Anda di halaman 1dari 17

PERBEDAAN ALIRAN KEBATINAN DENGAN AGAMA ISLAM (TASAWUF)

Diajukan Sebagai Tugas


Liran Kebatinan

Disusun Oleh : Lailul Fitriyah M Dwi Fidiqsa ( D01208157 ) ( D31208034 )

Dosen Pembimbing Arif Mansyuri, M.Fil.I

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI SUNAN AMPEL SURABAYA F A K U L T A S T A R B I Y A H S U R A B A Y A JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM (PAI) 2011

KATA PENGANTAR

Alhamdulilah,kami panjatkan rasa puja dan puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberkahi kami, sehingga laporan ini dapat selesai dengan tepat waktu. Sholawat serta salam tak lupa kami ucapkan kepada junjungan Nabi besar kita Muhammad SAW yang telah memberi jalan yang terang dan mengentas kita dari kebodohan. Tak lupa kami ucapkan terima kasih kepada Bapak dosen yang setia membimbing kami selama masa perkuliahan serta proses penyelesaian laporan ini. Tak lupa kami ucapkan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah membantu kita dalam penyelasian laporan ini, terutama kepada orang tua kami yang selalu mendoakan kami dimana pun berada. Dan tak lupa kami ucapkan maaf atas segala khilaf atas penulisan makalah ini.Karena kami jua hanyalah manusia biasa yang tak luput dari kesalahan. Semoga apa yang kami sajikan ini berguna bagi kita semua dan dapat membantu dalam segala hal.

Surabaya , 5 Juni 2011

Penyusun

BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Banyaknya aliran sangat meresahkan kehidpan antar sesama. Kita semua tahu bahwa dengan agama pun telah membimbing kita menuju pada kebenaran yang hakiki dan sesuai dengan syariat yang telah diperjelas dalam kitab suci masing-masing. Namun, ada hal lain yang memang menurut mereka bahwa agama juga tidak selamanya membawa kita pada suatu hal yang baik dan benar adakalanya juga membawa hal yang kurang baik. Inilah mengapa ada perselisihan antara para penganut agama dengan para penganut aliran kebatinan yang telah ada di Indonesia. Ini adalah sebuah keyakinan dan suatu kepercayaan, oleh sebab itu kelompok kami akan membeahsa sebagaiomana sih agama dan aliran kebatinan yang ada saat ini. Di sini kami memngupas antara aliran kebatinan dengan tasawuf yang notabenenya adalah ibadah sakral dalam Islam.

B. Rumusan Masalah
1.

Apakah perbedaan aliran kebatinan dan tawawuf ?

BAB II PEMBAHASAN
A. Aliran Kebatinan Aliran Kebatinan atau sekarang lebih dikenal dengan kepercayaan, lengkapnya kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa adalah suatu system kepercayaan atau system spriritual yang ada di Indonesia selain agama, aliran, faham, sekte atau madzhab dari agama tersebut, serta bukan pula termasuk kepercayaan adat. Menurut istilah umum Kepercayaan adalah suatu keadaan psikologis pada saat seseorang menganggap suatu premis benar. Kepercayaan merupakan satu keyakinan pada sesuatu hingga mengakibatkan penyembahan, sama ada kepada Tuhan, roh atau lainnya. Nama Kebatinan itu lebih dikenal pada tahun 1950-an sampai dengan tahun akhir 1960-an, dan Kebatinan muncul dalam berbagai bentuk gerakan atau perguruan.1 Kebatinan juga biasa disebut dengan Kejawen, Kejawen (bahasa Jawanya Kejawn) menurut wikipedia adalah sebuah kepercayaan yang terutama dianut di pulau Jawa oleh suku Jawa dan suku bangsa lainnya yang menetap di Jawa. Penamaan Kejawen, dipilih karena bahasa pengantar ibadahnya menggunakan bahasa Jawa. Syairsyairnya menggunakan bahasa Jawa. Dalam konteks umum, Kejawen merupakan bagian dari agama lokal Indonesia. Di wikipedia diceritakan bahwa seorang ahli antropologi Amerika Serikat, Clifford Geertz pernah menulis tentang agama ini dalam bukunya yang ternama The Religion of Java. Olehnya Kejawen disebut Agami Jawi.2 Penganut ajaran Kejawen biasanya tidak menganggap ajarannya sebagai agama dalam pengertian seperti agama monoteistik, seperti Islam atau Kristen, tetapi lebih melihatnya sebagai seperangkat cara pandang dan nilai-nilai yang dibarengi dengan

http://pencari-kebenaran-hakiki.blogspot.com/2010/08/aliran-kebatinan-dan-tasawwuf.html Ibid.,

sejumlah laku (mirip dengan ibadah). Ajaran kejawen biasanya tidak terpaku pada aturan yang ketat, dan menekankan pada konsep keseimbangan. Simbol-simbol laku biasanya melibatkan benda-benda yang diambil dari tradisi yang dianggap asli Jawa, seperti keris, wayang, pembacaan mantera, penggunaan bungabunga tertentu yang memiliki arti simbolik, dan sebagainya yang mirip dengan praktek perdukunan. Akibatnya banyak orang (termasuk penghayat kejawen sendiri) yang dengan mudah mengasosiasikan kejawen dengan praktek klenik dan perdukunan. Ajaran-ajaran Kejawen bervariasi, dan sejumlah aliran dapat mengadopsi ajaran agama pendatang, baik Hindu, Buddha, Islam, maupun Kristen. Gejala sinkretisme ini sendiri dipandang bukan sesuatu yang aneh karena dianggap memperkaya cara pandang terhadap tantangan perubahan zaman. Ilmu Kebatinan selain disebut sebagai ilmu Kejawen kadang-kadang disebut juga ilmu kerohanian, ilmu kejiwaan, ilmu kasuksman, ilmu kesunyatan, ilmu kasampurnaan, atau juga ilmu ka-Allah-an. Kembali kita menggunakan istilah Kebatinan, Masing-masing perguruan dipimpin oleh guru Kebatinan yang mengajarkan ilmunya kepada pengikut-pengikutnya. Dengan adanya berbagai macam perguruan yang ajarannya kadang-kadang berbeda karakteristiknya antara satu sama lain, oleh sebab itu terdapat berbagai macam aliran Kebatinan. Ilmu yang diajarkan, yang pada umumnya menurut pengakuan para guru itu diperoleh atas dasar wahyu atau bahasa jawanya wangsit dari Tuhan. Sementara itu dalam mistik Kejawen atau Kebatinan, tujuan mistiknya dikenal dengan istilah manuggaling kawula gusti, atau juga jumbuhing kawula gusti, serta masih terdapat istilah-istilah lain seperti gambuh (dalam aliran sumarah), wor winoring loroloroning atunggal, yang semuanya menggambarkan kondisi persatuan antara kawula (manusia) dengan gusti (Tuhan), antara Tuhan dengan manusia lebur menjadi satu, dengan disimbolkan sebagai curiga manjing ing rangka, rangka manjing curiga (keris yang bersatu dengan rangkanya). Tujuan untuk mencapai manuggaling kawula gusti itu dilandasi oleh suatu pemikiran teologis-metafisis sangkan paraning dumadi (asal dan kembalinya segala yang ada). Dari pandangan filosofis tersebut dapat diketahui ajaran-ajaran tentang Tuhan, manusia dan alam, siapakah manusia, dari mana asal usulnya, serta bagaimana hubungannya dengan Tuhan.

Seperti halnya pada Tasawuf, di dalam Kebatinan untuk sampai kepada manunggaling kawulo gusti, orang harus melakukan latihan-latihan kerohanian atau latihan kejiwaan atau juga oleh rasa dengan melalui menembah, sujud, meditasi, tapa brata, dan lain-lain. Pada umumnya tingkatan latihan rohani itu terdiri atas tiga tingkat, bersesuaian dengan tiga lapis struktur manusia; badan jasmani, badan rohani dan roh. Ketiga tingkat latihan tersebut juga akan menghasilkan tiga suasana batin heneng, hening, henong. Heneng atau meneng, berkaitan dengan terhentinya nafsu-nafsu, di mana nafsunafsu itu ditimbulkan oleh rangsangan dari luar, sebagai hasil kerja indera. Hening berarti bening atau jernih, berkaitan dengan terhentinya kerja perasaan, pikiran ataupun anganangan dari memikirkan yang beraneka macam, tetapi pikiran perlu dikonsentrasikan pada satu objek, dalam hal ini adalah Tuhan. Kemudian henong adalah suasana kosong, di mana nafsu-nafsu telah terhenti, pikiran telah terkonsentrasi hanya kepada Tuhan. Dan pada saat itulah semua hijab yang membatasi diri manusia dengan Tuhan telah tersingkap. Ketiga tingkat latihan kejiwaan itu digambarkan oleh Dr. S. De Jong dalam tiga tahapan juga yakni; distansi, konsentrasi, dan reprensentasi. Distansi maksudnya ialah mengambil jarak terhadap dunia materi yang dapat disentuh dengan indera, dengan maksud untuk memadamkan nafsu. Sedangkan konsentrasi adalah suatu upaya memusatkan daya batiniyah dengan maksud memutuskan sama sekali semua bentuk hubungan dengan dunia materi. Pada akhirnya jika kedua tahapan itu telah dapat dilalui maka akan tercapai derajat identifikasi dengan Tuhan, di mana seorang ahli Kebatinan telah mencapai derajat manunggaling kawula gusti, mati ing sajarone urip, dan itulah tahap representative. Jika seseorang telah mencapai tahap tersebut ia telah dihiasi oleh sifat-sifat keilahian, sifat-sifat kesempurnaan. Karena itu pula disebut sebagai Manusia Sempurna Atau Insan Kamil. Manusia sempurna semacam itu disebut sebagai satria pinandita, di satu sisi ia sebagai pendeta yang dekat dan selalu mendekatkan diri dengan Tuhan, sedangkan di sisi yang lain ia sebagai satria yang memiliki kemampuan supranatural, kemampuan di atas kemampuan manusia biasa, baik secara pisik maupun psikis, oleh karena ia telah dilimpahi sebagian sifat-sifat Tuhan. B. Histori kebatinan Keberadaan aliran Kebatinan atau dapat disebut juga kepercayaan dalam wujudnya sebagai organisasi yang beraneka macam serta dalam jumlah yang tiada sedikit, barang kali itu boleh dipandang sebagai fenomena baru, oleh karena organisasi-organisasi

aliran kepercayaan itu pada umumnya baru muncul setelah proklamasi kemerdekaan. Sebagian di antaranya memang telah ada sejak zaman colonial Belanda, sekitar abad 20 ini. Akan tetapi apabila dilihat dari aspek ajarannya yang intinya adalah mistik Islam Kejawen, sesungguhnya memiliki akar yang cukup panjang sepanjang sejarah perkembangan Islam di Jawa. Faham Kebatinan telah ada sejak Islam bersentuhan dengan budaya Jawa Hindu, justru perpaduan antara mistik Islam dan hindu budha itulah yang menghasilkan mistik Islam Kejawen yang menjadi ciri khas aliran kepercayaan. Faham Kebatinan ini dalam proses perkembangannya senantiasa didukung oleh golongan priyayi, yaitu golongan keluarga istana dan pejabat pemerintahan kraton. Mereka termasuk ke dalam kategori orang-orang Islam abangan lapisan atas, yakni orangorang Islam yang kurang mengetahui ajaran-ajaran Islam dan oleh karenanya tidak mengamalkan syariat Islam. Mereka masih mempertahankan budaya Hindu, sementara Islam yang datang kemudian dipandang sebagai unsur tambahan. Unsur Islam diperlukan untuk melengkapi kata-kata atau ungkapan-ungkapan yang diperlukan ajaran mistik. Dalam mistik priyayi ini, tidak ada bedanya antara Yang Mutlak (Tuhan) dengan manusia. Faham Islam Kejawen sesungguhnya telah mulai masuk di kalangan istana/kraton sejak pemerintahan sultan Tranggono di kesultanan Demak. Penghulu istana Demak itu ialah sunan Geseng, saudara seperguruan Syekh Siti Jenar, yang mengajarkan mistik manunggaling kawulo gusti. Dan menantu Sultan Tranggono dari putrinya yang tertua yaitu Jaka Tingkir atau Mas Karebet adalah dari golongan Islam Kejawen. Di samping sebagai menantu Sultan, dia semula adalah sebagai bupati di Pengging, menggantikan kedudukan ayahnya, yaitu Ki Kebo Kenanga. Dia juga termasuk salah seorang murid Syekh Siti Jenar. Sementara itu kakeknya, Prabu Andayaningrat dari Pangging juga, adalah menantu Prabu Brawijawa ke V dari Majapahit. Dan sewaktu kerajaan Demak sudah berdiri, Andayaningrat tetap berusahan untuk melanjutkan dinasti Majapahit dengan segala tradisinya. Tatkala Jaka Tingkir keluar sebagai pemenang dalam perebutan dengan Arya Penangsang kemudian ia dikukuhkan sebagai sultan tahun 1550 menggantikan sultan Trenggono dengan gelar Sultan Hadiwijaya, maka ibukota kerajaan dipindah dari Demak ke Pajang, sebab disana banyak penganut Islam Kejawen yang mendukung pemerintahannya, sehingga pada tahun 1568 terjadi pergeseran yang menyebabkan

olehnya diusahakan penyesuaian Islam dengan agama siwa Budha dan dengan resmi diwujudkan dalam bentuk ajaran wihdatul wujud atau manunggaling kawula gusti sebagai dasar falsafat kerajaan, pergeseran itu diusahakan atas prakarsa ki Ageng Pengging (Ki Kebo Kenanga) ayah Jaka Tingkir. Sehingga saat itu terjadi polarisasi kehidupan beragama, disatu pihak ada kelompok lama yang secara murni melaksanakan syariat Islam dan di lain pihak terdapat para bangsawan dan prajurit islam yang masih melaksanakan kebiasaan adat kraton yang sinkretis yang biasa disebut kaum abangan. Saat para kyai Indonesia banyak yang pergi haji ke mekkah dan banyak mempelajari islam yang murni disana, setelah itu menyebarkan islam yang murni di Indonesia dan membentuk gerakan-gerakan reformasi, dan arus modernisasi Barat semakin mengacam menjadikan semangat keberagamaan kejawen juga semakin meningkat, mereka bangkit mempertahankan apa yang dianggap sebagai nilai asli Jawa. Dan pada saat kemerdekaan kebatinan sangat berkembang pesat terutama saat pasca kemerdekaan Banyak para ahli ilu social maupun ilmu agama yang menganalisa dan memberikan pendapatnya kenapa aliran kebatian pada saat itu tumbuh begitu pesat. Hal itu antara lain di samping dimungkinkan karena adanya pernyataan kebebasan beragama yang tercantum dalam UUD 1945 pasal 29, juga karena berbagai krisis yang timbul pada masa perjuangan membela kemerdekaan menuntut orang mencari pegangan hidup, penguat batin.3 C. Keberadaan Aliran Kebatinan Menurut catatan yang ada pada pengawas aliran kepercayaan masyarakat (PAKEM) departemen agama, jumlah nama aliran Kebatinan pada tahun 1950-an itu mencapai kurang lebih 400 aliran baik yang digerakan oleh organisasi-organisasi maupun yang bersifat perorangan. Di antara aliran-aliran tersebut ada yang telah berkembang sejak sebelum zaman keerdekaan, seperti misalnya: aliran suci rahayu (1925), Budha Wisnu (1925), ilmu sejati-Prawirosoedarso (1926) paguyuban ngesti tunggal/PANGESTU (1932) dan paguyuban sumarah (1935). Akan tetapi aliran-aliran tersebut pada umumnya baru terorganisir secara resmi sesudah kemerdekaan, bahkan jumlahnya mengalami penambahana yang cukup banyak, misalnya Iman Iqama Haq (IIH), Islam sejati, Kaweruh Naluri (1949), agama sapta darma (1952) dan lain-lain. 4
3

Ibid., Sofwan, Ridin. 1999. Menguak Seluk Beluk Aliran Kebatinan. Aneka Ilmu : Semarang.m hlm, 12

Sementara itu Kongres Kebudayaan kedua di Magelang tanggal 20-24 Agustus 1948 yang diketuai oleh Mr. Wongsenegoro telah mengusulkan pula kepada pemerintah agar dibentuk lembaga untuk mempraktekkan ilmu Kebatinan secara luas serta menganjurkan untuk memperkuat dan memperhebat perjuangan batin untuk mencapai keluwihan dan jaya kawijayan (kadigdayaan). Aliran Kebatinan yang beraneka macam itu, di samping mempunyai ajaran yang berbeda-beda, ternyata masing-masing mempunyai motivasi dan tujuan yang berbedabeda pula, bahkan ada di antaranya yang menyatakan diri sebagai agama atau minta diakui sebagai agama, sehingga oleh karena itu pemunculan aliran Kebatinan yang sedemkian banyak mendorong pemerintah untuk mengadakan pengawasan dan penertiban terhadap aliran-aliran Kebatinan tersebut. Untuk itu sudah sejak tahun 1951 di departemen agama dibentuk lembaga penelitian gerakan/aliran kerohanian. Tujuan lembaga ini ialah mengadakan penelitian dan pengurusan aliran-aliran kepercayaan yang berada di luar pengurusan agama Islam, Kristen, katolik, hindu, budha, kong hu cu, dengan tugas pokok:5 1. 3. Menyalurkan Menjaga kepercayaan/agama dan kearah pandangan rohani yang sehat.

2. Menyalurkan perkembangan kepercayaan/agama kea rah keTuhanan yang maha esa. keamanan kesejahteraan bangsa Indonesia. Kemudian pada tahun 1954, dengan surat keputusan perdana mentri RI. Nomor 167/PM/54 tanggal 1 Agustus 1954 dibentuk biro PAKEM (pengawas aliran kepercayaan masyarakat).

D. Ajaran Inti Kebatinin Dari pandangan tersebut maka teologi yang mendasari mistik Kebatinan adalah teologi yang bercorak pantheistic, oleh karena dalam pandangan tersebut tergambarkan bahwa intisari manusia, esensinya sama dengan Tuhan. Dalam berbagai aliran Kebatinan Tuhan digambarkan sebagai bersifat transenden, tidak bisa digambarkan seperti apa. Namun Tuhan juga imanen secara esensi dalam alam, dan keberadaanya dalam diri manusia diwakili oleh roh suci, purusa, atma, sebgaimana yang telah dinyatakan di atas; semuanya menjadi bagian yang tak terpisahkan dari Tuhan sebagai asalnya.

Ibid.,14

Demikianlah tentang apa atau siapa Tuhan itu, demikian pula apa dan siapa manusia itu perlu dipahami dengan sebaik-baiknya, sehingga ketika seorang pelaku mistik Kebatinan bermaksud untuk kembali kepada Tuhan dalam latihan-latihan rohani yang dijalankan, maka ia tidak akan tersesat jalan. Dengan begitu ungkapan man arafa nafsahu faqad arafa rabbahu berlaku di sini dalam artian nafsun (manusia) mempunyai persamaan esensi dengan rabbun (Tuhan) dan Tuhan secara esensial telah berada dalam diri manusia. Menurut ajaran Kebatinan itu, manusia berasal dari Tuhan yang diciptakan oleh Tuhan melalui suatu proses tanazzul, semacam proses emanasi, di mana Tuhan mengejawantah atau menjelmakan diri dalam beberapa pangkat emanasi, dari wujud-Nya yang ghaib sampai pada akhirnya bermuara pada terwujudnya manusia yang terdiri dari unsur jasman rohani, yang disebut sebagai Insan kamil. Berkenaan dengan pendapat ajaran kebatinan tentang alam, dibagi menjadi dua, pertama alam gaib dan kedua alam lahir, alam gaib sendiri bertingkat-tingkat kegaibannya sejak dari alam ketuhanan, yang disebut juga alam sonya ruri, alam kasunyatan, alam azali abadi, sangkan paraning dumadi sampai dengan alam para makhluk halus, roh-roh dan dunia batin manusia. Lalu alam lahir dibedakan menjadi dua yakni alam besar, alam semesta ini atau bahasa jawanya jagad gede, dan alam kecil bahasa jawanya alam cilik yang meliputi manusia. Terdapat hubungan kesatuan antara alam besar dengan alam kecil keduanya merupakan pengejewantahan Tuhan. Tentang asal usul alam ini apakah berawal dari tidak ada menjadi ada, atau merubah dari bentuk yang sudah ada atau juga ada dengan sendirinya. Setiap aliran yang termasuk dalam kebatinan masing-masing menjelaskannya dengan bahasa sendiri-sendiri. Dan hakekat alam menurut aliran kebatinan itu berada didalam alam itu sendiri, sehingga alam itu mengandung unsur tuhan oleh sebab itu kebatinan digolongkan pada aliran Pantheisme (pan=semua, theos=tuhan). Pembahasan tentang keabadian alam kebatinan berpendapat bahwa keberadaan alam ini merupakan permulaan jadi pada mulanya alam ini tiada lalu menjadi ada dalan aliran ini diibaratkan kekosongan atau suwung, dengan demikian dapat diartikan bahwa alam ini baru. Selanjutnya jika dikaitkan antara penciptaan alam dengan hakekat alam yang identik dengan hakekat tuhan maka harusnya keberadaan alam dunia ini akan tetap abadi tidak berawal dan tidak berakhir. Ajaran tenatng alam juga memasukkan istilah

memayu hayuning bawana yang artinya bahwa bawana=alam hendaklah dihadapi dengan sedemikian rupa sehingga menjadikan selamat sejahtera bagi penghuninya termasuk didalamnya manusia dan penghuni lainnya. Jadi ajaran kebatinan juga mengharuskan para pengikutnya untuk menjaga dan melestarikan alam sekitar untuk menjaga keseimbangannya karena akibat marahnya alam ini juga akan berdampak bagi manusia dan makhluk hidup lainnya.6
E.

Titik Temu Aliran Kebatinan dan Tasawuf7 Tujuan utama dalam Tasawuf adalah pengalaman dan kesadaran berhubungan dengan Tuhan secara langsung, berada sedekat-dekatnya dengan Tuhan secara sadar sehingga seseorang merasa berada dihadirat Tuhan. Tuhan dihayati sebagai hadir di hadapannya, atau sufi berhubungan mesra sehingga menimbulkan rasa bahagia. Untuk mencapai tujuan mendekatkan diri kepada Tuhan ini, menurut sejarah, semula Tasawuf mengambil bentuk zuhud, dalam arti sikap hidup sederhana dan menjauhi kemewahan duniawi. Selanjutnya Tasawuf juga digunakan untuk memperhalus budi pekerti dan sopan santun ketika manusia mengadakan hubungan Tuhan dan hubungan dengan sesama manusia. Corak penghayatan Tasawuf seperti itulah yang muncul dalam perkembangan awal Tasawuf dan cenderung merupakan gerakan moral, dimaksudkan untuk memperhalus budi pekerti dan pengalaman syariat yang biasanya dijalankan dengan ketat dan kaku, sehingga ajaran syariat itu menjadi lebih halus, mendalam dan bermakna. Karenanya Tasawuf semacam itu disebut Tasawuf akhlaki atau Tasawuf sunni dan dapat dikategorikan sebagai mistik kepribadian (mysticism personality). Disebut mistik kepribadian karena hubungan antara manusia tidak sampai pada penyatuan esensi, karena antara Tuhan dan manusia dasarnya berbeda, manusia sebagai makhluk dan Tuhan sebagai Khalik (pencipta). Sedangkan kenapa disebut Tasawuf sunni, oleh karena Tasawuf ini dikembangkan oleh golongan sunni terutama Al-Ghazali, dan tetap berpegang pada ortodoksi al-Quran dan sunnah Nabi. Di dalam al-Quran terdapat ayatayat yang menggambarkan siksa neraka yang sangat pedih dan mengerikan yang diancamkan terhadap orang yang berdosa. Tetapi terdapat pula ayat-ayat yang menunjukan bahwa Tuhan itu mengasihi dan mencintai hamba-Nya, Tuhan maha mengetahui, maha mendengar dan lain sebgainya. Ayat-ayat semacam itu yang kemudian

Ibid., 15-16 Rahnip. 1987. Aliran Kebatinan Dan Kepercayaan Dalam Sorotan. Pustaka Progressif : Surabaya., 15-17

mendorong munculnya tokoh-tokoh Tasawuf akhlaki, antara lain Hasan al-Basri (w. 110H) dengan konsep al-khauf (takut) kepada balasan Tuhan, Robiah al-adawiyah (w. 185H), dengan konsep al-hubb al-illahi yakni cinta kepada Allah, Zunun al-Misri dengan konsep marifah billah, mengenal Tuhan dengan mata hati. Namun dalam perkembangannya Tasawuf lebih lanjut, memperlihatkan bahwa Tasawuf bukan hanya untuk memperhalus budi pekerti yang bersifat akhlaki, tetapi juga merukan pandangan hidup yang disistimatisir atas dasar pemikiran mendalam dan mendasar yang bersifat falsafi. Corak Tasawuf falsafi ini, bukan saja untuk mendekatkan diri kepada Tuhan sedekat-dekatnya, tetapi juga untuk bersatu dengan Tuhan. Tasawuf falsafi ini disebut juga sebagai Tasawuf non sunni dan dapat dikategorikan sebagai mistik ketakterhinggaan (mysticism infinity), yang berlandaskan kepada kepercayaan monistis, panteistis. Hubungan antara manusia dengan Tuhan diyakini sebagai persatuan dengan Tuhan karena adanya persamaan esensi antara Tuhan dengan manusia. Tasawuf falsafi banyak dikembangkan oleh golongan non Sunni terutama Al-Hallaj (858-922M) dan Ibn Al-Arabi (561H/1165M-638H/1240M). Dengan melihat kepada kecenderungan penghayatan Tasawuf tersebut maka secara garis besar rumusan tujuan Tasawuf juga dibedakan menjadi dua, yakni marifah billah dan Insan Kamil. Tujuan marifah billah dipegangi oleh Tasawuf akhlaki atau Tasawuf Sunni. Di sisi lain, Tasawuf falsafi lebih menekankan pada tujuan pencapaian derajat Insan Kamil, manusia sempurna, yang menurut Abdul Karim al-Jili (767811H/1365-1409M) kondisi itu dapat tercapai bagi orang yang telah berhasil merealisasi seluruh kemungkinan yang ada, potensi keTuhanan yang ada pada dirinya. Insan kamil merupakan cermin Tuhan (duplikat Tuhan) yang diciptakan atas nama-Nya.Usaha manusia untuk berada sedekat-dekatnya, bahkan manunggal dengan Tuhan adalah merupakan cermin kerinduan nurani manusia terhadap Tuhannya. Usaha semacam itu merupakan gejala universal dan konstan, tidak terbatas oleh ruang dan waktu, terjadi di Barat maupun di Timur, dari zaman dahulu sampai sekarang dan yang akan datang. Tasawuf sebagai mistik Islam, menurut Abu Wafa Taftazani memiliki ciri-ciri umum yang bersifat psikis, moral dan epistemologis. Menurut pendapatnya bahwa Tasawuf adalah merupakan suatu bentuk peningkatan moral, artinya setiap Tasawuf memiliki nilai-nilai moral tertentu dan merealisasikan nilai-nilai itu dengan maksud untuk membersihkan batin.

Tujuan Tasawuf adalah untuk pemenuhan fana (sirna) dalam realitas mutlak, yaitu kondisi psikis tertentu, di mana seorang sufi tidak merasa adanya diri atau keakuannya. Lebih jauh lagi dia telah meleburkan kehendaknya bagi kehendak Yang Mutlak. Jika kondisi fana itu bisa terwujud maka sufi akan memungkinkan memperoleh pengetahuan intuitif langsung, bagaikan sinar kilat yang muncul dan pergi secara tiba-tiba. Selanjutnya, oleh karena Tasawuf diniatkan sebagai penunjuk dan pengendali hawa nafsu, secara psikis akan muncul pengalaman rohani yang dirasakan sebagai ketenteraman dan kebahagiaan rohani. Apa yang dialami itu diungkapkan dengan penggunaan simbolsimbol dalam ungkapan-ungkapan khas. Dalam hal ini setiap sufi mempunyai cara tersendiri dalam mengungkapkan kondisi yang dialami karena hal itu merupakan pengalaman subyektif. Perjalanan batin atau perjalanan nurani manusia dalam mencapai kesempurnaan hidup yakni berada sedekat-dekatnya dengan Tuhan itu disebut mistik. Dan oleh karena mistik ini senantiasa berkaitan dengan pengalaman keagamaan, maka mistik ada pada setiap agama, bahkan ada pada aliran-aliran pseudo agama (aliran mirip agama). Pada agama-agama besar dunia terdapat mistik-mistik Hindu, Budha, Kristen, dan Islam, sedangkan pada aliran yang menyerupai agama, kita mengenal mistik Kebatinan. Mistik Islam dikenal dengan sebutan khas yakni Tasawuf atau sufisme sebagaimana disebut oleh orientalis Barat, sedangkan mistik Kebatinan karena bersumberkan dari budaya spriritual orang jawa, disebut sebagai mistik Kejawen. Dimensi mistik pada setiap agama itu bermula dari kesadaran manusia bahwa ia berasal dari Tuhan dan akan kembali kepada-Nya. Keasadaran ini menimbulkan pengalaman keagamaan pada dirinya mengenai hubungan dengan Tuhannya itu, yang terefleksikan dalam sikap takut, cinta, rindu, ingin dekat kepada-Nya, dan lain sebagainya. Pengalaman keagamaan itu kemudian terpolakan menjadi suatu system ajaran yang mengajarkan bagaimana cara, metode ataupun jalan yang harus ditempuh untuk mencapai tujuan yakni kembali menyatu dengan Tuhan. Dari uraian-uraian itu maka dapat diketahui titik-titik temu antara Tasawuf dengan Kebatinan. Titik temu itu tidak saja Nampak pada tujuan yang hendak dicapai, yakni upaya mendekatkan diri kepada Tuhan, tetapi juga pada alur piker yang melandasi jalan mistik yang harus ditempuh untuk mencapai tujuan misitik tersebut. Namun demikian titik temu akan lebih Nampak kelihatan antara mistik Kebatinan dengan

dengan Tasawuf falsafi (non sunni) yang keduanya berkecenderungan mendasarkan kepada faham keTuhanan yang bercorak monism panteistik dan bertujuan untuk mencapai persatuan antara manusia dengan Tuhan. Lain halnya dengan mistik Kebatinan itu dihubungkan dengan Tasawuf sunni atau Tasawuf akhlaki yang mendasarkan kepada faham keTuhanan monoteistik serta bertujuan hanya sebatas marifatullah, maka jelas keduanya tampak berbeda seperti yang tertulis dalam al-Quran surat ayat 22 . janganlah kamu adakan Tuhan yang lain di samping Allah, agar kamu tidak menjadi tercela dan tidak ditinggalkan (Allah). Pada jalan yang ditempuh untuk mencapai tujuan mistik, meskipun tampak perbedaan di dalam praktek-praktek latihan kejiwaan, mamun tahapan-tahapan yang dilalui secara garis besar terdapat kesaamaan, masing-masing memiliki aspek purgative dan kontemplatif. Pada tahap awal merupakan tahap pensucian jiwa (purgative). Adapun kontemplasi atau konsentrasi merupakan pemusatan kesadaran hanya kepada Allah yang dilakukan dengan cara dzikir, mengucapkan lafad allah dan lain sebgainya. Pola yang sama terdapat aliran Kebatinan, karena di dalam latihan kejiwaan, kebersihan rohani menjadi syarat utama. Untuk itu perlu dihindari sifat-sifat ataupun sikap-sikap tercela serta mengutamakan budi luhur, berbuat yang baik dengan cara mengekang hawa nafsu, mengambil jarak dari dunia materi. Kontemplasi pada Kebatinan dilakukan dengan melalui aktifitas sujud, meditasi atau cara berdzikir sebagaimana yang dilakukan dalam Tasawuf. Sementara itu terdapat juga konsep-konsep etika yang sama pada keduanya, seperti tawakal, zuhud, sabar, ikhlas, dan ridho. Jadi pada Tasawuf dan mistik Kebatinan terdapat dasar-dasar pemikiran yang sama dalam mencapai tujuan misitk meskipun titik tolaknya agak berbeda. Dalam Tasawuf misalnya, terdapat dasar pemikiran bahwa roh manusia itu ibarar cermin yang dapat yang menjadi kotor karena perbuatan-perbuatan yang tidak bermoral. Maka untuk dapat menerima dan memancarkan cahaya Tuhan, cermin itu harus dibersihkan dengan melakukan perbuatan baik atas dasar akhlakul karimah. Sebaliknya dalam pemikiran Kebatinan bahwa inti manusia adalah rohani bukan jasmani. Supaya rohani manjadi kuat dan sempurna, maka jasmani dilemahkan. Untuk melemahkan jasmani harus menjalankan laku, di antaranya berbuat yang baik dan meninggalkan wewaler (segala yang dilarang). Penghindaran atau pengambilan jarak dari dunia materi (distansi) pada tasawuf dilakukan dengan zuhud dan uzlah, bahkan zuhud ini menurut sejarah merupakan bibit Tasawuf yang dilakukan dengan cara makan, minum dan berpakaian secara sederhana. Sedangkan

pada mistik Kebatinan distansi dilakukan dengan asketik, tapa brata, mengurangi dahar lan guling (makan, minum dan tidur), puasa pati geni dan lain-lain. Dengan demikian perwujudan distansi itu berbeda, tetapi tujuannya sama yaitu untuk mensucikan batin, dengan cara melemahkan jasmani, karena jasmani itulah yang menjadi saluran-saluran nafsu. Hanya saja terdapat kecenderungan Kebatinan memandang dunia sebagai penderitaan yang perlu dihindari sehingga dunia ini dihadapi secara pasif dan pandanannya seakan hanya tertuju kedalam dirinya saja untuk mencari kelepasan dari penderitaan. Sebaliknya Tasawuf mempunyai kecenderungan untuk menghadapi dunia secara aktif, pandangan di arahkan ke luar dirinya, oleh karena keaktifan dalam menghadapi dunia ini sebagai perwujudan dari pelaksanaan perintah Allah ataupun meninggalkan segala yang dilarang-Nya, sesuai tuntutan syariat. Berkenaan dengan syariat itu pula, satu hal yang membedakan secara umum antara Tasawuf dengan mistik Kebatinan bahwa untuk mencapai tujuan, Tasawuf tidak bisa dilepaskan dari syariat, justru syariat merupakan jembatan untuk tercapainya tujuan Tasawuf. Lain halnya dengan mistik Kebatinan, meskipun pada umumnya penganut Kebatinan adalah orang-orang yang beragama Islam, maka di dalamnya tidak terdapat keharusan untuk melaksanakan syariat, seprti sholat, puasa, menurut syariat Islam. Hal itu dapat dimaklumi mengingat apa yang mereka ikuti dalam Kebatinan merupakan suatu bentk penghindaran terhadap syariat agama Islam, lantaran keawaman mereka yang berstatus sebgai orang Islam abangan.

BAB III PENUTUP Kesimpulan


Aliran kebatinan, kejawen, kepercayaan adalah sama istilah dalam penyebutan tergantung dari penganut masing-masing mungkin dilihat dari sudut pandang dan masa masing-masing, menurut sejarah Faham Kebatinan ini dalam proses perkembangannya senantiasa didukung oleh golongan priyayi, yaitu golongan keluarga istana dan pejabat pemerintahan kraton. Mereka termasuk ke dalam kategori orang-orang Islam abangan lapisan atas, yakni orang-orang Islam yang kurang mengetahui ajaran-ajaran Islam dan oleh karenanya tidak mengamalkan syariat Islam. Mereka masih mempertahankan budaya Hindu, sementara Islam yang datang kemudian dipandang sebagai unsur tambahan. didalam ajaran

inti dari kebatinan dibagi menjadi tiga ajaran tentang tuhan, manusia dan alam selain itu juga terdapat ajaran etika terhadap sesama. kebatinan identik dengan tasawuf falsafi karena keduanya berkecenderungan mendasarkan kepada faham keTuhanan yang bercorak monism panteistik dan bertujuan untuk mencapai persatuan antara manusia dengan Tuhan. Lain halnya dengan mistik Kebatinan itu dihubungkan dengan Tasawuf sunni atau Tasawuf akhlaki yang mendasarkan kepada faham keTuhanan monoteistik serta bertujuan hanya sebatas marifatullah, maka jelas keduanya tampak berbeda. Misalnya ritual dalam tasawuf guna mendekatkan diri kepada Alloh dengan cara dzikir, mengucapkan lafad allah dan lain sebagainya. Tetapi dalam aliran Kebatinan menjalankan dengan menghindari sifat-sifat ataupun sikap-sikap tercela serta mengutamakan budi luhur, berbuat yang baik dengan cara mengekang hawa nafsu, mengambil jarak dari dunia materi. Untuk mencapai tujuan mistik tasawuf memilih melakukan perbuatan baik atas dasar akhlakul karimah, tetapi kebatinan dalam melemahkan jasmani harus menjalankan laku, di antaranya berbuat yang baik dan meninggalkan wewaler (segala yang dilarang). Dan untuk menjaga jarak dengan dunia penganut tasawuf menjalani hidup zuhud dan uzlah Lalu kebatinan menjalaninya dengan mengurangi dahar lan guling (makan, minum dan tidur), puasa pati geni, asketik, tapa brata, dll dilihat dari ritual kedua aliran yang terlihat bersebranyan sebenarnya terdapat keidentikan segi tujuannya tetapi hanyalah bentuk ritualnya yang agak sedikit berbeda. Namun sebenarnya tujuan utama dari kedua aliran tersebut tetap mempunyai tujuan yang sama yakni bersatu dengan tuhan dan dapat lebih mengenal tuhan.

DAFTAR PUSTAKA
Sofwan, Ridin. 1999. Menguak Seluk Beluk Aliran Kebatinan. Aneka Ilmu : Semarang. Rahnip. 1987. Aliran Kebatinan Dan Kepercayaan Dalam Sorotan. Pustaka Progressif : Surabaya.

http://pencari-kebenaran-hakiki.blogspot.com/2010/08/alirankebatinan-dan-tasawwuf.html