GBPP MATAKULIAH

PENGANTAR ILMU PEMERINTAHAN
UNTUK PROGRAM STRATA DI PERGURUAN TINGGI
Taliziduhu Ndraha, Kybernolog 1 LATAR BELAKANG GBPP mata kuliah Pengantar Ilmu Pemerintahan ini semula ditulis sebagai bahan Workshop Penyusunan GBPP/SAP Semester I dan II Fakultas Manajemen Pemerintahan IPDN 2008/2009 di Jatinangor tgl 24 dan 25 November 2008, memenuhi undangan Dekan fakultas yang bersangkutan tgl 18 November 08 No 003/487/FMP/08. Sesuai saran berbagai fihak, naskah awal diperluas sehingga dapat digunakan sebagai pola dasar matakuliah Ilmu Pemerintahan untuk Program S1, S2, dan S3 Ilmu Pemerintahan. Penggunaannya disesuaikan dengan kebutuhan tiap stratum. Andaikan Ilmu Pemerintahan diibaratkan sebuah pohon-buah dengan buah (aspek Axiologi), batang (aspek Epistemologi), dan akarnya (aspek Ontologi), maka didaktik dan metodik (DM) pengajarannya diperlihatkan melalui Tabel 1 di bawah ini.
Tabel 1 Didaktik dan Metodik (DM) Pengajaran Ilmu Pemerintahan Dilihat dari Aspek-Aspek Body-Of-Knowledge (BOK) Bahan Ajar (X menunjukkan tingkat kedalaman)
------------------------------------| METODIK PENGAJARAN | |-------------------------------------| | S1 | S2 | S3 | --------------------------------------|-----------|------------|------------| | | Axiologi (Buah) | X X X | X X | X | | |-------------------------|-----------|------------|------------| | DIDAKTIK | Epistemologi (Batang) | X X | X X | X X | | |-------------------------|-----------|------------|------------| | | Ontologi (Akar) | X | X X | X X X | ----------------------------------------------------------------------------

Dengan catatan bahwa perancangan DM harus dilakukan secara bertahap tetapi konsisten, Program S1, S2, dan S3, sebaiknya tersusun menurut skala interval dan tidak ordinal apa lagi nominal belaka (Gambar 1, sistem single input - single output). Sungguhpun demikian, dalam fase peralihan, program khusus atau tertentu, “darurat” atau terpaksa, sistem multi-input single output dapat juga digunakan, didukung dengan program matrikulasi yang sepadan. Jadi sedapat-dapatnya:

jangan begini: (ordinal)
S3 | | | | | S2 | S1 ilmu X

apalagi begini: (nominal, zig-zag)
------>S3 | ilmu X | | | | ------>S2 | ilmu Y S1 ilmu Z

tetapi begini: (interval)
S3 | | | S2 | | | S1 ilmu X

Gambar 1 Skala DM Program Strata Ilmu Pemerintahan 2 SESI SATU Sesi ini diisi dengan Penjelasan Umum, pandangan menyeluruh (overview) tetapi esensial (abstract, highlight) tentang Ilmu Pemerintahan (termasuk TIU) dan Sejarah Pengajaran Ilmu Pemerintahan di Indonesia. Semua mata kuliah yang terkait dengan Ilmu Pemerintahan mengacu pada Pengantar ini. Ilmu Pemerintahan yang diuraikan di sini adalah Ilmu Pemerintahan dalam konstruksi bangunan (bodyof-knowledge) yang disebut Kybernologi. Dalam hubungan itu, Kybernologi bukan sekedar judul buku, tetapi sebuah bangunan ilmu pengetahuan. Khusus di lingkungan IPDN/IIP, Ilmu Pemerintahan merupakan mata kuliah tingkat institut dan diajarkan pada semua program, strata, fakultas dan jurusan. Perkuliahan tiap semester terdiri dari 14 sesi tatapmuka dan dua sesi ujian (UTS dan UAS) = 16 sesi. Dari referensi ditelusuri sumber-sumber asli dan ditambahkan sumber-sumber lainnya. GBPP ini secara berkala ditinjau dan dikembangkan. Salahsatu versi GBPP ini dimuat dalam Bab XI Kybernologi Sebuah Pengharapan (2009). Sejarah Pengajaran Ilmu Pemerintahan di Indonesia diawali dengan Bestuurskunde, Bestuurswetenschap, dan Bestuurswetenschappen di Belanda. Menurut G. A. Van Poelje dalam Pengantar Umum Ilmu Pemerintahan (1959), mulai tahun kuliah 19281929 pengajaran dalam Jurusan Ekonomi Kenegaraan diperluas dengan mata pelajaran Ilmu Pemerintahan dengan tujuan supaya jurusan ini lebih disesuaikan dengan kebutuhan mereka yang berhasrat untuk bekerja pada dinas umum. Pada tgl 25 Januari 1928, Guru Besar Luar Biasa di bidang Ilmu Pemerintahan dilantik, dan dengan dmeikian maka pengakuan Ilmu Pemerintahan sebagai mata pelajaran (berderajat Doktor) pada pengajaran tinggi di Belanda menjadi suatu kenyataan. Selama masa 1928-1933 dua orang Doktor Ilmu Pemerintahan dipromosikan, yaitu

Dr R. E. Berends dan Dr F. Breedsvelt. Di masa itu Ilmu Pemerintahan dianggap sebagai struktur supra ilmu-ilmu pengetahuan yang berkaitan dengan ekonomi perusahaan. Uraian di atas kemudian disusuli dengan pengajaran Ilmu Pemerintahan pada kursus dan bestruursacademie Pamongpraja di zaman Belanda, paradigma Ilmu Pemerintahan di lingkungan UGM sampai tahun 80-an (Gambar 2), dan dewasa ini (Gambar 3), paradigma IIP-UNPAD, dan paradigma IPDN/IIP-Baru.
ILMU POLITIK | -----------------------------|----------------------------| | | | | ILMU ADM ILMU HUBILMU PEILMU PERBANTEORI PUBLIK INTERNASIONAL MERINTAHAN DINGAN POLITIK POLITIK

Gambar 2 Posisi Ilmu Pemerintahan Versi UGM (Tradisi Sampai Tahun 80-an)

Natural turbulences dan social turbulences yang terjadi di belahan dunia maju, misalnya di Amerika, mengerakkan pengubahan dan pembaharuan konstruksi berbagai ilmu pengetahuan. Paradigma Public Administration, misalnya, berubah menjadi Development Administration (tahun 60-an, pasca PD II), dan berubah

1 NEGARA 2 POLITIK KEPARTAIAN DAN PERWAKILAN

MASYARAKAT 3

Gambar 3 Ranah Publik: Bidang Studi Jurusan Ilmu Pemerintahan di Universitas Gadjah Mada (UGM) lagi menjadi The New Public Administration (1970-an, pasca Perang Vietnam). Dua

kali social turbulences (1965 dan 1998) dan sekali lagi natural turbulence (20042005) menimpa Indonesia, mendorong pembaharuan konstruksi Ilmu Pemerintahan. Turbulences itu ditanggapi dengan cara pendekatan yang berbeda oleh UGM dan Program Pascasarjana Kerjasama UNPAD-IIP (1996). Sejak tahun 2000-an, bidang kajian Jurusan Ilmu Pemerintahan di UGM dikonstruksi seperti Gambar 3 (A. Nurmandi, E. P. Purnomo, Suswanta, peny., Mencari Jatidiri Ilmu Pemerintahan, 2006), sedangkan Ilmu Pemerintahan di lingkungan Program Pascasarjana Kerjasama UNPAD-IIP direkonstruksi seperti Gambar 4. Rekonstruksi Gambar 4 bermula pada pendekatan kemanusiaan (Gambar 5). Melalui pendekatan ini, maka HAM, kebutuhan eksistensial Manusia, kebutuhan dasar masyarakat dan lingkungan hidupnya yang pertama-tama terlihat sebagai sasaran kajian, dan bukan Negara, kepentingan atau kekuasaan belaka. Rekonstruksi itu didorong oleh keinginan untuk mengembalikan Ilmu Pemerintahan pada posisi dan kualitasnya semula yaitu “ilmu yang bertujuan menuntun hidup bersama manusia dalam upaya

NEGARA governent 1 ruang kekuasaan PUBLIK ruang publik 2 KEBIJAKAN PUBLIK governance
kewenangan negara 1--------------->2 pelayanan publik

kewajiban negara 1-------------->3 pelayanan civil

ruang civil 3 MANUSIA HAM

Gambar 4 Interface Antara Negara Dengan Manusia mengejar kebahagiaan rohani dan jasmani yang sebesar-besarnya tanpa merugikan orang lain secara tidak sah” (G. A. van Poelje, Algemene Inleiding tot de Bestuurskunde, 1953. Rekonsturksi Ilmu Pemerintahan menurut pendekatan Gambar

3 dan Gambar 4 terhadap fenomena pemerintahan digabung seperti Gambar 5 itu.” ditemukan Ontologi Kybernologi dengan dua variable pemikiran: Kualitas Manusia dan Hubungan Pemerintahan (lihat Gambar 6). Purnomo. 2007. sebagai hasil pendaratan Bestuurskunde dan Bestuurswetenschap di bumi Indonesia. Pokok-pokok Kybernologi menurut perkembangannya yang terakhir terdapat dalam Bab I Kybernologi dan Pembangunan (2009). yang disebut juga Hubungan Antara Janji dengan Percaya. Keadaan dengan Pengharapan. Bab I dan Bab II dan Soewargono dalam Kybernologi Sebuah Rekonstruksi Ilmu Pemerintahan. E. 2005. A. 2006. 2005. Nurmandi. . Bab 3 Kybernologi dan Kepamongprajaan.. PENDEKATAN KEKUASAAN PENDEKATAN KEMANUSIAAN DAN LINGKUNGAN FENOMENA PEMERINTAHAN COMMON PLATFORM SEMUA ILMU PENGETAHUAN ILMU PEMERINTAHAN KONSTRUKSI GAMBAR 4 BERNAMA KYBERNOLOGI ILMU PEMERINTAHAN KONSTRUKSI GAMBAR 3 Gambar 5 Dua Macam Pendekatan Referensi: Bab I Kybernologi 2003. Perkembangan kemanusiaan yang memuncak pada kenegaraan. P. Bab 3 Kybernologi dan Kepamongprajaan. membentuk Hubungan Pemerintahan. peny. Mencari Jatidiri Ilmu Pemerintahan. 2008 3 SESI DUA Melalui pendekatan metadisiplin: “Percaya agar (baru) tau (credo et intelligam). 2008. Suswanta. Bab I dan Bab II Kybernologi Beberapa Konstruksi Utama. Bab VIII Kybernologi Sebuah Profesi. Pendekatan seperti Gambar 5 itulah yang diajarkan di lingkungan IPDN/IIP ke depan.

Bab 6 dan Bab 7 Kybernologi 2003. McIver. . Pemenuhan kebutuhan manusia selain bersifat komprehensif (segala bidang kehidupan) juga bersifat jangka panjang sejauh mungkin ke depan: “Gouverner c’est prevoir. 4 SESI TIGA Epistemologi Ilmu Pemerintahan: Teori Kebutuhan. bermula dari “kebutuhan manusia” sejak “terjadinya” di dalam kandungan. Pemikiran pemerintahan sejajar dengan pemikiran ekonomi. R. Pikiran ini dideduksi dari Ontologi Pemerintahan di atas. The Web of Government.ALLAH mencipta CIPTAAN<---------------------HUBUNGAN PEMERINTAHAN---------------------> MAKHLUK MANUSIA-->MEMBUMI 1 CIPTAAN | MANUSIA | PENDUDUK-->BERMASYARAKAT | 2 CIPTAAN | MANUSIA | PENDUDUK | WARGAMA| SYARAKAT-->BERBANGSA | 3 CIPTAAN | MANUSIA | PENDUDUK KUALITAS MASYARAKAT MANUSIA WARGABANGSA-->BERNEGARA | 4 CIPTAAN | MANUSIA | PENDUDUK | MASYARAKAT | BANGSA | WARGANE| GARA----->BERPEMERINTAHAN 5 CIPTAAN MANUSIA 7 PENDUDUK YANG DIMASYARAKAT PERINTAH BANGSA konstituen NEGARA pelanggan<------------hubungan pemerintahan------------>PEMERINTAH konsumer (peran) korban 6 mangsa Gambar 6 Ontologi Kybernologi dengan 7 Terminal Referensi: Bab 1. 1961.” demikian ungkapan Perancis.

Jadi kepentingan itu subjektif. dan pemenuhannya sebagai kewajiban negara.-----| SIA & INSNEEDS POLICY ACTOR evaluasi | TINCTS | | | | | | | 13 | | | | 11 | POLICY | 16 | | | -----PUBLIC---------IMPLE----------PUBLIC----| | | CHOICE MENTATION | SERVICES | | | | | | | | | | | | | | 10 | | 15 | ----MASYA| | penggunaan oleh KONSUMER | RAKAT | | HAK HIDUP KORBAN atau HAK MANGSA | | | | UNTUK MEMPERTAHANKAN DIRI | | | | KEPERCAYAAN (TRUST) terhadap PEMERINTAH | | | | PENGHARAPAN (HOPE) DI MASA DEPAN | | | | | | | --------------------------------------------| | | 17 18 19 ----PRIVATE-----. kebutuhan. emp. lebihlebih kebutuhan dasar (asasi) bersifat objektif. Semua orang membutuhkan makanan.----RIGHTS-----HUMAN PUBLIC PUBLIC kontrol.--BARANG---------MARKET CHOICE JASA (SATISFACTION) ---> 7pembentukan civil service --->12pembuatan kebijakan publik --->13pengadaan public goods *empowering --->14pembentukan public actor --->15pemberdayaan (enabling. Pada dasarnya.-----CIVIL-–----acting---------CIVIL------| | | VIDU RIGHTS action SERVICES | | | | | | | | | | | | | | 8 | | | | KESEMPATAN dan HARAPAN (HOPE) | | | | PELANGGAN UNTUK MENJADI KONSUMER. Maka berbahaya jika orang memilih (membeli) tanpa mengetahui apa yang sesungguhnya dia .------------------------------------------------------------------------| | | 7 | | PENGORBANAN | | CIVIL SERVANT | | | | | | | | 4 5 6 9 | | ----INDI. maka dasar pertimbangannya adalah kepentingan. | | | | KORBAN dan MANGSA untuk SELAMAT | | | | | | 2 | | | 1 HUMAN 3 12 14 20 | MANU.*) --->17privatisasi vs statalisasi Gambar 7 Teori Kebutuhan Kebutuhan perlu dibedakan dengan kepentingan. Tetapi pada saat orang berniat dan berkesempatan memilih makan apa atau makan siapa dan kapan. Itulah sebabnya kebutuhan dasar itu diposisikan sebagai hak asasi manusia.

butuhkan. Bagian Dua Bab VI Kybernologi Sebuah Scientific Enterprise. 1956. 2008. Bab 4 Kybernologi 2003. Maslow. Bab V Kybernologi Sebuah Metamorphosis. civil NEGARA------>PRODUK------>PELANGGAN | | --------------------| | BERDAYA TAK BERDAYA | | | | KONSUMER KORBAN | --------------------| | DIBERDAYAKAN TAK DIBERDAYAKAN | | | | KONSUMER MANGSA | ----------------------------| | DISELAMATKAN TAK DISELAMATKAN | | | | *jika penyelamatan KORBAN* DIMANGSA. Referensi: Book Two Walter Lippmann The Public Philosophy. dan referensi Teori Kebutuhan A. dsb. 5 SESI EMPAT Epistemologi Pemerintahan: Teori Pelayanan. Bab 2 Kybernologi Beberapa Konstruksi Utama. tetapi tidak dapat dan tidak mungkin ia dibebani KAM (kewajiban asasi) pada saat yang sama. DISANTAP juga memberdayakan. Dia dapat terbebani KAM seiring dengan kemampuannya untuk bertanggungjawab. | DIKORBANKAN korban jadi konsumer --------------------| | DIBERDAYAKAN TAK DIBERDAYAKAN | | | | KONSUMER MANGSA Gambar 8 Teori Pemberdayaan (Pelayanan) . h. 84). Perlu dikemukakan bahwa manusia (setiap orang) memiliki HAM begitu ia terbentuk dalam rahim ibunya. Perlindungan dan pemenuhan kebutuhan manusia dan masyarakat melalui public choice (public service. 2006. 2005.

pertanggungjawaban (responsibility) Human Rights. ruang Ilmu Ekonomi). baik kualitas maupun kuantitas dan kesebarannya Tidak dibebankan langsung kpd fihak YD. dapat dibebankan kepada fihak YD Aktor pemerintahan a Monopoli Negara tapi dpt diprivatisasikan b Lebih normatif Kualitas pelayanan terdapat dlm dasar hokum pelayanan ybs Bergantung pada kemampuan dan kesempatan pelanggan menggunakan layanan Pelanggan Percaya Kendatipun Ybs Kecewa supaya masyarakat percaya sementara mereka kecewa? Info tanpa kebohongan. bukan janji Sekarang. Constitutional Rights. Diusahakan serendahrendahnya. .service. Menyelamatkan Manusia dan Lingkungannya Kewajiban Negara (Gambar 4) Jangka Panjang Individu pribadi sebagai pelanggan. korban dan mangsa Fihak Yg Melayani (YM) menyesuaikan diri dgn YD Semakin meningkat. Civil Rights.” dibiayai oleh Negara 2 TUJUAN 3 STATUS 4 VISI 5 YANG DILAYANI (YD) 6 SIKAP 7 PROSPEK 8 HARGA BIAYA 9 PELAKU (YM) 10 SIFAT Civil Servant. “no price. . Conventions Melindungi. “Artis” pemerintahan a Monopoli Negara dan tidak dapat diprivatisasikan b Antisipatif berdasarkan asas Manajemen Bencana yaitu Waktu = Nol (langsung action. 11 FAKTOR 12 KUALITAS TERTINGGI 13 MASALAH Bagaimana 14 SOLUSI ---------------------------------------------------------------------- . bukan nanti. Kualitas pelayanan di sektor publik dan civil herus dibedakan dengan kualitas pelayanan di sektor privat dan bisnis. . tak ada waktu utk mencari dan menyiapkan “the 6M”) Bergantung pada acting dan action civil servant dan “artis” pemerintahan Korban/Mangsa Berpengharapan Dalam Ketidakberdayaannya Supaya dalam diri korban tumbuh asa sementara ia tidak berdaya? Reformasi sepenuh hati Bukti. ruang Ilmu Pemerintahan) dan private choice (market service. . Tabel 2 Pelayanan Publik dan Pelayanan Civil --------------------------------------------------------------------------------DIMENSI PELAYANAN PUBLIK PELAYANAN CIVIL --------------------------------------------------------------------------------1 DASAR Pasal 33 (2) UUD 45 Public Choice Meningkatkan Kesejahteraan Masyarakat Kewenangan Negara Jangka pendek Lapisan/Kelompok Masyarakat sebagai pelanggan Fihak YD Menyesuaikan diri dgn Kondisi Fihak YM Semakin berkurang dengan semakin majunya masy.

Sebelum Amandemen) --------------------------------------------------------------------------KEBUTUHAN PASAL --------------------------------------------------------------------------TELAH DINYATAKAN SECARA JELAS. Jika pelayanan itu diibaratkan penyembuhan penyakit. maka perlu diingat bahwa tidak merasa sakit belum tentu sehat. MENGELUARKAN PIKIRAN 6 KEMERDEKAAN UNTUK MEMELUK AGAMA 7 PENGAJARAN 8 PEMELIHARAAN FAKIR MISKIN DAN ANAK TERLANTAR TIDAK/BELUM DINYATAKAN SECARA JELAS: 1 KEBEBASAN MEMILIH 2 KEPASTIAN HUKUM. pertama karena di dalam ruang dua pelayanan itu tidak ada pilihan.Kepuasan pelanggan tidak dapat dijadikan kualitas pelayanan publik dan pelayanan civil. Teori Kerja. jika “meManusiakan manusia” (memulihkan atau mengembalikan Manusia ke dalam fitrahnya semula) dipandang sebagai pemberdayaan. Tetapi untuk Indonesia bisa terbalik. Di dalam Teori Pelayanan termasuk Teori Pemberdayaan. WALAUPUN BELUM SEMUANYA DIIMPLEMENTASIKAN TASIKAN: 1 2 3 4 5 HAK/PENGAKUAN SEBAGAI SOVEREIGN (VOTER/VOTING) PENGAKUAN SEBAGAI JIWA DAN SEBAGAI WARGA NEGARA KEBERSAMAAN KEDUDUKAN DI DEPAN HUKUM (KEADILAN) PEKERJAAN DAN PENGHIDUPAN YANG LAYAK KEMERDEKAAN BERSERIKAT. menerima) pertanggungjawaban pemerintah. Jadi di sisi lain pelayanan harus diarahkan pada Tabel 3 Layanan Civil Berdasarkan UUD 1945 (Naskah Asli. dan Professionalism. dalam Teori Pemberdayaan (Manusia dan Masyarakat) terletak Teori Pelayanan. Menyehatkan berarti mencegah penyakit. BERKUMPUL. dan kedua karena dalam kekecewaan dan ketidakberdayaan sekalipun. kepercayaan masyarakat kepada negara dan pengharapan manusia terhadap masadepan bisa terbentuk dan terjaga. Careerism. kalaupun ada sangat mahal atau sangat berat. dan melihat adanya perubahan dan kemajuan yang konsisten ke depan. dan mencegah selalu lebih baik ketimbang mengobati. maka di satu sisi. jika saja masyarakat (bisa) memahami (mengerti. KEKUATAN HUKUM 3 PERLINDUNGAN 4 KESELAMATAN 5 CONSUMERISM (bukan konsumtif!) dan sebangsanya -------------------------------------------------------------------------------1 (2) 26 27 (1) 27 (2) 28 29 (2) 31 (1) 34 .

Setiap masyarakat (unit kultur) digerakkan oleh tiga subkultur. Konsep governance lebih luas ketimbang konsep government. HAM. dan memonev redistribusi nilai oleh SKK di hilir. terbentuklah subkultur kekuasaan (SKK). Bab V Kybernologi Sebuah Metamorphosis. Interaksi antar tiga subkultur itu disebut governance. “Pemerintahan” Daerah dalam hubungan itu setara dengan local governance. Kebijakan otonomi Daerah berdasarkan UU 32/04. dan subkultur sosial (SKS).pemberdayaan. 2008. dan mempertanggungjawabkan fungsi-fungsi itu kepada masyarakat di hilir). 2005. pemerintahan sama dengan . Dalam Gambar 9 terlihat juga bahwa konsep pemerintahan lebih luas daripada konsep pembangunan pemerintahan. Bab 11 Kybernologi dan Kepamongprajaan. bagaimana subkultur bekerja (berinteraksi) satu dengan yang lain. Subkultur ekonomi (SKE) berfungsi membentuk nilai dari sumberdaya yang ada. Pasal 1 butir 2. local government) bersama DPRD adalah penyelenggara pemerintahan Daerah. fungsi implementasinya (pengurusan) di tengah. Lihat juga Gambar 4. dan hak-hak derivatif. 2007. 2008 6 SESI LIMA Epistemologi Ilmu Pemerintahan: Teori Governance. yang memiliki hak eksistensial. 2007. Adapun perbedaan antara pelayanan civil dengan pelayanan publik sebagai berikut (Tabel 2 dan Tabel 3) Referensi: Bab III Kybernologi Sebuah Rekonstruksi Ilmu Pemerintahan. Bagaimana governance terbentuk. yaitu subkultur ekonomi (SKE). Dalam rangka menegakkan peraturan (kebijakan pengaturan SKE). Pada gilirannya hal ini menimbulkan ketidakadilan. Bab I Kybernologi Sebuah Charta Pembaharuan. SKS pada hakikatnya terdiri dari dua kualitas: sebagai pelanggan dan sebagai konstituen. Sebagai pelanggan ia menyampaikan kebutuhannya ke hulu melalui kualitasnya sebagai konstituen. sesuai dengan teori ini. bagaimana masyarakat melindungi dan memenuhi kebutuhannya melalui interaksi tiga subkultur itu. 2005. Bab III Kybernologi Sebuah Profesi. subkultur kekuasaan (SKK). memaksimalkan pengurusan (meredistribusi nilai ke dalam masyarakat di tengah. Di bawah konteks pemerintahan daerah. Bab 5 Kybernologi Beberapa Konstruksi Utama. 3 dan 4. Manusia mengatasi hal ini melalui pelestarian SDA dan fungsi pengaturan SKE di hulu. Watak koruptif kekuasaan melahirkan pemikiran tentang pentingnya subkultur sosial (SKS) dalam masyarakat. bagaimana interaksi antar governance. dan Gambar 9 di bawah. Gambar 7. diterangkan melalui Teori Governance. Di sana dinyatakan bahwa Pemerintah Daerah (Kepala Daerah dan jajarannya. karena peroleh nilai bergantung pada sumberdaya yang berawal pada sumberdaya alami (SDA) sebagaimana adanya.

Subkultur Kekuasaan (SKK).policy making + policy implementation.-----yanan civil. Gambar 10 menunjukkan 5 rute dasar interaksi antar tiga subkultur. . Lintasan gerak dari terminal ke terminal disebut rute. Policy implementation dapat dibedakan dengan policy implementation monitoring and evaluation. | | nilai via pela| | | |----meningkatkan. Gambar 9 berawal pada Gambar 4 tentang interface antara konsep Manusia dengan konsep Negara. Interface itu membentuk ruang Masyarakat. yaitu SKE. -----| | | | mencipta nilai pelayanan public | | | | 1 (inc. Pembangunan itu sendiri berada di dalam policy implementation di ruang SKE.SKE--------|--------->SKK----------|-------->SKS------| pemain | | | penonton | | | | wasit | pelanggan | | | | | | | mengontrol SKK | | | ----------|-|---------di hilir | | pembangunan | | | | | | | meredistribusi | | | membentuk. Rute 5 menunjukkan rute pelayanan pasar. dan Subkultur Sosial (SKS dgn kualitas Sebagai Pelanggan dan Constituent) yang Disebut juga Subkultur Pelanggan (SKP) masyarakat melalui tiga terminal. dan SKS.pemberdayaan) | | | | 4 | | | | MASYARAKAT | | | | | | | ------melayani-------5---------pasar-------| | | | MANUSIA | | | ---------------------------feedback--------------------------6 Gambar 9 Teori Pemerintahan (Governance): Interaksi Antar Tiga Subkultur Melalui 6 Rute Subkultur Ekonomi (SKE). sedangkan Rute 6 feedback ke dalam interaksi. and feedback. SKK. Interaksi antar subkultur masyarakat ----------------------| NEGARA | 2 3 -----mengontrol---------mengontrol-----| memberdayakan | | membayar | | | | | | | | | | | | mengontrol SKK | | | | | di hulu | | | constituent -----.

SKK. | | | | 1 ningkatkan.4 | | |---cipta nilai se-------nilai via pe| | | | cara berkelanlayanan civil & ----| | | | jutan pelayanan publik | | | | | | | | MASYARAKAT (PUBLIK) | | | | | | | -------melayani----------------pasar---------| | | | MANUSIA | | | ---------------------------feedback-----------------------------Gambar 10 Pemerintahan (Governance). dan SKS) Via Rute 1. petarung | | | | | SBG KONSTITUEN -----. Interaksi Antar Tiga Subkultur (Tiga Terminal SKE. dan 5 . 3. men.| | meredistribusi<-. me| | memberdayakan.nya | | dan PERDA | 2 | | | | 3 | | petaruh.SKE------------------>SKK-------------------->SKS--------| “pemain” | | | SBG PELANGGAN | | | | “wasit” | ”penonton” | | | | | | | | | | | | | | | | SKS sbg pelanggan | | | | | | | mengontrol SKK via | | pembangunan | | | | monev & feedback | | | | | | | di hilir | | | ---------|-|---------| | | | | | 5 | | | | membentuk. 2.Tabel 4 Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah ----------------------------------------------------------------------------PENGATURAN PENGURUSAN MONEV DAN FEEDBACK LOCAL GOVERNANCE ----------------------------------------------------------------------------1 DPRD -DPRD DPRD PEMERINTAH -LOCAL GOVERNMENT DAERAH (LOCAL GOVERNMENT) ----------------------------------------------------------------------------2 KEPALA DAERAH Sepanjang Rute 5 pada Gambar 10 dilakukan pemantauan dan evaluasi redistribusi ---------------------| NEGARA | SKK mengontrol SKS sbg konstidan memberdayatuen mengontrol --kan SKE via kebi--SKK di hulu via UU-| jakan & impl. 4.

Dengan memasukkan konsep stakeholder (Bab I Kybernologi ---------------------| NEGARA | | | SKK mengontrol SKS sbg konsti---dan memberdaya-----tuen mengontrol--| kan SKE via kebi. Teknik penampilan rute feedback tidak terlihat pada Gambar 10 dan Gambar 11 melainkan pada Rute 6 Gambar 12 sebagai masukan buat Rute 3. 3.| | SKK di hulu via UU | | jakan & impl.SKE---------|-------->SKK----------|----->STAKEHOLDER----| ”pemain” | | | ”penonton” | | | | ”wasit” | | | | | | | | | | SKS sbg PELANGGAN | | | | | | | mengontrol SKK via | | pembangunan | | | | monev & feedback | | | | | | | di hilir | | | ---------|-|---------| | | | | | 5 | | | | membentuk. Dalam Teori Governance juga termasuk Teori Hubungan Pemerintahan (governance relations). dan 4 . Di sana jelas.nilai (Rute 4) berdasarkan standar yang telah ditetapkan melalui Rute 3.4 | | |---cipta nilai se-------nilai via pe| | | | cara berkelanlayanan civil & ----| | | | jutan pelayanan publik | | | | | | | | | | | | MASYARAKAT (PUBLIK) | | | | | | | -------melayani----------------pasar---------| | | | MANUSIA | | | ---------------------------feedback-----------------------------Gambar 11 Stakeholder Pemerintahan (Hubungan Pemerintahan Antara Pemerintah (SKK) dengan Yang Diperintah (SKE dan SKS) Via Rute 1. | | | | 1 ningkatkan. me| | memberdayakan. 2.| | meredistribusi<-. men. hasil evaluasi dijadikan masukan ke dalam Rute 6 melalui terminal SKK. terus ke SKS.nya | | dan PERDA | 2 | | | | 3 | | petaruh. petarung | | | | | SKS “BANDAR” -----. Hasil evaluasi dijadikan masukan ke dalam Rute 3.

-----tuntutan.| | jawaban etik | | | --lanjutan utk----lay publik &------menurut----| | hidup pemberd masy etika otonom | | 1 di tengah di hilir | | 4 6 | | | | | --------------------pemerintahan (governance)-------------------Gambar 12 Sistem dan Proses Pemerintahan Melalui Rute 1. pembangunan oleh SKK adalah strategi pemberdayaan SKS sampai pada suatu saat peran ekonomi SKS otonom.SKE-------------. mengingat masyarakat belum berdaya dan belum otonom di bidang pembangunan. 2009).pe. Kendatipun pada hakikatnya pembangunan terletak dalam ruang SKE (Gambar 9). 3. SKE adalah masyarakat dalam perannya sebagai Pekerja. sedangkan SKS adalah masyarakat dalam perannya selaku Pelanggan dan Konstituen. 3. hope) kinerja SKK ---nya) berda. bandarlah stakeholdernya.SKS------------SKK-| | | | | | | | | redistribusi | | | | | | | | nilai via pe. dan 2 . Perda) | | via rute 2 | | otonom di hulu | | di hulu | | di hilir | | | | | | | | | | . Gambar 11 menunjukkan Hubungan Pemerintahan.SKK-------------. Dilihat dari sudut ini. masyarakat pemangku kekuasaan) dengan fihak Yang Diperintah (SKE dan SKS). 5. penyerahan sebagian kewenangan negara (pusat) kepada masyarakat (daerah) dapat diartikan sebagai sebuah strategi privatisasi dari badan publik kepada badan privat. Hubungan (rute) antar tiga terminal (dalam Gambar 9 terlihat empat) diperjelas (diurai) menjadi enam rute berkesinambungan. Pelangganlah yang merupakan stakeholder masyarakat. kuasa monev terhadap & penepatan(trust. yaitu hubungan antara fihak Pemerintah (SKK. sehingga pembangunanpun secara bertahap tetapi pasti beralih ke ruang SKE. untuk sementara pembangunan diletakkan di ruang SKK. Jika pemerintahan diibaratkan perjudian. Gambar 9 mengalami modifikasi (Gambar 11). 6. Gambar 12 merupakan 2 janji (kebi3 5 jakan/rencana mandat.| | pertanggung| | | | nilai berke| | lay civil.dan Pembangunan. 4. pemerintah hanya petaruh dan petarung selama masajabatan lima tahunan belaka. Dalam hubungan itu.------rute 2 & 4--| sarkan etika | | (UU.

sehingga prosesnya berjalan dari 1 ke. 2. Bagian Tiga Bab V dan Bab XIV Kybernologi Sebuah Scientific Enterprise. kembali ke 2. 6.” Hal itu terjadi misalnya pada kata “kanti” menjadi “kinanti. 1. 106) tentang hubungan antara Janji (commitment) dengan Percaya (trust) dan Harapan (hope). Lingua franca ini terbentuk sebagai padanan kata Inggris performance yang sebenarnya berarti tampilan atau penampilan. Bab I Kybernologi dan Pembangunan. sehingga rutenya menjadi 3. Tetapi untuk rezim yang baru terpilih. Referensi: Bab I Kybernologi Sebuah Rekonstruksi Ilmu Pemerintahan (2005).rekonstruksi Gambar 7-1 Kybernologi (2003. 2009 7 SESI ENAM Epistemologi Pemerintahan: Teori Kinerja.” “rakit” menjadi “rinakit. Bagian Pertama Bab 8 Kybernologi Beberapa Konstruksi Utama. Bab VI dan Bab VII Kybernologi Sebuah Metamorphosis. 2006. misalnya untuk rezim yang sedang berjalan. peneliti bebas menentukan rute awal penelitiannya dan menandainya dengan angka 1 (pada Gambar 12. demikian terus-menerus. 2005. 2008. Dengan argumentasi tertentu. angka 1 itu diletakkan pada rute Mandat (Gambar 12 pada rute 3). ----->LINGKUNGAN--------membentuk------->GOVERNANCE-------| 7 faktor 3 subkultur | | | | keselarasan | keseimbangan | keserasian feedback MASYARAKAT dinamika | keberlanjutan | interaksi antar | tiga subkultur | | | GOOD GOVERNANCE evaluasi oleh KINERJA | ----BAD GOVERNANCE<------pelanggan------GOVERNANCE<-------Lingkungan Governance: 1 sejarah 2 lokalitas 3 sistem politik Gambar 13 4 5 6 7 sistem ekonomi sistem sosialbudaya kondisi dan posisi geografik Weltanschauung masyarakat Model Dasar Teori Kinerja .” “reka” menjadi “rineka. Kata itu berasal dari kata “kerja” ditambah sisipan “in” antara “k-” dengan “-e” menjadi “kinerja. 4. Kosakata “kinerja” tidak terdapat dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia. kembali ke 3. 5.” dan sebagainya. 1. 5 dan 6. 4. berlanjut ke 3.” “ganjar” menjadi “ginanjar. rute Nilai Berkelanjutan Untuk Hidup).

2007. Keseimbangan adalah tingkat bargaining power dan keluasan pengambilan kesempatan berperan yang relatif sama antar tiga subkultur apada suatu saat. kesinambungan. tetapi jika prosesnya dapat dipertanggungjawabkan. kinerja governance bisa dikualifikasi good (Tabel 2). dan naikturun. sesuai dengan hukum rantai yang menyatakan bahwa kekuatan sebuah rantai sama dengan kekuatan matarantainya yang terlemah 3. naik-turun dan maju-mundur (NT-MM). dan timbul-tenggelam (NT. fluktuatif). MM dan TT). Kinerja pemerintahan merupakan proses dan hasil keseluruhan interaksi antar tiga subkultur sebagaimana ditunjukkan oleh angka 1 sd 6 pada Gambar 9 dan Gambar 12. Bab III Kybernologi Sebuah Profesi. pada suatu saat 4. Walaupun output atau outcomenya mengecewakan. maju-mundur. Bagian Tiga Bab VIII Kybernologi Sebuah Scientific Enterprise. diterangkan melalui Teori Kinerja. agar keberhasilan yang satu tidak merusak tetapi sebaliknya mendukung keberhasilan yang lainnya 2. Keberlanjutan (kelestarian. bagaimana supaya kinerja governance itu good. 2009 . Dinamika adalah tingkat kecepatan dan ketepatan perubahan (adaptabilitas) hubungan antar subkultur dari kondisi heterostasis ke homeostasis dan sebaliknya/selanjutnya 5. Perlu diingat bahwa PIP IPDN/IIP terletak di sini. dengan catatan sebagai berikut: 1. Bab II Kybernologi dan Pembangunan. 2007). maka governance itu disebut good governance. Grafik kinerja bisa naik-turun (NT. Jika kinerja interaksi antar tiga subkultur governance berkualitas good. Keserasian adalah tingkat empati (empathicability?) sikap dan harmoni kinerja tiga subkultur yang berbeda-beda. Bagian Pertama Bab 4 dan Bab 9 Kybernologi Beberapa Konstruksi Utama. Apa yang dimaksud dengan good governance. Teori ini terkait dengan Teori Governance dan Implementasi Kebijakan. keterusberlangsungan). Dalam hubungan ini. adalah tingkat kelancaran proses jangka panjang interaksi antar tiga subkultur sesuai dengan norma (standar) yang (telah) disepakati bersama Referensi: Bab 4 dan Bab 6 Kybernologi 2003. 2005.perilaku atau acting. 2006. Kinerja harus distandardisasi (ref. Bab I Kybernologi Sebuah Profesi. performance terlihat lebih sebagai proses ketimbang sebagai output. Keselarasan adalah tingkat ketepatan waktu dan arah tiga subkultur pada tujuan bersama jangka panjang.

8 SESI TUJUH Epistemologi Ilmu Pemerintahan: Metodologi. Metodologi di sini meliputi Metodologi Penelitian. setiap ilmu dan penggunaannya oleh masyarakat melalui governance dalam berkinerja. adalah metodologi. Epistemologi memusatkan perhatian pada substansi atau objek -.| PENE---PUSTAKA----| | --->SAFAT---|---TEMO.---| |--| | ILMU | LOGI LOGI | TIAN ---LAPANGAN---| | | | | | | | | | | | | | | | PE---DIDAKTIK---| | ---AXIOLOGI ---NGA.METODOLOGI PENGAJARAN <------------------------penggunaan ilmu termasuk learning process Gambar 15 Hubungan Antar Tiga Metodologi . Genealogi Metodologi tersebut sebagai berikut (Gambar 14).---|---LI.METODOLOGI PENELITIAN --------------.------------------> ILMU | TAHUAN struksi GE (BOK) diagnosis | | prediksi(f’casting) | | eksperimentasi | direkam self-control | | diwaris| kembang| kan FENOMEN | FAKTA <---------------------.METODOLOGI ILMU -------------| | | | | | | berfungsi: | | | | identifikasi | | | | deskripsi | | diolah diuji | | dikonBODY OF eksplanasi | D A T A -------> INFO ------> PENGE. Sebagai alat.--| |<------------->| | | JARAN ---METODIK----| | | | | | | ---------------------NILAI-------------------| | | ----------------------------------FEEDBACK--------------------------------- Gambar 14 Genealogi Metodologi BOK Body Of Knowledge Metodologi Pengajaran Ilmu Pemerintahan. Metodologi Ilmu. dan ---KONSTRUKSI-SCIENTIFIC ---ONTOLOGI ---ILMU---| |---BOK---->ACADEMIC | | ---BAHAN BAKU-ENTERPRISE | | | | | | ---------| | | | | FIL| EPISMETO. Perbedaan antara Epistemologi dengan Metodologi terletak pada titikpandang.---------->KNOWLED.---DO.

dan Gambar 10) yang disebut juga hubungan pemerintahan dengan pelanggan sebagai titiktolak utama pembelajaran (SKS. Bab 7. “Tingkat kesehatan masyarakat bergantung pada (dipengaruhi oleh) implementasi kebijakan pemerintah di bidang kesehatan.” mendarat pada Ilmu Pemerintahan. 2006. baik objek forma maupun objek materia (known.” Quod erat demonstrandum. Dilihat dari sisi ini. multidisiplin. knowable. Pendekatan yang digunakan adalah monodisiplin. Bab IX . 2007. Pernyataan tersebut disusul dengan pertanyaan penelitian: “Mengapa tingkat kesehatan masyarakat masih rendah?” Melalui analisis teoretik diperoleh jawaban (hipotesis): “Tingkat kesehatan masyarakat masih rendah. Setiap penelitian Ilmu Pemerintahan dari berbagai segi (aspek. Bab IX. layanan publik dan layanan civil.” Dengan perkataan lain. karena yang dinyatakan adalah perihal kebijakan negara (politik) dan implementasinya. bahkan ruang eksakta dan humaniora.pengetahuan dan hubungannya dengan objek lainnya. Bab IV dan Bab V Kybernologi Sebuah Rekonstruksi Ilmu Pemerintahan. Bab X. Negara adalah objek materia Ilmu Politik. dan lintasdisiplin. Gambar 7. masih di angkasa Ilmu Politik. Hubungan lebih rinci antar ketiga spesi Metodologi ditunjukkan melalui Gambar 15. Pernyataan masalah penelitian (problem statement) “Implementasi kebijakan (di bidang) kesehatan masyarakat tidak efektif. Referensi: Bab 36 dan 35 Kybernologi 2003. 2007. dan tidak dalam Ilmu Politik. Bagian Kedua Bab 14 Kybernologi Beberapa Konstruksi Utama. Bab 8 dan Bab 16 Kybernologi dan Kepamongprajaan. dan Bab XIII Kybernologi Sebuah Profesi. 2005. Objek formanya adalah interaksi antar tiga subkultur masyarakat (governance. karena yang dinyatakan adalah apa yang dialami oleh masyarakat sebagai pelanggan pelayanan kesehatan. Bab XI. dan unknown). Pernyataan “Tingkat kesehatan masyarakat masih rendah. penempatan Ilmu Pemerintahan dalam Ilmu-Ilmu Sosial oleh Universitas Padjadjaran. Gambar 11). dipandang tepat. interdisiplin.” belum mendarat pada Ilmu Pemerintahan. arah) didaratkan pada beachhead ini. Bab XII. Penemuan objek materia ini melalui pendekatan metadisiplin (Gambar 5 dan Gambar 6). Bab XVII dan Bab XIX Kybernologi Sebuah Scientific Movement. 2008. dan sebaliknya dari sini ke segala segi (aspek) kemasyarakatan. Objek forma inilah yang membedakan sekaligus menghubungkan Kybernologi dengan disiplin (ilmu) lainnya. sedangkan Metodologi memusatkan perhatian pada proses bagaimana mengetahui (knower dan knowing process). Bagian Tiga Bab II Kybernologi Sebuah Scientific Enterprise. karena kebijakan (bidang) kesehatan tidak diimplementasikan dengan baik. 2005. Dari uraian di atas terlihat bahwa objek materia Ilmu Pemerintahan (Kybernologi) bukan negara tetapi masyarakat.

. dan menciptakan sumberdaya baru. 10 SESI SEMBILAN Axiologi Ilmu Pemerintahan: Teori Nilai. Setiap tahun tiap kualitas dimonev. kedelapan kepemimpinan.dan Bab XVII Kybernologi Sebuah Metamorphosis. Visi pemerintahan Gambar 18. deduktif. Kelas dibagi menjadi 7 kelompok. bernilai. atau membentuk nilai dari sumberdaya yang ada. 2009 9 SESI DELAPAN UTS. dan visionary. Gambar 17. Gambar 17. Penemuan nilai secara deduktif bersumber pada Filsafat Pemerintahan yang berisi berbagai buah pikiran. ternyata bad. Ilmu itu amaliah dan amal itu ilmiah. Misalnya PNS dengan 8 kualitasnya. sehingga perlu dicari azas baru sebagai alternatif azas suara terbanyak yang sudah ada. Konstruksi tiga komponen: kualitas. Bab IX. nilai ekstrinsik. Setiap pemenuh kebutuhan. Pertama kesetiaan. 2008. dan Bab XIII Kybernologi dan Pembangunan. perilaku ditimbang disepakati -->ENTITAS-------->KUALITAS--------->NILAI-------------->NORMA | bisa dipaksakan (N) | | | | | feedback N<H dievaluasi ditegakkan | ---------------N=H<--------------HASIL--------------------N>H (H) Gambar 16 Identifikasi Nilai Secara Induktif Pada Gambar 16. Bab VII. dan nilai ideal. kinerja seorang pejabat yang terpilih dengan suara terbanyak. Bab X. merawat. asas-asas pemerintahan. tiap kelompok membuat tugas terstruktur tentang suatu sesi berupa sebuah makalah. Angka 90 adalah nilai kesetiaan. Bab VIII. nilai. dan norma. Dalam governance SKE berfungsi (Gambar 10) menambah. dan Gambar 18 menunjukkan model identifikasi (terbentuknya) nilai secara induktif. tetapi angka 91 disepakati sebagai norma minimal yang harus terpenuhi agar yang bersangkutan dapat dipromosi. Nilai dan asas. Nilai sebagai inti budaya. yang dijadikan bahan pertimbangan dalam memilih dan menetapkan prinsip (azas) sebagai sumber nilai hipotetik untuk diuji secara empirik. Nilai intrinsik. Gambar 16. Ujian klasikal terdiri dari 5 soal. entitas itu adalah apa saja. Bisa terjadi. Gambar 16.

” dan sebangsanya. tiada tanding. “ter-.Konstruksi visi menurut Teori Visi seperti Gambar 18.<---------JADIKAN NORMA | | TIDAK DITEMUKAN | | -----------------DIPERLUKAN ASAS BARU Gambar 17 Identifikasi Nilai Secara Deduktif | | | | | | | | | | | | | | | | | | | | | | | | | | | | . “kondisi yang given” (takdir) dan relatif tidak dapat ber-(di-) ubah. itulah Visi (Gambar 18.” Visi yang dibuat berdasarkan definisi itu selalu diberi nilai superlatif. angka 2). berisi nilai intrinsik. Iklan pemikat. Mengenvision (“melihat” dengan matahati dan mataiman) apa yang akan atau dapat terjadi 20 tahun ke depan. jika kondisi dan kecenderungan (arah perubahan) yang ada sekarang (Fakta. apakah baik apakah buruk. 1 kiri) terus berlanjut. Apapun yang terlihat melalui pendekatan ini. Apakah yang dimaksud --------------------->FILSAFAT PEMERINTAHAN | | ASAS-ASAS (YANG ADA) | deduksi | ------------------------| | | | NORMA NILAI TERTULIS TIDAKTERTULIS | | | | ---------------| | | | | | | -->CUKUP TIDAK CUKUP | | | | | DIPERLUKAN | | NILAI BARU | ---DITEMUKAN<----UNTUK DIJA. sebagaimana adanya.” “tiada banding. Pasal 1 butir 12 UU 25/04 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional (SPPN) mendefinisikan visi sebagai “Rumusan umum mengenai keadaan yang diinginkan pada akhir periode perencanaan. Visi itu objektif.” “satu-satunya.” “paling-. Envisioning dimulai juga dari Fakta tetapi bukan sisi “keberhasilan” sesaat (jangka pendek) tetapi sisi kecenderungan yang sedang berjalan (trend). Gambar 18.

R rezim 5 tahunan) Referensi: Bab VII M. Bab III Teori Budaya Organisasi. Langeveld. Bab 37 Kybernologi 2003. yg ditetapkan secara kearifan lokal sadar dan formal berda| sarkan idea dan visi 4 3 IDEA----------------------C--------------------->GOAL | S4R4 | b HARAPAN | | S3R3 | D 20 tahun E arah B MISI | S2R2 | | a MASALAH | | S1R1 | FAKTA SEKARANG-----------------A--------------------->VISI 1 dua puluh tahun 2 kecenderungan internal apa yg terlihat bila & eksternal. Demikian pentingnya misi itu sehingga mendapat julukan mission sacre. IPDN/IIP . Menuju Ke Pemikiran Filsafat. Misi itu adalah jalan dan upaya mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Kepamongprajaan sebagai superstruktur profesi pemerintahan melalui pendekatan lintas sektoral bermula pada Visi. KE DEPAN tujuan jangka panjang cita-cita. Duabelas nilai kepamongprajaan di dalam governance (Gambar 19). kondisi yg keadaan berjalan menutakberubah dan takbisa rut fakta sekarang diubah (takdir) (terminal 1) Gambar 18 Teori Visi Tujuan Jangka Panjang Berisi Nilai Ideal Melalui Envisioning Pemerintahan (Menggunakan Pola UU 25/04 dan UU 17/07) Kebijakan Jangka Panjang 20 Tahun (S strategi. 1957. Dari teori ini bersumber pokok-pokok bahasan berikut (sesi 10 dan seterusnya). J. 2005 11 SESI SEPULUH Axiologi Ilmu Pemerintahan: Kepamongprajaan. yang harus dicapai? Jika yang terakhir itu artinya. obsesi masy. Goal (tujuan) adalah rumusan formal yang ditetapkan sebagai respons terhadap visi yang terlihat (penglihatan) jauh di depan.dengan “yang diinginkan” dalam definisi itu? Mimpi? Angan-angan? Simbol belaka? Atau sesuatu yang mengikat (formal). Bagian Tiga Bab VIII Kybernologi Sebuah Scientific Enterprise (2006) dan Bab I Kybernologi Sebuah Profesi (2007). apa bedanya visi dengan tujuan? Gambar 18 menunjukkan perbedaan itu.

UMUM | | | | | | | | | --------------TEOLOGI TEKNOLOGI------------CIVIL *KYBERNOLOGI KETUHANAN? Gambar 19 Duabelas Nilai Kepamongprajaan. .didirikan untuk membentuk tenaga-tenaga pemerintahan yang berkualitas kepamongprajaan ini. bahwa berbagai ilmu pengetahuan yang bertalian dengan salah satu bagian dari penguasaan (beheer) perusahaan partikelir pada akhirnya bermuara pada suatu ajaran perusahaan umum (algemene bedrijfsleer) yang meliputi kesemuanya dan bahwa ajaran . UMUM | | | statesmanship | | | | | --------------------| | | PROFESI | PROFESI | | BIDANG | BIDANG | | KEAGAMAAN | PEK. . UMUM | | | | | | | | | | | | KEAHLIAN | KEAHLIAN | | DI BIDANG----------SPESIALIS----------DI BIDANG | | TEOLOGIA PEK. . UMUM PEK. . . Kepamongprajaan Sebagai Superstruktur Berbagai Profesi Sektoral Pemerintahan Hubungan Antara Kybernologi Dengan Ilmu-Ilmu Lain Dalam Hal Ini Teologi Dua Hibrida yaitu Teologi Pemerintahan dan Kybernologi Keberagamaan (KeTuhanan?) . Tentang hal ini. van Poelje dalam Pengantar Umum Ilmu Pemerintahan (1959) menyatakan: -------------------------------KYBERNOLOGI------------------------------| | (ILMU PEMERINTAHAN BARU) | | | | | | | | | | | KEAHLIAN KEAHLIAN | | DI BIDANG----------GENERALIS----------DI BIDANG | | PEMERINTAHAN | PEMERINTAHAN | | | | | | | | | | | | PROFESI | PROFESI | | BIDANG PE| BIDANG PE| | MERINTAHAN | MERINTAHAN | | | --------------------| | | | | vooruitzien | | | TEOLOGI PEMERINTAHAN | conducting | PEMERINTAHAN TEKNOLOGI PEMERINTAHAN DAERAH | coordinating | DAERAH PEMERINTAHAN | | | peace-making | | | | | | residue-caring | | | | KEBIJAKAN | turbulence-serving | KEBIJAKAN | |--------------BIDANG-----|---KEPAMONGPRAJAAN---|-----BIDANG--------------| | KEAGAMAAN | Freies Ermessen | PEKERJAAN UMUM | | | | gen & spec function | | | | | | omnipresence | | | KYBERNOLOGI* KEPALA KANTOR | responsibility | KEPALA DINAS KYBERNOLOGI KEBERAGAMAAN AGAMA |magnanimous-thinking | PEK.

Konsep-konsep terkait: Filsafat. 2009. Lihat juga Gambar 16. cermin dibelah”) dan membuat cermin baru. Referensi: Bab XIII Kybernologi Sebuah Charta Pembaharuan. Berbeda dengan konstruksi kebijakan menurut Ilmu Politik. dan “Kebijaksanaan” (“Bijak sana. Nilai. 2007. Bab 4. Bab XX Kybernologi Sebuah Scientific Movement. Ia diletakkan di dalam bingkai (frame) invention dengan scientific policy policy im----->RESEARCH----------->INVENTION----------->POLICY-----------------| enterprise making (input) plementation | | | | | |----------------------------with or without----------------------------| | | | | | I<O moniscientific | ------FEEDBACK<---I=O----EVALUATION<---------INNOVATION<--------------I>O toring (output) movement Gambar 20 Model Axiologi Kybernologi Melalui Kebijakan innovation. Bab VI Kybernologi Sebuah Profesi. . Kearifan (Kebijaksanaan. Membanting cermin pada saat muka terlihat buruk (“Buruk muka. dan Gambar 18. 2008. Bab XIV Kybernologi dan Pengharapan. Bestuurswetenschap) yang aksiologi utamanya di Indonesia adalah Kepamongprajaan (Gambar 19). 2007. Bab 5. muka dibenah”). Bab 1. 12 SESI SEBELAS Axiologi Ilmu Pemerintahan: Kebijakan (dalam bahasa UU 32/04: Penyelenggaraan) Pemerintahan. Bab 2. dan Bab 6 Kybernologi dan Kepamongprajaan. Menemukan cara membenahi muka buruk sehingga menjadi baik. Bijak sini. Kebijakan (Policy).tentang penguasaan perusahaan-perusahaan partikelir ini setidaktidaknya untuk sebagian merupakan syarat bagi adanya ilmu pengetahuan yang lebih tinggi daripadanya. Asas (Principles. Kebijakan dalam ruang governance sebagai penyelenggaraan otonomi masyarakat (daerah). ialah Ilmu Pemerintahan (Bestuurskunde. Gambar 17.” Korupsi). Wisdom). Beginselen). konstruksi kebijakan dalam Kybernologi terlihat melalui Gambar 20. Bab 1 dan Bab 7 Kybernologi Sebuah Metamorphosis. 2008. bukanlah inovasi. itulah inovasi (“Buruk muka. 2007.

HEV hasil evaluasi.HEV <-----------. MON monitor. Bab VI. Referensi: Bab 6 dan Bab 37 Kybernologi 2003. proses OP output. Jika pada aras statal pertimbangan politik yang dominan. 5LK lingkungan sebagai pelanggan. Bagian Pertama Bab 5 Kybernologi Beberapa Konstruksi Utama. 2007.e | | | | | b<g pembandingan pantauan manfaat. bukan kekuasaan politik tetapi premises ilmupengetahuan dan teknologi yang memegang peranan penting dalam peningkatan kesejahteraan masyarakat. Diharapkan dengan demikian. lingkaran) sesuai dengan hukum sistem. hanya perencanaan yang diutamakan) dalam satu peraturan. 1 a 2 b 3 c 4 d 5 ---> LK ------------> IP ------------> TP ------------> OP ------------> LK --| info kebijakan implementasi “marketing” | | distribusi | | | j -. OC outcome. dan controlling) diatur setara (jangan seperti sekarang. Bab 12 Kybernologi Sebuah Scientific Movement. maka Manajemen Pemerintahan 20 tahunan sebagai Gambar 22. dan Bab VII Kybernologi Sebuah Charta Pembaharuan. EV evaluasi. IP input. berulang) atau sirkuler (circular. organizing. 2005. Oleh sebab itu seluruh terminal dan rute manajemen terkait (planning.Policy implementation diberi kekuatan lanjutan research sebagai scientific movement. 2007. FB feedback Di dalam Manajemen Pemerintahan terletak Manajemen Pembangunan. actuating. Jika digabung dengan Gambar 18.FB <----b=g---. Manajemen Pemerintahan seperti Gambar 21. Bab III. Manajemen Pemerintahan tidak linier atau terpotong-potong mengikuti rezim politik. Administrasi Publik. Jika dilihat dari pendekatan sistem. Terminal dan rute sepanjang siklus atau sirkel pemerintahan bersifat kritikal. .komunikasi penggunaan -. tetapi siklik (cyclic. 2008 13 SESI DUABELAS Axiologi Ilmu Pemerintahan: Manajemen Pemerintahan. merupakan tiga sisi atau dimensi Implementasi Kebijakan dari berbagai sudut pandang. dan Manajemen. guna | ---. Lihat Gambar 10. Bab 7 dan Bab 8 Kybernologi Sebuah Metamorphosis. Birokrasi. (seharusnya) pertimbangan manajemen semakin dominan. daerah).EV -------------MON <-------------OC --10 b>g 9 h 8 g 7 f 6 i Gambar 21 Manajemen Pemerintahan 1LK lingkungan sebagai sumber. TP throughput.. semakin ke bawah (masyarakat.

” “Setuju. dan efisiensi. itu sih teori. . Ruangnya dalam Model 1 Gambar 23. O orientasi 20 ke depan K1234 = kinerja R1R2R3R4 selama 20 tahun (expected output. “Ah. . Bab 12. Bagian Pertama Bab 5 Kybernologi Beberapa Konstruksi Utama. 2005.” Proposisi Durant ini menerangkan mandulnya suatu ilmu dan pincangnya hubungan antara teori dengan praktik. . xxvi): “Every science begins as philosophy and ends as art. 2007.R1 R2 R3 R4 O---5---|---5---|---5---|---5-->20 rel (runway) jangka panjang | | | | R1 O-------|-------|-------|------>20 | | | | R2 O-------|-------|-------|------>20 | | | | R3 O-------|-------|-------|------>20 | | | | R4 O-------K1------K2------K3----->20 | K4 R rezim 5 tahunan.(her-) self.” demikian keluhan berbagai kalangan. Kombinasi Model 1 dengan Model 2 menghasilkan Model 3. Bab 13. Dalam hubungan itu.” Selanjutnya Teknik dan Teknologi Pemerintahan menunjukkan kemahiran. bulat) 0 – 20 rel (landasan) jangka panjang Gambar 22 Manajemen Pemerintahan Berskala Jangka Panjang (20 Tahun) UU 25/04 dan UU 17/07 Referensi: Bab 10. “how to get things done through the leader him. kehematan. . . Bab 13. Ruangnya dalam Model 2 Gambar yang sama. . dan Bab 17 Kybernologi dan Kepamongprajaan. Bab II Kybernologi dan Pembangunan. Bab X Kybernologi Sebuah Scientific Movement. namun. Pentingnya Seni (dan Teknologi) diungkapkan oleh Will Durant dalam The Story of Philosophy (1956. Penyebab kemandulan dan kepincangan itu terletak di hulu (keringnya Filsafat dan lemahnya teori) dan di hilir (miskinnya Seni praktik atau implementasi: “Benar. 2008 14 SESI TIGABELAS Axiologi Ilmu Pemerintahan: Seni Pemerintahan dan Teknologi Pemerintahan. Gambar 23. . dan Bab 14 Kybernologi 2003. . 2008.” Seni Pemerintahan menunjukkan upaya penumbuhkembangkan kreativitas dan efektivitas. kepemimpinan adalah seni. tetapi.

dan Musang berbulu Ayam. Kunci Etika Pemerintahan terletak pada pertimbangan etik dan pertanggungjawaban etik (Terminal 6 dan Terminal 10 Gambar 24). yang terbentuk sejak dalam kandungan. O output. Bab 30. hati sanubari. Iblis bisa bercahaya seperti Malaikat.” tetapi “bersumpah. Spiro dalam Responsibility in Government (1969). kons konstan (seadanya). Jadi bukan “disumpah. min minimum Referensi: Bab 12. dan 34 Kybernologi 2003. sementara sanksi dan reward Moral dari masyarakat. Tetangga Etika Pemerintahan adalah Teologi Pemerintahan. sanksi pelanggaran dan reward penaatannya bersumber dari diri sendiri.” Kode Etik Profesional. Bab I Kybernologi dan Pengharapan (2009). 15 SESI EMPATBELAS Axiologi Ilmu Pemerintahan: Etika Pemerintahan. maks maksimum. Bab 19. sedangkan pertimbangan Etik berlangsung di dalam kalbu (lubuk hati. Teori Tanggungjawab menurut Herbert J. Etika Pemerintahan adalah Etika Otonom. kewajiban tumbuh sejajar dengan pertanggungjawaban (kemampuan bertanggungjawab). insan kamil) sendiri. Dengan pegangan Moral saja.kreativitas efektivitas | | Ikons-----1---->Omaks<--| | -------------->3-------------| | -----Imin------2---->Okons | | kemahiran kehematan efisiensi Gambar 23 Seni Pemerintahan dan Teknik Pemerintahan I input. dan Etiket Pergaulan Politik/Diplomatik adalah aplikasi Etika Pemerintahan. Perbedaan dan kaitan antara Etika dengan Moral: Pertimbangan Moral berlangsung dalam masyarakat. ada Hak Asasi dalam arti bawaan. Seperti telah dikemukakan. . Serigala berbulu Domba. tetapi tidak ada Kewajiban Asasi dalam arti itu. hati nurani.

2007. Bab 3. Bab 4. Bagian Pertama Bab 7 Kybernologi Beberapa Konstruksi Utama.sumpah bernazar | perjanpengakuan membayar tebusan | jian credo kesediaan berkorban | commitment selfmengaku bersalah | | commitment mengundurkandiri dari jabatan | | | mengasingkandiri | | agar mengimenyakitidiri | | kat. konsisten. Reformasi Pemerintahan bertujuan membangun . artinya berjalan terusmenerus. Bab III dan IV Kybernologi dan Pengharapan (2009) 16 SESI LIMABELAS Penguatan Tiga Subkultur Governance: Reformasi Pemerintahan. lu. jelas nurani kebebasan memi| | lih. dinyako & konsekuensi takan secara terbuka ditanggung sendiri Gambar 24 Etika Pemerintahan (1 sd 11 Terminal) Referensi: Bab 15 dan Bab 16 Kybernologi 2003. 2006. perlu bersumpah | | disaksikan mengorbankandiri | | | bunuhdiri | ----------*setiap commit| | dikontrol | ment atau janji | ---dibandingkan---harus disertai | kesenjangan ditedievaluasi sanksi yg mengikat | rangkan setulus & | diri sendiri dan --sejujurnya. risi.1 2 3 4 5 6 ----->apakah------>kualitas--->nilai--->norma--->kesadaran---->pertimbangan---| etika? dasar etik etik etik etik etik otonom | | etika otonom | | | | | | | etika heteronom yg-benar guna tertanam norma mediskusi antar | | yg-baik dlm kuat.nerangi norma dlm kalbu | | yg-wajib hidup as. 2008. Bagian Dua Bab II dan Bab III. dan Bab 5 Kybernologi Sebuah Metamorphosis. kesepakatan | | | | 10 9 8 7 | | 11 pertanggungperilaku tindakan keputusan | ----etikalitas<----------jawaban<-------etik<------etik<----------etik<-------| etik | | | | | | | menaati kadar | --kinerjaberprakarsa keetikan sanksi etik* | berjanji* | | | | | ----------merasa malu | | | merasa bersalah | pada pada menyesal | orang diri mohon maaf | lain sendiri mohon ampun | | | janji bertobat | | nazar. Bab 2. Reformasi Pemerintahan lebih sebagai fungsi ketimbang momentum. 2005. dan Bagian Tiga Bab XVI Kybernologi Sebuah Scientific Enterprise. Bab XV Kybernologi Sebuah Scientific Movement. dan akumulatif.-------orang lain.

kalau tidak digunakan.POLITIK (NEGARA) | | public choice waktu | ruang | SUMBER-SUMBER----nilai----PEMERINTAHAN----informasi----ILMUPENGTAHUAN teknologi | sumberdaya | kontrol di hulu dan kontrol di hilir | | MASYARAKAT PELANGGAN Gambar 25 Lingkungan Pemerintahan Pemerintahan yang sehat dengan mencegah sejauh mungkin pemerintahan yang sakit. Bab 13. 2005. Bab IX Kybernologi Sebuah Charta Pembaharuan. Bab I dan Bab II Kybernologi Sebuah Profesi. politisi) menyalahgunakannya. Menurut teori itu terjadi hubungan timbal-balik antara keduanya. “power tends to corrupt. nilai. Bagian Dua Bab I dan Bab IX Kybernologi Sebuah Scientific Enterprise. Sesehat dan sekuat apapun Birokrasi. 2008. Diperlukan bangunan teori yang lebih tinggi. 2007. dan Bab 15 Kybernologi Sebuah Scientific Movement. Bab 14. Bab 8 Kybernologi Sebuah Metamorphosis. Sumber-sumber. pada aras makro.” Referensi: Bab 9 Kybernologi 2003. ia menjadi biropatologik. dan inovasi Birokrasi itu sendiri. tidak berguna. Bab 2. dan kontrol di hulu dan di hilir. Sosiologi dan Ilmu Hukum. Ilmu Pengetahuan. Dalam hubungan itu fenomena birokrasi tidak cukup diterangkan hanya oleh Teori Kebijakan Publik. 2006. info. Reformasi Pemerintahan berarti reformasi lingkungan pemerintahan yang terdiri dari Politik (Negara). 2009 . Bagian Kedua Bab 18 Kybernologi Beberapa Konstruksi Utama. Birokrasi itu ibarat sebuah mobil. Secerdas apapun sebuah temuan ilmiah. 2007. 2007. Memang. jika pengguna (politik. Hubungan itu berturut-turut berisi public choice. Grand theory yang dimaksud adalah Teori Hubungan antara Negara dengan Manusia (Gambar 4). Oleh sebab itu. yaitu grand theory yang mencakup semuanya. Manfaatnya bergantung pada penggunanya. dan Masyarakat (Gambar 25). Bab 12. Teori Politik. Bab VI dan Bab XII Kybernologi dan Pembangunan.

UAS juga terdiri dari ujian klasikal dengan 5 soal. Distribusinya menggunakan undian. tiap kelompok mambahas satu sesi kuliah. Untuk itu kelas dibagi menjadi 7 kelompok. Sama seperti UTS.17 SESI ENAMBELAS UAS. dan tugas struktural bagi tiap kelompok. 1112081144 1212081427SDGORODTG 1312081506 1912081058 0401091050 0801091014SDGOROTDUSADS 3103090818SDG 0904090953SDG 1104091755SDG .

. . . . 22 | | 11 | Kebijakan Pemerintahan. . . . . . . . . . . . . . . . . 24 | | 12 | Manajemen Pemerintahan. . . . . 6 | | 4 | Teori Pelayanan . . 26 | | 14 | Etika Pemerintahan. . . . . . . . . . 5 | | EPISTEMOLOGI | | 3 | Teori Kebutuhan . . . . 20 | | 10 | Kepamongprajaan . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 30 | ----------------------------------------------------------------------- . . . . . . . . . . . . . 25 | | 13 | Seni dan Teknik Pemerintahan. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 11 | | 6 | Teori Kinerja . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 27 | | 15 | Reformasi Pemerintahan. . . . . . . . . . . 20 | | AXIOLOGI | | 9 | Teori Nilai . 16 | | 7 | Metodologi. . . . 8 | | 5 | Teori Governance. . . . 28 | | 16 | UAS . . . . . . . . . . . . 18 | | 8 | UTS . . . . . . . . . . .RINGKASAN ----------------------------------------------------------------------| SESI | URAIAN HALAMAN | |-----------------------------------------------------------------------| | 1 | Penjelasan Umum . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 2 | | | Sejarah Pengajaran Ilmu Pemerintahan di Indonesia | | ONTOLOGI | | 2 | Ontologi Ilmu Pemerintahan. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .

Kita jadikan proposal yg prof. Kaloh. drs.” Dari 08159676440. Plt Rektor IPDN Dr J. disiplin. prof. Yang beliau maksudkan adalah Kybernologi dan Kepamongprajaan.” dilanjutkan pada pukul 224923: “Benar.GBPP MATAKULIAH KEPAMONGPRAJAAN Taliziduhu Ndraha. ilmu) dan derajat akademiknya bulat (Sarjana S1.’ ujar Mardiyanto” (Menteri Dalam Negeri). MSi.” Di kiri bawah terdapat tulisan: “‘Di IIP ada tambahan ilmu baru sebagai pendukung dalam aspek pemerintahan. antara lain Plt Kepala Badan Diklat Dr H. dan jejaknya nyaris lenyap disapu perubahan zaman. dan Doktor S3). 15 meluncurkan berita berjudul “Presiden Ubah IPDN Menjadi IIP. Jika Kybernologi berbentuk body-of-knowledge (BOK. PhD. sebuah Bidang Kajian (field of study). Semakin . . Pukul 082337 pagi itu anak saya Pram mengonfirmasi berita itu pada saya seraya menanyakan ilmu apa yang dimaksud. seperangkat Kebijakan dan Peraturan. Muchlis Hamdi. Muh. Kegamangan itu terlihat pada hubungan antara pusat dengan daerah. Marwan. kembali menarik dengan semakin gamangnya penyelenggaraan Negara dan pemerintahan di tanahair. Ilmu Pemerintahan (secara implisit Kybernologi) sebagai core curriculum IPDN pada tingkat institut (dijadikan menu semua fakultas dan jurusan) diajarkan sebelum core curriculum institut lainnya yaitu Kepamongprajaan. . dan Prof. Informasi dari pak Khasan Effendy (IPDN) pukul 112207 tentang ilmu apa yang dimaksud: “Pemahaman saya pembaharuan dan pengembangan Ilmu Pemerintahan salah satunya Kybernologi. Dr Tjahya Supriatna. atau sebuah topik Seminar? Yang jelas.5-273 Tahun 2007. prof. bagaimana dengan Kepamongprajaan sebagai matakuliah baru? Apakah hanya seperangkat teori seperti Teori-Teori Pembangunan. Kybernolog 1 LATARBELAKANG Kompas 11 Oktober 07 h. SU. seorang pejabat Badan Diklat Depdagri tgl 121007 pukul 223338 diperoleh info: “Benar. Segera saya melaporkan berita itu via SMS kepada beberapa pejabat yang berkompeten.” Apakah ini berita jurnalistik yang setelah dibaca menjadi basi dan dilupakan orang? Atau lanjutan sejarah? Di dalam sistem kurikulum IPDN terbaru (Peraturan Rektor IPDN tgl 15 September 2007 No. . buat sebagai dasar keilmuan pembentukan IIP Regional. SU. Kepamongprajaan yang pamornya timbul tenggelam selama seratus tahun terakhir. Diubah Kepamongan. Magister S2. MPA. Prof. .” dengan subjudul “Sistem Pengasuhan Dihapuskan. 895.

kalau pemerintahan itu identik dengan pamongpraja. semakin berkuasa kekepalawilayahan ketimbang kekepaladaerahan. semakin melembaga kepamongprajaan. Dokumen pemikiran tentang Kepamongprajaan periode 70-80-an diwakili oleh Drs Bayu Surianingrat. pada tahun 2030 menjadi nomor lima terbesar sedunia. di negeri yang menurut ramalan ulamapedagang politisi-birokrat buruh-cendekiawan. baik sebagai berita maupun sebagai pustaka. Semakin luas otonomi daerah. 21 Tahun 1971. “Praja” berarti kerajaan. kota. yaitu Pidato Ilmiah pada Hari Wisuda Alumni APDN Malang dan Peresmian IIP tgl 25 Mei 1967 di Malang. 1980.” Kalau kedua konsep itu mengandung arti yang sama. Mungkinkah sebuah lembaga mengadvokasikan otonomi seluas-luasnya dan pada saat yang sama membuka ruangan bagi kepamongprajaan? Bagaimana hal itu bisa terjadi. Kepamongprajaan. Pidato itu menunjukkan bahwa pembentukan IIP dijiwai oleh semangat Kepamongprajaan. Saya menemukan Drs S. dan apa manfaatnya? Apakah hal itu menunjukkan bahwa sesungguhnya di atas panggung yang sama yang satu memerlukan yang lain. bagaimana dengan pendapat Bayu Surianingrat dalam Pamong Praja dan Kepala Wilayah (1980) yang membedakan pamongpraja dalam arti luas dan pamongpraja dalam arti sempit? Keempat. Sesudah itu. pilek dan flu. Negara. “Membina Dinas Pamong Praja ke Arah Dinas Karier Dalam Administrasi Negara. Pamong Praja dan Kepala Wilayah. Jadi “pamongpraja” sesungguhnya identik dengan “pemerintah” dan “pemerintahan. mengalami masa sunyi yang lama. mengapa dijadikan dua matakuliah yang berbeda? Kedua. sampai tahun 2004 ketika Forum Komunikasi Alumni IIP . MPA. apa maknanya.” dalam Berita IIP No. penyelenggara. bagaimana konstruksi hubungan teoretik antara keduanya? Maka sambil meraba-raba sini-sana.” seperti “government” yang dapat diartikan “pemerintah” dan juga “pemerintahan. didorong oleh curiosity seadanya. Di zaman berlakunya UU 5/74. sedangkan “pamong” berarti pengasuh. pusat terhadap daerah. apakah seluruh perangkat eksekutif atau hanya perangkat Departemen Dalam Negeri yang dapat disebut pamongpraja? Ketiga. Pertama. semakin otoriter Negara. muncul beberapa kebingungan. sebuah dokumen akademik yang 40 tahun kemudian dimuat dalam Kybernologi: Sebuah Profesi. Pamudji. selagi semua orang asyik menikmati tidak kurang dari sepuluh hari libur bersama. walau terundung alergi debu. kepamongprajaan semakin kehilangan ruang hidupnya. adakah dan jika ada di manakah terletak perbedaan signifikan antara Kybernologi dengan Kepamongprajaan? Kelima. 2007.dominan politik dekonsentrasi terhadap desentralisasi. tidak saling membunuh seperti disangka orang? Di samping kegamangan. saya membolak perpustakaan dan menjelajah warisan berbentuk huruf dan kalimat. Bab VI.

“Pamongpraja Sebagai Golongan Karya Pemerintahan Umum. Dr Lexie M. 2007. Dalam seminar itu Prof. “Kepamong-prajaan” dalam Kybernologi: Sebuah Scientific Movement. IPDN sendiri tidak tinggal diam.” Bandung 20 Mei 1963. Misalnya John R. Djopari. Bab XIII. Dr Ateng Syafrudin. Pamudji. SH. Memang. menyajikan makalah tentang “Ilmu Pemerintahan Dalam Konteks Kepamongprajaan. 43 Tahun 2005 tentang Statuta IPDN. Bab XX.” dilengkapi dengan sejumlah bahan yang lebih tua dan otentik mewakili zamannya.” Bandung. dengan titiktolak yang berbeda. dengan mengembangkan sisi teoretik tulisan guru saya S. dari bahan-bahan yang amat sangat terbatas.menerbitkan Jurnal Pamong Praja. 2004). Guna mengantisipasi kemungkinan untuk menjadikan Kepamongprajaan sebagai matakulian di IPDN. menulis Pamong Praja. terbitan Program Pascasarjana IPDN. namun “praja” dalam hubungan itu lebih sebagai sukunama ketimbang sebuah makna. sejak tahun 80-an IIP menerbitkan majalah Widyapraja. IPDN menyelenggarakannya Seminar Nasional Dalam Konteks Kepamongprajaan di kampus Jatinangor pada tgl 22 September 2007. “Pendidikan Pamong Praja di Indonesia” (1. Saya juga tergerak untuk menulis beberapa makalah. Dipacu oleh terus digunakannya nama “pamong” oleh STPDN dan kemudian IPDN. Maka lahirlah “Memorial Lecture Ilmu Pemerintahan: Kepamongprajaan Dalam Sistem Pemerintahan. Dalam Jurnal Pamong Praja terdapat beberapa artikel yang nadanya sama. “Sejarah Pendidikan Pamong Praja di Indonesia” (7-2007). SIP. yang menyatakan bahwa IPDN adalah lembaga pendidikan pamongpraja. Giroth. MSi. dan “Kepamongprajaan: Fungsi dan Peran Pamongpraja Dalam “Era Otonomi Daerah. perhatian terhadap Kepamongprajaan terus mekar. “Kepamongprajaan Ditinjau Dari Perubahan Paradigma Pendidikan dan Peranan Pemerintahan Umum” (5-2006). 20 Mei 1963. dipertegas dalam Peraturan Menteri Dalam Negeri No. Sama seperti titian yang saya gunakan tatkala saya akhirnya menemukan Kybernologi. kembali saya menggunakan pendekatan metadisiplin (Ontologi).” disiapkan untuk Seminar di Kabupaten Landak Kalimantan Barat pada tgl 26 Oktober 2007. Kybernologi dan Metakontrologi (2005).” dalam Kybernologi: Sebuah Charta Pembaharuan. Kepamongprajaan terlihat di panggung bernama Negara dengan pemerintah sebagai aktornya. Kybernologi bermula dari Manusia dengan kebutuhannya sebagai fakta di panggung dunia. G. saya mencoba melengkapi pendekatan deskriptif dan normatif yang digunakan oleh para penulis di atas. dan Hyronimus Rowa. berkisar pada masalah pendidikan pamongpraja. 2007. dan “Jabatan Pamongpraja (Dahulu Pangrehpraja) Dalam Penelitian Antropologi Budaya dan Hukum Adat. Azis Haily. Kybernologi mempelajari bagaimana memulihkan Manusia dari korban dan mangsa menjadi .

melalui interaksi subkultur ekonomi (SKE). subkultur kekuasaan (SKK). UMUM | | | | | | | | | --------------TEOLOGI TEKNOLOGI------------CIVIL *KYBERNOLOGI KETUHANAN? **generalist&specialist function Gambar 1 Sistem Nilai Kepamongprajaan dan Hubungannya dengan Ilmu Pengetahuan . Kepamongprajaan mempelajari SKK seperti apa yang diharapkan bersinerji dengan SKE dan SKP sedemikian rupa sehingga kinerja governance yang bersangkutan berkualitas good (good governance). Derajat akademik bahan ajaran (didaktik) Kepamongprajaan berada pada tingkat mezzo (meso-). Dilihat dari pendekatan tersebut. dan subkultur pelanggan (SKP) suatu governance. seperti fitrahnya semula sebagai ciptaan ALLAH. UMUM PEK. UMUM | | | | | | | | | | | | KEAHLIAN | KEAHLIAN | | DI BIDANG----------SPESIALIS-----------DI BIDANG | | TEOLOGIA PEK. Manusia dengan Negara berinterface pada situs SKK bernama Kepamongprajaan. UMUM | | | statesmanship | | | | | --------------------| | | PROFESI | PROFESI | | BIDANG | BIDANG | | KEAGAMAAN | PEK.consumer. Lebih padat-nilai (Axiologi) ketimbang -------------------------------KYBERNOLOGI-------------------------------| | (ILMU PEMERINTAHAN BARU) | | | | | | | | | | | KEAHLIAN KEAHLIAN | | DI BIDANG----------GENERALIS-----------DI BIDANG | | PEMERINTAHAN | PEMERINTAHAN | | | | | | | | | | | | PROFESI | PROFESI | | BIDANG PE| BIDANG PE| | MERINTAHAN | MERINTAHAN | | | --------------------| | | | | vooruitzien | | | TEOLOGI PEMERINTAHAN | conducting | PEMERINTAHAN TEKNOLOGI PEMERINTAHAN DAERAH | coordinating | DAERAH PEMERINTAHAN | | | peace-making | | | | | | residue-caring | | | | KEBIJAKAN | turbulence-serving | KEBIJAKAN | |--------------BIDANG-----|---KEPAMONGPRAJAAN---|------BIDANG--------------| | KEAGAMAAN | Freies Ermessen | PEKERJAAN UMUM | | | | gen&spec function** | | | | | | omnipresence | | | KYBERNOLOGI* KEPALA KANTOR | responsibility | KEPALA DINAS KYBERNOLOGI KEBERAGAMAAN AGAMA |magnanimous-thinking | PEK.

Kebijakan Presiden (Perpres 1/09 tgl 12 Januari). yaitu subkultur ekonomi (SKE. pembangunan itu sendiri berada di dalam policy implementation di ruang SKE). Bahan ini didahului dengan pembahasan singkat Teori Nilai (Sesi Sembilan GBPP Ilmu Pemerintahan). bahkan posisinya sebagai lembaga pendidikan tinggi kepamongprajaan dikukuhkan. dan subkultur sosial (SKS). maka Kepamongprajaan sebagai bahan-ajaran merupakan salah satu komponen Kybernologi pada sisi Axiologi. Inilah dasar peletakan Kepamongprajaan dalam sistem kurikulum IPDN. sesuai Tabel 1 Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah ----------------------------------------------------------------------------PENGATURAN PENGURUSAN MONEV DAN FEEDBACK ----------------------------------------------------------------------------1 DPRD -DPRD 2 KEPALA DAERAH PEMERINTAH DAERAH -(PEMERINTAH DAERAH) ----------------------------------------------------------------------------- . Kebijakan otonomi Daerah berdasarkan UU 32/04. Jika “pengasuhan” dihapus dari panggung metodik (lihat Bab IX Kybernologi: Sebuah Profesi). Mengingat governance merupakan Epistemologi Ilmu Pemerintahan. subkultur kekuasaan (SKK). 2 SESI SATU Pemerintahan. bagaimana governance terbentuk. untuk tetap menggunakan nama IPDN dan tidak IIP seperti dijanjikan 15 bulan yang lalu. tidak mengurangi derajat akademiknya. sebagai berikut. Bagaimana masyarakat melindungi dan memenuhi kebutuhannya melalui interaksi tiga subkultur itu. Menurut Teori Governance. pada semester sesudah Kybernologi diajarkan. modifikasi bahan yang pernah diterbitkan dalam Bab 6 Kybernologi dan Kepamongprajaan (2008). Bahannya diambil dari Sesi Lima GBPP Ilmu Pemerintahan (Kybernologi). disusunlah 14 butir GBPP KepamongPrajaan (+ UTS dan UAS = 16 sesi) tentatif. 3 dan 4. setiap masyarakat (unit kultur) digerakkan oleh tiga subkultur. maka apapun substitusinya. Pasal 1 butir 2.padat-teori. diterangkan melalui Teori Governance. bagaimana subkultur bekerja (berinteraksi) dan berkontrol satu terhadap yang lain. harus berangkat dari Sistem Nilai Kepamongprajaan ini. dan pengembangan Bab XIV Kybernologi dan Pengharapan (2009). Berdasarkan uraian di atas.

Di bawah konteks pemerintahan daerah.-----yanan civil. Di sana dinyatakan bahwa Pemerintah Daerah (local government) bersama DPRD adalah penyelenggara pemerintahan Daerah. Dalam Gambar 1 terlihat juga bahwa konsep pemerintahan lebih luas daripada konsep pembangunan pemerintahan. Penyelenggaraan itu meliputi pengaturan (lebih tepat: pembuatan kebijakan) dan pengurusan (implementasi kebijakan dan monev-nya). ----------------------| NEGARA | 2 3 -----mengontrol---------mengontrol-----| memberdayakan | | membayar | | | | | | | | | | | | mengontrol SKK | | | | | di hulu | | | constituent -----.dengan teori ini. Subkultur Kekuasaan (SKK). | | nilai via pela| | | |----meningkatkan. “Pemerintahan” Daerah dalam hubungan itu setara dengan local governance.pemberdayaan) | | | | 4 | | | | MASYARAKAT | | | | | | | ------melayani-------5---------pasar-------| | | | MANUSIA | | | ---------------------------feedback--------------------------6 Gambar 2 Teori Pemerintahan (Governance): Interaksi Antar Tiga Subkultur Subkultur Ekonomi (SKE). pemerintahan sama dengan policy making + policy implementation + policy implementation monitoring and evaluation (Tabel 1).SKE--------|--------->SKK----------|-------->SKS------| pemain | | | penonton | | | | wasit | pelanggan | | | | | | | mengontrol SKK | | | ----------|-|---------di hilir | | pembangunan | | | | | | | meredistribusi | | | membentuk. Konsep governance lebih luas ketimbang konsep government. -----| | | | mencipta nilai pelayanan public | | | | 1 (inc. dan Subkultur Sosial (SKS dgn kualitas Sebagai Pelanggan dan Constituent) yang Disebut juga Subkultur Pelanggan (SKP) .

nya | | dan PERDA | 2 | | | | 3 | | petaruh.| | meredistribusi<-. Lintasan gerak dari terminal ke terminal disebut rute. dan SKS) Via Rute 1. Interaksi antar subkultur masyarakat melalui tiga terminal. Teknik penampilan rute ---------------------| NEGARA | | | SKK mengontrol SKS sbg konsti---dan memberdaya-----tuen mengontrol--| kan SKE via kebi. SKK.Gambar 2 berawal pada Teori Ilmu Pemerintahan tentang interface antara konsep Manusia dengan konsep Negara.SKE------------------>SKK-------------------->SKS--------| “pemain” | | | SBG PELANGGAN | | | | “wasit” | | | | | | | | | | “penonton” | | | | | | | | | | | | | | | | SKS sbg pelanggan | | | | | | | mengontrol SKK via | | pembangunan | | | | monev & feedback | | | | | | | di hilir | | | ---------|-|---------| | | | | | 5 | | | | membentuk. dan 5 . Hasil evaluasi dijadikan masukan ke dalam Rute 3. 4. Gambar 3 menunjukkan 5 rute dasar interaksi. me| | memberdayakan.| | SKK di hulu via UU | | jakan & impl. dan SKS. Sepanjang Rute 5 dilakukan pemantauan dan evaluasi redistribusi nilai (Rute 4) berdasarkan standar yang telah ditetapkan melalui Rute 3. 2. | | | | 1 ningkatkan. yaitu SKE. Interface itu membentuk ruang Masyarakat.4 | | |---cipta nilai se-------nilai via pe| | | | cara berkelanlayanan civil & ----| | | | jutan pelayanan publik | | | | | | | | | | | | MASYARAKAT (PUBLIK) | | | | | | | -------melayani----------------pasar---------| | | | MANUSIA | | | ---------------------------feedback-----------------------------Gambar 3 Pemerintahan (Governance) Interaksi Antar Tiga Subkultur (Tiga Terminal SKE. petarung | | | | | SBG KONSTITUEN -----. 3. men. SKK.

feedback tidak terlihat pada Gambar 3 dan Gambar 4 melainkan pada Rute 6 Gambar 5 sebagai masukan buat Rute 3. hasil evaluasi dijadikan masukan ke dalam Rute 6 melalui terminal SKK. me| | memberdayakan. 2009). Di sana jelas. | | | | 1 ningkatkan.4 | | |---cipta nilai se-------nilai via pe| | | | cara berkelanlayanan civil & ----| | | | jutan pelayanan publik | | | | | | | | | | | | MASYARAKAT (PUBLIK) | | | | | | | -------melayani----------------pasar---------| | | | MANUSIA | | | ---------------------------feedback-----------------------------Gambar 4 Stakeholder Pemerintahan (Hubungan Pemerintahan Antara Pemerintah (SKK) dengan Yang Diperintah (SKE dan SKS) Via Rute 1.SKE---------|-------->SKK----------|----->STAKEHOLDER----| ”pemain” | | | ”penonton” | | | | ”wasit” | | | | | | | | | | SKS sbg PELANGGAN | | | | | | | mengontrol SKK via | | pembangunan | | | | monev & feedback | | | | | | | di hilir | | | ---------|-|---------| | | | | | 5 | | | | membentuk. Dengan memasukkan konsep stakeholder (Bab I Kybernologi dan Pembangunan. dan 4 Gambar 3 menunjukkan Hubungan Pemerintahan. 2. Dalam Teori Governance juga termasuk Teori Hubungan Pemerintahan (governance relations). masyarakat pemangku kekuasaan) dengan fihak Yang Diperintah . 3. yaitu hubungan antara fihak Pemerintah (SKK. petarung | | | | | SKS “BANDAR” -----.| | meredistribusi<-.nya | | dan PERDA | 2 | | | | 3 | | petaruh. Gambar 2 mengalami modifikasi (Gambar 3): ---------------------| NEGARA | | | SKK mengontrol SKS sbg konsti---dan memberdaya-----tuen mengontrol--| kan SKE via kebi.| | SKK di hulu via UU | | jakan & impl. men. terus ke SKS.

-----tuntutan. 5 dan 6. berlanjut ke 3. . 6. hope) kinerja SKK ---nya) berda.SKE-------------. 2006. 2 janji (kebi3 5 jakan/rencana mandat. Dengan argumentasi tertentu. 4. misalnya untuk rezim yang sedang berjalan.SKS------------SKK-| | | | | | | | | redistribusi | | | | | | | | nilai via pe. Gambar 5 merupakan rekonstruksi Gambar 7-1 Kybernologi (2003. angka 1 itu diletakkan pada rute Mandat (Gambar 5 pada rute 3). Bagian Tiga Bab V dan Bab XIV Kybernologi Sebuah Scientific Enterprise.| | pertanggung| | | | nilai berke| | lay civil. 5. sedangkan SKS adalah masyarakat dalam perannya selaku Pelanggan dan Konstituen. demikian terus-menerus. 4. Duabelas nilai dasar itu disebut Kepamongprajaan.-----rute 2 & 4 --| sarkan etika | | (UU. Pemerintahan mengandung (bekerja pada) duabelas nilai dasar. kembali ke 2. 1. | | jawaban etik | | | --lanjutan utk----pelay publik------menurut----| | hidup & pemberday etika otonom | | 1 masyarakat di hilir | | di tengah | | 4 | | | --------------------pemerintahan (governance)-------------------Gambar 5 Hubungan Pemerintahan Pemerintahan sebagai Sistem dan Proses Via Rute 1. 2. Referensi: Bagian Pertama Bab 8 Kybernologi Beberapa Konstruksi Utama. Perda) | | via rute 1 | | otonom di hulu | | di hulu | | di hilir | | | | | | | | | | . 3. kuasa monev thd & penepatan(trust. sehingga prosesnya berjalan dari 1 ke.(SKE dan SKS). rute Nilai Berkelanjutan Untuk Hidup).SKK-------------. peneliti bebas menentukan rute awal penelitiannya dan menandainya dengan angka 1 (pada Gambar 4. 4. Hubungan (rute) antar tiga terminal (dalam Gambar 2 terlihat empat) diperjelas (diurai) menjadi enam rute berkesinambungan. 2. 1. 2005. 106) tentang hubungan antara Janji (commitment) dengan Percaya (trust) dan Harapan (hope). 5 dan 6 Tetapi untuk rezim yang baru terpilih. SKE adalah masyarakat dalam perannya sebagai Pekerja. sehingga rutenya menjadi 3. kembali ke 3.

keadaan berjalan menudan atau takbisa rut kondisi yg tak (sulit) berubah R = rezim berubah (fakta.” dalam Kybernologi: Jurnal Ilmu Pemerintahan Baru. Diuraikan posisi Indonesia di tengah perubahan global dan bagaimana visi Bangsa Indonesia dahulu dan sekarang. Teori tentang visi. Misi. Idea. “Visi Indonesia. akan. dan Harapan (2008). mengembalikan Jerman pada . dan dapat terjadi minimal 20 tahun ke depan agar terjamin kesinambungan kinerja rezim yang berbeda-beda melalui rel atau runway yang sama. dan Tantangan Ilmu Pemerintahan. Gouverner c’est prevoir. Mengamong adalah memandang (envision) sejauh mungkin ke depan. Karakteristik Bangsa. bandingkan dengan Dadang Solihin. edisi perdana Agustus 2007. To govern is to foresee). 1) Gambar 6 Fakta. ia wajib memperhitungkan dan mengantisipasi apa yang harus. 2008. Lihat juga Bab II Kybernologi dan Pembangunan KE DEPAN tujuan jangka panjang cita-cita. Jerman dan Amerika dapat digunakan sebagai ilustrasi. Visi. Visi Bangsa Indonesia di tengah dunia yang sedang berubah.Bab VI dan Bab VII Kybernologi Sebuah Metamorphosis. Bab I Kybernologi dan Pembangunan. Goal. obsesi yg ditetapkan secara sistem nilai. dan masahidup. Masalah. Bab I. lihat “TOR Talkshow Visi Indonesia 2045” dalam Kybernologi: Sebuah Profesi. Berdasarkan UU 25/04 dan UU 17/07. ybs sarkan idea dan visi 4 3 IDEA-------------------------------------------->GOAL R7 | | 7 HARAPAN R6 | | R5 | 38 tahun R4 6 MISSION | R3 | | R2 5 MASALAH | | R1 | FAKTA SEKARANG-------------------------------------->VISION 1 tigapuluhdelapan tahun 2 kondisi yg takbisa apa yg terlihat bila diubah (takdir). Obsesi para kanselir sebelum Helmut Köhl adalah mempersatukan Jerman. 2009 3 SESI DUA Nilai Satu VOORUITZIEN (lengkapnya Besturen is vooruit zien. tidak hanya sebatas masa jabatan masakerja. 2007. kesadar dan formal berdaarifan masy. kendatipun masajabatan seseorang hanya lima tahun.

” Berdasarkan uraian di atas. Dengan perkataan lain. tidak akan ada bangunan liar. Köhl berhasil. begitu hirarkinya. dan meningkatkan kesejahteraan seluruh Jerman. sebab bangsa Jerman sadar bahwa obsesi berikutnya berbeda. Tabel 2).” sementara ditjen Kelompok B mengelola “keBhinnekaan” nusantara.” sedangkan bangsa Indonesia semakin “separating. Bila diperhatikan dengan saksama. seorang yang tidak dikenal secara luas. tidak mungkin terjadi adanya penggusuran paksa. Kehadiran Obama dalam sejarah Amerika bertolakbelakang dengan Schröder. Rezim yang terdahulu mewariskan jejak langkahnya kepada rezim yang kemudian. tetapi karena perannya dalam sejarah berbeda. dan popularitas. Tetapi sebaiknya hal ini tidak diperdagangkan menjadi eforia bahwa Indonesia berhasil membentuk Obama (karena ia pernah sekolah di Menteng dan tinggal di Indonesia selama empat tahun. Jika difahami sungguh-sungguh dan arif.” menuju “despairing. Ada tanda-tandanya. tidak ada yang mendadak. bahkan lengkap dengan fotofoto segala) menjadi harapan Amerika. kepemimpinan yang dibutuhkan Indonesia ke depan adalah kepemimpinan visioner jangka panjang dari kebangsaan ke kesebangsaan Indonesia melalui pengurangan kesenjangan vertikal antar lapisan masyarakat dan pengurangan kesenjangan horizontal antar daerah secara konsisten dan berkelanjutan sehingga pada suatu saat setiap orang berkesempatan menikmati hasil pengorbanannya (Bhinneka Tunggal Ika). Ajaran ini juga didasarkan pada anggapan bahwa setiap perubahan berkesinambungan dan berkelanjutan. Alam juga demikian. menggantikannya. konon pula berkelahi memperebutkannya. baik fenomena alam maupun fenomena KeTUHANAN. demikian seterusnya. Misi Negara menjadi visi Depdagri. pada pemilu berikutnya rezimnya tidak terpilih. departemen yang secara khusus berperan menjalankan misi . Maka Schröder-pun. tetapi bahwa bangsa Amerika telah berhasil “melting. karisma. Ia dijuluki The Bismarck atau Bismarck II. ia hadir pada saat yang tepat. ada nubuatannya. membebaskannya dari bayang-bayang Amerika. Ia terpilih bukan karena kegagalan Köhl. Kendatipun demikian. Di samping kecerdasan. yang dibutuhkan ke depan adalah merawat dan menjaga hasil yang telah dicapai. terlihat dengan sangat jelas bahwa ditjen Kelompok A berfungsi sebagai fungsi lini pemerintahan yang memproses “Tunggal Ika. atau penduduk yang tidak memiliki akte kelahiran. Visi dan Misi Departemen Dalam Negeri (Depdagri). ambruknya Amerika Serikat di bawah Bush dan krisis ekonomi global. Jika hal ini direnungkan. dalam sistem ketatanegaraan dan pemerintahan Indonesia.posisi terhormat di Eropah. ia mengutus angin dan kilat. ALLAH mengutus Nabi-NabiNYA untuk membawa firmanNYA. zaman sudah berubah. Misi Depdagri diidentifikasi melalui fungsi lininya (line functions.

Dua syarat pembentukan harmoni adalah kapabilitas dan akseptabilitas. Fungsi conducting memerlukan dan membentuk sikap komprehensif: memandang totalitas (keseluruhan) dulu baru bagian-bagiannya. atau memandang sesuatu sebagai bagian integral (dalam kerangka) suatu kebulatan (keseluruhan). menyimak sambutan penonton (pelanggan). namun yang bergerak di dalam wilayah kerja atau daerah (kota) yang sama. nada” atau langkah sumbang senyaris (sekecil) apapun. 2007.” dan memproses kesebangsaan guna mewujudkan Bhinneka Tunggal Ika. memiliki pancaindera yang sensitif (peka) serta suasana hati yang cerah. guna membangun kinerja bersama semua komponen yang berbeda-beda pada sebuah unitkerja. Konduktor harus menguasai skenario dan lagu. Mengamong adalah menciptakan harmoni antar kegiatan dengan instrumen yang berbeda dan dilakukan oleh aktor yang berlain-lainan. Bab I Kybernologi Sebuah Profesi (2007). dengan nada atau bunyi sebagaimana terdengar oleh penonton dan terlebih konduktor.Tabel 2 FUNGSI LINI DEPARTEMEN DALAM NEGERI -------------------------------------------------------------------------------KELOMPOK A KELOMPOK B -------------------------------------------------------------------------------1 Ditjen Kesatuan Bangsa dan Politik 1 Ditjen Otonomi Daerah 2 Ditjen Pemerintahan Umum 3 Ditjen Administrasi Kependudukan 2 Ditjen Bina Pembangunan Daerah 3 Ditjen Pemberdaayaan Masyarakat Dan Desa 4 Ditjen Bina Administrasi Keuangan Daerah -------------------------------------------------------------------------------- Pemerintahan Indonesia yaitu mengelolaan keunikan tiap masyarakat menjadi kekuatan matarantai nusantara. Bab II dan Bab XVII. Referensi: Kybernologi dan Kepamongprajaan. mengurangi kesenjangan vertikal dan horizontal antar masyarakat secepatnya. adalah Departemen Dalam Negeri. dengan mengoreksi sedini dan setegas mungkin tiap “bunyi. Kesumbangan nada itu diketahui dari gap antara skenario pertunjukan dan lagu yang dimainkan. 4 SESI TIGA Nilai Dua CONDUCTING. sehingga “the people who get pains are the people who share gains. sehingga mampu merasakan kesumbangan senyaris apapun itu . oleh conductor.

R > T. dan melakukan koreksi tanpa pandang bulu dan tidak memihak). Bab 16. sehingga pada suatu saat. dan Bab V Kybernologi Sebuah Metamorphosis (2008) . Bab 11. Ketika konduktor melakukan kewajibannya membentuk dan menjaga harmoni dengan menggunakan otoritasnya. dan pada aras makro bilamana ia sanggup menumbuhkan pengharapan dalam diri pendengar dan pemain tatkala walau lambat tapi pasti terjadi perbaikan terus-menerus: semakin berkurangnya kesenjangan vertikal antar lapisan masyarakat dan semakin berkurangnya kesenjangan horizontal antar daerah.(kapabilitas). R < T------------------| | | | | monev | | | ? ---> R = T ---> ? | --------FEEDBACK-----------------. dan Bab 19 Kybernologi (2003).? ---> R > T ---> ? <------? ---> R < T ---> ? Gambar 7 Fungsi Conducting (Sebuah Masyarakat Diibaratkan Sebuah Orkestra) Referensi: Bab 6. merespons penonton dengan penuh perhatian. yang lain salah. RESULT---------------->R = T. Konduktor akseptabel pada aras mikro manakala ia dapat dipercaya (tatkala ia memenuhi janjinya: menaati skenario dan lagu. tindakannya harus dapat diterima oleh para pemain (akseptabilitas). conducting --------->INFO----------------------->PLAN (GOAL--->TARGET T)-| (HARMONY) | | | | | ---------------------------------------------| | | | | | orchestra organizing ORCHESTRA | | ----->HARMONY-------------------------->ORGANIZATION meet? match?--| for harmony keeping | | | | | | | | ---------------------------------------------| | | | | | | | ORCHESTRA performance | | | -->ORGANIZATION--------------------->EXPECTED RESULT (R)---| | best performance | | | | | ---------------------------------------------| | | | | | controlling | | --->EXP. Bab III. Bab II. mengindera bunyi dengan halus dan jelas. dalam wadah negara kesatuan (pot) terjadi melting antar tiap kekuatan yang selama ini mengklaim bahwa dia yang benar. mungkin dengan kekerasan.

Sesungguhnya koordinasi tidak dapat diprojekkan. dan sebangsanya. Terus-menerus . karena terpasang (inherent) di dalam setiap tugaskewajiban seseorang. amanat. Kata kuncinya adalah berkoordinasi. proses divergent heterostasis proses convergent homeostasis BHINNEKA kesenjangan TUNGGAL IKA proses coordinating menjamin kinerja masing-masing proses conducting menjamin kinerja bersama GAMBAR 8 Hubungan Coordinating dengan Conducting di dalam Sistem. Jadi berkoordinasi itu tidak memerlukan biaya! Demikian pentingnya koordinasi ini sehingga sebagaimana halnya sebuah perguruan tinggi memiliki Kalender Akademik.5 SESI EMPAT Nilai Tiga COORDINATING. dan tukang sapu. Mengamong adalah membangun komitment bersama antar unit kerja yang berbeda-beda dalam suatu wilayah. setiap wilayah seharusnya memiliki Kalender Pemerintahan yang meliputi jadual Koordinasi itu. Di dalam ruangan sisa pegawai eselon pencatat dan pelapor. Koordinasi merupakan sebuah proses yang inputnya informasi. semakin diperlukan koordinasi. Produk rapat koordinasi lemah (tidak mengikat. sang pejabat ini “kabur” diikuti pejabat-pejabat lain. Gerak dari Kondisi Heterostasis ke Homeostasis. Jadi agar kesepakatan itu berkekuatan mengikat. Semakin independen hubungan antara unitkerja yang satu dengan unitkerja yang lain. dan petugas catering. dalam rangka mencapai kinerja masingmasing unit kerja secara optimal dalam rangka mencapai tujuan bersama secara keseluruhan. sehingga koordinasi bisa berjalan tanpa koordinator. kembali ke Heterostasis. konsultan (pemborong). dan outputnya kesepakatan yang mengikat fihak-fihak (pejabat) yang berkoordinasi. tukang parkir. sangat lemah. agar yang satu tidak merugikan tetapi mendukung yang lain. Koordinasi di Indonesia sangat. melainkan sekedar laporan) karena biasanya setelah memperdengarkan keynote speech. yang berkoordinasi haruslah pejabat-pejabat yang berwenang membuat kebijakan dan mengambil keputusan.

pertaruhan dan pertarungan. Bab XVII Kybernologi dan Kepamongprajaan (2008).Coordinating dengan conducting berkaitan erat. Tabel 3 Sikap Terhadap Sesama ----------------------------| I WANT YOU TO | |-----------------------------| | LOSE | WIN | -----------------------------------------------------------| | | LOSE | LOSE-LOSE 1| LOSE-WIN 2| | I WANT YOU TO |-------------------------------------------| | | WIN | WIN-LOSE 3| WIN-WIN 4| ----------------------------------------------------------- Perang seperti itu terjadi beradasarkan anggapan bahwa kedamaian bisa terbentuk melalui proses menang-kalah. Tidak seperti ketertiban model “sapulidi. Referensi: Bab 14 Kybernologi (2003). atau kalah-kalah (lose-lose. dan ketertiban dari “akar rumput” (grass root) ke atas oleh Pamong (Pamongdesa) terbawah melalui kesepakatan (beslissing) konsisten terus-menerus dengan warga masyarakat (via peran Pamongpraja). semakin diperlukan coordinating. Riggs (ed. Proses ini didorong oleh naluri primitif manusia yaitu pemenang berhak menguasai yang . seperti proses pemilu di Indonesia. kompetisi dan perlombaan. maka hubungan antara keduanya dapat digambarkan sebagai berikut (Gambar 8). “Exploring A Systems Approach to Development Administration. lose-win).) Frontiers of Development Administration (1971) 6 SESI LIMA Nilai Empat PEACE-MAKING (PEACE-KEEPING). semakin diperlukan conducting. Karena menurut Teori Sistem. maka semakin interdependen unit kerja satu dengan yang lain.” dalam Fred W. sebagaimana di zaman dahulu Kepaladesa diakui dan berperan sebagai Hakim Perdamaian Desa. kaupun tidak!). Jika semakin independen hubungan antara unitkerja yang satu dengan unitkerja yang lain. Saul M. sesungguhnya tidak menceraiberaikan. Mengamong adalah membangun kedamaian. keamanan. kalau aku tidak. tetapi justru mempersatukan jika semua fihak menjunjung tinggi sportivitas. kerukunan. Katz. kalah-menang (win-lose. juga tidak menciptakan permusuhan sehingga terjadi perang semua lawan semua. setiap komponen (unit kerja) merupakan bagian sebuah keseluruhan (sistem).” Perbedaan dan konflik.

kalah (spoil system), Tabel 3. Naluri ini mengubah perilaku manusia menjadi kanibalistik yaitu memangsa diri sendiri (sistem kanibalistik, lihat Bab IX
ORGANISASI (PARTAI POLITIK, dsb) | | melayani | membayar ---------MASYARAKAT<--------PEJABAT/PEGAWAI<--------NEGARA<-------| | | | | transaksi | | | | | | ---->membayar------| | | ----------------------------->membayar----------------------------Gambar 9 Masyarakat Membayar Berkali-kali (Sistem Kanibalistik)

Kybernologi Sebuah Charta Pembaharuan, 2007). Kanibalisme itu dalam polity dan birokrasi Indonesia, terlihat sah-sah saja (Gambar 9). “Kedamaian” yang diperoleh melalui proses kalah-menang ini menyisakan “duri dalam daging,” “api dalam sekam,” dan “air tenang namun penuh buaya ganas kelaparan.” Peace-making (dengan Manajemen Konflik) berarti: 1. Meneliti dan mengidentifikasi sejauh mungkin sumber ketidakdamaian di dalam diri manusia dan di dalam masyarakat 2. Mengidentifikasi dan mengantisipasi sedini mungkin setiap potensi konflik 3. Menyelesaikan sedini mungkin tiap konflik pada sumbernya 4. Tidak “menabung” “kesalahan” orang untuk dijadikan “peluru” guna “menembak” orang yang bersangkutan 5. Tidak menggunakan “kesalahan” orang lain untuk membenarkan diri sendiri (“Don’t take the example of other as an excuse for your wrongdoing,” bandingkan Effendi Gazali, Kompas 070509h06 tentang Kompas 220409 soal “jangan galak-galak”) 6. Tidak bersikap: “Kalo gue gak dapet, elu juga gak boleh dapet;” sikap ini bisa berakhir pada pelenyapan si “elu” 7. Tidak mengclaim kinerja bersama (bangsa) sebagai kinerja sendiri (parpol tertentu), hanya karena parpol atau koalisi parpol itu mayoritas di parlemen, sebab yang membiayai parlemen itu seluruh bangsa Upaya di atas dapat terjadi manakala pemimpin informal dan pemimpin formal suatu masyarakat berada sedekat mungkin dengan warga masyarakatnya. Sudah barang tentu yang dianggap kedekatan di sini tidak semata-mata kedekatan fisik tetapi lebih

sebagai kedekatan yang dapat diukur dengan jarak sosial (social distance), dan jarak kekuasaan (power distance) yang sedekat dan sedinamik mungkin. “Sedekat dan sedinamik mungkin” artinya tidak status quo, atau static equilibrium, melainkan interaksi antar tiga subkultur masyarakat (SKE, SKK, SKS) bergerak lancar dan sehat dari kondisi homeostasis ke kondisi heterostasis, kembali ke kondisi homeostasis, demikian terus-menerus (ref. Saul M. Katz, “Exploring A Systems Approach to Development Administration,” dalam Fred. W. Riggs, ed., Frontiers of Development Administration, 1970) . Selain itu, kedekatan yang dimaksud bukan hanya berbentuk simpati tetapi lebih dalam bentuk empati (ref. Bagian Kedua Bab XIV Kybernologi Beberapa Konstruksi Utama, 2005, tentang Verstehen). Untuk mempelajari latarbelakang dan penyebab ketidakdamaian (social unrest), dalam sesi ini perlu juga dibahas teori-teori proses sosial, seperti Teori Aksi-Reaksi, Teori Tantangan dan Jawaban (Challenge and Response), Teori Dialektika (ThesisAntithesis-Synthesis) yang salah satu bentuknya dalam kearifan sosial disebut “Mengail Di Air Keruh,” Teori Pertukaran Perilaku (Exchange Theories) dan sebagainya (ref. Margaret M. Paloma, Sosiologi Kontemporer, Bagian Satu, 1984). Membangun dan menjaga kedamaian ini diakui paling sulit, ibarat “meniti buih.” Namun walaupun sukar, buahnya amat manis. Menurut pengalaman nonekmoyang, “Kalau pandai meniti buih, selamat badan ke seberang,” disertai peringatan: “Sepandai-pandai tupai meloncat, sesekali terpeleset jua!” Referensi: Bab 18 Kybernologi (2003), Bab III Kybernologi dan Pengharapan (2009), dan bab-bab lain yang relevan. 7 SESI ENAM Nilai Lima RESIDUE-CARING. Mengamong adalah mengurus (sesuatu yang dianggap) sampah, golput, sepah, bengkalaian, pecundang, buangan, cemaran, atau sisa-sisa, kendatipun orang lain yang berpesta. Mengamong adalah mengurus apa saja, baik urusan yang tidak/belum termasuk tupoksi unitkerja manapun, maupun urusan yang tak satu unitkerjapun bersedia mengurusnya karena tidak menguntungkan bahkan merugikannya. Pengurusannya harus sesegera mungkin, karena semakin cepat dan tidak menentu perubahan, semakin banyak produksi sampah. Mengamong adalah memberikan perhatian yang sama dan sepadan kepada semua fihak, baik yang dianggap berkesalahan (buruk, jelek), maupun yang dipandang tidak berkesalahan (benar, baik) baik yang merasa dirugikan, ataupun fihak yang merasa diuntungkan, sebagai akibat suatu kebijakan, keputusan, atau tindakan pemerintahan. Dasarnya adalah kearifan lokal “Datang tampak muka, pergi

tampak punggung,” “Berjalan sampai ke batas, berlayar sampai ke pulau.” Bekerja sampai tuntas! Tidak boleh ada urusan yang berjalan setengah, atau persoalan yang tidak berjawab. Dianggap orang sudah hilang ditelan zaman, tau-tau suatu saat meledak! Ajaran ini adalah pengembangan (modifikasi) Teori Sisa (Residue Theory) yang digunakan di zaman Belanda dulu. Teori Pelayanan, Teori Pemberdayaan, dan Etika Pemerintahan, merupakan pelajaran dasar nilai ini. Landasan konstitusionalnya Pasal 27 dan 34 UUD 1945. Tindakan walikota memerintahkan Polisi Pamong Praja untuk menghalau para pedagang K5 dan mengusir para penghuni bangunan liar yang dianggap membangkang, dalam rangka menegakkan Perda tentang K3, dapat dibenarkan. Tetapi jika dengan penghalauan dan pengusiran itu pedagang K5 dan warga liar itu dalam waktu lama kehilangan pekerjaan, tiada tempat bernaung, anak-anaknya terlantar dan putus sekolah, masuk kolong jembatan, menjadi sampah masyarakat, maka Walikota dapat dituduh melanggar konstitusi. Referensi: Bab III Kybernologi Sebuah Rekonstruksi Ilmu Pemerintahan (2005), Kybernologi Sebuah Metamorphosis (2008), Bab 2, Bab 3, dan Bab 5, serta tulisan lain yang relevan 8 SESI TUJUH Nilai Enam TURBULENCE-SERVING. Mengamong adalah mengantisipasi dan melayani dalam arti memberdayakan, melindungi dan menyelamatkan manusia dan lingkungannya, bangsa dan negara, terhadap segala sesuatu yang sifatnya oleh manusia dianggap mendadak, berdayahancur besar, tiba-tiba, di luar perhitungan, tak disangka-sangka, force majeure, baik sebagai akibat perilaku alam, dampak kebijakan publik yang keliru ternyata, maupun perilaku masyarakat. Pengamongan didasarkan pada anggapan bahwa WAKTU SAMA DENGAN NOL. Anggapan ini sesuai dengan kearifan sehari-hari berbunyi “Sediakan Payung Sebelum Hujan,” “Lebih baik mencegah daripada mengobati.” Jika terjadi kebakaran, tidak ada waktu untuk memperlebar jalan agar Tanki Pemadam Kebakaran bisa lewat dan masuk, tidak ada
MANAJEMEN NORMAL (MN) MANAJEMEN TURBULENTIA (MT) --> -------------------- membentuk----> --------------------------| LONG-TERM-BASED (LTB) ZERO-TIME-BASED (ZTB) | | | | | | | -------------------------- FEEDBACK (FB)--------------------------Gambar 10 Manajemen Nasional Amfibia Serbacuaca (MANAS)

waktu untuk mencari sumber air atau merancang pelatihan. Seharusnya langsung bertindak dan berhasil. Kerangka pemikirannya sebagaiberikut (Gambar 10) dan hipotesisnya berbunyi: “MANAS = Manajemen Normal Yang Berhasil Diarahkan Pada (Membentuk) Manajemen Turbulentia, dan Manajemen Turbulentia yang Berhasil Memberikan Feedback Pada Manajemen Normal” terus-menerus. Pengujian hipotesis itu terlihat pada Gambar 11.
QUALITY ZTB 4-------------------------------------------4 M | | | A | | | N | | | A | | | J 3--------------------------------3----------| E | | | | M | | | | E | | | | N | | | | 2---------------------2----------|----------| T | | | | | U | | | | | R | | | | | B | | | | | U 1----------1----------|----------|----------| L | | | | | E | | | | | N | | | | | T | | | | | I LTB --------1----------2----------3----------4-A----> 0 M A N A J E M E N N O R M A L
Gambar 11 Manajemen Normal Berkemampuan Manajemen Turbulentia

TIME

Gambar 11 menunjukkan bahwa semakin lama kualitas (kapasitas) manajemen normal semakin tinggi sehingga pada akhir LTB turbulentia dapat dihadapi dengan ZTB action. Dalam banyak hal, “payung” itu seharusnya disediakan oleh pemerintah (SKK). Hak dan wewenang membawa (menimbulkan) kewajiban. Beberapa tahun yang lalu, masyarakat digemparkan oleh berita media tentang longsornya sebuah tambang galian pasir di sebuah daerah di Jawa Barat. Puluhan penambang tewas.

dan tanah. Freies Ermessen berbeda dengan diskresi yang memberikan keleluasaan bertindak bagi pejabat dalam batas aturan yang berlaku. dan siap menanggung segala risikonya secara pribadi (tanpa kambing hitam). berdasarkan keputusan batin yang dipilih secara bebas. dan tidak ada sanksi bagi pemda bila wanprestatie. untuk dipertanggungjawabkan kemudian kepada semua fihak. terlebih mengingat kesadaran hukum yang rendah dan budaya hukum . dan dari berbagai segi. material dan barang. terasanya mendadak atau di luar kemampuan. merupakan sumber PAD kategori retribusi izin Galian-C. disebabkan oleh kelalaian pemerintah dan masyarakat membaca peringatan dari Ilmu Sifat Barang tentang metal fatigue (kejenuhan metal) dan engineering life (masa layakpakai) setiap teknologi. 9 SESI DELAPAN Nilai Tujuh FREIES ERMESSEN.Penambangan pasir. sampai pada pustaka Manajemen Bencana (Disaster Management). sehingga perkara yang seharusnya dapat diantisipasi. Bab 10 Kybernologi Kepamongprajaan (2008). tarif. Ini berkaitan dengan Nilai Satu. Manusia buat kelalaian dan suka lupa. Di negara hukum yang menganut pendekatan progressif. Meledaknya pipa Pertamina beberapa waktu yang lalu di seputar Lapindo. Bab 7 Kybernologi Metamorphosis (2008). Tetapi di Indonesia yang masih menganut pendekatan hukum positif (tiada aturan hukum = tiada pelanggaran dan kejahatan). misalnya Jerman. mengamong berarti menyelenggarakan pemerintahan dalam kondisi serbacuaca (all weather governance). batu. Sudah barang tentu fihak plat merah angkat bahu. kewajiban pemda untuk mengontrol penambangan agar tidak berbahaya. bertaburan di seluruh seri Kybernologi mulai dari Bab V Beberapa Konstruksi Utama (2005). jika perlu (tiada pilihan lain) diluar batas aturan yang ada. Mengamong adalah menunjukkan keberanian untuk melakukan turbulence serving di atas. ajaran ini tidak digunakan lagi. Dalam hubungan itu semua. Bab 10 Kybernologi Scientific Movement (2007). Perda tentang retribusi hanya berisi prosedur permohonan izin. lalai melakukan kewajibannya. Di sana tidak tercantum perlindungan terhadap penambang. atau sepanjang tidak dilarang secara tegas dalam aturan perundangan. jebolnya Situ Gintung Tangerang Selatan dinihari Jumat tgl 270309. Buahnya malapetaka! Banyak sekali referensi pokok bahasan ini. Keputusan dan tindakan Fries Ermessen diambil atas inisiatif sendiri. Tidak ada yang sempurna di dunia ini. dan sanksi buat pemegang izin bila tidak memenuhi kewajibannya.

Bung Karno menggunakannya tgl 5 Juli 1959 (noodverordeningsrecht).yang lemah. Apakah Pak Harto juga tahun 1965 dan berikutnya? Yang jelas Mahasiswa tahun 1998 merobohkan pemerintahan yang sah. berpengetahuan mendalam) guna mengidentifikasi perbedaan senyaris apapun antar masyarakat yang satu dengan masyarakat yang lain. Etika Pemerintahan. craft) menjawab suatu masalah dengan alat atau cara yang berbeda pula. sebagai prasyarat untuk membangun Teknologi Pemerintahan . 10 SESI SEMBILAN Nilai Delapan GENERALIST AND SPECIALIST FUNCTION. Pengantar Dalam Hukum Indonesia (1959: 441. Referensi: Bayu Surianingrat. mengamong berarti berupaya untuk semakin mengenal kualitas. tumbuh ketelitian. Mengamong adalah (belajar untuk) mengetahui sedikit demi sedikit tentang semakin banyak (luas) hal (to know less and less about more and more. kemahiran. Untuk itu. kekhususan (uniqueness) suatu masyarakat. Mengenal Ilmu Pemerintahan (1980). watak. Bab III Kybernologi Sebuah Charta Pembaharuan (2007). Utrecht. E. skill. berpengetahuan luas) guna mengidentifikasi dan membangun kebersamaan (tunggal ika) antar masyarakat yang berbeda-beda. Mengamong juga adalah (belajar untuk) mengetahui semakin banyak (dalam) tentang semakin sedikit hal (to know more and more about less and less. tumbuh kreativitas. innovativeness. 460). Dengan pengetahuan dan pengalaman yang luas. dan Teori Kedaulatan. noodverordeaturan hukum aturan hukum noodverordeningsrecht positif positif ningsrecht | | | | | | | | | tanggungjawab | | tanggungjawab | | pribadi | | pribadi | |<--------------|----FREIES ERMESSEN----|-------------->| | berdasarkan | | dasarkankan | | etika otonom | | etika otonom | | | | | | |<-------DISKRESI------>| | | | | | ------------------------------------------------------Gambar 12 Freies Ermessen dan Diskresi Nilai ini erat berkaitan dengan Politik Pemerintahan. Hukum Pemerintahan (khususnya Hukum Darurat/Bahaya). Dengan keahlian yang dalam. ajaran Fries Ermessen masih diperlukan. Kreativitas merupakan lahan subur untuk menumbuhkembangkan Seni Pemerintahan: kepandaian (art. dan presisi.

Seorang yang berasal dari daerah A sejak kecil tinggal mencari nafkah dan bergaul dengan banyak orang di berbagai kota. Lihat Bab 19 dan Bab 30 Kybernologi (2003). Mempertanggungjawabkan artinya menjawab (menerangkan) secara terbuka segala sesuatu yang menimbulkan pertanyaan pelanggan. sumpah dan janji jabatan atau profesi (kontraktual). mandat). Nilai ini mengandung implikasi politik. Gambar 1 di atas menunjukkan hubungan antara fungsi generalist dengan fungsi specialist tersebut. Tanggungjawab sebagai accountability adalah . Oleh pengetahuan dan pengalaman yang luas dan dalam itu. Pada tahun 2008 ia ingin dicaleg untuk dapil A. . sementara di kota B pesaingnya banyak. seorang pamong siap ditempatkan di mana saja dan mampu mengerjakan tugas apa saja yang telah didalaminya. amanat. dua. nazar. . .yang tepat. pengakuan. . selfcommitment (janji kepada diri sendiri. kepada para pelanggan produk-produk Negara. Pertanggungjawaban dapat diterangkan melalui Teori Tanggungjawab yang dikembangkan dari Teori Tanggungjawab Herbert J. Mengamong adalah mempertanggungjawabkan kepada pelanggan (bukan hanya atasan!): satu. bahwa berbagai ilmu pengetahuan yang bertalian dengan salah satu bagian dari penguasaan (beheer) perusahaan partikelir pada akhirnya bermuara pada suatu ajaran perusahaan umum (algemene bedrijfsleer) yang meliputi kesemuanya dan bahwa ajaran tentang penguasaan perusahaan-perusahaan partikelir ini setidaktidaknya untuk sebagian merupakan syarat bagi adanya ilmu pengetahuan yang lebih tinggi daripadanya. 11 SESI SEPULUH Nilai Sembilan RESPONSIBILITY. van Poelje dalam Pengantar Umum Ilmu Pemerintahan (1959) menyatakan: . tiga. terakhir di kota B. yang agar mengikat perlu disaksikan). obligation. tidak ada “kendaraan” yang mengusungnya. pelaksanaan tugas (perintah. namun karena daerah A belum mengenalnya dengan baik. tanggungjawab diartikan sebagai accountability. dan empat. dan sumpah-sebagai-bukti. dan jika jawaban tidak dipercaya. ialah Ilmu Pemerintahan dengan Kepamongprajaan sebagai salah satu bentuk Aksiologinya. dan cause. . tindakan yang ditempuh berdasarkan Freies Ermessen. Kepamongprajaan sebagai superstruktur profesi pemerintahan melalui pendekatan lintas sektoral bermula pada visi untuk membentuk tenaga-tenaga pemerintahan yang berkualitas kepamongprajaan. daerah kelahirannya. Tentang hal ini. yang bersangkutan menanggung sendiri segala akibat dan risikonya. Spiro dalam Responsibility in Government (1969). Gambar 13. Menurut Spiro.

ATAU <---| reward | GAGAL | | --------------------- *lepas dari tinggi atau rendah. yaitu berjanji (bersumpah. ----> ACTION -------|-> ACCOUNTABILITY --|-------------| MANDAT (KKM) | | | | | | | | | | | | | | KKM. “noblesse oblige. FREE.| | | | gungjawab. Pertanggungjawaban seorang yang bersumpah tanpa diperintah (jadi bukan disumpah melainkan lahir dari dalam hatinuraninya sendiri) . kewajiban menepati janji (lepas dari sebab dan akibat).| | | |------>TRANSFOR. yang disebut rasa atau kesadaran akan tanggungjawab dengan kesediaan untuk menanggung risiko atau akibatnya. Yang digunakan dalam Kybernologi adalah pertanggungjawaban etik. -------------------| | ------>DASAR | RESPONSIBILITY | | | | | KEKUASAAN. dimodifikasi dan dikembangkan Tanggungjawab sebagai cause adalah sesuatu yang mendorong atau menggerakkan seseorang untuk bertindak.----WILL (CHOICE)----|-> CAUSE -----------|--> ACTION ---| | MASI LINGDISCRETION | | | | KUNGAN CONSCIENCE | | | | | | | | | | | | | punishment | BERHASIL | -------HOPE <---------.RISK. lepas | ward & pu| | | | dari sebab akibat | nishment | | KONDISI FREIES ERMESSEN | | | | PERUBAHAN VOLITION. | | |------>KEBIJAKAN.perhitungan atas pelaksanaan perintah kepada pemberi perintah. struktural atau fungsional. 1969. PRICE -----|--.TRUST --------|-.” status membawa kewajiban Gambar 13 Konstruksi Teori Tanggungjawab: Teori Herbert J. Spiro. yang dianut oleh pelaku tanpa terikat dengan fihak lain.| memikul re. dan kesediaan memikul risiko. CITRA | | | |------>JANJI ---------> ACTION -------|-> OBLIGATION ------|--> ACTION ---| | POSISI* penepatan janji | kewajiban bertang. Yang dimaksud dengan etika di sini adalah etika otonom. Tanggungjawab sebagai obligation memiliki tiga dimensi. formal atau informal.

--------dan terbuka ko & konsekuensi ditanggung sendiri Gambar 14 Etika Pemerintahan (1 sd 11 Terminal) . lu. kesepa. Pada saat antri sebagai nomor 6 sementara tiket sisa 5. Terminal 6 menunjukkan perbedaan antara keputusan etik dengan keputusan bukanetik.| | katan.nerangi dlm kalbu. risi.diskusi antar norma | | yg-baik dlm kuat. jelas nurani an memilih. seseorang (B) di depannya yang kebetulan menoleh. sedangkan keputusan bukan-etik diambil berdasarkan kebersepakatan masyarakat di sekitar pelaku. first serve” oleh si A dipegang sebagai norma etik perilakunya. walaupun merugikan diri sendiri. --1 2 3 4 5 6 ----->apakah------>kualitas--->nilai--->norma--->kesadaran----->pertimbangan---| etika? dasar etik etik etik etik etik otonom | | etika otonom | | | | | | | etika heteronom yg-benar guna tertanam norma me. kebebas. satu di antara 11 terminal.| | yg-wajib hidup as. Keputusan etik diwarnai dengan keteguhan hati (disiplin) pelaku memegangnya.itulah pertanggungjawaban etik otonom.sumpah bernazar | perjanpengakuan membayar tebusan | jian credo kesediaan berkorban | commitment selfmengaku bersalah | | commitment mengundurkandiri dari jabatan | | | mengasingkandiri | | agar mengimenyakitidiri | | kat. Gambar 14 menunjukkan bahwa pertanggungjawaban etik itu terletak pada Terminal 10. Misalnya hukum sistem antri “First come. perlu bersumpah | | disaksikan mengorbankandiri | | | bunuhdiri | ------------| | dikontrol | | ----dibandingkan---| kesenjangan ditedievaluasi *dinyatakan | rangkan setulus & | secara otonom --sejujurnya. Keputusan etik diambil berdasarkan diskusi dan kebersepakatan antar norma yang tertanam di dalam hatinurani pelaku sendiri. kesediaan | | memikul sanksi etik | | | | 10 9 8 7 | | 11 pertanggungperilaku tindakan keputusan | ----etikalitas<----------jawaban<-------etik<------etik<-----------etik<-------| etik | | | | | | | menaati kadar | --kinerjaberprakarsa keetikan sanksi etik* | berjanji | | | | | ------------merasa malu | | | merasa bersalah | pada pada menyesal | orang diri mohon maaf | lain sendiri mohon ampun | | | janji bertobat | | nazar.

WISDOM. Begitu dia mendapat tiket dengan cara demikian. Adakalanya seperangkat buah pikiran terlihat melawan arus. mempersilakannya untuk maju dan pasti dapat tiket. tetapi sejak diundangkan menjadi PP 66/51. Nilai ini berkaitan erat dengan Nilai Satu di atas. yang terbentuk berdasarkan kemerdekaan berfikir dan kemerdekaan mengeluarkan buah pikiran (Pasal 28 UUD 1945). atau buah hati yang “ada uang abang disayang. berbeda dengan “pikiran besar” yang sudah ada. sosialmarpolicy policy imple-->ERGO----------->BUAH ----------->NILAI-------->POLICY-------->POLICY---------------| SUM kiran PIKIRAN isasi 3 keting AGENDA making 5 mentation | | 1 2 4 | | | | | | | | 6 | | 8 belajar dari 7 monitoring PERBUATAN scientific movement | ---FEEDBACK<---------------SEJARAH<-------------------BESAR<--------------------------sejarah evaluation scientific enterprise Gambar 15 Dari Buah Pikiran. tanpa uang abang melayang. COGITO. tidak pernah diajarkan dan tidak dibudayakan menjadi pola perilaku bangsa. Bab II dan Bab III Kybernologi Sebuah Metamorphosis (2008). Perbuatan Besar. Mengamong adalah mengonstruksi pikiran besar. pikiran yang memiliki kekuatan menerobos zaman. Jauh liku yang (harus) ditempuh oleh sebuah pikiran. norma etik di dalam hatinuraninya jadi rusak. selain sistem terganggu. Sebab bila ia maju. Bhinneka Tunggal Ika merupakan sebuah pikiran besar. terkadang baru diakui “besarnya” kemudian. dan Sejarah Melalui Delapan Terminal . Berpikir menurut hukum logika. Berpikir besar identik dengan berfilsafat.rupanya mahasiswanya ---. pemi. ia sudah mulai jadi pecundang! Lihat Bab 8 Kybernologi (2003). Buah pikiran seperti itu.” buah pikiran dapat diwariskan dan menjadi pelajaran bagi generasi ribuan tahun yang akan datang. walaupun menguntungkannya. sebelum ia diakui besar dan menjadi sejarah. Tetapi si A tidak mau. Bab III dan Bab IV Kybernologi dan Pengharapan (2009) 12 SESI SEBELAS Nilai Sepuluh MAGNANIMOUS-THINKING. bila tahan banting. rerambu nalar sehat. Alinea keempat Pembukaan UUD tentang kecerdasan merupakan landasan konstitusional nilai ini. Oleh sebab itu dibenci dan tidak laku. Berbeda dengan buah tangan yang dapat dinikmati sekejap.

berbuka diri mengamati. prilaku & perkataan Y sebagaimana adanya begitu keluar dari Y tanpa dipengaruhi oleh P. tidak berguna. buah pikiran sebesar apapun. Tetapi percayalah. tetapi terasa hadir di mana-mana dan kapan saja sebagai bagian dari dan sama dengan “kita. Mengamong berarti tidak memosisikan diri sebagai pangreh. kotor dan sampah “kita” terlihat olehnya. mengamati & merekam amatannya. bahkan oleh parpol ia dituduh pengkhianat. 10 x 10 = 100 menit. membangun rapport. ada yang mandi uang bergelimang dosa. 2009). Bab 20 Kybernologi (2003).Pada aras mikro. waktu yg harus disediakannya utk mendengar. semakin samar. 99% rakyat ada di didepannya dan sejarah bertinta emas terbentang di belakangnya. Lihat Filsafat Pemerintahan. temuan-temuan akademik (invensi) harus dijadikan masukan bagi pembuatan kebijakan publik guna melahirkan inovasi (Bab XI Kybernologi dan Pengharapan. katakanlah terdiri dari 10 sub-Y. Satu-satunya jembatan antar budaya dan antar frame-of-reference (FOR) yang berlainan. dan merasakan apa yang “kita” rasakan.” barulah semakin terasa olehnya betapa satu dengan yang lain berbeda-beda. seragam. sehingga oleh Y ia diterima sebagai seorang sesama di antara mereka. 13 SESI DUABELAS Nilai Sebelas OMNIPRESENCE. ia tdk populer di kalangan politisi dan birokrasi.” Ia melihat apa yang “kita” lihat. tidak hanya membangun citra (image building) pemerintahan tetapi merendahkan hati sedemikian rupa sehingga pemerintah itu tidak terlihat sebagai sesuatu yang jauh dan yang asing. maka jika waktu yg digunakan P utk berbicara 10 menit. Semakin tinggi dan asing pemerintah memosisikan dirinya. semakin mendarat ia bersama “kita. ialah Nelson Mandela Y Gambar 16 Membentuk (Membangun) Pengertian Yang Empatik (Saling-mengerti) = Y . belum terhitung waktu yang diperlukannya untuk bersosialisasi. di sini nestapa dan melarat. ada yang terbuang dan terinjak. Ialah Semar. P P P turun secara pribadi (personally) serendah mungkin dari posisinya. mendengar & merekam isyarat. P melawan arus? Ya. antara pemerintah (P) dengan yang diperintah (Y) adalah salingpengertian. emik & etik. sambil merekam. membangun kebersamaan melalui perilaku etik & emik. Tanpa pengajaran dan pembudayaan. menempatkan diri seutuhnya setara dgn kondisi Y dgn tulus. Mengingat Y heterogen. di sana papa dan hina.

e. mantan | | -------PIN IN. Salah satu cara yang dikenal dalam metodologi adalah pembentukan pengertian dan pencapaian saling-mengerti melalui empati (empathy.” demikian Schwandt.Pengertian dan saling-mengerti. motives. cepat atau lambat dapat terbentuk dan tercapai melalui pelbagai cara di dalam masyarakat. Iapun menandai orang-orang tersebut sebagai warga masyarakat tertinggal dan diberi definisi seperti di atas. 14 SESI TIGABELAS Nilai Duabelas DISTINGUISHED STATESMANSHIP. Mengamong berarti “exhibits great wisdom and ability in dealing with important public issues. seorang pejabat atau peneliti bisa saja mengaku bahwa ia mengerti kondisi atau kualitas suatu masyarakat dengan memandang pakaian orang yang lalulalang: ada sejumlah orang yang berpakaian kotor. or the like) of an individual actor. Bisa saja peneliti bermaksud mengenal seorang aktor dengan motif ketertarikan (sympathetic imagination) dan bukan karena ingin mengenalnya sebagaimana adanya. dan bau keringat. Menurut Max Weber.<-------------------------------| | | FORMAL kembali ke dalam masyarakat | | | | | | | | | | | | ----------------| referensi |--------| | | | | | | PEMIMPIN rezim lain yang terpilih | -------FORMAL <--------------------------------naik ke singgasana kekuasaan Gambar 17 Proses Kepemimpinan . intention.” Dengan menggunakan FOR-nya. Verstehen adalah “empathic understanding or an ability to reproduce in one’s own mind the feelings. and thoughts behind the action of others. motivation. sedangkan pakaiannya sendiri bersih. bukan emphaty). rapi dan wangi. lusuh. belief. “It (Verstehen) must mean an act of sympathetic imagination or empathic identification on the part of inquirers that allowed them to grasp the psychological state (i. Konsep empati tidak terpisahkan dengan konsep pengertian (understanding). Salah satu bentuk understanding adalah empathic understanding yang dalam bahasa Jerman disebut Verstehen.” berkepeberkepemimpinan terpilih mimpinan MASA JA--->MASYARAKAT---------->PEMIMPIN----------->KEPALA----------->BATAN------| informal tersaring formal & BERAKHIR | | informal | | | | | | PEMIMtidak terpilih (lagi).

ia mendapat pengawalan. Barat. menggunakan Etika Otonom dan bukan Etika Heteronom (Bagian Dua Bab X Kybernologi Sebuah Scientific Enterprise. pengaruhnya tetap terasa. seorang negarawan tidak melakukan perbuatan yang menguntungkan hanya satu fihak. terutama Badan Diklat Depdagri sendiri. serta memikul sendiri tanggungjawabnya. maupun antar Timur. 2006). walau cuti sekalipun. walaupun di masa itu belum didefinisikan dan belum diprogramkan. sebab cuti itu hanya akalakalan. kepamongprajaan dilihat sebagai fungsi yang dibutuhkan pada tingkat regional dan global. memaknai uang bukan solusi tetapi beban (karena harus dipertanggungjawabkan). Berbeda dengan perang. roh zaman. Dengan kualitas itu---kenegarawanan--kepamongprajaan berarti kemampuan melahirkan pikiran besar. bukan dari partai tetapi dari seluruh bangsanya. walaupun ia menggunakan kendaraan umum dan mengenakan kaus oblong. membuat sejarah (history making) melalui perbuatan besar. menyatakan secara terbuka pengunduran diri dari “kendaraan yang mengusungnya” begitu terpilih menjadi pejabat publik. Wawasan Kepamongprajaan sebagai kenegarawanan mengemuka di masa STPDN. Merayakan saat pengembalian (penyerahan) jabatan (mandat) ketimbang saat memangku jabatan (pelantikan). Bab V Kybernologi Sebuah Metamorphosis (2008). Selama masa jabatannya. Seorang negarawan tidak mengclaim kinerjanya sebagai kinerja partai yang mengusung atau didukungnya. karena tindakan apapun yang dilakukannya telah mendapat imbalan dari negara dan masyarakat. pemilu bukan menang kalah tetapi terpilih atau tidak terpilih. Pidato Sambutan Forum American Association of the Collegiate Schools of Business. . karena selama menjabat ia digaji dan mendapat fasilitas serta kehormatan. perlindungan dan perlakuan sebagai seorang pejabat. baik antara Utara dengan Selatan. fihak yang takterpilih kembali menjadi controlling reference jangka panjang (Gambar 17). rule the present from the past” (Alfred North Whitehead. Tetapi sebaliknya ia selalu merasa berhutang. Seorang statesman tidak pernah merasa berjasa. Bab I dan Bab III Kybernologi dan Pengharapan (2009). Bahan ajaran untuk sesi ini terdapat dalam berbagai sumber. Pada sesi ini. bagi rezim terpilih lima tahunan. karena ia telah berjanji kepada dirinya sendiri dan kepada masyarakat. Kepamongprajaan di sini terlihat sebagai kualitas yang mampu melahirkan buah pikiran besar.Mengamong juga berarti memosisikan diri di atas semua kepentingan partial. dan ia berusaha menepatinya. dan Tengah. imperial spirit. Pada saat seorang pejabat yang sedang cuti kampanye. 1927). sehingga buah pikiran besar pamong praja Indonesia – yaitu mereka yang memiliki kualitas kepamongprajaan – tahun 2009 mempengaruhi perjalanan sejarah Indonesia di tengah-tengah dunia beratus-ratus tahun kemudian: “Her citizens. Kini saatnya untuk mencerahkan dan membangkitkannya.

” atau “itu kan teori. terlihat output (OP) atau outcome (OC). .” “yang diucapkan atau ditulis begini. dan Opsi 3 (BON* = Ideologi.? <------------DOGMA<-----------BON*<---------------1-| | mutlak isasi struksi | | | | | | feedback N<H monev oleh ditegakkan | |-----------. Opsi 2. Norma bersifat formal. . Nilai yang disepakati menjadi norma.? <-----------“HASIL”<-------------3pembenaran penguasa** dipermainkan Gambar 18 Kepamongprajaan Menurut Teori Nilai: Tiga Opsi. dan ideologi yang disakralisasi.15 SESI EMPATBELAS Apakah Kepamongprajaan? Dalam GBPP di atas Kepamongprajaan didefinisikan nilai dasar pemerintahan (governance).” sehingga OP dan atau OC tidak dipercaya atau jauh dari harapan (Gambar 18). tapi. .? <-----N=H<------------HASIL---------------2-| | N>H pelanggan (H) | | | | | | dibenarkan monev oleh “ditegakkan” | ---. Body-of-norms (BON. . tapi. menjadi dogma.” “baik. **Monev Direkayasa) Opsi 3. Kalau dogma dipatuhi “tanpa reserve. tetapi yang dilakukan lain. Di Indonesia biasanya norma di-“tegakkan” dengan sikap “benar. Gambar 15) disebut ideologi. perilaku ditimbang disepakati -->ENTITAS-------->KUALITAS--------->NILAI-------------->NORMA | bisa dipaksakan (N) | | | | | dipatuhi disakraldirekon| |---. Opsi 1. Siapa Jagonya? .? <------------. . jika perilaku suatu entitas diamati. . hasilnya adalah duabelas nilai dasar pemerintahan. Sesuai dengan Teori Nilai. terlihat satu atau lebih kualitas. bandingkan dengan rekonstruksi pengetahuan menjadi BOK.” apa yang terjadi? Jika norma ditegakkan (digunakan). hasil rekonstruksi norma. . berkekuatan mengikat. Jika kualitas entitas tersebut dalam ruang pemerintahan ditimbang. dijadikan feedback buat entitas yang bersangkutan (lihat Gambar 16). OP dan OC dimonev. dan apapun hasil analisisnya.

nama suatu entitas. suatu tingkat nilai pada suatu saat disepakati sebagai norma yang harus diindahkan dan ditegakkan oleh semua fihak. Diperlukan kekuatan pengikat kebhinnekaan menjadi tunggal ika. bertujuan a. mulai dari Kepala Lembaga Negara. Setiap kualitas ditimbang guna melihat. di Indonesia (sebaiknya) kepamongprajaan dijadikan dan digunakan sebagai: 1 Identitas. Program Program Strata dan Program Profesional. secara periodik harus dilakukan monev dan pembaharuan norma 5 Fungsi. dengan perangkat masing-masing 8 Profesi. pamongpraja dilembagakan menjadi unitkerja pusat di daerah (kepala wilayah dan jajarannya) 7 Struktur Kepamongprajaan dalam tiga tingkatan: Tingkat Bawah: Pamong Desa/Kelurahan. Mengapa tidak di dalam diri kepala daerah? 6 Lembaga. Aparat penegak perda: Polisi Pamong Praja. Kekuatan itu adalah fungsi yang dapat dicharge di dalam sistem penyelenggaraan pemerintahan (di) daerah. Sekarang kekuatan itu dicharge dalam diri gubernur provinsi. mulai dari Camat. sejauh mana kualitas memenuhi kebutuhan manusia dan masyarakat 4 Norma. Kepala Daerah. Agar berkekuatan mengikat. Dahulu. dengan perangkatnya masing-masing Tingkat Tinggi: Pamong Bangsa/Negara. lokal. lulusan IPDN Pamong Praja Muda 2 Kualitas. Perilaku yang terlihat di dalam ruang pemerintahan (governance) mulai dari tingkat statal. mahasiswa IPDN disebut Praja. Membentuk kader-kader Pamongpraja yang dibutuhkan mendesak oleh Depdagri dan Pemda b. Menteri. Norma dapat dilembagakan menjadi sebuah unitkerja . Membangun Kepamongprajaan sebagai sistem nilai dasar pemerintahan c. sampai pada tingkat rukun tetangga menunjukkan 12 kualitas kepamongprajaan 3 Nilai. sampai pada Presiden di pucuknya. Merekonstruksi terus-menerus Ilmu Pemerintahan Baru (Kybernologi) sebagai sumber dan dasar profesi pemerintahan .Dalam hubungan ini. mulai dari Ketua Rukun Tetangga sampai dengan Kepala Desa/Kelurahan dan perangkatnya Tingkat Menengah: Pamong Praja. Pendidikan Kepamongprajaan meliputi Program Vokasional (Diploma). dan Diklat Kepamongprajaan guna membentuk kader-kader tenaga berkualitas Kepamongprajaan yang disebut Pamongpraja (Perpres 1/09) 9 Pendidikan Kepamongprajaan. Profesi Kepamongprajaan meliputi penerapan Kepamongprajaan sebagai norma melalui kebijakan publik di dalam praktik pemerintahan. Mengingat perubahan eksternal dan internal.

10 Standar kompetensi pamongpraja. lihat Bab II Kybernologi dan Kepamongprajaan (2007). Bahan untuk sesi ini masih harus diidentifikasi dan didefinisikan. begitu Kepamongprajaan ini diajarkan mulai Sesi Satu. Pamongpraja dalam arti luas adalah tenaga pemerintahan yang memiliki roh dan 12 nilai dasar pemerintahan. Bab IC. terdapat dalam Kybernologi: Sebuah Rekonstruksi Ilmu Pemerintahan. Oleh sebab itu. professional. Standar kompetensi struktural bersifat normatif. Kendatipun ini sesi terakhir tetapi tidak berarti termudah---last but not least---bahkan mungkin yang tersukar. Yang dijelaskan dalam sesi ini adalah standar kompetensi fungsionalnya. dan ditetapkan saat pelembagaannya. Perlu dibedakan standar kompetensi fungsional dengan standar kompetensi struktural. dan profesionalisme. Konsep profesi. Pamongpraja dalam arti sempit adalah tenaga professional di bidang (yang memiliki kualitas) kepamongprajaan. 2005. kesukaran ini harus diantisipasi! ------>PENELITIAN--->TEMUAN---->KEBIJAKAN--->PEMBAHARUAN-| (invensi) | (inovasi) | -->KEPAMONG| | | PRAJAAN | | | | | | | ------>DIKLAT--->KADER PAMONGPRAJA-| | | ----------------FEEDBACK<-----------------MONEV<------------------ Gambar 19 Kepamongprajaan Sebuah Ruang Pembelajaran 3001090852SDG 2903090733SDG 1104091600SDG File GBPP KEPAMONGPRAJAAN BARU .

. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . Dua Conducting. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . Tiga Coordinating . Enam Turbulence-serving . . . . . . . Sebelas Omnipresence. . . Sembilan Responsibility . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . Tujuh Freies Ermessen . . . . . . . . 41 43 45 46 47 48 50 51 52 55 56 57 . . . . . Lima Residue-caring . . . . . . . . . . . Empat Peace-making. . . . . . . . . . . . . .RINGKASAN DUABELAS NILAI KEPAMONGPRAJAAN 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 Nilai Nilai Nilai Nilai Nilai Nilai Nilai Nilai Nilai Nilai Nilai Nilai Satu Vooruitzien. . . . . Duabelas Distinguished Statesmanship. . . . . . . . . . Sepuluh Magnanimous-thinking. . . . . . . . . . . . . . . Delapan Generalist & Specialist Function. . .

2005) 12 Kybernologi I dan II (Rineka Cipta. 2007) 7 Kybernologi Sebuah Charta Pembaharuan (Sirao Credentia Center. 2006) 9 Kybernologi Beberapa Konstruksi Utama (Sirao Credentia Center. 2005) 11 Teori Budaya Organisasi (Rineka Cipta. 2005) 10 Kybernologi Sebuah Rekonstruksi Ilmu Pemerintahan (Rineka Cipta. 2003) 13 Metodologi Ilmu Pemerintahan (Rineka Cipta.DAFTAR PUSTAKA KYBERNOLOGI 1 Kybernologi dan Pengharapan (Sirao Credentia Center. 2008) 5 Kybernologi Sebuah Profesi (Sirao Credentia Center. 2009) 2 Kybernologi dan Pembangunan (Sirao Credentia Center. 2007) 6 Kybernologi Sebuah Scientific Movement (Sirao Credentia Center. 1988) . 2008) 4 Kybernologi dan Kepamongprajaan (Sirao Credentia Center. 2008) 3 Kybernologi Sebuah Metamorphosis (Sirao Credentia Center. 2007) 8 Kybernologi Sebuah Scientific Enterprise (Sirao Credentia Center. 1997) 14 Metodologi Pemerintahan Indonesia (Bina Aksara.

MARDIYANTO. Diubah Kepamongan” Apa yang dimaksud dengan “Ilmu Baru?” 08159676XXX 121007223338 “Benar. buat sebagai dasar keilmuan pembentukan IIP Regional.” “Sistem Pengasuhan Dihapuskan. Kita jadikan proposal yang prof. prof.” .” Kompas 11 Oktober 2007 “Presiden Ubah IPDN Menjadi IIP. prof. Yang beliau maksudkan adalah Kybernologi dan Kepamongprajaan. MENTERI DALAM NEGERI RI: “Di IIP Ada Tambahan Ilmu Baru Sebagai Pendukung Dalam Aspek Pemerintahan.” 224923 “Benar.

Kybernolog GARIS-GARIS BESAR PROGRAM PEMBELAJARAN KYBERNOLOGI DAN KEPAMONGPRAJAAN JAKARTA. 2009 .Taliziduhu Ndraha.

. . . . . . . . . . . . . . 14 Sesi Tigabelas Seni dan Teknik Pemerintahan . . . . . . . . 11 Sesi Sepuluh Kepamongprajaan. . . . . . . . . . Sejarah Pengajaran Ilmu Pemerintahan di Indonesia. . . . . . . . . . . Sesi Tujuh Nilai Enam Turbulence-serving. . . . . . . . . . RINGKASAN . . . . 15 Sesi Empatbelas Apakah Kepamongprajaan? . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 1 2 5 6 8 11 16 18 20 20 22 24 25 26 27 28 30 31 II GBPP KEPAMONGPRAJAAN Latar Belakang. . . . . . . . . . . . . . . . . . . 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 . . . 11 Sesi Sepuluh Nilai Sembilan Responsibility. . . . . . . . . . . .DAFTAR ISI I GBPP PENGANTAR ILMU PEMERINTAHAN 1 Latar Belakang. . . . Sesi Delapan Nilai Tujuh Fries Ermessen . . . . . . . . . . . AXIOLOGI 10 Sesi Sembilan Teori Nilai . . . RINGKASAN . . . . . Sesi Empat Nilai Tiga Coordinating. . . 9 Sesi Delapan UTS. . . . . . . . . . . . . 2 Sesi Satu Penjelasan Umum. . . 12 Sesi Sebelas Nilai Sepuluh Magnanimous-thinking 13 Sesi Duabelas Nilai Sebelas Omnipresence. . . . . . . . . 7 Sesi Enam Teori Kinerja . . . . . . . . . . . . . . . . . Sesi Tiga Nilai Dua Conducting. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 12 Sesi Sebelas Kebijakan Pemerintahan . . . . 17 Sesi Enambelas UAS. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 13 Sesi Duabelas Manajemen Pemerintahan. . . . . . . . . . . . . Sesi Dua Nilai Satu Vooruitzien . . . . 14 Sesi Tigabelas Nilai Duabelas Distinguished Statesmanship . . . . . . . ONTOLOGI 3 Sesi Dua Ontologi Ilmu Pemerintahan . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 16 Sesi Limabelas Reformasi Pemerintahan . . . . . . . 15 Sesi Empatbelas Etika Pemerintahan. . . . . . . . Sesi Sembilan Nilai Delapan Generalist & Specialist Function . . . . . . . . 6 Sesi Lima Teori Governance. . . . . 8 Sesi Tujuh Metodologi . 5 Sesi Empat Teori Pelayanan. . . . . . Sesi Enam Nilai Lima Residue-caring . . . . . EPISTEMOLOGI 4 Sesi Tiga Teori Kebutuhan . . . . . . . . . . . . . . Sesi Satu Pemerintahan. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 32 36 41 43 45 46 47 48 50 51 52 55 56 57 59 62 . . . . Sesi Lima Nilai Empat Peace-making. . . . . . . . . . . . . . . . .

. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 2 Posisi Strategis Departemen Dalam Dalam Sistem Pemerintahan . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 125 . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 3 Program Diklat Profesional Kepamongprajaan. . 117 118 118 119 VII KOMENTAR TERHADAP DRAFT PEDOMAN KURIKULUM. . . 121 3 Kurikulum . . . . . . . Apakah DPD Itu? . . . . . . . . . . . . 107 . . . . . 108 VI PERAN CAMAT DALAM PENYELENGGARAAN PEMERINTAHAN DAERAH 1 Pemerintahan. . . . Perspektif Kybernologi Administrasi Kependudukan. . . . . 116 . . . . . . . . Masalah . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 3 Otonomi Daerah. . . . . . . . . . . . . 5 Penyelenggaraan Laboratorium Lapangan Administrasi Kependudukan . . . . . . . . . 2 Kerangka Pemikiran. 104 . . . . . . . . . . . . Negeri . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 64 65 72 IV DEWAN PERWAKILAN DAERAH 1 2 3 4 DPD Di Pentas Politik . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 77 79 91 99 V USULAN PEMBENTUKAN LABORATORIUM LAPANGAN ADMINISTRASI KEPENDUDUKAN 1 2 3 4 Pengertian. . DPD Perspektif Kybernologi Politik. . . 101 . . . . Perspektif Kybernologi. . . . . . . . . . . . . . . . . . . 4 Penyelenggaraan Otonomi Daerah. . DIKLAT KEPEMIMPINAN PEMERINTAHAN DAERAH 1 Latar Belakang. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 101 . . . . . .DAFTAR PUSTAKA KYBERNOLOGI. . . . . . Pentingnya Laboratorium Lapangan Administrasi Kependudukan . 63 III DIKLAT PROFESIONAL KEPAMONGPRAJAAN 1 Latar Belakang. . . . 5 Peran Camat . . . . 121 2 Sekolah Kepemimpinan Pemerintahan Dalam Negeri.

GBPP matakuliah berisi roh ilmu yang bersangkutan. seperti terlihat dalam buku ini. Bahkan sisi Axiologinya berkembang menjadi satu bidangkajian dan program diklat baru bernama Kepamongprajaan. Buku ini diharapkan menjadi pegangan bagi segenap Masyarakat Akademik di lembaga-lembaga perguruan tinggi di atas. 2008). MM. Di samping hibrida Kybernologi bernama Kybernologi Pertanian oleh DR Ir Abdul Samad Melleng. Kybernologi adalah sebuah bangunan pengetahuan (body-of-knowledge. dalam menjalankan proses belajarmengajar di bidang Ilmu Pemerintahan (Kybernologi) melalui Tridharma Perguruan Tinggi: pengajaran. Kybernologi ini menyajikan . didiskusikan. melainkan sebuah BOK yang terus berkembang. Kybernolog dan seorang pejabat Departemen Pertanian (Bab VI dan Bab VII Kybernologi dan Pengharapan. penelitian. dan telah beberapa kali berubah. BOK) pemerintahan (governance). Perkembangan akademik ini langsung mendukung kebijakan baru Pemerintah yang menetapkan IPDN sebagai Penyelenggara Sistem Pendidikan Tinggi Kepamongprajaan berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 1 Tahun 2009. serta mewujudkan Duabelas Nilai Kepamongprajaan sebagai pola perilaku pemerintahan Indonesia dan pemerintahan daerah ke depan. dilakukan pada tanggal 8 Mei 2009 di Jatinangor. diujicobakan sejak awal 2008 (Bab 6 Kybernologi dan Kepamongprajaan. hasil rekonstruksi dan buah pendaratan Bestuurskunde dan Bestuurswetenschap (Ilmu Pemerintahan) di bumi Indonesia. 2009). Dosen dan Praja). hasil penelitian terhadap fenomena pemerintahan dari sudut (pendekatan) Manusia. Pembahasan dan sosialisasi draft akhir ini di lingkungan IPDN (Pimpinan. dan pengabdian kepada masyarakat. dalam forum Scientific Traffic dan di lingkungan Badan Diklat Departemen Dalam Negeri dalam Rapat SEPIMDAGRI tanggal 19 dan 20 Mei 2009 di Jakarta. S2 dan S3 sejak tahun 1994 (antara lain bekerjasama dengan Universitas Padjadjaran). BOK tersebut kini telah mencapai derajat keilmuan tertinggi yang utuh dan lengkap. diajarkan.PENGANTAR REKTOR INSTITUT PEMERINTAHAN DALAM NEGERI Pada tgl 22 Mei 2003. Institut Ilmu Pemerintahan (IIP) meluncurkan satu produk akademik bernama Kybernologi. dalam hal ini Kybernologi dan Kepamongprajaan. Dengan demikian Kybernologi bukan hanya judul seri buku yang terbit sejak tahun 2003. Melalui proses pembelajaran Program S1. GBPP dua subjek ini dirancang.

diluncurkan. namun sesungguhnya dialamatkan dan ditawarkan kepada semua fihak yang peduli dengan masadepan Indonesia. yaitu Kybernologi Politik dengan mengambil Dewan Perwakilan Daerah sebagai sasaran kajian. Orientasi ke hulu ini dipicu oleh hiruk-pikuk Pemilu 2009 yang menurut para pengamat disebabkan oleh patologipolitik dan patologibirokrasi kependudukan yang sudah kronik dan parah. tetapi juga ke hulu. Walaupun usulan ini ditulis untuk IPDN. MA . Kybernologi tidak hanya berorientasi ke hilir. PP 37/07. Maka sebuah usulan pembentukan Laboratorium Lapangan Administrasi Kependudukan (UU 23/06. Juni 2009 Prof. dan Perpres 25/08). Jakarta.sebuah hibrida baru. Dr Hj. NGADISAH.

UMUM PEK.DIKLAT PROFESIONAL KEPAMONGPRAJAAN Kerangka Pemikiran 9 KYBERNOLOGI --------------------------ILMU PEMERINTAHAN BARU-------------------------| | (KOMPONEN PENDIDIKAN STRATA) | | | | | | | 8 8 | | KEAHLIAN KEAHLIAN | | DI BIDANG----------GENERALIS-----------DI BIDANG | | PEMERINTAHAN | PEMERINTAHAN | | | | | | | | | | | | 7 | 7 | | PROFESI KOMPONEN PROFESI | | BIDANG PE.---10--PENDIDIKAN--10-------BIDANG PE| | MERINTAHAN DIPLOMA MERINTAHAN | | | | | | | | | | | | | --------------------| | | 6 | vooruitzien | 6 | AGROPEMERINTAHAN | conducting | PEMERINTAHAN TEKNOLOGI PEMERINTAHAN DAERAH | coordinating | DAERAH PEMERINTAHAN | | | peace-making | | | | | | residue-caring | | | | 5 | turbulence-serving | 5 | | KEBIJAKAN | | KEBIJAKAN | |------------->BIDANG<----|---KEPAMONGPRAJAAN---|----->BIDANG<-------------| | PERTANIAN | | PEKERJAAN UMUM | | | | Freies Ermessen | | | | | | gen&spec function* | | | | 4 | omnipresence | 4 | KYBERNOLOGI KEPALA DINAS | responsibility | KEPALA DINAS KYBERNOLOGI PERTANIAN PERTANIAN |magnanimous-thinking | PEK. UMUM | | | | | | | | | | | . UMUM | | | | | | | | | | | | 2 | 2 | | KEAHLIAN | KEAHLIAN | | DI BIDANG----------SPESIALIS-----------DI BIDANG | | PERTANIAN | PEK. UMUM | | | statesmanship | | | | | --------------------| | | | | | | | 3 | 3 | | PROFESI KOMPONEN DIKLAT PROFESI | | BIDANG-----11----PROFESIONAL----11-----BIDANG | | PERTANIAN KEPAMONGPRAJAAN PEK.

PENDIDIKAN PROFESIONAL (11). Di satu fihak. Apakah Indonesia kembali ke masalalu? Apakah makna kepamongprajaan itu di masa depan? Oleh sebab itu. dan rezim Soeharto (kepala wilayah).| 1 | 1 | -------------AGRONOMI-------ILMU-ILMU LAINNYA-------TEKNOLOGI------------CIVIL *generalist&specialist function GAMBAR TIGA KOMPONEN SISTEM PENDIDIKAN TINGGI KEPAMONGPRAJAAN PENDIDIKAN STRATA (9). Hubungan antara sistem pendidikan tinggi nasional dengan sistem pendidikan tinggi kepamongprajaan 5. sistem pendidikan tinggi kepamongprajaan merupakan subsistem pendidikan tinggi nasional sebagaimana diatur dalam UU Nomor 20 Tahun 2003. ht TN). IPDN disebut sebagai “lembaga pendidikan kader pamongpraja di lingkungan Departemen Dalam Negeri. tetapi di fihak lain terkuak kembali memori sosial masalalu tentang hubungan pusat dengan daerah. kebijakan tersebut merupakan sebuah perubahan dan kemajuan. lebih tegas. didefinisikan. Sistem Pendidikan Tinggi Kepamongprajaan 4. APDN dan IIP lebih dikenal sebagai “perguruan tinggi kedinasan di lingkungan Departemen Dalam Negeri. Belanda (pangrehpraja dan pamongpraja). DAN HUBUNGAN KYBERNOLOGI DENGAN ILMU PENGETAHUAN LAINNYA 1 LATAR BELAKANG Di dalam dokumen-dokumen tradisional Depdagri. Di sana dengan jelas dinyatakan bahwa IPDN “menyelenggarakan pendidikan tinggi di bidang kepamongprajaan yang diselenggarakan melalui sistem pendidikan tinggi kepamongprajaan.” (pasal 2A. diidentifikasi.” Perpres 1/09 tentang Perubahan Atas Keputusan Presiden Nomor 87 Tahun 2004 mengenai penggabungan STPDN ke dalam IIP yang namanya sekaligus diubah menjadi IPDN. 10). Kepamongprajaan dalam Sistem Pemerintahan Indonesia 2. Penyelenggaraan sistem pendidikan tinggi kepamongprajaan (di dalamnya termasuk Diklat Profesional Kepamongprajaan) 2 KERANGKA PEMIKIRAN .” Sementara itu sejak tahun 90-an yang lalu. Sistem Pendidikan Tinggi Nasional 3. di masa pemerintahan raja-raja (pangrehpraja). PENDIDIKAN DIPLOMA (VOKASIONAL. Jika dikaitkan dengan butir 3 “Mengingat” Perpres tersebut. sekurang-kurangnya lima topik di bawah ini perlu segera difikirkan kembali. Perpres tersebut meletakkan dasar yang kokoh (raison d’ētre) bagi eksistensi IPDN ke depan. misalnya Permendagri No 43 Tahun 2005 tentang Statuta IPDN. dan dijelaskan: 1.

subkultur kekuasaan (SKK). hope) selaku pelangan patan/implemendari SKS selaku terhadap kinerja --tasinya.SKS-------------SKK--| pemain.SDB) | | melalui pe| | via rute 1 | | di hulu | | milu di hulu | | di hilir | | | | | | | | | | | | | | stakeholder -. kuasa monev oleh SKS rencana)& pene(trust. Kybernologi). Dalam kerangka pemikiran ini digunakan pendekatan Kybernologi (kybernân = besturen = steering). yaitu subkultur ekonomi (SKE).PERDA) | | dan rute 4 | | (SDA. dan dapat pula dilakukan menurut pendekatan kemanusiaan dan lingkungannya (Ilmu Pemerintahan. hasil pendaratan Bestuurskunde.| | jawaban etik | | | ---hidup. PEMERINKEPAMONGPROFESIDEPSISDIK DIKLAT PROFESIONAL TAHAN----->PRAJAAN---->ONALISME-->DAGRI-->DAGRI--->IPDN-->KEPAMONGPRAJAAN 1 2 3 4 5 6 7 Gambar 1 Kerangka Pemikiran Satu. Identifikasi dan definisi Sistem Pemerintahan Indonesia dapat dilakukan melalui pendekatan kekuasaan (Ilmu Politik). sekurang-kurangnya tujuh terminal harus disinggahi untuk dapat mencapai lima topik di atas. hasil------lay publik---------menurut----| | pengelolaan & pemberdayaan etika otonom | | sumber-sumber masyarakat di hilir | | 1 di tengah 6 | | 4 | . mandat.kontrol----konstituen-------SKK rute 2---| sumber-sumber | | (UU.Dalam peta eksplorasi pemikiran tentang Diklat Profesional Kepamongprajaan. seperti terlihat dalam Gambar 1. Bestuurswetenschap dan Bestuurswetenschappen di bumi Indonesia (Gambar 2). 2 3 5 janji(kebijakan. dan subkultur sosial (SKS).pe. pemerintahan.SKK---------------.SDM.-SKE--------------. Kybernologi adalah sebuah body-of-knowledge (BOK) baru. | | | | pembawasit penonton | | | ngunan | | | | | | | | | | redistribusi | | | | | | nilai berke| | nilai via pe.| | pertanggung| | | | lanjutan utk | | lay civil. Pemerintahan (governance) adalah interaksi antar tiga subkultur tiap masyarakat (unit kultur).

berpemikiran besar dan kuat menerobos zaman membuat sejarah) 12. Responsibility (menjawab dengan jelas dan jujur. men(t)anggung risiko secara pribadi menurut Etika Otonom) 11. 5. 6. Generalist and Specialist Function (knowing less and less about more and more. tidak memihak. 2.” “yang salah. interaksi itu harus dikendalikan dan diarahkan oleh sebuah kekuatan yang disebut kepamongprajaan. Nilai terbentuk melalui kerja. force majeure) 7. 4. Tiga. Vooruit zien (memandang sejauh mungkin ke depan) 2. Fries Ermessen (keberanian bertindak untuk kemudian mempertanggungjawabkannya) 8. Kepamongprajaan adalah sebuah sistem yang terdiri dari 12 (duabelas) nilai sebagai berikut: 1. impartial) Orang yang memangku 12 nilai tersebut disebut Pamong Praja. Magnanimous-thinking (-mind. Omnipresence (terasa hadir di mana-mana) 10. Peace-making (membangun kerukunan dan kebersamaan) 5. Profesionalisme. dan dengan demikian governance menjadi good governance. dan 3 (pelay = pelayanan) Dua. Conducting (membangun kinerja bersama melalui perilaku aktor yang berbeda-beda) 3. berdiri di atas semua kepentingan. Turbulence-serving (mengelola ledakan yang dianggap mendadak atau di luar kemampuan.” “yang kalah. Kepamongprajaan. Pekerjaan yang ditekuni seumur hidup disebut profesi. 1. baik dalam arti formal maupun dalam arti informal. and more and more about less and less) 9.| | ---------------------pemerintahan (governance)------------------------Gambar 2 Sistem dan Proses Pemerintahan (Governance) Digerakkan oleh Tiga Subkultur (Terminal) Melalui Rute 3.” dan “yang terbuang”) 6.” “sisa. selama memangku masajabatan publik. Distinguished statesmanship (kenegarawan-utamaan. Supaya kinerja interaksi antar tiga subkultur itu good. Residue-caring (mengelola “sampah. Kualitas kerja diharapkan professional agar kinerjanya .” “yang beda. Coordinating (membangun kinerja masing-masing melalui kesepakatan bersama yang mengikat) 4.

Pada suatu tiang batu peninggalannya tercantum sebuah pernyataan yang dapat disebut Doktrin Asoka. A professional group has a common language. yaitu Hindu dan Buddha. Dalam kerajaan Majapahit (1292-1525) nilai ideal “berbeda (beragam) tetapi (ber)satu” itu menjadi kenyataan: raja Hayam Wuruk (memerintah 1350-1389) beragama Hindu. Empu Tantular mengemas ajaran itu dalam seloka yang sebagian berbunyi “bhinneka tunggal ika. . Supaya berguna dan efektif. . tahan karena benar serta satunya cipta. “a reasonably clear-cut occupational field. Organization Theory and Management. professions are encircled by a professional culture. 38-9). Public Administration: Concepts and Cases. Stillman II. Pengertian “professional.good.” artinya berbedabeda tetapi satu jua. Untuk memperkokoh kekuasaannya. sedangkan perdana menterinya Gadjah Mada (menjabat 1331-1364) beragama Buddha. kata dan karya berdasarkan kebenaran yang tunggal. which ordinarily requires higher education at least through the bachelor’s level. Brown dan Dennis J. . . Di sana dijelaskan bahwa profesi berarti. . h. maka adalah tepat tatkala Presiden Soekarno dalam pidato HUT Proklamasi Kemerdekaan RI tgl 17 Agustus 1950 menyatakan bahwa Bhinneka Tunggal Ika adalah sesanti (credo) bangsa Indonesia. professions have a code of ethics. Empat. .” yang dilembagakan menjadi Departemen Dalam Negeri. Dikemukakan lebih lanjut bahwa “first. which offers a lifetime career to its members (Richard J. . .” dan “profesionalisme” itu dapat dideduksi dari konsep “profesi” yang diuraikan dalam Kybernologi: Sebuah Rekonstruksi Ilmu Pemerintahan (2005. Pemerintahan “Dalam Negeri. berbunyi: “Barangsiapa merendahkan agama lain dan memuji agamanya sendiri. standards of training and competence are set by the profession itself.” Dalam kitab Sutasoma. kesebangsaan. professions are based on the presence of a systematic theory. . bahkan dapat disebut visi (walaupun Presiden Soekarno tidak secara eksplisit menyatakan demikian) bangsa Indonesia dalam membangun bangsa (Nation Building). Finally. . dan membentuk watak (Character Building) bangsa. Third. Professional associations and training centers promulgate a set of norms and values among professionals (Warren B. Tanhana Dharmma Mangrva. 1980). 1984). dalam hal ini di ruang pemerintahan. Second. karsa. Di zaman raja Asoka (ca 269-232) terdapat dua agama besar di Asia. Bab I sub C. . rasa. . Moberg. Pembicaraan tentang Departemen Dalam Negeri tidak dapat dipisahkan dari Visi dan Misi Bangsa Indonesia. professions all have professional authority. khususnya Departemen Dalam Negeri. A Macro Approach.” lengkapnya “Bhinneka Tunggal Ika. profesionalisme kepamongprajaan di atas digunakan. Bertolak dari sejarah yang menunjukkan bahwa Bhinneka Tunggal Ika sebagai sistem nilai ideal di zaman dahulu bisa menjadi kenyataan. . (berarti) merendahkan agamanya sendiri. Fourth. ia menganjurkan perdamaian di mana-mana.

visinya adalah seperti yang tercantum dalam Pembukaan UUD 1945. diperkaya dengan Bhinneka Tunggal Ika. Departemen Dalam Negeri menduduki posisi strategik dalam sistem pemerintahan RI. Menterinya juga Tabel 1 FUNGSI LINI DEPARTEMEN DALAM NEGERI ---------------------------------------------------------------------KELOMPOK A KELOMPOK B ---------------------------------------------------------------------1 Ditjen Kesatuan Bangsa dan Politik 1 Ditjen Otonomi Daerah . das Sollen). Gambar 3 menunjukkan misi Pemerintah Indonesia yaitu memproses pengelolaan keunikan tiap masyarakat menjadi kekuatan matarantai nusantara dan mengurangi kesenjangan vertikal dan horizontal antar masyarakat secepatnya. departemen manakah yang secara khusus berperan menjalankan misi guna mewujudkan visi di atas? Sejak semula. sepandan horizontal anjang sejarah pertar masyarakat sebedaan itu menimcepatnya bulkan kesenjangan vertikal dan horizontal antar masyarakat Gambar 3 Model Bhinneka Tunggal Ika Sebagai Misi Bangsa Indonesia kemudian setelah menyeberangi jembatan. Bhinneka Tunggal Ika itu kemudian dijadikan hukum positif dalam bentuk PP 66/1951. khususnya alinea pertama dan kedua. das Sein) dan “tunggal ika” (ide. Sejumlah departemen/kementerian “teknis” berasal dari departemen ini. Dalam sistem ketatanegaraan Indonesia. Tatkala Bangsa Indonesia masih berada di seberang jembatan yang bernama KEMERDEKAAN. Antara dua komponen itu terjadi hubungan timbal-balik (interaksi) bahkan hubungan dialektik terus-menerus.Bhinneka Tunggal Ika itu merupakan sebuah sistem nilai yang terdiri dari dua komponen besar yaitu “bhinneka” (fakta. Visi tersebut semakin jelas lima tahun BHINNEKA------------------------------------------------>TUNGGAL IKA masyarakat yang proses pengelolaan sehingga semua masing-masing keunikan menjadi kemasyarakat merasa memiliki keunikan kuatan matarantai sebangsa dan bersehingga yang satu dan pengurangan kesama-sama membaberbeda dengan senjangan vertikal ngun masa depan yang lain.

dan pelaku pemerintahan departemen itu perlu dicharge 12 Nilai Kepamongprajaan di atas. dalam hal ini Statuta IPDN. Di sana ditetapkan bahwa IPDN menyelenggarakan program pendidikan akademik dan/atau profesi di bidang kepamongprajaan. Hal itu terlihat pada fungsi lini Departemen Dalam Negeri yang dewasa ini terdiri dari tujuh direktorat jenderal (ditjen). Bila diperhatikan dengan saksama. Ketujuh direktorat jenderal ini dapat dibedakan menjadi dua kelompok (Tabel 1). Sistem Pendidikan Tinggi Kepamongprajaan. proses. dalam sistem ketatanegaraan dan pemerintahan Indonesia. Dari dahulu Departemen Dalam Negeri mengelola sistem pemerintahan berdasarkan asas dekonsentrasi. Sejauh ini Statuta yang dimaksud belum ada. yaitu tenagakerja penyelenggara IPDN) dan output (tenaga. terlihat dengan sangat jelas bahwa dua kelompok itu merupakan fungsi lini Departemen Dalam Negeri. sehingga “the kesadaran dan rasa kesebangsaan terbentuk secara berkelanjutan (tunggal ika). maka ke dalam sistem. Tetapi yang terpenting adalah misinya mengelola kebhinnekaan dan mewujudkan ketunggalikaan bangsa Indonesia.2 Ditjen Bina Pembangunan Daerah 2 Ditjen Pemerintahan Umum 3 Ditjen Administrasi Kependudukan 3 Ditjen Pemberdayaan Masyarakat dan Desa 4 Ditjen Bina Administrasi Keuangan Daerah ---------------------------------------------------------------------- dikenal sebagai satu di antara triumvirate di samping Departemen Luar Negeri dan Departemen Pertahanan. dan berperan sebagai pembina politik dalam negeri. mengurangi kesenjangan vertikal antar masyarakat dan kesenjangan horizontal antar daerah secepatnya. Lima. Mengingat posisi dan peran Departemen Dalam Negeri yang strategis itu. desentralisasi. adalah Departemen Dalam Negeri. kader Pamongpraja) input throughput output . dapat dijadikan pegangan sementara. Proses bergantung pada sistem (termasuk pelaku. Sistem Pendidikan Tinggi Kepamongprajaan (input) terlihat dalam Statuta unitkerja penyelenggaraannya. Pasal 2 Permendagri Nomor 1 Tahun 2009 tentang Organisasi dan Tatakerja IPDN (menunjukkan proses) yang seharusnya ditetapkan berdasarkan Statuta. departemen yang secara khusus berperan menjalankan misi pemerintahan Indonesia yaitu mengelolaan keunikan tiap masyarakat (bhinneka) menjadi kekuatan matarantai nusantara. dan pembantuan (medebewind). Dengan perkataan lain. Ditjen Kelompok A berfungsi sebagai unit kerja yang memproses “Tunggal Ika.” sementara ditjen Kelompok B mengelola “keBhinnekaan” nusantara.

IPDN memangku tanggungjawab penyelenggaraan Sistem Pendidikan Tinggi Kepamongprajaan sebagaimana terlihat pada Gambar 5. Seseorang berkualitas Pamongpraja. posisi dalam organisasi pemerintahan. Berdasarkan uraian di atas. kebutuhan masyarakat akan layanan kepamongprajaan melalui Departemen Dalam Negeri. Perbedaan antara Program Pendidikan Akademik (1+2) dengan Program Pendidikan Profesi (3) terletak pada pertama. Referensi tentang topik ini terdapat dalam Kybernologi Sebuah Scientific Movement (2007). dapat terpenuhi PROGRAM --1--PENDIDIKAN | DIPLOMA PROGRAM | -----PENDIDIKAN-----| | AKADEMIK | SISTEM PENDIDIKAN | | PROGRAM TINGGI KEPAMONG------| --2--PENDIDIKAN PRAJAAN (IPDN) | STRATA | PROGRAM --3--PENDIDIKAN PROFESI Gambar 5 Tiga Program Pendidikan Kepamongprajaan IPDN (Program 1. dan Kybernologi dan Kepamongprajaan (2008). 2. Kybernologi Sebuah Profesi (2007). melalui Sistem Pendidikan Tinggi Kepamongprajaan yang merupakan Subsistem Pendidikan Tinggi Nasional. dan 3) segera. latarbelakang pendidikan. Enam.sistem pendidikan tinggi SDM-------------------------------->PAMONGPRAJA kepamongprajaan Gambar 4 Proses Pendidikan Tinggi Kepamongprajaan bergantung pada proses. Dengan sistem ini diharapkan. Satu di antara tiga program tersebut. Program Pendidikan akademik itu terdiri dari Program Pendidikan Diploma dan Program Pendidikan Strata. Program Pendidikan Akademik ditujukan pada pembentukan tenaga pemerintahan dengan Ilmu Pemerintahan (Kybernologi) sebagai core . tenaga berkualitas kepamongprajaan itu diproduksi melalui Program Pendidikan Akademik dan Program Pendidikan Profesi. yaitu program 3 (Gambar 5) merupakan inti makalah ini. Berdasarkan Pasal 2 Permendagri 1/09 di atas. Dasar teoretiknya terlihat pada Gambar 6. dan prospek ke depan. IPDN.

Dekan. Unitkerja yang memroduksi langsung tenaga Pamong Praja di bawah institut adalah fakultas. Organizational design IPDN bermula pada identifikasi produk unitkerja yang dibutuhkan oleh pelanggan (masyarakat.curriculum pada tingkat institut. bukan layanan administratif kepada masyarakat. dalam hal ini tenaga berkualitas Pamong Praja. unsur pelaksana IPDN adalah fakultas dan Jurusan. dan Kepala Jurusan. Rektor. Lulusannya disebut Pamongpraja Muda. Program Diklat Profesional Kepamongprajaan. Kualitas produk (lulusan) bergantung pada Organizational design IPDN. MENTERI DALAM NEGERI | KEPALA BADAN DIKLAT (a/n)--------|--------SEKRETARIS JENDERAL (a/n) | REKTOR----------------| | |---------PEMBANTU REKTOR (a/n) | | | BIRO | | DEKAN-------------| | | | | BAGIAN | | KEPALA JURUSAN---------| | | | | SUBBAGIAN | TENAGA AKADEMIK | PESERTA DIDIK | MASYARAKAT PELANGGAN Gambar 6 Struktur Organisasi IPDN (Yang Disarankan) Tujuh. 3 . Dalam menjalankan tugasnya. Garis antara Rektor sebagai unsur kepala dengan Dekan dan Jurusan disebut garis lini (line function) atau garis komando hirarkik. Sebagian tenaga melalui program ini. dengan core curriculum yang sifatnya spesialis. bukan pelayanan birokrasi atau administratif. bukan biro dan bagian. dan prospeknya ke depan sebagai kader. SKS). yaitu biro dan bagian di bawahnya. Oleh sebab itu. dibantu oleh unsur staf. Produksi tenaga berkualitas Pamong Praja adalah pelayanan akademik atau pendidikan. Diklat ini disiapkan khusus buat sebagian tenaga yang direkrut dari lulusan program pendidikan nonkepamongprajaan.

--10---PENDIDIKAN---10------BIDANG PE| | MERINTAHAN DIPLOMA MERINTAHAN | | | | | | | | --------------------| | | 6 | vooruitzien | 6 | AGROPEMERINTAHAN | conducting | PEMERINTAHAN TEKNOLOGI PEMERINTAHAN DAERAH | coordinating | DAERAH PEMERINTAHAN | | | peace-making | | | | | | residue-caring | | | | 5 | turbulence-serving | 5 | | KEBIJAKAN | | KEBIJAKAN | |------------->BIDANG<----|---KEPAMONGPRAJAAN---|----->BIDANG<-------------| | PERTANIAN | | PEKERJAAN UMUM | | | | Freies Ermessen | | | | | | gen&spec function* | | | | 4 | omnipresence | 4 | KYBERNOLOGI KEPALA DINAS | responsibility | KEPALA DINAS KYBERNOLOGI PERTANIAN PERTANIAN |magnanimous-thinking | PEK. sebagai contoh. UMUM | | | statesmanship | | | | | --------------------| | | 3 | 3 | | PROFESI KOMPONEN DIKLAT PROFESI | | BIDANG----11-----PROFESIONAL-----11----BIDANG | | PERTANIAN KEPAMONGPRAJAAN PEK. UMUM | | | | | | | | | | | | 1 | 1 | -------------AGRONOMI-------ILMU-ILMU LAINNYA-------TEKNOLOGI------------CIVIL *generalist&specialist function GAMBAR 6 SISTEM NILAI KEPAMONGPRAJAAN DAN HUBUNGANNYA DENGAN KYBERNOLOGI DAN ILMU PENGETAHUAN LAINNYA . Agronomi dan Teknologi Civil (1). yang menghadirkan ahli pertanian dan ahli pekerjaan umum (2).PROGRAM DIKLAT PROFESIONAL KEPAMONGPRAJAAN Dalam Gambar 6. UMUM | | | | | | | | | | | | 2 | 2 | | KEAHLIAN | KEAHLIAN | | DI BIDANG----------SPESIALIS-----------DI BIDANG | | PERTANIAN | PEK. Para ahli ini terpanggil untuk memangku profesi di bidangnya masing-masing (3) sehingga keahliannya menjadi keahlian profesional. UMUM PEK. Ketika ia memasuki ruang profesi pemerintahan 9 -------------------------------KYBERNOLOGI-------------------------------| | (KOMPONEN PENDIDIKAN STRATA) | | | | | | | 8 8 | | KEAHLIAN KEAHLIAN | | DI BIDANG----------GENERALIS-----------DI BIDANG | | PEMERINTAHAN | PEMERINTAHAN | | | | | | | | | | | | 7 | 7 | | PROFESI KOMPONEN PROFESI | | BIDANG PE.

Criticalness terminal itu terletak pada kenyataan bahwa kebijakan pemerintahan sejauh ini dianggap berada di dalam ruang politik. daerah otonom). karena selaku unsur pelaksana. Pada saat itu ia memasuki ruang kepamongprajaan sebagai lembaga dan struktur (lihat Sesi Empatbelas GBPP Kepamongprajaan dalam buku ini). tetapi diharapkan semakin ke bawah (masyarakat. Dengan Diklat Profesional Kepamongprajaan. dinas daerahlah yang merupakan garisdepan pemerintahan daerah. pemerintah daerah diharapkan mampu menyediakan pelayanan pemerintahan berbasis keahlian profesional bidang masing-masing (pertanian. berkeahlian profesional bidang pemerintahan (8). hal ini analog dengan posisi dualistik menteri dalam struktur negara RI. ilmupengetahuan dan teknologi itu terkonsentrasi di pusat-pusat politik kekuasaan. diklat ini harus didukung oleh reformasi pemerintahan daerah. dan dan setiap dinas daerah harus diperkuat dengan tenaga ahli profesional melakukan tugasnya didukung fasilitas yang sepadan. tenaga yang bersangkutan bersentuhan dengan kepamongprajaan sebagai kualitas. setiap perda harus dilembagakan menjadi dinas daerah. Pada saat yang sama. yang bersumber pada Ilmu Pemerintahan (Kybernologi. terus ke 10 dan 11. Terminal 5 yang bersifat critical. 9). Diklat di Indonesia terkesan lebih sebagai alat promosi jabatan atau kenaikan pangkat seseorang. Sudah barang tentu. dan bukan pelayanan pemerintahan guna membangun kekuasaan politik. dsb. profesinya meluas ke bidang profesi pemerintahan. sementara masyarakat bawah tidak memiliki akses ke sana. specialist function) berdasarkan pertimbangan kepamongprajaan (generalist function) bagi manusia dan masyarakat di bawah. Setiap kewenangan yang diserahkan kepada masyarakat (daerah) harus diatur dalam peraturan daerah (perda). yang menuntut penguasaan fungsi generalis (7). Ironinya profesionalisme. sehingga terminal itu rawan konflik antara pertimbangan politik kekuasaan dengan pertimbangan keahlian profesional (ilmupengetahuan dan teknologi). Pada aras statal memang superioritas pertimbangan politik kekuasaan tidak dapat dihindarkan. pertimbangan keahlian profesional (ilmupengetahuan dan teknologi) semakin dominan. yaitu sebagai pembantu presiden (ruang politik kekuasaan) dan sebagai kepala departemen/kementerian pemerintahan (ruang keahlian profesional. Pada aras statal. Dalam struktur itu.(misalnya menjadi PNS). . ketimbang sebagai alat untuk meningkatkan produktivitas kerja. dan berpeluang untuk menjadi kepala dinas (4). Di antara 9 terminal yang terlihat pada Gambar 6. ia terlibat dalam proses kebijakan (5) pemerintahan daerah (6). ilmupengetahuan dan teknologi).

. .Produktivitas suatu unitkerja tidak bergantung pada salah seorang tenaganya yang didiklatkan. . . 9 Hukum Pemerintahan 8 Nilai Delapan Gen&Spec Function . Sejauh ini kurikulum diklat terkesan didesain sebanyak-banyaknya karena semuanya dianggap penting. . . dan 164 jam Materi Penunjang) selama 30 harikerja. Etika Pemerintahan . . . dengan metodik sedemikian rupa sehingga para peserta mampu belajar sendiri lebih lanjut dan menggunakan pelajaran itu dalam melakukan tugas pelayanan kepada masyarakat dengan penuh tanggungjawab. melainkan pada teamwork dan semangat kelompok seluruh unitkerja dalam hubungannya dengan unitkerja lain. 3 Kepemimpinan Pemerintahan 3 Nilai Tiga Coordinating .6 jam tiap hari. . Ambil contoh desain Sepimxxxxx Tingkat Madya yang dirancang buat pejabat eselon IV atau tenaga yang diprojeksikan ke eselon III. Diklat dirancang per unitkerja dengan anggota sekitar 20 – 30 orang (unitkerja eselon 3 atau eselon 2). Didaktik pembelajaran yang diusulkan ialah. Demikian Nilai Dua dan Nilai Tiga Kepamongprajaan. dan para peserta dicharge dengan sebanyak-banyaknya jam pelajaran dalam tempo yang sesingkat-singkatnya. 7 Manajemen Bencana 8 Ekologi Pemerintahan 7 Nilai Tujuh Freies Ermessen . . . . Supaya sosialisasi Diklat Profesional Kepamongprajaan ini berjalan cepat. Desain kurikulum juga perlu diubah. . berarti 15. . 1 Kybernologi 2 Ilmu Filsafat 2 Nilai Dua Conducting. . Para peserta dijejali 468 jam pelajaran (40 jam Materi Dasar. . 264 jam Materi Inti. . 6 Etika Pemerintahan 6 Nilai Enam Turbulence-serving . Metodologi diklat harus berubah. . 5 Sosiologi Pemerintahan 5 Nilai Lima Residue-caring . . Core curriculum Diklat Profesional Kepamongprajaan diidentifikasi di kalangan Tabel 2 Duabelas Nilai Kepamongprajaan -----------------------------------------------------------------NILAI CABANG ILMU/KAJIAN TERKAIT -----------------------------------------------------------------1 Nilai Satu Vooruitzien. . digunakan metodologi TOT (dengan kepala unitkerja sebagai peserta awal) dan atau Ujicoba dengan menggunakan Test Unit dan Control Unit. . . belajar-bersama (per unitkerja) materi pelajaran terpilih sesedikit mungkin dalam waktu sesingkat mungkin. . . belajar bersama. . dengan kepala unit kerja sendiri dan seluruh warga unit kerja yang bersangkutan sebagai pesertanya. 4 Ilmu Administrasi Publik 4 Nilai Empat Peace-making. . 10 Manajemen Pemerintahan 9 Nilai Sembilan Responsibility . .

. . . . 12 Ilmu Politik ------------------------------------------------------------------ cabang ilmu yang aksiologinya mengandung nilai kepamongprajaan tertentu (Tabel 2). tabel di atas masih bersifat tentatif. . . .10 Nilai Sepuluh MagnanimousThinking. 11 Ilmu Sejarah 11 Nilai Sebelas Omnipresence. . . . . Etika Pemerintahan 12 Nilai Duabelas Distinguished Statesmanship . . . . . . . Sudah barang tentu. . Di samping itu masih perlu diidentifikasi matadiklat dasar dan matadiklat penunjang yang belum tercakup dalam Tabel 2. . . . . . . . .

1504090825SDG .