatan yang berskala nasional.
B. TATA LAKSANA KEGIATAN 1. Menteri Kesehatan, Gubernur, Bupati / Walikota adalah penanggung jawab umum penyelenggara koordinasi di bidang pembinaan kesehatan jiwa masyarakat di masing-masing tingkat administrasi pemerintahan. 2. Gubernur selaku Ketua Tim Pengarah Kesehatan Jiwa Masyarakat di Provinsi bertanggung jawab dan berkewajiban melaporkan pelaksanaan kegiatan dimaksud kepada Menteri Kesehatan dengan tembusan kepada Menteri Dalam Negeri. 3. Bupati / Walikota selaku Ketua Tim Pelaksana Kesehatan Jiwa Masyarakat di Kabupaten / Kota bertanggung jawab dan berkewajiban melaporkan pelaksanaan kegiatan dimaksud kepada Menteri Kesehatan dengan tembusan kepada Gubernur dan Menteri Dalam Negeri. 4. Hubungan kerja Tim Pembina, Tim Pengarah Kesehatan Jiwa Masyarakat Provinsi dan Tim Pelaksana Kesehatan Jiwa Masyarakat Kabupaten / Kota bersifat konsultatif dan fungsional. C. LANGKAH-LANGKAH PELAKSANAAN TIM PEMBINA, TIM PENGARAH DAN TIM PELAKSANA KESEHATAN JIWA MASYARAKAT 1. RAPAT PERIODIK a. RAPAT KERJA TAHUNAN (RAKER) 1) Raker diadakan 1 kali setahun untuk menentukan program kerja tahun yang akan datang. 2) Dalam Rapat Kerja ini : a) Dilaksanakan evaluasi pelaksanaan program yang telah dijalankan tahun yang lalu. b) Masing-masing sektor mengajukan masalah kesehatan jiwa masyarakat yang dijumpai, baik di Provinsi maupun di Kabupaten / Kota. 34

y y y

y y y y y y y y y y

y y y y y y y y

c) Pelaksanaan Perencanaan Program yang akan dilaksanakan tahun yang akan datang : (1) Menentuan Prioritas Masalah (2) Menentukan Kegiatan yang akan dilaksanakan masing -masing sektor (3) Menentukan koordinasi kegiatan masing -masing sektor 3) Dalam Rapat Kerja tahunan juga dievaluasi pelaksanaan program yang sedang dijalankan. 4) Rapat Kerja memutuskan masalah keseh atan jiwa masyarakat yang akan diberi prioritas pemecahannya pada tahun yang akan datang, dan masing masing sektor serta masyarakat menjabarkannya pada kegiatan yang akan dilaksanakan pada tahun yang akan datang.
b. RAPAT TIM Diadakan secara berkala minimum 3 bulan sekali dihadiri oleh anggota secara lengkap untuk membahas kegiatan tahun berjalan. c. RAPAT KELOMPOK KERJA (POKJA)

y y y y y y

y y y y y

Kelompok kerja ditetapkan oleh rapat pleno, tugasnya yaitu mengadakan pertemuan berkala minimum 1 bulan 1 kali untuk melaksa nakan hal-hal yang telah ditetapkan dalam rapat pleno serta menyiapkan bahan -bahan untuk rapat pleno yang akan datang. d. KELOMPOK KERJA KHUSUS Kelompok kerja ini dibentuk bila diperlukan untuk menyelesaikan hal -hal yang bersifat terbatas (menyusun renc ana / pelaksanaan kegiatan tertentu). 2. DOKUMENTASI KEGIATAN Setiap pertemuan / rapat yang telah dijalankan oleh Tim Pembina, Tim Pengarah dan Tim Pelaksana Kesehatan Jiwa Masyarakat hendaknya di dokumentasikan (dibuat risalah) secara rapi dan teratur ( disimpan dalam berkas). Segala keputusan / langkah yang diambil diketahui oleh semua anggota dengan pertinggal pada ketua / sekretaris.
35

y y

y y y

y y y y y

3. MATERI RAPAT Materi Rapat adalah berbagai masalah kesehatan jiwa yang berada dalam masyarakat pada dewasa ini dan diduga mungkin akan terjadi di masa mendatang. Oleh karena itu melalui berbagai sektor serta berbagai disiplin ilmu, hendaknya diadakan saling tukar informasi, saling berkonsultasi dan saling memberikan bantuan serta kemudahan (fasilitas) untuk dapat diambil langkah-langkah, antara lain : a) Melakukan identifikasi masalah kesehatan jiwa yang ada dalam masyarakat, baik yang ada maupun yang akan timbul di masa mendatang. b) Membahas permasalahan dan pemecahannya yang mungkin dapat dilaksanakan secara efektif dan efisien. c) Menyusun langkah kegiatan intervensi antara lain Komunikasi Informasi dan Edukasi,

KEPUTUSAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA


NOMOR : 220 / MENKES / SK / III / 2002 y TENTANG y PEDOMAN UMUM TIM PEMBINA, TIM PENGARAH, TIM PELAKSANA y KESEHATAN JIWA MASYARAKAT ( TP KJM ) y MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa upaya pencegahan dan penanggulangan gangguan kesehatan jiwa sangat penting, mengingat dari data SKRT 1995 diperkirakan satu dari empat penduduk Indonesia menderita kelainan jiwa dari rasa cemas, depresi, stress, penyalahgunaan obat, kenakalan remaja sampai skizofrenia; b. bahwa dalam kebijakan kesehatan jiwa masyarakat terdapat 4 (empat) perubahan yaitu dari berbasis rumah sakit menjadi berbasis masyarakat, dapat ditangani di semua pelayanan kesehatan yang ada, dahulu rawat inap sekarang mengandalkan pelayanan rawat jalan dan dahulu penderita gangguan jiwa perlu disantuni sekarang dapat diberdayakan;
y

y y

c. bahwa Buku Pedoman Kerja Badan Pembina Kesehatan Jiwa Masyarakat, dipandang perlu untuk disempurnakan / direvisi dan disesuaikan dengan situasi dan kondisi yang ada saat ini; d. bahwa sehubungan dengan huruf a, b dan c di atas perlu ditetapkan Keputusan Menteri Kesehatan tentang Pedoman Umum Tim Pembina, Tim Pengarah, Tim Pelaksana Kesehatan Jiwa Masyarakat (TP -KJM); Mengingat : 1. Undang -undang Nomor 6 Tahun 1974 tentang Ketentuan ketentuan Pokok Mengenai Kesejahteraan Sosial (Lembaran Negara Tahun 1974 Nomor 53, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3039); 2. Undang-undang Nomor 2 Tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Lembaran Negara Tahun 1989 Nomor 6, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3390);
2

y y

y y

y y y y y y y y y y y y

3. Undang-undang Nomor 23 Tahun 1992 tentang Kesehata n (Lembaran Negara Tahun 1992 Nomor 100, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3495); 4. Undang-undang Nomor 4 Tahun 1997 tentang Penyandang Cacat (Lembaran Negara Tahun 1997 Nomor 9, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3670); 5. Undang-undang Nomor 5 Tahun 1997 t entang Psikotropika (Lembaran Negara Tahun 1997 Nomor 10, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3671); 6. Undang-undang Nomor 22 Tahun 1997 tentang Narkotika (Lembaran Negara Tahun 1997 Nomor 67, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3698); 7. Undang-undang Nomor 25 Tahun 1997 tentang Ketenagakerjaan (Lembaran Negara Tahun 1997 Nomor 73, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3702); 8. Undang-undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Tahun 1999 Nomor 60, Tambahan Lemba ran Negara Nomor 3839); 9. Undang-undang Nomor 25 Tahun 1999 tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah (Lembaran Negara Tahun 1999 Nomor 72, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3848); 10. Peraturan Pemerintah Nomor 31 Tahun 1980 tentang Penanggulangan Gelandangan Pengemis (Lembaran Negara Tahun 1980 Nomor 51, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3177); 11. Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 2000 tentang Kewenangan Pemerintah dan Kewenangan Propinsi Sebagai Daerah Otonom (Lembara n Negara Tahun 2000 Nomor 54, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3952);
3

y y

y y

y y

y y y y

12. Peraturan Pemerintah Nomor 84 Tahun 2000 tentang Pedoman Organisasi Perangkat Daerah (Lembaran Negara Tahun 2000 Nomor 165); 13. Peraturan Pemerintah Nomor 39 Tahun 2001 tentang Penyelenggaraan Dekosentrasi (Lembaran Negara Tahun 2001 Nomor 62, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4095); 14. Peraturan Pemerintah Nomor 52 Tahun 2001 tentang Penyelenggaraan Tugas Pembantuan (Lembaran Negara Tahun 2001 Nomor 77, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4106); 15. Peraturan Pemerintah Nomor 106 Tahun 2001 tentang Pengelolaan dan Pertanggungjawaban Keuangan dalam Pelaksanaan Dekosentrasi dan Tugas Pembantuan (Lembaran Negara Tahun 2001 Nomor 203, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4023); 16. Keputusan Presiden Nomor 102 Tahun 2001 tentang Kedudukan, Tugas, Fungsi, Susunan Organisasi dan Tata Kerja Departemen; 17. Keputusan Presiden Nomor 109 Tahun 2001 tentang Unit Organisasi dan Tugas Eselon I Departemen; 18. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1993/Kdj/U/1970 tentang Perawatan Penderita Penyakit Jiwa; 19. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 547/Menkes/ SK/IV/2000 tentang Kebijakan Pembangunan Kesehatan Menuju Indonesia Sehat 2010; 20. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1277/Menkes/ SK/XI/2001 tentang Organisasi dan Tata Kerja Departemen Kesehatan Republik Indonesia; 21. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1346/Menkes/SK/XII/2001 tentang Rencana S trategis Pembangunan Kesehatan 2001-2004;
4

y y

y y

y y y y y y y y

y y

y y

y y

y y y y y y

Memperhatikan : Surat Edaran Menteri Dalam Negeri RI Nomor 440.05/1908/ PUOD tanggal 17 Mei 1980 tentang Pembentukan Team/Badan Pembina Kesehatan Jiwa Masyarakat di Daerah. y MEMUTUSKAN: Menetapkan : Pertama : KEPUTUSAN MENTERI KESEHATAN TENTANG PEDOMAN UMUM TIM PEMBINA, TIM PENGARAH, TIM PELAKSANA KESEHATAN JIWA MASYARAKAT (TP-KJM). Kedua : Pedoman Umum Tim Pembina, Tim Pengarah, Tim Pelaksana Kesehatan Jiwa Masyarakat (TP-KJM) sebagaimana dimaksud Diktum Pertama tercantum dalam Lampiran Keputusan ini. Ketiga : Pedoman sebagaimana dimaksud Diktum Kedua merupakan acuan dalam penerapan standar pelayanan minimal masalah kesehatan jiwa masyarakat di Daerah sesuai dengan situasi dan kondisi masing -masing. Keempat : Keputusan ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan. Ditetapkan di Jakarta pada tanggal 25 Maret 2002 MENTERI KESEHATAN, ttd Dr. ACHMAD SUJUDI 5

y y y y

y y y y

Lampiran Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor : 220/MENKES/SK/III/2002 Tanggal : 25 Maret 2002_________ y PEDOMAN UMUM TIM PEMBINA, TIM PENGARAH, TIM PELAKSANA y KESEHATAN JIWA MASYARAKAT ( TP KJM ) I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang

Pengertian kesehatan diberikan / dijalankan oleh WHO sejak tahun 1947. Di Indonesia pengertian tentang kesehatan tersebut diadopsi tahun 1960 oleh Undang-undang Nomor 9 Tahun 1960 tentang Kesehatan, yang kemudian diperbaiki lagi oleh Undang -undang Nomor 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan. Pengertian kesehatan disini sudah lebih diarahkan untuk hidup lebih produktif, sebagaimana yang tertuang dalam Pasal 1 Ayat 1 Undang -undang Nomor 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan, yang menyebutkan : Kesehatan adalah keadaan sejahtera dari badan, jiwa dan sosial yang memungkinkan setiap orang hidup produktif secara sosial dan ekonomis. Atas dasar definisi Kesehatan tersebut diatas, maka manusia selalu dilihat sebagai satu kesatuan yang utuh (holistik) dari unsur badan (or ganobiologi), jiwa (psiko-edukatif), sosial (sosio-kultural), yang tidak dititik beratkan pada penyakit tetapi pada kualitas hidup yang terdiri dari kesejahteraan dan produktifitas sosial ekonomi. Kesehatan jiwa mempunyai sifat yang harmonis ( serasi), memperhatikan semua segi kehidupan manusia dalam hubungannya dengan manusia lain. Oleh karena itu, kesehatan jiwa mempunyai kedudukan yang penting di dalam pemahaman kesehatan, sehingga tidak mungkin kita berbicara tentang kesehatan tanpa melibatkan kesehatan jiwa. Seseorang yang sehat jasmani dan rohaninya, sedikit banyak akan menyebabkan bertambahnya usia harapan hidup orang tersebut. Keberhasilan Pembangunan Jangka Panjang I, dalam upaya menurunkan angka kematian umum, angka kematian bayi dan a ngka kelahiran, telah meningkatkan umur harapan hidup waktu lahir. Pada tahun 1980, umur harapan waktu lahir sekitar 50 tahun; telah meningkat menjadi 57,9 tahun pada pria dan 61,5 tahun pada wanita pada tahun 1990. Angka ini diperkirakan akan meningkat me njadi 65 70 tahun pada tahun 2000. Namun bila berbicara soal data, jumlah penderita masalah kesehatan jiwa memang mengkhawatirkan. Secara global dari sekitar 6

450 juta orang yang mengalami gangguan mental, sekitar 1 juta diantaranya meninggal karena bu nuh diri setiap tahunnya. Angka ini lumayan kecil bila dibandingkan dengan upaya bunuh diri dari para penderita masalah kejiwaan yang mencapai 20 juta orang/tahun. Kesehatan jiwa penting dilihat dari dampak yang ditimbulkannya, antara lain terdapatnya angka yang besar dari penderita gangguan kejiwaan yang diikuti pula dengan beban sosial ekonomi yang luas. Jadi tersirat disini bahwa Kesehatan Jiwa adalah bagian yang tidak terpisahkan (integral) dari Kesehatan dan unsur utama dalam menunjang terwujudnya kualitas hidup manusia yang utuh. Dalam Undang -undang Nomor 23 tahun 1992 tentang Kesehatan, pada pasal 24 disebutkan bahwa Upaya Kesehatan Jiwa diselenggarakan untuk mewujudkan jiwa yang sehat secara optimal, baik intelektual maupun emosional. Studi Bank Dunia (World Bank ) pada tahun 1995 di beberapa negara, menunjukkan bahwa hari-hari produktif yang hilang atau Dissability Adjusted Life Years ( DALYs) sebesar 8,1% dari Global Burden of Disease disebabkan oleh masalah kesehatan jiwa , angka ini lebih tinggi dari pada dampak yang disebabkan oleh penyakit Tuberculosis (7,2%), Kanker (5,8%), Penyakit Jantung (4,4%) maupun Malaria (2,6%). Tingginya masalah tersebut menunjukkan bahwa masalah kesehatan jiwa merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat yang besar dibandingkan dengan masalah kesehatan lainnya yang ada di masyarakat. Masalah kesehatan jiwa mempunyai lingkup yang sangat luas dan kompleks serta saling berhubungan satu dengan lainnya. Apabila kita mengangkat data hasil Survey Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) yang dilakukan Badan Litbang Departemen Kesehatan pada tahun 1995, yang antara lain menunjukkan bahwa gangguan mental Remaja dan Dewasa terdapat 140 per 1000 anggota rumah tangga, gangguan mental Anak Usia Sekolah terdapat 104 per 1000 anggota rumah tangga. Dalam kurun waktu 6 (enam) tahun terakhir ini, data tersebut dapat dipastikan meningkat karena krisis ekonomi dan gejolak -gejolak lainnya di seluruh daerah, bahkan masalah dunia internasionalpun akan ikut memicu terjadinya peningkatan dimaksud. Menghadapi hal seperti ini tentu tidak semata mata menjadi tanggungjawab Pemerintah tetapi sangat diperlukan adanya partisipasi aktif dari semua pihak dan lapisan masyarakat. Dalam penyelenggaraan Pemerintah Daerah sebagaimana diatur dalam Undang undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah dan Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 2000 tentang Kewenangan Pemerintah dan Kewenangan Provinsi sebagai Daerah Otonom, 7

y y y

y y

khususnya Pasal 2 ayat (3) angka 10, Pasal 3 ayat (2) dan ayat (5) angka 9, telah di gariskan bahwa Pemerintah, Provinsi dan Kabupaten/Kota masing masing mempunyai kewenangan dalam menangani masalah kesehatan. Sekalipun demikian masyarakat baik secara individu maupun kelompok, juga harus aktif mulai dari pencegahan sampai dengan penanggul angannya. Dalam Otonomi Daerah, masalah kesehatan jiwa ikut mewarnai penyelenggaraan pemerintahan daerah. Pada pemahaman ini bukanlah dimaksudkan dengan otonomi luas, masyarakat dapat sebebas -bebasnya melakukan sesuatu tanpa batas, dan bukan berarti pula otonomi luas diciptakan untuk membuat makin banyak masyarakat yang kesehatan jiwanya terganggu. Tetapi justru sebaliknya, dengan otonomi luas diharapkan masyarakat akan ikut secara aktif dalam kegiatan pembangunan, termasuk pembangunan kesehatan. Dalam upaya menangani masalah kesehatan jiwa, hampir seluruh Provinsi di Indonesia telah dibangun rumah sakit jiwa, namun kecenderungan penderita dengan gangguan jiwa ternyata terus meningkat. Ini menunjukkan bahwa tuntasnya penanganan kesehatan jiwa tidak hanya d itandai dengan banyaknya rumah sakit tetapi masih ada faktor lainnya yang ikut mempengaruhi. Tinjauan terhadap 10 rekomendasi dari WHO dan kenyataannya di Indonesia : 1. Pelayanan Kesehatan Jiwa di Pelayanan Kesehatan Dasar Pelayanan Kesehatan Jiwa di P elayanan Kesehatan Dasar telah dilakukan melalui Puskesmas dan Rumah Sakit Umum, sampai dengan tahun 1990 dilaksanakan melalui kegiatan Integrasi Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa ke Puskesmas di beberapa Provinsi, setelah tahun 1990 sampai dengan saat ini, pelayanan kesehatan jiwa dilaksanakan melalui Dokter Puskesmas dan Perawat yang telah dilatih tentang bagaimana cara melakukan anamnesis dan pemeriksaan pasien. 2. Ketersediaan obat Psikotropik di berbagai Tingkat Pelayanan Di berbagai tingkat pelayanan telah tersedia berbagai jenis obat psikotropik yang tercantum dalam Daftar Obat Esensial Nasional yang telah dilaksanakan sejak lebih dari 10 tahun yang lalu. Penyusunan Daftar Obat Esensial Nasional telah dilakukan dengan memasukkan golongan obat Psikotr opik termasuk beberapa golongan generasi baru yang lebih efektif serta sedikit efek samping untuk Puskesmas dan RSU.
8

y y y

y y

y y

y y

y y

3. Tersedianya Perawatan Kesehatan Jiwa di Masyarakat Dokter dan Perawat Puskesmas telah mendapat bekal tentang kesehatan jiwa, yaitu pengenalan, manajemen dan rujukan. Sebelum era desentralisasi, biaya perawatan penderita gangguan jiwa dianggarkan pada Departemen Kesehatan melalui Rumah Sakit Jiwa, sedangkan pada era Otonomi Daerah, kemampuan advokasi para profesional kesehatan jiwa kepada pemegang keputusan daerah sangat menentukan. 4. Pendidikan kepada Masyarakat Pendidikan masyarakat dalam rangka meningkatkan kesadaran terhadap kesehatan jiwa telah dilak sanakan melalui upaya pengembangan media promosi untuk petugas penyuluhan dan bekerjasama dengan program/sektor, organisasi profesi dan orgasisasi kemasyarakatan dalam bentuk kegiatan. 5. Keterlibatan peran serta masyarakat, keluarga dan consumer Setiap orang sebaiknya mendapatkan pelayanan sesuai dengan kebutuhannya, karena itu peran serta masyarakat dan keluarga sangat besar serta kerjasama lintas program dan lintas sektor perlu di tingkatkan. Dalam hal ini advokasi dari pemerintah kepada wakil rakyat p erlu digiatkan, agar masyarakat di daerah ikut terperhatikan kesehatan jiwanya. 6. Menetapkan Kebijakan Nasional, program dan Peraturan Perundang undangan Kebijakan Nasional tentang Kesehatan Jiwa sudah ada sejak tahun 2000, namun Kebijakan Nasional tentang Kesehatan Jiwa Masyarakat dan Program -program Kesehatan Jiwa Masyarakat sedang dikembangkan. 7. Pengembangan Sumber Daya Manusia Jumlah tenaga Psikiater sangat terbatas, di beberapa Provinsi hanya ditemukan satu sampai dua Psikiater. Upaya yang ditempuh untuk mengatasi hal ini yaitu meningkatkan kemampuan dokter umum dan perawat di pelayanan kesehatan dasar untuk dapat menangani kesehatan jiwa. Dengan desentralisasi, daerah dapat mengembangkan kemampuan sumber daya manusia yang ada menjadi tenaga spe sialis di bidang kesehatan jiwa, termasuk tenaga medis maupun non medis seperti Psikiater, Psikolog klinis, perawat psikiatri, pekerja sosial psikiatri okupasi terapi, dll, sehingga mereka dapat bekerja sama dalam satu tim.
9

y y y

y y y

y y y y

8. Jaringan antar sektor Kesehatan jiwa tidak dapat ditangani oleh profesi kesehatan jiwa saja tetapi perlu bekerja sama dengan sektor lain seperti pendidikan, tenaga kerja, sosial, hukum, dll. Departemen Pendidikan Nasional telah membantu mendidik siswa berdaya tahan mental kuat melalui latihan Life Skill Education, membantu menyelesaikan kebutuhan pendidikan bagi mereka yang mengalami tekanan jiwa. 9. Pemantauan kesehatan jiwa di masyarakat Untuk memantau kesehatan jiwa di masyarakat diperlukan indikator, sistem pencatatan dan pelaporan yang memadai, mudah di akses dan dapat di analisa. Sistem ini masih perlu dibangun, budaya mendokumentasikan kegiatan perlu terus ditingkatkan, demikian juga kecepatan dalam menganalisa sebuah isu kesehatn jiwa secara terarah, dengan tetap memel ihara ketenanganan masyarakat. 10. Dukungan terhadap penelitian -penelitian Penelitian atau riset di bidang biologik dan psikososial kesehatan jiwa telah dikembangkan oleh fasilitas pendidikan kedokteran jiwa atau Badan Litbangkes. Dari pembahasan diatas terlihat bahwa masalah kesehatan jiwa di masyarakat adalah sangat luas dan kompleks, bukan hanya meliputi yang jelas sudah terganggu jiwanya, tetapi juga berbagai problem psikososial, bahkan berkaitan dengan kualitas hidup dan keharmonisan hidup. Masalah ini tidak dapat dan tidak mungkin diatasi oleh pihak kesehatan jiwa saja, tetapi membutuhkan suatu kerjasama yang luas secara lintas sektor, yang melibatkan berbagai departemen, termasuk peran serta masyarakat dan kemitraan swasta, terlebih lagi dengan kondisi masyarakat kita yang saat ini sedang dilanda berbagai macam krisis, maka tindakan pencegahan secara lintas sektor perlu dilakukan secara terpadu dan berkesinambungan, agar masalah tersebut tidak memberikan dampak yang mendalam terhadap taraf kesehata n jiwa masyarakat. 10

y y y y

y y y y y y y y y y y y y y y y y

Mengingat makin kompleksnya serta makin meningkatnya masalah kesehatan jiwa di masyarakat, maka diperlukan pendekatan dan pemecahan masalah dengan persiapan dan langkah -langkah yang tepat. Pendekatan yang bersifat multidisipliner dengan pelaksanaan yang bersifat lintas sektor, melalui perkembangan upaya kesehatan jiwa di Indonesia khususnya sejak diterapkannya ilmu kedokteran jiwa modern dan sejak diberlakukannya Undang -undang Nomor 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan, akhirnya melahirkan TP -KJM ( TIM PEMBINA, TIM PENGARAH, TIM PELAKSANA KESEHATAN JIWA MASYARAKAT). Untuk mengetahui bagaimana terbentuknya TP -KJM itu, apa maksud dan tujuannya, apa yang menjadi landasan kerjanya, apa yang diperma salahkannya, bagaimana administrasi, organisasi serta mekanisme kerjanya, maka disusunlah Pedoman Umum TIM PEMBINA, TIM PENGARAH, TIM PELAKSANA KESEHATAN JIWA MASYARAKAT ( TP-KJM ), untuk dapat dipakai oleh berbagai pihak yang berkepentingan, guna melaksan akan program kerjasama dalam pembinaan kesehatan masyarakat di Indonesia dengan lebih mudah dan baik. B. DASAR HUKUM 1. Undang-undang Nomor 6 Tahun 1974 tentang Ketentuan -ketentuan Pokok Mengenai Kesejahteraan Sosial . 2. Undang-undang Nomor 2 Tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional . 3. Undang-undang Nomor 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan . 4. Undang-undang Nomor 4 Tahun 1997 tentang Penyandang Cacat . 5. Undang-undang Nomor 5 Tahun 1997 tentang Psikotropika . 6. Undang-undang Nomor 22 Tahun 1997 tentang Narkotika . 7. Undang-undang Nomor 25 Tahun 1997 tentang Ketenagakerjaan . 8. Undang-undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah. 9. Undang-undang Nomor 25 Tahun 1999 tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah . 10. Peraturan Pemerintah Nomor 31 Tahun 1980 tentang Penanggulangan Gelandangan Pengemis . 11. Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 2000 tentang Kewenangan Pemerintah dan Kewenangan Propinsi Sebagai Daerah Ot onom . 12. Peraturan Pemerintah Nomor 84 Tahun 2000 tentang Pedoman Organisasi Perangkat Daerah . 13. Peraturan Pemerintah Nomor 39 Tahun 2001 tentang Penyelenggaraan Dekosentrasi . 14. Peraturan Pemerintah Nomor 52 Tahun 2001 tentang Penyelenggaraan Tugas Pembantuan .
11

y y

y y y y

15. Peraturan Pemerintah Nomor 106 Tahun 2001 tentang Pengelolaan dan Pertanggungjawaban Keuangan dalam Pelaksanaan Dekosentrasi dan Tugas Pembantuan . 16. Keputusan Presiden Nomor 102 Tahun 2001 tentang Kedudukan, Tugas, Fungsi, Susunan Organisasi dan Tata Kerja Departemen. 17. Keputusan Presiden Nomor 109 Tahun 2001 tentang Unit Organisasi dan Tugas Eselon I Departemen. 18. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1993/Kdj/ U/1970 tentang Perawatan Penderita Penyakit Jiwa. 19. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 547/ Menkes/SK/IV/2000 tentang Kebijakan Pembangunan Kesehatan Menuju Indonesia Sehat 2010. 20. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1277/ Menkes/SK/XI/2001 tentang Organisasi dan Tata Kerja Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 21. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1346/Menkes/SK/XII/2001 tentang Rencana St rategis Pembangunan Kesehatan 2001-2004.
II. PENGERTIAN DAN RUANG LINGKUP A. Pengertian 1. Tim Pembina, Tim Pengarah, Tim Pelaksana Kesehatan Jiwa Masyarakat (TP-KJM) a. Tim Pembina Kesehatan Jiwa Masyarakat tingkat Pusat : adalah merupakan Tim yang membina program-program kesehatan jiwa masyarakat yang keanggotaannya terdiri dari unsur antar Departemen dan penyelenggaraan kegiatannya dibawah koordinasi Menteri Kesehatan RI. Fungsi sehari-hari kegiatan koordinasi tersebut diselenggarakan oleh Direk tur Jenderal Bina Kesehatan Masyarakat Departemen Kesehatan dan pelaksana hariannya yaitu Direktur Kesehatan Jiwa Masyarakat Ditjen Bina Kesehatan Masyarakat Departemen Kesehatan. b. Tim Pengarah Kesehatan Jiwa Masyarakat tingkat Provinsi : adalah merupakan Tim yang memberikan pengarahan bagi pelaksanaan program-program kesehatan jiwa masyarakat di Provinsi dan Kabupaten / Kota, yang keanggotaannya terdiri dari beberapa perangkat daerah yang terkait, Kepala Kepolisian Daerah dan Direktur Rumah Sakit Jiwa Pusat / Provinsi di wilayahnya, yang pelaksanaannya dibawah koordinasi Sekretaris Daerah Provinsi. Pelaksanaan sehari -hari berada dibawah koordinasi Kepala Dinas yang membidangi Kesehatan. 12

y y y y y y y y

y y

y y

y y y

y y y y y y y y y y

c. Tim Pelaksana Kesehatan Jiwa Masyarakat tingkat Kabupaten/Ko ta : adalah merupakan Tim yang melaksanakan program -program kesehatan jiwa masyarakat di Kabupaten/Kota, yang keanggotaannya terdiri dari beberapa perangkat daerah yang terkait, Kepala Kepolisian Resort dan Direktur Rumah Sakit Jiwa di wilayahnya, yang pelaksanaannya dibawah koordinasi Sekretaris Daerah Kabupaten / Kota. Pelaksanaan sehari -hari berada dibawah koordinasi Kepala Dinas yang membidangi Kesehatan. 2. Beberapa Istilah Dalam Bidang Kesehatan Jiwa a. Kesehatan Jiwa ( Mental Health ) adalah suatu kondisi mental yang sejahtera yang memungkinkan hidup harmonis dan produktif sebagai bagian yang utuh dari kualitas hidup seseorang, dengan memperhatikan semua segi kehidupaan manusia. Seseorang yang sehat jiwa mempunyai ciri-ciri sebagai berikut : 1. Menyadari sepenuhnya kemampuan dirinya 2. Mampu menghadapi stress kehidupan yang wajar 3. Mampu bekerja secara produktif dan memenuhi kebutuhan hidupnya 4. Dapat berperan serta dalam lingkungan hidup 5. Menerima baik dengan apa yang ada pada diriny a 6. Merasa nyaman bersama dengan orang lain b. Gangguan Jiwa ( Mental Disorder ) adalah suatu perubahan pada fungsi jiwa yang menyebabkan adanya gangguan pada fungsi jiwa, yang menimbulkan penderitaan pada individu dan atau hambatan dalam melaksanakan peran sosialnya. c. Kesehatan Jiwa Masyarakat ( Community Mental Health ) Konsep Kesehatan Jiwa Masyarakat merupakan suatu orientasi kesehatan jiwa yang mencakup semua kegiatan kesehatan jiwa yang dilaksanakan di masyarakat dengan menitik beratkan pada upaya promotif dan preventif tanpa melupakan upaya kuratif dan rehabilitatif . 3. Beberapa Karakteristik / Prinsip Kesehatan Jiwa Masyarakat :

y y

y y y y y

a. Ditujukan terutama sekali kepada kelompok didalam masyarakat , walaupun fokus terhadap indi vidupun tidak diabaikan b. Dititik beratkan pada promotif dan preventif
13

y y y

y y y

y y y

c. Diusahakan agar berbagai pelayanan lain turut serta dalam sistim pelayanan kesehatan jiwa d. Dititik beratkan kepada kerjasama lintas sektoral , khususnya mencakup kegiatan di sektor-sektor : pendidikan, kesejahteraan sosial, keagamaan, keluarga berencana, tenaga kerja, dan lain -lain. e. Menjalankan kegiatan Konseling dan yang bersifat Intervensi khususnya dalam kondisi krisis f. Mengusahakan peningkatan peran serta masyarakat g. Mengusahakan pendidikan dan latihan bagi para petugas dibidang pelayanan kemanusiaan seluas-luasnya, agar berorientasi terhadap prinsip kesehatan jiwa. h. Melaksanakan kerjasama yang seerat -eratnya dengan bidang Kesehatan Masyarakat i. Menjalankan kegiatan riset epidemiologi kesehatan jiwa j. Mengusahakan agar Pelayanan Kesehatan Jiwa tersebut dapat bersifat menyeluruh (komprehensif), yaitu meliputi seluruh usia atau life cycle manusia (dari anak dalam kandungan, balita, anak, remaja , dewasa, usia lanjut), berbagai jenis pelayanan (promotif / preventif, kuratif dan rehabilitatif) dan lain -lain.
4. Identifikasi Permasalahan Kesehatan Jiwa Masyarakat

y y y y

y y y

Urbanisasi, industrialisasi dan modernisasi sebagai hasil pembangunan dapat menimbulkan pengaruh sampingan berupa berbagai stres kehidupan yang intensif, baik bagi individu maupun kelompok. Stres kehidupan tersebut dapat menimbulkan berbagai proses, yang dapat dikelompokan sebagai berikut: a. Proses pertumbuhan kota yang cepat mengandu ng faktor-faktor yang menguntungkan maupun yang kurang menguntungkan bagi individu / kelompok b. Faktor-faktor yang menguntungkan maupun yang tidak, semuanya menimpa diri manusia dan manusia diharuskan mengolah semua faktor tersebut, disitulah tampak pentingnya faktor kepribadian ( personality) yang dimiliki oleh individu itu apakah ia berhasil menyelesaikan pengolahan itu dengan memadai. c. Faktor-faktor itu juga dapat menimpa keluarga dan masyarakat, akibatnya adalah terjadi pengelompokan baru dalam masyarakat yang sifatnya sangat majemuk (kompleks) dan didasari berbagai kepentingan ( interest ). Terjadi berbagai karakteristik pada lingkungan hidup dalam kota atau daerah yang berhasil membentuk konfigurasiatau corak baru dalam kehidupan, baik yang orientasinya bersifat material maupun nonmaterial. Beberapa stres kehidupan yang dimaksud, disebutkan dibawah ini: 14

y y

y y y y y

1. Stresor kehidupan pribadi

y y y y y y y y

Tekanan emosi berpengaruh | Pada sistem fisiologik, mengakibatkan timbulnya a.l. gangguan psikosomatik, cemas, depresi. Jumlahnya diperkirakan makin banyak. Bila hal ini berlangsung cukup lama, maka gangguan somatik yang sesungguhnya ak an timbul. |Makin banyak dan sering terjadinya kecelakaan lalu lintas. Penyebab tersering adalah faktor manusia seperti kebosanan ( boredom), ansietas, frustasi, dll. |Makin meningkatnya kondisi-kondisi depresi dengan kecenderungan bunuh diri atau percobaan bunuh diri ( suicidal attempt). | Makin meluas terjadinya berbagai krisis pribadi yang berkaitan dengan perkawinan, melahirkan atau peristiwa meninggal dunia. |Makin berpengaruh kondisi suara dilingkungan hidup ( noise pollution)
2. Stress Sosio-Ekonomik

y y y y y y y

| Status dalam masyarakat sangat sering diukur atas standar taraf kehidupan sosio-ekonomik, maka hal-hal seperti penghasilan ( income), pekerjaan yang menghasilkan (gainful-employment), rumah atau tempat tinggal yang memadai dan lain-lain ukuran fisik, merupakan indikator -indikator yang penting dalam penilaian pribadi (diri sendiri maupun orang lain). |Kemiskinan / kekurangan menjadi soal dan stressor sosial -ekonomik yang tidak dapat dihindarkan, umpamanya bilamana tidak atau kurang tersed ianya pemenuhan dari kebutuhan yang dirasakan primer ( tidak / kurang tersedianya sekolah / pendidikan bagi dirinya maupun anak -anaknya, demikian pula rekreasi yang terjangkau ataupun kesempatan bekerja yang terlalu sempit, dsb ). | Penolakan langsung untuk memasuki kalangan yang diinginkan seperti lingkungan kerja, rekreasi, dll.
3. Kepadatan penduduk yang makin meninggi.

Menimbulkan dua jenis akibat yang walaupun ada inter -relasinya perlu diperhatikan secara agak terpisah. |Pengaruh Psiko-Sosial Dalam kelompok ini dapat dimasukkan reaksi -reaksi apathy, depresi, hilangnya/berkurangnya rasa kehalusan (sering orang berkata rasa ketimuran), alienasi, sikap dingin dan keras terhadap sesamanya hingga orang berubah menjadi lebih
15

y y y y y y

keras, kejam, jahat, promiskus dan cenderung lebih cepat terjerumus ke dalam penyalahgunaan alkohol, narkotika dan obat. |Pengaruh Fisik-Biologik Dalam kelompok ini dapat dimasukkan kondisi -kondisi seperti dekompensasi dari semua jenis pelayanan kepada masyarakat mulai dari higiene sanitasi, transportasi, pendidikan, dll. Dengan sendirinya maka situasi seperti itu akan merupakan kondisi subur bagi fenomena -fenomena seperti migrasi ke kota, meluasnya penyakit venerik, dll.
4. Perubahan Sosial Walaupun perubahan itu tidak senantiasa negatif (malahan dapat bersifat menunjang dan positif terhadap perkembangan -perkembangan lainnya), harus diambil sikap kewaspadaan setinggi -tingginya supaya jangan terjerumus dalam kondisi human distress dan tendensi kearah social disorganization Beberapa faktor yang perlu diperhatikan : | Kemajuan teknologi yang memungkinkan komunikasi sangat cepat ( instant information) tetapi di pihak lain juga mengakibatkan dorongan untuk memperoleh kepuasan segera atau pemuasan segera (instant gratification atau satisfication), dan lain-lain. | Perubahan pola extended family kearah nuclear family dengan pengertian bahwa masing-masing pola keluarga itu memiliki stress tersendiri, demikian pula fase transisi dari satu pola ke pola yang lainnya. | Timbulnya golongan kaya baru ( noveau riches), yang merupakan salah satu dari sekelompok pergeseran yang biasanya menimbulkan stress tertentu. | Tidak dimanfaatkannya mereka yang berusia lanjut, umpamanya karena pensiun, tiada penampungan yang memadai, dsb. Terutama bagi mereka dengan ekonomi yang sangat terbatas (marginal) atau rendah. Kemajuan taraf kesehatan umum masyarakat menyebabkan harapan hidup lebih lama, sudah menjadi kenyataan (life expectancy) sekarang sekitar 65-70 tahun, dahulu sebelum perang dunia II lebih rendah dari 40 tahun. 5. Urbanisasi Migrasi ke kota besar dapat menimbulkan masala h pada kesehatan jiwa, meliputi : 16

y y y

y y

y y

y y y

y y

y y y y y

| Timbulnya berbagai daerah peri -urban dan slum area yang biasanya ditempati oleh mereka yang miskin karena bermigrasi dari daerah pedalaman dengan berbagai harapan yang tidak semuanya relistik. |Timbulnya individu avonturir / petualang yang bertendensi nekat dan individu individu yang berkepribadian sejenis. | Timbulnya kecenderungan untuk memanipulasi golongan individu yang berkekuatan ekonomi rendah
6. Pola Kehidupan Keluarga Disebabkan terjadinya berb agai proses perubahan sosial, maka timbul pula berbagai stress yang mempengaruhi pola kehidupan keluarga dan lembaga lembaga kehidupan sosial terkenal dalam masyarakat, seperti keluarga, kepercayaan, keagamaan, dll. Beberapa yang perlu diperhatikan, diant aranya : |Timbulnya new groupings yang didasari oleh kepentingan bersama mengenai opportunisme, fanatisme dan kepentingan -kepentingan lain. | Memungkinkan untuk penyelewengan dan berbagai tradisi masyarakat yang baik kearah yang kurang baik, seperti gotong royong dapat bertendensi parasitisma dan malahan menjurus ke kemungkinan pemerasan ( black mail), dsb. | Berbagai kemungkinan perubahan sikap dan nilai mengenai perkawinan, hubungan seksual, dan lain -lain. |Perubahan sikap karena popularitas konsep-konsep / praktek-praktek keluarga berencana |Perceraian / perpisahan ( separation) antara orang tua |Pengaruh dari berbagai kondisi fisik hidup seperti bangunan susun yang tinggi (high rise flats) dalam hubungan dengan tindak kejahatan, pencurian , perampasan, pemerkosaan, dan lain -lain. 7. Nasib dan keamanan dari orang yang berusia lanjut Terjepitnya kedudukan para senior citizens karena : |Life expectancy naik / distribusi demografi berubah |Makin gugurnya pola keluarga dari extendedfamily ke nuclear family |Sistem pensiun yang ketat |Orang usia lanjut senantiasa kehilangan status |Orang usia lanjut selalu berpredisposisi kearah makin berkurang kekayaannya atau bahkan makin miskin karena penghasilan tidak tetap 17

y y y

y y y y

y y y y y y y y

y y y

y y y y y y y y y y y y

8. Situasi dari berbagai Lembaga Sosial dalam masyarakat Berbagai stress yang harus ditanggung dan ditampung olehg bermacam -macam lembaga itu, langsung diakibatkan karena urbanisasi, industrialisasi dan tekanan modernisasi, diantaranya: | Pekerjaan: karena proses urbanisasi dll, maka dapat dibayangkan bahwa syarat-syarat dan kondisi untuk menduduki suatu jabatan makin ditingkatkan dan diperketat. Dipihak lain belum tentu hal itu secara otomatik akan membawa hasil pada perbaikan suatu lingkungan kerja, perbaikan hubu ngan kerja , kepuasan kerja dan jaminan kerja. |Mutu sekolah / lembaga pendidikan yang tidak secara realistik membaik | Anak-anak dari keluarga besar (jumlah anaknya banyak ) cenderung untuk relatif nyata terlantar, karena jaminan sosial tidak mencukupi . | Lembaga kesetikawanan dalam masyarakat seperti Rukun Tetangga, Rukun Warga perlu diusahakan untuk diperkuat. 9. Perbedaan Sosial-Budaya Dalam kondisi tidak menguntungkan , maka perbedaan itu dapat menjadi sumber timbulnya stress tertentu, diantaranya: | Di daerah urban sering dijumpai fenomena , bahwa perbedaan sosial budaya ini cenderung dipertajam ( status jabatan, ekonomi, sosial dimas yarakat, dll). | Perbedaan yang terikat pada lokasi tempat tinggal bisa dijadikan salah satu masalah. |Perbedaan kepercayaan / keagamaan juga dapat merupakan masalah. B. RUANG LINGKUP 1. TIM PEMBINA / TIM PENGARAH / TIM PELAKSANA KESEHATAN JIWA MASYARAKAT (TP-KJM) DALAM MELAKSANAKAN TUGAS, WEWENANG DAN TANGGUNG JAWABNYA MENCAKUP: a. Wilayah kegiatan TP-KJM berada di Pusat, Provinsi dan Kabupaten / Kota termasuk masyarakat / penduduknya b. Kegiatan pembinaan / pengarahan / pelaksanaan TP -KJM pada setiap wilayah kerja disesuaikan dengan situasi dan kondisi yang ada pada masing -masing wilayah. 18

y y

y y

c. Kegiatan TP-KJM di Pusat, Provinsi dan Kabupaten / Kota berprinsip pada koordinatif, konsultatif, informatif, fasilitatif, pengawasan, pengendalian dan pengembangan sistem serta pemecahan masalah lintas sektor dan peran serta masyarakat.
2. MASALAH KESEHATAN JIWA Lingkup masalah kesehatan jiwa bersifat luas dan kompleks saling berhubungan dengan segala aspek kehidupan manusia. Mengacu pada Undang -undang Nomor 23 tahun 1992 tentang Kesehatan dan Ilmu Kedokteran Jiwa (Psychiatri) yang berkembang dengan pesat, secara garis besar masalah kesehatan jiwa digolongkan menjadi : a. Masalah perkembangan manusia yang harmonis dan peningkatan kualitas hidup yaitu masalah kejiwaan yang terkait dengan makna dan nilai -nilai kehidupan manusia, misalnya : 1) masalah kesehatan jiwa yang berkaitan dengan life cycle kehidupan manusia mulai dari persiapan pr anikah, anak dalam kandungan, balita, anak, remaja, dewasa dan usia lanjut 2) dampak dari menderita penyakit menahun yang menimbulkan disabilitas 3) pemukiman yang sehat 4) pemindahan tempat tinggal b. Masalah Psiko-Sosial yaitu masalah psikis atau kejiwaan yang timbul sebagai akibat terjadinya perubahan sosial, misalnya : 1) psikotik gelandangan (seseorang yang berkeliaran ditempat umum dan diperkirakan menderita gangguan jiwa psikotik, dianggap mengganggu ketertiban / keamanan lingkungan) 2) pemasungan penderita gangguan jiwa 3) masalah anak jalanan 4) masalah anak remaja : tawuran, kenakalan 5) penyalahgunaan narkotika dan psikotropika 6) masalah seksual : penyimpangan seksual, pelecehan 7) tindak kekerasan sosial 8) stres pasca trauma 9) pengungsi / migrasi 10) masalah usia lanjut yang terisolir 19

y y y

y y y

y y y y y y

y y y y y y y y y y

y y y y y

11) masalah kesehatan kerja: kesehatan jiwa tempat kerja, penurunan produktifitas, stres ditempat kerja, dan lain -lain
c. Masalah Gangguan Jiwa yaitu suatu perubahan pada fungsi jiwa y ang menyebabkan adanya gangguan pada fungsi jiwa, yang menimbulkan penderitaan pada individu dan atau hambatan dalam melaksanakan peran sosial. Jenis -jenis gangguan jiwa ini tercantum dalam Pedoman Penggolongan Diagnosis Gangguan Jiwa Edisi Ketiga (PPDGJ-III) tahun 1995 atau chapter F00-F99 dari International Classification of Diseases ( ICD-X) antara lain: 1) Gangguan Mental dan Perilaku akibat penggunaan zat psikoaktif (Narkotika, Psikotropika dan Zat adiktif lainnya) 2) Skizofrenia 3) Gangguan Afektif ( Depresi, Mania ) 4) Ansietas / kecemasan, Gangguan somatoform (psikosomatik ) 5) Gangguan Mental Organik ( Demensia/ Alzheimer, Delirium, Epilepsi, Pasca Stroke dan lain-lain ) 6) Gangguan Jiwa Anak dan Remaja ( Gangguan Perkembangan Belajar , Autisme, Gangguan Tingkah Laku , Hiperaktifitas, Gangguan Cemas dan Depresi ) 7) Retardasi Mental III. TUJUAN DAN SASARAN A. TUJUAN Meningkatkan kerjasama lintas sektor terkait, termasuk peran serta masyarakat dan kemitraan swasta, LSM, kelompok profesi dan organisasi masyarakat secara terpadu dan berkesinambungan, dalam rangka meningkatkan kesadaran, kemauan dan kemampuan masyarakat dalam menghadapi masalah kesehatan jiwa, sehingga akan terbentuk perilaku sehat sebagai individu, keluarga dan masyarakat yang memungkinkan setiap orang hidup lebih produktif secara sosial dan ekonomis. B. SASARAN

y y y y y y

y y y y y

y y y y

Untuk mencapai tujuan dimaksud, sasarannya dikelompokkan sebagai berikut : 1. Sasaran utama yaitu Tim Pembina Kesehatan Jiwa Masyarakat (TP -KJM) di Pusat, Tim Pengarah Kesehatan Jiwa Masyarakat (TP-KJM) di Provinsi dan Tim Pelaksana Kesehatan Jiwa Masyarakat (TP -KJM) di Kabupaten / Kota. 2. Sasaran antara , dikelompokkan dalam :
20

y y y

y y y y y y y y y y

a. Pengambil keputusan (sektoral dan non sektoral) di tingkat Pusat, Provinsi, Kabupaten / Kota b. Tokoh Masyarakat (TOMA) di tingkat Pusat, Provinsi, Kabupaten / Kota. c. Tokoh Agama (TOGA) di tingkat Pusat, Provinsi, Kabupaten / Kota
IV. KEBIJAKAN A. KEBIJAKAN

DAN STRATEGI

1. Kebijakan dalam upaya mewujudkan kesehatan jiwa masyarakat berdasarkan prinsip partisipatif dengan ruang lingkup Primary Prevention (Health Education & Specific Protection) dan memperhatikan siklus kehidupan (Life Cycle) dan tatanan masyarakat (Social-Cultural Setting). 2. Sejalan dengan kebijakan desentralisasi perlu adanya advokasi terhadap Provinsi dan Kabupaten/Kota dalam menyusun kebijakan dan program kesehatan jiwa di Provinsi dan Kabupaten / Kota. Untuk keperluan ini harus mengacu pada Kebijakan Kesehatan Jiwa Nasional sebagai subsistem Kebijakan Kesehatan Nasional (Indonesia Sehat 2010) dan Kebijakan Desentralisasi Pemerintahan. 3. Pemerintah Daerah Provinsi dan Kabupaten/Kota harus disensitisasi dan ditingkatkan perannya dalam menghadapi masalah kesehatan jiwa masyarakat dan mengurangi dampaknya terhadap kesejahteraan masyarakat. Khususnya dalam pembentukan TP-KJM sebagai salah satu lembaga perangkat daerah dalam upaya Pengarahan dan Pelaksanaan Upaya Kesehatan Jiwa Masyarakat. 4. Upaya kesehatan jiwa masyarakat dilaksanakan secara konseptual dan melalui pendekatan multidisipliner dengan kerjasama lintas sektoral yang mengacu pada peningkatan kualitas sumber daya manusia dengan wadah koordinatif TP-KJM. 5. Pengembangan dan pendayagunaan sarana dan prasarana pelayanan kesehatan jiwa masyarakat yang komprehensif bagi pemenuhan kebutuhan penanggulangan masalah yang menjadi prioritas. 6. Program Peningkatan Partisipasi Masyarakat dan Kemitraan Sw asta diarahkan untuk memberdayakan LSM atau Organisasi Swasta agar mampu mendorong kemandirian masyarakat untuk
21

y y

y y

y y

y y

y y

mencapai jiwa yang sehat, khususnya dalam hal membantu identifikasi masalah kesehatan jiwa dalam masyarakat dan sumber daya yang ada dalam masyarakat (social supporting system), melakukan standarisasi pelayanan yang dilakukan LSM, Swasta, dan peningkatan pengetahuan masyarakat tentang kesehatan jiwa melalui media kultural daerah / lokal. 7. Peningkatan kesadaran akan pentingnya kesehatan jiw a sehingga dapat mewujudkan perilaku sehat jiwa dalam masyarakat memerlukan upaya promotif dan preventif pada setiap strata masyarakat utamanya balita, anak, remaja, wanita, orang tua, usia lanjut dan kelompok -kelompok masyarakat dengan risiko tinggi dan rentan terhadap masalah kesehatan jiwa seperti pengungsi konflik sosial, penduduk korban kekerasan (mental dan seksual), anak jalanan, gelandangan psikotik, pekerja wanita yang rentan, remaja putus sekolah, dll. Upaya promotif dan preventif ini dapat dilaku kan melalui tatanan perilaku hidup bersih yang telah ada di masyarakat. 8. Mempertajam skala prioritas penanganan permasalahan kesehatan dan kesejahteraan sosial, dengan mengacu kepada pertimbangan nilai manfaat dan strategis dalam rangka mendukung dan mempercepat pembangunan kesehatan khususnya dan pembangunan nasional pada u mumnya. 9. Menetapkan kriteria keberhasilan dan cara pengukuran keberhasilan pembangunan kesehatan jiwa secara baku dan konsisten untuk perencanaan, pemantauan pelaksanaan dan penilaian penanggulangan masalah kesehatan jiwa masyarakat. 10. Mempererat silaturahmi Lembaga-lembaga Departemen dan Lembaga lembaga Non Departemen dalam rangka mewujudkan penyelenggaraan upaya kesehatan jiwa masyarakat.
B. STRATEGI

y y

y y

y y

y y y y y

1. Advokasi Kebijakan Publik yang memperhatikan aspek kesehatan jiwa. Program pembangunan d i segala bidang harus memberikan kontribusi yang positif terhadap derajat kesehatan jiwa masyarakat. Hal ini dapat dicapai dengan adanya dukungan kebijakan publik yang memenuhi asa -asas kesehatan jiwa, misalnya kebijakan pemukiman yang menyediakan fasilita s sosial (tempat bermain anak, olahraga bagi remaja, kegiatan sosial bagi usia lanjut, dan lain lain), disetiap Kota/Kabupaten mempunyai Pusat Kegiatan Sosial dan Budaya , disetiap sekolah tersedia kepustakaan, lapangan olahraga yang memadai untuk menampung kreatifitas anak didik, dan lain -lain. Dalam upaya meningkatkan derajat kesehatan jiwa masyarakat ini secara lebih efektif dan efisien, maka upaya promotif dan preventif terhadap munculnya berbagai masalah
22

y y y y y

y y

kesehatan jiwa akan lebih diutamakan d aripada upaya kuratif dan rehabilitatif. 2. Pemantapan Kerjasama Lintas Sektor dan Kemitraan dengan Swasta . Upaya kesehatan jiwa sangat terkait dengan berbagai kebijakan dari sektor sektor di luar kesehatan, sehingga kerjasama yang sudah terjali n selama ini perlu terus ditingkatkan dengan cara -cara yang lebih efektif, khususnya peningkatan pemberdayaan sektor swasta dalam upaya yang bersifat preventif dan promotif. 3. Pemberdayaan Masyarakat melalui pendidikan / penyuluhan / promosi tentang kesehatan jiwa secara terintegrasi dengan program kesehatan dan sektor pada umumnya. Metode dan materi pendidikan kesehatan jiwa harus disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat setempat (relevant), menggunakan tatanan yang sudah ada di masyarakat tersebut (social-cultural setting), dan dapat dimengerti dengan mudah oleh masyarakat (contextual communication). Menumbuhkembangkan pemberdayaan masyarakat untuk mengetahui potensi yang ada dan memanfaatkannya menuju kemandirian. Menciptakan pemberdayaan masyarakat melalui kegiatan institusi yang ada dalam masyarakat itu sendiri, seperti tradisi, adat istiadat, budaya, pemerintahan desa, organisasi kemasyarakatan secara gotong royong dan berkesinambungan. 4. Mengoptimalkan fungsi -fungsi TP-KJM sesuai dengan tugas pokoknya, dengan dukungan sarana dan prasarana yang memadai, serta mekanisme kerja dan koordinasi program yang dilaksanakan secara sinkron dan sinergi. 5. Desentralisasi program kesehatan jiwa pada Kabupaten/Kota. Dalam kaitan dengan desentralisasi pen yelenggaraan pemerintahan pada tingkat Kabupaten/Kota, dan adanya keragaman sumber daya yang dimiliki oleh masing masing Kabupaten/Kota, serta keunikan dari masalah kesehatan jiwa yang ada. Maka perlu dikembangkan Program Kesehatan Jiwa di setiap Kabupaten /Kota oleh Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota dengan fasilitasi dan pemberdayaan dari Provinsi/Pusat. 6. Sosialisasi upaya kesehatan jiwa masyarakat ini dengan adanya dukungan bahan-bahan informasi yang lengkap dan memadai.
23

y y

y y

y y

y y

7. Meningkatkan komunikasi dan forum koordinasi dalam rangka pemberdayaan dan peningkatan kualitas sumber daya manusia dalam upaya pencegahan dan penanggulangan kesehatan jiwa masyarakat.
V. PENGORGANISASIAN A. KEDUDUKAN DAN TANGGUNG JAWAB Implikasi dari reformasi pemerintahan telah mengakibatkan terjadinya pergeseran paradigma penyelenggaraan pemerintahan, dari paradigma sentralistis ke arah desentralisasi yang ditandai dengan pelaksanaan otonomi yang luas dan nyata pada daerah. Pelaksanaan Otonomi Daerah pada dasarnya adalah untuk mendorong memberdayakan masyarakat, menumbuhkan prakarsa dan kreativitas, meningkatkan peran serta masyarakat serta mengembangkan peran dan fungsi Dewan Perwakilan Rakyat Daerah. Disamping itu penyelenggaraan Otonomi Daerah harus dilaksanakan dengan prinsip -prinsip demokrasi, peran serta masyarakat, pemerataan, dan keadilan serta memperhatikan potensi dan keanekaragaman daerah. Sebagai konsekuensi dari penyelenggaraan Otonomi Daerah tersebut maka telah dikeluarkan beberapa p eraturan perundang-undangan yang mengatur hal tersebut, antara lain: a. Ketetapan MPR-RI Nomor XV/MPR/1999 tentang Penyelenggaraan Otonomi Daerah; Pengaturan Pembagian dan Pemanfaatan Sumber Daya Nasional Yang Berkeadilan Serta Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Daerah Dalam Kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia; b. Ketetapan MPR-RI Nomor IV/MPR/2000 tentang Rekomendasi Kebijakan Dalam Penyelenggaraan Otonomi Daerah; c. Undang-undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah; d. Undang-undang Nomor 25 Tahun 1999 tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Daerah; e. Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 2000 tentang Kewenangan Pemerintah dan Kewenangan Propinsi Sebagai Daerah Otonom; f. Peraturan Pemerintah Nomor 84 Tahun 2000 tentang Pedoman Organisasi Perangkat Daerah . g. Peraturan Pemerintah Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pembinaan dan Pengawasan Atas Penelenggaraan Pemerintah Daerah. 24

y y y y

y y y y y y y

y y y y y

y y y

h. Peraturan Pemerintah Nomor 39 Tahun 2001 tentang Penyelenggaraan Dekonsentrasi; i. Peraturan Pemerintah Nomor 52 Tahun 2001 tentang Penyelenggaraan Tugas Pembantuan; j. Peraturan Pemerintah Nomor 56 Tahun 2001 tentang Pelaporan Penyelenggaraan Pemerintah Daerah. k. Peraturan Pemerintah Nomor 106 Tahun 2001 tentang Pengelola an dan Pertanggungjawaban Keuangan dalam Pelaksanaan Dekosentrasi dan Tugas Pembantuan . l. Keputusan Presiden Nomor 102 Tahun 2001 tentang Kedudukan, Tugas, Fungsi, Susunan Organisasi dan Tata Kerja Departemen. m. Keputusan Presiden Nomor 109 Tahun 2001 tentang Unit Organisasi dan Tugas Eselon I Departemen. n. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1277/Menkes/SK/XI/2001 tentang Organisasi dan Tata Kerja Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Sebagai konsekuensi logis dari pelaksanaan Otonomi Daerah tersebut maka terjadi perubahan kedudukan, tugas dan fungsi lembaga -lembaga pemerintah baik di Pusat maupun di Daerah. Perubahan ini diakibatkan oleh bergesernya kewenangan Pemerintahan, baik yang b erada di Pemerintah Pusat, Provinsi maupun Kabupaten/Kota, berdampak pada perubahan kewenangan dan tanggung jawab penyelenggaraan pemerintahan Tim Pembina Kesehatan Jiwa Masyarakat (TP -KJM) merupakan Tim Teknis Pemerintah Pusat yang berada di bawah dan be rtanggung jawab kepada Menteri Kesehatan. Sedangkan Tim Pengarah Kesehatan Jiwa Masyarakat (TP -KJM) di Provinsi di bawah dan bertanggungjawab kepada Gubernur. Tim Pelaksana Kesehatan Jiwa Masyarakat (TP-KJM) di Kabupaten / Kota di bawah dan bertanggungjawab kepada Bupati/Walikota. Adapun bentuk, struktur dan mekanisme kerja Tim Pengarah dan Tim Pelaksana tersebut disesuaikan dengan situasi dan kondisi masing-masing daerah. Tugas, fungsi dan tanggung jawab Tim Pembina Kesehatan Jiwa Masyarakat (TP-KJM) di Pusat, Tim Pengarah Kesehatan Jiwa Masyarakat (TP -KJM) di Provinsi dan Tim Pelaksana Kesehatan Jiwa Masyarakat (TP -KJM) di Kabupaten / Kota, mendukung penyelenggaraan Kesehatan Jiwa Masyarakat meliputi : a. Perumusan kebijakan umum. b. Perumusan administrasi penyelenggaraan. c. Perumusan mekanisme koordinasi di Daerah. d. Perumusan kebijakan operasional.
25

y y

y y y y y

y y y y y y y

e. Perumusan penganggaran / pendanaan. f. Perumusan langkah-langkah kegiatan monitoring dan evaluasi


2. TUGAS DAN KEWAJIBAN Tim Pembina Kesehatan Jiwa Masyarakat (TP -KJM) di Pusat mempunyai tugas membantu Menteri Kesehatan dalam menyusun kebijakan di bidang Kesehatan Jiwa Masyarakat untuk memelihara, mengusahakan dan mengembangkan upaya pencegahan dan penanggulangan masalah kesehatan jiwa masyarakat dengan cara pendekatan multi disiplin, multi sektor dan peran serta masyarakat secara aktif, guna meningkatkan kondisi kesehatan jiwa masyarakat.

y y y y y y

y y

Dalam melaksanakan tugas tersebut diatas Tim Pembina Kesehatan Jiwa Masyarakat (TP-KJM) berkewajiban : a. Mengidentifikasi dan mengklasifikasi permasalahan Kesehatan Jiwa Masyarakat dalam rangka merumuskan kebijakan umum tingkat nasional. b. Memberi masukan kepada Menteri Kesehatan untuk menentukan mekanisme koordinasi dan kebijakan operasional tingk at nasional. c. Menyusun program kerja tahunan, jangka menengah dan jangka panjang, bersama dengan peyusunan anggaran. d. Mengklarifikasi dan memberikan masukan kepada Menteri Kesehatan dalam perumusan kebijakan penyelenggaraan dekonsentrasi dan atau tug as pembantuan. e. Merumuskan langkah-langkah kegiatan monitoring dan evaluasi tingkat Nasional Tim Pengarah Kesehatan Jiwa Masyarakat (TP -KJM) di Provinsi mempunyai tugas membantu Gubernur dalam merumuskan kebijakan Pemerintah Provinsi dalam upaya penc egahan dan penanggulangan masalah kesehatan jiwa masyarakat melalui pendekatan multi disiplin dan peran serta masyarakat, guna meningkatkan kondisi Kesehatan Jiwa Masyarakat yang optimal di wilayahnya. Dalam melaksanakan tugas tersebut diatas Tim Penga rah Kesehatan Jiwa Masyarakat (TP-KJM) di Provinsi berkewajiban : a. Mengidentifikasi, mengklasifikasi dan memetakan permasalahan Kesehatan Jiwa Masyarakat dalam rangka merumuskan kebijakan umum tingkat Provinsi. b. Memberikan masukan kepada Gubernur untuk menentukan mekanisme koordinasi dan kebijakan operasional tingkat Provinsi.
26

y y y y y

y y y y y y

c. Menyusun program kerja tahunan, jangka menengah dan jangka panjang, bersama dengan peyusunan anggaran. d. Mengklarifikasi dan memberikan masukan kepada Gubernur dalam pelaksanaan dekonsentrasi dan tugas pembantuan. e. Merumuskan langkah-langkah kegiatan monitoring dan evaluasi.
Tim Pelaksana Kesehatan Jiwa Masyarakat (TP -KJM) di Kabupaten / Kota mempunyai tugas membantu Bupa ti / Walikota dalam merumuskan kebijakan Pemerintah Kabupaten/ Kota dalam upaya pencegahan dan penanggulangan masalah kesehatan jiwa masyarakat melalui pendekatan multi disiplin dan peran serta masyarakat, guna meningkatkan kondisi Kesehatan Jiwa Masyaraka t yang optimal di daerahnya.

y y y

y y y y y y y y y y y y y y y y

Dalam melaksanakan tugas tersebut diatas Tim Pelaksana Kesehatan Jiwa Masyarakat (TP-KJM) di Kabupaten / Kota berkewajiban : a. Mengidentifikasi, mengklasifikasi dan memetakan permasalahan Kesehatan Jiwa Masyarakat dalam rangka merumuskan kebijakan umum tingkat Kabupaten / Kota. b. Memberikan masukan kepada Bupati / Walikota untuk menentukan mekanisme koordinasi dan kebijakan operasional tingkat Kabupaten / Kota. c. Menyusun program kerja tahunan, jangka menengah dan jan gka panjang, bersama dengan peyusunan anggaran. d. Mengklarifikasi dan memberikan masukan kepada Bupati / Walikota dalam pelaksanaan tugas pembantuan. e. Merumuskan langkah-langkah kegiatan monitoring dan evaluasi.
3. BENTUK DAN SUSUNAN TIM KESEHATAN JIWA MASYARAKAT a. TIM PEMBINA KESEHATAN JIWA MASYARAKAT (TP-KJM) PUSAT Susunan Anggota TP-KJM Pusat Pembina : WAKIL PRESIDEN Koordinator : MENTERI KOORDINATOR KESEJAHTERAAN RAKYAT. Ketua : MENTERI KESEHATAN Anggota : 1. MENTERI DALAM NEGERI 2. MENTERI KEUANGAN 27

y y y y y y y y y y y y y y y y y y y y y y y y y y y y y y y

3. MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL 4. MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI 5. MENTERI SOSIAL 6. MENTERI AGAMA 7. MENTERI KEHAKIMAN DAN HAM 8. MENTERI NEGARA PEMBERDAYAAN PEREMPUAN 9. MENTERI NEGARA KOMUNIKASI DAN INFORMASI 10. SEKRETARIS NEGARA/SEKRETARIS KABINET. 11. KEPALA KEPOLISIAN RI. 12. KEPALA BKKBN
b. TIM PENGARAH KESEHATAN JIWA MASYARAKAT (TP-KJM) PROVINSI Susunan Anggota TP-KJM Provinsi Pembina : GUBERNUR KETUA DPRD PROVINSI Koordinator : SEKRETARIS DAERAH PROVINSI Ketua : KEPALA DINAS YANG MEMBIDANGI KESEHATAN Anggota : 1. BEBERAPA KEPALA PERANGKAT DAERAH YANG TERKAIT 2. KEPALA KEPOLISIAN DAERAH 3. DIREKTUR RUMAH SAKIT JIWA c. TIM PELAKSANA KESEHATAN JIWA MASYARAKAT (TP-KJM) KABUPATEN / KOTA Susunan Anggota TP-KJM Kabupaten / Kota Pembina : BUPATI / WALIKOTA KETUA DPRD KABUPATEN / KOTA Koordinator : SEKRETARIS DAERAH KABUPATEN / KOTA Ketua : KEPALA DINAS YANG MEMBIDANGI KESEHATAN Anggota : 1. BEBERAPA KEPALA PERANGKAT DAERAH YANG TERKAIT.
28

y y y y y y y y

2. KAPOLRES 3. DIREKTUR RUMAH SAKIT JIWA 4. CAMAT


VI. P R O G R A M Ada 4 (empat) hal penting yang perlu diketahui oleh Tim Pembina, Tim Pengarah, Tim Pelaksana Kesehatan Jiwa Masyarakat (TP -KJM) dalam melaksanakan Program Kesehatan Jiwa Masyarakat, yaitu : A. PRINSIP-PRINSIP KESEHATAN JIWA MASYARAKAT

y y y

y y

Terutama ditujukan kepada kelompok didalam masyarakat , dititik beratkan pada promotif dan preventif , diusahakan agar berbagai pelayanan lain turut serta dalam sistim pelayanan kesehatan jiwa , dititik beratkan kepada kerjasama lintas sektoral , menjalankan kegiatan konseling dan yang bersifat intervensi khususnya dalam kondisi krisis, mengusahakan peningkatan peran serta masyarakat , mengusahakan pendidikan dan latihan bagi para petugas dibidang pelayanan kemanusiaan seluas-luasnya, agar berorientasi terhadap prinsip kesehatan jiwa, melaksanakan kerjasama yang seerat -eratnya dengan bidang kesehatan masyarakat, menjalankan kegiatan riset epidemiologi kesehatan jiwa, mengusahakan agar Pelayanan Kesehatan Jiwa tersebut dapat bersifat menyeluruh (komprehensif), yaitu meliputi seluruh usia atau life cycle, berbagai jenis pelayanan (promotif / preventif, kuratif dan rehabilitatif) dan lain -lain. B. IDENTIFIKASI PERMASALAHAN KESEHATAN JIWA MASYARAKAT Urbanisasi, industrialisasi dan modernisasi sebagai hasil pembangunan dapat menimbulkan pengaruh sampingan berupa berbagai stres kehidupan yang intensif, baik bagi individu maupun kelompok. Stres kehidupan tersebut dapat menimbulkan berbagai proses yaitu Pr oses pertumbuhan kota yang cepat mengandung faktor -faktor yang menguntungkan maupun yang kurang menguntungkan bagi individu / kelompok, faktor -faktor ini menimpa diri manusia dan manusia diharuskan mengolah semua faktor tersebut, disitulah tampak penting nya faktor kepribadian (personality) yang dimiliki oleh individu itu apakah ia berhasil menyelesaikan pengolahan itu dengan memadai,
29

y y y

y y y y y y y y y y y y y y y y y y y y y y y y y

faktor-faktor itu juga dapat menimpa keluarga dan masyarakat, akibatnya adalah terjadi pengelompokan baru dalam masyarakat yang sifatnya sangat majemuk (kompleks) dan didasari berbagai kepentingan ( interest). Terjadi berbagai karakteristik pada lingkungan hidup dalam kota atau daerah yang berhasil membentuk konfigurasiatau corak baru dalam kehidupan, baik yang orientasinya bersifat material maupun non material. Beberapa stres kehidupan yang dimaksud yaitu stresor kehidupan pribadi, stress sosio-ekonomik, kepadatan penduduk yang makin meninggi, perubahan sosial, urbanisasi, pola kehidupan keluarga, nasib dan keamanan dari orang yang berusia lanjut, situasi dari berbagai lembaga sosial dalam masyarakat dan perbedaan sosial -budaya. C. STRATEGI UMUM DAN KHUSUS
1. Strategi Umum ( Kebijaksanaan Umum ) a. Prioritas Kegiatan Ditentukan atas dasar pertimbangan: |Mendesak / meluasnya masalah dimasyarakat |Seringnya masalah itu timbul |Akibat yang merugikan dari masalah itu | Tersedianya tenaga ahli atau tenaga yang dapat dididik / dilatih untuk menanggulanginya |Tersedianya sarana dan prasarana b. Desain Kegiatan Hal ini perlu meliputi beberapa kondisi umum seperti: | Sudah/belum tersedianya pelayanan kesehatan jiwa masyarakat didaerah tersebut |Tersedianya dukungan dari pengambil keputusan didaerah |Tersedianya pendanaan yang memadai |Kemungkinan akan tercapainyanya hasil yang memadai c. Kebutuhan dan kemampuan |Tersedianya sistem pelayanan dan informasi |Kemungkinan dilaksanakannya monitoring dan evaluasi |Kemungkinan integrasi dengan kegiatan penyelenggaraan pemerintah lainnya. 2. Strategi Khusus ( Pelaksanaan ) Bidang ini perlu direncanakan dan dilaksanakan dibawah supervisi yang berdisiplin. Oleh karena itu fase perencanaan senantiasa diuji kemantapannya pada implementasi strategi khusus, yang selalu
30

y y y y y

y y y

pula menghendaki komitmen sepenuhnya dari mereka yang melaksanakan tugas sehari-hari. a. Masyarakat Bertujuan untuk menjangkau masyarakat dan berhasil menciptakan suatu masyarakat yang efektif melalui peningkatan kepedulian, pengetahuan dan pemberdayaan tentang upaya pencegahan dan penanggulangan masalah kesehatan jiwa masyarakat. Sasarannya pada tahap ini yaitu kelompok-kelompok masyarakat dan keluarga . b. Sistem rujukan Apabila memerlukan tindak lanjut kegiatan maka sistem rujukan meliputi langkah langkah sebagai berikut: diagnostik, terapi pendahuluan, feed back information (yang diharapkan kepada fasilitas yang merujuk) dari fasilitas yang menerima rujukan, serta tindak lanjut jangka panjang. Untuk itu perlu ada suatu buku pedoman yang dapat diguna kan oleh semua fasilitas pelayanan. Beberapa contoh jalur rujukan antara lain: |Jalur Kesehatan RSU / RSJ Klinik Kesehatan Jiwa Puskesmas |Jalur Pendidikan Sekolah Guru Konselor Keluarga c. Pembinaan / Pendidikan / Pelatihan Untuk dapat melaksanakan pelayanan pada taraf operasional perlu diusahakan pembinaan / pendidikan / pelatihan ketenagaan secara kontinu dan berkelanjutan. Dalam hubungan ini ada beberapa langkah yang perlu dipertimbangkan, a.l. : | Semua latihan harus didasarkan atas kebutuhan realistik yang ada di masyarakat. |Tugas-tugas yang diberikan sebagai tanggung jawab dari petugas yang dilatih perlu dijabarkan
D. PRINSIP-PRINSIP PROGRAM KESEHATAN JIWA MASYARAKAT Beberapa prinsip dasar Program Kesehatan Jiwa Masyarakat adalah: 1. Kerjasama lintas -sektoral dan inter-disipliner Dalam rangka pelaksanaan upaya pencegahan dan penanggulangan masalah kesehatan jiwa masyarakat, dilakukan koordinasi dan kerjasama antar Departemen terkait ( sesuai dengan 31

y y y y y y y y

y y y y y y y y y y

y y y

y y y y

y y

y y y

Surat Keputusan Menteri Kesehatan ) serta berbagai disiplin ilmu yeng mempunyai minat dan kepedulian terhadap masalah kesehatan jiwa seperti edukasi, sosilogi, antropologi, keperawatan dan lain -lain. Di Provinsi, Kabupaten / Kota , koordinasi dan kerjasam a dilaksanakan antar perangkat Daerah terkait ( sesuai dengan Surat Keputusan Gubernur, Bupati/ Wali Kota ) serta berbagai disiplin ilmu yang mempunyai minat dan kepedulian di wilayah masing-masing. 2. Kesehatan Jiwa sebagai komponen dasar pelayanan Keseh atan Dalam bidang ini perlu diperhatikan dua jalur pelayanan kesehatan jiwa yang dijalankan selama ini perlu ditingkatkan efektifitas, yaitu: a. Integrasi Kesehatan Jiwa ( di Puskesmas dan RS Umum ) Peningkatan pengetahuan dan ketrampilan dokter / peraw at dibidang promosi, prevensi serta terapi dan rehabilitasi sangat diperlukan secara kontinu dan berkelanjutan. Pelatihan dan konsultasi secara reguler perlu diciptakan. b. Menyadari pentingnya faktor psiko -sosial-kultural Peningkatan dan penyebarluasan kesadaran dan kepedulian harus merupakan unsur yang integral dari seluruh strategi pelayanan kesehatan yang efektif. Dengan demikian maka sebagian dari penyakit -penyakit yang dilatar belakangi masalah psikososial dan stres ( stress induced conditions or diseases ) dapat ditanggulangi dengan tepat. Lebih lanjut dengan pendekatan tersebut gangguan psikofisiologik atau psikosomatik dapat dicegah sampai taraf tertentu. 3. Peran serta masyarakat Peran serta masyarakat penting dalam menghadapi berbagai kedarura tan / gangguan kesehatan jiwa baik ringan, sedang maupun berat. Masyarakat dapat berperan dalam hal misalnya : mengidentifikasi permasalahan kehidupan, menyebarluaskan pengetahuan kesehatan jiwa kepada masyarakat dan laian-lain. Disamping itu peran serta masyarakat juga dapat diarahkan pada mengidentifikasi kebutuhan -kebutuhan Pelayanan Kesehatan Jiwa yang belum tersedia dimasyarakat.

y y y

PROGRAM-PROGRAM TP-KJM
Dalam melaksanakan kegiatan Pembinaan Kesehatan Jiwa Masyarakat di Pusat, harus berpedoman pada P eraturan Pemerintah No. 25 tahun 2000 tentang Kewenangan Pemerintah dan Kewenangan Provinsi sebagai Daerah Otonom, sehingga Direktorat Jenderal Bina Kesehatan Masyarakat 32

y y y y y y y y y y y y y y

Departemen Kesehatan RI dapat menjalankan program program sebagai berikut: A. PROGRAM UMUM |Menetapkan standar kesehatan jiwa masyarakat; |Pedoman sertifikasi kesehatan jiwa masyarakat; |Menetapkan pedoman biaya kesehatan jiwa masyarakat; |Menetapkan standar akreditasi Rumah Sakit, Pusat Rehabilitasi, Panti; |Menetapkan standar diklat kesehatan jiwa masyarakat; |Menetapkan standar penapisan kesehatan jiwa masyarakat; |Menetapkan standar etika penelitian kesehatan jiwa masyarakat ; |Survailance; |Penyediaan obat essensial tertentu;
B. PROGRAM KHUSUS Tim Pembina Kesehatan Jiwa Masyarakat melaksanakan program khusus dengan mengacu kepada program umum dan menu yang ada di dalam ruang lingkup masalah kesehatan jiwa, meliputi penyusunan standar pelayan teknis bidang kesehatan jiwa masyarakat. Tim Pengarah Kesehatan Jiwa Masyarakat melaksanakan program khusus dengan mengacu kepada program umum dan menu yang ada di dalam ruang lingkup masalah kesehatan jiwa, serta standar pelayan teknis yang disusun oleh Tim Pembina Kesehatan Jiwa Masyarakat meliputi penyusu nan standar pelayanan minimal bidang kesehatan jiwa masyarakat. Tim Pelaksana Kesehatan Jiwa Masyarakat melaksanakan program khusus dengan mengacu kepada program umum dan menu yang ada di dalam ruang lingkup masalah kesehatan jiwa, meliputi pelaksanaan st andar pelayanan minimal bidang kesehatan jiwa masyarakat. VII. MEKANISME DAN TATA LAKSANA A. MEKANISME

y y y y y y y y y

1. Menteri Kesehatan membentuk Tim Pembina Kesehatan Jiwa Masyarakat (TP-KJM) melalui Keputusan Menteri Kesehatan. 2. Gubernur membentuk Tim Pengar ah Kesehatan Jiwa Masyarakat (TP-KJM) melalui Keputusan Gubernur. 3. Bupati / Walikota membentuk Tim Pelaksana Kesehatan Jiwa Masyarakat (TP KJM) melalui Keputusan Bupati / Walikota.
33

y y y y

4. Tim Pembina, Tim Pengarah dan Tim Pelaksana Kesehatan Jiwa Mas yarakat melaksanakan forum koordinasi, komunikasi dan hubungan kerja. 5. Tim Pembina, Tim Pengarah dan Tim Pelaksana Kesehatan Jiwa Masyarakat bersama-sama menyusun rencana dan melaksanakan kegiatan yang berskala nasional.
B. TATA LAKSANA KEGIATAN 1. Menteri Kesehatan, Gubernur, Bupati / Walikota adalah penanggung jawab umum penyelenggara koordinasi di bidang pembinaan kesehatan jiwa masyarakat di masing-masing tingkat administrasi pemerintahan. 2. Gubernur selaku Ketua Tim Pengarah Kesehatan Jiwa Mas yarakat di Provinsi bertanggung jawab dan berkewajiban melaporkan pelaksanaan kegiatan dimaksud kepada Menteri Kesehatan dengan tembusan kepada Menteri Dalam Negeri. 3. Bupati / Walikota selaku Ketua Tim Pelaksana Kesehatan Jiwa Masyarakat di Kabupaten / Kota bertanggung jawab dan berkewajiban melaporkan pelaksanaan kegiatan dimaksud kepada Menteri Kesehatan dengan tembusan kepada Gubernur dan Menteri Dalam Negeri. 4. Hubungan kerja Tim Pembina, Tim Pengarah Kesehatan Jiwa Masyarakat Provinsi dan Tim Pelaksana Kesehatan Jiwa Masyarakat Kabupaten / Kota bersifat konsultatif dan fungsional. C. LANGKAH-LANGKAH PELAKSANAAN TIM PEMBINA, TIM PENGARAH DAN TIM PELAKSANA KESEHATAN JIWA MASYARAKAT 1. RAPAT PERIODIK a. RAPAT KERJA TAHUNAN (RAKER) 1) Raker diadakan 1 kali setahun untuk menentukan program kerja tahun yang akan datang. 2) Dalam Rapat Kerja ini : a) Dilaksanakan evaluasi pelaksanaan program yang telah dijalank an tahun yang lalu. b) Masing-masing sektor mengajukan masalah kesehatan jiwa masyarakat yang dijumpai, baik di Provinsi maupun di Kabupaten / Kota. 34

y y y

y y y y y y y y y y

y y y y y y y y

c) Pelaksanaan Perencanaan Program yang akan dilaksanakan tahun yang akan datang : (1) Menentuan Prioritas Masalah (2) Menentukan Kegiatan yang akan dilaksanakan masing -masing sektor (3) Menentukan koordinasi kegiatan masing -masing sektor 3) Dalam Rapat Kerja tahunan juga dievaluasi pelaksanaan program yang sedang dijalankan. 4) Rapat Kerja memutus kan masalah kesehatan jiwa masyarakat yang akan diberi prioritas pemecahannya pada tahun yang akan datang, dan masing masing sektor serta masyarakat menjabarkannya pada kegiatan yang akan dilaksanakan pada tahun yang akan datang.
b. RAPAT TIM Diadakan secara berkala minimum 3 bulan sekali dihadiri oleh anggota secara lengkap untuk membahas kegiatan tahun berjalan. c. RAPAT KELOMPOK KERJA (POKJA)

y y y y y y

y y y y y

Kelompok kerja ditetapkan oleh rapat pleno, tugasnya yaitu mengadakan pertemuan berkala minimum 1 bulan 1 kali untuk melaksanakan hal-hal yang telah ditetapkan dalam rapat pleno serta menyiapkan bahan -bahan untuk rapat pleno yang akan datang. d. KELOMPOK KERJA KHUSUS Kelompok kerja ini dibentuk bila diperlukan untuk menyelesaikan hal -hal yang bersifat terbatas (menyusun rencana / pelaksanaan kegiatan tertentu). 2. DOKUMENTASI KEGIATAN Setiap pertemuan / rapat yang telah dijalankan oleh Tim Pembina, Tim Pengarah dan Tim Pelaksana Kesehatan Jiwa Masyarakat hendaknya di dokumentasikan (dibuat risalah) secara rapi dan teratur (disimpan dalam berkas). Segala keputusan / langkah yang diambil diketahui oleh semua anggota dengan pertinggal pada ketua / sekretaris.
35

y y

y y y

y y y

3. MATERI RAPAT Materi Rapat adalah berbagai masalah kesehatan jiwa yang berada dalam masyarakat pada dewasa ini dan diduga mungkin akan terjadi di masa mendatang. Oleh karena itu melalui berbagai sektor serta berbagai disiplin ilmu, hendaknya diadakan saling tukar informasi, saling berkonsultasi dan saling memberikan bantuan serta kemudahan (fasilitas) untuk dapat diambil langkah -langkah, antara lain : a) Melakukan identifikasi masalah kesehatan jiwa yang ada dalam masyarakat, baik yang ada maupun yang akan timbul di masa mendatang. b) Membahas permasalahan dan pemecahannya yang mungkin dapat dilaksanakan secara efektif dan efisien. c) Menyusun langkah kegiatan intervensi antara lain Komunikasi Informasi dan Edukasi,

PENGARUH POLA ASUH ANAK TERHADAP PRESTASI SISWA

Posted Sab, 22/08/2009 - 06:32 by Janti Sumedi BAB I PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang Masalah

Keluarga merupakan lembaga pertama dalam kehidupan anak, tempat ia belajar dan menyatakan diri sebagai mahluk sosial. Dalam keluarga umumnya anak ada dalam hubungan interaksi yang intim. Keluarga memberikan dasar pembentukan tingkah laku, watak, moral dan pendidikan anak (Kartono, 1992). Orang tua merupakan pendidik utama dan pertama bagi anak-anak mereka, karena dari merekalah anak mula-mula menerima pendidikan. Bentuk pertama dari pendidikan terdapat dalam kehidupan keluarga. Orang tua dikatakan pendidik pertama karena dari merekalah anak mendapatkan pendidikan untuk pertama kalinya dan dikatakan pendidik utama karena pendidikan dari orang tua menjadi dasar perkembangan dan kehidupan anak di kemudian hari. Orang tua adalah lingkungan pertama dan utama dalam kehidupan seorang anak. Dimana hal ini akan menjadi dasar perkembangan anak berikutnya. Karenanya dibutuhkan pola asuh yang tepat agar anak tumbuh berkembang optimal. Citra diri senantiasa terkait dengan proses tumbuh kembang anak berdasarkan pola asuh dalam membesarkannya (Daryati R,2009). Mendidik anak dengan baik dan benar berarti menumbuhkembangkan totalitas potensi anak secara wajar. Potensi jasmaniah anak diupayakan pertumbuhannya secara wajar melalui pemenuhan

kebutuhan-kebutuhan jasmani, seperti pemenuhan kebutuhan sandang, pangan dan papan. Sedangkan potensi rohaniah anak diupayakan pengembangannya secara wajar melalui usaha pembinaan intelektual, perasaan dan budi pekerti. Anak lahir dalam pemeliharaan orang tua dan dibesarkan dalam keluarga. Orang tua bertugas sebagai pengasuh, pembimbing, pemelihara dan sebagai pendidik terhadap anak -anaknya. Setiap orang tua pasti menginginkan anak-anaknya menjadi manusia yang pandai, cerdas dan berakhlak. Akan tetapi banyak orang tua yang tidak menyadari bahwa cara mereka mendidik membuat anak merasa tidak diperhatikan, dibatasi kebebasannya, bahkan ada yang merasa tidak disayang oleh orang tuanya. Perasaan-perasaan itulah yang banyak mempengaruhi sikap, perasaan, cara berpikir bahkan kecerdasan mereka.

1.2

Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang diatas maka rumusan masalah pada makalah ini adalah : 1. 2. Bagaimanakah pengaruh pola asuh anak terhadap perilaku anak ? Bagaimanakah pengaruh pola asuh anak terhadap prestasi siswa ?

1.3

Tujuan Penulisan

Tujuan penulisan makalah ini adalah : 1. 2. Memberikan pemahaman mengenai pola asuh anak yang mempengaruhi perilaku anak Memberikan pemahaman pola asuh yang mempengaruhi prestasi anak/siswa.

1.4

Manfaat Penulisan

3. Bagi penulis, makalah ini memberikan wawasan lebih mengenai bentuk pola asuh anak dan dampak positif negatifnya. 4. Bagi para pendidik baik orang tua, guru dan lingkungan masyarakat memberikan pemahaman mengenai penerapan pola asuh yang baik bagi perilaku dan prestasi anak. 5. Bagi anak/siswa makalah ini dapat memberikan pemahaman mengenai bentuk pola asuh yang bisa berdampak positif bagi prestasinya.

BAB II PEMBAHASAN

2.1 Bentuk Pola Asuh

Mengenal Bentuk Pola Asuh Orangtua Karakteristik kepribadian setiap individu adalah unik dan berbeda-beda antara satu dengan lainnya. Hal ini disebabkan oleh banyak faktor yang mempengaruhinya, salah satunya adalah keluarga. Keluarga merupakan lingkungan sosial terkecil, namun memiliki peran yang sangat besar dalam mendidik dan membentuk kepribadian seseorang individu. Struktur dalam keluarga dimulai dari ayah dan ibu, kemudian bertambah dengan adanyaanggota lain yaitu anak. Dengan demikian, terjadi hubungan segitiga antara orangtua-anak, yang kemudian membentuk suatu hubungan yang berkesinambungan. Orangtua dan pola asuh memiliki peran yang besar dalam menanamkan dasar kepribadian yang ikut menentukancorak dan gambaran kepribadian seseorang setelah dewasa kelak. Orangtua memiliki cara dan pola tersendiri dalam mengasuh dan membimbing anak. Cara dan pola tersebut tentu akan berbeda antara satu keluarga dengan keluarga yang lainnya. Pola asuh orangtua merupakan gambaran tentang sikap dan perilaku orangtua dan anak dalam berinteraksi, berkomunikasi selama mengadakan kegiatan pengasuhan. Dalam kegiatan memberikan pengasuhan ini, orangtua akan memberikan perhatian, peraturan, disiplin, hadiah dan hukuman, serta tanggapan terhadap keinginan anaknya. Sikap, perilaku, dan kebiasaan orangtua selalu dilihat, dinilai, dan ditiru oleh anaknya yang kemudian semua itu secara sadar atau tidak sadar akan diresapi kemudian menjadi kebiasaan pula bagi anak -anaknya. Penelitian yang telah dilakukan sebelumnya oleh Baumrind (Santrock, 1998) mengenai perkembangan sosial dan proses keluarga yang telah dilakukan sejak pertengahan abad ke 20, yang kemudian membagi kategori bentuk pola asuh berkaitan dengan perilaku remaja. Secar garis besar a terdapat tiga pola yang berbeda diantaranya yakni authoritarian atau otoriter, permissive (permisif) dan authoritative atau demokratis. Berikut ini merupakan penjelasan dari ketiga bentuk pola asuh dan pengaruhnya terhadap anak. Menurut Nashori (2008), sejauh ini di Indonesia khususnya, belum banyak penelitian tentang profil orangtua yang sukses dalam mendidik anak. Beberapa penelitian korelasional telah dilakukan untuk mengungkapkan pola asuh sebagai variabel bebas (Dayakisni, 1977; K risnawaty, 1986; Winarto, 1990; Wismantono, 1995; Wulan, 2000; Setiawan, 1997; Roswita, 2000; Dalimunthe, 2000; Cahyaningrum, 2000; Hapsari, 2000; Mustaqim, 2000; Kurnia, 2000; Endahwati, 2001; Saptasari, 2001; Wibowo, 2002; Furqon, 2002; Mayaningrum, 2002). Dari penelitian-penelitian itu diketahui bahwa pola asuh demokratis/autoritatif menjadikan anak memiliki intensi prososial (1977), kompetensi sosial (Dalimunthe, 2000), prestasi belajar (Roswita, 2000; Mustaqim, 2000; Furqon, 2002), sikap asertif (2001), penyesuaian diri (Mayaningrum, 2002), ketaatan pada peraturan lalu lintas (wismantono, 1995), kepribadian wirasawasta (Winarto, 1990), yang lebih tinggi dibanding anak-anak yang memperoleh pola asuh otoriter maupun permisif dari orangtua. Di samping itu, penelitian juga menunjukkan bahwa bola asuh demokratis menjadikan anak memiliki prokrastinasi (Wulan, 2000) dan depresi (Saptasari, 2001) yang lebih rendah dibanding anak yang diasuh dengan pola asuh otoriter dan permisif. Sebuah penelitian lain yang dilakukan oleh Bloom (Psikologika, 1999) menunjukkan bahwa bintang bintang olahraga, seni, matematika, musik, yang sukses dididik oleh orangtuanya dengan penuh perhatian, dan untuk selanjutnya didampingi oleh pelatih-pelatih yang profesional. Sebagai contoh,

bintang cilik yang sedang meroket namanya Sherina awalnya dilatih oleh orangtuanya untuk bernyanyi. Untuk memperbaiki dan meningkatkan kualitas cara bernyanyinya ia dididik oleh seorang profesional yang bernama Elfa Secioria (Kedaulatan Rakyat, 12 Oktober 2001).

2.2 Prestasi Siswa Poerwanto (1986:28) memberikan pengertian prestasi belajar yaitu hasil yang dicapai oleh seseorang dalam usaha belajar sebagaimana yang dinyatakan dalam raport. Selanjutnya Winkel (1996:162) mengatakan bahwa prestasi belajar adalah suatu bukti keberhasilan belajar atau kemampuan seseorang siswa dalam melakukan kegiatan belajarnya sesuai dengan bobot yang dicapainya. Sedangkan menurut S Nasution (1996) prestasi belajar adalah kesempurnaan yang dicapai seseorang dalam berfikir, merasa dan berbuat. Prestasi belajar dikatakan sempurna apabila memenuhi tiga aspek yakni kognitif, afektif dan psikomotor, sebaliknya dikatakan prestasi kurang memuaskan jika seseorang belum mampu memenuhi target dalam ketiga kriteria tersebut. Berdasarkan pengertian diatas, maka dapat dijelaskan bahwa prestasi belajar merupakan tingkat kemampuan siswa yang dimiliki siswa dalam menerima, menolak dan menilai informasi-informasi yang diperoleh dalam proses belajar mengajar. Prestasi belajar seseorang sesuai dengan tingkat keberhasilan sesuatu dalam mempelajari materi pelajaran yang dinyatakan dalam bentuk nilai atau raport setiap bidang studi setelah mengalami proses belajar mengajar. Prestasi belajar adalah dapat diketahui setelah diadakan evaluasi. Hasil evaluasi dapat memperlihatkan tentang tinggi atau rendahnya prestasi belajar siswa.

2.3 Pengaruh Pola Asuh terhadap Prestasi Siswa Dari 10 responden yaitu siswa dengan ranking 5 besar di sekolah usia antara 14 sampai dengan 17 tahun , yang kami beri questionnaire maka diperoleh kesimpulan bahwa 100 % mereka memahami peranan orang tua ideal dan 90 % menyatakan bahwa orang tua mereka merupakan sosok orang tua yang ideal buat mereka karena bagi mereka orang tua adalah yang memberikan kasih sayang, mendidik, mengarahkan dan membimbing mereka menjadi anak yang lebih baik dan bermanfaat. Penanaman sikap disiplin, menerima apa adanya, memberikan motivasi berprestasi serta aspek spiritual kepada anak diakui merupakan dasar pembentukan karakteranak berprestasi. Aspek psikis dan spiritual pada anak yang dihasilkan oleh orang tua dengan pola asuh otoritatif sangat menunjang secara signifikan prestasi anak. Responden menyatakan 100 % orang tua mereka menanamkan sikap sikap seperti tersebut diatas dan mereka juga memahami alasan sikap orang tua menanamkan perilaku tersebut kepada mereka. Kegiatan ekstrakurikuler dan kegiatan di luar sekolah yang mereka ikuti dan mendapatkan prestasi selain kegiatan akademik mereka, dari 10 responden menyatakan 50 % mereka mengikuti dan berprestasi dan 50 % mereka tidak mengikuti dengan alasan di sekolah tidak terdapat ekstrakurikuler. Penghargaan terhadap prestasi anak juga dilakukan oleh orang tua dengan pola asuh otoritatif walaupun hanya dengan ucapan selamat atas prestasi yang mereka peroleh. Sikap orang tua tersebut akan memberikan efek psikologis bahwa mereka merasa dihargai eksistensinya dan menjadikan mereka lebih termotivasi untuk berprestasi lebih baik lagi.

Ketika anak mempunyai masalah dengan sekolah, hubungan dengan seseorangdan lingkungannya, responden menyatakan 40 % mereka lebih suka/nyaman membicarakannya dengan orang tua karena orang tua lebih bisa menyimpan rahasia pribadi dan memberikan solusi, nasehat untuk membantu menyelesaikan masalah. Sedangkan 60 % mereka lebih suka curhat dengan temannya dengan alasan karena teman atau sahabat mereka menjadi tempat berbagi cerita dan menjadi kepercayaan mereka. Orang tua dengan pola asuh otoritatif bersikap responsif terhadap kebutuhan anak dan mendorong anak untuk menyatakan pendapat atau pertanyaan. Dari 10 responden 100 % mereka menyatakan bahwa orang tua mereka mau mendengarkan pendapat, solusi dan berdiskusi terhadap suatu hal atau masalah. Sikap orang tua tersebut akan memberikan efek rasa percaya diri anak terhadap kemampuannya dalam menyelesaikan permasalahan yang dihadapi. Dengan berdiskusi memberikan ruang bagi orang tua untuk memberikan penjelasan tentang dampak perbuatan yang baik dan buruk bagi anak dan anak pun memahami sikap dan alasan orang tua terhadap mereka. Sehi gga hal ini n akan memberikan kepercayaan anak terhadap orang tua bahwa mereka mendukung sepenuhnya aktivitas mereka dan harapan akan menjadi orang yang berhasil dan bermanfaat.

PELAYANAN KESEHATAN JIWA INTEGRATIF Dr. Dan Hidayat SpKJ(K)

Pendahuluan Prinsip pelayanan kesehatan jiwa dapat dibagi dalam tiga jenis pelayanan: A. Pelayanan bersifat mediko-psiko-sosial, dimana digunakan pendekatan eklektikholistik yaitu pendekatan secara terinci dan secara menyeluruh; juga mengetrapkan prinsip -prinsip ilmu kedokteran, ilmu kedokteran jiwa (psikiatri), ilmu perilaku (psikologi) dan ilmu sosial (sosiologi) B. Pelayanan bersifat komprehensif, berupa pelayanan promosi kesehatan jiwa, pelayanan prevensi, kurasi dan rehabilitasi gangguan kesehatan jiwa C. Pelayanan paripurna yang terdiri dari o Pelayanan kesehatan jiwa spesialistik yang dilakukan oleh psikiater dan ada di RS Jiwa, RS Ketergantungan Obat, RS Umum kelas A dan B, praktik swasta. o Pelayanan kesehatan jiwa terpadu atau pelayanan kesehatan jiwa integr yang dilakukan oleh atif dokter umum di Puskesmas dan RS Umum kelas C dan D, praktik umum swasta. o Pelayanan kesehatan jiwa yang bersumber daya masyarakat di Posyandu, PKK, LKMD, PMR, Pramuka, dilaksanakan oleh guru, orangtua, tokoh masyarakat Pada kali ini akan dibahas khusus pelayanan kesehatan jiwa integratif, yaitu pelayanan kesehatan jiwa yang dilakukan oleh dokter umum dalam praktik sehariharinya. Menurut The World Health Report 2001 dikatakan bahwa prevalensi gangguan mental dan perilaku adalah: 25 % dari seluruh penduduk pada suatu masa dari kehidupannya pernah mengalami gangguan jiwa 40 % diantaranya didiagnosis secara tidak tepat, sehingga menghabiskan biaya untuk pemeriksaan laboratonium dan pengobatan yang tidak tepat 10 % populasi dewasa pada suatu ketika dalam kehidupannya mengalami gangguan jiwa 24% pasien pada pelayanan kesehatan dasar Sedangkan hasil survei kesehatan rumah tangga (SKRT) pada tahun 1995 oleh Badan Penelitian dan

Pengembangan Kesehatan (Balitbangkes) Departemen Kesehatan RI dengan menggunakan rancangan sampel dan Sensus Nasional (Susenas) Biro Pusat Statistik (BPS) terhadap 65.664 rumah tangga, didapatkan prevalensi gangguan jiwa per 1000 anggota keluarga yaitu pada usia 5 tahun -14 104 orang, pada usia diatas 15 th 140 /1000. Sedangkan prevalensi diatas 100 /1000 anggota rumah tangga dianggap sebagai masalah kesehatan masyarakat yang perlu mendapat perhatian (priority public health problem). Dengan demikian gangguan jiwa sudah merupakan masalah kesehatan masyarakat yang perlu mendapat perhatian. Hasil penelitian th 2002 di Propinsi Nangroe Aceh Darussalam (daerah konflik) di 20 Puskesmas dan 10 kabupaten/kota terhadap pasien yang pertama kali datang berobat: 51,10% mengalami gangguan kesehatan jiwa. Penelitian terakhir di Jawa Barat th 2002 (point prevalence - unpublished) ditemukan 36 % pasien yang berobat ke Puskesmas mengalami gangguan kesehatan jiwa. Penyakit atau Gangguan Penyakit atau gangguan secara dikotomis dapat dibagi dalam penyakit fisik atau peny organik akit dan penyakit mental atau penyakit fungsional. Bila karena penyakit fisik timbul gangguan mental maka dikatakan gangguan mental organik; sebaliknya bila karena adanya gangguan/ masalah mental timbul gangguan fisik maka dikatakan gangguan psikosomatik(istilah yang masih banyak digunakan di kalangan medik); bila karena ada masalah flsik kemudian timbul masalah kejiwaan secara tidak langsung, disebut gangguan somato psikis; bila gangguan fisik dan gangguan mental berada bersamaan tanpa hubungan sebab akibat, dikatakan sebagai komorbiditas. Sesungguhnya gangguan fisik dan gangguan mental tidak bisa dipisah-pisahkan, upaya memisahkan fisik dan mental merupakan upaya dikotomis dan hal ini tidak tepat dalam pendekatan eklektik holistik; dan semua gangguan itu sesungguhnya dapat dilakukan dengan pendekatan psikosomatik. Gangguan fungsional mempunyai komponen organik, misalnya perasaan sedih dapat mengeluarkan air mata; gangguan fisik pun mempunyai komponen psikologik, misalnya karena adanya virus HIV dalam darah sudah dapat menimbulkan depresi (somatopsikis), walaupun virus HIV belum menyerang otaknya.Pembagian organik dan fungsional dalam praktik umum, hanya untuk kemudahan pemeriksaan saja, sedangkan pendekatannya tetap secara ekietik holistik. Pengertian dasar Untuk dapat melakukan deteksi dini gangguan mental, diperlukan beberapa pengertian dasar seperti berikut : yang dimaksud dengan gangguan organik atau penyakit fisik adalah gangguan mengenai organ tubuh, ada gejala dan tanda-tanda obyektif, ada gangguan faali atau kerusakan jaringan atau struktural pada organ tubuh, dapat dibuktikan dengan pemeriksaan fisik, laboratonium, radiologi, EEG, CT scan, USG, MRI, PET-scan dan sebagainya. Sedangkan gangguan psikologik atau gangguan mental adalah ganggua pada fungsi mental(jiwa) n yaitu fungsi yang berkaitan dengan emosi (perasaan), kognisi (pikiran), konasi (perilaku); juga ada gejala dan tanda-tanda obyektif (psikopatologi yang nyata secara klinis), bisa disertai dengan/tanpa kerusakan struktur/jaringan susunan saraf pusat; juga ada keluhan atau penderitaan (distres) dan pasien dan/atau keluanganya; biasanya disertai disabilitas atau disfungsi yaitu ganguan pada fungsi

pekerjaan, fungsi sosial, dan fungsi sehari-hari. Etiologinya multi faktorial yaitu secara organobiologik, psikologik, pendidikan, dan sosial-budaya. Etiologi Organobiologik Penyakit Otak (Intraserebral) seperti gangguan degeneratif, infeksi pada otak, ganguan cerebrovaskular, trauma kapitis, epilepsi, neoplasma, toksik (NAPZA), dan herediter. Penyakit Sistemik (Ekstraserebral) seperti gangguan metabolisme, endokrin/hormonal, infeksi sistemik, atau penyakit autoimum.

Etiologi Psikologik Seperi krisis yaitu suatu kejadian yang mendadak; konflik, suatu pertentangan batin; tekanan khususnya dan dalam dirinya, seperti kondisi fisik yang tidak ideal; frustrasi, suatu kegagalan dalam mencapai tujuan; dan sudut pendidikan dan perkembangan seperti salah asih, salah asah, salah asuh; dan takterpenuhinya kebutuhan psikologik seperti: rasa aman,nyaman, perhatian, kasihsayang. Etiologl Sosio-kultural Problem keluarga, problem dengan lingkungan, pendidikan, pekerjaan, perumahan, ekonomi, akses ke pelayanan kesehatan, problem hukum / kriminal dan problem psikososial lainnya. Tanda/gejala organik Faktor organik spesifik yang diduga ada kaitannya dengan gangguan kejiwaan seperti penyakit/gangguan sistemik atau otak yaitu yang berkaitan dengan etiologi organobiologik. Tanda dan gejalanya adalah penurunan kesadaran patologik dan delinum, apathia, so mnolen, sopor, sampai koma; adanya gangguan fungsi intelektual atau fungsi kognitif, seperti gangguan daya ingat, daya pikir, daya belajar, gangguan perhatian yaitu berkurangnya kemampuan mengarahkan, memusatkan, mempertahankan dan mengalihkan perhatian; ada gangguan orientasi tempat, waktu dan perorangan; bisa disertai gangguan persepsi seperti halusinasi visual. Tanda/Gejala Penggunaan NAPZA Keparahannya dan intoksikasi tanpa komplikasi dan penggunaan yamg merugikan, sampai gangguan psikotik dan demensia. Ada riwayat penggunaan zat psikoaktif secara patologik artinya setiap hari harus menggunakan zat psikoaktif agar dapat berfungsi secara adekuat/memadai minimal satu bulan. Intoksikasi adalah suatu gangguan mental dimana terdapat tingkah laku maladaptive akibat penggunaan zat psikoaktif. Penyalahgunaan zat tanpa ketergantungan: pola penggunaan zat psikoaktif secara patologik disertai hendaya dalam fungsi sosial atau pekerjaan dan telah berlangsung paling kurang satu bulan. Ketergantungan bila ada ketergantungan fisiologik yang dibuktikan dengan adanya toleransi dan sindrom putus zat dan hampir selalu disertai penggunaan patologik yang mengakibatkan hendaya

dalam fungsi sosial atau pekerjaan. Toleransi berarti untuk mendapatkan efek yang sama dan zat tersebut, diperlukan peningkatan dosis. Sindrom putus zat (withdrawal) terjadi bila ada pengurangan yang cukup banyak dan zat yang rutin digunakan atau mendadak menghentikan penggunaan zat tersebut. Gejala-gejala Psikotik Waham: keyakinan menetap yang tak sesuai dengan kenyataan dan selalu dipertahankan Halusinasi: persepsi pancaindera tanpa sumber rangsangan sensorik eksternal Inkoherensi: pembicaraan/tulisan yang tidak dapat dimengerti Katatonla: gangguan psikomotor seperti mematung, fleksibilitas lilin, stupor, furor (kegelisahan yang muncul secara mendadak), gerakan stereotipik Perilaku kacau: telanjang, gelisah, mengamuk, menarik diri, perilaku aneh Gejala negatif (kehilangan kemampuan yang biasanya ada pada orang yang tidak sakit)pada skizofrenia kronis seperti inatensi, afek mendatar, abulia, alogia, avoliition, asosialiitas, tak merawat diri, apatis terhadap lingkungan. Gejala Afektif Afek/mood adalah suasana perasaan internal yang berkepanjangan dan meresap, yang sering mempengaruhi perilaku dan persepsi individu akan dunia luar seperti anxietas (cemas patologik), depresi dan mania Anxietas : rasa khawatir yang berlebihan, disertai dengan ketegangan motorik dan hiperaktivitas otonom seperti berdebar-debar, keringat dingin, dan tensi naik. Fobia : ketakutan irasional yang menetap terhadap suatu obyek atau situasi o fobia sosial : takut diperhatikan, salah tindak dan sebagainya o agorafobia : fobia terhadap keramaian dan kesendirian o klaustrofobia : fobia terhadap ruang tertutup, seperti dalam lift o akrofobia : fobia terhadap ketinggian Panik : kecemasan yang memuncak dan sesaat saja, pada situasi yang tak berbahaya Obsesif-kompulsif : pikiran dan perbuatan berulang yang tak bisa dihindarkan Depresi: rasa sedih yang berlebihan dan berkepanjangan, kehilangan minat dan kegembiraan, dan berkurangnya enersi, sehingga mudah lelah, aktivitas berkurang. Gejala-gejala depresif : o rasa sedih, murung, putus asa, rendah diri o kehilangan gairah kerja, gairah belajar, gairah seks, lesu, aktivitas berkurang o gangguan makan dan gangguan tidur, keluhan fisik lainnya o menyendiri, tak suka bergaul, kurang komunikasi o ingin mati, rasa bersalah, tak ada semangat Mania: suasana perasaan yang meningkat, disertai peningkatan daham jumlah dan kecepatan aktivitas fisik dan mental, dalam berbagai derajat keparahan, gejalanya: o Rasa senang yang berlebih o Enersi yang bertambah, timbul hiperaktif, kebutuhan tidur berkurang o Psikomotilitas meningkat: banyak bicara, ide kebesaran, sangat optimistik Pelayanan kesehatan jiwa integratif dalam praktik umum Dalam praktik kedokteran, pasien yang datang berobat selalu mempunyai keluhan utama. Keluhan

utama itu dapat kita bagi dalam: Keluhan fisik yaitu keluhan fisik tanpa jelas ada faktor mental emosional. Seperti: kurus, kurang gizi; penglihatan kabur, katarak; bisul, koreng, demam, muntaber; varices, wasir, perdarahan; patah tulang, cedera kepala; kencing manis; benjolan di buah dada; keracunan singkong beracun; kelainan bawaan, thalasemia. Pada keluhan fisik, bilajelas tak ada masalah mental emosional dibalik keluhan fisiknya, langsung diterapi sesuai dengan diagnosis flsik. Keluhan psikosomatik yaitu keluhan fisik yang berlatar belakang faktor mental emosional. Keluhan Psikosomatik berkaitan dengan sistem organ: o Kardio-vaskuler: keluhan jantung berdebar-debar, cepat lelah o Gastro-intestinal: keluhan ulu hati nyeri, mencret kronis o Respiratorlus: keluhan sesak napas, asma o Dermatologi: keluhan gatal, eksim o Muskulo-skeletal: keluhan encok, pegal, kejang o Endokrinologl: keluhan hipertiroidi, hipotiroidi, dismenorea o Urogenital: kehuhan masih ngompoh, gangguan gairah seks o Serebro vaskuler: keluhan pusing, sering lupa, sukar konsentrasi, kejang epilepsi Pada keluhan psikosomatik, biasanya dibalik keuhan flsiknya ada masalah kejiwaannya; masalah kejiwaan yang paling sering menyertai keluhan psikosomatik ini adalah gejala anxietas, dan gejala depresi. Keluhan mental emosional yaitu keluhan yang berkaitan dengan fungsi mental seperti emosi, kognisi dan konasi. Keluhan mental emosional dapat berupa: o Gejala psikotik: halusinasi, waham, inkoherensi, katatonia, perilaku kacau, gejala negatif o Gejala anxletas: cemas, khawatir, berdebar, keringat dingin o Gejala depresif: murung, tak bergairah, putus asa, menyendiri, pasif, tak banyak bicara o Gejala manik: gembira, banyak bicara, aktif sekali o Retardasi mental: bodoh, tak bisa mengikuti pelajaran, sukar mengadakan adaptasi, sejak usia dibawah 18 tahun o Pemakaian NAPZA: teler, sakau, curiga ( parno ), takut o Anak dan remaja: kesulitan belajar, gangguan perkembangan, gangguan makan, gangguan perilaku, masih mengompol pada anak diatas 5 tahun, gangguan interaksi, komunikasi, gangguan pemusatan perhatian dengan hiperaktivitas Pada pasien yang datang dengan keluhan psikosomatik dan keluhan mental emosional maka yang perlu dilakukan oleh dokter adalah menetapkan: Stresor (etlologi) nya: organobiologik atau psikososial Ada atau. tidak adanya distres/penderitaan/keluhan pada pasien, dan/atau lingkungan/keluarga Ada atau tidak adanya gangguan fungsi seperti fungsi pekerjaan/akademik, fungsi sosial, fungsi sehari-hari Hal-hal yang berkaitan dengan pembuatan diagnosis: Gejala kejiwaan yang disertai dengan distres/penderitaan dan/atau gangguan fungsi disebut Gangguan Mental Gangguan Mental yang disebabkan stresor organobiologik disebut Gangguan Mental Organik(GMO) Gangguan Mental yang disebabkan stresor psikososial disebut Gangguan Mental Non Organik (GMNO)

Pembuatan diagnosis (kode diagnosis lCD 10)secara cepat dan petunjuk terapi: 1. Kalau pasien hanjut usia (diatas 65 th) datang dengan keluhan utama: gangguan daya ingat, tanpa penurunan kesadaran secara patologik => Demensia (F00#) Pedoman praktis terapi demensia, prinsip umumnya adalah: Identifikasi dan obati kondisi medik umum seperti tiroid, B12, HIV; pasien kontrol satu kali setiap minggu, kemudian satu kahi setiap bulan; evaluasi potensi bunuh diro dan cedera diri; dilarang mengemudikan kendaran bermotor; jangan biarkan pergi sendirian sertakan identitas diri yang melekat pada tubuhnya seperti gelang dengan nomor telepon dan alamat; beritahu keluarga tentang penyakitnya, keputusan keuangan, surat wasiat, kelompok pendukung, organisasi masyarakat. Oba t yang bisa diberikan adalah vitamin E, neurotropik, nootropik, ginkobiloba, ergot mesylate (hidergine), tacrine, donepezil (Aricept), rivastigmine (Exelon), galantamine (Reminyl) 2. Kalau pasien datang dengan kesadaran berkabut (penurungan kesadaran seca patologik, dan ra kesadaran berkabut sampai koma), berkurangnya kemampuan mengarahkan, memusatkan, mempertahankan dan mengalihkan perhatian, bisa disertai halusinasi, waham, berlangsung kurang dari 6 bulan => Delirium (F05) Terapi delirium adalah terapi kausal. Perlu dukungan fisik agar tidak timbul kecelakaan, dukungan sensor agar tidak terlalu dirangsang atau terialu kurang dirangsang, dan dukungan lingkungan yaitu perlu pendamping atau pengasuh biasa. Bila disertai gejala psikotik rujuk saja ke RS Jiwa. Gejala insomnia dapat diterapi dengan benzodiazepin kerja singkat (lorazepam) atau hidroxyzine (lterax/bestalin). Pada delirium karena putus alkohol dapat diberikan benzodiazepin kerja panjang (diazepam). 3. Kalau pasien datang dengan nwayat penggunaan za psikoaktif sampai saat ini => Gangguan t Penggunaan Zat Psikoaktif (F10 alkohol, F11 opioida, F12 ganja, F13 hipnotika, F15 stimulansia); kemudian tentukan kondisi pada saat datang apakah dalam keadaan intoksikasi akut, penggunaan yang merugikan, sindrom ketergantungan, keadaan putus zat dengan / tanpa delirium, gangguan psikotik, atau sindrom amnesik. Terapi intoksikasi alkohol: muntahkan bila belum lama, berikan kopi kental, aktivitas fisik atau mandi air dingin-hangat. Bila berat seperti intoksikasi alkohol idiosinkratik dan stupor alkoholik sebaiknya dirujuk ke RS Ketergantungan Obat atau RS Jiwa. lntoksikasi opioida diterapi dengan Naloxone HCI di rumah sakit Intoksikasi ganja, lntoksikasi kokain atau amfetamin atau stimulansia diterapi dengan diazepam1030 mg im/ oral; clobazam 3 x 10 mg , bila palpitasi beri propanolol 3 dd 10-40 mg; bila disertai gejala psikotik berikan antipsikotik. Terapi terhadap kondisi kelebihan dosis pada dasarya simtomatik; masalah yang membahayakan kehidupan pasien rujuk ke unit gawat darurat dengan memperhatikan kondisi A (irways) B(reathing) C (irculation) Terapi terhadap gejala putus zat bisa dilakukan secara simtomatik, kalau tidak berhasil dirujunk ke rumah sakit jiwa atau rumah sakit ketergantungan obat 4. Kalau pasien datang dengan keluhan sesuai dengan gejala psikotik yang berlangsung lebih dan satu bulan => Skizofrenia (F20#) Terapi: obat antipsikotik seperti haloperidol 3 dd 5 mg; bila dalam keadaan gaduh gelisah diberikan suntikan haloperidol im 5 mg setiap jam bersama dengan diazepam 10 mg im (di RS Jiwa). Bila psikosis kronik dapat diberikan antipsikosis long acting seperti fluphenasin decanoas (Modecate) 25 mg im setiap 4 minggu atau Haldol decanoas 50 mg im setiap 4 minggu. Untuk gejala negatif dan skizofrenia dapat diberikan obat antipsikotik atipikal seperti risperidon (Risperdal), quetiapine (Seroqueh), olanzepin (Zyprexa), aripiprazole (Abilify), zotepine (Lodopin), clozapine (Clozani).

Antipsikosis atipikal juga dapat untuk gejala positif seperti waham, halusinasi, inhoherensi, perihaku kacau. 5. Kalau pasien datang dengan keluhan sesuai dengan gejala psikotik yang berlangsung kurang dari satu bulan => Gangguan Psikotik Akut(F23) Terapi: lihat terapi pada skizofrenia 6. Kahau pasien datang dengan keluhan sesuai dengan gejala manik yang berlangsung lebih dari satu minggu => Mania (Gangguan Bipolar) (F31) Terapi: berikan mood stabilizers seperti lithium karbonat, karbamazepin, vaiproat; bila disertai gejala psikotik dapat berikan obat antipsikotik 7. Kalau pasien datang dengan keluhan sesuai dengan gejala depresi yang berlangsung lebih dari dua minggu =>Gangguan Depresif (F32#), Terapi: obat antidepresan, bila berat disertai dengan tentamen suicidum rujuk ke RS Jiwa untuk mendapat terapi kejang listrik. Antidepressant Drugs menurut cara bekerjanya dapat digolongkan dalam: o NA & 5-HT re-uptake inhibitors (imipramine-Tofranil, amytriptyline-Laroxyl) o NA-RI (mianserine-Tolvon, maprotiline-Ludiomil) o NA-RI: Dibenzoxazepine (amoxapin-Asendin) o 5-HT RI/receptor blockers (trazodone-Trazone, clomipramine-Anafranil) o SSRI : Selective 5-HT RI (fluoxetine-Prozac, sertraline-Zoloft, paroxetineSeroxat, fluvoxamineLuvox, citalopram-Cipram, escitalopram-Cipralex) o SNRI: 5-HT-NARI (venlafaxine-Effexor, duloxetine-Cymbalta) o RIMA : Reversible inhibition of MAO-A (moclobemide -Aurorix) o NaSSA : NA and Specific Serotonergic Antidepressant (Mirtazapine - Remeron) o SRE: Serotonin re-uptake enhancer (tianeptine - Stablon) o SDRI: Selective DA RI (bupropion-Wellbutrin) Keterangan: NA, N (Noradrenergik, Norepinephrine); 5-HT (Serotonin); RI (ReuptakeInhibitor); DA(Dopamin) 8. Kalau pasien datang dengan keluhan sesuai dengan gejala fobik (takut terhadap sesuatu obyek atau situasi tertentu) => Gangguan Fobik(F40) Terapi: obat golongan benzodiazepin, antidepresan, SSRI, venlafaxine, dulocetine disertai dengan terapi psikologik(terapi perilaku) 9. Kalau pasien datang dengan keluhan sesuai dengan gejala panik (gejala cemas yang memuncak dan berlangsung sesaat saja) => Gangguan Panik (F41.0) Terapi: alprazolam 3 dd 0,5 mg atau antidepresan golongan SSRI, atau imipramine, dan terapi psikologik 10. Kalau pasien datang dengan keluhan sesuai dengan gejala anxietas (cemas disertai gejala debar debar, keringat dingin, tegang) => Gangguan Anxietas (F41.1) Terapi: Benzodiazepin seperti chlordiazepoxide, diazepam, clobazam, bromazepam, alprazolam, lorazepam; non-benzodiazepin seperti buspirone, hydroxyzine (Iterax) 11. Kalau pasien datang dengan keluhan sesuai dengan gejala obsesifkompulsif (pikiran dan/atau perilaku yang berulang, disertai kecemasan, dan tak bisa dihindarkan) => Gangguan Obsesif Kompulsif (F42) Terapi: SSRI, clomipramin (Anafranil), clonazepam; kadang-kadang perlu obat antipsikotik seperti haloperidol. 12. Kalau pasien datang dengan keluhan sesuai dengan gejala anxietas atau gejala depresi yang timbul segera setelah suatu kejadian/stresor berat => Reaksi Stres Akut(F43.0) Terapi: obat antianxietas dan/atau antidepresan dan terapi psikologik

13. Kalau pasien datang dengan keluhan sesuai dengan gejala anxietas atau gejala depresi yang timbul dalam kurun waktu 6 bulan setelah suatu kejadian traumatik/stresor/berat => Gangguan Stres Pasca Trauma (F43.1) Terapi: obat antianxietas dan/atau antidepresan dan terapi psikol gik o 14. Kalau pasien datang dengan keluhan sesuai dengan gejala anxietas ataugejala depresi yang timbul karena perubahan situasi atau lingkungan => Gangguan Penyesuaian dengan gejala anxietas/depresif(F43.2) Terapi: obat antianxietas dan/atau antidepresan dan terapi psikologik 15. Kalau pasien datang dengan keluhan sesuai dengan gejala fisik tanpa kelainan struktural/organ yang dilatarbelakangi oleh gejala anxietas atau depresi => Gangguan Somatoform (F45) Terapi: obatantianxietas dan/atau antidepresan danterapi psikologik 16. Kalau pasien datang dengan keluhan sesuai dengan gejala fisik dengan penyakit fisik yang dihatarbelakangi oleh gejala anxietas atau depresi => Gangguan Psikosomatik, Gangguan Makan, Gangguan Tidur, Disfungsi Seksual(F50#) Terapi: obat antianxietas dan/atau antidepresan dan terapi psikologik; juga gangguan fisiknya 17. Kalau pasien datang dengan keluhan sesuai dengan gejala perilaku yang cenderung menetap dan merupakan pola hidup yang khas dalam hubungan dengan diri sendiri maupunpada orang lain, sehingga mengganggu norma sosial, penaturan, etika, kewajiban => Gangguan kepribadian (F60#) Terapi: gejala periakunya dengan obat antipsikotik dan terapi perilaku 18. Kalau pasien datang dengan keluhan kecerdasan yang kurang, disertai ke mampuan adaptasi yang kurang, sejak sebelum usia 18 tahun => Retardasi Mental (F70#) Terapi: sekolah Iuarbiasa. Bila ada gangguan perilaku diterapi simtomatik 19. Kalau pasien anak datang dengan keluhan gangguan perkembangan khas berbicara, berbahasa, mengeja, membaca, berhitung, motorik => Gangguan Perkembangan Psikologis (F80#) Terapi: Pendidikan khusus (remedial teaching) 20. Kalau pasien anak datang dengan keluhan adanya gangguan interaksi sosial, komunikasi, dan perilaku yang terbatas dan berulang, sejak sebelum usia 3 tahun=> Autisme Masa Kanak(F84.O) Terapi: pendidikan keluarga, terapi perilaku, terapi pendidikan khusus untuk bahasa. 21. Kalau pasien anak datang dengan keluhan adanya gejala berkurangnya kemampuan memusatkan perhatian, disertai dengan hiperaktivitas > Gangguan Hiperkinetik(F90) atau Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD) Terapi: Methylphenidate 22. Kalau pasien anak datang dengan keluhan adanya kenakalan pada anak dan remaja => Gangguan tingkah laku pada anak dan remaja(F91) Terapi: pendidikan keluarga dan terapi perilaku 23. Kahau pasien anak datang dengan keluhan adanya gejaha mengompol pada anak diatas 5tahun => Enuresis Non-organik(F98.0) Terapi: Imipramine I dd 25 mg sebelum tidur dan terapi perilaku 24. Kalau pasien datang dengan keluhan kejang / tanpa kejang, sadar/tak sadar, berulang => Epilepsi (G40#) Terapi: Antiepileptikum Diposkan oleh NOTE di 23:51 0 komentar

Selasa, 29 April 2008

kL0r4mP3N1cOL
Untuk pengobatan demam typhoid pada anak, kloramfenikol masih merupakan pilihan utama kerana efektif, murah didapat dan dapat diberikan secara oral. Dari beberapa penelitian dilaporkan sekitar 3-8% strain Salmonella telah resisten terhadap kloramfenikol, kejadian kekambuhan dan pengidap kuman ditemukan pada 2-4% kasus setelah pengobatan dengan kloramfenikol, serta adanya efek samping berupa depresi sumsum tulang dan anemia aplastik. Keadaan tersebut mendorong peneliti untuk mencari obat alternatif dalam pengobatan demam tifoid pada anak. Obat-obat seperti seftriakson dan siprofloksasin walaupun memberikan hasil yang baik masih terlalu mahal dan penggunaanya terutama ditujukan untuk strain Salmonella yang telah resisten terhadap obat-obat standar. Dengan mempertimbangkan bahwa tiamfenikol adalah turunan kloramfenikol yang juga aktif terhadap Salmonella, harga obat relatif lebih murah dari pada seftriakson dan siproflaksasin, mudah didapat dan dapat diberikan secara oral sedangkan efek samping berupa anemia aplastik hampir tidak pernah terjadi dan angka kejadian kekambuhan serta pengidap kuman lebih sedikit, maka penelitian ini dilakukan untuk membuktikan apakah tiamfenikol dapat dipakai sebagai pengganti kloramfenikol dalam pengobatan demam tipoid pada anak. Diposkan oleh NOTE di 00:20 0 komentar

Senin, 28 April 2008

PEMBERIAN OBAT PADA IBU HAMIL


Untuk pemberian obat pada ibu hamil, Indonesia selalu mengacu pada klasifikasi obat menurut FDA. Menurut FDA, ada beberapa kategori efek farmakologis obat terhadap janin, yaitu meliputi: Kategori A Penelitian studi terkontrol pada wanita hamil gagal menunjukkan adanya resiko terhadap fetus dan kemungkinan terjadinya bahaya pada fetus cukup kecil. Kategori B Penelitian pada binatang tidak menunjukkan adanya resiko terhadap fetus tetapi tidak ada penelitian studi terkontrol pada wanita hamil. Kategori C Penelitian pada binatang mengungkapkan adanya efek buruk pada janin, seperti teratogenik atau efek embriosidal lainnya. Tidak ada penelitian studi terkontrol pada wanita hamil. Obat-obatan hanya boleh diberikan bila keuntungan lebih besar daripada potensi resiko pada fetus. Kategori D Ada bukti positif resiko pada fetus manusia. Akan tetapi keuntungan penggunaan pada wanita hamil dapat diterima apabila pada situasi yang mengancam jiwa atau obat yang lebih aman tidak efektif atau tidak dapat digunakan.

Kategori X Penelitian pada binatang atau manusia telah menunjukkan abnormalitas fetus atau ada bukti adanya resiko pada fetus berdasarkan pengalaman pada manusia ataukeduanya, dan resiko penggunaan obat pada ibu hamil jelas-jelas menyingkirkan setiap keuntungan yang diperoleh. Adalah kelompok obat yang merupakan kontraindikasi pada kehamilan atau wanita yang akan mengandung. Amoxicillin + clavulanat acid, biasanya fixed dose 500 mg + 250 mg, diberikan 2-3 x per hari, selama 10 hari. Merupakan pilihan antibiotik yang memiliki profil keamanan yang baik tapi spektrum kerjanya luas. Hal yang harus diwaspadai adalah bila pasien memiliki alergi terhadap penisilin karena merupakan kontraindikasi absolut. Resiko pada kehamilan tergolong kategori B. Ceftriaxon Dosisnya 500 mg injeksi per hari. Juga memiliki profil keamanan yang baik karena masuk kategori B. Agak sulit penggunaannya karena harus dengan suntikan sehingga sering t idak nyaman. Azithromycin Dosisnya hari pertama 500 mg single dose, hari selanjutnya 250 mg 4 x per hari. Merupakan obat alternatif dari golongan makrolide yang dapat dipakai. Tapi juga termasuk kategori B. Diposkan oleh NOTE di 19:39 0 komentar

CEFADROXIL
Cefadroxil adalah obat antibiotik jenis cephalosporin yang digunakan untuk mengatasi infeksi yang disebabkan oleh bakteri,yg dapat menyebabkan infeksi pada kulit,infeksi saluran tenggorok dan infeksi saluran kencing.Contoh dari bakteri ini adalah Staphillococcus aureus,Streptococcus pneumoniae,Streptococcus pyogenes, Moraxella catarrhalis, E. coli, Klebsiella, and Proteus mirabilis Cefadroxil ini adalah obat yang mudah ditoleransi,efek samping yang biasa ditemui adalah diarrhea,nausea,nyeri pada perut,dan muntah.Efek samping yang jarang ditemui adalah reaksi alergi dan apabila livernya di test terdapat gangguan pada kerjanya liver tersebut atau abnormal liver.Orang orang yang mempunyai alergi pada penicillin sebaiknya tidak diberikan obat ini. Dosis: Secara umum Cefadroxil diminum 1-2 kali sehari selama 7-10 hari,tergatung pada keadaan seberapa parah infeksi tersebut.Cefadroxil dalam bentuk sirup harus dikocok dulu sebelum digunakan sedangkan cefadroxil dalam bentuk kapsul atau tabl t ditelan dengan menggunakan e segelas air putih.Pasien dengan penyakit liver memerlukan dosis yang lebih rendah.Peringatan pada pasien yang mempunyai keadaan khusus ketika mengkonsumsi obat ini : - Ibu menyusui : sebaiknya jangan krn dapat muncul pd air susu ibu - Ibu Hamil : aman menggunakan obat ini - Lanjut Usia : Sesuai dosis yang dianjurkan Cefadroxil ini dapat berinteraksi dengan beberapa jenis obat jika kita mencampurkannya bersama seperti : Antibiotik + Vaksin = Mengurangi efek dari obat sebelumnya Cephalosporin tertentu + Probenecid = Kurang baik terhadap reaksi dari obat sebelumnya Cephalosporin + Aminoglicosides = Menambah efek dari obat sebelumnya.

Kontradiksi penyakit pada Cefadroxil yang signifikan yaitu Pseudomembranous Enterocolitis,yan g mungkin signifikan yaitu Penyakit Ginjal dengan fungsi ginjal yang tidak dapat diperbaiki. Diposkan oleh NOTE di 19:34 1 komentar Beranda Langgan: Entri (Atom)

Arsip Blog
y

2008 (4) o Mei (1)  PELAYANAN KESEHATAN JIWA INTEGRATIF Dr. Dan Hidaya... o April (3)

Mengenai Saya
NOTE enjoy this life Lihat profil lengkapku

KOMUNIKASI TERAPEUTIK PADA KLIEN GANGGUAN JIWA


A. PENGERTIAN KOMUNIKASI TERAPEUTIK Komunikasi terapeutik adalah komunikasi yang mendorong proses penyembuhan klien (Depkes RI, 1997). Dalam pengertian lain mengatakan bahwa komunikasi terapeutik adalah proses yang digunakan oleh perawat memakai pendekatan yang direncanakan secara sadar, bertujuan dan kegiatannya dipusatkan pada klien. Komunikasi terapeutik termasuk komunikasi interpersonal dengan titik tolak saling memberikan pengertian antara perawat dengan klien. Persoalan yang mendasar dari komunikasi ini adalah adanya saling membutuhkan antara perawat dan klien, sehingga dapat dikategorikan ke dalam komunikasi pribadi di antara perawat dan klien, perawat membantu dan klien menerima bantuan. Menurut Stuart dan Sundeen (dalam Hamid, 1996), tujuan hubungan terapeutik diarahkan pada pertumbuhan klien meliputi :

1. Realisasi diri, penerimaan diri dan peningkatan penghormatan terhadap diri. 2. Rasa identitas personal yang jelas dan peningkatan integritas diri. 3. Kemampuan untuk membina hubungan interpersonal yang intim dan saling tergantung dengan kapasitas untuk mencintai dan dicintai. 4. Peningkatan fungsi dan kemampuan untuk memuaskan kebutuhan serta mencapai tujuan Personal yang realistik. Tujuan komunikasi terapeutik adalah :

1. Membantu klien untuk memperjelas dan mengurangi beban perasaan dan pikiran serta dapat mengambil tindakan untuk mengubah situasi yang ada bila klien pecaya pada hal yang diperlukan. 2. Mengurangi keraguan, membantu dalam hal mengambil tindakan yang efektif dan mempertahankan kekuatan egonya. 3. Mempengaruhi orang lain, lingkungan fisik dan dirinya sendiri. Tujuan terapeutik akan tercapai bila perawat memiliki karakteristik sebagai berikut (Hamid, 1998) : 1. Kesadaran diri. 2. Klarifikasi nilai. 3. Eksplorasi perasaan. 4. Kemampuan untuk menjadi model peran. 5. Motivasi altruistik. 6. Rasa tanggung jawab dan etik B. PENGERTIAN GANGGUAN JIWA Menurut American Psychiatric Association (APA, 1994), gangguan mental adalah gejala atau pola dari tingkah laku psikologi yang tampak secara klinis yang terjadi pada seseorang dari berhubungan dengan keadaan distres (gejala yang menyakitkan) atau ketidakmampuan (gangguan pada satu area atau lebih dari fungsi-fungsi penting) yang meningkatkan risiko terhadap kematian, nyeri, ketidakmampuan atau kehilangan kebebasan yang penting, dan tidak jarang respon tersebut dapat diterima pada kondisi tertentu. Menurut Townsend (1996) mental illness adalah respon maladaptive terhadap stresor dari lingkungan dalam/luar ditunjukkan dengan pikiran, perasaan, dan tingkah laku yang tidak sesuai dengan norma lokal dan kultural dan mengganggu fungsi sosial, kerja, dan fisik individu. Konsep Gangguan Jiwa dari PPDGJ II yang merujuk ke DSM-III adalah sindrom atau pola perilaku, atau psikologi seseorang, yang secara klinik cukup bermakna, dan yang secara khas berkaitan dengan suatu gejala penderitaan (distres) atau hendaya (impairment/disability) di dalam satu atau lebih fungsi yang penting dari manusia (Maslim, 2002). C. KOMUNIKASI TERAPEUTIK PADA KLIEN GANGGUAN JIWA Komunikasi terapeutik adalah komunikasi yang direncanakan secara sadar, bertujuan dan kegiatannya dipusatkan untuk kesembuhan pasien (Purwanto,1994). Teknik komunikasi ter peutik a merupakan cara untuk membina hubungan yang terapeutik dimana terjadi penyampaian informasi dan pertukaran perasaan dan pikiran dengan maksud untuk mempengaruhi orang lain (Stuart & sundeen,1995). Adapun tujuan komunikasi terapeutik adalah:
1. Membantu pasien untuk memperjelas dan mengurangi beban perasaan dan pikiran serta dapat mengambil tindakan untuk mengubah situasi yang ada bila pasien percaya pada hal yang diperlukan; 2. Mengurangi keraguan, membantu dalam hal mengambil tindakan yang efektif dan mempertahankan kekuatan egonya; 3. Mempengaruhi orang lain, lingkungan fisik dan dirinya sendiri. Fungsi komunikasi terapeutik adalah untuk mendorong dan mengajarkan kerja sama antara perawat dan pasien melalui hubungan perawat dan pasien. Perawat berusaha mengungkap perasaan, mengidentifikasi dan mengkaji masalah serta mengevaluasi tindakan yang dilakukan dalam perawatan (Purwanto, 1994). Prinsip-prinsip komunikasi adalah:

1. Klien harus merupakan fokus utama dari interaksi 2. Tingkah laku professional mengatur hubungan terapeutik 3. Membuka diri dapat digunakan hanya pada saat membuka diri mempunyai tujuan terapeutik 4. Hubungan sosial dengan klien harus dihindari 5. Kerahasiaan klien harus dijaga 6. Kompetensi intelektual harus dikaji untuk menentukan pemahaman 7. Implementasi intervensi berdasarkan teori 8. Memelihara interaksi yang tidak menilai, dan hindari membuat penilaian tentang tingkah laku klien dan memberi nasihat 9. Beri petunjuk klien untuk menginterprestasikan kembali pengalamannya secara rasional 10. Telusuri interaksi verbal klien melalui statemen klarifikasi dan hindari perubahan subyek/topik jika perubahan isi topik tidak merupakan sesuatu yang sangat menarik klien.
Berkomunikasi dengan penderita gangguan jiwa membutuhkan sebuah teknik khusus, ada beberapa hal yang membedakan berkomunikasi antara orang gangguan jiwa dengan gangguan akibat penyakit fisik. Perbedaannya adalah : 1. penderita gangguan jiwa cenderung mengalami gangguan konsep diri, penderita gangguan penyakit fisik masih memiliki konsep diri yang wajar (kecuali pasien dengan perubahan fisik, ex : pasien dengan penyakit kulit, pasien amputasi, pasien pentakit terminal dll). 2. Penderita gangguan jiwa cenderung asyik dengan dirinya sendiri sedangkan penderita penyakit fisik membutuhkan support dari orang lain. 3. Penderita gangguan jiwa cenderung sehat secara fisik, penderita penyakit fisik bisa saja jiwanya sehat tetapi bisa juga ikut terganggu. Sebenarnya ada banyak perbedaan, tetapi intinya bukan pada mengungkap perbedaan antara penyakit jiwa dan penyakit fisik tetapi pada metode komunikasinya. Komunikasi dengan penderita gangguan jiwa membutuhkan sebuah dasar pengetahuan tentang ilmu komunikasi yang benar, ide yang mereka lontarkan terkadang melompat, fokus terhadap topik bisa saja rendah, kemampuan menciptakan dan mengolah kata kata bisa saja kacau balau. Ada beberapa trik ketika harus berkomunikasi dengan penderita gangguan jiwa : 1. Pada pasien halusinasi maka perbanyak aktivitas komunikasi, baik meminta klien berkomunikasi dengan klien lain maupun dengan perawat, pasien halusinasi terkadang menikmati dunianya dan harus sering harus dialihkan dengan aktivitas fisik. 2. Pada pasien harga diri rendah harus banyak diberikan reinforcement 3. Pada pasien menarik diri sering libatkan dalam aktivitas atau kegiatan yang bersama sama, ajari dan contohkan cara berkenalan dan berbincang dengan klien lain, beri penjelasan manfaat berhubungan dengan orang lain dan akibatnya jika dia tidak mau berhubungan dll.

4. Pasien perilaku kekerasan, khusus pada pasien perilaku kekerasan maka harus direduksi atau ditenangkan dengan obat obatan sebelum kita support dengan terapi terapi lain, jika pasien masih mudah mengamuk maka perawat dan pasien lain bisa menjadi korban. Kesehatan jiwa sering berpijak pada beberapa komponen, beberapa komponen tersebut adalah:

1. Support system : dukungan dari orang lain atau keluarga membantu seseorang bertahan terhadap tekanan kehidupan, stresor yang menyerang seseorang akan melumpuhkan ketahanan psikologisnya, dengan dukungan dari sahabat, orang - orang terdekat, suami, istri, orang tua maka seseorang menjadi lebih kuat dalam menghadapi stressor. 2. Mekanisme Koping : bagaimana cara seseorang berespon terhadap stressor menjadi satu ciri khas bagi setiap individu, jika responnya adaptif maka hasilnya tentu perlaku positif, jika responnya negatif hasilnya adalah perilaku negatif. 3. Harga Diri : jika dia merasa lebih baik dari orang lain maka akan menjadi sombong, jika dia merasa orang lain lebih baik dari dia maka dia akan mengalami Harga Diri Rendah. 4. Ideal Diri : Bagaimana cara seseorang melihat dirinya, bagaimana dia seharusnya : " saya hanya akan menikah dengan seorang wanita anak pengusaha" comment tersebut adalah ideal diri tinggi, " saya hanya lulusan SD, menjadi buruh saja saya sudah maksimal" comment ini adalah ideal diri rendah. 5. Gambaran Diri : apakah seseorang menerima dirinya beserta semua kelebihan dan kekurangan, meski cantik dia menerima kecantikannya tersebut satu paket dengan keburukan lain yang menyertai kecantikan tersebut. 6. Tumbuh Kembang : Jika seseorang tidak pernah mengalami trauma maka dewasa dia tidak akan mengalami memori masa lalu yang kelam atau yang buruk. 7. Pola Asuh : kesalahan mengasuh orang tua memicu perubahan dalam psikologis anak. 8. Genetika : Schizofrenia bisa secara genetis menurun ke anak, bahkan pada saudara kembar peluang nya 50 %. 9. Lingkungan : Lingkungan yang buruk menjadi salah satu faktor pendukung munculnya gangguan jiwa. 10. Penyalahgunaan Zat : penyalahgunaan zat memicu depresi susunan saraf pusat, perubahan pada neurotransmitter sehingga terjadi perubahan pada fungsi neurologis yang berfungsi mengatur emosi. 11. Perawatan Diri : jika seseorang tidak pernah mendapatkan perawatan, ex : lansia maka dia akan mengalami suatu perasaan tidak berguna jika perasaan ini berlangsung lama bisa memicu gangguan jiwa. 12. Kesehatan Fisik : gangguan pada sistem saraf mampu merubah fungsi neurologis, dampak jangka panjangnya jika yang terkena adalah pusat pengaturan emosi akan memicu gangguan jiwa.

BAB III KESIMPULAN Kesimpulan dari pembahasan di atas adalah pola asuh otoritatif yang dilakukan di rumah dan di sekolah merupakan lahan subur bagi munculnya individu berprestasi. Orangtua dari anak-anak yang berprestasi memiliki pandangan bahwa ada beberapa prinsip yang perlu dimiliki anak untuk mengantarkan anak menjadi individu yang berprestasi, yaitu (a) perilaku

keagamaan dan moral etik, (b) kedisiplinan (d) prestasi dan motif berprestasi, serta (d) keprihatinan, kesabaran, dan menunda kenikmatan. Orang tua dari anak-anak yang berprestasi melakukan hal-hal berikut ini, yaitu (a) menemani atau mendampingi anak saat belajar, (b) memberi pengarahan, peringatan, dan melakukan kontrol atas aktivitas anak, (c) memberi dukungan kepada anak, (d) memberi penghargaan terhadap anak(e) menjadi teladan bagi anak-anak. Hal-hal yang dapat dilakukan orang tua dalam mengasuh anak : 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. Harus disertai kasih sayang Tanamkan disiplin yang membangun Luangkan waktu kebersamaan dengan keluarga Ajarkan salah benar Kembangkan sikap saling menghargai Perhatikan dan dengarkan pendapat anak Membantu mengatasi masalah Melatih anak mengenal diri sendiri dan lingkungnan Mengembangkan kemandirian Memahami keterbatasan pada anak Menerapkan nilai-nilai agama dalam kehidupan sehari-hari.

DAFTAR PUSTAKA
y y y y y

Daryati R, 2009, Membentuk citra diri yang baik melalui Pola Asuh dalam Membesarkan anak Dewi, Ismira, 2008, Mengenal Bentuk Pola Asuh Orang Tua Kartono Kartini, 1992, Peran Keluarga Memandu Anak, Jakarta Liza, Dr, 2005, Pola Asuh Orang Tua Anak Menurut Psi