Anda di halaman 1dari 3

Berbagai keagungan dan kemahakuasaan Tuhan itu dalam ajaran Hindu disebut Deva yang jumlahnya tak terhingga.

Deva artinya sinar suci Tuhan yang senantiasa menuntun ciptaan-Nya semakin meningkat menuju ke arah yang benar, baik, suci dan mulia. Manusia yang hidup di dunia sekala ini mengalami proses dari lahir, hidup dan akhirnya kembali ke dunia niskala. Di dunia sekala manusia mengharapkan hidupnya bahagia yaitu aman damai dan sejahtera. Sedangkan di alam niskala diharapkan mencapai sorga, terus moksha sebagai tujuan tertinggi. Manusia hidup di dunia sekala ini diberikan jiwa dan raga atau purusa dan pradana oleh Tuhan. Untuk mencapai hidup bahagia itu manusia harus berusaha menyeimbangkan proses purusa dan pradananya secara terpadu. Tuhan juga menjadi Dewa dan Dewi untuk menuntun keseimbangan pertumbuhan rohani dan jasmani manusia.
1. Allah menciptakan segala sesuatu berpasangan, agar terjadi interaksi sehingga mewujudkan keseimbangan yang harmonis, Orang yang kaya membantu yang miskin, orang yang lapang menolonga orang yang susah dan sebagainya. Kalau interaksi ini berjalan sesuai aturan maka akan terwujud keharmonisan dalam kehidupan ini. 2. Bahwa rotasi kehidupan manusia itu akan mengalami siklus dari yang rendah menuju yang tinggi, dari kesusahan akan beralih kepada kemudahan, selagi masih berpijak pada norma-norma kebenaran sesuai dengan tuntunan agama. Namun apabila norma-norma agama telah dilanggar seperti berbuat syirik, berbuat dholim atau tidak memenuhi hak-hak orang lain maka keseimbangan hidup akan terganggu. Orang yang miskin akan tetap miskin karena tidak ada yang menolong, orang yang bodoh tetap bodoh karena yang pintar malah membodohi, orang yang susah tetap susah karena tidak ada solidaritas antar sesama. 3. Bahwa manusia harus tetap bekerja dan berusaha untuk memenuhi kebutuhan jasmani dan rohani, kebutuhan intelektual dan spiritual secara seimbang, kalau hanya mengutamakan salah satunya, maka akan terjadi disharmoni, atau rusaknya keseimbangan hidup yang dapat merugikan kita sendiri. Albert Einstein, seorang ilmuwan Yahudi pernah mengatakan ilmu tanpa agama buta, agama tanpa ilmu lumpuh Ada dua entry point disini pertama tentang pentingnya agama untuk melambari ilmu pengetahuan dan yang kedua perlunya ilmu dalam pengamalan agama. Jika ditanya oleh seorang petugas sensus berapa jumlah pemeluk agama Islam di negeri ini, kita akan menyodorkan angka yang fantastis sekitar 80 % penduduk

Indonesia memeluk agama tersebut. Tetapi jika pertanyaan tadi dikembangkan misalnya, dari 80% tersebut, berapa yang bisa membaca Al Qur an, mengetahui artinya atau telah mengamalkan Al Qur an agar bersesuaian dalam kehidupan kita? Tentu saja angka-angka tersebut semakin mengerucut dan mengecil tak sampai 1 %. Kenyataan itu memang terjadi di negara yang mayoritasnya memeluk Islam sampaisampai seorang petinggi dari kalangan musuh sangat hafal dengan kelemahan Islam merencanakan sebuah strategi yang jitu untuk menghancurkan Islam Dalam proses tumbuh kembang seorang manusia, ada suatu periode dimana ia mulai belajar mengenali letak-letak benda disekelilingnya. Dari sinilah kemudian muncul konsep menetapkan jarak antara dirinya dan benda tersebut. Pada awalnya ia akan berusaha menggapai benda disekelilingnya dengan menggunakan tangan. Namun ia belajar bahwa terkadang menggunakan tangan saja tidak cukup, terutama untuk benda-benda yang letaknya jauh. Mulailah ia belajar menggunakan kedua kakinya untuk bisa bergerak lebih jauh. Bila ia melakukan gerakan sedemikian rupa sehingga jarak antara dirinya dan benda tersebut semakin kecil, maka berarti ia bergerak maju. Lalu, jika ia melakukan gerakan sedemikian rupa sehingga jarak antara dirinya dan benda tersebut semakin besar, maka ia berarti melakukan gerakan mundur. Dan bila ia melakukan gerakan sedemikian rupa sehingga kedudukannya bergeser namun jarak antara dirinya dan benda tersebut tidak mengalami perubahan, maka berarti ia melakukan gerakan menyamping. Nah, dari sini bisa kita pahami bahwa, kita manusia berupaya belajar untuk beradaptasi thd lingkungan. Untuk menggapai tujuan, manusia harus melangkah. Proses melangkah seperti saat ini adl posisi yang paling ideal bagi manusia untuk melangkah.

Prinsip Hidup Yang Seimbang

1. Buatlah daftar hal-hal di mana Anda menghabiskan sebagian besar waktu dan uang Anda. Tanyakan diri Anda sendiri; Mengapa Anda melakukan hal-hal yang Anda lakukan? 2. Mengidentifikasi prioritas Anda. Memutuskan hal-hal apa yang paling penting bagi Anda. Atur jadwal Anda di sekitar mereka prioritas. Jangan biarkan diri Anda terganggu oleh hal-hal yang kurang penting. Tetap Fokus!

3. Buatlah komitmen untuk kesehatan Anda. Luangkan waktu untuk beristirahat dan reenergize. 4. Fokus pada membangun hubungan dan membuat kenangan. Berikan keluarga dan teman-teman Anda waktu yang mereka layak dapatkan. 5. Luangkan waktu bersama Tuhan setiap hari. Berdoa dan membaca Alkitab. Jika ini adalah baru bagi Anda, hanya mulai dengan 10-15 menit setiap hari. 6. Terlibat dengan orang percaya lainnya. Alkitab menuliskan menghadiri sebuah gereja di daerah Anda dan setia hadir di gereja, persepuluhan dan melayani orang lain penting bagi Anda.

3:1 Untuk segala sesuatu ada masanya, untuk apa pun di bawah langit ada waktunya. 3:2 Ada waktu untuk lahir, ada waktu untuk meninggal, ada waktu untuk menanam, ada waktu untuk mencabut yang ditanam; 3:3 ada waktu untuk membunuh, ada waktu untuk menyembuhkan; ada waktu untuk merombak, ada waktu untuk membangun; 3:4 ada waktu untuk menangis, ada waktu untuk tertawa; ada waktu untuk meratap; ada waktu untuk menari; 3:5 ada waktu untuk membuang batu, ada waktu untuk mengumpulkan batu; ada waktu untuk memeluk, ada waktu untuk menahan diri dari memeluk; 3:6 ada waktu untuk mencari, ada waktu untuk membiarkan rugi; ada waktu untuk menyimpan, ada waktu untuk membuang; 3:7 ada waktu untuk merobek, ada waktu untuk menjahit; ada waktu untuk berdiam diri, ada waktu untuk berbicara; 3:8 ada waktu untuk mengasihi, ada waktu untuk membenci; ada waktu untuk perang, ada waktu untuk damai.