P. 1
Gbpp Dan Sap Pengantar Ilmu Pemerintahan

Gbpp Dan Sap Pengantar Ilmu Pemerintahan

|Views: 736|Likes:
Dipublikasikan oleh Ekha Crazh Saleka

More info:

Published by: Ekha Crazh Saleka on Jul 04, 2011
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/01/2013

pdf

text

original

GBPP MATAKULIAH

PENGANTAR ILMU PEMERINTAHAN
UNTUK PROGRAM STRATA DI PERGURUAN TINGGI
Taliziduhu Ndraha, Kybernolog 1 LATAR BELAKANG GBPP mata kuliah Pengantar Ilmu Pemerintahan ini semula ditulis sebagai bahan Workshop Penyusunan GBPP/SAP Semester I dan II Fakultas Manajemen Pemerintahan IPDN 2008/2009 di Jatinangor tgl 24 dan 25 November 2008, memenuhi undangan Dekan fakultas yang bersangkutan tgl 18 November 08 No 003/487/FMP/08. Sesuai saran berbagai fihak, naskah awal diperluas sehingga dapat digunakan sebagai pola dasar matakuliah Ilmu Pemerintahan untuk Program S1, S2, dan S3 Ilmu Pemerintahan. Penggunaannya disesuaikan dengan kebutuhan tiap stratum. Andaikan Ilmu Pemerintahan diibaratkan sebuah pohon-buah dengan buah (aspek Axiologi), batang (aspek Epistemologi), dan akarnya (aspek Ontologi), maka didaktik dan metodik (DM) pengajarannya diperlihatkan melalui Tabel 1 di bawah ini.
Tabel 1 Didaktik dan Metodik (DM) Pengajaran Ilmu Pemerintahan Dilihat dari Aspek-Aspek Body-Of-Knowledge (BOK) Bahan Ajar (X menunjukkan tingkat kedalaman)
------------------------------------| METODIK PENGAJARAN | |-------------------------------------| | S1 | S2 | S3 | --------------------------------------|-----------|------------|------------| | | Axiologi (Buah) | X X X | X X | X | | |-------------------------|-----------|------------|------------| | DIDAKTIK | Epistemologi (Batang) | X X | X X | X X | | |-------------------------|-----------|------------|------------| | | Ontologi (Akar) | X | X X | X X X | ----------------------------------------------------------------------------

Dengan catatan bahwa perancangan DM harus dilakukan secara bertahap tetapi konsisten, Program S1, S2, dan S3, sebaiknya tersusun menurut skala interval dan tidak ordinal apa lagi nominal belaka (Gambar 1, sistem single input - single output). Sungguhpun demikian, dalam fase peralihan, program khusus atau tertentu, “darurat” atau terpaksa, sistem multi-input single output dapat juga digunakan, didukung dengan program matrikulasi yang sepadan. Jadi sedapat-dapatnya:

jangan begini: (ordinal)
S3 | | | | | S2 | S1 ilmu X

apalagi begini: (nominal, zig-zag)
------>S3 | ilmu X | | | | ------>S2 | ilmu Y S1 ilmu Z

tetapi begini: (interval)
S3 | | | S2 | | | S1 ilmu X

Gambar 1 Skala DM Program Strata Ilmu Pemerintahan 2 SESI SATU Sesi ini diisi dengan Penjelasan Umum, pandangan menyeluruh (overview) tetapi esensial (abstract, highlight) tentang Ilmu Pemerintahan (termasuk TIU) dan Sejarah Pengajaran Ilmu Pemerintahan di Indonesia. Semua mata kuliah yang terkait dengan Ilmu Pemerintahan mengacu pada Pengantar ini. Ilmu Pemerintahan yang diuraikan di sini adalah Ilmu Pemerintahan dalam konstruksi bangunan (bodyof-knowledge) yang disebut Kybernologi. Dalam hubungan itu, Kybernologi bukan sekedar judul buku, tetapi sebuah bangunan ilmu pengetahuan. Khusus di lingkungan IPDN/IIP, Ilmu Pemerintahan merupakan mata kuliah tingkat institut dan diajarkan pada semua program, strata, fakultas dan jurusan. Perkuliahan tiap semester terdiri dari 14 sesi tatapmuka dan dua sesi ujian (UTS dan UAS) = 16 sesi. Dari referensi ditelusuri sumber-sumber asli dan ditambahkan sumber-sumber lainnya. GBPP ini secara berkala ditinjau dan dikembangkan. Salahsatu versi GBPP ini dimuat dalam Bab XI Kybernologi Sebuah Pengharapan (2009). Sejarah Pengajaran Ilmu Pemerintahan di Indonesia diawali dengan Bestuurskunde, Bestuurswetenschap, dan Bestuurswetenschappen di Belanda. Menurut G. A. Van Poelje dalam Pengantar Umum Ilmu Pemerintahan (1959), mulai tahun kuliah 19281929 pengajaran dalam Jurusan Ekonomi Kenegaraan diperluas dengan mata pelajaran Ilmu Pemerintahan dengan tujuan supaya jurusan ini lebih disesuaikan dengan kebutuhan mereka yang berhasrat untuk bekerja pada dinas umum. Pada tgl 25 Januari 1928, Guru Besar Luar Biasa di bidang Ilmu Pemerintahan dilantik, dan dengan dmeikian maka pengakuan Ilmu Pemerintahan sebagai mata pelajaran (berderajat Doktor) pada pengajaran tinggi di Belanda menjadi suatu kenyataan. Selama masa 1928-1933 dua orang Doktor Ilmu Pemerintahan dipromosikan, yaitu

Dr R. E. Berends dan Dr F. Breedsvelt. Di masa itu Ilmu Pemerintahan dianggap sebagai struktur supra ilmu-ilmu pengetahuan yang berkaitan dengan ekonomi perusahaan. Uraian di atas kemudian disusuli dengan pengajaran Ilmu Pemerintahan pada kursus dan bestruursacademie Pamongpraja di zaman Belanda, paradigma Ilmu Pemerintahan di lingkungan UGM sampai tahun 80-an (Gambar 2), dan dewasa ini (Gambar 3), paradigma IIP-UNPAD, dan paradigma IPDN/IIP-Baru.
ILMU POLITIK | -----------------------------|----------------------------| | | | | ILMU ADM ILMU HUBILMU PEILMU PERBANTEORI PUBLIK INTERNASIONAL MERINTAHAN DINGAN POLITIK POLITIK

Gambar 2 Posisi Ilmu Pemerintahan Versi UGM (Tradisi Sampai Tahun 80-an)

Natural turbulences dan social turbulences yang terjadi di belahan dunia maju, misalnya di Amerika, mengerakkan pengubahan dan pembaharuan konstruksi berbagai ilmu pengetahuan. Paradigma Public Administration, misalnya, berubah menjadi Development Administration (tahun 60-an, pasca PD II), dan berubah

1 NEGARA 2 POLITIK KEPARTAIAN DAN PERWAKILAN

MASYARAKAT 3

Gambar 3 Ranah Publik: Bidang Studi Jurusan Ilmu Pemerintahan di Universitas Gadjah Mada (UGM) lagi menjadi The New Public Administration (1970-an, pasca Perang Vietnam). Dua

kali social turbulences (1965 dan 1998) dan sekali lagi natural turbulence (20042005) menimpa Indonesia, mendorong pembaharuan konstruksi Ilmu Pemerintahan. Turbulences itu ditanggapi dengan cara pendekatan yang berbeda oleh UGM dan Program Pascasarjana Kerjasama UNPAD-IIP (1996). Sejak tahun 2000-an, bidang kajian Jurusan Ilmu Pemerintahan di UGM dikonstruksi seperti Gambar 3 (A. Nurmandi, E. P. Purnomo, Suswanta, peny., Mencari Jatidiri Ilmu Pemerintahan, 2006), sedangkan Ilmu Pemerintahan di lingkungan Program Pascasarjana Kerjasama UNPAD-IIP direkonstruksi seperti Gambar 4. Rekonstruksi Gambar 4 bermula pada pendekatan kemanusiaan (Gambar 5). Melalui pendekatan ini, maka HAM, kebutuhan eksistensial Manusia, kebutuhan dasar masyarakat dan lingkungan hidupnya yang pertama-tama terlihat sebagai sasaran kajian, dan bukan Negara, kepentingan atau kekuasaan belaka. Rekonstruksi itu didorong oleh keinginan untuk mengembalikan Ilmu Pemerintahan pada posisi dan kualitasnya semula yaitu “ilmu yang bertujuan menuntun hidup bersama manusia dalam upaya

NEGARA governent 1 ruang kekuasaan PUBLIK ruang publik 2 KEBIJAKAN PUBLIK governance
kewenangan negara 1--------------->2 pelayanan publik

kewajiban negara 1-------------->3 pelayanan civil

ruang civil 3 MANUSIA HAM

Gambar 4 Interface Antara Negara Dengan Manusia mengejar kebahagiaan rohani dan jasmani yang sebesar-besarnya tanpa merugikan orang lain secara tidak sah” (G. A. van Poelje, Algemene Inleiding tot de Bestuurskunde, 1953. Rekonsturksi Ilmu Pemerintahan menurut pendekatan Gambar

Purnomo. 2006. Bab 3 Kybernologi dan Kepamongprajaan. Bab I dan Bab II dan Soewargono dalam Kybernologi Sebuah Rekonstruksi Ilmu Pemerintahan. Perkembangan kemanusiaan yang memuncak pada kenegaraan. Pokok-pokok Kybernologi menurut perkembangannya yang terakhir terdapat dalam Bab I Kybernologi dan Pembangunan (2009).” ditemukan Ontologi Kybernologi dengan dua variable pemikiran: Kualitas Manusia dan Hubungan Pemerintahan (lihat Gambar 6). yang disebut juga Hubungan Antara Janji dengan Percaya. P. 2005.. Mencari Jatidiri Ilmu Pemerintahan. membentuk Hubungan Pemerintahan. A. 2008 3 SESI DUA Melalui pendekatan metadisiplin: “Percaya agar (baru) tau (credo et intelligam). Pendekatan seperti Gambar 5 itulah yang diajarkan di lingkungan IPDN/IIP ke depan. Bab I dan Bab II Kybernologi Beberapa Konstruksi Utama. Keadaan dengan Pengharapan. sebagai hasil pendaratan Bestuurskunde dan Bestuurswetenschap di bumi Indonesia. 2008. Nurmandi. E. 2005.3 dan Gambar 4 terhadap fenomena pemerintahan digabung seperti Gambar 5 itu. peny. . 2007. Bab VIII Kybernologi Sebuah Profesi. Suswanta. PENDEKATAN KEKUASAAN PENDEKATAN KEMANUSIAAN DAN LINGKUNGAN FENOMENA PEMERINTAHAN COMMON PLATFORM SEMUA ILMU PENGETAHUAN ILMU PEMERINTAHAN KONSTRUKSI GAMBAR 4 BERNAMA KYBERNOLOGI ILMU PEMERINTAHAN KONSTRUKSI GAMBAR 3 Gambar 5 Dua Macam Pendekatan Referensi: Bab I Kybernologi 2003. Bab 3 Kybernologi dan Kepamongprajaan.

bermula dari “kebutuhan manusia” sejak “terjadinya” di dalam kandungan. McIver. 4 SESI TIGA Epistemologi Ilmu Pemerintahan: Teori Kebutuhan. 1961. Pikiran ini dideduksi dari Ontologi Pemerintahan di atas.” demikian ungkapan Perancis. R. Pemikiran pemerintahan sejajar dengan pemikiran ekonomi.ALLAH mencipta CIPTAAN<---------------------HUBUNGAN PEMERINTAHAN---------------------> MAKHLUK MANUSIA-->MEMBUMI 1 CIPTAAN | MANUSIA | PENDUDUK-->BERMASYARAKAT | 2 CIPTAAN | MANUSIA | PENDUDUK | WARGAMA| SYARAKAT-->BERBANGSA | 3 CIPTAAN | MANUSIA | PENDUDUK KUALITAS MASYARAKAT MANUSIA WARGABANGSA-->BERNEGARA | 4 CIPTAAN | MANUSIA | PENDUDUK | MASYARAKAT | BANGSA | WARGANE| GARA----->BERPEMERINTAHAN 5 CIPTAAN MANUSIA 7 PENDUDUK YANG DIMASYARAKAT PERINTAH BANGSA konstituen NEGARA pelanggan<------------hubungan pemerintahan------------>PEMERINTAH konsumer (peran) korban 6 mangsa Gambar 6 Ontologi Kybernologi dengan 7 Terminal Referensi: Bab 1. Bab 6 dan Bab 7 Kybernologi 2003. Pemenuhan kebutuhan manusia selain bersifat komprehensif (segala bidang kehidupan) juga bersifat jangka panjang sejauh mungkin ke depan: “Gouverner c’est prevoir. . The Web of Government.

maka dasar pertimbangannya adalah kepentingan. Semua orang membutuhkan makanan. Itulah sebabnya kebutuhan dasar itu diposisikan sebagai hak asasi manusia.-----| SIA & INSNEEDS POLICY ACTOR evaluasi | TINCTS | | | | | | | 13 | | | | 11 | POLICY | 16 | | | -----PUBLIC---------IMPLE----------PUBLIC----| | | CHOICE MENTATION | SERVICES | | | | | | | | | | | | | | 10 | | 15 | ----MASYA| | penggunaan oleh KONSUMER | RAKAT | | HAK HIDUP KORBAN atau HAK MANGSA | | | | UNTUK MEMPERTAHANKAN DIRI | | | | KEPERCAYAAN (TRUST) terhadap PEMERINTAH | | | | PENGHARAPAN (HOPE) DI MASA DEPAN | | | | | | | --------------------------------------------| | | 17 18 19 ----PRIVATE-----. Maka berbahaya jika orang memilih (membeli) tanpa mengetahui apa yang sesungguhnya dia . kebutuhan. dan pemenuhannya sebagai kewajiban negara. lebihlebih kebutuhan dasar (asasi) bersifat objektif. | | | | KORBAN dan MANGSA untuk SELAMAT | | | | | | 2 | | | 1 HUMAN 3 12 14 20 | MANU. Tetapi pada saat orang berniat dan berkesempatan memilih makan apa atau makan siapa dan kapan.-----CIVIL-–----acting---------CIVIL------| | | VIDU RIGHTS action SERVICES | | | | | | | | | | | | | | 8 | | | | KESEMPATAN dan HARAPAN (HOPE) | | | | PELANGGAN UNTUK MENJADI KONSUMER. Pada dasarnya.--BARANG---------MARKET CHOICE JASA (SATISFACTION) ---> 7pembentukan civil service --->12pembuatan kebijakan publik --->13pengadaan public goods *empowering --->14pembentukan public actor --->15pemberdayaan (enabling.------------------------------------------------------------------------| | | 7 | | PENGORBANAN | | CIVIL SERVANT | | | | | | | | 4 5 6 9 | | ----INDI. Jadi kepentingan itu subjektif.----RIGHTS-----HUMAN PUBLIC PUBLIC kontrol. emp.*) --->17privatisasi vs statalisasi Gambar 7 Teori Kebutuhan Kebutuhan perlu dibedakan dengan kepentingan.

dsb. 2008. Maslow. Bab V Kybernologi Sebuah Metamorphosis. Bab 2 Kybernologi Beberapa Konstruksi Utama. Bab 4 Kybernologi 2003. 1956. 2005. 5 SESI EMPAT Epistemologi Pemerintahan: Teori Pelayanan. Referensi: Book Two Walter Lippmann The Public Philosophy. dan referensi Teori Kebutuhan A. 84). h. 2006.butuhkan. tetapi tidak dapat dan tidak mungkin ia dibebani KAM (kewajiban asasi) pada saat yang sama. DISANTAP juga memberdayakan. Perlindungan dan pemenuhan kebutuhan manusia dan masyarakat melalui public choice (public service. Dia dapat terbebani KAM seiring dengan kemampuannya untuk bertanggungjawab. | DIKORBANKAN korban jadi konsumer --------------------| | DIBERDAYAKAN TAK DIBERDAYAKAN | | | | KONSUMER MANGSA Gambar 8 Teori Pemberdayaan (Pelayanan) . civil NEGARA------>PRODUK------>PELANGGAN | | --------------------| | BERDAYA TAK BERDAYA | | | | KONSUMER KORBAN | --------------------| | DIBERDAYAKAN TAK DIBERDAYAKAN | | | | KONSUMER MANGSA | ----------------------------| | DISELAMATKAN TAK DISELAMATKAN | | | | *jika penyelamatan KORBAN* DIMANGSA. Perlu dikemukakan bahwa manusia (setiap orang) memiliki HAM begitu ia terbentuk dalam rahim ibunya. Bagian Dua Bab VI Kybernologi Sebuah Scientific Enterprise.

dapat dibebankan kepada fihak YD Aktor pemerintahan a Monopoli Negara tapi dpt diprivatisasikan b Lebih normatif Kualitas pelayanan terdapat dlm dasar hokum pelayanan ybs Bergantung pada kemampuan dan kesempatan pelanggan menggunakan layanan Pelanggan Percaya Kendatipun Ybs Kecewa supaya masyarakat percaya sementara mereka kecewa? Info tanpa kebohongan. bukan janji Sekarang. . Kualitas pelayanan di sektor publik dan civil herus dibedakan dengan kualitas pelayanan di sektor privat dan bisnis. “Artis” pemerintahan a Monopoli Negara dan tidak dapat diprivatisasikan b Antisipatif berdasarkan asas Manajemen Bencana yaitu Waktu = Nol (langsung action. . Conventions Melindungi. Tabel 2 Pelayanan Publik dan Pelayanan Civil --------------------------------------------------------------------------------DIMENSI PELAYANAN PUBLIK PELAYANAN CIVIL --------------------------------------------------------------------------------1 DASAR Pasal 33 (2) UUD 45 Public Choice Meningkatkan Kesejahteraan Masyarakat Kewenangan Negara Jangka pendek Lapisan/Kelompok Masyarakat sebagai pelanggan Fihak YD Menyesuaikan diri dgn Kondisi Fihak YM Semakin berkurang dengan semakin majunya masy. ruang Ilmu Pemerintahan) dan private choice (market service. tak ada waktu utk mencari dan menyiapkan “the 6M”) Bergantung pada acting dan action civil servant dan “artis” pemerintahan Korban/Mangsa Berpengharapan Dalam Ketidakberdayaannya Supaya dalam diri korban tumbuh asa sementara ia tidak berdaya? Reformasi sepenuh hati Bukti. baik kualitas maupun kuantitas dan kesebarannya Tidak dibebankan langsung kpd fihak YD. Menyelamatkan Manusia dan Lingkungannya Kewajiban Negara (Gambar 4) Jangka Panjang Individu pribadi sebagai pelanggan. . Civil Rights. pertanggungjawaban (responsibility) Human Rights.service. ruang Ilmu Ekonomi). “no price. bukan nanti. Constitutional Rights.” dibiayai oleh Negara 2 TUJUAN 3 STATUS 4 VISI 5 YANG DILAYANI (YD) 6 SIKAP 7 PROSPEK 8 HARGA BIAYA 9 PELAKU (YM) 10 SIFAT Civil Servant. Diusahakan serendahrendahnya. 11 FAKTOR 12 KUALITAS TERTINGGI 13 MASALAH Bagaimana 14 SOLUSI ---------------------------------------------------------------------- . korban dan mangsa Fihak Yg Melayani (YM) menyesuaikan diri dgn YD Semakin meningkat. .

dan kedua karena dalam kekecewaan dan ketidakberdayaan sekalipun. Teori Kerja. Di dalam Teori Pelayanan termasuk Teori Pemberdayaan. Sebelum Amandemen) --------------------------------------------------------------------------KEBUTUHAN PASAL --------------------------------------------------------------------------TELAH DINYATAKAN SECARA JELAS. menerima) pertanggungjawaban pemerintah. Jika pelayanan itu diibaratkan penyembuhan penyakit. maka perlu diingat bahwa tidak merasa sakit belum tentu sehat. Jadi di sisi lain pelayanan harus diarahkan pada Tabel 3 Layanan Civil Berdasarkan UUD 1945 (Naskah Asli. jika “meManusiakan manusia” (memulihkan atau mengembalikan Manusia ke dalam fitrahnya semula) dipandang sebagai pemberdayaan. MENGELUARKAN PIKIRAN 6 KEMERDEKAAN UNTUK MEMELUK AGAMA 7 PENGAJARAN 8 PEMELIHARAAN FAKIR MISKIN DAN ANAK TERLANTAR TIDAK/BELUM DINYATAKAN SECARA JELAS: 1 KEBEBASAN MEMILIH 2 KEPASTIAN HUKUM. kalaupun ada sangat mahal atau sangat berat. maka di satu sisi. Menyehatkan berarti mencegah penyakit. kepercayaan masyarakat kepada negara dan pengharapan manusia terhadap masadepan bisa terbentuk dan terjaga.Kepuasan pelanggan tidak dapat dijadikan kualitas pelayanan publik dan pelayanan civil. dan melihat adanya perubahan dan kemajuan yang konsisten ke depan. dalam Teori Pemberdayaan (Manusia dan Masyarakat) terletak Teori Pelayanan. dan Professionalism. pertama karena di dalam ruang dua pelayanan itu tidak ada pilihan. dan mencegah selalu lebih baik ketimbang mengobati. BERKUMPUL. WALAUPUN BELUM SEMUANYA DIIMPLEMENTASIKAN TASIKAN: 1 2 3 4 5 HAK/PENGAKUAN SEBAGAI SOVEREIGN (VOTER/VOTING) PENGAKUAN SEBAGAI JIWA DAN SEBAGAI WARGA NEGARA KEBERSAMAAN KEDUDUKAN DI DEPAN HUKUM (KEADILAN) PEKERJAAN DAN PENGHIDUPAN YANG LAYAK KEMERDEKAAN BERSERIKAT. Careerism. KEKUATAN HUKUM 3 PERLINDUNGAN 4 KESELAMATAN 5 CONSUMERISM (bukan konsumtif!) dan sebangsanya -------------------------------------------------------------------------------1 (2) 26 27 (1) 27 (2) 28 29 (2) 31 (1) 34 . jika saja masyarakat (bisa) memahami (mengerti. Tetapi untuk Indonesia bisa terbalik.

2007. Subkultur ekonomi (SKE) berfungsi membentuk nilai dari sumberdaya yang ada. Sebagai pelanggan ia menyampaikan kebutuhannya ke hulu melalui kualitasnya sebagai konstituen. Bab III Kybernologi Sebuah Profesi. bagaimana subkultur bekerja (berinteraksi) satu dengan yang lain. dan Gambar 9 di bawah. fungsi implementasinya (pengurusan) di tengah. Bab 11 Kybernologi dan Kepamongprajaan. Pasal 1 butir 2. memaksimalkan pengurusan (meredistribusi nilai ke dalam masyarakat di tengah. Gambar 7. yaitu subkultur ekonomi (SKE). SKS pada hakikatnya terdiri dari dua kualitas: sebagai pelanggan dan sebagai konstituen. Di sana dinyatakan bahwa Pemerintah Daerah (Kepala Daerah dan jajarannya. Interaksi antar tiga subkultur itu disebut governance. HAM. bagaimana masyarakat melindungi dan memenuhi kebutuhannya melalui interaksi tiga subkultur itu. Manusia mengatasi hal ini melalui pelestarian SDA dan fungsi pengaturan SKE di hulu. Dalam Gambar 9 terlihat juga bahwa konsep pemerintahan lebih luas daripada konsep pembangunan pemerintahan. Di bawah konteks pemerintahan daerah. 2005. Bagaimana governance terbentuk. Lihat juga Gambar 4. Kebijakan otonomi Daerah berdasarkan UU 32/04. 3 dan 4. yang memiliki hak eksistensial. “Pemerintahan” Daerah dalam hubungan itu setara dengan local governance. diterangkan melalui Teori Governance. 2007. local government) bersama DPRD adalah penyelenggara pemerintahan Daerah. dan subkultur sosial (SKS). Bab 5 Kybernologi Beberapa Konstruksi Utama. Adapun perbedaan antara pelayanan civil dengan pelayanan publik sebagai berikut (Tabel 2 dan Tabel 3) Referensi: Bab III Kybernologi Sebuah Rekonstruksi Ilmu Pemerintahan. terbentuklah subkultur kekuasaan (SKK). dan mempertanggungjawabkan fungsi-fungsi itu kepada masyarakat di hilir). dan memonev redistribusi nilai oleh SKK di hilir. Pada gilirannya hal ini menimbulkan ketidakadilan. pemerintahan sama dengan .pemberdayaan. Setiap masyarakat (unit kultur) digerakkan oleh tiga subkultur. Watak koruptif kekuasaan melahirkan pemikiran tentang pentingnya subkultur sosial (SKS) dalam masyarakat. subkultur kekuasaan (SKK). sesuai dengan teori ini. 2008. 2008 6 SESI LIMA Epistemologi Ilmu Pemerintahan: Teori Governance. dan hak-hak derivatif. Bab I Kybernologi Sebuah Charta Pembaharuan. bagaimana interaksi antar governance. Konsep governance lebih luas ketimbang konsep government. Dalam rangka menegakkan peraturan (kebijakan pengaturan SKE). 2005. karena peroleh nilai bergantung pada sumberdaya yang berawal pada sumberdaya alami (SDA) sebagaimana adanya. Bab V Kybernologi Sebuah Metamorphosis.

dan Subkultur Sosial (SKS dgn kualitas Sebagai Pelanggan dan Constituent) yang Disebut juga Subkultur Pelanggan (SKP) masyarakat melalui tiga terminal. Interface itu membentuk ruang Masyarakat. . SKK. and feedback. Gambar 9 berawal pada Gambar 4 tentang interface antara konsep Manusia dengan konsep Negara. -----| | | | mencipta nilai pelayanan public | | | | 1 (inc. Interaksi antar subkultur masyarakat ----------------------| NEGARA | 2 3 -----mengontrol---------mengontrol-----| memberdayakan | | membayar | | | | | | | | | | | | mengontrol SKK | | | | | di hulu | | | constituent -----.-----yanan civil. Gambar 10 menunjukkan 5 rute dasar interaksi antar tiga subkultur.pemberdayaan) | | | | 4 | | | | MASYARAKAT | | | | | | | ------melayani-------5---------pasar-------| | | | MANUSIA | | | ---------------------------feedback--------------------------6 Gambar 9 Teori Pemerintahan (Governance): Interaksi Antar Tiga Subkultur Melalui 6 Rute Subkultur Ekonomi (SKE). sedangkan Rute 6 feedback ke dalam interaksi. yaitu SKE. | | nilai via pela| | | |----meningkatkan.SKE--------|--------->SKK----------|-------->SKS------| pemain | | | penonton | | | | wasit | pelanggan | | | | | | | mengontrol SKK | | | ----------|-|---------di hilir | | pembangunan | | | | | | | meredistribusi | | | membentuk. Policy implementation dapat dibedakan dengan policy implementation monitoring and evaluation. dan SKS.policy making + policy implementation. Rute 5 menunjukkan rute pelayanan pasar. Lintasan gerak dari terminal ke terminal disebut rute. Pembangunan itu sendiri berada di dalam policy implementation di ruang SKE. Subkultur Kekuasaan (SKK).

dan SKS) Via Rute 1.nya | | dan PERDA | 2 | | | | 3 | | petaruh.Tabel 4 Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah ----------------------------------------------------------------------------PENGATURAN PENGURUSAN MONEV DAN FEEDBACK LOCAL GOVERNANCE ----------------------------------------------------------------------------1 DPRD -DPRD DPRD PEMERINTAH -LOCAL GOVERNMENT DAERAH (LOCAL GOVERNMENT) ----------------------------------------------------------------------------2 KEPALA DAERAH Sepanjang Rute 5 pada Gambar 10 dilakukan pemantauan dan evaluasi redistribusi ---------------------| NEGARA | SKK mengontrol SKS sbg konstidan memberdayatuen mengontrol --kan SKE via kebi--SKK di hulu via UU-| jakan & impl. 3.| | meredistribusi<-. men. me| | memberdayakan. | | | | 1 ningkatkan.4 | | |---cipta nilai se-------nilai via pe| | | | cara berkelanlayanan civil & ----| | | | jutan pelayanan publik | | | | | | | | MASYARAKAT (PUBLIK) | | | | | | | -------melayani----------------pasar---------| | | | MANUSIA | | | ---------------------------feedback-----------------------------Gambar 10 Pemerintahan (Governance). dan 5 . petarung | | | | | SBG KONSTITUEN -----. Interaksi Antar Tiga Subkultur (Tiga Terminal SKE. SKK.SKE------------------>SKK-------------------->SKS--------| “pemain” | | | SBG PELANGGAN | | | | “wasit” | ”penonton” | | | | | | | | | | | | | | | | SKS sbg pelanggan | | | | | | | mengontrol SKK via | | pembangunan | | | | monev & feedback | | | | | | | di hilir | | | ---------|-|---------| | | | | | 5 | | | | membentuk. 2. 4.

| | meredistribusi<-.nilai (Rute 4) berdasarkan standar yang telah ditetapkan melalui Rute 3. dan 4 . hasil evaluasi dijadikan masukan ke dalam Rute 6 melalui terminal SKK.SKE---------|-------->SKK----------|----->STAKEHOLDER----| ”pemain” | | | ”penonton” | | | | ”wasit” | | | | | | | | | | SKS sbg PELANGGAN | | | | | | | mengontrol SKK via | | pembangunan | | | | monev & feedback | | | | | | | di hilir | | | ---------|-|---------| | | | | | 5 | | | | membentuk. Dalam Teori Governance juga termasuk Teori Hubungan Pemerintahan (governance relations). terus ke SKS. Di sana jelas. men.| | SKK di hulu via UU | | jakan & impl. petarung | | | | | SKS “BANDAR” -----. Teknik penampilan rute feedback tidak terlihat pada Gambar 10 dan Gambar 11 melainkan pada Rute 6 Gambar 12 sebagai masukan buat Rute 3. Hasil evaluasi dijadikan masukan ke dalam Rute 3.4 | | |---cipta nilai se-------nilai via pe| | | | cara berkelanlayanan civil & ----| | | | jutan pelayanan publik | | | | | | | | | | | | MASYARAKAT (PUBLIK) | | | | | | | -------melayani----------------pasar---------| | | | MANUSIA | | | ---------------------------feedback-----------------------------Gambar 11 Stakeholder Pemerintahan (Hubungan Pemerintahan Antara Pemerintah (SKK) dengan Yang Diperintah (SKE dan SKS) Via Rute 1. Dengan memasukkan konsep stakeholder (Bab I Kybernologi ---------------------| NEGARA | | | SKK mengontrol SKS sbg konsti---dan memberdaya-----tuen mengontrol--| kan SKE via kebi. | | | | 1 ningkatkan. 3. me| | memberdayakan. 2.nya | | dan PERDA | 2 | | | | 3 | | petaruh.

penyerahan sebagian kewenangan negara (pusat) kepada masyarakat (daerah) dapat diartikan sebagai sebuah strategi privatisasi dari badan publik kepada badan privat. sehingga pembangunanpun secara bertahap tetapi pasti beralih ke ruang SKE. 2009).pe. 3. hope) kinerja SKK ---nya) berda.SKE-------------. Pelangganlah yang merupakan stakeholder masyarakat.SKS------------SKK-| | | | | | | | | redistribusi | | | | | | | | nilai via pe. Kendatipun pada hakikatnya pembangunan terletak dalam ruang SKE (Gambar 9). Gambar 12 merupakan 2 janji (kebi3 5 jakan/rencana mandat.| | pertanggung| | | | nilai berke| | lay civil. pembangunan oleh SKK adalah strategi pemberdayaan SKS sampai pada suatu saat peran ekonomi SKS otonom. bandarlah stakeholdernya. mengingat masyarakat belum berdaya dan belum otonom di bidang pembangunan.dan Pembangunan. pemerintah hanya petaruh dan petarung selama masajabatan lima tahunan belaka. Dalam hubungan itu. masyarakat pemangku kekuasaan) dengan fihak Yang Diperintah (SKE dan SKS). Dilihat dari sudut ini. Gambar 9 mengalami modifikasi (Gambar 11).------rute 2 & 4--| sarkan etika | | (UU. SKE adalah masyarakat dalam perannya sebagai Pekerja.| | jawaban etik | | | --lanjutan utk----lay publik &------menurut----| | hidup pemberd masy etika otonom | | 1 di tengah di hilir | | 4 6 | | | | | --------------------pemerintahan (governance)-------------------Gambar 12 Sistem dan Proses Pemerintahan Melalui Rute 1. 3. yaitu hubungan antara fihak Pemerintah (SKK.SKK-------------. Jika pemerintahan diibaratkan perjudian.-----tuntutan. 4. kuasa monev terhadap & penepatan(trust. dan 2 . 6. untuk sementara pembangunan diletakkan di ruang SKK. Perda) | | via rute 2 | | otonom di hulu | | di hulu | | di hilir | | | | | | | | | | . sedangkan SKS adalah masyarakat dalam perannya selaku Pelanggan dan Konstituen. Gambar 11 menunjukkan Hubungan Pemerintahan. Hubungan (rute) antar tiga terminal (dalam Gambar 9 terlihat empat) diperjelas (diurai) menjadi enam rute berkesinambungan. 5.

2008. Dengan argumentasi tertentu. 2009 7 SESI ENAM Epistemologi Pemerintahan: Teori Kinerja. 4. 6. Kata itu berasal dari kata “kerja” ditambah sisipan “in” antara “k-” dengan “-e” menjadi “kinerja.” “reka” menjadi “rineka. sehingga prosesnya berjalan dari 1 ke. Referensi: Bab I Kybernologi Sebuah Rekonstruksi Ilmu Pemerintahan (2005). demikian terus-menerus. Bab I Kybernologi dan Pembangunan. 5 dan 6.” Hal itu terjadi misalnya pada kata “kanti” menjadi “kinanti. angka 1 itu diletakkan pada rute Mandat (Gambar 12 pada rute 3). Tetapi untuk rezim yang baru terpilih.” “ganjar” menjadi “ginanjar. 2. berlanjut ke 3. kembali ke 2. Bagian Pertama Bab 8 Kybernologi Beberapa Konstruksi Utama. 2005. 4. Kosakata “kinerja” tidak terdapat dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia. 2006.” “rakit” menjadi “rinakit.” dan sebagainya. rute Nilai Berkelanjutan Untuk Hidup).rekonstruksi Gambar 7-1 Kybernologi (2003. 1. sehingga rutenya menjadi 3. peneliti bebas menentukan rute awal penelitiannya dan menandainya dengan angka 1 (pada Gambar 12. ----->LINGKUNGAN--------membentuk------->GOVERNANCE-------| 7 faktor 3 subkultur | | | | keselarasan | keseimbangan | keserasian feedback MASYARAKAT dinamika | keberlanjutan | interaksi antar | tiga subkultur | | | GOOD GOVERNANCE evaluasi oleh KINERJA | ----BAD GOVERNANCE<------pelanggan------GOVERNANCE<-------Lingkungan Governance: 1 sejarah 2 lokalitas 3 sistem politik Gambar 13 4 5 6 7 sistem ekonomi sistem sosialbudaya kondisi dan posisi geografik Weltanschauung masyarakat Model Dasar Teori Kinerja . Bagian Tiga Bab V dan Bab XIV Kybernologi Sebuah Scientific Enterprise. Lingua franca ini terbentuk sebagai padanan kata Inggris performance yang sebenarnya berarti tampilan atau penampilan. 5. 1. 106) tentang hubungan antara Janji (commitment) dengan Percaya (trust) dan Harapan (hope). misalnya untuk rezim yang sedang berjalan. Bab VI dan Bab VII Kybernologi Sebuah Metamorphosis. kembali ke 3.

diterangkan melalui Teori Kinerja. maju-mundur. 2006. performance terlihat lebih sebagai proses ketimbang sebagai output. Grafik kinerja bisa naik-turun (NT. maka governance itu disebut good governance. kinerja governance bisa dikualifikasi good (Tabel 2). Kinerja pemerintahan merupakan proses dan hasil keseluruhan interaksi antar tiga subkultur sebagaimana ditunjukkan oleh angka 1 sd 6 pada Gambar 9 dan Gambar 12. 2007). Bab I Kybernologi Sebuah Profesi. agar keberhasilan yang satu tidak merusak tetapi sebaliknya mendukung keberhasilan yang lainnya 2. Keseimbangan adalah tingkat bargaining power dan keluasan pengambilan kesempatan berperan yang relatif sama antar tiga subkultur apada suatu saat. dan timbul-tenggelam (NT. kesinambungan. Jika kinerja interaksi antar tiga subkultur governance berkualitas good. 2009 . adalah tingkat kelancaran proses jangka panjang interaksi antar tiga subkultur sesuai dengan norma (standar) yang (telah) disepakati bersama Referensi: Bab 4 dan Bab 6 Kybernologi 2003. keterusberlangsungan). Keserasian adalah tingkat empati (empathicability?) sikap dan harmoni kinerja tiga subkultur yang berbeda-beda. Bagian Tiga Bab VIII Kybernologi Sebuah Scientific Enterprise. Bab III Kybernologi Sebuah Profesi. Apa yang dimaksud dengan good governance. pada suatu saat 4. Bagian Pertama Bab 4 dan Bab 9 Kybernologi Beberapa Konstruksi Utama. Keselarasan adalah tingkat ketepatan waktu dan arah tiga subkultur pada tujuan bersama jangka panjang. sesuai dengan hukum rantai yang menyatakan bahwa kekuatan sebuah rantai sama dengan kekuatan matarantainya yang terlemah 3. Dinamika adalah tingkat kecepatan dan ketepatan perubahan (adaptabilitas) hubungan antar subkultur dari kondisi heterostasis ke homeostasis dan sebaliknya/selanjutnya 5.perilaku atau acting. 2007. 2005. fluktuatif). MM dan TT). Dalam hubungan ini. Kinerja harus distandardisasi (ref. Walaupun output atau outcomenya mengecewakan. Bab II Kybernologi dan Pembangunan. dengan catatan sebagai berikut: 1. Keberlanjutan (kelestarian. Perlu diingat bahwa PIP IPDN/IIP terletak di sini. dan naikturun. tetapi jika prosesnya dapat dipertanggungjawabkan. Teori ini terkait dengan Teori Governance dan Implementasi Kebijakan. naik-turun dan maju-mundur (NT-MM). bagaimana supaya kinerja governance itu good.

8 SESI TUJUH Epistemologi Ilmu Pemerintahan: Metodologi. Sebagai alat.---| |--| | ILMU | LOGI LOGI | TIAN ---LAPANGAN---| | | | | | | | | | | | | | | | PE---DIDAKTIK---| | ---AXIOLOGI ---NGA.METODOLOGI PENELITIAN --------------. adalah metodologi.---DO. setiap ilmu dan penggunaannya oleh masyarakat melalui governance dalam berkinerja. Genealogi Metodologi tersebut sebagai berikut (Gambar 14). Metodologi Ilmu. Perbedaan antara Epistemologi dengan Metodologi terletak pada titikpandang.---|---LI. Metodologi di sini meliputi Metodologi Penelitian. dan ---KONSTRUKSI-SCIENTIFIC ---ONTOLOGI ---ILMU---| |---BOK---->ACADEMIC | | ---BAHAN BAKU-ENTERPRISE | | | | | | ---------| | | | | FIL| EPISMETO.METODOLOGI ILMU -------------| | | | | | | berfungsi: | | | | identifikasi | | | | deskripsi | | diolah diuji | | dikonBODY OF eksplanasi | D A T A -------> INFO ------> PENGE.| PENE---PUSTAKA----| | --->SAFAT---|---TEMO.------------------> ILMU | TAHUAN struksi GE (BOK) diagnosis | | prediksi(f’casting) | | eksperimentasi | direkam self-control | | diwaris| kembang| kan FENOMEN | FAKTA <---------------------. Epistemologi memusatkan perhatian pada substansi atau objek -.--| |<------------->| | | JARAN ---METODIK----| | | | | | | ---------------------NILAI-------------------| | | ----------------------------------FEEDBACK--------------------------------- Gambar 14 Genealogi Metodologi BOK Body Of Knowledge Metodologi Pengajaran Ilmu Pemerintahan.METODOLOGI PENGAJARAN <------------------------penggunaan ilmu termasuk learning process Gambar 15 Hubungan Antar Tiga Metodologi .---------->KNOWLED.

Bab X. Bab XII. Penemuan objek materia ini melalui pendekatan metadisiplin (Gambar 5 dan Gambar 6). Referensi: Bab 36 dan 35 Kybernologi 2003. knowable. Dilihat dari sisi ini. masih di angkasa Ilmu Politik. 2008. Setiap penelitian Ilmu Pemerintahan dari berbagai segi (aspek.” belum mendarat pada Ilmu Pemerintahan. karena yang dinyatakan adalah perihal kebijakan negara (politik) dan implementasinya. Gambar 11). “Tingkat kesehatan masyarakat bergantung pada (dipengaruhi oleh) implementasi kebijakan pemerintah di bidang kesehatan. dan sebaliknya dari sini ke segala segi (aspek) kemasyarakatan.” mendarat pada Ilmu Pemerintahan. Dari uraian di atas terlihat bahwa objek materia Ilmu Pemerintahan (Kybernologi) bukan negara tetapi masyarakat. dan lintasdisiplin. Bab IX. Bagian Kedua Bab 14 Kybernologi Beberapa Konstruksi Utama. Bab XVII dan Bab XIX Kybernologi Sebuah Scientific Movement. 2005. Bab 8 dan Bab 16 Kybernologi dan Kepamongprajaan. sedangkan Metodologi memusatkan perhatian pada proses bagaimana mengetahui (knower dan knowing process). Bab IX . Hubungan lebih rinci antar ketiga spesi Metodologi ditunjukkan melalui Gambar 15. dipandang tepat. Pernyataan tersebut disusul dengan pertanyaan penelitian: “Mengapa tingkat kesehatan masyarakat masih rendah?” Melalui analisis teoretik diperoleh jawaban (hipotesis): “Tingkat kesehatan masyarakat masih rendah. dan Bab XIII Kybernologi Sebuah Profesi. 2007. Bab XI. Bagian Tiga Bab II Kybernologi Sebuah Scientific Enterprise. dan tidak dalam Ilmu Politik. karena yang dinyatakan adalah apa yang dialami oleh masyarakat sebagai pelanggan pelayanan kesehatan. dan unknown). karena kebijakan (bidang) kesehatan tidak diimplementasikan dengan baik. Pernyataan “Tingkat kesehatan masyarakat masih rendah. Negara adalah objek materia Ilmu Politik.pengetahuan dan hubungannya dengan objek lainnya. arah) didaratkan pada beachhead ini. layanan publik dan layanan civil. Pernyataan masalah penelitian (problem statement) “Implementasi kebijakan (di bidang) kesehatan masyarakat tidak efektif.” Dengan perkataan lain. bahkan ruang eksakta dan humaniora. dan Gambar 10) yang disebut juga hubungan pemerintahan dengan pelanggan sebagai titiktolak utama pembelajaran (SKS. Bab 7. interdisiplin.” Quod erat demonstrandum. 2005. 2007. multidisiplin. 2006. Bab IV dan Bab V Kybernologi Sebuah Rekonstruksi Ilmu Pemerintahan. Gambar 7. Pendekatan yang digunakan adalah monodisiplin. Objek forma inilah yang membedakan sekaligus menghubungkan Kybernologi dengan disiplin (ilmu) lainnya. baik objek forma maupun objek materia (known. penempatan Ilmu Pemerintahan dalam Ilmu-Ilmu Sosial oleh Universitas Padjadjaran. Objek formanya adalah interaksi antar tiga subkultur masyarakat (governance.

Pertama kesetiaan. Penemuan nilai secara deduktif bersumber pada Filsafat Pemerintahan yang berisi berbagai buah pikiran. Gambar 16. dan norma. entitas itu adalah apa saja. nilai ekstrinsik. deduktif. dan Bab XIII Kybernologi dan Pembangunan. 2008. 2009 9 SESI DELAPAN UTS. atau membentuk nilai dari sumberdaya yang ada. Bisa terjadi. Angka 90 adalah nilai kesetiaan. dan Gambar 18 menunjukkan model identifikasi (terbentuknya) nilai secara induktif. Bab X. bernilai. Ujian klasikal terdiri dari 5 soal. asas-asas pemerintahan. kedelapan kepemimpinan. dan menciptakan sumberdaya baru. . Nilai dan asas. Gambar 17. tiap kelompok membuat tugas terstruktur tentang suatu sesi berupa sebuah makalah. merawat. Nilai sebagai inti budaya. sehingga perlu dicari azas baru sebagai alternatif azas suara terbanyak yang sudah ada. Bab VIII. yang dijadikan bahan pertimbangan dalam memilih dan menetapkan prinsip (azas) sebagai sumber nilai hipotetik untuk diuji secara empirik. ternyata bad. 10 SESI SEMBILAN Axiologi Ilmu Pemerintahan: Teori Nilai. perilaku ditimbang disepakati -->ENTITAS-------->KUALITAS--------->NILAI-------------->NORMA | bisa dipaksakan (N) | | | | | feedback N<H dievaluasi ditegakkan | ---------------N=H<--------------HASIL--------------------N>H (H) Gambar 16 Identifikasi Nilai Secara Induktif Pada Gambar 16. Gambar 16. Gambar 17. dan visionary. Bab IX. Kelas dibagi menjadi 7 kelompok. Dalam governance SKE berfungsi (Gambar 10) menambah. Misalnya PNS dengan 8 kualitasnya. Ilmu itu amaliah dan amal itu ilmiah. dan nilai ideal. Setiap tahun tiap kualitas dimonev. nilai. Bab VII. Visi pemerintahan Gambar 18.dan Bab XVII Kybernologi Sebuah Metamorphosis. kinerja seorang pejabat yang terpilih dengan suara terbanyak. Nilai intrinsik. Konstruksi tiga komponen: kualitas. tetapi angka 91 disepakati sebagai norma minimal yang harus terpenuhi agar yang bersangkutan dapat dipromosi. Setiap pemenuh kebutuhan.

” “paling-. itulah Visi (Gambar 18. “kondisi yang given” (takdir) dan relatif tidak dapat ber-(di-) ubah.” dan sebangsanya. apakah baik apakah buruk. berisi nilai intrinsik.Konstruksi visi menurut Teori Visi seperti Gambar 18. Visi itu objektif. Pasal 1 butir 12 UU 25/04 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional (SPPN) mendefinisikan visi sebagai “Rumusan umum mengenai keadaan yang diinginkan pada akhir periode perencanaan. tiada tanding. Gambar 18. Mengenvision (“melihat” dengan matahati dan mataiman) apa yang akan atau dapat terjadi 20 tahun ke depan.” “tiada banding. Envisioning dimulai juga dari Fakta tetapi bukan sisi “keberhasilan” sesaat (jangka pendek) tetapi sisi kecenderungan yang sedang berjalan (trend).<---------JADIKAN NORMA | | TIDAK DITEMUKAN | | -----------------DIPERLUKAN ASAS BARU Gambar 17 Identifikasi Nilai Secara Deduktif | | | | | | | | | | | | | | | | | | | | | | | | | | | | . sebagaimana adanya. Iklan pemikat. jika kondisi dan kecenderungan (arah perubahan) yang ada sekarang (Fakta. angka 2). Apapun yang terlihat melalui pendekatan ini.” Visi yang dibuat berdasarkan definisi itu selalu diberi nilai superlatif. 1 kiri) terus berlanjut.” “satu-satunya. Apakah yang dimaksud --------------------->FILSAFAT PEMERINTAHAN | | ASAS-ASAS (YANG ADA) | deduksi | ------------------------| | | | NORMA NILAI TERTULIS TIDAKTERTULIS | | | | ---------------| | | | | | | -->CUKUP TIDAK CUKUP | | | | | DIPERLUKAN | | NILAI BARU | ---DITEMUKAN<----UNTUK DIJA. “ter-.

Dari teori ini bersumber pokok-pokok bahasan berikut (sesi 10 dan seterusnya). J. Langeveld. Bab III Teori Budaya Organisasi. Bagian Tiga Bab VIII Kybernologi Sebuah Scientific Enterprise (2006) dan Bab I Kybernologi Sebuah Profesi (2007). yang harus dicapai? Jika yang terakhir itu artinya. Misi itu adalah jalan dan upaya mencapai tujuan yang telah ditetapkan. apa bedanya visi dengan tujuan? Gambar 18 menunjukkan perbedaan itu. KE DEPAN tujuan jangka panjang cita-cita. yg ditetapkan secara kearifan lokal sadar dan formal berda| sarkan idea dan visi 4 3 IDEA----------------------C--------------------->GOAL | S4R4 | b HARAPAN | | S3R3 | D 20 tahun E arah B MISI | S2R2 | | a MASALAH | | S1R1 | FAKTA SEKARANG-----------------A--------------------->VISI 1 dua puluh tahun 2 kecenderungan internal apa yg terlihat bila & eksternal. Goal (tujuan) adalah rumusan formal yang ditetapkan sebagai respons terhadap visi yang terlihat (penglihatan) jauh di depan. obsesi masy.dengan “yang diinginkan” dalam definisi itu? Mimpi? Angan-angan? Simbol belaka? Atau sesuatu yang mengikat (formal). IPDN/IIP . Demikian pentingnya misi itu sehingga mendapat julukan mission sacre. Bab 37 Kybernologi 2003. Menuju Ke Pemikiran Filsafat. Kepamongprajaan sebagai superstruktur profesi pemerintahan melalui pendekatan lintas sektoral bermula pada Visi. Duabelas nilai kepamongprajaan di dalam governance (Gambar 19). R rezim 5 tahunan) Referensi: Bab VII M. kondisi yg keadaan berjalan menutakberubah dan takbisa rut fakta sekarang diubah (takdir) (terminal 1) Gambar 18 Teori Visi Tujuan Jangka Panjang Berisi Nilai Ideal Melalui Envisioning Pemerintahan (Menggunakan Pola UU 25/04 dan UU 17/07) Kebijakan Jangka Panjang 20 Tahun (S strategi. 1957. 2005 11 SESI SEPULUH Axiologi Ilmu Pemerintahan: Kepamongprajaan.

. Tentang hal ini. UMUM | | | | | | | | | --------------TEOLOGI TEKNOLOGI------------CIVIL *KYBERNOLOGI KETUHANAN? Gambar 19 Duabelas Nilai Kepamongprajaan. .didirikan untuk membentuk tenaga-tenaga pemerintahan yang berkualitas kepamongprajaan ini. van Poelje dalam Pengantar Umum Ilmu Pemerintahan (1959) menyatakan: -------------------------------KYBERNOLOGI------------------------------| | (ILMU PEMERINTAHAN BARU) | | | | | | | | | | | KEAHLIAN KEAHLIAN | | DI BIDANG----------GENERALIS----------DI BIDANG | | PEMERINTAHAN | PEMERINTAHAN | | | | | | | | | | | | PROFESI | PROFESI | | BIDANG PE| BIDANG PE| | MERINTAHAN | MERINTAHAN | | | --------------------| | | | | vooruitzien | | | TEOLOGI PEMERINTAHAN | conducting | PEMERINTAHAN TEKNOLOGI PEMERINTAHAN DAERAH | coordinating | DAERAH PEMERINTAHAN | | | peace-making | | | | | | residue-caring | | | | KEBIJAKAN | turbulence-serving | KEBIJAKAN | |--------------BIDANG-----|---KEPAMONGPRAJAAN---|-----BIDANG--------------| | KEAGAMAAN | Freies Ermessen | PEKERJAAN UMUM | | | | gen & spec function | | | | | | omnipresence | | | KYBERNOLOGI* KEPALA KANTOR | responsibility | KEPALA DINAS KYBERNOLOGI KEBERAGAMAAN AGAMA |magnanimous-thinking | PEK. Kepamongprajaan Sebagai Superstruktur Berbagai Profesi Sektoral Pemerintahan Hubungan Antara Kybernologi Dengan Ilmu-Ilmu Lain Dalam Hal Ini Teologi Dua Hibrida yaitu Teologi Pemerintahan dan Kybernologi Keberagamaan (KeTuhanan?) . . . bahwa berbagai ilmu pengetahuan yang bertalian dengan salah satu bagian dari penguasaan (beheer) perusahaan partikelir pada akhirnya bermuara pada suatu ajaran perusahaan umum (algemene bedrijfsleer) yang meliputi kesemuanya dan bahwa ajaran . UMUM | | | statesmanship | | | | | --------------------| | | PROFESI | PROFESI | | BIDANG | BIDANG | | KEAGAMAAN | PEK. . UMUM PEK. UMUM | | | | | | | | | | | | KEAHLIAN | KEAHLIAN | | DI BIDANG----------SPESIALIS----------DI BIDANG | | TEOLOGIA PEK.

” Korupsi). Asas (Principles. bukanlah inovasi. Referensi: Bab XIII Kybernologi Sebuah Charta Pembaharuan. cermin dibelah”) dan membuat cermin baru. Membanting cermin pada saat muka terlihat buruk (“Buruk muka. dan Gambar 18. Bab 1 dan Bab 7 Kybernologi Sebuah Metamorphosis. Wisdom). Bab 4. . Beginselen). 2008. 2009. Bab 5. 2007. Bab XIV Kybernologi dan Pengharapan. Nilai. Berbeda dengan konstruksi kebijakan menurut Ilmu Politik. 2007. 2008. dan Bab 6 Kybernologi dan Kepamongprajaan. Bab 2. Kearifan (Kebijaksanaan. ialah Ilmu Pemerintahan (Bestuurskunde. Bestuurswetenschap) yang aksiologi utamanya di Indonesia adalah Kepamongprajaan (Gambar 19). Kebijakan dalam ruang governance sebagai penyelenggaraan otonomi masyarakat (daerah). Bab VI Kybernologi Sebuah Profesi. Bijak sini. dan “Kebijaksanaan” (“Bijak sana. Bab XX Kybernologi Sebuah Scientific Movement. 12 SESI SEBELAS Axiologi Ilmu Pemerintahan: Kebijakan (dalam bahasa UU 32/04: Penyelenggaraan) Pemerintahan. Kebijakan (Policy). konstruksi kebijakan dalam Kybernologi terlihat melalui Gambar 20. itulah inovasi (“Buruk muka. Ia diletakkan di dalam bingkai (frame) invention dengan scientific policy policy im----->RESEARCH----------->INVENTION----------->POLICY-----------------| enterprise making (input) plementation | | | | | |----------------------------with or without----------------------------| | | | | | I<O moniscientific | ------FEEDBACK<---I=O----EVALUATION<---------INNOVATION<--------------I>O toring (output) movement Gambar 20 Model Axiologi Kybernologi Melalui Kebijakan innovation. 2007. Gambar 17. Lihat juga Gambar 16.tentang penguasaan perusahaan-perusahaan partikelir ini setidaktidaknya untuk sebagian merupakan syarat bagi adanya ilmu pengetahuan yang lebih tinggi daripadanya. Konsep-konsep terkait: Filsafat. Bab 1. Menemukan cara membenahi muka buruk sehingga menjadi baik. muka dibenah”).

MON monitor. Jika dilihat dari pendekatan sistem.komunikasi penggunaan -. Jika pada aras statal pertimbangan politik yang dominan. dan Bab VII Kybernologi Sebuah Charta Pembaharuan. Bagian Pertama Bab 5 Kybernologi Beberapa Konstruksi Utama. Terminal dan rute sepanjang siklus atau sirkel pemerintahan bersifat kritikal. Referensi: Bab 6 dan Bab 37 Kybernologi 2003. guna | ---. Diharapkan dengan demikian. IP input. 5LK lingkungan sebagai pelanggan. hanya perencanaan yang diutamakan) dalam satu peraturan. maka Manajemen Pemerintahan 20 tahunan sebagai Gambar 22. Birokrasi. EV evaluasi. OC outcome. organizing. FB feedback Di dalam Manajemen Pemerintahan terletak Manajemen Pembangunan. actuating. . Administrasi Publik.FB <----b=g---. Bab 7 dan Bab 8 Kybernologi Sebuah Metamorphosis. 2008 13 SESI DUABELAS Axiologi Ilmu Pemerintahan: Manajemen Pemerintahan. lingkaran) sesuai dengan hukum sistem.Policy implementation diberi kekuatan lanjutan research sebagai scientific movement. Bab VI.HEV <-----------. Manajemen Pemerintahan tidak linier atau terpotong-potong mengikuti rezim politik. daerah). (seharusnya) pertimbangan manajemen semakin dominan. merupakan tiga sisi atau dimensi Implementasi Kebijakan dari berbagai sudut pandang. semakin ke bawah (masyarakat. dan controlling) diatur setara (jangan seperti sekarang. 2007. TP throughput. tetapi siklik (cyclic. 1 a 2 b 3 c 4 d 5 ---> LK ------------> IP ------------> TP ------------> OP ------------> LK --| info kebijakan implementasi “marketing” | | distribusi | | | j -. HEV hasil evaluasi.EV -------------MON <-------------OC --10 b>g 9 h 8 g 7 f 6 i Gambar 21 Manajemen Pemerintahan 1LK lingkungan sebagai sumber. Manajemen Pemerintahan seperti Gambar 21.. Bab III. 2007. Jika digabung dengan Gambar 18. Oleh sebab itu seluruh terminal dan rute manajemen terkait (planning. proses OP output.e | | | | | b<g pembandingan pantauan manfaat. berulang) atau sirkuler (circular. Bab 12 Kybernologi Sebuah Scientific Movement. 2005. Lihat Gambar 10. dan Manajemen. bukan kekuasaan politik tetapi premises ilmupengetahuan dan teknologi yang memegang peranan penting dalam peningkatan kesejahteraan masyarakat.

. Bab 13.(her-) self. kehematan. Dalam hubungan itu. dan efisiensi. Bab II Kybernologi dan Pembangunan. Penyebab kemandulan dan kepincangan itu terletak di hulu (keringnya Filsafat dan lemahnya teori) dan di hilir (miskinnya Seni praktik atau implementasi: “Benar. Ruangnya dalam Model 2 Gambar yang sama. “how to get things done through the leader him.” Selanjutnya Teknik dan Teknologi Pemerintahan menunjukkan kemahiran. . 2008. Bagian Pertama Bab 5 Kybernologi Beberapa Konstruksi Utama. . xxvi): “Every science begins as philosophy and ends as art. Bab X Kybernologi Sebuah Scientific Movement.” demikian keluhan berbagai kalangan. . namun. dan Bab 14 Kybernologi 2003. kepemimpinan adalah seni. tetapi. 2008 14 SESI TIGABELAS Axiologi Ilmu Pemerintahan: Seni Pemerintahan dan Teknologi Pemerintahan.” Proposisi Durant ini menerangkan mandulnya suatu ilmu dan pincangnya hubungan antara teori dengan praktik. O orientasi 20 ke depan K1234 = kinerja R1R2R3R4 selama 20 tahun (expected output. bulat) 0 – 20 rel (landasan) jangka panjang Gambar 22 Manajemen Pemerintahan Berskala Jangka Panjang (20 Tahun) UU 25/04 dan UU 17/07 Referensi: Bab 10. . Bab 12. Gambar 23.” Seni Pemerintahan menunjukkan upaya penumbuhkembangkan kreativitas dan efektivitas. “Ah. . . itu sih teori. Pentingnya Seni (dan Teknologi) diungkapkan oleh Will Durant dalam The Story of Philosophy (1956. Bab 13. Ruangnya dalam Model 1 Gambar 23. . dan Bab 17 Kybernologi dan Kepamongprajaan.R1 R2 R3 R4 O---5---|---5---|---5---|---5-->20 rel (runway) jangka panjang | | | | R1 O-------|-------|-------|------>20 | | | | R2 O-------|-------|-------|------>20 | | | | R3 O-------|-------|-------|------>20 | | | | R4 O-------K1------K2------K3----->20 | K4 R rezim 5 tahunan. Kombinasi Model 1 dengan Model 2 menghasilkan Model 3.” “Setuju. 2007. 2005.

Bab 19. kewajiban tumbuh sejajar dengan pertanggungjawaban (kemampuan bertanggungjawab). kons konstan (seadanya). Jadi bukan “disumpah. Perbedaan dan kaitan antara Etika dengan Moral: Pertimbangan Moral berlangsung dalam masyarakat. insan kamil) sendiri. Etika Pemerintahan adalah Etika Otonom. sanksi pelanggaran dan reward penaatannya bersumber dari diri sendiri.kreativitas efektivitas | | Ikons-----1---->Omaks<--| | -------------->3-------------| | -----Imin------2---->Okons | | kemahiran kehematan efisiensi Gambar 23 Seni Pemerintahan dan Teknik Pemerintahan I input. dan 34 Kybernologi 2003. hati nurani. 15 SESI EMPATBELAS Axiologi Ilmu Pemerintahan: Etika Pemerintahan. O output. dan Etiket Pergaulan Politik/Diplomatik adalah aplikasi Etika Pemerintahan. yang terbentuk sejak dalam kandungan. min minimum Referensi: Bab 12. Bab 30. Iblis bisa bercahaya seperti Malaikat. Seperti telah dikemukakan. sementara sanksi dan reward Moral dari masyarakat.” Kode Etik Profesional. Teori Tanggungjawab menurut Herbert J. Serigala berbulu Domba.” tetapi “bersumpah. Bab I Kybernologi dan Pengharapan (2009). dan Musang berbulu Ayam. . sedangkan pertimbangan Etik berlangsung di dalam kalbu (lubuk hati. Dengan pegangan Moral saja. ada Hak Asasi dalam arti bawaan. Spiro dalam Responsibility in Government (1969). maks maksimum. Kunci Etika Pemerintahan terletak pada pertimbangan etik dan pertanggungjawaban etik (Terminal 6 dan Terminal 10 Gambar 24). tetapi tidak ada Kewajiban Asasi dalam arti itu. Tetangga Etika Pemerintahan adalah Teologi Pemerintahan. hati sanubari.

2007. Reformasi Pemerintahan lebih sebagai fungsi ketimbang momentum. konsisten. Bab 2. 2008. dinyako & konsekuensi takan secara terbuka ditanggung sendiri Gambar 24 Etika Pemerintahan (1 sd 11 Terminal) Referensi: Bab 15 dan Bab 16 Kybernologi 2003. Bab III dan IV Kybernologi dan Pengharapan (2009) 16 SESI LIMABELAS Penguatan Tiga Subkultur Governance: Reformasi Pemerintahan. dan Bagian Tiga Bab XVI Kybernologi Sebuah Scientific Enterprise. 2005. Reformasi Pemerintahan bertujuan membangun .-------orang lain. lu. Bab 4. Bagian Pertama Bab 7 Kybernologi Beberapa Konstruksi Utama.sumpah bernazar | perjanpengakuan membayar tebusan | jian credo kesediaan berkorban | commitment selfmengaku bersalah | | commitment mengundurkandiri dari jabatan | | | mengasingkandiri | | agar mengimenyakitidiri | | kat. dan akumulatif. 2006. jelas nurani kebebasan memi| | lih. risi. artinya berjalan terusmenerus. dan Bab 5 Kybernologi Sebuah Metamorphosis.nerangi norma dlm kalbu | | yg-wajib hidup as. kesepakatan | | | | 10 9 8 7 | | 11 pertanggungperilaku tindakan keputusan | ----etikalitas<----------jawaban<-------etik<------etik<----------etik<-------| etik | | | | | | | menaati kadar | --kinerjaberprakarsa keetikan sanksi etik* | berjanji* | | | | | ----------merasa malu | | | merasa bersalah | pada pada menyesal | orang diri mohon maaf | lain sendiri mohon ampun | | | janji bertobat | | nazar. Bab 3. Bagian Dua Bab II dan Bab III. perlu bersumpah | | disaksikan mengorbankandiri | | | bunuhdiri | ----------*setiap commit| | dikontrol | ment atau janji | ---dibandingkan---harus disertai | kesenjangan ditedievaluasi sanksi yg mengikat | rangkan setulus & | diri sendiri dan --sejujurnya. Bab XV Kybernologi Sebuah Scientific Movement.1 2 3 4 5 6 ----->apakah------>kualitas--->nilai--->norma--->kesadaran---->pertimbangan---| etika? dasar etik etik etik etik etik otonom | | etika otonom | | | | | | | etika heteronom yg-benar guna tertanam norma mediskusi antar | | yg-baik dlm kuat.

Secerdas apapun sebuah temuan ilmiah. ia menjadi biropatologik. Bab I dan Bab II Kybernologi Sebuah Profesi. Bab 8 Kybernologi Sebuah Metamorphosis. 2006. Teori Politik. politisi) menyalahgunakannya. Bagian Dua Bab I dan Bab IX Kybernologi Sebuah Scientific Enterprise. Bab 13. Bab 12. yaitu grand theory yang mencakup semuanya. nilai. Bab VI dan Bab XII Kybernologi dan Pembangunan.” Referensi: Bab 9 Kybernologi 2003. tidak berguna. 2005. jika pengguna (politik. Sosiologi dan Ilmu Hukum. Reformasi Pemerintahan berarti reformasi lingkungan pemerintahan yang terdiri dari Politik (Negara). 2009 . Bab 14. dan inovasi Birokrasi itu sendiri. Grand theory yang dimaksud adalah Teori Hubungan antara Negara dengan Manusia (Gambar 4). Oleh sebab itu. Diperlukan bangunan teori yang lebih tinggi. Dalam hubungan itu fenomena birokrasi tidak cukup diterangkan hanya oleh Teori Kebijakan Publik. Sesehat dan sekuat apapun Birokrasi. 2007. “power tends to corrupt. Birokrasi itu ibarat sebuah mobil. Bab 2. Manfaatnya bergantung pada penggunanya. 2007. dan Bab 15 Kybernologi Sebuah Scientific Movement. Memang. info. Ilmu Pengetahuan. Hubungan itu berturut-turut berisi public choice. Bagian Kedua Bab 18 Kybernologi Beberapa Konstruksi Utama. dan kontrol di hulu dan di hilir. pada aras makro. Menurut teori itu terjadi hubungan timbal-balik antara keduanya.POLITIK (NEGARA) | | public choice waktu | ruang | SUMBER-SUMBER----nilai----PEMERINTAHAN----informasi----ILMUPENGTAHUAN teknologi | sumberdaya | kontrol di hulu dan kontrol di hilir | | MASYARAKAT PELANGGAN Gambar 25 Lingkungan Pemerintahan Pemerintahan yang sehat dengan mencegah sejauh mungkin pemerintahan yang sakit. Sumber-sumber. Bab IX Kybernologi Sebuah Charta Pembaharuan. 2007. 2008. kalau tidak digunakan. dan Masyarakat (Gambar 25).

UAS juga terdiri dari ujian klasikal dengan 5 soal. Untuk itu kelas dibagi menjadi 7 kelompok.17 SESI ENAMBELAS UAS. tiap kelompok mambahas satu sesi kuliah. Sama seperti UTS. 1112081144 1212081427SDGORODTG 1312081506 1912081058 0401091050 0801091014SDGOROTDUSADS 3103090818SDG 0904090953SDG 1104091755SDG . Distribusinya menggunakan undian. dan tugas struktural bagi tiap kelompok.

. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 20 | | AXIOLOGI | | 9 | Teori Nilai . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .RINGKASAN ----------------------------------------------------------------------| SESI | URAIAN HALAMAN | |-----------------------------------------------------------------------| | 1 | Penjelasan Umum . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 11 | | 6 | Teori Kinerja . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 25 | | 13 | Seni dan Teknik Pemerintahan. . . . . . . . 16 | | 7 | Metodologi. . . . . . . . 5 | | EPISTEMOLOGI | | 3 | Teori Kebutuhan . 24 | | 12 | Manajemen Pemerintahan. . . . . . . . . . . . . . . . . . . 6 | | 4 | Teori Pelayanan . . . . . . . . . . . . . . 20 | | 10 | Kepamongprajaan . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 2 | | | Sejarah Pengajaran Ilmu Pemerintahan di Indonesia | | ONTOLOGI | | 2 | Ontologi Ilmu Pemerintahan. . . . . . . . . 26 | | 14 | Etika Pemerintahan. . . . . . . . . 8 | | 5 | Teori Governance. . . . 22 | | 11 | Kebijakan Pemerintahan. . . . . . 18 | | 8 | UTS . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 28 | | 16 | UAS . . . . . . . . . . . . . 30 | ----------------------------------------------------------------------- . 27 | | 15 | Reformasi Pemerintahan. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .

Semakin . . Kegamangan itu terlihat pada hubungan antara pusat dengan daerah. Magister S2. SU. Jika Kybernologi berbentuk body-of-knowledge (BOK. dan Doktor S3). Muh. Muchlis Hamdi. . SU. Kepamongprajaan yang pamornya timbul tenggelam selama seratus tahun terakhir. MPA. disiplin. prof.” dilanjutkan pada pukul 224923: “Benar.” Apakah ini berita jurnalistik yang setelah dibaca menjadi basi dan dilupakan orang? Atau lanjutan sejarah? Di dalam sistem kurikulum IPDN terbaru (Peraturan Rektor IPDN tgl 15 September 2007 No. Ilmu Pemerintahan (secara implisit Kybernologi) sebagai core curriculum IPDN pada tingkat institut (dijadikan menu semua fakultas dan jurusan) diajarkan sebelum core curriculum institut lainnya yaitu Kepamongprajaan.’ ujar Mardiyanto” (Menteri Dalam Negeri). Segera saya melaporkan berita itu via SMS kepada beberapa pejabat yang berkompeten. Dr Tjahya Supriatna. 895. buat sebagai dasar keilmuan pembentukan IIP Regional. Pukul 082337 pagi itu anak saya Pram mengonfirmasi berita itu pada saya seraya menanyakan ilmu apa yang dimaksud. Informasi dari pak Khasan Effendy (IPDN) pukul 112207 tentang ilmu apa yang dimaksud: “Pemahaman saya pembaharuan dan pengembangan Ilmu Pemerintahan salah satunya Kybernologi.5-273 Tahun 2007. sebuah Bidang Kajian (field of study). dan jejaknya nyaris lenyap disapu perubahan zaman. seorang pejabat Badan Diklat Depdagri tgl 121007 pukul 223338 diperoleh info: “Benar. Kaloh. bagaimana dengan Kepamongprajaan sebagai matakuliah baru? Apakah hanya seperangkat teori seperti Teori-Teori Pembangunan. antara lain Plt Kepala Badan Diklat Dr H. MSi. drs.GBPP MATAKULIAH KEPAMONGPRAJAAN Taliziduhu Ndraha. 15 meluncurkan berita berjudul “Presiden Ubah IPDN Menjadi IIP. Kita jadikan proposal yg prof.” Dari 08159676440. dan Prof. Marwan. kembali menarik dengan semakin gamangnya penyelenggaraan Negara dan pemerintahan di tanahair. Plt Rektor IPDN Dr J.” Di kiri bawah terdapat tulisan: “‘Di IIP ada tambahan ilmu baru sebagai pendukung dalam aspek pemerintahan. Prof. ilmu) dan derajat akademiknya bulat (Sarjana S1. prof. atau sebuah topik Seminar? Yang jelas. Diubah Kepamongan. .” dengan subjudul “Sistem Pengasuhan Dihapuskan. Yang beliau maksudkan adalah Kybernologi dan Kepamongprajaan. PhD. . Kybernolog 1 LATARBELAKANG Kompas 11 Oktober 07 h. seperangkat Kebijakan dan Peraturan.

Jadi “pamongpraja” sesungguhnya identik dengan “pemerintah” dan “pemerintahan. bagaimana dengan pendapat Bayu Surianingrat dalam Pamong Praja dan Kepala Wilayah (1980) yang membedakan pamongpraja dalam arti luas dan pamongpraja dalam arti sempit? Keempat. tidak saling membunuh seperti disangka orang? Di samping kegamangan. kota. dan apa manfaatnya? Apakah hal itu menunjukkan bahwa sesungguhnya di atas panggung yang sama yang satu memerlukan yang lain. penyelenggara. Pamudji. pada tahun 2030 menjadi nomor lima terbesar sedunia. Di zaman berlakunya UU 5/74. mengapa dijadikan dua matakuliah yang berbeda? Kedua. sedangkan “pamong” berarti pengasuh. Saya menemukan Drs S. semakin otoriter Negara. baik sebagai berita maupun sebagai pustaka. Semakin luas otonomi daerah. selagi semua orang asyik menikmati tidak kurang dari sepuluh hari libur bersama. Pidato itu menunjukkan bahwa pembentukan IIP dijiwai oleh semangat Kepamongprajaan. Dokumen pemikiran tentang Kepamongprajaan periode 70-80-an diwakili oleh Drs Bayu Surianingrat.dominan politik dekonsentrasi terhadap desentralisasi. walau terundung alergi debu. Pamong Praja dan Kepala Wilayah. “Membina Dinas Pamong Praja ke Arah Dinas Karier Dalam Administrasi Negara. kalau pemerintahan itu identik dengan pamongpraja. didorong oleh curiosity seadanya. 1980.” dalam Berita IIP No. Negara.” Kalau kedua konsep itu mengandung arti yang sama. semakin melembaga kepamongprajaan. adakah dan jika ada di manakah terletak perbedaan signifikan antara Kybernologi dengan Kepamongprajaan? Kelima. bagaimana konstruksi hubungan teoretik antara keduanya? Maka sambil meraba-raba sini-sana. mengalami masa sunyi yang lama. Bab VI. apakah seluruh perangkat eksekutif atau hanya perangkat Departemen Dalam Negeri yang dapat disebut pamongpraja? Ketiga. kepamongprajaan semakin kehilangan ruang hidupnya. sebuah dokumen akademik yang 40 tahun kemudian dimuat dalam Kybernologi: Sebuah Profesi. pusat terhadap daerah. saya membolak perpustakaan dan menjelajah warisan berbentuk huruf dan kalimat. semakin berkuasa kekepalawilayahan ketimbang kekepaladaerahan. Kepamongprajaan. “Praja” berarti kerajaan. sampai tahun 2004 ketika Forum Komunikasi Alumni IIP . di negeri yang menurut ramalan ulamapedagang politisi-birokrat buruh-cendekiawan.” seperti “government” yang dapat diartikan “pemerintah” dan juga “pemerintahan. MPA. pilek dan flu. apa maknanya. yaitu Pidato Ilmiah pada Hari Wisuda Alumni APDN Malang dan Peresmian IIP tgl 25 Mei 1967 di Malang. Sesudah itu. Pertama. 2007. Mungkinkah sebuah lembaga mengadvokasikan otonomi seluas-luasnya dan pada saat yang sama membuka ruangan bagi kepamongprajaan? Bagaimana hal itu bisa terjadi. muncul beberapa kebingungan. 21 Tahun 1971.

G. Dr Ateng Syafrudin. Bab XX. “Kepamongprajaan Ditinjau Dari Perubahan Paradigma Pendidikan dan Peranan Pemerintahan Umum” (5-2006). dan “Kepamongprajaan: Fungsi dan Peran Pamongpraja Dalam “Era Otonomi Daerah.” dilengkapi dengan sejumlah bahan yang lebih tua dan otentik mewakili zamannya. Kepamongprajaan terlihat di panggung bernama Negara dengan pemerintah sebagai aktornya. menyajikan makalah tentang “Ilmu Pemerintahan Dalam Konteks Kepamongprajaan. Saya juga tergerak untuk menulis beberapa makalah. namun “praja” dalam hubungan itu lebih sebagai sukunama ketimbang sebuah makna.” dalam Kybernologi: Sebuah Charta Pembaharuan. 2007. 2007. Memang. IPDN menyelenggarakannya Seminar Nasional Dalam Konteks Kepamongprajaan di kampus Jatinangor pada tgl 22 September 2007. Dr Lexie M.” disiapkan untuk Seminar di Kabupaten Landak Kalimantan Barat pada tgl 26 Oktober 2007. 20 Mei 1963. Sama seperti titian yang saya gunakan tatkala saya akhirnya menemukan Kybernologi. Dalam Jurnal Pamong Praja terdapat beberapa artikel yang nadanya sama. saya mencoba melengkapi pendekatan deskriptif dan normatif yang digunakan oleh para penulis di atas. Bab XIII. 43 Tahun 2005 tentang Statuta IPDN. dan Hyronimus Rowa. Pamudji. menulis Pamong Praja. “Pamongpraja Sebagai Golongan Karya Pemerintahan Umum. SH. 2004). yang menyatakan bahwa IPDN adalah lembaga pendidikan pamongpraja. kembali saya menggunakan pendekatan metadisiplin (Ontologi). “Kepamong-prajaan” dalam Kybernologi: Sebuah Scientific Movement. terbitan Program Pascasarjana IPDN. berkisar pada masalah pendidikan pamongpraja. Kybernologi mempelajari bagaimana memulihkan Manusia dari korban dan mangsa menjadi . Giroth. MSi. Guna mengantisipasi kemungkinan untuk menjadikan Kepamongprajaan sebagai matakulian di IPDN. dipertegas dalam Peraturan Menteri Dalam Negeri No. dengan mengembangkan sisi teoretik tulisan guru saya S.” Bandung 20 Mei 1963. SIP. Kybernologi dan Metakontrologi (2005). Kybernologi bermula dari Manusia dengan kebutuhannya sebagai fakta di panggung dunia. perhatian terhadap Kepamongprajaan terus mekar. Djopari. Azis Haily.” Bandung. Dalam seminar itu Prof. dengan titiktolak yang berbeda. Maka lahirlah “Memorial Lecture Ilmu Pemerintahan: Kepamongprajaan Dalam Sistem Pemerintahan. “Sejarah Pendidikan Pamong Praja di Indonesia” (7-2007). Dipacu oleh terus digunakannya nama “pamong” oleh STPDN dan kemudian IPDN. dan “Jabatan Pamongpraja (Dahulu Pangrehpraja) Dalam Penelitian Antropologi Budaya dan Hukum Adat. dari bahan-bahan yang amat sangat terbatas. sejak tahun 80-an IIP menerbitkan majalah Widyapraja.menerbitkan Jurnal Pamong Praja. “Pendidikan Pamong Praja di Indonesia” (1. Misalnya John R. IPDN sendiri tidak tinggal diam.

UMUM | | | | | | | | | --------------TEOLOGI TEKNOLOGI------------CIVIL *KYBERNOLOGI KETUHANAN? **generalist&specialist function Gambar 1 Sistem Nilai Kepamongprajaan dan Hubungannya dengan Ilmu Pengetahuan . Lebih padat-nilai (Axiologi) ketimbang -------------------------------KYBERNOLOGI-------------------------------| | (ILMU PEMERINTAHAN BARU) | | | | | | | | | | | KEAHLIAN KEAHLIAN | | DI BIDANG----------GENERALIS-----------DI BIDANG | | PEMERINTAHAN | PEMERINTAHAN | | | | | | | | | | | | PROFESI | PROFESI | | BIDANG PE| BIDANG PE| | MERINTAHAN | MERINTAHAN | | | --------------------| | | | | vooruitzien | | | TEOLOGI PEMERINTAHAN | conducting | PEMERINTAHAN TEKNOLOGI PEMERINTAHAN DAERAH | coordinating | DAERAH PEMERINTAHAN | | | peace-making | | | | | | residue-caring | | | | KEBIJAKAN | turbulence-serving | KEBIJAKAN | |--------------BIDANG-----|---KEPAMONGPRAJAAN---|------BIDANG--------------| | KEAGAMAAN | Freies Ermessen | PEKERJAAN UMUM | | | | gen&spec function** | | | | | | omnipresence | | | KYBERNOLOGI* KEPALA KANTOR | responsibility | KEPALA DINAS KYBERNOLOGI KEBERAGAMAAN AGAMA |magnanimous-thinking | PEK. dan subkultur pelanggan (SKP) suatu governance. Derajat akademik bahan ajaran (didaktik) Kepamongprajaan berada pada tingkat mezzo (meso-). Dilihat dari pendekatan tersebut. subkultur kekuasaan (SKK). UMUM | | | statesmanship | | | | | --------------------| | | PROFESI | PROFESI | | BIDANG | BIDANG | | KEAGAMAAN | PEK. UMUM PEK. melalui interaksi subkultur ekonomi (SKE). Manusia dengan Negara berinterface pada situs SKK bernama Kepamongprajaan. Kepamongprajaan mempelajari SKK seperti apa yang diharapkan bersinerji dengan SKE dan SKP sedemikian rupa sehingga kinerja governance yang bersangkutan berkualitas good (good governance).consumer. seperti fitrahnya semula sebagai ciptaan ALLAH. UMUM | | | | | | | | | | | | KEAHLIAN | KEAHLIAN | | DI BIDANG----------SPESIALIS-----------DI BIDANG | | TEOLOGIA PEK.

dan pengembangan Bab XIV Kybernologi dan Pengharapan (2009). bagaimana governance terbentuk. pembangunan itu sendiri berada di dalam policy implementation di ruang SKE). diterangkan melalui Teori Governance. tidak mengurangi derajat akademiknya. Bahannya diambil dari Sesi Lima GBPP Ilmu Pemerintahan (Kybernologi).padat-teori. 3 dan 4. subkultur kekuasaan (SKK). modifikasi bahan yang pernah diterbitkan dalam Bab 6 Kybernologi dan Kepamongprajaan (2008). Menurut Teori Governance. setiap masyarakat (unit kultur) digerakkan oleh tiga subkultur. dan subkultur sosial (SKS). bahkan posisinya sebagai lembaga pendidikan tinggi kepamongprajaan dikukuhkan. harus berangkat dari Sistem Nilai Kepamongprajaan ini. 2 SESI SATU Pemerintahan. maka Kepamongprajaan sebagai bahan-ajaran merupakan salah satu komponen Kybernologi pada sisi Axiologi. Bagaimana masyarakat melindungi dan memenuhi kebutuhannya melalui interaksi tiga subkultur itu. Jika “pengasuhan” dihapus dari panggung metodik (lihat Bab IX Kybernologi: Sebuah Profesi). bagaimana subkultur bekerja (berinteraksi) dan berkontrol satu terhadap yang lain. sebagai berikut. yaitu subkultur ekonomi (SKE. Kebijakan Presiden (Perpres 1/09 tgl 12 Januari). Mengingat governance merupakan Epistemologi Ilmu Pemerintahan. Berdasarkan uraian di atas. sesuai Tabel 1 Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah ----------------------------------------------------------------------------PENGATURAN PENGURUSAN MONEV DAN FEEDBACK ----------------------------------------------------------------------------1 DPRD -DPRD 2 KEPALA DAERAH PEMERINTAH DAERAH -(PEMERINTAH DAERAH) ----------------------------------------------------------------------------- . pada semester sesudah Kybernologi diajarkan. Bahan ini didahului dengan pembahasan singkat Teori Nilai (Sesi Sembilan GBPP Ilmu Pemerintahan). Kebijakan otonomi Daerah berdasarkan UU 32/04. maka apapun substitusinya. Pasal 1 butir 2. disusunlah 14 butir GBPP KepamongPrajaan (+ UTS dan UAS = 16 sesi) tentatif. untuk tetap menggunakan nama IPDN dan tidak IIP seperti dijanjikan 15 bulan yang lalu. Inilah dasar peletakan Kepamongprajaan dalam sistem kurikulum IPDN.

Dalam Gambar 1 terlihat juga bahwa konsep pemerintahan lebih luas daripada konsep pembangunan pemerintahan. ----------------------| NEGARA | 2 3 -----mengontrol---------mengontrol-----| memberdayakan | | membayar | | | | | | | | | | | | mengontrol SKK | | | | | di hulu | | | constituent -----.SKE--------|--------->SKK----------|-------->SKS------| pemain | | | penonton | | | | wasit | pelanggan | | | | | | | mengontrol SKK | | | ----------|-|---------di hilir | | pembangunan | | | | | | | meredistribusi | | | membentuk. Subkultur Kekuasaan (SKK). Di sana dinyatakan bahwa Pemerintah Daerah (local government) bersama DPRD adalah penyelenggara pemerintahan Daerah. dan Subkultur Sosial (SKS dgn kualitas Sebagai Pelanggan dan Constituent) yang Disebut juga Subkultur Pelanggan (SKP) . Di bawah konteks pemerintahan daerah. -----| | | | mencipta nilai pelayanan public | | | | 1 (inc. Konsep governance lebih luas ketimbang konsep government. “Pemerintahan” Daerah dalam hubungan itu setara dengan local governance. pemerintahan sama dengan policy making + policy implementation + policy implementation monitoring and evaluation (Tabel 1). | | nilai via pela| | | |----meningkatkan. Penyelenggaraan itu meliputi pengaturan (lebih tepat: pembuatan kebijakan) dan pengurusan (implementasi kebijakan dan monev-nya).-----yanan civil.pemberdayaan) | | | | 4 | | | | MASYARAKAT | | | | | | | ------melayani-------5---------pasar-------| | | | MANUSIA | | | ---------------------------feedback--------------------------6 Gambar 2 Teori Pemerintahan (Governance): Interaksi Antar Tiga Subkultur Subkultur Ekonomi (SKE).dengan teori ini.

Interaksi antar subkultur masyarakat melalui tiga terminal. petarung | | | | | SBG KONSTITUEN -----. Interface itu membentuk ruang Masyarakat.| | meredistribusi<-. Lintasan gerak dari terminal ke terminal disebut rute. Sepanjang Rute 5 dilakukan pemantauan dan evaluasi redistribusi nilai (Rute 4) berdasarkan standar yang telah ditetapkan melalui Rute 3. 3. SKK.4 | | |---cipta nilai se-------nilai via pe| | | | cara berkelanlayanan civil & ----| | | | jutan pelayanan publik | | | | | | | | | | | | MASYARAKAT (PUBLIK) | | | | | | | -------melayani----------------pasar---------| | | | MANUSIA | | | ---------------------------feedback-----------------------------Gambar 3 Pemerintahan (Governance) Interaksi Antar Tiga Subkultur (Tiga Terminal SKE.Gambar 2 berawal pada Teori Ilmu Pemerintahan tentang interface antara konsep Manusia dengan konsep Negara.SKE------------------>SKK-------------------->SKS--------| “pemain” | | | SBG PELANGGAN | | | | “wasit” | | | | | | | | | | “penonton” | | | | | | | | | | | | | | | | SKS sbg pelanggan | | | | | | | mengontrol SKK via | | pembangunan | | | | monev & feedback | | | | | | | di hilir | | | ---------|-|---------| | | | | | 5 | | | | membentuk. Hasil evaluasi dijadikan masukan ke dalam Rute 3. Teknik penampilan rute ---------------------| NEGARA | | | SKK mengontrol SKS sbg konsti---dan memberdaya-----tuen mengontrol--| kan SKE via kebi. dan SKS) Via Rute 1.| | SKK di hulu via UU | | jakan & impl. | | | | 1 ningkatkan.nya | | dan PERDA | 2 | | | | 3 | | petaruh. SKK. dan 5 . me| | memberdayakan. men. 4. Gambar 3 menunjukkan 5 rute dasar interaksi. dan SKS. yaitu SKE. 2.

me| | memberdayakan. petarung | | | | | SKS “BANDAR” -----. men. 2009). dan 4 Gambar 3 menunjukkan Hubungan Pemerintahan.4 | | |---cipta nilai se-------nilai via pe| | | | cara berkelanlayanan civil & ----| | | | jutan pelayanan publik | | | | | | | | | | | | MASYARAKAT (PUBLIK) | | | | | | | -------melayani----------------pasar---------| | | | MANUSIA | | | ---------------------------feedback-----------------------------Gambar 4 Stakeholder Pemerintahan (Hubungan Pemerintahan Antara Pemerintah (SKK) dengan Yang Diperintah (SKE dan SKS) Via Rute 1. 2. | | | | 1 ningkatkan. masyarakat pemangku kekuasaan) dengan fihak Yang Diperintah . Dalam Teori Governance juga termasuk Teori Hubungan Pemerintahan (governance relations). Di sana jelas. terus ke SKS. 3.| | meredistribusi<-.SKE---------|-------->SKK----------|----->STAKEHOLDER----| ”pemain” | | | ”penonton” | | | | ”wasit” | | | | | | | | | | SKS sbg PELANGGAN | | | | | | | mengontrol SKK via | | pembangunan | | | | monev & feedback | | | | | | | di hilir | | | ---------|-|---------| | | | | | 5 | | | | membentuk.nya | | dan PERDA | 2 | | | | 3 | | petaruh. Dengan memasukkan konsep stakeholder (Bab I Kybernologi dan Pembangunan. yaitu hubungan antara fihak Pemerintah (SKK.feedback tidak terlihat pada Gambar 3 dan Gambar 4 melainkan pada Rute 6 Gambar 5 sebagai masukan buat Rute 3.| | SKK di hulu via UU | | jakan & impl. Gambar 2 mengalami modifikasi (Gambar 3): ---------------------| NEGARA | | | SKK mengontrol SKS sbg konsti---dan memberdaya-----tuen mengontrol--| kan SKE via kebi. hasil evaluasi dijadikan masukan ke dalam Rute 6 melalui terminal SKK.

peneliti bebas menentukan rute awal penelitiannya dan menandainya dengan angka 1 (pada Gambar 4. sehingga rutenya menjadi 3. 2006. Hubungan (rute) antar tiga terminal (dalam Gambar 2 terlihat empat) diperjelas (diurai) menjadi enam rute berkesinambungan. misalnya untuk rezim yang sedang berjalan. rute Nilai Berkelanjutan Untuk Hidup). 3. . Pemerintahan mengandung (bekerja pada) duabelas nilai dasar. kuasa monev thd & penepatan(trust. 5 dan 6 Tetapi untuk rezim yang baru terpilih. hope) kinerja SKK ---nya) berda. 2005. 4. 4. Bagian Tiga Bab V dan Bab XIV Kybernologi Sebuah Scientific Enterprise.| | pertanggung| | | | nilai berke| | lay civil.SKS------------SKK-| | | | | | | | | redistribusi | | | | | | | | nilai via pe. 2. Gambar 5 merupakan rekonstruksi Gambar 7-1 Kybernologi (2003.-----tuntutan. 5. berlanjut ke 3. 6. 106) tentang hubungan antara Janji (commitment) dengan Percaya (trust) dan Harapan (hope). 1. demikian terus-menerus. SKE adalah masyarakat dalam perannya sebagai Pekerja. 2. sedangkan SKS adalah masyarakat dalam perannya selaku Pelanggan dan Konstituen.-----rute 2 & 4 --| sarkan etika | | (UU. Dengan argumentasi tertentu. kembali ke 3. 4.SKE-------------. 1. 5 dan 6. Duabelas nilai dasar itu disebut Kepamongprajaan. Referensi: Bagian Pertama Bab 8 Kybernologi Beberapa Konstruksi Utama. kembali ke 2. 2 janji (kebi3 5 jakan/rencana mandat.SKK-------------. Perda) | | via rute 1 | | otonom di hulu | | di hulu | | di hilir | | | | | | | | | | . sehingga prosesnya berjalan dari 1 ke.(SKE dan SKS). | | jawaban etik | | | --lanjutan utk----pelay publik------menurut----| | hidup & pemberday etika otonom | | 1 masyarakat di hilir | | di tengah | | 4 | | | --------------------pemerintahan (governance)-------------------Gambar 5 Hubungan Pemerintahan Pemerintahan sebagai Sistem dan Proses Via Rute 1. angka 1 itu diletakkan pada rute Mandat (Gambar 5 pada rute 3).

edisi perdana Agustus 2007.Bab VI dan Bab VII Kybernologi Sebuah Metamorphosis. obsesi yg ditetapkan secara sistem nilai. dan Tantangan Ilmu Pemerintahan. bandingkan dengan Dadang Solihin. Berdasarkan UU 25/04 dan UU 17/07. dan Harapan (2008). 2007. Bab I. Idea. akan. “Visi Indonesia. 1) Gambar 6 Fakta. kesadar dan formal berdaarifan masy. ybs sarkan idea dan visi 4 3 IDEA-------------------------------------------->GOAL R7 | | 7 HARAPAN R6 | | R5 | 38 tahun R4 6 MISSION | R3 | | R2 5 MASALAH | | R1 | FAKTA SEKARANG-------------------------------------->VISION 1 tigapuluhdelapan tahun 2 kondisi yg takbisa apa yg terlihat bila diubah (takdir). Visi. Bab I Kybernologi dan Pembangunan. Visi Bangsa Indonesia di tengah dunia yang sedang berubah. ia wajib memperhitungkan dan mengantisipasi apa yang harus. Misi. Lihat juga Bab II Kybernologi dan Pembangunan KE DEPAN tujuan jangka panjang cita-cita. Teori tentang visi. Obsesi para kanselir sebelum Helmut Köhl adalah mempersatukan Jerman. keadaan berjalan menudan atau takbisa rut kondisi yg tak (sulit) berubah R = rezim berubah (fakta. Goal. Gouverner c’est prevoir. tidak hanya sebatas masa jabatan masakerja. To govern is to foresee). lihat “TOR Talkshow Visi Indonesia 2045” dalam Kybernologi: Sebuah Profesi. 2008. 2009 3 SESI DUA Nilai Satu VOORUITZIEN (lengkapnya Besturen is vooruit zien. Diuraikan posisi Indonesia di tengah perubahan global dan bagaimana visi Bangsa Indonesia dahulu dan sekarang. dan masahidup. mengembalikan Jerman pada . Karakteristik Bangsa.” dalam Kybernologi: Jurnal Ilmu Pemerintahan Baru. kendatipun masajabatan seseorang hanya lima tahun. Masalah. Jerman dan Amerika dapat digunakan sebagai ilustrasi. Mengamong adalah memandang (envision) sejauh mungkin ke depan. dan dapat terjadi minimal 20 tahun ke depan agar terjamin kesinambungan kinerja rezim yang berbeda-beda melalui rel atau runway yang sama.

tidak mungkin terjadi adanya penggusuran paksa. Tabel 2). tetapi karena perannya dalam sejarah berbeda. zaman sudah berubah. dalam sistem ketatanegaraan dan pemerintahan Indonesia. bahkan lengkap dengan fotofoto segala) menjadi harapan Amerika. Bila diperhatikan dengan saksama. Ia dijuluki The Bismarck atau Bismarck II.posisi terhormat di Eropah. seorang yang tidak dikenal secara luas. Ada tanda-tandanya. yang dibutuhkan ke depan adalah merawat dan menjaga hasil yang telah dicapai. karisma. Köhl berhasil. Ia terpilih bukan karena kegagalan Köhl. tidak ada yang mendadak. Tetapi sebaiknya hal ini tidak diperdagangkan menjadi eforia bahwa Indonesia berhasil membentuk Obama (karena ia pernah sekolah di Menteng dan tinggal di Indonesia selama empat tahun. departemen yang secara khusus berperan menjalankan misi . membebaskannya dari bayang-bayang Amerika. baik fenomena alam maupun fenomena KeTUHANAN. ambruknya Amerika Serikat di bawah Bush dan krisis ekonomi global. tidak akan ada bangunan liar. ia mengutus angin dan kilat. tetapi bahwa bangsa Amerika telah berhasil “melting. Ajaran ini juga didasarkan pada anggapan bahwa setiap perubahan berkesinambungan dan berkelanjutan. Maka Schröder-pun. pada pemilu berikutnya rezimnya tidak terpilih.” sementara ditjen Kelompok B mengelola “keBhinnekaan” nusantara. Misi Negara menjadi visi Depdagri. Kehadiran Obama dalam sejarah Amerika bertolakbelakang dengan Schröder.” sedangkan bangsa Indonesia semakin “separating. ALLAH mengutus Nabi-NabiNYA untuk membawa firmanNYA. Kendatipun demikian. sebab bangsa Jerman sadar bahwa obsesi berikutnya berbeda. kepemimpinan yang dibutuhkan Indonesia ke depan adalah kepemimpinan visioner jangka panjang dari kebangsaan ke kesebangsaan Indonesia melalui pengurangan kesenjangan vertikal antar lapisan masyarakat dan pengurangan kesenjangan horizontal antar daerah secara konsisten dan berkelanjutan sehingga pada suatu saat setiap orang berkesempatan menikmati hasil pengorbanannya (Bhinneka Tunggal Ika). terlihat dengan sangat jelas bahwa ditjen Kelompok A berfungsi sebagai fungsi lini pemerintahan yang memproses “Tunggal Ika. Misi Depdagri diidentifikasi melalui fungsi lininya (line functions. dan meningkatkan kesejahteraan seluruh Jerman. Dengan perkataan lain. ia hadir pada saat yang tepat. konon pula berkelahi memperebutkannya.” menuju “despairing. Visi dan Misi Departemen Dalam Negeri (Depdagri).” Berdasarkan uraian di atas. Jika difahami sungguh-sungguh dan arif. ada nubuatannya. menggantikannya. begitu hirarkinya. atau penduduk yang tidak memiliki akte kelahiran. Alam juga demikian. Di samping kecerdasan. Jika hal ini direnungkan. dan popularitas. Rezim yang terdahulu mewariskan jejak langkahnya kepada rezim yang kemudian. demikian seterusnya.

Bab I Kybernologi Sebuah Profesi (2007). Dua syarat pembentukan harmoni adalah kapabilitas dan akseptabilitas. dengan mengoreksi sedini dan setegas mungkin tiap “bunyi. menyimak sambutan penonton (pelanggan). guna membangun kinerja bersama semua komponen yang berbeda-beda pada sebuah unitkerja. Mengamong adalah menciptakan harmoni antar kegiatan dengan instrumen yang berbeda dan dilakukan oleh aktor yang berlain-lainan. nada” atau langkah sumbang senyaris (sekecil) apapun. mengurangi kesenjangan vertikal dan horizontal antar masyarakat secepatnya. Referensi: Kybernologi dan Kepamongprajaan. 2007. 4 SESI TIGA Nilai Dua CONDUCTING.” dan memproses kesebangsaan guna mewujudkan Bhinneka Tunggal Ika. atau memandang sesuatu sebagai bagian integral (dalam kerangka) suatu kebulatan (keseluruhan). Kesumbangan nada itu diketahui dari gap antara skenario pertunjukan dan lagu yang dimainkan. oleh conductor. memiliki pancaindera yang sensitif (peka) serta suasana hati yang cerah. Fungsi conducting memerlukan dan membentuk sikap komprehensif: memandang totalitas (keseluruhan) dulu baru bagian-bagiannya. sehingga “the people who get pains are the people who share gains. Bab II dan Bab XVII. sehingga mampu merasakan kesumbangan senyaris apapun itu . Konduktor harus menguasai skenario dan lagu. namun yang bergerak di dalam wilayah kerja atau daerah (kota) yang sama.Tabel 2 FUNGSI LINI DEPARTEMEN DALAM NEGERI -------------------------------------------------------------------------------KELOMPOK A KELOMPOK B -------------------------------------------------------------------------------1 Ditjen Kesatuan Bangsa dan Politik 1 Ditjen Otonomi Daerah 2 Ditjen Pemerintahan Umum 3 Ditjen Administrasi Kependudukan 2 Ditjen Bina Pembangunan Daerah 3 Ditjen Pemberdaayaan Masyarakat Dan Desa 4 Ditjen Bina Administrasi Keuangan Daerah -------------------------------------------------------------------------------- Pemerintahan Indonesia yaitu mengelolaan keunikan tiap masyarakat menjadi kekuatan matarantai nusantara. adalah Departemen Dalam Negeri. dengan nada atau bunyi sebagaimana terdengar oleh penonton dan terlebih konduktor.

Ketika konduktor melakukan kewajibannya membentuk dan menjaga harmoni dengan menggunakan otoritasnya. Bab 16. conducting --------->INFO----------------------->PLAN (GOAL--->TARGET T)-| (HARMONY) | | | | | ---------------------------------------------| | | | | | orchestra organizing ORCHESTRA | | ----->HARMONY-------------------------->ORGANIZATION meet? match?--| for harmony keeping | | | | | | | | ---------------------------------------------| | | | | | | | ORCHESTRA performance | | | -->ORGANIZATION--------------------->EXPECTED RESULT (R)---| | best performance | | | | | ---------------------------------------------| | | | | | controlling | | --->EXP. merespons penonton dengan penuh perhatian. RESULT---------------->R = T. Konduktor akseptabel pada aras mikro manakala ia dapat dipercaya (tatkala ia memenuhi janjinya: menaati skenario dan lagu. dalam wadah negara kesatuan (pot) terjadi melting antar tiap kekuatan yang selama ini mengklaim bahwa dia yang benar. dan pada aras makro bilamana ia sanggup menumbuhkan pengharapan dalam diri pendengar dan pemain tatkala walau lambat tapi pasti terjadi perbaikan terus-menerus: semakin berkurangnya kesenjangan vertikal antar lapisan masyarakat dan semakin berkurangnya kesenjangan horizontal antar daerah. dan melakukan koreksi tanpa pandang bulu dan tidak memihak). Bab III. mengindera bunyi dengan halus dan jelas. yang lain salah. tindakannya harus dapat diterima oleh para pemain (akseptabilitas). R < T------------------| | | | | monev | | | ? ---> R = T ---> ? | --------FEEDBACK-----------------.? ---> R > T ---> ? <------? ---> R < T ---> ? Gambar 7 Fungsi Conducting (Sebuah Masyarakat Diibaratkan Sebuah Orkestra) Referensi: Bab 6. mungkin dengan kekerasan. Bab 11. dan Bab V Kybernologi Sebuah Metamorphosis (2008) . R > T.(kapabilitas). Bab II. sehingga pada suatu saat. dan Bab 19 Kybernologi (2003).

dan petugas catering. Mengamong adalah membangun komitment bersama antar unit kerja yang berbeda-beda dalam suatu wilayah. sangat lemah. Gerak dari Kondisi Heterostasis ke Homeostasis. setiap wilayah seharusnya memiliki Kalender Pemerintahan yang meliputi jadual Koordinasi itu. sang pejabat ini “kabur” diikuti pejabat-pejabat lain. Produk rapat koordinasi lemah (tidak mengikat. Sesungguhnya koordinasi tidak dapat diprojekkan. amanat. dan sebangsanya. agar yang satu tidak merugikan tetapi mendukung yang lain. semakin diperlukan koordinasi. Koordinasi merupakan sebuah proses yang inputnya informasi. Semakin independen hubungan antara unitkerja yang satu dengan unitkerja yang lain. Di dalam ruangan sisa pegawai eselon pencatat dan pelapor. Jadi agar kesepakatan itu berkekuatan mengikat. yang berkoordinasi haruslah pejabat-pejabat yang berwenang membuat kebijakan dan mengambil keputusan. melainkan sekedar laporan) karena biasanya setelah memperdengarkan keynote speech. konsultan (pemborong). proses divergent heterostasis proses convergent homeostasis BHINNEKA kesenjangan TUNGGAL IKA proses coordinating menjamin kinerja masing-masing proses conducting menjamin kinerja bersama GAMBAR 8 Hubungan Coordinating dengan Conducting di dalam Sistem. karena terpasang (inherent) di dalam setiap tugaskewajiban seseorang. kembali ke Heterostasis. sehingga koordinasi bisa berjalan tanpa koordinator. dalam rangka mencapai kinerja masingmasing unit kerja secara optimal dalam rangka mencapai tujuan bersama secara keseluruhan. tukang parkir. dan tukang sapu. dan outputnya kesepakatan yang mengikat fihak-fihak (pejabat) yang berkoordinasi. Terus-menerus . Kata kuncinya adalah berkoordinasi. Jadi berkoordinasi itu tidak memerlukan biaya! Demikian pentingnya koordinasi ini sehingga sebagaimana halnya sebuah perguruan tinggi memiliki Kalender Akademik.5 SESI EMPAT Nilai Tiga COORDINATING. Koordinasi di Indonesia sangat.

Tidak seperti ketertiban model “sapulidi. seperti proses pemilu di Indonesia. Proses ini didorong oleh naluri primitif manusia yaitu pemenang berhak menguasai yang . Jika semakin independen hubungan antara unitkerja yang satu dengan unitkerja yang lain. lose-win). kompetisi dan perlombaan. “Exploring A Systems Approach to Development Administration. Katz. pertaruhan dan pertarungan. dan ketertiban dari “akar rumput” (grass root) ke atas oleh Pamong (Pamongdesa) terbawah melalui kesepakatan (beslissing) konsisten terus-menerus dengan warga masyarakat (via peran Pamongpraja). Referensi: Bab 14 Kybernologi (2003). Bab XVII Kybernologi dan Kepamongprajaan (2008). semakin diperlukan conducting. kaupun tidak!). Mengamong adalah membangun kedamaian. Karena menurut Teori Sistem. sesungguhnya tidak menceraiberaikan. atau kalah-kalah (lose-lose.) Frontiers of Development Administration (1971) 6 SESI LIMA Nilai Empat PEACE-MAKING (PEACE-KEEPING). semakin diperlukan coordinating. keamanan. tetapi justru mempersatukan jika semua fihak menjunjung tinggi sportivitas. kalau aku tidak.” dalam Fred W.” Perbedaan dan konflik. Riggs (ed.Coordinating dengan conducting berkaitan erat. Saul M. Tabel 3 Sikap Terhadap Sesama ----------------------------| I WANT YOU TO | |-----------------------------| | LOSE | WIN | -----------------------------------------------------------| | | LOSE | LOSE-LOSE 1| LOSE-WIN 2| | I WANT YOU TO |-------------------------------------------| | | WIN | WIN-LOSE 3| WIN-WIN 4| ----------------------------------------------------------- Perang seperti itu terjadi beradasarkan anggapan bahwa kedamaian bisa terbentuk melalui proses menang-kalah. setiap komponen (unit kerja) merupakan bagian sebuah keseluruhan (sistem). maka hubungan antara keduanya dapat digambarkan sebagai berikut (Gambar 8). juga tidak menciptakan permusuhan sehingga terjadi perang semua lawan semua. sebagaimana di zaman dahulu Kepaladesa diakui dan berperan sebagai Hakim Perdamaian Desa. kalah-menang (win-lose. kerukunan. maka semakin interdependen unit kerja satu dengan yang lain.

kalah (spoil system), Tabel 3. Naluri ini mengubah perilaku manusia menjadi kanibalistik yaitu memangsa diri sendiri (sistem kanibalistik, lihat Bab IX
ORGANISASI (PARTAI POLITIK, dsb) | | melayani | membayar ---------MASYARAKAT<--------PEJABAT/PEGAWAI<--------NEGARA<-------| | | | | transaksi | | | | | | ---->membayar------| | | ----------------------------->membayar----------------------------Gambar 9 Masyarakat Membayar Berkali-kali (Sistem Kanibalistik)

Kybernologi Sebuah Charta Pembaharuan, 2007). Kanibalisme itu dalam polity dan birokrasi Indonesia, terlihat sah-sah saja (Gambar 9). “Kedamaian” yang diperoleh melalui proses kalah-menang ini menyisakan “duri dalam daging,” “api dalam sekam,” dan “air tenang namun penuh buaya ganas kelaparan.” Peace-making (dengan Manajemen Konflik) berarti: 1. Meneliti dan mengidentifikasi sejauh mungkin sumber ketidakdamaian di dalam diri manusia dan di dalam masyarakat 2. Mengidentifikasi dan mengantisipasi sedini mungkin setiap potensi konflik 3. Menyelesaikan sedini mungkin tiap konflik pada sumbernya 4. Tidak “menabung” “kesalahan” orang untuk dijadikan “peluru” guna “menembak” orang yang bersangkutan 5. Tidak menggunakan “kesalahan” orang lain untuk membenarkan diri sendiri (“Don’t take the example of other as an excuse for your wrongdoing,” bandingkan Effendi Gazali, Kompas 070509h06 tentang Kompas 220409 soal “jangan galak-galak”) 6. Tidak bersikap: “Kalo gue gak dapet, elu juga gak boleh dapet;” sikap ini bisa berakhir pada pelenyapan si “elu” 7. Tidak mengclaim kinerja bersama (bangsa) sebagai kinerja sendiri (parpol tertentu), hanya karena parpol atau koalisi parpol itu mayoritas di parlemen, sebab yang membiayai parlemen itu seluruh bangsa Upaya di atas dapat terjadi manakala pemimpin informal dan pemimpin formal suatu masyarakat berada sedekat mungkin dengan warga masyarakatnya. Sudah barang tentu yang dianggap kedekatan di sini tidak semata-mata kedekatan fisik tetapi lebih

sebagai kedekatan yang dapat diukur dengan jarak sosial (social distance), dan jarak kekuasaan (power distance) yang sedekat dan sedinamik mungkin. “Sedekat dan sedinamik mungkin” artinya tidak status quo, atau static equilibrium, melainkan interaksi antar tiga subkultur masyarakat (SKE, SKK, SKS) bergerak lancar dan sehat dari kondisi homeostasis ke kondisi heterostasis, kembali ke kondisi homeostasis, demikian terus-menerus (ref. Saul M. Katz, “Exploring A Systems Approach to Development Administration,” dalam Fred. W. Riggs, ed., Frontiers of Development Administration, 1970) . Selain itu, kedekatan yang dimaksud bukan hanya berbentuk simpati tetapi lebih dalam bentuk empati (ref. Bagian Kedua Bab XIV Kybernologi Beberapa Konstruksi Utama, 2005, tentang Verstehen). Untuk mempelajari latarbelakang dan penyebab ketidakdamaian (social unrest), dalam sesi ini perlu juga dibahas teori-teori proses sosial, seperti Teori Aksi-Reaksi, Teori Tantangan dan Jawaban (Challenge and Response), Teori Dialektika (ThesisAntithesis-Synthesis) yang salah satu bentuknya dalam kearifan sosial disebut “Mengail Di Air Keruh,” Teori Pertukaran Perilaku (Exchange Theories) dan sebagainya (ref. Margaret M. Paloma, Sosiologi Kontemporer, Bagian Satu, 1984). Membangun dan menjaga kedamaian ini diakui paling sulit, ibarat “meniti buih.” Namun walaupun sukar, buahnya amat manis. Menurut pengalaman nonekmoyang, “Kalau pandai meniti buih, selamat badan ke seberang,” disertai peringatan: “Sepandai-pandai tupai meloncat, sesekali terpeleset jua!” Referensi: Bab 18 Kybernologi (2003), Bab III Kybernologi dan Pengharapan (2009), dan bab-bab lain yang relevan. 7 SESI ENAM Nilai Lima RESIDUE-CARING. Mengamong adalah mengurus (sesuatu yang dianggap) sampah, golput, sepah, bengkalaian, pecundang, buangan, cemaran, atau sisa-sisa, kendatipun orang lain yang berpesta. Mengamong adalah mengurus apa saja, baik urusan yang tidak/belum termasuk tupoksi unitkerja manapun, maupun urusan yang tak satu unitkerjapun bersedia mengurusnya karena tidak menguntungkan bahkan merugikannya. Pengurusannya harus sesegera mungkin, karena semakin cepat dan tidak menentu perubahan, semakin banyak produksi sampah. Mengamong adalah memberikan perhatian yang sama dan sepadan kepada semua fihak, baik yang dianggap berkesalahan (buruk, jelek), maupun yang dipandang tidak berkesalahan (benar, baik) baik yang merasa dirugikan, ataupun fihak yang merasa diuntungkan, sebagai akibat suatu kebijakan, keputusan, atau tindakan pemerintahan. Dasarnya adalah kearifan lokal “Datang tampak muka, pergi

tampak punggung,” “Berjalan sampai ke batas, berlayar sampai ke pulau.” Bekerja sampai tuntas! Tidak boleh ada urusan yang berjalan setengah, atau persoalan yang tidak berjawab. Dianggap orang sudah hilang ditelan zaman, tau-tau suatu saat meledak! Ajaran ini adalah pengembangan (modifikasi) Teori Sisa (Residue Theory) yang digunakan di zaman Belanda dulu. Teori Pelayanan, Teori Pemberdayaan, dan Etika Pemerintahan, merupakan pelajaran dasar nilai ini. Landasan konstitusionalnya Pasal 27 dan 34 UUD 1945. Tindakan walikota memerintahkan Polisi Pamong Praja untuk menghalau para pedagang K5 dan mengusir para penghuni bangunan liar yang dianggap membangkang, dalam rangka menegakkan Perda tentang K3, dapat dibenarkan. Tetapi jika dengan penghalauan dan pengusiran itu pedagang K5 dan warga liar itu dalam waktu lama kehilangan pekerjaan, tiada tempat bernaung, anak-anaknya terlantar dan putus sekolah, masuk kolong jembatan, menjadi sampah masyarakat, maka Walikota dapat dituduh melanggar konstitusi. Referensi: Bab III Kybernologi Sebuah Rekonstruksi Ilmu Pemerintahan (2005), Kybernologi Sebuah Metamorphosis (2008), Bab 2, Bab 3, dan Bab 5, serta tulisan lain yang relevan 8 SESI TUJUH Nilai Enam TURBULENCE-SERVING. Mengamong adalah mengantisipasi dan melayani dalam arti memberdayakan, melindungi dan menyelamatkan manusia dan lingkungannya, bangsa dan negara, terhadap segala sesuatu yang sifatnya oleh manusia dianggap mendadak, berdayahancur besar, tiba-tiba, di luar perhitungan, tak disangka-sangka, force majeure, baik sebagai akibat perilaku alam, dampak kebijakan publik yang keliru ternyata, maupun perilaku masyarakat. Pengamongan didasarkan pada anggapan bahwa WAKTU SAMA DENGAN NOL. Anggapan ini sesuai dengan kearifan sehari-hari berbunyi “Sediakan Payung Sebelum Hujan,” “Lebih baik mencegah daripada mengobati.” Jika terjadi kebakaran, tidak ada waktu untuk memperlebar jalan agar Tanki Pemadam Kebakaran bisa lewat dan masuk, tidak ada
MANAJEMEN NORMAL (MN) MANAJEMEN TURBULENTIA (MT) --> -------------------- membentuk----> --------------------------| LONG-TERM-BASED (LTB) ZERO-TIME-BASED (ZTB) | | | | | | | -------------------------- FEEDBACK (FB)--------------------------Gambar 10 Manajemen Nasional Amfibia Serbacuaca (MANAS)

waktu untuk mencari sumber air atau merancang pelatihan. Seharusnya langsung bertindak dan berhasil. Kerangka pemikirannya sebagaiberikut (Gambar 10) dan hipotesisnya berbunyi: “MANAS = Manajemen Normal Yang Berhasil Diarahkan Pada (Membentuk) Manajemen Turbulentia, dan Manajemen Turbulentia yang Berhasil Memberikan Feedback Pada Manajemen Normal” terus-menerus. Pengujian hipotesis itu terlihat pada Gambar 11.
QUALITY ZTB 4-------------------------------------------4 M | | | A | | | N | | | A | | | J 3--------------------------------3----------| E | | | | M | | | | E | | | | N | | | | 2---------------------2----------|----------| T | | | | | U | | | | | R | | | | | B | | | | | U 1----------1----------|----------|----------| L | | | | | E | | | | | N | | | | | T | | | | | I LTB --------1----------2----------3----------4-A----> 0 M A N A J E M E N N O R M A L
Gambar 11 Manajemen Normal Berkemampuan Manajemen Turbulentia

TIME

Gambar 11 menunjukkan bahwa semakin lama kualitas (kapasitas) manajemen normal semakin tinggi sehingga pada akhir LTB turbulentia dapat dihadapi dengan ZTB action. Dalam banyak hal, “payung” itu seharusnya disediakan oleh pemerintah (SKK). Hak dan wewenang membawa (menimbulkan) kewajiban. Beberapa tahun yang lalu, masyarakat digemparkan oleh berita media tentang longsornya sebuah tambang galian pasir di sebuah daerah di Jawa Barat. Puluhan penambang tewas.

Tetapi di Indonesia yang masih menganut pendekatan hukum positif (tiada aturan hukum = tiada pelanggaran dan kejahatan). Buahnya malapetaka! Banyak sekali referensi pokok bahasan ini. Sudah barang tentu fihak plat merah angkat bahu. merupakan sumber PAD kategori retribusi izin Galian-C. sampai pada pustaka Manajemen Bencana (Disaster Management). dan tanah. Dalam hubungan itu semua. Manusia buat kelalaian dan suka lupa. Bab 10 Kybernologi Scientific Movement (2007).Penambangan pasir. Mengamong adalah menunjukkan keberanian untuk melakukan turbulence serving di atas. ajaran ini tidak digunakan lagi. dan dari berbagai segi. tarif. Keputusan dan tindakan Fries Ermessen diambil atas inisiatif sendiri. sehingga perkara yang seharusnya dapat diantisipasi. Bab 10 Kybernologi Kepamongprajaan (2008). terlebih mengingat kesadaran hukum yang rendah dan budaya hukum . lalai melakukan kewajibannya. disebabkan oleh kelalaian pemerintah dan masyarakat membaca peringatan dari Ilmu Sifat Barang tentang metal fatigue (kejenuhan metal) dan engineering life (masa layakpakai) setiap teknologi. Tidak ada yang sempurna di dunia ini. Di sana tidak tercantum perlindungan terhadap penambang. Di negara hukum yang menganut pendekatan progressif. dan siap menanggung segala risikonya secara pribadi (tanpa kambing hitam). Bab 7 Kybernologi Metamorphosis (2008). Meledaknya pipa Pertamina beberapa waktu yang lalu di seputar Lapindo. atau sepanjang tidak dilarang secara tegas dalam aturan perundangan. Perda tentang retribusi hanya berisi prosedur permohonan izin. dan tidak ada sanksi bagi pemda bila wanprestatie. Freies Ermessen berbeda dengan diskresi yang memberikan keleluasaan bertindak bagi pejabat dalam batas aturan yang berlaku. batu. misalnya Jerman. kewajiban pemda untuk mengontrol penambangan agar tidak berbahaya. material dan barang. mengamong berarti menyelenggarakan pemerintahan dalam kondisi serbacuaca (all weather governance). Ini berkaitan dengan Nilai Satu. 9 SESI DELAPAN Nilai Tujuh FREIES ERMESSEN. jebolnya Situ Gintung Tangerang Selatan dinihari Jumat tgl 270309. bertaburan di seluruh seri Kybernologi mulai dari Bab V Beberapa Konstruksi Utama (2005). dan sanksi buat pemegang izin bila tidak memenuhi kewajibannya. jika perlu (tiada pilihan lain) diluar batas aturan yang ada. terasanya mendadak atau di luar kemampuan. untuk dipertanggungjawabkan kemudian kepada semua fihak. berdasarkan keputusan batin yang dipilih secara bebas.

skill. innovativeness. kemahiran. Kreativitas merupakan lahan subur untuk menumbuhkembangkan Seni Pemerintahan: kepandaian (art. Mengamong juga adalah (belajar untuk) mengetahui semakin banyak (dalam) tentang semakin sedikit hal (to know more and more about less and less. Hukum Pemerintahan (khususnya Hukum Darurat/Bahaya). Etika Pemerintahan. Referensi: Bayu Surianingrat. dan presisi. watak. tumbuh ketelitian. Apakah Pak Harto juga tahun 1965 dan berikutnya? Yang jelas Mahasiswa tahun 1998 merobohkan pemerintahan yang sah. Dengan keahlian yang dalam. Dengan pengetahuan dan pengalaman yang luas. Untuk itu. Mengamong adalah (belajar untuk) mengetahui sedikit demi sedikit tentang semakin banyak (luas) hal (to know less and less about more and more. dan Teori Kedaulatan. 10 SESI SEMBILAN Nilai Delapan GENERALIST AND SPECIALIST FUNCTION. craft) menjawab suatu masalah dengan alat atau cara yang berbeda pula. kekhususan (uniqueness) suatu masyarakat. Bung Karno menggunakannya tgl 5 Juli 1959 (noodverordeningsrecht). berpengetahuan luas) guna mengidentifikasi dan membangun kebersamaan (tunggal ika) antar masyarakat yang berbeda-beda. berpengetahuan mendalam) guna mengidentifikasi perbedaan senyaris apapun antar masyarakat yang satu dengan masyarakat yang lain.yang lemah. Pengantar Dalam Hukum Indonesia (1959: 441. ajaran Fries Ermessen masih diperlukan. 460). sebagai prasyarat untuk membangun Teknologi Pemerintahan . tumbuh kreativitas. noodverordeaturan hukum aturan hukum noodverordeningsrecht positif positif ningsrecht | | | | | | | | | tanggungjawab | | tanggungjawab | | pribadi | | pribadi | |<--------------|----FREIES ERMESSEN----|-------------->| | berdasarkan | | dasarkankan | | etika otonom | | etika otonom | | | | | | |<-------DISKRESI------>| | | | | | ------------------------------------------------------Gambar 12 Freies Ermessen dan Diskresi Nilai ini erat berkaitan dengan Politik Pemerintahan. Bab III Kybernologi Sebuah Charta Pembaharuan (2007). E. Mengenal Ilmu Pemerintahan (1980). Utrecht. mengamong berarti berupaya untuk semakin mengenal kualitas.

Tentang hal ini. pengakuan. Kepamongprajaan sebagai superstruktur profesi pemerintahan melalui pendekatan lintas sektoral bermula pada visi untuk membentuk tenaga-tenaga pemerintahan yang berkualitas kepamongprajaan. kepada para pelanggan produk-produk Negara. tiga. Mengamong adalah mempertanggungjawabkan kepada pelanggan (bukan hanya atasan!): satu. . seorang pamong siap ditempatkan di mana saja dan mampu mengerjakan tugas apa saja yang telah didalaminya. dan jika jawaban tidak dipercaya. tidak ada “kendaraan” yang mengusungnya. yang agar mengikat perlu disaksikan). obligation. . sumpah dan janji jabatan atau profesi (kontraktual). pelaksanaan tugas (perintah. dua. terakhir di kota B. daerah kelahirannya. . nazar. mandat). van Poelje dalam Pengantar Umum Ilmu Pemerintahan (1959) menyatakan: . dan sumpah-sebagai-bukti. . Oleh pengetahuan dan pengalaman yang luas dan dalam itu. Menurut Spiro. 11 SESI SEPULUH Nilai Sembilan RESPONSIBILITY.yang tepat. tanggungjawab diartikan sebagai accountability. Pertanggungjawaban dapat diterangkan melalui Teori Tanggungjawab yang dikembangkan dari Teori Tanggungjawab Herbert J. amanat. Pada tahun 2008 ia ingin dicaleg untuk dapil A. namun karena daerah A belum mengenalnya dengan baik. Tanggungjawab sebagai accountability adalah . Gambar 13. yang bersangkutan menanggung sendiri segala akibat dan risikonya. sementara di kota B pesaingnya banyak. tindakan yang ditempuh berdasarkan Freies Ermessen. Lihat Bab 19 dan Bab 30 Kybernologi (2003). Mempertanggungjawabkan artinya menjawab (menerangkan) secara terbuka segala sesuatu yang menimbulkan pertanyaan pelanggan. . Nilai ini mengandung implikasi politik. dan cause. bahwa berbagai ilmu pengetahuan yang bertalian dengan salah satu bagian dari penguasaan (beheer) perusahaan partikelir pada akhirnya bermuara pada suatu ajaran perusahaan umum (algemene bedrijfsleer) yang meliputi kesemuanya dan bahwa ajaran tentang penguasaan perusahaan-perusahaan partikelir ini setidaktidaknya untuk sebagian merupakan syarat bagi adanya ilmu pengetahuan yang lebih tinggi daripadanya. Seorang yang berasal dari daerah A sejak kecil tinggal mencari nafkah dan bergaul dengan banyak orang di berbagai kota. ialah Ilmu Pemerintahan dengan Kepamongprajaan sebagai salah satu bentuk Aksiologinya. Spiro dalam Responsibility in Government (1969). dan empat. selfcommitment (janji kepada diri sendiri. Gambar 1 di atas menunjukkan hubungan antara fungsi generalist dengan fungsi specialist tersebut.

| | |------>KEBIJAKAN. struktural atau fungsional. -------------------| | ------>DASAR | RESPONSIBILITY | | | | | KEKUASAAN.----WILL (CHOICE)----|-> CAUSE -----------|--> ACTION ---| | MASI LINGDISCRETION | | | | KUNGAN CONSCIENCE | | | | | | | | | | | | | punishment | BERHASIL | -------HOPE <---------.| | | | gungjawab. ----> ACTION -------|-> ACCOUNTABILITY --|-------------| MANDAT (KKM) | | | | | | | | | | | | | | KKM. kewajiban menepati janji (lepas dari sebab dan akibat). Pertanggungjawaban seorang yang bersumpah tanpa diperintah (jadi bukan disumpah melainkan lahir dari dalam hatinuraninya sendiri) . dimodifikasi dan dikembangkan Tanggungjawab sebagai cause adalah sesuatu yang mendorong atau menggerakkan seseorang untuk bertindak. yang disebut rasa atau kesadaran akan tanggungjawab dengan kesediaan untuk menanggung risiko atau akibatnya. Yang dimaksud dengan etika di sini adalah etika otonom. PRICE -----|--.RISK. “noblesse oblige. Yang digunakan dalam Kybernologi adalah pertanggungjawaban etik. FREE.perhitungan atas pelaksanaan perintah kepada pemberi perintah.ATAU <---| reward | GAGAL | | --------------------- *lepas dari tinggi atau rendah.” status membawa kewajiban Gambar 13 Konstruksi Teori Tanggungjawab: Teori Herbert J.| | | |------>TRANSFOR. Spiro. Tanggungjawab sebagai obligation memiliki tiga dimensi. lepas | ward & pu| | | | dari sebab akibat | nishment | | KONDISI FREIES ERMESSEN | | | | PERUBAHAN VOLITION. yaitu berjanji (bersumpah. CITRA | | | |------>JANJI ---------> ACTION -------|-> OBLIGATION ------|--> ACTION ---| | POSISI* penepatan janji | kewajiban bertang.TRUST --------|-. yang dianut oleh pelaku tanpa terikat dengan fihak lain.| memikul re. 1969. formal atau informal. dan kesediaan memikul risiko.

| | yg-wajib hidup as. kesediaan | | memikul sanksi etik | | | | 10 9 8 7 | | 11 pertanggungperilaku tindakan keputusan | ----etikalitas<----------jawaban<-------etik<------etik<-----------etik<-------| etik | | | | | | | menaati kadar | --kinerjaberprakarsa keetikan sanksi etik* | berjanji | | | | | ------------merasa malu | | | merasa bersalah | pada pada menyesal | orang diri mohon maaf | lain sendiri mohon ampun | | | janji bertobat | | nazar. seseorang (B) di depannya yang kebetulan menoleh. walaupun merugikan diri sendiri. Keputusan etik diambil berdasarkan diskusi dan kebersepakatan antar norma yang tertanam di dalam hatinurani pelaku sendiri. jelas nurani an memilih. risi.itulah pertanggungjawaban etik otonom.nerangi dlm kalbu. lu. Keputusan etik diwarnai dengan keteguhan hati (disiplin) pelaku memegangnya. sedangkan keputusan bukan-etik diambil berdasarkan kebersepakatan masyarakat di sekitar pelaku. satu di antara 11 terminal. --1 2 3 4 5 6 ----->apakah------>kualitas--->nilai--->norma--->kesadaran----->pertimbangan---| etika? dasar etik etik etik etik etik otonom | | etika otonom | | | | | | | etika heteronom yg-benar guna tertanam norma me.--------dan terbuka ko & konsekuensi ditanggung sendiri Gambar 14 Etika Pemerintahan (1 sd 11 Terminal) . Gambar 14 menunjukkan bahwa pertanggungjawaban etik itu terletak pada Terminal 10.sumpah bernazar | perjanpengakuan membayar tebusan | jian credo kesediaan berkorban | commitment selfmengaku bersalah | | commitment mengundurkandiri dari jabatan | | | mengasingkandiri | | agar mengimenyakitidiri | | kat.| | katan. Pada saat antri sebagai nomor 6 sementara tiket sisa 5.diskusi antar norma | | yg-baik dlm kuat. Terminal 6 menunjukkan perbedaan antara keputusan etik dengan keputusan bukanetik. Misalnya hukum sistem antri “First come. perlu bersumpah | | disaksikan mengorbankandiri | | | bunuhdiri | ------------| | dikontrol | | ----dibandingkan---| kesenjangan ditedievaluasi *dinyatakan | rangkan setulus & | secara otonom --sejujurnya. first serve” oleh si A dipegang sebagai norma etik perilakunya. kesepa. kebebas.

yang terbentuk berdasarkan kemerdekaan berfikir dan kemerdekaan mengeluarkan buah pikiran (Pasal 28 UUD 1945). Bab III dan Bab IV Kybernologi dan Pengharapan (2009) 12 SESI SEBELAS Nilai Sepuluh MAGNANIMOUS-THINKING. mempersilakannya untuk maju dan pasti dapat tiket. Tetapi si A tidak mau. Perbuatan Besar. Alinea keempat Pembukaan UUD tentang kecerdasan merupakan landasan konstitusional nilai ini. Bhinneka Tunggal Ika merupakan sebuah pikiran besar. berbeda dengan “pikiran besar” yang sudah ada. bila tahan banting. terkadang baru diakui “besarnya” kemudian. Bab II dan Bab III Kybernologi Sebuah Metamorphosis (2008). COGITO. Berpikir menurut hukum logika. selain sistem terganggu. Jauh liku yang (harus) ditempuh oleh sebuah pikiran.” buah pikiran dapat diwariskan dan menjadi pelajaran bagi generasi ribuan tahun yang akan datang. walaupun menguntungkannya. pikiran yang memiliki kekuatan menerobos zaman. tanpa uang abang melayang. Begitu dia mendapat tiket dengan cara demikian. dan Sejarah Melalui Delapan Terminal . sosialmarpolicy policy imple-->ERGO----------->BUAH ----------->NILAI-------->POLICY-------->POLICY---------------| SUM kiran PIKIRAN isasi 3 keting AGENDA making 5 mentation | | 1 2 4 | | | | | | | | 6 | | 8 belajar dari 7 monitoring PERBUATAN scientific movement | ---FEEDBACK<---------------SEJARAH<-------------------BESAR<--------------------------sejarah evaluation scientific enterprise Gambar 15 Dari Buah Pikiran. Nilai ini berkaitan erat dengan Nilai Satu di atas. rerambu nalar sehat. tetapi sejak diundangkan menjadi PP 66/51.WISDOM. tidak pernah diajarkan dan tidak dibudayakan menjadi pola perilaku bangsa. atau buah hati yang “ada uang abang disayang. Buah pikiran seperti itu. Oleh sebab itu dibenci dan tidak laku. sebelum ia diakui besar dan menjadi sejarah. Sebab bila ia maju. pemi. ia sudah mulai jadi pecundang! Lihat Bab 8 Kybernologi (2003). Adakalanya seperangkat buah pikiran terlihat melawan arus. Berbeda dengan buah tangan yang dapat dinikmati sekejap. Berpikir besar identik dengan berfilsafat. norma etik di dalam hatinuraninya jadi rusak.rupanya mahasiswanya ---. Mengamong adalah mengonstruksi pikiran besar.

Lihat Filsafat Pemerintahan. tidak hanya membangun citra (image building) pemerintahan tetapi merendahkan hati sedemikian rupa sehingga pemerintah itu tidak terlihat sebagai sesuatu yang jauh dan yang asing. tidak berguna. di sini nestapa dan melarat. kotor dan sampah “kita” terlihat olehnya.” barulah semakin terasa olehnya betapa satu dengan yang lain berbeda-beda. 10 x 10 = 100 menit. ada yang terbuang dan terinjak. berbuka diri mengamati.Pada aras mikro. Mengingat Y heterogen. Semakin tinggi dan asing pemerintah memosisikan dirinya. 99% rakyat ada di didepannya dan sejarah bertinta emas terbentang di belakangnya. prilaku & perkataan Y sebagaimana adanya begitu keluar dari Y tanpa dipengaruhi oleh P. membangun kebersamaan melalui perilaku etik & emik. Ialah Semar. dan merasakan apa yang “kita” rasakan. mengamati & merekam amatannya. buah pikiran sebesar apapun. menempatkan diri seutuhnya setara dgn kondisi Y dgn tulus. membangun rapport. Tanpa pengajaran dan pembudayaan. Mengamong berarti tidak memosisikan diri sebagai pangreh. P melawan arus? Ya. ialah Nelson Mandela Y Gambar 16 Membentuk (Membangun) Pengertian Yang Empatik (Saling-mengerti) = Y . semakin mendarat ia bersama “kita. ia tdk populer di kalangan politisi dan birokrasi. 13 SESI DUABELAS Nilai Sebelas OMNIPRESENCE. Tetapi percayalah. katakanlah terdiri dari 10 sub-Y. semakin samar. emik & etik. P P P turun secara pribadi (personally) serendah mungkin dari posisinya. Bab 20 Kybernologi (2003). sehingga oleh Y ia diterima sebagai seorang sesama di antara mereka. temuan-temuan akademik (invensi) harus dijadikan masukan bagi pembuatan kebijakan publik guna melahirkan inovasi (Bab XI Kybernologi dan Pengharapan. bahkan oleh parpol ia dituduh pengkhianat. antara pemerintah (P) dengan yang diperintah (Y) adalah salingpengertian. maka jika waktu yg digunakan P utk berbicara 10 menit. sambil merekam. mendengar & merekam isyarat. belum terhitung waktu yang diperlukannya untuk bersosialisasi. waktu yg harus disediakannya utk mendengar.” Ia melihat apa yang “kita” lihat. tetapi terasa hadir di mana-mana dan kapan saja sebagai bagian dari dan sama dengan “kita. Satu-satunya jembatan antar budaya dan antar frame-of-reference (FOR) yang berlainan. seragam. di sana papa dan hina. ada yang mandi uang bergelimang dosa. 2009).

motives. Salah satu cara yang dikenal dalam metodologi adalah pembentukan pengertian dan pencapaian saling-mengerti melalui empati (empathy.Pengertian dan saling-mengerti. belief. motivation. Verstehen adalah “empathic understanding or an ability to reproduce in one’s own mind the feelings. dan bau keringat. mantan | | -------PIN IN. or the like) of an individual actor. rapi dan wangi.” berkepeberkepemimpinan terpilih mimpinan MASA JA--->MASYARAKAT---------->PEMIMPIN----------->KEPALA----------->BATAN------| informal tersaring formal & BERAKHIR | | informal | | | | | | PEMIMtidak terpilih (lagi). sedangkan pakaiannya sendiri bersih.” demikian Schwandt.e. Bisa saja peneliti bermaksud mengenal seorang aktor dengan motif ketertarikan (sympathetic imagination) dan bukan karena ingin mengenalnya sebagaimana adanya. bukan emphaty). cepat atau lambat dapat terbentuk dan tercapai melalui pelbagai cara di dalam masyarakat.” Dengan menggunakan FOR-nya. Menurut Max Weber. Konsep empati tidak terpisahkan dengan konsep pengertian (understanding). Mengamong berarti “exhibits great wisdom and ability in dealing with important public issues. 14 SESI TIGABELAS Nilai Duabelas DISTINGUISHED STATESMANSHIP. intention. Iapun menandai orang-orang tersebut sebagai warga masyarakat tertinggal dan diberi definisi seperti di atas.<-------------------------------| | | FORMAL kembali ke dalam masyarakat | | | | | | | | | | | | ----------------| referensi |--------| | | | | | | PEMIMPIN rezim lain yang terpilih | -------FORMAL <--------------------------------naik ke singgasana kekuasaan Gambar 17 Proses Kepemimpinan . Salah satu bentuk understanding adalah empathic understanding yang dalam bahasa Jerman disebut Verstehen. “It (Verstehen) must mean an act of sympathetic imagination or empathic identification on the part of inquirers that allowed them to grasp the psychological state (i. and thoughts behind the action of others. lusuh. seorang pejabat atau peneliti bisa saja mengaku bahwa ia mengerti kondisi atau kualitas suatu masyarakat dengan memandang pakaian orang yang lalulalang: ada sejumlah orang yang berpakaian kotor.

1927). Bab I dan Bab III Kybernologi dan Pengharapan (2009). menyatakan secara terbuka pengunduran diri dari “kendaraan yang mengusungnya” begitu terpilih menjadi pejabat publik. bagi rezim terpilih lima tahunan. Seorang statesman tidak pernah merasa berjasa. karena selama menjabat ia digaji dan mendapat fasilitas serta kehormatan. Kepamongprajaan di sini terlihat sebagai kualitas yang mampu melahirkan buah pikiran besar. karena ia telah berjanji kepada dirinya sendiri dan kepada masyarakat. Bahan ajaran untuk sesi ini terdapat dalam berbagai sumber. seorang negarawan tidak melakukan perbuatan yang menguntungkan hanya satu fihak. rule the present from the past” (Alfred North Whitehead. memaknai uang bukan solusi tetapi beban (karena harus dipertanggungjawabkan). Kini saatnya untuk mencerahkan dan membangkitkannya. dan ia berusaha menepatinya. baik antara Utara dengan Selatan. dan Tengah. Pidato Sambutan Forum American Association of the Collegiate Schools of Business. membuat sejarah (history making) melalui perbuatan besar. Seorang negarawan tidak mengclaim kinerjanya sebagai kinerja partai yang mengusung atau didukungnya. Berbeda dengan perang. Pada saat seorang pejabat yang sedang cuti kampanye. . Dengan kualitas itu---kenegarawanan--kepamongprajaan berarti kemampuan melahirkan pikiran besar. sebab cuti itu hanya akalakalan. walaupun di masa itu belum didefinisikan dan belum diprogramkan.Mengamong juga berarti memosisikan diri di atas semua kepentingan partial. walaupun ia menggunakan kendaraan umum dan mengenakan kaus oblong. walau cuti sekalipun. pemilu bukan menang kalah tetapi terpilih atau tidak terpilih. fihak yang takterpilih kembali menjadi controlling reference jangka panjang (Gambar 17). terutama Badan Diklat Depdagri sendiri. kepamongprajaan dilihat sebagai fungsi yang dibutuhkan pada tingkat regional dan global. Barat. roh zaman. 2006). Tetapi sebaliknya ia selalu merasa berhutang. serta memikul sendiri tanggungjawabnya. Selama masa jabatannya. imperial spirit. perlindungan dan perlakuan sebagai seorang pejabat. karena tindakan apapun yang dilakukannya telah mendapat imbalan dari negara dan masyarakat. Merayakan saat pengembalian (penyerahan) jabatan (mandat) ketimbang saat memangku jabatan (pelantikan). pengaruhnya tetap terasa. Wawasan Kepamongprajaan sebagai kenegarawanan mengemuka di masa STPDN. ia mendapat pengawalan. bukan dari partai tetapi dari seluruh bangsanya. Pada sesi ini. menggunakan Etika Otonom dan bukan Etika Heteronom (Bagian Dua Bab X Kybernologi Sebuah Scientific Enterprise. maupun antar Timur. sehingga buah pikiran besar pamong praja Indonesia – yaitu mereka yang memiliki kualitas kepamongprajaan – tahun 2009 mempengaruhi perjalanan sejarah Indonesia di tengah-tengah dunia beratus-ratus tahun kemudian: “Her citizens. Bab V Kybernologi Sebuah Metamorphosis (2008).

” “yang diucapkan atau ditulis begini. Norma bersifat formal. dan Opsi 3 (BON* = Ideologi. Opsi 1. berkekuatan mengikat. hasilnya adalah duabelas nilai dasar pemerintahan. Gambar 15) disebut ideologi. Opsi 2. . . Jika kualitas entitas tersebut dalam ruang pemerintahan ditimbang.” sehingga OP dan atau OC tidak dipercaya atau jauh dari harapan (Gambar 18). OP dan OC dimonev. . tapi. .” atau “itu kan teori.” apa yang terjadi? Jika norma ditegakkan (digunakan). **Monev Direkayasa) Opsi 3. bandingkan dengan rekonstruksi pengetahuan menjadi BOK. menjadi dogma. jika perilaku suatu entitas diamati. . Nilai yang disepakati menjadi norma. Body-of-norms (BON.? <------------.? <------------DOGMA<-----------BON*<---------------1-| | mutlak isasi struksi | | | | | | feedback N<H monev oleh ditegakkan | |-----------. dijadikan feedback buat entitas yang bersangkutan (lihat Gambar 16). Kalau dogma dipatuhi “tanpa reserve. hasil rekonstruksi norma. terlihat satu atau lebih kualitas. terlihat output (OP) atau outcome (OC).? <-----------“HASIL”<-------------3pembenaran penguasa** dipermainkan Gambar 18 Kepamongprajaan Menurut Teori Nilai: Tiga Opsi. dan ideologi yang disakralisasi. tapi. . tetapi yang dilakukan lain. dan apapun hasil analisisnya. Sesuai dengan Teori Nilai.15 SESI EMPATBELAS Apakah Kepamongprajaan? Dalam GBPP di atas Kepamongprajaan didefinisikan nilai dasar pemerintahan (governance). perilaku ditimbang disepakati -->ENTITAS-------->KUALITAS--------->NILAI-------------->NORMA | bisa dipaksakan (N) | | | | | dipatuhi disakraldirekon| |---.” “baik. Siapa Jagonya? . . Di Indonesia biasanya norma di-“tegakkan” dengan sikap “benar.? <-----N=H<------------HASIL---------------2-| | N>H pelanggan (H) | | | | | | dibenarkan monev oleh “ditegakkan” | ---.

Setiap kualitas ditimbang guna melihat. lulusan IPDN Pamong Praja Muda 2 Kualitas. mulai dari Ketua Rukun Tetangga sampai dengan Kepala Desa/Kelurahan dan perangkatnya Tingkat Menengah: Pamong Praja. dengan perangkat masing-masing 8 Profesi. Aparat penegak perda: Polisi Pamong Praja. Menteri. Perilaku yang terlihat di dalam ruang pemerintahan (governance) mulai dari tingkat statal. Membentuk kader-kader Pamongpraja yang dibutuhkan mendesak oleh Depdagri dan Pemda b. sejauh mana kualitas memenuhi kebutuhan manusia dan masyarakat 4 Norma. Diperlukan kekuatan pengikat kebhinnekaan menjadi tunggal ika. Program Program Strata dan Program Profesional. mulai dari Kepala Lembaga Negara. lokal. suatu tingkat nilai pada suatu saat disepakati sebagai norma yang harus diindahkan dan ditegakkan oleh semua fihak. dengan perangkatnya masing-masing Tingkat Tinggi: Pamong Bangsa/Negara. sampai pada Presiden di pucuknya. Profesi Kepamongprajaan meliputi penerapan Kepamongprajaan sebagai norma melalui kebijakan publik di dalam praktik pemerintahan.Dalam hubungan ini. Sekarang kekuatan itu dicharge dalam diri gubernur provinsi. Agar berkekuatan mengikat. nama suatu entitas. Merekonstruksi terus-menerus Ilmu Pemerintahan Baru (Kybernologi) sebagai sumber dan dasar profesi pemerintahan . Membangun Kepamongprajaan sebagai sistem nilai dasar pemerintahan c. Kekuatan itu adalah fungsi yang dapat dicharge di dalam sistem penyelenggaraan pemerintahan (di) daerah. Norma dapat dilembagakan menjadi sebuah unitkerja . Kepala Daerah. sampai pada tingkat rukun tetangga menunjukkan 12 kualitas kepamongprajaan 3 Nilai. di Indonesia (sebaiknya) kepamongprajaan dijadikan dan digunakan sebagai: 1 Identitas. bertujuan a. mulai dari Camat. mahasiswa IPDN disebut Praja. secara periodik harus dilakukan monev dan pembaharuan norma 5 Fungsi. Pendidikan Kepamongprajaan meliputi Program Vokasional (Diploma). Mengingat perubahan eksternal dan internal. Dahulu. dan Diklat Kepamongprajaan guna membentuk kader-kader tenaga berkualitas Kepamongprajaan yang disebut Pamongpraja (Perpres 1/09) 9 Pendidikan Kepamongprajaan. pamongpraja dilembagakan menjadi unitkerja pusat di daerah (kepala wilayah dan jajarannya) 7 Struktur Kepamongprajaan dalam tiga tingkatan: Tingkat Bawah: Pamong Desa/Kelurahan. Mengapa tidak di dalam diri kepala daerah? 6 Lembaga.

Konsep profesi.10 Standar kompetensi pamongpraja. Pamongpraja dalam arti sempit adalah tenaga professional di bidang (yang memiliki kualitas) kepamongprajaan. Bab IC. Pamongpraja dalam arti luas adalah tenaga pemerintahan yang memiliki roh dan 12 nilai dasar pemerintahan. Kendatipun ini sesi terakhir tetapi tidak berarti termudah---last but not least---bahkan mungkin yang tersukar. lihat Bab II Kybernologi dan Kepamongprajaan (2007). Yang dijelaskan dalam sesi ini adalah standar kompetensi fungsionalnya. professional. Bahan untuk sesi ini masih harus diidentifikasi dan didefinisikan. 2005. Standar kompetensi struktural bersifat normatif. terdapat dalam Kybernologi: Sebuah Rekonstruksi Ilmu Pemerintahan. dan ditetapkan saat pelembagaannya. begitu Kepamongprajaan ini diajarkan mulai Sesi Satu. Oleh sebab itu. dan profesionalisme. Perlu dibedakan standar kompetensi fungsional dengan standar kompetensi struktural. kesukaran ini harus diantisipasi! ------>PENELITIAN--->TEMUAN---->KEBIJAKAN--->PEMBAHARUAN-| (invensi) | (inovasi) | -->KEPAMONG| | | PRAJAAN | | | | | | | ------>DIKLAT--->KADER PAMONGPRAJA-| | | ----------------FEEDBACK<-----------------MONEV<------------------ Gambar 19 Kepamongprajaan Sebuah Ruang Pembelajaran 3001090852SDG 2903090733SDG 1104091600SDG File GBPP KEPAMONGPRAJAAN BARU .

Sembilan Responsibility . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . Sebelas Omnipresence. . Empat Peace-making. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . Enam Turbulence-serving . . . . 41 43 45 46 47 48 50 51 52 55 56 57 . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . Lima Residue-caring . . Dua Conducting. . . . . . . Tiga Coordinating . . . Duabelas Distinguished Statesmanship. . . .RINGKASAN DUABELAS NILAI KEPAMONGPRAJAAN 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 Nilai Nilai Nilai Nilai Nilai Nilai Nilai Nilai Nilai Nilai Nilai Nilai Satu Vooruitzien. Sepuluh Magnanimous-thinking. Tujuh Freies Ermessen . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . Delapan Generalist & Specialist Function. . .

2003) 13 Metodologi Ilmu Pemerintahan (Rineka Cipta.DAFTAR PUSTAKA KYBERNOLOGI 1 Kybernologi dan Pengharapan (Sirao Credentia Center. 2008) 4 Kybernologi dan Kepamongprajaan (Sirao Credentia Center. 2008) 3 Kybernologi Sebuah Metamorphosis (Sirao Credentia Center. 2005) 10 Kybernologi Sebuah Rekonstruksi Ilmu Pemerintahan (Rineka Cipta. 1988) . 2007) 8 Kybernologi Sebuah Scientific Enterprise (Sirao Credentia Center. 2006) 9 Kybernologi Beberapa Konstruksi Utama (Sirao Credentia Center. 2007) 7 Kybernologi Sebuah Charta Pembaharuan (Sirao Credentia Center. 1997) 14 Metodologi Pemerintahan Indonesia (Bina Aksara. 2005) 11 Teori Budaya Organisasi (Rineka Cipta. 2007) 6 Kybernologi Sebuah Scientific Movement (Sirao Credentia Center. 2009) 2 Kybernologi dan Pembangunan (Sirao Credentia Center. 2005) 12 Kybernologi I dan II (Rineka Cipta. 2008) 5 Kybernologi Sebuah Profesi (Sirao Credentia Center.

prof.” “Sistem Pengasuhan Dihapuskan.” Kompas 11 Oktober 2007 “Presiden Ubah IPDN Menjadi IIP. prof.” 224923 “Benar. Kita jadikan proposal yang prof. MENTERI DALAM NEGERI RI: “Di IIP Ada Tambahan Ilmu Baru Sebagai Pendukung Dalam Aspek Pemerintahan.MARDIYANTO. Yang beliau maksudkan adalah Kybernologi dan Kepamongprajaan.” . Diubah Kepamongan” Apa yang dimaksud dengan “Ilmu Baru?” 08159676XXX 121007223338 “Benar. buat sebagai dasar keilmuan pembentukan IIP Regional.

Taliziduhu Ndraha. 2009 . Kybernolog GARIS-GARIS BESAR PROGRAM PEMBELAJARAN KYBERNOLOGI DAN KEPAMONGPRAJAAN JAKARTA.

. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 14 Sesi Tigabelas Nilai Duabelas Distinguished Statesmanship . 11 Sesi Sepuluh Kepamongprajaan. . . . . . . . . . . 14 Sesi Tigabelas Seni dan Teknik Pemerintahan . . . . . . 17 Sesi Enambelas UAS. . . Sesi Tiga Nilai Dua Conducting. Sesi Empat Nilai Tiga Coordinating. . . . . . . . . . . . 5 Sesi Empat Teori Pelayanan. . . 6 Sesi Lima Teori Governance. . . . . . . . 9 Sesi Delapan UTS. . . . . . . . . 11 Sesi Sepuluh Nilai Sembilan Responsibility. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . ONTOLOGI 3 Sesi Dua Ontologi Ilmu Pemerintahan . . . . . . . . 7 Sesi Enam Teori Kinerja . . . . . . . . . . . . . . . . . 2 Sesi Satu Penjelasan Umum. . . . 12 Sesi Sebelas Kebijakan Pemerintahan . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . EPISTEMOLOGI 4 Sesi Tiga Teori Kebutuhan . . . . Sejarah Pengajaran Ilmu Pemerintahan di Indonesia. . 12 Sesi Sebelas Nilai Sepuluh Magnanimous-thinking 13 Sesi Duabelas Nilai Sebelas Omnipresence. . . . . . . . . . . . . . . . . Sesi Delapan Nilai Tujuh Fries Ermessen . . . . . . . . . . . . . . . . 15 Sesi Empatbelas Apakah Kepamongprajaan? . Sesi Dua Nilai Satu Vooruitzien . . . . . . . . . . . . . 8 Sesi Tujuh Metodologi . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 13 Sesi Duabelas Manajemen Pemerintahan. . . . RINGKASAN . . . 32 36 41 43 45 46 47 48 50 51 52 55 56 57 59 62 . Sesi Enam Nilai Lima Residue-caring . . . . . . . . . . . . . . . . . . . AXIOLOGI 10 Sesi Sembilan Teori Nilai . .DAFTAR ISI I GBPP PENGANTAR ILMU PEMERINTAHAN 1 Latar Belakang. . . . . . . . . . . . . . 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 . . . . Sesi Tujuh Nilai Enam Turbulence-serving. . . . . . . . . 1 2 5 6 8 11 16 18 20 20 22 24 25 26 27 28 30 31 II GBPP KEPAMONGPRAJAAN Latar Belakang. . . RINGKASAN . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 15 Sesi Empatbelas Etika Pemerintahan. . . . . . . . . . . . . . . . . . . Sesi Sembilan Nilai Delapan Generalist & Specialist Function . Sesi Lima Nilai Empat Peace-making. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . Sesi Satu Pemerintahan. . . . . . . . . . . . . . . . 16 Sesi Limabelas Reformasi Pemerintahan . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .

121 2 Sekolah Kepemimpinan Pemerintahan Dalam Negeri. . . . . . . . . . . . Masalah . . . 125 . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .DAFTAR PUSTAKA KYBERNOLOGI. . . . . . . . . . . . . . . 2 Posisi Strategis Departemen Dalam Dalam Sistem Pemerintahan . . . . . . . . . . . . Negeri . 117 118 118 119 VII KOMENTAR TERHADAP DRAFT PEDOMAN KURIKULUM. . . . . . . 107 . . . . . . . . . . . . . . 2 Kerangka Pemikiran. . . . . . . . . . . . . . Perspektif Kybernologi. . . . . . . . . . . . 5 Peran Camat . . . 121 3 Kurikulum . . . . . . . . DPD Perspektif Kybernologi Politik. . . . . . 116 . . . . 5 Penyelenggaraan Laboratorium Lapangan Administrasi Kependudukan . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 4 Penyelenggaraan Otonomi Daerah. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 101 . . . . . . . . . . . . . . . . . . . Pentingnya Laboratorium Lapangan Administrasi Kependudukan . . . . . . . 108 VI PERAN CAMAT DALAM PENYELENGGARAAN PEMERINTAHAN DAERAH 1 Pemerintahan. . . 63 III DIKLAT PROFESIONAL KEPAMONGPRAJAAN 1 Latar Belakang. . . . . 77 79 91 99 V USULAN PEMBENTUKAN LABORATORIUM LAPANGAN ADMINISTRASI KEPENDUDUKAN 1 2 3 4 Pengertian. . . . . . . . . . . . . . . . . . . DIKLAT KEPEMIMPINAN PEMERINTAHAN DAERAH 1 Latar Belakang. . . . . . . . . . . . . . . . . . . Apakah DPD Itu? . . . 104 . . . 64 65 72 IV DEWAN PERWAKILAN DAERAH 1 2 3 4 DPD Di Pentas Politik . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . Perspektif Kybernologi Administrasi Kependudukan. . . . . 3 Program Diklat Profesional Kepamongprajaan. . . . 101 . . . . . . . . . . . . . 3 Otonomi Daerah. . . . . . . . . . . . . .

dalam forum Scientific Traffic dan di lingkungan Badan Diklat Departemen Dalam Negeri dalam Rapat SEPIMDAGRI tanggal 19 dan 20 Mei 2009 di Jakarta. Buku ini diharapkan menjadi pegangan bagi segenap Masyarakat Akademik di lembaga-lembaga perguruan tinggi di atas. penelitian. serta mewujudkan Duabelas Nilai Kepamongprajaan sebagai pola perilaku pemerintahan Indonesia dan pemerintahan daerah ke depan. BOK) pemerintahan (governance). GBPP matakuliah berisi roh ilmu yang bersangkutan. hasil penelitian terhadap fenomena pemerintahan dari sudut (pendekatan) Manusia. melainkan sebuah BOK yang terus berkembang. GBPP dua subjek ini dirancang. hasil rekonstruksi dan buah pendaratan Bestuurskunde dan Bestuurswetenschap (Ilmu Pemerintahan) di bumi Indonesia. Di samping hibrida Kybernologi bernama Kybernologi Pertanian oleh DR Ir Abdul Samad Melleng. dilakukan pada tanggal 8 Mei 2009 di Jatinangor. Kybernologi adalah sebuah bangunan pengetahuan (body-of-knowledge. dan pengabdian kepada masyarakat. diujicobakan sejak awal 2008 (Bab 6 Kybernologi dan Kepamongprajaan. seperti terlihat dalam buku ini.PENGANTAR REKTOR INSTITUT PEMERINTAHAN DALAM NEGERI Pada tgl 22 Mei 2003. MM. Bahkan sisi Axiologinya berkembang menjadi satu bidangkajian dan program diklat baru bernama Kepamongprajaan. Kybernologi ini menyajikan . diajarkan. Melalui proses pembelajaran Program S1. didiskusikan. Perkembangan akademik ini langsung mendukung kebijakan baru Pemerintah yang menetapkan IPDN sebagai Penyelenggara Sistem Pendidikan Tinggi Kepamongprajaan berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 1 Tahun 2009. Pembahasan dan sosialisasi draft akhir ini di lingkungan IPDN (Pimpinan. Dosen dan Praja). dan telah beberapa kali berubah. Dengan demikian Kybernologi bukan hanya judul seri buku yang terbit sejak tahun 2003. 2009). Institut Ilmu Pemerintahan (IIP) meluncurkan satu produk akademik bernama Kybernologi. 2008). dalam menjalankan proses belajarmengajar di bidang Ilmu Pemerintahan (Kybernologi) melalui Tridharma Perguruan Tinggi: pengajaran. BOK tersebut kini telah mencapai derajat keilmuan tertinggi yang utuh dan lengkap. Kybernolog dan seorang pejabat Departemen Pertanian (Bab VI dan Bab VII Kybernologi dan Pengharapan. dalam hal ini Kybernologi dan Kepamongprajaan. S2 dan S3 sejak tahun 1994 (antara lain bekerjasama dengan Universitas Padjadjaran).

sebuah hibrida baru. namun sesungguhnya dialamatkan dan ditawarkan kepada semua fihak yang peduli dengan masadepan Indonesia. NGADISAH. Juni 2009 Prof. Jakarta. Dr Hj. Walaupun usulan ini ditulis untuk IPDN. PP 37/07. tetapi juga ke hulu. dan Perpres 25/08). Kybernologi tidak hanya berorientasi ke hilir. Orientasi ke hulu ini dipicu oleh hiruk-pikuk Pemilu 2009 yang menurut para pengamat disebabkan oleh patologipolitik dan patologibirokrasi kependudukan yang sudah kronik dan parah. Maka sebuah usulan pembentukan Laboratorium Lapangan Administrasi Kependudukan (UU 23/06. MA . yaitu Kybernologi Politik dengan mengambil Dewan Perwakilan Daerah sebagai sasaran kajian. diluncurkan.

DIKLAT PROFESIONAL KEPAMONGPRAJAAN Kerangka Pemikiran 9 KYBERNOLOGI --------------------------ILMU PEMERINTAHAN BARU-------------------------| | (KOMPONEN PENDIDIKAN STRATA) | | | | | | | 8 8 | | KEAHLIAN KEAHLIAN | | DI BIDANG----------GENERALIS-----------DI BIDANG | | PEMERINTAHAN | PEMERINTAHAN | | | | | | | | | | | | 7 | 7 | | PROFESI KOMPONEN PROFESI | | BIDANG PE. UMUM | | | statesmanship | | | | | --------------------| | | | | | | | 3 | 3 | | PROFESI KOMPONEN DIKLAT PROFESI | | BIDANG-----11----PROFESIONAL----11-----BIDANG | | PERTANIAN KEPAMONGPRAJAAN PEK. UMUM | | | | | | | | | | | . UMUM | | | | | | | | | | | | 2 | 2 | | KEAHLIAN | KEAHLIAN | | DI BIDANG----------SPESIALIS-----------DI BIDANG | | PERTANIAN | PEK.---10--PENDIDIKAN--10-------BIDANG PE| | MERINTAHAN DIPLOMA MERINTAHAN | | | | | | | | | | | | | --------------------| | | 6 | vooruitzien | 6 | AGROPEMERINTAHAN | conducting | PEMERINTAHAN TEKNOLOGI PEMERINTAHAN DAERAH | coordinating | DAERAH PEMERINTAHAN | | | peace-making | | | | | | residue-caring | | | | 5 | turbulence-serving | 5 | | KEBIJAKAN | | KEBIJAKAN | |------------->BIDANG<----|---KEPAMONGPRAJAAN---|----->BIDANG<-------------| | PERTANIAN | | PEKERJAAN UMUM | | | | Freies Ermessen | | | | | | gen&spec function* | | | | 4 | omnipresence | 4 | KYBERNOLOGI KEPALA DINAS | responsibility | KEPALA DINAS KYBERNOLOGI PERTANIAN PERTANIAN |magnanimous-thinking | PEK. UMUM PEK.

sistem pendidikan tinggi kepamongprajaan merupakan subsistem pendidikan tinggi nasional sebagaimana diatur dalam UU Nomor 20 Tahun 2003. sekurang-kurangnya lima topik di bawah ini perlu segera difikirkan kembali. tetapi di fihak lain terkuak kembali memori sosial masalalu tentang hubungan pusat dengan daerah. diidentifikasi.” Perpres 1/09 tentang Perubahan Atas Keputusan Presiden Nomor 87 Tahun 2004 mengenai penggabungan STPDN ke dalam IIP yang namanya sekaligus diubah menjadi IPDN.” (pasal 2A. 10).| 1 | 1 | -------------AGRONOMI-------ILMU-ILMU LAINNYA-------TEKNOLOGI------------CIVIL *generalist&specialist function GAMBAR TIGA KOMPONEN SISTEM PENDIDIKAN TINGGI KEPAMONGPRAJAAN PENDIDIKAN STRATA (9). kebijakan tersebut merupakan sebuah perubahan dan kemajuan. dan dijelaskan: 1. misalnya Permendagri No 43 Tahun 2005 tentang Statuta IPDN.” Sementara itu sejak tahun 90-an yang lalu. Sistem Pendidikan Tinggi Nasional 3. PENDIDIKAN PROFESIONAL (11). Penyelenggaraan sistem pendidikan tinggi kepamongprajaan (di dalamnya termasuk Diklat Profesional Kepamongprajaan) 2 KERANGKA PEMIKIRAN . Apakah Indonesia kembali ke masalalu? Apakah makna kepamongprajaan itu di masa depan? Oleh sebab itu. Di sana dengan jelas dinyatakan bahwa IPDN “menyelenggarakan pendidikan tinggi di bidang kepamongprajaan yang diselenggarakan melalui sistem pendidikan tinggi kepamongprajaan. di masa pemerintahan raja-raja (pangrehpraja). PENDIDIKAN DIPLOMA (VOKASIONAL. Sistem Pendidikan Tinggi Kepamongprajaan 4. ht TN). DAN HUBUNGAN KYBERNOLOGI DENGAN ILMU PENGETAHUAN LAINNYA 1 LATAR BELAKANG Di dalam dokumen-dokumen tradisional Depdagri. Perpres tersebut meletakkan dasar yang kokoh (raison d’ētre) bagi eksistensi IPDN ke depan. Kepamongprajaan dalam Sistem Pemerintahan Indonesia 2. dan rezim Soeharto (kepala wilayah). APDN dan IIP lebih dikenal sebagai “perguruan tinggi kedinasan di lingkungan Departemen Dalam Negeri. Jika dikaitkan dengan butir 3 “Mengingat” Perpres tersebut. Hubungan antara sistem pendidikan tinggi nasional dengan sistem pendidikan tinggi kepamongprajaan 5. lebih tegas. Di satu fihak. didefinisikan. Belanda (pangrehpraja dan pamongpraja). IPDN disebut sebagai “lembaga pendidikan kader pamongpraja di lingkungan Departemen Dalam Negeri.

subkultur kekuasaan (SKK).SKS-------------SKK--| pemain. PEMERINKEPAMONGPROFESIDEPSISDIK DIKLAT PROFESIONAL TAHAN----->PRAJAAN---->ONALISME-->DAGRI-->DAGRI--->IPDN-->KEPAMONGPRAJAAN 1 2 3 4 5 6 7 Gambar 1 Kerangka Pemikiran Satu. pemerintahan.SDB) | | melalui pe| | via rute 1 | | di hulu | | milu di hulu | | di hilir | | | | | | | | | | | | | | stakeholder -. Kybernologi adalah sebuah body-of-knowledge (BOK) baru. yaitu subkultur ekonomi (SKE). | | | | pembawasit penonton | | | ngunan | | | | | | | | | | redistribusi | | | | | | nilai berke| | nilai via pe. Pemerintahan (governance) adalah interaksi antar tiga subkultur tiap masyarakat (unit kultur).PERDA) | | dan rute 4 | | (SDA. mandat. Identifikasi dan definisi Sistem Pemerintahan Indonesia dapat dilakukan melalui pendekatan kekuasaan (Ilmu Politik). hasil pendaratan Bestuurskunde. seperti terlihat dalam Gambar 1.pe. dan subkultur sosial (SKS). sekurang-kurangnya tujuh terminal harus disinggahi untuk dapat mencapai lima topik di atas.kontrol----konstituen-------SKK rute 2---| sumber-sumber | | (UU.| | jawaban etik | | | ---hidup.Dalam peta eksplorasi pemikiran tentang Diklat Profesional Kepamongprajaan. Dalam kerangka pemikiran ini digunakan pendekatan Kybernologi (kybernân = besturen = steering). hasil------lay publik---------menurut----| | pengelolaan & pemberdayaan etika otonom | | sumber-sumber masyarakat di hilir | | 1 di tengah 6 | | 4 | . kuasa monev oleh SKS rencana)& pene(trust.| | pertanggung| | | | lanjutan utk | | lay civil. Bestuurswetenschap dan Bestuurswetenschappen di bumi Indonesia (Gambar 2).SKK---------------. 2 3 5 janji(kebijakan. dan dapat pula dilakukan menurut pendekatan kemanusiaan dan lingkungannya (Ilmu Pemerintahan.-SKE--------------. hope) selaku pelangan patan/implemendari SKS selaku terhadap kinerja --tasinya.SDM. Kybernologi).

Kepamongprajaan. 1. Turbulence-serving (mengelola ledakan yang dianggap mendadak atau di luar kemampuan. interaksi itu harus dikendalikan dan diarahkan oleh sebuah kekuatan yang disebut kepamongprajaan. Fries Ermessen (keberanian bertindak untuk kemudian mempertanggungjawabkannya) 8. Omnipresence (terasa hadir di mana-mana) 10. Responsibility (menjawab dengan jelas dan jujur. 6. Generalist and Specialist Function (knowing less and less about more and more. Profesionalisme. 5. and more and more about less and less) 9. Supaya kinerja interaksi antar tiga subkultur itu good. Nilai terbentuk melalui kerja. dan 3 (pelay = pelayanan) Dua. Coordinating (membangun kinerja masing-masing melalui kesepakatan bersama yang mengikat) 4. men(t)anggung risiko secara pribadi menurut Etika Otonom) 11. Pekerjaan yang ditekuni seumur hidup disebut profesi. Magnanimous-thinking (-mind. Kepamongprajaan adalah sebuah sistem yang terdiri dari 12 (duabelas) nilai sebagai berikut: 1. Conducting (membangun kinerja bersama melalui perilaku aktor yang berbeda-beda) 3. berpemikiran besar dan kuat menerobos zaman membuat sejarah) 12.” “sisa. Tiga. Distinguished statesmanship (kenegarawan-utamaan.” dan “yang terbuang”) 6.” “yang salah. Peace-making (membangun kerukunan dan kebersamaan) 5. 4. Vooruit zien (memandang sejauh mungkin ke depan) 2. dan dengan demikian governance menjadi good governance. tidak memihak. 2. impartial) Orang yang memangku 12 nilai tersebut disebut Pamong Praja. Kualitas kerja diharapkan professional agar kinerjanya . baik dalam arti formal maupun dalam arti informal. berdiri di atas semua kepentingan. Residue-caring (mengelola “sampah. selama memangku masajabatan publik.” “yang beda.| | ---------------------pemerintahan (governance)------------------------Gambar 2 Sistem dan Proses Pemerintahan (Governance) Digerakkan oleh Tiga Subkultur (Terminal) Melalui Rute 3. force majeure) 7.” “yang kalah.

” dan “profesionalisme” itu dapat dideduksi dari konsep “profesi” yang diuraikan dalam Kybernologi: Sebuah Rekonstruksi Ilmu Pemerintahan (2005. Di zaman raja Asoka (ca 269-232) terdapat dua agama besar di Asia. khususnya Departemen Dalam Negeri. Public Administration: Concepts and Cases.” artinya berbedabeda tetapi satu jua. Untuk memperkokoh kekuasaannya. Brown dan Dennis J. rasa. . 38-9).” yang dilembagakan menjadi Departemen Dalam Negeri. which ordinarily requires higher education at least through the bachelor’s level. kesebangsaan. . profesionalisme kepamongprajaan di atas digunakan. Professional associations and training centers promulgate a set of norms and values among professionals (Warren B. Finally. Dikemukakan lebih lanjut bahwa “first. Fourth. Pengertian “professional. Bertolak dari sejarah yang menunjukkan bahwa Bhinneka Tunggal Ika sebagai sistem nilai ideal di zaman dahulu bisa menjadi kenyataan. A Macro Approach. professions have a code of ethics. . tahan karena benar serta satunya cipta. . professions are encircled by a professional culture. dalam hal ini di ruang pemerintahan. . Pembicaraan tentang Departemen Dalam Negeri tidak dapat dipisahkan dari Visi dan Misi Bangsa Indonesia. sedangkan perdana menterinya Gadjah Mada (menjabat 1331-1364) beragama Buddha. 1980). yaitu Hindu dan Buddha. . 1984). . Pemerintahan “Dalam Negeri. . professions all have professional authority. Tanhana Dharmma Mangrva. Pada suatu tiang batu peninggalannya tercantum sebuah pernyataan yang dapat disebut Doktrin Asoka. . standards of training and competence are set by the profession itself.good. Empat. A professional group has a common language. Stillman II. Moberg. (berarti) merendahkan agamanya sendiri. Empu Tantular mengemas ajaran itu dalam seloka yang sebagian berbunyi “bhinneka tunggal ika. kata dan karya berdasarkan kebenaran yang tunggal.” lengkapnya “Bhinneka Tunggal Ika. dan membentuk watak (Character Building) bangsa. karsa. Third. h. maka adalah tepat tatkala Presiden Soekarno dalam pidato HUT Proklamasi Kemerdekaan RI tgl 17 Agustus 1950 menyatakan bahwa Bhinneka Tunggal Ika adalah sesanti (credo) bangsa Indonesia. Di sana dijelaskan bahwa profesi berarti. berbunyi: “Barangsiapa merendahkan agama lain dan memuji agamanya sendiri. . professions are based on the presence of a systematic theory.” Dalam kitab Sutasoma. which offers a lifetime career to its members (Richard J. Second. . . . “a reasonably clear-cut occupational field. Organization Theory and Management. Supaya berguna dan efektif. bahkan dapat disebut visi (walaupun Presiden Soekarno tidak secara eksplisit menyatakan demikian) bangsa Indonesia dalam membangun bangsa (Nation Building). Dalam kerajaan Majapahit (1292-1525) nilai ideal “berbeda (beragam) tetapi (ber)satu” itu menjadi kenyataan: raja Hayam Wuruk (memerintah 1350-1389) beragama Hindu. ia menganjurkan perdamaian di mana-mana. Bab I sub C.

departemen manakah yang secara khusus berperan menjalankan misi guna mewujudkan visi di atas? Sejak semula.Bhinneka Tunggal Ika itu merupakan sebuah sistem nilai yang terdiri dari dua komponen besar yaitu “bhinneka” (fakta. sepandan horizontal anjang sejarah pertar masyarakat sebedaan itu menimcepatnya bulkan kesenjangan vertikal dan horizontal antar masyarakat Gambar 3 Model Bhinneka Tunggal Ika Sebagai Misi Bangsa Indonesia kemudian setelah menyeberangi jembatan. das Sein) dan “tunggal ika” (ide. Bhinneka Tunggal Ika itu kemudian dijadikan hukum positif dalam bentuk PP 66/1951. visinya adalah seperti yang tercantum dalam Pembukaan UUD 1945. diperkaya dengan Bhinneka Tunggal Ika. Visi tersebut semakin jelas lima tahun BHINNEKA------------------------------------------------>TUNGGAL IKA masyarakat yang proses pengelolaan sehingga semua masing-masing keunikan menjadi kemasyarakat merasa memiliki keunikan kuatan matarantai sebangsa dan bersehingga yang satu dan pengurangan kesama-sama membaberbeda dengan senjangan vertikal ngun masa depan yang lain. das Sollen). Menterinya juga Tabel 1 FUNGSI LINI DEPARTEMEN DALAM NEGERI ---------------------------------------------------------------------KELOMPOK A KELOMPOK B ---------------------------------------------------------------------1 Ditjen Kesatuan Bangsa dan Politik 1 Ditjen Otonomi Daerah . Dalam sistem ketatanegaraan Indonesia. Gambar 3 menunjukkan misi Pemerintah Indonesia yaitu memproses pengelolaan keunikan tiap masyarakat menjadi kekuatan matarantai nusantara dan mengurangi kesenjangan vertikal dan horizontal antar masyarakat secepatnya. Sejumlah departemen/kementerian “teknis” berasal dari departemen ini. Tatkala Bangsa Indonesia masih berada di seberang jembatan yang bernama KEMERDEKAAN. Departemen Dalam Negeri menduduki posisi strategik dalam sistem pemerintahan RI. khususnya alinea pertama dan kedua. Antara dua komponen itu terjadi hubungan timbal-balik (interaksi) bahkan hubungan dialektik terus-menerus.

dapat dijadikan pegangan sementara. terlihat dengan sangat jelas bahwa dua kelompok itu merupakan fungsi lini Departemen Dalam Negeri. maka ke dalam sistem. Ditjen Kelompok A berfungsi sebagai unit kerja yang memproses “Tunggal Ika. mengurangi kesenjangan vertikal antar masyarakat dan kesenjangan horizontal antar daerah secepatnya. Ketujuh direktorat jenderal ini dapat dibedakan menjadi dua kelompok (Tabel 1). Sistem Pendidikan Tinggi Kepamongprajaan (input) terlihat dalam Statuta unitkerja penyelenggaraannya. departemen yang secara khusus berperan menjalankan misi pemerintahan Indonesia yaitu mengelolaan keunikan tiap masyarakat (bhinneka) menjadi kekuatan matarantai nusantara. adalah Departemen Dalam Negeri. Bila diperhatikan dengan saksama. Sistem Pendidikan Tinggi Kepamongprajaan. Mengingat posisi dan peran Departemen Dalam Negeri yang strategis itu. Sejauh ini Statuta yang dimaksud belum ada. Dari dahulu Departemen Dalam Negeri mengelola sistem pemerintahan berdasarkan asas dekonsentrasi. Dengan perkataan lain. proses. dan pembantuan (medebewind). dalam hal ini Statuta IPDN. Lima.” sementara ditjen Kelompok B mengelola “keBhinnekaan” nusantara. sehingga “the kesadaran dan rasa kesebangsaan terbentuk secara berkelanjutan (tunggal ika). kader Pamongpraja) input throughput output . Pasal 2 Permendagri Nomor 1 Tahun 2009 tentang Organisasi dan Tatakerja IPDN (menunjukkan proses) yang seharusnya ditetapkan berdasarkan Statuta. Di sana ditetapkan bahwa IPDN menyelenggarakan program pendidikan akademik dan/atau profesi di bidang kepamongprajaan. dan berperan sebagai pembina politik dalam negeri. desentralisasi. Tetapi yang terpenting adalah misinya mengelola kebhinnekaan dan mewujudkan ketunggalikaan bangsa Indonesia.2 Ditjen Bina Pembangunan Daerah 2 Ditjen Pemerintahan Umum 3 Ditjen Administrasi Kependudukan 3 Ditjen Pemberdayaan Masyarakat dan Desa 4 Ditjen Bina Administrasi Keuangan Daerah ---------------------------------------------------------------------- dikenal sebagai satu di antara triumvirate di samping Departemen Luar Negeri dan Departemen Pertahanan. yaitu tenagakerja penyelenggara IPDN) dan output (tenaga. Proses bergantung pada sistem (termasuk pelaku. dan pelaku pemerintahan departemen itu perlu dicharge 12 Nilai Kepamongprajaan di atas. Hal itu terlihat pada fungsi lini Departemen Dalam Negeri yang dewasa ini terdiri dari tujuh direktorat jenderal (ditjen). dalam sistem ketatanegaraan dan pemerintahan Indonesia.

Program Pendidikan akademik itu terdiri dari Program Pendidikan Diploma dan Program Pendidikan Strata. IPDN. dapat terpenuhi PROGRAM --1--PENDIDIKAN | DIPLOMA PROGRAM | -----PENDIDIKAN-----| | AKADEMIK | SISTEM PENDIDIKAN | | PROGRAM TINGGI KEPAMONG------| --2--PENDIDIKAN PRAJAAN (IPDN) | STRATA | PROGRAM --3--PENDIDIKAN PROFESI Gambar 5 Tiga Program Pendidikan Kepamongprajaan IPDN (Program 1. Enam. Berdasarkan Pasal 2 Permendagri 1/09 di atas. dan 3) segera. yaitu program 3 (Gambar 5) merupakan inti makalah ini. melalui Sistem Pendidikan Tinggi Kepamongprajaan yang merupakan Subsistem Pendidikan Tinggi Nasional.sistem pendidikan tinggi SDM-------------------------------->PAMONGPRAJA kepamongprajaan Gambar 4 Proses Pendidikan Tinggi Kepamongprajaan bergantung pada proses. posisi dalam organisasi pemerintahan. Dasar teoretiknya terlihat pada Gambar 6. dan prospek ke depan. Seseorang berkualitas Pamongpraja. dan Kybernologi dan Kepamongprajaan (2008). Kybernologi Sebuah Profesi (2007). Berdasarkan uraian di atas. Perbedaan antara Program Pendidikan Akademik (1+2) dengan Program Pendidikan Profesi (3) terletak pada pertama. Referensi tentang topik ini terdapat dalam Kybernologi Sebuah Scientific Movement (2007). Dengan sistem ini diharapkan. Satu di antara tiga program tersebut. 2. tenaga berkualitas kepamongprajaan itu diproduksi melalui Program Pendidikan Akademik dan Program Pendidikan Profesi. latarbelakang pendidikan. Program Pendidikan Akademik ditujukan pada pembentukan tenaga pemerintahan dengan Ilmu Pemerintahan (Kybernologi) sebagai core . kebutuhan masyarakat akan layanan kepamongprajaan melalui Departemen Dalam Negeri. IPDN memangku tanggungjawab penyelenggaraan Sistem Pendidikan Tinggi Kepamongprajaan sebagaimana terlihat pada Gambar 5.

Kualitas produk (lulusan) bergantung pada Organizational design IPDN. bukan layanan administratif kepada masyarakat. Sebagian tenaga melalui program ini. unsur pelaksana IPDN adalah fakultas dan Jurusan. bukan pelayanan birokrasi atau administratif. Produksi tenaga berkualitas Pamong Praja adalah pelayanan akademik atau pendidikan. Garis antara Rektor sebagai unsur kepala dengan Dekan dan Jurusan disebut garis lini (line function) atau garis komando hirarkik. dengan core curriculum yang sifatnya spesialis.curriculum pada tingkat institut. yaitu biro dan bagian di bawahnya. Dekan. Program Diklat Profesional Kepamongprajaan. MENTERI DALAM NEGERI | KEPALA BADAN DIKLAT (a/n)--------|--------SEKRETARIS JENDERAL (a/n) | REKTOR----------------| | |---------PEMBANTU REKTOR (a/n) | | | BIRO | | DEKAN-------------| | | | | BAGIAN | | KEPALA JURUSAN---------| | | | | SUBBAGIAN | TENAGA AKADEMIK | PESERTA DIDIK | MASYARAKAT PELANGGAN Gambar 6 Struktur Organisasi IPDN (Yang Disarankan) Tujuh. Organizational design IPDN bermula pada identifikasi produk unitkerja yang dibutuhkan oleh pelanggan (masyarakat. Diklat ini disiapkan khusus buat sebagian tenaga yang direkrut dari lulusan program pendidikan nonkepamongprajaan. 3 . SKS). dan prospeknya ke depan sebagai kader. dan Kepala Jurusan. bukan biro dan bagian. Dalam menjalankan tugasnya. Lulusannya disebut Pamongpraja Muda. Rektor. dibantu oleh unsur staf. Oleh sebab itu. Unitkerja yang memroduksi langsung tenaga Pamong Praja di bawah institut adalah fakultas. dalam hal ini tenaga berkualitas Pamong Praja.

UMUM | | | | | | | | | | | | 1 | 1 | -------------AGRONOMI-------ILMU-ILMU LAINNYA-------TEKNOLOGI------------CIVIL *generalist&specialist function GAMBAR 6 SISTEM NILAI KEPAMONGPRAJAAN DAN HUBUNGANNYA DENGAN KYBERNOLOGI DAN ILMU PENGETAHUAN LAINNYA . UMUM | | | statesmanship | | | | | --------------------| | | 3 | 3 | | PROFESI KOMPONEN DIKLAT PROFESI | | BIDANG----11-----PROFESIONAL-----11----BIDANG | | PERTANIAN KEPAMONGPRAJAAN PEK. yang menghadirkan ahli pertanian dan ahli pekerjaan umum (2). Ketika ia memasuki ruang profesi pemerintahan 9 -------------------------------KYBERNOLOGI-------------------------------| | (KOMPONEN PENDIDIKAN STRATA) | | | | | | | 8 8 | | KEAHLIAN KEAHLIAN | | DI BIDANG----------GENERALIS-----------DI BIDANG | | PEMERINTAHAN | PEMERINTAHAN | | | | | | | | | | | | 7 | 7 | | PROFESI KOMPONEN PROFESI | | BIDANG PE. Agronomi dan Teknologi Civil (1). Para ahli ini terpanggil untuk memangku profesi di bidangnya masing-masing (3) sehingga keahliannya menjadi keahlian profesional. sebagai contoh.--10---PENDIDIKAN---10------BIDANG PE| | MERINTAHAN DIPLOMA MERINTAHAN | | | | | | | | --------------------| | | 6 | vooruitzien | 6 | AGROPEMERINTAHAN | conducting | PEMERINTAHAN TEKNOLOGI PEMERINTAHAN DAERAH | coordinating | DAERAH PEMERINTAHAN | | | peace-making | | | | | | residue-caring | | | | 5 | turbulence-serving | 5 | | KEBIJAKAN | | KEBIJAKAN | |------------->BIDANG<----|---KEPAMONGPRAJAAN---|----->BIDANG<-------------| | PERTANIAN | | PEKERJAAN UMUM | | | | Freies Ermessen | | | | | | gen&spec function* | | | | 4 | omnipresence | 4 | KYBERNOLOGI KEPALA DINAS | responsibility | KEPALA DINAS KYBERNOLOGI PERTANIAN PERTANIAN |magnanimous-thinking | PEK. UMUM PEK.PROGRAM DIKLAT PROFESIONAL KEPAMONGPRAJAAN Dalam Gambar 6. UMUM | | | | | | | | | | | | 2 | 2 | | KEAHLIAN | KEAHLIAN | | DI BIDANG----------SPESIALIS-----------DI BIDANG | | PERTANIAN | PEK.

yang bersumber pada Ilmu Pemerintahan (Kybernologi. Sudah barang tentu. pemerintah daerah diharapkan mampu menyediakan pelayanan pemerintahan berbasis keahlian profesional bidang masing-masing (pertanian. Di antara 9 terminal yang terlihat pada Gambar 6. Pada saat itu ia memasuki ruang kepamongprajaan sebagai lembaga dan struktur (lihat Sesi Empatbelas GBPP Kepamongprajaan dalam buku ini). ilmupengetahuan dan teknologi). yang menuntut penguasaan fungsi generalis (7). hal ini analog dengan posisi dualistik menteri dalam struktur negara RI. ketimbang sebagai alat untuk meningkatkan produktivitas kerja. . sementara masyarakat bawah tidak memiliki akses ke sana. ia terlibat dalam proses kebijakan (5) pemerintahan daerah (6). dsb. dan bukan pelayanan pemerintahan guna membangun kekuasaan politik. profesinya meluas ke bidang profesi pemerintahan. Terminal 5 yang bersifat critical. diklat ini harus didukung oleh reformasi pemerintahan daerah. ilmupengetahuan dan teknologi itu terkonsentrasi di pusat-pusat politik kekuasaan. berkeahlian profesional bidang pemerintahan (8). Dalam struktur itu. terus ke 10 dan 11. yaitu sebagai pembantu presiden (ruang politik kekuasaan) dan sebagai kepala departemen/kementerian pemerintahan (ruang keahlian profesional. 9). specialist function) berdasarkan pertimbangan kepamongprajaan (generalist function) bagi manusia dan masyarakat di bawah. Setiap kewenangan yang diserahkan kepada masyarakat (daerah) harus diatur dalam peraturan daerah (perda). Diklat di Indonesia terkesan lebih sebagai alat promosi jabatan atau kenaikan pangkat seseorang. tenaga yang bersangkutan bersentuhan dengan kepamongprajaan sebagai kualitas. Pada aras statal. karena selaku unsur pelaksana. dan dan setiap dinas daerah harus diperkuat dengan tenaga ahli profesional melakukan tugasnya didukung fasilitas yang sepadan. dan berpeluang untuk menjadi kepala dinas (4). tetapi diharapkan semakin ke bawah (masyarakat. dinas daerahlah yang merupakan garisdepan pemerintahan daerah. Pada aras statal memang superioritas pertimbangan politik kekuasaan tidak dapat dihindarkan. Dengan Diklat Profesional Kepamongprajaan. daerah otonom).(misalnya menjadi PNS). sehingga terminal itu rawan konflik antara pertimbangan politik kekuasaan dengan pertimbangan keahlian profesional (ilmupengetahuan dan teknologi). setiap perda harus dilembagakan menjadi dinas daerah. Criticalness terminal itu terletak pada kenyataan bahwa kebijakan pemerintahan sejauh ini dianggap berada di dalam ruang politik. pertimbangan keahlian profesional (ilmupengetahuan dan teknologi) semakin dominan. Ironinya profesionalisme. Pada saat yang sama.

Etika Pemerintahan . Didaktik pembelajaran yang diusulkan ialah. . . 5 Sosiologi Pemerintahan 5 Nilai Lima Residue-caring . . Desain kurikulum juga perlu diubah. .Produktivitas suatu unitkerja tidak bergantung pada salah seorang tenaganya yang didiklatkan. . Sejauh ini kurikulum diklat terkesan didesain sebanyak-banyaknya karena semuanya dianggap penting. . 6 Etika Pemerintahan 6 Nilai Enam Turbulence-serving . . Ambil contoh desain Sepimxxxxx Tingkat Madya yang dirancang buat pejabat eselon IV atau tenaga yang diprojeksikan ke eselon III. Diklat dirancang per unitkerja dengan anggota sekitar 20 – 30 orang (unitkerja eselon 3 atau eselon 2). . 1 Kybernologi 2 Ilmu Filsafat 2 Nilai Dua Conducting. Para peserta dijejali 468 jam pelajaran (40 jam Materi Dasar. belajar bersama. 10 Manajemen Pemerintahan 9 Nilai Sembilan Responsibility . . . . . dengan metodik sedemikian rupa sehingga para peserta mampu belajar sendiri lebih lanjut dan menggunakan pelajaran itu dalam melakukan tugas pelayanan kepada masyarakat dengan penuh tanggungjawab. dan para peserta dicharge dengan sebanyak-banyaknya jam pelajaran dalam tempo yang sesingkat-singkatnya. 4 Ilmu Administrasi Publik 4 Nilai Empat Peace-making. . dan 164 jam Materi Penunjang) selama 30 harikerja. . . Metodologi diklat harus berubah. . . belajar-bersama (per unitkerja) materi pelajaran terpilih sesedikit mungkin dalam waktu sesingkat mungkin. . 9 Hukum Pemerintahan 8 Nilai Delapan Gen&Spec Function . . . . berarti 15. melainkan pada teamwork dan semangat kelompok seluruh unitkerja dalam hubungannya dengan unitkerja lain. . digunakan metodologi TOT (dengan kepala unitkerja sebagai peserta awal) dan atau Ujicoba dengan menggunakan Test Unit dan Control Unit.6 jam tiap hari. . . . Core curriculum Diklat Profesional Kepamongprajaan diidentifikasi di kalangan Tabel 2 Duabelas Nilai Kepamongprajaan -----------------------------------------------------------------NILAI CABANG ILMU/KAJIAN TERKAIT -----------------------------------------------------------------1 Nilai Satu Vooruitzien. 7 Manajemen Bencana 8 Ekologi Pemerintahan 7 Nilai Tujuh Freies Ermessen . 3 Kepemimpinan Pemerintahan 3 Nilai Tiga Coordinating . 264 jam Materi Inti. . Supaya sosialisasi Diklat Profesional Kepamongprajaan ini berjalan cepat. Demikian Nilai Dua dan Nilai Tiga Kepamongprajaan. dengan kepala unit kerja sendiri dan seluruh warga unit kerja yang bersangkutan sebagai pesertanya. .

.10 Nilai Sepuluh MagnanimousThinking. . . . Sudah barang tentu. tabel di atas masih bersifat tentatif. . . Di samping itu masih perlu diidentifikasi matadiklat dasar dan matadiklat penunjang yang belum tercakup dalam Tabel 2. . . . . . Etika Pemerintahan 12 Nilai Duabelas Distinguished Statesmanship . . . . 12 Ilmu Politik ------------------------------------------------------------------ cabang ilmu yang aksiologinya mengandung nilai kepamongprajaan tertentu (Tabel 2). . . . . . . . . . 11 Ilmu Sejarah 11 Nilai Sebelas Omnipresence. . . .

1504090825SDG .

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->