Anda di halaman 1dari 66

PENGELOLAAN LIMBAH PADAT DAN CAIR DI PT SIDO MUNCUL

LAPORAN KERJA PRAKTEK

Diajukan untuk memenuhi sebagian dari syarat-syarat guna memperoleh gelar Sarjana Teknologi Pertanian

Oleh: VICTORIA EDUARTY MAHU 08.70.0140

PROGRAM STUDI TEKNOLOGI PANGAN FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN UNIVERSITAS KATOLIK SOEGIJAPRANATA

40

SEMARANG
2011

1. KEADAAN UMUM PERUSAHAAN


1.1. Sejarah dan Perkembangan PT Sido Muncul

PT Sido Muncul bermula tahun 1940 dari sebuah industri rumah tangga pada yang dikelola oleh Ibu Rahkmat Sulistio di Yogyakarta dan dibantu oleh 3 orang karyawan. Ibu Rakhmat kemudian memproduksi jamu dalam bentuk yang praktis (serbuk) karena banyaknya permintaan akan jamu yang mudah dikonsumsi dan mudah disajikan. Tahun 1951 didirikan perusahaan sederhana yaitu Sido Muncul yang berarti Impian yang terwujud yang berlokasi di Jalan Mlaten Trenggulun. Jamu Tolak Angin merupakan produk pertama dan andalan Ibu Rahkmat. Jamu ini mulai dikenal dan disukai masyarakat sehingga permintaan pun meningkat. Seiring perkembangannya, pabrik tidak mampu lagi memenuhi kapasitas produksi yang besar akibat permintaan pasar yang terus meningkat. Tahun 1984 pabrik dipindahkan ke Lingkungan Industri Kecil di Jalan Kaligawe, Semarang. Untuk memenuhi demand pasar yang terus meningkat, maka pabrik mulai dilengkapi dengan mesin-mesin modern, jumlah karyawan ditambah sesuai dengan kapasitas yang diperlukan. Saat ini jumlah karyawan PT Sido Muncul mencapai sekitar 2000 orang sebagai usaha untuk mengantisipasi kemajuan pabrik di masa mendatang. Tahun 1997 diadakan peletakan batu pertama pembangunan pabrik baru di Klepu, Kecamatan Bergas, Ungaran dengan luas 29 ha oleh Sri Sultan Hamengkubuwono X disaksikan oleh Direktur Jenderal Pengawasan Obat dan Makanan (Drs. Wisnu Katim). Pabrik baru ini diresmikan oleh Menteri Kesehatan dan Kesejahteraan Sosial Republik Indonesia, dr. Ahmad Sujudi pada 11 November 2000 (Gambar 1). Pada waktu peresmian, pabrik mendapatkan 2 sertifikat yaitu Cara Pembuatan Obat Tradisional yang Baik (CPOTB) dan Cara Pembuatan Obat yang Baik (CPOB) setara dengan farmasi. Hal ini menjadikan PT Sido Muncul sebagai satu-satunya pabrik jamu berstandar farmasi. Pada 8 Maret 2001, PT Sido Muncul menerima Kehati Award untuk

kategori Peduli Lestari Kehati, yang merupakan salah satu penghargaan di bidang pelestarian lingkungan untuk dunia usaha.

Gambar 1. Foto udara Pabrik PT Sido Muncul yang baru selesai dibangun pada tahun 2000 dengan luas 29 ha Setelah 66 tahun terlibat dalam industri jamu tradisional PT Sido Muncul mulai memproduksi produk-produk baru yang berbahan dasar alami seperti minuman serbuk Alang Sari, Alang Sari plus Fiber, Kunyit Asam, Kunyit Asam Fiber, Kunyit Asam Sirih, Anak Sehat aneka rasa, Jahe wangi, STMJ aneka rasa, permen Jahe Wangi. Permen Tolak Angin dan Permen Kunyit Asam. Sampai saat ini PT Sido Muncul telah memproduksi sekitar 200 produk yang berbeda untuk memperluas pasar. Keberadaan PT Sido Muncul tidak hanya untuk mengembangkan usaha, namun juga menjadi bagian dari masyarakat dengan adanya kegiatan-kegiatan sosial. PT Sido Muncul mempunyai 2 lokasi untuk pabrik, yaitu pabrik lama yang ukurannya lebih kecil terletak di Jl. Industri IIA nomor 19 A di Lingkungan Industri Kecil (LIK) Jalan Raya Demak Km. 4 Semarang dengan area seluas 20.000 m2 dan luas bangunan 14.000 m2, sedangkan pabrik baru berlokasi di Jl. Soekarno Hatta Km. 28 Klepu, Kec. Bergas, Ungaran di atas tanah seluas 29 ha. Peta lokasi pabrik dapat dilihat pada Lampiran 1. PT Sido Muncul memiliki beberapa lokasi yang berbeda-beda untuk masing-masing bagian yang diberi nama berdasarkan huruf capital. Letak dari masing-masing bagian denah dapat dilihat lebih lanjut pada Lampiran 2.
1.2. Visi dan Misi PT Sido Muncul

PT Sido Muncul mempunyai visi untuk mengembangkan produk yang berkualitas dan bersahabat dengan lingkungan. Misi PT Sido Muncul antara lain: Meningkatkan mutu pelayanan di bidang herbal tradisional. Mengembangkan penelitian yang berhubungan dengan perkembangan pengobatan dengan bahan-bahan alami. Meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya membina kesehatan melalui pola hidup sehat, pemakaian bahan-bahan alami dan pengobatan secara tradisional. Ikut mendorong pemerintah / instansi resmi agar lebih berperan dalam mengembangkan pengobatan tradisional. Untuk mewujudkan misi tersebut maka semua rencana pengeluaran produk baru selalu didahului dengan studi pustaka maupun penelitian yang intensif, menyangkut keamanan, khasiat, maupun sampling pasar. Untuk memberikan jaminan kualitas pada konsumen, maka setiap langkah produksi mulai dari barang datang hingga produk sampai di pasaran dilakukan di bawah pengawasan mutu yang ketat. Seluruh karyawan juga bertekad untuk mengadakan perbaikan setiap saat, sehingga diharapkan dapat lebih baik dari sebelumnya. 1.1. Ketersediaan Fasilitas PT Sido Muncul memiliki fasilitas yang mendukung terciptanya produk yang semakin maju dan inovatif dari waktu ke waktu. Fasilitas tersebut antara lain laboratorium, kebun percobaan dan budidaya tanaman, gedung ekstraksi, tempat pengolahan air bersih, tempat pengolahan limbah, dan perpustakaan. Fasilitas penting yang dimiliki PT Sido Muncul adalah empat laboratorium yang dibangun di atas lahan seluas 1200 m. Keempat laboratorium tersebut memiliki kekhususan seperti: a. Laboratorium Kimia Untuk melakukan pengawasan mutu (quality control) secara kimiawi, dilengkapi dengan peralatan High Pressure Liquid Chromatography (HPLC), Gas Chromatography (GC) dan Thin Layer Chromatography (TLC) Scanner.

Laboratorium Kimia bekerjasama dengan laboratorium instrumentasi untuk melakukan pengawasan mutu terhadap produk jadi dan bahan baku. b. Laboratorium Mikrobiologi Untuk melakukan pengawasan mutu (quality control) secara mikrobiologi atau yang berhubungan dengan bakteri dan jamur. c. Laboratorium Formulasi Untuk melakukan formulasi bahan-bahan yang akan digunakan saat produksi juga sekaligus berfungsi sebagai Laboratorium Research and Development untuk mencoba produk-produk baru. d. Laboratorium Uji Stabilitas Untuk melakukan uji stabilitas terhadap produk-produk jadi. Selain empat laboratorium tersebut diatas, PT Sido Muncul juga dilengkapi dengan Laboratorium Instrumentasi, Laboratorium Farmakologi, Laboratorium Farmakognosi, Laboratorium Stabilitas, dan Laboratorium Kultur Jaringan Laboratorium Analisa yang terdiri atas Laboratorium Kimia, Mikrobiologi dan Instrumentasi telah mendapat sertifikat ISO 17025. Kebun percobaan dan budidaya tanaman obat dibangun untuk mendukung terciptanya tanaman obat yang berkualitas. Kebun percobaan ini dibagi menjadi dua bagian yaitu kebun pertanian dan agrowisata. Agrowisata merupakan area seluas 1,5 hektar yang berisikan berbagai jenis tanaman obat dan dapat diakses secara umum. Tanaman yang tumbuh di area ini juga digunakan sebagai bahan baku produksi PT Sido Muncul. Gedung ekstraksi berfungsi sebagai tempat pembuatan ekstrak yang akan digunakan dalam proses produksi selanjutnya. Gedung ekstraksi merupakan bagian penting bagi terciptanya produk dengan kualitas tinggi sehingga harus terjaga dari kontaminan dengan kebersihan yang sangat diperhatikan. Kebersihan sangat dipengaruhi oleh pencucian alat dan gudang yang dilakukan secara berkala. Perusahaan ini membutuhkan jumlah air yang banyak untuk pembersihan lahan (58 hektar), gudang dan seluruh kantor (24 wilayah), serta peralatan pabrik (mesin dan peralatan). Oleh karena itu, PT Sido Muncul menggunakan sistem pengolahan air tanah yang efisien dan sistem

pengolahan air limbah yang sistematis sehingga air tanah yang digunakan lebih sedikit dan ketersediaan air tanah terjaga. PT Sido Muncul juga memiliki perpustakaan skala kecil sebagai sarana untuk staff (karyawan) sehingga dapat memperluas ilmu pengetahuan baik tentang tanaman obat, penelitian, produksi, sampai dengan pengolahan limbah dan hasil limbah yang masih bisa digunakan kembali. 1.1. Struktur Organisasi PT Sido Muncul merupakan sebuah perusahaan yang memiliki badan hukum Perseroan Terbatas (PT), yang dipimpin oleh Dewan Komisaris yang membawahi Presiden Direktur yang bertanggungjawab terhadap pengelolaan perusahaan. Presiden Direktur PT Sido Muncul membawahi Direktur Umum, Direktur Pabrik dan Direktur Keuangan. Direktur Keuangan membawahi beberapa manajer antara lain Manajer Keuangan, Manajer Akuntansi dan Manajer Pembelian. Pada pengoperasiannya, Manajer Keuangan dibantu oleh Kepala Bagian Pembiayaan dan Kepala Bagian Akuntansi Keuangan Biaya, Kepala Bagian Anggaran dan Kepala Bagian Pengolahan Data. Direktur Umum membawahi Manajer Personalia, sedangkan Direktur Pabrik membawahi tujuh Manajer, yaitu : Manajer Produksi, Manajer Product Planning Inventory Control (PPIC), Manajer Quality Assurance (QA), Manajer Research and Development (R & D), Manajer Lingkungan, Manajer Teknik, dan Manajer Budidaya Pertanian. Struktur Organisasi PT kinerja perusahaan. Sido Muncul dapat dilihat pada Lampiran 3. Berdasarkan struktur organisasinya, terdapat Internal Audit yang bertugas memantau

Secara garis besar masing-masing bagian dapat dijelaskan seperti berikut :


1. Manajer Produksi, bertugas:

Membuat rencana pelaksanaan proses produksi Mengkoordinir masalah pengaturan tenaga di bagian produksi Bertanggung jawab penuh terhadap kegiatan produksi Membuat laporan pertanggungjawaban terhadap pimpinan produksi Bekerjasama dengan unit lain dalam rangka melaksanakan kegiatan produksi

1. Manajer Product Planning Inventory Control (PPIC), bertanggung jawab untuk

merencanakan, mengatur dan mengontrol semua proses produksi.


2. Manajer Quality Assurance (QA), bertanggung jawab dalam menjamin mutu

produk. Tugas dari Manajer QA : Bertanggung jawab terhadap seluruh kegiatan pemeriksaan yang berlangsung di bagian produksi dan di laboratorium mikrobiologi. Menganalisa hasil pemeriksaan yang berlangsung di bagian produksi dan di laboratorium mikrobiologi. Membuat laporan hasil Analisa kepada Manajer laboratorium. Melakukan Pengawasan internal di bagian produksi. Research and Development (R & D), bertanggung jawab dalam hal

4. Manajer

penelitian dan pengembangan produk. Tugas dari Manajer R & D antara lain : Sebagai koordinator dan bertanggung jawab penuh terhadap seluruh kegiatan penelitian dan pengembangan jamu dan obat yang berlangsung di perusahaan. Memeriksa semua laporan-laporan yang diterima dari laboratorium untuk dibuat dan disampaikan kepada pimpinan (Direktur dan Konsultan). Mengadakan hubungan dengan konsultan, instansi pemerintahan, institusi dan pihak luar yang berhubungan dengan R & D. 5. Manajer Lingkungan, yang bertanggung jawab mengelola departemen lingkungan dalam mengendalikan lingkungan dan pengolahan limbah. Tugas dan tanggung jawabnya adalah sebagai berikut :

Mengatur dan bertanggung jawab penuh terhadap masalah proses limbah produksi baik limbah cair maupun limbah padat. Melakukan evaluasi dan estimasi terhadap proses yagn berlangsung dan melakukan langkah-langkah pengembangan yang lebih baik dan ekonomis. Melakukan pengoperasian pendistribusian sistem utilitas yang menjadi sarana pendukung proses limbah seperti pengaturan air, steam, tekanan udara, cooling tower dan lain sebagainya.

6. Manajer Teknik, bertanggung jawab untuk memimpin departemen teknik yang berkaitan dengan kerusakan dan perbaikanlistrik, mesin dan kelengkapannya.

7. Manajer Budidaya Pertanian, bertanggung jawab dalam pembudidayaan dan pelestarian tanaman obat selain itu juga bertanggung jawab untuk melakukan berbagai macam penelitian dan percobaan tanaman. 8. Manajer Umum, bertanggung jawab terhadap setiap kegiatan yang mendukung produksi seperti penyediaan tenaga kerja, menyediakan sarana dan prasarana, juga bertanggung jawab untuk mengkoordinasi kegiatan manajerial. 9. Manajer Keuangan, bertanggung jawab dalam merinci dan memberikan laporan keuangan yang sifatnya khusus. 10. Manajer Akuntansi, bertanggung jawab untuk perician dan pemberian laporan keuangan yang sifatnya umum. 11. Manajer Pembelian, bertanggung jawab terhadap pembelian barang-barang untuk kepentingan produksi. 1.1. Sumber Daya Manusia Sampai saat ini jumlah total staff dan karyawan yang bekerja di PT Sido Muncul adalah 2200 orang yang terdiri dari 900 pekerja di Lingkungan Industri Kecil Kaligawe dan 1300 pekerja di Pabrik Klepu. Bidang pendidikan karyawan meliputi Ekonomi, Hukum, Psikologi, Peternakan, Kimia, Teknik Kimia, Teknik Industri, Teknik Sipil, Teknik Arsitektur, Teknik Elektro, Kedokteran Hewan, Biologi, Pertanian, Farmasi, Teknologi Pangan dan lain lain. Untuk mengembangkan kemampuan, pada waktu-waktu tertentu kepada karyawan diberikan kesempatan mengikuti training kursus maupun seminar. Untuk mendukung penelitian dan pengembangan, PT Sido Muncul juga merekrut konsultan yang ahli di bidangnya, misalnya : apoteker, dokter, dokter gigi dan dokter spesialis. Untuk mengembangkan kemampuan serta pengetahuan tenaga kerjanya, PT Sido Muncul memberikan kesempatan pada karyawannya untuk mengikuti beberapa pelatihan, kursus, dan seminar. Untuk meningkatkan kualitas produk yang sesuai dengan keinginan masyarakat dan kemajuan teknologi, PT Sido Muncul melakukan kerjasama ilmiah dengan institusi dan lembaga-lembaga penelitian seperti : Universitas Diponegoro, Semarang

Pusat Penelitian dan Pengembangan Obat Tradisional (PPOT) dan Fakultas Farmasi, Universitas Gadjahmada, Yogyakarta Fakultas Farmasi, Universitas Widya Mandala, Surabaya Fakultas Farmasi, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta Lembaga Penelitian dan Fakultas Farmasi, Institut Teknologi Bandung Balai Penelitian Tanaman Obat, Departemen Kesehatan, Tawangmangu Balai Penelitian Tanaman Obat dan Rempah, Bogor Institut Pertanian Bogor, Bogor

Di samping beberapa lembaga yang telah disebutkan di atas, PT .Sido Muncul tetap membuka diri untuk kerjasama dengan lembaga manapun. Melalui serangkaian kerjasama ilmiah tersebut PT Sido Muncul berusaha menghasilkan produk yang teruji dan dapat dipertanggung jawabkan khasiatnya secara ilimiah. Karyawan bulanan bekerja dari pukul 08.00 hingga 16.00 dengan waktu istirahat antara pukul 12.00 sampai 12.30. Karyawan mingguan dibagi menjadi dua shift; shift pertama mulai pukul 07.00 hingga 14.30 dan shift kedua mulai pukul 15.00 hingga 22.00. Jam lembur akan diberlakukan apabila seorang karyawan masih bekerja di luar jam kerja yang ditetapkan. Segenap staff dan karyawan mendapatkan hak untuk memperoleh kesejahteraan yang diberikan oleh PT Sido Muncul yaitu pengupahan, pengobatan, Jaminan Sosial Tenaga Kerja (JAMSOSTEK), Tunjangan Hari Raya (THR), cuti haid, cuti hamil, cuti tahunan, bantuan melahirkan, bantuan kacamata, bantuan menikahkan dan mengkhitankan anak yang sah, bantuan pengobatan bagi keluarga karyawan, sumbangan uang duka bagi keluarga karyawan, program rekreasi dan sarana transportasi. Penggolongan karyawan di PT Sido Muncul terdiri atas karyawan tetap dan karyawan kontrak. Karyawan tetap terdiri atas karyawan bulanan dan mingguan. Karyawan bulanan yaitu karyawan dengan sistem penggajian yang diberikan setiap bulan (satu bulan sekali). Karyawan bulanan umumnya karyawan bagian kantor atau administrasi. Karyawan mingguan yaitu karyawan yang penggajiannya satu minggu sekali tiap Jumat. Karyawan mingguan umumnya bertugas di bagian produksi. Sedangkan karyawan

kontrak adalah karyawan yang mempunyai masa kontrak yang tidak tetap atau dikontrak bila ada proyek atau adanya peluncuran produk baru. Karyawan kontrak mendapatkan gaji secara harian serta tidak memiliki ijin untuk cuti. 1.1. Pemasaran Produk Pemasaran produk PT Sido Muncul mencakup seluruh Indonesia melalui saluran distribusi PT Muncul Mekar yang mana merupakan anak perusahaan PT Sido Muncul, produk-produk tersebut kemudian disalurkan ke subpemasaran, kemudian ke distributor, grosir, toko, dan terakhir konsumen. PT Muncul Mekar memiliki perwakilan di beberapa kota besar seperti Semarang, Bandung, Jakarta, Surabaya, dan beberapa kota lainnya. Pemasaran produk juga didukung oleh tim marketing yang solid, serta iklan melalui media cetak maupun elektronik. Selain dipasarkan di dalam negeri, produk PT Sido Muncul juga mulai diekspor ke berbagai negara seperti Malaysia, Singapura, Taiwan, Cina, Jepang, Rusia dan Arab Saudi. Sedangkan ekspor ke beberapa negara seperti Perancis, Kamerun, Afrika Selatan, Srilangka, dan Bangladesh masih dalam perencanaan (Gambar 2).

Keterangan : : Negara Tujuan Ekspor : Negara Tujuan Ekspor yang Masih Dalam Perencanaan Gambar 2. Peta Negara Tujuan dan Rencana Ekspor Produk PT Sido Muncul

2. SPESIFIKASI PRODUK

2.1. Produk yang Dihasilkan PT Sido Muncul memproduksi 3 jenis produk yang dibedakan menjadi jamu, minuman, dan permen. Jenis produk jamu dan minuman dibedakan menurut bentuknya yaitu jamu serbuk, jamu pil, jamu kaplet, jamu cair, minuman serbuk, serta minuman cair. Jenisjenis dan merek produk dapat dilihat pada Lampiran 4. Beberapa jenis produk PT Sido Muncul dapat dilihat pada Gambar 3.

Gambar 3. Produk PT Sido Muncul yang banyak dikonsumsi masyarakat Indonesia 2.2. Bahan Baku Produk PT Sido Muncul memproduksi jamu dan minuman yang diambil dari bahan baku alami. Jumlah bahan baku pada perusahaan ini sekitar 180 bahan alami yang dikelompokan menurut morfologinya. Tabel 2. Pengelompokan Bahan Baku Alami pada PT Sido Muncul Bentuk Rimpang Bahan Baku Kunyit, Kencur, Jahe, Laos, Temulawak, Temu Hitam, Temu Giring, Rumput Teki, dan Kunci Pepet Buah Biji Daun Pala, Asam Jawa Merica Hitam, Merica Bolong, Ketumbar, dan Biji Gasomsi Daun Kepel, Daun Salam, Serai, Daun Cengkeh, Daun Asam, Daun Teh Hijau, Daun Keji Beling, Daun Tapak Liman, Daun Sirih, Daun Jati

Belanda, Daun Curahap Akar Kulit Cair Akar Pasak Bumi, Gingseng, Purwoceng Kulit Kayu Cendana, Kulit Kayu Cina, Kulit Kayu Manis Madu Murni, Minyak Kelapa, dan Minyak Adas

2.3. Kapasitas Produksi Kapasitas produksi perusahaan bergantung pada permintaan konsumen, jika permintaan meningkat maka dilakukan produksi dalam skala besar dan sebaliknya jika permintaan menurun. Namun, perusahaan ini tidak pernah menghentikan proses produksi karena hampir setiap hari terdapat permintaan dari konsumen walaupun dalam jumlah yang kecil. Kapasitas produksi dalam gram tiap jenis produk pun berbeda tergantung pada ukuran sachet tiap produk. Namun, secara keseluruhan PT Sido Muncul menghasilkan sekitar 8000 sachet per produk yang dipesan per hari terlebih untuk produk unggulan seperti jamu Tolak Angin dan Kuku Bima.

3. PROSES PRODUKSI DAN SANITASI

3.1. Alur Bahan Baku Secara umum, bahan baku yang digunakan oleh PT Sido Muncul pada pembuatan produk-produknya membutuhkan suatu bahan penting yang disebut simplisia. Simplisia merupakan bahan alamiah yang digunakan sebagai obat yang belum mengalami pengolahan apapun. Simplisia dibedakan dalam 2 bentuk yaitu simplisia nabati kering dan basah. Simplisia basah merupakan bagian-bagian tanaman obat yang belum mengalami pengolahan apapun, sedangkan simplisia kering merupakan bagian-bagian tanaman obat yang telah mengalami proses pengeringan. Jenis bahan baku yang digunakan tergantung dari khasiatnya masing-masing, dimana bisa berupa batang, rimpang, daun, akar, maupun buahnya. Untuk memperoleh bahan baku yang baik, PT Sido Muncul melakukan berbagai usaha yaitu dengan membudidayakan bahan tanaman tertentu. Budidaya tanaman dilakukan dengan cara membuka kebun budidaya tanaman obat dan bekerja sama dengan petani yang dibina oleh pihak PT Sido Muncul.Hasil yang diperoleh dari kedua upaya di atas dapat member sumbangan 10% terhadap keperluan bahan baku di bagian produksi. Bahan baku lainnya masih dipasok dari daerah Blitar, Jawa Tengah, Jawa Barat dan Jawa Timur serta dari luar negeri seperti gingseng, ginkobiloba, Echinaceae, Ganorderma, dan lainnya. PT Sido Muncul memiliki standar penerimaan dan penggunaan bahan baku alami untuk meminimalisir kehilangan (losses) dalam proses dan meningkatkan efisiensi perusahaan. Sebagai acuan standar tanaman obat PT Sido Muncul menggunakan Farmakope dan Materi Medika Indonesia (MMI), sedangkan acuan bahan baku lain seperti gula, pemanis, perasa, dan pewarna digunakan SNI dan Codex Alimentarius. Dari keseluruhan bahan baku (180 jenis), tidak semua tanaman obat memiliki standarnya masing-masing, oleh karena itu PT Sido Muncul membuat standar sendiri sehingga memudahkan proses produksi selanjutnya. Standar perusahaan diambil dari

referensi penelitian tentang tanaman obat dari dalam dan luar negeri serta penelitian langsung yang dilakukan oleh tim peneliti PT Sido Muncul. Standarisasi bahan baku yang ditetapkan untuk industri jamu berbeda dengan standarisasi bahan baku untuk industri farmasi. Walaupun spesies dan jenis tumbuhan bahan baku sama, standarisasi bahan baku penting dilakukan. Hal ini disebabkan oleh kualitas bahan baku yang berbeda-beda sesuai dengan musim, cuaca, dan asal tumbuhnya. Tiga standarisasi penerimaan bahan baku antara lain: 1. Kebenaran Bahan Bahan yang masuk dalam gudang bahan baku PT Sido Muncul harus diperiksa kebenarannya. Hal ini sangat penting dalam proses pengolahan karena bahan-bahan dari industri ini yang sangat beragam dan memungkinkan adanya kesalahan dalam penerimaan serta distribusi bahan baku dari supplier. Kelangkaan bahan baku dapat terjadi karena musim dan iklim yang berubah. Hal ini akan menyebabkan bahan baku sulit didapat sehingga kemungkinan pemalsuan bahan akan lebih tinggi. Oleh karena itu PT Sido Muncul menerapkan sistem kepercayaan pada supplier dan petani yang memasok barang ke perusahaan sehingga pemasok akan mempunyai tanggung jawab besar pada perusahaan tentang kebenaran bahan. Umumnya, perusahaan akan mendatangi pemasok bahan baku dan memberikan penjelasan tentang varietas yang diinginkan oleh perusahaan sehingga khasiat dan zat aktif didalamnya sesuai dengan keinginan perusahaan. Untuk membuktikan kebenaran bahan, dapat dilakukan dengan pengujian secara organoleptik (melihat kenampakan fisik bahan) dan juga melalui laboratorium Quality Control (pengujian kimia). 2. Kadar Air Bahan Bahan baku yang diterima oleh PT Sido Muncul disimpan dalam gudang dan harus dalam bentuk yang kering. Hal ini bertujuan untuk menjaga bahan baku dari kerusakan karena bahan baku tidak langsung diolah. Bahan baku yang diinginkan harus dalam keadaan siap stok sehingga dapat memenuhi permintaan. Oleh karena itu bahan baku harus siap untuk disimpan dalam waktu yang lama. Hal ini sangat mempengaruhi keadaan mikrobiologis bahan, maka perusahaan membuat standarisasi simplisia kering yaitu dengan kadar air maksimal 10%. Namun, hal ini bukan berarti PT Sido Muncul tidak menerima bahan baku segar. Bahan baku segar

seperti rimpang Jahe dan Kunyit tidak melalui proses penyimpanan. Bahan baku ini dipasok dan diolah setiap hari karena permintaannya yang tinggi. 3. Kebersihan Bahan Bahan baku yang diterima dan diolah oleh PT Sidomucul harus dalam keadaan bersih. Keadaan ini meliputi kebersihan bahan baku secara fisik (tanah, debu, pasir) dan mikrobiologi (bebas dari bakteri pathogen). Hal ini sangat penting mengingat keberadaan kontaminan yang sangat berpengaruh pada pengolahan selanjutnya. Standar yang digunakan oleh perusahaan untuk bahan baku adalah standar yang telah ditetapkan oleh perusahaan dan pengecekan selalu dilakukan oleh bagian Quality Control. Proses penyimpanan dan penggunaan bahan baku dilakukan dengan prinsip First In First Out (FIFO) yaitu bahan baku yang lebih dulu diterima diproses lebih awal. Setelah penyimpanan yang panjang PT Sido Muncul selalu melakukan pengujian pada bagian Quality Control. Bahan baku yang diproses adalah bahan baku yang telah lolos dari proses pengecekan QC. Pengujian yang dilakukan PT Sido Muncul adalah pengujian kadar air, kekerasan, analisa keseragaman berat, analisa keseragaman volume, waktu hancur, dan analisa mikrobiologi. Sebelum proses peracikan, bahan baku harus diproses terlebih dahulu agar lebih mudah dimixing. Oleh karena itu, gudang bahan baku juga didampingi oleh gudang pengolahan bahan baku yang memproses bahan baku sebelum diracik. Proses ini untuk mengolah bahan baku yang telah disimpan dan untuk memastikan keberadaan bahan baku yang pantas diolah. Proses ini meliputi sortasi, pencucian, dan pengeringan. Proses sortasi bertujuan untuk menghilangkan atau memisahkan bahan pengotor maupun bahan-bahan asing yang terdapat diantara bahan baku tersebut sehingga dapat diperoleh bahan baku yang sesuai dengan kualifikasi proses selanjutnya. Sedangkan proses pencucian dilakukan dengan penyemprotan dan perendaman untuk menghilangkan debu, tanah, dan kotoran lain yang masih tertinggal dan menempel pada simplisia sehingga dapat mereduksi jumlah mikroba pathogen yang berpotensi menyebabkan kebusukan. Proses pengeringan bertujuan untuk memudahkan proses penggilingan.

1.1. Proses Produksi Proses pengecekan oleh bagian QC dilakukan diberbagai proses produksi. Proses produksi setelah bahan baku diolah secara umum dapat dilihat pada gambar 4.

PencampuranProduk ekstraktambahan pengering Giling kasar dengan bahan & (peracikan) Packingekstraksi dalam batch bahan makanan Proses Pencampuran Proses evaporasi Packingprimer PenyimpananPembuatan produk Pengeringan Pencampuran sekunder Ekstrak Jadi kental

Gambar 4 . Diagram Alur Produksi Minuman Serbuk PT Sido Muncul

Berdasarkan Gambar 4 dapat dilihat alur proses produksi secara umum dari PT Sido Muncul dengan tahapan sebagai berikut: a. Peracikan

Peracikan dilakukan dalam suatu gudang yang dibatasi untuk karyawan tertentu. Hal ini dilakukan untuk menjaga kerahasiaan produk. Peracikan dilakukan dengan menimbang bahan-bahan yang dibutuhkan sesuai dengan formulasinya masingmasing.
b. Penggilingan

Proses ini dilakukan untuk memperbesar luas permukaan simplisia dengan menggunakan mesin penggiling. Simplisia yang telah digiling ditempatkan pada wadah besar untuk proses ekstraksi. c. Ekstraksi Ekstraksi dilakukan dengan 2 cara yaitu dengan ethanol dan pengepresan air bersih. Ekstraksi dengan etanol dilakukan untuk melarutkan zat aktif yang terkandung didalam bahan baku kering. Sedangkan ekstraksi dengan pengepresan dilakukan untuk melarutkan rasa, warna, dan mengeluarkan seluruh kandungan air yang terdapat dalam simplisia sehingga didapatkan sari murni. Pengepresan dilakukan dengan menggunakan tekanan. d. Evaporasi Proses ini dilakukan untuk menguapkan air dari ekstrak, sehingga didapatkan ekstrak kental yang merupakan sari murni dari bahan baku. Hasil dari proses ini adalah ekstrak kental. e. Pembuatan Produk Pembuatan produk dapat dilakukan dengan berbagai macam proses tergantung pada hasil akhir yang diinginkan. Proses ini dapat berupa penggilingan untuk pembuatan produk, pemadatan pada cetakan untuk pembuatan kaplet, dan sebagainya.
f. Pencampuran Ekstrak dengan Bahan Pengering dan Bahan Tambahan Makanan

Proses pencampuran bahan pada umumnya sama. Bahan yang telah diformulasikan dicampur dengan mixer sehingga didapatkan campuran bahan yang homogen. g. Pengeringan Pengeringan dilakukan untuk mendapatkan kadar air standar yang diinginkan sebelum proses pengemasan. Hal ini dilakukan untuk memperpanjang proses penyimpanan dari produk.
h. Packing Primer dan Sekunder

Kemasan primer pada produk PT Sido Muncul umumnya terbuat dari bahan metalized dan dikemas menggunakan automatic packaging machine vertical. Kemasan primer yang digunakan dalam bentuk sachet dan setiap sachet nya terdapat cap expired date. Setelah tahapan pengemasan primer selesai, diambil beberapa sampel oleh bagian laboratorium QC untuk dilakukan pemeriksaan mutu (kadar air, mikrobiologis, dan organoleptik). Setelah mendapatkan pengesahan dari laboratorium QC, dilakukan pengemasan sekunder dengan menggunakan karton kotak. Setelah itu, dilakukan laminasi dengan plastic menggunakan mesin shrinking.
i.

Produk Jadi dan Penyimpanan Produk jadi yang disimpan dalam gudang penyimpanan akan keluar dari gudang untuk beredar di pasaran setelah ada permintaan dari divisi marketing perusahaan, namun sebelumnya harus dilakukan tahap penimbangan untuk mengetahui terjadinya kekurangan isi dalam dos maupun kesalahan pengisian produk dalam dos. Selain itu juga dilakukan pencatatan tanggal kadaluarsa dari produk yang akan dipasarkan oleh bagian dokumentasi.

1.1. Sanitasi Sebagai perusahaan yang unggul, PT Sido Muncul sangat mengutamakan produk yang aman dengan memperhatikan kebersihan serta sanitasi perusahaan. PT Sido Muncul melakukan pembersihan secara berkala baik pada gudang penyimpanan bahan baku dan pada area lain yang berkaitan dengan produksi.

2. PENGOLAHAN LIMBAH

PT Sido Muncul merupakan sebuah pabrik jamu yang mengolah tanaman obat sejak tanaman tersebut dipanen hingga produk jadi sampai ke tangan konsumen dengan pengolahan dan proses produksi yang canggih dan modern. Oleh karena itu, proses produksi perusahaan ini tidak menyumbangkan limbah yang besar dan berbahaya kecuali pada proses ekstraksi. Limbah yang dihasilkan PT Sido Muncul dibedakan menjadi tiga yakni limbah cair, limbah padat organik, dan limbah padat anorganik. 2.1. Karakteristik Limbah Padat Limbah padat terbagi atas dua yaitu limbah padat anorganik dan limbah padat organik. Limbah padat yang dihasilkan PT Sido Muncul 98% dari proses ekstraksi bahan baku dan sortasi. Dengan proses produksi perusahaan yang semakin besar, limbah padat juga semakin melimpah. Limbah padat yang dihasilkan PT Sido Muncul dibuang pada lahan kosong dibagian belakang pabrik sejak awal berdirinya pabrik ini. Limbah padat PT. Sidomuncul mempunyai kadar serat yang tinggi karena seluruh bahan baku diperoleh dari tanaman obat, namun kelembapannya tinggi karena hasil dari ekstraksi yang menggunakan pelarut cair. Pembuangan limbah padat pada lahan kosong menyebabkan terciptanya kompos dengan bakteri dekomposer alami yang tumbuh secara alami. Bakteri yang tumbuh secara alami menghasilkan proses fermentasi alami dan akan menyuburkan tanaman yang tumbuh disekitar. Hal ini terlihat dari tumbuhnya tanaman pada penumpukan limbah padat. Kompos mengurangi senyawa dan mikroorganisme patogen, selain itu bahan kompos dapat digunakan sebagai pemelihara tanah dan pupuk. Namun, limbah dengan kelembaban tinggi dan kadar serat yang rendah membutuhkan jumlah moisturesorbing yang cukup besar dan dukungan struktural untuk kompos akibatnya emisi ke udara, air, dan tanah yang dapat menimbulkan masalah. Selain itu hal ini juga dapat mengurangi nitrogen (penyubur) pada kompos.

Limbah padat anorganik diproses dengan cara pembakaran atau insinerasi. Insinerasi mengacu pada teknologi penghancuran dengan termal atau panas. Proses ini merupakan metode yang paling efektif untuk menghancurkan bahan anorganik. Plastik, kertas dan bahan anorganik lainnya merupakan bahan kering yang mudah dalam perlakuan pembakaran, sedangkan bahan yang mempunyai kandungan air yang tinggi memiliki kemungkinan untuk meninggalkan bekas setelah pembakaran yang disebut dengan pembakaran tidak sempurna. Dalam insinerasi PT Sido Muncul, emisi udara, kondisi proses, dan residu padat dan cair dikontrol dengan ketat.
2.2. Karakteristik Limbah Cair

Limbah cair sebagian besar dari proses persiapan bahan baku untuk dijadikan simplisia yaitu proses pencucian, selain itu limbah cair juga diperoleh dari uap panas hasil steaming, senyawa kimia cair hasil pengujian laboratorium, kamar mandi perusahaan, dan hasil pengolahan lainnya seperti pencucian mesin dan gudang yang dilakukan secara berkala. Sedangkan limbah padat perusahaan diperoleh dari ampas sisa ekstraksi dengan etanol, proses penyaringan bahan baku (ekstraksi dengan air), limbah padat kamar mandi dan limbah plastik yang merupakan bahan anorganik serta sisa sampel dan barang yang ditolak. Limbah cair yang berasal dari proses produksi dan pencucian bahan baku menyebabkan sifat limbah yang asam. Proses pengecekan keasaman limbah dilakukan dengan kertas lakmus pada awal perencanaan instalasi pengolahan limbah cair. Keasaman limbah terjadi karena tanaman mempunyai pH yang rendah. Limbah cair juga dihasilkan dari proses pembuatan ethanol pada pabrik bio-ethanol. Limbah cair dari proses inilah yang nantinya digunakan PT Sido Muncul untuk membuat produk pupuk cair. Permasalahan limbah yang kerap terjadi pada sistem pengolahan adalah kecepatan aliran yang tidak pasti dan tidak kontinyu. Hal ini disebabkan oleh pengolahan bahan baku yang bergantung pada permintaan gudang peracikan sehingga pencucian bahan baku per harinya tidak sama. Limbah cair juga sering tercampur dengan padatan halus organik seperti serabut rimpang, daun, akar, batang yang terjadi pada proses sortasi, dan padatan anorganik seperti tali rafia, plastik pengemas, kertas dan lain-lain.

PT Sido Muncul memiliki dokumen khusus tentang penelitian limbah cair awal yang merupakan sisa hasil produksi, namun karena alasan manajemen perusahaan penelitian ini tidak dipaparkan secara terbuka dengan mahasiswa Kerja Praktek. Penelitian limbah awal dilakukan setiap 3 bulan untuk melihat perkembangan dan perubahan karakteristik limbah sehingga limbah yang dihasilkan tetap aman bagi lingkungan. Perusahaan hanya melakukan pengukuran berdasarkan karakteristik kimia karena limbah organik dianggap tidak merusak secara fisik dan biologi. 2.2.1. Karakteristik Fisikawi 2.2.1.1. Bau Limbah PT Sido Muncul memiliki bau yang tidak sedap pada proses penjernihan. Bau ini menunjukkan limbah yang sudah busuk. Bau yang tidak sedap itu disebabkan oleh campuran dari pembusukan senyawa-senyawa tertentu dari bahan organik yang terdapat dalam air limbah. Menurut survei yang dilakukan PT Sido Muncul, meskipun tidak menyenangkan bau yang tidak sedap tersebut tidak mengganggu kesehatan masyarakat sekitar terlebih lagi bau tidak sedap tersebut cuma ada di Unit Pengolahan Limbah Cair. Pengukuran bau ini dilakukan melalui uji sensori dengan indera penciuman oleh mahasiswa Kerja Praktek. Namun, PT Sido Muncul tidak melakukan pengujian tertentu untuk mengukur bau limbah karena dianggap tidak menjadi masalah bagi penduduk sekitar pabrik.
2.2.1.2. Warna dan Kekeruhan

Pada parameter karakteristik warna, limbah awal PT Sido Muncul memiliki warna yang coklat. Namun, setelah beberapa hari tidak diproses warna limbah menghitam dan mengental. Warna memberikan informasi tentang kualitas dari kekotoran limbah itu sendiri. Makin pekat warna maka diandaikan bahwa limbah yang kita ambil makin kotor. Warna air memberi petunjuk akan jumlah benda yang tersuspensi dan terlarut. Bahaya tidaknya suhu limbah dapat dilihat pada warna limbah.

2.2.1.3. Suhu Suhu berguna untuk melihat kecenderungan aktivitas-aktivitas kimiawi dan biolifis, pengentalan, tekanan uap, tegangan permukaan, dan nilai-nilai penjenuhan dari benda padat, dan gas (Mahida, 1992). Pengujian suhu dilakukan secara sensori untuk mengkondisikan limbah aman untuk masuk dalam sistem penjernihan (Clarifier). Suhu limbah yang tinggi biasanya tidak diproses langsung. Limbah dibiarkan beberapa saat sampai suhu rendah agar tidak merusak pipa dan blower.
2.2.2. Karakteristik Kimiawi

2.2.2.1. pH pH menyatakan keasaman atau alkalinitas dari suatu cairan encer, dan mewakili konsentrasi hidrogen ionnya (Mahida, 1992). Kadar pH yang baik yaitu keasaman yang tetap mempertahankan keadaan biologis dalam air. Pada pH awal, PT Sido Muncul memiliki limbah yang asam. Pada tahap akhir proses pengolahan limbah pH menunjukan kadar
2.2.2.2. Chemical Oxygen Demand (COD) dan Biochemical Oxygen Demand

(BOD) Chemical Oxyggen Demand (COD) atau kebutuhan oksigen kimiawi (KOK) adalah banyaknya oksigen dalam ppm atau mg/l yang dibutuhkan dalam kondisi khusus untuk menguraikan benda organik secara kimiawi (Suhardi, 1991). Biochemical Oxygen Demand atau BOD adalah sejumlah oksigen dalam sistem air yang dibutuhkan oleh bakteri aerobik untuk menstabilkan atau menetralisir bahan-bahan organik dalam air melalui proses oksidasi biologis secara dekomposisi aerobik (Ryadi,1984). Data awal kadar COD dan BOD limbah tidak dapat diketahui dari perusahaan ini namun, pada pebelitian tahap akhir diketahui nilai COD dan BOD sebesar 2,5 mg/l dan 10 mg/l. 2.2.3. Karakteristik Biologis

Tujuan pemeriksaan biologis di dalam air dan limbah cair adalah untuk mengetahui ada atau tidaknya bakteri pathogen (Utomo, 1998). PT Sido Muncul tidak melakukan penelitian secara khusus tentang karakter limbah ini karena limbah tidak dibuang ke lingkungan sekitar dan hanya digunakan untuk kebutuhan air non-produksi.

2.3. Alur Pengolahan Limbah Pengolahan limbah padat dan cair mempunyai alur pengolahan yang berbeda menurut jenisnya. Pengolahan limbah padat organik (Gambar 4) dijadikan pupuk padat dan minyak atsiri, sedangkan pengolahan limbah anorganik langsung dibakar pada mesin incinerator.
Limbah padat organik Ekstrak Minyak Penyulingan Penguapan pembuatan kompos Baru atsiri (limbah lama)

limbah baru

Pengayakan

Pengayakan

Pencampuran kompos dan limbah baru (1:3) Fermentasi Pengayakan Pupukgranul dengan Granula bahan Pengeringan dengan Rotary Drier Pengeringan dengan penjemuran Pencampuran dengan PembuatanPengayakan Proses Herbafarm pengemulsi granulator

Gambar 4. Diagram alir proses pengolahan Limbah Padat Pada pengolahan limbah cair dari proses produksi PT Sido Muncul terdapat Instalasi Penanganan Air Limbah (IPAL) yang menangani sisa air bekas pakai, sedangkan pengolahan limbah cair dari proses pembuatan etanol dijadikan pupuk cair (Gambar 5).

Limbah cair produksi

Cairan Proses Koagulasi (Al2SO4, NaOH, polymer)

Endapan

Pupuk tanaman

Koagulan Menuju Drying Bed Penyaringan Sisa cairan

Cairan Filtrasi (pasir Silika) Aerasi dengan Alga Sedimentasi Filtrasi (pasir Silika)

Tow er

Reuse (5 10 %)

Recycle (90 95 %)

Kolam Ikan

Gambar 5. Diagram alir proses Pengolahan Limbah Cair

2.4. Pengelompokan Produk Hasil Pengolahan Limbah

Sebagai perusahaan yang berbahan baku tanaman, PT Sido Muncul merancang instalasi pengolahan limbah yang baik sehingga limbah yang dihasilkan memenuhi ketentuan standar baku mutu limbah. PT Sido Muncul memiliki instalasi pengolahan limbah cair (Waste Water Treatment Plant) berkapasitas 14 m3/jam. Limbah cair akan dialirkan menuju instalasi pengolahan air limbah untuk diproses dan diteliti ulang demi mendapatkan limbah yang sesuai dengan peraturan daerah Semarang.
2.4.1. Hasil Pengolahan Limbah Padat

Limbah padat organik memiliki dapat menghasilkan produk khusus yang mendatangkan untung bagi perusahaan. Dalam pengolahannya, limbah padat dibagi kembali menjadi 2 bentuk yaitu pupuk padat organik (pupuk granul) dan minyak atsiri. 2.4.1.1. Pupuk Granul Pupuk granul adalah pupuk padat berbentuk butiran yang terbuat dari limbah organik. Bentuk ini digunakan untuk memudahkan aplikasi petani karena sudah lama dikenal sebagai bentuk pupuk yang umum. Bentuk butiran memudahkan penyerapan terhadap tanah dan meminimalisir kerusakan pupuk karena merupakan produk yang kering. Untuk membuat pupuk granul, mula-mula limbah padat diayak secara manual kemudian limbah organik yang telah menjadi kompos (penguraian secara alami) dicampurkan

dengan limbah baru dari produksi perusahaan dengan perbandingan 1 : 3 (kompos : limbah baru). Kompos dan limbah baru dibedakan dengan suhunya. Kompos memiliki suhu yang lebih tinggi karena telah terjadi proses fermentasi dan panas merupakan hasil dari metabolisme bakteri. Kemudian untuk menyebarkan dan menumbuhkan lebih banyak bakteri pengurai (decomposer), dilakukan proses fermentasi dengan inkubasi sekitar sekitar 10 14 hari. Proses inkubasi dilakukan dengan menutup adonan dengan terpal untuk menjaga suhu dan keadaan bakteri pada lingkungan hidup tertentu. Setiap 3 hari, adonan dicek suhu dan keadaan mikrobianya. Dengan suhu dan jumlah mikroba yang ditentukan, proses fermentasi dapat dihentikan untuk dilanjutkan pada proses berikutnya. Proses pengayakan merupakan proses selanjutnya yang bertujuan untuk memudahkan pupuk agar dapat di campur secara homogen. Proses ini dilakukan dengan mesin rotary sieving dengan kecepatan rendah untuk meratakan bentuk pupuk. Setelah itu pupuk dikeringkan dengan rotary dryer dengan suhu yang meningkat bertahap yaitu dari 90o 130o C. Hal ini bertujuan untuk mengadaptasi mikroba yang berperan penting pada kinerja pupuk agar dapat disimpan lama dan memudahkan proses berikutnya. Selanjutnya pupuk dicampur dengan bahan pengemulsi agar mudah terbentuk granula yang mempunyai kulit yang keras sehingga tidak rusak saat sudah dikemas. Proses granulasi sudah dapat dilakukan ketika tim QC sudah menyetujui adonan mixing yang tepat. Setelah itu, proses granulasi berlangsung pada mesin yang bernama granulator. Kerja mesin ini hampir sama dengan sistem pengayakan skala rumah tangga yang dapat membuat adonan roti membulat. Granula akan terbentuk dengan sendirinya dan terpisah pada bagian bawah untuk kemudian dilakukan pengeringan kembali pada rotary dryer dengan suhu yang lebih rendah yaitu 70o 90o C untuk mencegah matinya bio-fertilizer tanah dan memperpanjang umur simpan pupuk. Proses ini dilanjutkan dengan proses pengayakan untuk membuang serpihan dan granul yang tidak terbentuk serta menyamakan ukuran granul. Selanjutnya pupuk siap dikemas dengan proses penjemuran sebelumnya. Kadar air yang ditetapkan untuk pupuk granul sebelum dikemas adalah 20%.

Permasalahan pupuk granul adalah matinya beberapa bakteri yang sangat membantu kinerja pupuk pada tanaman. Bakteri dan mikroba tanah yang dipakai perusahaan adalah mikroba alami yang resistan terhadap panas, sehingga beberapa mikroba mati pada tahap pengeringan dengan rotary dryer yang suhunya mencapai 130oC. Divisi pupuk granul mengambil bahan dari limbah dan bahan-bahan lain yang tidak membutuhkan biaya tambahan. Namun, perawatan dan daya mesin serta gaji tenaga kerja menuntut keuntungan yang besar sehingga terus dilakukan penelitian tentang efektivitas mikroba agar produk jadi yang dihasilkan lebih banyak. 2.4.1.2. Minyak atsiri PT Sido Muncul memanfaatkan seluruh limbah yang dihasilkan secara maksimal sebagai wujud keterlibatan perusahaan terhadap pelestarian lingkungan. Salah satu hal yang digunakan adalah pengolahan ampas hasil ekstraksi jahe dengan hasil berupa minyak atsiri. Minyak ini bernilai lebih tinggi dibandingkan produk jahe sendiri karena merupakan ekstrak asli dari jahe. Minyak atsiri mempunyai pengolahan dan bidangnya sendiri dalam perusahaan ini. Minyak atsiri dibuat dengan cara menguapkan ampas jahe dan menarik uap hasil penguapannya dengan memisahkan antara uap cair dan uap minyak dengan penyulingan. Mula-mula ampas jahe dikumpulkan menjadi satu, kemudian mesin uap dihidupkan untuk menghasilkan uap yang memanaskan ampas jahe. Dengan uap ini maka ampas jahe akan menguap dan menghasilkan dua bagian uap, yaitu uap minyak atsiri dan air. Kemudian uap dipisahkan dengan penyulingan dan minyak atsiri dapat diambil. Namun, sub unit ini masih menjadi masalah karena bahan bakar yang dipakai dan kinerja unit tidak sebanding dengan minyak atsiri yang didapatkan.
2.4.2.Hasil Pengolahan Limbah Cair

Limbah cair didapatkan dari pencucian bahan baku, pencucian mesin dan gudang secara berkala, pembuangan manusia (urin), sisa cairan proses produksi, serta sisa molasses dari produksi etanol. Sebagai perusahaan besar yang mempunyai kepedulian terhadap lingkungan diberlakukan sistem 3R yaitu Reduce (pengurangan penggunaan air), Reuse

(penggunaan limbah kembali), Recycle (pengolahan limbah untuk manfaat yang lain). Perusahaan ini menetapkan sistem Reduce dengan memperingatkan pekerja untuk mempergunakan air secara hemat melalui pengumuman yang terletak di berbagai tempat yang mempergunakan air seperti kamar mandi, wastafel, keran, dll. Sedangkan sistem Reuse dipakai dalam jumlah kecil, biasanya untuk melakukan pencucian berulang dengan bahan yang lebih kotor. Pada sistem Recycle digunakan pengolahan limbah untuk mendapatkan bahan cair dengan kualitas lebih tinggi sehingga didapatkan manfaat yang lebih baik seperti pengolahan pupuk cair dan pengolahan limbah cair (Waste Water Treatment). 2.4.2.1. Pupuk Cair PT Sido Muncul memiliki divisi lingkungan dan proses dengan pengolahan bio-ethanol sebagai salah satu unitnya. Pengolahan bio-ethanol menyisakankan limbah berupa stillage. Pada limbah ini masih tersisa nutrisi yang belum dipergunakan yeast untuk fermentasi, dan hal ini baik untuk pertumbuhan tanaman. Limbah dipergunakan PT Sido Muncul sebagai larutan media tumbuh mikroorganisme untuk membuat pupuk cair. Kebijakan PT Sido Muncul dalam divisi pupuk cair tidak mengijinkan proses pengolahannya diketahui oleh umum. Secara umum, pembuatan pupuk cair diawali dengan pembuatan media yang berisi nutrisi penting baik bagi tanaman maupun mikroorganisme yang sengaja ditumbuhkan. Selanjutnya, dilakukan perlakuan tertentu sehingga mikroorganisme inaktif (dorman). Perlakuan ini dilakukan agar mikroorganisme tidak menghabiskan nutrisi yang terkandung dalam media.
2.4.2.2. Air Jernih

Pengolahan air limbah dilakukan dengan 2 tahap pengolahan yaitu: 1. Pengolahan secara Fisik-Kimiawi

Pengolahan ini bertujuan untuk mengurangi parameter limbah antara lain zat padat tersuspensi (TSS), logam-logam berat, BOD5 (30 60 %), COD (40 70 %) dan pengaturan pH 2. Pengolahan secara Biologis Pengolahan secara biologis ini bertujuan untuk mengurangi kadar BOD5, COD, dan zat padat tersuspensi dengan memanfaatkan organisme untuk proses penguraiannya.
1.1.1.1.1. Pengolahan Secara Fisikokimiawi

Pengolahan limbah secara fisikokimiawi dan biologi dibedakan menurut unit mesin atau peralatannya. Pengolahan secara Fisika Kimiawi terbagi atas unit-unit pengolahan yang berbeda, antara lain: a. Sump Tank Bak ini berfungsi untuk penampungan awal dan mencampur limbah agar kualitas air yang diolah homogen, untuk menampung air hasil pencucian Gravity Sand Filter yang dilewatkan Sand Drying Bed dan untuk menjamin kontinuitas proses selanjutnya. Unit ini dilengkapi dengan: Equalizing Pump, untuk mentransfer air dari Equalizing Tank ke Clarifier Tank Sand Drying Bed, untuk menyaring hasil pencucian Gravity Sand Filter Level switch, untuk mengatur mati hidupnya pompa a. Unit Penetralan (penambahan NaOH) Proses koagulasi dengan Al2SO4 berlangsung secara optimum pada pH netral dan adanya Alkalinitas. Karena penambahan koagulan dan flokulan menimbulkan penurunan pH maka diperlukan pengaturan pH dan penambahan alkalinitas agar proses pembentukan flock dapat berlangsung optimum sehingga proses pengikatan endapan menjadi lebih baik. Untuk pengaturan pH dan penambahan alkalinitas, ditambahkan larutan dengan konsentrasi tertentu dalam pipa, dalam hal ini digunakan larutan NaOH. Unit ini dilengkapi dengan: Dosing pump, untuk pembubuhan NaOH Tangki penampung NaOH Motor pengaduk (agitator) untuk pembuatan larutan NaOH

Level switch untuk kontrol alaram apabila larutan NaOH habis a. Unit Koagulasi Unit ini berfungsi untuk penambahan koagulan dengan konsentrasi tertentu dalam pipa agar terbentuk bibit-bibit flok yang akan mengikat padatan tersuspensi yang terkandung dalam air limbah. Unit ini dilengkapi dengan: Static mixer untuk pencampuran NaOH dan koagulan dengan air limbah agar homogen sehingga pengikatan padatan tersuspensi berjalan sempurna Dosing pump untuk pembubuhan koagulan Tangki penampungan koagulan Motor pengaduk (agitator) untuk pembuatan larutan koagulan Level switch untuk control alarm apabila koagulan habis a. Unit Flokulasi Unit ini berfungsi untuk penambahan flokulan dengan konsentrasi tertentu dalam pipa agar flock yang terbentuk menjadi flock yang lebih besar sehingga mudah mengendap dalam unit Clarifier. Unit ini dilengkapi dengan: Static mixer untuk pencampuran flokulan dengan air limbah agar homogen sehingga pembentukan flock yang lebih besar berjalan sempurna Dosing pump untuk pembubuhan flokulan Tangki penampungan flokulan Motor pengaduk (agitator) untuk pembuatan larutan flokulan Level switch untuk control alarm apabila flokulan habis
a. Unit Static mixer

Static mixer berfungsi sebagai pengaduk cepat yang dirancang sedemikian rupa untuk pengadukan yang optimal, tanpa banyak kehilangan air (head loss) dan tidak memerlukan peralatan-peralatan dan energi tambahan. Setiap segmen dari sirip-sirip di dalam static mixer akan bekerja memecah aliran air yang menimbulkan efek penyebaran dan pengumpulan kembali aliran air secara bergantian yang

mengakibatkan bahan kimia yang diinjeksi kedalam air akan teraduk dengan sempurna dan pencampuran lebih merata. b. Unit Pompa Kimia Pompa kimia dengan tipe diaphragm mampu melakukan injeksi bahan kimia secara akurat serta dapat diatur secara proportional dari 0% sampai dengan 100% kapasitas.
c. Unit Clarifier 1

Bentuk prismatic pada bagian bawah clarifier berfungsi untuk pengumpulan endapan, dan separator / lamella yang terbuat dari fiberglass pada bagian atas clarifier berfungsi untuk memperlambat aliran dan menghambat flock-flock yang akan naik kebagian atas, sehingga akan menimbulkan efek sedimintasi yang optimal dengan waktu yang relative singkat. Untuk mencegah penumpukkan sludge pada clarifier maka dilakukan pembuangan dengan melakukan motorize valve yang terdapat pada salura pembuangan (Drainage). Pembuangan sludge dapat dilakukan selama clarifier bekerja tanpa mengganggu proses sedimentasi yang terjadi. Unit ini dilengkapi dengan : Lamella untuk memperbesar surface area Motorized valve untuk pembuangan sludge secara berkala dengan system otomati
a. Unit Gravity Sand Filter 1

Filtrasi dengan Gravity Sand Filter adalah proses melewatkakan air melalui suatu bantalan pasir Silica (Sand) yang akan menahan padatan tersuspensi dan flock yang halus yang lolos dari Clarifer. Gravity Sand Filter beroperasi untuk jangka waktu terbatas, apabila sand tersebut sudah jenuh (tidak mengikat kotoran lagi) dan filter menjadi tersumbat maka harus dilakukan pembersihan filter dengan cara cuci balik (backwash) dan kemudian pembilasan (rinsing). Proses pertama pengolahan limbah cair adalah penampungan limbah. Kapasitas bak penampungan limbah cair ini adalah 50 m3. Jumlah ini terhitung kecil jika dibandingkan

dengan limbah cair yang dihasilkan perusahaan. Namun, instalasi pengolahan limbah cair berjalan terus menerus dan mampu mengatasi seluruh limbah cair perusahaan. Penampungan ini bertujuan untuk menghomogenkan dan mengendapkan limbah cair yang tercampur dengan padatan. Padatan ini nantinya akan menghambat penyaluran cairan dengan menyumbat pipa dan akan menghentikan sistem. Padatan yang terendapkan pada bak penampungan diambil secara manual dan dapat dipergunakan sebagai pupuk tanpa proses lebih lanjut. Pupuk ini dipergunakan untuk tanaman disekitar instalasi pengolahan limbah dan menghasilkan tanaman yang subur. Hal ini membuktikan limbah padat PT Sido Muncul tidak berbahaya bagi tanah. Selanjutnya air limbah dialirkan pada Sump Tank untuk dicampur agar homogeny. Tank ini juga menampung air hasil pencucian kedua Gravity Sand Filter yang dilewatkan Sand Drying Bed terlebih dahulu. Apabila level air sudah penuh (posisi high) dengan menggunakan Sump Pump dialirkan menuju ke Clarifier Tank 1. Pemompaan ini dikombinasikan dengan proses injeksi senyawa kimia pada pipa penyaluran. Tempat penampungan dan mesin pemompa yang menginjeksi senyawa kimia (Gambar 6) diletakan berdekatan dengan Clarifier dan unit proses yang lain agar mudah dalam pengontrolannya. Senyawa kimia yang digunakan adalah Alumunium Sulfat (Al2SO4), soda api (NaOH), dan polymer (Gambar 7). Dengan adanya aliran dalam pipa menuju ke clarifier tank 1, flow indicator akan menunjukan besarnya laju alir air limbah menuju Clarifier Tank 1 dan flow switch akan menghidupkan secara otomatis pengaduk pada tangki kimia, Dosing pump, dan timer yang mengontrol waktu pembuangan (drain) Clarifier. Setelah melewati flow switch, aliran diinjeksi dengan bahan kimia NaOH dan Coagulant (Al2SO4) yang letak injeksinya berdekatan. Sistem injeksi larutan dari tangki bahan kimia, digunakan Dosing pump yang dapat diatur kapasitasnya.

Gambar 6. Tangki Bahan Kimia dari kiri ke kanan: NaOH, Al2SO4, dan Polymer

(i)

(ii) polymer (iii)

(iii)

Gambar 7. Bahan Kimia yang digunakan PT Sido Muncul: NaOH (i), Al2SO4 (ii), dan

Penggunaan Al2SO4 digunakan untuk membentuk koagulan namun sifat limbah yang asam akan menghambat terbentuknya koagulan sehingga digunakan NaOH sebelumnya untuk menetralkan pH limbah sehingga koagulan dapat terbentuk dengan sempurna. Koagulan yang terbentuk akan membuat limbah cair semakin keruh karena berkumpulnya partikel-partikel kecil didalamnya, namun koagulan ini tidak dapat terendapkan dengan cepat. Oleh karena itu digunakan injeksi polymer untuk mengikat koagulan-koagulan menjadi satu sehingga berat jenis koagulan semakin besar dan dapat mengendap dengan cepat.

Injeksi yang berlangsung di dalam pipa membuat pengadukan akan berjalan lebih sulit sehingga digunakan static mixer pertama agar bahan kimia teraduk dengan baik dan pencampuran lebih merata. Setelah teraduk didalam aliran terjadi proses penetralan pH dengan cepat, pembentukan bibit-bibit flock serta pengikatan padatan terlarut pada bibit flock tersebut. Static mixer kedua digunakan setelah injeksi polymer untuk membentuk flokulan yang besar di sepanjang pipa menuju clarifier 1. Penggunaan polymer juga harus selalu dicek, hal ini dikarenakan penggunaan polymer yang terlalu banyak akan menyebabkan terikatnya O2 dan koagulan akan mengapung diatas bak Clarifier. Namun, jika penggunaan terlalu sedikit maka pengendapan akan berlangsung lama. Mixer juga digunakan untuk menyaring dan menghancurkan padatan yang ikut terpompa ke dalam clarifier. Pembongkaran dan pembersihan pipa juga dilakukan berkala untuk mencegah adanya penyumbatan pada sistem. Clarifier berguna untuk menjernihkan cairan sehingga padatan tidak diperkenankan ikut masuk kedalamnya. Pada Clarifier terdapat 4 bagian yang dibagi atas 2 jalur, yaitu jalur Clarifier A dan Clarifier B dan 2 kanal pada setiap jalurnya. Alur limbah pada clarifier meliputi proses kogulasi 1 dan sedimentasi pada kanal 1 serta proses koagulasi 2, pengapungan, dan penyaluran menuju Sand Drying Bed pada kanal 2 (Gambar 8).
Lapisan Masuk Limbah Lameela Sedimentasi Air jernih menuju Gravity Sand Pipa penyaluran air jernih

Endapan (koagulan) menuju sand drying bed

Gambar 8. Bentuk dan Alur Limbah Pada Clarifier Clarifier dengan kanal 1 dan 2 dirancang dengan bentuk yang semakin mengecil pada bagian bawah dan pipa berlubang pada bagian atas untuk mengendapkan koagulan dan mengapungkan air jernih (Gambar 9). Pipa dimodifikasi dengan pembuatan lubanglubang yang semakin lama semakin besar dengan tujuan menghambat kotoran yang masih mengapung di dalam bak, tidak memusatkan aliran air, dan melancarkan aliran air dengan lubang yang paling besar didekatan dengan hilir pipa. Kanal 1 menampung limbah dan mengendapkan koagulan, sedangkan kanal 2 dipakai untuk mengapungkan air jernih yang selanjutnya di proses pada Gravity Sand Filter. Kanal 1 dan kanal 2 dibatasi oleh sekat yang menggantung sehingga limbah dari kanal 1 akan menuju kanal 2 melalui bagian bawah. Lapisan lameela pada kanal 2 menghambat flok naik keatas permukaan sehingga hanya air jernih yang akan naik. Flok yang berat kemudian akan turun pada bagian pengumpul (sludge) dan akan dibuang secara berkala dengan motorize valve yang diatur dengan timer dan dapat diantisipasi secara manual.

(i)

(ii)

(iii)

Gambar 9. Clarifier tampak samping (i), bagian atas Clarifier A (ii), bagian atas Clarifier B yang dirancang untuk mengendapkan koagulan Bak Gravity Sand Filter berisikan pasir silika dengan 3 ukuran yang berbeda (ukuran kecil, ukuran sedang, ukuran besar) dan memiliki kapasitas sebesar 14 m3 per jam dengan ukuran 1,2 m x 2,4 m x 1,2 m (Gambar 10). Pembagian ukuran ini dimaksudkan agar pasir tidak menyumbat saluran air menuju ke kolam aerasi dan penyaringan dapat berlangsung secara bertahap.

(i)

(ii)

(iii)

(iv)

Gambar 10. Gravity Sand Filter (i) yang berisikan: penyaring ukuran besar (ii), penyaring ukuran sedang (iii), dan penyaring ukuran kecil (iv) 1.1.1.1.1. Pengolahan Secara Biologis Pengolahan secara biologis PT Sido Muncul memanfaatkan tumbuhan alga yang tumbuh secara alami di dalam kolam aerasi (aeration tank). Pengolahan Secara Biologi ini meliputi:
a. Unit Aeration tank

Bak ini berfungsi untuk proses pengolahan biologis yaitu pengolahan air limbah oleh mikro organism Aerobik dengan suplai Oksigen. Didalam Aeration tank dipasang Spiroturb Aerator untuk proses pemerian Oksigen (O2) dengan cara penghembusan udara guna memberikan kehidupan bagi bakteri Aerobik pengurai. Unit ini dilengkapi dengan : Blower berfungsi untuk menghasilkan udara guna pengadukan dan suplai Oksigen a. Pit Tank Bak ini berfungsi menampung air hasil pengolahan Aeration tank dan penyediaan air awal untuk proses Clarifier. Unit ini di lengkapi dengan : Effluent Pump berfungsi mentransfer air dari Effluent Tank untuk proses filtrasi dengan karbon filter Level switch untuk mengatur mati hidupnya pompa
a. Clarification Tank 2

Bak ini berfungsi untuk pemisahan Biofock (lumpur aktif) dengan supernatannya (air jernih) agar Bioflock dapat disirkulasi ke Aeration tank untuk menjamin keberadaan mikro organisme pengurai limbah dan air jernih yang sudah diolah dialirkan secara grafitasi melalui kanal, masuk ke Existing Tank. Bentuk Prismatik pada bagian bawah Clarifier berfungsi untuk pengumpulan endapan, dan separator/lamella yang terbuat dari fiber glass pada bagian atas Clarifer berfungsi untuk memperlambat aliran dan menghambat lumpur aktif yang akan naik kebagian

atas, sehingga akan menimbulkan efek sedimintasi yang optimal dengan waktu yang relative singkat. Untuk mencega penumpukan lumpur aktif maka dilakukan pembuangan dengan menggunakan motorize valve yang terdapat pada saluran pembuangan (Drainage).Pembuangan sludge dapat dilakukan secara Clarifier bekerja tanpa mengganggu proses sedimentasi yang terjadi. Unit ini dilengkapi dengan : Lamella untuk memperbesar surface area Motorized valve untuk pembuangan sludge secara berkla dengan sistem otomatis

a. Unit Gravity Sand Filter 2

Filtrasi dengan Gravity Sand Filter adalah proses melewatkan air melalui suatu bantalan pasir Silica (sand) yang akan menahan padatan tersuspensi dan flock yang halus yang lolos dari clarifier. Gravity Sand Filter beroperasi untuk jangka aktu terbatas, apabila sand tersebut sudah jenuh (tidak mengikat kotoran lagi) dan filter menjadi tersumbat maka harus dilakukan pembersihan filter dengan cara cuci balik (Back wash) dan kemudian pembilasan (Rinsing) Kolam aerasi memiliki ukuran 15 x 6 meter dengan kedalaman 5 meter. Hal ini membuat kolam aerasi ditumbuhi oleh alga berupa lumut yang tumbuh didinding kolam. Alga ini tidak sengaja ditumbuhkan namun dapat membantu mengurangi kadar Biochemical Oxygen Demand (BOD) dan Chemical Oxygen Demand (COD) pada limbah cair. Setelah ditampung dalam kolam aerasi kadar BOD dan COD dicek kembali dengan analisa laboratorium dan menunjukan nilai 2,5 mg/l untuk COD dan 10 mg/l untuk BOD. Tanpa penumbuhan alga dan penambahan mikroba secara sengaja kadar limbah pada kolam aerasi sudah aman untuk dibuang. Namun, proses ini belum sempurna karena masih ada koagulan yang belum mengendap, oleh karena itu dari kolam aerasi pompa kembali menaikan air menuju ke clarifier B kanal 1 dengan sistem outlet pipa yang dibuat memanjang dengan lubang-lubang agar tidak terjadi pemusatan aliran, kemudian air limbah dialirkan melalui celah bawah menuju clarifier B kanal 2 dengan lapisan lameela yang sama dan fungsi yang sama dengan clarifier A.

Hasil akhir limbah cair ini akan dibagi menjadi 2 bagian, sebagian besar air bersih akan dipompa menuju 4 tower dengan kapasitas 5000 liter untuk dipakai kembali pada penyiraman ladang, sawah, dan tanaman milik perusahaan. Sebagian air lain disalurkan menuju kolam berliku untuk proses pengendapan lebih lanjut dan dialirkan menuju 3 kolam ikan. Sedangkan endapan koagulan dan flokulan dari endapan clarifier dan penyaringan oleh Gravity Sand Filter akan dibuang menuju Sand Drying Bed (Gambar 11).

Gambar 11. Koagulan yang dibuang pada Sand Drying Bed Instalasi ini menghasilkan hasil olahan berupa air bersih sebanyak 84 m3 per hari. Jumlah ini ditunjukan oleh Clarifier dan Gravity Sand Filter yang mengolah air sebanyak 14 m3 per jam. Secara keseluruhan unit-unit pengolahan limbah terangkai dalam proses pengolahan air limbah. Namun, limbah cair yang tidak kontinyu akan menyebabkan penambahan air dalam jumlah besar yang tidak dapat ditanggulangi. Hal ini akan menyebabkan terjadinya overflow atau meluapnya air yang melebihi kapasitas daya tampung bak penampungan. Air yang meluap akan langsung terbuang ke sungai melalui aliran air dan terbuang ke tanah. Namun, telah terjadi pengendapan pada bak penampung sehingga air yang meluap tidak mengganggu saluran pembuangan dan aktivitas sungai. Limbah cair yang meluap ini berasal dari aktivitas pencucian bahan baku yang organik sehingga tidak mengganggu biota air sungai. Selain itu overflow akan terjadi jika terdapat

penyumbatan pada sistem karena jumlah padatan yang berlebih. Oleh karena itu, dilakukan penambahan kecepatan putaran mixer pada pipa sehingga padatan akan terurai dan bercampur dengan air. Pengolahan limbah dengan pemanfaatan Reuse, Reduce, dan Recycle oleh PT Sido Muncul menghasilkan produk olahan limbah dengan nilai yang lebih tinggi. Produk tersebut antara lain pupuk granul dan minyak atsiri dari pengolahan limbah padat, serta pupuk cair dan air bersih dari pengolahan limbah cair.

(a)

(b)

(c)

Gambar 12. Hasil pengolahan Limbah PT Sido Muncul (a) Pupuk Granul Herbafarm (b) Pupuk Cair Biofarm (c) kolam ikan hasil pengolahan IPAL 1.1. Kontrol Kontrol dan pengendalian limbah serta pemeriksaan baku mutu limbah dilakukan oleh PT Sido Muncul secara berkala yaitu sebulan sekali. Namun, pemeriksaan baku mutu limbah diperiksa oleh BAPEDA kabupaten Semarang setiap 3 bulan sekali dengan standarisasi tertentu (tabel 3). Standarisasi kualitas buangan industri dan kegiatan usha lainnya merupakan upaya preventive pengendalian pencemaran air dan perlindungan daya dukung lingkungan kabupaten Semarang. Penentuan standart limbah cair industri dan kegiatan lainnya di Semarang berdasarkan pada kadar/konsentrasi maksimum dan volume limbah cair maksimum. Volume Limbah cair ditetapkan pada produksi bulanan riil industri atau kegiatan usaha yang bersangkutan. Volume limbah cair maksimal

diperoleh dengan menghitung debit limbah cair maksimum dibagi jumlah produksi sebenarnya dalam liter. Tabel 3. Baku mutu Limbah Cair yang digunakan Bapeda untuk pengontrolan limbah PT Sido Muncul No. 1. Jenis Total Suspended Solid (TSS) Keterangan Total zat padat tersuspensi yang masih terbawa keluar dalam larutan Satuan mg/l Industri Jamu 75

2.

Biochemica l Oxygen Demand 5 (BOD5)

Nilainya tergantung dari banyaknya bahan baku yang terbawa dan membusuk. Di mana semakin banyak kalorinya maka nilai BOD akan meningkat.

mg/l

150

3.

Chemical Oxygen Demand (COD)

Larutan kimia yang digunakan

mg/l

75

4.

pH

Kesadahan air

6-9

Sumber: Peraturan Daerah Propinsi Jawa Tengah No. 10 tahun 2004 Tabel 4. Baku Mutu Limbah Cair Bagi Kawasan Industri Parameter Kadar maksimum (mg/L) BOD 5 50 Beban Pencemaran Maksimum (kg/hari.Ha) 4,3

COD TSS Ph

100 200 6,0 9,0 Debit Limbah Cair Maksimum 1 L per detik per HA lahan kawasan yang terpakai

8,6 17,2

Sumber : Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No. 3 Tahun 1998 Pengambilan contoh limbah cair oleh petugas instalasi yang bertanggung jawab dan telah memiliki sertfikat contoh uji tingkat Propinsi/Kabupeten/Kota dan pemeriksaan kualitas dilakukan laboratorium yang ditunjuk oleh Gubernur sekurang-kurangnya sekali dalam sebulan atas biaya penanggung jawab kegiatan. Hasil pemeriksaan kualitas limbah cair dikirimkan kepada gubernur dan pejabat yang berwenang dan bertanggung jawab di bidang pengendalian pencemaran. Setiap penanggung jawab kegiatan wajib memasang peralatan meter air pembuangan limbah cair yang dapat mencatat jumlah aliran limbah cair.

2. PEMBAHASAN 2.1. Limbah Padat Limbah padat terdiri atas berbagai macam wujud dan bentuk, tergantung pada jenis industrinya. Sifat dan jumlah limbah akan mempengaruhi pilihan tempat pembuangan, sarana pengangkutan, dan pilihan pengolahannya. Jenis limbah padat yang dimiliki PT. Sido Muncul adalah limbah dari proses produksi dari sisa ekstraksi dan penyaringan atau sortasi. Menurut Gintings (1992), pengolahan limbah padat menurut sifatnya dapat dilakukan melalui 2 cara yaitu tanpa pengolahan atau dengan pengolahan. Limbah padat PT Sido Muncul masuk dalam kategori tanpa pengolahan yang dapat dibuang ke tempat tertentu sebagai tempat pembuangan akhir karena tidak ada unsur kimia yang beracun dan berbahaya terkandung di dalamnya. Pembuangan limbah PT Sido Muncul dilakukan di lahan luas di areal belakang pabrik, hal ini sesuai dengan pernyataan Gintings (1992) yang menyatakan bahwa limbah semacam ini dapat langsung dibuang ke tempat tertentu seperti daratan yang luas. Berbeda dengan limbah padat yang mengandung senyawa kimia berbahaya dan beracun serta menimbulkan reaksi kimia baru. Untuk limbah dengan jenis seperti ini dibutuhkan berbagai macam pengolahan. Limbah PT Sido Muncul, walaupun tidak berbahaya mempunyai jumlah limbah yang sangat banyak untuk setiap produksi. Hal ini mengakibatkan lahan pembuangan yang semakin sempit dan perlu diperlebar. Pelebaran tanah pabrik akan mengakibatkan peningkatan biaya yang besar oleh karena itu, PT Sido Muncul mengolah sebagian besar limbah padat menjadi produk pupuk granul. Menurut Gintings (1992), limbah yang harus diolah mempertimbangkan beberapa faktor sebelum pengolahannya yaitu: 1. Jumlah Limbah Limbah dikatakan banyak jika mencapai jumlah lebih dari 4m 3 setiap hari. Dan PT Sido Muncul menghasilkan limbah sebanyak 6m3 setiap hari. 2. Sifat Fisik dan Kimia Limbah

Berdasarkan sifat fisiknya, limbah dapat dikelompokan menurut besar dan bentuknya. Limbah logam, kertas, dan plastik memiliki treatment yang berbeda. Begitu pula dengan sifat kimianya, limbah dikelompokan menurut senyawa penyusunnya. Pada PT Sido Muncul hanya limbah alami yang dibuang ke lahan kosong, sedangkan limbah lainnya seperti kertas dan plastik dibakar pada mesin insinerator 3. Kemungkinan Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan Menurut jenis limbah yang dihasilkan PT Sido Muncul, tidak ditemukan bahaya pada lingkungan sekitar namun terdapat pencemaran lingkungan seperti bau. 4. Tujuan Akhir yang akan dicapai Dari pernyataan sebelumnya, diketahui bahwa pengolahan limbah padat PT Sido Muncul dilakukan untuk mengurangi volume limbah dan pencemaran bau pada lingkungan. Limbah padat PT Sido Muncul memiliki 3 ukuran dan bentuk yang berbeda yaitu limbah plastik, kertas, dan limbah organik. Untuk itu, PT Sido Muncul memisahkannya menjadi 2 pengolahan yaitu dengan incinerator dan pengomposan (pupuk granul) sedangkan minyak atsiri merupakan produk sampingan karena tidak mengolah limbah padat dalam jumlah yang banyak. 1.1. Limbah Cair Jenis limbah cair yang diolah PT Sido Muncul adalah limbah industri jamu yang berasal dari pencucian bahan baku alami dan seluruh proses produksi jamu. Menurut Sugiharto (1987), limbah merupakan buangan/bekas yang berbentuk cair, gas dan padat. Dalam air limbah terdapat bahan kimia sukar untuk dihilangkan dan berbahaya. Bahan kimia tersebut dapat memberi kehidupan bagi kuman-kuman penyebab penyakit disentri, tipus, kolera dan sebagainya. Air limbah tersebut harus diolah agar tidak mencemari dan tidak membahayakan kesehatan lingkungan. Air limbah harus dikelola untuk mengurangi pencemaran.

Menurut Koeniczny et al., (2005), parameter sampel limbah cair yang biasanya diukur berdasarkan Polish Standart antara lain, COD, BOD5, lemak, total fosfat, total nitrogen, konsentrasi total padatan dan nilai pH. Karakteristik yang sama juga diukur pada sampel limbah cair setelah mengalami proses koagulasi. Namun demikian PT Sido Muncul hanya mengukur karakteristik kimiawi yaitu nilai pH, COD dan BOD. Karakteristik fisikawi yang meliputi total padatan, padatan tersuspensi dan total dissolved solid dianggap aman karena limbah tidak dibuang ke perairan terdekat namun digunakan kembali untuk kebutuhan industri diluar proses produksi.
1.1.1.Tahap-Tahap Proses Pengolahan Limbah Cair

Pada pengamatan limbah di PT Sido Muncul, sampel limbah yang digunakan dilakukan berbagai treatment untuk mengurangi kadar senyawa organik dalam sampel limbah tersebut. Adapun treatment yang dilakukan dalam pengolahan air limbah ini adalah dengan mengambil sampel limbah serta menyaring dan mengendapkannya pada sebuah bak (pre treatment). Menurut Gintings (1992), dalam air limbah banyak padatan yang terapung atau melayang yang ikut bersama air. Padatan ini bisa berupa lumpur, sisa kain, potongan kayu, pasir, sisa pembersihan daging dan lainnya. Pada umumnya bahan tersebut mudah diidentifikasikan dengan mata karena mudah terlihat pada air kotor. Pada pengolahan pretreatment biasanya digunakan saringan agak kasar tapi dipilih yang tidak mudah berkarat. Saringan ini harus setiap hari diperiksa untuk mengambil bahan yang terjaring sehingga tidak sampai membuat kemacetan aliran air. Pengolahan tingkat pretreatment akan berpengaruh pada hasil pengolahan tingkat primer. Menurut pendapat Mahida (1992), proses penyaringan dapat menghilangkan padatan-padatan yang berukuran besar, yaitu yang berukuran 0,7 mm atau lebih besar. Cara yang paling sederhana dari pembuangan benda padat yang kasar dan besar adalah dengan cara mengalirkan limbah melalui penyaring. Pada pengolahan industri PT Sido Muncul dilakukan pengendapan pada bak penampung dan penyaringan pada pipa yang menuju Clarifier tank. Tahap selanjutnya adalah primary treatment dimana filtrat atau hasil penyaringan diberi koagulan Al2(SO)4, NaOH, dan polymer secara kontinyu. Kemudian diaduk dengan

mixer yang berada dalam pipa. Proses ini berlangsung pada pipa dan pengendapan dilakukan dalam Clarifier tank hingga semua flokulan mengendap. Sedangkan NaOH berfungsi untuk mendukung terciptanya koagulan yang dapat diikat senyawa polymer dengan mengatur pH menjadi netral. Menurut Gintings (1992), primary treatment dilakukan dengan dua metode, yaitu pengolahan secara fisik dan pengolahan secara kimia. Pengolahan secara fisik adalah pengendapan yang terjadi secara gravitasi. Sedangkan pengolahan kimia yaitu dengan mengendapkan bahan padatan dengan penambahan bahan kimia. Dari teori tersebut diketahui bahwa tahap primary treatment yang dilakukan PT Sido Muncul merupakan metode pengolahan secara kimia. Pada primary treatment terjadi proses koagulasi. Menurut Suhardi (1991), proses koagulasi bertujuan untuk mengikat partikel-partikel limbah cair dengan bahan yang disebut koagulan, sehingga didapatkan flok yang berukuran besar dan dapat disaring atau diendapkan. Pada tahap ini, koagulan yang digunakan adalah Al2(SO)4. Hal ini sesuai dengan pendapat Winarno (1986) bahwa zat-zat yang digunakan untuk menggumpalkan disebut koagulan. Menurut Kusnaedi (1998), koagulan yang banyak digunakan adalah kapur, tawas, dan kaporit. Pertimbangannya karena garam-garam Ca, Fe, Al bersifat tidak larut dalam air sehingga mampu mengendap bila bertemu dengan sisa-sisa basa. Banyaknya koagulan tergantung pada jenis dan konsentrasi ion-ion yang larut dalam air olahan serta konsentrasi yang diharapkan sesuai dengan standar baku. Penentuan Al2(SO)4 sebagai koagulan berdasarkan kadar pH sampel limbah yang telah disaring. Karena pH sampel limbah bersifat asam, maka koagulan yang dipakai adalah Al2(SO)4. Hal ini sesuai dengan pendapat Kusnaedi (1998), faktor-faktor yang mempengaruhi koagulasi antara lain : Efek pH Untuk setiap jenis air terdapat sedikitnya satu range pH yang tepat untuk koagulasi dan flokulasi dalam waktu singkat dengan dosis yang diberikan. Dengan dilaksanakan dalam zona optimum. Efek garam

Garam pada koagulasi berfungsi untuk mengubah beberapa titik yaitu rentang pH untuk koagulasi, waktu flokulasi, dosis koagulan optimum, sisa koagulan dalam air setelah pengolahan. Efek pengadukan Pengadukan yang cepat dibutuhkan pada penambahan koagulan agar distribusi koagulan lebih merata. Pada tahap kedua pengadukan kedua dimaksudkan untuk proses koagulasi dengan kecepatan rendah untuk menghasilkan kesatuan dari koloid-koloid yang tidak stabil. Limbah cair kemudian mengalami proses aerasi selama 2 sampai 3 jam. Perkiraan waktu ini sesuai dengan banyaknya debit limbah yang dihasilkan setiap hari. Perlakuan aerasi pada limbah PT Sido Muncul ini sesuai dengan pendapat Kusnaedi (1998) bahwa secondary treatment umumnya dilakukan dengan aerasi. Aerasi merupakan suatu sistem oksigenasi melalui penangkapan O2 dari udara pada air olahan yang akan diproses. Penambahan oksigen bertujuan agar O2 di udara dapat bereaksi dengan kation yang ada di dalam air olahan. Reaksi kation dan oksigen menghasilkan oksidasi logam yang sukar larut dalam air sehingga dapat mengendap. Proses aerasi terutama untuk menurunkan kadar besi (Fe) dan magnesium (Mg). Kation Fe2+ atau Mg2+ bila disemburkan ke udara akan membentuk oksida Fe2O3 dan MgO. Proses aerasi harus diikuti proses filtrasi atau pengendapan. Kemudian hasil proses secondary treatment yang terjadi pada kolam aerasi dipompa kembali ke dalam Clarifier tank untuk pengulangan proses pertama agar air benar-benar jernih. Menurut Sugiharto (1987), penjernihan air limbah dipergunakan untuk mengurangi pengotoran bahan organik, partikel termasuk benda yang tidak dapat diuraikan (nonbiodegradable) ataupun gabungan antara bau, warna dan rasa. Limbah cair yang kembali masuk ke dalam Clarifier tank kemudian keluar menuju gravity sand filter. Proses ini merupakan tahap tertiary treatment karena flok yang tidak dapat mengendap pada clarifier dapat terjebak dalam penyaring yang berukuran besar, sedang, dan kecil. Menurut Sutarti & Rachmawati (1994) adanya penyaringan bertingkat pasir silikat yang terdiri dari batu kerikil, pasir, karbon aktif dan zeolit akan

memberikan perlakuan adsorbsi yang menyebabkan senyawa organik banyak yang terikat pada zeolit dan bisa dipisahkan dari limbah. Setelah itu limbah hasil proses pengolahan diukur pHnya dengan pH meter. PT Sido Muncul menghasilkan limbah dengan pH netral sehingga tidak diperlukan proses netralisasi. Proses netralisasi diperlukan agar pH air limbah sebelum dilepas atau dibuang telah sesuai dengan Baku Mutu Limbah (BML). Nilai pH untuk limbah domestik yang sesuai dengan BML adalah 6-9, maka pH air limbah harus dikondisikan pada range pH tersebut. Setelah melalui berbagai proses pengolahan dengan penambahan bahan kimia, biasanya pH air limbah menjadi asam, sehingga perlu dilakukan penambahan Na(OH) agar pH meningkat dan bisa berada pada range pH yang diperbolehkan. Na(OH) mempunyai sifat yang basa, maka jika ditambahkan dalam air limbah yang bersifat asam, akan dapat meningkatkan nilai pHnya. Prinsip dari proses netralisasi adalah penambahan senyawa asam atau basa ke dalam air limbah sehingga pH air limbah menjadi mendekati 7. Proses netralisasi ini dilakukan karena diharapkan air yang akan digunakan untuk penyiraman lahan industri selalu netral. Sebab jika pH air limbah yang akan dibuang asam atau basa, maka akan menggangu kehidupan biota air (Gintings, 1992). PT Sido Muncul pernah menerapkan penggunaan kapur dalam limbah industri karena bahan ini murah dan mudah didapatkan, akan tetapi kerugiannya dapat menimbulkan masalah pembuangan endapan yang sulit (Mahida, 1992). Oleh karena itu, industri pengolahan air limbah mengganti Ca(OH)2 dengan Na(OH).

1.1.1. Perbandingan Karakteristik Fisika Awal dan Akhir Limbah

1.1.1.1.

Bau

Menurut Mahida (1992), bau dapat menunjukkan apakah suatu limbah masih baru atau sudah busuk, bau-bauan yang busuk, menyerupai bau hidrogen sulfida. Dan menurut Suhardi (1991), dari bau tersebut kita dapat mengetahui kualitas limbah tersebut. Bila terlalu menyengat atau tidak enak, maka limbah tersebut banyak mengandung kandungan organik. Bau pada limbah disebabkan oleh karena proses pembusukan atau degradasi bahan organik oleh mikroorganisme.

Cara pengukuran bau limbah yang dilakukan PT Sido Muncul dilakukan dengan menggunakan indera pembau. Hal ini sesuai dengan pendapat Sugiharto (1987) bahwa cara pengukuran karakteristik fisikawi bau yaitu dengan kepekaan terhadap bau dari manusia terhadap tingkatan dari bau. Hal tersebut didukung pula oleh pendapat Suhardi (1991), bahwa pengukuran bau dapat dilakukan dengan evaluasi sensori melalui indera pembau dan Gas Chromatography (GC) yang berfungsi untuk menganalisa senyawasenyawa penyebab bau.

Limbah yang belum diolah dan masih tersimpan dalam bak penampung dan Clarifier tank tercium bau yang busuk dan sangat menyengat. Menurut Mahida (1992), banyak dari bau yang tidak sedap itu disebabkan karena adanya campuran dari nitrogen, sulfur dan fosfor dan juga berasal dari pembusukan protein dan lain-lain bahan organik yang terdapat dalam air limbah, bau yang paling menyerang berasal dari hidrogen sulfida. Namun demikian setelah dilakukan treatment pada limbah tersebut diketahui adanya perubahan bau pada sampel limbah tersebut. Hasil akhir limbah menjadi berbau netral karena adanya proses biologis pada kolam aerasi. 1.1.1.2. Warna dan Kekeruhan Menurut Sastrawijaya (1991), warna air memberi petunjuk akan jumlah benda yang tersuspensi dan terlarut. Penentuan limbah cair dapat menggunakan komparator warna dan skala standar. Warna memberikan informasi pada kita tentang kualitas dari kekotoran limbah itu sendiri (Mahida, 1992). Warna limbah sebelum pengolahan adalah coklat kehitaman. Hal ini sesuai dengan pendapat Mahida (1992) bahwa secara umum warna air limbah ini bersifat mencolok. Namun demikian setelah dilakukan pengolahan atau treatment terhadap limbah tersebut, warna limbah menjadi putih kekuningan. Mahida (1992) mengungkapkan kembali bahwa makin pekat warna maka limbah yang kita ambil makin kotor. Jadi dapat

dikatakan bahwa limbah yang telah mengalami treatment menjadi semakin bersih (tidak kotor lagi seperti sebelumnya). Sama halnya dengan warna, kekeruhan juga merupakan salah satu parameter fisik dari suatu limbah. Menurut Sugiharto (1987), kekeruhan adalah ukuran yang menggunakan efek cahaya sebagai dasar untuk mengukur keadaan air sungai, kekeruhan ini disebabkan oleh adanya benda tercampur atau benda koloid di dalam air. Limbah PT Sido Muncul memiliki tingkat kekeruhan yang sangat keruh. Kemudian setelah limbah tersebut mengalami treatment, limbah menjadi bening. Menurut Jenie & Rahayu (1993), dengan melihat tingkat kekeruhan limbah cair akan dapat mengetahui banyak atau tidaknya padatan organik atau anorganik yang berada dalam limbah cair tersebut. Jadi dapat dikatakan bahwa sebelum sampel limbah mengalami treatment, limbah tersebut memiliki kandungan padatan organik dan anorganik yang tinggi. Namun setelah limbah mengalami treatment kandungan organik dan anorganik pada limbah menjadi kecil. Hal ini dibuktikan dengan hasil limbah yang menjadi bening. 1.1.1.3. Suhu Menurut Mahida (1992), suhu berguna untuk melihat kecenderungan aktivitas-aktivitas kimiawi dan biologi, pengentalan, tekanan uap, tegangan permukaan, dan nilai-nilai penjenuhan dari benda padat, dan gas. Temperatur air limbah akan mempengaruhi kecepatan reaksi kimia serta tata kehidupan dalam air. Perubahan suhu memperlihatkan aktivitas kimiawi biologis pada benda padat dan gas dalam air. Pada limbah PT Sido Muncul tidak dilakukan pengontrolan suhu karena jenis limbah yang alami walaupun begitu tidak terjadi perubahan suhu pada limbah awal dan akhir. Meskipun tidak terjadi perubahan suhu pada sampel limbah, namun bukan berarti tidak terjadi aktivitas kimia bilogis pada sampel limbah tersebut. 1.1.1.4. Analisa Padatan Parameter fisik lainnya yang juga diukur adalah kandungan padatan dalam limbah cair. Menurut Sastrawijaya (1991), dalam pengolahan limbah, pengujian kandungan padatan

ini berhubungan dengan tingkat kejernihan dan warna yang semuanya menunjukkan tinggi rendahnya kualitas air. Padatan terlarut didalam larutan dapat dipergunakan untuk menentukan jumlah kepekatan suatu contoh air. Penentuan padatan terlarut total dapat dengan cepat menentukan kualitas air limbah. Padatan terlarut dan tersuspensi mempengaruhi ketransparanan dan warna air. Cahaya tidak dapat tembus banyak jika konsentrasi bahan tersuspensi tinggi. Warna air juga ada hubungan dengan kualitas air. Kandungan padatan ini dibedakan menjadi tiga yaitu padatan total (Total Soluble/TS), padatan tersuspensi total (Total Suspended Solid/TSS), dan padatan terlarut total (Total Dissolved Solid/TDS). Analisa ini tidak dilakukan pada limbah PT Sido Muncul karena penggunaan lanjutannya sebagai air non-produksi dan tidak dibuang ke sungai atau perairan terdekat.
1.1.2. Perbandingan Karakteristik Kimia Awal dan Akhir Limbah

Menurut Utomo (1998), tujuan analisa kimiawi limbah cair adalah untuk menentukan konsentrasi zat zat kimia, mengetahui ada atau tidaknya bahan bahan beracun di dalam limbah, serta untuk menentukan tingkat kebusukan yang telah dicapai limbah. Penentuan analisa kimiawi limbah cair didasarkan atas unsur unsur yang mempunyai nilai peubah terhadap kesehatan seperti bahaya yang ditimbulkan oleh zat beracun yang mungkin ada di dalam limbah, serta upaya pembenahan limbah. Untuk analisa kimia pada percobaan kali ini, parameter yang diukur adalah pH, COD dan BOD. Hal ini sesuai dengan pendapat Ryadi (1984) bahwa sifat kimia limbah cair meliputi pH, COD, dan BOD. 1.1.2.1. pH Menurut Suhardi (1991) bahwa kadar ion H yang terdapat dalam larutan dapat ditera atau diukur dengan beberapa cara antara lain memakai alat pH meter yang terdiri atas alat penera (potensiometer) dan dua buah elektroda. Sebuah pH meter dihubungkan dengan sumber tenaga maka terdapat rantai tertutup. Oleh karena itu, ada aliran listrik yang dapat diketahui dari goyangan jarum yang terdapat pada alat penera dimana menggambarkan besarnya kadar ion H. Hal ini sesuai dengan pendapat Mahida (1992),

bahwa pH menyatakan keasaman atau alkalinitas dari suatu cairan encer, dan mewakili konsentrasi hidrogen ionnya. Untuk mengukur pH limbah digunakan pHmeter. Menurut wawancara yang dilakukan mahasiswa kerja praktek pada salah satu pengurus limbah cair, setelah dilakukan penelitian pH awal limbah PT Sido Muncul bersifat asam. Menurut Hammer & Hammer (1996), air menjadi asam karena adanya buangan yang mengandung asam seperti asam sulfat dan asam klorida. Menurut Sugiharto (1987), air limbah dengan derajat keasaman (pH) tidak netral akan menyulitkan proses biologi, sehingga menganggu proses penjernihan sehingga dilakukan treatment, agar pH limbah menjadi netral. Hal ini sesuai dengan pendapat Mahida (1992) bahwa pada umumnya pH limbah diatur sekitar kenetralan, biasanya antara 6 dan 8. Kolam aerasi pun ditumbuhi alga hijau sedalam 1 meter dari permukaan kolam dan digunakan untuk pembiakan ikan mas. Hal ini menunjukan pH yang sudah netral karena menurut Sugiharto (1987), pH yang baik bagi limbah cair adalah pH netral. Kadar pH yang baik yaitu kadar dimana masih memungkinkan kehidupan biologis di dalam air berjalan baik.
1.1.2.2. Chemical Oxygen Demand (COD)

Menurut Suhardi (1991), penentuan total zat organik secara tidak langsung yaitu dengan menentukan COD karena yang ditentukan adalah kebutuhan O2 untuk menambah zat organik secara kimiawi. Chemical Oxyggen Demand (COD) atau kebutuhan oksigen kimiawi (KOK) adalah banyaknya oksigen dalam ppm atau mg/l yang dibutuhkan dalam kondisi khusus untuk menguraikan benda organik secara kimiawi. COD juga digunakan secara luas sebagai ukuran kekuatan pencemaran air limbah domestik maupun air limbah industri. Pada pengamatan limbah PT Sido Muncul tidak dilakukan penelitian secara khusus dan langsung mengenai kadar COD limbah cair. Namun, diperkirakan terjadi penurunan nilai COD pada limbah cair karena treatment yang telah dilakukan. Nilai COD akhir limbah adalah 2,5 mg/l. Dari pengamatan dan wawancara terhadap pengurus limbah PT Sido Muncul diketahui bahwa treatment pada limbah menyebabkan nilai COD limbah menjadi turun. Hal ini sesuai dengan pendapat Jenie & Rahayu (1993) bahwa perubahan

nilai BOD dan COD suatu limbah akan terjadi selama penanganan. Dengan rendahnya nilai COD pada limbah yang telah mengalami treatment, maka diketahui bahwa banyaknya O2 yang diperlukan untuk menguraikan senyawa organik juga berkurang. Hal ini menunjukkan bahwa kandungan organik dalam sampel limbah yang telah ditreatment sudah berkurang.

1.1.2.3. BOD (Biochemical Oxygen Demand)

Menurut Ryadi (1984) BOD atau Biological Oxygen Demand merupakan sejumlah oksigen dalam sistem air yang dibutuhkan oleh bakteri aerobik untuk menstabilkan atau menetralisir bahan-bahan organik dalam air melalui proses oksidasi biologis secara dekomposisi aerobik. Menurut Louis (1993) kadar BOD dapat mempengaruhi kualitas air ketika dilepas ke suatu badan air, karena BOD dapat menyebabkan penurunan kadar oksigen dalam badan air tersebut sehingga dapat membahayakan atau bahkan mematikan aktivitas organisme yang terdapat dalam badan air tersebut. Menurut Jenie & Rahayu (1993) O2 dibutuhkan untuk oksidasi bahan organik maka BOD menunjukkan indikasi kasar banyaknya kandungan bahan organik dalam sampel tersebut. Selain itu BOD juga menunjukkan banyaknya mikroba yang terdapat dalam limbah cair tersebut. Karena oksigen terlarut diperlukan untuk respirasi mikroorganisme aerob dan organisme aerob lainnya. Sehingga semakin tinggi BOD maka jumlah mikroorganisme dalam limbah tersebut semakin tinggi, dan jumlah oksigen yang terdapat dalam limbah cair semakin sedikit. Hal yang sama dikemukakan oleh Hammer & Hammer (1996) bahwa pengujian BOD ini pada prinsipnya didefinisikan sebagai pengukuran banyaknya oksigen yang dapat digunakan oleh metabolisme mikroorganisme untuk mendegradasi senyawa organik yang terdapat di dalam limbah cair. Sehingga secara tidak langsung, pengujian BOD juga mengukur kandungan bahan organik yang ada dalam limbah cair.

Dari data yang diperoleh dapat dilihat bahwa nilai BOD sesudah ditreatment sangat kecil yaitu 10 mg/l. Hal ini sesuai dengan pendapat dari Jenie dan Rahayu (1993) bahwa limbah cair pengolahan pangan umunya memiliki nilai BOD dan padatan tersuspensi tertinggi dan berlangsung dengan proses dekomposisi cepat. Sutarti & Rachmawati (1994) juga mengungkapkan bahwa limbah yang telah diberikan beberapa perlakuan seperti penyaringan dengan batu kerikil atau karbon aktif akan mengalami penurunan kadar BOD. Apabila senyawa organik semakin berkurang, maka semakin kecil pula jumlah oksigen yang dibutuhkan oleh mikroorganisme pengurai untuk menguraikan senyawa organik yang kecil jumlahnya.

PT Sido Muncul menggunakan limbah cair hasil pengolahan IPAL untuk mengairi lahan pertanian di dalam pabrik dengan pertimbangan keuntungan sebagai berikut:

Mencegah pencemaran sungai Memberikan unsur pupuk pada tanaman Dapat memperbaiki struktur tanah (soil conditioning) Dapat dimanfaatkan untuk lahan yang cukup luas Kemungkinan adanya kontaminasi bahan kimia dari air limbah pada tanah dan air tanah Dipengaruhi oleh musim

Meskipun demikian ada beberapa kekurangannya:

(Ginting, 2007)

1. KESIMPULAN DAN SARAN

Limbah PT Sido Muncul terbagi atas 2 yaitu limbah padat dan cair Limbah padat PT Sido Muncul berupa plastik, kertas dan ampas proses ekstraksi Pengolahan limbah padat PT Sido Muncul menghasilkan produk pupuk granul dan minyak atsiri Limbah cair PT Sido Muncul berupa cairan bekas pencucian bahan baku dan sisasisa produksi pabrik Pengolahan limbah cair PT Sido Muncul menghasilkan produk pupuk cair dan air jernih Limbah cair mengandung senyawa organik yang dapat mencemari lingkungan Air limbah harus dikelola untuk mengurangi senyawa organik sehingga mengurangi pencemaran Treatment yang digunakan dalam pengolahan limbah PT Sido Muncul antara lain pre treatment, primary treatment, secondary treatment, dan tertiary treatment Pada pre treatment dilakukan penyaringan yaitu menghilangkan padatan-padatan yang berukuran besar. Pada primary treatment terjadi koagulasi yang bertujuan untuk mengikat partikel partikel limbah cair dengan koagulan Koagulan yang digunakan adalah Al2(SO)4 karena limbah bersifat asam. Pada seconday treatment terjadi aerasi yaitu penambahan kandungan oksigen dalam limbah. Pada tertiary treatment digunakan pasir silika yang bertujuan untuk menyaring limbah dan mengurangi kadar organik terlarut. Karakteristik fisikawi yang mengalami perubahan setelah limbah mengalami pengolahan yaitu bau, warna, dan kekeruhan sedangkan suhu tidak mengalami perubahan

Penilaian bau, warna dan kekeruhan limbah menggunakan panca indra. pH limbah dinetralkan dengan penambahan NaOH

Chemical Oxyggen Demand (COD) adalah banyaknya oksigen dalam ppm atau mg/l yang dibutuhkan dalam kondisi khusus untuk menguraikan benda organik secara kimiawi.

Penurunan nilai COD pada limbah menyatakan bahwa kandungan senyawa organik dalam limbah juga berkurang Nilai COD limbah PT Sido Muncul telah memenuhi standar Baku Mutu Limbah untuk Industri Jamu yaitu 2,5 mg/l. BOD atau Biological Oxygen Demand merupakan sejumlah oksigen dalam sistem air yang dibutuhkan oleh bakteri aerobik untuk menstabilkan atau menetralisir bahan-bahan organik dalam air melalui proses oksidasi biologis secara dekomposisi aerobik.

Pengujian kadar BOD penting untuk menentukan kekuatan atau daya cemar limbah. Semakin tinggi nilai BOD, semakin tinggi jumlah mikroorganisme dan semakin sedikit jumlah oksigen dalam limbah. Nilai BOD limbah setelah treatment lebih rendah dari nilai BOD sebelum treatment yaitu 10 mg/l dan sesuai dengan Baku Mutu Limbah. Penurunan nilai BOD disebabkan karena adanya penyaringan oleh pasir silika yang menyebabkan senyawa organik berkurang jumlahnya karena terikat pada karbon katif, sehingga bisa dipisahkan dari limbah.

Berkurangnya senyawa organik, maka jumlah oksigen yang dibutuhkan untuk menguraikan senyawa organik tersebut juga berkurang.

Sesuai dengan ketentuan diatas maka setiap penanggung jawab kegiatan industri harus melakukan hal-hal sebagai berikut: Melakukan pengolahan limbah cair sehingga mutu limbah cair yang dibuang ke lingkungan tidak melampaui Baku Mutu Limbah yang telah ditetapkan Membuat saluran pembuangan limbah cair yang kedap air sehingga tidak terjadi perembesan limbah cair ke lingkungan Memasang alat ukur debit atau laju air limbah cair dan melakukan pencatatan debit harian limbah cair tersebut

Tidak melakukan pengenceran limbah cair, termasuk mencampurkan buangan air bekas pendingin ke dalam aliran pembuangan limbah cair Memeriksakan dan menguji Mutu Limbah Cair sebagaimana tersebut dalam Lampiran Keputusan dan Dokumen Perusahaan secara periodic sekurang-kurangnya satu kali dalam sebulan. (Ginting, 2007)

1. DAFTAR PUSTAKA Ginting, P. (2007) Sistem Pengelolaan Lingkungan dan Limbah Industri. CV. Yrama Widya. Bandung. Gintings, P. (1992). Mencegah dan Mengendalikan Pencemaran Industri. Pustaka Sinar Harapan. Jakarta. Hammer, M.J and M.J. Hammer. (1996). Water and Wastewater Technology 3nd Edition. Prentice Hall, Inc. New Jersey. Jenie, B. S. L. dan W. P. Rahayu. (1993). Penanganan Limbah Industri Pangan. Kanisius. Yogyakarta. Konieczny, P. ; Ewa, E.; Waldemar, U.; and Bozena, K. (2005). Effevtive use of Ferric Sulfate in Treatment of Diferent Food Industry Wastewater. Acta Sui. Pol., Technol. Aliment. 4 (1) : 123-132. Kusnaedi. (1998). Mengolah Air Gambut dan Air Kotor Untuk Air Minum. Penebar Swadaya. Jakarta. Mahida, U. N. (1992). Pencemaran Air dan Pemanfaatan Limbah Industri. CV. Rajawali. Jakarta. Ryadi, S. (1984). Pencemaran Air, Dasar-dasar dan Pokok-pokok Penanggulangannya. Penerbit Karya Anda. Surabaya. Sastrawijaya, A. T. (1991). Pencemaran Lingkungan. Rineka Cipta. Jakarta. Sugiharto. (1987). Dasar Dasar Pengelolaan Air Limbah. Universitas Indonesia. Jakarta. Suhardi, (1991). Petunjuk Laboratorium Analisa Air dan Penanganan Limbah. PAU Pangan dan Gizi UGM. Yogyakarta. Sutarti, M dan M. Rachmawati. (1994). Zeolit. Pusat Dokumentasi dan Informasi Limbah Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia. Jakarta. Tchobanoglous, G. (1981). Wastewater Engineering Treatment, Disposal, Reuse. Tata Mcgraw-Hill Publising Co. Ltd. New Delhi. Utomo, A.R. (1998). Kemungkinan Pemanfaatan Limbah cair Industri Pengolahan Pangan untuk Irigasi. Jurnal Ilmiah Widya Mandala. Winarno, F.G. (1986). Kimia Pangan dan Gizi. PT Gramedia Pustaka Utama. Jakarta.

43

2. LAMPIRAN 2.1. 2.2. 2.3. 2.4. Peta Lokasi Pabrik Denah Pabrik PT Sido Muncul Struktur Organisasi PT Sido Muncul Produk PT Sido Muncul Produk Jamu tradisional (serbuk, pil) Merek Bancar Darah, Batuk, Bersalin, Bersih Darah, Cabe Puyung, Cuci Perut, Demam Malaria, Encok, Galian Delima Putih, Galian Montok, Galian Param, Galian Putri, Galian Rapat Wangi, Galian Singset, Gatal Gudik, Gemuk Sehat, Hamil Muda, Hamil Tua, Influensa, Jampi Usus, Jerawat, Kencing Batu, Klingsir, Kolesom, Melen, Mens Kapsul, Nifas, Olah Raga, PaTani Kuat, Param Tahun, Pasutri, Pegal Linu, Pegal Linu Gingseng, Penenang, Perokok, Pewangi Bulan, Pria Perkasa, Sakit Kencing, Sakit Perut, Sakit Pinggang, Sambang, Sari Turas (kencing manis), Sariawan, Sehat Pria, Sehat Wanita, Segar Bugar, Sekalor, Selokarang Sekalor, Tensi (darah tinggi), Terlambat Bulan, Tujuh Angin, Ulu Hati (maag), Tujuh Angin Jamu Serbuk Komplit Tolak Angin Permen Kuku Bima Tradisional Kuku Bima Komplit, Sakit Pinggang, Komplit, Pegal Linu Komplit, Sehat Wanita Komplit Tolak Angin Serbuk, Tolak Angin Cair, Tolak Angin Ekstra Hangat Kaplet Permen Tolak Angin, Permen Kunyit Asam, Permen Jahe Wangi Kuku Bima Serbuk, Kuku Bima Gingseng Serbuk, Kuku Bima TL Serbuk, Kuku Bima TL Kapsul, Kuku Bima TL Cair, Kuku Bima TL + Tribulus Serbuk, Kuku Bima TL + Tribulus Kapsul, Kuku Bima TL + Tribulus Cair Jamu Instan Galian Putri Instan, Pegelinu Instan, Pelangsing Perut Instan, Sehat Pria Instan, Sehat Wanita Instan, Kuku Bima Gingseng Instan, Kuku Bima TL + Tribulus Instan Jamu Komplit Instan (JKI) Jamu Bersalin Minuman Kesehatan Minuman Eksport
3.

JKI Kuku Bima Gingseng, JKI Kuku Bima TL + Tribulus, JKI Pegelinu, JKI Sehat Pria Sehat Bersalin 40 Hari Alang Sari Original, Alang Sari plus Fiber, Kunyit Asam, Kunyit Asam Sirih, Anak Sehat Aneka Rasa, Jahe Wangi, Este-Emje Aneka Rasa Filantra Tea, Ginger Milk, Ginger Tea, Alang Tea, V-Talytea, Turmerric Plus, Red Gingseng Tea