Anda di halaman 1dari 31

1

LAPORAN AKHIR PROGRAM KREATIVITAS MAHASISWA JUDUL PROGRAM ESTERIFIKASI MINYAK JELANTAH DENGAN ETANOL MENGGUNAKAN KATALIS PADAT ZIRKONIA SULFAT BIDANG KEGIATAN : PKM PENELITIAN

DISUSUN OLEH : Chahyo Purbo A Agus Adhiatma Yoga Setyawan I 0508029 / 2008 I 0508024 / 2008 I 0510040 / 2010

UNIVERSITAS SEBELAS MARET SURAKARTA 2011

HALAMAN PENGESAHAN 1. 2. 3. 4. Judul Kegiatan Bidang Kegiatan Bidang Ilmu Ketua Pelaksana Kegiatan a. Nama Lengkap b. NIM / NRP c. Jurusan d. Universitas/Institut / Politeknik e. Alamat Rumah /Telp/Fax Anggota Pelaksana Kegiatan/Penulis Dosen Pendamping a. Nama Lengkap dan Gelar b. NIP c. Alamat Rumah dan No. HP Biaya Kegiatan Total DIKTI Jangka Waktu Pelaksanaan : Esterifikasi Minyak Jelantah Dengan Etanol Menggunakan Katalis Padat Zirkonia Sulfat : PKMP : Teknik dan Rekayasa : : : : : Chahyo Purbo Anshory I0508029 Teknik Kimia Universitas Sebelas Maret Surakarta Sidorejo, RT.04/RW.II, Mangkubumen, Banjarsari, Surakarta. Telp.085640368562 : 2 orang : Wirawan Ciptonugroho, S.T., M,Sc. : 19831223 200912 1 004 : Jl. Sabut Blok E10 No 16. Kavling DKI, Pondok Kelapa, Jakarta 13450 : Rp 5.500.000,00 : 6 Bulan Surakarta, 20 Juni 2011 Menyetujui, Pembantu Dekan III Fakultas Teknik Universitas Sebelas Maret Surakarta Ketua Pelaksana

5. 6.

7. 8.

(Dr. (Eng) Agus Purwanto, S.T., M.T.) NIP. 19750411 199903 1 001 Pembantu Rektor III Universitas Sebelas Maret Surakarta

(Chahyo Purbo Anshory) NIM. I0508029 Dosen Pembimbing

(Drs. Dwi Tiyanto, S.U.) NIP. 19540414 198003 1 007

(Wirawan Ciptonugroho, S.T., M,Sc) NIP. 19831223 200912 1 004

ii

KATA PENGANTAR Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas limpahan nikmat-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan penyusunan laporan Program Kreatifitas Mahasiswa Penelitian. Laporan ini kami susun sebagai bentuk pertanggungjawaban atas kegiatan penelitian yang telah kami lakukan. Laporan ini memuat beberapa tahapan penelitian yang dilakukan terhadap minyak jelantah dan katalis Zirkonia Sulfat. Adapun tahapan yang telah dilakukan adalah proses presipitasi, sulfatsi, kalsinasi, analisis XRD, analisis keasaman, analisis bilangan asam minyak jelantah, reaksi esterifikasi, analisis hasil esterifikasi. Kami berharap program penelitian ini dapat dikembangkan demi kemajuan industri Indonesia dan kesadaran masyarakat tentang bahaya dan manfaat dari minyak jelantah. Dalam penelitian ini tak lupa kami mengucapkan terimakasih sebesar besarnya kepada: 1. Direktorat Pendidikan Tinggi (DIKTI) yang telah memberi kesempatan dan pendanaan kepada kami untuk melakukan kegiatan penelitian ini. 2. Rektor Universitas Sebelas Maret, Dekan Fakultas Teknik UNS, Ketua Jurusan Teknik Kimia UNS. 3. Ketua Laboratorium MIPA pusat UNS, Ketua Laboratorium Fisika Fakultas MIPA UNS, Ketua Laboratorium Aplikasi Teknik Kimia UNS, Ketua Laboratorium Operasi Teknik Kimia UNS, Ketua Laboratorium Dasar Teknik Kimia UNS, dan Ketua Laboratorium Proses Teknik Kimia UNS dengan segala akses yang diberikan kepada kami. 4. Wirawan Ciptonugroho, S.T, M.Sc selaku dosen pembimbing yang senantiasa membimbing kami. 5. Semua pihak yang tidak dapat kami sebutkan satu persatu yang telah membantu terlaksananya kegiatan ini. Kami menyadari kemungkinan laporan ini masih jauh dari sempurna sehingga kritik dan saran yang bersifat membangun sangat kami harapkan. Semoga laporan ini dapat digunakan sebagaimana mestinya. Surakarta, Mei 2011 Penyusun

DAFTAR ISI iii HALAMAN JUDUL ........................................ i HALAMAN PENGESAHAN.................................................................... ii KATA PENGANTAR................................................................................ iii DAFTAR ISI............................................................................................... iv DAFTAR GAMBAR.................................................................................. v DAFTAR TABEL....................................................................................... vi DAFTAR LAMPIRAN............................................................................... vii ABSTRAK.................................................................................................. 1 BAB I. PENDAHULUAN 1. Latar Belakang Masalah..................................................... 2 2. Perumusan Masalah............................................................ 2 3. Tujuan Program.................................................................. 3 4. Luaran yang Diharapkan..................................................... 3 5. Kegunaan Program.............................................................. 3 BAB II. TINJAUAN PUSTAKA 1. Tentang Minyak Jelantah.................................................... 3 2. Tentang Senyawa Ester dan Senyawa Penyusunnya......... 4 3. Tentang Katalis dan Reaksi Esterifikasi............................. 4 BAB III. METODE PENELITIAN.......................................................... 7 BAB IV. PELAKSANAAN PROGRAM 1. Waktu dan Tempat.............................................................. 8 2. Tahapan Pelaksanaan.......................................................... 8 3. Instrumen Pelaksanaan........................................................ 10 BAB V. HASIL DAN PEMBAHASAN.................................................. 12 BAB VI. KESIMPULAN DAN SARAN 1. Kesimpulan......................................................................... 17 2. Saran................................................................................... 17 DAFTAR PUSTAKA................................................................................. 18

DAFTAR GAMBAR Gambar II.1. Gambar Molekul Etil Etanoat.......................4 iv Gambar II.2. Gambar Molekul dan Nama Beberapa Senyawa Ester 4 Gambar II.3. Reaksi Overall Esterifikasi..................................................5 Gambar II.4. Skema Reaksi Estrifikasi dengan Katalis Asam.................5 Gambar V.1. Zirkonia (ZrO2) setelah dioven............................................12 Gambar V.2. Zirkonia tersulfatsi setelah dioven......................................12 Gambar V.3. Zirkonia Sulfat yang telah dikalsinasi mulai dari paling kiri tidak dikalsinasi, dikalsinasi pada suhu 500C, 600C..............................................................13 Gambar V.4. Hasil Pembacaan XRD........................................................13 Gambar V.5. Hasil Esterifikasi Berbagai Macam Katalis Pada Suhu 60C...................................................................15 Gambar V.6. Hasil Esterifikasi Berbagai Macam Suhu Menggunakan Katalis ZS 0,5 Dan Silika Gel 8% Massa Reaktan.............15 Gambar V.7 Hasil Esterifikasi Berbagai Macam Berat Silika Gel Pada Suhu 60C...................................................................16 Gambar V.8. Hasil Esterifikasi Untuk Perbandingan Kinerja Katalis......16

DAFTAR TABEL Tabel V.1. Hasil keasaman

v katalis................................ 14

DAFTAR LAMPIRAN DOKUMENTASI KEGIATAN

vi

vii

ABSTRAK Esterifikasi Minyak Jelantah Dengan Etanol Menggunakan Katalis Padat Zirkonia Sulfat Chahyo Purbo Anshory, Agus Adhiatma, Yoga Setyawan Jurusan Teknik Kimia Universitas Sebelas Maret Surakarta Penggunaan minyak jelantah yang berulang-ulang untuk menggoreng memberikan efek buruk bagi pengkonsumsi. Namun, disisi lain minyak jelantah hanya dianggap sampah tidak berguna sehingga terkadang hanya dibuang saja tanpa pemanfaatn lebih lanjut. Dengan mereaksikan asam lemak bebas yang terkandung pada minyak jelantah dengan etanol, maka akan didapatkan senyawa ester (Fatty Acid Ethyl Ester/FAEE). Ester yang dihasilkan dapat dipakai untuk berbagai macam manfaat, diantaranya adalah sebagai biodiesel. Asam lemak dalam minyak jelantah diesterifikasi menggunakan katalis padat Zirkonia Sulfat (heterogen). Katalis Zirkonia Sulfat dibuat secara presipitasi dan sebagai prekursor adalah ZrOCl2. Prekursor dititrasi dengan larutan amoniak 25 sampai pH 9. Kemudian diring, dan dioven. Setelah selesai pengovenan katalis disulfatasi dengan asam sulfat dengan konsentrasi tertentu dan selanjutnya dioven kembali untuk pengeringan. Selanjutnya katalis dikalsinasi pada berbagai macam suhu yang telah ditentukan. Katalis yang telah dikalsinasi dianalisis dengan XRD untuk analisis kristal dan ion-exchanger untuk analisis keasaman. Minyak jelantah kotor di-bleaching dengan karbon aktif untuk menghilangkan kotoran dan dipanaskan untuk menghilangkan kandungan air. Analisis kandungan asam lemak bebas/FFA dilakukan dengan cara titrasi, analisis FFA ditujukan untuk membuktikan bahwa minyak jelantah mengandung FFA yang dapat diesterifikasi. Esterifikasi dilakukan dengan berbagai variabel yaitu, ragam katalis, ragam suhu, dan ragam silika gel. Juga dilakukan dengan asam sulfat (homogen) untuk mengetahui perbandingan kinerja antara katalis homogen dan katalis heterogen. Hasil menunjukkan bahwa konversi terbaik untuk katalis padat ialah Zirkonia Sulfat dengan penambahan silika gel 2% berat reaktan mencapai lebih dari 80%. Keyword : minyak jelantah, esterifikasi, Zirkonia Sulfat.

LAPORAN AKHIR PROGRAM KREATIVITAS MAHASISWA I. PENDAHULUAN 1. Latar Belakang Masalah Minyak jelantah (waste cooking oil) merupakan limbah yang berasal dari proses penggorengan. Akibat reaksi kimia yang terjadi selama penggorengan, komposisi kimia minyak jelantah mengandung senyawasenyawa yang bersifat karsinogenik. Minyak jelantah yang dipakai berulangulang akan meningkatkan gugus radikal peroksida yang mengikat oksigen, sehingga mengakibatkan oksidasi terhadap jaringan sel tubuh manusia. Jika hal ini terus berlanjut, maka akan mengakibatkan kanker, dan memengaruhi kecerdasan pada keturunan (www.inilah.com, 14 Oktober 2010). Untuk itu perlu penanganan yang tepat agar limbah minyak jelantah ini dapat bermanfaat dan tidak menimbulkan kerugian dari aspek kesehatan manusia. Salah satu bentuk pemanfaatan minyak jelantah adalah dengan mengubahnya menjadi ester melalui proses esterifikasi. Ester sebagai produk reaksi dapat digunakan sebagai bahan bakar alternative (biodiesel). Esterifikasi antara alkohol dan asam karboksilat menggunakan katalis asam kuat, seperti asam sulfat (H2SO4), asam phospat (H3PO4), asam klorida (HCl) ataupun asam para-toluensulfonat (Rompp, 1995). Dalam hal ini katalis ditambahkan dalam bentuk larutan, biasanya dalam alkohol atau pelarut organik lainya. Asam-asam tersebut bersifat korosif, sehingga memerlukan penanganan khusus. Dalam proses esterifikasi konsentrasi air perlu diminimisasi untuk menggeser kesetimbangan ke pembentukan produk. Hal ini menyebabkan tahap reaksi menjadi lebih kompleks. Selain itu pada akhir reaksi sisa reaktan, produk, dan katalis juga perlu dipisahkan untuk pemurnian dan kemudian dicuci dengan pelarut organiK (US Patent No. 6 242 620). Sebagai pengganti katalis homogen yang memerlukan penanganan khusus tersebut, dan sistem reaktor yang rumit maka digunakan katalis padat yang bersifat asam (Haerudin dkk, 2005). Penggunaan katalis asam padat membuat reaksi esterifikasi dapat dilakukan secara lebih sederhana. Di samping itu, pemisahan sisa reaktan, produk, katalis, dan produk samping dapat menjadi lebih mudah. Dalam program ini katalis padat yang digunakan adalah Zirkonia Sulfat (SO42_ ZrO2 ). 2. Perumusan Masalah Penelitian ini direncanakan sebagai bagian dari penelitian secara berkelanjutan tentang pengolahan limbah biomassa minyak jelantah. Melalui proses esterifikasi, minyak jelantah yang mempunyai nilai ekonomis rendah dapat diubah menjadi bahan yang mempunyai nilai ekonomis yang lebih tinggi. Pembuatan ester dengan katalis homogen (asam kuat cair) memerlukan penanganan khusus dan membuat proses produksi semakin panjang. Oleh karena itu penelitian ini menggunakan katalis heterogen (katalis asam padat) dalam pembuatannya, sehingga tidak memerlukan proses yang panjang. Penggunaan katalis padat ini juga bisa

digunakan berulang-ulang, apabila mengalami deaktivasi dapat diregenerasi kembali. 3. Tujuan Program Sejalan dengan permasalahan yang telah dikemukakan, maka tujuan dari penelitian ini adalah : 1. Memberikan solusi yang lebih efisien dan lebih murah dalam proses produksi senyawa ester (esterifikasi). 2. Memanfaatkan limbah minyak jelantah sebagai bahan baku untuk pembuatan ester sehigga memiliki nilai ekonomis yang lebih tinggi. 3. Memberikan keanekaragaman penggunaan katalis pada reaksi esterifikasi. 4. Luaran Yang Diharapkan Penggunaan katalis padat Zirkonia Sulfat diharapkan bisa membantu dalam proses produksi senyawa ester yang lebih efisien dan lebih murah sehingga senyawa ester dapat lebih banyak diproduksi dan harganya semakin murah. 5. Kegunaan Program 1. Bagi Iptek - Memberikan alternatif lain penggunaan katalis padat (katalis heterogen) dalam reaksi esterifikasi. 2. Bagi masyarakat umum: - Meningkatkan/ mendorong pola hidup masyarakat menjadi lebih sehat dan tidak menggunakan minyak goreng secara berulang-ulang. 3. Bagi industri - Memberikan solusi yang lebih ekonomis dan lebih sederhana dalam proses produksi senyawa ester. II. TINJAUAN PUSTAKA 1. Tentang Minyak Jelantah Minyak jelantah (waste cooking oil) berasal dari jenis-jenis minyak goreng seperti halnya minyak jagung, minyak sayur, minyak samin dan sebagainya. Minyak ini pada umumnya merupakan minyak bekas pemakaian kebutuhan rumah tangga sebagai hasil dari aktivitas memasak dengan cara menggoreng. Ditinjau dari komposisi kimianya, minyak jelantah mengandung senyawa-senyawa yang bersifat karsinogenik, yang muncul selama proses penggorengan. (www.inilah.com, 14 Oktober 2010). Penggunaan minyak goreng secara berulang-ulang, sehingga minyak terpapar suhu tinggi berkali-kali dalam waktu lama, menyebabkan komposisi minyak mengalami perubahan kimia akibat oksidasi dan hidrolisis. Hal ini dapat mengakibatkan kerusakan pada minyak goreng tersebut karena oksidasi asam lemak tidak jenuh

berlangsung yang kemudian membentuk gugus peroksida dan monomer siklik (Hui, 1996). Untuk itu perlu penanganan yang tepat agar limbah minyak jelantah ini dapat bermanfaat dan tidak menimbulkan kerugian dari aspek kesehatan manusia dan lingkungan, kegunaan lain dari minyak jelantah adalah bahan baku pembuatan ester. Selain itu minyak jelantah juga bisa digunakan sebagai bahan baku pembuatan biodiesel. 2. Tentang Senyawa Ester dan Senyawa Penyusunnnya Ester diturunkan dari asam karboksilat yang mengandung sebuah gugus asam karboksil COOH melaluhi reaksi esterifikasi. Ester yang paling umum dijumpai adalah etil etanoat. Pada esterifikasi, hidrogen pada gugus -COOH digantikan oleh sebuah gugus etil.

Gambar II. 1 Gambar Molekul Etil Etanoat Beberapa contoh ester yang lain :

Gambar II. 2. Gambar Molekul dan Nama Beberapa Senyawa Ester (www.chem-is-try.org, 28 September 2010). 3. Tentang Katalis dan Reaksi Esterifikasi Reaksi esterifikasi dapat dilakukan dengan mereaksikan minyak nabati yang mengandung asam lemak bebas dengan alkohol menggunakan bantuan katalis asam. Berdasarkan fasanya, material katalis juga digolongkan menjadi katalis homogen dan katalis heterogen. Katalis homogen didefenisikan sebagai katalis yang mempunyai fasa sama dengan fasa campuran reaksinya, sedangkan katalis heterogen adalah katalis yang berada pada fasa yang berbeda dengan fasa campuran reaksinya umumnya katalis heterogen digunakan dalam bentuk padat (solid). Katalis heterogen kurang efektif dibandingkan dengan katalis homogen karena heterogenitas permukaannya (Kalangit, 1995). Walaupun demikian, karena mudah dipisahkan dari campuran reaksi dan stabil terhadap perlakuan panas, katalis heterogen lebih banyak digunakan dalam industri kimia.

Sistem katalis heterogen digunakan secara luas dalam berbagai industry kimia, hal ini disebabkan sistem katalis heterogen memiliki beberapa keuntungan misalnya dapat dipergunakan pada suhu tinggi sehingga dapat dioperasikan pada berbagai kondisi. Penggunaan katalis heterogen tidak memerlukan tahapan yang panjang untuk memisahkan antara produk dan katalis (Shriver et al., 1990). Pada reaksi yang dikatalisa oleh katalis padat pertama-tama reaktan akan ter-adsorb/ jerap (adsorbtion) pada permukaan aktif katalis, selanjutnya terjadi interaksi baik berupa reaksi sebenarnya pada permukaan katalis atau terjadi pelemahan ikatan dari molekul yang terjerap. Setelah reaksi terjadi, molekul hasil reaksi (produk) akan dilepas dari permukaan katalis (Morad, 2006). Setelah proses reaksi selesai, katalis padat dapat digunakan kembali atau diregenerasi sehingga ekonomis dan ramah lingkungan (Kementerian Negara Lingkungan Hidup, 2006). Berbagai macam katalis asam homogen untuk reaksi esterifikasi, antara lain asam sulfat (H2SO4), asam klorida (HCl), asam fosfat (H3PO4), asam para-toluesulfonat (Rompp, 1995). Sedangkan katalis heterogen yang dapat digunakan adalah zeolit, tanah liat berpilar, oksida besi atau zirkonia tersulfatasi, dan lainnya.

R-COOH + R-OH
asam lemak alkohol

R-COO-R + H2O
ester air

Gambar II. 3. Reaksi Overall Esterifikasi Reaksi esterifikasi secara katalitik dengan menggunakan katalis asam dapat digambarkan dalam skema reaksi sebagai berikut :

Gambar II. 4. Skema Reaksi Estrifikasi dengan Katalis Asam Tahap awal adalah proses protonasi asam yang menghasilkan ion oksonium (1), yang dapat melangsungkan reaksi pertukaran dengan suatu alkohol untuk menghasilakan suatu senyawa antara (2), dan senyawa antara ini selanjutnya dapat kehilangaan satu protonnya untuk menjadi senyawa ester (3). Setiap tahap dalam proses tersebut bersifat berkesetimbangan (reversible), tetapi dalam suatu alkohol yang berlebih titik kesetimbangan berubah sedemikian, sehingga esterifikasi tampak berlangsung hingga akhir. Meski demikian, keberadaan air yang merupakan donor elektron yang lebih kuat dibandingkan alkohol alifatik,

pembentukan senyawa antara (2) tidak berlangsung begitu saja sehingga esterifikasi tidak berjalan secara tuntas. Masalah besar lainnya dalam masalah estrifikasi dengan katalis larutan asam adalah menjaga kesetimbangan sedemikian rupa sehingga air yang terbentuk dalam reaksi esterifikasi dapat dipisahkan dari campuran reaksi. Katalis asam seperti yang disebutkan diatas (asam sulfat (H2SO4), asam klorida (HCl), asam fosfat (H3PO4) , asam paratoluesulfonat biasanya ditambahkan dalam bentuk larutan, biasanya dalam alkohol atau pelarut organik lainnya. Asam-asam tersebut sangat kuat dan korosif sehingga memerlukan penanganan yang khusus. Dalam pembuatan ester dengan katalis asam tersebut diperlukan sistem pemisahan air untuk menggeser kesetimbangan reaksi kearah pembentukan ester. Diperlukannya sistem pemisahan air di dalam proses, menyebabkan tahap reaksi menjadi rumit. Asam karboksilat serta katalis asam yang tersisa serta yang terdapat dalam bahan juga memerlukan pemisahan dan pencucian dengan pelarut organik (US Patent No. 6 242 620). Sebagai pengganti asam kuat yang memerlukan penanganan khusus serta sistem reaktor yang rumit karena membutuhkan sistem pemisahan dan pencucian sisa katalis maupun reaktan yang tidak bereaksi, maka dikembangkan metode yang menggunakan katalis asam berupa padatan (katalis heterogen). Penggunaan asam padat ini, menyebabkan reaksi pembuatan senyawa ester dapat dilakukan dengan cara yang lebih sederhana. Di samping itu, pemisahan sisa asam karboksilat, sisa katalis asam maupun produk sampingan dapat menjadi lebih mudah (Haerudin dkk, 2005). Pada penelitian ini katalis asam padat (katalis heterogen) yang digunakan adalah Zirkonia Sulfat. Zirkonium (Zr) ketika direaksikan dengan anion seperti sulfat, maka akan membentuk katalis yang sangat asam atau super-asam. Keasaman yang super dari katalis ini menunjukkan bahwa aktivitas katalitiknya sangat tinggi dalam banyak reaksi (Hino-Kobayashi-Arata, 1979). Zirkonia sulfat adalah asam padatan kristal yang monoklinik dan berfase tetragonal (EcormierWilson-Lee, 2003). Berbagai reaksi organik yang biasanya dikatalisasi oleh asam, telah terbukti akan lebih efisien apabila adanya oksida sulfat, seperti zirkonium sulfat. Berbagai reaksi organik tersebut dapat berlangsung dalam waktu yang singkat, dengan selektivitas yang lebih besar, dan hasil yang lebih baik. Beberapa reaksi yang telah berhasil dilakukan dengan katalis Zirkonia Sulfat meliputi alkilasi, kondensasi, esterifikasi, transesterifikasi, nitrasi, siklisasi dan isomerisasi (YadavNair, 1999).

III.

METODE PELAKSANAAN a) Perumusan masalah Penelitian ini direncanakan sebagai bagian dari penelitian secara berkelanjutan tentang pengolahan limbah biomassa minyak jelantah dan tentang katalis asam heterogen. Melalui proses esterifikasi, minyak jelantah yang mempunyai nilai ekonomis rendah dapat diubah menjadi bahan yang mempunyai nilai ekonomis yang lebih tinggi. Pembuatan ester dengan katalis homogen (asam kuat cair) memerlukan penanganan khusus dan membuat proses produksi semakin panjang. Oleh karena itu pada penelitian ini menggunakan katalis heterogen (katalis asam padat) Zirkonia Sulfat dalam pembuatannya, sehingga tidak memerlukan proses yang panjang. Penggunaan katalis padat ini juga bisa digunakan berulang-ulang, apabila mengalami deaktivasi dapat diregenerasi kembali. b) Studi literatur Dimaksudkan untuk mendapatkan gambaran mengenai teori-teori dan konsep-konsep yang mendasar tentang permasalahan dalam penelitian sehingga hasil yang dicapai bisa maksimal. c) Pembuatan katalis Zirkonia Sulfat Proses pembuatan katalis dilakukan untuk mendapatkan sifat katalis yang diinginkan. Katalis dibuat dari Zirconium (IV) Oxide Chloride (ZrOCl2) dengan cara precipitation, yaitu Zirconium (IV) Oxide Chloride (ZrOCl2) dilarutkan dalam aquabides, kemudian ditetesi larutan amoniak pekat dan distirrer selama 1 jam. Kemudian didapat endapan Zr(OH)4, endapan disaring menggunakan kertas saring, selanjutnya dioven pada suhu 110C selama 18 jam. Setelah kering kemudian disulfatasi dengan larutan asam sulfat 0,5 M dan distirrer selama 1 jam, kemudian dikeringkan dalam oven pada suhu 110C selama 18 jam. Setelah kering dikalsinasi pada variasi suhu 500C, 600C, dan 700C. Sedangkan satu sampel lagi tidak dikalsinasi (sebagai blangko). d) Tahap analisis katalis Tahap ini dilakukan untuk mendapatkan data katalis terbaik yang akan dipakai pada tahap esterifikasi. Diantaranya dengan analisis XRD (XRay Diffractometry), yaitu untuk peneraan struktur kristal pada sampel berdasarkan suhu kalsinasi. Setelah didapatkan suhu terbaik kalsinasi, langkah selanjutnya ialah analisis keasaman katalis pada suhu kalsinasi terbaik yang telah didapat dengan penambahan variabel konsentrasi asam sulfat untuk sulfatasi. e) Persiapan bahan ZrOCl2 didapat dengan membeli dari Laboratorium Pusat MIPA UNS secara eceran. Sedangkan minyak jelantah didapatkan dari kantin kampus, rumah, dan warung beserta restoran di sekitar kampus. Untuk etanol didapat dengan membeli dari toko kimia. Pada tahap ini juga dilakukan prses pemurnian minyak jelantah dengan karbon aktif untuk mendapatkan kualitas minyak jelantah yang bebas dari pengotor. Selain dengan karbon aktif untuk memisahkan antara kotoran padat dengan

minyak jelantah, maka minyak jelantah perlu disaring dengan kertas saring. Sedangkan untuk f) Analisis minyak jelantah Analisis dilakukan untuk mengetahui kandungan asam lemak bebas/free fatty acid (FFA) sebagai acuan untuk menghitung konversi pada saat proses esterifikasi berlangsung. g) Esterifikasi Tahap ini adalah inti dari keseluruhan tahap diatas, reaksi dijalankan dengan variabel katalis dan suhu. Katalis yang akan digunakan ialah Zirkonia Sulfat dengan konsentrasi asam sulfat untuk sulfatasi 0,5 M, selain itu juga digunakan Zirkonia Sulfat ditambah dengan silika gel dan juga dilakukan reaksi tanpa katalis. h) Analisis produk Produk dianalisis untuk mengetahui seberapa besar konversi dan kinerja katalis yang terbaik. Pada tahap inilah data setelah reaksi didapat. IV. PELAKSANAAN PROGRAM 1. Waktu dan Tempat Kegiatan penelitian ini dilaksanakan mulai tanggal 7 Maret 2011 sampai tanggal 20 April 2011 tergantung tahap penelitian yang dilakukan dan bertempat di Laboratorium MIPA pusat UNS, Laboratorium Aplikasi Teknik Kimia UNS, Laboratorium Operasi Teknik Kimia UNS, Laboratorium Dasar Teknik Kimia UNS, dan Laboratorium Proses Teknik Kimia UNS 2. Tahapan Pelaksanaan a) Pembuatan Zirkonia (ZrO2) Tahap ini dimulai dengan presipitasi. Presipitasi dilakukan dengan melarutkan prekursor ZrOCl2 pada aquabides dengan perbandingan untuk setiap gram prekursor adalah 20mL/gram. Kemudian ditetesi dengan amoniak 25% sambil distirrer sampai pH 9 dan tetap distirrer sampai satu jam kemudian. Setelah itu endapan yang timbul disaring menggunakan kertas saring sehingga didapatkan gel Zr(OH)4. Gel yang didapat kemudian dioven pada suhu 110C selama 18 jam. b) Pembuatan Zirkonia Sulfat (tersulfatasi) untuk analisis XRD Tujuan dari sulfatasi ialah untuk memberikan sifat asam pada Zirkonia. Sulfatasi dimulai dengan membuat larutan asam sulfat 0,5 M kemudian Zirkonia yang distirrer bersama dengan larutan asam sulfat 0,5 M dengan perbandingan 16,5 mL/gram Zirkonia selama satu jam. Setelah itu disaring menggunakan kertas saring setelah itu dioven pada suhu 110C selama 18 jam. Kemudian didapat Zirkonia tersulfatasi yang belum dikalsinasi.

e)

f)

c) Kalsinasi Zirkonia Tersulfatasi untuk analisis XRD Zirkonia tersulfatasi yang didapat dikalsinasi pada tiga suhu yang berbeda yaitu 500C, 600C, dan 700C. Kalsinasi dilakukan selama empat jam untuk masing-masing sampel. Kalsinasi bertujuan untuk aktivasi katalis. Selain itu juga disiapkan satu sampel tanpa dikalsinasi. Setelah kalsinasi selesai sampel dianalisis dengan XRD untuk mendapatkan suhu kalsinasi terbaik. d) Analisis XRD Analisis ini dilakukan oleh staff laboratorium F-MIPA UNS. Pembuatan Zirkonia Tersulfatasi untuk analisis keasaman Zirkonia disulfatasi pada larutan asam sulfat 0,5 dan 1 M, selain itu juga disiapkan sampel tanpa disulfatasi. Cara kerja dari sulfatasi ini sama dengan pada poin b. kemudian sampel dikalsinasi pada suhu terbaik berdasarkan pada analisis XRD. Analisis Keasaman Analisis ini dilakukan menurut Satyarthi et al. Analisis keasaman bertujuan untuk mendapatkan kondisi sulfatasi terbaik. Zirkonia sampel yang digunakan ialah zirkonia disulfatsi pada 0,5 M, 0,1 M, dan tanpa disulfatasi. Cara kerjanya ialah mengambil sampel sebanyak 0,1 gram kemudian dimasukkan dalam larutan NaCl 0,01 N 10 mL dan distirrer selama satu jam. Kemudian campuran disentrifuge untuk memisahkan antara padatan dan cairan. Cairan diambil, ditambahkan dua tetes indikator PP dan dititrasi dengan dengn NaOH 0,01 N. Kemudian dicatat volume NaOH yang dibutuhkan. g) Pemurnian minyak jelantah Minyak jelantah dimurnikan dengan cara di-bleaching dengan karbon aktif. Metodenya yaitu mengambil minyak jelantah, kemudian menimbang minyak jelantah. Berat yang didapat kemudian digunakan untuk mennghitung berat karbon aktif yang akan dipakai. Rasio perbandingan berat antara minyak jelantah dengan berat karbon aktif adalah 100:7,5. Setelah itu minyak dan karbin aktif dicampur, distirer selama 1 jam pada suhu 70C. Setelah itu disaring dengan menggunakan kertas saring untuk memisahkan antara karbon aktif dan kotoran padat dari minyak jelantah. Sehingga didapatkan minyak jelantah yang cukup bersih untuk reaksi esterifikasi. h) Analisis kandungan asam lemak bebas pada minyak jelantah Minyak jelantah yang telah di-bleaching kemudian dianalisis untuk menentuan asam lemak bebas (FFA). Metode yang digunakan pertama ialah menyiapkan alkohol netral 70% sebanyak 50 mL. Pembuatan alkohol netral yaitu dengan meneteskan tiga tetes PP pada alkohol 70% yang akan dinetralkan. Kemudian alkohol 70% ditetetesi dengan larutan NaOH 0,01 N sampa timbul warna ungu yang tidak hilang selama kira-kira 30 detik. Setelah didapat alkohol netral, maka minyak jelantah yang telah di-bleaching ditimbang sebanyak 5 gram selanjutnya dimasukkan pada alkohol netral tadi

10

pada gelas beker. Kemudian dipanaskan pada penangas air selama 10 menit. Ditetesi 3 tetes PP dan selanjutnya dititrasi dengan NaOH 0,001 N sampai timbul warna ungu. Kemudian dicatat volume NaOH 0,001 N yang dibutuhkan. Menurut (Ketaren, 1975), penentuan asam lemak bebas ditentukan dengan: FFA (mgrek/gram minyak jelantah) =
m N H x N N H x 40 l aO aO berat sam pel ( g )

Analisis FFA ini digunakan untuk membuktikan bahwa dalam minyak jelantah terdapat FFA yang dapat diesterifikasi dengan cara mereaksikan FFA dan etanol. i) Reaksi esterifikasi Reaksi esterifikasi yaitu mereaksikan antara minyak jelantah dengan etanol, etanol yang digunakan disini adalah etanol 96% (wt/wt). untuk reaksi dibagi menjadi beberapa bagian berdasarkan variabel yang digunakan. Pertama ialah variabel katalis katalis dibagi menjadi reaksi tanpa katalis, reaksi dengan katalis Zirkonia Sulfat, dan reaksi dengan katalis Zirkonia Sulfat ditambah dengan slika gel. Kondisi suhu 60C, berat Zirkonia Sulfat 1% berat reaktan, silika gel 8% berat reaktan dan diambil sampel reaktan sebanyak 5 mL pada waktu reaksi 0 menit, 10 menit, 30 menit, 1 jam, dan 2 jam. Sampel yang diambil kemudian ditambah 5 tetes PP dan dititrasi dengan dengan NaOH 0,001 N sampai timbul warna ungu. Kemudian mencatat volume NaOH 0,001 yang dibutuhkan. Selanjutnya dapat dihitung konversi FFA yang bereaksi. Kedua ialah variabel berat silika gel, variabel ini akan dilaksanakan jika reaksi dengan katalis Zirkonia Sulfat ditambah dengan silika gel menunjukkan hasil yang terbaik pada variabel pertama. Sampel diambil dan diperlakukan seperti pada variabel yang pertama. Ketiga ialah variabel suhu, untuk variabel ini katalis yang digunakan adalah katalis terbaik dari kedua variabel sebelumnya. Suhu yang akan digunakan adalah 50C, 60C, dan 70C. Sampel diambil dan diperlakukan seperti pada kedua variabel sebelumnya. Keempat ialah membandingkan kinerja reaksi baik tanpa katalis, dengan katalis terbaik, dan dengan katalis asam sulfat 0,5 M. Reaksi dilakukan pada kondisi terbaik kemudian dibandingkan untuk seberapa besar konversi yang didapat dalam bentuk diagram batang. 3. Instrumen Pelaksanaan a. Pembuatan Zirkonia (ZrO2) - Alat Gelas beker, magnetic stirrer, corong kaca, neraca, kertas saring, oven - Bahan Zirchonium Oxidechloride (ZrOCl2), aquabides, amoniak 25%

11

b. Pembuatan Zirkonia tersulfatasi (untuk analisis XRD) - Alat Gelas beker, magnetic stirrer, corong kaca, neraca, kertas saring, oven - Bahan Zirkonia (ZrO2), aquabides, asam sulfat 97% c. Kalsinasi Zirkonia Tersulfatasi (untuk analisis XRD) - Alat Furnace, cawan porselin - Bahan Zirkonia Sulfat (SO4-ZrO2) d. Analisis XRD - Alat XRD (X-Ray Diffraction) - Bahan Zirkonia Sulfat (SO4-ZrO2) setelah disulfatsi e. Pembuatan Zirkonia Tersulfatasi (untuk analisis keasaman) - Alat Gelas beker, magnetic stirrer, corong kaca, neraca, kertas saring, oven - Bahan Zirkonia (ZrO2), aquabides, asam sulfat 97% f. Analisis Keasaman - Alat Buret, labu ukur, cawan kaca, magnetic stirre, neraca, klem dan statif, pemisah sentrifuge - Bahan Zirkonia (tersulfatasi dengan asam sulfat 0 M, 0,5 M, dan 1 M), NaOH, NaCl, indikator PP g. Pemurnian minyak jelantah - Alat Gelas beker, magnetic stirrer, termometer, statif dan klem, kertas saring, neraca - Bahan Minyak jelantah, karbon aktif serbuk h. Analisis kandungan asam lemak bebas pada minyak jelantah - Alat Pemanas listrik, gelas beker, erlenmeyer, pipet tetes - Bahan Minyak jelantah setelah di-bleaching, alkohol netral 70%, NaOH, indikator PP i. Reaksi esterifikasi - Alat Labu leher tiga, pendingin balik, magnetic stirrer, pompa listrik, buret, erlenmeyer - Bahan

12

Minyak jelantah yang telah di-bleaching, katalis Zirkonia Sulfat, silika gel, NaOH, indikator PP V. HASIL DAN PEMBAHASAN a. Pembuatan Zirkonia (ZrO2) Pembuatan Zirkonia (ZrO2), dibuat dengan melarutkan 5 gram ZrOCl2.8H2O pada 100 mL aquabides. Kemudian distirrer dan dititrasi dengan larutan amoniak pekat 25% sampai pH yang terjadi pada kisaran 9. Disaring dengan kertas saring dan dioven pada suhu 110C selama 18 jam. Sehingga didapat ZrO2 seberat 2,2 gram.

Gambar V.1. Zirkonia (ZrO2) setelah dioven Pada analisis selanjutnya kami melakukan hal yang sama untuk membuat Zirkonia, sampai ZrOCl2.8H2O yang dugunakan adalah 35 gr. Teramasuk pada percobaan yang gagal sebanyak sepuluh gram. b. Pembuatan Zirkonia tersulfatasi (untuk analisis XRD) Pembuatan Zirkonia tersulfatasi dilakukan dengan mencampurkan Zirkonia pada larutan asam sulfat 0,5 M. Zirkonia yang digunakan seberat 2,2 gram sehingga larutan asam sulfat yang dibutuhkan adalah 36,3 mL atau 16,5 mL/gram Zirkonia. Campuran distirer selama satu jam agar Zirkonia padat tergerus dan hancur. Hal ini agar sulfat yang terikat pada Zirkonia dapat maksimal. Setelah satu jam distirrer, maka Zirkonia disaring dengan kertas saring dan dioven pada suhu 110C selama 18 jam. Kemudian didapat Zirkonia tersulfatsi sekitar 2,1 gram.

c.

Gambar V.2. Zirkonia tersulfatsi setelah dioven Kalsinasi Zirkonia Tersulfatasi (untuk analisis XRD)

13

Kalsinasi dlakukan pada tiga suhu yang berbeda yaitu 500C, 600C, dan 700C selama empat jam. Dan disisakan satu sampel tanpa dikalsinasi. Masing-masing sampel kira-kira seberat 0,5 gram.

Gambar V.3. Zirkonia Sulfat yang telah dikalsinasi Zirkonia yang telah dikalsinasi langsung ditempatkan pada wadah yang tertutup untuk meminimalkan hal yang tidak diinginkan, seperti kerusakan struktur kristal katalis. d. Analisis XRD Analisis dilakukan dengan menembakkan sinar pada sudut (2) dimulai dari 15-75(2). Setelah dilakukan perhitungan dengan Microsoft Excell akan didapat hasil sebagai berikut:

Gambar V.4. Hasil Pembacaan XRD Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Jiang et al, maka pada suhu 600C struktur kristal tetragonal lebih banyak daripada struktur kristal monoklinik. Bahkan hampir tidak ditemukan kristal monoklinik. Untuk blangko tidak memiliki puncak yang tajam sehingga tidak memiliki struktur yang teratur layaknya kristal. Sehingga blangko bisa dikatakan masih dalam bentuk amorf.

14

Pembuatan Zirkonia Tersulfatasi (untuk analisis keasaman) Pembuatan Zirkonia tersulfatasi dimulai dengan mengambil sampel dari Zirkonia sebanyak 1,5 gram, kemudian dibagi rata masing-masing 0,5 gram. Masing-masing diperlakukan berbeda, satu sampel tak disulfatasi, satu sampel disulfatasi dengan 0,5 M asam sulfat, dan satu sampel lagi disulfatsi dengan 1 M asam sulfat. Saat sulfatsi distirrer selama satu jam setelah itu disaring dengan kertas saring dan dioven pada suhu 110C selama 18 jam. Sampel yang didapat langsung dikalsinasi pada suhu 600C selama empat jam. Kalsinasi dilakukan untuk ketiga sampel tersebut. f. Analisis Keasaman Setelah dilakukan analisis asam didapat hasil sebagai berikut: Sampel Zirkonia Berat Warna Warna vNaOH 0,01 N (mL) (Molaritas H2SO4) (gram) awal Akhir 0 0,1 Bening Ungu 0*) 0,5 0,1 Bening Ungu 2 1 0,1 Bening Ungu 2,2 *) Keterangan: Pada tetes pertama telah terjadi perubahan warna Tabel V.1. Hasil Analisis Keasaman Katalis Dari data diatas didapat bahwa katalis paling asam ialah katalis dengan molaritas asam sulfat untuk sulfatasi 1 M. Namun, kami menggunakan molaritas sulfatasi asam sulfat 0,5 M untuk tahap selanjutnya karena lebih efisien dari segi penggunaan asam sulfat. Dapat dilihat dari selisih volume NaOH 0,01 N yang digunakan lebih kecil. g. Pemurnian minyak jelantah Pemurnian ini dilakukan dengan proses bleaching atau pemurnian dengan karbon aktif. 1000 gram minyak jelantah dicampur dengan karbon aktif serbuk menggunakan perbandingan berat 7 gram karbon aktif untuk 100 gram minyak jelantah. Kemudian campuran tersebut distirer selama 1 jam pada suhu 700C. Setelah itu campuran disaring dengan menggunakan kertas saring. h. Dari hasil analisis 5 gram minyak didapatkan data: Volume NaOH 0,001 N titran : 11 mL Dari hasil perhitungan didapatkan hasil : 0,088 mgrek/gram minyak jelantah i. Reaksi esterifikasi Variasi katalis

e.

15

Gambar V.5. Hasil Esterifikasi Berbagai Macam Katalis Pada Suhu 60C Dari hasil diatas katalis terbaik adalah ZS 0,5 dan silika gel 8% massa reaktan. Sehingga katalis tersebut digunakan pada reaksi dengan variabel suhu. Variasi Suhu

Gambar V.6. Hasil Esterifikasi Berbagai Macam Suhu Menggunakan Katalis ZS 0,5 Dan Silika Gel 8% Massa Reaktan Dari hasil reaksi, suhu terbaik adalah 60C, sehingga kami menggunakan suhu tersebut untuk variabel berat silika gel. Variasi berat silika gel

16

Gambar V.7. Hasil Esterifikasi Berbagai Macam Berat Silika Gel Pada Suhu 60C Dari hasil diatas terlihat relatif sama untuk berbagai macam berat silika, namun berat silika yang terbaik adalah 4% dari berat reaktan karena lebih menghemat dalam pemakaian silika gel. Perbandingan Kinerja Katalis

Gambar V.8. Hasil Esterifikasi Untuk Perbandingan Kinerja Katalis Dari data diatas, kinerja ZS 0,5 & Silika gel 4% adalah yang terbaik. Dibuktikan dengan konversi FFA (0,8) paling tinggi diantara kedua data yang lain baik asam sulfat 0,5 M (0,7) dan tanpa katalis (0,2). Reaksi dilakukan pada suhu 60C dan lama reaksi 2 jam.

17

VI. KESIMPULAN DAN SARAN 1. Kesimpulan Kesimpulan yang dapat disampaikan dari pelaksanaan kegiatan ini antara lain: a) Pada pembuatan katalis Zirkonia Sulftat suhu kalsinasi paling bagus pada percobaan ini adalah 600C. Dibuktikan dengan analisis kristal menggunakan XRD dan ditunjukkan dengan intensitas kristal tetragonal paling tinggi. Sedangkan konsentrasi asam sulfat paling baik untuk sulfatasi adalah pada 0,5 M, karena lebih efisien untuk penggunaan asam sulfat. b) Dari analisis FFA minyak jelantah didapatkan hasil 0,088 mgrek/gram minyak jelantah. Hal ini membuktikan bahwa minyak jelantah dapat diesterifikasi. c) Suhu terbaik untuk reaksi adalah pada 60C, dibuktikan dengan konversi FFA paling tinggi pada variabel suhu. d) Dari reaksi yang telah dilakukan, katalis paling baik adalah ZS 0,5 & Silika gel 4%. Walaupun secara hasil menunjukkan konversi relative sama pada variabel berat silika gel. Namun, secara keseluruhan lebih menghemat dalam pemakaian silika gel. e) Reaksi esterifikasi dapat dilakukan dengan katalis heterogen (padat), sehingga tidak hanya dapat dilakukan dengan katalis homogen (cair). f) Katalis padat dapat digunakan sebagai pengganti katalis cair untuk esterifikasi. 2. Saran Pemanfaatan minyak jelantah masih dirasa belum banyak dilakukan. Oleh sebab itu perlu langkah serius untuk kedepannya. Diantaranya kampanye sehat untuk tidak menggunakan minyak jelantah secara berulang, dan kampanye pemanfaatan agar minyak jelantah tidak hanya dibuang percuma. Selain itu juga harus dilakukan penelitian tentang katalis padat untuk esterifikasi sehingga biaya operasi untuk esterifikasi dapat ditekan.

DAFTAR PUSTAKA

18

C.D. Rompp, 1995, Chemie Lexikon Version1.0, George Thieme Verlag, Stuttgart/ New York. Ecormier, M.A., Wilson, K., Lee, A. F. J., 2003, Catal. Haerudin H., Kusuma, D.S., Ermawan, Komalasari, I., 2005, Pembuatan dan Karakterisasi Asam Padat dari Bentonit Berpilar Termodifikasi untuk Katalis Esterifikasi, Diterima dan Diterbitkan dalam Jurnal Teknik Kimia Indonesia. Hino, M.S.; Kobayashi, S.; Arata, K. J.,.Am. Chem. Soc 1997. Hui, Y.H., 1996, Baileys Industrial Oil & fat Products . Edible Oil & Fat Products : Processing Technology, 5th ed. Vol.4, John Wiley & Sons, USA. Kalangit, H., 1995, Pembuatan dan Karakterisasi Nikel-Zeolit Sebagai Katalis Dalam Proses Oksidasi n-Pentana, Tesis S-2 UGM, Yogyakarta. Kementerian Negara Lingkungan Hidup, 2006, Pengelolaan Bahan Dan Limbah Berbahaya dan Beracun. Ketaren, S., 1975,Pengantar Teknologi Minyak dan Lemak Pangan,UIPress.Jakarta Morad,. A., N., M., 2006, Process Design in Degumming and Bleaching of Palm Oil Centre of Lipids Engineering and Applied Research, Universiti Teknologi Malaysia. Satyarthi, J.K.; Srinivas, D.; Ratnasamy, P. Energy Fuels 2010, 24, 2154-2161. Shriver, D.F., Atkins, P.W., Langford, C.H., 1990, Inorganic Chemistry, Oxford University Press, USA. U.S. Patent No. 6 242 620. www.chem-is-try.org www.inilah.com Yadav, G.D.; Nair, J.J.Micropor. Mesopor. Mat 1999

19

LAMPIRAN

DOKUMENTASI KEGIATAN

20

Anggota Penelitian 1. Bahan yang digunakan

ZrOCl2.8H2O

Minyak Jelantah

Etanol

2. Pembuatan Katalis Zirkonia Sulfat

21

Proses Presipitasi

Hasil Presipitasi

Proses Sulfatasi

Hasil Sulfatasi Katalis Setelah Dioven

Proses Kalsinasi Katalis

Hasil Kalsinasi Katalis

3. Analisis XRD

22

Tidak ada dokumentasi karena dilakukan oleh staff Laboratorium FMIPA UNS 4. Pemurnian Minyak Jelantah

Proses bleaching

Proses bleaching

Hasil bleaching

5. Analisis Keasaman Katalis

23

Proses ion-exchanger

Pemisahan antara filtrat dan endapan

Proses titrasi filtrat 6. Analisis Keasaman

Proses pelatutan FFA

Titrasi penentuan bilangan asam

7. Reaksi Esterifikasi

24

Proses Reaksi

Titrasi untuk menentukan konversi