Anda di halaman 1dari 5

Perdarahan Antepartum et causa Plasenta Previa pada Primigravida Hamil Aterm dengan Presentasi Bokong

Dibuat oleh: Dewi Lestari,Modifikasi terakhir pada Wed 01 of Sep, 2010 [00:57 UTC]

ABSTRAK

Perdarahan antepartum merupakan perdarahan yang terjadi setelah kehamilan 28 minggu. Perdarahan ini dapat disebabkan oleh kelainan pada plasenta maupun non plasenta. Plasenta previa merupakan salah satu penyebab tersering perdarahan antepartum dimana letak plasenta abnormal yaitu pada segmen bawah uterus yang dapat menutupi sebagian atau seluruh pembukaan jalan lahir. Dilaporkan kasus pada seorang wanita berusia 19 tahun dengan perdarahan sejak 2 jam sebelum masuk rumah sakit, darah berwarna merah, tidak disertai gumpalan, tidak nyeri. Penderita ini didiagnosis perdarahan antepartum suspek plasenta previa tanpa pemeriksaan USG. Dilakukan penanganan aktif berupa persalinan perabdominal (SCTP) dengan transfusi whole blood III kolf, amoxicillin, asam mefenamat, dan sulfas ferous.

Kata Kunci: perdarahan antepartum-palsenta previa-sectio sesarea-presentasi bokong

Kasus Seorang perempuan berusia 19 tahun, G1P0A0 umur kehamilan 401/7 minggu, HPHT 13 Juli 2010. HPL 20 April 2010, ANC rutin di bidan, TT 1 kali datang dengan keluhan perdarahan sejak 2 jam sebelum masuk rumah sakit, darah berwarna merah, tidak disertai gumpalan, tidak nyeri. Kenceng-kenceng dirasakan sejak 8 jam sebelum masuk rumah sakit. Penderita menyangkal pernah jatuh, trauma, minum jamu, KB, hipertensi maupun diabetes melitus. Penderita tampak lemah dan pucat, vital sign dalam batas normal, mataanemis. Pemeriksaan Leopold I: TFU 26 cm, teraba bagian bulat, keras, melenting, jumlah satu. Leopold II: kiri teraba bagian memnjang dengan tahanan, kanan teraba kecil, lunak. Leopold III: teraba bagiab bulat, lunak, tidak melenting, tidak dapat digoyangkan. Leopold IV: bagian terbawah janin (bokong) sudah masuk pintu atas panggul.

Diagnosis

Perdarahan Antepartum et causa Plasenta Previa pada Primigravida Hamil aterm dengan Presentasi Bokong

Terapi Dilakukan SCTP, transfusi whole bllod III kolf, amoxicillin, asam mefenamat, dan sulfas ferous.

Diskusi Diskusi Perdarahan antepartum adalah perdarahan yang terjadi setelah kehamilan 28 minggu. Biasanya lebih banyak dan lebih berbahaya daripada perdarahan kehamilan sebelum 28 minggu. Perdarahan antepartum dapat disebabkan oleh plasenta previa, solusio plasenta, ruptur sinus marginalis, vasa previa ataupun kelainan servix dan vagina. Plasenta Previa adalah suatu kesulitan kehamilan yang terjadi pada trimesters kedua dan ketiga kehamilan. Dapat mengakibatkan kematian bagi ibu dan janin. Ini adalah salah satu penyebab pendarahan vaginal yang paling banyak pada trimester kedua dan ketiga. Plasenta Previa biasanya digambarkan sebagai implantation dari plasenta di dekat ostium interna uteri (didekat cervix uteri). Disamping masih banyak penyebab plasenta previa yang belum diketahui atau belum jelas, bermacam-macam teari dan faktor-faktor dikemukakan sebagai etiologinya. 1. Endometrium yang inferior 2. Chorion leave yang persisten 3. Korpus luteum yang bereaksi lambat Strassman mengatakan bahwa faktor terpenting adalah vaskularisasi yang kurang pada desidua yang menyebabkan atrofi dan peradangan, sedangkan Browne menekankan bahwa faktor terpenting ialah Vili Khorialis persisten pada desidua kapsularis. Plasenta Previa 1. Anamnesis - Keluhan utama Perdarahan pada kehamilan setelah 28 minggu atau pada kehamilan lanjut (trimester III) - Sifat perdarahan tanpa sebab, tanpa nyeri dan berulang 2. Inspeksi/inspekulo - Perdarahan keluar pervaginam (dari dalam uterus)

- Tampak anemis 3. Palpasi abdomen - Janin sering blm cukup bulan, TFU masih rendah - Sering dijumpai kesalahan letak janin - Bagian terbawah janin belum turun 4. Pemeriksaan USG - Evaluasi letak dan posisi plasenta. - Posisi, presentasi, umur, tanda-tanda kehidupan janin. - Transabdominal ultrasonography Suatu metode yang sederhana, akurat, dan aman untuk memvisualisasikan plasenta, teknik ini memiliki keakuratan hingga 93-98%. Pembiasan hasil dan positif palsu dapat terjadi pada kontraksi fokal uterus atau distensi vesika urinaria. - Transvaginal ultrasonography Studi terbaru menunjukkan bahwa metode transvaginal ultrasonografi lebih akurat dan aman dibanding metode transabdominal ultrasonografi. Suaru penelitian studi, 26% pasien telah yang didiagnosa dengan plasenta previa oleh metode transabdominal ultrasonografi dinyatakan salah setelah dicek ulang dengan transvaginal ultrasonografi. Sudut antara probe transvaginal dan saluran cerviks diatur sedemikian rupa sehingga probe tidak sampai masuk ke dalam servik. Beberapa ahli menyatakan probe dimasukkan tidak lebih dari 3 cm untuk memberikan gambaran yang baik dari plasenta. - Transperineal ultrasonography. Transperineal ultrasonography merupakan metode alternatif. Terutama pada kasus-kasus kontraindikasi pemasukkan probe ke dalam kanal vagina. Tetapi pemeriksaan lebih lanjut perlu dilakukan untuk mengetahui efikasi dan efisiensinnya. - Magnetic resonance imaging (MRI. MRI tetap merupakan cara yang aman dan paling baik untuk visualisasi placenta terutama untuk menentukan visualisasi plasenta akreta. Faktor resiko terjadinya placenta previa pada penderita ini adalah usia tergolong muda dan paritas kecil dimana endometrium Belem matang. Hipoplasia endometrium karena penderita menikah pada usia muda, lingkungan endometrium kurang sempurna untuk tempat pertumbuhan. Setiap perdarahan pada kehamilan lebih dari 28 minggu yang lebih banyak dari perdarahan yang biasanya terjadi pada permulaan persalinan biasa, harus dianggap sebagai perdarahan antepartum. Apapun penyebabnya penderita harus segera dibawa ke rumah sakit

yang memiliki fasilitas untuk transfusi darah atau operasi. Jangan sekali-kali melakukan pemeriksaan dalam dirumah penderita atau ditempat yang tidak memungkinkan tindakan operatif segera karena pemeriksaan itu dapat menambah banyaknya perdarahan. Pemasaan tampon dalam vagina tidak berguna sama sekali untuk menghentikan perdarahan, malah akan menambah perdarahan karena sentuhan pada servik waktu pemasangannya. Selagi penderita belum jatuh kedalam shock, infus cairan intravena harus segera dipasang, dan dipertahankan terus sampai tiba di rumah sakit. Memasang jarum infus kedalam pembuluh darah sebelum terjadi shock akan jauh lebih memudahkan transfusi darah, bila sewaktu-waktu diperlukan. Segera setelah tiba di rumah sakit, usaha pengadaan darah harus segera diberikan walaupun perdarahanya tidak seberapa banyak. Pengambilan contoh darah untuk pemeriksaan golongan darah, dan pemeriksaan kecocokan dengan donornya harus segera dilakukan. Pertolongan selanjutnya di rumah sakit tergantung dari paritas, tuanya kehamilan, banyaknya perdarahan, keadaan ibu, keadaan janin, sudah atau belum mulainya persalinan, dan diagnosis yang ditegakkan. Pengawasan antenatal sebagai cara untuk mengetahui atau menanggulangi kasus-kasus dengan perdarahan antepartum memegang peranan yang terbatas. Walaupun demikian, beberapa pemeriksaan dan perhatian yang biasa dilakukan pada pengawasan antenatal dapat mengurangi kesulitan yang mungkin terjadi. Pemeriksaan dan perhatian yang dimaksud ialah penentuan golongan darah ibu dan calon donornya, pengobatan anemia pada kehamilan, seleksi ibu untuk bersalin di rumah sakit, memperhatikan kemungkinan adanya plasentaprevia, dan mencegah serta mengobati penyakit hipertensi menahun dan preeeklampsia. Para ibu hamil yang patut dicurigai akan mengalami perdarahan antepartum ialah para ibu yang umurnya lebih dari 35 tahun, paritas 5 atau lebih, bagian bawah janin selalu terapung di atas PAP, atau menderita preeklampsia. Penanganan Plasenta Previa 1. Penanganan Pasif Tiap-tiap perdarahan triwulan ke3 yang lebih dari show (perdarahan inisial), harus dikirim ke RS tanpa dilakukan manipulasi apapun baik rektal maupun vaginal. Apabila pada penilaian baik, perdarahan sedikit, janin masih hidup, belum inpartu, kehamilan <37 minggu, bb<2500gr, maka kehamilan dapat dipertahankan dengan istirahat dan pemberian obat-obatan seperti spasmolitika, progestin. Observasi dengan teliti. Sambil mengawasi periksalah golongan darah dan siapkan donor transfusi darah. Bila memungkinkan kehamilan dipertahankan setua mungkin supaya janin terhindar dari prematuritas. Harus diingat bahwa bila dijumpai ibu hamil dengan tersangka plasenta previa di rujuk segera ke RS dimana terdapat fasilitas operasi dan donor transfusi darah. Bila kekurangan darah berikan transfusi darah dan obat-obatan penambah darah

2. Cara persalinan Faktor-faktor yang menentukan sikap/tindakan persalinan mana yang akan dipilih adalah : Jenis plasenta previa Perdarahan banyak/sedikit tetapi berulang-ulang Keadaan umum ibu hamil Keadaan janin hidup, gawat atau meninggal Pembukaan jalan lahir Paritas atau jumlah anak hidup Indikasi dilakukan operasi pada penderita ini suspek plasenta previa totalis, perdarahn banyak tanpa henti, presenta abnormal (presentasi bokong). Sebelum dilakukan pembedahan, diberikan transfusi whole blood terlebih dahulu untuk memperbaiki keadaan umum penderita. Diberikan juga antibiotik profilaksi untuk mencegah infeksi.

Kesimpulan Penderita dengan perdarahan antepartum et causa plasenta previa denga presentasi bokong yang diberikan penanganan aktif berupa SCTP dapat menyelamatkan bayi dan ibu.

Referensi Cunningham, F.G, dkk., 2005, Obstetri Williams, ed. 21, EGC : Yakarta Patrick. 2009 Plasenta Previa. Emedicine World Medical Library. Diakses dari http://www.emedicine.com Saifuddin, A.G., Wikn, J., Waspodo, D. 2000 Buku Acuan Pelayanan kesehatan maternal dan Neonatal. Jakarta:JNPKKR-YBPSP