GBPP MATAKULIAH

PENGANTAR ILMU PEMERINTAHAN
UNTUK PROGRAM STRATA DI PERGURUAN TINGGI
Taliziduhu Ndraha, Kybernolog 1 LATAR BELAKANG GBPP mata kuliah Pengantar Ilmu Pemerintahan ini semula ditulis sebagai bahan Workshop Penyusunan GBPP/SAP Semester I dan II Fakultas Manajemen Pemerintahan IPDN 2008/2009 di Jatinangor tgl 24 dan 25 November 2008, memenuhi undangan Dekan fakultas yang bersangkutan tgl 18 November 08 No 003/487/FMP/08. Sesuai saran berbagai fihak, naskah awal diperluas sehingga dapat digunakan sebagai pola dasar matakuliah Ilmu Pemerintahan untuk Program S1, S2, dan S3 Ilmu Pemerintahan. Penggunaannya disesuaikan dengan kebutuhan tiap stratum. Andaikan Ilmu Pemerintahan diibaratkan sebuah pohon-buah dengan buah (aspek Axiologi), batang (aspek Epistemologi), dan akarnya (aspek Ontologi), maka didaktik dan metodik (DM) pengajarannya diperlihatkan melalui Tabel 1 di bawah ini.
Tabel 1 Didaktik dan Metodik (DM) Pengajaran Ilmu Pemerintahan Dilihat dari Aspek-Aspek Body-Of-Knowledge (BOK) Bahan Ajar (X menunjukkan tingkat kedalaman)
------------------------------------| METODIK PENGAJARAN | |-------------------------------------| | S1 | S2 | S3 | --------------------------------------|-----------|------------|------------| | | Axiologi (Buah) | X X X | X X | X | | |-------------------------|-----------|------------|------------| | DIDAKTIK | Epistemologi (Batang) | X X | X X | X X | | |-------------------------|-----------|------------|------------| | | Ontologi (Akar) | X | X X | X X X | ----------------------------------------------------------------------------

Dengan catatan bahwa perancangan DM harus dilakukan secara bertahap tetapi konsisten, Program S1, S2, dan S3, sebaiknya tersusun menurut skala interval dan tidak ordinal apa lagi nominal belaka (Gambar 1, sistem single input - single output). Sungguhpun demikian, dalam fase peralihan, program khusus atau tertentu, “darurat” atau terpaksa, sistem multi-input single output dapat juga digunakan, didukung dengan program matrikulasi yang sepadan. Jadi sedapat-dapatnya:

jangan begini: (ordinal)
S3 | | | | | S2 | S1 ilmu X

apalagi begini: (nominal, zig-zag)
------>S3 | ilmu X | | | | ------>S2 | ilmu Y S1 ilmu Z

tetapi begini: (interval)
S3 | | | S2 | | | S1 ilmu X

Gambar 1 Skala DM Program Strata Ilmu Pemerintahan 2 SESI SATU Sesi ini diisi dengan Penjelasan Umum, pandangan menyeluruh (overview) tetapi esensial (abstract, highlight) tentang Ilmu Pemerintahan (termasuk TIU) dan Sejarah Pengajaran Ilmu Pemerintahan di Indonesia. Semua mata kuliah yang terkait dengan Ilmu Pemerintahan mengacu pada Pengantar ini. Ilmu Pemerintahan yang diuraikan di sini adalah Ilmu Pemerintahan dalam konstruksi bangunan (bodyof-knowledge) yang disebut Kybernologi. Dalam hubungan itu, Kybernologi bukan sekedar judul buku, tetapi sebuah bangunan ilmu pengetahuan. Khusus di lingkungan IPDN/IIP, Ilmu Pemerintahan merupakan mata kuliah tingkat institut dan diajarkan pada semua program, strata, fakultas dan jurusan. Perkuliahan tiap semester terdiri dari 14 sesi tatapmuka dan dua sesi ujian (UTS dan UAS) = 16 sesi. Dari referensi ditelusuri sumber-sumber asli dan ditambahkan sumber-sumber lainnya. GBPP ini secara berkala ditinjau dan dikembangkan. Salahsatu versi GBPP ini dimuat dalam Bab XI Kybernologi Sebuah Pengharapan (2009). Sejarah Pengajaran Ilmu Pemerintahan di Indonesia diawali dengan Bestuurskunde, Bestuurswetenschap, dan Bestuurswetenschappen di Belanda. Menurut G. A. Van Poelje dalam Pengantar Umum Ilmu Pemerintahan (1959), mulai tahun kuliah 19281929 pengajaran dalam Jurusan Ekonomi Kenegaraan diperluas dengan mata pelajaran Ilmu Pemerintahan dengan tujuan supaya jurusan ini lebih disesuaikan dengan kebutuhan mereka yang berhasrat untuk bekerja pada dinas umum. Pada tgl 25 Januari 1928, Guru Besar Luar Biasa di bidang Ilmu Pemerintahan dilantik, dan dengan dmeikian maka pengakuan Ilmu Pemerintahan sebagai mata pelajaran (berderajat Doktor) pada pengajaran tinggi di Belanda menjadi suatu kenyataan. Selama masa 1928-1933 dua orang Doktor Ilmu Pemerintahan dipromosikan, yaitu

Dr R. E. Berends dan Dr F. Breedsvelt. Di masa itu Ilmu Pemerintahan dianggap sebagai struktur supra ilmu-ilmu pengetahuan yang berkaitan dengan ekonomi perusahaan. Uraian di atas kemudian disusuli dengan pengajaran Ilmu Pemerintahan pada kursus dan bestruursacademie Pamongpraja di zaman Belanda, paradigma Ilmu Pemerintahan di lingkungan UGM sampai tahun 80-an (Gambar 2), dan dewasa ini (Gambar 3), paradigma IIP-UNPAD, dan paradigma IPDN/IIP-Baru.
ILMU POLITIK | -----------------------------|----------------------------| | | | | ILMU ADM ILMU HUBILMU PEILMU PERBANTEORI PUBLIK INTERNASIONAL MERINTAHAN DINGAN POLITIK POLITIK

Gambar 2 Posisi Ilmu Pemerintahan Versi UGM (Tradisi Sampai Tahun 80-an)

Natural turbulences dan social turbulences yang terjadi di belahan dunia maju, misalnya di Amerika, mengerakkan pengubahan dan pembaharuan konstruksi berbagai ilmu pengetahuan. Paradigma Public Administration, misalnya, berubah menjadi Development Administration (tahun 60-an, pasca PD II), dan berubah

1 NEGARA 2 POLITIK KEPARTAIAN DAN PERWAKILAN

MASYARAKAT 3

Gambar 3 Ranah Publik: Bidang Studi Jurusan Ilmu Pemerintahan di Universitas Gadjah Mada (UGM) lagi menjadi The New Public Administration (1970-an, pasca Perang Vietnam). Dua

kali social turbulences (1965 dan 1998) dan sekali lagi natural turbulence (20042005) menimpa Indonesia, mendorong pembaharuan konstruksi Ilmu Pemerintahan. Turbulences itu ditanggapi dengan cara pendekatan yang berbeda oleh UGM dan Program Pascasarjana Kerjasama UNPAD-IIP (1996). Sejak tahun 2000-an, bidang kajian Jurusan Ilmu Pemerintahan di UGM dikonstruksi seperti Gambar 3 (A. Nurmandi, E. P. Purnomo, Suswanta, peny., Mencari Jatidiri Ilmu Pemerintahan, 2006), sedangkan Ilmu Pemerintahan di lingkungan Program Pascasarjana Kerjasama UNPAD-IIP direkonstruksi seperti Gambar 4. Rekonstruksi Gambar 4 bermula pada pendekatan kemanusiaan (Gambar 5). Melalui pendekatan ini, maka HAM, kebutuhan eksistensial Manusia, kebutuhan dasar masyarakat dan lingkungan hidupnya yang pertama-tama terlihat sebagai sasaran kajian, dan bukan Negara, kepentingan atau kekuasaan belaka. Rekonstruksi itu didorong oleh keinginan untuk mengembalikan Ilmu Pemerintahan pada posisi dan kualitasnya semula yaitu “ilmu yang bertujuan menuntun hidup bersama manusia dalam upaya

NEGARA governent 1 ruang kekuasaan PUBLIK ruang publik 2 KEBIJAKAN PUBLIK governance
kewenangan negara 1--------------->2 pelayanan publik

kewajiban negara 1-------------->3 pelayanan civil

ruang civil 3 MANUSIA HAM

Gambar 4 Interface Antara Negara Dengan Manusia mengejar kebahagiaan rohani dan jasmani yang sebesar-besarnya tanpa merugikan orang lain secara tidak sah” (G. A. van Poelje, Algemene Inleiding tot de Bestuurskunde, 1953. Rekonsturksi Ilmu Pemerintahan menurut pendekatan Gambar

E. PENDEKATAN KEKUASAAN PENDEKATAN KEMANUSIAAN DAN LINGKUNGAN FENOMENA PEMERINTAHAN COMMON PLATFORM SEMUA ILMU PENGETAHUAN ILMU PEMERINTAHAN KONSTRUKSI GAMBAR 4 BERNAMA KYBERNOLOGI ILMU PEMERINTAHAN KONSTRUKSI GAMBAR 3 Gambar 5 Dua Macam Pendekatan Referensi: Bab I Kybernologi 2003. .3 dan Gambar 4 terhadap fenomena pemerintahan digabung seperti Gambar 5 itu. Pokok-pokok Kybernologi menurut perkembangannya yang terakhir terdapat dalam Bab I Kybernologi dan Pembangunan (2009). Bab 3 Kybernologi dan Kepamongprajaan. Nurmandi. sebagai hasil pendaratan Bestuurskunde dan Bestuurswetenschap di bumi Indonesia. Bab VIII Kybernologi Sebuah Profesi. Mencari Jatidiri Ilmu Pemerintahan. Pendekatan seperti Gambar 5 itulah yang diajarkan di lingkungan IPDN/IIP ke depan. Bab I dan Bab II dan Soewargono dalam Kybernologi Sebuah Rekonstruksi Ilmu Pemerintahan. peny. 2006. Purnomo. 2008 3 SESI DUA Melalui pendekatan metadisiplin: “Percaya agar (baru) tau (credo et intelligam). P. A. Bab I dan Bab II Kybernologi Beberapa Konstruksi Utama. Bab 3 Kybernologi dan Kepamongprajaan.. 2008. Keadaan dengan Pengharapan. Perkembangan kemanusiaan yang memuncak pada kenegaraan. 2005. 2005. membentuk Hubungan Pemerintahan. 2007.” ditemukan Ontologi Kybernologi dengan dua variable pemikiran: Kualitas Manusia dan Hubungan Pemerintahan (lihat Gambar 6). yang disebut juga Hubungan Antara Janji dengan Percaya. Suswanta.

McIver.” demikian ungkapan Perancis. bermula dari “kebutuhan manusia” sejak “terjadinya” di dalam kandungan. Pemenuhan kebutuhan manusia selain bersifat komprehensif (segala bidang kehidupan) juga bersifat jangka panjang sejauh mungkin ke depan: “Gouverner c’est prevoir. Bab 6 dan Bab 7 Kybernologi 2003. The Web of Government. R.ALLAH mencipta CIPTAAN<---------------------HUBUNGAN PEMERINTAHAN---------------------> MAKHLUK MANUSIA-->MEMBUMI 1 CIPTAAN | MANUSIA | PENDUDUK-->BERMASYARAKAT | 2 CIPTAAN | MANUSIA | PENDUDUK | WARGAMA| SYARAKAT-->BERBANGSA | 3 CIPTAAN | MANUSIA | PENDUDUK KUALITAS MASYARAKAT MANUSIA WARGABANGSA-->BERNEGARA | 4 CIPTAAN | MANUSIA | PENDUDUK | MASYARAKAT | BANGSA | WARGANE| GARA----->BERPEMERINTAHAN 5 CIPTAAN MANUSIA 7 PENDUDUK YANG DIMASYARAKAT PERINTAH BANGSA konstituen NEGARA pelanggan<------------hubungan pemerintahan------------>PEMERINTAH konsumer (peran) korban 6 mangsa Gambar 6 Ontologi Kybernologi dengan 7 Terminal Referensi: Bab 1. 4 SESI TIGA Epistemologi Ilmu Pemerintahan: Teori Kebutuhan. Pemikiran pemerintahan sejajar dengan pemikiran ekonomi. 1961. Pikiran ini dideduksi dari Ontologi Pemerintahan di atas. .

Maka berbahaya jika orang memilih (membeli) tanpa mengetahui apa yang sesungguhnya dia . Pada dasarnya.------------------------------------------------------------------------| | | 7 | | PENGORBANAN | | CIVIL SERVANT | | | | | | | | 4 5 6 9 | | ----INDI. emp.-----| SIA & INSNEEDS POLICY ACTOR evaluasi | TINCTS | | | | | | | 13 | | | | 11 | POLICY | 16 | | | -----PUBLIC---------IMPLE----------PUBLIC----| | | CHOICE MENTATION | SERVICES | | | | | | | | | | | | | | 10 | | 15 | ----MASYA| | penggunaan oleh KONSUMER | RAKAT | | HAK HIDUP KORBAN atau HAK MANGSA | | | | UNTUK MEMPERTAHANKAN DIRI | | | | KEPERCAYAAN (TRUST) terhadap PEMERINTAH | | | | PENGHARAPAN (HOPE) DI MASA DEPAN | | | | | | | --------------------------------------------| | | 17 18 19 ----PRIVATE-----. | | | | KORBAN dan MANGSA untuk SELAMAT | | | | | | 2 | | | 1 HUMAN 3 12 14 20 | MANU.----RIGHTS-----HUMAN PUBLIC PUBLIC kontrol. Itulah sebabnya kebutuhan dasar itu diposisikan sebagai hak asasi manusia. maka dasar pertimbangannya adalah kepentingan. Semua orang membutuhkan makanan. kebutuhan. Tetapi pada saat orang berniat dan berkesempatan memilih makan apa atau makan siapa dan kapan. Jadi kepentingan itu subjektif. dan pemenuhannya sebagai kewajiban negara.--BARANG---------MARKET CHOICE JASA (SATISFACTION) ---> 7pembentukan civil service --->12pembuatan kebijakan publik --->13pengadaan public goods *empowering --->14pembentukan public actor --->15pemberdayaan (enabling. lebihlebih kebutuhan dasar (asasi) bersifat objektif.-----CIVIL-–----acting---------CIVIL------| | | VIDU RIGHTS action SERVICES | | | | | | | | | | | | | | 8 | | | | KESEMPATAN dan HARAPAN (HOPE) | | | | PELANGGAN UNTUK MENJADI KONSUMER.*) --->17privatisasi vs statalisasi Gambar 7 Teori Kebutuhan Kebutuhan perlu dibedakan dengan kepentingan.

butuhkan. 2006. Bab V Kybernologi Sebuah Metamorphosis. 84). civil NEGARA------>PRODUK------>PELANGGAN | | --------------------| | BERDAYA TAK BERDAYA | | | | KONSUMER KORBAN | --------------------| | DIBERDAYAKAN TAK DIBERDAYAKAN | | | | KONSUMER MANGSA | ----------------------------| | DISELAMATKAN TAK DISELAMATKAN | | | | *jika penyelamatan KORBAN* DIMANGSA. Perlu dikemukakan bahwa manusia (setiap orang) memiliki HAM begitu ia terbentuk dalam rahim ibunya. Perlindungan dan pemenuhan kebutuhan manusia dan masyarakat melalui public choice (public service. | DIKORBANKAN korban jadi konsumer --------------------| | DIBERDAYAKAN TAK DIBERDAYAKAN | | | | KONSUMER MANGSA Gambar 8 Teori Pemberdayaan (Pelayanan) . Dia dapat terbebani KAM seiring dengan kemampuannya untuk bertanggungjawab. tetapi tidak dapat dan tidak mungkin ia dibebani KAM (kewajiban asasi) pada saat yang sama. Bab 2 Kybernologi Beberapa Konstruksi Utama. dsb. dan referensi Teori Kebutuhan A. h. Bagian Dua Bab VI Kybernologi Sebuah Scientific Enterprise. 5 SESI EMPAT Epistemologi Pemerintahan: Teori Pelayanan. 1956. 2008. Maslow. 2005. DISANTAP juga memberdayakan. Bab 4 Kybernologi 2003. Referensi: Book Two Walter Lippmann The Public Philosophy.

. Constitutional Rights. Tabel 2 Pelayanan Publik dan Pelayanan Civil --------------------------------------------------------------------------------DIMENSI PELAYANAN PUBLIK PELAYANAN CIVIL --------------------------------------------------------------------------------1 DASAR Pasal 33 (2) UUD 45 Public Choice Meningkatkan Kesejahteraan Masyarakat Kewenangan Negara Jangka pendek Lapisan/Kelompok Masyarakat sebagai pelanggan Fihak YD Menyesuaikan diri dgn Kondisi Fihak YM Semakin berkurang dengan semakin majunya masy. baik kualitas maupun kuantitas dan kesebarannya Tidak dibebankan langsung kpd fihak YD. ruang Ilmu Pemerintahan) dan private choice (market service. Civil Rights.service. “Artis” pemerintahan a Monopoli Negara dan tidak dapat diprivatisasikan b Antisipatif berdasarkan asas Manajemen Bencana yaitu Waktu = Nol (langsung action. . bukan janji Sekarang. Conventions Melindungi. korban dan mangsa Fihak Yg Melayani (YM) menyesuaikan diri dgn YD Semakin meningkat. ruang Ilmu Ekonomi). tak ada waktu utk mencari dan menyiapkan “the 6M”) Bergantung pada acting dan action civil servant dan “artis” pemerintahan Korban/Mangsa Berpengharapan Dalam Ketidakberdayaannya Supaya dalam diri korban tumbuh asa sementara ia tidak berdaya? Reformasi sepenuh hati Bukti. dapat dibebankan kepada fihak YD Aktor pemerintahan a Monopoli Negara tapi dpt diprivatisasikan b Lebih normatif Kualitas pelayanan terdapat dlm dasar hokum pelayanan ybs Bergantung pada kemampuan dan kesempatan pelanggan menggunakan layanan Pelanggan Percaya Kendatipun Ybs Kecewa supaya masyarakat percaya sementara mereka kecewa? Info tanpa kebohongan. “no price. pertanggungjawaban (responsibility) Human Rights. . 11 FAKTOR 12 KUALITAS TERTINGGI 13 MASALAH Bagaimana 14 SOLUSI ---------------------------------------------------------------------- . bukan nanti. Kualitas pelayanan di sektor publik dan civil herus dibedakan dengan kualitas pelayanan di sektor privat dan bisnis. Diusahakan serendahrendahnya.” dibiayai oleh Negara 2 TUJUAN 3 STATUS 4 VISI 5 YANG DILAYANI (YD) 6 SIKAP 7 PROSPEK 8 HARGA BIAYA 9 PELAKU (YM) 10 SIFAT Civil Servant. Menyelamatkan Manusia dan Lingkungannya Kewajiban Negara (Gambar 4) Jangka Panjang Individu pribadi sebagai pelanggan. .

Menyehatkan berarti mencegah penyakit. Careerism. dan Professionalism. Teori Kerja. maka di satu sisi. menerima) pertanggungjawaban pemerintah. jika “meManusiakan manusia” (memulihkan atau mengembalikan Manusia ke dalam fitrahnya semula) dipandang sebagai pemberdayaan.Kepuasan pelanggan tidak dapat dijadikan kualitas pelayanan publik dan pelayanan civil. WALAUPUN BELUM SEMUANYA DIIMPLEMENTASIKAN TASIKAN: 1 2 3 4 5 HAK/PENGAKUAN SEBAGAI SOVEREIGN (VOTER/VOTING) PENGAKUAN SEBAGAI JIWA DAN SEBAGAI WARGA NEGARA KEBERSAMAAN KEDUDUKAN DI DEPAN HUKUM (KEADILAN) PEKERJAAN DAN PENGHIDUPAN YANG LAYAK KEMERDEKAAN BERSERIKAT. dan melihat adanya perubahan dan kemajuan yang konsisten ke depan. jika saja masyarakat (bisa) memahami (mengerti. BERKUMPUL. Di dalam Teori Pelayanan termasuk Teori Pemberdayaan. kepercayaan masyarakat kepada negara dan pengharapan manusia terhadap masadepan bisa terbentuk dan terjaga. Sebelum Amandemen) --------------------------------------------------------------------------KEBUTUHAN PASAL --------------------------------------------------------------------------TELAH DINYATAKAN SECARA JELAS. dalam Teori Pemberdayaan (Manusia dan Masyarakat) terletak Teori Pelayanan. Jadi di sisi lain pelayanan harus diarahkan pada Tabel 3 Layanan Civil Berdasarkan UUD 1945 (Naskah Asli. kalaupun ada sangat mahal atau sangat berat. KEKUATAN HUKUM 3 PERLINDUNGAN 4 KESELAMATAN 5 CONSUMERISM (bukan konsumtif!) dan sebangsanya -------------------------------------------------------------------------------1 (2) 26 27 (1) 27 (2) 28 29 (2) 31 (1) 34 . pertama karena di dalam ruang dua pelayanan itu tidak ada pilihan. dan kedua karena dalam kekecewaan dan ketidakberdayaan sekalipun. Tetapi untuk Indonesia bisa terbalik. maka perlu diingat bahwa tidak merasa sakit belum tentu sehat. Jika pelayanan itu diibaratkan penyembuhan penyakit. MENGELUARKAN PIKIRAN 6 KEMERDEKAAN UNTUK MEMELUK AGAMA 7 PENGAJARAN 8 PEMELIHARAAN FAKIR MISKIN DAN ANAK TERLANTAR TIDAK/BELUM DINYATAKAN SECARA JELAS: 1 KEBEBASAN MEMILIH 2 KEPASTIAN HUKUM. dan mencegah selalu lebih baik ketimbang mengobati.

Subkultur ekonomi (SKE) berfungsi membentuk nilai dari sumberdaya yang ada. Dalam rangka menegakkan peraturan (kebijakan pengaturan SKE). Kebijakan otonomi Daerah berdasarkan UU 32/04. 2005. 2005. bagaimana masyarakat melindungi dan memenuhi kebutuhannya melalui interaksi tiga subkultur itu. bagaimana subkultur bekerja (berinteraksi) satu dengan yang lain. Bab 11 Kybernologi dan Kepamongprajaan. subkultur kekuasaan (SKK). local government) bersama DPRD adalah penyelenggara pemerintahan Daerah. Di bawah konteks pemerintahan daerah. Konsep governance lebih luas ketimbang konsep government. dan memonev redistribusi nilai oleh SKK di hilir. pemerintahan sama dengan . Adapun perbedaan antara pelayanan civil dengan pelayanan publik sebagai berikut (Tabel 2 dan Tabel 3) Referensi: Bab III Kybernologi Sebuah Rekonstruksi Ilmu Pemerintahan. dan mempertanggungjawabkan fungsi-fungsi itu kepada masyarakat di hilir). Setiap masyarakat (unit kultur) digerakkan oleh tiga subkultur.pemberdayaan. dan hak-hak derivatif. HAM. diterangkan melalui Teori Governance. 2007. Sebagai pelanggan ia menyampaikan kebutuhannya ke hulu melalui kualitasnya sebagai konstituen. Bab I Kybernologi Sebuah Charta Pembaharuan. “Pemerintahan” Daerah dalam hubungan itu setara dengan local governance. Bab V Kybernologi Sebuah Metamorphosis. Di sana dinyatakan bahwa Pemerintah Daerah (Kepala Daerah dan jajarannya. karena peroleh nilai bergantung pada sumberdaya yang berawal pada sumberdaya alami (SDA) sebagaimana adanya. memaksimalkan pengurusan (meredistribusi nilai ke dalam masyarakat di tengah. Bab III Kybernologi Sebuah Profesi. Watak koruptif kekuasaan melahirkan pemikiran tentang pentingnya subkultur sosial (SKS) dalam masyarakat. dan subkultur sosial (SKS). yang memiliki hak eksistensial. yaitu subkultur ekonomi (SKE). Dalam Gambar 9 terlihat juga bahwa konsep pemerintahan lebih luas daripada konsep pembangunan pemerintahan. terbentuklah subkultur kekuasaan (SKK). Pada gilirannya hal ini menimbulkan ketidakadilan. Bagaimana governance terbentuk. Manusia mengatasi hal ini melalui pelestarian SDA dan fungsi pengaturan SKE di hulu. 2007. Pasal 1 butir 2. 3 dan 4. fungsi implementasinya (pengurusan) di tengah. 2008 6 SESI LIMA Epistemologi Ilmu Pemerintahan: Teori Governance. Gambar 7. Interaksi antar tiga subkultur itu disebut governance. Lihat juga Gambar 4. 2008. sesuai dengan teori ini. dan Gambar 9 di bawah. bagaimana interaksi antar governance. Bab 5 Kybernologi Beberapa Konstruksi Utama. SKS pada hakikatnya terdiri dari dua kualitas: sebagai pelanggan dan sebagai konstituen.

Subkultur Kekuasaan (SKK). Rute 5 menunjukkan rute pelayanan pasar. yaitu SKE. dan SKS. SKK. Interaksi antar subkultur masyarakat ----------------------| NEGARA | 2 3 -----mengontrol---------mengontrol-----| memberdayakan | | membayar | | | | | | | | | | | | mengontrol SKK | | | | | di hulu | | | constituent -----. Pembangunan itu sendiri berada di dalam policy implementation di ruang SKE. Gambar 9 berawal pada Gambar 4 tentang interface antara konsep Manusia dengan konsep Negara. and feedback. Interface itu membentuk ruang Masyarakat. Policy implementation dapat dibedakan dengan policy implementation monitoring and evaluation.-----yanan civil. | | nilai via pela| | | |----meningkatkan. dan Subkultur Sosial (SKS dgn kualitas Sebagai Pelanggan dan Constituent) yang Disebut juga Subkultur Pelanggan (SKP) masyarakat melalui tiga terminal. .policy making + policy implementation.pemberdayaan) | | | | 4 | | | | MASYARAKAT | | | | | | | ------melayani-------5---------pasar-------| | | | MANUSIA | | | ---------------------------feedback--------------------------6 Gambar 9 Teori Pemerintahan (Governance): Interaksi Antar Tiga Subkultur Melalui 6 Rute Subkultur Ekonomi (SKE). Lintasan gerak dari terminal ke terminal disebut rute. sedangkan Rute 6 feedback ke dalam interaksi.SKE--------|--------->SKK----------|-------->SKS------| pemain | | | penonton | | | | wasit | pelanggan | | | | | | | mengontrol SKK | | | ----------|-|---------di hilir | | pembangunan | | | | | | | meredistribusi | | | membentuk. -----| | | | mencipta nilai pelayanan public | | | | 1 (inc. Gambar 10 menunjukkan 5 rute dasar interaksi antar tiga subkultur.

Tabel 4 Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah ----------------------------------------------------------------------------PENGATURAN PENGURUSAN MONEV DAN FEEDBACK LOCAL GOVERNANCE ----------------------------------------------------------------------------1 DPRD -DPRD DPRD PEMERINTAH -LOCAL GOVERNMENT DAERAH (LOCAL GOVERNMENT) ----------------------------------------------------------------------------2 KEPALA DAERAH Sepanjang Rute 5 pada Gambar 10 dilakukan pemantauan dan evaluasi redistribusi ---------------------| NEGARA | SKK mengontrol SKS sbg konstidan memberdayatuen mengontrol --kan SKE via kebi--SKK di hulu via UU-| jakan & impl.| | meredistribusi<-.nya | | dan PERDA | 2 | | | | 3 | | petaruh. dan 5 . dan SKS) Via Rute 1. men. SKK. 2. 3. Interaksi Antar Tiga Subkultur (Tiga Terminal SKE. me| | memberdayakan. | | | | 1 ningkatkan. petarung | | | | | SBG KONSTITUEN -----. 4.4 | | |---cipta nilai se-------nilai via pe| | | | cara berkelanlayanan civil & ----| | | | jutan pelayanan publik | | | | | | | | MASYARAKAT (PUBLIK) | | | | | | | -------melayani----------------pasar---------| | | | MANUSIA | | | ---------------------------feedback-----------------------------Gambar 10 Pemerintahan (Governance).SKE------------------>SKK-------------------->SKS--------| “pemain” | | | SBG PELANGGAN | | | | “wasit” | ”penonton” | | | | | | | | | | | | | | | | SKS sbg pelanggan | | | | | | | mengontrol SKK via | | pembangunan | | | | monev & feedback | | | | | | | di hilir | | | ---------|-|---------| | | | | | 5 | | | | membentuk.

me| | memberdayakan.| | meredistribusi<-. Teknik penampilan rute feedback tidak terlihat pada Gambar 10 dan Gambar 11 melainkan pada Rute 6 Gambar 12 sebagai masukan buat Rute 3.nilai (Rute 4) berdasarkan standar yang telah ditetapkan melalui Rute 3. Dengan memasukkan konsep stakeholder (Bab I Kybernologi ---------------------| NEGARA | | | SKK mengontrol SKS sbg konsti---dan memberdaya-----tuen mengontrol--| kan SKE via kebi.4 | | |---cipta nilai se-------nilai via pe| | | | cara berkelanlayanan civil & ----| | | | jutan pelayanan publik | | | | | | | | | | | | MASYARAKAT (PUBLIK) | | | | | | | -------melayani----------------pasar---------| | | | MANUSIA | | | ---------------------------feedback-----------------------------Gambar 11 Stakeholder Pemerintahan (Hubungan Pemerintahan Antara Pemerintah (SKK) dengan Yang Diperintah (SKE dan SKS) Via Rute 1. 2. petarung | | | | | SKS “BANDAR” -----. terus ke SKS. hasil evaluasi dijadikan masukan ke dalam Rute 6 melalui terminal SKK. Di sana jelas.nya | | dan PERDA | 2 | | | | 3 | | petaruh.SKE---------|-------->SKK----------|----->STAKEHOLDER----| ”pemain” | | | ”penonton” | | | | ”wasit” | | | | | | | | | | SKS sbg PELANGGAN | | | | | | | mengontrol SKK via | | pembangunan | | | | monev & feedback | | | | | | | di hilir | | | ---------|-|---------| | | | | | 5 | | | | membentuk.| | SKK di hulu via UU | | jakan & impl. 3. Hasil evaluasi dijadikan masukan ke dalam Rute 3. | | | | 1 ningkatkan. dan 4 . Dalam Teori Governance juga termasuk Teori Hubungan Pemerintahan (governance relations). men.

SKE adalah masyarakat dalam perannya sebagai Pekerja. Gambar 9 mengalami modifikasi (Gambar 11).| | pertanggung| | | | nilai berke| | lay civil.dan Pembangunan. 3. dan 2 . Gambar 12 merupakan 2 janji (kebi3 5 jakan/rencana mandat. mengingat masyarakat belum berdaya dan belum otonom di bidang pembangunan. 6. Perda) | | via rute 2 | | otonom di hulu | | di hulu | | di hilir | | | | | | | | | | . 4.-----tuntutan.------rute 2 & 4--| sarkan etika | | (UU. Dalam hubungan itu. sehingga pembangunanpun secara bertahap tetapi pasti beralih ke ruang SKE. Jika pemerintahan diibaratkan perjudian. Dilihat dari sudut ini. Kendatipun pada hakikatnya pembangunan terletak dalam ruang SKE (Gambar 9). kuasa monev terhadap & penepatan(trust. 3. masyarakat pemangku kekuasaan) dengan fihak Yang Diperintah (SKE dan SKS). hope) kinerja SKK ---nya) berda.SKE-------------.SKS------------SKK-| | | | | | | | | redistribusi | | | | | | | | nilai via pe. 2009). yaitu hubungan antara fihak Pemerintah (SKK. penyerahan sebagian kewenangan negara (pusat) kepada masyarakat (daerah) dapat diartikan sebagai sebuah strategi privatisasi dari badan publik kepada badan privat. untuk sementara pembangunan diletakkan di ruang SKK. sedangkan SKS adalah masyarakat dalam perannya selaku Pelanggan dan Konstituen.SKK-------------. pemerintah hanya petaruh dan petarung selama masajabatan lima tahunan belaka. Gambar 11 menunjukkan Hubungan Pemerintahan. Pelangganlah yang merupakan stakeholder masyarakat.| | jawaban etik | | | --lanjutan utk----lay publik &------menurut----| | hidup pemberd masy etika otonom | | 1 di tengah di hilir | | 4 6 | | | | | --------------------pemerintahan (governance)-------------------Gambar 12 Sistem dan Proses Pemerintahan Melalui Rute 1.pe. bandarlah stakeholdernya. 5. Hubungan (rute) antar tiga terminal (dalam Gambar 9 terlihat empat) diperjelas (diurai) menjadi enam rute berkesinambungan. pembangunan oleh SKK adalah strategi pemberdayaan SKS sampai pada suatu saat peran ekonomi SKS otonom.

Bab I Kybernologi dan Pembangunan.” “reka” menjadi “rineka.” dan sebagainya. Kosakata “kinerja” tidak terdapat dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia. Bagian Tiga Bab V dan Bab XIV Kybernologi Sebuah Scientific Enterprise. 1. kembali ke 2. 6. 2006. 4. Bab VI dan Bab VII Kybernologi Sebuah Metamorphosis.rekonstruksi Gambar 7-1 Kybernologi (2003. kembali ke 3. berlanjut ke 3. ----->LINGKUNGAN--------membentuk------->GOVERNANCE-------| 7 faktor 3 subkultur | | | | keselarasan | keseimbangan | keserasian feedback MASYARAKAT dinamika | keberlanjutan | interaksi antar | tiga subkultur | | | GOOD GOVERNANCE evaluasi oleh KINERJA | ----BAD GOVERNANCE<------pelanggan------GOVERNANCE<-------Lingkungan Governance: 1 sejarah 2 lokalitas 3 sistem politik Gambar 13 4 5 6 7 sistem ekonomi sistem sosialbudaya kondisi dan posisi geografik Weltanschauung masyarakat Model Dasar Teori Kinerja . sehingga rutenya menjadi 3. rute Nilai Berkelanjutan Untuk Hidup). Kata itu berasal dari kata “kerja” ditambah sisipan “in” antara “k-” dengan “-e” menjadi “kinerja. Tetapi untuk rezim yang baru terpilih.” “ganjar” menjadi “ginanjar. 1.” Hal itu terjadi misalnya pada kata “kanti” menjadi “kinanti. Bagian Pertama Bab 8 Kybernologi Beberapa Konstruksi Utama. 4. Referensi: Bab I Kybernologi Sebuah Rekonstruksi Ilmu Pemerintahan (2005). 5 dan 6. sehingga prosesnya berjalan dari 1 ke. Dengan argumentasi tertentu. 2008. Lingua franca ini terbentuk sebagai padanan kata Inggris performance yang sebenarnya berarti tampilan atau penampilan. demikian terus-menerus. 2009 7 SESI ENAM Epistemologi Pemerintahan: Teori Kinerja. 5. peneliti bebas menentukan rute awal penelitiannya dan menandainya dengan angka 1 (pada Gambar 12. 2005. 106) tentang hubungan antara Janji (commitment) dengan Percaya (trust) dan Harapan (hope). 2. misalnya untuk rezim yang sedang berjalan. angka 1 itu diletakkan pada rute Mandat (Gambar 12 pada rute 3).” “rakit” menjadi “rinakit.

Keberlanjutan (kelestarian. Keserasian adalah tingkat empati (empathicability?) sikap dan harmoni kinerja tiga subkultur yang berbeda-beda. 2009 . Dalam hubungan ini. Bab II Kybernologi dan Pembangunan. Bab III Kybernologi Sebuah Profesi. keterusberlangsungan). Bagian Tiga Bab VIII Kybernologi Sebuah Scientific Enterprise. fluktuatif). dan naikturun. 2006. Teori ini terkait dengan Teori Governance dan Implementasi Kebijakan. Kinerja harus distandardisasi (ref. naik-turun dan maju-mundur (NT-MM). 2007. dan timbul-tenggelam (NT. kinerja governance bisa dikualifikasi good (Tabel 2). 2005. tetapi jika prosesnya dapat dipertanggungjawabkan. Apa yang dimaksud dengan good governance. Perlu diingat bahwa PIP IPDN/IIP terletak di sini. Keseimbangan adalah tingkat bargaining power dan keluasan pengambilan kesempatan berperan yang relatif sama antar tiga subkultur apada suatu saat. performance terlihat lebih sebagai proses ketimbang sebagai output. Walaupun output atau outcomenya mengecewakan. Bagian Pertama Bab 4 dan Bab 9 Kybernologi Beberapa Konstruksi Utama. maju-mundur. Dinamika adalah tingkat kecepatan dan ketepatan perubahan (adaptabilitas) hubungan antar subkultur dari kondisi heterostasis ke homeostasis dan sebaliknya/selanjutnya 5. 2007). Grafik kinerja bisa naik-turun (NT. agar keberhasilan yang satu tidak merusak tetapi sebaliknya mendukung keberhasilan yang lainnya 2. Jika kinerja interaksi antar tiga subkultur governance berkualitas good. bagaimana supaya kinerja governance itu good. Bab I Kybernologi Sebuah Profesi. dengan catatan sebagai berikut: 1. Keselarasan adalah tingkat ketepatan waktu dan arah tiga subkultur pada tujuan bersama jangka panjang.perilaku atau acting. maka governance itu disebut good governance. adalah tingkat kelancaran proses jangka panjang interaksi antar tiga subkultur sesuai dengan norma (standar) yang (telah) disepakati bersama Referensi: Bab 4 dan Bab 6 Kybernologi 2003. diterangkan melalui Teori Kinerja. sesuai dengan hukum rantai yang menyatakan bahwa kekuatan sebuah rantai sama dengan kekuatan matarantainya yang terlemah 3. Kinerja pemerintahan merupakan proses dan hasil keseluruhan interaksi antar tiga subkultur sebagaimana ditunjukkan oleh angka 1 sd 6 pada Gambar 9 dan Gambar 12. kesinambungan. pada suatu saat 4. MM dan TT).

------------------> ILMU | TAHUAN struksi GE (BOK) diagnosis | | prediksi(f’casting) | | eksperimentasi | direkam self-control | | diwaris| kembang| kan FENOMEN | FAKTA <---------------------.| PENE---PUSTAKA----| | --->SAFAT---|---TEMO. setiap ilmu dan penggunaannya oleh masyarakat melalui governance dalam berkinerja. Metodologi di sini meliputi Metodologi Penelitian. dan ---KONSTRUKSI-SCIENTIFIC ---ONTOLOGI ---ILMU---| |---BOK---->ACADEMIC | | ---BAHAN BAKU-ENTERPRISE | | | | | | ---------| | | | | FIL| EPISMETO.---DO.METODOLOGI ILMU -------------| | | | | | | berfungsi: | | | | identifikasi | | | | deskripsi | | diolah diuji | | dikonBODY OF eksplanasi | D A T A -------> INFO ------> PENGE. Genealogi Metodologi tersebut sebagai berikut (Gambar 14). Sebagai alat.---------->KNOWLED. Perbedaan antara Epistemologi dengan Metodologi terletak pada titikpandang.--| |<------------->| | | JARAN ---METODIK----| | | | | | | ---------------------NILAI-------------------| | | ----------------------------------FEEDBACK--------------------------------- Gambar 14 Genealogi Metodologi BOK Body Of Knowledge Metodologi Pengajaran Ilmu Pemerintahan. adalah metodologi.METODOLOGI PENGAJARAN <------------------------penggunaan ilmu termasuk learning process Gambar 15 Hubungan Antar Tiga Metodologi .METODOLOGI PENELITIAN --------------. Metodologi Ilmu.8 SESI TUJUH Epistemologi Ilmu Pemerintahan: Metodologi. Epistemologi memusatkan perhatian pada substansi atau objek -.---|---LI.---| |--| | ILMU | LOGI LOGI | TIAN ---LAPANGAN---| | | | | | | | | | | | | | | | PE---DIDAKTIK---| | ---AXIOLOGI ---NGA.

interdisiplin. sedangkan Metodologi memusatkan perhatian pada proses bagaimana mengetahui (knower dan knowing process). dipandang tepat. 2007. multidisiplin. Bab XI. penempatan Ilmu Pemerintahan dalam Ilmu-Ilmu Sosial oleh Universitas Padjadjaran. Hubungan lebih rinci antar ketiga spesi Metodologi ditunjukkan melalui Gambar 15. 2006. karena yang dinyatakan adalah perihal kebijakan negara (politik) dan implementasinya. Bab X. baik objek forma maupun objek materia (known. Pernyataan masalah penelitian (problem statement) “Implementasi kebijakan (di bidang) kesehatan masyarakat tidak efektif. 2007.” mendarat pada Ilmu Pemerintahan.pengetahuan dan hubungannya dengan objek lainnya. arah) didaratkan pada beachhead ini. dan sebaliknya dari sini ke segala segi (aspek) kemasyarakatan. Bab 8 dan Bab 16 Kybernologi dan Kepamongprajaan. dan Bab XIII Kybernologi Sebuah Profesi. Penemuan objek materia ini melalui pendekatan metadisiplin (Gambar 5 dan Gambar 6). bahkan ruang eksakta dan humaniora. Pendekatan yang digunakan adalah monodisiplin. Pernyataan tersebut disusul dengan pertanyaan penelitian: “Mengapa tingkat kesehatan masyarakat masih rendah?” Melalui analisis teoretik diperoleh jawaban (hipotesis): “Tingkat kesehatan masyarakat masih rendah. Objek forma inilah yang membedakan sekaligus menghubungkan Kybernologi dengan disiplin (ilmu) lainnya. Gambar 7.” Dengan perkataan lain. dan unknown). Dari uraian di atas terlihat bahwa objek materia Ilmu Pemerintahan (Kybernologi) bukan negara tetapi masyarakat. karena kebijakan (bidang) kesehatan tidak diimplementasikan dengan baik. 2005. Bab IX . layanan publik dan layanan civil. Dilihat dari sisi ini. dan Gambar 10) yang disebut juga hubungan pemerintahan dengan pelanggan sebagai titiktolak utama pembelajaran (SKS. masih di angkasa Ilmu Politik. “Tingkat kesehatan masyarakat bergantung pada (dipengaruhi oleh) implementasi kebijakan pemerintah di bidang kesehatan. Bagian Tiga Bab II Kybernologi Sebuah Scientific Enterprise. dan tidak dalam Ilmu Politik. karena yang dinyatakan adalah apa yang dialami oleh masyarakat sebagai pelanggan pelayanan kesehatan. Bab XII. Bab IV dan Bab V Kybernologi Sebuah Rekonstruksi Ilmu Pemerintahan. Negara adalah objek materia Ilmu Politik. Setiap penelitian Ilmu Pemerintahan dari berbagai segi (aspek.” belum mendarat pada Ilmu Pemerintahan. Bab IX. Bagian Kedua Bab 14 Kybernologi Beberapa Konstruksi Utama. Objek formanya adalah interaksi antar tiga subkultur masyarakat (governance. 2008. Pernyataan “Tingkat kesehatan masyarakat masih rendah. dan lintasdisiplin. knowable.” Quod erat demonstrandum. Referensi: Bab 36 dan 35 Kybernologi 2003. Bab XVII dan Bab XIX Kybernologi Sebuah Scientific Movement. 2005. Bab 7. Gambar 11).

Misalnya PNS dengan 8 kualitasnya. Angka 90 adalah nilai kesetiaan. Gambar 16. Gambar 17. dan nilai ideal. Gambar 17. Nilai dan asas. tetapi angka 91 disepakati sebagai norma minimal yang harus terpenuhi agar yang bersangkutan dapat dipromosi. kinerja seorang pejabat yang terpilih dengan suara terbanyak. Visi pemerintahan Gambar 18. Nilai sebagai inti budaya. asas-asas pemerintahan. Nilai intrinsik. 10 SESI SEMBILAN Axiologi Ilmu Pemerintahan: Teori Nilai. 2008. dan Gambar 18 menunjukkan model identifikasi (terbentuknya) nilai secara induktif. dan norma. . 2009 9 SESI DELAPAN UTS. dan Bab XIII Kybernologi dan Pembangunan. Bab VIII.dan Bab XVII Kybernologi Sebuah Metamorphosis. sehingga perlu dicari azas baru sebagai alternatif azas suara terbanyak yang sudah ada. kedelapan kepemimpinan. Dalam governance SKE berfungsi (Gambar 10) menambah. Ilmu itu amaliah dan amal itu ilmiah. Pertama kesetiaan. merawat. Bab X. tiap kelompok membuat tugas terstruktur tentang suatu sesi berupa sebuah makalah. Bab IX. atau membentuk nilai dari sumberdaya yang ada. dan menciptakan sumberdaya baru. Ujian klasikal terdiri dari 5 soal. ternyata bad. yang dijadikan bahan pertimbangan dalam memilih dan menetapkan prinsip (azas) sebagai sumber nilai hipotetik untuk diuji secara empirik. Penemuan nilai secara deduktif bersumber pada Filsafat Pemerintahan yang berisi berbagai buah pikiran. nilai ekstrinsik. Setiap tahun tiap kualitas dimonev. Kelas dibagi menjadi 7 kelompok. dan visionary. Konstruksi tiga komponen: kualitas. nilai. deduktif. Setiap pemenuh kebutuhan. Bab VII. Bisa terjadi. bernilai. perilaku ditimbang disepakati -->ENTITAS-------->KUALITAS--------->NILAI-------------->NORMA | bisa dipaksakan (N) | | | | | feedback N<H dievaluasi ditegakkan | ---------------N=H<--------------HASIL--------------------N>H (H) Gambar 16 Identifikasi Nilai Secara Induktif Pada Gambar 16. entitas itu adalah apa saja. Gambar 16.

Apakah yang dimaksud --------------------->FILSAFAT PEMERINTAHAN | | ASAS-ASAS (YANG ADA) | deduksi | ------------------------| | | | NORMA NILAI TERTULIS TIDAKTERTULIS | | | | ---------------| | | | | | | -->CUKUP TIDAK CUKUP | | | | | DIPERLUKAN | | NILAI BARU | ---DITEMUKAN<----UNTUK DIJA. tiada tanding.” “satu-satunya. Visi itu objektif. Apapun yang terlihat melalui pendekatan ini. angka 2). “kondisi yang given” (takdir) dan relatif tidak dapat ber-(di-) ubah. “ter-. berisi nilai intrinsik. itulah Visi (Gambar 18.<---------JADIKAN NORMA | | TIDAK DITEMUKAN | | -----------------DIPERLUKAN ASAS BARU Gambar 17 Identifikasi Nilai Secara Deduktif | | | | | | | | | | | | | | | | | | | | | | | | | | | | . Mengenvision (“melihat” dengan matahati dan mataiman) apa yang akan atau dapat terjadi 20 tahun ke depan.” “tiada banding.” “paling-. 1 kiri) terus berlanjut. Iklan pemikat.Konstruksi visi menurut Teori Visi seperti Gambar 18. apakah baik apakah buruk. jika kondisi dan kecenderungan (arah perubahan) yang ada sekarang (Fakta. sebagaimana adanya. Gambar 18.” dan sebangsanya.” Visi yang dibuat berdasarkan definisi itu selalu diberi nilai superlatif. Envisioning dimulai juga dari Fakta tetapi bukan sisi “keberhasilan” sesaat (jangka pendek) tetapi sisi kecenderungan yang sedang berjalan (trend). Pasal 1 butir 12 UU 25/04 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional (SPPN) mendefinisikan visi sebagai “Rumusan umum mengenai keadaan yang diinginkan pada akhir periode perencanaan.

Kepamongprajaan sebagai superstruktur profesi pemerintahan melalui pendekatan lintas sektoral bermula pada Visi. yg ditetapkan secara kearifan lokal sadar dan formal berda| sarkan idea dan visi 4 3 IDEA----------------------C--------------------->GOAL | S4R4 | b HARAPAN | | S3R3 | D 20 tahun E arah B MISI | S2R2 | | a MASALAH | | S1R1 | FAKTA SEKARANG-----------------A--------------------->VISI 1 dua puluh tahun 2 kecenderungan internal apa yg terlihat bila & eksternal. Langeveld. apa bedanya visi dengan tujuan? Gambar 18 menunjukkan perbedaan itu. Misi itu adalah jalan dan upaya mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Dari teori ini bersumber pokok-pokok bahasan berikut (sesi 10 dan seterusnya). IPDN/IIP . Goal (tujuan) adalah rumusan formal yang ditetapkan sebagai respons terhadap visi yang terlihat (penglihatan) jauh di depan. Menuju Ke Pemikiran Filsafat. KE DEPAN tujuan jangka panjang cita-cita. Duabelas nilai kepamongprajaan di dalam governance (Gambar 19). J. obsesi masy.dengan “yang diinginkan” dalam definisi itu? Mimpi? Angan-angan? Simbol belaka? Atau sesuatu yang mengikat (formal). kondisi yg keadaan berjalan menutakberubah dan takbisa rut fakta sekarang diubah (takdir) (terminal 1) Gambar 18 Teori Visi Tujuan Jangka Panjang Berisi Nilai Ideal Melalui Envisioning Pemerintahan (Menggunakan Pola UU 25/04 dan UU 17/07) Kebijakan Jangka Panjang 20 Tahun (S strategi. R rezim 5 tahunan) Referensi: Bab VII M. Bagian Tiga Bab VIII Kybernologi Sebuah Scientific Enterprise (2006) dan Bab I Kybernologi Sebuah Profesi (2007). Bab III Teori Budaya Organisasi. 1957. Bab 37 Kybernologi 2003. 2005 11 SESI SEPULUH Axiologi Ilmu Pemerintahan: Kepamongprajaan. Demikian pentingnya misi itu sehingga mendapat julukan mission sacre. yang harus dicapai? Jika yang terakhir itu artinya.

Tentang hal ini. UMUM | | | statesmanship | | | | | --------------------| | | PROFESI | PROFESI | | BIDANG | BIDANG | | KEAGAMAAN | PEK. UMUM | | | | | | | | | --------------TEOLOGI TEKNOLOGI------------CIVIL *KYBERNOLOGI KETUHANAN? Gambar 19 Duabelas Nilai Kepamongprajaan. . . . bahwa berbagai ilmu pengetahuan yang bertalian dengan salah satu bagian dari penguasaan (beheer) perusahaan partikelir pada akhirnya bermuara pada suatu ajaran perusahaan umum (algemene bedrijfsleer) yang meliputi kesemuanya dan bahwa ajaran .didirikan untuk membentuk tenaga-tenaga pemerintahan yang berkualitas kepamongprajaan ini. . van Poelje dalam Pengantar Umum Ilmu Pemerintahan (1959) menyatakan: -------------------------------KYBERNOLOGI------------------------------| | (ILMU PEMERINTAHAN BARU) | | | | | | | | | | | KEAHLIAN KEAHLIAN | | DI BIDANG----------GENERALIS----------DI BIDANG | | PEMERINTAHAN | PEMERINTAHAN | | | | | | | | | | | | PROFESI | PROFESI | | BIDANG PE| BIDANG PE| | MERINTAHAN | MERINTAHAN | | | --------------------| | | | | vooruitzien | | | TEOLOGI PEMERINTAHAN | conducting | PEMERINTAHAN TEKNOLOGI PEMERINTAHAN DAERAH | coordinating | DAERAH PEMERINTAHAN | | | peace-making | | | | | | residue-caring | | | | KEBIJAKAN | turbulence-serving | KEBIJAKAN | |--------------BIDANG-----|---KEPAMONGPRAJAAN---|-----BIDANG--------------| | KEAGAMAAN | Freies Ermessen | PEKERJAAN UMUM | | | | gen & spec function | | | | | | omnipresence | | | KYBERNOLOGI* KEPALA KANTOR | responsibility | KEPALA DINAS KYBERNOLOGI KEBERAGAMAAN AGAMA |magnanimous-thinking | PEK. UMUM | | | | | | | | | | | | KEAHLIAN | KEAHLIAN | | DI BIDANG----------SPESIALIS----------DI BIDANG | | TEOLOGIA PEK. Kepamongprajaan Sebagai Superstruktur Berbagai Profesi Sektoral Pemerintahan Hubungan Antara Kybernologi Dengan Ilmu-Ilmu Lain Dalam Hal Ini Teologi Dua Hibrida yaitu Teologi Pemerintahan dan Kybernologi Keberagamaan (KeTuhanan?) . . UMUM PEK.

Kebijakan (Policy). Asas (Principles. dan “Kebijaksanaan” (“Bijak sana. 2007. muka dibenah”).tentang penguasaan perusahaan-perusahaan partikelir ini setidaktidaknya untuk sebagian merupakan syarat bagi adanya ilmu pengetahuan yang lebih tinggi daripadanya. Bab 2. Bab 1 dan Bab 7 Kybernologi Sebuah Metamorphosis. bukanlah inovasi. Referensi: Bab XIII Kybernologi Sebuah Charta Pembaharuan. Ia diletakkan di dalam bingkai (frame) invention dengan scientific policy policy im----->RESEARCH----------->INVENTION----------->POLICY-----------------| enterprise making (input) plementation | | | | | |----------------------------with or without----------------------------| | | | | | I<O moniscientific | ------FEEDBACK<---I=O----EVALUATION<---------INNOVATION<--------------I>O toring (output) movement Gambar 20 Model Axiologi Kybernologi Melalui Kebijakan innovation. Menemukan cara membenahi muka buruk sehingga menjadi baik. Bijak sini. ialah Ilmu Pemerintahan (Bestuurskunde.” Korupsi). dan Gambar 18. Bab XIV Kybernologi dan Pengharapan. 12 SESI SEBELAS Axiologi Ilmu Pemerintahan: Kebijakan (dalam bahasa UU 32/04: Penyelenggaraan) Pemerintahan. Gambar 17. 2007. Nilai. Bestuurswetenschap) yang aksiologi utamanya di Indonesia adalah Kepamongprajaan (Gambar 19). Bab 1. dan Bab 6 Kybernologi dan Kepamongprajaan. 2009. Kearifan (Kebijaksanaan. Bab VI Kybernologi Sebuah Profesi. Kebijakan dalam ruang governance sebagai penyelenggaraan otonomi masyarakat (daerah). konstruksi kebijakan dalam Kybernologi terlihat melalui Gambar 20. cermin dibelah”) dan membuat cermin baru. itulah inovasi (“Buruk muka. Bab 4. 2008. Konsep-konsep terkait: Filsafat. Beginselen). Berbeda dengan konstruksi kebijakan menurut Ilmu Politik. 2008. Bab 5. Lihat juga Gambar 16. Membanting cermin pada saat muka terlihat buruk (“Buruk muka. Bab XX Kybernologi Sebuah Scientific Movement. Wisdom). 2007. .

Lihat Gambar 10. EV evaluasi. guna | ---.EV -------------MON <-------------OC --10 b>g 9 h 8 g 7 f 6 i Gambar 21 Manajemen Pemerintahan 1LK lingkungan sebagai sumber. MON monitor. maka Manajemen Pemerintahan 20 tahunan sebagai Gambar 22. Birokrasi. IP input. actuating. FB feedback Di dalam Manajemen Pemerintahan terletak Manajemen Pembangunan. Administrasi Publik. Bab III. HEV hasil evaluasi. (seharusnya) pertimbangan manajemen semakin dominan. proses OP output.Policy implementation diberi kekuatan lanjutan research sebagai scientific movement. Diharapkan dengan demikian. tetapi siklik (cyclic. Bab VI. Bagian Pertama Bab 5 Kybernologi Beberapa Konstruksi Utama. Bab 12 Kybernologi Sebuah Scientific Movement. organizing.e | | | | | b<g pembandingan pantauan manfaat.HEV <-----------. Manajemen Pemerintahan seperti Gambar 21. Manajemen Pemerintahan tidak linier atau terpotong-potong mengikuti rezim politik. Bab 7 dan Bab 8 Kybernologi Sebuah Metamorphosis. 2007. bukan kekuasaan politik tetapi premises ilmupengetahuan dan teknologi yang memegang peranan penting dalam peningkatan kesejahteraan masyarakat. merupakan tiga sisi atau dimensi Implementasi Kebijakan dari berbagai sudut pandang. Jika digabung dengan Gambar 18. Jika dilihat dari pendekatan sistem. lingkaran) sesuai dengan hukum sistem.FB <----b=g---. dan Manajemen. OC outcome. Terminal dan rute sepanjang siklus atau sirkel pemerintahan bersifat kritikal. semakin ke bawah (masyarakat. dan controlling) diatur setara (jangan seperti sekarang. .. daerah). hanya perencanaan yang diutamakan) dalam satu peraturan. 2007. 1 a 2 b 3 c 4 d 5 ---> LK ------------> IP ------------> TP ------------> OP ------------> LK --| info kebijakan implementasi “marketing” | | distribusi | | | j -. Referensi: Bab 6 dan Bab 37 Kybernologi 2003. 2005. Jika pada aras statal pertimbangan politik yang dominan. 5LK lingkungan sebagai pelanggan. berulang) atau sirkuler (circular. 2008 13 SESI DUABELAS Axiologi Ilmu Pemerintahan: Manajemen Pemerintahan. Oleh sebab itu seluruh terminal dan rute manajemen terkait (planning. TP throughput. dan Bab VII Kybernologi Sebuah Charta Pembaharuan.komunikasi penggunaan -.

“how to get things done through the leader him. 2007. 2008 14 SESI TIGABELAS Axiologi Ilmu Pemerintahan: Seni Pemerintahan dan Teknologi Pemerintahan. . Gambar 23. Ruangnya dalam Model 2 Gambar yang sama. Kombinasi Model 1 dengan Model 2 menghasilkan Model 3. namun. Penyebab kemandulan dan kepincangan itu terletak di hulu (keringnya Filsafat dan lemahnya teori) dan di hilir (miskinnya Seni praktik atau implementasi: “Benar.(her-) self. Pentingnya Seni (dan Teknologi) diungkapkan oleh Will Durant dalam The Story of Philosophy (1956. Dalam hubungan itu. bulat) 0 – 20 rel (landasan) jangka panjang Gambar 22 Manajemen Pemerintahan Berskala Jangka Panjang (20 Tahun) UU 25/04 dan UU 17/07 Referensi: Bab 10.” Proposisi Durant ini menerangkan mandulnya suatu ilmu dan pincangnya hubungan antara teori dengan praktik.” “Setuju. Bagian Pertama Bab 5 Kybernologi Beberapa Konstruksi Utama. . dan efisiensi. O orientasi 20 ke depan K1234 = kinerja R1R2R3R4 selama 20 tahun (expected output. itu sih teori. . . xxvi): “Every science begins as philosophy and ends as art. . . “Ah. Bab X Kybernologi Sebuah Scientific Movement. Ruangnya dalam Model 1 Gambar 23. dan Bab 17 Kybernologi dan Kepamongprajaan. kehematan. 2008. tetapi. .R1 R2 R3 R4 O---5---|---5---|---5---|---5-->20 rel (runway) jangka panjang | | | | R1 O-------|-------|-------|------>20 | | | | R2 O-------|-------|-------|------>20 | | | | R3 O-------|-------|-------|------>20 | | | | R4 O-------K1------K2------K3----->20 | K4 R rezim 5 tahunan. Bab 13. dan Bab 14 Kybernologi 2003.” Seni Pemerintahan menunjukkan upaya penumbuhkembangkan kreativitas dan efektivitas.” demikian keluhan berbagai kalangan. Bab 12. Bab 13.” Selanjutnya Teknik dan Teknologi Pemerintahan menunjukkan kemahiran. 2005. Bab II Kybernologi dan Pembangunan. . kepemimpinan adalah seni.

tetapi tidak ada Kewajiban Asasi dalam arti itu. Dengan pegangan Moral saja. dan Musang berbulu Ayam. Seperti telah dikemukakan. sanksi pelanggaran dan reward penaatannya bersumber dari diri sendiri. yang terbentuk sejak dalam kandungan. O output. hati sanubari. Tetangga Etika Pemerintahan adalah Teologi Pemerintahan. min minimum Referensi: Bab 12. dan Etiket Pergaulan Politik/Diplomatik adalah aplikasi Etika Pemerintahan. insan kamil) sendiri. dan 34 Kybernologi 2003. sementara sanksi dan reward Moral dari masyarakat.” tetapi “bersumpah. Perbedaan dan kaitan antara Etika dengan Moral: Pertimbangan Moral berlangsung dalam masyarakat. Bab 30. Etika Pemerintahan adalah Etika Otonom. hati nurani. Serigala berbulu Domba. Iblis bisa bercahaya seperti Malaikat. . kewajiban tumbuh sejajar dengan pertanggungjawaban (kemampuan bertanggungjawab). Jadi bukan “disumpah. Bab I Kybernologi dan Pengharapan (2009). Teori Tanggungjawab menurut Herbert J. 15 SESI EMPATBELAS Axiologi Ilmu Pemerintahan: Etika Pemerintahan.kreativitas efektivitas | | Ikons-----1---->Omaks<--| | -------------->3-------------| | -----Imin------2---->Okons | | kemahiran kehematan efisiensi Gambar 23 Seni Pemerintahan dan Teknik Pemerintahan I input. Bab 19. Kunci Etika Pemerintahan terletak pada pertimbangan etik dan pertanggungjawaban etik (Terminal 6 dan Terminal 10 Gambar 24). maks maksimum. sedangkan pertimbangan Etik berlangsung di dalam kalbu (lubuk hati. Spiro dalam Responsibility in Government (1969). kons konstan (seadanya).” Kode Etik Profesional. ada Hak Asasi dalam arti bawaan.

sumpah bernazar | perjanpengakuan membayar tebusan | jian credo kesediaan berkorban | commitment selfmengaku bersalah | | commitment mengundurkandiri dari jabatan | | | mengasingkandiri | | agar mengimenyakitidiri | | kat. 2007.nerangi norma dlm kalbu | | yg-wajib hidup as. perlu bersumpah | | disaksikan mengorbankandiri | | | bunuhdiri | ----------*setiap commit| | dikontrol | ment atau janji | ---dibandingkan---harus disertai | kesenjangan ditedievaluasi sanksi yg mengikat | rangkan setulus & | diri sendiri dan --sejujurnya. dan Bab 5 Kybernologi Sebuah Metamorphosis. Bagian Dua Bab II dan Bab III. konsisten. Bagian Pertama Bab 7 Kybernologi Beberapa Konstruksi Utama. dan akumulatif. Reformasi Pemerintahan bertujuan membangun . Bab 4. Bab XV Kybernologi Sebuah Scientific Movement. Bab 2. 2006. lu. 2008. jelas nurani kebebasan memi| | lih. dan Bagian Tiga Bab XVI Kybernologi Sebuah Scientific Enterprise. Reformasi Pemerintahan lebih sebagai fungsi ketimbang momentum.-------orang lain. 2005. kesepakatan | | | | 10 9 8 7 | | 11 pertanggungperilaku tindakan keputusan | ----etikalitas<----------jawaban<-------etik<------etik<----------etik<-------| etik | | | | | | | menaati kadar | --kinerjaberprakarsa keetikan sanksi etik* | berjanji* | | | | | ----------merasa malu | | | merasa bersalah | pada pada menyesal | orang diri mohon maaf | lain sendiri mohon ampun | | | janji bertobat | | nazar. artinya berjalan terusmenerus. Bab III dan IV Kybernologi dan Pengharapan (2009) 16 SESI LIMABELAS Penguatan Tiga Subkultur Governance: Reformasi Pemerintahan.1 2 3 4 5 6 ----->apakah------>kualitas--->nilai--->norma--->kesadaran---->pertimbangan---| etika? dasar etik etik etik etik etik otonom | | etika otonom | | | | | | | etika heteronom yg-benar guna tertanam norma mediskusi antar | | yg-baik dlm kuat. risi. Bab 3. dinyako & konsekuensi takan secara terbuka ditanggung sendiri Gambar 24 Etika Pemerintahan (1 sd 11 Terminal) Referensi: Bab 15 dan Bab 16 Kybernologi 2003.

Menurut teori itu terjadi hubungan timbal-balik antara keduanya. info. Grand theory yang dimaksud adalah Teori Hubungan antara Negara dengan Manusia (Gambar 4). pada aras makro. Secerdas apapun sebuah temuan ilmiah.” Referensi: Bab 9 Kybernologi 2003. Bab I dan Bab II Kybernologi Sebuah Profesi. dan inovasi Birokrasi itu sendiri. ia menjadi biropatologik. Teori Politik. “power tends to corrupt. nilai. dan Masyarakat (Gambar 25). dan kontrol di hulu dan di hilir. 2007. Sesehat dan sekuat apapun Birokrasi. kalau tidak digunakan. Manfaatnya bergantung pada penggunanya. Bab IX Kybernologi Sebuah Charta Pembaharuan. Oleh sebab itu. Bab 12. Diperlukan bangunan teori yang lebih tinggi. Bab 8 Kybernologi Sebuah Metamorphosis. Bagian Dua Bab I dan Bab IX Kybernologi Sebuah Scientific Enterprise. Bab VI dan Bab XII Kybernologi dan Pembangunan. Sosiologi dan Ilmu Hukum. Dalam hubungan itu fenomena birokrasi tidak cukup diterangkan hanya oleh Teori Kebijakan Publik. Sumber-sumber. politisi) menyalahgunakannya. jika pengguna (politik. Memang. dan Bab 15 Kybernologi Sebuah Scientific Movement. Bab 2. Reformasi Pemerintahan berarti reformasi lingkungan pemerintahan yang terdiri dari Politik (Negara). 2007. Hubungan itu berturut-turut berisi public choice. yaitu grand theory yang mencakup semuanya. Bab 14. Bagian Kedua Bab 18 Kybernologi Beberapa Konstruksi Utama. 2006. Bab 13. 2005.POLITIK (NEGARA) | | public choice waktu | ruang | SUMBER-SUMBER----nilai----PEMERINTAHAN----informasi----ILMUPENGTAHUAN teknologi | sumberdaya | kontrol di hulu dan kontrol di hilir | | MASYARAKAT PELANGGAN Gambar 25 Lingkungan Pemerintahan Pemerintahan yang sehat dengan mencegah sejauh mungkin pemerintahan yang sakit. tidak berguna. 2009 . Ilmu Pengetahuan. 2007. 2008. Birokrasi itu ibarat sebuah mobil.

dan tugas struktural bagi tiap kelompok. UAS juga terdiri dari ujian klasikal dengan 5 soal. tiap kelompok mambahas satu sesi kuliah. 1112081144 1212081427SDGORODTG 1312081506 1912081058 0401091050 0801091014SDGOROTDUSADS 3103090818SDG 0904090953SDG 1104091755SDG . Sama seperti UTS.17 SESI ENAMBELAS UAS. Distribusinya menggunakan undian. Untuk itu kelas dibagi menjadi 7 kelompok.

. . . . . 25 | | 13 | Seni dan Teknik Pemerintahan. . . . . . . . . . . . . . . 2 | | | Sejarah Pengajaran Ilmu Pemerintahan di Indonesia | | ONTOLOGI | | 2 | Ontologi Ilmu Pemerintahan. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 8 | | 5 | Teori Governance. . 20 | | 10 | Kepamongprajaan . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 6 | | 4 | Teori Pelayanan . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 5 | | EPISTEMOLOGI | | 3 | Teori Kebutuhan . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 28 | | 16 | UAS . . . . . . . . . . . . 22 | | 11 | Kebijakan Pemerintahan. . . . . . . . . . . 18 | | 8 | UTS . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .RINGKASAN ----------------------------------------------------------------------| SESI | URAIAN HALAMAN | |-----------------------------------------------------------------------| | 1 | Penjelasan Umum . . . . . . . . . 20 | | AXIOLOGI | | 9 | Teori Nilai . . . . . . . . 24 | | 12 | Manajemen Pemerintahan. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 30 | ----------------------------------------------------------------------- . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 27 | | 15 | Reformasi Pemerintahan. . . . 26 | | 14 | Etika Pemerintahan. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 11 | | 6 | Teori Kinerja . . 16 | | 7 | Metodologi. . .

prof. 15 meluncurkan berita berjudul “Presiden Ubah IPDN Menjadi IIP.” dilanjutkan pada pukul 224923: “Benar. Kegamangan itu terlihat pada hubungan antara pusat dengan daerah. Yang beliau maksudkan adalah Kybernologi dan Kepamongprajaan. MSi. 895.” Di kiri bawah terdapat tulisan: “‘Di IIP ada tambahan ilmu baru sebagai pendukung dalam aspek pemerintahan.’ ujar Mardiyanto” (Menteri Dalam Negeri). . Pukul 082337 pagi itu anak saya Pram mengonfirmasi berita itu pada saya seraya menanyakan ilmu apa yang dimaksud. Kita jadikan proposal yg prof. sebuah Bidang Kajian (field of study).” dengan subjudul “Sistem Pengasuhan Dihapuskan. dan Doktor S3). . Kepamongprajaan yang pamornya timbul tenggelam selama seratus tahun terakhir. . MPA. PhD. buat sebagai dasar keilmuan pembentukan IIP Regional. Diubah Kepamongan.GBPP MATAKULIAH KEPAMONGPRAJAAN Taliziduhu Ndraha. Prof. disiplin.” Apakah ini berita jurnalistik yang setelah dibaca menjadi basi dan dilupakan orang? Atau lanjutan sejarah? Di dalam sistem kurikulum IPDN terbaru (Peraturan Rektor IPDN tgl 15 September 2007 No. antara lain Plt Kepala Badan Diklat Dr H. Segera saya melaporkan berita itu via SMS kepada beberapa pejabat yang berkompeten. Magister S2. Jika Kybernologi berbentuk body-of-knowledge (BOK.” Dari 08159676440. Plt Rektor IPDN Dr J. Muchlis Hamdi. Muh. kembali menarik dengan semakin gamangnya penyelenggaraan Negara dan pemerintahan di tanahair. SU. prof. drs. seperangkat Kebijakan dan Peraturan. seorang pejabat Badan Diklat Depdagri tgl 121007 pukul 223338 diperoleh info: “Benar. . dan Prof. Dr Tjahya Supriatna. Semakin . SU. bagaimana dengan Kepamongprajaan sebagai matakuliah baru? Apakah hanya seperangkat teori seperti Teori-Teori Pembangunan. Marwan. Informasi dari pak Khasan Effendy (IPDN) pukul 112207 tentang ilmu apa yang dimaksud: “Pemahaman saya pembaharuan dan pengembangan Ilmu Pemerintahan salah satunya Kybernologi. Ilmu Pemerintahan (secara implisit Kybernologi) sebagai core curriculum IPDN pada tingkat institut (dijadikan menu semua fakultas dan jurusan) diajarkan sebelum core curriculum institut lainnya yaitu Kepamongprajaan. Kybernolog 1 LATARBELAKANG Kompas 11 Oktober 07 h. Kaloh.5-273 Tahun 2007. atau sebuah topik Seminar? Yang jelas. ilmu) dan derajat akademiknya bulat (Sarjana S1. dan jejaknya nyaris lenyap disapu perubahan zaman.

MPA. didorong oleh curiosity seadanya. sebuah dokumen akademik yang 40 tahun kemudian dimuat dalam Kybernologi: Sebuah Profesi. sedangkan “pamong” berarti pengasuh. Kepamongprajaan. Mungkinkah sebuah lembaga mengadvokasikan otonomi seluas-luasnya dan pada saat yang sama membuka ruangan bagi kepamongprajaan? Bagaimana hal itu bisa terjadi. Negara. penyelenggara. 1980. Semakin luas otonomi daerah. mengalami masa sunyi yang lama. kalau pemerintahan itu identik dengan pamongpraja. muncul beberapa kebingungan. 2007. sampai tahun 2004 ketika Forum Komunikasi Alumni IIP . Pamudji. apa maknanya. baik sebagai berita maupun sebagai pustaka. apakah seluruh perangkat eksekutif atau hanya perangkat Departemen Dalam Negeri yang dapat disebut pamongpraja? Ketiga. selagi semua orang asyik menikmati tidak kurang dari sepuluh hari libur bersama.” Kalau kedua konsep itu mengandung arti yang sama. semakin berkuasa kekepalawilayahan ketimbang kekepaladaerahan. semakin melembaga kepamongprajaan. walau terundung alergi debu.” dalam Berita IIP No. semakin otoriter Negara. kota.” seperti “government” yang dapat diartikan “pemerintah” dan juga “pemerintahan. adakah dan jika ada di manakah terletak perbedaan signifikan antara Kybernologi dengan Kepamongprajaan? Kelima. pusat terhadap daerah. pada tahun 2030 menjadi nomor lima terbesar sedunia. Sesudah itu. Dokumen pemikiran tentang Kepamongprajaan periode 70-80-an diwakili oleh Drs Bayu Surianingrat.dominan politik dekonsentrasi terhadap desentralisasi. Bab VI. bagaimana dengan pendapat Bayu Surianingrat dalam Pamong Praja dan Kepala Wilayah (1980) yang membedakan pamongpraja dalam arti luas dan pamongpraja dalam arti sempit? Keempat. tidak saling membunuh seperti disangka orang? Di samping kegamangan. kepamongprajaan semakin kehilangan ruang hidupnya. Pamong Praja dan Kepala Wilayah. 21 Tahun 1971. pilek dan flu. Pidato itu menunjukkan bahwa pembentukan IIP dijiwai oleh semangat Kepamongprajaan. dan apa manfaatnya? Apakah hal itu menunjukkan bahwa sesungguhnya di atas panggung yang sama yang satu memerlukan yang lain. “Membina Dinas Pamong Praja ke Arah Dinas Karier Dalam Administrasi Negara. Di zaman berlakunya UU 5/74. Jadi “pamongpraja” sesungguhnya identik dengan “pemerintah” dan “pemerintahan. Saya menemukan Drs S. yaitu Pidato Ilmiah pada Hari Wisuda Alumni APDN Malang dan Peresmian IIP tgl 25 Mei 1967 di Malang. saya membolak perpustakaan dan menjelajah warisan berbentuk huruf dan kalimat. di negeri yang menurut ramalan ulamapedagang politisi-birokrat buruh-cendekiawan. Pertama. mengapa dijadikan dua matakuliah yang berbeda? Kedua. “Praja” berarti kerajaan. bagaimana konstruksi hubungan teoretik antara keduanya? Maka sambil meraba-raba sini-sana.

MSi. Kepamongprajaan terlihat di panggung bernama Negara dengan pemerintah sebagai aktornya. berkisar pada masalah pendidikan pamongpraja.” Bandung. Guna mengantisipasi kemungkinan untuk menjadikan Kepamongprajaan sebagai matakulian di IPDN. sejak tahun 80-an IIP menerbitkan majalah Widyapraja. dengan titiktolak yang berbeda. yang menyatakan bahwa IPDN adalah lembaga pendidikan pamongpraja. “Pendidikan Pamong Praja di Indonesia” (1. “Pamongpraja Sebagai Golongan Karya Pemerintahan Umum. Dr Ateng Syafrudin.” dalam Kybernologi: Sebuah Charta Pembaharuan. menulis Pamong Praja. “Kepamongprajaan Ditinjau Dari Perubahan Paradigma Pendidikan dan Peranan Pemerintahan Umum” (5-2006). Kybernologi dan Metakontrologi (2005). Dr Lexie M. 2007. dari bahan-bahan yang amat sangat terbatas. G. SIP. dan “Kepamongprajaan: Fungsi dan Peran Pamongpraja Dalam “Era Otonomi Daerah.” disiapkan untuk Seminar di Kabupaten Landak Kalimantan Barat pada tgl 26 Oktober 2007. Bab XIII. Djopari. Azis Haily.” dilengkapi dengan sejumlah bahan yang lebih tua dan otentik mewakili zamannya. IPDN menyelenggarakannya Seminar Nasional Dalam Konteks Kepamongprajaan di kampus Jatinangor pada tgl 22 September 2007. Kybernologi bermula dari Manusia dengan kebutuhannya sebagai fakta di panggung dunia. namun “praja” dalam hubungan itu lebih sebagai sukunama ketimbang sebuah makna. “Kepamong-prajaan” dalam Kybernologi: Sebuah Scientific Movement. Memang. dan “Jabatan Pamongpraja (Dahulu Pangrehpraja) Dalam Penelitian Antropologi Budaya dan Hukum Adat. 2007. dengan mengembangkan sisi teoretik tulisan guru saya S. Misalnya John R. 20 Mei 1963. Dalam Jurnal Pamong Praja terdapat beberapa artikel yang nadanya sama. IPDN sendiri tidak tinggal diam. Pamudji. saya mencoba melengkapi pendekatan deskriptif dan normatif yang digunakan oleh para penulis di atas.menerbitkan Jurnal Pamong Praja.” Bandung 20 Mei 1963. Saya juga tergerak untuk menulis beberapa makalah. menyajikan makalah tentang “Ilmu Pemerintahan Dalam Konteks Kepamongprajaan. dan Hyronimus Rowa. Giroth. 2004). Sama seperti titian yang saya gunakan tatkala saya akhirnya menemukan Kybernologi. kembali saya menggunakan pendekatan metadisiplin (Ontologi). perhatian terhadap Kepamongprajaan terus mekar. Kybernologi mempelajari bagaimana memulihkan Manusia dari korban dan mangsa menjadi . “Sejarah Pendidikan Pamong Praja di Indonesia” (7-2007). Dipacu oleh terus digunakannya nama “pamong” oleh STPDN dan kemudian IPDN. Dalam seminar itu Prof. 43 Tahun 2005 tentang Statuta IPDN. Maka lahirlah “Memorial Lecture Ilmu Pemerintahan: Kepamongprajaan Dalam Sistem Pemerintahan. terbitan Program Pascasarjana IPDN. Bab XX. SH. dipertegas dalam Peraturan Menteri Dalam Negeri No.

subkultur kekuasaan (SKK). dan subkultur pelanggan (SKP) suatu governance. Derajat akademik bahan ajaran (didaktik) Kepamongprajaan berada pada tingkat mezzo (meso-). Dilihat dari pendekatan tersebut. Lebih padat-nilai (Axiologi) ketimbang -------------------------------KYBERNOLOGI-------------------------------| | (ILMU PEMERINTAHAN BARU) | | | | | | | | | | | KEAHLIAN KEAHLIAN | | DI BIDANG----------GENERALIS-----------DI BIDANG | | PEMERINTAHAN | PEMERINTAHAN | | | | | | | | | | | | PROFESI | PROFESI | | BIDANG PE| BIDANG PE| | MERINTAHAN | MERINTAHAN | | | --------------------| | | | | vooruitzien | | | TEOLOGI PEMERINTAHAN | conducting | PEMERINTAHAN TEKNOLOGI PEMERINTAHAN DAERAH | coordinating | DAERAH PEMERINTAHAN | | | peace-making | | | | | | residue-caring | | | | KEBIJAKAN | turbulence-serving | KEBIJAKAN | |--------------BIDANG-----|---KEPAMONGPRAJAAN---|------BIDANG--------------| | KEAGAMAAN | Freies Ermessen | PEKERJAAN UMUM | | | | gen&spec function** | | | | | | omnipresence | | | KYBERNOLOGI* KEPALA KANTOR | responsibility | KEPALA DINAS KYBERNOLOGI KEBERAGAMAAN AGAMA |magnanimous-thinking | PEK.consumer. seperti fitrahnya semula sebagai ciptaan ALLAH. Manusia dengan Negara berinterface pada situs SKK bernama Kepamongprajaan. UMUM | | | | | | | | | | | | KEAHLIAN | KEAHLIAN | | DI BIDANG----------SPESIALIS-----------DI BIDANG | | TEOLOGIA PEK. Kepamongprajaan mempelajari SKK seperti apa yang diharapkan bersinerji dengan SKE dan SKP sedemikian rupa sehingga kinerja governance yang bersangkutan berkualitas good (good governance). UMUM | | | | | | | | | --------------TEOLOGI TEKNOLOGI------------CIVIL *KYBERNOLOGI KETUHANAN? **generalist&specialist function Gambar 1 Sistem Nilai Kepamongprajaan dan Hubungannya dengan Ilmu Pengetahuan . melalui interaksi subkultur ekonomi (SKE). UMUM PEK. UMUM | | | statesmanship | | | | | --------------------| | | PROFESI | PROFESI | | BIDANG | BIDANG | | KEAGAMAAN | PEK.

Inilah dasar peletakan Kepamongprajaan dalam sistem kurikulum IPDN. Kebijakan otonomi Daerah berdasarkan UU 32/04. Kebijakan Presiden (Perpres 1/09 tgl 12 Januari). sesuai Tabel 1 Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah ----------------------------------------------------------------------------PENGATURAN PENGURUSAN MONEV DAN FEEDBACK ----------------------------------------------------------------------------1 DPRD -DPRD 2 KEPALA DAERAH PEMERINTAH DAERAH -(PEMERINTAH DAERAH) ----------------------------------------------------------------------------- . Pasal 1 butir 2. harus berangkat dari Sistem Nilai Kepamongprajaan ini. Menurut Teori Governance. maka apapun substitusinya. Jika “pengasuhan” dihapus dari panggung metodik (lihat Bab IX Kybernologi: Sebuah Profesi). maka Kepamongprajaan sebagai bahan-ajaran merupakan salah satu komponen Kybernologi pada sisi Axiologi. subkultur kekuasaan (SKK). pada semester sesudah Kybernologi diajarkan. Bahannya diambil dari Sesi Lima GBPP Ilmu Pemerintahan (Kybernologi). Berdasarkan uraian di atas. dan subkultur sosial (SKS). yaitu subkultur ekonomi (SKE. Bahan ini didahului dengan pembahasan singkat Teori Nilai (Sesi Sembilan GBPP Ilmu Pemerintahan). bagaimana subkultur bekerja (berinteraksi) dan berkontrol satu terhadap yang lain. untuk tetap menggunakan nama IPDN dan tidak IIP seperti dijanjikan 15 bulan yang lalu. modifikasi bahan yang pernah diterbitkan dalam Bab 6 Kybernologi dan Kepamongprajaan (2008). pembangunan itu sendiri berada di dalam policy implementation di ruang SKE). bagaimana governance terbentuk. Mengingat governance merupakan Epistemologi Ilmu Pemerintahan. 2 SESI SATU Pemerintahan. sebagai berikut. bahkan posisinya sebagai lembaga pendidikan tinggi kepamongprajaan dikukuhkan. Bagaimana masyarakat melindungi dan memenuhi kebutuhannya melalui interaksi tiga subkultur itu.padat-teori. diterangkan melalui Teori Governance. dan pengembangan Bab XIV Kybernologi dan Pengharapan (2009). 3 dan 4. tidak mengurangi derajat akademiknya. disusunlah 14 butir GBPP KepamongPrajaan (+ UTS dan UAS = 16 sesi) tentatif. setiap masyarakat (unit kultur) digerakkan oleh tiga subkultur.

Dalam Gambar 1 terlihat juga bahwa konsep pemerintahan lebih luas daripada konsep pembangunan pemerintahan. -----| | | | mencipta nilai pelayanan public | | | | 1 (inc.SKE--------|--------->SKK----------|-------->SKS------| pemain | | | penonton | | | | wasit | pelanggan | | | | | | | mengontrol SKK | | | ----------|-|---------di hilir | | pembangunan | | | | | | | meredistribusi | | | membentuk. Penyelenggaraan itu meliputi pengaturan (lebih tepat: pembuatan kebijakan) dan pengurusan (implementasi kebijakan dan monev-nya). ----------------------| NEGARA | 2 3 -----mengontrol---------mengontrol-----| memberdayakan | | membayar | | | | | | | | | | | | mengontrol SKK | | | | | di hulu | | | constituent -----.dengan teori ini. Di sana dinyatakan bahwa Pemerintah Daerah (local government) bersama DPRD adalah penyelenggara pemerintahan Daerah. Di bawah konteks pemerintahan daerah. “Pemerintahan” Daerah dalam hubungan itu setara dengan local governance. Konsep governance lebih luas ketimbang konsep government.-----yanan civil.pemberdayaan) | | | | 4 | | | | MASYARAKAT | | | | | | | ------melayani-------5---------pasar-------| | | | MANUSIA | | | ---------------------------feedback--------------------------6 Gambar 2 Teori Pemerintahan (Governance): Interaksi Antar Tiga Subkultur Subkultur Ekonomi (SKE). Subkultur Kekuasaan (SKK). | | nilai via pela| | | |----meningkatkan. dan Subkultur Sosial (SKS dgn kualitas Sebagai Pelanggan dan Constituent) yang Disebut juga Subkultur Pelanggan (SKP) . pemerintahan sama dengan policy making + policy implementation + policy implementation monitoring and evaluation (Tabel 1).

nya | | dan PERDA | 2 | | | | 3 | | petaruh.| | SKK di hulu via UU | | jakan & impl. Lintasan gerak dari terminal ke terminal disebut rute. men. Teknik penampilan rute ---------------------| NEGARA | | | SKK mengontrol SKS sbg konsti---dan memberdaya-----tuen mengontrol--| kan SKE via kebi. dan SKS. Interaksi antar subkultur masyarakat melalui tiga terminal.4 | | |---cipta nilai se-------nilai via pe| | | | cara berkelanlayanan civil & ----| | | | jutan pelayanan publik | | | | | | | | | | | | MASYARAKAT (PUBLIK) | | | | | | | -------melayani----------------pasar---------| | | | MANUSIA | | | ---------------------------feedback-----------------------------Gambar 3 Pemerintahan (Governance) Interaksi Antar Tiga Subkultur (Tiga Terminal SKE. 3. SKK. Hasil evaluasi dijadikan masukan ke dalam Rute 3. dan SKS) Via Rute 1. petarung | | | | | SBG KONSTITUEN -----. dan 5 . Interface itu membentuk ruang Masyarakat.| | meredistribusi<-. Gambar 3 menunjukkan 5 rute dasar interaksi. yaitu SKE. 4. SKK. me| | memberdayakan. | | | | 1 ningkatkan.Gambar 2 berawal pada Teori Ilmu Pemerintahan tentang interface antara konsep Manusia dengan konsep Negara.SKE------------------>SKK-------------------->SKS--------| “pemain” | | | SBG PELANGGAN | | | | “wasit” | | | | | | | | | | “penonton” | | | | | | | | | | | | | | | | SKS sbg pelanggan | | | | | | | mengontrol SKK via | | pembangunan | | | | monev & feedback | | | | | | | di hilir | | | ---------|-|---------| | | | | | 5 | | | | membentuk. 2. Sepanjang Rute 5 dilakukan pemantauan dan evaluasi redistribusi nilai (Rute 4) berdasarkan standar yang telah ditetapkan melalui Rute 3.

masyarakat pemangku kekuasaan) dengan fihak Yang Diperintah . terus ke SKS. 3. Gambar 2 mengalami modifikasi (Gambar 3): ---------------------| NEGARA | | | SKK mengontrol SKS sbg konsti---dan memberdaya-----tuen mengontrol--| kan SKE via kebi.| | SKK di hulu via UU | | jakan & impl.SKE---------|-------->SKK----------|----->STAKEHOLDER----| ”pemain” | | | ”penonton” | | | | ”wasit” | | | | | | | | | | SKS sbg PELANGGAN | | | | | | | mengontrol SKK via | | pembangunan | | | | monev & feedback | | | | | | | di hilir | | | ---------|-|---------| | | | | | 5 | | | | membentuk. Dalam Teori Governance juga termasuk Teori Hubungan Pemerintahan (governance relations). 2.4 | | |---cipta nilai se-------nilai via pe| | | | cara berkelanlayanan civil & ----| | | | jutan pelayanan publik | | | | | | | | | | | | MASYARAKAT (PUBLIK) | | | | | | | -------melayani----------------pasar---------| | | | MANUSIA | | | ---------------------------feedback-----------------------------Gambar 4 Stakeholder Pemerintahan (Hubungan Pemerintahan Antara Pemerintah (SKK) dengan Yang Diperintah (SKE dan SKS) Via Rute 1. hasil evaluasi dijadikan masukan ke dalam Rute 6 melalui terminal SKK. yaitu hubungan antara fihak Pemerintah (SKK.feedback tidak terlihat pada Gambar 3 dan Gambar 4 melainkan pada Rute 6 Gambar 5 sebagai masukan buat Rute 3. 2009). men. petarung | | | | | SKS “BANDAR” -----. dan 4 Gambar 3 menunjukkan Hubungan Pemerintahan.nya | | dan PERDA | 2 | | | | 3 | | petaruh. Di sana jelas. me| | memberdayakan. | | | | 1 ningkatkan. Dengan memasukkan konsep stakeholder (Bab I Kybernologi dan Pembangunan.| | meredistribusi<-.

peneliti bebas menentukan rute awal penelitiannya dan menandainya dengan angka 1 (pada Gambar 4. Hubungan (rute) antar tiga terminal (dalam Gambar 2 terlihat empat) diperjelas (diurai) menjadi enam rute berkesinambungan. angka 1 itu diletakkan pada rute Mandat (Gambar 5 pada rute 3). 3. kembali ke 2. Bagian Tiga Bab V dan Bab XIV Kybernologi Sebuah Scientific Enterprise. 1. Duabelas nilai dasar itu disebut Kepamongprajaan. 106) tentang hubungan antara Janji (commitment) dengan Percaya (trust) dan Harapan (hope). kembali ke 3. 1. . 2005. Perda) | | via rute 1 | | otonom di hulu | | di hulu | | di hilir | | | | | | | | | | . Pemerintahan mengandung (bekerja pada) duabelas nilai dasar. Gambar 5 merupakan rekonstruksi Gambar 7-1 Kybernologi (2003. 5 dan 6. 2. 4.SKS------------SKK-| | | | | | | | | redistribusi | | | | | | | | nilai via pe. hope) kinerja SKK ---nya) berda. berlanjut ke 3. 2006. 4. SKE adalah masyarakat dalam perannya sebagai Pekerja. 2. sehingga rutenya menjadi 3.| | pertanggung| | | | nilai berke| | lay civil. 4. 6.SKE-------------. | | jawaban etik | | | --lanjutan utk----pelay publik------menurut----| | hidup & pemberday etika otonom | | 1 masyarakat di hilir | | di tengah | | 4 | | | --------------------pemerintahan (governance)-------------------Gambar 5 Hubungan Pemerintahan Pemerintahan sebagai Sistem dan Proses Via Rute 1. sehingga prosesnya berjalan dari 1 ke. Dengan argumentasi tertentu. kuasa monev thd & penepatan(trust.-----rute 2 & 4 --| sarkan etika | | (UU.-----tuntutan. 5 dan 6 Tetapi untuk rezim yang baru terpilih. 5. sedangkan SKS adalah masyarakat dalam perannya selaku Pelanggan dan Konstituen. 2 janji (kebi3 5 jakan/rencana mandat. demikian terus-menerus.(SKE dan SKS).SKK-------------. rute Nilai Berkelanjutan Untuk Hidup). Referensi: Bagian Pertama Bab 8 Kybernologi Beberapa Konstruksi Utama. misalnya untuk rezim yang sedang berjalan.

dan dapat terjadi minimal 20 tahun ke depan agar terjamin kesinambungan kinerja rezim yang berbeda-beda melalui rel atau runway yang sama. Bab I. bandingkan dengan Dadang Solihin. dan masahidup. dan Harapan (2008). edisi perdana Agustus 2007. 2008. lihat “TOR Talkshow Visi Indonesia 2045” dalam Kybernologi: Sebuah Profesi. ia wajib memperhitungkan dan mengantisipasi apa yang harus. akan. Gouverner c’est prevoir.” dalam Kybernologi: Jurnal Ilmu Pemerintahan Baru. Obsesi para kanselir sebelum Helmut Köhl adalah mempersatukan Jerman. Mengamong adalah memandang (envision) sejauh mungkin ke depan. Berdasarkan UU 25/04 dan UU 17/07.Bab VI dan Bab VII Kybernologi Sebuah Metamorphosis. Lihat juga Bab II Kybernologi dan Pembangunan KE DEPAN tujuan jangka panjang cita-cita. Jerman dan Amerika dapat digunakan sebagai ilustrasi. ybs sarkan idea dan visi 4 3 IDEA-------------------------------------------->GOAL R7 | | 7 HARAPAN R6 | | R5 | 38 tahun R4 6 MISSION | R3 | | R2 5 MASALAH | | R1 | FAKTA SEKARANG-------------------------------------->VISION 1 tigapuluhdelapan tahun 2 kondisi yg takbisa apa yg terlihat bila diubah (takdir). keadaan berjalan menudan atau takbisa rut kondisi yg tak (sulit) berubah R = rezim berubah (fakta. Goal. Visi Bangsa Indonesia di tengah dunia yang sedang berubah. Bab I Kybernologi dan Pembangunan. mengembalikan Jerman pada . Misi. Karakteristik Bangsa. Visi. kesadar dan formal berdaarifan masy. 2007. Idea. “Visi Indonesia. 2009 3 SESI DUA Nilai Satu VOORUITZIEN (lengkapnya Besturen is vooruit zien. Diuraikan posisi Indonesia di tengah perubahan global dan bagaimana visi Bangsa Indonesia dahulu dan sekarang. To govern is to foresee). 1) Gambar 6 Fakta. kendatipun masajabatan seseorang hanya lima tahun. tidak hanya sebatas masa jabatan masakerja. dan Tantangan Ilmu Pemerintahan. Teori tentang visi. obsesi yg ditetapkan secara sistem nilai. Masalah.

ambruknya Amerika Serikat di bawah Bush dan krisis ekonomi global.” menuju “despairing. kepemimpinan yang dibutuhkan Indonesia ke depan adalah kepemimpinan visioner jangka panjang dari kebangsaan ke kesebangsaan Indonesia melalui pengurangan kesenjangan vertikal antar lapisan masyarakat dan pengurangan kesenjangan horizontal antar daerah secara konsisten dan berkelanjutan sehingga pada suatu saat setiap orang berkesempatan menikmati hasil pengorbanannya (Bhinneka Tunggal Ika).” Berdasarkan uraian di atas. demikian seterusnya. pada pemilu berikutnya rezimnya tidak terpilih. Jika difahami sungguh-sungguh dan arif. dan meningkatkan kesejahteraan seluruh Jerman. Köhl berhasil.” sedangkan bangsa Indonesia semakin “separating. yang dibutuhkan ke depan adalah merawat dan menjaga hasil yang telah dicapai. baik fenomena alam maupun fenomena KeTUHANAN. Ia dijuluki The Bismarck atau Bismarck II. Rezim yang terdahulu mewariskan jejak langkahnya kepada rezim yang kemudian. Ia terpilih bukan karena kegagalan Köhl. Bila diperhatikan dengan saksama. tidak mungkin terjadi adanya penggusuran paksa. tetapi karena perannya dalam sejarah berbeda. ia mengutus angin dan kilat. terlihat dengan sangat jelas bahwa ditjen Kelompok A berfungsi sebagai fungsi lini pemerintahan yang memproses “Tunggal Ika. dalam sistem ketatanegaraan dan pemerintahan Indonesia. tidak akan ada bangunan liar. bahkan lengkap dengan fotofoto segala) menjadi harapan Amerika. atau penduduk yang tidak memiliki akte kelahiran. sebab bangsa Jerman sadar bahwa obsesi berikutnya berbeda. Ajaran ini juga didasarkan pada anggapan bahwa setiap perubahan berkesinambungan dan berkelanjutan. membebaskannya dari bayang-bayang Amerika. tetapi bahwa bangsa Amerika telah berhasil “melting. seorang yang tidak dikenal secara luas. konon pula berkelahi memperebutkannya. Alam juga demikian. Tabel 2). ia hadir pada saat yang tepat. ada nubuatannya. begitu hirarkinya.” sementara ditjen Kelompok B mengelola “keBhinnekaan” nusantara. Misi Negara menjadi visi Depdagri. Tetapi sebaiknya hal ini tidak diperdagangkan menjadi eforia bahwa Indonesia berhasil membentuk Obama (karena ia pernah sekolah di Menteng dan tinggal di Indonesia selama empat tahun. Jika hal ini direnungkan. Maka Schröder-pun. Kendatipun demikian. Visi dan Misi Departemen Dalam Negeri (Depdagri). dan popularitas. zaman sudah berubah. Misi Depdagri diidentifikasi melalui fungsi lininya (line functions. departemen yang secara khusus berperan menjalankan misi .posisi terhormat di Eropah. menggantikannya. Dengan perkataan lain. Ada tanda-tandanya. tidak ada yang mendadak. Kehadiran Obama dalam sejarah Amerika bertolakbelakang dengan Schröder. karisma. Di samping kecerdasan. ALLAH mengutus Nabi-NabiNYA untuk membawa firmanNYA.

memiliki pancaindera yang sensitif (peka) serta suasana hati yang cerah. namun yang bergerak di dalam wilayah kerja atau daerah (kota) yang sama. dengan mengoreksi sedini dan setegas mungkin tiap “bunyi.” dan memproses kesebangsaan guna mewujudkan Bhinneka Tunggal Ika. adalah Departemen Dalam Negeri. atau memandang sesuatu sebagai bagian integral (dalam kerangka) suatu kebulatan (keseluruhan). Konduktor harus menguasai skenario dan lagu. Bab I Kybernologi Sebuah Profesi (2007). Kesumbangan nada itu diketahui dari gap antara skenario pertunjukan dan lagu yang dimainkan. Referensi: Kybernologi dan Kepamongprajaan. sehingga mampu merasakan kesumbangan senyaris apapun itu . dengan nada atau bunyi sebagaimana terdengar oleh penonton dan terlebih konduktor. guna membangun kinerja bersama semua komponen yang berbeda-beda pada sebuah unitkerja. Fungsi conducting memerlukan dan membentuk sikap komprehensif: memandang totalitas (keseluruhan) dulu baru bagian-bagiannya. Bab II dan Bab XVII. 2007. Mengamong adalah menciptakan harmoni antar kegiatan dengan instrumen yang berbeda dan dilakukan oleh aktor yang berlain-lainan. nada” atau langkah sumbang senyaris (sekecil) apapun.Tabel 2 FUNGSI LINI DEPARTEMEN DALAM NEGERI -------------------------------------------------------------------------------KELOMPOK A KELOMPOK B -------------------------------------------------------------------------------1 Ditjen Kesatuan Bangsa dan Politik 1 Ditjen Otonomi Daerah 2 Ditjen Pemerintahan Umum 3 Ditjen Administrasi Kependudukan 2 Ditjen Bina Pembangunan Daerah 3 Ditjen Pemberdaayaan Masyarakat Dan Desa 4 Ditjen Bina Administrasi Keuangan Daerah -------------------------------------------------------------------------------- Pemerintahan Indonesia yaitu mengelolaan keunikan tiap masyarakat menjadi kekuatan matarantai nusantara. 4 SESI TIGA Nilai Dua CONDUCTING. Dua syarat pembentukan harmoni adalah kapabilitas dan akseptabilitas. mengurangi kesenjangan vertikal dan horizontal antar masyarakat secepatnya. sehingga “the people who get pains are the people who share gains. menyimak sambutan penonton (pelanggan). oleh conductor.

conducting --------->INFO----------------------->PLAN (GOAL--->TARGET T)-| (HARMONY) | | | | | ---------------------------------------------| | | | | | orchestra organizing ORCHESTRA | | ----->HARMONY-------------------------->ORGANIZATION meet? match?--| for harmony keeping | | | | | | | | ---------------------------------------------| | | | | | | | ORCHESTRA performance | | | -->ORGANIZATION--------------------->EXPECTED RESULT (R)---| | best performance | | | | | ---------------------------------------------| | | | | | controlling | | --->EXP. mengindera bunyi dengan halus dan jelas. RESULT---------------->R = T. dan melakukan koreksi tanpa pandang bulu dan tidak memihak). dan Bab V Kybernologi Sebuah Metamorphosis (2008) . tindakannya harus dapat diterima oleh para pemain (akseptabilitas). yang lain salah. Bab 11. dan pada aras makro bilamana ia sanggup menumbuhkan pengharapan dalam diri pendengar dan pemain tatkala walau lambat tapi pasti terjadi perbaikan terus-menerus: semakin berkurangnya kesenjangan vertikal antar lapisan masyarakat dan semakin berkurangnya kesenjangan horizontal antar daerah. merespons penonton dengan penuh perhatian. R > T. Bab II. mungkin dengan kekerasan. sehingga pada suatu saat. Bab 16.? ---> R > T ---> ? <------? ---> R < T ---> ? Gambar 7 Fungsi Conducting (Sebuah Masyarakat Diibaratkan Sebuah Orkestra) Referensi: Bab 6. R < T------------------| | | | | monev | | | ? ---> R = T ---> ? | --------FEEDBACK-----------------. Ketika konduktor melakukan kewajibannya membentuk dan menjaga harmoni dengan menggunakan otoritasnya.(kapabilitas). dan Bab 19 Kybernologi (2003). Bab III. dalam wadah negara kesatuan (pot) terjadi melting antar tiap kekuatan yang selama ini mengklaim bahwa dia yang benar. Konduktor akseptabel pada aras mikro manakala ia dapat dipercaya (tatkala ia memenuhi janjinya: menaati skenario dan lagu.

Kata kuncinya adalah berkoordinasi. sang pejabat ini “kabur” diikuti pejabat-pejabat lain. melainkan sekedar laporan) karena biasanya setelah memperdengarkan keynote speech. sangat lemah. Produk rapat koordinasi lemah (tidak mengikat. Semakin independen hubungan antara unitkerja yang satu dengan unitkerja yang lain. dan sebangsanya. karena terpasang (inherent) di dalam setiap tugaskewajiban seseorang. Terus-menerus . yang berkoordinasi haruslah pejabat-pejabat yang berwenang membuat kebijakan dan mengambil keputusan. setiap wilayah seharusnya memiliki Kalender Pemerintahan yang meliputi jadual Koordinasi itu. Gerak dari Kondisi Heterostasis ke Homeostasis. semakin diperlukan koordinasi. Jadi agar kesepakatan itu berkekuatan mengikat. tukang parkir. kembali ke Heterostasis. dan petugas catering. Koordinasi di Indonesia sangat. Sesungguhnya koordinasi tidak dapat diprojekkan.5 SESI EMPAT Nilai Tiga COORDINATING. dan tukang sapu. proses divergent heterostasis proses convergent homeostasis BHINNEKA kesenjangan TUNGGAL IKA proses coordinating menjamin kinerja masing-masing proses conducting menjamin kinerja bersama GAMBAR 8 Hubungan Coordinating dengan Conducting di dalam Sistem. Koordinasi merupakan sebuah proses yang inputnya informasi. Jadi berkoordinasi itu tidak memerlukan biaya! Demikian pentingnya koordinasi ini sehingga sebagaimana halnya sebuah perguruan tinggi memiliki Kalender Akademik. agar yang satu tidak merugikan tetapi mendukung yang lain. dalam rangka mencapai kinerja masingmasing unit kerja secara optimal dalam rangka mencapai tujuan bersama secara keseluruhan. Mengamong adalah membangun komitment bersama antar unit kerja yang berbeda-beda dalam suatu wilayah. Di dalam ruangan sisa pegawai eselon pencatat dan pelapor. amanat. sehingga koordinasi bisa berjalan tanpa koordinator. konsultan (pemborong). dan outputnya kesepakatan yang mengikat fihak-fihak (pejabat) yang berkoordinasi.

kalau aku tidak. semakin diperlukan coordinating. atau kalah-kalah (lose-lose. Mengamong adalah membangun kedamaian. Bab XVII Kybernologi dan Kepamongprajaan (2008).) Frontiers of Development Administration (1971) 6 SESI LIMA Nilai Empat PEACE-MAKING (PEACE-KEEPING). Tabel 3 Sikap Terhadap Sesama ----------------------------| I WANT YOU TO | |-----------------------------| | LOSE | WIN | -----------------------------------------------------------| | | LOSE | LOSE-LOSE 1| LOSE-WIN 2| | I WANT YOU TO |-------------------------------------------| | | WIN | WIN-LOSE 3| WIN-WIN 4| ----------------------------------------------------------- Perang seperti itu terjadi beradasarkan anggapan bahwa kedamaian bisa terbentuk melalui proses menang-kalah. Saul M. Jika semakin independen hubungan antara unitkerja yang satu dengan unitkerja yang lain. Riggs (ed. Karena menurut Teori Sistem. kaupun tidak!). kerukunan. kompetisi dan perlombaan.” dalam Fred W. sebagaimana di zaman dahulu Kepaladesa diakui dan berperan sebagai Hakim Perdamaian Desa. Referensi: Bab 14 Kybernologi (2003). kalah-menang (win-lose. Katz. Tidak seperti ketertiban model “sapulidi. juga tidak menciptakan permusuhan sehingga terjadi perang semua lawan semua. pertaruhan dan pertarungan. Proses ini didorong oleh naluri primitif manusia yaitu pemenang berhak menguasai yang . semakin diperlukan conducting.Coordinating dengan conducting berkaitan erat.” Perbedaan dan konflik. sesungguhnya tidak menceraiberaikan. seperti proses pemilu di Indonesia. keamanan. maka semakin interdependen unit kerja satu dengan yang lain. dan ketertiban dari “akar rumput” (grass root) ke atas oleh Pamong (Pamongdesa) terbawah melalui kesepakatan (beslissing) konsisten terus-menerus dengan warga masyarakat (via peran Pamongpraja). tetapi justru mempersatukan jika semua fihak menjunjung tinggi sportivitas. maka hubungan antara keduanya dapat digambarkan sebagai berikut (Gambar 8). “Exploring A Systems Approach to Development Administration. lose-win). setiap komponen (unit kerja) merupakan bagian sebuah keseluruhan (sistem).

kalah (spoil system), Tabel 3. Naluri ini mengubah perilaku manusia menjadi kanibalistik yaitu memangsa diri sendiri (sistem kanibalistik, lihat Bab IX
ORGANISASI (PARTAI POLITIK, dsb) | | melayani | membayar ---------MASYARAKAT<--------PEJABAT/PEGAWAI<--------NEGARA<-------| | | | | transaksi | | | | | | ---->membayar------| | | ----------------------------->membayar----------------------------Gambar 9 Masyarakat Membayar Berkali-kali (Sistem Kanibalistik)

Kybernologi Sebuah Charta Pembaharuan, 2007). Kanibalisme itu dalam polity dan birokrasi Indonesia, terlihat sah-sah saja (Gambar 9). “Kedamaian” yang diperoleh melalui proses kalah-menang ini menyisakan “duri dalam daging,” “api dalam sekam,” dan “air tenang namun penuh buaya ganas kelaparan.” Peace-making (dengan Manajemen Konflik) berarti: 1. Meneliti dan mengidentifikasi sejauh mungkin sumber ketidakdamaian di dalam diri manusia dan di dalam masyarakat 2. Mengidentifikasi dan mengantisipasi sedini mungkin setiap potensi konflik 3. Menyelesaikan sedini mungkin tiap konflik pada sumbernya 4. Tidak “menabung” “kesalahan” orang untuk dijadikan “peluru” guna “menembak” orang yang bersangkutan 5. Tidak menggunakan “kesalahan” orang lain untuk membenarkan diri sendiri (“Don’t take the example of other as an excuse for your wrongdoing,” bandingkan Effendi Gazali, Kompas 070509h06 tentang Kompas 220409 soal “jangan galak-galak”) 6. Tidak bersikap: “Kalo gue gak dapet, elu juga gak boleh dapet;” sikap ini bisa berakhir pada pelenyapan si “elu” 7. Tidak mengclaim kinerja bersama (bangsa) sebagai kinerja sendiri (parpol tertentu), hanya karena parpol atau koalisi parpol itu mayoritas di parlemen, sebab yang membiayai parlemen itu seluruh bangsa Upaya di atas dapat terjadi manakala pemimpin informal dan pemimpin formal suatu masyarakat berada sedekat mungkin dengan warga masyarakatnya. Sudah barang tentu yang dianggap kedekatan di sini tidak semata-mata kedekatan fisik tetapi lebih

sebagai kedekatan yang dapat diukur dengan jarak sosial (social distance), dan jarak kekuasaan (power distance) yang sedekat dan sedinamik mungkin. “Sedekat dan sedinamik mungkin” artinya tidak status quo, atau static equilibrium, melainkan interaksi antar tiga subkultur masyarakat (SKE, SKK, SKS) bergerak lancar dan sehat dari kondisi homeostasis ke kondisi heterostasis, kembali ke kondisi homeostasis, demikian terus-menerus (ref. Saul M. Katz, “Exploring A Systems Approach to Development Administration,” dalam Fred. W. Riggs, ed., Frontiers of Development Administration, 1970) . Selain itu, kedekatan yang dimaksud bukan hanya berbentuk simpati tetapi lebih dalam bentuk empati (ref. Bagian Kedua Bab XIV Kybernologi Beberapa Konstruksi Utama, 2005, tentang Verstehen). Untuk mempelajari latarbelakang dan penyebab ketidakdamaian (social unrest), dalam sesi ini perlu juga dibahas teori-teori proses sosial, seperti Teori Aksi-Reaksi, Teori Tantangan dan Jawaban (Challenge and Response), Teori Dialektika (ThesisAntithesis-Synthesis) yang salah satu bentuknya dalam kearifan sosial disebut “Mengail Di Air Keruh,” Teori Pertukaran Perilaku (Exchange Theories) dan sebagainya (ref. Margaret M. Paloma, Sosiologi Kontemporer, Bagian Satu, 1984). Membangun dan menjaga kedamaian ini diakui paling sulit, ibarat “meniti buih.” Namun walaupun sukar, buahnya amat manis. Menurut pengalaman nonekmoyang, “Kalau pandai meniti buih, selamat badan ke seberang,” disertai peringatan: “Sepandai-pandai tupai meloncat, sesekali terpeleset jua!” Referensi: Bab 18 Kybernologi (2003), Bab III Kybernologi dan Pengharapan (2009), dan bab-bab lain yang relevan. 7 SESI ENAM Nilai Lima RESIDUE-CARING. Mengamong adalah mengurus (sesuatu yang dianggap) sampah, golput, sepah, bengkalaian, pecundang, buangan, cemaran, atau sisa-sisa, kendatipun orang lain yang berpesta. Mengamong adalah mengurus apa saja, baik urusan yang tidak/belum termasuk tupoksi unitkerja manapun, maupun urusan yang tak satu unitkerjapun bersedia mengurusnya karena tidak menguntungkan bahkan merugikannya. Pengurusannya harus sesegera mungkin, karena semakin cepat dan tidak menentu perubahan, semakin banyak produksi sampah. Mengamong adalah memberikan perhatian yang sama dan sepadan kepada semua fihak, baik yang dianggap berkesalahan (buruk, jelek), maupun yang dipandang tidak berkesalahan (benar, baik) baik yang merasa dirugikan, ataupun fihak yang merasa diuntungkan, sebagai akibat suatu kebijakan, keputusan, atau tindakan pemerintahan. Dasarnya adalah kearifan lokal “Datang tampak muka, pergi

tampak punggung,” “Berjalan sampai ke batas, berlayar sampai ke pulau.” Bekerja sampai tuntas! Tidak boleh ada urusan yang berjalan setengah, atau persoalan yang tidak berjawab. Dianggap orang sudah hilang ditelan zaman, tau-tau suatu saat meledak! Ajaran ini adalah pengembangan (modifikasi) Teori Sisa (Residue Theory) yang digunakan di zaman Belanda dulu. Teori Pelayanan, Teori Pemberdayaan, dan Etika Pemerintahan, merupakan pelajaran dasar nilai ini. Landasan konstitusionalnya Pasal 27 dan 34 UUD 1945. Tindakan walikota memerintahkan Polisi Pamong Praja untuk menghalau para pedagang K5 dan mengusir para penghuni bangunan liar yang dianggap membangkang, dalam rangka menegakkan Perda tentang K3, dapat dibenarkan. Tetapi jika dengan penghalauan dan pengusiran itu pedagang K5 dan warga liar itu dalam waktu lama kehilangan pekerjaan, tiada tempat bernaung, anak-anaknya terlantar dan putus sekolah, masuk kolong jembatan, menjadi sampah masyarakat, maka Walikota dapat dituduh melanggar konstitusi. Referensi: Bab III Kybernologi Sebuah Rekonstruksi Ilmu Pemerintahan (2005), Kybernologi Sebuah Metamorphosis (2008), Bab 2, Bab 3, dan Bab 5, serta tulisan lain yang relevan 8 SESI TUJUH Nilai Enam TURBULENCE-SERVING. Mengamong adalah mengantisipasi dan melayani dalam arti memberdayakan, melindungi dan menyelamatkan manusia dan lingkungannya, bangsa dan negara, terhadap segala sesuatu yang sifatnya oleh manusia dianggap mendadak, berdayahancur besar, tiba-tiba, di luar perhitungan, tak disangka-sangka, force majeure, baik sebagai akibat perilaku alam, dampak kebijakan publik yang keliru ternyata, maupun perilaku masyarakat. Pengamongan didasarkan pada anggapan bahwa WAKTU SAMA DENGAN NOL. Anggapan ini sesuai dengan kearifan sehari-hari berbunyi “Sediakan Payung Sebelum Hujan,” “Lebih baik mencegah daripada mengobati.” Jika terjadi kebakaran, tidak ada waktu untuk memperlebar jalan agar Tanki Pemadam Kebakaran bisa lewat dan masuk, tidak ada
MANAJEMEN NORMAL (MN) MANAJEMEN TURBULENTIA (MT) --> -------------------- membentuk----> --------------------------| LONG-TERM-BASED (LTB) ZERO-TIME-BASED (ZTB) | | | | | | | -------------------------- FEEDBACK (FB)--------------------------Gambar 10 Manajemen Nasional Amfibia Serbacuaca (MANAS)

waktu untuk mencari sumber air atau merancang pelatihan. Seharusnya langsung bertindak dan berhasil. Kerangka pemikirannya sebagaiberikut (Gambar 10) dan hipotesisnya berbunyi: “MANAS = Manajemen Normal Yang Berhasil Diarahkan Pada (Membentuk) Manajemen Turbulentia, dan Manajemen Turbulentia yang Berhasil Memberikan Feedback Pada Manajemen Normal” terus-menerus. Pengujian hipotesis itu terlihat pada Gambar 11.
QUALITY ZTB 4-------------------------------------------4 M | | | A | | | N | | | A | | | J 3--------------------------------3----------| E | | | | M | | | | E | | | | N | | | | 2---------------------2----------|----------| T | | | | | U | | | | | R | | | | | B | | | | | U 1----------1----------|----------|----------| L | | | | | E | | | | | N | | | | | T | | | | | I LTB --------1----------2----------3----------4-A----> 0 M A N A J E M E N N O R M A L
Gambar 11 Manajemen Normal Berkemampuan Manajemen Turbulentia

TIME

Gambar 11 menunjukkan bahwa semakin lama kualitas (kapasitas) manajemen normal semakin tinggi sehingga pada akhir LTB turbulentia dapat dihadapi dengan ZTB action. Dalam banyak hal, “payung” itu seharusnya disediakan oleh pemerintah (SKK). Hak dan wewenang membawa (menimbulkan) kewajiban. Beberapa tahun yang lalu, masyarakat digemparkan oleh berita media tentang longsornya sebuah tambang galian pasir di sebuah daerah di Jawa Barat. Puluhan penambang tewas.

sampai pada pustaka Manajemen Bencana (Disaster Management). Freies Ermessen berbeda dengan diskresi yang memberikan keleluasaan bertindak bagi pejabat dalam batas aturan yang berlaku. Bab 7 Kybernologi Metamorphosis (2008). misalnya Jerman. jika perlu (tiada pilihan lain) diluar batas aturan yang ada. material dan barang. Tetapi di Indonesia yang masih menganut pendekatan hukum positif (tiada aturan hukum = tiada pelanggaran dan kejahatan). jebolnya Situ Gintung Tangerang Selatan dinihari Jumat tgl 270309. berdasarkan keputusan batin yang dipilih secara bebas. Meledaknya pipa Pertamina beberapa waktu yang lalu di seputar Lapindo. atau sepanjang tidak dilarang secara tegas dalam aturan perundangan. Perda tentang retribusi hanya berisi prosedur permohonan izin. batu. dan tidak ada sanksi bagi pemda bila wanprestatie. dan siap menanggung segala risikonya secara pribadi (tanpa kambing hitam). ajaran ini tidak digunakan lagi. Mengamong adalah menunjukkan keberanian untuk melakukan turbulence serving di atas. Bab 10 Kybernologi Scientific Movement (2007).Penambangan pasir. dan tanah. mengamong berarti menyelenggarakan pemerintahan dalam kondisi serbacuaca (all weather governance). Sudah barang tentu fihak plat merah angkat bahu. Ini berkaitan dengan Nilai Satu. bertaburan di seluruh seri Kybernologi mulai dari Bab V Beberapa Konstruksi Utama (2005). Di sana tidak tercantum perlindungan terhadap penambang. Keputusan dan tindakan Fries Ermessen diambil atas inisiatif sendiri. terasanya mendadak atau di luar kemampuan. sehingga perkara yang seharusnya dapat diantisipasi. disebabkan oleh kelalaian pemerintah dan masyarakat membaca peringatan dari Ilmu Sifat Barang tentang metal fatigue (kejenuhan metal) dan engineering life (masa layakpakai) setiap teknologi. Di negara hukum yang menganut pendekatan progressif. merupakan sumber PAD kategori retribusi izin Galian-C. Tidak ada yang sempurna di dunia ini. Dalam hubungan itu semua. Bab 10 Kybernologi Kepamongprajaan (2008). dan dari berbagai segi. 9 SESI DELAPAN Nilai Tujuh FREIES ERMESSEN. Manusia buat kelalaian dan suka lupa. lalai melakukan kewajibannya. untuk dipertanggungjawabkan kemudian kepada semua fihak. Buahnya malapetaka! Banyak sekali referensi pokok bahasan ini. terlebih mengingat kesadaran hukum yang rendah dan budaya hukum . dan sanksi buat pemegang izin bila tidak memenuhi kewajibannya. tarif. kewajiban pemda untuk mengontrol penambangan agar tidak berbahaya.

kemahiran. E. berpengetahuan luas) guna mengidentifikasi dan membangun kebersamaan (tunggal ika) antar masyarakat yang berbeda-beda. dan Teori Kedaulatan. Mengamong adalah (belajar untuk) mengetahui sedikit demi sedikit tentang semakin banyak (luas) hal (to know less and less about more and more. Kreativitas merupakan lahan subur untuk menumbuhkembangkan Seni Pemerintahan: kepandaian (art. berpengetahuan mendalam) guna mengidentifikasi perbedaan senyaris apapun antar masyarakat yang satu dengan masyarakat yang lain. Referensi: Bayu Surianingrat. kekhususan (uniqueness) suatu masyarakat. Pengantar Dalam Hukum Indonesia (1959: 441. Bab III Kybernologi Sebuah Charta Pembaharuan (2007). craft) menjawab suatu masalah dengan alat atau cara yang berbeda pula. Mengenal Ilmu Pemerintahan (1980). mengamong berarti berupaya untuk semakin mengenal kualitas. noodverordeaturan hukum aturan hukum noodverordeningsrecht positif positif ningsrecht | | | | | | | | | tanggungjawab | | tanggungjawab | | pribadi | | pribadi | |<--------------|----FREIES ERMESSEN----|-------------->| | berdasarkan | | dasarkankan | | etika otonom | | etika otonom | | | | | | |<-------DISKRESI------>| | | | | | ------------------------------------------------------Gambar 12 Freies Ermessen dan Diskresi Nilai ini erat berkaitan dengan Politik Pemerintahan. ajaran Fries Ermessen masih diperlukan. Etika Pemerintahan. Untuk itu. Utrecht.yang lemah. tumbuh kreativitas. 460). Dengan pengetahuan dan pengalaman yang luas. Hukum Pemerintahan (khususnya Hukum Darurat/Bahaya). Dengan keahlian yang dalam. Mengamong juga adalah (belajar untuk) mengetahui semakin banyak (dalam) tentang semakin sedikit hal (to know more and more about less and less. watak. tumbuh ketelitian. dan presisi. Apakah Pak Harto juga tahun 1965 dan berikutnya? Yang jelas Mahasiswa tahun 1998 merobohkan pemerintahan yang sah. 10 SESI SEMBILAN Nilai Delapan GENERALIST AND SPECIALIST FUNCTION. innovativeness. Bung Karno menggunakannya tgl 5 Juli 1959 (noodverordeningsrecht). skill. sebagai prasyarat untuk membangun Teknologi Pemerintahan .

nazar. dan jika jawaban tidak dipercaya. terakhir di kota B. Mempertanggungjawabkan artinya menjawab (menerangkan) secara terbuka segala sesuatu yang menimbulkan pertanyaan pelanggan. namun karena daerah A belum mengenalnya dengan baik. tindakan yang ditempuh berdasarkan Freies Ermessen. Pertanggungjawaban dapat diterangkan melalui Teori Tanggungjawab yang dikembangkan dari Teori Tanggungjawab Herbert J. dua. Tanggungjawab sebagai accountability adalah . tiga.yang tepat. Seorang yang berasal dari daerah A sejak kecil tinggal mencari nafkah dan bergaul dengan banyak orang di berbagai kota. ialah Ilmu Pemerintahan dengan Kepamongprajaan sebagai salah satu bentuk Aksiologinya. sumpah dan janji jabatan atau profesi (kontraktual). obligation. tidak ada “kendaraan” yang mengusungnya. dan cause. Menurut Spiro. Pada tahun 2008 ia ingin dicaleg untuk dapil A. Tentang hal ini. tanggungjawab diartikan sebagai accountability. Nilai ini mengandung implikasi politik. pelaksanaan tugas (perintah. . bahwa berbagai ilmu pengetahuan yang bertalian dengan salah satu bagian dari penguasaan (beheer) perusahaan partikelir pada akhirnya bermuara pada suatu ajaran perusahaan umum (algemene bedrijfsleer) yang meliputi kesemuanya dan bahwa ajaran tentang penguasaan perusahaan-perusahaan partikelir ini setidaktidaknya untuk sebagian merupakan syarat bagi adanya ilmu pengetahuan yang lebih tinggi daripadanya. Spiro dalam Responsibility in Government (1969). Oleh pengetahuan dan pengalaman yang luas dan dalam itu. dan sumpah-sebagai-bukti. seorang pamong siap ditempatkan di mana saja dan mampu mengerjakan tugas apa saja yang telah didalaminya. Kepamongprajaan sebagai superstruktur profesi pemerintahan melalui pendekatan lintas sektoral bermula pada visi untuk membentuk tenaga-tenaga pemerintahan yang berkualitas kepamongprajaan. mandat). van Poelje dalam Pengantar Umum Ilmu Pemerintahan (1959) menyatakan: . kepada para pelanggan produk-produk Negara. Gambar 13. Mengamong adalah mempertanggungjawabkan kepada pelanggan (bukan hanya atasan!): satu. yang bersangkutan menanggung sendiri segala akibat dan risikonya. dan empat. Lihat Bab 19 dan Bab 30 Kybernologi (2003). selfcommitment (janji kepada diri sendiri. 11 SESI SEPULUH Nilai Sembilan RESPONSIBILITY. Gambar 1 di atas menunjukkan hubungan antara fungsi generalist dengan fungsi specialist tersebut. . . amanat. . daerah kelahirannya. yang agar mengikat perlu disaksikan). sementara di kota B pesaingnya banyak. . pengakuan.

“noblesse oblige. dan kesediaan memikul risiko.| memikul re. yaitu berjanji (bersumpah.TRUST --------|-.ATAU <---| reward | GAGAL | | --------------------- *lepas dari tinggi atau rendah. struktural atau fungsional. CITRA | | | |------>JANJI ---------> ACTION -------|-> OBLIGATION ------|--> ACTION ---| | POSISI* penepatan janji | kewajiban bertang. yang disebut rasa atau kesadaran akan tanggungjawab dengan kesediaan untuk menanggung risiko atau akibatnya. Spiro. formal atau informal.| | | | gungjawab.” status membawa kewajiban Gambar 13 Konstruksi Teori Tanggungjawab: Teori Herbert J. FREE. -------------------| | ------>DASAR | RESPONSIBILITY | | | | | KEKUASAAN. lepas | ward & pu| | | | dari sebab akibat | nishment | | KONDISI FREIES ERMESSEN | | | | PERUBAHAN VOLITION.RISK. yang dianut oleh pelaku tanpa terikat dengan fihak lain. ----> ACTION -------|-> ACCOUNTABILITY --|-------------| MANDAT (KKM) | | | | | | | | | | | | | | KKM. Tanggungjawab sebagai obligation memiliki tiga dimensi. Yang digunakan dalam Kybernologi adalah pertanggungjawaban etik. dimodifikasi dan dikembangkan Tanggungjawab sebagai cause adalah sesuatu yang mendorong atau menggerakkan seseorang untuk bertindak.----WILL (CHOICE)----|-> CAUSE -----------|--> ACTION ---| | MASI LINGDISCRETION | | | | KUNGAN CONSCIENCE | | | | | | | | | | | | | punishment | BERHASIL | -------HOPE <---------. kewajiban menepati janji (lepas dari sebab dan akibat).perhitungan atas pelaksanaan perintah kepada pemberi perintah. 1969.| | | |------>TRANSFOR. | | |------>KEBIJAKAN. Yang dimaksud dengan etika di sini adalah etika otonom. PRICE -----|--. Pertanggungjawaban seorang yang bersumpah tanpa diperintah (jadi bukan disumpah melainkan lahir dari dalam hatinuraninya sendiri) .

kesediaan | | memikul sanksi etik | | | | 10 9 8 7 | | 11 pertanggungperilaku tindakan keputusan | ----etikalitas<----------jawaban<-------etik<------etik<-----------etik<-------| etik | | | | | | | menaati kadar | --kinerjaberprakarsa keetikan sanksi etik* | berjanji | | | | | ------------merasa malu | | | merasa bersalah | pada pada menyesal | orang diri mohon maaf | lain sendiri mohon ampun | | | janji bertobat | | nazar. kesepa. satu di antara 11 terminal.itulah pertanggungjawaban etik otonom.sumpah bernazar | perjanpengakuan membayar tebusan | jian credo kesediaan berkorban | commitment selfmengaku bersalah | | commitment mengundurkandiri dari jabatan | | | mengasingkandiri | | agar mengimenyakitidiri | | kat. Terminal 6 menunjukkan perbedaan antara keputusan etik dengan keputusan bukanetik. sedangkan keputusan bukan-etik diambil berdasarkan kebersepakatan masyarakat di sekitar pelaku. jelas nurani an memilih. Gambar 14 menunjukkan bahwa pertanggungjawaban etik itu terletak pada Terminal 10. risi.--------dan terbuka ko & konsekuensi ditanggung sendiri Gambar 14 Etika Pemerintahan (1 sd 11 Terminal) .diskusi antar norma | | yg-baik dlm kuat. --1 2 3 4 5 6 ----->apakah------>kualitas--->nilai--->norma--->kesadaran----->pertimbangan---| etika? dasar etik etik etik etik etik otonom | | etika otonom | | | | | | | etika heteronom yg-benar guna tertanam norma me. first serve” oleh si A dipegang sebagai norma etik perilakunya. kebebas. Pada saat antri sebagai nomor 6 sementara tiket sisa 5.nerangi dlm kalbu. seseorang (B) di depannya yang kebetulan menoleh. perlu bersumpah | | disaksikan mengorbankandiri | | | bunuhdiri | ------------| | dikontrol | | ----dibandingkan---| kesenjangan ditedievaluasi *dinyatakan | rangkan setulus & | secara otonom --sejujurnya. Misalnya hukum sistem antri “First come.| | katan. lu. walaupun merugikan diri sendiri.| | yg-wajib hidup as. Keputusan etik diwarnai dengan keteguhan hati (disiplin) pelaku memegangnya. Keputusan etik diambil berdasarkan diskusi dan kebersepakatan antar norma yang tertanam di dalam hatinurani pelaku sendiri.

Sebab bila ia maju. Bhinneka Tunggal Ika merupakan sebuah pikiran besar. Bab III dan Bab IV Kybernologi dan Pengharapan (2009) 12 SESI SEBELAS Nilai Sepuluh MAGNANIMOUS-THINKING. ia sudah mulai jadi pecundang! Lihat Bab 8 Kybernologi (2003). mempersilakannya untuk maju dan pasti dapat tiket. Adakalanya seperangkat buah pikiran terlihat melawan arus. sosialmarpolicy policy imple-->ERGO----------->BUAH ----------->NILAI-------->POLICY-------->POLICY---------------| SUM kiran PIKIRAN isasi 3 keting AGENDA making 5 mentation | | 1 2 4 | | | | | | | | 6 | | 8 belajar dari 7 monitoring PERBUATAN scientific movement | ---FEEDBACK<---------------SEJARAH<-------------------BESAR<--------------------------sejarah evaluation scientific enterprise Gambar 15 Dari Buah Pikiran. Mengamong adalah mengonstruksi pikiran besar. tidak pernah diajarkan dan tidak dibudayakan menjadi pola perilaku bangsa. Berpikir besar identik dengan berfilsafat. tetapi sejak diundangkan menjadi PP 66/51. pikiran yang memiliki kekuatan menerobos zaman. Nilai ini berkaitan erat dengan Nilai Satu di atas. berbeda dengan “pikiran besar” yang sudah ada. Berbeda dengan buah tangan yang dapat dinikmati sekejap.” buah pikiran dapat diwariskan dan menjadi pelajaran bagi generasi ribuan tahun yang akan datang. tanpa uang abang melayang. terkadang baru diakui “besarnya” kemudian. sebelum ia diakui besar dan menjadi sejarah. rerambu nalar sehat. walaupun menguntungkannya. atau buah hati yang “ada uang abang disayang.WISDOM. COGITO. Begitu dia mendapat tiket dengan cara demikian. Buah pikiran seperti itu. yang terbentuk berdasarkan kemerdekaan berfikir dan kemerdekaan mengeluarkan buah pikiran (Pasal 28 UUD 1945). Perbuatan Besar. selain sistem terganggu. Oleh sebab itu dibenci dan tidak laku. norma etik di dalam hatinuraninya jadi rusak. bila tahan banting. Alinea keempat Pembukaan UUD tentang kecerdasan merupakan landasan konstitusional nilai ini. dan Sejarah Melalui Delapan Terminal . Bab II dan Bab III Kybernologi Sebuah Metamorphosis (2008). pemi. Berpikir menurut hukum logika. Jauh liku yang (harus) ditempuh oleh sebuah pikiran. Tetapi si A tidak mau.rupanya mahasiswanya ---.

2009). Semakin tinggi dan asing pemerintah memosisikan dirinya. ialah Nelson Mandela Y Gambar 16 Membentuk (Membangun) Pengertian Yang Empatik (Saling-mengerti) = Y . membangun kebersamaan melalui perilaku etik & emik. Ialah Semar. buah pikiran sebesar apapun. Mengamong berarti tidak memosisikan diri sebagai pangreh. di sini nestapa dan melarat. semakin mendarat ia bersama “kita. di sana papa dan hina. mendengar & merekam isyarat. mengamati & merekam amatannya. sambil merekam. waktu yg harus disediakannya utk mendengar. Satu-satunya jembatan antar budaya dan antar frame-of-reference (FOR) yang berlainan. 99% rakyat ada di didepannya dan sejarah bertinta emas terbentang di belakangnya. antara pemerintah (P) dengan yang diperintah (Y) adalah salingpengertian.” Ia melihat apa yang “kita” lihat. emik & etik. ada yang mandi uang bergelimang dosa. menempatkan diri seutuhnya setara dgn kondisi Y dgn tulus. 10 x 10 = 100 menit. P melawan arus? Ya. tidak berguna. Tetapi percayalah. Mengingat Y heterogen. bahkan oleh parpol ia dituduh pengkhianat. maka jika waktu yg digunakan P utk berbicara 10 menit. kotor dan sampah “kita” terlihat olehnya.Pada aras mikro. Tanpa pengajaran dan pembudayaan. dan merasakan apa yang “kita” rasakan. katakanlah terdiri dari 10 sub-Y. membangun rapport. tidak hanya membangun citra (image building) pemerintahan tetapi merendahkan hati sedemikian rupa sehingga pemerintah itu tidak terlihat sebagai sesuatu yang jauh dan yang asing. Bab 20 Kybernologi (2003). prilaku & perkataan Y sebagaimana adanya begitu keluar dari Y tanpa dipengaruhi oleh P. temuan-temuan akademik (invensi) harus dijadikan masukan bagi pembuatan kebijakan publik guna melahirkan inovasi (Bab XI Kybernologi dan Pengharapan. P P P turun secara pribadi (personally) serendah mungkin dari posisinya. 13 SESI DUABELAS Nilai Sebelas OMNIPRESENCE. seragam. tetapi terasa hadir di mana-mana dan kapan saja sebagai bagian dari dan sama dengan “kita. belum terhitung waktu yang diperlukannya untuk bersosialisasi. sehingga oleh Y ia diterima sebagai seorang sesama di antara mereka. ada yang terbuang dan terinjak. semakin samar. ia tdk populer di kalangan politisi dan birokrasi.” barulah semakin terasa olehnya betapa satu dengan yang lain berbeda-beda. berbuka diri mengamati. Lihat Filsafat Pemerintahan.

dan bau keringat. seorang pejabat atau peneliti bisa saja mengaku bahwa ia mengerti kondisi atau kualitas suatu masyarakat dengan memandang pakaian orang yang lalulalang: ada sejumlah orang yang berpakaian kotor.Pengertian dan saling-mengerti. Konsep empati tidak terpisahkan dengan konsep pengertian (understanding).” Dengan menggunakan FOR-nya. cepat atau lambat dapat terbentuk dan tercapai melalui pelbagai cara di dalam masyarakat. or the like) of an individual actor. Salah satu cara yang dikenal dalam metodologi adalah pembentukan pengertian dan pencapaian saling-mengerti melalui empati (empathy. motives. and thoughts behind the action of others. sedangkan pakaiannya sendiri bersih. mantan | | -------PIN IN. 14 SESI TIGABELAS Nilai Duabelas DISTINGUISHED STATESMANSHIP. lusuh. Mengamong berarti “exhibits great wisdom and ability in dealing with important public issues. belief. intention. motivation.<-------------------------------| | | FORMAL kembali ke dalam masyarakat | | | | | | | | | | | | ----------------| referensi |--------| | | | | | | PEMIMPIN rezim lain yang terpilih | -------FORMAL <--------------------------------naik ke singgasana kekuasaan Gambar 17 Proses Kepemimpinan .” demikian Schwandt. rapi dan wangi.” berkepeberkepemimpinan terpilih mimpinan MASA JA--->MASYARAKAT---------->PEMIMPIN----------->KEPALA----------->BATAN------| informal tersaring formal & BERAKHIR | | informal | | | | | | PEMIMtidak terpilih (lagi). Verstehen adalah “empathic understanding or an ability to reproduce in one’s own mind the feelings.e. “It (Verstehen) must mean an act of sympathetic imagination or empathic identification on the part of inquirers that allowed them to grasp the psychological state (i. bukan emphaty). Bisa saja peneliti bermaksud mengenal seorang aktor dengan motif ketertarikan (sympathetic imagination) dan bukan karena ingin mengenalnya sebagaimana adanya. Salah satu bentuk understanding adalah empathic understanding yang dalam bahasa Jerman disebut Verstehen. Menurut Max Weber. Iapun menandai orang-orang tersebut sebagai warga masyarakat tertinggal dan diberi definisi seperti di atas.

perlindungan dan perlakuan sebagai seorang pejabat. sehingga buah pikiran besar pamong praja Indonesia – yaitu mereka yang memiliki kualitas kepamongprajaan – tahun 2009 mempengaruhi perjalanan sejarah Indonesia di tengah-tengah dunia beratus-ratus tahun kemudian: “Her citizens.Mengamong juga berarti memosisikan diri di atas semua kepentingan partial. terutama Badan Diklat Depdagri sendiri. memaknai uang bukan solusi tetapi beban (karena harus dipertanggungjawabkan). 1927). Berbeda dengan perang. Barat. maupun antar Timur. Pada saat seorang pejabat yang sedang cuti kampanye. Pada sesi ini. Pidato Sambutan Forum American Association of the Collegiate Schools of Business. sebab cuti itu hanya akalakalan. Tetapi sebaliknya ia selalu merasa berhutang. karena tindakan apapun yang dilakukannya telah mendapat imbalan dari negara dan masyarakat. roh zaman. pengaruhnya tetap terasa. kepamongprajaan dilihat sebagai fungsi yang dibutuhkan pada tingkat regional dan global. fihak yang takterpilih kembali menjadi controlling reference jangka panjang (Gambar 17). dan ia berusaha menepatinya. bagi rezim terpilih lima tahunan. Bab I dan Bab III Kybernologi dan Pengharapan (2009). Seorang negarawan tidak mengclaim kinerjanya sebagai kinerja partai yang mengusung atau didukungnya. Seorang statesman tidak pernah merasa berjasa. walaupun di masa itu belum didefinisikan dan belum diprogramkan. ia mendapat pengawalan. imperial spirit. Wawasan Kepamongprajaan sebagai kenegarawanan mengemuka di masa STPDN. Kepamongprajaan di sini terlihat sebagai kualitas yang mampu melahirkan buah pikiran besar. Dengan kualitas itu---kenegarawanan--kepamongprajaan berarti kemampuan melahirkan pikiran besar. Kini saatnya untuk mencerahkan dan membangkitkannya. pemilu bukan menang kalah tetapi terpilih atau tidak terpilih. serta memikul sendiri tanggungjawabnya. baik antara Utara dengan Selatan. seorang negarawan tidak melakukan perbuatan yang menguntungkan hanya satu fihak. Bab V Kybernologi Sebuah Metamorphosis (2008). Merayakan saat pengembalian (penyerahan) jabatan (mandat) ketimbang saat memangku jabatan (pelantikan). 2006). karena ia telah berjanji kepada dirinya sendiri dan kepada masyarakat. walau cuti sekalipun. . menyatakan secara terbuka pengunduran diri dari “kendaraan yang mengusungnya” begitu terpilih menjadi pejabat publik. rule the present from the past” (Alfred North Whitehead. karena selama menjabat ia digaji dan mendapat fasilitas serta kehormatan. Bahan ajaran untuk sesi ini terdapat dalam berbagai sumber. dan Tengah. bukan dari partai tetapi dari seluruh bangsanya. walaupun ia menggunakan kendaraan umum dan mengenakan kaus oblong. menggunakan Etika Otonom dan bukan Etika Heteronom (Bagian Dua Bab X Kybernologi Sebuah Scientific Enterprise. Selama masa jabatannya. membuat sejarah (history making) melalui perbuatan besar.

Di Indonesia biasanya norma di-“tegakkan” dengan sikap “benar. Nilai yang disepakati menjadi norma.? <-----N=H<------------HASIL---------------2-| | N>H pelanggan (H) | | | | | | dibenarkan monev oleh “ditegakkan” | ---.” “yang diucapkan atau ditulis begini. . dan Opsi 3 (BON* = Ideologi. **Monev Direkayasa) Opsi 3.” atau “itu kan teori. bandingkan dengan rekonstruksi pengetahuan menjadi BOK. Opsi 2. perilaku ditimbang disepakati -->ENTITAS-------->KUALITAS--------->NILAI-------------->NORMA | bisa dipaksakan (N) | | | | | dipatuhi disakraldirekon| |---. Sesuai dengan Teori Nilai. menjadi dogma. tapi. .” apa yang terjadi? Jika norma ditegakkan (digunakan). .? <------------. tapi. Opsi 1. hasilnya adalah duabelas nilai dasar pemerintahan. Kalau dogma dipatuhi “tanpa reserve. . terlihat output (OP) atau outcome (OC). dan apapun hasil analisisnya. Jika kualitas entitas tersebut dalam ruang pemerintahan ditimbang. berkekuatan mengikat.” sehingga OP dan atau OC tidak dipercaya atau jauh dari harapan (Gambar 18). dan ideologi yang disakralisasi. jika perilaku suatu entitas diamati.? <------------DOGMA<-----------BON*<---------------1-| | mutlak isasi struksi | | | | | | feedback N<H monev oleh ditegakkan | |-----------. Gambar 15) disebut ideologi. OP dan OC dimonev. . .” “baik. Body-of-norms (BON. Norma bersifat formal.? <-----------“HASIL”<-------------3pembenaran penguasa** dipermainkan Gambar 18 Kepamongprajaan Menurut Teori Nilai: Tiga Opsi. Siapa Jagonya? . tetapi yang dilakukan lain. dijadikan feedback buat entitas yang bersangkutan (lihat Gambar 16). . terlihat satu atau lebih kualitas. hasil rekonstruksi norma.15 SESI EMPATBELAS Apakah Kepamongprajaan? Dalam GBPP di atas Kepamongprajaan didefinisikan nilai dasar pemerintahan (governance).

Mengingat perubahan eksternal dan internal. bertujuan a. Dahulu. Profesi Kepamongprajaan meliputi penerapan Kepamongprajaan sebagai norma melalui kebijakan publik di dalam praktik pemerintahan. dan Diklat Kepamongprajaan guna membentuk kader-kader tenaga berkualitas Kepamongprajaan yang disebut Pamongpraja (Perpres 1/09) 9 Pendidikan Kepamongprajaan. Diperlukan kekuatan pengikat kebhinnekaan menjadi tunggal ika. mulai dari Ketua Rukun Tetangga sampai dengan Kepala Desa/Kelurahan dan perangkatnya Tingkat Menengah: Pamong Praja. lulusan IPDN Pamong Praja Muda 2 Kualitas. Membentuk kader-kader Pamongpraja yang dibutuhkan mendesak oleh Depdagri dan Pemda b. sampai pada Presiden di pucuknya. dengan perangkatnya masing-masing Tingkat Tinggi: Pamong Bangsa/Negara. suatu tingkat nilai pada suatu saat disepakati sebagai norma yang harus diindahkan dan ditegakkan oleh semua fihak. Perilaku yang terlihat di dalam ruang pemerintahan (governance) mulai dari tingkat statal. Membangun Kepamongprajaan sebagai sistem nilai dasar pemerintahan c. Kekuatan itu adalah fungsi yang dapat dicharge di dalam sistem penyelenggaraan pemerintahan (di) daerah. mulai dari Kepala Lembaga Negara. dengan perangkat masing-masing 8 Profesi.Dalam hubungan ini. Sekarang kekuatan itu dicharge dalam diri gubernur provinsi. sejauh mana kualitas memenuhi kebutuhan manusia dan masyarakat 4 Norma. Merekonstruksi terus-menerus Ilmu Pemerintahan Baru (Kybernologi) sebagai sumber dan dasar profesi pemerintahan . pamongpraja dilembagakan menjadi unitkerja pusat di daerah (kepala wilayah dan jajarannya) 7 Struktur Kepamongprajaan dalam tiga tingkatan: Tingkat Bawah: Pamong Desa/Kelurahan. Kepala Daerah. mulai dari Camat. lokal. sampai pada tingkat rukun tetangga menunjukkan 12 kualitas kepamongprajaan 3 Nilai. Agar berkekuatan mengikat. Program Program Strata dan Program Profesional. Aparat penegak perda: Polisi Pamong Praja. secara periodik harus dilakukan monev dan pembaharuan norma 5 Fungsi. nama suatu entitas. Mengapa tidak di dalam diri kepala daerah? 6 Lembaga. Norma dapat dilembagakan menjadi sebuah unitkerja . mahasiswa IPDN disebut Praja. di Indonesia (sebaiknya) kepamongprajaan dijadikan dan digunakan sebagai: 1 Identitas. Menteri. Pendidikan Kepamongprajaan meliputi Program Vokasional (Diploma). Setiap kualitas ditimbang guna melihat.

Perlu dibedakan standar kompetensi fungsional dengan standar kompetensi struktural. lihat Bab II Kybernologi dan Kepamongprajaan (2007). Oleh sebab itu. dan profesionalisme. Yang dijelaskan dalam sesi ini adalah standar kompetensi fungsionalnya. kesukaran ini harus diantisipasi! ------>PENELITIAN--->TEMUAN---->KEBIJAKAN--->PEMBAHARUAN-| (invensi) | (inovasi) | -->KEPAMONG| | | PRAJAAN | | | | | | | ------>DIKLAT--->KADER PAMONGPRAJA-| | | ----------------FEEDBACK<-----------------MONEV<------------------ Gambar 19 Kepamongprajaan Sebuah Ruang Pembelajaran 3001090852SDG 2903090733SDG 1104091600SDG File GBPP KEPAMONGPRAJAAN BARU . begitu Kepamongprajaan ini diajarkan mulai Sesi Satu. professional. Konsep profesi. Bahan untuk sesi ini masih harus diidentifikasi dan didefinisikan. dan ditetapkan saat pelembagaannya. terdapat dalam Kybernologi: Sebuah Rekonstruksi Ilmu Pemerintahan. Bab IC. Standar kompetensi struktural bersifat normatif. Pamongpraja dalam arti luas adalah tenaga pemerintahan yang memiliki roh dan 12 nilai dasar pemerintahan.10 Standar kompetensi pamongpraja. Kendatipun ini sesi terakhir tetapi tidak berarti termudah---last but not least---bahkan mungkin yang tersukar. Pamongpraja dalam arti sempit adalah tenaga professional di bidang (yang memiliki kualitas) kepamongprajaan. 2005.

. . Dua Conducting. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . Sepuluh Magnanimous-thinking. . . . . . . Delapan Generalist & Specialist Function. . . . . . . . . . . Empat Peace-making. . . . . . . 41 43 45 46 47 48 50 51 52 55 56 57 . . . . . . Enam Turbulence-serving . . . . . . . . . . . . . . . . Sebelas Omnipresence.RINGKASAN DUABELAS NILAI KEPAMONGPRAJAAN 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 Nilai Nilai Nilai Nilai Nilai Nilai Nilai Nilai Nilai Nilai Nilai Nilai Satu Vooruitzien. . . . . . . . . . . . . . . . . . . Duabelas Distinguished Statesmanship. . . . . . . . . . Sembilan Responsibility . . . . . . . . . . . . . Tiga Coordinating . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . Tujuh Freies Ermessen . . . . . . . . . . . . Lima Residue-caring . . . . . . . . . . . .

DAFTAR PUSTAKA KYBERNOLOGI 1 Kybernologi dan Pengharapan (Sirao Credentia Center. 2005) 12 Kybernologi I dan II (Rineka Cipta. 2008) 4 Kybernologi dan Kepamongprajaan (Sirao Credentia Center. 2009) 2 Kybernologi dan Pembangunan (Sirao Credentia Center. 1988) . 2003) 13 Metodologi Ilmu Pemerintahan (Rineka Cipta. 1997) 14 Metodologi Pemerintahan Indonesia (Bina Aksara. 2007) 6 Kybernologi Sebuah Scientific Movement (Sirao Credentia Center. 2008) 5 Kybernologi Sebuah Profesi (Sirao Credentia Center. 2005) 10 Kybernologi Sebuah Rekonstruksi Ilmu Pemerintahan (Rineka Cipta. 2008) 3 Kybernologi Sebuah Metamorphosis (Sirao Credentia Center. 2006) 9 Kybernologi Beberapa Konstruksi Utama (Sirao Credentia Center. 2005) 11 Teori Budaya Organisasi (Rineka Cipta. 2007) 7 Kybernologi Sebuah Charta Pembaharuan (Sirao Credentia Center. 2007) 8 Kybernologi Sebuah Scientific Enterprise (Sirao Credentia Center.

” “Sistem Pengasuhan Dihapuskan.” 224923 “Benar. Diubah Kepamongan” Apa yang dimaksud dengan “Ilmu Baru?” 08159676XXX 121007223338 “Benar. prof.” Kompas 11 Oktober 2007 “Presiden Ubah IPDN Menjadi IIP.MARDIYANTO.” . buat sebagai dasar keilmuan pembentukan IIP Regional. Yang beliau maksudkan adalah Kybernologi dan Kepamongprajaan. prof. MENTERI DALAM NEGERI RI: “Di IIP Ada Tambahan Ilmu Baru Sebagai Pendukung Dalam Aspek Pemerintahan. Kita jadikan proposal yang prof.

Taliziduhu Ndraha. Kybernolog GARIS-GARIS BESAR PROGRAM PEMBELAJARAN KYBERNOLOGI DAN KEPAMONGPRAJAAN JAKARTA. 2009 .

. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . Sesi Sembilan Nilai Delapan Generalist & Specialist Function . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 17 Sesi Enambelas UAS. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 11 Sesi Sepuluh Kepamongprajaan. . . Sesi Dua Nilai Satu Vooruitzien . Sesi Tiga Nilai Dua Conducting. . . . 1 2 5 6 8 11 16 18 20 20 22 24 25 26 27 28 30 31 II GBPP KEPAMONGPRAJAAN Latar Belakang. . 32 36 41 43 45 46 47 48 50 51 52 55 56 57 59 62 . EPISTEMOLOGI 4 Sesi Tiga Teori Kebutuhan . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . RINGKASAN . .DAFTAR ISI I GBPP PENGANTAR ILMU PEMERINTAHAN 1 Latar Belakang. . . . . . . . . . . 7 Sesi Enam Teori Kinerja . . . . . . . . . . . 12 Sesi Sebelas Nilai Sepuluh Magnanimous-thinking 13 Sesi Duabelas Nilai Sebelas Omnipresence. . . . . . 15 Sesi Empatbelas Apakah Kepamongprajaan? . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 15 Sesi Empatbelas Etika Pemerintahan. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . Sesi Satu Pemerintahan. . Sesi Tujuh Nilai Enam Turbulence-serving. . . . . . . . . . . . . . . 6 Sesi Lima Teori Governance. . . . . . . . . . . . . . . . . 8 Sesi Tujuh Metodologi . . . . . Sesi Delapan Nilai Tujuh Fries Ermessen . . . . 5 Sesi Empat Teori Pelayanan. . . . . . . 14 Sesi Tigabelas Seni dan Teknik Pemerintahan . . . . . . . . . 14 Sesi Tigabelas Nilai Duabelas Distinguished Statesmanship . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . AXIOLOGI 10 Sesi Sembilan Teori Nilai . . . . . . . . 2 Sesi Satu Penjelasan Umum. . Sesi Lima Nilai Empat Peace-making. . . . . . . . . . . . 11 Sesi Sepuluh Nilai Sembilan Responsibility. RINGKASAN . . . . . . . . . . 13 Sesi Duabelas Manajemen Pemerintahan. . . . . . . . . . . . . . . . 16 Sesi Limabelas Reformasi Pemerintahan . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 9 Sesi Delapan UTS. . . . . . . . . . . . 12 Sesi Sebelas Kebijakan Pemerintahan . . . . . . . . . . . . . . . . . . Sesi Enam Nilai Lima Residue-caring . . . . . ONTOLOGI 3 Sesi Dua Ontologi Ilmu Pemerintahan . . . 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . Sesi Empat Nilai Tiga Coordinating. . . . . Sejarah Pengajaran Ilmu Pemerintahan di Indonesia. . . . . . . . . . . . . . .

. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 101 . . 3 Otonomi Daerah. . . . . . . . . . . . . . . . . 116 . . . . . . . . . . . 117 118 118 119 VII KOMENTAR TERHADAP DRAFT PEDOMAN KURIKULUM. 104 . 125 . . . . . 108 VI PERAN CAMAT DALAM PENYELENGGARAAN PEMERINTAHAN DAERAH 1 Pemerintahan. . . . . . . . . 121 3 Kurikulum . . . . . . . . . . . . . . . 3 Program Diklat Profesional Kepamongprajaan. . . . . . 107 . . . . . . . . . 63 III DIKLAT PROFESIONAL KEPAMONGPRAJAAN 1 Latar Belakang. . . . . . Perspektif Kybernologi Administrasi Kependudukan. . . . . Perspektif Kybernologi. . . . . . . . Masalah . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 4 Penyelenggaraan Otonomi Daerah. 2 Posisi Strategis Departemen Dalam Dalam Sistem Pemerintahan . . . . . . . . . . .DAFTAR PUSTAKA KYBERNOLOGI. . . . 77 79 91 99 V USULAN PEMBENTUKAN LABORATORIUM LAPANGAN ADMINISTRASI KEPENDUDUKAN 1 2 3 4 Pengertian. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . DIKLAT KEPEMIMPINAN PEMERINTAHAN DAERAH 1 Latar Belakang. . 64 65 72 IV DEWAN PERWAKILAN DAERAH 1 2 3 4 DPD Di Pentas Politik . Pentingnya Laboratorium Lapangan Administrasi Kependudukan . . . 5 Penyelenggaraan Laboratorium Lapangan Administrasi Kependudukan . . DPD Perspektif Kybernologi Politik. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 2 Kerangka Pemikiran. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 5 Peran Camat . . . . . . . . 101 . . . . . . . . . . . . 121 2 Sekolah Kepemimpinan Pemerintahan Dalam Negeri. . . . . . . . . . Negeri . . Apakah DPD Itu? . . . . . . . . . .

didiskusikan. dan pengabdian kepada masyarakat. GBPP dua subjek ini dirancang. dalam hal ini Kybernologi dan Kepamongprajaan. melainkan sebuah BOK yang terus berkembang. 2009). dalam menjalankan proses belajarmengajar di bidang Ilmu Pemerintahan (Kybernologi) melalui Tridharma Perguruan Tinggi: pengajaran. BOK) pemerintahan (governance). serta mewujudkan Duabelas Nilai Kepamongprajaan sebagai pola perilaku pemerintahan Indonesia dan pemerintahan daerah ke depan. diajarkan. Kybernolog dan seorang pejabat Departemen Pertanian (Bab VI dan Bab VII Kybernologi dan Pengharapan. hasil rekonstruksi dan buah pendaratan Bestuurskunde dan Bestuurswetenschap (Ilmu Pemerintahan) di bumi Indonesia. Bahkan sisi Axiologinya berkembang menjadi satu bidangkajian dan program diklat baru bernama Kepamongprajaan. seperti terlihat dalam buku ini. Kybernologi ini menyajikan . Pembahasan dan sosialisasi draft akhir ini di lingkungan IPDN (Pimpinan. hasil penelitian terhadap fenomena pemerintahan dari sudut (pendekatan) Manusia. BOK tersebut kini telah mencapai derajat keilmuan tertinggi yang utuh dan lengkap. Buku ini diharapkan menjadi pegangan bagi segenap Masyarakat Akademik di lembaga-lembaga perguruan tinggi di atas. GBPP matakuliah berisi roh ilmu yang bersangkutan. dilakukan pada tanggal 8 Mei 2009 di Jatinangor.PENGANTAR REKTOR INSTITUT PEMERINTAHAN DALAM NEGERI Pada tgl 22 Mei 2003. Di samping hibrida Kybernologi bernama Kybernologi Pertanian oleh DR Ir Abdul Samad Melleng. Institut Ilmu Pemerintahan (IIP) meluncurkan satu produk akademik bernama Kybernologi. 2008). diujicobakan sejak awal 2008 (Bab 6 Kybernologi dan Kepamongprajaan. penelitian. Kybernologi adalah sebuah bangunan pengetahuan (body-of-knowledge. Perkembangan akademik ini langsung mendukung kebijakan baru Pemerintah yang menetapkan IPDN sebagai Penyelenggara Sistem Pendidikan Tinggi Kepamongprajaan berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 1 Tahun 2009. dalam forum Scientific Traffic dan di lingkungan Badan Diklat Departemen Dalam Negeri dalam Rapat SEPIMDAGRI tanggal 19 dan 20 Mei 2009 di Jakarta. Dengan demikian Kybernologi bukan hanya judul seri buku yang terbit sejak tahun 2003. Dosen dan Praja). MM. dan telah beberapa kali berubah. S2 dan S3 sejak tahun 1994 (antara lain bekerjasama dengan Universitas Padjadjaran). Melalui proses pembelajaran Program S1.

PP 37/07. yaitu Kybernologi Politik dengan mengambil Dewan Perwakilan Daerah sebagai sasaran kajian. Dr Hj. Kybernologi tidak hanya berorientasi ke hilir. namun sesungguhnya dialamatkan dan ditawarkan kepada semua fihak yang peduli dengan masadepan Indonesia. diluncurkan. Juni 2009 Prof. Jakarta. NGADISAH. Walaupun usulan ini ditulis untuk IPDN.sebuah hibrida baru. dan Perpres 25/08). Orientasi ke hulu ini dipicu oleh hiruk-pikuk Pemilu 2009 yang menurut para pengamat disebabkan oleh patologipolitik dan patologibirokrasi kependudukan yang sudah kronik dan parah. MA . Maka sebuah usulan pembentukan Laboratorium Lapangan Administrasi Kependudukan (UU 23/06. tetapi juga ke hulu.

---10--PENDIDIKAN--10-------BIDANG PE| | MERINTAHAN DIPLOMA MERINTAHAN | | | | | | | | | | | | | --------------------| | | 6 | vooruitzien | 6 | AGROPEMERINTAHAN | conducting | PEMERINTAHAN TEKNOLOGI PEMERINTAHAN DAERAH | coordinating | DAERAH PEMERINTAHAN | | | peace-making | | | | | | residue-caring | | | | 5 | turbulence-serving | 5 | | KEBIJAKAN | | KEBIJAKAN | |------------->BIDANG<----|---KEPAMONGPRAJAAN---|----->BIDANG<-------------| | PERTANIAN | | PEKERJAAN UMUM | | | | Freies Ermessen | | | | | | gen&spec function* | | | | 4 | omnipresence | 4 | KYBERNOLOGI KEPALA DINAS | responsibility | KEPALA DINAS KYBERNOLOGI PERTANIAN PERTANIAN |magnanimous-thinking | PEK. UMUM | | | statesmanship | | | | | --------------------| | | | | | | | 3 | 3 | | PROFESI KOMPONEN DIKLAT PROFESI | | BIDANG-----11----PROFESIONAL----11-----BIDANG | | PERTANIAN KEPAMONGPRAJAAN PEK. UMUM | | | | | | | | | | | .DIKLAT PROFESIONAL KEPAMONGPRAJAAN Kerangka Pemikiran 9 KYBERNOLOGI --------------------------ILMU PEMERINTAHAN BARU-------------------------| | (KOMPONEN PENDIDIKAN STRATA) | | | | | | | 8 8 | | KEAHLIAN KEAHLIAN | | DI BIDANG----------GENERALIS-----------DI BIDANG | | PEMERINTAHAN | PEMERINTAHAN | | | | | | | | | | | | 7 | 7 | | PROFESI KOMPONEN PROFESI | | BIDANG PE. UMUM | | | | | | | | | | | | 2 | 2 | | KEAHLIAN | KEAHLIAN | | DI BIDANG----------SPESIALIS-----------DI BIDANG | | PERTANIAN | PEK. UMUM PEK.

10). Di sana dengan jelas dinyatakan bahwa IPDN “menyelenggarakan pendidikan tinggi di bidang kepamongprajaan yang diselenggarakan melalui sistem pendidikan tinggi kepamongprajaan. didefinisikan. dan rezim Soeharto (kepala wilayah). IPDN disebut sebagai “lembaga pendidikan kader pamongpraja di lingkungan Departemen Dalam Negeri. sekurang-kurangnya lima topik di bawah ini perlu segera difikirkan kembali. Perpres tersebut meletakkan dasar yang kokoh (raison d’ētre) bagi eksistensi IPDN ke depan. misalnya Permendagri No 43 Tahun 2005 tentang Statuta IPDN. Penyelenggaraan sistem pendidikan tinggi kepamongprajaan (di dalamnya termasuk Diklat Profesional Kepamongprajaan) 2 KERANGKA PEMIKIRAN . Hubungan antara sistem pendidikan tinggi nasional dengan sistem pendidikan tinggi kepamongprajaan 5. diidentifikasi. Kepamongprajaan dalam Sistem Pemerintahan Indonesia 2. ht TN). PENDIDIKAN PROFESIONAL (11). di masa pemerintahan raja-raja (pangrehpraja).” Sementara itu sejak tahun 90-an yang lalu. dan dijelaskan: 1. DAN HUBUNGAN KYBERNOLOGI DENGAN ILMU PENGETAHUAN LAINNYA 1 LATAR BELAKANG Di dalam dokumen-dokumen tradisional Depdagri.” Perpres 1/09 tentang Perubahan Atas Keputusan Presiden Nomor 87 Tahun 2004 mengenai penggabungan STPDN ke dalam IIP yang namanya sekaligus diubah menjadi IPDN. PENDIDIKAN DIPLOMA (VOKASIONAL.” (pasal 2A. lebih tegas. sistem pendidikan tinggi kepamongprajaan merupakan subsistem pendidikan tinggi nasional sebagaimana diatur dalam UU Nomor 20 Tahun 2003. tetapi di fihak lain terkuak kembali memori sosial masalalu tentang hubungan pusat dengan daerah. kebijakan tersebut merupakan sebuah perubahan dan kemajuan.| 1 | 1 | -------------AGRONOMI-------ILMU-ILMU LAINNYA-------TEKNOLOGI------------CIVIL *generalist&specialist function GAMBAR TIGA KOMPONEN SISTEM PENDIDIKAN TINGGI KEPAMONGPRAJAAN PENDIDIKAN STRATA (9). Sistem Pendidikan Tinggi Nasional 3. Sistem Pendidikan Tinggi Kepamongprajaan 4. Belanda (pangrehpraja dan pamongpraja). Di satu fihak. Jika dikaitkan dengan butir 3 “Mengingat” Perpres tersebut. APDN dan IIP lebih dikenal sebagai “perguruan tinggi kedinasan di lingkungan Departemen Dalam Negeri. Apakah Indonesia kembali ke masalalu? Apakah makna kepamongprajaan itu di masa depan? Oleh sebab itu.

pe. Pemerintahan (governance) adalah interaksi antar tiga subkultur tiap masyarakat (unit kultur).| | pertanggung| | | | lanjutan utk | | lay civil. Dalam kerangka pemikiran ini digunakan pendekatan Kybernologi (kybernân = besturen = steering). Kybernologi).kontrol----konstituen-------SKK rute 2---| sumber-sumber | | (UU. | | | | pembawasit penonton | | | ngunan | | | | | | | | | | redistribusi | | | | | | nilai berke| | nilai via pe.SKS-------------SKK--| pemain.| | jawaban etik | | | ---hidup. sekurang-kurangnya tujuh terminal harus disinggahi untuk dapat mencapai lima topik di atas. 2 3 5 janji(kebijakan. Bestuurswetenschap dan Bestuurswetenschappen di bumi Indonesia (Gambar 2). pemerintahan.SDB) | | melalui pe| | via rute 1 | | di hulu | | milu di hulu | | di hilir | | | | | | | | | | | | | | stakeholder -. Identifikasi dan definisi Sistem Pemerintahan Indonesia dapat dilakukan melalui pendekatan kekuasaan (Ilmu Politik).SDM. PEMERINKEPAMONGPROFESIDEPSISDIK DIKLAT PROFESIONAL TAHAN----->PRAJAAN---->ONALISME-->DAGRI-->DAGRI--->IPDN-->KEPAMONGPRAJAAN 1 2 3 4 5 6 7 Gambar 1 Kerangka Pemikiran Satu. hope) selaku pelangan patan/implemendari SKS selaku terhadap kinerja --tasinya. kuasa monev oleh SKS rencana)& pene(trust. dan subkultur sosial (SKS). dan dapat pula dilakukan menurut pendekatan kemanusiaan dan lingkungannya (Ilmu Pemerintahan.SKK---------------. seperti terlihat dalam Gambar 1. hasil pendaratan Bestuurskunde. subkultur kekuasaan (SKK). yaitu subkultur ekonomi (SKE). Kybernologi adalah sebuah body-of-knowledge (BOK) baru. hasil------lay publik---------menurut----| | pengelolaan & pemberdayaan etika otonom | | sumber-sumber masyarakat di hilir | | 1 di tengah 6 | | 4 | . mandat.-SKE--------------.Dalam peta eksplorasi pemikiran tentang Diklat Profesional Kepamongprajaan.PERDA) | | dan rute 4 | | (SDA.

” “sisa. Vooruit zien (memandang sejauh mungkin ke depan) 2.| | ---------------------pemerintahan (governance)------------------------Gambar 2 Sistem dan Proses Pemerintahan (Governance) Digerakkan oleh Tiga Subkultur (Terminal) Melalui Rute 3. impartial) Orang yang memangku 12 nilai tersebut disebut Pamong Praja. Kepamongprajaan adalah sebuah sistem yang terdiri dari 12 (duabelas) nilai sebagai berikut: 1. interaksi itu harus dikendalikan dan diarahkan oleh sebuah kekuatan yang disebut kepamongprajaan. Turbulence-serving (mengelola ledakan yang dianggap mendadak atau di luar kemampuan. berpemikiran besar dan kuat menerobos zaman membuat sejarah) 12. baik dalam arti formal maupun dalam arti informal. dan dengan demikian governance menjadi good governance. Responsibility (menjawab dengan jelas dan jujur. Distinguished statesmanship (kenegarawan-utamaan.” “yang kalah. Supaya kinerja interaksi antar tiga subkultur itu good. Nilai terbentuk melalui kerja. 6.” “yang beda. Pekerjaan yang ditekuni seumur hidup disebut profesi. Conducting (membangun kinerja bersama melalui perilaku aktor yang berbeda-beda) 3. men(t)anggung risiko secara pribadi menurut Etika Otonom) 11. 2. 4. Residue-caring (mengelola “sampah. and more and more about less and less) 9. Peace-making (membangun kerukunan dan kebersamaan) 5. Fries Ermessen (keberanian bertindak untuk kemudian mempertanggungjawabkannya) 8.” dan “yang terbuang”) 6. dan 3 (pelay = pelayanan) Dua. force majeure) 7. Kualitas kerja diharapkan professional agar kinerjanya . Omnipresence (terasa hadir di mana-mana) 10. tidak memihak. berdiri di atas semua kepentingan. Coordinating (membangun kinerja masing-masing melalui kesepakatan bersama yang mengikat) 4. selama memangku masajabatan publik. 1. Tiga. Magnanimous-thinking (-mind.” “yang salah. Kepamongprajaan. Profesionalisme. 5. Generalist and Specialist Function (knowing less and less about more and more.

karsa. khususnya Departemen Dalam Negeri. . maka adalah tepat tatkala Presiden Soekarno dalam pidato HUT Proklamasi Kemerdekaan RI tgl 17 Agustus 1950 menyatakan bahwa Bhinneka Tunggal Ika adalah sesanti (credo) bangsa Indonesia. A professional group has a common language. Empat. Di sana dijelaskan bahwa profesi berarti. Second. 1984). which ordinarily requires higher education at least through the bachelor’s level. . professions have a code of ethics.good. .” dan “profesionalisme” itu dapat dideduksi dari konsep “profesi” yang diuraikan dalam Kybernologi: Sebuah Rekonstruksi Ilmu Pemerintahan (2005. . h. Pengertian “professional. dalam hal ini di ruang pemerintahan. Pada suatu tiang batu peninggalannya tercantum sebuah pernyataan yang dapat disebut Doktrin Asoka. Dikemukakan lebih lanjut bahwa “first. kata dan karya berdasarkan kebenaran yang tunggal. Di zaman raja Asoka (ca 269-232) terdapat dua agama besar di Asia. Empu Tantular mengemas ajaran itu dalam seloka yang sebagian berbunyi “bhinneka tunggal ika. . Finally. ia menganjurkan perdamaian di mana-mana. Bertolak dari sejarah yang menunjukkan bahwa Bhinneka Tunggal Ika sebagai sistem nilai ideal di zaman dahulu bisa menjadi kenyataan. tahan karena benar serta satunya cipta.” yang dilembagakan menjadi Departemen Dalam Negeri. professions are based on the presence of a systematic theory. profesionalisme kepamongprajaan di atas digunakan. . sedangkan perdana menterinya Gadjah Mada (menjabat 1331-1364) beragama Buddha. Pembicaraan tentang Departemen Dalam Negeri tidak dapat dipisahkan dari Visi dan Misi Bangsa Indonesia. . berbunyi: “Barangsiapa merendahkan agama lain dan memuji agamanya sendiri. Supaya berguna dan efektif. Organization Theory and Management. .” lengkapnya “Bhinneka Tunggal Ika. yaitu Hindu dan Buddha. Professional associations and training centers promulgate a set of norms and values among professionals (Warren B. Pemerintahan “Dalam Negeri. Third. rasa. .” artinya berbedabeda tetapi satu jua.” Dalam kitab Sutasoma. Stillman II. standards of training and competence are set by the profession itself. . Untuk memperkokoh kekuasaannya. Tanhana Dharmma Mangrva. professions all have professional authority. Dalam kerajaan Majapahit (1292-1525) nilai ideal “berbeda (beragam) tetapi (ber)satu” itu menjadi kenyataan: raja Hayam Wuruk (memerintah 1350-1389) beragama Hindu. 1980). dan membentuk watak (Character Building) bangsa. professions are encircled by a professional culture. . 38-9). “a reasonably clear-cut occupational field. Moberg. Fourth. . which offers a lifetime career to its members (Richard J. Brown dan Dennis J. kesebangsaan. Public Administration: Concepts and Cases. . A Macro Approach. bahkan dapat disebut visi (walaupun Presiden Soekarno tidak secara eksplisit menyatakan demikian) bangsa Indonesia dalam membangun bangsa (Nation Building). Bab I sub C. (berarti) merendahkan agamanya sendiri.

Bhinneka Tunggal Ika itu merupakan sebuah sistem nilai yang terdiri dari dua komponen besar yaitu “bhinneka” (fakta. Departemen Dalam Negeri menduduki posisi strategik dalam sistem pemerintahan RI. Tatkala Bangsa Indonesia masih berada di seberang jembatan yang bernama KEMERDEKAAN. Antara dua komponen itu terjadi hubungan timbal-balik (interaksi) bahkan hubungan dialektik terus-menerus. visinya adalah seperti yang tercantum dalam Pembukaan UUD 1945. khususnya alinea pertama dan kedua. sepandan horizontal anjang sejarah pertar masyarakat sebedaan itu menimcepatnya bulkan kesenjangan vertikal dan horizontal antar masyarakat Gambar 3 Model Bhinneka Tunggal Ika Sebagai Misi Bangsa Indonesia kemudian setelah menyeberangi jembatan. Sejumlah departemen/kementerian “teknis” berasal dari departemen ini. diperkaya dengan Bhinneka Tunggal Ika. Dalam sistem ketatanegaraan Indonesia. Menterinya juga Tabel 1 FUNGSI LINI DEPARTEMEN DALAM NEGERI ---------------------------------------------------------------------KELOMPOK A KELOMPOK B ---------------------------------------------------------------------1 Ditjen Kesatuan Bangsa dan Politik 1 Ditjen Otonomi Daerah . das Sollen). Visi tersebut semakin jelas lima tahun BHINNEKA------------------------------------------------>TUNGGAL IKA masyarakat yang proses pengelolaan sehingga semua masing-masing keunikan menjadi kemasyarakat merasa memiliki keunikan kuatan matarantai sebangsa dan bersehingga yang satu dan pengurangan kesama-sama membaberbeda dengan senjangan vertikal ngun masa depan yang lain. das Sein) dan “tunggal ika” (ide. Bhinneka Tunggal Ika itu kemudian dijadikan hukum positif dalam bentuk PP 66/1951. departemen manakah yang secara khusus berperan menjalankan misi guna mewujudkan visi di atas? Sejak semula. Gambar 3 menunjukkan misi Pemerintah Indonesia yaitu memproses pengelolaan keunikan tiap masyarakat menjadi kekuatan matarantai nusantara dan mengurangi kesenjangan vertikal dan horizontal antar masyarakat secepatnya.

Sistem Pendidikan Tinggi Kepamongprajaan. Ditjen Kelompok A berfungsi sebagai unit kerja yang memproses “Tunggal Ika. Di sana ditetapkan bahwa IPDN menyelenggarakan program pendidikan akademik dan/atau profesi di bidang kepamongprajaan. proses. Lima. desentralisasi. mengurangi kesenjangan vertikal antar masyarakat dan kesenjangan horizontal antar daerah secepatnya. Pasal 2 Permendagri Nomor 1 Tahun 2009 tentang Organisasi dan Tatakerja IPDN (menunjukkan proses) yang seharusnya ditetapkan berdasarkan Statuta. Sistem Pendidikan Tinggi Kepamongprajaan (input) terlihat dalam Statuta unitkerja penyelenggaraannya. dan pelaku pemerintahan departemen itu perlu dicharge 12 Nilai Kepamongprajaan di atas. dapat dijadikan pegangan sementara. Dari dahulu Departemen Dalam Negeri mengelola sistem pemerintahan berdasarkan asas dekonsentrasi.2 Ditjen Bina Pembangunan Daerah 2 Ditjen Pemerintahan Umum 3 Ditjen Administrasi Kependudukan 3 Ditjen Pemberdayaan Masyarakat dan Desa 4 Ditjen Bina Administrasi Keuangan Daerah ---------------------------------------------------------------------- dikenal sebagai satu di antara triumvirate di samping Departemen Luar Negeri dan Departemen Pertahanan. dalam sistem ketatanegaraan dan pemerintahan Indonesia. Dengan perkataan lain. yaitu tenagakerja penyelenggara IPDN) dan output (tenaga. Bila diperhatikan dengan saksama. Proses bergantung pada sistem (termasuk pelaku. Sejauh ini Statuta yang dimaksud belum ada. Tetapi yang terpenting adalah misinya mengelola kebhinnekaan dan mewujudkan ketunggalikaan bangsa Indonesia.” sementara ditjen Kelompok B mengelola “keBhinnekaan” nusantara. Mengingat posisi dan peran Departemen Dalam Negeri yang strategis itu. kader Pamongpraja) input throughput output . adalah Departemen Dalam Negeri. maka ke dalam sistem. dalam hal ini Statuta IPDN. terlihat dengan sangat jelas bahwa dua kelompok itu merupakan fungsi lini Departemen Dalam Negeri. departemen yang secara khusus berperan menjalankan misi pemerintahan Indonesia yaitu mengelolaan keunikan tiap masyarakat (bhinneka) menjadi kekuatan matarantai nusantara. Ketujuh direktorat jenderal ini dapat dibedakan menjadi dua kelompok (Tabel 1). dan berperan sebagai pembina politik dalam negeri. dan pembantuan (medebewind). Hal itu terlihat pada fungsi lini Departemen Dalam Negeri yang dewasa ini terdiri dari tujuh direktorat jenderal (ditjen). sehingga “the kesadaran dan rasa kesebangsaan terbentuk secara berkelanjutan (tunggal ika).

posisi dalam organisasi pemerintahan. dan 3) segera. latarbelakang pendidikan. Referensi tentang topik ini terdapat dalam Kybernologi Sebuah Scientific Movement (2007). dapat terpenuhi PROGRAM --1--PENDIDIKAN | DIPLOMA PROGRAM | -----PENDIDIKAN-----| | AKADEMIK | SISTEM PENDIDIKAN | | PROGRAM TINGGI KEPAMONG------| --2--PENDIDIKAN PRAJAAN (IPDN) | STRATA | PROGRAM --3--PENDIDIKAN PROFESI Gambar 5 Tiga Program Pendidikan Kepamongprajaan IPDN (Program 1. dan Kybernologi dan Kepamongprajaan (2008). Seseorang berkualitas Pamongpraja.sistem pendidikan tinggi SDM-------------------------------->PAMONGPRAJA kepamongprajaan Gambar 4 Proses Pendidikan Tinggi Kepamongprajaan bergantung pada proses. IPDN memangku tanggungjawab penyelenggaraan Sistem Pendidikan Tinggi Kepamongprajaan sebagaimana terlihat pada Gambar 5. Berdasarkan Pasal 2 Permendagri 1/09 di atas. Dengan sistem ini diharapkan. IPDN. Berdasarkan uraian di atas. kebutuhan masyarakat akan layanan kepamongprajaan melalui Departemen Dalam Negeri. Program Pendidikan akademik itu terdiri dari Program Pendidikan Diploma dan Program Pendidikan Strata. melalui Sistem Pendidikan Tinggi Kepamongprajaan yang merupakan Subsistem Pendidikan Tinggi Nasional. dan prospek ke depan. tenaga berkualitas kepamongprajaan itu diproduksi melalui Program Pendidikan Akademik dan Program Pendidikan Profesi. yaitu program 3 (Gambar 5) merupakan inti makalah ini. Program Pendidikan Akademik ditujukan pada pembentukan tenaga pemerintahan dengan Ilmu Pemerintahan (Kybernologi) sebagai core . 2. Kybernologi Sebuah Profesi (2007). Enam. Dasar teoretiknya terlihat pada Gambar 6. Satu di antara tiga program tersebut. Perbedaan antara Program Pendidikan Akademik (1+2) dengan Program Pendidikan Profesi (3) terletak pada pertama.

Sebagian tenaga melalui program ini. Organizational design IPDN bermula pada identifikasi produk unitkerja yang dibutuhkan oleh pelanggan (masyarakat. Garis antara Rektor sebagai unsur kepala dengan Dekan dan Jurusan disebut garis lini (line function) atau garis komando hirarkik.curriculum pada tingkat institut. Dalam menjalankan tugasnya. Kualitas produk (lulusan) bergantung pada Organizational design IPDN. Lulusannya disebut Pamongpraja Muda. dalam hal ini tenaga berkualitas Pamong Praja. yaitu biro dan bagian di bawahnya. Oleh sebab itu. Produksi tenaga berkualitas Pamong Praja adalah pelayanan akademik atau pendidikan. bukan layanan administratif kepada masyarakat. Rektor. dibantu oleh unsur staf. 3 . Dekan. MENTERI DALAM NEGERI | KEPALA BADAN DIKLAT (a/n)--------|--------SEKRETARIS JENDERAL (a/n) | REKTOR----------------| | |---------PEMBANTU REKTOR (a/n) | | | BIRO | | DEKAN-------------| | | | | BAGIAN | | KEPALA JURUSAN---------| | | | | SUBBAGIAN | TENAGA AKADEMIK | PESERTA DIDIK | MASYARAKAT PELANGGAN Gambar 6 Struktur Organisasi IPDN (Yang Disarankan) Tujuh. Diklat ini disiapkan khusus buat sebagian tenaga yang direkrut dari lulusan program pendidikan nonkepamongprajaan. SKS). bukan pelayanan birokrasi atau administratif. Program Diklat Profesional Kepamongprajaan. dan Kepala Jurusan. dan prospeknya ke depan sebagai kader. Unitkerja yang memroduksi langsung tenaga Pamong Praja di bawah institut adalah fakultas. bukan biro dan bagian. unsur pelaksana IPDN adalah fakultas dan Jurusan. dengan core curriculum yang sifatnya spesialis.

UMUM | | | statesmanship | | | | | --------------------| | | 3 | 3 | | PROFESI KOMPONEN DIKLAT PROFESI | | BIDANG----11-----PROFESIONAL-----11----BIDANG | | PERTANIAN KEPAMONGPRAJAAN PEK. Ketika ia memasuki ruang profesi pemerintahan 9 -------------------------------KYBERNOLOGI-------------------------------| | (KOMPONEN PENDIDIKAN STRATA) | | | | | | | 8 8 | | KEAHLIAN KEAHLIAN | | DI BIDANG----------GENERALIS-----------DI BIDANG | | PEMERINTAHAN | PEMERINTAHAN | | | | | | | | | | | | 7 | 7 | | PROFESI KOMPONEN PROFESI | | BIDANG PE.PROGRAM DIKLAT PROFESIONAL KEPAMONGPRAJAAN Dalam Gambar 6. UMUM PEK. UMUM | | | | | | | | | | | | 2 | 2 | | KEAHLIAN | KEAHLIAN | | DI BIDANG----------SPESIALIS-----------DI BIDANG | | PERTANIAN | PEK. Agronomi dan Teknologi Civil (1). yang menghadirkan ahli pertanian dan ahli pekerjaan umum (2).--10---PENDIDIKAN---10------BIDANG PE| | MERINTAHAN DIPLOMA MERINTAHAN | | | | | | | | --------------------| | | 6 | vooruitzien | 6 | AGROPEMERINTAHAN | conducting | PEMERINTAHAN TEKNOLOGI PEMERINTAHAN DAERAH | coordinating | DAERAH PEMERINTAHAN | | | peace-making | | | | | | residue-caring | | | | 5 | turbulence-serving | 5 | | KEBIJAKAN | | KEBIJAKAN | |------------->BIDANG<----|---KEPAMONGPRAJAAN---|----->BIDANG<-------------| | PERTANIAN | | PEKERJAAN UMUM | | | | Freies Ermessen | | | | | | gen&spec function* | | | | 4 | omnipresence | 4 | KYBERNOLOGI KEPALA DINAS | responsibility | KEPALA DINAS KYBERNOLOGI PERTANIAN PERTANIAN |magnanimous-thinking | PEK. Para ahli ini terpanggil untuk memangku profesi di bidangnya masing-masing (3) sehingga keahliannya menjadi keahlian profesional. UMUM | | | | | | | | | | | | 1 | 1 | -------------AGRONOMI-------ILMU-ILMU LAINNYA-------TEKNOLOGI------------CIVIL *generalist&specialist function GAMBAR 6 SISTEM NILAI KEPAMONGPRAJAAN DAN HUBUNGANNYA DENGAN KYBERNOLOGI DAN ILMU PENGETAHUAN LAINNYA . sebagai contoh.

hal ini analog dengan posisi dualistik menteri dalam struktur negara RI. sehingga terminal itu rawan konflik antara pertimbangan politik kekuasaan dengan pertimbangan keahlian profesional (ilmupengetahuan dan teknologi). yang bersumber pada Ilmu Pemerintahan (Kybernologi. setiap perda harus dilembagakan menjadi dinas daerah. ia terlibat dalam proses kebijakan (5) pemerintahan daerah (6). Setiap kewenangan yang diserahkan kepada masyarakat (daerah) harus diatur dalam peraturan daerah (perda). profesinya meluas ke bidang profesi pemerintahan. ilmupengetahuan dan teknologi). dinas daerahlah yang merupakan garisdepan pemerintahan daerah. Pada saat itu ia memasuki ruang kepamongprajaan sebagai lembaga dan struktur (lihat Sesi Empatbelas GBPP Kepamongprajaan dalam buku ini). dan dan setiap dinas daerah harus diperkuat dengan tenaga ahli profesional melakukan tugasnya didukung fasilitas yang sepadan. sementara masyarakat bawah tidak memiliki akses ke sana. dsb. tenaga yang bersangkutan bersentuhan dengan kepamongprajaan sebagai kualitas. ketimbang sebagai alat untuk meningkatkan produktivitas kerja. Dengan Diklat Profesional Kepamongprajaan. Pada aras statal memang superioritas pertimbangan politik kekuasaan tidak dapat dihindarkan. terus ke 10 dan 11.(misalnya menjadi PNS). Sudah barang tentu. karena selaku unsur pelaksana. pemerintah daerah diharapkan mampu menyediakan pelayanan pemerintahan berbasis keahlian profesional bidang masing-masing (pertanian. Dalam struktur itu. dan bukan pelayanan pemerintahan guna membangun kekuasaan politik. ilmupengetahuan dan teknologi itu terkonsentrasi di pusat-pusat politik kekuasaan. . Di antara 9 terminal yang terlihat pada Gambar 6. pertimbangan keahlian profesional (ilmupengetahuan dan teknologi) semakin dominan. specialist function) berdasarkan pertimbangan kepamongprajaan (generalist function) bagi manusia dan masyarakat di bawah. daerah otonom). Criticalness terminal itu terletak pada kenyataan bahwa kebijakan pemerintahan sejauh ini dianggap berada di dalam ruang politik. Pada saat yang sama. Diklat di Indonesia terkesan lebih sebagai alat promosi jabatan atau kenaikan pangkat seseorang. diklat ini harus didukung oleh reformasi pemerintahan daerah. dan berpeluang untuk menjadi kepala dinas (4). Pada aras statal. yaitu sebagai pembantu presiden (ruang politik kekuasaan) dan sebagai kepala departemen/kementerian pemerintahan (ruang keahlian profesional. tetapi diharapkan semakin ke bawah (masyarakat. 9). Terminal 5 yang bersifat critical. berkeahlian profesional bidang pemerintahan (8). Ironinya profesionalisme. yang menuntut penguasaan fungsi generalis (7).

Sejauh ini kurikulum diklat terkesan didesain sebanyak-banyaknya karena semuanya dianggap penting. berarti 15. Diklat dirancang per unitkerja dengan anggota sekitar 20 – 30 orang (unitkerja eselon 3 atau eselon 2). Etika Pemerintahan . Desain kurikulum juga perlu diubah. 3 Kepemimpinan Pemerintahan 3 Nilai Tiga Coordinating . 5 Sosiologi Pemerintahan 5 Nilai Lima Residue-caring . Ambil contoh desain Sepimxxxxx Tingkat Madya yang dirancang buat pejabat eselon IV atau tenaga yang diprojeksikan ke eselon III. Didaktik pembelajaran yang diusulkan ialah. . . . . dengan metodik sedemikian rupa sehingga para peserta mampu belajar sendiri lebih lanjut dan menggunakan pelajaran itu dalam melakukan tugas pelayanan kepada masyarakat dengan penuh tanggungjawab. dengan kepala unit kerja sendiri dan seluruh warga unit kerja yang bersangkutan sebagai pesertanya. . . Para peserta dijejali 468 jam pelajaran (40 jam Materi Dasar.6 jam tiap hari. . 1 Kybernologi 2 Ilmu Filsafat 2 Nilai Dua Conducting. . . . . . Demikian Nilai Dua dan Nilai Tiga Kepamongprajaan. 264 jam Materi Inti. 7 Manajemen Bencana 8 Ekologi Pemerintahan 7 Nilai Tujuh Freies Ermessen . melainkan pada teamwork dan semangat kelompok seluruh unitkerja dalam hubungannya dengan unitkerja lain. 4 Ilmu Administrasi Publik 4 Nilai Empat Peace-making. Core curriculum Diklat Profesional Kepamongprajaan diidentifikasi di kalangan Tabel 2 Duabelas Nilai Kepamongprajaan -----------------------------------------------------------------NILAI CABANG ILMU/KAJIAN TERKAIT -----------------------------------------------------------------1 Nilai Satu Vooruitzien. Metodologi diklat harus berubah. . 6 Etika Pemerintahan 6 Nilai Enam Turbulence-serving . . . . . belajar-bersama (per unitkerja) materi pelajaran terpilih sesedikit mungkin dalam waktu sesingkat mungkin. . dan 164 jam Materi Penunjang) selama 30 harikerja. dan para peserta dicharge dengan sebanyak-banyaknya jam pelajaran dalam tempo yang sesingkat-singkatnya. . . digunakan metodologi TOT (dengan kepala unitkerja sebagai peserta awal) dan atau Ujicoba dengan menggunakan Test Unit dan Control Unit. 10 Manajemen Pemerintahan 9 Nilai Sembilan Responsibility .Produktivitas suatu unitkerja tidak bergantung pada salah seorang tenaganya yang didiklatkan. belajar bersama. . 9 Hukum Pemerintahan 8 Nilai Delapan Gen&Spec Function . . . . Supaya sosialisasi Diklat Profesional Kepamongprajaan ini berjalan cepat. . . .

10 Nilai Sepuluh MagnanimousThinking. tabel di atas masih bersifat tentatif. . . . Sudah barang tentu. . . . . 11 Ilmu Sejarah 11 Nilai Sebelas Omnipresence. Etika Pemerintahan 12 Nilai Duabelas Distinguished Statesmanship . . . . . . . Di samping itu masih perlu diidentifikasi matadiklat dasar dan matadiklat penunjang yang belum tercakup dalam Tabel 2. . . . . . 12 Ilmu Politik ------------------------------------------------------------------ cabang ilmu yang aksiologinya mengandung nilai kepamongprajaan tertentu (Tabel 2). . . . . . . . .

1504090825SDG .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful