Anda di halaman 1dari 17

MAKALAH

TINDAK LANJUT GURU PASCASERTIFIKASI


Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Filsafat Pendidikan Dosen Pengampu : Ibu Sri Susilaningsih

Oleh :

Arief Juang Nugraha ( 1401409104) Rombel 06

PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG 2010

ABSTRAK
Guru merupakan sosok panutan yang dijadikan sebagai suri tauladan bagi masyarakat, khususnya anak didiknya, tentunya diharapkan mempunyai kompetensi khusus. Kompetensi khusus inilah yang menjadi bekal utama guru sebagai panutan anak didiknya. Oleh karena itulah, maka perlu adanya kesadaran semua pihak, khususnya para guru untuk memperhatikan dan meningkatkan kompetensi tersebut secara sistematis. Peningkatan kualitas kompetensi guru diperlukan sebab di dalam proses pendidikan dan pembelajaran, guru masih memegang peranan sebagai sentral kegiatan. Seorang guru harus mempunyai kualifikasi dan kelayakan untuk melakukan proses pendidikan dan pembelajaran. Kualifikasi dan kelayakan guru ini sangat terkait dengan kemampuannya melakukan pembimbingan dan pendampingan proses.

Disamping itu, kualifikasi dan kelayakan guru dapat menunjukkan eksistensinya sebagai tenaga professional kependidikan. Guru harus mempunyai kemampuan menjalankan tugas dan kewajibannya secara maksimal. Pemerintah sangat menyadari tuntutan tersebut sehingga secara sistematis para guru harus mengikuti proses sertifikasi untuk mengetahui tingkat kelayakannya. Sertifikasi ini dilakukan dengan berbagai cara, yaitu portofolio dan pendidikan dan pelatihan (diklat). Dengan cara ini, maka setidaknya dapat diketahui guru-guru yang layak dan belum layak menjadi tenaga professional pendidikan. Proses sertifikasi ini dilakukan untuk seluruh guru pada setiap tingkatan satuan pendidikan. Dalam kenyataannya pemberian tunjungan sertifikasi kepada guru yang telah lolos sertifikasi yang pada awalnya bertujuan untuk meningkatkan mutu pendidikan dengan lebih mensejahterakan guru, kini menyebabkan banyak guru yang bersertifikasi mengabaikan konsekuensi logis dari tunjangan tersebut. Mereka beranggapan bahwa sertifikasi adalah puncak dari karir mereka sebagai guru sehingga pascasertifikasi guru tidak lebih memperbaiki kualitas kompetensi profesi mereka. Mereka cenderung statis dan tidak jarang dalam perkembangan ke depannya kinerjanya menurun. Maka dari itu diperlukan upaya peningkatan mutu guru pascasertifikasi, dalam penerapannya membutuhkan kerjasama badan gabungan beberapa unsur, seperti pemerintah, lembaga pencetak tenaga kependidikan dan organisasi profesi untuk menangani dan mengevaluasi kinerja guru. Kata Kunci : guru, sertifikasi, pascasertifikasi.

BAB I PENDAHULUAN
Perubahan kurikulum pendidikan yang berganti-ganti diarahkan untuk meningkatkan mutu pendidikan kita. Namun apa yang dapat kita saksikan? Perubahan kurikulum belum mampu menunjukkan hasil yang memuaskan. Apabila kita mau jujur, kondisi objektif yang dapat kita saksikan malahan bertambah parah. Upaya pemerintah maupun masyarakat dalam meningkatkan mutu pendidikan belum mencapai apa yang diharapkan. Indikator yang digunakan untuk melihat keberhasilan pendidikan tersebut sebenarnya tidak tepat. Pertama, rendahnya hasil perolehan rata-rata nem. Hasil tersebut masih jauh di bawah standard yang diharapkan. Pemerintah terus berusaha menaikkan angka standard kelulusan. Akan tetapi setiap angka standard kelulusan dinaikkan dibarengi dengan penambahan jumlah peserta didik yang tidak lulus. Kedua, menurunnya nilai aspek nonakademis. Banyak kritik dilontarkan berkaitan dengan masalah moral, kreativitas, kemandirian, sikap demokratis dan kedisiplinan yang dilakukan masyarakat pelajar maupun orang-orang mantan pelajar. Hal ini sebagai akibat pembelajaran yang terjadi hanya mengejar berkembangnya IQ dan mengesampingkan EQ dan SQ. Ketiga, rendahnya kompetensi guru. Rendahnya kompetensi guru ini disebabkan oleh kompleksitas kondisi yang mengelilingi guru. Guru merupakan ujung tombak keberhasilan suatu sistem pendidikan. Bagaimanapun sistem pendidikannya, jika guru kurang siap melaksanakannya tetap saja hasilnya sama "jelek". Kunci revitalisasi pendidikan ada pada guru. Ki Hajar Dewantara dengan Taman Siswa -nya pernah mengajar di ruang dengan atap bocor, dinding miring, meja belajar seadanya, tetapi guru (pamong)-nya baik, hasil pendidikannya pun baik (Ki Supriyoko, Kompas, 10 Agustus 2006). Inilah yang menjadi sorotan dan patut mendapat perhatian lebih dari yang lain. Dimana guru adalah pentransfer ilmu dari dirinya kepada anak didiknya, peran guru memang tidak bisa dikambing hitamkan kepada kegagalan murid kar na e masih banyak factor yang mempengaruhi. Guru sekarang lebih berorientasi untuk

membantu siswa dalam belajar di sekolah, dan sekarang murid lah yang dituntut aktif atau dikenal student centered. Kesejahteraan guru turut menyumbang salah satu sebab

rendahnya kompetensi guru. Profesi guru dianggap masyarakat menjadi profesi kelas dua bila dipandang dari segi ekonomi karena gaji guru yang dibilang rendah bila dibanding profesi lain. Mengutip lagu Iwan Fals jadi guru jujur berbakti memang makan hati , Omar bakri banyak ciptakan mentri, professor, dokter, insinyur pun jadi tetapi mengapa gaji guru Oemar Bakri seperti dikebiri. Kesejahteraan guru sudah menjadi hal yang wajib untuk diperhatikan, agar posisi tawar guru lebih besar dalam tatanan republik ini. Artinya, jika suatu waktu ekonomi Indonesia membaik, wajar jika guru ditingkatkan kesejahteraanya. Di negara-negara yang pendidikan maju seperti Jepang, Malaysia atau Singapura gaji guru lebih utama di bandingkan pegawai lain. Sertifikasi menjadi terobosan untuk mendongkrak mutu pendidikan dan kesejahteraan guru. Menurut Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 Bab XVI Pasal 61 ayat (3) sertifikat kompetensi diberikan oleh penyelenggara pendidikan dan lembaga pelatihan kepada peserta didik dan warga masyarakat sebagai pengakuan terhadap kompetensi untuk melakukan pekerjaan tertentu setelah lulus uji kompetensi yang diselenggarakan oleh satuan pendidikan yang terakreditasi atau lembaga sertifikasi. Sebagai penghargaannya pemerintah akan memberikan tunjangan profesi setara gaji pokok (Pasal 16 Ayat 1 Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 Tentang Guru dan Dosen). Dengan demikian, uji kompetensi ini memiliki peran yang sangat penting karena akan menjadi pintu masuk yang menentukan seseorang guru itu profesional atau tidak dengan segala implikasinya. Sampai 2009 sekitar 400.450 guru masuk program ini, 361.460 di antaranya lulus. Pendidik adalah bagian dari pekerjaan profesional. Maka hak-hak dan kewajibannya diatur secara profesional agar mampu mengabdi total pada profesinya. Hasil survei itu memperkuat dugaan sebagian masyarakat bahwa program ini bisa berkecenderungan menjadi proyek formalitas. Sertifikasi guru yang berdampak pada kenaikan tunjangan ternyata belum berkorelasi positif dengan peningkatan kualitas pendidikan dan guru. Tetapi dimana sertifikasi yang pada awalnya bertujuan untuk standardisasi kualitas guru berubah menjadi ajang mendapatkan kenaikan tunjangan semata, sekadar formalitas dengan menunjukkan selembar portofolio yang mereka dapat dengan cara-cara instan. Melihat kenyataan tersebut, masih diperlukankah progamprogam atau pengawasan untuk tetap menjaga kualitas guru yang telah bersertifikasi agar konsisten bahkan bisa melebihi prestasinya sekarang.

BAB II PEMBAHASAN

A. Kajian Teoritis Tujuan pendidikan di Indonesia sebagaimana dalam undang-undang RI Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Bab II Pasal 3, menyebutkan Pendidikan Nasional bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta pendidik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, keratif madniri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Tujuan pendidikan dalam bentuk taksonomi (system pengklasifikaasian kumulatif dan mempunyai kronologis waktu) meliputi hal-hal berikut : 1. Pembinaan kepribadian (nilai moral) a. Sikap b. Daya pikir praktis rasional c. Objektivitas d. Loyalitas kepada bangsa dan ideologi e. Sadar nilai-nila moral dan agama 2. Pembinaan aspek pengetahuan (nilai materiil) yaitu materi ilmu itu sendiri 3. Pembinaan aspek kecakapan, ketrampilan nilai-nilai praktis 4. Pembinaan jasmani yang sehat Dalam mewujudkan tujuan pendidikan tersebut maka diperlukan guru yang professional dan mempunyai bekal kompetensi yang mumpuni maka diperlukan sertifikasi guru dengan tujuan awal untuk membentuk guru-guru yang berkualitas sehingga dapat meningkatkan mutu pendidikan Indonesia. Landasan yuridis diberilakukan sertifikasi guru dan dosen antara lain: (1) Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional; (2) peraturan Pemerintah Nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan; (3) Undang-Undang Nomor 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen; (4) Draff Rancangan Peraturan Pemerintah (RPP) yang rencananya Oktober 2006 akan

segera diberlakukan bahkan menurut Dirjen Peningkatan Mutu Pendidikan dan Tenaga Kependidikan (PMPTK) Depdiknas Dr. Fasla Djalal, Ph. D. (Pikiran Rakyat, 6 Oktober 2006 hal. 12) mengatakan bahwa: Awal Januari 2007 take home pay guru Minimal 3 juta. Tujuan sertifikasi dijelaskan oleh Samani (2006:10) adalah untuk menentukan tingkat kelayakan seseorang guru dalam melaksanakan tugas sebagai agen pembelajaran di sekolah dan sekaligus memberikan sertifikat pendidik bagi guru yang telah memenuhi persyaratan dan lulus uji sertifikasi. Dengan kata lain tujuan sertifikasi untuk meningkatkan mutu dan menentukan kelayakan guru dalam melaksanakan tugas sebagai agen pembelajaran dan mewujudkan tujuan pendidikan nasional. Menurut Fajar (2006: 3-4) manfaat uji sertifikasi guru dalam kerangka makro upaya peningkatan kualitas layanan dan hasil pendidikan sebagai berikut: (1) melindungi profesi guru dari praktik-praktik layanan pendidikan yang tidak kompeten sehingga dapat merusak citra profesi guru itu sendiri; (2) melindungi masyarakat dari praktik-praktik pendidikan yang tidak berkualitas dan profesional yang akan dapat menghambat upaya peningkatan kualitas pendidikan dan penyiapan sumber daya manusia di negeri ini; (3) menjadi wahana penjaminan mutu bagi Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK) yang bertugas mempersiapkan calon guru dan juga berfungsi sebagai kontrol mutu bagi pengguna layanan pendidikan; (4) menjaga lembaga penyelenggaran pendidikan dari keinginan internal dan tekanan eksternal yang potensial dapat menyimpang dari ketentuan-ketentuan yang berlaku; (5) memperoleh tunjangan profesi bagi guru yang lulus ujian sertifikasi. Prinsip-prinsip profesionalitas menurut UU No. 14/2005 Pasal 7 (1) antara lain: (a) memiliki bakat, minat, panggilan jiwa dan idealisme; (2) memiliki komitmen untuk meningkatkan mutu pendidikan, keimanan, ketakwaan dan akhlak mulia; (3) memiliki kualitas akademik dan latar belakang pendidikan sesuai dengan bidang tugas; (4) memiliki kompetensi yang diperlukan sesuai dengan bidang tugas; (5) memiliki tanggung jawab atas pelaksanaan tugas profesionalitas; (6) memperoleh penghasilan yang ditentukan sesuai dengan prestasi kerja; (7) memiliki kesempatan untuk mengembangkan keprofesionalan secara berkelanjutan dengan

belajar sepanjang hayat; (8) memiliki jaminan perlindungan hukum dalam melaksanakan tugas keprofesionalan; dan (9) memiliki organisasi profesi yang mempunyai kewenangan mengatur hal-hal yang berkaitan dengan tugas keprofesionalan guru. Pemberdayaan profesi guru/dosen menurut UU No. 14/2005 pasal 7 (2) diselenggarkan melalui pengembangan diri yang dilakukan secara demokratis, berkeadilan, tidak diskriminatif, dan berkelanjutan dengan menjunjung tinggi hak asasi manusia, nilai keagamaan, nilai kultural, kemajemukan bangsa, dan kode etik profesi. Peranan sertifikasi menurut fajar (2006:8-10) yakni guru/dosen lebih

memahami hak dan kewajibannya dalam (UU No. 14/2005 pasal 14 ayat 1 antara lain: (1) memperoleh penghasilan di atas kebutuhan hidup minimum dan jaminan kesejahteraan sosial; (2) mendapatkan promosi dan penghargaan sesuai dengan tugas dan prestasi kerja; (3) memperoleh perlindungan dalam melaksanakan tugas dan hak atas kekayaan intelektual; (4) memperoleh kesempatan untuk meningkatkan kompetensi; (5) memperoleh dan memanfaatkan sarana dan prasarana pembelajaran untuk menunjang kelancaran tugas keprofesionalan; (6) memiliki kebebasan dalam memberikan penilaian dan ikut menentukan kelulusan, penghargaan, dan/atau sanksi kepada peserta didik sesuai dengan kaidah pendidikan, kode etik guru, dan peraturan perundang-undangan; (7) memperoleh rasa aman dan jaminan keselamatan dalam melaksanakan tugas; (8) memiliki kebebasan untuk berserikat dalam organisasi profesi; (9) memiliki kesempatan untuk berperan dalam menentukan kebijakan pendidikan; (10) memperoleh kesempatan untuk mengembangkan dan meningkatkan kualifikasi akademik dan kompetensi; dan/atau (11) memperoleh pelatihan dan pengembangan profesi dalam bidangnya.

B. Kondisi Guru Melihat kondisi guru di Indonesia yang menyebabkan kompetensi guru menjadi rendah bila terbilang rendah dibanding dengan negara lain yang sangat memperhatikan guru. Adapun kondisi yang dimaksud adalah :

a) Masih banyak guru mengajar bukan pada bidang tugasnya. Hal demikian berakibat pada penguasaan dan penyampaian materi tidak dapat berlangsung secara optimal. Alasannya pun sangat bervariasi yakni, di sekolah tidak ada guru lulusan bidang studi tertentu dan demi pemerataan jam mengajar. b) Guru tidak konsen pada tugasnya. Guru masih mencari uang melalui pekerjaan lain. Hal ini disebabkan gaji yang diterima tidak mencukupi untuk menopang kebutuhan hidupnya. Konsentrasi kesibukannya justru lebih tinggi untuk pekerjaan lain, bukan pekerjaan yang berkaitan dengan persiapan proses pembelajaran. c) Masih banyak guru gagap teknologi, wawasan kependidikannya picik, keterampilan mengajar kurang optimal, tidak terampil mengoperasikan komputer, cakrawala pandang wawasan kependidikan yang dapat diakses melalui internet tak dapat tercapai oleh karena belum mengenal internet d) Motivasi kerja guru yang rendah. Motivasi kerja yang rendah ini dapat disimak melalui sikapnya dalam mempersiapkan RPP, silabus, perangkat penilaian dan perangkat pembelajaran lainnya. Pengadaan perangkat pada umumnya hanya berupa foto kopi teman sekolah lain. Hal lain sebagai indikator motivasi kerja rendah adalah belum terciptanya budaya membaca bagi kalangan guru. Artinya, membaca untuk menambah pengetahuan yang berkaitan dengan materi pelajaran dari berbagai referensi ataupun membaca rang berkaitan dengan wawasan kependidikan belum banyak dilakukan oleh sebagian besar guru. Padahal membaca mempunvai kontribusi yang sangat besar bagi pengembangan profesi guru. Berdasarkan kondisi di atas perlu adanya gerakan serentak memperbaiki mutu guru Indonesia. Gerakan ini menyangkut pihak pemerintah, lembaga pencetak guru, kemauan guru itu sendiri dan masyarakat sebagai agen pemasok calon guru maupun pengguna guru.

C. Peran Sertifikasi Guru Menurut Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional Bab XVI Pasal 61 ayat (3) sertifikat kompetensi diberikan oleh penyelenggara pendidikan dan lembaga pelatihan kepada peserta didik dan warga masyarakat sebagai pengakuan terhadap

kompetensi untuk melakukan pekerjaan tertentu setelah lulus uji kompetensi yang diselenggarakan oleh satuan pendidikan yang terakreditasi atau lembaga sertifikasi. Lebih lanjut menurut Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2005 Tentang Guru dan Dosen Bab IV Pasal 8 pasal 13 bahwa guru wajib memiliki kualifikasi akademik, kompetensi, sertifikat pendidik, sehat jasmani dan rohani serta memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional. Sejalan dengan pasal di atas, Gordon (1988) menjelaskan beberapa aspek yang harus terkandung dalam kompetensi sebagai berikut: 1. Pengetahuan (knowledge), yaitu pengetahuan seseorang untuk melakukan sesuatu, misalnya akan dapat melakukan proses berpikir ilmiah untuk memecahkan suatu persoalan manakala ia memiliki pengetahuan yang memadai tentang langkah-langkah berpikir ilmiah. 2. Pemahaman (understanding), yaitu kedalaman kognitif dan afektif yang dimiliki oleh individu. 3. Keterampilan (skill), adalah sesuatu yang dimiliki oleh individu untuk melakukan tugas yang dibebankan. 4. Nilai (value), adalah suatu standar perilaku yang telah diyakini dan secara psikologis telah menjadi bagian dari dirinya, sehingga akan m ewarnai dalam segala tindakannya. 5. Sikap (attitude), yaitu perasaan atau reaksi terhadap suatu rangsangan yang datang dari luar. 6. Minat (interest), yaitu kecenderungan seseorang untuk melakukan suatu tindakan atau perbuatan. Dari uraian di atas, maka kompetensi bukan hanya ada dalam tatanan pengetahuan akan tetapi sebuah kompetensi harus tergambarkan dalam pola perilaku. Artinya seseorang dikatakan memiliki kompetensi tertentu, akan tetapi bagaimana implikasi dan implementasi pengetahuan itu dalam pola perilaku atau tindakan yang ia lakukan. Dengan demikian, maka kompetensi pada dasarnya merupakan perpaduan dari pengetahuan, keterampilan, nilai, dan sikap yang direfleksikan dalam kebiasaan berpikir dan bertindak. Pemerintah hendaknya serius dalam melaksanakan Uji Kompetensi terhadap para guru TK/RA, SD/MI, SMP/MTs, SMA/MA, SMK/MAK. Karena

tanpa keseriusan, mereka yang tak berkompeten, tak berkualitas, dan tak berhak tidak bakal memperolehnya sertifkat itu. Hal itu dengan mempertimbangkan dua alasan menurut Y. Yuparsa A (dalam Kompas Senin, 10 Juli 2006 hal. 13): Pertama, sekalipun wajib diikuti setiap guru, sertifikasi ini juga merupakan bagian dari upaya mencapai tujuan pendidikan nasional. Kedua, implikasi uji kompetensi dalam proses sertifikasi ini adalah meningkatnya pendapatan guru dalam rangka meningkatkan kesejahteraan guru. Oleh karena itu, uji kompetensi yang baik harus dilaksanakan berlandaskan nilai dan semangat kecermatan atau validitas, bijak serta adil. Cermat atau valid maksudnya instrument uji kompetensi mampu menentukan guru yang memang benar-benar layak untuk memperoleh sertifikat pendidik sebagai guru profesional. Dikatakan demikian karena memang yang bersangkutan cakap atau kompeten sebagai pendidik. Dengan mempertimbangkan sasaran seperti itu, instrument tes berupa pilihan ganda tak akan mampu menggali potensi guru sesungguhnya. Instrumen pilihan ganda hanya menggali sisi permukaan kognitif dangkal yaitu ingatan, pemahaman dan penerapan. Sisi-sisi psikomotorik dan afeksinya? Padahal kompeten dan profesional esensinya jelas terkutat dalam duo dan satu itu: kognitif dan afektif. Secara konseptual, untuk menguji kompetensi pedagogik, kepribadian, sosial dan kompetensi profesional, tidak cukup hanya dengan instrument uji tulis semata. Pemerintah perlu pula mengembangkan alat uji lain yang mampu menembus pengetahuan dan potensi guru dari sisi kepribadian, sosial, dan psikologisnya. Misalnya bentuk psikotes, angket, wawancara, pengamatan bahkan dengan simulasi. Prinsip bijak maksudnya, sekalipun para guru wajib mengikuti uji kompetensi, selayaknya pemerintah juga mempertimbangkan bahwa pemenuhan kesejahteraan hidup para guru merupakan sebuah keniscayaan yang wajib dilakukan. Sebab, kelayakan untuk menjadi seorang guru profesional sebenarnya sudah dimiliki yakni dengan mengantongi sertifikat kelulusan dari LPTK. Dengan demikian, model uji kompetensi yang dikembangkan bukan hanya untuk menguji, melainkan sebagai bagian dari upaya pembinaan dan pengembangan sehingga para guru layak menyandang sertifikat guru profesional versi sertifikasi.

Prinsip berkeadilan terkait dengan siapa yang diprioritaskan untuk diikutsertakan dalam proses sertifikasi ini, mengingat pemerintah merencanakan menentukan para guru yang dapat mengikuti proses sertifikasi ini. Agar prosesnya berkeadilan, sebaiknya pemerintah merancang sistem yang transparan untuk mengatur orang yang diberi kesempatan ikut proses sertifikasi. Mungkin sebaiknya, guru-guru yang terlebih dahulu diprioritaskan mengikuti proses sertifikasi ialah mereka yang masa kerjanya lama, kemudian diurut rancang sehingga mencapai batas satu masa uji. Prinsip berkeadilan juga berlaku dengan tidak membedakan status guru. Apakah guru PNS, guru swasta, guru honor, atau guru bantu. Maka sudah selayaknya pemerintah memberikan pelayanan yang sama dalam proses sertifikasi ini. Termasuk memberi kesempatan kepada para guru honorer, guru bantu, guru swasta yang kompeten untuk memiliki sertifikasi pendidik itu. Akan menjadi tidak adil jika sertifikasi hanya memberi kesempatan kepada guru-guru yang berstatus pegawai negeri sipil atau PNS saja. Padahal, boleh jadi peran guru swasta, guru honorer, dan guru bantu jauh lebih besar dibandingkan dengan para PNS itu..

C.

Sertifikasi dan Pascasertifikasi Apalah jadinya dunia pendidikan di negeri ini jika ternyata untuk mengikuti proses sertifikasi ternyata banyak oknum guru yang merekayasa data portofolio agar lulus penilaian portofolio? Di manakah rasa tanggungjawab terhadap profesi guru yang terhormat? Dan, satu lagi, apa gunanya se rtifikasi jika ternyata para guru yang sudah lulus selanjutnya merasa nyaman dan tidak berupaya meningkatkan kemampuan dirinya lagi. Mereka merasa nyaman sebab telah mendapatkan tunjangan sertifikasi dan mengabaikan konsekuensi logis dari tunjangan tersebut. Tidak sedikit guru yang justru melempem setelah dinyatakan lulus sertifikasi dan menerima tunjangan yang sangat besar itu. Berarti program pemerintah sia-sia, tidak mencapai tujuan utamanya, yaitu meningkatkan kualitas pendidikan. Atau memang tujuan sertifikasi hanya untuk meningkatkan kesejahteraan guru semata. Tapi kalau seperti itu, mengapa harus repot-repot

proses pemberkasan atau pendidikan dan pelatihan yang jelas-jelas membutuhkan pembiayaan yang tidak sedikit. Jika hal seperti ini dibiarkan terus, maka kualitas proses dan hasil pendidikan di negeri ini tidak bakalan mampu mencapai efektivitas tinggi menuju kualitas terbaik. Bahkan dunia pendidikan semakin terpuruk sebab sumber daya manusianya yang tidak jujur, melakukan kecurangan hanya untuk memenuhi hasrat diri pribadi. Sertifikasi yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas guru melalui ujia kelayakan profesi ternyata dimanipulasi dengan data yang aspal (asli tapi palsu) sehingga mereka yang lulus proses sertifikasi sebenarnya tidak mempunyai kompetensi yang layak sebagai pendidik, guru. Bagaimana layak jika ternyata beras portofolio saja harus merekayasa sekedar untuk memenuhi tuntutan nilai minimal untuk lulus. Oleh karena itulah, kita perlu mengembalikan persepsi dan jalur pemikiran kita atas program sertifikasi yang dicanangkan oleh pemerintah. Sertifikasi bukan sekedar agar mendapatkan tunjangan profesi melainkan merupakan tambahan tanggungjawab yang harus dilakukan untuk peningkatan kualitas pendidikan di negeri ini. Dan, sebagai guru, sudah seharusnya kita mempunyai kelayakan profesi dengan menyesuaikan kualifikasi pendidikan, melakukan segala kegiatan sendiri secara sistematis dan terekam dalam berkas berkasnya. Kejujuran adalah satu aspek penting bagi seorang guru. Sudah cukup banyak kecurangan yang terjadi selama proses sertifikasi dilaksanakan di negeri ini. Walau baru empat tahun, yaitu sejak 2006, proses sertifikasi dilakukan di seluruh negeri dengan alokasi peserta yang sedemikian banyak, mulai dari guru tingkatan Taman kanak kanak hingga guru sekolah lanjutan atas. Sudah sangat banyak guru yang dinyatakan lulus proses sertifikasi, penilaian kelayakan menyandang guru sebagai profesi. Mereka dinyatakan layak sebagai guru, baik yang dinyatakan lulus melalui jalur portofolio maupun da ri pendidikan dan pelatihan (diklat). Mereka mendapatkan sertifikat sebagai tenaga professional, pendidikan dengan kompensasi mendapatkan tunjangan pendapatan satu bulan gaji pokok untuk pegawai setingkat pendidikan dan masa jabatan, pengabdiannya. Dan, hal tersebut menyebabkan penghasilan guru berlipat ganda.

Dan, selanjutnya mereka yang dinyatakan lulus proses sertifikasi dengan sangat berbunga hati, wajah sumringah menyampaikan kepada teman-temannya bahwa mereka sudah tidak perlu lagi ngoyo dalam bekerja. Mereka sudah tidak perlu bersusah payah dalam bekerja sebab gaji mereka sudah berlipat ganda karena tunjangan sertifikat professional yang mereka dapatkan. Mereka menjadi guru guru yang bersikap santai dalam melaksanakan pekerjaan. Kinerja mereka tetap sebagaimana sebelum dinyatakan lulus proses sertifikasi, bahkan tidak jarang yang justru bertambah rendah kinerjanya sebab merasa sudah mendapatkan gaji yang tinggi bagi kehidupannya. Cukup banyak guru yang merasa nyaman saat dinyatakan lulus proses sertifikasi dan mendapatkan tunjangan sebagai kompensasinya. Mereka merasa nyaman sebab gaji yang mereka terima setiap bulannya sudah meningkat sekian kali lipat. Mereka tidak lagi kesulitan masalah ekonomi sebab gaji yang mereka dapatkan sudah mampu memberikan kemudahan bagi mereka untuk memenuhi kebutuhan hidup. Padahal, seharusnya saat seorang guru dinyatakan lulus proses sertifikasinya, maka tugas selanjutnya harus diselesaikan untuk peningkatan kualitas hasil proses pendidikan di negeri ini. Jika ternyata mereka merasa nyaman dan tidak melakukan proses peningkatan kualitas dirinya untuk mendukung proses kerjanya, maka program sertifikasi ini hanya menjadi api bagi para laron semata.

D.

Upaya Lanjutan Pascasertifikasi Adapun langkah yang dapat dilakukan dalam menyikapi upaya lanjutan pemberian tunjangan professional yang diberikan kepada guru yang bersertifikasi adalah sebagai berikut : 1) Guru hendaknya diikutkan penataran atau diklat yang berhubungan dengan profesi keguruannya. Para guru yang telah lolos sertifikasi saat ini misalnya, kualitasnya mungkin memang bagus. Akan tetapi, tidak ada jaminan setelah sepuluh tahun mendatang kualitasnya tetap sama, bahkan mungkin menurun. Setelah guru disertifikasi tidak ada pemantauan peningkatan kualitas dan pembinaan lebih lanjut terhadap mereka, karena tidak ada evaluasi lanjutan setelah proses sertifikasi. Upaya lanjutan setelah sertifikasi guru harus

diprogramkan secara nasional dan diikat dengan semacam nota kesepahaman (MoU), termasuk pengaturan pendanaan untuk menjalankannya. Pemerintah pusat harus berkoordinasi dengan pemerintah daerah terkait itu, sebab program sertifikasi memang ditangani pusat, tetapi setelah mereka lolos sertifikasi kembali menjadi 'milik' daerah. Penataran atau diklat bagi guru sangat penting dalam upaya peningkatan mutu kaitannya dengan proses pembelajaran, pengetahuan baru dan berbagai strategi dan metode pembelajaran. Karena kebanyakan guru yang sudah sertifikasi sangat jarang mengikuti seminar, penataran atau pelatihan lainnya. Banyak yang menganggap bahwa sertifikasi adalah puncak dari karier seorang guru sehingga guru kurang termotivasi dalam meningkatkan ilmunya lebih dan lebih. Upaya peningkatan mutu guru pascasertifikasi juga memerlukan satu badan gabungan beberapa unsur, seperti pemerintah, lembaga pencetak tenaga kependidikan dan organisasi profesi untuk menanganinya. 2) Guru hendaknya diberdayakan menulis. Menulis dimaksud adalah membuat karya ilmiah baik berupa, buku, diktat, laporan penelitian, ilmiah populer maupun ulasan terhadap berbagai buku baik tentaing pendidikan dan kebijakan- kebijakannya yang sering terasa kontroversial. Guru diharapkan mempunyai target menulis dalam jangka waktu tertentu di berbagai wadah karya guru misalnya buletin pendidikan yang diterbitkan oleh dina s pendidikan kabupaten, dinas pendidikan propinsi, dinas pendidikan pusat, majalah-majalah pendidikan , koran harian serta jurnal pendidikan. Guru yang sering menulis akan termotivasi untuk maju. Motivasi inilah embrio dari terciptanya guru profesional. Di sisi lain yang perlu mendapat perhatian adalah banyaknya yang bersertifikasi hanya berhenti di golongan IV a, dan tidak sedikit guru yang beralasan sudah cukup kariernya dan kemalasan yang turut mendorong terhentinya pembuatan karya tulis sebagai prasyarat naik jabatan ke IV b. Bahkan dalam kenyataannya juga ditemukan bahwa ada guru yang rela mengambil uang dari dompetnya untuk membeli karya tulis untuk prasyarat ke golongan IV b. 3) Guru hendaknya dirangsang untuk meningkatkan mutu mengajar dengan berbagai metode. Pengembangan proses pembelajaran memang patut segera.

direalisasikan. Oleh karenanya pihak pemerintah melalui sekolah hendaknya mendukung dengan menyediakan media dan alat pembelajaran yang memadai. Tanpa adanya dukungan media dan alat , pembelajaran belum bisa menarik dan menyenangkan sebagaimana digembor-gemborkan, yakni pembelajaran bernuansa PAIKEM (Produktif, Aktif, Inovatif, Kreatif, Efektif dan Menyenangkan). Berbagai metode perlu dicoba untuk mendukung tercapainya pembelajaran yang PAIKEM seperti disebut di atas. Kemudian yang tidak luput perhatian adalah pelatihan IT bagi para guru. Tidak sedikit guru yang telah bersertifikasi tidak melek computer, terutama guru yang berada di desa. Mereka umumnya adalah guru-guru tua yang merasa kesulitan bila harus dihadapkan dengan IT. Perspektif mereka bahwa IT adalah milik para guru muda, sedangkan dipikiran mereka bahwa mereka telah bersertifikasi sehingga mereka tidak terlalu penting melihat perkembangan teknologi yang semakin pesat. Jadi, yang diperlukan di sini adalah pelatihan IT yang rutin dilaksanakan bahkan bisa dijadikan progam mingguan yang dilaksanakan di UPT kecamatan masing-masing agar kualitas guru tidak ketinggalan kemajuan teknologi yang semakin bertambah hari, semakin pesat. 4) Guru hendaknya diberi motivasi untuk terus belajar, baik yang sudah sertifikasi maupun yang belum mendapatkan sertifikasi. Kepala sekolah diharapkan sangat peduli dengan peningkatan mutu guru melalui peningkatan belajarnya. Guru yang termotivasi untuk terus belajar akan bertambah semangat dalam melaksanakan tugasnya sebagai pemandu proses

pembelajaran yang baik. 5) Rekrutmen calon guru hendaknya bersifat profesional. Rekrutmen dilakukan dengan cara tes baik tertulis, lisan maupun mikroteaching di hadapan penguji. Calon guru yang diiuluskan hendaknya yang benar-benar memenuhi syarat dalam tugas mengajar. Baik kedalaman pengetahuan materi bidang tugasnya maupun strategi dan metodologi mengajar hendaknya bernilai tinggi. Performance sebagai calon guru juga tidak meragukan. Karena dalam masa ke depan dengan adanya PPG maka guru baru yang diangkat dan mempunyai sertifikat PPG maka jelaslah untuk berhak mendapatkan tunjangan sertifikasi. Sebagai data pendukung secara administrasi adalah Indeks Prestasi (1P) yang

dimiliki dalam transkip nilai. Indeks Prestasi mestinya menjadi bagian dari proses penilaian bagi calon guru. Selama ini indeks prestasi calon guru tidak pernah diperhitungkan dalam penilaian.

BAB III PENUTUP


A. Kesimpulan Langkah yang dapat dilakukan dalam menyikapi guru pascasertifikasi adalah sebagai berikut : 1. Guru diikutkan penataran atau diklat yang berhubungan dengan profesi keguruannya. 2. 3. 4. Guru diberdayakan menulis. Guru dirangsang untuk meningkatkan mutu mengajar dengan berbagai metode. Rekrutmen calon guru hendaknya bersifat professional, karena mengingat tunjangan professional diberikan kepada guru yang telah lulus PPG. 5. Pemberian motivasi kepada guru yang telah bersertifikasi.

B. Saran 1. Saat seorang guru dinyatakan lulus proses sertifikasinya, jangan terus berbanggga hati dan cenderung nyaman tanpa melakukan perbaikan diri untuk terus meningkatkan kualitas diri sebagai guru yang professional. Guru seharusnya tetap mengikuti seminar dan pelatihan-pelatihan yang bisa menambahkan ilmunya yang berkaitan dengan keprofesiannya. 2. Hendaknya upaya lanjutan setelah sertifikasi guru harus diprogramkan secara nasional dan diikat dengan semacam nota kesepahaman (MoU), termasuk pengaturan pendanaan untuk menjalankannya. Pemerintah pusat harus berkoordinasi dengan pemerintah daerah terkait itu. 3. Sertifikasi yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas guru melalui ujian kelayakan profesi, seharusnya jangan dimanipulasi dengan data yang aspal (asli tapi palsu) sehingga mereka yang lulus proses sertifikasi bisa benar-benar terjamin kualitasnya bukan hanya sekedar guru yang hanya ingin kenaikan gaji.

DAFTAR PUSTAKA

Djumransih, H.M. 2006. Filsafat Pendidikan. Malang: Bayumedia Publishing Rachman, Maman dkk. 2006. Filsafat Ilmu. Semarang : UPT MKU UNNES Fajar, Arnie. 2006. Peranan Sertifikasi Guru dalam Meningkatkan Profesionalisme Guru. Dalam Makalah Seminar Nasional Sosialisasi Sertifikasi. http://

smkn1bongas-tkj.blogspot.com/ (diakses tanggal 2 Desember pukul 22.10 WIB) Marijan. 2010. Upaya Peningkatan Mutu Guru. http://fkgbuptd.blogspot.com/2010/02/ upaya-peningkatan-mutu-guru.html ( diakses tanggal 2 Desember 2010 pukul 22.04 WIB ) Guru dan Sertifikasi Guru. http ://obor pendidikan.blogspot.com/ ( diakses tanggal 5 Desember 2010 pukul 09.15 WIB )