GBPP MATAKULIAH

PENGANTAR ILMU PEMERINTAHAN
UNTUK PROGRAM STRATA DI PERGURUAN TINGGI
Taliziduhu Ndraha, Kybernolog 1 LATAR BELAKANG GBPP mata kuliah Pengantar Ilmu Pemerintahan ini semula ditulis sebagai bahan Workshop Penyusunan GBPP/SAP Semester I dan II Fakultas Manajemen Pemerintahan IPDN 2008/2009 di Jatinangor tgl 24 dan 25 November 2008, memenuhi undangan Dekan fakultas yang bersangkutan tgl 18 November 08 No 003/487/FMP/08. Sesuai saran berbagai fihak, naskah awal diperluas sehingga dapat digunakan sebagai pola dasar matakuliah Ilmu Pemerintahan untuk Program S1, S2, dan S3 Ilmu Pemerintahan. Penggunaannya disesuaikan dengan kebutuhan tiap stratum. Andaikan Ilmu Pemerintahan diibaratkan sebuah pohon-buah dengan buah (aspek Axiologi), batang (aspek Epistemologi), dan akarnya (aspek Ontologi), maka didaktik dan metodik (DM) pengajarannya diperlihatkan melalui Tabel 1 di bawah ini.
Tabel 1 Didaktik dan Metodik (DM) Pengajaran Ilmu Pemerintahan Dilihat dari Aspek-Aspek Body-Of-Knowledge (BOK) Bahan Ajar (X menunjukkan tingkat kedalaman)
------------------------------------| METODIK PENGAJARAN | |-------------------------------------| | S1 | S2 | S3 | --------------------------------------|-----------|------------|------------| | | Axiologi (Buah) | X X X | X X | X | | |-------------------------|-----------|------------|------------| | DIDAKTIK | Epistemologi (Batang) | X X | X X | X X | | |-------------------------|-----------|------------|------------| | | Ontologi (Akar) | X | X X | X X X | ----------------------------------------------------------------------------

Dengan catatan bahwa perancangan DM harus dilakukan secara bertahap tetapi konsisten, Program S1, S2, dan S3, sebaiknya tersusun menurut skala interval dan tidak ordinal apa lagi nominal belaka (Gambar 1, sistem single input - single output). Sungguhpun demikian, dalam fase peralihan, program khusus atau tertentu, “darurat” atau terpaksa, sistem multi-input single output dapat juga digunakan, didukung dengan program matrikulasi yang sepadan. Jadi sedapat-dapatnya:

jangan begini: (ordinal)
S3 | | | | | S2 | S1 ilmu X

apalagi begini: (nominal, zig-zag)
------>S3 | ilmu X | | | | ------>S2 | ilmu Y S1 ilmu Z

tetapi begini: (interval)
S3 | | | S2 | | | S1 ilmu X

Gambar 1 Skala DM Program Strata Ilmu Pemerintahan 2 SESI SATU Sesi ini diisi dengan Penjelasan Umum, pandangan menyeluruh (overview) tetapi esensial (abstract, highlight) tentang Ilmu Pemerintahan (termasuk TIU) dan Sejarah Pengajaran Ilmu Pemerintahan di Indonesia. Semua mata kuliah yang terkait dengan Ilmu Pemerintahan mengacu pada Pengantar ini. Ilmu Pemerintahan yang diuraikan di sini adalah Ilmu Pemerintahan dalam konstruksi bangunan (bodyof-knowledge) yang disebut Kybernologi. Dalam hubungan itu, Kybernologi bukan sekedar judul buku, tetapi sebuah bangunan ilmu pengetahuan. Khusus di lingkungan IPDN/IIP, Ilmu Pemerintahan merupakan mata kuliah tingkat institut dan diajarkan pada semua program, strata, fakultas dan jurusan. Perkuliahan tiap semester terdiri dari 14 sesi tatapmuka dan dua sesi ujian (UTS dan UAS) = 16 sesi. Dari referensi ditelusuri sumber-sumber asli dan ditambahkan sumber-sumber lainnya. GBPP ini secara berkala ditinjau dan dikembangkan. Salahsatu versi GBPP ini dimuat dalam Bab XI Kybernologi Sebuah Pengharapan (2009). Sejarah Pengajaran Ilmu Pemerintahan di Indonesia diawali dengan Bestuurskunde, Bestuurswetenschap, dan Bestuurswetenschappen di Belanda. Menurut G. A. Van Poelje dalam Pengantar Umum Ilmu Pemerintahan (1959), mulai tahun kuliah 19281929 pengajaran dalam Jurusan Ekonomi Kenegaraan diperluas dengan mata pelajaran Ilmu Pemerintahan dengan tujuan supaya jurusan ini lebih disesuaikan dengan kebutuhan mereka yang berhasrat untuk bekerja pada dinas umum. Pada tgl 25 Januari 1928, Guru Besar Luar Biasa di bidang Ilmu Pemerintahan dilantik, dan dengan dmeikian maka pengakuan Ilmu Pemerintahan sebagai mata pelajaran (berderajat Doktor) pada pengajaran tinggi di Belanda menjadi suatu kenyataan. Selama masa 1928-1933 dua orang Doktor Ilmu Pemerintahan dipromosikan, yaitu

Dr R. E. Berends dan Dr F. Breedsvelt. Di masa itu Ilmu Pemerintahan dianggap sebagai struktur supra ilmu-ilmu pengetahuan yang berkaitan dengan ekonomi perusahaan. Uraian di atas kemudian disusuli dengan pengajaran Ilmu Pemerintahan pada kursus dan bestruursacademie Pamongpraja di zaman Belanda, paradigma Ilmu Pemerintahan di lingkungan UGM sampai tahun 80-an (Gambar 2), dan dewasa ini (Gambar 3), paradigma IIP-UNPAD, dan paradigma IPDN/IIP-Baru.
ILMU POLITIK | -----------------------------|----------------------------| | | | | ILMU ADM ILMU HUBILMU PEILMU PERBANTEORI PUBLIK INTERNASIONAL MERINTAHAN DINGAN POLITIK POLITIK

Gambar 2 Posisi Ilmu Pemerintahan Versi UGM (Tradisi Sampai Tahun 80-an)

Natural turbulences dan social turbulences yang terjadi di belahan dunia maju, misalnya di Amerika, mengerakkan pengubahan dan pembaharuan konstruksi berbagai ilmu pengetahuan. Paradigma Public Administration, misalnya, berubah menjadi Development Administration (tahun 60-an, pasca PD II), dan berubah

1 NEGARA 2 POLITIK KEPARTAIAN DAN PERWAKILAN

MASYARAKAT 3

Gambar 3 Ranah Publik: Bidang Studi Jurusan Ilmu Pemerintahan di Universitas Gadjah Mada (UGM) lagi menjadi The New Public Administration (1970-an, pasca Perang Vietnam). Dua

kali social turbulences (1965 dan 1998) dan sekali lagi natural turbulence (20042005) menimpa Indonesia, mendorong pembaharuan konstruksi Ilmu Pemerintahan. Turbulences itu ditanggapi dengan cara pendekatan yang berbeda oleh UGM dan Program Pascasarjana Kerjasama UNPAD-IIP (1996). Sejak tahun 2000-an, bidang kajian Jurusan Ilmu Pemerintahan di UGM dikonstruksi seperti Gambar 3 (A. Nurmandi, E. P. Purnomo, Suswanta, peny., Mencari Jatidiri Ilmu Pemerintahan, 2006), sedangkan Ilmu Pemerintahan di lingkungan Program Pascasarjana Kerjasama UNPAD-IIP direkonstruksi seperti Gambar 4. Rekonstruksi Gambar 4 bermula pada pendekatan kemanusiaan (Gambar 5). Melalui pendekatan ini, maka HAM, kebutuhan eksistensial Manusia, kebutuhan dasar masyarakat dan lingkungan hidupnya yang pertama-tama terlihat sebagai sasaran kajian, dan bukan Negara, kepentingan atau kekuasaan belaka. Rekonstruksi itu didorong oleh keinginan untuk mengembalikan Ilmu Pemerintahan pada posisi dan kualitasnya semula yaitu “ilmu yang bertujuan menuntun hidup bersama manusia dalam upaya

NEGARA governent 1 ruang kekuasaan PUBLIK ruang publik 2 KEBIJAKAN PUBLIK governance
kewenangan negara 1--------------->2 pelayanan publik

kewajiban negara 1-------------->3 pelayanan civil

ruang civil 3 MANUSIA HAM

Gambar 4 Interface Antara Negara Dengan Manusia mengejar kebahagiaan rohani dan jasmani yang sebesar-besarnya tanpa merugikan orang lain secara tidak sah” (G. A. van Poelje, Algemene Inleiding tot de Bestuurskunde, 1953. Rekonsturksi Ilmu Pemerintahan menurut pendekatan Gambar

Bab 3 Kybernologi dan Kepamongprajaan. Perkembangan kemanusiaan yang memuncak pada kenegaraan. P. Purnomo. 2007. PENDEKATAN KEKUASAAN PENDEKATAN KEMANUSIAAN DAN LINGKUNGAN FENOMENA PEMERINTAHAN COMMON PLATFORM SEMUA ILMU PENGETAHUAN ILMU PEMERINTAHAN KONSTRUKSI GAMBAR 4 BERNAMA KYBERNOLOGI ILMU PEMERINTAHAN KONSTRUKSI GAMBAR 3 Gambar 5 Dua Macam Pendekatan Referensi: Bab I Kybernologi 2003. 2006. sebagai hasil pendaratan Bestuurskunde dan Bestuurswetenschap di bumi Indonesia. E. A. Bab VIII Kybernologi Sebuah Profesi. Bab I dan Bab II dan Soewargono dalam Kybernologi Sebuah Rekonstruksi Ilmu Pemerintahan. 2005. yang disebut juga Hubungan Antara Janji dengan Percaya. membentuk Hubungan Pemerintahan. 2005. 2008 3 SESI DUA Melalui pendekatan metadisiplin: “Percaya agar (baru) tau (credo et intelligam). .. Pokok-pokok Kybernologi menurut perkembangannya yang terakhir terdapat dalam Bab I Kybernologi dan Pembangunan (2009). Nurmandi. Suswanta. 2008.3 dan Gambar 4 terhadap fenomena pemerintahan digabung seperti Gambar 5 itu. peny. Mencari Jatidiri Ilmu Pemerintahan. Bab 3 Kybernologi dan Kepamongprajaan. Pendekatan seperti Gambar 5 itulah yang diajarkan di lingkungan IPDN/IIP ke depan.” ditemukan Ontologi Kybernologi dengan dua variable pemikiran: Kualitas Manusia dan Hubungan Pemerintahan (lihat Gambar 6). Bab I dan Bab II Kybernologi Beberapa Konstruksi Utama. Keadaan dengan Pengharapan.

Bab 6 dan Bab 7 Kybernologi 2003. 1961. Pemikiran pemerintahan sejajar dengan pemikiran ekonomi.” demikian ungkapan Perancis. Pemenuhan kebutuhan manusia selain bersifat komprehensif (segala bidang kehidupan) juga bersifat jangka panjang sejauh mungkin ke depan: “Gouverner c’est prevoir. Pikiran ini dideduksi dari Ontologi Pemerintahan di atas. R.ALLAH mencipta CIPTAAN<---------------------HUBUNGAN PEMERINTAHAN---------------------> MAKHLUK MANUSIA-->MEMBUMI 1 CIPTAAN | MANUSIA | PENDUDUK-->BERMASYARAKAT | 2 CIPTAAN | MANUSIA | PENDUDUK | WARGAMA| SYARAKAT-->BERBANGSA | 3 CIPTAAN | MANUSIA | PENDUDUK KUALITAS MASYARAKAT MANUSIA WARGABANGSA-->BERNEGARA | 4 CIPTAAN | MANUSIA | PENDUDUK | MASYARAKAT | BANGSA | WARGANE| GARA----->BERPEMERINTAHAN 5 CIPTAAN MANUSIA 7 PENDUDUK YANG DIMASYARAKAT PERINTAH BANGSA konstituen NEGARA pelanggan<------------hubungan pemerintahan------------>PEMERINTAH konsumer (peran) korban 6 mangsa Gambar 6 Ontologi Kybernologi dengan 7 Terminal Referensi: Bab 1. . The Web of Government. McIver. bermula dari “kebutuhan manusia” sejak “terjadinya” di dalam kandungan. 4 SESI TIGA Epistemologi Ilmu Pemerintahan: Teori Kebutuhan.

Pada dasarnya. Tetapi pada saat orang berniat dan berkesempatan memilih makan apa atau makan siapa dan kapan.*) --->17privatisasi vs statalisasi Gambar 7 Teori Kebutuhan Kebutuhan perlu dibedakan dengan kepentingan. maka dasar pertimbangannya adalah kepentingan.------------------------------------------------------------------------| | | 7 | | PENGORBANAN | | CIVIL SERVANT | | | | | | | | 4 5 6 9 | | ----INDI. | | | | KORBAN dan MANGSA untuk SELAMAT | | | | | | 2 | | | 1 HUMAN 3 12 14 20 | MANU. dan pemenuhannya sebagai kewajiban negara.-----CIVIL-–----acting---------CIVIL------| | | VIDU RIGHTS action SERVICES | | | | | | | | | | | | | | 8 | | | | KESEMPATAN dan HARAPAN (HOPE) | | | | PELANGGAN UNTUK MENJADI KONSUMER. Jadi kepentingan itu subjektif. Semua orang membutuhkan makanan.----RIGHTS-----HUMAN PUBLIC PUBLIC kontrol. lebihlebih kebutuhan dasar (asasi) bersifat objektif.-----| SIA & INSNEEDS POLICY ACTOR evaluasi | TINCTS | | | | | | | 13 | | | | 11 | POLICY | 16 | | | -----PUBLIC---------IMPLE----------PUBLIC----| | | CHOICE MENTATION | SERVICES | | | | | | | | | | | | | | 10 | | 15 | ----MASYA| | penggunaan oleh KONSUMER | RAKAT | | HAK HIDUP KORBAN atau HAK MANGSA | | | | UNTUK MEMPERTAHANKAN DIRI | | | | KEPERCAYAAN (TRUST) terhadap PEMERINTAH | | | | PENGHARAPAN (HOPE) DI MASA DEPAN | | | | | | | --------------------------------------------| | | 17 18 19 ----PRIVATE-----.--BARANG---------MARKET CHOICE JASA (SATISFACTION) ---> 7pembentukan civil service --->12pembuatan kebijakan publik --->13pengadaan public goods *empowering --->14pembentukan public actor --->15pemberdayaan (enabling. Maka berbahaya jika orang memilih (membeli) tanpa mengetahui apa yang sesungguhnya dia . emp. Itulah sebabnya kebutuhan dasar itu diposisikan sebagai hak asasi manusia. kebutuhan.

Dia dapat terbebani KAM seiring dengan kemampuannya untuk bertanggungjawab. Bab 2 Kybernologi Beberapa Konstruksi Utama. Bagian Dua Bab VI Kybernologi Sebuah Scientific Enterprise. Maslow. 2006. Bab 4 Kybernologi 2003. Referensi: Book Two Walter Lippmann The Public Philosophy.butuhkan. dsb. h. Bab V Kybernologi Sebuah Metamorphosis. tetapi tidak dapat dan tidak mungkin ia dibebani KAM (kewajiban asasi) pada saat yang sama. 2005. civil NEGARA------>PRODUK------>PELANGGAN | | --------------------| | BERDAYA TAK BERDAYA | | | | KONSUMER KORBAN | --------------------| | DIBERDAYAKAN TAK DIBERDAYAKAN | | | | KONSUMER MANGSA | ----------------------------| | DISELAMATKAN TAK DISELAMATKAN | | | | *jika penyelamatan KORBAN* DIMANGSA. 5 SESI EMPAT Epistemologi Pemerintahan: Teori Pelayanan. 2008. 84). DISANTAP juga memberdayakan. 1956. Perlu dikemukakan bahwa manusia (setiap orang) memiliki HAM begitu ia terbentuk dalam rahim ibunya. | DIKORBANKAN korban jadi konsumer --------------------| | DIBERDAYAKAN TAK DIBERDAYAKAN | | | | KONSUMER MANGSA Gambar 8 Teori Pemberdayaan (Pelayanan) . dan referensi Teori Kebutuhan A. Perlindungan dan pemenuhan kebutuhan manusia dan masyarakat melalui public choice (public service.

. bukan janji Sekarang. baik kualitas maupun kuantitas dan kesebarannya Tidak dibebankan langsung kpd fihak YD. .” dibiayai oleh Negara 2 TUJUAN 3 STATUS 4 VISI 5 YANG DILAYANI (YD) 6 SIKAP 7 PROSPEK 8 HARGA BIAYA 9 PELAKU (YM) 10 SIFAT Civil Servant. dapat dibebankan kepada fihak YD Aktor pemerintahan a Monopoli Negara tapi dpt diprivatisasikan b Lebih normatif Kualitas pelayanan terdapat dlm dasar hokum pelayanan ybs Bergantung pada kemampuan dan kesempatan pelanggan menggunakan layanan Pelanggan Percaya Kendatipun Ybs Kecewa supaya masyarakat percaya sementara mereka kecewa? Info tanpa kebohongan. tak ada waktu utk mencari dan menyiapkan “the 6M”) Bergantung pada acting dan action civil servant dan “artis” pemerintahan Korban/Mangsa Berpengharapan Dalam Ketidakberdayaannya Supaya dalam diri korban tumbuh asa sementara ia tidak berdaya? Reformasi sepenuh hati Bukti. . Tabel 2 Pelayanan Publik dan Pelayanan Civil --------------------------------------------------------------------------------DIMENSI PELAYANAN PUBLIK PELAYANAN CIVIL --------------------------------------------------------------------------------1 DASAR Pasal 33 (2) UUD 45 Public Choice Meningkatkan Kesejahteraan Masyarakat Kewenangan Negara Jangka pendek Lapisan/Kelompok Masyarakat sebagai pelanggan Fihak YD Menyesuaikan diri dgn Kondisi Fihak YM Semakin berkurang dengan semakin majunya masy. . Kualitas pelayanan di sektor publik dan civil herus dibedakan dengan kualitas pelayanan di sektor privat dan bisnis. Conventions Melindungi. “Artis” pemerintahan a Monopoli Negara dan tidak dapat diprivatisasikan b Antisipatif berdasarkan asas Manajemen Bencana yaitu Waktu = Nol (langsung action. 11 FAKTOR 12 KUALITAS TERTINGGI 13 MASALAH Bagaimana 14 SOLUSI ---------------------------------------------------------------------- . ruang Ilmu Ekonomi). Civil Rights. Constitutional Rights. Menyelamatkan Manusia dan Lingkungannya Kewajiban Negara (Gambar 4) Jangka Panjang Individu pribadi sebagai pelanggan. “no price. ruang Ilmu Pemerintahan) dan private choice (market service. pertanggungjawaban (responsibility) Human Rights. Diusahakan serendahrendahnya. korban dan mangsa Fihak Yg Melayani (YM) menyesuaikan diri dgn YD Semakin meningkat. bukan nanti.service.

pertama karena di dalam ruang dua pelayanan itu tidak ada pilihan. Menyehatkan berarti mencegah penyakit. kepercayaan masyarakat kepada negara dan pengharapan manusia terhadap masadepan bisa terbentuk dan terjaga.Kepuasan pelanggan tidak dapat dijadikan kualitas pelayanan publik dan pelayanan civil. BERKUMPUL. jika saja masyarakat (bisa) memahami (mengerti. dan Professionalism. maka perlu diingat bahwa tidak merasa sakit belum tentu sehat. Teori Kerja. MENGELUARKAN PIKIRAN 6 KEMERDEKAAN UNTUK MEMELUK AGAMA 7 PENGAJARAN 8 PEMELIHARAAN FAKIR MISKIN DAN ANAK TERLANTAR TIDAK/BELUM DINYATAKAN SECARA JELAS: 1 KEBEBASAN MEMILIH 2 KEPASTIAN HUKUM. kalaupun ada sangat mahal atau sangat berat. dan melihat adanya perubahan dan kemajuan yang konsisten ke depan. Di dalam Teori Pelayanan termasuk Teori Pemberdayaan. KEKUATAN HUKUM 3 PERLINDUNGAN 4 KESELAMATAN 5 CONSUMERISM (bukan konsumtif!) dan sebangsanya -------------------------------------------------------------------------------1 (2) 26 27 (1) 27 (2) 28 29 (2) 31 (1) 34 . dan mencegah selalu lebih baik ketimbang mengobati. dan kedua karena dalam kekecewaan dan ketidakberdayaan sekalipun. Sebelum Amandemen) --------------------------------------------------------------------------KEBUTUHAN PASAL --------------------------------------------------------------------------TELAH DINYATAKAN SECARA JELAS. jika “meManusiakan manusia” (memulihkan atau mengembalikan Manusia ke dalam fitrahnya semula) dipandang sebagai pemberdayaan. maka di satu sisi. Jika pelayanan itu diibaratkan penyembuhan penyakit. dalam Teori Pemberdayaan (Manusia dan Masyarakat) terletak Teori Pelayanan. Tetapi untuk Indonesia bisa terbalik. Careerism. WALAUPUN BELUM SEMUANYA DIIMPLEMENTASIKAN TASIKAN: 1 2 3 4 5 HAK/PENGAKUAN SEBAGAI SOVEREIGN (VOTER/VOTING) PENGAKUAN SEBAGAI JIWA DAN SEBAGAI WARGA NEGARA KEBERSAMAAN KEDUDUKAN DI DEPAN HUKUM (KEADILAN) PEKERJAAN DAN PENGHIDUPAN YANG LAYAK KEMERDEKAAN BERSERIKAT. menerima) pertanggungjawaban pemerintah. Jadi di sisi lain pelayanan harus diarahkan pada Tabel 3 Layanan Civil Berdasarkan UUD 1945 (Naskah Asli.

pemerintahan sama dengan . Setiap masyarakat (unit kultur) digerakkan oleh tiga subkultur. dan mempertanggungjawabkan fungsi-fungsi itu kepada masyarakat di hilir). Bab I Kybernologi Sebuah Charta Pembaharuan. Gambar 7. fungsi implementasinya (pengurusan) di tengah. Adapun perbedaan antara pelayanan civil dengan pelayanan publik sebagai berikut (Tabel 2 dan Tabel 3) Referensi: Bab III Kybernologi Sebuah Rekonstruksi Ilmu Pemerintahan. subkultur kekuasaan (SKK). 2007. Di sana dinyatakan bahwa Pemerintah Daerah (Kepala Daerah dan jajarannya. Di bawah konteks pemerintahan daerah. 2008 6 SESI LIMA Epistemologi Ilmu Pemerintahan: Teori Governance. karena peroleh nilai bergantung pada sumberdaya yang berawal pada sumberdaya alami (SDA) sebagaimana adanya. dan hak-hak derivatif. Kebijakan otonomi Daerah berdasarkan UU 32/04. Interaksi antar tiga subkultur itu disebut governance. “Pemerintahan” Daerah dalam hubungan itu setara dengan local governance. Manusia mengatasi hal ini melalui pelestarian SDA dan fungsi pengaturan SKE di hulu. Subkultur ekonomi (SKE) berfungsi membentuk nilai dari sumberdaya yang ada. SKS pada hakikatnya terdiri dari dua kualitas: sebagai pelanggan dan sebagai konstituen. 2005. Bab V Kybernologi Sebuah Metamorphosis. Pasal 1 butir 2. local government) bersama DPRD adalah penyelenggara pemerintahan Daerah. 2007. bagaimana interaksi antar governance. bagaimana masyarakat melindungi dan memenuhi kebutuhannya melalui interaksi tiga subkultur itu. Lihat juga Gambar 4. sesuai dengan teori ini. HAM. yaitu subkultur ekonomi (SKE). diterangkan melalui Teori Governance. yang memiliki hak eksistensial. Dalam Gambar 9 terlihat juga bahwa konsep pemerintahan lebih luas daripada konsep pembangunan pemerintahan. Pada gilirannya hal ini menimbulkan ketidakadilan. terbentuklah subkultur kekuasaan (SKK). Dalam rangka menegakkan peraturan (kebijakan pengaturan SKE). Bab 5 Kybernologi Beberapa Konstruksi Utama. Bab 11 Kybernologi dan Kepamongprajaan. 2008.pemberdayaan. dan subkultur sosial (SKS). memaksimalkan pengurusan (meredistribusi nilai ke dalam masyarakat di tengah. 2005. Sebagai pelanggan ia menyampaikan kebutuhannya ke hulu melalui kualitasnya sebagai konstituen. 3 dan 4. dan memonev redistribusi nilai oleh SKK di hilir. Bab III Kybernologi Sebuah Profesi. bagaimana subkultur bekerja (berinteraksi) satu dengan yang lain. Bagaimana governance terbentuk. Konsep governance lebih luas ketimbang konsep government. dan Gambar 9 di bawah. Watak koruptif kekuasaan melahirkan pemikiran tentang pentingnya subkultur sosial (SKS) dalam masyarakat.

. Pembangunan itu sendiri berada di dalam policy implementation di ruang SKE.SKE--------|--------->SKK----------|-------->SKS------| pemain | | | penonton | | | | wasit | pelanggan | | | | | | | mengontrol SKK | | | ----------|-|---------di hilir | | pembangunan | | | | | | | meredistribusi | | | membentuk. Policy implementation dapat dibedakan dengan policy implementation monitoring and evaluation. Interface itu membentuk ruang Masyarakat. yaitu SKE. Interaksi antar subkultur masyarakat ----------------------| NEGARA | 2 3 -----mengontrol---------mengontrol-----| memberdayakan | | membayar | | | | | | | | | | | | mengontrol SKK | | | | | di hulu | | | constituent -----. Gambar 9 berawal pada Gambar 4 tentang interface antara konsep Manusia dengan konsep Negara. | | nilai via pela| | | |----meningkatkan. dan Subkultur Sosial (SKS dgn kualitas Sebagai Pelanggan dan Constituent) yang Disebut juga Subkultur Pelanggan (SKP) masyarakat melalui tiga terminal.pemberdayaan) | | | | 4 | | | | MASYARAKAT | | | | | | | ------melayani-------5---------pasar-------| | | | MANUSIA | | | ---------------------------feedback--------------------------6 Gambar 9 Teori Pemerintahan (Governance): Interaksi Antar Tiga Subkultur Melalui 6 Rute Subkultur Ekonomi (SKE). SKK. Subkultur Kekuasaan (SKK).-----yanan civil. Rute 5 menunjukkan rute pelayanan pasar. sedangkan Rute 6 feedback ke dalam interaksi. Lintasan gerak dari terminal ke terminal disebut rute. -----| | | | mencipta nilai pelayanan public | | | | 1 (inc. Gambar 10 menunjukkan 5 rute dasar interaksi antar tiga subkultur.policy making + policy implementation. dan SKS. and feedback.

dan SKS) Via Rute 1.SKE------------------>SKK-------------------->SKS--------| “pemain” | | | SBG PELANGGAN | | | | “wasit” | ”penonton” | | | | | | | | | | | | | | | | SKS sbg pelanggan | | | | | | | mengontrol SKK via | | pembangunan | | | | monev & feedback | | | | | | | di hilir | | | ---------|-|---------| | | | | | 5 | | | | membentuk. 3.nya | | dan PERDA | 2 | | | | 3 | | petaruh.Tabel 4 Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah ----------------------------------------------------------------------------PENGATURAN PENGURUSAN MONEV DAN FEEDBACK LOCAL GOVERNANCE ----------------------------------------------------------------------------1 DPRD -DPRD DPRD PEMERINTAH -LOCAL GOVERNMENT DAERAH (LOCAL GOVERNMENT) ----------------------------------------------------------------------------2 KEPALA DAERAH Sepanjang Rute 5 pada Gambar 10 dilakukan pemantauan dan evaluasi redistribusi ---------------------| NEGARA | SKK mengontrol SKS sbg konstidan memberdayatuen mengontrol --kan SKE via kebi--SKK di hulu via UU-| jakan & impl. 4. Interaksi Antar Tiga Subkultur (Tiga Terminal SKE. petarung | | | | | SBG KONSTITUEN -----. dan 5 . SKK. me| | memberdayakan.4 | | |---cipta nilai se-------nilai via pe| | | | cara berkelanlayanan civil & ----| | | | jutan pelayanan publik | | | | | | | | MASYARAKAT (PUBLIK) | | | | | | | -------melayani----------------pasar---------| | | | MANUSIA | | | ---------------------------feedback-----------------------------Gambar 10 Pemerintahan (Governance). men. 2.| | meredistribusi<-. | | | | 1 ningkatkan.

Hasil evaluasi dijadikan masukan ke dalam Rute 3. men. Dengan memasukkan konsep stakeholder (Bab I Kybernologi ---------------------| NEGARA | | | SKK mengontrol SKS sbg konsti---dan memberdaya-----tuen mengontrol--| kan SKE via kebi. dan 4 . petarung | | | | | SKS “BANDAR” -----. Teknik penampilan rute feedback tidak terlihat pada Gambar 10 dan Gambar 11 melainkan pada Rute 6 Gambar 12 sebagai masukan buat Rute 3. me| | memberdayakan. Di sana jelas. Dalam Teori Governance juga termasuk Teori Hubungan Pemerintahan (governance relations). 2. terus ke SKS.| | SKK di hulu via UU | | jakan & impl. hasil evaluasi dijadikan masukan ke dalam Rute 6 melalui terminal SKK.nya | | dan PERDA | 2 | | | | 3 | | petaruh.| | meredistribusi<-. 3.nilai (Rute 4) berdasarkan standar yang telah ditetapkan melalui Rute 3.4 | | |---cipta nilai se-------nilai via pe| | | | cara berkelanlayanan civil & ----| | | | jutan pelayanan publik | | | | | | | | | | | | MASYARAKAT (PUBLIK) | | | | | | | -------melayani----------------pasar---------| | | | MANUSIA | | | ---------------------------feedback-----------------------------Gambar 11 Stakeholder Pemerintahan (Hubungan Pemerintahan Antara Pemerintah (SKK) dengan Yang Diperintah (SKE dan SKS) Via Rute 1.SKE---------|-------->SKK----------|----->STAKEHOLDER----| ”pemain” | | | ”penonton” | | | | ”wasit” | | | | | | | | | | SKS sbg PELANGGAN | | | | | | | mengontrol SKK via | | pembangunan | | | | monev & feedback | | | | | | | di hilir | | | ---------|-|---------| | | | | | 5 | | | | membentuk. | | | | 1 ningkatkan.

Perda) | | via rute 2 | | otonom di hulu | | di hulu | | di hilir | | | | | | | | | | . 3. Dilihat dari sudut ini. Hubungan (rute) antar tiga terminal (dalam Gambar 9 terlihat empat) diperjelas (diurai) menjadi enam rute berkesinambungan.-----tuntutan. dan 2 . Pelangganlah yang merupakan stakeholder masyarakat. Gambar 9 mengalami modifikasi (Gambar 11).------rute 2 & 4--| sarkan etika | | (UU.SKS------------SKK-| | | | | | | | | redistribusi | | | | | | | | nilai via pe. mengingat masyarakat belum berdaya dan belum otonom di bidang pembangunan. Jika pemerintahan diibaratkan perjudian. 6.SKE-------------. SKE adalah masyarakat dalam perannya sebagai Pekerja. Kendatipun pada hakikatnya pembangunan terletak dalam ruang SKE (Gambar 9). 2009). sehingga pembangunanpun secara bertahap tetapi pasti beralih ke ruang SKE.| | pertanggung| | | | nilai berke| | lay civil. 5.SKK-------------. 3.pe. pembangunan oleh SKK adalah strategi pemberdayaan SKS sampai pada suatu saat peran ekonomi SKS otonom. sedangkan SKS adalah masyarakat dalam perannya selaku Pelanggan dan Konstituen. bandarlah stakeholdernya. masyarakat pemangku kekuasaan) dengan fihak Yang Diperintah (SKE dan SKS). kuasa monev terhadap & penepatan(trust. yaitu hubungan antara fihak Pemerintah (SKK. Gambar 12 merupakan 2 janji (kebi3 5 jakan/rencana mandat. penyerahan sebagian kewenangan negara (pusat) kepada masyarakat (daerah) dapat diartikan sebagai sebuah strategi privatisasi dari badan publik kepada badan privat.| | jawaban etik | | | --lanjutan utk----lay publik &------menurut----| | hidup pemberd masy etika otonom | | 1 di tengah di hilir | | 4 6 | | | | | --------------------pemerintahan (governance)-------------------Gambar 12 Sistem dan Proses Pemerintahan Melalui Rute 1. Dalam hubungan itu.dan Pembangunan. pemerintah hanya petaruh dan petarung selama masajabatan lima tahunan belaka. 4. Gambar 11 menunjukkan Hubungan Pemerintahan. untuk sementara pembangunan diletakkan di ruang SKK. hope) kinerja SKK ---nya) berda.

2008.rekonstruksi Gambar 7-1 Kybernologi (2003. Dengan argumentasi tertentu. kembali ke 2.” dan sebagainya. demikian terus-menerus. misalnya untuk rezim yang sedang berjalan. Bagian Tiga Bab V dan Bab XIV Kybernologi Sebuah Scientific Enterprise. 1. Bagian Pertama Bab 8 Kybernologi Beberapa Konstruksi Utama. 6. Bab I Kybernologi dan Pembangunan. Lingua franca ini terbentuk sebagai padanan kata Inggris performance yang sebenarnya berarti tampilan atau penampilan. angka 1 itu diletakkan pada rute Mandat (Gambar 12 pada rute 3). 5. rute Nilai Berkelanjutan Untuk Hidup).” “rakit” menjadi “rinakit. 2006. 2.” “reka” menjadi “rineka. sehingga prosesnya berjalan dari 1 ke. 4. kembali ke 3. Bab VI dan Bab VII Kybernologi Sebuah Metamorphosis. ----->LINGKUNGAN--------membentuk------->GOVERNANCE-------| 7 faktor 3 subkultur | | | | keselarasan | keseimbangan | keserasian feedback MASYARAKAT dinamika | keberlanjutan | interaksi antar | tiga subkultur | | | GOOD GOVERNANCE evaluasi oleh KINERJA | ----BAD GOVERNANCE<------pelanggan------GOVERNANCE<-------Lingkungan Governance: 1 sejarah 2 lokalitas 3 sistem politik Gambar 13 4 5 6 7 sistem ekonomi sistem sosialbudaya kondisi dan posisi geografik Weltanschauung masyarakat Model Dasar Teori Kinerja . Referensi: Bab I Kybernologi Sebuah Rekonstruksi Ilmu Pemerintahan (2005). 106) tentang hubungan antara Janji (commitment) dengan Percaya (trust) dan Harapan (hope). Kata itu berasal dari kata “kerja” ditambah sisipan “in” antara “k-” dengan “-e” menjadi “kinerja.” Hal itu terjadi misalnya pada kata “kanti” menjadi “kinanti.” “ganjar” menjadi “ginanjar. peneliti bebas menentukan rute awal penelitiannya dan menandainya dengan angka 1 (pada Gambar 12. 2005. berlanjut ke 3. Kosakata “kinerja” tidak terdapat dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia. 5 dan 6. 2009 7 SESI ENAM Epistemologi Pemerintahan: Teori Kinerja. 1. 4. Tetapi untuk rezim yang baru terpilih. sehingga rutenya menjadi 3.

kinerja governance bisa dikualifikasi good (Tabel 2). Jika kinerja interaksi antar tiga subkultur governance berkualitas good. 2009 . sesuai dengan hukum rantai yang menyatakan bahwa kekuatan sebuah rantai sama dengan kekuatan matarantainya yang terlemah 3. Bagian Tiga Bab VIII Kybernologi Sebuah Scientific Enterprise. Dinamika adalah tingkat kecepatan dan ketepatan perubahan (adaptabilitas) hubungan antar subkultur dari kondisi heterostasis ke homeostasis dan sebaliknya/selanjutnya 5. dan naikturun. agar keberhasilan yang satu tidak merusak tetapi sebaliknya mendukung keberhasilan yang lainnya 2. Apa yang dimaksud dengan good governance. Keserasian adalah tingkat empati (empathicability?) sikap dan harmoni kinerja tiga subkultur yang berbeda-beda. 2006. fluktuatif). maju-mundur. keterusberlangsungan). Keberlanjutan (kelestarian. pada suatu saat 4. Grafik kinerja bisa naik-turun (NT. Bab II Kybernologi dan Pembangunan. Bab I Kybernologi Sebuah Profesi. Kinerja harus distandardisasi (ref. MM dan TT). kesinambungan. Walaupun output atau outcomenya mengecewakan. 2005. bagaimana supaya kinerja governance itu good. Kinerja pemerintahan merupakan proses dan hasil keseluruhan interaksi antar tiga subkultur sebagaimana ditunjukkan oleh angka 1 sd 6 pada Gambar 9 dan Gambar 12. Dalam hubungan ini.perilaku atau acting. Keselarasan adalah tingkat ketepatan waktu dan arah tiga subkultur pada tujuan bersama jangka panjang. dengan catatan sebagai berikut: 1. maka governance itu disebut good governance. 2007. Keseimbangan adalah tingkat bargaining power dan keluasan pengambilan kesempatan berperan yang relatif sama antar tiga subkultur apada suatu saat. tetapi jika prosesnya dapat dipertanggungjawabkan. Perlu diingat bahwa PIP IPDN/IIP terletak di sini. Bab III Kybernologi Sebuah Profesi. dan timbul-tenggelam (NT. diterangkan melalui Teori Kinerja. naik-turun dan maju-mundur (NT-MM). Bagian Pertama Bab 4 dan Bab 9 Kybernologi Beberapa Konstruksi Utama. Teori ini terkait dengan Teori Governance dan Implementasi Kebijakan. performance terlihat lebih sebagai proses ketimbang sebagai output. adalah tingkat kelancaran proses jangka panjang interaksi antar tiga subkultur sesuai dengan norma (standar) yang (telah) disepakati bersama Referensi: Bab 4 dan Bab 6 Kybernologi 2003. 2007).

Genealogi Metodologi tersebut sebagai berikut (Gambar 14). setiap ilmu dan penggunaannya oleh masyarakat melalui governance dalam berkinerja. Metodologi di sini meliputi Metodologi Penelitian. Epistemologi memusatkan perhatian pada substansi atau objek -.---------->KNOWLED.------------------> ILMU | TAHUAN struksi GE (BOK) diagnosis | | prediksi(f’casting) | | eksperimentasi | direkam self-control | | diwaris| kembang| kan FENOMEN | FAKTA <---------------------.METODOLOGI PENGAJARAN <------------------------penggunaan ilmu termasuk learning process Gambar 15 Hubungan Antar Tiga Metodologi . Metodologi Ilmu. Perbedaan antara Epistemologi dengan Metodologi terletak pada titikpandang.METODOLOGI PENELITIAN --------------. Sebagai alat.METODOLOGI ILMU -------------| | | | | | | berfungsi: | | | | identifikasi | | | | deskripsi | | diolah diuji | | dikonBODY OF eksplanasi | D A T A -------> INFO ------> PENGE.8 SESI TUJUH Epistemologi Ilmu Pemerintahan: Metodologi.---DO. dan ---KONSTRUKSI-SCIENTIFIC ---ONTOLOGI ---ILMU---| |---BOK---->ACADEMIC | | ---BAHAN BAKU-ENTERPRISE | | | | | | ---------| | | | | FIL| EPISMETO. adalah metodologi.| PENE---PUSTAKA----| | --->SAFAT---|---TEMO.---| |--| | ILMU | LOGI LOGI | TIAN ---LAPANGAN---| | | | | | | | | | | | | | | | PE---DIDAKTIK---| | ---AXIOLOGI ---NGA.--| |<------------->| | | JARAN ---METODIK----| | | | | | | ---------------------NILAI-------------------| | | ----------------------------------FEEDBACK--------------------------------- Gambar 14 Genealogi Metodologi BOK Body Of Knowledge Metodologi Pengajaran Ilmu Pemerintahan.---|---LI.

dipandang tepat. Pernyataan “Tingkat kesehatan masyarakat masih rendah. Bab XVII dan Bab XIX Kybernologi Sebuah Scientific Movement. Bab X. 2006. Bab IX.” belum mendarat pada Ilmu Pemerintahan. knowable. Pendekatan yang digunakan adalah monodisiplin. dan lintasdisiplin. Bab 8 dan Bab 16 Kybernologi dan Kepamongprajaan. Dilihat dari sisi ini.” Quod erat demonstrandum. interdisiplin. arah) didaratkan pada beachhead ini. dan Bab XIII Kybernologi Sebuah Profesi. Objek formanya adalah interaksi antar tiga subkultur masyarakat (governance.” Dengan perkataan lain. Gambar 7. 2005. Gambar 11). masih di angkasa Ilmu Politik. Bab XI. Bab IV dan Bab V Kybernologi Sebuah Rekonstruksi Ilmu Pemerintahan. Bab XII. Bagian Tiga Bab II Kybernologi Sebuah Scientific Enterprise. Penemuan objek materia ini melalui pendekatan metadisiplin (Gambar 5 dan Gambar 6). karena kebijakan (bidang) kesehatan tidak diimplementasikan dengan baik. “Tingkat kesehatan masyarakat bergantung pada (dipengaruhi oleh) implementasi kebijakan pemerintah di bidang kesehatan. Bagian Kedua Bab 14 Kybernologi Beberapa Konstruksi Utama. dan unknown). Pernyataan masalah penelitian (problem statement) “Implementasi kebijakan (di bidang) kesehatan masyarakat tidak efektif. penempatan Ilmu Pemerintahan dalam Ilmu-Ilmu Sosial oleh Universitas Padjadjaran. multidisiplin. 2008. Bab IX . sedangkan Metodologi memusatkan perhatian pada proses bagaimana mengetahui (knower dan knowing process). Dari uraian di atas terlihat bahwa objek materia Ilmu Pemerintahan (Kybernologi) bukan negara tetapi masyarakat. layanan publik dan layanan civil. 2005. Bab 7. karena yang dinyatakan adalah apa yang dialami oleh masyarakat sebagai pelanggan pelayanan kesehatan. Setiap penelitian Ilmu Pemerintahan dari berbagai segi (aspek. Referensi: Bab 36 dan 35 Kybernologi 2003. baik objek forma maupun objek materia (known. karena yang dinyatakan adalah perihal kebijakan negara (politik) dan implementasinya.” mendarat pada Ilmu Pemerintahan. Negara adalah objek materia Ilmu Politik. bahkan ruang eksakta dan humaniora. Objek forma inilah yang membedakan sekaligus menghubungkan Kybernologi dengan disiplin (ilmu) lainnya.pengetahuan dan hubungannya dengan objek lainnya. dan sebaliknya dari sini ke segala segi (aspek) kemasyarakatan. Hubungan lebih rinci antar ketiga spesi Metodologi ditunjukkan melalui Gambar 15. dan Gambar 10) yang disebut juga hubungan pemerintahan dengan pelanggan sebagai titiktolak utama pembelajaran (SKS. Pernyataan tersebut disusul dengan pertanyaan penelitian: “Mengapa tingkat kesehatan masyarakat masih rendah?” Melalui analisis teoretik diperoleh jawaban (hipotesis): “Tingkat kesehatan masyarakat masih rendah. 2007. dan tidak dalam Ilmu Politik. 2007.

sehingga perlu dicari azas baru sebagai alternatif azas suara terbanyak yang sudah ada. Bisa terjadi. Gambar 17. yang dijadikan bahan pertimbangan dalam memilih dan menetapkan prinsip (azas) sebagai sumber nilai hipotetik untuk diuji secara empirik. Kelas dibagi menjadi 7 kelompok. . entitas itu adalah apa saja. Pertama kesetiaan. dan Gambar 18 menunjukkan model identifikasi (terbentuknya) nilai secara induktif. perilaku ditimbang disepakati -->ENTITAS-------->KUALITAS--------->NILAI-------------->NORMA | bisa dipaksakan (N) | | | | | feedback N<H dievaluasi ditegakkan | ---------------N=H<--------------HASIL--------------------N>H (H) Gambar 16 Identifikasi Nilai Secara Induktif Pada Gambar 16. tiap kelompok membuat tugas terstruktur tentang suatu sesi berupa sebuah makalah. Gambar 16. Angka 90 adalah nilai kesetiaan. Nilai dan asas. 2009 9 SESI DELAPAN UTS. Gambar 17. Bab VII. dan visionary. dan norma. Bab IX. dan menciptakan sumberdaya baru. Visi pemerintahan Gambar 18. 2008. Bab X. deduktif. kinerja seorang pejabat yang terpilih dengan suara terbanyak. Nilai sebagai inti budaya. Setiap pemenuh kebutuhan. ternyata bad. Bab VIII. Penemuan nilai secara deduktif bersumber pada Filsafat Pemerintahan yang berisi berbagai buah pikiran. Nilai intrinsik. bernilai. kedelapan kepemimpinan. nilai ekstrinsik. Dalam governance SKE berfungsi (Gambar 10) menambah. 10 SESI SEMBILAN Axiologi Ilmu Pemerintahan: Teori Nilai. atau membentuk nilai dari sumberdaya yang ada. Konstruksi tiga komponen: kualitas. Misalnya PNS dengan 8 kualitasnya. Gambar 16. dan Bab XIII Kybernologi dan Pembangunan. dan nilai ideal. asas-asas pemerintahan. Setiap tahun tiap kualitas dimonev. nilai. Ujian klasikal terdiri dari 5 soal. tetapi angka 91 disepakati sebagai norma minimal yang harus terpenuhi agar yang bersangkutan dapat dipromosi.dan Bab XVII Kybernologi Sebuah Metamorphosis. Ilmu itu amaliah dan amal itu ilmiah. merawat.

Gambar 18.” “satu-satunya. Envisioning dimulai juga dari Fakta tetapi bukan sisi “keberhasilan” sesaat (jangka pendek) tetapi sisi kecenderungan yang sedang berjalan (trend).” “tiada banding. Iklan pemikat.” dan sebangsanya. angka 2).” Visi yang dibuat berdasarkan definisi itu selalu diberi nilai superlatif. Pasal 1 butir 12 UU 25/04 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional (SPPN) mendefinisikan visi sebagai “Rumusan umum mengenai keadaan yang diinginkan pada akhir periode perencanaan. “kondisi yang given” (takdir) dan relatif tidak dapat ber-(di-) ubah. Visi itu objektif. Apakah yang dimaksud --------------------->FILSAFAT PEMERINTAHAN | | ASAS-ASAS (YANG ADA) | deduksi | ------------------------| | | | NORMA NILAI TERTULIS TIDAKTERTULIS | | | | ---------------| | | | | | | -->CUKUP TIDAK CUKUP | | | | | DIPERLUKAN | | NILAI BARU | ---DITEMUKAN<----UNTUK DIJA. berisi nilai intrinsik. apakah baik apakah buruk.Konstruksi visi menurut Teori Visi seperti Gambar 18. Apapun yang terlihat melalui pendekatan ini. Mengenvision (“melihat” dengan matahati dan mataiman) apa yang akan atau dapat terjadi 20 tahun ke depan. 1 kiri) terus berlanjut.” “paling-. “ter-. jika kondisi dan kecenderungan (arah perubahan) yang ada sekarang (Fakta. sebagaimana adanya. tiada tanding.<---------JADIKAN NORMA | | TIDAK DITEMUKAN | | -----------------DIPERLUKAN ASAS BARU Gambar 17 Identifikasi Nilai Secara Deduktif | | | | | | | | | | | | | | | | | | | | | | | | | | | | . itulah Visi (Gambar 18.

2005 11 SESI SEPULUH Axiologi Ilmu Pemerintahan: Kepamongprajaan. IPDN/IIP . yg ditetapkan secara kearifan lokal sadar dan formal berda| sarkan idea dan visi 4 3 IDEA----------------------C--------------------->GOAL | S4R4 | b HARAPAN | | S3R3 | D 20 tahun E arah B MISI | S2R2 | | a MASALAH | | S1R1 | FAKTA SEKARANG-----------------A--------------------->VISI 1 dua puluh tahun 2 kecenderungan internal apa yg terlihat bila & eksternal. apa bedanya visi dengan tujuan? Gambar 18 menunjukkan perbedaan itu. Bagian Tiga Bab VIII Kybernologi Sebuah Scientific Enterprise (2006) dan Bab I Kybernologi Sebuah Profesi (2007). Kepamongprajaan sebagai superstruktur profesi pemerintahan melalui pendekatan lintas sektoral bermula pada Visi. obsesi masy. Langeveld. yang harus dicapai? Jika yang terakhir itu artinya. Goal (tujuan) adalah rumusan formal yang ditetapkan sebagai respons terhadap visi yang terlihat (penglihatan) jauh di depan. J. 1957. Misi itu adalah jalan dan upaya mencapai tujuan yang telah ditetapkan. kondisi yg keadaan berjalan menutakberubah dan takbisa rut fakta sekarang diubah (takdir) (terminal 1) Gambar 18 Teori Visi Tujuan Jangka Panjang Berisi Nilai Ideal Melalui Envisioning Pemerintahan (Menggunakan Pola UU 25/04 dan UU 17/07) Kebijakan Jangka Panjang 20 Tahun (S strategi. Duabelas nilai kepamongprajaan di dalam governance (Gambar 19). Bab III Teori Budaya Organisasi. KE DEPAN tujuan jangka panjang cita-cita. Dari teori ini bersumber pokok-pokok bahasan berikut (sesi 10 dan seterusnya). Menuju Ke Pemikiran Filsafat. R rezim 5 tahunan) Referensi: Bab VII M.dengan “yang diinginkan” dalam definisi itu? Mimpi? Angan-angan? Simbol belaka? Atau sesuatu yang mengikat (formal). Bab 37 Kybernologi 2003. Demikian pentingnya misi itu sehingga mendapat julukan mission sacre.

UMUM PEK. UMUM | | | | | | | | | --------------TEOLOGI TEKNOLOGI------------CIVIL *KYBERNOLOGI KETUHANAN? Gambar 19 Duabelas Nilai Kepamongprajaan.didirikan untuk membentuk tenaga-tenaga pemerintahan yang berkualitas kepamongprajaan ini. Tentang hal ini. UMUM | | | | | | | | | | | | KEAHLIAN | KEAHLIAN | | DI BIDANG----------SPESIALIS----------DI BIDANG | | TEOLOGIA PEK. UMUM | | | statesmanship | | | | | --------------------| | | PROFESI | PROFESI | | BIDANG | BIDANG | | KEAGAMAAN | PEK. . . . bahwa berbagai ilmu pengetahuan yang bertalian dengan salah satu bagian dari penguasaan (beheer) perusahaan partikelir pada akhirnya bermuara pada suatu ajaran perusahaan umum (algemene bedrijfsleer) yang meliputi kesemuanya dan bahwa ajaran . van Poelje dalam Pengantar Umum Ilmu Pemerintahan (1959) menyatakan: -------------------------------KYBERNOLOGI------------------------------| | (ILMU PEMERINTAHAN BARU) | | | | | | | | | | | KEAHLIAN KEAHLIAN | | DI BIDANG----------GENERALIS----------DI BIDANG | | PEMERINTAHAN | PEMERINTAHAN | | | | | | | | | | | | PROFESI | PROFESI | | BIDANG PE| BIDANG PE| | MERINTAHAN | MERINTAHAN | | | --------------------| | | | | vooruitzien | | | TEOLOGI PEMERINTAHAN | conducting | PEMERINTAHAN TEKNOLOGI PEMERINTAHAN DAERAH | coordinating | DAERAH PEMERINTAHAN | | | peace-making | | | | | | residue-caring | | | | KEBIJAKAN | turbulence-serving | KEBIJAKAN | |--------------BIDANG-----|---KEPAMONGPRAJAAN---|-----BIDANG--------------| | KEAGAMAAN | Freies Ermessen | PEKERJAAN UMUM | | | | gen & spec function | | | | | | omnipresence | | | KYBERNOLOGI* KEPALA KANTOR | responsibility | KEPALA DINAS KYBERNOLOGI KEBERAGAMAAN AGAMA |magnanimous-thinking | PEK. Kepamongprajaan Sebagai Superstruktur Berbagai Profesi Sektoral Pemerintahan Hubungan Antara Kybernologi Dengan Ilmu-Ilmu Lain Dalam Hal Ini Teologi Dua Hibrida yaitu Teologi Pemerintahan dan Kybernologi Keberagamaan (KeTuhanan?) . . .

ialah Ilmu Pemerintahan (Bestuurskunde. Referensi: Bab XIII Kybernologi Sebuah Charta Pembaharuan.tentang penguasaan perusahaan-perusahaan partikelir ini setidaktidaknya untuk sebagian merupakan syarat bagi adanya ilmu pengetahuan yang lebih tinggi daripadanya. Berbeda dengan konstruksi kebijakan menurut Ilmu Politik. Bab XIV Kybernologi dan Pengharapan. Membanting cermin pada saat muka terlihat buruk (“Buruk muka. 2007. 12 SESI SEBELAS Axiologi Ilmu Pemerintahan: Kebijakan (dalam bahasa UU 32/04: Penyelenggaraan) Pemerintahan. muka dibenah”). itulah inovasi (“Buruk muka. Menemukan cara membenahi muka buruk sehingga menjadi baik. Ia diletakkan di dalam bingkai (frame) invention dengan scientific policy policy im----->RESEARCH----------->INVENTION----------->POLICY-----------------| enterprise making (input) plementation | | | | | |----------------------------with or without----------------------------| | | | | | I<O moniscientific | ------FEEDBACK<---I=O----EVALUATION<---------INNOVATION<--------------I>O toring (output) movement Gambar 20 Model Axiologi Kybernologi Melalui Kebijakan innovation. 2007.” Korupsi). konstruksi kebijakan dalam Kybernologi terlihat melalui Gambar 20. Asas (Principles. Bab 5. Konsep-konsep terkait: Filsafat. . cermin dibelah”) dan membuat cermin baru. dan Gambar 18. Kearifan (Kebijaksanaan. Kebijakan dalam ruang governance sebagai penyelenggaraan otonomi masyarakat (daerah). Bab 1 dan Bab 7 Kybernologi Sebuah Metamorphosis. Bestuurswetenschap) yang aksiologi utamanya di Indonesia adalah Kepamongprajaan (Gambar 19). Beginselen). Lihat juga Gambar 16. Bab XX Kybernologi Sebuah Scientific Movement. 2008. Kebijakan (Policy). bukanlah inovasi. Gambar 17. Bab 2. 2007. Bijak sini. dan Bab 6 Kybernologi dan Kepamongprajaan. 2008. 2009. Bab VI Kybernologi Sebuah Profesi. Bab 1. dan “Kebijaksanaan” (“Bijak sana. Bab 4. Wisdom). Nilai.

Bab VI. 2007.komunikasi penggunaan -. Referensi: Bab 6 dan Bab 37 Kybernologi 2003. berulang) atau sirkuler (circular. 1 a 2 b 3 c 4 d 5 ---> LK ------------> IP ------------> TP ------------> OP ------------> LK --| info kebijakan implementasi “marketing” | | distribusi | | | j -. Jika pada aras statal pertimbangan politik yang dominan. proses OP output. FB feedback Di dalam Manajemen Pemerintahan terletak Manajemen Pembangunan. organizing. merupakan tiga sisi atau dimensi Implementasi Kebijakan dari berbagai sudut pandang. tetapi siklik (cyclic. EV evaluasi. IP input. OC outcome. lingkaran) sesuai dengan hukum sistem. Birokrasi. guna | ---. Bab 12 Kybernologi Sebuah Scientific Movement.EV -------------MON <-------------OC --10 b>g 9 h 8 g 7 f 6 i Gambar 21 Manajemen Pemerintahan 1LK lingkungan sebagai sumber.HEV <-----------.FB <----b=g---. MON monitor. Bab 7 dan Bab 8 Kybernologi Sebuah Metamorphosis. Bagian Pertama Bab 5 Kybernologi Beberapa Konstruksi Utama. dan Manajemen. Oleh sebab itu seluruh terminal dan rute manajemen terkait (planning. HEV hasil evaluasi. dan Bab VII Kybernologi Sebuah Charta Pembaharuan. daerah). bukan kekuasaan politik tetapi premises ilmupengetahuan dan teknologi yang memegang peranan penting dalam peningkatan kesejahteraan masyarakat. Bab III. Administrasi Publik. 2008 13 SESI DUABELAS Axiologi Ilmu Pemerintahan: Manajemen Pemerintahan.e | | | | | b<g pembandingan pantauan manfaat.Policy implementation diberi kekuatan lanjutan research sebagai scientific movement. Jika digabung dengan Gambar 18. 2005. Diharapkan dengan demikian. Manajemen Pemerintahan seperti Gambar 21. semakin ke bawah (masyarakat. dan controlling) diatur setara (jangan seperti sekarang. Lihat Gambar 10.. (seharusnya) pertimbangan manajemen semakin dominan. Jika dilihat dari pendekatan sistem. Manajemen Pemerintahan tidak linier atau terpotong-potong mengikuti rezim politik. actuating. maka Manajemen Pemerintahan 20 tahunan sebagai Gambar 22. . hanya perencanaan yang diutamakan) dalam satu peraturan. TP throughput. 2007. Terminal dan rute sepanjang siklus atau sirkel pemerintahan bersifat kritikal. 5LK lingkungan sebagai pelanggan.

kepemimpinan adalah seni.” “Setuju. Bab 13. dan Bab 14 Kybernologi 2003. . Dalam hubungan itu.” Seni Pemerintahan menunjukkan upaya penumbuhkembangkan kreativitas dan efektivitas. itu sih teori. 2008. Bab II Kybernologi dan Pembangunan. Gambar 23. . Bab 12. . Bab X Kybernologi Sebuah Scientific Movement. xxvi): “Every science begins as philosophy and ends as art. .” demikian keluhan berbagai kalangan.(her-) self. . kehematan. Pentingnya Seni (dan Teknologi) diungkapkan oleh Will Durant dalam The Story of Philosophy (1956. . . Bab 13. Kombinasi Model 1 dengan Model 2 menghasilkan Model 3. Ruangnya dalam Model 2 Gambar yang sama.R1 R2 R3 R4 O---5---|---5---|---5---|---5-->20 rel (runway) jangka panjang | | | | R1 O-------|-------|-------|------>20 | | | | R2 O-------|-------|-------|------>20 | | | | R3 O-------|-------|-------|------>20 | | | | R4 O-------K1------K2------K3----->20 | K4 R rezim 5 tahunan. dan Bab 17 Kybernologi dan Kepamongprajaan. dan efisiensi. 2007. namun. 2008 14 SESI TIGABELAS Axiologi Ilmu Pemerintahan: Seni Pemerintahan dan Teknologi Pemerintahan.” Selanjutnya Teknik dan Teknologi Pemerintahan menunjukkan kemahiran. “how to get things done through the leader him. O orientasi 20 ke depan K1234 = kinerja R1R2R3R4 selama 20 tahun (expected output. Ruangnya dalam Model 1 Gambar 23. . 2005. Penyebab kemandulan dan kepincangan itu terletak di hulu (keringnya Filsafat dan lemahnya teori) dan di hilir (miskinnya Seni praktik atau implementasi: “Benar. “Ah.” Proposisi Durant ini menerangkan mandulnya suatu ilmu dan pincangnya hubungan antara teori dengan praktik. tetapi. bulat) 0 – 20 rel (landasan) jangka panjang Gambar 22 Manajemen Pemerintahan Berskala Jangka Panjang (20 Tahun) UU 25/04 dan UU 17/07 Referensi: Bab 10. Bagian Pertama Bab 5 Kybernologi Beberapa Konstruksi Utama.

Kunci Etika Pemerintahan terletak pada pertimbangan etik dan pertanggungjawaban etik (Terminal 6 dan Terminal 10 Gambar 24). dan Etiket Pergaulan Politik/Diplomatik adalah aplikasi Etika Pemerintahan. Etika Pemerintahan adalah Etika Otonom. kons konstan (seadanya). Bab 19. maks maksimum. dan 34 Kybernologi 2003. yang terbentuk sejak dalam kandungan. min minimum Referensi: Bab 12. hati sanubari. 15 SESI EMPATBELAS Axiologi Ilmu Pemerintahan: Etika Pemerintahan. insan kamil) sendiri. Bab I Kybernologi dan Pengharapan (2009).” Kode Etik Profesional. ada Hak Asasi dalam arti bawaan. Dengan pegangan Moral saja. Bab 30. Spiro dalam Responsibility in Government (1969). Tetangga Etika Pemerintahan adalah Teologi Pemerintahan.” tetapi “bersumpah. hati nurani. kewajiban tumbuh sejajar dengan pertanggungjawaban (kemampuan bertanggungjawab). Jadi bukan “disumpah. Serigala berbulu Domba. dan Musang berbulu Ayam. sedangkan pertimbangan Etik berlangsung di dalam kalbu (lubuk hati. Perbedaan dan kaitan antara Etika dengan Moral: Pertimbangan Moral berlangsung dalam masyarakat. Seperti telah dikemukakan.kreativitas efektivitas | | Ikons-----1---->Omaks<--| | -------------->3-------------| | -----Imin------2---->Okons | | kemahiran kehematan efisiensi Gambar 23 Seni Pemerintahan dan Teknik Pemerintahan I input. sementara sanksi dan reward Moral dari masyarakat. tetapi tidak ada Kewajiban Asasi dalam arti itu. . O output. Iblis bisa bercahaya seperti Malaikat. sanksi pelanggaran dan reward penaatannya bersumber dari diri sendiri. Teori Tanggungjawab menurut Herbert J.

risi. 2005. Reformasi Pemerintahan lebih sebagai fungsi ketimbang momentum. jelas nurani kebebasan memi| | lih. Bab XV Kybernologi Sebuah Scientific Movement. dan akumulatif. lu. 2007.-------orang lain. Reformasi Pemerintahan bertujuan membangun . Bagian Pertama Bab 7 Kybernologi Beberapa Konstruksi Utama. artinya berjalan terusmenerus. Bab 4. konsisten. Bab 2.1 2 3 4 5 6 ----->apakah------>kualitas--->nilai--->norma--->kesadaran---->pertimbangan---| etika? dasar etik etik etik etik etik otonom | | etika otonom | | | | | | | etika heteronom yg-benar guna tertanam norma mediskusi antar | | yg-baik dlm kuat. perlu bersumpah | | disaksikan mengorbankandiri | | | bunuhdiri | ----------*setiap commit| | dikontrol | ment atau janji | ---dibandingkan---harus disertai | kesenjangan ditedievaluasi sanksi yg mengikat | rangkan setulus & | diri sendiri dan --sejujurnya.nerangi norma dlm kalbu | | yg-wajib hidup as. dinyako & konsekuensi takan secara terbuka ditanggung sendiri Gambar 24 Etika Pemerintahan (1 sd 11 Terminal) Referensi: Bab 15 dan Bab 16 Kybernologi 2003. Bagian Dua Bab II dan Bab III. dan Bab 5 Kybernologi Sebuah Metamorphosis. Bab 3. dan Bagian Tiga Bab XVI Kybernologi Sebuah Scientific Enterprise. Bab III dan IV Kybernologi dan Pengharapan (2009) 16 SESI LIMABELAS Penguatan Tiga Subkultur Governance: Reformasi Pemerintahan. 2008.sumpah bernazar | perjanpengakuan membayar tebusan | jian credo kesediaan berkorban | commitment selfmengaku bersalah | | commitment mengundurkandiri dari jabatan | | | mengasingkandiri | | agar mengimenyakitidiri | | kat. kesepakatan | | | | 10 9 8 7 | | 11 pertanggungperilaku tindakan keputusan | ----etikalitas<----------jawaban<-------etik<------etik<----------etik<-------| etik | | | | | | | menaati kadar | --kinerjaberprakarsa keetikan sanksi etik* | berjanji* | | | | | ----------merasa malu | | | merasa bersalah | pada pada menyesal | orang diri mohon maaf | lain sendiri mohon ampun | | | janji bertobat | | nazar. 2006.

info. Memang. politisi) menyalahgunakannya. 2006. Bab 13. Teori Politik. Bab 12. Birokrasi itu ibarat sebuah mobil. Sumber-sumber. Bagian Dua Bab I dan Bab IX Kybernologi Sebuah Scientific Enterprise. Reformasi Pemerintahan berarti reformasi lingkungan pemerintahan yang terdiri dari Politik (Negara). Hubungan itu berturut-turut berisi public choice. Manfaatnya bergantung pada penggunanya. Sesehat dan sekuat apapun Birokrasi. Grand theory yang dimaksud adalah Teori Hubungan antara Negara dengan Manusia (Gambar 4). 2007. Bab IX Kybernologi Sebuah Charta Pembaharuan. 2009 .” Referensi: Bab 9 Kybernologi 2003. “power tends to corrupt. Diperlukan bangunan teori yang lebih tinggi. dan inovasi Birokrasi itu sendiri. Ilmu Pengetahuan. jika pengguna (politik. Bab I dan Bab II Kybernologi Sebuah Profesi. kalau tidak digunakan. Bab 14. 2007. dan kontrol di hulu dan di hilir. dan Bab 15 Kybernologi Sebuah Scientific Movement. Sosiologi dan Ilmu Hukum. tidak berguna. nilai. Bab VI dan Bab XII Kybernologi dan Pembangunan. 2008. ia menjadi biropatologik. Oleh sebab itu.POLITIK (NEGARA) | | public choice waktu | ruang | SUMBER-SUMBER----nilai----PEMERINTAHAN----informasi----ILMUPENGTAHUAN teknologi | sumberdaya | kontrol di hulu dan kontrol di hilir | | MASYARAKAT PELANGGAN Gambar 25 Lingkungan Pemerintahan Pemerintahan yang sehat dengan mencegah sejauh mungkin pemerintahan yang sakit. yaitu grand theory yang mencakup semuanya. Menurut teori itu terjadi hubungan timbal-balik antara keduanya. Bagian Kedua Bab 18 Kybernologi Beberapa Konstruksi Utama. Bab 8 Kybernologi Sebuah Metamorphosis. pada aras makro. Secerdas apapun sebuah temuan ilmiah. 2005. Dalam hubungan itu fenomena birokrasi tidak cukup diterangkan hanya oleh Teori Kebijakan Publik. 2007. Bab 2. dan Masyarakat (Gambar 25).

Untuk itu kelas dibagi menjadi 7 kelompok. Distribusinya menggunakan undian.17 SESI ENAMBELAS UAS. dan tugas struktural bagi tiap kelompok. UAS juga terdiri dari ujian klasikal dengan 5 soal. Sama seperti UTS. 1112081144 1212081427SDGORODTG 1312081506 1912081058 0401091050 0801091014SDGOROTDUSADS 3103090818SDG 0904090953SDG 1104091755SDG . tiap kelompok mambahas satu sesi kuliah.

. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 30 | ----------------------------------------------------------------------- . . . . . . . 20 | | AXIOLOGI | | 9 | Teori Nilai . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 5 | | EPISTEMOLOGI | | 3 | Teori Kebutuhan . . . 25 | | 13 | Seni dan Teknik Pemerintahan. . . . . . . . 26 | | 14 | Etika Pemerintahan. . . . .RINGKASAN ----------------------------------------------------------------------| SESI | URAIAN HALAMAN | |-----------------------------------------------------------------------| | 1 | Penjelasan Umum . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 22 | | 11 | Kebijakan Pemerintahan. . . . . . . . . . . 27 | | 15 | Reformasi Pemerintahan. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 6 | | 4 | Teori Pelayanan . 28 | | 16 | UAS . . . . . 8 | | 5 | Teori Governance. . . . . . . . . . . . . . . . . 24 | | 12 | Manajemen Pemerintahan. . . . . . . . . . . . . . . . . . 20 | | 10 | Kepamongprajaan . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 11 | | 6 | Teori Kinerja . . . 18 | | 8 | UTS . . . . . . . . . . . 2 | | | Sejarah Pengajaran Ilmu Pemerintahan di Indonesia | | ONTOLOGI | | 2 | Ontologi Ilmu Pemerintahan. . . . . 16 | | 7 | Metodologi. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .

895. Informasi dari pak Khasan Effendy (IPDN) pukul 112207 tentang ilmu apa yang dimaksud: “Pemahaman saya pembaharuan dan pengembangan Ilmu Pemerintahan salah satunya Kybernologi. sebuah Bidang Kajian (field of study). Ilmu Pemerintahan (secara implisit Kybernologi) sebagai core curriculum IPDN pada tingkat institut (dijadikan menu semua fakultas dan jurusan) diajarkan sebelum core curriculum institut lainnya yaitu Kepamongprajaan. Kybernolog 1 LATARBELAKANG Kompas 11 Oktober 07 h. MPA.” dilanjutkan pada pukul 224923: “Benar. Dr Tjahya Supriatna. dan Doktor S3). . bagaimana dengan Kepamongprajaan sebagai matakuliah baru? Apakah hanya seperangkat teori seperti Teori-Teori Pembangunan. Yang beliau maksudkan adalah Kybernologi dan Kepamongprajaan. SU.’ ujar Mardiyanto” (Menteri Dalam Negeri). seorang pejabat Badan Diklat Depdagri tgl 121007 pukul 223338 diperoleh info: “Benar.” dengan subjudul “Sistem Pengasuhan Dihapuskan. SU. drs.GBPP MATAKULIAH KEPAMONGPRAJAAN Taliziduhu Ndraha. .” Di kiri bawah terdapat tulisan: “‘Di IIP ada tambahan ilmu baru sebagai pendukung dalam aspek pemerintahan. . Pukul 082337 pagi itu anak saya Pram mengonfirmasi berita itu pada saya seraya menanyakan ilmu apa yang dimaksud. Semakin . Prof. dan jejaknya nyaris lenyap disapu perubahan zaman. dan Prof. Jika Kybernologi berbentuk body-of-knowledge (BOK. kembali menarik dengan semakin gamangnya penyelenggaraan Negara dan pemerintahan di tanahair. Kita jadikan proposal yg prof. disiplin. prof. ilmu) dan derajat akademiknya bulat (Sarjana S1. Magister S2. 15 meluncurkan berita berjudul “Presiden Ubah IPDN Menjadi IIP. Segera saya melaporkan berita itu via SMS kepada beberapa pejabat yang berkompeten. .” Dari 08159676440. Plt Rektor IPDN Dr J. Kegamangan itu terlihat pada hubungan antara pusat dengan daerah. seperangkat Kebijakan dan Peraturan. Diubah Kepamongan.” Apakah ini berita jurnalistik yang setelah dibaca menjadi basi dan dilupakan orang? Atau lanjutan sejarah? Di dalam sistem kurikulum IPDN terbaru (Peraturan Rektor IPDN tgl 15 September 2007 No. buat sebagai dasar keilmuan pembentukan IIP Regional.5-273 Tahun 2007. Kepamongprajaan yang pamornya timbul tenggelam selama seratus tahun terakhir. Muchlis Hamdi. Marwan. antara lain Plt Kepala Badan Diklat Dr H. MSi. prof. atau sebuah topik Seminar? Yang jelas. Kaloh. Muh. PhD.

Saya menemukan Drs S. semakin berkuasa kekepalawilayahan ketimbang kekepaladaerahan. Sesudah itu. kepamongprajaan semakin kehilangan ruang hidupnya. kalau pemerintahan itu identik dengan pamongpraja. adakah dan jika ada di manakah terletak perbedaan signifikan antara Kybernologi dengan Kepamongprajaan? Kelima. Semakin luas otonomi daerah. 2007. baik sebagai berita maupun sebagai pustaka. tidak saling membunuh seperti disangka orang? Di samping kegamangan. apa maknanya. saya membolak perpustakaan dan menjelajah warisan berbentuk huruf dan kalimat. “Praja” berarti kerajaan. mengalami masa sunyi yang lama. Dokumen pemikiran tentang Kepamongprajaan periode 70-80-an diwakili oleh Drs Bayu Surianingrat. dan apa manfaatnya? Apakah hal itu menunjukkan bahwa sesungguhnya di atas panggung yang sama yang satu memerlukan yang lain. Pertama. pada tahun 2030 menjadi nomor lima terbesar sedunia. di negeri yang menurut ramalan ulamapedagang politisi-birokrat buruh-cendekiawan.” dalam Berita IIP No. bagaimana dengan pendapat Bayu Surianingrat dalam Pamong Praja dan Kepala Wilayah (1980) yang membedakan pamongpraja dalam arti luas dan pamongpraja dalam arti sempit? Keempat. “Membina Dinas Pamong Praja ke Arah Dinas Karier Dalam Administrasi Negara.” Kalau kedua konsep itu mengandung arti yang sama. Di zaman berlakunya UU 5/74. sampai tahun 2004 ketika Forum Komunikasi Alumni IIP . bagaimana konstruksi hubungan teoretik antara keduanya? Maka sambil meraba-raba sini-sana. pusat terhadap daerah. semakin melembaga kepamongprajaan. yaitu Pidato Ilmiah pada Hari Wisuda Alumni APDN Malang dan Peresmian IIP tgl 25 Mei 1967 di Malang. pilek dan flu. Kepamongprajaan. Bab VI. Jadi “pamongpraja” sesungguhnya identik dengan “pemerintah” dan “pemerintahan. apakah seluruh perangkat eksekutif atau hanya perangkat Departemen Dalam Negeri yang dapat disebut pamongpraja? Ketiga. didorong oleh curiosity seadanya. MPA. muncul beberapa kebingungan. Pamudji. selagi semua orang asyik menikmati tidak kurang dari sepuluh hari libur bersama. semakin otoriter Negara. Mungkinkah sebuah lembaga mengadvokasikan otonomi seluas-luasnya dan pada saat yang sama membuka ruangan bagi kepamongprajaan? Bagaimana hal itu bisa terjadi. penyelenggara. walau terundung alergi debu.” seperti “government” yang dapat diartikan “pemerintah” dan juga “pemerintahan.dominan politik dekonsentrasi terhadap desentralisasi. Negara. 21 Tahun 1971. mengapa dijadikan dua matakuliah yang berbeda? Kedua. kota. 1980. Pamong Praja dan Kepala Wilayah. Pidato itu menunjukkan bahwa pembentukan IIP dijiwai oleh semangat Kepamongprajaan. sedangkan “pamong” berarti pengasuh. sebuah dokumen akademik yang 40 tahun kemudian dimuat dalam Kybernologi: Sebuah Profesi.

“Kepamongprajaan Ditinjau Dari Perubahan Paradigma Pendidikan dan Peranan Pemerintahan Umum” (5-2006). Kepamongprajaan terlihat di panggung bernama Negara dengan pemerintah sebagai aktornya. Saya juga tergerak untuk menulis beberapa makalah. G. saya mencoba melengkapi pendekatan deskriptif dan normatif yang digunakan oleh para penulis di atas. dengan titiktolak yang berbeda. 20 Mei 1963. Dalam Jurnal Pamong Praja terdapat beberapa artikel yang nadanya sama. terbitan Program Pascasarjana IPDN. Kybernologi mempelajari bagaimana memulihkan Manusia dari korban dan mangsa menjadi . Azis Haily. IPDN menyelenggarakannya Seminar Nasional Dalam Konteks Kepamongprajaan di kampus Jatinangor pada tgl 22 September 2007. Sama seperti titian yang saya gunakan tatkala saya akhirnya menemukan Kybernologi.” disiapkan untuk Seminar di Kabupaten Landak Kalimantan Barat pada tgl 26 Oktober 2007. yang menyatakan bahwa IPDN adalah lembaga pendidikan pamongpraja. dan “Kepamongprajaan: Fungsi dan Peran Pamongpraja Dalam “Era Otonomi Daerah. perhatian terhadap Kepamongprajaan terus mekar. MSi.” Bandung 20 Mei 1963. SH. namun “praja” dalam hubungan itu lebih sebagai sukunama ketimbang sebuah makna. “Pendidikan Pamong Praja di Indonesia” (1. 2007. dipertegas dalam Peraturan Menteri Dalam Negeri No. IPDN sendiri tidak tinggal diam.” Bandung. kembali saya menggunakan pendekatan metadisiplin (Ontologi).” dalam Kybernologi: Sebuah Charta Pembaharuan. Dipacu oleh terus digunakannya nama “pamong” oleh STPDN dan kemudian IPDN. Guna mengantisipasi kemungkinan untuk menjadikan Kepamongprajaan sebagai matakulian di IPDN. Dr Ateng Syafrudin. Kybernologi bermula dari Manusia dengan kebutuhannya sebagai fakta di panggung dunia. Giroth. Bab XIII. Maka lahirlah “Memorial Lecture Ilmu Pemerintahan: Kepamongprajaan Dalam Sistem Pemerintahan. 2004). Pamudji.menerbitkan Jurnal Pamong Praja. dengan mengembangkan sisi teoretik tulisan guru saya S. Bab XX. Djopari. 2007. sejak tahun 80-an IIP menerbitkan majalah Widyapraja. Dr Lexie M. berkisar pada masalah pendidikan pamongpraja. “Kepamong-prajaan” dalam Kybernologi: Sebuah Scientific Movement. Memang. Kybernologi dan Metakontrologi (2005). “Pamongpraja Sebagai Golongan Karya Pemerintahan Umum. menyajikan makalah tentang “Ilmu Pemerintahan Dalam Konteks Kepamongprajaan. menulis Pamong Praja. dan Hyronimus Rowa. Dalam seminar itu Prof. dari bahan-bahan yang amat sangat terbatas. Misalnya John R.” dilengkapi dengan sejumlah bahan yang lebih tua dan otentik mewakili zamannya. dan “Jabatan Pamongpraja (Dahulu Pangrehpraja) Dalam Penelitian Antropologi Budaya dan Hukum Adat. 43 Tahun 2005 tentang Statuta IPDN. SIP. “Sejarah Pendidikan Pamong Praja di Indonesia” (7-2007).

UMUM PEK. UMUM | | | statesmanship | | | | | --------------------| | | PROFESI | PROFESI | | BIDANG | BIDANG | | KEAGAMAAN | PEK. UMUM | | | | | | | | | --------------TEOLOGI TEKNOLOGI------------CIVIL *KYBERNOLOGI KETUHANAN? **generalist&specialist function Gambar 1 Sistem Nilai Kepamongprajaan dan Hubungannya dengan Ilmu Pengetahuan . subkultur kekuasaan (SKK). Kepamongprajaan mempelajari SKK seperti apa yang diharapkan bersinerji dengan SKE dan SKP sedemikian rupa sehingga kinerja governance yang bersangkutan berkualitas good (good governance). dan subkultur pelanggan (SKP) suatu governance. Manusia dengan Negara berinterface pada situs SKK bernama Kepamongprajaan. UMUM | | | | | | | | | | | | KEAHLIAN | KEAHLIAN | | DI BIDANG----------SPESIALIS-----------DI BIDANG | | TEOLOGIA PEK. Derajat akademik bahan ajaran (didaktik) Kepamongprajaan berada pada tingkat mezzo (meso-). melalui interaksi subkultur ekonomi (SKE). Lebih padat-nilai (Axiologi) ketimbang -------------------------------KYBERNOLOGI-------------------------------| | (ILMU PEMERINTAHAN BARU) | | | | | | | | | | | KEAHLIAN KEAHLIAN | | DI BIDANG----------GENERALIS-----------DI BIDANG | | PEMERINTAHAN | PEMERINTAHAN | | | | | | | | | | | | PROFESI | PROFESI | | BIDANG PE| BIDANG PE| | MERINTAHAN | MERINTAHAN | | | --------------------| | | | | vooruitzien | | | TEOLOGI PEMERINTAHAN | conducting | PEMERINTAHAN TEKNOLOGI PEMERINTAHAN DAERAH | coordinating | DAERAH PEMERINTAHAN | | | peace-making | | | | | | residue-caring | | | | KEBIJAKAN | turbulence-serving | KEBIJAKAN | |--------------BIDANG-----|---KEPAMONGPRAJAAN---|------BIDANG--------------| | KEAGAMAAN | Freies Ermessen | PEKERJAAN UMUM | | | | gen&spec function** | | | | | | omnipresence | | | KYBERNOLOGI* KEPALA KANTOR | responsibility | KEPALA DINAS KYBERNOLOGI KEBERAGAMAAN AGAMA |magnanimous-thinking | PEK. Dilihat dari pendekatan tersebut. seperti fitrahnya semula sebagai ciptaan ALLAH.consumer.

3 dan 4. disusunlah 14 butir GBPP KepamongPrajaan (+ UTS dan UAS = 16 sesi) tentatif. yaitu subkultur ekonomi (SKE. maka Kepamongprajaan sebagai bahan-ajaran merupakan salah satu komponen Kybernologi pada sisi Axiologi. pada semester sesudah Kybernologi diajarkan. Inilah dasar peletakan Kepamongprajaan dalam sistem kurikulum IPDN.padat-teori. tidak mengurangi derajat akademiknya. Bahannya diambil dari Sesi Lima GBPP Ilmu Pemerintahan (Kybernologi). Pasal 1 butir 2. maka apapun substitusinya. subkultur kekuasaan (SKK). bagaimana subkultur bekerja (berinteraksi) dan berkontrol satu terhadap yang lain. Bahan ini didahului dengan pembahasan singkat Teori Nilai (Sesi Sembilan GBPP Ilmu Pemerintahan). Bagaimana masyarakat melindungi dan memenuhi kebutuhannya melalui interaksi tiga subkultur itu. pembangunan itu sendiri berada di dalam policy implementation di ruang SKE). harus berangkat dari Sistem Nilai Kepamongprajaan ini. Mengingat governance merupakan Epistemologi Ilmu Pemerintahan. diterangkan melalui Teori Governance. Berdasarkan uraian di atas. dan pengembangan Bab XIV Kybernologi dan Pengharapan (2009). Jika “pengasuhan” dihapus dari panggung metodik (lihat Bab IX Kybernologi: Sebuah Profesi). sebagai berikut. 2 SESI SATU Pemerintahan. bagaimana governance terbentuk. Menurut Teori Governance. setiap masyarakat (unit kultur) digerakkan oleh tiga subkultur. Kebijakan Presiden (Perpres 1/09 tgl 12 Januari). modifikasi bahan yang pernah diterbitkan dalam Bab 6 Kybernologi dan Kepamongprajaan (2008). bahkan posisinya sebagai lembaga pendidikan tinggi kepamongprajaan dikukuhkan. Kebijakan otonomi Daerah berdasarkan UU 32/04. sesuai Tabel 1 Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah ----------------------------------------------------------------------------PENGATURAN PENGURUSAN MONEV DAN FEEDBACK ----------------------------------------------------------------------------1 DPRD -DPRD 2 KEPALA DAERAH PEMERINTAH DAERAH -(PEMERINTAH DAERAH) ----------------------------------------------------------------------------- . untuk tetap menggunakan nama IPDN dan tidak IIP seperti dijanjikan 15 bulan yang lalu. dan subkultur sosial (SKS).

“Pemerintahan” Daerah dalam hubungan itu setara dengan local governance. | | nilai via pela| | | |----meningkatkan. Dalam Gambar 1 terlihat juga bahwa konsep pemerintahan lebih luas daripada konsep pembangunan pemerintahan. Konsep governance lebih luas ketimbang konsep government. Penyelenggaraan itu meliputi pengaturan (lebih tepat: pembuatan kebijakan) dan pengurusan (implementasi kebijakan dan monev-nya).-----yanan civil.pemberdayaan) | | | | 4 | | | | MASYARAKAT | | | | | | | ------melayani-------5---------pasar-------| | | | MANUSIA | | | ---------------------------feedback--------------------------6 Gambar 2 Teori Pemerintahan (Governance): Interaksi Antar Tiga Subkultur Subkultur Ekonomi (SKE).SKE--------|--------->SKK----------|-------->SKS------| pemain | | | penonton | | | | wasit | pelanggan | | | | | | | mengontrol SKK | | | ----------|-|---------di hilir | | pembangunan | | | | | | | meredistribusi | | | membentuk. ----------------------| NEGARA | 2 3 -----mengontrol---------mengontrol-----| memberdayakan | | membayar | | | | | | | | | | | | mengontrol SKK | | | | | di hulu | | | constituent -----. Di sana dinyatakan bahwa Pemerintah Daerah (local government) bersama DPRD adalah penyelenggara pemerintahan Daerah. Di bawah konteks pemerintahan daerah. pemerintahan sama dengan policy making + policy implementation + policy implementation monitoring and evaluation (Tabel 1). -----| | | | mencipta nilai pelayanan public | | | | 1 (inc. dan Subkultur Sosial (SKS dgn kualitas Sebagai Pelanggan dan Constituent) yang Disebut juga Subkultur Pelanggan (SKP) . Subkultur Kekuasaan (SKK).dengan teori ini.

SKK.Gambar 2 berawal pada Teori Ilmu Pemerintahan tentang interface antara konsep Manusia dengan konsep Negara. dan SKS.nya | | dan PERDA | 2 | | | | 3 | | petaruh.| | meredistribusi<-. dan 5 . 4. petarung | | | | | SBG KONSTITUEN -----. Sepanjang Rute 5 dilakukan pemantauan dan evaluasi redistribusi nilai (Rute 4) berdasarkan standar yang telah ditetapkan melalui Rute 3. SKK.SKE------------------>SKK-------------------->SKS--------| “pemain” | | | SBG PELANGGAN | | | | “wasit” | | | | | | | | | | “penonton” | | | | | | | | | | | | | | | | SKS sbg pelanggan | | | | | | | mengontrol SKK via | | pembangunan | | | | monev & feedback | | | | | | | di hilir | | | ---------|-|---------| | | | | | 5 | | | | membentuk. yaitu SKE. Hasil evaluasi dijadikan masukan ke dalam Rute 3. Gambar 3 menunjukkan 5 rute dasar interaksi. me| | memberdayakan.4 | | |---cipta nilai se-------nilai via pe| | | | cara berkelanlayanan civil & ----| | | | jutan pelayanan publik | | | | | | | | | | | | MASYARAKAT (PUBLIK) | | | | | | | -------melayani----------------pasar---------| | | | MANUSIA | | | ---------------------------feedback-----------------------------Gambar 3 Pemerintahan (Governance) Interaksi Antar Tiga Subkultur (Tiga Terminal SKE. Interface itu membentuk ruang Masyarakat. Interaksi antar subkultur masyarakat melalui tiga terminal. men. 2. Lintasan gerak dari terminal ke terminal disebut rute. 3. dan SKS) Via Rute 1.| | SKK di hulu via UU | | jakan & impl. Teknik penampilan rute ---------------------| NEGARA | | | SKK mengontrol SKS sbg konsti---dan memberdaya-----tuen mengontrol--| kan SKE via kebi. | | | | 1 ningkatkan.

| | meredistribusi<-. Gambar 2 mengalami modifikasi (Gambar 3): ---------------------| NEGARA | | | SKK mengontrol SKS sbg konsti---dan memberdaya-----tuen mengontrol--| kan SKE via kebi. terus ke SKS. 2009). hasil evaluasi dijadikan masukan ke dalam Rute 6 melalui terminal SKK. dan 4 Gambar 3 menunjukkan Hubungan Pemerintahan. me| | memberdayakan. 3. Di sana jelas. petarung | | | | | SKS “BANDAR” -----.| | SKK di hulu via UU | | jakan & impl. yaitu hubungan antara fihak Pemerintah (SKK.4 | | |---cipta nilai se-------nilai via pe| | | | cara berkelanlayanan civil & ----| | | | jutan pelayanan publik | | | | | | | | | | | | MASYARAKAT (PUBLIK) | | | | | | | -------melayani----------------pasar---------| | | | MANUSIA | | | ---------------------------feedback-----------------------------Gambar 4 Stakeholder Pemerintahan (Hubungan Pemerintahan Antara Pemerintah (SKK) dengan Yang Diperintah (SKE dan SKS) Via Rute 1. Dalam Teori Governance juga termasuk Teori Hubungan Pemerintahan (governance relations). masyarakat pemangku kekuasaan) dengan fihak Yang Diperintah . Dengan memasukkan konsep stakeholder (Bab I Kybernologi dan Pembangunan. men. 2.feedback tidak terlihat pada Gambar 3 dan Gambar 4 melainkan pada Rute 6 Gambar 5 sebagai masukan buat Rute 3. | | | | 1 ningkatkan.nya | | dan PERDA | 2 | | | | 3 | | petaruh.SKE---------|-------->SKK----------|----->STAKEHOLDER----| ”pemain” | | | ”penonton” | | | | ”wasit” | | | | | | | | | | SKS sbg PELANGGAN | | | | | | | mengontrol SKK via | | pembangunan | | | | monev & feedback | | | | | | | di hilir | | | ---------|-|---------| | | | | | 5 | | | | membentuk.

(SKE dan SKS). rute Nilai Berkelanjutan Untuk Hidup). Dengan argumentasi tertentu. Duabelas nilai dasar itu disebut Kepamongprajaan. 5 dan 6 Tetapi untuk rezim yang baru terpilih. Referensi: Bagian Pertama Bab 8 Kybernologi Beberapa Konstruksi Utama. 5. Gambar 5 merupakan rekonstruksi Gambar 7-1 Kybernologi (2003.SKK-------------. 6. berlanjut ke 3. 4. kembali ke 3. 4. 4. kuasa monev thd & penepatan(trust. . hope) kinerja SKK ---nya) berda. 2006.SKS------------SKK-| | | | | | | | | redistribusi | | | | | | | | nilai via pe. Hubungan (rute) antar tiga terminal (dalam Gambar 2 terlihat empat) diperjelas (diurai) menjadi enam rute berkesinambungan.| | pertanggung| | | | nilai berke| | lay civil. 106) tentang hubungan antara Janji (commitment) dengan Percaya (trust) dan Harapan (hope). | | jawaban etik | | | --lanjutan utk----pelay publik------menurut----| | hidup & pemberday etika otonom | | 1 masyarakat di hilir | | di tengah | | 4 | | | --------------------pemerintahan (governance)-------------------Gambar 5 Hubungan Pemerintahan Pemerintahan sebagai Sistem dan Proses Via Rute 1. 2. sehingga rutenya menjadi 3.SKE-------------. SKE adalah masyarakat dalam perannya sebagai Pekerja.-----rute 2 & 4 --| sarkan etika | | (UU. peneliti bebas menentukan rute awal penelitiannya dan menandainya dengan angka 1 (pada Gambar 4. sehingga prosesnya berjalan dari 1 ke. sedangkan SKS adalah masyarakat dalam perannya selaku Pelanggan dan Konstituen. 1. 2. Pemerintahan mengandung (bekerja pada) duabelas nilai dasar. demikian terus-menerus. Bagian Tiga Bab V dan Bab XIV Kybernologi Sebuah Scientific Enterprise. 1.-----tuntutan. Perda) | | via rute 1 | | otonom di hulu | | di hulu | | di hilir | | | | | | | | | | . misalnya untuk rezim yang sedang berjalan. 5 dan 6. 3. kembali ke 2. 2005. angka 1 itu diletakkan pada rute Mandat (Gambar 5 pada rute 3). 2 janji (kebi3 5 jakan/rencana mandat.

ybs sarkan idea dan visi 4 3 IDEA-------------------------------------------->GOAL R7 | | 7 HARAPAN R6 | | R5 | 38 tahun R4 6 MISSION | R3 | | R2 5 MASALAH | | R1 | FAKTA SEKARANG-------------------------------------->VISION 1 tigapuluhdelapan tahun 2 kondisi yg takbisa apa yg terlihat bila diubah (takdir). Gouverner c’est prevoir. akan. Teori tentang visi. dan masahidup. Obsesi para kanselir sebelum Helmut Köhl adalah mempersatukan Jerman. Mengamong adalah memandang (envision) sejauh mungkin ke depan. Diuraikan posisi Indonesia di tengah perubahan global dan bagaimana visi Bangsa Indonesia dahulu dan sekarang. Bab I Kybernologi dan Pembangunan. Karakteristik Bangsa. To govern is to foresee). kesadar dan formal berdaarifan masy. dan dapat terjadi minimal 20 tahun ke depan agar terjamin kesinambungan kinerja rezim yang berbeda-beda melalui rel atau runway yang sama. Berdasarkan UU 25/04 dan UU 17/07. dan Harapan (2008). Jerman dan Amerika dapat digunakan sebagai ilustrasi. 2009 3 SESI DUA Nilai Satu VOORUITZIEN (lengkapnya Besturen is vooruit zien. dan Tantangan Ilmu Pemerintahan. 2007. mengembalikan Jerman pada . Visi.” dalam Kybernologi: Jurnal Ilmu Pemerintahan Baru. Goal. Masalah. obsesi yg ditetapkan secara sistem nilai. 2008.Bab VI dan Bab VII Kybernologi Sebuah Metamorphosis. Misi. tidak hanya sebatas masa jabatan masakerja. ia wajib memperhitungkan dan mengantisipasi apa yang harus. “Visi Indonesia. lihat “TOR Talkshow Visi Indonesia 2045” dalam Kybernologi: Sebuah Profesi. kendatipun masajabatan seseorang hanya lima tahun. bandingkan dengan Dadang Solihin. Idea. edisi perdana Agustus 2007. Visi Bangsa Indonesia di tengah dunia yang sedang berubah. Lihat juga Bab II Kybernologi dan Pembangunan KE DEPAN tujuan jangka panjang cita-cita. 1) Gambar 6 Fakta. keadaan berjalan menudan atau takbisa rut kondisi yg tak (sulit) berubah R = rezim berubah (fakta. Bab I.

tidak akan ada bangunan liar. Tetapi sebaiknya hal ini tidak diperdagangkan menjadi eforia bahwa Indonesia berhasil membentuk Obama (karena ia pernah sekolah di Menteng dan tinggal di Indonesia selama empat tahun. Kehadiran Obama dalam sejarah Amerika bertolakbelakang dengan Schröder. Misi Negara menjadi visi Depdagri. yang dibutuhkan ke depan adalah merawat dan menjaga hasil yang telah dicapai. dalam sistem ketatanegaraan dan pemerintahan Indonesia. ia hadir pada saat yang tepat.” Berdasarkan uraian di atas. Maka Schröder-pun. Ia terpilih bukan karena kegagalan Köhl. dan popularitas. bahkan lengkap dengan fotofoto segala) menjadi harapan Amerika. Köhl berhasil. Jika difahami sungguh-sungguh dan arif. Bila diperhatikan dengan saksama. Kendatipun demikian. Alam juga demikian. menggantikannya. baik fenomena alam maupun fenomena KeTUHANAN. Jika hal ini direnungkan. tidak ada yang mendadak. departemen yang secara khusus berperan menjalankan misi . zaman sudah berubah. Ada tanda-tandanya. sebab bangsa Jerman sadar bahwa obsesi berikutnya berbeda. ambruknya Amerika Serikat di bawah Bush dan krisis ekonomi global. Misi Depdagri diidentifikasi melalui fungsi lininya (line functions. ALLAH mengutus Nabi-NabiNYA untuk membawa firmanNYA. Rezim yang terdahulu mewariskan jejak langkahnya kepada rezim yang kemudian.” menuju “despairing.posisi terhormat di Eropah. begitu hirarkinya. konon pula berkelahi memperebutkannya. Ia dijuluki The Bismarck atau Bismarck II. pada pemilu berikutnya rezimnya tidak terpilih. Di samping kecerdasan.” sementara ditjen Kelompok B mengelola “keBhinnekaan” nusantara. Ajaran ini juga didasarkan pada anggapan bahwa setiap perubahan berkesinambungan dan berkelanjutan. tetapi bahwa bangsa Amerika telah berhasil “melting. Visi dan Misi Departemen Dalam Negeri (Depdagri). Tabel 2). ada nubuatannya. atau penduduk yang tidak memiliki akte kelahiran. terlihat dengan sangat jelas bahwa ditjen Kelompok A berfungsi sebagai fungsi lini pemerintahan yang memproses “Tunggal Ika. tidak mungkin terjadi adanya penggusuran paksa. dan meningkatkan kesejahteraan seluruh Jerman. Dengan perkataan lain. seorang yang tidak dikenal secara luas. ia mengutus angin dan kilat. demikian seterusnya.” sedangkan bangsa Indonesia semakin “separating. membebaskannya dari bayang-bayang Amerika. kepemimpinan yang dibutuhkan Indonesia ke depan adalah kepemimpinan visioner jangka panjang dari kebangsaan ke kesebangsaan Indonesia melalui pengurangan kesenjangan vertikal antar lapisan masyarakat dan pengurangan kesenjangan horizontal antar daerah secara konsisten dan berkelanjutan sehingga pada suatu saat setiap orang berkesempatan menikmati hasil pengorbanannya (Bhinneka Tunggal Ika). karisma. tetapi karena perannya dalam sejarah berbeda.

” dan memproses kesebangsaan guna mewujudkan Bhinneka Tunggal Ika. Dua syarat pembentukan harmoni adalah kapabilitas dan akseptabilitas. adalah Departemen Dalam Negeri. Fungsi conducting memerlukan dan membentuk sikap komprehensif: memandang totalitas (keseluruhan) dulu baru bagian-bagiannya. oleh conductor. Referensi: Kybernologi dan Kepamongprajaan. sehingga mampu merasakan kesumbangan senyaris apapun itu . atau memandang sesuatu sebagai bagian integral (dalam kerangka) suatu kebulatan (keseluruhan). menyimak sambutan penonton (pelanggan). dengan mengoreksi sedini dan setegas mungkin tiap “bunyi. Bab II dan Bab XVII. 4 SESI TIGA Nilai Dua CONDUCTING. Kesumbangan nada itu diketahui dari gap antara skenario pertunjukan dan lagu yang dimainkan. nada” atau langkah sumbang senyaris (sekecil) apapun. 2007. guna membangun kinerja bersama semua komponen yang berbeda-beda pada sebuah unitkerja.Tabel 2 FUNGSI LINI DEPARTEMEN DALAM NEGERI -------------------------------------------------------------------------------KELOMPOK A KELOMPOK B -------------------------------------------------------------------------------1 Ditjen Kesatuan Bangsa dan Politik 1 Ditjen Otonomi Daerah 2 Ditjen Pemerintahan Umum 3 Ditjen Administrasi Kependudukan 2 Ditjen Bina Pembangunan Daerah 3 Ditjen Pemberdaayaan Masyarakat Dan Desa 4 Ditjen Bina Administrasi Keuangan Daerah -------------------------------------------------------------------------------- Pemerintahan Indonesia yaitu mengelolaan keunikan tiap masyarakat menjadi kekuatan matarantai nusantara. memiliki pancaindera yang sensitif (peka) serta suasana hati yang cerah. sehingga “the people who get pains are the people who share gains. dengan nada atau bunyi sebagaimana terdengar oleh penonton dan terlebih konduktor. namun yang bergerak di dalam wilayah kerja atau daerah (kota) yang sama. Bab I Kybernologi Sebuah Profesi (2007). mengurangi kesenjangan vertikal dan horizontal antar masyarakat secepatnya. Konduktor harus menguasai skenario dan lagu. Mengamong adalah menciptakan harmoni antar kegiatan dengan instrumen yang berbeda dan dilakukan oleh aktor yang berlain-lainan.

? ---> R > T ---> ? <------? ---> R < T ---> ? Gambar 7 Fungsi Conducting (Sebuah Masyarakat Diibaratkan Sebuah Orkestra) Referensi: Bab 6. sehingga pada suatu saat. conducting --------->INFO----------------------->PLAN (GOAL--->TARGET T)-| (HARMONY) | | | | | ---------------------------------------------| | | | | | orchestra organizing ORCHESTRA | | ----->HARMONY-------------------------->ORGANIZATION meet? match?--| for harmony keeping | | | | | | | | ---------------------------------------------| | | | | | | | ORCHESTRA performance | | | -->ORGANIZATION--------------------->EXPECTED RESULT (R)---| | best performance | | | | | ---------------------------------------------| | | | | | controlling | | --->EXP. merespons penonton dengan penuh perhatian. yang lain salah. dan melakukan koreksi tanpa pandang bulu dan tidak memihak). mungkin dengan kekerasan. Bab 16. Konduktor akseptabel pada aras mikro manakala ia dapat dipercaya (tatkala ia memenuhi janjinya: menaati skenario dan lagu.(kapabilitas). dan Bab V Kybernologi Sebuah Metamorphosis (2008) . Bab II. dalam wadah negara kesatuan (pot) terjadi melting antar tiap kekuatan yang selama ini mengklaim bahwa dia yang benar. RESULT---------------->R = T. Bab 11. dan pada aras makro bilamana ia sanggup menumbuhkan pengharapan dalam diri pendengar dan pemain tatkala walau lambat tapi pasti terjadi perbaikan terus-menerus: semakin berkurangnya kesenjangan vertikal antar lapisan masyarakat dan semakin berkurangnya kesenjangan horizontal antar daerah. dan Bab 19 Kybernologi (2003). R > T. Bab III. Ketika konduktor melakukan kewajibannya membentuk dan menjaga harmoni dengan menggunakan otoritasnya. mengindera bunyi dengan halus dan jelas. tindakannya harus dapat diterima oleh para pemain (akseptabilitas). R < T------------------| | | | | monev | | | ? ---> R = T ---> ? | --------FEEDBACK-----------------.

5 SESI EMPAT Nilai Tiga COORDINATING. sehingga koordinasi bisa berjalan tanpa koordinator. Di dalam ruangan sisa pegawai eselon pencatat dan pelapor. Jadi berkoordinasi itu tidak memerlukan biaya! Demikian pentingnya koordinasi ini sehingga sebagaimana halnya sebuah perguruan tinggi memiliki Kalender Akademik. semakin diperlukan koordinasi. karena terpasang (inherent) di dalam setiap tugaskewajiban seseorang. konsultan (pemborong). dan outputnya kesepakatan yang mengikat fihak-fihak (pejabat) yang berkoordinasi. tukang parkir. Koordinasi di Indonesia sangat. proses divergent heterostasis proses convergent homeostasis BHINNEKA kesenjangan TUNGGAL IKA proses coordinating menjamin kinerja masing-masing proses conducting menjamin kinerja bersama GAMBAR 8 Hubungan Coordinating dengan Conducting di dalam Sistem. kembali ke Heterostasis. agar yang satu tidak merugikan tetapi mendukung yang lain. sang pejabat ini “kabur” diikuti pejabat-pejabat lain. amanat. Semakin independen hubungan antara unitkerja yang satu dengan unitkerja yang lain. setiap wilayah seharusnya memiliki Kalender Pemerintahan yang meliputi jadual Koordinasi itu. melainkan sekedar laporan) karena biasanya setelah memperdengarkan keynote speech. dan petugas catering. Sesungguhnya koordinasi tidak dapat diprojekkan. sangat lemah. Mengamong adalah membangun komitment bersama antar unit kerja yang berbeda-beda dalam suatu wilayah. Gerak dari Kondisi Heterostasis ke Homeostasis. dalam rangka mencapai kinerja masingmasing unit kerja secara optimal dalam rangka mencapai tujuan bersama secara keseluruhan. dan tukang sapu. Produk rapat koordinasi lemah (tidak mengikat. yang berkoordinasi haruslah pejabat-pejabat yang berwenang membuat kebijakan dan mengambil keputusan. Terus-menerus . Kata kuncinya adalah berkoordinasi. dan sebangsanya. Koordinasi merupakan sebuah proses yang inputnya informasi. Jadi agar kesepakatan itu berkekuatan mengikat.

Mengamong adalah membangun kedamaian. kerukunan. Proses ini didorong oleh naluri primitif manusia yaitu pemenang berhak menguasai yang . juga tidak menciptakan permusuhan sehingga terjadi perang semua lawan semua. Bab XVII Kybernologi dan Kepamongprajaan (2008).Coordinating dengan conducting berkaitan erat. atau kalah-kalah (lose-lose. sesungguhnya tidak menceraiberaikan.) Frontiers of Development Administration (1971) 6 SESI LIMA Nilai Empat PEACE-MAKING (PEACE-KEEPING). lose-win).” Perbedaan dan konflik. Tidak seperti ketertiban model “sapulidi. pertaruhan dan pertarungan. maka hubungan antara keduanya dapat digambarkan sebagai berikut (Gambar 8). Riggs (ed. sebagaimana di zaman dahulu Kepaladesa diakui dan berperan sebagai Hakim Perdamaian Desa. Jika semakin independen hubungan antara unitkerja yang satu dengan unitkerja yang lain. keamanan. dan ketertiban dari “akar rumput” (grass root) ke atas oleh Pamong (Pamongdesa) terbawah melalui kesepakatan (beslissing) konsisten terus-menerus dengan warga masyarakat (via peran Pamongpraja). setiap komponen (unit kerja) merupakan bagian sebuah keseluruhan (sistem). kalah-menang (win-lose. kompetisi dan perlombaan. seperti proses pemilu di Indonesia. kaupun tidak!). Tabel 3 Sikap Terhadap Sesama ----------------------------| I WANT YOU TO | |-----------------------------| | LOSE | WIN | -----------------------------------------------------------| | | LOSE | LOSE-LOSE 1| LOSE-WIN 2| | I WANT YOU TO |-------------------------------------------| | | WIN | WIN-LOSE 3| WIN-WIN 4| ----------------------------------------------------------- Perang seperti itu terjadi beradasarkan anggapan bahwa kedamaian bisa terbentuk melalui proses menang-kalah. semakin diperlukan coordinating. Karena menurut Teori Sistem. tetapi justru mempersatukan jika semua fihak menjunjung tinggi sportivitas.” dalam Fred W. Katz. “Exploring A Systems Approach to Development Administration. kalau aku tidak. Saul M. semakin diperlukan conducting. Referensi: Bab 14 Kybernologi (2003). maka semakin interdependen unit kerja satu dengan yang lain.

kalah (spoil system), Tabel 3. Naluri ini mengubah perilaku manusia menjadi kanibalistik yaitu memangsa diri sendiri (sistem kanibalistik, lihat Bab IX
ORGANISASI (PARTAI POLITIK, dsb) | | melayani | membayar ---------MASYARAKAT<--------PEJABAT/PEGAWAI<--------NEGARA<-------| | | | | transaksi | | | | | | ---->membayar------| | | ----------------------------->membayar----------------------------Gambar 9 Masyarakat Membayar Berkali-kali (Sistem Kanibalistik)

Kybernologi Sebuah Charta Pembaharuan, 2007). Kanibalisme itu dalam polity dan birokrasi Indonesia, terlihat sah-sah saja (Gambar 9). “Kedamaian” yang diperoleh melalui proses kalah-menang ini menyisakan “duri dalam daging,” “api dalam sekam,” dan “air tenang namun penuh buaya ganas kelaparan.” Peace-making (dengan Manajemen Konflik) berarti: 1. Meneliti dan mengidentifikasi sejauh mungkin sumber ketidakdamaian di dalam diri manusia dan di dalam masyarakat 2. Mengidentifikasi dan mengantisipasi sedini mungkin setiap potensi konflik 3. Menyelesaikan sedini mungkin tiap konflik pada sumbernya 4. Tidak “menabung” “kesalahan” orang untuk dijadikan “peluru” guna “menembak” orang yang bersangkutan 5. Tidak menggunakan “kesalahan” orang lain untuk membenarkan diri sendiri (“Don’t take the example of other as an excuse for your wrongdoing,” bandingkan Effendi Gazali, Kompas 070509h06 tentang Kompas 220409 soal “jangan galak-galak”) 6. Tidak bersikap: “Kalo gue gak dapet, elu juga gak boleh dapet;” sikap ini bisa berakhir pada pelenyapan si “elu” 7. Tidak mengclaim kinerja bersama (bangsa) sebagai kinerja sendiri (parpol tertentu), hanya karena parpol atau koalisi parpol itu mayoritas di parlemen, sebab yang membiayai parlemen itu seluruh bangsa Upaya di atas dapat terjadi manakala pemimpin informal dan pemimpin formal suatu masyarakat berada sedekat mungkin dengan warga masyarakatnya. Sudah barang tentu yang dianggap kedekatan di sini tidak semata-mata kedekatan fisik tetapi lebih

sebagai kedekatan yang dapat diukur dengan jarak sosial (social distance), dan jarak kekuasaan (power distance) yang sedekat dan sedinamik mungkin. “Sedekat dan sedinamik mungkin” artinya tidak status quo, atau static equilibrium, melainkan interaksi antar tiga subkultur masyarakat (SKE, SKK, SKS) bergerak lancar dan sehat dari kondisi homeostasis ke kondisi heterostasis, kembali ke kondisi homeostasis, demikian terus-menerus (ref. Saul M. Katz, “Exploring A Systems Approach to Development Administration,” dalam Fred. W. Riggs, ed., Frontiers of Development Administration, 1970) . Selain itu, kedekatan yang dimaksud bukan hanya berbentuk simpati tetapi lebih dalam bentuk empati (ref. Bagian Kedua Bab XIV Kybernologi Beberapa Konstruksi Utama, 2005, tentang Verstehen). Untuk mempelajari latarbelakang dan penyebab ketidakdamaian (social unrest), dalam sesi ini perlu juga dibahas teori-teori proses sosial, seperti Teori Aksi-Reaksi, Teori Tantangan dan Jawaban (Challenge and Response), Teori Dialektika (ThesisAntithesis-Synthesis) yang salah satu bentuknya dalam kearifan sosial disebut “Mengail Di Air Keruh,” Teori Pertukaran Perilaku (Exchange Theories) dan sebagainya (ref. Margaret M. Paloma, Sosiologi Kontemporer, Bagian Satu, 1984). Membangun dan menjaga kedamaian ini diakui paling sulit, ibarat “meniti buih.” Namun walaupun sukar, buahnya amat manis. Menurut pengalaman nonekmoyang, “Kalau pandai meniti buih, selamat badan ke seberang,” disertai peringatan: “Sepandai-pandai tupai meloncat, sesekali terpeleset jua!” Referensi: Bab 18 Kybernologi (2003), Bab III Kybernologi dan Pengharapan (2009), dan bab-bab lain yang relevan. 7 SESI ENAM Nilai Lima RESIDUE-CARING. Mengamong adalah mengurus (sesuatu yang dianggap) sampah, golput, sepah, bengkalaian, pecundang, buangan, cemaran, atau sisa-sisa, kendatipun orang lain yang berpesta. Mengamong adalah mengurus apa saja, baik urusan yang tidak/belum termasuk tupoksi unitkerja manapun, maupun urusan yang tak satu unitkerjapun bersedia mengurusnya karena tidak menguntungkan bahkan merugikannya. Pengurusannya harus sesegera mungkin, karena semakin cepat dan tidak menentu perubahan, semakin banyak produksi sampah. Mengamong adalah memberikan perhatian yang sama dan sepadan kepada semua fihak, baik yang dianggap berkesalahan (buruk, jelek), maupun yang dipandang tidak berkesalahan (benar, baik) baik yang merasa dirugikan, ataupun fihak yang merasa diuntungkan, sebagai akibat suatu kebijakan, keputusan, atau tindakan pemerintahan. Dasarnya adalah kearifan lokal “Datang tampak muka, pergi

tampak punggung,” “Berjalan sampai ke batas, berlayar sampai ke pulau.” Bekerja sampai tuntas! Tidak boleh ada urusan yang berjalan setengah, atau persoalan yang tidak berjawab. Dianggap orang sudah hilang ditelan zaman, tau-tau suatu saat meledak! Ajaran ini adalah pengembangan (modifikasi) Teori Sisa (Residue Theory) yang digunakan di zaman Belanda dulu. Teori Pelayanan, Teori Pemberdayaan, dan Etika Pemerintahan, merupakan pelajaran dasar nilai ini. Landasan konstitusionalnya Pasal 27 dan 34 UUD 1945. Tindakan walikota memerintahkan Polisi Pamong Praja untuk menghalau para pedagang K5 dan mengusir para penghuni bangunan liar yang dianggap membangkang, dalam rangka menegakkan Perda tentang K3, dapat dibenarkan. Tetapi jika dengan penghalauan dan pengusiran itu pedagang K5 dan warga liar itu dalam waktu lama kehilangan pekerjaan, tiada tempat bernaung, anak-anaknya terlantar dan putus sekolah, masuk kolong jembatan, menjadi sampah masyarakat, maka Walikota dapat dituduh melanggar konstitusi. Referensi: Bab III Kybernologi Sebuah Rekonstruksi Ilmu Pemerintahan (2005), Kybernologi Sebuah Metamorphosis (2008), Bab 2, Bab 3, dan Bab 5, serta tulisan lain yang relevan 8 SESI TUJUH Nilai Enam TURBULENCE-SERVING. Mengamong adalah mengantisipasi dan melayani dalam arti memberdayakan, melindungi dan menyelamatkan manusia dan lingkungannya, bangsa dan negara, terhadap segala sesuatu yang sifatnya oleh manusia dianggap mendadak, berdayahancur besar, tiba-tiba, di luar perhitungan, tak disangka-sangka, force majeure, baik sebagai akibat perilaku alam, dampak kebijakan publik yang keliru ternyata, maupun perilaku masyarakat. Pengamongan didasarkan pada anggapan bahwa WAKTU SAMA DENGAN NOL. Anggapan ini sesuai dengan kearifan sehari-hari berbunyi “Sediakan Payung Sebelum Hujan,” “Lebih baik mencegah daripada mengobati.” Jika terjadi kebakaran, tidak ada waktu untuk memperlebar jalan agar Tanki Pemadam Kebakaran bisa lewat dan masuk, tidak ada
MANAJEMEN NORMAL (MN) MANAJEMEN TURBULENTIA (MT) --> -------------------- membentuk----> --------------------------| LONG-TERM-BASED (LTB) ZERO-TIME-BASED (ZTB) | | | | | | | -------------------------- FEEDBACK (FB)--------------------------Gambar 10 Manajemen Nasional Amfibia Serbacuaca (MANAS)

waktu untuk mencari sumber air atau merancang pelatihan. Seharusnya langsung bertindak dan berhasil. Kerangka pemikirannya sebagaiberikut (Gambar 10) dan hipotesisnya berbunyi: “MANAS = Manajemen Normal Yang Berhasil Diarahkan Pada (Membentuk) Manajemen Turbulentia, dan Manajemen Turbulentia yang Berhasil Memberikan Feedback Pada Manajemen Normal” terus-menerus. Pengujian hipotesis itu terlihat pada Gambar 11.
QUALITY ZTB 4-------------------------------------------4 M | | | A | | | N | | | A | | | J 3--------------------------------3----------| E | | | | M | | | | E | | | | N | | | | 2---------------------2----------|----------| T | | | | | U | | | | | R | | | | | B | | | | | U 1----------1----------|----------|----------| L | | | | | E | | | | | N | | | | | T | | | | | I LTB --------1----------2----------3----------4-A----> 0 M A N A J E M E N N O R M A L
Gambar 11 Manajemen Normal Berkemampuan Manajemen Turbulentia

TIME

Gambar 11 menunjukkan bahwa semakin lama kualitas (kapasitas) manajemen normal semakin tinggi sehingga pada akhir LTB turbulentia dapat dihadapi dengan ZTB action. Dalam banyak hal, “payung” itu seharusnya disediakan oleh pemerintah (SKK). Hak dan wewenang membawa (menimbulkan) kewajiban. Beberapa tahun yang lalu, masyarakat digemparkan oleh berita media tentang longsornya sebuah tambang galian pasir di sebuah daerah di Jawa Barat. Puluhan penambang tewas.

sehingga perkara yang seharusnya dapat diantisipasi. misalnya Jerman. berdasarkan keputusan batin yang dipilih secara bebas. Di sana tidak tercantum perlindungan terhadap penambang. Mengamong adalah menunjukkan keberanian untuk melakukan turbulence serving di atas. atau sepanjang tidak dilarang secara tegas dalam aturan perundangan. mengamong berarti menyelenggarakan pemerintahan dalam kondisi serbacuaca (all weather governance).Penambangan pasir. Buahnya malapetaka! Banyak sekali referensi pokok bahasan ini. dan tidak ada sanksi bagi pemda bila wanprestatie. merupakan sumber PAD kategori retribusi izin Galian-C. jebolnya Situ Gintung Tangerang Selatan dinihari Jumat tgl 270309. 9 SESI DELAPAN Nilai Tujuh FREIES ERMESSEN. bertaburan di seluruh seri Kybernologi mulai dari Bab V Beberapa Konstruksi Utama (2005). dan sanksi buat pemegang izin bila tidak memenuhi kewajibannya. Sudah barang tentu fihak plat merah angkat bahu. material dan barang. kewajiban pemda untuk mengontrol penambangan agar tidak berbahaya. Ini berkaitan dengan Nilai Satu. batu. Keputusan dan tindakan Fries Ermessen diambil atas inisiatif sendiri. sampai pada pustaka Manajemen Bencana (Disaster Management). ajaran ini tidak digunakan lagi. Bab 10 Kybernologi Scientific Movement (2007). jika perlu (tiada pilihan lain) diluar batas aturan yang ada. Perda tentang retribusi hanya berisi prosedur permohonan izin. lalai melakukan kewajibannya. dan siap menanggung segala risikonya secara pribadi (tanpa kambing hitam). Tidak ada yang sempurna di dunia ini. untuk dipertanggungjawabkan kemudian kepada semua fihak. tarif. dan tanah. Manusia buat kelalaian dan suka lupa. Bab 7 Kybernologi Metamorphosis (2008). disebabkan oleh kelalaian pemerintah dan masyarakat membaca peringatan dari Ilmu Sifat Barang tentang metal fatigue (kejenuhan metal) dan engineering life (masa layakpakai) setiap teknologi. Bab 10 Kybernologi Kepamongprajaan (2008). dan dari berbagai segi. Meledaknya pipa Pertamina beberapa waktu yang lalu di seputar Lapindo. Dalam hubungan itu semua. Tetapi di Indonesia yang masih menganut pendekatan hukum positif (tiada aturan hukum = tiada pelanggaran dan kejahatan). Di negara hukum yang menganut pendekatan progressif. terasanya mendadak atau di luar kemampuan. terlebih mengingat kesadaran hukum yang rendah dan budaya hukum . Freies Ermessen berbeda dengan diskresi yang memberikan keleluasaan bertindak bagi pejabat dalam batas aturan yang berlaku.

Pengantar Dalam Hukum Indonesia (1959: 441. Bung Karno menggunakannya tgl 5 Juli 1959 (noodverordeningsrecht). skill. Referensi: Bayu Surianingrat. 460). innovativeness. Mengamong juga adalah (belajar untuk) mengetahui semakin banyak (dalam) tentang semakin sedikit hal (to know more and more about less and less. kemahiran. tumbuh ketelitian. tumbuh kreativitas. craft) menjawab suatu masalah dengan alat atau cara yang berbeda pula. Dengan keahlian yang dalam. 10 SESI SEMBILAN Nilai Delapan GENERALIST AND SPECIALIST FUNCTION. ajaran Fries Ermessen masih diperlukan. Apakah Pak Harto juga tahun 1965 dan berikutnya? Yang jelas Mahasiswa tahun 1998 merobohkan pemerintahan yang sah. dan Teori Kedaulatan. E. Dengan pengetahuan dan pengalaman yang luas. noodverordeaturan hukum aturan hukum noodverordeningsrecht positif positif ningsrecht | | | | | | | | | tanggungjawab | | tanggungjawab | | pribadi | | pribadi | |<--------------|----FREIES ERMESSEN----|-------------->| | berdasarkan | | dasarkankan | | etika otonom | | etika otonom | | | | | | |<-------DISKRESI------>| | | | | | ------------------------------------------------------Gambar 12 Freies Ermessen dan Diskresi Nilai ini erat berkaitan dengan Politik Pemerintahan. berpengetahuan mendalam) guna mengidentifikasi perbedaan senyaris apapun antar masyarakat yang satu dengan masyarakat yang lain. sebagai prasyarat untuk membangun Teknologi Pemerintahan . Hukum Pemerintahan (khususnya Hukum Darurat/Bahaya). Untuk itu. Mengenal Ilmu Pemerintahan (1980). dan presisi. Kreativitas merupakan lahan subur untuk menumbuhkembangkan Seni Pemerintahan: kepandaian (art. Utrecht. mengamong berarti berupaya untuk semakin mengenal kualitas. Mengamong adalah (belajar untuk) mengetahui sedikit demi sedikit tentang semakin banyak (luas) hal (to know less and less about more and more. Etika Pemerintahan. watak.yang lemah. Bab III Kybernologi Sebuah Charta Pembaharuan (2007). kekhususan (uniqueness) suatu masyarakat. berpengetahuan luas) guna mengidentifikasi dan membangun kebersamaan (tunggal ika) antar masyarakat yang berbeda-beda.

seorang pamong siap ditempatkan di mana saja dan mampu mengerjakan tugas apa saja yang telah didalaminya. . yang agar mengikat perlu disaksikan). amanat. . 11 SESI SEPULUH Nilai Sembilan RESPONSIBILITY. daerah kelahirannya.yang tepat. sumpah dan janji jabatan atau profesi (kontraktual). tiga. kepada para pelanggan produk-produk Negara. nazar. tidak ada “kendaraan” yang mengusungnya. bahwa berbagai ilmu pengetahuan yang bertalian dengan salah satu bagian dari penguasaan (beheer) perusahaan partikelir pada akhirnya bermuara pada suatu ajaran perusahaan umum (algemene bedrijfsleer) yang meliputi kesemuanya dan bahwa ajaran tentang penguasaan perusahaan-perusahaan partikelir ini setidaktidaknya untuk sebagian merupakan syarat bagi adanya ilmu pengetahuan yang lebih tinggi daripadanya. obligation. dan sumpah-sebagai-bukti. Nilai ini mengandung implikasi politik. Tanggungjawab sebagai accountability adalah . ialah Ilmu Pemerintahan dengan Kepamongprajaan sebagai salah satu bentuk Aksiologinya. . terakhir di kota B. Spiro dalam Responsibility in Government (1969). Lihat Bab 19 dan Bab 30 Kybernologi (2003). dan cause. Pada tahun 2008 ia ingin dicaleg untuk dapil A. Gambar 13. . mandat). tanggungjawab diartikan sebagai accountability. namun karena daerah A belum mengenalnya dengan baik. yang bersangkutan menanggung sendiri segala akibat dan risikonya. sementara di kota B pesaingnya banyak. Pertanggungjawaban dapat diterangkan melalui Teori Tanggungjawab yang dikembangkan dari Teori Tanggungjawab Herbert J. Tentang hal ini. dua. pelaksanaan tugas (perintah. selfcommitment (janji kepada diri sendiri. Seorang yang berasal dari daerah A sejak kecil tinggal mencari nafkah dan bergaul dengan banyak orang di berbagai kota. Gambar 1 di atas menunjukkan hubungan antara fungsi generalist dengan fungsi specialist tersebut. van Poelje dalam Pengantar Umum Ilmu Pemerintahan (1959) menyatakan: . dan empat. dan jika jawaban tidak dipercaya. Menurut Spiro. Kepamongprajaan sebagai superstruktur profesi pemerintahan melalui pendekatan lintas sektoral bermula pada visi untuk membentuk tenaga-tenaga pemerintahan yang berkualitas kepamongprajaan. Mengamong adalah mempertanggungjawabkan kepada pelanggan (bukan hanya atasan!): satu. . Mempertanggungjawabkan artinya menjawab (menerangkan) secara terbuka segala sesuatu yang menimbulkan pertanyaan pelanggan. tindakan yang ditempuh berdasarkan Freies Ermessen. pengakuan. Oleh pengetahuan dan pengalaman yang luas dan dalam itu.

formal atau informal. Spiro. struktural atau fungsional. kewajiban menepati janji (lepas dari sebab dan akibat). yaitu berjanji (bersumpah. dan kesediaan memikul risiko.RISK.| | | |------>TRANSFOR. ----> ACTION -------|-> ACCOUNTABILITY --|-------------| MANDAT (KKM) | | | | | | | | | | | | | | KKM.| | | | gungjawab. CITRA | | | |------>JANJI ---------> ACTION -------|-> OBLIGATION ------|--> ACTION ---| | POSISI* penepatan janji | kewajiban bertang. Tanggungjawab sebagai obligation memiliki tiga dimensi. PRICE -----|--. “noblesse oblige.----WILL (CHOICE)----|-> CAUSE -----------|--> ACTION ---| | MASI LINGDISCRETION | | | | KUNGAN CONSCIENCE | | | | | | | | | | | | | punishment | BERHASIL | -------HOPE <---------. | | |------>KEBIJAKAN. yang disebut rasa atau kesadaran akan tanggungjawab dengan kesediaan untuk menanggung risiko atau akibatnya. Yang digunakan dalam Kybernologi adalah pertanggungjawaban etik. -------------------| | ------>DASAR | RESPONSIBILITY | | | | | KEKUASAAN. Pertanggungjawaban seorang yang bersumpah tanpa diperintah (jadi bukan disumpah melainkan lahir dari dalam hatinuraninya sendiri) .TRUST --------|-. yang dianut oleh pelaku tanpa terikat dengan fihak lain.| memikul re.perhitungan atas pelaksanaan perintah kepada pemberi perintah. dimodifikasi dan dikembangkan Tanggungjawab sebagai cause adalah sesuatu yang mendorong atau menggerakkan seseorang untuk bertindak. 1969.ATAU <---| reward | GAGAL | | --------------------- *lepas dari tinggi atau rendah.” status membawa kewajiban Gambar 13 Konstruksi Teori Tanggungjawab: Teori Herbert J. FREE. Yang dimaksud dengan etika di sini adalah etika otonom. lepas | ward & pu| | | | dari sebab akibat | nishment | | KONDISI FREIES ERMESSEN | | | | PERUBAHAN VOLITION.

Pada saat antri sebagai nomor 6 sementara tiket sisa 5. satu di antara 11 terminal. first serve” oleh si A dipegang sebagai norma etik perilakunya. seseorang (B) di depannya yang kebetulan menoleh.nerangi dlm kalbu. walaupun merugikan diri sendiri.| | katan. Terminal 6 menunjukkan perbedaan antara keputusan etik dengan keputusan bukanetik. sedangkan keputusan bukan-etik diambil berdasarkan kebersepakatan masyarakat di sekitar pelaku. perlu bersumpah | | disaksikan mengorbankandiri | | | bunuhdiri | ------------| | dikontrol | | ----dibandingkan---| kesenjangan ditedievaluasi *dinyatakan | rangkan setulus & | secara otonom --sejujurnya.sumpah bernazar | perjanpengakuan membayar tebusan | jian credo kesediaan berkorban | commitment selfmengaku bersalah | | commitment mengundurkandiri dari jabatan | | | mengasingkandiri | | agar mengimenyakitidiri | | kat.itulah pertanggungjawaban etik otonom. --1 2 3 4 5 6 ----->apakah------>kualitas--->nilai--->norma--->kesadaran----->pertimbangan---| etika? dasar etik etik etik etik etik otonom | | etika otonom | | | | | | | etika heteronom yg-benar guna tertanam norma me. lu. Gambar 14 menunjukkan bahwa pertanggungjawaban etik itu terletak pada Terminal 10. kesepa. kesediaan | | memikul sanksi etik | | | | 10 9 8 7 | | 11 pertanggungperilaku tindakan keputusan | ----etikalitas<----------jawaban<-------etik<------etik<-----------etik<-------| etik | | | | | | | menaati kadar | --kinerjaberprakarsa keetikan sanksi etik* | berjanji | | | | | ------------merasa malu | | | merasa bersalah | pada pada menyesal | orang diri mohon maaf | lain sendiri mohon ampun | | | janji bertobat | | nazar. Misalnya hukum sistem antri “First come. kebebas. jelas nurani an memilih. risi. Keputusan etik diambil berdasarkan diskusi dan kebersepakatan antar norma yang tertanam di dalam hatinurani pelaku sendiri. Keputusan etik diwarnai dengan keteguhan hati (disiplin) pelaku memegangnya.diskusi antar norma | | yg-baik dlm kuat.| | yg-wajib hidup as.--------dan terbuka ko & konsekuensi ditanggung sendiri Gambar 14 Etika Pemerintahan (1 sd 11 Terminal) .

rupanya mahasiswanya ---. Bab II dan Bab III Kybernologi Sebuah Metamorphosis (2008). Alinea keempat Pembukaan UUD tentang kecerdasan merupakan landasan konstitusional nilai ini. Bhinneka Tunggal Ika merupakan sebuah pikiran besar. Nilai ini berkaitan erat dengan Nilai Satu di atas. Sebab bila ia maju. COGITO. ia sudah mulai jadi pecundang! Lihat Bab 8 Kybernologi (2003). Buah pikiran seperti itu. yang terbentuk berdasarkan kemerdekaan berfikir dan kemerdekaan mengeluarkan buah pikiran (Pasal 28 UUD 1945). atau buah hati yang “ada uang abang disayang. berbeda dengan “pikiran besar” yang sudah ada. pemi. rerambu nalar sehat. dan Sejarah Melalui Delapan Terminal . tidak pernah diajarkan dan tidak dibudayakan menjadi pola perilaku bangsa. tetapi sejak diundangkan menjadi PP 66/51. Bab III dan Bab IV Kybernologi dan Pengharapan (2009) 12 SESI SEBELAS Nilai Sepuluh MAGNANIMOUS-THINKING. Mengamong adalah mengonstruksi pikiran besar. Berpikir besar identik dengan berfilsafat. Berbeda dengan buah tangan yang dapat dinikmati sekejap. sosialmarpolicy policy imple-->ERGO----------->BUAH ----------->NILAI-------->POLICY-------->POLICY---------------| SUM kiran PIKIRAN isasi 3 keting AGENDA making 5 mentation | | 1 2 4 | | | | | | | | 6 | | 8 belajar dari 7 monitoring PERBUATAN scientific movement | ---FEEDBACK<---------------SEJARAH<-------------------BESAR<--------------------------sejarah evaluation scientific enterprise Gambar 15 Dari Buah Pikiran. Adakalanya seperangkat buah pikiran terlihat melawan arus. selain sistem terganggu. Begitu dia mendapat tiket dengan cara demikian. mempersilakannya untuk maju dan pasti dapat tiket. pikiran yang memiliki kekuatan menerobos zaman. Oleh sebab itu dibenci dan tidak laku.WISDOM. Perbuatan Besar. walaupun menguntungkannya. Jauh liku yang (harus) ditempuh oleh sebuah pikiran.” buah pikiran dapat diwariskan dan menjadi pelajaran bagi generasi ribuan tahun yang akan datang. norma etik di dalam hatinuraninya jadi rusak. Berpikir menurut hukum logika. tanpa uang abang melayang. bila tahan banting. terkadang baru diakui “besarnya” kemudian. sebelum ia diakui besar dan menjadi sejarah. Tetapi si A tidak mau.

membangun kebersamaan melalui perilaku etik & emik.” barulah semakin terasa olehnya betapa satu dengan yang lain berbeda-beda. Mengingat Y heterogen. 13 SESI DUABELAS Nilai Sebelas OMNIPRESENCE. Satu-satunya jembatan antar budaya dan antar frame-of-reference (FOR) yang berlainan. seragam. ada yang mandi uang bergelimang dosa. tidak hanya membangun citra (image building) pemerintahan tetapi merendahkan hati sedemikian rupa sehingga pemerintah itu tidak terlihat sebagai sesuatu yang jauh dan yang asing. Tanpa pengajaran dan pembudayaan. mendengar & merekam isyarat. waktu yg harus disediakannya utk mendengar. di sini nestapa dan melarat. menempatkan diri seutuhnya setara dgn kondisi Y dgn tulus. Tetapi percayalah. 10 x 10 = 100 menit. prilaku & perkataan Y sebagaimana adanya begitu keluar dari Y tanpa dipengaruhi oleh P. antara pemerintah (P) dengan yang diperintah (Y) adalah salingpengertian. belum terhitung waktu yang diperlukannya untuk bersosialisasi. Semakin tinggi dan asing pemerintah memosisikan dirinya. berbuka diri mengamati. tidak berguna. ialah Nelson Mandela Y Gambar 16 Membentuk (Membangun) Pengertian Yang Empatik (Saling-mengerti) = Y . tetapi terasa hadir di mana-mana dan kapan saja sebagai bagian dari dan sama dengan “kita. maka jika waktu yg digunakan P utk berbicara 10 menit. sambil merekam. semakin samar. ada yang terbuang dan terinjak. buah pikiran sebesar apapun. P melawan arus? Ya. emik & etik. 2009). Mengamong berarti tidak memosisikan diri sebagai pangreh. di sana papa dan hina. Lihat Filsafat Pemerintahan. P P P turun secara pribadi (personally) serendah mungkin dari posisinya. dan merasakan apa yang “kita” rasakan.Pada aras mikro. Bab 20 Kybernologi (2003). semakin mendarat ia bersama “kita. Ialah Semar. temuan-temuan akademik (invensi) harus dijadikan masukan bagi pembuatan kebijakan publik guna melahirkan inovasi (Bab XI Kybernologi dan Pengharapan. 99% rakyat ada di didepannya dan sejarah bertinta emas terbentang di belakangnya. sehingga oleh Y ia diterima sebagai seorang sesama di antara mereka. kotor dan sampah “kita” terlihat olehnya. ia tdk populer di kalangan politisi dan birokrasi. membangun rapport.” Ia melihat apa yang “kita” lihat. katakanlah terdiri dari 10 sub-Y. bahkan oleh parpol ia dituduh pengkhianat. mengamati & merekam amatannya.

lusuh. rapi dan wangi.” demikian Schwandt. mantan | | -------PIN IN. Iapun menandai orang-orang tersebut sebagai warga masyarakat tertinggal dan diberi definisi seperti di atas. cepat atau lambat dapat terbentuk dan tercapai melalui pelbagai cara di dalam masyarakat.<-------------------------------| | | FORMAL kembali ke dalam masyarakat | | | | | | | | | | | | ----------------| referensi |--------| | | | | | | PEMIMPIN rezim lain yang terpilih | -------FORMAL <--------------------------------naik ke singgasana kekuasaan Gambar 17 Proses Kepemimpinan . “It (Verstehen) must mean an act of sympathetic imagination or empathic identification on the part of inquirers that allowed them to grasp the psychological state (i.” Dengan menggunakan FOR-nya. and thoughts behind the action of others. Salah satu bentuk understanding adalah empathic understanding yang dalam bahasa Jerman disebut Verstehen. Bisa saja peneliti bermaksud mengenal seorang aktor dengan motif ketertarikan (sympathetic imagination) dan bukan karena ingin mengenalnya sebagaimana adanya.e. intention. dan bau keringat. Verstehen adalah “empathic understanding or an ability to reproduce in one’s own mind the feelings. Menurut Max Weber. bukan emphaty).” berkepeberkepemimpinan terpilih mimpinan MASA JA--->MASYARAKAT---------->PEMIMPIN----------->KEPALA----------->BATAN------| informal tersaring formal & BERAKHIR | | informal | | | | | | PEMIMtidak terpilih (lagi). Konsep empati tidak terpisahkan dengan konsep pengertian (understanding). motives. sedangkan pakaiannya sendiri bersih. 14 SESI TIGABELAS Nilai Duabelas DISTINGUISHED STATESMANSHIP. motivation. Salah satu cara yang dikenal dalam metodologi adalah pembentukan pengertian dan pencapaian saling-mengerti melalui empati (empathy.Pengertian dan saling-mengerti. seorang pejabat atau peneliti bisa saja mengaku bahwa ia mengerti kondisi atau kualitas suatu masyarakat dengan memandang pakaian orang yang lalulalang: ada sejumlah orang yang berpakaian kotor. Mengamong berarti “exhibits great wisdom and ability in dealing with important public issues. or the like) of an individual actor. belief.

imperial spirit. dan Tengah. karena ia telah berjanji kepada dirinya sendiri dan kepada masyarakat. Kepamongprajaan di sini terlihat sebagai kualitas yang mampu melahirkan buah pikiran besar. rule the present from the past” (Alfred North Whitehead. bukan dari partai tetapi dari seluruh bangsanya. fihak yang takterpilih kembali menjadi controlling reference jangka panjang (Gambar 17). memaknai uang bukan solusi tetapi beban (karena harus dipertanggungjawabkan). perlindungan dan perlakuan sebagai seorang pejabat. bagi rezim terpilih lima tahunan. seorang negarawan tidak melakukan perbuatan yang menguntungkan hanya satu fihak. Bahan ajaran untuk sesi ini terdapat dalam berbagai sumber. Kini saatnya untuk mencerahkan dan membangkitkannya. Barat. Tetapi sebaliknya ia selalu merasa berhutang. dan ia berusaha menepatinya. menyatakan secara terbuka pengunduran diri dari “kendaraan yang mengusungnya” begitu terpilih menjadi pejabat publik. 2006). walaupun di masa itu belum didefinisikan dan belum diprogramkan. kepamongprajaan dilihat sebagai fungsi yang dibutuhkan pada tingkat regional dan global. Bab V Kybernologi Sebuah Metamorphosis (2008). ia mendapat pengawalan. menggunakan Etika Otonom dan bukan Etika Heteronom (Bagian Dua Bab X Kybernologi Sebuah Scientific Enterprise. terutama Badan Diklat Depdagri sendiri. sehingga buah pikiran besar pamong praja Indonesia – yaitu mereka yang memiliki kualitas kepamongprajaan – tahun 2009 mempengaruhi perjalanan sejarah Indonesia di tengah-tengah dunia beratus-ratus tahun kemudian: “Her citizens. .Mengamong juga berarti memosisikan diri di atas semua kepentingan partial. Pada saat seorang pejabat yang sedang cuti kampanye. Dengan kualitas itu---kenegarawanan--kepamongprajaan berarti kemampuan melahirkan pikiran besar. Pada sesi ini. Pidato Sambutan Forum American Association of the Collegiate Schools of Business. Seorang negarawan tidak mengclaim kinerjanya sebagai kinerja partai yang mengusung atau didukungnya. maupun antar Timur. Merayakan saat pengembalian (penyerahan) jabatan (mandat) ketimbang saat memangku jabatan (pelantikan). baik antara Utara dengan Selatan. Wawasan Kepamongprajaan sebagai kenegarawanan mengemuka di masa STPDN. Seorang statesman tidak pernah merasa berjasa. walau cuti sekalipun. serta memikul sendiri tanggungjawabnya. Bab I dan Bab III Kybernologi dan Pengharapan (2009). karena tindakan apapun yang dilakukannya telah mendapat imbalan dari negara dan masyarakat. 1927). pengaruhnya tetap terasa. karena selama menjabat ia digaji dan mendapat fasilitas serta kehormatan. sebab cuti itu hanya akalakalan. walaupun ia menggunakan kendaraan umum dan mengenakan kaus oblong. pemilu bukan menang kalah tetapi terpilih atau tidak terpilih. roh zaman. Selama masa jabatannya. Berbeda dengan perang. membuat sejarah (history making) melalui perbuatan besar.

Di Indonesia biasanya norma di-“tegakkan” dengan sikap “benar. Gambar 15) disebut ideologi.? <-----N=H<------------HASIL---------------2-| | N>H pelanggan (H) | | | | | | dibenarkan monev oleh “ditegakkan” | ---. . Opsi 1. berkekuatan mengikat. .15 SESI EMPATBELAS Apakah Kepamongprajaan? Dalam GBPP di atas Kepamongprajaan didefinisikan nilai dasar pemerintahan (governance). Norma bersifat formal. Siapa Jagonya? . Jika kualitas entitas tersebut dalam ruang pemerintahan ditimbang. . dijadikan feedback buat entitas yang bersangkutan (lihat Gambar 16).” apa yang terjadi? Jika norma ditegakkan (digunakan). .” “yang diucapkan atau ditulis begini. **Monev Direkayasa) Opsi 3. tetapi yang dilakukan lain.” sehingga OP dan atau OC tidak dipercaya atau jauh dari harapan (Gambar 18). Opsi 2.” “baik.? <-----------“HASIL”<-------------3pembenaran penguasa** dipermainkan Gambar 18 Kepamongprajaan Menurut Teori Nilai: Tiga Opsi.” atau “itu kan teori. hasil rekonstruksi norma. OP dan OC dimonev. jika perilaku suatu entitas diamati. Sesuai dengan Teori Nilai. bandingkan dengan rekonstruksi pengetahuan menjadi BOK. Nilai yang disepakati menjadi norma. Kalau dogma dipatuhi “tanpa reserve. dan apapun hasil analisisnya. hasilnya adalah duabelas nilai dasar pemerintahan. dan Opsi 3 (BON* = Ideologi. dan ideologi yang disakralisasi. . terlihat satu atau lebih kualitas. menjadi dogma. tapi.? <------------DOGMA<-----------BON*<---------------1-| | mutlak isasi struksi | | | | | | feedback N<H monev oleh ditegakkan | |-----------. perilaku ditimbang disepakati -->ENTITAS-------->KUALITAS--------->NILAI-------------->NORMA | bisa dipaksakan (N) | | | | | dipatuhi disakraldirekon| |---.? <------------. Body-of-norms (BON. . terlihat output (OP) atau outcome (OC). tapi. .

Membentuk kader-kader Pamongpraja yang dibutuhkan mendesak oleh Depdagri dan Pemda b. Pendidikan Kepamongprajaan meliputi Program Vokasional (Diploma).Dalam hubungan ini. Setiap kualitas ditimbang guna melihat. mulai dari Kepala Lembaga Negara. Diperlukan kekuatan pengikat kebhinnekaan menjadi tunggal ika. Mengapa tidak di dalam diri kepala daerah? 6 Lembaga. dengan perangkat masing-masing 8 Profesi. Profesi Kepamongprajaan meliputi penerapan Kepamongprajaan sebagai norma melalui kebijakan publik di dalam praktik pemerintahan. Merekonstruksi terus-menerus Ilmu Pemerintahan Baru (Kybernologi) sebagai sumber dan dasar profesi pemerintahan . dengan perangkatnya masing-masing Tingkat Tinggi: Pamong Bangsa/Negara. Perilaku yang terlihat di dalam ruang pemerintahan (governance) mulai dari tingkat statal. Sekarang kekuatan itu dicharge dalam diri gubernur provinsi. Mengingat perubahan eksternal dan internal. Norma dapat dilembagakan menjadi sebuah unitkerja . sampai pada tingkat rukun tetangga menunjukkan 12 kualitas kepamongprajaan 3 Nilai. Kekuatan itu adalah fungsi yang dapat dicharge di dalam sistem penyelenggaraan pemerintahan (di) daerah. dan Diklat Kepamongprajaan guna membentuk kader-kader tenaga berkualitas Kepamongprajaan yang disebut Pamongpraja (Perpres 1/09) 9 Pendidikan Kepamongprajaan. suatu tingkat nilai pada suatu saat disepakati sebagai norma yang harus diindahkan dan ditegakkan oleh semua fihak. sejauh mana kualitas memenuhi kebutuhan manusia dan masyarakat 4 Norma. Aparat penegak perda: Polisi Pamong Praja. lokal. mulai dari Ketua Rukun Tetangga sampai dengan Kepala Desa/Kelurahan dan perangkatnya Tingkat Menengah: Pamong Praja. di Indonesia (sebaiknya) kepamongprajaan dijadikan dan digunakan sebagai: 1 Identitas. bertujuan a. Agar berkekuatan mengikat. Dahulu. secara periodik harus dilakukan monev dan pembaharuan norma 5 Fungsi. pamongpraja dilembagakan menjadi unitkerja pusat di daerah (kepala wilayah dan jajarannya) 7 Struktur Kepamongprajaan dalam tiga tingkatan: Tingkat Bawah: Pamong Desa/Kelurahan. Kepala Daerah. Menteri. mahasiswa IPDN disebut Praja. Membangun Kepamongprajaan sebagai sistem nilai dasar pemerintahan c. mulai dari Camat. sampai pada Presiden di pucuknya. Program Program Strata dan Program Profesional. lulusan IPDN Pamong Praja Muda 2 Kualitas. nama suatu entitas.

dan ditetapkan saat pelembagaannya. professional. terdapat dalam Kybernologi: Sebuah Rekonstruksi Ilmu Pemerintahan. Bab IC. Oleh sebab itu. Bahan untuk sesi ini masih harus diidentifikasi dan didefinisikan. Konsep profesi. Pamongpraja dalam arti luas adalah tenaga pemerintahan yang memiliki roh dan 12 nilai dasar pemerintahan. Standar kompetensi struktural bersifat normatif. Pamongpraja dalam arti sempit adalah tenaga professional di bidang (yang memiliki kualitas) kepamongprajaan. dan profesionalisme.10 Standar kompetensi pamongpraja. kesukaran ini harus diantisipasi! ------>PENELITIAN--->TEMUAN---->KEBIJAKAN--->PEMBAHARUAN-| (invensi) | (inovasi) | -->KEPAMONG| | | PRAJAAN | | | | | | | ------>DIKLAT--->KADER PAMONGPRAJA-| | | ----------------FEEDBACK<-----------------MONEV<------------------ Gambar 19 Kepamongprajaan Sebuah Ruang Pembelajaran 3001090852SDG 2903090733SDG 1104091600SDG File GBPP KEPAMONGPRAJAAN BARU . 2005. Perlu dibedakan standar kompetensi fungsional dengan standar kompetensi struktural. Kendatipun ini sesi terakhir tetapi tidak berarti termudah---last but not least---bahkan mungkin yang tersukar. begitu Kepamongprajaan ini diajarkan mulai Sesi Satu. Yang dijelaskan dalam sesi ini adalah standar kompetensi fungsionalnya. lihat Bab II Kybernologi dan Kepamongprajaan (2007).

. . . . . . . . . . . . . . . . . . 41 43 45 46 47 48 50 51 52 55 56 57 . . . . . . . . . . . Sepuluh Magnanimous-thinking. . Sembilan Responsibility . . . . . Tujuh Freies Ermessen . . . . . Tiga Coordinating . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . Delapan Generalist & Specialist Function. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . Duabelas Distinguished Statesmanship. . . . Lima Residue-caring . . . . . . .RINGKASAN DUABELAS NILAI KEPAMONGPRAJAAN 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 Nilai Nilai Nilai Nilai Nilai Nilai Nilai Nilai Nilai Nilai Nilai Nilai Satu Vooruitzien. . Enam Turbulence-serving . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . Empat Peace-making. . . . . . . . . . . . . . . . Sebelas Omnipresence. . . . . . . . . . . Dua Conducting. . . . . .

DAFTAR PUSTAKA KYBERNOLOGI 1 Kybernologi dan Pengharapan (Sirao Credentia Center. 2007) 7 Kybernologi Sebuah Charta Pembaharuan (Sirao Credentia Center. 2007) 6 Kybernologi Sebuah Scientific Movement (Sirao Credentia Center. 2003) 13 Metodologi Ilmu Pemerintahan (Rineka Cipta. 2008) 5 Kybernologi Sebuah Profesi (Sirao Credentia Center. 1997) 14 Metodologi Pemerintahan Indonesia (Bina Aksara. 2005) 11 Teori Budaya Organisasi (Rineka Cipta. 2008) 4 Kybernologi dan Kepamongprajaan (Sirao Credentia Center. 2009) 2 Kybernologi dan Pembangunan (Sirao Credentia Center. 2005) 12 Kybernologi I dan II (Rineka Cipta. 2008) 3 Kybernologi Sebuah Metamorphosis (Sirao Credentia Center. 1988) . 2007) 8 Kybernologi Sebuah Scientific Enterprise (Sirao Credentia Center. 2006) 9 Kybernologi Beberapa Konstruksi Utama (Sirao Credentia Center. 2005) 10 Kybernologi Sebuah Rekonstruksi Ilmu Pemerintahan (Rineka Cipta.

” Kompas 11 Oktober 2007 “Presiden Ubah IPDN Menjadi IIP.MARDIYANTO. prof.” . buat sebagai dasar keilmuan pembentukan IIP Regional. Kita jadikan proposal yang prof. prof. Yang beliau maksudkan adalah Kybernologi dan Kepamongprajaan.” “Sistem Pengasuhan Dihapuskan. MENTERI DALAM NEGERI RI: “Di IIP Ada Tambahan Ilmu Baru Sebagai Pendukung Dalam Aspek Pemerintahan. Diubah Kepamongan” Apa yang dimaksud dengan “Ilmu Baru?” 08159676XXX 121007223338 “Benar.” 224923 “Benar.

Taliziduhu Ndraha. Kybernolog GARIS-GARIS BESAR PROGRAM PEMBELAJARAN KYBERNOLOGI DAN KEPAMONGPRAJAAN JAKARTA. 2009 .

. . . . . EPISTEMOLOGI 4 Sesi Tiga Teori Kebutuhan . RINGKASAN . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . Sesi Dua Nilai Satu Vooruitzien . . . . . . . . . . . 8 Sesi Tujuh Metodologi . RINGKASAN . . . . 11 Sesi Sepuluh Nilai Sembilan Responsibility. . . . . . . . . . . Sesi Satu Pemerintahan. . . . . . . . . . . . . . . . . Sesi Lima Nilai Empat Peace-making. . . . . . . . 15 Sesi Empatbelas Apakah Kepamongprajaan? . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . Sesi Tujuh Nilai Enam Turbulence-serving. . . . . . . . . . 12 Sesi Sebelas Nilai Sepuluh Magnanimous-thinking 13 Sesi Duabelas Nilai Sebelas Omnipresence. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . Sesi Delapan Nilai Tujuh Fries Ermessen . 2 Sesi Satu Penjelasan Umum. . . 13 Sesi Duabelas Manajemen Pemerintahan. . . AXIOLOGI 10 Sesi Sembilan Teori Nilai . . . . . 14 Sesi Tigabelas Seni dan Teknik Pemerintahan . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 17 Sesi Enambelas UAS. . . ONTOLOGI 3 Sesi Dua Ontologi Ilmu Pemerintahan . . . . . . . . . . . . . . . . . . 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 12 Sesi Sebelas Kebijakan Pemerintahan . . . . . . . . . . . . . . . 6 Sesi Lima Teori Governance. . Sesi Tiga Nilai Dua Conducting. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 16 Sesi Limabelas Reformasi Pemerintahan . . . Sesi Enam Nilai Lima Residue-caring . . . . . 1 2 5 6 8 11 16 18 20 20 22 24 25 26 27 28 30 31 II GBPP KEPAMONGPRAJAAN Latar Belakang. . . . . . . Sesi Sembilan Nilai Delapan Generalist & Specialist Function . . 15 Sesi Empatbelas Etika Pemerintahan. . . . 7 Sesi Enam Teori Kinerja . . . . . . . . . . . . . . Sejarah Pengajaran Ilmu Pemerintahan di Indonesia. . . . . . . . . . . . . . . . .DAFTAR ISI I GBPP PENGANTAR ILMU PEMERINTAHAN 1 Latar Belakang. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 11 Sesi Sepuluh Kepamongprajaan. 5 Sesi Empat Teori Pelayanan. . . . . . 14 Sesi Tigabelas Nilai Duabelas Distinguished Statesmanship . . . . . . . . . . . . . . . 32 36 41 43 45 46 47 48 50 51 52 55 56 57 59 62 . . . . . . . . . . . . . . . . . Sesi Empat Nilai Tiga Coordinating. 9 Sesi Delapan UTS.

. . . . . . . . . . . . . . . . . Pentingnya Laboratorium Lapangan Administrasi Kependudukan . . . . 125 . . . . . . . . . . . . . . . . 107 . . . . . . . . . . . . . . . . 117 118 118 119 VII KOMENTAR TERHADAP DRAFT PEDOMAN KURIKULUM. . . 101 . . . . Perspektif Kybernologi. . . . . . . . . 2 Kerangka Pemikiran. . . . . . . . 104 . . . . . . . . . . . . . 101 . . . 3 Program Diklat Profesional Kepamongprajaan. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 121 3 Kurikulum . . . 108 VI PERAN CAMAT DALAM PENYELENGGARAAN PEMERINTAHAN DAERAH 1 Pemerintahan. . . . . . . . . . . . . . . . 3 Otonomi Daerah. . . . . . . . . . . . . . . . . . Negeri . . . . Apakah DPD Itu? . . 116 . . . 121 2 Sekolah Kepemimpinan Pemerintahan Dalam Negeri. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 5 Peran Camat . . . DPD Perspektif Kybernologi Politik. . . . . . . . . . . . . . . . . 77 79 91 99 V USULAN PEMBENTUKAN LABORATORIUM LAPANGAN ADMINISTRASI KEPENDUDUKAN 1 2 3 4 Pengertian. . . . . . . . . . . . . . . Masalah . . 63 III DIKLAT PROFESIONAL KEPAMONGPRAJAAN 1 Latar Belakang. Perspektif Kybernologi Administrasi Kependudukan. . . . . . . 2 Posisi Strategis Departemen Dalam Dalam Sistem Pemerintahan . . . . . DIKLAT KEPEMIMPINAN PEMERINTAHAN DAERAH 1 Latar Belakang. 4 Penyelenggaraan Otonomi Daerah. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 64 65 72 IV DEWAN PERWAKILAN DAERAH 1 2 3 4 DPD Di Pentas Politik . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .DAFTAR PUSTAKA KYBERNOLOGI. . . . . . . . . . 5 Penyelenggaraan Laboratorium Lapangan Administrasi Kependudukan . . . . . .

Buku ini diharapkan menjadi pegangan bagi segenap Masyarakat Akademik di lembaga-lembaga perguruan tinggi di atas. S2 dan S3 sejak tahun 1994 (antara lain bekerjasama dengan Universitas Padjadjaran). Kybernolog dan seorang pejabat Departemen Pertanian (Bab VI dan Bab VII Kybernologi dan Pengharapan. 2008). Kybernologi adalah sebuah bangunan pengetahuan (body-of-knowledge. serta mewujudkan Duabelas Nilai Kepamongprajaan sebagai pola perilaku pemerintahan Indonesia dan pemerintahan daerah ke depan. GBPP dua subjek ini dirancang. penelitian. Perkembangan akademik ini langsung mendukung kebijakan baru Pemerintah yang menetapkan IPDN sebagai Penyelenggara Sistem Pendidikan Tinggi Kepamongprajaan berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 1 Tahun 2009. Bahkan sisi Axiologinya berkembang menjadi satu bidangkajian dan program diklat baru bernama Kepamongprajaan. GBPP matakuliah berisi roh ilmu yang bersangkutan.PENGANTAR REKTOR INSTITUT PEMERINTAHAN DALAM NEGERI Pada tgl 22 Mei 2003. dan pengabdian kepada masyarakat. BOK tersebut kini telah mencapai derajat keilmuan tertinggi yang utuh dan lengkap. Kybernologi ini menyajikan . hasil rekonstruksi dan buah pendaratan Bestuurskunde dan Bestuurswetenschap (Ilmu Pemerintahan) di bumi Indonesia. 2009). seperti terlihat dalam buku ini. MM. hasil penelitian terhadap fenomena pemerintahan dari sudut (pendekatan) Manusia. Melalui proses pembelajaran Program S1. dalam menjalankan proses belajarmengajar di bidang Ilmu Pemerintahan (Kybernologi) melalui Tridharma Perguruan Tinggi: pengajaran. Dengan demikian Kybernologi bukan hanya judul seri buku yang terbit sejak tahun 2003. diajarkan. Di samping hibrida Kybernologi bernama Kybernologi Pertanian oleh DR Ir Abdul Samad Melleng. didiskusikan. melainkan sebuah BOK yang terus berkembang. Dosen dan Praja). BOK) pemerintahan (governance). Pembahasan dan sosialisasi draft akhir ini di lingkungan IPDN (Pimpinan. dan telah beberapa kali berubah. Institut Ilmu Pemerintahan (IIP) meluncurkan satu produk akademik bernama Kybernologi. dalam forum Scientific Traffic dan di lingkungan Badan Diklat Departemen Dalam Negeri dalam Rapat SEPIMDAGRI tanggal 19 dan 20 Mei 2009 di Jakarta. diujicobakan sejak awal 2008 (Bab 6 Kybernologi dan Kepamongprajaan. dilakukan pada tanggal 8 Mei 2009 di Jatinangor. dalam hal ini Kybernologi dan Kepamongprajaan.

Juni 2009 Prof. yaitu Kybernologi Politik dengan mengambil Dewan Perwakilan Daerah sebagai sasaran kajian. tetapi juga ke hulu.sebuah hibrida baru. Jakarta. MA . Dr Hj. Maka sebuah usulan pembentukan Laboratorium Lapangan Administrasi Kependudukan (UU 23/06. Walaupun usulan ini ditulis untuk IPDN. NGADISAH. Kybernologi tidak hanya berorientasi ke hilir. PP 37/07. namun sesungguhnya dialamatkan dan ditawarkan kepada semua fihak yang peduli dengan masadepan Indonesia. dan Perpres 25/08). diluncurkan. Orientasi ke hulu ini dipicu oleh hiruk-pikuk Pemilu 2009 yang menurut para pengamat disebabkan oleh patologipolitik dan patologibirokrasi kependudukan yang sudah kronik dan parah.

UMUM | | | | | | | | | | | .---10--PENDIDIKAN--10-------BIDANG PE| | MERINTAHAN DIPLOMA MERINTAHAN | | | | | | | | | | | | | --------------------| | | 6 | vooruitzien | 6 | AGROPEMERINTAHAN | conducting | PEMERINTAHAN TEKNOLOGI PEMERINTAHAN DAERAH | coordinating | DAERAH PEMERINTAHAN | | | peace-making | | | | | | residue-caring | | | | 5 | turbulence-serving | 5 | | KEBIJAKAN | | KEBIJAKAN | |------------->BIDANG<----|---KEPAMONGPRAJAAN---|----->BIDANG<-------------| | PERTANIAN | | PEKERJAAN UMUM | | | | Freies Ermessen | | | | | | gen&spec function* | | | | 4 | omnipresence | 4 | KYBERNOLOGI KEPALA DINAS | responsibility | KEPALA DINAS KYBERNOLOGI PERTANIAN PERTANIAN |magnanimous-thinking | PEK.DIKLAT PROFESIONAL KEPAMONGPRAJAAN Kerangka Pemikiran 9 KYBERNOLOGI --------------------------ILMU PEMERINTAHAN BARU-------------------------| | (KOMPONEN PENDIDIKAN STRATA) | | | | | | | 8 8 | | KEAHLIAN KEAHLIAN | | DI BIDANG----------GENERALIS-----------DI BIDANG | | PEMERINTAHAN | PEMERINTAHAN | | | | | | | | | | | | 7 | 7 | | PROFESI KOMPONEN PROFESI | | BIDANG PE. UMUM | | | statesmanship | | | | | --------------------| | | | | | | | 3 | 3 | | PROFESI KOMPONEN DIKLAT PROFESI | | BIDANG-----11----PROFESIONAL----11-----BIDANG | | PERTANIAN KEPAMONGPRAJAAN PEK. UMUM PEK. UMUM | | | | | | | | | | | | 2 | 2 | | KEAHLIAN | KEAHLIAN | | DI BIDANG----------SPESIALIS-----------DI BIDANG | | PERTANIAN | PEK.

PENDIDIKAN PROFESIONAL (11). PENDIDIKAN DIPLOMA (VOKASIONAL. misalnya Permendagri No 43 Tahun 2005 tentang Statuta IPDN. sekurang-kurangnya lima topik di bawah ini perlu segera difikirkan kembali. didefinisikan. lebih tegas. kebijakan tersebut merupakan sebuah perubahan dan kemajuan. APDN dan IIP lebih dikenal sebagai “perguruan tinggi kedinasan di lingkungan Departemen Dalam Negeri.” (pasal 2A. Sistem Pendidikan Tinggi Nasional 3. Perpres tersebut meletakkan dasar yang kokoh (raison d’ētre) bagi eksistensi IPDN ke depan. Penyelenggaraan sistem pendidikan tinggi kepamongprajaan (di dalamnya termasuk Diklat Profesional Kepamongprajaan) 2 KERANGKA PEMIKIRAN .| 1 | 1 | -------------AGRONOMI-------ILMU-ILMU LAINNYA-------TEKNOLOGI------------CIVIL *generalist&specialist function GAMBAR TIGA KOMPONEN SISTEM PENDIDIKAN TINGGI KEPAMONGPRAJAAN PENDIDIKAN STRATA (9). Di satu fihak. sistem pendidikan tinggi kepamongprajaan merupakan subsistem pendidikan tinggi nasional sebagaimana diatur dalam UU Nomor 20 Tahun 2003. diidentifikasi. Belanda (pangrehpraja dan pamongpraja). Apakah Indonesia kembali ke masalalu? Apakah makna kepamongprajaan itu di masa depan? Oleh sebab itu. Sistem Pendidikan Tinggi Kepamongprajaan 4. tetapi di fihak lain terkuak kembali memori sosial masalalu tentang hubungan pusat dengan daerah. DAN HUBUNGAN KYBERNOLOGI DENGAN ILMU PENGETAHUAN LAINNYA 1 LATAR BELAKANG Di dalam dokumen-dokumen tradisional Depdagri. Jika dikaitkan dengan butir 3 “Mengingat” Perpres tersebut.” Sementara itu sejak tahun 90-an yang lalu. ht TN). IPDN disebut sebagai “lembaga pendidikan kader pamongpraja di lingkungan Departemen Dalam Negeri. Di sana dengan jelas dinyatakan bahwa IPDN “menyelenggarakan pendidikan tinggi di bidang kepamongprajaan yang diselenggarakan melalui sistem pendidikan tinggi kepamongprajaan. di masa pemerintahan raja-raja (pangrehpraja). Hubungan antara sistem pendidikan tinggi nasional dengan sistem pendidikan tinggi kepamongprajaan 5. Kepamongprajaan dalam Sistem Pemerintahan Indonesia 2. dan dijelaskan: 1. dan rezim Soeharto (kepala wilayah).” Perpres 1/09 tentang Perubahan Atas Keputusan Presiden Nomor 87 Tahun 2004 mengenai penggabungan STPDN ke dalam IIP yang namanya sekaligus diubah menjadi IPDN. 10).

Dalam kerangka pemikiran ini digunakan pendekatan Kybernologi (kybernân = besturen = steering).SKS-------------SKK--| pemain. Identifikasi dan definisi Sistem Pemerintahan Indonesia dapat dilakukan melalui pendekatan kekuasaan (Ilmu Politik). sekurang-kurangnya tujuh terminal harus disinggahi untuk dapat mencapai lima topik di atas. 2 3 5 janji(kebijakan.kontrol----konstituen-------SKK rute 2---| sumber-sumber | | (UU. PEMERINKEPAMONGPROFESIDEPSISDIK DIKLAT PROFESIONAL TAHAN----->PRAJAAN---->ONALISME-->DAGRI-->DAGRI--->IPDN-->KEPAMONGPRAJAAN 1 2 3 4 5 6 7 Gambar 1 Kerangka Pemikiran Satu. pemerintahan. hope) selaku pelangan patan/implemendari SKS selaku terhadap kinerja --tasinya.| | jawaban etik | | | ---hidup.Dalam peta eksplorasi pemikiran tentang Diklat Profesional Kepamongprajaan. subkultur kekuasaan (SKK). kuasa monev oleh SKS rencana)& pene(trust. hasil------lay publik---------menurut----| | pengelolaan & pemberdayaan etika otonom | | sumber-sumber masyarakat di hilir | | 1 di tengah 6 | | 4 | . hasil pendaratan Bestuurskunde.SDM.SDB) | | melalui pe| | via rute 1 | | di hulu | | milu di hulu | | di hilir | | | | | | | | | | | | | | stakeholder -. yaitu subkultur ekonomi (SKE).SKK---------------. Kybernologi). dan subkultur sosial (SKS). Pemerintahan (governance) adalah interaksi antar tiga subkultur tiap masyarakat (unit kultur).pe. Kybernologi adalah sebuah body-of-knowledge (BOK) baru. | | | | pembawasit penonton | | | ngunan | | | | | | | | | | redistribusi | | | | | | nilai berke| | nilai via pe. Bestuurswetenschap dan Bestuurswetenschappen di bumi Indonesia (Gambar 2).PERDA) | | dan rute 4 | | (SDA.-SKE--------------. mandat. seperti terlihat dalam Gambar 1.| | pertanggung| | | | lanjutan utk | | lay civil. dan dapat pula dilakukan menurut pendekatan kemanusiaan dan lingkungannya (Ilmu Pemerintahan.

Residue-caring (mengelola “sampah. men(t)anggung risiko secara pribadi menurut Etika Otonom) 11. and more and more about less and less) 9. Responsibility (menjawab dengan jelas dan jujur. baik dalam arti formal maupun dalam arti informal. Fries Ermessen (keberanian bertindak untuk kemudian mempertanggungjawabkannya) 8. Generalist and Specialist Function (knowing less and less about more and more. Kepamongprajaan adalah sebuah sistem yang terdiri dari 12 (duabelas) nilai sebagai berikut: 1. Profesionalisme. Nilai terbentuk melalui kerja. Conducting (membangun kinerja bersama melalui perilaku aktor yang berbeda-beda) 3. tidak memihak. Tiga.” “yang salah. dan dengan demikian governance menjadi good governance. interaksi itu harus dikendalikan dan diarahkan oleh sebuah kekuatan yang disebut kepamongprajaan. Supaya kinerja interaksi antar tiga subkultur itu good. 1.” dan “yang terbuang”) 6. Magnanimous-thinking (-mind. Omnipresence (terasa hadir di mana-mana) 10. Turbulence-serving (mengelola ledakan yang dianggap mendadak atau di luar kemampuan. Vooruit zien (memandang sejauh mungkin ke depan) 2. 2.| | ---------------------pemerintahan (governance)------------------------Gambar 2 Sistem dan Proses Pemerintahan (Governance) Digerakkan oleh Tiga Subkultur (Terminal) Melalui Rute 3. impartial) Orang yang memangku 12 nilai tersebut disebut Pamong Praja. Distinguished statesmanship (kenegarawan-utamaan. Peace-making (membangun kerukunan dan kebersamaan) 5.” “yang kalah. Coordinating (membangun kinerja masing-masing melalui kesepakatan bersama yang mengikat) 4. Pekerjaan yang ditekuni seumur hidup disebut profesi. Kualitas kerja diharapkan professional agar kinerjanya . berdiri di atas semua kepentingan.” “yang beda. 4. 5. Kepamongprajaan. selama memangku masajabatan publik. dan 3 (pelay = pelayanan) Dua. berpemikiran besar dan kuat menerobos zaman membuat sejarah) 12.” “sisa. force majeure) 7. 6.

karsa. Tanhana Dharmma Mangrva. . kata dan karya berdasarkan kebenaran yang tunggal. standards of training and competence are set by the profession itself. (berarti) merendahkan agamanya sendiri. Dalam kerajaan Majapahit (1292-1525) nilai ideal “berbeda (beragam) tetapi (ber)satu” itu menjadi kenyataan: raja Hayam Wuruk (memerintah 1350-1389) beragama Hindu. . maka adalah tepat tatkala Presiden Soekarno dalam pidato HUT Proklamasi Kemerdekaan RI tgl 17 Agustus 1950 menyatakan bahwa Bhinneka Tunggal Ika adalah sesanti (credo) bangsa Indonesia.good. Fourth. berbunyi: “Barangsiapa merendahkan agama lain dan memuji agamanya sendiri.” lengkapnya “Bhinneka Tunggal Ika. Empu Tantular mengemas ajaran itu dalam seloka yang sebagian berbunyi “bhinneka tunggal ika. Bertolak dari sejarah yang menunjukkan bahwa Bhinneka Tunggal Ika sebagai sistem nilai ideal di zaman dahulu bisa menjadi kenyataan. Di sana dijelaskan bahwa profesi berarti. A Macro Approach. 1980). Moberg. professions all have professional authority. Pada suatu tiang batu peninggalannya tercantum sebuah pernyataan yang dapat disebut Doktrin Asoka. bahkan dapat disebut visi (walaupun Presiden Soekarno tidak secara eksplisit menyatakan demikian) bangsa Indonesia dalam membangun bangsa (Nation Building). yaitu Hindu dan Buddha. Brown dan Dennis J. Third.” dan “profesionalisme” itu dapat dideduksi dari konsep “profesi” yang diuraikan dalam Kybernologi: Sebuah Rekonstruksi Ilmu Pemerintahan (2005. Pemerintahan “Dalam Negeri. Stillman II. . Bab I sub C. Di zaman raja Asoka (ca 269-232) terdapat dua agama besar di Asia. . Finally. sedangkan perdana menterinya Gadjah Mada (menjabat 1331-1364) beragama Buddha. h. kesebangsaan. . Public Administration: Concepts and Cases. “a reasonably clear-cut occupational field. which ordinarily requires higher education at least through the bachelor’s level. tahan karena benar serta satunya cipta.” Dalam kitab Sutasoma. profesionalisme kepamongprajaan di atas digunakan. Untuk memperkokoh kekuasaannya. khususnya Departemen Dalam Negeri. . Pengertian “professional.” yang dilembagakan menjadi Departemen Dalam Negeri. rasa. 1984). Second. ia menganjurkan perdamaian di mana-mana. professions are based on the presence of a systematic theory. . professions are encircled by a professional culture. Dikemukakan lebih lanjut bahwa “first.” artinya berbedabeda tetapi satu jua. Supaya berguna dan efektif. dalam hal ini di ruang pemerintahan. . Empat. 38-9). A professional group has a common language. . Professional associations and training centers promulgate a set of norms and values among professionals (Warren B. . dan membentuk watak (Character Building) bangsa. . which offers a lifetime career to its members (Richard J. Organization Theory and Management. professions have a code of ethics. . Pembicaraan tentang Departemen Dalam Negeri tidak dapat dipisahkan dari Visi dan Misi Bangsa Indonesia. .

das Sein) dan “tunggal ika” (ide. Menterinya juga Tabel 1 FUNGSI LINI DEPARTEMEN DALAM NEGERI ---------------------------------------------------------------------KELOMPOK A KELOMPOK B ---------------------------------------------------------------------1 Ditjen Kesatuan Bangsa dan Politik 1 Ditjen Otonomi Daerah . Dalam sistem ketatanegaraan Indonesia. Tatkala Bangsa Indonesia masih berada di seberang jembatan yang bernama KEMERDEKAAN. das Sollen). Visi tersebut semakin jelas lima tahun BHINNEKA------------------------------------------------>TUNGGAL IKA masyarakat yang proses pengelolaan sehingga semua masing-masing keunikan menjadi kemasyarakat merasa memiliki keunikan kuatan matarantai sebangsa dan bersehingga yang satu dan pengurangan kesama-sama membaberbeda dengan senjangan vertikal ngun masa depan yang lain. Sejumlah departemen/kementerian “teknis” berasal dari departemen ini. Gambar 3 menunjukkan misi Pemerintah Indonesia yaitu memproses pengelolaan keunikan tiap masyarakat menjadi kekuatan matarantai nusantara dan mengurangi kesenjangan vertikal dan horizontal antar masyarakat secepatnya. visinya adalah seperti yang tercantum dalam Pembukaan UUD 1945.Bhinneka Tunggal Ika itu merupakan sebuah sistem nilai yang terdiri dari dua komponen besar yaitu “bhinneka” (fakta. departemen manakah yang secara khusus berperan menjalankan misi guna mewujudkan visi di atas? Sejak semula. Antara dua komponen itu terjadi hubungan timbal-balik (interaksi) bahkan hubungan dialektik terus-menerus. khususnya alinea pertama dan kedua. diperkaya dengan Bhinneka Tunggal Ika. Bhinneka Tunggal Ika itu kemudian dijadikan hukum positif dalam bentuk PP 66/1951. sepandan horizontal anjang sejarah pertar masyarakat sebedaan itu menimcepatnya bulkan kesenjangan vertikal dan horizontal antar masyarakat Gambar 3 Model Bhinneka Tunggal Ika Sebagai Misi Bangsa Indonesia kemudian setelah menyeberangi jembatan. Departemen Dalam Negeri menduduki posisi strategik dalam sistem pemerintahan RI.

Proses bergantung pada sistem (termasuk pelaku. Tetapi yang terpenting adalah misinya mengelola kebhinnekaan dan mewujudkan ketunggalikaan bangsa Indonesia. kader Pamongpraja) input throughput output . dan pembantuan (medebewind). Mengingat posisi dan peran Departemen Dalam Negeri yang strategis itu. Ketujuh direktorat jenderal ini dapat dibedakan menjadi dua kelompok (Tabel 1).” sementara ditjen Kelompok B mengelola “keBhinnekaan” nusantara. Sistem Pendidikan Tinggi Kepamongprajaan.2 Ditjen Bina Pembangunan Daerah 2 Ditjen Pemerintahan Umum 3 Ditjen Administrasi Kependudukan 3 Ditjen Pemberdayaan Masyarakat dan Desa 4 Ditjen Bina Administrasi Keuangan Daerah ---------------------------------------------------------------------- dikenal sebagai satu di antara triumvirate di samping Departemen Luar Negeri dan Departemen Pertahanan. Di sana ditetapkan bahwa IPDN menyelenggarakan program pendidikan akademik dan/atau profesi di bidang kepamongprajaan. dalam hal ini Statuta IPDN. dapat dijadikan pegangan sementara. dan berperan sebagai pembina politik dalam negeri. mengurangi kesenjangan vertikal antar masyarakat dan kesenjangan horizontal antar daerah secepatnya. desentralisasi. Lima. Sistem Pendidikan Tinggi Kepamongprajaan (input) terlihat dalam Statuta unitkerja penyelenggaraannya. yaitu tenagakerja penyelenggara IPDN) dan output (tenaga. Pasal 2 Permendagri Nomor 1 Tahun 2009 tentang Organisasi dan Tatakerja IPDN (menunjukkan proses) yang seharusnya ditetapkan berdasarkan Statuta. adalah Departemen Dalam Negeri. Sejauh ini Statuta yang dimaksud belum ada. sehingga “the kesadaran dan rasa kesebangsaan terbentuk secara berkelanjutan (tunggal ika). Dengan perkataan lain. dan pelaku pemerintahan departemen itu perlu dicharge 12 Nilai Kepamongprajaan di atas. proses. Dari dahulu Departemen Dalam Negeri mengelola sistem pemerintahan berdasarkan asas dekonsentrasi. Bila diperhatikan dengan saksama. terlihat dengan sangat jelas bahwa dua kelompok itu merupakan fungsi lini Departemen Dalam Negeri. Ditjen Kelompok A berfungsi sebagai unit kerja yang memproses “Tunggal Ika. maka ke dalam sistem. Hal itu terlihat pada fungsi lini Departemen Dalam Negeri yang dewasa ini terdiri dari tujuh direktorat jenderal (ditjen). departemen yang secara khusus berperan menjalankan misi pemerintahan Indonesia yaitu mengelolaan keunikan tiap masyarakat (bhinneka) menjadi kekuatan matarantai nusantara. dalam sistem ketatanegaraan dan pemerintahan Indonesia.

sistem pendidikan tinggi SDM-------------------------------->PAMONGPRAJA kepamongprajaan Gambar 4 Proses Pendidikan Tinggi Kepamongprajaan bergantung pada proses. Berdasarkan uraian di atas. melalui Sistem Pendidikan Tinggi Kepamongprajaan yang merupakan Subsistem Pendidikan Tinggi Nasional. IPDN. Berdasarkan Pasal 2 Permendagri 1/09 di atas. Satu di antara tiga program tersebut. 2. tenaga berkualitas kepamongprajaan itu diproduksi melalui Program Pendidikan Akademik dan Program Pendidikan Profesi. Enam. dan Kybernologi dan Kepamongprajaan (2008). Program Pendidikan Akademik ditujukan pada pembentukan tenaga pemerintahan dengan Ilmu Pemerintahan (Kybernologi) sebagai core . kebutuhan masyarakat akan layanan kepamongprajaan melalui Departemen Dalam Negeri. IPDN memangku tanggungjawab penyelenggaraan Sistem Pendidikan Tinggi Kepamongprajaan sebagaimana terlihat pada Gambar 5. Seseorang berkualitas Pamongpraja. Dengan sistem ini diharapkan. dan prospek ke depan. latarbelakang pendidikan. dapat terpenuhi PROGRAM --1--PENDIDIKAN | DIPLOMA PROGRAM | -----PENDIDIKAN-----| | AKADEMIK | SISTEM PENDIDIKAN | | PROGRAM TINGGI KEPAMONG------| --2--PENDIDIKAN PRAJAAN (IPDN) | STRATA | PROGRAM --3--PENDIDIKAN PROFESI Gambar 5 Tiga Program Pendidikan Kepamongprajaan IPDN (Program 1. Program Pendidikan akademik itu terdiri dari Program Pendidikan Diploma dan Program Pendidikan Strata. posisi dalam organisasi pemerintahan. Referensi tentang topik ini terdapat dalam Kybernologi Sebuah Scientific Movement (2007). Perbedaan antara Program Pendidikan Akademik (1+2) dengan Program Pendidikan Profesi (3) terletak pada pertama. dan 3) segera. yaitu program 3 (Gambar 5) merupakan inti makalah ini. Dasar teoretiknya terlihat pada Gambar 6. Kybernologi Sebuah Profesi (2007).

bukan pelayanan birokrasi atau administratif. dan prospeknya ke depan sebagai kader. Dekan. bukan layanan administratif kepada masyarakat. dibantu oleh unsur staf. 3 . Sebagian tenaga melalui program ini. Organizational design IPDN bermula pada identifikasi produk unitkerja yang dibutuhkan oleh pelanggan (masyarakat. Lulusannya disebut Pamongpraja Muda. Kualitas produk (lulusan) bergantung pada Organizational design IPDN. Produksi tenaga berkualitas Pamong Praja adalah pelayanan akademik atau pendidikan. SKS). dalam hal ini tenaga berkualitas Pamong Praja. Unitkerja yang memroduksi langsung tenaga Pamong Praja di bawah institut adalah fakultas. Diklat ini disiapkan khusus buat sebagian tenaga yang direkrut dari lulusan program pendidikan nonkepamongprajaan. Program Diklat Profesional Kepamongprajaan. dengan core curriculum yang sifatnya spesialis. MENTERI DALAM NEGERI | KEPALA BADAN DIKLAT (a/n)--------|--------SEKRETARIS JENDERAL (a/n) | REKTOR----------------| | |---------PEMBANTU REKTOR (a/n) | | | BIRO | | DEKAN-------------| | | | | BAGIAN | | KEPALA JURUSAN---------| | | | | SUBBAGIAN | TENAGA AKADEMIK | PESERTA DIDIK | MASYARAKAT PELANGGAN Gambar 6 Struktur Organisasi IPDN (Yang Disarankan) Tujuh. Rektor. Garis antara Rektor sebagai unsur kepala dengan Dekan dan Jurusan disebut garis lini (line function) atau garis komando hirarkik.curriculum pada tingkat institut. bukan biro dan bagian. unsur pelaksana IPDN adalah fakultas dan Jurusan. dan Kepala Jurusan. Oleh sebab itu. yaitu biro dan bagian di bawahnya. Dalam menjalankan tugasnya.

UMUM | | | | | | | | | | | | 1 | 1 | -------------AGRONOMI-------ILMU-ILMU LAINNYA-------TEKNOLOGI------------CIVIL *generalist&specialist function GAMBAR 6 SISTEM NILAI KEPAMONGPRAJAAN DAN HUBUNGANNYA DENGAN KYBERNOLOGI DAN ILMU PENGETAHUAN LAINNYA . UMUM | | | statesmanship | | | | | --------------------| | | 3 | 3 | | PROFESI KOMPONEN DIKLAT PROFESI | | BIDANG----11-----PROFESIONAL-----11----BIDANG | | PERTANIAN KEPAMONGPRAJAAN PEK. yang menghadirkan ahli pertanian dan ahli pekerjaan umum (2). Para ahli ini terpanggil untuk memangku profesi di bidangnya masing-masing (3) sehingga keahliannya menjadi keahlian profesional.--10---PENDIDIKAN---10------BIDANG PE| | MERINTAHAN DIPLOMA MERINTAHAN | | | | | | | | --------------------| | | 6 | vooruitzien | 6 | AGROPEMERINTAHAN | conducting | PEMERINTAHAN TEKNOLOGI PEMERINTAHAN DAERAH | coordinating | DAERAH PEMERINTAHAN | | | peace-making | | | | | | residue-caring | | | | 5 | turbulence-serving | 5 | | KEBIJAKAN | | KEBIJAKAN | |------------->BIDANG<----|---KEPAMONGPRAJAAN---|----->BIDANG<-------------| | PERTANIAN | | PEKERJAAN UMUM | | | | Freies Ermessen | | | | | | gen&spec function* | | | | 4 | omnipresence | 4 | KYBERNOLOGI KEPALA DINAS | responsibility | KEPALA DINAS KYBERNOLOGI PERTANIAN PERTANIAN |magnanimous-thinking | PEK. Agronomi dan Teknologi Civil (1).PROGRAM DIKLAT PROFESIONAL KEPAMONGPRAJAAN Dalam Gambar 6. UMUM | | | | | | | | | | | | 2 | 2 | | KEAHLIAN | KEAHLIAN | | DI BIDANG----------SPESIALIS-----------DI BIDANG | | PERTANIAN | PEK. Ketika ia memasuki ruang profesi pemerintahan 9 -------------------------------KYBERNOLOGI-------------------------------| | (KOMPONEN PENDIDIKAN STRATA) | | | | | | | 8 8 | | KEAHLIAN KEAHLIAN | | DI BIDANG----------GENERALIS-----------DI BIDANG | | PEMERINTAHAN | PEMERINTAHAN | | | | | | | | | | | | 7 | 7 | | PROFESI KOMPONEN PROFESI | | BIDANG PE. sebagai contoh. UMUM PEK.

Di antara 9 terminal yang terlihat pada Gambar 6. yang menuntut penguasaan fungsi generalis (7). Pada saat itu ia memasuki ruang kepamongprajaan sebagai lembaga dan struktur (lihat Sesi Empatbelas GBPP Kepamongprajaan dalam buku ini). Setiap kewenangan yang diserahkan kepada masyarakat (daerah) harus diatur dalam peraturan daerah (perda). pemerintah daerah diharapkan mampu menyediakan pelayanan pemerintahan berbasis keahlian profesional bidang masing-masing (pertanian. dsb. . tetapi diharapkan semakin ke bawah (masyarakat. dan berpeluang untuk menjadi kepala dinas (4). dinas daerahlah yang merupakan garisdepan pemerintahan daerah. Dalam struktur itu. ia terlibat dalam proses kebijakan (5) pemerintahan daerah (6). ilmupengetahuan dan teknologi itu terkonsentrasi di pusat-pusat politik kekuasaan. Ironinya profesionalisme. specialist function) berdasarkan pertimbangan kepamongprajaan (generalist function) bagi manusia dan masyarakat di bawah. Sudah barang tentu. Terminal 5 yang bersifat critical. berkeahlian profesional bidang pemerintahan (8). terus ke 10 dan 11. sehingga terminal itu rawan konflik antara pertimbangan politik kekuasaan dengan pertimbangan keahlian profesional (ilmupengetahuan dan teknologi). sementara masyarakat bawah tidak memiliki akses ke sana. ilmupengetahuan dan teknologi). pertimbangan keahlian profesional (ilmupengetahuan dan teknologi) semakin dominan. daerah otonom).(misalnya menjadi PNS). profesinya meluas ke bidang profesi pemerintahan. setiap perda harus dilembagakan menjadi dinas daerah. Pada saat yang sama. karena selaku unsur pelaksana. tenaga yang bersangkutan bersentuhan dengan kepamongprajaan sebagai kualitas. dan dan setiap dinas daerah harus diperkuat dengan tenaga ahli profesional melakukan tugasnya didukung fasilitas yang sepadan. yang bersumber pada Ilmu Pemerintahan (Kybernologi. diklat ini harus didukung oleh reformasi pemerintahan daerah. Dengan Diklat Profesional Kepamongprajaan. yaitu sebagai pembantu presiden (ruang politik kekuasaan) dan sebagai kepala departemen/kementerian pemerintahan (ruang keahlian profesional. Diklat di Indonesia terkesan lebih sebagai alat promosi jabatan atau kenaikan pangkat seseorang. Criticalness terminal itu terletak pada kenyataan bahwa kebijakan pemerintahan sejauh ini dianggap berada di dalam ruang politik. Pada aras statal. 9). dan bukan pelayanan pemerintahan guna membangun kekuasaan politik. ketimbang sebagai alat untuk meningkatkan produktivitas kerja. Pada aras statal memang superioritas pertimbangan politik kekuasaan tidak dapat dihindarkan. hal ini analog dengan posisi dualistik menteri dalam struktur negara RI.

. Desain kurikulum juga perlu diubah. . 5 Sosiologi Pemerintahan 5 Nilai Lima Residue-caring . Core curriculum Diklat Profesional Kepamongprajaan diidentifikasi di kalangan Tabel 2 Duabelas Nilai Kepamongprajaan -----------------------------------------------------------------NILAI CABANG ILMU/KAJIAN TERKAIT -----------------------------------------------------------------1 Nilai Satu Vooruitzien. . . belajar-bersama (per unitkerja) materi pelajaran terpilih sesedikit mungkin dalam waktu sesingkat mungkin. 264 jam Materi Inti. belajar bersama. dengan kepala unit kerja sendiri dan seluruh warga unit kerja yang bersangkutan sebagai pesertanya. . dengan metodik sedemikian rupa sehingga para peserta mampu belajar sendiri lebih lanjut dan menggunakan pelajaran itu dalam melakukan tugas pelayanan kepada masyarakat dengan penuh tanggungjawab. Supaya sosialisasi Diklat Profesional Kepamongprajaan ini berjalan cepat. . . . dan 164 jam Materi Penunjang) selama 30 harikerja. dan para peserta dicharge dengan sebanyak-banyaknya jam pelajaran dalam tempo yang sesingkat-singkatnya. . . . Demikian Nilai Dua dan Nilai Tiga Kepamongprajaan. 3 Kepemimpinan Pemerintahan 3 Nilai Tiga Coordinating . . 4 Ilmu Administrasi Publik 4 Nilai Empat Peace-making. . 9 Hukum Pemerintahan 8 Nilai Delapan Gen&Spec Function . . melainkan pada teamwork dan semangat kelompok seluruh unitkerja dalam hubungannya dengan unitkerja lain. 7 Manajemen Bencana 8 Ekologi Pemerintahan 7 Nilai Tujuh Freies Ermessen . 6 Etika Pemerintahan 6 Nilai Enam Turbulence-serving . . . 10 Manajemen Pemerintahan 9 Nilai Sembilan Responsibility . . digunakan metodologi TOT (dengan kepala unitkerja sebagai peserta awal) dan atau Ujicoba dengan menggunakan Test Unit dan Control Unit. . Ambil contoh desain Sepimxxxxx Tingkat Madya yang dirancang buat pejabat eselon IV atau tenaga yang diprojeksikan ke eselon III. . Diklat dirancang per unitkerja dengan anggota sekitar 20 – 30 orang (unitkerja eselon 3 atau eselon 2). Para peserta dijejali 468 jam pelajaran (40 jam Materi Dasar. . Sejauh ini kurikulum diklat terkesan didesain sebanyak-banyaknya karena semuanya dianggap penting. .Produktivitas suatu unitkerja tidak bergantung pada salah seorang tenaganya yang didiklatkan. berarti 15. Didaktik pembelajaran yang diusulkan ialah. . Metodologi diklat harus berubah. Etika Pemerintahan . . . .6 jam tiap hari. . 1 Kybernologi 2 Ilmu Filsafat 2 Nilai Dua Conducting. .

. . . . . . . . Sudah barang tentu. . . . . . Etika Pemerintahan 12 Nilai Duabelas Distinguished Statesmanship . . . . . . . 11 Ilmu Sejarah 11 Nilai Sebelas Omnipresence. Di samping itu masih perlu diidentifikasi matadiklat dasar dan matadiklat penunjang yang belum tercakup dalam Tabel 2. .10 Nilai Sepuluh MagnanimousThinking. . 12 Ilmu Politik ------------------------------------------------------------------ cabang ilmu yang aksiologinya mengandung nilai kepamongprajaan tertentu (Tabel 2). . . tabel di atas masih bersifat tentatif. . . .

1504090825SDG .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful