GBPP MATAKULIAH

PENGANTAR ILMU PEMERINTAHAN
UNTUK PROGRAM STRATA DI PERGURUAN TINGGI
Taliziduhu Ndraha, Kybernolog 1 LATAR BELAKANG GBPP mata kuliah Pengantar Ilmu Pemerintahan ini semula ditulis sebagai bahan Workshop Penyusunan GBPP/SAP Semester I dan II Fakultas Manajemen Pemerintahan IPDN 2008/2009 di Jatinangor tgl 24 dan 25 November 2008, memenuhi undangan Dekan fakultas yang bersangkutan tgl 18 November 08 No 003/487/FMP/08. Sesuai saran berbagai fihak, naskah awal diperluas sehingga dapat digunakan sebagai pola dasar matakuliah Ilmu Pemerintahan untuk Program S1, S2, dan S3 Ilmu Pemerintahan. Penggunaannya disesuaikan dengan kebutuhan tiap stratum. Andaikan Ilmu Pemerintahan diibaratkan sebuah pohon-buah dengan buah (aspek Axiologi), batang (aspek Epistemologi), dan akarnya (aspek Ontologi), maka didaktik dan metodik (DM) pengajarannya diperlihatkan melalui Tabel 1 di bawah ini.
Tabel 1 Didaktik dan Metodik (DM) Pengajaran Ilmu Pemerintahan Dilihat dari Aspek-Aspek Body-Of-Knowledge (BOK) Bahan Ajar (X menunjukkan tingkat kedalaman)
------------------------------------| METODIK PENGAJARAN | |-------------------------------------| | S1 | S2 | S3 | --------------------------------------|-----------|------------|------------| | | Axiologi (Buah) | X X X | X X | X | | |-------------------------|-----------|------------|------------| | DIDAKTIK | Epistemologi (Batang) | X X | X X | X X | | |-------------------------|-----------|------------|------------| | | Ontologi (Akar) | X | X X | X X X | ----------------------------------------------------------------------------

Dengan catatan bahwa perancangan DM harus dilakukan secara bertahap tetapi konsisten, Program S1, S2, dan S3, sebaiknya tersusun menurut skala interval dan tidak ordinal apa lagi nominal belaka (Gambar 1, sistem single input - single output). Sungguhpun demikian, dalam fase peralihan, program khusus atau tertentu, “darurat” atau terpaksa, sistem multi-input single output dapat juga digunakan, didukung dengan program matrikulasi yang sepadan. Jadi sedapat-dapatnya:

jangan begini: (ordinal)
S3 | | | | | S2 | S1 ilmu X

apalagi begini: (nominal, zig-zag)
------>S3 | ilmu X | | | | ------>S2 | ilmu Y S1 ilmu Z

tetapi begini: (interval)
S3 | | | S2 | | | S1 ilmu X

Gambar 1 Skala DM Program Strata Ilmu Pemerintahan 2 SESI SATU Sesi ini diisi dengan Penjelasan Umum, pandangan menyeluruh (overview) tetapi esensial (abstract, highlight) tentang Ilmu Pemerintahan (termasuk TIU) dan Sejarah Pengajaran Ilmu Pemerintahan di Indonesia. Semua mata kuliah yang terkait dengan Ilmu Pemerintahan mengacu pada Pengantar ini. Ilmu Pemerintahan yang diuraikan di sini adalah Ilmu Pemerintahan dalam konstruksi bangunan (bodyof-knowledge) yang disebut Kybernologi. Dalam hubungan itu, Kybernologi bukan sekedar judul buku, tetapi sebuah bangunan ilmu pengetahuan. Khusus di lingkungan IPDN/IIP, Ilmu Pemerintahan merupakan mata kuliah tingkat institut dan diajarkan pada semua program, strata, fakultas dan jurusan. Perkuliahan tiap semester terdiri dari 14 sesi tatapmuka dan dua sesi ujian (UTS dan UAS) = 16 sesi. Dari referensi ditelusuri sumber-sumber asli dan ditambahkan sumber-sumber lainnya. GBPP ini secara berkala ditinjau dan dikembangkan. Salahsatu versi GBPP ini dimuat dalam Bab XI Kybernologi Sebuah Pengharapan (2009). Sejarah Pengajaran Ilmu Pemerintahan di Indonesia diawali dengan Bestuurskunde, Bestuurswetenschap, dan Bestuurswetenschappen di Belanda. Menurut G. A. Van Poelje dalam Pengantar Umum Ilmu Pemerintahan (1959), mulai tahun kuliah 19281929 pengajaran dalam Jurusan Ekonomi Kenegaraan diperluas dengan mata pelajaran Ilmu Pemerintahan dengan tujuan supaya jurusan ini lebih disesuaikan dengan kebutuhan mereka yang berhasrat untuk bekerja pada dinas umum. Pada tgl 25 Januari 1928, Guru Besar Luar Biasa di bidang Ilmu Pemerintahan dilantik, dan dengan dmeikian maka pengakuan Ilmu Pemerintahan sebagai mata pelajaran (berderajat Doktor) pada pengajaran tinggi di Belanda menjadi suatu kenyataan. Selama masa 1928-1933 dua orang Doktor Ilmu Pemerintahan dipromosikan, yaitu

Dr R. E. Berends dan Dr F. Breedsvelt. Di masa itu Ilmu Pemerintahan dianggap sebagai struktur supra ilmu-ilmu pengetahuan yang berkaitan dengan ekonomi perusahaan. Uraian di atas kemudian disusuli dengan pengajaran Ilmu Pemerintahan pada kursus dan bestruursacademie Pamongpraja di zaman Belanda, paradigma Ilmu Pemerintahan di lingkungan UGM sampai tahun 80-an (Gambar 2), dan dewasa ini (Gambar 3), paradigma IIP-UNPAD, dan paradigma IPDN/IIP-Baru.
ILMU POLITIK | -----------------------------|----------------------------| | | | | ILMU ADM ILMU HUBILMU PEILMU PERBANTEORI PUBLIK INTERNASIONAL MERINTAHAN DINGAN POLITIK POLITIK

Gambar 2 Posisi Ilmu Pemerintahan Versi UGM (Tradisi Sampai Tahun 80-an)

Natural turbulences dan social turbulences yang terjadi di belahan dunia maju, misalnya di Amerika, mengerakkan pengubahan dan pembaharuan konstruksi berbagai ilmu pengetahuan. Paradigma Public Administration, misalnya, berubah menjadi Development Administration (tahun 60-an, pasca PD II), dan berubah

1 NEGARA 2 POLITIK KEPARTAIAN DAN PERWAKILAN

MASYARAKAT 3

Gambar 3 Ranah Publik: Bidang Studi Jurusan Ilmu Pemerintahan di Universitas Gadjah Mada (UGM) lagi menjadi The New Public Administration (1970-an, pasca Perang Vietnam). Dua

kali social turbulences (1965 dan 1998) dan sekali lagi natural turbulence (20042005) menimpa Indonesia, mendorong pembaharuan konstruksi Ilmu Pemerintahan. Turbulences itu ditanggapi dengan cara pendekatan yang berbeda oleh UGM dan Program Pascasarjana Kerjasama UNPAD-IIP (1996). Sejak tahun 2000-an, bidang kajian Jurusan Ilmu Pemerintahan di UGM dikonstruksi seperti Gambar 3 (A. Nurmandi, E. P. Purnomo, Suswanta, peny., Mencari Jatidiri Ilmu Pemerintahan, 2006), sedangkan Ilmu Pemerintahan di lingkungan Program Pascasarjana Kerjasama UNPAD-IIP direkonstruksi seperti Gambar 4. Rekonstruksi Gambar 4 bermula pada pendekatan kemanusiaan (Gambar 5). Melalui pendekatan ini, maka HAM, kebutuhan eksistensial Manusia, kebutuhan dasar masyarakat dan lingkungan hidupnya yang pertama-tama terlihat sebagai sasaran kajian, dan bukan Negara, kepentingan atau kekuasaan belaka. Rekonstruksi itu didorong oleh keinginan untuk mengembalikan Ilmu Pemerintahan pada posisi dan kualitasnya semula yaitu “ilmu yang bertujuan menuntun hidup bersama manusia dalam upaya

NEGARA governent 1 ruang kekuasaan PUBLIK ruang publik 2 KEBIJAKAN PUBLIK governance
kewenangan negara 1--------------->2 pelayanan publik

kewajiban negara 1-------------->3 pelayanan civil

ruang civil 3 MANUSIA HAM

Gambar 4 Interface Antara Negara Dengan Manusia mengejar kebahagiaan rohani dan jasmani yang sebesar-besarnya tanpa merugikan orang lain secara tidak sah” (G. A. van Poelje, Algemene Inleiding tot de Bestuurskunde, 1953. Rekonsturksi Ilmu Pemerintahan menurut pendekatan Gambar

Keadaan dengan Pengharapan. yang disebut juga Hubungan Antara Janji dengan Percaya. . Suswanta. PENDEKATAN KEKUASAAN PENDEKATAN KEMANUSIAAN DAN LINGKUNGAN FENOMENA PEMERINTAHAN COMMON PLATFORM SEMUA ILMU PENGETAHUAN ILMU PEMERINTAHAN KONSTRUKSI GAMBAR 4 BERNAMA KYBERNOLOGI ILMU PEMERINTAHAN KONSTRUKSI GAMBAR 3 Gambar 5 Dua Macam Pendekatan Referensi: Bab I Kybernologi 2003. Bab 3 Kybernologi dan Kepamongprajaan. A. Purnomo. 2007. sebagai hasil pendaratan Bestuurskunde dan Bestuurswetenschap di bumi Indonesia. membentuk Hubungan Pemerintahan. peny. P. Pokok-pokok Kybernologi menurut perkembangannya yang terakhir terdapat dalam Bab I Kybernologi dan Pembangunan (2009). 2008 3 SESI DUA Melalui pendekatan metadisiplin: “Percaya agar (baru) tau (credo et intelligam).” ditemukan Ontologi Kybernologi dengan dua variable pemikiran: Kualitas Manusia dan Hubungan Pemerintahan (lihat Gambar 6). Bab I dan Bab II Kybernologi Beberapa Konstruksi Utama. Bab 3 Kybernologi dan Kepamongprajaan. 2005. Bab VIII Kybernologi Sebuah Profesi. Bab I dan Bab II dan Soewargono dalam Kybernologi Sebuah Rekonstruksi Ilmu Pemerintahan. Perkembangan kemanusiaan yang memuncak pada kenegaraan.. Pendekatan seperti Gambar 5 itulah yang diajarkan di lingkungan IPDN/IIP ke depan. 2008. 2005. Nurmandi. Mencari Jatidiri Ilmu Pemerintahan. 2006. E.3 dan Gambar 4 terhadap fenomena pemerintahan digabung seperti Gambar 5 itu.

R. Pemenuhan kebutuhan manusia selain bersifat komprehensif (segala bidang kehidupan) juga bersifat jangka panjang sejauh mungkin ke depan: “Gouverner c’est prevoir. Bab 6 dan Bab 7 Kybernologi 2003. McIver. Pikiran ini dideduksi dari Ontologi Pemerintahan di atas. 1961. The Web of Government.ALLAH mencipta CIPTAAN<---------------------HUBUNGAN PEMERINTAHAN---------------------> MAKHLUK MANUSIA-->MEMBUMI 1 CIPTAAN | MANUSIA | PENDUDUK-->BERMASYARAKAT | 2 CIPTAAN | MANUSIA | PENDUDUK | WARGAMA| SYARAKAT-->BERBANGSA | 3 CIPTAAN | MANUSIA | PENDUDUK KUALITAS MASYARAKAT MANUSIA WARGABANGSA-->BERNEGARA | 4 CIPTAAN | MANUSIA | PENDUDUK | MASYARAKAT | BANGSA | WARGANE| GARA----->BERPEMERINTAHAN 5 CIPTAAN MANUSIA 7 PENDUDUK YANG DIMASYARAKAT PERINTAH BANGSA konstituen NEGARA pelanggan<------------hubungan pemerintahan------------>PEMERINTAH konsumer (peran) korban 6 mangsa Gambar 6 Ontologi Kybernologi dengan 7 Terminal Referensi: Bab 1. 4 SESI TIGA Epistemologi Ilmu Pemerintahan: Teori Kebutuhan. Pemikiran pemerintahan sejajar dengan pemikiran ekonomi. .” demikian ungkapan Perancis. bermula dari “kebutuhan manusia” sejak “terjadinya” di dalam kandungan.

Pada dasarnya. Maka berbahaya jika orang memilih (membeli) tanpa mengetahui apa yang sesungguhnya dia . dan pemenuhannya sebagai kewajiban negara.--BARANG---------MARKET CHOICE JASA (SATISFACTION) ---> 7pembentukan civil service --->12pembuatan kebijakan publik --->13pengadaan public goods *empowering --->14pembentukan public actor --->15pemberdayaan (enabling. Semua orang membutuhkan makanan.----RIGHTS-----HUMAN PUBLIC PUBLIC kontrol.-----| SIA & INSNEEDS POLICY ACTOR evaluasi | TINCTS | | | | | | | 13 | | | | 11 | POLICY | 16 | | | -----PUBLIC---------IMPLE----------PUBLIC----| | | CHOICE MENTATION | SERVICES | | | | | | | | | | | | | | 10 | | 15 | ----MASYA| | penggunaan oleh KONSUMER | RAKAT | | HAK HIDUP KORBAN atau HAK MANGSA | | | | UNTUK MEMPERTAHANKAN DIRI | | | | KEPERCAYAAN (TRUST) terhadap PEMERINTAH | | | | PENGHARAPAN (HOPE) DI MASA DEPAN | | | | | | | --------------------------------------------| | | 17 18 19 ----PRIVATE-----. Itulah sebabnya kebutuhan dasar itu diposisikan sebagai hak asasi manusia.------------------------------------------------------------------------| | | 7 | | PENGORBANAN | | CIVIL SERVANT | | | | | | | | 4 5 6 9 | | ----INDI. Tetapi pada saat orang berniat dan berkesempatan memilih makan apa atau makan siapa dan kapan. maka dasar pertimbangannya adalah kepentingan. | | | | KORBAN dan MANGSA untuk SELAMAT | | | | | | 2 | | | 1 HUMAN 3 12 14 20 | MANU.*) --->17privatisasi vs statalisasi Gambar 7 Teori Kebutuhan Kebutuhan perlu dibedakan dengan kepentingan.-----CIVIL-–----acting---------CIVIL------| | | VIDU RIGHTS action SERVICES | | | | | | | | | | | | | | 8 | | | | KESEMPATAN dan HARAPAN (HOPE) | | | | PELANGGAN UNTUK MENJADI KONSUMER. kebutuhan. lebihlebih kebutuhan dasar (asasi) bersifat objektif. Jadi kepentingan itu subjektif. emp.

tetapi tidak dapat dan tidak mungkin ia dibebani KAM (kewajiban asasi) pada saat yang sama. Bab V Kybernologi Sebuah Metamorphosis. 84). h. Maslow. dsb. 1956. civil NEGARA------>PRODUK------>PELANGGAN | | --------------------| | BERDAYA TAK BERDAYA | | | | KONSUMER KORBAN | --------------------| | DIBERDAYAKAN TAK DIBERDAYAKAN | | | | KONSUMER MANGSA | ----------------------------| | DISELAMATKAN TAK DISELAMATKAN | | | | *jika penyelamatan KORBAN* DIMANGSA. Bab 2 Kybernologi Beberapa Konstruksi Utama. 5 SESI EMPAT Epistemologi Pemerintahan: Teori Pelayanan. | DIKORBANKAN korban jadi konsumer --------------------| | DIBERDAYAKAN TAK DIBERDAYAKAN | | | | KONSUMER MANGSA Gambar 8 Teori Pemberdayaan (Pelayanan) . dan referensi Teori Kebutuhan A. Bagian Dua Bab VI Kybernologi Sebuah Scientific Enterprise. Referensi: Book Two Walter Lippmann The Public Philosophy. 2005. Perlindungan dan pemenuhan kebutuhan manusia dan masyarakat melalui public choice (public service. Dia dapat terbebani KAM seiring dengan kemampuannya untuk bertanggungjawab. Bab 4 Kybernologi 2003. 2006. Perlu dikemukakan bahwa manusia (setiap orang) memiliki HAM begitu ia terbentuk dalam rahim ibunya. DISANTAP juga memberdayakan.butuhkan. 2008.

Diusahakan serendahrendahnya. “no price. Civil Rights. ruang Ilmu Ekonomi). . . “Artis” pemerintahan a Monopoli Negara dan tidak dapat diprivatisasikan b Antisipatif berdasarkan asas Manajemen Bencana yaitu Waktu = Nol (langsung action. ruang Ilmu Pemerintahan) dan private choice (market service. Menyelamatkan Manusia dan Lingkungannya Kewajiban Negara (Gambar 4) Jangka Panjang Individu pribadi sebagai pelanggan. dapat dibebankan kepada fihak YD Aktor pemerintahan a Monopoli Negara tapi dpt diprivatisasikan b Lebih normatif Kualitas pelayanan terdapat dlm dasar hokum pelayanan ybs Bergantung pada kemampuan dan kesempatan pelanggan menggunakan layanan Pelanggan Percaya Kendatipun Ybs Kecewa supaya masyarakat percaya sementara mereka kecewa? Info tanpa kebohongan. Tabel 2 Pelayanan Publik dan Pelayanan Civil --------------------------------------------------------------------------------DIMENSI PELAYANAN PUBLIK PELAYANAN CIVIL --------------------------------------------------------------------------------1 DASAR Pasal 33 (2) UUD 45 Public Choice Meningkatkan Kesejahteraan Masyarakat Kewenangan Negara Jangka pendek Lapisan/Kelompok Masyarakat sebagai pelanggan Fihak YD Menyesuaikan diri dgn Kondisi Fihak YM Semakin berkurang dengan semakin majunya masy.” dibiayai oleh Negara 2 TUJUAN 3 STATUS 4 VISI 5 YANG DILAYANI (YD) 6 SIKAP 7 PROSPEK 8 HARGA BIAYA 9 PELAKU (YM) 10 SIFAT Civil Servant. baik kualitas maupun kuantitas dan kesebarannya Tidak dibebankan langsung kpd fihak YD. 11 FAKTOR 12 KUALITAS TERTINGGI 13 MASALAH Bagaimana 14 SOLUSI ---------------------------------------------------------------------- . . Kualitas pelayanan di sektor publik dan civil herus dibedakan dengan kualitas pelayanan di sektor privat dan bisnis. bukan nanti. bukan janji Sekarang. pertanggungjawaban (responsibility) Human Rights. Conventions Melindungi.service. tak ada waktu utk mencari dan menyiapkan “the 6M”) Bergantung pada acting dan action civil servant dan “artis” pemerintahan Korban/Mangsa Berpengharapan Dalam Ketidakberdayaannya Supaya dalam diri korban tumbuh asa sementara ia tidak berdaya? Reformasi sepenuh hati Bukti. . Constitutional Rights. korban dan mangsa Fihak Yg Melayani (YM) menyesuaikan diri dgn YD Semakin meningkat.

kalaupun ada sangat mahal atau sangat berat. Sebelum Amandemen) --------------------------------------------------------------------------KEBUTUHAN PASAL --------------------------------------------------------------------------TELAH DINYATAKAN SECARA JELAS. jika saja masyarakat (bisa) memahami (mengerti. Tetapi untuk Indonesia bisa terbalik. jika “meManusiakan manusia” (memulihkan atau mengembalikan Manusia ke dalam fitrahnya semula) dipandang sebagai pemberdayaan. maka di satu sisi. Jika pelayanan itu diibaratkan penyembuhan penyakit. Di dalam Teori Pelayanan termasuk Teori Pemberdayaan. Jadi di sisi lain pelayanan harus diarahkan pada Tabel 3 Layanan Civil Berdasarkan UUD 1945 (Naskah Asli. dan kedua karena dalam kekecewaan dan ketidakberdayaan sekalipun. KEKUATAN HUKUM 3 PERLINDUNGAN 4 KESELAMATAN 5 CONSUMERISM (bukan konsumtif!) dan sebangsanya -------------------------------------------------------------------------------1 (2) 26 27 (1) 27 (2) 28 29 (2) 31 (1) 34 . Teori Kerja. Careerism. kepercayaan masyarakat kepada negara dan pengharapan manusia terhadap masadepan bisa terbentuk dan terjaga. pertama karena di dalam ruang dua pelayanan itu tidak ada pilihan.Kepuasan pelanggan tidak dapat dijadikan kualitas pelayanan publik dan pelayanan civil. dan melihat adanya perubahan dan kemajuan yang konsisten ke depan. BERKUMPUL. dalam Teori Pemberdayaan (Manusia dan Masyarakat) terletak Teori Pelayanan. WALAUPUN BELUM SEMUANYA DIIMPLEMENTASIKAN TASIKAN: 1 2 3 4 5 HAK/PENGAKUAN SEBAGAI SOVEREIGN (VOTER/VOTING) PENGAKUAN SEBAGAI JIWA DAN SEBAGAI WARGA NEGARA KEBERSAMAAN KEDUDUKAN DI DEPAN HUKUM (KEADILAN) PEKERJAAN DAN PENGHIDUPAN YANG LAYAK KEMERDEKAAN BERSERIKAT. Menyehatkan berarti mencegah penyakit. MENGELUARKAN PIKIRAN 6 KEMERDEKAAN UNTUK MEMELUK AGAMA 7 PENGAJARAN 8 PEMELIHARAAN FAKIR MISKIN DAN ANAK TERLANTAR TIDAK/BELUM DINYATAKAN SECARA JELAS: 1 KEBEBASAN MEMILIH 2 KEPASTIAN HUKUM. dan Professionalism. dan mencegah selalu lebih baik ketimbang mengobati. menerima) pertanggungjawaban pemerintah. maka perlu diingat bahwa tidak merasa sakit belum tentu sehat.

bagaimana subkultur bekerja (berinteraksi) satu dengan yang lain. Lihat juga Gambar 4. SKS pada hakikatnya terdiri dari dua kualitas: sebagai pelanggan dan sebagai konstituen. 2008 6 SESI LIMA Epistemologi Ilmu Pemerintahan: Teori Governance. Di bawah konteks pemerintahan daerah. Bab III Kybernologi Sebuah Profesi. bagaimana interaksi antar governance. dan memonev redistribusi nilai oleh SKK di hilir. local government) bersama DPRD adalah penyelenggara pemerintahan Daerah. Subkultur ekonomi (SKE) berfungsi membentuk nilai dari sumberdaya yang ada. diterangkan melalui Teori Governance. Di sana dinyatakan bahwa Pemerintah Daerah (Kepala Daerah dan jajarannya. Dalam rangka menegakkan peraturan (kebijakan pengaturan SKE). Dalam Gambar 9 terlihat juga bahwa konsep pemerintahan lebih luas daripada konsep pembangunan pemerintahan. sesuai dengan teori ini. dan hak-hak derivatif. 2005. “Pemerintahan” Daerah dalam hubungan itu setara dengan local governance. karena peroleh nilai bergantung pada sumberdaya yang berawal pada sumberdaya alami (SDA) sebagaimana adanya. 2008. Watak koruptif kekuasaan melahirkan pemikiran tentang pentingnya subkultur sosial (SKS) dalam masyarakat. Konsep governance lebih luas ketimbang konsep government.pemberdayaan. 2007. pemerintahan sama dengan . Bab I Kybernologi Sebuah Charta Pembaharuan. HAM. Bagaimana governance terbentuk. bagaimana masyarakat melindungi dan memenuhi kebutuhannya melalui interaksi tiga subkultur itu. 2007. Pasal 1 butir 2. Pada gilirannya hal ini menimbulkan ketidakadilan. 3 dan 4. Bab V Kybernologi Sebuah Metamorphosis. subkultur kekuasaan (SKK). memaksimalkan pengurusan (meredistribusi nilai ke dalam masyarakat di tengah. dan subkultur sosial (SKS). Kebijakan otonomi Daerah berdasarkan UU 32/04. yang memiliki hak eksistensial. Sebagai pelanggan ia menyampaikan kebutuhannya ke hulu melalui kualitasnya sebagai konstituen. Manusia mengatasi hal ini melalui pelestarian SDA dan fungsi pengaturan SKE di hulu. Gambar 7. dan Gambar 9 di bawah. dan mempertanggungjawabkan fungsi-fungsi itu kepada masyarakat di hilir). Adapun perbedaan antara pelayanan civil dengan pelayanan publik sebagai berikut (Tabel 2 dan Tabel 3) Referensi: Bab III Kybernologi Sebuah Rekonstruksi Ilmu Pemerintahan. terbentuklah subkultur kekuasaan (SKK). fungsi implementasinya (pengurusan) di tengah. yaitu subkultur ekonomi (SKE). Setiap masyarakat (unit kultur) digerakkan oleh tiga subkultur. Bab 5 Kybernologi Beberapa Konstruksi Utama. Bab 11 Kybernologi dan Kepamongprajaan. 2005. Interaksi antar tiga subkultur itu disebut governance.

| | nilai via pela| | | |----meningkatkan. Gambar 9 berawal pada Gambar 4 tentang interface antara konsep Manusia dengan konsep Negara. yaitu SKE. Pembangunan itu sendiri berada di dalam policy implementation di ruang SKE. dan Subkultur Sosial (SKS dgn kualitas Sebagai Pelanggan dan Constituent) yang Disebut juga Subkultur Pelanggan (SKP) masyarakat melalui tiga terminal. Interface itu membentuk ruang Masyarakat. SKK. Interaksi antar subkultur masyarakat ----------------------| NEGARA | 2 3 -----mengontrol---------mengontrol-----| memberdayakan | | membayar | | | | | | | | | | | | mengontrol SKK | | | | | di hulu | | | constituent -----. dan SKS. .SKE--------|--------->SKK----------|-------->SKS------| pemain | | | penonton | | | | wasit | pelanggan | | | | | | | mengontrol SKK | | | ----------|-|---------di hilir | | pembangunan | | | | | | | meredistribusi | | | membentuk. Policy implementation dapat dibedakan dengan policy implementation monitoring and evaluation. sedangkan Rute 6 feedback ke dalam interaksi. Gambar 10 menunjukkan 5 rute dasar interaksi antar tiga subkultur.pemberdayaan) | | | | 4 | | | | MASYARAKAT | | | | | | | ------melayani-------5---------pasar-------| | | | MANUSIA | | | ---------------------------feedback--------------------------6 Gambar 9 Teori Pemerintahan (Governance): Interaksi Antar Tiga Subkultur Melalui 6 Rute Subkultur Ekonomi (SKE).-----yanan civil.policy making + policy implementation. -----| | | | mencipta nilai pelayanan public | | | | 1 (inc. Subkultur Kekuasaan (SKK). Rute 5 menunjukkan rute pelayanan pasar. and feedback. Lintasan gerak dari terminal ke terminal disebut rute.

petarung | | | | | SBG KONSTITUEN -----. 4.nya | | dan PERDA | 2 | | | | 3 | | petaruh.SKE------------------>SKK-------------------->SKS--------| “pemain” | | | SBG PELANGGAN | | | | “wasit” | ”penonton” | | | | | | | | | | | | | | | | SKS sbg pelanggan | | | | | | | mengontrol SKK via | | pembangunan | | | | monev & feedback | | | | | | | di hilir | | | ---------|-|---------| | | | | | 5 | | | | membentuk. dan SKS) Via Rute 1. men. Interaksi Antar Tiga Subkultur (Tiga Terminal SKE. 3. me| | memberdayakan. | | | | 1 ningkatkan. dan 5 .| | meredistribusi<-. 2. SKK.4 | | |---cipta nilai se-------nilai via pe| | | | cara berkelanlayanan civil & ----| | | | jutan pelayanan publik | | | | | | | | MASYARAKAT (PUBLIK) | | | | | | | -------melayani----------------pasar---------| | | | MANUSIA | | | ---------------------------feedback-----------------------------Gambar 10 Pemerintahan (Governance).Tabel 4 Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah ----------------------------------------------------------------------------PENGATURAN PENGURUSAN MONEV DAN FEEDBACK LOCAL GOVERNANCE ----------------------------------------------------------------------------1 DPRD -DPRD DPRD PEMERINTAH -LOCAL GOVERNMENT DAERAH (LOCAL GOVERNMENT) ----------------------------------------------------------------------------2 KEPALA DAERAH Sepanjang Rute 5 pada Gambar 10 dilakukan pemantauan dan evaluasi redistribusi ---------------------| NEGARA | SKK mengontrol SKS sbg konstidan memberdayatuen mengontrol --kan SKE via kebi--SKK di hulu via UU-| jakan & impl.

Dalam Teori Governance juga termasuk Teori Hubungan Pemerintahan (governance relations). Di sana jelas.nya | | dan PERDA | 2 | | | | 3 | | petaruh.4 | | |---cipta nilai se-------nilai via pe| | | | cara berkelanlayanan civil & ----| | | | jutan pelayanan publik | | | | | | | | | | | | MASYARAKAT (PUBLIK) | | | | | | | -------melayani----------------pasar---------| | | | MANUSIA | | | ---------------------------feedback-----------------------------Gambar 11 Stakeholder Pemerintahan (Hubungan Pemerintahan Antara Pemerintah (SKK) dengan Yang Diperintah (SKE dan SKS) Via Rute 1. me| | memberdayakan. Hasil evaluasi dijadikan masukan ke dalam Rute 3. 2. dan 4 . 3. Teknik penampilan rute feedback tidak terlihat pada Gambar 10 dan Gambar 11 melainkan pada Rute 6 Gambar 12 sebagai masukan buat Rute 3. | | | | 1 ningkatkan.nilai (Rute 4) berdasarkan standar yang telah ditetapkan melalui Rute 3. hasil evaluasi dijadikan masukan ke dalam Rute 6 melalui terminal SKK.SKE---------|-------->SKK----------|----->STAKEHOLDER----| ”pemain” | | | ”penonton” | | | | ”wasit” | | | | | | | | | | SKS sbg PELANGGAN | | | | | | | mengontrol SKK via | | pembangunan | | | | monev & feedback | | | | | | | di hilir | | | ---------|-|---------| | | | | | 5 | | | | membentuk. terus ke SKS. men. Dengan memasukkan konsep stakeholder (Bab I Kybernologi ---------------------| NEGARA | | | SKK mengontrol SKS sbg konsti---dan memberdaya-----tuen mengontrol--| kan SKE via kebi.| | meredistribusi<-.| | SKK di hulu via UU | | jakan & impl. petarung | | | | | SKS “BANDAR” -----.

hope) kinerja SKK ---nya) berda. untuk sementara pembangunan diletakkan di ruang SKK. 2009).------rute 2 & 4--| sarkan etika | | (UU. Dilihat dari sudut ini. Kendatipun pada hakikatnya pembangunan terletak dalam ruang SKE (Gambar 9). pembangunan oleh SKK adalah strategi pemberdayaan SKS sampai pada suatu saat peran ekonomi SKS otonom.pe.dan Pembangunan. Perda) | | via rute 2 | | otonom di hulu | | di hulu | | di hilir | | | | | | | | | | . Hubungan (rute) antar tiga terminal (dalam Gambar 9 terlihat empat) diperjelas (diurai) menjadi enam rute berkesinambungan. 3. Dalam hubungan itu. Jika pemerintahan diibaratkan perjudian.SKE-------------.| | jawaban etik | | | --lanjutan utk----lay publik &------menurut----| | hidup pemberd masy etika otonom | | 1 di tengah di hilir | | 4 6 | | | | | --------------------pemerintahan (governance)-------------------Gambar 12 Sistem dan Proses Pemerintahan Melalui Rute 1. dan 2 .-----tuntutan. masyarakat pemangku kekuasaan) dengan fihak Yang Diperintah (SKE dan SKS).SKS------------SKK-| | | | | | | | | redistribusi | | | | | | | | nilai via pe. 3.SKK-------------. yaitu hubungan antara fihak Pemerintah (SKK. kuasa monev terhadap & penepatan(trust. pemerintah hanya petaruh dan petarung selama masajabatan lima tahunan belaka. Gambar 11 menunjukkan Hubungan Pemerintahan. 4. Gambar 12 merupakan 2 janji (kebi3 5 jakan/rencana mandat. penyerahan sebagian kewenangan negara (pusat) kepada masyarakat (daerah) dapat diartikan sebagai sebuah strategi privatisasi dari badan publik kepada badan privat. mengingat masyarakat belum berdaya dan belum otonom di bidang pembangunan. SKE adalah masyarakat dalam perannya sebagai Pekerja. 6. 5. Pelangganlah yang merupakan stakeholder masyarakat. sedangkan SKS adalah masyarakat dalam perannya selaku Pelanggan dan Konstituen. bandarlah stakeholdernya. sehingga pembangunanpun secara bertahap tetapi pasti beralih ke ruang SKE.| | pertanggung| | | | nilai berke| | lay civil. Gambar 9 mengalami modifikasi (Gambar 11).

Bab I Kybernologi dan Pembangunan.rekonstruksi Gambar 7-1 Kybernologi (2003. Lingua franca ini terbentuk sebagai padanan kata Inggris performance yang sebenarnya berarti tampilan atau penampilan. sehingga rutenya menjadi 3. 2005. peneliti bebas menentukan rute awal penelitiannya dan menandainya dengan angka 1 (pada Gambar 12. Referensi: Bab I Kybernologi Sebuah Rekonstruksi Ilmu Pemerintahan (2005). 2008. 4. 6. Dengan argumentasi tertentu.” Hal itu terjadi misalnya pada kata “kanti” menjadi “kinanti. 2006. Tetapi untuk rezim yang baru terpilih. Bagian Tiga Bab V dan Bab XIV Kybernologi Sebuah Scientific Enterprise. Bab VI dan Bab VII Kybernologi Sebuah Metamorphosis. 2. 5. berlanjut ke 3. rute Nilai Berkelanjutan Untuk Hidup).” dan sebagainya. 1. Kosakata “kinerja” tidak terdapat dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia. ----->LINGKUNGAN--------membentuk------->GOVERNANCE-------| 7 faktor 3 subkultur | | | | keselarasan | keseimbangan | keserasian feedback MASYARAKAT dinamika | keberlanjutan | interaksi antar | tiga subkultur | | | GOOD GOVERNANCE evaluasi oleh KINERJA | ----BAD GOVERNANCE<------pelanggan------GOVERNANCE<-------Lingkungan Governance: 1 sejarah 2 lokalitas 3 sistem politik Gambar 13 4 5 6 7 sistem ekonomi sistem sosialbudaya kondisi dan posisi geografik Weltanschauung masyarakat Model Dasar Teori Kinerja . misalnya untuk rezim yang sedang berjalan. Kata itu berasal dari kata “kerja” ditambah sisipan “in” antara “k-” dengan “-e” menjadi “kinerja.” “ganjar” menjadi “ginanjar. angka 1 itu diletakkan pada rute Mandat (Gambar 12 pada rute 3). sehingga prosesnya berjalan dari 1 ke. 2009 7 SESI ENAM Epistemologi Pemerintahan: Teori Kinerja.” “rakit” menjadi “rinakit. 1. kembali ke 2. Bagian Pertama Bab 8 Kybernologi Beberapa Konstruksi Utama. 4. 5 dan 6. kembali ke 3. 106) tentang hubungan antara Janji (commitment) dengan Percaya (trust) dan Harapan (hope).” “reka” menjadi “rineka. demikian terus-menerus.

Keserasian adalah tingkat empati (empathicability?) sikap dan harmoni kinerja tiga subkultur yang berbeda-beda. sesuai dengan hukum rantai yang menyatakan bahwa kekuatan sebuah rantai sama dengan kekuatan matarantainya yang terlemah 3. 2005. 2006. Dinamika adalah tingkat kecepatan dan ketepatan perubahan (adaptabilitas) hubungan antar subkultur dari kondisi heterostasis ke homeostasis dan sebaliknya/selanjutnya 5. Grafik kinerja bisa naik-turun (NT. Kinerja harus distandardisasi (ref. Keseimbangan adalah tingkat bargaining power dan keluasan pengambilan kesempatan berperan yang relatif sama antar tiga subkultur apada suatu saat. kinerja governance bisa dikualifikasi good (Tabel 2). performance terlihat lebih sebagai proses ketimbang sebagai output. maka governance itu disebut good governance. bagaimana supaya kinerja governance itu good. Keberlanjutan (kelestarian. dan naikturun. diterangkan melalui Teori Kinerja. Bab I Kybernologi Sebuah Profesi. dengan catatan sebagai berikut: 1. Dalam hubungan ini. dan timbul-tenggelam (NT. tetapi jika prosesnya dapat dipertanggungjawabkan. Kinerja pemerintahan merupakan proses dan hasil keseluruhan interaksi antar tiga subkultur sebagaimana ditunjukkan oleh angka 1 sd 6 pada Gambar 9 dan Gambar 12. maju-mundur. kesinambungan. Jika kinerja interaksi antar tiga subkultur governance berkualitas good. Apa yang dimaksud dengan good governance. fluktuatif). Perlu diingat bahwa PIP IPDN/IIP terletak di sini.perilaku atau acting. pada suatu saat 4. agar keberhasilan yang satu tidak merusak tetapi sebaliknya mendukung keberhasilan yang lainnya 2. 2007. 2007). Teori ini terkait dengan Teori Governance dan Implementasi Kebijakan. naik-turun dan maju-mundur (NT-MM). adalah tingkat kelancaran proses jangka panjang interaksi antar tiga subkultur sesuai dengan norma (standar) yang (telah) disepakati bersama Referensi: Bab 4 dan Bab 6 Kybernologi 2003. Bagian Pertama Bab 4 dan Bab 9 Kybernologi Beberapa Konstruksi Utama. Bagian Tiga Bab VIII Kybernologi Sebuah Scientific Enterprise. Walaupun output atau outcomenya mengecewakan. 2009 . Bab II Kybernologi dan Pembangunan. Bab III Kybernologi Sebuah Profesi. Keselarasan adalah tingkat ketepatan waktu dan arah tiga subkultur pada tujuan bersama jangka panjang. keterusberlangsungan). MM dan TT).

METODOLOGI ILMU -------------| | | | | | | berfungsi: | | | | identifikasi | | | | deskripsi | | diolah diuji | | dikonBODY OF eksplanasi | D A T A -------> INFO ------> PENGE. Genealogi Metodologi tersebut sebagai berikut (Gambar 14). Sebagai alat.---|---LI. dan ---KONSTRUKSI-SCIENTIFIC ---ONTOLOGI ---ILMU---| |---BOK---->ACADEMIC | | ---BAHAN BAKU-ENTERPRISE | | | | | | ---------| | | | | FIL| EPISMETO. Epistemologi memusatkan perhatian pada substansi atau objek -. Perbedaan antara Epistemologi dengan Metodologi terletak pada titikpandang.8 SESI TUJUH Epistemologi Ilmu Pemerintahan: Metodologi.| PENE---PUSTAKA----| | --->SAFAT---|---TEMO.---------->KNOWLED.------------------> ILMU | TAHUAN struksi GE (BOK) diagnosis | | prediksi(f’casting) | | eksperimentasi | direkam self-control | | diwaris| kembang| kan FENOMEN | FAKTA <---------------------.--| |<------------->| | | JARAN ---METODIK----| | | | | | | ---------------------NILAI-------------------| | | ----------------------------------FEEDBACK--------------------------------- Gambar 14 Genealogi Metodologi BOK Body Of Knowledge Metodologi Pengajaran Ilmu Pemerintahan. setiap ilmu dan penggunaannya oleh masyarakat melalui governance dalam berkinerja. Metodologi Ilmu.METODOLOGI PENELITIAN --------------. Metodologi di sini meliputi Metodologi Penelitian.METODOLOGI PENGAJARAN <------------------------penggunaan ilmu termasuk learning process Gambar 15 Hubungan Antar Tiga Metodologi . adalah metodologi.---| |--| | ILMU | LOGI LOGI | TIAN ---LAPANGAN---| | | | | | | | | | | | | | | | PE---DIDAKTIK---| | ---AXIOLOGI ---NGA.---DO.

Pernyataan tersebut disusul dengan pertanyaan penelitian: “Mengapa tingkat kesehatan masyarakat masih rendah?” Melalui analisis teoretik diperoleh jawaban (hipotesis): “Tingkat kesehatan masyarakat masih rendah. 2008. Bab IX. layanan publik dan layanan civil. Bab IX . Bagian Kedua Bab 14 Kybernologi Beberapa Konstruksi Utama. Bab 8 dan Bab 16 Kybernologi dan Kepamongprajaan. karena yang dinyatakan adalah apa yang dialami oleh masyarakat sebagai pelanggan pelayanan kesehatan. karena yang dinyatakan adalah perihal kebijakan negara (politik) dan implementasinya. 2007. Dari uraian di atas terlihat bahwa objek materia Ilmu Pemerintahan (Kybernologi) bukan negara tetapi masyarakat. masih di angkasa Ilmu Politik. interdisiplin. Hubungan lebih rinci antar ketiga spesi Metodologi ditunjukkan melalui Gambar 15. Gambar 11). Pernyataan “Tingkat kesehatan masyarakat masih rendah. Bagian Tiga Bab II Kybernologi Sebuah Scientific Enterprise. arah) didaratkan pada beachhead ini.pengetahuan dan hubungannya dengan objek lainnya. “Tingkat kesehatan masyarakat bergantung pada (dipengaruhi oleh) implementasi kebijakan pemerintah di bidang kesehatan. multidisiplin. Negara adalah objek materia Ilmu Politik. Objek forma inilah yang membedakan sekaligus menghubungkan Kybernologi dengan disiplin (ilmu) lainnya. Pernyataan masalah penelitian (problem statement) “Implementasi kebijakan (di bidang) kesehatan masyarakat tidak efektif.” belum mendarat pada Ilmu Pemerintahan. 2006. karena kebijakan (bidang) kesehatan tidak diimplementasikan dengan baik. dan tidak dalam Ilmu Politik. dipandang tepat. Referensi: Bab 36 dan 35 Kybernologi 2003. Gambar 7. dan Bab XIII Kybernologi Sebuah Profesi. Bab XII. 2007. dan unknown). Pendekatan yang digunakan adalah monodisiplin.” mendarat pada Ilmu Pemerintahan. 2005. sedangkan Metodologi memusatkan perhatian pada proses bagaimana mengetahui (knower dan knowing process). Dilihat dari sisi ini. dan sebaliknya dari sini ke segala segi (aspek) kemasyarakatan. knowable. Setiap penelitian Ilmu Pemerintahan dari berbagai segi (aspek. 2005. bahkan ruang eksakta dan humaniora. Bab IV dan Bab V Kybernologi Sebuah Rekonstruksi Ilmu Pemerintahan.” Dengan perkataan lain. Bab XI. baik objek forma maupun objek materia (known.” Quod erat demonstrandum. dan Gambar 10) yang disebut juga hubungan pemerintahan dengan pelanggan sebagai titiktolak utama pembelajaran (SKS. penempatan Ilmu Pemerintahan dalam Ilmu-Ilmu Sosial oleh Universitas Padjadjaran. dan lintasdisiplin. Penemuan objek materia ini melalui pendekatan metadisiplin (Gambar 5 dan Gambar 6). Objek formanya adalah interaksi antar tiga subkultur masyarakat (governance. Bab X. Bab XVII dan Bab XIX Kybernologi Sebuah Scientific Movement. Bab 7.

Setiap pemenuh kebutuhan. tiap kelompok membuat tugas terstruktur tentang suatu sesi berupa sebuah makalah. bernilai. dan Gambar 18 menunjukkan model identifikasi (terbentuknya) nilai secara induktif. dan nilai ideal. kedelapan kepemimpinan. deduktif. atau membentuk nilai dari sumberdaya yang ada. Bisa terjadi. sehingga perlu dicari azas baru sebagai alternatif azas suara terbanyak yang sudah ada. 10 SESI SEMBILAN Axiologi Ilmu Pemerintahan: Teori Nilai. Bab IX. nilai. Gambar 16. Gambar 16. dan Bab XIII Kybernologi dan Pembangunan. dan norma. yang dijadikan bahan pertimbangan dalam memilih dan menetapkan prinsip (azas) sebagai sumber nilai hipotetik untuk diuji secara empirik. dan menciptakan sumberdaya baru. Misalnya PNS dengan 8 kualitasnya. Bab VIII. Nilai sebagai inti budaya. nilai ekstrinsik. Konstruksi tiga komponen: kualitas. 2008. kinerja seorang pejabat yang terpilih dengan suara terbanyak. Bab X. Bab VII. Kelas dibagi menjadi 7 kelompok. merawat. asas-asas pemerintahan. Penemuan nilai secara deduktif bersumber pada Filsafat Pemerintahan yang berisi berbagai buah pikiran. .dan Bab XVII Kybernologi Sebuah Metamorphosis. perilaku ditimbang disepakati -->ENTITAS-------->KUALITAS--------->NILAI-------------->NORMA | bisa dipaksakan (N) | | | | | feedback N<H dievaluasi ditegakkan | ---------------N=H<--------------HASIL--------------------N>H (H) Gambar 16 Identifikasi Nilai Secara Induktif Pada Gambar 16. Ilmu itu amaliah dan amal itu ilmiah. Gambar 17. Visi pemerintahan Gambar 18. ternyata bad. dan visionary. 2009 9 SESI DELAPAN UTS. Gambar 17. Nilai intrinsik. entitas itu adalah apa saja. tetapi angka 91 disepakati sebagai norma minimal yang harus terpenuhi agar yang bersangkutan dapat dipromosi. Dalam governance SKE berfungsi (Gambar 10) menambah. Pertama kesetiaan. Angka 90 adalah nilai kesetiaan. Nilai dan asas. Setiap tahun tiap kualitas dimonev. Ujian klasikal terdiri dari 5 soal.

” “satu-satunya. tiada tanding. Gambar 18. Apapun yang terlihat melalui pendekatan ini. “ter-. itulah Visi (Gambar 18.Konstruksi visi menurut Teori Visi seperti Gambar 18.” “tiada banding. angka 2). apakah baik apakah buruk.<---------JADIKAN NORMA | | TIDAK DITEMUKAN | | -----------------DIPERLUKAN ASAS BARU Gambar 17 Identifikasi Nilai Secara Deduktif | | | | | | | | | | | | | | | | | | | | | | | | | | | | .” “paling-. Iklan pemikat. berisi nilai intrinsik. Visi itu objektif.” Visi yang dibuat berdasarkan definisi itu selalu diberi nilai superlatif. Mengenvision (“melihat” dengan matahati dan mataiman) apa yang akan atau dapat terjadi 20 tahun ke depan. jika kondisi dan kecenderungan (arah perubahan) yang ada sekarang (Fakta. 1 kiri) terus berlanjut. Pasal 1 butir 12 UU 25/04 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional (SPPN) mendefinisikan visi sebagai “Rumusan umum mengenai keadaan yang diinginkan pada akhir periode perencanaan. Envisioning dimulai juga dari Fakta tetapi bukan sisi “keberhasilan” sesaat (jangka pendek) tetapi sisi kecenderungan yang sedang berjalan (trend). sebagaimana adanya. “kondisi yang given” (takdir) dan relatif tidak dapat ber-(di-) ubah. Apakah yang dimaksud --------------------->FILSAFAT PEMERINTAHAN | | ASAS-ASAS (YANG ADA) | deduksi | ------------------------| | | | NORMA NILAI TERTULIS TIDAKTERTULIS | | | | ---------------| | | | | | | -->CUKUP TIDAK CUKUP | | | | | DIPERLUKAN | | NILAI BARU | ---DITEMUKAN<----UNTUK DIJA.” dan sebangsanya.

apa bedanya visi dengan tujuan? Gambar 18 menunjukkan perbedaan itu. Langeveld. 2005 11 SESI SEPULUH Axiologi Ilmu Pemerintahan: Kepamongprajaan. J. Bab 37 Kybernologi 2003. Kepamongprajaan sebagai superstruktur profesi pemerintahan melalui pendekatan lintas sektoral bermula pada Visi. R rezim 5 tahunan) Referensi: Bab VII M. Misi itu adalah jalan dan upaya mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Duabelas nilai kepamongprajaan di dalam governance (Gambar 19). IPDN/IIP . yg ditetapkan secara kearifan lokal sadar dan formal berda| sarkan idea dan visi 4 3 IDEA----------------------C--------------------->GOAL | S4R4 | b HARAPAN | | S3R3 | D 20 tahun E arah B MISI | S2R2 | | a MASALAH | | S1R1 | FAKTA SEKARANG-----------------A--------------------->VISI 1 dua puluh tahun 2 kecenderungan internal apa yg terlihat bila & eksternal. Bab III Teori Budaya Organisasi. Dari teori ini bersumber pokok-pokok bahasan berikut (sesi 10 dan seterusnya).dengan “yang diinginkan” dalam definisi itu? Mimpi? Angan-angan? Simbol belaka? Atau sesuatu yang mengikat (formal). KE DEPAN tujuan jangka panjang cita-cita. kondisi yg keadaan berjalan menutakberubah dan takbisa rut fakta sekarang diubah (takdir) (terminal 1) Gambar 18 Teori Visi Tujuan Jangka Panjang Berisi Nilai Ideal Melalui Envisioning Pemerintahan (Menggunakan Pola UU 25/04 dan UU 17/07) Kebijakan Jangka Panjang 20 Tahun (S strategi. yang harus dicapai? Jika yang terakhir itu artinya. Goal (tujuan) adalah rumusan formal yang ditetapkan sebagai respons terhadap visi yang terlihat (penglihatan) jauh di depan. Demikian pentingnya misi itu sehingga mendapat julukan mission sacre. Menuju Ke Pemikiran Filsafat. obsesi masy. Bagian Tiga Bab VIII Kybernologi Sebuah Scientific Enterprise (2006) dan Bab I Kybernologi Sebuah Profesi (2007). 1957.

UMUM PEK. . . UMUM | | | | | | | | | --------------TEOLOGI TEKNOLOGI------------CIVIL *KYBERNOLOGI KETUHANAN? Gambar 19 Duabelas Nilai Kepamongprajaan. van Poelje dalam Pengantar Umum Ilmu Pemerintahan (1959) menyatakan: -------------------------------KYBERNOLOGI------------------------------| | (ILMU PEMERINTAHAN BARU) | | | | | | | | | | | KEAHLIAN KEAHLIAN | | DI BIDANG----------GENERALIS----------DI BIDANG | | PEMERINTAHAN | PEMERINTAHAN | | | | | | | | | | | | PROFESI | PROFESI | | BIDANG PE| BIDANG PE| | MERINTAHAN | MERINTAHAN | | | --------------------| | | | | vooruitzien | | | TEOLOGI PEMERINTAHAN | conducting | PEMERINTAHAN TEKNOLOGI PEMERINTAHAN DAERAH | coordinating | DAERAH PEMERINTAHAN | | | peace-making | | | | | | residue-caring | | | | KEBIJAKAN | turbulence-serving | KEBIJAKAN | |--------------BIDANG-----|---KEPAMONGPRAJAAN---|-----BIDANG--------------| | KEAGAMAAN | Freies Ermessen | PEKERJAAN UMUM | | | | gen & spec function | | | | | | omnipresence | | | KYBERNOLOGI* KEPALA KANTOR | responsibility | KEPALA DINAS KYBERNOLOGI KEBERAGAMAAN AGAMA |magnanimous-thinking | PEK. Tentang hal ini. UMUM | | | | | | | | | | | | KEAHLIAN | KEAHLIAN | | DI BIDANG----------SPESIALIS----------DI BIDANG | | TEOLOGIA PEK.didirikan untuk membentuk tenaga-tenaga pemerintahan yang berkualitas kepamongprajaan ini. UMUM | | | statesmanship | | | | | --------------------| | | PROFESI | PROFESI | | BIDANG | BIDANG | | KEAGAMAAN | PEK. . . Kepamongprajaan Sebagai Superstruktur Berbagai Profesi Sektoral Pemerintahan Hubungan Antara Kybernologi Dengan Ilmu-Ilmu Lain Dalam Hal Ini Teologi Dua Hibrida yaitu Teologi Pemerintahan dan Kybernologi Keberagamaan (KeTuhanan?) . bahwa berbagai ilmu pengetahuan yang bertalian dengan salah satu bagian dari penguasaan (beheer) perusahaan partikelir pada akhirnya bermuara pada suatu ajaran perusahaan umum (algemene bedrijfsleer) yang meliputi kesemuanya dan bahwa ajaran . .

cermin dibelah”) dan membuat cermin baru. 2007. Wisdom). 2009. Beginselen). itulah inovasi (“Buruk muka.” Korupsi). muka dibenah”). 2008. . dan “Kebijaksanaan” (“Bijak sana. Menemukan cara membenahi muka buruk sehingga menjadi baik. Kearifan (Kebijaksanaan. Bab 1 dan Bab 7 Kybernologi Sebuah Metamorphosis. Nilai. Bijak sini. Konsep-konsep terkait: Filsafat. Bab 4. Membanting cermin pada saat muka terlihat buruk (“Buruk muka. Bab XX Kybernologi Sebuah Scientific Movement. Ia diletakkan di dalam bingkai (frame) invention dengan scientific policy policy im----->RESEARCH----------->INVENTION----------->POLICY-----------------| enterprise making (input) plementation | | | | | |----------------------------with or without----------------------------| | | | | | I<O moniscientific | ------FEEDBACK<---I=O----EVALUATION<---------INNOVATION<--------------I>O toring (output) movement Gambar 20 Model Axiologi Kybernologi Melalui Kebijakan innovation. Bab 2. Bestuurswetenschap) yang aksiologi utamanya di Indonesia adalah Kepamongprajaan (Gambar 19). Bab 1. Gambar 17. Bab VI Kybernologi Sebuah Profesi. Bab 5.tentang penguasaan perusahaan-perusahaan partikelir ini setidaktidaknya untuk sebagian merupakan syarat bagi adanya ilmu pengetahuan yang lebih tinggi daripadanya. Lihat juga Gambar 16. Kebijakan dalam ruang governance sebagai penyelenggaraan otonomi masyarakat (daerah). ialah Ilmu Pemerintahan (Bestuurskunde. Referensi: Bab XIII Kybernologi Sebuah Charta Pembaharuan. bukanlah inovasi. Asas (Principles. konstruksi kebijakan dalam Kybernologi terlihat melalui Gambar 20. dan Gambar 18. 2008. dan Bab 6 Kybernologi dan Kepamongprajaan. Bab XIV Kybernologi dan Pengharapan. Berbeda dengan konstruksi kebijakan menurut Ilmu Politik. Kebijakan (Policy). 2007. 2007. 12 SESI SEBELAS Axiologi Ilmu Pemerintahan: Kebijakan (dalam bahasa UU 32/04: Penyelenggaraan) Pemerintahan.

komunikasi penggunaan -. 2005. Bab 7 dan Bab 8 Kybernologi Sebuah Metamorphosis. EV evaluasi. (seharusnya) pertimbangan manajemen semakin dominan. guna | ---. berulang) atau sirkuler (circular. Diharapkan dengan demikian. Terminal dan rute sepanjang siklus atau sirkel pemerintahan bersifat kritikal. Bab VI. Birokrasi. Manajemen Pemerintahan tidak linier atau terpotong-potong mengikuti rezim politik. Jika dilihat dari pendekatan sistem. 2007. Lihat Gambar 10.Policy implementation diberi kekuatan lanjutan research sebagai scientific movement. organizing.e | | | | | b<g pembandingan pantauan manfaat. semakin ke bawah (masyarakat. Administrasi Publik.EV -------------MON <-------------OC --10 b>g 9 h 8 g 7 f 6 i Gambar 21 Manajemen Pemerintahan 1LK lingkungan sebagai sumber. 1 a 2 b 3 c 4 d 5 ---> LK ------------> IP ------------> TP ------------> OP ------------> LK --| info kebijakan implementasi “marketing” | | distribusi | | | j -. Bagian Pertama Bab 5 Kybernologi Beberapa Konstruksi Utama. Jika pada aras statal pertimbangan politik yang dominan. OC outcome. Bab III. dan Manajemen. proses OP output. Bab 12 Kybernologi Sebuah Scientific Movement. Oleh sebab itu seluruh terminal dan rute manajemen terkait (planning.HEV <-----------. lingkaran) sesuai dengan hukum sistem. Jika digabung dengan Gambar 18. . 5LK lingkungan sebagai pelanggan. FB feedback Di dalam Manajemen Pemerintahan terletak Manajemen Pembangunan. tetapi siklik (cyclic.. IP input. dan controlling) diatur setara (jangan seperti sekarang. 2007. TP throughput. merupakan tiga sisi atau dimensi Implementasi Kebijakan dari berbagai sudut pandang. Manajemen Pemerintahan seperti Gambar 21. dan Bab VII Kybernologi Sebuah Charta Pembaharuan. actuating. hanya perencanaan yang diutamakan) dalam satu peraturan. daerah). maka Manajemen Pemerintahan 20 tahunan sebagai Gambar 22. HEV hasil evaluasi.FB <----b=g---. MON monitor. 2008 13 SESI DUABELAS Axiologi Ilmu Pemerintahan: Manajemen Pemerintahan. Referensi: Bab 6 dan Bab 37 Kybernologi 2003. bukan kekuasaan politik tetapi premises ilmupengetahuan dan teknologi yang memegang peranan penting dalam peningkatan kesejahteraan masyarakat.

“Ah. dan Bab 17 Kybernologi dan Kepamongprajaan.(her-) self.” Proposisi Durant ini menerangkan mandulnya suatu ilmu dan pincangnya hubungan antara teori dengan praktik. Bab X Kybernologi Sebuah Scientific Movement. . tetapi. dan Bab 14 Kybernologi 2003. 2005. . . Gambar 23. itu sih teori.” Seni Pemerintahan menunjukkan upaya penumbuhkembangkan kreativitas dan efektivitas. . Bab II Kybernologi dan Pembangunan. dan efisiensi. Ruangnya dalam Model 1 Gambar 23. “how to get things done through the leader him. Dalam hubungan itu. Kombinasi Model 1 dengan Model 2 menghasilkan Model 3.R1 R2 R3 R4 O---5---|---5---|---5---|---5-->20 rel (runway) jangka panjang | | | | R1 O-------|-------|-------|------>20 | | | | R2 O-------|-------|-------|------>20 | | | | R3 O-------|-------|-------|------>20 | | | | R4 O-------K1------K2------K3----->20 | K4 R rezim 5 tahunan. kepemimpinan adalah seni. 2008 14 SESI TIGABELAS Axiologi Ilmu Pemerintahan: Seni Pemerintahan dan Teknologi Pemerintahan. Ruangnya dalam Model 2 Gambar yang sama. 2007. namun. 2008. Penyebab kemandulan dan kepincangan itu terletak di hulu (keringnya Filsafat dan lemahnya teori) dan di hilir (miskinnya Seni praktik atau implementasi: “Benar. bulat) 0 – 20 rel (landasan) jangka panjang Gambar 22 Manajemen Pemerintahan Berskala Jangka Panjang (20 Tahun) UU 25/04 dan UU 17/07 Referensi: Bab 10. Bab 13. . Pentingnya Seni (dan Teknologi) diungkapkan oleh Will Durant dalam The Story of Philosophy (1956. Bab 13. Bagian Pertama Bab 5 Kybernologi Beberapa Konstruksi Utama. . xxvi): “Every science begins as philosophy and ends as art.” “Setuju. O orientasi 20 ke depan K1234 = kinerja R1R2R3R4 selama 20 tahun (expected output.” Selanjutnya Teknik dan Teknologi Pemerintahan menunjukkan kemahiran. . . Bab 12. kehematan.” demikian keluhan berbagai kalangan.

yang terbentuk sejak dalam kandungan. Bab 30. Spiro dalam Responsibility in Government (1969). maks maksimum. Iblis bisa bercahaya seperti Malaikat. kons konstan (seadanya). . Tetangga Etika Pemerintahan adalah Teologi Pemerintahan. Dengan pegangan Moral saja. Seperti telah dikemukakan. sementara sanksi dan reward Moral dari masyarakat. sedangkan pertimbangan Etik berlangsung di dalam kalbu (lubuk hati.kreativitas efektivitas | | Ikons-----1---->Omaks<--| | -------------->3-------------| | -----Imin------2---->Okons | | kemahiran kehematan efisiensi Gambar 23 Seni Pemerintahan dan Teknik Pemerintahan I input. O output. Jadi bukan “disumpah. dan Etiket Pergaulan Politik/Diplomatik adalah aplikasi Etika Pemerintahan. Serigala berbulu Domba. Etika Pemerintahan adalah Etika Otonom. Perbedaan dan kaitan antara Etika dengan Moral: Pertimbangan Moral berlangsung dalam masyarakat. Bab 19. hati nurani. 15 SESI EMPATBELAS Axiologi Ilmu Pemerintahan: Etika Pemerintahan. Kunci Etika Pemerintahan terletak pada pertimbangan etik dan pertanggungjawaban etik (Terminal 6 dan Terminal 10 Gambar 24). ada Hak Asasi dalam arti bawaan. sanksi pelanggaran dan reward penaatannya bersumber dari diri sendiri. dan 34 Kybernologi 2003. hati sanubari.” tetapi “bersumpah. Bab I Kybernologi dan Pengharapan (2009). kewajiban tumbuh sejajar dengan pertanggungjawaban (kemampuan bertanggungjawab). min minimum Referensi: Bab 12. Teori Tanggungjawab menurut Herbert J.” Kode Etik Profesional. insan kamil) sendiri. tetapi tidak ada Kewajiban Asasi dalam arti itu. dan Musang berbulu Ayam.

Reformasi Pemerintahan lebih sebagai fungsi ketimbang momentum. 2006. 2007.nerangi norma dlm kalbu | | yg-wajib hidup as. dan Bagian Tiga Bab XVI Kybernologi Sebuah Scientific Enterprise. Bab 4. dan Bab 5 Kybernologi Sebuah Metamorphosis. perlu bersumpah | | disaksikan mengorbankandiri | | | bunuhdiri | ----------*setiap commit| | dikontrol | ment atau janji | ---dibandingkan---harus disertai | kesenjangan ditedievaluasi sanksi yg mengikat | rangkan setulus & | diri sendiri dan --sejujurnya.1 2 3 4 5 6 ----->apakah------>kualitas--->nilai--->norma--->kesadaran---->pertimbangan---| etika? dasar etik etik etik etik etik otonom | | etika otonom | | | | | | | etika heteronom yg-benar guna tertanam norma mediskusi antar | | yg-baik dlm kuat. Bagian Dua Bab II dan Bab III.-------orang lain. konsisten.sumpah bernazar | perjanpengakuan membayar tebusan | jian credo kesediaan berkorban | commitment selfmengaku bersalah | | commitment mengundurkandiri dari jabatan | | | mengasingkandiri | | agar mengimenyakitidiri | | kat. dinyako & konsekuensi takan secara terbuka ditanggung sendiri Gambar 24 Etika Pemerintahan (1 sd 11 Terminal) Referensi: Bab 15 dan Bab 16 Kybernologi 2003. Bagian Pertama Bab 7 Kybernologi Beberapa Konstruksi Utama. lu. 2005. Bab 3. Bab XV Kybernologi Sebuah Scientific Movement. Reformasi Pemerintahan bertujuan membangun . 2008. dan akumulatif. Bab 2. risi. artinya berjalan terusmenerus. Bab III dan IV Kybernologi dan Pengharapan (2009) 16 SESI LIMABELAS Penguatan Tiga Subkultur Governance: Reformasi Pemerintahan. jelas nurani kebebasan memi| | lih. kesepakatan | | | | 10 9 8 7 | | 11 pertanggungperilaku tindakan keputusan | ----etikalitas<----------jawaban<-------etik<------etik<----------etik<-------| etik | | | | | | | menaati kadar | --kinerjaberprakarsa keetikan sanksi etik* | berjanji* | | | | | ----------merasa malu | | | merasa bersalah | pada pada menyesal | orang diri mohon maaf | lain sendiri mohon ampun | | | janji bertobat | | nazar.

Memang. Secerdas apapun sebuah temuan ilmiah. Bab VI dan Bab XII Kybernologi dan Pembangunan. ia menjadi biropatologik. info.” Referensi: Bab 9 Kybernologi 2003. dan Bab 15 Kybernologi Sebuah Scientific Movement. Menurut teori itu terjadi hubungan timbal-balik antara keduanya. Reformasi Pemerintahan berarti reformasi lingkungan pemerintahan yang terdiri dari Politik (Negara). Bagian Kedua Bab 18 Kybernologi Beberapa Konstruksi Utama. Sosiologi dan Ilmu Hukum. pada aras makro. Bab 2. nilai. Sumber-sumber. politisi) menyalahgunakannya. Bab IX Kybernologi Sebuah Charta Pembaharuan. “power tends to corrupt. Bab 12. Bab 14. Bagian Dua Bab I dan Bab IX Kybernologi Sebuah Scientific Enterprise. Teori Politik. Bab 8 Kybernologi Sebuah Metamorphosis. Oleh sebab itu. 2007. Bab 13. Diperlukan bangunan teori yang lebih tinggi. 2007. kalau tidak digunakan. dan inovasi Birokrasi itu sendiri. tidak berguna.POLITIK (NEGARA) | | public choice waktu | ruang | SUMBER-SUMBER----nilai----PEMERINTAHAN----informasi----ILMUPENGTAHUAN teknologi | sumberdaya | kontrol di hulu dan kontrol di hilir | | MASYARAKAT PELANGGAN Gambar 25 Lingkungan Pemerintahan Pemerintahan yang sehat dengan mencegah sejauh mungkin pemerintahan yang sakit. dan kontrol di hulu dan di hilir. Grand theory yang dimaksud adalah Teori Hubungan antara Negara dengan Manusia (Gambar 4). 2008. Ilmu Pengetahuan. Hubungan itu berturut-turut berisi public choice. 2007. Manfaatnya bergantung pada penggunanya. 2006. Birokrasi itu ibarat sebuah mobil. Bab I dan Bab II Kybernologi Sebuah Profesi. dan Masyarakat (Gambar 25). 2009 . Sesehat dan sekuat apapun Birokrasi. Dalam hubungan itu fenomena birokrasi tidak cukup diterangkan hanya oleh Teori Kebijakan Publik. yaitu grand theory yang mencakup semuanya. 2005. jika pengguna (politik.

Distribusinya menggunakan undian. Untuk itu kelas dibagi menjadi 7 kelompok. UAS juga terdiri dari ujian klasikal dengan 5 soal. tiap kelompok mambahas satu sesi kuliah.17 SESI ENAMBELAS UAS. 1112081144 1212081427SDGORODTG 1312081506 1912081058 0401091050 0801091014SDGOROTDUSADS 3103090818SDG 0904090953SDG 1104091755SDG . dan tugas struktural bagi tiap kelompok. Sama seperti UTS.

. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 8 | | 5 | Teori Governance. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .RINGKASAN ----------------------------------------------------------------------| SESI | URAIAN HALAMAN | |-----------------------------------------------------------------------| | 1 | Penjelasan Umum . . . . . . . . . . . . . . 16 | | 7 | Metodologi. . . . . . . 20 | | AXIOLOGI | | 9 | Teori Nilai . . . . . . . . . . 30 | ----------------------------------------------------------------------- . . . . . . . 5 | | EPISTEMOLOGI | | 3 | Teori Kebutuhan . . 27 | | 15 | Reformasi Pemerintahan. . . 24 | | 12 | Manajemen Pemerintahan. . 22 | | 11 | Kebijakan Pemerintahan. . . . . 25 | | 13 | Seni dan Teknik Pemerintahan. . . . . . 26 | | 14 | Etika Pemerintahan. . . . . . . . . . . . . . 20 | | 10 | Kepamongprajaan . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 28 | | 16 | UAS . . . . 2 | | | Sejarah Pengajaran Ilmu Pemerintahan di Indonesia | | ONTOLOGI | | 2 | Ontologi Ilmu Pemerintahan. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 18 | | 8 | UTS . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 11 | | 6 | Teori Kinerja . . 6 | | 4 | Teori Pelayanan .

Kita jadikan proposal yg prof. seperangkat Kebijakan dan Peraturan. Kepamongprajaan yang pamornya timbul tenggelam selama seratus tahun terakhir. MSi. dan Doktor S3). Informasi dari pak Khasan Effendy (IPDN) pukul 112207 tentang ilmu apa yang dimaksud: “Pemahaman saya pembaharuan dan pengembangan Ilmu Pemerintahan salah satunya Kybernologi. antara lain Plt Kepala Badan Diklat Dr H. Kaloh. .” dilanjutkan pada pukul 224923: “Benar. 15 meluncurkan berita berjudul “Presiden Ubah IPDN Menjadi IIP. Muh. MPA. Segera saya melaporkan berita itu via SMS kepada beberapa pejabat yang berkompeten.” Di kiri bawah terdapat tulisan: “‘Di IIP ada tambahan ilmu baru sebagai pendukung dalam aspek pemerintahan.GBPP MATAKULIAH KEPAMONGPRAJAAN Taliziduhu Ndraha. Kybernolog 1 LATARBELAKANG Kompas 11 Oktober 07 h. . 895. Muchlis Hamdi. atau sebuah topik Seminar? Yang jelas. sebuah Bidang Kajian (field of study). bagaimana dengan Kepamongprajaan sebagai matakuliah baru? Apakah hanya seperangkat teori seperti Teori-Teori Pembangunan. Marwan. seorang pejabat Badan Diklat Depdagri tgl 121007 pukul 223338 diperoleh info: “Benar. drs. Pukul 082337 pagi itu anak saya Pram mengonfirmasi berita itu pada saya seraya menanyakan ilmu apa yang dimaksud. disiplin. dan jejaknya nyaris lenyap disapu perubahan zaman. ilmu) dan derajat akademiknya bulat (Sarjana S1.” dengan subjudul “Sistem Pengasuhan Dihapuskan. Magister S2.’ ujar Mardiyanto” (Menteri Dalam Negeri). Yang beliau maksudkan adalah Kybernologi dan Kepamongprajaan. Diubah Kepamongan. Semakin . Kegamangan itu terlihat pada hubungan antara pusat dengan daerah.” Apakah ini berita jurnalistik yang setelah dibaca menjadi basi dan dilupakan orang? Atau lanjutan sejarah? Di dalam sistem kurikulum IPDN terbaru (Peraturan Rektor IPDN tgl 15 September 2007 No. prof. Dr Tjahya Supriatna. Jika Kybernologi berbentuk body-of-knowledge (BOK. dan Prof. prof.” Dari 08159676440. SU. . buat sebagai dasar keilmuan pembentukan IIP Regional. PhD. Ilmu Pemerintahan (secara implisit Kybernologi) sebagai core curriculum IPDN pada tingkat institut (dijadikan menu semua fakultas dan jurusan) diajarkan sebelum core curriculum institut lainnya yaitu Kepamongprajaan. kembali menarik dengan semakin gamangnya penyelenggaraan Negara dan pemerintahan di tanahair. Prof. Plt Rektor IPDN Dr J. SU.5-273 Tahun 2007. .

Sesudah itu. di negeri yang menurut ramalan ulamapedagang politisi-birokrat buruh-cendekiawan. “Membina Dinas Pamong Praja ke Arah Dinas Karier Dalam Administrasi Negara. 21 Tahun 1971. dan apa manfaatnya? Apakah hal itu menunjukkan bahwa sesungguhnya di atas panggung yang sama yang satu memerlukan yang lain. Pamong Praja dan Kepala Wilayah. sedangkan “pamong” berarti pengasuh. Saya menemukan Drs S.” dalam Berita IIP No. Di zaman berlakunya UU 5/74. sebuah dokumen akademik yang 40 tahun kemudian dimuat dalam Kybernologi: Sebuah Profesi. adakah dan jika ada di manakah terletak perbedaan signifikan antara Kybernologi dengan Kepamongprajaan? Kelima. penyelenggara. kalau pemerintahan itu identik dengan pamongpraja. 2007. “Praja” berarti kerajaan. muncul beberapa kebingungan. 1980. semakin berkuasa kekepalawilayahan ketimbang kekepaladaerahan. walau terundung alergi debu. Pidato itu menunjukkan bahwa pembentukan IIP dijiwai oleh semangat Kepamongprajaan. semakin otoriter Negara. Dokumen pemikiran tentang Kepamongprajaan periode 70-80-an diwakili oleh Drs Bayu Surianingrat. Kepamongprajaan. mengapa dijadikan dua matakuliah yang berbeda? Kedua.” Kalau kedua konsep itu mengandung arti yang sama. apakah seluruh perangkat eksekutif atau hanya perangkat Departemen Dalam Negeri yang dapat disebut pamongpraja? Ketiga. mengalami masa sunyi yang lama. Semakin luas otonomi daerah. semakin melembaga kepamongprajaan. Bab VI.dominan politik dekonsentrasi terhadap desentralisasi. yaitu Pidato Ilmiah pada Hari Wisuda Alumni APDN Malang dan Peresmian IIP tgl 25 Mei 1967 di Malang. selagi semua orang asyik menikmati tidak kurang dari sepuluh hari libur bersama. bagaimana konstruksi hubungan teoretik antara keduanya? Maka sambil meraba-raba sini-sana. baik sebagai berita maupun sebagai pustaka. pilek dan flu.” seperti “government” yang dapat diartikan “pemerintah” dan juga “pemerintahan. Pertama. kepamongprajaan semakin kehilangan ruang hidupnya. Mungkinkah sebuah lembaga mengadvokasikan otonomi seluas-luasnya dan pada saat yang sama membuka ruangan bagi kepamongprajaan? Bagaimana hal itu bisa terjadi. bagaimana dengan pendapat Bayu Surianingrat dalam Pamong Praja dan Kepala Wilayah (1980) yang membedakan pamongpraja dalam arti luas dan pamongpraja dalam arti sempit? Keempat. MPA. pusat terhadap daerah. saya membolak perpustakaan dan menjelajah warisan berbentuk huruf dan kalimat. apa maknanya. tidak saling membunuh seperti disangka orang? Di samping kegamangan. pada tahun 2030 menjadi nomor lima terbesar sedunia. kota. Pamudji. didorong oleh curiosity seadanya. Negara. sampai tahun 2004 ketika Forum Komunikasi Alumni IIP . Jadi “pamongpraja” sesungguhnya identik dengan “pemerintah” dan “pemerintahan.

Bab XX. sejak tahun 80-an IIP menerbitkan majalah Widyapraja. Dr Ateng Syafrudin. dengan titiktolak yang berbeda. MSi. Memang. saya mencoba melengkapi pendekatan deskriptif dan normatif yang digunakan oleh para penulis di atas. dipertegas dalam Peraturan Menteri Dalam Negeri No. Dalam Jurnal Pamong Praja terdapat beberapa artikel yang nadanya sama.” disiapkan untuk Seminar di Kabupaten Landak Kalimantan Barat pada tgl 26 Oktober 2007. IPDN sendiri tidak tinggal diam. “Kepamong-prajaan” dalam Kybernologi: Sebuah Scientific Movement. Pamudji. IPDN menyelenggarakannya Seminar Nasional Dalam Konteks Kepamongprajaan di kampus Jatinangor pada tgl 22 September 2007. 20 Mei 1963.” dilengkapi dengan sejumlah bahan yang lebih tua dan otentik mewakili zamannya. Bab XIII. dan “Kepamongprajaan: Fungsi dan Peran Pamongpraja Dalam “Era Otonomi Daerah. 2007. 43 Tahun 2005 tentang Statuta IPDN. “Kepamongprajaan Ditinjau Dari Perubahan Paradigma Pendidikan dan Peranan Pemerintahan Umum” (5-2006).menerbitkan Jurnal Pamong Praja. Azis Haily. dari bahan-bahan yang amat sangat terbatas. Dipacu oleh terus digunakannya nama “pamong” oleh STPDN dan kemudian IPDN.” Bandung. Dr Lexie M. perhatian terhadap Kepamongprajaan terus mekar.” Bandung 20 Mei 1963. berkisar pada masalah pendidikan pamongpraja. dengan mengembangkan sisi teoretik tulisan guru saya S. Dalam seminar itu Prof. menulis Pamong Praja. Kybernologi dan Metakontrologi (2005). “Pamongpraja Sebagai Golongan Karya Pemerintahan Umum. Giroth. Kybernologi bermula dari Manusia dengan kebutuhannya sebagai fakta di panggung dunia. terbitan Program Pascasarjana IPDN. dan “Jabatan Pamongpraja (Dahulu Pangrehpraja) Dalam Penelitian Antropologi Budaya dan Hukum Adat. dan Hyronimus Rowa. Kepamongprajaan terlihat di panggung bernama Negara dengan pemerintah sebagai aktornya. “Pendidikan Pamong Praja di Indonesia” (1. yang menyatakan bahwa IPDN adalah lembaga pendidikan pamongpraja. Maka lahirlah “Memorial Lecture Ilmu Pemerintahan: Kepamongprajaan Dalam Sistem Pemerintahan. menyajikan makalah tentang “Ilmu Pemerintahan Dalam Konteks Kepamongprajaan. SIP. SH. G. Sama seperti titian yang saya gunakan tatkala saya akhirnya menemukan Kybernologi. “Sejarah Pendidikan Pamong Praja di Indonesia” (7-2007). 2004). Djopari. Saya juga tergerak untuk menulis beberapa makalah. 2007. kembali saya menggunakan pendekatan metadisiplin (Ontologi).” dalam Kybernologi: Sebuah Charta Pembaharuan. Misalnya John R. namun “praja” dalam hubungan itu lebih sebagai sukunama ketimbang sebuah makna. Kybernologi mempelajari bagaimana memulihkan Manusia dari korban dan mangsa menjadi . Guna mengantisipasi kemungkinan untuk menjadikan Kepamongprajaan sebagai matakulian di IPDN.

UMUM | | | | | | | | | --------------TEOLOGI TEKNOLOGI------------CIVIL *KYBERNOLOGI KETUHANAN? **generalist&specialist function Gambar 1 Sistem Nilai Kepamongprajaan dan Hubungannya dengan Ilmu Pengetahuan . Kepamongprajaan mempelajari SKK seperti apa yang diharapkan bersinerji dengan SKE dan SKP sedemikian rupa sehingga kinerja governance yang bersangkutan berkualitas good (good governance). UMUM | | | statesmanship | | | | | --------------------| | | PROFESI | PROFESI | | BIDANG | BIDANG | | KEAGAMAAN | PEK. Manusia dengan Negara berinterface pada situs SKK bernama Kepamongprajaan. dan subkultur pelanggan (SKP) suatu governance. seperti fitrahnya semula sebagai ciptaan ALLAH.consumer. subkultur kekuasaan (SKK). UMUM | | | | | | | | | | | | KEAHLIAN | KEAHLIAN | | DI BIDANG----------SPESIALIS-----------DI BIDANG | | TEOLOGIA PEK. Derajat akademik bahan ajaran (didaktik) Kepamongprajaan berada pada tingkat mezzo (meso-). UMUM PEK. Lebih padat-nilai (Axiologi) ketimbang -------------------------------KYBERNOLOGI-------------------------------| | (ILMU PEMERINTAHAN BARU) | | | | | | | | | | | KEAHLIAN KEAHLIAN | | DI BIDANG----------GENERALIS-----------DI BIDANG | | PEMERINTAHAN | PEMERINTAHAN | | | | | | | | | | | | PROFESI | PROFESI | | BIDANG PE| BIDANG PE| | MERINTAHAN | MERINTAHAN | | | --------------------| | | | | vooruitzien | | | TEOLOGI PEMERINTAHAN | conducting | PEMERINTAHAN TEKNOLOGI PEMERINTAHAN DAERAH | coordinating | DAERAH PEMERINTAHAN | | | peace-making | | | | | | residue-caring | | | | KEBIJAKAN | turbulence-serving | KEBIJAKAN | |--------------BIDANG-----|---KEPAMONGPRAJAAN---|------BIDANG--------------| | KEAGAMAAN | Freies Ermessen | PEKERJAAN UMUM | | | | gen&spec function** | | | | | | omnipresence | | | KYBERNOLOGI* KEPALA KANTOR | responsibility | KEPALA DINAS KYBERNOLOGI KEBERAGAMAAN AGAMA |magnanimous-thinking | PEK. Dilihat dari pendekatan tersebut. melalui interaksi subkultur ekonomi (SKE).

Pasal 1 butir 2. pada semester sesudah Kybernologi diajarkan.padat-teori. pembangunan itu sendiri berada di dalam policy implementation di ruang SKE). maka Kepamongprajaan sebagai bahan-ajaran merupakan salah satu komponen Kybernologi pada sisi Axiologi. tidak mengurangi derajat akademiknya. sebagai berikut. setiap masyarakat (unit kultur) digerakkan oleh tiga subkultur. disusunlah 14 butir GBPP KepamongPrajaan (+ UTS dan UAS = 16 sesi) tentatif. sesuai Tabel 1 Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah ----------------------------------------------------------------------------PENGATURAN PENGURUSAN MONEV DAN FEEDBACK ----------------------------------------------------------------------------1 DPRD -DPRD 2 KEPALA DAERAH PEMERINTAH DAERAH -(PEMERINTAH DAERAH) ----------------------------------------------------------------------------- . 3 dan 4. maka apapun substitusinya. dan pengembangan Bab XIV Kybernologi dan Pengharapan (2009). bagaimana subkultur bekerja (berinteraksi) dan berkontrol satu terhadap yang lain. bahkan posisinya sebagai lembaga pendidikan tinggi kepamongprajaan dikukuhkan. Bagaimana masyarakat melindungi dan memenuhi kebutuhannya melalui interaksi tiga subkultur itu. bagaimana governance terbentuk. untuk tetap menggunakan nama IPDN dan tidak IIP seperti dijanjikan 15 bulan yang lalu. modifikasi bahan yang pernah diterbitkan dalam Bab 6 Kybernologi dan Kepamongprajaan (2008). dan subkultur sosial (SKS). Mengingat governance merupakan Epistemologi Ilmu Pemerintahan. Menurut Teori Governance. diterangkan melalui Teori Governance. Inilah dasar peletakan Kepamongprajaan dalam sistem kurikulum IPDN. Jika “pengasuhan” dihapus dari panggung metodik (lihat Bab IX Kybernologi: Sebuah Profesi). Bahannya diambil dari Sesi Lima GBPP Ilmu Pemerintahan (Kybernologi). subkultur kekuasaan (SKK). harus berangkat dari Sistem Nilai Kepamongprajaan ini. yaitu subkultur ekonomi (SKE. Berdasarkan uraian di atas. 2 SESI SATU Pemerintahan. Bahan ini didahului dengan pembahasan singkat Teori Nilai (Sesi Sembilan GBPP Ilmu Pemerintahan). Kebijakan Presiden (Perpres 1/09 tgl 12 Januari). Kebijakan otonomi Daerah berdasarkan UU 32/04.

SKE--------|--------->SKK----------|-------->SKS------| pemain | | | penonton | | | | wasit | pelanggan | | | | | | | mengontrol SKK | | | ----------|-|---------di hilir | | pembangunan | | | | | | | meredistribusi | | | membentuk.pemberdayaan) | | | | 4 | | | | MASYARAKAT | | | | | | | ------melayani-------5---------pasar-------| | | | MANUSIA | | | ---------------------------feedback--------------------------6 Gambar 2 Teori Pemerintahan (Governance): Interaksi Antar Tiga Subkultur Subkultur Ekonomi (SKE). ----------------------| NEGARA | 2 3 -----mengontrol---------mengontrol-----| memberdayakan | | membayar | | | | | | | | | | | | mengontrol SKK | | | | | di hulu | | | constituent -----.-----yanan civil. “Pemerintahan” Daerah dalam hubungan itu setara dengan local governance. | | nilai via pela| | | |----meningkatkan. Konsep governance lebih luas ketimbang konsep government. -----| | | | mencipta nilai pelayanan public | | | | 1 (inc. Penyelenggaraan itu meliputi pengaturan (lebih tepat: pembuatan kebijakan) dan pengurusan (implementasi kebijakan dan monev-nya). Di bawah konteks pemerintahan daerah. pemerintahan sama dengan policy making + policy implementation + policy implementation monitoring and evaluation (Tabel 1). Dalam Gambar 1 terlihat juga bahwa konsep pemerintahan lebih luas daripada konsep pembangunan pemerintahan. Di sana dinyatakan bahwa Pemerintah Daerah (local government) bersama DPRD adalah penyelenggara pemerintahan Daerah.dengan teori ini. dan Subkultur Sosial (SKS dgn kualitas Sebagai Pelanggan dan Constituent) yang Disebut juga Subkultur Pelanggan (SKP) . Subkultur Kekuasaan (SKK).

| | meredistribusi<-. Sepanjang Rute 5 dilakukan pemantauan dan evaluasi redistribusi nilai (Rute 4) berdasarkan standar yang telah ditetapkan melalui Rute 3. 4. dan SKS) Via Rute 1. dan 5 . Hasil evaluasi dijadikan masukan ke dalam Rute 3. SKK. yaitu SKE. 2. dan SKS. 3.nya | | dan PERDA | 2 | | | | 3 | | petaruh. Teknik penampilan rute ---------------------| NEGARA | | | SKK mengontrol SKS sbg konsti---dan memberdaya-----tuen mengontrol--| kan SKE via kebi. Interface itu membentuk ruang Masyarakat. | | | | 1 ningkatkan. SKK. Interaksi antar subkultur masyarakat melalui tiga terminal. men. Gambar 3 menunjukkan 5 rute dasar interaksi.SKE------------------>SKK-------------------->SKS--------| “pemain” | | | SBG PELANGGAN | | | | “wasit” | | | | | | | | | | “penonton” | | | | | | | | | | | | | | | | SKS sbg pelanggan | | | | | | | mengontrol SKK via | | pembangunan | | | | monev & feedback | | | | | | | di hilir | | | ---------|-|---------| | | | | | 5 | | | | membentuk. me| | memberdayakan. petarung | | | | | SBG KONSTITUEN -----. Lintasan gerak dari terminal ke terminal disebut rute.| | SKK di hulu via UU | | jakan & impl.4 | | |---cipta nilai se-------nilai via pe| | | | cara berkelanlayanan civil & ----| | | | jutan pelayanan publik | | | | | | | | | | | | MASYARAKAT (PUBLIK) | | | | | | | -------melayani----------------pasar---------| | | | MANUSIA | | | ---------------------------feedback-----------------------------Gambar 3 Pemerintahan (Governance) Interaksi Antar Tiga Subkultur (Tiga Terminal SKE.Gambar 2 berawal pada Teori Ilmu Pemerintahan tentang interface antara konsep Manusia dengan konsep Negara.

men. Dalam Teori Governance juga termasuk Teori Hubungan Pemerintahan (governance relations). terus ke SKS. 2009).| | SKK di hulu via UU | | jakan & impl. | | | | 1 ningkatkan. Dengan memasukkan konsep stakeholder (Bab I Kybernologi dan Pembangunan. Di sana jelas. yaitu hubungan antara fihak Pemerintah (SKK.| | meredistribusi<-. Gambar 2 mengalami modifikasi (Gambar 3): ---------------------| NEGARA | | | SKK mengontrol SKS sbg konsti---dan memberdaya-----tuen mengontrol--| kan SKE via kebi.nya | | dan PERDA | 2 | | | | 3 | | petaruh. hasil evaluasi dijadikan masukan ke dalam Rute 6 melalui terminal SKK.SKE---------|-------->SKK----------|----->STAKEHOLDER----| ”pemain” | | | ”penonton” | | | | ”wasit” | | | | | | | | | | SKS sbg PELANGGAN | | | | | | | mengontrol SKK via | | pembangunan | | | | monev & feedback | | | | | | | di hilir | | | ---------|-|---------| | | | | | 5 | | | | membentuk.4 | | |---cipta nilai se-------nilai via pe| | | | cara berkelanlayanan civil & ----| | | | jutan pelayanan publik | | | | | | | | | | | | MASYARAKAT (PUBLIK) | | | | | | | -------melayani----------------pasar---------| | | | MANUSIA | | | ---------------------------feedback-----------------------------Gambar 4 Stakeholder Pemerintahan (Hubungan Pemerintahan Antara Pemerintah (SKK) dengan Yang Diperintah (SKE dan SKS) Via Rute 1. petarung | | | | | SKS “BANDAR” -----.feedback tidak terlihat pada Gambar 3 dan Gambar 4 melainkan pada Rute 6 Gambar 5 sebagai masukan buat Rute 3. dan 4 Gambar 3 menunjukkan Hubungan Pemerintahan. 3. masyarakat pemangku kekuasaan) dengan fihak Yang Diperintah . me| | memberdayakan. 2.

rute Nilai Berkelanjutan Untuk Hidup).SKS------------SKK-| | | | | | | | | redistribusi | | | | | | | | nilai via pe. angka 1 itu diletakkan pada rute Mandat (Gambar 5 pada rute 3). 3. | | jawaban etik | | | --lanjutan utk----pelay publik------menurut----| | hidup & pemberday etika otonom | | 1 masyarakat di hilir | | di tengah | | 4 | | | --------------------pemerintahan (governance)-------------------Gambar 5 Hubungan Pemerintahan Pemerintahan sebagai Sistem dan Proses Via Rute 1. 2. 2005. 5.| | pertanggung| | | | nilai berke| | lay civil.(SKE dan SKS). .SKK-------------. 4. demikian terus-menerus. 2 janji (kebi3 5 jakan/rencana mandat. Hubungan (rute) antar tiga terminal (dalam Gambar 2 terlihat empat) diperjelas (diurai) menjadi enam rute berkesinambungan. kembali ke 3. 4. sehingga rutenya menjadi 3. 4. Duabelas nilai dasar itu disebut Kepamongprajaan. misalnya untuk rezim yang sedang berjalan. sedangkan SKS adalah masyarakat dalam perannya selaku Pelanggan dan Konstituen. 6. 2. peneliti bebas menentukan rute awal penelitiannya dan menandainya dengan angka 1 (pada Gambar 4. Bagian Tiga Bab V dan Bab XIV Kybernologi Sebuah Scientific Enterprise.SKE-------------. 2006. 5 dan 6.-----tuntutan. Perda) | | via rute 1 | | otonom di hulu | | di hulu | | di hilir | | | | | | | | | | . hope) kinerja SKK ---nya) berda. 1. 106) tentang hubungan antara Janji (commitment) dengan Percaya (trust) dan Harapan (hope). Referensi: Bagian Pertama Bab 8 Kybernologi Beberapa Konstruksi Utama. Pemerintahan mengandung (bekerja pada) duabelas nilai dasar. Gambar 5 merupakan rekonstruksi Gambar 7-1 Kybernologi (2003. berlanjut ke 3.-----rute 2 & 4 --| sarkan etika | | (UU. kembali ke 2. 1. sehingga prosesnya berjalan dari 1 ke. SKE adalah masyarakat dalam perannya sebagai Pekerja. kuasa monev thd & penepatan(trust. Dengan argumentasi tertentu. 5 dan 6 Tetapi untuk rezim yang baru terpilih.

ia wajib memperhitungkan dan mengantisipasi apa yang harus.” dalam Kybernologi: Jurnal Ilmu Pemerintahan Baru. obsesi yg ditetapkan secara sistem nilai. ybs sarkan idea dan visi 4 3 IDEA-------------------------------------------->GOAL R7 | | 7 HARAPAN R6 | | R5 | 38 tahun R4 6 MISSION | R3 | | R2 5 MASALAH | | R1 | FAKTA SEKARANG-------------------------------------->VISION 1 tigapuluhdelapan tahun 2 kondisi yg takbisa apa yg terlihat bila diubah (takdir). To govern is to foresee). Bab I Kybernologi dan Pembangunan. Idea.Bab VI dan Bab VII Kybernologi Sebuah Metamorphosis. dan dapat terjadi minimal 20 tahun ke depan agar terjamin kesinambungan kinerja rezim yang berbeda-beda melalui rel atau runway yang sama. 2009 3 SESI DUA Nilai Satu VOORUITZIEN (lengkapnya Besturen is vooruit zien. edisi perdana Agustus 2007. Bab I. Visi. kendatipun masajabatan seseorang hanya lima tahun. lihat “TOR Talkshow Visi Indonesia 2045” dalam Kybernologi: Sebuah Profesi. Karakteristik Bangsa. keadaan berjalan menudan atau takbisa rut kondisi yg tak (sulit) berubah R = rezim berubah (fakta. dan Harapan (2008). Berdasarkan UU 25/04 dan UU 17/07. mengembalikan Jerman pada . Masalah. “Visi Indonesia. akan. kesadar dan formal berdaarifan masy. 2007. Obsesi para kanselir sebelum Helmut Köhl adalah mempersatukan Jerman. Gouverner c’est prevoir. dan masahidup. tidak hanya sebatas masa jabatan masakerja. 1) Gambar 6 Fakta. Lihat juga Bab II Kybernologi dan Pembangunan KE DEPAN tujuan jangka panjang cita-cita. Jerman dan Amerika dapat digunakan sebagai ilustrasi. Goal. Visi Bangsa Indonesia di tengah dunia yang sedang berubah. bandingkan dengan Dadang Solihin. 2008. Teori tentang visi. Mengamong adalah memandang (envision) sejauh mungkin ke depan. Misi. Diuraikan posisi Indonesia di tengah perubahan global dan bagaimana visi Bangsa Indonesia dahulu dan sekarang. dan Tantangan Ilmu Pemerintahan.

Alam juga demikian. terlihat dengan sangat jelas bahwa ditjen Kelompok A berfungsi sebagai fungsi lini pemerintahan yang memproses “Tunggal Ika. ada nubuatannya. Tetapi sebaiknya hal ini tidak diperdagangkan menjadi eforia bahwa Indonesia berhasil membentuk Obama (karena ia pernah sekolah di Menteng dan tinggal di Indonesia selama empat tahun.” sedangkan bangsa Indonesia semakin “separating. Tabel 2). ia mengutus angin dan kilat. Jika hal ini direnungkan. Jika difahami sungguh-sungguh dan arif. Kehadiran Obama dalam sejarah Amerika bertolakbelakang dengan Schröder. tidak mungkin terjadi adanya penggusuran paksa. ALLAH mengutus Nabi-NabiNYA untuk membawa firmanNYA. Maka Schröder-pun. kepemimpinan yang dibutuhkan Indonesia ke depan adalah kepemimpinan visioner jangka panjang dari kebangsaan ke kesebangsaan Indonesia melalui pengurangan kesenjangan vertikal antar lapisan masyarakat dan pengurangan kesenjangan horizontal antar daerah secara konsisten dan berkelanjutan sehingga pada suatu saat setiap orang berkesempatan menikmati hasil pengorbanannya (Bhinneka Tunggal Ika). pada pemilu berikutnya rezimnya tidak terpilih. dan popularitas. Ajaran ini juga didasarkan pada anggapan bahwa setiap perubahan berkesinambungan dan berkelanjutan. konon pula berkelahi memperebutkannya. ia hadir pada saat yang tepat. Visi dan Misi Departemen Dalam Negeri (Depdagri). dan meningkatkan kesejahteraan seluruh Jerman. Bila diperhatikan dengan saksama. yang dibutuhkan ke depan adalah merawat dan menjaga hasil yang telah dicapai. tetapi karena perannya dalam sejarah berbeda. ambruknya Amerika Serikat di bawah Bush dan krisis ekonomi global. tetapi bahwa bangsa Amerika telah berhasil “melting. Di samping kecerdasan.” sementara ditjen Kelompok B mengelola “keBhinnekaan” nusantara. karisma. bahkan lengkap dengan fotofoto segala) menjadi harapan Amerika. tidak ada yang mendadak. departemen yang secara khusus berperan menjalankan misi . sebab bangsa Jerman sadar bahwa obsesi berikutnya berbeda.” menuju “despairing. Ia dijuluki The Bismarck atau Bismarck II. menggantikannya. Köhl berhasil. Ia terpilih bukan karena kegagalan Köhl. demikian seterusnya. Misi Negara menjadi visi Depdagri. zaman sudah berubah. dalam sistem ketatanegaraan dan pemerintahan Indonesia.posisi terhormat di Eropah. membebaskannya dari bayang-bayang Amerika. seorang yang tidak dikenal secara luas. begitu hirarkinya.” Berdasarkan uraian di atas. Misi Depdagri diidentifikasi melalui fungsi lininya (line functions. atau penduduk yang tidak memiliki akte kelahiran. baik fenomena alam maupun fenomena KeTUHANAN. Kendatipun demikian. Dengan perkataan lain. Rezim yang terdahulu mewariskan jejak langkahnya kepada rezim yang kemudian. tidak akan ada bangunan liar. Ada tanda-tandanya.

namun yang bergerak di dalam wilayah kerja atau daerah (kota) yang sama. Dua syarat pembentukan harmoni adalah kapabilitas dan akseptabilitas.Tabel 2 FUNGSI LINI DEPARTEMEN DALAM NEGERI -------------------------------------------------------------------------------KELOMPOK A KELOMPOK B -------------------------------------------------------------------------------1 Ditjen Kesatuan Bangsa dan Politik 1 Ditjen Otonomi Daerah 2 Ditjen Pemerintahan Umum 3 Ditjen Administrasi Kependudukan 2 Ditjen Bina Pembangunan Daerah 3 Ditjen Pemberdaayaan Masyarakat Dan Desa 4 Ditjen Bina Administrasi Keuangan Daerah -------------------------------------------------------------------------------- Pemerintahan Indonesia yaitu mengelolaan keunikan tiap masyarakat menjadi kekuatan matarantai nusantara. adalah Departemen Dalam Negeri. nada” atau langkah sumbang senyaris (sekecil) apapun. dengan mengoreksi sedini dan setegas mungkin tiap “bunyi. oleh conductor. Referensi: Kybernologi dan Kepamongprajaan. memiliki pancaindera yang sensitif (peka) serta suasana hati yang cerah. sehingga “the people who get pains are the people who share gains. Mengamong adalah menciptakan harmoni antar kegiatan dengan instrumen yang berbeda dan dilakukan oleh aktor yang berlain-lainan. atau memandang sesuatu sebagai bagian integral (dalam kerangka) suatu kebulatan (keseluruhan). Konduktor harus menguasai skenario dan lagu. guna membangun kinerja bersama semua komponen yang berbeda-beda pada sebuah unitkerja.” dan memproses kesebangsaan guna mewujudkan Bhinneka Tunggal Ika. 2007. Fungsi conducting memerlukan dan membentuk sikap komprehensif: memandang totalitas (keseluruhan) dulu baru bagian-bagiannya. 4 SESI TIGA Nilai Dua CONDUCTING. mengurangi kesenjangan vertikal dan horizontal antar masyarakat secepatnya. Kesumbangan nada itu diketahui dari gap antara skenario pertunjukan dan lagu yang dimainkan. menyimak sambutan penonton (pelanggan). sehingga mampu merasakan kesumbangan senyaris apapun itu . Bab I Kybernologi Sebuah Profesi (2007). dengan nada atau bunyi sebagaimana terdengar oleh penonton dan terlebih konduktor. Bab II dan Bab XVII.

Ketika konduktor melakukan kewajibannya membentuk dan menjaga harmoni dengan menggunakan otoritasnya. tindakannya harus dapat diterima oleh para pemain (akseptabilitas). sehingga pada suatu saat. Konduktor akseptabel pada aras mikro manakala ia dapat dipercaya (tatkala ia memenuhi janjinya: menaati skenario dan lagu. dan pada aras makro bilamana ia sanggup menumbuhkan pengharapan dalam diri pendengar dan pemain tatkala walau lambat tapi pasti terjadi perbaikan terus-menerus: semakin berkurangnya kesenjangan vertikal antar lapisan masyarakat dan semakin berkurangnya kesenjangan horizontal antar daerah. Bab 16. Bab III. R < T------------------| | | | | monev | | | ? ---> R = T ---> ? | --------FEEDBACK-----------------. dalam wadah negara kesatuan (pot) terjadi melting antar tiap kekuatan yang selama ini mengklaim bahwa dia yang benar.(kapabilitas). Bab 11. mengindera bunyi dengan halus dan jelas. mungkin dengan kekerasan. Bab II. merespons penonton dengan penuh perhatian. R > T. dan Bab V Kybernologi Sebuah Metamorphosis (2008) . dan melakukan koreksi tanpa pandang bulu dan tidak memihak). conducting --------->INFO----------------------->PLAN (GOAL--->TARGET T)-| (HARMONY) | | | | | ---------------------------------------------| | | | | | orchestra organizing ORCHESTRA | | ----->HARMONY-------------------------->ORGANIZATION meet? match?--| for harmony keeping | | | | | | | | ---------------------------------------------| | | | | | | | ORCHESTRA performance | | | -->ORGANIZATION--------------------->EXPECTED RESULT (R)---| | best performance | | | | | ---------------------------------------------| | | | | | controlling | | --->EXP.? ---> R > T ---> ? <------? ---> R < T ---> ? Gambar 7 Fungsi Conducting (Sebuah Masyarakat Diibaratkan Sebuah Orkestra) Referensi: Bab 6. yang lain salah. RESULT---------------->R = T. dan Bab 19 Kybernologi (2003).

Di dalam ruangan sisa pegawai eselon pencatat dan pelapor. Jadi berkoordinasi itu tidak memerlukan biaya! Demikian pentingnya koordinasi ini sehingga sebagaimana halnya sebuah perguruan tinggi memiliki Kalender Akademik. Semakin independen hubungan antara unitkerja yang satu dengan unitkerja yang lain. Produk rapat koordinasi lemah (tidak mengikat. setiap wilayah seharusnya memiliki Kalender Pemerintahan yang meliputi jadual Koordinasi itu. proses divergent heterostasis proses convergent homeostasis BHINNEKA kesenjangan TUNGGAL IKA proses coordinating menjamin kinerja masing-masing proses conducting menjamin kinerja bersama GAMBAR 8 Hubungan Coordinating dengan Conducting di dalam Sistem. tukang parkir. sang pejabat ini “kabur” diikuti pejabat-pejabat lain. dan petugas catering. Mengamong adalah membangun komitment bersama antar unit kerja yang berbeda-beda dalam suatu wilayah. kembali ke Heterostasis. Gerak dari Kondisi Heterostasis ke Homeostasis. Sesungguhnya koordinasi tidak dapat diprojekkan. dan outputnya kesepakatan yang mengikat fihak-fihak (pejabat) yang berkoordinasi. dalam rangka mencapai kinerja masingmasing unit kerja secara optimal dalam rangka mencapai tujuan bersama secara keseluruhan. agar yang satu tidak merugikan tetapi mendukung yang lain. yang berkoordinasi haruslah pejabat-pejabat yang berwenang membuat kebijakan dan mengambil keputusan. sehingga koordinasi bisa berjalan tanpa koordinator. semakin diperlukan koordinasi. Koordinasi merupakan sebuah proses yang inputnya informasi. konsultan (pemborong). Koordinasi di Indonesia sangat. Jadi agar kesepakatan itu berkekuatan mengikat. dan tukang sapu. karena terpasang (inherent) di dalam setiap tugaskewajiban seseorang. amanat. sangat lemah. dan sebangsanya. Terus-menerus .5 SESI EMPAT Nilai Tiga COORDINATING. Kata kuncinya adalah berkoordinasi. melainkan sekedar laporan) karena biasanya setelah memperdengarkan keynote speech.

Tabel 3 Sikap Terhadap Sesama ----------------------------| I WANT YOU TO | |-----------------------------| | LOSE | WIN | -----------------------------------------------------------| | | LOSE | LOSE-LOSE 1| LOSE-WIN 2| | I WANT YOU TO |-------------------------------------------| | | WIN | WIN-LOSE 3| WIN-WIN 4| ----------------------------------------------------------- Perang seperti itu terjadi beradasarkan anggapan bahwa kedamaian bisa terbentuk melalui proses menang-kalah. tetapi justru mempersatukan jika semua fihak menjunjung tinggi sportivitas. lose-win). sebagaimana di zaman dahulu Kepaladesa diakui dan berperan sebagai Hakim Perdamaian Desa. sesungguhnya tidak menceraiberaikan. kalah-menang (win-lose. seperti proses pemilu di Indonesia.” Perbedaan dan konflik. atau kalah-kalah (lose-lose. Proses ini didorong oleh naluri primitif manusia yaitu pemenang berhak menguasai yang . Referensi: Bab 14 Kybernologi (2003).” dalam Fred W. keamanan. Mengamong adalah membangun kedamaian.Coordinating dengan conducting berkaitan erat. semakin diperlukan coordinating. “Exploring A Systems Approach to Development Administration. Jika semakin independen hubungan antara unitkerja yang satu dengan unitkerja yang lain. maka hubungan antara keduanya dapat digambarkan sebagai berikut (Gambar 8). kerukunan. Riggs (ed. kompetisi dan perlombaan. Katz.) Frontiers of Development Administration (1971) 6 SESI LIMA Nilai Empat PEACE-MAKING (PEACE-KEEPING). Tidak seperti ketertiban model “sapulidi. Saul M. kalau aku tidak. setiap komponen (unit kerja) merupakan bagian sebuah keseluruhan (sistem). kaupun tidak!). Karena menurut Teori Sistem. juga tidak menciptakan permusuhan sehingga terjadi perang semua lawan semua. dan ketertiban dari “akar rumput” (grass root) ke atas oleh Pamong (Pamongdesa) terbawah melalui kesepakatan (beslissing) konsisten terus-menerus dengan warga masyarakat (via peran Pamongpraja). maka semakin interdependen unit kerja satu dengan yang lain. semakin diperlukan conducting. pertaruhan dan pertarungan. Bab XVII Kybernologi dan Kepamongprajaan (2008).

kalah (spoil system), Tabel 3. Naluri ini mengubah perilaku manusia menjadi kanibalistik yaitu memangsa diri sendiri (sistem kanibalistik, lihat Bab IX
ORGANISASI (PARTAI POLITIK, dsb) | | melayani | membayar ---------MASYARAKAT<--------PEJABAT/PEGAWAI<--------NEGARA<-------| | | | | transaksi | | | | | | ---->membayar------| | | ----------------------------->membayar----------------------------Gambar 9 Masyarakat Membayar Berkali-kali (Sistem Kanibalistik)

Kybernologi Sebuah Charta Pembaharuan, 2007). Kanibalisme itu dalam polity dan birokrasi Indonesia, terlihat sah-sah saja (Gambar 9). “Kedamaian” yang diperoleh melalui proses kalah-menang ini menyisakan “duri dalam daging,” “api dalam sekam,” dan “air tenang namun penuh buaya ganas kelaparan.” Peace-making (dengan Manajemen Konflik) berarti: 1. Meneliti dan mengidentifikasi sejauh mungkin sumber ketidakdamaian di dalam diri manusia dan di dalam masyarakat 2. Mengidentifikasi dan mengantisipasi sedini mungkin setiap potensi konflik 3. Menyelesaikan sedini mungkin tiap konflik pada sumbernya 4. Tidak “menabung” “kesalahan” orang untuk dijadikan “peluru” guna “menembak” orang yang bersangkutan 5. Tidak menggunakan “kesalahan” orang lain untuk membenarkan diri sendiri (“Don’t take the example of other as an excuse for your wrongdoing,” bandingkan Effendi Gazali, Kompas 070509h06 tentang Kompas 220409 soal “jangan galak-galak”) 6. Tidak bersikap: “Kalo gue gak dapet, elu juga gak boleh dapet;” sikap ini bisa berakhir pada pelenyapan si “elu” 7. Tidak mengclaim kinerja bersama (bangsa) sebagai kinerja sendiri (parpol tertentu), hanya karena parpol atau koalisi parpol itu mayoritas di parlemen, sebab yang membiayai parlemen itu seluruh bangsa Upaya di atas dapat terjadi manakala pemimpin informal dan pemimpin formal suatu masyarakat berada sedekat mungkin dengan warga masyarakatnya. Sudah barang tentu yang dianggap kedekatan di sini tidak semata-mata kedekatan fisik tetapi lebih

sebagai kedekatan yang dapat diukur dengan jarak sosial (social distance), dan jarak kekuasaan (power distance) yang sedekat dan sedinamik mungkin. “Sedekat dan sedinamik mungkin” artinya tidak status quo, atau static equilibrium, melainkan interaksi antar tiga subkultur masyarakat (SKE, SKK, SKS) bergerak lancar dan sehat dari kondisi homeostasis ke kondisi heterostasis, kembali ke kondisi homeostasis, demikian terus-menerus (ref. Saul M. Katz, “Exploring A Systems Approach to Development Administration,” dalam Fred. W. Riggs, ed., Frontiers of Development Administration, 1970) . Selain itu, kedekatan yang dimaksud bukan hanya berbentuk simpati tetapi lebih dalam bentuk empati (ref. Bagian Kedua Bab XIV Kybernologi Beberapa Konstruksi Utama, 2005, tentang Verstehen). Untuk mempelajari latarbelakang dan penyebab ketidakdamaian (social unrest), dalam sesi ini perlu juga dibahas teori-teori proses sosial, seperti Teori Aksi-Reaksi, Teori Tantangan dan Jawaban (Challenge and Response), Teori Dialektika (ThesisAntithesis-Synthesis) yang salah satu bentuknya dalam kearifan sosial disebut “Mengail Di Air Keruh,” Teori Pertukaran Perilaku (Exchange Theories) dan sebagainya (ref. Margaret M. Paloma, Sosiologi Kontemporer, Bagian Satu, 1984). Membangun dan menjaga kedamaian ini diakui paling sulit, ibarat “meniti buih.” Namun walaupun sukar, buahnya amat manis. Menurut pengalaman nonekmoyang, “Kalau pandai meniti buih, selamat badan ke seberang,” disertai peringatan: “Sepandai-pandai tupai meloncat, sesekali terpeleset jua!” Referensi: Bab 18 Kybernologi (2003), Bab III Kybernologi dan Pengharapan (2009), dan bab-bab lain yang relevan. 7 SESI ENAM Nilai Lima RESIDUE-CARING. Mengamong adalah mengurus (sesuatu yang dianggap) sampah, golput, sepah, bengkalaian, pecundang, buangan, cemaran, atau sisa-sisa, kendatipun orang lain yang berpesta. Mengamong adalah mengurus apa saja, baik urusan yang tidak/belum termasuk tupoksi unitkerja manapun, maupun urusan yang tak satu unitkerjapun bersedia mengurusnya karena tidak menguntungkan bahkan merugikannya. Pengurusannya harus sesegera mungkin, karena semakin cepat dan tidak menentu perubahan, semakin banyak produksi sampah. Mengamong adalah memberikan perhatian yang sama dan sepadan kepada semua fihak, baik yang dianggap berkesalahan (buruk, jelek), maupun yang dipandang tidak berkesalahan (benar, baik) baik yang merasa dirugikan, ataupun fihak yang merasa diuntungkan, sebagai akibat suatu kebijakan, keputusan, atau tindakan pemerintahan. Dasarnya adalah kearifan lokal “Datang tampak muka, pergi

tampak punggung,” “Berjalan sampai ke batas, berlayar sampai ke pulau.” Bekerja sampai tuntas! Tidak boleh ada urusan yang berjalan setengah, atau persoalan yang tidak berjawab. Dianggap orang sudah hilang ditelan zaman, tau-tau suatu saat meledak! Ajaran ini adalah pengembangan (modifikasi) Teori Sisa (Residue Theory) yang digunakan di zaman Belanda dulu. Teori Pelayanan, Teori Pemberdayaan, dan Etika Pemerintahan, merupakan pelajaran dasar nilai ini. Landasan konstitusionalnya Pasal 27 dan 34 UUD 1945. Tindakan walikota memerintahkan Polisi Pamong Praja untuk menghalau para pedagang K5 dan mengusir para penghuni bangunan liar yang dianggap membangkang, dalam rangka menegakkan Perda tentang K3, dapat dibenarkan. Tetapi jika dengan penghalauan dan pengusiran itu pedagang K5 dan warga liar itu dalam waktu lama kehilangan pekerjaan, tiada tempat bernaung, anak-anaknya terlantar dan putus sekolah, masuk kolong jembatan, menjadi sampah masyarakat, maka Walikota dapat dituduh melanggar konstitusi. Referensi: Bab III Kybernologi Sebuah Rekonstruksi Ilmu Pemerintahan (2005), Kybernologi Sebuah Metamorphosis (2008), Bab 2, Bab 3, dan Bab 5, serta tulisan lain yang relevan 8 SESI TUJUH Nilai Enam TURBULENCE-SERVING. Mengamong adalah mengantisipasi dan melayani dalam arti memberdayakan, melindungi dan menyelamatkan manusia dan lingkungannya, bangsa dan negara, terhadap segala sesuatu yang sifatnya oleh manusia dianggap mendadak, berdayahancur besar, tiba-tiba, di luar perhitungan, tak disangka-sangka, force majeure, baik sebagai akibat perilaku alam, dampak kebijakan publik yang keliru ternyata, maupun perilaku masyarakat. Pengamongan didasarkan pada anggapan bahwa WAKTU SAMA DENGAN NOL. Anggapan ini sesuai dengan kearifan sehari-hari berbunyi “Sediakan Payung Sebelum Hujan,” “Lebih baik mencegah daripada mengobati.” Jika terjadi kebakaran, tidak ada waktu untuk memperlebar jalan agar Tanki Pemadam Kebakaran bisa lewat dan masuk, tidak ada
MANAJEMEN NORMAL (MN) MANAJEMEN TURBULENTIA (MT) --> -------------------- membentuk----> --------------------------| LONG-TERM-BASED (LTB) ZERO-TIME-BASED (ZTB) | | | | | | | -------------------------- FEEDBACK (FB)--------------------------Gambar 10 Manajemen Nasional Amfibia Serbacuaca (MANAS)

waktu untuk mencari sumber air atau merancang pelatihan. Seharusnya langsung bertindak dan berhasil. Kerangka pemikirannya sebagaiberikut (Gambar 10) dan hipotesisnya berbunyi: “MANAS = Manajemen Normal Yang Berhasil Diarahkan Pada (Membentuk) Manajemen Turbulentia, dan Manajemen Turbulentia yang Berhasil Memberikan Feedback Pada Manajemen Normal” terus-menerus. Pengujian hipotesis itu terlihat pada Gambar 11.
QUALITY ZTB 4-------------------------------------------4 M | | | A | | | N | | | A | | | J 3--------------------------------3----------| E | | | | M | | | | E | | | | N | | | | 2---------------------2----------|----------| T | | | | | U | | | | | R | | | | | B | | | | | U 1----------1----------|----------|----------| L | | | | | E | | | | | N | | | | | T | | | | | I LTB --------1----------2----------3----------4-A----> 0 M A N A J E M E N N O R M A L
Gambar 11 Manajemen Normal Berkemampuan Manajemen Turbulentia

TIME

Gambar 11 menunjukkan bahwa semakin lama kualitas (kapasitas) manajemen normal semakin tinggi sehingga pada akhir LTB turbulentia dapat dihadapi dengan ZTB action. Dalam banyak hal, “payung” itu seharusnya disediakan oleh pemerintah (SKK). Hak dan wewenang membawa (menimbulkan) kewajiban. Beberapa tahun yang lalu, masyarakat digemparkan oleh berita media tentang longsornya sebuah tambang galian pasir di sebuah daerah di Jawa Barat. Puluhan penambang tewas.

lalai melakukan kewajibannya. bertaburan di seluruh seri Kybernologi mulai dari Bab V Beberapa Konstruksi Utama (2005). Bab 7 Kybernologi Metamorphosis (2008). sampai pada pustaka Manajemen Bencana (Disaster Management). batu. Mengamong adalah menunjukkan keberanian untuk melakukan turbulence serving di atas. Di sana tidak tercantum perlindungan terhadap penambang. Dalam hubungan itu semua. 9 SESI DELAPAN Nilai Tujuh FREIES ERMESSEN. Bab 10 Kybernologi Kepamongprajaan (2008). Bab 10 Kybernologi Scientific Movement (2007). dan dari berbagai segi. disebabkan oleh kelalaian pemerintah dan masyarakat membaca peringatan dari Ilmu Sifat Barang tentang metal fatigue (kejenuhan metal) dan engineering life (masa layakpakai) setiap teknologi. dan sanksi buat pemegang izin bila tidak memenuhi kewajibannya. jebolnya Situ Gintung Tangerang Selatan dinihari Jumat tgl 270309. Tetapi di Indonesia yang masih menganut pendekatan hukum positif (tiada aturan hukum = tiada pelanggaran dan kejahatan). Ini berkaitan dengan Nilai Satu. terlebih mengingat kesadaran hukum yang rendah dan budaya hukum . jika perlu (tiada pilihan lain) diluar batas aturan yang ada. dan tanah. atau sepanjang tidak dilarang secara tegas dalam aturan perundangan. Di negara hukum yang menganut pendekatan progressif. sehingga perkara yang seharusnya dapat diantisipasi. Perda tentang retribusi hanya berisi prosedur permohonan izin. Freies Ermessen berbeda dengan diskresi yang memberikan keleluasaan bertindak bagi pejabat dalam batas aturan yang berlaku. Tidak ada yang sempurna di dunia ini. misalnya Jerman. terasanya mendadak atau di luar kemampuan. Buahnya malapetaka! Banyak sekali referensi pokok bahasan ini. untuk dipertanggungjawabkan kemudian kepada semua fihak. Meledaknya pipa Pertamina beberapa waktu yang lalu di seputar Lapindo. berdasarkan keputusan batin yang dipilih secara bebas. tarif. Manusia buat kelalaian dan suka lupa. kewajiban pemda untuk mengontrol penambangan agar tidak berbahaya. material dan barang. ajaran ini tidak digunakan lagi. mengamong berarti menyelenggarakan pemerintahan dalam kondisi serbacuaca (all weather governance). Keputusan dan tindakan Fries Ermessen diambil atas inisiatif sendiri. dan tidak ada sanksi bagi pemda bila wanprestatie. dan siap menanggung segala risikonya secara pribadi (tanpa kambing hitam). merupakan sumber PAD kategori retribusi izin Galian-C. Sudah barang tentu fihak plat merah angkat bahu.Penambangan pasir.

watak. kemahiran. Untuk itu. Kreativitas merupakan lahan subur untuk menumbuhkembangkan Seni Pemerintahan: kepandaian (art. Utrecht. Etika Pemerintahan. ajaran Fries Ermessen masih diperlukan. kekhususan (uniqueness) suatu masyarakat. noodverordeaturan hukum aturan hukum noodverordeningsrecht positif positif ningsrecht | | | | | | | | | tanggungjawab | | tanggungjawab | | pribadi | | pribadi | |<--------------|----FREIES ERMESSEN----|-------------->| | berdasarkan | | dasarkankan | | etika otonom | | etika otonom | | | | | | |<-------DISKRESI------>| | | | | | ------------------------------------------------------Gambar 12 Freies Ermessen dan Diskresi Nilai ini erat berkaitan dengan Politik Pemerintahan. tumbuh kreativitas. sebagai prasyarat untuk membangun Teknologi Pemerintahan . skill. Mengamong adalah (belajar untuk) mengetahui sedikit demi sedikit tentang semakin banyak (luas) hal (to know less and less about more and more.yang lemah. dan Teori Kedaulatan. Apakah Pak Harto juga tahun 1965 dan berikutnya? Yang jelas Mahasiswa tahun 1998 merobohkan pemerintahan yang sah. mengamong berarti berupaya untuk semakin mengenal kualitas. berpengetahuan mendalam) guna mengidentifikasi perbedaan senyaris apapun antar masyarakat yang satu dengan masyarakat yang lain. tumbuh ketelitian. 10 SESI SEMBILAN Nilai Delapan GENERALIST AND SPECIALIST FUNCTION. E. craft) menjawab suatu masalah dengan alat atau cara yang berbeda pula. Pengantar Dalam Hukum Indonesia (1959: 441. Referensi: Bayu Surianingrat. dan presisi. Mengamong juga adalah (belajar untuk) mengetahui semakin banyak (dalam) tentang semakin sedikit hal (to know more and more about less and less. 460). Dengan pengetahuan dan pengalaman yang luas. berpengetahuan luas) guna mengidentifikasi dan membangun kebersamaan (tunggal ika) antar masyarakat yang berbeda-beda. Mengenal Ilmu Pemerintahan (1980). Hukum Pemerintahan (khususnya Hukum Darurat/Bahaya). innovativeness. Dengan keahlian yang dalam. Bab III Kybernologi Sebuah Charta Pembaharuan (2007). Bung Karno menggunakannya tgl 5 Juli 1959 (noodverordeningsrecht).

Gambar 13. kepada para pelanggan produk-produk Negara. pelaksanaan tugas (perintah. dan sumpah-sebagai-bukti. bahwa berbagai ilmu pengetahuan yang bertalian dengan salah satu bagian dari penguasaan (beheer) perusahaan partikelir pada akhirnya bermuara pada suatu ajaran perusahaan umum (algemene bedrijfsleer) yang meliputi kesemuanya dan bahwa ajaran tentang penguasaan perusahaan-perusahaan partikelir ini setidaktidaknya untuk sebagian merupakan syarat bagi adanya ilmu pengetahuan yang lebih tinggi daripadanya. . amanat. sumpah dan janji jabatan atau profesi (kontraktual). terakhir di kota B. selfcommitment (janji kepada diri sendiri. Tentang hal ini. tiga. Spiro dalam Responsibility in Government (1969). dan jika jawaban tidak dipercaya. tanggungjawab diartikan sebagai accountability. tindakan yang ditempuh berdasarkan Freies Ermessen. namun karena daerah A belum mengenalnya dengan baik. 11 SESI SEPULUH Nilai Sembilan RESPONSIBILITY. sementara di kota B pesaingnya banyak. Seorang yang berasal dari daerah A sejak kecil tinggal mencari nafkah dan bergaul dengan banyak orang di berbagai kota. Pertanggungjawaban dapat diterangkan melalui Teori Tanggungjawab yang dikembangkan dari Teori Tanggungjawab Herbert J. . Mempertanggungjawabkan artinya menjawab (menerangkan) secara terbuka segala sesuatu yang menimbulkan pertanyaan pelanggan. van Poelje dalam Pengantar Umum Ilmu Pemerintahan (1959) menyatakan: . . mandat). Menurut Spiro. Tanggungjawab sebagai accountability adalah . yang bersangkutan menanggung sendiri segala akibat dan risikonya. seorang pamong siap ditempatkan di mana saja dan mampu mengerjakan tugas apa saja yang telah didalaminya. dan empat. Pada tahun 2008 ia ingin dicaleg untuk dapil A. Gambar 1 di atas menunjukkan hubungan antara fungsi generalist dengan fungsi specialist tersebut. ialah Ilmu Pemerintahan dengan Kepamongprajaan sebagai salah satu bentuk Aksiologinya. . Lihat Bab 19 dan Bab 30 Kybernologi (2003). yang agar mengikat perlu disaksikan). obligation. Nilai ini mengandung implikasi politik. daerah kelahirannya. dan cause. Oleh pengetahuan dan pengalaman yang luas dan dalam itu. Mengamong adalah mempertanggungjawabkan kepada pelanggan (bukan hanya atasan!): satu. nazar. . tidak ada “kendaraan” yang mengusungnya. dua. Kepamongprajaan sebagai superstruktur profesi pemerintahan melalui pendekatan lintas sektoral bermula pada visi untuk membentuk tenaga-tenaga pemerintahan yang berkualitas kepamongprajaan.yang tepat. pengakuan.

yang dianut oleh pelaku tanpa terikat dengan fihak lain. Yang dimaksud dengan etika di sini adalah etika otonom.| | | |------>TRANSFOR. Yang digunakan dalam Kybernologi adalah pertanggungjawaban etik. PRICE -----|--. Pertanggungjawaban seorang yang bersumpah tanpa diperintah (jadi bukan disumpah melainkan lahir dari dalam hatinuraninya sendiri) .| memikul re. lepas | ward & pu| | | | dari sebab akibat | nishment | | KONDISI FREIES ERMESSEN | | | | PERUBAHAN VOLITION. Tanggungjawab sebagai obligation memiliki tiga dimensi. dimodifikasi dan dikembangkan Tanggungjawab sebagai cause adalah sesuatu yang mendorong atau menggerakkan seseorang untuk bertindak. ----> ACTION -------|-> ACCOUNTABILITY --|-------------| MANDAT (KKM) | | | | | | | | | | | | | | KKM. formal atau informal. dan kesediaan memikul risiko. | | |------>KEBIJAKAN. 1969. -------------------| | ------>DASAR | RESPONSIBILITY | | | | | KEKUASAAN. kewajiban menepati janji (lepas dari sebab dan akibat). yang disebut rasa atau kesadaran akan tanggungjawab dengan kesediaan untuk menanggung risiko atau akibatnya.| | | | gungjawab.----WILL (CHOICE)----|-> CAUSE -----------|--> ACTION ---| | MASI LINGDISCRETION | | | | KUNGAN CONSCIENCE | | | | | | | | | | | | | punishment | BERHASIL | -------HOPE <---------. Spiro. yaitu berjanji (bersumpah. FREE. struktural atau fungsional.ATAU <---| reward | GAGAL | | --------------------- *lepas dari tinggi atau rendah.” status membawa kewajiban Gambar 13 Konstruksi Teori Tanggungjawab: Teori Herbert J. “noblesse oblige.RISK.TRUST --------|-. CITRA | | | |------>JANJI ---------> ACTION -------|-> OBLIGATION ------|--> ACTION ---| | POSISI* penepatan janji | kewajiban bertang.perhitungan atas pelaksanaan perintah kepada pemberi perintah.

--------dan terbuka ko & konsekuensi ditanggung sendiri Gambar 14 Etika Pemerintahan (1 sd 11 Terminal) . satu di antara 11 terminal. kebebas. Keputusan etik diambil berdasarkan diskusi dan kebersepakatan antar norma yang tertanam di dalam hatinurani pelaku sendiri.| | yg-wajib hidup as. risi. kesepa. Misalnya hukum sistem antri “First come.sumpah bernazar | perjanpengakuan membayar tebusan | jian credo kesediaan berkorban | commitment selfmengaku bersalah | | commitment mengundurkandiri dari jabatan | | | mengasingkandiri | | agar mengimenyakitidiri | | kat. jelas nurani an memilih. Pada saat antri sebagai nomor 6 sementara tiket sisa 5. perlu bersumpah | | disaksikan mengorbankandiri | | | bunuhdiri | ------------| | dikontrol | | ----dibandingkan---| kesenjangan ditedievaluasi *dinyatakan | rangkan setulus & | secara otonom --sejujurnya.nerangi dlm kalbu. kesediaan | | memikul sanksi etik | | | | 10 9 8 7 | | 11 pertanggungperilaku tindakan keputusan | ----etikalitas<----------jawaban<-------etik<------etik<-----------etik<-------| etik | | | | | | | menaati kadar | --kinerjaberprakarsa keetikan sanksi etik* | berjanji | | | | | ------------merasa malu | | | merasa bersalah | pada pada menyesal | orang diri mohon maaf | lain sendiri mohon ampun | | | janji bertobat | | nazar.| | katan. walaupun merugikan diri sendiri. Keputusan etik diwarnai dengan keteguhan hati (disiplin) pelaku memegangnya. --1 2 3 4 5 6 ----->apakah------>kualitas--->nilai--->norma--->kesadaran----->pertimbangan---| etika? dasar etik etik etik etik etik otonom | | etika otonom | | | | | | | etika heteronom yg-benar guna tertanam norma me.diskusi antar norma | | yg-baik dlm kuat. first serve” oleh si A dipegang sebagai norma etik perilakunya. Gambar 14 menunjukkan bahwa pertanggungjawaban etik itu terletak pada Terminal 10. seseorang (B) di depannya yang kebetulan menoleh. lu.itulah pertanggungjawaban etik otonom. Terminal 6 menunjukkan perbedaan antara keputusan etik dengan keputusan bukanetik. sedangkan keputusan bukan-etik diambil berdasarkan kebersepakatan masyarakat di sekitar pelaku.

Mengamong adalah mengonstruksi pikiran besar. rerambu nalar sehat. Adakalanya seperangkat buah pikiran terlihat melawan arus. Perbuatan Besar. Bab III dan Bab IV Kybernologi dan Pengharapan (2009) 12 SESI SEBELAS Nilai Sepuluh MAGNANIMOUS-THINKING. Sebab bila ia maju. Berpikir menurut hukum logika. terkadang baru diakui “besarnya” kemudian. atau buah hati yang “ada uang abang disayang.WISDOM. dan Sejarah Melalui Delapan Terminal . Berbeda dengan buah tangan yang dapat dinikmati sekejap. sebelum ia diakui besar dan menjadi sejarah. Begitu dia mendapat tiket dengan cara demikian.” buah pikiran dapat diwariskan dan menjadi pelajaran bagi generasi ribuan tahun yang akan datang. walaupun menguntungkannya. pemi. berbeda dengan “pikiran besar” yang sudah ada. sosialmarpolicy policy imple-->ERGO----------->BUAH ----------->NILAI-------->POLICY-------->POLICY---------------| SUM kiran PIKIRAN isasi 3 keting AGENDA making 5 mentation | | 1 2 4 | | | | | | | | 6 | | 8 belajar dari 7 monitoring PERBUATAN scientific movement | ---FEEDBACK<---------------SEJARAH<-------------------BESAR<--------------------------sejarah evaluation scientific enterprise Gambar 15 Dari Buah Pikiran. Alinea keempat Pembukaan UUD tentang kecerdasan merupakan landasan konstitusional nilai ini. Buah pikiran seperti itu. Jauh liku yang (harus) ditempuh oleh sebuah pikiran. pikiran yang memiliki kekuatan menerobos zaman. Bhinneka Tunggal Ika merupakan sebuah pikiran besar. tetapi sejak diundangkan menjadi PP 66/51. Nilai ini berkaitan erat dengan Nilai Satu di atas. ia sudah mulai jadi pecundang! Lihat Bab 8 Kybernologi (2003). tanpa uang abang melayang. Berpikir besar identik dengan berfilsafat. selain sistem terganggu. Tetapi si A tidak mau. norma etik di dalam hatinuraninya jadi rusak. yang terbentuk berdasarkan kemerdekaan berfikir dan kemerdekaan mengeluarkan buah pikiran (Pasal 28 UUD 1945). COGITO. tidak pernah diajarkan dan tidak dibudayakan menjadi pola perilaku bangsa.rupanya mahasiswanya ---. Oleh sebab itu dibenci dan tidak laku. mempersilakannya untuk maju dan pasti dapat tiket. bila tahan banting. Bab II dan Bab III Kybernologi Sebuah Metamorphosis (2008).

buah pikiran sebesar apapun. katakanlah terdiri dari 10 sub-Y. membangun kebersamaan melalui perilaku etik & emik. P P P turun secara pribadi (personally) serendah mungkin dari posisinya. ia tdk populer di kalangan politisi dan birokrasi. Lihat Filsafat Pemerintahan. 13 SESI DUABELAS Nilai Sebelas OMNIPRESENCE.Pada aras mikro.” barulah semakin terasa olehnya betapa satu dengan yang lain berbeda-beda. di sana papa dan hina. menempatkan diri seutuhnya setara dgn kondisi Y dgn tulus. antara pemerintah (P) dengan yang diperintah (Y) adalah salingpengertian. tidak berguna. prilaku & perkataan Y sebagaimana adanya begitu keluar dari Y tanpa dipengaruhi oleh P. maka jika waktu yg digunakan P utk berbicara 10 menit. Tanpa pengajaran dan pembudayaan. sehingga oleh Y ia diterima sebagai seorang sesama di antara mereka. dan merasakan apa yang “kita” rasakan. berbuka diri mengamati. bahkan oleh parpol ia dituduh pengkhianat. Satu-satunya jembatan antar budaya dan antar frame-of-reference (FOR) yang berlainan. 99% rakyat ada di didepannya dan sejarah bertinta emas terbentang di belakangnya. sambil merekam. ialah Nelson Mandela Y Gambar 16 Membentuk (Membangun) Pengertian Yang Empatik (Saling-mengerti) = Y . membangun rapport.” Ia melihat apa yang “kita” lihat. temuan-temuan akademik (invensi) harus dijadikan masukan bagi pembuatan kebijakan publik guna melahirkan inovasi (Bab XI Kybernologi dan Pengharapan. Mengamong berarti tidak memosisikan diri sebagai pangreh. waktu yg harus disediakannya utk mendengar. mendengar & merekam isyarat. tetapi terasa hadir di mana-mana dan kapan saja sebagai bagian dari dan sama dengan “kita. emik & etik. P melawan arus? Ya. 2009). kotor dan sampah “kita” terlihat olehnya. Tetapi percayalah. belum terhitung waktu yang diperlukannya untuk bersosialisasi. Semakin tinggi dan asing pemerintah memosisikan dirinya. 10 x 10 = 100 menit. mengamati & merekam amatannya. tidak hanya membangun citra (image building) pemerintahan tetapi merendahkan hati sedemikian rupa sehingga pemerintah itu tidak terlihat sebagai sesuatu yang jauh dan yang asing. semakin samar. ada yang terbuang dan terinjak. di sini nestapa dan melarat. semakin mendarat ia bersama “kita. seragam. Ialah Semar. Bab 20 Kybernologi (2003). Mengingat Y heterogen. ada yang mandi uang bergelimang dosa.

Verstehen adalah “empathic understanding or an ability to reproduce in one’s own mind the feelings. Konsep empati tidak terpisahkan dengan konsep pengertian (understanding).Pengertian dan saling-mengerti. intention. sedangkan pakaiannya sendiri bersih. 14 SESI TIGABELAS Nilai Duabelas DISTINGUISHED STATESMANSHIP. Salah satu bentuk understanding adalah empathic understanding yang dalam bahasa Jerman disebut Verstehen. mantan | | -------PIN IN. motivation. dan bau keringat. rapi dan wangi. and thoughts behind the action of others.” demikian Schwandt. Iapun menandai orang-orang tersebut sebagai warga masyarakat tertinggal dan diberi definisi seperti di atas.” berkepeberkepemimpinan terpilih mimpinan MASA JA--->MASYARAKAT---------->PEMIMPIN----------->KEPALA----------->BATAN------| informal tersaring formal & BERAKHIR | | informal | | | | | | PEMIMtidak terpilih (lagi). seorang pejabat atau peneliti bisa saja mengaku bahwa ia mengerti kondisi atau kualitas suatu masyarakat dengan memandang pakaian orang yang lalulalang: ada sejumlah orang yang berpakaian kotor. motives. “It (Verstehen) must mean an act of sympathetic imagination or empathic identification on the part of inquirers that allowed them to grasp the psychological state (i. belief. Mengamong berarti “exhibits great wisdom and ability in dealing with important public issues. Salah satu cara yang dikenal dalam metodologi adalah pembentukan pengertian dan pencapaian saling-mengerti melalui empati (empathy. cepat atau lambat dapat terbentuk dan tercapai melalui pelbagai cara di dalam masyarakat. or the like) of an individual actor.e. lusuh. bukan emphaty). Bisa saja peneliti bermaksud mengenal seorang aktor dengan motif ketertarikan (sympathetic imagination) dan bukan karena ingin mengenalnya sebagaimana adanya.<-------------------------------| | | FORMAL kembali ke dalam masyarakat | | | | | | | | | | | | ----------------| referensi |--------| | | | | | | PEMIMPIN rezim lain yang terpilih | -------FORMAL <--------------------------------naik ke singgasana kekuasaan Gambar 17 Proses Kepemimpinan .” Dengan menggunakan FOR-nya. Menurut Max Weber.

karena ia telah berjanji kepada dirinya sendiri dan kepada masyarakat. bukan dari partai tetapi dari seluruh bangsanya. ia mendapat pengawalan. membuat sejarah (history making) melalui perbuatan besar. maupun antar Timur. menggunakan Etika Otonom dan bukan Etika Heteronom (Bagian Dua Bab X Kybernologi Sebuah Scientific Enterprise. fihak yang takterpilih kembali menjadi controlling reference jangka panjang (Gambar 17). walaupun di masa itu belum didefinisikan dan belum diprogramkan. Pidato Sambutan Forum American Association of the Collegiate Schools of Business. memaknai uang bukan solusi tetapi beban (karena harus dipertanggungjawabkan). walaupun ia menggunakan kendaraan umum dan mengenakan kaus oblong. Bahan ajaran untuk sesi ini terdapat dalam berbagai sumber. sebab cuti itu hanya akalakalan. sehingga buah pikiran besar pamong praja Indonesia – yaitu mereka yang memiliki kualitas kepamongprajaan – tahun 2009 mempengaruhi perjalanan sejarah Indonesia di tengah-tengah dunia beratus-ratus tahun kemudian: “Her citizens. karena tindakan apapun yang dilakukannya telah mendapat imbalan dari negara dan masyarakat. karena selama menjabat ia digaji dan mendapat fasilitas serta kehormatan.Mengamong juga berarti memosisikan diri di atas semua kepentingan partial. imperial spirit. Berbeda dengan perang. walau cuti sekalipun. Merayakan saat pengembalian (penyerahan) jabatan (mandat) ketimbang saat memangku jabatan (pelantikan). Kini saatnya untuk mencerahkan dan membangkitkannya. Dengan kualitas itu---kenegarawanan--kepamongprajaan berarti kemampuan melahirkan pikiran besar. 1927). Bab I dan Bab III Kybernologi dan Pengharapan (2009). Seorang negarawan tidak mengclaim kinerjanya sebagai kinerja partai yang mengusung atau didukungnya. pemilu bukan menang kalah tetapi terpilih atau tidak terpilih. dan Tengah. . Pada sesi ini. Seorang statesman tidak pernah merasa berjasa. Selama masa jabatannya. Pada saat seorang pejabat yang sedang cuti kampanye. menyatakan secara terbuka pengunduran diri dari “kendaraan yang mengusungnya” begitu terpilih menjadi pejabat publik. bagi rezim terpilih lima tahunan. Tetapi sebaliknya ia selalu merasa berhutang. kepamongprajaan dilihat sebagai fungsi yang dibutuhkan pada tingkat regional dan global. dan ia berusaha menepatinya. Bab V Kybernologi Sebuah Metamorphosis (2008). terutama Badan Diklat Depdagri sendiri. seorang negarawan tidak melakukan perbuatan yang menguntungkan hanya satu fihak. Barat. Wawasan Kepamongprajaan sebagai kenegarawanan mengemuka di masa STPDN. pengaruhnya tetap terasa. serta memikul sendiri tanggungjawabnya. 2006). perlindungan dan perlakuan sebagai seorang pejabat. Kepamongprajaan di sini terlihat sebagai kualitas yang mampu melahirkan buah pikiran besar. roh zaman. rule the present from the past” (Alfred North Whitehead. baik antara Utara dengan Selatan.

. Di Indonesia biasanya norma di-“tegakkan” dengan sikap “benar.15 SESI EMPATBELAS Apakah Kepamongprajaan? Dalam GBPP di atas Kepamongprajaan didefinisikan nilai dasar pemerintahan (governance). OP dan OC dimonev. perilaku ditimbang disepakati -->ENTITAS-------->KUALITAS--------->NILAI-------------->NORMA | bisa dipaksakan (N) | | | | | dipatuhi disakraldirekon| |---. Opsi 1. dan Opsi 3 (BON* = Ideologi. Siapa Jagonya? . dan apapun hasil analisisnya. jika perilaku suatu entitas diamati. **Monev Direkayasa) Opsi 3.? <------------DOGMA<-----------BON*<---------------1-| | mutlak isasi struksi | | | | | | feedback N<H monev oleh ditegakkan | |-----------.” sehingga OP dan atau OC tidak dipercaya atau jauh dari harapan (Gambar 18). bandingkan dengan rekonstruksi pengetahuan menjadi BOK.” apa yang terjadi? Jika norma ditegakkan (digunakan). tetapi yang dilakukan lain. . Kalau dogma dipatuhi “tanpa reserve.? <-----------“HASIL”<-------------3pembenaran penguasa** dipermainkan Gambar 18 Kepamongprajaan Menurut Teori Nilai: Tiga Opsi.? <------------. . dan ideologi yang disakralisasi.” “yang diucapkan atau ditulis begini.” atau “itu kan teori. Sesuai dengan Teori Nilai. Gambar 15) disebut ideologi. terlihat satu atau lebih kualitas. menjadi dogma.” “baik. Jika kualitas entitas tersebut dalam ruang pemerintahan ditimbang. tapi. hasil rekonstruksi norma. . berkekuatan mengikat. dijadikan feedback buat entitas yang bersangkutan (lihat Gambar 16). hasilnya adalah duabelas nilai dasar pemerintahan. Norma bersifat formal. tapi. terlihat output (OP) atau outcome (OC).? <-----N=H<------------HASIL---------------2-| | N>H pelanggan (H) | | | | | | dibenarkan monev oleh “ditegakkan” | ---. Body-of-norms (BON. . . Nilai yang disepakati menjadi norma. . Opsi 2.

nama suatu entitas. mahasiswa IPDN disebut Praja. mulai dari Ketua Rukun Tetangga sampai dengan Kepala Desa/Kelurahan dan perangkatnya Tingkat Menengah: Pamong Praja. bertujuan a. Membentuk kader-kader Pamongpraja yang dibutuhkan mendesak oleh Depdagri dan Pemda b. mulai dari Kepala Lembaga Negara. Norma dapat dilembagakan menjadi sebuah unitkerja . lulusan IPDN Pamong Praja Muda 2 Kualitas. Profesi Kepamongprajaan meliputi penerapan Kepamongprajaan sebagai norma melalui kebijakan publik di dalam praktik pemerintahan. Menteri. Agar berkekuatan mengikat. secara periodik harus dilakukan monev dan pembaharuan norma 5 Fungsi. Membangun Kepamongprajaan sebagai sistem nilai dasar pemerintahan c. Program Program Strata dan Program Profesional. Setiap kualitas ditimbang guna melihat. Kekuatan itu adalah fungsi yang dapat dicharge di dalam sistem penyelenggaraan pemerintahan (di) daerah. Sekarang kekuatan itu dicharge dalam diri gubernur provinsi. lokal.Dalam hubungan ini. dengan perangkatnya masing-masing Tingkat Tinggi: Pamong Bangsa/Negara. sampai pada tingkat rukun tetangga menunjukkan 12 kualitas kepamongprajaan 3 Nilai. sampai pada Presiden di pucuknya. mulai dari Camat. dan Diklat Kepamongprajaan guna membentuk kader-kader tenaga berkualitas Kepamongprajaan yang disebut Pamongpraja (Perpres 1/09) 9 Pendidikan Kepamongprajaan. di Indonesia (sebaiknya) kepamongprajaan dijadikan dan digunakan sebagai: 1 Identitas. Aparat penegak perda: Polisi Pamong Praja. sejauh mana kualitas memenuhi kebutuhan manusia dan masyarakat 4 Norma. suatu tingkat nilai pada suatu saat disepakati sebagai norma yang harus diindahkan dan ditegakkan oleh semua fihak. Mengingat perubahan eksternal dan internal. Mengapa tidak di dalam diri kepala daerah? 6 Lembaga. Kepala Daerah. Diperlukan kekuatan pengikat kebhinnekaan menjadi tunggal ika. Dahulu. dengan perangkat masing-masing 8 Profesi. Merekonstruksi terus-menerus Ilmu Pemerintahan Baru (Kybernologi) sebagai sumber dan dasar profesi pemerintahan . Pendidikan Kepamongprajaan meliputi Program Vokasional (Diploma). Perilaku yang terlihat di dalam ruang pemerintahan (governance) mulai dari tingkat statal. pamongpraja dilembagakan menjadi unitkerja pusat di daerah (kepala wilayah dan jajarannya) 7 Struktur Kepamongprajaan dalam tiga tingkatan: Tingkat Bawah: Pamong Desa/Kelurahan.

Yang dijelaskan dalam sesi ini adalah standar kompetensi fungsionalnya.10 Standar kompetensi pamongpraja. Pamongpraja dalam arti sempit adalah tenaga professional di bidang (yang memiliki kualitas) kepamongprajaan. 2005. Perlu dibedakan standar kompetensi fungsional dengan standar kompetensi struktural. begitu Kepamongprajaan ini diajarkan mulai Sesi Satu. lihat Bab II Kybernologi dan Kepamongprajaan (2007). Oleh sebab itu. dan profesionalisme. Konsep profesi. terdapat dalam Kybernologi: Sebuah Rekonstruksi Ilmu Pemerintahan. kesukaran ini harus diantisipasi! ------>PENELITIAN--->TEMUAN---->KEBIJAKAN--->PEMBAHARUAN-| (invensi) | (inovasi) | -->KEPAMONG| | | PRAJAAN | | | | | | | ------>DIKLAT--->KADER PAMONGPRAJA-| | | ----------------FEEDBACK<-----------------MONEV<------------------ Gambar 19 Kepamongprajaan Sebuah Ruang Pembelajaran 3001090852SDG 2903090733SDG 1104091600SDG File GBPP KEPAMONGPRAJAAN BARU . Bahan untuk sesi ini masih harus diidentifikasi dan didefinisikan. Pamongpraja dalam arti luas adalah tenaga pemerintahan yang memiliki roh dan 12 nilai dasar pemerintahan. professional. dan ditetapkan saat pelembagaannya. Standar kompetensi struktural bersifat normatif. Bab IC. Kendatipun ini sesi terakhir tetapi tidak berarti termudah---last but not least---bahkan mungkin yang tersukar.

. . . Tujuh Freies Ermessen . . Dua Conducting. . . . . . . . Sepuluh Magnanimous-thinking. . Sebelas Omnipresence.RINGKASAN DUABELAS NILAI KEPAMONGPRAJAAN 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 Nilai Nilai Nilai Nilai Nilai Nilai Nilai Nilai Nilai Nilai Nilai Nilai Satu Vooruitzien. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 41 43 45 46 47 48 50 51 52 55 56 57 . . . . . . . . . . . . . . . . . . . Enam Turbulence-serving . . . . . . . . . . . . . . . . . . Empat Peace-making. . . . . . . Duabelas Distinguished Statesmanship. . . . . . . . . . . Sembilan Responsibility . . . . . . . . . . . . . . . Lima Residue-caring . . . Delapan Generalist & Specialist Function. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . Tiga Coordinating . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .

2005) 11 Teori Budaya Organisasi (Rineka Cipta. 2003) 13 Metodologi Ilmu Pemerintahan (Rineka Cipta. 2008) 4 Kybernologi dan Kepamongprajaan (Sirao Credentia Center. 2006) 9 Kybernologi Beberapa Konstruksi Utama (Sirao Credentia Center. 2007) 8 Kybernologi Sebuah Scientific Enterprise (Sirao Credentia Center. 2007) 7 Kybernologi Sebuah Charta Pembaharuan (Sirao Credentia Center. 2008) 5 Kybernologi Sebuah Profesi (Sirao Credentia Center. 1997) 14 Metodologi Pemerintahan Indonesia (Bina Aksara. 2009) 2 Kybernologi dan Pembangunan (Sirao Credentia Center. 2005) 12 Kybernologi I dan II (Rineka Cipta. 2008) 3 Kybernologi Sebuah Metamorphosis (Sirao Credentia Center. 1988) . 2005) 10 Kybernologi Sebuah Rekonstruksi Ilmu Pemerintahan (Rineka Cipta.DAFTAR PUSTAKA KYBERNOLOGI 1 Kybernologi dan Pengharapan (Sirao Credentia Center. 2007) 6 Kybernologi Sebuah Scientific Movement (Sirao Credentia Center.

Kita jadikan proposal yang prof. Yang beliau maksudkan adalah Kybernologi dan Kepamongprajaan. buat sebagai dasar keilmuan pembentukan IIP Regional.” 224923 “Benar.” .” Kompas 11 Oktober 2007 “Presiden Ubah IPDN Menjadi IIP.” “Sistem Pengasuhan Dihapuskan. MENTERI DALAM NEGERI RI: “Di IIP Ada Tambahan Ilmu Baru Sebagai Pendukung Dalam Aspek Pemerintahan.MARDIYANTO. Diubah Kepamongan” Apa yang dimaksud dengan “Ilmu Baru?” 08159676XXX 121007223338 “Benar. prof. prof.

Taliziduhu Ndraha. Kybernolog GARIS-GARIS BESAR PROGRAM PEMBELAJARAN KYBERNOLOGI DAN KEPAMONGPRAJAAN JAKARTA. 2009 .

. 12 Sesi Sebelas Nilai Sepuluh Magnanimous-thinking 13 Sesi Duabelas Nilai Sebelas Omnipresence. . . . . . . . . 5 Sesi Empat Teori Pelayanan. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . RINGKASAN . . . . . . . . . . 14 Sesi Tigabelas Seni dan Teknik Pemerintahan . . . . . . . 15 Sesi Empatbelas Etika Pemerintahan. . . . . . . . . . 7 Sesi Enam Teori Kinerja . 13 Sesi Duabelas Manajemen Pemerintahan. . . . . . 11 Sesi Sepuluh Kepamongprajaan. . . . . . . . . . . Sesi Tiga Nilai Dua Conducting. . Sesi Satu Pemerintahan. . . . . . . 1 2 5 6 8 11 16 18 20 20 22 24 25 26 27 28 30 31 II GBPP KEPAMONGPRAJAAN Latar Belakang. . . . . . . . . . . . . . . . Sesi Enam Nilai Lima Residue-caring . . . . . . . . . . Sesi Delapan Nilai Tujuh Fries Ermessen . . . . . . . . . . . . . Sesi Dua Nilai Satu Vooruitzien . . . Sejarah Pengajaran Ilmu Pemerintahan di Indonesia. . 9 Sesi Delapan UTS. . . . .DAFTAR ISI I GBPP PENGANTAR ILMU PEMERINTAHAN 1 Latar Belakang. . . . . . . . . . . . . ONTOLOGI 3 Sesi Dua Ontologi Ilmu Pemerintahan . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . Sesi Sembilan Nilai Delapan Generalist & Specialist Function . . . . . . . . . . Sesi Lima Nilai Empat Peace-making. . . . 14 Sesi Tigabelas Nilai Duabelas Distinguished Statesmanship . . . . . . . . . 15 Sesi Empatbelas Apakah Kepamongprajaan? . . . . . . . . . . . . . 12 Sesi Sebelas Kebijakan Pemerintahan . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 17 Sesi Enambelas UAS. . . . . . . . . 2 Sesi Satu Penjelasan Umum. . . . . . . . . . . . 11 Sesi Sepuluh Nilai Sembilan Responsibility. . . . . 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 . . . . . 6 Sesi Lima Teori Governance. . Sesi Tujuh Nilai Enam Turbulence-serving. . 8 Sesi Tujuh Metodologi . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . Sesi Empat Nilai Tiga Coordinating. . . . RINGKASAN . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 32 36 41 43 45 46 47 48 50 51 52 55 56 57 59 62 . . . . . . . . . . . . . . . . . . EPISTEMOLOGI 4 Sesi Tiga Teori Kebutuhan . . . AXIOLOGI 10 Sesi Sembilan Teori Nilai . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 16 Sesi Limabelas Reformasi Pemerintahan . . .

107 . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 116 . 5 Penyelenggaraan Laboratorium Lapangan Administrasi Kependudukan . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 117 118 118 119 VII KOMENTAR TERHADAP DRAFT PEDOMAN KURIKULUM. . . . . . 3 Program Diklat Profesional Kepamongprajaan. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 3 Otonomi Daerah. . . . . . . . . . . . 64 65 72 IV DEWAN PERWAKILAN DAERAH 1 2 3 4 DPD Di Pentas Politik . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . Apakah DPD Itu? . . . . . . 2 Posisi Strategis Departemen Dalam Dalam Sistem Pemerintahan . Negeri . . . DPD Perspektif Kybernologi Politik. . . . . . . . . 4 Penyelenggaraan Otonomi Daerah. . 121 3 Kurikulum . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . Pentingnya Laboratorium Lapangan Administrasi Kependudukan . . . . . . 108 VI PERAN CAMAT DALAM PENYELENGGARAAN PEMERINTAHAN DAERAH 1 Pemerintahan. . . . . . . . . . 2 Kerangka Pemikiran. . . . . . . DIKLAT KEPEMIMPINAN PEMERINTAHAN DAERAH 1 Latar Belakang. . 77 79 91 99 V USULAN PEMBENTUKAN LABORATORIUM LAPANGAN ADMINISTRASI KEPENDUDUKAN 1 2 3 4 Pengertian. . . . . . . . . . Perspektif Kybernologi. . . . . . . . 5 Peran Camat . . . . 101 . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 125 . . . 63 III DIKLAT PROFESIONAL KEPAMONGPRAJAAN 1 Latar Belakang. . . . . 104 . . . . . 121 2 Sekolah Kepemimpinan Pemerintahan Dalam Negeri. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . Perspektif Kybernologi Administrasi Kependudukan. . . . . . . . . 101 . .DAFTAR PUSTAKA KYBERNOLOGI. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . Masalah . . . . . . . . . . .

Di samping hibrida Kybernologi bernama Kybernologi Pertanian oleh DR Ir Abdul Samad Melleng. melainkan sebuah BOK yang terus berkembang. Institut Ilmu Pemerintahan (IIP) meluncurkan satu produk akademik bernama Kybernologi. diajarkan. Perkembangan akademik ini langsung mendukung kebijakan baru Pemerintah yang menetapkan IPDN sebagai Penyelenggara Sistem Pendidikan Tinggi Kepamongprajaan berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 1 Tahun 2009. 2008). dan telah beberapa kali berubah. S2 dan S3 sejak tahun 1994 (antara lain bekerjasama dengan Universitas Padjadjaran). Kybernologi adalah sebuah bangunan pengetahuan (body-of-knowledge. seperti terlihat dalam buku ini. BOK tersebut kini telah mencapai derajat keilmuan tertinggi yang utuh dan lengkap. MM. dan pengabdian kepada masyarakat. Dosen dan Praja). Buku ini diharapkan menjadi pegangan bagi segenap Masyarakat Akademik di lembaga-lembaga perguruan tinggi di atas. diujicobakan sejak awal 2008 (Bab 6 Kybernologi dan Kepamongprajaan. penelitian. dalam hal ini Kybernologi dan Kepamongprajaan. hasil rekonstruksi dan buah pendaratan Bestuurskunde dan Bestuurswetenschap (Ilmu Pemerintahan) di bumi Indonesia. serta mewujudkan Duabelas Nilai Kepamongprajaan sebagai pola perilaku pemerintahan Indonesia dan pemerintahan daerah ke depan. Pembahasan dan sosialisasi draft akhir ini di lingkungan IPDN (Pimpinan. GBPP dua subjek ini dirancang. didiskusikan.PENGANTAR REKTOR INSTITUT PEMERINTAHAN DALAM NEGERI Pada tgl 22 Mei 2003. Dengan demikian Kybernologi bukan hanya judul seri buku yang terbit sejak tahun 2003. 2009). dilakukan pada tanggal 8 Mei 2009 di Jatinangor. Bahkan sisi Axiologinya berkembang menjadi satu bidangkajian dan program diklat baru bernama Kepamongprajaan. dalam forum Scientific Traffic dan di lingkungan Badan Diklat Departemen Dalam Negeri dalam Rapat SEPIMDAGRI tanggal 19 dan 20 Mei 2009 di Jakarta. Melalui proses pembelajaran Program S1. BOK) pemerintahan (governance). hasil penelitian terhadap fenomena pemerintahan dari sudut (pendekatan) Manusia. Kybernolog dan seorang pejabat Departemen Pertanian (Bab VI dan Bab VII Kybernologi dan Pengharapan. Kybernologi ini menyajikan . GBPP matakuliah berisi roh ilmu yang bersangkutan. dalam menjalankan proses belajarmengajar di bidang Ilmu Pemerintahan (Kybernologi) melalui Tridharma Perguruan Tinggi: pengajaran.

yaitu Kybernologi Politik dengan mengambil Dewan Perwakilan Daerah sebagai sasaran kajian. tetapi juga ke hulu. Maka sebuah usulan pembentukan Laboratorium Lapangan Administrasi Kependudukan (UU 23/06. Walaupun usulan ini ditulis untuk IPDN. Dr Hj. Kybernologi tidak hanya berorientasi ke hilir. MA . dan Perpres 25/08). PP 37/07. NGADISAH. Jakarta.sebuah hibrida baru. Juni 2009 Prof. diluncurkan. Orientasi ke hulu ini dipicu oleh hiruk-pikuk Pemilu 2009 yang menurut para pengamat disebabkan oleh patologipolitik dan patologibirokrasi kependudukan yang sudah kronik dan parah. namun sesungguhnya dialamatkan dan ditawarkan kepada semua fihak yang peduli dengan masadepan Indonesia.

DIKLAT PROFESIONAL KEPAMONGPRAJAAN Kerangka Pemikiran 9 KYBERNOLOGI --------------------------ILMU PEMERINTAHAN BARU-------------------------| | (KOMPONEN PENDIDIKAN STRATA) | | | | | | | 8 8 | | KEAHLIAN KEAHLIAN | | DI BIDANG----------GENERALIS-----------DI BIDANG | | PEMERINTAHAN | PEMERINTAHAN | | | | | | | | | | | | 7 | 7 | | PROFESI KOMPONEN PROFESI | | BIDANG PE. UMUM | | | | | | | | | | | | 2 | 2 | | KEAHLIAN | KEAHLIAN | | DI BIDANG----------SPESIALIS-----------DI BIDANG | | PERTANIAN | PEK. UMUM | | | statesmanship | | | | | --------------------| | | | | | | | 3 | 3 | | PROFESI KOMPONEN DIKLAT PROFESI | | BIDANG-----11----PROFESIONAL----11-----BIDANG | | PERTANIAN KEPAMONGPRAJAAN PEK. UMUM PEK.---10--PENDIDIKAN--10-------BIDANG PE| | MERINTAHAN DIPLOMA MERINTAHAN | | | | | | | | | | | | | --------------------| | | 6 | vooruitzien | 6 | AGROPEMERINTAHAN | conducting | PEMERINTAHAN TEKNOLOGI PEMERINTAHAN DAERAH | coordinating | DAERAH PEMERINTAHAN | | | peace-making | | | | | | residue-caring | | | | 5 | turbulence-serving | 5 | | KEBIJAKAN | | KEBIJAKAN | |------------->BIDANG<----|---KEPAMONGPRAJAAN---|----->BIDANG<-------------| | PERTANIAN | | PEKERJAAN UMUM | | | | Freies Ermessen | | | | | | gen&spec function* | | | | 4 | omnipresence | 4 | KYBERNOLOGI KEPALA DINAS | responsibility | KEPALA DINAS KYBERNOLOGI PERTANIAN PERTANIAN |magnanimous-thinking | PEK. UMUM | | | | | | | | | | | .

diidentifikasi. DAN HUBUNGAN KYBERNOLOGI DENGAN ILMU PENGETAHUAN LAINNYA 1 LATAR BELAKANG Di dalam dokumen-dokumen tradisional Depdagri.” Perpres 1/09 tentang Perubahan Atas Keputusan Presiden Nomor 87 Tahun 2004 mengenai penggabungan STPDN ke dalam IIP yang namanya sekaligus diubah menjadi IPDN. IPDN disebut sebagai “lembaga pendidikan kader pamongpraja di lingkungan Departemen Dalam Negeri. ht TN). Perpres tersebut meletakkan dasar yang kokoh (raison d’ētre) bagi eksistensi IPDN ke depan. Apakah Indonesia kembali ke masalalu? Apakah makna kepamongprajaan itu di masa depan? Oleh sebab itu. APDN dan IIP lebih dikenal sebagai “perguruan tinggi kedinasan di lingkungan Departemen Dalam Negeri. didefinisikan. kebijakan tersebut merupakan sebuah perubahan dan kemajuan. dan dijelaskan: 1. 10).” Sementara itu sejak tahun 90-an yang lalu. Penyelenggaraan sistem pendidikan tinggi kepamongprajaan (di dalamnya termasuk Diklat Profesional Kepamongprajaan) 2 KERANGKA PEMIKIRAN . Kepamongprajaan dalam Sistem Pemerintahan Indonesia 2.| 1 | 1 | -------------AGRONOMI-------ILMU-ILMU LAINNYA-------TEKNOLOGI------------CIVIL *generalist&specialist function GAMBAR TIGA KOMPONEN SISTEM PENDIDIKAN TINGGI KEPAMONGPRAJAAN PENDIDIKAN STRATA (9). PENDIDIKAN DIPLOMA (VOKASIONAL. lebih tegas. PENDIDIKAN PROFESIONAL (11). misalnya Permendagri No 43 Tahun 2005 tentang Statuta IPDN. sekurang-kurangnya lima topik di bawah ini perlu segera difikirkan kembali. Sistem Pendidikan Tinggi Nasional 3. Di satu fihak. Di sana dengan jelas dinyatakan bahwa IPDN “menyelenggarakan pendidikan tinggi di bidang kepamongprajaan yang diselenggarakan melalui sistem pendidikan tinggi kepamongprajaan. Belanda (pangrehpraja dan pamongpraja). Hubungan antara sistem pendidikan tinggi nasional dengan sistem pendidikan tinggi kepamongprajaan 5. dan rezim Soeharto (kepala wilayah).” (pasal 2A. Jika dikaitkan dengan butir 3 “Mengingat” Perpres tersebut. tetapi di fihak lain terkuak kembali memori sosial masalalu tentang hubungan pusat dengan daerah. sistem pendidikan tinggi kepamongprajaan merupakan subsistem pendidikan tinggi nasional sebagaimana diatur dalam UU Nomor 20 Tahun 2003. Sistem Pendidikan Tinggi Kepamongprajaan 4. di masa pemerintahan raja-raja (pangrehpraja).

Kybernologi). dan dapat pula dilakukan menurut pendekatan kemanusiaan dan lingkungannya (Ilmu Pemerintahan.SDB) | | melalui pe| | via rute 1 | | di hulu | | milu di hulu | | di hilir | | | | | | | | | | | | | | stakeholder -.kontrol----konstituen-------SKK rute 2---| sumber-sumber | | (UU. pemerintahan.pe. 2 3 5 janji(kebijakan. | | | | pembawasit penonton | | | ngunan | | | | | | | | | | redistribusi | | | | | | nilai berke| | nilai via pe.Dalam peta eksplorasi pemikiran tentang Diklat Profesional Kepamongprajaan. Kybernologi adalah sebuah body-of-knowledge (BOK) baru. sekurang-kurangnya tujuh terminal harus disinggahi untuk dapat mencapai lima topik di atas. Dalam kerangka pemikiran ini digunakan pendekatan Kybernologi (kybernân = besturen = steering).SDM. hope) selaku pelangan patan/implemendari SKS selaku terhadap kinerja --tasinya. Pemerintahan (governance) adalah interaksi antar tiga subkultur tiap masyarakat (unit kultur). seperti terlihat dalam Gambar 1. Bestuurswetenschap dan Bestuurswetenschappen di bumi Indonesia (Gambar 2). dan subkultur sosial (SKS).| | jawaban etik | | | ---hidup. PEMERINKEPAMONGPROFESIDEPSISDIK DIKLAT PROFESIONAL TAHAN----->PRAJAAN---->ONALISME-->DAGRI-->DAGRI--->IPDN-->KEPAMONGPRAJAAN 1 2 3 4 5 6 7 Gambar 1 Kerangka Pemikiran Satu.-SKE--------------. Identifikasi dan definisi Sistem Pemerintahan Indonesia dapat dilakukan melalui pendekatan kekuasaan (Ilmu Politik).| | pertanggung| | | | lanjutan utk | | lay civil. hasil------lay publik---------menurut----| | pengelolaan & pemberdayaan etika otonom | | sumber-sumber masyarakat di hilir | | 1 di tengah 6 | | 4 | . subkultur kekuasaan (SKK).SKS-------------SKK--| pemain.SKK---------------.PERDA) | | dan rute 4 | | (SDA. kuasa monev oleh SKS rencana)& pene(trust. mandat. hasil pendaratan Bestuurskunde. yaitu subkultur ekonomi (SKE).

Turbulence-serving (mengelola ledakan yang dianggap mendadak atau di luar kemampuan. men(t)anggung risiko secara pribadi menurut Etika Otonom) 11. selama memangku masajabatan publik. berpemikiran besar dan kuat menerobos zaman membuat sejarah) 12.| | ---------------------pemerintahan (governance)------------------------Gambar 2 Sistem dan Proses Pemerintahan (Governance) Digerakkan oleh Tiga Subkultur (Terminal) Melalui Rute 3.” dan “yang terbuang”) 6. tidak memihak. Peace-making (membangun kerukunan dan kebersamaan) 5. Magnanimous-thinking (-mind. 5. Tiga. Omnipresence (terasa hadir di mana-mana) 10. berdiri di atas semua kepentingan. force majeure) 7. dan 3 (pelay = pelayanan) Dua. 2. and more and more about less and less) 9. Pekerjaan yang ditekuni seumur hidup disebut profesi. 6. baik dalam arti formal maupun dalam arti informal. Kepamongprajaan adalah sebuah sistem yang terdiri dari 12 (duabelas) nilai sebagai berikut: 1.” “sisa. Fries Ermessen (keberanian bertindak untuk kemudian mempertanggungjawabkannya) 8. 4.” “yang salah. Nilai terbentuk melalui kerja. dan dengan demikian governance menjadi good governance. Kualitas kerja diharapkan professional agar kinerjanya . Conducting (membangun kinerja bersama melalui perilaku aktor yang berbeda-beda) 3. Kepamongprajaan. Coordinating (membangun kinerja masing-masing melalui kesepakatan bersama yang mengikat) 4. impartial) Orang yang memangku 12 nilai tersebut disebut Pamong Praja.” “yang beda. Responsibility (menjawab dengan jelas dan jujur. Vooruit zien (memandang sejauh mungkin ke depan) 2. Supaya kinerja interaksi antar tiga subkultur itu good.” “yang kalah. Distinguished statesmanship (kenegarawan-utamaan. interaksi itu harus dikendalikan dan diarahkan oleh sebuah kekuatan yang disebut kepamongprajaan. 1. Residue-caring (mengelola “sampah. Generalist and Specialist Function (knowing less and less about more and more. Profesionalisme.

profesionalisme kepamongprajaan di atas digunakan. sedangkan perdana menterinya Gadjah Mada (menjabat 1331-1364) beragama Buddha. Dikemukakan lebih lanjut bahwa “first. Professional associations and training centers promulgate a set of norms and values among professionals (Warren B. Di sana dijelaskan bahwa profesi berarti. Brown dan Dennis J. which ordinarily requires higher education at least through the bachelor’s level.” Dalam kitab Sutasoma. .” lengkapnya “Bhinneka Tunggal Ika. which offers a lifetime career to its members (Richard J. . Bertolak dari sejarah yang menunjukkan bahwa Bhinneka Tunggal Ika sebagai sistem nilai ideal di zaman dahulu bisa menjadi kenyataan. . Pada suatu tiang batu peninggalannya tercantum sebuah pernyataan yang dapat disebut Doktrin Asoka. Organization Theory and Management. professions have a code of ethics. Dalam kerajaan Majapahit (1292-1525) nilai ideal “berbeda (beragam) tetapi (ber)satu” itu menjadi kenyataan: raja Hayam Wuruk (memerintah 1350-1389) beragama Hindu. rasa. . . bahkan dapat disebut visi (walaupun Presiden Soekarno tidak secara eksplisit menyatakan demikian) bangsa Indonesia dalam membangun bangsa (Nation Building). . kata dan karya berdasarkan kebenaran yang tunggal. Bab I sub C. Tanhana Dharmma Mangrva. professions are encircled by a professional culture. . khususnya Departemen Dalam Negeri. dan membentuk watak (Character Building) bangsa. Empu Tantular mengemas ajaran itu dalam seloka yang sebagian berbunyi “bhinneka tunggal ika.good. . . dalam hal ini di ruang pemerintahan. (berarti) merendahkan agamanya sendiri. 38-9). professions are based on the presence of a systematic theory. Pembicaraan tentang Departemen Dalam Negeri tidak dapat dipisahkan dari Visi dan Misi Bangsa Indonesia. Supaya berguna dan efektif. Stillman II. ia menganjurkan perdamaian di mana-mana. Di zaman raja Asoka (ca 269-232) terdapat dua agama besar di Asia. .” yang dilembagakan menjadi Departemen Dalam Negeri. h. . A professional group has a common language. karsa. Moberg. professions all have professional authority. yaitu Hindu dan Buddha. tahan karena benar serta satunya cipta. 1984). . Third. “a reasonably clear-cut occupational field. . berbunyi: “Barangsiapa merendahkan agama lain dan memuji agamanya sendiri. Public Administration: Concepts and Cases. Finally. Fourth. Pemerintahan “Dalam Negeri. standards of training and competence are set by the profession itself. kesebangsaan.” dan “profesionalisme” itu dapat dideduksi dari konsep “profesi” yang diuraikan dalam Kybernologi: Sebuah Rekonstruksi Ilmu Pemerintahan (2005. 1980). Second. A Macro Approach. maka adalah tepat tatkala Presiden Soekarno dalam pidato HUT Proklamasi Kemerdekaan RI tgl 17 Agustus 1950 menyatakan bahwa Bhinneka Tunggal Ika adalah sesanti (credo) bangsa Indonesia. Empat. Untuk memperkokoh kekuasaannya. Pengertian “professional.” artinya berbedabeda tetapi satu jua.

Bhinneka Tunggal Ika itu merupakan sebuah sistem nilai yang terdiri dari dua komponen besar yaitu “bhinneka” (fakta. das Sein) dan “tunggal ika” (ide. Bhinneka Tunggal Ika itu kemudian dijadikan hukum positif dalam bentuk PP 66/1951. Tatkala Bangsa Indonesia masih berada di seberang jembatan yang bernama KEMERDEKAAN. sepandan horizontal anjang sejarah pertar masyarakat sebedaan itu menimcepatnya bulkan kesenjangan vertikal dan horizontal antar masyarakat Gambar 3 Model Bhinneka Tunggal Ika Sebagai Misi Bangsa Indonesia kemudian setelah menyeberangi jembatan. Visi tersebut semakin jelas lima tahun BHINNEKA------------------------------------------------>TUNGGAL IKA masyarakat yang proses pengelolaan sehingga semua masing-masing keunikan menjadi kemasyarakat merasa memiliki keunikan kuatan matarantai sebangsa dan bersehingga yang satu dan pengurangan kesama-sama membaberbeda dengan senjangan vertikal ngun masa depan yang lain. visinya adalah seperti yang tercantum dalam Pembukaan UUD 1945. das Sollen). khususnya alinea pertama dan kedua. Gambar 3 menunjukkan misi Pemerintah Indonesia yaitu memproses pengelolaan keunikan tiap masyarakat menjadi kekuatan matarantai nusantara dan mengurangi kesenjangan vertikal dan horizontal antar masyarakat secepatnya. Departemen Dalam Negeri menduduki posisi strategik dalam sistem pemerintahan RI. Menterinya juga Tabel 1 FUNGSI LINI DEPARTEMEN DALAM NEGERI ---------------------------------------------------------------------KELOMPOK A KELOMPOK B ---------------------------------------------------------------------1 Ditjen Kesatuan Bangsa dan Politik 1 Ditjen Otonomi Daerah . diperkaya dengan Bhinneka Tunggal Ika. departemen manakah yang secara khusus berperan menjalankan misi guna mewujudkan visi di atas? Sejak semula. Antara dua komponen itu terjadi hubungan timbal-balik (interaksi) bahkan hubungan dialektik terus-menerus. Dalam sistem ketatanegaraan Indonesia. Sejumlah departemen/kementerian “teknis” berasal dari departemen ini.

Dari dahulu Departemen Dalam Negeri mengelola sistem pemerintahan berdasarkan asas dekonsentrasi. Hal itu terlihat pada fungsi lini Departemen Dalam Negeri yang dewasa ini terdiri dari tujuh direktorat jenderal (ditjen). Sistem Pendidikan Tinggi Kepamongprajaan. dan pelaku pemerintahan departemen itu perlu dicharge 12 Nilai Kepamongprajaan di atas. dan berperan sebagai pembina politik dalam negeri. Ketujuh direktorat jenderal ini dapat dibedakan menjadi dua kelompok (Tabel 1). adalah Departemen Dalam Negeri. terlihat dengan sangat jelas bahwa dua kelompok itu merupakan fungsi lini Departemen Dalam Negeri. dalam hal ini Statuta IPDN. dapat dijadikan pegangan sementara. Tetapi yang terpenting adalah misinya mengelola kebhinnekaan dan mewujudkan ketunggalikaan bangsa Indonesia. Proses bergantung pada sistem (termasuk pelaku. dalam sistem ketatanegaraan dan pemerintahan Indonesia. sehingga “the kesadaran dan rasa kesebangsaan terbentuk secara berkelanjutan (tunggal ika). Mengingat posisi dan peran Departemen Dalam Negeri yang strategis itu. Ditjen Kelompok A berfungsi sebagai unit kerja yang memproses “Tunggal Ika. mengurangi kesenjangan vertikal antar masyarakat dan kesenjangan horizontal antar daerah secepatnya. Lima. Di sana ditetapkan bahwa IPDN menyelenggarakan program pendidikan akademik dan/atau profesi di bidang kepamongprajaan. proses. yaitu tenagakerja penyelenggara IPDN) dan output (tenaga.2 Ditjen Bina Pembangunan Daerah 2 Ditjen Pemerintahan Umum 3 Ditjen Administrasi Kependudukan 3 Ditjen Pemberdayaan Masyarakat dan Desa 4 Ditjen Bina Administrasi Keuangan Daerah ---------------------------------------------------------------------- dikenal sebagai satu di antara triumvirate di samping Departemen Luar Negeri dan Departemen Pertahanan. maka ke dalam sistem. dan pembantuan (medebewind). Sistem Pendidikan Tinggi Kepamongprajaan (input) terlihat dalam Statuta unitkerja penyelenggaraannya. desentralisasi. departemen yang secara khusus berperan menjalankan misi pemerintahan Indonesia yaitu mengelolaan keunikan tiap masyarakat (bhinneka) menjadi kekuatan matarantai nusantara. kader Pamongpraja) input throughput output . Dengan perkataan lain. Bila diperhatikan dengan saksama.” sementara ditjen Kelompok B mengelola “keBhinnekaan” nusantara. Sejauh ini Statuta yang dimaksud belum ada. Pasal 2 Permendagri Nomor 1 Tahun 2009 tentang Organisasi dan Tatakerja IPDN (menunjukkan proses) yang seharusnya ditetapkan berdasarkan Statuta.

Dengan sistem ini diharapkan. Program Pendidikan akademik itu terdiri dari Program Pendidikan Diploma dan Program Pendidikan Strata. 2. kebutuhan masyarakat akan layanan kepamongprajaan melalui Departemen Dalam Negeri. yaitu program 3 (Gambar 5) merupakan inti makalah ini. dapat terpenuhi PROGRAM --1--PENDIDIKAN | DIPLOMA PROGRAM | -----PENDIDIKAN-----| | AKADEMIK | SISTEM PENDIDIKAN | | PROGRAM TINGGI KEPAMONG------| --2--PENDIDIKAN PRAJAAN (IPDN) | STRATA | PROGRAM --3--PENDIDIKAN PROFESI Gambar 5 Tiga Program Pendidikan Kepamongprajaan IPDN (Program 1. latarbelakang pendidikan. Seseorang berkualitas Pamongpraja. tenaga berkualitas kepamongprajaan itu diproduksi melalui Program Pendidikan Akademik dan Program Pendidikan Profesi. Satu di antara tiga program tersebut. melalui Sistem Pendidikan Tinggi Kepamongprajaan yang merupakan Subsistem Pendidikan Tinggi Nasional. Perbedaan antara Program Pendidikan Akademik (1+2) dengan Program Pendidikan Profesi (3) terletak pada pertama. Berdasarkan uraian di atas. IPDN memangku tanggungjawab penyelenggaraan Sistem Pendidikan Tinggi Kepamongprajaan sebagaimana terlihat pada Gambar 5. Dasar teoretiknya terlihat pada Gambar 6. posisi dalam organisasi pemerintahan. dan Kybernologi dan Kepamongprajaan (2008).sistem pendidikan tinggi SDM-------------------------------->PAMONGPRAJA kepamongprajaan Gambar 4 Proses Pendidikan Tinggi Kepamongprajaan bergantung pada proses. Kybernologi Sebuah Profesi (2007). Program Pendidikan Akademik ditujukan pada pembentukan tenaga pemerintahan dengan Ilmu Pemerintahan (Kybernologi) sebagai core . Referensi tentang topik ini terdapat dalam Kybernologi Sebuah Scientific Movement (2007). dan prospek ke depan. Berdasarkan Pasal 2 Permendagri 1/09 di atas. IPDN. Enam. dan 3) segera.

Rektor. SKS). bukan pelayanan birokrasi atau administratif. dalam hal ini tenaga berkualitas Pamong Praja. dengan core curriculum yang sifatnya spesialis. Kualitas produk (lulusan) bergantung pada Organizational design IPDN. dan Kepala Jurusan. unsur pelaksana IPDN adalah fakultas dan Jurusan. dan prospeknya ke depan sebagai kader. Garis antara Rektor sebagai unsur kepala dengan Dekan dan Jurusan disebut garis lini (line function) atau garis komando hirarkik. 3 . dibantu oleh unsur staf. bukan layanan administratif kepada masyarakat. yaitu biro dan bagian di bawahnya. Diklat ini disiapkan khusus buat sebagian tenaga yang direkrut dari lulusan program pendidikan nonkepamongprajaan. Unitkerja yang memroduksi langsung tenaga Pamong Praja di bawah institut adalah fakultas. bukan biro dan bagian. Oleh sebab itu. Dalam menjalankan tugasnya. Sebagian tenaga melalui program ini. Organizational design IPDN bermula pada identifikasi produk unitkerja yang dibutuhkan oleh pelanggan (masyarakat. Program Diklat Profesional Kepamongprajaan. MENTERI DALAM NEGERI | KEPALA BADAN DIKLAT (a/n)--------|--------SEKRETARIS JENDERAL (a/n) | REKTOR----------------| | |---------PEMBANTU REKTOR (a/n) | | | BIRO | | DEKAN-------------| | | | | BAGIAN | | KEPALA JURUSAN---------| | | | | SUBBAGIAN | TENAGA AKADEMIK | PESERTA DIDIK | MASYARAKAT PELANGGAN Gambar 6 Struktur Organisasi IPDN (Yang Disarankan) Tujuh. Dekan. Produksi tenaga berkualitas Pamong Praja adalah pelayanan akademik atau pendidikan.curriculum pada tingkat institut. Lulusannya disebut Pamongpraja Muda.

sebagai contoh. UMUM | | | statesmanship | | | | | --------------------| | | 3 | 3 | | PROFESI KOMPONEN DIKLAT PROFESI | | BIDANG----11-----PROFESIONAL-----11----BIDANG | | PERTANIAN KEPAMONGPRAJAAN PEK. yang menghadirkan ahli pertanian dan ahli pekerjaan umum (2).--10---PENDIDIKAN---10------BIDANG PE| | MERINTAHAN DIPLOMA MERINTAHAN | | | | | | | | --------------------| | | 6 | vooruitzien | 6 | AGROPEMERINTAHAN | conducting | PEMERINTAHAN TEKNOLOGI PEMERINTAHAN DAERAH | coordinating | DAERAH PEMERINTAHAN | | | peace-making | | | | | | residue-caring | | | | 5 | turbulence-serving | 5 | | KEBIJAKAN | | KEBIJAKAN | |------------->BIDANG<----|---KEPAMONGPRAJAAN---|----->BIDANG<-------------| | PERTANIAN | | PEKERJAAN UMUM | | | | Freies Ermessen | | | | | | gen&spec function* | | | | 4 | omnipresence | 4 | KYBERNOLOGI KEPALA DINAS | responsibility | KEPALA DINAS KYBERNOLOGI PERTANIAN PERTANIAN |magnanimous-thinking | PEK. Agronomi dan Teknologi Civil (1).PROGRAM DIKLAT PROFESIONAL KEPAMONGPRAJAAN Dalam Gambar 6. UMUM | | | | | | | | | | | | 1 | 1 | -------------AGRONOMI-------ILMU-ILMU LAINNYA-------TEKNOLOGI------------CIVIL *generalist&specialist function GAMBAR 6 SISTEM NILAI KEPAMONGPRAJAAN DAN HUBUNGANNYA DENGAN KYBERNOLOGI DAN ILMU PENGETAHUAN LAINNYA . Ketika ia memasuki ruang profesi pemerintahan 9 -------------------------------KYBERNOLOGI-------------------------------| | (KOMPONEN PENDIDIKAN STRATA) | | | | | | | 8 8 | | KEAHLIAN KEAHLIAN | | DI BIDANG----------GENERALIS-----------DI BIDANG | | PEMERINTAHAN | PEMERINTAHAN | | | | | | | | | | | | 7 | 7 | | PROFESI KOMPONEN PROFESI | | BIDANG PE. UMUM | | | | | | | | | | | | 2 | 2 | | KEAHLIAN | KEAHLIAN | | DI BIDANG----------SPESIALIS-----------DI BIDANG | | PERTANIAN | PEK. UMUM PEK. Para ahli ini terpanggil untuk memangku profesi di bidangnya masing-masing (3) sehingga keahliannya menjadi keahlian profesional.

Sudah barang tentu. . yang bersumber pada Ilmu Pemerintahan (Kybernologi. tenaga yang bersangkutan bersentuhan dengan kepamongprajaan sebagai kualitas. Pada saat yang sama.(misalnya menjadi PNS). dinas daerahlah yang merupakan garisdepan pemerintahan daerah. tetapi diharapkan semakin ke bawah (masyarakat. berkeahlian profesional bidang pemerintahan (8). Ironinya profesionalisme. profesinya meluas ke bidang profesi pemerintahan. Di antara 9 terminal yang terlihat pada Gambar 6. Dalam struktur itu. dan berpeluang untuk menjadi kepala dinas (4). sementara masyarakat bawah tidak memiliki akses ke sana. daerah otonom). dan bukan pelayanan pemerintahan guna membangun kekuasaan politik. Pada saat itu ia memasuki ruang kepamongprajaan sebagai lembaga dan struktur (lihat Sesi Empatbelas GBPP Kepamongprajaan dalam buku ini). Diklat di Indonesia terkesan lebih sebagai alat promosi jabatan atau kenaikan pangkat seseorang. 9). yaitu sebagai pembantu presiden (ruang politik kekuasaan) dan sebagai kepala departemen/kementerian pemerintahan (ruang keahlian profesional. Dengan Diklat Profesional Kepamongprajaan. setiap perda harus dilembagakan menjadi dinas daerah. ilmupengetahuan dan teknologi itu terkonsentrasi di pusat-pusat politik kekuasaan. dsb. Pada aras statal memang superioritas pertimbangan politik kekuasaan tidak dapat dihindarkan. diklat ini harus didukung oleh reformasi pemerintahan daerah. terus ke 10 dan 11. Pada aras statal. Terminal 5 yang bersifat critical. Criticalness terminal itu terletak pada kenyataan bahwa kebijakan pemerintahan sejauh ini dianggap berada di dalam ruang politik. karena selaku unsur pelaksana. Setiap kewenangan yang diserahkan kepada masyarakat (daerah) harus diatur dalam peraturan daerah (perda). specialist function) berdasarkan pertimbangan kepamongprajaan (generalist function) bagi manusia dan masyarakat di bawah. ilmupengetahuan dan teknologi). pertimbangan keahlian profesional (ilmupengetahuan dan teknologi) semakin dominan. dan dan setiap dinas daerah harus diperkuat dengan tenaga ahli profesional melakukan tugasnya didukung fasilitas yang sepadan. ia terlibat dalam proses kebijakan (5) pemerintahan daerah (6). hal ini analog dengan posisi dualistik menteri dalam struktur negara RI. ketimbang sebagai alat untuk meningkatkan produktivitas kerja. sehingga terminal itu rawan konflik antara pertimbangan politik kekuasaan dengan pertimbangan keahlian profesional (ilmupengetahuan dan teknologi). yang menuntut penguasaan fungsi generalis (7). pemerintah daerah diharapkan mampu menyediakan pelayanan pemerintahan berbasis keahlian profesional bidang masing-masing (pertanian.

belajar-bersama (per unitkerja) materi pelajaran terpilih sesedikit mungkin dalam waktu sesingkat mungkin. 5 Sosiologi Pemerintahan 5 Nilai Lima Residue-caring . . . 1 Kybernologi 2 Ilmu Filsafat 2 Nilai Dua Conducting. melainkan pada teamwork dan semangat kelompok seluruh unitkerja dalam hubungannya dengan unitkerja lain. . 9 Hukum Pemerintahan 8 Nilai Delapan Gen&Spec Function . . . . dengan metodik sedemikian rupa sehingga para peserta mampu belajar sendiri lebih lanjut dan menggunakan pelajaran itu dalam melakukan tugas pelayanan kepada masyarakat dengan penuh tanggungjawab. . Didaktik pembelajaran yang diusulkan ialah.Produktivitas suatu unitkerja tidak bergantung pada salah seorang tenaganya yang didiklatkan. . . 6 Etika Pemerintahan 6 Nilai Enam Turbulence-serving . belajar bersama. . Ambil contoh desain Sepimxxxxx Tingkat Madya yang dirancang buat pejabat eselon IV atau tenaga yang diprojeksikan ke eselon III. Demikian Nilai Dua dan Nilai Tiga Kepamongprajaan. . dan para peserta dicharge dengan sebanyak-banyaknya jam pelajaran dalam tempo yang sesingkat-singkatnya. 7 Manajemen Bencana 8 Ekologi Pemerintahan 7 Nilai Tujuh Freies Ermessen . digunakan metodologi TOT (dengan kepala unitkerja sebagai peserta awal) dan atau Ujicoba dengan menggunakan Test Unit dan Control Unit. . 10 Manajemen Pemerintahan 9 Nilai Sembilan Responsibility . . Diklat dirancang per unitkerja dengan anggota sekitar 20 – 30 orang (unitkerja eselon 3 atau eselon 2). . . . 4 Ilmu Administrasi Publik 4 Nilai Empat Peace-making. Para peserta dijejali 468 jam pelajaran (40 jam Materi Dasar. . . Metodologi diklat harus berubah.6 jam tiap hari. . . . . . 264 jam Materi Inti. . berarti 15. Etika Pemerintahan . 3 Kepemimpinan Pemerintahan 3 Nilai Tiga Coordinating . Supaya sosialisasi Diklat Profesional Kepamongprajaan ini berjalan cepat. dan 164 jam Materi Penunjang) selama 30 harikerja. . . dengan kepala unit kerja sendiri dan seluruh warga unit kerja yang bersangkutan sebagai pesertanya. Desain kurikulum juga perlu diubah. . Sejauh ini kurikulum diklat terkesan didesain sebanyak-banyaknya karena semuanya dianggap penting. Core curriculum Diklat Profesional Kepamongprajaan diidentifikasi di kalangan Tabel 2 Duabelas Nilai Kepamongprajaan -----------------------------------------------------------------NILAI CABANG ILMU/KAJIAN TERKAIT -----------------------------------------------------------------1 Nilai Satu Vooruitzien.

. . . . 12 Ilmu Politik ------------------------------------------------------------------ cabang ilmu yang aksiologinya mengandung nilai kepamongprajaan tertentu (Tabel 2). . . . . . . . . . Etika Pemerintahan 12 Nilai Duabelas Distinguished Statesmanship . . Sudah barang tentu. . . . . . . . . . 11 Ilmu Sejarah 11 Nilai Sebelas Omnipresence. . . . Di samping itu masih perlu diidentifikasi matadiklat dasar dan matadiklat penunjang yang belum tercakup dalam Tabel 2. tabel di atas masih bersifat tentatif.10 Nilai Sepuluh MagnanimousThinking.

1504090825SDG .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful