GBPP MATAKULIAH

PENGANTAR ILMU PEMERINTAHAN
UNTUK PROGRAM STRATA DI PERGURUAN TINGGI
Taliziduhu Ndraha, Kybernolog 1 LATAR BELAKANG GBPP mata kuliah Pengantar Ilmu Pemerintahan ini semula ditulis sebagai bahan Workshop Penyusunan GBPP/SAP Semester I dan II Fakultas Manajemen Pemerintahan IPDN 2008/2009 di Jatinangor tgl 24 dan 25 November 2008, memenuhi undangan Dekan fakultas yang bersangkutan tgl 18 November 08 No 003/487/FMP/08. Sesuai saran berbagai fihak, naskah awal diperluas sehingga dapat digunakan sebagai pola dasar matakuliah Ilmu Pemerintahan untuk Program S1, S2, dan S3 Ilmu Pemerintahan. Penggunaannya disesuaikan dengan kebutuhan tiap stratum. Andaikan Ilmu Pemerintahan diibaratkan sebuah pohon-buah dengan buah (aspek Axiologi), batang (aspek Epistemologi), dan akarnya (aspek Ontologi), maka didaktik dan metodik (DM) pengajarannya diperlihatkan melalui Tabel 1 di bawah ini.
Tabel 1 Didaktik dan Metodik (DM) Pengajaran Ilmu Pemerintahan Dilihat dari Aspek-Aspek Body-Of-Knowledge (BOK) Bahan Ajar (X menunjukkan tingkat kedalaman)
------------------------------------| METODIK PENGAJARAN | |-------------------------------------| | S1 | S2 | S3 | --------------------------------------|-----------|------------|------------| | | Axiologi (Buah) | X X X | X X | X | | |-------------------------|-----------|------------|------------| | DIDAKTIK | Epistemologi (Batang) | X X | X X | X X | | |-------------------------|-----------|------------|------------| | | Ontologi (Akar) | X | X X | X X X | ----------------------------------------------------------------------------

Dengan catatan bahwa perancangan DM harus dilakukan secara bertahap tetapi konsisten, Program S1, S2, dan S3, sebaiknya tersusun menurut skala interval dan tidak ordinal apa lagi nominal belaka (Gambar 1, sistem single input - single output). Sungguhpun demikian, dalam fase peralihan, program khusus atau tertentu, “darurat” atau terpaksa, sistem multi-input single output dapat juga digunakan, didukung dengan program matrikulasi yang sepadan. Jadi sedapat-dapatnya:

jangan begini: (ordinal)
S3 | | | | | S2 | S1 ilmu X

apalagi begini: (nominal, zig-zag)
------>S3 | ilmu X | | | | ------>S2 | ilmu Y S1 ilmu Z

tetapi begini: (interval)
S3 | | | S2 | | | S1 ilmu X

Gambar 1 Skala DM Program Strata Ilmu Pemerintahan 2 SESI SATU Sesi ini diisi dengan Penjelasan Umum, pandangan menyeluruh (overview) tetapi esensial (abstract, highlight) tentang Ilmu Pemerintahan (termasuk TIU) dan Sejarah Pengajaran Ilmu Pemerintahan di Indonesia. Semua mata kuliah yang terkait dengan Ilmu Pemerintahan mengacu pada Pengantar ini. Ilmu Pemerintahan yang diuraikan di sini adalah Ilmu Pemerintahan dalam konstruksi bangunan (bodyof-knowledge) yang disebut Kybernologi. Dalam hubungan itu, Kybernologi bukan sekedar judul buku, tetapi sebuah bangunan ilmu pengetahuan. Khusus di lingkungan IPDN/IIP, Ilmu Pemerintahan merupakan mata kuliah tingkat institut dan diajarkan pada semua program, strata, fakultas dan jurusan. Perkuliahan tiap semester terdiri dari 14 sesi tatapmuka dan dua sesi ujian (UTS dan UAS) = 16 sesi. Dari referensi ditelusuri sumber-sumber asli dan ditambahkan sumber-sumber lainnya. GBPP ini secara berkala ditinjau dan dikembangkan. Salahsatu versi GBPP ini dimuat dalam Bab XI Kybernologi Sebuah Pengharapan (2009). Sejarah Pengajaran Ilmu Pemerintahan di Indonesia diawali dengan Bestuurskunde, Bestuurswetenschap, dan Bestuurswetenschappen di Belanda. Menurut G. A. Van Poelje dalam Pengantar Umum Ilmu Pemerintahan (1959), mulai tahun kuliah 19281929 pengajaran dalam Jurusan Ekonomi Kenegaraan diperluas dengan mata pelajaran Ilmu Pemerintahan dengan tujuan supaya jurusan ini lebih disesuaikan dengan kebutuhan mereka yang berhasrat untuk bekerja pada dinas umum. Pada tgl 25 Januari 1928, Guru Besar Luar Biasa di bidang Ilmu Pemerintahan dilantik, dan dengan dmeikian maka pengakuan Ilmu Pemerintahan sebagai mata pelajaran (berderajat Doktor) pada pengajaran tinggi di Belanda menjadi suatu kenyataan. Selama masa 1928-1933 dua orang Doktor Ilmu Pemerintahan dipromosikan, yaitu

Dr R. E. Berends dan Dr F. Breedsvelt. Di masa itu Ilmu Pemerintahan dianggap sebagai struktur supra ilmu-ilmu pengetahuan yang berkaitan dengan ekonomi perusahaan. Uraian di atas kemudian disusuli dengan pengajaran Ilmu Pemerintahan pada kursus dan bestruursacademie Pamongpraja di zaman Belanda, paradigma Ilmu Pemerintahan di lingkungan UGM sampai tahun 80-an (Gambar 2), dan dewasa ini (Gambar 3), paradigma IIP-UNPAD, dan paradigma IPDN/IIP-Baru.
ILMU POLITIK | -----------------------------|----------------------------| | | | | ILMU ADM ILMU HUBILMU PEILMU PERBANTEORI PUBLIK INTERNASIONAL MERINTAHAN DINGAN POLITIK POLITIK

Gambar 2 Posisi Ilmu Pemerintahan Versi UGM (Tradisi Sampai Tahun 80-an)

Natural turbulences dan social turbulences yang terjadi di belahan dunia maju, misalnya di Amerika, mengerakkan pengubahan dan pembaharuan konstruksi berbagai ilmu pengetahuan. Paradigma Public Administration, misalnya, berubah menjadi Development Administration (tahun 60-an, pasca PD II), dan berubah

1 NEGARA 2 POLITIK KEPARTAIAN DAN PERWAKILAN

MASYARAKAT 3

Gambar 3 Ranah Publik: Bidang Studi Jurusan Ilmu Pemerintahan di Universitas Gadjah Mada (UGM) lagi menjadi The New Public Administration (1970-an, pasca Perang Vietnam). Dua

kali social turbulences (1965 dan 1998) dan sekali lagi natural turbulence (20042005) menimpa Indonesia, mendorong pembaharuan konstruksi Ilmu Pemerintahan. Turbulences itu ditanggapi dengan cara pendekatan yang berbeda oleh UGM dan Program Pascasarjana Kerjasama UNPAD-IIP (1996). Sejak tahun 2000-an, bidang kajian Jurusan Ilmu Pemerintahan di UGM dikonstruksi seperti Gambar 3 (A. Nurmandi, E. P. Purnomo, Suswanta, peny., Mencari Jatidiri Ilmu Pemerintahan, 2006), sedangkan Ilmu Pemerintahan di lingkungan Program Pascasarjana Kerjasama UNPAD-IIP direkonstruksi seperti Gambar 4. Rekonstruksi Gambar 4 bermula pada pendekatan kemanusiaan (Gambar 5). Melalui pendekatan ini, maka HAM, kebutuhan eksistensial Manusia, kebutuhan dasar masyarakat dan lingkungan hidupnya yang pertama-tama terlihat sebagai sasaran kajian, dan bukan Negara, kepentingan atau kekuasaan belaka. Rekonstruksi itu didorong oleh keinginan untuk mengembalikan Ilmu Pemerintahan pada posisi dan kualitasnya semula yaitu “ilmu yang bertujuan menuntun hidup bersama manusia dalam upaya

NEGARA governent 1 ruang kekuasaan PUBLIK ruang publik 2 KEBIJAKAN PUBLIK governance
kewenangan negara 1--------------->2 pelayanan publik

kewajiban negara 1-------------->3 pelayanan civil

ruang civil 3 MANUSIA HAM

Gambar 4 Interface Antara Negara Dengan Manusia mengejar kebahagiaan rohani dan jasmani yang sebesar-besarnya tanpa merugikan orang lain secara tidak sah” (G. A. van Poelje, Algemene Inleiding tot de Bestuurskunde, 1953. Rekonsturksi Ilmu Pemerintahan menurut pendekatan Gambar

Nurmandi. Perkembangan kemanusiaan yang memuncak pada kenegaraan. Bab I dan Bab II Kybernologi Beberapa Konstruksi Utama. 2005. sebagai hasil pendaratan Bestuurskunde dan Bestuurswetenschap di bumi Indonesia.. Bab VIII Kybernologi Sebuah Profesi. 2008 3 SESI DUA Melalui pendekatan metadisiplin: “Percaya agar (baru) tau (credo et intelligam).3 dan Gambar 4 terhadap fenomena pemerintahan digabung seperti Gambar 5 itu. 2006. Pendekatan seperti Gambar 5 itulah yang diajarkan di lingkungan IPDN/IIP ke depan. 2007. Bab 3 Kybernologi dan Kepamongprajaan. yang disebut juga Hubungan Antara Janji dengan Percaya. Bab 3 Kybernologi dan Kepamongprajaan. Suswanta. 2005. 2008. Mencari Jatidiri Ilmu Pemerintahan. E. A. Pokok-pokok Kybernologi menurut perkembangannya yang terakhir terdapat dalam Bab I Kybernologi dan Pembangunan (2009). Keadaan dengan Pengharapan. Purnomo. membentuk Hubungan Pemerintahan. . peny. PENDEKATAN KEKUASAAN PENDEKATAN KEMANUSIAAN DAN LINGKUNGAN FENOMENA PEMERINTAHAN COMMON PLATFORM SEMUA ILMU PENGETAHUAN ILMU PEMERINTAHAN KONSTRUKSI GAMBAR 4 BERNAMA KYBERNOLOGI ILMU PEMERINTAHAN KONSTRUKSI GAMBAR 3 Gambar 5 Dua Macam Pendekatan Referensi: Bab I Kybernologi 2003. P. Bab I dan Bab II dan Soewargono dalam Kybernologi Sebuah Rekonstruksi Ilmu Pemerintahan.” ditemukan Ontologi Kybernologi dengan dua variable pemikiran: Kualitas Manusia dan Hubungan Pemerintahan (lihat Gambar 6).

” demikian ungkapan Perancis. bermula dari “kebutuhan manusia” sejak “terjadinya” di dalam kandungan. 1961. Pemenuhan kebutuhan manusia selain bersifat komprehensif (segala bidang kehidupan) juga bersifat jangka panjang sejauh mungkin ke depan: “Gouverner c’est prevoir. . 4 SESI TIGA Epistemologi Ilmu Pemerintahan: Teori Kebutuhan. R. Pikiran ini dideduksi dari Ontologi Pemerintahan di atas. McIver.ALLAH mencipta CIPTAAN<---------------------HUBUNGAN PEMERINTAHAN---------------------> MAKHLUK MANUSIA-->MEMBUMI 1 CIPTAAN | MANUSIA | PENDUDUK-->BERMASYARAKAT | 2 CIPTAAN | MANUSIA | PENDUDUK | WARGAMA| SYARAKAT-->BERBANGSA | 3 CIPTAAN | MANUSIA | PENDUDUK KUALITAS MASYARAKAT MANUSIA WARGABANGSA-->BERNEGARA | 4 CIPTAAN | MANUSIA | PENDUDUK | MASYARAKAT | BANGSA | WARGANE| GARA----->BERPEMERINTAHAN 5 CIPTAAN MANUSIA 7 PENDUDUK YANG DIMASYARAKAT PERINTAH BANGSA konstituen NEGARA pelanggan<------------hubungan pemerintahan------------>PEMERINTAH konsumer (peran) korban 6 mangsa Gambar 6 Ontologi Kybernologi dengan 7 Terminal Referensi: Bab 1. Pemikiran pemerintahan sejajar dengan pemikiran ekonomi. Bab 6 dan Bab 7 Kybernologi 2003. The Web of Government.

Jadi kepentingan itu subjektif. Semua orang membutuhkan makanan. dan pemenuhannya sebagai kewajiban negara.------------------------------------------------------------------------| | | 7 | | PENGORBANAN | | CIVIL SERVANT | | | | | | | | 4 5 6 9 | | ----INDI.----RIGHTS-----HUMAN PUBLIC PUBLIC kontrol.*) --->17privatisasi vs statalisasi Gambar 7 Teori Kebutuhan Kebutuhan perlu dibedakan dengan kepentingan. kebutuhan. Pada dasarnya.--BARANG---------MARKET CHOICE JASA (SATISFACTION) ---> 7pembentukan civil service --->12pembuatan kebijakan publik --->13pengadaan public goods *empowering --->14pembentukan public actor --->15pemberdayaan (enabling. Itulah sebabnya kebutuhan dasar itu diposisikan sebagai hak asasi manusia. | | | | KORBAN dan MANGSA untuk SELAMAT | | | | | | 2 | | | 1 HUMAN 3 12 14 20 | MANU.-----CIVIL-–----acting---------CIVIL------| | | VIDU RIGHTS action SERVICES | | | | | | | | | | | | | | 8 | | | | KESEMPATAN dan HARAPAN (HOPE) | | | | PELANGGAN UNTUK MENJADI KONSUMER. Maka berbahaya jika orang memilih (membeli) tanpa mengetahui apa yang sesungguhnya dia . emp. maka dasar pertimbangannya adalah kepentingan. Tetapi pada saat orang berniat dan berkesempatan memilih makan apa atau makan siapa dan kapan. lebihlebih kebutuhan dasar (asasi) bersifat objektif.-----| SIA & INSNEEDS POLICY ACTOR evaluasi | TINCTS | | | | | | | 13 | | | | 11 | POLICY | 16 | | | -----PUBLIC---------IMPLE----------PUBLIC----| | | CHOICE MENTATION | SERVICES | | | | | | | | | | | | | | 10 | | 15 | ----MASYA| | penggunaan oleh KONSUMER | RAKAT | | HAK HIDUP KORBAN atau HAK MANGSA | | | | UNTUK MEMPERTAHANKAN DIRI | | | | KEPERCAYAAN (TRUST) terhadap PEMERINTAH | | | | PENGHARAPAN (HOPE) DI MASA DEPAN | | | | | | | --------------------------------------------| | | 17 18 19 ----PRIVATE-----.

tetapi tidak dapat dan tidak mungkin ia dibebani KAM (kewajiban asasi) pada saat yang sama. Perlu dikemukakan bahwa manusia (setiap orang) memiliki HAM begitu ia terbentuk dalam rahim ibunya. Maslow. 2005. 5 SESI EMPAT Epistemologi Pemerintahan: Teori Pelayanan. civil NEGARA------>PRODUK------>PELANGGAN | | --------------------| | BERDAYA TAK BERDAYA | | | | KONSUMER KORBAN | --------------------| | DIBERDAYAKAN TAK DIBERDAYAKAN | | | | KONSUMER MANGSA | ----------------------------| | DISELAMATKAN TAK DISELAMATKAN | | | | *jika penyelamatan KORBAN* DIMANGSA. Perlindungan dan pemenuhan kebutuhan manusia dan masyarakat melalui public choice (public service. Bagian Dua Bab VI Kybernologi Sebuah Scientific Enterprise. 84). 1956. Dia dapat terbebani KAM seiring dengan kemampuannya untuk bertanggungjawab. Bab V Kybernologi Sebuah Metamorphosis. dsb. Bab 4 Kybernologi 2003. h. dan referensi Teori Kebutuhan A. Referensi: Book Two Walter Lippmann The Public Philosophy. 2008. 2006. Bab 2 Kybernologi Beberapa Konstruksi Utama. DISANTAP juga memberdayakan. | DIKORBANKAN korban jadi konsumer --------------------| | DIBERDAYAKAN TAK DIBERDAYAKAN | | | | KONSUMER MANGSA Gambar 8 Teori Pemberdayaan (Pelayanan) .butuhkan.

. Civil Rights. “Artis” pemerintahan a Monopoli Negara dan tidak dapat diprivatisasikan b Antisipatif berdasarkan asas Manajemen Bencana yaitu Waktu = Nol (langsung action. bukan janji Sekarang. Tabel 2 Pelayanan Publik dan Pelayanan Civil --------------------------------------------------------------------------------DIMENSI PELAYANAN PUBLIK PELAYANAN CIVIL --------------------------------------------------------------------------------1 DASAR Pasal 33 (2) UUD 45 Public Choice Meningkatkan Kesejahteraan Masyarakat Kewenangan Negara Jangka pendek Lapisan/Kelompok Masyarakat sebagai pelanggan Fihak YD Menyesuaikan diri dgn Kondisi Fihak YM Semakin berkurang dengan semakin majunya masy. pertanggungjawaban (responsibility) Human Rights. korban dan mangsa Fihak Yg Melayani (YM) menyesuaikan diri dgn YD Semakin meningkat.” dibiayai oleh Negara 2 TUJUAN 3 STATUS 4 VISI 5 YANG DILAYANI (YD) 6 SIKAP 7 PROSPEK 8 HARGA BIAYA 9 PELAKU (YM) 10 SIFAT Civil Servant. “no price. . . 11 FAKTOR 12 KUALITAS TERTINGGI 13 MASALAH Bagaimana 14 SOLUSI ---------------------------------------------------------------------- . Menyelamatkan Manusia dan Lingkungannya Kewajiban Negara (Gambar 4) Jangka Panjang Individu pribadi sebagai pelanggan. baik kualitas maupun kuantitas dan kesebarannya Tidak dibebankan langsung kpd fihak YD. ruang Ilmu Ekonomi). bukan nanti. Conventions Melindungi. Kualitas pelayanan di sektor publik dan civil herus dibedakan dengan kualitas pelayanan di sektor privat dan bisnis. dapat dibebankan kepada fihak YD Aktor pemerintahan a Monopoli Negara tapi dpt diprivatisasikan b Lebih normatif Kualitas pelayanan terdapat dlm dasar hokum pelayanan ybs Bergantung pada kemampuan dan kesempatan pelanggan menggunakan layanan Pelanggan Percaya Kendatipun Ybs Kecewa supaya masyarakat percaya sementara mereka kecewa? Info tanpa kebohongan. ruang Ilmu Pemerintahan) dan private choice (market service. Constitutional Rights. Diusahakan serendahrendahnya. .service. tak ada waktu utk mencari dan menyiapkan “the 6M”) Bergantung pada acting dan action civil servant dan “artis” pemerintahan Korban/Mangsa Berpengharapan Dalam Ketidakberdayaannya Supaya dalam diri korban tumbuh asa sementara ia tidak berdaya? Reformasi sepenuh hati Bukti.

BERKUMPUL. dan mencegah selalu lebih baik ketimbang mengobati. pertama karena di dalam ruang dua pelayanan itu tidak ada pilihan. Menyehatkan berarti mencegah penyakit. Jadi di sisi lain pelayanan harus diarahkan pada Tabel 3 Layanan Civil Berdasarkan UUD 1945 (Naskah Asli. maka perlu diingat bahwa tidak merasa sakit belum tentu sehat. dan kedua karena dalam kekecewaan dan ketidakberdayaan sekalipun. Teori Kerja. MENGELUARKAN PIKIRAN 6 KEMERDEKAAN UNTUK MEMELUK AGAMA 7 PENGAJARAN 8 PEMELIHARAAN FAKIR MISKIN DAN ANAK TERLANTAR TIDAK/BELUM DINYATAKAN SECARA JELAS: 1 KEBEBASAN MEMILIH 2 KEPASTIAN HUKUM. kepercayaan masyarakat kepada negara dan pengharapan manusia terhadap masadepan bisa terbentuk dan terjaga. dan Professionalism. KEKUATAN HUKUM 3 PERLINDUNGAN 4 KESELAMATAN 5 CONSUMERISM (bukan konsumtif!) dan sebangsanya -------------------------------------------------------------------------------1 (2) 26 27 (1) 27 (2) 28 29 (2) 31 (1) 34 . Careerism. menerima) pertanggungjawaban pemerintah.Kepuasan pelanggan tidak dapat dijadikan kualitas pelayanan publik dan pelayanan civil. dalam Teori Pemberdayaan (Manusia dan Masyarakat) terletak Teori Pelayanan. jika “meManusiakan manusia” (memulihkan atau mengembalikan Manusia ke dalam fitrahnya semula) dipandang sebagai pemberdayaan. Jika pelayanan itu diibaratkan penyembuhan penyakit. jika saja masyarakat (bisa) memahami (mengerti. Di dalam Teori Pelayanan termasuk Teori Pemberdayaan. maka di satu sisi. WALAUPUN BELUM SEMUANYA DIIMPLEMENTASIKAN TASIKAN: 1 2 3 4 5 HAK/PENGAKUAN SEBAGAI SOVEREIGN (VOTER/VOTING) PENGAKUAN SEBAGAI JIWA DAN SEBAGAI WARGA NEGARA KEBERSAMAAN KEDUDUKAN DI DEPAN HUKUM (KEADILAN) PEKERJAAN DAN PENGHIDUPAN YANG LAYAK KEMERDEKAAN BERSERIKAT. dan melihat adanya perubahan dan kemajuan yang konsisten ke depan. Tetapi untuk Indonesia bisa terbalik. Sebelum Amandemen) --------------------------------------------------------------------------KEBUTUHAN PASAL --------------------------------------------------------------------------TELAH DINYATAKAN SECARA JELAS. kalaupun ada sangat mahal atau sangat berat.

Sebagai pelanggan ia menyampaikan kebutuhannya ke hulu melalui kualitasnya sebagai konstituen. pemerintahan sama dengan . Bab I Kybernologi Sebuah Charta Pembaharuan. 2008. 2005. yang memiliki hak eksistensial. Konsep governance lebih luas ketimbang konsep government. subkultur kekuasaan (SKK). 2008 6 SESI LIMA Epistemologi Ilmu Pemerintahan: Teori Governance. Bab V Kybernologi Sebuah Metamorphosis. HAM. 3 dan 4. Bab 11 Kybernologi dan Kepamongprajaan. 2005. Watak koruptif kekuasaan melahirkan pemikiran tentang pentingnya subkultur sosial (SKS) dalam masyarakat. Di bawah konteks pemerintahan daerah. memaksimalkan pengurusan (meredistribusi nilai ke dalam masyarakat di tengah. Subkultur ekonomi (SKE) berfungsi membentuk nilai dari sumberdaya yang ada. Pasal 1 butir 2. Adapun perbedaan antara pelayanan civil dengan pelayanan publik sebagai berikut (Tabel 2 dan Tabel 3) Referensi: Bab III Kybernologi Sebuah Rekonstruksi Ilmu Pemerintahan. dan mempertanggungjawabkan fungsi-fungsi itu kepada masyarakat di hilir). Interaksi antar tiga subkultur itu disebut governance. Lihat juga Gambar 4. dan subkultur sosial (SKS). “Pemerintahan” Daerah dalam hubungan itu setara dengan local governance. 2007. sesuai dengan teori ini. Dalam rangka menegakkan peraturan (kebijakan pengaturan SKE). Manusia mengatasi hal ini melalui pelestarian SDA dan fungsi pengaturan SKE di hulu. Di sana dinyatakan bahwa Pemerintah Daerah (Kepala Daerah dan jajarannya. Bab III Kybernologi Sebuah Profesi. yaitu subkultur ekonomi (SKE). dan memonev redistribusi nilai oleh SKK di hilir. diterangkan melalui Teori Governance. bagaimana subkultur bekerja (berinteraksi) satu dengan yang lain. Kebijakan otonomi Daerah berdasarkan UU 32/04. Pada gilirannya hal ini menimbulkan ketidakadilan. dan Gambar 9 di bawah. fungsi implementasinya (pengurusan) di tengah. karena peroleh nilai bergantung pada sumberdaya yang berawal pada sumberdaya alami (SDA) sebagaimana adanya. dan hak-hak derivatif. 2007. bagaimana masyarakat melindungi dan memenuhi kebutuhannya melalui interaksi tiga subkultur itu.pemberdayaan. Bab 5 Kybernologi Beberapa Konstruksi Utama. SKS pada hakikatnya terdiri dari dua kualitas: sebagai pelanggan dan sebagai konstituen. local government) bersama DPRD adalah penyelenggara pemerintahan Daerah. Bagaimana governance terbentuk. Gambar 7. bagaimana interaksi antar governance. terbentuklah subkultur kekuasaan (SKK). Setiap masyarakat (unit kultur) digerakkan oleh tiga subkultur. Dalam Gambar 9 terlihat juga bahwa konsep pemerintahan lebih luas daripada konsep pembangunan pemerintahan.

Interaksi antar subkultur masyarakat ----------------------| NEGARA | 2 3 -----mengontrol---------mengontrol-----| memberdayakan | | membayar | | | | | | | | | | | | mengontrol SKK | | | | | di hulu | | | constituent -----. and feedback. dan Subkultur Sosial (SKS dgn kualitas Sebagai Pelanggan dan Constituent) yang Disebut juga Subkultur Pelanggan (SKP) masyarakat melalui tiga terminal. Policy implementation dapat dibedakan dengan policy implementation monitoring and evaluation. | | nilai via pela| | | |----meningkatkan. Pembangunan itu sendiri berada di dalam policy implementation di ruang SKE. dan SKS. yaitu SKE. Lintasan gerak dari terminal ke terminal disebut rute. .policy making + policy implementation. Interface itu membentuk ruang Masyarakat.-----yanan civil. sedangkan Rute 6 feedback ke dalam interaksi. Subkultur Kekuasaan (SKK). Rute 5 menunjukkan rute pelayanan pasar. SKK. Gambar 10 menunjukkan 5 rute dasar interaksi antar tiga subkultur.pemberdayaan) | | | | 4 | | | | MASYARAKAT | | | | | | | ------melayani-------5---------pasar-------| | | | MANUSIA | | | ---------------------------feedback--------------------------6 Gambar 9 Teori Pemerintahan (Governance): Interaksi Antar Tiga Subkultur Melalui 6 Rute Subkultur Ekonomi (SKE). Gambar 9 berawal pada Gambar 4 tentang interface antara konsep Manusia dengan konsep Negara.SKE--------|--------->SKK----------|-------->SKS------| pemain | | | penonton | | | | wasit | pelanggan | | | | | | | mengontrol SKK | | | ----------|-|---------di hilir | | pembangunan | | | | | | | meredistribusi | | | membentuk. -----| | | | mencipta nilai pelayanan public | | | | 1 (inc.

3. men.| | meredistribusi<-. SKK. Interaksi Antar Tiga Subkultur (Tiga Terminal SKE. 2. dan 5 . me| | memberdayakan.4 | | |---cipta nilai se-------nilai via pe| | | | cara berkelanlayanan civil & ----| | | | jutan pelayanan publik | | | | | | | | MASYARAKAT (PUBLIK) | | | | | | | -------melayani----------------pasar---------| | | | MANUSIA | | | ---------------------------feedback-----------------------------Gambar 10 Pemerintahan (Governance).Tabel 4 Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah ----------------------------------------------------------------------------PENGATURAN PENGURUSAN MONEV DAN FEEDBACK LOCAL GOVERNANCE ----------------------------------------------------------------------------1 DPRD -DPRD DPRD PEMERINTAH -LOCAL GOVERNMENT DAERAH (LOCAL GOVERNMENT) ----------------------------------------------------------------------------2 KEPALA DAERAH Sepanjang Rute 5 pada Gambar 10 dilakukan pemantauan dan evaluasi redistribusi ---------------------| NEGARA | SKK mengontrol SKS sbg konstidan memberdayatuen mengontrol --kan SKE via kebi--SKK di hulu via UU-| jakan & impl. | | | | 1 ningkatkan.nya | | dan PERDA | 2 | | | | 3 | | petaruh. petarung | | | | | SBG KONSTITUEN -----. dan SKS) Via Rute 1. 4.SKE------------------>SKK-------------------->SKS--------| “pemain” | | | SBG PELANGGAN | | | | “wasit” | ”penonton” | | | | | | | | | | | | | | | | SKS sbg pelanggan | | | | | | | mengontrol SKK via | | pembangunan | | | | monev & feedback | | | | | | | di hilir | | | ---------|-|---------| | | | | | 5 | | | | membentuk.

| | meredistribusi<-.nilai (Rute 4) berdasarkan standar yang telah ditetapkan melalui Rute 3. | | | | 1 ningkatkan. hasil evaluasi dijadikan masukan ke dalam Rute 6 melalui terminal SKK.| | SKK di hulu via UU | | jakan & impl.SKE---------|-------->SKK----------|----->STAKEHOLDER----| ”pemain” | | | ”penonton” | | | | ”wasit” | | | | | | | | | | SKS sbg PELANGGAN | | | | | | | mengontrol SKK via | | pembangunan | | | | monev & feedback | | | | | | | di hilir | | | ---------|-|---------| | | | | | 5 | | | | membentuk. men. me| | memberdayakan. 2. Di sana jelas. Dengan memasukkan konsep stakeholder (Bab I Kybernologi ---------------------| NEGARA | | | SKK mengontrol SKS sbg konsti---dan memberdaya-----tuen mengontrol--| kan SKE via kebi. Dalam Teori Governance juga termasuk Teori Hubungan Pemerintahan (governance relations). terus ke SKS. petarung | | | | | SKS “BANDAR” -----. Teknik penampilan rute feedback tidak terlihat pada Gambar 10 dan Gambar 11 melainkan pada Rute 6 Gambar 12 sebagai masukan buat Rute 3. dan 4 .nya | | dan PERDA | 2 | | | | 3 | | petaruh. Hasil evaluasi dijadikan masukan ke dalam Rute 3.4 | | |---cipta nilai se-------nilai via pe| | | | cara berkelanlayanan civil & ----| | | | jutan pelayanan publik | | | | | | | | | | | | MASYARAKAT (PUBLIK) | | | | | | | -------melayani----------------pasar---------| | | | MANUSIA | | | ---------------------------feedback-----------------------------Gambar 11 Stakeholder Pemerintahan (Hubungan Pemerintahan Antara Pemerintah (SKK) dengan Yang Diperintah (SKE dan SKS) Via Rute 1. 3.

| | jawaban etik | | | --lanjutan utk----lay publik &------menurut----| | hidup pemberd masy etika otonom | | 1 di tengah di hilir | | 4 6 | | | | | --------------------pemerintahan (governance)-------------------Gambar 12 Sistem dan Proses Pemerintahan Melalui Rute 1. sedangkan SKS adalah masyarakat dalam perannya selaku Pelanggan dan Konstituen. 3. SKE adalah masyarakat dalam perannya sebagai Pekerja.------rute 2 & 4--| sarkan etika | | (UU. Pelangganlah yang merupakan stakeholder masyarakat.| | pertanggung| | | | nilai berke| | lay civil. Dalam hubungan itu.SKS------------SKK-| | | | | | | | | redistribusi | | | | | | | | nilai via pe. hope) kinerja SKK ---nya) berda. dan 2 . 5. 3. pemerintah hanya petaruh dan petarung selama masajabatan lima tahunan belaka.-----tuntutan. Gambar 12 merupakan 2 janji (kebi3 5 jakan/rencana mandat. pembangunan oleh SKK adalah strategi pemberdayaan SKS sampai pada suatu saat peran ekonomi SKS otonom.pe. Perda) | | via rute 2 | | otonom di hulu | | di hulu | | di hilir | | | | | | | | | | . Hubungan (rute) antar tiga terminal (dalam Gambar 9 terlihat empat) diperjelas (diurai) menjadi enam rute berkesinambungan. sehingga pembangunanpun secara bertahap tetapi pasti beralih ke ruang SKE. untuk sementara pembangunan diletakkan di ruang SKK. Gambar 9 mengalami modifikasi (Gambar 11).SKK-------------. Kendatipun pada hakikatnya pembangunan terletak dalam ruang SKE (Gambar 9). Jika pemerintahan diibaratkan perjudian. 4. Gambar 11 menunjukkan Hubungan Pemerintahan. masyarakat pemangku kekuasaan) dengan fihak Yang Diperintah (SKE dan SKS).SKE-------------. mengingat masyarakat belum berdaya dan belum otonom di bidang pembangunan. penyerahan sebagian kewenangan negara (pusat) kepada masyarakat (daerah) dapat diartikan sebagai sebuah strategi privatisasi dari badan publik kepada badan privat.dan Pembangunan. kuasa monev terhadap & penepatan(trust. 2009). Dilihat dari sudut ini. 6. yaitu hubungan antara fihak Pemerintah (SKK. bandarlah stakeholdernya.

Bagian Tiga Bab V dan Bab XIV Kybernologi Sebuah Scientific Enterprise. angka 1 itu diletakkan pada rute Mandat (Gambar 12 pada rute 3). 1. 2. Bab I Kybernologi dan Pembangunan. 4. Bagian Pertama Bab 8 Kybernologi Beberapa Konstruksi Utama. 2005.rekonstruksi Gambar 7-1 Kybernologi (2003. Bab VI dan Bab VII Kybernologi Sebuah Metamorphosis. rute Nilai Berkelanjutan Untuk Hidup).” Hal itu terjadi misalnya pada kata “kanti” menjadi “kinanti. Dengan argumentasi tertentu. Tetapi untuk rezim yang baru terpilih. ----->LINGKUNGAN--------membentuk------->GOVERNANCE-------| 7 faktor 3 subkultur | | | | keselarasan | keseimbangan | keserasian feedback MASYARAKAT dinamika | keberlanjutan | interaksi antar | tiga subkultur | | | GOOD GOVERNANCE evaluasi oleh KINERJA | ----BAD GOVERNANCE<------pelanggan------GOVERNANCE<-------Lingkungan Governance: 1 sejarah 2 lokalitas 3 sistem politik Gambar 13 4 5 6 7 sistem ekonomi sistem sosialbudaya kondisi dan posisi geografik Weltanschauung masyarakat Model Dasar Teori Kinerja .” “rakit” menjadi “rinakit. 5 dan 6. 4. Referensi: Bab I Kybernologi Sebuah Rekonstruksi Ilmu Pemerintahan (2005). 5. misalnya untuk rezim yang sedang berjalan. 2006. Kata itu berasal dari kata “kerja” ditambah sisipan “in” antara “k-” dengan “-e” menjadi “kinerja.” dan sebagainya. 6. kembali ke 2.” “ganjar” menjadi “ginanjar. 2009 7 SESI ENAM Epistemologi Pemerintahan: Teori Kinerja. peneliti bebas menentukan rute awal penelitiannya dan menandainya dengan angka 1 (pada Gambar 12. berlanjut ke 3. 2008. demikian terus-menerus. Lingua franca ini terbentuk sebagai padanan kata Inggris performance yang sebenarnya berarti tampilan atau penampilan. 106) tentang hubungan antara Janji (commitment) dengan Percaya (trust) dan Harapan (hope). sehingga rutenya menjadi 3. kembali ke 3.” “reka” menjadi “rineka. Kosakata “kinerja” tidak terdapat dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia. 1. sehingga prosesnya berjalan dari 1 ke.

sesuai dengan hukum rantai yang menyatakan bahwa kekuatan sebuah rantai sama dengan kekuatan matarantainya yang terlemah 3. fluktuatif). Apa yang dimaksud dengan good governance. Bab III Kybernologi Sebuah Profesi. MM dan TT). 2005. 2006. 2007. dan timbul-tenggelam (NT. Keberlanjutan (kelestarian. Perlu diingat bahwa PIP IPDN/IIP terletak di sini. Walaupun output atau outcomenya mengecewakan. adalah tingkat kelancaran proses jangka panjang interaksi antar tiga subkultur sesuai dengan norma (standar) yang (telah) disepakati bersama Referensi: Bab 4 dan Bab 6 Kybernologi 2003. performance terlihat lebih sebagai proses ketimbang sebagai output. dengan catatan sebagai berikut: 1. dan naikturun. Keseimbangan adalah tingkat bargaining power dan keluasan pengambilan kesempatan berperan yang relatif sama antar tiga subkultur apada suatu saat. Bab II Kybernologi dan Pembangunan. pada suatu saat 4. Grafik kinerja bisa naik-turun (NT. diterangkan melalui Teori Kinerja. bagaimana supaya kinerja governance itu good. 2009 . Keserasian adalah tingkat empati (empathicability?) sikap dan harmoni kinerja tiga subkultur yang berbeda-beda. maju-mundur. kesinambungan. Teori ini terkait dengan Teori Governance dan Implementasi Kebijakan. Bab I Kybernologi Sebuah Profesi. agar keberhasilan yang satu tidak merusak tetapi sebaliknya mendukung keberhasilan yang lainnya 2. 2007). Jika kinerja interaksi antar tiga subkultur governance berkualitas good. Keselarasan adalah tingkat ketepatan waktu dan arah tiga subkultur pada tujuan bersama jangka panjang. Bagian Pertama Bab 4 dan Bab 9 Kybernologi Beberapa Konstruksi Utama. maka governance itu disebut good governance. Kinerja harus distandardisasi (ref. Bagian Tiga Bab VIII Kybernologi Sebuah Scientific Enterprise. Dalam hubungan ini. naik-turun dan maju-mundur (NT-MM). Kinerja pemerintahan merupakan proses dan hasil keseluruhan interaksi antar tiga subkultur sebagaimana ditunjukkan oleh angka 1 sd 6 pada Gambar 9 dan Gambar 12. tetapi jika prosesnya dapat dipertanggungjawabkan. kinerja governance bisa dikualifikasi good (Tabel 2). Dinamika adalah tingkat kecepatan dan ketepatan perubahan (adaptabilitas) hubungan antar subkultur dari kondisi heterostasis ke homeostasis dan sebaliknya/selanjutnya 5.perilaku atau acting. keterusberlangsungan).

Perbedaan antara Epistemologi dengan Metodologi terletak pada titikpandang.METODOLOGI PENGAJARAN <------------------------penggunaan ilmu termasuk learning process Gambar 15 Hubungan Antar Tiga Metodologi .METODOLOGI PENELITIAN --------------. Sebagai alat. adalah metodologi.--| |<------------->| | | JARAN ---METODIK----| | | | | | | ---------------------NILAI-------------------| | | ----------------------------------FEEDBACK--------------------------------- Gambar 14 Genealogi Metodologi BOK Body Of Knowledge Metodologi Pengajaran Ilmu Pemerintahan. Metodologi di sini meliputi Metodologi Penelitian.---| |--| | ILMU | LOGI LOGI | TIAN ---LAPANGAN---| | | | | | | | | | | | | | | | PE---DIDAKTIK---| | ---AXIOLOGI ---NGA.---------->KNOWLED.---|---LI.| PENE---PUSTAKA----| | --->SAFAT---|---TEMO.------------------> ILMU | TAHUAN struksi GE (BOK) diagnosis | | prediksi(f’casting) | | eksperimentasi | direkam self-control | | diwaris| kembang| kan FENOMEN | FAKTA <---------------------. Genealogi Metodologi tersebut sebagai berikut (Gambar 14).METODOLOGI ILMU -------------| | | | | | | berfungsi: | | | | identifikasi | | | | deskripsi | | diolah diuji | | dikonBODY OF eksplanasi | D A T A -------> INFO ------> PENGE. dan ---KONSTRUKSI-SCIENTIFIC ---ONTOLOGI ---ILMU---| |---BOK---->ACADEMIC | | ---BAHAN BAKU-ENTERPRISE | | | | | | ---------| | | | | FIL| EPISMETO.---DO.8 SESI TUJUH Epistemologi Ilmu Pemerintahan: Metodologi. Epistemologi memusatkan perhatian pada substansi atau objek -. setiap ilmu dan penggunaannya oleh masyarakat melalui governance dalam berkinerja. Metodologi Ilmu.

Gambar 11). Bab XII. 2008. 2007. Hubungan lebih rinci antar ketiga spesi Metodologi ditunjukkan melalui Gambar 15.” Dengan perkataan lain. Gambar 7. knowable. Setiap penelitian Ilmu Pemerintahan dari berbagai segi (aspek. Bab IV dan Bab V Kybernologi Sebuah Rekonstruksi Ilmu Pemerintahan. sedangkan Metodologi memusatkan perhatian pada proses bagaimana mengetahui (knower dan knowing process). 2005. karena kebijakan (bidang) kesehatan tidak diimplementasikan dengan baik. 2006.” Quod erat demonstrandum. Bab 7. karena yang dinyatakan adalah apa yang dialami oleh masyarakat sebagai pelanggan pelayanan kesehatan. Bab XI. dan tidak dalam Ilmu Politik. masih di angkasa Ilmu Politik. interdisiplin. baik objek forma maupun objek materia (known. Objek forma inilah yang membedakan sekaligus menghubungkan Kybernologi dengan disiplin (ilmu) lainnya. Bab X. 2005. Pendekatan yang digunakan adalah monodisiplin. penempatan Ilmu Pemerintahan dalam Ilmu-Ilmu Sosial oleh Universitas Padjadjaran. “Tingkat kesehatan masyarakat bergantung pada (dipengaruhi oleh) implementasi kebijakan pemerintah di bidang kesehatan. Dilihat dari sisi ini. Pernyataan masalah penelitian (problem statement) “Implementasi kebijakan (di bidang) kesehatan masyarakat tidak efektif. Bab IX . Pernyataan tersebut disusul dengan pertanyaan penelitian: “Mengapa tingkat kesehatan masyarakat masih rendah?” Melalui analisis teoretik diperoleh jawaban (hipotesis): “Tingkat kesehatan masyarakat masih rendah. Bagian Kedua Bab 14 Kybernologi Beberapa Konstruksi Utama. Bab 8 dan Bab 16 Kybernologi dan Kepamongprajaan. Bab XVII dan Bab XIX Kybernologi Sebuah Scientific Movement. bahkan ruang eksakta dan humaniora.” mendarat pada Ilmu Pemerintahan. arah) didaratkan pada beachhead ini. dan unknown). multidisiplin. dipandang tepat. layanan publik dan layanan civil. Referensi: Bab 36 dan 35 Kybernologi 2003. Objek formanya adalah interaksi antar tiga subkultur masyarakat (governance. Bab IX. 2007. karena yang dinyatakan adalah perihal kebijakan negara (politik) dan implementasinya. Penemuan objek materia ini melalui pendekatan metadisiplin (Gambar 5 dan Gambar 6). dan sebaliknya dari sini ke segala segi (aspek) kemasyarakatan. dan lintasdisiplin.” belum mendarat pada Ilmu Pemerintahan. dan Bab XIII Kybernologi Sebuah Profesi.pengetahuan dan hubungannya dengan objek lainnya. Bagian Tiga Bab II Kybernologi Sebuah Scientific Enterprise. Dari uraian di atas terlihat bahwa objek materia Ilmu Pemerintahan (Kybernologi) bukan negara tetapi masyarakat. Negara adalah objek materia Ilmu Politik. dan Gambar 10) yang disebut juga hubungan pemerintahan dengan pelanggan sebagai titiktolak utama pembelajaran (SKS. Pernyataan “Tingkat kesehatan masyarakat masih rendah.

ternyata bad. dan Gambar 18 menunjukkan model identifikasi (terbentuknya) nilai secara induktif. Bab VIII. Setiap pemenuh kebutuhan. kedelapan kepemimpinan. nilai ekstrinsik. Gambar 16. bernilai. Bab X. Angka 90 adalah nilai kesetiaan. yang dijadikan bahan pertimbangan dalam memilih dan menetapkan prinsip (azas) sebagai sumber nilai hipotetik untuk diuji secara empirik. dan menciptakan sumberdaya baru. 2008. entitas itu adalah apa saja. perilaku ditimbang disepakati -->ENTITAS-------->KUALITAS--------->NILAI-------------->NORMA | bisa dipaksakan (N) | | | | | feedback N<H dievaluasi ditegakkan | ---------------N=H<--------------HASIL--------------------N>H (H) Gambar 16 Identifikasi Nilai Secara Induktif Pada Gambar 16. Visi pemerintahan Gambar 18. Bab VII. merawat. atau membentuk nilai dari sumberdaya yang ada. Kelas dibagi menjadi 7 kelompok. Bab IX. Misalnya PNS dengan 8 kualitasnya. Nilai sebagai inti budaya. Nilai dan asas. tiap kelompok membuat tugas terstruktur tentang suatu sesi berupa sebuah makalah. deduktif. Gambar 16. dan visionary. Setiap tahun tiap kualitas dimonev. Pertama kesetiaan. Konstruksi tiga komponen: kualitas. dan Bab XIII Kybernologi dan Pembangunan. Bisa terjadi. Dalam governance SKE berfungsi (Gambar 10) menambah. Nilai intrinsik. sehingga perlu dicari azas baru sebagai alternatif azas suara terbanyak yang sudah ada. Penemuan nilai secara deduktif bersumber pada Filsafat Pemerintahan yang berisi berbagai buah pikiran. Ilmu itu amaliah dan amal itu ilmiah.dan Bab XVII Kybernologi Sebuah Metamorphosis. Gambar 17. kinerja seorang pejabat yang terpilih dengan suara terbanyak. Gambar 17. 10 SESI SEMBILAN Axiologi Ilmu Pemerintahan: Teori Nilai. tetapi angka 91 disepakati sebagai norma minimal yang harus terpenuhi agar yang bersangkutan dapat dipromosi. . nilai. Ujian klasikal terdiri dari 5 soal. dan norma. dan nilai ideal. asas-asas pemerintahan. 2009 9 SESI DELAPAN UTS.

“ter-. sebagaimana adanya. jika kondisi dan kecenderungan (arah perubahan) yang ada sekarang (Fakta.” “paling-. Visi itu objektif.” “tiada banding. itulah Visi (Gambar 18. Apakah yang dimaksud --------------------->FILSAFAT PEMERINTAHAN | | ASAS-ASAS (YANG ADA) | deduksi | ------------------------| | | | NORMA NILAI TERTULIS TIDAKTERTULIS | | | | ---------------| | | | | | | -->CUKUP TIDAK CUKUP | | | | | DIPERLUKAN | | NILAI BARU | ---DITEMUKAN<----UNTUK DIJA.” “satu-satunya. berisi nilai intrinsik.” dan sebangsanya. Envisioning dimulai juga dari Fakta tetapi bukan sisi “keberhasilan” sesaat (jangka pendek) tetapi sisi kecenderungan yang sedang berjalan (trend). apakah baik apakah buruk. Iklan pemikat. Pasal 1 butir 12 UU 25/04 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional (SPPN) mendefinisikan visi sebagai “Rumusan umum mengenai keadaan yang diinginkan pada akhir periode perencanaan. 1 kiri) terus berlanjut. “kondisi yang given” (takdir) dan relatif tidak dapat ber-(di-) ubah.” Visi yang dibuat berdasarkan definisi itu selalu diberi nilai superlatif.Konstruksi visi menurut Teori Visi seperti Gambar 18. Gambar 18. Mengenvision (“melihat” dengan matahati dan mataiman) apa yang akan atau dapat terjadi 20 tahun ke depan. tiada tanding. angka 2).<---------JADIKAN NORMA | | TIDAK DITEMUKAN | | -----------------DIPERLUKAN ASAS BARU Gambar 17 Identifikasi Nilai Secara Deduktif | | | | | | | | | | | | | | | | | | | | | | | | | | | | . Apapun yang terlihat melalui pendekatan ini.

Demikian pentingnya misi itu sehingga mendapat julukan mission sacre. KE DEPAN tujuan jangka panjang cita-cita. Menuju Ke Pemikiran Filsafat. R rezim 5 tahunan) Referensi: Bab VII M. Duabelas nilai kepamongprajaan di dalam governance (Gambar 19). kondisi yg keadaan berjalan menutakberubah dan takbisa rut fakta sekarang diubah (takdir) (terminal 1) Gambar 18 Teori Visi Tujuan Jangka Panjang Berisi Nilai Ideal Melalui Envisioning Pemerintahan (Menggunakan Pola UU 25/04 dan UU 17/07) Kebijakan Jangka Panjang 20 Tahun (S strategi. IPDN/IIP . obsesi masy. yg ditetapkan secara kearifan lokal sadar dan formal berda| sarkan idea dan visi 4 3 IDEA----------------------C--------------------->GOAL | S4R4 | b HARAPAN | | S3R3 | D 20 tahun E arah B MISI | S2R2 | | a MASALAH | | S1R1 | FAKTA SEKARANG-----------------A--------------------->VISI 1 dua puluh tahun 2 kecenderungan internal apa yg terlihat bila & eksternal. Bagian Tiga Bab VIII Kybernologi Sebuah Scientific Enterprise (2006) dan Bab I Kybernologi Sebuah Profesi (2007). yang harus dicapai? Jika yang terakhir itu artinya. Bab 37 Kybernologi 2003. Dari teori ini bersumber pokok-pokok bahasan berikut (sesi 10 dan seterusnya). 1957. Kepamongprajaan sebagai superstruktur profesi pemerintahan melalui pendekatan lintas sektoral bermula pada Visi. Langeveld. apa bedanya visi dengan tujuan? Gambar 18 menunjukkan perbedaan itu. Goal (tujuan) adalah rumusan formal yang ditetapkan sebagai respons terhadap visi yang terlihat (penglihatan) jauh di depan. J. Misi itu adalah jalan dan upaya mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Bab III Teori Budaya Organisasi.dengan “yang diinginkan” dalam definisi itu? Mimpi? Angan-angan? Simbol belaka? Atau sesuatu yang mengikat (formal). 2005 11 SESI SEPULUH Axiologi Ilmu Pemerintahan: Kepamongprajaan.

. Tentang hal ini.didirikan untuk membentuk tenaga-tenaga pemerintahan yang berkualitas kepamongprajaan ini. UMUM PEK. . UMUM | | | | | | | | | --------------TEOLOGI TEKNOLOGI------------CIVIL *KYBERNOLOGI KETUHANAN? Gambar 19 Duabelas Nilai Kepamongprajaan. UMUM | | | | | | | | | | | | KEAHLIAN | KEAHLIAN | | DI BIDANG----------SPESIALIS----------DI BIDANG | | TEOLOGIA PEK. . bahwa berbagai ilmu pengetahuan yang bertalian dengan salah satu bagian dari penguasaan (beheer) perusahaan partikelir pada akhirnya bermuara pada suatu ajaran perusahaan umum (algemene bedrijfsleer) yang meliputi kesemuanya dan bahwa ajaran . Kepamongprajaan Sebagai Superstruktur Berbagai Profesi Sektoral Pemerintahan Hubungan Antara Kybernologi Dengan Ilmu-Ilmu Lain Dalam Hal Ini Teologi Dua Hibrida yaitu Teologi Pemerintahan dan Kybernologi Keberagamaan (KeTuhanan?) . van Poelje dalam Pengantar Umum Ilmu Pemerintahan (1959) menyatakan: -------------------------------KYBERNOLOGI------------------------------| | (ILMU PEMERINTAHAN BARU) | | | | | | | | | | | KEAHLIAN KEAHLIAN | | DI BIDANG----------GENERALIS----------DI BIDANG | | PEMERINTAHAN | PEMERINTAHAN | | | | | | | | | | | | PROFESI | PROFESI | | BIDANG PE| BIDANG PE| | MERINTAHAN | MERINTAHAN | | | --------------------| | | | | vooruitzien | | | TEOLOGI PEMERINTAHAN | conducting | PEMERINTAHAN TEKNOLOGI PEMERINTAHAN DAERAH | coordinating | DAERAH PEMERINTAHAN | | | peace-making | | | | | | residue-caring | | | | KEBIJAKAN | turbulence-serving | KEBIJAKAN | |--------------BIDANG-----|---KEPAMONGPRAJAAN---|-----BIDANG--------------| | KEAGAMAAN | Freies Ermessen | PEKERJAAN UMUM | | | | gen & spec function | | | | | | omnipresence | | | KYBERNOLOGI* KEPALA KANTOR | responsibility | KEPALA DINAS KYBERNOLOGI KEBERAGAMAAN AGAMA |magnanimous-thinking | PEK. . UMUM | | | statesmanship | | | | | --------------------| | | PROFESI | PROFESI | | BIDANG | BIDANG | | KEAGAMAAN | PEK. .

itulah inovasi (“Buruk muka. muka dibenah”). dan “Kebijaksanaan” (“Bijak sana. Gambar 17. Wisdom). Bab XX Kybernologi Sebuah Scientific Movement. Beginselen). Bab VI Kybernologi Sebuah Profesi. Referensi: Bab XIII Kybernologi Sebuah Charta Pembaharuan. Lihat juga Gambar 16. Kebijakan dalam ruang governance sebagai penyelenggaraan otonomi masyarakat (daerah).” Korupsi). 2007. Kebijakan (Policy). Bab 1 dan Bab 7 Kybernologi Sebuah Metamorphosis. bukanlah inovasi. Menemukan cara membenahi muka buruk sehingga menjadi baik. ialah Ilmu Pemerintahan (Bestuurskunde. 2007. Bab 4. 2007. Kearifan (Kebijaksanaan. Ia diletakkan di dalam bingkai (frame) invention dengan scientific policy policy im----->RESEARCH----------->INVENTION----------->POLICY-----------------| enterprise making (input) plementation | | | | | |----------------------------with or without----------------------------| | | | | | I<O moniscientific | ------FEEDBACK<---I=O----EVALUATION<---------INNOVATION<--------------I>O toring (output) movement Gambar 20 Model Axiologi Kybernologi Melalui Kebijakan innovation. 2008. Bab 2. Berbeda dengan konstruksi kebijakan menurut Ilmu Politik. Nilai. Bab 1. 12 SESI SEBELAS Axiologi Ilmu Pemerintahan: Kebijakan (dalam bahasa UU 32/04: Penyelenggaraan) Pemerintahan. Bab 5.tentang penguasaan perusahaan-perusahaan partikelir ini setidaktidaknya untuk sebagian merupakan syarat bagi adanya ilmu pengetahuan yang lebih tinggi daripadanya. 2009. Bijak sini. konstruksi kebijakan dalam Kybernologi terlihat melalui Gambar 20. . Konsep-konsep terkait: Filsafat. Bab XIV Kybernologi dan Pengharapan. dan Gambar 18. Membanting cermin pada saat muka terlihat buruk (“Buruk muka. Bestuurswetenschap) yang aksiologi utamanya di Indonesia adalah Kepamongprajaan (Gambar 19). 2008. Asas (Principles. cermin dibelah”) dan membuat cermin baru. dan Bab 6 Kybernologi dan Kepamongprajaan.

. MON monitor. Oleh sebab itu seluruh terminal dan rute manajemen terkait (planning. Bab VI. Birokrasi. Jika dilihat dari pendekatan sistem. HEV hasil evaluasi. (seharusnya) pertimbangan manajemen semakin dominan. lingkaran) sesuai dengan hukum sistem. Jika pada aras statal pertimbangan politik yang dominan. IP input. Terminal dan rute sepanjang siklus atau sirkel pemerintahan bersifat kritikal. Bab 7 dan Bab 8 Kybernologi Sebuah Metamorphosis. 2005. 5LK lingkungan sebagai pelanggan. FB feedback Di dalam Manajemen Pemerintahan terletak Manajemen Pembangunan. Manajemen Pemerintahan seperti Gambar 21. guna | ---. dan Manajemen.e | | | | | b<g pembandingan pantauan manfaat. hanya perencanaan yang diutamakan) dalam satu peraturan. proses OP output. dan Bab VII Kybernologi Sebuah Charta Pembaharuan. semakin ke bawah (masyarakat. maka Manajemen Pemerintahan 20 tahunan sebagai Gambar 22. Diharapkan dengan demikian. bukan kekuasaan politik tetapi premises ilmupengetahuan dan teknologi yang memegang peranan penting dalam peningkatan kesejahteraan masyarakat. 2007. Administrasi Publik. . tetapi siklik (cyclic. Manajemen Pemerintahan tidak linier atau terpotong-potong mengikuti rezim politik. berulang) atau sirkuler (circular. merupakan tiga sisi atau dimensi Implementasi Kebijakan dari berbagai sudut pandang. Jika digabung dengan Gambar 18.komunikasi penggunaan -. EV evaluasi.Policy implementation diberi kekuatan lanjutan research sebagai scientific movement. 2008 13 SESI DUABELAS Axiologi Ilmu Pemerintahan: Manajemen Pemerintahan. OC outcome. 2007. actuating. Bagian Pertama Bab 5 Kybernologi Beberapa Konstruksi Utama. Bab III. TP throughput. dan controlling) diatur setara (jangan seperti sekarang. Lihat Gambar 10. Bab 12 Kybernologi Sebuah Scientific Movement. organizing. daerah). 1 a 2 b 3 c 4 d 5 ---> LK ------------> IP ------------> TP ------------> OP ------------> LK --| info kebijakan implementasi “marketing” | | distribusi | | | j -. Referensi: Bab 6 dan Bab 37 Kybernologi 2003.HEV <-----------.EV -------------MON <-------------OC --10 b>g 9 h 8 g 7 f 6 i Gambar 21 Manajemen Pemerintahan 1LK lingkungan sebagai sumber.FB <----b=g---.

Penyebab kemandulan dan kepincangan itu terletak di hulu (keringnya Filsafat dan lemahnya teori) dan di hilir (miskinnya Seni praktik atau implementasi: “Benar. . 2008. dan efisiensi. Bab 12. Ruangnya dalam Model 2 Gambar yang sama. namun. .” demikian keluhan berbagai kalangan.” Proposisi Durant ini menerangkan mandulnya suatu ilmu dan pincangnya hubungan antara teori dengan praktik. . . Bab II Kybernologi dan Pembangunan.” “Setuju. . Bagian Pertama Bab 5 Kybernologi Beberapa Konstruksi Utama. “Ah. kehematan. .” Selanjutnya Teknik dan Teknologi Pemerintahan menunjukkan kemahiran. “how to get things done through the leader him. bulat) 0 – 20 rel (landasan) jangka panjang Gambar 22 Manajemen Pemerintahan Berskala Jangka Panjang (20 Tahun) UU 25/04 dan UU 17/07 Referensi: Bab 10.R1 R2 R3 R4 O---5---|---5---|---5---|---5-->20 rel (runway) jangka panjang | | | | R1 O-------|-------|-------|------>20 | | | | R2 O-------|-------|-------|------>20 | | | | R3 O-------|-------|-------|------>20 | | | | R4 O-------K1------K2------K3----->20 | K4 R rezim 5 tahunan. 2008 14 SESI TIGABELAS Axiologi Ilmu Pemerintahan: Seni Pemerintahan dan Teknologi Pemerintahan.” Seni Pemerintahan menunjukkan upaya penumbuhkembangkan kreativitas dan efektivitas. . 2005. O orientasi 20 ke depan K1234 = kinerja R1R2R3R4 selama 20 tahun (expected output. Bab 13. 2007. Kombinasi Model 1 dengan Model 2 menghasilkan Model 3. dan Bab 14 Kybernologi 2003. Dalam hubungan itu. . Ruangnya dalam Model 1 Gambar 23. xxvi): “Every science begins as philosophy and ends as art. Gambar 23.(her-) self. Bab 13. tetapi. Pentingnya Seni (dan Teknologi) diungkapkan oleh Will Durant dalam The Story of Philosophy (1956. Bab X Kybernologi Sebuah Scientific Movement. kepemimpinan adalah seni. itu sih teori. dan Bab 17 Kybernologi dan Kepamongprajaan.

Perbedaan dan kaitan antara Etika dengan Moral: Pertimbangan Moral berlangsung dalam masyarakat. dan 34 Kybernologi 2003. O output.kreativitas efektivitas | | Ikons-----1---->Omaks<--| | -------------->3-------------| | -----Imin------2---->Okons | | kemahiran kehematan efisiensi Gambar 23 Seni Pemerintahan dan Teknik Pemerintahan I input. sedangkan pertimbangan Etik berlangsung di dalam kalbu (lubuk hati.” Kode Etik Profesional. kewajiban tumbuh sejajar dengan pertanggungjawaban (kemampuan bertanggungjawab). Serigala berbulu Domba. hati nurani. ada Hak Asasi dalam arti bawaan. tetapi tidak ada Kewajiban Asasi dalam arti itu. dan Etiket Pergaulan Politik/Diplomatik adalah aplikasi Etika Pemerintahan. Teori Tanggungjawab menurut Herbert J.” tetapi “bersumpah. sementara sanksi dan reward Moral dari masyarakat. sanksi pelanggaran dan reward penaatannya bersumber dari diri sendiri. Etika Pemerintahan adalah Etika Otonom. Tetangga Etika Pemerintahan adalah Teologi Pemerintahan. Iblis bisa bercahaya seperti Malaikat. Dengan pegangan Moral saja. Seperti telah dikemukakan. yang terbentuk sejak dalam kandungan. hati sanubari. Bab 30. kons konstan (seadanya). Bab 19. maks maksimum. min minimum Referensi: Bab 12. Bab I Kybernologi dan Pengharapan (2009). . 15 SESI EMPATBELAS Axiologi Ilmu Pemerintahan: Etika Pemerintahan. Jadi bukan “disumpah. insan kamil) sendiri. Kunci Etika Pemerintahan terletak pada pertimbangan etik dan pertanggungjawaban etik (Terminal 6 dan Terminal 10 Gambar 24). Spiro dalam Responsibility in Government (1969). dan Musang berbulu Ayam.

dan Bagian Tiga Bab XVI Kybernologi Sebuah Scientific Enterprise. 2008. dinyako & konsekuensi takan secara terbuka ditanggung sendiri Gambar 24 Etika Pemerintahan (1 sd 11 Terminal) Referensi: Bab 15 dan Bab 16 Kybernologi 2003. Reformasi Pemerintahan bertujuan membangun . lu. Bagian Pertama Bab 7 Kybernologi Beberapa Konstruksi Utama. 2005. risi. Bab III dan IV Kybernologi dan Pengharapan (2009) 16 SESI LIMABELAS Penguatan Tiga Subkultur Governance: Reformasi Pemerintahan.sumpah bernazar | perjanpengakuan membayar tebusan | jian credo kesediaan berkorban | commitment selfmengaku bersalah | | commitment mengundurkandiri dari jabatan | | | mengasingkandiri | | agar mengimenyakitidiri | | kat. 2007.nerangi norma dlm kalbu | | yg-wajib hidup as. artinya berjalan terusmenerus. Reformasi Pemerintahan lebih sebagai fungsi ketimbang momentum. perlu bersumpah | | disaksikan mengorbankandiri | | | bunuhdiri | ----------*setiap commit| | dikontrol | ment atau janji | ---dibandingkan---harus disertai | kesenjangan ditedievaluasi sanksi yg mengikat | rangkan setulus & | diri sendiri dan --sejujurnya. konsisten. dan Bab 5 Kybernologi Sebuah Metamorphosis. 2006. dan akumulatif.-------orang lain. kesepakatan | | | | 10 9 8 7 | | 11 pertanggungperilaku tindakan keputusan | ----etikalitas<----------jawaban<-------etik<------etik<----------etik<-------| etik | | | | | | | menaati kadar | --kinerjaberprakarsa keetikan sanksi etik* | berjanji* | | | | | ----------merasa malu | | | merasa bersalah | pada pada menyesal | orang diri mohon maaf | lain sendiri mohon ampun | | | janji bertobat | | nazar. Bagian Dua Bab II dan Bab III. Bab 2. Bab XV Kybernologi Sebuah Scientific Movement.1 2 3 4 5 6 ----->apakah------>kualitas--->nilai--->norma--->kesadaran---->pertimbangan---| etika? dasar etik etik etik etik etik otonom | | etika otonom | | | | | | | etika heteronom yg-benar guna tertanam norma mediskusi antar | | yg-baik dlm kuat. jelas nurani kebebasan memi| | lih. Bab 3. Bab 4.

dan inovasi Birokrasi itu sendiri. dan Bab 15 Kybernologi Sebuah Scientific Movement. Menurut teori itu terjadi hubungan timbal-balik antara keduanya. Bab VI dan Bab XII Kybernologi dan Pembangunan. Diperlukan bangunan teori yang lebih tinggi. politisi) menyalahgunakannya. Hubungan itu berturut-turut berisi public choice. Bab 8 Kybernologi Sebuah Metamorphosis. Ilmu Pengetahuan. Bagian Dua Bab I dan Bab IX Kybernologi Sebuah Scientific Enterprise. Memang. Secerdas apapun sebuah temuan ilmiah. jika pengguna (politik.POLITIK (NEGARA) | | public choice waktu | ruang | SUMBER-SUMBER----nilai----PEMERINTAHAN----informasi----ILMUPENGTAHUAN teknologi | sumberdaya | kontrol di hulu dan kontrol di hilir | | MASYARAKAT PELANGGAN Gambar 25 Lingkungan Pemerintahan Pemerintahan yang sehat dengan mencegah sejauh mungkin pemerintahan yang sakit. Sosiologi dan Ilmu Hukum. Sumber-sumber. Bagian Kedua Bab 18 Kybernologi Beberapa Konstruksi Utama. pada aras makro. Bab 12. Bab 13. 2007. 2009 . 2008. 2006. Bab I dan Bab II Kybernologi Sebuah Profesi. yaitu grand theory yang mencakup semuanya. ia menjadi biropatologik. dan Masyarakat (Gambar 25). 2007. Manfaatnya bergantung pada penggunanya. info. Oleh sebab itu.” Referensi: Bab 9 Kybernologi 2003. Bab 2. Teori Politik. “power tends to corrupt. Grand theory yang dimaksud adalah Teori Hubungan antara Negara dengan Manusia (Gambar 4). kalau tidak digunakan. Bab 14. Bab IX Kybernologi Sebuah Charta Pembaharuan. nilai. dan kontrol di hulu dan di hilir. 2005. Reformasi Pemerintahan berarti reformasi lingkungan pemerintahan yang terdiri dari Politik (Negara). Sesehat dan sekuat apapun Birokrasi. Birokrasi itu ibarat sebuah mobil. 2007. Dalam hubungan itu fenomena birokrasi tidak cukup diterangkan hanya oleh Teori Kebijakan Publik. tidak berguna.

Untuk itu kelas dibagi menjadi 7 kelompok. 1112081144 1212081427SDGORODTG 1312081506 1912081058 0401091050 0801091014SDGOROTDUSADS 3103090818SDG 0904090953SDG 1104091755SDG .17 SESI ENAMBELAS UAS. dan tugas struktural bagi tiap kelompok. UAS juga terdiri dari ujian klasikal dengan 5 soal. Distribusinya menggunakan undian. Sama seperti UTS. tiap kelompok mambahas satu sesi kuliah.

. . . . . . 30 | ----------------------------------------------------------------------- . . . . . . . . . . . . . . . 8 | | 5 | Teori Governance. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 22 | | 11 | Kebijakan Pemerintahan. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .RINGKASAN ----------------------------------------------------------------------| SESI | URAIAN HALAMAN | |-----------------------------------------------------------------------| | 1 | Penjelasan Umum . . . . . . . . . 6 | | 4 | Teori Pelayanan . . . . . . 20 | | AXIOLOGI | | 9 | Teori Nilai . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 27 | | 15 | Reformasi Pemerintahan. . . . . . . . . . . . . . . . 2 | | | Sejarah Pengajaran Ilmu Pemerintahan di Indonesia | | ONTOLOGI | | 2 | Ontologi Ilmu Pemerintahan. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 26 | | 14 | Etika Pemerintahan. . . . . . . . . . . . . . . . . . . 5 | | EPISTEMOLOGI | | 3 | Teori Kebutuhan . . . . . . . . . . . . . 25 | | 13 | Seni dan Teknik Pemerintahan. . . 24 | | 12 | Manajemen Pemerintahan. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 11 | | 6 | Teori Kinerja . . . . . . . . . . . . . . 18 | | 8 | UTS . . . . . . . . . . . . . . . . 20 | | 10 | Kepamongprajaan . . . . . . . . . . . . . . . . 28 | | 16 | UAS . . . . . . 16 | | 7 | Metodologi. . . . . .

895. Muh. Pukul 082337 pagi itu anak saya Pram mengonfirmasi berita itu pada saya seraya menanyakan ilmu apa yang dimaksud. dan Prof.” Di kiri bawah terdapat tulisan: “‘Di IIP ada tambahan ilmu baru sebagai pendukung dalam aspek pemerintahan. MSi. ilmu) dan derajat akademiknya bulat (Sarjana S1. disiplin.GBPP MATAKULIAH KEPAMONGPRAJAAN Taliziduhu Ndraha. prof. antara lain Plt Kepala Badan Diklat Dr H. sebuah Bidang Kajian (field of study). Plt Rektor IPDN Dr J. Kaloh. seperangkat Kebijakan dan Peraturan. Kepamongprajaan yang pamornya timbul tenggelam selama seratus tahun terakhir. dan jejaknya nyaris lenyap disapu perubahan zaman. Diubah Kepamongan. Informasi dari pak Khasan Effendy (IPDN) pukul 112207 tentang ilmu apa yang dimaksud: “Pemahaman saya pembaharuan dan pengembangan Ilmu Pemerintahan salah satunya Kybernologi.” Apakah ini berita jurnalistik yang setelah dibaca menjadi basi dan dilupakan orang? Atau lanjutan sejarah? Di dalam sistem kurikulum IPDN terbaru (Peraturan Rektor IPDN tgl 15 September 2007 No. SU. 15 meluncurkan berita berjudul “Presiden Ubah IPDN Menjadi IIP. Semakin . bagaimana dengan Kepamongprajaan sebagai matakuliah baru? Apakah hanya seperangkat teori seperti Teori-Teori Pembangunan.” Dari 08159676440. prof.5-273 Tahun 2007. Ilmu Pemerintahan (secara implisit Kybernologi) sebagai core curriculum IPDN pada tingkat institut (dijadikan menu semua fakultas dan jurusan) diajarkan sebelum core curriculum institut lainnya yaitu Kepamongprajaan. MPA. atau sebuah topik Seminar? Yang jelas. dan Doktor S3). . .” dengan subjudul “Sistem Pengasuhan Dihapuskan. Kybernolog 1 LATARBELAKANG Kompas 11 Oktober 07 h. Segera saya melaporkan berita itu via SMS kepada beberapa pejabat yang berkompeten. . Muchlis Hamdi. Prof. buat sebagai dasar keilmuan pembentukan IIP Regional. kembali menarik dengan semakin gamangnya penyelenggaraan Negara dan pemerintahan di tanahair. Yang beliau maksudkan adalah Kybernologi dan Kepamongprajaan. Magister S2. Kita jadikan proposal yg prof. PhD. seorang pejabat Badan Diklat Depdagri tgl 121007 pukul 223338 diperoleh info: “Benar.’ ujar Mardiyanto” (Menteri Dalam Negeri).” dilanjutkan pada pukul 224923: “Benar. Jika Kybernologi berbentuk body-of-knowledge (BOK. SU. Marwan. Kegamangan itu terlihat pada hubungan antara pusat dengan daerah. . drs. Dr Tjahya Supriatna.

mengapa dijadikan dua matakuliah yang berbeda? Kedua. Saya menemukan Drs S.” Kalau kedua konsep itu mengandung arti yang sama. semakin otoriter Negara. apa maknanya. MPA.” dalam Berita IIP No. Pamong Praja dan Kepala Wilayah. 1980. adakah dan jika ada di manakah terletak perbedaan signifikan antara Kybernologi dengan Kepamongprajaan? Kelima.” seperti “government” yang dapat diartikan “pemerintah” dan juga “pemerintahan. pada tahun 2030 menjadi nomor lima terbesar sedunia. tidak saling membunuh seperti disangka orang? Di samping kegamangan. semakin berkuasa kekepalawilayahan ketimbang kekepaladaerahan. Pidato itu menunjukkan bahwa pembentukan IIP dijiwai oleh semangat Kepamongprajaan. sampai tahun 2004 ketika Forum Komunikasi Alumni IIP . sebuah dokumen akademik yang 40 tahun kemudian dimuat dalam Kybernologi: Sebuah Profesi.dominan politik dekonsentrasi terhadap desentralisasi. Mungkinkah sebuah lembaga mengadvokasikan otonomi seluas-luasnya dan pada saat yang sama membuka ruangan bagi kepamongprajaan? Bagaimana hal itu bisa terjadi. 21 Tahun 1971. Di zaman berlakunya UU 5/74. Sesudah itu. muncul beberapa kebingungan. didorong oleh curiosity seadanya. bagaimana konstruksi hubungan teoretik antara keduanya? Maka sambil meraba-raba sini-sana. Jadi “pamongpraja” sesungguhnya identik dengan “pemerintah” dan “pemerintahan. Pertama. dan apa manfaatnya? Apakah hal itu menunjukkan bahwa sesungguhnya di atas panggung yang sama yang satu memerlukan yang lain. baik sebagai berita maupun sebagai pustaka. di negeri yang menurut ramalan ulamapedagang politisi-birokrat buruh-cendekiawan. penyelenggara. sedangkan “pamong” berarti pengasuh. yaitu Pidato Ilmiah pada Hari Wisuda Alumni APDN Malang dan Peresmian IIP tgl 25 Mei 1967 di Malang. kota. Kepamongprajaan. 2007. selagi semua orang asyik menikmati tidak kurang dari sepuluh hari libur bersama. kepamongprajaan semakin kehilangan ruang hidupnya. “Praja” berarti kerajaan. semakin melembaga kepamongprajaan. pusat terhadap daerah. bagaimana dengan pendapat Bayu Surianingrat dalam Pamong Praja dan Kepala Wilayah (1980) yang membedakan pamongpraja dalam arti luas dan pamongpraja dalam arti sempit? Keempat. apakah seluruh perangkat eksekutif atau hanya perangkat Departemen Dalam Negeri yang dapat disebut pamongpraja? Ketiga. Negara. Pamudji. kalau pemerintahan itu identik dengan pamongpraja. Semakin luas otonomi daerah. walau terundung alergi debu. Bab VI. “Membina Dinas Pamong Praja ke Arah Dinas Karier Dalam Administrasi Negara. saya membolak perpustakaan dan menjelajah warisan berbentuk huruf dan kalimat. pilek dan flu. Dokumen pemikiran tentang Kepamongprajaan periode 70-80-an diwakili oleh Drs Bayu Surianingrat. mengalami masa sunyi yang lama.

menulis Pamong Praja. 20 Mei 1963. Sama seperti titian yang saya gunakan tatkala saya akhirnya menemukan Kybernologi. dan “Jabatan Pamongpraja (Dahulu Pangrehpraja) Dalam Penelitian Antropologi Budaya dan Hukum Adat. Bab XIII. Guna mengantisipasi kemungkinan untuk menjadikan Kepamongprajaan sebagai matakulian di IPDN. yang menyatakan bahwa IPDN adalah lembaga pendidikan pamongpraja.” dilengkapi dengan sejumlah bahan yang lebih tua dan otentik mewakili zamannya.” Bandung. Kybernologi mempelajari bagaimana memulihkan Manusia dari korban dan mangsa menjadi . dan “Kepamongprajaan: Fungsi dan Peran Pamongpraja Dalam “Era Otonomi Daerah. Azis Haily. Dipacu oleh terus digunakannya nama “pamong” oleh STPDN dan kemudian IPDN. Dalam Jurnal Pamong Praja terdapat beberapa artikel yang nadanya sama. IPDN sendiri tidak tinggal diam. namun “praja” dalam hubungan itu lebih sebagai sukunama ketimbang sebuah makna. Misalnya John R. Dr Ateng Syafrudin. dipertegas dalam Peraturan Menteri Dalam Negeri No. Pamudji.menerbitkan Jurnal Pamong Praja. dari bahan-bahan yang amat sangat terbatas. 43 Tahun 2005 tentang Statuta IPDN. “Kepamong-prajaan” dalam Kybernologi: Sebuah Scientific Movement. perhatian terhadap Kepamongprajaan terus mekar. Bab XX. Kybernologi dan Metakontrologi (2005). Dalam seminar itu Prof. terbitan Program Pascasarjana IPDN. 2004). dengan mengembangkan sisi teoretik tulisan guru saya S. dengan titiktolak yang berbeda. sejak tahun 80-an IIP menerbitkan majalah Widyapraja. Kybernologi bermula dari Manusia dengan kebutuhannya sebagai fakta di panggung dunia. 2007. saya mencoba melengkapi pendekatan deskriptif dan normatif yang digunakan oleh para penulis di atas. berkisar pada masalah pendidikan pamongpraja. SH. G.” dalam Kybernologi: Sebuah Charta Pembaharuan. 2007.” disiapkan untuk Seminar di Kabupaten Landak Kalimantan Barat pada tgl 26 Oktober 2007. Giroth. Saya juga tergerak untuk menulis beberapa makalah. Djopari. SIP. menyajikan makalah tentang “Ilmu Pemerintahan Dalam Konteks Kepamongprajaan. “Sejarah Pendidikan Pamong Praja di Indonesia” (7-2007). “Kepamongprajaan Ditinjau Dari Perubahan Paradigma Pendidikan dan Peranan Pemerintahan Umum” (5-2006).” Bandung 20 Mei 1963. Maka lahirlah “Memorial Lecture Ilmu Pemerintahan: Kepamongprajaan Dalam Sistem Pemerintahan. MSi. IPDN menyelenggarakannya Seminar Nasional Dalam Konteks Kepamongprajaan di kampus Jatinangor pada tgl 22 September 2007. “Pamongpraja Sebagai Golongan Karya Pemerintahan Umum. Dr Lexie M. dan Hyronimus Rowa. kembali saya menggunakan pendekatan metadisiplin (Ontologi). Memang. “Pendidikan Pamong Praja di Indonesia” (1. Kepamongprajaan terlihat di panggung bernama Negara dengan pemerintah sebagai aktornya.

Derajat akademik bahan ajaran (didaktik) Kepamongprajaan berada pada tingkat mezzo (meso-). UMUM PEK. UMUM | | | | | | | | | --------------TEOLOGI TEKNOLOGI------------CIVIL *KYBERNOLOGI KETUHANAN? **generalist&specialist function Gambar 1 Sistem Nilai Kepamongprajaan dan Hubungannya dengan Ilmu Pengetahuan . dan subkultur pelanggan (SKP) suatu governance. Manusia dengan Negara berinterface pada situs SKK bernama Kepamongprajaan. subkultur kekuasaan (SKK). UMUM | | | statesmanship | | | | | --------------------| | | PROFESI | PROFESI | | BIDANG | BIDANG | | KEAGAMAAN | PEK. seperti fitrahnya semula sebagai ciptaan ALLAH. UMUM | | | | | | | | | | | | KEAHLIAN | KEAHLIAN | | DI BIDANG----------SPESIALIS-----------DI BIDANG | | TEOLOGIA PEK. melalui interaksi subkultur ekonomi (SKE).consumer. Lebih padat-nilai (Axiologi) ketimbang -------------------------------KYBERNOLOGI-------------------------------| | (ILMU PEMERINTAHAN BARU) | | | | | | | | | | | KEAHLIAN KEAHLIAN | | DI BIDANG----------GENERALIS-----------DI BIDANG | | PEMERINTAHAN | PEMERINTAHAN | | | | | | | | | | | | PROFESI | PROFESI | | BIDANG PE| BIDANG PE| | MERINTAHAN | MERINTAHAN | | | --------------------| | | | | vooruitzien | | | TEOLOGI PEMERINTAHAN | conducting | PEMERINTAHAN TEKNOLOGI PEMERINTAHAN DAERAH | coordinating | DAERAH PEMERINTAHAN | | | peace-making | | | | | | residue-caring | | | | KEBIJAKAN | turbulence-serving | KEBIJAKAN | |--------------BIDANG-----|---KEPAMONGPRAJAAN---|------BIDANG--------------| | KEAGAMAAN | Freies Ermessen | PEKERJAAN UMUM | | | | gen&spec function** | | | | | | omnipresence | | | KYBERNOLOGI* KEPALA KANTOR | responsibility | KEPALA DINAS KYBERNOLOGI KEBERAGAMAAN AGAMA |magnanimous-thinking | PEK. Kepamongprajaan mempelajari SKK seperti apa yang diharapkan bersinerji dengan SKE dan SKP sedemikian rupa sehingga kinerja governance yang bersangkutan berkualitas good (good governance). Dilihat dari pendekatan tersebut.

yaitu subkultur ekonomi (SKE. sesuai Tabel 1 Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah ----------------------------------------------------------------------------PENGATURAN PENGURUSAN MONEV DAN FEEDBACK ----------------------------------------------------------------------------1 DPRD -DPRD 2 KEPALA DAERAH PEMERINTAH DAERAH -(PEMERINTAH DAERAH) ----------------------------------------------------------------------------- . bagaimana governance terbentuk. maka apapun substitusinya. Berdasarkan uraian di atas. untuk tetap menggunakan nama IPDN dan tidak IIP seperti dijanjikan 15 bulan yang lalu. bahkan posisinya sebagai lembaga pendidikan tinggi kepamongprajaan dikukuhkan. 3 dan 4. Kebijakan otonomi Daerah berdasarkan UU 32/04. disusunlah 14 butir GBPP KepamongPrajaan (+ UTS dan UAS = 16 sesi) tentatif. Jika “pengasuhan” dihapus dari panggung metodik (lihat Bab IX Kybernologi: Sebuah Profesi). setiap masyarakat (unit kultur) digerakkan oleh tiga subkultur.padat-teori. modifikasi bahan yang pernah diterbitkan dalam Bab 6 Kybernologi dan Kepamongprajaan (2008). Menurut Teori Governance. maka Kepamongprajaan sebagai bahan-ajaran merupakan salah satu komponen Kybernologi pada sisi Axiologi. dan subkultur sosial (SKS). Bahan ini didahului dengan pembahasan singkat Teori Nilai (Sesi Sembilan GBPP Ilmu Pemerintahan). dan pengembangan Bab XIV Kybernologi dan Pengharapan (2009). 2 SESI SATU Pemerintahan. tidak mengurangi derajat akademiknya. Bagaimana masyarakat melindungi dan memenuhi kebutuhannya melalui interaksi tiga subkultur itu. harus berangkat dari Sistem Nilai Kepamongprajaan ini. Kebijakan Presiden (Perpres 1/09 tgl 12 Januari). Inilah dasar peletakan Kepamongprajaan dalam sistem kurikulum IPDN. pembangunan itu sendiri berada di dalam policy implementation di ruang SKE). diterangkan melalui Teori Governance. sebagai berikut. pada semester sesudah Kybernologi diajarkan. subkultur kekuasaan (SKK). Pasal 1 butir 2. Bahannya diambil dari Sesi Lima GBPP Ilmu Pemerintahan (Kybernologi). Mengingat governance merupakan Epistemologi Ilmu Pemerintahan. bagaimana subkultur bekerja (berinteraksi) dan berkontrol satu terhadap yang lain.

Konsep governance lebih luas ketimbang konsep government. Dalam Gambar 1 terlihat juga bahwa konsep pemerintahan lebih luas daripada konsep pembangunan pemerintahan. “Pemerintahan” Daerah dalam hubungan itu setara dengan local governance. Penyelenggaraan itu meliputi pengaturan (lebih tepat: pembuatan kebijakan) dan pengurusan (implementasi kebijakan dan monev-nya). Di sana dinyatakan bahwa Pemerintah Daerah (local government) bersama DPRD adalah penyelenggara pemerintahan Daerah.-----yanan civil. ----------------------| NEGARA | 2 3 -----mengontrol---------mengontrol-----| memberdayakan | | membayar | | | | | | | | | | | | mengontrol SKK | | | | | di hulu | | | constituent -----. | | nilai via pela| | | |----meningkatkan.pemberdayaan) | | | | 4 | | | | MASYARAKAT | | | | | | | ------melayani-------5---------pasar-------| | | | MANUSIA | | | ---------------------------feedback--------------------------6 Gambar 2 Teori Pemerintahan (Governance): Interaksi Antar Tiga Subkultur Subkultur Ekonomi (SKE). dan Subkultur Sosial (SKS dgn kualitas Sebagai Pelanggan dan Constituent) yang Disebut juga Subkultur Pelanggan (SKP) . Subkultur Kekuasaan (SKK). -----| | | | mencipta nilai pelayanan public | | | | 1 (inc.SKE--------|--------->SKK----------|-------->SKS------| pemain | | | penonton | | | | wasit | pelanggan | | | | | | | mengontrol SKK | | | ----------|-|---------di hilir | | pembangunan | | | | | | | meredistribusi | | | membentuk.dengan teori ini. pemerintahan sama dengan policy making + policy implementation + policy implementation monitoring and evaluation (Tabel 1). Di bawah konteks pemerintahan daerah.

| | meredistribusi<-.nya | | dan PERDA | 2 | | | | 3 | | petaruh. Interaksi antar subkultur masyarakat melalui tiga terminal. dan 5 . dan SKS) Via Rute 1. Teknik penampilan rute ---------------------| NEGARA | | | SKK mengontrol SKS sbg konsti---dan memberdaya-----tuen mengontrol--| kan SKE via kebi. Hasil evaluasi dijadikan masukan ke dalam Rute 3.| | SKK di hulu via UU | | jakan & impl. Interface itu membentuk ruang Masyarakat.SKE------------------>SKK-------------------->SKS--------| “pemain” | | | SBG PELANGGAN | | | | “wasit” | | | | | | | | | | “penonton” | | | | | | | | | | | | | | | | SKS sbg pelanggan | | | | | | | mengontrol SKK via | | pembangunan | | | | monev & feedback | | | | | | | di hilir | | | ---------|-|---------| | | | | | 5 | | | | membentuk. 4. men. me| | memberdayakan. petarung | | | | | SBG KONSTITUEN -----.4 | | |---cipta nilai se-------nilai via pe| | | | cara berkelanlayanan civil & ----| | | | jutan pelayanan publik | | | | | | | | | | | | MASYARAKAT (PUBLIK) | | | | | | | -------melayani----------------pasar---------| | | | MANUSIA | | | ---------------------------feedback-----------------------------Gambar 3 Pemerintahan (Governance) Interaksi Antar Tiga Subkultur (Tiga Terminal SKE.Gambar 2 berawal pada Teori Ilmu Pemerintahan tentang interface antara konsep Manusia dengan konsep Negara. Sepanjang Rute 5 dilakukan pemantauan dan evaluasi redistribusi nilai (Rute 4) berdasarkan standar yang telah ditetapkan melalui Rute 3. yaitu SKE. Lintasan gerak dari terminal ke terminal disebut rute. dan SKS. | | | | 1 ningkatkan. 2. SKK. 3. Gambar 3 menunjukkan 5 rute dasar interaksi. SKK.

hasil evaluasi dijadikan masukan ke dalam Rute 6 melalui terminal SKK. 2. 3. masyarakat pemangku kekuasaan) dengan fihak Yang Diperintah . Gambar 2 mengalami modifikasi (Gambar 3): ---------------------| NEGARA | | | SKK mengontrol SKS sbg konsti---dan memberdaya-----tuen mengontrol--| kan SKE via kebi.| | SKK di hulu via UU | | jakan & impl. 2009). men. | | | | 1 ningkatkan.4 | | |---cipta nilai se-------nilai via pe| | | | cara berkelanlayanan civil & ----| | | | jutan pelayanan publik | | | | | | | | | | | | MASYARAKAT (PUBLIK) | | | | | | | -------melayani----------------pasar---------| | | | MANUSIA | | | ---------------------------feedback-----------------------------Gambar 4 Stakeholder Pemerintahan (Hubungan Pemerintahan Antara Pemerintah (SKK) dengan Yang Diperintah (SKE dan SKS) Via Rute 1.feedback tidak terlihat pada Gambar 3 dan Gambar 4 melainkan pada Rute 6 Gambar 5 sebagai masukan buat Rute 3. dan 4 Gambar 3 menunjukkan Hubungan Pemerintahan.| | meredistribusi<-. yaitu hubungan antara fihak Pemerintah (SKK.SKE---------|-------->SKK----------|----->STAKEHOLDER----| ”pemain” | | | ”penonton” | | | | ”wasit” | | | | | | | | | | SKS sbg PELANGGAN | | | | | | | mengontrol SKK via | | pembangunan | | | | monev & feedback | | | | | | | di hilir | | | ---------|-|---------| | | | | | 5 | | | | membentuk. me| | memberdayakan. Dengan memasukkan konsep stakeholder (Bab I Kybernologi dan Pembangunan. Dalam Teori Governance juga termasuk Teori Hubungan Pemerintahan (governance relations). petarung | | | | | SKS “BANDAR” -----.nya | | dan PERDA | 2 | | | | 3 | | petaruh. terus ke SKS. Di sana jelas.

Dengan argumentasi tertentu. sehingga rutenya menjadi 3. berlanjut ke 3. .SKE-------------. 2 janji (kebi3 5 jakan/rencana mandat. hope) kinerja SKK ---nya) berda. 4. Gambar 5 merupakan rekonstruksi Gambar 7-1 Kybernologi (2003. 6. sedangkan SKS adalah masyarakat dalam perannya selaku Pelanggan dan Konstituen. | | jawaban etik | | | --lanjutan utk----pelay publik------menurut----| | hidup & pemberday etika otonom | | 1 masyarakat di hilir | | di tengah | | 4 | | | --------------------pemerintahan (governance)-------------------Gambar 5 Hubungan Pemerintahan Pemerintahan sebagai Sistem dan Proses Via Rute 1. 1. kuasa monev thd & penepatan(trust. kembali ke 2. 5 dan 6 Tetapi untuk rezim yang baru terpilih. misalnya untuk rezim yang sedang berjalan. peneliti bebas menentukan rute awal penelitiannya dan menandainya dengan angka 1 (pada Gambar 4. 5 dan 6. sehingga prosesnya berjalan dari 1 ke. 3. 2.(SKE dan SKS). 4. 1. kembali ke 3. 2006.SKS------------SKK-| | | | | | | | | redistribusi | | | | | | | | nilai via pe. Perda) | | via rute 1 | | otonom di hulu | | di hulu | | di hilir | | | | | | | | | | . demikian terus-menerus. Duabelas nilai dasar itu disebut Kepamongprajaan.| | pertanggung| | | | nilai berke| | lay civil.-----tuntutan.-----rute 2 & 4 --| sarkan etika | | (UU. 2005. Pemerintahan mengandung (bekerja pada) duabelas nilai dasar. SKE adalah masyarakat dalam perannya sebagai Pekerja. Referensi: Bagian Pertama Bab 8 Kybernologi Beberapa Konstruksi Utama. 4. 2. 5. Bagian Tiga Bab V dan Bab XIV Kybernologi Sebuah Scientific Enterprise.SKK-------------. rute Nilai Berkelanjutan Untuk Hidup). 106) tentang hubungan antara Janji (commitment) dengan Percaya (trust) dan Harapan (hope). Hubungan (rute) antar tiga terminal (dalam Gambar 2 terlihat empat) diperjelas (diurai) menjadi enam rute berkesinambungan. angka 1 itu diletakkan pada rute Mandat (Gambar 5 pada rute 3).

2009 3 SESI DUA Nilai Satu VOORUITZIEN (lengkapnya Besturen is vooruit zien. dan Harapan (2008). “Visi Indonesia.” dalam Kybernologi: Jurnal Ilmu Pemerintahan Baru. 2008. Bab I. 1) Gambar 6 Fakta. akan. Teori tentang visi. dan Tantangan Ilmu Pemerintahan. ybs sarkan idea dan visi 4 3 IDEA-------------------------------------------->GOAL R7 | | 7 HARAPAN R6 | | R5 | 38 tahun R4 6 MISSION | R3 | | R2 5 MASALAH | | R1 | FAKTA SEKARANG-------------------------------------->VISION 1 tigapuluhdelapan tahun 2 kondisi yg takbisa apa yg terlihat bila diubah (takdir). Misi. Jerman dan Amerika dapat digunakan sebagai ilustrasi. Obsesi para kanselir sebelum Helmut Köhl adalah mempersatukan Jerman. lihat “TOR Talkshow Visi Indonesia 2045” dalam Kybernologi: Sebuah Profesi. Goal. dan masahidup. Mengamong adalah memandang (envision) sejauh mungkin ke depan. Visi Bangsa Indonesia di tengah dunia yang sedang berubah. kesadar dan formal berdaarifan masy. Berdasarkan UU 25/04 dan UU 17/07. Idea. dan dapat terjadi minimal 20 tahun ke depan agar terjamin kesinambungan kinerja rezim yang berbeda-beda melalui rel atau runway yang sama. mengembalikan Jerman pada . Bab I Kybernologi dan Pembangunan. kendatipun masajabatan seseorang hanya lima tahun. Gouverner c’est prevoir. keadaan berjalan menudan atau takbisa rut kondisi yg tak (sulit) berubah R = rezim berubah (fakta. Karakteristik Bangsa. ia wajib memperhitungkan dan mengantisipasi apa yang harus.Bab VI dan Bab VII Kybernologi Sebuah Metamorphosis. 2007. bandingkan dengan Dadang Solihin. Lihat juga Bab II Kybernologi dan Pembangunan KE DEPAN tujuan jangka panjang cita-cita. tidak hanya sebatas masa jabatan masakerja. To govern is to foresee). Visi. Masalah. edisi perdana Agustus 2007. Diuraikan posisi Indonesia di tengah perubahan global dan bagaimana visi Bangsa Indonesia dahulu dan sekarang. obsesi yg ditetapkan secara sistem nilai.

ia hadir pada saat yang tepat. ALLAH mengutus Nabi-NabiNYA untuk membawa firmanNYA. Kehadiran Obama dalam sejarah Amerika bertolakbelakang dengan Schröder. Dengan perkataan lain. departemen yang secara khusus berperan menjalankan misi . terlihat dengan sangat jelas bahwa ditjen Kelompok A berfungsi sebagai fungsi lini pemerintahan yang memproses “Tunggal Ika. pada pemilu berikutnya rezimnya tidak terpilih.” sementara ditjen Kelompok B mengelola “keBhinnekaan” nusantara. membebaskannya dari bayang-bayang Amerika. zaman sudah berubah. Ia dijuluki The Bismarck atau Bismarck II. Misi Depdagri diidentifikasi melalui fungsi lininya (line functions. tidak ada yang mendadak. seorang yang tidak dikenal secara luas. baik fenomena alam maupun fenomena KeTUHANAN. ia mengutus angin dan kilat. tidak mungkin terjadi adanya penggusuran paksa. Kendatipun demikian. Visi dan Misi Departemen Dalam Negeri (Depdagri). Alam juga demikian. Ia terpilih bukan karena kegagalan Köhl. Misi Negara menjadi visi Depdagri. dan popularitas. sebab bangsa Jerman sadar bahwa obsesi berikutnya berbeda. Jika difahami sungguh-sungguh dan arif. yang dibutuhkan ke depan adalah merawat dan menjaga hasil yang telah dicapai. Tetapi sebaiknya hal ini tidak diperdagangkan menjadi eforia bahwa Indonesia berhasil membentuk Obama (karena ia pernah sekolah di Menteng dan tinggal di Indonesia selama empat tahun.” sedangkan bangsa Indonesia semakin “separating.” Berdasarkan uraian di atas. Tabel 2). tetapi karena perannya dalam sejarah berbeda. Ada tanda-tandanya. dan meningkatkan kesejahteraan seluruh Jerman. Maka Schröder-pun. Jika hal ini direnungkan. begitu hirarkinya. demikian seterusnya. Di samping kecerdasan. Bila diperhatikan dengan saksama. Köhl berhasil.posisi terhormat di Eropah.” menuju “despairing. dalam sistem ketatanegaraan dan pemerintahan Indonesia. menggantikannya. ada nubuatannya. tidak akan ada bangunan liar. Rezim yang terdahulu mewariskan jejak langkahnya kepada rezim yang kemudian. bahkan lengkap dengan fotofoto segala) menjadi harapan Amerika. atau penduduk yang tidak memiliki akte kelahiran. kepemimpinan yang dibutuhkan Indonesia ke depan adalah kepemimpinan visioner jangka panjang dari kebangsaan ke kesebangsaan Indonesia melalui pengurangan kesenjangan vertikal antar lapisan masyarakat dan pengurangan kesenjangan horizontal antar daerah secara konsisten dan berkelanjutan sehingga pada suatu saat setiap orang berkesempatan menikmati hasil pengorbanannya (Bhinneka Tunggal Ika). konon pula berkelahi memperebutkannya. karisma. tetapi bahwa bangsa Amerika telah berhasil “melting. Ajaran ini juga didasarkan pada anggapan bahwa setiap perubahan berkesinambungan dan berkelanjutan. ambruknya Amerika Serikat di bawah Bush dan krisis ekonomi global.

oleh conductor. dengan nada atau bunyi sebagaimana terdengar oleh penonton dan terlebih konduktor. Kesumbangan nada itu diketahui dari gap antara skenario pertunjukan dan lagu yang dimainkan. adalah Departemen Dalam Negeri. Mengamong adalah menciptakan harmoni antar kegiatan dengan instrumen yang berbeda dan dilakukan oleh aktor yang berlain-lainan. nada” atau langkah sumbang senyaris (sekecil) apapun. atau memandang sesuatu sebagai bagian integral (dalam kerangka) suatu kebulatan (keseluruhan). Referensi: Kybernologi dan Kepamongprajaan. guna membangun kinerja bersama semua komponen yang berbeda-beda pada sebuah unitkerja. sehingga mampu merasakan kesumbangan senyaris apapun itu . Konduktor harus menguasai skenario dan lagu. menyimak sambutan penonton (pelanggan).” dan memproses kesebangsaan guna mewujudkan Bhinneka Tunggal Ika. memiliki pancaindera yang sensitif (peka) serta suasana hati yang cerah. Bab II dan Bab XVII. 4 SESI TIGA Nilai Dua CONDUCTING. dengan mengoreksi sedini dan setegas mungkin tiap “bunyi. 2007.Tabel 2 FUNGSI LINI DEPARTEMEN DALAM NEGERI -------------------------------------------------------------------------------KELOMPOK A KELOMPOK B -------------------------------------------------------------------------------1 Ditjen Kesatuan Bangsa dan Politik 1 Ditjen Otonomi Daerah 2 Ditjen Pemerintahan Umum 3 Ditjen Administrasi Kependudukan 2 Ditjen Bina Pembangunan Daerah 3 Ditjen Pemberdaayaan Masyarakat Dan Desa 4 Ditjen Bina Administrasi Keuangan Daerah -------------------------------------------------------------------------------- Pemerintahan Indonesia yaitu mengelolaan keunikan tiap masyarakat menjadi kekuatan matarantai nusantara. Bab I Kybernologi Sebuah Profesi (2007). mengurangi kesenjangan vertikal dan horizontal antar masyarakat secepatnya. sehingga “the people who get pains are the people who share gains. Fungsi conducting memerlukan dan membentuk sikap komprehensif: memandang totalitas (keseluruhan) dulu baru bagian-bagiannya. Dua syarat pembentukan harmoni adalah kapabilitas dan akseptabilitas. namun yang bergerak di dalam wilayah kerja atau daerah (kota) yang sama.

mungkin dengan kekerasan. dan Bab V Kybernologi Sebuah Metamorphosis (2008) . dan Bab 19 Kybernologi (2003). RESULT---------------->R = T. yang lain salah.? ---> R > T ---> ? <------? ---> R < T ---> ? Gambar 7 Fungsi Conducting (Sebuah Masyarakat Diibaratkan Sebuah Orkestra) Referensi: Bab 6. conducting --------->INFO----------------------->PLAN (GOAL--->TARGET T)-| (HARMONY) | | | | | ---------------------------------------------| | | | | | orchestra organizing ORCHESTRA | | ----->HARMONY-------------------------->ORGANIZATION meet? match?--| for harmony keeping | | | | | | | | ---------------------------------------------| | | | | | | | ORCHESTRA performance | | | -->ORGANIZATION--------------------->EXPECTED RESULT (R)---| | best performance | | | | | ---------------------------------------------| | | | | | controlling | | --->EXP. R > T. merespons penonton dengan penuh perhatian. Ketika konduktor melakukan kewajibannya membentuk dan menjaga harmoni dengan menggunakan otoritasnya. dan pada aras makro bilamana ia sanggup menumbuhkan pengharapan dalam diri pendengar dan pemain tatkala walau lambat tapi pasti terjadi perbaikan terus-menerus: semakin berkurangnya kesenjangan vertikal antar lapisan masyarakat dan semakin berkurangnya kesenjangan horizontal antar daerah. Konduktor akseptabel pada aras mikro manakala ia dapat dipercaya (tatkala ia memenuhi janjinya: menaati skenario dan lagu. Bab II. R < T------------------| | | | | monev | | | ? ---> R = T ---> ? | --------FEEDBACK-----------------. Bab III.(kapabilitas). Bab 11. tindakannya harus dapat diterima oleh para pemain (akseptabilitas). Bab 16. dan melakukan koreksi tanpa pandang bulu dan tidak memihak). sehingga pada suatu saat. mengindera bunyi dengan halus dan jelas. dalam wadah negara kesatuan (pot) terjadi melting antar tiap kekuatan yang selama ini mengklaim bahwa dia yang benar.

Jadi agar kesepakatan itu berkekuatan mengikat. Mengamong adalah membangun komitment bersama antar unit kerja yang berbeda-beda dalam suatu wilayah. dalam rangka mencapai kinerja masingmasing unit kerja secara optimal dalam rangka mencapai tujuan bersama secara keseluruhan. Gerak dari Kondisi Heterostasis ke Homeostasis. melainkan sekedar laporan) karena biasanya setelah memperdengarkan keynote speech. agar yang satu tidak merugikan tetapi mendukung yang lain. semakin diperlukan koordinasi. sangat lemah. setiap wilayah seharusnya memiliki Kalender Pemerintahan yang meliputi jadual Koordinasi itu. kembali ke Heterostasis. Terus-menerus . Sesungguhnya koordinasi tidak dapat diprojekkan. Jadi berkoordinasi itu tidak memerlukan biaya! Demikian pentingnya koordinasi ini sehingga sebagaimana halnya sebuah perguruan tinggi memiliki Kalender Akademik. Semakin independen hubungan antara unitkerja yang satu dengan unitkerja yang lain. dan petugas catering. Produk rapat koordinasi lemah (tidak mengikat. Kata kuncinya adalah berkoordinasi. dan sebangsanya. dan tukang sapu. sehingga koordinasi bisa berjalan tanpa koordinator.5 SESI EMPAT Nilai Tiga COORDINATING. karena terpasang (inherent) di dalam setiap tugaskewajiban seseorang. sang pejabat ini “kabur” diikuti pejabat-pejabat lain. proses divergent heterostasis proses convergent homeostasis BHINNEKA kesenjangan TUNGGAL IKA proses coordinating menjamin kinerja masing-masing proses conducting menjamin kinerja bersama GAMBAR 8 Hubungan Coordinating dengan Conducting di dalam Sistem. Koordinasi di Indonesia sangat. Di dalam ruangan sisa pegawai eselon pencatat dan pelapor. konsultan (pemborong). tukang parkir. Koordinasi merupakan sebuah proses yang inputnya informasi. dan outputnya kesepakatan yang mengikat fihak-fihak (pejabat) yang berkoordinasi. yang berkoordinasi haruslah pejabat-pejabat yang berwenang membuat kebijakan dan mengambil keputusan. amanat.

lose-win). kompetisi dan perlombaan. maka semakin interdependen unit kerja satu dengan yang lain. dan ketertiban dari “akar rumput” (grass root) ke atas oleh Pamong (Pamongdesa) terbawah melalui kesepakatan (beslissing) konsisten terus-menerus dengan warga masyarakat (via peran Pamongpraja). Tidak seperti ketertiban model “sapulidi. Karena menurut Teori Sistem. tetapi justru mempersatukan jika semua fihak menjunjung tinggi sportivitas. kerukunan. sebagaimana di zaman dahulu Kepaladesa diakui dan berperan sebagai Hakim Perdamaian Desa. Mengamong adalah membangun kedamaian. sesungguhnya tidak menceraiberaikan.Coordinating dengan conducting berkaitan erat. kalah-menang (win-lose. atau kalah-kalah (lose-lose.) Frontiers of Development Administration (1971) 6 SESI LIMA Nilai Empat PEACE-MAKING (PEACE-KEEPING). semakin diperlukan coordinating. maka hubungan antara keduanya dapat digambarkan sebagai berikut (Gambar 8).” Perbedaan dan konflik. Katz. Riggs (ed. keamanan. setiap komponen (unit kerja) merupakan bagian sebuah keseluruhan (sistem). semakin diperlukan conducting. kaupun tidak!). Referensi: Bab 14 Kybernologi (2003). Saul M. seperti proses pemilu di Indonesia. Tabel 3 Sikap Terhadap Sesama ----------------------------| I WANT YOU TO | |-----------------------------| | LOSE | WIN | -----------------------------------------------------------| | | LOSE | LOSE-LOSE 1| LOSE-WIN 2| | I WANT YOU TO |-------------------------------------------| | | WIN | WIN-LOSE 3| WIN-WIN 4| ----------------------------------------------------------- Perang seperti itu terjadi beradasarkan anggapan bahwa kedamaian bisa terbentuk melalui proses menang-kalah. Bab XVII Kybernologi dan Kepamongprajaan (2008). “Exploring A Systems Approach to Development Administration. kalau aku tidak. pertaruhan dan pertarungan.” dalam Fred W. juga tidak menciptakan permusuhan sehingga terjadi perang semua lawan semua. Jika semakin independen hubungan antara unitkerja yang satu dengan unitkerja yang lain. Proses ini didorong oleh naluri primitif manusia yaitu pemenang berhak menguasai yang .

kalah (spoil system), Tabel 3. Naluri ini mengubah perilaku manusia menjadi kanibalistik yaitu memangsa diri sendiri (sistem kanibalistik, lihat Bab IX
ORGANISASI (PARTAI POLITIK, dsb) | | melayani | membayar ---------MASYARAKAT<--------PEJABAT/PEGAWAI<--------NEGARA<-------| | | | | transaksi | | | | | | ---->membayar------| | | ----------------------------->membayar----------------------------Gambar 9 Masyarakat Membayar Berkali-kali (Sistem Kanibalistik)

Kybernologi Sebuah Charta Pembaharuan, 2007). Kanibalisme itu dalam polity dan birokrasi Indonesia, terlihat sah-sah saja (Gambar 9). “Kedamaian” yang diperoleh melalui proses kalah-menang ini menyisakan “duri dalam daging,” “api dalam sekam,” dan “air tenang namun penuh buaya ganas kelaparan.” Peace-making (dengan Manajemen Konflik) berarti: 1. Meneliti dan mengidentifikasi sejauh mungkin sumber ketidakdamaian di dalam diri manusia dan di dalam masyarakat 2. Mengidentifikasi dan mengantisipasi sedini mungkin setiap potensi konflik 3. Menyelesaikan sedini mungkin tiap konflik pada sumbernya 4. Tidak “menabung” “kesalahan” orang untuk dijadikan “peluru” guna “menembak” orang yang bersangkutan 5. Tidak menggunakan “kesalahan” orang lain untuk membenarkan diri sendiri (“Don’t take the example of other as an excuse for your wrongdoing,” bandingkan Effendi Gazali, Kompas 070509h06 tentang Kompas 220409 soal “jangan galak-galak”) 6. Tidak bersikap: “Kalo gue gak dapet, elu juga gak boleh dapet;” sikap ini bisa berakhir pada pelenyapan si “elu” 7. Tidak mengclaim kinerja bersama (bangsa) sebagai kinerja sendiri (parpol tertentu), hanya karena parpol atau koalisi parpol itu mayoritas di parlemen, sebab yang membiayai parlemen itu seluruh bangsa Upaya di atas dapat terjadi manakala pemimpin informal dan pemimpin formal suatu masyarakat berada sedekat mungkin dengan warga masyarakatnya. Sudah barang tentu yang dianggap kedekatan di sini tidak semata-mata kedekatan fisik tetapi lebih

sebagai kedekatan yang dapat diukur dengan jarak sosial (social distance), dan jarak kekuasaan (power distance) yang sedekat dan sedinamik mungkin. “Sedekat dan sedinamik mungkin” artinya tidak status quo, atau static equilibrium, melainkan interaksi antar tiga subkultur masyarakat (SKE, SKK, SKS) bergerak lancar dan sehat dari kondisi homeostasis ke kondisi heterostasis, kembali ke kondisi homeostasis, demikian terus-menerus (ref. Saul M. Katz, “Exploring A Systems Approach to Development Administration,” dalam Fred. W. Riggs, ed., Frontiers of Development Administration, 1970) . Selain itu, kedekatan yang dimaksud bukan hanya berbentuk simpati tetapi lebih dalam bentuk empati (ref. Bagian Kedua Bab XIV Kybernologi Beberapa Konstruksi Utama, 2005, tentang Verstehen). Untuk mempelajari latarbelakang dan penyebab ketidakdamaian (social unrest), dalam sesi ini perlu juga dibahas teori-teori proses sosial, seperti Teori Aksi-Reaksi, Teori Tantangan dan Jawaban (Challenge and Response), Teori Dialektika (ThesisAntithesis-Synthesis) yang salah satu bentuknya dalam kearifan sosial disebut “Mengail Di Air Keruh,” Teori Pertukaran Perilaku (Exchange Theories) dan sebagainya (ref. Margaret M. Paloma, Sosiologi Kontemporer, Bagian Satu, 1984). Membangun dan menjaga kedamaian ini diakui paling sulit, ibarat “meniti buih.” Namun walaupun sukar, buahnya amat manis. Menurut pengalaman nonekmoyang, “Kalau pandai meniti buih, selamat badan ke seberang,” disertai peringatan: “Sepandai-pandai tupai meloncat, sesekali terpeleset jua!” Referensi: Bab 18 Kybernologi (2003), Bab III Kybernologi dan Pengharapan (2009), dan bab-bab lain yang relevan. 7 SESI ENAM Nilai Lima RESIDUE-CARING. Mengamong adalah mengurus (sesuatu yang dianggap) sampah, golput, sepah, bengkalaian, pecundang, buangan, cemaran, atau sisa-sisa, kendatipun orang lain yang berpesta. Mengamong adalah mengurus apa saja, baik urusan yang tidak/belum termasuk tupoksi unitkerja manapun, maupun urusan yang tak satu unitkerjapun bersedia mengurusnya karena tidak menguntungkan bahkan merugikannya. Pengurusannya harus sesegera mungkin, karena semakin cepat dan tidak menentu perubahan, semakin banyak produksi sampah. Mengamong adalah memberikan perhatian yang sama dan sepadan kepada semua fihak, baik yang dianggap berkesalahan (buruk, jelek), maupun yang dipandang tidak berkesalahan (benar, baik) baik yang merasa dirugikan, ataupun fihak yang merasa diuntungkan, sebagai akibat suatu kebijakan, keputusan, atau tindakan pemerintahan. Dasarnya adalah kearifan lokal “Datang tampak muka, pergi

tampak punggung,” “Berjalan sampai ke batas, berlayar sampai ke pulau.” Bekerja sampai tuntas! Tidak boleh ada urusan yang berjalan setengah, atau persoalan yang tidak berjawab. Dianggap orang sudah hilang ditelan zaman, tau-tau suatu saat meledak! Ajaran ini adalah pengembangan (modifikasi) Teori Sisa (Residue Theory) yang digunakan di zaman Belanda dulu. Teori Pelayanan, Teori Pemberdayaan, dan Etika Pemerintahan, merupakan pelajaran dasar nilai ini. Landasan konstitusionalnya Pasal 27 dan 34 UUD 1945. Tindakan walikota memerintahkan Polisi Pamong Praja untuk menghalau para pedagang K5 dan mengusir para penghuni bangunan liar yang dianggap membangkang, dalam rangka menegakkan Perda tentang K3, dapat dibenarkan. Tetapi jika dengan penghalauan dan pengusiran itu pedagang K5 dan warga liar itu dalam waktu lama kehilangan pekerjaan, tiada tempat bernaung, anak-anaknya terlantar dan putus sekolah, masuk kolong jembatan, menjadi sampah masyarakat, maka Walikota dapat dituduh melanggar konstitusi. Referensi: Bab III Kybernologi Sebuah Rekonstruksi Ilmu Pemerintahan (2005), Kybernologi Sebuah Metamorphosis (2008), Bab 2, Bab 3, dan Bab 5, serta tulisan lain yang relevan 8 SESI TUJUH Nilai Enam TURBULENCE-SERVING. Mengamong adalah mengantisipasi dan melayani dalam arti memberdayakan, melindungi dan menyelamatkan manusia dan lingkungannya, bangsa dan negara, terhadap segala sesuatu yang sifatnya oleh manusia dianggap mendadak, berdayahancur besar, tiba-tiba, di luar perhitungan, tak disangka-sangka, force majeure, baik sebagai akibat perilaku alam, dampak kebijakan publik yang keliru ternyata, maupun perilaku masyarakat. Pengamongan didasarkan pada anggapan bahwa WAKTU SAMA DENGAN NOL. Anggapan ini sesuai dengan kearifan sehari-hari berbunyi “Sediakan Payung Sebelum Hujan,” “Lebih baik mencegah daripada mengobati.” Jika terjadi kebakaran, tidak ada waktu untuk memperlebar jalan agar Tanki Pemadam Kebakaran bisa lewat dan masuk, tidak ada
MANAJEMEN NORMAL (MN) MANAJEMEN TURBULENTIA (MT) --> -------------------- membentuk----> --------------------------| LONG-TERM-BASED (LTB) ZERO-TIME-BASED (ZTB) | | | | | | | -------------------------- FEEDBACK (FB)--------------------------Gambar 10 Manajemen Nasional Amfibia Serbacuaca (MANAS)

waktu untuk mencari sumber air atau merancang pelatihan. Seharusnya langsung bertindak dan berhasil. Kerangka pemikirannya sebagaiberikut (Gambar 10) dan hipotesisnya berbunyi: “MANAS = Manajemen Normal Yang Berhasil Diarahkan Pada (Membentuk) Manajemen Turbulentia, dan Manajemen Turbulentia yang Berhasil Memberikan Feedback Pada Manajemen Normal” terus-menerus. Pengujian hipotesis itu terlihat pada Gambar 11.
QUALITY ZTB 4-------------------------------------------4 M | | | A | | | N | | | A | | | J 3--------------------------------3----------| E | | | | M | | | | E | | | | N | | | | 2---------------------2----------|----------| T | | | | | U | | | | | R | | | | | B | | | | | U 1----------1----------|----------|----------| L | | | | | E | | | | | N | | | | | T | | | | | I LTB --------1----------2----------3----------4-A----> 0 M A N A J E M E N N O R M A L
Gambar 11 Manajemen Normal Berkemampuan Manajemen Turbulentia

TIME

Gambar 11 menunjukkan bahwa semakin lama kualitas (kapasitas) manajemen normal semakin tinggi sehingga pada akhir LTB turbulentia dapat dihadapi dengan ZTB action. Dalam banyak hal, “payung” itu seharusnya disediakan oleh pemerintah (SKK). Hak dan wewenang membawa (menimbulkan) kewajiban. Beberapa tahun yang lalu, masyarakat digemparkan oleh berita media tentang longsornya sebuah tambang galian pasir di sebuah daerah di Jawa Barat. Puluhan penambang tewas.

Di negara hukum yang menganut pendekatan progressif. ajaran ini tidak digunakan lagi. untuk dipertanggungjawabkan kemudian kepada semua fihak. lalai melakukan kewajibannya. batu. merupakan sumber PAD kategori retribusi izin Galian-C. bertaburan di seluruh seri Kybernologi mulai dari Bab V Beberapa Konstruksi Utama (2005). dan siap menanggung segala risikonya secara pribadi (tanpa kambing hitam). Dalam hubungan itu semua. Bab 10 Kybernologi Kepamongprajaan (2008). Manusia buat kelalaian dan suka lupa. sehingga perkara yang seharusnya dapat diantisipasi. dan tanah. jebolnya Situ Gintung Tangerang Selatan dinihari Jumat tgl 270309. Ini berkaitan dengan Nilai Satu. Perda tentang retribusi hanya berisi prosedur permohonan izin. sampai pada pustaka Manajemen Bencana (Disaster Management). 9 SESI DELAPAN Nilai Tujuh FREIES ERMESSEN. atau sepanjang tidak dilarang secara tegas dalam aturan perundangan. Di sana tidak tercantum perlindungan terhadap penambang. tarif. dan sanksi buat pemegang izin bila tidak memenuhi kewajibannya. Bab 10 Kybernologi Scientific Movement (2007). misalnya Jerman. dan dari berbagai segi. Freies Ermessen berbeda dengan diskresi yang memberikan keleluasaan bertindak bagi pejabat dalam batas aturan yang berlaku. berdasarkan keputusan batin yang dipilih secara bebas. Meledaknya pipa Pertamina beberapa waktu yang lalu di seputar Lapindo. Sudah barang tentu fihak plat merah angkat bahu. material dan barang. terlebih mengingat kesadaran hukum yang rendah dan budaya hukum . Buahnya malapetaka! Banyak sekali referensi pokok bahasan ini. terasanya mendadak atau di luar kemampuan. kewajiban pemda untuk mengontrol penambangan agar tidak berbahaya. Mengamong adalah menunjukkan keberanian untuk melakukan turbulence serving di atas. Tidak ada yang sempurna di dunia ini. Keputusan dan tindakan Fries Ermessen diambil atas inisiatif sendiri.Penambangan pasir. disebabkan oleh kelalaian pemerintah dan masyarakat membaca peringatan dari Ilmu Sifat Barang tentang metal fatigue (kejenuhan metal) dan engineering life (masa layakpakai) setiap teknologi. jika perlu (tiada pilihan lain) diluar batas aturan yang ada. dan tidak ada sanksi bagi pemda bila wanprestatie. Bab 7 Kybernologi Metamorphosis (2008). mengamong berarti menyelenggarakan pemerintahan dalam kondisi serbacuaca (all weather governance). Tetapi di Indonesia yang masih menganut pendekatan hukum positif (tiada aturan hukum = tiada pelanggaran dan kejahatan).

tumbuh kreativitas. dan presisi. mengamong berarti berupaya untuk semakin mengenal kualitas. kemahiran. Referensi: Bayu Surianingrat. Etika Pemerintahan. skill. Untuk itu. Hukum Pemerintahan (khususnya Hukum Darurat/Bahaya). Bab III Kybernologi Sebuah Charta Pembaharuan (2007). 10 SESI SEMBILAN Nilai Delapan GENERALIST AND SPECIALIST FUNCTION. noodverordeaturan hukum aturan hukum noodverordeningsrecht positif positif ningsrecht | | | | | | | | | tanggungjawab | | tanggungjawab | | pribadi | | pribadi | |<--------------|----FREIES ERMESSEN----|-------------->| | berdasarkan | | dasarkankan | | etika otonom | | etika otonom | | | | | | |<-------DISKRESI------>| | | | | | ------------------------------------------------------Gambar 12 Freies Ermessen dan Diskresi Nilai ini erat berkaitan dengan Politik Pemerintahan. ajaran Fries Ermessen masih diperlukan. craft) menjawab suatu masalah dengan alat atau cara yang berbeda pula. Dengan pengetahuan dan pengalaman yang luas. watak. kekhususan (uniqueness) suatu masyarakat. Mengamong adalah (belajar untuk) mengetahui sedikit demi sedikit tentang semakin banyak (luas) hal (to know less and less about more and more. E.yang lemah. innovativeness. Mengamong juga adalah (belajar untuk) mengetahui semakin banyak (dalam) tentang semakin sedikit hal (to know more and more about less and less. Mengenal Ilmu Pemerintahan (1980). Pengantar Dalam Hukum Indonesia (1959: 441. Dengan keahlian yang dalam. dan Teori Kedaulatan. Apakah Pak Harto juga tahun 1965 dan berikutnya? Yang jelas Mahasiswa tahun 1998 merobohkan pemerintahan yang sah. Utrecht. 460). berpengetahuan mendalam) guna mengidentifikasi perbedaan senyaris apapun antar masyarakat yang satu dengan masyarakat yang lain. berpengetahuan luas) guna mengidentifikasi dan membangun kebersamaan (tunggal ika) antar masyarakat yang berbeda-beda. Kreativitas merupakan lahan subur untuk menumbuhkembangkan Seni Pemerintahan: kepandaian (art. Bung Karno menggunakannya tgl 5 Juli 1959 (noodverordeningsrecht). tumbuh ketelitian. sebagai prasyarat untuk membangun Teknologi Pemerintahan .

van Poelje dalam Pengantar Umum Ilmu Pemerintahan (1959) menyatakan: . kepada para pelanggan produk-produk Negara. Seorang yang berasal dari daerah A sejak kecil tinggal mencari nafkah dan bergaul dengan banyak orang di berbagai kota. seorang pamong siap ditempatkan di mana saja dan mampu mengerjakan tugas apa saja yang telah didalaminya. Tanggungjawab sebagai accountability adalah . Spiro dalam Responsibility in Government (1969). Oleh pengetahuan dan pengalaman yang luas dan dalam itu. Tentang hal ini. daerah kelahirannya. Gambar 1 di atas menunjukkan hubungan antara fungsi generalist dengan fungsi specialist tersebut. Pertanggungjawaban dapat diterangkan melalui Teori Tanggungjawab yang dikembangkan dari Teori Tanggungjawab Herbert J. dua. . . mandat). Gambar 13. pengakuan. Mengamong adalah mempertanggungjawabkan kepada pelanggan (bukan hanya atasan!): satu. nazar.yang tepat. Nilai ini mengandung implikasi politik. . sumpah dan janji jabatan atau profesi (kontraktual). Mempertanggungjawabkan artinya menjawab (menerangkan) secara terbuka segala sesuatu yang menimbulkan pertanyaan pelanggan. dan sumpah-sebagai-bukti. . yang agar mengikat perlu disaksikan). dan jika jawaban tidak dipercaya. Lihat Bab 19 dan Bab 30 Kybernologi (2003). amanat. tidak ada “kendaraan” yang mengusungnya. namun karena daerah A belum mengenalnya dengan baik. terakhir di kota B. Menurut Spiro. tindakan yang ditempuh berdasarkan Freies Ermessen. ialah Ilmu Pemerintahan dengan Kepamongprajaan sebagai salah satu bentuk Aksiologinya. 11 SESI SEPULUH Nilai Sembilan RESPONSIBILITY. dan cause. pelaksanaan tugas (perintah. bahwa berbagai ilmu pengetahuan yang bertalian dengan salah satu bagian dari penguasaan (beheer) perusahaan partikelir pada akhirnya bermuara pada suatu ajaran perusahaan umum (algemene bedrijfsleer) yang meliputi kesemuanya dan bahwa ajaran tentang penguasaan perusahaan-perusahaan partikelir ini setidaktidaknya untuk sebagian merupakan syarat bagi adanya ilmu pengetahuan yang lebih tinggi daripadanya. dan empat. tanggungjawab diartikan sebagai accountability. Kepamongprajaan sebagai superstruktur profesi pemerintahan melalui pendekatan lintas sektoral bermula pada visi untuk membentuk tenaga-tenaga pemerintahan yang berkualitas kepamongprajaan. obligation. sementara di kota B pesaingnya banyak. selfcommitment (janji kepada diri sendiri. Pada tahun 2008 ia ingin dicaleg untuk dapil A. yang bersangkutan menanggung sendiri segala akibat dan risikonya. . tiga.

CITRA | | | |------>JANJI ---------> ACTION -------|-> OBLIGATION ------|--> ACTION ---| | POSISI* penepatan janji | kewajiban bertang. 1969. formal atau informal. “noblesse oblige.perhitungan atas pelaksanaan perintah kepada pemberi perintah. | | |------>KEBIJAKAN.| memikul re. Pertanggungjawaban seorang yang bersumpah tanpa diperintah (jadi bukan disumpah melainkan lahir dari dalam hatinuraninya sendiri) .| | | | gungjawab. Yang digunakan dalam Kybernologi adalah pertanggungjawaban etik.TRUST --------|-.” status membawa kewajiban Gambar 13 Konstruksi Teori Tanggungjawab: Teori Herbert J. dan kesediaan memikul risiko. Spiro. Tanggungjawab sebagai obligation memiliki tiga dimensi.RISK. dimodifikasi dan dikembangkan Tanggungjawab sebagai cause adalah sesuatu yang mendorong atau menggerakkan seseorang untuk bertindak. PRICE -----|--. struktural atau fungsional.| | | |------>TRANSFOR. -------------------| | ------>DASAR | RESPONSIBILITY | | | | | KEKUASAAN. ----> ACTION -------|-> ACCOUNTABILITY --|-------------| MANDAT (KKM) | | | | | | | | | | | | | | KKM. FREE. lepas | ward & pu| | | | dari sebab akibat | nishment | | KONDISI FREIES ERMESSEN | | | | PERUBAHAN VOLITION. kewajiban menepati janji (lepas dari sebab dan akibat). yaitu berjanji (bersumpah. Yang dimaksud dengan etika di sini adalah etika otonom.ATAU <---| reward | GAGAL | | --------------------- *lepas dari tinggi atau rendah.----WILL (CHOICE)----|-> CAUSE -----------|--> ACTION ---| | MASI LINGDISCRETION | | | | KUNGAN CONSCIENCE | | | | | | | | | | | | | punishment | BERHASIL | -------HOPE <---------. yang dianut oleh pelaku tanpa terikat dengan fihak lain. yang disebut rasa atau kesadaran akan tanggungjawab dengan kesediaan untuk menanggung risiko atau akibatnya.

Gambar 14 menunjukkan bahwa pertanggungjawaban etik itu terletak pada Terminal 10. Keputusan etik diambil berdasarkan diskusi dan kebersepakatan antar norma yang tertanam di dalam hatinurani pelaku sendiri. kesepa. Terminal 6 menunjukkan perbedaan antara keputusan etik dengan keputusan bukanetik. --1 2 3 4 5 6 ----->apakah------>kualitas--->nilai--->norma--->kesadaran----->pertimbangan---| etika? dasar etik etik etik etik etik otonom | | etika otonom | | | | | | | etika heteronom yg-benar guna tertanam norma me. perlu bersumpah | | disaksikan mengorbankandiri | | | bunuhdiri | ------------| | dikontrol | | ----dibandingkan---| kesenjangan ditedievaluasi *dinyatakan | rangkan setulus & | secara otonom --sejujurnya.sumpah bernazar | perjanpengakuan membayar tebusan | jian credo kesediaan berkorban | commitment selfmengaku bersalah | | commitment mengundurkandiri dari jabatan | | | mengasingkandiri | | agar mengimenyakitidiri | | kat.nerangi dlm kalbu. seseorang (B) di depannya yang kebetulan menoleh.| | katan. walaupun merugikan diri sendiri. Misalnya hukum sistem antri “First come. jelas nurani an memilih. sedangkan keputusan bukan-etik diambil berdasarkan kebersepakatan masyarakat di sekitar pelaku.diskusi antar norma | | yg-baik dlm kuat.| | yg-wajib hidup as. satu di antara 11 terminal. kebebas. Pada saat antri sebagai nomor 6 sementara tiket sisa 5. first serve” oleh si A dipegang sebagai norma etik perilakunya.--------dan terbuka ko & konsekuensi ditanggung sendiri Gambar 14 Etika Pemerintahan (1 sd 11 Terminal) . Keputusan etik diwarnai dengan keteguhan hati (disiplin) pelaku memegangnya. kesediaan | | memikul sanksi etik | | | | 10 9 8 7 | | 11 pertanggungperilaku tindakan keputusan | ----etikalitas<----------jawaban<-------etik<------etik<-----------etik<-------| etik | | | | | | | menaati kadar | --kinerjaberprakarsa keetikan sanksi etik* | berjanji | | | | | ------------merasa malu | | | merasa bersalah | pada pada menyesal | orang diri mohon maaf | lain sendiri mohon ampun | | | janji bertobat | | nazar.itulah pertanggungjawaban etik otonom. lu. risi.

WISDOM. Berbeda dengan buah tangan yang dapat dinikmati sekejap. Adakalanya seperangkat buah pikiran terlihat melawan arus. Bab II dan Bab III Kybernologi Sebuah Metamorphosis (2008). Buah pikiran seperti itu. bila tahan banting. tidak pernah diajarkan dan tidak dibudayakan menjadi pola perilaku bangsa. Tetapi si A tidak mau. tetapi sejak diundangkan menjadi PP 66/51. Oleh sebab itu dibenci dan tidak laku. walaupun menguntungkannya. ia sudah mulai jadi pecundang! Lihat Bab 8 Kybernologi (2003). Bhinneka Tunggal Ika merupakan sebuah pikiran besar. COGITO. berbeda dengan “pikiran besar” yang sudah ada.rupanya mahasiswanya ---. mempersilakannya untuk maju dan pasti dapat tiket. Berpikir menurut hukum logika. Nilai ini berkaitan erat dengan Nilai Satu di atas. rerambu nalar sehat. Jauh liku yang (harus) ditempuh oleh sebuah pikiran. Bab III dan Bab IV Kybernologi dan Pengharapan (2009) 12 SESI SEBELAS Nilai Sepuluh MAGNANIMOUS-THINKING. tanpa uang abang melayang. pikiran yang memiliki kekuatan menerobos zaman. atau buah hati yang “ada uang abang disayang. sosialmarpolicy policy imple-->ERGO----------->BUAH ----------->NILAI-------->POLICY-------->POLICY---------------| SUM kiran PIKIRAN isasi 3 keting AGENDA making 5 mentation | | 1 2 4 | | | | | | | | 6 | | 8 belajar dari 7 monitoring PERBUATAN scientific movement | ---FEEDBACK<---------------SEJARAH<-------------------BESAR<--------------------------sejarah evaluation scientific enterprise Gambar 15 Dari Buah Pikiran. sebelum ia diakui besar dan menjadi sejarah. selain sistem terganggu. Sebab bila ia maju. dan Sejarah Melalui Delapan Terminal . Begitu dia mendapat tiket dengan cara demikian. pemi.” buah pikiran dapat diwariskan dan menjadi pelajaran bagi generasi ribuan tahun yang akan datang. Mengamong adalah mengonstruksi pikiran besar. terkadang baru diakui “besarnya” kemudian. Alinea keempat Pembukaan UUD tentang kecerdasan merupakan landasan konstitusional nilai ini. yang terbentuk berdasarkan kemerdekaan berfikir dan kemerdekaan mengeluarkan buah pikiran (Pasal 28 UUD 1945). Perbuatan Besar. norma etik di dalam hatinuraninya jadi rusak. Berpikir besar identik dengan berfilsafat.

semakin samar. katakanlah terdiri dari 10 sub-Y. 10 x 10 = 100 menit.” barulah semakin terasa olehnya betapa satu dengan yang lain berbeda-beda. semakin mendarat ia bersama “kita. 2009). di sana papa dan hina. membangun rapport. dan merasakan apa yang “kita” rasakan. antara pemerintah (P) dengan yang diperintah (Y) adalah salingpengertian. waktu yg harus disediakannya utk mendengar. P P P turun secara pribadi (personally) serendah mungkin dari posisinya. temuan-temuan akademik (invensi) harus dijadikan masukan bagi pembuatan kebijakan publik guna melahirkan inovasi (Bab XI Kybernologi dan Pengharapan. mengamati & merekam amatannya. ada yang mandi uang bergelimang dosa. P melawan arus? Ya. emik & etik. sehingga oleh Y ia diterima sebagai seorang sesama di antara mereka. sambil merekam. membangun kebersamaan melalui perilaku etik & emik. belum terhitung waktu yang diperlukannya untuk bersosialisasi. tidak hanya membangun citra (image building) pemerintahan tetapi merendahkan hati sedemikian rupa sehingga pemerintah itu tidak terlihat sebagai sesuatu yang jauh dan yang asing. Tanpa pengajaran dan pembudayaan. bahkan oleh parpol ia dituduh pengkhianat. Mengamong berarti tidak memosisikan diri sebagai pangreh. menempatkan diri seutuhnya setara dgn kondisi Y dgn tulus. di sini nestapa dan melarat. tetapi terasa hadir di mana-mana dan kapan saja sebagai bagian dari dan sama dengan “kita. Mengingat Y heterogen. tidak berguna. Bab 20 Kybernologi (2003). prilaku & perkataan Y sebagaimana adanya begitu keluar dari Y tanpa dipengaruhi oleh P. Satu-satunya jembatan antar budaya dan antar frame-of-reference (FOR) yang berlainan. Tetapi percayalah. 99% rakyat ada di didepannya dan sejarah bertinta emas terbentang di belakangnya. mendengar & merekam isyarat. seragam. Ialah Semar. kotor dan sampah “kita” terlihat olehnya. ia tdk populer di kalangan politisi dan birokrasi. ialah Nelson Mandela Y Gambar 16 Membentuk (Membangun) Pengertian Yang Empatik (Saling-mengerti) = Y . maka jika waktu yg digunakan P utk berbicara 10 menit.Pada aras mikro. Semakin tinggi dan asing pemerintah memosisikan dirinya. Lihat Filsafat Pemerintahan. berbuka diri mengamati. 13 SESI DUABELAS Nilai Sebelas OMNIPRESENCE. buah pikiran sebesar apapun.” Ia melihat apa yang “kita” lihat. ada yang terbuang dan terinjak.

Pengertian dan saling-mengerti.” Dengan menggunakan FOR-nya. dan bau keringat. or the like) of an individual actor. Mengamong berarti “exhibits great wisdom and ability in dealing with important public issues. Menurut Max Weber. Bisa saja peneliti bermaksud mengenal seorang aktor dengan motif ketertarikan (sympathetic imagination) dan bukan karena ingin mengenalnya sebagaimana adanya. “It (Verstehen) must mean an act of sympathetic imagination or empathic identification on the part of inquirers that allowed them to grasp the psychological state (i. mantan | | -------PIN IN. Salah satu cara yang dikenal dalam metodologi adalah pembentukan pengertian dan pencapaian saling-mengerti melalui empati (empathy. motives.e.<-------------------------------| | | FORMAL kembali ke dalam masyarakat | | | | | | | | | | | | ----------------| referensi |--------| | | | | | | PEMIMPIN rezim lain yang terpilih | -------FORMAL <--------------------------------naik ke singgasana kekuasaan Gambar 17 Proses Kepemimpinan . lusuh.” demikian Schwandt. Verstehen adalah “empathic understanding or an ability to reproduce in one’s own mind the feelings. rapi dan wangi. 14 SESI TIGABELAS Nilai Duabelas DISTINGUISHED STATESMANSHIP. belief. seorang pejabat atau peneliti bisa saja mengaku bahwa ia mengerti kondisi atau kualitas suatu masyarakat dengan memandang pakaian orang yang lalulalang: ada sejumlah orang yang berpakaian kotor. intention. bukan emphaty). cepat atau lambat dapat terbentuk dan tercapai melalui pelbagai cara di dalam masyarakat.” berkepeberkepemimpinan terpilih mimpinan MASA JA--->MASYARAKAT---------->PEMIMPIN----------->KEPALA----------->BATAN------| informal tersaring formal & BERAKHIR | | informal | | | | | | PEMIMtidak terpilih (lagi). Konsep empati tidak terpisahkan dengan konsep pengertian (understanding). Salah satu bentuk understanding adalah empathic understanding yang dalam bahasa Jerman disebut Verstehen. sedangkan pakaiannya sendiri bersih. motivation. Iapun menandai orang-orang tersebut sebagai warga masyarakat tertinggal dan diberi definisi seperti di atas. and thoughts behind the action of others.

karena tindakan apapun yang dilakukannya telah mendapat imbalan dari negara dan masyarakat. imperial spirit. Bahan ajaran untuk sesi ini terdapat dalam berbagai sumber. Kini saatnya untuk mencerahkan dan membangkitkannya. baik antara Utara dengan Selatan. karena ia telah berjanji kepada dirinya sendiri dan kepada masyarakat. seorang negarawan tidak melakukan perbuatan yang menguntungkan hanya satu fihak. fihak yang takterpilih kembali menjadi controlling reference jangka panjang (Gambar 17). Wawasan Kepamongprajaan sebagai kenegarawanan mengemuka di masa STPDN. bukan dari partai tetapi dari seluruh bangsanya. ia mendapat pengawalan. walau cuti sekalipun. Pada saat seorang pejabat yang sedang cuti kampanye. serta memikul sendiri tanggungjawabnya. Seorang statesman tidak pernah merasa berjasa. menggunakan Etika Otonom dan bukan Etika Heteronom (Bagian Dua Bab X Kybernologi Sebuah Scientific Enterprise. Bab V Kybernologi Sebuah Metamorphosis (2008). bagi rezim terpilih lima tahunan. Bab I dan Bab III Kybernologi dan Pengharapan (2009). menyatakan secara terbuka pengunduran diri dari “kendaraan yang mengusungnya” begitu terpilih menjadi pejabat publik. walaupun di masa itu belum didefinisikan dan belum diprogramkan. 1927). Kepamongprajaan di sini terlihat sebagai kualitas yang mampu melahirkan buah pikiran besar. pengaruhnya tetap terasa. Selama masa jabatannya.Mengamong juga berarti memosisikan diri di atas semua kepentingan partial. . rule the present from the past” (Alfred North Whitehead. Berbeda dengan perang. Seorang negarawan tidak mengclaim kinerjanya sebagai kinerja partai yang mengusung atau didukungnya. kepamongprajaan dilihat sebagai fungsi yang dibutuhkan pada tingkat regional dan global. 2006). Dengan kualitas itu---kenegarawanan--kepamongprajaan berarti kemampuan melahirkan pikiran besar. maupun antar Timur. walaupun ia menggunakan kendaraan umum dan mengenakan kaus oblong. karena selama menjabat ia digaji dan mendapat fasilitas serta kehormatan. Barat. Pidato Sambutan Forum American Association of the Collegiate Schools of Business. Pada sesi ini. membuat sejarah (history making) melalui perbuatan besar. dan ia berusaha menepatinya. dan Tengah. sehingga buah pikiran besar pamong praja Indonesia – yaitu mereka yang memiliki kualitas kepamongprajaan – tahun 2009 mempengaruhi perjalanan sejarah Indonesia di tengah-tengah dunia beratus-ratus tahun kemudian: “Her citizens. Tetapi sebaliknya ia selalu merasa berhutang. sebab cuti itu hanya akalakalan. Merayakan saat pengembalian (penyerahan) jabatan (mandat) ketimbang saat memangku jabatan (pelantikan). terutama Badan Diklat Depdagri sendiri. roh zaman. memaknai uang bukan solusi tetapi beban (karena harus dipertanggungjawabkan). pemilu bukan menang kalah tetapi terpilih atau tidak terpilih. perlindungan dan perlakuan sebagai seorang pejabat.

berkekuatan mengikat. Nilai yang disepakati menjadi norma.15 SESI EMPATBELAS Apakah Kepamongprajaan? Dalam GBPP di atas Kepamongprajaan didefinisikan nilai dasar pemerintahan (governance). . hasilnya adalah duabelas nilai dasar pemerintahan. Jika kualitas entitas tersebut dalam ruang pemerintahan ditimbang. . tapi. tetapi yang dilakukan lain. . terlihat satu atau lebih kualitas. Opsi 2. Opsi 1. menjadi dogma. Norma bersifat formal. **Monev Direkayasa) Opsi 3.? <-----N=H<------------HASIL---------------2-| | N>H pelanggan (H) | | | | | | dibenarkan monev oleh “ditegakkan” | ---. dan ideologi yang disakralisasi. . tapi. Kalau dogma dipatuhi “tanpa reserve.” apa yang terjadi? Jika norma ditegakkan (digunakan). hasil rekonstruksi norma. Siapa Jagonya? .” atau “itu kan teori.? <------------DOGMA<-----------BON*<---------------1-| | mutlak isasi struksi | | | | | | feedback N<H monev oleh ditegakkan | |-----------.” sehingga OP dan atau OC tidak dipercaya atau jauh dari harapan (Gambar 18). Body-of-norms (BON. .? <------------. dan apapun hasil analisisnya. Sesuai dengan Teori Nilai. dijadikan feedback buat entitas yang bersangkutan (lihat Gambar 16). jika perilaku suatu entitas diamati. dan Opsi 3 (BON* = Ideologi.” “yang diucapkan atau ditulis begini. Di Indonesia biasanya norma di-“tegakkan” dengan sikap “benar. . terlihat output (OP) atau outcome (OC). bandingkan dengan rekonstruksi pengetahuan menjadi BOK. perilaku ditimbang disepakati -->ENTITAS-------->KUALITAS--------->NILAI-------------->NORMA | bisa dipaksakan (N) | | | | | dipatuhi disakraldirekon| |---. .” “baik. OP dan OC dimonev.? <-----------“HASIL”<-------------3pembenaran penguasa** dipermainkan Gambar 18 Kepamongprajaan Menurut Teori Nilai: Tiga Opsi. Gambar 15) disebut ideologi.

Sekarang kekuatan itu dicharge dalam diri gubernur provinsi. bertujuan a. dan Diklat Kepamongprajaan guna membentuk kader-kader tenaga berkualitas Kepamongprajaan yang disebut Pamongpraja (Perpres 1/09) 9 Pendidikan Kepamongprajaan. Diperlukan kekuatan pengikat kebhinnekaan menjadi tunggal ika. suatu tingkat nilai pada suatu saat disepakati sebagai norma yang harus diindahkan dan ditegakkan oleh semua fihak.Dalam hubungan ini. sampai pada tingkat rukun tetangga menunjukkan 12 kualitas kepamongprajaan 3 Nilai. mulai dari Camat. mulai dari Ketua Rukun Tetangga sampai dengan Kepala Desa/Kelurahan dan perangkatnya Tingkat Menengah: Pamong Praja. Aparat penegak perda: Polisi Pamong Praja. lokal. Setiap kualitas ditimbang guna melihat. Merekonstruksi terus-menerus Ilmu Pemerintahan Baru (Kybernologi) sebagai sumber dan dasar profesi pemerintahan . Pendidikan Kepamongprajaan meliputi Program Vokasional (Diploma). Menteri. secara periodik harus dilakukan monev dan pembaharuan norma 5 Fungsi. sampai pada Presiden di pucuknya. Mengingat perubahan eksternal dan internal. pamongpraja dilembagakan menjadi unitkerja pusat di daerah (kepala wilayah dan jajarannya) 7 Struktur Kepamongprajaan dalam tiga tingkatan: Tingkat Bawah: Pamong Desa/Kelurahan. dengan perangkat masing-masing 8 Profesi. Dahulu. Mengapa tidak di dalam diri kepala daerah? 6 Lembaga. Membangun Kepamongprajaan sebagai sistem nilai dasar pemerintahan c. nama suatu entitas. Kepala Daerah. dengan perangkatnya masing-masing Tingkat Tinggi: Pamong Bangsa/Negara. Norma dapat dilembagakan menjadi sebuah unitkerja . lulusan IPDN Pamong Praja Muda 2 Kualitas. Kekuatan itu adalah fungsi yang dapat dicharge di dalam sistem penyelenggaraan pemerintahan (di) daerah. Perilaku yang terlihat di dalam ruang pemerintahan (governance) mulai dari tingkat statal. mahasiswa IPDN disebut Praja. Agar berkekuatan mengikat. mulai dari Kepala Lembaga Negara. Profesi Kepamongprajaan meliputi penerapan Kepamongprajaan sebagai norma melalui kebijakan publik di dalam praktik pemerintahan. di Indonesia (sebaiknya) kepamongprajaan dijadikan dan digunakan sebagai: 1 Identitas. Membentuk kader-kader Pamongpraja yang dibutuhkan mendesak oleh Depdagri dan Pemda b. Program Program Strata dan Program Profesional. sejauh mana kualitas memenuhi kebutuhan manusia dan masyarakat 4 Norma.

Pamongpraja dalam arti sempit adalah tenaga professional di bidang (yang memiliki kualitas) kepamongprajaan. dan ditetapkan saat pelembagaannya. lihat Bab II Kybernologi dan Kepamongprajaan (2007). Standar kompetensi struktural bersifat normatif.10 Standar kompetensi pamongpraja. kesukaran ini harus diantisipasi! ------>PENELITIAN--->TEMUAN---->KEBIJAKAN--->PEMBAHARUAN-| (invensi) | (inovasi) | -->KEPAMONG| | | PRAJAAN | | | | | | | ------>DIKLAT--->KADER PAMONGPRAJA-| | | ----------------FEEDBACK<-----------------MONEV<------------------ Gambar 19 Kepamongprajaan Sebuah Ruang Pembelajaran 3001090852SDG 2903090733SDG 1104091600SDG File GBPP KEPAMONGPRAJAAN BARU . Kendatipun ini sesi terakhir tetapi tidak berarti termudah---last but not least---bahkan mungkin yang tersukar. Pamongpraja dalam arti luas adalah tenaga pemerintahan yang memiliki roh dan 12 nilai dasar pemerintahan. Perlu dibedakan standar kompetensi fungsional dengan standar kompetensi struktural. Konsep profesi. 2005. Yang dijelaskan dalam sesi ini adalah standar kompetensi fungsionalnya. terdapat dalam Kybernologi: Sebuah Rekonstruksi Ilmu Pemerintahan. Oleh sebab itu. Bab IC. dan profesionalisme. begitu Kepamongprajaan ini diajarkan mulai Sesi Satu. Bahan untuk sesi ini masih harus diidentifikasi dan didefinisikan. professional.

. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . Sembilan Responsibility . . . . . . . . . . . . Delapan Generalist & Specialist Function. Dua Conducting. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . Sebelas Omnipresence. . . . . . . . Empat Peace-making. Tiga Coordinating . . . . Sepuluh Magnanimous-thinking. . 41 43 45 46 47 48 50 51 52 55 56 57 . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . Lima Residue-caring . . . . . Tujuh Freies Ermessen . . . . . . .RINGKASAN DUABELAS NILAI KEPAMONGPRAJAAN 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 Nilai Nilai Nilai Nilai Nilai Nilai Nilai Nilai Nilai Nilai Nilai Nilai Satu Vooruitzien. . . . . . . . . . . . . . . . . . . Duabelas Distinguished Statesmanship. . . . . . . . . . . Enam Turbulence-serving . . . . . . . . . . . . . .

DAFTAR PUSTAKA KYBERNOLOGI 1 Kybernologi dan Pengharapan (Sirao Credentia Center. 1997) 14 Metodologi Pemerintahan Indonesia (Bina Aksara. 1988) . 2007) 8 Kybernologi Sebuah Scientific Enterprise (Sirao Credentia Center. 2003) 13 Metodologi Ilmu Pemerintahan (Rineka Cipta. 2008) 4 Kybernologi dan Kepamongprajaan (Sirao Credentia Center. 2005) 12 Kybernologi I dan II (Rineka Cipta. 2007) 7 Kybernologi Sebuah Charta Pembaharuan (Sirao Credentia Center. 2009) 2 Kybernologi dan Pembangunan (Sirao Credentia Center. 2008) 3 Kybernologi Sebuah Metamorphosis (Sirao Credentia Center. 2005) 11 Teori Budaya Organisasi (Rineka Cipta. 2005) 10 Kybernologi Sebuah Rekonstruksi Ilmu Pemerintahan (Rineka Cipta. 2008) 5 Kybernologi Sebuah Profesi (Sirao Credentia Center. 2006) 9 Kybernologi Beberapa Konstruksi Utama (Sirao Credentia Center. 2007) 6 Kybernologi Sebuah Scientific Movement (Sirao Credentia Center.

MARDIYANTO. Diubah Kepamongan” Apa yang dimaksud dengan “Ilmu Baru?” 08159676XXX 121007223338 “Benar.” . MENTERI DALAM NEGERI RI: “Di IIP Ada Tambahan Ilmu Baru Sebagai Pendukung Dalam Aspek Pemerintahan.” “Sistem Pengasuhan Dihapuskan.” Kompas 11 Oktober 2007 “Presiden Ubah IPDN Menjadi IIP. prof. buat sebagai dasar keilmuan pembentukan IIP Regional. prof. Kita jadikan proposal yang prof.” 224923 “Benar. Yang beliau maksudkan adalah Kybernologi dan Kepamongprajaan.

Taliziduhu Ndraha. Kybernolog GARIS-GARIS BESAR PROGRAM PEMBELAJARAN KYBERNOLOGI DAN KEPAMONGPRAJAAN JAKARTA. 2009 .

. . . . AXIOLOGI 10 Sesi Sembilan Teori Nilai . . . . . . . . Sesi Dua Nilai Satu Vooruitzien . . . . Sesi Tujuh Nilai Enam Turbulence-serving. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . Sesi Lima Nilai Empat Peace-making. . . . . . . . . . . 5 Sesi Empat Teori Pelayanan. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 11 Sesi Sepuluh Nilai Sembilan Responsibility. . . . . . . . . . . . 15 Sesi Empatbelas Apakah Kepamongprajaan? . . 12 Sesi Sebelas Nilai Sepuluh Magnanimous-thinking 13 Sesi Duabelas Nilai Sebelas Omnipresence. . . 8 Sesi Tujuh Metodologi . . . . Sejarah Pengajaran Ilmu Pemerintahan di Indonesia. . . . . . . . 1 2 5 6 8 11 16 18 20 20 22 24 25 26 27 28 30 31 II GBPP KEPAMONGPRAJAAN Latar Belakang. . . Sesi Empat Nilai Tiga Coordinating. . . . . . . . . . . . . . 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 . . . . . . . . . . 14 Sesi Tigabelas Seni dan Teknik Pemerintahan . 14 Sesi Tigabelas Nilai Duabelas Distinguished Statesmanship . . . . . . . 6 Sesi Lima Teori Governance. . . . . . . . . . RINGKASAN . . 9 Sesi Delapan UTS. . . . . . EPISTEMOLOGI 4 Sesi Tiga Teori Kebutuhan . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 2 Sesi Satu Penjelasan Umum. ONTOLOGI 3 Sesi Dua Ontologi Ilmu Pemerintahan . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 32 36 41 43 45 46 47 48 50 51 52 55 56 57 59 62 . . . 16 Sesi Limabelas Reformasi Pemerintahan . . . . . . . . . . . . .DAFTAR ISI I GBPP PENGANTAR ILMU PEMERINTAHAN 1 Latar Belakang. . . . . . . . . . . . . . . . . . . 13 Sesi Duabelas Manajemen Pemerintahan. . . . . 15 Sesi Empatbelas Etika Pemerintahan. . 7 Sesi Enam Teori Kinerja . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . Sesi Enam Nilai Lima Residue-caring . . . 11 Sesi Sepuluh Kepamongprajaan. . . . . . . . . . 17 Sesi Enambelas UAS. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 12 Sesi Sebelas Kebijakan Pemerintahan . . . . . . . . . . . . . Sesi Tiga Nilai Dua Conducting. . . Sesi Delapan Nilai Tujuh Fries Ermessen . . . . . . . . . . . . . RINGKASAN . Sesi Sembilan Nilai Delapan Generalist & Specialist Function . . . . . . . . . . Sesi Satu Pemerintahan. . . . . . . . .

. 3 Otonomi Daerah. 101 . . . . . . . . . . Pentingnya Laboratorium Lapangan Administrasi Kependudukan . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 104 . . . . 101 . . . . . . 121 3 Kurikulum . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . DPD Perspektif Kybernologi Politik. . . . . . . . . . Negeri . . . . . DIKLAT KEPEMIMPINAN PEMERINTAHAN DAERAH 1 Latar Belakang. . . . . . . . . . . . . . 108 VI PERAN CAMAT DALAM PENYELENGGARAAN PEMERINTAHAN DAERAH 1 Pemerintahan. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 107 . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . Perspektif Kybernologi. . . . . . . . . . . 4 Penyelenggaraan Otonomi Daerah. . . . . . . . . Masalah . . . . . . . . . . . . . . . 2 Kerangka Pemikiran. . 117 118 118 119 VII KOMENTAR TERHADAP DRAFT PEDOMAN KURIKULUM. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 77 79 91 99 V USULAN PEMBENTUKAN LABORATORIUM LAPANGAN ADMINISTRASI KEPENDUDUKAN 1 2 3 4 Pengertian. . . . . . . . . 121 2 Sekolah Kepemimpinan Pemerintahan Dalam Negeri. . . . .DAFTAR PUSTAKA KYBERNOLOGI. . . Perspektif Kybernologi Administrasi Kependudukan. . . . . . . . . 3 Program Diklat Profesional Kepamongprajaan. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . Apakah DPD Itu? . 64 65 72 IV DEWAN PERWAKILAN DAERAH 1 2 3 4 DPD Di Pentas Politik . . . . . 2 Posisi Strategis Departemen Dalam Dalam Sistem Pemerintahan . . . . . . . 116 . . . 63 III DIKLAT PROFESIONAL KEPAMONGPRAJAAN 1 Latar Belakang. . . . . . . . . . . . . 125 . . 5 Penyelenggaraan Laboratorium Lapangan Administrasi Kependudukan . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 5 Peran Camat . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .

serta mewujudkan Duabelas Nilai Kepamongprajaan sebagai pola perilaku pemerintahan Indonesia dan pemerintahan daerah ke depan. Di samping hibrida Kybernologi bernama Kybernologi Pertanian oleh DR Ir Abdul Samad Melleng. penelitian. diajarkan. Kybernologi adalah sebuah bangunan pengetahuan (body-of-knowledge. dan pengabdian kepada masyarakat. GBPP matakuliah berisi roh ilmu yang bersangkutan. seperti terlihat dalam buku ini. GBPP dua subjek ini dirancang. hasil penelitian terhadap fenomena pemerintahan dari sudut (pendekatan) Manusia. dalam forum Scientific Traffic dan di lingkungan Badan Diklat Departemen Dalam Negeri dalam Rapat SEPIMDAGRI tanggal 19 dan 20 Mei 2009 di Jakarta. Perkembangan akademik ini langsung mendukung kebijakan baru Pemerintah yang menetapkan IPDN sebagai Penyelenggara Sistem Pendidikan Tinggi Kepamongprajaan berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 1 Tahun 2009. S2 dan S3 sejak tahun 1994 (antara lain bekerjasama dengan Universitas Padjadjaran). BOK) pemerintahan (governance). Buku ini diharapkan menjadi pegangan bagi segenap Masyarakat Akademik di lembaga-lembaga perguruan tinggi di atas. Dengan demikian Kybernologi bukan hanya judul seri buku yang terbit sejak tahun 2003. dalam menjalankan proses belajarmengajar di bidang Ilmu Pemerintahan (Kybernologi) melalui Tridharma Perguruan Tinggi: pengajaran. Dosen dan Praja). BOK tersebut kini telah mencapai derajat keilmuan tertinggi yang utuh dan lengkap. Bahkan sisi Axiologinya berkembang menjadi satu bidangkajian dan program diklat baru bernama Kepamongprajaan. diujicobakan sejak awal 2008 (Bab 6 Kybernologi dan Kepamongprajaan. didiskusikan. MM. dilakukan pada tanggal 8 Mei 2009 di Jatinangor. Institut Ilmu Pemerintahan (IIP) meluncurkan satu produk akademik bernama Kybernologi. hasil rekonstruksi dan buah pendaratan Bestuurskunde dan Bestuurswetenschap (Ilmu Pemerintahan) di bumi Indonesia. 2008). Kybernolog dan seorang pejabat Departemen Pertanian (Bab VI dan Bab VII Kybernologi dan Pengharapan.PENGANTAR REKTOR INSTITUT PEMERINTAHAN DALAM NEGERI Pada tgl 22 Mei 2003. Melalui proses pembelajaran Program S1. dan telah beberapa kali berubah. melainkan sebuah BOK yang terus berkembang. Pembahasan dan sosialisasi draft akhir ini di lingkungan IPDN (Pimpinan. dalam hal ini Kybernologi dan Kepamongprajaan. 2009). Kybernologi ini menyajikan .

PP 37/07.sebuah hibrida baru. Jakarta. Kybernologi tidak hanya berorientasi ke hilir. tetapi juga ke hulu. namun sesungguhnya dialamatkan dan ditawarkan kepada semua fihak yang peduli dengan masadepan Indonesia. Maka sebuah usulan pembentukan Laboratorium Lapangan Administrasi Kependudukan (UU 23/06. Dr Hj. NGADISAH. MA . yaitu Kybernologi Politik dengan mengambil Dewan Perwakilan Daerah sebagai sasaran kajian. dan Perpres 25/08). diluncurkan. Walaupun usulan ini ditulis untuk IPDN. Orientasi ke hulu ini dipicu oleh hiruk-pikuk Pemilu 2009 yang menurut para pengamat disebabkan oleh patologipolitik dan patologibirokrasi kependudukan yang sudah kronik dan parah. Juni 2009 Prof.

UMUM PEK. UMUM | | | | | | | | | | | | 2 | 2 | | KEAHLIAN | KEAHLIAN | | DI BIDANG----------SPESIALIS-----------DI BIDANG | | PERTANIAN | PEK.DIKLAT PROFESIONAL KEPAMONGPRAJAAN Kerangka Pemikiran 9 KYBERNOLOGI --------------------------ILMU PEMERINTAHAN BARU-------------------------| | (KOMPONEN PENDIDIKAN STRATA) | | | | | | | 8 8 | | KEAHLIAN KEAHLIAN | | DI BIDANG----------GENERALIS-----------DI BIDANG | | PEMERINTAHAN | PEMERINTAHAN | | | | | | | | | | | | 7 | 7 | | PROFESI KOMPONEN PROFESI | | BIDANG PE.---10--PENDIDIKAN--10-------BIDANG PE| | MERINTAHAN DIPLOMA MERINTAHAN | | | | | | | | | | | | | --------------------| | | 6 | vooruitzien | 6 | AGROPEMERINTAHAN | conducting | PEMERINTAHAN TEKNOLOGI PEMERINTAHAN DAERAH | coordinating | DAERAH PEMERINTAHAN | | | peace-making | | | | | | residue-caring | | | | 5 | turbulence-serving | 5 | | KEBIJAKAN | | KEBIJAKAN | |------------->BIDANG<----|---KEPAMONGPRAJAAN---|----->BIDANG<-------------| | PERTANIAN | | PEKERJAAN UMUM | | | | Freies Ermessen | | | | | | gen&spec function* | | | | 4 | omnipresence | 4 | KYBERNOLOGI KEPALA DINAS | responsibility | KEPALA DINAS KYBERNOLOGI PERTANIAN PERTANIAN |magnanimous-thinking | PEK. UMUM | | | | | | | | | | | . UMUM | | | statesmanship | | | | | --------------------| | | | | | | | 3 | 3 | | PROFESI KOMPONEN DIKLAT PROFESI | | BIDANG-----11----PROFESIONAL----11-----BIDANG | | PERTANIAN KEPAMONGPRAJAAN PEK.

10). DAN HUBUNGAN KYBERNOLOGI DENGAN ILMU PENGETAHUAN LAINNYA 1 LATAR BELAKANG Di dalam dokumen-dokumen tradisional Depdagri. misalnya Permendagri No 43 Tahun 2005 tentang Statuta IPDN. Belanda (pangrehpraja dan pamongpraja). di masa pemerintahan raja-raja (pangrehpraja). dan dijelaskan: 1. Jika dikaitkan dengan butir 3 “Mengingat” Perpres tersebut. Di sana dengan jelas dinyatakan bahwa IPDN “menyelenggarakan pendidikan tinggi di bidang kepamongprajaan yang diselenggarakan melalui sistem pendidikan tinggi kepamongprajaan. lebih tegas. diidentifikasi. sistem pendidikan tinggi kepamongprajaan merupakan subsistem pendidikan tinggi nasional sebagaimana diatur dalam UU Nomor 20 Tahun 2003. sekurang-kurangnya lima topik di bawah ini perlu segera difikirkan kembali.| 1 | 1 | -------------AGRONOMI-------ILMU-ILMU LAINNYA-------TEKNOLOGI------------CIVIL *generalist&specialist function GAMBAR TIGA KOMPONEN SISTEM PENDIDIKAN TINGGI KEPAMONGPRAJAAN PENDIDIKAN STRATA (9). Perpres tersebut meletakkan dasar yang kokoh (raison d’ētre) bagi eksistensi IPDN ke depan. Kepamongprajaan dalam Sistem Pemerintahan Indonesia 2. dan rezim Soeharto (kepala wilayah). Apakah Indonesia kembali ke masalalu? Apakah makna kepamongprajaan itu di masa depan? Oleh sebab itu. tetapi di fihak lain terkuak kembali memori sosial masalalu tentang hubungan pusat dengan daerah. IPDN disebut sebagai “lembaga pendidikan kader pamongpraja di lingkungan Departemen Dalam Negeri. PENDIDIKAN DIPLOMA (VOKASIONAL. Sistem Pendidikan Tinggi Kepamongprajaan 4. didefinisikan. kebijakan tersebut merupakan sebuah perubahan dan kemajuan. ht TN).” (pasal 2A. Hubungan antara sistem pendidikan tinggi nasional dengan sistem pendidikan tinggi kepamongprajaan 5. Di satu fihak. Sistem Pendidikan Tinggi Nasional 3. APDN dan IIP lebih dikenal sebagai “perguruan tinggi kedinasan di lingkungan Departemen Dalam Negeri. PENDIDIKAN PROFESIONAL (11).” Sementara itu sejak tahun 90-an yang lalu. Penyelenggaraan sistem pendidikan tinggi kepamongprajaan (di dalamnya termasuk Diklat Profesional Kepamongprajaan) 2 KERANGKA PEMIKIRAN .” Perpres 1/09 tentang Perubahan Atas Keputusan Presiden Nomor 87 Tahun 2004 mengenai penggabungan STPDN ke dalam IIP yang namanya sekaligus diubah menjadi IPDN.

Kybernologi adalah sebuah body-of-knowledge (BOK) baru. Identifikasi dan definisi Sistem Pemerintahan Indonesia dapat dilakukan melalui pendekatan kekuasaan (Ilmu Politik). mandat. hasil------lay publik---------menurut----| | pengelolaan & pemberdayaan etika otonom | | sumber-sumber masyarakat di hilir | | 1 di tengah 6 | | 4 | . dan subkultur sosial (SKS). sekurang-kurangnya tujuh terminal harus disinggahi untuk dapat mencapai lima topik di atas.PERDA) | | dan rute 4 | | (SDA.-SKE--------------. 2 3 5 janji(kebijakan.SKS-------------SKK--| pemain. Bestuurswetenschap dan Bestuurswetenschappen di bumi Indonesia (Gambar 2).| | pertanggung| | | | lanjutan utk | | lay civil.SDB) | | melalui pe| | via rute 1 | | di hulu | | milu di hulu | | di hilir | | | | | | | | | | | | | | stakeholder -. hope) selaku pelangan patan/implemendari SKS selaku terhadap kinerja --tasinya. Dalam kerangka pemikiran ini digunakan pendekatan Kybernologi (kybernân = besturen = steering). subkultur kekuasaan (SKK). seperti terlihat dalam Gambar 1. pemerintahan. dan dapat pula dilakukan menurut pendekatan kemanusiaan dan lingkungannya (Ilmu Pemerintahan.kontrol----konstituen-------SKK rute 2---| sumber-sumber | | (UU. hasil pendaratan Bestuurskunde. Kybernologi).pe. PEMERINKEPAMONGPROFESIDEPSISDIK DIKLAT PROFESIONAL TAHAN----->PRAJAAN---->ONALISME-->DAGRI-->DAGRI--->IPDN-->KEPAMONGPRAJAAN 1 2 3 4 5 6 7 Gambar 1 Kerangka Pemikiran Satu. Pemerintahan (governance) adalah interaksi antar tiga subkultur tiap masyarakat (unit kultur).SKK---------------.Dalam peta eksplorasi pemikiran tentang Diklat Profesional Kepamongprajaan. | | | | pembawasit penonton | | | ngunan | | | | | | | | | | redistribusi | | | | | | nilai berke| | nilai via pe. yaitu subkultur ekonomi (SKE).SDM. kuasa monev oleh SKS rencana)& pene(trust.| | jawaban etik | | | ---hidup.

Pekerjaan yang ditekuni seumur hidup disebut profesi. interaksi itu harus dikendalikan dan diarahkan oleh sebuah kekuatan yang disebut kepamongprajaan. Distinguished statesmanship (kenegarawan-utamaan. 6. Tiga. Conducting (membangun kinerja bersama melalui perilaku aktor yang berbeda-beda) 3. Kualitas kerja diharapkan professional agar kinerjanya . Nilai terbentuk melalui kerja.” “yang kalah.” “yang salah. Generalist and Specialist Function (knowing less and less about more and more. Kepamongprajaan. selama memangku masajabatan publik.| | ---------------------pemerintahan (governance)------------------------Gambar 2 Sistem dan Proses Pemerintahan (Governance) Digerakkan oleh Tiga Subkultur (Terminal) Melalui Rute 3. 4. Omnipresence (terasa hadir di mana-mana) 10.” “yang beda. 1. dan 3 (pelay = pelayanan) Dua. men(t)anggung risiko secara pribadi menurut Etika Otonom) 11. Fries Ermessen (keberanian bertindak untuk kemudian mempertanggungjawabkannya) 8. berpemikiran besar dan kuat menerobos zaman membuat sejarah) 12.” dan “yang terbuang”) 6. Vooruit zien (memandang sejauh mungkin ke depan) 2. Coordinating (membangun kinerja masing-masing melalui kesepakatan bersama yang mengikat) 4. Profesionalisme. Responsibility (menjawab dengan jelas dan jujur. force majeure) 7. dan dengan demikian governance menjadi good governance. tidak memihak. baik dalam arti formal maupun dalam arti informal. Kepamongprajaan adalah sebuah sistem yang terdiri dari 12 (duabelas) nilai sebagai berikut: 1. impartial) Orang yang memangku 12 nilai tersebut disebut Pamong Praja. Peace-making (membangun kerukunan dan kebersamaan) 5. Residue-caring (mengelola “sampah. Magnanimous-thinking (-mind. and more and more about less and less) 9. berdiri di atas semua kepentingan. Supaya kinerja interaksi antar tiga subkultur itu good.” “sisa. 2. 5. Turbulence-serving (mengelola ledakan yang dianggap mendadak atau di luar kemampuan.

.” lengkapnya “Bhinneka Tunggal Ika. khususnya Departemen Dalam Negeri.” yang dilembagakan menjadi Departemen Dalam Negeri. Di zaman raja Asoka (ca 269-232) terdapat dua agama besar di Asia. . sedangkan perdana menterinya Gadjah Mada (menjabat 1331-1364) beragama Buddha. dan membentuk watak (Character Building) bangsa. . kesebangsaan. A Macro Approach. Stillman II. ia menganjurkan perdamaian di mana-mana.” dan “profesionalisme” itu dapat dideduksi dari konsep “profesi” yang diuraikan dalam Kybernologi: Sebuah Rekonstruksi Ilmu Pemerintahan (2005. . Organization Theory and Management. which ordinarily requires higher education at least through the bachelor’s level. “a reasonably clear-cut occupational field. Second. Empat. Tanhana Dharmma Mangrva. profesionalisme kepamongprajaan di atas digunakan. . Untuk memperkokoh kekuasaannya. which offers a lifetime career to its members (Richard J. Empu Tantular mengemas ajaran itu dalam seloka yang sebagian berbunyi “bhinneka tunggal ika. . berbunyi: “Barangsiapa merendahkan agama lain dan memuji agamanya sendiri. Supaya berguna dan efektif. Professional associations and training centers promulgate a set of norms and values among professionals (Warren B.” artinya berbedabeda tetapi satu jua. Moberg.good. 1984). Dalam kerajaan Majapahit (1292-1525) nilai ideal “berbeda (beragam) tetapi (ber)satu” itu menjadi kenyataan: raja Hayam Wuruk (memerintah 1350-1389) beragama Hindu. karsa.” Dalam kitab Sutasoma. 38-9). Pembicaraan tentang Departemen Dalam Negeri tidak dapat dipisahkan dari Visi dan Misi Bangsa Indonesia. Pada suatu tiang batu peninggalannya tercantum sebuah pernyataan yang dapat disebut Doktrin Asoka. (berarti) merendahkan agamanya sendiri. professions have a code of ethics. standards of training and competence are set by the profession itself. tahan karena benar serta satunya cipta. . Pengertian “professional. rasa. Dikemukakan lebih lanjut bahwa “first. Brown dan Dennis J. professions are based on the presence of a systematic theory. Di sana dijelaskan bahwa profesi berarti. . . maka adalah tepat tatkala Presiden Soekarno dalam pidato HUT Proklamasi Kemerdekaan RI tgl 17 Agustus 1950 menyatakan bahwa Bhinneka Tunggal Ika adalah sesanti (credo) bangsa Indonesia. Public Administration: Concepts and Cases. dalam hal ini di ruang pemerintahan. Finally. yaitu Hindu dan Buddha. professions are encircled by a professional culture. Bab I sub C. Pemerintahan “Dalam Negeri. . . professions all have professional authority. h. Third. A professional group has a common language. Fourth. kata dan karya berdasarkan kebenaran yang tunggal. . Bertolak dari sejarah yang menunjukkan bahwa Bhinneka Tunggal Ika sebagai sistem nilai ideal di zaman dahulu bisa menjadi kenyataan. . 1980). bahkan dapat disebut visi (walaupun Presiden Soekarno tidak secara eksplisit menyatakan demikian) bangsa Indonesia dalam membangun bangsa (Nation Building).

departemen manakah yang secara khusus berperan menjalankan misi guna mewujudkan visi di atas? Sejak semula. Bhinneka Tunggal Ika itu kemudian dijadikan hukum positif dalam bentuk PP 66/1951. sepandan horizontal anjang sejarah pertar masyarakat sebedaan itu menimcepatnya bulkan kesenjangan vertikal dan horizontal antar masyarakat Gambar 3 Model Bhinneka Tunggal Ika Sebagai Misi Bangsa Indonesia kemudian setelah menyeberangi jembatan. Departemen Dalam Negeri menduduki posisi strategik dalam sistem pemerintahan RI. das Sein) dan “tunggal ika” (ide. Visi tersebut semakin jelas lima tahun BHINNEKA------------------------------------------------>TUNGGAL IKA masyarakat yang proses pengelolaan sehingga semua masing-masing keunikan menjadi kemasyarakat merasa memiliki keunikan kuatan matarantai sebangsa dan bersehingga yang satu dan pengurangan kesama-sama membaberbeda dengan senjangan vertikal ngun masa depan yang lain. Dalam sistem ketatanegaraan Indonesia.Bhinneka Tunggal Ika itu merupakan sebuah sistem nilai yang terdiri dari dua komponen besar yaitu “bhinneka” (fakta. diperkaya dengan Bhinneka Tunggal Ika. Sejumlah departemen/kementerian “teknis” berasal dari departemen ini. Tatkala Bangsa Indonesia masih berada di seberang jembatan yang bernama KEMERDEKAAN. khususnya alinea pertama dan kedua. visinya adalah seperti yang tercantum dalam Pembukaan UUD 1945. Gambar 3 menunjukkan misi Pemerintah Indonesia yaitu memproses pengelolaan keunikan tiap masyarakat menjadi kekuatan matarantai nusantara dan mengurangi kesenjangan vertikal dan horizontal antar masyarakat secepatnya. das Sollen). Menterinya juga Tabel 1 FUNGSI LINI DEPARTEMEN DALAM NEGERI ---------------------------------------------------------------------KELOMPOK A KELOMPOK B ---------------------------------------------------------------------1 Ditjen Kesatuan Bangsa dan Politik 1 Ditjen Otonomi Daerah . Antara dua komponen itu terjadi hubungan timbal-balik (interaksi) bahkan hubungan dialektik terus-menerus.

Sistem Pendidikan Tinggi Kepamongprajaan. Lima. Mengingat posisi dan peran Departemen Dalam Negeri yang strategis itu. Tetapi yang terpenting adalah misinya mengelola kebhinnekaan dan mewujudkan ketunggalikaan bangsa Indonesia. yaitu tenagakerja penyelenggara IPDN) dan output (tenaga. Proses bergantung pada sistem (termasuk pelaku. Pasal 2 Permendagri Nomor 1 Tahun 2009 tentang Organisasi dan Tatakerja IPDN (menunjukkan proses) yang seharusnya ditetapkan berdasarkan Statuta. dalam sistem ketatanegaraan dan pemerintahan Indonesia.2 Ditjen Bina Pembangunan Daerah 2 Ditjen Pemerintahan Umum 3 Ditjen Administrasi Kependudukan 3 Ditjen Pemberdayaan Masyarakat dan Desa 4 Ditjen Bina Administrasi Keuangan Daerah ---------------------------------------------------------------------- dikenal sebagai satu di antara triumvirate di samping Departemen Luar Negeri dan Departemen Pertahanan. Sejauh ini Statuta yang dimaksud belum ada. Dari dahulu Departemen Dalam Negeri mengelola sistem pemerintahan berdasarkan asas dekonsentrasi. adalah Departemen Dalam Negeri. dalam hal ini Statuta IPDN. Ditjen Kelompok A berfungsi sebagai unit kerja yang memproses “Tunggal Ika. Bila diperhatikan dengan saksama. dan berperan sebagai pembina politik dalam negeri. terlihat dengan sangat jelas bahwa dua kelompok itu merupakan fungsi lini Departemen Dalam Negeri. desentralisasi. dan pembantuan (medebewind). Ketujuh direktorat jenderal ini dapat dibedakan menjadi dua kelompok (Tabel 1). Di sana ditetapkan bahwa IPDN menyelenggarakan program pendidikan akademik dan/atau profesi di bidang kepamongprajaan. Hal itu terlihat pada fungsi lini Departemen Dalam Negeri yang dewasa ini terdiri dari tujuh direktorat jenderal (ditjen).” sementara ditjen Kelompok B mengelola “keBhinnekaan” nusantara. departemen yang secara khusus berperan menjalankan misi pemerintahan Indonesia yaitu mengelolaan keunikan tiap masyarakat (bhinneka) menjadi kekuatan matarantai nusantara. dan pelaku pemerintahan departemen itu perlu dicharge 12 Nilai Kepamongprajaan di atas. Dengan perkataan lain. kader Pamongpraja) input throughput output . dapat dijadikan pegangan sementara. maka ke dalam sistem. proses. Sistem Pendidikan Tinggi Kepamongprajaan (input) terlihat dalam Statuta unitkerja penyelenggaraannya. mengurangi kesenjangan vertikal antar masyarakat dan kesenjangan horizontal antar daerah secepatnya. sehingga “the kesadaran dan rasa kesebangsaan terbentuk secara berkelanjutan (tunggal ika).

Seseorang berkualitas Pamongpraja. Program Pendidikan Akademik ditujukan pada pembentukan tenaga pemerintahan dengan Ilmu Pemerintahan (Kybernologi) sebagai core . Enam. dan 3) segera. melalui Sistem Pendidikan Tinggi Kepamongprajaan yang merupakan Subsistem Pendidikan Tinggi Nasional. IPDN memangku tanggungjawab penyelenggaraan Sistem Pendidikan Tinggi Kepamongprajaan sebagaimana terlihat pada Gambar 5. yaitu program 3 (Gambar 5) merupakan inti makalah ini. Program Pendidikan akademik itu terdiri dari Program Pendidikan Diploma dan Program Pendidikan Strata. dan prospek ke depan. Referensi tentang topik ini terdapat dalam Kybernologi Sebuah Scientific Movement (2007). IPDN. 2. tenaga berkualitas kepamongprajaan itu diproduksi melalui Program Pendidikan Akademik dan Program Pendidikan Profesi. kebutuhan masyarakat akan layanan kepamongprajaan melalui Departemen Dalam Negeri. Dengan sistem ini diharapkan. Kybernologi Sebuah Profesi (2007). Berdasarkan uraian di atas. Perbedaan antara Program Pendidikan Akademik (1+2) dengan Program Pendidikan Profesi (3) terletak pada pertama. Dasar teoretiknya terlihat pada Gambar 6. Satu di antara tiga program tersebut. dapat terpenuhi PROGRAM --1--PENDIDIKAN | DIPLOMA PROGRAM | -----PENDIDIKAN-----| | AKADEMIK | SISTEM PENDIDIKAN | | PROGRAM TINGGI KEPAMONG------| --2--PENDIDIKAN PRAJAAN (IPDN) | STRATA | PROGRAM --3--PENDIDIKAN PROFESI Gambar 5 Tiga Program Pendidikan Kepamongprajaan IPDN (Program 1. posisi dalam organisasi pemerintahan.sistem pendidikan tinggi SDM-------------------------------->PAMONGPRAJA kepamongprajaan Gambar 4 Proses Pendidikan Tinggi Kepamongprajaan bergantung pada proses. Berdasarkan Pasal 2 Permendagri 1/09 di atas. latarbelakang pendidikan. dan Kybernologi dan Kepamongprajaan (2008).

Dalam menjalankan tugasnya. SKS). dan Kepala Jurusan. dibantu oleh unsur staf. Rektor. bukan layanan administratif kepada masyarakat. Lulusannya disebut Pamongpraja Muda. yaitu biro dan bagian di bawahnya. Unitkerja yang memroduksi langsung tenaga Pamong Praja di bawah institut adalah fakultas. dan prospeknya ke depan sebagai kader.curriculum pada tingkat institut. MENTERI DALAM NEGERI | KEPALA BADAN DIKLAT (a/n)--------|--------SEKRETARIS JENDERAL (a/n) | REKTOR----------------| | |---------PEMBANTU REKTOR (a/n) | | | BIRO | | DEKAN-------------| | | | | BAGIAN | | KEPALA JURUSAN---------| | | | | SUBBAGIAN | TENAGA AKADEMIK | PESERTA DIDIK | MASYARAKAT PELANGGAN Gambar 6 Struktur Organisasi IPDN (Yang Disarankan) Tujuh. dengan core curriculum yang sifatnya spesialis. Organizational design IPDN bermula pada identifikasi produk unitkerja yang dibutuhkan oleh pelanggan (masyarakat. Oleh sebab itu. Produksi tenaga berkualitas Pamong Praja adalah pelayanan akademik atau pendidikan. Sebagian tenaga melalui program ini. 3 . dalam hal ini tenaga berkualitas Pamong Praja. Dekan. Kualitas produk (lulusan) bergantung pada Organizational design IPDN. Program Diklat Profesional Kepamongprajaan. bukan pelayanan birokrasi atau administratif. bukan biro dan bagian. unsur pelaksana IPDN adalah fakultas dan Jurusan. Garis antara Rektor sebagai unsur kepala dengan Dekan dan Jurusan disebut garis lini (line function) atau garis komando hirarkik. Diklat ini disiapkan khusus buat sebagian tenaga yang direkrut dari lulusan program pendidikan nonkepamongprajaan.

Ketika ia memasuki ruang profesi pemerintahan 9 -------------------------------KYBERNOLOGI-------------------------------| | (KOMPONEN PENDIDIKAN STRATA) | | | | | | | 8 8 | | KEAHLIAN KEAHLIAN | | DI BIDANG----------GENERALIS-----------DI BIDANG | | PEMERINTAHAN | PEMERINTAHAN | | | | | | | | | | | | 7 | 7 | | PROFESI KOMPONEN PROFESI | | BIDANG PE.PROGRAM DIKLAT PROFESIONAL KEPAMONGPRAJAAN Dalam Gambar 6. UMUM | | | | | | | | | | | | 1 | 1 | -------------AGRONOMI-------ILMU-ILMU LAINNYA-------TEKNOLOGI------------CIVIL *generalist&specialist function GAMBAR 6 SISTEM NILAI KEPAMONGPRAJAAN DAN HUBUNGANNYA DENGAN KYBERNOLOGI DAN ILMU PENGETAHUAN LAINNYA . sebagai contoh. UMUM PEK. yang menghadirkan ahli pertanian dan ahli pekerjaan umum (2).--10---PENDIDIKAN---10------BIDANG PE| | MERINTAHAN DIPLOMA MERINTAHAN | | | | | | | | --------------------| | | 6 | vooruitzien | 6 | AGROPEMERINTAHAN | conducting | PEMERINTAHAN TEKNOLOGI PEMERINTAHAN DAERAH | coordinating | DAERAH PEMERINTAHAN | | | peace-making | | | | | | residue-caring | | | | 5 | turbulence-serving | 5 | | KEBIJAKAN | | KEBIJAKAN | |------------->BIDANG<----|---KEPAMONGPRAJAAN---|----->BIDANG<-------------| | PERTANIAN | | PEKERJAAN UMUM | | | | Freies Ermessen | | | | | | gen&spec function* | | | | 4 | omnipresence | 4 | KYBERNOLOGI KEPALA DINAS | responsibility | KEPALA DINAS KYBERNOLOGI PERTANIAN PERTANIAN |magnanimous-thinking | PEK. Agronomi dan Teknologi Civil (1). UMUM | | | | | | | | | | | | 2 | 2 | | KEAHLIAN | KEAHLIAN | | DI BIDANG----------SPESIALIS-----------DI BIDANG | | PERTANIAN | PEK. Para ahli ini terpanggil untuk memangku profesi di bidangnya masing-masing (3) sehingga keahliannya menjadi keahlian profesional. UMUM | | | statesmanship | | | | | --------------------| | | 3 | 3 | | PROFESI KOMPONEN DIKLAT PROFESI | | BIDANG----11-----PROFESIONAL-----11----BIDANG | | PERTANIAN KEPAMONGPRAJAAN PEK.

pemerintah daerah diharapkan mampu menyediakan pelayanan pemerintahan berbasis keahlian profesional bidang masing-masing (pertanian. Ironinya profesionalisme. terus ke 10 dan 11. dan berpeluang untuk menjadi kepala dinas (4). pertimbangan keahlian profesional (ilmupengetahuan dan teknologi) semakin dominan. dan dan setiap dinas daerah harus diperkuat dengan tenaga ahli profesional melakukan tugasnya didukung fasilitas yang sepadan. daerah otonom). sehingga terminal itu rawan konflik antara pertimbangan politik kekuasaan dengan pertimbangan keahlian profesional (ilmupengetahuan dan teknologi). Setiap kewenangan yang diserahkan kepada masyarakat (daerah) harus diatur dalam peraturan daerah (perda). Pada aras statal. ia terlibat dalam proses kebijakan (5) pemerintahan daerah (6). Criticalness terminal itu terletak pada kenyataan bahwa kebijakan pemerintahan sejauh ini dianggap berada di dalam ruang politik. ilmupengetahuan dan teknologi itu terkonsentrasi di pusat-pusat politik kekuasaan. 9). Di antara 9 terminal yang terlihat pada Gambar 6. dinas daerahlah yang merupakan garisdepan pemerintahan daerah.(misalnya menjadi PNS). sementara masyarakat bawah tidak memiliki akses ke sana. Dengan Diklat Profesional Kepamongprajaan. Pada aras statal memang superioritas pertimbangan politik kekuasaan tidak dapat dihindarkan. Pada saat yang sama. specialist function) berdasarkan pertimbangan kepamongprajaan (generalist function) bagi manusia dan masyarakat di bawah. hal ini analog dengan posisi dualistik menteri dalam struktur negara RI. ilmupengetahuan dan teknologi). tetapi diharapkan semakin ke bawah (masyarakat. dsb. ketimbang sebagai alat untuk meningkatkan produktivitas kerja. karena selaku unsur pelaksana. Pada saat itu ia memasuki ruang kepamongprajaan sebagai lembaga dan struktur (lihat Sesi Empatbelas GBPP Kepamongprajaan dalam buku ini). yaitu sebagai pembantu presiden (ruang politik kekuasaan) dan sebagai kepala departemen/kementerian pemerintahan (ruang keahlian profesional. dan bukan pelayanan pemerintahan guna membangun kekuasaan politik. . Terminal 5 yang bersifat critical. tenaga yang bersangkutan bersentuhan dengan kepamongprajaan sebagai kualitas. berkeahlian profesional bidang pemerintahan (8). setiap perda harus dilembagakan menjadi dinas daerah. Sudah barang tentu. profesinya meluas ke bidang profesi pemerintahan. yang menuntut penguasaan fungsi generalis (7). Dalam struktur itu. yang bersumber pada Ilmu Pemerintahan (Kybernologi. Diklat di Indonesia terkesan lebih sebagai alat promosi jabatan atau kenaikan pangkat seseorang. diklat ini harus didukung oleh reformasi pemerintahan daerah.

Didaktik pembelajaran yang diusulkan ialah. Para peserta dijejali 468 jam pelajaran (40 jam Materi Dasar. Ambil contoh desain Sepimxxxxx Tingkat Madya yang dirancang buat pejabat eselon IV atau tenaga yang diprojeksikan ke eselon III. . 3 Kepemimpinan Pemerintahan 3 Nilai Tiga Coordinating . belajar bersama. . 264 jam Materi Inti. . . . 10 Manajemen Pemerintahan 9 Nilai Sembilan Responsibility . . . . digunakan metodologi TOT (dengan kepala unitkerja sebagai peserta awal) dan atau Ujicoba dengan menggunakan Test Unit dan Control Unit.6 jam tiap hari. . dengan metodik sedemikian rupa sehingga para peserta mampu belajar sendiri lebih lanjut dan menggunakan pelajaran itu dalam melakukan tugas pelayanan kepada masyarakat dengan penuh tanggungjawab. . . Diklat dirancang per unitkerja dengan anggota sekitar 20 – 30 orang (unitkerja eselon 3 atau eselon 2). dan para peserta dicharge dengan sebanyak-banyaknya jam pelajaran dalam tempo yang sesingkat-singkatnya. . . 9 Hukum Pemerintahan 8 Nilai Delapan Gen&Spec Function . Supaya sosialisasi Diklat Profesional Kepamongprajaan ini berjalan cepat. Core curriculum Diklat Profesional Kepamongprajaan diidentifikasi di kalangan Tabel 2 Duabelas Nilai Kepamongprajaan -----------------------------------------------------------------NILAI CABANG ILMU/KAJIAN TERKAIT -----------------------------------------------------------------1 Nilai Satu Vooruitzien. .Produktivitas suatu unitkerja tidak bergantung pada salah seorang tenaganya yang didiklatkan. . . 1 Kybernologi 2 Ilmu Filsafat 2 Nilai Dua Conducting. Sejauh ini kurikulum diklat terkesan didesain sebanyak-banyaknya karena semuanya dianggap penting. . . Demikian Nilai Dua dan Nilai Tiga Kepamongprajaan. . . dengan kepala unit kerja sendiri dan seluruh warga unit kerja yang bersangkutan sebagai pesertanya. 5 Sosiologi Pemerintahan 5 Nilai Lima Residue-caring . berarti 15. Etika Pemerintahan . Desain kurikulum juga perlu diubah. melainkan pada teamwork dan semangat kelompok seluruh unitkerja dalam hubungannya dengan unitkerja lain. . . . 7 Manajemen Bencana 8 Ekologi Pemerintahan 7 Nilai Tujuh Freies Ermessen . 4 Ilmu Administrasi Publik 4 Nilai Empat Peace-making. belajar-bersama (per unitkerja) materi pelajaran terpilih sesedikit mungkin dalam waktu sesingkat mungkin. . . Metodologi diklat harus berubah. . dan 164 jam Materi Penunjang) selama 30 harikerja. . 6 Etika Pemerintahan 6 Nilai Enam Turbulence-serving .

. .10 Nilai Sepuluh MagnanimousThinking. . . . . . . . Etika Pemerintahan 12 Nilai Duabelas Distinguished Statesmanship . . Di samping itu masih perlu diidentifikasi matadiklat dasar dan matadiklat penunjang yang belum tercakup dalam Tabel 2. . . Sudah barang tentu. . . . . tabel di atas masih bersifat tentatif. 11 Ilmu Sejarah 11 Nilai Sebelas Omnipresence. . . . . 12 Ilmu Politik ------------------------------------------------------------------ cabang ilmu yang aksiologinya mengandung nilai kepamongprajaan tertentu (Tabel 2). . . . . . .

1504090825SDG .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful